Thursday, April 30, 2009

Rendra: Sajak-sajak Orang Tua

SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON

inilah sajakku
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas
dengan kedua tangan kugendongt di belakang
dan rokok kretek yang padam di mulutku

aku memandang jaman
aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing
dan jalan - jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan
aku melihat penggarongan dan pembusukan
aku meludah di atas tanah

aku berdiri di muka kantor polisi
aku melihat wajah berdarah seorang demonstran
aku melihat kekerasan tanpa undang - undang
dan sebatang jalan panjang
penuh debu
penuh kucing - kucing liar
penuh anak - anak berkudis
penuh serdadu - serdadu yang jelek dan menakutkan


aku berjalan menempuh matahari
menyusuri jalan sejarah pembangunan
yang kotor dan penuh penipuan
aku mendengar orang berkata :

"HAK ASASI MANUSIA TIDAK SAMA DI MANA - MANA
DISINI, DEMI IKLIM PEMBANGUNAN YANG BAIK
KEMERDEKAAN BERPOLITIK HARUS DIBATASI
MENGATASI KEMISKINAN
MEMINTA PENGORBANAN SEDIKIT HAK ASASI"

astaga, tahi kerbo apa ini !!

apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?
di negeri ini hak asasi dikurangi
justru untuk membela yang mapan dan kaya
buruh, tani, nelayan, wartawan dan mahasiswa
dibikin tidak berdaya

o, kepalsuan yang diberhalakan
berapa jauh akan bisa kau lawan kenyataan kehidupan

aku mendengar bising kendaraan
aku mendengar pengadilan sandiwara
aku mendengar warta berita
ada gerilya kota merajalela di eropa
seorang cukong bekas kaki tangan fasis
seorang yang gigih, melawan buruh
telah diculik dan dibunuh
oleh golongan orang - orang marah

aku menatap senjakala di pelabuhan
kakiku ngilu
dan rokok di mulutku padam lagi
aku melihat darah di langit
ya ! ya !
kekerasan mulai mempesona orang
yang kuasa serba menekan
yang marah mulai mengeluarkan senjata
bajingan dilawan secara bajingan
ya!
inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang
bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi
maka bajingan jalanan yang akan mengadili
lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
apakah kata nurani kemanusiaan ?

o, senjakala yang menyala !
singkat tapi menggetarkan hati !
lalu sebentar lagi orang kan mencari bulan dan bintang - bintang !

o, gambaran - gambaran yang fana !
kerna langit di badan tidak berhawa
dan langit di luar dilabur bias senjakala
maka nurani dibius tipudaya

ya ! ya !
akulah seorang tua !
yang capek tapi belum menyerah pada mati
kini aku berdiri di perempatan jalan
aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing
tetapi jiwaku mencoba menulis sajak
sebagai seorang manusia


SAJAK SEORANG TUA TENTANG BANDUNG LAUTAN API


Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.


Tuesday, April 28, 2009

Rendra: Sajak SLA

SAJAK S L A


Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya
Bagaimana itu mungkin ?
Itu mungkin.
Karena tidak ada patokan untuk apa saja.
Semua boleh. Semua tidak boleh.
Tergantung pada cuaca.
Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.
Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata.
Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang.
Ibu guru ingin hiburan dan cahaya.
Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor.
Dan juga ingin jaminan pil penenang,
tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter.
Maka berkatalah ia
Kepada orang tua murid-muridnya :
“Kita bisa mengubah keadaan.
Anak-anak akan lulus ujian kelasnya,
terpandang di antara tetangga,
boleh dibanggakan pada kakak mereka.
Soalnya adalah kerjasama antara kita.
Jangan sampai kerjaku terganggu,
karna atap bocor.”


Dan papa-papa semua senang.
Di pegang-pegang tangan ibu guru,
dimasukan uang ke dalam genggaman,
serta sambil lalu,
di dalam suasana persahabatan,
teteknya disinggung dengan siku.

Demikianlah murid-murid mengintip semua ini.
Inilah ajaran tentang perundingan,
perdamaian, dan santainya kehidupan.

Ibu guru berkata :
“Kemajuan akan berjalan dengan lancar.
Kita harus menguasai mesin industri.
Kita harus maju seperti Jerman,
Jepang, Amerika.
Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.”

Murid-murid tertawa,
dan mengeluarkan rokok mereka.

“Karena mengingat kesopanan,
jangan kalian merokok.
Kelas adalah ruangbelajar.
Dan sekarang : daftar logaritma !”

Murid-murid tertawa dan berkata :
“Kami tidak suka daftar logaritma.
Tidak ada gunanya !”

“kalian tidak ingin maju ?”

“Kemajuan bukan soal logaritma.
Kemajuan adalah soal perundingan.”

“Jadi apa yang kaian inginkan ?”

“Kami tidak ingin apa-apa.
Kami sudah punya semuanya.”

“Kalian mengacau !”

“Kami tidak mengacau.
Kami tidak berpolitik.
Kami merokok dengan santai.
Sperti ayah-ayah kami di kantor mereka :
santai, tanpa politik
berunding dengan Cina
berunding dengan Jepang
menciptakan suasana girang.
Dan di saat ada pemilu,
kami membantu keamanan,
meredakan partai-partai.”

Murid-murid tertawa.
Mereka menguasai perundingan.
Ahli lobbying.
Faham akan gelagat.
Pandai mengikuti keadaan.
Mereka duduk di kantin,
minum sitrun,
menghindari ulangan sejarah.
Mereka tertidur di bangku kelas,
yang telah mereka bayar sama mahal
seperti sewa kamar di hotel.
Sekolah adalah pergaulan,
yang ditentukan oleh mode,
dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan.
Dan bila ibu guru berkata :
“Keluarkan daftar logaritma !”
Murid-murid tertawa.
Dan di dalam suasana persahabatan,
mereka mengobel ibu guru mereka.

Puisi vs Prosa

Puisi yang Naratif, Prosa yang Puitis



Membaca penggalan novel dan puisi berikut ini, kalangan awam akan sulit membedakan mana puisi dan mana prosa. Tren sastra Indonesia mutakhir, puisi cenderung naratif, prosa makin puitis.

(1) Aku pulang malam sekali. Istriku terbangun, membukakan pintu. Ia tersenyum. "Tak apa, kalau tak ada siang di sini," katanya. Aku segera meletakkan tas. Aku lihat matanya, sebuah pemandangan baru mendapatkan sinar. "Bisakah besok kamu jadi ibu rumah tangga," katanya.
(2) Aku tak tahu lagi apakah masih ada dosa. Seks terlalu indah. Barangkali karena itu Tuhan cemburu sehingga Ia menyuruh Musa merajam orang-orang yang berzinah? Tetapi perempuan selalu disesah dengan lebih bergairah. Ke manakah pria yang bersetubuh dengan wanita yang dibawa orang-orang Farisi untuk dilempari batu di luar gerbang Yerusalem? Aku mencintai kamu. Aku mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu dihukum. Tetapi kamu sungguh cantik, seperti dinyanyikan Kidung Raja Salomo.

Membaca kutipan pertama, asosiasi pembaca awam lebih tertuju ke prosa. Bisa penggalan cerpen, bisa potongan novel. Sebaliknya, kutipan berikutnya lebih layak disebut puisi. Padahal kutipan pertama adalah puisi (Afrizal Malna, Usaha Menjadi Ibu Rumah Tangga 1997). Kutipan kedua adalah Novel (Ayu Utami, Saman 1998). Afrizal dan Ayu kemudian diikuti oleh generasi penyair, cerpenis, dan novelis yang lebih muda.

Kecenderungan purba

Selalu ada kecenderungan prosa menjadi puitis, sementara puisi mencair menjadi bernarasi. Kecenderungan inilah yang melahirkan epik (epos) dan prosa lirik. Karya sastra besar seperti Mahabharata menggunakan bentuk epos. Meskipun saduran paling awal, yang dilakukan para pujangga Jawa terhadap karya ini, justru mengambil bentuk prosa (parwa). Baru kemudian, karya ini disadur dalam bentuk puisi (kakawin).

Prosa memang sudah dibedakan dengan puisi sejak era sastra purba. Prosa digunakan untuk menuliskan kisah raja, dongeng binatang cerita kepahlawanan. Puisi difungsikan sebagai doa dan mantra. Puisi purba adalah alat komunikasi untuk menyampaikan perasaan kolektif kepada satu individu. Komunitas itu bisa berupa suku atau kumpulan keluarga. Individunya bisa Tuhan, dewa, atau roh nenek moyang.

Puisi modern kebalikan dari puisi purba. Ia merupakan sarana menyampaikan perasaan individu (penyair) kepada komunitas yang lebih luas, terutama publik sastra. Puisi purba maupun modern sama-sama bersifat individual. Dalam arti, puisi purba individual sesuai individu Tuhan, dewa atau roh yang dituju oleh doa atau mantra tersebut. Misalnya, mantra untuk dewa hujan, doa bagi roh penunggu gunung. Puisi modern juga bersifat individual, tergantung dari individu penyairnya.

Baik prosa maupun puisi purba bersifat kolektif dan anonim. Perubahan prosa menjadi puitis dan puisi menjadi naratif juga berlangsung secara kolektif, baik lisan maupun tertulis, melalui proses puluhan bahkan ratusan tahun. Hingga dari proses prosa yang puitis dan puisi yang bernarasi itu, terciptalah epos dan prosa lirik. Proses demikian, dalam sastra Indonesia mutakhir berlangsung secara individual dengan rentang waktu sangat pendek.

Khitah puisi

Puisi adalah medium untuk mengungkap perasaan, bukan pikiran, dan tidak mungkin disampaikan melalui prosa. Perasaan takut, berharap, pasrah, bersyukur dari masyarakat purba hanya bisa terungkap lewat puisi berupa doa dan mantra. Bukan prosa. Dalam kehidupan modern, perasaan penyair juga hanya bisa disampaikan melalui medium puisi. Bukan cerita pendek, novel, roman, maupun tulisan nonfiksi (artikel, opini, kolom, dan esai).

Itulah sebabnya secara konvensional, puisi yang dianggap baik adalah yang tidak terlalu dibebani pesan atau pikiran si penyair. Perasaan galau dan kesepian Chairil Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil, Untuk Sri Ajati sangat kuat dan masih bisa dirasakan oleh publik sastra sekarang. Kekuatan itu muncul justru karena puisi tadi tidak terlalu dibebani pesan dan pikiran si penyair, yang biasanya sangat kontekstual.

Barangkali itulah yang disebut sebagai "khitah puisi". Rintisan genre puisi modern Indonesia yang dipelopori Amir Hamzah dan Chairil Anwar telah melahirkan penyair-penyair hebat, misalnya Sitor Situmorang, Ramadhan KH, Soebagio Sastro Wardojo, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi, khitah puisi yang dikembalikan Chairil Anwar akhirnya juga sampai pada titik buntu. Puisi menjadi naratif tetapi dangkal.

Puncak dari pendangkalan puisi terjadi pada awal tahun 1970-an. Para epigon Goenawan dan Sapardi telah terjebak dalam genre "puisi gelap". Puisi yang asal panjang dan asal sulit dipahami. Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG malah sekalian menjadi prosa lirik. Kebuntuan inilah yang pernah melahirkan peristiwa "Pengadilan Puisi" untuk mengembalikan puisi pada khitahnya. Lahirlah genre "puisi mbeling" yang dimotori Remy Silado dan mengkristal dalam sosok Sutardji Calzoum Bachri.

Kunang-kunang Kayam

Upaya Sutardji mengembalikan puisi pada khitahnya cukup berhasil. Lahirlah sosok penyair kuat seperti Afrizal Malna dan Joko Pinurbo. Puisi mereka memang naratif, tetapi rasa puitiknya masih terjaga dengan baik. Generasi penyair naratif selanjutnya, kualitas puisinya banyak yang mirip dengan genre puisi gelap tahun 1970-an. Para pengikut Afrizal dan Jokpin ini mengira bahwa puisi yang baik adalah yang bernarasi dan temanya aneh-aneh.

Bersamaan dengan itu, dalam khazanah prosa lahirlah genre Ayu Utami. Prosa yang puitis secara sporadis sebenarnya pernah muncul jauh sebelumnya, misalnya pada Seribu Kunang-kunang dari Manhattan (Umar Khayam). Cerpen ini tidak ada plotnya, setting-nya tunggal, dan tokohnya juga tidak penting. Tetapi kekuatannya luar biasa, justru karena Khayam mampu menangkap suasana kesia-siaan manusia di tengah modernitas New York yang hiruk-pikuk.
Generasi berikutnya ada Beni Setia. Suasana cerpen Beni yang puitis telah mengalahkan tokoh, plot, dan setting-nya. Sayang, setelah menyepi di Madiun, dia seperti berhenti menulis. Puitisasi prosa inilah yang oleh Ayu Utami dicoba dieksploitasi habis- habisan dalam Saman. Meskipun dalam Larung, upaya Ayu kurang berhasil. Seperti biasa, tren ini kemudian diikuti ramai-ramai oleh cerpenis dan novelis yang lebih muda. Puncaknya adalah booming teenlit dan chicklit awal tahun 2000-an yang sekarang sudah mulai mereda.

Eksploitasi linguistik berupa puitisasi prosa, sesuatu yang sehat. Risikonya, kekuatan karakter tokoh terabaikan. Ini ibarat pelukis Amri Yahya yang melulu mengeksploitasi tekstur dalam lukisannya. Garis, bidang, dan warna sebagai komponen pokok seni lukis konvensional telah diabaikannya. Generasi perupa yang lebih muda kemudian melakukan eksplorasi lebih jauh berupa seni grafis dan instalasi. Sastra instalasi tentu sulit direalisasi sebaik dalam seni rupa.

F. Rahardi, Penyair dan Wartawan
(Kompas, Minggu, 2 April 2006)

download? Klik di sini

Sunday, April 26, 2009

Rendra: Puisi-puisi Doa

DOA SERDADU SEBELUM PERANG

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhan ku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku
malam dan wajahku adalah satu warna
dosa dan nafasku adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan
apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?
sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati Mu
Tuhan ku
erat-erat kugenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku


DOA ORANG LAPAR



kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
o Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
o Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
o Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam
o Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

Download? Klik di sini

Friday, April 24, 2009

Cerita Rakyat dari Madura

Aryo Menak


Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Di sana-sini terhampar ladang-ladang padi yang menguning.

Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat di bawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau di sana.

Ia sangat terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Ia pun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu.

Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Merekapun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Ia pun sedih dan menangis.

Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: "Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya berjanji akan menemani dan menghiburmu."

Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Ia pun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itupun menerimanya.


Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya.

Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada di rumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna.

Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, ia pun dapat terbang ke istananya.

Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi.***

Cerita ini sama dengan cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari

Download? Klik di sini

Wednesday, April 22, 2009

Kritik Seni

Sumbang Saran Kritik Seni



Membaca kritik sastra yang ditulis Binhad Nurrohmat, Budi Darma, Satmoko Budi Santoso dan Edy AFN yang termuat dalam segmen Seni di Harian Kompas minggu di bulan Mei-Juni 2003 membuat perdebatan sastra dan kritiknya kembali menarik untuk dilakukan. Begitu juga dengan tulisan penyair Ajip Rosidi yang berjudul: "Hanya Dijadikan Obyek" (Kompas, 29/6/2003). Dari kedua macam kritik sastra dan seni tersebut penulis mencoba menarik dua kesimpulan awal. Kesimpulan pertama, pada karya kritik sastra yang dibuat oleh ke empat penulis di awal menitikberatkan kritiknya pada para pekerja seni (penyair, seniman, sastrawan) di lain sisi berbalik dengan apa yang dilakukan oleh Ajip Rosidi yang mengkritik para intelektual terhadap perlakuannya pada para seniman. Meski Kompas mungkin tidak memaksudkan untuk mem-versus-kan kedua wacana di atas, secara nyata terlihat adanya relasi demikian. Yang satu bertema (perspektif) intelektual menggugat pekerja seni, satunya lagi pekerja seni gugat intelektual.

Kesimpulan kedua bahwa kedua macam tulisan di atas saling merisaukan keberadaan masing-masing: intelektual risau jika pekerja seni hanya menjadikan dirinya sebagai kritikus yang sekadar melegitimasi kepentingan pekerja seni untuk "bekerja mencari nafkah", di lain sisi gugatan pekerja seni adalah mereka hanya dijadikan objek penelitian bagi para intelektual yang juga untuk "bekerja mencari nafkah".

Dari kedua kesimpulan awal yang juga menjadi bagian dari kerja evaluasi terhadap dua bentuk tulisan terdahulu (penulis mengandaikan bahwa kedua bentuk tulisan di atas merupakan kerja reflektif dan aksi, dan posisi tulisan ini sebagai evaluasi terhadap kerja-kerja terdahulu), tulisan kali ini akan mencoba menawarkan sebuah gagasan untuk mendialogkan kedua kepentingan di atas sehingga secara bersama akan didapatkan perubahan yang lebih baik, tidak hanya untuk win-win solution bagi keduanya tetapi juga manfaat bagi siapa pun yang terkena imbas darinya (pembaca kritik dan para pencinta seni).


Merombak Paradigma Pikir

Thomas F. Khun menyebut paradigma sebagai kerangka berpikir, dan kerangka berpikir seseorang sangat mempengaruhi perbuatannya, demikian Mansour Fakih meneruskan. Banyak ragam pemetaan paradigma, di antaranya adalah yang dilontarkan Giroux dan Arenowitz. Menurut mereka ada tiga jenis paradigma, pertama adalah paradigma konservatif. Paradigma ini menyandarkan dirinya pada cara berpikir yang melihat segala sesuatu merupakan takdir Tuhan. Dalam perkembangan berikutnya paradigma ini beranggapan bahwa segalanya sudah terberi, muncul dengan seketika dan alamiah. Karena semuanya "sudah demikian adanya", maka penganut cara berpikir demikian akan pasrah melihat realitas, tidak mau berubah dan bila menjadi penguasa, ia akan terus berupaya mempertahankan kekuasaannya. Dalam kehidupan keseharian, penganutnya sering berucap: "wah gimana lagi, sudah takdirnya saya seperti ini", untuk para penguasa, maka ia akan berujar: "kekuasaan yang dia peroleh berasal dari Tuhan atau keturunan yang sah sehingga tak boleh tergantikan kecuali oleh keturunan yang sah pula"; dalam kancah seniñjuga termasuk di dalamnya sastra-para seniman yang demikian berkecenderungan memiliki cara berpikir yang mendukung keberadaan penguasa dan sangat mengandalkan kepada bakat alamiah, serta modal keturunan trah seniman.


Kedua, paradigma liberal-reformis. Aliran ini menaruh latar pada cara berpikir yang monolog, linear, prestasi, persaingan, menghakimi kesalahan pada si manusia. Freire membahasakannya dengan kesadaran naif, yakni kesadaran yang berujung pada sikap acuh tak acuh dan cara melihat realitas sosial dan tidak berdasar pada kerangka analisis. Akibatnya, saat muncul realitas dominan seperti globalisasi yang beorientasi pada pasar, ia akan berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan merebut pasar dan buta akan keadaan sekelilingnya. Paradigma yang sekadar ingin memperbaiki ini sering lupa dan/atau sengaja melupakan bahwa realitas dominan yang tercipta adalah rekaan dari kepentingan besar yang dibangun oleh sekelompok kecil pemegang kapital. Dalam kehidupan keseharian, aliran ini sangat dominan dan muncul dengan jargon-jargon utama: "dalam rangka persaingan di era globalisasi, maka siapkanlah diri Anda untuk berpacu dengan waktu dengan meraih prestasi lewat penguasaan bahasa Inggris dan internet di .......(biasanya belakangnya adalah iklan dari si pembuat jargon)". Jika ia menjadi penguasa maka berkecenderungan mengikuti arus dominan tanpa reserve dan sekadar melakukan perubahan kosmetik. Seorang seniman yang menganut cara pikir demikian akan menghambur-hamburkan karyanya untuk produksi dalam rangka memenuhi selera dan kehendak pasar (untuk lebih lanjut lihat Kompas Minggu yang memuat perdebatan seputar seniman seni rupa yang terbit bulan Januari-Maret 2003)

Selanjutnya adalah paradigma kritis. Paradigma ini melihat bahwa realitas yang tercipta saat ini merupakan hasil penciptaan yang sistematis, terkonstruksi dan hegemonik. Lantas siapa yang menciptakannya? Melalui analisis sosial maka realitas yang tercipta akan mudah tampak dengan melihat siapa-siapa yang berperan dan seberapa jauh dia diuntungkan dalam lingkaran relasi tersebut. Keuntungan tersebut tidak hanya soal materi tetapi juga akses kekuasaan. Pada intinya paradigma ini melihat bahwa kesalahan terletak pada struktur kekuasaan yang hegemonik dan berorientasi pada pasar. Dalam keseharian, penganutnya akan terus-menerus gelisah untuk berpikir dan menyikapi kenyataan yang hadir, jika ia adalah seorang seniman maka kegelisahannya akan dituangkan dalam karya-karyanya, contoh di antaranya adalah Saman yang mengatasi sekat-sekat tabuisme, Ca Bau Kan dengan upaya melawan segala bentuk diskriminasi ras, Borobudur Agitatif sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan budaya kaum penguasa, komunitas seni lereng gunung Merapi-Merbabu sebagai buah karya perlawanan kultural rakyat yang terpinggirkan, dan kerja seni penyadaran yang dilakukan Moelyono dengan melakukan pendidikan membangun kesadaran kritis melalui media seni.


Metodologi Kritik

Setelah keduanya ñintelektual dan seniman- paham akan arti penting cara berpikir kritis maka kelanjutannya adalah bagaimana menghadirkan metodologi dalam melakukan kerja ñpenelitian dan atau pendidikan- budaya untuk memajukan pemikiran dan kesenian.

Metodologi penelitian yang dominan sampai saat ini banyak dipengaruhi oleh cara pikir positivistik (baca: konservatif atau liberal-reformis) yakni melihat realitas sebagaimana yang ditampilkan, bebas nilai, objektif. Cara berpikir demikian banyak mengadopsi cara pandang ilmu alam yang pasti, dalam perkembangan selanjutnya cara berpikir positivistik ini berimplikasi pada penggeneralisasian terhadap setiap kenyataan yang ada, selain itu melihat segala sesuatunya jauh dari kepentingan. Meski sebetulnya justru kepentingan itulah yang dipertahankan, sebagai misal: banyak pekerja seni kita yang tanpa sadar atau (pura-pura) tidak sadar terus-menerus memproduksi karyanya untuk kepentingan dan selera pasar sehingga ia tidak berpikir bahwa saat menuangkan suatu gagasan lewat karyanya maka si seniman akan mempengaruhi para penikmatnya.

Dalam perkembangannya mulai muncullah kritik terhadap dominasi positivistik, dengan memulainya melalui kerja budaya yang berasal dari kalangan bawah yang disesuaikan dengan realitas yang terjadi. Meminjam perkembangan penelitian desa yang ditulis Robert Chambers dan kemudian memodifikasinya dalam bentuk penelitian untuk para seniman dan karya-karyanya, penulis mencoba menawarkan gagasan belajar bersama untuk transformasi sosial berupa pendidikan penyadaran yang merupakan kritik atas metodologi penelitian sebelumnya. Untuk lebih sistematis dalam melihat perbedaan tersebut lihatlah skema berikut:


Melakukan Aksi

Setelah terjadi pemahaman bersama tentang bagaimana menjalankan metodologi pendidikan penyadaran selanjutnya adalah secara bersama-sama pemahaman yang ada dituangkan dalam kerja-kerja berupa aksi, seperti Moelyono yang bersama-sama dengan anak-anak di SD Kebonsari, Punung, Pacitan berkesenian (gambar, puisi dan lagu) untuk menggambarkan problem yang dihadapi, membahasnya dalam diskusi dan hasilnya berupa ide-ide untuk memperbaiki kualitas hidup. Dengan seni penyadaran inilah Moelyono mencoba menggugah kesadaran anak untuk memahami realitas sosial yang ada di sekelilingnya. Selain peningkatan daya kreatif dan kritis buat anak, apa yang mereka lakukan juga berimbas pada orang tua mereka, di mana orang tua jika ingin berkumpul membahas kondisi ketertindasannya menggunakan gamelan sebagaimana anak menggunakan gambar, puisi dan syair lagu. Dengan demikian misi penyadaran melalui seni bukan sebagai corong propaganda yang tidak berestetika, tetapi ruang belajar bersama untuk transformasi sosial yang mengandung nilai-nilai estetik.

Dan jika kita runut ke belakang, maka "isu lama, dengan kemasan baru", dan perdebatan tiada henti antara LEKRA (baca: corong propaganda) dan MANIKEBU (baca: seni untuk estetika) dapat sementara terselesaikan lewat kerja budaya yang salah satunya dilakukan oleh Moelyono dan beberapa lainnya adalah para seniman lereng Merapi-Merbabu dengan simbol: "Transformasi Sosial, YES, Estetika, YES".***

Oleh: Baridul Islam Pr
Penulis adalah Direktur Institut Kebudayaan Banyumas (IKB) dan periset New Social Movement, alumnus Sosiologi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
cited from Sinar Harapan, 11 Agustus 2003

Download? Klik di sini

Monday, April 20, 2009

Contoh Drama pendek: Malam Terakhir

MALAM TERAKHIR
(Sotoba Komachi)
Karya : Yukio Mishima
Diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar

Para Pelaku :
PEREMPUAN TUA
PENYAIR
Laki-Laki Pertama
Laki-Laki Kedua
Laki-Laki Ketiga
Perempuan Pertama
Perempuan Kedua
Perempuan Ketiga
Agen Polisi
Beberapa Penari
Beberapa Pasangan Kekasih
Beberapa Pengemis
Beberapa Pelayan Rumah Makan


PEREMPUAN TUA
Satu ditambah satu, dua, dua ditambah dua lagi, empat… (Dia memegang sebuah puntung rokok di bawah cahaya lampu, danketika dilihatnya rokok itu masih cukup panjang, dia kemudian pergi menuju pasangan kekasih di sebelah kirinya untuk meminta api. Sesudah itu dia duduk lagi dan mengisap rokoknya. Setelah beberapa isap dia memadamkan lagi sigaretnya, dan melemparkannya ke samping puntung-puntung rokok lainnya di atas sehelai kertas Koran. Kemudian dia mulai menghitung lagi) Satu ditambah satu, dua; dua ditambah dua, empat…

PENYAIR : (Pergi berdiri di belakang perempuan tua itu dan memperhatikan apa yang sedang dilkukannya)

PEREMPUAN TUA
Kau mau merokok ? Silakan.

PENYAIR
Terima kasih.

PEREMPUAN TUA
Masih ada keperluan lainnya ? Mungkin ada yang ingin kau sampaikan ?

PENYAIR
Tidak. Tidak begitu penting soalnya.

PEREMPUAN TUA
Aku tahu kau siapa. Kau seorang penyair. Itulah keahlianmu.

PENYAIR
Rupanya kau tahu betul keadaanku. Ya, sekali-sekali aku menulis sajak. Tentu. Tetapi itu bukan bisnis, bukan perusahaan.

PEREMPUAN TUA
Begitu pendaptmu? Pasti karena kau tidak bisa menjual sajak-sajakmu, bukan? Kau masih muda, bukan? Tetapi kau tidak akan lama lagi hidup. Tampak malaikat maut sudah tercoreng di atas keningmu.

PENYAIR
Apa pekerjaanmu di masa yang lalu? Peramal? Dapatkah kau meramal melalui garis tangan, melalui kerut-kerut pada muka?

PEREMPUAN TUA
Mungkin… Aku melihat begitu banyak manusia dalam hidupku, sehingga muka mereka itu tidak bicara apa-apa lagi kepadaku… Duduklah! Aku kira kau sudah tidak begitu tetap lagi berdiri.

PENYAIR
Ini disebabkan karena aku baru saja minum-minum.

PEREMPUAN TUA
Eh… Selagi kau masih hidup kau harus berdiri dengan kedua kakimu di atas tanah.

PENYAIR
Dengarlah, ada sesuatu yang sangat ingin kuketahui selama ini, sehingga terpaksa aku harus menanyakannya padamu. Mengapa kau saban malam dating ke mari pada waktu yang sama dan mengusir semua pasangan itu dari bangku mereka?

PEREMPUAN TUA
Bangku itu bukan milikmu sendiri, bukan? Mau apa kau sebenrnya? Apakah kau seorang pengembara? Apakah kau harus meminta sedekah kepada orang-orang yang duduk di sini?

PENYAIR
Tidak. Tetapi bangku itu tidak bisa menyampaikan kejengkelannya. Karena akulah yang harus menyampaikannya untuk dia.

PEREMPUAN TUA
Aku tak pernah mengusir orang. Mereka dengan sendirinya pergi menjauh kalau aku duduk di sini. Lihat saja, bangku ini bisa diduduki oleh empat orang.

PENYAIR
Malah hari bangku-bangku itu untuk orang-orang yang sedang berkasih-kasihan. Kalau aku malam-malam melewati taman ini dan pada setiap bangku aku melihat pasangan semacam itu duduk di atasnya, dalam hatiku aku selalu merasa bukan main tenteramnya. Kalau aku melewati mereka maka aku berjalan dengan bersijingkat. Bahkan kalau aku merasa letih, atau tiba-tiba aku kehilangan ilham, sehingga aku mau duduk untuk mengumpulkan gagasan-gagasanku, akupun tidak melakukannya. Karena rasa hormatku kepada… Tetapi kau langsung saja duduk. Telah berapa lama sebenarnya kau biasa datang ke mari?

Ingin baca lengkap naskah?
Download? KLIK di sini

Clara

CLARA
(atawa Wanita yang Diperkosa)

Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi*) – tapi aku memakai seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya.

Di hadapanku duduk wanita itu. Rambutnya dicat merah. Coklat sebetulnya. Tapi orang-orang menyebutnya merah. Padahal merah punya arti lain bagiku. Sudah bertahun-tahun aku dicekoki pikiran bahwa orang-orang merah adalah orang-orang yang berbahaya.

Jadi, aku tidak perlu percaya kepada wanita ini, yang rambutnya sengaja dicat merah. Barangkali isi kepalanya juga merah. Barangkali hatinya juga merah. Siapa tahu? Aku tidak perlu percaya kepada kata- kata wanita ini, meski ceritanya sendiri dengan jujur kuakui lumayan mengharukan.

Dia bercerita dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti. Bukan karena bahasa Indonesianya kurang bagus, karena bahasa itu sangat dikuasainya, tapi karena apa yang dialami dan dirasakannya seolah- olah tidak terkalimatkan. Wajahnya yang cantik sarat dengan luka batin yang tak terbayangkan. Aku hampir-hampir terharu bahkan sebelum dia bercerita. Tidak pernah bisa kubayangkan bahwa manusia bisa mengalami beban penderitaan seberat itu justru karena dia lahir sebagai manusia. Ceritanya terpatah-patah. Kalimatnya tidak nyambung.

Kata-kata bertebaran tak terangkai sehingga aku harus menyambung-nyambungnya sendiri. Beban penderitaan macam apakah yang bisa dialami manusia sehingga membuatnya tak mampu berkata-kata?

Maka cerita yang akan kau dengar ini bukanlah kalimatnya melainkan kalimatku. Sudah bertahun-tahun aku bertugas sebagai pembuat laporan dan hampir semua laporan itu tidak pernah sama dengan kenyataan. Aku sudah menjadi sangat ahli menyulap kenyataan yang pahit menjadi menyenangkan, dan sebaliknya perbuatan yang sebetulnya patriotik menjadi subversif — pokoknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan.

Maka, kalau cuma menyambung kalimat yang terputus-putus karena penderitaan, bagiku sungguh pekerjaan yang ringan.

Api sudah berkobar di mana-mana ketika mobil BMW saya melaju di jalan tol. Saya menerima telepon dari rumah. ”Jangan pulang,” kata Mama. Dia bilang kompleks perumahan sudah dikepung, rumah-rumah tetangga sudah dijarah dan dibakar. Papa, Mama, Monica, dan Sinta, adik-adikku, terjebak di dalam rumah dan tidak bisa ke mana-mana. ”Jangan pulang, selamatkan diri kamu, pergilah langsung ke Cengkareng, terbang ke Singapore atau Hong Kong. Pokoknya ada tiket. Kamu selalu bawa paspor kan? Tinggalkan mobilnya di tempat parkir. Kalau terpaksa ke Sydney tidak apa-apa. Pokoknya selamat. Di sana kan ada Oom dan Tante,” kata Mama lagi.

Saya memang sering ke luar negeri belakangan ini. Pontang-panting mengurusi perusahaan Papa yang nyaris bangkrut karena utangnya dalam dolar tiba-tiba jadi bengkak. Saya ngotot untuk tidak mem-PHK para buruh. Selain kasihan, itu juga hanya akan menimbulkan kerusuhan. Papa marah-marah. ”Kita tidak punya uang untuk membayar buruh. Selain produksi sudah berhenti, yang beli pun kagak ada. Sekarang ini para buruh hidup dari subsidi perusahaan patungan kita di luar negeri. Mereka pun sudah mencak-mencak profitnya dicomot. Sampai kapan mereka sudi membayar orang-orang yang praktis sudah tidak bekerja?”

Saya masih ngotot. Jadi Papa putuskan sayalah yang harus mengusahakan supaya profit perusahaan patungan kami di Hong Kong, Beijing, dan Macao diperbesar. Tetesannya lumayan untuk menghidupi para buruh, meskipun produksi kami sudah berhenti. Itu sebabnya saya sering mondar-mandir ke luar negeri dan selalu ada paspor di tas saya.

Tapi, kenapa saya harus lari sekarang, sementara keluarga saya terjebak seperti tikus di rumahnya sendiri? Saya melaju lewat jalan tol supaya cepat sampai di rumah. Saya memang mendengar banyak kerusuhan belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa dibilang huru-hara. Terus terang saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya terlalu tenggelam dalam urusan bisnis. Koran cuma saya baca judul-judulnya. Itu pun maknanya tidak pernah jelas. Namun, setidaknya saya yakin pasti bukan mahasiswa yang membakar dan menjarah kompleks perumahan, perkotaan, dan mobil-mobil yang lewat. Bahkan bukan mahasiswa pun sebenarnya tidak ada urusan membakar-bakari rumah orang kalau tidak ada yang sengaja membakar-bakar.

Saya tancap gas. BMW melaju seperti terbang. Di kiri kanan jalan terlihat api menerangi malam. Jalan tol itu sepi, BMW terbang sampai 120 kilometer per jam. Hanya dalam sepuluh menit saya akan segera tiba di rumah. Tapi, di ujung itu saya lihat segerombolan orang. Sukar sekali menghentikan mobil. Apakah saya harus menabraknya? Pejalan kaki tidak dibenarkan berdiri di tengah jalan tol, tapi saya tidak ingin menabraknya. Saya menginjak rem, tidak langsung, karena mobil akan berguling-guling. Sedikit-sedikit saya mengerem, dan toh roda yang menggesek aspal semen itu tetap mengeluarkan bunyi Ciiiiiiitttt! Yang sering dianggap sebagai petanda betapa para pemilik mobil sangat jumawa.

Setelah berhenti, saya lihat ada sekitar 25 orang. Semuanya laki-laki.

”Buka jendela,” kata seseorang.

Saya buka jendela.

”Cina!” ”Cina!” Mereka berteriak seperti menemukan intan berlian.

Belum sempat berpikir, kaca depan BMW itu sudah hancur karena gebukan. Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada Cina? Saya memang keturunan Cina, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai Cina?

”Saya orang Indonesia,” kata saya dengan gemetar.

Braakk! Kap mobil digebuk. Seseorang menarik saya dengan kasar lewat jendela. Saya dilempar seperti karung dan terhempas di jalan tol.

”Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!” Pipi saya menempel di permukaan bergurat jalan tol. Saya melihat kaki-kaki lusuh dan berdaki yang mengenakan sandal jepit, sebagian tidak beralas kaki, hanya satu yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang sudah mengering.

”Berdiri!” Saya berdiri, hampir jatuh karena sepatu uleg saya yang tinggi. Saya melihat seseorang melongok ke dalam mobil. Membuka-buka laci dashboard, lantas mengambil tas saya. Isinya ditumpahkan ke jalan. Berjatuhanlah dompet, bedak, cermin, sikat alis, sikat bulu mata, lipstik, HP, dan bekas tiket bioskop yang saya pakai nonton bersama pacar saya kemarin. Dompetnya segera diambil, uangnya langsung dibagi-bagi setengah rebutan. Sejuta rupiah uang cash amblas dalam sekejap. Tidak apa-apa. Mobil masih bisa dikendarai dengan kaca pecah, dan saya tidak perlu uang cash. Di dalam dompet ada foto pacar saya. Orang yang mengambil dompet tadi mengeluarkan foto itu, lantas mendekati saya.

”Kamu pernah sama dia?”

Saya diam saja. Apa pun maksudnya saya tidak perlu menjawabnya.

Plak! Saya ditampar. Bibir saya perih. Barangkali pecah.

”Jawab! Pernah kan? Cina-cina kan tidak punya agama!” Saya tidak perlu menjawab.

Bug! Saya ditempeleng sampai jatuh.

Seseorang yang lain ikut melongok foto itu.

”Huh! Pacarnya orang Jawa!” Saya teringat pacar saya. Saya tidak pernah peduli dia Jawa atau Cina, saya cuma tahu cinta.

”Periksa! Masih perawan atau tidak dia!” Tangan saya secara refleks bergerak memegang rok span saya, tapi tangan saya tidak bisa bergerak. Ternyata sudah ada dua orang yang masing-masing memegangi tangan kanan dan tangan kiri saya. Terasa rok saya ditarik. Saya menyepak-nyepak. Lagi-lagi dua pasang tangan menangkap kedua kaki saya.

”Aaaahhh! Tolongngng!” Saya menjerit. Mulut saya dibungkam telapak kaki berdaki. Wajah orang yang menginjak mulut saya itu nampak dingin sekali. Berpuluh-puluh tangan menggerayangi dan meremas-remas tubuh saya.

”Diem lu Cina!” Rok saya sudah lolos….

Wanita itu menangis. Mestinya aku terharu. Mestinya. Setidaknya aku bisa terharu kalau membaca roman picisan yang dijual di pinggir jalan. Tapi, menjadi terharu tidak baik untuk seorang petugas seperti aku. Aku harus mencatat dengan rinci, objektif, deskriptif, masih ditambah mencari tahu jangan-jangan ada maksud lain di belakangnya. Aku tidak boleh langsung percaya, aku harus curiga, sibuk menduga kemungkinan, sibuk menjebak, memancing, dan membuatnya lelah supaya cepat mengaku apa maksudnya yang sebenarnya. Jangan terlalu cepat percaya kepada perasaan. Perasaan bisa menipu. Perasaan itu subjektif. Sedangkan aku bukan subjek di sini. Aku cuma alat. Aku cuma robot. Taik kucing dengan hati nurani. Aku hanya petugas yang membuat laporan, dan sebuah laporan harus sangat terinci bukan?

”Setelah celana dalam kamu dicopot, apa yang terjadi?”

Dia menangis lagi. Tapi masih bercerita dengan terputus-putus. Ternyata susah sekali menyambung-nyambung cerita wanita ini. Bukan hanya menangis. Kadang-kadang dia pingsan. Apa boleh buat, aku harus terus bertanya.

”Saya harus tahu apa yang terjadi setelah celana dalam dicopot, kalau kamu tidak bilang, apa yang harus saya tulis dalam laporan?”

Saya tidak tahu berapa lama saya pingsan. Waktu saya membuka mata, saya hanya melihat bintang-bintang. Di tengah semesta yang begini luas, siapa yang peduli kepada nasib saya? Saya masih terkapar di jalan tol. Angin malam yang basah bertiup membawa bau sangit. Saya menengok dan melihat BMW saya sudah terbakar. Rasanya baru sekarang saya melihat api dengan keindahan yang hanya mewakili bencana. Isi tas saya masih berantakan seperti semula. Saya melihat lampu HP saya berkedip-kedip cepat, tanda ada seseorang meninggalkan pesan.

Saya mau beranjak, tapi tiba-tiba selangkangan saya terasa sangat perih. Bagaikan ada tombak dihunjamkan di antara kedua paha saya. O, betapa pedihnya hati saya tidak bisa saya ungkapkan. Saya tidak punya kata-kata untuk itu. Saya tidak punya bahasa. Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk urusan bisnis. Kata orang, bahasa Cina sangat kaya dalam hal menggambarkan perasaan, tapi saya tidak bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek manapun, kecuali yang ada hubungannya dengan harga-harga. Saya cuma seorang wanita Cina yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam urusan dagang. Saya bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam kamus besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh banyak orang –karena dia seorang wanita Cina. Sedangkan pacar saya saja begitu hati-hati bahkan hanya untuk mencium bibir saya. Selangkangan saya sakit, tapi saya tahu itu akan segera sembuh. Luka hati saya, apakah harus saya bawa sampai mati? Siapakah kiranya yang akan membela kami? Benarkah kami dilahirkan hanya untuk dibenci?

Saya tidak bisa bergerak sampai seorang ibu tua datang terbungkuk-bungkuk. Dia segera menutupi tubuh saya dengan kain.

”Maafkan anak-anak kami,” katanya, ”mereka memang benci dengan Cina.”

Saya tidak sempat memikirkan arti kalimat itu. Saya bungkus tubuh saya dengan kain, dan tertatih-tatih menuju tempat di mana isi tas saya berserakan. Saya ambil HP saya, dan saya dengar pesan Papa: ”Kalau kamu dengar pesan ini, mudah-mudahan kamu sudah sampai di Hong Kong, Sydney, atau paling tidak Singapore. Tabahkanlah hatimu Clara. Kedua adikmu, Monica dan Sinta, telah dilempar ke dalam api setelah diperkosa. Mama juga diperkosa, lantas bunuh diri, melompat dari lantai empat. Barangkali Papa akan menyusul juga. Papa tidak tahu apakah hidup ini masih berguna. Rasanya Papa ingin mati saja.”

Dia menangis lagi. Tanpa airmata. Kemudian pingsan. Kudiamkan saja dia tergeletak di kursi. Ia hanya mengenakan kain. Seorang ibu tua yang rumahnya berada di kampung di tepi jalan tol telah menolongnya. ”Dia terkapar telanjang di tepi jalan,” kata ibu tua itu. Aku sudah melaporkan soal ini kepada pimpinanku. Lewat telepon dia berteriak, ”Satu lagi! Hari ini banyak sekali perkara beginian.

Tahan dia di situ. Jangan sampai ada yang tahu. Terutama jangan sampai ketahuan wartawan dan LSM!” Pesuruh kantor membaukan PPO ke hidungnya. Matanya melek kembali.

”Jadi kamu mau bilang kamu itu diperkosa?”

Dia menatapku.

”Padahal kamu bilang tadi, kamu langsung pingsan setelah … apa itu … rok kamu dicopot?”

Dia menatapku dengan wajah tak percaya.

”Bagaimana bisa dibuktikan bahwa banyak orang memperkosa kamu?”

Kulihat di matanya suatu perasaan yang tidak mungkin dibahasakan. Bibirnya menganga. Memang pecah karena terpukul. Tapi itu bukan berarti wanita ini tidak menarik. Pastilah dia seorang wanita yang kaya. Mobilnya saja BMW. Seorang wanita eksekutif. Aku juga ingin kaya, tapi meskipun sudah memeras dan menerima sogokan di sana-sini, tetap begini-begini saja dan tidak pernah bisa kaya. Naik BMW saja aku belum pernah. Aku memang punya sentimen kepada orang-orang kaya –apalagi kalau dia Cina. Aku benci sekali. Yeah. Kainnya melorot, dan tampaklah bahunya yang putih….

”Jangan terlalu mudah menyebarkan isyu diperkosa. Perkosaan itu paling sulit dibuktikan. Salah-salah kamu dianggap menyebarkan fitnah.”

Di matanya kemarahan terpancar sekejap. Bahwa dia punya nyali untuk bercerita, memang menunjukkan dia wanita yang tegar.

”Saya mau pulang,” ia berdiri. Ia hanya mengenakan kain yang menggantung di bahu. Kain itu panjangnya tanggung, kakinya yang begitu putih dan mulus nampak telanjang.

”Kamu tidur saja di situ. Di luar masih rusuh, toko-toko dibakar, dan banyak perempuan Cina diperkosa.”

”Tidak, saya mau pulang.”

”Siapa mau mengantar kamu dalam kerusuhan begini. Apa kamu mau pulang jalan kaki seperti itu? Sedangkan pos polisi saja di mana-mana dibakar.”

Dia diam saja.

”Tidur di situ,” kutunjuk sebuah bangku panjang, ”besok pagi kamu boleh pulang.”

Kulihat dia melangkah ke sana. Dalam cahaya lampu, lekuk tubuhnya nampak menerawang. Dia sungguh-sungguh cantik dan menarik, meskipun rambutnya dicat warna merah. Rasanya aku juga ingin memperkosanya. Sudah kubilang tadi, barangkali aku seorang anjing, barangkali aku seorang babi — tapi aku mengenakan seragam. Kau tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Masalahnya: menurut ilmu hewan, katanya binatang pun tidak pernah memperkosa.

Tentu saja tentang yang satu ini tidak perlu kulaporkan kepada pimpinan. Hanya kepadamu aku bisa bercerita dengan jujur, tapi dengan catatan — semua ini rahasia. Jadi, jangan bilang-bilang.

Jakarta, 26 Juni 1998
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Download? Klik di sini

*) Menggunakan istilah dari novel Saman, “aku seorang burung

Saturday, April 18, 2009

Puisi Slamet Sukirnanto

BUKIT SIBISU

Slamet Sukirnanto


Tak ada waktu menggali luka
Hanya kabut dan kehijauan
- selimut pertapa ! diammu mengagumkan
Menyentuh kencana – keheningan jiwa,
Mengatas terus bertanya :
Adakah puncakmu Sorga?
Bukit Sibisu
di kakimu

Lelaki tertahan sejenak
Mengurai gairah. Dan lupa
Tanya hari esok
Keyakinan kokoh
Dalam ruang batinnya
Tiba-tiba tegak
Bagaikan batu padas tanah Toba!
Bersama sunyi mengeja semesta!
Danau Toba – juga batu padas dan manusia
Hidup di tebing curam
Mengoyak lebar kolam maha luas
- mandilah bulan dan matahari senja!
Ada nyanyi gersang
Dan petikan gitar
Menggetar merongga angkasa!
Puaskan dahaga
Was-was dan kecewa
Larut bersama ombak

Si pemabuk tuak pulang

Gontai. Di tangannya
Menggenggam erat setangkai bunga!
Beri lagi Aku
Hidup bijak
dalam keras batu
dalam lembut bunga

Download? Klik di sini

Friday, April 17, 2009

Teori dan Kritik Sastra

Teori dan Kritik Sastra: Sebuah Uraian Ringkas

oleh: M. Misbahul Amri


Tulisan berikut ini, meskipun tidak semuanya, merupakan hasil dari apa yang saya dapat ketika mengikuti Pelatihan Teori dan Kritik Sastra, di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Jakarta 27-30 Mei 2002. Selain dari materi yang diberikan, berikut ini juga saya sampaikan beberapa tambahan yang menurut saya relevan untuk disampaikan. Kali ini, saya lebih menekankan pada cakupan materi yang kurang lebih menyeluruh. Hasilnya, tentu saja, tidak bisa mendalam. Oleh karena itu, karena berbagai keterbatasan, perkenankan saya hanya menyampaikan rangkuman yang sangat ringkas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan teori dan kritik sastra.

Untuk mendudukkan sebuah perbincangan agar dapat terarah, definisi mengenai subyek pembicaraan tampaknya tidak bisa dihindari. Akan tetapi, ketika pembicaraan itu dikaitkan dengan pertanyaan "Apakah sastra itu?", tampaknya akan sulit-jika tidak boleh disebut tidak mungkin-didapatkan sebuah kesepakatan final. Kenyataan dilematis seperti ini secara tidak langsung sudah diakui bahkan oleh Plato dalam bukunya yang berjudul Republic. Mengenai dilema ini sudah dibahas panjang lebar oleh David Daiches. Bagaimana kerumitan ini bisa terjadi, tulisan berikut ini akan mencoba memberi gambaran tentang peliknya masalah ini.

Plato dalam salah satu bab buku tersebut (Book X) pada dasarnya tidak berbicara mengenai definisi sastra, namun dari pembahasannya mengenai fungsi sastra-yang merupakan inti pokok pembahasannya-dapat ditarik sebuah definisi bahwa sastra adalah sebuah karya tiruan realitas, yang nota bene adalah wujud tiruan dari dunia ide. Akibatnya, sastra jauh dari kebenaran. Oleh karenanya, keberadaannya tidak begitu mendapat penghargaan dari Plato. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa ia bisa dikesampingkan begitu saja. Sebaliknya, jika dikontrol isinya, ia akan dapat dimanfaatkan dengan baik agar penikmatnya menjadi warga negara yang sesuai dengan keinginan penguasa. Ini bisa terjadi karena karya sastra mempunyai kekuatan untuk menarik penikmatnya melakukan identifikasi diri pada tokoh ciptaan pengarangnya. Inilah dasar pemikiran yang kemudian melahirkan lembaga sensor sastra. Kasus The Satanic Verses-nya Salman Rusdy adalah salah satu contohnya.


Berbeda dengan Plato, Aristoteles bahkan menempatkan karya sastra dan pengarangnya pada posisi yang sangat terhormat. Bagi Aristoteles, sastra, terutama tragedi, adalah dunia kemungkinan yang ditemukan dan diciptakan secara nyata oleh pengarangnya sehingga penikmatnya akan dapat memperoleh katarsis-penyucian jiwa-melalui identifikasinya pada tokoh tragis yang dihadirkannya, dengan nilai kebenaran yang mampu melintasi ruang dan waktu, misalnya Oedipus Rex karya Sophocles. Karena kehebatannya menciptakan dunia kemungkinan tersebut, pengarang tragedi dinilai lebih hebat daripada filosof dan sejarawan, tidak seperti gurunya, Plato, yang menempatkan pengarang bahkan lebih rendah daripada tukang. Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan teori bahwa sastra adalah dunia kemungkinan ciptaan pengarang dan harus bersifat universal.

Berasal dari pemikiran kedua filosof Yunani klasik itulah kemudian berkembang berbagai teori tentang sastra. Dari gagasan mimesisnya Plato, misalnya, melahirkan faham realisme sosial yang dianut oleh mereka yang beraliran Marxisme klasik. Akibatnya, karya sastra yang dianggap baik adalah yang mampu menampilkan realitas perjuangan kelas proletar, misalnya Oliver Twist karya Charles Dickens atau 'Ballad of Birmingham'-nya Dudley Randall, bahkan sebaiknya bisa menggerakkan penikmatnya utuk melakukan gerakan perlawanan seperti Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe, yang mampu menggerakkan masyarakat Amerika sehingga terjadi perang saudara menuntut penghapusan budak. Analisis atau kritik yang menekankan pada perlunya pengaruh karya sastra terhadap masyarakat ini menggunakan pendekatan pragmatik. Kriterianya, semakin besar pengaruh karya sastra terhadap masyarakat, semakin baiklah karya itu. Selain itu, konsep tiruan (mimesis) Plato juga faham bahwa sastra adalah refleksi atau bahkan potret sosial masyarakat yang melahirkannya. Dengan demikian, karya sastra yang baik adalah yang mampu menampilkan potret sosial senyata-nyatanya. Konsep ini kemudian melahirkan pendekatan mimetik dalam kritik sastra.

Sementara itu, memesis Aristoteles dengan dunia kemungkinannya telah melahirkan faham realisme universal, yang selanjutnya mengilhami lahirnya pendekatan objektif. Pendekatan ini menganggap karya sastra mempunyai dunia otonom sehingga terbebas dari faktor-faktor ekstrinsiknya, namun dia mengandung kebenaran universal. Kriterianya, karya sastra yang baik adalah mengandung nilai estetik yang tinggi yang terbentuk dari keterkaitan antar piranti-piranti sastranya. Selanjutnya, yang agaknya bisa dibilang lepas dari kedua tokoh tersebut adalah pendekatan ekspresif. Dalam analisisnya, pendekatan ini menekankan pada pentingnya kedudukan pengarang agar dapat memahami karya yang dihasilkannya. Akibatnya, segala informasi mengenai pengarang menjadi sangat penting, sedangkan teks yang dihasilkannya hanya sebagai alat pembenaran saja. Pendekatan ini diilhami oleh karya sastra aliran romantisme dan psychoanalisisnya Freud. Kriterianya, semakin hebat karya itu mengekspresikan ide pengarang, semakin hebat pula nilai sastranya.

Dengan demikian, secara garis besar, analisis atau kritik sastra dapat dibagi menjadi dua: intrinsik dan ekstrinsik. Analisis intrinsik memusatkan perhatiannya pada piranti sastra dan hubungan antar piranti tersebut sehingga melahirkan sebuah kesatuan yang unik; sedangkan analisis ekstrinsik menekankan pada unsur-unsur luar karya untuk menangkap makna dan nilainya. Degan demikian, perlu ditegaskan di sini bahwa perkembangan kritik sastra tidak kedap dari pengaruh ilmu di luar sastra.

Seorang bapak linguis struktural, Ferdinand de Saussure, misalnya, bahkan sangat besar pengaruhnya terhadap lahirnya pendekatan struktural dan semiotik. Roman Jakobson dan teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Linguistik Praha juga telah memberikan sumbangan mereka dalam kajian sastra dengan lahirnya faham Formalisme Rusia, sehingga Vladimir Propp, misalnya, berhasil membuat teori mengenai cerita rakyat Rusia dalam 'The Morphology of Folktale' dan Tzvetan Todorov membuat tipologi fiksi detektif. Pendekatan struktural dan formalis serta New Criticism (di Amerika yang dipelopori oleh, antara lain, Fryre dan Wimsatt, yang menekankan otonomi karya sastra itu mendapatkan dukungan yang kuat oleh Roland Barthes dalam artikelnya yang berjudul 'The Death of the Author'. Yang diperlukan oleh seorang kritikus sastra adalah kemampuan literer (literary competence).

Cara pandang terhadap sastra yang terakhir ini ternyata juga bahkan melahirkan pemikiran yang sama sekali berbeda. Model kritik yang semula berkeinginan untuk menghindari 'intentional fallacy' dan 'affective fallicy' agar memperoleh pemahaman yang objektif terhadap karya sastra telah melahirkan dasar pijak yang menempatkan pembaca sebagai pemegang kunci utama yang menentukan makna dan nilai suatu karya sastra. Tokoh yang menegaskan peran pembaca ini di antaranya adalah Wolfgang Iser dan Stanley Fish. Kesadaran akan pentingnya pembaca dalam menentukan kandungan karya sastra ini telah melahirkan berbagai pendekatan kontemporer. Kesadaran tentang adanya keberagaman budaya melahirkan kritik posmo. Kesadaran akan jenis kelamin dan nilai-nilai kewanitaan telah melahirkan kritik feminisme. Sementara kesadaran akan ketertindasan ekonomi melahirkan kritik neo Marxisme; sedangkan ketertindasan etnik melahirkan kritik pasca-kolonialisme. Bahkan kelompok gay dan lesbian pun juga tidak mau kalah meskipun teori mereka masih dikategorikan 'queer theory'.

Berbagai cara pandang yang lahir belakangan ini, menurut hemat saya, sebenarnya merupakan reaksi atas gagalnya pandangan modernisme yang 'Euro-sentrik', 'logo-sentrik' dan 'phalo-sentrik' dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dengan sombongnya mengklaim diri bernilai universal dan bebas nila, ditambah dengan datangnya faham dekonstruksi. Akibatnya, definisi-definisi yang selama ini dianggap mapan menjadi dipertanyakan. Contoh yang paling mencolok dalam kajian sastra adalah lahirnya Cultural Studies (Kajian Budaya?) dalam telaah karya sastra sehingga karya-karya populer, bahkan iklan, pun 'disejajarkan' dengan karya kanon dan berhak memperoleh perhatian dan kajian yang serius dari para ahli. Dengan kata lain, definisi Sastra dan sastra dipertanyakan. Demikian juga halnya dengan fakta dan fiksi, sehingga oto/biografi menjadi subjek kajian yang mulai menarik para peneliti. Berbagai pandangan terakhir ini lahir karena adanya kesadaran bahwa segala macam definisi itu sebenarnya tidak lain merupakan ungkapan ideologis (kelompok) pembuatnya sehingga, baik langsung maupun tidak, selalu mengandung muatan politik.

Demikianlah, melalui tulisan yang sangat pendek ini saya berharap semoga dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi dalam perkembangan mengenai teori dan kritik sastra. ***

Disampaikan dalam Seminar Akademik Jurusan Sastra Inggris, FS UM, tgl. 29 Nopember 2002; didiskusikan ulang untuk Workshop Proses Kreatif Bengkel Imajinasi,17 Oktober 2003 di Malang
Dosen Jurusan Sastra Inggris, FS UM


    Sapardi Djoko Damono (2002) Pengarang, Karya Sastra, dan Pembaca. Dalam Bahan Pelatihan Teori dan Kritik Sastra. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. h.:9-16.

    Plato (1950) Republic. Dalam Dialogues of Plato (translated by Simon & Schuster). New York: Washington Square Press. h.:370-86.

    David Daiches (1956) Critical Approaches to Literature. London: Longman.

    Aristotle (1955) Poetics (Translated by T. Twining). Dalam Aristotle's Poetics and Rhethoric:
    Also Demetrius on Style, Longinus on The Sublime, and other Essays in Classical Criticism. London: J.M. Dent & Sons Ltd.

    Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan baca buku Daiches di atas.

    Mengenai empat pendekatan ini dapat dilihat lebih jauh dalam buku M.H. Abrams (19 ) A Glossary of Literary Terms.

    Lihat karya Damono di atas h.:12; dan Renne Wellek and Austin Warren (1956) Theory of Literature. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.

    Jonathan Culler (1975) Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. Ithaca: Cornell University Press.; Robert Scholes (1974) Structuralism in Literature. New Haven and London: Yale University Press. Jonathan Culler (1981) The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature and Deconstruction. London and Henley: Routledge & Kegan Paul.

    Vladimir Propp (1997) The Morphology of Folktale. Dalam Rivkin, Julie and Ryan, Michael, (eds.). 1997 Literary Theory: An Anthology. Oxford: Blackwell Publisher Ltd. h.: 28-31; Tzvetan

    Todorov (1966) The Typology of Detective Fiction. Dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:158-65.

    A. Teeuw (1983) Membaca dan Menilai Sastra. Jakrta: PT Gramedia.; Terry Eagleton (1983) Literary Theory: An Introduction. Oxford: Oxford University Press.

    Dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:167-72.

    Jonathan Culler (1975) Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. Ithaca: Cornell University Press.

    Wimsatt and Beardsley dalam A. Teeuw (1983) Membaca dan Menilai Sastra. Jakrta: PT Gramedia.

    'The Reading Process: A Phenomenological Approach'. dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:212-28.

    'Interpreting the Variorum. Dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:312-29.

    Anne Cranny-Francis (1994) Popular Culture. Geelong: Deakin University Press. Jonathan Culler (1997) Literary Theory: A very Short Instroduction. Oxford, New York: Oxford University Press.

    Paul Eakin (1985) Fictions in Autobiography: Studies in the Art Self Invention. Princeton: Princeton Univeristy Press.; Paul Eakin (1990) The Referential Aesthetic of Autobiography. dalam Studies in the Literary Imagination. v23 n2 Fall 1990. pp. 129-44.; Charles Berryman (1999) Critical Mirrors: Theories of Autobiography. Mosaic (Winnipeg). March 1999.v32.i1.p.71(1). [online] Available: "http://web1.searchbank.com/itw/ses...8/29855557w3/84!xrn_31_0_A15172961" http://web1.searchbank.com/itw/ses...48/
    "http://web1.searchbank.com/itw/ses...8/29855557w3/84!xrn_31_0_A15172961" 29855557w3/12!xrn_9_0_A54482283 > [Accessed 26/05/99 20:53]

    "_ednref18" 17 John Colmer (1989) Australian Autobiography: The Personal Quest. Melbourne: Oxford University Press Australia.; Brewster, Anne. (1996) Reading Aboriginal Women's Autobiography. Sydney: Syney University Press.

    l "_ednref19" 18 Catherine Belsey (1983) 'Literature, History, Politics'. dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:400-10.

    Wednesday, April 15, 2009

    Puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo

    TAMU

    Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari
    sudah duduk di ruang tamu. Aku baru
    bangun. Tapi rupanya ia tidak
    merasa tersinggung waktu aku belum
    mandi dan menemui dia. Rambutku masih
    kusut dan pakaianku hanya baju kumal
    dan sarung lusuh.
    “Aku mau menjemput,” katanya pasti,
    seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya
    dan tahu apa rencananya.
    “Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
    “Dia sudah menunggu!” Ia nampak tak sabar
    dan tak senang dibantah. Aku belum tahu
    siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,
    tetapi sudah bisa kuduga siapa.
    “Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah
    dengan keluarga. Terlalu kejam untuk
    meninggalkan mereka begitu saja. Mereka
    akan mencari.”
    Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti
    tak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos
    dari tuntutannya.
    Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah
    menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya
    lari entah ke mana. ke sorga atau ke neraka?”


    TAMU

    masih ada yang mau singgah
    di pondok tua — kesan sesal
    gamit rindu, gores duka
    biar terbuka pintu muka
    buat tamu tak terduga
    siapa akan mengajak berbicara —
    rumput, batu, matahari
    arti kabur di pudar hari
    di bawah jenjang berdiri bayang
    di tangan pisau belati
    tiba ia menoleh memperhati

    Download? Klik di sini

    Monday, April 13, 2009

    Pada Sebuah Taman, Mei

    Pada Sebuah Taman, Mei


    Di taman kota, senja beringsut perlahan, lamban, bahkan nyaris lunglai. Senja yang kemarin juga, tapi. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana.

    Pagi sekali, mereka yang hanya mengenal canda dan birahi, telah bergegas pergi dari situ. Terbang ke tempat-tempat yang jauh, mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. Asing. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Ning juga pernah bilang begitu, dulu, ketika kami tidur bersama pertama kali, pada sebuah flat sederhana di Brooklynn, NY.

    Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam, turun amat perlahan, lesu, meninggalkan gerah ? juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Kota sedang terbakar. Revolusi, mungkin, sedang bermula.

    Usai mengantar Ning, aku segera terbang ke sini. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin, berkeringat, beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Bukan hal mudah mencapai taman ini. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan, perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap, lenggang, menyisakan cungkup-cungkup api dari mobil-mobil terbakar.

    Lalu di sini, senja mulai nyungsep, dan Yogo telah datang.

    “Kita evaluasi perkembangan, di sana. Pergilah,” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. Kekuasaan, kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo, sepanjang malam, tadi. Dia hanya mengenakan T-shirt polos, sepatu karet dan celana jeans. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik, lenyap sama sekali. Sambil mengontrol radio, memberi komando, mematangkan dan memberi perintah ‘start’, dia bagai berada dalam situasi ekstase. Persis ketika suatu malam, nun beberapa tahun lampau, ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye, Paris, meneguk perlahan hangat tequilla.

    “Perjumpaan dengan calon presiden,” aku menyebut pertemuan malam itu. Dia datang dari jauh, pedalaman Irian, usai membebaskan sandera.

    Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan, juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. “Anda bantu saya. Tak perlu kontak, kukira. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan, persahabatan. Juga keagungan sebuah cita-cita. Kamu pasti setuju, persahabatan adalah ikatan kita.” Singkat, simpel, khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing.

    Dan malam tadi, hingga subuh ketika kami pisah, Yogo tampak angker. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Persahabatan itu, segera akan terbukti, kelak, tapi rencana masih sedang berlangsung. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Presiden memang sudah terpojok, tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Juga kedatangan Yogo yang telat.

    Malam kemudian tiba dengan diam. Malam yang sepi.

    Ning menelepon.

    “Bang, Presiden mundur besok. Yogo tak mungkin datang. Pulanglah,” katanya simpel. Tak ada basa-basi, seperti irama tubuhnya: simpel, langsung, tegas dan banal.

    Aku kontan diserang frustasi. Lesu, habis, pupus. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh, bahkan sudah dua hari sebelumnya, bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen, mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu, menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci, sampai ke gelagat seksualnya di ranjang, telah aku rekam di luar kepala. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Para pemain valas telah terkuasai. Beberapa buah bank sudah ambruk. Markas keuangan sudah terbakar, diliputi misteri. Para aktivis telah diamankan. Sabotase, demonstrasi, dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Presiden yang ternyata sangat lemah, masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Demi Yogo, demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris, dan demi keagungan. Oh, betapa menggairahkan.

    Di ufuk, bayang kegagalan mulai tampak. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Dia berada satu level di bawah, tapi aku punya keyakinan, juga kepercayaan atas nama keagungan, bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Akan menyetop aksi, akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Ini harus dicegah. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan, rupanya tak dapat dipercaya; dia memilih mengalah sebelum bertempur. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita, ?lampu teplok kehabisan minyak; faktor yang kami tak hitung selama ini.

    “Ning, kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.

    “Ia. Kamu kok diam saja?”

    “Aku bingung. Ada kontak dengan Yogo?”

    “Belum, tapi kuusahakan. Mungkin dia sedang di istana.”

    “Pulanglah segera, pulang. Di sini kita bisa berpikir jernih.”

    Suara Ning tetap empuk. Menggairahkan. Memanggil. Tak ada kegetiran, apalagi kegentaran. Dia memang lebih matang. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Sebaliknya, aku yang justru panik dan gamang. Bukan karena risiko yang mesti datang, balas dendam kalangan militer, bukan. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks, lantaran aktornya bermain tak terkendali. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi, seperti Che Guevara, Castro, dan mungkin Kaddafi ? hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Aku benar-benar frustasi, kini.

    "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir.

    “Iya,” balasku memencet “off” pada hand-phone.

    Malam sudah bertahta. Udara gerah berbau asap. Taman benar-benar muram. Durja. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Kota masih terbakar, menghanguskan sisa rencana.

    Hand-phoneku bertulilit. Suara Yogo; “Tunggu sampai besok,” katanya singkat.

    Tak ada besok, Yogo: gumamku membatin. Seperti yang sering kamu katakan, sekarang atau tidak sama sekali. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi, dan tak ada rencana ulang.

    Di sini, di taman tempat burung-burung bersenggama, bertelur dan berkembang biak ‘dan kini telah mengungsi entah ke mana’ semuanya telah berakhir. Keagungan itu memang ilusi, kini. Bagi Yogo, utamanya. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Kami akan segera terbang ke negeri lain, di sana prarencana sudah tersusun. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional, alumni Oxford, almamaterku. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Tapi tidak malam ini.

    “Ning, kamu masih di situ?”

    “Ya, aku sudah mandi.”

    “Sekarang pakai handuk?”

    “Ya, cuma handuk. Duduk menunggumu.”

    “Sebentar lagi aku datang. Aku ingin berendam.”

    “Kalau begitu aku mandi lagi.”

    “Berendam bersama-sama.”

    “Iya.”

    “Terus?”

    “Terus larut seperti biasa.”

    “Aku meresapkan bau mulutmu, kini.”

    “Aku juga.”

    “Tunggu, ya!”

    “Cepat.”

    Malam, di taman ini, kurasakan gairah yang lain. Gairah bulan Mei. Seperti gairah sebuah musim panas, di Brooklynn, NY, nun bertahun lampau.***


    Jakarta, Juni 1998
    Cerpen Moch. Hasymi Ibrahim

    Download? Klik di sini

    Saturday, April 11, 2009

    Puisi Hartoyo Andangjaya

    PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

    Hartoyo Andangjaya

    Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
    ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
    sebelum peluit kereta pagi terjaga
    sebelum hari bermula dalam pesta kerja

    Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
    di atas roda-roda baja mereka berkendara
    mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
    merebut hidup di pasar-pasar kota

    Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
    mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
    akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
    mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa


    DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

    Apakah yang kupunya, anak-anakku
    selain buku-buku dan sedikit ilmu
    sumber pengabdian kepadamu

    Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
    aku takut, anak-anakku
    kursi-kursi tua yang di sana
    dan meja tulis sederhana
    dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
    semua padamu akan bercerita
    tentang hidup di rumah tangga

    Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
    depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
    - horison yang selalu biru bagiku -
    karena kutahu, anak-anakku
    engkau terlalu muda
    engkau terlalu bersih dari dosa
    untuk mengenal ini semua


    RAKYAT


    hadiah di hari krida
    buat siswa-siswa SMA Negeri
    Simpang Empat, Pasaman


    Rakyat ialah kita
    jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
    di bumi di tanah tercinta
    jutaan tangan mengayun bersama
    membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
    mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
    menaikkan layar menebar jala
    meraba kelam di tambang logam dan batubara
    Rakyat ialah tangan yang bekerja

    Rakyat ialah kita
    otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
    yang selalu berkata dua adalah dua
    yang bergerak di simpang siur garis niaga
    Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

    Rakyat ialah kita
    beragam suara di langit tanah tercinta
    suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
    suara kecapi di pegunungan jelita
    suara bonang mengambang di pendapa
    suara kecak di muka pura
    suara tifa di hutan kebun pala
    Rakyat ialah suara beraneka

    Rakyat ialah kita
    puisi kaya makna di wajah semesta
    di darat
    hari yang beringat
    gunung batu berwarna coklat
    di laut
    angin yang menyapu kabut
    awan menyimpan topan
    Rakyat ialah puisi di wajah semesta

    Rakyat ialah kita
    darah di tubuh bangsa
    debar sepanjang masa

    Download? Klik di sini

    Thursday, April 09, 2009

    Perkembangan Sastra Indonesia

    KE MANA PERKEMBANGAN SASTRA KITA?

    Sapardi Djoko Damono

    Sementara kita suka membicarakan masa depan sastra yang tampaknya semakin suram, sebenarnya diam-diam banyak di antara kita yang mengakui bahwa sastra tetap saja dihasilkan manusia kapan pun, dalam suasana dan keadaan apa pun. Tentu ada beberapa alasan mengapa kita memprihatinkan nasib sastra di masa depan: minat baca yang rendah, tekanan dari berbagai lembaga masyarakat, perhatian dunia terhadap teknologi, sistem pendidikan yang tidak mengacuhkan ilmu kemanusiaan, dan sebagainya. Keadaan semacam itu dianggap tidak bisa membantu tumbuhnya kesusastraan, dan oleh karenanya kita, kadang-kadang dengan semangat berlebihan, sering mengajukan usul untuk meningkatkan minat baca masyarakat, melonggarkan tekanan dan memberikan kebebasan menulis bagi sastrawan, memberikan ruang gerak tidak hanya bagi perkembangan teknologi tetapi juga kesenian, memberikan porsi yang lebih besar kepada pendidikan kesenian di sekolah, dan sebagainya.

    Sementara itu setiap harinya kita menyaksikan penerbitan karya sastra baru di media massa cetak maupun dalam bentuk buku dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung banyaknya. Kita pun mengetahui bahwa setiap sayembara mengarang selalu mendapat perhatian yang sangat menggembirakan dari masyarakat. Di samping itu, para sastrawan seperti tidak jemu-jemunya menyelenggarakan berbagai acara sastra seperti temu sastrawan, sarasehan sastra, pembacaan puisi, peluncuran buku sastra yang dibiayai sendiri, penerbitan majalah terbatas, dan membuat polemik mengenai penggolongan sastrawan menjadi orang pusat dan daerah.

    Kita pun tahu bahwa karya sastra penting bisa lahir di mana pun dalam kondisi sosial politik macam apa pun. Dr. Zhivago ditulis oleh Boris Pasternak di masa rezim Komunis yang konon sangat represif masih berkuasa di Rusia; The Old Man and the Sea ditulis oleh Ernest Hemingway dalam masyarakat yang konon berpandangan liberal; Gitanjali ditulis oleh Rabindranath Tagore di negeri yang masih dalam cengkeraman penjajah; drama-drama Wole Soyinka ditulis di dunia ketiga yang penuh gejolak politik dan sosial, Nigeria.

    Di samping itu, karya sastra mungkin sama sekali tidak bisa mengangkat kehidupan duniawi penulisnya seperti yang antara lain dialami oleh Chairil Anwar, tetapi mungkin juga bisa menyebabkan penulisnya sangat kaya raya seperti halnya John Grisham. Waktu dimuat pertama kali di majalah, sajak-sajak Chairil Anwar mungkin hanya dibaca puluhan orang saja, sedangkan cetakan pertama novel John Grisham mencapai 2,8 juta eksemplar; perlu diketahui bahwa keenam novel karya penulis Amerika itu sudah terjual sebanyak 55 juta eksemplar.

    Apa yang saya ungkapkan itu menunjukkan bahwa sastra ternyata tetap ditulis dan dibaca meskipun tampaknya dunia kita ini semakin terbawa arus barang mewah dan teknologi modern, meskipun berbagai ilmu, seperti sejarah dan sosiologi, yang pernah dikhawatirkan akan menggusur cerita rekaan, berkembang dengan pesat. Perhatian kita yang semakin besar terhadap perkembangan teknologi modern ternyata tidak mengendurkan semangat membaca. Malah ada di antara kita yang berpendapat bahwa teknologi modern justru membantu tumbuhnya minat baca, seperti yang antara lain tampak pada pengaruh timbal balik antara novel dan film yang ceritanya didasarkan pada karya sastra.

    Tentu karena kita membutuhkannya, maka sastra telah dihasilkan entah sejak kapan. Jika kita mengambil cara pandang ini begitu saja, seolah-olah tidak ada gunanya memperbincangkan arah dan nasib sastra kita di masa datang; apa pun yang terjadi, sastra Indonesia pasti akan dihasilkan. Yang perlu kita bicarakan sekarang adalah mengapa sastra harus ada dan untuk apa pula dia itu ada. Meskipun mungkin saja menjadi terharu atau bahkan menangis ketika membaca karya sastra, kita sepenuhnya menyadari bahwa yang kita hadapi hanyalah citraan rekaan yang tidak akan mampu menyelesaikan kemelut yang terjadi dalam hidup kita. Ia tidak nyata, sedangkan kesulitan hidup sehari-hari kita ini benar-benar nyata.

    Tetapi, justru karena sifat rekaannya itulah, sastra kita butuhkan Kita tidak mungkin tinggal terus-menerus di dunia nyata; agar hidup ini berlangsung sebaik-baiknya, kita perlu mengadakan perjalanan pulang balik dari dunia nyata ke dunia rekaan. Setiap harinya kita melakukan itu: nonton telenovela atau film seri di televisi; membuat dan mendengarkan cerita rakyat, yakni cerita burung mengenai tetangga, kenalan, atau saudara; atau membaca cerita bersambung atau cerita pendek yang dimuat di berbagai media massa. Dunia rekaan ternyata merupakan pasangan dunia nyata. Jika di dunia nyata ini gerak-gerik kita ada batas-batasnya, maka di dunia rekaan kita mendapatkan keleluasaan yang memungkinkan kita melewati batas-batas itu. Di dalam dunia rekaan itu, apa yang terjadi di dunia nyata bisa diulang lagi. Dengan demikian ia merupakan cermin dari diri kita ini; menghasilkan sastra berarti menyaksikan diri kita sendiri di dalamnya. Karena cermin itu meniru apa yang dicerminkannya, maka sastra pada dasarnya dianggap sebagai mimesis. Dan mimesis adalah tiruan yang memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditiru. Sastra adalah cermin yang istimewa, ia tidak hanya menampilkan diri kita seperti yang ada di dunia nyata, tetapi sekaligus memperbaikinya. Ini berarti sastra juga menampilkan hal yang tidak tampak dalam dunia nyata, hal yang tidak bisa diketahui dalam dunia nyata.

    Dengan cara lain bisa dikatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai cermin, sastra memantulkan kehidupan setelah menilai dan memperbaikinya. Kita menciptakan sastra sebab membutuhkan citraan rekaan yang bisa mencerminkan hal yang tidak kita ketahui di dunia nyata. Itulah sebabnya, setidaknya menurut Wolfgang Iser, sastra tidak tergusur oleh perkembangan filsafat sejarah dan teori sosiologi, yang juga merupakan cermin diri kita, sebab sastra pada dasarnya justru mencerminkan yang tidak ada. Sastra menghadirkan yang tidak hadir, mementaskan yang tidak terpentaskan dalam kenyataan sehari-hari. Pertanyaan yang penting adalah mengapa gerangan kita menciptakan cara pementasan semacam itu, yang telah bersama kita sepanjang sejarah yang kita catat selama ini.

    Jika kita mengikuti jalan pikiran Iser, jawaban terhadap pertanyaan itu tentulah bukan sekedar keinginan untuk mengulang-ulang apa yang ada, tetapi kehendak kuat untuk mendapatkan jalan masuk ke sesuatu yang tidak dapat kita ketahui. Kehendak itulah yang menyebabkan sastra tetap akan kita hasilkan dan tidak bisa digantikan oleh bidang lain apa pun.

    Tetapi, kita tetap saja sering mengungkapkan bahwa sastra kita berada dalam bahaya; pandangan yang berlebihan bahkan menyatakan bahwa sastra kita akan disudutkan oleh berbagai hambatan untuk akhirnya hidup merana. Tuduhan terhadap lemahnya minat baca masyarakat sering kita gugurkan sendiri dengan kekhawatiran kita akan dominasi sastra terjemahan yang mengalami kemajuan yang pesat akhir-akhir ini. Sebenarnya kekhawatiran itu tidak perlu ada sebab sejarah telah mencatat juga dominasi sastra terjemahan dalam kehidupan nenek-moyang kita; dengan sangat cekatan kita bahkan telah menyadur sastra asing dan menjadikannya bagian penting yang mengembangkan ikut kebudayaan kita.

    Sastra asing yang telah diterjemahkan tidak lagi menjadi milik bahasa dan kebudayaan sumbernya, tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari bahasa dan kebudayaan sasarannya. Dengan demikian maka Arjuna, Abunawas, dan Pinokio adalah para tetangga kita yang sudah kita lupakan asal-usulnya. Mungkin pada awalnya dulu kita tertarik kepada tokoh-tokoh itu justru karena mereka menghadirkan hal penting yang tidak hadir dalam kehidupan kita. Keasingan itulah yang menjadikan mereka itu "hidup" dalam kehidupan sehari-hari kita. Ditinjau dari sudut pandang ini, kegiatan penerjemahan sastra sekarang ini sebaiknya tidak ditanggapi sebagai ancaman kehidupan sastra kita, tetapi justru harus kita syukuri sebagai hal yang memberikan sumbangan bagi pemenuhan kehendak kuat kita untuk mendapatkan akses ke berbagai hal yang tidak bisa kita dapatkan.

    Sastra, dalam zaman kita ini, telah menjadi barang dagangan. Penerbit adalah perusahaan yang dalam kegiatannya harus selalu memperhitungkan untung-rugi. Tampaknya, dalam perhitungan itu, menerbitkan karya terjemahan lebih menguntungkan daripada menerbitkan karya asli. Karya sastra asing yang siap diterjemahkan tidak terhitung jumlahnya, dan kita semua tahu bahwa proses menerjemahkan tentu lebih sederhana daripada proses menciptakan karya asli. Di samping itu jaminan lakunya karya sastra tampaknya lebih pasti sebab tidak jarang ditunjang oleh iklan mengenai keberhasilannya di luar negeri dan pemunculannya dalam bentuk kesenian lain, terutama film.

    Kita juga sering mengeluh mengapa kita tidak mampu menghasilkan karya sastra yang, tidak usah adikarya, cermat, kokoh, dan padu seperti yang sering kita jumpai dalam sastra terjemahan. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua sistem yang berkaitan dengan kelahiran karya sastra, yakni kepengarangan dan penerbitan. Sastrawan kita umumnya bekerja sendirian; ia harus bekerja secepat-cepatnya tanpa bantuan orang lain untuk memeriksa karangannya. Umumnya sastrawan kita memiliki kerja rangkap, artinya ia tidak bisa memperguanakan seluruh waktunya hanya untuk mengarang. Kesan kuat yang kita dapatkan dari kebanyakan karya sastra kita adalah penulisannya yang sangat tergesa-gesa.

    Perkembangan sastra kita banyak ditaja oleh penyelenggaraan berbagai sayembara penulisan. Saya curiga bahwa kebanyakan naskah yang masuk dalam sayembara itu ditulis dengan sangat tergesa-gesa; sebuah novelette mungkin ditulis satu atau dua minggu sebelum dikirimkan; hampir tidak ada tanda-tanda bahwa kebanyakan naskah itu penah diperiksa ulang oleh penulisnya. Di lain pihak, penerbit juga tidak memiliki banyak waktu -- di samping juga tidak memiliki kemampuan cukup -- untuk menyuntingnya. Penerbit koran, majalah, atau buku di negeri ini tampaknya benar-benar menyadari pentingnya gerak cepat dalam mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya. Di dalam sistemnya, hampir tidak disediakan ruang untuk kemampuan yang benar-benar handal dalam penyuntingan. Sastra bukan kitab suci yang tidak bisa disunting agar menjadi lebih baik; sastrawan bukan nabi yang menyampaikan Sabda. Sastrawan hanyalah manusia biasa yang berusaha menciptakan benda budaya yang, tentu saja, bisa mengandung cacat yang bisa diperbaiki pihak lain.

    Dalam hal ini proses penulisan novel John Grisham bisa dijadikan sekedar contoh. Ia adalah novelis yang memberi kesan bahwa novel-novelnya ditulis berdasarkan "penelitian" yang cermat atas masalah yang ditulisnya, mungkin justru karena itu ia tidak menulis tergesa-gesa dan sekali jadi. Mungkin saja novel-novelnya sebenarnya tidak merupakan hasil kerja sendirian; ada editor yang membantu melahirkan novelnya. Konon, novelnya The Rainmaker yang hak ciptanya untuk film bisa mencapai 16 miliar rupiah, mula-mula terdiri atas sekitar 750 halaman yang kemudian dirampingkan menjadi 434 halaman saja. Perampingan itu bisa saja dilakukan olehnya sendiri, bisa juga oleh pasukan penyunting yang benar-benar mampu melakukan tugasnya.

    Harus kita akui bahwa sepandai-pandainya pengarang, bisa saja ia melakukan kekeliruan atau kecerobohan dalam cara penyampaian maupun apa yang disampaikan. Ia mempunyai kewajiban untuk memeriksa ulang dan memperbaikinya, dan penerbit yang baik juga berkewajiban untuk membantunya. Naskah yang masuk ke penerbit dan penyelenggara sayembara penulisan menunjukkan bahwa kecerobohan pengarang sangat tinggi kadarnya. Menurut pengalaman saya, praktis tidak pernah ada naskah peserta sayembara penulisan yang seratus persen siap untuk diterbitkan. Karena tidak adanya usaha untuk menyelenggarakan penyuntingan yang sungguh-sungguh, sebenarnya sebagian besar sastra kita adalah sastra yang ceroboh. Kita pernah membaca kritik F. Rahardi, penyair dan redaktur majalah pertanian Trubus, terhadap kecerobohan A. Tohari mengenai berbagai masalah pertanian dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel Umar Kayam yang banyak mengandung kosa kata Jawa, Para Priyayi, agak menderita sebab tampaknya si penyunting tidak begitu menguasai penulisan ejaan bahasa Jawa. Dan amat sangat banyak karya sastra kita yang mencerminkan lemahnya penguasaan bahasa; cerita rekaan menjadi bertele-tele dan menjengkelkan, puisi menjadi gelap.

    Sastra tidak bisa dilahirkan dengan tergesa-gesa, pengarang tidak bisa sepenuhnya bekerja sendirian -- ia langsung atau tak langsung memerlukan bantuan bidang dan keahlian lain. Sistem kesusastraan kita tampaknya belum sepenuhnya siap menunjang kelahiran sastra di zaman yang serba cepat ini. Bisnis penerbitan mensyaratkan dipercepatnya proses penerbitan dan dilipatgadakannya judul buku baru. Tujuan penerbitan yang mementingkan faktor laba ini segera tampak bertentangan dengan hakikat sastra yang memang tidak bisa dipaksa tergesa-gesa dan ceroboh. Yang sekarang diperlukan adalah suatu sistem penerbitan sastra yang bisa mempertemukan keduanya. Jadi, kita harus menciptakan sistem kepengarangan dan penerbitan yang bisa bekerja sama dengan baik, tanpa harus merugikan perkembangan kesusastraan.

    Tinggal hal terakhir yang ingin saya sampaikan, yakni yang berkaitan dengan sastra sebagai cara menghadirkan yang tidak hadir. Dalam banyak teori mengenai kebudayaan populer dikatakan bahwa sastra (populer) dimaksudkan untuk membujuk pembaca agar merasa tenteram berada di dunia yang selama ini dikenalnya. Sastra menawarkan dunia yang sudah akrab dengan pembaca dan sama sekali tidak mengajaknya untuk melakukan petualangan melewati batas nilai-nilai dan norma-norma yang diajarkan kepadanya dan diyakininya. Berdasarkan pandangan ini, tentunya sastra cenderung menghadirkan yang sebelumnya memang sudah ada. Ia tidak memenuhi kebutuhan kita untuk mendapatkan jalan masuk ke apa yang tidak bisa kita dapatkan dan saksikan di dunia sehari-hari kita ini.

    Untuk menciptakan jalan masuk semacam itu, sastrawan dituntut untuk memiliki kemampuan menciptakan dunia rekaan yang baru; itulah sebenarnya hakikat kreativitas. Kehidupan dan bisnis yang yang menuntut gerak serba cepat tampaknya memberi peluang ke arah diciptakannya sastra yang tergesa-gesa, yang tidak memberikan banyak kesempatan bagi sastrawan untuk "menciptakan" kehidupan, tetapi sekedar menirunya tanpa peluang untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada yang ditirunya. Sastra yang demikian itu sebenarnya merupakan rongrongan terhadap hakikatnya sendiri. Jika sastra hanya meniru dan mengulang apa yang sudah ada dalam kehidupan kita, menghadirkan yang sudah hadir, keabsahaannya sebagai cara untuk mencerminkan apa yang tidak tampak tentu saja menjadi luntur. Untuk apa pula membaca sastra jika disuguhkannya sama saja dengan yang kita kenal sehari-hari.

    Dalam tarik-menarik antara keinginan yang sah untuk menjadikannya barang dagangan dan hakikatnya sebagai jalan masuk ke "dunia lain" itulah terletak masa depan sastra kita. ***

    cited from http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala.php?info=artikel&infocmd=show&infoid=25&row=
    edisi 26 November 2002

    Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


    goesprih.blogspot.com Overview

    goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook