Monday, March 30, 2009

Kritik Puisi Kwatrin Tentang Sebuah Poci

“ KWATRIN TENTANG SEBUAH POCI “
Sebuah Dialog: Teori dan Analisis Puisi Goenawan Mohamad



Pada keramik tanpa nama itu
Kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
Untuk sesuatu yang tak ada
Apa yang berharga pada tanah liat ini
Selain separuh ilusi
Sesuatu yang kelak retak
Dan kita membikinnya abadi
1973, kumpulan puisi “ Asmaradana “


Pendahuluan, Membaca Cinta Membaca Energi Hidup

Cinta suatu kata yang mendorong setiap manusia ( mahluk semesta ) berangan tentang suatu harapan, yang akan membawa pada sebuah kehidupan dan keimanan yang terbaik. Dalam pengertian yang substansial cinta adalah sebuah energi kehidupan yang berisi harapan tak terhingga tapi berisi pula resiko yang tak terbatas. Buahnya demikian manis kadang juga demikian pahit, tetapi sebagian manusia mengatakan sebuah realitas yang pahit, tidak berarti cinta yang pahit, dan sebaliknya realitas yang megah atau indah-indah tidak pula berarti cinta yang manis. Apapun yang akan dialami manusia akibat cinta, yang pasti ia tak sekedar bisa begitu saja dilupakan.

Tapi ada satu pintu bagi cinta yang harus bisa kita sepakati, yaitu saling memberi dan menerima dengan satu ikthikad meninggikan ketakwaan kita dalam ber-Tuhan dan kehidupan yang nyata, bukan yang sesaat-saat indah. Puisi yang lahir sebagai salah satu efek dan ikhikad baik seseorang yang mengidentifikasi nilai bijak, dari resiko cinta dan hidup yang dipilihnya, akan menjadi bahasan dengan harapan kita mendapatkan energi hidup yang lebih baik atau setidaknya tidak lebih buruk.

Bagaimana Membaca Energi dan Mencintai Puisi

Dalam membangun kehidupan yang lebih berarti, tentunya setiap individu mempunyai pengalaman yang begitu mempesona, baik manis atau pahit yang menjadikan ia butuh untuk mengekspresikan citra diri dan empati energi hidupnya ke dalam berbagai media, salah satunya puisi atau sajak.

Mengekspresikan moral dalam kata-kata kadangkala menjebak kita menjadi egois, mengetengahkan realitas reaktif menjadi terlampau indah-indah, tanpa memandang seimbang empati yang dialami lawan konflik atau pengalaman kita itu sendiri. Untuk mengeliminasi semangat yang terlampau reaktif, ada baiknya membaca karya yang telah teruji zaman dan mencari sejarahnya, seolah kita telah lahir juga hadir, dalam kejadian karya itu.

“ Kwatrin Tentang Sebuah Poci “, sebuah puisi atau sajak Goenawan Mohamad, yang sederhana unik tetapi mengandung empati yang padat, mari mengupasnya bersama agar gairah dan energinya juga terasa oleh kita. Untuk memahami makna suatu puisi maka perlu dilakukan dua macam pembacaan. Jenis pembacaan itu antara lain :

1. Heuristik

Pada ( sebuah ) keramik ( yang ) tanpa nama itu
Kulihat kembali ( bayangan ) wajahmu ( kekasih )
Mataku ( ini ) belum (sangat ) tolol, ternyata
Untuk ( melihat ) sesuatu yang ( memang sudah ) tak ada
Apa ( lagi ) yang berharga pada ( sebuah ) tanah liat ini Selain ( cuma ) separuh ilusi ?
Sesuatu yang kelak ( pasti akan ) retak
Dan kita ( yang akan selalu ) membuatnya abadi



2. Hermenuetik

Judul “ Kwatrin Tentang Sebuah Poci “ memang sangat sesuai dari segi jumlah larik dalam satu bait, yaitu empat larik. Poci didalam puisi ini memberikan suatu kenangan yang sangat menyenangan sekaligus menyedihkan bagi si aku.

Dalam puisi ini digambarkan betapa merindunya si aku terhadap kekasihnya, sehingga si aku terus mengingat-ingat dan selalu mengenang segala sesuatu yang telah si aku jalani bersama kekasihnya.

Bermula dari sebuah poci keramik, tiba-tiba saja si aku teringat kembali akan wajah kekasihnya yang telah memberikan begitu banyak kenangan. Lalu lamunan itu harus berhenti, sebab si aku tersadar bahwa kekasih yang sangat dicintainya itu sudah tak ada lagi disampingnya.

Kemudian kesedihan, keperihan, dan kekecewaan melanda diri si aku, sehingga menimbulkan suatu pertanyaan yang pesimistis.

“ Apakah yang lagi berharga pada sebuah tanah liat ini / selain separuh ilusi “, sehingga si aku benar-benar menyadari bahwa yang telah ia lamunkan tadi dan bayangan wajah kekasihnya itu hanya sekedar ilusi.

Sebuah poci, yang menyebabkan sebuah ilusi, yang suatu saat pasti akan retak berpuing-puing sehingga hilanglah semua kenangan indah si aku bersama kekasihnya. Dan si aku dan kekasihnya ( demikian pula kita ) akan selalu berusaha untuk membikin kenangan itu selalu ada dan berarti, bahwa hal itu benar-benar pernah si aku alami bersama kekasihnya, serta selalu membuat kenangan-kenangan itu abadi didalam dan diri si aku serta kekasihnya.

Sajak “ Kwatrin Tentang Sebuah Poci “ terdiri atas dua bagian, yaitu: Bagian I adalah larik ke-1 dan ke-4 dan bagian II adalah larik ke-5 dan ke-8. Pada bagian I mempunyai sajak akhir a-a-b-b, sekilas memang seperti struktur pantun akan tetapi persajakan yang terdapat didalam puisi ini terjadi karena si penyair tepat memilih kata-kata yang membangun ekspresi dari isi puisi. Misalnya apda larik ke-3 “Mataku belum tolol, ternyata”. Disini nampak sekali bahwa sangat tepat si penyair untuk membuat pola inversi dengan ditempatkannya kata ternyata pada akhir kalimat dan bukan pada awal kalimat untuk terciptanya efek ekspresivitas, juga terciptanya aliterasi t-t yang menimbulkan nada dan sajak akhir yang terdengar sangat merdu.

Pada bait 1 larik ke-1 terdapat asonansi a-a untuk menunjukkan bahwa yang dialami si aku itu sangat berat dan sungguh menyiksa perasaannya (bila mengingat kenangan-kenangan).Pada larik ke 2 dan ke 3 juga terdapat aliterasi k-k; l-l; t-t yang menambah intensitas ekspresi dan kepadatan isi puisi itu. “Kulihat kembali wajahmu”; “Mataku belum tolol, ternyata”.Bahkan penempatan kata ternyata dibelakang kalimat (padahal dalam kalimat biasa diletakkan di depan) mampu menciptakan suatu nada kepedihan.

Pada bagian II terdapat sajak akhir a-a-b-b, mungkin ini memang menyimpang dari konvensi-konvensi puisi lama itu digunakan untuk menunjang ekspresivitas si penyair (bila tak emnunjang tidak akan dipakai), sehingga penyair tidak terlalu memaksa agar bersajak akhir a-a-a-a-a (sebab dianggap kurang mampu mempertinggi intensitas isi puisi)

…………tanah liat ini /…….separuh ilusi?/……..kelak retak/………membikinnya abadi??

Kata “kelak retak’ tidak dipaksakan menjadi “kelak terberai” untuk menyamakan persajakan akhir. Hal ini disebabkan kata “kelak retak” mempunyai asonansi e-e; a-a; dan aliterasi k-k yang lebih padat dan ekspresif untuk menyatakan seuatu yang ditakutkan terjadi dari kata “kelak terberai” yang terasa sangat cair dan lembek. Pada larik ke-4 terdapat sesuatu yang emnarik yaitu: “dan kita membikinnya abadi”, penggunaan kata “kita” ini menjadi semacam kontradiktif dengan apa yang telah ditulis pada larik ke-1 dan ke-2 “Apa yang berharga pada tanah liat ini/ selain separuh ilusi ?”. Kata “kita” semacam menjadi suatu pembesaran hati (apologi) dari kata “selain separuh ilusi”, padahal kekasih si aku (mungkin) telah melupakan ilusi-ilusi tersebut sehingga ilusi tersebut tinggal separuh, yaitu milik si aku yang berusaha agar ilusi-ilusi tersebut tetap abadi.

Dalam sajak ini digunakan secara bersama-sama sarana-sarana kepuitisan untuk mendapatkan efek-efek puitis sebanyak-banyaknya (Altenbernd, 1970: 4-5), antara lain corak kosakata, citraan, sarana-sarana retorika, dan keselarasan bunyi yang dikombinasi sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan kepadatan dan koherensi puisi “Kwatrin Tentang Sebuah Poci”.

Citraan penglihatan terlihat pada: kulihat kembali wajahmu bunyi vokal a menandakan suatu kepedihan yang sangat berat dan perih. Citraan gerak terkandung pada : sesuatu yang kelak retak. Aliterasi k-k dan asonansi a-a dapat memberi kesan gerak poci yang retak. Dalam sajak ini juga terdapat sinekdok yang berupa sinekdok pars pro toto: kulihat kembali wajahmu / mataku belum tolol, ternyata. Dimana wajahmu itu menyatakan bahwa si aku teringat lagi pada kekasihnya secara fisik maupun rohaniah, sedangkan mataku itu mewakili diri si aku secara keseluruhan bahwa si aku ternyata tidak tolol.

Dari segi kosakata puisi ini memang menggunakan kosakata yang biasa dan akrab dengan keseharian kita namun karena dikombinasi dengan beberapa sarana kepuitisan, maka tampillah puisi ini menjadi sesuatu yang sangat romantis-tragis-dan memilukan. Dalam puisi ini tidak perlu kata: sutra, selendang, mutiara dan kata-kata romantis yang lain tapi munculnya kata: “keramik tanpa nama, wajahmu, tanah liat, kelak retak”cukup mampu menciptakan suasana yang romantis-tragis. Metafora nampak pada: apa yang berharga pada tanah liat ini/ selain separuh ilusi: Yaitu berupa metafora implicit dimana tanah liat ini diumpakan sebagai suatu kenangan yang indah antara si aku dan kekasihnya.

Dari segi arti, bila dipandnag dari sudut tertentu kekasih si aku ini sangat dirindukan bagi kehadiran pada : “Pada keramik tanpa nama itu/ kulihat kembali wajahmua “kemudian lagi dan aliterasi s-s semakin meng-intens-kan kesan pesimis tersebut.

Berdasarkan statistik jumlah bunyi merdu (efoni) baikitu bunyi vokal, konsonan bersuara, liquida, sengau (yaitu a, 1, u, e, o : b, d, g: r, l : m,n,ng,ny) jumlahnya berimbang dengan bunyi kakofoni (k, p, t, s) sehingga dapat ditangkap bahwa yang dialami si aku adalahs esuatu yang sebetulnya sangat menyenangkan (kenangan-kenangan bersama kekasihnya), semua terasa menyakitkan, perih dan pedih si aku mengingatnya.

Apakah Poci yang pecah akhir sebuah Cinta

Begitu sederhananya kosakata yang digunakan dalam puisi “Kwatrin tentang sebuah poci” ini sehingga hampir setiap pembacanya (yang awam sekalipun) akan langsung mengerti makna puisi tersebut, minimal dapat menggambarkan bahwa ada seseorang (si aku) entah duduk atau bersimpuh sedang memperhatikan sebuah poci keramik (yang telah memberikan banyak kenangan) dengan penuh kepedihan dan ia teringat akan kekasihnya.

Menurut A. Teew (kata permbaca “Asmaradana” 1992: 120) yang mendominasi tema puisi Gunawan Mohammad adalah rawan dan gentingnya eksistensi manusia dalam waktu. Gunawan Mohammad memang seorangpenyair yang selalu mempermasalahkan waktu yang berjalan dan bagaimana menjadikan hal itu abadi dan berarti. Dalam puisi ini juga tersangkut tiga waktu yaitu masa lalu (ketika si aku teringat pada “poci” yang penuh kenangan), masa kini (ketika si aku melihat poci keramik), dan masa depan (ketika si aku mengharapkan kenangan-kenangan itu abadi).

Dalam puisi “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” ini tergambar jelas bahwa detik jam (waktu) pada saat si aku mengingat-ingat kekasihnya sangat lambat dan seakan-akan lambatnya waktu itu justru semakin membuat rasa sakit bagi si aku (karena waktu berjalan lambat, tidak cepat). Dengan kosakata sederhana tapi penuh dengan permainan asonansi dan aliterasi yang sanghat tepat serta adanya sedikit kontradiktif tetapi penempatannya sangat pas (sehingga menimbulkan efek kepuitisan yang luar biasa) dan hal-hal lain yang telah dianalisis diatas puisi “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” ini memiliki kekuatan ekspresivitas dan kepadatan serta masing-masing unsurnya memiliki suatu koherensi (kesatuan) dan jalinan yang sangat rapi sehingga mampu menampilkan hal yang sederhana, tidak bombastis, dan mampu menampilkan nuansa yang romantis – tragis yang dialami si aku dengan kekasihnya.

Mencintai berarti beraktivitas aktif untuk memberi perhatian terhadap objek yang dicintai. Demikian pula mencintai puisi, berarti usaha memperhatikan segala hal tentang dunia puisi secara lebih intim. Bayangkan saja puisi itu sebagai manusia, maka untuk mencintainya kita perlu mengetahui; bagaimana karakternya, sifatnya, wujudnya atau semua hal yang berhubungan dengannya. Karena itu, maka dalam mencintai puisi tidak lagi cukup bila hanya memandangnya sebagai sekedar urutan atau teks saja. Demikian menurut Sulung Lukman, dalam sebuah makalah workshop puisi beberapa waktu lalu, di Fakultas Sastra Universitas Jember.

Selanjutnya mari senantiasa kita katakan bahwa esok pagi aku akan membaca dan berkarya untuk dunia yang hidup hingga dunia akan membaca dan berkarya untuk aku yang hidup. Mari masuk melipat kertas bermain getah, mari masuk melintasi napas berdzikir basah.

Catatan:
naskah ini diambil dari dokumen tugas kuliah Iqbal Kiki, dan telah disunting oleh Pam Gunawan, untuk kebutuhan menjadikan naskah ini bisa lebih berdialog, serta sebagai upaya menghilangkan kesan kekakuan akademis.

Oleh: Iqbal Agusta Riski (Alm),
Mantan mahasiswa FS-UGM Yogjakarta.
Mantan Ketua Teater Bambu 26 Jember
Pegiat Komunitas BAHANA SASTRA Jurs. Sastra Ind. UGM
Pendiri Kelompok Studi SMONGKO KaBESAR Jember

sumber: http://dapuribuknasiputih.multiply.com/journal/item/3/3

Saturday, March 28, 2009

Dongeng Kekekow dan Gadis Miskin

Kekekow Dan Gadis Miskin
(Cerita Rakyat Minahasa)

Alkisah, di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, hidup seorang janda tua yang miskin bersama dua orang anak gadisnya. Mereka tinggal di sebuah gubuk di bawah sebuah pohon yang rindang dan teduh. Cara hidup mereka cukup unik, yakni hidup seperti seekor ayam. Mereka baru mencari makan pada saat waktu makan tiba. Jika ingin makan pagi, mereka baru mencarinya pada pagi hari, dan jika ingin makan siang, mereka pun baru mencarinya pada waktu siang hari. Demikian seterusnya. Mereka melakukan hal itu karena hutan di sekeliling mereka menyediakan berbagai jenis buah-buahan dan hasil-hasil hutan lainnya. Di hutan sekitar tempat tinggal mereka ada seekor burung kekekow yang sangat baik kepada kedua anak perempuan tersebut.

Pada suatu ketika, musim buah-buahan di daerah mereka telah lewat semua. Tak satu jenis pun pohon yang berbuah. Janda tua dan kedua anak gadis itu kesulitan mencari makan. Mereka sudah menjelajahi hutan kesana-kemari namun tidak juga menemukan adanya pohon yang berbuah. Suatu siang, sepulang dari hutan, kedua anak gadis itu beristirahat di bawah sebuah pohon mangga tidak jauh dari gubuk mereka. Mereka duduk bersandar di pohon sambil memegang perut karena menahan rasa perih dan lapar.

“Kak, perutku terasa perih sekali. Ke mana lagi kita harus mencari makan?” keluh si Bungsu.

“Entahlah, Dik! Perutku juga terasa lapar sekali. Kita sudah mencari ke sana kemari, tapi tidak ada lagi yang dapat kita makan,” sahut si Sulung.

Baru saja berkata demikian, tiba-tiba kedua gadis itu dikejutkan dengan sebuah benda berwarna kuning jatuh di dekat mereka. Setelah mereka lihat ternyata benda itu adalah sesisir pisang emas yang sudah masak.

“Hei, kenapa ada buah pisang jatuh dari atas pohon mangga?” tanya si Sulung heran.

“Aku juga tidak tahu, Kak. Jangan-jangan ada orang yang menjatuhkannya dari atas pohon,” ucap si Bungsu.

Namun, setelah menoleh ke atas pohon itu, mereka tidak melihat ada siapa-siapa. Mereka hanya mendengar ada suara burung kekekow sedang bernyanyi dengan suara yang merdu.

“Keke...kow..., keke kow..., keke kow...!!?”

Rupanya burung kekekow itu mengerti kalau kedua gadis miskin tersebut belum mendapatkan makanan untuk makan siang. Ia pun memberikan lagi kepada mereka berbagai macam buah-buahan, seperti pepaya, jambu air, dan mangga. Namun demikian, burung kekekow tidak mau memperlihatkan dirinya kepada kedua gadis itu. Maka, usai memberikan buah-buahan tersebut, ia pun segera terbang meninggalkan pohon itu.

Sementara itu, kedua anak gadis tersebut masih berdiri bengong di bawah pohon sambil memerhatikan berbagai macam makanan tersebut. Mereka seakan-akan tidak percaya terhadap apa yang baru mereka saksikan. Meskipun merasa sangat lapar, mereka tidak langsung memakan buah-buahan tersebut, melainkan berlari ke gubuk untuk melaporkan kejadian itu kepada ibu mereka.

“Apa yang terjadi, Anakku? Kenapa kalian berlari tergopoh-gopoh begitu?” tanya ibunya.

Dengan perasaan bimbang bercampur gembira, kedua gadis itu menceritakan semua peristiwa yang baru saja mereka alami. Mendengar cerita kedua anaknya itu, sang Ibu pun merasa heran bercampur gembira.

“Ayolah, Bu! Kita ke sana melihat buah-buahan itu!” ajak si Sulung sambil menarik tangan ibunya.

Sang ibu pun segera memenuhi ajakan anaknya. Sesampainya di bawah pohon mangga itu, tampaklah oleh ibunya berbagai macam buah-buahan.

“Waaahhh, ajaib sekali!” ucap sang Ibu dengan perasaan takjub.

Akhirnya, mereka pun membawa seluruh buah-buahan tersebut ke gubuk mereka. Oleh karena perasaan lapar sudah tidak tertahankan, mereka segera melahap buah-buahan tersebut. Alangkah senang hati ibu dan dua anak gadis itu.

Keesokan harinya, saat hari menjelang siang, kedua gadis itu kembali duduk di bawah pohon mangga itu. Baru saja mereka menyandarkan tubuh di batang pohon mangga, tiba-tiba terdengar lagi suara burung bernyanyi.

“Keke...kow..., keke kow..., keke kow...!!?”

Namun, ketika akan beranjak dari tempat duduknya hendak mencari sumber suara itu, tiba-tiba kedua gadis tersebut mendengar suara burung itu memanggil mereka.

“Hai, kalian gadis miskin! Mendekatlah kemari! Aku akan memberikan kalian makanan,” ujar burung kekekow.

Kedua gadis itu pun segera mendekat ke bawah dahan pohon tempat burung kekekow bertengger. Seketika itu pula berjatuhanlah berbagai macam makanan dari atas pohon.

“Terima kasih, Kekekow!” ucap kedua gadis itu serentak dengan perasaan gembira.

Demikian seterusnya, setiap kedua gadis itu kehabisan makanan, burung kekekow yang baik hati itu memberikan mereka makanan. Bahkan, pada hari-hari berikutnya, burung kekekow memberikan mereka peralatan rumah tangga yang mereka perlukan. Ketika musim kemarau pun, ia selalu memberikan mereka air untuk keperluan sehari-hari. Berkat pertolongan burung kekekow, keluarga kedua gadis itu tidak sengsara lagi seperti sebelumnya.

Pada suatu hari, peristiwa yang mereka alami tersebut terdengar oleh teman-teman sepermainan mereka yang tinggal di kampung tidak jauh dari hutan itu. Oleh karena perasaan iri hati dan dengki, teman-teman kedua gadis itu menyampaikan berita itu kepada kepala kampung. Lalu, kepala kampung itu mengerahkan seluruh warga untuk segera menangkap burung kekekow. Alhasil, mereka pun berhasil menangkap dan membawanya ke rumah kepala kampung. Warga kampung pun berebutan meminta berbagai makanan dan peralatan rumah tangga kepada burung ajaib itu. Ada yang meminta buah pisang, mangga, pepaya dan lain-lain. Bahkan ada pula yang meminta peralatan rumah tangga seperti lemari, kursi, meja dan sebagainya. Namun, tak satu pun permintaan mereka yang dikabulkan oleh burung kekekow. Justru burung kekekow itu memberikan mereka rumput-rumput kering.

Sikap dan perlakuan burung kekekow itu membuat kepala kampung dan para warga naik pitam.

“Dasar burung penipu! Kamu menghina kami, yah!” bentak kepala kampung.

“Sembelih saja burung brengsek itu!” teriak seorang warga.

“Ayo, kita sembelih burung itu!” sahut seluruh warga dengan perasaan kesal dan kecewa.

Akhirnya, kepala kampung dan para warga bersepakat untuk menyembelih burung kekekow. Setelah disembelih, bangkai burung itu dibuang di belakang rumah salah seorang penduduk.

Mengetahui burung kesayangannya disembelih, kedua gadis itu segera mengambil bangkainya dan menguburkannya di belakang gubuk mereka. Mereka sangat bersedih hati dan menyesali kekejaman para penduduk kampung yang telah menyembelih burung yang senantiasa menolong mereka. Untuk mengenang jasa-jasa dan kebaikan burung kekekow, mereka selalu datang ke kuburan kekekow untuk mendoakannya.

Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, kedua anak gadis itu tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Kehidupan mereka pun tidak lagi sengsara seperti dulu, karena semua pemberian burung kekekow mereka simpan dan rawat dengan baik. Jika kekurangan makanan, peralatan rumah tangga mereka jual untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, di atas kuburan kekekow telah tumbuh sebuah pohon besar yang tidak pernah berhenti berbuah. Buahnya sangat enak dan memiliki aroma yang menyenangkan. Jika lapar, kedua gadis itu dan ibunya memetik buah pohon tersebut. Sejak saat itu, mereka pun senantiasa hidup serba berkecukupan.

Download? Klik di sini

Thursday, March 26, 2009

Rendra: Joki Tobing dan Widuri

SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI


Dengan latar belakang gubug-gubug karton,
aku terkenang akan wajahmu.
Di atas debu kemiskinan,
aku berdiri menghadapmu.
Usaplah wajahku, Widuri.
Mimpi remajaku gugur
di atas padang pengangguran.
Ciliwung keruh,
wajah-wajah nelayan keruh,
lalu muncullah rambutmu yang berkibaran
Kemiskinan dan kelaparan,
membangkitkan keangkuhanku.
Wajah indah dan rambutmu
menjadi pelangi di cakrawalaku.


SAJAK WIDURI UNTUK JOKI TOBING


Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.
Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.
Orang-orang miskin menentang kemelaratan.
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
karena terlibat aku di dalam napasmu.
Dari bis kota ke bis kota
kamu memburuku.
Kita duduk bersandingan,
menyaksikan hidup yang kumal.
Dan perlahan tersirap darah kita,
melihat sekuntum bunga telah mekar,
dari puingan masa yang putus asa.

Download puisi ini di sini
Mau dengar Rendra membacakan puisi ini? Silakan download di sini

Tuesday, March 24, 2009

Sastrawan Indonesia Tahun 1950-an

TERBENTUKNYA CITRA PENGARANG INDONESIA


Maman S. Mahayana


Pengantar

Kehidupan dunia kesenimanan di Indonesia, khususnya yang menyangkut citra kesastrawanan kita, baik di dalam kehidupan kemasyarakatan, maupun dalam kehidupannya selaku warganegara sebuah bangsa, sering kali dipandang secara tidak proporsional, jika tidak dapat dikatakan dilecehkan. Profesi kesastrawanan atau pekerjaan sebagai pengarang dianggap tidak lebih baik dari profesi atlet, pegawai negeri atau pengusaha. Citra sastrawan sebagai warga masyarakat yang tidak jelas pekerjaannya dan dengan sendirinya tidak jelas penghasilannya, menyebabkan banyak anggota masyarakat yang memandang rendah profesi itu. Padahal, profesi sastrawan, tidaklah berbeda dengan profesi lain. Ia mempunyai tempatnya sendiri dalam kehidupan sosialnya. Ia juga mempunyai peranannya sendiri yang juga tidak kalah pentingnya dari profesi lain. Di dalam kehidupan sebagai warganegara, banyak pula sastrawan kita yang dikenal luas di tingkat dunia. Tidak sedikit karya sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dengan sendirinya, mereka juga dikenal oleh bangsa lain. Jika salah seorang atlet kita berhasil menjadi juara dalam kejuaraan tingkat dunia, mendapat penghargaan luar biasa dari masyarakat dan pemerintah, lalu mengapa hal yang sama tidak dilakukan kepada sastrawan kita yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dipublikasikan di berbagai negara?

Itulah yang terjadi dalam dunia kesastrawanan kita. Status sosial sastrawan kita sering dianggap lebih rendah daripada seorang pegawai pemerintah, pengusaha, atau bahkan pedagang. Mengapa penghargaan masyarakat hampir selalu demikian? Untuk menjawab persoalan itu, terpaksalah kita melihat ke belakang, terutama pada dasawarsa ta hun 1950-an. Pada masa itulah, sesungguhnya pembentukan citra sastrawan Indonesia 'dimulai' dan kemudian terus bergulir hingga kini.

Kerangka Teoretis dan Sumber Data

Pembicaraan citra sastrawan secara umum termasuk ke dalam pembicaraan sistem makro-sastra, yang di dalamnya dibicarakan sistem pengarang (sastrawan) akan memusatkan perhatiannya pada latar belakang pendidikan sastrawan, lingkungan sosial, ideologi yang dianut, agama, kebudayaan yang melahirkan dan membesarkannya, penghasilannya, serta persoalan yang berkaitan dengan sistem penerbitannya. Masalahnya, bahwa sastrawan adalah anggota masyarakat, sama halnya seperti anggota masyarakat lain. Ia tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan sosial, tradisi kebudayaan, dan hal lain yang berkaitan dengan itu. Manakala seorang sastrawan mempublikasikan karyanya, ia secara langsung berhadapan dengan penerbit dan masyarakat pembacanya.


Dalam kaitan dengan persoalan itu, pembicaraan citra sastrawan Indonesia lebih dipusatkan pada sistem pengarang di Indonesia tahun 1950-an yang memang menjadi semacam dasar bagi pembentukan citra sastrawan Indonesia. Meski pembicaraannya lebih khusus menyangkut sistem pengarang tahun 1950-an, tidaklah berarti kita hanya membicarakan para pengarang Indonesia yang karya-karyanya pada tahun 1950-an itu pernah diterbitkan sebagai buku. Cara demikian tidak hanya berarti menggelapkan nama-nama pengarang yang karya-karyanya lebih banyak dipublikasikan dalam lembaran surat kabar atau majalah, tetapi juga menafikan keberadaan pengarang-pengarang baru yang kiprah dalam kegiatannya bersastra, dimulai tahun 1950-an dan dalam tahun-tahun berikutnya justru berperan sangat penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia pascaperang. Sesungguhnya, penelitian yang dilakukan A. Teeuw (1989: 1 - 2) merupakan contoh yang amat baik, betapa penelitian yang semata-mata berdasarkan penerbitan buku, mengundang munculnya pengaburan data. Perhatikan pernyataan Teeuw berikut ini.

Pada hakikatnya, Rivai Apin menulis sajaknya yang terakhir dalam bulan Agustus 1950 ... dan sejak itu ia giat di bidang kebudayaan yang lain. Juga Asrul Sani tidak banyak lagi menulis sajak sejak 1950 dan cerpen-cerpen pun tidak banyak ... Sejak 1950, ia tidak lagi memainkan peranan penting apa pun di bidang kehidupan sastra ...Di bagian lain, Teeuw (1989: 11) mengungkapkan:

Pada awal 1960-an, kita pun bertemu untuk pertama-tama nama-nama seperti antara lain, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Moehamad.

Bahwa Rivai Apin kemudian bergiat dalam bidang kebudayaan yang lain, tidaklah serta-merta ia meninggalkan kegiatannya menulis karya kreatif (: sastra). Tercatat, dalam tahun 1950, lima buah puisinya dimuat majalah Siasat (tiga buah) dan Indonesia (dua buah). Sampai tahun 1957, Rivai Apin masih menghasilkan empat buah puisi lagi. Jadi, dalam tahun 1950-an itu, ia masih menghasilkan sembilan puisi; satu jumlah yang sama yang termuat dalam antologi puisi Tiga Menguak Takdir (1950)1. Empat buah puisi Rivai Apin dari antologi Tiga Menguak Takdir yaitu Kebebasan, Elegi, Batu Tapal dan Tugu dimuat pula dalam Budaya (No. 8 Agustus 1954), Zaman Baru (No. 11, Agustus 1957, No. 23-24, 1958) dalam Bintang Merah (No.8/14, 1958). Kemudian dalam pertengahan 1956 cerpennya "Rumah Tangga" dimuat pula dalam majalah Indonesia No. 8, Juni 1956. Karya-karya Rivai ini juga belum termasuk beberapa esai kesusastraan yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai petunjuk, bagaimana perhatiannya terhadap kesusastraan.

Hal yang sama juga dapat kita lihat pada diri Asrul Sani, yang menurut A. Teeuw, sejak 1950 tidak lagi memainkan peranan penting apa pun di bidang kesusastraan. Delapan buah puisi Asrul Sani yang termuat dalam antologi Tiga Menguak Takdir, kecuali puisi berjudul "Surat dari Ibu" selebihnya adalah puisi yang pernah dimuat majalah Indonesia, Mimbar Indonesia dan Siasat. Seluruhnya, sejak puisi Anak Laut dimuat majalah Siasat (No. 54, II, 1948) sampai terbit antologi Tiga Menguak Takdir, Asrul Sani telah menghasilkan 19 puisi dan lima buah cerpen; setelah antologi itu terbit sampai tahun 1959, ia masih menghasilkan tujuh buah puisi dua di antaranya termuat dalam Tiga Menguak Takdir, enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, dan tiga terjemahan drama. Jadi, sungguh tak beralasan jika Asrul Sani dikatakan tidak lagi memainkan peranan penting apa pun di bidang kesusastraan.

Sementara itu, nama Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Darmono, dan Goenawan Mohamad yang menurut A. Teeuw muncul pertama kali awal tahun 1960-an juga tidak sepenuhnya sesuai, kecuali yang disebut terakhir. Sebelum tahun 1960, Taufiq Ismail sedikitnya sudah menghasilkan satu cerpen dan 18 puisi yang dimuat lima majalah: Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia, Gadjah Mada, Media dan Indonesia. Di samping itu, ia juga telah menerjemahkan dua cerpen asing yaitu: Kisah Turunnja Iblis di Division Street karya Nelson Algreen, Siasat (No. 13, 22 Djuli 1955), dan Kolonel dan Sangkar Burungnja karya Harry Brown, Merdeka (No. 11, 14 April 1958) dan lima puisi karya-karya Taniyus Abduh (Tiga Pepatah), Engenio Montale (Laut Tengah), Chalil Matrau (Kenangan pada Dunia Kanak-Kanak); ketiganya dimuat Siasat (26 Agustus 1959), Vincenzo Cardarelli, Fajar dan Patricia Hooper, Pulang Siasat, (2 September 1959 dan November 1957)2.

Demikian pula nama Sapardi Djoko Damono. Sejak pemuatan puisinya Tjerita Burung Merdeka, (No. 11, April 1958) sampai Tamu Malam Natal, Mimbar Indonesia, (No. 13, 24 Desember 1959), ia telah menghasilkan 21 buah puisi yang dimuat majalah Mimbar Indonesia, Konfrontasi, Merdeka, dan Widjaja.

Demikianlah, bahwa pembicaraan sistem pengarang yang terlalu mengandalkan data yang berupa terbitan buku dan mengabaikan karya sastra yang muncul di media massa surat kabar dan majalah dapat menimbulkan begitu banyak kekosongan dalam pengungkapan data lainnya yang sesungguhnya amat penting. Jadi tidak dapat lain, dalam pembicaraan ini pun, penelitian yang telah dilakukan Sapardi Djoko Damono dan Ernst Ulrich Kratz merupakan sumber andalan dalam penelitian ini. Pemeriksaan pada sumbernya hanya dilakukan jika ada data yang meragukan dan dipandang perlu untuk melakukan cek ulang. Sekadar contoh, sebuah cerpen karya S. Marjati yang berjudul Dua Kali Sial, tercatat dimuat dalam majalah Kunang-Kunang (No. 5, Februari 1953). Dalam penelitian Sapardi Djoko Damono, nama majalah itu hanya tercatat sekali, sedangkan dalam penelitian E.U. Kratz, nama majalah ini sama sekali tak tercatat. Setelah melihat Katalog Majalah Terbitan Indonesia Koleksi Perpustakaan Nasional dan memeriksanya di Perpustakaan Nasional ternyata majalah Kunang-Kunang adalah majalah anak-anak yang diterbitkan Balai Pustaka pertama kali tahun 1949 dan berhenti penerbitannya tahun 1954. Balai Pustaka kemudian melanjutkan penerbitan majalah ini, tidak lagi untuk kanak-kanak, melainkan untuk para pelajar. Nama majalahnya pun diganti dengan nama Teruna yang mengakhiri penerbitannya tahun 1980.

Dengan mempertimbangkan data yang bersumber dari majalah dan surat kabar, maka diharapkan, akan terungkapkan, bagaimana sistem pengarang di Indonesia tahun 1950-an; bagaimana peranan sastrawan di tengah masyarakatnya; bagaimana penghidupan atau mata pencahariannya; bagaimana pula pandangan masyarakat terhadap profesi pengarang; benarkah sebagaimana yang dikatakan Sapardi Djoko Damono (1993), "Ditinjau dari satu segi, sastrawan dihormati setinggi-tingginya; ditinjau dari segi yang lain yakni mata pencaharian ia cenderung direndahkan". Lalu mengapa pula dapat terjadi demikian? Marilah kita periksa masalahnya sebagaimana yang menjadi tujuan tulisan ini.

Terbentuknya Citra Sastrawan Indonesia

Sinyalemen Sapardi Djoko Damono agaknya sangat beralasan mengingat kecenderungan masyarakat kita, sampai sekarang, masih menempatkan profesi pengarang sebagai profesi yang tak jelas penghasilannya, tidak punya masa depan, kehidupannya serba cuek (tidak peduli), menggelandang dan serba bebas. Pandangan yang demikian seolah-olah dilegitimasi oleh calon seniman yang lebih mementingkan penampilan daripada karyanya sendiri; rambut gondrong, pakaian aneh-aneh lengkap dengan aksesorisnya. Apakah dengan penampilan yang seperti itu, ia hendak menutupi ketidakmampuannya dalam berkarya atau sengaja agar ia mendapat predikat sastrawan yang sebenarnya masih berupa 'angan-angan'. Lalu apa yang melatar belakanginya sehingga pandangan masyarakat terhadap pengarang (seniman) tentu inheren pula dengan profesinya seperti itu? Sebelum kita membicarakan persoalan itu lebih jauh, mari kita telusuri ke masa sebelum perang.

Pada awalnya, terutama sejak masa pertumbuhan kesusastraan Indonesia, profesi pengarang hampir tidak dapat dipisahkan dari profesi wartawan. Profesi sastrawan atau wartawan ini, lekat pula dengan citra mereka sebagai golongan terpelajar, intelektual, dan kaum pergerakan nasional. Boleh dikatakan, sastrawan masa itu, termasuk golongan intelektual, setidak-tidaknya, mereka adalah lulusan sekolah-sekolah Belanda kecuali Hamka yang lebih banyak memperoleh pendidikan di luar itu. Dengan perkataan lain sastrawan sebelum perang adalah sastrawan dengan latar belakang pendidikan Belanda. Profesinya sebagai pengarang bukan pekerjaannya yang utama, melainkan pekerjaan penunjang atau pekerjaan yang sama sekali tak akan menjadikannya sebagai orang yang lebih terhormat dibandingkan pekerjaan di luar itu, betapapun hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melakukan kerja kepengarangan. Jadi meskipun ia bekerja di pemerintahan, dunia pendidikan ataupun kewartawanan, mengarang (: menjadi sastrawan) tidak menjadikan dirinya lebih rendah atau lebih tinggi dari profesi lain. Dalam pandangan masyarakat Indonesia sebelum perang, tidak ada profesi yang lebih tinggi kedudukannya selain pekerjaan sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah). Masuk dan menjadi pegawai pemerintah, berarti ia masuk sebagai kelompok yang umumnya disebut priyayi.3

Satu hal yang sangat mungkin bagi rakyat biasa untuk mengangkat status sosialnya dan kemudian masuk ke dalam kelas priyayi adalah dengan menempuh pendidikan Belanda dan bekerja sebagai pegawai pemerintah. Paling tidak, dengan pendidikan Belanda, betapapun ia bekerja sebagai pegawai partikelir, pegawai swasta, ia masih tetap akan dipandang dengan status sosial sebagai priyayi.

Sesungguhnya adanya perubahan sosial yang menyangkut status kepriyayian sebagai status capaian (achievement) erat kaitannya dengan perubahan kebijaksanaan kolonial Belanda dalam bidang pendidikan bagi penduduk pribumi di tanah jajahan. Dijalankannya politik etis memaksa pemerintah Belanda mengadakan perluasan pendidikan bagi golongan bumiputra. Surat Menteri Jajahan (Pleijte) pada Gubernur Jenderal (Van Limburg Stirum), tanggal 2 Maret 1918 mengungkapkan perlunya segera perluasan HIS dan pendidikan rendah bumiputra (Depdikbud, 1977: 49). Dalam surat itu selanjutnya diungkapkan:

... jumlah guru yang telah dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang telah ada dan yang akan didirikan dalam tahun ini (1918: MSM), hampir-hampir tidak cukup untuk memenuhi permintaan guru dalam jangka waktu tujuh tahun yang akan datang. Akan ada kekurangan 650 tenaga pengajar, yang dianggap dapat dicukupi dengan tenaga didikan bebas dan sekolah guru swasta. Jumlah permintaan guru yang ditentukan ini didapat dari rencana pendirian sekolah, yang meliputi 62 sekolah bumiputra kelas 2 dan tujuh sekolah HIS per tahun. Apakah perluasan jumlah sekolah itu tidak dapat dilaksanakan lebih cepat? Mengenai HIS perluasan perlu sekali dilaksanakan lebih cepat, karena hasrat kependidikan ini sangat besar sekali dan ternyata dalam membanjirnya anak-anak yang akan masuk ke sekolah (yang) ada ... Perluasan HIS secara agak besar-besaran hanya mungkin jika dapat tersedia guru bumiputra ...


Perluasan pendidikan bagi golongan pribumi, di samping karena desakan agar politik etis dijalankan, juga karena Belanda sendiri memerlukan tenaga terampil yang berpendidikan Barat untuk menjalankan birokrasinya di Indonesia. "Dari perluasan dan perkembangan pendidikan inilah ditemukan akar dari perubahan sosial yang mempengaruhi elite Indonesia". Lalu bagaimana dampaknya? Robert van Niel (1984: 75) mengungkapkan:

Hal ini pada gilirannya membuahkan beragamnya elite Indonesia. Bila di tahun 1900 kelompok priyayilah yang menjadi kaum bangsawan dan administratur menjelang tahun 1914 kelompok ini bertambah dengan sejumlah pegawai pemerintah, teknisi-teknisi pemerintah dan cendekiawan yang sama-sama memerankan peran elite dan yang di mata rakyat biasa Indonesia di desa-desa tercakup ke dalam yang umumnya disebut "priyayi".


Hal senada diungkapkan Akira Nagazumi (1989: 25), bahwa pembaharuan dalam bidang pendidikan ini telah mempercepat erosi terhadap kedudukan istimewa kaum bangsawan tradisional. "Pendidikan formal menurut pola Barat telah menjadi keharusan bagi orang-orang Jawa yang menginginkan perbaikan kedudukannya di dalam masyarakat kolonial".

Begitulah bahwa kemunculan sastrawan-sastrawan Balai Pustaka dipandang sebagai golongan elite, bukan karena profesi kepengarangannya, melainkan karena mereka termasuk kaum terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat (: Belanda). Dengan begitu, profesi pengarang dianggap sama halnya dengan profesi lain yang pencapaiannya harus lewat pendidikan tertentu. Akibatnya, pekerjaan mengarang tak diperlakukan sebagai satu profesi khusus, tetapi sebagai pekerjaan sambilan atau pekerjaan yang dilakukan di luar pekerjaan rutin yang secara periodik memperoleh gaji atau penghasilan dalam jumlah tertentu.

Profesi Sastrawan sebelum Perang

Untuk memperoleh gambaran bagaimana sesungguhnya profesi pengarang Indonesia sebelum perang, berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang melatarbelakanginya.

Abdul Muis (3 Juli 1886 - 17 Juli 1959)4 pengarang Salah Asuhan (1928) misalnya, mengawali penulisan novelnya tahun 1927, saat ia sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam selama lebih dari satu dasawarsa (1912-1924). Waktu itu, ia dilarang mengunjungi semua daerah di luar pulau Jawa dan Madura sebagai akibat yang dituduhkan kepadanya mengenai peristiwa Toli-Toli di Sulawesi Tengah, Juni 1919, pemogokan pegawai pegadaian di Jawa, 11 Februari 1922, dan keterlibatannya dalam membantu masyarakat Minangkabau memperjuangkan hak tanahnya yang berkaitan dengan pajak (Belasting). Setelah ada larangan itu, Abdul Muis kemudian tinggal di Garut tahun 1924 sebagai petani. Betapapun novelnya Salah Asuhan telah membuat namanya begitu populer, aktivitasnya sendiri sebagian besar dicurahkan dalam bidang kewartawanan dan politik. Bahkan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional, bukanlah karena jasanya di bidang kewartawanan dan kesusastraan, melainkan dalam politik, yaitu dianggap telah berjasa dalam pergerakan kebangsaan ketika ia menjadi anggota Sarekat Islam.

Pendidikan formal Abdul Muis, sepenuhnya adalah pendidikan Belanda. Lulus ELS (Europese Lagere School) tahun 1900, ia masuk STOVIA (School ter Opleiding van Inlandse Artsen) selama tiga tahun dan keluar dari sekolah kedokteran itu karena sakit. Selanjutnya, berkat bantuan J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan di Hindia Timur (Department Orderwijs en Eerredienst), ia bekerja di departemen itu sebagai juru tulis (klerek), satu jabatan yang waktu itu hanya dapat dimasuki oleh orang-orang Indo-Belanda. Hanya dua tahun bekerja di situ (1903 - 1905), ia kemudian bekerja di Bank Rakyat (Volkscredietwezen). Tak tahan melihat penyelewengan yang dilakukan para pejabat bank itu,5 ia memutuskan untuk pindah pekerjaan, bergabung dengan Abdul Rivai yang waktu itu menjadi pemimpin Bintang Hindia, sebuah majalah progresif terbitan Amsterdam, 1901-1908. Abdul Muis sendiri bertindak selaku wartawan dan pemimpin redaksi majalah itu di Jakarta dalam edisi bahasa Indonesia,6 membantu Dr. Tuhuteru. Berakhirnya penerbitan majalah ini akibat dihentikannya dukungan keuangan pemerintah, memaksanya pindah dan bekerja di surat kabar Belanda, Preanger Bode yang juga tidak bertahan lama.

Selanjutnya tahun 1912, Abdul Muis bersama A. Widiadisastra, seorang wartawan asal Banten yang pernah bekerja di surat kabar Medan Priyayi pimpinan Tirto Adisuryo dan Mohammad Yunus seorang Arab dari Palembang yang bersedia menjadi pendukung keuangannya, mendirikan surat kabar Kaum Muda, sebuah surat kabar progresif berbahasa Indonesia yang belakangan amat diperhitungkan keberadaannya oleh pemerintah Belanda. Sejak itulah, Abdul Muis mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh-tokoh Islam. Atas permintaan Tjokroaminoto, ia bersama Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara dan Wignyadisastra, bergabung dengan Sarekat Islam. Ketiganya kemudian menjadi Ketua (Abdul Muis), Wakil Ketua (Suwardi Suryaningrat) dan Sekretaris (Wignyadisastra) Sarekat Islam Cabang Bandung. Jabatan terakhirnya dalam karier politik adalah sebagai anggota Volksraad.

Dalam dua dasawarsa abad XX, Muis lebih banyak berkecimpung di dunia kewartawanan dan Sarekat Islam. Setelah kegiatan politiknya ditinggalkan, ia mengarang novel Salah Asuhan. Selepas itu sampai pasca-perang, ia cuma menghasilkan sebuah novel lagi Pertemuan Jodoh (1933) dan beberapa novel terjemahan. Pada awal tahun 1950-an, ia menghasilkan lagi novel dua serangkai, Surapati (1950) dan Robert Anak Surapati (1953).

Dengan gambaran biografi ringkas Abdul Muis, kita dapat melihat bahwa profesi mengarang tidaklah diperlakukan dan ditempatkan sebagai pekerjaan utama, melainkan pekerjaan yang dilakukan dalam "waktu senggang", sungguhpun sebenarnya keuntungan material yang diperoleh dari karyanya itu tidaklah kecil, apalagi untuk ukuran waktu itu.

Berapa tepatnya royalti yang diterima seorang pengarang novel untuk karyanya yang diterbitkan Balai Pustaka? Mari kita periksa pernyataan Sutan Takdir Alisjahbana (1992: 22) mengenai honorarium yang diterimanya untuk novelnya, Tak Putus Dirundung Malang yang diselesaikannya ketika ia cuti dari pekerjaannya sebagai guru.

Masa cuti itu saya pergunakan pergi ke Bandung, berobat di rumah sakit Cimahi. Di rumah sakit itulah saya menyelesaikan roman Tak Putus Dirundung Malang itu. Saya kirimkan ke Balai Pustaka. Pada tahun 1929 saya mendapat honorarium dari Balai Pustaka, kalau saya tidak salah, sebanyak 250 gulden. Ketika itu jumlah itu sangat banyak bagi saya. Coba bayangkan, gaji saya cuma 110 gulden. Dengan uang itu dapat saya membayar antaran untuk kawin dengan Raden Ajeng Rohanidah H. di Bengkulu.

Ada dua hal yang dapat ditarik dari pernyataan Sutan Takdir Alisjahbana tersebut. Pertama, novel Tak Putus Dirundung Malang diselesaikan ketika Alisjahbana cuti dari pekerjaannya sebagai guru. Jadi jelas pekerjaan mengarang memerlukan waktu tersendiri. Paling tidak, pekerjaan mengarang diperlakukan sebagai pekerjaan nomor sekian dari serangkaian pekerjaan rutin yang diutamakan atau yang menjadi mata pencaharian seseorang. Kedua, penghasilan atau penghargaan material (honorarium) yang diterima Alisjahbana untuk novelnya itu, sebenarnya relatif besar untuk ukuran masa itu. Bahwa ia kemudian dapat membayar antaran untuk menikah dengan seorang putri bangsawan, menunjukkan bahwa honorarium yang diterima Alisjahbana lebih dari sekadar cukup.

Ketika lamaran Alisjahbana untuk menjadi redaktur Balai Pustaka diterima, ia secara sadar meninggalkan pekerjaannya sebagai guru. Namun waktu itu pekerjaan redaktur bahkan pemimpin redaksi sekalipun, tidaklah populer, jika tidak dapat dikatakan tidak ada artinya, sebagaimana dinyatakan Alisjahbana. Hal itu berarti pula pekerjaan sebagai pengarang, lebih tidak populer lagi, meski honorariumnya sangat memadai.

Sebagai bahan perbandingan, saat Alisjahbana menerbitkan majalah Pujangga Baru, ia masih bekerja di Balai Pustaka dengan gaji 150 gulden, sedangkan Armijn Pane sebagai guru di Taman Siswa, menurut Alisjahbana, paling banyak mendapat 15 gulden. Jadi, penghasilan sebagai guru tidaklah menjanjikan materi yang berlebihan. Namun kedudukannya di mata masyarakat, pekerjaan guru dipandang lebih terhormat. Hal itu juga diungkapkan Achdiat K. Mihardja (1992: 67) saat ia tak bekerja di pegawai pemerintah (ambtenaar).

Begitu tamat AMS (SMA) jurusan sastra-budaya Timur, saya langsung bekerja sebagai guru Taman Siswa di Kemayoran, Betawi. Kemudian jadi redaktur surat kabar harian dan majalah. Kemudian lagi buka warung jualan keperluan rakyat sehari-hari. Akhirnya kami membeli "pabrik" kue dan roti ... Tapi selama itu saya pun bekerja sebagai wartawan freelance dan menulis di pelbagai surat kabar dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia, Sunda, maupun Belanda.

Ketika itu, Achdiat Karta Mihardja ditawari oleh Raden Satjadibrata untuk bekerja di Balai Pustaka dengan permulaan sebagai volontair (magang) dengan gaji sebulan 40 gulden. Sesudah tiga bulan baru diangkat sebagai pegawai tetap dengan pangkat adjunct hoofredacteur (wakil pemimpin redaksi) dengan gaji permulaan 70 gulden. Lalu berapa penghasilan Achdiat (1992: 67) ketika itu dari usaha pabrik kue dan roti miliknya itu?

... saya keluarkan buku catatan keluar-masuknya keuangan pabrik kue dan roti itu. Hampir tak percaya meneer Satja ketika melihat jumlah keuntungan bersih dari pabrik itu. Rata-rata per bulan 150 gulden ... akhirnya saya terima juga tawaran itu. Terutama atas desakan ibu saya yang sangat meng-inginkan anaknya menjadi seorang ambtenaar. Ibu, juga Bapak, adalah keturunan menak ... ambtenaar BB (Binnenlands Bestuur) ... saya dapat merasakan betapa iba hati ibu dan bapak yang telah begitu bersusah payah menyekolahkan anaknya ... hasilnya koq cuma menjadi guru Taman Siswa yang gajinya cuma 20 gulden sebulan ... kemudian jadi "tukang nulis di koran" ... kemudian buka warung ... jual kue dan roti. Wah, semua itu kan tidak punya kedudukan sosial apa-apa


Begitulah, bahwa pada zaman sebelum perang, kedudukan pegawai pemerintah (ambtenaar) dipandang sebagai status yang terhormat. Balai Pustaka sebagai lembaga pemerintah, juga telah menempatkan para pegawainya, dalam pandangan masyarakat, sebagai pegawai pemerintah. Dalam hal ini, profesi lain pun, sejauh tidak berada di bawah lembaga pemerintah, cenderung ditempatkan dalam status yang lebih rendah. Seorang pedagang, misalnya, betapapun secara materi penghasilannya lebih besar daripada pegawai pemerintah, dalam status sosialnya, ia tetap dipandang lebih rendah. Dalam hal ini, pandangan kepriyayian pada masa itu condong diukur berdasarkan pendidikan dan status kepegawaiannya, dan bukan dari profesi, keahlian, dan penghasilannya dalam pekerjaan tertentu. Pandangan inilah yang terus berkembang di masyarakat hingga pascaperang. Dalam kaitannya dengan profesi pengarang, juga masalahnya sama. Terlebih lagi, mengarang dianggap sebagai 'bukan pekerjaan'. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika masyarakat kita, sampai kini, masih tetap melihat kedudukan sastrawan dengan nada yang 'sumbang'. Akibatnya, dapat dipastikan, sebagian besar masyarakat kita, tidak hanya tidak punya keinginan menjadi pengarang, melainkan juga cenderung tidak mau tahu mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan profesi kepengarangan; penghasilannya, peranannya dan syarat (tak tertulis) yang dituntut profesi itu.

Profesi Sastrawan Sesudah Perang

Selepas perang sampai pihak Belanda mengakui kedaulatan Indonesia akhir tahun 1949, dibandingkan para pegawai negeri atau pedagang (pengusaha), para pengarang sebenarnya lebih dapat "bertahan hidup". Modalnya, pengetahuan, kemahiran memainkan bahasa, dan ketajaman menangkap situasi zamannya, memungkinkan seorang pengarang dapat "bertahan hidup" dalam situasi apa pun. Itulah yang terjadi pada diri HB Jassin, J.A. Dungga, Darsyaf Rahman, Pramudya Ananta Toer, Achdiat Karta Mihardja, Idrus, Asrul Sani, Rivai Apin, dan sederetan nama lain yang sebelum perang (zaman pra-Jepang dan zaman Jepang) sudah memainkan peranannya dalam kesusastraan Indonesia.

Achdiat Karta Mihardja yang waktu itu sedang dalam kepayahan keuangan dan menganggur berkepanjangan, dalam arti tidak mempunyai pekerjaan tetap sebagaimana lazimnya pegawai kantor, dalam situasi seperti itulah ia menulis novelnya, Atheis. Lalu berapa honor yang diterimanya waktu itu? Inilah pernyataannya:

... ada satu kegembiraan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Yaitu menerima honor untuk buku saya Atheis yang di zaman itu (1949) sudah cukup bagi istri saya untuk langsung membikin rumah di Jalan Tembaga, Galur, Jakarta. (Achdiat, 1992: 82)


Bagaimanakah pandangan masyarakat terhadap status sosial pengarang dalam dasawarsa tahun 1950-an? Bahwa apa yang terjadi pada tahun 1950-an, sebenarnya tidak terlepas dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Sejak awalnya, ketika terjadi perubahan sosial akibat meluasnya perkembangan pendidikan yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda, telah menempatkan status kepriyayian tak lagi berdasarkan keturunan, melainkan merupakan status capaian yang dapat diraih melalui jalur pendidikan. Akibatnya, jalur profesi tidak lebih penting daripada status kepegawaian yang terkait dengan pemerintahan.

Pada saat yang bersamaan, sebenarnya, jalur profesi di bidang kewartawanan, ikut memainkan peranan penting dalam pergerakan kebangsaan. Namun, itupun yang dilihat bukan profesi kewartawanannya, melainkan status kepegawaian dan tingkat pendidikan yang dicapainya. Itulah sebabnya, tokoh wartawan macam Tirto Adhi Suryo, Adinegoro, Abdul Muis dan sastrawan-sastrawan 'veteran' seperti Merari Siregar, A. St. Pamuntjak, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Sanusi Pane, dan Armijn Pane, di dalam status sosialnya, tidaklah dilihat dari profesinya, melainkan dari status kepriyayiannya.

Peranan mereka dalam kehidupan bangsa ini kemudian menjadi tak menonjol dan surut ke belakang, saat perang kemerdekaan berkecamuk selama hampir setengah dasawarsa (1945-1949). Yang muncul sebagai tokoh penting dalam tahun 1950-an adalah mereka yang berjasa dalam perang kemerdekaan. Dengan begitu, muncul pula priyayi model baru yaitu mereka yang pendidikan formalnya tidak menonjol, namun berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan negeri ini, hanya karena ia punya keberanian untuk memanggul senjata. Dengan demikian, citra sastrawan-wartawan sebagai pejuang moral, makin terpuruk oleh mereka yang bergerak di bidang kemiliteran dan politik. Itulah citra sastrawan dalam pandangan masyarakat kita dan terus berlanjut hingga kini.

Peta Sastrawan Tahun 1950-an

Secara umum peta sastrawan Indonesia tahun 1950-an terdiri atas (1) sastrawan 'veteran' yang kemunculannya sudah dimulai sejak zaman Balai Pustaka, (2) sastrawan pra-kemerdekaan yang kiprahnya diawali pada zaman Pujangga Baru dan zaman Jepang, (3) sastrawan 'anak-anak revolusi' yang masa anak-anak dan masa remajanya dihabiskan di antara desingan peluru dan huru-hara revolusi. Yang disebut terakhir ini kemunculannya dimulai pada awal sampai akhir tahun 1950-an.

Dilihat dari tahun kelahirannya, sastrawan 'veteran' dan sastrawan prakemerdekaan, lebih dari separohnya adalah produk pendidikan Belanda. Sementara itu kiprahnya dalam kesusastraan Indonesia tahun 1950-an, terutama golongan sastrawan 'veteran' nyaris tenggelam digantikan sastrawan 'anak-anak revolusi'. Kalaupun ada satu-dua di antara mereka yang menerbitkan novel atau antologi puisi, karya itu sama sekali tak menonjol; tidak mengundang daya tarik yang kuat meski secara tematis memperlihatkan perubahan sikap pengarangnya semasa sebelum merdeka dan sesudah merdeka. Abdul Muis, misalnya, masih menghasilkan tiga buah novel, Surapati (Balai Pustaka, 1950), Robert Anak Surapati (Balai Pustaka, 1953), dan Hendak Berbakti (?, 1951). Dua yang disebut di awal merupakan dua serangkai yang mengisahkan ayah-anak (Surapati dan Robert) yang dihadapkan pada persoalan kebangsaan; Surapati melawan Belanda untuk tanah air Indonesia dan Robert memihak Belanda karena itu bangsa ibunya, Susana. Jadi dalam hal ini, Abdul Muis terkesan hendak menegaskan kembali persoalan perkawinan antarbangsa (Hanafi-Corrie), sebagaimana yang disampaikannya dalam Salah Asuhan.

Marah Rusli juga masih menghasilkan dua buah novel, La Hami (balai Pustaka, 1953) dan Anak dan Kemenakan (1953). Kedua novel ini pun sama sekali tak memperlihatkan kelebihan yang berarti. Yang pertama, menurut pengarangnya, bersumber dari peristiwa sebelum Gunung Tambora meletus tahun 1815. Di dalamnya, unsur mistik dan dunia supernatural mewarna karakteristik tokoh-tokohnya. Sementara yang kedua, terkesan hendak menegaskan konflik tua-muda (Datuk Meringgih dan Samsulbahri) yang di dalam Anak dan Kemenakan konflik itu dimenangkan golongan tua, karena golongan muda sengaja mengalah dan pergi meninggalkan Padang untuk memasuki dunia yang lebih luas.

Pengarang 'veteran' lain, seperti Matu Mona, Nur Sutan Iskandar, dan Panji Tisna masing-masing masih menghasilkan satu novel yang juga tidak begitu menonjol. Nama-nama mereka praktis tenggelam, dan digantikan oleh golongan sastrawan berikutnya.

Golongan sastrawan prakemerdekaan, pendidikannya juga merupakan hasil pendidikan Belanda. Kemunculan mereka umumnya sudah dimulai sejak zaman Pujangga Baru. Agak berbeda dengan golongan sastrawan 'veteran, golongan sastrawan prakemerdekaan ini, di samping menghasilkan sejumlah karya yang diterbitkan sebagai buku, juga karya-karya (puisi, cerpen, drama, esai dan karya terjemahan) yang tersebar dalam berbagai majalah dan surat kabar yang terbit tahun 1950-an itu. Golongan inilah yang sebenarnya 'ikut' meramaikan konstalasi kesusastraan Indonesia dasawarsa itu yang sebagian besar didominasi oleh sastrawan 'anak-anak revolusi'.

Dapatlah disebutkan di sini beberapa di antaranya yang menonjol yang termasuk golongan sastrawan prakemerdekaan.

Muhammad Dimyati (= Badaruz-zaman) (lahir di Solo, 14 Juni 1913), sesungguhnya termasuk sastrawan tiga zaman. Sastrawan yang karya-karyanya hampir tak pernah dibicarakan ini, memulai karier kepengarangan sejak zaman Pujangga Baru tahun 1935 lewat dua novelnya, Siti Nurjanah dan Student Suleiman yang keduanya diterbitkan tahun 1935.7 Waktu itu ia juga bertindak sebagai pembantu atau koresponden majalah Pujangga Baru. Pada tahun 1940, novelnya yang berjudul Ramona, berhasil keluar sebagai juara pertama dalam lomba penulisan roman yang diselenggarakan majalah Pedoman Masyarakat. Tahun berikutnya (1941), Muhammad Dimyati menghasilkan lagi sebuah novel berjudul Gelombang Perkawinan. Belakangan, cerpennya yang berjudul "Tangan Mentjentjang Bahoe Memikoel" berhasil keluar sebagai pemenang hadiah pertama sayembara yang diselenggarakan harian Asia Raja dan Djawa Baroe tahun 1943.8

Dalam tahun 1950-an itu, sebenarnya Muhammad Dimyati termasuk sastrawan cukup menonjol. Paling tidak, secara kuantitatif ia menghasilkan satu novel, Yogya Diduduki (Gapura, 1950), dua antologi cerpen, Pengorbanan dan Kebaktian (1950) dan Manusia dan Peristiwa (1951) keduanya diterbitkan Balai Pustaka, 22 cerpen yang dimuat di berbagai majalah yang terbit pada dasawarsa itu, dan sejumlah artikel kesusastraan. Sebelumnya, terutama tahun 1940-an, ia telah pula menghasilkan cerpen sekitar 17-an buah yang dimuat Pandji Poestaka, Keboedajaan Timoer, Djawa Baroe, Pantja Raja, Mimbar Indonesia, Siasat, dan Gema Suasana. Sangat mengherankan, A Teeuw9 nyaris mengabaikan karya-karya Muhammad Dimyati. Bahwa nama Muhammad Dimyati disebut Teeuw tidak lebih dari "cuma" tiga kali, bahkan itu pun dimasukkannya dalam konteks pembicaraan roman picisan, menunjukkan bahwa Teeuw sama sekali mengabaikan karya-karya yang pernah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar. Dalam konteks sistem pengarang, boleh jadi justru Dimyati yang paling mewakili citra pengarang Indonesia.

Pertama, dibandingkan pengarang lainnya, Muhammad Dimyati termasuk yang pendidikan formalnya tidaklah begitu menonjol. Lulus HIS, ia kemudian melanjutkan ke sekolah agama. Dari sana ia memilih menekuni bidang kewartawanan dan menetapkan untuk menjadi pengarang. Mengingat kondisi telinganya yang tunarungu mengharuskannya lebih banyak belajar sendiri. Selebihnya, ia lebih banyak membaca dan menulis, bahkan belakangan ia menjadi pemimpin redaksi sebuah surat kabar lokal Yogyakarta.

Kedua, sebagai orang yang menyadari kondisi fisiknya yang demikian, menjadi pengarang merupakan pilihan yang tepat. Dalam hal ini, betapapun ia bekerja pada sebuah media massa, pekerjaannya sebagai wartawan justru bukan merupakan pekerjaannya yang utama. Nyatanya, dengan profesi utamanya sebagai sastrawan atau pengarang, karena ia juga menulis sejumlah esai, ia dapat menghidupi keluarganya dari penghasilannya sebagai pengarang. Satu bukti bahwa profesi kepengarangan tidaklah sebagaimana yang diduga banyak orang.10 Sebulan menjelang wafatnya, cerpen Dimyati dengan nama samaran Abu Ubaidah, menghiasi lembaran majalah Hikmah, (14 November 1958, dan 8 Desember 1958). Ia meninggal dunia dengan sejumlah karya yang belum banyak dibicarakan orang.

Pengarang lain yang termasuk golongan sastrawan prakemerdekaan adalah Aoh Karta Hadimadja (lahir di Bandung, 15 September 1911 dan meninggal di Jakarta, 17 Maret 1973). Seperti kebanyakan sastrawan yang lahir pada paroh pertama abad ke-19, Aoh adalah produk pendidikan Belanda dengan MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) sebagai pendidikan formal tertinggi yang diikutinya. Lulus MULO ia bekerja sebagai pegawai perkebunan teh, namun terpaksa dirawat di Cisarua karena terserang penyakit paru-paru. Saat dirawat itulah, ia mulai bersahabat dengan buku-buku sastra yang belakangan ternyata menjadi bagian dari kehidupannya.

Sejauh pengamatan, Aoh mulai memasuki dunia sastra lewat cerpennya "Bertamasya di Hari Minggu" dimuat majalah Pedoman Masyarakat (No.26, 25 Juni 1941), sebuah majalah terbitan Medan yang dikelola Mohammad Yunan Nasution dan Hamka. Selepas itu, beberapa esainya juga dimuat majalah ini. Satu cerpen lagi yang dimuat majalah Pedoman Masyarakat (No. 2, 14 Januari 1942, berjudul "Mengobati Kekecewaan Orang").11

Sementara itu, puisi pertama Aoh dimuat di majalah Poedjangga Baroe (No. 5, September 1941). Sejak itu sampai tahun 1949, ia menghasilkan 55 buah puisi lagi. Dalam kurun waktu yang sama, ia pun menghasilkan delapan buah cerpen, termasuk cerpennya "Bukan karena Aku" yang dimuat dua kali, yaitu dalam majalah Djawa Baroe (No. 8, 1944), dan surat kabar Asia Raja (15 April 1944). Jumlah itu sebenarnya tidak termasuk esai-esainya yang pernah dimuat Pedoman Masyarakat, Djawa Baroe, Poedjangga Baroe, surat kabar Asia Raya, dan beberapa media lain.
Melihat jumlah karya yang dihasilkan Aoh sebelum tahun 1950, kematangannya terjadi pada dasawarsa tahun 1950-an itu, betapapun secara kuantitatif tidak seproduktif masa sebelumnya. Sungguh pun begitu ia masih menghasilkan 10-an buah cerpen dan belasan puisi yang dimuat berbagai surat kabar dan majalah. Sementara dua antologi puisinya, Zahra (1950) dan Pecahan Ratna (1952) dan sebuah antologi cerpen, Manusia dan Tanahnya (1952) diterbitkan Balai Pustaka, sedangkan dua buah dramanya, Lakbok (1951) dan Kapten Syaf (1951) muncul dalam majalah Poedjangga Baroe. Di samping itu, ia juga masih sempat menerjemahkan puisi karya Robert Burns, Mengeluhlah Sayang, Afton Sayang, dan Mawar yang Merah, yang dimuat majalah Siasat, 22 April 1959.

Pada awal tahun 1950-an, Aoh bekerja di Mimbar Indonesia dan dipercaya untuk memegang rubrik "Kesusastraan". Kemudian esai-esai yang pernah dimuat dalam rubrik itu, ditambah dengan esai penulis lain, diterbitkan dalam bentuk buku, berjudul Beberapa Paham Angkatan 45 (Jakarta, Tinta Mas, 1952).

Dari biografi ringkas Aoh Karta Hadimadja, kita dapat melihat, sesungguhnya Aoh lebih banyak memusatkan perhatian pada profesinya sebagai penulis (:sastrawan) daripada sebagai pegawai Kantor Pusat Kebudayaan (zaman Jepang) dan pegawai perkebunan (awal kemerdekaan). Ia lalu bekerja di Mimbar Indonesia, dan memegang Mimbar Umum ketika berada di Medan, kemudian ke Belanda (1952-1956), menjadi penyiar BBC London seksi Indonesia (1959-1970), dan terakhir bekerja di Penerbit Dunia Pustaka Jaya (1971-1973). Jadi pada awalnya, profesi kepengarangan masih ditempatkan sebagai pekerja 'sambilan' dengan pekerjaan utamanya sebagai pegawai. Belakangan, setelah ia bekerja di Mimbar Umum yang memaksanya untuk terus-menerus menulis, memberi keyakinan bahwa bekerja sebagai pengarang, tidaklah membuatnya kekurangan, bahkan kemudian membuka peluang untuk memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai. Dengan demikian, jelaslah bahwa profesi pengarang setidak-tidaknya bagi Aoh merupakan profesi yang 'prospektif' jika ia terus mengembangkan wawasannya dan melebarkan hubungannya secara lebih luas. Berkat jasanya di bidang kesusastraan itulah, pemerintah Indonesia memberikan Anugerah Seni pada tahun 1972.

Sebenarnya banyak sastrawan lain termasuk ke dalam golongan sastrawan prakemerdekaan, masih terus berkarya pada dasawarsa tahun 1950-an itu. Beberapa di antaranya, Anas Ma'roef, Rustandi Karta Kusumah, Buyung Saleh, MS Azhar, Hr. Bendaharo, Rosihan Anwar, Bahrum Rangkuti, Saleh Sastrawinata, Bakri Siregar, Taslim Ali, Usmar Ismail, Suwarsih Djojopuspito, Armijn Pane, dan sederetan nama lainnya.

Dasawarsa 1950-an itu kesemarakannya dimungkinkan oleh peranan yang dimainkan para pengarang 'anak-anak revolusi'. Mereka ada yang mengawalinya sejak tahun pertama dasawarsa itu dan menjelang akhir tahun 1950-an. Oleh karena itu, secara umum, golongan sastrawan ini dapatlah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu (1) mereka yang telah berkarya sejak awal kemerdekaan, (2) mereka yang muncul pada awal tahun 1950-an, dan (3) mereka yang mulai berkarya menjelang berakhirnya dasawarsa 1950-an, kemudian menjadi sastrawan penting dalam tahun-tahun berikutnya.

Dari ketiga kelompok itu, kita juga masih dapat melihat peranan masing-masingnya apakah lebih menonjol di bidang novel, cerpen, puisi, drama, esai atau karya terjemahan. Dilihat dari peranannya ini, maka kita juga masih dapat mengelompokkannya lagi dengan menyebut para pengarang yang dianggap paling menonjol di antara bidang-bidang itu.

Kelompok pertama, dapatlah disebutkan di sini, nama-nama antara lain, Pramudya Ananta Toer, Klara Akustia, Dodong Djiwapradja, S. Rukiah Kertapati, Utuy T. Sontani, Sitor Situmorang, Riyono Pratikto, Herman Pratikto, Hartoyo Andangdjaya, Suradal AM, Suripman, Trisno Sumardjo, Idrus, Muhammad Ali, S.K. Mulyadi, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Dua yang disebut terakhir tak akan dibincangkan lagi. Di samping nama-nama itu, tahun 1950-an itu juga ditandai dengan munculnya para pengarang keturunan Tionghoa yang karya-karyanya dimuat di majalah umum. Mereka antara lain, Khong Bo Ya, Njoo Siong Seng, dan Tan Sioe Tjhay.

Untuk kelompok pertama ini, Pramudya Ananta Toer merupakan tokoh penting dalam penulisan novel dan cerpen. Dalam tahun 1950-an itu, Pramudya telah menghasilkan sembilan buah novel dan 34 cerpen. Satu jumlah yang memperlihatkan produktivitasnya yang luar biasa. Dalam hal ini beberapa esainya juga patut dipertimbangkan mengingat visi dan sikap kepengarangannya memperlihatkan wa wasan yang amat luas. Hal tersebut terjadi pada awal tahun 1950-an sampai menjelang berakhirnya dasawarsa itu. Memasuki tahun 1960-an, pemikirannya mengenai kesusastraan mulai condong dipengaruhi oleh doktrin politik. Akibatnya ia tidak cuma makin surut produktivitasnya, tetapi juga menjerumuskan karya-karyanya ke dalam bentuk sastra yang condong bernilai rendah. Paling tidak, sebuah cerpennya, "Paman Martil"12 dapat dijadikan bukti kecenderungan itu.

Selain Pramudya Ananta Toer, tokoh penting dari kelompok ini adalah Sitor Situmorang. Untuk bidang puisi, ia termasuk penyair yang sangat istimewa. Betapapun ia menghasilkan sekitar 15-an cerpen dan dua drama pada dasawarsa itu, peranannya yang menonjol justru di bidang puisi yang secara keseluruhan tampak dari ke-68 puisinya yang muncul di berbagai media massa termasuk antologi puisinya Dalam Sajak dan Wajah tak Bernama, keduanya terbit tahun 1955. Seperti juga Pramudya Ananta Toer, memasuki tahun 1960-an, kekuatan kepenyairannya condong dipengaruhi kekuatan ideologi tertentu.

Sementara Dodong Djiwapradja dan, terutama, Klara Akustia tidaklah begitu menonjol dibandingkan Sitor. Walaupun demikian Dodong sebenarnya memperlihatkan kematangannya tahun 1950-an, jika kita membandingkan puisinya yang muncul tahun-tahun awal kemerdekaan. Setelah memasuki tahun 1960-an, nama keduanya benar-benar tenggelam dalam putaran politik. Hal yang sama terjadi pula pada diri S. Rukiah Kertapati. Kepenyairannya muncul pada tahun awal kemerdekaan. Ia juga mulai matang pada tahun 1950-an itu, seperti diperlihatkan dalam antologi puisinya, Tandus (Balai Pustaka, 1952) yang berhasil menjadi pemenang Hadiah Sastra Nasional BMKN tahun 1952.

Beberapa nama lainnya dari kelompok ini adalah Utuy T. Sontani yang sebenarnya lebih menonjol di bidang drama daripada puisi dan prosa, walaupun ia menerbitkan sebuah antologi cerpennya, Orang-Orang Sial (Balai Pustaka, 1951); Trisno Sumardjo dan Hartojo Andangdjaja, dalam tahun 1950-an itu juga tidaklah begitu menonjol, namun belakangan keduanya banyak menerjemahkan karya-karya asing.

Untuk bidang cerpen, Idrus tahun 1950-an itu secara kuantitatif tidaklah menonjol. Sebuah antologi cerpennya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Balai Pustaka, 1948) yang memuat 12 cerpen, menurut Jassin (1953: 28) membawa gaya penulisan baru yang disebut kesederhanaan baru (nieuwe zakelijkheid). Yang justru menonjol dalam penulisan cerpen pada dasawarsa itu adalah Riyono Pratikto yang dalam sepuluh tahun itu telah menghasilkan sedikitnya 95-an cerpen yang umumnya mengangkat cerita mistik dan dunia supernatural.

Pengarang lain yang patut disebutkan di sini adalah Suripman (P. Sengodjo), Herman Pratikto, Surandal AM dan Muhammad Ali. Tiga nama yang disebut pertama, secara kualitas dan kuantitas, sebenarnya memperlihatkan kematangannya pada tahun 1950-an itu. Namun tahun-tahun berikutnya, karya mereka tidak pernah lagi muncul. Kumpulan cerpen Suripman, Pahlawan dan Kucing (Balai Pustaka, 1987) diambil dari cerpen-cerpennya yang pernah muncul tahun 1950-an itu.

Seperti telah disebutkan, dari kelompok ini muncul para penulis keturunan Tionghoa, seperti Khong Bo Ya, Njoo Siong Seng, dan Tan Sioe Tjhay. Nama-nama mereka muncul pascamerdeka atau pada akhir tahun 1940-an dan karya-karya mereka sebagian besar diterbitkan di majalah Star Weekly dan Liberty terbitan Surabaya. Apa artinya para pengarang keturunan Tionghoa ini dalam konteks perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, dan lebih khusus lagi menyangkut sistem kepengarangan di Indonesia.

Tampak di sini, bahwa semenjak memasuki zaman Jepang, peta kepengarang sastra Indonesia tidak lagi didominasi oleh para pengarang Sumatra. Satu pertanda bahwa para pengarang di luar kelahiran Sumatra, terutama Jawa dan Sunda, mulai ikut memainkan peranannya dalam perjalanan kesusastraan Indonesia. Tak ada lagi dominasi Sumatra (: Minangkabau). Akibatnya, tema dan gaya, dan teristimewa bahasa Indonesia para pengarang di luar Sumatra, memperlihatkan keberagaman yang amat dipengaruhi oleh faktor tradisi budaya para pengarang yang bersangkutan.

Bahwa sejak awal kemerdekaan sampai tahun 1950-an, bahkan sampai kini, tidak sedikit para pengarang keturunan Tionghoa menulis sejumlah karya sastra untuk pembaca Indonesia secara umum, hal itu juga memperlihatkan bahwa soal-soal kesukuan dan kedaerahan (etnis), tidak lagi dipersoalkan. Satu hal membedakan para penulis keturunan Tionghoa tahun 1950-an dengan para penulis Tionghoa atau Cina peranakan, sebagaimana yang telah diteliti Claudine Salmon, adalah dalam hal pemakaian bahasa Indonesianya. Para penulis keturunan Tionghoa tahun 1950-an menggunakan bahasa Indonesia yang bukan bahasa Indonesia pasar (Melayu pasar).

Kelompok kedua yang karya-karyanya baru muncul pada tahun 1950 sampai pertengahan dasawarsa itu adalah para pengarang Indonesia yang justru sangat menyemarakkan konstalasi kesusastraan Indonesia tahun 1950-an. Beberapa nama yang perlu disebutkan di sini adalah M.S. Achmad, Sobron Aidit, Trisnojuwono, Bokor Hutasuhut, Ali Audah, Yusack Ananda, Atto Ananda, jamil Suherman, M. Alwi Dahlan, Suwardi Idris, S.M. Ardan, Harijadi S. Hartowardojo, Sugiarta Sriwibawa, Sukanta SA, Motinggo Boesje, Ramadhan K.H., Muhammad Diponegoro, Nugroho Notosusanto, Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Iwan Simatupang, Rendra, dan sederetan nama lain lagi. Kecuali Achmad dan Atto Ananda, para penulis lain yang disebut di atas masih terus bergiat dalam kegiatan kesusastraan. Sobron Aidit, misalnya, betapapun setelah peristiwa G 30 S PKI, ia tinggal di luar negeri dan membuka restoran di Paris, beberapa puisinya belakangan masih sempat ia kirimkan ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Yang sangat menonjol dalam kelompok ini pada masa itu adalah Toto Sudarto Bachtiar yang dalam dasawarsa itu telah menghasilkan 126 puisi; Ajip Rosidi (241 puisi dan 43 cerpen); dan Rendra (151 puisi, 25 cerpen, dan satu drama). Motinggo Boesje yang menghasilkan dua drama dan 46 cerpen, mengawalinya sejak cerpen pertamanya, Berantas, dimuat majalah Waktu, 29 Agustus 1954. Setelah itu karya-karyanya terus mengalir macam pabrik yang memproduksi barang tertentu. Nugroho Notosusanto dan Muhammad Diponegoro juga tampil dengan gaya dan tema yang berbeda. Nugroho lebih banyak mengangkat pengalamannya tentang sisi lain sebuah revolusi fisik, sedangkan Muhammad Diponegoro menampilkan kehidupan yang diwarnai dengan suasana keagamaan, hal yang juga tampak dari karya-karya Djamil Suherman.
Sementara itu, tiga nama yang menonjol tadi; Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi dan Rendra, belakangan terus memantapkan namanya sebagai penyair penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Rendra masih terus dengan kepenyairannya bersama-sama dengan kegiatannya di bidang drama. Toto Sudarto Bachtiar mulai mengalihkan kegiatannya ke bidang penerjemahan. Sedangkan Ajip Rosidi bergiat dalam beragam bidang. Boleh jadi tidak ada bidang dalam kesusastraan yang tidak dimasuki Ajip Rosidi, termasuk juga penerjemahan khasanah sastra asing dan daerah (Sunda).

Satu nama lain yang dalam tahun 1950-an itu kurang begitu menonjol, namun dalam tahun berikutnya menjadi sastrawan penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia adalah Iwan Simatupang. Dasawarsa tahun 1950-an itu, Iwan hanya menghasilkan satu cerpen (Lebih Hitam dari Hitam, Siasat, No. 13, 1959) dan 20 puisi. Tahun berikutnya, terutama lewat empat novelnya, Merahnya Merah, Ziarah, Kering, Koong, ia nyaris tak pernah terpisahkan dari pembicaraan mengenai sastra Indonesia modern.

Ramadhan K.H. dan Ali Audah dalam perkembangannya menjalankan peranannya sendiri-sendiri dalam kesusastraan kita. Audah kini lebih banyak memusatkan perhatiannya ke bidang penerjemahan, sedangkan Ramadhan K.H., selain menulis puisi, menerjemahkan karya-karya asing, juga membuat buku-buku biografi para tokoh penting negeri ini.

Kelompok ketiga yang kemunculannya pada pertengahan tahun 1950-an sampai akhir dasawarsa itu sekadar menyebut nama-nama penting antara lain, S. Anantaguna, Bastari Asnin, Ajatrohaedi, Satyagraha Hoerip, M. Poppy Hutagalung, Taufik Ismail, Kirjomulyo, Sapardi Djoko Damono, Agam Wispi, N.H. Dini, Mochtar Lubis, Mansur Samin dan Subagio Sastrowardjojo.

S. Anantaguna dapatlah dikatakan sebagai pengarang yang tidak sepenting yang lainnya yang disebut di atas, apalagi kemudian ia begitu terlibatkan dalam kegiatan politik (PKI). Ini sangat berbeda dengan Agam Wispi. Meski pada dasawarsa tahun 1950-an itu ia hanya menghasilkan dua cerpen, dua drama, dan 41 puisi, secara keseluruhan karya-karyanya memperlihatkan kedalaman isi dan visi kemanusiaan.

Kirjomulyo dalam bidang cerpen dan puisi, sebenarnya tidaklah begitu menonjol, dengan menghasilkan sembilan cerpen dan 47 puisi, namun dalam bidang drama, ia cukup penting mengingat pada dasawarsa itu ia menghasilkan delapan drama.

Sementara Ayatrohaedi dalam perkembangan kepengarangannya tidaklah sepenting kakaknya, Ajip Rosidi. Ia lebih banyak memusatkan perhatiannya pada sejarah kuna (arkeologi) dan bahasa, betapapun sama sekali tak meninggalkan kegiatan di bidang sastra.

Yang masih terus berlanjut kepengarangannya sampai kini adalah Satyaghraha Hoerip (cerpen), M. Poppy Hutagalung, Bastari Asnin (cerpen), dan teristimewa Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Dua yang disebut terakhir itu justru menjadi penyair penting yang masing-masing mempunyai keistimewaannya sendiri. Belakangan dua nama ini juga diundang dan dianugerahi berbagai hadiah dalam dan luar negeri.

Beberapa Kesimpulan

Dari pembicaraan sejumlah pengarang yang muncul dalam dasawarsa tahun 1950-an itu, kita dapat menangkap beberapa hal penting dalam sistem pengarang kita.

Pertama, tidak sedikit di antara para pengarang kita yang secara sadar mengandalkan penghasilannya dari hasil kerjanya sebagai pengarang. Beberapa di antaranya memang ada yang menempatkan kerja atau profesi pengarang sebagai profesi yang dapat dilakukan bersama pekerjaan lain, sehingga kerja kepengarangan dianggap sebagai pekerjaan kedua.

Kedua, mengingat pada dasawarsa tahun 1950-an itu, muncul pengarang-pengarang non-Sumatra dan masuknya latar dan budaya daerah, serta tampilnya pengarang keturunan Tionghoa, maka "keindonesiaan" sastra Indonesia sebenarnya "dibentuk" pada periode itu.

Ketiga, pada masa itu juga para sastrawan kita, sering kali tidak hanya memusatkan perhatiannya pada satu bidang sastra itu saja (puisi, prosa, drama, esai, terjemahan) maka sebagian besar pengarang tahun 1950-an adalah pengarang yang "serba bisa".

Keempat, pada tahun 1950-an itu juga beberapa majalah atau lembaga sengaja menyelenggarakan lomba penulisan puisi, drama, cerpen, atau novel. Dari lomba inilah, muncul pula nama-nama baru, sebagaimana yang dilakukan A.A. Navis lewat cerpennya Robohnya Surau Kami. Cerpen inilah yang mengawali karier kepengarangannya.

Kelima, mengingat pada tahun 1950-an itu juga banyak karya asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, hal itu sekaligus juga membuka kemungkinan yang sangat luas bagi pengarang lainnya untuk berkenalan dengan kesusastraan asing. Dengan demikian, mereka tidak hanya berangkat dari tradisi budaya kedaerahannya yang harus diejawantahkan lewat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tetapi juga lewat perkenalannya dengan sastra asing. Iwan Simatupang, adalah contoh yang baik, bagaimana perpaduan Barat - daerah, diejawantahkan dalam kesusastraan yang berbahasa Indonesia.

Keenam, bahwa citra sumbang profesi pengarang di mata masyarakatnya, sama sekali tidak mengurangi minat dan keinginan para pengarang atau 'calon' pengarang, mengingat di lingkungan para pengarang sendiri ada anggapan bahwa masyarakat kita masih terpaku pada cara berpikir kolonial. Begitu juga soal status kepriyayian, pada tahun 1950-an itu makin tidak populer sebagai status yang begitu tinggi nilainya.

Ketujuh, ramainya pembicaraan mengenai karya sastra sebagaimana yang dirintis H.B. Jassin sejak awal kemerdekaan dan semakin dimantapkan lagi pada tahun 1950-an, membuka jalan bagi popularitas kritik sastra. Beberapa intelektual atau setidak-tidaknya yang berasal dari lingkungan akademi seperti Slamet Mulyana yang pada dasawarsa itu menulis beberapa drama, Nugroho Notosusanto, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, M. Alwi Dahlan atau Taufiq Ismail, telah makin menyadarkan banyak kalangan bahwa kegiatan kepengarangan tidaklah semata-mata dilahirkan dari bakat alam, melainkan juga wawasan dan intelektual yang mesti diraih lewat berbagai pendidikan.

Kedelapan, bahwa pendidikan para pengarang kita tahun 1950-an itu sebagian besar adalah pendidikan Belanda. Minat terhadap ilmu pengetahuan yang telah menjadi tradisi pendidikan Belanda, merupakan pengaruh positif yang tertanam dalam diri para pengarang Indonesia tahun 1950-an dan kemudian berlanjut hingga kini.

Kesembilan, bahwa hingga kini profesi pengarang dianggap sebagai bidang pekerjaan yang 'tidak jelas' sesungguhnya merupakan anggapan dari tradisi berpikir kolonial. Bekerja di kantor tertentu dengan jadwal waktu tertentu, dan penghasilan yang juga tertentu, adalah cara berpikir birokrat yang lahir di zaman kolonial Belanda.

Kesepuluh, bahwa pengarang tahun 1950-an sebagian besar memperoleh pendidikan Belanda, tetapi ia dibesarkan dalam situasi perang kemerdekaan. Di antara mereka juga tidak dapat dilepaskan begitu saja faktor sosio-kultural dan agama yang melatarbelakanginya. Belum termasuk soal ideologi yang sering ikut mempengaruhi struktur formal karya sastra, sebagaimana terbukti saat memasuki tahun 60-an. Itulah yang membuat karya-karya sastra Indonesia menampilkan tema dan gaya pengungkapan yang begitu beragam. Hal inilah yang membedakan kesusastraan kita dengan kesusastraan negara lain.


Daftar Pustaka
Anthony R. (1987). Perjuangan Rakyat Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra Timur, Sinar Harapan, Jakarta.

Bandjaransari, S. (1952) Sedjarah Pemerintah Kota Jogjakarta. Djawatan Penerangan Kotapradja Jogjakarta, 1952.

"Daftar Tetap Tjalon Anggota DPR Daerah Istimewa Jogjakarta" (1951) dalam Warta Daerah Istimewa Jogjakarta Th. I No. 3, 4, Sekretariat DPD, Kepatihan.

Dewan Pemerintah Daerah Istimewa Jogjakarta, Peraturan Kepala Daerah No. 1/KPPP/51: Tata Tertib Tjabang-tjabang Kantor Pemilihan DPR Daerah, Arsip Pemerintah Daerah.

Djoko. (1974). "Some Notes of the Tiga Daerah Affair", Masyarakat Indonesia Th. I No. 2, LIPI.

Kantor Pemilihan Pusat Propinsi Jogjakarta. (1951). Pengumuman No. 15/KP3/D/1951 tentang: Daftar Anggota DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 24 Desember 1951, Arsip Sekretariat DPRD.

Laporan ke III dari Panitia Otonomie DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 20 Djanuari 1953, Arsip Sekretariat DPRD.

Laporan ke IV Panitia Otonomi DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 25 Agustus 1953. Arsip Sekretariat DPRD.

Maklumat No. 7/1945 Daerah Istimewa Yogyakarta tentang: Pembentukan Dewan Perwakilan Rakjat Kalurahan, 6 Desember 1945, turunan.

Maklumat No. 18/1946 Daerah Istimewa Yogyakarta tentang: Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Istimewa Yogyakarta, turunan, Djawatan Pradja, 1950.

Moedjanto. (1990). The Concept of Power in Javanese Culture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mosi No. 11/DPR/1953 tentang: Kedudukan Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai Daerah Tingkat I yang Berotonomi Penuh, Arsip Sekretariat DPRD.

Peraturan Daerah No. 6/DPR/1952 tentang: Pedoman untuk DPD, Arsip Sekretariat DPD.

"Perdjoangan Panitia Tudjuh".(1953) dalam Triwarsa Dewan Perwakilan Rakjat Kotapradja Jogjakarta, Panitia Penerbitan Pemerintah Kotapradja Jogjakarta.

Pidato Ketua DPR Kotapradja Jogjakarta pada Conferentie DPD dan Ketua-ketua DPRD dalam Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 17 Djuli 1953. Arsip Sekretariat DPRD.

Pidato Menteri Dalam Negeri pada Upatjara Pelantikan Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Istimewa Jogjakarta 24 Desember 1951, Arsip Sekretariat DPRD.

Poerbopranoto, K. (1978). Sistem Pemerintahan Demokrasi. Jakarta: PT Eresco.

Poerwokoesoemo, S. (1953). Triwarsa DPRD Kotapradja Jogjakarta, Sambutan Walikota Jogjakarta, turunan, 29 Nopember 1953.

Prae Advis Panitia Otonomi Seksi I DPR Daerah Istimewa Jogjakarta dalam Conferentie DPD dan Ketua-ketua DPRD dalam Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 17 Djuli 1953, Arsip Sekretariat DPRD.

Sjafei, M. Prae Advis pada Kongres Desentralisasi tanggal 10 sampai dengan 13 Maret 1955 di Bandung, Arsip Sekretariat DPRD.

Soedihardjo, "Sekitar Dewan Kota" (DPR sebelum tanggal 11 November), naskah stensilan, tanpa tahun.

Sosrokusumo, R.A. (1951). Desentralisasi dan Hak Otonomi. Surabaya: Perpustakaan Adji.

Sultan Hamengkubuwono IX. (1952). Sambutan Kepala Daerah Istimewa Jogjakarta pada Hari Ulang Tahun ke-I DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 24 Desember 1952, Arsip Sekretariat DPRD.

Surat Keputusan No. 4/K/DPR/1954: Pedoman bagi Panitia Otonomi DPR Daerah Istimewa Jogjakarta, Arsip Sekretariat DPRD.

Suyatno. (1974). "Revolution and Social Tension in Surakarta 1945-50", Journal Indonesia No. 17 Tahun I, Cornell University Press, 1974.

Undang-undang No. 17 tahun 1947 tentang: Pembentukan Haminte Kota Jogjakarta, tanggal 7 Djuni 1947, turunan.

Undang-undang No. 3 tahun 1950 tentang: Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai Daerah Otonom, turunan.


Download tulisan ini di sini

Monday, March 23, 2009

Goenawan Mohamad: Dongeng Sebelum Tidur dan Asmaradana

Dongeng sebelum tidur


"Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsense."

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada
malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap
merayap antara sendi dan sprei.

"Mengapa tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi."

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan
kembali kain ke dadanya dengan nafas yang dingin,
meskipun ia mengecup rambutnya.
Esokhari permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus
melarikan diri -- dengan pertolongan dewa-dewa entah dari
mana -- untuk tidak setia.

"Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku?
Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari
kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?"



Asmaradana


Ia dengar kepak sayap kelelawar dan gugur sisa hujan dari
daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda
serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan
bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak
ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya
disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila,
esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke
utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan
tiba, karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Download puisi ini? Klik di sini

Sunday, March 22, 2009

Hikayat Bayan Budiman

CERITA RAJA KILAN SYAH SERTA PUTRANYA


Maka kata bayan itu, "Adalah seorang raja di negeri Istambul, terlalu amat besar kerajaan baginda itu. Maka adalah nama raja itu Kilan Syah dan istrinya baginda itu, bemama tuan putri Nur Zainun anak raja di negeri Kastambar; ada dengan menterinya bemama Mangkubumi 1) Adapun akan raja itu ada berputra seorang laki-laki terlalu amat baik parasnya; maka dinamai oleh baginda akan anakanda itu raja Johan Rasyid. Maka raja Johan Rasyid itu pada lahirnya terlalu sangat bijaksana. Maka adalah umumya baharu empat belas tahun. Maka dengan takdir Allah sabhanahu wataala ayahanda baginda itu pun geringlah terlalu amat sangat. Maka segala wazir dengan segala orang besar-besar dan bentara dan penggawa di negeri itu pun, bertunggulah masing-masing kepada tempatnya serta dengan dukacitanya akan raja Kilan Syah gering itu.

Maka anakanda baginda raja Johan Rasyid pun tiadalah taksir lagi menyuruh mengobatkan ayahanda baginda itu pada segala hukama 2) dan segala ulama. Maka obat pun tiadalah memberi faedah kepada baginda itu: seperti racunlah kepadanya.

Syahdan usahkan berkurang penyakit baginda itu, makin bertambah-tambah pula sakitnya. Maka raja Kilan Syah tahulah akan penyakit itu alamat mautlah. Setelah dirasai baginda hampirlah waktu baginda itu akan meninggalkan dunia, maka raja Kilan Syah pun menyuruh memanggil perdana menteri dan segala orang besar-besar dan segala pegawai-pegawai. Setelah datanglah masing-masing menghadap baginda, maka sekalian itu pun dengan tangisnya sebab bercintakan baginda itu.

Maka raja Kilan Syah pun bertitah, "Hai segala tuan-tuan! Ketahui olehmu bahwa aku hampirlah akan kembali dari negeri yang fana 3) ke negeri yang baka. Bahwa adalah amanatku pada kamu sekalian: akan anakku Johan Rasyid itu, pertaruhankulah pada kamu sekalian: pertama-tama aku serahkan kepada Allah subhanahu wataala dan Rasulnya, kemudian dari itu pada kamu sekalianlah. Bagaimana kamu sekalian telah berbuat bakti akan daku dan engkau mengasihi aku, demikianlah kepadanya. Hubayahubaya jangan engkau lainkan aku dengan dia; barang siapa melalui daripada 4) amanatku ini, durhakalah ia kepada aku; dan jika barang suatu hendak dikerjakan, sekali-kali jangan engkau lalui hukum Allah taala, dan takuti olehmu akan Allah subhanahu wataala sangat-sangat."


Maka sembah mereka itu sekalian, "Ya tuanku syah alam, jangan apalah tuanku memberi titah demikian memberi belas rasa hati patik sekalian. Adakah pemah pafik sekalian melalui titah duli tuanku? Titah yang demikian itu pun patik junjunglah di atas batu kepala patik sekalian, dilanjutkan Allah subhanahu wataala umur syah alam."

Setelah raja Kilan Syah mendengar sembah mereka itu sekalian, maka baginda pun menangis seraya menghadapkan muka baginda kepada anakanda baginda raja Johan Rasyid.

Maka titah raja, "Hai anakku Johan Rasyid! Baik-baiklah engkau peliharakan dirimu daripada apt naraka! Dan pebenar olehmu barang katamu dan hendaklah engkau adil dan murah. Jauhi olehmu daripada 5) dusta dan lalim! Hendaklah buka tanganmu dan jauhi olehmu daripada kikir, karena benar itu perhiasan segala raja-raja yang berilmu. Jika engkau turut seperti wasiatku ini, tiadalah engkau menganiaya dirimu kepada kedua buah negeri 6) "

Setelah sudah raja Kilan Syah berwasiat, maka raja Kilan Syah pun kembali kerahmat Allah taala dari negeri yang fana ke negeri yang baka. Maka segala mereka itu pun merataplah, riuh rendahlah bunyi segala isi istana, menderulah bunyinya seperti ribut topan.

Maka perdana menteri dan segala pegawai orang besar-besar itu pun semuanya habis berhimpun, hendak merajakan Johan Rasyid. Maka mayat raja Kilan Syah pun dikuburkan oranglah dengan sempumanya seperti adat segala raja-raja yang besar; demikianlah diperbuat orang akan baginda. Maka raja Johan Rasyid pun tiadalah taksir lagi akan mengerjakan jenazah ayahanda baginda itu. Maka setelah datanglah kepada setahun lamanya raja Johan Rasyid di atas takhta kerajaan, maka terlalulah ia lalim, tiada takut akan Allah subhanahu wataala dan tiada takut dan malu akan Nabi kita, dan wasiat ayahandanya pun dilupakannyalah; melainkan akan hawa nafsunya juga yang diikutinya, dan akan nyawa segala hamba Allah pun tiadalah terhisabkan lagi; pada sehari-hari makin bertambah-tambah juga _lalimnya. Setelah diUhat oleh perdana menteri dan segala wazir 7) dan segala orang yang bemama-nama akan raja Johan Rasyid demikian itu, maka ia pun terlalu heran dari karena sangat bersalahan daripada raja Kilan Syah, seperti langit dengan bumi jauhnya dengan perangai ayahanda itu. Maka perdana menteri dengan segala wazir dan segala orang besar-besar dan segala pegawai pun berhimpun pergi menghadap raja Johan Rasyid, lalu duduk menyembah.

Maka sembah perdana menteri dan segala mereka itu, "Ya tuanku Syah Alam! Maka adalah patik sekalian ini menghadap ke bawah duli tuanku, karena tuanku mengerjakan pekerjaan larangan Allah dan Rasul dan tiada mengikut wasiat paduka marhum sedang mangkat; bukankah baginda berpesan kepada duli tuanku melarangkan daripada kerja yang tiada berbetulan dengan hukum Allah "taala jangan duli tuanku kerjakan; dan lagi duli tuanku raja berasal, lagi berilmu turun-temurun daripada paduka ayahanda baginda raja yang adil; maka sampai kepada masa tuanku naik kerajaan, demikianlah jadinya, tiadalah tuanku menurut amanat paduka ayahanda itu."

Setelah raja Johan Rasyid mendengar sembah perdana menteri dan segala pegawai-pegawai orang yang besar-besar itu, suatu pun tiada apa titah raja Johan Rasyid, lalu ia berbangkit ke istananya. Maka perdana menteri dengan segala orang besar-besar pun tiadalah terbicara lagi, oleh karena sembah mereka itu tiada disahut oleh raja Johan Rasyid.

Setelah ia mendengar sembah segala mereka itu, makin bertambah-tambah pula lalimnya daripada ia belum mendengar Sembah perdana menteri itu. Maka segala isi negeri Istambul pun berundurlah dari negeri itu.

Setelah dilihat oleh perdana menteri dan segala orang besar- besar akan hal negeri itu, maka perdana menteri dan segala wazir pun terialu dukacita seraya dengan herannya melihat qadla 8) Allah taala yang datang kepadanya itu. Maka perdana menteri pun memanggil segala wazir dan segala pegawai di dalam negeri itu berhimpun ,musyawarat. dengan perdana menteri itu mencari bicara akan raja Johan Rasyid, kalau-kalau mau, raja itu berbuat adil, supaya negeri jangan binasa. Setelah sudah musyawarat, maka oleh perdana menteri dan segala orang besar-besar dibawanya waliullah empat orang serta delapan orang ulama pergi kepada raja Johan Rayid. Maka pada ketika itu juga raja Johan Rasyid pun sedang dihadap oleh orang yang garib-garib 9) segala hamba raja yang jahat-jahat itu dan fasik murtad celaka, segala orang itu pun dikasihi oleh raja. Maka baginda pun melihat waliullah dating dibawa olehnya perdana menteri dan segala pegawai baginda, maka segeralah ia berangkat masuk ke istana. Setelah dilihat oleh waliullah dan ulama itu tiada dengan adatnya, maka ulama dan waliullah pun tersenyum. Maka perdana menteri dan segala orang besar-besar pun tiadalah terbicara lagi. Maka segala mereka itu pun masing-masing kembali ketempatnya dengan dukacitanya.

Maka beberapa hari perdana menteri dengan segala orang besar-besar hendak berdatang sembah kepada anak raja itu, tiada juga ia mau keluar; daripada sehari-hari makin bertambah lalimnya. Maka negeri itu pun 10) diturunkan Allah subhanahu wataala kemarau sangat keras; kepada sebulan, sehari pun tiada hujan. Maka segala tanaman orang pun banyaklah mati. Maka segala dagang pun tiada masuk ke negeri itu, karena mendengar rajanya sangat lalimnya, dan segala makanan pun tiada dibawa masuk ke negeri itu, jadi mahalhh. Maka orang-orang di dalam negeri itu pun lapariah, banyak mati. Maka segala pegawai dan wazir pun berhimpunlah datang kepada perdana menteri bertanya dan bicarakan raja Johan Rasyid itu.

Maka kata segala mereka itu kepada perdana menteri, "Jikalau raja ini tiada kita bunuh, niscaya binasalah negeri ini, kita sekalian pun huru-haralah."

Setelah dilihat oleh perdana menteri akan segala mereka itu gobar 11) sangat, hendak membunuh raja itu, maka kata perdana menteri akan saudaranya.

"Pada bicara hamba, baiklah sabar dahulu, sementara kita bertanya hukum kepada kadi akan raja kita ini, maka hukum Allah suhanahu watala, di sanalah kita turut."

Maka sahut segala mereka itu, "Benarlah seperti kata perdana menteri itu, tetapi kami sekalian hendaklah segera menyembah raja lain."

Maka kata perdana menteri, "Jikalau demikian, marilah kita pergi kepada kadi, supaya saudara hamba jangan syak hati."

Maka segala mereka itu pun pergilah mendapatkan kadi, Maka di dalam negeri itu pun setengah orang berhimpun membaca kitab daripada seorang mufti 12). Maka segala wazir yang besar-besar datang itu dengan alat senjatanya; maka kadi pun terkejut seraya menyerahkan dirinya kepada Allah taala; maka katanya, "Apa pekerjaan saudara hamba datang beramai-ramai ini? Karena apa?"

Maka perdana menteri pun naik duduk seraya menyembah serta memberi salam dan hormat. Maka disahuti kadi salamnya itu dan mufti itu pun memberi hormatnya dengan seribu kemuliaan.

Maka kata perdana menteri, "Adapun hamba datang kepada tuan hamba ini hendak bertanyakan hukum Allah taala akan segala raja-raja yang harus menjadi raja."

Maka kata kadi kepada mufti, "Ya Malulana 13) .Tuan hamba!"

Maka kata mufti, "Baiklah! Hai tuan-tuan sekalian, ketahuilah, bahwasanya kepada hukum Allah yang hams akan raja itu, berakal, tiada harus raja itu bebal; kedua balig, tiada harus kanak-kanak; ketiga berbudi, tiada harus raja itu khilaf akalnya; keempat raja itu sehat, tiada harus raja penyakit aib seperti sopak dan kusta; kelima, raja itu adil, tiada harus raja itu lalim, karena itu menjadi dlilullahu filalam 14) imam sekalian manusia, karena segala raja itu membawa tertib sallallahualami wasallam, karena raja bayang Allah taala dan ganti Nabi, supaya boleh diturut segala manusia.


Setelah mereka itu mendengar kata mufti itu dengan beberapa hadis dan dalil, maka kata perdana menteri dengan segala wazir itu, "Ya Maulana, akan raja kita ini apa hukumnya? Karena ia terlalu sangat lalim akan segala manusia, sedikit pun tiada rahimnya akan segala isi negeri.''

Maka kata mufti itu, "Suruh ia bertobat daripada pekerjaannya itu; jikalau ia tiada mau tobat, kamu sekalian bunuh akan dia."

Maka kadi dan perdana menteri dan segala pegawai dan segala wazir pun menyuruh bicara lengkap segala alat senjata. Maka segala rakyat pun hendak mengerjakan seperti kata mufti itu.

Maka segala musyawarat itu pun terdengarlah kepada baginda raja Johan Rasyid hendak dibunuh akan dia; hendak disuruh tobat itu, tiada dipakainya. Maka ia pun segeralah lari dengan seekor kuda, seorang pun tiada sertanya. Maka mereka sekalian pun datanglah hendak menyuruh raja Johan Rasyid itu tobat. Maka kata segala yang garib-garib itu, "Bahwa raja sudah lari dengan seekor kuda ke mana-mana perginya tiadalah kami ketahui."

Setelah segala khalayak mendengar kata itu, maka kata segala wazir dan segala pegawai yang besar-besar kepada perdana menteri, "Akan sekarang ini, apa bicara tuan hamba? Negeri kita ini tiada beraja, tiada harus pada hukum Allah taala."

Maka kata mufti, "Baiklah Kadi, ini kita jadikan raja sementara mencari yang lain, supaya tetap negeri."

Maka mereka itu pun kabuUah akan kata mufti itu. Maka kadi pun ditabalkan 15) oranglah dengan sepertinya.

Setelah kadi itu jadi raja, maka ia pun terialulah adil, kepada barang yang dikerjakannya dengan hukum Allah taala juga, sekali-kali tiada bersalahan seperti dahulu itu dengan sekarang ini. Maka isi negeri itu pun kembalilah seperti adat sediakala.

Sebermula, maka tersebutlah perkataan raja Johan Rasyid lari itu. Setelah datanglah kepada empat puluh hari perjalanan, maka ia pun bertemulah dengan Bedawi 16) delapan orang. Maka dirampaslah oleh Bedawi itu akan raja Johan Rasyid, habis diambilnya kudanya dan senjatanya dan pakaiannya sekaliannya dirampas. Maka Bedawi yang delapan orang itu pun berjalanlah kepada tempat lain, menjadi kayalah sebab ia beroleh pusaka pakaian kerajaan dengan selengkapnya itu.

Setelah Bedawi itu sudah berjalan, maka raja Johan Rasyid pun tinggallah dengan lapar dahaganya yang amat sangat serta dukacitanya. Maka ia pun baharulah sadarkan dirinya diqadlakan Allah taala akan dia, dibalasnya perbuat lalim itu. Maka raja pun terlalulah menyesal mengerjakan segala pekerjaan yang telah lalu itu, seraya bertobat kepada Allah subhanahu wataala dengan sempumanya. Maka raja Johan Rasyid pun menjadikan dirinya seorang fakir minta sedekah, segenap negeri orang ia pergi, serta mengerjakan iman dan taat menjauhkan kufur dan maksiat. Maka terlalulah amat sangat keras pertapaannya itu.

Maka kadi pun sampailah turun-temurun menjadi raja di negeri Istambul datang kepada anak cucunya. Demikianlah hikayat raja Kilan Syah berpesan kepada anaknya.***

Diambil dari Bunga Rampai Hikayat Lama, Sanusi Pane)

MAU DOWNLOAD TULISAN INI? SILAKAN KLIK DI SINI

Catatan:

Cerita ini diambil dari Hikayat Bayan Budiman, yang disebut juga Hikayat Khojah Maimun, Hikayat Khojat Mubarak dan Cerita Taifah. Asalnya dari bahasa Sangsekerta, bernama Syukasaptati, artinya tujuh puluh cerita burung nuri. Burung itu menceritakannya kepada seorang perempuan.

Syukasaptati itu disalin ke bahasa Persia dengan nama Tuti Nameh. Setelah itu
dalam bahasa Persia terbit Hikayat-hikayat Bayan Budiman yang lain mencontoh Tuti
Nameh, akan tetapi ceritanya ada yang berlainan.
Hikayat Bayan Budiman disalin pula ke bahasa Turki, ke bahasa-bahasa Barat,
ke bahasa Melayu, Jawa, Bugis. Mangkasara.
Hikayat Bayan Budiman bahasa Melayu itu disalin oleh Kali Hasan dari bahasa
Persia.


1. Menteri yang pertama; pada umumnya tidak dipakai di negeri Melayu, hanya dalam hikayat-hikayat (lihat keterangan "Hikayat pengajaran bagi raja-raja" dan Hang Tuah diutus ke Majapatut").
2. Hakim-hakim; orang-orang yang ahli.
3. Dari bahasa Sangsekerta: nirwana, keadaan jiwa yang telah lepas dari ikatan jasmani; dalam bahasa Arab fana jadi berarti tidak kekal (tidak baka), hancur
4. Pengaruh Arab atau Persia. Melayu asli: melalui amanatku ini.
5. Demikian juga. Melayu asli: Jauhi olehmu dusta dan lalim!
6. Dunia dan akhirat.
7. Dari bahasa Persia: menteri (dari bahasa Sangsekerta).
8. Hukuman.
9. Ganjil atau aneh.
10. Pengaruh Arab atau Persia. Melayu asli: di negeri itu pun atau kepada negeri itu pun
11. Dari bahasa Arab: ghubar, sedih.
12. Alim yang tertinggi di sebuah negeri, yang diakui oleh pemerintah.
13. Tuan kita; sebutan bagi orang alim (dalam hal agama).
14. Bayang Allah di dunia.
15. Dinobatkan. Tentang nobat dan tabal lihat keterangan "Sang Sapurba turun di bukit Siguntang Mahameru."
16. Disebut juga Bedui.

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook