Saturday, February 28, 2009

Aliran Karya Sastra

ALIRAN-ALIRAN SASTRA


Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.



Pada prinsipnya, aliran karya sastra dibedakan menjadi 2 bagian besar, yakni (a) idealisme, dan (b) materialisme.

Idealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, (d) surealisme

Romantisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. Aliran ini dicirikan oleh minat pada alam dan cara hidup yang sederhana, minat pada pemandangan alam, perhatian pada kepercayaan asli, penekanan pada kespontanan dalam pikiran, tindakan, serta pengungkapan pikiran. Orang-orang aliran ini menganggap imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. Aliran ini kadang-kadang berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran romantik idealis, dan romantik realisme.

Romantik idealis adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angk. Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sedangkan romantik realisme adalah alira kesusastraan yang mengutamakan perasaan bertolak darikenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani)

Simbolik. Aliran ini muncul sebagai reaksi atas realisme dan naturalisme. Pengarang berupaya menampilkan pengalaman batin secara simbolik. Dunia yang secara indrawi dapat kita cerap menunjukkan suatu dunia rohani yang tersembunyi di belakang dunia indrawi. Aliran ini selalu menggunakan symbol atau perlambang hewan atau tumbuhan sebagai pelaku dalam cerita. Contoh karya sastra yang beraliran ini misalnya Tinjaulah Dunia Sana, Dengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin, Kisah Negara Kambing (Alex Leo)


Mistisisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan manusia dengan Tuhan. Mistisisme selalu memaparkan keharuan dan kekaguman si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta. Contoh karya sastra yang beraliran ini adalah sebagaian besar karya Amir Hamzah, Bahrum Rangkuti, dan JE Tatengkeng.

Surealisme adalah aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang terasa agak kacau. Menurut sejarahnya, aliran ini lahir karena gerakan pembaharuan dalam dunia seni dan berkembang di Prancis (alam bawah sadar seharusnya digali dan dimanfaatkanà ungkapan batin yang irasional seperti mimpi, intuisi, asosiasi bebas perlu dipelihara dengan berpedoman pada psiko-analisa ala Freud. Surealis ingin membebaskan manusia dari belenggu kebudayaan dan intelektualitas) Contoh karya sastra aliran ini misalnya Radio Masyarakat (Rosihan Anwar), Merahnya Merah (Iwan Simatupang), Tumbang (TrisnoSumardjo).

Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan dapat diselidiki dengan akal manusia. Dalam kesusastraan, aliran ini dapat dibedakan atas realisme dan naturalisme.

Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya/adanya. Aliran ini umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan perasaan). Sebagaimana kita tahu, Plato dalam teori mimetik-nya pernah menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/realitas. Berangkat dari inilah kemudian berkembang aliran-aliran seperti: naturalisme dan determinisme.

Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialisme

Naturalisme adalah aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok. Aliran ini berkembang dari realisme. Ada tiga faham yang berkembang dari aliran realisme (1) scientisme (hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan yang benar), (2) positivisme ( menolak metafisika, hanyalewa pancaindra kita berpijak pada kenyataan), dan (3) determinisme (segala sesuatu sudah ditentukan oleh sebab musabab tertentu, tak ada kemauan bebas à perang, bencana alam, nasib).

Impresionisme adalah aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada apayang terjadi dalam batin tokoh utama. Impresionisme lebiuh mengutamakan pemberian kesan/pengaruh kepada perasaan daripada kenyataan atau keadaan yang sebenarnya. Beberapa pengarang Pujangga Baru memperlihatkan impresionisme dalam beberapa karyanya.

Ada pula yang menyebut aliran psikologisme. Sebenarnya, aliran psikologisme tidak ada. Yang ada adalah penelitian psikologi sastra. Analisis sastra yang membahas interaksi antara hidup pengarang dan karya-karyanya, analisis teks sastra dengan pendekatan ilmu psikologi, dsb.


Silakan download materi ini di sini

Ziarah Malam - Iwan Simatupang

POTRET

Di sudut kamat seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
‘Tunggu! Sepulangku, bahtera kita kayuh!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
Belum jua pulang.

Kini dara sudah lama tak menunggu lagi.
Langkah-langkah pelan, yang biasa datang
Menjelang tengah malam dari kebun belakang
Bawa cium dan kembang—
Takkan lagi kunjung datang.

Di sudut kamar seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
‘Jangan tunggu! Aku bangkai dalam bingkai!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
Masih jua belum pelung

Kini dara sudah lama dalam biara.




ZIARAH MALAM


Tahun lalu ia lari tinggalkan biara
Kerna tak tahu tempatkan kasih
Pada Tuhan atau padri muda
Yang masuk biara kerna ingin tobat
Dari dosa: memperkosa ibu tirinya

Bulan lalu ia diangkut ke sanatorium
Kerna tak tahu apa lagi akan dikasihinya
Setelah Tuhan dan padri muda ia tinggalkan
Dan kasih yang membara di buah dadanya
Akhirnya mengapung ke paru-parunya

Siang tadi ia dikubur kemari
Kerna lewat tahu, bahwa kasih
Yang pulang dari Tuhan, daging dan kelengangan
Hanya akan berterima lagi oleh
Tepi pertemuan kembola dan langit malam

Dan di bimbang bintang Tuhan masih Maha Pengasih


Download? Klik di sini

Friday, February 27, 2009

Catatan Pinggir Gunawan Mohammad

Sisiphus


DI atas tuts pianonya, Ibrahim Souss memainkan Le Myth de Sisyphe. Komposisi itu mencoba menghidupkan kembali gerak, kepedihan, dan absurditas nasib yang dialami manusia setengah dewa yang dihukum Zeus itu: ia, Sisiphus, harus mengangkut batu berat ke puncak gunung, dan tiap kali sampai di sana, batu itu akan berguling lagi. Dan ia harus kembali ke bawah. Ia harus mengangkutnya lagi. Dalam mitologi Yunani kuno itu, nasib itu tak pernah berakhir.

Souss memainkan karyanya itu ketika ia jadi direktur kantor PLO di Paris, sekitar 20 tahun yang lalu. Saya tak tahu di mana ia sekarang: seorang pianis yang piawai, komponis yang kreatif, yang dengan Le Myth de Sisyphe hendak menyatakan sesuatu tentang Palestina.

Ia lahir di Yerusalem pada 1945. Umurnya baru tiga tahun ketika orang Palestina diusir dari bagian kota itu setelah perang Arab-Israel tahun 1948. Setelah kekalahan Arab yang nista pada 1967, Ibrahim bergabung dengan PLO. Ia memilih karena ia harus memilih: ia tahu ia, bagian dari bangsa yang diusir dan diabaikan, tak bisa cuma bisa hidup merdeka dengan musik.

Sisiphus-nya pun mengandung ambiguitas. Di satu pihak, di dalamnya tergambar nasib orang Palestina yang tiap kali berharap, tiap kali pula kandas. Dari 1948 sampai 2009, berapa generasi terus hidup terjepit dan dihinakan, berapa usaha perdamaian gawal?

Tapi, seperti kata Souss sendiri, Palestina bukan Sisiphus. ”Kami menolak menjalankan hukuman itu.” Hakikat Palestina, katanya pula, adalah penampikannya untuk dibuang.

Ambiguitas itu pula yang tersirat ketika Albert Camus menulis esainya dengan tema yang sama. Saya kira pengaruh Camus pada Souss cukup jelas, meskipun ia sampai pada kesimpulan yang berbeda.

Dalam tafsir Camus, kian lama kian tumbuh semacam simbiosis dalam diri Sisiphus dengan batu yang diangkutnya. Pada tokoh itu tampak, tulis Camus, sebuah wajah yang, seraya bekerja keras dan begitu dekat dengan batu, telah mengeraskan diri dan dunianya. Dari keadaan terkutuk dan dipenjara para dewa, ia akhirnya mengubah posisinya secara radikal. Kini nasibnya adalah miliknya. Ia lebih kuat ketimbang batu karang.

Sebuah sikap yang gagah, tentu—yang dengan itu juga menunjukkan perlawanan terhadap Zeus: raja dewa itu hendak menghinanya, tapi Sisiphus-lah yang kini menistanya, dengan menganggap hukuman itu tak relevan. Sejak saat itu, alam semesta tak punya lagi yang dipertuan.

Tapi kesimpulan Camus yang termasyhur, bahwa kita harus bisa membayangkan Sisiphus ”bahagia”, adalah kesimpulan yang bermasalah. Setidaknya bagi Souss. Dan yang pasti bagi Palestina. Heroisme yang tampak di sana memang memberikan semangat, tapi itu bukan kisah kepahlawanan yang menyenangkan. Di Palestina, pahlawan tak mati hanya satu kali, melainkan berkali-kali. Tiap kali sang syuhada tewas hidup pun bersinar, tapi sebentar, dan selamanya pedih.

Masalahnya, bisakah yang heroik dan yang pedih itu menggugah, di masa kita sekarang? Ketika Camus menuliskan esainya pada awal tahun 1940-an, ia tak mempersoalkan itu. Ia bertolak dari asumsi yang lazim pada zamannya: siapa saja akan melihat hukuman atas Sisiphus sesuatu yang tak bisa diterima dalam tatanan manusia, dan perlawanannya dengan demikian amat dahsyat. Tapi ”manusia”, siapakah dia sekarang? Samakah ia dengan ”siapa saja”?

Di Palestina, gerilyawan dan bocah-bocah, aktivis dan kakek-nenek, dengan segera tahu apa artinya ketidakadilan. ”Kau burung yang beruntung… ajari aku terbang mengatasi peluru, ajari aku merdeka,” begitulah kerinduan diucapkan dalam lagu yang digubah Rima Terazi, yang dinyanyikan anak-anak di kamp-kamp pengungsi. Kerinduan kepada sesuatu yang absen: keadilan, kemerdekaan, perdamaian. Kerinduan yang di sini berlaku bagi ”siapa saja”.

Tapi di Amerika dan Eropa, tampaknya ada kesulitan besar untuk melihat yang universal dalam kerinduan itu. Orang menyaksikan bagaimana museum Holocaust didirikan di mana-mana di kedua bagian dunia ”Barat” itu, sebagai tanda solidaritas kepada orang-orang Yahudi yang dibunuh dan diusir di Eropa pada zaman Hitler. Sementara orang bisa mencatat begitu sedikit simpati kepada orang Palestina yang ditundung dari tanahnya selama 60 tahun.

Mau tak mau, orang sampai pada kesimpulan bahwa yang-universal tidaklah satu. Ada yang menang dan yang kalah, ada yang berada dalam hegemoni dan yang masih tersingkir.

Tapi bila yang-universal ternyata tak satu, dan bahwa yang tampak sebenarnya akibat posisi hegemonik satu bagian masyarakat manusia dalam menilai, apa gerangan yang dapat membuat kita melihat manusia langsung sebagai sesama? Apa yang membuat kita tergerak untuk berbuat baik di mana saja dan kapan saja dan bagi siapa saja—sesuatu yang lahir dari yang disebut Kant sebagai das Faktum der Vernunft?

Atau ”faktum” itu jangan-jangan hanya fiksi? Kini, di Palestina yang diduduki Israel, aniaya seperti tak pernah bisa dihentikan. Kini ada bagian dari dunia yang tak merasa dituntut untuk berbuat baik ke mereka yang dinistakan. Sementara itu, ada juga yang hanya mau berbuat baik buat Palestina tanpa mau berbuat baik kepada mereka yang lain yang juga dianiaya.

Bila demikian, manusia akan hilang harap untuk jadi sesama….

Untunglah, compassion—perasaan ikut sakit ketika orang lain menderita—bukanlah sesuatu yang mustahil; kita mengalaminya sehari-hari, tanpa kita harus melalui pergulatan politik untuk merasa bertugas menolong orang lain.

Yang mencemaskan dari tragedi Palestina ialah bahwa pengalaman sehari-hari itu acap kali tenggelam. Yang memberi harapan ialah bahwa yang tenggelam tak pernah hilang total. Ia akan selalu kembali.

Mungkin macam Sisiphus.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 12 Januari 2009~

Wednesday, February 25, 2009

Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Kutukan Raja Pulau Mintin


Dahulu kala, ada sebuah kerajaan di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir, Kalimantan Tengah. Kerajaan itu sangat terkenal karena rajanya yang sangat arif dan bijaksana. Karena kearifan dan kebijaksanaan raja itu, rakyat di kerajaan itu hidup tenteram dan makmur.

Suatu hari, sang permaisuri meninggal dunia. Raja sangat sedih. Sepeninggal istrinya yang sangat dicintainya, raja menjadi pemurung dan nampak selalu sedih. Keadaan ini sangat mempengaruhi pemerintahannya. Raja tidak dapat lagi memerintah dengan baik. Pada saat yang sama, kesehatan sang raja juga semakin menurun. Untuk menghibur diri dan tidak terpuruk dalam kesedihannya, sang raja berniat untuk pergi berlayar.

Raja menyerahkan tahtanya pada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka menerima tanggung jawab yang diberikan oleh sang raja. Sepeninggal ayahandanya, kedua putra raja itu memerintah kerajaan. Namun muncullah persoalan baru. Kedua putra raja itu memiliki watak yang berbeda. Naga mempunyai watak yang kurang baik. Ia senang berfoya-foya, mabuk-mabukan dan berjudi. Sedangkan buaya memiliki watak yang sebaliknya. Ia sangat pemurah, ramah, tidak boros dan suka menolong.


Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka si Buaya pun marah. Ia mengingatkan agar Naga berubah. Tetapi nasihat Buaya tidak dituruti oleh si naga. Akhirnya mereka bertengkar. Karena sama-sama memiliki kekuasaan, prajurit kerajaan pun terpecah menjadi dua. Sebagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian tidak dapat dihindari sehingga menimbulkan banyak korban.

Sementara itu, sang raja yang sedang berlayar mendapat firasat buruk. Maka ia pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang. Dengan berang ia pun berkata,”kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku. Dengan peperangan ini kalian sudah menyengsarakan rakyat. Untuk itu terimalah hukumanku. Buaya jadilah engkau buaya yang sebenarnya dan hidup di air. Karena kesalahanmu yang sedikit, maka engkau akan menetap di daerah ini. Tugasmu adalah menjaga Pulau Mintin. Sedangkan engkau Naga jadilah engkau naga yang sebenarnya. Karena kesalahanmu yang besar engkau akan tinggal di sepanjang Sungai Kapuas. Tugasmu adalah menjaga agar Sungai Kapuas tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung.”

Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Dalam sekejap kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya sedangkan yang lainnya menjadi naga.***

Monday, February 23, 2009

Rumah Tuhan

Rumah Tuhan


Sampai saat ini, seperempat abad setelah ia meninggal dunia, masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang, nyaris berteriak, seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia, ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!"

Demikian dikatakannya setiap kali, berkali-kali, di mana pun kebetulan ia berada. Di trotoar-trotoar, di emperan-emperan toko, di perempatan jalan, di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi.

Seorang laki-laki tua, lebih separo abad usianya, ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya.

Meskipun tua, tapi pengawakannya tegap dan kekar. Sorot matanya memancar berbinar. Karenanya ia ditakuti orang, terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Masuk-keluar kampung. Sekali-sekali berhenti di depan kantor, tempat orang lagi sibuk bekerja. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar.

Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya, karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan, sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna, tidak ada artinya.

Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Sesuatu yang punya arti, begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya, selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh.

Sepintas lalu, bila direnungkan, seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri, jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" "Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu, jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut.

Oh ya, belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Siapa namanya. Dari mana asal-usulnya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin, Saridin, Sidin, Brodin atau Ilmudin, tak ada yang tahu.

Ada selentingan, konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya.

Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Mereka membumihanguskan seluruh desa, tak terkecuali gubuknya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anak-bininya. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu.

Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Diam-diam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit, lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya.

Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah, penuh bertabur onak dan duri. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau.

Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya, karena penampilannya yang tidak lazim. Kusir-kusir dokar, tukang-tukang becak, lebih-lebih anak-anak jalanan, mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya.

Tapi semua itu tak dihiraukannya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orang-orang gila. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran, meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu.

Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tempat peristirahatannya tidak tetap, selalu berpindah-pindah. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu.

Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di emperan super market. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Di halte-halte bus kota. Di emper stasiun kereta api. Di pemakaman-pemakaman umum. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga, karena walikota tidak pernah tidur di situ.

Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu menghalaunya, ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadang-kadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya, yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar.

Entah darimana, suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman, senantiasa dihalau, diusir dari satu tempat ke tempat lain. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu.

Mengapa ia tidak ke sana saja, pikirnya, untuk beristirahat di malam hari, sekadar numpang tidur sejenak, minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah, yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya?

Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Tapi sial, ia tak bisa masuk ke dalam masjid, karena ada pagar tinggi menghadangnya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat.

Dengan hati sendu dan putus asa, ia surut, lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil, jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak.

Surau itu lengang dan kosong. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Berlampu suram, lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Surau itu tampak kurang terpelihara. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing.

Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya, lalu naik ke serambi surau. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu.

Kebanyakan orang, lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi, yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Mereka sulit tidur, bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.

Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang, kebanyakan orang-orang tua, yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Cepat ia bangkit, lari ke kolam mengambil air wudu, lalu melangkah ke dalam surau, mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam.

Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya, sesaat ia tersedak, teringat akan nasibnya yang malang-melintang. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah, apalagi kejahatan.

Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Dan ketika salat rampung sudah, para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.

Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata, "Saya adalah penjaga surau ini. Jika Saudara kehendaki, Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam...."

Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya.

Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya, berkeliling kota tanpa tujuan.

Suatu ketika, tidak seperti biasanya, ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang, walau angin sejuk berhembus mengipasinya.

Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Agak lama matanya terpejam. Seakan-akan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Keluarganya punah. Hartanya musnah. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih.

Harapan-harapan, ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Ia tersingkir, terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan, kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Keyakinan dan kebesaran-Nya, limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya.

Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana, ia mengelana seorang diri. Tak seorang pun peduli. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya, selalu dipupuknya, melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup.

"Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya, "Cukup bagiku Tuhan melihatku." jawabnya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya, menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada.

Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang, terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati.

Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-- yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan.
Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu, hai pengelana. Ini merupakan masa paling buruk. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan, bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi, tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya, dalam hati nurani dan jiwanya, bahkan di urat-nadinya.

"Belum lama ini, dan akan selalu terjadi, ketika manusia sama ketakutan, hingga menggigil sekujur sendinya, ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan.

"Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka coba mendekati planet Mars. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti, tapi telah keburu sombong dan berlagak.

"Kini, mari kita tinggalkan dunia yang fana ini," kata sosok penjaga surau, "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di sana segala sesuatu kekal abadi, indah sempurna tiada tara...."

Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas.

Ketika saat salat Zuhur tiba, orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Kedua belah matanya rapat terpejam, seolah-olah ia tertidur lelap. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai.***

Cerpen Muhammad Ali

Saturday, February 21, 2009

Nyanyian Negeri Jajahan

Nyanyian Negeri Jajahan
Hamid Jabbar

gunung mati
berkabut mati
bertapa tuan
berlupa diri

bukit mati
berlembah mati
dipenggal tuan
tak peduli

sungai mati
berlaut mati
dituba tuan
mabuk menari

pulau mati
berimba mati
diobral tuan
setiap hari

minyak mati
berkilang mati
disuling tuan
dollar sekali

tanah mati
berladang mati
dikapling tuan
sesuka hati
negeri mati
bermafia mati
siapa tuan
di negeri sendiri?

tuan gunung
bingung sendiri
tuan bukit
sakit sendiri
tuan sungai
sangsai sendiri
tuan pulau
meracau seandiri
tuan minyak
terhenyak sendiri
tuan tanah
resah sendiri
tuan negeri
ngeri sendiri
tuan siapa
di negeri sendiri?

ah tuan mati
di negeri sendiri!
ah mati tuan
mati sendiri!
tinggal puan
tinggal sendiri!

o puan kabut
apa nak dibalut?
o puan lembah
apa nak digubah?
o puan laut
apa nak dipagut?
o puan rimba
apa nak dikata?
o puan kilang
apa nak dikarang?
o puan ladang
apa nak disayang?
o puan jajahan
siapa nak memerdekakan?!

merdeka o merdeka!
o merdeka nak
nak merdeka benar
dengarlah dengar
wahai tuan
bukanlah tapa
wahai puan
bukanlah penggal
wahai tuan
bukanlah tuba
wahai puan
bukanlah obral
wahai tuan
bukanlah suling
wahai puan
bukanlah kapling
wahai tuan
janganlah lupa
wahai puan
jangan takpeduli
wahai tuan
jangan kuasa sendiri
wahai puan
jangan dollar sekali
agar kita benar
merdeka o merdeka!

o merdeka nak
nak merdeka benar
dengarlah dengar
tuan-tuan o puan-puan
cinta benar cinta
biar nyeri tak terperi
meneruka surga
di bumi ini
di hati ini
di akhirat nanti
hidup tak mati-mati
merdeka!

Jakarta, 28 Oktober 1985 - Kualalumpur, 28 Maret 1986
Puisi Hamid Jabbar yang lain? .... Klik di sini

Thursday, February 19, 2009

Legenda Puteri Kaca Mayang

Asal Mula Kota Pekanbaru

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini sangat terkenal, karena mempunyai seorang panglima yang gagah perkasa dan disegani, Panglima Gimpam namanya. Selama ia menjadi penglima Kerajaan Gasib, tiada satu pun kerajaan lain yang dapat menaklukkannya.

Selain itu, Kerajaan Gasib juga mempunyai seorang putri yang kecantikannya sudah masyhur sampai ke berbagai negeri, Putri Kaca Mayang namanya. Meskipun demikian, tak seorang raja pun yang berani meminangnya. Mereka merasa segan meminang sang Putri, karena Raja Gasib terkenal mempunyai Panglima Gimpam yang gagah berani itu.

Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan dirinya meminang Putri Kaca Mayang. Ia pun mengutus dua orang panglimanya untuk menyampaikan maksud pinangannya kepada Raja Gasib. Sesampainya di hadapan Raja Gasib, kedua panglima itu kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka. “Ampun, Baginda! Kami adalah utusan Raja Aceh. Maksud kedatangan kami adalah untuk menyampaikan pinangan raja kami,” lapor seorang utusan. “Benar, Baginda! Raja kami bermaksud meminang Putri Baginda yang bernama Putri Kaca Mayang,” tambah utusan yang satunya.

“Maaf, Utusan! Putriku belum bersedia untuk menikah. Sampaikan permohonan maaf kami kepada raja kalian,” jawab Raja Gasib dengan penuh wibawa. Mendengar jawaban itu, kedua utusan tersebut bergegas kembali ke Aceh dengan perasaan kesal dan kecewa.

Di hadapan Raja Aceh, kedua utusan itu melaporkan tentang penolakan Raja Gasib. Raja Aceh sangat kecewa dan merasa terhina mendengar laporan itu. Ia sangat marah dan berniat untuk menyerang Kerajaan Gasib.

Sementara itu, Raja Gasib telah mempersiapkan pasukan perang kerajaan untuk menghadapi serangan yang mungkin terjadi, karena ia sangat mengenal sifat Raja Aceh yang angkuh itu. Panglima Gimpam memimpin penjagaan di Kuala Gasib, yaitu daerah di sekitar Sungai Siak.

Rupanya segala persiapan Kerajaan Gasib diketahui oleh Kerajaan Aceh. Melalui seorang mata-matanya, Raja Aceh mengetahui Panglima Gimpam yang gagah perkasa itu berada di Kuala Gasib. Oleh sebab itu, Raja Aceh dan pasukannya mencari jalan lain untuk masuk ke negeri Gasib. Maka dibujuknya seorang penduduk Gasib menjadi penunjuk jalan.

“Hai, orang muda! Apakah kamu penduduk negeri ini?, tanya pengawal Raja Aceh kepada seorang penduduk Gasib. “Benar, Tuan!” jawab pemuda itu singkat. “Jika begitu, tunjukkan kepada kami jalan darat menuju negeri Gasib!” desak pengawal itu. Karena mengetahui pasukan yang dilengkapi dengan senjata itu akan menyerang negeri Gasib, pemuda itu menolak untuk menunjukkan mereka jalan menuju ke Gasib. Ia tidak ingin menghianati negerinya. “Maaf, Tuan! Sebenarnya saya tidak tahu seluk-beluk negeri ini,” jawab pemuda itu. Merasa dibohongi, pengawal Raja Aceh tiba-tiba menghajar pemuda itu hingga babak belur. Karena tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya, pemuda itu terpaksa memberi petunjuk jalan darat menuju ke arah Gasib.

Berkat petunjuk pemuda itu, maka sampailah prajurit Aceh di negeri Gasib tanpa sepengetahuan Panglima Gimpam dan anak buahnya. Pada saat prajurit Aceh memasuki negeri Gasib, mereka mulai menyerang penduduk. Raja Gasib yang sedang bercengkerama dengan keluarga istana tidak mengetahui jika musuhnya telah memporak-porandakan kampung dan penduduknya. Ketika prajurit Aceh menyerbu halaman istana, barulah Raja Gasib sadar, namun perintah untuk melawan sudah terlambat. Semua pengawal yang tidak sempat mengadakan perlawanan telah tewas di ujung rencong (senjata khas Aceh) prajurit Aceh. Dalam sekejap, istana berhasil dikuasai oleh prajurit Aceh. Raja Gasib tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan para pengawalnya tewas satu-persatu dibantai oleh prajurit Aceh. Putri Kaca Mayang yang cantik jelita itu pun berhasil mereka bawa lari.

Panglima Gimpam yang mendapat laporan bahwa istana telah dikuasai prajurit Aceh, ia bersama pasukannya segera kembali ke istana. Ia melihat mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Panglima Gimpam sangat marah dan bersumpah untuk membalas kekalahan Kerajaan Gasib dan berjanji akan membawa kembali Putri Kaca Mayang ke istana.

Pada saat itu pula Panglima Gimpam berangkat ke Aceh untuk menunaikan sumpahnya. Dengan kesaktiannya, tak berapa lama sampailah Panglima Gimpam di Aceh. Prajurit Aceh telah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Mereka telah menyiapkan dua ekor gajah yang besar untuk menghadang Panglima Gimpam di gerbang istana. Ketika Panglima Gimpam tiba di gerbang istana, ia melompat ke punggung gajah besar itu. Dengan kesaktian dan keberaniannya, dibawanya kedua gajah yang telah dijinakkan itu ke istana untuk diserahkan kepada Raja Aceh.

Raja Aceh sangat terkejut dan takjub melihat keberanian dan kesaktian Panglima Gimpam menjinakkan gajah yang telah dipersiapkan untuk membunuhnya. Akhirnya Raja Aceh mengakui kesaktian Panglima Gimpam dan diserahkannya Putri Kaca Mayang untuk dibawa kembali ke istana Gasib.

Setelah itu, Panglima Gimpam segera membawa Putri Kaca Mayang yang sedang sakit itu ke Gasib. Dalam perjalanan pulang, penyakit sang Putri semakin parah. Angin yang begitu kencang membuat sang Putri susah untuk bernapas. Sesampainya di Sungai Kuantan, Putri Kaca Mayang meminta kepada Panglima Gimpam untuk berhenti sejenak. “Panglima! Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Tolong sampaikan salam dan permohonan maafku kepada keluargaku di istina Gasib,” ucap sang Putri dengan suara serak. Belum sempat Panglima Gimpam berkata apa-apa, sang Putri pun menghembuskan nafas terakhirnya. Panglima Gimpam merasa bersalah sekali, karena ia tidak berhasil membawa sang Putri ke istana dalam keadaan hidup. Dengan diliputi rasa duka yang mendalam, Panglima Gimpam melanjutkan perjalanannya dengan membawa jenazah Putri Kaca Mayang ke hadapan Raja Gasib.

Sesampainya di istana Gasib, kedatangan Panglima Gimpam yang membawa jenazah sang Putri itu disambut oleh keluarga istana dengan perasaan sedih. Seluruh istana dan penduduk negeri Gasib ikut berkabung. Tanpa menunggu lama-lama, jenazah Putri Kaca Mayang segera dimakamkan di Gasib. Sejak kehilangan putrinya, Raja Gasib sangat sedih dan kesepian. Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam. Untuk menghilangkan bayangan putri yang amat dicintainya itu, Raja Gasib memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka.

Untuk sementara waktu, pemerintahan kerajaan Gasib dipegang oleh Panglima Gimpam. Namun, tak berapa lama, Panglima Gimpam pun berniat untuk meninggalkan kerajaan itu. Sifatnya yang setia, membuat Panglima Gimpam tidak ingin menikmati kesenangan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain. Ia pun tidak mau mengambil milik orang lain walaupun kesempatan itu ada di depannya.

Akhirnya, atas kehendaknya sendiri, Panglima Gimpam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru, yang dinamakan Pekanbaru. Hingga kini, nama itu dipakai untuk menyebut nama ibukota Provinsi Riau yaitu Kota Pekanbaru. Sementara, makam Panglima Gimpam masih dapat kita saksikan di Hulu Sail, sekitar 20 km dari kota Pekanbaru.

Wednesday, February 18, 2009

Mengenal Seno Gumira Ajidarma (2)

Transformasi Seno Gumira


Begitu lama ia merasa berada dalam keterbatasan yang membuatnya berpikir bahwa pemahaman ”yang benar” itu ada. Keterbatasan semacam itu membuat Seno Gumira Adji Darma (47) menabrak-nabrak dan menghayati pengalaman orang buta yang merayap dalam kegelapan. Padahal, ketika matanya terbuka, ternyata dunia memang gelap.

Jalan ilmu pengetahuan terstruktur membukakan kesadaran bahwa realitas ”yang benar” adalah konvensi, kesepakatan; bahwa yang bernama ”realitas” sebenarnya merupakan konstruksi sosial-historis.

”Segala sesuatu diciptakan karena ada kebutuhan. Teori juga begitu. Mereka lahir dari yang sudah ada. Postmodernisme lahir karena modernisme, dekonstruksi karena konstruksi, poststrukturalisme karena strukturalisme,” ujarnya.

Seno tenggelam di dalam samudra ketakterbatasan ilmu pengetahuan ketika meneliti komik Panji Tengkorak untuk disertasi S-3-nya di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Ia tak lagi terpaku hanya pada filsafat komik, sesuatu yang hinggap di benaknya setelah menyelesaikan S-2-nya di jurusan filsafat UI.

Ia menyelesaikan S-3-nya dalam delapan semester diselingi proses kreatifnya melahirkan tiga novel—salah satu novelnya, Negeri Senja, mendapat Khatulistiwa Literary Award 2004—dua naskah drama, skenario, dan puluhan cerita pendek, kolom, esai yang dimuat di berbagai media. Ia masih bisa melakukan kegiatan yang ia gemari: memotret, bahkan sempat pameran karena ada teman yang memintanya.

Oleh sebab itu, ia tak mempersoalkan predikat kelulusan ”sangat memuaskan”, karena melewati standar waktu, meski nilainya cumlaude. ”Lagi pula aku sudah menerima diriku sebagai mediocre saja. Dari kecil aku tak pernah terobsesi jadi nomor satu.”

Waktu SD, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir di Boston, Amerika Serikat, itu selalu duduk di baris tengah agak depan. ”Yang pintar duduk di belakang, yang kurang bisa menangkap pelajaran duduk di depan,” kenangnya.

Itu membuatnya tidak pernah merasa hebat. Sebaliknya, selalu merasa kurang. ”Konsekuensinya mahal, karena aku harus belajar keras.”

Tuntas pada usia 20

Seno mulai menulis di SMA, tahun 1974. ”Aku mewajibkan diriku menulis karena aku suka membaca,” lanjutnya. Ia hidup dari menulis, meski tak bercita-cita menjadi penulis. ”Aku hanya terobsesi menguasai tulisan,” katanya.

Dulu ia ingin jadi seniman ”biasa” yang bisa merasa bahagia dengan apa adanya. Ia merasa sudah mencapainya pada usia 17 tahun ketika mengikuti rombongan Teater Alam. Pada usia 19 tahun ia sudah bekerja di koran sehingga berani menikahi Ike. Pada usia 20 tahun, Timur Angin—fotografer, lulusan Institut Kesenian Jakarta, tempat ayahnya menyelesaikan S-1-nya di bidang film—lahir.

”Upacara dalam hidup sudah kutuntaskan pada usia 20 tahun. Aku tak punya target lagi setelah itu,” tambahnya. ”Semua kujalani dengan ringan.”

Ia terus membaca, menulis, melanjutkan kerja jurnalistiknya. ”Jadi tukang,” katanya.

Tukang?

”Ya,” sergahnya. ”Bukan robot. Untuk jadi tukang keterampilan saja tak cukup. Ada pergulatan intens. Tukang kayu harus kenal kayu secara personal. Petani harus kenal cuaca, tanah, air, benih, secara personal.”

Keangkuhan para intelektuallah yang membuat derajat tukang direndahkan. Padahal, menurut Seno, di dalam ”pertukangan”, ada perfection. Di dalam kesempurnaan ada penghayatan, ada pengetahuan yang mendukungnya.

Juga dalam menulis. Untuk tulisan ilmiah, misalnya, harus masuk ke proses seorang ilmuwan di mana subjektivitas sangat berperan. Itulah faktor personal. ”Aku meneliti Panji Tengkorak juga karena faktor itu. Panji Tengkorak lahir tahun 1968, aku lahir tahun 1958,” katanya.

Tradisi keilmuwan ada di dalam keluarganya. Ayahnya, Mohammad Seti-Adji Sastroamidjojo (alm), adalah PhD di bidang fisika, dikenal sebagai ahli energi alternatif dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ibunya, Poestika Kusuma Sujana (alm), adalah dokter spesialis penyakit dalam.

Jadi mungkin jeda sebelum ia memutuskan kembali ke bangku kuliah hanyalah ancang-ancang melanjutkan perjalanannya menuju horizon tak berbatas, seperti dalam impian masa kecilnya ketika membaca Karl May.

”Foucault menghasilkan karya-karya luar biasa setelah menulis disertasinya yang menjadi buku
Madness of Civilization,” ujarnya, seperti meminta lawan bicaranya paham maksudnya.

Seno menerabas tantangan demi tantangan. Dan bertransformasi. Ia belajar mengepakkan sayap dari kegetiran dan keangkuhan kekuasaan. Sekarang ia sudah terbang. Jauh….

Maria Hartiningsih
Kompas, 19 Agustus 2005

Monday, February 16, 2009

Mengenal Seno Gumira Ajidarma (1)

Profil Seno Gumira Ajidarma
Sumber: Pusat Data dan Analisis TEMPO


SASTRAWAN yang satu ini sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,” ujar Seno. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,” tutur Seno.

Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.

Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong.”

Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”

Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,” kata Seno.

Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga.

Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.

Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,” ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini.

Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau jadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,” ujar Seno disusul tawa terkekeh.

Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.

Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater.
Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni kalau dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir. Si sopir disuruhnya tidur.

Sunday, February 15, 2009

Sapardi Djoko Damono: Pada Suatu Hari Nanti

Pada Suatu Hari Nanti

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

Sapardi Djoko Damono, 1991.

Pamflet Cinta Rendra

PAMFLET CINTA

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.

Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.
Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan
.… Sebenarnya apakah harapan?


Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!

Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Saturday, February 14, 2009

Senja dan Sajak Cinta

Senja dan Sajak Cinta


Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.

Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?

Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.

Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.

Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.

Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.

Malam telah turun di Jakarta. Di meja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.

langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku
kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan

Seno Gumira Ajidarma

Wednesday, February 11, 2009

Puisi D. Zawawi Imron

Langkah II


Merah bekas bibirmu yang melekat di pipiku sudah kusabun,
tapi aku
masih curiga, warna itu menjadi garis di cakrawala di mana pohon
pohon yang kutanam menjelma hantu.
Akhirnya aku pergi ke Lautan Teduh untuk bersuci, tapi air laut
menjadi
kering seketika, sehingga seekor cumi-cumi marah padaku,
melilitku
dengan belalainya lalu menelanku.
Dalam perut cumi-cumi itu masih kudengar suara ibu
menyuruhku
menyusu pada bisul di pantat nelayan primitif yang ditelan cumi-cumi
itu sepuluh ribu tahun lalu.
Nanah yang kukecup gurih dan harum, menyalangkan
pandangku ke
pulau-pulau yang dalam peta tak pernah ketemu.


1978


Nenek Moyangku Airmata

“bisikkanlah kepada angin, perihal terompah kayu yang diketemukan di
gunung sejarah itu!” kata air bah yang tak sampai menimbulkan banjir.
Dahulu di gunung itu terjadi perang antara mentimun melawan durian.
Lewat luka mayat-mayat yang bergelimpangan, tersabdalah sebuah
firman, lantaran yang menang kekuasaan.

dan kabar yang ramai tersiar, di gunung itu ada bayang-bayang
menabur kembang.

1979

Monday, February 09, 2009

Tempat yang Terindah untuk Mati

Tempat yang Terindah untuk Mati

Kami, 10.000 pasukan berkuda, akhirnya keluar dari hutan itu. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar, padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan, lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam.

“Pacu!”

Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya, bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka, melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang.

“Pacu! Pacu! Pacu!”

Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang, dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Kuda-kuda kami menggebu, melesat dan menggebu, seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat, gelap, dan penuh dengan rintangan. Kami menggebu begitu laju, seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan, mendesing menuju kebebasan. Namun sekarang, cuma inilah yang bisa kami lakukan, berpacu melawan angin, dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami.

“Huuuu! Huuuuu! Huuuu!”

Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. Kami, 10.000 pasukan berkuda, berderap melaju menuju cakrawala. Padang stepa diselimuti salju yang tipis, dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. Semuanya terbungkus, begitu juga tangan kami yang memegang kendali. Para pembawa panji, bendera, dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa, bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu.

Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah, berpacu dan berpacu, surai kuda-kuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Langit hanya biru. Cahaya matahari menyiram padang. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam, dan segera lenyap di balik kaki langit. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan, bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami tahu, perjalanan kami masih jauh lagi, kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan.

Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Tanpa kuda, apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan, dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Kami selalu bepergian, selalu berpindah, selalu bertualang. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim, perjalanan angin, dan peredaran bintang. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir, dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Kuda-kuda kami masih terus berderap, bagai berpacu dengan angin. Telinga kami semua penuh dengan desau, yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan, namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian.

Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir, namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kami menyeberangi sungai, kami mendaki celah-celah gunung, kami mengarungi gurun pasir, dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi, tapi kami tidak juga ingin berhenti. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu, dua, bahkan bisa lima tahun, namun kami selalu berangkat kembali. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri.

Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu.

Kami berpacu, berpacu, dan berpacu.

“Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!”

Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Matahari terasa betapa berat, menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap penjuru bumi. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Langit masih membara. Kami, 10.000 pasukan berkuda, menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala, kami harus memburunya ke balik cakrawala.

***
Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Namun, ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu, musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam, cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. Di setiap danau itu setiap 1.000 orang dari kami berkemah. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100.000 saudara-saudara kami.

Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing, seolah-olah berhadapan dengan rembulan - bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling.

Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Apakah rembulan bisa memahami, betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti, betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu, menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu.

Ia meniup seruling di atas tebing. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun, orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk, dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan, sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan.

Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh, dan mendengarkan seseorang bercerita.

"Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu...."

Kami selalu membutuhkan cerita, seruling, dan kuda. Kami memuja rembulan dan matahari. Kami menyembah langit, kami menyembah bumi. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri.

Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami, karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu, bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis, tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Apabila 100.000 saudara-saudara kami tiba, mereka yang sebagian terdiri dari wanita, anak-anak, dan orang tua, akan membutuhkan tenda-tenda itu. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat, sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami.

Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit, peniup seruling itu masih di sana, melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai, dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku, di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi, sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -- inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami pasrah. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat.

Kemudian, ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami, menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami, dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah.
Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi, bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas, menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan.

Kemudian, tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami, 10.000 pasukan berkuda, tertidur dengan pulas, tiada yang mendengkur sama sekali. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Gemeretak api unggun segera berakhir. Tinggal bara api menyala diam-diam, makin lama makin menghilang. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Bertengger di atas sana. Sesekali tertutup awan.

***
Setahun kemudian seorang pengawal di atas te¬bing berteriak.

“Hooooiiiii! Mereka sudah datang!”

Kami semua segera melompat ke atas kuda, dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah, dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu, pemandangan yang kami nantikan. Tak kurang dari 100.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit.

Hari sudah menjelang senja, langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Saudara-saudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu, kami berlari-lari turun dari bukit, langsung melompat ke atas kuda kami. Dengan segera, kami menggebu menyambut 100.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka, sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami.

Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100.000 orang lagi. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan, seperti yang sudah-sudah, kami baru akan mengetahuinya nanti.

Kemudian kami melihat panji, bendera, dan umbul-umbul yang sama. Berkibar dengan megah, bergetar-getar dalam tiupan angin. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Seperti apakah mereka kini?

“Huuu! Huuuu! Huuuu!”

Kaki-kaki kuda, berderap dan berpacu. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang, dengan gerobak, kereta, gajah dan unta. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki.


Kami semua turun dari kuda.

“Akbar!"

“Abdul!”

Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat, namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu, seluruh pakaian mereka usang dan kelabu, penuh dengan debu, namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas, siap menempuh perjalanan untuk mati. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Angin begitu dingin, namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami.

Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau, menari di atas perahu, memetik kecapi di puncak bukit, dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah rembulan dan matahari. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Betapa mereka begitu tabah, dan kini begitu kurus. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. Semua orang tampak tak terurus, tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang, menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali?

Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.

“Sarita!”

“Maneka!”

Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun, betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami semua menemukan masing-masing keluarga, kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Langit memberkati kami. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki.

Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1.000 orang dari pasukan berkuda kami. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar.

Kami begitu siap untuk bahagia, tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Kami tidak bermabuk-mabukan dan lupa daratan, kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit, kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Saudara-saudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali.

Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun, bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Saudara-saudara kami yang 100.000 orang itu datang pada musim dingin, jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal, begitu juga unta dan kuda-kuda kami. Mereka begitu jinak, begitu mengerti, dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami.

Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal, dan kami menguburkannya di tengah jalan, sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100.000 orang. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10.000 orang.

Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Pada musim semi danau masih membeku, namun rerumputan menjadi lebih hijau. Ketika tiba musim panas, kami semua, 110.000 orang, berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan.

Kami berangkat pada pagi subuh. Bulan masih menggantung di langit. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau, dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati.

***

Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Kami semua, 110.000 orang, melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Begitulah kami berjalan, berjalan, dan berjalan mengarungi gurun, menempuh ngarai, menembus badai, dan menyeberangi sungai. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Kami, 110.000 anak manusia terus-menerus melangkah, kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan, khusyuk dan meyakinkan.

Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis, bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah, mendaki gunung-gunung batu, dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Kami, 110.000 orang, dengan bayi di gendongan, orang sakit dalam tanduan, dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan, merayap di jurang yang curam, jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan.

Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan, maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya, sementara yang lain meneruskan perjalanan. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam, menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Mereka yang telah menjadi tua, lemah, dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Gajah-gajah ini berbadan besar, namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan, kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berhari-hari lamanya, tapi kami rombongan 110.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah.

Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Mata mereka mengatakannya. Mereka yang mati dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya, menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Itulah dunia yang kami rindukan, dunia yang kami impikan dari abad ke abad, dari dongeng ke dongeng, dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian.

Kami melangkah, menapak pelan, terus-menerus berjalan, dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua, kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan, sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempat-tempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Namun kami tahu, meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu, ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini.

Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami.

Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Dari hari ke hari, semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan.

Langit merah di kaki langit. Kami, 110.000 anak manusia, masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana.

***

Kemudian, tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi, kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung, memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal, memang, memang, memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi.

Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami.

Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Dari balik kabut itu, tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Kemudian kabut menjadi semakin tipis, mengambang, dan pergi. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata.

Langit ungu muda. Tiada mega di langit -- kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki, kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Gajah-gajah, unta-unta, dan kuda-kuda, mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan, namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya.

Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri, hanya tegak di atas lutut kami. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Tiada suara yang menggelegar, namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat, namun kami melihat segala-galanya memutih diserap cahaya. Padang rumput memutih, panji, bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih, segala-galanya memutih. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami, namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih, seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan, sepatu, kulit dan rambut kami, segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri.

Begitulah kami semua, kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. Tiada lagi angin bertiup, tiada lagi debu mengepul, kuda-kuda berpacu, bayi menangis, dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan, namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan, begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami.

Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Dari kelam ke kelam, dari cahaya ke cahaya, kelak-kelok labirin yang memusingkan, gua pelangi yang menyilaukan.

Kami berangkat melewati tujuh rembulan, tujuh matahari, dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah, dari barat sampai ke timur, dari selatan sampai ke utaa, secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Begitulah rombongan kami, 110.000 anak manusia, bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami.

Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan, dengan atau tanpa badan, sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian.

***

Kulihat di sepanjang langit, kemah-kemah awan. Apakah aku harus berhenti, atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Semakin jauh aku berjalan, semakin aku terikat kepada kenangan, semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. Sudah begitu jauh aku berjalan, dengan segala derita dan pengabdian, dalam penyucian cahaya berkilatan, betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan?

Kulihat satu per satu dari kami, 109.999 anak cahaya, ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Kulihat 109.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. Tinggal aku sendirian, menaiki kuda putih di atas awan, melihat-lihat pemandangan.***

Ulaanbaatar - Jakarta, Maret-Juni 1996
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
(Dimuat dalam Horison, Juli 1996)

Saturday, February 07, 2009

Kembalikan Indonesia Padaku

KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU



Taufiq Ismail

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan
Indonesia
padaku


Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Paris, 1971

Download puisi ini KLIK di sini

Puisi Taufiq Ismail yang lain? Klik di sini

Thursday, February 05, 2009

Legenda Suak Air Mengubuk

Si Miskin Yang Tamak


Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Negeri Rantau Baru, Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Penghasilan mereka yang sangat kecil tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kadang makan kadang tidak. Pakaian pun hanya yang melekat di badanlah yang mereka miliki. Semakin hari kehidupan mereka semakin memprihatinkan. Pada suatu malam, si Miskin bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Kakek itu memberikan seutas tali kepadanya seraya berkata, “Besok pagi bawalah sampan besar ke sebuah suak yang tak jauh dari Sungai Sepunjung.” Belum sempat si Miskin menjawab, kakek itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Si Miskin pun terjaga dari tidurnya. Ia mengusap-usap matanya tiga kali, seakan ia tak percaya yang baru saja dialaminya. “Apa maksud si kakek menyuruh saya ke suak itu?” tanya si Miskin dalam hati. Karena hari masih gelap, si Miskin pun melanjutkan tidurnya.

Keesokan harinya, si Miskin berangkat menuju suak seperti yang dikatakan si Kakek dalam mimpinya semalam. Tak lupa dibawanya sebuah sampan besar. Sambil mengayuh sampan, hati kecilnya terus bertanya-tanya, “Apakah ini pertanda nasib buruk saya akan segera berakhir?”. Pikiran-pikiran itu terus bergejolak dalam pikirannya. Tak terasa, sampailah si Miskin di tepi Sungai Sepunjung. Ia pun duduk di dalam sampannya sambil menunggu sesuatu yang dijanjikan si Kakek itu. Sesekali ia bermain air dan bersiul menirukan bunyi burung yang berkicau di sekelilingnya. Wajahnya yang tertimpa cahaya matahari pagi terlihat cerah mengharap datangnya suatu keberuntungan.


Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba si Miskin dikejutkan oleh seutas tali yang muncul dari dalam suak. Tanpa pikir panjang, ditariknya tali tersebut sekuat-kuatnya. Baru beberapa tarikan, sampailah ia pada ujung tali itu. Si Miskin tersentak kaget ketika ia melihat suatu benda yang berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari. “Benar dugaanku, nasib burukku akan segera berakhir,” gumam si Miskin dengan senangnya, ketika ia melihat di ujung tali itu tedapat rantai emas tiga kaluk. Tengah si Miskin menarik rantai itu, tiba-tiba dari atas pohon yang tak jauh dari tempat itu, terdengar pico seekor murai, “Potonglah cepat rantai itu! Hanya itu bagianmu!” Namun, si Miskin tidak menghiraukan picoan murai itu. Ia semakin cepat menarik tali itu dengan harapan akan mendapat rantai emas yang lebih banyak lagi. Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia menarik tali itu terus, terus, dan terus.... tapi apa yang ditariknya itu semakin lama semakin terasa berat. Tiba-tiba muncul gelembung-gelembung air dari dalam sungai. Awalnya gelembung itu kecil, lama-kelamaan menjadi seperti gelombang. Tak dalam kemudian, terdengar suara gemuruh dari dalam air. Tanpa disadarinya, tiba-tiba gelombang besar muncul seperti bono dan langsung menghempas sampan si Miskin.

Tak ayal lagi, si Miskin pun terlempar keluar dari sampan dan jatuh ke dalam air. Bersamaan dengan itu, sampannya hanyut dan akhirnya tenggelam terbawa arus sungai. Dengan sekuat tenaga, si Miskin berusaha berenang menuju tepi sungai melawan arus gelombang air yang besar itu. Ketika ia sudah sampai di tepi sungai, air sungai yang tadinya bergelombang kembali menjadi tenang seperti semula. Tapi gelembung air masih saja tampak di permukaan sungai itu. Setelah selamat dari hempasan gelombang besar itu, si Miskin pun pulang ke gubuknya dengan tangan hampa. Karena kecapaian, ia pun segera tertidur lelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi kakek itu lagi. “Hai, Miskin! Kamu memang tamak dan tidak pandai bersyukur. Mengapa rantai tiga kaluk itu tidak kau ambil? Bukankah sudah kuberi tahu lewat picoan murai?” ujar kakek itu. “Maafkan saya Kek. Berilah saya kesempatan sekali lagi, saya berjanji tidak akan berbuat tamak lagi,” pinta si Miskin sambil menyembah-nyembah. “Apa boleh buat, Miskin! Kamu pantas menerima balasan itu atas ketamakanmu,” jawab si Kakek. Sesaat setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek itu menghilang. Tak berapa lama, ayam jantan pun berkokok menandakan waktu subuh tiba. Si Miskin pun terbangun dari tidurnya. Pagi-pagi sekali, si Miskin kembali lagi ke tempat kejadian kemarin. Ia berharap akan menemukan sesuatu di sana. Lama dia menanti di tepian, tapi ia tidak menemukan sesuatu yang diharapkannya. Di tepian, ia hanya duduk termangu melihat air suak itu mengubuk tak henti-hentinya. Setiap pagi si Miskin pergi ke tempat itu, karena masih berharap akan mendapatkan sesuatu dari sana. Namun, hanya air yang mengubuk itu yang ia temukan. Pepatah mengatakan “Menyesal kemudian tiadalah guna. Begitulah nasib si Miskin, ia hanya bisa menyesali ketamakannya itu. (cerita rakyat Riau)


-------
Suak : mata air di sungai
Kaluk : lengkung
Pico : kicau
Bono : gelombang besar yang terdapat di muara sungai
Mengubuk : memunculkan gelombang air

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook