Saturday, July 25, 2009

Rendra: Gadis dan Majikan

SAJAK GADIS DAN MAJIKAN


Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu.
Aku bukan ahli ilmu menduga,
tetapi jelas sudah kutahu
pelukan ini apa artinya…..
Siallah pendidikan yang aku terima.
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
kerapian, dan tatacara,
Tetapi lupa diajarkan :
bila dipeluk majikan dari belakang,
lalu sikapku bagaimana !

Janganlah tuan seenaknya memelukku.
Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
Ketika tuan siku teteku,
sudah kutahu apa artinya……

Mereka ajarkan aku membenci dosa
tetapi lupa mereka ajarkan
bagaimana mencari kerja.
Mereka ajarkan aku gaya hidup
yang peralatannya tidak berasal dari lingkungan.
Diajarkan aku membutuhkan
peralatan yang dihasilkan majikan,
dan dikuasai para majikan.
Alat-alat rias, mesin pendingin,
vitamin sintetis, tonikum,
segala macam soda, dan ijazah sekolah.
Pendidikan membuatku terikat
pada pasar mereka, pada modal mereka.


Dan kini, setelah aku dewasa.
Kemana lagi aku ‘kan lari,
bila tidak ke dunia majikan ?

Jangnlah tuan seenaknya memelukku.
Aku bukan cendekiawan
tetapi aku cukup tahu
semua kerja di mejaku
akan ke sana arahnya.
Jangan tuan, jangan !
Jangan seenaknya memelukku.
Ah, Wah .
Uang yang tuan selipkan ke behaku
adalah ijazah pendidikanku
Ah, Ya.
Begitulah.
Dengan yakin tuan memelukku.
Perut tuan yang buncit
menekan perutku.
Mulut tuan yang buruk
mencium mulutku.
Sebagai suatu kewajaran
semuanya tuan lakukan.
Seluruh anggota masyarakat membantu tuan.
Mereka pegang kedua kakiku.
Mereka tarik pahaku mengangkang.
Sementara tuan naik ke atas tubuhku.

Thursday, July 23, 2009

Rendra: Sajak Gugur

GUGUR


Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya


Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya


Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya


Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
" Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa



Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!"

Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

Tuesday, July 21, 2009

Cerpen Jujur Pranoto: Musibah

Musibah
Cerpen: Jujur Prananto

Menjelang tengah malam. Ponsel dekat "bedlamp" bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Di perbatasan antara terjaga dan bermimpi, Budiman berdecak kesal sekaligus meraih ponselnya. Telepon dari Mbak Lita? Di malam selarut ini?
"Halo...." "Budiman? Cepat setel televisi! Laporan khusus!"
Lalu, terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon seberang ditutup.
Budiman malas-malasan meraih remote control dan menghidupkan televisi. Pas di channel yang menayangkan sisa laporan khusus. Tampak seorang pria berumur sekitar enam puluh tahun dalam posisi membelakangi kamera digiring dan dikawal belasan petugas kejaksaan dan kepolisian memasuki sebuah mobil tahanan yang parkir di depan pintu pagar yang terbuka lebar. Puluhan wartawan berbagai media merangsek berusaha mendekati pria tua ini, melontarkan berbagai pertanyaan yang tak begitu jelas terdengar.
"Siapa yang menelepon?"
Budiman tak menjawab pertanyaan istrinya yang ikut terjaga sebab seluruh konsentrasinya sedang terpusat untuk mengingat- ingat, siapa gerangan sosok pria tua yang serasa begitu dikenalnya itu. Sayang, kamera terus mengikutinya dari belakang hingga wajahnya tak kunjung tampak. Barulah ketika pria tua ini memasuki mobil tahanan, kamera bergerak sedemikian rupa hingga berhasil mengambil closeup-nya.
"Pakde Muhargo...!"
Budiman cepat-cepat mengambil ponselnya lagi. Menelepon balik ke ponsel Mbak Lita. Tidak aktif. Dicobanya langsung ke rumahnya di Batam. Tak ada yang mengangkat.
"Coba saja tanya Mbak Rina."

"Sudah sebulan ini dia tinggal di Amerika. Aku nggak tahu nomor teleponnya."
"Kenapa nggak langsung nelpon ke rumah pakde aja?"
Budiman terdiam. Saat ini suasana rumah pakde pastilah sangat tidak kondusif untuk menerima telepon dari luar. Dan sebelum ia memutuskan untuk menelepon atau tidak, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi, berturut-turut atas masuknya belasan pesan pendek. Dari saudara-saudara dan teman-teman dekat, yang semuanya bicara tentang penahanan atas diri Pakde Muhargo. Ada yang sekadar mengabarkan yang baru saja tertayang di televisi, ada yang mengajak semua berdoa untuk keselamatan beliau, ada yang mengutuk tindakan kejaksaan yang "biadab", dan sebagian terbesar mengimbau agar para sanak saudara berkepala dingin dan tetap tenang karena "sekarang ini penahanan memang lagi ngetren dan lebih besar muatan politisnya daripada benar-benar untuk menjunjung supremasi hukum". Namun, Budiman paling tertarik dengan pesan pendek dari sebuah nomor yang tak dikenalnya, yang menyebutkan bahwa Bude Muhargo dirawat di paviliun VVIP sebuah rumah sakit internasional di Cikarang.
"Eh, Budiman.... Sini, sini."
Budiman menghampiri budenya yang segera bangkit dari tempat tidur.
"Tidak usah duduk, bude. Tiduran saja."
"Kamu pikir aku sakit?" tanya budenya sambil tersenyum. "Aku menginap di sini atas saran Nak Ustadz Ramadan ini. Supaya terbebas dari kejaran wartawan."
Seorang lelaki muda bersurban putih berwajah bersih yang berdiri tak jauh dari tempat tidur bude tersenyum hormat pada Budiman dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman. "Ramadan."
"Budiman."
"Pengasuh pondok pesantren Janturan, yang didirikan pakdemu setahun lalu di Yogya," kata bude menjelaskan. "Pakde melihat tata susila di kota pelajar itu makin lama makin memprihatinkan, dan terdorong untuk menyumbang karya nyata yang diharapkan minimal bisa menghambat laju kemerosotan moral di kalangan generasi muda. Eh, kok kebetulan ketemu dengan Nak Ramadan yang punya perhatian sama terhadap pembinaan anak-anak di sana. Ya, jadilah pesantren itu."
"Oh...." Budiman mengangguk- angguk, sementara dalam hati ia merasa telah keliru menilai situasi. Semula ia membayangkan bude berbaring dengan jarum infus, pipa oksigen berikut segala macam kabel peralatan kedokteran menempel di bagian tubuhnya. Semula ia mengira akan melihat bude dengan tatapan mata menerawang ke arah langit-langit ruangan, dengan air mata yang diam-diam membasahi pipi, dan bicara dengan suara terbata- bata. Nyatanya, beliau bicara sangat lancar. Kualitas suaranya tetap jernih. Ketenangannya tetap terjaga. Bahkan terlalu tenang untuk situasi yang mestinya sangat depresif ini.
Menjelang saat sarapan tiba, Ustadz Ramadan berpamitan dan secara amat hati-hati bicara. "Kalau sekiranya subsidi dari Bapak buat pesantren untuk sementara dikurangi atau bahkan dihentikan, Insya Allah kami siap berswadaya."
"Oh, tidak, tidak. Sejak mulai berurusan dengan kejaksaan, Bapak selalu berpesan bahwa subsidi buat pesantren sudah merupakan komitmen yang tidak bisa ditawar-tawar, dan dengan cara apa pun Bapak akan tetap menjalankan komitmennya. Jadi Nak Ramadan tidak perlu risau oleh kondisi yang sedang dihadapi Bapak saat ini."
Sepeninggal Ustadz Ramadan, barulah bude menghela napas panjang.
"Zaman sekarang lebih dari zaman edan, Bud. Semua orang lagi pada mabuk kepingin jadi pahlawan. Tapi karena sudah terlalu lama jadi orang miskin, yang paling gampang dijadikan musuh ya orang-orang yang punya rezeki lebih, seperti pakdemu."
"Boleh tahu, bude, apa yang dituduhkan kejaksaan pada pakde?"
"Cerita lama, Bud. Penyalahgunaan yayasan Mangayu Bagyo, pembangunan hotel di Bogor dan Kintamani, yang katanya izin bangunannya tidak sesuai peruntukan, mark-up dana pembelian kapal-kapal patroli buat angkatan laut, dan... apa lagi, gitu, aku malah tidak ingat semuanya. Terlalu banyak, Bud. Terlalu banyak orang yang ingin kebagian rezeki dengan cara-cara yang tak kenal malu hingga segala sesuatu yang sudah semestinya malah diutak- atik, diobok-obok, supaya seolah-olah ada masalah. Lalu, ahli-ahli hukum yang katanya pinter-pinter itu berebut menyumbang kepintarannya dengan cara menafsir-nafsir pasal-pasal hukum hingga yang selama ini dianggap benar bisa jadi salah, yang selama ini tidak melanggar hukum bisa dianggap melanggar hukum. Memalukan, Bud, memalukan sekali orang-orang seperti itu. Sampai hati menistakan diri sendiri demi uang yang tak seberapa nilainya."
Tidak seperti biasanya, selewat tengah malam Budiman terjaga untuk melakukan salat tahajud. Tak kurang dari sejam ia berdoa dan terus berdoa, memohon pada Tuhan agar Pakde Muhargo diberi kekuatan lahir dan batin menghadapi situasi yang absurd ini. Budiman sungguh tak rela kalau pakdenya yang sangat dihormatinya itu sampai benar-benar dimejahijaukan dan dipenjara.
Bagi Budiman, Pakde Muhargo memang segala-galanya. Lebih dari sekadar kakak almarhum ayahnya, beliau adalah seorang panutan, sesepuh sekaligus "juru selamat" bagi kehidupan pribadi dan rumah tangganya. Budiman tak akan pernah melupakan masa remajanya, yaitu setelah lulus SMP pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah pakdenya ini. Setiap pagi ia bangun jam setengah lima untuk mengepel lantai, mencuci mobil, dan menyapu taman sebelum ia mandi dan bergegas berangkat sekolah dengan mengejar bus kota untuk mencari celah di antara belasan orang yang bergelantungan di pintu belakang.
"Jer basuki mawa bea, Bud," begitu Pakde Muhargo saat itu selalu berucap pada Budiman. Bahwa untuk mencapai kebahagiaan pastilah diperlukan pengorbanan.
Budiman sangat mempercayai ucapan itu karena Pakde Muhargo telah membuktikannya sendiri. Bagaimana beliau dengan gagah berani menjalani masa- masa penuh kemiskinan sebagai prajurit di berbagai pertempuran dan tugas-tugas ketentaraan lainnya, terus merangkak naik menjadi perwira tinggi, menjabat sebagai komandan di berbagai kesatuan, sampai dipercaya memegang jabatan-jabatan penting di pemerintahan berikut jabatan komisaris di berbagai perusahaan.
"Nasib orang memang sulit diduga, Bud. Kadang bisa di puncak, kadang bisa di bawah. Untuk itu kita harus selalu ingat pada falsafah pohon. Puncak pohon bisa berkibar anggun karena dukungan batang dan kekuatan akar. Jadi selagi kita di puncak, kita tidak boleh melupakan yang di bawah. Tidak boleh melupakan akar yang diam-diam mendukung kita tanpa pernah mau menonjolkan diri."
Dan falsafah tersebut secara konsisten diterapkan Pakde Muhargo dalam kehidupan sehari- hari. Setiap memperoleh pendapatan lebih dari gaji yang diperolehnya tiap bulan, entah itu dari proyek-proyek yang dipercayakan padanya atau dari sumber mana pun, beliau senantiasa membagi rata ke setiap bawahan. Dari tingkat staf sampai karyawan paling rendah. Tak terkecuali. Itulah maka semua bawahannya, atau bahkan yang sudah jadi mantan bawahan, senantiasa loyal dan sangat menghormati pakde. Mereka senantiasa mengenang beliau sebagai atasan yang "sangat penuh pengertian" dan mengenang periode menjadi bawahan beliau sebagai "masa penuh kesejahteraan".
Namun, orang yang sangat dihormati itu kini terkurung di sebuah ruang tahanan yang menghinakan dirinya, yang menistakan martabatnya, yang menafikan segala kebajikan yang pernah diperbuatnya. Maka, Budiman pun merasa harus segera bertindak untuk menghentikan penzaliman terhadap pakdenya ini.
Seminggu kemudian....
"Insya Allah semuanya akan terkendali, bude. Saya sudah menghubungi Mas Prawoto. Dia yang akan mengatur susunan hakim di pengadilan tingkat pertama."
"Tetap harus ke pengadilan juga?"
"Demi menghormati prosedur hukum saja, bude. Nggak enak juga kalau sudah terlanjur kelihatan digelandang masuk tahanan, tahu-tahu keluar begitu saja. Kasihan Oom Karsono."
"Ah! Karsono itu cari muka. Demi ambisinya untuk bisa naik jadi jaksa agung dia tega mengkhianati pakdemu."
"Sebenarnya tidak seburuk itu, bude. Sebelum malam penjemputan itu, pakde ternyata sudah berkomunikasi dengan Oom Karsono dan bisa memahami posisi Oom Kar yang sangat sulit dalam menghadapi tekanan publik untuk menyeret pakde ke meja hijau. Jadi, ini soal tarik ulur saja. Cuma... itulah, dari dulu pakde tidak punya channel di kalangan media, jadi pemberitaan atas kasus-kasus pakde sama sekali tidak terkontrol."
"Kebebasan...," Bude bergumam lirih sambil menghela napas panjang. "Semuanya jadi kebablasan."
"Memang, bude. Sehubungan dengan itu pula saya ingin menyarankan bude agar segera pindah dari rumah sakit ini."
"Lho kenapa...??"
"Sudah ada wartawan yang tahu bude menginap di rumah sakit ini."
"Oalah, Gusti.... Terus aku harus pindah ke mana?"
"Terserah bude memilih mana. Rumah di Pondok Indah saya rasa cukup aman."
"Jangan! Nanti bisa bikin pekewuh Mas Abdul. Masa istri tahanan bertetangga sama Kapolda. Kalau sampai ketahuan, beritanya bisa dipelintir jadi macam- macam."
"Atau di Kota Wisata?"
"Memang kita ada rumah di sana?"
"Ada, bude. Yang tahun lalu dikasih sama si Tantra. Ideal sebagai tempat nyepi. Tapi kalau bude menghendaki yang di masih di Jakarta, paling sepi ya rumah Kemang."
"Lho, bukannya sudah dijual?"
"Nggak jadi, bude. Sama broker dikasih harga sembilan milyar, jadinya malah nggak laku. Cuma kondisinya memang sekarang kurang terawat. Kalau bude mau pindah ke situ harus dibersihkan dulu."
"Padahal harus segera."
"Benar, bude. Yang paling siap huni dan paling aman sebetulnya di apartemen. Terserah bude, mau memilih yang di Paku Buwono atau yang di Menteng. Sampai sekarang dua-duanya belum pernah ada yang menempati."
"Nggak ah. Kalau gempa bumi bisa mati berdiri."
Sebuah Mercy seri 600 meluncur lembut dan berhenti di pelataran parkir VIP bandara. Budiman membantu Bude Muhargo keluar mobil, membawanya ke arah pintu khusus, untuk menunggu penerbangan ke New York. Bude akhirnya memutuskan untuk sekalian menemani Rina, putrinya, yang sedang mengambil S-3 di sana. Di ruang tunggu bude menyerahkan sebuah tas kecil ke Budiman.
"Ini kunci-kunci safe deposit box, Bud. Semua aku titipkan ke kamu. Kalau kamu perlu cash US dollar ambil saja dari yang di Citibank. Kalau tidak salah masih ada sisa sekitar satu atau satu setengah juta di situ. Buat bayar uang muka pengacara-pengacara aku rasa lebih dari cukup. Kalau mau rupiah, tadi siang aku sudah transfer lima M ke rekening kamu. Prawoto sama Karsono pasti perlu buat ngasih teman- temannya."
"Eyaaang!"
Budiman menoleh mendengar suara Tito, anaknya, yang menyusul datang dengan mobil lain sepulang dari les matematika. Bude Muhargo langsung tersenyum lebar dan menyambut si kecil dengan pelukan hangat.
"Eyang! Aku tadi lihat eyang kakung di televisi."
Budiman seketika berpandangan dengan istrinya.
"Eyang kakung itu ternyata koruptor, ya?"
"Tito!!!"
"Bukan, sayang," buru-buru bude mendahului bicara. "Eyang kakung bukan koruptor. Koruptor itu orang jahat. Eyang bukan orang jahat. Eyang cuma dituduh melakukan kejahatan. Orang-orang yang menuduh itu justru yang jahat."
"Kalau memang nggak salah kenapa eyang mau ditahan?"
Bude Muhargo terdiam sesaat. Lalu berbisik dekat telinga Tito. "Kalau sudah besar nanti Tito akan tahu, tidak semua yang tidak kita inginkan itu bisa kita hindari. Seperti halnya musibah. Nah eyang kakung saat ini sedang ditimpa musibah." ***

Jakarta, 10 November 2006
Kompas Minggu, 14 Januari 2007

Monday, July 20, 2009

Rendra: Sajak Kelelawar

KELELAWAR

Silau oleh sinar lampu lalulintas
Aku menunduk memandang sepatuku.
Aku gentayangan bagai kelelawar.
Tidak gembira, tidak sedih.
Terapung dalam waktu.
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan.
Sungguh tidak menyangka
Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku.

Sekarang aku kembali berjalan.

Apakah aku akan menelefon teman?
Apakah aku akan makan udang gapit di restoran?
Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi.
Masalah sosial dipoles gincu menjadi metafizika.
Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja.
Hanya kamu yang enak diajak bicara.

Kakiku melangkah melewati sampah-sampah.

Akan menulis sajak-sajak lagi.
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.
Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku.
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.

Tuesday, July 14, 2009

Si Parkit, Cerita Rakyat Aceh

Si Parkit Raja Parakeet
(Cerita Rakyat di Aceh)


Alkisah, di tengah hutan belantara di daerah Aceh, hiduplah sekawanan burung parakeet yang hidup damai, tenteram, dan makmur. Setiap hari mereka bernyanyi riang dengan suara merdu bersahut-sahutan dan saling membantu mencari makanan. Kawanan burung tersebut dipimpin oleh seorang raja parakeet yang bernama si Parkit. Namun, di tengah suasana bahagia itu, kedamaian mereka terusik oleh kedatangan seorang Pemburu. Ternyata, ia berniat menangkap dan menjual burung parakeet tersebut.

Pelan-pelan tapi pasti, si Pemburu itu melangkah ke arah kawanan burung parakeet itu, lalu memasang perekat di sekitar sarang-sarangnya. “Ehm….Aku akan kaya raya dengan menjual kalian!”, gumam si Pemburu setelah selesai memasang banyak perekat. Si Pemburu itu pun tersenyum terus membayangkan uang yang akan diperolehnya. Gumaman si Pemburu tersebut didengar kawanan burung parakeet, sehingga mereka menjadi ketakutan. Mereka berkicau-kicau untuk mengingatkan antara satu sama lainnya.


“Hati-hati! Pemburu itu telah memasang perekat di sekitar sarang kita! Jangan sampai tertipu! Sebaiknya kita tidak terbang ke mana-mana dulu!” seru seekor burung parakeet.

“Ya, betul! Kita memang harus berhati-hati,” sahut burung parakeet yang lain.

Namun, karena harus mencari makan, burung-burung parakeet itu pun keluar dari sarangnya. Alhasil, apa yang ditakutkan burung-burung parakeet itu pun terjadi. Bencana tak terelakkan, burung-burung parakeet itu terekat pada perekat si Pemburu. Mereka meronta-ronta untuk melepaskan diri dari perekat tersebut, namun usaha mereka sia-sia. Kawanan burung parakeet tersebut menjadi panik dan bingung, kecuali si Parkit, raja parakeet.

Melihat rakyatnya kebingungan, Raja Parakeet berkata, “Tenang, Rakyatku! Ini adalah perekat yang dipasang si Pemburu. Berarti dia ingin menangkap kita hidup-hidup. Jadi, kalau kita mati, si Pemburu itu tidak akan mengambil kita. Besok, ketika si Pemburu itu datang, kita pura-pura mati saja!”

Mendegar penjelasan raja Parakeet itu, rakyatnya terdiam. Sejenak, suasana menjadi hening. Di tengah keheningan itu, “Berpura-pura mati? Untuk apa?”, tanya seekor parakeet, membuat burung parakeet lainnya menoleh ke arahnya.

Si Parkit tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Besok, setelah si Pemburu melepaskan kita dari perekat yang dipasangnya, dia akan memeriksa kita satu per satu. Bila dilihatnya kita telah mati, maka dia akan meninggalkan kita di sini. Tunggu sampai hitunganku yang ke seratus agar kita dapat terbang secara bersama-sama!”.

Semua rakyatnya ternganga mendengar penjelasan si Parkit. “Oh, begitu..!? Baiklah, besok kita akan berpura-pura mati agar dapat bebas dari Pemburu itu!”, sahut rakyatnya setuju. Kini, rakyatnya sudah mengerti apa yang direncanakan oleh si Parkit. Mereka berjanji akan menuruti perintah rajanya.

Keesokan harinya, si Pemburu pun datang. Dengan sangat hati-hati, si Pemburu melepaskan burung parakeet tersebut satu persatu dari perekatnya. Ia sangat kecewa, karena tak satu pun burung parakeet yang bergerak. Dikiranya burung parakeet tersebut telah mati semua, ia pun membiarkannya. Dengan rasa kesal, si Pemburu berjalan seenaknya, tiba-tiba ia jatuh terpeleset. Kawanan burung parakeet yang berpura-pura mati di sekitarnya pun kaget dan terbang dengan seketika tanpa menunggu hitungan dari si Parkit. Si Pemburu pun berdiri kaget, karena ia merasa telah ditipu oleh kawanan burung parakeet itu. Namun, tiba-tiba ia tersenyum, karena melihat ada seekor burung parakeet yang masih melekat pada perekatnya. Lalu ia menghampiri burung parakeet tersebut, yang tidak lain adalah si Parkit.

“Kamu akan kubunuh!”, bentak si Pemburu dengan marah. Si Parkit sangat ketakutan mendengar bentakan si Pemburu. Si Parkit yang cerdik itu, tidak mau kehilangan akal. Ia segera berpikir untuk menyelematkan diri, karena ia tidak mau dibunuh oleh si Pemburu itu.

“Ampuni hamba, Tuan! Jangan bunuh hamba! Lepaskan hamba, Tuan!” pinta si Parkit.

“Enak saja! Kamu dan teman-temanmu telah menipuku. Kalau tidak, pasti aku sudah banyak menangkap kalian!” kata si Pemburu dengan marah.

“Iya. Tapi itu kan bukan salahku. Ampuni hamba, Tuan! Hamba akan menghibur Tuan setiap hari!” kata si Parkit memohon.

“Menghiburku?” tanya si Pemburu.

“Betul, Tuan. Hamba akan bernyanyi setiap hari untuk Tuan!” seru si Parkit.

Si Pemburu diam sejenak memikirkan tawaran burung parakeet itu. “Memangnya suaramu bagus?” tanya si Pemburu itu mulai tertarik.

Si Parkit pun bernyanyi. Suara si Parkit yang merdu itu berhasil mumbujuk si Pemburu, sehingga ia tidak jadi dibunuh. “Baiklah, aku tidak akan membu­nuhmu, tapi kamu harus bernyanyi setiap hari!” kata si Pemburu. Karena takut dibunuh, si Parkit pun setuju.

Setelah itu, si Pemburu membawa si Parkit pulang. Sesampai di rumahnya, si Parkit tidak dikurung dalam sangkar, tapi salah satu kakinya diikat pada tiang yang cukup tinggi. Sejak saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi untuk menghibur si Pemburu itu. Si Pemburu pun sangat senang mendengarkan suara si Parkit. “Untung….aku tidak membunuh burung parakeet itu”, ucap si Pemburuh. Ia merasa beruntung, karena banyak orang yang memuji kemerduan suara si Parkit.

Sampai pada suatu hari, kemerduan suara si Parkit tersebut terdengar oleh Raja Aceh di istananya. Raja Aceh itu ingin agar burung parakeet itu menjadi miliknya. Sang Raja memanggil si Pemburu menghadap kepadanya. Si Pemburu pun datang ke istana dengan perasaan bimbang, karena ia sangat sayang pada si Parkit.

Sampai di hadapan Raja Aceh, ia tidak bersedia memberikan si Parkit yang bersuara merdu itu kepada Sang Raja.

“Ampun, Baginda! Hamba tidak bermaksud menentang keinginan Baginda!” kata si Pemburu memberi hormat.

“Lalu, kenapa kamu tidak mau memberikan burung itu?” tanya sang Raja.

“Ampun, Baginda! Mohon beribu ampun! Hamba sangat sayang pada burung tersebut. Selama ini hamba telah memeliharanya dengan baik”, jawab si Pemburu.

Mendengar jawaban itu, “Kalau begitu, bagaimana jika kuganti dengan uang yang sangat banyak.?”, sang Raja menawarkan.

Pemburu itu pun terdiam sejenak memikirkan tawaran itu. Tidak lama, “Ampun, Baginda! Jika Baginda benar-benar menyukai burung parakeet tersebut, silakan kirim pengawal untuk mengambilnya!” kata si Pemburu sambil memberi hormat.

Sang Raja sangat senang mendengar jawaban si Pemburu. Ia pun segera memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengambil burung parakeet tersebut dan menyerahkan uang yang dijanjikannya kepada si Pemburu.

Si Parkit pun dibawa ke istana dan dimasukkan ke dalam sangkar emas. Setiap hari si Parkit disediakan makanan yang enak. Meskipun semuanya serba enak, namun si Parkit tetap tidak senang, karena ia merasa terpenjara. Ia ingin kembali ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu, agar ia bisa terbang bebas bersama rakyatnya. Karena merasa sedih, si Parkit sudah beberapa hari tidak mau menyanyi untuk sang Raja.

Mengetahui burung parakeetnya tidak mau menyanyi lagi, sang Raja mulai bimbang memikirkan burung parakeetnya. Karena ingin tahu keadaan burung itu yang sebenarnya, maka sang Raja pun memanggil petugas istana, “Kenapa burung parakeetku tidak mau bernyanyi lagi beberapa hari ini? Dia sakit, ya?”.

Petugas Istana itu menjawab, “Maaf, Tuanku. Hamba juga tidak tahu apa sebabnya. Saya telah memberinya makan seperti biasanya, tetapi tetap saja ia tidak mau bernyanyi,”.

Mendengar jawaban dari Petugas Istana tersebut, Raja Aceh menjadi sedih melihat burung parakeetnya yang tidak mau bernyanyi lagi. “Ada apa, ya?” gumam sang Raja.

Beberapa hari kemudian, si Parkit bahkan tidak mau memakan apa pun yang disediakan di dalam sangkar emasnya. Ia terus teringat pada hutan belantara tempat tinggalnya dulu. Si Parkit pun mulai berpikir, “Bagaimana caranya ya....aku bisa keluar dari sangkar ini?”, gumam si Parkit.

Tak lama, ia pun menemukan akal, “Aahh....aku harus berpura-pura mati lagi!”, si Parkit tersenyum sambil membayangkan dirinya lepas dan terbang tinggi. Akhirnya, pada suatu hari, ia pun berpura-pura mati. Petugas Istana yang mengetahui si Parkit mati segera menghadap sang Raja.

“Ampun, Tuanku. Hamba sudah merawat dan memelihara sebaik mungkin, tapi burung parakeet ini tidak tertolong lagi. Mungkin karena sudah tua,” kata Petugas Istana melaporkan kematian si Parkit.

Sang Raja sangat sedih mendengar berita kematian burung parakeetnya, sebab tidak akan ada lagi yang menghiburnya. Meskipun sang Raja masih memiliki burung parakeet yang lain, tetapi suaranya tidak semerdu si Parkit. Karena si Parkit tidak bisa tertolong lagi,

“Siapkan upacara penguburan! Kuburkan burung parakeetku itu dengan baik!” perintah sang Raja.

“Siap, Tuanku! Hamba laksanakan!” sahut Petugas Istana.

Penguburan si Parkit akan dilaksanakan dengan upacara kebesaran kerajaan. Pada saat persiapan penguburan, si Parkit dikeluarkan dari sangkarnya karena dianggap sudah mati. Ketika ia melihat semua orang sibuk, dengan cepatnya ia terbang setinggi-tingginya. Di udara ia berteriak dengan riang gembira, “Aku bebaasss...!!! Aku bebaasss....!!!. Orang-orang hanya terheran-heran melihat si Parkit yang dikira sudah mati itu bisa terbang tinggi. Akhirnya si Parkit yang cerdik itu bebas terbang ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu yang ia cintai. Kedatangan si Parkit pun disambut dengan meriah oleh rakyatnya. Akhirnya, Si Parkit, Raja Parakeet, kembali tempat tinggalnya. ***

DOWNLOAD? silakan KLIK DI SINI

Sunday, July 12, 2009

Rendra: Sajak Rajawali

SAJAK RAJAWALI

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

Friday, July 10, 2009

Joni Ariadinata: Orang Kampung

Orang Kampung

Joni Ariadinata


WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap.

“Apakah kamu dengar juga, Juminah?” setengah mengigau, berteriak. Membangunkan istrinya, “Jangan tidur. Aku khawatir…”

“Kita bisa melihatnya besok,” pelan. Gerimit bibirnya mengguratkan garis letih. Menjawab. “Sudahlah,” ia menghibur. Tapi tak tenang. Wak Mangli hafal itu bukan isyarat baik, lalu:

“Hasnah! Bunga-bunga manggis itu pasti berjatuhan. Gagal. Ah, hujan sial. Lalu bagaimana dengan nasib Hasnah, Juminah?”

“Aku tak tahu.”

“Dengar: tahun ini tak akan ada buah. Apakah itu artinya? Besok kita akan tahu. Duh Gusti,” Wak Mangli berdoa. Telentang. Pedas matanya dan tak sanggup lagi berfikir, “Bahkan ingin rasanya mati. Kau dengar Juminah?” diam. Badai dari langit itu…

TOLOL. Memang pantas. Musim petai memanggul delapan belas bonggol petai: tersaruk-saruk dan mengetuk pintu terbunggkuk-bungkuk. Juminah, berbedak-gincu murah –dipakai sewaktu-waktu–; selendang kuning dan kebaya brukat, berjalan sepuluh kilo turun gunung. Tentu. Bau keringat dari ketiak, juga Wak Mangli –bersarung kampret dengan wajah basah; nyaris mencium dengkul Juragan Faruk ketika datang: “Kulo bawakan, Bapak Juragan Faruk! Duh, surat dari Bapak sudah kulo tahu. Kulo tak bisa baca, tapi Bapak Kadus berkata itu; bahwa, ehm, anu… Bapak Juragan Faruk katanya memintai petai. Petai asli. Betulkah? Ah, bingah amarwatasuta, gembira berkah kagiri-giri. Semoga Hasnah di sini betah. Anak saya itu, Bapak Juragan. Sare’atna-nya cuman begitu. Bodoh dan mohon petunjuk.”

Biasa mendelik tapi Juragan faham: terbahak. Mungkin lucu. Juga suka. Metingklak di atas kursi. Teriak memanggil babu, pekak. Ludah menyemprot gigi tongos, sungguh patut: “Hasnaaah!!”


Senang. Wak Mangli memandang tak bosan-bosan. Gadis, ya, sudah perawan. Sebesar itu. Anaknya, buah hati. Kesayangan. Diambil empat tahun lalu untuk jadi _batur_. Jadi babu. Bayangkan, melayani Faruk! Sungguh besar anugrah Gusti Allah. Tapi nyaris. Tiga tahun lalu, dasar Hasnah memang bodoh, anak itu kabur. Marah. Pertama kali seumur-umur Wak Mangli memukul: “Kamu yang tolol Hasnah! Ya Gusti…”

“Tapi Hasnah dijotos. Digerus. Endas Hasnah dibentur-bentur. Lihat, endas Hasnah masih metingul sebesar jengkol. Bengkak. Warnanya hijau. Oh…”

“Kamu. Kamu yang salah pasti. Dasar! Kamu itu, tak ngerti berkah. Dungu. Tak sembarang orang, tahu, bisa melayani Faruk! Pergi, ayo, kembali dan minta ampun,” mengumpat. Dulu. Katanya dicakar Bu Juragan juga. Digencet palu. Amit-amit. Anak jaman sekarang tak faham, bahwa begitulah cara priyagung memberi ajar. Mewangsitkan petuah. Sopan santun. Agar patuh. Berbakti dan mengabdi. Sungguh. Tapi tak apa. Hasnah masih kencur. Makanya harus dipaksa: “Ayo. Kemasi lagi pakaianmu, nduk. Bapak yang akan ngantar. Bapak akan ngglesot, nyembah. Mencium kaki. Meminta ampun…”

Gemeragap bayangan kembali memercik. Hasnah bisa pergi. Dipaksa. Tapi begitulah, memang takdir Gusti Allah: empat bulan barusan, Hasnah kembali. Datang. Berdiri diambang pintu: ketawa nyekakak. Rambut trondol, cepak, seperti –ah, ya, demit mur; katanya… binatang pilem. Astaga. Bedak merah. Tebal. Gincu abang dan, celana komprang pendek mirip petani, “Kamu…”

“Hasnah bunting. Ditiduri Pak Faruk. Semalam dua kali. Enak. Ini surat. Suruh datang. Bapak disuruh ke sana. Nyembah. Dan minta ampun.”

LANGIT. Tumpah _menjelegurkan_ bunyi pekak. Bledek. Barangkali runtuh. Tujuh turunan amit-amit, Juminah nangis segruk-segruk: alangkah. Jika masanya anugrah datang. Tapi hujan! Angin sial puting-beliung siapa tahu. Merontokkan harapan itu. Tentang gugurnya bunga-bunga manggis, duh! Impian Wak Mangli, bahwa empat bulan lagi Hasnah bakal kawin. Tak perlu bawa-bawa ubo rampe segala; duit, biaya seabrek-abrek seperti orangtua perawan kampung dipinang perjaka. Nanggap wayang. Duih, amat astaga mahalnya. Darimana? Duit sejuta melihatpun tak bakal. “Tak perlu,” begitu Bapak Juragan Faruk, malaikat itu, membenarkan sambil pethakilan dan ludah muncrat-muncrat: “Hasnah akan kawin dengan Udin. Ibu Faruk setuju. Nyembelih kambing, empat kambing dan… wayang! Hok-hok-hok, ueddan. Udin itu. Anakmu bakal jadi orang kota. Bisa nulis, Udin itu, juga bisa baca. Bisa nyopir. Dia, Udin itu, calon suami Hasnah, juga kerja di sini. Jadi sopir. Pintar dia. Turunan bagus.”

Katanya. Wak Mangli hanya nangis. Iba. Juga Juminah, –berkali-kali. Terimakasih. Ingin sujud dan mengucap, “Gusti Allah! Gusti Allah!!”

Udud. Sebul-sebul asap rokok dari mulut tongos. Bapak Juragan Faruk _ngendiko_, berkata lagi begini: “Jadi tak perlu bawa duit. Hok-hok-hok. Hanya ucapan terimakasih itu. Nah, Mangli, jika kupingmu tidak budek. Kudengar kau punya pohon manggis raja yang bagus. Kata orang rasanya paling enak di Dusun Jablus Melebus. Kalau panen besok, bawalah manggis ajaib. Itu sudah cukup. Seratus kilo sudah cukup. Manggis raja! Hok-hok-hok.”

“Ser… seratus, Juragan?”

Senyap. Lentik pucuk api sentir menggeriap. Wak Mangli tersadar mencangkung melamun. Jelatang hitam menabur, menuju atap. Klap!! Kilat, petir. Wak Mangli terjengat: “Cilaka, Hasnah….!!”

HARI ujug-ujug subuh. Lenyap sebentar, Wak Mangli kaget. Tertidur. Jam berapa? Tak ada jam disini. Bunyi jago kluruk meneluwung jauh, pasti. Itu suara Si Bangkok, ayam tetangga. Bumi sepi, suara angin sepoi sunyi. Aha. Wak Mangli menggerudug menggebrak jendela: gelap. Tak sabar.

“Juminah! Bangun. Siapkan obor!!”

Embun kinclong di ujung daun. Padang rumput, teranyas dingin jalan setapak diterabas telapak. Telanjang. Ada bias warna putih, di ufuk timur berkibar-kibar. Ditirai kabut: remang. Moncong tongperet menungging-nungging dengan denging irama, binatang pengisap air yang suka nyanyi serentak. Ratusan. Berdenyar-denyar menemplek pada batang-batang basah. Jalan menanjak, berkelok. Dari lembah bawah sudah terlihat _juntrung_ mentiung pohon kesayangan: manggis raja. Ohoooi! Raja manggis yang banyak dicicip para priyayi di kota, dipesan jauh hari. Pohon mukjizat itu, satu-satunya pohon penopang hidup setelah petai dan jambu klutuk. Dan kini, kembali dipinang justru dari rajanya priyayi, duh! “Hasnah! Hasnah! Semoga hujan tidak merontokkan bunga!! Dan kawinlah kau. Kawin!” melonjak. Doanya perih. Pada Gusti, pada malaikat, dan harapan dari berkah Juragan Faruk.

Melompat jadi bergas. Gemerudug ia-nya, cemas. Buru-buru. Wak Mangli itu, serasa jantung mendegup, –berlari. Juminah terengah menghempas nafas. Sesak. Tertinggal jauh langkah Wak Mangli. Cepat. Kelebat sosok Wak Mangli lenyap ditelan gerombol semak. Lentik obor tak perlu, dibuang Juminah, lantaran langit berubah. Ia berhenti, mendadak:

“Juminaaaah!! Juminaaaah!!” dari jauh. Suara teriak tertatih-tatih. Empat orang menyusul. Memanggul gergaji, kapak, tengah menanjak; dan segulung tambang besar. Untuk apakah? Tertegun. Ada firasat buruk, naluri perempuan petani berbisik. Aneh.

“Kaukah itu, Juminah?” berteriak. Semakin dekat.

“Ya.”

“Tadi malam hujan sangat deras,” jelas. Wajah Pak Kadus Jablus Melebus mulai bicara. Tersengal-sengal. Semakin tegas. Tiga penebang lain: Emen, Karto, dan Sali, berotot kekar: hanya terdiam. Kikuk. Pandang matanya berkilat. Juminah melongo.

“Ada kabar kiriman surat untukmu. Maksudku, tadi sore. Tapi hujan sangat deras. Aku tak bisa mengantar. Ah, maksudku, surat itu sangat penting. Makanya aku susul kemari. Tadi pagi-pagi, aku ke rumah. Ya Tuhan,” gugup. Pak Kadus menunjuk selembar kertas. Tengadah ke langit: “Dari Bapak Camat Umar…”

“He?!” Juminah. Melotot lutut bergetar. Gusti Allah!

“Betul. Kamu dapat anugrah. Maksudku, ya Tuhan, begini,” berbisik. “Sebagai warga yang paling baik, begitu kata Bapak Camat Umar. Kamu harus rela. Dimana Wak Mangli?” menunjuk. Juminah tak paham.

“Begini: kamu kan tahu, Juminah, sekarang musim hujan? Jembatan Cihampelas sudah dua kali hanyut. Kamu suka lewat ke sana bukan? Juga Wak Mangli. Nah, begini, katanya… ehm. Menurut anu, eh, warga kebanyakan,” clingak-clinguk. Sejenak sunyi. Emen dan Karto membuang muka. Entah. Sedang Juminah beku.

“Baiklah,” katanya. Tegar dan malu-malu: “Jembatan itu harus dipatok dengan kayu yang besar. Tak ada kayu yang lebih besar selain manggis raja milikmu. Bukankah begitu, Juminah? Semua orang tahu. Betul. Bapak Camat bilang begitu. Pagi ini harus ditebang. Kamu beruntung, Juminah. Kamu telah disebut Bapak Camat Umar itu, sebagai… ah, apa katanya itu?” Kadus melongok Sali. Meminta bantuan. Emen dan Karto melengos. Nyinyir mereka, berwajah keras, lantas meludah: “Pahlawan pembangunan!”

Tak ada cakap. Bayang Wak Mangli mengabur di sana. Sebentar. Juminah beku. Juga bayangan Hasnah, anak perempuan yang bakal kawin. Dan manggis raja kesayangan? Kini tak ada hujan. Jadi teramat sunyi. Bukit ini paling biru. Paling sedih. Sedang matahari mengambang. Meleleh. Mungkin. Sebab air mata Juminah tengah menitik. Seperti telaga. Juga di sini. Sampai kapan?

Yogyakarta, 1997

Thursday, July 09, 2009

Rendra: Sajak Pamflet

AKU TULIS PAMPLET INI

Aku tulis pamplet ini
Karena lembaga pendapat umum
ditutupi jarring labah-labah
orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng-IYA-an

apa yang terpegang hari ini
bias luput besok pagi
ketidakpastian merajalela
di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
menjadi marabahaya,
menjadi isi kebon binatang

apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi
Maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan
tidak mengandung perdebatan
dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
aku inginkan merpati pos
aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
aku ingin membuat isyarat asap kaum indian
aku tidak melihat alasan


kenapa harus diam tertekan dan termangu
aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
duduk berdebat menyatakan setuju atau tidak setuju

kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan
ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka

matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api
rembulan memberi mimpi pada dendam
gelombang angina menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah kegamangan
kecurigaan
ketakutan
kelesuan

aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
di dalam alam masih ada cahaya
matahari yang tenggelam diganti rembulan
lalu besok pagi pasti terbit kembali
dan di dalam air lumpur kehidupan
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Tuesday, July 07, 2009

Djenar: Gerhana Mata

Gerhana Mata


Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.

Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.

Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.

Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.


Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.

Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.

Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.

Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.

Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.

Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.

Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.

Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.

Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.

Mungkin?

Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.

Mungkin?

Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.***

Jakarta, 2 Oktober 2006
Cerpen Djenar Maesa Ayu (dimuat di Kompas, 05/20/2007)

Sunday, July 05, 2009

Cerita Rakyat Suri Ikun dan Dua Burung

Suri Ikun dan Dua Burung
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur


Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia, ada sebuah keluarga petani yang mempunyai empat belas orang anak. Tujuh orang lelaki dan tujuh orang perempuan. Anak lelakinya yang paling muda bernama Suri Ikun. Ia seorang pemberani dan suka menolong. Berbeda dengan keenam kakak lelakinya, selain pendengki mereka juga penakut. Mendengar dengusan babi hutan saja mereka lari tungganglanggang.

Untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan keempat belas anaknya, sang Suami sebagai kepala keluarga menanam umbi-umbian dan sayur-sayuran di kebunnya. Meskipun kebunnya cukup luas, hasilnya terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, karena tanamannya sering dirusak oleh kawanan babi hutan.

Pada suatu malam, sang Suami mengajak istri dan ketujuh anak lelakinya bermusyawarah untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Wahai, Anak-anakku! Tentu kalian semua tahu bahwa kita hidup dari hasil berkebun. Untuk itu kita harus menjaga semua tanaman yang ada di kebun,” ungkap sang Ayah.

“Apa yang harus kami lakukan, Ayah?” tanya si Sulung.

“Begini, Anakku! Ayah akan menugaskan kalian secara bergiliran meronda di kebun untuk mengusir babi hutan,” kata sang Ayah.

Mendengar perkataan itu, ketujuh orang lelaki bersaudara tersebut terkejut.

“Aduh, adakah cara lain yang dapat kami lakukan selain meronda, Ayah?” keluh si Sulung.

“Apa maksudmu, Anakku!” tanya sang Ayah.

“Maaf, Ayah! Saya sangat takut pada babi hutan,” jawab si Sulung.

“Iya, Ayah! Kami juga takut,” sambung lima orang anaknya yang lain serentak.

Sang Ayah menjadi bingung mendengar keluhan keenam anaknya tersebut. Sejenak, ia berpikir untuk mencari cara lain untuk mengusir babi hutan dari kebunnya. Suasana musyawarah keluarga pun menjadi hening. Dalam suasana hening itu, tiba-tiba Suri Ikun angkat bicara.

“Maaf, Ayah! Jika Ayah mengizinkan, biarlah saya sendiri yang meronda di kebun,” pinta Suri Ikun.

“Benarkah kamu sanggup meronda seorang diri, Anakku?” tanya sang Ayah.

“Benar, Ayah! Saya akan menangkap babi-babi hutan itu dengan panahku,” jawab Suri Ikun dengan penuh semangat.

Alangkah senangnya hati keenam kakak lelaki Suri Ikun, karena mereka terbebas dari sebuah tugas yang sangat berat.

Keesokan harinya, setelah mempersiapkan busur dan anak panahnya, berangkatlah Suri Ikun ke kebun seorang diri untuk meronda. Sesampainya di kebun, ia langsung berkeliling melihat keadaan kalau-kalau ada kawanan babi hutan yang sedang merusak tanamannya. Setelah beberapa saat berkeliling dan tidak menemukan seekor babi hutan pun, Suri Ikun beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Ketika sedang asyik duduk bersandar sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi, tiba-tiba tiga ekor babi hutan sedang melintas tidak jauh dari depannya. Ia pun segera bersembunyi di balik pohon tempatnya bersandar seraya menyiapkan anak panahnya. Pada saat ketiga kawanan babi hutan itu akan memakan tanamannya, ia pun segera menarik anak panahnya dari busurnya dan melepaskannya ke arah babi yang paling besar.

“Siuuut.... deg...!!!”

Anak panahnya tepat mengenai lambung kanan babi itu dan langsung terkapar di tanah. Sementara dua babi hutan lainnya langsung melarikan diri ke balik semak belukar. Suri Ikun segera menghampiri babi hutan yang sudah tidak bergerak itu.

“Wah besar sekali babi hutan ini. Pasti dagingnya sangat lezat,” gumam Suri Ikun.

Dengan perasaan senang dan gembira, Suri Ikun pun segera membawa pulang babi hutan itu ke rumahnya. Oleh karena babi hutan itu sangat berat, sampai-sampai ia harus beberapa kali berhenti beristirahat dalam perjalanan. Sesampainya di rumah, ia pun disambut gembira oleh kedua orangtua dan saudara-saudaranya yang sudah lama menunggu.

“Wah, kamu hebat sekali, Suri Ikun!” ucap si Sulung memuji.

Kemudian mereka pun segera memotong-motong dan memasak daging babi hutan itu. Setelah matang, si Sulung bertugas membagi-bagikan daging babi tersebut kepada saudara-saudaranya. Oleh karena sifatnya yang dengki, ia hanya memberi Suri Ikun bagian kepala babi itu, yang sudah tentu tidak banyak dagingnya. Begitulah seterusnya, setiap kali membawa seekor babi hutan hasil buruannya, Suri Ikun selalu saja mendapat bagian kepala. Meski demikian, Suri Ikun tetap merasa senang, karena hasil keringatnya dapat dinikmati oleh seluruh keluarganya.

Pada suatu sore, ayah mereka baru saja pulang dari mencari kayu bakar di sebuah hutan lebat yang letaknya cukup jauh.

“Anak-anakku! Maukah kalian membantu, Ayah!”

“Apa yang dapat kami bantu, Ayah?” tanya si Sulung penasaran.

“Gerinda Ayah tertinggal di tengah hutan. Maukah kalian pergi mengambilnya?” pinta sang Ayah.

Akhirnya, si Sulung pun mengajak keenam saudara lelakinya pergi ke hutan lebat itu. Pada saat sampai di hutan, hari sudah mulai gelap. Menurut cerita, hutan tersebut dihuni oleh para hantu rimba yang terkenal jahat. Suri Ikun berjalan mengikuti kakaknya menyusuri hutan lebat itu sambil menggendong busur dan anak panahnya. Oleh karena gelapnya malam, Suri Ikun tidak menyadari jika keenam saudaranya mengambil jalan lain yang menuju ke rumah. Sementara ia terus berjalan menyusuri hutan. Semakin lama ia pun semakin jauh masuk ke tengah hutan. Setelah menyadari ia ditinggal sendirian, ia pun berteriak-teriak memanggil keenam kakaknya.

“Kakak... di mana kalian?”

Berkali-kali Suri Ikun memanggil nama keenam kakaknya, tetapi tetap tidak mendapat jawaban. Namun, beberapa saat berselang, tiba-tiba terdengar suara aneh menegurnya.

“Hei, Anak Manusia! Kini kamu tinggal sendirian. Tidak seorang pun yang bisa menolongmu, karena saudara-saudaramu telah meninggalkanmu.”

“Kamu siapa? Tampakkanlah wujudmu!” seru Suri Ikun sambil menyiapkan anak panah dan busurnya.

“Ha... ha... ha...!!! terdengar suara itu tertawa berbahak-bahak.

“Ketahuilah, Anak Manusia! Kami adalah hantu rimba penghuni hutan ini,” ujar suara itu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba beberapa sosok bertubuh besar dan berwajah seram berdiri di sekelilingnya. Baru saja Suri Ikun hendak menarik anak panahnya, para hantu tersebut segera menangkapnya. Namun, mereka tidak langsung memakannya, karena ia masih terlalu kurus.

“Sebaiknya kita kurung dulu anak manusia ini,” ujar pemimpin hantu rimba itu.

Akrhinya Suri Ikun dikurung di dalam sebuah gua. Setiap hari ia diberi makan secara teratur agar menjadi gemuk. Untungnya ada celah sehingga sinar matahari dapat memancar masuk ke dalam gua. Dari celah itu ia bisa melihat keluar.

Pada suatu hari, Suri Ikun melihat dua ekor anak burung di celah gua yang kepalaran. Oleh karena merasa iba, ia pun memberIkun sebagian makanannya kepada kedua anak burung itu.
“Waaah, kasihan sekali anak burung ini ditinggal induknya,” iba Suri Ikun seraya menyuapi kedua anak burung itu.

Begitulah seterusnya, setiap melihat kedua anak burung itu kelaparan, Suri Ikun senantiasa membagikan makanan kepada mereka. Beberapa bulan kemudian, kedua burung itu pun tumbuh menjadi besar dan kuat. Ajaibnya, kedua burung itu dapat berbicara seperti manusia.

“Terima kasih Tuan karena telah menolong kami,” ucap seekor burung.

“Ampun, Tuan! Jika kami boleh tahu, Tuan siapa dan kenapa dikurung dalam gua ini?” tanya seekor burung yang satunya lagi.

“Saya Suri Ikun, Sobat!” jawab Suri Ikun.

Setelah itu, Suri Ikun pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya sampai ia bisa berada di dalam gua itu.

“Baiklah, Tuan! Kami akan membebaskan Tuan dari gua ini,” kata seekor burung.

Alangkah senangnya hati Suri Ikun mendengar perkataan burung itu. Namun, hatinya masih diselimuti oleh rasa bimbang.

“Wahai, Sobat! Bukankah hantu rimba itu berjumlah banyak dan sangat kuat? Bagaimana cara kalian menolongku?” tanya Suri Ikun ingin tahu.

“Tenang, Tuan! Kami pasti bisa mengalahkan mereka,” ujar seekor burung.

“Begini, Tuan! Kami akan menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh hantu-hantu itu,” jelas seekor burung yang satunya.

Mendengar penjelasan itu, Suri Ikun terdiam sejenak. Ia pun berpikir mencari cara agar bisa membantu kedua burung itu mengalahkan hantu-hantu tersebut.

“Baiklah kalau begitu! Aku akan membantu kalian dengan senjataku ini,” kata Suri Ikun sambil menunjukkan panahnya.

Keesokan harinya, hantu-hantu tersebut datang mengantarkan makanan untuk Suri Ikun. Pada saat mereka membuka pintu gua, dengan secepat kilat kedua burung itu langsung menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh mereka. Suri Ikun pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera meluncurkan anak panahnya ke arah hantu-hantu tersebut. Maka tak ayal lagi, para hantu itu pun terluka dan langsung kabur melarikan diri.

Setelah itu, kedua burung tersebut segera membawa terbang Suri Ikun menuju ke puncak sebuah bukit yang tinggi. Sesampainya di sana, dengan kekuatan gaibnya, kedua burung tersebut menciptakan sebuah istana megah untuk Suri Ikun lengkap dengan pengawal dan dayang-dayangnya. Di sanalah untuk selanjutnya Suri Ikun tinggal dan hidup berbahagia.

Sementara itu, nun jauh di kampung, keluarga Suri Ikun hidup menderita. Sejak kepergian Suri Ikun seluruh tanaman ayahnya habis dimakan dan dirusak kawanan babi hutan. Sebab, tidak seorang pun saudara lelakinya yang berani mengusir kawanan babi hutan tersebut dari kebun mereka.


Sumber : http://melayuonline.com/literature/?a=c3FYIC9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=&l=suri-ikun-dan-dua-burung


Download cerita ini? Silakan klik di sini

Thursday, July 02, 2009

Zawawi Imron: Kotabaru

Kotabaru


Alangkah beruntung sebuah kota yang disebut dalam sebuah lagu. Kota itu menjadi dikenal, bahkan terkenal, selain selalu dikenang oleh orang yang menyenangi lagu itu. Ingat larik “Tanjung Perak tepi laut,” atau larik “Selamat tinggal Teluk Bayur permai,” yang membuat kedua tempat itu bukan hanya berada di ujung lidah, tetapi juga berada pada salah satu sudut jantung. Sebuah kota atau tempat yang disebut dalam nyanyian seperti menjadi sangat layak untuk dikunjungi, bahkan mengundang rasa ingin untuk datang ke sana.

Pada penghujung Mei 2006 yang lalu, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri diundang mengisi acara sastra di Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Sebelum berangkat saya menyempatkan menelepon Sutardji, saya bilang, “Dji, kita akan ke Kotabaru.” Sutardji yang sering dipanggil “Presiden Penyair” itu menjawab dengan selarik lagu, “Kotabaru gunungnya bamega.” Seakan-akan ia menyatakan gembira karena akan berkunjung ke sebuah kota yang diabadikan dalam lagu Paris Berantai yang digubah seniman Banjar, Anang Adriansyah.

Pada hari yang ditentukan, saya terbang ke Banjarmasin. Besok paginya saya terbang ke Kotabaru. Banjarmasin kalau ditempuh dengan bus memakan waktu sampai sepuluh jam. Tapi jarak tempuh yang hampir satu hari itu bisa dipersingkat menjadi setengah jam dengan pesawat kecil berkapasitas 40 orang. Ternyata di Kalimantan, dari ibukota provinsi ke beberapa kota kabupaten, sudah ada pesawat penumpang setiap hari. Seperti ada upaya nyata, ada kemauan, ada uang, ada landasan, lalu ada pesawat. Catatan yang tak kurang pentingnya, penumpang konon selalu penuh, sehingga perusahaan transportasi udara itu tidak rugi.


Kemajuan seperti itu kiranya tak cukup dicatat sebagai narasi ekonomi dan narasi transportasi saja. Lebih dari itu, bisa dicatat sebagai narasi budaya. Yaitu, sebuah jawaban manusia terhadap tantangan hidup dengan cara baru yang konkret dan ilmiah. Sebahagian masyarakat Kotabaru pun menyambut dengan tindakan nyata juga. Dibukanya jalur penerbangan ke daerahnya, mereka tidak hanya menonton, tetapi mau beli tiket, lalu naik pesawat, dan terbang menuju kota tujuan, sehingga waktu yang sebenarnya tidak bisa disingkat itu, seolah-olah bisa disingkat jika dibandingkan dengan naik transportasi darat.

Setelah saya tiba di bandara Kotabaru, dijemput penyair Eko Suryadi W.S. Dari bandara ke Kotabaru, saya melihat deretan bukit-bukit yang hijau kebiru-biruan. Tetapi anehnya, bukit-bukit yang tidak tinggi itu banyak yang berselendang awan dengan latar belakang langit nilakandi. Melihat itu, hati saya bersenandung: “Kotabaru gunungnya bamega.” Sebuah lukisan Tuhan yang memesona terbentang di depan mata. Sebuah puisi konkret yang dalam menikmatinya tidak perlu mengernyitkan dahi.

Saya pun menyempatkan berkeliling menyisir pantai utara Pulau Laut, menyaksikan “Ombak menapak di sela karang.” Dan, saya memandang kedalaman di balik dedaunan hutan yang masih menyimpan nyanyian ribuan burung murai batu yang berhabitat di situ.

Menurut seorang tokoh di Kotabaru, Pulau Laut itu bagaikan Indonesia mini. Maksudnya, hampir semua ragam etnik berada di situ, meskipun mayoritas penduduknya adalah suku Banjar. Selain itu ada suku Jawa, Melayu, Sunda, Bali, Bugis, Makassar, Minangkabau, Ambon, Tionghoa, Arab, Madura, Bajau dan lain-lain. Semua itu bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau ada konflik kecil, masih mudah untuk diredam.

Masuknya pesawat terbang dan modernisasi tidak membuat hati menjadi garang.

Kerukunan dalam masyarakat multietnik seperti itu, saya anggap nilai yang sangat berharga. Pikiran yang jernih dan hati yang sejuk seperti dikaruniakan oleh Tuhan. Saudara-saudara kita yang hidup sederhana, ketika yang dibudayakan adalah hidup penuh persaudaraan dan kedamaian, kesederhanannya akan melahirkan kerendahhatian sekaligus penghormatan yang wajar kepada manusia dan kemanusiaan. Kewajaran yang tidak lebih dan tidak kurang. Kepantasan yang mengalir tanpa dibuat-buat, sebagaimana kepantasan awan putih yang hampir setiap waktu memahkotai bukit-bukit itu.

Sebuah wilayah yang aman tentu saja didukung oleh para penduduknya yang berhati teduh. Teduh dan aman yang tumbuh dari kecerdasan emosional dan kesadaran budaya. Bukan aman karena dipaksa atau takut pada kelamnya kamar penjara.

Pulang dari Kotabaru saya sadar bahwa waktu empat hari di sana, ternyata jauh dari cukup untuk memuaskan dahaga pengembaraan. Jiwa saya bagaikan minum hanya seteguk. Tapi tak apalah, daripada tak pernah berkunjung ke sana. Namun yang sangat berharga, lagu Paris Barantai yang memperkenalkan Kotabaru telah membuktikan kepada saya bahwa karya seni, dalam hal ini lagu, telah membuat sebuah kota punya nilai tersendiri, punya daya panggil yang merasuk ke dalam hati.

***

Cerpen: D. Zawawi Imron
Sumber: Jawa Pos, Edisi 07/16/2006

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook