Wednesday, September 29, 2010

Tiga Kisah Pendek

TIGA KISAH PENDEK
Cerpen Zen Hae

1. Tu(k)an(g) Kebun
: M.H. Székely Lulofs

TUANKU, yang tua dalam kebakaannya, mendatangiku yang tengah tertidur di sebuah bangku batu panjang. Ia memakai seragam kontrolir dengan topi yang miring ke kanan. Serba-putih. Dengan ujung tongkat rotannya ia cutik pipiku, aku geragapan dan meraih ujungnya. "Apa kau bermimpi?" ia bertanya. "Ya. Tapi aku buta. Segala yang kuimpikan merah-hitam semata. Sosok-sosok mengabur seperti kerumunan lebah," kataku. Lantas ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatap bulatan marmer putih di mataku. "Lantas bagaimana kau merawat taman ini?" ia bertanya lagi. "Aku merawatnya dengan cara membayangkannya," kataku.

Ia memandang taman segi delapan di depan kami. Lumayan luas, cukup banyak pohon peneduh dan rumpun bunga. Hamparan rumput yang dipotong serapi permadani Turki. Batu-batu raksasa setabah bijian purba yang ribuan tahun menanti hujan pertama. Sebuah sungai kecil yang memusuhi jalan lempang ke muara. "Bumi benar-benar impian seorang tukang kebun," katanya setelah matanya puas. "Semula aku mengira kau akan benar-benar menderita di bumi asing ini, tapi ternyata tidak. Kau cukup cakap membawa diri."

Tapi ia mengeluhkan tamannya, tak ada lagi yang mengurusnya. Taman itu kini menghutan dan merambak hingga tak terhingga. Adapun pohon itu--kunamai ia Pohon Merah--yang pernah kami datangi di hari istirah yang sejuk, menjulang kian kokoh dan tambah tinggi hingga menyentuh atap sorga. Bebuah dan dedaunnya berjatuhan dan membusuk di sungai hingga susu di sungai itu menjadi cepat basi. Hewan-hewan sering mabuk begitu meminumnya. Tak jarang mereka mengamuk dan berbunuhan--setelah panas berdebat tentang siapa yang pantas merawat taman itu.

"Sedang para centeng berpedang-api itu, apalah yang bisa kuharapkan dari mereka? Mereka bisa menjaga tapi tidak bisa mengurus taman dengan baik. Kadang mereka tertidur di bawah pohon, dengkur mereka menjelma guntur, pedang mereka tergeletak dan apinya menjalar ke mana-mana. Susu basi toh bukan piranti ampuh untuk memadamkan api."

"Tapi bisa membuat seluruh makhluk sakit perut berhari-hari. Dan belum ada dokter di tempatmu, Tuanku," jawabku.

Ia tertawa sehingga tubuh tambunnya terguncang-guncang dan beberapa potong nubuat meloncat dari mulutnya sebelum waktunya. Seingatku baru kali itu ia begitu.

"Aku butuh tukang kebun," katanya setelah bisa menguasai diri. "Perawat taman yang telaten. Yang paham bahasa pohon dan hewan, tahu perangai setiap jengkal tanah dan gerak air di dalamnya--bukan sekadar penjaga. Kembalilah. Ajak anak-istrimu. Usahakan dan pelihara kembali tamanku. Maafkan aku...."

Karena tak juga kujawab, ia pergi sembari bersungut-sungut. Tiba-tiba petir menyambar dan ia lenyap. Tiba-tiba taman di depanku berantakan. Pepohonan gerumpung dan hangus. Rerumputan kering dan terbakar. Delapan belas langkah di depanku tanah seperti baru dibongkar oleh ledakan bom. Sedang sungai kecil itu kini telah berubah menjadi ular sanca raksasa, menggeliat kesakitan. Seekor kelinci putih melompat dari pecahan batu, mencari sisa-sisa rumput hijau. Sedang diriku kembali tertidur di bangku itu, di bawah guguran debu dan abu. Sepotong suara cemas memanggilku, dekat sekaligus jauh. "Tuan!"

Aku terjaga dalam rasa mual yang aneh di kursi goyang di beranda rumahku. Segalanya memang tampak merah-hitam di ufuk barat tapi semuanya telah berjalan baik di sini. Harga teh sedang naik. Upah kuli-kuli sudah dibayar. Aku menyayangi tukang kebun dan kuli-kuliku. Mereka rajin dan tidak gila judi. Dan yang terpenting: mereka tidak banyak ulah. Nyaiku terutama, melayaniku dengan rajin dan bergairah. Ia menyambutku untuk mandi. Sebuah pesta kecil akan menebus keletihan kerja kami selama seminggu. Tapi di kamar mandi, entah kenapa, aku masih saja memikirkan Tuan Kebun itu.

"Tuanku, Tuanku, kenapa dulu kauusir aku?"


2. Selawat Aliman

SOSOK itu jatuh dari pohon durian. Lantas bangkit, membetulkan dirinya yang ringsek, dan menabuh rebana. 

"Assalamu alaik Zainal Anbiya...."

Aliman keluar dengan susah-payah dari sebuah lorong sempit antara sebuah rumah tua dan tumpukan peti mati seraya menuntun kuda putih. Ia bersiap-siap untuk sebuah tamasya Minggu pagi dengan kepala berhiaskan kabang-kabang. Merasa disambut oleh penabuh rebana dan alunan selawat, ia pun tersenyum dan membusungkan dadanya. Adapun kuda putih itu mengangguk-angguk seperti kuda renggong. Tapi kemudian seekor lalat hinggap di moncongnya sehingga kuda itu meringkik sambil mengangkat dua kaki depannya. Merasa akan ditumbrag kuda penabuh rebana menghindar tanpa menghentikan tabuhannya. Tapi kuda itu terus saja begitu, meski berkali-kali Aliman menarik kekangnya. Dan, dung, dalam satu tabuhan keras sosok itu berubah menjadi kerumunan lebah dan rebana di tangannya menjadi pedang-api. Kini yang ketakutan bukan hanya si kuda, tetapi juga Aliman. Kuda itu lantas berlari ke arah pagar halaman. Aliman mencoba mengejarnya, tapi tanah di depannya tiba-tiba saja melumpur dan mengisap kedua kakinya. Ia masih mendengar ringkik terakhir kuda itu sebelum lenyap di jalan raya. Perlahan-lahan sosok-kerumunan-lebah itu menghampirinya hingga tinggal sedepa saja jaraknya. Dalam sekali ayun, pedang-api itu memutuskan lehernya 
dan kepalanya menggelinding berbalut lumpur.

Aliman terjaga dengan napas tersengal-sengal.

Mimpi buruk dari masa remajanya itu muncul bekali-kali. Dengan sejumlah variasi, tentu saja. Misalnya, sosok itu pernah memakai baju karung goni dengan beberapa ekor lebah yang terus beterbangan dari baju karung yang bolong-bolong. Pernah pula ia mengendarai odong-odong komidi putar tanpa penumpang diiringi alunan lagu "Bintang Kecil". Kuda putih itu ternyata kuda-kudaan kayu miliknya yang hilang saat pindah rumah. Pernah pula ibunya muncul dan menyuruhnya melakukan sebuah keajaiban. "Siram dengan ini, pasti mati. Ini obat dari sorga," kata ibunya sambil menyorongkan sebaskom rendaman akar-akaran. Tapi ia selalu kalah cepat daripada sosok-kerumunan-lebah itu. Dan di akhir mimpi ia selalu melihat kepalanya menggelinding. Yang sedikit menghibur: kepalanya ternyata bukan dibalut lumpur tetapi lelehan coklat. Manis-pahitnya masih terasa di lidah begitu ia bangun.

Saking seringnya mimpi itu datang, Aliman seperti menemukan obat mujarab. Ia berhasil keluar dari labirin mimpi menyesakkan itu. Kapan saja ia bermimpi dan kakinya mulai terasa kesemutan, selalu ada sepotong kalimat: "Ini pasti mimpi. Ini hanya mimpi. Bangunlah. Grrroeeeenngg...." Ia pun bangun sebelum sosok-kerumunan-lebah itu mencegatnya. Yang paling ia syukuri setelah itu adalah mendapati kepalanya masih bertengger di atas lehernya. Kecuali bahwa tenggorokannya terasa kering, berbau lumpur, dan baru beres setelah diminumi bergelas-gelas air bening.

Ia tumbuh dewasa dengan mimpi-mimpi yang lain lagi. Salah satu yang paling menyenangkan hatinya, dan itu baru muncul beberapa hari lalu, adalah perjalanan ke hutan buah. Itulah hutan yang ditumbuhi pohon durian yang tak tepermanai jumlah dan rasanya. Hutan durian itu hanya bisa ditempuh lewat perjalanan melingkar seperti menyusuri lingkaran obat nyamuk bakar. Di pusatnya ada sebatang pohon durian tua yang dipercaya sebagai asal-muasal seluruh pohon durian di hutan itu. Bebuahnya bergelantungan, dan beberapa jatuh tanpa ada yang memungutnya. Semua pohon durian itu ternyata dirawat oleh ibunya. "Ibumu sejatinya seorang pemulia tanaman," kata pemandu wisata dalam mimpinya itu. "Sekaligus tabib tanpa tanding."

Mimpi itu sedikit membingungkan. Yang ia tahu, ibunya meninggalkan dirinya di depan pintu panti asuhan pada pagi buta dengan alasan ingin membeli nasi uduk dan tak pernah kembali hingga hari ini. Saat itu, ia baru berusia tujuh tahun dan hanya bisa menangis sampai seseorang dari panti asuhan itu membukakan pintu pagar. Tapi ia girang karena bisa melupakan sepenuhnya sosok-kerumunan-lebah itu.

Tapi Minggu sore itu, sepulang mengunjungi temannya di Cicangkal--seorang pemulia durian Rumpin--entah kenapa, sesuatu jatuh dari menara masjid di gang menuju rumahnya. Karena masih terkenang-kenang pada durian mahalezat di kebun temannya itu, ia menyangka yang jatuh itu adalah durian. Ternyata itu adalah sosok-kerumunan-lebah yang dulu pernah mencegatnya dalam mimpi. Lengkap dengan pedang-apinya. Ia yakin tidak bisa maju, mundur apalagi. Sebab tembok tinggi di sisi kirinya sudah membelok ke kanan dan menghadang langkahnya jika ia berbalik dan berlari ke mulut gang. Antena televisi yang bertengger di atap-atap rumah mengembang menjadi para-para, sehingga ia seperti ada di sebuah sangkar burung raksasa. Sedang kedua kakinya seperti berakar dan menghunjam jalan aspal yang sudah gompal-gompal. Ia dengar pula alunan tabuhan rebana dan salawat dari pengeras suara masjid itu: "Assalamu alaik Zainal Anbiya...."

Tiba-tiba ia teringat ibunya yang entah di mana dan rendaman akar-akaran itu. Ia ingin sekali mendapatkan mereka ketika sosok itu pelan-pelan mendekatinya. Ketika seekor lebah terbang dan hinggap di ujung hidungnya.

3. Si Pelompat Got

IA telah melompati got berair hitam dan bau itu sebanyak tigapuluh kali. Setelah got selebar dua meter adalah tembok batako setinggi dua meter pula, dengan bentangan kawat berduri di atasnya. Di baliknya semak-belukar, padang ilalang, kerumunan rumah berdinding triplek beratap plastik, yang hampir seluruh penghuninya adalah penggancu sampah, dengan pekerjaan sampingan di seputar "pemindahan dompet dalam tempo sesingkat-singkatnya"--lantas perbukitan sampah. Tapi ini keberhasilannya yang keduapuluh lima dalam seni berbasis kejelian penglihatan dan kecepatan tangan itu. Perempuan berseragam pegawai bank di halte itu keburu berteriak "copet, copet" begitu ia baru menjepit dompet di dalam tasnya.

Dulu ia mengamalkan seni itu untuk sekadar bersenang-senang di gubuk-gubuk di seberang sungai dan makan enak beberapa hari. Ketika ibunya jatuh sakit ia punya tujuan yang lebih mulia: membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi ibunya tidak pernah bisa sembuh dari penyakit menjengkelkan yang menyerangnya lebih dari lima tahun lalu. Seluruh tubuhnya penuh koreng dan melelehkan cairan bening-kuning. Baunya busuk dan menyengat. Penyakit itu membuat baju tubuh ibunya senantiasa basah dan menempel di tikar rombeng di gubuknya, dirubungi lalat hijau.

Ia ingat bagaimana ibunya terakhir kali menangis sebelum ia pergi menunaikan tugas mulia itu lagi. "Carikan aku getah Pohon Merah. Katanya itu obat mujarab buat penyakitku," kata ibunya.

"Ibu harus dibawa ke rumah sakit dan aku tidak punya uang," ia menjawab.

"Bawa saja aku ke bawah pohon itu."

"Pohon itu lagi, pohon itu lagi. Itu tanaman sorga."

"Kalau begitu, bawa aku ke sorga"

"Aku tidak tahu jalannya."

"Kau anak tak berguna."

"Kau ibu sialan!"

Kegagalan itu membuat dirinya berpikir keras usaha apa lagi yang harus ia lakukan untuk menolong ibunya. Bermalam-malam ia berjaga di bangku panjang di bawah pohon ketapang tak jauh dari gubuknya. Sebab, di dalam gubuk ia sungguh tidak tahan mendengar ibunya mengerang dan terus-menerus harus menutup hidung. Setelah azan subuh, ketika mulai mengantuk, tiba-tiba, ia dirongrong oleh gairah yang menakjubkan. Ia tersenyum memandangi sampah yang sedang terbakar--entah oleh siapa. Ia segera berbalik dan menuju gubuknya. Ia gulung tubuh ibunya yang sedang tidur lelap dengan tikar rombeng itu dan ia masukkan ke gerobak. Ibunya terbangun dan bertanya, "Kau mau bawa aku ke mana?"

"Ke sorga."

"Apa kau sudah tahu jalannya?"

"Ya. Tidak jauh dari sini."

"Ohh. Kau anak soleh."

Perlahan-lahan ia tarik gerobaknya mendekati kobaran api itu. Di hamparan sampah yang cukup padat ia berhenti dan menghadap ke ufuk timur. "Itu sorga," katanya sambil menunjuk matahari pepaya matang yang mulai bangkit. Ibunya hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah cukup puas, ia tinggalkan ibunya. Ia biarkan api yang merambat mendekati gerobaknya. Ia tidak pedulikan jeritan ibunya. Ia lihat sejumlah tetangganya berlari ke arahnya dan segera mendorong gerobak yang mulai dimakan api. Ia tidak melawan ketika mereka membekuk dirinya, memukuli dan menendangnya hingga terjengkang.

"Sarap luh!" maki seseorang sambil meludahi mukanya.

Dua jam kemudian ibunya mati dengan sendirinya dan dikuburkan di tempat orang-orang seperti dirinya biasa dikuburkan. Esok harinya, sebelum terang tanah, ia tinggalkan perkampungan jahanam itu, ketika tetangganya sedang bersemangat menggancu apa saja yang masih berharga di perbukitan sampah. Setelah melewati pintu gerbang, ia berbelok ke kanan, melintasi warung bubur kacang hijau, pedagang ikan hias, pangkalan ojek dan kios rokok. Di depan kios itu ia berhenti, ingin membeli sebatang rokok, seperti biasa, tapi ia urungkan. Saat itu ia hanya ingin menghidu semesta pagi yang basah oleh bau tubuh ibunya. ***

Sumber: Koran Tempo, 22 Agustus 2010

Sunday, September 26, 2010

Kritik Cerpen Subagio Sastrowardoyo

"Cuma Rangka-rangka Besi Tua” Karya Subagio Sastrowardoyo: 
Cermin Kejujuran yang Tertindas

(Kritik Cerpen)

Cuma Rangka-rangka Besi Tua merupakan salah satu cerpen milik Subagyo Sastrowardoyo yang termuat dalam kumpulan cerita pendeknya Kejantanan di Sumbing yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1982. Seperti enam cerpen lainnya yang terkumpul dalam Kejantanan di Sumbing (yakni Perawan Tua, Kejantanan di Sumbing, Mengarak Jenasah, Wonosari, Kota Pendudukan, dan Cerita Sederhana Tentang Sumur), cerpen ini juga mempunyai kaitan dengan suasana revolusi 1945. Meskipun suasana revolusi diangkat sebagai latar cerita, namun tema sentralnya bukanlah revolusi dan perang kemerdekaan Indonesia tahun 1945 itu sendiri.

Dalam Cuma Rangka-rangka Besi Tua (CRBT), Subagio Sastrowardoyo berusaha menyajikan realita kehidupan yang ada di masyarakat pada masa pascakemerdekaan, tepatnya lagi pascarevolusi. Cuma Rangka-rangka Besi Tua merupakan gambaran kehidupan nyata, di mana kejujuran tidak lagi merupakan hal yang mempunyai nilai melainkan sesuatu yang sama sekali tidak dihargai dan tidak mendapat tempat di masyarakat pada waktu itu. Subagyo tidak memanipulasi kenyataan yang ada di masyarakat dengan berusaha memenangkan kebenaran, tetapi justru pihak-pihak yang selalu jujur dan berbuat benar itulah yang kalah dalam cerita ini. Dari dulu hingga sekarang,tertanam dalam jiwa kita bahwa yang benar, dialah yang menang, yang salah maka dialah yang kalah. Namun tidak demikian halnya dengan kenyataan yang ada, justru yang benar, dialah yang kalah karena yang benar kurang mempunyai kekuatan untuk mengalahkan yang jahat dan salah, seperti halnya dalam cerpen ini. Tema yang disajikan sangat kontroversial dengan nilai yang ada di masyarakat. Pembaca mampu dibuat kecewa dengan penyajian ending cerita yaitu kekalahan si tokoh protagonis. Penyajian peristiwa-peristiwa yang cukup apik dengan tema cerita yang menarik, cerpen ini layak untuk dibaca, khususnya oleh mereka yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, karena mau tidak mau mereka harus mengakui bahwa keadaan semacam itulah yang seringkali kita dapati dalam kehidupan nyata. Subagyo mampu menggunggah emosi pembaca dengan menyajikan ending cerita yang jauh dari harapan pembaca pada umumnya, dan hal itu merupakan nilai lebih dari cerpen ini, sehingga sangat menarik untuk dibaca.

Mujono, tokoh cerita dalam cerpen ini adalah seorang bekas tahanan yang mencoba melakukan pembunuhan terhadap Suwito, yaitu orang yang telah menjebloskan dirinya ke penjara sekaligus orang yang telah menghamili istrinya selama ia dipenjara. Pada awalnya , Mujono adalah orang yang polos, jujur, sederhana dan nrima. Namun permasalahan mulai muncul ketika Mujono akhirnya mau mengikuti saran Suwito untuk menyelundupkan obatan-obatan yang ada di apotek tempat dia bekerja.itu semua dia lakukan, demi kebahagiaan istri yang dicintainya. Pada suatu hari, Mujono kasus penyelundupan itu terbongkar. Demi melindungi sahabatnya, Mujono bungkam ketika ditanya siapa tukang tadahnya. Setelah bebas dari penjara, Mujono mendapati istrinya hamil, padahal sebelumnya setelah lima tahun pernikahan mereka, istrinya belum juga hamil. Tahulah ia, bahwa Suwitolah yang telah menghamili istrinya. Sakit hatinya membuatnya ingin membunuh Suwito. Namun ternyata ia begitu lemah, dan malam itupun ia kalah dengan Suwito. Mujono gagal membunuh orang yang telah menghancurkan kehidupannya.

Mujono adalah sosok laki-laki yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, kesederhaan dengan tidak terlalu banyak tingkah, sampai-sampai dikatakan seperti perempuan. Hal itu dapat kita lihat pada penggalan percakapan antartokoh pada cerpen tersebut, yakni sebagai berikut:

“Kausangka kau dapat berbuat jasa dengan menyombongkan kejujuranmu itu. Kalau orang lain harus main bureng supaya dapat hidup dengan layak, kita pun harus bisa. Kita terpaksa!”
“Aku tak bisa menjalankan pekerjaan yang tak halal.”
“Kau ingin suci sendiri, dik Jono. Seperti perempuan saja kau. Tidak ada barang yang haram di dalam masyarakat yang kacau ini. Siapa yang masih terbelenggu pikirannya oleh pertimbangan yang lemah itu, dia pengecut yang tak berani hidup. Dia banci! Mereka semua melakukan korupsi, dari rendah sampai ke atas!”

Betapa sosok Mujono, mewakili kelompok minoritas dalam masyarakat waktu itu yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Seorang laki-laki yang harga dirinya terinjak-injak. Betapa lengkap penderitan yang dialami Mujono.

Cuma Rangka-rangka Besi Tua menunjukkan kepada kita bahwa revolusi telah menjadikan manusia haus akan hidup sehingga kemerdekaan yang telah dicapai bangsa Indonesia rupanya tidak mampu membuahkan kebahagiaan di hati rakyat. Indonesia telah merdeka namun keadaannya masih jauh dari harapan rakyat. Rakyat masih harus berjuang untuk terus mempertahankan hidup. Oleh karenanya, mereka melakukan segala cara demi mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Dengan menghalalkan segala cara ini, maka lunturlah nilai kejujuran yang merupakan nilai dasar sebuah perjuangan itu sendiri. Kemerdekaan tidak mampu membawa rakyat ke dalam kehidupan yang lebih baik. Kemerdekaan hanya mampu memberikan harapan hidup. Namun orang hidup, tidak cukup hanya dengan harapan. Orang hidup membutuhkan materi, sedangkan kemerdekaan tidak mampu memberikan semua itu. kemerdekaan seolah cuma menyajikan rangka-rangka besi tua, sehingga untuk mendapatkan kenikmatan hidup kita harus menjilatinya, tidak peduli dengan orang lain. Seperti pada percakapan berikut:

“Konyol engkau, hendak membunuh aku! Aku sesungguhnya sayang kepadamu. Engkau tetap sahabatku, dik Jono!” tangan Suwito memijat-mijat lengannya yang berdarah. “Engkau tolol, dik Jono. Engkau tidak mengerti jaman ini. Engkau tidak pernah berjoang dulu. Engkau tidak mengerti apa arti revolusi. Revolusi membuat kita haus akan hidup. Karena revolusi kita ingin meneguk kehidupan sepuas-puasnya. Tetapi kemerdekaan ini tidak memberi kita sorga dengan pohon-pohon zaitun, tetapi cuma lumpur dan rangka-rangka besi tua. Kita harus kembali menjadi binatang kalau kita hendak menikmatinya. Kita harus menjadi babi yang menyuruk ke lumpur. Kita harus berebut dan menjilat-jilat karatnya. Dan lumpur dan tahi besi itu ternyata nikmat rasanya!
Kau konyol menyangka bisa menjadi manusia suci di dalam masyarakat semacam ini. Pikiranmu terlalu terbelenggu oleh pengertian dosa. Kau pengecut, dik Jono. Di jaman ini tidak ada dosa!...”

Keadaan pascarevolusi membuat manusia haus akan hidup. Keadaan inilah ynag kemudian mendorong mereka untuk melakukan segala cara, tanpa ingat lagi dengan nilai. Kejujuran tidak lagi diacuhkan oleh manusia, seolah-olah menjadi sesuatu yang terlupakan, sesuatu yang tertindas, sesuatu yang tidak mempunyai tempat di masyarakat. Betapa mengenaskannya kehidupan masyarakat yang demikian itu. Hal yang lebih mengenaskan yaitu kalahnya pihak yang masih menjunjung tinggi nilai kejujuran, sehingga lengkaplah sudah kerusakan moral masyarakat.

Selain mempunyai tema yang menarik dan plot yang campuran, cerpen ini menggunakan sudut pandang persona ketiga “Dia” Mahatahu. Kehidupan pascarevolusi sebagai latar waktu dan suasana. Sementara itu, Yogyakarta, khususnya daerah Kali Code sebagai latar tempat.

Kehadiran Cuma Rangka-rangka Besi Tua mampu membangkitkan emosi pembaca, di samping itu juga memperkaya pembaca dengan hal-hal yang mampu dijadikan bekal untuk terus mengarungi kehidupan yang masih berjalan hingga kini.***


Oleh: Deri Anggraini, S.Pd.


Thursday, September 23, 2010

Sajak-sajak Subagio Sastrowardoyo

SAJAK YANG DEWASA

sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap
tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia


setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia berjalan merdeka



SALAM KEPADA HEIDEGGER

Sajak tetap rahasia
bagi dia yang tak pernah
mendengar suara nyawa.
Kata-kata tersembul dari alam lain
di mana berkuasa sakit, mati
dan cinta. Kekosongan harap
justru melahirkan ilham
yang timbul-tenggelam dalam arus
mimpi. Biarlah terungkap sendiri
makna dari ketelanjangan bumi.
Masih adakah tersisa pengalaman
yang harus terdengar dalam bunyi?
Sajak sempurna sebaiknya bisu
seperti pohon, mega dan gunung
yang hadir utuh tanpa bicara


SAJAK TAK PERNAH MATI

Sajak menyuarakan puncak derita
yang pernah ditanggung manusia.
Injak, robek atau bakarlah
sajak, jerit sakit masih menyayat
malam sunyi.

Seperti berabad lalu anak Tuhan
sebelum ajalnya di salib berteriak:
"Allah, Allah, mengapa daku
kau telantarkan!" keluh itu
terus berkumandang sampai kini.

Kalau aku mampus, tangisku
yang menyeruak dari hati akan
terdengar abadi dalam sajakku
yang tak pernah mati.

Diambil dari: Kumpulan Puisi: Dan Kematian Makin Akrab, Grasindo 1995

DOWNLOAD puisi ini, silakan KLIK di sini

Saturday, September 18, 2010

Macan Lapar Danarto





Macan Lapar

Cerpen Danarto

Ketika saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan Lapar, saya terbahak. Ketika ia melanjutkan SMS-nya bahwa jika ia tidak menemukan seorang Putri Solo yang Macan Lapar itu, dalam bahasa Jawa: Macan Luwe, berarti saya menyembunyikannya. Lagi-lagi saya terbahak.

Sebaliknya saya mengancam, jika ia main-main saja dengan Putri Solo, misalnya mengajaknya kumpul kebo, saya akan melaporkannya ke Presiden Obama. Ternyata John berani bersumpah bahwa ia serius akan menikahi Putri Solo yang Macan Lapar itu dan memboyongnya ke Amerika. Anak keturunannya kelak, janji John, merupakan masyarakat baru Amerika yang akan mendatangkan berkah. Saya menyambutnya dengan mengucap amin, amin, amin. Okey, jawab saya. Insya Allah, John, saya akan membantumu untuk menemukan Putri Solo si Macan Lapar itu.

John adalah seorang arkeolog. Perkenalannya dengan dunia Timur ketika ia melancong ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memelototi candi-candi. Waktu itu ia masih berusia 23 tahun, sedang giat-giatnya menjaring ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Candi Borobudur sudah tentu, Prambanan, Mendut, Sukuh, Panataran, semuanya, sudah pindah ke benaknya. Tentu banyak lagi. Setelah John menjadi profesor di usia 25, ia sadar bahwa tak ada gunanya seorang profesor yang jomblo. Ia merasa sangat kesepian. John sebenarnya sudah menjalin hubungan dengan sejumlah mahasiswinya. Tapi semuanya menolak untuk dinikahi, yang membuat John uring-uringan.

Menurut John, masa bahagia adalah ketika kuliah di Solo, ia menginap di rumah saya di bilangan Notosuman, bertetangga dengan kedai Srabi Notosuman yang termasyhur itu. Bagaimana ia tidak berbahagia, segalanya tersedia dengan gampang. Tidak seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri, di Solo jika lapar bisa langsung makan, bila pengin ngopi tinggal pesan, bila pakaian kotor tinggal dilemparkan. Jika nonton pertunjukan, pergi kuliah, maupun piknik, cukup dengan naik sepeda.

Di universitasnya, UCLA, John berkenalan dengan Eko, seorang penari dari Solo yang sedang melakukan tur ke 30 universitas Amerika untuk menari. Eko menyarankan supaya John menikah dengan gadis Solo saja. Di samping gemi, nastiti, ngati-ati (irit, terperinci, berhati-hati), putri Solo gaya berjalannya persis macan lapar yang bisa membekukan waktu.

Tetapi, menurut Fafa Dyah Kusumaning Ayu, seorang DJ yang menjelma sejarawan yang mbaurekso (mengayomi) kota Solo, putri Solo yang gaya berjalannya persis macan lapar itu sudah tidak ada lagi. Menurut dia, dari satu artikel yang dibacanya, putri Solo yang demikian, yang terakhir terlihat di zaman penjajahan Jepang, yaitu di tahun 40-an. Mendengar ini, Eko dari Boston kirim SMS: Fafa, lo jangan bikin John pesimistis. Fafa pun menjawab: Eko, lo jangan mengada-ada.

Di bandara Adi Sumarmo, Solo, saya dan anak-anak, Ning, Nong, dan Nug, menjemput John yang datang lewat Bali. Di rumah, ibunya anak-anak menyiapkan nasi goreng ikan asin kesukaan John. Ia tinggal di rumah penginapan penduduk yang banyak bertebaran di kampung-kampung. Serta-merta ia diminta mengajar di ISI (Institut Seni Indonesia) untuk mata pelajaran arkeologi budaya.

Menurut Fafa, gaya berjalan Macan Lapar adalah gaya berjalan yang bertumpu pada pinggul dan pundak. Jika melangkah, sebagaimana orang berjalan, pinggul kanan berkelok muncul keluar dari garis tubuh, maka pundak kiri lunglai ke depan. Begitu bergantian, pinggul kiri mencuat, pundak kanan lunglai ke depan. Irama ini dalam paduan langkah yang pelan. Gaya berjalan begini akhirnya diadopsi oleh para art director fashion show menjadi gaya berjalan yang kita kenal sekarang oleh para peragawati di seluruh dunia di atas cat-walk. Megal-megol-nya para peragawati Eropa, Amerika, maupun Asia, menurut Fafa sangat teknis. Hal itu tampak ketika para peragawati sudah tidak di atas cat-walk lagi, mereka ternyata berjalan biasa saja, sebagaimana orang-orang biasa berjalan. Artinya, megal-megol mereka di atas cat-walk belum merupakan kekayaan budaya fashion show. Padahal macan laparnya putri Solo itu tulen, alamiah, menyatu dengan tubuh yang hidup dalam budaya tradisinya. Meski cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.

Pada suatu hari di siang yang panas, ketika saya dan Nug selesai jumatan di Masjid Gede, lalu bergabung dengan Ning, Nong, dan ibunya anak-anak untuk menikmati tengkleng, semacam sop tetelan daging sapi atau kambing khas Solo di gerbang Pasar Klewer, tiba-tiba menghambur John di sela kerumunan orang yang antre tengkleng, sambil berkata mantap:

”Saya sudah dapat si Macan Lapar.”

”Alhamdulillah,” sahut saya.

Lepas ashar di gerbang Keraton Susuhunan, sejumlah orang berkumpul: John, Fafa, mas Rahayu Supanggah (komponis), mas Modrik Sangidu (aktivis), Sadra (komponis), Slamet Gundono (dalang), Suprapto Suryodarmo (guru spiritual), dan pak Jokowi (wali kota Solo) sedang berharap-harap cemas sambil mencereng menatap jalanan. Kami semua diundang John untuk menerima kejutan.

Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan. Langkah yang pelan, yang pasti, yang terkonsentrasi penuh. Namun gaya ini—sekali lagi–tulen. Gadis itu melenggang ke pintu masuk keraton ketika tiba-tiba John meloncat mengejarnya. Fafa mencoba menahan John. Saya dan Modrik serta pak Jokowi ikut berlari mengejar. Prapto, Sadra, dan Panggah terbahak. Gundono berteriak dan tertawa, ”Kejar! Kejar!” sambil mencakar cukelelenya keras-keras membangun ketegangan.

Ketika John mencapai teras keraton, kami melihat pemandangan yang mengerikan: John jadi Cleret Gombel! Menyaksikan John yang bermetamorfosis jadi sebangsa bunglon yang bisa terbang itu, gadis yang dikejar itu berteriak-teriak ketakutan lalu meloncat ke dalam ke halaman dalam keraton. Kami berloncatan meringkus John si Cleret Gombel. Saya dan pak Jokowi terlempar. Fafa menjerit karena si Cleret Gombel menggeram sambil memperlihatkan taringnya. Mas Modrik yang persis Samson itu dengan kuat meringkus John hingga roboh. John terus meronta menggeram-geram sambil unjuk taringnya yang putih berkilat. Kemudian dengan mobil hardtop mas Modrik, ramai-ramai John kami serahkan kepada pak Oei Hong Djien, guru spiritual yang khusus menangani keseimbangan pikiran dan perasaan, dari komunitas kebatinan Sumarah. Kami sepakat membantu John untuk melamar penari Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan namanya Intan Paramaditha.

Belakangan pak Jokowi melakukan rapat maraton dengan para budayawan Solo untuk membahas tentang rencananya melakukan revitalisasi gaya melenggok ala Macan Lapar ini. Kota Solo diyakini menjadi satu-satunya kota di dunia yang punya gaya berjalan putri-putrinya yang elegan itu. ***

Kota Tangerang Selatan, 10 Juni 2010

Sumber: Kompas 9 Mei 2010

DOWNLOAD? Silakan KLIK di sini

Thursday, September 16, 2010

Analisis Majas dalam Puisi

Majas dalam Puisi

Penciptaan sastra pada masa kini lebih menekankan pada masalah manusia, demikian pula dengan puisi. Persoalannya, bagaimana cara penyair menyajikannya. Itulah yang berbeda. Puisi diciptakan didasarkan atas ilham dari beragam peristiwa yang dituangkan dengan media terpilih, penjiwaan yang lengkap, dan membawa suatu konsep secara puitis.

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya bahasa memainkan peranan yang penting dalam sebuah puisi. Gaya bahasa yang menjadikan karya itu hidup atau kaku. Kalau gaya bahasa dimanfaatkan secara baik, indah dan sempurna menjadikan karya itu menarik dan memikat hati pembaca. Begitu pula sebaliknya, penggunaan gaya bahasa yang kurang dioptimalkan dalam puisi justru tidak akan membawa efek apapun bagi puisi tersebut.

Dalam penulisan sajak atau puisi, setiap penyair memanfaatkan gaya bahasa  dengan cara mereka sendiri. Pembaca akan dapat menangkap gaya bahasa yang berbeda antara penyair yang satu dengan penyair yang lain. Gaya bahasa juga menjadikan sebuah karya itu bermutu tinggi di mata pembaca. Dan biasanya gayabahasa itu bergantung kepada pengalaman, ilmu dan kemahiran berbahasa yang dimiliki oleh setiap individu penyair

Majas atau figurative language adalah bahasa kias, bahasa yang dipergunakan untuk menciptakan efek tertentu. Majas merupakan bentuk retoris yang pengunaannya antara lain untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak atau pembacanya

Terdapat empat macam jenis kelompok majas yaitu: (1) majas perbandingan, (2) majas penegasan, (3) majas pertentangan, dan (4) majas sindiran. Majas perbandingan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk membandingkan, yang termasuk majas ini diantaranya metafora, litotes, hiperbola, alusio, dan sebagainya. Majas penegasan adalah gaya bahasa yang betujuan untuk menegaskan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya adalah antiklimaks, anaphora, koreksio, dan sebagainya. Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang bertujuan untuk mempertentangkan sesuatu, yang termasuk majas ini diantaranya paradoks, antithesis, okupasi, dan sebagainya. Majas sindiran adalah gaya bahasa yang bertujan untuk menyindir, yang termasuk majas ini diantaranya ironi, sinisme, dan sarkasme. Pembahasan majas secara lengkap dapat dilihat di sini .... (silakan KLIK)

Berikut ini akan dicontohkan penggunaan majas pada puisi “Jakarta” karya Husni Djamaludin.

Jakarta
(Husni Djamaludin, Jakarta, 22 Juni 1990)
jakarta adalah biskota
yang berjubel penumpangnya
bergerak antara kemacetan jalan raya
dan terobosan-terobosan tak terduga
jakarta adalah bos besar
gajinya sebulan empat milyar
adapun yang babu
tinggi sudah empat puluh ribu
jakarta adalah rumah-rumah kumuh
yang mengusik tata keindahan gedung-gedung pencakar langit
jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit
yang mencakar wajah-wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh
jakarta adalah komputer
yang mengutak-atik angka-angka nasib
dan memutar
nasib angka-angka
jakarta adalah ciliwung
sungai keringat dan mimpi rakyatnya
disitu pula mengalir
air mata ibukota
Pada puisi ini terdapat majas perbandingan yaitu alegori. Alegori adalah majas perbandingan yang bertautan satu dengan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Hal ini terlihat pada bait pertama, yaitu:

jakarta adalah biskota
yang berjubel penumpangnya
bergerak antara kemacetan jalan raya
dan terobosan-terobosan tak terduga

Pada bait pertama tersebut, penyair menyimbolkan kota Jakarta dengan, biskota /yang berjubel penumpangnya/bergerak antara kemacetan jalan raya/dan terobosan-terobosan tak terduga/, dengan maksud menautkan ciri-ciri biskota dan kemacetan dengan situasi kota Jakarta.

Selain pada bait pertama, di tiap bait puisi ini juga terdapat majas alegori,

Pada bait kedua: 
jakarta adalah bos besar
gajinya sebulan empat milyar
adapun yang babu
tinggi sudah empat puluh ribu

Pada bait ini, kota Jakarta disimbolkan dengan perbedaan bos besar dan babu, dengan maksud menautkan ciri-ciri kesenangan bos besar dan penderitaan babu sebagai rakyat kecil dengan keadaan masyarakat kota Jakarta.

Pada bait ketiga, kota Jakarta disamakan dengan rumah-rumah kumuh dan gedung-gedung pencakar langit, ”/jakarta adalah rumah-rumah kumuh/yang mengusik tata keindahan gedung-gedung pencakar langit/jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit/yang mencakar wajah-wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh/”.

Pada bait keempat, Jakarta disamakan dengan “komputer”, yang mengatur segala kehidupan ekonomi manusia lewat “angka-angka” yang di utak-atik.

jakarta adalah komputer
yang mengutak-atik angka-angka nasib
dan memutar
nasib angka-angka

Pada bait kelima, Jakarta disimbolkan dengan sungai ciliwung yang kumuh, yang mengalir air mata ibukota.
jakarta adalah ciliwung
sungai keringat dan mimpi rakyatnya
disitu pula mengalir
air mata ibukota

Majas metafora juga terdapat pada puisi ini, metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat dan padat atau pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata sepertilayaknya, bagaikan, dan lain-lain.

Pada bait I baris I, “Jakarta adalah biskota”, pada bait ke II baris I, “Jakartaadalah bos besar”, bait ke III baris I, “Jakarta adalah rumah-rumah kumuh”, pada bait IV baris I, “Jakarta adalah komputer”, pada bait ke V baris ke I, “Jakarta adalah sungai ciliwung”.

Penyair dengan sangat jelas membandingkan Jakarta dengan biskota,Jakarta bagaikan bos besar, Jakarta bagaikan komputer, jakarta bagaikan rumah kumuh dan Jakarta bagaikan sungai ciliwung.

Majas hiperbola juga terdapat pada puisi tersebut. Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan dengan maksud untuk memperhebat meningkatkan kesan dan daya pengaruh, bukan yang sebenarnya (2006: 111). Pada bait ke II baris II, “gajinya sebulan empat milyar”, adalah ungkapan kiasan, bukan makna yang sesungguhnya melainkan ingin melebih-lebihkan penghasilan bos besar yaitu kota Jakarta adalah sebulan empat milyar.

Pada bait III baris III dan IV terdapat majas personifikasi, yaitu seolah-olah menghidupkan benda-benda mati, ”/jakarta adalah gedung-gedung pencakar langit/yang mencakar-cakar wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh/”. Gedung-gedung pencakar langit diibaratkan menjadi benda yang benyawa yang mencakar-cakar wajah kemiskinan rumah-rumah kumuh. Mencakar digunakan penyair untuk mengambarkan betapa tinggi gedung-gedung pencakar langit sehinga rumah-rumah kumuh seperti di robeknya. Majas personifikasi juga terdapat pada bait ke-5 baris ke-4, “Air mata ibukota”, ibukota dihidupkan dengan bisa mengeluarkan air mata. Padahal, hanya mata saja yang bisa mengeluarkan air mata.

Disarikan dari http://remmysilado.blogspot.com/


Wednesday, September 15, 2010

Memahami Majas atau Gaya Bahasa

Majas/ Gaya Bahasa

Majas atau gaya bahasa  adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan santun, dan menarik.

Majas/gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1. Gaya bahasa perulangan
2. Gaya bahasa perbandingan
3. Gaya bahasa pertentangan
4. Gaya bahasa pertautan

A. Gaya Bahasa Perulangan

1 Aliterasi
Aliterasi ialah sejenis gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi.
Contoh: 
 Kau keraskan kalbunya
Bagai batu membesi benar
Timbul telangkai bertongkat urat
Ditunjang pengacara petah pasih
2. Asonansi
Asonansi ialah sejenis gaya bahasa refetisi yang berjudul perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.
Contoh: 
Segala ada menekan dada
Mati api di dalam hati
Harum sekuntum bunga rahasia
Dengan hitam kelam
3. Antanaklasis
Antanaklasis ialah sejenis gaya bahasa yang mengandung perulangan kata dengan makna berbeda.
Contoh: 
Karena buah penanya itu menjadi buah bibir orang.

4. Kiasmus
Kiasmus ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.
Contoh: 
Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

5. Epizeukis
Epizeukis ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh: 
Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.

6. Tautotes
Tautotes ialah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah konstruksi.
Contoh: 
Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.

7. Anafora
Anafora ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat.
Contoh: 
 Kucari kau dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena sayang.
Kucari kau karena sayang karena bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti diganyang.

8. Epistrofa (efifora)
Epistrofa ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan.
Contoh: 
Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.

9. Simploke
Simploke ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara berturut-turut).
Contoh: 
 Ada selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak pecah.

10. Mesodiplosis
Mesodiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.
Contoh: 
 Pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa.
Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.

11. Epanalepsis
Epanalepsis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada akhir baris, klausa, atau kalimat.
Contoh: 
Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.

12. Anadiplosis
Anadiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat berikutnya.
Contoh: 
 Dalam raga ada darah
Dalam darah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segalanya

B. Gaya Bahasa Perbandingan

1. Perumpamaan
Perumpamaan ialah padanan kata atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa.
Contoh: 
Seperti air dengan minyak.

2. Metafora
Metafora ialah gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara implisit.
Contoh: 
Aku adalah angin yang kembara.

3. Personifikasi
Personifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Contoh: 
Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.

4. Depersonifikasi
Depersonifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila, seandainya, seumpama.
Contoh:
 Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.

5. Alegori
Alegori ialah gaya bahasa yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon antara lain:
Fabel, contoh: Kancil dan Buaya
Parabel, contoh: Cerita Adam dan Hawa

6. Antitesis
Antitesis ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh: 
Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.

7. Pleonasme dan Tautologi
Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu. Contoh: Capek mulut saya berbicara.
Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu. Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?

8. Perifrasis
Perifrasis ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.
Contoh: 
Wita telah menyelesaikan sekolahnya tahun 1988 (lulus).

9. Antisipasi (prolepsis)
Antisipasi ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau akan terjadi.
Contoh: 
Aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan piala kemenangan.

10 Koreksio (epanortosis)
Koreksio ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah.
Contoh:
 Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!

C. Gaya Bahasa Pertentangan

1. Hiperbola
Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
 Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.

2. Litotes
Litotes ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: 
Apa yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu.

3. Ironi
Ironi ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh:
 Bagus benar rapormu Bar, banyak merahnya.

4. Oksimoron
Oksimoron ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama.
Contoh: 
Olahraga mendaki gunung memang menarik walupun sangat membahayakan.

5, Paronomosia
Paronomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh: 
Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.

6. Zeugma dan Silepsis
Zeugma ialah gaya bahasa yang menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahkan kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari padanya.
Contoh: 
Kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.
Dalam silepsis kata yang dipergunakannya itu secara gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata lain yang sebenarnya mempunyai makna lain.
Contoh: 
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
7. Satire
Satire ialah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan maupun terselubung.
Contoh:
 Jemu aku dengan bicaramu.
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
Budak kurus pengangkut sampah

8. Inuendo
Inuendo ialah gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: 
Dia memang baik, cuma agak kurang jujur.

9. Antifrasis
Antifrasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
Contoh Antifrasis
Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).
Contoh ironi
Kami tahu bahwa kau memang orang yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang percaya padamu.
10. Paradoks
Paradoks ialah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh: 
Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
11. Klimaks
Klimaks ialah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.
Contoh: 
Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.
12. Anti klimaks
Antiklimaks ialah suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang penting.
Contoh: 
Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.
13. Apostrof
Apostrof ialah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir.
Contoh: 
Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.
14. Anastrof atau inversi
Anastrof ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis.
Contoh: 
Diceraikannya istrinya tanpa setahu saudara-saudaranya.
15. Apofasis
Apofasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru menegaskannya.
Contoh : 
Sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.
16. Histeron Proteran
Histeron Proteran ialah gaya bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari suatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : 
Jika kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.
17. Hipalase
Hipalase ialah gaya bahasa yang berupa sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk menerangkan suatu kata yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.
Contoh: 
Ia duduk pada bangku yang gelisah.
18. Sinisme
Sinisme ialah gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati.
Contoh: 
Anda benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.
19. Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
Contoh: 
Kau memang benar-benar bajingan.
D. Gaya Bahasa Pertautan

1. Metonimia
Metonimia ialah gaya bahasa yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.
Contoh: 
Parker jauh lebih mahal daripada pilot.

2. Sinekdoke
Sinekdoke ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.
Contoh Sinekdoke pars pro toto
Lima ekor kambing telah dipotong pada acara itu.
Contoh Sinekdoke totem pro parte
Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan Malaysia.

3. Alusio
Alusia ialah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu pristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/ diketahui orang.
Contoh: 
Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di sini?

4. Eufimisme
Eufimisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap
merugikan atau yang tidak menyenangkan.
Contoh: 
Tunasusila sebagai pengganti pelacur.

5. Eponim
Eponim ialah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh: 
Dengan latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.

6. Antonomasia
Antonomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai
pengganti nama diri.
Contoh: 
Kepala sekolah mengundang para orang tua murid.

7. Epitet
Epitet ialah gaya bahasa yang berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau ciri yang khas dari
seseorang atau suatu hal.
Contoh:
 Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang mabuk asmara.
8. Erotesis
Erotesis ialah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sama sekali.
Contoh: 
Tegakah membiarkan anak-anak dalam kesengsaraan?

9. Paralelisme
Paralelisme ialah gaya bahasa yang berusaha menyejajarkan pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dan memiliki bentuk gramatikal yang sama.
Contoh: 
+ Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.
- Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus memberantasnya (Ini contoh yang tidak baik).

10. Elipsis
Elipsis ialah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa
unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.
Contoh: 
Mereka ke Jakarta minggu lalu (perhitungan prediksi).
Pulangnya membawa oleh-oleh banyak sekali (Penghilangan subyek).
Saya sekarang sudah mengerti ( Penghilangan obyek).
Saya akan berangkat (penghilangan unsur Keterangan).
Mari makan!(penghilangan subyek dan obyek).

11. Gradasi
Gradasi ialah gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata) yang diulang dalam konstruksi itu.
Contoh: 
Kita harus membangun, membangun jasmani dan rohani, rohani yang kuat dan tangguh, dengan ketangguhan itu kita maju.

12. Asindeton
Asindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung.
Contoh: 
Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah keluarga.

13. Polisindeton
Polisindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung.
Contoh: 
Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan pelaksana.





Saturday, September 11, 2010

Hikayat gajah Terakhir

Hikayat Gajah Terakhir
Cerpen: Gde Agung Lontar

Aku adalah seekor gajah. Gajah terakhir yang tersisa di muka bumi ini. Dengan begitu berarti aku juga seekor gajah tunggal, yang berkelana sendirian dalam ketuaan. Berkelana dari kota ke kota; hutan dan rimba telah tiada. Hanya belantara sawit dan akasia semata. Di sini, di kota, aku merasa mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman. Orang-orang di kota agaknya dapat bersikap lebih ramah kepadaku, dibanding para penjaga kebun-kebun sawit dan akasia itu. Orang-orang yang tinggal di rerumah gubuk kardus dan kayu lapuk ini, atau yang tinggal di pinggir sungai hitam pekat jelantah, atau juga yang berteduh di bawah jalan layang. Tidak, tidak ada yang tinggal di kompleks perumahan mewah. Bukan apa-apa, meskipun anak-anak mereka sesungguhnya merasa senang begitu melihatku melintas di pinggiran perumahan mereka, tetapi ibu-ibu mereka mencemaskan anak-anaknya. Bukan apa-apa. Tentu saja bukan mencemaskan aku akan memakan anak-anak mereka yang manis-manis dan lucu-lucu itu, karena aku tentulah tidak akan melakukannya. Aku masih sangat menyukai dedaunan sebagaimana nenek moyangku dahulu. Juga bukan karena mereka mencemaskan aku suatu ketika akan mengamuk membabi-buta sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudara-saudaraku lama berselang sebelumnya.

Bagaimana pun mereka tahu bahwa aku adalah seekor gajah yang renta, yang bahkan untuk menyeret tubuhku sendiri pun sudah membuat aku sulit bernapas. Justru karena itu, yang mereka cemaskan adalah kalau-kalau suatu ketika aku tak lagi mampu menyokong tubuhku yang besar dan berat ini, tetapi justru pada saat itu para kekanak itu sedang bermain di dekatku. Ya, kita semua dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Karena memahami hal itulah aku tak pernah merasa sakit hati akan ulah para ibu-ibu dari perumahan mewah itu. Ya, anak-anak memang harus kita jaga dengan sangat hati-hati; apalagi di zaman yang berlari seperti ini. Meski demikian, setiap aku melewati depan gerbang taman bermain anak-anak itu, aku tetap juga memberi salam kepada anak-anak itu sambil menggeleng-geleng dan mengibas-ngibaskan daun kupingku yang lebar. Belasan anak-anak yang sedang bermain itu pun lalu berhamburan ke pagar kawat taman perumahan itu, lalu dengan caranya masing-masing balik memberi salam kepadaku. Aku tahu; kanak-kanak yang lucu. Meskipun di belakang kulihat para ibu mencemaskan hal itu.
Tetapi tidak dengan anak-anak yang berada di pemukiman kumuh itu. Entah kenapa setiap aku datang dan anak-anak mereka bersorak merubungiku, tidak ada satu pun orang tua mereka yang mencemaskannya. Kadang-kadang aku jadi berpikir pula, apa bedanya antara anak-anak di pemukiman mewah itu dengan anak-anak di pemukiman kumuh ini? Kenapa para ibu di pemukiman mewah itu begitu mencemaskan anak-anaknya bahkan meski hanya sekadar merapat ke pagar kawat taman ketika menyambut salamku, sedangkan para ibu di pemukiman kumuh ini seperti tidak mempedulikan ketika anak-anak mereka ramai-ramai mendekatiku bahkan kadangkala bermain-main di bawah perutku? Apakah ibu-ibu di pemukiman kumuh itu tidak takut suatu saat anak-anak mereka tanpa sengaja terinjak olehku atau bahkan tertimpa oleh tubuhku yang limbung karena usia tua? Ketika yang satu begitu mencemaskan sementara yang lain tidak, apakah itu berarti ada perbedaan nilai di antara mereka? Terus terang sampai saat ini aku tidak begitu memahami hal itu. Yang aku lihat, kegembiraan mereka, kanak-kanak itu, ketika melihatku aku lihat sama saja; meskipun yang di taman lebih terasa seperti getar kerinduan yang tak terlepaskan. Aku memang lebih merasakan kegembiraan yang lepas pada anak-anak di pemukiman kumuh itu ketika mereka berhasil mempermainkan daun telingaku atau sekadar bergelantungan pada belalai atau gadingku. Aku sendiri tentu lebih menyukai bila aku dapat langsung bermain-main dengan anak-anak itu, meski tentu saja aku harus berhati-hati dengan tubuh besar dan tua ini agar tidak sampai menginjak mereka atau limbung dan tumbang. Bagi seekor gajah yang kesepian hal seperti itu sangat menyenangkan. Tidak, tidak; aku memang gajah tunggal, tapi bukanlah yang pemarah.

Ya, aku gajah tunggal karena aku adalah gajah yang terakhir hidup di muka bumi. Ini kuketahui pada hari terakhir aku berada di rombongan sirkus lebih setahun yang lalu. Aku mendengar pimpinan rombongan berbicara kepada pawangku, “Kita lepaskan saja dia. Sebagai gajah terakhir di muka bumi, dia patut mendapatkan kehidupan di alam liar di hari-hari terakhirnya. Kita sudah memeliharanya sejak bayi. Kasihan. Lagi pula, dia sudah terlalu tua. Dia tidak mampu lagi melakukan trik-trik yang kamu perintahkan.”

Maka, pada suatu malam buta, aku pun dilepaskan di sebuah pinggiran hutan. Apakah aku dilepaskan atau dibuang; aku tak begitu paham. Yang kemudian aku sadari, sejak itu aku harus mulai mencari makan sendiri. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak bayi. Jadi, meskipun kami kaum binatang hidup untuk makan ataupun makan untuk hidup, tidak juga serta-merta kami mampu melakukannya tanpa belajar dan pengalaman. Hari-hari pertama aku di alam bebas, aku lalui dengan kelaparan dan kehausan. Aku bingung, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Benda gelap yang semula kukira hutan pada malam aku dibuang, ternyata hamparan kebun kelapa sawit semata. Aku sering mendengar saudara-saudaraku dulu sering diburu dan bahkan dibunuh orang bila berani bahkan sekadar mendekat-dekat ke perkebunan seperti itu. Karena itu, aku pun tak berani mencoba mendekati, meskipun pucuk-pucuk hijau muda itu begitu menggoda, meskipun buah-buahan yang bergerombol merah kehitaman itu begitu menggoda. Tapi, apa dayaku, sekelilingku saat itu seluas pemandangan adalah kebun sawit semata. Apa yang harus aku lakukan? Apakah kuseberangi saja parit ini untuk mendapatkan pucuk-pucuk hijau muda itu? Tetapi, dalam keputusasaan begitu tiba-tiba aku bertemu dengan segerombolan manusia. Kami sama-sama terkejut. Tetapi aku lebih terkejut lagi manakala mendengar mereka berteriak ramai-ramai, lalu mengejarku sambil mengacung-acungkan berbagai macam senjata yang ada.

Aku pun lari.

Sebenarnya bagiku manusia bukanlah makhluk yang aneh dan menakutkan. Di rombongan sirkusku aku setiap hari bertemu dan bergaul dengan mereka sejak aku masih bayi lagi. Aku juga sudah terlalu sering mendengar mereka berteriak-teriak dan bersorak-sorai atau bertepuk tangan, melihat wajah-wajah ceria mereka, yang seringkali membuatku tambah bersemangat dan berbahagia. Tetapi, yang aku alami ketika itu aku rasakan berbeda sekali. Mereka memang sama-sama manusia, mereka memang sama-sama berteriak dan bersorak; tapi di bawah sadarku aku merasakan adanya perbedaan. Aku merasakan adanya ancaman yang sangat berbahaya dari sikap mereka yang seperti itu. Karena itulah kemudian aku berlari.

Berlari. Berlari melarikan diri. Hingga tanpa sadar hari larut malam ketika aku sampai di suatu tempat dengan langit berpelangi gelap. Di situ aku tersungkur. Seribu letih menggelantung jiwaku. Selaksa perih menggerayang tubuhku. Sedaksa lapar menggelerus perutku. Sejuta dahaga menggelantang jantungku. Aku pun tak sadarkan diri.

Pagi, aku tersadar setengah mati. Orang-orang ramai di sekelilingku. Matahari setinggi penggalah. Dan yang semula kusangka pelangi gelap ternyata hanya sebentangan jalan layang. Orang-orang itu ramai berbicara.

“Akan kita apakan dia?”

“Kasihan.”

“Dia sudah tua sekali.”

“Kata orang-orang, sudah tidak ada lagi gajah di bumi.”

“Ini, nyatanya ada.”

“Mereka orang bebal semua.”

“Lihat, tubuhnya penuh luka.”

“Ada berbatang-batang anak panahnya lagi. Yang ini pasti bekas kena tombak. Itu, aku rasa kena tembak. Nah, yang memanjang ini pastilah bekas kena tebas parang.”

“Kasihan. Sebaiknya kita obati.”

“Tetapi, dengan apa? Mengobati borok kita sendiri pun kita tak punya.”

“Itu borokkau. Kau memang sayang ke borokkau itu. Dapat kaucium-cium.”

“Hei, lihat, aku punya obat merah!”

“Bawa sini! Tak sampai separuh lagi. Apa cukup untuk semua luka ini?”

“Jangan bercakap saja. Kerjakan apa yang bisa. Kau, kau, cabut anak panah itu. Tapi tunggu dulu, kita ikat dulu gajah ini. Supaya tak mengamuk dia nanti. Cari tali. Tali!”

“Manalah ada tali. Untuk menggantung leher sendiri pun kita tak punya.”

“Jangan menggerutu saja. Cari tali! Tali yang kuat!”

“Ini, tali!”

“Bagus betul talikau. Masih baru lagi. Dapat dari mana?”

“Aku ambil di kedai Babah Along.”

“Kau ambil atau kau ambil.”

“Sudahlah. Apa pedulikau. Yang penting kita butuh tali.”

“Lihat! Lihat! Matanya mulai bergerak-gerak!”

“Cepat! Cepat ikat! Nanti dia keburu bangun!”

“Sana. Ya, gadingnya juga. Ikat yang kuat. Ingat, dia gajah.”

“Gajah terluka lagi.”

“Gajah tunggal dan terluka.”

“Gajah tunggal terakhir di bumi yang terluka.”

Begitulah. Tentu saja tak sampai setengah botol obat merah itu tak cukup untuk membilas seluruh lukaku. Tetapi untungnya luka-luka itu kemudian berhasil sembuh, meskipun agak lama juga. Sisa-sisa makananku yang lumayan bergizi selama di rombongan sirkus sebelumnya agaknya masih cukup untuk menopang kembalinya metabloisme tubuh tua ini. Maka, sejak itu tanpa terasa aku pun perlahan-lahan seolah menjadi salah satu anggota masyarakat di lingkungan pemukiman kumuh bawah jalan layang itu. Tetapi, karena di situ tidak ada lagi rumput, aku pun setiap subuh pergi ke sebuah tepian sungai beberapa kilo dari situ, melewati pinggiran sebuah kompleks perumahan mewah. Di tepian sungai itulah masih tumbuh sebidang rumput gajah. Tapi tak banyak, aku harus menghematnya. Dalam perjalanan itulah aku sering bertemu dengan kanak-kanak di balik pagar kawat taman mewah itu. Mereka merapat ke tepian kawat ketika aku lewat, dan aku pun mengelepak-ngelepakkan daun kupingku.

Di pemukiman bawah jalan layang itu perlahan-lahan aku menyatu. Dan orang-orang yang telah menolongku itu pun ternyata tahu benar bagaimana membuatku berarti. Ketika membangun rumah gubuk mereka, mereka minta aku membawakan balok-balok kayu yang berat-berat. Kadang aku diminta membawa gerobak barang mereka yang besar-besar; di dalamnya aku lihat ada ban bekas besi bekas kaleng bekas ember bekas kertas bekas dan kadang-kadang bekas orang. Dan aku menyukai itu semua, karena dengan begitu aku jadi merasa berguna; bukan hanya sekadar seekor gajah tua yang sedang mencari kuburan gajah-gajah. Setelah semua kerja itu aku pun kadangkala diberikan bermacam buah-buahan atau sayur-sayuran yang mereka punya ketika itu, atau yang kebetulan terselip di antara tumpukan isi gerobak mereka. Lalu di waktu senggang mulailah pula anak-anak mereka bermain-main denganku. Bergelayut, berayun, memanjat, menggelantung di setiap bagian tubuhku yang dapat mereka raih. Mereka tertawa-tawa, kanak-kanak itu. Kadang-kadang juga menangis karena terjatuh atau kalah berebut.

Tetapi kita semua tahu tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia ini, seperti juga kesedihan. Dan aku pun tersadarkan ketika mengetahui kenyataan bahwa ternyata aku adalah satu-satunya gajah yang ada di permukaan bumi adalah sesuatu yang penting. Entah penting untuk apa; aku sepertinya sudah terlalu tua. Bahkan andai ada pun seekor gajah betina saat ini, aku mungkin tak mempedulikannya lagi. Aku lebih menyukai kanak-kanak itu, juga yang di balik kawat pembatas taman perumahan mewah itu, dan bermain-main dengan mereka. Kupikir semula aku hanyalah seekor gajah saja, semua orang juga tahu, dan gajah bukanlah binatang yang aneh. Kalau pada suatu masa mereka memperhatikanku karena aku pandai melakukan berbagai atraksi yang lucu dan menggemaskan mereka di bawah tenda rombongan sirkus; itu sekadar keahlian yang kupikir semua gajah biasa melakukannya. Aku kan sejak bayi sudah berada di dalam rombongan itu. Tak tahunya sekarang, ternyata begitu bilangan cacah dilekatkan di belakang namaku, aku ternyata menjadi sesuatu yang istimewa.

“Banyak orang ternyata yang mencari gajah ini.”

“Memangnya ada apa? Apakah dia sudah membunuh seseorang?”

“Dia benar-benar gajah terakhir di muka bumi.”

“Lalu?”

“Akan kita apakan dia?”

“Dia bukan gajah kita.”

“Tapi, dia sudah menjadi keluarga kita.”

“Ah, kau sentimentil sekali.”

Orang-orang ribut dalam redam di sekeliling perkampungan bawah pelangi gelap itu. Bulan tampak merucup di balik awan yang berlayar.

“Kita sembunyikan dia?”

“Kau gila? Pemburu mencari dia. Perampok mencari dia. Ilmuwan mencari dia. Tentara lebih-lebih mencari dia. Kita semua bisa mati.”

“Kita bisa mati!”

“Anak-anak kita juga bisa mati!”

“Tapi, kudengar ada hadiah untuk orang yang bisa menyerahkan gajah ini.”

“Ya, ya, hadiah. Sangat besar kabarnya. Cukup untuk kita semua.”

“Kalian gila, menyerahkan makhluk yang sudah kita anggap seperti saudara untuk semata hadiah? Sadis!”

“Ini bukan soal sadis. Ini untuk kebutuhan kita juga. Bayangkan, dengan hadiah sebesar itu, kita semua masing-masing bisa membeli sebuah rumah di perumahan mewah itu, menyekolahkan anak-anak kita di sekolah internasional, membelikan istri-istri kita baju dan perhiasan yang mahal-mahal, dan membeli untuk diri kita sendiri sebuah motor atau bahkan mobil! Kita tak perlu lagi mengumpulkan sampah-sampah itu!”

“Jadah! Aku tak suka itu! Jangan ada yang coba-coba menyentuh gajah itu. Ingat, dia sudah membantu kita semua. Kau, dibangunkannya gubuk untukkau. Kau, dibawakannya gerobak bututkau itu. Kau juga. Kau pun juga. Kau, anakkau diselamatkannya dari batang pohon tumbang itu. Kau ….”

“Pokoknya aku tak peduli, akan kuserahkan juga gajah itu, lalu duitnya akan kubagi-bagi ke kita semua. Kalau kau tak mau, tak usah ikut!”

“Ya, betul itu!”

“Ya, betul!”

“Jangan, aku pun tak setuju!”

“Aku setuju!”

“Ya, aku juga!”

“Tak boleh!”

“Bangsat!”

Aku pun kemudian hanya terheran-heran ketika melihat mereka semua tiba-tiba berkelahi. Berkelahi macam budak-budak kecik. Orang-orang yang tadi begitu tulus, saling membantu, dan menjadi sahabat-sahabatku. Aku kemudian hanya ingat, tak lama sesudah itu hujan turun dengan lebatnya, suara petir menggelegar bercampur desingan peluru, dan puluhan makhluk berseragam tiba-tiba datang menyerbu. Aku masih ingat, kenangan hari-hari terakhir itu, dari dalam selubung es beku, seperti nenek moyangku dulu, mammoth.***

PBR, 220507
Riau PosMinggu, 24 Juni 2007

DOWNLOAD cerpen ini? 

Wednesday, September 08, 2010

Gincu Merah Cerpen Eka Kurniawan

Gincu Ini Merah, Sayang
Cerpen: Eka Kurniawan

Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga," katanya, setelah keterkejutannya reda.

"Katakan itu nanti kepada suamimu," seorang petugas menjawab.

Ini pasti malam yang buruk, pikirnya. Para petugas itu bicara mengenai peraturan daerah tentang pelacuran dan memperlakukannya seolah-olah ia pelacur. Dalam hatinya, ia mengakui pernah menjadi pelacur, tapi malam ini ia berani bersumpah bahwa dirinya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia belum punya anak memang, Tuhan belum memberinya, tapi ia punya suami. Para petugas tak menggubris soal itu. Menurut mereka, semua pelacur selalu merasa punya suami dan mengaku hanya seorang ibu rumah tangga.

Bersama gadis-gadis dari bar, mereka membawanya ke kantor polisi dan memperoleh interogasi sepanjang malam. Ia meminta gadis-gadis itu membantunya meyakinkan para petugas bahwa dirinya bukan bagian dari mereka. Tapi tiga tahun berlalu dan ia tak lagi mengenali gadis-gadis itu, demikian pula mereka tak mengenalinya. Semuanya gadis baru dan ia tak menemukan teman-teman lamanya di antara mereka. Gadis-gadis itu tak punya gagasan tentang siapa perempuan itu dan apa yang dilakukannya di pintu Beranda pada pukul setengah dua malam.

Menjelang subuh, tanpa tertahankan Marni akhirnya menangis. Ia kembali memohon minta dibebaskan, berkata bahwa suaminya pasti akan merasa kehilangan dan barangkali kini tengah mencari-carinya. Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, "Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu."

"Tetapi, suamiku tak tahu aku ada di sini," katanya.

"Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?"

Sejujurnya ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya. Beruntunglah menjelang pagi seorang perempuan dari dinas sosial berbaik hati menghubungi suaminya. Setelah bicara dengan Rohmat Nurjaman, suami Marni, perempuan dari dinas sosial itu kemudian berbaik hati mengantarkan Marni pulang. Penuh rasa syukur Marni mencuci muka, menaburkan bedak yang dipinjam dari seorang gadis bar ke mukanya, dan memoleskan gincu ke bibirnya. Ia akan pulang dan bertemu kembali dengan suaminya.

Namun, sesampainya di rumah, selepas kepergian perempuan yang mengantarnya, Marni dihadapkan pada keadaan yang tidak lebih baik. Di atas sofa, tergeletak koper berisi barang-barangnya. Rohmat Nurjaman berdiri di pintu kamar, memandang wajah istrinya, terutama gincu di bibir Marni dengan sejenis tatapan kau-laksana-perempuan-binal, berkata pendek, "Sebaiknya kita bercerai saja."

Marni ingin menjelaskan, tetapi tak tahu apa yang harus dijelaskan. Dan, Rohmat Nurjaman tampaknya tak menginginkan penjelasan.

Sebenarnya Rohmat Nurjaman tak suka melihat istrinya mempergunakan gincu. Tapi jika ia melarangnya, dan kemudian mengemukakan alasannya, ia khawatir itu akan menyinggung perasaan istrinya. Marni pasti tak suka jika kepadanya ia berkata, "Dengan gincu itu kau tampak serupa pelacur."

Masalahnya, ia memang menemukan istrinya di satu tempat remang-remang beberapa tahun lalu. Tentu saja itu masa lampau dan mereka telah bersepakat melupakannya. Itu masa-masa ketika Rohmat Nurjaman bersama tiga temannya menghabiskan malam-malam di beberapa bar dangdut yang berserakan di sepanjang Jalan Daan Mogot. Di sanalah Rohmat Nurjaman berkenalan dengan Marni.

Awalnya hubungan mereka merupakan pertemuan ganjil antara pelanggan dan pelayan. Seperti semua orang tahu, gadis-gadis yang bekerja di tempat serupa itu selalu akan mempertahankan pelanggannya agar tidak diambil gadis lain. Ini menyangkut penghasilan tambahan mereka yang kenyataannya lebih besar daripada upah yang dibayarkan pemilik bar. Tak jarang timbul cekcok di antara gadis-gadis itu jika seorang dari mereka menyerobot pelanggan milik gadis lain. Biasanya ini terjadi dengan gadis baru atau pelanggan yang lama tak muncul.

Bagi pelanggan sendiri, paling tidak bagi Rohmat Nurjaman kala itu, kecenderungan gadis-gadis tersebut juga menguntungkannya. Ini memberinya jaminan setiap kali datang ke bar tersebut, ia akan memperoleh seorang gadis. Percayalah, tak menyenangkan berada di tempat serupa itu, dengan biduan bernyanyi di atas panggung kecil dan bir di atas meja, tanpa seorang gadis bergelayut di sampingmu.

Begitulah, setiap kali ia datang ke Beranda, salah satu bar dangdut di daerah tersebut, Rohmat Nurjaman akan ditemani Marni. Bisa dihitung dengan jari kunjungan Rohmat Nurjaman tak membuatnya bertemu dengan Marni. Biasanya itu terjadi saat jatuh hari libur si gadis, atau si gadis meriang, atau pulang kampung ke Banyumas.

Hubungan ini berkembang menjadi sejenis keseriusan yang menjadi candu. Di siang hari yang penat, dengan udara yang membosankan, sekonyong Rohmat Nurjaman menemukan dirinya mengirimkan pesan pendek kepada gadis itu, "Kamu sedang apa? Nanti malam jangan sama yang lain, aku akan datang."

Dan suatu pagi, Rohmat Nurjaman menemukan pesan dari si gadis di layar telepon genggamnya, "Mas, nanti malam datang tidak? Aku kangen."

Tentu saja bukan waktu yang singkat dalam hubungan mereka yang semacam itu, jika kemudian Rohmat Nurjaman memutuskan mengeluarkan gadis itu dari bar Beranda sekaligus meminangnya. Rohmat Nurjaman pergi ke pedalaman Banyumas ditemani ketiga temannya. Di sana ia menikahi Marni, sebelum membawanya kembali ke Jakarta dan tinggal di sebuah rumah mungil agak di luar kota.

Ternyata itu bukan perkawinan yang mudah. Pada hari-hari pertama perkawinan mereka, Rohmat Nurjaman sering didera mimpi melihat istrinya ditiduri para pelanggan lain di kamar-kamar Beranda. Karena Rohmat Nurjaman tahu di suatu masa mimpinya merupakan kebenaran, ia sering dilanda kecemburuan begitu terbangun dari tidur. Marni juga didera khayalan yang mengganggu, membayangkan suaminya pergi ke Beranda dan meniduri gadis lain. Ini pun pernah terjadi dan mereka berdua tahu.

Kecemburuan itu membawa mereka pada pertengkaran kecil, yang lalu diselamatkan oleh cinta. Suatu hari, di bulan ketujuh belas pernikahan mereka, keduanya berjanji untuk tak lagi mengenang masa lalu dan mengubur habis semua kecemburuan. Setelah itu segalanya berjalan lebih baik.

Kecuali gincu di bibir Marni.

Ia belajar mempergunakan gincu dari Maridah, perempuan yang saat itu paling tua di bar. Maridah pulalah yang membawanya dari Cibolang, sebuah nama yang tak ada di peta dan hanya akan disebut sebagai "di pedalaman Banyumas". Banyak gadis-gadis di awal belasan tahun telah dibawa Maridah ke Jakarta dari tempat itu. Sejak awal mereka tahu akan bekerja di bar-bar semacam Beranda, tetapi Maridah meyakinkan mereka dengan berkata, "Kamu tak perlu jadi pelacur di sana, cukup melayani pelanggan minum bir."

Awalnya memang begitu, tetapi tidak benar-benar begitu. Para pelanggan itu tak hanya ingin dilayani menuangkan bir ke gelas mereka, tetapi minta didampingi. "Temani saja," kata Maridah. Jadi, ia duduk di samping mereka, ikut minum dan makan cemilan, dan sesekali ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Itu tak seberapa jika tangan para lelaki pelanggan itu bisa diam. Jemari mereka cenderung bergerak, awalnya hanya menyentuh tangan, lama-lama merayap ke segala arah.

Belakangan ia mulai belajar dengan cara itulah ia bisa memperoleh uang lebih banyak. Dan, kemudian tahu, jika ingin memperoleh lebih banyak lagi, ia mesti tidur dengan mereka. Lima bulan selepas itu Marni kehilangan keperawanannya dan hidupnya terus berjalan dari malam ke malam hingga ia berjumpa dengan Rohmat Nurjaman.

Dalam hal-hal tertentu, Rohmat Nurjaman tak berbeda dengan pelanggan lain yang gemar menjamah. Bahkan, lebih buruk karena kadang membayar lebih sedikit. Tetapi, dalam perkara lain, ada hal-hal berbeda yang disukai Marni. Tidak seperti pelanggan lain yang buru-buru mengajak ke lantai atas menjelang pukul lima, di mana terdapat kamar-kamar untuk telanjang, Rohmat Nurjaman lebih suka membawanya keluar selepas bar tutup.

Mereka akan mencari motel dan itu berarti Marni tak perlu berbagi penghasilannya dengan pemilik bar. Itu bukan satu-satunya yang menyenangkan buat Marni. Di motel mereka tak merasa perlu buru-buru, mereka bisa bermalas-malasan hingga pukul dua belas siang. Mereka juga bisa berjalan-jalan di siang hari selepas itu, mencari sarapan yang terlambat. Apa boleh buat, itu membuat mereka lambat-laun mulai jatuh cinta satu sama lain.

Sejarah kecil itu diketahui sepenuhnya oleh Rohmat Nurjaman.

Tiga tahun usia perkawinan mereka, namun Rohmat Nurjaman masih merasa sesuatu mengganjal dalam kehidupannya. Itu adalah gincu di bibir istrinya. Gincu yang sama sebagaimana ia pernah melihatnya di keremangan bar Beranda. Memang ketika mereka mengikrarkan pernikahan, keduanya telah berjanji untuk menjalani hidup baru sebagai suami dan istri, bukan pelayan bersama pelanggannya.

Tetapi, Marni masih mempergunakan gincu yang sama dan dengan cara yang sama. Rohmat Nurjaman ingin melarangnya, tapi berpikir jika ia melakukannya, itu hanya akan mengingatkan kepada masa-masa mereka di bar. Dari pagi ke pagi, dari senja ke senja, gincu itu semakin mengganggunya. Hingga akhirnya Rohmat Nurjaman mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan istrinya sementara ia pergi bekerja.

Rohmat Nurjaman tak pernah berhasil membuktikan kecurigaan atas istrinya. Bahkan, meskipun beberapa kali ia sengaja mendadak pulang, ia selalu menemukan istrinya ada di rumah, menunggunya. Hingga suatu pagi seorang perempuan dari dinas sosial meneleponnya dan ia merasa memperoleh bukti untuk kemudian menghukumnya tanpa ampun dengan sebaris kalimat pendek:

"Sebaiknya kita bercerai saja."

Tak ada tempat untuk pergi kecuali ke Beranda. Pemilik bar masih mengenalinya dan memperbolehkan Marni untuk kembali bekerja di sana.

Di tempat itu ingatannya kepada Rohmat Nurjaman malah menjadi-jadi. Saat menemani seorang pelanggan, ia akan mengenang masa ketika mereka bicara tentang banyak hal. Kebanyakan tak dimengertinya, tapi dengan senang hati ia mendengarkan, dan Rohmat Nurjaman tak pernah menuntutnya untuk mengerti. Suatu ketika Rohmat Nurjaman berkata kepadanya, "Banyak perempuan di luar sana, beberapa pernah jadi pacarku, gemar bicara padahal mereka tak mengerti apa pun."

Ia merasa itu pujian untuknya. Tetapi, saat paling membahagiakan dalam hidupnya adalah malam ketika Rohmat Nurjaman berkata:

"Rasanya aku mencintaimu."

Sejak itu ia mulai sering berdandan setiap tahu akan bertemu Rohmat Nurjaman. Ia tak tahu banyak hal untuk diberikan kepada kekasihnya, kecuali memamerkan senyum yang tulus berhias gincu.

Hingga tiga tahun perkawinan mereka dan Marni mendapati suaminya berubah. Rohmat Nurjaman sering tak pulang dan tak lagi mencumbunya dengan kegairahan seorang lelaki cabul. Barangkali aku tak lagi cantik, pikirnya. Barangkali karena tak juga kami punya anak, katanya kepada diri sendiri. Atau barangkali suaminya pergi kembali ke Beranda dan menemukan gadis yang lebih manis di sana? Barangkali gadis itu masih empat belas tahun dan mengoleskan gincu lebih tebal di bibirnya? Marni merasa panas namun mencoba membuang kecurigaan tersebut. Meski begitu, suatu malam ketika suaminya tak juga muncul selewat pukul dua belas dan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tak pula menemukan jawaban, perempuan itu memutuskan keluar rumah.

Marni memoleskan gincu ke bibirnya, percaya itu akan membuat Rohmat Nurjaman kembali ke pelukannya. Ia menghentikan sebuah taksi dan minta diantar ke Beranda. Di sana, atas nama peraturan daerah tentang pelacuran, lima orang petugas menangkap Marni. Sejujurnya ia mulai menganggap semua itu hukuman untuknya, yang telah berburuk sangka suaminya pergi ke Beranda untuk meniduri perempuan lain. Menurut dia, itu malam buruk yang diawali pikiran buruk dan ia sungguh menyesal.

Kini, kembali bekerja di bar tersebut, Marni terus memelihara keyakinan bahwa suatu malam suaminya akan muncul, lalu mereka akan memulai semuanya dari awal. Dalam penantiannya, ia masih kukuh pada janji yang tak pernah diucapkannya. Ia tak mengenakan gincu. Seorang gadis dua belas tahun yang baru bekerja di sana pernah menanyakan mengapa ia tak bergincu, dan Marni menjawab:

"Gincu ini merah, Sayang, dan itu hanya untuk suamiku."

Memang sejak ia jatuh cinta kepada Rohmat Nurjaman, apalagi setelah mereka menikah, ia tak pernah membuat merah bibirnya untuk lelaki lain.


Kompas Minggu, 01 Juli 2007

DOWNLOAD cerpen ini silakan KLIK DI SINI

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook