Saturday, February 26, 2011

Sejarah Cerpen Indonesia

Menggugat Sejarah Sastra: Menelusuri Jejak Cerpen Indonesia

Maman S. Mahayana

Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? Demikian judul buku yang ditulis Ajip Rosidi. Di dalam salah satu artikelnya, Ajip berpendapat bahwa kesusastraan Indonesia lahir sekitar tahun 1920. Alasannya: pada saat itulah para pemuda Indonesia (Yamin, Hatta, dll.) mengumumkan sajak-sajak mereka yang bercorak kebangsaan. Dalam hal ini, yang dimaksud kesusastraan Indonesia (modern), menurut Ajip, adalah karya-karya yang berkaitan dengan semangat dan elan nasionalisme keindonesiaan.[1]

Berbeda dengan Ajip, Zuber Usman secara eksplisit menunjuk bahwa Zaman Balai Pustaka (1908) sebagai awal kesusastraan Indonesia modern. Mengingat Balai Pustaka sebagai penandanya, maka tahun 1908 yang dimaksud tidak mengacu pada Budi Utomo, tetapi pada Komisi Bacaan Rakyat (Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) yang berdiri tahun 1908 dan tahun 1917 berganti menjadi Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de Volkslectuur) yang lalu lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka.[2] Sedangkan A. Teeuw,[3] meski tidak secara tegas menyebutkan Balai Pustaka, ia menunjuk angka tahun 1920 sebagai lahirnya kesusastraan Indonesia modern.

Benarkah kesusastraan Indonesia modern lahir (sekitar) tahun itu? Menurut Teeuw, “Pada ketika itulah para pemuda Indonesia untuk pertama kali mulai menyatakan perasaan dan ide … yang pada pokoknya menyimpang dari bentuk-bentuk sastra Melayu, Jawa dan sastra lainnya yang lebih tua ….”[4] Sementara, Umar Junus lebih tegas lagi. Ia menandainya berdasarkan tahun kelahiran bahasa Indonesia, 28 Oktober 1928, “… sastra Indonesia baru ada setelah bahasa Indonesia ada.” Karya sastra yang terbit sebelum itu, bagi Junus, hanya sebagai “sastra Melayu Baru/modern.[5]

Itulah beberapa pendapat tentang awal lahirnya sastra Indonesia modern. Gagasan itu secara membuta-tuli diikuti sejumlah pengamat sastra, ditanamkan dalam kerangka berpikir institusi sastra, dan terus merasuk sebagai sebuah paradigma yang tak tergoyahkan. Mengingat cara pandangnya hanya bertumpu pada karya yang dipublikasikan sebagai buku, apalagi Junus lebih sempit lagi pada lahirnya bahasa Indonesia, maka karya sastra di luar itu, ditiadakan. Jadi, ukurannya: karya sastra dalam bentuk buku atau yang menggunakan bahasa Indonesia selepas Sumpah Pemuda!

Kini, kita perlu mengajukan pertanyaan: Mengapa karya sastra yang bertebaran di media massa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, tidak dianggap sebagai karya sastra? Mengapa peran penerbit swasta dilihat dengan memejamkan mata? Apakah alasan pemakaian bahasa Melayu pasar menjadi salah satu faktor penting untuk menyebut sastra di luar Balai Pustaka sebagai bukan sastra? Inilah bahayanya jika penentuan sastra dan bukan sastra hanya bertumpu pada publikasi buku atau tahun lahirnya bahasa Indonesia. Ia tak hanya menafikan sejumlah fakta sejarah dan dinamika sosiologis, tetapi juga berdampak pada peniadaan banyak nama yang mestinya tercatat sebagai bagian penting dalam perjalanan kesusastraan Indonesia.

Gagasan Teeuw, Ajip Rosidi, Zuber Usman, dan Umar Junus, dalam hal ini, secara apriori telah menyimpulkan kelahiran kesusastraan Indonesia modern dengan mengabaikan fakta sosial dan peranan yang dimainkan media massa. Cara berpikir yang hanya mendasari pada karya-karya yang dipublikasikan sebagai buku, tidak hanya menenggelamkan cerpen, cerita bersambung, dan puisi yang menempatkan media massa sebagai wadahnya, tetapi juga memutuskan hubungan sastra dengan dunia pers dan dengan demikian membenamkan kontribusi pers dalam perkembangan pemikiran kultural bangsa ini.[6] Karya sastra yang terbit dalam majalah dan surat kabar telah dianggap bukan bagian sastra Indonesia. Oleh karena itu, pelacakan lebih lanjut mengenai sumbangan media massa bagi kesusastraan Indonesia merupakan tuntutan yang mendesak dan perlu segera dilakukan.[7]

***

Di manakah tempat cerpen Indonesia dalam perjalanan kesusastraan negeri ini? Sebenarnya, sangat mungkin kehadiran cerpen Indonesia mendahului penerbitan novel, drama, bahkan juga puisi jika ukuran ciri-ciri kemodernan diterapkan di sana. Jejak puisi Indonesia modern memang gampang kita telusuri lewat komparasi dengan pantun, syair, dan puisi tradisional lainnya. Jejak itulah yang menempatkan puisi Indonesia modern dianggap lebih jelas perjalanannya. Padahal, puisi Indonesia dengan ciri-ciri modern, juga sudah banyak muncul di berbagai media massa.[8] Belakangan, Muhammad Yamin membuat sintesis pola pantun dan soneta. Dan itu terjadi pada dasawarsa pertama abad ke-20.

Di bidang drama, F. Wiggers lewat Lelakon Raden Beij Soerio Retno (1901) boleh dikatakan sebagai pemicu lahirnya drama Indonesia modern.[9] Jika pada masa sebelumnya pementasan-pementasan tonel tanpa pegangan naskah, selepas itu golongan peranakan Belanda dan Tionghoa memulai tradisi penulisan naskah drama. Dan Rustam Effendi lewat Bebasari-nya (1926), lalu dianggap sebagai penerus dimulainya drama Indonesia modern.

Proses perjalanan novel dimulai lewat para penulis Tionghoa dan tokoh pergerakan yang karya-karyanya diterbitkan pihak swasta. Pihak pemerintah kolonial Belanda kemudian secara sepihak menyebut para novelis itu sebagai “saudagar kitab yang kurang suci hatinya dan para agitator.” Merekalah sesungguhnya yang merintis lahirnya novel Indonesia modern. Karena dianggap berbahaya dan dapat membawa pengaruh buruk bagi pemerintah Belanda, pemerintah Belanda kemudian mendirikan Balai Pustaka sebagai usaha untuk menangkal pengaruh bacaan yang diterbitkan pihak swasta itu. Jadi, novelis-novelis itulah yang mendorong pihak pemerintah kolonial Belanda merasa perlu mendirikan Balai Pustaka (1908; 1917) yang kemudian secara gencar menerbitkan sejumlah novel. Oleh karena itu, sangat mungkin sastrawan-sastrawan Balai Pustaka menyerap juga pengaruh para novelis yang muncul lebih awal.[10]

Harus diakui, bahwa kita tidak dapat menafikan peranan penting Balai Pustaka bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Tetapi tak adil pula jika kita meniadakan kontribusi yang diberikan penerbit di luar lembaga itu. Akibatnya, sejarah sastra Indonesia seolah-olah bermula dari Balai Pustaka dan tidak dari penerbit-penerbit swasta. Padahal, para penerbit swasta itulah yang mendorong pihak Belanda mendirikan lembaga penerbitan. Jadi, bagaimana mungkin sastra Indonesia lahir begitu saja tanpa sebab, tanpa pengaruh yang melatarbelakanginya? Mengapa peranan penerbit swasta itu dikesankan sebagai fakta sejarah yang harus dikubur dan dijauhkan dari materi pelajaran sekolah?

Pola berpikir yang seperti itulah yang yang pada gilirannya menenggelamkan peranan media massa (majalah dan koran) yang terbit akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dampaknya, tersisihlah kehadiran cerpen Indonesia yang memanfaatkan koran dan majalah sebagai wadahnya. Inilah sebabnya, kelahiran cerpen Indonesia seolah-olah seperti tidak ada kaitannya dengan media massa yang menerbitkannya. Padahal, sejak kelahirannya cerpen telah menjadi bagian yang tidak terlepas dari kehadiran media massa.

***

Pada awalnya, konsep cerpen memang tidak begitu jelas. Sketsa, fragmen, buah tutur, esai-esai yang mengangkat kehidupan sehari-hari, cerita ringan dan lucu, cerita bersambung (feuilleton) atau kisah tragedi percintaan yang diambil dari suatu peristiwa yang pernah menjadi berita aktual, semua disebut cerita. Baru memasuki dasawarsa kedua abad ke-20, cerita-cerita yang pendek itu diberi label cerita pendek, meski penyebutan singkatan cerpen[11] belum banyak digunakan. Ajip Rosidi[12] yang menempatkan Muhammad Kasim dan Soeman Hs sebagai perintis cerpen Indonesia, menelusuri jejak cerpen dari tradisi sastra lisan penglipur lara dengan tokoh-tokoh si Kabayan, Lebai Malang, dan Jaka Dolog.[13]

Pandangan itu niscaya perlu didiskusikan lagi. Masalahnya, Ajip hanya menyimak Pandji Poestaka (1923) yang banyak memuat cerita-cerita lucu Muhammad Kasim yang belakangan diterbitkan sebagai kumpulan cerita lucu (Teman Duduk, 1936). Padahal, sebelum terbit Pandji Poestaka, sejumlah suratkabar atau majalah –termasuk Sri Poestaka (1918), banyak pula yang memuat cerita-cerita ringan seperti itu, meski tak semuanya berupa cerita lucu.[14] Oleh karena itu, penelusuran pada jejak cerpen Indonesia yang lebih awal, perlu memperhatikan kehadiran koran dan majalah yang terbit mendahului Pandji Poestaka.

Menjelang berakhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ada sekitar 60-an surat kabar dan majalah berbahasa Melayu yang terbit. Sebut saja beberapa di antaranya: Biang-lala (Batavia, 1868, dwimingguan), Sahabat Baik (Betawi, 1891, terbit tak teratur), Pewarta Prijaji (Semarang, 1900, bulanan), Bintang Hindia (Bandung, 1903, dwimingguan) atau Bok-Tok (Surabaya, 1913, mingguan). Beberapa di antaranya, memuat cerita bersambung (feuilleton), cerpen, dan puisi. Majalah Sahabat Baik, misalnya, mencantumkan subjudulnya seperti ini: “Hikayat, tjerita, dongeng, sjair, pantoen, dan lain-lain daripada itu.” Surat kabar Selompret Melajoe (terbit di Semarang, 1860–1910) malah sering memuat surat-surat pembacanya dalam bentuk puisi. Cara demikian, ternyata juga kita jumpai dalam majalah Poetri Hindia (terbit di Bogor, 1908) dan beberapa media yang terbit masa itu.[15]

Jika bahasa Melayu pasar yang menjadi alasan, sebagaimana yang jadi keberatan Teeuw, maka majalah Bintang Hindia (1903) dan Wanita Swara (terbit di Kediri, 1912), harusnya dipertimbangkan betul, karena ia tidak memakai bahasa Melayu pasar. Perlu diketahui pula, Poetri Hindia justru menolak pemakaian ejaan van Ophujsen semata-mata lantaran ejaan itu dianggap tidak sesuai dengan bahasa anak negeri.[16]

Dalam hampir setiap penerbitan media itu, selalu muncul cerita-cerita ringan yang ringkas dan pendek dengan tema sekitar kehidupan sehari-hari. Jadi, sejumlah media waktu itu telah secara sadar menyediakan ruang bagi pemuatan model cerita seperti itu yang belakangan baru disebut cerita pendek. Dalam majalah Wanita Swara (No. 8, 15 April 1914), pemuatan cerita ringan itu berada di bawah judul “Boeah Toetoer” meski sebelum itu, Bintang Hindia, Sahabat Baik, Bok Tok dan Sinpo, dalam setiap penerbitannya mencantumkan label Cerita Pendek. Penulisan nama samaran merupakan salah satu ciri yang menonjol dari cerpen-cerpen yang terbit waktu itu. Rustam Effendi, misalnya, dalam cerpen yang dimuat Asjarq, (No. 6-7, Th. IV, Juni-Juli 1928), menggunakan nama Rineff.[17]

***

Jika sastrawan Balai Pustaka dianggap memperlihatkan kecenderungan semangat menggugat kultur-etnis, maka sastrawan di luar Balai Pustaka justru mengangkat peristiwa sosial pada masa itu, sekaligus mengungkap semangat zamannya. Ada yang mengusung persoalan emansipasi, edukasi bagi penduduk pribumi, bahkan ada juga yang menunjukkan

elan kebangsaan. Malahan, dari tanggapan dan surat pembaca yang diterima berbagai surat kabar dan majalah itu, tampak jelas terjadinya perubahan sosial yang sangat signifikan bahwa mereka menyadari kontribusi media massa dan pentingnya pendidikan. Di antaranya ada yang justru telah memperlihatkan mekarnya semangat dan kesadaran kebangsaan.

Dilihat dari struktur ceritanya, cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai media massa saat itu, tak diragukan lagi sudah merupakan karya modern. Sebagian besar membicarakan tema sosial; masalah pernyaian, tragedi kehidupan rumah tangga, percintaan dan peristiwa yang pernah menjadi berita aktual.[18] Dalam hal yang disebut terakhir itulah, media massa sengaja memuat cerita pendek sebagai salah satu nilai jual media itu. Pasalnya, cerita seperti itu justru paling banyak mendapat sambutan masyarakat. Ini dapat dipahami mengingat berita umumnya disajikan lebih ringkas dan sering tidak mengungkapkan latar belakang terjadinya peristiwa itu. Cerpen justru memenuhi tuntutan itu. Oleh karena itu, di bawah judul cerpen atau cerita bersambung yang dimuat media massa, lazim tertulis keterangan “Satu cerita yang sungguh sudah terjadi di Jawa” yang mencantelkan cerita itu dengan peristiwa yang pernah menjadi berita media bersangkutan.

***

Dengan dasar pemikiran tersebut di atas, maka sejarah sastra Indonesia, terutama yang menyangkut kelahiran dan perjalanan cerpen Indonesia, mutlak ditinjau kembali. Banyak fakta yang mengecoh, dan lebih banyak lagi yang ditenggelamkan, di dalamnya termasuk keberadaan cerpen dan peran media massa. Terlalu lama membiarkan persoalan ini tanpa usaha perbaikan, sama halnya dengan ikut membiarkan sejarah sastra Indonesia tetap berada dalam kondisi carut-marut.

Beberapa langkah berikut ini bolehlah dipandang sebagai usaha untuk mendudukkan sejarah perjalanan cerpen Indonesia secara “baik dan benar”.

Pertama, menolak gagasan Ajip Rosidi mengenai kelahiran dan perkembangan cerpen Indonesia sebagaimana yang telah dibicarakan tersebut di atas.[19]

Kedua, menolak gagasan Jakob Sumardjo yang menempatkan Muhammad Kasim dan Suman Hs sebagai Bapak Cerpen Indonesia.[20]

Ketiga, menolak pembabakan yang dilakukan Jakob Sumardjo, sebagaimana yang dikatakannya berikut ini:

… saya membagi sejarah cerita pendek Indonesia menjadi empat dekade selama waktu empat puluh tahun. Pembagian itu sebagai berikut:

Dekade 30-an, yaitu masa pertumbuhan cerita pendek yang dimulai sekitar pertengahan tahun 1930-an sampai permulaan tahun 1940-an. Dalam dekade ini kita temui beberapa penulis cerita pendek yang dapat saya anggap sebagai bapak-bapak cerita pendek kita, seperti Muhammad Kasim, Suman Hs, Armijn Pane, dan Idrus.

Dekade 40-an, yang meliputi masa antara tahun 1945 sampai tahun 1955. Dalam dekade ini kita temui penulis-penulis cerpen kita seperti Parmoedya Ananta Toer, Achdiat Karta Mihardja, Mochtar Lubis, Trisno Sumardjo, Asrul Sani, dan sebagainya.

Dekade 50-an, yang meliputi penulis-penulis dari majalah Kisah dan Sastra. Dari masa ini kita temui penulis-penulis sebagai berikut: Nugroho Notosusanto, Subagio Sastrowardojo, Riyono Pratikto, Nh. Dini, Trisnoyuwono, Ajip Rosidi, Bur Rasuanto, Alex Leo, A.A. Navis, S.M. Ardan, Djamil Suherman, Motinggo Boesje, dan banyak lagi yang lain.

Dekade 60-an, yang meliputi masa antara 1964 sampai sekarang ini, yaitu mereka yang rata-rata kemudian tumbuh dalam majalah sastra Horison. Nama-nama mereka antara lain, Wildam Yatim, Umar Kayam, Budi Darma, Wilson Nadeak, dan sebagainya.[21]

Pandangan Jakob Sumardjo itu tentu saja tidak dapat kita terima mengingat ada sejumlah kelalaian yang dilakukannya.

Dengan mengawali dekade 30-an sebagai masa pertumbuhan cerpen Indonesia, Jakob telah menafikan keberadaan cerpen yang muncul pada dekade sebelumnya. Mengingat kelahiran cerpen Indonesia bergandengan dengan tumbuhnya penerbitan media massa (surat kabar dan majalah) maka kelahiran cerpen Indonesia sesungguhnya sudah dimulai akhir abad ke-19 dan mulai tumbuh pada dua dasawarsa abad ke-20.

Pada dasawarsa ketiga abad ke-20 sampai masuknya Jepang (1930—1942), penulisan cerpen makin semarak dengan bermunculannya suratkabar dan majalah yang terbit tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah, terutama Medan dan Surabaya. Pada masa itu juga terbit beberapa majalah cerita yang di dalamnya banyak memuat cerpen. Dengan demikian, periode ini dapat dikatakan merupakan masa perkembangan cerpen Indonesia.

Keempat, menolak pandangan Jakob Sumardjo yang sama sama sekali tidak menyinggung periode zaman Jepang. Padahal, sebagaimana dikatakan H.B. Jassin, “Menafikan kesusastraan dalam zaman Jepang adalah menafikan suatu wajah kehidupan dalam perjalanannya membentuk sejarah.”[22] Pada zaman Jepang itu, banyak sastrawan Indonesia yang memilih menulis puisi dan cerpen daripada novel. Di samping itu, pada zaman Jepang itu pula dimulai sayembara penulisan cerpen. Adanya sayembara-sayembara itu pula yang memungkinkan munculnya cerpenis baru.[23] Chin Yook Chin mencatat bahwa dalam masa pendudukan Jepang (Maret 1942— Agustus 1945) dari tiga suratkabar (Asia Raja, Sinar Baroe, dan Soeara Asia) dan dua majalah (Djawa Baroe dan Pandji Poestaka) paling sedikit telah dimuat sekitar 190 cerita pendek.[24] Dengan demikian, menghilangkan periode zaman Jepang dalam peta perjalanan sastra Indonesia, khasnya dalam menelusuri jejak cerpen Indonesia sama halnya dengan menghilangkan satu fase penting yang justru sangat berpengaruh bagi perkembangan kesusastraan Indonesia itu sendiri.

Selepas merdeka, terutama pada dasawarsa tahun 1950-an, cerpen Indonesia seperti mengalami booming. Sejumlah majalah seperti Kisah, Pujangga Baru, Panca Raya, Arena, Seniman, Zenith, Seni, Sastra, Indonesia dan Prosa boleh dikatakan tidak pernah luput memuatkan cerpen. Menurut catatan E.U. Krazt yang meneliti 55 majalah yang terbit dalam dasawarsa tahun 1950-an itu, cerpen (: prosa) yang dimuat berjumlah 5043 cerpen, hampir mendekati pemuatan puisi yang berjumlah 6291 buah.[25] Jumlah itu tentu saja akan membengkak jika kita menyisir majalah-majalah yang terbit di Indonesia pada dasawarsa itu yang mencapai jumlah 568 majalah. Belum terhitung suratkabar yang terbit waktu itu.[26] Kondisi itu terus berlangsung hingga tahun 1964. Dalam dasawarsa tahun 1950-an itu pula tradisi penerbitan antologi cerpen mulai memperoleh tempat. Meskipun bentuk dan kedudukan cerpen pada periode itu sudah lebih mantap, peranan cerpenis sendiri masih tetap dipandang sebagai “latihan bagi penulisan roman yang besar,” begitulah komentar H.B. Jassin dalam melihat keberadaan cerpenis waktu itu.[27]

Selepas tahun 1966, kesusastraan Indonesia seperti dilanda gerakan eksperimentasi. Lewat majalah Sastra –yang akibat kasus “Langit Makin Mendung”, Kipanjikusmin terpaksa bubar—dan kemudian Horison, cerpen seperti memperoleh tempat bereksperimen. Muncullah nama-nama Iwan Simatupang, Danarto, Putu Wijaya, Umar Kayam, dan sederet panjang nama penting. Sampai akhir dasawarsa tahun 1970-an, majalah Horison tetap menempatkan dirinya sebagai majalah sastra yang berwibawa. Tambahan lagi, sayembara penulisan cerpen yang diselenggarakan Horison, tidak hanya sekadar melahirkan sejumlah cerpenis, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan estetik cerpen itu sendiri.

Ketika makin banyak surat kabar membuka ruang cerpen –dengan terbitnya edisi Minggu—, lambat-laun pilihan para cerpenis untuk mengirimkan tulisannya cenderung bersifat pragmatis. Sementara itu, tak rapinya administrasi Horison ketika itu dan honorarium yang “sekadarnya” merupakan faktor lain lagi. Itulah sebabnya, suratkabar Minggu menjadi semacam pilihan pertama bagi cerpenis kita untuk mengirimkan karyanya. Dalam kondisi seperti itu, adanya lomba penulisan cerpen, disusul kemudian dengan penerbitan antologi cerpen, makin memicu signifikansi suratkabar edisi Minggu dalam perkembangan cerpen Indonesia. Keadaan seperti itulah yang terjadi saat ini.

Perkembangan yang sangat kondusif itu, tentu saja berdampak sangat luas. Cerpen tidak lagi dipandang –seperti dikatakan Jassin—sebagai “latihan bagi penulisan roman yang besar.” Penulis cerpen tiba-tiba saja tak gagap menyebut dirinya sebagai sastrawan. Sangat kebetulan pula, tidak sedikit cerpenis kita yang hidup “hanya” dari menulis cerpen. Dengan begitu, cerpen sebagai salah satu ragam sastra telah menempati kotaknya sendiri dalam konstelasi kesusastraan Indonesia. Cerpen Indonesia pada periode ini telah mempunyai kotaknya sendiri, estetikanya sendiri, dan kekuasaannya sendiri.

Ternyata, menulis cerpen dengan orientasi pada suratkabar atau majalah, melahirkan ketidakpuasan yang lain lagi. Ada sejumlah kompromi yang juga harus dipikirkan para cerpenis ketika ia bermaksud menulis cerpen untuk suratkabar. Adanya pembatasan jumlah halaman –menurut sejumlah cerpenis—dianggap membatasi eksplorasi ruang-ruang estetik. Munculnya isu sastra koran sesungguhnya merupakan representasi dari kegelisahan itu. Maka, cerpenis yang mengalami kegelisahan seperti itu mencoba bermuka dua: menulis cerpen untuk suratkabar, dan menulis cerpen untuk buku. Atau bersiasat melakukan kompromi-kompromi. Sayangnya, pada tahun 1980-an sampai pertengahan tahun 1990-an, banyak penerbit yang kurang begitu antusias menerbitkan antologi cerpen (perseorangan). Maka hingar-bingar cerpen tetap terjadi seputar suratkabar edisi Minggu.

Selepas pertengahan tahun 1990-an –dan terutama setelah tahun 2000—penerbitan antologi cerpen seperti mengalami ledakan dahsyat. Tidak sedikit cerpenis yang tiba-tiba menerbitkan antologinya. Tambahan lagi, adanya Jurnal Cerpen dan penyelenggaraan Kongres Cerpen, makin mengukuhkan cerpen sebagai salah satu ragam sastra yang patut diperhitungkan. Itulah yang terjadi dalam peta cerpen Indonesia kini.

***

Uraian tadi sesungguhnya dimaksudkan hendak memberi gambaran mengenai peta perjalanan cerpen Indonesia sejak kelahirannya hingga kini. Atas dasar itulah, menurut hemat saya, pembabakan yang dilakukan Jakob Sumardjo perlu direvisi. Inilah pembabakan yang saya tawarkan:

1. Periode Kelahiran (1880-an—1928). Pada periode ini penamaan cerita pendek masih tumpang tindih dengan cerita, hikayat, selingan, sketsa, atau buah bibir.

2. Periode Pertumbuhan (1928—1945). Pada periode ini, penamaan cerita pendek relatif merujuk pada cerita-cerita yang lebih ringkas dan pendek. Jadi, sudah ada konsistensi atas penamaan cerita pendek. Bahwa Armijn Pane –sebagaimana terlihat dalam antologinya Kisah Antara Manusia— menulis cerpen yang relatif panjang, hal yang sama juga dilakukan oleh para penulis cerpen pada zaman Jepang. Dengan demikian, memperlihatkan juga adanya pertumbuhan yang signifikan dibandingkan pada periode sebelumnya.[28] Belakangan, Idrus, dan kemudian Umar Kayam tidak sedikit pula menghasilkan cerpen yang cukup panjang.

3. Periode Perkembangan (1945—1965). Pada periode ini penulisan cerpen seperti mengalami booming. Cerpen sudah mulai diterima sebagai bagian dari ragam kesusastraan Indonesia yang juga penting. Meskipun demikian, adanya anggapan bahwa miring tentang penulisan cerpen dibandingkan penulisan roman, menempatkan kedudukan cerpenis –seolah-olah—berada di bawah novelis.

4. Periode Kebangkitan (1965—1980). Pada periode ini, kedudukan cerpenis seperti bangkit menunjukkan jati dirinya. Maka, posisi cerpenis dengan sastrawan yang berkarya dalam ragam sastra yang lain, mulai diterima secara sejajar.

5. Periode Kesemarakan (1980—sekarang). Pada periode inilah cerpen dan cerpenisnya benar-benar seperti telah memperoleh dunia dan wilayah kekuasaannya sendiri.

Berdasarkan pembabakan periodesasi yang seperti itu, dilihat dari gerakan estetiknya, saya melihat adanya perkembangan sebagai berikut.

1. Pencarian Bentuk (1890-an—1945). Penulisan cerpen pada periode ini seperti masih mempersoalkan bentuk. Meskipun tema-tema yang diangkatnya begitu beragam, keinginan untuk konsisten pada bentuk yang ringkas menjadikan cerita pendek itu, benar-benar sebagai cerita yang pendek. Menggambarkan sebuah peristiwa keseharian atau salah satu bagian dari fragmen kehidupan.

2. Pembentukan Identitas (1945—1965). Para penulis cerpen pada masa ini, meskipun tak mempersoalkan pengakuan dan legitimasi profesi kesastrawanannya, terkesan juga adanya hasrat untuk menunjukkan bahwa cerita pendek mempunyai dunianya sendiri yang berbeda dengan drama, novel atau puisi. Oleh karena itu, mempertentangkan kegiatan menulis cerpen dengan kegiatan menulis ragam sastra yang lain, seperti masih berhadapan dengan problem identitas. Oleh karena itulah, periode ini merupakan masa pembentukan identitas cerpenis sebagai profesi yang sejajar dengan para penulis ragam sastra yang lain.

3. Penggalian Ruang Estetik (1965—1990). Usaha yang dilakukan Danarto, Umar Kayam, Budi Darma dengan berbagai eksperimentasinya memperlihatkan, betapa pentingnya penggalian ruang estetik dalam penulisan cerpen. Dalam hal ini, cerpen tidak sekadar sebagai cerita yang pendek, melainkan sebagai karya yang di dalamnya tersimpan berbagai nilai estetik.

4. Pendalaman Estetik (1990—sekarang). Terbukanya ruang eksperimentasi di dalam cerpen, seperti memberi kesadaran pada cerpenis generasi berikutnya untuk juga melakukan hal yang sama. Maka, estetika cerpen makin melebar tidak hanya pada persoalan tema, tetapi juga style, gaya, dan penyampaian ekspresi narasinya.

Demikianlah, gerak estetik cerpen Indonesia seperti terus-menerus hendak melakukan penggalian. Itulah yang terjadi dalam konstelasi peta cerpen Indonesia sekarang.

***

Uraian ini niscaya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut. Bagaimanapun, sejumlah persoalan yang dikedepankan dalam tulisan ini, patut kiranya dipertimbangkan untuk mencari dan menemukan duduk perkara perjalanan cerpen Indonesia modern. Dari sanalah kita akan lebih mudah menelusuri perjalanan gerak estetiknya.

Demikianlah!


Tulisan ini merupakan Makalah Kongres Cerita Pendek Indonesia III, diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung, Lampung , 11—13 Juli 2003.

Maman S. Mahayana, Pensyarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Catatan:

[1] Ajip Rosidi, Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? (Jakarta: Haji Masagung, 1988), hlm. 1—8. Dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung: Bina Cipta, 1978: 16–19), Ajip menyinggung karya-karya yang diterbitkan di luar Balai Pustaka, tetapi mengingat bahasa yang digunakannya bahasa Melayu pasar, Ajip cenderung menempatkan awal lahirnya kesusastraan Indonesia dengan titik tolak pada penerbitan buku-buku Balai Pustaka. Persoalan ini kemudian ditegaskan lagi dalam artikel Ajip Rosidi, “Mas’alah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia,” Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia (Jakarta: Pustaka Jaya, 1970), hlm. 9—27. Gagasan Ajip Rosidi ini sejalan dengan pembagian yang dilakukan Nugroho Notosusanto dalam ceramahnya di FSUI 1963 yang juga melandasi penentuan batas awal kesusastraan Indonesia berdasarkan paham nasionalisme.

[2] Zuber Usman, Kesusasteraan Baru Indonesia (Djakarta: Gunung Agung, 1957), hlm. 27—30

[3]A. Teeuw, Sastra Baru Indonesia (Ende: Nusa Indah, 1978)

[4] Ibid., hlm. 15—18.

[5]Umar Junus, “Istilah dan Masa Waktu ‘Sastra Melayu’ dan ‘Sastra Indonesia’” Medan Ilmu Pengetahuan, I/3, Juli 1960, 245—260.

[6] Sebelum Balai Pustaka berdiri, banyak surat kabar dan majalah yang memuat cerpen (cerita) dan pantun yang isinya menggambarkan kehidupan sehari-hari. Dunia pers waktu itu sengaja memuat karya sastra, justru untuk meningkatkan oplah majalah atau suratkabar itu. Kini problemnya tentu lain. Tetapi, peranan suratkabar dan majalah dalam perkembangan cerpen Indonesia, jelas sangat penting. Oleh karena itu, perlulah melakukan penelitian lebih jauh mengenai masalah ini.

[7] Penelitian mengenai suratkabar dan majalah yang terbit pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 niscaya akan mengungkapkan benang merah hubungan kesusastraan Indonesia lama dan sastra Indonesia modern. Perkembangan sastra Indonesia lama, misalnya, dapat dilacak dan ditelusuri dari tradisi sastra lisan, kemudian sastra tulis melalui penyalinan dan tulisan tangan yang memakai huruf Arab—Melayu, dan terakhir melalui cetak batu (litografi). Pengenalan dari cetakan batu ke cetakan mesin inilah sesungguhnya yang menghubungkan kesusastraan Indonesia lama ke kesusastraan Indonesia modern. Awal berbagai tulisan yang menggunakan cetakan mesin ini justru dilakukan para pengelola suratkabar. Jadi, tradisi penerbitan buku dimulai setelah dikenal penerbitan suratkabar dan majalah.

[8] Tradisi pembacaan pantun dengan tema-tema sosial sesungguhnya sudah berkembang sekitar tahun 1880-an. Pada dekade itu, menurut Kwe Tek Hoay, misalnya, di Bogor pernah muncul tradisi pembacaan pantun dalam pesta keluarga Tionghoa. Dalam suratkabar Poetri Hindia, tidak jarang muncul surat pembaca yang ditulis dalam bentuk pantun atau syair. Beberapa dari pantun atau syair itu mengungkapkan sambutannya atas penerbitan suratkabar Poetri Hindia. Jadi, bentuknya pantun, isinya tentang masalah sosial. Jika demikian, bukankah itu yang kemudian disebut sebagai puisi?

[9] Beberapa suratkabar atau majalah sebelum itu, justru pernah memuat cerita pendek. Jadi, sesungguhnya kesusastraan Indonesia lahir pada akhir abad ke-19, mengikuti kemunculan penerbitan suratkabar dan majalah.

[10] Pembicaraan mengenai Balai Pustaka lebih jauh, periksa K. St. Pamuntjak, “Balai Pustaka Sewadjarnja 1908—1942”; (Djakarta: (?), 1948), “Apakah Balai Poestaka” Pengantar bagi lid-lid congres Bestuur Boemipoetera jang ke-III waktoe mengoendjoengi Balai Poestaka; “Bureau voor de Volkslectuur: The Bureau of Popular Literature of Netherlands India, What it is, and what it does”. Ketiga artikel tentang Balai Pustaka ini, sampai kini belum dapat diketahui penerbit dan tahun penerbitannya. Mengenai latar belakang politik kolonial Belanda dalam pendirian Balai Pustaka, periksa Maman S. Mahayana, “Politik Kolonial Belanda di Balik Pertumbuhan Balai Pustaka,” Makalah Seminar Antarbangsa Kesusasteraan Malaysia ke-VII, Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia, 10—12 September 2001.

[11] Konsep cerita pendek sebagai cerita yang ringkas dan padat –apalagi dengan singkatan cerpen—pada awal abad ke-20 memang belum begitu jelas. Cerita bersambung (feuilleton) juga disebut sebagai cerpen. Pada dasawarsa kedua abad ke-20 penamaan cerita pendek sudah mulai jelas menunjuk pada cerita-cerita yang pendek dan ringkas yang dimuat media massa. Meskipun begitu, masih banyak cerita bersambung yang disebut cerpen. Bahkan, pada zaman Jepang pun, cerpen pemenang pertama lomba penulisan cerita pendek, “Setinggi-tinggi Terbang Bangau” karya Andjar Asmara yang kemudian dimuat dalam majalah Djawa Baroe secara berturut-turut selama tujuh edisi (No. 1, 1 Januari 1943— No. 7, 1 April 1943), tetap disebut sebagai cerpen, meskipun jika dilihat dari jumlah halamannya lebih tepat dikatakan sebagai novel.

Kasus yang sama juga terjadi pada penyebutan suratkabar dan majalah. Poteri Hindia misalnya meskipun terbit dwimingguan, dikatakan oleh pengelolanya sebagai suratkabar. Beberapa suratkabar ada pula yang formatnya seperti majalah atau sebaliknya ada pula majalah yang formatnya seperti suratkabar. Jadi, waktu itu penyebutan suratkabar dan majalah masih sering tumpang-tindih. Oleh karena itu, sangat wajar jika konsep cerpen pun belum begitu tegas benar.

[12] Ajip Rosidi, Tjerita Pendek Indonesia, (Djakarta: Gunung Agung, 1968: Cet. I, 1959).

[13]Ajip Rosidi beranggapan bahwa karena karya-karya Mohammad Kasim dan Suman Hs yang menyajikan cerita-cerita lucu, sangat mungkin ada hubungannya dengan cerita-cerita lucu si Kabayan, Lebai Malang, dan Jaka Dolog. Hipotesis Ajip ini tentu saja masih harus dibuktikan. Tetapi, mengingat sejak akhir abad ke-19, sudah ramai penerbitan suratkabar atau majalah yang di dalamnya sering juga termuat cerita pendek, maka tentu saja menempatkan Mohammad Kasim dan Suman Hs sebagai perintis cerpen Indonesia, mesti dipertanyakan kembali.

Dari mana pula Ajip Rosidi menyimpulkan bahwa Muhammad Kasim dan Suman Hs terpengaruh cerita lucu si Kabayan, jika cerita itu sendiri pada waktu itu belum begitu populer di kalangan masyarakat non-Sunda.

[14] Pada tahun 1921, misalnya, di Surabaya terbit sebuah majalah yang khusus memuat cerita pendek. Nama majalah itu Roepa-Roepa Tjerita Pendek (Surabaja: Bookhandel Pek Pang Ing, Grisee, 1921). Salah satu cerpen yang termuat dalam majalah itu berjudul “Oetang, Moesti Bajar” karya Wan Po Wan, sama sekali tidak mengungkapkan hal-hal yang lucu. Dengan demikian, hipotesis Ajip Rosidi gugur dengan sendirinya.

[15] Periksa Maman S. Mahayana, “Angkatan Sastra 2000,” Republika, 10 Oktober 1999.

[16] Maman S. Mahayana, “Majalah Wanita Awal Abad XX,” Depok: LPUI, 2000. (Laporan Hasil Penelitian, tidak dipublikasikan)

[17] Ibid.

[18] Beberapa di antaranya dapat disebutkan di sini: Cerpen “Boeah Toetoer” karya anonim (mungkin Ki Hadjar Dewantara, salah seorang redaktur majalah Wanita Swara, No. 7, Th. III, 1 April 1914) mengisahkan pentingnya hidup rajin, cerpen “Djiwa Manis Haloes Tipoenja …” karya Delima (Bintang Hindia, No. 23, 1923) mengisahkan percintaan Effendi dan Siti, cerpen “Djoerang jang tiada dapat di djembatani” karya Rineff (mungkin Rustam Effendi) (Asjraq, No. 6—7, Th. IV, Juni—Juli 1928) menceritakan percintaan tokoh Aku dan Nel, seorang wanita terpelajar, cerpen “Salah Wissel” karya Kwie Hwa (Doenia Istri, 15 Mei 1928) menceritakan seorang anak gadis yang salah memahami nasihat orang tuanya. Penelitian yang dilakukan Pusat Bahasa (Atisah, dkk., Analisis Struktur Cerita Pendek 1935—1939. Jakarta: Pusat Bahasa, 1999) atas 60 cerita pendek dari 163 cerita pendek yang dimuat majalah Pandji Poestaka, Pandji Islam, Poedjangga Baroe antara tahun 1935—1939 memperlihatkan, betapa tema-tema yang diangkat dalam cerpen-cerpen itu sangat beragam.

[19] Gagasan Ajip Rosidi ini merupakan semacam uraian ringkas tentang perjalanan cerpen Indonesia (“Seledjang Terbang”) yang terdapat dalam bukunya Tjerita Pendek Indonesia (Djakarta: Gunung Agung, 1968; Cet. I, 1959). Tulisan ini dengan perubahan judul, “Pertumbuhan dan Perkembangan Cerpen Indonesia” dimuat lagi dalam Cerpen Indonesia Mutakhir: Antologi Esai dan Kritik (Pamusuk Eneste (Ed.), Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 10—26.

[20] Jakob Sumardjo, “Mencari Tradisi Cerpen Indonesia” dalam Pamusuk Eneste (Ed.), Cerpen Indonesia Mutakhir: Antologi Esai dan Kritik (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 27—34. Dalam kasus ini, tampak jelas Jakob Sumardjo mengikuti gagasan Ajip Rosidi.

[21] Ibid., hlm. 29—30.

[22] H.B. Jassin, Kesusasteraan Indonesia dimasa Djepang (Djakarta: Balai Pustaka, 1948), hlm. 7.

[23] Maman S. Mahayana, “Sikap Pemerintah Jepang di Bidang Sastra dan Budaya (1942—1945): Studi Kasus Harian Asia Raja” Laporan Penelitian (tidak dipublikasikan). Depok: FSUI, 1994. Pada masa pendudukan Jepang, ada sekitar 10 suratkabar dan delapan majalah yang diterbitkan pemerintah Jepang. Semua yang berkaitan dengan bidang publikasi ini berada di bawah pengawasan Jawa Syimbun Kai, sebuah lembaga sensor pemerintah pendudukan Jepang yang bertanggung jawab atas segala kegiatan yang bersangkutan dengan penerbitan dan pementasan. Periksa juga H.B. Jassin, Kesusasteraan Indonesia dimasa Djepang (Djakarta: Balai Pustaka, 1948) dan H.B. Jassin, Gema Tanah Air (Djakarta: Balai Pustaka, 1948) Cet. II, 1955.

[24] Chin Yook Chin, “Cerpen Indonesia pada Zaman Jepang (Maret 1942—Agustus 1945): Suatu Tinjauan Ekstrinsik” (Jakarta: Skripsi Sarjana, FSUI, 1975) (tidak dipublikasikan).

[25] Ernst Ulrich Kratz, Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988).

[26] Menurut catatan M.C. Ricklefs (Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992) jumlah suratkabar yang beredar mengalami peningkatan dua kali lipat dari sekitar 500.000 eksemplar pada tahun 1950 menjadi sekitar 933.000 pada tahun 1956. Sementara oplah majalah dalam kurun waktu yang sama, dari sekitar 1,1 juta eksemplar meningkat menjadi sekitar 3.3 juta eksemplar. Pada dasawarsa tahun 1950-an itu, cukup mengherankan, jumlah majalah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah suratkabar. Mengenai konstelasi kesusastraan Indonesia tahun 1950-an, lihat Maman S. Mahayana, Akar Melayu (Magelang: Indonesia Tera, 2001)

[27] H.B. Jassin, Analisa Sorotan atas Cerita Pendek, (Jakarta: Gunung Agung, 1963), hlm. X. Tulisan ini dengan pergantian judul menjadi “Kisah” Bulanan-Cerpen Pertama di Indonesia,” dimuat pula dalam Pamusuk Eneste (Ed.), Cerpen Indonesia Mutakhir: Antologi Esai dan Kritik (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 3—9.

[28] Beberapa nama yang cerpen-cerpennya cukup panjang, antara lain, Andjar Asmara (“Setinggi-tinggi Terbang Bangau” (Djawa Baroe, No. 1—7, 1 Januari 1943—1 April 1943), M. Dimyati “Tangan Mencencang Bahu Memikul” (Djawa Baroe, No. 9—12, 1 Mei 1943—15 Juni 1943), A.S. Hadisiswoyo “Hamid Pahlawan Perkumpulan Anti AVC (Di Bawah Bayang-Bayang Jembatan)” (Djawa Baroe, No. 13—15, 1 Juli 1943—1 Agustus 1943), Rosihan Anwar “Radio Masyarakat” (Djawa Baroe, No. 16—19, 15 Agustus 1943—1 Oktober 1943), N.R. Hadidjah Machtoem “Karena Bom” (Pandji Poestaka, No. 7—8, 23—30 Mei 1942), Matu Mona “Gegap Gempita di Medan Perang Timur” (Pandji Poestaka, No. 20—21, 22–29 Agustus 1942)

Sumber : http://mahayana-mahadewa.com/

Thursday, February 24, 2011

Lelaki Sepi

Cerpen Dadang Ari Murtono

Ceritakan padaku tentang sepi, katamu. Ah, tapi sudah terlalu banyak cerita tentang sepi. Apakah masih akan menarik bercerita perihal yang telah berulang dikisahkan seperti itu? Lalu bagaimana membuat cerita seperti itu menarik? Memang tak ada yang menarik. Tapi kau telah memintanya dan aku senantiasa ingin menuruti kemauanmu. Maka biarlah kuceritakan saja.

Namanya tak penting benar. Atau setidaknya dalam kisah ini—bila kau menganggap perlu memberi sebuah nama untuknya—kau bisa memberinya nama sesuai dengan keinginanmu, tak akan berpengaruh apa-apa. Yang jelas, ia adalah lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Maka begitulah, ia senantiasa meminta kekasihnya untuk menemaninya. Ia tak bisa tidur tanpa ada dekap kekasihnya. Ia tak mampu menelan makanannya tanpa kekasihnya yang mengangsurkan suap. Ia tak sanggup mandi bila kekasihnya tak menuang air hangat dan menyiapkan handuk. Ia tak dapat keluar rumah jika kekasihnya tak menjemput. Sungguh, ia ingin senantiasa bersama kekasihnya. Setiap malam, sebelum benar-benar lelap dalam buai kekasihnya, ia berdoa agar esok terbangun dalam rahim kekasihnya, terbangun sebagai cikal janin yang tak akan pernah keluar dari perut ibunya. Selamanya jadi bakal janin. Selamanya bersama-sama kekasihnya. Selamanya merasa aman dalam nyaman lindungan kekasihnya. Ia mengira mencintai kekasihnya dan baginya begitulah cinta yang mesti diwujudkan.

Ia lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Sebab itulah ia senantiasa menulis puisi cinta buat kekasihnya. Ia berkata, ”selama aku masih mencintaimu, aku akan terus menulis puisi cinta untukmu.” Kau tak akan sanggup menghitung berapa banyak puisi yang ia tulis untuk kekasihnya. Ia juga sering berdoa, ”bila aku tak dapat tinggal di rahimnya, izinkan aku menjadi sebait puisi yang ia sukai, yang ia hafal, yang sering ia lantunkan. Aku ingin tinggal di lidahnya, menjadi sesuatu yang kerap ia sebut.” Ia menyangka mencintai kekasihnya dan tak ada cara lebih tepat menunjukkannya selain melalui puisi.

Ia lelaki yang tak dapat membedakan cinta dan sepi. Ia menganggap telah sempurna mencintai kekasihnya dan berharap kekasihnya melakukan hal serupa: mencintainya dengan sempurna pula. Dan kekasihnya memang mencintainya. Sangat mencintainya. Mencintai dengan cara yang berbeda dari yang ia yakini. Wanita itu mengerti bahwa ia tak sepenuh hati mencintai. Wanita itu paham mengapa si lelaki ingin senantiasa ditemani dan menulis puisi. ”Sungguh itu bukan cinta,” bisik wanita itu. ”Hanya yang takut pada sepi yang senantiasa ingin ditemani, hanya untuk membunuh sepi ia menulis beratus sajak cinta.” Barangkali inilah alasan wanita itu kerap terlihat malas-malasan menemani si lelaki berjalan di taman pagi-pagi atau membaca seantologi sajak dengan tebal ratusan halaman yang ditulis oleh lelaki kita dalam kisah ini.

Namun wanita itu memang mencintainya. Cinta yang membuat wanita itu bertahan dengan itu semua. Dan cinta pulalah yang pada akhirnya membuat wanita itu meninggalkan lelaki kita ini. Selalu ada yang mesti dikorbankan atau ikhlas berkorban dalam cinta bukan? Dan wanita itu memilih yang kedua: ikhlas berkorban. Ketika ketakutan akan sepi yang diderita lelaki kita kian hebat hingga bahkan dalam mimpi pun menuntut wanitanya untuk hadir dan menemani menulis atau membaca puisi, maka wanita itu merasa mesti ada yang dikerjakan untuk menyelamatkan kejiwaan lelaki kita ini. Bagaimana menyingkirkan rasa takut pada sepi bila tak langsung menantangnya? Maka demikianlah, wanita itu meninggalkan lelaki kita. Meninggalkannya sendiri dalam sepi, meninggalkannya sendiri untuk melawan sepi.

Maka kini lelaki kita sendirian. Merasa kesepian. Tak ada lagi yang membenarkan selimut selimut yang melorot ketika ia tidur. Tak ada yang mengambilkan nasi atau menjerang air buat mandinya. Tak ada senyum yang menemaninya menulis puisi, tak ada sorot lembut menatapnya. Tak ada semua yang selama ini membuatnya kuat. Ia merasa payah, merasa tak sanggup lagi melangkah.

Dan pada sebuah malam kesekian yang senantiasa menyiksanya dengan kenangan, ia melihat wajah bulan. Wajah yang berbeda dengan wajah-wajah bulan pada malam-malam sebelumnya. Wajah yang tergantung di langit itu serupa benar dengan wajah kekasih yang meninggalkannya. Ia segera keluar rumah. Menuju halaman dan berdiri diam di sana sambil mendongak ke atas, ke aras bulan bulat itu. Tiba-tiba lelaki kita ini ingin menulis sajak cinta lagi.

Tapi bulan sempurna bundar yang mirip wajah kekasih yang meninggalkan lelaki kita ini tak setiap hari bersinar. Pelan-pelan bulan akan mencengkung, membentuk sabit untuk kemudian benar-benar lenyap di ujung bulan penanggalan Jawa. Tapi bulan akan muncul lagi. Awalnya serupa noktah, lalu kembali membentuk sabit dan bundar sempurna pada tengah bulan dalam kalender Jawa. Dan ia merasa tak mampu menunggu begitu lama untuk melihat wajah indah itu. Maka ia berdoa agar bulan senantiasa purnama.

Namun bulan tak mungkin selalu purnama. Ada putaran musim, aliran angin, ketinggian air laut, masa panen dan tanam, sampai waktu laku ilmu tertentu yang bergantung pada rotasi dan evolusi bulan. Semua mesti berjalan sesuai kodratnya. Maka sekhusyuk apa pun lelaki itu berdoa, bulan akan tetap mengalami sabit, melalui bulan mati dan pasti kembali purnama tengah bulan.

Lelaki kita itu, sungguh keras hati kali ini. Ia tak ingin lagi ditinggal kekasihnya. Ia ingin menjadi yang pertama menyambut ketika wajah kekasihnya itu perlahan sembul dan ingin menjadi yang terakhir mengucap sampai jumpa sewaktu kekasihnya beranjak redup. Ia memutuskan tak bergerak dari halaman bahkan saat mentari terbit. Kau tahu, kadang-kadang kau masih bisa menyaksikan bulan menjelang siang walau sinarnya tenggelam dalam pancaran matahari. Bagimu mungkin itu tak penting. Namun lelaki kita ini menganggapnya sesuatu yang haram terlewatkan. Kalau kau pernah mendengar orang-orang tua berujar bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh dan melakukan hal-hal yang tak masuk akal, maka lelaki kita ini adalah amsal ujaran itu. Ia tak beranjak dari halaman, berhari-hari, berminggu- minggu selain untuk makan atau buang air.

Namun langit tak hanya menyimpan wajah indah kekasihnya yang hilang atau kilau cerlang bintang-bintang. Langit juga mempunyai mendung dan hujan, kilat dan badai, matahari dan cahaya panas. Tak ada yang mampu menghentikan mereka menjalankan tugas. Maka beginilah, selama beberapa malam mendung tebal tergantung di langit untuk kemudian tumpah menjadi hujan dan badai, menabur kilat dan dingin. Namun pada siang harinya, matahari bersinar teramat cerah, mendedah panas yang menyiksa. Kejadian seperti itu terjadi pada tengah bulan hitung-hitungan Jawa. Pada masa di mana semestinya purnama terlihat sempurna.

Lelaki itu tak juga beranjak. Telah lama ia memendam rindu. Hitunglah sendiri berapa lama ia tak bersua wajah kekasihnya itu setelah tengah bulan kemarin purnama yang terakhir. Badai yang menghajar tubuhnya malam-malam atau panas yang meremas tubuhnya tak membuatnya bergerak. Ia kecewa sebab mendung tebal menghalanginya melihat wajah indah bulan dan berharap langit kembali ramah segera. Namun langit cerah ketika pagi telah sepenggalan dan bulan tak lagi terlihat. Ia tetap tak bergerak. Berharap keajaiban, berharap bulan kesiangan.

Ia telah lama bertahan. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Ia hanya masuk ke rumah untuk makan dan minum dengan tergesa dan buru-buru kembali ke halaman. Ia kuat. Tapi tidak kali ini. Tiga malam dihajar badai dan tiga hari digempur panas yang sangat. Ia merasa tubuhnya lemas dan panas. Pada malam keempat ia jatuh. Ia mengira tertidur. Ia seperti bermimpi.

Ia melihat kekasih yang meninggalkannya dulu telah menjelma bulan. Bulan yang senantiasa ia nanti. Bulan itu tak tergantung di langit seperti yang selama ini ia lihat. Bulan itu begitu dekat dengannya, bahkan menyatu dengan dirinya. Terletak di hatinya. Bulan itu berkata, ”kalau kau benar-benar mencintaiku, kau akan tahu bahwa aku selalu menemanimu tanpa harus mendekap tidurmu, menyiapkan air hangatmu atau mengangsurkan suapanmu. Kau akan tahu bahwa aku selalu bersamamu sebab aku tinggal di hatimu dan senantiasa di sana. Aku tak pernah ke mana-mana.”

Lelaki kita itu ingin bangun. Tapi tak bisa. Tubuhnya tak dapat bergerak. Maka ia putuskan untuk pergi tanpa tubuhnya. Pergi menuju hatinya yang menyimpan bulan. Ia lihat tubuhnya telah begitu payah.

Sumber: Kompas, November 2010

DOWNLOAD cerpen  ini?

Sunday, February 20, 2011

Menalar Kritik Sastra Indonesia

Alur Pemikiran Kritik Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana

Tradisi ilmiah dan kehidupan intelektual di negeri ini, mesti diakui, masih centang-perenang. Para dosen dan peneliti kita terpaksa harus menggunakan kata nyambi dan cawe-cawe sekadar untuk menghidupi asap dapurnya. Meski begitu, masih banyak di antaranya yang tetap setia dan bertanggung jawab pada profesi. Mereka juga tidak melupakan peran sosialnya dengan bekerja dan berkarya. Bagaimana hasilnya, masyarakat yang kelak menilainya.

Dalam kondisi kehidupan ilmiah yang masih centang-perenang itu, sejak zaman Belanda hingga kini, kiblat dunia pendidikan kita masih saja ke Barat. Jadilah, suka tak suka, sistem pendidikannya juga berorientasi ke sana. Termasuk di dalamnya tradisi kritik sastra! Dalam lingkaran itulah, kritik sastra Indonesia ngulet, menggeliat, kemudian merangkak bangun.
***

Jika ditarik ke belakang, sesungguhnya tradisi kritik sastra Indonesia relatif belum bersejarah panjang. Meski begitu, praktiknya justru terjadi sejak awal abad ke-20, seperti dapat kita lihat di media massa yang terbit dekade itu. Periksa saja komentar Tirto Adhi Soerjo mengenai cerita-cerita yang dimuat Medan Prijaji (1907-1912) atau Poetri Hindia (1908-1911). Majalah Pandji Poestaka, bahkan menyediakan rubrik “Memadjoekan Kesoesasteraan” yang diasuh Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam edisi 5 Juli 1932, muncul artikel berjudul “Kritik Kesoesasteraan”. Dapat dikatakan, artikel ini yang pertama secara eksplisit mencantumkan kata “kritik kesusastraan” dalam kritik sastra Indonesia. Dalam Pandji Poestaka edisi November 1932 — Maret 1933, dimuat pula secara berturut-turut tulisan Alisjahbana, “Menoedjoe Kesoesasteraan Baroe” yang secara teoretis menolak style dan bahasa klise dalam kesusastraan tradisional sambil mengajukan ciri-ciri sastra Indonesia modern.

Dalam majalah Poedjangga Baroe (1933) berbagai tulisan tentang sastra, tidak cuma berupa ulasan ringkas dan resensi, tetapi juga uraian mengenai konsep teoretis sastra dalam kaitannya dengan estetika, seni, dan kebudayaan Indonesia. Cermati tulisan Sutan Takdir Alisjahbana “Menoedjoe Seni Baroe” (Juli, 1933) dan “Poeisi Indonesia Zaman Baroe” (I-VI: September 1934-Februari 1935), Armijn Pane “Kesoesasteraan Baroe” (I-IV: Juli-Oktober 1933), Hoesein Djajadiningrat “Arti Pantoen Melajoe jang Gaib” (I-V: November 1933-Maret 1934) dan Amir Hamzah “Kesoesasteraan” (I-IV: Juni 1933-September 1934) dan “Pantoen” (Maret 1934). Secara mendalam, mereka mencoba merumuskan konsepsi dan estetika sastra Indonesia, baik tradisional maupun modern. Ada dua arus besar pemikiran mengenai rumusan mereka: (1) konsep dan estetika sastra Indonesia menurut pemikiran Barat yang diangkat Alisjahbana, dan (2) konsep dan estetika sastra Indonesia menurut kultur Timur (termasuk Indonesia) yang dikedepankan Djajadiningrat dan Amir Hamzah.

Sebuah majalah yang terbit di Medan (1937), Pedoman Masjarakat, juga memuat ulasan dan resensi, meskipun masih dalam bentuk yang ringkas. Salah satu hal penting dari berbagai tulisan dalam majalah ini adalah munculnya semacam gerakan sastra di luar Balai Pustaka yang tidak mengikuti mainstream Poedjangga Baroe. Medan kemudian menjadi salah satu pusat penerbitan novel seperti itu. Karena formatnya begitu sederhana dengan cetakan dan kertas berkualitas rendah, harga jualnya jadi begitu murah. Dari sanalah lahir istilah roman picisan yang merujuk pada uang sepicis, sebagaimana yang diperkenalkan Dr. R. Roolvink (1952).

Pada zaman Jepang, pembicaraan mengenai konsep sastra cenderung terfokus pada fungsi sastra, tugas sastrawan, dan penolakan konsep seni untuk seni. Masalahnya berkaitan dengan kepentingan Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Fungsi sastra dimanfaatkan untuk propaganda, dan tugas seniman memberi penyadaran akan semangat cinta tanah air, kerelaan berkorban, dan keberanian menghadapi perang. Majalah Djawa Baroe, harian Asia Raja, dan jurnal Keboedajaan Timoer –sekadar menyebut beberapa– adalah media massa yang dijadikan corong Pemerintah Jepang waktu itu.

Awal merdeka, kita melihat perdebatan seru mengenai konsep estetik Angkatan 45 berikut gagasan humanisme universal. Surat Kepercayaan Gelanggang merupakan representasi dari elan dan semangat Angkatan itu atas gerak dan kesadaran membangun dan mengisi kebudayaan Indonesia di masa mendatang. Masalah angkatan dan konsep kesusastraan, juga menjadi polemik hangat yang menjadi wacana pemikiran intelektual Angkatan 45.

Di tengah terjadinya polemik itu, Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat) lahir dan mengusung humanisme proletariat lewat realisme sosialis dan konsep seni untuk rakyat. Pada dekade itu Jassin menerbitkan sejumlah bukunya yang berisi berbagai artikel yang pernah dimuat media massa. Inilah yang mengawali buku kritik sastra Indonesia. Teeuw juga mempublikasikan buku kritiknya, Pokok dan Tokoh (1952), meski isinya lebih dekat pada sejarah sastra Indonesia. Pada dasawarsa itu, terjadi perseteruan para pendukung gagasan humanisme universal dengan Lekra. Puncaknya jatuh pada Manifes Kebudayaan, 19 Oktober 1963 yang kemudian dibekukan Presiden Soekarno, 8 Mei 1964.

Memasuki zaman Orba, masalah konsep dan operasionalisasi kritik sastra lebih tegas dirumuskan dalam Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia, 31 Oktober 1968. Lahir dua arus pemikiran yang bermuara pada Aliran Rawamangun dan metode Ganzheit. Di luar terjadinya perbedaan pandangan dua arus pemikiran itu, sejak itu kritik sastra menjadi salah satu bagian penting dalam kurikulum institusi pendidikan sastra. Mengingat penguasa Orba selalu menyeragamkan apapun, termasuk pendidikan, maka di semua institusi pendidikan sastra diberlakukan kurikulum nasional. Di dalamnya termuat telaah atau kajian sastra yang tak lain adalah kritik sastra. Itulah perjalanan kritik sastra menjadi bagian penting –seperti juga mata kuliah telaah lainnya– dalam dunia akademik.

Tak dapat dinafikan sumbangan Aliran Rawamangun bagi institusi sastra di negeri ini. Penelitian yang dihasilkan para pendukung aliran ini, seperti M.S. Hutagalung, Boen S. Oemarjati, J.U. Nasution, atau Lukman Ali, kerapkali menjadi acuan, bagaimana operasionalisasi kritik akademis dilakukan. Bahkan, disertasi Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and His Language” (Den Haag, 1972) menjadi rujukan penting bagi peneliti Barat yang hendak “memahami” Chairil Anwar.

Sampai pertengahan dasawarsa 1980-an, berbagai macam buku kritik sastra, terus bermunculan. Yang berupa kritik teoretis dapat disebutkan beberapa di antaranya, karya Rachmat Djoko Pradopo, Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern (1988), antologi artikel yang dihimpun Ariel Heryanto, Perdebatan Sastra Kontekstual (1985) atau kumpulan makalah yang disusun Mursal Esten, Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan (1988). Yang berupa kritik terapan, secara kuantitatif lebih banyak lagi. Beberapa di antaranya, Novel Baru Iwan Simatupang (1980) dan Hamba-Hamba Kebudayaan (1984) karya Dami N. Toda, Sastra dan Religiositas (1982) karya Y.B. Mangunwijaya, Dialog antara Dunia Nyata dan tidak Nyata (1989) karya Th. Sri Rahayu Prihatmi, dan Menelusuri Makna Ziarah karya Iwan Simatupang (1990) karya Okke K.S. Zaimar.

Terbitnya buku yang membincangkan kritik teoretis dan kritik terapan yang beraneka macam itu memperlihatkan betapa semarak kehidupan kritik sastra Indonesia. Lalu bagaimana sesungguhnya peta kritik sastra Indonesia, baik yang dihasilkan kaum akademis, sastrawan, maupun sastrawan yang sekaligus juga kaum akademis. Dalam hal ini, kerja keras Rachmat Djoko Pradopo merupakan tonggak penting dalam usahanya menginventarisasi, mengklasifikasi, serta memetakan panorama kritik sastra Indonesia.

Dalam disertasi Rachmat Djoko Pradopo “Kritik Sastra Indonesia Modern: Telaah dalam Bidang Kritik Teoretis dan Kritik Terapan” (1989) yang hampir setebal bantal (949 halaman) itu—kemudian diterbitkan secara utuh sebagai buku berjudul Kritik Sastra Indonesia (Gama Media, 2002), dideskripsikan dan sekalian dianalisis secara mendalam dan luas berbagai jenis kritik sastra Indonesia sejak periode Balai Pustaka sampai penolakan teori kritik sastra khas Indonesia akhir dekade tahun 1980-an. Inilah penelitian yang sangat komprehensif mengenai panorama dan berbagai alur pemikiran dalam kritik sastra Indonesia.

Memasuki dasawarsa akhir abad ke-20, penerbitan karya para peneliti masih terus berlangsung. Bahkan, belakangan ini, sejumlah penerbit melakukan semacam “perburuan” naskah hasil penelitian kaum akademis. Jadi, jika faktanya begitu, adakah alasan lain yang memaksa entah siapa untuk berkata: “Krisis kritik sastra Indonesia?”
***

Bersamaan dengan pudarnya pengaruh Aliran Rawamangun, di berbagai institusi sastra mulai gencar dipelajari macam-macam teori kritik mutakhir. Praktik kritik sastra tidak lagi terpaku pada pendekatan struktural, baik yang mengacu pada gagasan Roland Barthes, maupun Kritik Baru (New Criticism) Amerika. Kejenuhan terhadap pendekatan ini, secara langsung telah membuka peluang penerapan berbagai macam jenis kritik.. Yang kini hangat, selain psikologi dan sosilogi sastra, juga kritik feminis, kajian budaya (cultural studies), dan New Historicism: sebuah gerakan kesadaran sejarah baru –sebagai reaksi atas New Criticism– dalam kritik sastra yang coba memanfaatkan berbagai macam aliran, mazhab, dan teori. Di luar itu, penggalian terhadap sumber-sumber kritik sastra Timur, juga terus dilakukan. Disertasi Bambang Wibawarta, “Modernisasi Jepang dalam Karya-Karya Mori Ogai” (2000) memberi cerita lain mengenai teori sastra Barat, khasnya strukturalisme dan “kematian pengarang” Barthes. Dalam sastra Jepang, “pengarang dapat dianggap sebagai sebuah teks” yang justru penting untuk melengkapi pemahaman teks yang dihasilkannya.

Karya Abdul Hadi WM, Tasauf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri (2001), meski tidak menafikan teori sastra Barat, juga mengangkat hermeneutik dari tradisi intelektual Islam, terutama bersumber dari gagasan Ibn Arabi dan Al-Ghazali. Dengan begitu, kritik sastra Indonesia di masa hadapan, bakal makin semarak dengan masuknya tidak hanya pengaruh Barat, tetapi juga Timur. Bahkan, boleh jadi dari kultur dan estetika sendiri, seperti yang diangkat dalam disertasi Sapardi Djoko Damono, Novel Jawa tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1989).

Dalam konteks kritik sastra Indonesia, meski diakui, teori dan kritik sastra Barat tidak dapat kita hindarkan. Namun, tidaklah berarti kita lalu menelan bulat-mentah. Jadi, mengulang pernyataan yang lalu: ia sekadar kendaraan yang dapat dimuati apa pun dan ditumpangi siapa pun, sesuai dengan kebutuhan dan arah yang menjadi tujuannya. Jika begitu, tentu saja tidak perlu pula kita memberhalakannya. Barangkali, ada benarnya juga pepatah Minang ini: “Tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua” (Terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar).

(Maman S. Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok).
Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.COM

Wednesday, February 16, 2011

Cerpen Tikus dan Manusia

Tikus dan Manusia

Cerpen Jacob Sumardjo

Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini. Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun. Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam.

Pertama kali kami menyadari kehadiran penghuni rumah yang tak diundang, dan tak kami ingini itu, ketika saya tengah menonton film-video The End of the Affair yang dibintangi Ralph Fiennes dan Julianne Moore, seorang diri, sementara istri telah mendengkur kecapaian di kamar. Waktu tiba pada adegan panas pasangan selingkuh Fiennes dan Julianne, tengah bugil di ranjang, yang membuat saya menahan napas dan pupil mata melebar, tiba-tiba kaki saya diterjang benda dingin yang meluncur ke arah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di balik rak buku. Jantung saya nyaris copot, darah naik ke kepala akibat terkejut, dan otomatis kedua kaki saya angkat ke atas.

Baru kemudian muncul kemarahan dan dendam saya. Saya mencari semacam tongkat di dapur, dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya balik memegangnya dan menuju ke arah balik rak buku. Tangan saya amat kebelet memukul habis itu tikus. Namun, tak saya lihat wujud benda apa pun di sana. Mungkin begejil itemtelah masuk rak bagian bawah di mana terdapat lubang untuk memasukkan kabel-kabel pada televisi. Untuk memeriksanya, saya harus mematikan televisi dulu yang ternyata masih menayangkan adegan panas pasangan intelektual Inggris itu. Saya takut kalau tikus keparat itu menyerang saya tiba-tiba. Imigran gelap rumah itu saya biarkan selamat dahulu.

Saya tidak pernah menceritakan keberadaan tikus itu kepada istri saya yang pembenci tikus, sampai pada suatu hari istri saya yang justru memberitahukan kepada saya adanya tikus tersebut. Berita itu begitu pentingnya melebihi kegawatan masuknya teroris di kampung kami.

”Pak, rumah kita kemasukan tikus lagi! Besar sekali! Item!”

”Di mana mamah lihat?”

”Di dapur, lari dari rak piring menuju belakang kulkas!” Istri saya cemas luar biasa, menahan napas, sambil mengacung-acungkan pisau dapur ke arah kulkas di dapur.

”Sudah satu tahun enggak ada tikus. Rumah sudah bersih. Mengapa tikus masuk rumah kita? Tetangga jauh. Dari mana tikus itu?”

”Itu tikus kebun, Mah,” jawab saya santai sambil mengembalikan buku Nietsche ke rak buku.

”Jangan santai-santai saja Pah, cepat lihat kolong kulkas!”

Wah, situasi semakin gawat. Saya memenuhi perintah istri saya dengan menyalakan senter ke bagian kolong kulkas. Tidak ada apa pun. Tikus keparat! Ke mana dia menghilang?

Sejak itu istri saya amat ketat menjaga kebersihan. Semua piring di rak dibungkus kain, juga tempat sendok. Tudung saji diberati dengan ulekan agar tikus tidak bisa menerobos masuk untuk menggasak makanan sisa. Gelas bekas saya minum nescafe-cream malam hari harus ditutup rapat. Tempat sampah ditutupi pengki penadah sampah sambil diberati batu. Strategi kami adalah semua tempat makanan ditutup rapat-rapat sehingga tikus tak akan bisa menerobos.

Istri saya memesan dibelikan lem tikus paling andal, yakni merek Fox. Selembar kertas minyak tebal dilumuri lem tikus oleh istri saya dan di tengah-tengah lumeran lem itu ditaruh ampela ayam bagian makan malam saya. Jebakan lem tikus ditaruh di kaki kulkas. Pada malam itu, ketika istri saya tengah asyik menonton sinetron ”Cinta Kamila”, yang setiap malam setengah sembilan selalu menangis itu, istri saya tiba-tiba berteriak memanggil saya yang sedang mengulangi membaca Filsafat Nietsche di kamar kerja, bahwa si tikus terperangkap. Saya segera menutup buku dan lari ke dapur menyusul istri. Benar, seekor tikus hitam sedang meronta-ronta melepaskan diri dari kertas yang berlem itu.

”Mana pukul besi?!” saya panik mencari pukul besi yang entah disimpan di mana di dapur itu.

”Jangan dipukul Pah!”

”Lalu bagaimana?” Saya menjawab mendongkol.

”Selimuti dengan kertas koran. Bungkus rapat-rapat. Digulung supaya seluruh lem lengket ke badannya.”

”Lalu diapakan?” Saya semakin dongkol.

”Buang di tempat sampah!”

”Aah, mana pukul besi?” Kedongkolan memuncak.

”Nanti darahnya ke mana-mana! Bungkus saja rapat-rapat!”

Saya mengalah. Ketika tikus itu akan saya tutupi kertas koran, matanya kuyu penuh ketakutan memandang saya. Ah persetan! Saya menekan rasa belas kasihan saya. Tikus saya bungkus rapat-rapat, lalu saya buang di tong sampah di depan rumah, sambil tak lupa memenuhi perintah istri saya agar penutupnya diberati batu.
Siang harinya sepulang dari mengajar, istri saya terbata-bata memberi tahu saya bahwa tikus itu lepas ketika Mang Maman tukang sampah mau menuangkan sampah ke gerobaknya. Cerita Mang Maman, ada tikus meloncat dari gerobak sampahnya dan lari ke kebun sebelah dengan terbungkus kertas coklat. Cerita lepasnya tikus ini beberapa hari kemudian diperkuat oleh Bi Nyai, pembantu kami, bahwa dia melihat tikus hitam yang belang-belang kulitnya.

Geram juga saya, dan diam-diam saya membeli dua jebakan tikus. Ketika mau saya pasang malam harinya, istri saya keberatan.

”Darahnya ke mana-mana,” katanya.

”Ah, gampang, urusan saya. Kalau kena lantai, saya akan pel pakai karbol,” jawabku.

Istri saya mengalah, dan rupanya merasa punya andil bersalah juga. Coba kalau tikus itu dulu kupukul kepalanya, tentu beres.

Pada waktu subuh istri membangunkan saya.

”Tikusnya kena Pah!”

Memang benar, seekor tikus hitam terjepit jebakan persis pada lehernya. Darah tak banyak keluar. Ketika saya amati dari dekat, ternyata bukan tikus yang kulitnya sudah belang-gundul.

”Ini bukan tikus yang lepas itu Mah!”

”Masa?” Ia mendekat mengamati.

”Kalau begitu ada tikus lain.”

”Mungkin ini istrinya,” celetekku.

Ketika mau saya lepas dari jebakan, istri saya melarangnya.

”Buang saja ke tempat sampah dengan jebakannya.”

Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami. Tikus belang itu masih hidup. Dendam kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang lagi lem tikus dengan berganti-ganti umpan, seperti sate ayam, sate kambing, ikan jambal kegemaran saya, sosis, namun tak pernah berhasil menangkap si belang. Bibi mengusulkan agar dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli sepotong ayam bakar di restoran padang yang paling ramai dikunjungi orang. Sepotong kecil paha ayan itu dipasang istri saya di tengah lumeran lem Fox, sisanya saya pakai lauk makan malam.

Gagasan Bi Nyai ternyata ampuh. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton tebal yang dilumuri lem. Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya sudah tidak berbulu. Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun.

”Mah, cepat ambil pukul besinya.”

Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak.

”Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus juga dibungkus koran. Darahnya bisa enggak ke mana-mana!”

Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas lagi.

”Cepat sana cari koran!” bentakku jengkel.

”Kenapa sih marah-marah saja?” sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang.

Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah.

Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi nescafe, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami.

”Harus kita temukan sarangnya! Bayi-bayi tikus itu kelaparan ditinggal kedua orangtuanya. Kalau mati bagaimana? Kalau mereka hidup, rumah kita menjadi rumah tikus!” kata istri.

Lalu kami melakukan pencarian besar-besaran. Bagian-bagian tersembunyi di rumah kami obrak-abrik, namun bayi-bayi tikus tidak ketemu. Bayi-bayi itu juga tidak kedengaran tangisnya lagi. ”Mungkin ada di para-para. Tapi bagaimana naiknya?” kata saya.

”Nunggu Mang Maman kalau ambil sampah siang,” kata istri.

Ketika Mang Maman mau mengambil sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya untuk naik ke para-para mencari bayi-bayi tikus.

”Di sebelah mana Bu?” tanya Mang Maman.

”Tadi hanya terdengar di dapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,” sahut istri saya.

Sekitar setengah jam kemudian Mang Mamang berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga.

”Ini Bu ada lima. Satu bayi telah mati, yang lain sudah lemas. Lihat, napas mereka sudah tersengal-sengal.”
Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu.

”Bunuh dan buang ke tempat sampah Mang” kata istri saya.

”Ah, jangan Bu, mau saya bawa pulang.”

”Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran.

”Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil meringis.

”Obat kuat? Bagaimana memakannya?”

”Ya ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.”

Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.

Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia. Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir.

Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.

Lebaran 2010
Sumber: Kompas, November 2010

Download cerpen ini SILAKAN KLIK DI SINI

Sunday, February 13, 2011

Download Naskah Drama Monolog

Berikut beberapa naskah drama monolog yang bisa digunakan untuk pembelajaran di kelas. Naskah-naskah  drama monolog yang ditampilkan sangat bervariasi, mulai dari karya sastrawan terkenal sekelas Arifin C. Noer, Soni farid Maulana, Ikun Sri Kuncoro, Rachman Sabur, sampai karya siswa-siswa kelas bahasa dalam pelajaran seni teater. Paling tidak naskah-naskah ini akan membantu pengajaran di kelas, membantu memberi contoh konkrit naskah drama monolog dan sebagai bahan diskusi di kelas. Semoga bermanfaat.

Topeng-Topeng – Rachman Sabur

Wajah kita adalah topeng-topeng. Segala wajah semua bertopeng. Ayo! Siapa diantara kita yang bersedia menanggalkan topeng dirinya? Aku tahu wajahmu. Kaupun tahu wajahku yang sebenarnya. Topengku dan topengmu saling menatap penuh kejahatan! Wajah-wajah kita bersembunyi di balik topeng. Topeng-topeng kita bercengkrama di panggung hidup. Lalu kita saling bunuh-membunuh! Topengmu dan topengku terus bergerak menarikan kehidupan dan kematian

Baca: klik di sini
Download : Klik di sini


KASIR KITA -Arifin C Noer

Saya sangat susah sebab istri saya cantik sekali. Kecantikannya itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara. Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik. Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri tidak percaya bahwa dia itu istri saya. Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu pandang pertama kalinya di suatu pesta, berkata saya dalam hati: maulah saya menyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan selamanya sulit diterka...

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Anak Kabut - Soni Farid Maulana

Tatolah aku, kekasihku, dengan segenap cintamu. Janganlah ragu, gambarlah seekor naga mungil pada kedua belah payudaraku. Sungguh aku tidak suka gambar kupu-kupu atau bunga. Keduanya tidak melambangkan jiwa kita yang liar—keluar masuk nilai-nilai dari malam ke malam, dari pintu ke pintu diskotik. Disergap asap rokok. Irisan cahaya melambungkan jiwa kita pada impian Amerika atau impian apa saja.

Tatolah aku, kasihku, jangan ragu walau ayah dan ibuku tidak setuju. Dulu, ya, dulu. Tato memang simbol napi tapi sekarang lain maknanya. Ia sumber keindahan, semacam aksesoris, semacam tanda, postmodern di akhir abad 20. ya, memang, sejak 12000 tahun sebelum masehi orang sudah mengenal tato. Tapi adakah mereka seberani aku? Kasihku, jangan ragu, tatolah aku, aku tak mau kalah dengan ratu Alexandra yang hidup di abad 19 di Rusia

Download: KLIK di sini

Ibu Kita Raminten – Ikun Sri Kuncoro

Saya, malam itu, tanggal 22 Desember 2004 memang berada di kamar bapak Prihartono di jalan Ahmad Yani no. 1. Tetapi seperti yang telah saya katakan, kenapa saya di rumah itu? ... Saya, ... dipaksa Stambul ... Anak saya. Malam itu, Stambul pulang. Dan seperti beberapa malam sebelumnya, Stambul membujuk saya untuk menjadi gundik bapak Prihartono.

Menurut Stambul, hidup saya akan lebih baik kalau saya bersedia bekerja pada Pak Prihartono. Katanya, Pak Prihartono sedang membutuhkan seorang tukang pijat. Yang diinginkan adalah seorang tukang pijat yang muda. Tapi Stambul yakin bahwa tak akan ada perempuan muda yang bersedia menjadi tukang pijat Pak Pri. Meskipun tua, Pak Pri duitnya banyak. Pak Pri akan memberi uang berlimpahan, cukup makan, cukup pakaian, dan saya hanya disuruh memijat-mijat. Hanya itu saja. Memijat.

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Para Penjilat -- Toga Nainggolan


Rumah segede ini yang tinggal cuma aku? Payah. Benar-benar payah jadi orang kaya. Sangat kesepian. Dengan tetangga saja tak kenal. Bukannya aku tak mau tapi pasti mereka juga tak mau. Maklum, pasti sibuk alasannya. Alasan klasik yang manjur juga untuk menolak sesuatu…

Download: KLIK di sini




Kebohongan Atau ? -- Aji Moundry


Nama saya Odoy, umur saya belum terlalu tua sekitar 25-an lah… saya cuma lulusan SMA…penganguran… pasti banyak yang berpikir bahwa saya menggerutu dari tadi karena saya tidak bekerja. Salah. Saya menggerutu karena saya akan mati. Ya…mati. Bertemu dengan yang menciptakan saya. Saya akan mati beberapa menit lagi. Pasti banyak yang tidak percaya dan bertanya-tanya kalau saya sebentar lagi akan mati. Saya akan ditembak mati. Benar ditembak di kepala tepat di depan jidat saya.

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Sahud Sabeni atawa The Hood -- Rembrant



Selamat pagi Indonesia! Hari ini pukul dua pagi Bank Indonesia dinyatakan telah dirampok! Pihak kepolisian menduga perampokan ini dilakukan oleh SAHUD SABENI alias Bang Hood atau The Hood, Robin Hoodnya Indonesia perampok legendaris yang konon selalu mendonasikan hasil rampokannya kepada para korban bencana alam. Perampok dermawan ini telah melakukan perampokan di hampir 20 bank terbesar Indonesia sebelumnya dan belum pernah tertangkap, penjahat bersama komplotannya ini selalu lolos sebelum polisi datang ke tempat kejadian. Tapi hari ini kita akan melihat keberhasilan para polisi dalam penangkapan The Hood! Kami akan terus menyiarkan perkembangan ini kedalam layar kaca Anda!

Download: KLIK di sini

Patung Penjaga – Theo Adimas

Hari ini benar-benar hari yang aneh. Yah, sesungguhnya sudah tidak aneh lagi sih untukku. Sudah cukup sering terjadi di sini orang minta keringanan hukuman, minta dibebaskan, minta jaminan keamanan, dan bahkan memaksa bebas dengan caranya pun ada. Padahal jelas mereka menempatkan aku disini sebagai simbol. “Inilah perlambangan dari niat kami untuk menjalankan tugas sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan.” Itu yang mereka katakan saat meletakkanku di sini

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini



Sampah -- Felix Hendi

Aku manusia, sama seperti manusia-manusia lainnya. Manusia yang punya hak untuk hidup layak, punya istri, anak, uang, rumah dan kebebasan. Aku dulu anak desa, hidup dari mencangkul....
Pak, apa warung ini butuh pekerja? Saya sedang cari kerja, Pak, saya boleh membantu? Saya mau digaji berapa saja asal ada kerjaan buat saya. Bu, saya butuh kerja, saya bisa bantu cuci piring atau apa saja, asal saya bisa makan

Download: KLIK di sini


Manequin – Jonathan H

Menjadi manequin sangat enak, ya kan? Tiap dua bulan sekali bisa ganti gaya. Tiap ada acara khusus, bisa dipajang di etalase. Semua mata memandang, semua merek terpasang. Dari merk terbaru: Glue, Lava, dan Vella, sampai merk lama kayak Polo, Versace, Planet Surf, Nevada, udah pernah tak pakai. Disainer terkenal dari Luis Vitton sampai Ivan Gunawan sudah pernah melekat di aku dengan gagahnya. Look at me! Aku punya banyak gaya. (berpose seperti model) I’m very fashionable, you know!

Tapi aku merasa muak dan bosan juga. Aku dipakai untuk menyombong. Baju biasa aja, dilekatkan padaku agar semua pengunjung bisa melihat. Dasar sombong! Aku benci kesombongan, berbeda dengan aku, sudah tampan, rendah hati pula.

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook