Wednesday, April 30, 2008

Sinopsis Harimau! Harimau!

Harimau! Harimau!
(Sinopsis Novel Mochtar Lubis)


Novel karya Mochtar Lubis ini menceritakan kisah tujuh orang pencari damar yang diteror oleh seekor harimau. Novel ini sangat digemari dan banyak mendapat tanggapan para pengamat sastra. Novel ini juga berhasil mendapatkan hadiah Sastra Tingkat Nasional dari Yayasan Buku Utama Depdikbud. Kisah novel yang diterbitkan pertama kali leh Pustaka Jaya tahun 1975 ini adalah sebagai berikit.

Telah seminggu Haji Rakhmat (Pak Haji), Wak Katok, Sutan, Talib, Sanip, Buyung, Pak Balam berada di hutan mengumpulkan damar, tidak jauh dari pondok Wak Hitam. Mereka bertujuh disenangi dan dihormati orang-orang kampung karena mereka dikenal sebagai orang-orang sopan, mau bergaul, mau bergotong royong, dan taat dalam agama.

Wak Katok membawa senapan yang dia percayakan kepada Buyung untuk merawat dan mempergunakan. Karena mempunyai senapan, sambil mengumpulkan damar mereka sering berburu rusa dan babi. Babi ini sering masuk huma Wak Hitam. Karena itu pula terjalin perkenalan dengan Wak Hitam, bahkan mereka sering menginap di Pondok Wak Hitam ini.

Wak Hitam adalah seorang laki-laki yang telah berusia 70 tahun. Orangnya kurus, berkulit hitam, menyukai celana dan baju hitam. Ia senang tinggal berbulan-bulan di hutan atau di ladangnya bersama Siti Rubiah, istri keempatnya yang cantik dan masih muda belia. Wak Hitam pandai sihir dan memiliki ilmu gaib. Menurut Wak Katok dalam hal ilmu gaib Wak Hitam adalah gurunya. Wak Hitam senang mencari perawan muda untuk penyegar dirinya. Bila ia sakit dimintanya istrinya mendekap tubuhnya, agar darah muda istrinya mengalir ke tubuhnya dan ia akan sembuh kembali.


Orang-orang percaya bahwa Wak Hitam senang tinggal di hutan karena ia memelihara jin, setan, iblis, dan harimau jadi-jadian Ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai anak buah bekas pemberontak yang menjadi perampok dan penyamun yang tinggal di hutan. Di samping itu ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai tambang yang dirahasiakannya di dekat ladangnya.

Mereka bertujuh sampai di pondok Wak Hitam sebelum malam tiba, Dengan gembira mereka menyantap masakan Rubiah karena selama di hutan mereka belum pemah menikmati masakan yang enak. Mereka pun tertarik akan keindahan tubuh Rubiah. Buyung anggota rombongan termuda dan satu-satunya yang masih bujangan, tergila-gila akan kecantikan Rubiah. Dalam hatinya ia membandingkan kelebihan Rubiah dari Zaitun tunangannya di kampung. Sanip, Talip, dan Wak Katok sering tidak dapat menahan diri jika duduk berdekatan dengan Siti Rubiah.

Pada suatu hari mereka melihat hal-hal yang aneh ketika Wak Hitam sakit. Banyak orang yang berpakaian serba hitam datang ke Pondok dan menyerahkan bungkusan rahasia kepada Wak Hitam. Mereka juga menjumpai seorang tukang cerita dan juru ramal di pondok tersebut. Berbagai ramalan disampaikan peramal itu tentang jalan hidup Buyung, Sutan, Talib, dan Sanip.

Pada suatu hari Wak Katok berkesempatan mengintai Rubiah mandi di sungai. Hampir tak tertahankan berahi Wak Katok menyaksikan Rubiah berkecipung mandi tanpa busana, Dalam perjalanan pulang ke pondok, dengan dalih memberi manik-manik ditariknya Rubiah masuk ke dalam belukar.

Pada kesempatan lain, Buyung pun mengintai Rubiah mandi di sungai. Hampir tak terkendalikan gejolak batinnya menyaksikan tubuh Rubiah yang menawan. Diberanikannya menghampiri Rubiah yang sedang mandi. Akhirnya tercipta hubungan intim antara keduanya. Rubiah pun menceritakan dirinya sampai jatuh ke tangan Wak Hitam dan penderitaan yang ditanggungnya. Buyung merasa jatuh hati dan merasa wajib melindungi dan menyelamatkan Rubiah dari tangan Wak Hitam. Hati dan perasaan keduanya terpadu dan membeku. Terjadilah perbuatan terlarang yang tak dapat mereka kendalikan lagi. Mereka melalap kepuasan masing-masing.

Setelah Buyung kembali ke tempat rombongan bermalam di hutan ia merasa bimbang dan menyesal telah berbuat dosa. Ia ingin membebaskan Rubiah dengan menjadikannya sebagai istri tapi ia masih tetap mencintai Zaitun.

Suatu hari Buyung, Wak Katok, dan Sutan berburu dan berhasil menembak seekor kijang betina. Hal ini ternyata berakibat buruk bagi mereka. Ketika menguliti kijang tersebut datang seekor harimau tua dan lapar yang sebenarnya telah mengintai kijang itu lebih dahulu. Harimau ini penasaran karena mangsanya jatuh ke tangan Buyung dan kawan-kawannya. Hanya karena ketuaan harimau saja menyebabkan ia terlambat menyergap kijang itu. Kalau masih muda tentu sekali terkam kijang itu sudah dapat dimangsanya.

Suatu hari harimau itu menerkam Pak Balam yang sedang lengah dan diseretnya ke hutan. Karena teriakan Pak Balam, teman-temannya datang menolong dan Pak Balam dapat diselamatkan meskipun ia luka berat. Dalam keadaan lemah Pak Balam menceritakan mimpi buruknya yang memaknakan perbuatan dosa yang telah dilakukannya selama ia hidup. Ia juga menceritakan perbuatan- perbuatan dosa yang telah dilakukan Wak Katok.

Ketika mereka meneruskan perjalanan pulang dengan mengusung Pak Balam, harimau menerkam Talib. Atas usaha teman-teman, Talib yang telah luka berat dapat direbut dari cengkraman harimau. Sebelum ia meninggal masih sempat mengaku bahwa bersama Sanip ia pernah mencuri kerbau tetangga.

Karena serangan-serangan harimau ini Pak Balam minta agar teman-temannya mengakui perbuatan dosa yang pernah dilakukan agar harimau utusan Tuhan ini tidak mengganggu mereka lagi. Hal ini membuat Sutan jengkel dan merencanakan untuk membunuh Pak Balam. Tapi rencana Sutan ini tidak kesampaian.

Dalam perjalanan berikutnya mereka berjumpa lagi dengan harimau lapar itu. Wak Katok merebut senapan dari tangan Buyung dan berhasil melarikan diri dari rombongan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi justru dia sendiri yang diterkam harimau. Untung teman-temannya segera memberi pertolongan dan ia dapat diselamatkan.

Niat buruk Wak Katok yang hendak mencelakakan Buyung dan Sanip dapat diketahui. Anggota badan Wak Katok diikat dan tidak dilepas-lepas lagi. Wak Katok dijadikan umpan dan diikatkan pada sebatang pohon. Pada saat harimau hendak memangsa Wak Katok, Buyung melepaskan bidikan tepat mengenai sasaran dan harimau pun mati.

Kini mengertilah Buyung maksud kata-kata Pak Haji bahwa untuk keselamatan kita hendaklah dibunuh dahulu harimau yang ada di dalam diri kita. Untuk membina kemanusiaan perlu kecintaan sesama manusia. Seorang diri tidak dapat hidup sebagai manusia. Buyung menyadari bahwa ia harus mencintai sesama manusia dan ia akan sungguh-sungguh mencintai Zaitun. Buyung merasa lega bahwa ia terbebas dari hal-hal yang bersifat takhyul, mantera-mantera, jimat yang penuh kepalsuan dari Wak Katok.***

Mau download sinopsis ini? Klik di sin
Sinopsis novel lain? Klik di sini

Tuesday, April 29, 2008

Dengarlah Keluhan Pohon Mangga

DENGAR KELUHAN POHON MANGGA
Maria Amin


Dari tangan manusia aku diletakkan ke dalam lubang dan ditimbun dengan tanah. Setelah terpendam dalam tempat yang kelam itu aku ingin melihat ke luar, kalau ada tempat yang lain, kuharapkan sinar terang. Aku ingin, hasrat melihat di luar tempat kediamanku yang sempit ini. Dalam hati selalu berharap dan bertanya mungkinkah ada yang lain, selain dari dunia ini? Sebulan kuterpekur dalam tempat yang gelap itu.

Sebulan sebenamya lama benar aku menunggu hasrat hati yang hendakkan sinar matahari. Sebulan aku terpekur, mundur maju hatiku, melihat kesangsian yang akan kupastikan kelak. Jika ada dunia yang baik, di balik dunia ini, memang itu yang kuharapkan. Jika di balik dunia ini celaka juga yang kuderitakan sebagai sekarang ini... akh... nasibku benar rupanya yang menjadi suratan badan. Dari sehari ke sehari bertambah ingin aku melihat cahaya matahari dan merasakan ni'mat sinar.

Dua minggu badan setinggijengkal. Dengan batangku yang kaku dan masih muda itu, kulihat ke kiri ke kanan dengan congkak, kalau-kalau ada yang melebihiku. Dalam hatiku timbul takbur.

Matahari itu akan kucapai dan kuserang. Aduh... aku hampir kecewa sebab di sebelahku batang pinang yang ramping, melambai daunnya diembus angin mengorakkan daun. Daun yang rampak itu mengejekkan daku, bertepuk-tepuk ke sana kemari hina rendah memandangku. la, tentu ia... akan dahulu mencapai langit dan memberi salam kepada matahari si Ratu Sinar itu. Aku, ... tentu kecewa. Malu aku, rasakan ta' mau berdampingan dengan pohon pinang itu. Tetapi ya..., akan masuk ke dalam lagi, ke tempat yang lama aku ta sanggup lagi. Batang dan daun yang lembut ini ta dapat mencocokkan diri ke dalam tempat yang lama itu; hidupku yang baru ini ta' dapat sesuai lagi di lubang sempit gelap kelam itu.

Akan tumbuh melebihi pohon pinang... ? akh, rasanya ta mungkin, awak yang tinggi sejengkal kawan telah beratus kali lebih tinggi dariku. Jangan saja dating angin keparat meniup batangnya, yang ramping itu Pohon pinang musuh hidupku itu selalu melempar dengan buahnya yang telah busuk mengancam hidupku. Sekali,... hampir benar kena pucukku yang muda itu,... untung masih ada nasib akan hidup panjang Dengan kemalu-maluan kucoba juga membabarkan dua helai daunku, tetapi tentu ta' setanding dengan daun pinang itu. Setahun... dua tahun... ke enam tahunnya.


Pohon pinang yang ramping permai melenggang lenggok dengan daunnya, bersorak-sorai menimbulkan in hatiku. Sombong nian pohon itu congkak-melagak. Melenggang sepanjang hari. Riang girang bersorak-sorai selama waktu. Ta' tentu alam kelam dan panas tenk, hujan petir guruh-gemuruh. Dalam hati terbit ingin bertalu-talu iri cemburu melihat teman digantungi bola emas meluyut di bahu. Beberapa seluk anggotaku terpaksa kutanggalkan. Kutolak hidupnya. Jatuh ke bumi. Kering kuning, daun yang hijau berserak di bawah. Gundul aku oleh nasib yang dibikin-bikin ini.

Merangai* tabi'atku memaksa hidup seperti ini. Batangku seakan-akan ta' sudi menerima air hujan Kupilih hidup begini dalam musim kehausan. Lesu letih sekujur tubuhku. Pada pohon pinang tadi jangan dikatakan lagi maluku, ta' dapat dibandingkan. Sebab padanya tidak dia semerangai ini. Beberapa kali aku menanggung hidup yang diayun, diempas, berjuang sengsara.

Sejak dari tangan manusia sampai ke dalam tanah dan terus pula menjadikan buah. Napas sebuah-sebuah, hampir ta' sanggup menderita tiap-tiap perubahan hidupku ini. Merana hidupku.

Pada beberapa ranting kecil-kecil menjulur putik. Inikah yang dikatakan menjadi buah, sebagai pohon pinang dengan pinangnya? Beginikah yang dirasai oleh pohon pinang itu sebagai kurasai sekarang ini?

O Tuhan, kalau pohon mangga pandai berbicara tentu dia akan bercerita apa yang telah dideritanya waktu tumbuhnya. Ahli filsafat dan orang pandai-pandai hanya dapat mengetahui hidupnya itu dan mengerti keluhan pohon mangga tadi.
• Keluhan orang tua yang sudah seperti anak kecil.

Sinopsis Novel Ladang Perminus

LADANG PERMINUS


Novel karya Ramadhan KH ini mengisahkan seorang manajer yang cerdas, jujur, sabar, teguh pada prinsip ketika menghadapi penyelewengan yang terjadi di perusahaannya. Lewat novelnya, Ramadhan KH ingin membongkar korupsi di kalangan pejabat terutama di Perminus (kiasan dari PERTAMINA).

Perminus adalah perusahaan minyak yang cukup besar. Suatu ketika, tersiar kabar bahwa di Perminus terjadi skandal korupsi. Dikabarkan pula bahwa skandal tersebut tengah diselidiki oleh suatu tim yang diketuai seorang kolonel. Seluruh karyawan di perminus menjadi gelisah. Mereka saling curiga, sedangkan para oknum pelaku segera melakukan penyelamatan diri secara diam-diam. Teknik yang mereka gunakan untuk menyelamatkan diri adalah dengan cara menghasut/memfitnah orang-orang yang mereka angga membahayakan kedudukan mereka.

Adalah sang menejer yang jujur itu megawali karirnya di Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus) sejak beberapa tahun silam, bernama Hidayat. Karirnya sangat bagus dan menanjak dengan cepat. Ia disegani dan dihormati karena kecerdasan dan ketegasannya. Banyak tugas perusahaan yang dibebankan padanya terutama tugas negosiasi dan perundingan-perundingan bisnis yang diadakan Perminus dengan pihak-pihak lain, semuanya selalu berakhir dengan sukses. Hidayat diakui sebagai seorang manejer yang jeli dalam membidik situasi bisnis dan pasar. Banyak yang dating kepadanya untuk berkonsultasi. Mereka yang datang ini tidak hanya dari perusahaan dalam negeri tetapi juga luar negeri.

Hidayat yang jujur dan potensial ini menjadi salah satu korban kelicikan pada koruptor dalam rangka menyelematkan diri. Pun beberapa teman-teman dekat Hidayat, juga menjadi korban fitnah. Tanpa sebab apapun, Hidayat dan teman-temannya dibebastugaskan untuk sementara. Mereka terkejut dengan keputusan itu. Sebagai orang yang tidak pernah melanggar aturan perusahaan, tentulah Hidayat sangat terpukul. Istrinyalah yang setia meneguhkan semangat hidup Hidayat untuk senantiasa pasrah dan bersyukur pada Tuhan.

Untuk melewatkan hari-harinya semala dibebastugaskan, Hidayat mengurus peternakan ayam—meski kecil-kecilan—yang telah dirintisnya sejak lama. Hidayat juga masih melayani konsultasi dari beberapa kontraktor asing yang datang ke rumahnya. Akhirnya perasaan frustasi yang dialami Hidayat mulai dapat diatasinya.

Akhirnya, terbukti pula bahwa Hidayat tidak bersalah. Ia dipanggil lagi bekerja di Perminus. Meski begitu, kasus skandal korupsi di Perminus sebetulnya belum selesai dibongkar. Kali ini Hidayat ditugaskan melakukan negosiasi dengan kontraktor asing di Singapura. Dalam perjalanan menuju Singapura, ia berkenalan dengan seorang pramugari bernama Ita. Tapaknya pramugari itu menaruh hati padanya, tetapi Hidayat tidak menanggapinya.

Sepulang dari Singapura, Hidayat harus menangani order-order besar yang terus berdatangan, salah satunya berasal dari gabungan tiga negara: Jerman, Belgia, dan belanda. Hidayat mendapat tugas melakukan perundingan dengan mereka. Hidayat ditugaskan langsung oleh Kahar (pimpinannya).

Tugas itu berhasil diselesaikan Hidayat dengan gemilang. Hidayat berhasil meyakinkan perwakilan tiga negara itu untu, menurunkan harga yang mereka ajukan. Keberhasilan perundingan Hidayat disambut karyawan di Perminus dengan suka cita. Namun sayang, kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karena harga yang telah disepakati tiba-tiba melonjak lagi. Lonjakan itu tidak ,ain disebabkan leh Kahar (pimpinan Hidayat) yang menaikkan harga untuk kepentingannya sendiri.

Betapa kecewanya Hidayat. Di sisi lain, Kahar yang khawatir perbuatannya sudah diketahui Hidayat berusaha menyingkirkan Hidayat dari Perminus. Hal ini tidak ingin dilakukannya secara terbuka, untuk itulah ia menyebarkan hasutan dan firnah yang mencemarkan nama baik Hidayat.

Usaha Kahar tampaknya membawa hasil, ketika secara tiba-tiba Hidayat dicalonkan menjadi gubernur Jawa Barat. Secara diam-diam, Kahar memanggil Kolonel Sujoko dan mengarang ceriat bahwa Hidayat telah bermain curang agar dia dicalonkan menjadi gubernur. Teror selalu datang, akhirnya Hidayat memutuskan diri untuk pensiun. Permintaan Hidayat dikabulkan perusahaan. Hidayat sudah tidak tahan dengan tuduhan-tuduhan dan main curang yang terjadi di Perminus. Ia ingin hidup tenang dengan istri dan anaknya.

Tiba-tiba terdengar kabar bahwa Kahar meninggal dunia secara mendadak. Dalam hati kecil Hidayat merasa lega, karena Kaharlah biang semua kecurangan di Perminus. Namun Hidayat kecewa, karena Kahar dimakamkan di taman makam pahlawan. Hidayat tidak habis pikir, mengapa orang semacam Kahar yang jelas-jelas melakukan tindak korupsi dan manipulasi di Perminus tetap dihormati sebagai pahlawan. Kekecewaan Hidayat muncul lagi hingga ia jatuh sakit.

Saat terbaring di rumah sakit, Hidayat merenung. Ia merefleksikan kembali seluruh pengalaman hidupnya, hingga tumbuh kesadaran dan kesabaran dalam dirinya. Ia sadar bahwa ia harus menghadapi dan menerima kenyataan ini dengan jiwa besar. Hatinya sangat lega ketika mendengar kabar bahwa skandal korupsi yang terjadi di perminus akhirnya berhasil dibongkar.

Hatinya pun semakin lega, ketika Ita (pramugari yang pernah jatuh cinta padanya) dan suaminya menengoknya di rumah sakit. Dia lega sebab Ita telah mendapatkan suami yang baik. Hidayat bersyukur terhindar dari perbuatan yang hanya akan menyengsarakan anak dan istrinya.***

Download? Klik di sini
Novel lain? Klik di sini

Monday, April 28, 2008

Royan Revolusi

Royan Revolusi

Sinopsis novel Ramadhan KH


Novel karya Ramadhan KH ini berhasil memenangkan hadiah pertama sayembara mengarang yang diadakan oleh Ikapi-Unesco. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Monique Lajourbert dengan judul Sequelles d’une Revolution.

Secara ringkas, novel ini mengisahkan tentang perjuangan seorang pemuda yang jujur dan sangat taat beragama dalam menghadapi zaman yang penuh ketidakadilan dan kebobrokan moral. Cerita terjadi ketika masyarakat Indonesia mengalami dekadensi moral lantaran terpengaruh budaya modern. Demikianlah kisah novel ini.

Adalah seorang mahasiswa sekolah pertanian Bogor bernama Idrus. Ia anak seorang pegawai negri bernama Wiradinata, sedang ibunya bernama Fatimah. Idrus sangat benci dengan perilaku ayahnya yang suka berjudi dan tidak memperhatikan keluarganya. Namun, diantara kebencian Idrus itu, ada sebersit kebanggan pada ayahnya yang tak bisa ia tepiskan karena ayahnya sangat membenci orang-orang yang KORUPSI.

Sebaliknya, Idrus sangat menghormati ibunya yang sabar, bekerja keras hingga ia bisa kuliah. Ia selalu mengingat pesan ibunya agar ia rajin menuntut ilmu dan kelak menjadi insinyur.

Idrus adalah pemuda terpelajar yang memiliki nurani yang baik. Idrus adalah seorang pemuda yang jujur, ramah, bertanggung jawab, serta taat beragama. Nuraninya sangat tersiksa jika melihat masyarakat sekelilingnya mengalami dekadensi moral. Kaum remaja hidup dengan kebebasan, sedangkan kaum pegawainya banyak melakukan korupsi, manupulasi dan segala bentuk kecurangan lainnya. Nuraninya selalu tergugah untuk memberantas penyakit-penyakit masyarakat di sekelilingnya itu.

Namun sebagai manusia biasa, Idrus pernah pula tergelincir. Ia pernah menyuap agar buku-buku yang diterbitkannya laku di pasaran. Hal ini terjadi ketika ia memimpin sebuah percetakan dan penerbitan yang ia dirikan bersama Ramli. Berulang kali ia menyuap orang jawatan perbukuan agar bukunya laku. Nuraninya tersiksa saat ia melakukannya. Untuk itulah ia keluar dari usaha penerbitan dan percetakannya.

Idrus sangat benci dengan pergaulan bebas sebagaimana terjadi dalam masyarakat di sekelilingnya. Jangankan melakukannya, untuk melihat saja ia tak sanggup. Itulah sebabnya ketika ia mengetahui Juwita, kekasihnya, hamil akibat pergaulan bebas dengan lelaki lain, hatinya sangat hancur. Kejadian lain yang sangat menyakitkan hatinya adalah ketika Ani, adik kandungnya menjadi korban pergaulan bebas pula. Malapetaka yang menimpa adiknya membuatnya putus asa dengan keadaan di sekelilingnya.

Karena kedua kejadian itulah Idrus melarikan diri ke Eropa. Namun di sana, Idrus semakin sering menyaksikan pergaulan bebas. Ia saksikan bagaimana kehidupan masyarakat Eropa dengan kebebasannya. Ia saksikan pula orang Indonesia yang tinggal di Eropa yang ikut-ikutan gaya hidup bebas itu. Ia saksikan bagaimana Panji, temannya, bergaul dengan wanita-wanita Eropa.

Di Eropa itu pulalah Idrus menemukan sosok gadis modern Eropa yang memiliki moralitas dan iman yang teguh. Gadis itu bernama Eva Kuusela. Meski hidup di tengah-tengah masyarakat yang modern dan serba bebas, gadis itu mampu menjaga kesucian dirinya. Ketika Idrus sakit, gadis itulah yang mengurusnya. Ia sangat sabar dan iklas merawat Idrus. Meski keduanya sedang dilanda cinta, mereka tidak melakukan hal-hal di luar batas.

Sepulang dari Eropa, Idrus bekerja sebagai wartawan sebuah penerbitan surat kabar di Jakarta. Di tempat kerja tersebut, ia berhasil embongkar skandal korupsi yang terjadi di instansi-instansi pemerintah. Ternyata skandal itu banyak dilakukan teman-teman dekat Idrus. Berita-berita korupsi yang diliput dan ditulisnyaselalu ditolak pimpinan redaksi untuk dimuat. Akhirnya Idrus mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut.

Cobaab yang harus diterima Idrus seakan tak pernah berhenti. Belum lagi sembuh kekecewaannya dengan surat kabbar yang telah ditinggalkannya, pacar barunya, Rukiah meninggal dalam kecalakaan kereta api. Kecelakaan itu terjadi saat mereka pulang dari kampung halaman kekasihnya. Gerbong kereta yang mereka tumpangi terlepas dan terlempar ke luar rel. Rukiah tewas seketika, sedangkan dirinya mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit.

Kecelakaan yang dialami Idrus menyadarkan ayahnya. Saat melihat Idrus tergeletak tanpa daya di rumah sakit, Pak Wiradinata, ayahnya, menyadari kesalahannya selama ini. Ia menyesal telah mengabaikan keluarganya dan selalu berjudi. Ia telah meninggalkan keluarga sehingga Ani, anak perempuannya hamil di luar nikah. Pak Wiradinata sangat menyesal dan meminta maaf pada Idrus.

Keluar dari rumah sakit, Idrus memutuskan untuk hidup di kampung saja. Ia ingin menjadi petani. Ia sangat jenuh hidup di kota. Namun betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa masyarakat kampung pun sudah bergaya seperti masyarakat kota. Gaya hidup, dekadensi moral ternyata sudah merambah sampai ke kampung-kampung. Di kampungnya, Idrus sering menjumpai perbuatan tercela seperti penyelewengan dan ketidakadilan yang dilakukan para rentenir, saudagar-saudagar kaya beserta antek-anteknya. Suap-menyuap terjadi pula di aparatur desa. Yang lebih menyakitkan, semua itu dilakukan justru oleh teman-teman dekatnya.

Melihat kenyataan ini, nuraninya berontak lagi. Dia tidak bisa tidur nyenyak sebelum msmpu mengatasi situasi itu.aka dipimpinlah masyarakat petani di kampungnya memprotes kelakuan aparat desa, lurah, rentenir, para saudagar kaya dan antek-anteknya. Idrus melakukan pemberontakan bersama masyarakat petani. Hampir saja peristiwa itu menelan korban, namun ia mampu mengendalikannya.

Usaha Idrus berhasil. Sejak aksi massa itu para aparat pemerintah, kaum lintah darat, dan saudagar-saudagar kaya tidak lagi berani berbuat sekehendak hatinya kepada petani. Kesejahteraan kaum tani semakin membaik. Melihat kenyataan ini Idrus sangat bahagia. Akhirnya, perjalanan seorang Idrus yang berliku dan tak kenal lelah itu membawa hasil. ***

Download? Klik di sini
Ingin membaca sinopsis novel lain? silakan klik di sini

Tuesday, April 22, 2008

Sarman

S A R M A N
Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Ceritakanlah padaku tentang kejenuhan,” kata Alina pada juru cerita itu.
Maka Juru cerita itu pun bercerita tentang Sarman:
Pada suatu hari yang cerah, pada suatu hari gajian, Sarman membuat kejutan.
Setelah menerima amplop berisi uang gaji dan beberapa tunjangan tambahan, dan setelah menorehkan paraf, Sarman termenung-menung.
Tak lama.
Ia segera berteriak dengan suara keras.
”Jadi, untuk ini aku bekerja setiap hari, ya? Untuk setumpuk kertas sialan ini, ya?!”
Ia berdiri dengan wajah tegang. Tangan kirinya mengenggam amplop, tangan kanannya menuding-nuding amplop itu, dan matanya menatap amplop itu dengan penuh rasa benci.
”Kamu memang bangsat! Kamu memang sialan! Kamu brengsek! Kamu persetan! Memble! Aku tidak sudi kamu perbudak! Aku menolak Kamu!”
Kantor yang sehari-harinya sibuk, sejuk, saling tak peduli, dengan musik yang lembut itu, pun mendadak jadi gempar.
”Lho ada apa Man? Kok pagi-pagi sudah nyap-nyap?”
”Eh, Sarman kenapa dia?”
”Jangan-jangan ia belum makan.”
”Kesurupan barangkali.”
”Man! Sarman! Sabar man! Nanti kamu dimarahi!”

Tapi Sarman tidak hanya berhenti disini. Ia melompat ke atas meja. Ia robek amplop cokelat itu. Ia keluarkan uang dari dalamnya. Ia robek bundel uangnya. Dan sebagian uangnya ia lemparkan ke udara.

”Nih! Makan itu duit! Mulai hari ini aku tidak perlu di gaji! Dengar tidak kalian!? Tidak perlu digaji! Aku akan bekerja suka rela, tetap rajin seperti biasa! Dengar tidak kalian monyet-monyet?!”

Berpuluh-puluh uang lembar Rp 10.000,- berguling-guling di udara dihembus angin AC. Kantor itu seperti dikocok-kocok. Para pegawai tanpa malu-malu berebutan uang gaji Sarman. Pria maupun wanita saling berdesak, bersikutan, dorong mendorong, berlompatan meraih rejeki yang melayang-layang di udara. Mereka cepat sekali memasukkan uang itu sekenanya dalam kantong bajunya. Lantas pura-pura tidak tahu.

Sarman menendang semua benda yang berserakan di mejanya, map-map yang bertumpuk, mesin tik, segelas the, bahkan foto keluarganya ia tending melayang. Layer monitor computer pun pecah digasaknya
“Sarman! Kamu gila!”
Sarman melompat dari meja ke meja dengan ringan seperti pendekar dalam cerita silat. Ia tendang semua barang-barang di atas meja karyawan-karyawan lain, sambil terus memaki-maki. Tak jelasa benar apa yang dimaki.
Dalam waktu singkat, kator yang terletak di tingkat 17 itu pun berantakan. Sekretaris-sekretaris wanita menjerit: ”Aaaa!” Dan para karyawan pria memperlihatkan jiwa pengecut mereka, tidak berani berbuat apa-apa. Meski dalam hati mengharap Sarman melempar-lempar lagi sisa uang yang dipegangnya.
Dan Sarman bukannya tak tahu.
”Kalian mau uang? Ha? Kamu mau uang? Sukab! Kamu mau uang? Nih! Kamu mau uang? Nih! Kalian semua mau uang? Nih! Nih! Nih! Makan!”
Sambil masih melompat dari meja ke meja, Sarman melempar-lemparkan uang di tangannya. Para karyawan berubah jadi serangga yang mengikuti kemana pun Sarman pergi. Suasana kantor sungguh menjadi hingar-bingar. Wajah karyawan-karyawan itu seperti kucing kelaparan. Mereka berebutan dengan rakus. Yang sudah melompat, jatuh terdorong. Yang menubruk uang di lantai, diseret kakinya. Tidak sedikit uang robek dalam pergulatan. Tarik menarik, cakar-mencakar, tendang-menendang, tanpa pandang bulu.
”He, kalian masih mau uang lagi?” tanya Sarman sambil berdiri di atas meja kepala bagian. Mereka serentak menjawab.
”Mauuu!”
Sarman tersenyum. Keringat menetes di dahinya. Ia longarkan dasi yang mencekiknya.
”Baik! Tapi kalian harus berteriak Hidup Uang! Hidup Uang! Setuju?”
”Setujuuuuu!”

Maka, seperti pemain softball melempar bola, Sarman pun segera melemparkan lagi segepok uang di tangannya. Uang itu berhamburan di udara, menari-nari bagaikan salju khayalan di hari Natal pada panggung sandiwara. Mata para karyawan dan karyawati berbinar-binar dengan riang, mulut mereka menganga, wajah mereka menujukkan semangat tekad bulat yang sangat mengharukan.

”Serbuuuu!” teriak mereka bersamaan. Pertarungan pun dimulai kembali. Kini mereka berebutan bagai permainan sebuah pesta. Mereka tertawa terkikik-kikik. Saking asyiknya, mereka lupa bahwa banyak kancing baju mereka yang lepas, sepatu copot, rok tersingkap, dan rambut terburai-burai.

Sarman berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Ia melompat dari meja ke meja sambil bersalto. Ruangan riuh dengan yel, meskipun tidak terlalu serempak, karena mereka berteriak sambil berebutan uang di udara dan di kolong-kolong meja: Hidup Uang! Hidup Uang!

Mendadak muncul Kepala Bagian. Ia diam saja di pintu, menatap bawahan-bawahannya berpesta pora. Wajahnya disetel supaya berwibawa. Lantas ia melangkah seperti tak terjadi apa-apa, menuju ke mejanya.

Mula-mula para pegawai itu tidak tahu, mereka masih berebut sambil tertawa-tawa. Namun yang tahu segera terdiam, dan kembali ke mejanya, pura-pura bekerja. Padahal mejanya sudah berantakan dikacaukan Sarman.

Lambat laun semuanya tahu kehadiran kepala bagian. Mereka mundur dengan tersipu-sipu. Tangan mereka kedua-duanya menggenggam uang. Sisa uang bertebaran di lantai, di kursi, di meja, di bak sampah, bercampur tumpahan kopi dan gelas yang pecah. Kertas-kertas terserak-serak, morat-marit, kacau-balau, kata peribahasa seperti kapal pecah.

Sarman masih berdiri di salah satu meja. Rambutnya kacau, wajahnya buas seperti binatang tersudut, pakaianya yang biasa rapi, dan sepatunya yang berkilat-kilat, kini kumal. Kepala bagian hampir tak mengenali Sarman, karyawan paling rajin dan kedudukannya menanjak dengan cepat.

”Coba, tolong jelaskan apa artinya semua ini,” ujarnya kemudian, dengan sabar, tapi tetap tegas.

Semua terdiam. Tapi mata mereka semua tertuju ke arah Sarman, yang masih terengah-engah, menjulang di atas meja. Dalam sunyi, musik yang lembut terdengar lagi, namun tak membuat suasana menjadi dingin.
Pandangan kepala bagian akhirnya pun tertuju pada Sarman.
”Sarman apakah kamu bisa turun dari atas meja itu?” Tanyanya.
”Bisa pak, tapi saya tidak mau.”
”Kenapa?”
”Jawabnya panjang sekali Pak, tidak perlu saya jelaskan.”
”Kenapa tidak? Kita bisa membicarakanya di ruangan lain dan …”
”Tidak Pak! Jangan coba-coba merayu!” tukas Sarman, ”Hari ini saya menolak gaji, menolak bekerja, menolak menuruti Bapak. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi! Saya tidak suka keadaan ini! Saya benci!”

Kepala Bagian mendekat, dengan wajah kebapakkan ia mencoba menenangkan pegawai kesayangannya itu.
”Apakah kamu mau cuti Sarman? Kamu boleh ambil cuti besar, cutilah satu bulan. Kamu sudah bekerja sepuluh tahun.”

Tapi Sarman malah menjejak meja, menendang sisa tumpukan kertas di meja itu, lantas melompat lagi ke meja lain. Seorang wanita yang duduk di situ terpaku dengan ketakutan, tidak berani bergerak.

”Jangan mendekat! Saya sudah coba jelaskan mulai hari ini saya menolak apa saja! Mengerti tidak? Saya menolak apapun kemauan kalian!”

Kepala bagian itu sebetulnya ingin marah, dan mengusir Sarman, tapi Sarman terlalu penting untuk perusahaan. Lagi pula alangkah tak layak memecat seorang pegawai yang sangat berjasa seperti Sarman. Sementara itu berdatanganlah para karyawan dari bagian lain. Kejadian itu begitu cepat tersebar. Beberapa petugas keamanan memasuki ruangan. Mereka akan bertindak, tapi Kepala Bagian menahan.

”Tunggu! Biar saya yang mengatasinya! Saya kenal dia, Sarman anak buah saya selama bertahun-tahun.”

Maka petugas-petugas keamanan pun hanya sibuk dengan HT mereka. Telepon berdering di salah satu meja, memecahkan keheningan, tapi Sarman keburu melompat ke sana dan menendangnya. Ia masih menggenggam sebundel uang. Gajinya memang termasuk tinggi di kantor itu. Maklumlah ia sudah bekerja di sana selama sepuluh tahun.
”Untuk apa kamu lakukan semua ini Sarman? Untuk apa?” tanya Kepala Bagian.
”Itu sama sekali tidak penting!”
”Lantas kamu mau apa, aku sudah menawarkan cuti besar, langsung mulai hari ini, tunjangannya bisa kamu ambil hari ini juga. Kamu juga boleh pakai hotel milik perusahaan kita di Bali, pakai Vila kantor kita di Puncak, pergilah dengan tenang biar kami selesaikan pekerjaanmu. Terus terang, selama ini kami memang terlalu…”
”Apa? Cuti? Cuti kata Bapak tadi?” Ujar Sarman sambil meletakkan tangan di telinga, ”Cuti besar setelah sepuluh tahun bekerja. Cuti? Ha-ha-ha-ha! Cuti? Hua-ha-ha-ha! Cuti besar lantas masuk lagi, dan bekerja sepuluh tahun lagi? Huaha-ha-ha! Hua-ha-ha-ha! Ambillah cutimu Pak!”

Dan Sarman dengan lompatan karate menerjang jendela. Jendela tebal di tingkat 17 itu tidak langsung pecah. Sarman meninjunya beberapa kali sampai tangannya berdarah, lantas ia mengambil kursi, mengahantamkannya ke jendela, barulah jendela itu pecah. Angin yang dahsyat menyerbu masuk kantor. Kertas-kertas berterbangan. Sarman melompat ke jendela. Siap melompat ke bawah. Orang-orang gempar dan menjerit-jerit.
”Sarman! Jangan bunuh diri Sarman!”
”Jangan akhiri hidupmu dengan sia-sia Sarman! Ingat anak istrimu! Ingat orang tuamu di kampung! Ingat Sahabat-sahabat kamu!”
”Sarman! Pakai otakmu! Gunakan akal sehatmu! Hidup ini cukup berharga! Hidup ini tidak sia-sia!”

Sarman yang sudah menghadap ke jalan raya berbalik, sambil menendang sisa kaca di kusen jendela, ia berteriak dengan marah.
”Bangsat kalian semua! Bangsat! Sudah sepuluh tahun aku bangun tiap pagi dan berangkat dengan tergesa-gesa ke kantor ini! Sudah sepuluh tahun aku berangkat pagi hari dan pulang sore hari melalui jurusan yang sama. Sudah sepuluh tahun aku memasukkan kartu absen di mesin keparat itu tiap pagi dan sore! Sudah sepuluh tahun aku melakukan pekerjaan yang itu-itu saja delapan jam sehari! Sudah sepuluh tahun! Dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang aku dibayar untuk itu dan bayaran itu tidaklah terlalu kecil! Ini bukan salah kalian! Ini juga bukan salah perusahaan! Ini semua hanya omong kosong! Mengerti tidak kalian monyet-monyet? Ini semua cuma omong kosong!”

”Sarman sudah gila,” bisik seseorang.
”Kenapa sih dia bisa begitu?” desis yang lain.
”Semua ini cuma lewat dan berlalu seperti debu!” Sarman masih terus nerocos
”Apa kalian masih ingat angka-angka yang kalian tuliskan kemarin? Apa kalian masih ingat kalimat-kalimat yang kalian tulis kemarin? Apakah kalian masih ingat nama-nama pada daftar relasi kita kemarin? Apa kalian masih ingat nomer-nomer mobil kantor kita yang baru? Apa kalian masih ingat nama-nama pegawai baru kita? Apa kalian masih ingat nama kawan-kawan kita yang sudah keluar dari perusahaan ini? Apa kalian masih ingat nama gombal-gombal yang selalu kita beri komisi? Begitu banyak, begitu dekat, tapi alangkah tidak berarti. Kita semua memang gombal! Aku juga cuma gombal! Jadi, sudahlah, jangan repot-repot! Besok kalian akan lupakan kejadian ini! Lenyap hilang seperti debu! Seperti gombal di pojok gudang! Seperti oli di lantai bengkel! Seperti sekrup…. ”

Sementara Sarman masih terus berpidato, para petugas keamanan tidak kehilangan akal. Mereka memanggil petugas pemadam kebakaran, tapi kedatangannya menimbulkan geger.
”Mana yang kebakaran Pak?”
”Bukan kebakaran!”
”Ada apa?”
”Ada orang mau bunuh diri!”
”Di mana?”
”Tuh!”

Syahdan, di ketinggian tingkat 17, tampaklah jendela yang terbuka itu menganga. Sarman tampak kecil, tapi jelas, menghadap ke dalam sedang berteriak-teriak. Orang-orang yang sedang berada di bawah berhenti, menatap ke sana. Mobil-mobil juga berhenti. Jalanan macet. Dengan mendadak, Sarman jadi tontonan. Beberapa orang menggunakan teropong. Bahkan ada yang memotret dengan lensa tele. Petugas pemadam kebakaran membentangkan jala. Tangga mobil pemadam kebakaran, yang cuma 40,9 meter, diulurkan. Semprotan air disiapkan, untuk menahan laju kejatuhan tubuh Sarman, kalau jadi melompat. Jalanan macet total. Helikopter polisi merang-raung di udara. Para penonton duduk di atap mobil. Beberapa orang bertaruh dengan jumlah lumayan, Sarman jadi bunuh diri atau tidak. Namun kru televisi terlambat datang.

Jalan lain untuk mencegah Sarman juga diambil. Di Helikopter polisi itu terdapatlah keluarga Sarman, istri Sarman dan anaknya yang bungsu.
”Sarman, lihat itu anak istrimu!” teriak para karyawan dalam gedung.
”Ya, itu anak istrimu! Ingatlah mereka Sarman! Jangan berbuat nekad!”
”Sarman! Sarman! Aku istrimu Sarman! Aku mencintai kamu! Anak-anak juga mencintai kamu! Jangan melompat Sarman!” teriak istrinya sambil menangis, Suaranya menggema lewat penegeras suara di celah raungan helikopter.
”Bapak! Bapak!” seru anaknya.

Sarman berbalik. Dilihatnya wanita itu melambai dengan air mata tumpah ruah. Hatinya tercekat. Ia ingin melambai kembali seperti dilakukannya setiap pagi ketika berangkat ke kantor. Namun ini mengingatkannya pada segepok uang yang masih digenggamnya. Sarman kumat lagi. Tapi dari dalam kantor, dua petugas kemanan merayap perlahan ke jendela.

”Ingat anak-anak kita Sarman! Mereka membutuhkan kamu! Ingat ibumu, ia mau datang minggu ini dari kampung! Sarman, o Sarman, jangan tinggalkan aku Sarman!” teriak istrinya lagi.
”Apa? Pulang untuk ketemu kamu?! Ketemu dengan segenap tetek-bengekmu?! Pulang untuk menemui segenap omong kosongmu?! Kamu tidak pernah mau tahu perasaanku! Kamu cuma tahu kewajiban-kewajibanku! Kamu cuma tahu ini!” Sarman mengacungkan uang di tangannya,
”Kamu cuma tahu ini kan?!”
”Bukan begitu Sarman, aku tidak bermaksud begitu, kamu salah sangka Sarman, aku …”
”Ini uang kamu! Makan!”

Dan Sarman melempar ratusan ribu rupiah ke udara. Uang di tangannya sudah habis. Lembaran-lembaran uang itu berteberan ditiup angin, berguling-guling dan berkilauan dalam siraman cahaya matahari.

”Sarman, o Sarman…” Istrinya menangis tersedu-sedu. Anaknya hanya bisa berteriak,
”Bapak! Bapak!”

Angin masih bertiup kencang di ketinggian itu. Sarman melihat uang gajinya berguling-guling melayang ke bawah. Kertas-kertas itu belum sampai tanah. Masih melayang-layang menyebar. Orang-orang di kantor yang ada di tingkat bawah dari kantor Sarman terkejut melihat uang berterbangan di udara. Di bawah anak-anak maupun orang dewasa bersiap-siap menangkap uang itu. Suasana sangat meriah. Sarman termenung. Sekilas terlintas untuk mengakhiri sandiwara ini.

Saat itulah kedua petugas keamanan yang merayap, tiba di jendela. Salah seorang menyergap, berusaha merangkul Sarman, namun gerakkan yang baru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya itu kurang sempurna. Sarman malah jadinya terpeleset, ketika membuat gerakan refleks menghindar. Petugas itu hanya mencengkeram sepatu Sarman.

Orang-orang di bawah berteriak histeris. Oarang-orang dalam gedung berebutan melongok dari jendela. Tubuh Sarman meluncur. Dalam jarak yang cukup jauh Sarman sempat berpikir, sandiwaranya kini menjadi kenyataan. Dengan gerak mirip tarian, tubuh Sarman menembus sebaran uang kertas yang belum juga sampai ke bumi. Di bawah, pemadam kebakaran telah membentangkan jala penyelamat lebar-lebar. Empat selang memancarkan air dengan keras ke atas.

”Apakah Sarman akhirnya bisa diselamatkan?” desak Alina yang sudah tidak sabar.
”Oh, itu sama sekali tidak penting Alina,” jawab si Juru Cerita, ”Itu sama sekali tidak penting.”***
Kompas, 19 Januari 1986

Thursday, April 17, 2008

Kritik Novel Saman

Novel Saman dan Kesepian Pembaca


Jauh dari bayangan, saya bisa membaca teks sastra yang kenal pada Deni Manusia Ikan. Pada halaman 13 naskah (novel) Saman tertulis: 'Waktu kecil ia ingin menjadi pelaut, karena ia tidak bisa menjadi Deni Manusia ikan - ia masih menyimpan komik itu hingga sekarang meskipun tak berhasil memperoleh akhir ceritanya.''

Membaca kalimat itu saya merasa gembira yang aneh: Saman -- novel karya Ayu Utami pemenang pertama Sayembara Penulisan Roman DKJ 1998 yang mengundang Kontroversi itu -- telah menjamah sebuah ingatan kolektif, menjamah pernik cohort dari sebuah generasi, generasi Orba.

Membaca Saman adalah mengurai lapis demi lapis kesepian (seorang) pembaca sastra Indonesia. Radhar Panca Dahana, dalam sebuah esei di kumpulan puisinya, Lalu Waktu, menawarkan sebuah persoalan sastra Indonesia kontemporer: sastra yang kehilangan pembaca. Radhar tak menyalahkan pembaca. Ia lebih hendak menggugat para pekerja sastra kita yang tak terlampau tanggap ekologi baru sastra Indonesia.

Tapi saya mengalami hal yang berbeda (saya bukan ''pekerja sastra''). Sayalah yang merasa ditinggalkan oleh sastra Indonesia. Khususnya dalam prosa. Sedikitnya ada tiga gejala yang membuat saya merasa begitu.

Pertama, komunitas sastra Indonesia belakangan ini -- katakanlah dalam 10 tahun terakhir -- sudah jarang menghasilkan karya yang kuat, karya terobosan, yang menyegarkan untuk dibaca (saya menghindari kata ''karya besar''). Karya prosa yang betul-betul terasa baru dan segar paling-paling kumpulan cerpen Negeri Kabut Seno Gumira Adjidarma. Karya Seno yang lain, Saksi Mata dan Jazz, Parfum dan Insiden, memang juga dianggap luar biasa oleh para kritisi, tapi masih digayuti beban pesan, bahkan amarah (terhadap kasus Timor Timur), sehingga tak terasa ''menari'' sebebas Negeri Kabut.

Karya kuat lain yang banyak disebut adalah Pasar (Kuntowijoyo) dan Para Priyayi (Umar Kayam). Bisa juga disebut Arus Balik dari Pramodya Ananta Toer yang tebalnya na'udzubillah itu. Tapi ketiganya ditulis oleh para jago tua. Patut dicatat juga cerpen Sutardji Calzoum Bachrie, Hujan dan Ayam yang ajaib -- tapi Tardjie pun jago tua. Dan itulah gejala kedua, pentas sastra masih didominasi nama-nama lama. Sebagian semakin cemerlang (seperti Kunto dengan cerpen-cerpennya yang fenomenal; ditambah yang terbaru, novel Impian Amerika). Sebagian sedang-sedang saja, mapan dalam kematangan mereka (seperti NH Dini dan Danarto). Ada juga yang malah terasa menurun (misalnya Budi Darma dengan Ny Talis dan Romo Mangun dengan Burung-burung Rantau).

Sedang para prosais muda, kecuali Seno, belum mampu menembus dominasi para senior mereka. Sebagian sempat membawa angin segar dalam hal penuturan dan tema cerita, tapi tampak belum kuat staminanya untuk hadir secara kontinu (seperti Leila S Chudori, Yanusa Nugroho dan Radhar Panca Dahana). Sebagian cukup punya stamina, tapi cuma meneruskan tradisi penceritaan yang telah ada -- muda, tapi tak membawa kebaruan, sekadar membawa variasi saja. Sebagian besar malah cuma menambah jumlah saja.

Dan, jika kita bicara novel, jangankan mengharap novel yang kuat, mengharap jumlah saja tak bisa. Para jago tua itu pun punya masalah produktivitas. Sedang para prosais muda lebih betah menulis cerpen untuk koran dan majalah (bahkan mulai muncul pembenaran lewat teori sastra koran).

Lalu, gejala ketiga, eksplorasi bentuk-bentuk pengucapan baru, pencarian terus-menerus ekspresi bahasa yang mampu menampung dinamika persoalan dan perasaan kontemporer, jarang sekali dilakukan. Dunia puisi kita masih lumayan dinamis dalam memberdayakan bahasa Indonesia. Tapi, di dunia prosa, bahasa Indonesia semakin tampak pucat dan tak menarik. Indonesia, dunia, bergerak. MTV, komik Jepang, Benetton, burger, Planet Hollywood, mal-mal, pemogokan buruh, HAM, internet dan banyak lagi, telah jadi bagian kesadaran kita. Tapi, bahasa prosa seolah malas bergerak, cuma menggeliat sesekali, kemudian tidur lagi.
Maka, lengkaplah kesepian saya sebagai pembaca. Bisa dibayangkan betapa penasaran saya saat mendengar Sapardi Djoko Damono, sewaktu mengumumkan pemenang lomba penulisan roman DKJ, memuji Saman demikian: ''... memamerkan teknik komposisi yang -- sepanjang pengetahuan saya -- belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di negeri lain ...'' Wah! Lalu, ''... saya takut, jika novel ini diterbitkan, jangan-jangan pengarang lain ... diam-diam merasa perlu belajar menulis dalam bahasa Indonesia lagi.'' Ck, ck, ck!

Tapi, upaya membaca Saman adalah sebuah cerita lain kesepian seorang pembaca. Sulit juga mendapatkan naskah itu. Salah satu juri, Faruk HTT, antusias membagi-bagi fotokopi Saman (yang sudah buram karena dikopi berkali-kali) ke beberapa media. Kompas juga agaknya membagi-bagi kopi pada Umar Kayam, Romo Mangun dan Pramoedya. Saman dengan cepat beredar di lingkaran pembaca elit sastra Indonesia. Tapi, siapa mau membagi pada saya?

Setelah kasak-kusuk, saya mendapatkan Saman dalam disket. Karena tinta printer atau fotokopi sedang mahal, jadilah saya membaca Saman lewat monitor komputer, dengan segala ketaknyamanannya. Apakah kesepian saya lalu terobati?

Untuk sebagian, ya. Bahasa prosa Saman sungguh menyegarkan. Beda dengan kesan yang muncul dari komentar-komentar di atas, bahasa Indonesia dalam Saman tak tampil luhung dan angkuh. Kehebatan bahasa dalam Saman terletak pada kemampuannya untuk menampung wacana sosial-budaya-filsafat terkini serta dinamika kenyataan kontemporer, sambil tetap jernih dan mengalir lincah.

Memang, ada kata yang tak banyak diakrabi orang (seperti ''laut lapis lazuli'' atau ''selarit matahari'') atau nama-nama asing (seperti Seurat), tapi kehadiran mereka tak mengganggu, malah (walau mungkin tak dimengerti, tapi) menambah keindahan bunyi. Bersastra memang tak mesti berangker-angker.

Cara bercerita Ayu juga istimewa. Beberapa istilah telah dilekatkan tuturan pada Saman: ''teknik roman pop'' dan ''non-linear'' (Umar Kayam), atau ''struktur kolase ruang waktu serta dialog introvet ekstrovet kompleks...'' (Romo Mangun). Sapardi menganggap komposisi Saman, sepanjang pengetahuannya, ''tak ditemukan di negeri lain.'' Padahal, karya-karya Ondaatje, Salman Rushdie, Vikram Seth, Milan Kundera adalah contoh cara bercerita sealiran dengan Saman. Yang menyenangkan adalah bahwa teknik itu, aliran bertutur itu, kini hadir dalam sebuah novel Indonesia.

Keistimewaan Saman memang kemampuannya untuk bercerita tanpa beban -- ia hanya asyik bercerita. Bahkan, ketika ada selipan-selipan pemikiran diskursif, tentang Tuhan, agama, negara, hubungan antarmanusia (khususnya seks), ia tak terasa berkhutbah. Ia enteng saja merangkum ikon-ikon generasi Orde Baru (generasi yang terlahir dan besar selama Orde Baru, yang dibuai kelimpahan materi dan informasi dan dihegemoni Pembangunanisme) semenjak Deni manusia ikan, mie pangsit hingga internet, mencampurbaurkan dengan kisah-kisah injil, wacana diasforik (tanpa tapal batas), dan angst generasi X plus sebuah kisah magis yang amat kuat di bagian 2.

Di sisi lain, kesepian saya justru menegas. Kegairahan melanggar tabu, apalagi tabu terhadap Tuhan dan tabu seks, agaknya kini adalah jalan pintas untuk menghasilkan teks yang kuat dan menggoncang. Tapi, apa susahnya sih, di jaman sengkarut kini, untuk kehilangan kepercayaan pada yang sakral? Ketika Wisanggeni atau Saman mengalami betapa biadabnya pembangunanisme, kok enak amat ia begitu segeranya menyalah-nyalahkan Tuhan. Seakan tak ada upaya dari Saman, dan tokoh-tokoh lain, untuk berdialog tuntas dengan keimanan. Seakan Saman dimulai dengan apriori terhadap keimanan, meletakkan iman sejak awal dalam posisi lemah.

Saya tak hendak nyinyir. Tabu kadang memang perlu dilanggar. Saya amat menyukai pelanggaran tabu terhadap ''kesucian'' Negara dalam Saman -- khususnya karena belakangan ini kinerja Negara Orde Baru memang amat tak memuaskan. Saya cuma merasa tak sepenuhnya terwakili oleh Saman, khususnya pada bagian-bagian yang mendesakralkan Tuhan dan seks. Saya sering juga mendengar cerita (lisan) tentang orang-orang yang mengalami kekerasan Negara, kekerasan hidup, dan toh semakin santun pada Tuhan. Mereka bukannya tak pernah ragu atau gelisah. Tapi mereka selalu sungguh-gungguh mencoba memenangkan iman. Rasanya mereka pun menarik untuk diceritakan.

Saman, selain disambut gembira, juga menimbulkan gunjingan. Apakah benar Ayu Utami murni menulis sendiri karya itu? Sebagian menghubung-hubungkannya dengan lingkaran pergaulannya di komunitas Teater Utan Kayu (TUK) yang, diakui atau tidak, punya patron Goenawan Mohamad. Masalahnya banyak bagian bahasa prosa Saman mirip dengan gaya menulis Goenawan. Dan wawancara Kompas (5 April 1998) dengan Ayu Utami, oleh sebagian, dianggap ''bukti'' bahwa Ayu tak mungkin bisa menulis Saman sendirian.

Kompas tampak memojokkan Ayu. Sampai ditulis segala bahwa: ''Bila dari manuskrip Saman terlihat lincah dan cerdasnya Ayu berbahasa... tidak demikian rupanya Ayu alam ''diskursus lisan'.'' Lalu ditambah pula ''...wawancara ini sebagian dibiarkan sebagaimana adanya, seperti ia ungkapkan...,'' seolah hendak berkata: ''Ini lho, Ayu yang sesungguhnya.''

Pewawancara bertanya, ''tahu bedanya Dasamuka dan Rahwana?'' seolah hal itu penting dijelaskan. Ayu menjawab ''nggak'', dan sebagian pembaca berpikir, ''Tuh kan, si Ayu bodo!'' Padahal ''Dasamuka'' cuma bagian dari sebuah kalimat metafor biasa dalam Saman, bukannya menjadi bagian penting simbolisasi cerita seperti tokoh-tokoh wayang dalam Burung-burung Manyar. Lalu pewawancara mendesak soal penggambaran rig dan Perabumulih. Sebagian pembaca tergiring, mana mungkin Ayu bisa menulis itu kalau dia tak pernah ke rig dan Perabumulih. Dulu, Mohamad Diponegoro dianggap pernah ke Bangkok karena amat hidup menggambarkannya dalam roman Saman. Ia lalu mengaku tak pernah ke Bangkok -- ia cuma berimajinasi.

Di sisi lain, Saman dirayakan secara berlebih. Sampai Kompas menganggapnya sebagai tanda kelahiran ''angkatan baru sastra Indonesia''. Angkatan? Benar perlukah kompartementalisasi begitu? Lalu para otoritas sastra (Sapardi, Kleden, Kayam, Mangun) mengajaibkan Saman. Benarkah Saman adalah ''karya ajaib'' dari seorang ''anak ajaib''? Ataukah ia tak lebih dari anak jamannya, karya yang lahir memang sudah pada saatnya?

Semoga benar yang kedua. Karena, jika demikian, krisis Indonesia kini akan membantu melahirkan karya-karya kuat lainnya, sebagaimana masa-masa sulit dulu -- masa revolusi serta masa akhir Orde Lama dan awal Orde Baru -- menjadi lahan yang subur untuk karya-karya kuat. Masa-masa sulit adalah masa-masa memetik hikmah. Dan, sastra adalah salah satu cara untuk mendokumentasikan hikmah itu dengan baik. Semoga. Agar Ayu tak 'hebat' sendirian. Agar sastra Indonesia ramai lagi. Agar pembaca tak kesepian lagi.***

(Hikmat Darmawan, pengamat sastra, tinggal di Jakarta, anggota kumpul-kumpul budaya Pinsil Tebal)

Ratna Indraswari Ibrahim

“B A J U”
cerpen Ratna Indraswari Ibrahim


Saya kira ini kejahatan yang luar biasa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar biasa, aku bukan budak atau selir!
Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka satria unggulan, karena itu aku memilihnya!”

Aku memilihnya sebagai suamiku dan sekarang yang terlihat adalah ketika seluruh bajuku ditanggalnya oleh Dursosono, suami-suamiku Cuma diam-diam saja. Apakah harga diri perempuan yang permaisuri ini di bawah norma hukumnya? Kalau aku tanyakan peristiwa ini, mereka pasti akan menjawab: seorang kesatria harus menepati janjinya?

“Satria-satriaku, tahukah kamu waktu itu, aku lebih tidak menyukai daripada Dursosono yang memang kokoh jahat (Krisna tahu karena keperempuanku Krisna tidak membiarkan aku telanjang di muka penjahat-penjahat itu).”

Air mata yang ada di sudut mata kangmas Yudistira atau kemarahan yang ditahan-tahan oleh Bima tidak bisa menolongku pada saat itu. Arjuna lelaki yang peka (lelaki yang paling kucintai) tidak berbuat apa pun dengan anak panahnya. Si kembar Nakula dan Sadewa Cuma bisa menangis dalam hatinya, Destarata tidak juga berbuat banyak ketika kusimpuhkan diriku untuk meminta sikapnya. Juga eyang Bisma, paman Widuri yang terkenal bijak, juga tidak berbuat apa-apa. Dalam hal ini mereka menganggap semuanya harus mengikuti aturan main hukum yang berlaku!.

Aku menangis, sakit hati, bukan saja kepada Dursosono tetapi juga kepada suami-suamiku. Ini bukan cinta kalau mereka tidak berbuat apa pun kepada kekasihnya. Tiba-tiba aku merasa iri kepada Shinta yang direbut kembali oleh Rama dari Rahwana dengan segala perjuangan dan penderitaannya, sementara diriku mereka biarkan begitu saja. Kalau aku tidak ditolong oleh para Dewa, sudah dari tadi seluruh tubuhku ditonton oleh mereka, dilecehkan dengan nafsu hewaninya di muka suami-suamiku.

Seharusnya suamiku tidak perlu menepati janji akibat dari kecurangan dalam perjudian ini. Di kaputren, para dayang sudah berbisik bahwa permainan dadu itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para Pandawa pasti kalah.

Aku sebetulnya sudah melarangnya. Tapi, suami-suamiku yang perkasa tidak memedulikan naluri seorang istri. Mereka bilang, perjudian ini cuma menghormati taun rumah yang sudah mengundang kita. Kalau kalah, mereka berjanji akan berhenti sebelum sepuluh kuda dan kereta perang dipertaruhkan.

Menurut pendapat mereka, dengan permainan ini mereka berharap akan terjadi sebuah perjanjian bahwa Hastinapura akan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, mereka akan terhindar dari perang saudara.

Aku tidak percaya, tapi suami-suamiku bilang kalau perempuan selalu berbicara dengan perasaan tidak dengan otak. “Bersenang-senanglah di kaputren melihat taman yang indah yang akan menjadi milik kita kembali Dinda!”

Aku lupa siapa yang bilang begitu. Suami-suamiku memang memiliki satu pemikiran sekalipun watak mereka berbeda.

DUH Gusti ……., mereka membuka bajuku, sepertinya aku ini budak atau pelacur. Tidak pernah aku diperlakukan seperti ini. Tubuh perempuanku adalah ekspresi dari seluruh jiwa ragaku. Aku selalu menuntut mereka memperlakukan aku dengan perasaan yang saling menghormati ketika kita bercinta. Suami-suamiku kuajari menyentuh dengan keindahan dan saling menghormati. Begitulah yang kita lakukan bertahun-tahun. Tapi, sekarang mereka tidak berbuat apa pun. Sungguh menjijikkan ketika kulihat suamiku Cuma menunduk dan diam-diam saja (apakah mereka kali ini begitu bodoh, tidak melihat kecurangan itu?).

Pada saat itu aku memohon pada Dewata untuk mati saja daripada dihina seperti ini. Dimana orang-orang bersorak-sorai memberi semangat kepada Dursosono dengan menari-nari. Nampak olehku nafsu liar yang luar biasa dari mereka. Padahal mereka memiliki seorang perempuan juga, yaitu istri, ibu-ibu mereka, saudara perempuan, dan anak-anak mereka. Tapi, bagaimana aku bisa menuntut seperti angan-anganku ini. Aku sama sekali tidak mengerti ketika melihat Yudistira yang bijak cuma bisa menundukkan kepalanya. Padahal perempuan selalu menganggap suamilah yang akan melindungi dia melawan musuh-musuhnya.

Begitulah, aku sekian lama bermimpi suami-suamiku satria yang gagah perkasa akan menumbangkan darah demi melindungi istrinya. Tapi, kenyataannya mereka Cuma diam-diam saja. Aku tidak tahu apakah dalam kejadian ini aku masih hidup atau sudah mati? Yang jelas aku tidak ingin sentuhan-sentuhan yang menjijikkan itu yang akan segera menikmati apa yang ada dalam tubuhku.

SEJAK kecil ibu sering berkata, “Hormatilah tubuhmu sendiri.” Oleh karena itu, sejak kecil aku mesti memperlakukan setiap bagian tubuhku dengan rasa saying dan hormat. Dan sebagai permaisuri Hastinapura aku mengajari perempuan di sekelilingku, untuk mengekspresikan dengan hormat, dan indah, tubuhnya sendiri maupun tubuh suami mereka.

DURSOSONO masih menarik bajuku, dan atas pertolongan Krisna, baju dan kainku tidak pernah terbuka. Padahal aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjaganya pada waktu itu.

Yang ada pada waktu itu, rasa sakit yang luar biasa di seluruh urat nadiku. Kalau saja Dewata pada waktu itu berdiri di mukaku yang kumohonkan adalah kematian! Rasanya aku mempunyai firasat dan mimpiku yang berturut-turut bahkan sempat aku ceritakan pada suami-suamiku bahwa aku tidur dengan telanjang dan diperkosa oleh penjahat-penjahat Hastinapura.

Suami-suamiku dengan santun mendengarkan ceritaku, tapi mereka tidak mempercayai mimpiku. Undangan dari Hastinapura mengharu-birukan perasaan mereka dan setiap kecemasanku tidak pernah ditanggapi oleh mereka. Bahkan mereka dengan asyiknya berlatih main dadu.

Sesungguhnya, pada saat itu aku ingin sekali bumi ini terbelah dan aku masuk ke dalamnya. Namun, ketika mendengar sorak-sorai mereka dengan nafsu hewaninya dan ketidakberdayaan suami-suamiku ketika Dursosono membuka bajuku, kemarahan meledak di hatiku. Aku tiba-tiba ingin menyelesaikan masalah ini dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya, aku mencintai suami-suamiku dan inilah balasan mereka? Pernikahan kami yang bahagia berakhir dengan kepicikan mereka. Suami-suamiku seperti tidak menghargai lagi ekspresi tubuhku dan keberadaanku di tengah-tengah mereka.

Aku tidak tahu bagaimana mungkin suami-suamiku bisa terjebak dengan peristiwa ini. Dayang-dayangku saja tidak punya suami yang kelakuannya begitu hina-dina seperti ini. Bisakah kaubayangkan? Aku Drupadi dilahirkan dengan puja-pujian orangtuaku kepada Dewa Shiva selama beberapa tahun lamanya. Sekalipun kerajaan orangtuaku tidak sebesar Hastinapura, aku Drupadi yang diberi kebebasan oleh Romo untuk memilih sendiri suami-suami lewat sayembara.

Kupilih satria yang berbaju Brahmana. Aku tidak pernah tahu kalau kangmas Arjuna yang memenangkan lomba membengkokkan busur itu dalah putra Kunti, sebuah kerajaan yang paling adikuasa. Jadi jelas aku tidak memilih suami-suamiku karena dia keturunan raja-raja Hastinapura. Bersama suami-suamiku aku tinggal di hutan, (ketika mereka diasingkan kami masih pengantin baru). Apakah ini bukan sebuah cinta yang tulus? Dan pada saat ini mereka menafikan cintaku, penderitaanku, dan mimpi-mimpi indahku. Menjadi baying-bayang suram yang menaungi diriku.

Aku merasa pusing dan muntah-muntah. Sungguh aku tidak bisa menangis. Kupejamkan mataku hingga tidak kulihat kenyataan yang begitu dasyat di mana suami-suamiku Cuma pandai menundukkan kepala saja di tengah keliaran nafsu para Kurawa yang semakin kulihat sebagai iblis-iblis. Untuk berapa saat aku pingsan. Aku menyesal ketika aku terbangun dan melihat Dursosono masih mencoba menarik-narik busanaku sedangkan suamiku dan sesepuh Hastinapura sudah kehilangan akal untuk menghentikan kejadian ini.

Tiba-tiba, kemarahan membuat aku berteriak-teriak, “Destarata ambillah sikapmu, engkau tetap ayahanda dari mereka.” Aku lihat Destarata menjadi gemetar dan terduduk di kursinya. Eyang Bisma dan paman Widuri seperti blingsatan.

Kukatakan sekali lagi, “Baginda raja, tidak adakah lagi kebenaran di Istana Hastinapura ini?” Aku lihat ‘Destarata seperti dihantam dan akhirnya Widuri berkata, “Atas nama raja hentikan semua itu Baginda!”
Para Kurawa seperti mengaum.

Aku merasa bertarung sendirian di sepanjang waktu itu. Tiba-tiba air mataku jadi kering, kulihat Destarata yang tangannya terluka. Aku mencoba menahan seluruh kemarahan dan rasa benciku ketika Destarata memintaku membalut tangannya yang terluka.

AKHIRNYA Destarata berkata, “Mintalah apa saja kepadaku Drupadi, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Aku berkata, “Bebaskan Bima dan saudara-saudaranya.” Dan Destarata berkata kembali, “Kukembalikan Pandawa kepada kau sebagai suami-suami dan ini adalah anugerah dari Raja Hastinapura.”

Kemarahan semakin meledak-ledak di dalam hatiku. Kurasakan penghinaan itu sampai ke urat nadiku. Aku kira bukan anugerah dari Destarata. Kurebut mimpiku sebagai perempuan.

Apakah suami-suamiku dengan caranya masih bisa disebut sebagai satria? Sementara itu, di sisi lain, aku masih menjadi bagian dari mereka, tak secuil pun yang akan menjadi milikku?
Jadi, setelah aku berikan seluruh jiwa dan ragaku kepada Pandawa tanpa secuilpun uang jadi milikku, aku jadi bertanya-tanya, “Siapakah diriku?”
Lantas, “Aku bersumpah tidak akan menggulung rambutku sebelum keramas dengan darahnya Dursosono.”

Halilintar saling sambar-menyambar, Dewata menyaksikan sumpahku.

Para Kurawa dan suami-suamiku terpana!

Tuesday, April 15, 2008

Hikayat Si Miskin

Hikayat Si Miskin


Karena kutukan Batara Indra, raja keindraan beserta istrinya jatuh miskin, melarat, dan terlunta-lunta di Kerajaan Antah Berantah yang diperintah oleh Maharaja Indra Dewa. Setiap hari si Miskin mencari sisi-sisa makanan yang sudah dibuang orang di tempat-tempat sampah. Apabila penduduk melihatnya, mereka beramai-ramai menghina, memukul, dan mengusir si Miskin suami-istri itu, sehingga badannya luka-luka. Sedih hati si Miskin sepanjang hari dan tidak berani masuk kampung karena takut dipukul atau dilempari batu. Diambilnya daun-daun muda untuk dimakan dan untuk pengobat luka di tubuhnya. Demikianlah pengalaman dan penderitaan mereka sepanjang hari.

Ketika mengandung 3 bulan, istrinya mengidamkan buah mempelam (sejenis mangga) yang tumbuh di halaman istana raja. Dimintanya agar suaminya (si Miskin) meminta buah mempelam itu kepada raja. Mendekat kampung saja suaminya tidak berani, apalagi hendak menghadap raja minta buah mempelam itu. Dengan sedih dan meratap istrinya memohon supaya suaminya mau meminta mempelam raja itu. Karena kasihan kepada istrinya si Miskin mencoba meminta mempelam itu.

Tiada disangka-sangka, raja sangat bermurah hati dan memberikan mempelam yang diminta si Miskin. Buah lain seperti nangka pun diberi raja. Penduduk kampung yang melihatnya jatuh kasihan dan bermurah hati memberi si Miskin kue dan juadah (kue basah). Mungkin berkat tuah anak.yang dikandung istrinya juga hal yang demikian itu terjadi.

Pada hari baik, setelah cukup bulannya, istri si Miskin melahirkan seorang putra yang sangat elok parasnya. Anak itu diberi nama Marakermah yang artinya anak dalam penderitaan.

Ketika si Miskin menggali tanah untuk memancangkan tiang atap tempat berteduh, tergali olehnya taju (topi mahkota) yang penuh berhias emas. Dengan kehendak Yang
Mahakuasa, terjadilah sebuah kerajaan lengkap dengan alat, pegawai, pengawal, dan sebagainya di tempat itu. Si Miskin menjadi rajanya dengan nama Maharaja Indra Angkasa dan istrinya menjadi permaisuri dengan nama Ratna Dewi. Kerajaan itu mereka namakan Puspa Sari.

Kerajaah Puspa Sari terkenal ke mana-mana. Pemerintahannya baik, rakyatnya aman, damai, makmur, dan sentosa. Tiada lama kemudian lahirlah pula adik Marakermah yang diberi nama Nila Kesuma. Bertambah mashurlah kerajaan Puspa Sari dan bertambah pula iri hati Maharaja Entah Berantah.

Kemudian tersiar kabar, bahwa Maharaja Indra Angkasa mencari ahli nujum untuk mengetahui peruntungan kedua anaknya kelak. Kesempatan ini dipergunakan Maharaja Indra Dewa. Semua ahli nujum dikumpulkannya dan dihasutnya supaya mengatakan kepada Indra Angkasa bahwa Marakermah dan Nila Kesuma akan mendatangkan mala petaka dan akan menghancurkan kerajaan Puspa Sari. Semua ahli nujum mengatakan seperti yang dihasutkan oleh Maharaja Indra Dewa.
Mendengar kata-kata ahli nujum itu sangatlah murka Maharaja Indra Angkasa. Marakermah dan adiknya hendak dibunuhnya. Permaisuri Ratna Dewi menangis tersedu-sedu, memelas dan memohon kepada suaminya supaya kedua putranya jangan dibunuh. Ia tak tahan hati melihat kedua anaknya diperlakukan demikian. Dimohonnya kepada suaminya supaya dibiarkan saja kemana perginya mereka. Sambil disepak dan diterjang, pergilah kedua anak itu mengembara tanpa tujuan. Sesaat setelah mereka pergi, kerajaan Puspa Sari terbakar habis, semuanya musnah.

Sampai di kaki bukit, berteduhlah Marakermah dengan adiknya, Nila Kesuma, di bawah sebatang pohon dalam keadaan lapar. Tertangkaplah oleh Marakermah seekor burung yang sedang hinggap di dekatnya. Karena lapar, mereka hendak memakan burung itu, dan berusaha hendak memasaknya lebih dahulu. Datanglah mereka ke pondok seorang petani hendak minta api untuk membakar burung itu. Tiba-tiba mereka ditangkap petani karena dituduh hendak mencuri. Keduanya dilemparkan ke laut dan diterjang ombak ke sana kemari. Nila Kesuma akhirnya terdampar di pantai dan ditemukan oleh Raja Mengindra Sari, putra mahkota kerajaan Palinggam Cahaya. Nila Kesuma dibawa ke istana, kemudian dipersunting raja Mangindra Sari, menjadi permaisurinya dengan gelar Putri Mayang Mengurai.

Marakermah dibawa arus dan terdampar di pangkalan (tempat mandi di pantai) nenek gergasi (raksasa tua). Kemudian ia diambil dan dimasukkan dalam kurungan di rumahnya. Kebetulan di situ telah dikurung pula Putri Raja Cina bernama Cahaya Khairani yang tertangkap lebih dahulu. Mereka ini akan dijadikan santapan sang gergasi.

Sebuah kapal besar menghampiri perahu mereka dan mereka ditangkap lalu dimasukkan ke kapal. Nahkoda kapal jatuh cinta kepada Cahaya Khairani. Cahaya Khairani dipaksa
masuk ke kamar nakhoda dan Marakermah dilemparkan ke laut. Kapal meneruskan pelayarannya.

Dalam keadaan terapung-apung, setelah kapal berlayar jauh Marakermah ditelan seekor ikan nun (ikan yang sangat besar). Ikan itu terdampar di pangkan Nenek Kebayan. Seekor
burung rajawali terbang di atas pondok Nenek Kebayan dan memberitahukan supaya perut ikan nun yang terdampar di pantai itu ditoreh (dibuka) hati-hati, karena di dalamnya ada seorang anak raja. Petunjuk burung itu diikuti Nenek Kebayan dan setelah perut ikan nun ditoreh, keluarlah Marakermah dari dalamnya. Mereka sama-sama senang dan gembira. Lebih-lebih Nenek Kebayan yang mendapatkan seorang putra yang baik budi.

Marakermah tinggal di rumah Nenek Kebayan dan sehari-hari turut membantu membuat karangan bunga untuk dijual dan dikirim ke negeri lain. Dan cerita Nenek Kebayan tahulah Marakermah, bahwa permaisuri kerajaan tempat tinggal mereka bernama Mayang Mengurai yang tidak lain daripada seorang putri yang dibuang ke laut oleh seorang petani ketika hendak mencari api untuk membakar seekor burung bersama kakaknya. Yakinlah Marakermah bahwa putri itu sesungguhnya adiknya sendiri.

Kebetulan Cahaya Khairani maupun Mayang Mengurai sangat menyukai karangan bunga Nenek Kebayan yang sebenarnya Marakermahlah yang merangkainya. Pada suatu ketika dicantumkannya namanya dalam karangan bunga itu. Dari nama itu Cahaya Khairani dan Nila Kesuma mengetahui bahwa Marakermah masih hidup. Bertambah dalam cinta Cahaya Khairani kepada kekasihnya. Demikian juga Nila Kesuma bersama suaminya, berkemauan keras untuk segera mencari kakaknya, Marakermah, ke rumah Nenek Kebayan itu.

Betapa gembira mereka atas pertemuan itu tak dapat dibayangkan. Dengan mudah pula Marakermah bersama iparnya, Raja Palinggam Cahaya, dapat menemukan tempat Cahaya Khairani disembunyikan oleh nakhoda kapal. Setelah Cahaya Khairani ditemukan, dan ternyata ia belum ternoda oleh sang nakhoda, maka dilangsungkanlah acara pernikahan antara Marakermah dengan Cahaya Khairani, dan nakhoda yang menggoda Cahaya Khairani dibunuh di Kerajaan Palinggam Cahaya.

Marakermah bersama Cahaya Khairani kemudian pergi ke tempat ayah-bundanya yang telah jatuh miskin di Puspa Sari. Dengan kesaktiannya, Puspa Sari yang telah lenyap itu diciptakannya kembali menjadi kerajaan yang lengkap dengan isinya di daratan Tinjau Maya, yaitu Mercu Indra. Kemudian ia dinobatkan di sana menggantikan mertuanya.***

Download KLIK di sini

Cok Sawitri

“R A H IM’
Karya : Cok Sawitri
NAMA saya Nagari. Umur, tiga puluh tahun. Tanpa harus dijelaskan, saya sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambut saya masih basah, pintu kamar kontrakan saya diketuk berulang kali. Tiga orang lelaki dengan sorot mata sopan menjemput saya. Dari jip yang menanti di halaman, kemudian dari deru mesinnya yang tipis, tak kalah tipis dari udara sore itu, ditambah lagi tutur sapa mereka yang berat dan tegas, tanpa harus dijelaskan, saya paham apa yang tengah terjadi.

Mereka, tiga orang lelaki itu, membawa saya ke sebuah rumah. Sebuah rumah dengan lantai licin dan dingin. Lantai yang membentuk lorong panjang, membelah puluhan pintu-pintu kamar yang saling berhadapan. Kemudian langit-langitnya begitu tinggi dan bila melangkah atau berbisik, tembok-temboknya memantulkan kembali suara-suara bercampur desir yang aneh. Rumah itu mirip hotel tua yang sudah dipensiunkan. Udara yang bergerak di dalamnya terasa demikian uzur.

Sampailah saya pada sebuah kamar. Tiga orang lelaki itu mempersilakan saya masuk ke dalam hanya dengan isyarat tangan. Dan, ketika tubuh saya melewati batas pintu, secara naluriah saya menangkap isyarat-isyarat asing, menerka-nerka kamar macam apa yang tengah saya masuki.

Sebuah meja yang tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil, terbuat dari bahan kayu besi. Lalu dua buah kursi yang diletakkan berseberangan saling berhadapan, jam dinding yang memantulkan suara detak jam pada tiap kali geraknya membuat jantung lebih cepat berkerut. Belum lagi udara yang memasuki hidung begitu sarat mengandung debu yang seketika membikin tenggorokan tercekat perih.

Pintu di belakang tubuh saya otomatis menutup sendiri. Sisa desir anginnya, membuat saya seperti merasa didorong ke kubangan pasir, menyebabkan leher terasa demikian berat dan kaku. Sekali lagi, detak jarum jam dinding itu membuat pori-pori saya mengembang membentuk lubang dingin. Menggigilkan hati.

Saat itu, saya tidak memerlukan penjelasan apa pun, secara naluri saya mengerti, mengapa mereka, tiga orang lelaki itu, memasukkan saya ke kamar ini.

Karena sebelumnya, entah suatu kebetulan, seminggu yang lalu, seorang sahabat telah mengingatkan saya akan kemungkinan semacam ini. Tetapi peringatan sahabat saya itu, sungguh sulit saya percayai. Memang, sudah sering saya dengar kabar-kabar tentang berbagai kejadian aneh dan tidak logis yang menimpa banyak orang. Misalnya, ketika seorang teman dengan mata tertutup dibawa di tengah malam oleh sekelompok lelaki.

Teman saya itu diajak berputar-putar, tetapi entah kemana, teman saya tak pernah ingat. Dia hanya ingat diajak berkeliling! Tanpa henti dan tidak pernah berhenti. Dia juga ingat, selama perjalanan berputar-putar itu tak ada satu pun orang dari para lelaki yang membawanya itu menyapa dia dengan sepatah kata sekalipun! Teman saya hanya mendengar suara langkah sepatu dihentak-hentak silih berganti dengan letup kosong gerakan pelatuk pistol, membentuk irama dingin dan mencekam ulu hati. Entah apa namanya peristiwa itu. Teror. Intimidasi. Pengalaman gelap. Entahlah. Saya tidak paham. Sebab teman saya itu akhirnya dikembalikan seperti sedia kala ke rumahnya. Sampai kini dia tetap hidup normal. Juga tidak ada sekecil apa pun sebagai suatu tanda pernah mengalami suatu peristiwa. Yang tersisa dari peristiwa itu, sebuah sorot mata, yang bila saya ajak bertukar pandang, membuat perasaan seperti tersedot pusaran angina. Atau secara pongah saya seolah melihat di lubang matanya telah tumbuh sebatang pohon besar dengan akar ketakutan yang demikian hebat.


Ya, memang besar perbedaannya antara mendengarkan cerita dengan saat mengalami sendiri, bahwa kejadian semalam itu, yang dialami oleh teman saya itu, yang semula hanyalah cerita-cerita penghangat disaat minum kopi dapat menjelma sebagai kenyataan. Dialami oleh siapa saja. Tetapi, saya sulit percaya apabila itu kemudian terjadi terhadap diri saya.

Nyatanya, saya mengalami, tetapi saya merasa lebih beruntung dibandingkan dia. Setidaknya, saya paham, sesuatu telah direncanakan untuk saya dan saya siap mengalaminya. Karena itu saya tidak perlu penjelasan. Kamar saya ini sudah lebih cukup dari selembar kertas penuh kalimat penjelas.
***
NAMA saya Nagari. Pekerjaan ………… kadang saya menulis, kadang saya bernyanyi, kadang (kalau apa yang selama ini saya kerjakan, bisa disebut pekerjaan).

Ya itulah pekerjaan saya. Tepatnya, menghibur orang!

“Alamat?”

“Bukankah Bapak telah tahu,” saya berusaha menenangkan hati. Mencoba menatap mata lelaki di hadapan saya, yang saya kira matanya (barangkali) tidak bersaraf karena nyaris tak pernah mengedip. (Seperti mata ular. Konon ular tak pernah berkedip sepanjang hidupnya!).

“Ini prosedur biasa. Alamat saudari?!” ulangnya dengan suara kalem

“Di rumah kontrakan 2212.”

Lelaki itu mengatup bibirnya. Bajunya putih berjaket kulit dengan lengan yang ujung-ujungnya nampak kumal. Bibirnya hitam karena kebanyakan nikotin. Jemarinya tampak gemuk dan kasar. Tetapi wajahnya dalam siraman cahaya lampu yang saya perkirakan sebesar 25 waat, tampak berkilat-kilat, penuh semangat.

“Saya harapkan kerja sama Saudari. Biar kita bisa segera pulang. Saya sudah capek. Saudari juga capek. Jadi, mari kita bekerja sama …..”

Suara lelaki itu entah kenapa terdengar di telinga saya seperti lelucon-lelucon yang biasanya disisipkan oleh teman-teman bila ngobrol santai di kafe. Suara yang sengaja disopan-sopankan, suara sopan manis para birokrat bila diwawancarai reporter TV.
“Saudari mengerti maksud saya?” Tanya lelaki itu tiba-tiba.

“Tidak!” refleks saya menyahuti pertanyaannya. Dan, jawaban saya yang refleks membuat alisnya terangkat tinggi. Lalu, entah disebabkan apa, senyumnya tiba-tiba mengembang, cukup manis, begitu otomatis jemarinya merogoh saku, mengeluarkan rokok,

“Saudari merokok?”
“Kadang ….”

“Wanita modern biasanya merokok ….,” gumamnya dengan hidung kembang kempis. “Saudari tentu mengerti. Saya ini jujur saja. Saya tahu, Saudari adalah seorang wanita terpelajar. Banyak yang suka tulisan Saudari. Mendengar nyanyian Saudari ….. Saya pun termasuk salah satu orang dari jutaan orang, yang merasa seperti kehilangan bila di pagi hari tidak menemukan tulisan Saudari!” lanjutnya. Kali ini mirip suara penyair di televisi swasta.

Lalu lelaki itu menghembuskan asap rokok ke cahaya lampu, memberikan kesempatan pada asap membentuk gores-gores abstrak, kadang mirip awan, kadang mirip binatang, mungkin juga kadang membentuk sebuah simbol.

“Sebagai seorang teman… Maaf! Sebagai penggemar! Saya ingin sekali tahu, apakah tindakan operasi pembuangan rahim yang saudari lakukan tanggal 22 Desember yang lalu itu dilatarbelakangi semangat lain?”

Maksudnya? Saya berusaha konsentrasi terhadap pertanyaan lelaki itu. Ketika saya mengerti arti pertanyaannua, saya betul-betul terpana. Jadi, ini alasannya. Sialan, spontan hati saya memaki. Jujurnya, semula saya mengira saya dibawa ke mari karena tulisan saya yang terbit minggu lalu di sebuah Koran, menjadi sebab saya dapat kehormatan diundang ke kamar ini.

Ternyata, perkiraan saya jauh meleset. Entah mengapa, rasa kecewa itu muncul. Ternyata, bukan karena pikiran-pikiran saya, ide-ide saya, bukan karena kritik-kritik saya. Tetapi karena peristiwa tanggal 22 Desember itu?!

“Apa maksudnya?”

Saya bertanya dengan kecewa juga karena bingung. “Rahim? Maksud Bapak operasi rahim setahun yang lalu itu?”

“Iya. Yang Saudari lakukan pada tanggal 22 Desember, jam 11.30 Wita, di rumah sakit swasta…” Lelaki itu melepas suaranya dengan tekanan, mendorong saya sedikit merasa gelisah.

“Saya tidak mengerti, Pak…”

“Saya paham bila saudari tidak mengerti. Begini, Saudari mungkin tidak menyadari atau mula-mula Saudari mengira, apa yang Saudari lakukan adalah sesuatu yang wajar. Hak Saudari. Asasi Saudari. Kamipun mengerti hal itu. Amat mengerti…!!” Lelaki itu tiba-tiba terbatuk lama. Dahinya berkerut-kerut.

“Kami hanya ingin tahu, apa latar belakang tindakan Saudari!” lanjutnya dan batuknya otomatis terhenti. Dan, keheningan tiba-tiba saja menyergap. Saya berkesempatan kembali menatap wajah lelaki itu.

“Di bawah cahaya lampu 25 watt, kulitnya menyilaukan saya. Membuat pelipis berdenyut sakit.

“Masud Bapak ….. soal operasi rahim saya itu?” Mungkin kedengarannya bodoh, dengan menahan rasa sakit di pelipis, saya mengulang pertanyaan lelaki itu.

“Iya ….” Suaranya kini mantap, matanya membentuk bintik hitam.

Melihat kemantapannya, saya kecewa. Di lubuk hati saya, saya sering berkhayal, suatu saat nanti, saya akan mengalami peristiwa semacam ini. Lalu orang-orang ribut di Koran-koran, menjadi bahan pergunjingan. Menjadi gosip. Ramai. Sampai luluh lantak tanpa ujung pangkal. Ya, di lubuk hati saya yang terdalam, terlalu sering saya bayangkan diri dilukai berkali-kali kemudian darah menetes sebagai bukti bahwa saya telah memperjuangkan sesuatu dan membuat orang-orang terharu.

Akan tetapi, kini saya ditanyai soal rahim busuk! Rahim yang menasibkan hidup saya tidak lagi gagah mengakui diri sebagai perempuan.

“Sesungguhnya, saya heran ….,” akhirnya, saya ungkapkan kekecewaan.

“Saya tahu, Saudari akan heran ….. karena baru sekarang kami menanyakannya. Tidak setelah Saudari keluar dari rumah sakit ….” Lelaki itu menyela cepat. Matanya tajam, seolah mengerti geletar hati saya.

“Saya operasi karena rahim saya ditumbuhi daging. Itu logika medis. Aneh sekali bila hal itu menjadi daya tarik bagi Bapak?” dengan suara yang ditenang-tenangkan, saya mencoba menjelaskan sesuatu yang sebetulnya tidak memerlukan penjelasan, sesuatu yang bila makin jelas akan membuat saya kian kecewa.

Mendengar penjelasan saya, lelaki itu tersenyum lebar sekali. Kemudian di tengah-tengah senyumnya itu seekor cicak berteriak nyaring, gemanya memantulkan ke mana-mana.

“Sudahlah, seperti yang saya sampaikan dari awal. Marilah kita bekerja sama! Kita sudah sama-sama tahu. Saudari tahu, apa yang ingin kami tahu! Terus terang saja, kami sudah berpengalaman sejak tahun 1971!”

Saya berusaha tidak gemetar, tetapi lidah saya berkhianat, lidah saya bergetar. “Saya tidak mengerti. Soal operasi rahim, sejujurnya, bagi saya, itu peristiwa menyedihkan sekali.”

“Sedih? Maksudnya, Saudara melakukan hal itu dengan terpaksa?” Tanya lelaki itu dengan sorot mata yang membuat saya merasa seperti diserang flu.

“Tentu saya terpaksa. Andai boleh, tentu saya tidak akan melakukannya, Pak!” saya menyahutinya dengan pelan. Manalah ada perempuan yang suka rela rahimnya dibuang!
“Siapa yang memaksa Saudari?”

“Maksud Bapak?”

“Sudahlah, Saudari tidak usah takut. Kami ada dipihak Saudari. Kami merasa bersalah tidak bisa cepat menyelamatkan Saudari ….”

“Maksud Bapak? Pelipis saya terasa berdenyut keras.

“Siapa yang memaksa Saudari melakukan operasi itu?!”

“Tidak ada yang memaksa saya, Pak!”

“Saudari tadi katakana, Saudari terpaksa …..

Katakanlah, siapa yang memaksa Saudari!”

Lelaki itu mengerutkan dahinya. Kilat kulit wajahnya memantul kemana-mana. Saya tercekat. Isi otak saya bergerak cepat. Ada apa? Apa maunya lelaki ini! Saya buntu. Betul-betul tak paham. Tepatnya, saya mulai merasa meriang. Dan, detak jarum jam dinding di kamar itu, membuat saya tiba-tiba teringat kamar kontrakan, Ah, saya belum kunci jendela! Saya teringat nasi yang belum dihangati.

Saya mual dengan dengan gerak pikiran saya sendiri. Mengapa mereka ingin tahu soal operasi rahim saya. Mengapa?

“Indikator yang kami pelajari. Fakta yang kami kumpulkan. Telah menujukkan arah yang benar. Saudari tahu, gerakan membuang rahim ini telah menjadi pola gerakan teror baru , tujuannya mengganggu reformasi. Ini sudah menjadi bagian gerakan politik direkayasa oleh kekuatan luar! Ini sebabnya kami minta tolong pada Saudari. Agar kami tahu, siapa dibalik semua ini?” Suara lelaki itu kini berdetam di kepala saya.

Aneh! Aneh betul bila dikaitkan ke hal-hal yang menurut saya sungguh-sungguh luar biasa. Memang, kalau dipaksa agar ada kaitannya, pasti saja ada kaitannya, kaitan aneh, misalnya. Apa rahim busuk pun bisa menjadi alasan untuk dicurigai telah terkait hal-hal yang yang luar biasa itu?! Apakah tindakan penyelamatan nyawa (operasi rahim itu) yang sebetulnya wajar dan normal dapat secara ajaib dihayati sebagai bisul berbahaya mengancam kehidupan masyarakat umum semacam ledakan bom setiap minggu atau penimbunan sembako yang pernah ramai dibicarakan itu ?! Luar biasa. Sungguh luar biasa rangkaian imajinasi otak lelaki di hadapan saya ini.

Saya mulai membujuk pikiran untuk menerka-nerka. Apa sebetulnya yang telah bergerak di dalam pikiran lelaki yang duduk tegak di hadapan saya itu.

Sebuah pengabdian, penyelamatan Negara atau… suatu kebingungan akibat gajinya yang kecil(?). Atau dengan nakal pikiran saya bergerak, kekhawatiran lelaki itu benar adanya. Andai saja benar ada suatu gerakan penimbunan rahim. Para perempuan menimbunannya di suatu gudang, melakukan embargo terhadap jutaan sperma lelaki, semacam gerakan mogok hamil dan mogok melahirkan . Luar biasa!! Kalau saja hal ini benar terjadi, saya dpat mengerti kecurigaannya terhadap operasi rahim saya itu Tetapi …

“Kami telah mendeteksi, ada kelompok yang menginginkan para perempuan tidak memiliki rahim, dengan tujuan membatalkan seluruh kesempatan kelahiran generasi baru! Kami telah pelajari hal ini . Sejak lama. Bertahun-tahunkami kumpulkan informasi. Kami godok. Kami analisa… Saudari tahu, apa argument mereka?”

“Daripada melahirkan anak tetapi tidak dirawat dengan baik, tidak dilindungi oleh aturan yang baik. Lebih baik rahimkami dibuang!! Saudari tentu tahu hal itu, bukan?” Lelaki itu menyahuti pertanyaannya sendiri dengan penuh semangat, busa tipis memercik dari mulutnya yang hitam.

Astaga!

Saya benar-benar takjub. Andai saja saya punya pikiran semacam itu. Alangkah menakjubkannya. Semua perempuan membuang rahimnya! Klak ! Tidak ada kelahiran baru. Semua tua lalu mati! Klak ! Tidak perlu lagi gerutuan soal sembilan bahan pokok, tidak perlu lagi ini atau itu… karena hidup berakhir sudah. Bayangkan saja, mereka telah dijebak oleh imajinasi bahwa para perempuan akan membuang rahimnya, ada indikasi politik! Sebagai suatu ancaman. Meraka bahkan bertanya, “Siapa berdiri di balik ide kalian!”

Aneh. Merewka teus bicara politik, bicara oknum-oknum yang memiliki kemungkinan mmempengaruhi saya. Luar biasa sekali imajinasi mereka.

Akan tetapi pikiran jernih itu melintas tegas di kepala saya.Memotong lambungan pikiran saya. Saya menatap lelaki itu dan berusaha menata kata-kata, setenang dan sejelas mungkin.
“Sejujurnya, saya operasi rahim karena rhim saya dibuang lantaran ada tumor di dalamnya. Itu demi keselamatan nyawa saya , Pak. Sungguh, saya tidak mengerti yang Bapak pertanyakan kepada saya. Ini bukan persoalan aneh. Dari sudut kesehatan , ini seuatu yang lumrah , Pak!”

Lelaki itu tersenyum kecil. Menghela nafas. Matanya untuk pertama kali berkedip. Takjub saya dibuatnya. Dan, saat itulah dari jauh saya dengar detak-detak langkah mendekat. Tak lama kemudian pintu di belakang punggung saya terbuka. Angina mendesir. Tiga lelaki yang menjemput saya datang kembali. Tanpa bicara dengan isyarat tangan mengajak saya melangkah meninggalkan kamar itu. Meninggalkan rumah itu.
***
Lelaki itu tersenyum kecil. Menghela napas. Matanya untuk pertama kali berkedip. Takjub saya dibuatnya. Dan, saat itulah, dari jauh saya dengar detak-detak langkah mendekat. Tak lama kemudian pintu di belakang punggung saya terbuka. Angin mendesir. Tiga lelaki yang menjemput saya datang kembali. Tanpa bicara dengan isyarat tangan mengajak saya melangkah meninggalkan kamar itu. Meninggalkan rumah itu.
***
PAGI itu, saya memperhatikan kalender, kemudian saya perhatikan gerak jarum jam. Di luar sana terdengar suara gemuruh berisi jeritan dan tepuk tangan. Saya membuka jendela kamar, melihat keluar, di sana, terlihat spanduk-spanduk dikibarkan, bertuliskan : Selamatkan Rahim Perempuan, demi Masa Depan Dunia!

Astaga.

Tiba-tiba perut saya terasa nyeri. Ketukan pintu itu terdengar lagi. Saya enggan membukanya. Saya merasa tiga orang lelaki mendekati kamar saya.

“Kami lihat apa akibat dari tindakanmu itu. Segera umumkan pada mereka, bahwa kamu tidak pernah membuang rahimmu. Katakan pada mereka, bahwa apa yang kamu lakukan itu bukan gerakan keprihatinan yang berkaitan dengan harga makanan yang mahal!! Juga katakan, mereka tidak perlu khawatir, kelak generasi mendatang tidak akan terlahir bodoh dan kurang gizi. Katakan! Mereka tidak perlu membuang rahim mereka! Seperti yang sudah kamu lakukan!!”

Perut saya menegang. Rasa sakit itu sungguh luar biasa. Membuat segalanya gelap gulita. Sayup saya dengar suara lelaki di kamar itu tengah berpidato! Suara lelaki dengan detak jam yang menusuk-nusuk jantung.

“Tenanglah Saudara-saudara, tenanglah! Saudari Nagari sebentar lagi akan siuman. Saya harap Saudara-saudara memberikan kesempatan kepada tim kami untuk melaksanakan tugas. Demi keselamatan Saudari Nagari …”

Saya berusaha membuka mata dengan paksa. Lampu itu saya kenal. Jumlah cahayanya 25 watt. Jam dinding itu saya kenal. Cecak itu pun saya ingat. Saya pandang sebuah wajah. Wajah itu saya kenal.

Saya paham. Tidak perlu dijelaskan. Seperti biasa, seperti berbagai kejadian yang saya dengar dari teman-teman. Zaman ini tidak memerlukan penjelasan, tidak memerlukan kejelasan. Sebab penjelasan justru akan menebalkan kekaburan.

Lalu sayup suara aneh terdengar ….. Nama Nagari. Umur tiga puluh. Pekerjaan serabutan. Jenis kelamin wanita! Nomor kamar 2212. Catatan : korban kriminal. Rahimnya dikoyak dengan pisau belati oleh gerakan anti kelahiran generasi baru.

Saya tercengang. Rasanya, baru kemarin sore saya duduk di rumah kontrakan. Tidak pernah ada terjadi kejadian yang luar biasa. Benarkah rahim saya dikoyak dengan pisau belati? Aneh sekali! Untuk apa dikatakan seperti itu? Toh, semua teman saya tahu, rahim saya dibuang karena memang ada tumor di dalamnya.

Phuah. Kepada siapakah saya harus menanyakan, apa sebab riwayat rahim busuk itu menjadi demikian hebat kisahnya. Televisi, Koran dan radio ramai-ramai mengupasnya. Komentator baru soal politik rahim lahir beratus-ratus dalam seminggu.

Dari dalam kamar ini. Saya mendengar sorak-sorai bercampur jeritan-jeritan. Saya pejamkan mata sambil mengingat-ingat, barangkali, pernah saya melihat rahim busuk itu. Tetapi saya gagal membayangkannya. Barangkali, tidak akan pernah saya tahu seperti apa wajah rahim busuk itu. Padahal, dia ada dalam tubuh saya. Saya raba perut. Terasa kosong dan tiba-tiba saja saya merasa teramat kehilangan.

Saya hidupkan TV, isi beritanya : Antrean panjang terjadi di seluruh rumah sakit besar di kota-kota besar. Dengan hati kecut saya menanyakan: “Mengapa mereka antre di situ!” Mereka tak menjawab. Mereka nampak khususk. Seperti menanti namanya dipanggil saat menanti giliran memasuki kamar operasi!

Nagari! Usia tiga puluh tahun, ….. di TV saya lihat wajah saya! Begitu aneh. Teramat aneh.*


Januari 1998 - 2000

Indra Tranggono

“L I A N G”
Cerpen karya Indra Tranggono



TANGIS Wati pecah, pagi itu. Kantong air matanya jebol ditohok kalimat-kalimat runcing mengilat para tetangganya. Liang matanya terasa perih, sangat perih. Air matanya terlalu banyak mengalir, hampir sepanjang waktu, seperti aliran selokan yang membelah kampung itu.

Kompleks perumahan di pinggir sungai itu terasa tambah sesak saja dengan penghuni baru. Kompleks perumahan? Ah, tidak juga. Yang disebut “kompleks” itu sebenarnya tak lebih dari deretan atau jejalan rumah-rumah kecil ukuran 3 x 3 meter. Bahkan yang dipakai umumnya batu bata tanpa diplester dan dikerjakan secara “ekspresif”. Tonjolan dan lepotan semen mencuat seperti goresan kuas seorang maestro. Beberapa bagian dari rumah-rumah itu ditutup dengan tripleks atau papan kayu bekas peti kemas. Cat rumah-rumah itu berwarna-warni, seperti gebyar pawai, begitu riuh, seperti percakapan mereka yang berlangsung setiap waktu.

“Lha, kalau setiap tahun Wasti pulang bawa anak, tempat kita pasti sumpek,” seorang perempuan gemuk tertawai berderai. Tawa itu disambut para “nasabah” yang bergerombol merubung rentenir.

“Ya, ndak gitu to. Eh …. siapa tahu dia itu nyindir kamu yang mandul”, timpal perempuan kurus dengan tawa berderai.

Si Gemuk memotong, “Biar mandul tapikan jelas punya suami ….”

Wasti yang sedang mencuci di sumur merasa dirajam. Ia melemparkan cucian dan bergegas masuk rumah.

Ibunya, Yu Milah, menatap dengan hati terbelah. Disamping tiga anaknya yang tiduran di ranjang kayu, Wasti rebah. Tangis terdengar tertahan. Tiga anaknya mengeroyoknya, mengajak bercanda. Anak Wasti yang masih bayi menangis di gendongan Yu Milah yang mendadak matanya basah.


ADA kilatan mata bayi cucunya itu, Yu Milah seperti melihat dirinya. Menatap raut wajahnya yang tampak penuh kerut-kerut, penuh carut-marut cakaran hidup. Ia memang masih menangkap sisa-sisa garis kecantikannya sebagai mantan primadona ketoprak kelilingan yang pernah menuai decak kagum dan tepuk tangan. Namun, kenangan itu tak lebih dari sayatan silet yang melintas-lintas.

Dua puluh empat tahun lalu, sehabis ia mengejan lahirnya Wasti, ia berharap mampu menutup lembaran hidupnya yang kelam. Cita-citanya sederhana, Wasti terbebas dari nasib buruk seperti yang pernah meringkusnya : ditinggalkan laki-laki setelah perutnya menggelembung berisi gumpalan darah dan janin, sehingga Wasti lahir dan tumbuh tanpa mampu mengucap kata “ayah”. Kenangan itu seperti tinta hitam tumpah menggenang di benak, membikin dadanya sesak. “Ke manapun, laki-laki itu akan kuburu,” gumamnya. “Akan kupotong kemaluannya agar ia punya rasa malu,” giginya gemerutuk geram. Namun, gumam geram hanya berhenti sebagai ancaman yang kini telah mengabu. Seluruh pencarian panjangnya hanya menemui jalan buntu. Laki-laki Pejantan itu menjelma bayangan hitam yang terus dicabik-cabiknya.

Yu Milah ingin Wasti tumbuh sebagai perempuan yang meniti hidup tanpa kelokan, tanpa tikungan yang penuh tikaman. Tikaman laki-laki pendusta, yang baginya, tak lebih dari para penyewa liang kehangatan untuk menitipkan sperma. Begitu benih itu menetes, mereka lenyap tanpa bekas. Ia ingin Wasti menemukan laki-laki yang, meskipun sangat sederhana, mampu memberikan sarang yang hangat dan nyaman, syukur punya kedudukan yang lumayan.

Ia keberatan ketika Wasti memutuskan menjadi pemain ketoprak kelilingan setelah lulus dari sekolah menengah pertama. Ia mendorong Wasti untuk terus sekolah. Ia percaya, sekolah bisa menjadi tabungan masa depan, betapapun sangat sederhana. Ia sangat gembira memandang wajah Wasti bercahaya setiap membicarakan pelajaran di sekolah. Dari membaca, matematika, sampai sejarah. Ia sangat bahagia melihat anaknya itu sangat lahap menyantap setiap pelajaran. Ia merasa seluruh jerih payahnya tak muspra, tak sia-sia. Ia menangkap impiannya mulai menyembul di balik seragam sekolah anaknya.

Namun, setelah Wasti lulus sekolah, ia dikepung masalah. Ia Menganggap kuliah di perguruan tinggi hanya mimpi. Ia mendorong Wasti bekerja ke kota meskipun ia sesungguhnya tak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaan anaknya. Ia cukup merasa aman dan bahagia dengan kiriman uang setiap bulannya, yang bisa ikut menyangga kehidupannya yang doyong ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang. Kedatangan Wasti dari kota menyembulkan rasa bangga di dada Yu Milah. Matanya tersilau kilau anting-anting, gelang, kalung, dan baju-baju bagus yang melekat di tubuh Wasti. Wajah Wasti pun tampak cerah sumringrah. Kecantikannya pun makin bercahaya.

“Ini sekedar untuk memperbaiki gubuk kita Bu ….’ “ Wasti menyerahkan amplop tebal.

“ Ooooo banyak sekali. Kita pun bisa beli tipi, kasur, lalu …… kompor …… Ya kompor gas ……., almari, dan kalau masih cukup saya ingin …… apa itu ……., lemari es. Aku kan jadi bisa nyambi jualan es …..”

Wasti tertawa, melihat ibunya begitu girang seperti anak-anak yang dimanjakan.

“Kulkasnya besok saja kalau saya datang lagi, Bu. Sekarang untuk gubuk kita dulu, biar kalau hujan ibu tidak susah ……. “.

“Tapi itu penting, nduk. Biar para tetangga tahu kalau kita juga mampu. Bayangkan nduk. Mereka pasti melongo. Melihat ada mobil datang ngantar kiriman kulkas. Yaah … tapi …. Kardusnya gede ya. Kira-kira cukup nggak ya pintu kita ini.”

“Ah, Ibu. Tapi ya terserah ….”

Para tetangga mengintip dari celah pintu ketika mobil pick-up itu benar-benar datang membawa kasur, kulkas, dan teve. Mata mereka penuh selidik, membidik.

Namun, kehidupannya yang mulai merangkak tetap menyisakan pertanyaan bagi Yu Milah. Setiap Wasti pulang, ia selalu ingin tahu soal pekerjaan anaknya itu. Tapi niat yang terus menyemak-membelukar itu selalu dipangkas sendiri. Ia takut, pertemuan yang begitu hangat itu jadi terganggu.

Diam-diam Wasti pun gelisah, setiap membaca gerak mata ibunya. Ketika tatapan kedua perempuan itu bertabrakan, dua perempuan itu saling menghela napas, dengan semburat cemas. Yu Milah mencoba melontarkan pertanyaan yang melingkar-lingkar. Namun, begitu hendak sampai ke pusatnya, Wasti terus menghindar.

“Apa to pekerjaanmu, anakku?” bisik Yu Milah dalam hati

“Untuk apa ingin tahu, Ibuku?” batin Wasti mendesah, gelisah.

Percakapan isyarat dalam kesunyian itu sangat menggelisahkan mereka.

“Aku harus tahu, anakku. Harus, “mata Yu Milah menatap lembut, seperti hendak menyaput kabut di wajah Wasti.

“Untuk apa, Ibu? Untuk apa?” Wasti kembali mendesah dengan perasaan terbelah.

“Agar aku tenteram, anakku ….,” batin Yu Milah mencabik sepi.

“Bukankah semua yang kuberikan telah membikin Ibu nyaman?” pikir Wasti berkilah.

“Tapi tidak tenteram ……” Hampir saja suara itu terucap. Yu Milah dengan cepat membekap niat. Kedua perempuan itu kembali digulung gelombang kesunyian, gelombang kecemasan. Waktu terasa membeku.

“Kamu akan berangkat lagi?” ucap Yu Milah tanpa sadar.

Wasti mengangguk dengan perasaan remuk.

TUBUH Wasti kembali ditelan keremangan ruang, hentakan musik yang menimbulkan gempa di dada, lampu warna-warni yang saling berkejaran, asap tembakau yang membungkus kabut, dan kerumunan orang-orang yang membantai sapi tanpa henti, dengan hentakan-hentakan kaki.
Ketika musik mengalun lembut, puluhan pasangan saling berpelukan, bahkan ada yang saling berpagut. Wasti pun menyerah dalam erat peluk. Dalam irama musik yang menghanyut, Wasti merasa tercerabut, mengapung menyusuri berbagai sudut, terbang ke langit lepas, tangan mendayung awan gemawan serupa gumpalan kapas.

Pada ketinggian tak terbatas, tubuh Wasti menggelinjang. Ia merasakan ada tangan kukuh tapi lembut yang merengkuh tubuh, memeluknya rapat hingga ia tak mampu bergerak. Sayup-sayup, ia mendengar suara itu, desah itu, desah laki-laki yang menerbangkan tubuhnya ke ketinggian tak terbatas.

Ia merasakan serbuan pagutan liar di sekujur tubuhnya, pagutan yang semula ia tolak dengan manja, namun lama-lama ia terima, bahkan ia nikmati. Laki-laki itu, seperti menjelma kuda terbang yang berderap-derap dalam jiwanya. Kaki-kaki kukuh kuda itu menebah-nebah membuncahkan gairah. Jutaan pori-pori Wasti mengembang dipahat kristal-kristal peluh. Selebihnya, ia merasakan tubuhnya basah. Liang selangkangnya terasa nyeri.

Laki-laki itu hanya mengucapkan “selamat pagi, saying” di layer hand phone Wasti. Perempuan berwajah oval dengan rambut setengah ikal itu membaca pesan dengan perasaan setengah kesal. Ia ingin berlama-lama dalam pelukan laki-laki itu. Ia bahkan tak pernah berpikir tentang selembar cek yang bertuliskan angka jutaan yang diletakkan di meja kecil dekat ranjang sebuah hotel berbintang. Ia merasa laki-laki itu terlalu “profesional” menganggapnya sekedar perempuan penghibur. Padahal, seperti impian yang pernah ditiupkan ibunya, ia mendambakan laki-laki yang rajin datang di diskotik tempat ia bekerja sebagai “teman ngobrol” itu sebagai kekasih. Bahkan, dibayangkan menjadi suami.

“Kenapa buru-buru sayang?” kecemasan Wasti tercetak di layer HP. Pesan itu kemudian dikirimkannya. Tapi tak dijawab, hingga kini. Ia berusaha mencari laki-laki itu, tapi tak ketemu, hingga kini.

Wasti limbung. Kegalauan mengepung, mengurung. Wajahnya yang ceria berubah murung. Laki-laki datang berganti-ganti, mencairkan kebekuan hati Wasti. Tapi tetap saja mereka tak lebih dari pejantan yang rakus menerkam korbannya. Terkaman itu berulang-ulang, hingga Wasti merasakan kenyerian di sukmanya yang berujung pada tangis bayi yang sesungguhnya tak terlalu diharapkan hadir.

“KAMU hamil lagi ya nduk,” Yu Milah mengucap dengan bibir tergetar; tergagap.

Wasti mengangguk. Berat. Sangat berat. “Maafkan say, Bu….”

Hati Yu Milah terbadai. Ia merasa dadanya sesak. Matanya basah. “Gusti, maafkan kami ….,” ucapnya lirih, perih.

“Ini hamilmu yang keempat, nduk. Kenapa kebobolan terus?” Yu Milah hampir tak tega mengucap, tapi kalimat itu telanjur lepas mencuat. “Mestinya kamu, kan bisa ….. “ Mulut Yu Milah mendadak tercekat.

“Ah entahlah Bu. Mungkin sudah nasib saya ….”

“Nasib?!” Yu Milah menghardik dalam hati

Ketika anak Wasti yang keempat lahir, para tetangga menyambutnya dengan mulut mencibir.

“Dia kira tempat kita ini tempat pembuangan anak-anak kucing ….” Si Gemuk sengaja bicara tambah keras. Perempuan-perempuan yang merubung rentenir itu tertawa lepas.

“Ya, maklumlah…. Ini kan musim kawin …..,” timpal yang lain.

“Musim kawin kok setiap hari!” tukas yang lain lagi.

Tangis Wasti tumpah di pagi itu. Ia langsung membuang cucian ke lantai sumur. Lari masuk rumah. Yu Milah, dengan menggendong anak Wasti yang masih bayi menyongsongnya dengan dada terbelah.

Di luar, suara-suara itu makin seru. Si Gemuk tampil sebagai bintang penggunjing.

Yu Milah membaringkan cucunya di dekat Wasti yang masih terisak. Ia berdiri di dekat jendela, memandang keluar, memandang para tetangganya yang makin bergairah melemparkan sindiran. Mata Yu Milah terpejam, tapi basah. Pelan-pelan ia beringsut mendekati pintu. Tangannya meraih selonjor besi. Sekejap ia mendadak melesat ke luar. Lonjoran besi diayun-ayunkan. Dengan kemarahan yang memuncak, lonjoran besi itu dihantamkan ke punggung si Gemuk. Tubuh tambun itu tumbang ke tanah. Orang-orang menjerit . Kerumunan bubar. Yu Milah mengejar mereka. Lonjoran besi terus diayun-ayunkan. Tapi para penggunjing itu lebih cepat masuk rumah. Yu Milah terus mengamuk. Menghantam apa saja hingga remuk.

Orang-orang datang menangkap Yu Milah yang kalap. Yang lain menolong Si Gemuk yang pingsan. Susah payah mereka menggotong tubuh gempal itu. Beberapa saat kemudian, serombongan polisi datang dengan mobil terbuka. Langsung menangkap Yu Milah. Wasti memeluk ibunya sebelum digelandang ke mobil. Erat, sangat erat, dengan isak tangis yang mengiris.
“Sana, cari laki-laki yang telah menghancurkan hidupmu!” ucap Yu Milah datar, dengan tatapan nanar, sambil memberikan lonjoran besi kepada Wasti yang gemetar.

Wasti membeku. Lonjoran besi itu dibiarkan jatuh ke tanah. Seorang polisi mengambilnya sebagai barang bukti. Beberapa kejap, debu mengepul bagai butiran tepung ditebah ban mobil polisi yang meninggalkan kerumunan.

Kompleks hunian itu kini sepi. Orang-orang mengurung diri. Hanya terdengar tangis bayi, anak Wasti. Tangis itu menerobos udara malam yang dingin, sampai ke telinga Yu Milah yang meringkuk di sel kantor polisi. Yu Milah menjerit, menggurat lengkung langit.***


Yogyakarta, 28 Juni 2003

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook