Friday, January 30, 2009

Legenda Wongasu

Legenda Wongasu

SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya “Legenda Wongasu”.

Berikut inilah legenda tersebut:

“Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta,” pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.

Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjing-anjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.

Masih terbayang di depan matanya, bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.

Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.

Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.

Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng.

“Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah,” kata istrinya dahulu.

Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda.

“Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan,” kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, “pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu.”

Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing.

Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.

***

SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.
Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”

Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.
“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.

Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.

Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.

***

“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Cirebon-Wangon-Jogja, Januari 2002.
Pesan pengarang: Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan.
dimuat di: Kompas, Minggu 3 Maret 2002

Wednesday, January 28, 2009

Kelingking Sakti

Kelingking Sakti


Dahulu kala, di sebuah desa di Kepulauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menjaring ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Mereka mempunyai tiga orang anak, semuanya laki-laki. Anak pertama bernama Salimbo, yang kedua bernama Ngah, dan yang ketiga bernama Kelingking.

Sejak bayi, si Bungsu sudah menampakkan keanehan. Tubuhnya kecil dan kerdil, sehingga ia diberi nama Kelingking. Keanehan lain yang ada pada diri Kelingking adalah ia menyusu dengan sangat kuat. Setiap kali menyusui Kelingking, ibunya merasa kesakitan. Karena tidak kuat menahan rasa sakit, akhirnya ibunya meninggal dunia saat Kelingking masih berumur lima bulan. Sejak saat itu, kedua abangnya itu membeci Kelingking. Mereka menganggap Kelingkinglah yang menyebabkan ibu mereka meninggal dunia.

Sepeninggal ibu mereka, Kelingking dan kedua saudaranya kemudian hidup dalam asuhan ayahnya. Setiap hari mereka membantu ayahnya mencari ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Terkadang pula mereka mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Di antara ketiga bersaudara, Kelingkinglah yang paling rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayahnya. Melihat hal itu, bertambah bencilah kedua saudaranya kepada Kelingking. Karena merasa iri terhadap Kelingking, kedua saudaranya berniat jahat kepadanya.

Pada suatu hari, Salimbo dan Ngah hendak melaksanakan niatnya. Mereka kemudian mengajak Kelingking mencari kayu di hutan tanpa sepengetahuan ayahnya. Mereka memang sengaja ingin mencelakakan Kelingking dengan membawanya ke dalam hutan di mana terdapat banyak binatang buas. Tanpa rasa curiga sedikit pun, dengan senang hati Kelingking menerima ajakan kedua saudaranya itu.

Sesampai di hutan, mereka masing-masing sibuk mencari kayu. Karena tubuhnya kecil, Kelingking hanya mengumpulkan ranting-ranting kecil. Menjelang siang hari, mereka sudah merasa kelelahan. Pada saat mereka beristirahat di bawah sebatang pohon, tiba-tiba seekor kancil melintas tak jauh dari tempat mereka duduk. “Kelingking! Kejar kancil itu!” perintah Salimbo kepada Kelingking. “Jangan sampai lolos, Adikku!” tambah Ngah menyemangati. Kelingking pun mengejar kancil itu hingga jauh masuk ke dalam hutan. Pada saat itulah, mereka berdua menggunakan kesempatan meninggalkan Kelingking di dalam hutan sendirian. Dengan tergopoh-gopoh, Salimbo dan Ngah pulang menemui ayahnya. “Ayah, maafkan kami. Kami tidak dapat menjaga Kelingking. Dia diterkam harimau di tengah hutan,” kata Salimbo berbohong sambil berpura-pura menangis. “Benar, Ayah. Kami sudah berusaha sekuat tenaga menolongnya. Tapi, kami tidak dapat menyelamatkannya. Harimau itu terlalu ganas,” sambung Ngah ikut berbohong. “Benarkah yang kalian katakan itu?” tanya sang Ayah seakan tak percaya dengan berita itu. “Benar, Ayah!” jawab Salimbo dan Ngah serentak. Mendengar jawaban yang meyakinkan itu, sang Ayah pun percaya begitu saja. Ia sangat bersedih kehilangan Kelingking yang sangat disayanginya itu.

Sementara itu, Kelingking terus mengejar kancil itu hingga tertangkap. Ia senang sekali. “Jika kancil ini aku bawa pulang, ayah dan kedua abangku pasti sangat senang,” gumam Kelingking sambil mengikat kaki kancil itu dengan akar kayu. Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba Kelingking dikejutkan oleh bunyi suara yang sedang berbicara kepadanya. “Hai, Orang Muda! Tolong lepaskan aku. Aku adalah raja kancil di hutan ini. Jika kamu mau melepaskanku, kamu akan kuajari cara menangkap kancil,” bujuk sang Kancil. Kelingking seakan tak percaya, jika kancil yang ditangkapnya itu bisa berbicara seperti manusia. “Baiklah, Kancil! Aku akan melepaskanmu, tapi aku diajari cara menangkap kancil
seperti yang kau janjikan,” kata Kelingking sambil melepaskan ikatan pada kaki-kaki kancil itu.

Kancil itu kemudian mengajari Kelingking cara menangkap dan menjebak kancil. Setelah menurunkan semua ilmunya kepada Kelingking, Kancil pun berpesan, “Orang Muda! Dengan ilmu yang aku ajarkan, kamu dapat menangkap kancil sebanyak-banyaknya. Tapi, kamu hanya boleh menangkap kancil yang nakal-nakal saja.” Usai berpesan, kancil itu kemudian kembali ke tempat asalnya.

Sementara itu, Kelingking mencoba kemampuan ilmunya menangkap kancil yang baru saja diterimanya itu. Dalam sekejap, Kelingking mampu menangkap dua ekor kancil.
Kemudian diikatnya kedua kancil itu erat-erat, lalu ia bawa pulang ke rumah. Akhirnya, ia pun selamat sampai di rumah, tanpa ada gangguan binatang buas. Sesampai di depan pintu rumahnya, Kelingking berseru memanggil ayah dan kedua abangnya. “Ayah...! Abang... ! Aku pulang....! Mendengar suara teriakan dari luar rumah, ayahnya segera membukakan pintu. Ayahnya sangat senang sekali, karena anak kesayangannya ternyata masih hidup. “Ya, syukurlah anakku! Kamu selamat dari terkaman harimau,” kata ayahnya sambil memeluk Kelingking.

Sementara itu, kedua abangnya yang telah meninggalkannya di tengah hutan, terheran-heran melihat Kelingking. ”Bagaimana mungkin Kelingking bisa selamat dari binatang buas yang ada di dalam hutan itu?” tanya Salimbo dalam hati. Demikian pula Ngah, dalam hatinya bertanya-tanya, “Bagaimana Kelingking bisa menangkap kancil dua ekor sekalian, padahal yang dikejarnya tadi hanya satu?” Kelingking kemudian memberikan kedua ekor kancil tersebut kepada kedua abangnya untuk dimasak dan kemudian disantap bersama-sama.

Pada suatu hari. Salimbo dan Ngah kembali berniat jahat kepada Kelingking. Mereka mengajak Kelingking ke laut yang banyak dihuni ikan jerung [1]. Dengan sebuah perahu kecil, berangkatlah mereka ke laut mencari ikan. Setibanya di tempat yang dikira-kira banyak ikan jerung, Salimbo dan Ngah pura-pura menebar jala untuk menangkap ikan. Mereka kemudian mengatakan jala itu tersangkut di batu karang, dan menyuruh Kelingking terjun ke laut untuk melepaskan jala mereka. Mereka berharap Kelingking dimakan ikan jerung yang ganas itu. Benar kata Salimbo dan Ngah. Begitu Kelingking terjun ke laut, ikan-ikan jerung yang ganas tersebut langsung menyerangnya. Pada saat Kelingking timbul-tenggelam bergulat dengan ikan jerung tersebut, Salimbo dan Ngah bergegas mengayuh perahunya pulang. Sesampainya di rumah, mereka kemudian menyampaikan berita kematian Kelingking kepada ayah mereka. Mendengar berita itu, ayah mereka sangat sedih. Pada malam hari, tengah sang Ayah meratapi nasib malang Kelingking, tiba-tiba Kelingking muncul di depan pintu, “Ayah, Aku pulang!"

Mendengar suara Kelingking, ayahnya segera beranjak dari tempatnya lalu memeluk Kelingking dengan erat. “Kelingking, Anakku! Ayah mengira kamu sudah meninggal dilahap oleh ikan-ikan jerung itu!” kata sang Ayah kepada anaknya. “Dengan ajaib, Kelingking berhasil mengalahkan ikan-ikan jerung yang ganas itu. Lihat, Ayah! Kelingking membawa ikan jerung besar untuk makan malam kita,” jelas Kelingking kepada ayahnya sambil menunjukkan dua ekor ikan jerung yang dijinjingnya.

Kemudian kedua ikan jerung tersebut diserahkannya kepada abangnya untuk dimasak dan dimakan bersama. Waktu terus berlalu. Kini Kelingking sudah dewasa. Ia berniat pergi merantau untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya yang selama ini hidup dalam kemiskinan.

“Kini saatnya aku mengubah nasib keluargaku. Aku harus pergi merantau. Lagipula ayah tidak tinggal sendirian di rumah. Ada Abang Salimbo dan Abang Ngah yang menemaninya. Pasti ayah akan mengizinkanku,” kata Kelingking dalam hati memantapkan niatnya.

Pada suatu malam, Kelingking mengutarakan niatnya itu kepada ayahnya. “Ayah, sekarang Kelingking sudah dewasa. Izinkanlah Kelingking pergi merantau. Kelingking ingin memperbaiki kehidupan keluarga kita,” ia meminta kepada ayahnya. Meskipun berat hati, sang Ayah pun mengizinkan anak kesayangannya itu pergi merantau. “Ayah mengerti perasaanmu, Anakku! Ayah merestui dan mendoakan semoga kamu dapat mencapai cita-citamu,” jawab ayahnya mengizinkan. “Terima kasih, Ayah! Jika sudah berhasil di perantauan, Kelingking segera kembali menjemput Ayah, Abang Salimbo dan Abang Ngah,” kata Kelingking dengan perasaan gembira.

Keesokan harinya, dengan berbekal tujuh buah ketupat, berangkatlah Kelingking merantau. Sudah berbulan-bulan Kelingking mengembara. Namun, ketupatnya masih utuh, tak ada satu pun yang dimakannya. Selama dalam pengembaraan, ia hanya makan buah dan daun-daunan yang ditemuinya di hutan.

Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat. Kemudian Kelingking duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Karena kelelahan, ia pun tertidur. Dalam tidurnya, terdengar sebuah suara yang berseru kepadanya, “Hai, Orang Muda! Jika kamu ingin menjadi menantu raja, ikatlah ketupatmu dengan akar tuba dan masukkanlah ke dalam sungai yang mengalir di hutan ini. Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Selamilah sungai itu dan ambil ikannya.”Belum sempat berkata apa-apa, Kelingking pun terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Kelingking pun segera bangkit mencari akar tuba. Setelah mendapat beberapa akar tuba, ia pun menyusuri hutan itu untuk mencari sungai yang dimaksud dalam mimpinya.

“Ah, inilah sungai dalam mimpiku,” gumam Kelingking. Ia pun segera mengikat ketujuh ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam sungai. Tak berapa lama kemudian, air sungai pun berbuih dan diselaminya sungai itu. Setelah beberapa lama menyelam, Kelingking mendapatkan seekor ikan besar. Ikan itu kemudian dibakar dan dimakannya hingga hanya kepalanya yang tersisa. Setelah melaksanakan semua perintah dalam mimpinya, Kelingking mulai bingung. “Aku harus berbuat apa lagi? Semua perintah sudah aku laksanakan, tapi tidak ada tanda-tanda akan kedatangan seorang putri. Di sini tidak ada seorang pun selain aku,” gumam Kelingking dengan perasaan kesal. Merasa apa yang dilakukannya sia-sia, ia pun menendang kepala ikan itu hingga terbang melambung tinggi ke angkasa. Ia sudah tidak mempedulikan lagi di mana kepala ikan itu jatuh. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya tanpa tentu arah.

Suatu hari, sampailah Kelingking di sebuah kampung. Seluruh penduduk kampung itu membicarakan tentang kepala seekor ikan yang jatuh secara tiba-tiba di depan istana. Ternyata kepala ikan yang dimaksud itu adalah kepala ikan yang ditendang oleh Kelingking beberapa hari yang lalu. Kepala ikan itu seakan-akan menempel di tanah, sehingga tak seorang pun yang dapat memindahkannya. ndahal kepala ikan yang besar itu mengganggu keindahan istana. Putri raja yang merasa terganggu pandangannya meminta kepada ayahnya agar kepala ikan itu disingkirkan dari depan istana. “Ayah, kepala ikan yang di depan istana itu sangat mengganggu pemandangan. Dapatkah kepala ikan itu disingkirkan dari tempat itu?” pinta sang Putri kepada ayahnya. Raja kemudian mengerahkan seluruh panglima dan pengawal istana untuk memindahkan kepala ikan itu. Satu per satu panglima dan pengawal mencoba mengangkat kepala ikan itu secara bergantian. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang mampu menggerakkannya. Kemudian mereka beramai-ramai mengangkatnya, tapi usaha mereka tetap sia-sia. Jangankan kepala ikan itu bergeser, bergerak sedikit pun tidak. Melihat keadaan itu, Raja pun mengadakan sayembara,

“Wahai seluruh penduduk negeri, barangsiapa yang dapat memindahkan kepala ikan dari depan istana, jika laki-laki akan kunikahkan dengan putriku, dan jika perempuan akan kuangkat sebagai anak,” seru Raja kepada rakyatnya. Sesaat sebelum sayembara itu dimulai, seluruh penduduk telah berkumpul di depan istana. Tidak ketinggalan pula Kelingking ikut dalam sayembara itu. Saat ia melihat kepala ikan itu, Kelingking tersentak kaget, “Sepertinya aku mengenal kepala ikan itu?” gumam Kelingking. Ternyata, ia baru tersadar jika kepala ikan itulah yang pernah ia tendang beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, sayembara pun dimulai. Para peserta sayembara maju satu per satu untuk memindahkan kepala ikan itu. Namun, tidak seorang pun yang mampu menggerakkannya. Tibalah giliran Kelingking. Melihat badannya yang kecil, orang-orang mencemooh dan menertawakkannya. Tetapi Kelingking tidak peduli. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, dikelilinginya kepala ikan itu tujuh kali. Kemudian dicungkilnya kepala ikan itu dengan jari kelingkingnya. Sungguh ajaib. Seakan tidak mengeluarkan tenaga, dengan mudahnya Kelingking mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya di belakang istana. Maka, Kelingkinglah yang dinyatakan sebagai pemenang dalam sayembara itu. Ia berhak untuk menikah dengan putri raja sebagaimana janji raja.

“Orang Muda! Meskipun tubuhmu kecil, tapi kamu mampu memindahkan kepala ikan itu. Sesuai dengan janjiku, ekan ini juga kamu akan kunikahkan dengan putriku,” kata sang Raja dengan kagum. Sepekan kemudian, pesta pernikahan Kelingking dengan putri raja dilaksanakan engan ramainya. Dalam pesta tersebut, ditampilkan berbagai macam nyanyian dan tari-tarian istana. Seluruh keluarga istana dan penduduk negeri turut berbahagia atas pernikahan tersebut.

Beberapa hari setelah menikah, Kelingking menjemput ayah dan kedua abangnya untuk tinggal bersamanya di istana. Kelingking pun hidup berbahagia bersama sang Putri dan keluarganya.

Monday, January 26, 2009

Cerpen Reflektif

Aku Bukan Cina

(Sebuah cerpen reflektif)

Diambil dari http://carock-roro.blog.friendster.com/2007/09/aku-bukan-cina-sebuah-cerpen-reflektif/

Di formulir pendaftaran masuk universitas swasta itu aku melihat sebuah kolom kecil. Sebuah kolom yang berisikan tiga pilihan kewarganegaraan, yaitu WNI Asli, WNI Keturunan, dan WNA.
Untuk sesaat aku tertegun, bingung. Akupun mulai mengingat-ingat identitas diriku, orang tuaku, kakek-nenekku, sampai buyut-buyutku. Aku teringat kata-kata orang tuaku, paman-bibiku, dan nenekku, mereka bilang kami termasuk aku adalah orang Cina. Akupun menjadi bertambah bingung.

Di tengah-tengah kebingunganku, aku mengambil akta kelahiranku dan selembar surat yang menerangkan kewarganegaraanku. Di akta kelahiranku tertulis sebuah nama yang sama sekali jauh dari bahasa dan budaya Cina, bahkan kalau boleh aku bilang lebih dekat dengan bahasa dan budaya Barat. Di akta itu juga jelas-jelas tertulis Surabaya sebagai tempat kelahiranku, sebuah kota yang terletak di propinsi Jawa Timur, yang kalau aku tidak salah ingat dan kalau masih belum ada perubahan kebijakan adalah wilayah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu di lembar surat kewarganegaraanku tertulis bukan Cina, bukan Amerika, tetapi Indonesia. Untuk memperkuat, akupun mengambil akta kelahiran dan surat kewarganegaraan kedua orang tuaku. Hal yang sama aku temukan, hanya saja nama kedua orang tuaku lebih dekat dengan bahasa dan budaya Jawa, walaupun dalam sehari-hari panggilan mereka adalah panggilan yang berbau Cina.

Akupun mendatangi ibuku dan bertanya padanya. Aku tanyakan sebenarnya dia itu orang apa, dia menjawab bahwa dia adalah orang tenglang (Cina). Akupun bertanya lagi dimana dia lahir dan besar, dia menjawab bahwa dia lahir dan besar di Surabaya. Sampai disitu otakku mulai tergelitik. “Lho, Mama bilang Mama lahir di Surabaya, kenapa Mama bilang Mama orang tenglang? Bukankah seharusnya Mama ini orang Indonesia, orang Surabaya?” tanyaku kepadanya. Serta merta dia menolehkan pandangannya dari wajan ke wajahku, matanya menyipit, dan sesaat kemudian dia tersenyum. “Nak, memang Mama lahir di Surabaya tapi Mama bukan orang Indonesia. Mama orang Surabaya itu memang benar karena Mama lahir di sini, tapi Mama dan Papa adalah orang tenglang, sama seperti Engkong dan Emakmu, dan kamu juga.”

Akupun menjadi semakin bingung. “Ma, secara logika Surabaya adalah bagian dari propinsi Jawa Timur, dan Jawa Timur adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi secara logika antropologis Mama, Papa, Engkong, Emak, dan aku adalah orang Indonesia. Bagaimana mungkin orang yang lahir dan besar di Surabaya yang jelas-jelas bagian dari suatu negara yang bernama Indonesia mengaku kalau dirinya adalah orang tenglang??? Itukan tidak nalar namanya.” Kali ini pandangan mamaku terlihat lebih tajam, kompor dia matikan, dan wajan dia tinggalkan. “Nak, negara Indonesia hanyalah sebuah negara, itu saja. Sedangkan kita, kita hanya lahir dan besar di sini, itu saja. Kita tidak akan pernah menjadi orang Indonesia karena memang di darah kita tidak pernah ada darah Indonesia, yang ada adalah darah Tionghoa, darah Cina. Orang Indonesia adalah orang pribumi, orang Jawa yang kulitnya sawo matang dan bermata lebar, orang Ambon yang kulitnya hitam dan berambut keriting, orang Batak yang kulitnya juga sawo matang tetapi berlogat Batak, dan lainnya. Sedangkan kita, kita jelas-jelas berbeda. Kulit kita putih kekuning-kuningngan, mata kita sipit, dan rambut kita hitam lurus persis seperti orang Cina asli. Jadi jelas kita adalah orang Cina bukan orang Indonesia.”

Tiba-tiba saja darah dalam tubuhku mendidih, aku seperti mau meledak rasanya. Aku mundur sedikit dari hadapan ibuku, sambil tetap menatap matanya. “Waktu kecil ketika aku bermain dengan teman-teman sekampung, mereka selalu memanggil aku dengan sebutan Cina Sipit. Waktu itu aku tidak mengerti dan aku mengacuhkannya saja sembari tetap bermain. Aku pikir ketika itu, sebutan itu hanyalah sebuah bahan bercanda saja karena memang perawakanku yang mirip dengan orang-orang Cina yang ada di TV. Bahkan sampai aku besar sekarang aku tetap menganggap sebutan itu hanya sebagai bahan bercanda saja. Karena bagiku aku adalah orang Indonesia. Kalaupun Papa, Mama, Engkong, dan Emak berkata kepadaku kalau aku adalah orang tenglang aku anggap itu sebagai salah satu suku dari banyak suku yang ada di Indonesia seperti halnya suku Jawa, suku Ambon, suku Batak, dan lainnya. Namaku bukan Wong Fei Hung, bukan Lee Kwan Yue, dan bukan Liem Soe Liong. Dalam namaku tidak ada satupun kata yang menunjukkan kalau aku adalah orang Cina. Bahkan dalam surat kewarganegaraan Papa, Mama, dan milikku jelas-jelas tertulis bahwa kita adalah warganegara Indonesia bukan warganegara Cina. Di akta kelahiran Papa, Mama, dan milikku jelas-jelas tertulis bahwa kita lahir di Surabaya, bukan di Beijing atau Guangzhao. Bahkan pada saat ini juga kita berbicara menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Cina. Seingatku kita juga belum pernah menginjak negara yang namanya Cina itu. Cina hanya kita tahu dari cerita, dari TV, dan dari koran. Bagaimana mungkin kita mengaku-ngaku sebagai orang Cina, padahal kita tidak pernah menginjakkan kaki di sana, dan bahkan tidak pernah sekalipun kita berbicara menggunakan bahasa Cina??? Itu mimpi namanya Ma, khayal, tidak logis dan jelas-jelas tidak realistis!!!”

Pada saat itu juga wajah ibuku memerah, sekejap saja sebuah tamparan mendarat di pipiku. “Dasar anak tidak tahu diri, tidak tahu di untung orang tua!!! Orang Indonesia itu hina, goblok, kere, koruptor, dan maling. Beda dengan kita orang Cina, kita tidak akan pernah jadi orang Indonesia. Orang Indonesia bisanya hanya mencuri uang kita, menginjak-injak, dan mendiskriminasi kita. Mereka iri karena kita bisa kaya melalui usaha kita sendiri dan mereka tetap kere walaupun sudah berusaha keras sampai mulutnya berbusa-busa!!! Jadi tahu, kita, kamu bukan orang Indonesia, kita orang Cina!!!”

Kuangkat wajahku kembali menatap mata ibuku, jari telunjukku menatap ke lantai. “Mama tahu siapa yang lebih hina?? Orang yang tidak bisa menerima keberadaan dan hakekat dirinya sendiri, orang yang hidup dalam utopianya sendiri tanpa mau menerima realita yang ada pada dirinya, seorang pesakitan yang menyangkal dirinya sendiri. Mama tahu siapa yang lebih goblok dan kere?? Orang yang tidak menyadari potensi dirinya, orang yang mau merendahkan dirinya sendiri demi sebuah uang, orang yang mau memberikan dirinya diperalat orang goblok dan kere lainnya demi sebuah jabatan dan prestise semu. Mama tahu siapa yang lebih korup dan maling?? Orang yang tidak mempunyai otak dan iman. Orang yang egois, yang tidak pernah mau mempedulikan sesamanya yang kesusahan. Orang yang maunya hanya menyelamatkan pantatnya sendiri, seorang pengecut yang lari sampai terkencing-kencing, seorang yang tidak mempunyai malu dan perasaan bersalah. Sampai-sampai hanya setan saja yang bisa menyamainya.” Kutundukkan wajahku sebentar, kuangkat kembali menatap mata ibuku, kuarahkan telunjukku pada dadaku. “AKU ORANG INDONESIA!!! Dan aku tidak hina, tidak goblok dan kere, aku bukan koruptor, dan aku bukan maling. Aku lahir di Indonesia, aku besar di Indonesia, dan jika Tuhan ijinkan aku akan dengan senang hati mati di tanah air ini, dikuburkan di sini, di tanah Indonesia.”

Dalam kebingungan dan barangkali kemarahan yang amat sangat, kutinggalkan ibuku sendirian di dapur. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya hening dan helaan nafas yang panjang sesekali pendek. Kurasa dia shock melihat sikap anak kesayangannya. Namun, aku tidak ambil pusing. Aku segera kembali menuju ke formulir pendaftaran masukku. Di kolom kewarganegaraan tersebut aku lingkari WNI Asli dengan mencoret kata ASLI untuk subkolom calon mahasiswa. Sedangkan untuk subkolom orang tua/wali calon mahasiswa aku lingkari WNA. Aku tidak mau terjebak dalam arus kepicikan ini.

Saturday, January 24, 2009

Legenda Batu Rantai

Temasik Dilanda Todak

Alkisah, negeri Temasik diperintah oleh Paduka Seri Maharaja. Ia seorang Raja yang terkenal sangat kejam dan angkuh. Suatu ketika, Raja itu tega menghukum mati seorang ulama yang juga sebagai pedagang dari Pasai bernama Tun Jana Khatib. Sebenarnya, ulama itu tidak bersalah. Ia secara tidak sengaja berpandangan mata dengan permasuri Raja. Namun, sang Raja yang melihat kejadian itu menjadi murka. Tak ada yang bisa mencegahnya untuk menjatuhkan hukuman itu. Sang Raja pun segera memerintahkan pengawal istana untuk menangkap dan menghukum mati sang Ulama.

Namun, sebelum hukuman mati itu dilaksanakan, sang Ulama berpesan kepada penduduk Temasik. "Wahai kalian penduduk Temasik! Ketahuilah! Aku rela dengan kematian ini! Tetapi raja yang zalim itu tak akan lepas begitu saja. Dia akan membayar harga atas kezaliman itu...Dan percayalah di negeri ini akan terjadi huru-hara! Negeri ini akan ditimpa malapetaka yang sangat dahsyat....!!!". Selesai menyampaikan pesan, sang Ulama pun dihukum mati. Dadanya ditusuk sebila keris oleh pengawal istana hingga tersungkur tak berdaya. Sesaat setelah sang Ulama dihukum, terjadilah sebuah peristiwa gaib. Pada saat jenazah sang Ulama dibawa ke pemakaman, tiba-tiba mayatnya menghilang. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba petir menyambar dan menggemparkan negeri Temasik, lalu disusul dentuman suara keras. Penduduk Temasik kemudian berlari menyelamatkan diri dan pergi ke tempat di mana sang Ulama dihukum. Suasana Temasik semakin gempar setelah penduduk menemukan bekas darah sang Ulama di tempat kejadian itu berubah menjadi batu.

Peristiwa gaib itu adalah pertanda akan datangnya malapetaka dahsyat di negeri Temasik. Pada suatu hari, tiba-tiba Temasik diserang beribu-ribu ikan Todak. Gerombolan ikan yang berparuh panjang, runcing, dan tajam itu menyerang penduduk sampai ke pelosok desa di sekitar pantai. Penduduk berlarian menghindari serangan ikan itu. Namun, musibah tak terelakkan lagi, banyak penduduk bergelimpangan secara mengerikan. Tak lama kemudian, peristiwa ini pun sampai di telinga sang Raja. Dengan cepat, sang Raja segera memerintahkan pengawal istana menyediakan seekor gajah tunggangan untuk pergi ke tempat kejadian. Sesampai di pantai, sang Raja menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Sang Raja kemudian memerintahkan pengawal istana dan penduduk agar membuat pagar betis. Namun upaya itu justru membuat ikan Todak tersebut kian mengganas. Hari demi hari, penduduk yang mati dan luka-luka diserang ikan Todak semakin bertambah. Penduduk yang terluka itu, merintih dan mengerang kesakitan siang dan malam.

Meskipun banyak penduduk yang menjadi korban keganasan ikan Todak tersebut, namun tak seorang pun yang berani meninggalkan negeri itu tanpa titah sang Raja. Penduduk tetap berdiri mematuhi titah raja untuk membuat pagar betis. Rintihan penduduk yang menahan sakit tidak dihiraukan sang Raja yang sangat kejam itu. Sang Raja justru diam-diam bermaksud meninggalkan negeri Temasik untuk bersembunyi. Pada saat sang Raja sedang berlari bersembunyi, ia diserang oleh seekor ikan Todak. Ia berusaha menghindar, namun baju sang Raja tersambar paruh ikan Todak. Sang Raja amat cemas dan menggigil ketakutan. “Tolooong...! Tolooong...! Bajuku robek!” jerit sang Raja ketakutan. Tetapi, jeritan tersebut tak ada yang menghiraukan. Tak seorang pun menghampiri sang Raja untuk menolongnya.

Dalam keadaan panik, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki kecil menghampiri sang Raja. “Percuma saja Temasik dipagar betis dengan manusia, sampai habis penduduk Temasik ini, serangan ikan Todak tidak dapat dikalahkan,” kata anak kecil itu mengingatkan. Mendengar suara anak kecil yang datang tiba-tiba itu, sang Raja segera bertanya: “Hei, budak! Siapakah engkau ini, dari mana asalmu hingga beraninya engkau menasihatiku?” tanya sang Raja dengan nada kesal.

Dengan santun, anak kecil itu menjelaskan dirinya: “Ampun, wahai Baginda Raja, hamba bernama Kabil. Hamba datang dari Bintan Penaungan,” jelas Kabil seraya menyembah. “Hamba hidup di pinggir laut, dan hamba mengenal sifat ikan Todak. Ikan Todak tidak dapat dilumpuhkan dengan betis manusia, melainkan dengan batang pisang. Apabila Sang Raja mengizinkan, hamba mohon agar Temasik dipagari dengan batang pisang,” kata Kabil setengah memohon.

“Batang pisang? Untuk Apa?,” tanya sang Raja dengan heran. “Jika kita menggunakan batang pisang sebagai perisai di sepanjang pantai, maka paruh ikan Todak itu akan tertancap pada batang pisang. Pada saat itulah, para penduduk menggunakan kesempatan untuk membunuh ikan-ikan Todak itu,” jelas Kabil pada sang Raja. Tanpa berpikir panjang, sang Raja bertitah kepada panglima dan rakyatnya, “Wahai sekalian panglima dan rakyatku sekalian, angkutlah batang pisang sebanyak-banyaknya, lalu pagari negeri kita ini dengan batang pisang!” Mendengar titah sang Raja, seluruh panglima dan penduduk yang ada di tempat kejadian itu segera mencari batang pisang ke kebun-kebun pisang. Setelah mendapat banyak batang pisang, mereka pun membawanya ke pantai. Tak lama kemudian Temasik berubah menjadi negeri berpagar batang pisang. Ikan-ikan Todak yang sedang mengamuk itu tersangkut di batang pisang, sehingga menggelepar-gelepar tak berdaya. Penduduk pun dengan mudah membunuhnya dan kemudian mengambilnya untuk dimakan dagingnya.

Rakyat negeri Temasik pun bersuka ria, karena terlepas dari malapetaka. Sebagai tanda berakhirnya kesedihan itu, maka dibuatlah pantun ikan Todak:

Temasik dilanggar Todak
Todak melanggar batang pisang
Orang tua berperangai budak
Seperti aur ditarik sungsang

Namun, di tengah suasana gembira tersebut, para pembesar istana justru berpikir lain. Mereka menjadi cemas dan takut kalau anak kecil itu akan merampas negeri Temasik. Merasa terancam, para pembesar istana menghadap sang Raja. “Ampun, Baginda Raja! Jika si Kabil tidak kita singkirkan , tidak mustahil suatu hari anak itu akan menguasai kita dan akan merampas negeri Temasik ini,” kata salah satu pembesar istana mempengaruhi. “Benar Baginda, selagi kecil dia sudah pintar, hingga sanggup mengalahkan ikan Todak, apalagi sudah besar kelak,” tambah pembesar istana yang lainnya. “Aku setuju, tapi kalian harus ingat, si Kabil ini anak pintar. Jika kita tidak membuanganya jauh-jauh, dia pasti akan kembali lagi ke negeri ini. Maka sebaiknya masukkan saja anak itu ke dalam kurungan baja, lilitkan dengan rantai besi, lalu tenggelamkan di tengah laut,” titah sang Raja kepada pembesar istana tersebut.

Keesokan harinya, Kabil pun ditangkap, kemudian dimasukkan ke dalam kurungan baja, dikunci dan diikat dengan rantai besi, lalu dinaikan ke atas perahu. Dengan dikawal sang Raja dan beberapa pengawal istana, berangkatlah mereka ke perairan Pulau Segantang Lada, tempat dimana Kabil akan ditenggelamkan. Tak berapa lama, mereka pun sampai di tempat tujuan. “Ampun Baginda Raja! Kita sudah sampai di Perairan Pulau Segantang Lada!” lapor seorang pengawal kepada Raja. “Tenggelamkan anak kecil itu!” perintah sang Raja. Namun, sebelum ditenggelamkan, Kabil bertanya kepada sang Raja. “Beginikah balasan Baginda Raja kepada hamba? Tidakkah ada jalan lain yang lebih baik untuk menghindari kematian ini? “Baginda Raja.....hamba belum rela mati muda,” ratap Kabil dari dalam kurungan.

Sang Raja tidak bergeming mendengar ratapan Kabil. Diperintahnya pengawal istana untuk segera menenggelamkan kurungan yang berisi Kabil itu. “Byuuurr....byuuurr....byuuur....” terdengar bunyi suara air ketika kurungan diceburkan ke dalam laut di karang Kepala Sambu. Tak lama kemudian, Kabil pun mati dalam keadaan yang mengenaskan, setelah ia baru saja berjasa menyelamatkan nyawa penduduk negeri Temasik.

Sejak peristiwa mengenaskan itu, sampai saat ini, suara pusar arus mendesah, “Byuuurr ... sssh ... byuuur ....”, seolah menyimpan perasaan sedih yang menyayat. Ombak yang bertemu arus pasang sangatlah ganas, seperti orang yang meronta-ronta. Oleh karena itu, para pelaut dan nahkoda kapal yang melintasi gugusan pulau tersebut selalu menghindari karang berbahaya di perairan Sambu ini untuk menjaga keselamatan penumpangnya. Peninggalan Legenda Batu Rantai ini berada di antara gugusan Pulau Sambu dan Batam, di perairan Riau, Indonesia.

------
Berdasarkan catatan sejarah, negara Singapura dulunya bernama negeri Temasik. Istilah “Temasik” ini diambil dari bahasa Jawa Kuna tumasik yang berarti menyerupai laut, sedangkan dalam bahasa Melayu berarti hutan rawa. Negeri ini dinamakan Temasik karena berada di tepi laut yang dihuni oleh nelayan Bumiputera (suku-bangsa Melayu). Menurut sebuah legenda, pada awalnya nelayan Bumiputra hidup tenteram, damai, dan makmur. Namun, sejak diperintah oleh seorang raja yang sangat kejam dan angkuh, maka rakyat Bumiputera menjadi resah dan menderita. Karena kekejaman dan keangkuhan raja itu pulalah, negeri Temasik dilanda malapetaka yang sangat dahsyat. Suatu hari, negeri Temasik diserang oleh ikan Todak yang sangat ganas, sehingga menyebabkan jatuhnya banyak korban dari nelayan Bumiputra yang hidup di tepi laut. Kemudian negeri Temasik ini diselamatkan oleh seorang anak kecil bernama si Kabil. Legenda ini masih berkembang di kalangan masyarakat Singapura yang dikenal dengan Legenda Batu Rantai: Temasik Dilanda Todak.


Friday, January 23, 2009

Mengenal Ali Audah

ALI AUDAH, SASTRAWAN YANG TIDAK "MAKAN SEKOLAHAN"
(Arsip majalah Berita Buku, Januari 1996).


Oleh Budiman S. Hartoyo


Ia belajar membaca dan menulis dengan mencoret-coret di tanah dari teman sepermainan. "Membolos" terus sampai di hari tuanya, ia sangat keras mendidik diri sendiri. Ia "mengunyah" buku apa saja, sampai mampu menguasai beberapa bahasa asing. Akhirnya tampil sebagai sastrawan, kolomnis dan penerjemah andal. Contoh baik tentang pendidikan lewat buku yang sangat berhasil.


ANDA niscaya akan membelalakkan mata, berdecak kagum dan menggeleng-gelengkan kepala mengetahui bahwa lelaki yang namanya terkenal sebagai sastrawan, intelektual dan penerjemah andal ini ternyata tidak tamat madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar. Ia bahkan pernah menjadi ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan pembantu rektor sebuah perguruan tinggi. Kini bahkan masih aktif sebagai dosen. Dulu, di madrasah ia begitu badung sehingga sempat dikerangkeng oleh gurunya. Maka sejak lepas dari hukuman itu, ia tidak pernah lagi "makan sekolahan" -- sampai di hari tuanya.


Pada tahun 1930-an, pada zaman kolonial Belanda itu, ia hanya sempat belajar huruf Latin dari kawan-kawan sepermainan. "Saya belajar membaca dan menulis dengan mencoret-coret huruf di tanah sambil main gundu," tuturnya. Selebihnya, ia bermain layang-layang atau mandi di kali seperti layaknya anak-anak bengal. Tapi, kemauan belajarnya keras. Ia belajar sendiri, "mengunyah" buku apa saja. Meski lahir dari keluarga berdarah Arab, untuk dapat menguasai Bahasa Arab yang baik, di zaman Jepang ia merasa perlu mengambil kursus tertulis Soember Pengetahoean, Bandung.

Ia adalah Ali Audah, yang 15 Juli lalu (1995) genap berusia 71 tahun. Niscaya tak seorang pun peminat sastra Indonesia modern yang tak mengenal namanya, baik sebagai sastrawan, maupun penerjemah. Karya terjemahan unggulannya yang belum lama ini terbit ialah Abu Bakar as-Siddiq, Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi – alihbahasa dari karya wartawan dan sastrawan Mesir terkenal, Dr. Muhammad Husain Haekal (Litera AntarNusa, Bogor-Jakarta, 1995, 391 halaman).


Sebelumnya, ia meluncurkan buku Qur’an, Terjemahan dan Tafsirnya karya mufasir terkenal, Abdullah Yusuf Ali, dua jilid (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993, masing-masing 750 halaman) hasil terjemahannya. Salah satu karya masterpiece-nya ialah Konkordansi Qur’an, Panduan Kata dalam Mencari Ayat Qur’an (Litera AntarNusa, Bogor-Jakarta, 1991, 861 halaman). Ide menyusun konkordansi itu muncul ketika beberapa dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) mengeluh sangat sulit mancari ayat Al-Quran karena mereka kurang mengenal Bahasa Arab. Konkordansi Ali Audah ini memang sangat memudahkan bagi orang awam sekalipun untuk mencari ayat Al-Quran.


Dari tangannya juga telah lahir karya terjemahan yang mendapat pujian banyak kalangan, dan juga laku di pasaran buku, yaitu Sejarah Hidup Muhammad, juga karya Muhammad Husain Haikal (Litera AntarNusa, Bogor-Jakarta, 1992, 697 halaman). Pertama kali terbit pada 1992, buku itu sudah dicetak ulang sampai 15 kali. Pada 1995 ini mungkin sudah dicetak ulang lagi beberapa kali.


Sebagai sastrawan (dan intelektual) Ali Audah tidak pernah menerima pesanan untuk menerjemahkan sembarang buku. "Saya hanya menerjemahkan karya-karya besar yang saya nilai bermutu dan bermanfaat," katanya. Pengarang dan penerjemah jenis begini lazimnya memang sama sekali tidak memperhitungkan apakah kelak bukunya laku dan menghasilkan untung. Ia semata-mata hanya memikirkan mutu sebuah karya. Ali Audah, misalnya, menerjemahkan novel Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir pertama penerima Hadiah Nobel, yang diterjemahkan dengan judul Lorong Midaq (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991, 421 halaman), biarpun pembelinya mungkin hanya segelintir peminat sastra saja.


Tokoh kita ini berpembawaan tenang dan pendiam. Sifat itu pula agaknya yang berpengaruh atas perjalanan karirnya sebagai sastrawan. Sebagaimana terungkap dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (Pustaka Grafiti, Jakarta), ia berhasil mengangkat namanya di gelanggang sastra tidak dengan cara yang meletup-letup, sementara popularitasnya juga ajeg. Itu tak berarti tak ada frustrasi dalam diri tokoh novelnya, Jalan Terbuka.


Bahkan ada kritikus sastra yang cenderung menggolongkan novel tersebut – juga novel-novel Indonesia lainnya yang terbit antara tahun 1950-1966, seperti Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis dan Royan Revolusi karya Ramadhan KH – sebagai cerminan rasa frustrasi kaum intelektual terhadap kehidupan sosial dan politik. Itu artinya, Ali Audah, si anak yang hanya kelas I SD – tapi "membanting otak" untuk belajar sendiri dengan sangat keras itu – belakangan mampu mempersoalkan problem kejiwaan kaum intelektual Indonesia.


Bayangkan, betapa keras Ali Audah mendidik diri sendiri sepanjang umurnya. Biarpun ia "membolos" sampai di hari tuanya, ia mampu menguasai berbagai bahasa asing dengan baik: Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda. Bukan hanya bercakap-cakap, membaca dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, tapi juga menguasai seluk-beluk tata bahasanya, terutama Bahasa Arab dan Inggris. Ia sering bertandang ke Singapura, Malaysia, beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa, untuk menghadiri konperensi atau seminar kebudayaan.


Tentu saja ia harus menulis makalah dalam bahasa asing. Biasanya dalam Bahasa Arab atau Inggris. Kalau kini ia merupakan seorang dari sangat sedikit penerjemah yang andal, bisa dipahami betapa baiknya ia menguasai bahasa asing. Tentu saja ia juga menguasai Bahasa Indonesia. Bukan hanya lantaran ia orang Indonesia, lebih dari itu ia juga menguasai tata bahasa dan seluk beluknya. Ia dikenal sebagai penulis kolom yang baik dan sastrawan yang kreatif, dengan Bahasa Indonesia yang terpelihara.


Sejak mampu membaca dan menulis di usia SD, Ali Audah kecil rupanya penasaran. Ia belajar sendiri dengan "mengunyah" apa saja. "Saya baca apa saja, mulai dari kertas koran pembungkus kue atau gula pasir, sampai majalah bekas dan buku-buku pelajaran atau bacaan anak-anak sekolah kawan sepermainan," tuturnya. Ia sendiri sudah lupa mengapa tertarik pada sastra. Tapi, yang pertama kali ia baca antara lain karya pengarang Merajoe Soekma dari Banjarmasin. Di usia remaja, di Bondowoso, Jawa Timur, mula-mula ia gemar melukis. Belakangan menulis puisi dan naskah drama.


Pada tahun 1940-an, ia mendapat hadiah pertama dan kedua dalam lomba menulis puisi dan drama se Jawa Timur. Dan untuk pertama kali, puisinya dimuat di majalah Sastrawan, Malang, di awal revolusi. Karena tertarik pada karya-karya pengarang Muhammad Dimjati, ia pun berusaha mencari dan berkenalan dengan wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal di tahun 1950-an itu di Solo. "Saya banyak belajar dan mendapat dorongan semangat dari Pak Dim yang tinggal di sebuah rumah sederhana di perkampungan batik di Laweyan," tuturnya lagi. Ia pun lantas menetap di Solo.


Barangkali lantaran mendambakan suasana tenang dan sejuk untuk menulis, maka di awal 1950-an ia pindah ke Bogor. Dan memang, bahkan sampai sekarang pun, Ali Audah hanya hidup dari menulis, dan "berkantor" di rumahnya. Sejak itu dari tangannya meluncur sejumlah karya berupa cerita pendek, esai, kritik sastra, beberapa artikel mengenai berbagai masalah kebudayaan dan kesenian. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra dan buku-buku agama karya para sastrawan dan penulis terkenal.


Selain itu, ia juga menulis artikel atau kolom mengenai berbagai hal – terutama mengenai kebudayaan dan agama – di berbagai harian seperti Pedoman, Abadi, Indonesia Raya, Kompas, Sinar Harapan, dan beberapa majalah seperti Kiblat, Gema Islam, Panji Masyarakat, Optimis, TEMPO. Sebelumnya, ia pernah menjadi penulis tetap di Harian KAMI (1966-1973). Karya-karya sastranya, berupa cerita pendek, esai, maupun karya terjemahan, dimuat di beberapa majalah sastra dan budaya terkemuka, seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Zenith, Indonesia, Kisah, Cerita, Sastra, Budaya Jaya, Horison.


Karya sastra aslinya, antara lain, Malam Bimbang (Nusantara, Medan, 1961) dan Icih (Pustaka Jaya, Jakarta, 1972), keduanya kumpulan cerpen; serta novel Jalan Terbuka (Litera, Jakarta, 1971). Buku lainnya, Ibn Khaldun, Sebuah Pengantar (studi biografi); Konkordansi Qur’an (referensi, 1991). Beberapa karya terjemahan, antara lain, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karya Muhammad Allamah Iqbal (bersama Taufiq Ismail dan Goenawan Mohamad); Dua Tokoh, Abu Bakar dan Umar; serta Hari-hari Berlalu, keduanya karya sastrawan Mesir, Thaha Husain. Selain itu juga Lampu Minyak Abu Hasyim karangan Yahya Haqqi, juga sastrawan Mesir terkenal.


Ia juga menerjemahkan kumpulan cerpen pengarang Arab modern, Kleopatra dalam Konperensi Perdamaian (Mahmud Taymur) dan Genta Daerah Wadi (1967); karya sastrawan Mesir seperti Suasana Bergema (kumpulan cerpen pengarang Mesir A. Hamid G. As-Sahar, Balai Pustaka, 1957); Kisah-kisah dari Mesir (1977); Murka (drama, Mustafa Hallaj); Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Hussein Heikal) dan Lorong Midaq (Najib Mahfuz). Karya sastrawan Aljazair, misalnya, Peluru dan Asap (Alma’arif, Bandung, 1972); Jembatan Gantung (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1980). Selain itu juga Oedipus dan Theseus, keduanya karya Andre Gide; Marie Antoinette (Stefan Zweig).


Adalah sastrawan dan sutradara Asrul Sani yang mula pertama menganjurkannya menerjemahkan karya-karya sastra Timur Tengah. Ketika itu Ali Audah tengah menerjemahkan karya sastrawan Rusia, Leo Tolstoy. "Menurut Asrul, saya lebih menguasai Bahasa Arab," katanya. Maka ketika di tahun 1960-an sastrawan Pramoedya Ananta Toer menuduh novel Tenggelamnya Kapan v/d Wijck karya Hamka sebagai jiplakan roman Majdulin karya sastrawan Mesir Luthfi al-Manfaluthi, ia menanggapi persoalan tersebut, kemudian menerbitkan terjemahan Majdulin.


Ali Audah dan sastra Arab seperti pertemuan jodoh. Setelah mendengar anjuran Asrul itu ia lantas berpikir: penerjemah sastra Barat sudah banyak, yang belum ada ialah penerjemah sastra Arab. Kalaupun ada, mereka lazimnya menerjemahkan buku-buku agama, bukan karya sastra. Ia lantas memutuskan untuk mengkhususkan diri sebagai penerjemah karya sastra Arab. Suatu hari ketika ia ke toko kitab Salim Nabhan di Surabaya, ditemukannya seabrek buku sastra yang berdebu, tidak laku. "Dan ternyata nilai sastranya tinggi. Lalu saya borong, kebetulan buku-buku itu dijual dengan harga murah, karena sudah lama numpuk tidak laku," katanya lagi sambil tertawa.


Bukan hanya menulis, Ali Audah juga aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia intelektual, kebudayaan dan perbukuan. Ia, misalnya, pernah menjadi Direktur Utama Penerbit Tintamas, Jakarta (1961-1978), anggota Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra bergengsi Horison (1968-1993), ikut serta menggagas penerbitan majalah sastra Horison dan menjadi anggota dewan redaksi, Dekan Fakultas Syari’ah (1966-1977) kemudian Pembantu Rektor II (1971-1982), lalu Pembantu Rektor I (1982-1985) Universitas Ibn Khaldun, Bogor.


Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1971-1980), tenaga pengajar Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kemudian bernama Institut Kesenian Jakarta (1971-1980), ketua Perhimpunan Penerjemah Indonesia (1974-1984), wakil ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (1978-1984), anggota Badan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional Departemen P dan K (1978-1985), tenaga pengajar di Institut Pertanian Bogor (sejak 1978), wakil ketua Yayasan Amal Mulia (sejak 1984).


Berkat karya-karyanya, ia sering diminta menjadi konsultan penulisan skripsi para mahasiswa Jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia (Jakarta) dan Universitas Padjadjaran (Bandung). Ia juga sering diundang berceramah dan mengikuti seminar mengenai penerjemahan Bahasa Arab. Sehari-hari ia "berkantor" di rumah. Kecuali menghadiri seminar atau diskusi di dalam atau luar negeri, atau mengajar, ia menghabiskan waktunya di rumah. Usai shalat Shubuh ia mendengarkan warta berita dari radio, kemudian berolah raga jalan kaki selama satu-dua jam, lalu pulang untuk sarapan pagi, mandi.


Sekitar pukul 09:00 ia mulai "bekerja", yaitu membaca atau menulis di ruang kerjanya di lantai atas, sampai pukul 21:00 WIB. Berbagai ensiklopaedi dan kamus berderet di beberapa rak di kamar kerjanya. Koleksi buku di perpustakaan pribadinya cukup lengkap. Tentu diseling istrirahat, baca koran atau majalah, makan, shalat, tidur siang dan bercengkerama dengan sang isteri. Kini Ali Audah tengah merevisi transliterasi karya terjemahannya, Sejarah Hidup Muhammad. Ia juga merevisi dua karya aslinya, Malam Bimbang dan Jalan Terbuka.


Berikut wawancara Berita Buku dengan Ali Audah di rumahnya, Kompleks Perumahan Bogor Baru yang sejuk, tenang dan nyaman.


Bagaimana sesungguhnya terjemahan yang bagus?


Terjemahan yang bagus ialah yang tidak verbatim atau harfiah, tapi juga tidak parafrase atau terlalu bebas. Tengah-tengahlah, sehingga kita tahu bahwa ini terjemahan, dan tanpa mengurangi gaya asli pengarang. Malah gaya asli si pengarang bisa kita ambil. Orang yang tidak tahu mengira, bahwa "gaya" ini harfiah. Tidak. Jadi, terjemahan yang baik itu begitu. Terjemahan yang verbatim atau harfiah, jelas tidak bagus. Kita sering baca terjemahan seperti itu, tapi nggak ngerti apa maksudnya. Sedang terjemahan yang parafrase, kadang-kadang dilakukan karena si penerjemah tidak bisa menangkap pikiran si pengarang, tidak bisa menangkap bahasanya, kemudian dia tulis pikiran dia sendiri.


Kalau terjemahan itu kita cocokkan dengan aslinya, tidak bisa dilacak. Penerjemah itu bikin kalimat sendiri, paragraf sendiri, dan seterusnya. Ini sangat berbahaya, karena konsep, pikiran dan gaya – bahkan nuansa pikiran pengarang – tidak bisa ditangkap dan diungkapkan. Dalam terjemahan seperti ini, mungkin si penerjemah tidak bisa menangkap bahasa atau pikiran si pengarang. Kalau penerjemah mengalami kesulitan dan tidak bisa mengatasi, ia harus menyertakan catatan kaki, misalnya begini, "Kalimat atau alinea yang ini sulit diterjemahkan, dan inilah terjemahan yang paling mendekati."


Seorang penerjemah tidak bisa menerjemahkan karya ilmiah atau agama hanya dengan mengandalkan ensiklopaedi atau kamus. Ia juga harus menggunakan buku-buku referensi. Kalau tidak, saya khawatir terjemahan itu meleset. Untuk menerjemahkan buku sejarah, dia harus membaca pula buku sejarah karya pengarang lain. Kalau menerjemahkan buku biografi, ia harus membaca biografi lain. Dia tidak bisa ingin cepat-cepat selesai menerjemahkan hingga terburu-buru. Sedang untuk menerjemahkan novel, harus dilihat pula latar belakang budayanya.


Bagaimana komentar Anda mengenai terjemahan buku-buku agama yang kebanyakan terlalu harfiah?


Sekarang ini sudah mulai banyak terjemahan buku-buku agama dari Bahasa Arab yang lebih maju. Sudah umayan bagus dibanding terjemahan di tahun-tahun 1940 atau 1950-an dulu. Dulu, mungkin para penerjemah sangat berhati-hati karena masalah agama dianggapnya sangat sakral, sehingga terjemahannya harfiah sekali. Mereka mengikuti saja gaya atau ungkapan Bahasa Arab. Kalimat Bahasa Arab itu kan mula-mula dinafikan atau negatif, baru kemudian anak kalimatnya positif. Nah, penerjemah mengikuti saja hingga terjemahannya terasa aneh.


Sekarang sudah banyak terjemahan yang agak baik. Cuma masih ada yang saya sesalkan, misalnya, masih ada penerjemah yang melompati kalimat atau alinea tertentu. Entah sengaja atau tidak, tapi kadang-kadang kalau ada kalimat yang sukar lalu dilompati atau ditinggalkan begitu saja. Saya tidak ingat buku apa, tapi ada. Saya tidak tahu apa sebabnya. Kalau ada kesulitan seperti ini, mestinya penerjemah memberi pengantar atau catatan kaki. Ini bukan kritik, hanya sekedar perbandingan saja.


Jadi karya terjemahan sebenarnya bukan hanya karya "kelas dua"?


Ya, karya terjemahan yang baik sesungguhnya juga sebuah karya kreatif, tidak kurang berharganya dibanding karya asli. Sekarang ini ada bermacam-macam persepsi di masyarakat terhadap karya terjemahan. Ada yang menyukai karya terjemahan yang baik, ada pula yang arogan tidak mau membaca karya terjemahan. Mereka lebih bangga membaca karya asli. Ada pula orang yang mau membaca karya terjemahan, tapi kalau menulis dan menyebutnya sebagai referensi – untuk catatan kaki atau bibliografi, misalnya – ia menyebutkan karya aslinya. Padahal yang ia baca terjemahannya...


Saya sendiri dalam menulis artikel, misalnya, kalau memang perlu menyebut sebuah buku sebagai sumber referensi, dan kebetulan sudah ada terjemahannya, saya sebut saja karya terjemahan itu sebagai sumber. Tidak usah lagi kita baca aslinya, apalagi kalau terjemahannya memang bagus. Kan sama saja, cuma lain bahasa. Kecuali kalau memang ada yang kurang jelas, biasanya lalu saya cek ke karya aslinya. Itu pun kalau kebetulan saya punya aslinya. Tapi kalau tidak, cukup terjemahannya. Sebab, terjemahan itu sesungguhnya juga merupakan sebuah karya tersendiri.


Jadi, terjemahan itu tidak bisa dibilang sebagai karya "kelas dua" setelah karya asli. Sebab, kadang-kadang malah bisa jadi karya terjemahan lebih dikenal orang ketimbang karya aslinya. Seperti di Mesir, misalnya, masyarakat di sana lebih mengenal Habib Ibrahim sebagai "pengarang" Al-Buasa. Padahal itu terjemahan dari Les Miserables (1826) karya pengarang Prancis terkenal, Victor Hugo (1802 – 1885). Begitu terkenalnya Habib Ibrahim di Mesir sebagai "pengarang" Al-Buasa, hingga orang di sana tidak mengenal siapa itu Victor Hugo....


Bagaimana kegiatan terjemahan di Indonesia dibanding negeri lain?


Di negeri maju terjemahan itu sangat penting. Itu sebabnya Almarhum Soetan Takdir Alisjahbana tak jemu-jemunya menganjurkan "pengambil-alihan" ilmu pengetahuan melalui terjemahan berbagai buku ilmu pengetahuan. Bahkan beliau mengidam-idamkan penerjemahan Ensiclopaedia Britannica. Menurut majalah Pasific Friends, Jepang merupakan "kerajaan terjemahan", traslation empire. Hampir semua buku yang terbit di dunia, bahkan belum beredar, sudah diterjemahkan di Jepang. Yang mereka terjemahkan buku-buku mengenai berbagai ilmu pengetahuan, dalam disiplin ilmu apa saja.


Pentingnya terjemahan bahkan sudah terbukti ketika peradaban Islam menjadi jembatan bagi masyarakat Barat untuk mengenal peradaban Yunani melalui terjemahan buku-buku filsafat, sastra dan kedokteran. Itu terjadi kira-kira di abad ke-11 atau 12 Masehi, atau abad ke-5 atau ke-6 Hijri. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut laporan Unesco (1970), Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah, di atas Kamboja atau Vietnam. Nomor satu adalah Jerman, yang di tahun 1970 dalam setahun menerbitkan 5.000 buku, sementara Indonesia cuma 200-an. Untuk Asia, Jepang berada di peringkat paling atas.


Bagaimana agar peringkat Indonesia naik?


Bagaimana bisa menaikkan peringkat, kalau honorarium untuk karya terjemahan masih terlalu kecil? Karena ya itu tadi, ada anggapan bahwa karya terjemahan itu "kelas dua" setelah karya asli. Kadang-kadang naskah dibeli begitu saja, misalnya Rp 3.000 per halaman. Sebaiknya jangan dibayar dengan cara seperti itu, tapi dengan membayar royalti seperti halnya membayar pengarang yang menulis karya asli. Kalau pun dibayar dengan royalti, di sini juga masih dibedakan antara karya asli dan terjemahan. Jumlahnya pun kurang dari separo dari karya asli. Karena itu semangat menerjemahkan sangat rendah. Itu pertama.


Kedua, penguasaan bahasa asing di kalangan para pengarang kita juga sangat kurang. Mungkin mereka lancar ketika berbicara, tapi begitu menerjemahkan mereka kurang mampu. Padahal mereka itu rata-rata para sarjana yang boleh dibilang berbobot. Apalagi kalau terjemahan itu harus memenuhi persyaratan seperti yang saya uraikan tadi. Sebaiknya terjemahan itu dari tangan pertama, dari bahasa aslinya. Menerjemahkan tidak cukup hanya dengan kamus, bahkan tidak cukup hanya dengan satu kamus. Sebenarnya siapa pun bisa menerjemahkan. Saya tidak setuju dengan pendapat bahwa untuk menerjemahkan diperlukan bakat. Tidak. Menerjemahkan bisa dilakukan dengan latihan.


Buku-buku berbahasa Arab sebenarnya masih banyak yang sangat perlu diterjemahkan. Ada berpuluh-puluh. Tapi, saya sudah tidak mampu menanganinya, sementara untuk mencari penerjemah yang baik sangat susah. Selama ini ada penerjemah, tapi hanya melayani selera penerbit, atau menerjemahkan buku-buku agama saja. Mestinya sastrawan seperti Muhammad Fudholi (yang pernah kuliah di Mesir) bisa mengerjakannya. Tapi mana? Untung ada pendatang baru, Salman Harun dari IAIN Jakarta, yang pernah menerjemahkan kumpulan cerpen.


Untuk mengatasi hal itu, saya kira beberapa mahasiswa atau dosen Bahasa Arab di Institut Agama Islam Negeri (kini Universitas Islam Negeri), misalnya, bisa membentuk sebuah tim yang khusus menangani penerjemahan buku-buku dari Bahasa Arab. Bukan buku mengenai agama saja, tapi dari berbagai disiplin ilmu. Di lain pihak saya mengimbau kepada para penerjemah, jika mereka menerjemahkan hendaknya membiasakan diri meminta izin kepada penerbit atau pemegang hak ciptanya. Saya menduga sekitar 95% dari buku-buku yang diterjemahkan, terutama buku-buku agama, dilakukan tanpa minta izin.


Ada suka-duka sebagai penerjemah?


Dalam hal meminta izin, ada cerita menarik. Ada sebuah buku mengenai asal-usul Kitab Injil dalam Bahasa Inggris akan diterjemahkan. Meskipun bukan yang menerjemahkan, saya diminta tolong untuk memintakan izin. Maka saya tulislah surat ke penerbitnya di Inggris. Beberapa hari kemudian datanglah surat balasan yang menyebutkan bahwa pemegang hak ciptanya ialah seorang pengarang keturunan Arab-Libanon, beragama Kristen. Lalu saya mengirim surat kepadanya dengan alamat di Yordania. Tapi, ternyata ia tinggal di Jerman. Setelah ketemu dan ada persetujuan, langsung kedua belah pihak menekan surat kontrak, dan dia minta royalti sekian Deutche Mark.


Tapi, para pengarang Arab rata-rata baik, tidak minta bayaran, hanya berpesan agar terjemahannya amanah, jujur. Saya pernah berhubungan dengan pengarang yang tinggal di Madinah, Riyadh, atau Kairo. Mereka tidak minta royalti tapi berpesan agar terjemahannya amanah. Kalaupun mereka minta, itu wajar. Dan biasanya tidak terlalu banyak. Tapi, jika kita sudah mengirim surat minta izin dan dua tiga kali tidak dibalas, itu lain soal. Kita bisa menerbitkannya tanpa izin -- itu tidak apa-apa. Yang penting sudah ada usaha meminta izin kepada pemegang hak cipta.


Dalam hal ini saya berpegang pada ketentuan Unesco. Yaitu, kalau ada buku yang sangat penting untuk diterjemahkan, sementara untuk mendapatkan izin dari pemegang hak cipta sangat sulit, buku itu boleh diterjemahkan tapi harus melaporkannya kepada Unesco – yang nanti akan mengurus izinnya. Tapi kalau saya menganjurkan-anjurkan kepada para penerbit agar meminta izin, mereka malah protes. Alasannya, kita masih negara berkembanglah, nanti kita rugilah, ya macam-macamlah. Jadi saya pikir, mereka ini berpikir materialistis, kapitalistis.


Suka duka dalam menerjemahkan tentu ada. Kadang-kadang untuk menerjemahkan satu kata atau satu kalimat – supaya tepat dan pas betul – bisa makan waktu sapai satu-dua jam. Saya harus mencari, mencocokkan dan membandingkannya di berbagai kamus, ensiklopedi, atau buku-buku referensi lain. Kalau masih buntu juga, biasanya saya tinggalkan dulu, lalu saya membaca buku lain. Hal ini bisa kita maklumi, sebab para pengarang Arab modern tidak mau menggunakan bahasa asing. Mereka tetap menggunakan Bahasa Arab, biarpun untuk istilah-istilah teknologi.


Omong-omong, perkembangan sastra Indonesia kok lesu, kenapa?


Yah, pertama-tama karena minat baca di masyarakat kita, terutama untuk membaca buku-buku sastra, sangat kurang. Kedua, saya kira karena para penerbit tidak berani mengambil risiko rugi untuk menerbitkan buku-buku sastra. Di tahun 1950-an memang banyak buku sastra yang terbit, tapi untuk ukuran waktu itu. Untuk ukuran sekarang, mestinya lebih "ramai" lagi dibanding di tahun 1950-an. Karena jumlah penduduk sudah jauh berpipat-ganda; yang buta huruf pun sudah jauh berkurang. Jadi, produksi buku sastra mestinya 20-30 kali lipat.


Tapi, memang para pengarang kita kurang produktif. Paling-paling yang masih menulis Umar Kayam, Putu Wijaya. Sekarang ini tampaknya lebih banyak para pengarang sastra koran atau majalah. Mereka rata-rata menginginkan agar karangannya cepat terbit dan mendapat uang, tidak sabar menunggu bukunya diterbitkan, lalu menulis cerita bersambung di koran. Dulu ada nama-nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Iwan Simatupang, Achdiat Kartamihardja, lalu di bawahnya ada Ajip Rosidi, dan sebagainya.


Dulu muncul karya-karya besar seperti Atheis-nya Achdiat, atau Keluarga Gerilya-nya Pramoedya. Sekarang memang ada beberapa, misalnya, Para Priyayi-nya Umar Kayam atau Harimau-Harimau-nya Mochtar Lubis. Tapi, sekarang hampir tak ada karya sastra yang memecahkan problem masyarakat, yang tidak peduli diterbitkan atau tidak, namanya mau terkenal atau tidak. Para pengarang dulu sangat serius, kontemplatif, memecahkan masalah masyarakat sebagai tanggung-jawab. Dari pengarang begini akan lahir karya besar dan abadi. Novel Gone with the Wind, misalnya, masih dibaca orang sampai sekarang.


Seperti dunia kepenyairan kita sekarang, mereka ramai-ramai membaca puisi di panggung, padahal puisinya jelek. Penyair itu kan yang penting menulis puisi, dan puisinya bagus, bermutu. Kalau yang membaca puisi memang aktor seperti Rendra, saya masih bisa menikmatinya. Tapi, kalau yang membaca puisi Sapardi Djoko Damono, apalagi Goenawan Mohamad, -- meskipun puisi-puisi mereka sangat bagus – saya sama sekali tidak bisa menikmatinya. Karena mereka memang bukan aktor seperti Rendra. Apalagi penyair lain yang puisinya tidak bermutu, dan mereka bukan aktor pula.


Bagaimana dengan terjemahan buku-buku cerita populer yang sekarang banyak diterbitkan?


Itu merupakan sumbangan baik untuk menambah jumlah buku cerita, tapi bukan sumbangan bagi kekayaan khazanah sastra. Saya membaca satu-dua, tapi tidak tertarik. Terjemahannya maupun isinya. Begitu pula novel-novel pop karya Marga T, Maria W. Sardjono, La Rose, V. Lestari, menurut saya bukan karya sastra tapi novel pop. Ceritanya menarik, tapi tidak bernilai sastra, meskipun penyajian bukunya terkesan mewah. Anehnya, ada sastrawan yang memuji karya seperti itu. Misalnya dalam seminar sastra di Medan beberapa waktu lalu. Novel Ahmad Tohari atau Ashadi Siregar menurut saya lebih bagus.


Buku apa yang paling menarik minat Anda?


Buku-buku sastra, sejarah dan referensi. Untuk belanja buku, setiap bulan jumlahnya tidak bisa ditentukan. Bulan kemarin, misalnya, saya belanja buku sampai Rp200.000. Orang di rumah tentu saja mengeluh, "Kalau mau beli baju mesti berdebat dulu, tapi kalau beli buku nggak bilang-bilang." Waktu kecil dulu saya pernah dikasih uang oleh orangtua saya untuk membeli baju, karena baju saya sudah kumal dan sobek di sana-sini. Tapi, sampai di pasar saya malah membeli buku, tidak membeli baju....

Monday, January 19, 2009

Legenda Batu Batangkup

Batu Batangkup


Dahulu kala, di sebuah dusun di Indragiri Hilir, Riau, hiduplah seorang janda tua yang bernama Mak Minah. Ia hidup bersama ketiga anaknya. Anak pertama dan keduanya laki-laki, bernama Utuh dan Ucin. Sementara anak ketiganya seorang perempuan, bernama Diang.

Sejak ditinggal mati suaminya, Mak Minah-lah yang bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Meskipun sudah tua, Mak Minah masih bersemangat dan tekun bekerja. Setiap pagi, ia sudah bangun memasak dan mencuci. Setelah pekerjaan rumah beres, Mak Minah segera berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Hasil penjualannya itulah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhannya dan ketiga anaknya.

Ketiga anak Mak Minah masih kanak-kanak. Mereka sangat nakal dan pemalas. Sehari-hari mereka hanya bermain. Mereka tidak pernah membantu emaknya yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Mereka tidak merasa iba melihat emaknya setiap hari bekerja keras membanting tulang sendirian untuk menghidupi mereka. Bahkan, mereka sering membantah nasihat emaknya hingga membuat Mak Minah bersedih.

Pada suatu sore, ketiga anak Mak Minah sedang asyik bermain tidak jauh dari rumah mereka.

“Utuh, Ucin, Diang… !” teriak Mak Minah memanggil ketiga anaknya.

Meskipun mereka telah mendengar panggilan emaknya, ketiga anak itu diam saja.

”Anak-anakku, Pulanglah! Hari sudah sore,” lanjut Mak Minah

Ketiga anak itu masih asyik bermain tanpa menghiraukan seruan emaknya. Tak lama kemudian, Mak Minah kembali memanggil mereka.

“Utuh, Ucin, Diang…! Pulanglah! Hari sudah gelap.

Hari ini Emak kurang enak badan. Masaklah untuk makan malam!” seru Mak Minah. Usai berseru kepada ketiga anaknya, Mak Minah kembali merebahkan tubuhnya yang lemas ke pembaringan. Setelah menunggu beberapa saat, ketiga anaknya tetap saja asyik bermain. Mereka tidak menghiraukan panggilan Mak Minah. Beberapa saat menunggu, ketiga anaknya tidak mau berhenti bermain.

Akhirnya, Mak Minah pergi ke dapur untuk memasak, meskipun badannya sangat lemas. Tak berapa lama, makanan sudah siap. Mak Minah kembali memanggil ketiga anaknya.

“Utuh, Ucin, Diang… ! Pulanglah, Nak! Makan malam kalian sudah Emak siapkan.”

Setelah mendengar makan malam mereka siap, baru mereka beranjak dan berhenti bermain. Lalu, ketiga anak tersebut, langsung menuju ke dapur menyantap makanan yang sudah disiapkan emaknya. Dengan lahapnya, mereka menghabiskan semua makanan itu tanpa menyisakan sedikitpun untuk emaknya. Usai mereka makan, bukannya membantu emaknya mencuci piring, malah mereka kembali bermain.

Malam pun semakin larut. Sakit Mak Minah semakin parah. Seluruh badannya terasa pegal-pegal dan sangat lemah karena kelelahan bekerja seharian.

“Utuh, Ucin, Diang… ! Tolong pijitin Emak, Nak!” rintih Mak Minah memanggil anaknya. Tapi, anak-anaknya pura-pura tidak mendengar. Mereka terus saja bermain hingga larut malam tanpa mengenal waktu.

Mak Minah sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali meratapi nasibnya. “Ya Tuhan, tolonglah hamba! Sadarkanlah ketiga anak-anakku, agar mereka mau perduli pada Emaknya yang tak berdaya ini,” Mak Minah berdoa sambil meneteskan air mata. Usai berdoa, Mak Minah pun terrtidur lelap.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mak Minah sudah bangun memasak nasi dan lauk yang banyak untuk anak-anaknya. Setelah itu, tanpa sepengetahuan anaknya, Mak Minah pergi ke tepian sungai di dekat gubuknya. Ia mendekati sebuah batu yang konon bisa berbicara seperti manusia. Batu itu juga bisa membuka dan menutup seperti kerang. Orang-orang menyebutnya Batu Batangkup.

Di depan batu itu, Mak Minah berlutut dan memohon kepada batu itu agar menelan dirinya.

“Wahai Batu Batangkup, telanlah saya. Saya sudah tidak sanggup lagi hidup bersama ketiga anak saya yang tidak mau mendengar nasihat,” pinta Mak Minah.

“Apakah engkau tidak menyesal, Mak Minah?” jawab Batu Batangkup. “Lalu, bagaimana nasib anak-anakmu?” Batu Batangkup kembali bertanya.

“Biarlah mereka hidup sendiri tanpa emaknya. Mereka juga sudah tidak mau perduli pada emaknya,” jawab Mak Minah.

“Baiklah, jika itu yang engkau inginkan,” kata Batu Batangkup.

Dalam waktu sekejap, Batu Batangkup menelan tubuh Mak Minah dan hanya menyisakan rambutnya yang panjang hingga masih tampak di luar. Sementara itu, ketika hari menjelang sore, ketiga anak Mak Minah pulang dari bermain. Mereka langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan Mak Minah. Mereka heran, karena emak mereka belum juga pulang. Karena melihat persediaan makanan masih banyak, mereka tetap tidak peduli dengan emak mereka.


Menjelang hari kedua, persediaan makanan mereka sudah habis. Sementara Mak Minah belum juga pulang ke rumah. Ketiga anaknya pun kebingungan mencari Mak Minah karena mereka sudah kelaparan. Setelah mencari ke sana ke mari, mereka tidak menemukan Mak Minah.

“Maafkan kami, Emak! Kami sangat menyesal menyiakan-nyiakan Emak…,” ratap ketiga anak tersebut.

Hingga larut malam, mereka terus meratap dan menangis karena kelaparan. Tapi, karena kecapaian seharian bermain, akhirnya mereka pun tertidur lelap.

Keesokan harinya, ketiga anak tersebut kembali mencari emak mereka. Setelah menyusuri sungai yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, sampailah mereka di depan Batu Batangkup. Alangkah terkejut ketika mereka melihat rambut emaknya terurai di sela-sela Batu Batangkup.

”Wahai, Batu Batangkup! Keluarkanlah Emak kami dari perutmu. Kami membutuhkan Emak kami,” pinta ketiga anak itu.

Batu Batangkup diam saja. Tapi ketiga anak itu terus meratap memohon agar emak mereka dilepaskan.

“Tidak! Kalian hanya membutuhkan emak kalian pada saat lapar. Kalian tidak pernah mau membantu dan mendengar nasihat emak kalian,” ujar Batu Batangkup. Ketiga anak itu pun terus meratap dan menangis.

“Batu Batangkup! Kami berjanji untuk membantu emak dan mematuhi nasihat emak kami,” jawab Utuh menangis.

“Iya, Batu Batangkup, kami berjanji,” sambung Uci dan Diang, lalu keduanya turut menangis.

“Baiklah, emak kalian akan aku keluarkan karena kalian sudah berjanji. Tetapi jika kalian mengingkari janji, emak kalian akan kutelan kembali,” kata Batu Batangkup mengancam. Mereka pun sepakat dengan perjanjian itu. Batu Batangkup kemudian mengeluarkan Mak Minah dari perutnya. Utuh, Ucin dan Diang segera memeluk Mak Minah.

“Maafkan Utuh, Emak! kata Utuh minta maaf.

“Maafkan Uci juga, Mak! Uci berjanji akan mematuhi nasihat Emak,” sambung Uci.

“Iya, Mak! Diang juga minta maaf. Diang berjanji akan membantu Emak!” kata Diang.

“Sudahlah, Anakku! Kalian sudah Emak maafkan,” kata Mak Minah dengan haru. Setelah itu, mereka pun pulang dengan perasaan gembira, karena mereka bisa berkumpul kembali.

Sejak saat itu, setiap hari ketiga anak tersebut rajin membantu Mak Mina bekerja. Utuh dan Uci membantu emaknya mencari kayu bakar di hutan untuk di jual ke pasar. Sementara Diang, sibuk di rumah menyiapkan makanan untuk kedua emak dan kedua abangnya. Mak Minah sangat gembira dan bahagia melihat perubahan perilaku anaknya.

Namun sayang, kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa hari. Perilaku ketiga anaknya tersebut kembali berubah. Justru, mereka semakin nakal dan pemalas. Utuh dan Uci tidak pernah lagi membantu emaknya mencari kayu bakar. Demikian pula Diang, ia tidak pernah memasak di rumah. Bahkan, mereka semakin berani membantah nasihat emak mereka. Hal itu membuat hati Mak Minah semakin sedih.

Pada suatu malam, Mak Minah memasak nasi dan lauk cukup banyak. Rupanya, Mak Minah sudah tidak tahan melihat perilaku anaknya. Pada saat tengah malam, di saat ketiga anaknya tertidur lelap, Mak Minah ingin kembali ke Batu Batangkup. Sebelum berangkat, Mak Minah mencium dan menyelimuti anaknya satu per satu.

Dengan perasaan sedih, Mak Minah meninggalkan ketiga anaknya. Di depan Batu Batangkup, Mak Minah berlutut dan memohon, “Wahai, Batu Batangkup! Telanlah saya kembali. Mereka benar-benar tidak mau menghormatiku lagi,” kata Mak Minah pasra. Tanpa menunggu lama, Batu Batangkup pun menelan Mak Minah.


Keesokan harinya, ketiga anaknya kembali bermain seperti biasanya. Mereka tidak menghiraukan emaknya. Dikiranya, emaknya pergi ke hutan mencari kayu. Yang penting bagi mereka, saat lapar makanan sudah siap. Menjelang sore hari, Mak Minah belum pulang ke rumah. Mereka kemudian tersadar, ternyata mereka telah melanggar janji yang pernah mereka sepakati untuk tidak nakal lagi.

Tanpa berpikir panjang, ketiga anak itu segera berlari ke Batu Batangkup. “Maafkan kami, Batu Batangkup! Kami sangat menyesal. Keluarkanlah emak kami dari perutmu!” ratap ketiga anak itu sambil menangis.

“Kalian memang anak nakal. Kali ini aku tidak akan memaafkan kalian,” jawab Batu Batangkup dengan kesal.

Batu Batangkup kemudian menelan ketiga anak itu. Setelah tubuh ketiga anak itu sudah masuk di dalam perutnya, Batu Batangkup itu pun masuk ke dalam tanah. Sampai sekarang Batu Batangkup itu tidak pernah muncul lagi.

Download legenda ini KLIK di sini

Mengenal Gurindam

GURINDAM


Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisi jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Kalau masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia waktu sekolah dulu, pastilah ingat atau pernah dengar yang namanya gurindam. Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi (id.wikipedia.org).

Tersebutlah Gurindam Dua Belas karangan Raja Ali Haji asal Kepulauan Riau. Beliau adalah pahlawan nasional yang turut berjuang melawan kezaliman kolonialisme Belanda pada masanya (1809-1870). Beliau juga seorang ulama dan cerdik pandai yang tersohor kala itu. Lewat untaian kata yang elok, gurindam ini mengajarkan kepada yang membacanya berbagai hikmah tentang kewajiban raja kepada rakyatnya, birrul walidayn, budi pekerti, ibadah, dan kehidupan bermasyarakat.

Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya. Amma ba'du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana telah ta'ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.

Syahdan

Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam. Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair.

Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini

Persamaan yang indah-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur


Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat.

Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat .

Gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah artanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.

Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,
keluariah fi'il yang tiada senunuh.

Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat.

Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekongl.

Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.

Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan beiajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan' diri.

Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi.


Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,
mrnernbicarakannya itu hendaklah cernburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar daripada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa'.

Kejahatan diri sembunyikan,
kebajikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaitulah syaitan.

Keiahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.

Kepada segala hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat.

Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganiah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.

Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.

Dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.

Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.

Hendak marah,
dahulukan hajat.

Hendak dimulai,
jangan melalui.

Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam pasal yang kedua belas:
Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.

Hukumy adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat'.

Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.

lngatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta

Download tulisan ini? Klik di sini

Thursday, January 15, 2009

Teater Dewala

Teater Dewala


Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day, Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Sebel gua, lagi-lagi propaganda Amerika. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!”

“Tapi Prabu, saya tidak melihatnya dari sisi itu. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa, dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga.

“Dalam dunia pewayangan, tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Dewa jangan diberontak, mereka sponsor kita kok.”

Sesaat hening. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Melewati Alun-alun Bandung, tiba-tiba Kresna, gerombolan Pandawa, dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG, begitu ngepop. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal, “Kramotak, kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem, tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.

“Siape ni nyang ngulang tahun, mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan.

“Bukan mau nraktir, BM dong!” balas Kresna.

“Belum begitu laper gua ini, kita masuk pub dulu!” ajak Bima.

“Sambil makan malam, kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi,” sahut Kresna.

“Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja, terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius.

“Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta yang Hilang, apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re, Rusak!”

“Inilah salahnya Prabu, kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik,” Dewala mencoba menjelaskan.

“Jangan sok tahu Kau. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir.”

Dibentak seperti itu, Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Punakawan yang lain menyikutnya, bahkan Semar menjewer kupingnya.

Seperti biasa, Gareng kebagian memesan hidangan. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa, segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana.

“Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti,” demikian Kombayana punya usul.

“Kukira tidak mesti seperti itu. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. Takdir kita untuk menerima kekalahan. Apa pun yang kita rencanakan, Dewata telah memutuskannya,” Bisma mengingatkan.

Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Bima menggebrak meja.

“Misi ujicoba kita gagal.”

“Ini kehendak Dewata. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh.” Semar mengingatkan.

“Tidak, Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Karena itu, misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan.” Arjuna bersungut-sungut. Tangannya masih menggenggam paha ayam.

Bima meraung-raung, suasana rapat menjadi lebih kacau. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru.

Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi, dari kopi dan dari rokok. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. Kalau sudah seperti itu, ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan, ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Dipanggilnya Dewala saat itu juga.

“Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu, tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja, sekarang rakyat sudah menjadi materialis, segala benda serba diuangkan. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya.”

“Bagi saya, pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah, tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia,” jelas Yudistira.

“Justru naskah ini tepat sekali, Prabu. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Kita mengalah untuk menang, mengapa karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah, itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. Dengan dibahagiakan, insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang.”

“Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?”

“Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri, kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu, mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Saya punya teknik, selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang, juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. Dengan demikian, silaturahmi antarseniman pun terbina. Konon katanya menurut mitos, seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan.”

“Tapi saat ini saya ragu, soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan.”

“Itu wajar karena mereka punya ideologi. Tetapi kita juga tahu, bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. Eu begini Prabu, dalam akhir cerita, saya akan membalikkan fakta. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan.”

“Apa itu?”

“Ada saja. Pokoknya rahasia. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang.”

***

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini.

Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah.

“Mustahil,” gumam Arjuna.

Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina.

Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya.

Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan.

Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!”

Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak.

“Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon.

Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

Cerpen Doddi Achmad Fawdzy

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook