Saturday, August 30, 2008

Darah Itu Merah, Jenderal

“DARAH ITU MERAH, JENDERAL”
Cerpen Seno Gumira Ajidarma


SEORANG jenderal pensiunan mengenang masa lalunya yang gemilang. Ia meluruskan kakinya di kursi malas di tepi kolam renang yang biru. Air masih menetes-netes dari tubuhnya yang tegap. Diraihnya segelas fruit punch dari meja berpayung itu, ditenggaknya sampai tandas, dipasangnya kacamata hitam sang jenderal berbaring diterpa cahaya matahari.

“Sekarang aku tidak perlu takut ditembak,” katanya dalam hati, kepada dirinya sendiri.

Memang tidak ada alasan untuk takut ditembak. Ia berada di rumahnya sendiri. Sebuah rumah yang besar dan luas dengan tembok tinggi di sebuah kompleks perumahan mewah. Tidak sembarang makhluk bisa keluar masuk dengan gampang di kompleks itu. Hampir di setiap belokan terdapat portal, lengkap dengan satpam, dan toh kalau ada ninja bisa melewati tembok yang dilengkapi kawat berduri dan tempelan pecahankaca seperti itu, maka sang jenderal yang memiliki naluri seorang prajurit sejati akan siap menembaknya. Baginya, menembak tepat dari jarak 50 meter bukanlah soal yang terlalu besar.

Ia pernah masuk Koran karena menembak maling. Ia menembak maling itu pada kakinya.

“Baru menembak kaki maling saja jadi berita,” pikirnya ketika itu, “Bagaimana kalau mereka tahu bagaimana kami bertempur?”.

Tapi, kini mereka akan tahu bagaimana ia berjuang di medan perang, karena – seperti juga rekan-rekannya – ia sedang menulis memoir, buku kenang-kenangan tentang perjuangan hidupnya.

“Hidup adalah perjuangan,” ujarnya, suatu ketika, pada seorang wartawan,” Dan perjuangan seorang prajurit sejati, adalah perjuangan antara hidup dan mati.

Banyak anak buah Anda yang kini jadi pejabat, sedangkan Anda tidak, ada perasaan kesal?

“Kenapa sih? Namanya dunia kan begitu. Masa’ saya harus iri?”

Anak-anak Anda berbisnis?

“Tak ada yang jadi tentara. Semua kerja di swasta. Yah, pengusaha kecil-kecilan. Pensiunan kan sudah tak bisa memberi fasilitas.”

Tidak memakai fasilitas anak buah yang kini jadi pejabat?

“Ah, malu. Iya kalau dikasih, kalau tidak kan malu. Walau sudah lumarh di sini, tapi tidak saya lakukan. Ya ada yang membantu, satu dua orang. Tapi kan terbatas juga. Namanya juga manusia, ada yang lupa, padahal dulu ngemis-ngemis ikut saya. Setelah jadi orang hanya memikirkan grupnya dia saja. Macam itulah.

Waktu masih menjabat banyak sabetannya dong?

“Bukan sabetan, itu namanya take and give. Jangan katakan itu tempat “basah”. Kalau saya menentukan persentase, itu baru basah dan saya salah. Kalau dikasih ya terserah, itu rezeki. Demi Tuhan saya bersumpah, saya tidak pernah memeras orang. Tapi kalau dikasih stick golf ya diterima. Terus terang saja. Ya, masa’ kalau jadi pejabat tidak dapat hal yang begitu. Jujur saja.

Pejabat kan kayanya dari situ. Gaji kecil, tapi tip-nya yang gede.

Tip Anda banyak ketika itu?

“Lho, jujur saja memang begitu. Sekarang saya punya rumah, punya mobil itu semua dikasih. Saya tidak malu. Ada orang datang sambil bilang, ‘Pak ini mobil, terima kasih saya dikasih proyek.” Saya terima saja, tidak malu.” *)

Tubuhnya sudah kering, diraihnya Koran International Herald Tribune yang segera dibacanya dengan perasaan memamah sepotong keju. Jenderal itu orang lapangan, tidak tertarik pada politik, dan tidak cocok dengan pekerjaan administratif.

“Seorang prajurit diuji di lapangan,” ujarnya.

“Bukan di belakang meja.”

Hidupnya memang habis di medan tempur. Sejak umur belasan tahun ia sudah ikut tempur dalam perang kemerdekaan. Sebelum akhirnya direkrut menjadi tentara. Setiap kali ada pemberontakan ia selalu diterjunkan untuk memadamkannya. Ia hampir selalu dikirim, karena setiap tugas yang dibebankan padanya selalu beres.

Dalam suatu operasi penumpasan, pasukannya dihajar bazooka. Kepalanya kena pecahan peluru.

“Hampir mati waktu itu, tapi tidak jadi.”

Setahun lamanya ia dirawat. Rasanya bosan sekali. Kini bekas luka di pelipis kanannya bagaikan bintang tanda jasa yang bersinar-sinar. Tidak semua orang bisa menjadikan luka sebagai kebanggaan. Pensiunan jenderal itu bangga dengan luka-luka yang didapatnya dari medan pertempuran. Seringkali ia berpikir, tiada pekerjaan yang lebih mulia selain menjadi tentara. Ia berpendapat menjadi tentara itu mulia, karena dengan menjadi tentara seseorang telah menyerahkan nyawanya. Menjadi tentara itu lebih dari sekedar sebuah profesi.

“Huuaahhh!”

Jenderal itu tiba-tiba membuang Koran yang sedang dibacanya.

“Berita itu lagi! Berita itu lagi!

Sudaha lama memang merasa muak membaca berita itu.

Apa yang mereka ketahui tentang risiko kehilangan nyawa, pikirnya, apa yang mereka ketahui tentang bagaimana rasanya dikepung musuh di medan tak dikenal dan dibantai tanpa kenal ampun?

“Daerah itu kita rebut dengan mengorbankan beribu-ribu nyawa, apa sekarang kita harus menyerahkannya kembali?”

Koran dan wartawan, kertas dan pena, baginya itu kerja yang tak sebanding dengan menghadapi peluru berdesing-desing. Sudah lama ia merasa kesal. Kesal terhadap wartawan, kesal terhadap diplomat, kesal terhadap politisi, kesal terhadap para mahasiswa.

“Mereka tahu apa? Bisanya Cuma ngomong doing! Mereka tahu apa tentang keluarga tentara yang ditinggal mati, tentang menjadi cacat tanpa kaki dan tanpa tangan, tentang perjuangan tanpa pamrih yang dilecehkan sebagai penindasan? Ini penghinaan! Wilayah itu kita istimewakan, kita bangun lebih cepat dari wilayah-wilayah lain, kok malah dibilang menjajah! Kok dibilang mau memusnahkan bangsa! Apa-apaan?”

Jenderal itu beranjak, dan …. Byuurr! Ia melompat ke kolam renang, bagai mencoba mendinginkan hatinya yang panas. Ia berenang bolak-balik seperti ikan, kadang-kadang menyelam, ia ingin mengeyahkan segala soal yang telah mengganggu ketenangannya. Ya, ketenangan seorang pensiunan jenderal. Ia tak habis mengerti kenapa pengorbanan darah dan air mata bisa menjadi salah.Aku akan membongkar semuanya dalam memoirku nanti, batinnya menggerutu. Ia ingin mengungkapkan bahwa kehidupan seorang tentara itu hanya berjuang, berjuang, dan berjuang. Jenderal itu masih berenang ketika langit mendadak berubah menjadi kelabu tua. Mendung menggumpal dan segera saja hujan menitik, mula-mula gerimis, tapi dengan cepat bagaikan ditumpahkan dari langit. Namun jenderal itu tidak peduli. Ia berenang terus dalam hujan. Ia menyelam. Muncul lagi, dan segera mengerti bahwa ia belakangan ini menjadi terlalu cepat marah karena kurang pekerjaan. Tepatnya –tidak pernah lagi bertempur. Betapa sepinya hidup tanpa pertempuran. Maka ia pun berenang, berenang, dan berenang, lantas berjemur di kursi malas, sambil sesekali menerima telepon dari teman-teman seperjuangannya di medan perang.

Kini ia berenang di bawah hujan deras yang tetesannya mengingatkan pada desingan peluru di medan tempur. Ia sudah terlanjur kecanduan situasi krisis, hanya dalam ketegangan ia merasa hidup, hanya dalam bahaya ia merasa tenang. Kepuasan hidup dicapai ketika mengalahkan musuh, dan untunglah sejarah memberikan peran padanya sebagai pihak yang menang. Dalam hujan ia berenang, dalam hujan ia terkenang seribu satu pertempuran yang telah diarunginya – apa boleh buat, sejarah hidupnya adalah perjalanan mengarungi lautan darah.

“Jenderal! Presiden musuh sudah tertawan!”

“Siapa?”

“Ribalta!”

Ia teringat presiden musuh yang tertawan itu. Begitu kumuh, begitu lusuh – orang seperti ini presiden?

“Orang seperti ini presiden?”

“Hahahaha!”

“Hahahaha!”

“Hahahaha!”

Nasib orang itu tidak terlalu bagus. Para pemenang dengan segera berfoto bersama tawanan yang tubuhnya penuh lubang. Mayat itu mereka pasangi topi dan mulutnya dipasangi rokok. Mereka berfoto bersama seperti para pemburu berfoto bersama macan hasil buruan.

Ia sudah lupa berapa banyak jiwa telah diterbangkannya ke langit. Aneh, baru sekarang ia sadar, cukup banyak juga darah ditumpahkannya – lewat peluru, dinamit, mortar, granat dan bom. Celakanya yang disebut musuh tak selalu tentara, tak selalu bersenjata, dan tak selalu seperti orang yang sedang memberontak, tapi sama berbahayanya, jadi harus disikat juga.

Jenderal itu masih berenang dalam hujan. Kolam renangnya berubah jadi merah. Mula-mula seperti kecampuran sirop. Tapi kemudian mengental. Sang jenderal berenang dalam lautan darah. “Darah itu merah, jenderal,” katanya pada diri sendiri.

Dalam hujan, yang makin lama makin menderas, jenderal pensiunan itu berenang dengan tenang, dengan perasaan yang sangat santai. “Memang, sudah waktunya aku pension,” pikirnya lagi.

Jakarta, Februari 1994

_______
*) Petilan dari sebuah wawancara dalam rubrik Sebagian Kehidupan, majalah Jakarta Jakarta No. 368, 24-30 Juli 1993. Namun cerpen ini, tentu saja, tetap sebuah cerpen.

Thursday, August 28, 2008

Kritik Novel Pramoedya Ananta Toer

Pemikiran Pramoedya Ananta Toer Dalam Novel- Novel Mutakhirnya


Judul : Pemikiran Pramoedya Ananta Toer Dalam Novel-Novel Mutakhirnya
Penulis : Koh Young Hoon
Penerbit: Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, 1996
Tebal : XXII + 219 halaman

Peresensi Lilik Prakoso


Di Indonesia nama Pramoedya Ananta Toer selalu mengundang kontroversi. Berkali-kali ia "dibenamkan" dalam kehidupan penjara, tapi justru lahir sejumlah karya gemilang. Penjara jaman Orde Lama dan Orde Baru dienyamnya berkali-kali. Terakhir penderitaannya di tempat pembuangan biadab yang dibentuk bangsanya sendiri di Pulau Buru selama 10 tahun (1969-1979), dibalasnya dengan cara yang sangat beradab: menerbitkan sejumlah karya berkelas "sastra Nobel". Begitu lah barangkali cara Pram mengajarkan kebajikan kepada bangsa yang turut dibentuknya pada 1945.

Siapa kah Pram sesungguhnya? Benar kah ia sejenis hantu, seperti halnya ajaran Komunisme, yang perlu dipelihara dan dilanggengkan oleh penguasa Orde Baru sebagai "musuh bangsa"? Benarkah Pram cuma orang yang ditakdirkan untuk selalu jadi "kurban" politik penguasa, baik Orde Lama mau pun Orde Baru? Siapa sebenarnya dia? Bagaimana pikiran- pikirannya? Bagaimana ia meracik tulisan-tulisannya yang kini telah diterjemahkan lebih dari 24 bahasa?

Pram adalah sebuah fenomena anomali dalam bingkai politik Orde baru. Ia ditekan, bahkan ia dibunuh berkali-kali, tak tampak satu pun kebencian pada bangsanya. Ketika ia harus makan bangkai tikus, cecak dan daging kuda yang terserang antrax, lamunannya justru melayang jauh ke jaman-jaman kegelapan sejarah bangsa Indonesia yang disembunyikan rapat-rapat oleh penguasa. Ia tak mengeluh, ia tak memaki. Kecintaannya pada manusia Indonesia yang tersingkir, terkucil, jadi obyek, tapi tetap berupaya terus eksis begitu tinggi. Ia mencintai kemanusiaan begitu dalam Kita bisa melihat hal ini dari sejumlah karyanya mulai dari Perburuan, Keluarga Gerilya, Di Tepi Kali Bekasi hingga "tetralogi" Bumi Manusia.


Ia pernah disebut-sebut sebagai bunga Angkatan 45. Tapi kini, tak ada satu pun buku resmi di Indonesia yang mencatat namanya sebagai salah satu tokoh penting sastrawan Angkatan 45. Kenapa? Dalam wacana sastra Orde Baru, Pram -seperti juga jutaan tapol lain di Indonesia- dianggap tak pernah ada. Ia tak pernah lahir, bernafas apalagi berkarya di Indonesia. Bukan cuma itu, rumahnya pun boleh didudyuki secara sewenang-wenang, buku-bukunya boleh diambil dan dibakar. Ia betul-betul tak pernah ada.

Tapi itulah kehebatan Pram. Semakin ditiadakan, ia semakin ada. Ia justru eksis dalam ketiadaannya. Orang berebut membaca tulisan- tulisannya. Buku-buku karyanya yang selalu dilarang laris seperti kacang goreng. Berkali-kali namanya disebut-sebut sebagai calon pemenang Nobel. Sejumlah lembaga sastra internasional juga mengangkatnya sebagai anggota kehormatan sebagai penghormatan atas dedikasinya pada dunia sastra.

Siapakah Pram dan bagaimana karya-karya yang dihasilkannya? Buku ini merupakan sebuah rekaman atas manusia kelahiran Blora 72 tahun lalu yang bernama Pramodya Ananta Toer. Perjalanan hidupnya, meski sangat singkat, terekam cukup baik. Secara detil penulis buku ini mencoba merekonstruksi bangunan berpikir Pram mulai dari jaman Pra Lekra, Lekra, Ide Realisme Sosialis hingga karakteristik penokohan yang inheren dalam diri Nyai Ontosoroh dan Minke.

Sejumlah telaah kepustakaan dan argumentasi dikemukakan penulis untuk memisah-misahkan dan menganalisis pikiran Pram lewat karya-karyanya. Kemudian kepingan dan serpihan yang ada disusun kembali dalam bayangan manusia Pram beserta sejumlah pengalaman sejarah yang membentuk wataknya. Kesimpulan sang penulis: Pram adalah seorang humanis tulen, sebagaimana sosok Multatuli yang dikagumi Pram habis-habisan Dan yang lebih mengejutkan lagi: Pram ternyata jauh berbeda dengan apa yang dituduhkan oleh rejim Orde Baru pada dirinya.

Buku ini sebetulnya adalah sebuah desertasi doktor dari sang penulisnya. Koh Young Hoon sendiri adalah orang Korea. Ia pernah belajar dan mengajar di Universitas Nasional. Desertasi yang dibuatnya selama 6 tahun sebetulnya direncanakan akan dipertahankan di salah satu univeritas di Jakarta, tapi tak ada satu pun akademikus Indonesia yang bersedia jadi promotor resminya. Akhirnya karya ini harus dipresentasikan Koh Young Hoon di Universitas Malaya, Malaysia pada 1993.
Si penulis juga melampirkan semua judul karya Pram. Baik buku yang telah diterbitkan mau pun yang belum, makala, artikel mau pun surat pribadi. Tak pelak lagi, penyusun buku ini dengan jeli berhasil mengamati setiap respon Pram dalam menanggapi perkembangan peradaban di sekitarnya yang selalu memunculkan "revolutionary hero" lewat pergulatan batin para tokoh fiksinya, yang samar antara ada dan tiada. Orang- orang yang kerap diidentifikasi kritikus sastra sebagai tokoh yang kaya dengan pengalaman kemanusiaan. ***

Suara INDEPENDEN, No. 5/III/MARET/1997

Tuesday, August 26, 2008

Rahwana

RAHWANA
Karya: Abdul Mukhid


REPORTOAR PEMBUKA
(Adegan penculikan Shinta oleh Rahwana di hutan. Improvisasi)

BABAK SATU

ADEGAN 1

(Kerajaan Alengka waktu senja. Di bagian taman sari. Taman Asyoka yang sudah masyhur namanya. Terlihat para dayang melayani Shinta. Rahwana sedang bercengkerama dengan Sinta. Rahwana tidak digambarkan sebagai tokoh raksasa yang jelek, tapi sebagai seorang yang gagah dan wajah lumayan tampan. Taman sari itu adalah sebuah taman sari yang sangat indah. Tokoh dayang-dayang boleh ada boleh tidak)


RAHWANA
(Kepada dayang-dayang) Kalian boleh pergi.
(Para dayang memberi hormat, lalu pergi. Tinggal Rahwana dan Shinta berdua)

RAHWANA
Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?

SHINTA
(Pura-pura tidak tahu) Tidak.

RAHWANA
Bahkan aku bisa melihat kepura-puraan di matamu. (Shinta diam saja. Sedikit salah tingkah) Apakah kau sudah melupakan gemuruh perasaan yang ada di dada kita?

SHINTA
Tentu saja tidak, Kanda Rahwana. Tapi, saling mencintai bukan harus memiliki, kan? Aku kira itu adalah hukum alam yang tidak terbantahkan lagi.
Bukankah kau sendiri pernah berkata begitu?

RAHWANA
Lantas kenapa aku tidak boleh memilikimu?

SHINTA
Ini sudah takdir Sang Mahatunggal, Kakang.

RAHWANA
(Dengan agak kesal) Oh ya? Apakah juga takdirNya bahwa engkau harus menikah dengan Rama?

SHINTA
(Terdiam sejenak. Mencoba mengatasi perasaannya sendiri. Lalu dengan berat berkata) Tampaknya memang begitu, Kakang.

Hening sesaat


SHINTA
Dengarlah, Kakang. Aku yakin, Kakang sudah tahu perasaanku tanpa harus aku katakan. Tapi sekali lagi Kakang, ini memang sudah takdir. Ini perintah dari guru sejatiku. Bukankah Kakang juga punya cita-cita untuk bertemu dengan Sang Sejati? Inilah jalannya, Kakang. Kita harus menyingkirkan segala perasaan cinta duniawi yang berlebihan. Aku adalah bagian dari dunia ini, dan Kakang diberi ujian untuk tidak mengikatkan diri padaku. Begitu pula dengan aku.


RAHWANA
Tapi aku ingin memandang wajahNya lewat wajahmu. Aku ingin mencintai diriNya yang ada dalam dirimu sekaligus yang meliputimu. (Gusar) Tidak. Tidak. Pasti ini semua karena Rama. Kenapa? Apa kau terpikat dengan ketampanannya? Rayuannya? Kekayaannya? Dengar Sinta, aku memang tak punya apa-apa. Tapi lihat betapa makmur negeri ini. Memang istana ini bukan punyaku. Rumahku hanyalah sekedar untuk tempat berbakti pada kepada Sang Mahasuci. Baik. Apa kau menginginkan kekayaan dan kemewahan? Ketampanan dan kata-kata manis? Kau bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan, Adinda. (Pause) Asal bukan Rama.

SHINTA
(Mulai mencucurkan airmata) Tidak, Kakang. Kenapa Kakang tidak percaya juga bahwa ini adalah takdir yang harus kita jalani.

RAHWANA
(emosional) Takdir, Shinta? Dengar, aku akan mengejar para dewata ke langit kalau itu memang takdir. Tidak, Shinta. Aku tidak bisa terima ini. Kalau memang ini adalah takdir seperti yang kau katakan, aku akan mengubahnya!

SHINTA terduduk dan menangis sejadi-jadinya.



ADEGAN 2
(Suasana sekitar berubah. Seperti ada guncangan dahsyat sebentar, lalu tenang kembali.
SHINTA mematung. Sementara RAHWANA tampak kebingungan. Lalu terdengar suara dari SHINTA tapi dengan warna suara yang berbeda.)


SHINTA
Mendekatlah kemari, Rahwana. (RAHWANA tampak kebingungan mencari sumber suara. Lalu mengarahkan pandangan ke arah SHINTA. RAHWANA masih ragu) Iya, kemari!
Rahwana mendekat.

SHINTA
Tataplah wajahku baik-baik. (RAHWANA menatap wajah SHINTA dalam-dalam) Kau tahu siapa aku kan, Rahwana?

RAHWANA
(menjatuhkan tubuhnya ke lantai untuk menyembah) Aduh, ampuni hamba Guru Sejati..Mata hati hamba ternyata masih buta.

SHINTA
Bangkitlah, dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini.

RAHWANA bangkit dan mendengarkan dengan seksama.

SHINTA
Rahwana, semua yang dikatakan Shinta tadi adalah benar adanya. Ini memang takdir yang harus kalian jalani. Ini baru batu awal ujian yang harus kalian tempuhi untuk menjadi manusia sejati, sejati-jatinya manusia. Manusia yang bukan sekedar perwujudan darah dan daging, tapi sebagai ciptaan Sang Mahatunggal yang kelak juga harus kembali kepada Sang Hyang Tunggal.

RAHWANA
Hamba mengerti, Guru.

SHINTA
Nah, Rahwana. Kenapa kalian harus diuji? Barangkali karena perasaan duniawi yang mulai mengikat kalian. Cinta yang merebak dalam hati kalian telah menjelma menjadi sesuatu yang melebihi kecintaan kepada Hyang Tunggal. Dia ingin memperingatkan kalian untuk tidak menganggap segala yang ada di dunia ini sebagai sesuatu yang kekal. Dia tidak ingin kalian lupa pada tujuan sejati kalian. Ingatlah, rasa ingin memiliki dunia ini hanya akan mengantarkan kalian pada kesengsaraan. Kau boleh mencari dan memiliki apa yang ada di dunia ini, tapi jangan sekali-kali kau mengikatkan hatimu padanya.

RAHWANA
Hamba mengerti, Guru. Hamba telah melakukan kelailaian.

SHINTA
Bagus, kalau kau mengerti. Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Rahwana, peperangan tidak akan terelakkan lagi. Sebagai manusia, berusahalah untuk mencegah perang ini, meski pada akhirnya bala tentara Rama akan menyerang negeri Alengka apapun yang jadi penyebabnya. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini memang peringatan bagi bangsamu yang lupa akan kemakmuran yang sudah dilimpahkan Sang Mahamurah. Banyak diantara rakyat dan pejabatmu yang melakukan berbagai tindak adharma. Mereka saling merampas dan mencuri, menghardik dan mencaci, memakan benda-benda yang bukan hak mereka atau yang dilarang oleh Sang Pencipta. Ini memang harus diterima bangsamu. Ini akan menjadi pertanda bagi siapa saja yang melupakan kasihNya, mengabaikan nikmatNya dan menantang kuasaNya.Nah, bersamadilah untuk mensucikan dirimu sambil menunggu Rama mengantarmu ke haribaan Sang Sejati. Selain itu Anakku, fitnah akan tersebar tentangmu setelah ini. Bersabarlah. Orang-orang akan memfitnahmu sebagai raja yang lalim dan manusia tak beradab. Mereka akan menjulukimu sebagai Dasamuka yang memiliki sepuluh macam keinginan. Sekali lagi, bersabarlah. Itu memang sudah menjadi konsekuensimu karena menginginkan Shinta. Jika kau berhasil mengalahkan keinginanmu terhadap Shinta dan melawan segala hasratmu untuk menyalahkan takdir, engkau akan mencapai derajat yang amat tinggi di Mata Hyang Widi, Anakku.


RAHWANA
Hamba mengerti, terima kasih Guru. Hamba akan laksanakan segala petunjuk Guru.

(Terjadi keguncangan lagi. SHINTA seperti terbangun dari tidur sementara RAHWANA tampak tenang.)



ADEGAN 3


SHINTA
(Setelah kembali kesadarannya sebagai Shinta) Kanda Rahwana? Kanda tidak apa-apa.

RAHWANA
Tidak, Dinda.

Keduanya bangkit.


RAHWANA
Sebentar, Dinda. Ada yang mengintip kita. (Tidak jelas ke arah mana) Keluarlah, Hanuman. Aku tahu kau mengintip kami sedari tadi.
Tiba-tiba muncul HANUMAN

HANUMAN
(Bersimpuh untuk menyembah) Sembah sujud hamba, Paduka Raja!

RAHWANA
(Tertawa kecil) Ayolah, tidak usah begitu. Bukankah kita sudah sama-sama tahu. Tidak usah memanggilku dengan sebutan "Paduka Raja". Yang ada di depanmu ini Rahwana, seorang manusia yang sedang bergulat mencari kesejatian. Jangan pandang mahkota yang kukenakan, duhai Kera Putih.

HANUMAN
Baiklah, Rahwana.

RAHWANA
Kau tahu semuanya kan, Hanuman?

HANUMAN
(Sedikit terkejut) Ya. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku mengintip, padahal….

RAHWANA
Ha…ha…ha. Hanuman, aku tahu kau memiliki kesaktian yang luar biasa. Mata biasa tidak akan bisa menangkap kehadiranmu. Ketahuilah Hanuman, sebenarnya aku tidak hanya mengetahui kehadiranmu, tapi juga apa yang ada di pikiranmu.

HANUMAN
Maafkan aku Rahwana, jika aku meremehkan kemampuanmu. Aku tahu kau juga seorang raja yang sakti pilih tanding. Tapi mengapa kau biarkan saja aku, kalau engkau memang tahu?

RAHWANA
Aku ingin engkau menjadi saksi apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin engkau menjadi saksi cinta sejatiku kepada Shinta, meski orang akan mengira bahwa kecintaanku tak lebih karena nafsu belaka. Aku ingin kau tahu, bahwa akhirnya aku mau melepaskan segala ikatan dengan dunia ini. (RAHWANA menghela napas dalam-dalam) Dengar Hanuman, seandainya aku mau menggunakan seluruh kekuatanku, aku mampu menghancurkan Rama beserta seluruh bala tentaranya. Tapi tidak Hanuman, aku tak mau menjadi budak nafsu pribadiku.

HANUMAN
Aku mengerti, Rahwana.

RAHWANA
Hanuman!

HANUMAN
Iya, Rahwana.

RAHWANA
Aku minta jangan kau sebarkan apa yang sudah kita bicarakan ini. Mereka tidak akan mengerti. Dan lagi, itu akan merusak tatanan takdir yang harusnya aku terima dengan tulus.

HANUMAN
Aku mengerti.

RAHWANA
Berjanjilah, Hanuman.

HANUMAN
Aku berjanji.

RAHWANA
Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kumbakarna sudah menunggu kematiannya lewat tanganmu. Dia akan sangat bahagia bisa mati di tanganmu.

HANUMAN Terlihat mulai menitikkan air mata demikian pula dengan SHINTA.

RAHWANA
Jangan, Hanuman. Jangan bersedih atas takdir yang akan aku jalani. Kematian bukanlah akhir, ia merupakan awal kebahagiaanku bersama Sang Sejati. Pergilah cepat. Jangan sampai ada orang yang melihat dan mendengar percakapan kita ini.

HANUMAN
Baiklah, aku pergi. (Kepada SHINTA) Hamba pergi, Tuan Puteri. Percayalah, saya akan selalu berada di belakang Tuan Puteri.

SHINTA
(Dengan sesenggukan) Pergilah, Kera Kesatria. Jangan khawatirkan aku.

HANUMAN keluar.


ADEGAN 4

RAHWANA
(Kepada SHINTA) Kenapa menangis, Shinta? Bukankah kau yang mengingatkanku untuk bersabar?

SHINTA
Aku tidak bisa menahan kerapuhanku sebagai manusia, Kakanda.

RAHWANA
Kalau begitu, doakan saja aku supaya termasuk orang-orang yang sabar.

SHINTA
Tentu saja, Kanda Rahwana.

RAHWANA
Aku juga akan selalu mendoakanmu, karena yang akan kau alami sesudah ini bukannya lebih ringan dariku. Kesucianmu akan diragukan oleh Rama.

SHINTA
Aku sudah siap. Bahkan dibakar di atas api suci pun aku tak akan mengelak.

RAHWANA
Sekarang tinggalkan aku, Shinta. Beristirahatlah kau di kamar istana yang sudah aku siapkan.Aku ingin samadi. Tapi sebelum itu panggilkan Wibisana sebelum dia pergi menemui Rama. Ada pesan yang ingin kusampaikan.

SHINTA keluar.

ADEGAN 5

RAHWANA
Datanglah, duhai Sang Maut. Telah lama kunanti diriMu. Biarlah dunia ini menjadi milik mereka yang terpedaya. Biarlah kesejatian cintaku lebur ke haribaan Sang Maha Kasih.

Hening sesaat. RAHWANA mengambil sikap duduk bersila. WIBISANA masuk.

WIBISANA
Kakang memanggilku.

RAHWANA
Oh, Wibisana. Mendekatlah kemari.

WIBISANA mendekat.

WIBISANA
Apakah ini soal keberpihakanku kepada Rama, Kanda Prabu?

RAHWANA
(Tersenyum) Bukan. Aku sangat menghargai pilihanmu berperang di pihak Rama. Cuma, sebelum kamu berangkat aku ingin menitipkan pesan.

WIBISANA
Pesan? Kepada Rama?

RAHWANA
Ya. Katakan kepada Rama, aku akan memberikan Shinta dengan suka rela jika dia memintanya kepadaku dengan baik-baik.

WIBISANA
Aku tidak yakin Rama akan mempercayai isi pesan Kanda.

RAHWANA
Apapun jawabannya. Sampaikan saja, pesanku.

WIBISANA
Baik, Kanda. (PAUSE) Dengar Kanda, bagaimanapun aku tetap menyayangi Kanda Rahwana. Tapi banyak pandangan kita yang berbeda. Di samping itu, soalnya adalah bahwa Rama adalah guruku.

RAHWANA
Aku mengerti, Adhi. Sudahlah, jangan sentimentil begitu. Pergilah kau layaknya seorang kesatria. Jangan kecewakan Kakandamu sebagai kesatria.

WIBISANA
Baiklah Kanda Prabu, saya pergi.

WIBISANA pergi. RAHWANA memulai samadinya.

Lampu padam/Layar Turun


BABAK DUA


ADEGAN 1

Siang hari keesokan harinya. Rahwana masih tenggelam dalam samadinya. Sementara pertempuran sengit tengah berlangsung. Penggambaran pertempuran bisa lewat siluet di layar. Terserah kreatifitas sutradara. Sesudah penggambaran pertempuran, ada dua orang mentri kepercayaan menghadap Rahwana yang sedang samadi, dan membangunkan samadinya.

MENTRI 1
Maafkan hamba, jika mengganggu Samadi, Paduka.

RAHWANA
Silahkan, Paman.

MENTRI 2
Ada berita buruk yang hendak kami sampaikan, Gusti.

RAHWANA
(Menarik napas) Hm…ini tentang Kumbakarna, kan?

MENTRI 1
Betul, Gusti.

RAHWANA
Aku sudah tahu.
Kedua mentri berpandangan dengan perasaan heran.

RAHWANA
Aku tahu, Kumbakarna dipotong kepalanya oleh Hanuman. Lalu kepala itu ditanam di atas bukit. (Tersenyum) Bukan Paman. Ini bukan berita buruk. Ini Sudah lama dinantikan Kumbakarna. Bahkan sebelum berangkat ke medan laga, dia meminta kalungan bunga telasih yang menjadi simbol bahwa dia ingin melepaskan ikatan dari keduniawian.

MENTRI 1 & 2
Hamba mengerti, Gusti.

RAHWANA
Ketahuilah Paman-Pamanku yang setia. Kekalahan Alengka ini memang sudah suatu keniscayaan. Darah yang mengalir di sungai-sungai adalah batu peringatan bagi siapa saja yang terlalu mengagungkan kemakmuran dan kejayaan duniawi. Maka dari itu Paman, jangan sekali-kali mengikatkan diri pada dunia. Jangan sekali-kali terbujuk oleh kesementaraan. Kalian boleh memiliki perhiasaan dan kekayaan duniawi, tapi hendaklah ingat bahwa semua itu hanyalah mimpi. Ingat itu baik-baik.

MENTRI 1 & 2
Hamba, Gusti.

RAHWANA
Nah, sekarang pergilah kalian. Tidak usah mengkhawatirkan aku. Pergi dan selamatkan diri dan keluarga kalian.

MENTRI 1 & 2
Tapi Gusti…

RAHWANA
Sudahlah. Pergilah kalian. Aku tak butuh perlindungan. Saatku memang sudah tiba. Aku sudah melihat para bidadari menyiapkan permadani di Nirwanaloka. Pergilah, sebelum kalian dicincang oleh bala tentara Rama Wijaya.

MENTRI 1 & 2
Kami akan selalu mematuhi perintah, Paduka.

Tiba-tiba masuk seorang PRAJURITt dengan tergopoh-gopoh.

PRAJURIT
Sembah sujud hamba, Paduka.

RAHWANA
Ada apa, Prajurit?

PRAJURIT
Pasukan Rama Wijaya mulai menggempur pintu gerbang, Paduka. Sebentar lagi mereka akan memasuki halaman kerajaan.

RAHWANA
Berjuanglah terus kalian dengan gagah berani. Jangan sisakan satu prajurit pun di Istana. Aku tidak membutuhkan perlindungan kalian. Tunjukkan pada Rama dan dunia bahwa bangsa Alengka bukan bangsa yang kerdil dan mau saja tunduk di bawah kaki Rama Wijaya. Pergi dan sampaikan pesanku ini kepada seluruh prajurit.

PRAJURIT
Baik Gusti, hamba mohon diri.

PRAJURIT keluar.

RAHWANA
Nah, mentri-mentri yang setia. Pergilah kalian. Kejayaan Alengka sudah berakhir. Pergi dan ingat-ingat selalu apa yang telah aku pesankan kepada kalian.

MENTRI 1
Baik, Gusti. Kami mohon diri.

KEDUA MENTRI keluar.


ADEGAN 2

RAHWANA
Oh keindahan yang menipu, sebentar lagi aku akan segera meninggalkanmu. Meninggalkanmu untuk bertemu dengan keindahan sejati. Oh, istana yang dibangun oleh keringat berjuta manusia. Leburlah kau menjadi batu-batu. Jadilah kalian kenangan bahwa pernah ada sebuah bangsa yang berjaya, tapi harus menemui kehancurannya dikarenakan kesombongan dan ketamakan manusia. Oh Rama, datanglah Mautku. Aku siap menyambutmu.

Masuk SHINTA

SHINTA
Kanda Rahwana.

RAHWANA
Dinda Shinta, kenapa kau kemari? Bukankah sebaiknya kau beristirahat?

SHINTA
Aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku tidak kuasa membayangkan kengerian ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya kita harus berpisah. Bagaimanapun juga aku tetap manusia biasa, Kakang.

RAHWANA
Oh Dewi Kesucian! Aku juga bisa merasakan apa yang menjalar di aliran darahmu. Di dalam darahku juga mengalir kepedihan yang sama. Tapi dengarlah wahai lambang kesucian yang akan diabadikan manusia sepanjang masa! Pada hakikatnya kita tidak pernah berpisah. Bukankah kita berasal dari nafas yang sama? Bukanlah badan ini hanya perwujudan semu belaka? Bukankah kita ini hanyalah anak-anak sungai yang pada akhirnya mengalir di samudra yang sama? Jika semua orang mampu memahami ini, niscaya tidak akan ada kedukaan dalam batinnya. Tidak akan ada tetes airmata yang sanggup melunturkan keteguhannya.

SHINTA
Tapi…kenapa, kenapa kita harus menanggung semua fitnah ini? Mengapa harus kita harus menjadi sasaran panah-panah kecurigaan hati manusia?

RAHWANA
Dengarlah wahai Shinta Suci. Tidak ada duka atau bahagia. Semua itu hanyalah batu-batu ujian untuk menguji kesejatian cinta kita kepada Sang Mahasuci.

SHINTA
Syukurlah, kalau Kanda sudah memahami semuanya!

RAHWANA
Sang Penguasa Jagat telah menyampaikan pemahaman itu lewat dirimu, Adinda. Maka, hapuslah airmatamu dan hadapilah Sang Nasib bagaikan menyambut kicauan burung di pagi hari.


ADEGAN 3

HANUMAN datang dengan tergesa. RAHWANA dan SHINTA terkejut.

HANUMAN
Rahwana.

RAHWANA
Hanuman? Bukankah kau seharusnya ada di medan laga?

HANUMAN
Aku ingin memberi penghormatan terakhir padamu. Bala tentara Ayodya beserta pasukan kera sudah semakin dekat dengan istana.

RAHWANA
Terima kasih, Hanuman. Aku sudah siap menyambut mautku. (PAUSE) Dengar Hanuman, aku ingin mengungkapkan sebuah rahasia. Hanya kita bertiga yang boleh mengetahuinya.

HANUMAN
Apa itu Rahwana?

RAHWANA
Kau tahu, aku tidak mungkin dibunuh dengan senjata apapun. Maka dari itu, katakan pada bala tentara Ayodya maupun pasukan wanara dari Gua Kiskenda, aku hanya mau bertarung dengan Rama. Hanya dengan Rama. Suruh saja mundur Anila, Anggada bahkan Leksmana sekalipun.

Hening sesaat

RAHWANA
Aku akan melayani Rama untuk bertarung. Bila aku sudah melihat Sang Yamadipati, Sang Maut Penjemputku, maka aku akan melakukan tyaga. Aku akan matiraga. Akan kulepaskan sendiri nyawaku dan menyerahkannya pada Si Pencabut Nyawa. Maka sampaikanlah kepada Rama, agar dia melepaskan senjata pamungkas Bhramastra ketika aku mengambil sikap samadi yang tak lain sebenarnya adalah sikap tyaga. Inilah satu-satunya pilihan untuk menjaga kehormatannya di mata bangsa-bangsa seluruh jagat raya ini.

HANUMAN
Baik Rahwana, aku akan berusaha menyampaikannya dengan tanpa membuka rahasia ini.

RAHWANA
Nah Hanuman, jangan terlalu lama di sini. Pergilah wahai kesatria sakti mandraguna yang menjadi saksi segala jaman. Jangan lupa kau bawa serta Shinta sebagai lambang baktimu pada Rama dan Negeri Ayodya.

HANUMAN
Baiklah Rahwana, tampaknya kita memang harus berpisah. Meski aku tak pernah membayangkan kita akan berpisah dengan cara seperti ini. (Kepada SHINTA) Mari ikut hamba, Baginda Puteri.

SHINTA
Selamat tinggal Kanda Rahwana! Semoga kita akan berjumpa lagi.

RAHWANA
Kita pasti akan bertemu lagi. Pergilah kalian secepatnya, agar lakon ini akan berjalan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, biar takdir yang menjalankan tugasnya.

RAHWANA dan SHINTA pergi.


ADEGAN 4

(Adegan pertempuran. Bisa hanya bunyi atau visual. Sementara RAHWANA mulai menyiapkan zirah perangnya. Pasukan Ayodya semakin mendekat.)

RAMA
(Off stage) Keluarlah Rahwana. Aku menantangmu bertempur!

RAHWANA
Aku tidak bersembunyi. Aku menunggumu di sini.

RAMA dan LEKSMANA masuk.

RAHWANA
Selamat datang Raja Ayodya.Selamat datang Leskmana Mari segera bertarung!

RAMA seperti hendak mengatakan sesuatu.

RAHWANA
Tidak usah mengatakan apa-apa Rama. Aku sudah tahu segala yang ingin kau katakan. Tidak perlu menceramahiku soal dharma ataupun Astha Bhrata. Aku sudah tahu semuanya.

LEKSMANA
Biar aku saja yang menghadapinya, Kakang!

RAMA
Aku saja Adhi. Ini urusan Kakang.

RAHWANA
Ha…ha…ha…Kalian boleh maju bersama-sama. Aku tidak gentar.Ha…ha…ha! Jadi kau bertempur hanya untuk seorang wanita, Rama. Kau korbankan ribuan orang hanya untuk itu. Tapi tak apa. Ayo kita mulai!

RAMA dan RAHWANA mulai bertarung. Mereka mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Begitu melihat RAMA terdesak, LEKSMANA ikut membantu. Terjadi pertarungan sengit sampai akhirnya RAHWANA mengambil posisi samadi dan RAMA mengeluarkan senjata pamungkas. RAHWANA gugur. Semuanya berkumpul, HANUMAN, WIBISANA, SHINTA masuk.

RAMA
(Kepada dua orang Prajuritnya) Kuburlah dia sebagai penghormatan dan peringatan.


Dua orang PRAJURIT menutup tubuh RAHWANA dengan kain lalu membawanya keluar panggung. Tapi tak berapa lama mereka kembali.

RAMA
Kenapa kalian kembali?

PRAJURIT 1
Tubuh Rahwana hilang Gusti!

RAMA
Apa? (Semua orang terkejut) Kalau begitu… HANUMAN, cari batu besar dan tanamkan di sini!

HANUMAN: Baik Gusti Prabu.

HANUMAN segera pergi mencari batu besar dan meletakkannya di tengah panggung.

RAMA
Dengar semua! Kalau ada yang bertanya tentang mayat Rahwana! Katakan tubuhnya sudah hancur dan diperabukan di sini! Batu ini adalah tanda peringatannya!


TAMAT

Malang, 28-29 Juni 2003

Naskah drama yang lain? Klik di sini

Sunday, August 24, 2008

Mengenal SONETA

SONETA ITALIA - SONETA SHAKESPEARE – SONETA INDONESIA


Soneta berasal dari bahasa Itali, dari kata sonetto yang berarti 'suara lagu'. Pujangga soneta Itali yang terkenal di antaranya Boccacio, Petrarca, dan Dante Alighieri. Puisi ini terkenal di Itali kira-kira abad ke-13. Masuk ke Negeri Belanda pada abad ke-16. Tapi pada waktu itu di Negeri Belanda belum disenangi. Baru pada masa Jacques Perk (lahir pada tahun 1859) muncul gubahan sonetanya pada tahun 1882 dengan judul "Mathilde". Pada waktu itu muncul Angkatan Delapan puluhan di Negeri Belanda dan menggubah sonata menjadi kegemaran mereka.


Di Inggris soneta masuk pada abad ke-16 juga. Pujangganya yang gemar menggunakan soneta di antaranya: Shakespeare (1564-1616) dan Sir Thomas Wyatt (1503-1542).

Pada awal abad ke-20 mulai banyak putra Indonesia yang belajar ke Negeri Belanda. Mereka ini pun tertarik kepada soneta dan setelah mereka kembali ke tanah air, mereka gubahlah soneta dalam puisi Indonesia. Tahun 1921 muncul soneta di Indonesia yang kemudian sangat digemari oleh beberapa penyair Pra-Pujangga Baru: Muh. Yamin, Rustam Effendi, Y.E. Tatengkeng, Mozasa, Sanusi Pane, A.M. Dg. Myala, Intoyo, dan Ali Hasjmy.

Berikut ini disajikan aturan dan contoh-contoh soneta Itali, soneta Shakespeare, dan variasi-variasi soneta Indonesia.


Soneta Itali


Syarat-syaratnya ialah:

  1. Terdiri atas 4 bait. Dua bait bagian atas tersusun atas 4 larik atau kuatrin dan dua bait bagian bawah tersusun atas 3 larik yang disebut terzin.

  2. Kedua kuatrin merupakan satu kesatuan yang disebut juga oktaf dan kedua terzin merupakan satu kesatuan yang disebut sekstet.

  3. Oktaf umumnya melukiskan keindahan atau kejadian alam sedangkan sekstet merupakan isi atau kesimpulan.

  4. Antara oktaf dan sekstet ada peralihan yang disebut volta.

  5. Rima akhir lariknya: abba - abba - cdc - dcd. Misalnya (dalam soneta Indonesia):

    SENJA

    Malam turun perlahan-lahan
    Damai sentosa hening tenang
    Sunyi senyap alam sekarang
    Suara angin tertahan-tahan

    Bunga di kebun menutup kuntum
    Lalu tidur di dalam duka
    Burung termenung mengingat suka
    Dalam sarang rasa dihukum

    Sukma sunyi seperti dahsyat
    Lemah lesu karena rawan
    Hati rindu memandang alam.

    Diam takut menanti malam
    Terkenang aku akan rupawan
    Akan adinda diikat adat
    (Sanusi Pane)


    Soneta Shakespeare

    Syarat-syaratnya ialah:
  1. Terdiri atas 4 bait. Bait pertama, kedua, dan ketiga masing masing 4 larik. Bait terakhir terdiri atas 2 baris atau distikhon.

  2. Tiga kuatrin: pertama, kedua, dan ketiga melukiskan hal yang umum, keindahan ataupun kejadian alam.

  3. Dua baris terakhir merupakan kesimpulan atau isi soneta

  4. Rima pada akhir lariknya tersusun sebagai berikut: abb - cdcd - efef - gg.

  5. Dua baris akhir yang merupakan kesimpulan itu disebut cauda atau koda.

    Misalnya:

    Come, sleep, o sleep! the certain knot of peace
    The baiting-place of wit, the balm of woe
    The poor man's wealth, the prisoner's release
    The indifferent judge between the high and low

    With shield of proof shield me from out the prease
    Of those fierce darts Despair at me doth throw
    O make me in these civil wars to cease
    I will good tribute pay, if thou do soo

    Take thou of me smooth pillows, sweetest bed
    A chamber deaf of noise and blind of light
    A rosy garland and a weary head:
    And if these things, as being thine in right ,

    Move not thy heavy grace, thou shalt in me
    Livelier than elsewhere, Stelle's image see


    Kemungkinan Susunan Bait Soneta Indonesia

    a. 4-4-3-3

    Misalnya:

    GEMBALA

    Perasaan siapa tidakkan nyala,
    Melihat anak berlagu dendang,
    Seorang saja di tengah padang,
    Tiada berbaju buka kepala.

    Beginilah nasib anak gembala,
    Berteduh di bawah kayu nan rindang,
    Semenjak pagi meninggalkan kandang,
    Pulang ke rumah di senja kala.

    Jauh sedikit sesayup sampai,
    Terdengar olehku bunyi serunai,
    Melagukan alam nan molek permai.

    Wahai gembala di segara hijau,
    Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau,
    Maulah aku menurutkan dikau.
    (M. Yamin)

    b. 4-4-4-2

    Misalnya:

    DI KAKI GUNUNG

    Hawa meresap ke urat syaraf
    Membawa wangi bunga-bungaan
    Diringi kabut tipis melayap
    Enggan ke gunung merayu hutan

    Angin lembut membuai daun
    Serentak cemara menggamit awan
    Sedang langit roma kilauan
    Setiap garis lukisan kudus

    Di sini sunyi alam selalu
    Tempat burung terbang berkibar
    Tempat dunia tabah menunggu
    Menanti hidup kan rombok mekar

    Di sini sunyi alam selalu
    Di sini rindu menampung sinar.
    (Mozasa)


    c. 4-4-6

    Misalnya:

    NASIB


    Bagai orang yang salah larasnya
    Mengharu harmoni di dalam orkes
    Lagu hidupku kini tak beres
    Lakuku kurang lurus dan cerkasnya

    Karena didikan agak keliru
    Hidupku terdasar perseorangan
    Sekarang zaman perkitaan
    Sesat dan sasar menganyam nasibku.

    Lamalah sudah aku berperang
    Melawan musuh di dalam diri
    Kubujuk halus keras kuhantam
    Amat sedikit kudapat menang
    Kebinasaan yang telah mendalam
    Susah ditukar, sukar disiangi.
    (Intoyo)

    d. 8-3-3

    Misalnya:

    Hijau tampaknya bukit barisan
    Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
    Putuslah nyawa hilanglah badan
    Lamun hati terkenang pulang
    Gunung tinggi diliputi awan
    Berteduh langit malam dan siang
    Terdengar kampung memanggil tolau
    Rasakan hancur tulang belulang

    Habislah tahun berganti zaman
    Badan merantau sakit dan senang
    Membawakan diri untung dan malang

    Di tengah malam terjaga badan
    Terkenang bapak sudah berpulang
    Diteduh selasih kemboja sebatang

    (M. Yamin)


    e. 14 baris sekaligus sebait


    Misalnya:

    MELATI

    kau datang dengan menari, tersenyum simpul
    Seperti dewi, putih kuning, ramping halus
    Menunjukkan diri, seperti bunga yang bagus
    Dalam sinar matahari, membuat timbul
    Di dalam hati berahi yang suci permai
    Jiwa termenung, terlena dalam samadi
    O, Melati memandang seperti Pamadi
    Kebakaan kurasa, luas tenaga dan damai
    Engkau tinggal sebagai bunga dalam taman
    Kenang-kenangan: dipetik tidakkan dapat
    Biar warna dan wangi engkau berikan
    Engkau seperti binatang di balik awan
    Terkadang-kadang sejurus berkilat-kilat
    Tapi jauh takkan tercapai tangan.

    (Sanusi Pane)

    f. Ada lagi bentuk soneta yang mendapat tambahan larik atau bait yang cukup banyak. Hal ini terjadi karena penyair merasa belum puas menyampaikan curahan perasaan dengan sonata yang dibatasi oleh 14 larik. Karena itu ditambahnya dengan larik-larik yang cukup banyak. Larik-larik tambahan dalam soneta itu juga disebut koda atau ekor soneta.

    Misalnya:

    UNTUK TINI KASUMA

    Sungguh benar hamba termenung,
    Hijau barisan di hati pun lekat,
    Berbukit-bukit gunung-gemunung,
    Diselimuti awan jauh dan dekat.

    Sungguh benar di jantung terkandung,
    Lautan berombak berpangkat-pangkat,
    Mengejar pantai tanahku indung,
    Berbuih putih intan terikat.

    Sungguh begitu dahulu kupandang,
    Waktu badanku suka dan riang,
    Bermain di pantai di gunung padang,
    Tetapi sekarang walaupun muda,
    Alam begitu hilang di mata,
    Cuma dirasakan di dalam dada.

    Bukit barisan kupandang kabur,
    Terlukis di awang awan-gemawan,
    Berkaki laut debur-mendebur,
    Merdu bunyinya rindu dan rawan,
    Gulung-gemulung suara malam,
    Ombak ke pasir derai-berderai,
    Desir-mendesir di hari kelam,
    Memuji pulauku sorak-semarai,
    Semuanya itu nyaring kudengar,
    Memanggil badan tulang-belulang,
    Masuk ke dada di jantung tergambar,
    Supaya kembali lekaslah pulang,
    Aduhai diriku sepantun burung,
    Mata lepas badan terkurung.

    (M. Yamin)
Download? Silakan KLIK DI SINI

Thursday, August 21, 2008

Wawancara dengan Rahwana

Wawancara dengan Rahwana

oleh: Yudistira ANM Massardi



Sesaat sebelum Anoman menyungsepkan kepalanya ke dasar bumi, Rahwana sempat menghujat: “Jasadku boleh jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hidup. Menyusup ke dalam jiwa setiap manusia. Sepanjang abad…”

Bumi yang menghimpitnya, kemudian menelan dan melumatnya. Langit menggelegar. Lalu kelam. Dari rekahan tempat tokoh tragis penguasa Alengka itu terbenam, menghambur jutaan gelembung hitam yang serentak menyebar ke seluruh jagad.

Sanjaya –wartawan perang pertama di dunia yang menjadi penyiar pandangan mata pertempuran besar Keluarga Bharata di Kurusetra dan sempat juga menyaksikan kematian bandit besar tadi –segera menguber. Ia minta tolong pada Anoman untuk dibenamkan ke dalam bumi, menuju akhirat, mengikuti arwah Rahwana.

Berikut ini petikan wawancara Sanjaya dengan biang segala kejahatan itu.



Sanjaya (S): “Setujukah anda dengan cara dan kematian yang barusan anda alami?”

Rahwana (R): “Kematian atau pun kehidupan, bukanlah hal yang perlu disetujui atau tak disetujui. Keduanya adalah hal yang amat sederhana, sehingga tak perlu dipersoalkan benar. Sedangkan ‘cara’ begitu pentingkah hal itu? Manusia memang punya bermacam-macam kebiasaan buruk. Sebagaimana halnya anda, mereka selalu bernapsu untuk mempertanyakan bagaimana cara seseorang mati dan bagaimana cara seseorang hidup. Itu adalah pertanyaan tragis yang hanya dimaksud untuk kepentingan dramatik dari lakon yang dimainkan.

Cara kematian saya yang anda tadi saksikan, memang dramatis. Bagaimana seseorang yang sangat berkuasa, sakti mandraguna dan kaya-raya, menemui ajal secara begitu nista dan tanpa daya. Itulah ketentuan yang sudah digariskan. Tapi anda harus yakin. Saya tidaklah mati dalam pengertian yang biasa. Sebab pada dasarnya saya tetap hidup. Kematian saya adalah sarana bagi kehidupan langgeng jisim saya di dunia.

Kehancuran jasad saya adalah untuk keperkasaan jisim saya. Anda bisa buktikan nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia akan dipenuhi gelembung-gelembung…anda melihatnya tadi? (Sanjaya mengangguk). Itulah bentuk kekuasaan saya yang baru. Suatu kejahatan yang tangguh.



Nah, haruskah saya memprotes cara dan kematian saya? Tidak bukan? (Sanjaya menggangguk lagi). Dan cara hidup saya selama jadi penguasa Alengka, apakah akan anda ungkapkan secara menyolok untuk kepentingan dramatik tadi? Oya, mau disiarkan di mana wawancara ini? Ah, tidak, tidak. Disiarkan atau tidak, tak penting bagi saya. Tapi cara hidup saya, cara saya mengendalikan kekuasaan, cara saya memanjakan saudara-saudara dan sanak keluarga saya, agaknya memang penting diungkapkan dalam laporan anda nanti. Tulislah apa pandangan anda tentang semua itu. Bongkarlah apa yang selama ini anda anggap sebagai skandal. Ganyanglah semuanya kalau memang cukup dramatis untuk diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya akan berada di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya akan berada dalam darah setiap orang yang ingin mengangkangi sisa kekuasaan serta harta benda saya. Tugas jisim sayalah untuk menggebrakkan semua itu.

S: “Bisakah anda gambarkan secara konkrit besarnya kekuasaan itu?”

R: “Sebesar kosmos.”

S: “Apakah anda menguasai setiap manusia?”

R: “Setiap manusia memiliki naluri kejahatan.”



S: “Apakah keuntungan anda dengan kekuasaan semacam itu?”

R: “Selalu saja begitu. Setiap orang selalu berpikir mengenai keuntungan dan kerugian. Apa sih pentingnya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya bukan pedagang. Betapa pun durjananya, kasta saya adalah kesatria. Kesatria tidak pernah berpikir seperti pedagang. Keuntungan atau kerugian tak ada artinya. Yang penting bagi saya adalah konsistensi terhadap cita-cita perjuangan. Saya harus memelihara kefatalan dan kehancuran martabat manusia. Tugas dan kewajiban sayalah membangun keangkaramurkaan di muka bumi ini.”

S: “Apakah tugas anda itu membuat anda pedih?”


R: “Aaah! Bagaimana sih, anda ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala macam bunyi perasaan semacam itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, tak ada artinya bagi saya. Kesatria tidak secengeng itu. Seorang kesatria yang menggenggam suatu kekuasaan besar, tak boleh menjadi melankolis. Ia harus tegas mengemban tugasnya. Sentimentalitas semacam itu hanya milik para budak. Para Sudra. Sebab sekali seorang kesatria membiarkan dirinya terhanyut oleh perasaan, ia akan guyah. Kekuasaan akan luput dari tangannya. Sesudah itu adalah keruntuhan. Paham? Seorang kesatria pantang kehilangan apa yang sudah menjadi miliknya. Milik itu harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Tak ada kompromi.”



S: “Juga seandainya orang yang berada di bawah kekuasaan anda sengsara?”

R: “Kesengsaraan dan penderitaan para kawula adalah bagian terpenting dari kekuasaan mutlak. Tanpa ada kesengsaraan, tidaklah ada artinya sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan orang banyak bahkan tak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.”

S: “Kalau ada kritik mengatakan bahwa anda tak mau mendengar atau memperhatikan keluhan para kawula...?”

R: “Kritik? Itu adalah bagian terindah dari kukuhnya sebuah kekuasaan. Kritik penting dari segi dramatik. Rintihan dan keluhan para kawula adalah tembang lirih bagi impian sepanjang malam.”

S: “Anda betul-betul sadis.”

R: “Seorang penguasa yang baik harus sadis. Dan kekuasaan yang ada dalam genggaman saya adalah sadisme. Karena itu dibutuhkan banyak kurban. Sebagai tumbal. Juga sebagai syarat bagi kelanggengan kekuasaan itu.”

S: “Apakah anda juga menguasai para penguasa di dunia ini?”

R: “Kenapa tidak? Setiap penguasa, setiap kekuasaan yang ada di dunia, adalah instrumen yang mengumandangkan nyanyian setiap gelembung hitam yang menghambur dari tempat jasad saya tadi nyungsep.”



S: “Apa komitmen anda dengan para penguasa itu?”

R: “He? Itu rahasia….”

S: “Baiklah. Anda nanti akan memilih surga atau neraka?”

R: “Busyet. Kenapa anda tanyakan itu? Tentu saja saya akan memilih neraka. Saya sarankan, kalau anda mati nanti, lebih baik masuk neraka saja. Di sana banyak masalah yang perlu anda dalami. Saya kira sebuah reportase dari neraka akan jauh lebih menarik. Sebab, sebagaimana tadi saya bilang, manusia kan lebih menyukai hal-hal dramatik? Surga terlalu tenang. Terlalu damai, sehingga tak ada masalah lagi. Tapi di neraka, setiap saat terjadi hiruk-pikuk dan bermacam penderitaan kumpul jadi satu di sana. Anda bisa wawancarai mereka. Segala kepedihan dan penyesalan yang mereka kemukakan tentu sangat baik untuk dijadikan peringatan bagi yang masih hidup, bukan? Untuk itu, tentu anda akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda bisa bertemu dengan semua penguasa dunia yang menghamba pada keserakahan.”

S: “Pertanyaan terakhir. Apa pendapat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang pernah anda culik itu?”

R: “O, very good! Very good!”

S: “Terima kasih.”

(Berikutnya, wawancara Semar dengan Marilyn Monroe)

Jakarta, Mei 1980.


Monday, August 18, 2008

Sinopsis Novel Belenggu

BELENGGU


Roman yang sering disebut sebagai roman puncak Angkatan Pujangga Baru ini ditulis oleh Armijn Pane dan diterbitkan pertama kali oleh Dian Rakyat tahun 1940. Roman psikologis atau sering juga disebut roman kejiwaan ini banyak dipuji pengamat sastra dari dalam dan luar negeri inin berkisah tentang kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis meskipun suami istri itu berpendidikan tinggi. Sehingga banyak juga pengamat sastra yang mengatakan bahwa roman ini merupakan reaksi atas novel Layar Terkembang (novel pembuka Angk. Pujangga Baru) karya Sutan Takdir Alisyahbana (STA).

Secara ringkas, kisah roman Belenggu dimulai dari retaknya rumah tangga Dokter Sukartono (Tono) dengan istrinya Sumartini (Tini). Kehidupan rumah tangga Tono dengan Tini kian hari kian merenggang. Antara keduanya sudah tidak ada lagi komunikasi yang baik. Masing-masing menutup diri, saling berprasangka buruk, hingga kemudian masing-masing mencari kesibukan sendiri-sendiri.

Padahal awalnya, Tono memilih Tini menjadi istrinya hanya atas dasar kecantikan, kepintaran, dan keenergikan Tini saja. Tono beranggapan bahwa wanita yang pantas mendampinginya adalah wanita yang berkarakter seperti Tini. Sayangnya, Tono memilih Tini bukan atas dasar cinta. Sebaliknya, Tini memilih dokter Sukartono sebagai suaminya karena ia ingin melupakan masa lalunya yang kurang baik. Sama dengan Tono, Tinipun menikah bukan atas dasar cinta.

Rumah tangga yang dibangun bukan atas dasar cinta itu akhirnya tidak bahagia. Tono dan Tini kurang harmonis dan sering terjadi pertengkaran di antara mereka.


Masing-masing dari mereka berusaha menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing. Tini sibuk dengan organisasi kewanitaan dan segala macam kongres, sedang Tono sibuk dengan tugasnya sebagai dokter, Tono sangat bangga dan mencintai profesinya. Dia bekerja tanpa mengenal waktu. Jam berapa pun pasien membutuhkannya, dia selalu datang. Itulah sebabnya, ia sangat disenangi para pasiennya. Selain mudah dimintai pertolongan, Tono juga dikenal sebagai dokter yang dermawan karena ia tidak pernah minta bayaran pada pasiennya yang kurang mampu.

Kesibukan Tono seringkali memicu percekcokan rumah tangga mereka. Tini, istrinya semakin sering keluar rumah. Tini sangat tidak betah dengan kesendiriannya. Tini merasa harga dirinya dilecehkan

Akhimya, lewat telepon, muncul Ny. Eni, pasien Tono. Ketika Tono datang ke hotel tempat Ny. Eni, ia pun mengetahui bahwa Ny. Eni adalah Rohayah, kawan lamanya di Bandung dulu. Dengan caranya Yah menggoda Tono. Tono masih menjaga sumpah jabatannya sebagai dokter. Hari-hari berikutnya ketika Tono merawat Yah yang sebenarnya tidak sakit itu, akhimya ia tak kuasa lagi jatuh cinta. Hubungan mereka kian hari kian mesra. Tono sering mengajak Yah ke Tanjung Priok pesiar. Sikap Yah yang penuh pengertian membuat Tono mabuk. Hubungan Tono dengan Tini semakin meruncing. Apalagi berita itu menyebar di kalangan ibu-ibu teman Tini.

Ketika Tini pergi ke Solo mengadakan Kongres Perempuan Seumumnya, Tono makin gila. Ia memutuskan untuk tinggal selama seminggu di rumah sewaan Yah. Dari pertemuan sebagai suami isteri itu kemudian terungkap kembali kisah lama mereka.

Setelah Tono lulus dari sekolah rendah di Bandung, Tono meneruskan sekolah HBS di Surabaya. Sementara Yah yang berbeda tiga tahun dalam sekolah itu harus kembali ke Palembang karena akan dikawinkan oleh orang tuanya. Ternyata lelaki yang dipilihkan orang tuanya itu jauh lebih tua darinya. Karena tidak tahan, Yah akhirnya lari ke Jakarta. Kisah berianjut, Yah menjadi wanita panggilan dari hotel ke hotel. Kemudian ia menjadi nyai seorang lelaki Belanda di Sukarasa. Hanya selama tiga tahun, kemudian Yah meninggalkan suaminya lagi. Ia mendengar berita bahwa Tono menjadi dokter di Jakarta, ia pun berusaha menemui Tono. Bagi Tono, Yah adalah tempat pelarian, tempat berkeluh, tempat di mana pikiran-pikiran kusut dan kenangan lama yang mati dapat dihidupkan kembali. Yah, amat berbeda dengan Tini, isterinya. Tono mengatakan bahwa ia tak mungkin lepas lagi dari Yah.

Bagi Yah, Tono adalah harapan, di mana cita-citanya untuk kembali menjadi wanita yang baik mungkin dapat terlaksana. Namun Yah sendiri amat sering ragu-ragu dan menaruh rasa belas pada Tono yang mau menerimanya begitu saja. Yah sendiri punya problem kejiwaan karena masa lalunya yang gelap.

Ketika itu Tono akan menjadi juri pada perlombaan keroncong di Pasar Gambir. Hartono dan Mardani kawannya semasa sekolah di kota Malang datang berkunjung. Hartono menanyakan isteri Tono, Tono hanya mengatakan bahwa ia sedang ke Solo. Hartono kemudian mengetahui bahwa isteri Tono adalah Tini, seorang gadis yang pemah bersahabat dengannya di Bandung sewaktu ia menjadi mahasiswa Technische Hoogereschool. Secara tidak sengaja, Tini bertemu dengan Hartono ketika Hartono menunggu Tono pulang dari kantor. Pertemuan itu mengungkapkan peristiwa beberapa tahun silam di Bandung. Tini ternyata bekas kekasih Hartono, bahkan Tini sendiri telah ternoda oleh Hartono. Itulah sebabnya kemudian Tini mau menerima Tono menjadi suaminya, di samping sikap Hartono sendiri yang pengecut membuat surat perpisahan dan mengatakan bahwa setibanya surat itu pada Tini, Hartono telah tiada. Hartono ternyata hanya mengganti namanya menjadi Abdul Humid dan masih duduk dalam organisasi Partindo tempat mereka berdua berkenalan pertama kali.

Pada pertemuan itu Hartono masih mengharapkan agar Pop (nama Tini sewaktu di Bandung) dapat kembali padanya. Namun Tini amat tersinggung pada sikap Hartono. Ia marah dan meminta supaya mereka hidup sendiri-sendiri.

Tono amat kecewa pada Yah karena sekali lagi Yah menipunya. Siti Hajati penyanyi pujaannya ternyata adalah Yah sendiri. Ia amat tidak senang dengan sikap Yah yang selalu berpura-pura. Tono menduga keras bahwa Yah akan selalu bersikap manis dan merayu laki-laki lain seperti kalau ia bertemu dengan Tono. Yah yang terpojok dan merasa tidak dipercaya mengatakan pada Tono bahwa ia sebenarnya amat mencintai Tono namun ia sangsi apakah hubungan cintanya dapat langgeng. Ia merasa tidak seimbang mendapatkan Tono, itulah problem kejiwaannya.

Tono sebenarnya telah tahu bahwa Tini telah ternoda sebelum mereka menikah. Ia pun tahu bahwa ketika Tini menerimanya sebagai suami tidak berdasarkan cinta. Tono mau menerima Tini karena kekagumannya pada kecantikan Tini. Namun ia tidak pemah mengetahui siapa laki-laki yang menodai Tini. Pikiran-pikiran yang menyebar itu menyebabkan ia dapat memaklumi keadaan Yah. Ia pun menerima alasan Yah.

Suatu ketika paman Tini datang hendak mendamaikan pertengkaran Tini dengan Tono. Namun usaha itu sia-sia. Baik Tono maupun Tini tidak dapat rukun kembali.

Tini yang mulai tahu hubungan gelap Tono dengan Yah berkeinginan untuk menemui dan mendamprat Yah. Bertemulah Tini dengan Yah di sebuah hotel. Keinginan Tini untuk memaki-maki Yah yang telah menggoda suaminya akhirnya luluh begitu Tini bertemu dengan Yah. Betapa Yah adalah seorang wnaita lemah lembut dan sangat perhatian. Tini merasa malu dengan Yah, lebih-lebih ternyata Yah banyak tahu masa lalu Tini yang gelap. Tini menyesal bahwa selama ini ia kurang memberi perhatian pada Tono. Ia bukan istri yang baik. Ia tidak pernah memberikan kasih sayang yang tulus kepada Tono suaminya.

Peristiwa di hotel itu membuat Tini berintrospeksi. Ia merasa gagal menjadi seorang istri. Akhimya, Tini memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Bahkan ia berharap agar Yah bersedia menjadi isteri Tono. Niat ini disampaikan kepada Tono. Kenyataan ini juga membuat Tono tersadar. Ia berharap Tini masih mau menjadi istrinya. Tetapi tekad Tini sudah bulat. Perceraian tidak dapat dihindari lagi.

Akibat perceraian ini hati Tono amat sedih. Lebih sedih lagi ketika Tono menghadapi kenyataan bahwa Yah telah pula meninggalkan dirinya. Yang dijumpai Tono hanyalah sepucuk surat dan sebuah piringan hitam lagu-lagu Siti Hayati yang tak lain adalah Yah sendiri. Yah yang menyatakan betapa Yah sangat mencintai Tono, tetapi ia tidak ingin merusak rumah tangganya. Untuk itu, Yah telah meninggalkan tanah air pergi ke New Caledonia. Sedangkan Tini saat ini sudah berada di Surabaya, mengabdikan dirinya di sebuah panti asuhan yatim piatu.***

Lihat novel lain? Klik di sini
Download novel ini? Klik di sini

Friday, August 15, 2008

Dongeng Lebai Malang

Lebai Malang


Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di tepi sungai di sebuah desa di Sumatera Barat. Pada suatu hari, ia mendapat undangan pesta dua orang kaya dari desa tetangga. Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.

Pak Lebai menimang-nimang untung dan rugi dari setiap undangan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia berpikir, kalau ia ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah akan memberinya hadiah dua ekor kepala kerbau. Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu sungai tidak seenak orang hilir sungai.

Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan mendapat hadiah seekor kepala kerbau yang dimasak dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan memberi tamunya tambahan kue-kue. Hingga ia mulai mengayuh perahunya ke tempat pesta pun ia belum dapat memutuskan pesta mana yang akan dipilih.


Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai. Baru tiba di tengah perjalanan ia mengubah pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai. Dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih di sana sangat kurus. Ia pun mengubah haluan perahunya menuju hulu sungai. Sesampainya di tepi desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang. Pesta di sana sudah selesai.

Pak lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju desa hilir sungai. Sayangnya, di sana pun pesta sudah berakhir. Pak Lebai tidak mendapat kepala kerbau yang diinginkannya.

Saat itu ia sangat lapar, ia memutuskan untuk memancing ikan dan berburu. Untuk itu ia membawa bekal nasi dan mengajak anjingnya.

Setelah memancing agak lama, kailnya dimakan ikan. Namun kail itu menyangkut di dasar sungai. Pak Lebai pun terjun untuk mengambil ikan tersebut. Sayangnya ikan itu dapat meloloskan diri dan anjingnya memakan nasi bekal pak Lebai. Oleh karena kemalangan nasibnya, pak Lebai diberi julukan Lebai Malang.***

Tuesday, August 12, 2008

Pistol Tua

Pistol Tua

Oleh Laila Sa’adah

diambil dari Jelajah Budaya

Gelap seakan tidak mau beranjak dari langit kota ini. Mendung subuh tadi hanya menyanding mentari tanpa mau bergegas meninggalkannya, untuk sekedar menunjukkan keperkasaannya pada bumi di pagi hari yang lengang, mencekam dan membuat bulu roma siapapun merinding bila di situasi seperti ini.

Seharusnya ketika mentari sudah mulai merangkul pagi bersamanya, orang-orang yang telah semalaman beristirahat, dapat memulai aktivitasnya lagi dengan lebih semangat. Namun setiap mata yang kutangkap selalu sembab. Raut muka kelelahan yang menyiratkan kesedihan, ketertundukan dan kepasrahan akan hidup seakan selalu meriasi setiap sudut bagian wajah itu. Pandangan yang tertunduk, bibir kelu menambah ketidak kuasaan wajah untuk menutupi semua yang telah terjadi. Bila memang benar wajah merupakan jendela jiwa maka seakan-akan wajah-wajah itu mengatakan

“Jangan kau lihat aku bila kamu tidak ingin ikut tenggelam dalam kesedihan.”

Dalam setiap situasi yang menyedihkan jangan khawatir kalau tidak ada sedikit celah untuk menghiburmu. Atau dalam gurun pasir yang luas, tandus, gersang, jangan takut bila tidak ada tawaran kesegaran. Seperti halnya ketika dalam kesulitan yang seakan-akan melilit seluruh tubuh, jangan pernah putus asa karena pasti ada sepotong pisau untuk memotong tali itu, walau hanya pada bagian hidungmu untuk sekedar bernafas.

Hero yang selalu ada dalam setiap kesedihan, perjuangan hidup dan peperangan yang memaksa kita untuk bertempur bukan orang lain, tapi tampaknya apa yang ada dalam hati kita. Kepercayaan diri dan kobaran semangat itulah yang menjadikan lintasan bagi setiap jalan yang tadinya pekat, pisau tajam bagi lilitan yang sebelumnya tidak pernah bisa tertembus oleh apa pun.

Sinar keperkasaan itu, hari ini dapat aku temukan dalam wajah seorang kolonel yang berdiri tegak diujung pintu penampungan ini. Dari lipatan-lipatan kulit yang ada di wajahnya, menunjukkan kalau sebenarnya dia sudah tidak muda lagi. Sebutan kakek sudah pantas dia sandang. Tetapi karena tanggung jawab, jiwa mudanya kembali bangkit. Semangat seorang mantan pejuang perang ini masih subur, belum sedikit pun padam dalam dirinya. Walaupun aku tahu sebenarnya kepedihan sempat menghampirinya dalam dua hari yang lalu. Aku mengetahui dengan jelas tragedi yang sangat mengerikan itu. Karena aku yang selama ini hanya menjadi barang simpanan dalam keluarga kolonel, hari itu kembali difungsikan.

Malam itu sebenarnya berjalan seperti biasa, banyak orang yang masih lewat di jalanan depan rumah. Terutama suara gelak tawa anak-anak yang baru pulang belajar mengaji dari surau dekat rumah masih terdengar cukup keras. Tetapi tiba-tiba lima manit kemudian suara tersebut berganti dengan teriakan ketakutan. Kolonel yang saat itu sedang bercengkerama dengan istrinya diruang tengah sambil minum kopi, terhenyak kaget dan berlari kedepan rumah.

Ternyata sudah terlihat jelas di ujung jalan segerombolan warga membawa clurit, parang, kayu, dan batu berlari kearah desa kami. Entah apa yang sebenarnya terjadi, kolonel yang sejak mendengar teriakan tadi mengambil aku dari laci, membawa masuk istrinya dan keluar lewat pintu belakang. Belum sampai jauh berlari keluar rumah, ibu sudah terjatuh, kepalanya terkena batu nyasar yang dilemparkan oleh salah satu dari gerombolan tersebut. Usia yang telah lanjut rupa-rupanya telah membatasinya untuk dapat berlari kencang.

Serbuan mendadak itu rupa-rupanya telah membuat kolonel kebingungan apalagi melihat kondisi istrinya yang sekarang sudah berlumuran darah membuatnya cukup tergoncang. Kalau di masa penjajahan dulu sudah jelas siapa yang harus dilawan, tetapi untuk sekarang siapa yang salah, dan siapa yang harus dilawan sangat kabur. Tetapi kalau tidak melawan nyawa sendiri yang menjadi taruhannnya, dengan sikap yang cukup bijak kolonel memfungsikan aku dengan mengarahkan moncongku ke udara. Pelatukku siap ditekan dan “Dor”

Bunyi tembakan terdengar keras diangkasa, sesaat gerombolan itu berhenti berlari dan mulai mundur. Melihat situasi itu kolonel membopong istrinya berlari menjauh ketempat yang lebih aman. Kolonel sebenarnya mempunyai 3 orang anak. Namun rupa-rupanya dengan kondisi daerah yang tidak mendukung bagi karier mereka, anak-anak yang telah kesemuanya berumah tangga memilih berhijrah keluar pulau. Kolonel memang sebenarnya bukan berasal dari daerah ini. Dia berasal dari pulau jawa, yang tidak pernah menyebutkan nama kotanya. Mungkin karena sempat mempunyai kenangan pahit, saat terjadinya pergolakan merebut kemerdekaan. Kolonel sendiri yang saat itu sempat menjadi tawanan perang, dibuang ke pulau ini.

Akhirnya kami sampai disemak-semak hutan yang gelap. Yang terdengar hanya erangan kesakitan dan nafas kolonel yang terus memburu.

“Rasanya aku sudah tidak kuat pak”

Sambil menyangga kepala istrinya, kolonel tersebut hanya bisa diam terpaku melihat wajahnya yang sedang diabang maut.

“Kalau memang sesuatu terjadi padaku, anggap saja kalau ini semua adalah sebuah cobaan belaka.”

Tiba-tiba ada setetes air mata keluar dari pelupuk mata kolonel.

“Sabarlah istriku, sebentar lagi pagi sudah datang dan kita bisa ke puskesmas terdekat.”

Karena darah yang mengucur dari kepala terlalu banyak, akhirnya sebelum sampai puskesmas, istri kolonel sudah meninggal dunia. Kolonel tidak sempat menghubungi anak-anaknya karena situasi saat itu masih mencekam. Selain itu mungkin takut keadaan akan bertambah parah.

Seorang diri sudah sang kolonel dipulau ini, seperti pertama kalinya dia datang kesini. Hidupnya tak lepas dari situasi peperangan, entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, tatapannya yang tidak pernah gentar, menunjukkan dialah seorang kolonel sejati dari zaman penjajahan kompeni sampai sekarang zaman pertarungan ideologi.

Aku sendiri tidak menyangka menjadi berpindah kepemilikan ke tangan kolonel ini. Aku dulu milik seorang saudagar kaya raya dari melayu. Umurku memang sudah lama sekali hampir 120 tahun yang lalu. Setiap pedagang saat itu minimal mempunyai dua atau empat pengawal yang bertubuh kekar. Yang setia mengikutinya kemanapun tuannya pergi. Karena tak jarang saudagar-saudagar tersebut melakukan perjalanan yang cukup jauh, berlayar dari pulau satu kepulau lainnya. Sehingga senjata untuk melindungi diri dan harta bendanya sangat dia perlukan. Aku dulu jarang sekali digunakan oleh empunya diriku. Karena pengawal-pengawalnya sudah cukup mampu mengatasi keadaan kalau perampokan tiba-tiba terjadi.

Sampai pada akhirnya ketemu dengan kolonel yang sedang menjalani masa pembuangan di pulau ini. Kolonel yang saat itu sedang tidak mempunyai harta benda satu pun meminta pekerjaan kepada sang saudagar melayu. Dari situlah perkenalan dengan saudagar melayu kaya raya mulai terjalin. Hubungan antara tuan dan buruh terjalin dengan baik. Karena sang kolonel memang tipe seorang spekerja keras. Hingga akhirnya ketika sang saudagar hendak kembali ke negeri asalnya, dia hanya dapat memberikan kenang-kenangan sebuah pistol yang tidak lain adalah aku sendiri, dengan hanya diberi lima peluru didalamnya. Entah apa maksud dari sang saudagar memberi kolonel kenang-kenangan sebuah pistol.

Untunglah sang kolonel memang seorang yang tepat untuk diberi sebuah pistol. Dia tidak pernah menggunakan aku, seperti sang saudagar memperlakukan aku dulu. Kolonel hanya memfungsikan aku tidak lebih hanya sebuah benda kenang-kenangan dari seorang sahabat yang harus dijaga dan dirawat. Namun sejak kejadian kemarin ternyata aku bukanlah sebuah benda yang hanya mengingatkan akan sebuah kenangan ke masa lalu. Tetapi aku telah menjadikan pemiliknya mempunyai rasa percaya diri akan ancaman musuh. Dan menjadikannya tetap tidak mundur dalam situasi konflik.

Tetapi aku sendiri ngeri jika harus membayangkan, aku melukai seseorang yang tidak bersalah. Aku akan bangga jika aku dapat membantu Negara yang sedang terjajah menuju kemerdekaannya. Aku akan sangat senang peluruku menembus perut-perut para koloni yang telah memakan hak hidup rakyat.

Bagaimana jika nanti peluruku mengucurkan darah dari perut-perut orang bumi pertiwi ini?

Bagaimana jika peluruku nanti menembus dinding-dinding kulit seorang bapak yang ditunggu istri dan anak-anaknya di rumah?

Bagaimana jika tiba-tiba peluruku mengenai kepala anak-anak yang sedang berangkat sekolah untuk mengejar impian-impiannya?

Atau seorang ibu hamil yang sedang menanti kelahiran anaknya?

Walau aku hanya sebuah pistol tua yang tidak sedasyat ledakan sebuah rudal Yakhont buatan Rusia, atau rudal Harpoon yang biasanya sering digunakan AS untuk menghalau siapapun yang mencoba menghalangi misinya. Namun kalau sampai ada peluru yang keluar dari moncongku, bisa saja seorang istri akan menjadi janda. Atau sepasang kekasih akan kehilangan orang yang sangat dicintainya. Hancurkanlah aku sebelum ada orang yang kehilangan senyum dan tawanya.

Hari ini sudah terhitung tiga hari sejak kejadian kemarin, tetapi situasi tampaknya masih terasa cukup tegang, tentara dari TNI sudah mulai berdatangan. Senapan laras panjang selalu mereka bawa kemana-mana. Seolah-olah siap meledakkan setiap kepala yang akan melawannya. Rupa-rupanya konflik ini muncul karena ada sekelompok warga yang tidak puas oleh hasil pemilihan walikota di daerah ini. Selain menghancurkan kantor panitia pemilihan rupa-rupanya warga yang tidak puas juga menyerang daerah simpatisan partai terpilih, kebetulan memang di desa kolonel ini sebagai basis utama.

Suasana kembali tegang ketika tiba-tiba ada seorang anak yang lari dengan menjerit ketakutan. Rupa-rupanya diperempatan jalan sebelum masuk desa kami sedang terjadi lagi pertikaian antar waraga. Kolonel mendengar keterangan dari anak tersebut langsung lari kearah terjadinya konflik. Rupa-rupanya suara teriakan kembali menyelimuti pertikaian tersebut. TNI yang ditugaskan untuk mengamankan hanya bisa menggunakan tembakan peringatan. Kolonel saat itu sudah mulai mengeluarkan aku dari sakunya.

Bila bisa aku mengatakan,”Tolong jangan paksakan aku untuk membunuh sesame teman, sahabat, kerabat, suku yang selama ini telah senasib dalam Negara ini. Hancurkan saja aku biar darah tidak mengucur lagi ke bumi pertiwi….biarlah aku hanya menjadi pistol tua sebagai pajangan dari sebagian koleksi dari seorang kolektor.”

Senja kembali menaungi langit sore ini. Menghantarkan sore pada malam dan menunjukkan waktu bagi burung-burung untuk kembali ke sarangnya. Waktu memang tidak kenal kompromi sesaat saja kita lengah maka jangan samapai menyesal jika dia telah merenggutmu. Tak kusangka semua berakhir setragis ini kolonel, kamu mengabulkan doaku tetapi sebaliknya kamu sendiri yang terluka. Sebilah pisau telah mengucurkan darah dari lehermu. Lemparan-lemparan benda tajam memang sesaat tidak bisa dihentikan. Dan ternyata itulah akhir dari hidupmu. Menjadi korban kesalahpahaman yang tidak akan mengharumkan namamu, seperti bila kamu gugur dimedan perang. Semuanya hanya sia-sia….

Akupun belum ditemukan oleh siapapun karena langit hitam sudah menyelimuti kota ini. Malam ternyata sudah beraksi, dan bintang hanya menunduk malu, dan aku tahu masih ada empat peluru di dalam diriku.

Malang , 12 Februari 2008

Saturday, August 09, 2008

Pidato Chairil Anwar

KEPADA PARA PENYAIR PIDATO CHAIRIL ANWAR 1989, IMAJINAR


Malam ini kalian berkumpul di sini untuk mengenang aku. Aku memang suatu fenomena yang menarik dalam sejarah perpuisian modern kita. Sudah 40 tahun aku pergi, tapi selalu aku dikenang. Padahal sajak-sajakku meski sebagian masih diingat disenangi orang, semakin ada suara yang merasakan sudah hampir tidak relevan untuk zaman kalian.

Aku tahu dalam acara-acara lomba puisi atau acara baca puisi sajak-sajakku kurang dibaca. Orang semakin lebih senang membacakan sajak-sajak para penyair sezaman: Goenawan Mohamad, Rendra, Taufiq Ismail, Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, dan lain-lain. Teori persajakanku itu tidak digugat, tapi improvisasi yang aku benci itu, Timur dan sub-kultur dipakai habis-habisan dalam menyair. Namun tidak berarti konsep persajakanku itu kuno. Yang benar konsep persajakan kalian yang beragam itu dan konsepku saling memperkaya khazanah pemikiran perpuisian modern kita.

Kenapa aku selalu diperingati? Para penyair, dalam kesempatan ini baiklah aku katakan terus terang kalian membutuhkan aku. Kalian ingin apresiasi terhadap puisi meluas di masyarakat. Inilah salah satu sebab yang menjadikan aku masih tetap penting untuk masa kini. Aku bisa kalian tampilkan sebagai bukti bahwa puisi telah ikut ambil bagian dalam masyarakat. Seperti pernah ditulis Leon Agusta, aku ini penyair pejuang. Dan aku memang diakui oleh yang bukan penyair bahwa aku memang ambil bagian dalam perjuangan bangsa ini. Sajak-sajakku dibacakan di berbagai acara peringatan nasional, sementara sajak-sajak kalian hanya dibacakan di acara-acara apresiasi puisi. Di monumen pahlawan di kota kecil Pare-pare misalnya, sajakku dicantumkan. Nah, kalian bisa bilang siapa bilang penyair tidak bisa dan tidak pernah ambil bagian.

Apalagi akhir-akhir ini kalian dituding oleh sekelompok intelektual bahwa kalian asyik sendiri. Kalian dianggap tidak memperdulikan masalah yang ada di dalam masyarakat. Dan kalian dianjurkan membuat sajak-sajak sesuai dengan konsep mereka.

Para penyair, aku ingatkan kalian, jangan ragu-ragu. Jangan biarkan puisi kalian jatuh jadi perpanjangan tangan ambisi sekelompok intelektual yang selera sastranya masih bisa kita ragukan. Asyiklah selalu kalian pada diri sendiri. Tapi bukan berarti "menceraikan diri dari penghidupan, bersendiri," seperti yang pernah aku katakan dalam pidato radioku itu. Hidup reguklah dengan tuntas kehidupan zamanmu, satupadukan ke dalam dirimu, lantas jika engkau berasyik-asyik dengan dirimu engkau sebenarnya berasyik-asyik dengan zamanmu, engkau bisa dapat tempat, dicatat!

Aku tidak habis heran kenapa para intelektual repot-repot merekayasa penyair. Kenapa mereka tidak menyibukkan diri menulis buku-buku untuk menandingi karya-karya sarjana semacam Hobbes, John Locke, Gaetano Mosca, Rousseau, Weber, Alvin Toffler. Kenapa mereka lebih senang jadi komentator atau resensor buku. Ikan kecil memang selalu makan dari tangkapan ikan besar!

Semua tahu aku sangat concern terhadap masalah dalam zamanku. Lihat dalam tulisanku "Hopla", aku menyayangkan majalah "Pujangga Baru" yang lahir bersamaan dengan munculnya kekuasaan Hitler di Jerman, tapi majalah ini selama hidupnya hanya memuat satu artikel dangkal tentang fascisme! Dan masih dalam "Hopla" aku mempertanyakan para seniman yang patuh dicekoki dengan garis kebudayaan penjajahan Jepang, "tidakkah mereka tahu beratus-ratus seniman Eropa (Jerman, Italia), di Jepang sendiri, menentang dengan pertaruhan jiwa, yang meninggalkan negeri yang dicintai mereka karena aliran kebudayaan paksaan ini."

Sikap kepenyairanku, itulah yang sangat penting: Aku tidak mau kesenianku diletakkan dalam subordinasi politik. Aku sangat concern pada perjuangan bangsaku, tapi sajak-sajakku aku jaga benar untuk tidak jatuh jadi slogan.

Tetaplah jalan kesenian yang aku pakai dalam mengungkapkan perjuangan zaman dan diriku. Meletakkan puisi selalu merdeka bebas, tidak takluk dalam subordinasi politik, itulah arti paling penting dari kepenyairanku - disamping kepeloporanku dalam puisi Angkatan 45 - seperti yang ditunjukkan oleh sajak-sajakku. Selama suatu zaman masih terasa ada ancaman terhadap kebebasan perpuisian dan sastra selama itu aku terasa relevan.

Kini aku telah menjadi bahasa atau lambang bagi para penyair atau seniman dalam berdialog dengan masyarakat yang bukan seniman, dengan para intelektual. Jika kalian menyebut Chairil itu berarti begitulah hakikatnya kepenyairan. Ia bebas dan dengan kebebasannya ia juga ambil bagian terhadap sekitarnya. Itulah makna kehadiranku dalam perpuisian zamanku, zaman kalian dan mungkin untuk seribu tahun lagi! Itulah hakekat Chairil itu! Selebihnya embel-embel selalu dikaitkan setiap orang mengenang aku. Misalnya aku selalu disebutkan bersikap habis-habisan dalam menulis sajak, tidak suka kerja kantoran, dan lain-lain. Semua kekaguman ini tidak kuacuhkan benar. Karena memang setiap penyair serius selalu habis-habisan dalam menulis sajak. Dan bukan soal tahan kerja kantor atau tak, yang bikin seorang penyair selalu dikenang. ***
AL HAJ SUTARDJI CALZOUM BACHRI
(Disampaikan dalam diskusi "Sebuah Refleksi 40 tahun sesudah Chairil Anwar", 28 April 1989 di Taman Chairil Anwar, Monas, Jakarta).

Wednesday, August 06, 2008

Tuhan Dalam Puisi

Depersonalisasi dan Tuhan dalam Puisi
Oleh Cecep Syamsul Hari


Pada umumnya terdapat dua asumsi yang berbeda dalam upaya menjelaskan berkembangnya secara pesat puisi-puisi religius (sebagian orang menyebutnya sebagai puisi-puisi sufistik), yaitu asumsi yang bernada pesimistis di satu sisi dan asumsi yang bernada optimistis di sisi yang lain. Asumsi pertama melihatnya sebagai kecenderungan aksidental dan bersifat sementara. Asumsi kedua memandangnya sebagai kecenderungan meningkatnya dimensi religiusitas dalam kehidupan sosial dan kebudayaan.

Kedua asumsi yang berbeda ini bersinggungan pada satu titik temu, yaitu pada satu kenyataan bahwa dalam proses penciptaan puisi religius diperlukan suatu pengalaman religius pula (sebagian orang menyebutnya sebagai pengalaman sufistik) yang mendasari penciptaannya. Tak jadi soal sedangkal apa pun pengalaman religius itu karena pada hakikatnya tidak ada pengalaman religius yang dangkal.

Salah satu sebab fenomenologis yang melahirkan pengalaman religius para penyair era 1980/1990-an adalah munculnya arus depersonalisasi yang meluas dalam kehidupan sosial dan berkebudayaan kita. Depersonalisasi ini muncul seiring dengan menguatnya infra struktur ekonomi dan politik setelah berakhirnya hingar-bingar politis pada paruh kedua 1960-an dan paruh pertama 1970-an.

Infra struktur ekonomi telah menjadi kekuatan raksasa yang membidani kelahiran pragmatisasi kehidupan sosial-ekonomi dan sosial-politik serta menindas kemerdekaan personal. Personalitas yang menolak untuk menjadi homo-economicus dan homo-politicon terlempar ke dalam lubang anonimitas dan tergusur ke posisi marginal. Ia tidak memiliki tempat dalam konstelasi kekuatan raksasa ekonomi dan politik. Aku rumputan/ kekasihku Tuhan/ di kota-kota disingkirkan, tulis Ahmadun Yosi Herfanda dalam sajak “Sembahyang Rumputan”.


Dalam posisi ini kelahiran puisi-puisi religius lebih merupakan upaya pelarian-esoteris, yaitu suatu upaya meloloskan diri dari arus depersonalisasi dan melakukan repersonalisasi, yaitu suatu usaha mendudukkan kembali personalitas yang tertindas melalui penyelesaian religius atau kuasi-religius. Berbaringlah di sini dan lupakan dunia, tulis Acep Zamzam Noor dalam sajak “Kini Aku Doa”.

Para penyair pun ramai-ramai “mengadukan” personalitasnya yang terenggut kepada kekuatan mutlak dan transenden. Diro Aritonang mengadukan depersonalisasi yang meluas ini dalam sajak “Ya Allah”: Ya Allah/ hari-hari begitu mencekam/ begitu banyak orang terancam/ tanpa masa depan; dan Beni R. Budiman dalam sajak “Rhapsody in Rainy Season” menulis: Kekasih, di sini pintu-pintumu dikunci rapat/ Ruang-ruangmu ditutup kuat, gedung-gedungmu/ Dijaga ketat dan cahaya-cahayamu dimatikan/ Hingga pekat/ Aku dihadang cepat oleh semua/ Yang bergerak pesat dan mengaku pemilik/ Dunia dan negerimu.
***
Sebagai sebuah pengalaman religius, pelarian-esoteris membuka peluang yang seluas-luasnya bagi “ziarah ke dalam”. Di sini pengalaman religius berlangsung dalam dialog-sunyi (munajat) aku-Engkau yang intens meskipun sering menjadi perjalanan melelahkan bagi personalitas yang gamang. Menyelami-Mu terasa lelah/ dunia kusepak bersama penguburan-penguburanku, tulis Mathori A. Elwa dalam sajak “Sembahyang Luka Dunia”; dan dengan kelelahan yang sama Ahmad Syubbanuddin Alwy menulis dalam sajak “Lirik Air Mata”: kuseberangi lautan cintamu bersama doa-doa Rumi/ dan nyanyian-nyanyian Rabi`ah. Di manakah puncakmu?

Di dalam wilayah esoteris ini pula personalitas yang berusaha meloloskan diri dari arus depersonalisasi merekonstruksi personalitasnya dalam munajat yang intens dan terus-menerus dengan kekuatan mutlak dan transenden. Mathori A. Elwa menulis dalam “Sajak Pendaki”: kudaki gemuruh doa/ di puncak-Mu aku samadi menghitung dunia/ ini aku kehausan kelaparan/ regukkan anggur-Mu/ dan kunyahkan zikir ini/ di puncak keberadaan; Miranda Risang Ayu menulis dalam sajak “Doa II”: Aku mendaki/ ke puncak batas pijakanku/ Tak ada lagi yang kucari, Tuhan/ kecuali cara untuk menghilang/ dalam bayang-bayang; dan dalam nada yang sama dengan Mathori dan Miranda, Soni Farid Maulana menulis dalam sajak “Delapan Gerak Angsa”: Pada puncak keheningan/ Aku hayati gerak semesta/ Nada dan irama/ Yang meresap ke kalbu/ Membawaku pergi/ pada gairah-Nya, abadi.

Hanya di dalam dunia-batin (esoteris) yang damai inilah kekuatan personalitas sanggup membawahkan dan menaklukkan kekuatan di luar personalitasnya, yaitu kekuatan infra struktur ekonomi dan politik yang di dalam dunia-lahir (eksoteris) telah menyingkirkannya ke lubang anonimitas dan posisi marginal. Di pembaringan-Mu kurebahkan segala keletihan/ menafasi hidup yang mengombakkan rinduku, tulis Jamal D. Rahman dalam sajak “Di Pembaringan”; dan dengan keletihan yang sama Agus R. Sajono menulis dalam sajak “Selepas Tarawih”: Bersama helai-helai air mata, kutuntun/ kembali badan dan resahku pulang/ ke bentangan sajadah. Masyuk mengetuki arasy-Mu.

Di dalam sufisme Jalal al-Din Rumi, Hamzah Fansuri dan Muhammad Iqbal, pelarian-esoteris—yang dengan beberapa catatan dapat disejajarkan dengan zuhud atau asketisme—sesungguhnya bukanlah tujuan melainkan tahapan paling awal dari latihan ruhani (riyadlah) untuk mencapai tingkatan (maqam) yang lebih tinggi (hikmah) sebelum ia kembali terjun ke dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, tidak semua yang telah merasakan nikmatnya zuhud dapat dengan mudah kembali ke dalam kehidupan sosial yang penuh gemuruh.
***
Di awal tulisan ini telah disinggung bahwa asumsi pesimistis memandang perkembangan pesat puisi-puisi religius kontemporer ini sebagai kecenderungan yang aksidental, artifisial dan bersifat sementara. Asumsi ini lebih memandang perkembangan itu sebagai gejala sesaat atau mode. Asumsi ini mengabaikan kenyataan bahwa pengalaman religius bisa dialami siapa pun sebab pada dasarnya pengalaman religius adalah pengalaman aku-Engkau yang sangat personal.

Kita melihat dalam dekade 1980-an hingga paruh pertama 1990-an arus depersonalisasi yang meluas dalam kehidupan sosial dan berkebudayaan kita telah menjadi salah satu sebab fenomenologis lahirnya pengalaman religius para penyair angkatan 1980/1990-an yang kemudian mendasari penciptaan puisi-puisi religius mereka. Dari perspektif inilah puisi-puisi religius mereka sebenarnya merupakan kesaksian terhadap zamannya.***

Pikiran Rakyat, 21 Juli 1993)

Sunday, August 03, 2008

Remy mbeling Sylado

Friday, August 01, 2008

Unsur Ekstrinsik Novel

UNSUR EKSTRINSIKALITAS DALAM NOVEL INDONESIA



Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural," begitulah salah seorang penganjur kritik sosio-budaya, Sheldon Norman Grebstein (1968), yang juga dikutip Sapardi Djoko Damono (1978), menegaskan. Menurutnya, karya sastra selalu mengungkapkan latar sosial budaya yang melingkari diri pengarangnya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih lengkap jika karya itu sendiri tidak dipisahkan dan lingkungan, kebudayaan serta peradaban yang telah menghasilkannya.

Dalam pengertian yang lain, Rene Wellek dan Austin Warren (1989) menempatkan masalah itu sebagai struktur yang mencangkup isi dan bentu, dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Pemisahan isi dan bentuk itu juga ditentang oleh kaum formalis. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa faktor sosio budaya merupakan "bahan" yang kemudian diolah aedemikian rupa bersama unsur-unsur lain guna mencapai nilai estetik karya bersangkutan. Keseluruhan itulah yang membangun sebuah kesatuan struktural.

Pemahaman itu memberi kemungkinan bagi usaha mengungkapkan apa yang menjadi bahan karya sastra tersebut. Dengan kata lain, usaha itu merupakan "cara" untuk mencoba menghubungkaitkan karya sastra dengan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Melalui bantuan cara itu, karya sastra dijelaskan maknanya, amanatnya, sikap pengarangnya, atau nilai estetiknya secara keseluruhan. Caranya sendiri dapat berupa penjelasan mengenai fakta historis, sosiologis, psikilogis atau filosofis, sebagaimana yang menjadi "isi" yang terkandung dalam karya yang diteliti. Inilah yang dimaksud pendekatan ekstrinsik; penjelasan atau analisis karya sastra berdasarkan ilmu lain yang berada di luar ilmu sastra.

Mengingat sastrawan Indonesia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan sosio budaya yang amat beragam, maka pendekatan ekstrinsik terhadap karya sastra Indonesia sebenarnya merupakan lahan yang amat menjanjikan. Periksa misalnya, karya-karya Hamka yang sarat bernafaskan suasana keagamaan (Islam) dengan latar budaya Minangkabau. Dengan nafas dan suasana keagamaan yang sama karya-karya Danarto dan Kuntowijoyo memperlihatkan latar budaya Jawa, namun dengan idiom dan pengungkapan yang berbeda. Hal yang juga tampak pada karya-karya Fudoli Zaini, Djamil Suherman, Ahmad Tohari atau Mohammad Diponegoro. Dalam hal ini, kita masih dapat menyebut nama lain yang juga menampilkan nafas dan suasana yang sama, namun dilatarbelakangi oleh akar budaya yang berbeda.

Penelitian terhadap karya sastra Indonesia, baik novel, drama maupun puisi melalui pendekatan ekstrinsik, di Indonesia dapat dikatakan masih amat sedikit. Skripsi-sknpsi kesarjanaan di fakultas sastra, misalnya, sebagian besar masih berkutat pada penelitian berdasarkan pendekatan intrinsik. Isinya hampir tidak beranjak dari persoalan sekitar alur, tokoh, latar, tema, atau unsur intrinsik lainnya. Itupun belum banyak yang menguraikannya berdasarkan fungsi antarunsur itu sebagai kesatuan struktural.

Yang dianalisis dalam penelitian-penelitian itu, umumnya cenderung hanya dengan menekankan pada salah satu unsurnya yang menonjol. Akibatnya peneliti itu di satu pihak, kurang memberi tantangan bagi penelitian untuk memanfaatkan disiplin ilmu lain (interdisiplin), dan di pihak lain kurang mengungkapkan kekayaan karya itu secara maksimal. Padahal, lewat pendekatan ekstrinsik, sangat mungkin akan terungkap: 1) cara pengarang dalam menangkap situasi sosial yang terjadi pada zamannya (semangat zaman), 2) sikap pengarang dalam menghadapi soal tersebut, 3) kecendikiaan dan wawasan serta, 4) akar budaya pengarang bersangkutan. Pada gilirannya akan dapat tersimpulkan pula bahwa kegiatan mengarang sebenarnya bukanlah sekadar keterampilan yang berdasarkan bakat alam, tetapi juga keterampilan yang mesti didukung oleh wawasan intelektual. Semakin luas dan dalam wawasan pengarang, semakin luas dan dalam pula karya yang dihasilkannya.

Sehubungan dengan hal tersebut, tulisan ini sengaja hendak menyodorkan berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan berdasarkan pendekatan ekstrinsik. Pada bagian pertama ini, akan dibicarakan secara ringkas tiga novel Balai Pustaka pramerdeka; dan mencoba menganalisis dan mengungkapkan fakta sejarahnya. Ketiga novel itu adalah Sitti Nurbaya (1922) Marah Rusli, Salah Asuhan (1928) Abdul Muis, dan Hulubalang Raja (1934) Nur Sutan Iskandar.

Sudah begitu banyak pembicaraan tentang novel Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan, terlebih lagi selepas pengangkatan kedua novel itu ke dalam sinetron. Namun, masih amat sedikit yang mengangkat persoalannya lewat kacamata sejarah. Salah satu di antara yang sedikit itu adalah artikel Taufik Abdullah, "Sastra dan Sejarah: Pantulan Historis dan Novel" (Horison, November-Desember 1983). Ia mengungkapkan bahwa Sitti Nurbaya adalah satu-satunya novel yang sangat historis. Jika saja tahun yang disebut Marah Rusli, yaitu tahun 1890-an, bisa dijadikan sebagai tahun 1910-an, maka novel ini bisa disebut sebagai "novel sejarah" yang nyaris otentik.... Ucapan para pelaku dalam perdebatan dapat ditemukan di berbagai majalah dan suratkabar yang terbit di Padang tahun 1910-an."

Dialog-dialog antara tokoh Ahmad Maulana dan Fatimah, serta Sitti Nurbaya dan Alimah mengenai kedudukan wanita, baik dalam kehidupan berumah tangga, maupun dalam memperoleh pendidikan, sebenarnya merupakan semacam "potret" kondisi kaum wanita dan dunia pendidikan di Indonesia pada masa itu. Juga, pemberontakan Datuk Meringgih dalam soal belasting (pajak), dapat dianggap sebagai catatan sejarah berkaitan dengan kebijaksanaan Belanda dalam menerapkan sistem pajak di Padang pada tahun 1905.

Mengenai Salah Asuhan karya Abdul Muis, Taufik Abdullah menyatakan: ”Dengan sangat sadar, Abdul Muis menjadikan masyarakat kolonial sebagai setting ceritanya. Novel ini mencoba "mengaktualkan" secara imajinatif kemungkinan yang bisa terjadi kalau berbagai aspek dari tatanan struktural kolonial dipertemukan ..."

Begitu juga, usaha Hanafi agar diakui haknya sebagai bangsa Eropa dan kemudian berganti nama menjadi Christiaan Han, erat kaitannya dengan kebijaksanaan Belanda tentang perbedaan hak dan kedudukan sosial bagi bangsa Belanda (kulit putih), Indo—Eropa (Indo—Belanda), bangsa Asia, dan pribumi. Yang terakhir ini pun dibedakan lagiberdasarkan status sosialnya, yaitu terdiri atas golongan bangsawan (ningrat) dan rakyat biasa. Begitulah, masih banyak fakta sejarah dalam novel itu yang belum terungkap.

Fakta sejarah tampak jelas dan dinyatakan secara eksplisit dalam novel Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar. Dalam Kata Pendahuluan novel itu tertulis keterangan sebagai barikut:
Segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah yang terdapat dalam buku ini, dipungut dari kitab De Weakust en Minangkabau (1665-1668) yaitu "academisch proefschrift" oleh H.Kroeskamp, yang dicetak oleh Dreukkerij Fa. Schotanus&' Jens di Utrech dalam tahun 1931.

Mengenai hal tersebut, A. Teeuw (1980) menyatakan bahwa"... karya ini menerangkan peristiwa sejarah di Sumatra Barat pada jaman antara tahun 1665 dan 1668, berdasarkan penyelidikan sejarah yang amat teliti oleh H. Kroeskamp (1931) ..." Fakta sejarah yang terjadi pada tahun 1665—1668 adalah konflik Minangkabau—Aceh yang kemudian melibatkan pasukan Belanda.

Dalam novel Hulubalang Raja, memang konflik itulah yang diangkat sebagai latar cerita. Hanya ada sejumlah fakta yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga kurang sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Justru dalam hal inilah penganalisisan lewat bantuan ilmu sejarah dapat mengungkapkan, tidak hanya peristiwa sejarah an sich, melainkan juga sikap dan amanat pengarangnya.

Dalam Hulubalang Raja dikisahkan bahwa keterlibatan Belanda seolah-olah, "hanya" karena Belanda bermaksud membantu Muhammad Syah dan ayahnya, Raja Malfarsyah (dalam Hulubalang Raja bernama Malafar Syah), yang bermaksud menumpas pemberontakan Alt Akbar sebagai akibat tindak kriminal orang-orang Aceh.

Yang sebenarnya, pemberontakan itu terjadi karena kelaliman Raja Malfarsyah yang dalam novel itu justru tidak diungkapkan. Keterlibatan Belanda dalam banyak pertempuran di Sumatra Barat, sebenarnya telah berlangsung sebelum tahun 1665. Pada tahun 1650 misalnya telah disepakati perjanjian yang memaksa Perak mengusir orang-orang Keling yang justru amat dibutuhkan rakyat Aceh dalam menjalin perdagangan. Akibatnya, rakyat Aceh menyerang kantor-kantor VOC. Demikian pula, tahun 1659 terjadi perjanjian VOC —Aceh, namun akhirnya dilanggar Belanda secara sepihak. Pecahlah pemberontakan rakyat Aceh yang dibantu rakyat Minangkabau.

Dalam perang Pauh (1666), terdapat perbedaan tentang jumlah korban. Kekalahan Belanda pada perang itu, dalam Hulubalang Raja menewaskan 131 serdadu dan opsir, termasuk pemimpinnya, Jacob Gruys, mantan opperhoofd di Jepang. Dalam buku sejarah, jumlah korban tercatat dua kapten, lima letnan, sejumlah perwira rendah dan lebih dari 150 serdadu biasa, belum termasuk Jakob Gruys. Beberapa peristiwa dan gambaran keterlibatan Belanda di Sumatra Barat, banyak yang tak sesuai dengan fakta sejarah. Jadi penjelasan berdasarkan ilmu sejarah, dapat mengungkapkan fakta yang sebenarnya dan memungkinkan kita menangkap sikap pengarang dalam melihat soal itu. Nur Sutan Iskandar yang menulis novelnya dari sumber disertasi Kroeskamp, ternyata cenderung menekankan akibat-akibat konflik etnik yang kerap dimanfaatkan Belanda. Dan konflik antarsuku itu jelas merugikan perjuangan bangsa sendiri. Dalam hal itu, pengarang tampak hendak mengisyaratkan pentingnya arti persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana yang dapat kita tangkap dari akhir cerita novel itu. Permusuhan Hulubalang Raja dan Raja Adil, akhirnya diselesaikan lewat perjanjian damai. Setelah itu, Minangkabau hidup dalam kedamaian.

Maman S. Mahayana adalah Dosen Sastra Indonesia, Universitas Indonesia.

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook