Friday, February 29, 2008

Kritik Feminis La Barka

PEMASALAHAN WANITA DALAM NOVEL NH. DINI:
ANALISIS KRITIK SASTRA FEMINIS
(Penelitian Dra. Sariyati Nadjamuddin-Tome, MS.)

Abstrak :

Penelitian novel La Barka bertolak dari suatu permasalahan pokok yaitu wujud permasalahan wanita (isu wanita) yang ditampilkan teks La Barka suatu karya sastra yang ditulis oleh pengarang wanita Nh. Dini. Isu wanita itu terutama berkaitan dengan pembagian kerja ecara seksual, cinta segitiga, dan sosiokultural dalam suatu perkawinan campur.

Dalam penelitian ini, digunakan teori kritik sastra feminis (KSF) untuk menganalisis teks La Barka. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa timbulnya berbagai isu wanita atau permasalahan wanita merupakan akibat dari beberapa sebab yang bersumber dari (1)paham patriarki yang dianut oleh pria, yang menekankan adanya pembagian kerja secara seksual, dan yang harus dipatuhi oleh kaum wanita, (2) perilaku agresivitas pria dalam bentuk cinta segitiga dengan wanita lain, dan (3) perbedaan sosiokultural, termasuk norma sosial dalam suatu perkawinan campur, yang menimbulkan berbagai perbenturan dan pergeseran norma sosial dan perilaku deciasi. La Barka melegitimasi bahwa tidak selalu kekeliruan, kelemahan, dan tindak deviasi, baik pria maupun wanita, bersumber pada diri kaum wanita, seperti pandangan tradisional selama ini.

Kata kunci: Permasalahan wanita – Novel Nh. Dini – Kritik Sastra Feminis


PENGANTAR

Novel La Barka (LB) merupakan salah satu karya sastra yang terkenal dan menarik karena telah berhasil mengundang berbagai tanggapan, baik positif maupun negatif. Novel tersebut telah dicetak berulang-ulang. Hal ini merupakan bukti bahwa karya tersebut ditanggapi oleh masyarakat luas. Refleksi para kritikus dan kaum pecinta sastra umumnya menunjukkan bahwa karya ini mengekspresikan pengalaman dan pemahaman yang menyeluruh tentang kehidupan (Teeuw, l982; Sastrowardoyo, 1980, Yasofi, 1976, Pamusuk, 1977).

Karya sastra LB sebagai produk seorang pengarang Nh. Dini, adalah produk pengarang yang juga merupakan individu yang melakukan proses kreatif penciptaan. Seperti dikemukakan oleh Aminuddin (1987:88), bahwa penutur adalah 1) individu yang melakukan proses kreatif dan sebagai manusia ia memiliki dunia pengalaman pengetahuan tentang wujud dunia luar dan nilai sosial budaya, 2) pengolah ide yang membuahkan butir-butir preposisi sebagai pembentuk unit pesan yang disampaikan dengan bertumpu pada konvensi sastranya dan sebagai pemapar hasil pembahasan pesan. Dengan demikian, dalam proses penciptaan, pengarang tidak bebas dari pengaruh-pengaruh tersebut, baik dari dirinya sendiri maupun pengaruh keadaan sosial budaya serta pandangan masyarakat sekelilingnya.

Karya sastra LB mempunyai daya tarik tersendiri karena menampilkan permasalahan dan eksistensi wanita yang dikenal dengan istilah women issues. Permasalahan ini dianggap sebagai sesuatu yang aktual, yang sering dibicarakan dan dibahas dalam berbagai seminar, baik oleh pakar sastra maupun oleh mereka yang termasuk dalam gerakan wanita. Oleh karena permasalahan wanita (women issues) dianggap berkaitan dengan pandangan masyarakat yang secara tidak langsung dirasakan merugikan kaum wanita. Pandangan tersebut berasal dari paham kekuasaan patriarki atau patriarchal power yang menganggap bahwa kekuasaan dan seksualitas berada di tangan kaum pria.

Hasil pengamatan yang diperoleh dari studi pustaka menunjukkan bahwa permasalahan wanita dalam novel LB belum pernah disingkap dan diteliti secara ilmiah. Tulisan-tulisan yang ditemui adalah esai yang diuraikan secara fragmentaris.

Permasalahan wanita dalam novel LB cukup menarik. Novel ini melukiskan suatu pandangan yang hidup dalam masyarakat, yang ditampilkan melalui tokoh pria teks, yang apabila dipadukan dengan kenyataan belum ditelitinya teks secara ilmiah, semuanya itu dapat dijadikan dasar bagi suatu penelitian ilmiah. Selain dasar tersebut, teks LB pun memiliki potensi untuk menjadi saksi zamannya mengenai masalah wanita, yang dianggap warga kelas dua atau the second sex akibat patriarchal power, suatu paham yang dapat menimbulkan ketimpangan sosial (Kuntowijoyo, 1987:136, 150; Damono, 1983:23).
Selanjutnya? Klik di sini

Perempuan dalam Novel

CITRA PEREMPUAN INDONESIA DALAM SASTRA:
TELAAH ISI NOVEL-NOVEL INDONESIA

 
Abstrak: Tulisan ini memaparkan penelitian tentang citra perempuan Indonesia dalam isi novel-novel Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks-teks novel Indonesia (1) mencitrakan perempuan-perempuan yang berasal dari golongan bawah, menengah, dan menengah-atas, (2) menampilkan tingkat pendidikan dan keterpelajaran sebagai parameter ketradisionalan dan kemodernan perempuan, (3) mencitrakan perempuan tradisional cenderung melakukan integrasi kultural dengan tradisi, sedangkan perempuan modern melakukan resistensi kultural terhadap tradisi pada satu pihak dan pada pihak lain melakukan integrasi kultural dengan kemodernan, dan (4) mencitrakan perempuan-perempuan yang mengalami ketidakadilan relasi jender dan – sebaliknya – mengalami atau menikmati keadilan relasi jender. Ini mengimplikasikan adanya kemajemukan atau keanekaan citra perempuan Indonesia dalam novel-novel Indonesia.
Kata kunci: Citra manusia, perempuan Indonesia, novel Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993), citra (image) adalah gambar atau gambaran mental. Secara teknis, citra berarti gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang sesuatu. Sesuatu di sini dapat berupa manusia, masyarakat, organisasi, barang, dan lain-lain. Sebagai contoh, citra barang-barang konsumtif adalah gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang barang-barang konsumtif, antara lain busana, kosmetika, dan penganan (snack) di pusat jajanan (food centre) (Featherstone, 1988). Citra tentang adibusana, sebagai contoh lain, merupakan gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang – misalnya, golongan menengah atas –tentang pakaian-pakaian atau model-model pakaian yang dianggap luhur, adiluhur, dan tidak ada duanya.

Sejalan dengan itu, citra manusia berarti gambar atau gambaran mental yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang tentang manusia. Orang Barat (Eropa) khususnya para kolonialis atau orientalis, misalnya, memiliki citra tentang masyarakat Melayu, Filipina, dan Jawa yang malas bekerja atau mengidap kemalasan (Alatas, 1988). Dalam gambaran mental orang Barat, masyarakat Melayu, Filipina, dan Jawa adalah orang-orang yang tidak dapat diajak maju seperti orang Barat. Demikian juga pada umumnya orang Barat modern memiliki citra tentang Islam atau agama Islam yang fundamentalis, teroris, dan "senantiasa membuat onar dunia". Sebaliknya, pada umumnya orang Islam atau Timur pun memiliki citra tentang orang Barat yang agresif, sekularistis-ateis, "kafir", dan "serakah" (Huntington, 1993;Prasetyo, 1995). Hal ini menunjukkan bahwa citra merupakan bagian sangat penting dari persepsi, resepsi, dan kesadaran manusia. Dengan demikian, citra tentang manu-sia menjadi bagian sangat penting dari persepsi, resepsi, dan kesadaran manusia tentang manusia lain. Tidak mengherankan, seseorang atau sekelompok orang selalu berusaha membangun atau membentuk citra dirinya dan manusia lain. Untuk membangun atau membentuk citra diri dan manusia lain dipergunakan berbagai unsur atau bidang.

Pendidikan, pekerjaan, kepribadian, kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan gaya hidup merupakan unsur penting yang lazim dipergunakan untuk membangun atau membentuk citra diri dan manusia lain. Misalnya, citra perempuan yang modern, maju, dan tidak rendah diri (inferior) selalu ditandai oleh pendidikan yang tinggi, pekerjaan di sektor publik, berkepribadian mandiri, berkedudukan setara dengan laki-laki di dalam rumah tangga, kebebasan bergaul dengan orang lain, dan gaya penampilan yang selalu mutakhir (trendy dan up to date). Demikian juga citra tentang laki-laki yang menjadi idaman perempuan ditandai oleh kegagahan, kejantanan, keperkasaan, dan kelengkapan lahiriah yang serba mutakhir [serba trendy dan up to date] (Sjahrir, 1985; Murniati, 1992;Megawangi, 1994; Hafidz, 1994; Bhasin dan Khan, 1994; Edriana, 1995). Jadi, bangunan citra manusia itu ditegakkan berdasarkan unsur-unsur yang selalu dipandang penting sebagai penopang keberadaan manusia. Dan, bangunan citra ini dianggap sebagai penanda keberadaan manusia yang dapat difungsikan untuk pemandu, rujukan, tolok ukur ucapan, tindakan, dan perilaku manusia.

selengkapnya? KLIK DI SINI

Puisi Joko Pinurbo

Kepada Puisi-Puisi
(Joko Pinurbo)

Suara Karya Sabtu, 4 November 2006
Potret perjalanan kepenyairanmu telah dilunaskan dengan terbitnya buku Pacar Senja oleh penerbit Grasindo (2005). Di buku itu, puisi-puisimu coba kembali seksama saya baca. Dan memang masih ada lenguh yang panjang-pendek, pertanyaan terhadap waktu, kenangan, permainan antara logika yang baka di mulut kehidupan. Semua puisi, yang terdiri dari periode lengkap kepenyairanmu membentangkan isyarat yang sama. Sebuah cita-cita untuk menggugat dunia keseharianmu yang sempat, baik itu berupa catatan-catatan kecil yang kau saksikan dalam perjalanan hidup. Nampaknya pula kau tak berhenti di situ saja, puisi-puisi lain, yang berkisah atau sengaja kau kisahkan bagi rekan-rekan penyair, terkadang kau tulis dengan "ujung" yang lain. Seperti juga ketika kau ingin mengerami telur puisimu menjadi puisi yang utuh.

Di kumpulan puisimu, hakikat waktu terus menjadi pertanyaan yang abadi. Perjalanan pulang dalam dunia kesepianmu seperti membungkus etika, ditambah larik-larik yang terkesan main-main, meskipun saya paham kau tak sedang bermain-main di dalam puisi itu. Kekuatan narasi yang ditawarkan dalam puisimu seakan menjebak seluruh permaknaan yang purba. Kau dengan lihainya berlindung ke dalam "celana", "telepon genggam", atau kisah-kisah tentang "mandi". Kau bergerak seperti peluru karet, kenyal, dan menembak seluruh ruang keingintahuan sebagai manusia utuh. Ada sisi filosofi yang hendak ditawarkan, ibarat bidak catur yang melangkah kemana pun kau suka.

Di sinilah, saya justru mengagumi jerit puisimu. Seakan membukakan pintu kesadaran yang lain. Puisi-puisi yang malah mencabik seluruh berkas kehidupan sebagai manusia yang lain. Kau dengan entengnya mengisahkan sebuah tokoh, dengan menghadirkan tokoh tersebut, seakan dekat dengan persoalan kita sehari-hari.

Bentangan kalimat yang sederhana itu pula, kembali mengingatkan saya pada sejumlah puisi yang ditulis Wiji Thukul, Rendra, atau Emha Ainun Nadjib. Kau tidak banyak bermain pada metafor-metafor ganjil, sebagaimana penyair-penyair lain, yang berasik-masuk dalam sayap imajinasi lainnya. Namun sekali kau bermain dengan metafor, dengan segera puisi itu berubah jadi isyarat lengking yang getir. Sebagaimana dalam "Baju Bulan":

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin
baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah
di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa
kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu
barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang
membutuhkan
bajunya yang kuno di antara
begitu banyak warna-warni
baju buatan.
Bulan mencopot bajunya yang
keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil
yang sering ia
lihat menangis di persimpangan jalan.
Bulan sendiri rela telanjang di langit,
atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak
bisa pulang
.
(2003)
Demikianlah. Bukan hanya sampai di situ semata, kau kemudian bergerak dengan metafor-metafor lainnya, sebagaimana dalam "Mataair", "Pohon Perempuan", dan "Bertelur". Meskipun nampaknya jauh dari keinginanmu untuk bermain-main dengan penggalian makna yang lain. Kau hanya cukup memainkannya dengan kalimat yang sederhana. Tidak nampak ada kecanggihan kalimat di sana, tidak ada rupa-rupa majas yang aneh, tidak ada pergulatan yang aneh seperti dalam agenda puisi-puisi mutakhir. Bagimu, kau hanya berbicara tentang hidup sehari-hari, titik!

Namun justru dari sanalah letak kekuatan yang kaupendam dalam puisimu. Kecengengan yang kau hadirkan dengan diksi kata yang sederhana, memoles tenaga lain yang tersembunyi. Ah, aku bukan sedang bermaksud untuk memujimu. Tapi memang setiap aku membaca puisimu, seluruh ruang kesadaranku dengan seketika jebol. Aku terseret dalam makna kata yang kau hadirkan. Menukik, menerjang, memukul seluruh ruang kesadaranku. Pertama kali, kuanggap ini hanya rasa sentimentalku saja. Tapi setelah kuteruskan membaca, ternyata memang puisi-puisimu memang telah menemukan bahasanya sendiri.
Aku seperti terjebak dalam pusara kata yang tak habis-habisnya. Dan pembicaraan puisi-puisimu bukan sekadar ruang kehidupan sehari-hari, melainkan ia terlontar dengan kenyal layaknya sebuah bola yang ditendang ke sana-kemari. Agaknya, anggapan tentang penyair sebagai penemu bahasa ada benarnya. Puisi yang cerdas membutuhkan kompleksitas yang panjang. Puisi itu meramu seluruh babak kehidupan manusia, menyingkap setiap permenungan yang tumbuh.

Bung Joko Pinurbo, atau layak kupanggil Mas saja? Sebab kutahu engkau kelahiran Sukabumi, seorang Sunda yang gemar merayakan kehalusan bahasanya. Oke, aku tak ingin bertele-tele dengan menulis lebih banyak lagi. Pelbagai ulasan tentang (puisi-puisi)mu telah ramai menghiasi media massa. Sebut saja Nirwan Dewanto (yang katanya saat ini bertindak sebagai juru penentu perkembangan sastra Indonesia mutakhir), Nirwan Ahmad Arsuka, Sapardi Djoko Damono, pun Ayu Utami pada kata penutup kumpulan puisi terbarumu. Semuanya mengakui tertarik pada puisimu, seakan-akan serempak menahbiskan dirimu sebagai penyair yang sederhana, gemar memancing kata, dan akrab dalam realita kesehariaan.

Sebagaimana kau menulis begini:

Penyair kecil itu sangat sibuk
merangkai kata
dan dengan berbagai cara menyusunnya
menjadi
sebuah rumah yang akan
dipersembahkan kepada ibunya
"Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah,
Ibu tidur
saja di dalam rumah buatanku.
Aku akan berjaga di teras
semalaman dan semuanya akan
aman-aman saja.


Persoalan penantian memang kerap hadir dalam puisi-puisimu. Penampakan realitas yang dibalut dinding keceriaan, dicampur dengan alur sedih-yang tetap kautulis dengan rasa bahagia. Aku pikir, itulah yang "berbunyi" dalam puisi-puisimu. Kepolosan dalam menampakkan carut-marut hidup menciptakan sebuah bingkai yang kokoh. Kerinduan seseorang terhadap keluarga, efek masa kecil yang terus terkenang (dalam beberapa puisi yang bertema celana), atau perjuangan kemanusiaan yang kaurekam terhadap berbagai kondisi mutakhir. Katakanlah terhadap tragedi Mei di Jakarta, yang mengingatkan kita pada perkosaan massa terhadap sebuah etnis tertentu. Simak saja puisi "Mei":

MEI
Jakarta, 1998
Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kaupersembahkan kepada api.
Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.
Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan melelh
dalam api, Mei
adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan tubuh dusta kami dengan
membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei

Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia
cintanya
ketika tubuhmu hancur dan lebur
dengan tubuh bumi;
ketika tak ada yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.

(2002)
Puisi yang sepenuhnya nyentrik. Di sini, gaya khas dirimu bermain dalam menyusun setiap kalimat. Semangat bermain, yang sekali lagi tak bermain-main. Sebagaimana diketahui penyair merupakan anggota masyarakat terbesar juga. Dalam kesehariannya penyair bergulat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tentulah menghadirkan upaya-upaya baru dengan membalut sejarah (fakta) menjadi tak begitu kentara. Lebih menyortir sisi batin kehidupan manusia. Sebagai penyaksi zaman, seperti yang diungkap Ronggowarsito-semestinya kita tak turut edan juga dalam menyikapinya.
Tentang Alex R. Nainggolan
Dilahirkan di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku dimuat di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Sabili, Annida, Matabaca, Surabaya News, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, dll. **
*


Lena Tak Pulang

Lena Tak Pulang
Karya : Muram Batubara
JUARA I
LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER REMAJA
TAMAN BUDAYA JAWA TIMUR
2006
SATU

LAMPU MENYALA.
DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?

Pak Lena
Belum

Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang.

Pak Lena
Nanti juga pulang

Bu Lena
Sudah tiga hari

Pak Lena
Nanti juga pulang

Bu Lena
Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.

Pak Lena
(Tetap memandang tv) Anak kita

Bu Lena
Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari.

Pak Lena
Nanti juga pulang sendiri ketika bekalnya lari telah habis.

Bu Lena
Tidak segampang itu, Pak, ia itu perempuan!

Pak Lena
Jika memang ia perempuan, ia akan pulang.

Bu Lena
Tapi belum…(Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu keluar rumah)
Ada yang datang, sepertinya itu Lena, anak kita, pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang.

Pak Lena
Bukan, pasti temannya datang mencari.

Bu Lena
Pasti Lena

Pak Lena
Berani taruhan

Bu Lena
Taruhan apa?

Pak Lena
Jika bukan Lena, lebaran tahun ini kita pulang ke rumah orang tuaku.

Bu Lena
Tapi tahun kemarin sudah

Pak Lena
Itu karena kau kalah taruhan

Bu Lena
Ya tidak bisa, bayangkan dalam lima tahun ini kita tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku.

Pak Lena
Berani taruhan tidak?

Bu Lena
(Bingung) Ehm…

Pak Lena
Dengar langkah itu sudah semakin dekat.

Bu Lena
Baik


TERDENGAR KETUKAN PINTU. BU LENA MEMBUKA PINTU. KECEWA.


Tamu I
Permisi Tante, Lenanya ada?

Bu Lena
Oh tidak ada, dia belum pulang.

Tamu I
Belum pulang? Pergi ke mana ya Tante?

Bu Lena
Tante juga tidak tahu tuh, kamu tahu tidak?

Tamu I
Ya, kalau tahu saya tidak datang Tante.

Bu Lena
Iya juga ya. Hm, kamu teman sekolahnya ya?

Tamu I
Bukan Tante, saya teman…

Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.

Tamu I
Terima kasih Om, saya harus kembali pulang.

Pak Lena
Kenapa buru-buru?





Tamu I
Ada yang harus buru-buru saya lakukan

Bu Lena
Jika buru-buru, kenapa mencari Lena?

Tamu I
Ya itu dia, Tante. Karena Lenalah saya harus buru-buru?

Pak Lena
Masuk dulu jangan buru-buru

Bu Lena
Iya masuk dulu

Tamu I
Maaf tidak bisa, saya permisi dulu.

BU LENA MENUTUP PINTU. DUDUK DI RUANG TV.


Pak Lena
Siapa namanya?

Bu Lena
Siapa?

Pak Lena
Yang tadi?

Bu Lena
Teman Lena

Pak Lena
Iya, teman Lena tadi namanya siapa?

Bu Lena
Berarti tahun ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi?

Pak Lena
Jelas! Siapa nama teman Lena tadi!


Bu Lena
Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah semakin tua, dia ingin melihat kita sekeluarga kan?

Pak Lena
Tidak bisa! Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana menjalankan kesepakatan itu dan untuk apa membuat kesepakatan jika tidak ada kepastian untuk dilakukan. Siapa nama teman Lena tadi?

Bu Lena
Nggak tahu.

Pak Lena
Loh

Bu Lena
Kok loh

Pak Lena
Ya, loh, bagaimana mungkin kamu tidak menanyakannya?

Bu Lena
Kenapa bukan kamu?

Pak Lena
Aku kan sedang nonton tv dan aku tidak sedang berhadapan langsung dengannya.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena
Ada yang ketuk pintu, bukahlah.

Bu Lena
Bagaimana jika Lena?

Pak Lena
Ya tetap dibuka pintu kan?




TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena
Bukan itu, jika bukan Lena, perjanjian tadi batal.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.


Pak Lena
Bukalah pintu itu, kasihan tamunya.

Bu Lena
Buat satu kesepakatan baru dulu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.


Bu Lena
(Teriak ke arah pintu) sebentar ya, lagi menunggu kesepakan nih, sabar ya.

Pak Lena
Ya sudah, buka sana.

Bu Lena
Kesepakatan?

Pak Lena
Yah!

PINTU TERBUKA. BU LENA PUAS. PERBINCANGAN DI DEPAN PINTU MASUK RUMAH.

Tamu II
Kesepakatan apa Tante?






Bu Lena
Ah, tidak. Kamu siapa dan ada apa?

Tamu II
Saya temannya Lena, Tante, kebetulan saya sedang main di daerah sini.

Bu Lena
Terus

Tamu II
Ya, terus saya mampir. Karena kebetulan saya sedang main di daerah sini, jadi saya mampir ke sini, Tante.

Bu Lena
Terus

Tamu II
Ya, karena itu Tante, hm, Lenanya ada?

Bu Lena
Jadi karena kebetulan main di daerah sini, kamu mampir dan mencari Lena?

Tamu II
Benar itu Tante.

Bu Lena
Karena kebetulan?

Tamu II
Sebenarnya tidak Tante.

Bu Lena
Yang benar yang mana?

Tamu II
Saya memang mencari Lena, Tante.

Bu Lena
Karena main di daerah sini?

Tamu II
Tidak Tante, saya memang sengaja kemari untuk mencari Lena. Sumpah, Tante.

Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.


TAMU II MASUK DAN DUDUK DI RUANG TV. BU LENA MASUK DAPUR.

Tamu II
Nonton berita ya, Om?

Pak Lena
Tidak, cuma sedang melihat tanggapan wakil rakyat tentang bencana yang tidak berkesudahan.

Tamu II
Itukan berita namanya, Om.

Pak Lena
Itu bukan berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya berita harus mengutamakan kebenaran, kenyataan.

Tamu II
Tapi itukan acara berita, Om.

Pak Lena
Memang, beritanya, wakil rakyat sedang memberikan opini.

Tamu II
Berarti sedang nonton berita, Om.

Pak Lena
Tidak, saya sedang melihat opini. Ingat, opini!

Tamu II
Bedanya apa, Om?

Pak Lena
Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita.

Tamu II
Kalau opini?

Pak Lena
Mengapa kucing itu mau ditabrak?




Tamu II
Mungkin saja ia tidak melihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah.

Pak Lena
Itu dia opini.

Tamu II
Opini?

Pak Lena
Ya, opini kamu. Lihat omongan wakil rakyat itu, semuanya serba mungkin kan?

Tamu II
Jadi yang serba mungkin itu bukan berita?

Pak Lena
Mungkin kok berita. Mungkin itu kan belum jelas sedang berita adalah yang jelas dan pasti.

Tamu II
Tapi apa yang pasti di jaman sekarang, Om?

Pak Lena
Ya, opini.

BU LENA KELUAR DAPUR MEMBAWA TEH DALAM GELAS MENUJU KULKAS. MEMBUKANYA.


Tamu II
Tidak usah yang dingin, Tante, lagi batuk.

Bu Lena
Mau puding?

Tamu II
Boleh, Tante.

Bu Lena
Tapi dingin?


Tamu II
Tidak apa-apa, Tante, kan cuma puding.

BU LENA KE RUANG TV DAN MELETAKKAN SAJIAN KEMUDIAN KEMBALI MENUJU DAPUR.

Pak Lena
Kamu temannya Lena?

Tamu II
Benar itu, Om.

Pak Lena
Teman dari mana?

Tamu II
Ya teman saja, Om, tidak dari mana-mana.

Pak Lena
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, atau malah dari kelas mengaji?

Tamu II
Untuk yang terakhir tampaknya bukan, Om.

Pak Lena
Mengapa? Apa karena sudah pintar mengaji?

Tamu II
Tidak Om, saya non muslim.

Pak Lena
Oh begitu, terus dari mana?

Tamu II
Saya teman Lena dari tempat nongkrong, Om.

Pak Lena
Seingat saya Lena tidak mengambil les nongkrong.

Tamu II
Om, lucu juga. Tempat nongkrong itu tempat kita kumpul-kumpul, ya, istilah kerennya berbincang atau berdiskusi.




Pak Lena
Oh begitu, tapi yang nongkrong itu kan tentunya berasal dari tempat tertentu. Nah, kamu itu selain teman nongkrong Lena, teman di mana?

Tamu II
Ya tidak ada, Om. Saya cuma teman Lena di tempat nongkrong.

Pak Lena
Terlalu tipis, pertemanan itu belum begitu kuat. Hm, lalu maksud kamu mencari Lena?

Tamu II
Ya itu dia Om, saya ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan Lena. Sudah tiga hari ia tidak muncul, Om.

Pak Lena
Memangnya kenapa kalau ia tidak muncul dalam tiga hari?

Tamu II
Ya itu dia, Om.

Pak Lena
Apa?

Tamu II
Ehm, dia bawa sesuatu yang penting, Om. Sesuatu yang sangat saya banggakan.

Pak Lena
Oh begitu. Penting sekali?

Tamu II
Sangat penting malah, Om.

Pak Lena
Lena mengambilnya dari kamu?

Tamu II
Begitulah Om, saya malah tidak tahu bagaimana bersikap jika tidak ada kabar dari Lena.



Pak Lena
Banyakkah?

Tamu II
Ya kalau besar itu dianggap banyak, ya, banyak Om.

Pak Lena
Begini saja, kamu pulang dulu, besok kamu kembali lagi. Yang kamu punya itu pasti akan kembali.

Tamu II
Tapi Lenanya bagaimana Om?

Pak Lena
Itu urusan saya.

Tamu II
Kalau memang begitu, tentunya dengan ada kepastian dari Om, saya menjadi yakin untuk datang besok.

Pak Lena
Ya, ya, pulanglah.

TAMU II PERGI, BU LENA MASUK.

Pak Lena
Anakmu membawa lari uang temannya?

Bu Lena
Bagaimana bisa?

Pak Lena
Temannya yang datang tadi, yang terlalu banyak bicara itu, melaporkan apa yang telah dilakukan anakmu.

Bu Lena
Anak kita




Pak Lena
Ya, anak kita. Pencuri.

Bu Lena
Belum tentu benar, jangan terlalu banyak percaya dengan orang yang terlalu banyak bicara.

Pak Lena
Tapi bagaimana bisa kita percaya dengan orang yang sedikit bicara, dari mana kita tahu isi kepalanya jika tidak dikeluarkannya.

Bu Lena
Terlalu banyak bicara malah menghilangkan kata-kata kunci, kata yang seharusnya bisa menjadi andalan.

Pak Lena
Tanpa bicara, kata kunci itu malah tidak keluar, bagaimana bisa ia tampak?

Bu Lena
Tetapi mengapa kau begitu percaya dengan anak ingusan yang terlalu banyak bicara itu?

Pak Lena
Karena tampaknya benar, sudah tiga hari Lena pun tidak muncul di tempat biasa mereka bertemu.

Bu Lena
Bagaimana jika benar?

Pak Lena
Kita harus menggantinya, tidak bisa tidak, Lena kan anak kita.

Bu Lena
Jika tidak benar?

Pak Lena
Mau taruhan?

LAMPU PADAM




DUA

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.


Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?

Pak Lena
Belum

Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah empat hari ia tidak pulang.

Pak Lena
Nanti juga pulang

Bu Lena
Kemarin kau jawab seperti itu juga, tidak kemarin saja, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi juga.

Pak Lena
Terus harus bagaimana? Berteriak, mengabarkan pada semua orang bahwa anak kita yang perempuan tidak pulang dalam empat hari ini. Bagaimana kata dunia? Apa kata mereka pada kita? Orang tua yang tidak bertanggung jawab?

Bu Lena
Tampaknya kita memang tidak bertanggung jawab.

Pak Lena
Kok bisa?

Bu Lena
Lihatlah sendiri! Apa yang kita lakukan pada anak kita? Empat hari, bayangkan empat hari anak kita tidak pulang, tidak ada usaha kita untuk mencarinya.

Pak Lena
Menunggu juga mencari.


Bu Lena
Menunggu itu pasrah

Pak Lena
Tidak sama, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama seperti berdoa.

Bu Lena
Apa yang dilakukan dalam menunggu? Diam memandang tv atau sibuk berbincang tanpa tujuan?

Pak Lena
Jika kita ke kantor polisi dan melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita lakukan? Menunggu kan? Menunggu kabar dari pak polisi itu. Dan dalam menunggu kabar dari pak polisi, kita juga menonton tv atau berbincang kemana suka kan? Sama saja.

Bu Lena
Beda

Pak Lena
Apanya yang beda? Jika kita memasang iklan tentang kehilangan, sama juga seperti melapor ke polisi. Jika kita mencari sendiri, sama juga dengan menunggu kabar kan? Kita mencari itu tanpa tujuan, kita tidak tahu di mana anak kita berada, jadi sama juga dengan nol. Kita tetap juga menunggu. Daripada kita memutari kota, tentunya habis energi, toh lebih baik kita di rumah. Semuanya itu berarti menunggu, mencari itu juga menunggu. Menunggu juga mencari. Jelas!

Bu Lena
Pusing aku. Jika kita tahu di mana Lena berada kan gampang, bisa kita jemput.

Pak Lena
Itu dia kata yang tepat. Menjemput. Menjemput itu jelas beda dengan mencari atau
juga menunggu.

Bu Lena
Tapi kita tidak tahu di mana Lena berada?



Pak Lena
Yah harus dicari

Bu Lena
Dengan?

Pak Lena
Ya menunggu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Pak Lena
Bagaimana ini, ini pasti teman Lena yang banyak bicara kemarin itu.

Bu Lena
Yang uangnya Lena curi itu?

Pak Lena
Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan.

Bu Lena
Kita bayar saja

Pak Lena
Tapi kita belum ketemu Lena, bisa saja berita ini tidak benar.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
Jika belum benar, jangan dibayar dulu

Pak Lena
Tapi kita belum tahu mana yang benar. Kenapa Lena belum pulang juga.





TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
Bagaimana jika dia datang dengan polisi.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Pak Lena
Bukahlah pintu

Bu Lena
Kau saja

Pak Lena
Kau kan perempuan

Bu Lena
Kau kan laki-laki

Pak Lena
Perempuan duluan, atas nama kesopanan.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
(Teriak ke arah pintu masuk) Sebentar ya.

Pak Lena
Bukalah pintunya (Berlari kecil menuju depan tv, seakan-akan tak terjadi sesuatu)

PINTU TERBUKA. BU LENA BINGUNG.


Tamu I
Maaf Tante, Lenanya sudah pulang? Belum ya? Ya sudahlah, nanti saya datang lagi. Terima kasih Tante. Tolong nanti kalau Lena pulang, katakan saja saya mencari dan akan kembali lagi. Permisi Tante. (Pergi menghilang)




Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.

Bu Lena
Sudah pulang (menutup pintu dan berjalan menuju ruang tv) tamunya sudah pulang.

Pak Lena
Tukang pos?

Bu Lena
Bukan, temannya Lena?

Pak Lena
Yang kemarin?

Bu Lena
Ya

Pak Lena
Terus dia menagih uangnya? Apa yang kau bilang hingga dia langsung pulang.

Bu Lena
Aku tidak bilang apa-apa dan dia bukan yang uangnya dicuri Lena.

Pak Lena
Jadi teman yang mana?

Bu Lena
Yang pertama datang, yang lupa kutanyakan namanya.

Pak Lena
Sudah tahu kau namanya?

Bu Lena
Belum, dia terlalu buru-buru. Belum sempat aku bicara dia sudah pergi.

Pak Lena
Tampaknya dia memang selalu buru-buru. Tunggu dulu, siapa nama teman Lena yang banyak bicara itu?


Bu Lena
Kenapa kau tanyakan aku, bukankah kau yang banyak bicara dengannya? Seharusnya kau tanyakan namanya.

Pak Lena
Itu dia, dia terlalu berlama-lama sampai aku lupa menanyakan, padahal aku sudah berhadapan langsung dengannya.

Bu Lena
Sudahlah. Setidaknya bukan dia yang datang jadi kita tidak perlu risau lagi.

Pak Lena
Untuk sementara

Bu Lena
Walau sementara, setidaknya tidak risau.

LAMPU PADAM

TIGA

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. BU LENA DUDUK MEMANDANG TV. PAK LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Pak Lena
Sudah hampir sore, hari keempat sejak tidak pulang, apakah Lena tidak akan pulang lagi?

Bu Lena
Belum lima hari

Pak Lena
Hampir lima hari, lihatlah sudah mendekati senja. Jika matahari terbenam dan terbit lagi, tepat lima hari Lena tidak pulang. Apakah bekal larinya masih cukup?

Bu Lena
Mengapa kau kuatir?

Pak Lena
(Menuju pintu keluar masuk rumah, membukanya, menegok keluar dan menutupnya kembali) Belum pulang juga.

TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA LANGSUNG MEMBUKA. TERSENYUM SENANG.

Pak Lena
Pulang juga rupanya kau Lena

Lena
Lapar (Berjalan menuju dapur, keluar lagi sambil membawa piring makanan, makan di meja makan.)




Bu Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Makanlah yang banyak, tentunya kau lapar.

Pak Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Dari mana saja?

Bu Lena
Jangan ditanyakan dulu, biarkan dia makan dengan tenang. Sudah hampir lima hari dia berada di luar, rindu dengan rumah ini tentunya.

Pak Lena
Banyak temanmu yang datang.

Bu Lena
Jangan dikatakan dulu, biar dia makan dengan nyaman, sudah lima hari dia di luar, banyak bertemu orang tentunya, lebih banyak dari kawannya yang datang. (Berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan botol air dingin, menuangkan ke gelas Lena) Dari mana saja kau Lena?

Pak Lena
Kenapa kau tanyakan?

Lena
Dari rumah teman (Terus makan)

Pak Lena
Temanmu yang mana? Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, kelas mengaji, atau malah teman nongkrong?

Bu Lena
Ya, yang mana?

Lena
Teman lain

Pak Lena
Masih ada temanmu yang lain rupanya.

Bu Lena
Teman yang mana?



Lena
Kenapa terlalu mengurusi sih? Bukannya selama ini aku bebas, seperti yang kalian inginkan. Mengapa kalian bertanya ketika aku menghilang, mengapa tidak mencari? Lalu, apakah kalian pernah menanyakan aku sekolah apa tidak? Dan, untuk apa les yang mahal-mahal itu, bukan untukku kan? Untuk kalian yang gila gengsi tanpa memikirkan kebutuhanku kan? (Berdiri, membawa makanan, duduk di depan tv sambil terus makan.)

Pak Lena
(Berbisik) Bagaimana ini?

Bu Lena
(Berbisik pula) Bagaimana apanya?

Pak Lena
Dia terlalu tertutup, kita harus bisa membukanya. Mengapa kita yang disalahkan? Kita kan hanya menanyakan temannya saja.(Mendekati Lena) Enak makannya?

Lena
Biasa saja

Bu Lena
(Mendekati Lena) Tentunya enak, Ibu sengaja masak untuk kamu.

Lena
Sejak kapan masak khusus? (Berjalan menuju dapur, masuk ke dalamnya)

Bu Lena
(Berbisik) Tidak berhasil. Tampaknya dia memang marah pada kita.

Pak Lena
(Berbisik pula) Kita harus lebih berusaha lagi.

LENA KELUAR DARI DAPUR TANPA MEMBAWA SEBARANG PUN. BU LENA DAN PAK LENA MENDEKAT, PERSISI MENGHALANGI JALAN LENA YANG MASIH BERADA DI DEPAN PINTU.





Pak Lena
Sudah selesai makannya?

Bu Lena
Enak kan? Pasti kenyang.

Lena
(Menghindar dan berjalan menuju kamar tidur) Mau tidur

Pak Lena
(Mengejar hingga depan pintu kamar tidur) Belum malam

Bu Lena
(Ikut mengejar) Iya, belum malam, mari kita berbincang dulu.

LENA MASUK KAMAR. PINTU TERTUTUP. BU LENA DAN PAK LENA DUDUK DI KURSI MEJA MAKAN.

Bu Lena
Apa sebab dia begitu dingin

Pak Lena
Mungkin kita terlalu kaku

Bu Lena
Kau yang kaku

Pak Lena
Mungkin kau juga.

TERDENGAR KETUKAN PINTU


Pak Lena
Pasti temannya yang banyak bicara itu, yang uangnya dicuri Lena, bagaimana ini? Kita belum bicara tentang itu dengan Lena.

Bu Lena
Mungkin temannya yang lain.



TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
Kau saja yang buka, terserah itu melangkahi kesopanan.

Pak Lena
(Malas membuka pintu, hingga sampai depan pintu, menoleh ke Bu Lena dengan bingung) Sebaiknya kau saja.

TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA TERKEJUT DAN LANGSUNG MEMBUKA PINTU. TAMBAH TERKEJUT MELIHAT TAMU YANG DATANG.


Tamu II
Terkejut, Om.

Pak Lena
(Gagap) Tidak, tidak. Ayo masuklah.

BU LENA MENYINGKIR KE DAPUR. PAK LENA DAN TAMU II DUDUK MENGHADAP TV.


Tamu II
Saya tidak kebetulan main ke daerah sini, Om. Saya khusus datang seperti permintaan, Om, kemarin itu. Jadi rasanya tidak perlu basa-basi lagi…

Pak Lena
(Memotong) Basa-basi itu terkadang perlu. Ayolah berbasa- basi.

Bu Lena
(Muncul membawa segelas minuman hangat) Iya, kenapa harus langsung jika kita bisa
berbasa-basi terlebih dahulu.

Tamu II
Wah, tampaknya akan ada lampu hijau nih.

Pak Lena
Tidak hanya boleh langsung jalan, ini jalan tol jadi bisa sekencang apa juga.




Tamu II
Boleh ngebut?

Pak Lena
Oh tentu, asal pakai pengaman biar tidak kecelakaan.

Tamu II
(Tertawa) Ini dia calon mertua yang paling hebat.

Bu Lena
Mertua?

Pak Lena
Ada apa dengan mertua?

Tamu II
(Bingung) Katanya boleh langsung ngebut?

Pak Lena
(Bingung juga) Tunggu dulu. Begini saja, kita buang dulu basa-basi. Apa maksudnya ini? Mertua dan ngebut, hubungannya apa?

Tamu II
Loh, bukankah sudah jelas Om, ini soal sesuatu yang saya miliki itu, yang dibawa Lena.

Bu Lena
Ya terus.

Tamu II
Bukankah hari ini akan saya temukan lagi, seperti janji Om kemarin.

Bu Lena
Uang kan?

Pak Lena
Ya, berapa yang dicuri dari kamu?

Bu Lena
Masalah besarnya tidak perlu risau, kami akan bayarkan semuanya, bagaimanapun Lena itu anak kami, jadi tidak mungkin kami membiarkannya mencuri uang kamu.




Pak Lena
Ya benar itu.

Bu Lena
Tunggu dulu, biar semuanya jelas (Berjalan menuju kamar Lena) Lena! Keluar kamu, Nak.

Tamu II
Tunggu dulu, Tante…

Bu Lena
Tenang, biar jelas saja.

Tamu II
Tapi…

Pak Lena
Tenang saja

Bu Lena
Lena!

Lena
(Keluar dengan muka suntuk, bertambah suntuk begitu melihat Tamu II) Ada apa?

Bu Lena
Ayo, ada yang harus kita selesaikan. (Menggiring Lena ke depan tv)

Tamu II
(Tersenyum manis) Hai Len.

Lena
(Senyum masam) Ada apa?

Pak Lena
Tenang, santai semuanya. Begini, sebaiknya kita cari tahu yang sebenarnya. Bu, kau saja yang bicara.

Bu Lena
Lena, teman kamu ini kemarin sudah datang, tapi karena kamu belum pulang, kami suruh dia datang sekarang. Nah, dia ini datang untuk meminta sesuatu yang kamu bawa, begitulah.



Pak Lena
Ya, dengan kata lain ia datang untuk menagih sesuatu yang telah kau curi. Nah, berapa jumlahnya, Nak, berapa yang kau ambil darinya.

Tamu II
(Panik) Tunggu dulu…

Pak Lena
Sudah kamu jangan bicara dulu. Berapa Lena?

Lena
(Bingung) Lena tidak mencuri apa-apa. Hey (Menunjuk Tamu II) kamu jangan sembarangan menuduh aku pencuri ya! Sampai datang ke rumah lagi!

Bu Lena
Sabar Nak, tenang. Katakan saja jumlahnya, biar kita ganti. Jangan takut kami marah. Sungguh kami tidak akan marah.

Pak Lena
Ya katakan saja, biar semuanya jelas.

Lena
Ahk, bagaimana ini! Lena tidak mencuri, sumpah. Tanyakan saja sama dia. (Duduk dengan sewot)

Tamu II
Waduh, bagaimana ini, kenapa bisa kacau. Begini saja, Om, saya permisi, anggap saja tidak terjadi apa-apa. (Bergerak pergi)

Pak Lena
(Menahan) Bagaimana kamu ini, bukannya kamu ingin mengambil yang telah dicuri Lena?

Tamu II
Sudahlah Om, tidak apa-apa, biarkan saja.

Bu Lena
Tidak bisa begitu. Begini saja, berapa yang dicuri Lena?

Lena
Ya berapa yang kucuri! Cepat bilang!



Tamu II
(Takut) Tidak ada…

Pak Lena
Apa!

Tamu II
Lena tidak mencuri uang, Om. Sejak tadi dan malah kemarin saya sudah ingin jelaskan tapi Om tidak mau mendengar. Saya pikir Om sudah mengerti dengan yang saya maksud.

Pak Lena
Kok malah menyalahkan.

Tamu II
Benar, Om. Saya sudah coba jelaskan. Lena tidak mencuri uang tapi…

Bu Lena
Tapi apa? HP, perhiasan, atau apa?

Tamu II
Bukan itu Tante.

Bu Lena
Jadi apa? Bicara yang jelas!

Tamu II
(Malu) Lena mencuri hati saya, Tante. Dengan kata lain, saya itu senang sama Lena tapi Lenanya belum memberikan jawaban.

TERDENGAR KETUKAN PINTU. SEMUANYA TERKEJUT.


Pak Lena
Siapa lagi itu, bukalah pintunya, Lena kamu yang buka.

PINTU TERBUKA. LENA TERTAWA.

Lena
Aku baru saja pulang, kamu bolak-balik ya mencari aku?

Tamu I
Kurang ajar, kalau utang cepat bayar dong!

Lena
Ala, gitu aja sewot.

Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.

Bu Lena
Siapa Len?

Lena
Teman

Bu Lena
Bawa temanmu ke dalam, tidak baik terus di depan pintu.

Tamu I
Terima kasih Tante, di sini saja.

Pak Lena
Masuklah, biar saling bertemu semuanya.

Lena
Ayolah masuk

Tamu I
Bayar dulu utangmu, ini urusan kita berdua.

Lena
Iya, nanti di dalam.

Tamu I
Tapi…

Lena
Tidak ada alasan (menggandeng Tamu I)

SEMUANYA BERKUMPUL DI DEPAN TV

Bu Lena
Oh, rupanya kamu. Len, temanmu ini bolak-balik mencari kamu.

Tamu I
Maaf Tante, merepotkan.

Pak Lena
Ah, tidak ada apa-apa. Kenapa terlihat begitu penting, ada apa ini?

Tamu I
Tidak ada apa-apa, Om, cuma sekedar mampir.

Pak Lena
Kalau cuma sekedar berarti tidak berulang, benar tidak?

Tamu II
Kalau begitu saya pulang lebih dulu saja, Om.

Pak Lena
Kamu di sini dulu, masalah yang tadi belum selesai.

Lena
Masalah apa lagi?

Bu Lena
Lena, kamu kan belum mengembalikan uang yang kamu curi dari dia.

Tamu I
Kamu mencuri uang, Len?

Tamu II
Tidak… tidak, wah serba salah semuanya.

Pak Lena
Sudahlah, mari kita selesaikan. Lena, katakan saja berapa yang kau ambil dari dia?

Lena
(Marah) Kenapa nggak ada yang percaya! Lena tidak pernah mencuri uangnya!

Tamu II
Iya, Om. Lena tidak mencuri uang saya.

Lena
Dengar itu! Lena tidak pernah mencuri! Lena cuma meminjam uang.

Tamu II
Kapan?

Lena
Bukan kamu!

Tamu I
Tidak, Om. Tidak, Tante. Lena tidak pernah meminjam uang.

Lena
Hey!

Pak Lena
Tunggu dulu, ada apa ini?

Bu Lena
Ya, yang benar yang mana? Mencuri atau meminjam, lalu uang siapa yang dicuri atau dipinjam?

Tamu I
Bukan uang saya.

Lena
Hey!

Tamu II
Sudah jelas, saya tidak ada hubungan dengan uang. Seperti yang sudah terkatakan tadi, hati saya yang dicuri.

Bu Lena
Berarti uang kamu? Berapa?

Tamu I
Tidak ada, Tante.

Lena
Hey! Jangan bohong kamu. Aku pinjam uang kamu beberapa hari yang lalu sebagai bekal lari dari rumah. Dan, bukankah kamu datang kemari untuk menagihnya?

Bu Lena
Bekal lari?

Pak Lena
Lari dari mana, Nak?

Lena
Lihat, lihatlah orang tuaku ini kawan-kawan. Aku lari dari rumah pun mereka tidak tahu. Yang mereka pikirkan semua baik-baik saja. Aku benci! (marah mendekati menangis)

Tamu I
Aku tidak tahu, aku pinjami kamu uang bukan untuk itu. Kalau aku tahu kamu pinjam uang untuk lari, aku tidak beri tentunya.

Tamu II
Kamu lari dari rumah? Kenapa tidak bilang padaku, Len. Aku, ah…

Tamu I
Kenapa, kamu mau membantunya lari kan!

Lena
Diam kalian! Kalian (memandang orang tua) lihatlah anak kalian ini! Apakah kalian hafal setiap tahi lalatnya? Apa kalian tahu yang diinginkannya? Pandang aku melalui mataku jangan pandang aku dengan mata kalian!

Bu Lena
Kenapa kamu harus lari, Nak. Bukankah hidup di luar itu lebih berbahaya.

Pak Lena
Jika memang ingin lari, kamu kan bisa permisi dulu, tidak perlu kamu pinjam uang kawan.

Lena
Ini bukan piknik…(menangis)

BU LENA DAN PAK LENA LANGSUNG MENDEKATI LENA.

Tamu I
(Menarik Tamu II ke sudut lain) Urusan keluarga, sebaiknya kita menyingkir.

Tamu II
Kita harus permisi dulu

Tamu I
Kalau keadaannya seperti ini, sebaiknya tidak perlu.

Tamu II
Uangmu…

Tamu I
Sudahlah…

TAMU I DAN TAMU II PERGI DENGAN CEPAT. TANGIS LENA SEMAKIN MENJADI.


Pak Lena
Diamlah, jangan menangis. Uang yang kamu pinjam akan kita ganti. (Menyadari Tamu I dan Tamu II telah hilang) Bagaimana ini, mereka telah hilang. Uangnya belum kita ganti.

Lena
(Sambil menangis) Bukan uang…

Pak Lena
Jika begitu mengapa menangis?

Bu Lena
Diamlah, jangan menangis terus. Kami bingung, Len. Ceritalah, Nak.

Lena
Lena tidak pulang selama ini karena Lena merasa tidak punya rumah.

Bu Lena
Tidak punya rumah?

Lena
Ya, rumah ini segalanya dihitung dengan uang, tidak ada pembicaraan yang menyenangkan. Kalian sibuk dan Lena pun sibuk sendiri. Tidak ada yang perhatikan. Lena benci. Lena butuh rumah yang benar-benar rumah!

Bu Lena
(Menangis) Maaf ya, Nak. Mungkin selama ini kami tidak memperhatikan kamu, semuanya selalu dihitung dengan uang. Rumah ini rumah kamu, rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak ingin mengekang, kami rasa itu yang baik.

Pak Lena
Membebaskan kamu bukan berarti tidak perhatian. Dulu kami dikekang orang tua kami dan kami tidak suka, maka kami ingin kamu tidak seperti kami.

Lena
(Lari masuk kamar) Seharusnya kalian jadi orang tua yang benar-benar orang tua!

MUSIK PERLAHAN, SAHYDU BEGITU TERASA. BU LENA TERUS MENANGIS.

Bu Lena
Kita salah mendidiknya…

Pak Lena
Sebenarnya kita bermaksud baik, tapi salah juga…

Bu Lena
Kita harus bagaimana? Membebaskannya salah, mengekangnya juga bisa salah…
TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
Siapa lagi?
TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA MENUJU PINTU DAN MEMBUKANYA.
BU LENA
Siapa lagi?
SELESAI
Yogyakarta maret-april 2006

Thursday, February 28, 2008

Para Jahanam

PARA JAHANAM!

Naskah: Zulfikri Sasma
Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata



Para Pelaku:
JOHARI (suami)
TUMIYAH (istri)
ROS (anak perempuan)
UJANG (anak laki-laki)

Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.
Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!

I

Sebuah gubuk reyot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paroh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Johari namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.

Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.

JOHARI:
Merah delima?
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja?
Tum! Kau dengar aku Tum?
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)

II

Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.



TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!

JOHARI:
Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan di sini?

TUMIYAH:
Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal. Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain meramal syair-syair sialanmu itu?

JOHARI:
Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini

TUMIYAH:
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!

JOHARI:
Alah! Kau tahu apa tentang merah delima?
(Johari melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)

III

Ketika Johari asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang, pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.

JOHARI:
He, anak jadah! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)

TUMIYAH:
Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)

TUMIYAH:
Pak tua, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!

JOHARI:
Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.

TUMIYAH:
Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan

JOHARI:
Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…

TUMIYAH:
Alah sudah! Dasar pembual!
(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta)

TUMIYAH:
Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak tua?

JOHARI:
Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!

TUMIYAH:
Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak becus!

JOHARI:
Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon

TUMIYAH:
Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.
(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)

IV

Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ros—anak gadisnya—muncul, Ros datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Johari jadi iri dan lapar. Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana.

JOHARI:
Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu

ROS:
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)

JOHARI:
Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?

ROS:
Enak saja, bang Nasrul yang kasih aku lima ribu

JOHARI:
Nasrul? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Nasrul. Nasrul senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa

ROS:
Nggak! Pergi saja sendiri
(Ros kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)

JOHARI:
Keparat! Awas kamu Ros, aku doakan kau nyahok dengan Nasrul!
(Pak Johari pun pergi keluar rumah)

V

Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. Kecuali Pak Johari yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.
Pukul sebelas malam, pak Johari baru pulang. Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya menceracau-ceracau tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.

JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..
(Mulut Johari terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu
mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…)
* * *

SELESAI


Sumber: http://fikriarea.blogsome.com/category/naskah-drama/

Wednesday, February 27, 2008

Badai Sepanjang Malam

BADAI SEPANJANG MALAM
Karya MAX ARIFIN
Para Pelaku:
1.Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun
2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3.Kepala Desa,suara pada flashback


Setting :
Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai.Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.


Suara :
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.

Musik:
Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling

Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain,mereka berdua memang berasal dari kota.tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu.mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik.hanya idelisme yang menyala nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu.

01.Begitu layar tersingkap, nampak jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi. Kemudian ia mengangkat mukanya,memandang jauh ke depan, merenung dan kembali lagi pada bacaannya. Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana.
Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya. Asap berekepul ke atas.Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.



02.Saenah :
Kau belum tidur juga? kukira sudah larut malam.Beristirahatlah, besok kan hari kerja?

03.Jamil:
Sebentar,Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah, tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari. Biasa, kan aku begini malam malam.

04.Saenah:
Baiklah, tapi apa boleh aku ketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

05.Jamil:
Semuanya, semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku, Saenah. Perjalanan hidup seorang guru muda-yang ditempatkan di suatu desa terpencil-seperti Klulan ini kini merupakan lembaran lembaran terbuka bagi semua orang.

06.Saenah:
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku?Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau memang rahasia?

07.Jamil:
Sama sekali bukan rahasia, sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi.Memang pernah sekali,suatu malam yang mencekam,ketika aku sudah tidur dengan nyenyak, aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini?[Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya] Coba kaubaca catatanku tertanggal…[sambil masih membolak balik]..ini tanggal 2 oktober 1977.

08.Saenah:
[Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan.Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh dia angker, tidak bersahabat: panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini? Menjadi penonton yang diombangkan ambingkan oleh…barang tontonannya. Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”. [Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi].”Aku belum menemukan kejantanan di sini. Orang orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita? Dan apakah akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai? Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.” [Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]

09.Jamil:
Kenapa kau berhenti? Jangan tatap aku seperti itu, Saenah.

10.Saenah:
Apakah tulisan ini tidak keterlaluan? Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?


11.Jamil:
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya, Saenah. Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun, sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”. Kejujuranku mendorong aku berkata,”Tidak”, karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata”Ya”. Yang berkata “Tidak” akan disisihkan. [Pause] Memang sulit, Saenah. Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar, bobrok di dalam. Itulah masalahnya.[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali. Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan]

12.Saenah:
Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ketika kita pertama kali tiba di sini, ya setahun yang lalu. Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai. Idealismemu menyala nyala. Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.[Saenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!] Ini putarlah tape ini. Kaurekam peristiwa itu. [Saenah memutar tape itu, kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri. Inilah tempat kami.Kami harap saudara betah menjadi guru di sini. Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin, kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu. Dindingnya telah robek,daun pintunya telah copot, lemari lemari sudah reyot, lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi. Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama. Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini. Yang ini adalah Saudara Sahli, sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan. Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini. Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.”[Saenah mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil.Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya.Mereka berpandangan]


13.Saenah:
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.

14.Jamil:
Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini ?

15.Saenah:
Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri? Penilaian terakhir ada pada hatimu dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri? Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu. Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.

16.Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku? Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku. Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku. Tidak, Saenah. Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

17.Saenah:
Kau tidak memahami masyarakatmu.

18.Jamil:
Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.

19.saenah:
siapa yang salah dalam hal ini.

20.Jamil:
Masyarakat.

21.Saenah:
Yang menang ?

22.Jamil:
Aku

23.Saenah:
Lalu ?

24.Jamil:
Aku mau pindah dari sini. [Pause. Lama sekali mereka berpandangan.]

25.Saenah:
[Dengan suara rendah] Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

26.Jamil:
[Keras] Sementara memang itulah penyelesaiannya.

27.Saenah:
[Keras] Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu. Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis. Idealis sejati, malah. Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu. [Pause]

(Lemah diucapkan]Aku terkenang masa itu, ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari[Flashback dengan mengubah warn cahaya pelan pelan. Memakai potentiometer. Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula. Musik sendu mengalun]

28.Jamil:
Aku mau hidup jauh dari kebisingan, Saenah. Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa,dengan penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya. Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka. Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira, dan kita bersama sama kesana. Di sana tenagaku lebih diperlukan dari pada di kota. Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.

29.Saenah:
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.

30.Jamil:
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi. Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan. Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun, umpamanya? Betul mereka menerima gaji tiap bulan. Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian, dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana. Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi, tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali. Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi, Saenah. Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku, mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.


31.Saenah:
Baiklah, Sayang. Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita, aku sudah tahu macam suami yang kupilih itu. Aku bersedia mendampingimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebagai seorang ibu rumah tangga. Yaitu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyian dan kesepian macam apa pun.Kau tak perlu sangsi. [Pause senbentar.Pelan pelan lampu kembali pada cahaya semula]

32.Saenah:
Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu. Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang? Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris, Erich Fromm, Emerson atau Alvin Toffler. Ya, malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.

33.Jamil:
Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?

34.Saenah:
Tidak banyak. Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku-bukunya.Dan dia tidak akan mundur walau kehidupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena ia mempunyai integritas diri lebih tinggi dri orang-orang yng menyebabkan kepahitan hidupnya Apakah kau menyerah dalam hal ini? Ketika kau melangkahkan kakimu memasuki desa ini terlalu banyak yang akan kausumbngkan padanya, ini harsus kau akui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta dirimu. Inilah resiko hidup di desa.Seluruh aspek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pribadi kita dijadikan ukuran mampu tidaknya kita bertugas. Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau. [Suasana menjadi hening sekali. Pause]
Aku sama sekali tak menyalahkan kau.malah dim diam menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku tidak ingin kau tenggelam begitu saja dalam suatu msyarakat atau dalam suatu sistem yang jelek namun telah membudaya dalam masyarakat itu. Di mana pun kau berda juga sekiranya kau bekerja di kantor. Kau pernah dengan penuh semangat menceritakan bagaimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII. Di sana Uris menulis, katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusnya menjadi pendukungnya. Betapapun kecil kekuatan itu. Di sanalah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah. Aku tak menyetujui bila kau bicara soal kalah menang dalam hal ini. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Dialog yang masih kurang.


34.Jamil:
Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan. Hubungan antarsesama manusia. Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual.kita makin cemas, kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi. Di sementara sekolah di banyak sekolah malah, mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi, sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut. Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.


35.Saenah:
Ya, seperti pertukaran pikiran malam ini.Kita harus yakin akan manfaat pertukaran . Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran. Untuk apa, kata mereka. Kan aku berkuasa.

36.Jamil;
Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu. Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan, yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri.

37.Saenah:
Itu kan Erich Fromm yang bilang.

38.Jamil:
Memang aku mengutip dia. [Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]

39.Saenah:
Aduh, kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu, generasi muda yang sangat membutuhkan kau.

40.Jamil:
Aku akan tetap berada di desa ini, sayangku.

41.Saenah:
Aku akan tetap bersamamu. Yakinlah. [Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur. Musik melengking keras lalu pelan pelan, sendu dan akhirnya berhenti].
Catatan:
Naskah ini pernah dimuat dalam buku Kumpulan Drama Remaja, editor A.Rumadi.Penerbit PT Gramedia Jakarta,1988,halaman 25-33

Puisi mBeling Puisi Lucu dan Kreatif

RELIGI
(Hardoyo Rajiyowiryono)

pernah kuangankan
tuhan bersujud
bagai manusia
lalu membuang airseni dari
langit dan aku
menganga di bawahnya

DOA PAGI
(Cunong Nunuk Suraya)
Tuhan yang baik hati
berilah aku malam ini
seorang perempuan cantik
yang liar bagai kuda binal
yang tegar dan segar
yang lebih perawan dari fajar dinihari
yang lebih gagah dari Bima
yang mencintai dirinya sendiri!



Pada Sebuah Kapal

Pada Sebuah Kapal
Sinopsis novel Nh. Dini

Novel ini menceritakan tentang keadaan sebuah rumah tangga yang berada di ambang perceraian. Perselingkuhan yang dilakukan istri, komunikasi yang macet, adalah penyebab persoalan itu. Dengan keteguhan hati dan keangkuhannya, sang suami berupaya mempertahankan rumah tangga mereka meski ia selalu diberondong oleh tuntutan cerai istrinya. Sementara istrinya terus meneruskan perselingkuhannya dengan lelaki yang juga sedang menghadapi persoalan yang sama: tidak bahagia dalam rumah tangganya.

Novel ini terbagi menjadi dua bagian. Bagan pertama bertajuk: PENARI, bersudut pandang orang pertama (akuan) sertaan tokoh SRI, sedang bagian kedua berjudul PELAUT, tetap menggunakan sudut pandang akuan sertaan tetapi tokoh yang bercerita adalah MICHEL.

Sri adalah seorang gadis yang lincah, aktif, dan ramah. Ia seorang penari yang bekerja sebagai penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) di daerah Semarang. Kemudian ia melamar menjadi seorang pramugari. Sejauh ini perjalanannya mengikuti seleksi berjalan lancer hingga ia harus menjalani seleksi lanjut di Jakarta. Namun sayang, proses seleksi yang diikutinya harus terhenti karena ia tidak lolos ketika menjalani tes kesehatan. Betapa kecewa hatinya.

Secara kebetulan, Sri mendapat tawaran menjadi seorang wartawan di sebuah majalah, tetapi ditolaknya tawaran itu karena ia lebih tertarik menjadi penyiar RRI di Jakarta. Di sela-sela menjadi penyiar itulah Sri masih meneruskan kegemarannya menari. Berbagai undangan menari ia hadiri, bahkan pernah pula ia diundang menari ke istana Negara. Tujuh bulan ia menjadi penyiar di Jakarta tepat saat itu ibunya yang tinggal di Semarang meninggal dunia.

Berbekal keramahan dan kelincahannya, Sri banyak menarik perhatian pemuda-pemuda di Jakarta. Di antara sekian banyak pemuda yang menyatakan cinta, Sri hanya menjatuhkan pilihan pada seorang pemuda bernama Saputro. Saputro adalah seorang pilot. Hubungan kasih mereka tampaknya sangat serius dan mereka merencanakan untuk segera menikah. Namun apa mau dikata, Saputro dikabarkan mengalami kecelakaan pesawat ketika terbang.

Begitulah kegagalan membangun rumah tangga bersama Saputra membawa Sri pergi ke Yogyakarta. Lelaki berikutnya yang mencoba mendekatinya antara lain: Yus – seorang pelukis, Carl – orang asing yang bertugas mendampingi mahasiswa. Namun kedua orang itu tidak dapat membuat Sri melupakan bayangan Saputro.

Adalah seorang diplomat Perancis bernama Charles Vincent. Lelaki inilah yang kemudian dapat mencairkan kebekuan hati Sri. Sikapnya yang lembut, perhatian membuat Sri secara serius menjalin hubungan dengan lelaki itu. Meski keluarga Sri tidak sepakat, Sri tetap menikah dengan Vincent.
Apa yang dinasihatkan keluarganya ternyata benar-benar terjadi. Setelah menikah sikap Vincent berubah. Ia bukan lagi seorang lelaki yang lembut dan berperhatian, tetapi berubah menjadi lelaki yang egois, kasar, dan tidak mau mengalah. Pernikahan Sri dengan Vincent sangat tidak bahagia. Pertengkaran hampir setiap hari terjadi. Pertengkaran itu berlanjut terus hingga kelahiran anak pertama mereka.

Anggapan Sri akan perbakan rumah tangganya setelah anak pertama mereka lahir ternyata salah. Pertengkaran tetap terus terjadi. Ketidakcocokan ini sangat tampak ketika mereka mengadakan perjalanan ke Perancis. Vincent mendapat cuti, maka mereka berkeinginan pulang ke Perancis. Apa yang terjadi? Perjalan ke Perancis suami istri ini dilakukan dengan sangat aneh. Sang suami dan anaknya pergi ke Perancis dengan naik pesawat, sementara Sri, sang istri melakukan perjalanan dengan kapal laut.

Perjalanan dengan kapal inilah awal terjadinya perselingkuhan yang dilakukan Sri. Di atas kapal itu Sri berkenalan dengan seorang pelaut bernama Michel Dubanton. Michel adalah lelaki Perancis. Karena perjalanan dengan kapal menuju Perancis cukup memakan waktu, maka sharinglah dua orang – lelaki dan wanita ini untuk mengusir kejenuhan. Sri menceritakan perkawinannya dengan Vincent yang tidak bahagia, sementara Michel juga menceritakan kehidupan rumah tangganya bersama Nicole yang selalu diliputi rasa cemburu berlebihan. Dua orang yang mengalami persoalan rumah tangga, bertemu pada sebuah kapal dalam perjalanan menuju Perancis yang membutuhkan waktu cukup lama, itulah awal munculnya perselingkuhan.

Michel, seorang pelaut yang telah berumah tangga dengan Nicole tetapi tidak merasa bahagia karena istrinya sangat pencemburu, sehingga ia tidak boleh bergaul dan dekat-dekat dengan wanita lain. Sebelum menjadi pelaut, Michel adalah seorang tentara yang pernah pergi berperang di Jerman. Perjumpaan dengan Sri yang masih cukup menarik, ramah, dan terbuka membuat Michel merasa menemukan wanita yang selama ini ia rindukan. Sementara dari pihak Sri, Michel adalah sosok lelaki yang romantis, lembut, dan sangat perhatian sebagaimana ia idamkan selama ini. Sri jatuh cinta pada Michel, pun Michel jatuh hati pada Sri. Di atas kapal itu, perbuatan layaknya suami istri mereka lakukan berkali-kali tanpa ada rasa bersalah diantara keduanya.

Sesampai di Perancis, Sri yang telah menemukan sosok Michel lelaki yang sangat diidam-idamkan, selalu membandingkan suaminya, Vincent dengan Michel. Segeralah ia dengan gampang membuat perbedaan yang sangat menyolok diantara keduanya. Secara diam-diam, Sri dan Michel tetap menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka pun berlanjut saat Vincent ditugaskan ke Jepang.

Kehidupan rumah tangga Sri di Jepang tidak kunjung membaik hinga akhirnya Sri mengajukan cerai pada Vincent. Namun gugatan Sri ini tidak ditanggapi oleh suaminya. Akibatnya, perselingkuanan Sri dengan Michel semakin menjadi-jadi. Bahkan Michel memohon kepada atasannya untuk dipindahtugaskan ke Jepang agar ia bisa selalu dekat dengan Sri.

Selesai bertugas di Jepang, Vincent kembali bertugas ke Perancis. Mchel pun meminta pada atasanyya agar membatalkan tugasnya di Yokohama dan diganti dengan tugas sebagai pelaut di daerah pelayaran Perancis. Begitulah perjumpaan dan perselingkuhan antara Sri dengan Michel semakin menjadi-jadi.***

Catatan :

Pada Sebuah Kapal adalah salah satu novel Nh. Dini yang sangat menarik perhatian para pengamat sastra karena keistimewaan penggunaan sudut pandang. Pengarang secara bersama-sama menggunakan sudut pandang akuan sertaan tetapi berbeda tokoh. Yang membawakan cerita. Metode bercerita yang baru inilah yang membuat diskusi terhadap novel ini marak.

Di sisi lain, latar belakang kehidupan pengarang (Nh. Dini sering dikait-kaitkan dengan isi novel ini. Dini yang bersuami orang perancis, yang pernah pula menjadi penyiar radio selalu dikait-kaitkan. Keterkaitan isi cerita dalam novel dengan kehidupan pengarang inilah yang semakin berkembang kita orang mengapresiasi novel ini.


Tertarik dengan sinopsis novel ini? Download? Silakan klik di sini
Baca Sinopsis novel yang lain? Klik di sini

Tuesday, February 26, 2008

A E N G - Monolog Putu Wijaya

A E N G
Monolog Putu Wijaya

IA BERBARING DI LANTAI DENGAN KAKI NAIK KE KURSI. DI MEJA KECIL, DEKAT KURSI, ADA BOTOL BIR KOSONG SEDANG DI LANTAI ADA PIRING SENG. MUKANYA DITANGKUP TOPI KAIN. DI KAMAR SEBELAH TERDENGAR SESEORANG MEMUKUL DINDING BERKALI-KALI

Ya, siapa itu. Jangan ganggu, aku sedang tidur

GEDORAN KEMBALI BERTUBI

Yaaaa! Siapaaa? Jangan ganggu aku sedang tidur

GEDORAN BERTAMBAH KERAS. ORANG ITU MENGANGKAT TUBUHNYA

Ya! Diam kamu kerbau! Sudah aku bilang, aku tidur. Masak aku tidak boleh tidur sebentar. Kapan lagi aku bisa tidur kalau tidak sekarang. Nah begitu. Diam-diam sajalah dulu. Tenangkan saja dulu kepalamu yang kacau itu. Hormati sedikit kemauan tetangga kamu ini
(BERBARING LAGI) Ya diam. Tenang seperti ini. Biar aku dengar hari bergeser mendekatiku dengan segala kebuasannya. Tiap detik sekarang kita berhitung. Aku kecap detak-detak waktu kenyang-kenyang, karena siapapun tak ada lagi yang bisa menahannya untukku. Bahkan Tuhan juga sudah menampikku. Sebentar lagi mereka akan datang dan menuntunku ke lapangan tembak. Mataku akan dibalut kain hitam dan sesudah itu seluruh hidupku jadi hitam. Aku akan terkulai di situ berlumuran darah. Jadi onggokan daging bekas. Sementara dunia terus berjalan dan kehidupan melenggang seperti tak kekurangan apa-apa tanpa aku. Sekarang kesempatanku yang terakhir untuk menunjuk arti. Mengisi kembali puluhan tahun di belakang yang sudah aku lompati dengan terlalu cepat. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu pendek tetapi dahsyat? (MENGANGKAT TOPI DAN MELEMPARKANNYA KE ATAS) Ketika aku mulai melihat, yang pertama sekali aku lihat adalah kejahatan. Makku dihajar habis oleh suaminya yang kesetanan. Ketika pertama kali mendengar, yang kudengar adalah keserakahan. Para tetangga beramai-ramai memfitnah kami supaya terkubur. Ketika pertama kali berbuat yang aku lakukan adalah dosa. Kudorong anak itu ke tengah jalan dan sepedanya aku larikan. Sejak itu mereka namakan aku bajingan. Mula-mula aku marah, karena nama itu diciptakan untuk membuangku. Tetapi kemudian ketika aku terbiasa memakainya, banyak orang mengaguminya.Mereka datang kepadaku hendak berguru. Aku dinobatkan jadi pahlawan. Sementara aku merasa amat kesepian ditinggal oleh dunia yang tak mau mengakuiku sebagai anaknya.

SEEKOR KECOAK BERGERAK DI ATAS PIRING.

Hee bandit kecil kau masih di situ? Kau mau mengucapkan selamat jalan kepadaku, atau hanya mau merampok ransumku seperti biasa? Kau tahu artinya dibuang? Kau bisa membayangkan bahwa sejumlah orang di sana merasa berhak menghapus seluruh dunia ini dari mata seorang manusia. Tidak, kau tidak tahu. Kamu hanya bisa makan dan berak. Berpikir bukan tugas kamu. (MENANGKAP) Sekarang kamu harus menjawab. Bagaimana rasanya terkurung disitu? Bagaimana rasanya diputus dari segalanya? Ketika ruang kamu dibatasi dan tak ada yang lain di sekitar kamu kecuali gelap, kamu akan mulai meronta. Kamu ingin diperhitungkan! Kenapa cuma orang lain yang dimanjakan! Dengar sobat kecil. Bagaimana kamu mampu meronta kalau kamu tahu akan sia-sia? Mereka dahului nasib kita, mereka lampaui rencana kita. Dia yang sekarang berdiri tuh jauh di sana dengan kaki menjuntai sampai mengusap kepalamu karena kasihan. Ya tapi cuma kasihan, tidak ada pembelaan, tidak ada tindakan apa-apa yang kongkrit. Mereka sudah begitu berkuasa!

(TIBA-TIBA BERTERIAK DAN MELEPASKAN) Gila. Kamu melawan? (KETAWA) Kamu menghasutku untuk melakukan melawan? (KETAWA) Tidak bisa.. Manusia bisa kamu lawan. Tapi dinding beku ini tidak. Mereka bukan manusia lagi. Itu sistem yang tak mengenal rasa. Tak ada gunanya kawan, tidak. (MEMBURU DAN MENGINJAK KECOAK ITU) kamu tidak berdaya. Kamu sudah habis (TERTEGUN)
MENOLEH KE TOPINYA TIBA-TIBA TERSENYUM RIANG) He, kamu ada di situ Nensi! Rupanya kamu yang dari tadi melotot di situ. Apa kabar? Sedang apa kamu sekarang? Kenapa lipstik kamu belepotan? Ada hansip yang memperkosa kamu? Jangan diam saja seperti orang bego sayang. Ke mari. Masih ingat pada aku kan? (MENUNDUKKAN BADANNYA, KEDUA TANGANNYA DI DEKAT TOPI ITU) Aku bukan orang yang dulu lagi. Kau pun tidak. Ketiak kita sudah ubanan. Tetapi kita pernah bersama-sama membuat sejarah dan itu tidak bisa hapuskan begitu saja. Sekeping dari diri kamu masih tetap dalam tubuhku dan bagian dari punyaku masih tersimpan pada kamu. Kita bisa berbohong tapi itu tidak menolong. (MENYAMBAR TOPI) Mari sayang. Temani aku hari ini menghitung dosa. Berapa kali kamu aku tonjok, berapa kali aku elus, berapa kali aku sumpahi. Tetapi jangan lupa berapa kali aku berikan bahagia. Waktu kusedot bibirmu sampai bengkak. Waktu kita berjoget (BERJOGET) diatas rel kereta. Waktu kubawa kamu naik ke puncak Monas, waktu kita nonton wayang di bawah jembatan. Tapi kenapa kemudian kau lari dengan bajingan itu. Sundal!! Lonthe! (BERHENTI BERDANSA) Aku masih ingat ketika menyambar parang dan menguber kamu di atas jembatan. Lalu kutebas lehermu yang panjang itu. Tidak , aku tidak menyesal. Aku tahu janin dalam perutmu juga ikut mampus. Tapi itu lebih baik. Biar kamu hanya menjadi milikku. Kamu mengerti (MENANGIS) Kamu tak pernah mengerti. Kamu tak pernah mencintaiku. Bahkan kematian tak menyebabkan kamu mengubah sikap bencimu. Kamu menang Nensi. Kamu mati tapi kamu menang. Sialan. Kok bisa.


(MELIHAT MATAHARI NAIK KE JENDELA) He matahari kamu jangan ngece! Kamu jangan sombong. Kamu tak perlu tertawa melihat bajingan menangis. Apa salahnya? Air mata itu bukan tanda kelemahan tapi kehalusan jiwa. Kurang ajar terkekeh-kekeh ya! Kau tidak bisa naik melewati kepalaku. Bukan kau yang paling tinggi di sini. Aku tetap lebih tinggi dari kamu. Kamu tidak akan bisa melampauiku hari ini. (MENGAMBIL KURSI DAN MELOMPAT KE ATAS MEJA LALU NAIK KE ATAS KURSI)Naiklah lebih tinggi lagi. Aku akan membumbung dan tetap yang paling tinggi selama-lamanya. Sampai aku sendiri turun dan menyerahkan tempat ini kepadamu. Besok aku akan mengembara mencari duniaku yang hilang. Tanpa teman, tanpa saudara, mencari sendirian sepanjang malam. Aku putari dunia, aku masuki lautan, aku reguk segala kesulitan, tapi pasti tak akan aku temukan apa-apa. (MEMIKUL KURSI) Keatas pundakku berjatuhan segala beban.Semua orang melemparkan kutukan. Mereka bilang akulah biang keladi semuanya. Kalau ada anak yang mati, akulah yang membunuhnya. Kalau ada kebakaran, akulah pelakunya. Kalau ada perkosaan, akulah jahanamnya. Kalau ada pemberontakan, akulah biangnya. Tidak! Itu bohong! Harus dihentikan sekarang.
(MELOMPAT TURUN DENGAN KURSI DI PUNDAKNYA, BERJALAN MENGELILINGI RUANGAN) Di dalam ruangan ini aku menjadi manusia. Di dalam ruangan ini aku lahir kembali. Mataku terbuka dan melihat cinta di balik jendela. Melihat keindahan cahaya matahari dan bulan yang romantis malam hari. Aku ingin kembali mengulang sekali lagi apa yang sudah kujalani. Menjadi manusia biasa seperti kalian. Tapi Tuhan datang padaku tadi malam dan berbisik. Jangan Alimin. Jangan melangkah surut. Tetap jadi contoh yang jelas, supaya jangan kabur. Penjahat harus tetap jadi penjahat, supaya kejahatan jelas tidak kabur dengan kebaikan.Dunia sedang galau batas-batas sudah tak jelas. Tolonglah Aku, katanya. Kini diperlukan seorang penegas. Dan aku terpilih. Aku harus tetap di sini menegakkan kejahatan!
(MELETAKKAN KURSI) Aku bukan lagi anak kamu ibu. Aku telah dipilih mewakili zaman. Menjadi contoh bromocorah. Kau harus bersukur ini kehormatan besar. Tak ada orang berani menjadi penjahat, walaupun mereka melakukan kejahatan. Aku bukan penjahat biasa. Aku ini lambang. Kejahatan ini kulakukan demi menegakkan harmoni. Jadi sebenarnya aku bukan penjahat, tapi pahlawan yang pura-pura jahat. Aku tak peduli disebut bromocorah karena aku sadar itu tidak benar. Aku lakukan semuanya ini untuk negeri ini, meskipun tidak masuk ke dalam buku sejarah, karena tidak ada seorang penulis sejarah yang gila melihat kebenaran ini.
(BERGERAK KE DEPAN MEJA) Yang Mulia Hakim yang saya hormati. Saya tak akan membela apa yang sudah saya lakukan. Saya justru ingin menjelaskannya. Bahwa memang benar saya yang melakukan segalanya itu. Hukumlah saya. Dua kali dari ancaman yang telah paduka sediakan. Wanita itu saya cabik lehernya, karena saya rasa itu yang paling tepat untuk dia. Kemudian harta bendanya saya rampas, karena kalau tidak dimanfaatkan akan mubazir. Saya lakukan itu dalam keadaan yang tenang. Pikiran saya waras. Tapi mengapa? Saya tak bisa menjawab, karena bukan itu persoalannya. Saya justru ingin menanyakan kepada Bapak dan kepada seluruh hadirin di sini. Mengapa seorang wanita yang tercabik lehernya mendapat perhatian yang begitu besar, sementara leher saya dan jutaan orang lain yang dicabik-cabik tak pernah diperhatikan. Apa arti kematian seorang pelacur ini dibandingkan dengan kematian kita semua beramai-ramai tanpa kita sadari? Di depan anda semua ini saya menuntut. Berikanlah saya hukuman yang pantas. Tetapi jangan lupa berikan juga hukuman kepada orang yang telah mencabik leher kami itu dengan setengah pantas saja. Karena saya cabik leher wanita itu harapan Anda semua akan teringat bahwa leher kamipun sudah dicabik-cabik dengan cara yang sama. Dan semoga ingatan itu diikuti pula pada hukuman yang bersangkutan. Kalau sudah begitu apapun yang dijatuhkan kepada saya, dua kali mati sekalipun akan saya jalani dengan rela. Kalau tidak.(MELIHAT SESEORANG DATANG) O Bapak. Mari masuk pak. Silahkan, rumah saya sedang berantakan. Ada apa Pak. Tumben. Kelihatannya terburu-buru. Ada yang tak beres. O… soal yang kemarin. Sudah selesai. Sudah saya bereskan. Badannya saya potong tiga. Saya geletakkan dua potong dekat tong sampah. Yang sepotong lagi saya sembunyikan di rawa. Pasti akan ketemu, tapi biar ada kerepotan sedikit. Pokoknya beres. Bapak bawa untuk saya sisanya. Apa? Masak? Keliru? Tak mungkin. Tapi anak itu pakai anting-anting di sebelah kiri kan? Kanan? Apa bedanya. Kan Bapak bilang cuma pakai anting-anting, mungkin hari itu dia pakai di sebelah kiri supaya orang keliru. Tapi saya tahu itu dia. Hanya dia yang pakai baju seperti itu dan jalannya oleng sedikit. Belum sempat berpaling saya beri. Apa? Salah? Gila! Jadi itu siapa? Gila, anak pemain band itu. Ya,ya saya kenal. Bajingan. Dia kan orang baik.
(MELONCAT TURUN) Ya Tuhan, mengapa kamu tipu saya. Kenapa tak kamu bilang bukan itu orangnya. Keliru sih boleh saja. Tapi jangan anak itu.Bapaknya baik sekali. Ibunya juga selalu memberi nasehat. (MELIHAT KE DEPAN DENGAN PUTUS ASA) Saya minta maaf. Bukan saya yang melakukannya, tapi setan. Apa alasan saya menggangu anak itu, saya justru banyak hutang budi. Dia sering memberi rokok dan membelikan minuman. Dia sering menegur saya di tempat orang banyak. Saya dikenalkannya kepada kawan-kawannya sebagai orang baik-baik. Dia teman saya. Tidak, itu bukan perbuatan saya, tapi orang lain yang memakai tubuh saya. Saya tak ikut bertanggung jawab. Apa? Ya saya tahu. Kesalahan tak mungkin diperbaiki dengan kata-kata. Jadi saya harus menebus? Ya sudah, biar lunas. Kalau begitu potong saja tangan saya ini. (MENYEMBUNYIKAN SATU TANGANNYA DALAM BAJU)
(KEMUDIAN BERJALAN MASUK KE BAWAH MEJA) Aku sudah potong, masak belum lunas. Wajahnya selalu memburuku. Lalu buat apa aku potong kalau masih dikuntit. Orang keliru namanya. Masak terus saja diburu. (MENGANGKAT MEJA) Masak aku yang harus memikul ini sendirian. Mana itu mereka yang menyuruh, ini semua kan gara-gara mereka. Mengapa sekarang cuma aku yang menanggung buntutnya. Tangkap dong mereka jangan aku saja. Lama-lama begini aku tidak kuat ini, yang ditangkap mesti yang dosanya sedikit. Betul. Aku kan punya batas. Hentikan! (MENGELUARKAN TANGANNYA LAGI) Ya sudah, kalau begitu taj jadi saja. (MENARUH LAGI MEJA KE LANTAI) Kalau kamu bisa curang, saya juga bisa!
(GEDORAN LAGI, ALIMIN TERJUNGKAL IA LALU MERANGKAK KE LUAR JADI TUA) Bertahun-tahun aku alihkan makna kemerdekaan kedalam jiwaku. Pada hari ini aku bebas. Walaupun tubuhku masih dipatok di antara dinding jahanam itu, tapi jiwaku sudah bebas. Aku tak memerlukan kebebasan tubuh lagi karena jiwaku sudah merdeka. Tetapi pada saat itu mereka memberikan ampunan. Aku diseret lagi keluar untuk berlomba mereguk kebebasan jasmani. Aku tak siap. Aku seperti burung yang terlalu lama dalam sangkar. Aku tak bisa lagi terbang. Aku takut. Dunia ini tak kukenal lagi. Pada kesempatan pertama kugerogoti barang-barang di warung tetangga. Tetapi tak ada yang menangkapku. Hansip malahan ikut berbagi dan menunjukkan warung berikutnya. Dalam kesempatan lain, kuangkat belati ke leher seorang penumpang becak. Dari kantongnya keluar jutaan rupiah, yang dibalut kertas koran. Aku kira polisi akan mengejarku . Tetapi ternyata tidak ada yang tahu. Pada kesempatan ketiga kuperkosa seorang anak di pinggir kali. Dia menjerit-jerit dalam tindihanku, tapi tak ada yang menolong, hingga akhirnya kulepaskan karena jasmaniku tidak sanggup memperkosa. Karena putus asa aku gebuk orang di jalan. Mukanya berdarah. Tapi tak seorang juga yang menangkapku, aku malah diangkat jadi keamanan. Dan banyak orang berbaris jadi pengikutku. Apa yang harus aku lakukan. Nilai-nilai sudah jungkir-jungkiran. Aku tak paham lagi dunia ini. Aku jadi orang asing. Aku tak bisa lagi menikmati kemerdekaan. Bisa-bisa aku edan. Masukkan aku ke dalam penjara lagi, biar jiwaku bebas, di sana semuanya masih jelas mana hitam mana putih, di dalam kehidupan sekarang yang ada hanya ada kebingungan
(IA MERAIH BOTOL MINUMAN DAN MENEGAKNYA) Kalau sudah menderita orang jadi penyair. Kalau sudah kepepet oarang mulai menyanyi. Dan kalau ada yang hendak dirampok orang berdoa. Sekarang aku menari, karena sudah putus asa. (MENARI) Badanku ringan. Aku melambung ke angkasa. Dan Tuhan menyapaku dengan ramah. Bung Alimin hendak kemana kamu? Aku mau ke atas lebih tinggi. Tapi kamu tidak boleh lebih tinggi dari Syurga. Siapa bilang tidak, kalau aku mau aku bisa. Dan aku melenting lagi, tapi terlalu tinggi, terlalu jauh (BERHENTI MENARI DAN TEGAK SEPERTI BIASA, LALU MELONCAT LAGI KE ATAS MEJA) Aku terlontar jauh sekali, tinggi sekali melewati syurga ke dekat matahari. Tubuhku terbakar. Aku hangus dan hilang dalam semesta. Aku tidak ada lagi Aku bersatu dengan semesta. Aku menjadi Tuhan.
IA DUDUK DI BIBIR MEJA LALU MEROSOT, TERDUDUK SAMBIL MEMEGANG BIBIR MEJA MENGIKUTI BADANNYA. LALU IA MEMBUNGKUK DAN MENGANGKAT MEJA ITU KE ATAS PUNGGUNGNYA. IA ADA DI BAWAH MEJA.
Atau mungkin hanya hantu. Enak juga jadi hantu. Tidak kelihatan , tapi bisa melihat. Aku bisa masuk ke kamar mandi mengintip perempuan-perempuan jadi cabul kalau sendirian. Aku masuk ke dalam kamar tidur para Pemimpin dan melihat ia menjilati kaki istrinya seperti anjing. Aku masuk kedalam rumah-rumah ibadah dan melihat beberapa Pendeta main judi sambil menarik kain para pembantu. Tak ada orang yang bersih lagi. Sementara dogma-dogma makin keras ditiup dan aturan makin banyak dijejerkan untuk membatasi tingkah laku manusia, peradaban makin kotor. Ah, apa ini? Menjadi hantu hanya melihat kebrengsekan! Nggak enak ah!
(BERDIRI) Tak enak jadi hantu. Tidak enak jadi Tuhan. Lebih baik jadi batu. Diam, dingin dan keras. Tidak membutuhkan makan,perasaan dan bebas dari kematian. Aku mengkristal di sini menjadi saksi bisu bagaimana dunia menjadi tua. Pemimpin-pemimpin lahir, lalu berkhianat. Peperangan hanya mainan beberapa orang. Manusia menyusahkan dirinya dengan peradaban, teknologi menjadi buas. Tak satupun bersangkutan dengan kehadiranku.Tetapi tiba-tiba kulihat seorang anak kecil dikejar raksasa. Wajah anak itu mirip dengan wajahku waktu masih menyusu. Ia meronta-ronta minta pertolongan. Tapi tak ada orang lain kecuali aku, sebuah batu. Anak itu menjerit-jerit pilu. Tolooonggggg! Aku jadi terharu. Akhirnya aku tak bisa diam. Aku meloncat dan menghantam raksasa itu, mengingkari diriku. Raksasa itu mati. Tapi anak itu juga lari. Di mana-mana kemudian ia bercerita, bagaimana membunuh raksasa dengan tinjunya. Dan itulah aku. Kejahatanku yang terbesar adalah jatuh cinta pada diriku sendiri.
TERDENGAR BUNYI LONCENG SATU KALI
Selamat tinggal dinding bisu dengan semua suara yang kau simpan. Selamat tinggal jendela yang selalu memberiku matahari dan bulan. Selamat tinggal sobat kecil, yang selalu mencuri ransumku. Selamat tinggal sipir penjara yang marahnya tak habis-habis pada dunia. Dan selamat tinggal Karpo pembunuh yang tak akan keluar hidup dari penjara ini. Selamat tinggal segala yang kubenci dan kucintai. Inilah salam dari Alimin sahabat semua orang, yang sekarang harus pergi. Ingin kuulang semuanya, walaupun hanya sebentar. Tapi tak bisa. Janjiku sudah lunas. Sekarang aku berjalan dalam kebisuan yang abadi, untuk membeku bersama masa lalu.
(IA PERLAHAN-LAHAN MELAYANG KE ATAS) Sekarang baru jelas, apa yang sudah aku lakukan, apa yang harus kulakukan, apa yang masih belum kulakukan. Tetapi semuanya sudah selesai. Dalam segala kekurangannya ini adalah karya yang sempurna. Aku mengagumi keindahanNya. Aku merasakan kehadiranNya. Aku memasuki tubuhNya sekarang. Selamat tinggal semuanya.
TERDENGAR BUNYI TEMBAKAN. IA TERSENTAK LALU NAMPAK KAKU, BEBERAPA SAAT KEMUDIAN IA MELOMPAT.


Terima kasih atas perhatian saudara-saudara. Bertahun-tahun orang ini dihukum sampai ia tua dalam penjara. Mula-mula ia masih punya harapan akan ada pengadilan berikutnya . Tetapi ternyata putusan itu sudah final. Kemudian ia mengharapkan akan ada pengampunan. Tetapi itu juga sia-sia, karena banyak kasus lain yang mengubur nasibnya. Saudara-saudara kita memang terlalu cepat lupa. Akhirnya ia mencoba menunggu. Hampir saat ia di bebaskan, tiba-tiba seorang wartawan membuka kembali kasus itu. Bukti-bukti baru muncul. Dengan tak terduga, ia muncul sebagai orang yang tak bersalah. Tetapi sebelum pintu penjara dibuka kembali untuk memberinya kebebasan, orang yang malang itu mati menggantung diri. Bukan karena putus asa. Tetapi sebagai protesnya mengapa keadilan memakai jam karet!!.
(DUDUK DI KURSI DAN MENJADI TUA) Omong kosong! Orang itu menggantung diri karena setelah lima puluh tahun dalam penjara, baru ia sadari segala tindakannya itu keliru. Bahkan ia yakin hukuman mati belum setimpal dengan dosa-dosanya. Lalu ia menghukum dirinya sendiri. Memang ada kasus kesalahan menghukum, tetapi itu kasus lain, jangan digado, ini bukan nasi campur!
Harus dicampur supaya jelas kesalahannya!
Itu memutar balik soal!
Apa boleh buat tidak ada jalan lain!
Kamu subversiv!
Kejujuran kamu disalahgunakan!
Tolong!
Biar nyahok!
Tolongggggggg!
Mulut yang sudah kacau, pikiran yang sudah terlalu lentur, penghianatan yang sudah menjadi pandangan hidup harus diberantas! Sekarang juga!
Tolonggggggggggg!!
IA MENCEKIK LEHERNYA SENDIRI LALU MENDORONG SAMPAI NYEROSOT DARI KURSI LALU BERBARING DENGAN KAKINYA DI ATAS KURSI. TERDENGAR SUARA GEDORAN BERTUBI-TUBI
Tolonggggggggggg!

GEDORAN BERTUBI-TUBI.

Selesai


Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook