Saturday, May 30, 2009

Asal Mula Danau Lipan

Putri Aji Bedarah Putih


Alkisah pada zaman dahulu kala, kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan luas yang indah. Airnya jernih membiru. Aneka ikan hidup di dalamnya. Salah satu daerah yang berada di pinggir laut itu adalah Berubus, Kampung Muara Kaman Ulu, atau yang dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu, berdiri sebuah kerajaan yang damai dan makmur. Kedamaian kerajaan itu terlihat pada kehidupan sehari-hari rakyatnya. Mereka hidup saling tolong-menolong dan bersaudara. Kejahatan tidak merajalela, karena setiap pelaku kejahatan selalu dihukum berat. Sementara, kemakmurannya terlihat dengan adanya sebuah sumur yang disebut Sumur Air Berani.

Konon, air sumur itu tidak pernah kering dan menjadi sumber penghidupan bagi penduduk kerajaan. Kerajaan besar itu dipimpin oleh seorang putri yang bernama Putri Aji Berdarah Putih. Dia diberi nama demikian karena kulitnya sangat putih. Jika sang Putri makan sirih dan menelan air sepahnya, tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Keistimewaan lain yang dimiliki Puti Aji Berdarah Putih adalah wajahnya nan cantik jelita, anggun pribadi dan penampilannya, dan bijaksana pula. Kecantikan wajah dan kehalusan budi pekertinya itu membuat ia terkenal sampai ke seluruh negeri, bahkan sampai ke berbagai negara. Maka, tidaklah mengherankan jika banyak raja, pangeran dan bangsawan yang datang meminangnya. Pinangan demi pinangan terus datang kepadanya bak air Sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun, belum satu pun pinangan yang ia terima.

Mendengar berita itu, Raja Cina penasaran ingin mengetahui apa keistimewaan Putri Aji, sehingga ia berani menolak pinangan orang-orang yang datang kepadanya. Pada suatu hari, berangkatlah Raja Cina beserta balatentaranya dengan jung (kapal) besar menuju Benua Lawas. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik Cina yang terkenal mahal. Semua itu akan dipersembahkan sebagai hadiah pinangan untuk Putri Aji Bedarah.

Sesampainya di pelabuhan negeri Muara Kaman, Raja Cina disambut oleh Putri Aji Berdarah Putih dengan ramah. Aneka makanan dihidangkan sebagai penghormatan. Berbagai hiburan khas kerajaan pun dipergelarkan. Untuk mengetahui kebiasaan Raja Cina, sang Putri meluangkan waktu bersantap dengan Raja Cina. Sayang, Raja Cina tidak menyadari bahwa dia tengah diuji oleh sang Putri yang pandai dan bijaksana itu. Tengah makan dalam jamuan itu, sang Putri merasa jijik melihat cara bersantap tamunya. Raja Cina itu makan dengan menyesap, tanpa menggunakan tangan melainkan langsung dengan mulut. Sang Putri merasa tersinggung dan merasa dirinya tidak dihormati.

Selesai jamuan makan, Raja Cina segera menyampaikan pinangannya. Namun, pinangannya ditolak oleh sang Putri.

“Maafkan daku, hai Raja Cina. Betapa hinanya seorang putri kerajaan berjodoh dengan manusia yang makannya menyesap seperti binatang," ucap Putri Aji Bedarah Putih menolak. Mendengar penolakan itu, Raja Cina sangat marah. Tanpa berpikir panjang, Raja Cina kembali ke jungnya. Lalu, ia memerintahkan pasukannya untuk menyerang kerajaan sang Putri. Perang sengit pun terjadi antara pasukan Cina melawan pasukan Putri Aji Bedarah Putih. Kedua pasukan tersebut berusaha membela kehormatan rajanya masing-masing. Pasukan Raja Cina sangatlah tangguh, sehingga balatentara Putri Aji Bedarah Putih kewalahan menahan serangannya. Pasukan sang Putri pun banyak yang gugur dan terluka. Sang Putri sangat sedih dan kebingungan. Ia berusaha mencari cara untuk mengalahkan Raja Cina. Sangat lama Putri berpikir dan tercenung. Namun, ia belum juga menemukan cara yang baik. Sang Putri hampir putus asa. Ia kemudian berdoa memohon perlindungan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Selesai berdoa, Putri segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini keturunan raja sakti, maka jadikanlah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat mengalahkan Raja Cina beserta seluruh balatentaranya."

Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah arena pertempuran yang tengah berkecamuk itu. Atas kekuasaaan Tuhan Yang Mahakuasa, dalam sekejap mata sepah (ampas) sirih sang Putri berubah menjadi beribu-ribu lipan yang besar-besar. Lalu, dengan bengisnya, lipan-lipan yang panjangnya lebih dari satu meter tersebut menyerang pasukan Raja Cina yang sedang mengamuk. Sang Putri sangat gembira menyaksikan pasukan Raja Cina lari tunggang-langgang menuju jungnya. Meskipun mereka telah sampai di jung, lipan-lipan tersebut tetap mengejar mereka, karena telah dititahkan oleh sang Putri untuk mengalahkan Raja Cina dan balatentaranya. Beberapa ekor lipan raksasa terus mengejar sampai ke dalam air, lalu membalikkan jung Raja Cina. Tenggelamlah jung tersebut beserta seluruh penumpangnya dan segala isinya.

Setelah Raja Cina dan seluruh balatentaranya tewas, Putri Aji Bedarah Putih pun hilang secara gaib. Bersamaan dengan lenyapnya sang Putri, lenyap pulalah Sumur Air Berani. Laut tempat jung Raja Cina tenggelam kemudian mendangkal menjadi suatu daratan berupa padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu. Kemudian, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Danau Lipan.

Tuesday, May 26, 2009

Bibir SGA

Bibir
(cerpen Seno Gumira Ajidarma)


Ia memaki-maki. Aku telah memberikan minuman yang salah. Kalau bukan dia yang memaki-maki sekasar itu, aku tak terlalu kaget. Bar tempatku bekerja itu adalah bar murahan. Di sini tidak ada sopan-santun bergaya anggun. Para pedagang yang jenuh bermanis-manis dan bersopan santun sepanjang hari, memuas-muaskan keliarannya. Mereka minum banyak-banyak. Mereka bicara banyak-banyak. Dan meraka tertawa banyak-banyak.

Mereka bisa memaki-maki dengan bebas dan bisa dimaki-maki dengan bebas. Dan bar ini sebetulnya tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah panti pijat di lantai atas. Para pemijat yang tidak selalu cantik, dan tidak selalu bias memijat, menunggu pedagang-pedagang itu untuk adegan yang tidak selalu mesra. Pedagang-pedagang datang dan tanpa basa-basi langsung menerkam pemijat-pemijat.

Setelah selesai mereka akan turun dan minum-minum sampai mabuk. Sambil mabuk mereka akan bercakap-cakap dengan suara keras dan tertawa-tawa dengan suara yang juga keras. Mendekati tengah malam meraka sudah mabuk berat dan bisa memaki-maki tanpa rasa risi. Wanita-wanita yang menemani tamu duduk dan bercakap-cakap juga ikut tertawa keras dan memaki-maki keras. Mereka sering tertawa keras-keras karena gurauan mesum yang diucapkan keras-keras. Maka, semua orang bicara mesum dengan keras-keras.

Malam berikutnya penyanyi itu lebih ramah.

“Minta Martini[1], jangan salah lagi ya?”

Aku tersenyum. Kubuat campuran yang istimewa. Dan penyanyi itu tersenyum.

“Anda cantik sekali kalau memagang gelas. Dan alangkah cantiknya kalau memandangi cap bibir pada gelas.”

Mata penyanyi itu tampak cerah. Aku ingin sekali membuatnya tetap duduk. Namun, MC memanggilnya ke panggung. Ia meletakkan gelas. Ia beranjak. Dan ia segera ditelan tugasnya sehari-hari. Di antara asap dan riuh obrolan, aku mendengar ia menyanyi.

Do you know where you’re going to
Do you think the things that life is showing you
Where are you going to, do you know? [2]

Aku menunggu kalau ia akan balik lagi dan duduk sambil bercakap-cakap di hadapanku. Tapi, ia tak pernah kembali, meskipun minumannya belum habis. Selesai menyanyi ada tamu mengundangnya duduk. Setelah bar tutup lewat tengah malam, ia pulang bersama tamu itu.

Sampai di tempat indekosan, aku tak bisa tidur. Bibirnya terbayang-bayang selalu. Bibir yang bergerak-gerak ketika bercakap. Bibir yang bergerak-gerak di muka mikrofon ketika menyanyi. Bibir yang merah dan berkilat-kilat. Bibir yang melengkung indah dan sangat jelas gurat-guratnya. Bibir yang mendekati bibir gelas. Bibir yang basah dan makin basah oleh minuman.
Ketika tertidur aku bermimpi tentang bibir itu.

--------

[1] Martini: mungkin cocktail(campuran) yang paling terkenal dengan ribuan variasi, tergantung dari perbandingan takaran antara gin(jenewer) dan vermouth(air anggur). Setidaknya ada tiga variasi standar. Sweet martini(gin, sweet vermouth), dry martini(gin, dry vermouth), medium martini(gin, dry vermouth, sweet vermouth).

[2] Dari Theme from Mahogany, Diana Ross, 1976. disebut juga Do you Know where You’re going to? Ditulis oleh Michael Masser dan Gerry Goffin. Lagu itu menjadi bagian dari soundtrack film mahogany (Berry Jordi Jr, 1975), film kedua yang dibintangi Diana Ross. Lagu ini menjadi nominee untuk Best Song dalam perebutan Academy Award(Oscar).

Sunday, May 24, 2009

Rendra: Sajak Sebotol Bir

SAJAK SEBOTOL BIR


Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.
Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
dan alpa terhadap peradaban di desa ?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.


Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalanlalu lintas masa kini,
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
tidak untuk petani,
tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..
harus senantiasa menghasilkan….
Dan akhirnya memaksa negara lain
untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?
…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
Apakah pemikiran ekonomi kita
hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
Apakah kita akan hanyut saja
di dalam kekuatan penumpukan
yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi
untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.

Friday, May 22, 2009

Sastra dan Kemanusiaan

SASTRA SEBAGAI REFLEKSI KEMANUSIAAN
Putu Wijaya


Kemanusiaan kita kenal sebagai sesuatu yang universal. Cita-cita tentang kesejahteraan manusia dikenal oleh seluruh umat manusia di seantero dunia dengan cara masing-masing. Betapa pun beragam corak pelafalannya karena konteks setiap kelompok masyarakat banyak memberikan warna, tidak pelak lagi, semangat itu meruap dari naluri cinta kepada sesama.

Rasa kemanusiaan itu menyeberangi perbedaan budaya, warna kulit, agama, anutan, dan keyakinan, menembus batas suku dan negara, menyebrangi waktu dan jarak, serta menembus perbedaan strata sosial. Bahkan, tidak terhalangi oleh kekuasaan yang merupakan bagian yang sangat berpengaruh dalam berbagai sengketa dewasa ini.

Sastra sejak awal sudah melihat kemanusiaan sebagai lahan yang sangat kaya dan luas jangkauannya. Sebagai upaya untuk menerobos segala barikade konteks manusia masing-masing pada desa-kala-patranya (tempat-waktu-suasananya), sastra telah memilih tema-tema terbaik, seperti kematian, kelahiran, kesakitan, kesedihan, kesenangan, kesangsian, penantian, persengketaan, persaudaraan, cinta, dan nafsu-nafsu bawah sadar yang sangat mendasar dan berserak pada setiap manusia di seluruh jagat raya.

Sastra tertulis, yang kemudian membuat bahasa menjadi halangan untuk mencapai manusia secara serentak, tidak sepenuhnya bisa menghalangi penjelajahan sastra sebagai pengembaraan spiritual manusia sejagat. Dalam waktu-waktu yang tertentu suara-suara kemanusiaan itu secara estafet meloncat dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sehingga cepat atau lambat, seperti air, suara yang mau digemakannya merembes ke seluruh dunia. Sastra lisan yang kemudian merupakan kelanjutan kalau tidak bisa dikatakan pasukan khusus, dari sastra, secara informal menusukkan peluru-peluru kemanusiaan itu, langsung kepada manusia lain dengan bahasa ibunya. Akhirnya, tidak berkelebihan kalau dikatakan bahwa sastra adalah jembatan ajaib yang menghubungkan manusia dengan manusia tanpa perlu melalui petugas pabean apalagi harus menunjukkan paspor.

Sastra menjadi warga negara dunia yang bebas masuk ke mana saja karena dia kelihatan, tetapi tidak tampak seluruhnya. Ia adalah imajinasi yang hanya akan tertangkap oleh mata hati yang peka. Ia berwujud, tetapi tidak seluruhnya bertubuh karena ia adalah sebuah pengalaman spiritual. Sastra sudah menjadi sebuah jaringan internasional yang tidak terkendali lagi kemampuan jangkauannya, tidak terhalang-halangi lagi oleh batas-batas negara dan politik. Ia begitu ampuh, tetapi juga begitu halus, tidak ubahnya seperti yang dilakukan oleh jaringan internet dewasa ini. Sastra sudah membebaskan manusia dari berbagai batasan.

Sastra dengan demikian bukan hanya tulisan dan bukan hanya buku-buku. Sastra adalah bentuk pengalaman spiritual yang diungkapkan dengan kata-kata yang plastis sehingga memiliki daya magis yang dikemas melalui bentuk-bentuk cerita rekaan atau semi rekaan sehingga merupakan lukisan-lukisan kehidupan yang merupakan cerminan dari kehidupan nyata manusia sehari-hari sehingga penikmatnya menjadi percaya. Sastra adalah cerita tentang manusia atau cerita tentang apa saja yang memberikan kepada manusia sebuah pengalaman spiritual untuk merenungi kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa datang untuk mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik, lebih sempurna, dan lebih membahagiakan manusia bersama-sama.

Sastra dengan demikian adalah sebuah senjata kemanusiaan yang ditembakkan sebagai upaya untuk memangkas batas-batas yang memisahkan manusia, tidak untuk mengatakan bahwa manusia yang satu harus sama rata dengan manusia yang lain, tetapi hanya untuk menyadarkan bahwa manusia satu dengan yang lain saling terkait dan tidak mungkin hidup tanpa manusia yang lain. Bahwa manusia memiliki kemungkinan yang seharusnya sama, tetapi adalah perjuangan, kegigihan, dan kemudian keberuntungan/nasib baik yang menjadikannya berbeda. Berbeda tidak berarti bermusuhan, tetapi memiliki perjalanan yang tidak sama perkembangannya.

Sebagai sebuah senjata, sastra bisa saja dibelokkan untuk menembak yang lain. Sastra bisa menjadi senjata politik dan memihak kepada kebenaran politik. Sastra juga bisa menjadi prajurit kemiskinan untuk memperjuangkan nasib manusia yang papa agar bangkit dan menjadi seimbang dengan mereka yang gemah ripah. Sastra juga bisa menjadi alat perjuangan bagi manusia-manusia yang tertindas untuk menendang kekuasaan yang menidurinya dengan semena-mena. Akan tetapi, semua itu hanya bagian dari kemungkinan sastra sebagai alat, di tangan manusia yang menciptakannya. Sastra itu sendiri, betapa pun sudah dibelokkan menjadi berbagai senjata, ia tetap saja memiliki potensi dasar untuk menyentuh perasaan kemanusiaan dengan cinta. Kalau tidak, tidak akan mungkin ia potensial untuk menjadi berbagai tembakan meriam.

Sastra yang memihak kepada kemanusiaan, dalam pergolakan politik, kadang kala terasa aneh. Ia bisa dituduh sebagai sebuah mimpi yang mengingkari sejarah karena seperti mengingkari konteksnya. Namun, sebenarnya ia setia kepada konteks dasarnya sebagai suara dasar kemanusiaan yang berbicara untuk manusia secara umum.

Kenyataan di atas sering dipertentangkan, sering membuat sastra menjadi blok-blok yang satu sama lain saling tembak-menembak. Dengan demikian, bukan saja dunia kekuasaan dan dunia politik serta dunia ekonomi yang berperang, melainkan dunia sastra pun berperang. Para sastrawan pun gontok-gontokan. Sastra pun menjadi medan kurusetra dan para sastrawan saling membunuh seperti melupakan hakikatnya untuk menuntun manusia kepada kesejahteraan.

Itulah persoalan kita semua, persoalan seluruh sektor kehidupan kita semua di seluruh dunia. Setiap ciptaan manusia, kalau memiliki potensi luar biasa, akhirnya akan melahirkan kekuasaan. Kekuasaan itu kalau tidak bisa dipergunakan dengan baik akan mencederakan manusia itu sendiri.

Kalau sastra menjadi begitu ampuh, ketika ia menjadi sebuah kekuatan, ia pun mengulangi sejarah kekuasaan yang lama. Sastra dapat dibalikkan untuk menyerang manusia. Sastra yang semula dibuat untuk melindungi manusia dari deraan kekuasaan pada akhirnya bisa menjadi kekuasaan itu sendiri yang tidak segan untuk merobek kemanusiaan.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin mengatakan sebuah kalimat: bahwa sastra adalah barang yang sangat canggih dan sekaligus sangat berbahaya sehingga kita harus benar-benar superhati-hati untuk mempergunakannya untuk menembak.

Sastra Reformasi

Orde Baru dikibarkan menggantikan Orde Lama sebagai sebuah pesta kemenangan. Para teknokrat bergabung membenahi Indonesia yang dinilai sangat rawan kesejahteraan rakyatnya. Agenda pun dipalingkan ke perkembangan ekonomi.

Orde Baru mulai membentuk kelas menengah untuk membuat perubahan. Generasi muda didorong bangkit membangun masa depan dengan cara menjadi interprener. Rakyat diajak memusatkan perhatian pada kesibukan mengisi kemerdekaan. Mereka dibimbing menghadapi kenyataan dan mencintai uang.

Kelas menengah yang kemudian lahir ternyata bukan memelopori penalaran, melainkan malah sibuk mengukuhkan status kemapanannya. Rakyat memang menjadi sadar pada kemiskinannya, lalu menjadi lapar pada kesuksesan, tetapi dalam bentuk materi. Orang mulai terbiasa memburu uang dengan menempuh segala macam cara. Kemajuan-kemajuan fisik tidak diimbangi oleh kesiapan batin.

Kesenian yang merupakan salah satu kanal yang bisa mengantarkan manusia ke arah perkembangan batin amat terpojok. Tempatnya ada di luar pembangunan, bahkan tampak mengganggu. Karena dianggap tidak berguna, kesenian tidak lagi dianggap sebagai aset bangsa, bahkan dinilai sebagai pemborosan, digeletakkan begitu saja di sudut kecil sebagai pajangan pariwisata.

Sastra hampir menjadi sampah yang hanya dilindungi oleh belas kasihan. Fungsinya sebagai pendidikan moral untuk menyempurnakan perkembangan batin manusia menjadi hanya kelangenan. Sastra berubah menjadi hiburan ringan.

Sastra mengkerut menjadi hanya budaya pop. Hiburan sesaat mengikuti kesemarakan pasar. Hal itu ditopang lagi oleh budaya hidup enak yang dikampanyekan oleh majalah-majalah wanita yang gemerlapan dan menjual gaya hidup mewah. Untuk bertahan, sastra pun ikut menjadi alat propaganda hidup pop maka perlahan-lahan bangkrutlah sastra Indonesia.

Perjalanan kemanusiaan yang bisa ditempuh, antara lain lewat sastra, sebagaimana yang pernah dicanangkan oleh kelompok Manikebu misalnya, kembali gagal. Kemanusiaan sendiri mendapatkan peringkat nol di dalam kehidupan. Yang menjadi perhatian utama pada era tersebut adalah politik, ekonomi, dan teknologi. Akan tetapi, itu pun politik kelas yang berkuasa, ekonomi kelas konglomerat dan teknologi mercusuar.

Reformasi mendadak memberikan kesempatan. Reformasi semacam peluang untuk mereposisi sastra di dalam kehidupan. Dapat diharapkan bahwa posisi sastra akan kembali. Segala keluhan di masa lalu mendadak tidak lagi menjadi hambatan. Para penulis bisa leluasa untuk memilih tema dan mengekspresikan pendapatnya terhadap segala macam soal. Sensor yang dianggap sebagai biang kerok kebangkrutan sastra sudah lumpuh. Sastrawan memiliki kemungkinan.

Kita sedang memasuki proses pembebasan sekarang, membuka pintu dan memulai kerja besar. Namun, benarkah sastra melangkah laju ke depan bila tanpa hambatan, tanpa ditolong oleh siapa-siapa? Beranikah, mampukah, dan berhasilkah sastra membuktikan keberadaannya yang istimewa penting di dalam kehidupan yang lebih bebas?

Di masa lalu, bukan hanya sastra, hampir seluruh sektor kesenian ikut mengeluh terhadap berbagai keterbatasan. Sensor yang garang dan sewenang-wenang merupakan alasan yang empuk untuk membenarkan bahwa layaklah tidak ada hasil besar yang lahir. Padahal, pada zamannya tidak sedikit hambatan yang dihadapi oleh Pramudya Ananta Toer, tetapi dia berhasil mencetak hasil-hasil monumental. Bahkan, pada zaman kensengsaraan Manikebu, tidak sedikit halangan terhadap para Manikebuis karena mereka dilarang berkarya, tetapi lahir penyair-penyair besar seperti Goenawan Mohamad, misalnya. Di era Orde Baru yang dianggap sebagai neraka bagi kebebasan berekspresi tetap saja melambung karya-karya Rendra, Sutardji, Danarto, Budid Darma, dan sebagainya seperti tidak tersentuh oleh berbagai hambatan.

Kini, ketika pintu kebebasan sudah dibuka, akan lahirkah sastrawan besar dan karya besar yang lain? Seharusnya lahir. Tanpa hal itu bagaimana mungkin sastra dapat mereposisi dirinya? Akan tetapi, sayang, sudah setahun reformasi bergulir yang lahir baru novel Saman dari tangan Ayu Utami, pengarang wanita yang dipuji oleh para pengamat sebagai jenius yang membawa cakrawala baru bagi sastra Indonesia, Malu Aku Jadi Orang Indonesia, kumpulan sajak Taufiq Ismail., novel dari Danarto, Remy Sylado, Titis Basino, serta Dono Warkop. Ke mana para pengarang yang lain?

Mereka sedang giat menulis atau ikut berkampanye? Apa karena krismon yang membuat harga kertas membubung tinggi, penerbitan menjadi seret? Apa karena prioritas dikerahkan pada pemulihan ekonomi dan kestabilan politik? Apa karena tidak terbiasa oleh kebebasan? Apakah kebebasan justru membuat sastra jadi tidak berdaya?

Di masa lalu, ketidakbebasan justru menstimulasi sastra menjadi lebih tajam dan produktif. Sementara itu, kebebasan sering kali berakhir dengan kebingungan apabila memang jiwa sastrawannya memang tidak bebas. Setelah tuntutannya tentang kebebasan terpenuhi, ia tidak tahu akan mengisi dengan apa.
Mungkin sekali bahwa kebebasan formal tidak hanya memberikan peluang, tetapi juga dapat membunuh karena dalam ketidakbebasan macam mana pun selalu ada peluang bagi kreativitas untuk berkelit dan mengucur. Dengan demikian, sastra tidak pernah tidak ada, kalau memang dia ada. Sebaliknya, kalau memang tidak ada, dibebaskan dengan cara bablas-bablasan pun dia tetap tidak akan hadir atau menjadi bertambah jelas bahwa kebebasan bukan satu-satunya yang diperlukan sastra. Jauh lebih penting dari kebebasan adalah visi. Sastra harus menghidupkan visi. Para sastrawan adalah visoner-visioner yang akan membuat karya sastra menjadi masukan-masukan berharga bagi kehidupan dalam aspek masing-masing sehingga sastra tidak hanya berhenti sebagai sastra. Akan tetapi, sastra berawal dari sastra dan kemudian berserak ke seluruh sektor kehidupan. Dengan demikian, sastra baru akan memiliki wibawa yang setara dengan pengetahuan karena memiliki akses ke segala arah. Sementara itu, keindahan bahasa adalah bonusnya.

Era reformasi bagi sastra dalam pengamatan saya bukan berarti "Pembebasan" yang berarti bahwa kini adalah saatnya sastra dapat berbuat apa saja. Bahwa kini saatnya sastra dapat menuliskan apa saja adalah tidak karena sastra selalu komplit. Sastra selalu mendua. Sejak adanya, sastra mengandung kebebasan dan ketidakbebasan. Mengapa? Sastra yang berpihak memang tidak pernah bebas. Sastra yang bebas tidak pernah bisa ditahan oleh apa pun karena memiliki kreativitas untuk mengelak. Keduanya bangga atas keadaannya. Suka dan tidak suka, kebebasan dan ketidakbebasan ternyata saling melengkapi.

Sastra reformasi, menurut hemat saya, bukan "pesta kebebasan dan selamat tinggal ketidakbebasan", melainkan masalah kesempatan dan agenda. Masalah prioritas apa yang seyogianya harus dilakukan oleh sastra, baik sastra yang berpihak maupun sastra yang bebas, pada saat ini. Saat Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun dicoba diganti dengan tatanan baru yang kita sendiri juga belum tahu seperti apa jadinya nanti merupakan kesempatan untuk mengembalikan sastra sebagai sembako jiwa.

Dalam bayangan saya, sastra reformasi adalah sastra yang menyadari benar artinya sebagai sembako batin. Namun, dia juga mengerti di mana posisinya kini. Idealismenya mengandung strategi. Sastra harus melakukan tindakan-tindakan yang tepat. Kalau tidak, tujuannya akan terganggu atau terjegal lagi, bukan karena tidak diterima oleh masyarakat, melainkan karena tidak dewasa menyikapi situasi.

Sastra adalah jembatan untuk masuk ke hati manusia di segala sektor kehidupan. Oleh karena itu, sastra tidak mungkin tidak tetap akan menghadapi berbagai halangan. Kesulitan-kesulitan di masa lalu bukan tidak akan mungkin akan terulang lagi. Kekurangan penerbit, jalinan distribusi yang tidak lancar, aturan main yang tidak mendukung, bahkan juga sensor, dan sebagainya yang dahulu dikeluhkan mungkin masih akan dihadapai lagi menjadi bertambah berat karena terjadi dalam era reformasi.

Kesempatan sastra di dalam era reformasi adalah ikut campur dalam berbagai aspek kehidupan secara aktif, membuktikan dirinya bukan hanya semata-mata hiburan dan bukan sekadar "sastra". Untuk itu, sastrawan sendiri harus berkemas, membenah diri, dan belajar. Penampilan yang rusak, citra yang kalang kabut, serta wawasan dan gagasan yang mgawur dan mabuk justru akan dengan cepat membalikkan kesempatan itu menjadi bukti bahwa sastra memang harus dikubur karena memang benar sampah.

Apa yang harus dilakukan oleh sastra? Banyak sekali. Dia harus menunjukkan kualitas dan sekaligus kuantitasnya. Dia tidak boleh enak-enakan menuntut apalagi mengemis pengakuan. Sastra harus berjuang untuk merebut pengakuan seperti partai-partai merebut kursi dalam pemilu. Kalau tidak berhasil, jangan lagi menuding rakyat tidak mempunyai apresiasi, tetapi mungkin perjuangannya masih belum cukup teruji. Oleh karena itu, sastra perlu bisa membuktikan dirinya berkaliber sehingga mau tidak mau pantas diakui.

Sastra akan dituntut untuk lentur, lihai, cerdas, dan barangkali juga harus bijaksana. Sastra harus mampu membangun imij bahwa ia adalah pekerja pendidikan jiwa yang setara dengan pekerja-pekerja kehidupan lain, seperti sejarah, politik, ekonomi, atau teknologi, misalnya. Dalam sastra orang mendapatkan kearifan dan memperkaya pengalaman-pengalaman batinnya.

Sastra dituntut oleh keadaaan untuk bisa menunjukkan bahwa tanpa sastra kehidupan akan berjalan timpang. Hal itu tidak cukup dengan sebuah slogan, tetapi kerja nyata sehingga ada bukti, dengan karya-karya yang berkesinambungan, dengan usaha-usaha, dengan percobaan-percobaan, serta barangkali juga dengan berbagai penderitaan, frustasi, dan kegagalan-kegagalan. Walhasil kembali lagi: tekanan.

Sastra harus membebaskan dirinya dari menempatkan kesulitan-kesulitan sebagai pembenaran kemacetan sastra. Ancaman dan tekanan adalah sesuatu yang sudah terbiasa pada sastra. Sering hal itu menjadi kekuatan sastra sendiri. Kalau tidak berani menghadapi kesulitan, barangkali memang tidak perlu menjadi sastrawan.

Siapkah sastrawan Indonesia menerima sastra sebagai pekerjaan? Siapkah sastrawan menumbuhkan etos kerja yang lebih kerasukan? Pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan disusul dengan pertanyaan: siapkah pemerintah dan masyarakat menerima sastra sebagai sembako? Selanjutnya, akan melahirkan pertanyaan: siapkah sastra menjadi sembako? Akhirnya, akan kembali sebagai pertanyaan: siapkah satrawan menjadikan sastra itu sebagai sembako?

Era reformasi tampaknya tidak akan menjamin kehidupan sastra Indonesia lebih baik kalau sastrawannya sendiri tidak bangkit. Sastrawan sendiri harus mereformasi posisi dan perilakunya sebagai sastrawan. Mereka tidak cukup dengan cara menuding, mengelak, memasang label reformasi di kepalanya, atau bersilat argumentasi, tetapi dengan karya-karya. Hal itu mutlak memerlukan kerja.

Reposisi Sastra Indonesia

Posisi sastra Indonesia kini sudah sedemikian terpuruk menjadi barang yang tidak relevan dalam konteks pendidikan. Sastra Indonesia sudah pailit. Anak-anak sekolah Indonesia hampir tidak mendapat pelajaran sastra lagi. Dalam sebuah penyidikan informal, sastrawan Taufiq Ismail menemukan bahwa pelajar Indonesia membaca 0 (nol) buku di dalam kurun 3 tahun, sedangkan pelajar dari berbagai negara mencatat 10 sampai 30 buku. Malangnya, keadaan yang amat papa itu masih dianggap sudah lumayan karena sastra masih ditempelkan pada pelajaran bahasa sebagai aksesoris, seakan dengan mempelajari bahasa Indonesia sudah dengan sendirinya menguasai sastra Indonesia. Hasilnya pelajaran sastra Indonesia adalah embel-embel dari pelajaran bahasa dan memang tidak perlu diberikan "otonomi daerah".

Dalam posisi yang "hina" dan "sepele" tersebut upaya memberdayakan sastra Indonesia, sebagai potensi untuk membangun Indonesia baru, menjadi absurd, kecuali kalau kita melakukan reposisi radikal terhadap pengertian sastra itu sendiri, sebuah upaya akrobatik, yang ambisius dan bombas, untuk memberdayakan kembali lahan yang sudah mati suri itu. Kalau hal itu tidak dilakukan penyulapan, dari tempatnya yang mati kutu seperti sekarang, sastra jangankan berdaya, bernapas pun tidak mampu.

Dengan rasa hormat dan penghargaan yang tinggi harus dipujikan bahwa pelajaran bahasa Indonesia membuat orang belajar tentang ilmu tata bahasa, mengerti tentang bahasa Indonesia sebagai ilmu, dan mau tidak mau juga akan mengerti logika dasar manusia Indonesia dalam merekam dan menyimpulkan berbagai satuan kehidupan ke dalam bahasa. Pelajaran bahasa adalah pelajaran menghafal pengertian kata dan menyusun kalimat yang membentuk pengertian untuk dilepaskan dalam lalu lintas percakapan. Pelajaran bahasa mengantarkan bagaimana mempergunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi yang memiliki tatanan.

Akan tetapi, pelajaran tata bahasa tidak dengan sendirinya bermakna berlatih mempergunakan bahasa untuk membentangkan alam pikiran personal kepada orang lain. Pengetahuan bahasa belum tentu menjamin yang bersangkutan fasih apalagi lihai mempergunakan bahasa Indonesia untuk mengembangkan renungan-renungannya tentang makna-makna dalam kehidupan. Bahasa Indonesia tidak dengan sendirinya bisa menjadi idiom pengucapan personal yang secara efektif mampu menolong proses pemikiran dan ekspresi emosional seseorang kalau tidak disertai latihan-latihan khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sastra. Ilmu tata bahasa hanya sampai sebagai sebuah pengetahuan untuk dapat menganalisis bahasa, bukan sebagai alat mentransver apalagi mengonversi pengertian personal.

Akibatnya, ketika seorang yang ahli bahasa Indonesia berpikir, merasa, dan kemudian berbicara untuk mengekspresikan pengalaman personalnya, ia belum tentu berhasil mengembangkan bahasa itu menjadi kosakata yang secara akurat mewakili makna-makna yang hendak diutarakannnya, apalagi menyangkut pengalaman-pengalaman spiritual yang pelik, abstrak, dan penuh dengan asosiasi serta simbol-simbol yang merupakan kegiatan khusus sastra. Di dalam sastra, ilmu bahasa, tata bahasa dikembangkan, diaplikasikan, dan dipergunakan untuk menerjemahkan berbagai pengalaman spiritual seseorang agar dapat sampai kepada orang lain secara akurat dengan berbagai cara.

Sastra sebagaimana yang selalu kita kenal selama ini selalu diidentifikasi sebagai karya tulis, karya indah yang tertulis, baik berbentuk puisi maupun prosa. Lebih jauh lagi, yang menonjol adalah faktanya sebagai sebuah fiksi. Ia dibedakan dengan kenyataan faktual. Hubungannya dengan intuisi dan emosi sangat kental. Akan tetapi, kesinambungannnya dengan rasio, pemikiran, dan telaah-telaah sudah dipreteli habis. Dengan demikian, sastra menjadi penari strip tease, penyebar keindahan yang menimbulkan kelangenan, kenikmatan, keasyikmasyukan, dan akhirnya kealpaan dan bencana.

Sastra sebagaimana di atas kopong dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan "sastra" lagi. Dia menjadi barang komoditas yang bertuan kepada bisnis. Hidupnya subur dan didukung oleh lapisan masyarakat yang luas. Dia menjadi barang nyamikan masyarakat yang menimbun lemak serta kolestrol.. Akhirnya, hal itu membawa masyarakat ke dalam pendangkalan-pendangkalan sehingga massa menjadi tolol, masa bodoh, dan malas untuk berpikir. Sastra pun menjadi kuburan dan pelarian bagi pemalas.

Sastra yang mengisi pasar itu memiliki kekuasaan dahsyat. Ia masuk ke dalam gubuk-gubuk kecoak sampai ke rak buku masyarakat kelas elit yang menyembahnya sebagai berhala. Sastra semacam itulah yang memiliki kekuatan nyata. Para sosiolog, ahli sejarah, dan psikolog mengenalnya secara baik. Karena lewat sastra itulah ia dapat membedah fenomena masyarakat pada suatu masa. Dari makanan batinnya itulah mereka mengenal isi perut dan lekuk-lekuk otak manusia macam apa yang menghuni suatu dekade. Lalu, mereka menulis risalah sejarah, sosiologi, psikologi dan malangnya kadang kala tidak tertolak juga menulis risalah sastra. Walhasil, bukan sesuatu yang tidak berguna.

Akan tetapi, kita memang tidak sedang bicara soal kegunaan. Karena apa pun substansinya, apabila dipandang dari sudut kegunaan, sastra tetap akan berbunyi kemanfatannya. Kita mencoba melihat sudah ada penyimpangan nilai-nilai antara kegunaan, kepentingan, dan kualitas. Karena fenomena sastra dagangan memiliki kegunaan dan penting dalam mengungkap fenomena masyarakat, ia cendrung dianggap memiliki kualitas. Sementara itu, yang benar-benar berkualitas, karena tidak secara gamblang menunjukkan kegunaan dan memerlukan waktu untuk mengidentifikasi arti pentingnya, menjadi sampah.

Khususnya terhadap berbagai peninjau dari mancanegara, secara berseloroh pernah disindir oleh pemusik Slamet Abdul Syukur, bahwa mereka biasanya melakukan telaah dengan melempar batu ke hutan, lalu mencari-cari batu yang barusan dilemparkannya (anekdot ini saya dengar dari orang lain). Merekalah yang sering memberi label keliru karena kepentingan mereka berbeda. Namun, kekeliruan mereka kemudian menjadi hukum karena penghargaan kita terhadap peneliti mancanegara demikian tinggi.

Sudah terjadi kerancuan di dalam sastra Indonesia, kerancuan yang amat mendalam, karena kiblatnya adalah kepentingan dalam tanda kutip "Barat". Namun, hal itu bukan tidak penting. Karena dari kerancuan itu, menjadi semakin terang, sastra apa yang selama ini "tidak" dibicarakan. Sastra itulah yang akan kita bicakan berikut ini.

Yang kita maksudkan dengan sastra adalah daerah gelap yang belum dijelajah oleh tangan-tangan peneliti yang tidak lain dari "pencari batu yang dilemparkannya sendiri itu". Hal itu harus dimulai dengan tidak lagi hanya memarkir sastra sebagai tulisan yang indah dan menarik saja. Sastra adalah seluruh ekspresi manusia yang diutarakan dengan bahasa, tertulis ataupun tidak tertulis dan indah atau pun tidak indah.

Apakah itu penting, berguna atau berkualitas, tidak ditentukan oleh mereka yang menilainya. Ia ditentukan oleh eksistensinya sendiri. Selama ia merupakan ekspresi lewat bahasa, ia adalah penting, berguna dan berkualitas sebagai sastra. Sastra adalah seluruh upaya bahasa untuk mengekspresikan eksistensi manusia-manusia yang diaturnya.

Sastra dengan demikian tidak lagi hanya merupakan barang hiburan. Bahwa ia dapat menghibur, itu besar kemungkinannya, tetapi bukanlah tujuannnya. Sastra adalah seluruh pengucapan manusia, seluruh pikir rasa dan karsa manusia lewat bahasa yang mereka kuasai. Sastra adalah pemikiran, perenungan, pencarian, pengembaraan, dan pengutaraan pengalaman spiritual manusia bersangkutan dengan memakai bahasa sebagai wadahnya.

Sastra adalah sebuah dialog, pencarian spiritual terhadap berbagai makna dengan bahasa sebagai alatnya. Jadi, sastra bukan bahasa itu sendiri. Sastra juga bukan sekadar alat dari bahasa. Sastra adalah ilmu bagaimana memanfaatkan bahasa menjadi kosakata untuk menerjemahkan berbagai makna kepada orang lain dengan akurat. Bahasa bagaikan sungai tempat sastra mengalir menuju ke makna yang hendak disergapnya. Bahasa dan sastra adalah dua sekawan yang saling membahu untuk mengembangkan daya jangkau pikir-rasa dan karsa manusia yang mencari jati dirinya.

Sastra tidak bisa lagi dipelajari hanya sebagai teknik penulisan. Sastra bukan hanya penggolongan jenis-jenis tulisan dengan bentuk-bentuk yang dipakainya. Sastra adalah perkembangan pemikiran di dalam memahami kehidupan dan seluruh fenomenanya. Sastra juga bukan hanya cerita, simbol-simbol, ungkapan-ungkapan, dan permainan bahasa. Sastra adalah cara mengidentifikasi, sikap, dan pilihan sudut padang dalam membelah kenyataan-kenyataan sosial dan spiritual dengan bahasa sebagai mediumnya.

Pelajaran sastra yang selama ini diwarnai dengan kegiatan penghafalan nama serta tahun-tahun merupakan kesalahan besar. Pelajaran sastra seyogianya adalah pelajaran tentang proses pemikiran. Ia bersangkutan bukan hanya dengan masalah-masalah estetika kendati estetika merupakan bagian yang sangat penting di dalam sastra. Ia memerlukan berbagai ilmu bantu, seperti filsafat, sosiologi, psikologi, sejarah, politik, bahasa itu sendiri, dan bahkan juga ekonomi dan teologi.

Mempelajari sastra tidak lagi hanya merupakan upaya untuk menangkap gambar-gambar pengembaraan imajinasi, tetapi struktur pemikiran. Sastra merupakan tesis, telaah, skripsi bahkan disertasi dari pengarangnya terhadap tema yang ia tekuni. Wilayahnya berserak di seluruh wilayah pengetahuan. Sastra tidak mungkin kurang dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Sastrawan adalah ilmuwan dan teknokrat yang berbicara tidak dengan angka-angka dan rumus-rumus mati, tetapi dengan makna-makna yang bergerak terus.

Dengan memosisikkan sastra semacam itu, sastra menjadi memiliki berbagai kekuatan konkret. Pertama, sastra adalah dokumen perkembangan daya pikir dengan imajinasi sebagai wilayahnya dan yang senantiasa terus bergerak. Ia tidak semata-mata fiksi, tetapi juga bukan fakta yang kering. Ia merangkul keduanya sehingga memiliki wilayah jelajah yang tidak terbatas.

Kedua, sastra adalah seminar terbuka yang terus-menerus berproses mengikuti pasang surut kehidupan. Kesimpulan-kesimpulannnya bertumbuhan. Ia mengembangkan budaya interpretasi, melihat segala sesuatu dari segala sudut berbeda dengan hasil yang berbeda, dengan kebenaran yang berbeda, tetapi saling menunjang sebagai sebuah keutuhan. Sastra adalah pendidikan jiwa yang mengembangkan citra manusia dan kualitas kehidupan dari dalam batin manusia. Sastra mengajak manusia untuk terus menelusuri perkembangan dan kemungkinan-kemungkinan.

Ketiga, sastra adalah senjata yang efektif dan kekuasaan raksasa yang lunak. Dengan sastra, dapat dicapai berbagai hal yang tidak tergapai oleh kekerasan senjata. Pada gilirannnya sastra yang berpotensi memiliki kekuasaan untuk mengarahkan manusia ke tujuan yang hendak digiringnya dengan pesona bahasa dan makna-maknanya tanpa keterpaksaan dari yang bersangkutan.

Barangkali masih dapat dicari kekuatan sastra yang lain, tetapi tiga hal di atas saja sudah cukup untuk membuat sastra berhenti tidak berdaya. Sastra yang diciptakan oleh manusia menjadi potensial untuk membangun manusia. Dalam situasi perpecahan yang kini merebak di mana-mana sastra juga tidak sedikit kemungkinannya untuk menyumbangkan andil karena sastra dapat menembus apa yang tidak tertembus oleh senjata. Sastra dapat menggerakkan apa yang tidak bergerak oleh kekuasaan. Sastra dapat menghubungkan apa yang tidak dapat terhubungkan oleh jembatan persatuan. Pada puncaknya sastra dapat memberdayakan bahasa agar lebih hidup dan lebih bermakna dalam pergaulan manusia.

Dengan bahasa, manusia dapat bertemu dan merasakan dirinya satu nasib. Membangun dan mengembangkan sastra Indonesia dengan sendirinya juga memosisikan sastra sebagai perjuangan persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, hal itu tidak akan mungkin terjadi sebelum kita mereposisi sastra dalam peta pendidikan kita mulai sekarang. Sastra berhak menjadi bagian dari ilmu pengetahuan sehingga sastra menjadi baru dan relevan. Sastra harus tidak sepantasnya hanya benalu apalagi virus dalam pelajaran bahasa sebagaimana tersistemkan dalam pendidikan kita selama ini.

Pemberdayaan Sastra Indonesia

Sastra dalam pelajaran kesusastraan ketika saya masih belajar di sekolah menengah didefiniskan lewat padan katanya. Karena sastra berarti tulisan, kesusatraan adalah segala tulisan yang indah. Yang kemudian langsung menjadi khazanah sastra adalah buku-buku karya fiksi dan puisi.

Namun, sampai pada istilah sastra lisan, pengertian tersebut menjadi sedikit bingung. Secara harfiah, sastra lisan berarti tulisan yang diucapkan. Seharusnya ada wujud tulisannya dahulu agar bisa diucapkan. Namun, pada praktiknya sastra lisan sejak lahir sudah merupakan tutur yang bukan perpanjangan dari tulisan. Kemudian, memang tutur itu ditranskripsikan ketika mulai diposisikan sebagai kekayaan budaya. Namun, ketika ekspresi lisan itu dibekukan dalam bentuk tulisan, kenikmatannya berbeda. Ia tak menjangkau seluruh eksistensinya ketika masih lisan.

Sebagai seorang penulis, saya tidak memandang sastra sebagai hanya tulisan, tetapi sebagai pengertian sehingga ia bisa disampaikan dengan tulisan ataupun lisan. Akan tetapi, sastra juga bukan pengertian saja. Ia memiliki satu kelayakan yang membedakannya dengan pengertian yang bukan sastra. Sastra mengandung pemikiran dan perasaan kemanusiaan yang erat kaitannya dengan bahasa.

Semua ekspresi yang memakai bahasa sebagai basis kekuatannya bagi saya adalah sastra. Kalau ada pengertian yang lebih bagus dari itu, setiap saat saya bersedia mengkhianati pengertian yang sudah saya anut selama ini karena upaya untuk terus-menerus menyempurnakan penggerebekan ke arah yang lebih sempurna adalah bagian dari cita-cita sastra. Oleh karena itulah, dalam alam pikiran saya, sastra tidak mengenal kontrak mati dengan satu isme atau idiologi, apalagi sikap politik. Kalau ada aliran dan idiologi sastra, hal itu adalah kebimbangan dan pengkhianatan pada kesimpulan yang salah.

Melalui pemahaman tersebut, saya akan mencoba berbicara tentang pemberdayaan sastra Indonesia.

Pengertian Indonesia Baru, bagi generasi 28, ketika Sumpah Pemuda (1928) dicetuskan, pasti sesuatu yang asing karena pengertian Indonesia sudah berarti baru. Pengertian itu mengandung cita-cita politik yang merupakan lompatan besar, mengubah teritorial Nusantara menjadi sebuah negara yang merdeka.

Pengertian "baru" dicantelkan kepada Indonesia sesudah gerakan reformasi pada tahun 1998, ketika pengertian Indonesia menjadi terkontaminasi oleh kepemimpinan yang membawa Indonesia masuk ke dalam jurang penindasan hak-hak asasi manusia. Pengertian Indonesia baru sebenarnya sama saja dengan pengertian Indonesia dari generasi 28 -- hanya saja dahulu targetnya merdeka dari kolonialisme, kini merdeka dari penindasan rezim dari dalam sendiri. Pengertian baru mengandung makna pemindaian (scanning) ulang, defragmentasi, instal dan format ulang terhadap harddisk Indonesia yang sudah salah.

Sastra memiliki kepentingan besar dalam kerepotan yang langsung menyangkut pemulihan terhadap hak-hak asasi manusia tersebut. Bagi sastra, hal itu sekaligus juga berarti pemulihan terhadap hak-hak asasinya sendiri karena dalam beberapa dekade gelap sebelum reformasi sastra juga termasuk yang sudah diinjak-injak di bawah kepentingan politik dan ekonomi sekelompok penguasa.

Tidak ada bedanya dengan keadilan dan kebenaran, sastra pun -- sebagai bentuk pengucapan pikiran dan perasaan yang memakai bahasa - sudah dihajar habis-habisan. Karena bahasa merupakan bagian dari alat kontrol sosial yang sangat efektif di samping senjata. Bahasa telah menjadi balatentara rezim yang dengan ganasnya mendera rakyat. Akibatnya, sastra pun menjadi tidak saja mandul, tetapi terutama sekali berbalik sesat. Sastra yang indah itu berubah menjadi binatang buas yang mengunyah-ngunyah kemanusiaan itu sendiri.

Dalam keadaan yang terbalik itu, bahasa tidak lagi jembatan untuk mengucapkan pikir dan rasa antara manusia yang merdeka, tetapi polisi-polisi dan mesin virus yang menyebarkan ketakutan dan teror sehingga massa membeku. Ucapan tidak bisa lagi dipercaya. Kalimat bersipongang dan memekakkan, tetapi kosong, khususnya pidato-pidato para pejabat. Kata-kata dan ungkapan rezim menjadi "safe deposite" yang menyembunyikan kejahatan-kejahatan. Sastra menjadi bromocorah. Sastra adalah bandit yang menguasai alam pikiran.

Karya sastra yang masih menyuarakan ekspresi yang jujur dan dahulu dipelajari sebagai kesusastraan, atas nama kelangenan yang membuat orang malas, lantas dimasukkan ke bak sampah. Ia dianggap perangkat yang kedaluwarsa di tengah dunia yang sudah berteknologi tinggi. Para pelajar ditipu mentah-mentah untuk lebih percaya kepada angka-angka yang kemudian dengan lihainya disulap di dalam "dagang" yang membuat pelajar kebingungan. Teknologi pun kotor karena hanya berisi khayalan, tetapi disembah seakan-akan itulah dewa penyelamat yang akan membawa bangsa ke mimpi gemah ripah loh jinawi.

Para ilmuwan melarikan diri dan bersembunyi di gua pertapaannya. Para sastrawan juga ikut mengacir berserakan ke sana kemari karena merasa hina dan berdosa terus menjadi pabrik tidak berguna. Mereka mengubah seragamnya menjadi politikus, pejabat, wartawan, atau amtenar yang terasa lebih konkret memikirkan realitas dan kepentingan rakyat serta masa depan negara. Yang masih setia menjadi sastrawan hidupnya kumuh dan tidak dapat tempat, kecuali bila berhasil menjadi "maling-maling" besar, sebagaimana Rendra. Namun, banyak sekali di antaranya justru "menikmati" keadaan tidak berdaya tersebut karena bisa menyembunyikan kemalasan dan ketidakmampuannya. Sambil pura-pura berteriak kesakitan, sastrawan bersangkutan tidur dan melakukan masturbasi. Mereka mengaum mengaku sudah dipasung rezim yang berkuasa, tetapi setelah reformasi semua orang boleh melakukan apa saja. Mereka juga tetap tidak berbuat apa-apa karena memang "dari sananya" sudah tidak berdaya.

Kenyataan yang juga harus diakui adalah bahwa di masa jayanya sensor, keberanian saja cukup membuat orang menjadi sastrawan. Sastra secara rahasia berubah artinya sebagai seni memaki, seni menghujat, seni menista, dan seni mencuri. Tidak peduli nilai karyanya asal tampak bersikap menyakiti dan mengganggu penguasa terasa sebagai karya yang berdarah dan besar.

Sastra yang semestinya mempunyai potensi untuk membangun manusia (baca:bangsa) dari dalam jiwanya menjadi bangkrut. Yang tinggal adalah sastra sebagai barang komoditas. Sastra menyediakan diri sebagai paket-paket hiburan untuk mengeloco anggota masyarakat yang impoten karena kekuasaan sudah mengontrol masyarakat sampai daerah-daerah pribadinya di atas tempat tidur.

Sebagai barang komodias, sastra ternyata cukup berhasil. Jumlah buku, presentasi membaca, serta para penulis bertambah. Penerbit-penerbit menjamur, sebagian menjadi raksasa yang menghasilkan duit besar. Setiap hari ada saja buku baru yang terbit. Media massa berkembang pesat sehingga para konglomerat mulai ikut malang melintas di usaha para kuli tinta itu. Jumlah majalah dan koran nasional dan lokal, apalagi sesudah reformasi, membludak.

Eskspresi komersial yang mempergunakan bahasa sebagai kekuatannya berkembang pesat. "Sastra" terpacu secara kuantitas. Dalam soal kualitas pun bukan tidak ada karya hebat yang lahir. Banyak sastrawan baru lahir yang tidak kalah pamornya dengan sastrawan tua. Sementara itu, sastrawan senior pun terus produktif. Pramudya masih menulis di samping Rendra, Goenawan Mohammad, Budi Darma, Sutarji C. Bachri, Taufiq Ismail (sekadar menyebut beberapa nama), ditambah lapisan baru, seperti Afrisal Malna, Seno Gumira Aji Darma, dan Ayu Utami..

Memang secara perseorangan sastra Indonesia dalam keadaan keos masih normal-normal saja. Artinya, di ruang hidupnya yang kecil masih ada satu dua kutu buku yang terus bekerja dengan setia. Hasilnya pun bagus. Akan tetapi, sebagai potensi kultural, sastra Indonesia sangat tidak berkekuatan. Jangan mengukur kekuatan dari analisis seorang kritikus yang meskipun berhasil menerbitkan pikirannya ke dalam buku karena buku itu tidak ada yang membaca. (Rata-rata satu judul buku sastra yang dicetak 1000-3000 eksemplar tidak habis dalam waktu 5 tahun meskipun memang buku Ayu Utami belum lagi satu tahun sudah mengalami cetak ulang berkali-kali).

Sastra sebagai sebuah batalyon kekuatan sudah memble karena dari 200 juta lebih bangsa Indonesia, yang membaca dan memanfaatkan sastra sangat sedikit, nyaris memalukan. Dalam satu usaha informal dan pribadi, penyair Taufiq Ismail melakukan wawancara pada kelompok pelajar dari seluruh dunia. Ia menghasilkan tabel yang sangat mengejutkan. Ternyata antara 20 s.d. 30 buku yang dibaca oleh setiap pelajar di berbagai dunia selama periodenya sebagai pelajar, pelajar Indonesia mencatat 0 buku.

Tidak heran kalau banyak mahasiswa sebagai perpanjangan dari pelajar Indonesia tidak mampu mempergunakan bahasa. Akibatnya, skripsi sebagai karya akhir di perguruan tinggi juga tidak ada gunanya karena memang tidak bisa ditulis oleh mereka yang tidak punya pengalaman mengolah bahasa. Kalau dipaksakan pun, hal itu akan menjadi dagelan, sudah banyak kasus terungkap skripsi ditulis oleh para penyedia jasa skripsi.

Taufiq kemudian membuat lobi kepada mereka yang berwenang di Bapenas. Dari hasil diskusi tersebut didapat kesepakatan bahwa kekeliruan besar yang sangat mendasar sudah terjadi bertahun-tahun. Sastra tidak mungkin hanya sastra. Sastra adalah perangkat yang berhubungan langsung dengan semua kegiatan. Kalau itu lumpuh, secara tidak langsung akan cacad pula sektor-sektor lain.

Dari peristiwa itulah kemudian mengucur biaya untuk membuat acara temu sastra dengan guru-guru sekolah. Dengan amat antusias para guru bahasa dari berbagai sekolah bertemu langsung dengan para sastrawan untuk mendengarkan dan mendiskusikan sastra. Mereka tampak begitu rindu dan banyak yang terkejut melihat sastra begitu dekat dengan berbagai persoalan sehari-hari. Sastra sangat relevan dengan kegiatan mereka dalam rangka pembelajaran anak-anak bangsa.

Kegiatan temu sastrawan itu semula hanya dilakukan di Jakarta, kemudian meluas se-Jawa Barat-Jawa Tengah dan diharapkan kelak akan menjadi kegiatan di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut kemudian disambung dengan kegiatan sastrawan masuk sekolah yang mendapat dukungan dari Ford Foundation.

Saya tidak mengatakan bahwa itulah cara yang terbaik untuk mengatasi ketidakberdayaan sastra. Namun, itulah salah satu contoh bahwa ketidakberdayaan di samping dibicarakan, harus segera diatasi dengan tindakan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari yang memerlukan biaya sampai yang tidak memerlukan apa-apa, bahkan bisa mendatangkan uang.

Dalam pemahaman saya, yang harus menjadi agenda sastra dalam menyongsong Indonesia Baru adalah pemberdayaan sastra, menjadikan Indonesia -- dalam pengertian sastra - kembali memosisikan sastra sebagai alat yang setara dengan peralatan kehidupan lain, seperti teknologi, ekonomi, dan politik.

Sastra adalah sebuah profesi dengan para sastrawan profesional sebagai kawulanya. Pemberdayaan sastra adalah bagian dari pemberdayaan seluruh sumber daya/potensi Indonesia. Dengan mobilisasi seluruh potensi itu, kita mencoba untuk menggarap target besar yang selama ini sudah diformulasikan oleh ucapan: gemah ripah loh jinawi lewat sektor dan tanggung jawab para profesional.

Pemberdayaan sastra boleh jadi sudah merupakan isu sangat klise sekarang. Oleh karena itu, pemberdayaan sastra dengan mudah kemudian bisa dianggap mengacu kepada kesempatan untuk menuntut pemerintah memberikan perlindungan berupa subsidi dan penghapusan sensor yang tidak lebih dari sedekah atas dasar belas kasihan dan sering kali lebih banyak menguntungkan satu dua individu sastrawan--bukan kepada sastra-nya.

Pemberdayaan sastra adalah termasuk upaya membebaskan sastra dari dominasi satu pribadi, baik dia bernama Rendra, Pramudya, Goenawan, Sutardji, maupun Chairil, dan sebagainya. Pemberdayaan sastra adalah usaha membebaskan sastra dari berbagai bentuk penindasan dan pengemisan. Sastra bukan saja untuk seluruh sastrawan, bukan saja untuk sastra, melainkaan juga untuk seluruh manusia.

Sastra tidak mungkin, tidak sanggup, dan tidak akan sudi berdiri sendiri. Sastra tidak memerlukan isolasi. Bahkan, sastra yang terisolasi pun selalu mencoba menerobos untuk memecahkan kerangkengnya. Sastra memiliki kepentingan mutlak untuk bekerja sama dengan seluruh sektor kehidupan dan perangkat negara karena dia ingin berbicara kepada setiap manusia/warga negara tanpa mengenal batas tingkat sosial, kecerdasan, dan kepangkatan. Bentuk kerja sama itu adalah kerja sama profesional atas dasar kegunaan timbal balik, bukan pemerasan atau pencekokan.

Upaya pemberdayaaan sastra dengan demikian adalah upaya menempatkan sastra pada posisi yang tepat dalam simfoni kehidupan sehingga sastra sebagai "sembako batin" jelas garisnya. Sebagai kebutuhan batin, hubungan antara sastra dan masyarakat tidak lagi menjadi ketegangan dan kucing-kucingan, tetapi saling membantu, saling mempergunakan, dan saling menyempurnakan.

Pemberdayaan sastra, dalam jalan pikiran saya, sama sekali bukan pemberantasan potensi sastra sebagai barang komoditas. Potensi sastra sebagai apa pun harusnya tetap dipupuk sebagai bagian dari kekuatan sastra. Pemberdayaan harus diartikan sebagai upaya penyeimbangan dari berbagai kekuatan sastra tersebut sehingga ia bisa hadir utuh dalam kehidupan serta berkembang sehingga selalu dapat menjawab tantangan zaman. Hal itu tidak perlu disimpulkan sebagai penentangan kepada "penguasa" -- selama kekuasaan adalah alat yang menjalankan kedaulatan rakyat.

Pemberdayaan sastra, dalam benak saya, mau tidak mau adalah pemberdayaan sastrawan untuk sementara. Dengan satrawan yang tidak berdaya, tidak akan mungkin ada sastra yang berdaya. Tanpa keberdayaan sastrawan Indonesia, sastra yang tidak berdaya tidak akan bisa dibuat berdaya dengan suntikan dan doping macam apa pun karena kita tidak berpikir tentang pemberdayaan semu sebagai slogan atau etalase dalam sebuah pameran. Peberdayaan yang saya maksud adalah bagaimana sastra menjadi hidup dan berkesinambungan.

Dengan sastrawan yang berdaya, tidak akan mungkin sastra menjadi lumpuh. Zaman sastra sebagai hasil orang ngelamun sudah lewat. Sastra bukan lagi nina bobok atau ekstasi untuk membuat orang teler. Sastra adalah hasil pikiran yang tidak kurang pentingnya dari berbagai percobaan fisika di laboratorium, tidak kurang pentingnya dari ekplorasi pencarian sumber-sumber kekayaan bumi di lepas pantai, dan tidak kurang pentingnya dari disertasi dan seminar-seminar ilmiah tentang bermacam pokok masalah secara mendalam.

Di dalam sebuah pertemuan antara sastrawan Indonesia dan sastrawan Prancis yang diprakarasai oleh Lembaga Kebudayaan Prancis di Bentara Budaya pada tahun 1990-an, terucap perbedaan posisi sastra di Prancis dan Indonesia. Di Prancis, menurut mereka, sastra sama kedudukannya dengan ilmu pengetahuan. Dengan sendirinya para sastrawan juga setara harkatnya dengan para ilmuwan. Kedudukan tersebut tentu bukan status sosial. Akan tetapi, status sosial tersebut hanya kesimpulan dari apa adanya sastra dan para sastrawan. Akibatnya, satrawan pun memikul tanggung jawab ilmu pengetahuan atas profesinya.

Sastrawan sebagai pabrik sastra harus lebih dahulu berdaya. Hal itu tidak bisa dicapai hanya dengan slogan, teriakan, yel-yel, atau demo. Mustahil pula hal itu terjadi dengan surat sakti, beslit, atau tekanan satu kekuatan raksasa. Itu harus terjadi mulai dari hati pemberdayaan sastrawannya sendiri sehingga masyarakat memperoleh bukti yang nyata bahwa sastra memang berdaya.

Mobilisasi sastra adalah pemberdayaan sastrawan untuk merebut kepercayaan masyarakat bahwa sastra adalah penyambung lidah nasib mereka. Hal itu bukan sesuatu yang mustahil karena kita memiliki tradisi sastra yang tidak memalukan. Kita memiliki Mpu Walmiki, Mpu Kanwa, Prapanca, Ronggowarsito, Hamzah Fansuri, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Raja Ali Haji, Ida Pedanda Dau Rauh, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Ida Pedanda Sidemen, Pramudya Ananta Toer, W.S. Rendra, Goenawan Mohammad, Budi Darma, Taufiq Ismail, Sutardji C. Bachri, Sapardi Djoko Damono, Mangunwijaya, Danarto, Umar Kayam, Seno Gumira Aji Darma, Afrizal Malna, Ayu Utami, dan sebagainya.

cited from http://putuwijaya.wordpress.com/2007/11/01/sastra-sebagai-refleksi-kemanusiaan/

Wednesday, May 20, 2009

Mengenang Y.D : Caping Goenawan Mohamad

Y.D. (1944-2009)


Jurnalisme tak bermula ketika kabar disiarkan. Tiap kali sebuah berita terbit, ada sisi yang kelihatan dan ada yang tak kelihatan. Bahkan di halaman majalah ini dan juga di Koran TEMPO bagian yang tak tampak sebenarnya lebih besar perannya: hampir tiap kalimat, foto dan gambar ditopang oleh sebuah aturan dan sistem kerja, perencanaan anggaran, persiapan logistik, juga latihan ketrampilan yang bertahun-tahun.

Tak boleh dilupakan, dalam proses itu amat penting pula apa yang bisa disebut sebagai l’esprit de corps.

Sayangnya, sejarah jurnalisme selalu mengabaikan yang tak kelihatan itu. Harian Indonesia Raya dulu hanya identik dengan Mochtar Lubis, Merdeka dengan B.M. Diah, Pedoman dengan Rosihan Anwar. Juga TEMPO sering dianggap cukup bisa diwakili oleh Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Bambang Harimurty, Toriq Hadad.

Betapa tak lengkapnya. Siapa yang pernah bekerja di dalam majalah ini tahu, seorang Goenawan Mohamad sebenarnya bergantung pada orang lain yang praktis tak pernah dapat tepuk-tangan.


Salah satu dari yang mengelak dari aplaus itu adalah Yusril Djalinus. Ia meninggal 2 Februari yang lalu. Keluarga besar TEMPO berkabung, tapi bukan hanya karena Yusril seorang teman sekerja.

Bagi saya, dialah pembentuk utama ethos TEMPO, sikap kerja yang seperti para pendaki gunung dan tebing. Puncak, tujuan itu, harus dicapai. Untuk itu dibutuhkan ketabahan pribadi; dan tak kurang penting: kerja sama yang saling mempercayai. Yusril, pendaki gunung itu (dia tokoh kelompok pencinta alam, “Wanadri”), tak banyak berpidato di depan para wartawan agar ethos itu tertanam. Yusril langsung memberi contoh, dan ia membentuk sistem.

Saya mengenalnya sejak ia bekerja sebagai reporter baru di Majalah Berita Ekspres di tahun 1970. Saya mengenalnya sebagai seorang yang bicara halus dengan aksen Sunda, seorang pemuda kurus, tinggi, berambut rimbun. Mula-mula saya tak begitu memperhatikannya. Langsung di bawah saya ada sejumlah sastrawan yang waktu itu sudah mulai terkenal, misalnya Putu Wijaya, Syu’bah Asa, Usmah. Karena sifat majalah itu – yang dasarnya adalah kecakapan bercerita dalam tulisan – para sastrawan itu mengambil peran yang sentral. Di antara mereka, Yusril tentu tak menonjol.


Ia baru saja meninggalkan kuliahnya di Jurusan Publisistik Universitas Padjadjaran, Bandung. Dan ia bukan seorang penulis yang canggih; tulisannya jelas, tapi nyaris kaku.

Hanya dengan pelan-pelan saya mulai menyadari: Yusril bagus dalam kerja tim dan ia tangguh. Ia tak pernah mengelakkan tugas. Majalah Ekspres, yang kami dirikan di tahun 1970, masih sebuah usaha yang merangkak. Dana tak tersedia banyak, juga untuk kerja sehari-hari. Pada suatu hari Yusril tak dapat uang transpor. Pemuda yang pernah membeayai kuliahnya dengan jadi tukang potret keliling dari desa ke desa ini memutuskan: ia berjalan kaki. Pada satu hari Jakarta yang terik, ditempuhnya jarak 20 kilometer dari Jatinegara sampai dengan Pecenongan, bersama debu, karbon dioksida, dan keringat.

Ketika saya dan teman-teman lain, misalnya Fikri Jufri, Christianto Wibisono, dan Bur Rasuanto mendirikan majalah TEMPO (setelah meninggalkan ramai-ramai Majalah Ekspres), Yusril termasuk yang ikut bergabung.

Itu tahun 1971. Majalah TEMPO dimulai dengan sedikit nekad dan ketololan. Seperti Ekspres, mingguan baru ini mengambil model majalah berita Time dan Newsweek di Amerika. Tapi sebenarnya kami tak tahu bagaimana cara memproduksinya. Kami bahkan bekerja mula-mula tanpa melalui koordinasi. Peran satu orang bisa begitu besar hingga mengabaikan orang-orang lain, dan sejumlah wartawan bekerja jungkir-balik sementara sejumlah wartawan lain bisa menghabiskan waktu main bilyar. Tiap pekan hampir selalu ada yang jatuh sakit kecapekan.

Setelah dua-tiga tahun, baru kami tahu ini tak beres. Kami mengundang seorang konsultan: Amir Daud, bekas wartawan Time di Jakarta.

Dialah yang mengajari kami membentuk organisasi dasar. Begitu tololnya kami hingga baru dari Amir-lah kami tahu perlunya menulis memo untuk teman sekerja, bila si rekan sedang bertugas di luar kantor. Dari Amir Daud pula kami mulai belajar bekerja efisien. Ia menyarankan agar kami punya seorang “chief reporter” yang akan membagi tugas hingga distribusi tenaga kerja tak acak-acakan.

Penugasan, pesan Amir, harus tertulis. Ini memang akan membuat ia bisa diingat, mudah dikontrol, dan bila ada problem, bisa dipindahkan langsung ke wartawan lain. Penugasan harus jelas dan ringkas. Bahkan Amir memperkenalkan kebiasaan memendekkan nama kami. Maka nama saya pun jadi “G.M.”, Fikri Jufri jadi “F.J.” dan Yusril jadi “Y.D.” (Amir, yang menyukai gaya Amerika, mengucapkannya “Way-Di”). Akronimisasi nama itu melekat sampai hari ini.

TEMPO beruntung: “Y.D.” jadi chief reporter pertama. Yang patut diingat ialah bahwa pada awalnya jabatan ini -- yang segera kami Indonesiakan jadi “koordinator reportase” (diakronimkan jadi “KR”) -- tak ditunjuk dari atas. Saya sebagai pemimpin redaksi memutuskan agar pejabat KR dipilih para wartawan sendiri.

Y.D. bersama Harun Musawa terpilih dengan jumlah suara yang sama. Saya kemudian memasang Yusril di posisi itu. Harun Musawa, yang berminat pada sastra dan punya kemahiran menulis yang lebih, disiapkan untuk mengelola dan mengisi salah satu rubrik. Y.D. punya kelebihan yang berbeda. Sebagaimana dikatakan Harun, “Saya tak akan mungkin selugas Yusril dalam bersikap”. Harun lemah lembut; Yusril tegas terhadap anak buah – dengan kombinasi yang langka: ia selalu bisa bercanda. Disiplin yang keras yang diterapkannya bisa tak terasa menekan, sebab segera setelah itu ada suasana bergurau.

Dari jabatan inilah, sejak 1976, Y.D. berkembang cepat. Kepemimpinannya produktif. Seperti dikatakan Harun, pada rekan dekatnya ini ada kemampuan memotivasi bawahan agar bekerja optimal. Seperti para pendaki tebing, reporter harus pantang menyerah untuk “menembus sumber”. Berita harus diperoleh melalui rintangan apapun.

Ethos inilah yang berkembang penuh dalam diri Dahlan Iskan (yang kemudian jadi pemimpin dan pembangun sekarang pemimpin grup media Jawa Pos), yang di awal tahun 1981 meliput terbakar dan tenggelamnya Kapal Tampomas dengan korban 600 orang tewas.

Karni Ilyas, kini tokoh media televisi di Indonesia yang memimpin TV One dengan 1200 karyawan, membawa ethos itu ke tempat kerjanya sekarang. Di kantor Karni di Pulogadung, sebuah poster TEMPO terpampang di salah satu dinding. “Ke manapun kantor saya pindah, [poster] ini akan saya bawa”, katanya.

Sebagai wartawan TEMPO yang pernah menghasilkan laporan yang merupakan scoop, Karni mengingat Yusril sebagai orang yang tak mudah puas akan hasil kerja anak buahnya. Tapi dengan itu, kata Karni, para wartawan “terpacu”. “Yang tidak bisa akan terpental dengan sendirinya.”

Tapi jadi pemacu hanyalah salah satu kelebihan Yusril. Ia juga pembangun institusi. Bagaimana mengelola kerja para wartawan dan yang bukan wartawan, bagaimana melatih mereka terus menerus, menilai mereka dengan sistematis, dan memberi mereka kesempatan berkembang – semua itu dimulai dari sistem yang dibangun Y.D

Salah satu yang jarang ditilik ketika orang menelaah TEMPO adalah sistem itu – yang bisa membuat majalah ini memandang jurnalisme sebagai sebuah posisi ethis. Posisi yang bertahan hingga hari ini.

l l l

Jurnalisme sebagai sebuah posisi ethis yang diteguhkan Y.D. adalah kerja kewartawanan dengan sikap yang memandang orang lain dan merasa bertanggungjawab: jurnalisme yang tampil dengan kukuh bukan karena ia merasa unggul, melainkan justru ketika ia prihatin. Dengan keprihatinan kepada liyan, orang lain yang juga sesama, ia bertindak.

Posisi ethis itu dimulai ketika seorang wartawan tergerak buat menulis sesuatu, baik sebuah investigasi tentang ketidak-adilan ataupun sebuah cerita ringan yang menghibur. Segera ia dituntut dirinya sendiri untuk terbuka, juga kepada yang paling tak disukainya. Ia dituntut diri sendiri untuk tak culas. Ia diminta tak putus-putusnya untuk meraih apa yang baik dan yang benar, betapapun mustahilnya.

Di sini ethos yang ditanamkan Yusril dapat diikhtisarkan: Pertama, seorang wartawan harus pantang surut mendapatkan berita. Kedua, ia tak bisa dibeli. Tiap kali ada godaan buat lembek dan menyeleweng, tiap kali ia harus ingat ada orang lain yang mungkin sekali celaka, atau tertipu, karena kebohongan beritanya.

Itu sebabnya bukan hanya ada latihan teknis untuk mendapatkan data yang akurat, tapi juga ada prinsip untuk menolak “amplop” dan suap. Prinsip ini tak bermula di Majalah TEMPO dan bukan dicanangkan oleh Y.D.. Yang dilakukan Yusril adalah memperkuat tembok hingga sogokan tak tembus ke tubuh organisasi. Y.D. memanfaatkan sistem produksi berita majalah ini: sebuah berita selalu hasil kerja tim yang anggotanya bisa berubah, dan sebuah berita selalu diperiksa setidaknya dua lapis redaksi.

Tapi tak hanya mencegah yang buruk. Y.D. juga menumbuhkan rasa harga diri ke kalangan wartawan. Departemen redaksi mengalokasikan dana yang cukup bagi tiap wartawan untuk bekerja. Yusril-lah yang pertama kali di tahun 1980-an merancang agar reporter mampu menjamu para humas – dan dengan itu membalikkan praktek sebelumnya, di mana sang reporter yang selamanya dijamu. Yusril juga yang mengharuskan wartawan menolak uang saku perjalanan yang disediakan satu lembaga yang mengundang, dan untuk itu ada dana dari kantor yang memadai.

Dari sini wartawan jadi oknum yang dihormati, dan pada gilirannya, merasa diri kukuh. Ia jadi subyek yang merdeka. Harga diri ini tampaknya terbawa ke saat yang paling kritis. Di tahun 1994, ketika TEMPO dibreidel, Rustam Mandayun, waktu itu Kepala Biro Yogyakarta, melakukan aksi protes terbuka bersama mahasiswa dan kaum cendekiawan, satu hal yang penuh risiko di bawah Rezim Suharto. Saya bertanya kepadanya, kenapa ia memilih langkah itu, sementara ia punya keluarga. Rustam menjawab, tanpa suara yang heroik: “Kan kita semua sudah dibiasakan menolak amplop, Mas”.

Jurnalisme adalah sebuah posisi ethis ketika ia bersiteguh untuk merdeka, sebab hanya dengan kemerdekaan itu rasa tanggungjawab dan harga diri tumbuh. Tapi seperti para pendaki gunung dan tebing, kegigihan itu juga perlu dijalin rasa saling percaya dalam sebuah tim. Di sini, posisi ethis menyentuh ke sesama teman sekerja: tak boleh ada curang mencurangi.

l l l

Berada di lapis pimpinan, Y.D. sangat peka akan soal itu. Itu sebabnya ia tak pernah mendahulukan kepentingan diri, justru ketika ia punya kekuasaan yang besar. Seperti dikenang Haryoko Trisnadi, direktur keuangan waktu itu, Yusril tak pernah mau menerima fasilitas apapun tanpa aturan yang berlaku bagi siapa saja.

Ia, yang layak menduduki jabatan pemimpin redaksi, membiarkan dirinya tak pernah memperoleh posisi itu. Di tahun 1994 ada usaha dari Menteri Penerangan Harmoko dan Jend. Prabowo Subianto, waktu itu menantu Presiden, untuk memecah belah dan mengendalikan TEMPO dari dalam. Salah satu caranya membujuk Y.D. untuk jadi Pemimpin Redaksi. Prabowo meminta Yusril menemuinya di sebuah hotel di Jakarta. Yusril datang, tapi ia menolak tawaran Prabowo dengan seketika. “Yusril bukan orang yang akan berkhianat”, kata Zulkilfly Lubis, rekan sekerjanya yang ikut membangun organisasi TEMPO.

Dalam masalah ethis, saya selalu bersandar pada Yusril. Sebagai salah satu anggota dewan direksi, ia diberi kemungkinan mendapatkan saham di sebuah majalah yang dimiliki oleh TEMPO. Tapi Yusril menolak. Ia teguh tak tertarik untuk memperbanyak milik.

Yusril lebih ingin seperti seorang komandan pasukan komando yang sedang merebut bukit ketimbang seperti seorang eksekutif yang berjas dan berdasi di kursi yang mentereng. Dengan itu ia merasa pantas untuk menuntut sikap tangguh yang setara dari para wartawan – yang baginya juga harus memandang diri sebagai pasukan khusus.

Dalam ikhtiar dan citra itu, Yusril sadar l’esprit de corps dan kerja tim amat menentukan. Yang di atas dan yang di bawah harus kompak. Maka sang komandan harus tak mementingkan diri sendiri, (ia juga bagian dari tim) dan tak boleh pilih kasih. Manajemen harus terbuka dalam pengambilan keputusan. Karena di TEMPO ada Dewan Karyawan yang bertindak sebagai serikat sekerja dan tak ada pribadi yang memiliki modal secara langsung – saham dikuasai institusi yang separuhnya dikendalikan karyawan -- l’esprit de corps itu mudah ditumbuhkan.

Untuk itu pula Y.D. (bersama Bambang Halintar, M. Makhtum, Zulkifkly Lubis dan kemudian Meity Bachrul) menyusun cara evaluasi dan promosi yang transparan – dan selalu terbuka untuk dikritik dan diperbaiki. Tak ada pengangkatan tanpa melalui jenjang karir dan jabatan yang jelas. Penilaian harus bisa diketahui orang yang dinilai. Tak ada yang boleh dicurangi, juga oleh atasan. Saling percaya adalah modal pokok.

Setiakawan, itulah jurnalisme di sisinya yang tak tampak. Itulah yang dijalankan Yusril sampai ia meninggal. Itulah yang diwariskannya. Malam sebelum ia pergi, saya sempat mencium pipinya yang masih hangat. Saya tahu saya tak akan melihatnya lagi. Tapi saya tahu ia akan pergi dengan peninggalan yang tak ternilai.

Goenawan Mohamad
Senin, 09 Februari 2009
Cited from http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2009/02/09/mbm.20090209.CTP129491.id.html

Tuesday, May 19, 2009

HERMAN: Caping Goenawan Mohamad

Herman



Potret itu dipajang berderet-deret, hampir di tiap pohon. Tapi di manakah Herman? Tiba-tiba saya ingat dia. Ia tak pernah kembali. Sepuluh tahun lebih, sejak ia hilang pada 12 Maret 1998. Orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Herman tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul—dan memang tak harus mengenalnya betul.

Baru kemudian saya ketahui aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu, bernama lengkap Herman Hendarwan, lahir pada 29 Mei 1971 di Pangkal Pinang, Bangka. Selebihnya tak banyak lagi informasi. Wilson, aktivis PRD yang juga sejarawan, menulis kenangan tentang kawannya ini dan mengakui: ”Menulis… tentang Herman Hendarwan bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali aktivitas politiknya yang dilakukan secara rahasia dan tersembunyi….”

Rahasia dan tersembunyi: saya dan Herman bertemu dalam beberapa rapat seperti itu. Itu tahun 1998, pada hari-hari ketika tentara Soeharto menangkap dan memburu para anggota PRD, setelah rezim itu memenjarakan anggota-anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen), setelah orang-orangnya menduduki dengan kekerasan Kantor PDI-P…. Beberapa orang sudah dilenyapkan. Dan Herman salah satu buron, seperti halnya Andi Arif, Nezar Patria, Bimo Petrus, dan lain-lain….

Dari bangunan di Jalan Utan Kayu 68-H, saya dan teman-teman aktivis lain tahu kami dimata-matai. Di tempat yang kini dikenal sebagai ”Komunitas Utan Kayu”, kami belajar bagaimana mengamankan diri, setelah markas AJI, organisasi kami, digerebek polisi dan tiga anggota ditangkap. Satu tim dari kami—Irawan Saptono, Ging Ginanjar, Stanley Adi Prasetya, Tedjobayu—mengatur cara pengamanan itu, yang kadang membingungkan karena tiap kali diubah.

Itu tak bertambah gampang ketika kami harus berhubungan dengan lingkaran yang lebih luas. Tapi waktu itu kalangan pergerakan perlu membentuk jaringan, bahkan front bersama, secara pelan-pelan. Soeharto terlampau kuat, dan kami hanya sekelompok aktivis dengan jangkauan terbatas. Di luar pelbagai gerakan pro-demokrasi bergerak, diam-diam atau terbuka, dan kami saling mendukung, tapi tak ada front persatuan untuk perlawanan.


Selebihnya gagu. Soeharto berhasil menundukkan Indonesia dengan cara yang efisien: menyebarkan ketakutan. Rezim itu punya modal teror yang amat cukup, setelah pada 1965-66 puluhan ribu orang dibunuh, dibui, dan dibuang. Dalam keadaan itu, membentuk kerja sama dengan kalangan lain dalam pergerakan pro-demokrasi perlu didahului dengan mematahkan teror itu. Dengan menjajal keberanian.

PRD ada di garis depan keberanian itu. Saya mulai bekerja sama dengan mereka secara lebih dekat sejak saya mengetuai Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP)—sebuah langkah ke arah pembentukan front bersama dan sekaligus sebuah siasat untuk mendelegitimasi pemilihan umum Soeharto (”kami pura-pura memantau pemilu, karena rezim ini juga pura-pura mengadakan pemilu”). Harus saya katakan sekarang: para anggota PRD—mereka umumnya sadar arti gerakan politik, bersemangat, dan tak gentar—adalah sayap yang paling saya andalkan dalam KIPP.

Tapi sebelum KIPP bekerja penuh, PRD digerebek. Pimpinan mereka, antara lain Budiman Sudjatmiko, kemudian tertangkap. Kami terpukul, tentu: seluruh daya harus dibagi. Sebagian untuk meningkatkan perlawan­an—”la lutta continua!”—dan sebagian menggagalkan usaha tentara Soeharto mematahkan bagian gerakan yang tersisa. Langkah baru harus diatur.

Sejak itu hubungan kami berlangsung makin berahasia, termasuk membangun kontak ke tempat tahanan. Dari Utan Kayu 68-H, operasi seperti ini, termasuk ope­rasi penyebaran informasi dan disinformasi, dikerjakan oleh yang kami sebut ”Tim Blok M”. Lewat jaringan yang dibentuk Irawan kami secara periodik bertemu dengan link PRD”: Andi Arif dan Bambang Ekalaya. Kemudian Herman—meskipun saya tak mengenalnya betul sebagaimana ia tak akan mengenal saya betul. Ada yang harus dijaga, karena bisa saja suatu hari kami tertangkap dan dipaksa buka mulut.

Dan benar: pada Maret itu Herman tertangkap. Atau lebih tepat, diculik. Tak hanya dia; Andi Arief, Faisol Reza, Waluyo Jati, Mugianto, Nezar Patria, Aan Rusdianto—semua aktivis PRD yang diangkut dengan paksa, dalam mobil yang tertutup rapat, dengan mata yang diikat dan kepala yang diselubungi seibo, dan dimasukkan ke dalam yang oleh Nezar Patria disebut, dalam testimoninya kemudian, sebagai ”kuil penyiksaan Orde Baru”.

Sebagian mereka kemudian dilepas. Tapi Herman tidak. Ia hilang. Juga dua nama lain Bimo Petrus dan Suyat. Wiji Thukul, yang untuk beberapa lama dapat disembu­nyikan satu tim teman-teman, juga kemudian lenyap.

Tak ada alasan untuk tak menduga mereka dibunuh. Setidaknya mati dalam penyiksaan. Nezar pernah menggambarkan bagaimana tentara Soeharto menganiaya mereka: pada satu bagian dari interogasi, kepalanya dijungkirkan. Listrik pun menyengat dari paha sampai dada. ”Allahu akbar!” ia berteriak. Tapi mulutnya diinjak. Darah mengucur lagi. Satu setruman di dada membuat napasnya putus. Tersengal-sengal.

Saya bayangkan Herman di ruang itu. Mungkin ia lelap selamanya setelah tersengal-sengal. Mungkin ia langsung dibunuh. Yang pasti, ia tak pernah pulang. Para pejuang dalam sajak Hr. Bandaharo berkata ”tak berniat pulang, walau mati menanti”. Dan Herman pernah menulis surat ke orang tuanya: ”Herman sudah memilih untuk hidup di gerakan”, sebab Indonesia, tanah airnya, membutuhkan itu. Tapi haruskah kekejian itu?

Saya memandang potret-potret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.

Goenawan Mohamad
Senin, 06 April 2009

Cited from: http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2009/04/06/mbm.20090406.CTP129987.id.html

Monday, May 18, 2009

Rendra: Sajak Sebatang Lisong

SAJAK SEBATANG LISONG

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
..........................

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
.................................

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

DOWNLOAD puisi ini KLIKdi sini

Sunday, May 17, 2009

Estaba la Madre: Caping Goenawan Mohamad

Estaba la Madre


”Ibu itu di sana, berdiri, berkabung…”

Kesedihan terbesar mungkin bukan kesedih­an manusia karena Tuhan mati, tapi kesedihan seorang ibu yang anaknya menemui ajal dalam penyaliban.

Pada zaman ini kesedihan besar itu tetap tak terban­dingkan. Tapi pada saat yang sama juga menyebar. Kini tak hanya satu ibu yang sedih, dan tak hanya satu anak yang disalibkan.

Kita ingat Argentina, 1976-1983. Negeri ini hidup di bawah titah pemerintahan militer yang menculik dan melenyapkan ribuan orang, termasuk anak-anak muda. Diperkirakan 30 ribu orang hilang.

Renee Epelbaum, misalnya, seorang ibu, menemukan bahwa anak sulungnya, Luis, mahasiswa fakultas kedokteran, diculik. Tanpa sebab yang jelas. Itu 10 Agustus 1976. Takut nasib yang sama akan jatuh ke kedua anaknya yang lain, Lila dan Claudio, Renee pun mengirim mereka ke Uruguay. Tapi di sana mereka justru dikuntit sebuah mobil dengan nomor polisi Argentina—dan akhirnya, 4 November 1976, Lila dan Claudio juga lenyap.

Bertahun-tahun kemudian, seorang perwira angkat­an laut menceritakan apa yang dilakukannya terhadap anak-anak muda yang diculik itu. Pada suatu saat mere­ka akan dibius dan ditelanjangi. Para serdadu akan mengangkut mereka ke sebuah pesawat. Dari ketinggian 4.000 meter, tubuh mereka akan dilontarkan hidup-hidup ke laut Atlantik, satu demi satu….

Komponis Argentina, Luis Bacalov, pernah hendak mengingatkan orang lagi akan zaman yang buas itu. Ia menciptakan sebuah opera satu babak, Estaba la Madre. Saya tengok di YouTube: di adegan pertama, ketika perkusi dan piano mengisi kesunyian dan pentas gelap, tampak laut. Makam yang tak bertanda itu muncul seje­nak di layar. Kemudian: wajah, puluhan wajah. Di antara itu, sebuah paduan suara yang semakin menggemuruh.

Tapi bukan sang korban yang jadi fokus opera ini, melainkan sejumlah perempuan yang tak lazim. ”Inilah orang-orang gila itu,” begitu kita dengar di pembukaan.


Para ”orang gila”, umumnya separuh baya, berbaris di jalan, dengan kain menutupi rambut, dan duka menutup mulut. Tapi sebenarnya mereka tak diam. Estaba la Madre mengutip kisahnya dari sejarah: perempuan-perempuan itu ibu yang berdiri, yang berkabung, bertanya, menuntut, karena anak-anak mereka telah dihilangkan. Me­reka ”gila” karena di negeri yang ketakutan itu, mereka berani menggugat. Tiap Kamis mereka akan muncul di Plaza de Mayo, di seberang istana Presiden. Tiap Kamis, selama 20 tahun.

”Saya tak bisa melupakan,” kata Renee Epelbaum. ”Saya tak bisa memaafkan.” Ia pun jadi salah satu pemula himpunan ibu orang-orang yang hilang itu, yang kemudian dikenal sebagai ”Para Ibu di Plaza de Mayo”—sebuah bentuk perlawanan yang tak disangka-sangka. Mula-mula, akhir April 1977, hanya 14 perempuan yang berani melawan larangan berkumpul. Berangsur-angsur, jumlah itu jadi 400.

Tak mengherankan bila kemudian para ibu pun jadi sebuah lambang yang lebih luas cakupannya ketimbang Plaza de Mayo. Ia menandai yang universal. Opera Estaba la Madre, misalnya, mengambil asal-usul pada Stabat Mater dalam C minor yang digubah Pergolesi, menjelang komponis ini meninggal dalam umur 26 tahun pada abad ke-18. Kata-katanya berasal dari lagu puja seorang rahib Fransiskan pada abad ke-13 tentang penderitaan di Golgotha: ”Stabat Mater dolorosa iuxta crucem lacrimosa dum pendebat Filius…”—”Ibu itu di sana, berdiri, berkabung, di sisi salib tempat sang anak tergantung.”

Dan ketika dua orang dari para ibu Argentina itu pekan lalu datang ke Indonesia, mereka pun menghubungkan kisah mereka dengan apa yang terjadi di sini, di antara keluarga Indonesia yang ”hilang”.

Tentu ada beda antara Sang Ibu dalam Stabat Mater dan para ibu di Plaza de Mayo: tak ada tubuh sang anak yang mati di Argentina. Dalam pentas Estaba la Madre, kita akan menemukan Sara, ibu Si Samuel. Ia dan suaminya menanti anaknya. ”Kamis, mereka menunggunya untuk makan malam di rumah,” demikianlah paduan ­suara meningkah. Tapi Samuel tak kembali.

”Ini pukul sembilan.

Ini pukul 10.

Tengah malam

Fajar datang,

dan ia tak pernah pulang.”

Sampai hari ini orang masih bertanya, kenapa itu mesti terjadi. Mungkinkah sebuah kekuasaan yang dijaga ribuan tentara bisa begitu ketakutan?

Saya tak tahu jawabnya—meskipun saya menyaksikannya juga di Indonesia, di tahun di pertengahan 1990-an, ketika ”Tim Mawar” dibentuk untuk menculik dan menyiksa, mungkin sekali membunuh, sejumlah anak muda yang sebenarnya tak cukup kuat untuk menjatuhkan rezim Soeharto. Barangkali paranoia adalah bagian utama dari kekuasaan yang bertolak dari kebrutalan dan pembasmian—kekuasaan yang selamanya merasa tak yakin akan legitimasinya sendiri.

Mungkin sekali para petinggi tentara itu tak bisa lagi membedakan khayalan dengan keinginan. Dalam Estaba la Madre ada adegan yang tak mudah dilupakan, baik di Argentina maupun di Indonesia: tiga jenderal muncul di pentas atas, suara mereka mengancam si lemah dan meng­ajukan dalih kebersamaan—hingga terdengar menggelikan:

Hidup kemerdekaan!

Kemerdekaan bicara dan membuat orang bicara.

Hidup kemerdekaan mengaku dan membuat orang

mengaku.

Hidup kemerdekaan menjerit dan membuat mereka

menjerit.

Yang tak mereka sangka: yang menjerit tak akan bisu. Kekuasaan militer Argentina akhirnya runtuh. Dan di tembok jalan layang, di dinding kios koran, di pel­bagai sudut di Buenos Aires, kata-kata ini tertulis, bukan hanya dari Renee, tapi dari mana-mana yang dianiaya: ”Kami tak memaafkan. Kami tak melupakan.”

Goenawan Mohamad
Senin, 20 April 2009
Cited from http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2009/04/20/mbm.20090420.CTP130110.id.html

Saturday, May 16, 2009

Lipstik SGA

Lipstik
(cerpen Seno Gumira Ajidarma)


Suatu malam aku jatuh cinta kepada seorang penyanyi bar. Aku tak tahu mengapa aku begitu mudah jatuh cinta. Masalahku sehari-hari adalah masalah pekerjaan. Setiap hari aku bergulat untuk mencari makan. Setiap hari aku berusaha untuk tetap hidup dan tidak mati kelaparan. Setidaknya aku selalu berusaha untuk tidak menjadi pengemis. Tidak hidup dari belas kasihan orang lain.

Selama ini, wanita bagiku hanya seperti segelas air putih. Sekedar menghilangkan haus, tanpa meninggalkan kesan khusus. Itulah sebabnya, peristiwa jatuh cinta itu menjadi kejutan dalm hidupku.

Aku hanyalah seorang perantau kecil yang selalu kesepian. Satu diantara beribu-ribu perantau yang setiap hari berduyun-duyun ke Ibukota mencari pekerjaan. Aku tak tahu, menagapa banyak orang merasa harus mencari pekerjaan di Ibukota. Apakah dikota lain atau dikotanya sendiri, tidak ada lapangan pekerjaan? Bahkan, di Ibukota pun aku melihat banyak orang menganggur.

Aku hanyalah seorang perantau kecil yang terpukau oleh gemerlapnya ibukota. Sebetulnya aku bisa mengurus toko kecil milik ayahku, atau membuka rumah makan seperti saudara-saudaraku. Tapi pada suatu senja, aku pergi meninggalkan kotaku. Aku tak bisa membayangkan tubuhku tak kunjung pergi dari sana, sejak lahir sampai mati. Seorang lelaki suatu saat harus pergi dari rumahnya, mengembara.

Maka, aku pun mencari makan seadanya. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah famili yang ada di ibukota. Sekedar supaya bisa makan. Aku sering merasa, mereka tahu aku datang hanya untuk mendapatkan makan pada hari itu. Sebetulnya aku malu, tapi apa boleh buat. Untunglah tak terlalu lama aku menganggur. Aku sempat menjadi supir mikrolet. Pernah menjadi portir, tukang sobek karcis bioskop. Bahkan, menjadi penjaga keamanan sebuah gedung.

Semua pekerjaan itu kusukai karena berlangsung malam hari. Aku selalu merasa tersiksa kalau harus bangun pagi. Itulah sebabnya, aku memilih pekerjaan malam hari. Kupikir diriku cukup beruntung karena masih bisa memilih. Aku tidak terpaksa menjadi polisi lalu lintas misalnya, yang sibuk meniup peluit dibawah terik matahari. Apalagi, akhirnya aku mendapat pekerjaan yang paling cocok dengan bakatku. Aku kini menjadi bartender, tukang campur minuman keras di bar.

Begitulah riwayat hidupku secara singkat. Sampai suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Sebetulnya aku sudah beberapa kali jatuh cinta sebelum ini. Memang aku tak tahu persis, apa bedanya jatuh cinta dengan perasaan ingin menggumuli seorang wanita karena kesepian. Tapi, baiklah, untuk sementara disebut saja begitu. Ketika masih menjadi supir mikrolet, aku merasa jatuh cinta pada seorang janda pemilik warung. Tapi, aku tak pernah berterus terang. Aku tahu, hampir semua supir mikrolet yang biasa makan di warung itu pernah menyatakan cinta padanya. Dan wanita itu selalu menjawab, ia menyukai lelaki itu juga. Ini kudengar dari setiap sopir yang bercerita padaku. Cintaku tak luntur karena itu. Malah aku makin mengaguminya. Betapa seorang wanita menjual cinta untuk hidupnya. Alangkah besarnya hidup.

Ketika bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop, aku berpacaran dengan seorang rekan. Tugasnya mengantar penonton ke bangku-bangku, sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis mereka. Ia selalu membawa senter kemana-mana. Kalau film sudah main dan ada penonton terlambat, sorot lampu senternya berkelebatan dalam gelap, menuntun penonton yang tertatih-tatih dan meraba-raba dalam gelap. Kami sering berpeluk-pelukan dalam gelap diantara bangku-bangku yang kosong. Tapi, rasanya aku tidak serius dengan dia. Aku memacari dia hanya untuk memuaskan kebutuhan tubuhku saja. Kupikir, ia pun bersikap seperti itu. Antara kami telah terjadi barter yang adil. Tak ada cinta. Toh aku masih selalu terkenang kehangatanya. Bagaimana roknya bisa tersibak-sibak menggairahkan ketika film sedang seru-serunya dan tak seorang penonton pun memperhatikan bangku-bangku yang kosong dimana kami saling berpeluk dan meraba dalam kegelapan.

Begitulah. Suatu malam aku jatuh cinta pada seorang penyanyi bar. Kejadiannya begitu singkat. Pintu terbuka. Ia muncul. Aku melihatnya. Dan langsung jatuh cinta.

Ia penyanyi baru di bar apocalypse ini. Ia datang dari monte carlo, bar sebelah. Pada malam itu ia harus membawakan sebuah lagu, khusus didengarkan Bos untuk menentukan ia bisa diterima atau tidak. Waktu memegang mikrofon, aku sudah yakin ia akan diterima. Ia sangat mengesankan. Bukan hanya suaranya yang bagus. Atau caranya membawakan lagu yang menarik. Aku merasa ada semacam pesona padanya yang mebuat orang mudah jatuh cinta. Dan aku pun segera tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta padanya malam itu. Aku masih ingat kalimat pertama nyanyianya, sampai bertahun-tahun kemudian.

The falling leaves
drift by the window[1]

Aku tergetar dan terpesona. Sampai berminggu-minggu kemudian aku mencoba mengusir perasaan itu. Tapi, aku cepat menyerah. Aku tak bisa berhenti mengaguminya, meskipun aku tak pernah berbicara kepadanya. Maklumlah, aku hanya seorang bartender, tukang campur minuman. Penyanyi bar kadang-kadang kelewat angkuh dan tinggi hati, meskipun kami sama-sama kecoak. Penyanyi bar biasa merasa lebih tinggi derajatnya dari waitress, yang mondar-mandir membawakan minuman. Juga merasa lebih tinggi dari bar-girl, yang kerjannya menemani tamu-tamu minum. Tentu ia akn merasa jauh lebih tinggi pula dari massage-girl, para pemijat yang menjual pula tubuhnya di lantai atas.

Aku mencintainya dengan diam-diam, meskipun penyanyi itu hanya menegurku jika minta minuman. Kadang-kadang bahkan ia tidak menegur. Hanya menyebut nama minuman. Dan aku merasa harus tahu diri untuk tidak tersinggung. Apalagi aku sangat mengaguminya.

Aku sering memperhatikannya diam-diam, bila ia duduk di kursi bar yang tinggi itu, dan mendekatkan gelas ke mulutnya yang indah. Bibirnya yang disaput lipstik merah menyala berpadu dengan kecemerlangan gelas yang berkilat karena gebyar cahaya dari panggung. Aku selalu melihat adegan itu seperti menyaksikan pemandangan yang indah. Penyanyi itu akan minum perlahan-lahan, seolah jatuh dari kebisingan band yang mengentak ruangan. Ia senang memperhatikan embun pada dinding gelas. Tampaknya ia menemukan keindahan pada bintik-bintik embun digelas yang mengandung cahaya itu. Seperti aku menemukan keindahan setiap kali menatapnya. Namun, puncak keindahan itu ketika ia meletakkan gelas, menatapnya, dan tersenyum melihat lipstik pada bibir gelas.

-------
[1] Lagu The Autumn Leaves menjadi sangat terkenal setelah dibawakan Nat King Cole. Gubahan Joseph Kosma itu liriknya tertulis dalam dua versi, yang bahasa inggris oleh Johnny Mercer, dan yang bahasa perancis oleh Jacques Prevert. Catatan produksi: Enoch Et Cie / Horley Music Co. USA/ASCAP

Syair lengkap:
The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long
And soon Ill hear old winters song
But I miss you most of all my darling
When autumn leaves start to fall

Friday, May 15, 2009

Tiga Nenek Sihir: Caping Goenawan Mohamad

Tiga Nenek Sihir


Tiga nenek sihir muncul di tepi jalan, ketika Jendral Macbeth dan Jendral Banquo melewati hutan yang gelap berkabut itu. Cuaca didera hujan dan guntur. Mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah pertempuran yang berhasil. Setengah ketakutan setengah ingin tahu, mereka terpacak di depan ketiga makhluk aneh itu - tiga sosok yang mengelu-elukan Macbeth dengan gelar kebangsawanan yang tinggi, seperti bagian dari sebuah ramalan yang dahsyat: bahwa Macbeth kelak bahkan akan disebut sebagai sebagai raja.

Pada detik itu, bagi perwira tinggi Skotlandia itu, masa depan tiba-tiba tampak berubah. Raja? Tahta? Benarkah puncak itu akan tercapai, jika mengingat, bahwa Duncan, raja yang diabdinya dan dibelanya dalam perang yang baru saja usai, masih kukuh berkuasa? Sahkah keinginan mencapai posisi itu, berada di kedudukan milik baginda?

Bagi saya, penting buat dicacat bahwa Macbeth, lakon Shakespare yang termashur ini dimulai dengan adegan tiga nenek sihir itu. Tiga perempuan yang ganjil, yang hidup disisihkan dari tata sosial dan percaturan kekuasaan, ternyata tak bisa diabaikan.

Justru mereka itulah yang pada akhirnya mengharu-biru tertib yang ada - dan tanpa melalui kekerasan. Di Skotlandia waktu itu tertib yang ada tak akan memungkinkan Macbeth bisa jadi raja. Adat yang berlaku tak membuka peluang bagi Macbeth untuk mengambil-alih tampuk. Tapi malam itu, di hutan berkabut itu, di bawah cuaca buruk itu, tertib, adat dan lambangnya guncang.

Tapi bukan salah para nenek sihir itu jika tertib itu akhirnya jadi keadaan yang dibangun dengan pembunuhan. Sebab Macbeth, begitu ia merasa nasib akan menjadikannya seorang raja, ia pun segera menyisihkan sang takdir. Ia tak sekedar pasif menunggu sampai keberuntungan itu datang.


Ia bertindak menyingkirkan Duncan. Bukan karena petunjuk ketiga perempuan misterius di hutan itu bila ia membunuh sang Raja. Itu sepenuhnya inisiatifnya. Itu dorongan kehendaknya yang kian kuat. Ia bahkan tak perlu lagi dihasut isterinya untuk merebut kekuasaan. Ketika nujum mengatakan bahwa kelak yang akan menggantikannya sebagai penguasa adalah anak-cucu Jendral Banquo, Macbeth pun diam-diam (bahkan tanpa memberi tahu isterinya) menyuruh agar sahabatnya dalam perang itu dibunuh. Banquo mati. Dengan itu Macbeth berharap nujum, atau "takdir", bisa dikalahkannya.

Tapi dengan itu semua terungkap bahwa manusia dan perbuatannya-lah yang akhirnya menentukan. Takdir tak ada artinya. Tertib yang semula ditaati oleh seluruh Skotlandia terbukti bukan tertib yang datang secara alamiah, bukan tatanan yang ditentukan oleh langit. Kedudukan raja bukanlah sesuatu yang secara a priori ditetapkan. Ia seperti kursi kosong yang bisa diisi siapa saja yang bisa merebutnya. Tertib dan adat itu pada akhirnya dibentuk oleh ambisi, akal, dan antagonisme manusia.

Apalagi yang diucapkan nenek sihir itu bukan nubuat: mereka tak pernah dihormati sebagai para nabi. Wibawa mereka praktis tak ada. Ucapan mereka tak berdiri di atas (dan terlepas dari) tafsir subyektif Macbeth sendiri. Dalam adegan ke-3 Babak I sang jenderal secara tak langsung menunjukkan hal itu. Ia menyebut ketiga makhluk itu "imperfect speakers" yang cuma sebentar bicara dan kemudian menghilang ke udara malam yang basah.

Itu sebabnya Macbeth bukan hanya sebuah cerita tentang ambisi. Drama ini juga bercerita tentang kekuasaan yang tak tahu di mana mesti berhenti - dalam arti berhenti menaklukkan yang lain. Kekuasaan itu jadi lingkaran setan karena ia dimulai dengan kekerasan.

Sebelum akhirnya kekerasan itu membinasakan manusia, pada mulanya ia berupa kekerasan terhadap misteri. Macbeth mencampakkan nujum tiga nenek sihir yang sebenarnya diutarakan dalam bentuk puisi yang remang-remang dan belum selesai; ia menggantikannya dengan tafsir dan rencana yang tegar; ia mengertikan kata-kata para nenek sihir dengan harfiah. Ketika ketiga perempuan setengah gaib itu meramal bahwa Macbeth hanya bisa dikalahkan oleh seseorang yang "tak dilahirkan oleh perempuan," jenderal itu yakin tak akan ada manusia akan bisa merubuhkannya. Padahal ternyata ada kemungkinan arti lain dari kalimat itu: Macduff, orang yang akhirnya berhasil membunuh Macbeth, dulu tak dilahirkan dengan cara normal. Ia bayi yang direnggutkan keluar setelah perut ibunya dibedah.

Betapa malangnya Macbeth: ia ambisi yang lempang seperti tombak yang keras dan menakutkan. Ia tak tahu bahwa selalu ada lapis yang tak akan tertembus olehnya. Ketiga nenek sihir itu misalnya, yang tak pernah bisa diperintahkannya dan tak pernah bisa penuh dimaknainya. Juga hutan yang gelap itu. Juga guruh dan cuaca buruk itu.

Juga rasa bersalah yang tak bisa dilenyapkan. Isterinya merasa tangannya selalu berlumur darah; tak ada minyak yang bisa membersihkannya. Macbeth sendiri melihat hantu Banquo yang dibunuhnya datang malam-malam. Kian mengusik rasa bersalah itu, kian paranoid pula ia jadinya, dan makin buas.

Lakon Macbeth akhirnya menunjukkan: betapa destruktifnya ambisi kekuasaan politik ketika ia berkali-kali ingin menembus apa yang tak tertembus, menaklukkan apa yang tak akan tertaklukkan, menghapuskan apa yang tak bisa terhapuskan, ketika ia menyangka dunia bisa dikuasai seperti dalam markas militer.

Maka biarlah di sini saya memperingatkan: Tuan bisa menculik, menyiksa, menggertak - atau, sebaliknya membeli manusia dengan uang - tapi di balik kehidupan selalu tersembunyi nenek-nenek sihir. Kalau Tuan tak tahu kapan harus berhenti, Tuan akan bertaut dengan mala - yang buruk, yang busuk, yang keji, yang akhirnya akan mengenai Tuan sendiri.

Goenawan Mohamad
Senin, 27 April 2009

Cited from: http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2009/04/27/mbm.20090427.CTP130180.id.html


Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook