Monday, August 23, 2010

Sumur Tanpa Dasar Arifin C. Noer

Sendiri. Kesepian. Kesunyian tak bertepi akan menyergap manusia yang selalu dan sering kali dirundung kegelisahan eksistensi dirinya. Jelas kondisi psikologis seperti ini selalu mengungkung Jumena Martawangsa – tokoh utama dalam lakon Sumur Tanpa Dasar, karya Arifin C. Noor

Naskah Sumur Tanpa Dasar yang ditulis oleh Arifin C Noor di tahun 1950-an semasa awal kuliahnya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Drama ini menceritakan Jumena Martawangsa tokoh utama dari lakon ini—seorang lelaki tua yang dikejar-kejar kegelisahan eksistensial dirinya sendiri. Kegalauan yang muncul dari suatu pemberontakan atau mungkin kesombongan cara berpikir yang terbatas melawan ketakterbatasan dalam diri Jumena. Tipikal problematik masyarakat modern yang selalu berpikir bahwa manusia layaknya harus mengolah habis-habisan nasib dan suratan hidupnya.

Berikut adalah penggalan naskah Sumur Tanpa Dasar. JIka Anda ingin membaca secara lengkap naskah ini atau ingin mendownload silakan klik read more dan klik download di bawah postingan.

BAGIAN PERTAMA


1
SANDIWARA INI KITA MULAI DENGAN SUARA DETAK-DETIK LONCENG YANG MENGGEMA MEMENUHI RUANG. SUARA DETAK-DETIK INI BERJATUHAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MENIMBULKAN BERMACAM-MACAM ASOSIASI. SESEKALI DI SELA-SELA SUARA INI MENYAYUP PANJANG LOLONG ANJING ATAU SRIGALA YANG SEDANG ‘MERAIH’ BULAN.

2
LONCENG ITU ANTIC, TUA, AGUNG DAN KUKUH PENUH RAHASIA. DARI RONGGA LONCENG MUNCUL KABUT-KABUT ATAU PARA PEMAIN YANG MELUKISKAN KABUT-KABUT. MEREKA MELANGKAH MENGENDAP-ENDAP UNTUK SELANJUTNYA SECARA PENUH RAHASIA MENYEBAR KE SEGENAP ARAH DAN SEGERA GAIB SIRNA.

3
PIGURA ITU TANPA GAMBAR TANPA POTO, KOSONG, TERGANTUNG SUNYI DAN PENUH RAHASIA

4
DI ATAS KURSI GOYANG JUMENA MARTAWANGSA BERGOYANG-GOYANG SUNYI. TAMPAK SESAK PERNAFASANNYA. SEKALI PUN BEGITU, KEDUA MATANYA MASIH MENYOROTKAN PANDANGAN YANG TAJAM. AMAT TAJAM. DAN DALAM KEADAAN SEPER JUMENA KELIHATAN SEPERTI SEDANG MENGHITUNG DETAK-DETIK LONCENG.
SEJAK TADI, SEONGGOK KABUT BERDIRI DI SAMPINGNYA MEMEAINKAN SEHELAI TALI YANG SIAP UNTUK MENGGANTUNG LEHER. AGAK BEBERAPA SAAT JUMENA MENIMBANG-NIMBANG TALI ITU. KEMUDIAN KABUT ITU MENDEKATKAN TALI GANTUNGAN ITU DAN JUMENA MENCOBA MEMASANG PADA LEHERNYA. DIA TERTAWA.

JUMENA
Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada

Sambil tertawa ia memberikan isyarat agar kabut pembawa tali pergi. Dan pada saat itu detak-detik lonceng semakin lantang. Dari rongga lonceng muncul Sang Kala alias Pemburu yang siap dengan senapannya. Ketika senapan itu meletus, terkumpullah seluruh amarah dan kekagetan Jumena

JUMENA
Bangsat!

TATKALA SANG KALA GAIB BERDENTANGANLAH LONCENG ITU. KEMUDIAN BERDENTANG JUGALAH BERJUTA LONCENG-LONCENG DAN WEKER. SEDEMIKIAN RUPA SUARA ITU MENEROR SEHINGGA MENYEBABKAN JUMENA BANGKIT. DAN PADA SAAT JUMENA BERDIRI, HENING MENGGANTIKAN SUASANA. LALU JUMENA DUDUK KEMBALI.

PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DI KAKI KURSI GOYANG DENGAN TEMPOLONG YANG LAIN.

P. TUA (Sambil pergi)
Terlalu bernafsu. Pucat sekali wajahnya

5

ENTAH DARI SEBELAH MANA EUIS MUNCUL

JUMENA
Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang. Tapi juga kalau saya tenang, tak akan pernah ada sandiwara ini

EUIS
Akang

JUMENA
Euis

EUIS
Apa yang akang lihat?

JUMENA
Kau

EUIS
Kenapa?

JUMENA
Ingin tahu apa kau betul-betul cantik

EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI JUMENA, TELINGA JUMENA DAN LAIN-LAIN SEHINGGA MEMBUAT JUMENA KEGELIAN. KEDUANYA TERTAWA-TAWA. SEKONYONG-KONYONG JUMENA MEMATUNG, MURUNG

EUIS
Kenapa, Akang?
(Jumena Memainkan Bulu Matanya Sendiri)
Kenapa tiba-tiba muram, Akang?

JUMENA (Manja-tua)
Umur Euis berapa?

EUIS
Dua enam

JUMENA
Itulah sebabnya!

EUIS
Percayalah akang. Euis akan tetap mencintai akang sekalipun umur akang delapan puluh tiga tahun

JUMENA
Betul?

EUIS
sumpah

JUMENA
Kalau delapan lima?

EUIS
Cinta

JUMENA
Seratus tahun?

EUIS
Euis akan tetap menciumi leher akang

KEMBALI EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI LEHER JUMENA DAN LAIN-LAIN. KEDUA-DUANYA TERTAWA

JUMENA
Kalau saja saya tahu kau betul-betul mencintai saya

EUIS
Euis sangat cinta pada akang

JUMENA
Menyenangkan sekali kalau itu benar

EUIS
Betul Euis mencintai akang

JUMENA
Mungkin, saying akang tidak tahu persis

EUIS
Tidak perlu

JUMENA
Perlu. Bahkan akang juga ingin tahu apa betul akang bahagia
(Terus mereka berciuman dan tertawa-tawa)
Sesekali enak juga berhibur seperti ini

TERUS MEREKA BERCIUMAN DAN TERTAWA

6

ENTAH DARI MANA MARJUKI KARTADILAGA MUNCUL. IA TERSENYUM SAMBIL MENYEDOT PIPA ROKOKNYA

JUMENA (Kesal-sedih)
Kenapa kau rusak sendiri? Kenapa kau berubah? Lenyapkan itu

(Begitu melihat Marjuki, perhatian Euis beralih dan langsung merangkulnya)

Bangsat. Kau rusak sendiri. Semuanya kau rusak sendiri

(Dalam sunyi Jumena menimbang-nimbang sendiri apa yang baru diucapkannya)

Siapa bilang aneh? Semua ini mungkin saja terjadi. Tuhan, kenapa justru saya merasakan sesuatu semacam kenikmatan dengan segala pikiran-pikiran ini? Kau jebak saya, Tuhan. Kau jebak saya. Tega. Kau! (lalu mulai dengan pikirannya) saya kira mula-mula istri saya…. (Agak lama) Ya, mula-mula istri saya akan berlaku seperti bidadari

(Euis menutup wajahnya seperti seorang gadis kecil)

Mungkin saja….

EUIS (Gemetar)
Tidak mungkin Juki

JUKI
Mungkin saja

EUIS (Gemetar)
Tidak mungkin. Saya tidak bisa meninggalkan dia

JUKI
Segalanya mungkin. Tidak ada tidak mungkin

EUIS
Hati saya mulai bersuara lagi

JUKI
Kalau begitu kau sedang membunuh dirimu sendiri. Apa kamu merasa sedang dihukum? Apa ayahmu sedang melecutmu?

EUIS
Dada saya bergetar sangat kencangnya

JUMENA
Kalimat-kalimat ini berasal dari syahwat

Lolong anjing di kejauhan

EUIS
Kau dengar anjing yang melolong itu?

JUKI
Bukankah suara itu suara kita sendiri? Anjing yang melolong dan menggonggong? Bulan yang kuning

JUMENA
….suara-suara kesepian yang baka dan purba…

JUKI
Euis

EUIS (Sangat takut)
Juki, dia suami saya

JUKI
Dan saya?

EUIS (Bertubi-tubi menciumi Jumena)
Saya mencintai suami saya seperti saya mencintai ayah saya sendiri

JUMENA
Setiap kali dia berlebihan menciumi saya, terasa ciuman itu sebagai niat pembunuhan

JUKI (Melangkah akan pergi)
Baiklah!

JUMENA
Apa yang akan ia lakukan?

EUIS (Mengejar)
Marjuki!

JUMENA
Saya kira begitu

JUKI
Euis, musuh kita selama ini adalah perasaan. Kita harus memusnahkannya. Membunuhnya sama sekali. Kedua orang tua saya mati karena perasaan mereka sendiri. Mereka bangkrut karena mereka terlalu mencintai paman saya. Dan akhirnya mereka mati sebelum mati. karena saya tahu betul kejadian itu, tentu saja saya tidak mau bernasib sama seperti mereka. Saya harus menang terhadap perasaan saya dank au pun harus menang terhadap perasaanmu

EUIS
Tapi bagaimana pun dia suami saya

JUKI
Dan saya?

EUIS MENGGIGIT IBU JARINYA SENDIRI YANG KIRI

JUMENA
Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?

EUIS
Seorang suami yang mencintainya…

JUMENA
Saya sangsi…

JUKI
Dan sekalipun dia seorang perempuan atau banci? Tidak, sayang. Seorang perempuan selamanya hanyalah mengharapkan seorang laki-laki. Kalau tidak, pasti bukan perempuan. (Mendekat) lihatlah saya. Seorang laki-laki. Seluruhnya seratus persen

JUMENA
Kenapa membersit pikiran-pikiran seperti ini? Enyah! Enyah!

JUKI
Saya yakin ketika kau sendirian dalam kamar, kau sering duduk-duduk di muka cermin, dan kau tentu sangat suka berbicara pada dirimu dalam cermin

EUIS (Dalam cermin)
Saya seorang perempuan. Saya kesepian. Saya harus menerima apa adanya. Dia suara saya. Bagaimanapun!

JUKI
Kau tahu siapa yang membantah itu?

JUMENA (Melanjutkan)
Itulah musuhmu selama ini

JUKI
Perasaanmu!

EUIS
Tapi kalau itu kita kerjakan berbahaya. Lagi, kenapa kita harus…

JUKI
Bahaya harus berani kita tempuh kalau kita sungguh-sungguh menghendaki kepuasan dalam hidup kita

EUIS
Saya kira saya sudah cukup puas. Saya kira cukup itu…

JUKI
Euis, kau bisa gila karena kelemahanmu. Kau jangan cepat puas. Apa yang kita kecap dalam beberapa hari ini hanya sebagian kecil saja dari sukses. Kita belum mendapatkan semuanya. Jangan takut pada diri sendiri. Persetan itu hati nurani. Diri sendiri adalah milik kita sendiri. Kita harus bebas. Bebas seperti malam-malam dahulu ketika suamimu pergi ke Tasikmalaya. Malam-malam ketika alam yang murni mempertontonkan dirinya, di mana kita menjadi putra-puteri alam sejati, terbuka dan merdeka

Suara kecapi di kejauhan, sayup dibawa angina sesekali. Jumena memejamkan mata

JUKI (makin rapat merangkul Euis)
Masih ingat pada Abu nawas?

Euis menggaguk kecil. Manja

JUKI
Di tepi sebuah parit, raja berjongkok akan melaksanakan hajat besarnya. Tapi baru saja berjongkok, baginda marah-marah dengan dahsyat, sebab baginda melihat seonggok najis kampul-kampul lewat di bawah anusnya

JUMENA
Apa dia juga berdongeng seperti saya?

JUKI
Maka tatkala dilaporkan bahwa najis yang terombang-ambing itu adalah najis Abunawas, dipanggilnya Abunawas, “Abunawas!”

JUMENA
“Hamba, Tuanku”

JUKI
“Bukankah kau bersalah?”

JUMENA
Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI
“Ha?” Mata raja melotot

JUMENA
“Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI
“Hamba ingin menang sebagai pemuja nomor wahid paduka” Kata Abu Nawas “Saksikanlah kini, tuanku raja, sekarang terbuktilah bahwa Abunawas si warga Baghdad yang paling takjim hormatnya. Tidak saja orangnya suka mengiring ke mana gbaginda pergi, bahkan najisnya pun mengiring najis rajanya”

(Jumena cemberut, sedangkan Euis terpingkal-pingkal)

Sekalian pengawalnya tersenyum seraya manggut-manggut “Abunawas, kaulah permadani terbaik di kota Baghdad”

(Euis Semakin Terpingkal-Pingkal Sambil Menahan Perutnya)

Lucu?

EUIS
Sangat amat lucu

JUKI
Tidakkah Abunawas seorang yang cerdik?

EUIS
Cerdik sekali. Raja kecerdikan

JUKI
Ya, dan kecerdikan bukan berasal dari perasaan, tetapi dihasilkan oleh kepala dan pikiran. Kau mengerti?

JUMENA
Kejadian seperti ini adalah mungkin dan tidak mungkin. Bagaimana saya harus menaruh kepercayaan kepada orang? Ah, lebih baik duduk-duduk di teras

EUIS
Saya mengerti

JUKI
Kau ahrus betul-betul berani. Berani seperti malam-malam itu

EUIS
Saya betul-betul berani sekarang. Saya kira Abunawas adalah guru kita

JUKI
Masih kau merasa bersalah?

EUIS
Tidak. Saya yakin suami sayalah yang bersalah

JUMENA
Kalau saja dia berani nyerocos seperti itu

JUKI
Kenapa kau bilang begitu?

EUIS
Dia perakus. Mata duitan

(Jumena mengambil sesuatu dan melemparkannya ke pintu)

Pagi-pagi ia sudah pergi mengurus dagangannya, mengurusio pabrik-pabriknya. Pulang-pulang jam dua, jam tiga, lalu selama beberapa jam menghitung-hitung hartanya dan memandangi lemari hitamnya. Setelah maghrib ia menulis atau membaca, lalu pergi. Pulang-pulang jam sembilan, sebentar duduk-duduk minum the atau kopi lalu akhirnya kembali menghitung-hitung harta dan memandangi lemari hitamnya. Itulah semuanya yang dikerjakannya secara rutin seperti mesin, selama hampir lima tahun saya jadi istrinya.


Download naskah lengkap?
silakan KLIK DI SINI

Tuesday, August 17, 2010

Achdiat Karta Mihardja

Kenangan yang Berkesan

Achdiat Karta Mihardja, salah seorang sastrawan besar Indonesia Angkatan’45, telah tiada. Pengarang ini meninggal pada usia 99 tahun di Canberra, Australia. Generasi muda Indonesia mungkin tidak banyak yang tahu, bahkan mungkin baru mendengar namanya saat berita kematiannya beredar di media elektronik, kecuali para mahasiswa jurusan sastra Indonesia tentunya.
Mengenal Achdiat atau Aki adalah mengenal sosok yang idealis, penuh semangat, tetapi sederhana. Dr George Quinn, Kepala the Southeast Asia Centre, Faculty of Asian Studies, the Australian National University, yang merupakan seorang ahli bahasa Indonesia dan bahasa Jawa mengatakan bahwa Aki merupakan teladan baginya. Aki selalu bersemangat dan produktif. Di usia 94 tahun, Aki masih meluncurkan buku Manifesto Khalifatullah. Aki sangat idealis dan selalu berpegang teguh pada cita-cita yang menggerakkan revolusi Indonesia, yang menggerakkan kemerdekaan Indonesia. Aki sering mempertanyakan kenapa semangat 45 seakan sudah hilang di Indonesia? Sudah sulit menemukan orang yang idealis di Indonesia.

Aki mengajar kesusastraan Indonesia di the Australian National University sejak tahun 1961 hingga pensiun. Dr Quinn banyak belajar kesusastraan Indonesia dari Aki. Menurutnya, Atheis, roman karya Aki yang diterbitkan pertama kali tahun 1949, benar-benar merupakan suatu adikarya sastra. Atheis punya kekuatan besar dalam hal orisinalitas cerita dan menggambarkan kematangan dalam berpikir. Roman itu melihat manusia sebagai makhluk yang kompleks. Hasan, sang tokoh utama, merupakan seorang Muslim. Karena pergaulannya dengan Rusli yang Marxist, Anwar yang individualis, dan Kartini sang wanita modern, terjadi pergulatan batin dalam diri Hasan, tetapi akhirnya Hasan kembali ke keyakinannya semula.

Suka diskusi

Dr Iwu Dwisetyani, seorang pengajar dan peneliti di the Australian Demographic and Social Research Institute, the Australian National University, mulai mengenal Aki saat dia mulai S-3 pada tahun 1992, saat Aki masih berusia 81 tahun. Saat itu, Aki masih aktif menulis dan sering berdiskusi dengan mahasiswa, baik kalau diundang ke kampus maupun saat mahasiswa datang ke rumahnya. Aki suka berdiskusi tentang politik dan perkembangan sastra di Indonesia. Sampai sekitar usia 92 tahun, Aki masih mandiri, tinggal berdua dengan istrinya. Di usia itu Aki juga masih produktif dan ingin menyelesaikan otobiografinya. Namun, Aki sering frustrasi karena ketajaman matanya sudah sangat berkurang dan tidak bisa menulis secepat apa yang dipikirkan.

Saya sendiri bertemu Aki pertama kali di hari ulang tahunnya yang ke-99. Dalam beberapa kali pertemuan, Aki selalu menuturkan jika dia masih ingin berkontribusi untuk Indonesia, tetapi kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi. Pertemuan itu membuat saya ingin membaca kembali karya-karyanya yang lengkap berjajar di perpustakaan Menzies, the Australian National University. Beberapa karya Aki yang telah diterbitkan antara lain drama Bentrokan dalam Asrama (1952) dan Pak Dullah in Extremis (1957). Kumpulan cerpennya yang telah diterbitkan adalah Keretakan dan Ketegangan (1956), Kesan dan Kenangan (1961), dan Belitan Nasib (1975). Dongeng tentang Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang diterbitkan tahun 2005; sedangkan kumpulan dongeng, cerpen, dan novelet-pentasnya diberi judul Pembunuh dan Anjing Hitam (1977). Novel Aki yang mengambil setting di Sydney, Australia, berjudul Debu Cinta Bertebaran, diterbitkan pertama kali pada tahun 1973. Itulah karya-karya indah Aki.

Dalam buku Satu Pembicaraan Roman Atheis (1961) karya Boen S Oemarjati, Aki mengatakan bahwa dia tidak pernah mempelajari teknik penulisan secara khusus, tetapi mempelajarinya langsung dengan membaca dan meneliti karya bermutu dari penulis besar dunia, seperti Shakespeare, Bernard Shaw, Tolstoi, Faulkner, dan Andre Gide.

Bagi saya sendiri, roman Atheis melukiskan pencarian seorang manusia dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa, yang diungkapkan dalam situasi yang begitu pelik dengan alur pulang balik, pilihan kata yang apik, dan akhir cerita yang cukup sulit untuk dibidik. Aki pintar memilih kata-kata untuk menghidupkan tokohnya dan meletupkan konflik.

Aki punya pandangan positif dalam melihat masa yang akan datang. Semangat Aki yang luar biasa juga terlihat dalam buku Polemik Kebudayaan, perdebatan tentang kehidupan jiwa dan kebudayaan bangsa yang merupakan pikiran delapan tokoh besar Indonesia, yang diterbitkan pertama kali tahun 1948. Aki mendukung paham positivisme Auguste Comte: mengetahui untuk dapat melihat serta bertindak ke arah masa depan, dengan menggunakan budi dan pikiran menyiasati segala kenyataan.

Puisi ini saya tulis untuk Aki. Saya bangga pernah mengenalnya: sosok sastrawan besar yang sederhana tetapi memancarkan kemilau makna.

Wienta Diarsvitri Mahasiswi S-3 di the Australian National University, Australia.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/07/25/0438555/achdiat.kenangan.yang.berkesan

Friday, August 13, 2010

Bila Malam Bertambah Malam Putu Wijaya

Bila Malam Bertambah Malam (BMBM) bercerita mengenai kehidupan di sebuah puri milik Gusti Biang, seorang keturunan bangsawan Bali. Dalam kesehariannya Gusti Biang selalu ditemani oleh dua abdi setia, Wayan dan Nyoman. Meski tabiat Gusti Biang sama sekali tak mencerminkan kebangsawanan, kedua sudra ini tetap dengan rela hati melayani sang majikan.

Masalah bermula ketika ketika ketidakcocokan di antara mereka memuncak, hingga Nyoman diusir oleh Gusti Biang. Karena tanpa diketahui Gusti Biang, Ngurah; anak semata wayangnya yang sedang belajar di kota; ternyata saling merajut cinta bersama Nyoman. Ketidaksetujuan Gusti Biang terhadap hubungan keduanya (yang didasarkan pada sistem kasta), akhirnya membuka rahasia besar yang selama ini ditutupi-tutupi.

Berikut ini adalah naskah teater Bila Malam Bertambah Malam. Jika Anda ingin membaca secara lengkap atau download naskah ini silakan terus membaca dan KLIK download di akhir postingan ini

Secara garis besar, tema sentral BMBM adalah tentang sebuah cara memanusiakan manusia. Dimana Gusti Biang yang notabene terlahir dari kasta ksatria, mau tidak mau harus menuruti nurani dan logika dengan meninggalkan kehormatannya, atas nama cinta. Naskah yang mengambil setting waktu periode 60-an ini, ternyata masih tetap relevan dipentaskan hari ini. Dimana kebenaran yang dilegitimasi atas nama kebudayaan (dalam berbagai varian-nya), masih tetap dipertahankan oleh para pengikut setia yang kadangkala bertindak di luar logika.

Naskah ini bukan semata ingin menentang apa yang disebut sebagai budaya. Melainkan lebih kepada usaha seorang Putu Wijaya, untuk menyuarakan bahwa siapapun orangnya, dan dari rahim siapa dia tercipta, tetaplah seorang Manusia. Naskah ini bisa dikatakan adalah cara Putu untuk mengkritik (baca: meruntuhkan) sistem kasta yang berlaku di Bali. Dimana sistem semacam ini, telah menempatkan manusia pada hirarki yang semata didasarkan pada faktor keberuntungan. Dalam artian, ketika seseorang terlahir dari rahim brahmana atau ksatria, otomatis dia akan lebih terhormat dibanding mereka yang lahir dari seorang waisya atau sudra.

Pemberontakan budaya (yang dalam konteks Bali sebenarnya sangat radikal) ini, disampaikan Putu dengan cara yang cukup sederhana. Melalui bidang yang digelutinya (yaitu teater dan kata-kata), Putu berbicara dengan cara yang sungguh amat cerdas. Alih-alih melalui aksi demostrasi yang penuh makian, hujatan, dan aksi kekerasan, Putu justru memilih cara santun untuk menunjukkan perlawanannya.

BABAK I

MALAM DI TEMPAT KEDIAMAN GUSTI BIANG. SEBUAH BALE YANG DISEMPURNAKAN UNTUK TEMPAT TINGGAL.

GUSTI BIANG MEMANGGIL-MANGGIL WAYAN.


Adegan I

KELIHATAN NYOMAN SEDANG MENYIAPKAN MAKAN MALAM UNTUK GUSTI BIANG. SEMENTARA WAYAN MENGAMPELAS PATUNG. ORIGINAL SOUNTRACK: WAYAN .. Wayaaaaaan ....
NYOMAN MEMBERI ISYARAT KEPADA WAYAN.

NYOMAN
Benar Ida akan pulang hari ini?

WAYAN
Ya ....


Adegan II

DI RUANG DEPAN ADA KURSI GOYANG DAN KURSI TAMU. GUSTI BIANG NGOMEL TERUS.

GUSTI BIANG
Si tua itu tak pernah kelihatan kalau sedang dibutuhkan. Pasti ia sudah berbaring di kandangnya menembang seperti orang kasmaran pura-pura tidak mendengar, padahal aku sudah berteriak, sampai leherku patah. Wayaaaaan ..... Wayaaaaan tuaaaa.....

WAYAN
Nuna sugere GUSTI BIANG, kedengarannya seperti ada yang berteriak ................

GUSTI BIANG
Leherku sampai putus memanggilmu, telingamu masih kamu pakai tidak?

WAYAN
Tentu saja Gusti Biang, itu sebabnya tiyang datang .........

GUSTI BIANG
Jangan berbantah denganku. Kau sudah tua dan rabun, lubang telingamu sudah ditempati kutu busuk. Kau sudah tuli, malas dan suka berbantah, cuma bisa bergaul dengan si belang. Kau dengar itu kuping tuli?

WAYAN
Betul Gusti Biang.

WAYAN MENINGGALKAN RUANGAN DAN GUSTI BIANG TETAP DUDUK DAN MENGAMBIL JARUM. BERULANG-ULANG MENGGOSOK MATA SAMBIL MENGGERUTU.


Adegan III

GUSTI BIANG
Lubangnya terlalu kecil. Benangnya terlalu besar, sekarang ini serba terlampau. Terlampau tua, terlampau gila, terlampau kasar, terlampau begini, terlampau begitu. Sejak kemarin aku tidak berhasil memasukkan benang ini. Sekarang mataku berkunang-kunang. Oh, barangkali toko itu sudah menipu lagi. Atau aku terbalik memegang ujungnya? Wayaaaaan ...

Membaca atau Download naskah ini?
Silakan KLIK DI SINI

Thursday, August 12, 2010

Cerpen Tukang Obat

Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku
Cerpen Herman RN

SUATU malam dia datang ke rumahku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pengelana yang berasal dari jauh. Katanya, ia datang ke kampung kami untuk mengadu nasib sebab di kampungnya dia tidak memiliki apa-apa lagi.
Sebagai orang yang dituakan di kampung, aku menyambutnya dengan sangat baik. Kulayani dia selayaknya tamu yang benar-benar baru tiba dari perjalanan sangat jauh. Bincang-bincang kami pun mengalir seperti air. Lalu dia minta aku bercerita. Cerita tentang apa saja, katanya. Tentang kampung ini juga boleh, pintanya.

Aku pun mulai bercerita tentang sejarah kampungku apa adanya, seperti yang kudapat dari kakekku semasa hidupnya dulu. Kulihat dia sangat menyimak ceritaku.

Esok malam dia kembali datang ke rumahku dan meminta aku bercerita. Kali ini aku bercerita tentang yang lain pula. Aku bercerita tentang hikayat-hikayat yang kuperoleh dari kakek dan nenekku. Dia juga kulihat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ketika ada satu alur saja yang kurang dipahaminya, dia langsung menyela dan aku menjelaskannya.

Begitulah saban malam. Katanya, dia belum bisa tidur sebelum mendengar aku bercerita. Akhirnya, kuajak dia untuk tinggal bersamaku, di rumahku.

Saban malam aku bercerita padanya. Semua hikayat yang pernah kudengar dari kakek dan nenek kukisahkan kembali kepada lelaki itu, tetapi aku tak pernah mendengar cerita dari dia, siapa dia, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, dan mau apa dia sebenarnya, aku tak pernah diberi tahu. Ingin sekali aku mendengar cerita dari dia, tetapi dia tak pernah di rumah kala siang hari. Sedangkan malam, aku sudah berjanji kalau aku yang bercerita.

Suatu malam aku berhenti bercerita. Aku minta dia yang bercerita kepadaku. ”Aku tidak minta kamu membawa hikayat, aku hanya minta kamu menceritakan siapa dirimu dan dari mana sesungguhnya kamu,” ujarku malam itu. Lelaki itu hanya diam. Kulihat dia menundukkan kepalanya. Hatiku luruh dan akhirnya aku kembali menceritakan sebuah hikayat lagi kepadanya.

Suatu hari aku jatuh sakit. Aku tak sanggup lagi bercerita. Beberapa malam sudah lewat, aku belum sanggup juga bercerita. Lelaki itu pun tak lagi pulang ke rumah. Hingga beberapa malam berikutnya dia juga tak pulang, sedangkan sakitku terasa semakin parah.

Sudah lima hari aku tak keluar ke meunasah. Sebagai orang tua yang dipercayakan mengurus meunasah, seharusnya aku beritahukan kepada Pak Lurah atau pengurus lain. Suatu malam Pak Lurah datang ke rumahku. Semula Pak Lurah mengira aku tak mau lagi mengurus meunasah karena sudah ada yang mencari rezeki sehingga lupa terhadap meunasah. Tentu saja aku terkejut dan sangat malu mendengarnya.

”Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku.

”Maaf, saya lihat lelaki yang tinggal bersama Pak Imam sangat rajin menjual obat sambil bercerita di lapangan bola. Banyak orang yang datang mengunjungi dia meskipun hanya sekadar mendengarkan dia bercerita. Tapi obatnya banyak laku, Pak Imam.”

”Jadi dia penjual obat?!” Aku tersentak mendengar cerita Pak Lurah. Kuurut dadaku yang sesak.

Besoknya, Pak Lurah mengajak aku ke puskesmas yang terletak di ujung jalan kampung. Untuk sampai ke puskesmas, kami melewati lapangan bola kaki. Pak Lurah menunjuk lapangan bola itu saat kami melintasinya.

”Di sini biasanya dia menjual obatnya sambil berteriak-teriak menceritakan sesuatu. Ceritanya sangat menarik. Dia juga sangat hafal segala cerita seluk-beluk kampung kita, tentang gajah duduk yang menjadi kepercayaan orang-orang kampung kita, tentang rencong yang bentuknya seperti basmallah, tentang taman gunongan, dan lain-lainnya. Dia paham dan hafal benar semua itu sehingga orang-orang suka mendengar dia bercerita. Di penghujung ceritanya, dia selalu menawarkan obatnya. Banyak laku obat dagangannya,” ujar Pak Lurah panjang lebar.

Aku diam sambil memerhatikan lapangan bola itu. Sepulangnya dari puskesmas, aku melihat banyak orang berkumpul di lapangan bola tersebut seperti yang dikatakan Pak Lurah.

”Nah, itu pasti dia, lelaki yang tinggal bersama Pak Imam,” ujar Pak Lurah. ”Apa Pak Imam tak ingin mendengarkan dia bercerita? Pak Imam pasti suka mendegar ceritanya. Kalau Pak Imam tak keberatan, kita singgah dulu sebentar melihat-lihat,” lanjut Pak Lurah semangat.

Aku dan Pak Lurah mendekati kerumunan orang di lapangan bola. Sebelum sampai di tempat kerumunan itu, aku mendengar seseorang berteriak dengan alat pengeras suara. Suara itu sangat kukenal. Sangat kukenal lagi cerita itu. Itu hikayat Buloh Peurindu yang pernah kuceritakan kepada seorang lelaki, malam Minggu lalu.

Pak Lurah menarik tanganku agar dapat masuk dalam kerumunan orang yang berdesak-desakan. Semula aku tak mau, tetapi Pak Lurah memaksaku. Setelah melewati desakan orang, di tengah lapangan aku melihat seorang lelaki berbadan kurus menggunakan ikat kepala merah melantunkan syair-syair cerita sambil menggenggam pengeras suara. Bajunya berlengan panjang warna putih. Dia juga mengikat kain sarung di pinggangnya sebatas lutut.

Kuperhatikan lelaki itu, pakaiannya persis seperti pakaian Aneuk Meutuah dalam Hikayat Dangderia. Dari mana lelaki ini bisa berpenampilan seperti itu, apakah karena juga dia mendengar ceritaku?

Semua orang terdiam mengangguk-angguk mendengar lelaki itu bercerita, termasuk Pak Lurah. Kulihat Pak Lurah sesekali tersenyum ketika lelaki itu bercerita sambil memperagakan suatu gerakan seperti gerakan tokoh dalam ceritanya.

”Hari ini sampai di sini dulu saya ceritakan tentang Apa Bangai, besok saya sambung kembali. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian? Ini obat bukan sembarang obat. Kalau Apa Bangai sering lupa, lupa bertanya siapa tamunya, di mana tinggalnya, maka dengan saudara-saudara memakai ini obat, akan terjauh dari lupa punya sifat. Kalau kemarin saya jual sampai lima puluh ribu rupiah, ini hari saudara-saudara tak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu. Saudara-saudara tidak punya uang empat lima, tiga puluh, dua lima; ini hari cukup keluarkan dua puluh ribu saja. Silakan ini obat dibawa pulang. Ini hari saya mau bagi-bagi rezeki. Sepuluh pembeli pertama, saya kasih keringanan lima belas ribu saja.”

Lelaki itu berkeliling mendekati para pengunjung sambil membawa sepuluh bungkus obatnya. Akhirnya, dia sampai di tempat aku dan Pak Lurah berdiri. Lelaki itu menatapku. Lama dia memandangku, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Lalu dia berkata, ”Pak Imam sudah sembuh?”

Aku tak menjawab pertanyaannya, kecuali diam. Aku terus menatap matanya sampai akhirnya dia tak tahan kupandang. Lelaki itu kembali ke tempatnya semula, tempat barang-barang dagangannya.

”Hari ini saya cukupkan sampai di sini dulu,” ujar lelaki itu sambil mengemasi barang-barangnya. Satu per satu pengunjung pun meninggalkan tempat itu. Kuajak Pak Lurah segera pulang. Aku tak mau lagi melihat lelaki itu. Dia sudah mencuri hikayatku, pikirku.

Seminggu sudah berjalan sejak hari itu, tak kulihat lagi lelaki itu menjual obat di lapangan bola. Ke mana dia pergi, aku juga tak tahu. Aku pun tak mau lagi memikirkannya. Hatiku mulai tenang tak mendengar dan tak melihat dia. Tetapi, suatu hari di balai rapat kecamatan, ketika menghadiri musyawarah kecamatan, aku melihat seorang lelaki membawa Hikayat Bayan Budiman. Lelaki itu hadir untuk menghibur para peserta musyawarah.

Kepalaku langsung pening. Telingaku mendengar sangat jelas setiap kata dan sajak yang dibawakan orang itu. Mataku menatap tajam ke arah panggung kecil dalam balai rapat kecamatan. Di sana seorang lelaki kurus mengenakan pakaian mirip Aneuk Meutuah dalam Hikayat Dangderia sedang melantunkan Hikayat Bayan Budiman dengan syahdunya.

Beberapa minggu kemudian, lelaki kurus yang pernah tinggal bersamaku dua bulan yang lalu jadi terkenal di kotaku. Dalam setiap acara, baik di kampung maupun kecamatan, dia selalu hadir sebagai pembawa hikayat. Semua hikayat yang pernah kuceritakan padanya dijadikan sebagai pencari rezeki dan nama. Kini dia semakin terkenal, bahkan sampai ke ibu kota provinsi. Oh, lelaki itu telah mencuri hikayatku dan menjadi orang yang sangat terkenal. Sementara aku semakin tua.


Koeta Radja, 2007-2010

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/08/08/04221379/tukang.obat.itu.mencuri.hikayatku

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook