Thursday, December 31, 2009

Kucing Putu Wijaya

KUCING

Cerpen Putu Wijaya


Kami bertengkar lagi. Menurut saya, tetap tiga hari sekali. Tidak bisa diganggu-gugat. Sekali-sekali boleh empat hari sekali. Tapi jangan sampai satu minggu sekali. Meskipun ini bulan Puasa. Itu kan kebutuhan rohani.

Tapi dasar kepala batu. Satu minggu satu kali saja sudah kebanyakan. Katanya dua minggu sekali cukup. Orang lain ada yang sebulan sekali. Apalagi pada bulan suci. Kalau tidak setuju terserah.

Setuju? Bagaimana mungkin saya setuju. Mestinya dia harus bersyukur, sebab setelah puluhan tahun, saya masih tetap fit. Saya selalu hangat, segar dan bertubi-tubi seperti prajurit yang siap menyerahkan jiwa raga untuk membela negara. Tidak ada kata bosan. Semuanya seakan yang pertama kali. Itu kan karunia yang harus disyukuri.

Tapi kontrak tidak bisa hanya satu pihak. Saya jadi pusing tujuh keliling. Lalu saya ngelencer ke segala penjuru kota membunuh waktu. Menunggu saat berbuka, saya masuki toko-toko buku. Mencari-cari yang tak ada. Akhirnya saya beli juga sepuluh buku tua yang harganya jatuh. Bukan karena isinya sudah busuk, tapi karena kalah heboh oleh promosi buku-buku komoditas yang sebenarnya bermutu sampah.

Menggendong seabrek belanjaan yang mungkin tidak akan pernah saya baca itu, saya sebrangi Jakarta. Lalu-lintas sudah makin brengsek. Janji untuk menurunkan rasa nyaman bagi pejalan kaki, ternyata omong kosong semua. Motor berseliweran siap membunuh penjalan kaki yang meleng. Dan mobil-mobil seakan-akan begitu meremehkan harga manusia.

Tapi, saya masih bisa tepat sampai di depan rumah, ketika suara azan magrib terdengar. Cepat saya rogoh kunci dari saku dan buru-buru masuk rumah. Teh kental manis panas, pada bulan Puasa, lebih indah dari rubayat-rubayat Umar Khayyam. Puasa adalah bulan yang paling saya tunggu dalam setahun. Itulah saat saya merasakan nasi adalah nasi, pisang goreng benar-benar pisang goreng dan kehidupan, betapa pun rewelnya adalah sebuah puisi.

Celakanya, rumah kosong. Saya baru ingat, istri dan anak saya ada janji berbuka di rumah saudaranya. Tak apa. Hanya saya tidak melihat ada sesuatu di atas meja makan. Ada vas bunga dengan bunga mawar. Tapi saya tidak bisa menegak mawar. Saya memerlukan sesuatu yang hangat mengalir di tenggorokan setelah menahan nafsu selama 12 jam.

Harusnya saya tidak usah buru-buru pulang. Makan saja di warung sate kambing muda di Cirendeu. Sekarang kalau balik ke situ, tidak akan keburu. Dibayar dua kali lipat juga tukang taksi tidak akan mau jalan. Mereka juga mau menikmati buka.

Dengan kesal saya lemparkan buku-buku ke atas meja. Saya kenakan kembali sepatu. Siap untuk kabur. Biar saya makan enak sendirian di PIM. Mengganyang bebek goreng yang harganya selangit itu. Seratus ribu melayang juga tak apa asal tidak kecewa. Dan kalau perlu terus nonton bioskop.

Tapi ketika mau menutup pintu, saya dengar ada suara kuncing mengeong. Saya bukan penggemar kucing, tapi saya paham sedikit bahasa kucing. Itu bukang ngeong kucing yang sedang kasmaran. Itu kucing yang sedang keroncongan. Kucing memang selalu kelaparan. Tapi itu ngeong kucing yang ngebet makan sesuatu, tetapi tak berdaya.

Dengan hati-hati saya kembali masuk rumah. Saya temukan kucing tetangga mengeong di dapur. Dia meratap lembut di depan almari. Matanya sayu. Ketika saya muncul, dia terus saja mendayu-dayu sambil mencakar-cakar almari, seperti menunjukkan, di situ, di situ.

Saya ikuti petunjuknya, lalu membuka almari. Begitu daun almari terbuka, hidung saya diterjang bau ikan bakar reca-reca yang sedap sekali. Saya lihat juga ada termos dan gelas kosong dengan bubuk teh tarik sasetan di dalamnya. Tinggal diseduh saja.

Ngeong, kucing itu nyeletuk, seperti mengatakan. Nah ya kan?!

Bener, kata saya sambil membelai kucing itu dengan sayang. ”Kalau kamu tidak merintih-rintih kawan, aku tidak akan tahu, istriku sudah menyiapkan segala yang terbaik buat suaminya sebagaimana mestinya seorang istri yang bertanggung jawab. Terimakasih Cing. Untung ada kamu. Kalau tidak, aku tidak pernah tahu, aku sudah punya semua ini. Kau sudah menyelamatkan seratus ribu, mungkin dua ratus ribu lebih yang mau disikat kas bebek goreng penganut neo liberalisme itu!”

Kucing menggesek-gesekkan kepalanya manja ke tangan saya.

”Oke, aku tidak jadi marah, mari kita nikmati hidup ini!” kata saya sambil meletakkan kucing itu di lantai.
Saya buka sepatu. Kemudian menjerang teh tarik. Nikmatnya. Setelah marah-marah, tendangan rasa teh berlipat ganda. Apalagi istri saya tidak lupa menyediakan musuh yang serasi: singkong yang sudah dibalur bumbu sebelum digoreng.

Makanan tradisional dengan bahan baku langsung dari kebun, lebih sehat, lebih aman, lebih murah dan lebih nikmat dari makanan kalengan keluaran pabrik mana pun. Tidak memberi jedah lagi, saya siap mengganyang ikan bakar reca-reca, untuk menghargai karya istri itu.

Tapi begitu menoleh, saya terperanjat. Reca-reca itu sudah lenyap. Pintu almari yang belum sempat saya tutup, seperti kecewa. Mata saya jelalatan mencari kucing. Ternyata sambil mengeram-ngeram, durjana itu mengganyang ikan saya di bawah meja, di depan mata si pemiliknya.

Darah saya langsung mendidih.

”Bangsat!”

Kucing itu terkejut. Sambil melotot, dia caplok ikan itu untuk dibawa kabur. Tangan saya menyambar buku, lalu menembak, tepat mengenai badannya. Khewan itu terjungkal, lalu lari keluar. Ikan reca-reca saya terkapar berserakan di lantai. Tak penting lagi. Saya harus hajar maling itu. Saya sabet sapu dan memburu keluar.

Kucing itu ternyata masih duduk di depan pintu menjilat-jilat kakinya, seperti menunggu kesempatan masuk. Saya geram dan memukul. Kena. Lalu saya tendang dia ke halaman, waktu mau dihajar lagi, piaraan tetangga itu ngibrit lari menyebrang jalan menuju ke rumah tuannya. Marah saya masih meluap.
Saya masuk ke dalam rumah. Lalu reca-reca itu saya campakkan ke tong sampah. Saya tidak sudi makan bekas kucing. Tapi kemudian saya ambil lagi. Saya bungkus baik-baik. Saya buang jauh-jauh, dalam perjalanan ke restoran bebek goreng di PIM. Saya bunuh rasa kecewa dengan berfoya-foya Rp 200 ribu, memperbaiki sore hari yang rusak itu. Tetapi rasa dongkol itu tak berkurang.

Pagi-pagi ada kejutan lagi. Pak RT berkunjung ngajak ngomong serius.

”Saya kira pada bulan Ramadan ini, kita semua harus bisa menahan diri, Pak,” katanya.

”Maksud Pak Haji?”

”Saya mendapat komplin dari Pak Michael, tetangga Bapak, Bapak sudah menzalimi mereka.”

”Menzalimi bagaimana?”

”Beliau terpaksa membawa kucingnya ke dokter, karena Bapak pukul. Apa betul?”

”O, ya, kalau itu betul!”

”Maaf, Bapak mungkin tidak suka dengan kucing, tapi Pak Micahel itu lebih sayang pada kucing daripada
anak-anaknya sendiri.”

”O begitu?”

”Ya. Jadi saya kira, Bapak mengerti kenapa beliau sangat shock oleh kejadian ini. Untung tidak perlu operasi. Tapi sekarang kucingnya pincang, Pak.”

”Masih untung hanya pincang, kucing itu mestinya harus mati karena makan reca-reca saya yang disiapkan untuk buka.”

”Namanya juga kucing, Pak. Makanya jangan meletakkan makanan terbuka di meja.”

”Dia curi dari almari!”

”Apa kucing bisa membuka almari, Pak?”

”Ya kebetulan pintunya saya lupa tutup.”

”Ya kalau pintu lupa ditutup, itu bukan salah kucingnya, Pak.”

”Salah siapa? Salah saya?”

”Kucing itu binatang, Pak, tidak bisa disalahkan. Kita yang memiliki kesadaran yang bersalah.”

”Wah itu tidak adil! Kalau ada pencuri mencuri barang saya, meskipun saya lupa mengunci almari, pencuri itu harus dihukum, karena perbuatan mencuri itu melanggar hukum!”

”Memang begitu, Pak.”

”Terus Pak RT mau nyuruh saya ngapain? Minta maaf sama Pak Michael karena saya sudah memukul kucingnya? Tidak! Terima kasih. Kalau disuruh membayar perawatan kucing itu ke dokter, saya bayar, tapi kalau minta maaf, sorry, itu bukan gaya saya, bukan salah saya kan?!”

”Memang itu maksud beliau.”

”Apa?”

”Beliau menuntut Bapak mengganti ongkos berobat kucingnya.”

Pak RT merogoh saku dan mengeluarkan kuitansi. Saya terperangah. Minta ampun. Jumlah yang ada di dalam kuitansi itu membuat istri saya ikut terbakar.

”Kami bukannya tidak punya duit Pak RT,” kata istri saya yang memang cepat naik darah, ”tapi ini soal keadilan. Masa kami disuruh mengongkosi kucing ke dokter padahal binatang itu sudah mencuri reca-reca suami saya? Itu keterlaluan. Kalau perlu ke pengadilan, kita ramein di pengadilan sekarang supaya jelas! Kita ini masih negara hukum kan?!”

Pak RT termenung. Diam-diam saya mengucap syukur. Kucing bangsat itu sudah membuat saya dan istri saya kompak lagi.

”Baiklah,” kata Pak RT kemudian, ”demi menjaga ketenteraman kita bersama dan agar tidak merusakkan kekhusukan bulan Ramadan, saya carikan jalan tengahnya. Begini. Biarlah ongkos perawatan kucing itu, saya yang menanggung. Tapi izinkan saya untuk mengatakan kepada Pak Michael, semua itu dari Bapak. Jadi hubungan keluarga Pak Michael dan keluarga Bapak-Ibu di sini tetap terpelihara. Bagaimana kalau begitu?”

”Kenapa jadi begitu, Pak RT?”

”Ya sebagai RT saya merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan perdamaian di antara warga.”
Saya dan istri saya bisik-bisik.

”Kalau sampai pak RT yang bayar, rasanya kami malu juga,” bisik saya.

”Memang. Habis Pak RT terlalu baik sih. Seperti nabi saja.”

”Jadi kami bayar saja?”

”Ya sudahlah, demi Pak RT, biar tidak berkepanjangan!”

Akhirnya ongkos kucing itu ke dokter kami bayar kontan. Pak RT memuji kekompakan kami. Saya pun sekali lagi bersyukur, kucing itu sudah berjasa menjaga keutuhan rumah tangga saya. Kalau tidak ada dia, sampai sekarang saya masih cakar-cakar dengan istri soal tiga kali sekali atau dua minggu sekali.

Kami terpaksa mengeluarkan Rp 200 ribu untuk biaya kucing itu. Jumlah itu cukup besar, tapi tak pernah saya sesali. Sebab sejak saat itu, kucing itu tidak pernah lagi berani masuk ke dalam rumah saya. Apalagi mencuri. Kalau lewat, dia terus saja berjalan lempeng, tak sudi atau tak berani menoleh,

Sekali pernah saya lupa menutupkan pintu. Padahal di meja makan sedang ada ayam goreng yang bau harumnya muntah sampai keluar rumah. Kucing itu pura-pura menjilat-jilat kakinya yang masih pincang. Kemudian dia berhenti dan memandang ke dalam. Tapi hanya memandang. Sama sekali tidak berani masuk. Kakinya yang pincang itu sudah membelajarkan dia untuk menghormati hak saya, sekali pun dia hanya binatang.

”Jadi kalau ada kucing lewat dekat rumah, tidak peduli kucing siapa. usir saja!” kata saya mengindoktrinasi anak saya yang baru berusia 5 tahun.

”Kenapa?”

”Karena kalau dibiarkan, dia akan jadi maling! Paling tidak berak seenaknya. Kamu tahu sendiri kan, kotoran kucing itu bau, sulit hilang!”

”Kalau nggak mau?”

”Hajar dengan batu!”

”Semua kucing?”

”Tidak semua kucing jahat. Tapi kita tidak ada waktu untuk menyeleksi mana yang jahat mana yang bjaksana. Pukul rata saja, semuanya maling.”

”Kenapa?”

”Seperti kata George Washington, hanya senjata yang bisa dipakai untuk menjaga perdamaian .”

”Kenapa?”

”Karena hanya kekerasan yang akan bisa mencegah kekerasan. Biar pintu terbuka, almari lupa ditutup, kucing itu tidak akan berani lagi masuk, karena dia terpaksa menghormati kita. Dia pasti tidak akan mau lagi mengeluarkan Rp 200 ribu untuk mengobati kakinya yang satu lagi, karena Bapak akan mematahkan kakinya yang satu lagi.”

Lalu saya tunjukkan bagaimana saya mengajari kucing itu dengan melempar buku. Rupanya buku-buku itu memang ditakdirkan aku beli untuk menghajar maling.

”Jangan mengajari anak kamu kejam!” protes istri saya.

”Lho, hidup ini sudah kejam. kok. Kalau kita tidak ikut kejam, kita akan selalu jadi sasaran. Sebenarnya ini bukan kekejaman, tetapi ketegasan saja. Supaya tidak ada peluang orang lain untuk kejam terhadap kita, kita harus tegas. Kita tunjukkan kita bisa kejam!”

”Itu kan teori kamu!”

”Boleh dites, tapi itu berarti kita harus masak reca-reca lagi!”

Istri saya melengos tak menanggapi. Tapi dia perempuan yang baik. Dia tidak sampai hati membiarkan dendam saya pada reca-reca berkelanjutan. Sehari setelah saya sambat, ikan reca-reca itu sudah menanti di atas meja menjelang waktu waktu buka.

Dengan tak sabar saya tunggu ceramah Pak Quraish Shihab di televisi yang dipandu oleh si cantik Inneke Koesherawati. Sekali ini rasanya lama sekali. Bau reca-reca itu sudah mencabik-cabik.

”Lihat kucing itu sudah bengong di situ!” kata istri saya menunjuk keluar jendela. ”Nggak bakalan ada kapoknya. Namanya juga binatang!”

Saya ngintip. Kucing itu memang lagi termenung di pagar rumah. Tapi itu jelas akting. Dia pasti sudah mengendus bau reca-reca yang sudah sempat membuat kakinya pincang.

”Tutup jendelanya, Pak!”

”Tidak usah. Ini saatnya untuk melihat apa rumah kita ini masih dia hormati?!”

Sebaliknya dari menutup jendela, daun jendela saya kuakkan lebar-lebar. Pintu dibuka. Saya pura-pura tak menyadari kehadiran kucing itu. Ikan reca-reca itu saya pajang di atas meja di teras, tanpa ditutupi. Saya ingin membuktikan, apakah kucing itu masih memiliki nyali.

”Aneh!” kata istri saya.

Saya tidak peduli. Saya ingin membuktikan kebenaran teori presiden pertama Amerika Serikat itu.

Begitu azan magrib terdengar, kucing itu makin gelisah. Ia tak putus-putusnya melongok ke arah meja di teras. Kelihatan nafsunya bergolak. Tapi pelajaran yang sudah diterimanya tak membiarkan dia bergerak lebih jauh dari pagar. Sebaliknya, meninggalkan pagar pun dia tidak mau. Reca-reca itu memang terlalu indah untuk ditinggalkan.

”Mau makan atau mau ngurus kucing makan?!” bentak istri saya kesal.

”Stttt! Lihat, aku sudah berhasil menghajar binatang itu bagaimana menghormati teritorial kita!”

”Ntar ikannya disambar lagi, baru nyesel!”

”Nggak bakalan!”

”Namanya juga kucing!”

”Tidak mungkin! Kakinya yang pincang itu, sudah membuat dia ngeper sendiri!”

Tapi tiba-tiba anak saya yang kecil muncul dari samping. Dia membawa batu mau melempar binatang itu, sesuai dengan yang saya ajarkan. Kucing itu cepat berbalik. Ternyata dia tidak takut. Kakinya yang cidera seperti mendadak sembuh. Dia membungkuk menanti serangan. Anak saya tak menyadari bahaya, terus mendekat dengan batu di tangan yang siap dilemparkan.

Dan kucing itu menerjang.

”Pak!” teriak istri saya.

Saya langsung nongol di jendela. Belum sempat berteriak, kucing itu sudah kaget melihat muka saya. Dia kontan membatalkan serangannya, lalu melompat ke jalan dan kabur. Tapi sebuah mobil yang meluncur cepat menerima lompatannya. Kucing itu tergilas.

Saya terpaku. Takjub melihat pemilik mobil itu, sudah membunuh piaraan kesayangannya. Untung saya belum sempat teriak. Cepat-cepat saya beri isyarat istri saya supaya membawa Dede masuk.

Malam hari kami lebih cepat menutup pintu dan mematikan lampu. Saya tahu Pak Michael pasti sedang uring-uringan. Saya menghindari pertengkaran. Masa bulan suci harus berkelahi karena soal kucing.

Esoknya, seperti yang sudah diduga, Pak RT muncul. Saya lebih dulu menegor.

”Bulan Ramadan tidak boleh mengumbar emosi kan Pak RT?”

Pak RT tersenyum seperti kena sindir.

”Betul, Pak. Tapi kalau terpaksa apa boleh buat.”

”Lho boleh?”

”Habis kalau nyolong melulu?!”

Saya tertegun.

”Siapa Pak RT?”

”Siapa lagi! Almarhum!”

”Almahum siapa?”

”Kucing yang Bapak bunuh itu.”

Saya tertegun. Pat RT tersenyum.

”Saya tidak membunuh kucing itu! Kan yang punya sendiri yang menggilasnya!”

”Ya untungnya begitu. Tapi sebenarnya dia sudah mati sejak Bapak mematahkan kakinya.”

Saya tidak menjawab.

”Sejak kakinya patah, kucing itu tidak berani lagi sembarangan masuk ke rumah. Bukan hanya rumah Bapak, juga rumah saya dan rumah-rumah yang lain. Dan sejak itu pula, tak ada yang pernah kehilangan ayam atau makanan lain dari meja secara misterius. Rupanya selama ini kucing itu biang keroknya.
Sekarang kita aman…”

”O ya?”

Pak RT senyum lagi.

”Ya.”

”Kalau begitu bagus dong.”

”Bagus.”

”Jadi kita aman sekarang. Tidak ada aman, tidak ada tai kucing?”

”Ya. Untuk sementara.”

”Sementara?”

”Untuk sementara.”

”Kenapa?”

”Sebab Pak Michael sudah membeli tiga ekor kucing lagi untuk mengganti kesayangan istrinya itu. Habis istrinya nangis terus kehilangan kucingnya.”

Saya terhenyak.

”Berarti kita harus melakukan pembunuhan lagi?”

Pak RT tertawa.

”Tidak usah. Cukup biasakan mengunci pintu dan almari dapur.”

”Dan mematahkan kakinya pada kesempatan pertama dia mencuri?!”

”Betul!”

”Sebab kalau dibiarkan atau dimaafkan, dia pasti akan mengulang dan lama-lama jadi penyakit!”

”Betul.”

Saya tertawa.

”Kalau begitu kita cs Pak RT.”

Saya mengulurkan tangan. Lalu kami berjabatan.

”O ya, saya lupa,” kata Pak RT sambil merogoh kantungnya, lalu mengulurkan selembar kuitansi. Darah saya tersirap.

”Apa ini?”

”Menurut Pak Michael yang membunuh kucingnya itu, Bapak. Bapak diminta dengan sangat mau mengganti pembelian ketiga kucing yang baru dibelinya itu.”

Pak RT lalu begitu saja meninggalkan saya. Seakan-akan tidak ada sama sekali keanehan dalam peristiwa itu. Saya bingung. Tiba-tiba saya jadi pembunuh yang harus dihukum. Mana jiwa nabi serta kebesaran Pak RT yang dulu kelihatan begitu tebal untuk menjaga kesejahteraan warga. Kenapa saya dianggap pantas menerima pemutarbalikkan yang kacau itu.

Manusia dan binatang sama saja, teriak saya dalam hati. Lalu saya kejar Pak RT ke rumahnya. Saya ulurkan kuitansi itu ke mukanya. Supaya ia menatap dengan baik, bukan jumlah yang tertera di sana yang membuat saya mabok, tetapi maknanya. Hakikatnya. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, saya sobek kuitansi itu di depan matanya. Perlahan-lahan menjadi potongan-potongan kecil. ***
Jakarta 6 September 2009
Suara Merdeka, Minggu, 13 September 2009

Tuesday, December 29, 2009

Pertemuan Sunyi Adek Alwi

Pertemuan Sunyi

Cerpen Adek Alwi


IA tahu tak ada yang abadi dan segala sesuatu tak akan persis seperti dulu lagi. Namun ia pergi juga ke masjid tua itu, ditarik kekuatan yang amat kuat. Ia lihat anak-anak berdiri bergerombol juga berlarian di halaman masjid, berselempang sarung dan berkopiah; tak ubahnya dia dan teman-temannya puluhan tahun lalu, di hari-hari bulan Ramadhan seperti ini juga. Dan ketika ceramah-pengajian diawali buya-buya tersohor, seperti Buya Haji Kasim atau Buya Nawawi Arif, mereka akan bergeduru memasuki masjid. Berebut pula kembali ke tempat wudu, usai ceramah-pengajian sekitar pukul setengah delapan. Lalu shalat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan tarawih.

Dinihari sehabis sahur pun begitu. Bedanya, pengajian pagi hari dimulai seusai Subuh dan berakhir pukul enam lewat. Ajaibnya, kantuk tidak datang-datang. Sekolah libur selama bulan puasa dan hari-hari diisi dengan bermain apa saja, mandi-mandi di batang-air, ke tempat penyewaan buku; melahap komik terbitan Medan dan cerita silat cina karangan Kho Ping Hoo ataupun OKT. Dan kantuk baru datang menjelang atau sesudah Lohor. Serangannya begitu hebat memberatkan mata, sehingga badan rasanya melayang saja dalam perjalanan pulang ke rumah.

"Eh, eh, jangan kau langsung tidur." Ibu menegur. "sembahyang dulu!"

"Sudah, di Masjid Jambatan Basi!"

"Kalau begitu cuci mukamu. Tangan, kaki. Habis itu ganti baju. Bau!"

Ia menarik napas, tersenyum mengenang. Ia teruskan langkah mendekati pintu masjid. Dari luar dilihatnya garin tengah bersiap-siap di dalam. Meletakkan pengeras suara di meja dekat tirai putih pembatas jamaah lelaki dan perempuan. Ditaruh garin pula segelas teh di meja. Tirai pun telah dia rendahkan, sehingga jamaah wanita dapat melihat buya berceramah dan si buya pun leluasa melepas pandang ke seluruh hadirin, terutama jamaah lelaki yang duduk menyebar dan sebagian bersandar ke dinding serta ke tiang masjid.

Ingatannya terus melayang ke masa-masa yang jauh itu. Seolah dia lihat Buya Kasim tua sekarang duduk di kursi pasangan meja kecil, berceramah dengan suaranya yang khas, agak serak namun jelas intonasinya. Kajinya mudah dipahami, menyentuh pula. Ah, tahun berapakah buya yang arif serta luas ilmunya itu wafat? Juga Buya Nawawi Arif, ayah temannya si Farouk? Saat dia sudah merantau? Atau masih berada di kota itu? Meskipun bersekolah di kota kelahirannya itu sampai tamat SMA tetapi di masa remaja ia tak lagi serajin masa-masa kecil pergi ke masjid mendengar pengajian dan sembahyang berjamaah, walau tak pernah absen shalat Jumat. Dengan begitu dia pun tak berperhatian benar lagi kepada kedua buya tua itu.

Tetapi bukan hanya buya-buya tua itu saja yang kini sudah tiada. Orang-orang tua lainnya pun tiada lagi, bagai juga ayahnya, yang wafat 11 tahun lalu. Kemarin sore sebelum berbuka sengaja ia berjalan-jalan ke pusat kota, ke pasar, namun tak satu pun lagi wajah-wajah tua yang dulu akrab dengan matanya ia jumpai. Bagaikan daun-daun mereka telah digantikan daun muda dan segar, yang pada gilirannya pun akan jadi tua, menguning, lalu luruh-jatuh menyatu dengan tanah. Lenyap, sirna.

Ya, jangankan orang-orangtua itu ia sendiri pun kini dalam proses menguning. Orang-orang yang bicara dengannya di pusat kota, seperti para pedagang, sopir angkot ataupun tukang cukur, semua memanggil ia "Pak"; pertanda harinya sudah menjelang senja. "Mak Hasan?" balas tukang cukur yang merapikan kumisnya kemarin.

"Nama dia saja saya tahu, Pak. Jumpa tak sempat. Saya lahir setelah beliau wafat, Pak."

Mak Hasan tukang cukur beken di kota kecil itu, langganan ayahnya. Sebelum salon-salon bermunculan dan memberikan layanan massage terutama saat creambath, tukang cukur itu sudah memberi layanan itu kepada pelanggannya. Tetapi tidak untuk anak-anak. Mak Hasan berpura tidak mendengar bila dia minta dipijat. Kalau didesak, tukang cukur itu berucap, "Eh, tak elok anak kecil dipijat. Urat-uratmu masih segar."

Ia tersenyum. Bila bersua dengannya sekarang tentu Mak Hasan mau memberi layanan pijat pada tengkuk serta bahunya, yang belakangan sering terasa pegal. Dan, matanya tentu pula akan meram-melek seperti ayahnya dulu setiap kali dipijat Mak Hasan. Tapi, tukang cukur legendaris itu pun kini telah tiada, sudah lama meninggal dunia.

* * *
DENGAN mengucap nama Tuhan, dia melangkah memasuki masjid. Terus ke arah depan agak ke pojok, lalu shalat sunat dua rakaat. Berbeda dengan masjid-masjid lain masjid itu masih mempertahankan lantainya yang lama, lantai papan dengan jenis kayu dari kualitas kelas satu; karena udara kota pegunungan itu selalu dingin dan akan semakin dingin kalau lantai dilapis ubin. Dan dia sujud di lantai papan beralas karpet itu, seperti dulu, puluhan tahun yang silam, pada masa kanak-kanaknya yang jauh.

Ia akhiri shalat sunatnya dengan mendoakan ayah dan ibunya, saudara-saudara serta guru-guru termasuk buya-buya tua yang sudah tiada itu, juga kawan-kawan yang telah pulang lebih dulu ke alam baka. Pas saat doanya berakhir seorang buya berjalan ke meja dekat tirai, duduk di kursi yang sudah disediakan, memulai pengajian. Orang-orang, bak dulu juga, memerhatikan dengan takzim. Buya itu masih tergolong muda, barangkali belum 40 atau sepantar adiknya yang bungsu, namun tak dikenalnya.

Ia toleh lambat-lambat ke kiri dan kanan, juga tidak terlihat wajah-wajah yang dikenalnya. Ai, sudah begitu tuakah dia? Sebersit rasa aneh menyelinap di hatinya; ia seolah-olah berada di tempat asing, bersama orang-orang yang juga asing, padahal di kota kelahirannya dan bahkan di masjid yang sungguh akrab dengan dirinya di waktu kecil. Tapi, tak ada yang dia kenal, tidak ada yang mengenalnya.

Namun dia memang jarang pulang. Kalaupun pulang, sesekali, bersama anak-anak, istri, atau sendiri seperti sekarang ini, kawan-kawan lama itu pun tidak banyak lagi yang dijumpainya. Seperti dia kebanyakan kawannya juga merantau dan sesekali saja pulang ke kota mereka. Kehidupan memencarkan mereka ke mana-mana.

"Si Syawal?" balas Mawardi ketika dia bertanya. "O, di Dumai dia merantau. "Lebaran lalu ada ia pulang, tapi tak lama. Maklumlah, sibuk dia. Am Unyuk menetap di Rumbai. Si Acin, di Batam. Tetapi tidak pernah pulang-pulang. Ibunya juga sudah lama pindah ke situ. Entah masih hidup atau sudah tiada beliau sekarang. Tak jelas."

"Rusdi di Padang kini." Amrul menambahkan. "Dulu ia di Lubuak Sikapiang. Eh, si Bulek dan Lin kan di Tangerang. Ada kau jumpa mereka di Jakarta?"

"Yah, tinggal kami berlima yang tak beranjak dari kota ini, Darius. Aku, Can, Amrul, Zainal, Dasril Angin Berembus," kata Mawardi.

Ia tak dapat menilai mana yang lebih baik. Apakah dia dan kawan-kawan yang pergi merantau, atau teman-temannya yang tak beranjak dari kota mereka. Atau, boleh jadi keduanya sama saja, karena sama-sama tidak mampu mengabadikan yang pernah dialami, dijalani.

Tahun-tahun sesudah itu, pada kesempatan pulang ke kota kecil itu, dia seperti terkejut-kejut mendengar tuturan teman-teman lama itu. "Ini cucuku," ujar Can ketika mereka berkumpul di rumah kawan itu. "Sudah tiga cucuku sekarang."

"Cucuku dua," sambut Zainal.

Aneh juga rasanya mendengar kawan-kawan itu punya cucu. Tetapi barangkali pula tidak. Toh tahun demi tahun terus berlalu dan bagai daun-daun warna mereka tak lagi hijau-segar. Waktu telah mengubahnya pelahan-lahan namun pasti menjadi hijau-tua, yang dari saat ke saat semakin pekat. Dan kini, ya, kini, tengah berproses menjadi kuning. Makanya, dua-tiga tahun lalu ketika terakhir pulang dia termangu-mangu saat kawan-kawan itu mengatakan, "Eh, si Johar telah mendahului kita. Sudah almarhum dia."

"Juga si Biju," sambung Amrul.

"Edy Potek malah sudah lama. Di Jambi dia meninggal."

Dan kawan-kawan masa kecil itu terus mengingat dan menyebut teman-teman yang sudah tiada, pulang ke Negeri Abadi. Ia terpana, termangu-mangu saja.

* * *
BUYA yang masih tergolong muda itu masih berceramah, tentang kesingkatan atau kefanaan hidup di dunia. Tapi meski hidup ini singkat, dia bilang, manusia masih diberi Tuhan kesempatan menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang abadi di kampung akhirat kelak. "Salah satu di antara kesempatan itu ialah pada bulan Ramadhan ini, pada bulan yang penuh berkah dan magfirah ini."

Sekalipun belum sefasih Buya Kasim, ataupun Buya Nawawi Arif, sejuk juga mendengar kaji buya muda itu. Seperti dulu, puluhan tahun lalu, ia merasa diingatkan lagi bahwa hidup hanyalah sementara dan dunia tak lebih dari tempat singgah sejenak. Sebutlah halte di dalam perjalanan. Ada tempat tujuan, tempat akhir perjalanan yang dituju, yang baka atawa abadi. Dan semua berproses ke sana. Karenanya, ibarat daun-daun tidak aneh bila warna usia yang semula hijau-muda dan segar berupa pucuk, dari waktu ke waktu berubah pekat dan gelap. Dan, pada gilirannya malah berubah kuning. Semua adalah keniscayaan, tak dapat ditolak, tak ada kekuatan yang dapat menahan.

Ia menarik napas, serasa bertemu kembali dengan semua yang pernah ia kenali dan alami. Ia rasakan kesegaran merayap dalam sunyi. Usai tarawih nanti, setelah tiba di rumah orang tuanya yang kini ditempati adiknya, tempat ia tinggal setiap pulang ke kota kecil itu, akan ia telepon istri dan juga anak-anaknya di Jakarta. Akan ia katakan bahwa saat ini ia sungguh sangat berbahagia.
"Ayah baru saja pulang tarawih di masjid tempat mengaji masa kecil. Memang tak banyak lagi orang yang kukenal di sini, seperti kalian khawatirkan. Namun justru dalam sunyi tak dikenal dan mengenal banyak orang, Ayah menemukan sesuatu yang melegakan. Bagaimana kalau Ayah tetap di sini dua-tiga hari lagi? Boleh, tidak?"

Ia tersenyum mengingat-ingat yang akan ia katakan nanti pada keluarganya.

***

Jakarta, 4 September 2008
Download cerpen ini KLIK di sini

Sunday, December 27, 2009

Ratna Indraswari Ibrahim Delayed

Delayed

Ratna Indraswari Ibrahim

Sebagai seorang perempuan, sekalipun berprofesi dokter, Nana menganggap minggu-minggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau, adik bungsunya sambil menangis mengatakan, anaknya, Tantiana, positif hamil. Padahal, dia baru berusia 17 tahun, kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya, Alvin. Adiknya berkata, ”Datanglah bersama Dara, kalian berdua kan dokter. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!”

Nana mengembuskan nafasnya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya, Aditya (25 tahun), menikah! Mendahului anak sulungnya, Dara, yang minggu kemarin merayakan ulang tahun ke-30.

Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Seperti dua sahabat, Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Mereka mencari sebuah restoran, memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil.

”Ma, saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. Setelah itu, Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya.”

Nana mengatupkan bibirnya, ”Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?”

”Ma, Rizal kan cuma teman. Jadi, setiap keputusan hanya ada pada saya.”

Nana terenyak. Sesungguhnya, dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa berkata kepada adik almarhum suaminya, ”Dik, mudah-mudahan volume pekerjaan panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!”

Kedua perempuan ini bersitatap.

”Ma, saya sepertinya sudah dapat firasat. Beberapa hari yang lampau, waktu ke toko buku, saya membeli buku nama-nama calon bayi.”

Nana merasa terkunci. Sebelum terjawab, adik bungsunya menelepon HP-nya, ”Mbak, sampeyan kok belum datang, jam berapa datangnya? Dari tadi, Tantiana menangis terus. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan.”

Nana melihat Dara. ”Tante dan Om-mu, sekarang ada di rumah sakit. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater.”

Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Nana meneruskan omongannya, ”Kalau tahu begini, lebih baik kita naik kereta saja. Aku bosan menunggu!”

Dara tersenyum, tapi kemudian Nana berpikir, barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). Kendati mereka masih tinggal serumah, jarang bisa ngobrol. Apalagi, Nana pada usianya ini tidur lebih cepat, sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Sekalipun Nana merasa, berapa pun umur Dara, dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan, sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu.

Sesungguhnya, sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. Nana seharusnya berkata begini, ”Waktu kau beranjak remaja, aku dan ayahmu sudah sering bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Tapi, kemudian kami heran juga, kau tidak peduli pada mereka. Padahal, banyak temanmu yang sudah mulai pacaran. Kami tidak merisaukan hal itu, kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Mulai sejak itu, aku diliputi perasaan gelisah. Apalagi, kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. Teman-temanmu di Fakultas Kedokteran juga serius. Tapi, mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Padahal, sejak lulus SMA, Didit tidak meneruskan sekolahnya. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai.”

Dara memutuskan lamunannya, ”Ma, beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi.”

”Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu.”

Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini.

”Setelah Aditya menikah, aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dengan siapa yang kau suka. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Sekalipun, dia lebih muda dua tahun darimu. Siapa pun tahu, dia menyukaimu. Aku dan ayahmu pernah membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Yang terjadi di luar mimpi kami, adikmu yang menikah pada usia itu!”

”Maaf, saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita sedih
sekali. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Pastinya mereka menganggap saya perempuan yang berat jodoh. Padahal, di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis.”

”Dara, aku kepingin jujur kepadamu, apa pun pendapat masyarakat, kata kuncinya cuma satu, kau menikah.”

Dara, memegang tangan mamanya.

”Ma, saya tidak bisa janjikan itu.” Mereka saling melihat. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini, tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia baru saja berusia 13 tahun. Dia merasa jijik! Namun, pada persekian menit, dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. Tapi setelah dewasa, ketika mencoba bercinta dengan Rizal, dia merasa tidak lebih seperti boneka seks.

Sampai hari ini, dia tak berhasil, Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. Padahal, mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Jadi, ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini, banyak hal yang dipikirkan, dibicarakan oleh mereka berdua. Karena, hubungan Rizal dan Dara bukan sekadar dokter dengan pasien, tapi dua orang yang sangat dekat. Dara tidak mau terapi ini jatuh pada erotisme saja, tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Rizal, seperti semua dokter, harus berempati saja.

Sesungguhnya, mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Lantas, terapi ini tidak berkelanjutan.

Sehingga Rizal berkata, ”Sebagai seorang dokter, kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh.”

Dara merasa tak berdaya. Semuanya memang harus diselesaikan. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama, sekalipun mamanya juga dokter. Pastinya, akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Sebagai seorang dokter, memang yang harus dilakukan oleh mamanya adalah berempati, bukan bersimpati. Itu yang sering diucapkan Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini.

Kali ini mama yang memotong pikirannya, ”Dara, kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi.”

”Mama kan tahu, kalau sudah begini, karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.”
Kemudian ada dering telepon lagi, adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini, ”Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit.”

”Dik panggillah dokter, pesawatku delayed. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. Tapi, kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit.”

Dara berbicara lagi, ”Ma, saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali, tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat, mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali.

Nana memegang tangan anak perempuannya. ”Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. Sekalipun, aku sudah siap untuk semua yang terburuk, kalau kau mau cerita.”

”Ma, saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum, untuk menguatkan satu dengan lainnya.

”Sayang, aku tak akan pernah bertanya lagi. Percayalah, aku sudah mencurigai hal itu sejak lama. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya, jadi di mataku kau tetap seorang gadis... Nduk, apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?”

Kali ini, Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Tidak ada air mata, tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu.

Di luar dugaan, Tantiana sedikit tenang, ketika Nana berkata, ”Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Setelah anakmu lahir, kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Sedangkan anakmu, biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Kami tidak menganggap itu dosa yang tidak bisa diperbaiki.”

Tantiana menangis.

Beberapa bulan kemudian, lahir anak Tantiana. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana, dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah.

Dan, ketika anak Tantiana berusia satu tahun, Dara merayakan bersama anak teman-temannya, dihadiri Rizal dan mamanya, ”Zal, aku kepingin anakku ini punya dua adik. Lantas siapa ya yang mau jadi bapaknya?”

Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain.

”Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?”

”Zal, saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Yaitu garwo (sigare nyawa). Bahasa simbol itu artinya, belahan hati suami dan istri. Jadi, aku memaknainya lebih jauh, bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Kalau tidak, yang ada cuma luka dan kesakitan. Aku yakin kau bisa memahami itu, jadi kita bisa membagi, kapan menjadi dokter dan pasien dan kapan menjadi suami-istri.”

Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal.

Rizal tersenyum dan memeluknya, ”Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Karena untuk kesembuhan ini, butuh proses yang panjang. Bantulah aku!”

Rizal dan Dara bersitatap.

Ketika memasuki ruangan ini, Nana memeluk Dara.

”Aku akan menjadi nenek dari lima cucu, tiga darimu dan dua dari Aditya.”

Lantas, senyum ada di antara Dara, Rizal, Nana, dan melebar di ruangan ini.

Teman-teman anaknya berteriak-teriak, ”Dik, cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!”

Malang, 10 Juni 2008
Download cerpen ini KLIK di sini

Friday, December 25, 2009

Mata Munggil Agus Noor

Mata Mungil yang Menyimpan Dunia

Cerpen Agus Noor

Selalu. Setiap pagi. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. Kadang berloncatan, seperti menjolok sesuatu. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar, seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock.

Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat, Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu, saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil, agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.

Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Usianya paling 12 tahunan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Selalu bercelana pendek kucel. Berkoreng di lutut kirinya. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya, agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu.

Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan, karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar, akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan, kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan, seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light.

Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Ia menurunkan kaca mobilnya, menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya.

Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju.

Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu.

Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Ia suka menatapnya berlama-lama. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan, yang kata Mama, sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Berminggu-minggu mengikuti terapi, ia selalu disuruh menggambar. Dan ia selalu menggambar mata. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu; mata dengan sebilah pisau yang menancap; atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska.

Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Ia ingat perkataan Oma, saat ia berusia tujuh tahun, ”Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya….” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Tapi Papa kerap menghardik, ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.

Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka, tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama, hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Setiap menatap mata seseorang, Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung, pecahan kaca yang menancap di kornea, kawat berduri yang terjulur panjang, padang gersang ilalang, pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung.

Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang berkilat licik. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Karena itu, Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Rasanya, itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Begitu bening begitu jernih. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia.

Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Setiap kali terkenang mata itu, setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya.

Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal, Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah, seperti mata bocah itu. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Membuat Gustaf berpikir, bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda….

Gustaf kini bisa mengerti, kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya, hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ketika berjongkok, pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Semua itu hanya mungkin, karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia.

Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu, batin Gustaf. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Eceng gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi, bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian….

Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Bila ia bisa memiliki mata itu, ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik, menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran, dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang.

Gustaf tersenyum. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu!

Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Ia ingin ketika ia muncul kembali, semuanya sudah tampak sempurna. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata, pikirnya. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia.

Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Ia ingin membuka jendela, dan melemparkan recehan, tapi segera ia urungkan karena merasa percuma.
Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya….

Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift.

Begitu lift itu tertutup, seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas, sambil berbicara kepada temannya.

”Kamu lihat mata tadi?”

”Ya.”

”Persis mata iblis!”
Jakarta, 2006
Kompas, 12 Maret 2006

Wednesday, December 23, 2009

Puisi Persetubuhan Kunthi

Persetubuhan Kunthi

Puisi Gunawan Muhammad

– untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo

Semakin ke tangah tubuhmu
yang telanjang
dan berenang
pada celah teratai merah

Ketika desau angin berpusar
ikan pun
ikut menggeletar

Dari pinggir yang rapat
membaur ganggang.
Antara lumut lebat
dan tubir batu
ada lempang kayu apu
yang timbul tenggelam
meraih
arus dan buih

Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu
dan kau teriakkan
jerit yang merdu itu
sesaat sebelum kulit langit biru
kembali, jadi biru

Engkau dewa? kau bertanya
Engkau matahari?

Laki-laki itu diam sebelum menghilang
ke sebuah asal
yang tak pernah diacuhkan:
sebuah khayal
di ujung hutan
di ornamen embun
yang setengah tersembunyi.

Yang tak pernah kau miliki, Kunthi
tak akan kau miliki.
2006
Download Puisi ini KLIK di sini

Tuesday, December 22, 2009

Monday, December 21, 2009

Agus Noor: Serenade Kunang

Serenade Kunang-kunang

Cerpen Agus Noor

Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.

Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca—membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.

Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.

”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kamu takut tidur sendirian…”

Kamu mungkin tak percaya, kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta, mana yang pantas buat dipakai makan malam, mana yang pas buat jalan-jalan, dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang.

”Dan yang ini?”

Seperti kukatakan, aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil…

”Laki-laki yang romantis rupanya!”

Tidak. Ia tak pernah mengucapkan rayuan, yang paling gombal sekali pun, untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat, betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali menyentuh putingku yang ungu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau tahu, bercinta dengannya seperti menikmati nasi goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bersamanya aku tidak terobsesi untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan kupikir, kalau memang kepingin yang aneh-aneh begitu, aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.

”Busyet!!”

Mungkinkah, kali ini, aku sungguh-sungguh jatuh cinta?

”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta.”

Bila aku kangen, bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya, yang membuatku menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu lihat di iklan deodoran, yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar mendapatkan perhatiannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah, dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya yang kelabu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sedikit berkumis, tipis, tak rapi. Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.

”Bukan baju yang pantas buat ke pesta, kukira!”

Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Bukan karena kamu tak suka, tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Tapi—entahlah, aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan diam-diam.

”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…”

Tidakkah kau tahu, terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran, kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi, bukankah cinta memang ganjil dan penuh masalah?! Tapi…

Maaf, aku mesti pergi.

”Mau ke mana?”

Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang, aku selalu merasa dia tengah memikirkanku. Setiap melihat kunang-kunang, aku jadi ingin ketemu dia.

”Hmm.”

”Aku suka kunang-kunang...”

”Hmm.”

”Aku suka matamu...”

”Hmm”

“Seperti ada kunang-kunang dalam matamu.”

”Hmm…”

Ah, selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Padahal, pada saat-saat seperti ini aku ingin sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Itulah kenapa aku mengajaknya kemari. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana, bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.

Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Ibu selalu mengajakku kemari, setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu, kata ibu. Selalu, dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah, di zaman gestapu dulu. Aku masih dalam kandungan ibu, saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu, bersama ribuan tubuh lainnya. Seminggu setelah pembantaian, dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Membuat lembah itu menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dan setiap malam purnama, ketika lembah itu menjadi bisu, dan angin yang membeku membuat pepohonan tertugur kelu, ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang-layang menyusuri aliran sungai, kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu.

Kuajak ia kemari, agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Agar ia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai menyimpan kunang-kunang. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang.

”Kau lihat kunang-kunang itu?!”

”Hmm...”

Ini pertemuan ke-43. Seperti yang sudah-sudah, ia langsung tidur setelah bercinta. Dia meringkuk dalam selimut, seperti sosis dalam setangkup roti. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dari jendela apartemen lantai sebelas, kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang-kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita seperti itu—mungkin sewaktu SMA, aku lupa. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota…

”Enggak tidur?” Ia menggeliat, memandangku yang duduk telanjang di sofa.

Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit, meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Membelakangiku, dan tergesa mengenakan pakaian. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Tak ada percakapan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan.

Seperti jeritan yang teredam, handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Ia meraih handphone itu, dan dengan gerakan pelan menjauhiku, berbicara setengah berbisik. Aku hanya memandang keluar jendela. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku.

”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. ”Anakku sakit …”

Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tapi, aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang, seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunang-kunang. Cahaya perlahan susut dan aus. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin, seperti dalam sebuah puisi, tak tercatat pada termometer.

Barangkali, seperti kerap kau katakan, aku memang wanita paling menyedihkan yang pernah kau kenal. Karena, selalu saja, aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri….

***
Jakarta, 2005-2008
Sumber: Kompas 18 Mei 2008

Download cerpen ini KLIK di sini

Saturday, December 19, 2009

Laila dan Putu Wijaya

Laila

Cerpen Putu Wijaya

Menangis tidak selamanya tanda kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur air mata Laila.

”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis seperti sinetron, kapan habisnya?”

Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.

”Laila itu bukan jenis pembantu murahan yang mata duitan. Dia orang Jawa yang tahu diri, memangnya kamu!” bentak istri saya, sambil menarik Laila bicara empat mata.

”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!”

”Terlalu!”

”Sekarang si Romeo nyuruh Laila berhenti lagi!”

”Berhenti?”

”Ya! Apa nggak gila?! Kalau Laila tidak kerja mau ngasih makan apa si Arjuna?”

”Kali Laila dapat kerjaan baru.”

”Mana ada orang mau menerima pembantu yang tiap sebentar pulang, karena anaknya nangis!”

”Jadi Laila akan berhenti?”

”Tidak! Biar Laila bawa Arjuna kemari, jadi kerjanya tenang.”

”Boleh sama si Romeo?”

”Memang itu yang dia mau!”

Saya menarik nafas. Sejak itu, Arjuna yang baru lima tahun itu jadi bagian dari rumah kami. Kalau dia nangis, sementara ibunya memasak, sedangkan istri saya sibuk, itu tanggung jawab saya.

Mula-mula berat. Tapi kemudian terjalin persahabatan indah antara saya dan Arjuna. Saya bahkan merasa tersanjung ketika Arjuna memanggil saya Pakde.

Sudah 11 tahun saya dan istri merindukan anak. Kami sudah capek menjalani nasehat dokter. Akhirnya kami ambil kesimpulan, tugas manusia memang beda-beda. Kami mungkin bukan mesin reproduksi manusia.

Kehadiran Arjuna membuat rumah berubah. Kelucuan bahkan kebandelan Arjuna menyulap tiap hari jadi beda. Sampai-sampai istri saya memanggilnya si Buah Hati.

Tapi pulang dari mudik, saya terkejut. Di dapur terdengar suara ketawa beberapa orang anak. Ternyata di situ ada lima bocah hampir seusia Arjuna sedang main petak umpet. Mereka sama sekali tidak takut oleh kehadiran saya.

”Itu anak-anak pembantu-pembantu sebelah.”

”O ya?”

”Ya, orangtuanya juga sibuk kerja, jadi anaknya tidak ada yang ngurus. Daripada mereka jadi gelandangan atau korban narkoba, aku suruh saja main di sini nemani si Buah Hati,” kata istri saya.

Mula-mula saya keberatan. Satu anak tertawa dalam rumah, memang lucu. Tapi enam orang, saya akan kehilangan privasi.

Ketika saya sedang bekerja di meja, semuanya seliwar-seliwer di depan pintu. Kalau saya menoleh mereka mencelup. Punggung saya terasa gatal ditancapi tatapan. Saya kira mereka mulai kurang-ajar.

”Kamu frustrasi!” komentar istri saya sambil tertawa,

”Persis!”

”Karena kamu kurang peka!”

Saya berpikir. Istri saya terus ketawa.

”Kamu tidak peka. Anak-anak itu tahu kamu baru kembali dari mudik. Mereka menunggu.”

”Menunggu apa?”

”Biasanya kalau pulang mudik orang bawa oleh-oleh.”

”Aku bawa untuk Arjuna, bukan untuk mereka!”

”Mereka semua anak-anak. Kamu harus berikan sesuatu kepada semuanya.”

Istri saya mengulurkan sebuah kantung plastik yang penuh coklat.

”Bagikan ini pada mereka!”

Saya takjub, tapi tak bisa menolak.

Sejak peristiwa itu, rumah saya seperti penitipan anak. Kerap ibu-ibu tetangga karena keperluan yang mendesak menitipkan anak di rumah kami. Anaknya pun senang bahkan mereka menganjurkan agar dirinya dititipkan.

Untung saya cepat membiasakan diri. Apalagi keadaan itu membuat gengsi kami naik. Istri saya menjadi popular. Saya sering dipuji sebagai lelaki sejati.

Tetapi kemudian Laila kembali menangis.

”Si Romeo bertingkah lagi!” umpat istri saya setelah mengusut Laila, ”bayangkan, masak dia minta dibelikan motor!”

”Motor? Emang mau ngojek.”

”Boro-boro ngojek, naik motor juga nabrak melulu!”

”Terus untuk apa?”

”Menurut Laila itu mau disewakan Romeo pada tukang ojek. Laila minta gajinya setengah tahun di bayar di muka.”

”Kamu tolak kan?!”

”Gimana ditolak? Laila diancam akan digebukin kalau tidak berhasil.”

Saya jadi penasaran. Lalu saya mencecer Laila.

”Laila, cinta itu tidak buta. Kalau suami kamu terus dituruti, kepala kamu bisa diinjaknya. Suami pengangguran yang mengancam dibelikan motor oleh istri itu bukan saja menginjak, tapi itu sudah explotation de l’home par l’home tahu?!”

”Ya Pak.”

”Kamu mengerti?”

”Mengerti, Pak.”

”Suami yang baik boleh dihormati, tapi yang jahat tendang!”

Laila tunduk dan mulai menangis.

”Kamu kok cinta mati sama si Romeo, kenapa? Jangan-jangan kamu sudah kena pelet!”

”Saya hanya mau berbakti kepada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi sudah bunuh diri!”

”Orangtua saya selalu berpesan, suami itu guru, Pak. Kata Ibu saya, tidak boleh membantah kata suami, nanti tidak bisa masuk surga!”

”Tapi kelakuan si Romeo kamu itu sudah melanggar HAM!”

Laila menunduk dan meneruskan menangis. Hanya motor yang bisa menyetop air matanya. Terpaksa saya mondar-mandir ke sana ke mari untuk mencari info motor bekas. Beruntunglah salah satu satpam bangkrut karena kalah berjudi. Dia jual murah motornya. Langsung saya bayar, daripada kehilangan Laila.

”Ah?! Ngapain mesti peduli semua permintaan Laila,” kata istri saya marah-marah, ”Kalau kamu manjakan dia begitu, sebentar lagi dia akan menginjak kepala kita! Pembantu itu jangan dikasih hati. Kalau dia mau berhenti, biarin. Kita cari yang lain!”

Tapi kemudian istri saya sendiri yang menyerahkan kunci motor bekas itu kepada Laila.

”Ini motornya, Laila. Cicil berapa saja tiap bulan, asal kamu jangan keluar!”

Laila mencium tangan istri saya dengan terharu. Saya juga mendapat perlakuan manis. Laila kelihatan sangat bahagia. Sambil nyuci ia menyenandungkan lagu Nike Ardila.

Tapi itu hanya berlangsung sebulan.

”Si Romeo itu memang kurang ajar!” teriak istri saya kemudian, ”Motor sudah digadaikan lagi, katanya nggak ada yang doyan nyewa motor bekas!”

Saya bengong. Dengan mata berkaca-kaca Laila minta maaf. Katanya, suaminya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi hutangnya setelah kalah taruhan bola.

Istri saya mencak-mencak. Tapi kemudian ia mendesak saya menebus motor itu dengan janji, Romeo dilarang menyentuhnya.

”Kamu saja yang boleh naik motor itu Laila! Yang lain-lain, haram!”

Sejak itu Laila masuk kerja menunggang motor. Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu datang tepat waktu. Anaknya bangga sekali duduk di boncengan. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting, Laila tetap setia di posnya.

”PRT seperti Laila memang perlu punya motor, supaya tenaganya tidak terkuras di jalanan. Motor itu bukan untuk dia, tetapi untuk kepentingan kami juga,” kata istri saya kepada ibu-ibu tetangga.

Tak terduga argumen itu patah, ketika pada suatu hari Laila muncul tanpa motor. Hari pertama saya diam saja. Pada hari ketiga saya tidak kuat melihat dia pulang menggendong Arjuna sambil menenteng tas besar.

”Motor kamu mana, Laila?”

”Dipakai saudara misan saya, si Neli, Pak.”

”Kenapa?”

”Kerjanya lebih jauh, Pak.”

”Kenapa dia tidak naik angkot saja?”

”Nggak boleh sama suami saya, Pak.”

Saya bingung. Kemudian saya baru tahu, Neli saudara misan Laila sekarang tinggal bersama Laila satu rumah.

”Itu motor kamu Laila, tidak boleh dipakai orang lain!”

”Tapi suami saya bilang begitu, Pak. Saya harus mengalah sebab di pabrik tempat Neli kerja aturannya keras. Kalau datang telat bisa dipecat.”

”Kamu juga harus tepat waktu sampai di sini, Laila!”

”Betul, Pak.”

”Ambil motor itu kembali!!!!!!”

Besoknya Laila masuk kerja tepat waktu. Tapi dia naik ojek. Saya marah.

”Maksudku kamu tidak hanya datang tepat waktu, tapi harus pakai motor kamu! Kalau kamu datang ke mari naik ojek, lebih baik jangan kerja!”

Laila bingung. Dia tidak mengerti apa maksud saya. Istri saya mencoba menjelaskan. Tapi bukan menjelaskan kepada Laila, dia justru menerangkan kepada saya.

”Laila tidak berani minta motor itu karena takut digampar si Romeo.”

Saya bingung.

”Kenapa bangsat itu malah ngurus misannya, bukan istrinya?”

”Sebab misan Laila itu perempuan !”

”Gila! Istrinya juga perempuan!”

”Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau menikahi si Neli!”

Saya megap-megap.

”Ya Tuhan! Kenapa Laila nerima saja dikadalin begitu?

Istri saya hanya mengangguk.

”Sekarang memang banyak orang gila!”

Langsung saya interogasi Laila di dapur.

”Kenapa kamu terus mengalah Laila? Suami kamu sudah kurang ajar. Jangankan mau menikahi misanmu, mengancam kamu membelikan pacarnya motor saja, sudah zolim! Kenapa?”

Laila tak menjawab.

”Kamu takut? Kalau perlu aku bantu kamu mengadu kepada LBH. Orang macam Romeo itu, maaf, bajingan. Dia harus dihajar supaya menghormati perempuan!”

Laila diam saja.

”Itu namanya kamu sudah kena pelet! Kamu yang cantik begini pantasnya sudah lama menendang Romeo. Apa kamu tidak sadar?!”

”Ya, Pak.”

”Kalau sadar kenapa tidak bertindak?”

”Saya ingin berbakti pada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi menghamba! Diperbudak! Dijadikan kambing congek si Romeo asu itu, tahu!?”

”Ya, Pak!”

”Ya apa?”

”Kata orangtua saya, sebagai istri saya mesti menghormati suami, saya tidak boleh membantah kata suami. Hanya orang yang baik dan sabar yang akan bisa masuk surga.”

”Kalau orangtua kamu masih hidup, dia tidak akan rela kamu disiksa begini?! Kamu ini cantik Laila!”

Mendengar dua kali menyebut kata cantik, istri saya muncul. Saya diberi isyarat supaya minggir. Lalu dia bicara dari hati ke hati dengan Laila. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian saya lihat dari jauh, Laila menghapus air matanya.

”Kita tidak bisa kehilangan Laila,” kata istri saya kemudian.

”Lho, memangnya dia minta berhenti?”

”Dia tidak bisa merebut motor itu dari si Neli.”

”Tapi itu kan haknya!”

”Kita tidak bisa memaksakan jalan pikiran kita ke otaknya. Tidak. Pokoknya tidak bisa.”

”Harus! Kita berkewajibkan mengajarkan dia berpikir logis!”

”Kalau terlalu didesak, bisa-bisa dia minta berhenti.”

”O ya, Laila bilang begitu?”

”Dia tidak bilang begitu, tapi pasti akan begitu.”

”Kenapa dia begitu ketakutan?”

”Sebab Neli sudah dikawini Romeo!”

Saya terpesona. Lama saya mencoba menghayati bagaimana perempuan yang secantik Laila bisa dikuasai Romeo tak beradab itu. Saya tak akan pernah bisa mengerti.

Sementara terus-terang, kami sangat bergantung pada Laila. Kalau dia tidak ada, rumah akan berantakan.

”Kita tidak mungkin kehilangan Laila,” kata istri saya.

”Tapi dia tidak boleh dibiarkan masuk kerja terlambat terus.”

”Karena itu dia harus punya motor!”

Saya tak menjawab. Istri saya yang harus menjawab. Jawabannya agak tidak masuk akal. Laila dibelikan motor baru. Laila tersenyum sambil meneteskan air mata haru mendengar keputusan itu. Arjuna juga tertawa.

Motor kedua Laila langsung dari dealer. Bodinya mulus, suaranya halus dan tarikannya kuat. Laila dan Arjuna selalu datang tepat waktu. Saya dan istri puas, merasa keputusan kami tepat.

Tapi tak sampai satu bulan, tiba-tiba Laila muncul kembali dengan motor bututnya yang lama. Waktu kedatangannya memang tepat. Wajahnya juga tidak berubah. Ia tetap cantik dan ceria. Hanya Arjuna yang kelihatan rewel. Dan istri saya ngamuk.

Tidak pakai pendahuluan lagi, Laila langsung digebrak.

”Laila, Ibu sudah bosan bicara! Kalau kamu masih saja datang pakai motor busuk ini, tidak usah kembali! Pulang! Ibu beli motor baru untuk kamu dan Arjuna bukan untuk lelaki hidung belang itu! Kalau motor itu dipakai oleh orang lain, kamu berhenti saja kerja sekarang! Kembalikan motor kamu!”

Laila gemetar. Saya pun tersirap. Belum pernah istri saya marah seperti itu. Tanpa berani membantah lagi. Laila menaikkan lagi Arjuna yang sudah turun dari motor, lalu segera pergi. Saya lihat mukanya pucat pasi.

Saya kira perempuan itu tidak akan pernah kembali lagi. Tapi saya keliru. Besoknya, terdengar suara motor yang halus masuk ke halaman. Saya cepat keluar dan kaget melihat Laila dengan motor barunya. Arjuna tertawa senang. Laila mengangguk dan menyapa saya dengan sopan.

”Laila kembali, tapi mungkin untuk pamit pergi,” bisik saya.

Istri saya menjawab acuh tak acuh.

”Sudah waktunya dia menghargai dirinya sendiri!”

Hari berikutnya, seminggu, sebulan dan seterusnya, Laila tetap bekerja. Ia selalu datang tepat waktu. Lewat dengan anak dan motor baru, memasuki halaman rumah kami ia kelihatan tegar. Tidak pernah menangis lagi. Rupanya terapi kejut dari istri saya sudah membuatnya menjadi orang lain.

Tapi kalau diperhatikan ada sesuatu yang hilang. Laila tidak pernah lagi menggumamkan lagu Nike Ardila. Kadang-kadang dia termenung dan kelihatan hampa.

Ketika gajinya dinaikkan, Laila tersenyum, mencium tangan istri saya, tapi tidak lagi meneteskan air mata. Saya jadi penasaran.

”Laila, kenapa kamu kelihatan tidak terlalu gembira?”

”Saya gembira gaji saya dinaikkan Ibu, terima kasih, Pak.”

”Kamu naik motor mulus yang membuat iri orang-orang lain. Anak kamu senang dan sehat. Saya dengar saudara misan kamu sudah tidak di rumah kamu lagi. Suami kamu juga sudah tidak berani lagi memukul dan berbuat semena-mena. Betul?”

”Betuk, Pak.”

”Tapi kenapa kamu kelihatan susah?”

Laila menunduk.

”Kenapa kamu sedih?”

”Ya, Pak, karena sekarang saya tidak akan bisa masuk surga.”

***

Kompas, 11 Agustus 2009
Download cerpen ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook