Wednesday, March 31, 2010

Puisi- Puisi Goenawan Mohamad

Sekhak


Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.

2010

Teleskop


Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut menyentuhmu.

Itu sebabnya, nak, pada sebuah sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang bergetar berulang kali.

Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu

di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di tanganmu, yang selamanya mengejutkan.

2009



Dalam Kemah


Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan- potongan pendek interupsi–lima menit, tujuh menit, empat…. Dan aku akan menatapmu dalam tidur.

Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.

Aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.

2010



Di Depan Sancho Panza


Di depan Sancho Panza yang lelah,
seorang perempuan bercerita tentang sajak
yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.

Tentu saja Sancho tak mengerti
bagaimana sajak disisipkan
ke dalam hujan, tapi ia mengerti
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan
perempuan itu dan berkata, ”Jangan cemas.”

Memang sebenarnya perempuan itu cemas:
Seseorang mencintainya dan ia tak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.
Atau angan-angan yang memabukkan.

”Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar
seperti gerimis.


2009

Monday, March 29, 2010

Seno Gumira - Taxi dan Lagu Blues

TAKSI BLUES

Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Malam berhujan. Kudengar lagu blues.
By a route obscure and lonely,
Haunted by ill angels only
, *)

”Kusaksikan pemandangan,” terdengar radio taksi itu. Kusambar mikrofon.

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”
”Menteng.”

”Ada tamu lapor bukunya ketinggalan.”

”Seperti apa tamunya?”

”Cewek cakep begitu.”

”Cakep?”

”Cakep sekali begitu.”

”Bukunya kayak apa?”

”Judulnya susah, tapi begini ejaannya:November-India-Echo-Tango-Zero-Siera-Charlie-Hotel-Echo.”

Kubuka laci mobil. Kubaca judulnya. Busyet. Pernah kudengar sebuah kalimat di dalamnya: Tuhan sudah mati.

”Bukunya ada.”

"Serahkan ke pool. Supaya bisa diambil besok pagi.”

”Copy.”

Hujan menggerojok, membuat jalanan sepintas lalu seperti sungai. Kulirik penumpangku dari kaca spion. Ia masih tidur. Kepalanya tersandar ke jendela.

Kubangunkan dia.

”Mbak, Mbak, bangun, Mbak.”

Wanita itu menggeliat, mengucek-ucek mata.

”Sudah sampai di mana nih?”

”Lho, dari tadi kita putar-putar terus. Memangnya mau turun di mana?”

Memang dari tadi aku tidak tahu dia mau turun di mana. Begitu masuk sudah marah-marah terus. Gelisah sekali menelepon ke sana kemarin lewat hand phone. Setelah itu sibuk mencari cincin kawinnya yang hilang entah di mana. Sampai-sampai aku harus berhenti. Menyalakan lampu, mengambil senter untuk melihat kolong, tapi cincin itu tetap tidak ketemu. Lantas dia menangis.

”Tujuan kita ke mana, Mbak?”

”Tanya-tanya lagi! Bukannya tahu orang baru nangis!”

”Soalnya saya kasihan Mbak, nanti bayarnya mahal.”

”Sok tau banget sih Abang ni? Jalan saja terus, pasang argonya, yang penting saya bayar, ‘kan?”

Lama sekali dia memandang keluaar jendela. Air matanya meleleh di pipi. Sudah berapa kali ada penumpang menangis di taksiku? Wanita memang suka menangis sambil memandang keluar jendela. Apakah mereka mencari dirinya sendiri di luar jendela?

”Bang,” katanya tiba-tiba. ”Abang sudah kawin?”

”Sudah.”

”Berapa lama?”

”Belum lama. Baru dua tahun.”

”Sudah punya anak?”

”Belum.”

”Ka-be?”

”Yah, ka-be. Istri saya masih ingin kerja, dan kami memang belum punya duit.”

”Abang nggak apa-apa?”

”Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?”

”Saya kawin juga baru dua tahun. Belum punya anak. Tapi suami saya udah ribut terus.”

”Kenapa?”

”Katanya malu kalau nggak punya anak. Dikira mandul.”

”Kalau mandul bener kenapa?”

”Dia malu.”

”Bodoh sekali dia.”

Aku melirik, wanita itu sedang memandang dirinya sendiri lewat cermin kecil, lantas berias. Ia menggerutu.

”Memang. Dasar laki-laki bodoh.”

”Waktu kawin, belum tahu dia bodoh?”

”Huuuuhhh. Pasti saya yang bodoh mau kawin sama dia. Pasti saya yang bodoh. Sudah tahu dia bego, masih mau juga. Pasti saya dong yang bego. Iya, ‘kan?”

”Tapi, cinta?”

Kulirik lagi. Sambil menatap jendela, wanita itu tersenyum pahit.

”Cinta. Cinta. Apa itu cinta?”

Lantas percakapan terhenti, dan ia tertidur. Aku yang tak tahu mau ke mana, berputar-putar seenak perutku.

”Sudah, turun sini saja,” katanya sekarang.

Kulihat neon sign bar-bar di Jalan B. Rok mininya terangkat ketika melangkah keluar. Ia menghabiskan Rp 50.000 untuk tidur di dalam taksi. Kulihat ia melangkah menerobos hujan, lenyap di balik pintu sebuah bar. Masih tersisa harum parfumnya. Hmmm.

Misteri. Misteri. Para penumpang adalah misteri. Aku tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas di jalanan. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali. Yeah. Aku hanya sopir taksi yang selalu keluar pada malam hari. Bertemu begitu banyak orang dalam semalam, tapi pada hakikatnya selalu sendiri. Kota ini juga sebuah misteri. Begitu banyak manusia kita temui di jalanan setiap hari, namun betapa sulitnya mengenal satu saja dari mereka. Betapa sulit memahami manusia meskipun mereka semua ada di sekeliling kita. Ah, untuk apa aku memikirkan semua ini? Aku cuma seorang sopir taksi. Selalu keluar malam karena tak suka macet dan kepanasan. Selalu mengembara dalam kekelaman.

***

”Sembilan-sembilan.”

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Masih sekitar Menteng.”

”Jalan Gereja Theresia?”

”Ambil-ambil.”

”Jalan Gereja Theresia 47. Bapak Hamsad.”

”Meluncur.”

Hujan sudah berhenti, tapi uap air masih membiaskan cahaya kekuningan lampu merkuri. Aku segera tiba di tempat pemesan. Tiga pria bertampang serem berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Mereka masuk.

”Bapak Hamsad?”

Pria Serem 1 yang duduk di sebelahku menjawab.

”Mau Hamsad kek, mau bangsat kek, apa urusan lu? Jalan!”

”Lho, ini ordernya untuk Bapak Hamsad.”

”Sialan lu! Gua yang panggil taksi tau? Gua namanya Hamsad, gua namanya belegug, apa peduli lu? Pokoknya gua bayar! Udah, jalan!”

Ngefreto! Tombol argo kupencet. Yeah. Apalah artinya sebuah nama. Aku toh tak pernah hafal nama-nama penumpang.

”Kemana kita, Pak?”

Sambil menjawab, Pria Serem 1 melirik kedua temannya.

”Bukunya gua udah bilang tadi?”

”Sungguh mati, belum, Pak.”

Pria Serem 1 berkata kepada kedua temannya.

”He, kalian denger nggak tadi gua udah bilang ke mana?”

”Denger, Bang. Dia aja yang budeg,” kata Pria Serem 2 di belakangnya.

Pria Serem 3 di belakangku menambahi pula.

”Emang, Budeg.”

Mampus!

”Iyalah, barangkali saya budeg. Tapi, ke mana tujuan kita, Bang?”

”Eh, elu udah budeg masih ngelunjak! Kalau gua kagak salah denger, elu tadi manggil Pak, ‘kan. Bukan Bang?” Pria Serem I menukas lagi.

”Iya Bang, eh Pak.”

”He, denger, jadi orang itu jangan plin-plan kayak para pejabat. Kalau sudah Pak ya Pak, nggak
usah sok akrab! Ngerti?”

”Iya, sok akrab~!” Pria Setem 2 menimpali.

”Ngerti nggak?” Pria Serem 3 tak mau ketinggalan.

”Ngerti, ngerti Bank, eh Pak.”

”Awas! Sekali lagi keliru gua pelintir lu punya kepala.”

Busyet.

”Sembilan-sembilan,” radio taksi berbunyi lagi.

”Sembilan-sembilan.”

”Jalan Gereja Theresia?”

”Sudah bersama.”

”Selamat jalan dan kepada tamunya selamat malam.”

”Copy”

Kukebut taksiku, tapi ke mana tujuan mereka?

”Jadi ke mana kita, Pak?”

”Sialan lu! Dari tadi nanya melulu!”

”Emang! Berisik lu!”

”Dasar budeg!”

Bener-bener sialan mereka ini.

”Lu ngerti Sawangan nggak?”

”Sawangan? Tahu Bang, eh Pak.”

”Nah, kita ke sono.”

”Jauh amat, Pak?” Aku mencoba ramah.

Pria-pria Serem itu saling berpandangan. Tiba-tiba Pria Serem 3 bergerak, menempelkan pisau di leherku.

”Eh, elu cerewet amat sih? Denger, bawa kita ke Sawangan. Titik. Nggak usah nanya-nanya, gua iris kuping lu entar! Ngerti?”

”Mengerti, Pak.”

Minta ampun dah! Orang-orang ini bener-bener sialan. Mudah-mudahan mereka bayar. Kutancap taksiku. Sepanjang jalan mereka berdiam diri. Sampai Pria Serem 3 memecah kesunyian.

”Jadi bagaimana urusan kita itu, Bang?”

”Yang sekarang ini?” Pria Serem 1 balik bertanya.

”Yang mana lagi, Bang?” Pria Serem 2 menegaskan.

Pria Serem 1 menoleh ke belakang. Aku tahu ia memberi tanda dengan matanya bahwa di situ ada aku.

”Gua udah tahu jawabnya, tapi gua nggak bisa bilang sekarang.”

”Kenapa begitu?”

Aku merasa Pria Serem 3 menatapku dari belakang.

”Omongin sekarang aja, Bang. Dia nggak ngerti apa-apa ini. Kalau ngerti pun rasanya nggak akan dia berani ikut campur. Ya nggak, Bung?”

Aku pura-pura tidak mendengar. Eh, Pria Serem 3 menyodok kursiku dengan kakinya.

”Lu denger, ‘kan? Lu nggak akan ikut campur?”

”Ya, ya, ya.”

Bener-bener buju busyet. Siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Tapi hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tidak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi. Pemandangan kota mengalir di kaca depanku.

”Waktu itu Abang bilang kita cuma menuruti perintah atasan.”

”Memang perintah atasan yang kita turuti waktu itu.”

”Tapi, kenapa jadi kita yang salah? Kenapa kita yang dipecat? Bukan atasan kita?”

”Memang kenyataannya begitu, Din, kita diperintahkan menculik Joni. Kita diperintahkan menghabisi Joni. Kita diperintahkan membuangnya di tepi jalan.”

”Jadi, kita tidak salah, ‘kan?” Pria Serem 2 bertanya.

”Tapi kita yang dipecat. Jadi kambing hitam. Jadi tumbal.” Pria Serem 3 menegaskan.

”Menurut peraturan, memang tidak semua perintah atasan boleh kita turuti.”

”Namanya juga komando, Bang.”

”Ya. Komando. Perintah atasan.”

”Kita harus memakai otak kita. Menculik orang yang belum jelas kesalahannya. Membunuhnya tanpa pengadilan. Menghajarnya dulu sebelum menembaknya. Mau dibolak-balik, itu tetap suatu kesalahan.”

”Itu perintah atasan toh, Bang?”

”Yak!”

”Atasan kita ikut salah dong!”

”Yak!”

”Tapi dia sampai sekarang tidak diapa-apakan. Enak-enakan di rumahnya yang mewah.”

”Dengan tujuh mobil.”

”Dengan istri muda.”

”Yah. Dengan istri muda. Bangsat!”

”Yah. Orang-orang di atas itu memang bangsat!”

Aku tertegun, melirik dari kaca spion. Tapi bertumbukan dengan mata Pria Serem 3.

”Ngapain lu lirik-lirik!”

”Lihat belakang, Bang, eh Pak.”

”Diem aje lu! Bulegug!”

Aduh Mak!

”Jadi sekarang kita mau melakukan pembalasan, Bang?”

”Yak!”

”Jadi kita akan menghukumnya sendiri, Bang? Tanpa pengadilan, sama seperti dia lakukan kepada orang-orang yang kita culik, Bang?”

”Yak!”

Tanpa sengaja aku menengok dari kaca spion lagi. Eh, bertemu pandang lagi dengan Pria Serem 3. Mendadak dia memitingku, ada pisau di tangannya.

”Sialan! Gua udah bilang jangan lirik-lirik, ‘kan?”

”Maaf Bang, eh Pak, nggak sengaja.”

”Gua iris kuping lu mau?”

”Jangan, Pak, kuping cuma satu.”

”Salah. Kuping lu dua. Jadi boleh kan gua ambil satu?”

Nafasku sesak. Untung Pria Serem 1 melepas pitingan itu.

”Heh, sudah, dia lagi nyetir tuh! Nanti kita semua yang mampus.”

Busyet. Repot juga jadi sopir taksi.

”Terimakasih, Pak.”

”Nggak usah pake terimakasih lu, brengsek.”

Busyet.

”Apakah kali ini kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”

”Yah, apakah kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”

”Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Sedangkan bangsat itu mempunyai segalanya. Tujuh mobil, tujuh rumah, dan tujuh pacar.”

”Dan satu istri muda.”

”Dan satu istri muda.”

Pria Serem 1 menudingkan jari seperti menembakkan pistol, dan menirukan bunyi tembakan.

”Tiegghhh!”

***

Aku disuruh berhenti di sebuah tempat yang sepi. Mereka keluar semua dari mobil. Pria Serem 1 mengambil segepok uang dari balik jaketnya, melemparkannya ke dalam, dan jatuh di pangkuanku. Kupegang uang itu.

”Ini kebanyakan, Pak.”

Pria Serem 1 membungkuk, menyandarkan tangan kanannya ke jendela, menunjuk dengan tangan kirinya.

”Lu liat rumah besar itu, ‘kan?”

Kulihat rumah yang nampak terang lampunya.

”Besok atau lusa lu buka koran, akan tahu yang punya rumah itu mampus. Lu tutup mulut. Ngerti?”

”Iya, Pak.”

”Sudah, pergi sana! Sok!’

Ketika kuputar taksiku, kulihat mereka bertiga memandangi rumah mewah itu, sebelum akhirnya melangkah ke sana.

Malam begitu sepi, begitu kelam. Aku tidak terlalu salah. Kota ini isinya orang-orang misterius. Siapakah yang betul-betul bisa kita kenal di kota ini? Apakah yang betul-betul bisa kita pahami di sini? Malam hanyalah bayang-bayang. Tapi aku suka bayang-bayang. Aku suka masuk ke balik kelam.

Radio taksi berbunyi.

”Sembilan-sembilan.”

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Di bawah rembulan.”

Kudengar lagu blues — aku masih sendirian menembus malam.

Jakarta – Yogya, Lebaran 1998

*) Lirik lagu dari puisi

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Saturday, March 27, 2010

Magi Timur Sutardji


Magi dari Timur

Cerpen Sutardji Calzoum Bachri

Jika para wali di langit tinggi
Jika para wali berarak di awan
Jika para wali menapak langit tinggi
Mari ikut bersama-sama
(disarankan dinyanyikan seperti When the Saints Go Marching In)

BEGITULAH dia Pak Tua itu menyanyi dengan harmonika berjalan menapak-napak pantai. Sementara burung poididi, si raja udang, elang, gagakagaknya, makadawaktu, murai dan lainnya meloncat-loncat girang dan bising dengan kicau lagu masing-masing, seakan tak perduli dengan irama nyanyi dan langkah loncat Pak Tua di pantai antara pasir dan bebatuan.

Angin pantai senja itu jinak. Tapi sejinak-jinaknya angin pantai, tetaplah dapat menyibak-nyibak perdu, ranting dan dedaunan berangan dan pelepah pepohonan kelapa kembar, mendesah dan menderu dalam gumam yang dalam. Maka engkau takkan dapat mendengar penuh nyanyi dan harmonika Pak Tua kalau kalian tak dapat masuk ke dalam dirinya.

Dalam diri Pak Tua ada ruang yang luas dan lapang yang dibuat dan dimuat oleh kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, pencapaian dan pelepasan yang ikhlas dan tenang.

Memang tak gampang masuk ke dalam ruang jiwa Pak Tua, namun jika engkau sanggup bersabar, jika kalian punya waktu dan memiliki hal-hal dan kejadian yang dapat kalian resapkan, engkau bakal bisa masuk ke dalam diri Pak Tua itu dan dapat jelas mendengar nyanyi dan harmonikanya.

Lihatlah, ia terus menyanyi, menapak-napak di pasir pantai meloncat-loncatkan kaki tua yang masih tegap itu pada punggung kokoh bebatuan:

Bila para wali di langit suci
Jika para wali berarak di awan
Bila para wali di langit suci
Mari ikut bersama-sama

Burung poididi, raja udang, makadawaktu, gagakgulana, kakaktua, dan burung sukadukatuaku, berkicau-kicau bising dan indah memberikan warna suara pada langit senja jingga merah keperak-perakan. Pelepah-pelepah kelapa kembar, dedaunan berangan dan perdu pantai disibak rebak angin mensiar-suirkan nyanyi sendiri-sendiri tanpa perduli.

Namun di antara sibuk bising nyanyi angin, pepohonan, dan para burung itu, nada dan nyanyi burung makadawaktu-lah yang mengatas segala.

Suaranya yang aneh , acuh tak acuh, dan terdengar netral, berderam keluar dengan tenang dan penuh wibawa dari paruh yang panjang melengkung bagaikan pedang:

Waketu waktu waktu waktu waketuku waktu, mengatas segala suara kicau dan nyanyi yang ada di sekitarnya.

Tapi seperti sudah kukatakan tadi, jika engkau dapat masuk ke dalam diri Pak Tua, hirau kicau deram desah burung, pepohonan dan alam yang di luar kelihatan bising tak perduli, saling sendiri menyanyi, semuanya jadi terasa selaras sepadan dan menyatu dalam nyanyi Pak tua itu.

Lelah dan puas menyanyi, Pak Tua menggeletakkan tubuh girangnya di pasir pantai, melelap dalam kesejenakan tidur. Ia kelihatan sebagai batu bernafas di sela banyak bebatuan yang terhampar di pantai.

Dalam tidurnya ia sering mengeluarkan dengkur yang aneh, bagaikan kord-kord harmonika yang tak dapat dilacak nadanya.

Memang dulu ketika muda bekerja sebagai pelaut di kapal tanker Yunani “Philosophia’, menyanyi dan mabuk-mabukan dengan teman-teman pelaut sekapal dari berbagai bangsa, ia tak pernah mau menyelaraskan suaranya yang aneh itu dalam nyanyi bersama.

Dalam mabuknya ia berkicau tak ada do bersama. Bahkan tak ada do sebenar do. Begitu juga re dan seterusnya. Paling yang do mirip do yang tak sebenar do yang hampir do yang walau do bukan do yang meski do bukannya do tapi do, namun do tak juga do, tak sampai do namun do mirip do apalah do kalau tak do.

Biasanya kalau ia sudah berkicau begitu, teman-temannya setanker Philosophia akan bilang: “Engkau benar, engkau ini Magi dari Timur”. Dan ia dalam mabuknya tertawa sementara pikirannya bilang pada dirinya sendiri: “Bukan hanya dari Timur, juga dari Barat, Utara, Selatan.

Tapi tentulah itu tak dilafazkan pada teman-temannya sekapal. Karena ia tahu, sebagaimana teman-temannya tahu: Bagi para bijak cukuplah satu arah, untuk menunjukkan banyak arah yang ada.

Kini batu bernafas itu yang punggungnya mengarah tenggelamnya senja, terus tenggelam dalam lelap diiringi dengkur harmonikanya.

Dengkur yang bersuara harmonika itu sudah lama lama sekali tak terpisahkan pada tidurnya. Dulu puluhan tahun yang lalu, ketika SD kelas tiga ia pertama kali mengenal harmonika. Ibunya membelikannya sebuah harmonika 3 dollar Straits Settlement, mata uang yang berlaku waktu itu di semenanjung Malaya, Singapura, Brunei dan Riau.

Sejak itu setiap bulan ia menghabiskan 3 sampai 4 harmonika. Tetapi ibunya tak pernah menolak kalau ia minta uang untuk harmonika.

“Engkau menghabiskan harmonika seperti orang makan jagung rebus,” bilang abangnya yang iri.

Tapi ibunya bilang: Biarlah. Di antara kalian dialah yang akan pergi jauh dan lama. Dia akan berpisah jauh dari kita. Mungkin untuk selama-lamanya. Memang sengaja aku biarkan bising dan sibuk dengan harmonikanya. Aku biarkan dia, sambil bergantungan di akar hawa pepohonan Riau seperti Tarzan, menyanyi-nyanyi dan menghisap harmonika. Aku biarkan dia berenang di lautan, timbul tenggelam bagaikan lumba-lumba, sambil menghisap harmonika. Aku biarkan dirinya, parunya, dan harmonikanya kuyup dengan laut, selat, sungai, akar, dan pepohonan Riau. Nanti, biarpun ia pergi jauh, dia takkan terpisahkan dari kita. Setiap ia menampilkan dirinya dan harmonikanya, selalu ada kita di sana.

Sejak berusia 50 tahun ia mulai mendengkurkan harmonikanya. Tapi sejak usia itu pulalah ia tak pernah bermimpi. Tidurnya selalu kosong mimpi tapi sarat pada makna hayat kediriannya.

Mimpi hanya untuk luka yang ingin disembuhkan, angan-angan dan harapan, untuk kejadian-kejadian yang diharapkan dan dicemaskan akan datang, juga untuk hiburan. Tetapi aku, aku sudah lama tak membutuhkan mimpi. Aku telah melepas-atasi luka, aku telah lama mencapai atasi sampai. Aku tak membutuhkan hiburan karena aku adalah kegirangan. Aku tidak menanti dan tak mengharap. Karena aku adalah yang dinanti dan diharapkan, katanya dalam omong-omong dengan Paul Wisdom, teman akrabnya sesama mantan pelaut Philosophia ketika suatu hari kebetulan bertemu di Batam.

‘Engkau memang benar-benar Magi dari Timur, seperti dulu sudah kubilang waktu di kapal,” kata Paul Wisdom.

Dan seperti biasa, kembali kilatan dalam pikirannya bilang: “Bukan hanya dari Timur, tetapi juga dari Selatan, Utara dan Barat”. Tetapi seperti biasa pula tak diucapkan lantang pada temannya. Karena ia tahu, bagi para bijak seperti Paul Wisdom cukuplah satu arah untuk menunjukkan banyak arah yang ada.

Ketika tidur Pak Tua selalu tersenyum. Bukan hanya di wajahnya yang kerut merut dihiasi alur usia, tetapi sekujur tubuhnya, kaki, bahu, perut dan tangan dan lengannya tersenyum. Semakin lelap semakin mengembang senyum di sekujur tubuhnya. Bahkan tattoo perempuan telanjang di tangan kirinya-kenang-kenangan di masa pelautnya-yang tadi ikut berkeringat ketika Pak Tua meloncat-loncat menyanyi, ikut pula tersenyum.

Kedua buah dadanya yang ikut keriput bersama usia Pak Tua, kini serupa dengan kembang senyum, mengundang hasrat keakraban bagi yang menatapnya.

Maka tak heran kalau Alina, gadis kecil 5 tahun, yang sengaja melepaskan diri dari pengasuhnya, sedikitpun tak gentar ketika menemukan batu bernafas itu.

Ia berjongkok di depan Pak Tua, mendengarkan dengan cermat dan asyik pada dengkur harmonika dari batu keras bernafas namun penuh dilimpahi senyum akrab di sekujurnya. Ia terpukau pada buah dada tattoo yang mengembangkan senyum. Alina mengusap-usap lengan yang tersenyum seakan menjawab suatu jabat tangan. Sebesar-besarnya buah dada dari tattoo di lengan tentulah takkan besar benar. Tapi bagi Alina, buah dada tua yang mengembangkan senyum itu menjadi besar penuh susu segar. Ia menundukkan muka ke buah dada kiri tattoo dan mulai menghisapnya. Pak Tua terbangun.

-Itu hanya gambar-kata Pak Tua sambil tersenyum.

Tanpa malu-malu dan tidak terkejut Alina bilang: “Aku ingin menyusu, Kek”.

-Kau sudah lama tak perlu menyusu-kata kakek.

-Memang sudah lama aku tak menyusu. Tapi sekarang aku ingin.

Pak tua mengalihkan hasrat Alina, memainkan harmonika dengan lembut dan membisikkan lagu di sela-sela riff-nya. Alina senang kegirangan.

-Siapa namamu?

-Alina.

-Usiamu?

-5 tahun.

-Kakek namanya siapa?

-Nama.

-Nama Kakek?!

-Ya Nama.

-Aku bilang nama Kakek siapa?-gusar Alina.

-Ya Nama.

Alina tambah gusar dan kesal.

-Orang harus punya nama, Kek. Namaku Alina. Kakek namanya apa?

-Nama-jawab kakek sambil memungut ranting dan menuliskan : N-a-m-a, di atas pasir pantai.

-Ah masak nama Kakek Nama. Biasanya nama orang itu Abdul, Alek, Wina, Hadi, Hamid, Rahman. Tapi Kakek namanya Nama. Tak lazim, Kek.

Kakek tersenyum dan tertawa. Ia tahu sedang menghadapi anak yang cerdas. Kata ‘tak lazim’ yang diucapkan seorang anak 5 tahun, menambah kesan kecerdasannya.

-Ya. Baiklah. Biar lebih jelas dan lazim namaku ini-kata kakek, sambil menggoreskan ranting di pasir dan menulis bin Tafsir setelah N-a-m-a.

-Nama bin Tafsir, itulah nama jelasku. Kalau pakai Tafsir pasti akan lebih jelas memanggil atau mengenalku. Jika kau sebut Tafsirnya kau akan lebih kenal aku.

Alina terbengong-bengong dan bilang “aku tak mengerti, Kek”.

-Ya aku tahu kau belum paham. Tapi nantilah jika semakin tambah usiamu, semakin banyaklah kejadian yang kau alami dan saksikan, kau akan bisa akrab dan paham dengan namaku dan dengan nama-nama lainnya. Buat sekarang, kau panggil aku Kakek, itu sudah bagus-kata Pak Tua.

Senja semakin kelam. Burung-burung sudah menutup kicaunya. Semak-semak dan perdu mulai menyatu dalam bayangan kelam. Pepohonan kelapa kembar mulai tak kelihatan kembarnya. Dermaga yang jauh sayup, mulai menyalakan lampunya.

-Sudah waktunya pulang-kata Pak Tua.-Kau bisa pulang sendiri?-tanyanya.

-Itu rumahku-jawab Alina menunjukkan sebuah vila mungil 200 meter dari situ, yang menjadi terang karena lelampunya sudah dihidupkan.

-Kakek rumahnya di mana?-tanya Alina. Kakek menunjuk pada gundukan tanah yang luas di ketinggian pantai, ditutupi rumput yang tebal dan rapi dan di pinggir gundukan penuh merambat bunga-bunga.

Bagi Alina rumah kakek kelihatan aneh sebagai gundukan tanah yang luas dan lapang.

-Boleh aku ikut Kakek?

-Buat apa-jawab Pak Tua.

-Ya ingin tau aja-jawab Alina.

Aku cuma ingin tahu jalannya. Sampai rumah Kakek aku langsung pulang. Nanti kan aku bisa jalan sendiri ke rumah Kakek, tentu bila Kakek mengizinkan.

Ya, nanti-nanti kau bisa sendirian ke sana, kata kakek sambil membimbing Alina menuju ke rumah.

Sampai rumah Pak Tua, Alina jadi tahu bahwa rumah kakek dalam tanah. Gundukan besar dan rapi dengan rumputan dan bunga-bunga itu adalah atapnya. Percis sebuah kuburan besar tetapi lelampu luar dan dalam rumah yang segera dinyalakan kakek, serta warna-warni bunga-bunga rerumputan sejuk dan tebal membuat Alina senang dan jauh dari ketakutan.

Di bagian depan bukit rumah Pak Tua itu, terpancang papan lebar kokoh dan besar bagaikan sebuah nisan yang besar dan jelas tercantum nama Pak Tua: Nama bin Tafsir. Kakek tersenyum melihat Alina dengan bantuan cahaya lelampu taman mencoba mengeja namanya.

Sudah waktunya kau pulang sekarang. Nanti ayah dan ibumu bisa cemas. Lantas digaetnya tangan Alina dan diantarnya bocah kecil itu separuh jalan menuju rumah orangtuanya. ***

Sumber: Riau Pos, 9 Agustus 2003

Download cerpen ini KLIK di sini

Thursday, March 25, 2010

Nh. Dini dan Daun Waru di Samirono

Daun-daun Waru di Samirono

Cerpen Nh. Dini



MATAHARI bersinar lembut.

Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah.... Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.

Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.

Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.

Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.

"Mana galahnya, Mak?" seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.

Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.

Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.

Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.

Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.

Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.

"Berangkat cari daun waru, Lik Jum?"

"Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?"

"Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!"

Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?

Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.

Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.

Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.

Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.

Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.

Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.

"Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah," katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.

"Nuwun, Mas, nuwun,"14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.

Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.

Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.

"Sebentar lagi panas terik, Mbah," kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, "ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering."

"Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah," kata kuli yang lain.

Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.

Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.

Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.

"Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?" kuli bangunan bersuara lagi.

Kali itu Mbah Jum menyahut,

"Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas."

"Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!"

"Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu," kuli lain membantah temannya.

"Ya jauh kalau dari Ndemangan," kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.

"Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?"

Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.

"Di, lepaskan paculmu. Kemari!"

"Ini adukan kedua! Nanti mengering!"

"Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!"

"Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!"

Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.

Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.

Sendowo September 2004

Catatan:
  1. 1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
  2. 2. kekacauan
  3. 3. bangsawan, petinggi
  4. 4. Yang Dipertuan
  5. 5. pulang
  6. 6. jungkir balik
  7. 7. rakyat biasa
  8. 8. orang-orang bangsawan
  9. 9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
  10. 10. Lurah, kepala kawasan
  11. 11. sekretaris kelurahan
  12. 12. menimba dan mengusung air
  13. 13. SD
  14. 14. terima kasih
  15. 15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
  16. 16. musim kemarau

Sumber: Kompas Minggu, 24 Oktober 2004

Download cerpen ini KLIK di sini

Monday, March 22, 2010

Seno Gumira dan Paman Gober


Kematian Paman Gober

Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, “oh, aku lua, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?

“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.

“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.

“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

“Belum mati juga!”

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

“Mestinya, bebek seumur sya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”

“Apakah saya tidak punya hak bicara?”

“Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”

“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”

“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”

“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”

“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”

“Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?”
Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”

“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.

“ Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.

“Apakah itu hakikat hidup bebek?”

“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Jakarta,16 Agustus 1994

Sumber: Republika, 30 Oktober 1994

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Saturday, March 20, 2010

Caping Gunawan M

Pada Suatu Hari, Ikarus

Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya dan suwiwi itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke Laut Aegea. Ia tenggelam.
Mitologi Yunani itu tak bercerita apa yang yang terjadi ketika ia terhempas ke permukaan ombak. Tapi, di tahun 1555, Brueghel Yang Tua melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, perupa termasyhur Belanda abad ke-16 itu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatis. Justru sebaliknya.

Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi. Di bagian depan, seorang petani menggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bertelekan pada tongkat tampak melihat ke langit jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di sebelah kanan, tampak punggung seorang yang duduk ke arah teluk, mungkin memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air –sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.

Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah terbanting dan direnggut Maut. Apakah yang hendak diutarakan kanvas itu sebenarnya: bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu seperti badut yang tergelincir kulit pisang? Tak berhargakah jiwa anak itu, apa pun kesalahannya?

Pertanyaan itu memang mengusik. Dua orang penyair melihat karya Brueghel yang tergantung di museum seni rupa di Brussels itu dan mereka tergerak menulis sajak. Dari William Carlos Williams kita temukan baris-baris pendek seperti telegram, seakan-akan gambaran faktual yang disajikan tanpa gerak emosi. Seluruh sajaknya mengisyaratkan suasana acuh tak acuh –dan kita pun merasakan sebuah gugatan yang tersirat terhadap sebuah tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.

Sajak W.H. Auden, dalam Musee des Beaux Arts, memakai kalimat yang lebih panjang, dan dengan protes yang lebih diungkapkan:

Penggaru ladang itu
Mungkin mendengar suara terhempas itu, teriak yang diabaikan itu
Tapi baginya, itu bukan satu kegagalan penting
Juga kapal yang apik dan mahal itu tentunya melihat “sesuatu yang menakjubkan” –seorang anak jatuh dari langit – tapi toh berlayar terus dengan tenang; “ada pelabuhan yang harus dijelang”.

Pada akhirnya lukisan Brueghel adalah contoh dari yang hendak dikemukakan Auden tentang penderitaan. Penderitaan, kata sajaknya, berlangsung, “sementara seseorang makan, atau membuka jendela, atau cuma berjalan-jalan, seperti alpa”. Anak-anak “berselancar di permukaan es di sebuah kolam di tepi hutan”, sementara “the dreadfull martyrdom must run its course” – “mati syahid yang ngeri itu harus berjalan di arahnya”.

Tapi benarkah Braughel, seperti dikira Auden, menggugat ketidakacuhan itu? Ataukah ia malah merayakannya?

Jika diperhatikan, lukisannya memaparkan sebuah lanskap yang seakan-akan disaksikan dari atas, dari langit. Mungkin bagi seorang yang hidup di abad ke-16, di panorama itu tak ada yang harus dipersoalkan. Ia hidup ketika agama jadi percakapan pokok dan bunuh-membunuh terjadi karena percakapan itu: setelah 1550, perang atas nama iman meletup di mana-mana di Eropa antara orang Katolik dan Protestan. Di masa seperti itu, orang akan mengatakan bahwa “langit” memandang nasib Ikarus sebagai insiden yang tak luar biasa. Ketika kita hanya bicara tentang surga dan keabadian, ketika segala rupa dan peristwa di dunia sepenuhnya dilihat dari tahta di atas yang kekal, apa arti kesengsaraan manusia? Pentingkah bencana dan kematian?

Barangkali bagi Brueghel, nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari: ada petani yang bekerja dan kapal yang berniaga, tapi ada pula orang yang berikhtiar tapi gagal. Atau mungkin Ikarus sebuah contoh kesia-siaan manusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka bila ia terjerembab dan mati, biarlah.

Mungkin bagi seorang dari abad ke-16, hidup lebh baik dijalani dengan menerima kenikmatan yang ada, seperti penggembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan kerja yang jujur, dengan membajak bumi dan mengarungi laut.

Kenapa Ikarus tak meniru penggaru yang tekun, penggembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni bahwa ia bukan unggas?

Kita di abad ke-21, tentu bisa berkata: kodrat manusia tak bisa dirumuskan begtu saja. Ketika kita merasa berhasil merumuskannya, jangan-jangan kita melenyapkan kemungkinan orang untuk berbeda –sehingga siapa saja yang berlainan dari “kodrat” itu akan kita sebut “bangsat” atau “kunyuk”, dan kita basmi.

Atau kita akan terkecoh: dengan merumuskan “kodrat” atau “hakikat”, kita tak menduga suatu ketika manusia akan mampu menembus rumus itu. Ikarus memang gagal, tapi seandainya tak pernah ada orang yang berani mencoba terang, memerdekakan diri dan jadi “ganjil”, dunia akan tetap seperti abad ke-16. Tak akan ada Wright Bersaudara, dua orang Amerka yang di tahun 1903 dengan sebuah mesin bisa terbang selama 10 menit di sebuah lapangan di North Carolina –dan dengan itu membuka jalan manusia untuk menjelajah, seperti burung, bahkan lebih dari burung, hingga angkasa tak menakutkan lagi.

Pernah terpikir oleh saya, apa gerangan jadinya seandainya Ikarus, si tokoh mitologi, juga berhasil. Mungkin panorama dalam kanvas Brueghel akan berubah: mungkin penuh sukacita, tapi mungkin juga resah. Sebab telah datang manusia yang mengalahkan alam, dimulai dengan melawan batas tubuhnya sendiri. Siapa yang mampu demikian akan berkuasa atas hal-hal lain. Ia akan melihat dirinya berdaulat dan penuh daya –sebuah gambaran manusia menurut humanisme.

Gambaran humanis ini memang mempesona: manusia jadi subyek yang bebas, yang bisa memutuskan bahwa dirinyalah pusat ukuran segala hal-ihwal. Tapi memudian orang sadar: ketika manusia menegakkan diri sebagai subyek yang otonom, ia sekaligus membuat yang di luar dirinya sebagai obyek yang tak otonom. Yang “sini” menaklukkan yang “sana”. Yang “sana” itu bukan saja langit, ladang, dan laut. Pada gilirannya juga pada peladang dan pelaut dan siapa saja yang dianggap tak cukup layak jadi “manusia”.

Itulah yang memang terjadi, bahkan sebelum mesin terbang ditemukan. Citra manusia yang serba kuat dan berdaulat itu diperkukuh oleh mereka yang tak hanya menggaru ladang, tapi juga membangun kota, tak hanya menggembala, tapi juga mengukur cuaca, tak hanya melintasi Laut Aegea, tapi menemukan ilmu, mengembangkan seni, memenangi perang.

Di sana kita lihat profil manusia “Eropa”. Sebuah peradaban yang dahsyat terbentang, tapi juga kolonialisme. Sang Penakluk ujung dunia akhirnya memandang mahluk yang ditaklukkan di ujung itu “belum-manusia”: mereka yang layak dihabisi, atau ditindas, atau, dalam kata-kata Franz Fanon, pemikir anti-kolonialisme Aljazair, “diundang untuk jadi manusia”. Dengan kata lain, dunia sang terjajah harus dibentuk agar mengikuti prototipe “manusia” yang disusun oleh dunia borjuis “Barat”.

Tapi Perang Dunia ke-II yang kejam pecah dan kolonialisme goyah, lalu runtuh. Dari segala penjuru datanglah kritik kepada humanisme. Terkadang berlebihan. Terkadang orang lupa bahwa ide tentang manusia sebagai subyek yang otonom itu juga yang mendorong orang-orang terjajah melawan. Di Asia, Afrika, dan di Amerika Latin mereka tak lagi menerima anggapan bahwa si terjajah adalah kategori “sana” yang “belum manusia”, mahluk “terbelakang” yang tak berdaya. Mereka melawan, mungkin memilih Ikarus –tentu saja Ikarus yang berhasil—sebagai lambang, sebab mereka juga ingin lepas dari penjara, terbang menembus kodrat, menguak takdir.

Tapi ada yang cemas, memang, akan ketakaburan manusia. Ada orang beragama yang kini mengecam humanisme seperti di zaman dulu orang mengecam Ikarus: sebuah contoh kepercayaan diri yang berlebihan, sebuah hubris. Kaum Kristen Kanan bahkan menyamakan “humanisme” dengan “titanisme”, pandangan yang menerakan sifat ke-maha-kuasa-an Tuhan pada manusia.

Mereka menolak itu, tentu. Bagi mereka, manusia tak bisa hadir sebagai subyek yang otonom. Ketidakpercayaan kepada manusia pula yang menyebabkan mereka, seperti halnya kaum fundamentalis dalam Islam, ingin agar Tuhan-lah yang menentukan tatanan hidup di bumi, dengan kata dan undang-undang yang pasti.

Tapi tidakkah itu juga sebuah bentuk ketakaburan antroposentris: dilengkapi dengan kata dan undang-undang, Tuhan tetap dimunculkan dengan manusia sebagai model dan ukuran? Tentu saja ukuran itu tak akan pernah pas. Tuhan lebih agung ketimbang kata dan undang-undang, naskah dan syariah. Kita ingat sayap Ikarus yang mencoba menggapai matahari; ia tak akan sampai….

diambil dari: http://goenawanmohamad.com/esei/pada-suatu-hari-ikarus.html#more-293
Download postingan ini?

Friday, March 19, 2010

Chairil Anwar Memilih Kesunyian

Chairil yang Tak Sapadan dan Sia-sia
(lanjutan apresiasi puisi chairil anwar)


Dalam sajak Tak Sepadan, yang dituliskan pada bulan yang sama dengan sajak Diponegoro, Chairil menentukan pilihannya. Dia berkata: "kau kawin, beranak dan berbahagia / Sedang aku mengembara serupa Ahasveros". Chairil menolak ikatan, dia memilih kesunyian. Dan putusan ini bukan tanpa dia pikir masak-masak sebelumnya.


Tak Sepadan

Aku kira
Beginilah nanti jadinya
kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-disumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu jua pintu terbuka

Jadi baik juga kita pahami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943

Dia tahu apa yang akan jadi nasibnya. "Aku merangkai dinding buta / Tak juga pintu terbuka", katanya melukiskan apa yang akan terjadi pada dirinya dengan memilih jalan tersebut.

Ini diperkuat lagi pada sajaknya yang berikut, yang juga dituliskan pada bulan yang sama, Sia-sia.

Sia-sia

Penghabisan kali ini kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan padaku
Serta pandang yang memastikan: untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Februari 1943

Betapa menggoda kehidupan yang diidealisir seperti yang dilakukan oleh Diponegoro, dilukiskan oleh Chairil dalam sombol-simbol ikatan cinta dengan seorang gadis, yang memang memiliki persamaan dasar yang kuat. "Darah dan Suci / kau terbarkan depanku / Serta pandang yang memastikan: untukmu". Dan keputusan diambil -- dia memilih kehidupan ini sebagaimana adanya, tanpa mengidealisirnya. Ini artinya kesepian. Ini artinya kesunyian. Ini artinya penderitaan. Tapi Chairil tetap memilihnya, dan dia menista dirinya karena memilih yang itu. "Ah! Hatiku yang tak mau memberi / Mampus kau dikoyak-koyak sepi". Betapa beratnya pilihan itu bagi Chairil.

diambil dari: Chairil Anwar
Sebuah Pertemuan, Arief Budiman. hal. 23-24
Download postingan ini?

Wednesday, March 17, 2010

Chairil Anwar di depan Pangeran Diponegoro

Chairil Berjumpa Pangeran Diponegoro

Tiba-tiba, Chairil bertemu dengan pahlawan legendaris Diponegoro. Dia melihat betapa sang pangeran begitu bergairah mempertahankan hidup ini. Tanpa rasa takut, tanpa rasa bimbang, seakan-akan semua persoalan hidup ini sudah terjawab. "Di depan sekali tuan menanti./Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali./Pedang di kanan, keris di kiri./ Berselempang semangat yang tak bisa mati". Melihat semua ini,  Chairil muda hanya bisa berkata: "Dan bara kagum menjadi api". Seorang pemuda yang sedang bimbang dan berpikir keras sekarang berhadapan dengan seorang pangeran yang tegak dengan angkuhnya menghadapi hidup ini.


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti
Sudah itu mati

MAJU

Bagimu negeri
Menyediakan api

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang
Februari 1943

Untuk apa? Apa yang diperjoangkan sang pangeran? "Bagimu, negeri menyediakan api", katanya. Diponegoro berjoang untuk tanah airnya, yang identik dengan kemerdekaan. Lebih baik punah dari pada hidup menghamba, lebih baik binasadari pada hidup tertindas.

Hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup adalah sesuatu yang harus diisi dengan arti. Hidup akan cukup berharga kalau dia punya arti, meskipun arti itu hanya kita berikan satu kali. Hidup harus dikaitkan dengan sesuatu yang lebih besar dari hidup itu sendiri -- dalam hal Diponegoro, kemerdekaan negerinya. Dalam keadaan seperti itu, kematian yang menjadipikiran yang terus menerus datang mengganggu Chairil, tampak tidak berarti, karena kehidupan itu sendiri sudah tidak menjadi inti persoalan lagi, melainkan hanya tinggal bagian kecil dari suatu yang lebih besar itu. Karena itu, meskipun tahu bahwa dia mungkin akan kehilangan hidupnya, sang pangeran tetap tegak "tak gentar" di hadapan "lawan banyaknya seratus kali". Karena kemerdekaan adalah lebih tinggi dari kehidupan itu sendiri.

Tampaknya, Chairil cukup terpukau oleh jawaban yang diberikan oleh sang pangeran ini, sehingga dia tampak cukup bersemangat menuliskan sajaknya ini. Pangeran Diponegoro seakan-akan berhasil membuatnya tertegun, sehingga berlainan dengan kedua sajak sebelumnya, di sini tidak kita temui monume-monumen kontemplasi. Ini tampaknya bukan sesuatu yang khas Chairil si pemuda yang suka termenung dan mempertanggungjawabkan segala hipotesa-hipotesa yang dia buat sendiri

Maka kalau pada bulan yang sama, dia kemudian membuat sajak yang berlainan nadanya, itu merupakan sesuatu yang wajar saja. Segera setelah "semangatnya" mulai reda, barangkali dia mulai melihat beberapa kenyataan yang lain. Sang pangeran yang mempertaruhkan segalanya untuk memperjoangkan kemerdekaan, pada akhirnya, ketika sang maut datang menjemputnya, dia sedang berada sendirian dikurung dan diasingkan di suatu penjara di Makasar.

Kematiannya adalah sebuah kematian yang sunyi, tanpa kemerdekaan. Barangkali tiba-tiba, Chairil melihat kembali wajah sang nasib yang kadang-kadang bernama maut seperti dia lihat ketika dia menuliskan sajaknya yang pertama Nisan. Wajah yang sama, dingin dan angkuh, melaksanakan segala rencana-rencana tanpa perasaan sedikitpun. Ketika Diponegoro begitu bergairahnya berjoang untuk mendapatkan kemerdekaan, sang nasib dengan dingin menunjuk ke suatu kamar penjara yang sunyi di Makasar.

Lalu apa artinya mengikatkan diri kepada prinsip-prinsip, kalau sang nasib tidak di tangan kita? Tapi, di lain pihak memang benar, bahwa orang yang mengikatkan dirinya dengan suatu prinsip, dapat mentransendir nasibnya. barangkali, Diponegoro tidak duduk menderita kesunyian melainkan dia terbakar oleh kebanggaan terhadap apa yang dia sudah lakukan. Dan dia melihat nasibnya yang sekarang bukan sebagai suatu kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses perjoangannya untuk kemerdekaan. Tapi, memang benar pula, dalam kenyataannya, sang pangeran tidak pernah mencicipi udara kemerdekaan lagi sesudah dia tertangkap.

Antara dua kontradiksi kehidupan inilah kiranya Chairil terombang-ambing. Dia harus memilih: atau dia mengikatkan dirinya kepada suatu prinsip dan melihat kenyataan hidup ini atas dasar perjoangan untuk mencapai prinsip tersebut. Dengan lain perkataan, dia mentransendir hidup ini, mengidealisirnya (atau merasionalisasikannya) dan berbahagia. Atau, kemungkinan kedua, dia harus menghadapi kehidupan ini sebagaimana adanya, bahwa kehidupan ini tidak bisa dipahami, bahwa manusia, karena itu, menjadi asing terhadap hidup ini, bahwa manusia, karena itu, menjadi sendirian.
(bersambung)

diambil dari: Chairil Anwar Sebuah Pertemuan,
Arief Budiman, hal. 20-23
DOWNLOAD postingan ini?

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook