Sunday, August 30, 2009

Lakon GODLOB

G O D L O B
Karya Danarto
Dinaskahkan Uje Lelono


SEBUAH PEMANDANGAN CARUT MARUT DI TENGAH-TENGAH SISA PEPERANGAN, SEORANG LELAKI TUA MENGIBAS-NGIBASKAN BAJUNYA UNTUK MENGUSIR BURUNG-BURUNG GAGAK.

1. LELAKI TUA
(membentak) Bangsat! Sinting! Kau kira, kami ini bangkai, hah?! Pergi!!! (mendekat kepada seseorang yang masih bergerak) Anakku. (memapah ke arah gerobak) Kau lihat… kau lihat, baru sekarang aku takjub atas pemandangan ini.

2. LELAKI MUDA
(mengeliat dan mengaduh karena sakit) Ayah, cukuplah. (merebahkan badan) Bukankah aku kemarin juga seperti mereka, sebelum Ayah mendapatkan diriku?

3. LELAKI TUA
Yah, seperti mereka, sebelum Ayah mendapatkan kau. Berhari-hari tanganmu yang lemah itu menggapai-gapai untuk mengusir burung-burung gagak yang mengerumunimu karena mengira kau sudah jadi bangkai. Hidungmu yang mewarisi hidung ibumu itu sudah kebal untuk bau busuk bangkai kawan-kawanmu atau musuh-musuhmu Dan, udara mengantarkan kuman-kuman untuk mengunyah sedikit demi sedikit luka yang parah itu.

4. LELAKI MUDA
(mengerang) Ayah, cukuplah.

5. LELAKI TUA
(mendekat) Kau masih ingat sajak Sang Politikus?

6. LELAKI MUDA
(tak menjawab)

7. LELAKI TUA
(berdiri dan merentangkan tangannya)
Oh, bunga penyebar bangkai
Di sana, di sana, pahlawanku tumbuh mewangi
(termangu kemudian tertawa) Sajak itu cukup baik, cukup bermutu bukan? Anakku, kau tahu bedanya sajak yang dibuat oleh seorang politikus dengan seorang penyair? (mengamati sekeliling) Kalau ada seseorang menderita luka datang kepada seorang politikus, maka dipukullah luka itu hingga orang itu berteriak kesakitan dan lari tunggang langgang. Sedangkan kalau ia datang kepada seorang penuair, luka itu akan dielus-elusnya hingga orang itu merasa seolah-olah lukanya telah tiada. Jadi, tak seorangpun dari kedua macam orang itu berusaha mengobati dan menyembuhkan luka itu. Bagaimana pendapatmu, Anakku?

8. LELAKI MUDA
(mengeluh) Ayah, cukuplah.

LELAKI TUA KEMBALI MENGIBAS-NGIBASKAN BAJUNYA UNTUK MENGUSIR BURUNG-BURUNG GAGAK

9. LELAKI TUA
(membentak) Bangsat, kamu sinting! (melemparkan kaleng) Kau kira kami ini bangkai, hah?! (mendekati anaknya) Malam datang, Anakku. Sedang gagak-gagak itu masih belum kenyang. Kalau malam gelap seperti ini, aku sangsi, apakah besok matahari sanggup menembusnya. Siang berganti siang, malam berganti malam. Tidak ada sesuatu yang baru dalam hidup kita. Rutin… rutin.

10. LELAKI MUDA
(menngangkat tubuhnya) Ayah, cukuplah. Bagiku semuanya memastikan. Tidak ada yang menyangsikan walaupun keadaan rutin…, rutin belaka. Semuanya sudah ada yang mengatur. Tanpa kuminta dan di luar pengetahuan saya, lahirlah saya dari rahim ibuku yang bersuamikan ayah (berhenti karena nafasnya tersenggal-senggal). Aku anak bungsu. Kenapa tidak meminta anak sulung? Aku kagum kepada tentara? Aku ingin memasukinya, aku dilarang. Perang pecah dan membawaku ke sana. Sekarang aku luka parah, mungkin bisa hidup terus, mungkin sebentar nanti mati. Tapi kini aku bisa berkata bahwa tentara itu baik. Semacam manusia percaya kepada manusia lain, sehingga kepasrahan ini mampu mendorongnya untuk mengorbankan segala-segalanya, harta bendanya, keluarganya, dan nyawanya.

11. LELAKI TUA
Ya, manusia yang mulia di mata Tuhan

12. LELAKI MUDA
Ayah, kenapa aku tak memilih lapangan yang lain? Seandainya pilihanku itu suatu bencana bagiku, sang nasiblah yang mengantarkan aku ke sana, jadi seharusnya manusia merasa senang juga.

13. LELAKI TUA
Apa yang ada ini mempunyai pasangan-pasangan. Kalau sesuatu meleset dari pasangannya, manusialah yang salah mengerjakannya. Satu centi meleset mengakibatkan melesetnya seratus centi yang lain. Sebagaimana perang ini terjadi, umpamanya. Bukankah begitu, Anakku? Ada setetes yang tidak beres di kalangan atas yang mengakibatkan, puluhan, ratusan, ribuan jiwa manusia hancur. Dan yang setetes itu harus diselidiki betul-betul. Mungkin perkara sepuluh persen komisi atau membela celana kolor yang cengeng. Atau kebenaran tentang bibir perempuan.

14. LELAKI MUDA
(menahan sakit) Ayah, cukuplah. Mungkin. Seratus satu kemungknan. Tetapi seseuatau yang sudah menjadi bubur, tidak guna disesali. Yang terang, aku sudah bekerja sebaik-baiknya. O, nasibku…!

15. LELAKI TUA
Nasibkulah, Anakku! Nasibkulah yang menyebabkanku bicara, sehingga tidak cukup sekian saja. Aku sudah menyerahkan empat nyawa anak-anakku kepada Sang Politikus dan tidak ada seseuatu apapun yang kuterima. Sekarang ia merenggut anakku yang terakhir dan nyawa yang paling kusayangi, kau! Sesuatu yang bagaimanakah dan bentuk kebenaran macam apakah menghalalkan itu semuanya? Anakku! Tak bisa kutanggungkan lagi….

16. LELAKI MUDA
Ayah, cukuplah! Cukuplah!

17. LELAKI TUA
Belum cukup! Aku harus memutuskan seseuatu yang hebat, biar aku tidak dirugikan habis-habisan! Lihatlah, Anakku! Lihatlah! Gelap gulita dan pekat. Saking gelapnya hampir-hampir aku tak bisa melihat tubuhku sendiri. Tak ada setitik cahaya pun. Florence Nightngale telah digondol gagak-gagak. Lembah kebenaran telah diganti padang kurus kesangsian. Kau lihat di sana, katedral telah di sapu habis rata dengan tanah dan sekarang ditumbuhi semak belukar. Kau lihat di sana masjid digerayangi cacing-cacing dan ulat-ulat. Kau lihat di sana, perawan-perawan telah disekap di kamar-kamar,. Kau lihat di sana, kursi-kursi pemerintahan sudah digadaikan. Apakah yang bisa diharapkan lagi, Anakku?

18. LELAKI MUDA
Ayah, cukuplah. Seharusnya keluarga kita berbangga. Perang yang susul menyusul, kita telah mampu menyumbangkan tenaga kita.

19. LELAKI TUA
Berbangga? Aku telah kenyang dengannya. Sekarang aku harus memutuskan seseuatu yang hebat, biar aku tak dirugikan habis-habisan. Anakku, aku minta sumbanganmu? (diam) Lukamu cukup parah, bukan?

20. LELAKI MUDA
Aku tidak tahu ….

21. LELAKI TUA
Tiap hari banyak orang-orang berbondong-bondong di batas kota dari pagi hingga petang atau dari petang hingga pagi untuk menjemput, kalau-kalau suaminya, saudaranya, anaknya, kawannya, pulang dari pertempuran. Betapa setianya mereka. O, seandainya mereka tahu apa yang terjadi sesungguhnya di padang gundul ini! Ibumu akan menyambutmu, juga kawan-kawanmu, juga para tetangga. Engkau sejenak akan dikagumi untuk kemudian dilupakan selama-lamanya.

22. LELAKI MUDA
(gelisah) Ayah! Apakah Ayah tidak bisa melihat hikmah yang terkandung dalam semua kejadian ini?

23. LELAKI TUA
Tidak! Aku tidak melihatnya, sebab di situ memang tidak ada apa-apanya! (diam) Supaya aku tidak terlalu rugi. Supaya nasibku sedikit baik, aku minta seumbanganmu.

24. LELAKI MUDA
(terkejut) Apa maksud Ayah sebenarnya?

25. LELAKI TUA
Anakku. Aku ingin engkau menjadi pahlawan.

26. LELAKI MUDA
(tercengang) Ayah??? Ayah ingin aku jadi pahlawan?

27. LELAKI TUA
Begitu bukan sajak Sang Politikus?
Oh, bunga penyebar bangkai
di sana, di sana, pahlawanku tumbuh mewangi
Betapa lezatnya sajak itu, Anakku. Apakah kau tidak bisa melihat kenikmatan pembunuhan dalam sajak itu?

28. LELAKI MUDA
(gelisah) Ayah???

29. LELAKI TUA
(mendekat) Anakku, maafkan Ayahmu. Kau harus kubunuh!

30. LELAKI MUDA
(marah) Ayah! Dengan demikian Ayah hendak menjadikanku pahlawan? Ayah menghalalkan? Aku dan Ayah adalah dua manusia. Di mata Tuhan, kita masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Aku mempunyai Sang Nasib Pengasuhku sendiri! Ayah diatur oleh orang lain!

31. LELAKI TUA
Anakku, kali ini pengasuhmu menyerahkanmu kepadaku!

32. LELAKI MUDA
Tidak! Tidak mungkin! Pengasuhku bekerja konstruktif!

33. LELAKI TUA
Tidak selalu! Sekali-sekali Ia boleh menyeleweng!

34. LELAKI MUDA
Ayah!!!

35. LELAKI TUA
Anakku!!! (menggapai dan menarik kepala anaknya)

36. LELAKI MUDA
Ayah….

37. LELAKI TUA
Anakku…. (mencekik leher anaknya).

TEMBANG GUGUR BUNGA MENGGEMA DAN TANGISAN TELAH MENGIRINGI KEPERGIAN SEORANG PAHLAWAN. TIBA-TIBA SEORANG PEREMPUAN MEMBOPONG MAYAT DI DEPAN BALAI KOTA, HINGGA SUASANA MENJADI HIRUK PIKUK.

38. PENDUDUK
(saling berceloteh) Siapakah wanita aneh itu? Tidak jijikkah ia? Aduh, seorang perempuan yang berani. Benar? Mayat pahlawan kemarin? Ya…, betul! Digali lagikah ia?

39. PEREMPUAN
(dengan menangis) Anakku, mengapa engkau harus mengalami nasib seperti ini? Aku, sebagai ibumu, tak terima atas perlakuan ini semua. Aku protes atas kesewenang-wenangan yang menimpamu!

40. PENDUDUK
(saling berceloteh)Ya, Tuhan, oleh tangan ibunya sendiri. Jadi yang membopong itu ibunya sendiri? Mau dia apakan? Ada sesuatu yang salah? Bagaimana mungkin?

41. PEREMPUAN
(menunjuk seseorang lelaki yang datang) Ini dia orangnya! Ia adalah suamiku, namun sejak kugali mayat anakku ini, ia telah kuceraikan. Semalam ia telah bercerita panjang lebar tentang garis depan. Akhirnya ia pulang dengan membawa tipuan-tipuan buat kita. Mayat ini sama sekali bukan pahlawan. Aku tahu tabiat anak-anakku. Dialah! (mendekati) Orang laki-laki ini yang membikinnya jadi pahlawan! Dia membunuhnya! Dia menipu kita!

42. LELAKI TUA
(menunjuk seseorang pembesar yang datang) Sebaliknya, aku kena tipu oleh mereka! (yang ditunjuk berhenti) Kita semuanya kena tipu mentah-mentah. Lihatlah aku! Keluargaku ludes! Tidak ada sesuatu pun yang kudapatkan!

43. PEMBESAR
(lantang) Pengkhianaaat!!!

44. LELAKI TUA
Menurut huklum yang bagaimanakah seseorang berhak menyebut orang lain pengkhianat atau pahlawan? Kemarin kubawa mayat anakku, anak yang penghabisan dari empat orang lainnya yang sudah hancur duluan. Perang demi perang telah memeluk anak-anakku dengan mesranya. Dalam sekejap mata mayat ini diangkat menjadi pahlawan. Aku sudah mengira, aku sudah menduga. Sementara kalian dengan berkaleng-kaleng air mata mengantarkannya ke kuburan, aku dengan tertawa terpingkal-pingkal melihatnya!

45. PEMBESAR
Dengan berpijak pada nilai-nilai objektip, tidak akan ada tipuan-tipuan.

46. LELAKI TUA
Adakah nilai-nilai objektip? Semuanya adalah subjektip

47. PEMBESAR
Apa yang kau harapkan sekarang?

48.LELAKI TUA
Apa yang bisa aku harapkan dari kalian? (memandang sekeliling dan menatapi wajah demi wajah). Kalian orang-orang kecil, sekali-sekali boleh pergi ke garis depan. Hingga kita bisa juga berbicara tentang perang! Lihatlah, Sang politikus! Ia bicara tentang negara, tentang kebun binatang, tentang perempuan, tentang ekonomi, tentang sajak. Semuanya sudah diborongnya. Lantas kita disuruh bicara tentang apa?

49. PEREMPUAN
(menggeliat) Oh, perutku terasa muak! Mual! Hingga mau muntah saja! (mencabut pistol)

SEBUAH TEMBAKAN MEROBOHKAN LELAKI TUA. PERLAHAN PEREMPUAN, PENEMBAK, BERJONGKOK DI HADAPANNYA DENGAN AIR MATANYA MELELEH.

50. LELAKI TUA
(mengeliat dan menoleh) Perang demi perang berlalu, iseng demi iseng berpadu. (meraih mayat anaknya dan jatuh mati)

51. PEREMPUAN
(berdiri dengan wajah termangu memandang ke atas) Oh, nasibku, nasibku. Sedang kepada setan pun tak kuharapkan nasib yang demikian.

SUASANA HENING, SEMUANYA TERPAKU DI TEMPATNYA.

Saturday, August 29, 2009

Nugroho Notosusanto: Cerpen Mbah Danu

MBAH DANU

Cerpen Nugroho Notosusanto

Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu "didiami" oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu.

Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan.

Menurut kabar-kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita radio, Mbah Danu sedang turne. Routenya adalah Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, dan kembali ke Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir pulang. Dan benar, ketika Nah tengah mengeong-ngeong seperti kucing kasmaran, Mbah Danu dating membawa koper besi yang sama antiknya dengan yang punya.

Dia tembusi badan Nah dengan pandang membara sambil mengelilingkan susur besar di dalam mulutnya. Nah mengigau dengan mata tertutup, buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua. Wajahnya pucat seperti kain mori.

"Ambilkan sapu lidi!" perintah Mbah Danu dengan sikap Srikandi wayang orang. Kemudian ia mencengkeram lengan Nah dan menyeretnya dari tikarnya ke lantai. Sapu lidi datang. Ukurannya istimewa besar, karena Pak Jaksa mempunyai 60 pohon kelapa di pekarangannya. Mbah Danu memegang sapu lidi itu pada ujungnya yang lunak, kemudian bongkotnya yang garis tengahnya kira-kira 10 cm itu dia ayunkan ke atas dan dia pukulkan sekuat tenaga ke pantat Nah yang terbaring miring. Segenap hadirin melotot matanya dan megar kupingnya melihat dan mendengar pukulan dahsyat itu.

"Ngeoooong!" keluar dari mulut Nah mendirikan bulu-bulu di kulit penonton.

"Mampus engkau sekarang!" seru Mbah Danu bengis dan sapu lidi terus-menerus menghantam pantat Nah dengan irama rhumba. Nah tidak mengeong lagi sekarang, melainkan mengaum seperti singa sirkus yang marah. Sebagian hadirin mau lari.

"Minggat! Ayo minggat!" teriak Mbah Danu dengan amat murka dan dengan tendangan jitu Nah ditengkurapkannya. Kemudian deraannya menghujam pula pada pantat Nah yang kini sadar, bahwa ia manusia Nah, bukan kucing, anjing, kuda atau singa.

"Aduh biyuuuuuung! Aduh biyuuuuuuung!!" tangisnya menggaung.

"Minggat! Minggat! Minggat!!" suara Mbah Danu menggelora sampai tetangga-tetangga dan pelintas-penntas mengalir masuk ke rumah itu untuk menyelidiki sebab-sebab suara ngeri yang mereka dengar.

"Aduuuuuh! Aduh, aduh, aduuuuuh!" pekik Nah seperti manusia biasa.

"Minggat! Minggat! Ayo minggat!!" jerit Mbah Danu senyaring-nyaringnya sambil memukul dengan tangan kanan dan menggenggam susur di tangan kiri. Air ludahnya memercik merah ke lantai dan badan Nah dalam setengah lingkaran yang radiusnya 1 /2 meter.

"Salah hamba apa kok disuruh minggat dan dihajar?" Tanya Nah sambil menangis dan ia mencoba merangkak.

Sikap Mbah Danu sekaligus berubah.

"Aku bukannya berbicara kepadamu, Nah," katanya dengan suara mmeur yang lembut. "Aku mengusir setan-setan di dalam badanmu."

Sebagai pengeras perkataan yang terakhir, ia tegak sekali lagi serta memukulkan sapu lidi itu sedemikian kerasnya ke badan Nah, sehingga si sakit rebah ke lantai dan mengerang. Peluhnya bercucuran dan menguyupkan pakaiannya.

"Ha! Hampir modar engkau sekarang!" seru Mbah Danu dengan ganas sambil melangkah maju dan menginjak tubuh Nah dengan kedua kakinya. Selama 5 menit ia mondar-mandir di atas badan Nah sampai napas si sakit seperti ububan pandai besi bunyinya. Kedua lengannya diacung-acungkan untuk mempertahankan keseimbangan. Gerak-geriknya persis seperti Batari Durga yang menan di atas mayat manusia. Setelah sudah, ia menelentangkan badan Nah yang keringatnya membuat lantai mengkilat basah dan mukanya kini merah padam.

Mbah Danu berdiri dan member; isyarat supaya para penonton yang tak berkepentingan mengundurkan diri. Pintu ditutup dan ia kembali kepada pasiennya. Dengan gerakan-gerakan tangkas pakaian si sakit dibukanya dan kemudian seperti orang kegila-gilaan ia meremas-remas seluruh badan Nah, sambil menggelitik si sakit pada tempat-tempat yang penuh rasa geli. Dan mula-mula Nah menggelepar-gelepar. akhirnya kegelian seperti perawan yang sehat. Seperempatjam Mbah Danu meraba-raba tubuh pasiennya kemudian ia melepaskannya dan tegak pada lututnya

"Setan-setan sudah lari dari badanmu. Nah." katanya tenang. ‘Engkau telah sembuh." Dan di hadapan mata hadirin, Nah yang tadi sudah seperti setengah mati duduk bersandar pada dinding dan tersenyum seperti orang bangun tidur

"Tidurlah saja dulu sampai besok," kata Mbah Danu lebih jauh sambil membaringkan dan menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit kepala Nah, kemudian memercikkan ludah sedikit dari mulutnya pada dahi si sakit. Setelah itu ia berdiri dan ke luar untuk meminum kopinya.

Prabawa Mbah Danu di rumah Pak Jaksa yang jadi sebagian prabawanya di daerah yang terentang dari Kudus sampai Tuban, dari Bonang sampai ke Randublatung, mengalami tantangan, ketika Mr. Salyo Kunto, salah seorang menantu Pak Jaksa, bersama istrinya mengunjungi mertuanya. Beberapa hari sesudah kedatangannya, Nyonya Salyo sakit kepala dan pegal-pegal tubuhnya. Bu Jaksa, sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu.

"O, ada sedikit angin jahat bersarang di dalam, Raden Ayu," kata Mbah Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya Salyo sendiri. "Coba buka baju saja; akan saya usir." Dan Mbah Danu mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekankannya ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sekali dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangannya sehingga angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup. Setelah itu, punggung dan tengkuk mendapat giliran, dan dengan lega Nyonya Salyo bersendawa. Kemudian Mbah Danu melakukan kombinasi kedua pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari bawah dengan berletusan. Justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan ke tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu diperintahkannya keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya.

"Engkau tahu bukan, bahwa pijetan itu bisa merusakkan rahimmu?!"

Sebagai akibat insiden itu, Mbah Danu tak diizinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kekalahan bagi Mbah Danu. Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada waktu-waktu lainnya kedaulatan Mbah Danu tetap utuh.

Clash ke-2 antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung berhadap-hadapan, terjadi, ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang setengah umur, sakit keras, justru ketika menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rembang, Pak Jaksa dan Bu Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika Mbok Rah sudah mulai mengigau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab. Sangat kebetulan Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danu yang tidak punya mobil. Sehingga yang beraksi tangan di stetoskop. Dokter Umar, bukan tangan dan air ludah Mbah Danu.

"Malaria," diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang gelap. Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petunjuk-petunjuk lain tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang.

Penyakit Mbok Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetangga-tetangga yang dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan mereka mendesak, agar supaya Mbah Danu dipanggil. Tetapi sebagai jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dengan menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap tinggal netral, tetapi, sebagaimana juga di dalam politik ia dipandang dengan marah oleh kedua pihak yang bertentangan. Namun ia tetap mempertahankan politik bebas yang pasif itu.

Dokter Umar Chattab heran.

"Kininenya sudah Tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?" tanyanya.

"Ya," jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. "Saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah."

Dokter Umar Chattab pulang dengan tidak mengubah ketetapannya. Hanya saja ia berpesan, agar supaya waktu menelan pil si sakit diawasi sungguh-sungguh.

Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi ia mati.
Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas meskipun tak ditujukan secara langsung. Dengan tak dipanggil, Mbah Danu datang sendiri. Mr. Salyo mengundurkan diri ke dalam kamar tamu. Asbaknya penuh dengan puntung sigaret.

"Kita telah berbuat sebaik mungkin," kata Nyonya Salyo menghibur suaminya.

"Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal?!" seru Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab.

"Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan!" katanya lagi.

"Inna li'llahi wa inna illahi raji'un," kata Nyonya Salyo.

Ketika fajar menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya ke luar. Mr. Salyo dan nyonya ikut menyaksikan pengambilan jenazah dari dalam kamar tempat ia dan Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan Mbah Danu. Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu di dalam hati kecilnya cenderung kepada ayah-bundanya, tetapi merasa harus solider dengan kekecewaan suaminya. Hawa di dalam kamar itu pengap, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo membuka jendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari pagi masuk dengan gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul di ambang pintu, Mbah Danu. Matanya membara. Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin. la menghela napas panjang dan melemparkan pandang terakhir kepada bale-bale tempat semalam jenazah terbaring. Dengan sangat tiba-tiba ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale Mbok Rah.

7-7-1954

Download cerpen ini KLIK di sini

Friday, August 28, 2009

Rendra: Kenalan Lama

SAJAK KENALAN LAMAMU

Rendra

Kini kita saling berpandangan saudara.
Ragu-ragu apa pula,
kita memang pernah berjumpa.
Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,
tergencet oleh penumpang berjubel,
Dari Yogya ke Jakarta,
aku melihat kamu tidur di kolong bangku,
dengan alas kertas koran,
sambil memeluk satu anakmu,
sementara istrimu meneteki bayinya,
terbaring di sebelahmu.
Pernah pula kita satu truk,
duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,
sambil meremasi tetek tengkulak sayur,
dan lalu sama-sama kaget,
ketika truk tiba-tiba terhenti
kerna distop oleh polisi,
yang menarik pungutan tidak resmi.
Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,
kerna sama-sama anak jalan raya.
…………………............


Hidup macam apa ini !
Orang-orang dipindah kesana ke mari.
Bukan dari tujuan ke tujuan.
Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan.
………….............

Kini kita bersandingan, saudara.
Kamu kenal bau bajuku.
Jangan kamu ragu-ragu,
kita memang pernah bertemu.
Waktu itu hujan rinai.
Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah
tepat pada waktu kamu juga menariknya.
Kita saling berpandangan.
Kamu menggendong anak kecil di punggungmu.
Aku membuka mulut,
hendak berkata sesuatu……
Tak sempat !
Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku…..
Dalam pandangan mata berkunang-kunang,
aku melihat kamu
membawa helaian plastik itu
ke satu gubuk karton.
Kamu lapiskan ke atap gubugmu,
dan lalu kamu masuk dengan anakmu…..
Sebungkus nasi yang dicuri,
itulah santapan.
Kolong kios buku di terminal
itulah peraduan.
Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini,
karena kita anak jadah bangsa yang mulia.
…………..........

Hidup macam apa hidup ini.
Di taman yang gelap orang menjual badan,
agar mulutnya tersumpal makan.
Di hotel yang mewah istri guru menjual badan
agar pantatnya diganjal sedan.
……...........
Duabelas pasang payudara gemerlapan,
bertatahkan intan permata di sekitar putingnya.
Dan di bawah semuanya,
celana dalam sutera warna kesumba.
Ya, saudara,
Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua.
Ragu-ragu apa pula
kita memang pernah berjumpa.
Kita telah menyaksikan,
betapa para pembesar
menjilati selangkang wanita,
sambil kepalanya diguyur anggur.
Ya, kita sama-sama germo,
yang menjahitkan jas di Singapura
mencat rambut di pangkuan bintang film,
main golf, main mahyong,
dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat.
…….....
Hidup dalam khayalan,
hidup dalam kenyataan……
tak ada bedanya.
Kerna khayalan dinyatakan,
dan kenyataan dikhayalkan,
di dalam peradaban fatamorgana.
……….

Ayo, jangan lagi sangsi,
kamu kenal suara batukku.
Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar.
Ya, memang aku. Temanmu dulu.
Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu
bergiliran meniduri gula-gulanya,
dan mengintip ibumu main serong
dengan ajudan ayahmu.
Kita telah sama-sama beli morphin dari guru kita.
Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu,
dan akhirnya menggeletak di emper tiko,
di samping kere di Malioboro.
Kita alami semua ini,
kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita.
…..


Hidup melayang-layang.
Selangit,
melayang-layang.
Kekuasaan mendukung kita serupa ganja…..
meninggi…. Ke awan……
Peraturan dan hukuman,
kitalah yang empunya.
Kita tulis dengan keringat di ketiak,
di atas sol sepatu kita.
Kitalah gelandangan kaya,
yang perlu meyakinkan diri
dengan pembunuhan.
…........
Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan.
Kini kita bertemu lagi.
Ya, jangan kamu ragu-ragu,
kita memang pernah bertemu.
Bukankah tadi telah kamu kenal
betapa derap langkahku ?

Kita dulu pernah menyetop lalu lintas,
membakari mobil-mobil,
melambaikan poster-poster,
dan berderap maju, berdemonstrasi.
Kita telah sama-sama merancang strategi
di panti pijit dan restoran.
Dengan arloji emas,
secara teliti kita susun jadwal waktu.
Bergadang, berunding di larut kelam,
sambil mendekap hostess di kelab malam.
Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.

Politik adalah cara merampok dunia.
Politk adalah cara menggulingkan kekuasaan,
untuk menikmati giliran berkuasa.
Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan.
dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi
lalu ke mobil sport, lalu : helikopter !
Politik adalah festival dan pekan olah raga.
Politik adalah wadah kegiatan kesenian.
Dan bila ada orang banyak bacot,
kita cap ia sok pahlawan.
…..........................

Dimanakah kunang-kunag di malam hari ?
Dimanakah trompah kayu di muka pintu ?
Di hari-hari yang berat,
aku cari kacamataku,
dan tidak ketemu.
……............

Ya, inilah aku ini !
Jangan lagi sangsi !
Inilah bau ketiakku.
Inilah suara batukku.
Kamu telah menjamahku,
jangan lagi kamu ragau.

Kita telah sama-sama berdiri di sini,
melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api,
gunung yang kelabu membara,
kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani
di putar blue-film di dalamnya.
…………………


Kekayaan melimpah.
Kemiskinan melimpah.
Darah melimpah.
Ludah menyembur dan melimpah.
Waktu melanda dan melimpah.
Lalu muncullah banjir suara.
Suara-suara di kolong meja.
Suara-suara di dalam lacu.
Suara-suara di dalam pici.
Dan akhirnya
dunia terbakar oleh tatawarna,
Warna-warna nilon dan plastik.
Warna-warna seribu warna.
Tidak luntur semuanya.
Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi
dari suatu kejadian,
yang kita tidak tahu apa-apa,
namun lahir dari perbuatan kita.

Download? KLIK di sini

Thursday, August 27, 2009

Monolog: Anak Kabut

Anak Kabut
Oleh: Soni Farid Maulana


(cahaya biru berlapis kehijauan jatuh di atas permukaan kayu, semacam meja tulis, atau meja apapun. Di balik cahaya tersebut, tampak seorang perempuan tengah duduk termenung. Sesekali tarikan nafasnya yang berait itu terdengar. Wajah perempuan yang berada di balik cahaya itu seperti bayang-bayang. Saat itu malam begitu larut. Cahaya tersebut masih seperti itu ketika perempuan tersebut tengah berkata-kata).

Tatolah aku, kekasihku, dengan segenap cintamu. Janganlah ragu, gambarlah seekor naga mungil pada kedua belah payudaraku. Sungguh aku tidak suka gambar kupu-kupu atau bunga. Keduanya tidak melambangkan jiwa kita yang liar—keluar masuk nilai-nilai dari malam ke malam, dari pintu ke pintu diskotik. Disergap asap rokok. Irisan cahaya melambungkan jiwa kita pada impian Amerika atau impian apa saja.

Tatolah aku, kasihku, jangan ragu walau ayah dan ibuku tidak setuju. Dulu, ya, dulu. Tato memang simbol napi tapi sekarang lain maknanya. Ia sumber keindahan, semacam aksesoris, semacam tanda, postmodern di akhir abad 20. ya, memang, sejak 12000 tahun sebelum masehi orang sudah mengenal tato. Tapi adakah mereka seberani aku? Kasihku, jangan ragu, tatolah aku, aku tak mau kalah dengan ratu Alexandra yang hidup di abad 19 di Rusia.

Apa? Pencemaran darah, hepatitis B? Jangan takuti aku dengan hal demikian. Kasihku jangan ragu, tatolah tubuhku dengan segenap cintamu. Buatlah aku bahagia karenanya jangan pedulikan apa kata orang. Sungguh jiwa kita yang lapar dan liar ini perlu semacam perlambang, semacam pegangan nilai-nilai; setelah keasingan demi keasingan melontarkan kita pada sehampar dunia tak dikenal. Ya, betapa banyak tanda dan ayat dihadapanku, tapi aku salah menangkap makna*. Selalu kegelapan bersambung kegelapan yang kujelang; setelah kehidupan malam setelah nilai demi nilai berubah makna lebih cepat dari putaran jarum jam.

Tatolah tubuhku, jangan ragu dengan gambar yang permanent dengan model yang mutakhir. Aku tidak suka dengan tato temporer yang akan lenyap dalam waktu dekat, di masa tua nanti tidak punya kenangan yang bisa aku banggakan pada anak-cucuku. Sekali lagi aku minta padamu tatolah kedua belah payudaraku dengan gambar naga, naga cintamu yang jantan itu, yang menggairahkan itu dari malam ke malam membunuh kesepian yang menghadang di depan. Jangan ragu tatolah jiwaku yang lapar dan liar ini dengan jarum cintamu yang tajam dan runcing bertinta putih.

Hahahaha (perempuan itu tertawa. Cahaya sedikit demi sedikit benderang dengan warna netral). Ini pasti bukan sajak Saini KM. Saya berani bertaruhbahwa Saini KM tak akan berani menulis larik-larik puisi yang liar seperti ini:
‘tatolah jiwaku yang lapar dan liar ini dengan jarum cintamu yang tajam dan runcing bertinta putih’.

Sialan, semakin dihayati, puisi ini semakin menggelorakan gairah terpendam. Gairah yang bertahun-tahun sudah lenyap dari dadaku. Ya, bertahun-tahun sudah aku jadi tawanan kehidupan yang tidak jelas bentuk dan rupanya. Sungguh, bertahun-tahun sudah yang aku hadapi adalah anyir darah. Ya, amis darah yang melayah di gigir hari, yang menetes dari tubuh-tubuh tak dikenal.

Masih jelas dalam ingatanku, akan jerit tangis yang tertahan itu, aku dan kaumku saat itu tak lebih dari hewan qurban, yang dengan liar dan ganas dimangsa orang-orang berhati serigala. Ya, masih segar dalam ingatanku bagaimana aku dimangsa orang-orang berhati Nero di tengah-tengah kobaran api yang melahap bangunan demi bangunan bertingkat, sementara di jauhnya orang-orang lapar berteriak dengan suara-suara yang aneh sambil menggasak berbagai benda apa saja yang ada di hadapan dirinya.

Dan kini apa artinya reformasi? Apa artinya menangisi nasib hitam yang telah meruntuhkan jiwaku ke dalam kelam?
Apakah hukum telah berpihak pada orang-orang seperti diriku atau malah dibuang ke dalam tong sampah untuk kemudian dilenyapkan dengan guyuran bensin dan kobaran api, apa jadinya?

Mengapa penderitaan yang demikian hitam menimpa diriku dan teman-temanku hanya dianggap isapan jempol belaka? Orang bilang komnas HAM akan memperjuangkan nasibku hingga mendapat keadilan yang setimpal dengan apa yang aku derita. Tetapi kenyataannya semua itu hanya ramai diperbincangkan di koran-koran, sementara barisan pemerkosa yang bermuka garang itu tak pernah bisa ditemukan batang hidungnya. Demikian pula dengan para penembak gelap yang membunuh mahasiswa juga kekasihku tak pernah pula bisa ditangkap dan bahkan diseret ke muka pengadilan.

Adakah yang terjadi di bula Mei itu akan juga dianggap sebagai fiksi semacam lakon drama yang dibikin haru dan sedih?

Tidak. Semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa kuhapus begitu juga dalam ingatanku dan juga ingatanmu yang memperkosa diriku dengan muka yang menyebalkan. Sekali lagi pembunuhan yang terjadi di bulan Mei tidak bisa pula kau hapus dari ingatanmu meski saat ini kau tenang-tenang saja duduk sambil menghisap rokok kesukaanmu di tempat yang jauh. Yang jauh.

Aku yakin kau dan aku sama menderitanya kecuali dirimu telah menjelma iblis yang merajai kegelapan. Dengar, dengan segenap penderitaanku aku kutuk kau hingga hari perhitungan kelak yang tiada seorang pun bisa mengelak dari kepastian hukumNya.

Ya Tuhan yang maha pengasih aku serahkan padaMu. Semata padaMu.

Hening. Sesekali terdengar tiang listrik dipukul orang.

Sayup-sayup terdengar suara hujan yang demikian keras. Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya, seperti menuju sebuah jendela terbuka. Lalu balik lagi ke arah semacam meja tulis bagian depannya. Suara nafasnya yang berat terdengar.

Kini setiap malam tiba selalu aku rindukan kekasihku hadir disisiku tidak sekedar membelai rambutku, tetapi juga memelukku. Tapi dimana kekasihku berada? Orang-orang bilang tubuhnya hangus dibakar api. Entah apa kesalahannya, sebagian mengatakan ia mirip dengan intel, sebagian lagi mengatakan mirip dengan provokator dari pihak lawan?

Sungguh, semua tuduhan itu tidak benar. Mana mungkin ia berani melakukan hal yang tidak diketahui dan dikuasainya. Ia hanya seorang buruh bangunan yang kerjanya serabutan. Ia memang punya gelar lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sayangnya, ia tidak punya koneksi hingga tidak bisa jadi pegawai negeri. Karena tidak punya uang jutaan rupiah sebagai uang pelicin. Mereka yang berkuasa di negeri ini dihadapan dirinya benar-benar telah menjelma seekor naga yang lapar dan liar memangsa apa saja.

O kau yang mati di tengah-tengah kerusuhan. Sejumlah orang tak dikenal mengejar dan menyuruhnya masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat, yang setelah itu kemudian dibakarnya gedung tersebut sehabis sejumlah barang-barang yang ada didalamnya dijarah mereka.

O dari dunia mana mereka datang? Apa agama mereka? Mengapa api dan batu harus bicara? Mengapa mereka yang jelas-jelas telah menghancurkan bangsa dan negeri ini kedalam jurang peradaban yang hitam pekat ini masih ongkang-ongkang kaki, bebas dari segala tuntutan hukum? Negeri apakah ini, kok berani-beraninya seorang terpidana tindak korupsi mengajukan diri jadi calon Walikota, Bupati, Gubernur, malah Presiden?

Ya Allah, apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan diriku saat ini? Betapa dari tahun ke tahun aku tidak bisa menghanguskan rasa rinduku pada kekasihku yang kini entah dimana.
Aku masih ingat bagaimana ia pada sebuah malam hari dan tanggalnya kulupa, menulis sebuah puisi untukku, yang kemudian dibacakannya dengan tekanan suara yang malu-malu karena gelora cinta meluap-luap di dadanya.

Saat itu ia duduk di sebelahku sambil membaca sebuah puisi yang baru selesai ditulisnya. Demikian puisi itu dibacanya: duduk di bangku kayu, menghayati sorot matamu yang kelam oleh kabut dukacita aku temukan bintang mati bintang yang dulu berpijar dalam langit jiwaku. Aku temuka kembali-begitu hitam dan gosong dan kau menjerit terpisah dari cintaku.

Dengarkan aku bicara, suaraku bagai ketenangan air sungai, bagai keheningan batu-batu dasar kali melepas bau segar tumbuhan. Bila hari kembang, suaraku membangun kehidupan yang porak poranda oleh gempa peradaban. Ya, kutahu kota yang gemerlap menyesatkan rohanimu dari jalanku. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu: rasa gula yang terperas dari tebu jiwaku. Reguklah, biar jiwamu berkilau kembali. O, bintang yang dulu benderang dalam langit jiwaku.

(terdengar batuk tiga kali dengan tarikan nafas yang terasa berat. Di liar hujan mungki sudah berhenti. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dengan amat kerasnya. Perempuan itu segera mendekat ke arah jendela kaca, yang dibiarkan terbuka sejak awal pertunjukan. Dalam pandangan matanya ia seperti melihat kobaran api yang menjulang ke langit jauh.)

Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan bangunan bertingkat itu? Adakah suara ledakan yang aku dengar itu adalah suara bom? Jika ya, mengapa bom sering benar meledak di negeri ini? Tangki air mata nyata saat ini tidak hanya bedah di Aceh, Ambon, Bali, Jakarta dan kota-kota tak terduga dalam peta. Tetapi juga bedah dalam diriku. Aku masih ingat bagaimana kata-kata yang diucap oleh lelaki yang menghinakan diriku itu disuarakan dengan nada yang keras dan penuh kebencian.

Perempuan, katanya. Kau Cuma daging yang tidak hanya enak dipandang tetapi juga ditunggangi. Kau tidak lebih dari akar malapetaka di bumi ini. Kaulah yang menyebabkan kejatuhan Adam dari tanah sorga. Dan kini aku menderita harus menanggung segala siksa. Demi segala rasa haus dan lapar sirna dari tubuhku, ayo buka bajumu. Saat itu aku benar-benar takut melihat pandang matanya yang merah padam seperti orang mabuk yang kerasukan setan. Dengan kasar, pakaianku dibukanya secara paksa. Tubuhku diseretnya ke pojok bangunan yang gelap. Dan dengan buas dilahapnya diriku tanpa ampun.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

O, rasa sakit itu tidak hanya bersumber di pangkal paha. Tetapi bersumber di seluruh tubuhku, jiwaku, dan bahkan nyawaku tak kuat menanggungnya. Dan kini aku terus dikejar bayang-bayang yang menakutkan.

Engkau benar cintaku, kita lahir sebagai dongengan. Peran yang kita mainkan adalah kehidupan yang kelam, lebih hitam dari aspal jalanan.

(sunyi. sesekali terdengar suara sirine meraung-raung. Dengan amat kerasnya. Perempuan itu sejurus menarik napasnya kuat-kuat, lalu kembali duduk di tubir meja semacam meja tulis tadi. Cahaya lampu kembali biru berlapis kehijauan. Sunyi.)

Saat seperti ini, aku ingat bagaimana kau berkata untuk terakhir kalinya, sebelum engkau benar-benar pergi meninggalkan diriku selama-lamanya. Ya, malam itu kau tidur di rumahku. Aku begitu kangen, begitu rindu padamu. Kita tidak berbuat apa-apa saat itu. Selain berpandangan dan berpelukan, setelah kau ucap kalimat-kalimat itu, kata-kata cinta yang sangat memabukkan itu.

Telah kau tiup pintu dan jendela kamarmu. Malam yang turun berudara buruk dengarlah ringkik kuda itu, seperti hendak membekukan jantungmu! Larut malam ini aku disisimu. Aku dan kau tersenyum seakan tahu apa yang bergelora di dada. Ya, pelan dan lembut kau dengar guguran daun diluar jendela.

Kita terlahir sebagai dongengan, bisikmu. Malam larut dan sunyi.

Kita semakin koyak oleh harapan purba, Abu kelahiran kita hanya pantas jadi dongengan santapan nasib yang bengis.

(sayup tiang listrik dipukul orang)

Kekayaan kita adalah kemiskinan kita, adalah rumah kita yang lembab oleh air mata, kita hanya pantas menjadi dongengan.

Salak anjing mengusap pendengaran deru kereta memecah kesunyian kata-kata menggumpal dalam dada. Beku tak bersuara menyumpah matahari hitam digilas ruang dan waktu negeri kelam.

Kita hanya pantas jadi dongengan. Ya.

Sungguh aku tak bisa melupakan kalimat-kalimat yang kau ucap malam itu, ketika angin dingin bersiutan diluar jendela menggugurkan ribuan dedaunan. Aku tidak bisa melupakan pancaran matamu yang hangat dan lembut.

Ya, aku tidak bisa melupakan semua itu, termasuk tidak bisa melupakan kata-kata dan pancaran mata lelaki jahanam itu yang telah mereguk kegadisanku secara paksa.

O, api yang berkobar diluar dan didalam dadaku. Seberapa jarak lagikah kebahagiaan itu bisa kujelang. O, maut yang diam-diam mengintai dan mengendap dalam dadaku seberapa detik lagikah nyawa ini kau paut dari tubuh yang penuh luka ini.


Dan kini: aku mendengar langkahmu menyusuri lorong gelap jiwaku begitu teratur, bagai detik jam. Anngin dan daun-daun jatuh mempertegas sunyi yang kelak mekar pada sisa-sisa ranting patah percakapan kita.

Bulan yang memulas langit dengan warna darah: mengundang ribuan kelelawar yang terbang dari goa dadaku dengan suara aneh.

Sungguh setiap jiwaku merindu cahaya matahari. Malam terasa beku sepadat es di kulkas waktu.

Sedang doa-doa para pelayat, genangan air sisa hujan, wangi kembang setaman dan bau kemenyan beraduk jadi satu. Urat-urat syarafku terasa kaku.

O, maut, kebengisan apalagikah yang kelak kau mainkan dalam konser kematianku ini? Sedang Tuhan sulit dijangkau dari keluh-kesah kegelapanku.

(hening, terdengar tiang listrik dipukul orang berkali-kali. Cahaya panggung sedikit demi sedikit kembali netral. Perempuan itu menjatuhkan kepalanya diatas meja. Kemudian menegakkan kepalanya secara perlahan-lahan seiring dengan suara orang yang melantunkan tahrim dari sebuah masjid yang jauh.)

Jam berapa ini? Ya Tuhan betapa cepat waktu berlalu. Hidupku tidak berubah pula. Jika ini semacam ujian yang harus kutempuh dengan tangan dan kaki berdarah-darah, maka aku jalani semua ini dengan kesabaran tanpa batas.

Ya Allah yang maha pemurah. Jika semua ini adalah siksa dariMu. Semoga apa yang kualami di bumi ini menjadi tebusan bagi kehidupan di akherat kelak yang lebih baik dari apa yang aku alami hari ini.

SELESAI

Download? KLIK di sini

Wednesday, August 26, 2009

Selasih: Sang Pejuang

Selasih: Seorang Pengarang Seorang Pejuang

Korrie Layun Rampan

Proses kreatif setiap pengarang tak pernah sama. Selalu ada hal-hal khusus yang memberi daya dorong untuk tercipta karyanya tersebut. Bahkan untuk kelahiran setiap karya – seni dan pengarang yang sama – selalu bermula dari proses yang berlainan. Selasih menjelaskan bahwa motif penciptaannya berangkat dari peristiwa realistik yang meninggalkan kesan khusus. Peristiwa itu terus membayanginya dan menuntut pelampiasan secara estetik. Di samping itu, perasaan memiliki bakat mendorong disalurkan sebagai pengujian terhadap kemampuan literer. Hal lain dan dorongan kreatif itu adalah imbalan yang sangat menggiurkan yang diberikan penerbit di zaman itu

Pada dasarnya karya sastra Selasih semuanya berangkat dari tema. Kalau Tak Untung menampakkan temanya yang amat kentara tentang takdir dan upaya menempatkan wanita pada kedudukannya yang utama sebagai sumber kearifan. Emansipasi yang digagas oleh RA Kartini diterima Selasih dengan cara yang khas, di mana cara emansipasi itu bersifat didaktik yang dilandasi cinta kasih

Tokoh Rasmani tidak melakukan perlawanan terhadap kaum lelaki, karena ia berpandangan bahwa kaum lelaki merupakan partner yang seimbang dan serasi dalam usaha membangun kebahagiaan di atas dunia ini. Oleh sebab itu kaum lelaki wajar mendapat tempat yang –dalam hal tertentu—sedikit di atas kaum wanita, karena tanpa lelaki kaum wanita tidak mungkin melakukan aktivitas reproduktif – yang memungkinkan manusia menjadi khalifah di bumi Allah ini. Semua tindakan persuasi yang dilakukan Rasmani justru bertujuan untuk membangun kemaslahatan pasangan keluarga dengan menempatkan cinta sebagai perekat utama. Kemuliaan hati dan kebesaran jiwa yang dimilik kaum wanita harus didayagunakan secara maksimum guna menjamin kebajikan tegak secara bertanggung.

Kalau Tak Untung menampakkan gagasan pokok Selasih tentang kedudukan wanita di dalam rumah tangga dan masyarakat Dalam salah satu puisinya "Cinta yang Suci” (Puiangga Baru, No. 10, Th. IV, April 1937) Selasih merumuskan makna cinta yang menjadi landasan emansipasi bagi wanita Indonesia. Dalam beberapa bait berikut ini tampak gagasan itu dinyatakan Selasih dengan cara yang gamblang tentang hubungan cinta antarsuami-istri

Kucintai kanda sepenuh hati
Dengan cinta ibu, yang mahasuci
Suka membela berbuat jasa
Sekuat tulang sehabis tenaga.

Kucintai kanda sebagai istri
Suka menyerah berbuat bakti
Kasih bercampur dendam birahi
Penghibur sukma, penggembira hati.

Kucintai kanda sebagai anak
Seperti anak sayangkan 'kan bapak
Kupandang tinggi, serta mulia
Kutakuti tuan, kuhormati kanda.

Kucintai kanda sebagai saudara
Tempat adinda minta bicara
Sebagai dahan tempat bergantung
Di waktu panas tempat berlindung.

Kucintai kanda sebagai sahabat
Lawan bergurat bermusyawarat
Teman bersuka bercengkerama
Menghilangkan bimbang pelipur duka.

Kucintai kanda dengan cinta suci
Cinta ibu cinta sejati
Cinta istri, cinta birahi
Cinta anak cinta berbakti
Cinta saudara penjauh cidera
Cinta sahabat pokok gembira.

Gagasan cinta yang demikian ini membuat Kalau Tak Untung menempati posisi penting tentang kedudukan wanita di tengah masyarakat, khususnya kedudukan seorang istri. Dengan pokok tema seperti itu, Rasmani menemukan dirinya sebagai kekasih –dan calon istri—serta hadir dalam posisi saudara maupun sahabat Masrul yang sedang dirundung kesukaran perkawinan. Ideal cinta yang emansipatif dalam situasi tradisional seperti ini memperlihatkan pola pikiran unik dalam hubungan gagasan individual yang dipenetrasikan dari Barat. Kekuatan Kalau Tak Untung justru karena mulusnya pemaduan antara gagasan individu dengan akar-akar konvensi yang bersemayam di dalam tradisi tempatan. Dalam hubungan demikian itu, sebuah rumah tangga lebih berupa bayangan akan pembinaan rumah tangga bangsa, sebagaimana yang dikatakan Selasih bahwa pengarang itu —pada zaman novel ini ditulis—adalah pejuang untuk memerdekakan Tanah Air. Kemerdekaan secara simbolis merupakan pembebasan dari segala hal yang membelenggu kebahagiaan.

Novel Pengaruh Keadaan (1937) tampaknya merupakan lanjutan gagasan Kalau Tak Untung tentang kemuliaan hati. Secara deterministik, lingkungan menunjukkan perannya terhadap watak dan kehidupan keseharian umat manusia. Dalam novel ini Selasih menampilkan protagonis Yusnani yang harus melewati tekanan berat seorang ibu tiri yang kejam. Namun gadis yang berhati emas itu membina kesabarannya secara luar biasa, membuat kecantikan fisiknya makin bertambah karena di dalam jiwanya terpendam kecantikan batin yang secara simultan memelihara keluhuran budi.

Tema manusia luhur dengan menampilkan sosok wanita berjiwa kesatria merupakan tipikal sastra Selasih. Baik Rasmani, Yusnani, maupun Rosnelli tokoh menunjukkan tipe-tipe khas kemuliaan hati yang menunjukkan konsistensi novelis ini pada watak tulus serta kebajikan hati yang tak pernah dikalahkan dengki dan dendam. Bahkan pada novel Kembali ke Pangkuan AyahKembali ke Pangkuan Ayah Selasih menulis motto, "Perjuangan di bidang apa pun yang dilakukan dengan penuh keinsyafan, dan menyerahkan diri pada Allah, pasti akan menghasilkan buah yang manis cita rasanya. Berilah sendi pada keinsyafan dan penyerahan itu, yaitu: takwa, jujur, tulus ikhlas." Motto ini menunjukkan sifat didaktik yang mencirikan segi-segi khas emansipasi yang dicoraki budaya nenek-moyang, bahwa seorang wanita sesungguhnya bagian integral seorang lelaki.

Sebagai pembuka jalan bagi novelis lainnya yang lahir lebih kemudian, Selasih meletakkan dasar perjuangan kaum wanita yang dilandasi sifat-sifat luhur dan berbudi tinggi pada tokoh-tokoh wanitanya. Pada dekade-dekade selanjutnya, persambungan tokoh-tokoh emansipatif itu dikenal lewat karya-karya Nh. Dini dan Titis Basino. Dua novelis ini memperlihatkan citra wanita yang berjuang menemukan jati diri sesungguhnya sebagai manusia di tengah perkembangan dunia modern yang serba canggih. Jika dalam novel-novel Selasih wanita umumnya menerima nasib, pada novel-novel novelis terkini ini tokoh wanita berusaha mengubah nasib dengan berjuang lewat kemam puan kemanusiaan yang mereka miliki.

Dengan memulai ceritanya dari tema, maka Selasih menempatkan tokoh-tokohnya sebagai identifikasi perjuangan. Caranya membangun pikiran dan watak mencerminkan kematangan gagasan yang ditransformasikan ke dalam jiwa para pelakunya. Dinamika jiwa dan sifat tawakal yang dibina di dalam watak para tokohnya, membuat tokoh-tokoh Selasih selalu mampu keluar dari kemelut, meskipun mereka berjuang sendiri tanpa bantuan kekuatan lain yang mendongkrak keberhasilan. Meskipun masih bersemayam jiwa romantik, namun tokoh-tokoh wanita Selasih merupakan tokoh-tokoh yang kuat dan mampu menjadi teladan. Kekukuhan pada pendirian sendiri, sifat tawakal dan beriman, serta pemilihan pada pengambilan keputusan yang tepat dengan cara yang jujur membuat cerita-cerita Selasih menempati peringkat tersendiri di antara fiksi-fiksi zamannya. Fiksi-fiksi itu aktual dan terus dibaca karena pesan positifnya yang membangun semangat kejuangan untuk membuka masa depan yang lebih baik!***

Mengenal Selasih

Selasih : Wanita Novelis Indonesia Pertama

Korrie Layun Rampan

Selasih merupakan nama samaran Sariamin Ismail. Ia dilahirkan di Talu, Sumatra Barat, 31 Juli 1909. Setelah lulus SD 5 tahun (Gouvernement School) pada tahun 1921, ia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah guru (Meisjes Normaal School) dan tamat tahun 1925. Sejak itu ia terjun di dunia pendidikan. Pada tahun 1925 ia mengajar di Bengkulu dan tak lama diangkat sebagai kepala sekolah. Pada tahun 1930 ia dipindahkan ke Padangpanjang, lalu tahun 1939 dipindahkan ke Aceh. Di daerah ini hanya bertahan dua tahun. Sejak 1941 ia mengajar di Kuantan dan sampai tahun 1968 ia terus berkiprah di dunia pendidikan di daerah Riau. Pengalamannya mengajar sejak tingkat SD hingga SMU memberi warna tersendiri di dalam kehidupannya selama bertahun-tahun. Ia juga pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling Cabang Bukittinggi (1928-1930), dan anggota DPRD Riau (1947- 1948).

Sejalan dengan pekerjaannya sebagai guru, Selasih giat dalam pertunjukan sandiwara bertendens pendidikan. Ia mementaskan sejumlah sandiwara di beberapa kota di Riau seperti Kuantan, Tanjung Pinang, Pekanbaru, dan lain-lain.

Menulis di zaman penjajahan tidaklah mudah. Selain berbagai pembatasan yang dikenakan terhadap karya tulis, juga pengarangnya setiap saat harus siap mempertanggungjawabkan pikiran-pikiran yang diuraikan di dalam tulisannya itu. Sariamin yang aktif sebagai anggota organisasi politik Indonesia Muda dan Gerakan Ingin Merdeka merasakan bahwa dirinya selalu berada di bawah ancaman jika ditemukan bukti melakukan perlawanan terhadap rezim penjajah. Ia menunjukkan, sejumlah temannya yang aktif dalam perkumpulan di bawah tanah seperti Aziz Chan, Djafar Djambek, Alwi Luwis, dan lain-lain harus mengakhiri hidup di ujung bedil, atau selama bertahun-tahun mendekam di balik jeruji. Pada zaman itu menjadi pengarang sekaligus sebagai pejuang untuk kemerdekaan tanah air. Untuk itulah ia menggunakan sejumlah nama samaran, agar dapat terhindar dari penciuman pihak keamanan (polisi) kolonial. Beberapa nama samarannya ialah Sekejut Gelingging, Seri Tanjung Dahlia, Sen Gunting, Seri Gunung, Bunda Kanduang, Mande Rubiah, Ibu Sejati, Seleguri, dan Selasih.

Nama Selasih ditemukannya secara tak sengaja pada saat ia mulai dihinggapi mimpi untuk menjadi pujangga pada tahun 1932. Pada tahun itu ia selesai menulis novel Kalau Tak Untung. Ia merasa ragu, dengan nama apa novel itu diterbitkan. Pada awalnya ia ingin menggunakan nama Ibu Sejati, akan tetapi nama itu sudah dikenal luas sebagai nama seorang penulis yang bersikap melawan kebijakan pemerintah kolonial. Nama lainnya Seleguri juga sudah dikenal. Dalam hubungan itu Darman Moenir mencatat penjelasan Selasih lewat ceramah sastra di Taman Ismail Marzuki, 17 September 1986 (lihat Horison, No. 11, Th. XXI, November 1986, him. 385-386) di mana, "Sebelum mengirim Kalau Tak Untung ke Betawi (Jakarta), cukup lama Sariamin berunding dengan diri sendiri. Pada mulanya dia ingin menggunakan nama Ibu Sejati. Sayang, nama ini terlanjur dikenal sebagai yang suka melawan dan menentang tindakan pemerintah (Belanda) sehingga Suska—redaktur utama Persamaan, jadi pusing; terpaksa membayar denda! Namun, Seleguri pun terkenal (di Medan) sebagai penulis Lukisan Dunia dan Sunting Melayu." Setelah memilih sejumlah nama samaran, akhirnya ditetapkan nama Selasih, yaitu nama "sejenis tumbuh-tumbuhan yang keadaannya hampir sama dengan seleguri: tak berguna, bunganya pun amat kecil tak berseri; dicari hanya ketika demam untuk dijadikan obat."

Novel Kalau Tak Untung terbit pada tahun 1933. Aman Datuk Madjoindo memberi komentar lewat radio—beberapa hari setelah novel itu diluncurkan—bahwa telah lahir pujangga putri pertama di Hindia Belanda. Para pengarang lainnya seperti Armijn Pane, Kasoema Datuk Pamuntjak dan lain-lain memuji keberhasilan Selasih, dengan menyebutkan ia sebagai pionirdalam penulisan novel dari gendernya.

Mungkin ada yang ingin tahu sejak kapan dan hal apa yang mendorong Selasih menulis? Menurut penuturannya pada ceramah yang sudah disebutkan di atas, ia menulis sejak bulan Mei 1926, ketika ia menjadi guru di Matur. Seorang mantan gurunya, Sitti NoerMariah Naro setengah memaksa agar ia menulis untuk majalah Assyarag yang terbit di Padang. Majalah ini merupakan milik Persatuan Guru Perempuan, dan banyak mendorong bakat-bakat baru dengan memberi kesempatan tampil dengan gagasan-gagasan yang inovatif. Di antara pimpinan majalah ini terdapat nama Rasjid Manggis dan Rustam Effendi. Tulisan pertama Selasih di majalah itu berjudul: "Perlukah Anak Perempuan Bersekolah?"

Bakat menulisnya lebih berkembang setelah pada tahun 1927 ia pindah di Lubuk Sikaping. Dari segi tempat bekerja, sejak dari Bengkulu dan Matur, Lubuk Sikaping lebih memungkinkan menemukan bacaan yang mendorong bakatnya menulis. Pada tahun 1927 itu ia berjumpa dengan Abdul Latiefyang memperkenalkan padanya majalah Seri Pustaka, Panji Pustaka, dan Bintang Hindia. Setelah ia pindah di Bukittinggi cakrawala wawasannya lebih diperlebar oleh beberapa surat kabar seperti Persamaan, Sinar Sumatera, dan Sumatera Bond. Pada media massa inilah Selasih mengembangkan bakatnya menulis, baik di bidang sastra, seni-budaya, pendidikan, dan juga politik.

Terbitnya Kalau Tak Untung lebih membesarkan hatinya, bukan hanya karena namanya melejit sebagai wanita pujangga, akan tetapi imbalan yang diberikan Balai Pustaka sungguh-sungguh membanggakan. Oleh karena itu ia kemudian menulis novel kedua, Pengaruh Keadaan, dan terbit tahun 1937. Meskipun novel ini tidak sekuat Kalau Tak Untung, akan tetapi penerbitannya di Balai Pustaka merupakan suatu kepuasan tersendiri.

Pada tahun 1939 Selasih ikut serta dalam lomba mengarang roman yang diadakan oleh Balai Pustaka. Naskahnya yang diberi judul Harapan Ibu menduduki peringkat sembilan dari dua belas pemenang. Sayangnya naskah itu hilang, karena penerbitannya terbentur keadaan ekonomi pemerintah kolonial Belanda yang ambruk karena maleise dan sedang menghadapi suasana Perang Dunia II. Hal yang membanggakan dari sayembara itu di mana pengikutnya mencapai dua ratus lima puluh enam naskah, dan ia menduduki ranking sembilan, merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Di samping menulis karya fiksi ia juga menulis puisi dan menerjemahkan sejumlah karya dari Barat maupun dari Timur, terutama karya-karya yang ditulis dalam bahasa Belanda, dan dari Timur terutama dari karya-karya pengarang Cina. Sebagian puisinya dipilih Sutan Takdir Alisjahbana untuk antologi Puisi Baru (1946), Toeti Heraty dalam Seserpih Pinang SepucukSirih (1979), Linus Suryadi AG dalam Tonggak I (1986) dan Korrie Layun Rampan dalam Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (dalam proses penerbitan).

Sebagai sastrawati yang mengalami tiga zaman (Belanda, Jepang, dan kemerdekaan) ia menimba banyak pengalaman berharga. Ia sempat berhenti menulis sejak zaman penjajahan Jepang dan baru memulai lagi pada awal 1980-an. Pada pemunculannya yang kedua ia menerbitkan sejumlah buku cerita anak-anak seperti Panca Juara (1981), Nahkoda Lancang (1982), Cerita Kak Mursi (1984), dan lain-lain. Dorongan mengarang ini didapatkan pada tahun 1981 ketika Menteri P dan K Dr. Daoed Joesoef menemuinya pada tanggal 18 November 1981, memintanya menulis lagi. Dorongan ini disanggupinya, dan sampai tahun 1986 ia berhasil menulis dua puluh satu naskah — yang rata-rata setebal 200 halaman— dan sebagiannya diterbitkan dalam Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah yang dikelola pihak P dan K. Di antara buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau.

Novel paling akhir Selasih berjudul Kembali ke Pangkaian Ayah yang diterbitkan Mutiara Sumber Widya pada tahun 1986. Penerbitan ulang novel ini dilakukan oleh Penerbit Balai Pustaka pada tahun 1997. Dengan sejumlah karya sastra yang telah ditulisnya itu, namanya tercatat dalam sejarah sastra Indonesia sebagai sastrawati yang digolongkan di dalam kelompok Angkatan Balai Pustaka, yaitu kelompok sastrawan awal dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern.***

Unduh tulisan ini KLIK di sini

Sunday, August 23, 2009

Unsur Ekstrinsik cerpen Ave Maria

Dimensi Psikologi Kepribadian Tokoh
Cerpen “Ave Maria” Karya Idrus


Agus Sujanto, Harlem Lubis, dan Taufig Hadi (2001 : 3) mengartikan psikologi kepribadian sebagai psikologi khusus yang membahas tentang psikhe seseorang. Sehubungan dengan hal itu, E Koeswara (1991 : 4) menjelaskan bahwa semua factor yang menentukan atau mempengaruhi tingkah laku manusia merupakan objek penelitian dan pemahaman para ahli psikologi kepribadian.

Untuk memperoleh gambaran tentang evaluasi tokoh dalam cerpen “Ave Maria” dari dimensi psikologi kepribadian dapat disimak melalui deskripsi dan eksplanasi sebagai berikut.

1. Zulbahri sebagai seorang suami termasuk berkepribadian pria tipe perasaan. Dalam dirinya dihantui perasaan bahwa kedatangan Syamsu dari Shonanto ke Jakarta untuk tinggal serumah dengan Zulbahri dan istrinya (Wartini) sangat membahayakan. Zulbahri merasa khawatir bahwa api cinta antara Syamsu dengan Wartini yang sudah padam menyala kembali. Sehubungan dengan itu Tracy Cabot (2000:112) menyatakan bahwa pria perasaan bersifat sensitif dan mudah dilukai.

Zulbahri yang telah menikahi Wartini, merasa bahwa dirinya “seorang perampok” karena sebenarnya Wartini pernah menjadi kekasih Syamsu ketika masih kecil, walaupun hal itu hanya cinta monyet.

Penelitian tentang cerpen “Ave Maria” karya Idrus dari dimensi Psikologi kepribadian menggunakan landasan pijak psikologi sastra. Suwardi Endraswara (2003:96) berpendapat bahwa Psikologi Sastra merupakan kajian sastra yang memandang karya sastra sebagai aktivitas kejiwaan. Dalam hal ini karya sastra dipandang sebagai fenomena psikologis akan menampilkan aspekaspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh.

Dalam hal ini, psikologi kepribadian didasarkan atas cara pendekatan (approach) terdiri atas dua macam teori.
(1) Teori yang mempunyai cara pendekatan tipologis (typological approach) misal teori Plato dan Hipocrates Galenus. (2) Teori yang menggunakan cara pendekatan penafsiran (trais approach) misal dari Freud dan teori Jung (Suryabrata, 2005:4).

Untuk menganalisis cerpen “Ave Maria” karya Idrus, peneliti menggunakan pendekatan Freud. Hal ini karena untuk memaknai karya sastra yang peneliti analisis berdasarkan teori penafsiran (Sumadi Suryabrata, 2005:4). Partini Sardjono Pradotokusumo (2005:55) mengartikan penafsiran adalah menafsirkan sebuah teks dan menyusun tafsiran-tafsiran itu secara sistematik.

Menurut hemat peneliti, Zulbahri tidak merebut Wartini dari tangan Syamsu. Hal itu karena ketika Zulbahri menikah dengan Wartini keadaan Wartini vakum (tidak memiliki kekasih). Oleh karena itu Wartini sah sebagai istri Zulbahri, dan sepenuhnya Wartini menjadi hak Zulbahri.

Superego Zulbahri dalam menyikapi perselingkuhan antara Wartini dengan Syamsu tidak tepat. Seharusnya Zulbahri tidak meninggalkan Wartini begitu saja, melainkan mengajak Wartini dan Syamsu duduk satu meja menyelesaikan persoalan “bagaimana sebaiknya dan bagaimana seharusnya.” Dalam hal ini Zulbahri tidak perlu meninggalkan Jakarta menuju ke Malang.

Pada kenyataannya kepergian Zulbahri ke kota Malang untuk mencari ketenangan tidak menyelesaikan persoalan. Di kota tersebut, rasa sakit hatinya terhadap Wartini dan Syamsu semakin menjadi-jadi yang mengakibatkan ia jatuh sakit, dirawat di rumah sakit selama tiga bulan. Oleh karena itu, setelah sembuh ia kembali ke Jakarta. Di tengah perjalanan, Zulbahri timbul perasaan ingin membunuh Wartini dan Syamsu, namun berdasarkan pertimbangan psikologis niat tersebut diurungkan. Hal ini menunjukkan Zulbahri sadar bahwa membunuh bukan solusi yang baik.

Di Jakarta, ia tidak dapat tinggal berlama-lama di hotel karena keuangannya menipis. Ia memilih tinggal di sebuah kampung bergang kecil. Di sinilah ia banyak membaca buku. Setelah membaca sebuah cerpen, ia sadar bahwa kehidupan masa lalunya selalu menuntut kepentingan pribadi (egois) sehingga hidupnya tidak tenang. Akhirnya ia sadar yang sesadar-sadarnya memilih jalan hidup menjadi anggota barisan jibaku untuk membela nusa dan bangsa. Atas solusi tersebut, Zulbahri merasa hidupnya bermakna. Pilihan jalan hidup tersebut menurut peneliti merupakan solusi yang sangat baik pada masa itu.

2. Syamsu (adik Zulbahri) pada mulanya menghargai Wartini sebagai istri Zulbahri. Akan tetapi beberapa lama kemudian pikiran dan perasaan Syamsu berubah mencintai Wartini. Kepribadian Syamsu dikusai id.

Berdasarkan hasil observasi, Syamsu terklasifikasi sebagai pria tipe auditory yaitu pria yang lebih memperhatikan suara (Cabot, 2000:90). Hal itu dapat dibuktikan begitu ia selesai memainkan musik lagu “Ave Maria” bersama Wartini, disadari atau tidak Syamsu terlena, jatuh cinta kepada Wartini sehingga terjadilah perselingkuhan.

Seharusnya Syamsu tahu diri bahwa Wartini istri sah Zulbahri. Syamsu dalam hal ini sebaiknya mengekang id (alam bawah sadarnya) menjaga keutuhan keluarga (Zulbahri dengan Wartini).

Bagaimanapun Syamsu melakukan perbuatan yang tidak etis. Ia merampas istri Zulbahri yang seharusnya menghargai dan melindunginya. Syamsu sosok pria yang ekstrem karena membuat situasi keluarga Zulbahri ceraiberai. Dalam hal ini Syamsu terperangkap cinta Wartini.

3. Sosok Wartini terklasifikasi tipe wanita hetaira yaitu berhubungan dengan pria dengan maksud untuk menarik eros atau cintanya. Wanita tipe ini berbahaya karena tidak pernah mengadakan hubungan yang kekal. Dia dengan mudah berpindah dari pria yang satu ke pria lain (Sebatu, 1994:110). Kepiawaiannya bermain piano ia salah gunakan untuk membuat orang lain jatuh cinta.


Di depan Zulbahri, Wartini berikrar bahwa tidak mungkin Wartini jatuh cinta kepada Syamsu. Akan tetapi di depan Syamsu, Wartini mengatakan “Dapatkah seorang wanita mencintai dua orang sekaligus?” Dalam hal ini Wartini egois, pengecut, dan plin-plan. Ia tidak dapat mengekang id, dan superegonya tidak berfungsi dengan baik. Berkaitan dengan hal tersebut, Korrie Layun Rampan (2005:21) mengungkapkan bahwa pengarang membeberkan kenyataan yang ada, seperti apa yang dilihat oleh mata jasmani sehari-hari.

Sebaiknya, walaupun Wartini sangat mencintai Syamsu, ia harus dapat menghalang-halangi id-nya sehingga perkawinannya dengan Zulbahri dapat terbina dengan baik.

1. Zulbahri.
Kelebihan:
  • dapat menghalang-halangi id-nya yang berkeinginan untuk membunuh Wartini dan Syamsu.
  • Setelah perkawinannya dengan Wartini gagal, ia dengan kesadarannya melakukan kompensasi positif masuk tentara jibaku membela nusa dan bangsa.

Kekurangan:
  • Zulbahri keliru dalam menyikapi hubungan Wartini dengan Syamsu. Sebaiknya Zulbahri tidak perlu meninggalkan rumahnya. Zulbahri sebaiknya mengajak Wartini dan Syamsu duduk satu meja untuk menyelesaikan persoalan.
  • Zulbahri tidak berani menghadapi Syamsu walaupun sebenarnya Wartini sepenuhnya hak Zulbahri.


2. Syamsu
Kelebihan
  • Berpenampilan tenang dan percaya diri.
  • Berjiwa optimis dan militan untuk dapat meraih kembali mantan kekasihnya yang sudah menikah.

Kekurangan:
  • Pengganggu keharmonisan perkawinan Zulbahri dan Wartini.
  • Seorang pemuda yang ekstrem.

3. Wartini
Kelebihan:
  • Pandai bermain piano dengan penuh perasaan sehingga Syamsu empati.
  • Wanita tipe hetaira, pandai membangkitkan kembali cinta Syamsu yang sudah rapuh.

Kekurangan

  • Egois, Pengecut, dan plin-plan
  • Tidak mau tahu tentang kewajiban seorang istri.


Berdasarkan psikologi kepribadian, baik Zulbahri, Syamsu, maupun Wartini tidak digambarkan sebagai tokoh “hitamputih” yang berarti tokoh yang baik digambarkan baik sekali, tokoh yang jahat, jahat sekali. Pengarang dalam cerpen “Ave Maria” menggunakan teknik campuran yaitu masing-masing tokoh memiliki sisi baik sekaligus memiliki sisi buruk.

Sesuatu yang menjadi benang merah pemicu retaknya perkawinan dalam cerpen “Ave Maria” ialah perselingkuhan. Dalam hal ini penyelewengan berarti meracuni cinta. Penyelewengan merupakan pelanggaran dasar atas komitmen sebuah perkawinan.

Sumber: INSAN Vol. 8 No. 1, April 2006
Heru Supriyadi
Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya

Download tulisan ini?
KLIK di sini

Referensi

Cabot, Tracy. (2000). Rahasia Membuat Pria Jatuh Cinta. Jakarta: Pustaka Delapratasa.
Endraswara, Suwardi. (2003). Metodologi Penelitian Sastra. Yoyakarta: Penerbit Pustaka Widyatama.
Idrus (2004). Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Jakarta: Balai Pustaka.
Koswara, E. (1991). Teori-Teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco.
Pradotokusumo, Partini Sardjono. (2005), Pengkajian Sastra. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Sarana.
Rampan, Korrie Layun.(2005). Tokoh-tokoh cerita Pendek Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sebatu, Alfons. (1994). Psikologi Jung. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sujanto, Agus. Harlem Lubis dan Taufig Hadi. (2001). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Bina Aksara.
Suryabrata, Sumadi. (2005). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Analisis Tokoh dan Penokohan Cerpen Ave Maria

Analisis Tokoh dan Penokohan
Cerpen Ave Maria Karya Idrus

Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh (Aminuddin, 2004:79). Dalam hal ini tokoh terdiri atas sepuluh ragam: tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, tokoh sederhana dan bulat, tokoh antagonis, tokoh statis, tokoh berkembang, tokoh tipikal dan tokoh netral (Nurgiantoro, 2000: 176-190).

Berdasarkan sinopsis cerpen “Ave Maria”, tokoh yang penting untuk dibicarakan yaitu Zulbahri, Wartini, dan Syamsu.

Tokoh Zulbahri dalam cerpen “Ave Maria” termasuk tokoh utama. Hal itu dapat dilihat bahwa Zulbahri tokoh yang paling terlibat dengan makna dan tema cerita. Tokoh Zulbahri paling banyak terlibat dengan tokoh lain (Syamsu dan Wartini). Selain itu, Zulbahri, tokoh yang banyak memerlukan waktu penceritaan.

Wartini termasuk tokoh bulat (kompleks). Dalam hal ini ia sebagai sosok wanita munafik. Di depan Zulbahri, ia mengatakan cintanya hanya untuk Zulbahri, namun di depan Syamsu, Wartini mengatakan “Dapatkah seorang perempuan memiliki dua laki-laki sekaligus?” Wartini tidak memiliki kepribadian yang konsisten. Syamsu termasuk tipe tokoh berkembang. Ketika kecil ia ada hubungan cinta monyet, namun ketika ia berada di Shonanto, seolah Syamsu tidak ada hubungan apa-apa dengan Wartini.

Sekembali dari Shonanto, pada mulanya Syamsu dapat menjaga diri dan kehormatan, namun sedikit demi sedikit berubah. Ia perlahan-lahan mencintai Wartini (merusak hubungan Wartini dengan Zulbahri). Dengan kata lain, Syamsu mengalami perubahan (perkembangan perwatakan) akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd dan Lewis, dalam Nurgiantoro, 2000:188).

Penokohan

Albertime Minderop (2005:2) mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan (Furchan, 2005:7). Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi: 1. teknik ekspositaris, 2. teknik dramatik, dan 3. teknik identifikasi
tokoh.

1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Dalam hal ini pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan
memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

Dalam cerpen “Ave Maria” Idrus menggunakan teknik ekspositoris untuk mendeskripsikan sosok Zulbahri. Untuk memperoleh secara jelas dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.


“Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda.” (Idrus, 2004:13)

Teknik ekspositoris yang lain dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.


Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang ...
Aku pergi tinggal di sebuah rumah di gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula, kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kadang tidak. (Idrus, 2002:19-20 )

Dengan teknik ini penggambaran tokoh menjadi lebih konkret.

2. Teknik Dramatik

Jika teknik ekspositoris, pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif.

Teknik dramatik terdiri atas delapan jenis yaitu teknik cakapan, teknik laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, teknik pelukisan fisik
(Burhan Nurgiantoro, 2000:201-210).

Dalam cerpen “Ave Maria”, Idrus memanfaatkan penokohan dramatik bentuk teknik cakapan, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, dan teknik pelukisan latar.

Teknik cakapan dimaksudkan untuk mencerminkan kedirian tokoh dan menunjukkan perkembangan plot. Hal ini misalnya pada kutipan sebagai berikut.


Adakah yang hendak kaubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.

Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segalagalanya kepadanya. Begitulah kami termenung setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shonanto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula bahwa aku tak dapat menolak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.

Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak
masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang. (Idrus, 2004:16)


Teknik cakapan terdapat pula pada kutipan sebagai berikut.

“Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?”
“Aku terkenang pada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama.”

“Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat
tinggi.”

“Dan semua cita-cita itu kandas bukan, Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu.” (Idrus, 2004:17)


Teknik pikiran dan perasaan mengungkap bagaimana keadaan jalan pikiran, serta perasaan tokoh dalam banyak hal yang mencerminkan sifat kediriannya. Hal ini dalam cerpen “Ave Maria” dapat dilihat sebagai berikut.


Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dan Wartini. Keduanya hormat-menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata bahwa aku seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.

Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku sangat curiga. Segala percakapan Wartini kupikir-pikirkan kalaukalau
ada mempunyai arti lain ... (Idrus, 2004:17)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa pengarang melalui tokoh Zulbahri mengungkapkan kekacauan pikiran dan perasaannya. Dalam hal ini Zulbahri merasa was-was bahwa api cinta antara Waatini dan Syamsu yang sudah padam menyala kembali. Karena khawatirnya, segala kata Wartini kepada Syamsu dipikir-pikir.

Teknik arus kesadaran dimanfaatkan oleh Idrus dalam cerpennya “Ave Maria”. Teknik tersebut berkaitan erat dengan teknik pikiran dan perasaan. Keduanya tidak dapat dibedakan secara pilah karena keduanya menggambarkan tingkah laku batin tokoh. Arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh. Dalam hal ini tanggapan indra bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, perasaan, ingatan, harapan, dan asosiasi-asosiasi. Arus kesadaran sering disamakan dengan sinandika (monolog interior). Hal ini dapat dilihat sebagai berikut.


Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu aku melihat majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca carita pendek
yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya ceritacerita pendek itu kepada jiwaku.

Baru aku insaf bahwa kehidupanku yang dulu-dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal. (Idrus, 2004:20)


Teknik pelukisan latar dimanfaatkan Idrus dalam cerpen “Ave Maria “ sebagai prasarana untuk menggugah imaginasi pembaca sehingga apa yang diungkapkan menjadi lebih hidup. Hal tersebut dapat dilihat di bawah ini .


Angin malam mendesir-desirkan daun –daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti berbicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikannya kepada ayah. Air teh yang disediakan ibu dia tak disinggung – singgungnya. Ia berdiri lalu meninggalkan kami ... (Idrus, 2004:20)


Untuk melukiskan situasi malam terang bulan, Idrus mengungkapkan angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Hal ini dimaksudkan bahwa lukisan suasana untuk mengantarkan Zulbahri dengan pikiran bersihnya mengabdikan kepada nusa dan bangsa menjadi tentara jibaku.

Selain itu teknik pelukisan latar dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.


Pada malam seperti ini pula, Zulbahri berpisah dengan kami buat selamalamanya. Siapa yang takkan terkenang
kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenangkenangan kepada Zulbahri yang telah
dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umum kedengaran lagu Menuetto in G ciptaan Beethoven. (Idrus, 2002:20)


3. Teknik Identifikasi Tokoh

Dalam bidang penokohan, Idrus juga memanfaatkan identifikasi tokoh. Cara ini ada dua ragam yaitu prinsip pengulangan dan prinsip pengumpulan. Pada prinsip pengulangan, pengarang mengulang-ulang sifat kedirian tokoh sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas. Prinsip pengumpulan dalam hal ini kedirian tokoh
diungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita.

Dalam cerpen “Ave Maria” pengarang memanfaatkan cara prinsip pengulanganprinsip pengumpulan tidak terdapat di dalamnya. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut.


… Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan bahwa ia hanya mencintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata bahwa
Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.…

Hatiku jugalah yang berkata-kata bahwa aku adalah seorang perampok. (Idrus, 2002:17)


4. Kesimpulan

Cerpen “Ave Maria” terdiri atas tiga tokoh penting yaitu Zulbahri, Syamsu, dan Wartini. Isi cerpen tersebut sangat relevan dengan zaman emansipasi wanita (Women’s Lib) yang berakibat sering terjadi perselingkuhan dilakukan oleh wanita.

Pengarang dalam cerpen “Ave Maria” memanfaatkan teknik penokohan berbagai ragam, yaitu teknik ekspositoris, dramatik, dan teknik identifikasi tokoh.

Referensi
Aminuddin. (2004) Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Furchan, H. Arief. (2005). Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Idrus (2004). Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Jakarta: Balai Pustaka.
Minderop, Albertime. (2005). Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. (2000). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.



Download tulisan ini?
KLIK di sini

Sumber: INSAN Vol. 8 No. 1, April 2006
Heru Supriyadi
Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya

Friday, August 21, 2009

Ave Maria: Cerpen Idrus

Ave Maria

Cerpen Idrus

Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebentar. Tapi percakapan itu sudah lancarnya rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami kepada suatu kejadian. Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata, “Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri.”

Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri.

Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi ibu.

Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda. Mendengar tertawa adik Usup, ia tertegun, berhenti dan melihat kepada kami. Ia ikut tertawa. Sudah itu ia seperti orang berpikir dan tak lama kemudian, ia masuk ke dalam pekarangan kami. Ia member hormat kepada ayah dan ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu. Ibu sudah ketakutan saja. Tanya ayah, “Tuan mencari saya?”

Banyak lagi pertanyaan ayah, tapi semua dijawab dengan suara yang halus sekali, sehingga tak jelas kedengaran kepada kami. Segala perkakas rumah kami yang ada di beranda depan itu, diperhatikannya satu persatu. Sudah itu matanya tertambat kepada majalah-majalah yang disimpan ayah di bawah meja bundar itu.

Diusai-usainya majalah itu. Diambilnya sebuah, dimasukkannya ke dalam sakunya. Buku yang dibawanya ditinggalkannya di atas meja, lalu ia pergi pula.

“Gila”, kata ibu.

Perlahan-lahan ayah pergi ke meja bundar, diambilnya buku orang laki-laki itu, dan sesudah beberapa lama diperhatikannya, katanya, “Hm, buku filsafat. Orang pintar juga barangkali.”

Keesokan harinya ia datang pula kembali. Diambilnya pula majalah yang lain, yang lama diletakkannya kembali ke tempatnya. Setiap hari ia datang. Dan setiap kali ia datang, ada saja perubahan yang membaikkan tampak pada dirinya. Bajunya tak lagi sekotor yang dulu. Sudah keluar beberapa perkataan dari mulutnya. Begitulah kami mengetahui berturut-turut, bahwa ia dulu seorang pengarang. Sungguh pun belum kenal umum, tapi bukunya banyak juga yang diterbitkan. Keinginan kami hendak mengetahui lebih banyak lagi, tak dipenuhinya.

Pada suatu hari kata ibu, “Sudah lama Zulbahri tidak datang-datang. Sudah lebih seminggu canggung pula aku.”

Dan tak berapa lama disambungnya, sambil menunjuk ke jalan, “Ha, itu dia.”

Kami menoleh kea rah jalan. Memang Zulbahri itu. Seperti biasa ia tertawa masuk, lalu duduk. Segala perbuatan Zulbahri bagi orang yang baru mengenal dia, aneh. Tapi bagi kami sudah biasa pula.

Zulbahri menarik nafas panjang-panjang.

Tanya ibu, “Mengapa sudah lama tak datang-datang, Bahri?”

Sangat terkejut kami, waktu Zulbahri berkata terus menerus, tak berhenti-henti. Belum pernah kejadian yang demikian. Seakan-akan ceritanya itulah jawaban atas pertanyaan ibu.

Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu. Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh-penuh perhatian.

Kami bahagia. Aku dengan istriku. Sudah delapan bulan kami kawin. Wartini belum juga mempunyai tanda-tanda, ia akan segera mendapat anak.

Sungguhpun begitu cinta kami sedikit pun tak berkurang. Karanganku bertambah lama bertambah mendapat perhatian umum dan ahli-ahli. Tapi aku selalu dalam ketakutan saja. Terasa kepadaku, bahwa kebahagiaan yang demikian takkan selama-lamanya. Nanti tentu akan datang masanya, bahagia itu bertukar dengan kesusahan dan sengsara. Tapi dari mana datangnya kesusahan itu, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagiku.

Sungguhpun begitu aku yakin, bahwa kebahagiaan itu takkan lekas betul meninggalkan kami. Kami baru delapan bulan saja kawin. Setiap hari kucoba menghilangkan perasaan takut itu. Hampir-hampir berhasil, hamper-hampir aku berpendapat, bahwa bahagia itu takkan meninggalkan kami buat selama-lamanya. Hampir-hampir tak masuk ke dalam akalku, aku, aku nanti akan menderita kesengsaraan. Tapi pada waktu itu pulalah mulai pertukaran bahagia kami dengan sengsara yang akan datang. Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku terbengkelai.

Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-daun jarak di pekarangan, menerangi pekarangan itu. Zulbahri terus juga bercerita, kadang-kadang lambat-lambat, kadang-kadang cepat-cepat.

Dua hari dua malam surat itu kubawa ke mana-mana. Pada malam ketiganya kami sedang duduk di ruang dalam rumah. Maksudku tetap sudah hendak membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Tapi lidahku kaku. Kalimat-kalimat yang sudah kuapal-apalkan untuk dikatakan kepada Wartini, hilang dari ingatanku. Aku berjalan ke jendela. Mataku memandang ke langit bertaburan bintang. Hatiku mulai terbuka kembali, waktu melihat keindahan alam itu.

Wartini, indah betul mala mini. Seperti pada malam pertemuan kita benar. Lihatlah ke bintang yang berleret tiga buah itu.

Entah karena apa, perkataanku itu menimbulkan syak wasangka dalam hati Wartini.

Adakah yang hendak kubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.

Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segala-galanya kepadanya. Begitulah kami termenung keduanya, setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shananto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula, bahwa aku tak dapat meno9lak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Dengan tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.

Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang.

Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan Wartini, sekali-sekali adi timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini. Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.

Syamsu datang dari Shonanto. Katanya ia kurang senang sekolah di sana. Pernah ia berkelahi dengan seorang guru besar. Sebab itu ia akan mencoba untungnya di Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta.

Mintakan saja aku dapat lulus di sini. Nah, sudah itu orang akan memanggil aku “dokter Syamsu”.

Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dengan Wartini. Keduanya hormat menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata, bahwa aku adalah seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.

Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku menjadi sangat curiga. Segala percakapan Wartini dengan Syamsu kupikir-pikirkan, kalau-kalau ada mempunyai arti yang lain. Dengan sering pula kudengarkan percakapan orang itu dari balik dinding. Tapi sekalipun belum pernah aku mendengar perkataan Syamsu yang melewati batas. Syamsu tetap menjaga kesopanan.

Bulan semakin terang juga. Dari jauh kedengaran bunyi seruling, sayup-sayup sampai. Daun-daun jarak berdesir-desir ditiup angin malam.

Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain music bersama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang Syamsulah, Wartini mulai bermain pianokembali. Sekali, malam-malam, Wartini dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. Aku waktu itu sedang sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam kamar.

Asyik betul mereka bermain, bunyi biola Syamsu sangat mengharukan hati. Pertengahan lagu itu mengenangkan kepasa seseorang yang hamper putus asa, memekik kea rah langit, meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. Mereka bermain penuh perasaan… Dan sesudah habis lagu itu, kedengaran olehku sedu orang menangis. Terdengar pula Syamsu lekas-lekas meletakkan biolanya di atas piano.

“Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?”

“Aku terkenang kepada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama.”

Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat tinggi.”

“Dan semua cita-cita itu kandas, bukan Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu.”

“Ya… dan gadis yang kucintai hilang darin pelupuk mataku. Hatiku berdebar-debar.” Kedengaran sedu Wartini bertambah-tambah.

“Tapi, mengapa engkau, menangis, Wartini.”

Pertanyaan Syamsu itu kuulangi pula sendiri perlahan-lahan dan telingaku kupasang baik-baik. Halus sekali kedengaran suara Wartini.

“Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?”

“Tidak, Tini. Hanya seorang ibu kepada anak-anaknya dapat. Engkau sehat, Wartini. Hanya aku…”

Perkataan Syamsu tak diteruskan. Tapi aku mengerti sudah. Mataku berkunang-kunang. Pikiranku kacau.

Zulbahri melihat ke bulan purnama yang bertambah lama bertambah terang juga. Kami menahan nafas kami sejurus. Cerita Zulbahri sangat mengharukan hati kami. Di jalan tak ada orang lagi hilir mudik. Di sekeliling rumah sepi hening. Bunyi seruling masih kedengaran dari jauh, lagu bersedih. Tinggi sekali bunyi seruling itu, seakan-akan pemainnya hendak mencari penghibur sedih jauh dari dunia ini.

Kukenakan pyamaku. Kuberanikan hati. Perlahan-lahan aku ke luar mendapatkan syamsu dan Wartini. Melihat aku, Wartini terkejut, gugup katanya, “Kukira engkau sudah tidur, Zul.”

“Masakan aku dapat tidur, mendengarkan music yang semerdu itu.”

“Tapi mengapa engkau menangis, Tini? Karena music barangkali? Dalam roman sering kubaca, orang menangis karena music. Baru sekarang aku tahu, hal itu mungkin juga kejadian dalam kehidupan sehari-hari.”

Sejurus lamanya kami berpandang-pandangan. Sekali lagi kuberanikan diriku dan tegas kataku, “Semua kuketahui, Tini…”

“Tidak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan, kelakuanmu kurang senonoh. Tapi aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanya Wartini adalah hakmu.”

Sudah itu aku meninggalkan kota Jakarta. Tiba aku di malang. Di sana kucoba menghilangkan ingatan kepada Wartini. Tapi tak dapat. Badanku bertambah lama bertambah kurus juga. Bajuku tak kuhiraukan lagi. Bercakap pun sedapat-dapatnya kuhindari. Tetangga-tetangga menyangka pikiranku sudah bertukar. Aku masuk ke dalam rumah sakit. Tiga bulan aku di rumah sakit. Aku keluar kembali. Kata dokter aku tak boleh pergi ke Jakarta. Sedapat-dapatnya harus meninggalkan pulau jawa. Tapi perkataan dokter tak kudengar. Seminggu sudah itu aku sudah ada di Jakarta. Maksudku hendak meminta Wartini kembali kepada Syamsu. Di tengah jalan sering betul pikiranku bolak-balik. Sekali-sekali ada pula timbul putusan hendak membunuh Wartini dan Syamsu dan aku sendiri sekali.

Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak seorang juga dari pada kami, yang berani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu tangannya, dihapusnya air matanya yang mengenai pipinya. Kedengarannya susah ia hendak meneruskan perkataannya.

Tiba di Jakarta aku terus menuju rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh sudah kudengar bunyi piano dan biola,… lagu Ave Maria. Aku tahu mereka sedang mengenang zaman silam, kebahagiaan mereka. Piano berbunyi cepat sekali, sedang biola mendengarkan Andante yang sesempurna-sempurnanya. Seperti pencuri kudekati rumah itu. Dari jendela kaca kumenengok ke dalam rumah. Pandanganku tertambat kepada Wartini semata. Kelihatannya mukanya berseri, badannya agak gemuk sedikit… Wartini sedang hamil. Sungguh berbahagia engkau Wartini. Tidak, tidak, aku takkan mengganggumu. Teruskanlah lagu Ave Maria itu, lagu bahagiamu berdua.

Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang.

Aku lari kembali dari rumah yang sedang diliputi bahagia itu. Tiba di hotel aku menangis, ya, menangis aku… keadaan keuangan tak mengizinkan lagi untuk tinggal di hotel lama-lama. Aku pergi tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku dapat bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula. Kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kdang tidak. Surat-surat kabar tak pernah kubaca lagi. Karangan-karangan tentang berkurban untuk tanah air kuejekkan saja. Kurbanku lebih besar lagi dari mereka yang berjibaku.

Angin malam mulai meresapkan pengaruhnya. Badan berasa dingin. Bulu-bulu tangan berdiri tegak karena dingin.

Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan buat pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu itu aku melihat majalah-majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca cerita pendek yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya cerita-cerita pendek itu kepada jiwaku. Baru aku insaf, bahwa kehidupanku yang dulu-dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal.

Angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti bicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikan kepada ayah. Air the yang disediakan ibu dia tak disinggung-singgungnya. Ia berdiri, lalu meninggalkan kami

Lipatan kertas dibuka oleh ayah. Dibacanya. Dan perlahan-lahan katanya, “Ia telah masuk barisan jibaku.”

Kami ketiga-tiganya termenung sebentar. Tanya ibu. “Karena affair percintaan itu?”

Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas katanya, “Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa. Bacalah pada penghabisan suratnya: ini adalah sebagai pembayar utanku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri.”

Pada malam seperti ini pula Zulbahri berpisah dengan kami buat selama-lamanya. Siapa yang takkan terkenang kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenang-kenangan kepada Zulbahri yang telah dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umumkedengaran lagu Menuetto in G dari Beethoven.***

Download cerpen ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook