Saturday, October 31, 2009

Sajak-Sajak Skylashtar Maryam

SEBUAH PERCAKAPAN TENTANG CINTA

"Ibu tak suka puisi cinta yang kamu tulis. Gantilah!" kata guruku
Aku heran lalu mengambil carikan kertas yang ia berikan. "Kenapa?" tanyaku penasaran
"Suram," gumamnya. "Tak cocok untuk gadis seumuranmu."
"Tapi cinta memang pekat, legam, dan gelap, Ibu."
"Tidak, anakku. Cinta itu merah muda."
"Lalu sejak kapan cinta memiliki warna?"
Ibu guru tercenung
"Tapi Ibu tidak suka dengan apa yang kau tulis."
"Karena apa?"
"Cinta legam tak cocok untuk gadis seusiamu."
"Memangnya cinta bertanya dahulu'berapa umurmu?' sebelum ia mengoyak hatiku?"
"Dengarlah, cinta itu indah. Kamu saja yang tak tahu."
"Apa yang Ibu tahu tentang cinta? Katakan padaku!"
"Mmm...cinta membuat hati kita serasa lapang."
Ia pasti bohong, elak pikiranku. "Rindu yang beranak pinak di dada membuatku sesak, Bu. Bahkan tak ada lagi tempat untuk menampung setitik air pun di sana."
"Ah, cinta juga membuat bahagia."

"Bahagia dari mana? Cinta yang seperti apa?"
"Banyak pasangan yang saling mencintai dan hidup bahagia karenanya."
"Ibu pikir perceraian yang aku tonton di tivi setiap hari itu apa? Kenapa saling meninggalkan kalau memang saling mencintai dan hidup bahagia?"
"Ya, barangkali ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan menyebabkan pertengkaran."
"Kalau begitu, kenapa cinta yang membahagiakan itu tidak datang melerai?"
"Kamu salah anakku, barangkali cinta mereka telah hilang."
Aku jadi bingung. "Jadi apanya yang istimewa dari sesuatu yang bisa hilang begitu saja?"
"Tidak, tidak. Cinta juga bisa mendamaikan."
Aih, mungkin Bu guru ini amnesia lalu lupa sejarah manusia.
"Bu, kemana cinta saat terjadi peperangan?"
Ibu guru terdiam. Lalu katanya. "Ada, pasti ada."
"Di mana? Bukankah seharusnya ia muncul untuk membawa kedamaian?"
Ia tampak ragu. "Di suatu tempat."
"Di hati mereka yang cinta kekuasaan? Sehingga membantai sesama manusia karenanya?"
"Eh..."
"Di dada mereka yang cinta keserakahan? Meraup dan menghancurkan segalanya tanpa belas kasihan?"
"Mmmmhhh..."
"Di dalam kalbu mereka yang cinta kekuatan? Menggilas yang lemah, rela menumpahkan darah untuk mendapatkannya?"
Ibu guru terlihat berang. "Kenapa sih kamu tak percaya pada apa yang Ibu katakan?"
"Karena Ibu mengatakan tentang cinta, sesuatu yang Ibu tak tahu apa itu."
"Kalau kamu sudah besar nanti, kamu pasti tahu."
"Kalau aku sudah besar nanti, bolehkah aku membuat puisi tentang cinta yang seperti itu?"
Ibu guru pun mendesah pasrah. "Ya, terserahmulah. Pokoknya, ganti puisi yang kau buat tadi. Sekarang!"

Nagoya, 30 Januari 2009


TRANSFORMASI

Dulu...
aku hanya debu
sekarang berubah jadi abu

Kini...
aku hanya bisu,
nanti mungkin berubah jadi kelu

Kelak...
aku hanya langit
lalu berubah berpeluk galaksi

Suatu saat...
aku hanya jantera
Barangkali cuma bisa jadi roda

Kemudian...
entah mau jadi apa lagi


CANDU WAKTU

Sebab waktu adalah candu bagi hati yang patah
sedangkan suasana yang tidak sepadan
hanya ilusi langit
Namun, remah-remah kemukus masih
sempat membuat kita terpukau
Padahal,
kita masih tergenggam pada rahim bumi yang sama
memancang kenangan kehangatan
di ketinggian tsurayya

sebab waktu adalah
candu...


Sumber: Diambil dari http://kompas.co.id/
DOWNLOAD puisi ini KLIK DI SINI

Thursday, October 29, 2009

Sonet 5-13 Sapardi Djoko Damono

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono


Sonet 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping
ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;
ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding
bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.
Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;
kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup
poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.
Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?
Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam
yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin
yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.
Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.
Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu
ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.

Sonet 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi
mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas.
Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?
Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas
memohon diselamatkan dari haru biru
yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi
menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu
agar tak menjadi bagian dari aroma waktu kini.
Sampai yang pernah bergerit di kasur
tak lagi menempel di langit-langit kepalaku?
Sampai kedua bola matamu kabur,
sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu.
Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang
dan tahu: api tubuhmu tinggal bayang-bayang.

Sonet 7

Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana
siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan?
Ada yang harus tak habis-habisnya kita hela
dan hembuskan sampai pisau yang terpejam di tangan
membelah apel yang di atas meja. Seiris telentang, seiris
tengkurap di sebelahnya? Begitu ramal seorang empu
setelah menyelesaikan tugas menempa sebilah keris.
Celoteh juru nujum yang di bukit nun di sana itu?
Ada jarak yang harus diremas sampai kerut
dalam pembuluh darah kita. Sampai yang biru
kembali hijau berkat kuning itu, sampai segala terhalau:
yang ini, yang itu, yang di sana, yang di situ,
yang layang-layang, yang batu? Ada jarak yang harus ditebas
kalau kita mau menerima pertemuan ini dengan ikhlas.

Sonet 8

Di sudut itu selalu ada yang seperti menunggu
kita. Mengapa ada yang selalu terasa hadir di sana?
Di situ konon kita dulu dilahirkan, kau tahu,
agar bisa melihat betapa luas batas antara nyata
dan maya. Dua dinding bertemu di sudut itu,
seperti yang sudah dijanjikan sejak purba
ketika sehabis peristiwa itu leluhur kita diburu-buru
dan sesat di rumah ini. Kau masih juga percaya
rupanya, tanpa menyiasati dinding-dinding itu?
Rumah baru terasa rumah kalau ada penyekat
antara sini dan Sana, membentuk sudut tempat kita bertemu
dan memandang lepas ruang luas, tanpa akhirat.
Mengapa terasa harus ada yang menunggu?
Agar tak mungkin ada yang bisa membebaskanmu.

Sonet 9

Kaubalik-balik buku itu selembar demi selembar
sore ini. Bukankah waktu itu masih pagi,
ketika kau mencatatnya? Aku pungut buku yang kaulempar
ke lantai, telungkup, tampak lusuh, sendiri.
Kenapa mesti ada sore hari? Pejamkan mata, bayangkan
beranda yang pernah membiarkan kita mengitari
pekarangan yang begitu luas, yang kemudian ternyata bukan
bagian dari tempat yang konon disediakan untuk kita tinggali.
Matahari masih hangat ketika aku mencatatnya
di buku yang sore ini telah menggodamu untuk mencari
gambar sebuah taman yang memancarkan aroma
secangkir teh hangat di pagi hari. Ya, bukankah masih pagi
ketika kau menggambarnya? Ya, mungkin karena waktu itu
masih pagi. Lekas, berikan buku itu kembali, padaku!


Sonet 10

Ada selembar kertas yang belum bertulisan.
Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula,
belum penuh dengan coretan?
Ada yang ingin menulis aksara demi aksara
dan tahu tak akan mencapai kalimat meski ada tanda seru
di ujungnya. Tidak semua memerlukan tulisan,
(Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?)
meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan.
Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai
bila penghujan. Tetapi sama sekali tak terbaca
bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai
kemarau. Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya.
Kau mengharapkanku kembali seperti itu? Risaukah kita
ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

Sonet 11

Terima kasih, kartu pos bergambar yang kaukirim dari Yogya
sudah sampai kemarin. Tapi aku tak pernah mengirim apa pun,
kau tahu itu. Aku sedang kena macet, Jakarta seperti dulu juga
ketika suatu sore buru-buru kau kuantar ke stasiun.
Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini.
Aku suka membayangkan kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan
berhenti di warung bakso di seberang kampus yang sudah sepi.
Kau masih seperti dulu rupanya, menyayangiku? Bayangkan
kalau nanti kita ke sana lagi! Di kartu pos itu ada gambar jalan
berkelok, bermuara di sebuah taman tua tempat kita suka nyasar
melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman
yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar!
Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu,
residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu.


Sonet 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,
tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita ingat
aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;
tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat –
dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi
dihimpitnya. Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat
harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini –
“ tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat
pada sebuah tanda tanya. Tapi, bukankah kita sudah mencari
jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng
jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi
merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?
Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?
Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?


Sonet 13

Titik-titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu;
ditunggunya kita lewat. Kupandang ke atas:
sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu.
Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas.
Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah
yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan
sesuatu. Aku pun mendadak menghentikan langkah
sejenak – jangan tergesa, agar bisa kaubaca niat titik hujan.
Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu
tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas.
Pohon itu tak lagi menatapmu. Ada yang membasahi kerudungmu,
meluncur ke dua belah pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.
Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan
tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?


Sumber: http://cetak.kompas.com/
Download puisi ini KLIK di SINI

Tuesday, October 27, 2009

Bau Air Mata di Bantal Afrizal Malna

Sajak-Sajak Afrizal Malna

Bau Air Mata di Bantal Tidurmu

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.

Tarian yang mengajariku tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung berhinggapan di jari-jari tangannya.

Pagi-pagi sekali, ribuan bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak itu ibuku tak pernah menari lagi.

Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.

Sumber: http://www2.kompas.com/
DOWNLOAD puisi ini KLIK di SINI

Sunday, October 25, 2009

Afrizal Mengepel Lantai dengan Korek Api

Aku Baru Saja Mengepel Lantai

Puisi-puisi Afrizal Malna

Aku baru saja mengepel lantai. Aku berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel tidak kotor lagi oleh telapak kakiku. Di dalam kamar, aku lihat tubuhmu telah menjadi genangan air yang dasarnya tak bisa kulihat lagi. Bagaimana aku bisa memelukmu kalau tubuhmu telah menjadi air? Bagaimana aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air? Aku pikir aku harus menjadi ikan agar bisa berenang di dalamnya. Tapi aku bukan ikan. Ikan juga berpikir dirinya bukan diriku. Ikan tidak bisa mengepel lantai dan berjalan dengan ujung jari-jari kakinya. Aku juga berpikir aku tidak bisa dipancing seperti ikan lalu dijual di pasar lalu digoreng. Ikan juga berpikir tidak terbayang ada yang mengepel dan suara tangisan di dasar laut. Aku juga berpikir tidak mungkin ada kehidupan ikan di dalam pikiranku.

Aku bukan laut. Aku yakin aku bukan laut. Ikan juga tak akan pernah percaya bahwa akhir hidupnya ada dalam tubuhku. Tetapi aku tetap memelukmu. Lalu aku memelukmu. Dan aku memelukmu pagi itu. Lalu aku tenggelam. Dan aku tenggelam. Hati-hati, biarkan aku tenggelam. Biarkan aku menjadi air untuk memanggilmu.


Korek Api di Atas Bayanganmu

Ada masa kanak-kanak yang masih mengenalmu, datang di suatu sore, dan menuliskan sesuatu di atas bayang-bayangmu. Sebuah korek api bekas membersihkan gigi. Masa kanak-kanak itu menulismu, rasanya perih. Seperti belahan pada telur asin. Sore itu, aku masih memeluk lehermu: Sebuah kota di masa liburan sekolah. Anak-anak belajar memelihara orang tua, memandikannya, memberinya makan, dan menguburkannya bila mati aku menulisnya. Anak-anak belajar membeli beras dan minyak goreng, dan menjadi orang tua dengan bayangan yang terbuat dari korek api. Anak-anak melahirkan, aku menulisnya sore itu ketika ombak datang membasahi lehermu. Anak-anak dari bayangan korek api. Anak-anak sekolah, sekolah dari bayangan korek api. Anak-anak mencari kerja, lapangan pekerjaan dari bayangan korek api. Lehermu kemudian mengeras, seperti masa liburan sekolah yang telah berakhir. Seperti kemarahan korek api terhadap kotamu. Seperti perjalanan korek api kembali ke hutan, kembali ke batang-batang pinus, tempat api melahirkan ibumu. Tempat api melahirkan sebuah sore. Dan aku menulis bayanganmu dengan tangan-tangan api.

Sumber: www.kompas.com
DOWNLOAD PUISI ini KLIK DI SINI

Friday, October 23, 2009

Guru, Murid, dan Sekolah Yang Terbakar Afrizal

Guru dan Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar

Puisi Afrizal Malna

Sebuah truk mengangkut bayangan, lebih banyak lagi bayangan dari sebuah jalan dari sebuah truk. Bayangan itu seperti mengenalmu dan berusaha mengenalmu, seperti ada tulisan yang tak bisa dihapus pada keningmu yang demam.

Manusia dilarang masuk dilarang berdiri di situ, dilarang memberi rantai di leher anjing dan memasang perangkap tikus. Dan kau mulai mengerti kenapa harus mengucapkan assalamualaikum untuk masuk ke negeri ini. Sebuah truk seperti anakmu masuk sebagai pegawai Bank Dunia, dan seorang tentara keningnya seperti stempel pada punggung sapi yang memasuki ruang jagal.

Aku tak percaya pada tanganku sendiri yang pagi ini telah membakar ratusan sekolah di kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku sendiri. Aku tak percaya pada tanganku yang telah menyalakan api, aku tak percaya pada api yang telah membakar sekolah itu, aku tak percaya pada sekolah yang terbakar itu, aku tak percaya pada peristiwa yang telah membakar pikiranku, pergi dan tak mau melihatmu lagi yang penuh dengan kawat berduri di wajahmu. Aku tak percaya berita yang datang dari botol-botol kecap di warung soto dekat rumahmu.

Guru dan murid-murid dilarang masuk ke dalam sekolah yang terbakar. Membiarkan lidah sendiri menjadi ular di depan cermin. Aku tak percaya pada negeri di mana kata-kata telah dibakar. Tetapi guru dan murid-murid tetap memasuki sekolah yang terbakar itu sambil membawa segenggam tanah untuk menyelamatkan kapur tulis, dan tetap menulis bayangan sebuah kebebasan, punggung dan kakinya dan lehernya. Dan papan tulis dari punggung api.

Dan api ingin melihat wajahmu, ingin melihat air mukamu, ingin melihat tatapan matamu. Dan api ingin membuat sebuah kampung, seperti kampung yang telah melahirkanmu. Dan api menuliskan kembali semua kalimat-kalimat ini dalam rahim ibumu, sebelum anak-anak pergi ke jalan, melihat bayangan truk melintas pergi dan bekas air mata di telapak tangan.

Sumber: www.kompas.com
DOWNLOAD puisi ini KLIK DI SINI

Wednesday, October 21, 2009

Telur di Punggung dan Ketukan Kecil di Dengkul Afrizal

Puisi-puisi Afrizal Malna:

Sebutir Telur di Belakang Punggungku


Kau telah menjadi air ketika melihat semua kejadian yang berlangsung di belakang punggungmu. Kita menginap di sebuah hotel murah, dekat bandara. Hari ini kau berulang tahun. Aku bergegas membersihkan kamar. Kau sibuk membeli coklat, roti, jeruk dan minuman kaleng. Kau bilang kau sedang ngobrol dengan ayahmu tentang seorang perempuan yang matanya terbuat dari sebuah pantai. Tapi ayahmu bilang kau sedang tak di rumah.

Di kotamu aku seperti bisa melihat mataku sendiri dengan mataku. Hati-hati berjalan di situ. Ada kepiting yang sedang menggali lubang di dalam pasir. Pantai itu, seperti sepasang kelopak mata yang tak pernah terpejam. Karena orang terus berdatangan, karena pesta belum berakhir. Kepiting dalam lubang itu terus menggali, dan menemukan laut yang lain di punggungku. Menurutku bukan laut, itu sebutir telur. Sebutir telur tempat ibuku dikuburkan. Tapi kukira itu juga bukan sebutir telur, itu buah semangka yang tumbuh di lapangan bola. Aku tak pernah tahu, siapa saja yang telah membakar diriku dalam pesta itu.

Lalu aku buat sebuah bantal, sebuah bantal dari waktu-waktu yang berjatuhan untuk tidurmu. Pesta belum berakhir, hingga punggungku berwarna putih. Putih seperti musim dingin.



Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku


Aku mengetuk-ngetuk dengkulku, ada tanah yang berjatuhan. Dengar. Tanah itu seperti sebuah malam minggu yang mati. Seperti sungai yang berjalan di atas jembatan. Dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut knalpot. Bukan sebuah kebahagiaan yang berisik seperti kantong plastik, tempat orang membuang malam dengan bercakap-cakap, dan mencari sedikit pelukan dari kesepian yang biasa. Pelukan yang biasa. Keparat. Seperti piring yang pecah dan meninggalkan lubang hitam di dalamnya. Lalu aku bangkit, dengkulku sudah tak ada. Dengkulku telah pergi dari tubuhku. Tubuh tanpa dengkul itu pun aku buang. Aku buang dekat jendela. Aku terkejut. Aku berada di mana kini? Di luar jendela atau di luar jendela. Siapa yang telah dibuang? Aku yang telah membuang tubuhku ke luar jendela, atau jendela itu yang telah membuangku? Bagaimana aku menentukan arah tanpa bersama tubuhku? Lalu kucing berpesta di malam minggu. Membuat negara dari piring-piring pecah. Aku lihat piring pecah di malam minggu. Aku lihat malam minggu pecah di lubang hitam yang mulai berotot itu. Aku dengar dengkulku menyembunyikan semuanya. Tentang tanah yang berjatuhan di atas bantal tidurmu. Tentang korek api dalam tubuhmu.

Sumber: www.kompas.com
Download puisi ini KLIK di sini

Tuesday, October 20, 2009

Para Pemburu Agus Noor

Para Pemburu

Oleh: Agus Noor

Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami memandanginya dengan gamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri, ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beristirahat di pinggir telaga itu, hanyut oleh pikiran kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak.

Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami tetap saja melenggang bebas. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal mem?uru sesuatu. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Telah kami sibak semua palung lautan. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung.

Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kandungan. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya, untuk memburu binatang-binatang, bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan.

Sampai kemudian kami menyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-lahan
telah habis kami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, binatang-binatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi, begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamnya. Sampai kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun-ketahun, jumlah kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir, sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun, tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope, kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan, hingga pecah berantakan. Dan itulah kehormatan.

Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti kami katakan tadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh.

"Perburuan tak mungkin berhenti!"

"Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!"

"Takdir tak bisa dihentikan."

"Lantas bagaimana?"

"Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!"

"Memburu apa?"

Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Kami akan memburu manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri. Mereka kami lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru kemudian kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas, perlahan-lahan, kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang, tapi manusia. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan, "Masuklah dalam hutan, lari. Selamatkan kehidupanmu. Jangan cemas, meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baik bagi kalian, dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik bersama kalian..."

Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang sesungguhnya, yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Adakah yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh, sasaran perburuan yang menggairahkan.

Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara, banyak orang di luar suku kami, mendatangi kami, untuk ikut menikmati perburuan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa menolak, ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral, orang-orang besar di negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para bangsawan dan pengusaha besar. Para bangsawan, yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas, mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kem?bangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati, tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai, para demonstran untuk kami habisi. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Ah, begitu melimpah buruan kami.

Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta.

"Ini darah seorang penyair untukmu, jangan sedih..." Gelas kami beradu, dan kami tertawa bahagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-puji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung!

Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan gelombang, menggulung apa pun yang kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan, tetapi juga, terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat, dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di puncak menara peradaban, sendiri. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak, ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi, ketika kami menembaki anak-anak Palestina, ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia, ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja, tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami, sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami terus memburu, kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman, melintasi gelombang waktu, menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan, tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami. Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan yang membosankan. Karena kami sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan.

"Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini."

Lalu seseorang yang paling tua di antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun lebih, menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.

"Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?"

"Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan."

"Apa hubungannya dengan para kiai itu?"

"Kumpulkan mereka, dari seluruh dunia. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!"

Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami tak memburu malaikat?

"Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!"

"Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersulang, menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Panji perburuan berkibar. Kami segera menghimpun topan. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera mengumpulkan para kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan paksa dan kekerasan."

"Kami ingin Jibril," kata kami kepada mereka. "Kami tak mau tahu, bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan kepada kami, kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?"

Kami tatap wajah para kiai itu, mencari kepastian dalam mata mereka.

"Baiklah," tegas kami, "kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri..."
Mereka, para kiai itu, kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi mereka menolak, dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesungguhnya heran. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.

"Kalian jangan bercanda!" teriak kami.

"Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril."

"Baiklah..."

Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat kami begitu ternganga, ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid, tetapi masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok mengikuti gigir bukit, seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang, itu pun pasti sudah berhimpitan, bagaimana mungkin? Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana, mengalun menidurkan rerumputan, sepanjang hari sepanjang malam. Gema itu melambung, menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun yang melayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami memagarbetis masjid itu, tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kami tak mau di tipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berjaga, takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.

Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami cemas, sekaligus marah, ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami tambah cemas menunggu, kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Tetapi seperti yang pertama, orang kedua kami pun tak kembali. Kami panggil namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali, memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti yang pertama dan kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai, tak pernah muncul kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar, tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya pengertian, bukan?

Jangan salahkan kami. Dan kami segera menyerbu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar biasa, semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain, tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api di tangan, berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid itu, hingga kayu-kayu bergemeretakan, dan api melahap cepat, membumbung.
Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.

Pada saat itulah, seseorang di antara kami berteriak, membuat kami tengadah ke puncak api. Dan, ya Allah, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya menatap kami, dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta.

"Jibril!!"

"Jibril!!"

Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?

"Buru!"

Teriakan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong begitu? Maka, dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak panah, desing senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.

"Kejar!"

Kami pun melesat, mengejar Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri, membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Tombak terus beterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami rentangkan, ranjau-ranjau telah kami tanam, perangkap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril. Inilah buruan kami yang abadi. Kemanapun Jibril melesat, kami memburunya.

Sampai kami tiba di pinggir telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat, hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat menguburkannya. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau kehilangan jejak. Dan memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.

"Kesana!" seseorang dari kami berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga sana, kami melihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.

Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur, melanjutkan pemburuan abadi kami.***

Yogyakarta, 1995-1998
(Dongeng Buat Mas Danarto)
Download cerpen ini KLIK di SINI

Monday, October 19, 2009

Hikayat Ahmad Muhammad

SERANGGA BAYU DAN PUTRI BUNGSU DI PULAU BIRAM DEWA


Dua orang anak muda bersaudara, Ahmad dan Muhammad, mempunyai seekor burung. Seorang saudagar mengetahui khasiat burung itu, yakni barang siapa memakan kepalanya akan menjadi raja dan barang siapa memakan hatinya, akan menjadi menteri. Ketika ayah Ahmad dan Muhammad pergi ke negeri lain berniaga, saudagar itu dapat membujuk ibu mereka itu, supaya burung itu disembelih dan dimasak. Ahmad dan Muhammad pulang dari bermain-main. Ahmad memakan kepala burung itu dan Muhammad memakan hatinya. Setelah saudagar itu mengetahui hal itu kemudian, disuruhnya orang mencari kedua anak muda itu. Inang pengasuh mereka memberitahukan hal itu kepada mereka dan menyuruh mereka melarikan diri.

Setelah beberapa lamanya Ahmad dan Muhammad berjalan, berhentilah mereka itu di sisi hutan dan tertidurlah keduanya. Kebetulan rakyat negeri Sela Gangga melepaskan seekor gajah kesaktian untuk mencari raja pengganti yang sudah mangkat. Gajah itu menjulang Ahmad dan anak muda itu pun diangkatlah jadi raja di Sela Gangga.

Setelah Muhammad bangun, dilihatnya saudaranya tidak ada lagi

Diikutnya tapak gajah itu dan sampailah ia ke rumah nenek kebayan. Perempuan itu memperkenalkannya kepada Putri Bungsu, anak perdana menteri (Putri Sulung telah dikawinkan dengan Sultan Ahmad, raja yang baru itu)

Serangga 1) Bayu mengambil kulit kesaktiannya lalu berkata demikian, "Hai kulit, terbangkanlah aku serta nenekku dengan segala barang-barangku ini kepada sebuah taman, yaitu taman tuan Putri Bungsu." Pada ketika itu juga diterbangkannyalah mereka kedua serta dengan barang-barangnya lalu sampailah ke taman itu. Putri adalah ia sedang bermain-main dengan segala dayang-dayangnya, bersenda gurau sambil memungut bunga-bungaan dan memetik buah-buahan yang masak. Sekonyong-konyong hadirlah Serangga Bayu serta nenek kebayan2) di hadapan tuan Putri Bungsu. Terkejutlah putri itu sambil berkata, "Ya nenek, sebagaimana nenek datang kemari bersama-sama dengan orang muda ini?"

Sembah nenek kebayan, "Entah sebagaimana hamba sampai kemari, tahu-tahu telah ada di sini. Inilah pacal 3) tuanku, cucu nenek yang bernama Serangga Bayu; silakanlah tuanku bertanyakan hal yang ajaib itu kepadanya."

Serangga Bayu duduk di tanah sambil menyembah dan berdatang sembah, "Ya Tuanku, tuan putri, adapun hamba tuanku kedua datang kemari ini dengan hikmat kesaktian kulit ini, diterbangkannya, pada sesaat itu juga sampailah."

Putri pun sangatlah heran mendengar hal demikian itu. Putri matanya tiada terlepas lagi daripada Serangga Bayu sambil berpikir, "Tiada bersalahan rupanya, serupa benar dengan rupa orang muda yang kulihat di dalam mimpiku itu jua."

Kemudian tuan putri pun menyorongkan puannya yang keemasan kepada Serangga Bayu seraya berkata, "Silakanlah makan sirih, orang muda."

Serangga Bayu menyembah lalu disambutnya akan puan itu dan dijunjungnya. Setelah itu makanlah ia sirih, sambil bercakap-cakap. Berapa lamanya bercakap-cakap itu Serangga Bayu berdatang sembah, sembahnya, "Ya Tuanku, jikalau berkenan kepada tuanku, tuanku hendak hamba persilakan pergi bermain-main kepada sebuah pulau, yang bernama Biram 4) Dewa itu."

Kata putri itu, "Baiklah, tetapi sebagaimana kita pergi ke sana? Sebab jauh agaknya pulau Biram Dewa itu."

Sembah Serangga Bayu, "Jauh juga pulau itu, Tuanku; tetapi tiada mengapa, insya Allah, jikalau dengan kesaktian kulit ini, dengan seketika juga sampailah ke situ."

Setelah itu berangkatlah mereka itu sekaliannya. Pada sesaat itu juga sampailah ke pulau Biram Dewa. Tuan Putri Bungsu pun sangatlah heran sambil berkata, "Aduh orang muda, di manatah kita ini?"

Sembah Serangga Bayu, "Inilah pulau Biram Dewa namanya, Tuanku. Pulau ini khasiatnya, seorang pun tiada boleh sampai kepadanya, sahaja dengan kehendak Allah Subhanahu wataala menunjukkan kekayaannya kepada hamba." Serangga Bayu mengambil bokca kesaktian itu, lalu dicitanya; adalah di dalamnya segala jenis makan-makanan yang lazat citarasanya, dengan tiada putus-putusnya berisi, seberapa juga banyaknya orang yang makan itu. Sembah Serangga Bayu kepada tuan putri Bungsu, "Silakanlah tuanku santap nikmat, barang-barang yang tuanku kehendaki adalah di dalam bokca ini." Tuan Putri pun membuka bokca itu, dilihatnya adalah berbagai-bagai nikmat makanan, lalu santaplah putri sambil mengucap, "Astagfirullah!" oleh karena herannya melihat hal yang demikian itu. Setelah sudah santap, tuan putri pergi mandi pada sebuah kolam, diiringkan oleh nenek kebayan serta dayang-dayangnya sekalian itu. Turunlah segala mereka itu mandi, dengan senda guraunya. Setelah sudah mandi berjalan-jalanlah tuan putri bertiga dengan dayang-dayangnya, Dang Lela 5) Seganda 6) dan Dang Mangurna 7) mengelilingi sebuah taman di pulau itu, melihat segala tanam-tanaman dan buah-buahan, berbagai bunga-bungaan yang ada di dalam taman itu. Berapa lamanya berjalan-jalan itu dilihat oleh kedua dayang, adalah putri berdiam serta dengan masygul rupanya. Dayang-dayang itu pun berdatang sembahlah, "Ya Tuanku, mengapakah Tuanku tiada hendak berkata-kata melainkan masygul rupa Tuanku ini? Adakah barang suatu hal yang memberi khawatir yang Tuanku pikirkan?"

Kata putri, "Aduhai, dayang-dayangku, beta ini lagi memikirkan kepandaian Serangga Bayu. Ajaib sebesar-besar ajaib! Dengan kehendaknya diterbangkannya kita sekalian oleh kulit kesaktian itu ke mari, dalam sesaat juga sampailah. Alangkah jauhnya pulau ini dengan negeri.kita. Khawatirlah sangat beta, kalau-kalau kita ini diterbangkannya pula ke mana-mana entah, dan tiada dibawanya pulang ke negeri kita pada hari ini. Jikalau demikian itu kejadiannya, sesungguhnya berdukacitalah paduka ayahanda dan bunda, dan entah apa pula dipikirkannya tentang kelakuan beta ini."

Sembah kedua dayang, "Ya, Tuanku, benarlah seperti kata Tuanku itu. Pikiran hamba Tuanku, kedua ini demikian juga. Hendak pun hamba persembahkan tadi, takut kalau-kalau dimurkai akan hamba."

Kata putri itu, "Betapa akal kita supaya boleh terlepas daripada kesukaran ini?" Sembah dayang-dayang itu, "Pada pikiran hamba baiklah kita ambil kulit itu dan kita cita, supaya kita sekalian ini bersama-sama dengan nenek kebayan diterbangkannya pula ke negeri kita."

Dalam berkata-kata demikian itu sambil berjalan-jalan sampailah mereka itu kepada suatu tempat; di situ ada sebuah batu yang besar di sisi jalan. Batu itu pun adalah seolah-olah terselit pada antara dua batang pokok kayu yang amat rindang. Kata Putri Bungsu, Hai dayang-dayangku, beta ingin amat hendak berhenti di sini sejurus akan melepaskan lelah." Menepilah putri menghampiri batu lalu naiklah ke atasnya hendak duduk. Setelah sampailah ke atas batu, sangat terkejut tuan putri, karena terpandang ia akan seorang laki-laki tidur di atas batu itu. Serta diamat-amatinya dikenalnya, bahwa laki-laki yang tidur itu Serangga Bayu Oleh putri itu diisyaratinya dengan tangannya akan dayang-dayang itu supaya hampir kepadanya. Dayang-dayang itu pun hampirlah kepada tuannya, lalu ditunjukkannya orang yang tidur itu kepada mereka kedua seraya berkata berbisik-bisik, katanya, "Lihatlah elok dan manisnya paras Serangga Bayu ini! Seorang manusia yang demikian rupanya ini, tiadalah ia berkhasiat sehingga sampai hati akan berbuat khianat seperti yang kita sangkakan tadi itu. Segan rasa hati beta berbuat yang kamu bicarakan itu, yaitu meninggalkan orang muda ini di sini dengan seorang dirinya."

Sembah dayang-dayang, "Ya tuanku, jikalau hamba tuanku pikirkan, benar juga seperti kata tuanku. Akan tetapi di dalam hal seorang perempuan muda memeliharakan namanya, janganlah menilik roman orang, melainkan hatinya juga patut diperiksa benar-benar. Hati orang muda ini belum terduga oleh kita, sebab lagi baharu kita mengenal dia. Sebagai lagi, apa yang dikhawatirkan meninggalkan orang muda ini di sini? Makanan ada. Masakan ia kekurangan selagi ada bokca kesaktian padanya, dan akan orang yang bijaksana, tak dapat tiada mudahlah ia melepaskan dirinya daripada terbuang di pulau ini. Dalam pada itu pun, mana-mana kehendak Tuanku hamba turut, sekadar hamba mempersembahkan nasihat juga." Demi didengar oleh tuan Putri Bungsu akan perkataan dayang-dayang keduanya itu demikian, putri pun berdiam dirilah sejurus panjang sambil berpikir di dalam hatinya "Benar pula seperti kata dayang-dayang kepercayaanku ini."

Setelah itu kata Putri Bungsu, "Baiklah, apa boleh buat." Sembah dayang-dayang itu pula, "Jikalau sungguh tuanku menghendaki yang demikian itu, inilah musimnya yang baik kita pulang sementara Serangga Bayu ini lagi tidur," Berjalanlah ketiganya itu cepat-cepat pulang ke tempat perhentian tatkala baharu datang ke pulau itu. Nenek kebayan dan segala pengiring tuan putri pun adalah sekaliannya di situ. Putri itu berkata, "Hai Nenek dan kamu sekalian, marilah kita pulang dengan kulit kesaktian ini."

Sembah nenek kebayan, "Ya Tuanku, nantilah apalah kiranya dahulu sebentar, biar nenek mencahari Serangga Bayu. Entah ke mana perginya budak itu. Tadi nenek lihat ia berjalan menuju ke hutan itu." Kata Dang Lela Seganda dan Dang Lela Mengurna, "Ya Nenek, puaslah sudah kami mencahari cucu nenek pada segenap tempat yang dekat-dekat di pulau ini, tiada juga bertemu dengan dia. Biarlah ia kita tinggalkan di sini dahulu, tiada mengapa, orang bijaksana, mustahil tiada dapat mencahari akal supaya boleh ia pulang dengan sendirinya. Janganlah nenek khawatir, selagi ada padanya bokca kesaktian dan panah kesaktian, niscaya tiadalah akan mati kelaparan ia, dan dapatlah ia memeliharakan dirinya daripada barang musuh." Setelah didengamya oleh nenek kebayan akan segala perkataan kedua dayang, kata nenek kebayan sambil menangis, bercucuran air matanya, "Jikalau demikian juga pikiran tuanku Tuan Putri, relalah hamba mengikut pulang dengan meninggalkan cucu hamba. Hamba serahkanlah ia kepada Allah subhanahu wataala, mudah-mudahan dipeliharakannya daripada segala malapetaka." Setelah itu berangkatlah segala mereka itu, diterbangkan oleh kulit kesaktian itu, pulang ke negeri Sela 8) Gangga 9) pada seketika itu juga sampailah.

(Hikayat Ahmad Muhammad).

Download Hikayat ini KLIK di SINI

Catatan
Hikayat Ahmad dan Muhammad ada juga yang disebut Hikayat Serangga Bayu. Sebuah naskah diterbitkan di Singapura. Naskah yang lain dikeluarkan oleh A.F. von Dewall dengan huruf Latin dengan mengubah namanya, yaitu Sukarna dan Sukarni. Dari naskah itulah diambil kutipan ini.
Cerita Ahmad dan Muhammad ada juga dalam bahasa Jawa.
  1. 1. Puncakgunung tanduk.
  2. 2. Perempuan tua yang seringkali tersebut dalam hikayat Melayu. Dalam cerita-cerita Sunda yang disebut Kebayan (seorang yang bebal dan lucu) bukan perempuan, tetapi laki-laki. Asal nama itu belum pasti, boleh jadi baja (umur, tua). Di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang disebut kebayan ialah suruhan kepala desa orang yang termasuk golongan tua di desa itu.
  3. 3. Hamba.
  4. 4. Gajah.
  5. 5. Permainan, senda gurau.
  6. 6. Ganda = harum; seganda = sigandi= Nama-nama bunga; gandasuli, gandarusa dan lain-lain.
  7. 7. Asal katanya= urna = oma = urono = rona = warna.
  8. 8. Daerah; kalau asalnya syaila, maka artinya gunung.
  9. 9. Nama sungai yang besar itu di India.


Kamar yang Terbuat dari Laut Afrizal

Sajak Afrizal Malna :


Kamar yang Terbuat dari Laut

Masa kanak-kanakmu terbuat dari sebuah pulau, Ram, di Tomia, Buton. Setiap malam, di antara suara batukku, demam yang tinggi, aku mendengar nafas laut. Laut yang tak punya listrik. Laut yang menyimpan masa kanak-kanakmu. Sebuah kamar yang dihuni orang-orang Bajau. Mereka, laut, kamar dan orang-orang Bajau itu, bercerita tentang …

Lidahku jatuh dekat ujung sepatuku. Laut memiliki sebuah kamar di atas bukit Kahiyanga. Ikan-ikan dan batu karang juga punya sebuah kamar di situ. Aku harus menggunakan lidahku sendiri untuk membukanya. Dan suara batuk, dan demam. Dan pulau yang bising oleh pengendara-pengendara ojek. Kamarmu itu, tempat bahasa melompat-lompat seperti ada api yang terus membakarnya.

Setiap malam, aku seperti mendengar nafas laut, ikan lumba-lumba yang sedang menidurkan anaknya… wa ina wandiu diu … malam tak pernah memukuli anak-anaknya di dasar laut. Malam tak pernah membuat dirimu terus menangis setelah bangun tidur. Lalu pulaumu itu, Tomia, mengambil batuk dan demamku dengan jari-jarinya yang terbuat dari tulang-tulang ikan, dengan jari-jarinya yang terbuat dari darah ikan. Laut tempat waktu melukis seluruh warna di permukaannya. Laut yang membuat kerudung ibumu seperti lempengan emas di senja hari. Sebuah hempasan waktu yang telah menelan seluruh leherku.

Kamar yang terbuat dari laut itu kemudian bercerita … kau telah menjadi seorang ibu, Ram, untuk masa kanak- kanakmu sendiri.


Diambil dari : http://www2.kompas.com/
Download Puisi ini KLIK di SINI

Saturday, October 17, 2009

Angin Dari Gunung AA Navis

Angin Dari Gunung

Cerpen AA Navis

Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada. Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, "Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu."

"Aku sendiri sedang bertanya."

"Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja."

Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan kemudian dia berkata lagi. "Sudah lima tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya anak."

Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira dia bicara lagi.

"Kau cinta pada istrimu tentu."

"Anakku sudah dua."

"Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau tentu bahagia."

Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Angin pergi.

"Kau ingat, Har?"

"Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya.

"Sembilan tahun yang lalu."

"Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah lama lampaunya."

"Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi." Dia diam lagi. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. "Ketika itu seperti macam sekarang. Kita duduk seperti ini juga. Tapi tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat, sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau bicara. Dan aku menunggunya. Tapi kau tak berkata apa-apa."

"Masa itu, masa kanak-kanak kita," kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya.

"Ya," katanya dengan suara tak acuh. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung karena perang. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Biar kau menggenggamnya kembali. Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?"

Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak, meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. Kucoba membuang segala kesenduan, tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. Dan angin meniup lebih syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba besertanya.

"Tak ada gunanya," katanya lama kemudian. Dan aku menunggu dia bicara lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak diteruskannya. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan, disilangkan, lalu digesek-gesekannya. Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.

"Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau punya pegangan hidup, punya tujuan minimal. Tapi yang terpenting kau punya tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai laki-laki, sebagai manusia juga, seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan.

Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini."

Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan, kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika.

"Dulu aku cantik juga, bukan?" katanya pula. "Bahkan tercantik di front Barat itu. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Tapi keitika musuh datang, aku kebetulan tak ada disana, mereka habis lari kehilangan keberanian.

Kalau pemimpin yang datang di front, di waktu tak ada perempuan, aku menjadi sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Dan ketika mereka mau pergi, dicarinya aku dulu. Dijabatnya tanganku erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. ‘Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Kami sangat merasa bangga dengan adanya p atriot wanita seperti Saudari, yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita. Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini, tentu front ini sudah lama di duduki musuh.’

Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga yang merawatnya. Dan di waktu malam-malam yang damai, mereka minta hiburan. Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. Dan waktu itu, aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau boleh sebanyak jari ini.

Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma, tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat. Ya, itulah semua."

Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa, lebih menusuk. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya.

Matahari ketika itu sangat cerahnya. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama, karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Hendak kuelus hatinya, hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak kukatakan juga, bahwa aku mau memeliharanya. Memelihara dia? Tidak. Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu, aku menyesali diriku sendiri. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. Doa serasa tak berharga kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa sekadar doa, tak ada gunanya. Maka aku merasa segalanya jadi terbang.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. Dan aku katakan, bahwa aku sedang memikirkannya.

"Masa dipikirkan lagi," katanya. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?"

"Apa?" tanyaku ragu-ragu.

"Kau memikirkan aku, kan?"

"Tidak setepat itu benar. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan."

"Untuk apa?"

"Untukmu."

"Sia-sia saja."

Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama ia terdiam, dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya.

"Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan semua."

Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan aku mendesak lagi.

"Kalau perlu ...Ah, tidak, Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. Barangkali tidak lama kau di sana, kau sudah bisa pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi, seperti dulu."

Lalu ia memandang padaku. Dan tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. Aku jadi gugup.

"Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku.

"Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.

Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. Lalu aku pura- pura tak mendengarkan apa katanya. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala, yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri. Dan dia tahu itu rupanya. "Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya.

"Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat banyak nantinya."

"Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan? Seperti dulu, seolah -olah kalau tidak ada aku, semuanya seperti tidak akan sempurna, semua pekerjaan seolah takkan selesai. Semua orang memerlukan tenagaku. Semua orang jatuh cinta padaku. Semua orang haus akan segala yang ada padaku. Tapi setelah itu, setelah itu apa lagi?"

Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya
pada mukaku, karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.
"Kau kasihan padaku, bukan?"

"Kenapa tidak?"

"Ya. Tentu saja kau kasihan padaku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu. Lalu dari tempat yang itu, kau memandang kepadaku, 'Oh, alangkah kecilnya kau, Nun, katamu’."

Aku mau membantah. Tapi sebelum aku dapat memilih kata, dia berkata lagi.

"Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang menyapamu, kau takkan tahu siapa aku, bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi, kau seolah melihat pengemis yang dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya, meski pernah orang itu dicintanya."

Aku ingin memandangnya tepat, hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku menentang matanya, hendak meyakinkannya, seperti pernah kulakukan dulu kepadanya.

"Meski bagaimana, aku tahu kau baik," katanya lagi.

"Ni Nun, Uni Nuuun," tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami.

"Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak tahu dibuntung aw ak," gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Inikah lingkungan hidup Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna, manusia yang sial. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. Tapi cepat-cepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku.

"Nenek memanggil. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi.

"Tolong tegakkan aku. Aku mau ke Nenek," Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. Dan kutolong dia berdiri. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi, melebihi tadi.

"Nenek sudah tua benar. Sudah lupa segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di dekatnya, Nenek merasa kehilangan nyawa," katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya, dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. "Nenek tak bisa berpisah denganku. Antara kami berdua ada perpaduan nasib. Dan Nenek ingin hidup lebih lama, karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian."

Dia melangkah lagi. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata, "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku juga tidak memerlukan apa-apa pula."

Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu, kukatakan kepadanya, "Besok aku datang lagi ke sini, Nun."

Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.

Download cerpen ini KLIK di sini

Thursday, October 15, 2009

Sajak-sajak Den Sastro Tujuh s/d Delapanbelas : Puisi Sapardi Djoko Damono

Sajak Tujuh sampai Delapanbelas


Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono


(Den Sastro meninggal juga, akhirnya. Di sebuah laci di lemari kamar tidurnya ditemukan berkas-berkas kertas yang bertulisan tangan, sejumlah sajak yang semuanya tanpa judul. Mungkin-kata mereka-sajak-sajak itu ada kaitannya dengan seorang perempuan yang bernama Rahayu, tokoh rekaan yang ada dalam benak lelaki tua itu.)

Sajak Tujuh

Cinta itu sebilah pisau
yang baru selesai diasah,
sekaligus sebutir limau
yang di atas pinggan terbelah.


Sajak Delapan

"Apa yang memantul di permukaan air itu?" tanyamu, pelahan.
Sisa siang, sisa genangan sehabis hujan,
sisa langit di antara daunan basah dan selembar awan –
sisa percakapan yang melelahkan tentang harapan.
Kau menghindar dari genangan itu, memegang erat-erat
tanganku, "Ada yang memantul di air kotor itu," katamu;
waktu itu sisa matahari sudah susut ke arah barat,
menawarkan warna kemerahan, "Cahaya itu," kataku.
Di perempatan kau menunjuk ke papan reklame itu,
aku tak begitu paham apa maksudmu,
tak tahu hubungan antara genangan air, cahaya matahari,
dan gambar anak-anak muda yang warna-warni.

Sajak Sembilan

"Setiap kau menatapku, aku seperti bercermin padamu,"
katamu. Cuaca serasa sesiut angin
menghindar dari knalpot sepeda motor itu.
Aku pun membayangkan pundak gunung yang dingin.
Serasa pernah kudengar ucapanmu itu di suatu waktu
ketika tak ada suara motor, ketika saat berhenti di depan cermin,
berkata, "Setiap aku menatapmu, kau seperti bercermin padaku."
Di antara yang di balik dan di depan cermin: udara dingin.


Sajak Sepuluh

Sore tak pernah bicara tentang siang, yang melekat
di aspal dan dinding pencakar langit. Tak pernah peduli
tentang udara yang memuai, membuat dada kita berat.
Ia bicara tentang langit yang bercermin embun pagi
yang menggantung di ujung daun, yang tak kekal,
yang raib waktu siang. Sore tak memasalahkan siang,
tak pernah dikatakannya, "Selamat siang," padamu; ia hanya
Kenal ucapan "Selamat pagi." Lalu tenggelam.


Sajak Sebelas

Begitu banyak orang. Dalam gedung bioskop kehidupan Ditawarkan.
Begitu panjang antrian, begitu panjang jarak dan jangkauan
antara sosok dan bayang-bayang. "Apa pula gerangan
yang diharapkan dari poster tentang yang serba menyilaukan?"
Aku tak ingin memberikan jawaban. Aku tak ingin
membayangkan segala yang kaubayangkan tentangku,
tak ingin kau berdiri dalam deretan panjang yang mungkin
hanya berujung pada gambar haru-biru dalam gedung itu.


Sajak Duabelas

Langit tak pernah curiga. Ia hanya melengkung di atas kita,
di tengahnya matahari-seperti bola mata.
Langit tidak pernah mengawasi langkah kaki kita,
tak pernah risau apakah kita ke selatan atau utara.
Langit suka berkaca pada bola matamu, yang tak letih
Menatapku, yang tak pernah berkejap seolah kawatir ia akan
Meninggalkanmu; di tengah kota yang selalu gelisah membincangkan cuaca
langit tak pernah mendengar keluhmu, "Kenapa ia di sana?"


Sajak Tigabelas

"Aku Angreni, Raden." Lampu yang redup di kamar ini
takkan percaya bahwa aku Panji. Juga ac yang memutih
dinginnya, juga gambar sawah yang miring ke kiri.
Kau pun mungkin tak akan pernah merintih,
"Kaulah Panjiku, Raden." Tak ada Sekartaji di ruang ini;
putri itu menyaksikanmu jadi abu bersamaku. Ia kenal aku
Panji, seperti jarum jam yang tak beringsut di dinding itu.
"Aku Sekartaji, Raden," kudengar suaramu lagi. Udara bagai Abu.


Sajak Empatbelas

Rasanya aku pernah mengenal jala laba-laba itu. Tidak
di hutan. Semakin rapat di antara penangkal petir pencakar
Langit dan menara mesjid. "Tapi benang-benangnya tak tampak,"
katamu ketika kita berusaha lolos darinya. Seperti sebuah jerit.


Sajak Limabelas

Kota ini sebuah gua: tiang telepon, antene, dan parabola-
selebihnya senyap. Yang dikenal sejak cinta kita
menjadi purba. "Kota ini sebuah gua?"
tanyamu memulai keheningan yang tanpa cakap, tanpa sia-sia.


Sajak Enambelas

"Kau lihat aku menyeberang?" tanyamu
ketika di tepi jalan ini kubisikkan suara musim padamu.
Kuhapus sisa titik hujan dari pelupuk matamu,
yang hampir tergelincir-sementara kaurapikan topiku.
Hujan akan segera turun lagi tampaknya. "Kenapa kau
tampak bergegas?" Tapi, siapa pula yang bergegas
kalau tahu bahwa bahkan dalam hujan tak ada risau
dan di bulu matamu sisa rintiknya akan lagi membekas?


Sajak Tujuhbelas

Rambutmu berkibaran di arus angin penghujan,
beberapa percik air tempias di pipimu. Demi Tuhan,
bukan karena itu aku mencintaimu, bukan
karena bajumu yang kusut-tak kaurapikan.


Sajak Delapanbelas

"Setanganku basah," katamu. Tapi tak kulihat kau mengusap matamu.
Suara peluit kereta dari kejauhan, tapi tak bisa kubayangkan
suatu perpisahan. "Kita tak berumah," kataku, seperti meyakinkanmu.
"Kaudengar suara geretak rel itu?" Kusiasati kiri-kanan.
Rasanya pernah kukenal lambang-lambang itu: rel, peluit.
Kereta-tapi tak tahu apa pernah kaupedulikan maknanya;
rasanya pernah kudengar suara-suara itu. "Matamu basah!"
Seperti ada hubungan antara semuanya itu, dan rumah.

Download puisi ini KLIK di sini

Tuesday, October 13, 2009

Lakon Patung Kekasih

Patung Kekasih

Karya : Simon Hate


1

Studio seorang pematung.
Sesuatu pemandang yang tak selesai: beberapa peralatan disebuah pojok, beberapa patung jadi dan beberapa patung lainnya yang terbengkalai, tata warna kusam – namun siap untuk menggalami perubahan setiap saat.
Menuju keremangannya, dari arah depan lurus panggung, muncul perlahan-lahan Wanita Pertiwi. ( entrance )
Kostumnya, rambutnya yang panjang bergerai, matahari wajahnya dan ruh yang menjadi rahasia matanya, serta keseluruhannya — memancarkan alam.
Pada sebuah kursi, di pusat panggung, ia berhenti dan duduk menghadap punggung panggung. Ia mematung, tetapi seseorang akan menjadi sangat dungu apabila berani menyangganya sebagai benar-benar patung.
Tiba-tiba, muncul dari stu sudut panggung, Pematung Muda. (entrence)
Pematung Muda baru berani sedikit mencuri pandang ke Wanita Pertiwi tatkala sudah berada ditempat yang terbebas dari wajah Wanita Pertiwi.

PEMATUNG MUDA
Pasti saudara-saudara menyesal kenapa ia tidak menghadapkan wajahnya kearah saudara-saudara!tapi justru bersyukurlah, karena apabila sempat saudara-saudara menatap matahari wajahnya serta roh yang menjadi rahasia matanya saudara-saudara akan tiba-tiba menjadi penyair!
Lihatlah : ia duduk mematung.
Tetapi seseorang akan menjadi sangat dungu apabila berani menyangganya sebagai benar-benar patung.
Ia, untuk waktu seperti yang tak terbatas, diam saja menatapi ruang hampa, dan sekedar seserpih senyumannya saja cukuplah untuk menyodorkan segala nomer musik, puisi, kembang, atau langit semesta, yang membuat kita tergagap karena merasa terkepung.
Hm. Edan! Saudara-saudara tahu sendiri: sayapun telah menjadi seorang penyair remaja!

Tiba-tiba terdengar benturan kecil dua benda keras. Pematung muda bergeser ke satu sisi yang aman. Ternyata Pematung Tua muncul dengan membawa alat pahat. (entrance)
Seperti tak ada siapa-siapa diruangan itu, ia mondar-mandir, tanpa kata, seperti mempersiapkan sesuatu. Kemudian terbatuk-batuk, dan hilang kebalik panggung. (exit)
Pematung Muda meruang lagi. Langkah gontai. Gerak-gerik kurang menentu. Wajahnya memancarkan banyak hal sekaligus : gairah dan cita-cita amat tinggi, keputusasaan, apatisme.

PEMATUNG MUDA
Baiklah. Supaya saya tidak dianggap pencuri disini sebaiknya saya memperkenalkan diri.
Saya: seorang pematung. Paling sedikit: calon pematung. Atau kalau masih terasa masih kurang jujur: minimal cita-cita saya adalah menjadi seorang pematung.
Tetapi hal ini langsung menyangkut satu hal yang amat menjadi beban hidup saya, bahkan menindih kepal saya dari hari ke hari.
Yakni bahwa penghalang utama cita-cita saya itu adalah Bapak saya sendiri : seorang pematung terkenal yang saya amat benci sekali:
Memang sama sekali tidak enek kedengarannya tapi lebih tidak sedap lagi untuk mengalaminya: sakit, perih, merangsang rasa putus asa.
Maaf saudara-saudara kalau saya mengeluh tetapi yakinlah bahwa saya bukan anak durhaka yang suka menceritakan keburukan-keburukan Bapak sendiri: seorang lelaki yang filsafat hidupnya bejat, yang moralny moral ayam, air ludahnya terdiri dari ramuan lender borok dan air kencing setan, yang eksploatator! Yang penindas!—
Tidak saudara-saudara. Saya bukan anak didik iblis meskipun kata-kata saya memang mengandung nyala api.
Akan tetapi cobalah, cobalah pandang Wanita Pertiwi ini!cobalah pandang baik-baik. Saya akan sangat kagum pada saudara-saudara, sebab saya sendiri tak akan pernah berani sedetikpun menatapnya. Bahkan rasanya sejak beribu tahun yang lalu dan sampai abad-abad yang akan dating, tetap saya tak akan tak kecut memandangnya.
Maafkan kalau saya memakai kata-kata yang biasanya diucapkan oleh mulut para penyair. Tapi yakinalah bahkan Shakespeare dan Darmawulan tak kan mampu menciptakan puisi yang keindahnnya bias menandingi keagungan Wanita Pertiwi ini.
Cobalah pusatkan diri saudara-saudara, bulatkan roh dan mantapkan sukma. Kalau pikiran saudara-saudara sedang berlari kesana kemari, cobalah tarik kembali. Kalau sukma saudara-saudara sedang pecah dan tercecer-cecer, himpun kembali ia. Kemudian siapkan seluruh kebulatan dari saudara-saudara untuk menatapnya! Dan menerima anugrah dari keagungannya! Ayo coba, coba…

Tanpa sepengetahuan Pematung Muda, Wanita Pertiwi bangkit pelan-pelan, dan beringsut pergi, lenyap kebalik panggung. (exit) (dalam suatu progresi yang amat lembut).

PEMATUNG MUDA
Cukup saudara-saudara! Cukup! Jangan terlalu lama memandangnya, supaya terhindar dari akibat-akibat yang bisa berbahaya!
Sekarang, anggap ia tak pernah ada. Saya berdoa kepada Tuhan, semoga saudara-saudara diperkenankan sungguh-sungguh mengetahui apa yang sebenarnya duduk dengan anggun ini.
Soalnya, terus terang saja, bahkan para Malaikat belum tentu mampu melukiskan keindahnya.
O ya – saya akan membuka sebuah rahasia! Tapi jangan bilang-bilang. Saudara-saudara, pengarang naskah lakon ini diam-diam menuliskan suatu gambaran tentang Wanita Pertiwi ini, tetapi tidak dipaparkan kepada kita.
Mungkin karena ia merasa cemburu, atau paling tidak ia pasti ingin memonopoli keindahan yang maha dasyat ini buat dirinya sendiri.
Itu biasa tidak ada seniman yang tak egois. Tapi dengarlah, saya akan buka kedoknya! Begini saudara-saudara, pengarang yang tak kawin-kawin itu , melukiskan dengan hati berdebar-debar:
“ Seluruh butir-butir keindahan dunia dan umat manusia, yang dikandung oleh sejarah, ruang dan waktu. Jika digabung menjadi satu keutuhan – maka separohnya cukup diwakili oleh sinar wajah Nabi Yusuf, dan separohnya lagi oleh rahasia yang dikandung Kekasih kita ini!
Seluruh alam semesta, berpusat dipancaran matanya
Segala macam model cinta kasih, tumpah dipangkuan sikap diamnya.
Dan segala jenis kekuatan lelaki, menjadi loyo dikelingking jari tangannya!” (tertawa)
Saudara-saudara, bayangkanlah betapa pubernya pengarang kita ini!
“ Inilah! – demikian katanya lebih lanjut, jenis wanita yang sering menbuat gagap setiap lelaki di hadapanya. Karena apabila tersenyum, maka senyumnya tidak untuk lelaki, tapi untuk dunia!
Jika matanya sedikir mengerling : awan-awan dilangit akan sangat kaget, sehingga tumpahlah hujan dan basahlah bumi!
Jika dagunya terangkat sedikit, gunung-gunung akan segera merundukan mukanya. Gunung yang lama mati mendadak hidup kembali, dan gunung yang telah berapi, segera kehilangan diri, memuncratkan lahar panasnya berulang kali!
Jika wanita ini mengundang ia tak mempersilahkan.
Dan jika ia menantang ia tak menyediakan pelayanan…..”
Bayangkan --- saudara-saudara, demikianlah puisi sang pengarang, yang penuh dengan kata-kata muluk yang menggelikan hati, tetapi bisalah dimuat di kolom-kolom remaja Koran local kota ini.
Setengah mati ia berusaha melukiskan keindahan ini padahal semua orang cerdik pandai bersepakat bahwa keindahan yang sejati, tak sepatutnya dilukiskan, dengan cara apapun –
Karena puisi-puisi, lukisan, nyanyian, patung semuanya hanya palsu belaka! Semuanya hanya mencerminkan ketololan senimannya! – dan inilah saudara-saudara, sumber utama kebencian saya kepada bapak saya!
Ini soal prinsip!

Tiba-tiba (entrance) tiga Kacung berbaris resmi , training, suatu komedi robot-robot, melintas panggung, (exit).

PEMATUNG MUDA
Saya ulangi saudara-saudara: ini soal prinsip. Mematung itu bukan bagaimana membikin pating. Bukan mengalihkan keindahan atau menirunya. Sebab keindahan sejati tak bisa ditiru atau dialihkan.
Bikin patung itu bukan memahat sesosok kematian, bukan menciptakan benda mati untuk dijual. Mematung itu suatu pekerjaan untuk bergabung kepada denyut hidup sebuah keindahan.
Dan Wanita Pertiwi ini bukan seorang model, yang akan diterjemahkan menjadi benda mati, melainkan sumber cinta kasih, dan merupakan tempat kembalinya segala pengembaraan cinta kasih itu.
Patung sangat mendekatkan kita pada kematian sedang cinta kasih adalah sukma kehidupan, dan kita berada ditengah-tengahnya, penuh tantangan dan jebakan.
Saudara-saudara, saya berani bertanding melawan Bapak saya dalam mengerjakan keindahan ini.
Tetapi saya tidak punya hak apa-apa, Bapak adalah pemilik tunggal dari Wanita Pertiwi ini.
Saya sangat bersedih, karena perbedaan utama saya dengan bapak saya ialah bahwa saya tidak pernah menganggap Wanita Pertiwi ini sebagai kuda tungganan atau tambang emas yang bisa diserap atau diperas.
Tidak! Ia terlampau indah untuk diperlakukan begitu! Bahkan saya bersedia untuk tak usah menjadi pematung asal saja diperkenankan untuk menunjukan iktikad baik dan cinta kasih saya, dengan cara mencium keningnya sepanjang masa….
Tapi jangan khawatir, saya tidak akan pernah berani sungguh-sungguh menciumnya – tapi saksikanlah saya, dengan penuh gempa bumi dalam dada, akan mencium tanah di depan telapak kakinya…

Pematung Muda bergeser mendekati tempat Wanita Pertiwi, tanpa menatapnya, bersujud mencium tanah didepannya tapi segera sadar bahwa Wanita Pertiwi hanyalah bayangannya.

PEMATUNG MUDA
Maaf saudara-saudara, kenapa saudara tidak bilang bahwa Wanita Pertiwi ternyata tak ada disini?!...
Uh! Pastilah saya nampak seperti orang gila. Tapi saudara-saudara tentulah tahu juga: kalau saya melamun, mimpi, itu pasti dasyat juga maknanya!
Bagi orang yang pernah mengalami kepalsuan-kepalsuan kenyataan, pasti akan berpihak kepada mimpi juga!....

PEMATUNG TUA
Kacung! Bawa dia kemari!

Suara dan kehadirannya memotong kegiatan Pematung Muda. (entrance)
Membawa beberapa alat path, munculnya Pematung Tua diwarnai oleh gerak-gerik yang amat mengacuhkan Pematung Muda. Bahkan kemudian ia menatapnya saja dengan angkuh sampai anaknya ini beringsut pergi dengan melayani keangkuhan itu.
Pematung Muda exit.

PEMATUNG TUA
Kacung! Apa perlu kupanggilkan Dokter Telinga!

KACUNG (suaranya)
O ya ya Tuan….

PEMATUNG TUA
Ya ya apa!

KACUNG (suaranya)
Dokter Telinga …eh….

PEMATUNG TUA
Bangsat tengik komunis kamu! Kemari!

KACUNG (tiga orang)
Siap Tuan!
(berbaris, entrance)
PEMATUNG TUA
Apa kuperintahkan tadi!?

KACUNG (salah seorang)
Bawa dia kemari!

PEMATUNG TUA
Kurang keras!

KACUNG
Bawa dia kemari!!!

PEMATUNG TUA
Bagus. Laksanakan!

KACUNG
Siap Tuan! (exit)

PEMATUNG TUA
(kesudut lain dari ruang, melakukan persiapan untuk bikin patung)(tiba-tiba melihat dua kacung masih berdiri di pojok seperti robot mati)
kalian berd….

KACUNG (bersama)
Siap Tuan!

PEMATUNG TUA
Dengarkan dulu sampai aku…..

KACUNG (bersama)
Siap Tuan!

PEMATUNG TUA
Baik. Baik. Kau, hapalkan Undang-undang Dasar Perpatungan Nasional….

KACUNG (salah seorang)
Siap Tuan! Bahwa kemerdekaan adalah hak segala pematung…..

PEMATUNG TUA
Diam tolol! Jangan dihafalkan disini
Disana! Di belakang! Dekat WC!

KACUNG (salah seorang)
Siap Tuan! (exit)

PEMATUNG TUA
Dan kau! Hapalkan A-B-C-D!

KACUNG
Siap Tuan! Dekat WC!

PEMATUNG TUA
Cepat pergi!
(meneruskan kegiatannya)

Dalam kegiatan tanpa kata itu menjadi keliahatan wajah dan perwatakan Pematung Tua yang sukar diduga dan mengandung berbagai kemungkinan nilai.
Muncul Kacung (yang pertama), bersama Wanita Pertiwi dan Srintil, gadis yang lugu tetapi memperlihatkan potensi kecerdasan tertentu.

KACUNG (keras dan resmi)
Laporan!
Dengan ini saya melaksanakan tugas dari pada saya membawa wanita model daripada Tuan.
Bersama seorang putrid daripada wanita itu
Sekian laporan daripada saya
Selesai!

PEMATUNG TUA
Bagus. Cepat mundur sana!

KACUNG
Siap Tuan! (berjalan mundur, exit)

Sesudah itu terhadap Wanita Pertiwi, sikap dan nada prilaku Pematung Tua, adalah lain sama sekali. Kelembutan dan kembang memancar dari setiap katanya.

PEMATUNG TUA (kepada Wanita Periwi)
Setiap kali berada dihadapanmu, aku merasa kata-kata yang muncul dari pikiranku selalu agak kurang tepat dan tidak sopan. Namun terhadap sesosok keindahan seperti ini haruslah diucapkan: selamat datang, kekasih!

Wanita Pertiwi tak bergeming, Srintil menunjukan desah dan gerak-gerik yang tidak menyukai hal itu.

PEMATUNG TUA
Semoga hari ini keberuntungan bersamaku karena para malaikat pastilah membantu.
Kekasih, silahkan duduk.
Kursi ini buruk, tetapi segera akan menjadi indah begitu engkau menyentuhkan tubuhmu diatasnya!

WANITA PERTIWI
(tersenyum kecil dan mahal, tak bergerak)

SRINTIL
Ibuku yang pertiwi, marilah duduk akulah yang akan melihat apakah dibawah kursi itu, terdapat seekor ular berbisa.
(membimbing Wanita Pertiwi)

PEMATUNG TUA (tertawa)
Putrimu ini sangat cerdas, semua manusia memang membenci ular berbisa. Tetapi berkat kecerdasannya, manusia juga yang akhirnya mengerti, bahwa ular berbisa adalah segala lambang segala ilmu obat-obatan dan lambang segala kesehatan dan kebahagiaan.

SRINTIL
Ular berbisa usapan lidahnya amat lembut sehingga lenyaplah kesadaran kita untuk mengetahui bahwa antara kebahagiaan dan malapetaka, hamper tak ada bedanya.

PEMATUNG TUA
Bagus, bagus, anak manis! Kulihat engkau sangat peka terhadap nasib Ibumu, maka sesungguhnya tidaklah ada perbedaan pendapat di antara kita: kita sama-sama mengasihinya!
Hmm. Bagaimana aku harus memanggilmu?

SRINTIL
Tuan tidak harus memanggilku!

PEMATUNG TUA
Anak yang manis – maksudku siapa namamu?

SRINTIL
Namaku tidak penting untuk Tuan.
Maupun untuk diriku sendiri!

PEMATUNG TUA
Bukan main! Engkau bukan sekedar berkepal batu, tapi kuduga seluruh isi kepalamu itu memang terdiri atas tumpukan batu-batu.

SRINTIL
Untuk semboyankan kepala ular, anak-anak kecil biasa memakai bongkahan batu.

WANITA PERTIWI
Srintil: sudahlah.

PEMATUNG TUA
O, tak apa-apa – He? Srintil namamu! Dengar!
Bagiku segala sesuatu adalah kekasih hati juga setiap mata yang seolah-olah menyakitkan hati! (beralih kepada Srintil)
Anak manis buah kekagumanku!
Jika namu tidak penting bagi kita maka tunjukanlah hal yang sekiranya bisa kau anggap penting.

SRINTIL
Ialah, kehadiranku disini menyertai Ibuku yang Pertiwi
Dihadapan kelembutan Tuan yang ganas!

WANITA PERTIWI
Anakku! Sudahlah.

PEMATUNG TUA
Hmm. Srintilmu yang centil ini bagaikan matahari di waktu fajar, ia akan muncul dengan cahaya cemerlang tetapi kini masih di bungkus oleh kabut yang remang.
Segala kesan dan bayangannya terhadap diriku dianggapnya seakan-akan merupakan kenyataan, sehingga lahirnya sikap-sikap yang menantang.
Namun, percayalah, itu tak akan jadi persoalan, sebab aku senantiasa bersedia memaafkan.

SRINTIL
Akulah yang tak akan bersedia memaafkan, jika apa yang ku kawatirkan benar-benar akhirnya menjadi kenyataan.

PEMATUNG TUA
Engkau memang tak perlu menyediakan pemaafan.
Karena tak akan ada hal-hal yang perlu dimaafkan.

SRINTIL
Demikianlah cara seekor ular berbisa meletakkan perangkapnya!

PEMATUNG TUA
Engkau, anak manis, benar-benar masih perawan.

WANITA PERTIWI
Semuanya! Sudahlah.
Pekerjaan kit asekarang ini bukanlah untuk saling berpantun-pantun.
Tuan sebagai pematung yang berpengalaman tentulah tahu bagaimana tak menghambur-hamburkan waktu.

PEMATUNG TUA
O, pasti, pasti, kekasih….

SRINTIL
Hanya pematung picisan yang suka memurah-murahkan kata kekasih-kekasih-kekasih….

PEMATUNG TUA
Cinta kasih sangatlah luas wilayahnya, kuharap engkau mampu melihatku tida sebagai pemuda puber yang silau matanya….
(Srintil tertawa)
Tapi baiklah, segera kita mulai pekerjaan ini!
(ancang-ancang dengan mengambil jarak dari Wanita Pertiwi, manatapinya, memandanginya)
Aku rasa – ruangan ini memerlukan konsentrasi.

SRINTIL
Maksud Tuan?

PEMATUNG TUA
Ruangan ini memerlukan keutuhan
Artinya, di sini tak perlu ada hal-hal yang kurang perlu, yang bisa mengurangi keutuhannya.

SRINTIL
Tuan mengusirku?

PEMATUNG TUA
Sama sekali tidak. Tetapi syarat pertama segala kesenian dan keindahan adalah keutuhan.
SRINTIL (sinis)
Ternyata kesenian bisa menjadi tiran.

PEMATUNG TUA
Itu tergantung cara memandangnya.

SRINTIL
Relative, begitu!

PEMATUNG TUA
Tepat.

SRINTIL
Relativ. Relatifitas. Itulah tirani nyata atas kehidupan manusia.

WANITA PERTIWI
Engkau menjadi mulia dengan mengalah, nak.

SRINTIL
Brengsek. Dari semula aku tak sependapat
Ibu berurusan dengan pematung macam ini.
Wataknya nggegirisi.
Kalau dipilih, ia segera menjadi pemerintah yang mencelakakan kita!
(exit).


2

sesudah Srintil berlalu, segera nada prilaku Pematung Tua bergeser lagi. Lebih menunjukan ketegarannya, sikap berkuasa, dimana kelembutannya nampak sekedar alat belaka dari kemaunnya.

PEMATUNG TUA
Okey --- sekarang kita akan segera mulai pekerjaan yang luhur ini dengan efisien dan effektif.
Aku tidak sekedar akan membikin patung tetapi juga melestarikan keindahan. Menggarap suatu keindahan anugrah alam menjadi model keindahan yang cerdas serta mencerminkan citarasa kebudayaan tinggi.
Untuk itu, tak bisa kusebut hanya aku saja, tetapi kita semua mengerjakan keindahan itu bersama-sama
engkau, aku, putraku – yakni penerus dan pewarisku kelak, serta seorang yang amat sangat pentingnya: yakni Pengusaha. Yang memesan semua ini berkat cinta kasihnya yang tinggi terhadap keindahan yang kita mimpikan ini.

WANITA PERTIWI
(tersenyum secara kuat)

PEMATUNG TUA
Fantastis. Memang begitulah seharusnya! Engkau menyongsong prospek dan kemajuan dengan seulas senyum.
Pengusaha kita nanti akan luruh hatinya oleh senyuman yang asli sorga itu, sehingga prospek kemajuan kitapun meningkat.
Tetapi, dengarlah, aku tahu apa yang harus kulakukan, agar senyuman itu menjadi lebih sempurna…
(mengambil sesuatu dari suatu tempat, kembali, menghampiri Wanita Pertiwi, perlahan-lahan mengoleskan gincu dibibirnya).
(bergeser mundur, manatapi)
sekarang tanpa engkau tersenyumpun warna bibir itu sudah merupakan senyuman!
(tetapi kenyataan warna bibir itu, sesdudah digincu, justru menurunkan keindahannya).
Aku sedang membayangkan apa yang nanti keluar dari mulut Pengusaha kita ketika menatapmu!
Coba – sedikit tersenyum!
(Wanita Pertiwi tersenyum)
O, my God! Aku berani bertaruh Pengusaha kita nanti bisa pingasn!
Tuhan sungguh-sungguh Maha Indah dan Maha Kreatif, tetapi manusia dianugrahinya kejelian otak dan kepekaan citarasa agar setiap keindahan yang tersembunyi bisa digali…
Okey --- sekarang --- hmm. Yak!
Aku tahu: janggut dan pipi!
Seorang pematung yang terpercaya tahu persis bagaimana menaruhkan ornament-ornamen baru yang lebih memperindah hamparan keindahan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa!
(kembali mengambil sesuatu, mengoleskan warna pada kedua pip dan janggut Wanita Pertiwi)
(sedemikian rupa sehingga hampir musnahlah keindahan itu)(Pematung Tua sangat gembira, tertawa sendiri dan bertepuk tangan sendiri)
Saudara-saudaraku semua yang ada dibulatan bumi ini, lihatlah, lihatlah begitu banyak Malaikat berdiri tegang dan kaku karena terserap oleh keindahan yang baru ini!
Dan barang siapa telinganya cukup terlatih maka sekarang ini pastilah didengarnya para setan meraung-raung!
Karena memang meraka bukan mahluk yang diizinkan Tuhan untuk mampu menikmati keindahan-keindahan spektakuler yang lahir dari buah tangan manusia!
(tepuk tangan kembal, terengah-engah, menghempaskan pantat dan menyandarkan tubuh karena kepuasan dan keletihan, sambil tetap manatapi hasil karyanya)
Tetapi seniman sejati tak mengenal rasa puas!
(bangkit)
Sekarang baiklah kurenungi rambut yang menggetarkan ini, yagn kubayangkan bagai hutan-hutan lebat, yang menghiasi gunung-gunung.
Yang akarnya tidak berada dibawah bumi melainkan menembus lapisan-lapisan langit dan berpangkal ditelapak tangan agung milik Sang Maharaja Diraja Semesta!
(merenung)
Iyak! Rumus kehidupan sudah gamblang: demi menghargai Tuhan robahlah hutan, menjadi taman!
Hmm – wahai siapa saja yang mampu memahami makna kemajuan! Rambut ini menggetarkan, tapi liar padahal ia bisa kita sulap menjadi daerah pariwisata yang menggiurkan!
Di zaman ini tak diperlukan tarzan-tarzan melainkan orang-orang yang mengembangkan akal budi, menyentuh alam, menggali kekayaannya demi mencapai peradaban yang dewasa dan bergengsi!
(mengerjakan rambut itu sehingga kembali, menurunkan keindahannya). (sedemikian rupa sehingga mencerminkan suatu komedi). (bergeser mengambil jarak, memandangi)
Menurut pendapat saya
Karya terakhir saya ini cukup bagus! Memang ada satu dua hal yang layak dikritik tetapi bahwa prestasi ini harus diperhitungkan oleh para kritikus. Tentulah tak bisa dibantah!
Tapi nanti dulu! Tiba-tiba saya memperoleh ide yang luar biasa sekali! Hmm --- (penasaran) ini benar-benar suatu pencapaian avant-garde yang bertaraf internasional! Rasa-rasanya aku telah berhasil mencuri secuil dari hamparan keindahan sorga!
Coba bayangkan saudara-saudara seandainya Wanita Pertiwi ini kusembunyikan sebagian dari keindahannya misalnya dengan menggundul kepalanya…
O my dear lord! – tetapi ada baiknya kurenungkan dulu dalam-dalam!
(mengambil sikap merenung)
(kediaman Wanita Pertiwi makin terasa misterius, tetapi dari sisa lain kelihatan seolah-olah sedang berkembang menjadi patung).

Ditengah kesenyapan, entrance Pematung Muda. Tetapi dengan langkah gontai, ia menggerundal, sesekali berteriak, tetapi nadanya lebih ditunjukan kepada dirinya sendiri. Geraknya menelusuri daerah ruang yang tak bertentuan, bagai memantulkan wilayah dalam kejiwaannya yang berhamburan, simpang siur dan penuh konflik.

PEMATUNG MUDA
(Sementara Pematung Tua dan Wanita Pertiwi dalam posisi entrance)
Inilah rupanya perbedaan antara mematung dan – mematung. Tuhan terlalu demokratis!
Manusia terlalu diberi kemerdekaan untuk menafsirkan, bicara dan melaksanakan sehingga Tuhan sendiri yang menjadi korban, meskipun karena keperkasaannya Tuhan tak akan pernah bisa dikorbankan.
Jadi, yah, kitalah yang jadi korban
Kita. Kami. Saya!
Saya yang hanya diberi hak untuk bermimpi
Saya yang sekian lama menunggu warisan itu ketika ia tak patut lagi diwariskan!
Dan inilah rupanya pelajaran dari bapakku bagaimana cara mematung yang baik: memproses keindahan yang tiada taranya ini untuk dijadikan sebagai patung. Memproses keindahan, menjadi kematian.
Dengar! Siapa saja dan apa saja yang ada diruangan ini, menyaksikan sendiri bahwa bapak saya tak menghasilkan karya apa-apa kecuali merusak keindahan ini!
Merendahkan keagungan ini!
Memiskinkan keindahan ini!
Saya berani bertaruh, bahwa dengan model ini bisa saya ciptakan karya yang pantas yang menguntungkan kita semua bahkan mengangkat drajat Wanita Pertiwi ini.
Tetapi – siapun mafhum, sang Pengusaha yang memiliki semuanya dan menentukan segala sesuatunya itu tak akan mengkin memilih saya, karena apa yang akan saya lakukan pastilah tidak sesuai dengan kehendaknya.
Saya berterus terang saja: Pengusaha itu menyimpan hasrat yang rendah terhadap Wanita Pertiwi ini!
Tetapi yang saya punyai hanyalah mulut untuk melontarkan teriakan-teriakan yang tak akan sampai kemana-mana karena diredam oleh udara.
Dan semua orang sudah hafal bahwa jika bapak saya yang bangsat itu mendengar teriakan-teriakan saya, maka mulut saya akan segera dibungkam!
Tetapi saya ingin belajar berjiwa besar,
Saya tidak akan mengeluh
Saya tidak akan mengeluh!
Tidak akan! Tidak akan! Tidak akan!!!...

PEMATUNG TUA
(membuntuti teriakan itu dengan teriakan yang lebih besar. Pematung Muda exit)
Siapa mengganggu stabilitas perenungan saya!
Siapa merongrong kelangsungan kerja saya!
Siapa berteriak-teriak menghasut sana-sini!
Siapa berani mempertanyakan kebijaksanaan saya!
Siapa coba-coba merusak kewibawaan saya!
Ko-mu-nis !!!
(kepada Wanita Pertiwi)
Maafkan keributan tadi. Itulah memang satu-satunya kepandaian anak-anak sekarang memekik-mekik seperti unta, medemontrasikan suara sumbang,.
Tapi – yah – itu anak saya sendiri, anak kita-lah – katakana begitu. Susah aku mendidiknya. Tak tahu diuntung. Meraka terlalu memanjakan mimpi.
Tetapi itu wajar. Meraka tak pernah mengalami pahit getirnya perjuangan seperti yang dulu sama-sama kita alami. Mereka tak paham arti pengorbanan, mereka tahu enaknya saja, padahal susah payah kita membesarkannya.
(Wanita Pertiwi tersenyum)
Tetapi jangan sesalkan. Itu soal gampang. Anak muda biasanya akan segera diam asal kita kasih sedikit hiburan seribu dua ribu uang untuk jajan atau kita kurung saja dengan kesibukan-kesibukan olah raga, baris-berbaris, belajar organisasi atau kesenian-kesenian ringan.
Sekarang, perkenankan saya mengemukakan hasil perenungan saya. Agaknya kita harus bersikap dinamis, siap dengan perubahan-perubahan. Demi kreatifitas tinggi, kita tidak segan melakukan perombakan demi perombakan, eksperimen-eksperimen atau test-case berapapun mahal biayanya!
Kita kan kaya raya?
Ini bukan berarti memperlakukanmu sebagai semacam kelinci percobaan untuk kemajuan yang lebih cemerlang. Seorang seniman atau seorang model yang baik tahu persis bahwa setiap usaha inovasi memerlukan observasi, penelitian, uji coba, diskusi, seminar dan penataran diantara kita, sesudah itu kita baru siap untuk take-off menuju karya seni tingkat tinggi dan sejahtera.
Karya seni yang kualitatif, mencerminkan keadilan dan kemakmuran bangsanya
Perkara mahal biaya-biaya, itukan hanya soal persetujuan tanda tangan antara kita.
Dan jangan lupa, kita kan punya sang Pengusaha.
Nah. Sekarang dengarkan baik-baik, aku merasa tidak puas dengan apa yang kita capai, suatu perombakan total harus kita lakukan. Aku punya ide-ide baru yang cemerlang tentang apa yang sebaiknya kita lakukan atas bibirmu, pipimu, janggutmu, hidungmu, keningmu, alismu, rambutmu, telingamu serta seluruh tubuhmu, termasuk pakaian, dan segala hiasanmu.
Namun, inilah celakanya, setiap ide bagus memerlukan modal besar.
Untuk itu tak ada jalan lain, aku harus menemui Pengusaha kita! Nah, engkau bersabarlah sejenak di sini, setiap perjuangan memerlukan kesabaran dan aku tahu tak ada seorang di muka bumi yang kesasabarannya melampaui kesabaranmu.
(ke arah lain)
Kacung! Kamari!

KACUNG (menjawab kalang kabut)
Siap Tuan! Siap Tuan! Siap Tuan!
Entrance.

PEMATUNG TUA (kepada salah seorang)
Kamu! Siapkan mobil!
Aku akan menemui Pengusaha kita!

KACUNG
Siap Tuan!
Siapkan mobil! Siapkan mobil! Siapkan mobil!...

PEMATUNG TUA (kepada satunya)
Kamu! Panggil gadis itu!
Untuk menemui wanita ini disini!

KACUNG
Siap Tuan!
Perawan itu! Perawan itu! Perawan itu!...

PEMATUNG TUA (kepada lainnya)
Kamu! Awasi anakku!

KACUNG
Siap Tuan! Awas awas awas awas…
exit

Pematung Tua berpamit kepada Wanita Pertiwi dan exit.
Suasana lenggang dan muram.

3

Srintil muncul, tertegun-tegun ia menghampiri Wanita Pertiwi, perlahan cahaya benderang kembali. Srrintil kaget dan geram melihat keadaan ini.

SRINTIL
Masyaallah – Gusti Pangeran – O, Bharata Guru serta segala Dewa di langit –apa gerangan yang terjadi –
Lelaki tua yang berbau tengik itu telah melakukan suatu pekerjaan yang paling buruk yang pernah ada di dunia!

WANITA PERTIWI
(tersenyum dan perlahan-lahan bangkit sambil mengurai kembali rambutnya)

SRINTIL
Tuhan Yang Maha Penyabar pun pasti merasa terhina oleh kebodohan ini! Malaikat penjaga api neraka akan terpaksa turun kemari untuk menempeleng Pematung Tua yang tak tahu diri itu!

WANITA PERTIWI (sambil membenahi ini itu di tubuhnya)
Srintil! Sudahlah.

SRINTIL
Sudah apa ibu? Sudah berlangsung suatu contoh dari prilaku iblis! Ibu dan aku menjadi wiring oleh tangan kotornya!

WANITA PERTIWI
Anakku….

SRINTIL
Aku protes! A-ku pro-tes!

WANITA PERTIWI
Kepada siapa? Kepadaku?

SRINTIL
Ya!
WANITA PERTIWI
Akan kau tambahi tumpukan sedihku?

SRINTIL
Baiklah, aku protes pada Pematung Tua itu!

WANITA PERTIWI
Itu pun akan menyulitkanku.

SRINTIL
Ibu! Ibu memojokkanku!

WANITA PERTIWI
Dan engkau merepotkanku.

SRINTIL
Ibu! Aku amat mengasihimu!

WANITA PERTIWI
Besar terima kasihku untuk itu, nak. Tapi pahamilah bahwa semua anak-anak muda hanya mampu mengerti bagian-bagian yang semu dari cinta kasih.

SRINTIL
Tapi aku paham bagaimana harus menbela Ibu dari keadaan yang amat memalukan ini!

WANITA PERTIWI
Cinta kasih, apabila ia telah menjadi tak perlu dibela lagi –
Ia tinggal roh, yang tak bisa diganggu gugat.

SRINTIL
Ibu meminjam kata-kata para filosof untuk melarikan diri dari kenyataan ini!

WANITA PERTIWI
Justru engkau yang harus segera berlari ke wilayah Ibu ini. Engkau kini berada dialam mimpi, suatu dunia lamunan yang memabukkan yang membikinmu membenci dan menentang segal yang berlangsung di hadapanmu.
Anakku mulailah mengihklaskan satu hal bahwa samapai akhir hidupmu kelak takkan bisa dunia manusia yang buram ini kau seret ke dalam cita-citamu.

SRINTIL
(mondar mandir mencari sesuatu ditempat-tempat peralatan Pematung Tua, cermin itu ditemukan)
aku tidak sedang berbicara tentang mimpi dan aku juga tak begitu suka pada pancuran kata-kata muluk seperti para penyair –
lihatlah, ibu, lihatlah! –
(menyodorkan cermin didepan wajah ibunya).
Lihatlah wajah ibu yang belang bontang
Lihatlah keindahan yang terbengkalai ini
Aku protes! Kita Bisa batalkan kontrak!

WANITA PERTIWI
Membatalkan kontrak, anakku?
Apa gerangan yang salah dengan keadaan ini?

SRINTIL
Ibu! Ibu telah direndahkan!
Pematung Tua bangka itu tak mengerjakan apa-apa kecuali mengungkapkan selera rendahnya!

WANITA PERTIWI
Ibu tidak merasa rendah.
Kelak engkau akan mengerti apa sebenarnya makna tinggi rendah.

SRINTIL
Ibu selalu berusaha menyembunyikan diri dalalm posisi Ibu sebagai orang tua yang telah mengenyam asam kecut kehidupan dan memojokkanku sebagai anak tadi pagi, yang belum tahu berapa millimeter tingginya langit!

WANITA PERTIWI
Aku bukan bersembunyi, nak
Tapi kita memang saling tersembunyi. Orang tua dan anak-anaknya, berada didalam dunianya sendiri-sendiri yang hanya bisa disambungkan pada urat-uratnya yang kecil dan lemah.
Pertentangan-pertentangan pendapat selalu lahir dan lahir, menjadi sifat utama sejarah. Setiap detik, hamil dan melahirkan zaman serta ilham yang berbeda-beda.
Aku membikin kontrak, engkau ingin membatalkannya. Masing-masing berangkat dari dunianya masing-masing, kita tidak akan pernah bisa bersatu, nak.
Kecuali dalam cinta kasih yang buta yang di sangga oleh pengorbanan dan kerelaan-kerelaan…

SRINTIL
Itu sikap skeptis, Ibu! Dan putus asa!

WANITA PERTIWI
Kalimat itu juga yang kuucapkan kepada orang-orang tuaku di zaman lampau, anakku.
Tetapi kehidupan yang begini sepele ini sesungguhnya tak pernah cukup sederhana.
Dengarkan baik-baik, nak
Telah berulang kali Ibumu ini dijajah, dinodai, di cemarkan, dan terluka…
Berulang kali terluka, bertahun-tahun bahkan berabad-abad rasanya…


Suasana kemudian terjebak dalam suatu melodrama, Srintil dengan sentimental merangkul Wanita Pertiwi dalam suatu mendung duka. Wanita Pertiwi segera mengakhiri suasana itu.


WANITA PERTIWI
Sudahlah Srintil, hanya anak-anak kecil yang cengeng, yang menyukai berlari-lari dibawah gerimis air mata.
Ibu sudah tua, dan sejarah manusia pun sudah cukup lanjut usianya untuk tidak senantiasa meratapi nasibnya.

SRINTIL
Tetapi kenapa Ibu kini tetap menyediakan diri untuk noda dan luka-luka yang baru?

WANITA PERTIWI
Bagi orang yang sudah memahami derita, derita bukan lagi derita.
Semua hanya permainan-permainan ringan yang dihadapi cukup dengan senyum dan tawa.

SRINTIL
Ibu! Adakah Ibu sedang berbicara tentang arti yang sesungguhnya dari kata pasrah?

WANITA PERTIWI
Anakku, wanita adalah hamparan tanah.
Setiap kali datang lelaki untuk mencangkulnya. Sebidang tanah yang tiga abad sudah tidak perawan lagi, bagi setiap lelaki yang baru ia adalah tetap perawan.
Cangku yang panjang dank eras selalu disiapkan untuk menggarapnya, menghamilinya, menghisapnya, dan mengenyamnya dengan penuh nafsu.
Anakku, seorang wanita tak akan pernah menjadi janda, karena para lelaki yang memimpin sejarah senantiansa melotot matanya kepada yang baru. Dan setiap tanah yang baru selalu adalah perawan baginya.
Lelaki dan lelaki selalu …………………………… untuk menjelajahi tanah lading baru.
Dan mereka selalu bertengkar memperebutkannya, berperang, atau bersekutu untuk menjajah. Bahkan seorang suami, yang memiliki istrinya dan yang istrinya menumpahkan dambaan hidup kepadanya – adalah juga sorang …………… Dan sang wanita hanya diam.

SRINTIL
Tidak Bu! Aku tidak diam! Tidak!

WANITA PERTIWI
Anakku, dalam peristiwa-pertistiwa penting yang akan dialami, setiap wanita menjumpai bahwa tahu-tahu ia sudah terjadi, tahu-tahu ia harus sudah dialami.
Seorang wanita tidak bisa merenacanakan atau merumuskan nasibnya di kemudian hari. Perubahan-perubahan senantiasa terjadi dan karena perubahan itu datang tidak dari dirinya, maka wanita harus senantiasa siap hanya untuk mengalami sambil berusaha untuk tahan dan merelakan.
Bakat wanita adalah bakat untuk bertahan, itulah sebabnya wanita menginginkan sedikit saja perubahan, jika itu memang harus terjadi.
Itulah sebabnya wanita berjalan kearah keabadian.
Dan diam, anakku, diam adalah gerak yang paling tepat menuju rumah abadi.


SRINTIL
Filsafat klassik!
Ibu, aku hanya paham bahwa setiap pukulan musti dielakkan, kemudian dicari sumbernya untuk dimusnahkan!

WANITA PERTIWI
Anakku, aku adalah tanah.
Tanah yang kau pijak ini, rasakan
Dialah aku. Dialah Ibumu.

SRINTIL (dalam suatu tanjakan emosi)
Tidak, Ibu. Ibu! Ibu! Ibu…!!
(memekik dan merangkul Wanita Pertiwi).

Cahaya remang mengunci posisi freezed meraka berdua. Dibagian lain dari ruangan, muncul Pematung Muda, tetap dalam suasana kesendirian.

PEMATUNG MUDA
Saudara-saudara sekalian! Mendadak saya berfikir ada baiknya untuk sementara waktu saya mengambil jarak dari situasi lakon ini!
Ini pasti ada manfaatnya, bagi saya sendiri maupun bagi saudara-saudara semua. Sebab kita harus tahu persis posisi kita disini agar tidak begitu saja menjadi korban dari proses penyutradaraan yang menyeret-nyeret kita tanpa suatu konsep yang jelas.
Kepada para actor dan aktris saya bertanya: ini sebenarnya drama macam apa!
Terus terang saya memperoleh kesan bahwa ada sesuatu yang oleh pengarangnya tidak dimunculkan secara blak-blakan!
Apakah pengarangnya seorang pengecut?
Atau kah ia memang tidak terbiasa untuk berbicara secara gamblang, agar nampak sebagai orang yang arif dan bijak?
Ataukah pengarangnya menuduh bahwa Negara ini dipimpin oleh rezim penguasa yang dictator, yang tak mau dikritik, suka memberangus, dan gemar membabati pihak-pihak yang berbeda pendapat dengannya?
Saudara-saudara, kalau yang terakhir ini yang benar, maka pengarang lakon ini pantas dikutuk, kalau perlu diciduk, atau dibiarkan mampus oleh pendekar-pendekar misterius!
Sebab, demi segala hantu dan siluman
Negeri kita ini adalah negeri demokratis
Negeri penuh kedamaian dan senyuman
Negeri yang tahu arti musyawarah, menghargai kemerdekaan berpendapat, bahkan kini siap-siap tinggal landas menuju masyarakat yang adil dan makmur penuh dengan kebahagiaan-kesejahteraan-kebenaran-keadilan-kemakmuran-ketenangan-kemajuan-kedamaian-tata-tentrem-kerta-raharja-gemah-ripah-loh-jinawi-baldatun-Qhoyyibatun-warobbun-ghofur-bismillahirrohmanirrohiem-oom-swastiastu-manunggaling-kawula-gusti…..

SRINTIL (tak tahan dan memekik keras)
Diaaaaaam!
Diaaaaaaaaaa!!
(lenggang beberapa saat)
PEMATUNG MUDA (pelan)
Diam. Diam.
Untuk mencapai kediaman teriakan keras-keras: Diaaaaaam!!!
Maka jadilah diam.
Teriakan bungkam mulutnya.
Keributan menggigil nyalinya.
(terdengar isak tangis Srintil)
Sungguh saya tak bermaksud ikut menyutradarai drama ini. Jika ada yang menangis, karena kata-kata saya, itu pasti diluar kehendak sutradara.
Sutradara lakon ini tidak suka ada orang nangis. Kalau saudara-saudara lapar atau sedih jangan menangis, melainkan tertawalah, karena di negeri ini semua menggembirakan, setidak-tidaknya karena sang sutradara punya beribu alasan dan fasilitas untuk selalu bergembira.
Tapi, tahukah kita, siapa itu sutradara?
Siapa yang menyeret kita keruangan ini, ke kehidupan yang absurd ini?
Saya akan buka rahasia penting ini, tapi saya ingin saudara-saudara berjanji untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun saja.
Sutradara kita, saudara-saudara, tak lain adalah Pematung Tua tadi, yakni bapak saya sendiri: lakilaki yang amat memuakkan pantat saya itu!
Saudara-saudara pasti ingat kelakuannya, ia pematung, tetapi tak mengerjakan patung melainkan hanya sibuk menggincu Wanita Pertiwi yang sama-sama kita kagumi itu.
Sebenarnya kita semua berhak memilikinya bahkan berkewajiban menghormati Ibu Pertiwi itu, saudara-saudara berhak, saya berhak, anak gadisnya itu juga berhak, bahkan para kacung itu pun memiliki hak yang samaatas Wanita Pertiwi, seperti Ibu Pertiwi tercinta itu pun berhak atas kita semua.
Namun karena peran kekuatan dan kekuasaan maka sekarang Pematung Tua itu merupakan satu-satunya pihak yang memiliki hak penuhatas Ibu Pertiwi yang agung itu.
Nah, saudara-saudara tahu Pematung Tua itu bukannya bekerja mengangkat drajat Ibu kita, tetapi memolesnya dengan gincu. Untuk apa? Untuk kepentingan kongkalikong Pematung Tua itu dengan sang Pengusaha.
Maka sesungguhnya, demi langit sap tujuh saya tiba-tiba kurang rela menerima peranan seperti ini dalam drama brengsek ini.
Sebenarnya malu saya untuk mengatakan tetapi bapak saya itu memang sudah terlalu lama berkuasa atas Ibu Pertiwi, dalam prilaku yang seperti itu.
Dan sudah saatnya ia menyerahkan tongkat estafete misalnya kepada saudara-saudara disini agar supaya ilham Ibu Periwi, bisa di garap lebih maksimal dan mandiri.
Maaf, saudara-saudara, apa yang saya katakan ini sebenarnya tidak ada dalam naskah lakon, sebab yang tertulis disitu hanyalah yang baik-baik atau seolah-olah baik-baik, dan lagi terlalu banyak borok yang disembunyikan.
Tetapi kan saya berhak menyutradarai diri saya sendiri!....

KACUNG (tiba-tiba entrence resmi).
(laporan/berkata tak jelas kepada siapa)
Laporan!
Tuan Pematung Tua memberi perintah dari pada saya untuk membawa Wanita Pertiwi pergi menemui daripada Tuan Pengusaha!
Sekian laoran daripada saya!
Kerjakan! (seakan Pematung Tua yang ngomong)
Kerjakan! (menghampiri Wanita Pertiwi dan menyeretnya)

SRINTIL
Ibu! Jangan mau Ibu!
(menghalangi teriakan kacung)
Jangan Ibu! Jangan!

KACUNG
Laporan! Ini perintah! Laoran selesai!
(menyeret Wanita Pertiwi)

SRINTIL
Jangan semena-mena!

KACUNG
Laporan! Saya sekedar menjalankan perintah! Laporan selesai!

SRINTIL
Kumohon Ibu, jangan mau!
Ibu akan di jual kepada Pengusaha itu!

KACUNG
(menyeretnya, bersama Wanita Pertiwi, exit)

SRINTIL (meronta, meraung)
Ibu akan dijual! Ibu digadaikan! Ibu! Ibu!

PEMATUNG MUDA
(melihat Srintil tak bisa menguasai diri, menghampirinya, menenangkannya)

SRINTIL
(segala sesuatu nya tumpah di ruang tampungan Pematung Muda. Hening beberapa saat)

PEMATUNG MUDA
Engkau telah menyebut dengan jelas keadaan ini. Ibumu dijual, untuk kepentingan yang tidak adil.
Itu amat menyakikitkan, dan bapakku menjual – itu lebih busuk lagi!

SRINTIL
Aku telah mengetahuinya sebelum terjadi.

PEMATUNG MUDA
Ia bahkan sudah terjadi
Sebelum engkau dan aku lahir.


SRINTIL
Ibu Pertiwi dijual.

PEMATUNG MUDA
Sebagian penting untuk kepentingan yang dijual, sebagian besar untuk dinikmati sang penjual.

SRINTIL
Dan sang pembeli
(memekik, karena luapan persaan mendadak)

PEMATUNG MUDA
Tenanglah. Hampir tiap hari aku juga meraung-raung keras-keras, dalam hati. Tetapi dihadapanmu aku hanya punya satu hal.

SRINTIL
Satu hal –

PEMATUNG MUDA
Ya, satu hal: belajar dewasa.
Dari tadi aku mengamatimu, bahkan sejak lama aku memperhatikanmu.
Saya piker ada hal penting yang mempersatukan kita, saya telah menyaksikan sikapmu dan mendengarkan buah-buah pikiranmu, semuanya membuat aku tertarik dan bersimpati terhadapmu.

SRINTIL
Tolong jangan ucapkan hal-hal yang seseorang wanita tak boleh mengucapkannya kepada lelaki.

PEMATUNG MUDA
Maafkan. Tetapi aku bukan bapakku, aku tidak sedang memproses suatu kekuasaan yang menindasmu.

SRINTIL
Katakan saja apa yang bisa kita lakukan!

PEMATUNG MUDA
Yang bisa kita lakukan ialah bertanya apa yang bisa kita lakukan.

SRINTIL
(berusaha melepaskan kecamuk pikirannya)
Hmm. Keadaan seperti inilah rupanya yang melahirkan filosof, atau penyair.

PEMATUNG MUDA
Tepat. Syarat menjadi filosof atau penyair ialah bahwa kita tak boleh berhenti bermimpi. Ia bahkan musti terus menerus gagal bercinta luput menggenggam cita-citanya.


SRINTIL
Engkau misalnya.

PEMATUNG MUDA
Ya dan engkau.
(keduanya bergeser makin ke tepian ruang)

SRINTIL
Di dunia ini lebih sedikit orang yang berhsil menemukan cintanya disbanding mereka yang lantas menderita karenanya.

PEMATUNG MUDA
Itulah sebabnya di negeri-negeri yang kisruh hanya terdapat tiga macam manusia:
Para penindas, beberapa orang gila, kemudian berjuta-juta orang yang tidur sepanjang masa….

Cahaya yang makin meremang mengiramai nada muram dialog mereka sampai akhirnya lenyap di kegelapan. Pematung Muda dan Srintil, exit.

4

di suatu tempat.
Pematung Tua, Wanita Pertiwi dan Pengusaha.

PEMATUNG TUA
Jelas, Tuhan tidak mungkin tidak merestui kerjasama kita yang harmonis ini!
(membimbing Wanita Pertiwi ke suatu sudut, kemudian dari kejauhan mereka berdua menatapnya)
Apakah didalam buku-buku ilmu pengetahuan di negeri Tuan pernah disebutkan ada mutiara yang seperti ini?
(sambil menunjuk Wania pertiwi)

PENGUSAHA
(tertawa-tawa saja)

PEMATUNG TUA
Buku catatan tentang sedikit keajaiban dunia, luput mengetahui yang paling ajaib dari semua keajaiban itu!

PENGUSAHA
Maksudmu, keajaiban gincu bibir dan warna cat kedua pipinya itu?

PEMATUNG TUA
Aku mencoba mengolah keindahan itu, Tuan.


PENGUSAHA
Dan kau telah sukses mengobrak-abriknya.

PEMATUNG TUA
Yah maklumlah Tuan, alat-alat yang saya pakai semuanya produk tradisional!

PENGUSAHA
Maksudmu?

PEMATUNG TUA
Jelas Tuan, di bidang pergincuan nasional ini diperlukan usaha-usaha modernisasi.

PENGUSAHA
Lantas?

PEMATUNG TUA
Ah, Tuan ini nglulu – anak kecilpun tahu untuk proses modernisasi kita bisa lakukan kesepakatan dan transaksi-transaksi! Kan gitu.

PENGUSAHA
Itu soal gampang, asal kamu tahu syarat-syarat yang kuminta untuk itu.

PEMATUNG TUA
O, pasti Tuan, pasti!
Soal prosentase, itu hak segala bangsa. Dan lagi, transaksi kita ini bukan sekedar merupakan kepentingan Tuan, tetapi juga kebutuhan saya, bahkan terutama kebutuhan Wanita Pertiwi ini.

WANITA PERTIWI (tiba-tiba)
Maaf Tuan-Tuan, aku ingin mengatakan dua hal.
Perrtama, silahkan mengatakan apa saja, tapi jangan sebut-sebut tentang kepentinganku, derita apapun bisa kusangga.
Kemudian, kedua, saya akan berdiri atau mungkin saya akan berjalan-jalan atau mungkin sedikit merokok…(bangkit)

PEMATUNG TUA
O, silahkan, silahkan, wahai Dewi Inspirasi!
(mengeluarkan sebungkus rokok, menyodorkannya)
Ini, ini, rokok luar negeri, silahakan!
(Wanita Pertiwi menerima, dan Pematung Tua menyulut api).
Untuk satu batang ini boleh gratis.

WANITA PERTIWI
Akan kubayar sejak dari hisapan yang pertama!

PENGUSAHA
Tidak perlu. Saya yang akan membayarnya, bahkan telah kusediakan rokok yang nikmat dan membikin jiwa melayang-layang sepanjang hidupmu sebagai imbalan bagi kesediaanmu berkerja sama dengan saya.
PEMATUNG TUA
Very good! Kebahagiaan tahap pertama telah engkau songsong, dan segera sesudah ini kebahagiaan demi kebahagiaan akan tumpah bagai air hujan asal saja kau percaya dan loyal kepada kami.
(beralih ke Pengusaha)
Begini, Tuan, saya punya gagasan yang yahud untuk mempercantik dan menyempurnakan keindahan Wanita Pertiwi curahan kasih kita ini.
Tidak hanya sola make up wajahnya tetapi juga meyangkut keseluruhan dirinya. Umpamanya bagaimana membikin bulu matanya yang natural ini supaya punya kesan telah di olah-oleh citarasa mutakhir seorang seniman yang paling berbakat.
Bagaimana supaya tangan manusia yang estetis benar-benar memancarkan keindahan baru lewat alis matanya yang bagaikan barisan rumput sorga. Bagaimana supaya rambutnya bisa mewakili selera keagungan abad ini.
Bagaimana supaya bau ketiaknya memancarkan aroma bidadari supra modern.
Bagaimana telinganya supaya dicantoli oleh anting-anting yang sinarnya memancar ke 24 penjuru angin.
Bagaimana lehernya, lengannya, seluruh tubuhnya, pakaiannya, bahkan semua kekayaan yang terandung di dalam rahasia tubuhnya, bisa memenuhi dambaan para futuroloog.
Alhasil, bagaimana caranya supaya wanita pertiwi ini tidak saja perfect keindahannya, tapi juga hemat dan bermanfaat, atau tegasnya:
Estetis, effesien, tapi effektif dan produktif!
(merasa puas tepuk tangan sendiri)
Namun, Tuan Pengusaha yang baik!
Ide spektakuler saya ini tidak bisa terlaksana karena ada banyak factor yang tak saya miliki. Misalnya alat-alat dan keahlian untuk semua ini. Yaah - - saya kira wajar- - bisa dikatakan ini kan semacam usaha alih teknologi jadi harus diimport pinjaman modal serta keahlian para engineer asing yang skilled. Mmm - - saa rasa pendapat saya ini tidaklah terlalu berlebih-lebihan Tuan Pengusaha…..kiranya…..yah..mmmm….

PENGUSAHA (tertawa)
Kamu tidak perlu merasa malu mengatakan itu. Setiap kesepakatan kerjasama memamng harus selalu rasional, dan sejak semula aku sudah memperhitungkan segalanya. Hal-hal yang kau katakana itu bukan saja telah saya mengeti, tetapi bahkan sudah saya siapkan pelaksanaannya.Persoalannya, tinggal…….

PEMATUNG TUA
Tinggal Sign!….tanda tangan- -

PENGUSAHA
Kamu sangat tanggap dan luwes.

PEMATUNG TUA
Oh Tuhan Yang Maha Esa! Thanks very much! Engkau selalu berkata: Jangan takutkan soal rejeki, Tuhan tidak buta dan tidak tuli sedang aya yang tak punya tangan bisa makan Apalagi manusia, yang punya dua tangan, pasti - - bisa makan ayam!
(senang dan tepuk tangan sendiri)
(Kepada pengusaha, sikapnya makin menunduk-runduk).
Terima kasih tuan! Terima kasih!

PENGUSAHA
Kamu tak perlu membungkuk-bungkuk begitu…

WANITA PERTIWI
Punggung babi memang bungkuk, Tuan!

PEMATUNG TUA (kaget)
My God!

WANITA PERTIWI
Jika truk sampah tiba, dan sisa-sisa makanan ditumpahkan, maka babi akan merunduk-runduk Lupa tanah, lupa air!

PEMATUNG TUA
O, baiklah, baiklah, saya bersabar Tetapi agaknya Tuan pertiwi khilaf bahwa saya tetap berkuasa atas diri Tuan. Kita telah teken kontrak, berdasarkan hokum dan pemilihan demokratis, suka sama suka
Setidaknya untuk lima tahun ini Bahkan mungkin lima tahun berikutnya dan lima tahun berikutnya!

PENGUSAHA
Cukuplah!cukuplah!
Pelihara ketenangan di antara kalian orng yang ingin maju takkan mau tersandung oleh masalah-masalah sepele.

PEMATUNG TUA
Tetapi Tuan….

PENGUSAHA
Hemat mulutmu! Ingat, kamu amat tergantung padaku, amat tergantung, tanpa bisa kamu elakkan. Sekarang dengar baik-baik kata-kataku:
Satu, segera akan kuberikan biaya padamu
Segera laksanakan kesepakatan kita!
Ini agar kamu dan Wanita Pertiwi inii bisa hidup tidak terbelakang, maju, dan berada pada taraf yang layak.
Dua, sementara itu jangan hanya tidak terus seperti ular kekenyangan. Bikinlah satu dua patung, sekedar untuk memberi kesan bahwa kamu sungguh-sungguh bekerja untuk Wanita Pertiwi ini.
Tiga, kapan saja saya datang dan membutuhkan Kamu dan Wanita Pertiwi ini harus siap pakai. Saya sangat memerlukannya untuk penghidupan ssaya bahkan untuk melahirkan anak-anak saya.

PEMATUNG TUA
Maaf - - Tuan tidak mungkin menikahinya…..

PENGUSAHA
Belum pernah ada bayi yang menanyakan surat nikah! Dan lagi saya bukan kolonialis imperialis yang mengumum-umumkan kekuasaannya kepada dunia tanpa orang tahu pun transaksi kita sudah jelas! Cukup.

PEMATUNG TUA
Tapi soal anak itu tuan … maaf….

PENGUSAHA (tertawa)
Anak tidak harus lahir dari rahimnya bisa dari wajahnya yang menawan, tubuhnya yang mulus, atau dari rambutnya yang terus tumbuh dari hari ke hari.

PEMATUNG TUA(bingung)
Saya tidak paham, tuan. Absurd. Absurd….

PENGUSAHA
Berpuluh kali kamu memamerkan keindahan Wanita Pertiwi ini dengan cara yang primitif dan kamu begitu tolol untuk tidak tahu bahwa saya lebih tahu keindahan-keindahan dan kekayaan-kekayaan pa saja yang tersimpan pada dirinya.
Kelak akan saya beritahu satu persatu. Dan saya kasih biaya lagi untuk kamu gali. Tapi sekarang: tinggalkan kamu berdua di sini!
Sekarang. Titik.

Dengan bingung dan gagap Pematung Tua beringsut, exit. Kemudian yang terdengar menjadi begitu lembut. Pengusaha mendekat pada Wanita Pertiwi: suatu kemesraan yang terlalu mendadak.

PENGUSAHA
……………………………………………………
bahwa kesederhanaan itu agak dipaksakan. Kesederhanaan yang memilukannya!
Oleh karena itu sesungguhnya kedatangan saya adalah semata-mata untuk mengulurkan tangan. Menawaran kepadamu suatu taraf kesejahteraan yang tidak dibawah standard, gaya hidup yang lebih menyesuaikan diri dengan dunia luas, atau sekurang-kurangnya suatu sikap yang memandang jauh kedepan….

WANITA PERTIWI (tiba-tiba, dan dalam nada keras)
Tuan! Semua yang tuan ungkapkan itu adalah kata-kata dari zaman purba, dimana impian masih memperoleh tempat yang layak. Sebaiknya sekarang ini kita berterus terang saja:
Saya pelacur!dan tuan adalah seorang pembeli di antara sekian pembeli lainnya, yang menghadapiku sebagai tanah-lacur diantara tanah-tanah lacurlainnya.
Dengan ini saya tegaskan saja : pembeli adalah raja! Gundik kecil macam aku akn taampa beban apa-apa melayani kehendak Raja, namun itu semua tak usah dilangsungkan dangan hiasan Vas-vas bunga,dengan hamburan puisi atau rayuan-rayuan Retoris yang hanya pantas mengisi bak-bak sampah!
Sekarang ini tuan sedang jajan
Tuan tak perlu berkesenian……langsung saja!
(berlalu dengan langkah cepat, exit)

PENGUSAHA
Aku tak ingin terlampau merendahkan mu….!
(gagap mengejarnya, exit)

5

Di studio pematung tua.
Pepematung muda dan srintil.akhir dari sebuah perundingan,awal dari suatu proses yang lain.Bermula ketika dua kacung belatih baris berbaris,dengan beberapa yel dan slogan.

Kacung
Tu,wa,ga,pat
Tu,wa,ga,pt
Mari memasyarakatkan olahraga!
Mari mengolahragakan masyarakat !
Tu,wa,ga,pat
Tu,wa,ga,pat
Mari memasyarakatkan sepak bola !
Mari menyepak masyarakat!
Tu,w,ga,pat
Tu,wa,ga,pat
Mari memasyarakatkan kelinci !
Mari mengkelincikan masyarakat!
Tu,w,ga,pat
Tu,wa,ga,pat
Mari memsyarakatkan tempe!
Mari mentempekan masyarakat
Tu,w,ga,pat
Tu,wa,ga,pat

Stop! Waktu dari pada latian telah habis !
Bel untuk buang ir segera saya bunyikan !
Sekian1
(menghambur lari/exit)

Pematung Muda dan Srintil,sudah beberapa lama menyaksikan latian berbaris itu,lantas entrance.

PEMATUNG MUDA
Tak usah gelisah
Ibumu dan bapak ku pasti kembali kemari
Tak perlu kita kejar,gunung tak bias lari
Maling yag terulung pun ke rumah akan kembali.

SRINTIL
Kau benar-benar akan melaksanakan rencanamu itu?

PEMATUNG MUDA
Ya.

SRINTIL
Kau tega?

PEMATUNG MUDA
Ya.

SRINTIL
Kau anggap itu jalan keluar yang baik?

PEMATUNG MUDA
Malapetaka ini jauh lebih buruk .
(exit,beberapa saat kemudian entrance kembali,membawa segelas minuman).
(mengeluarkan bungkusan kecil dari sakunya ,membukanya dan memasuknya dalam minumannya).

SRINTIL
Sebenarnya kau juga pematung ?

PEMATUNG MUDA
Sukar menjawabnya.

SRINTIL
Mahasiswa jurusan patung ?

PEMATUNG MUDA
Sejauh ini saya sudah punya 66 biji patung
tapi semuanya hanya tersebar dirumah kawan kawan atau kenalan kenalanku.

SRINTIL
Sudah pameran?

PEMATUNG MUDA
Hampir

SRINTIL
Pematung besar tidak diukur dari jumlah berapa kali ia berpameran.

PEMATUNG MUDA
Aku adalah yang terkecil dari antar pematung yang kecil-kecil.tapi kekecilan itu cukup untuk mengetahui bahwa ibumu adalah cakrawala.

SRINTIL
Tak usah berlebihan.tapi setidaknya ibuku adalah seseorang yang punya kodrat dan harga

PEMATUNG MUDA
Beberapa kali aku mencuri kesempatan untuk merumuskan ilham yang dipancarkannya tapi setiap kali mauku jadi lain.

SRINTIL
Yang dikejar oleh seorang seniman sebenarnya adalah tuhan

PEMATUNG MUDA
Beberapa hal didunia, muncul seakan akan merupakan bayang bayang tuhan
Misalnya, ibumu.

SRINTIL
Itu subjektif.

PEMATUNG MUDA
Dan objektif

SRINTIL
Dan bapakmu menghinakan bayang bayang itu.

PEMATUNG MUDA
Itulah sebabnya – tak ada jalan lain…..

SRINTIL
Laki laki
Laki laki slalu menawarkan bencana
Baik ketika ia menjadi setan,maupun ketika ia adalah malaikat yang turun membela kebenaran.

PEMATUNG MUDA
Laki laki menegaskan bencana itu
Tapi pencetusnya adalah wanita.

SRINTIL
Mungkin

PEMATUNG MUDA
Pasti

SRINTIL
Aku kira aku makin mengenalmu.
Yang paling menarik dan membangkitkan rangsangan dari lelaki adalah VITALITASnya,kekuatannya yang bagai ombak menggunung dipantai
Mengempur dan menggempur tak habis habisnya !
Untuk alasn yang jernih atau buram
Tetapi ia terus mendera,siang dan malam.
Setiap perempuan akan lelap, merasa aman jiwanya, lantas tidur, tidur----
Sedangkan sang lelaki tak kenal lelah, tak kenal berhenti ia akan terus meloncat loncat,meninggalkan luka dan darah !

PEMATUNG MUDA
Luka dan darah--
Hal yang diam diam dinikmati setiap perempuan ,
Selalu apa yang dikhwatirkan oleh perempuan
Sesunggguhnya adalah sesuatu yang diinginkannya
Itulah sebabnya ia menjadi sumber utama dari setiap peperangan

SRINTIL
Aku tidak suka berdebat tentang sejarah telur dan ayam.

PEMATUNG MUDA
Karena masing masing kita adalah telur dan ayam
Tak bisa dipisah pisahkan .

Kemudian tegang.tajam sekali terasa kediaman itu memuat suatu percintaan sunyi yang mendalam,masing masing tak saling menghampiri,tapi itu justru menjadikan kerekatan mereka membulat.

PEMATUNG MUDA
Ibumu adalah bentangan garis cakrawaladi mana
Kaki jiwaku berpijak
Dan engkau, kurasa adalah lengkung langit
Yang maha luas, maha tak terjangkau.

SRINTIL
Aku tak ingin menjadi seorang gadis puber
Tapi aku tahu bahwa akun akan selalu berdiri
Menatapi karya-karya patungmu yang tak akan
Pernah selesai.

PEMATUNG MUDA (sesudah lengang)
Bayangkanlah bahwa aku sedang menghampirimu
Perlahan-lahan jari-jari tanganmu menyentuh
Kedua lenganmu, menggengamnya sangat erat,
Sambil kutatap kedua pusat matamu.
Tahan napas –
Aku mengecup keningmu,mengecup keningmu
Setetes air kegaiban, menetes dari sukma kita
(progressi)
Kemudian tiba-tiba saja kita sudah saling ber-
Pelukan, sangat erat,sangat erat
Sehingga tanganmu adalah tanganku
Pelukanmu adalah pelukakanku
Sampai engkau adalah aku! . . . . .
Tiba tiba srintil menjerit secara amat memilukan dan
Menggetarkan. Pematung muda terpana dan menelungkupkan
Wajahnya.

SRINTIL
Ibu!. . . . .
Aku siap mati untukmu ibu! Aku rela mati !
Mati. . . . .

Tiba tiba juga terdengar wanita pertiwi dari luar
Ruang :

WANITA PERTIWI
Tak akan ada lagi yang mati untukku
Tak ada yang mau mati untuk siapapun
Bahkan untuk dirinya sendiri
Tak seorangpun bersedia mati
Jaman sudah bergeser!
Cita cita dan impian boleh tetap ada
Namun tidak untuk diperjuangkan
Melainkan untuk disaring , sampai tinggal
Bagian bagian yang rendah dan hina
Siapapun, capailah kerendahan dan kehinaan itu
Dengan cara apa saja!
Ini adalah saat halal bagi segala kemauan
Saat bebas bagi segala nafsu dan kekuasaan.
Kalian berdua , atau siapapun jangan cengeng
Jangan belajar bermimpi, tetapi berlatihlah
Bagaimana menjadi malang sejarah
Bagaimana menyantap ruang kesempatan
Yang telah terbagi menjadi secuil secuil.
Hidup adlah arena pertandingan
Waktu adalah susunan-sususnan strategi perta-
rungan – tidak pernah tidak!
Sejarah bersikap ramah hanya kepada para pen
dekar! Itu berlaku kapan pun
Dari fajar sampai fajar!
Jangan percaya kepada kata-kata manis
Dan mulut kalian sendiri bersihkan dari
Setiap kata –kata manis
Siapkan kekuatan , kelicikan, dan rasa tega hati.
Sekali-sekali jangan kalian pikirkan aku
Karena kalian tak akan pernah mampu
Membantu, hidupku
Aku adalah ibumu
Kodratku menghidupi
Bukan dihidupi . . .


Suasana senyap menguasai ruang. Kesenyapan yang bagai
Mengalunkan suatu nomer musik , dan bunyi musik itu
Justru mnegaskan kesenyapan.
Entrance bersama-sama : Pematung tua, Pengusaha dan Wanita pertiwi.
Yang terakhir ini muncul dengan wajah
Dan rambut yang lebih asli dan bening .
Pematung muda dan srintil bergeser.

PEMATUNG TUA
Saya menyangka bahwa saya akan menjumpai kamu
Sedang berteriak-teriak melatih bakat gilamu
Tapi rupanya kau sedang mengolah suatu kebaha
Giaan baru. Syukurlah.

PEMATUNG MUDA
Kami yang kecil dan bodoh ini akhirnya menemu
Kan juga jalan yang lumayan untuk hidup.

PEMATUNG TUA
Bagus. Belajarlah bagaimana mencintai
Agar supaya mata kalian tidak buta terhadap
Kelembutan.
Baiklah -- Tuan Pertiwi, silahkan duduk
Saya akan memulai karya saya
Dari ide yang paling sederhana.
(membimbing wanita pertiwi untuk duduk, kemudian
menghampiri meja, meraih gelas, minum).
Oh -- saya terlupa menawari Tuan Pengusaha
Beginilah kalau ilham sedang merasuk
Hati dan pikiran saya berputar –putar
Seperti baling –baling. . !
(menghadap ke arah lain)
kacuuung!

KACUNG
(suara tiga kacung dari dalam )
Siap tuan! Entrance .

PEMATUNG TUA
Ambilkan minuman untuk Tuan Pengusaha dan Wanita Pertiwi kita ini.

KACUNG
Siap Tuan! Exit . Segera entrance lagi .
Maaf Tuan Siapa di antara kami yang harus menyediakan minuman ?

PEMATUNG TUA
Gemblung! Itu atur sendiri !
Apa harus kakek kalian !

KACUNG (satu persatu)
Kakek saya transmigrasi !
Kakek saya sudah wafat !
Kakek saya pikun !

PEMATUNG TUA
Kalian yang pikun ! pergi !

KACUNG (menghambur pergi, exit).

PEMATUNG TUA
(hendak mempersiapkan alat-alat pahat, tiba tiba
perutnya terasa mual , kesakitan , mengerang , memekik , lemas , mati ,roboh) .

PENGUSAHA
Tuan . . !
(menghampiri untuk menolong).

WANITA PERTIWI
(Tak bergerak , dingin).

PEMATUNG MUDA (tanpa beranjak dari tempatnya)
Tuan Pengusaha , ia tak usah ditolong
Orang mati tinggal dikuburkan .
Kacuuung !

KACUNG (suaranya)
Siap Tuan !
Masih beli gula Tuan !

PEMATUNG MUDA
Kemari , robot-robot !

KACUNG
Siap Tuan ! entrance .

PEMATUNG MUDA
Angkat mayat ini ke ruang sebelah !

KACUNG
Siap Tuan !
(kepada Pematung Tua) Laporan !
Kami akan mengangkat Tuan ke kamar sebelah !
Laporan selesai !
(mengangkat , exit) .

senyap .

PEMATUNG TUA
Orang ini telah menjadi masa silam
Dan kita , orang –orang sehat, hanya mengurusi hari depan .
(kepada Wanita Pertiwi)
Sekarang Sayalah penguasa atas ibu
Seperti tertera dalam kontrak , akulah
Penerus dan pewaris .

WANITA PERTIWI (dingin)
Aku tak akan memperdulikan siapa penguasaku .
Penguasa adalah penguasa
Pergantian dari satu penguasa kepada lainnya
Tak pernah menjamin apa-apa
Yang terjadi dari hari ke hari , sama saja .

SRINTIL
Ibu ! . . . .

PEMATUNG MUDA (kepada Srintil)
Kau percaya kepadaku ?

SRINTIL (mengganguk setengah ragu)

PEMATUNG MUDA
Kamu mencintaiku . Itu berarti kamu akan berusaha menjadi diriku , Manis atau getir.
(segera beralih ke pengusaha)
(bersikap amat hormat , membungkuk -- sesuatu yang tak disangka – sangka
oleh semuanya )
Tuan Pengusaha yang baik !
Saya akui secara blak-blakan , bahwa sebenarnya
Pengarang lakon ini sama sekali tak menghendaki
Ada pembunuhan .
Tetapi kebaikan hati pengarang itu saya langgar
Agar supaya drama ini lebih reliastis
Dan lagi orang sudah jenuh pada tokoh tua yang
Sudah pikun seperti itu !

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook