Friday, January 29, 2010

Penjaga Malam Tiang Listrik SGA

Penjaga Malam dan Tiang Listrik

Cerpen Seno Gumira Ajidarma


Ia selalu menjaga malam, agar malam tetap menjadi malam seperti yang paling dimungkinkan oleh malam. Ia menjaga malam, agar bulan tetap menjadi rembulan seperti yang dipandang manusia dari bumi setiap malam. Ia menjaga malam, agar tikus tetap menjadi tikus yang keluar dari got, merayap di tengah pasar, mencari makanan dalam kegelapan. Itulah tugas sang penjaga malam, betul-betul menjaga malam yang kelam agar tetap menghitam, sehingga bayang-bayang bisa berkeliaran tanpa pernah kelihatan, mengendap-endap tanpa suara dalam penyamaran.

Malam memang selalau samar dan ia harus tetap menjaganya agar tetap samar-samar. Segala seuatu serba samar-samar di malam hari, seperti kita melihat pencuri, tapi tidak pernah tahu bahwa bagaimana ia mencuri. Adalah menjadi tugasnya agar sepanjang malam yang kelam para pencuri tetap bisa bergerak bebas dalam kegelapan, berkelebat menghindari cahaya bulan, menyelinap ke balik pohon-pohon hitam, merayap di tembok seperti cecak, membongkar jendela, dan memasuki ruangan. Malam tanpa pencurian bukanlah malam. Malam tanpa pengkhianatan bukanlah malam. Tugasnya adalah menjaga agar malam tetap menjadi kegelapan yang menguji kesetiaan.

Beberapa Saat menjelang tengah malam, dalam kegelapan dan embun malam, ia akan keluar dari gardu, melangkah dari rumah ke rumah untuk mengetahui apakah semuanya berjalan seperti malam. Dari sebuah jendela ia akan mendengar blues, dari jendela lain ia akan mendengar tangisan, dan dari jendela lain lagi akan didengarnya lenguhan tertahan-tahan dalam permainan cinta yang menggetarkan. Ia akan berjalan perlahan-lahan sepanjang kompleks perumahan yang sepi, memperhatikan bagaimana cahaya bulan menyepuh aspal jalanan, mendekati tiang listrik.

Akan diusapnya tiang listrik itu, dan mipukulnya tiang listrik itu dengan batu, sampai dua belas kali.

Tentu saja ini menimbulkan sejumlah pertanyaan: apakah yang membuatnya begitu perlu untuk memukul tiang listrik itu sampai dua belas kali? Apakah memang para penghuni kompleks itu meras begitu perlunya untuk mengetahui waktu pada tengah malam? Jika mereka ingin mengetahui waktu, apakah mereka sendiri tidak punya arloji di dekat tempat tidur, wekerm atau jam dinding dengan burung di dalamnya yang akan keluar dan berkukuk dua belas kali saat tengah malam? Apakah memang menjadi tugas seoarng penjaga malam untuk memukul tiang listrik dari jam ke jam? Tidakkah semestinya ia menjaga ketenangan agar tidak seorang penghuni pun terbangun selewat tengah malam hanya karena mendengar tiang listrik dipukul orang? Itulah pertanyaannya: mengapa seorang penjaga malam harus memukul tiang listrik setiap jam? Penjaga malam itu selalu memukul tiang listrik dengan batu dari jam ke jam. Setiap kali ia memukul rtiang listrik dengan batu, selalu ada saja penghuni kompleks perumahan itu terbangun, meski tidak bertanya-tanya lagi apa memang ada orang yang begitu perlunya mendengar tiang listrik dipukul seorang penjaga malam untuk mengetahui jam.

Sejam telah berlalu. Tiba saatnya penjaga malam itu harus memukul tiang listrik sebanyak satu kali saja. Ia keluar dari gardunya, melangkah ke tiang listrik terdekat. Namun seorang lelaki yang tidak dikenalnya berdiri di dekat tiang listrik itu.

“Maaf, saya mau memukul tiang listrik itu,” katanya.

Lelaki itu tidak beranjak.

“Aku ada di sini memang untuk menghalangimu, wahai penjaga malam.”

Lelaki itu tersenyum-senyum mendekapkan tangan. Ia bersandar di tiang listrik sambil memperhatikan sikp penjaga malam.

Adapun penjaga malam itu hanya memikirkan waktu. Ia harus memukul tiang listrik satu kali tepat pada pukul 01:00. Jika terlambat, ia tidak tahu caranya memukul tiang listrik untuk mengabarkan waktu telah tiba pada pukul 01:01. Ia juga tidak pernah dan tidak akan pernah bisa melompatinya sampai pukul 02:00 saja. Tidak mungkin. Tidak akan pernah mungkin. Kecuali dunia kiamat – tapi sekarang kan belum?

Waktunya tidak banyak. Ia berlari ke tiang listrik yang lain, tapi tiba-tiba saja lelaki itu sudah berada di tiang listrik juga, memang dengan sengaja menghalanginya.

Penjaga malam itu merasa sangat gelisah. Ia berlari lagi ke tiang listrik lain. Ternyata lelaki itu pun sudah ada di sana. Wajahnya tersembunyi di balik topi lebar, mendekapkan tangan tenang-tenang, tersenyum-senyum melihat kegelisahan penjaga malam itu masih bisa melihat senyum dikulum pada mulutnya yang mengejek.

Waktunya tinggal sedikit.

“Minggirlah,” katanya, “aku harus memukul tiang listrik itu satu kali.”

Lelaki itu tidak minggir, dari mulutnya masih terlihat senyuman, yang bukan hanya mengejek, tapi juga menghina.


Penjaga malam itu mengambil pisau belati yang selalu tergantung di pinggangnya. Senjata tajam itu sudah berkarat, maka tidak ada yang berkilat di bawah cahaya bulan.

“Minggirlah, aku tidak punya waktu lagi,” katanya.

Lelaki itu tidak beranjak.

“Aku di sini untuk menghalangimu,” katanya. “Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan.”

Penjaga malam itu menggerakkan pisaunya.

Kemudian, seorang perempuan yang tidak bisa tidur karena patah hati, mendengar tiang listrik dipukul batu sebanyak satu kali. Suaranya bergema di tengah malam yang sunyi. Tepat pada waktunya.***

Pondok Aren, Jumat 15 November 2002
Sumber: Koran Tempo, Minggu 16 Februari 2003.

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Wednesday, January 27, 2010

Cerpen Mbah Danu Nugroho Notosusanto

MBAH DANU

Cerpen Nugroho Notosusanto

Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib.

Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu "didiami" oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu.

Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan.

Menurut kabar-kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita radio, Mbah Danu sedang turne. Routenya adalah Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, dan kembali ke Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir pulang. Dan benar, ketika Nah tengah mengeong-ngeong seperti kucing kasmaran, Mbah Danu datang membawa koper besi yang sama antiknya dengan yang punya.

Dia tembusi badan Nah dengan pandang membara sambil mengelilingkan susur besar di dalam mulutnya. Nah mengigau dengan mata tertutup, buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua. Wajahnya pucat seperti kain mori.

"Ambilkan sapu lidi!" perintah Mbah Danu dengan sikap Srikandi wayang orang. Kemudian ia mencengkeram lengan Nah dan menyeretnya dari tikarnya ke lantai. Sapu lidi datang. Ukurannya istimewa besar, karena Pak Jaksa mempunyai 60 pohon kelapa di pekarangannya. Mbah Danu memegang sapu lidi itu pada ujungnya yang lunak, kemudian bongkotnya yang garis tengahnya kira-kira 10 cm itu dia ayunkan ke atas dan dia pukulkan sekuat tenaga ke pantat Nah yang terbaring miring. Segenap hadirin melotot matanya dan megar kupingnya melihat dan mendengar pukulan dahsyat itu.

"Ngeoooong!" keluar dari mulut Nah mendirikan bulu-bulu di kulit penonton.

"Mampus engkau sekarang!" seru Mbah Danu bengis dan sapu lidi terus-menerus menghantam pantat Nah dengan irama rhumba. Nah tidak mengeong lagi sekarang, melainkan mengaum seperti singa sirkus yang marah. Sebagian hadirin mau lari.

"Minggat! Ayo minggat!" teriak Mbah Danu dengan amat murka dan dengan tendangan jitu Nah ditengkurapkannya. Kemudian deraannya menghujam pula pada pantat Nah yang kini sadar, bahwa ia manusia Nah, bukan kucing, anjing, kuda atau singa.

"Aduh biyuuuuuung! Aduh biyuuuuuuung!!" tangisnya menggaung.

"Minggat! Minggat! Minggat!!" suara Mbah Danu menggelora sampai tetangga-tetangga dan pelintas-pelintas mengalir masuk ke rumah itu untuk menyelidiki sebab-sebab suara ngeri yang mereka dengar.

"Aduuuuuh! Aduh, aduh, aduuuuuh!" pekik Nah seperti manusia biasa.

"Minggat! Minggat! Ayo minggat!!" jerit Mbah Danu senyaring-nyaringnya sambil memukul dengan tangan kanan dan menggenggam susur di tangan kiri. Air ludahnya memercik merah ke lantai dan badan Nah dalam setengah lingkaran yang radiusnya 11/2 meter.

"Salah hamba apa kok disuruh minggat dan dihajar?" Tanya Nah sambil menangis dan ia mencoba merangkak.

Sikap Mbah Danu sekaligus berubah.

"Aku bukannya berbicara kepadamu, Nah," katanya dengan suara mineur yang lembut. "Aku mengusir setan-setan di dalam badanmu."

Sebagai pengeras perkataan yang terakhir, ia tegak sekali lagi serta memukulkan sapu lidi itu sedemikian kerasnya ke badan Nah, sehingga si sakit rebah ke lantai dan mengerang. Peluhnya bercucuran dan menguyupkan pakaiannya.

"Ha! Hampir modar engkau sekarang!" seru Mbah Danu dengan ganas sambil melangkah maju dan menginjak tubuh Nah dengan kedua kakinya. Selama 5 menit ia mondar-mandir di atas badan Nah sampai napas si sakit seperti ububan pandai besi bunyinya. Kedua lengannya diacung-acungkan untuk mempertahankan keseimbangan. Gerak-geriknya persis seperti Batari Durga yang menari di atas mayat manusia. Setelah sudah, ia menelentangkan badan Nah yang keringatnya membuat lantai mengkilat basah dan mukanya kini merah padam.

Mbah Danu berdiri dan memberi isyarat supaya para penonton yang tak berkepentingan mengundurkan diri. Pintu ditutup dan ia kembali kepada pasiennya. Dengan gerakan-gerakan tangkas pakaian si sakit dibukanya dan kemudian seperti orang kegila-gilaan ia meremas-remas seluruh badan Nah, sambil menggelitik si sakit pada tempat-tempat yang penuh rasa geli. Dan mula-mula Nah menggelepar-gelepar, akhirnya kegelian seperti perawan yang sehat. Seperempat jam Mbah Danu meraba-raba tubuh pasiennya, kemudian ia melepaskannya dan tegak pada lututnya.

"Setan-setan sudah lari dari badanmu, Nah," katanya tenang. "Engkau telah sembuh." Dan di hadapan mata hadirin, Nah yang tadi sudah seperti setengah mati duduk bersandar pada dinding dan tersenyum seperti orang bangun tidur.

"Tidurlah saja dulu sampai besok," kata Mbah Danu lebih jauh sambil membaringkan dan menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit kepala Nah, kemudian memercikkan ludah sedikit dari mulntnya pada dahi si sakit. Setelah itu ia berdiri dan ke luar untuk rneminuni kopinya.

Prabawa Mbah Danu di rumah Pak Jaksa yang jadi sebagian prabawanya di daerah yang terentang dari Kudus sampai Tuban, dari Bonang sampai ke Randublatung, mengalami tantangan, ketika Mr. Salyo Kunto, salah seorang menantu Pak Jaksa, bersama istrinya mengunjungi mertuanya. Beberapa hari sesudah kedatangannya, Nyonya Salyo sakit kepala dan pegal-pegal tubuhnya. Bu Jaksa, sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu.

"O, ada sedikit angin jahat bersarang di dalam, Raden Ayu," kata Mbah Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya Salyo sendiri. "Coba buka baju saja; akan saya usir." Dan Mbah Danu mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekankannya ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sekali dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangannya sehingga angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup. Setelah itu, punggung dan tengkuk mendapat giliran, dan dengan lega Nyonya Salyo bersendawa. Kemudian Mbah Danu melakukan kombinasi kedua pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari bawah dengan berletusan. Justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan ke tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu diperintahkannya keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya.

"Engkau tahu bukan, bahwa pijetan itu bisa merusakkan rahimmu?!"

Sebagai akibat insiden itu, Mbah Danu tak diizinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kekalahan bagi Mbah Danu. Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada waktu-waktu lainnya kedaulatanMbahDanu tetap utuh.

Clash ke-2 antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung berhadap-hadapan, terjadi, ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang setengah umur, sakit keras, justru ketika menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rembang, Pak Jaksa dan Bu Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika Mbok Rah sudah mulai mengigau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab. Sangat kebetulan Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danu yang tidak punya mobil. Sehingga yang beraksi tangan di stetoskop. Dokter Umar, bukan tangan dan air ludah Mbah Danu.

"Malaria," diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang gelap. Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petunjuk-petunjuk lain tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang.

Penyakit Mbok Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetangga-tetangga yang dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan mereka mendesak, agar supaya Mbah Danu dipanggil. Tetapi sebagai jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dengan menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap tinggal netral, tetapi, sebagaimana juga di dalam politik ia dipandang dengan marah oleh kedua pihak yang bertentangan. Namun ia tetap mempertahankan politik bebas yang pasif itu.

Dokter Umar Chattab heran.

"Kininenya sudah Tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?" tanyanya.

"Ya," jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. "Saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah."

Dokter Umar Chattab pulang dengan tidak mengubah ketetapannya. Hanya saja ia berpesan, agar supaya waktu menelan pil si sakit diawasi sungguh-sungguh.

Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi ia mati.

Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas meskipun tak ditujukan secara langsung. Dengan tak dipanggil, Mbah Danu datang sendiri. Mr. Salyo mengundurkan diri ke dalam kamar tamu. Asbaknya penuh dengan puntung sigaret.

"Kita telah berbuat sebaik mungkin," kata Nyonya Salyo menghibur suaminya.

"Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal?!" seru Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab.

"Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan!" katanya lagi.

"Inna li'llahi wa inna illahi raji'un," kata Nyonya Salyo.

Ketika fajar menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya ke luar. Mr. Salyo dan nyonya ikut menyaksikan pengambilan jenazah dari dalam kamar tempat ia dan Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan Mbah Danu. Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu di dalam hati kecilnya cenderung kepada ayah-bundanya, tetapi merasa harus solider dengan kekecewaan suaminya.

Hawa di dalam kamar itu pengap, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo membukajendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari pagi masuk dengan gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul di ambang pintu, Mbah Danu. Matanya membara. Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin. Ia menghela napas panjang dan melemparkan pandang terakhir kepada bale-bale tempat semalam jenazah terbaring. Dengan sangat tiba-tiba ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale Mbok Rah.

7-7-1954
Sumber: Kumpulan Cerpen Tiga Kota
Download cerpen ini KLIK di sini

Monday, January 25, 2010

Empat Buku Hamsad Rangkuti

Empat Buku 40 Hari

Cerpen Hamsad Rangkuti

Pelayat melingkari rosbang kosong itu. Si suami masih belum juga pulang dari menjemput jenazah istrinya. Tadi sore kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa si istri.

Lima hari yang lalu aku duduk di bawah tenda di depan rumah yang sama. Aku ditugaskan membalas pantun bila dari pihak wanita ada yang melempar pantun. Begitu upacara penyambutan selesai aku duduk di bawah tenda. ''Pantun-pantun Anda hebat. Anda cekatan membalas pantun pihak pengantin wanita.''

''Terimakasih.''

''Kulihat, pengantin pria itu tua. Apakah dia kaya jemaah?''

Kupandang wajah lelaki itu. Wajahnya bersih. Dia muda. Mungkin dia dari jenis orang yang suka bermain kata.

''Aku tak mengerti maksudmu, kaya jemaah?''

''Sekarang semua telah berubah. Waktu aku di kampung, di masa aku mengaji, tak pernah ustad kami mengarahkan kami berzikir dalam sedu-sedan air mata. Maksudku, sekarang ini, bagi para penganjur akhlak untuk terbuka pintu surga, makin kaya jemaah, makin kaya materinya, makin terbuka kesempatan baginya menambah istri muda.''

Aku semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan orang ini. Apakah sebelum ke sini dia menenggak miras? Aku pun jadi terpancing ikut ngomong seperti baru menenggak minuman keras.

''Memang, semua sudah berubah. Surga tidak lagi di bawah telapak kaki Ibu, tapi sudah di bawah telapak kaki Mama.''

''Mama dipakai anak orang-orang kaya. Golongan menengah ke atas. Jadi, supaya negeri kita ini makmur, kaya seperti pemakai kata Mama, Ibu Pertiwi sebaiknya dirobah menjadi Mama Pertiwi.''

''Kembali kepertanyaan saya tadi, apakah pengantin pria ini dari jenis semacam itu? Kaya jemaah?''

''Oh tidak. Dia tidak dari jenis semacam itu, penganjur akhlak untuk terbuka pintu surga. Dia orang biasa. Dia miskin jemaah.''

''Kulihat dia sudah berumur.''

''Tua maksudmu? Apa ada yang salah bila dia tua? Ini adalah pernikahan setelah istrinya meninggal tiga bulan yang lalu. Cukup lama dia menduda. Apa ada yang salah dengan umur seorang pengantin pria?''

''Oh tidak. Tidak ada yang salah. Cuma saya bertanya-tanya, apakah dia masih bisa? Oh maaf, maksudku, umpama petani, apakah dia masih bisa membenam bajak? Pengantin perempuan itu perawan.''

Pertanyaan yang tak berakhlak. Kupandang lagi wajahnya. Dia memang muda. Tidak ada salahnya kalau dia meragukan kemampuan orang tua. Dia senyum menanggapi reaksiku yang tak suka. Dia seperti hendak menarik pertanyaannya. Dia mungkin sadar, sebaiknya dia tidak mengajukan pertanyaan seperti itu.

''Mengapa? Anda ragu akan kemampuan orang tua? Aku tau, dia akan masuk ke dalam malam pertama seorang perawan.''

''Aku tetangga pengantin wanita. Apakah si tua itu kaya?''

''Tidak sekaya yang mungkin Anda duga. Aku tetangganya. Aku tahu betul siapa dia. Seorang pensiunan pegawai negeri. Uang pensiunnya cukup untuk mereka berdua. Semua anaknya sudah menikah. Tinggal di rumah mereka sendiri-sendiri. Impiannya akan istri selalu datang dalam tidurnya. Sepuluh tahun dia rawat istrinya di tempat tidur dan kursi roda. Tiga bulan yang lalu istri itu meninggal. Coba Anda bayangkan. Sepuluh tahun tiga bulan dia menduda! Tentu Anda paham apa yang saya maksud. Dan dia adalah lelaki yang taat pada agamanya. Dia punya pensiun. Dia tidak ingin kalau dia sakit, atau renta, bukan muhrim yang merawatnya.''

''O begitu. Sepuluh tahun istrinya sakit. Selama itu pula dia menduda? Lalu ditambah tiga bulan. Aku faham, aku bisa menangkap maksud Anda.''

''Apa yang engkau ketahui mengenai pengantin wanita? Engkau katakan, engkau tetangganya.''

''Dia gadis tua di kampung ini. Dia tidak laku-laku. Ayahnya sangat memilih. Dia tidak ingin nasib kakak-kakaknya terulang pada anak bungsunya itu. Dia ingin menantu terakhirnya seorang pegawai, sukur-sukur kalau yang melamar itu pegawai negeri. Tetapi harapan itu tak pernah datang. Gadis itu pun menjadi tua. Tadi Anda bilang lelaki itu pensiunan pegawai negeri. Mungkin itu pula yang menjadi pertimbangan si Ayah. Menantunya pensiunan pegawai negeri.''

Pada malam ke-40 aku datang menghadiri malam tahlilan di rumah duda tua itu. Kepada kami diberikan buku Yasin, yang diterbitkan untuk mengenang 40 hari wafat sang istri. Malam tahlilan itu terasa seperti malam peluncuran buku duka. Kubuka buku Yasin itu. ''Ya Allah ampunilah dosanya, limpahkanlah rakhmat kepadanya, hapuskanlah segala kesalahannya, muliakanlah tempatnya dan lapangkan pintu baginya, maafkan segala kekeliruannya.''

Di halaman berikut, ''Mengenang 40 hari wafatnya Istri, Ibu, Nenek Kami yang tercinta. Siti Rohimah Binti HM Djailani. Lahir di Condet Balekambang, Jakarta Selatan, 20 Agustus 1975. Wafat di Poltangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 29 November 2006.''

Di halaman berikutnya tercetak foto almarhumah dalam warna sempurna dan dalam bulatan yang dilingkari ornamen kaligrafi Arab.

Di halaman yang lain ada kata pengantar dari keluarga mengenai almarhumah yang disampaikan oleh sang suami, RM Sarman Bin Toyib. Di halaman lain ada Hadits riwayat Imam Bukhari & Muslim. Rasulullah SAW bersabda: Bila seseorang telah meninggal, terputus untuknya pahala segala amal, kecuali dari tiga hal yang tetap kekal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakannya.

Di halaman-halaman lain memuat Surat Al-fatihah, Surat Al-Ikhlaash, Surat Al-Falaq, Surat An-naas, Ayat Kursi, Surat Yaasiin, Tahlil, Doa Tahlil, dan berbagai tuntunan shalat. Juga berbagai macam doa yang bisa dipilih pemakainya sesuai kebutuhan.

Aku tak tahu awal mulanya buku duka semacam itu diterbitkan kelurga untuk mengenang kematian seseorang setelah 40 hari kematiannya. Aku juga tak tahu apakah buku semacam itu dianjurkan agama untuk diterbitkan?

Waktu pamit kujabat tangan duda tua itu. Aku mengulang apa yang pernah kuucapkan 40 hari yang lalu sebagai ungkapan belasungkawa.

''Tabahlah. Bukan main berat cobaan yang Allah beri kepada Bapak. Hanya lima hari Allah beri waktu bulan madu untuk Bapak.''

''Tunggu. Jangan pulang lebih awal. Ada yang ingin kutunjukkan.''

Aku tertahan di ruang tamu. Setelah tinggal sendiri, dia menarik tanganku ke ruang dalam.

''Saya telah menerbitkan empat buku untuk empat istri. Untuk meyakinkan, mari ikut aku.''

Aku jadi terpaku. Dia masuk ke ruang dalam. Terdengar bunyi engsel berkarat. Dia muncul membawa tiga buku kecil yang tipis. Dia buka buku-buku itu menurut urutan tanggal dan menunjukkannya kepadaku. Buku pertama memuat foto seorang perempuan dalam lingkaran bulat telur dan namanya sebagai suami yang berduka.

Buku kedua demikian pula. Dia perlihatkan foto istri keduanya dan namanya di halaman yang lain. Kemudian dia buka halaman buku ketiga, foto istri ketiga yang wajahnya cukup kukenal, meninggal tiga bulan yang lalu. Dengan buku yang ada di tanganku, duda tua itu telah menerbitkan empat buku 40 hari mengenang istri-istri tercintanya.

''Cukuplah empat buku. Jangan terbitkan buku kelima.''

''Pikiran ke arah itu selalu menggoda. Aku pensiunan pegawai negeri. Semasa dinasku aku tak pernah menyelewengkan uang negara. Kesempatan untuk itu cukup terbuka. Tetapi tidak aku gunakan. Aku sekarang ingin mendapat lebih dari pengabdian yang bersih itu. Aku tidak ingin tinggal di rumah jompo. Aku tidak ingin yang bukan muhrim mengurus hari-hari tuaku. Mengurus hari-hari pikunku. Aku tak ingin merepotkan anak dan cucu-cucuku. Kalau aku meninggal, aku ingin ada janda yang meneruskan uang pensiunku.''

''Kalau begitu, tidak menutup kemungkinan akan terbit buku duka yang kelima.''

''Kalau dia yang lebih dahulu. Kalau aku? Mungkin itu merupakan buku duka pertama baginya, kalau dia belum pernah ditinggal mati suami. Adik perempuanku memutuskan tidak ingin ada buku kedua, walau dia masih muda. Dia manfaatkan setatus jandanya. Janda seorang Jendral. Dia tidak menikah lagi. Tiap bulan dia hidup dengan uang pensiun almarhum suaminya. Pensiun seorang jendral.''

Sumber: Republika 01 Juli 2007

Friday, January 22, 2010

Seloka: Salah Satu Bentuk Puisi Melayu Klasik

Mengenal Seloka

Seloka adalah salah satu bentuk puisi Melayu Klasik disamping mantera, bidal, pantun, gurindam, atau syair. Kata seloka beasal dari bahasa Sansekerta “sloka”. Ada berbagai pengertian seloka. Beberapa pengertian tersebut adalah sebagai berikut:

Menurut B. Simorangkir, seloka adalah peribahasa (pepatah) yang diberi sampiran. Lebih lanjut Simorangkir member contoh seloka sebagai berikut.
Anak Agam menjual sutera
Jual di Rengat tengah pekan
Jangan digenggam sebagai bara
Rasa hangat dilepaskan


Sementara menurut Hooykaas, seloka diartikan sebagai pantun yang mengandung kisahan/ibarat dan berisi nasihat. Hooykaas member contoh seloka sebagai berikut:
Terkelip api atas gunung
Orang memarun sarap balai
Maksud hati memeluk gunung
Apa daya tangan tak sampai


Lain lagi pengertian seloka menurut Amir Hamzah. Amir Hamzah mendefinisikan seloka sebagai pantun yang antara sampiran dan isinya terjadi hubungan arti.

Amir Hamzah memberi contoh seloka sebagai berikut

Jalan-jalan sepanjang jalan
Singgah-menyinggah di pagar orang
Pura-pura mencari ayam
Ekor mata di mata orang


Wikipedia mengartikan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang berisi pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Wikipedia menyajikan contoh seloka sebagai berikut
contoh seloka 4 baris:
Sudah bertemu kasih sayang
Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang


contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui


Sedangkan Melayu online hampir senada dengan Wikipedia menjelaskan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang memuat perumpamaan yang mengandung senda gurau, kejenakaan, khayalan, impian, sindiran, atau ejekan.

Seloka biasanya ditulis dalam dua atau empat baris namun juga terkadang beberapa ditemukan enam baris dengan memakai bentuk pantun atau syair, gurindam, talibun (bahasa berirama), teromba atau mantra. Jika terdiri dari dua bait maka akan tersusun menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari empat baris dengan masing-masing baris terdiri dari 16 kata.

Dalam Sastra Melayu, seloka termasuk dalam jenis puisi bebas. Terkadang rima dapat muncul namun beberapa tanpa ada rima. Secara keseluruhan, seloka berisi cerita yang benar-benar telah dikenal dalam masyarakat Melayu, seperti Pak Kaduk, Lebai Malang, dan lain-lain.

Fungsi seloka tetap seperti karya-karya sastra Melayu yang lain, yaitu sebagai pengajaran ataupun panduan bagi anggota masyarakatnya.
Contoh seloka
Seloka Pak Kaduk

Aduhai malang Pak Kaduk!
Ayamnya menang kampung tergadai
Ada nasi dicurahkan
Awak pulang kebuluran
Mudek menongkah surut
Hilir menongkah pasang
Ada isteri dibunuh
Nyaris mati oleh tak makan
Masa belayar kematian angin
Sudah dilabuh bayu berpuput
Ada rumah bertandang duduk
Aduhai malang Pak Kaduk

Salah satu sindiran di dalam seloka tersebut adalah “Ayamnya menang kampung tergadai.” Lazimnya jika ayamnya menang maka pemilik ayam akan memperoleh hadiah. Hal ini berbalik dengan apa yang dialami Pak Kaduk, sudah ayamnya menang dia harus kehilangan taruhannya yaitu kampungnya. Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan ringkasan ceritanya di bawah ini:
Cerita Pak Kaduk, merupakan cerita yang mengisahkan sepasang suami-istri yang bernama Pak Kaduk dan Mak Siti. Kisah ini terjadi di wilayah negeri Cempaka Sari, yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Indera Sari. Raja dan masyarakatnya hidup dalam lingkungan perjudian. Salah satu kegemaran Raja Indera Sari adalah menyabung ayam

Di dalam wilayah ini ada sepasang suami isteri, Pak Kaduk dan Mak Siti yang hidup di tepi sungai dalam keadaan miskin. Pada suatu hari, Pak Kaduk berkeinginan juga untuk ikut menyabung ayam di kerajaan. Ia membawa ayamnya yang bernama Biring Si Kunani. Dia begitu yakin dengan ayamnya ini akan memenangkan pertandingan dengan ayam-ayam di istana. Pak Kaduk mempersiapkan pakaian dari kertas dan meminta istrinya untuk menjahit pakaian tersebut. Setelah bajunya jadi, Pak Kaduk pergi ke gelanggang sabung. Dengan tipu muslihat yang dilakukan oleh Raja, ayam Pak Kaduk telah ditukar dengan ayam milik baginda yang bernama Si Jalak. Karena keyakinannya, Pak Kaduk tanpa pertimbangan dengan matang mempertaruhkan kampungnya kepada Raja dengan uang sejumlah 50 rial.

Dalam pertandingan tersebut ternyata Biring Si Kunani telah menewaskan Si Jalak. Pak Kaduk tidak tahu bahwa ayamnya telah ditukarkan dengan ayam Baginda. Pak Kaduk melompat-lompat kegirangan karena Biring Si Kunani yang telah menjadi milik Raja disangka ayamnya. Dengan tingkahnya yang melompat-lompat kegirangan membuat bajunya yang dari kertas robek semua sehingga dia menjadi telanjang. Melihat kejadian tersebut Sang Raja dan orang-orang di sekitarnya mentertawakan Pak Kaduk. Akhirnya Pak Kaduk menyadari bahwa semua yang dia kerjakan merupakan tindakan yang salah besar, sehingga dia menyesal atas semua tindakan tersebut.

Ada yang lain lagi, menyamakan seloka dengan pantun berkait.

Download materi ini?

Wednesday, January 20, 2010

Gincu Merah Eka Kurniawan

Gincu Ini Merah, Sayang

Cerpen Eka Kurniawan

Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga,” katanya, setelah keterkejutannya reda.


“Katakan itu nanti kepada suamimu,” seorang petugas menjawab.

Ini pasti malam yang buruk, pikirnya. Para petugas itu bicara mengenai peraturan daerah tentang pelacuran dan memperlakukannya seolah-olah ia pelacur. Dalam hatinya, ia mengakui pernah menjadi pelacur, tapi malam ini ia berani bersumpah bahwa dirinya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia belum punya anak memang, Tuhan belum memberinya, tapi ia punya suami. Para petugas tak menggubris soal itu. Menurut mereka, semua pelacur selalu merasa punya suami dan mengaku hanya seorang ibu rumah tangga.

Bersama gadis-gadis dari bar, mereka membawanya ke kantor polisi dan memperoleh interogasi sepanjang malam. Ia meminta gadis-gadis itu membantunya meyakinkan para petugas bahwa dirinya bukan bagian dari mereka. Tapi tiga tahun berlalu dan ia tak lagi mengenali gadis-gadis itu, demikian pula mereka tak mengenalinya. Semuanya gadis baru dan ia tak menemukan teman-teman lamanya di antara mereka. Gadis-gadis itu tak punya gagasan tentang siapa perempuan itu dan apa yang dilakukannya di pintu Beranda pada pukul setengah dua malam.

Menjelang subuh, tanpa tertahankan Marni akhirnya menangis. Ia kembali memohon minta dibebaskan, berkata bahwa suaminya pasti akan merasa kehilangan dan barangkali kini tengah mencari-carinya. Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, “Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu.”

“Tetapi, suamiku tak tahu aku ada di sini,” katanya.

“Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?”

Sejujurnya ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya. Beruntunglah menjelang pagi seorang perempuan dari dinas sosial berbaik hati menghubungi suaminya. Setelah bicara dengan Rohmat Nurjaman, suami Marni, perempuan dari dinas sosial itu kemudian berbaik hati mengantarkan Marni pulang. Penuh rasa syukur Marni mencuci muka, menaburkan bedak yang dipinjam dari seorang gadis bar ke mukanya, dan memoleskan gincu ke bibirnya. Ia akan pulang dan bertemu kembali dengan suaminya.

Namun, sesampainya di rumah, selepas kepergian perempuan yang mengantarnya, Marni dihadapkan pada keadaan yang tidak lebih baik. Di atas sofa, tergeletak koper berisi barang-barangnya. Rohmat Nurjaman berdiri di pintu kamar, memandang wajah istrinya, terutama gincu di bibir Marni dengan sejenis tatapan kau-laksana-perempuan-binal, berkata pendek, “Sebaiknya kita bercerai saja.”

Marni ingin menjelaskan, tetapi tak tahu apa yang harus dijelaskan. Dan, Rohmat Nurjaman tampaknya tak menginginkan penjelasan.

Sebenarnya Rohmat Nurjaman tak suka melihat istrinya mempergunakan gincu. Tapi jika ia melarangnya, dan kemudian mengemukakan alasannya, ia khawatir itu akan menyinggung perasaan istrinya. Marni pasti tak suka jika kepadanya ia berkata, “Dengan gincu itu kau tampak serupa pelacur.”


Masalahnya, ia memang menemukan istrinya di satu tempat remang-remang beberapa tahun lalu. Tentu saja itu masa lampau dan mereka telah bersepakat melupakannya. Itu masa-masa ketika Rohmat Nurjaman bersama tiga temannya menghabiskan malam-malam di beberapa bar dangdut yang berserakan di sepanjang Jalan Daan Mogot. Di sanalah Rohmat Nurjaman berkenalan dengan Marni.

Awalnya hubungan mereka merupakan pertemuan ganjil antara pelanggan dan pelayan. Seperti semua orang tahu, gadis-gadis yang bekerja di tempat serupa itu selalu akan mempertahankan pelanggannya agar tidak diambil gadis lain. Ini menyangkut penghasilan tambahan mereka yang kenyataannya lebih besar daripada upah yang dibayarkan pemilik bar. Tak jarang timbul cekcok di antara gadis-gadis itu jika seorang dari mereka menyerobot pelanggan milik gadis lain. Biasanya ini terjadi dengan gadis baru atau pelanggan yang lama tak muncul.

Bagi pelanggan sendiri, paling tidak bagi Rohmat Nurjaman kala itu, kecenderungan gadis-gadis tersebut juga menguntungkannya. Ini memberinya jaminan setiap kali datang ke bar tersebut, ia akan memperoleh seorang gadis. Percayalah, tak menyenangkan berada di tempat serupa itu, dengan biduan bernyanyi di atas panggung kecil dan bir di atas meja, tanpa seorang gadis bergelayut di sampingmu.

Begitulah, setiap kali ia datang ke Beranda, salah satu bar dangdut di daerah tersebut, Rohmat Nurjaman akan ditemani Marni. Bisa dihitung dengan jari kunjungan Rohmat Nurjaman tak membuatnya bertemu dengan Marni. Biasanya itu terjadi saat jatuh hari libur si gadis, atau si gadis meriang, atau pulang kampung ke Banyumas.

Hubungan ini berkembang menjadi sejenis keseriusan yang menjadi candu. Di siang hari yang penat, dengan udara yang membosankan, sekonyong Rohmat Nurjaman menemukan dirinya mengirimkan pesan pendek kepada gadis itu, “Kamu sedang apa? Nanti malam jangan sama yang lain, aku akan datang.”

Dan suatu pagi, Rohmat Nurjaman menemukan pesan dari si gadis di layar telepon genggamnya, “Mas, nanti malam datang tidak? Aku kangen.”

Tentu saja bukan w aktu yang singkat dalam hubungan mereka yang semacam itu, jika kemudian Rohmat Nurjaman memutuskan mengeluarkan gadis itu dari bar Beranda sekaligus meminangnya. Rohmat Nurjaman pergi ke pedalaman Banyumas ditemani ketiga temannya. Di sana ia menikahi Marni, sebelum membawanya kembali ke Jakarta dan tinggal di sebuah rumah mungil agak di luar kota.

Ternyata itu bukan perkawinan yang mudah. Pada hari-hari pertama perkawinan mereka, Rohmat Nurjaman sering didera mimpi melihat istrinya ditiduri para pelanggan lain di kamar-kamar Beranda. Karena Rohmat Nurjaman tahu di suatu masa mimpinya merupakan kebenaran, ia sering dilanda kecemburuan begitu terbangun dari tidur. Marni juga didera khayalan yang mengganggu, membayangkan suaminya pergi ke Beranda dan meniduri gadis lain. Ini pun pernah terjadi dan mereka berdua tahu.

Kecemburuan itu membawa mereka pada pertengkaran kecil, yang lalu diselamatkan oleh cinta. Suatu hari, di bulan ketujuh belas pernikahan mereka, keduanya berjanji


untuk tak lagi mengenang masa lalu dan mengubur habis semua kecemburuan. Setelah itu segalanya berjalan lebih baik.

Kecuali gincu di bibir Marni.

Ia belajar mempergunakan gincu dari Maridah, perempuan yang saat itu paling tua di bar. Maridah pulalah yang membawanya dari Cibolang, sebuah nama yang tak ada di peta dan hanya akan disebut sebagai “di pedalaman Banyumas”. Banyak gadis-gadis di awal belasan tahun telah dibawa Maridah ke Jakarta dari tempat itu. Sejak awal mereka tahu akan bekerja di bar-bar semacam Beranda, tetapi Maridah meyakinkan mereka dengan berkata, “Kamu tak perlu jadi pelacur di sana, cukup melayani pelanggan minum bir.”

Awalnya memang begitu, tetapi tidak benar-benar begitu. Para pelanggan itu tak hanya ingin dilayani menuangkan bir ke gelas mereka, tetapi minta didampingi. “Temani saja,” kata Maridah. Jadi, ia duduk di samping mereka, ikut minum dan makan cemilan, dan sesekali ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Itu tak seberapa jika tangan para lelaki pelanggan itu bisa diam. Jemari mereka cenderung bergerak, awalnya hanya menyentuh tangan, lama-lama merayap ke segala arah.

Belakangan ia mulai belajar dengan cara itulah ia bisa memperoleh uang lebih banyak. Dan, kemudian tahu, jika ingin memperoleh lebih banyak lagi, ia mesti tidur dengan mereka. Lima bulan selepas itu Marni kehilangan keperawanannya dan hidup nya terus berjalan dari malam ke malam hingga ia berjumpa dengan Rohmat Nurjaman.

Dalam hal-hal tertentu, Rohmat Nurjaman tak berbeda dengan pelanggan lain yang gemar menjamah. Bahkan, lebih buruk karena kadang membayar lebih sedikit. Tetapi, dalam perkara lain, ada hal-hal berbeda yang disukai Marni. Tidak seperti pelanggan lain yang buru-buru mengajak ke lantai atas menjelang pukul lima, di mana terdapat kamar-kamar untuk telanjang, Rohmat Nurjaman lebih suka membawanya keluar selepas bar tutup.

Mereka akan mencari motel dan itu berarti Marni tak perlu berbagi penghasilannya dengan pemilik bar. Itu bukan satu-satunya yang menyenangkan buat Marni. Di motel mereka tak merasa perlu buru-buru, mereka bisa bermalas-malasan hingga pukul dua belas siang. Mereka juga bisa berjalan-jalan di siang hari selepas itu, mencari sarapan yang terlambat. Apa boleh buat, itu membuat mereka lambat-laun mulai jatuh cinta satu sama lain.

Sejarah kecil itu diketahui sepenuhnya oleh Rohmat Nurjaman.

Tiga tahun usia perkawinan mereka, namun Rohmat Nurjaman masih merasa sesuatu mengganjal dalam kehidupannya. Itu adalah gincu di bibir istrinya. Gincu yang sama sebagaimana ia pernah melihatnya di keremangan bar Beranda. Memang ketika mereka mengikrarkan pernikahan, keduanya telah berjanji untuk menjalani hidup baru sebagai suami dan istri, bukan pelayan bersama pelanggannya.

Tetapi, Marni masih mempergunakan gincu yang sama dan dengan cara yang sama Rohmat Nurjaman ingin melarangnya, tapi berpikir jika ia melakukannya, itu hanya


akan mengingatkan kepada masa-masa mereka di bar. Dari pagi ke pagi, dari senja ke senja, gincu itu semakin mengganggunya. Hingga akhirnya Rohmat Nurjaman mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan istrinya sementara ia pergi bekerja.

Rohmat Nurjaman tak pernah berhasil membuktikan kecurigaan atas istrinya. Bahkan, meskipun beberapa kali ia sengaja mendadak pulang, ia selalu menemukan istrinya ada di rumah, menunggunya. Hingga suatu pagi seorang perempuan dari dinas social meneleponnya dan ia merasa memperoleh bukti untuk kemudian menghukumnya tanpa ampun dengan sebaris kalimat pendek:

“Sebaiknya kita bercerai saja.”

Tak ada tempat untuk pergi kecuali ke Beranda. Pemilik bar masih mengenalinya dan memperbolehkan Marni untuk kembali bekerja di sana.

Di tempat itu ingatannya kepada Rohmat Nurjaman malah menjadi-jadi. Saat menemani seorang pelanggan, ia akan mengenang masa ketika mereka bicara tentang banyak hal. Kebanyakan tak dimengertinya, tapi dengan senang hati ia mendengarkan, dan Rohmat Nurjaman tak pernah menuntutnya untuk mengerti. Suatu ketika Rohmat Nurjaman berkata kepadanya, “Banyak perempuan di luar sana, beberapa pernah jadi pacarku, gemar bicara padahal mereka tak mengerti apa pun.”

Ia merasa itu pujian untuknya. Tetapi, saat paling membahagiakan dalam hidupnya adalah malam ketika Rohmat Nurj aman berkata:

“Rasanya aku mencintaimu.”

Sejak itu ia mulai sering berdandan setiap tahu akan bertemu Rohmat Nurjaman. Ia tak tahu banyak hal untuk diberikan kepada kekasihnya, kecuali memamerkan senyum yang tulus berhias gincu.

Hingga tiga tahun perkawinan mereka dan Marni mendapati suaminya berubah. Rohmat Nurjaman sering tak pulang dan tak lagi mencumbunya dengan kegairahan seorang lelaki cabul. Barangkali aku tak lagi cantik, pikirnya. Barangkali karena tak juga kami punya anak, katanya kepada diri sendiri. Atau barangkali suaminya pergi kembali ke Beranda dan menemukan gadis yang lebih manis di sana? Barangkali gadis itu masih empat belas tahun dan mengoleskan gincu lebih tebal di bibirnya? Marni merasa panas namun mencoba membuang kecurigaan tersebut. Meski begitu, suatu malam ketika suaminya tak juga muncul selewat pukul dua belas dan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tak pula menemukan jawaban, perempuan itu memutuskan keluar rumah.

Marni memoleskan gincu ke bibirnya, percaya itu akan membuat Rohmat Nurjaman kembali ke pelukannya. Ia menghentikan sebuah taksi dan minta diantar ke Beranda. Di sana, atas nama peraturan daerah tentang pelacuran, lima orang petugas menangkap Marni. Sejujurnya ia mulai menganggap semua itu hukuman untuknya, yang telah berburuk sangka suaminya pergi ke Beranda untuk meniduri perempuan lain. Menurut dia, itu malam buruk yang diawali pikiran buruk dan ia sungguh menyesal.


Kini, kembali bekerja di bar tersebut, Marni terus memelihara keyakinan bahwa suatu malam suaminya akan muncul, lalu mereka akan memulai semuanya dari awal. Dalam penantiannya, ia masih kukuh pada janji yang tak pernah diucapkannya. Ia tak mengenakan gincu. Seorang gadis dua belas tahun yang baru bekerja di sana pernah menanyakan mengapa ia tak bergincu, dan Marni menjawab:

“Gincu ini merah, Sayang, dan itu hanya untuk suamiku.”

Memang sejak ia jatuh cinta kepada Rohmat Nurjaman, apalagi setelah mereka menikah, ia tak pernah membuat merah bibirnya untuk lelaki lain.

Download cerpen ini KLIK di sini


Contoh Monolog

Monolog Topeng-Topeng

Karya: RACHMAN SABUR

DARI BAGIAN ATAS PANGGUNG ADA DUA BENTANGAN KAIN HITAM DAN KAIN PUTIH. MASING-MASING BERJARAK. DARI DUA BENTANGAN KAIN PUTIH DAN HITAM YANG VERTIKAL INI BISA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS AREA PERMAINAN BAGI SANG PEMAIN. ATAU BISA JUGA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS ALAM NYATA YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN HITAM. DAN BATAS ALAM KHAYALI YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN PUTIH. YANG SEWAKTU-WAKTU BISA DIPAKAI JUGA UNTUK ADEGAN BAYANG-BAYANG. DI DEPANNYA ADA SEBUAH PETI PANJANG BERWARNA HITAM. DI ATASNYA ADA DUA BUAH TOPENG YANG BERWARNA HITAM DAN PUTIH.

PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.

Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?

Kalau saja, saya bisa percaya…, kalau saja kita mau bijaksana sedikit. Tentunya kita dapat membicarakan segala kebohongan yang ada. Segala yang terjadi dan akan terjadi…
Baik. Kalau begitu akan saya mulai saja.

SANG PEMAIN MENGENAKAN TOPENG HITAM. IA BERADA DI LATAR BELAKANG KAIN PUTIH. PADA DIALOG BERIKUT INI, SANG PEMIAN SEOLAH-OLAH SEDANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG. MEREKA SALING BERTATAPAN.

Wajah kita adalah topeng-topeng. Segala wajah semua bertopeng. Ayo! Siapa diantara kita yang bersedia menanggalkan topeng dirinya? Aku tahu wajahmu. Kaupun tahu wajahku yang sebenarnya. Topengku dan topengmu saling menatap penuh kejatahan! Wajah-wajah kita bersembunyi di balik topeng. Topeng-topeng kita bercengkrama di panggung hidup. Lalu kita saling bunuh membunuh! Topengmu dan topengku terus bergerak menarikan kehidupan dan kematian. Bersama para gagak hitam. Yang bersemayam di bukit-bukit kubur.

TERDENGAR KEMBALI BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN DIAM BEBERAPA SAAT. HANYA EKSPRESI TOPENGNYA MASIH MENATAP NANAR. PADA DIALOG SELANJUTNYA, SANG PEMAIN SEOLAH-OLAH SEANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG YANG LAIN. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGHILANG. YANG TERDENGAR HANYA BUNYI PETI YANG DIPUKUL SECARA KONSTAN. SANG PEMAIN DUDUK DI PETI ITU.

Waska! Aku dengar kemiskinanmu di mana-mana. Lapar badan dan lapar jiwa telah membuatmu angkuh! Dan engkau tidak pernah takut mati. Kau dengar Waska? Nasibmu bagai acuan kereta waktu. Berjalan terus berjalan, menyelusuri rel-rel kehidupan yang kumal. Yang telah begitu lama kau kenal.

Waska! Aku lihat borok-borok di seluruh tubuhmu pagi hari. Dan kau sungguh tak peduli matahari! Sementara kau diam membisu di situ, kereta waktumu lewat begitu saja. Tanpa pesan. Perjalan hendak kemana Waska? Dan kau tidak menjawab. Tetap tak peduli.
Waska! Aku lihat sinar di matamu merah menyala-nyala! Waska! Kau dengar? Berjuta-juta orang meneriakkan lapar di belakangmu. Dan aku dengar, siang malam Waska-Waskamu meraung-raung! Mereka menggeram dengan lapar! Mereka menatap nanar! Mereka berkeliaran di mana-mana!

Waska! Mereka gelisah di mana-mana! Mereka kini mengembara keseluruh penjuru kota, mencari-cari kuburnya sendiri, membuat kuburnya sendiri. Lalu tentang mimpi bersarmu, tentang perampokan semesta. Mengendap dalam kekosongan…
Waska! Kini aku melihat kau telah bunuh diri. Kekosongan dan nasibmu, sungguh sempurna.

SANG PEMAIN TIBA-TIBA JATUH DARI ATAS PETI. KEMUDIAN SUNYI. SANG PEMAIN BANGKIT KEMBALI SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA.

Begitulah. Kegelisahan dramatik yang sedang terjadi pada tokoh yang satu ini. Ia telah bertemu dengan tokoh Waska. Seorang tokoh legendaris yang ada dalam lakon sandiwara Umang-Umang. Dimana dalam lakon itu pengembaraan hidup seorang Waska yang jahat, sekaligus sebagai seorang yang baik dapat kita rasakan penderitaannya. Tapi apakah benar Waska itu telah mati? Apakah benar, Waska sebelumnya pernah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa? Dan apakah benar Waska itu gila? Sedangkan menurut kabar burung, katanya sekarang ia lagi memimpin proyek raksasa yang dananya beratus-ratus juta milyar dollar. Untuk lebih jelasnya, baik. Saya akan mencoba menghubungi dia. Mudah-mudahan dia mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang prinsipil dan sangat hakiki itu. Saya percaya, Waska mau memenuhi permintaan sahabatnya. Saya permisi dulu. Waska! Waska! Waska! Waska……!

SANG PEMAIN SEKARANG MENGENAKAN TOPENG PUTIH. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGIRINGI KEMUNCULAN HADIRNYA SEORANG WASKA.

Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, yang profesinya sebagai anak panggung. Kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa nama saya bukan lagi Waska. Nama saya saya sekarang adalah Semar. Siapa bilang saya ini sudah mati? He… he… he… Itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Itu kan sebetulnya hanya trik saja untuk memancing rasa emosi penonton. Untuk merebut simpati pengikut-pengikut saya, dan masyarakat lingkungan saya. Dan itupun saya tidak mati-mati. Saya menjadi sakit di situ. Dan yang paling jelas, itu rekaan pengarangnya. Karena pengarangnya menghendaki demikian, ya sudah.

Sungguh! Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup, kok. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa. Makanya saya masih tetap muda, dan tetap perkasa. Saya betul-betul menikmati kehidupan ini. Setiap detik saya menghirup dan menghembuskan nafas, bagi saya itu adalah kenikmatan, suatu anugerah. Jangan percaya! Itu hanya isu. Orang masih hidup, kok, … dikatakan sudah mati. Bagaimana ini…? Lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan Malaikat Jibril. Bohong itu! Lha, saya hanya pernah bermimpi bertemu dengan Mbah saya. Masa Mbah saya dikatakan malaikat? Itu mengada-ngada, dan itu berlebihan. Jangan-jangan Malaikat Jibril nantinya tersinggung. Mbah saya juga pasti bakal tersinggung dengan fitnah ini.

Baik. Sekarang pertanyaan yang mana, yang belum saya jawab? Oh, ya! Tentang proyek raksasa saya. Memang benar. Proyek ini adalah salah satu dari sekian banyak proyek yang saya kerjakan. Sebetulnya proyek ini adalah proyek kemanusiaan. Dan saya beruntung sekali dapat mengkompensasikannya kedalam bentuk proyek kerohanian, yang semata-mata pengabdian saya terhadap manusia sesama, dan juga pengabdian saya terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Beruntung sekali saya mendapat kepercayaan untuk mengerjakan proyek raksasa ini. Terus terang saja, saya tidak melihat ini sebagai proyek bisnis semata. Tapi ada yang lebih berharga, lebih bernilai dari itu. Yaitu: pengabdian saya terhadap manusia sesama. Juga pengabdian saya terhadap Tuhan saya. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mudah-mudahan proyek ini dapat berjalan dengan lancar, sebagaimana yang diharapkan. Proyek ini juga dapat dikatakan sebagai tanda rasa syukur saya kepada Tuhan, yang telah memberikan rejeki yang berlimpah kepada saya. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Oh… kalau saya teringat kembali kebelakang, kemasa-masa hidup saya yang serba sulit, serba berantakan, serba gelap…, saya jadi teringat kembali kemasa itu.

Tentunya semua orangpun tahu, dulu saya pernah menjadi anak wayang. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kenapa saya berhenti menjadi seorang pemain sandiwara? Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Terlalu sulit untuk dibicarakan. Kalaupun saya harus menjawabnya, mmmhh… alasannya sangat pribadi sekali. Betul-betul sangat pribadi. Jadi lebih tidak usah saya katakan. Maaf. Sekali lagi… maaf. Dan maaf lagi, saya harus segera pergi. Saya ada pertemuan. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya harus menggarap proyek baru. Masih dalam fokus proyek kemanusiaan. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Saya harap semuanya bisa menjadi puas dengan penjelasan yang telah saya sampaikan tadi. Terutama untuk sahabat saya yang paling setia. Saya harap anda puas. Kalau anda merasa belum puas, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi nanti. Atau lebih baik saya undang anda, atau siapa sajalah. Datanglah ke Jakarta, ke hotel saya. Di sana kita bisa ngobrol-ngobrol lebih santai tentang kemanusiaan, secara ilmiah dan hakiki. Saya tunggu. Dan maaf, saya harus segera pergi.

SANG PEMAIN BERGERAK KEBELAKANG KAIN PUTIH. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI TANPA TOPENG.

Bagaimana? Meskipun kita tidak puas, untuk sementara ini kita puas-puaskan saja. Tapi sekarang sudah jelas, bukan? Bahwa Waska itu ternyata masih hidup sehat wal afiat, segar bugar dan masih tetap muda. Kalaupun sekarang ia berganti nama menjadi Semar. Saya yakin itu hanya untuk kebutuhan administrasi dan formalitas saja. Bagaimana tidak, ia seorang Waska. Sekali Waska tetap Waska! Hidup Waska!

Saya heran, kenapa dia harus berhenti menjadi pemain sandiwara. Padahal kita semua menyaksikan sendiri, dia begitu berbakat, potensial. Kemampuannya sangat luar biasa. Refleksinya begitu kuat san sangat sensitif. Padahal dia sebenarnya bisa menjadi seorang pemain yang sempurna. Saya belum pernah melihat orang lain setangguh dia. Betul-betul luar biasa! Saya sampai-sampai pangling melihat perubahan yang begitu besar pada dirinya.

Tapi rasanya saya tidak adil kalau saya harus terus membicarakan tentang kesuksesan Waska. Waska sendiri sudah diberikan kesempatan secara panjang untuk menjawab semua pertanyaan dan isu-isu yang tersiar selama ini. Rasanya kita juga harus sedikit bijaksana untuk memberikan kesempatan bicara kepada Semar. Barangkali ia juga juga ingin menyampaikan sesuatu. Barangkali keanehan atau keajaiban jaman telah terjadi dan harus segera diwartakan kepada semua orang. Segera akan saya panggil Semar.
Semar! Semar! Semar! Semar……!

SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR. KEMUDIAN IA MASUK KEBELAKANG KAIN HITAM. SEBENTAR KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI MENGENAKAN TOPENG HITAM.

Sebelum saya berbicara lebih jauh, terlebih dahulu saya akan meluruskan sebuah kekeliruan. Saya bukanlah Semar. Saya adalah Waska. Saya betul-betul Waska. Memang banyak sekali orang bernama Waska. Tapi saya adalah Waska yang paling Waska. Dunia saya adalah dunia Waska. Penderitaan saya adalah penderitaan Waska. Borok saya adalah borok Waska. Kesunyian saya adalah kesunyian Waska. Mimpi saya adalah mimpi Waska. Sakit saya adalah sakit Waska. Hati saya adalah hati Waska. Keinginan saya adalah keinginan Waska. Dendam saya adalah dendam Waska. Kemiskinan saya adalah kemiskinan Waska. Lapar saya adalah lapar Waska. Sembahyang saya adalah sembahyang Waska. Tuhan saya adalah Tuhan Waska.

Waskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaska…!

IA MENANGIS. SUARANYA MERINTIH MEMILUKAN. KEMUDIAN MEMUKUL-MUKUL PETI. TIBA-TIBA TANGISANNYA BERHENTI. IA GELISAH BERGERAK KESANA-KEMARI. IA SEMAKIN GELISAH. LALU IA BERSEMBUNYI DI BALIK KAIN HITAM. KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI DALAM GELISAH YANG SAMA.

Bagaimana lagi aku harus menjelaskan? Bagaimana lagi Waska? Percuma saja aku berteriak-teriak, karena orang-orang sudah tidak punya telinga. Berpikir Waska! Berpikir! Percuma saja aku berpikir, karena orang-orang sudah tidak mau lagi menerima pikiran orang lain. Berdoa Waska! Berdoa! Percuma saja aku berdoa, karena Tuhan sudah tidak mau mendengar lagi keluhanku. Lebih baik aku melanjutkan mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang dapat memberikan kesunyian yang indah. Ya, lebih baik aku diam dalam mimpi-mimpi itu. Diam bagai batu. Aku memang batu! Batu hitam yang angkuh! Aku harus menjadi angkuh, karena semua orang telah menjadi musuh! Tiba saatnya aku harus mengatakan: tidak kepada semua! Terlebih-lebih kepada orang-orang yang menganggapku sebagai orang tanpa daya upaya, tua dan penyakitan. Akan kubuktikan kepada mereka, bahwa aku adalah seorang Waska. Seorang manusia berantakan, tapi masih punya pikiran. Akan kujelaskan kepada mereka, bahwa aku adalah manusia yang terseret oleh jaman dan peradaban yang edan, namun aku masih tetap punya perasaan. Punya hati nurani. Punya perasaan sakit yang sama seperti orang-orang lainnya. Punya dendam yang sama. Oh! Dendam yang tiada akhirnya. Mengepul panas di ubun-ubunku. Membakar sekujur tubuhku yang hitam berkarat.
Istirahatlah Waska! Kau begitu lelah. Tidurlah…

Siapa bilang aku lelah? Aku tidak lelah! Dan aku tidak butuh tidur! Yang kubutuhkan hanya mimpi! Aku butuh mimpi-mimpi itu. Mimpi sunyi yang indah. Yang membangkitkan gairah hidupku. Dan bintang-bintang berada di tanganku. Kugenggam ia… Ya! Aku harus mendapatkannya. Belum terlambat. Ya! Belum terlambat. Hari masih malam. Masih banyak yang harus kuraih. Bangsat! (BERGERAK LIAR) Mereka mengunyah-ngunyah dagingku! Mereka menghisap darahku! Lintah! Mereka masih tetap saja lapar. Oh…, kebiadaban mana lagi yang harus kusaksikan. Begitu banyak binatang-binatang di sekitarku. Binatang mahal, terpelihara, tapi buasnya minta ampun!

Kau harus lebih buas dari mereka Waska…! Tunjukkan kebuasanmu! Tunjukkan taringmu! Tunjukkan matamu yang merah menyala-nyala! Ayo! Tunjukkan Waska…! Ya… Tuhan! Pandanganku begitu gelap. Sekujur tubuhku demam…. pori-poriku seakan tersumbat. Darah menggelegak naik keatas kepala. Pandangan mataku meremang, kepalaku seakan mau copot… tubuhku… tubuhku terasa kaku dan berat. Lidahku… kenapa lidahku menjadi kelu? (TUMBANG) Bertahanlah Waska! Kau harus bertahan! Dukamu adalah duka semesta! Bangkitlah Waska! Ayo bangkit! (BANGKIT) Ya, aku harus bangkit… aku harus berdiri, aku harus berjalan, aku harus tetap bertahan. Akan kubuktikan, bahwa aku adalah seorang Waska… (TUMBANG LAGI) Berdirilah Waska! Ayo berdiri! Kau harus berdiri di atas kakimu sendiri! Ya, aku harus berdiri… (BANGKIT LAGI) Ayo… kakiku berjalanlah, aku harus menebus kekalahanku… aku harus membayar hutang-hutangku kepada kehidupan ini. Akan aku selesaikan semua persoalan-persoalan ku dengan hidup ini… (TUMBANG LAGI) Waska! Seluruh alam akan berkabung, apabila kau menyerah! Maka bangkitlah Waska! Ayo bangkitlah! Buktikan bahwa kau adalah seorang manusia baja! Buktikan bahwa kau adalah batu hitam yang angkuh! Ayo buktikan Waska! (BANGKIT LAGI) Bnagsat… aku masih tetap seorang Waska, aku masih mampu bangkit, aku masih bisa tegak berdiri, aku masih mampu berjalan. Ayo…! Kakiku berjalanlah…, berjalanlah kemana kau suka. Ayo, kakiku, kau harus berjalan. Pergilah kemana kau mau. Mengembaralah kegunung-gunung, kebukit-bukit, kelembah-lembah. Dan carilah mata air yang sejuk untuk membasuh kakimu yang lusuh. Untuk mengobati luka di sekujur tubuhku. Oh, betapa sejuknya mata air itu menyentuh kepalaku yang lelah. Ayo kaki… berjalanlah. Tempuhlah segala rintangan… (TUMBANG LAGI) Oh…! Rupanya aku ini betul-betul sudah tua… aku lelah… Ya, Tuhan! Sungguh! Aku sudah terlalu lelah… aku berat… oh! Tiba-tiba seluruh pandanganku menjadi gelap (IA MERANGKAK) Begitu gelap… aku seperti masuk kedalam sebuah lorong yang gelap pekat.

Waska! Bertahanlah Waska! Semua itu hanya ilusi Waska! Bukalah matamu! Bukalah pikiranmu! Bukalah pintu hatimu! Buktikan bahwa kau adalah seorang Waska! (IA MASIH TETAP MERANGKAK) Aku sudah tidak tahan lagi Waska! Aku sudah sangat lelah… dan kini aku sedang sekarat…, sudahlah Waska… kau… kau memang kalah…, tapi kau tetap seorang Waska… Ya, Tuhan… aku sangat lelah.

IA MENANGIS. KEMUDIAN SUNYI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SANG PEMAIN BANGKIT SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA. IA BERJALAN SEPERTI SEDIAKALA.

Begitu besar penderitaan Waska. Begitu besar keinginan Waska untuk hidup, untuk tetap bertahan menjadi seorang manusia. Sampai-sampai ia harus menitikkan air matanya. Begitu indah dan menyakitkan. Sulit untuk dibayangkan, nasibnya begitu mengenaskan. Ucapan-ucapannya, kata-katanya…, begitu simbolis, penuh kemarahan dan ketahanan. Tapi sampai pada akhirnya, ia masih tetap punya pikiran. Ia masih tetap punya perasaan.

Sekarang akan saya panggil: Semar…! Waska…! Semar…! Waska…! Semar…! (SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR DAN WASKA) Waska…! Semar….? Waska…? Semar…? Waska…? Tidak seorangpun yang muncul. Seorang Waska tidak mau dikatakan sebagai seorang Waska lagi. Ia sudah menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak mau juga dikatakan sebagai seorang Semar, karena ia adalah seorang Waska. Semar adalah Semar. Seorang Waska adalah seorang Waska. Seorang Waska menginginkan menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak menginginkan menjadi seorang Semar. Kedua-duanya bisa ada. Dan kedua-duanya bisa tidak ada. Sedangkan saya, saya adalah seorang sahabat Waska. Saya hanyalah seorang anak panggung, yang telah lama ditinggalkan……


SELESAI

Download naskah ini KLIK di sini

Monday, January 18, 2010

Umi Kalsum Djamil Suherman




UMI KALSUM

Cerpen Djamil Suherman

Seorang gadis yang namanya tak pernah kusebut-sebut dalam pergaulan dengan teman-teman ialah Umi Kalsum, anak Haji Basuni yang kaya itu. Tapi nama itu diam-diam mengembang di hatiku, ketika itu.

Seperti bunga kacapiring, muka dan kulitnya kemerah-merahan dan kalau ketawa cekung pipinya. O, dia pernah jadi saingan kuat dengan Zainab yang egoistis. Bedanya dengan Zainab, mata Umi teduh seperti laut dan kalau memandang terasa sekali merampas dada. Rambutnya hitam mengombak, sama hitam dengan rambut Fatimah anak Haji Ma'ruf itu.

Mula-mula aku begitu memimpikan dia. Sampai pun pada suaranya yang merdu tiap kali membenamkan daku ke satu fantasi yang indah dan ajaib, sebagaimana kalau aku membayangkan wajah seorang gadis putri nabi yang cantik itu.

Umi kukenal ketika ia mengantarkan bubur-safar ke rumahku. Kami bersalam-salam dan beramah-ramah.

Haji Basuni beranak tiga orang gadis. Yang tua namanya Masanah, sudah bersuami dan punya anak satu. Yang tengah Batifah dan kemudian Umi Kalsum. Kedua kakak-beradik itu masing-masing berumur 15 dan 14 tahun dan merekalah bunga Ketapang itu. Tapi teman-temanku lebih gandrung sama si Umi, sebab ia lebih manis dari pada kakaknya.

Umi bersahabat baik dengan Zainab dan gadis-gadis lainnya di Kedungpring. Mereka berangkat mengaji ke langgar bersama-sama. Beruntun dengan si Rodiyah, anak Pak Abubakar. Toyibah, anak Pak Mudin yang terkenal kenes itu. Afifah, Salamah, Maimunah, Saodah, Fatimah, dan masih banyak lagi.

Perkenalanku dengan Umi diketahui oleh Zainab yang sejak mulanya sudah cemburu. Pada suatu malam, ketika di langgar Nyai Safii diadakan malam qasidahan, aku dan teman-teman mengintip mereka dari lubang dinding langgar mereka. Tampak olehku Umi duduk jejer dengan Fatimah dan Salamah, di pojok. Ketika itu Umi sedang menyanyikan sebuah lagu. Tiba-tiba matanya melihat aku dan ia senyum malu-malu. Betapa pula maluku ketika itu. Tapi kemudian aku ingin mengintipnya lagi. Hatiku berdebar dan seolah ada sesuatu yang melonjak-lonjak di dadaku, seperti angin. Aku tercenung dan berpikir. Aku tak tahu adakah teman-temanku mengetahui keadaanku malam itu. Malam itu aku tak bisa tidur. Dan sengaja tidur di langgar dengan teman-teman banyak sekadar melupakan perasaan yang aneh-aneh. Aku cuma berharap, mudah-mudahan malam itu aku bisa mimpi yang baik dan panjang.

Dalam menelentang melihat langit-langit yang suram, tiba-tiba Ichwan yang kukira sudah tidur itu berkata seperti menyindir.
- Ya, memang begitu bagus matanya, katanya.
- Kau belum tidur, Wan? tanyaku kaget.
- O, mata itu seperti pohon beringin, sambungnya lagi tidak mengindahkan pertanyaanku.
- Kau tadi melihat aku?
- Ya, aku melihat senyuman itu, katanya mengejekku lagi.

Babi orang ini, pikirku. Ichwan menggeliat dan menguap.

- Kau cinta padanya, Wan? tanyaku mulai cemburu.
- Mungkin juga seperti kau.
- Dan kau melamar dia? cemburuku makin kuat; tapi Ichwan cuma ketawa sinis, lalu menjawab:
- Aku tahu perasaanmu, Kawan.
- Perasaanku? Lantas, apa pendapatmu?
-Sayang, aku tak punya pendapat. Aku tahu aku anak Mak Mirah. Lebih dari itu, ndak, katanya kesal.

Pemuda Ichwan yang terkenal kemurung-murungan itu anak keenam Mak Mirah, penjual jamu di kampungku. Ia dua tahun lebih tua dariku, dan dulu pernah melamar si Romlah tapi ditolak oleh gadis itu. Ia jadi linglung, lalu seperti menyadari untungnya ia pun melanjutkan:
— Mudah-mudahan kau berhasil, Kawan, katanya.

Aku diam. Kami diam dengan pikiran masing-masing. Dan ketika kulihat temanku itu tak bergerak-gerak lagi aku teruskan pembicaraanku,
— Aku tak pasti, Kawan. Ichwan tergolek lagi menghadap aku.
— Apanya yang tak pasti?
— Kau sudah tidur?
— Belum
— Si Umi.
— Jadi kau sudah tahu?
— Maksudmu?
— Tentang dia?
— Kenapa?
Ichwan diam lagi. Betapa inginku mengetahui rahasia percakapan itu. Karena tiba-tiba saja hatiku jadi sekecil jangkrik. Aku bertanya, nafsu:
— Dia sudah dilamar orang?
— Beberapa kali.
— Dan tak ada yang diterimanya?

Ichwan batuk sebentar lalu menjengekkan kepalanya seperti mau membuka rahasia itu. Dan katanya.

— Kau tahu, siapa Haji Basuni itu? Dan bagaimana ia mesti mengambil menantu?
— Tidak ...
— Jangan main-main, Kawan; kecuali kalau kau anak hartawan, dan kalau haji itu bisa mengeruk hartamu.
— Juga Amin, Suami Hasanah itu?
— Dia masih misan sama Hasanah. Sekalipun Amin tak sekaya mertuanya, tapi dengan bersuamikan dia kekayaan haji itu takkan jatuh ke tangan orang lain. Lalu terbayang di mataku si Amran yang jadi gila ketika lamarannya ditolak oleh si Fatimah. O, ngeri sekali, kedengarannya. Tapi si Ichwan seperti mengetahui perasaanku ketika tiba-tiba ia berkata lagi:

- Kau tahu, Haji Basuni itu doyan makan riba?
- Maksudmu dia lintah darat?
- Lebih dari itu, ia seorang bakhil seperti Qarun dan kejam seperti Fir’aun.

Tanpa kami ketahui kami diam-diam hanyut dalam mimpi.

Pada suatu hari aku pernah menerima surat dari Umi Kalsum, diantar oleh kemenakannya. Surat itu ditulis dalam bahasa Arab pego, begini bunyinya:
Assalamu alaikum w.w.
Aku senang sekali semalam melihat kau dan mendengar suaramu ketika kaunyanyikan "Tabasam" dalam qasidahan lagu kesayanganku.. Dengan lagu itu aku selalu ingat kau, meski kutahu kau sombong kata teman-temanku.

Tapi aku . . . ah, aku hanya seorang gadis dan tak bisa berbuat selain berangan-angan saja. Aku takut Zainab. Lebih takut lagi pada bapakku. Kau tahu bapakku? O, lebih baik aku melihat dia lekas mati, biar aku bisa melihat kau tiap hari. Kini aku tak bedanya seperti anak monyet yang dirantai dalam kandang. Aku tak boleh melihat laki-laki. O, aku tersiksa siang malam. Aku cuma berharapkan kesempatan yang akan datang. Aku tak betah begini terus. Aku menderita atau lekas mati saja?

Senyumku hanya bentuk pemberontakan terhadap nasibku. Berlagulah kau tiap hari untukku. O, aku sangat menderita. Kepada siapakah aku mesti berharap? O, aku melihat Tuhan ....
Align Right
Wassalam bilmaaf,
(Umi Kalsum)

Seperti lilin rasa hatiku ajur dibakamya. O, begitu malang nasibnya. Tapi dengan tak kuketahui, dari belakang Zainab muncul dan datang hendak merebut surat itu. Untung ia sudah kuremas-remas. Betapa merah mukanya ketika melihat surat itu. Ia tunduk.

- Zainab, kenapa kau berbuat begitu? tanyaku memelas.
- Seharusnya pertanyaan itu aku yang punya, jawabnya lirih.
- Tapi aku tak bersalah bukan?
- Kau menyakiti hatiku.
- Tidak. Aku tak menyakiti hatimu.
- Dan surat itu?
- Itu urusanku sendiri, Nab.
- Dari Umi, bukan?
- Bagaimana kau tahu?
- Aku tahu, kau cinta padanya.
- Tapi sampai hari ini aku tak berbuat apa-apa, bukan?
- Kau akan berbuat.
- Maafkan aku. Nab.

Ia diam. Dan aku merasa tak bisa membuka diri lagi. Melihat aku gugup, Zainab jadi reda. Lalu katanya mendamba:
- Aku cinta padamu. Kenapa kau berbuat itu? Aku tahu, kau tak suka aku. Baiklah, cintailah dia tapi kau takkan berhasil, katanya.

Zainab seperti adik sendiri sejak lama dan begitu dekat dengan keluargaku karena Haji Tayib, ayahnya, adalah sahabat karib bapakku. Kerap kali Zainab disuruh mengantar surat atau barang dagangan ke rumahku. Dan selama itu Zainab seperti saudaraku sekandung. Di waktu senggang ia datang ke rumahku, meski aku tak ada.

- Maafkan aku, Zainab; kataku lagi, numpangi.
- Apa yang mesti kumaafkan?
- Aku telah membuatmu marah.
- Tidak. Aku cuma mau memperingatkan kau. Kau takkan bisa. Aku kuatir kau akan membenciku selama-lamanya; katanya kecewa.
- Sudah sejauh itu dugaanmu, Nab ? Itu tak benar. Aku selalu suka padamu.
Tapi tiba-tiba aku kehilangan pegangan. Dan terbayang di mataku nasib Amran anak petualang itu. Lalu aku ingat kembali percakapanku dengan Ichwan di langgar dulu.
- Zainab, kita masih kanak-kanak, sambungku menghilangkan yang mustahil.
- Lantas?
- Kita tak boleh meneruskan ini.
- Mengapa? Ayahku sudah mengatakan itu pada kakekmu, bukan?
- Aku tahu.
- Kau tak mau?
- Aku baru enam belas tahun jalan ...
- Aku sudah empat belas tahun, kini; tukasnya.
- Jadi kita masih kanak-kanak, bukan?
- Tapi kau betul mencintai aku, ya?
- Aku tak tahu. Tak tahu ... Ya, Zainab, aku mau.

Kami yang kebingungan itu tiba-tiba merasa ada sesuatu yang meliputi pikiran kami masing-masing. Jalan di muka rumahku ramai orang-orang yang mau pergi sembahyang ke langgar, sore itu. Waktu menjelang asar. Santri-santri hilir-mudik dengan bawaan masing-masing.
- Kau tak pulang mandi, Nab?
Ia berpaling dan melihat aku tajam-tajam.
- Baiklah kita sampai di sini dulu, Nab. Tak baik dilihat orang, kita berdua. He, kau dengar, kau dipanggil ibu?
Zainab berpaling lalu masuk ke rumah. Aku berpikir, kenapa aku mesti mencintai gadis yang tak mungkin kudapatkan? Tapi tiba-tiba pikiran itu lenyap manakala kudengar suara azan memanggil-manggil dari langgar.

Oleh pengaruh agama dan adat kami yang kuat, jarang terjadi perhubungan antara laki-laki dan perempuan, di kampungku, kalau di antaranya bukan famili sendiri atau yang sudah dekat dan diketahui oleh orang tua masing-masing, seperti halku dengan Zainab. Sekalipun yang demikian itu tak pemah dilarang, mereka dengan sendirinya takut karena hal itu perbuatan dosa. Jangan pun berhubungan, melihat dengan menimbulkan rasa dan nafsu pun dilarang oleh agama. Perhubungan kami terbatas sapa-menyapa saja. Lebih dari itu, tidak. Kalau seorang laki-laki senang pada seorang gadis maka orang tua laki-laki itu harus mengajukan lamaran kepada orang tua gadis itu, dan perkawinan dilakukan kalau sudah sama-sama setujunya. Tapi karena masyarakat Kedungpring merupakan keluarga besar, maka kejanggalan itu tak terasa benar. Antara kami selalu hormat menghormati.

Pada suatu malam sesudah lepas pengajian di langgar, kami para santri yang akan pulang ada kalanya berbarengan dengan santri-santri perempuan. Kami bercampur. Tapi malam itu Zainab tak tampak olehku.

Di antara beberapa gadis yang menuju tikungan jalan Kedungpring kulihat Umi dan kakaknya berjalan. Tinggal ia berdua lagi, karena rumahnya jauh sedikit ke Ketapang. Diam-diam aku mengikut mereka dan belakang. O, aku ingin benar bercakap-cakap sebentar dengan dia, malam ini. Begitu ayunya sebab bulan mengembang di atas kepalanya.

Sesudah beberapa lama kami berjalan dan ketika akan membelok tikungan lain, Umi menoleh ke belakang. Keduanya menoleh, lalu kami bersenyuman. Keduanya berhenti dan aku menghampiri mereka.
— Assalamu alaikum, kutegur sopan.
— Waalaikumussalam, jawab keduanya.

Kemudian sunyi lagi dan kami diam-diam tegak di tengah jalan itu dengan risaunya. Kurasa kerongkonganku seperti ada kelerengnya, buntu! Kedua gadis itu tunduk malu-malu. Tapi sebelum aku memulai, berkatalah Umi. Katanya lembut:
— Kau dulu sudah terima suratku, bukan?
— Sudah, Umi. Tapi mari kita bicara sambil jalan.
Kami berjalan dan kulihat Latifah yang menepikan jalannya itu lalu kuhampiri.
— Latifah, malam ini kita berkenalan, kataku mesra. Dia ketawa kecil tapi tak terdengar suaranya. Kemudian Umi berkata lagi seperti mengolok:
— Sayang, Zainab tak datang mengaji malam ini, katanya.
— Dia sakit? tanyaku menutupi.
— Kau kan lebih tahu, bukan?
— Umi, kau jangan mengejek.
— Tapi ia kekasihmu, toh?
— Bukan, ia seperti juga kau. Teman. Hanya ia lebih akrab, ia kerap kali datang ke rumahku.
— Sayang, bukan aku yang jadi kau. Umi mengerling lagi dengan manisnya.
— Dan kalau kau?
— Aku lamar dia.
— Kau cemburu, Umi?
Ia diam. Bulan di langit mengawang di kepala kami. Malam berangkat larut.
— Kenapa malam ini kau tak dijemput?
— Kaulah, sekarang, yang menjemput kami.
Bayang-bayang panjang mengikuti kami sepanjang jalan itu. Latifah masih juga diam. Kepalanya tunduk seperti ikut merasakan perasaan kami. Memang ia gadis pemalu. Tidak seperti adiknya.
— Maafkan aku; tiba-tiba kudengar suara Umi lagi, seperti musik merdunya.
Di luar dugaan, dari arah yang kami tuju, kulihat sesosok tubuh manusia berdiri tegak di tepi jalan itu, yang tak jauh lagi dan rumah Umi. Ia mengawasi dengan tajam ke arah kami. Ketika Latifah dan Umi melihat orang itu tiba-tiba muka keduanya jadi pucat dan hampir menjerit.

Kami berhenti beberapa langkah dari orang itu dan orang itu tiba-tiba menghampiri kedua gadis itu. Dan tanpa bicara lebih dulu selayang tangan kulihat menimpa kepala Umi, selayang lagi pada Latifah. Keduanya menjerit lalu berlarian masuk ke rumahnya.

- Bangsat! Siapa kau? bentak orang itu, ketika berpaling ke arahku. Setengah takut aku pun menjawab:
- Saya teman Umi dan Latifah. Tiba-tiba benciku timbul pada haji yang murah tangan itu.
- Cucu Ishak itu?
- Aku mengangguk.
- Kenapa kau berani omong-omong sama anak-anakku?
- Tapi saya tak mengganggu mereka. Kami berteman dan kebetulan berjalan berbareng.
-Tapi aku bilang, tak boleh kaudekati mereka. Kau ngerti, Anak lapar?
Betapa tersinggungku ketika haji itu mengucapkan katanya yang akhir itu. Tapi aku tak berani dan tak bisa berbuat apa-apa selain merengut.
- Sekali lagi, awas! kata haji itu, mengancam. Umi sudah ada tunangan. Pergi! Pergi, kau! Haji itu membentak aku begitu rupa hingga mukanya yang mesum menimbulkan rasa jijikku.

Sedikit pun aku tak bergerak dari tempatku. Aku berpikir: Inikah kata orang haji keluaran Singapura itu? Orang-orang Pesantren Kedungpring menamakan dia haji keluaran Singapura, karena berangkat hajinya dulu tak sampai ke tanah Mekah. Ia berkeliaran di kota itu dengan dagangannya. Dan rahasia yang didiamkan itu diam-diam jadi populer di pesantren kami.

Sesudah haji itu meninggalkan aku dan baru saja aku melangkah, dari rumah Umi terdengar suara gaduh diiringi tangis perempuan. Aku kenal suara itu suara Umi. Ia melolong-lolong dalam sela bentakan dan lecutan pecut.
- Kapok, Pak! Kapook! Aduuh! Kapook!
Kembali hatiku luluh seperti semen. O, dia yang kukasihi itu menjadi korban kenakalanku. Seketika itu tubuhku secara ditempel dosa-dosa. O, air mataku jatuh. Aku menangis. Dan tiba-tiba saja hatiku mendongkol dan benci manakala kubayangkan muka haji yang murah tangan itu. Mau rasanya aku datang ke rumah itu dan berkata kepadanya:
- Kau haji mesum. Mudah-mudahan kau lekas mampus! Atau, mudah-mudahan uangmu habis dimakan rayap. Tapi tiba-tiba saja aku menggigil ketika angin mengembusi kepalaku. Beberapa saat kemudian suara lolong itu tak kedengaran lagi.
Tentang Haji Basuni orang-orang Kedungpring sudah kenal semuanya. Selain takabur dan suka menghina terhadap orang yang tak punya ia juga terkenal kikir. Dan sebab itu lalu timbul istilah yang lucu-lucu dari teman-temanku. Misalnya kalau seorang minta sesuatu pada temannya yang lain dan tak diberi, dia lalu berolok: Bakhilmu seperti Haji Singapura saja. Dan mereka akan ketawa. Tapi yang diolok-olok jadi marah dan membalas ejek: Memangnya, kau tak diambilnya jadi menantu, si! Lalu kawan-kawan itu akan tertawalah lagi.

Berbeda dengan Haji Tayib atau Haji Ma'ruf, Haji Basuni tak pemah mengeluarkan zakat, meski hartanya beribu-ribu. Teman-temanku lalu memberi julukan lagi pada haji yang tak sosial itu. Setrika. Tentang adanya istilah setrika itu diambil dari sebuah cerita dalam kitab: Orang-orang kaya yang tak suka memberikan zakat dan sedekahnya kepada orang-orang miskin, kelak di akhirat uangnya akan dilebur, dijadikan setrika. Dengan setrika itulah punggung orang yang bakhil itu akan dilicinkan.

Aku kurang percaya tentang kabar yang mengatakan bahwa Haji Basuni jarang sembahyang di rumah, apalagi ke langgar. Di bulan puasa ia pernah kedapatan temanku sedang menggelap-gelap dan nongkrong di warung orang Madura di kota. Tapi di muka santri-santri dan sahabat-sahabat kiai ia selalu bermanis-manis untuk menyembunyikan kopiah putihnya itu. Anak-anak perempuannya diwajibkannnya kerja keras di dapur. Mereka membatik, menenun, dan memasak. Mereka tak boleh keluar rumah kalau tak perlu, pergi mengaji ke langgar, umpamanya. Kerap kali anak-anak gadisnya itu disawabi tangannya yang kasar itu. Dan mereka yang kena tangan itu akan menggelepar-gelepar seperti ayam dan meraung-raung.

Haji Basuni bercita-cita agar anak gadisnya itu dilamar oleh orang-orang yang berharta saja. Dan anak-anaknya itu harus menurut apa katanya. Tak boleh membantah dan membela diri.

O, Umi Kalsumku yang manis itu, begitu benar nasibnya; keluhku. Kalau saja haji itu tak murah tangan, takkan begini sentimen aku padanya. Sejak kejadian yang menyedihkan malam itu, lama sekali aku tak berani berjumpa dengan Umi. Melihat dia pun, tidak. Dan memang tak pernah lagi aku melihatnya. Zainab tahu hal ini. Dan betapa gairahnya ketika pada suatu hari ia datang ke rumahku dan buru-buru berkata kepadaku:
— Kau sudah dengar kabar itu? tanyanya.
— Kabar apa?
— Umi.
— Kenapa kau tanyakan itu?
— Maksudku ... dia hamil.
— Ha? Bicara yang benar, kau! teriakku kaget.
— Ssst, jangan keras-keras. Ini masih dirahasiakan, kata si Zainab. Memangnya aku bicara ngawur? Dia sudah tiga bulan!
Aku terenyak. O, ngeri sekali kedengarannya. Zainab masih saja memandangi mukaku. Hingga aku jadi marah:
— Kenapa aku kaulihat seperti itu? Dan Zainab tertunduk.
Aku berpikir, kalau begitu benarlah apa yang dipercakapkan bapak dan ibuku kemarin.
- Kasihan si Umi, kata Bapak.
- Kenapa dia! tanya ibu.
- Ayahnya terlalu keras, sih. Kasihan dia. Sampai di situ percakapan itu tak kudengar lagi. Kepada Zainab yang masih menunggu di hadapanku aku bertanya dengan gugup:
- Dengan siapa kau tahu dia bunting?
- Umi berkali-kali ditanyai bapaknya, tapi ia cuma nangis dan bungkam terus.
- Lalu dia dipukuli?
- Lantaran dia, lalu seisi rumah dipukuli semuanya.
- Masyaallah! Lantas bagaimana?
- Ibunya sudah ikhtiarkan pada dukun, supaya buntingnya bisa kempes. Tapi percuma. Perut itu makin besar-besar juga.
- Lalu, apa kata dukun itu lagi?
- Katanya, yang berbuat itu laki-laki gemuk dan kudisan, yang dulu pernah melamar tapi ditolak oleh bapaknya.
- Apa? Si Mursid yang bugil itu, pikirmu?
- Itu kita tak pasti.
- Dan Umi sekarang di rumahnya?
- Kau tahu, Haji Basuni kemarin menemui ayahmu? Zainab balik bertanya.
- Menemui ayahku?
- Dia berjanji mau memberi sebuah rumah dan uang yang diminta, pada siapa yang mau ngawini anaknya. Sampai hari ini Bu Haji masih menangis terus!
- O, haji laknat. Kalau mati ia pasti digilas neraka! kataku masygul. Zainab mengejek:
- Kau mau?
- Diam, kau! bentakku, tapi Zainab dengan latahnya terus menertawai diriku.
Sejak hari itu pikiranku terpengaruh oleh kabar yang menyedihkan itu. Siapakah yang menduga bahwa kejadian semacam itu menimpa keluarga Haji Basuni? Menimpa Umi Kalsum yang begitu lembut? O, mustika-hidupku yang lama kuimpikan dan yang hendak kurebutkan dengan sepenuh perasaanku itu, kini telah noda. Tapi bagiku Umi tetap suci. Sebab betapapun ia telah berusaha mempertahankan kemerdekaan dirinya dari kekerasan orang tuanya. Bagiku, Umi tetap zamrud dalam harapan dan kenang-kenangan. Tapi kurasakan, betapa kini aku tak tenteram lagi tinggal di rumah. Dan tak kutahu, mengapa begitu besar kesan Umi dalam hatiku. Dan aku tak sanggup berbuat apa-apa.

Kejadian yang menimpa keluarga Haji Basuni itu mula-mula dirahasiakan orang. Tak banyak orang yang mendengar atau mengetahui, sebab memang tidak banyak orang melihat keadaan Umi dari dekat. Tapi akhirnya rahasia itu bocor juga, seperti bau bangkai meski betapapun pandai orang menutup-nutupi. Keluarga haji yang malang itu tak sanggup lagi mempertahankan rasa malunya yang besar. Menurut kabar orang-orang sekampung, pada akhir-akhir ini di rumahnya selalu terdengar orang gaduh dan ribut. Suara perempuan-perempuan yang menangis tak henti-henti hingga para tetangga merasa terganggu. Dan oleh gangguan-gangguan itu para tetangga mulai ikut campur. Mereka sama kuatir akan timbulnya sesuatu kemungkinan yang tak diharapkan.

Dan beberapa hari kemudian kekuatiran itu pun benar-benar menjadilah suatu kenyataan ....

Pada suatu malam sebelum fajar, ketika sedang enak-enaknya orang tidur, tiba-tiba terdengar dari rumah Haji Basuni jeritan orang perempuan. Keadaan jadi ribut. Tetangga-tetangga yang dekat sama datang menyaksikan apa yang kiranya telah terjadi. Juga orang-orang Kedungpring yang letaknya sedikit jauh dari desa itu ikut berkerumun dan dari mulut ke mulut akhirnya peristiwa itu pun tersebarlah merata dengan cepatnya.

Kami serombongan kanak-kanak ikut juga ke sana dengan hati yang cemas. Terlebih aku, yang merasa punya sangkutan batin dengan salah seorang anggota keluarga itu.

Betapa terkejutku manakala seseorang berteriak: Bunuh diri! Bunuh diri!

Dalam ketakutanku kubayangkan sebuah tubuh ramping sedang tergantung pada seutas tali dan sebuah wajah cantik mengeluarkan lidah dan busa. Di situ mataku kupejamkan. Aku tak sanggup melihat kemurungan langit malam itu. Sebuah cahaya menganga di arah timur. Mungkin malam itu sudah menjelang fajar.

Oleh kerusuhan-kerusuhan pikiranku itu aku tak ikut orang-orang itu memasuki rumah Haji Basuni. Tapi sebentar ada kudengar kebenaran pikiranku tadi. Orang-orang itu menyaksikan suatu kejadian yang mengerikan: di kamar mandi Umi didapati mati tergantung!

O, waktu itu aku tak bisa menguasai diriku. Kepalaku terasa pusing dan mataku berkunang dalam peluh dingin yang mengaliri seluruh tubuhku. Aku lari pulang. Sementara itu aku masih mendengar bisik seorang-seorang:
- Dia senyum. Lalu sambung yang lain: - Umi melihat Tuhan.

Tapi aku hanya melihat seutas tambang keras telah menjerat leher halus itu dan menyeretnya ke kubur. Aku melihat seorang laki-laki setengah tua, berkopiah putih dengan bengisnya kemudian melemparkannya ke dalam jurang.

Beberapa hari sesudah kejadian yang mengerikan itu, orang-orang kampung ramai mempercakapkan nama Haji Basuni. Dalam isi percakapan itu terasa benar nada kebencian mereka terhadap haji yang malang itu. Tapi kini aku berpendapat lain, Haji Basuni semestinya dikasihani. Karena setidaknya ia akan dihadapkan pada bayangan ketakutan, selama hidupnya.

Demikianlah akhirnya, Umi Kalsum yang kami kagumi kecantikan dan kelembutannya itu, mengakhiri hidupnya dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Bukan saja keluarganya yang merasa kehilangan. Tapi kami, teman-temannya yang ketika hidupnya saling merebutkannya, ikut pula kehilangan
***

Kisah, No. 7-8, Th. IV, Juli/Agustus 1956

Download cerpen ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook