Saturday, April 30, 2011

Puisi-puisi Kuntowijoyo

Puisi Kuntowijoyo

Kelahiran
Setelah benih disemaikan
Di pagi pupus menggeliat
Bayi meninggalkan rahim
Memaklumkan kehadiran

Cempaka di jambangan
Menyambut bidadari
Turun memandikan
Bahkan hari menanti
Sampai selesai ia mengeluskan jari
Merestu kelahiran
Membungkus dengan sari
Mendendangkan kehidupan

Para perempuan
Berdandan serba kuning
Pucuk mawar di tangan
Duduk bersila
Menggumam doa-doa

Hari yang semalam dikuburkan
sudah tiba kembali

Selalu kelahiran baru

Perjalanan ke Langit

Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti

Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera

Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0

Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.

In Memoriam: Yang Terbunuh

Sekali, hutan tidak menumbuhkan pohon
Burung melayap-layap, terbakar bulu-bulunya
Bumi mengaduh, menggapai bebannya
Pemburu tidak pulang sesudah petang tiba
Lampu malam dipetik dari gunung api.

Malaikat di angkasa menyilang tangan di dada
Menyesali dendam yang tumpah
Memalingkan muka tiap kali darah menetes di tanah.

"Mengapa kaubunuh saudara kandungmu?"


Engkau Sukma

Sukmamu bangkit
Bagai bianglala
Berdiri
Di cakrawala
Merenda siang dalam impian
Gemerlap warna-warni benang sutra.

Badai tidak datang
Angin pulang ke pangkalan
Istirahat panjang.

Langit menyerah padamu
Menggagalkan lingkaran
Surya kabur kembali ke timur.

Sepi.
Hanya napasmu yang tenang
Terdengar bagai nyanyian.

Sesudah Perjalanan


Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh


Wednesday, April 27, 2011

Cerpen Nyekar

Nyekar

Cerpen Hamsad Rangkuti

Pagi itu aku keluar dari kamar hotel. Aku menguap. Aku masih setengah mengantuk. Aku jalan pagi di kota kecil itu. Kutemukan sebuah tata kota lama khas Jawa, sebuah alun-alun di depan tempat kediaman resmi bupati, masjid tua di baratnya dalam cahaya redup sisa lampu, gereja tua di timurnya hampir tertutup rimbun pohon. Semua merupakan lambang raja-raja zaman dulu, kantor pemerintah daerah di selatannya merupakan lambang kompeni yang sekarang digantikan orang-orang yang pernah dijajahnya. Kurasa bangunan tua di pojok itu peninggalan Belanda dijadikan gardu listrik masih bangunan asli tulisan huruf Jawa masih tergurat di dindingnya. Aku menguap lagi. Aku masih setengah mengantuk. Mana rumah Jenderal Ahmad Yani, lalu rumah Jenderal Oerip Soemohardjo teman seperjuangan Jenderal Soedirman, yang mana rumah mereka? Untuk apa, hanya untuk tahu dan melihat saja, tak ada yang bisa kutanya. Tak seorang tampak menyertai jalan pagiku, kecuali kicau burung beterbangan di antara ranting pohon di sepanjang jalan. Aku masuk ke dalam berjalan di atas rumput. Basah embun kurasakan di telapak kaki.
Pagar beton mengelilingi dua batang pohon beringin di bagian tengah lapangan luas itu. Kudapatkan celah dari jeruji besi di atas bangunan tembok beton pagar, kuintip ke dalam ke batang pohon beringin, ada dua pancang tulisan nama pohon, Ki Soeryo Putro batang pohon di sebelahnya Ki Dewo Atmodjo. Kau harus masuk ke dalam kalau kau mau melihat namanya. Kalau kau melihat dari trotoar saja, kau hanya melihat rimbun pohon dan untaian akar udaranya seperti janggut kakek tua.
Teruslah jalan ke barat, keluar dari alun-alun itu, menyeberang jalan. Masuklah ke pintu gerbang Masjid Agung Darul Muttaqin di dalamnya kau akan temukan Beduk Pendowo terbesar di dunia sebagai tanda waktu sholat. Dibuat lebih kurang tahun 1762 Jawa atau tahun 1834 Masehi, panjang rata-rata 292 cm, bergaris tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, jumlah paku depan 120 buah, jumlah paku belakang 98 buah. Bahan pohon jati bercabang lima pendowo didatangkan dari Dukuh Pendowo Desa Bragolan Purwodadi. Beduk terbesar di dunia itu sebagai peninggalan budaya yang harus dijaga dan dirawat, kegunaannya dibunyikan setiap hari Jumat dan hari-hari besar.
”“Terima kasih penjelasannya.”
”Ayo shalat subuh.”
”Ayo.”
***
Kubeli lima ikat rambutan. Kulepas dari ikatannya kuurai dan kubungkus dalam alas taplak meja rumah kosku. Rambutan dalam bungkusan taplak meja itu kutinting ke rumah Nur.
”Pi ada tamu,” kata Nur.
Adik–adik dan kakaknya muncul dan mengambil bungkusan yang kubawa.
”Apa yang dia bawa?” kata papinya keluar muncul ke ruang tamu. Badannya tegap seperti pegulat.
Kakak Nur yang gendut meletakkan bungkusan kain taplak meja itu di atas meja ruang tamu. Rambutan beserta daunnya berserak di atas meja.
”O, baru dipetik.” Diambilnya sebuah dikupasnya dan dimakannya. ”Lekang ya. Ada kebun rambutanmu?”
”Iya dong. Anak Medan kalau merantau selalu berhasil,” kata istrinya.
”Dia anak Medan. Di mana dia tinggal?”
”Di daerah cagar budaya, Condet.”
”Luas kebunmu?”
”Tak seberapa. Cuma beberapa pohon.”
”Bikinkan dia kopi.”
”Jadi Papi nonton Wayang Wong Sriwedari dari Solo itu?”
”Jadi, terima kasih tiket yang kau berikan itu. Untung tidak hujan. Cerita klasik dibawakan mereka, bulan muncul di atas panggung. Seakan bulan itu bagian suasana cerita. Betul-betul nikmat menonton di teater terbuka di Taman Ismail Marzuki itu. Kadang-kadang ibumu tertawa Nur, kelelawar masuk ke dalam panggung. Kalau ada lagi boleh itu.”
Nur masuk ke dalam dan keluar membawa dua gelas kopi di atas nampan. Diletakkan satu gelas di depanku. Satu gelas yang lain diletakkan di meja dekat jendela. Kemudian dia masuk.
”Minumlah anak Medan.”
Nur keluar.
”Pi kami boleh pergi malam ini?”
”Ke mana kalian mau pergi?”
”Jalan-jalan dong, kan malam minggu,” kata ibunya.
”Ke mana kalian mau jalan-jalan?”
”Ke Monas. Mau lihat Oma Irama,” kata Nur.
”Bawa adikmu. Jangan malam-malam ya pulangnya.”
”Ya Pi,” kata Nur menyalam dan mencium belakang telapak tangan ayahnya.
“Kalau pulang bawa makanan kesenangan Papi, kerak telor.”
”Itu terus makanan yang Papi pesan,” kata ibu Nur.
”Di mana kita tinggal kita harus larut dengan budaya mereka.”
Kupanggil becak. Kami naik becak di Jalan Thamrin. Adiknya kami dudukkan di tengah-tengah setelah jok tempat duduk kutarik ke depan. Adiknya duduk di antara kami. Kepala Nur kubalikkan sehingga mukanya mengarah kepadaku. Kucuri bibirnya dengan bibirku.
”Ah…” katanya menyembunyikan wajahnya sambil menunjuk kepala adiknya.
Tiga bulan kemudian kami menikah dan ketika anak kami yang pertama lahir, papinya masuk rumah sakit. Lama dia dirawat.
Kami datang menjenguk. Didekapnya cucu pertamanya dari kami.
”Cucuku yang pertama, siapa namamu?”
”Masak Mbah lupa. Yang memberi nama, kan kamu,” kata istrinya.
”Oiya. Sudah ya… Mbah tidak kuat menggendongmu.”
Nur mengambil anaknya dari pangkuan ayahnya.
Kata dokter beberapa hari lagi dia sudah boleh pulang, dia sudah boleh rawat jalan. Tiga hari lagi sebenarnya dia sudah boleh pulang. Kami senang mendengarnya. Tapi ayahnya dari kampung datang menjenguk, dia berteriak seperti menemukan masa lalunya. Dia bicara dalam bahasa Jawa yang tak kumengerti. Tapi akhirnya aku bisa berkesimpulan, dia minta pulang. Kulihat tangannya seperti memegang kayu pemukul. Mengayun-ayunkan ke depan.
”Aku ingin memukul beduk.” Dia berdiri dari tempat tidur. Dia cabut jarum infus dan dia terus meminta pulang ke kampungnya.
Sore itu aku disuruh membeli beberapa tiket kereta api Senja Utama di Gambir. Dia dipapah ayahnya keluar sembunyi-sembunyi meninggalkan rumah sakit. Di jendela kereta senja utama itu dia tak membalas lambaian tangan kami. Rombongan itu berangkat ke tempat dia dilahirkan. Kabar yang kami terima dia tiga kali pingsan di kereta. Di stasiun Kutoarjo, kereta Senja Utama itu menurunkan mereka dan pindah naik delman ke Purworejo. Sampai di alun-alun dia minta berhenti dan turun dari kereta kuda itu melepas sepatunya dibimbing ayahnya jalan di tengah lapangan luas itu. Sepatu yang dilepas itu dijinjing istrinya turun dari kereta kuda berlari kecil mengejar langkah suaminya di rumput basah embun pagi. Mereka mengikutinya sampai ke pohon beringin kembar itu, kemudian mereka keluar dari alun-alun dan menyeberang jalan, masuk ke halaman masjid. Entah pertimbangan apa penjaga masjid membimbingnya ke bawah beduk terbesar di dunia itu dan menyerahkan pemukul beduk. Dia memukulnya seperti yang diinginkannya. Hanya beberapa pukulan saja yang dapat dia lakukan. Ayahnya membujuknya kembali ke delman membawanya ke kampung halamannya, Desa Seren. Hanya tiga hari dia nikmati halaman rumah masa lalunya, kemudian wafat.
***
Telepon sakuku berdering menerima pesan.
”Ayah di mana? Ibu sudah mau keluar dari hotel, mau beli kembang,” kata Nur.
”Oke aku pulang. Baru jalan pagi di alun-alun.”
”Kok curang nggak ngajak-ngajak.”
”Sudahlah, nanti kita bicara di hotel.”
Aku masuk ke kamar mandi hotel. Bergegas keluar hotel. Kami panggil becak. Kutarik jok tempat duduknya.
”Untuk siapa?”
”Ibu.”
”Dua becak Mas.”
”Mengapa dua?”
”Aku ingin duduk lapang di becak bersamamu.”
”Kita cari sarapan pagi dulu, Mas.”
Kami dibawa berputar-putar mencari makanan yang khas kota kecil ini. Dibawanya kami ke warung dekat tepi sungai. Kupesan kopi panas. Pelayan warung itu menyuguhkan tiga piring suguhan makanan ringan, satu piring Clorot yang dibuat dari jalinan janur, anyaman daun kelapa muda, membentuk bungkus makanan itu seperti terompet. Kubuka lilitan janur itu yang lama-kelamaan terjurai seperti pita memunculkan isinya yang dibuat dari tepung ketan dicampur gula merah lembek kenyal-kenyal seperti jenang. Tapi Nur memanggil pelayan warung tepi sungai itu, dia tidak mau tangannya dikotori daun kelapa muda yang melilitnya dia minta dibukakan dari anyaman daun janur pembungkusnya. Pelayan warung itu meletakkan piring kosong di depan meja tempat duduk Nur. Memencet ujung anyaman seperti kerucut itu dan pelan-pelan isinya muncul dari bulatan bungkus depan. Pelayan warung itu jadi tahu kalau kami tidak pernah makan makanan itu. Kopi panas menyertai Clorot yang mereka suguhkan.
Diparutnya kelapa, ditaburkannya ke atas makanan berbentuk gelang yang baru disenduk dari kukusan anyaman bambu. Dihidangkan di depan kami. Gebleg itu dibuat dari tepung ketela berbentuk gelang yang satu sama lain bersambung seperti rantai ditabur kelapa parut bercampur gula.
”Bawa makanan ini untuk oleh-oleh,” kataku karena sedap. Krimpying bahan tepung ketela berbentuk gelang digoreng kering keras tapi renyah itu dibungkusnya dalam kantong plastik. ”Enak, buatan sendiri?”
”Tidak, buatan penduduk Bruno, kami tidak tahu ada campuran khusus, pembeli-pembeli kami sangat menyukainya, rasanya paling khas kata mereka, kami tidak tahu apa itu khas?”
”Ayo kita ke pasar,” kata ibu Nur, ”kami mau beli kembang, untuk nyekar.”
Kami tinggalkan warung di tepi sungai itu. Becak membawa kami ke pasar. Ibunya Nur membeli dua keranjang bunga rampai dan kami terus ke makam.
Di pemakaman itu kami sulit mencari dua makam ayah dan anaknya, suami dan mertuanya. Kucabut rimbunan semak menyiangi makam. Akhirnya kutemukan makam yang kami cari, R. Soedjatmiko, wafat 31 Agustus 1973. Kutabur bunga rampai. Kusentuh nisan yang bertulis namanya dan kupegang erat pusaranya.
”Maafkan aku Papi… Kutanggalkan ikatan lima ikat rambutan itu, kucampur dengan daun segarnya, kubungkus dengan taplak meja rumah tempat aku kos. Aku tak punya kebun dan pohon rembutan Papi… Maafkan aku membohongimu,” bisikku pelan supaya tidak didengar yang lain.
Wangi bunga rampai semerbak diterbangkan angin mengiring kami keluar dari pemakaman itu meninggalkannya…

Sumber: Kompas, September 2009

Sunday, April 24, 2011

Syair Nasihat kepada Anak

Syair Nasihat kepada Anak

Raja Ali Haji

Dengarkan tuan ayahanda berperi,
Kepada anakanda muda bestari,
Jika benar kepada diri,
Masihat kebajikan ayahanda beri.


Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.


Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.


Jika anakanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.


Tutur yang manis anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.


Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.


Nasehat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.


Setelah orang besar fikir yang karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru-biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu.


Tingkah dan laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.


Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takbur tidak membilan orang,
Dengan manusia selalu berperang.


Anakanda jauhkan kelakukan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tiada laku suatu dewani.


Setengah yang kurang akal dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.


Ke sana ke mari langgar dan rampuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang berjumpa lantas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.


Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai temasya.


Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.


Jika mamerintah dengan cemeti,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati,
Barangkali datang fikir hendak mati.


Inilah nasehat ayahanda tuan,
Kepada anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.


Habislah nasehat habislah kalam,
Ayahanda memberi tabik dan salam,
Kepada Orang Masihi dan Islam,
Mana-mana yang ada bekerja di dalam.

(Raja Ali Haji)

Wednesday, April 20, 2011

Kuntowijoyo: Cerpen Hari Kematian Kerbau

Pada Hari Kematian Seekor Kerbau
Cerpen Kuntowijoyo

Ketika pagi-pagi aku sedang mengeluarkan sepeda mau berangkat sekolah, seorang utusan dari desa ayah datang. Dia mengatakan bahwa Kakek sakit keras — yang belakangan aku tahu itu artinya bahwa Kakek sedang sekarat, menuju kematian. Kakek jadi lurah di desanya.
“Jangan pergi sekolah,” kata ibu.
“Pergilah sekolah, nanti pulangnya terus ke Kakek,” kata ayah.
Mereka terus ke kamar dengan maksud aku tidak mendengar perdebatan, begitulah biasanya kalau mereka berbeda pendapat. Tetapi, kamar kami hanya berdinding kayu, jadi pertengkaran mereka kudengar juga.
“Dia harus belajar bahwa Kakek ayah dari ayahnya,” kata ibu.
“Ya, tapi bagi laki-laki seperti dia sekolah itu lebih penting,” kata ayah.
“Mati hanya sekali, sedangkan sekolah itu setiap hari.”
“Laki-laki harus rasional, tidak emosional.”
“Ini bukan soal emosi dan rasio tapi cinta keluarga.”
Perdebatan itu diakhiri – seperti biasanya – dengan tangis ibu. Tetapi rupanya ayah berkeras, “Bagaimana pun Kakek adalah ayahku, jadi akulah yang berhak menentukan,” dengan penekanan pada kata “ku” dan “aku”. Ayah keluar kamar dan memerintahkan supaya aku segera berangkat lalu pulangnya ke desa kakek.
Pulang sekolah siang itu aku ke desa Kakek, 12 kilometer dari sekolah dan tiga kilometer dari desaku. Orang-orang sudah berkumpul. Kakek terbujur di dimpil, sedang lelaku, menghadapi sakaratul maut. Dimpil adalah sayap tambahan sebelah kanan rumah. Tujuh orang membaca Surat Yasin di dekatnya. Ibu membawaku ke belakang untuk makan dan shalat. Aku tahu matanya sembab karena menangis.
Selesai makan dan shalat aku terus ke kamar Kakek. Kudapatkan bahwa Bude dan Bulik menangis di sisi dipan. Melihat aku datang, ayah bangkit dari duduknya di tikar. Dia memberi isyarat supaya aku mengikutinya. Aku mengikutinya ke kamar lain.
“Kau laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki.”
“Nah kalau begitu, kau tidak boleh menangis kayak para perempuan itu.” Maksudnya tentu Bude dan Bulik.
“Apa Kakek akan mati?”
“Pasti. Semua yang hidup pasti mati. Hanya saatnya yang kita tidak tahu. Kalau waktunya tiba, tidak bisa dimajukan atau diundurkan sedetik pun.”
Aku mengambil buku Yasin yang tersedia dan ikut membacanya. Berulang-ulang. Sampai Ashar tiba, sampai Maghrib tiba, sampai Isya’ tiba. Kakek masih terbaring, tak sadar kanan-kiri.
Orang-orang tua lalu berkumpul di pendapa. Mereka prihatin karena Kakek tidak mati-mati. Menurut mereka, mati yang sempurna ialah yang cepat, sederhana, dan tidak menyusahkan orang.
“Ada yang ditunggunya?” tanya seorang.
“Ya, Si Bungsu belum datang.” Yang dimaksud adalah Paman, anak yang konon paling dicintainya. Ia bekerja di pemboran minyak lepas pantai. Maka ketika Paman datang menjelang tengah malam, orang-orang berharap bahwa Kakek akan dengan sukarela meninggalkan dunia ini. Tetapi tidak. Tetap saja Kakek terbaring lelaku. Kata ustadz di surau itu tanda mati yang tidak sempurna. Aku jatuh kasihan pada Kakek. Menurut ingatan saya Kakek adalah orang yang saleh, peramah, dan tidak pernah menyakiti hati orang.
“Kasihan,” bisik seorang.
“Mati saja kok susah,” bisik yang lain. Dini hari orang-orang tua berkumpul lagi.
“Sudah sehari lebih.”
“Ini luar biasa.”
“Pasti ada yang salah.”
“Apa dia punya jimat?”
“Apa dia punya ilmu?”
“Kalau ada harus dilepas.”
Ayah diminta datang dan ditanya soal jimat dan ilmu itu. Ayah mengatakan kalau sepanjang pengetahuannya Kakek tidak punya jimat dan ilmu apa pun, malah dapat dikatakan bahwa Kakek anti-jimat dan anti-ilmu. Sebangsa batu mulia, besi aji, dan senjata Kakek tidak suka.
“Dulu memang orang perlu bawa senjata, karena desa-desa masih berupa hutan. Sekarang, senjata tidak diperlukan lagi. Senjata kita adalah ini,” kata Kakek suatu kali sambil menunjuk ke jidatnya. Orang-orang yang sepermainan dengan Kakek waktu kecil, remaja, dan jejaka juga angkat saksi bahwa Kakek tidak punya jimat dan ilmu. “Ditanggung dia bersih,” kata mereka.
Orang-orang tua bingung. “Bagaimana mungkin bisa seperti ini?” Mereka hanya mondar-mandir dari kamar Kakek ke pendapa. Menjelang pagi mereka memutuskan untuk mengundang orang pintar, seorang kiai terkenal. Habis subuh orang pintar itu datang. Dia langsung ke dimpil tempat Kakek terbaring. Termenung sejenak, lalu dikatakannya, “Ada hutang yang belum dibayar, maka dia tak mau pergi.”
Orang pintar menuju pendapa untuk bermusyawarah dengan orang-orang tua.
“Coba umumkan ke seluruh desa apakah dia punya hutang.” Pemuda-pemuda disebar. Orang-orang kaya di desa dihubungi. Tidak seorang pun melaporkan hutang itu. Orang pintar berkata: “Panggil Pak Carik.” Carik adalah sekdes.
Pak Carik datang.
“Apakah dia menjanjikan sesuatu untuk desa?”
Pak Carik mengernyitkan dahi.
“Sepertinya tidak.”
“Coba diingat-ingat dulu.”
Kembali Pak Carik mengernyitkan dahi, mengingat-ingat.
“Ini bukan janji, cuma rasanan.”
“Ya, apa?”
“Dia rasanan untuk mengeraskan jalan desa dengan batu.”
“Ya, itu. Dia menganggapnya sebagai hutang yang dibayar.
Sekarang begini saja. Pak Carik mengucapkan keras-keras, berjanji untuk meneruskan rencana itu.”
Menuruti nasehat orang pintar, Pak Carik menuju dimpil. Didekatkannya mulutnya ke telinga Kakek. Lalu dengan keras dikatakannya:”Jangan khawatir, Pak. Kami akan bangun jalan desa kita!”
Orang-orang berharap kata-kata itu akan membuat Kakek senang, dan mcninggalkan dunia fana dengan tenang. Orang menahan napas, memandang tubuh yang terbujur. Setelah agak lama menunggu, Kakek masih juga lelaku, orang pintar mundur pelan-pelan. Demikian juga orang-orang tua. Mereka bermusyawarah lagi di pendapa. Orang pintar minta kepala-kepala dusun berkumpul. Mereka pun kumpul.
“Coba diingat-ingat, apakah ada di antara kalian mendengar dia menjanjikan sesuatu?”
Mereka semua terdiam. Seseorang menunjuk jari.
“Ada,” katanya.
“Apa?” tanya orang pintar.
“Ini sungguh-sungguh janji. Dia berjanji untuk membangun jembatan yang menghubungkan dusun kami dengan pasar.”
Plong! Ketemu sudah. Orang-orang merasa pasti bahwa persoalan akan segera selesai. Maka, sama seperti yang ditempuh Pak Carik, kepala dusun harus berjanji keras-keras bahwa pembangunan jembatan akan dilaksanakan. Demikianlah kepala dusun mendekat dan ke telinga kakek dikatakan keras-keras, “Akan kami bangun jembatan itu, Lurah.”
Begitu banyak orang ingin menyaksikan bagaimana Kakek menghembuskan napas yang penghabisan, sehingga dimpil jadi panas, orang-orang yang mengaji berhenti, ingin tahu apa yang kemudian terjadi. Orang-orang terdiam, hanya napas Kakek yang terdengar. Mereka menunggu lama, tapi tak ada perubahan. Orang mulai meninggalkan kamar, satu per satu.
Akhirnya orang pintar meninggalkan kamar menuju pendapa. Ia tidak menduga bahwa pekerjaannya sesulit itu.
“Coba semua anak-anak dan cucu suruh ngumpul di sini,” pintanya.
Keluarga pun berkumpul. Bude, Bulik, ayah, Paman, dan aku sebagai satu-satunya cucu yang sudah paham alif-ba-ta. Setelah semua kumpul, kata orang pintar:
“Adakah dl antara kalian pernah dijanjikan sesuatu oleh Bapak?”
“Tidak,” Bude.
“Tidak,” Bulik.
“Tidak,” Paman.
“Tidak,” ayah.
“Kok semua tidak. Coba diingat-ingat lagi,” kata orang pintar.
Kata-kata “tidak” terdengar lagi.
“Mesti ada seorang di antara kalian.”
Kembali gelengan kepala dan “tidak” terdengar. Kemudian mata orang pintar itu menatap saya.
“Kaulah yang belum bicara, cucu,” katanya.
Semua yang hadir memandang aku. Dengan jujur kukatakan:
“Ya, sebenarnya ada. Tapi sudah lama sekali.”
Orang-orang bergumam. “Katakan, nak. Katakan, cucu,” desak orang.
Sebentar aku melihat wajah-wajah yang penuh harap.
“Kau sudah siap mengatakan, cucu?” tanya orang pintar.
Pertanyaan itu kujawab dengan anggukan.
“Kalau begitu katakan.”
Aku pun bilang, “Kakek pernah berjanji padaku, akan membelikan seekor kerbau.”
Terdengar gumam panjang.
“Sekarang tugasmu ialah melepaskan Kakek dan penderitaan. Kau katakan keras-keras di telinganya bahwa yang kau perlukan ialah sepeda. Dan kau sudah punya. Kerbau tidak lagi diperlukan,” kata orang pintar.
Aku tidak setuju, lalu kukakatan, “Tapi ….“
“Tapi apa, cucu?”
“Tapi, mmm, Kakek bilang kalau kerbau itu sebagai modal pertama. Kakek mengatakan bahwa aku kelak akan jadi belantik besar.”
“Nah,” rupanya orang pintar sudah menemukan jawabnya, kemudian katanya, “kalau besar kau ingin jadi apa?”
“Dokter.”
“Kalau begitu katakan pada Kakek bahwa kau tidak perlu kerbau, sebab kau ingin jadi dokter.”
Kulihat ibu menyibak kerumunan menuju aku. Ia berbisik, katanya aku harus mengikutinya. Aku berdiri, dan mengikuti ibu ke kamar. Kulihat ayah juga ikut bangkit dan mengikuti kami. Kami bertiga masuk kamar.
“Jangan dikerjakan,” kata ibu.
“Kerjakan,” kata ayah dengan tenang.
Aku hanya terbengong-bengong.
“Aku tak mau dia jadi sebab kematian Kakek.”
“Aku mau dia menyegerakan kematian Kakek.”
Aku sungguh tak tahu siapa yang harus diturut. Ayah memungut tanganku dan membawaku keluar kamar. Ibu menangis di kamar. Masih kudengar sambil menangis dia berteniak, “Aku tak rela anakku jadi pembunuh Kakeknya!” Dengan keras ayah bilang, “Kau laki-laki. Ikuti ayah.” Seperti kerbau dicocok hidun. aku mengikuti avah.
Aku mengerjakan seperti dikerjakan Pak Carik dan kepala dusun, sesuai dengan anjuran orang pintar. Orang-orang terdiam, menahan napas. Napas Kakek semakin pelan, lalu bernapas untuk yang terakhir kali. Kemudian orang.orang mengucap, “Alhamdulillah!” Ayah mengelus-elus kepalaku.
Aku menangis sejadi-jadinya, diikuti Bude dan Bulik. Tangisku semakin keras, selalu terngiang-ngiang kata-kata ibuku, “Anakku jadi pembunuh Kakeknya! Anakku jadi pembunuh Kakeknya!” Kata-kata itu kedengarannya makin lama makin nyaring saja. (***)

Sumber: Republika, 30 Januari 2000

Wednesday, April 13, 2011

Contoh Analisis Puisi Bukan Beta Bijak Berperi

Analisis Puisi Sederhana::

BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Rustam Efendi

Bukan beta bijak berperi
Pandai mengubah madahan syair
Bukan bela budak negeri
Musti menurut undangan mair

Syarat sarat saya mungkiri
Untai rangkaian seloka lama
Beta buang beta singkiri
Sebab laguku menurut sukma


Susah sungguh saya sampaikan
Degub-deguban di dalam kalbu
Lemah laun lagu dengungan
Matnya digamat rasain waktu


Sering saya susah sesaat
Sebab madahan tidak nak datang
Sering saya sulit mendekat
Sebab terkurung kikisan mamang


Bukan beta bijak berlagu
Dapat melemah bingkaian pantun
Bukan beta berbuat baru
Hanya mendengar bisikan alam

Dilihat dari tipografinya, puisi Bukan Brta Bijak Berperi adalah puisi yang sangat teratur. Hal ini tampak dalam jumlah suku kata setiap baris antara 8-12 suku kata, ada persajakan/persamaan bunyi yang sangat teratur pula. Kesan yang segera muncul adalah bahwa puisi ini sangat berirama dan ritmis. Kesan merdu sangat dominan dalam puisi ini. Apalagi penulis juga memaksudkan puisi itu sebagai sebuah lagu. Perhatikan kutipan ini

Syarat sarat saya mungkiri/Untai rangkaian seloka lama/Beta buang beta singkiri/Sebab laguku menurut sukma//
Susah sungguh saya sampaikan/Degub-deguban di dalam kalbu/Lemah laun lagu dengungan/Matnya digamat rasain waktu
Sering saya susah sesaat/Sebab madahan tidak nak datang/Sering saya sulit mendekat/ Sebab terkurung kikisan mamang
Bukan beta bijak berlagu/Dapat melemah bingkaian pantun/Bukan beta berbuat baru/Hanya mendengar bisikan alam
Perhatikan kata-kata yang dicetak tebal dan bergaris bawah.

Kesan ritmis itu dapat dengan mudah ditangkap lewat rima aliterasi dan asonansi yang dominan dalam puisi ini. Rima aliterasi terdapat dalam setiap bait baris pertama dan ketiga. Contoh:
Bait 1
Bukan beta bijak berperi
…….
Bukan beta budak negeri
……

Begitu pula dengan keempat bait yang lain.
Dilihat dari sisi diksi, karena kecenderungan pengarang berupaya mendapatkan kesan ritmis dengan persajakan yang teratur, maka pilihan kata disesuaikan dengan efek puitis yang ingin dicapai. Maka tak jarang pengarang menggunakan bahasa daerah dan tentunya sangat tidak mudah dipahami. Sebut saja kata-kata berikut ini: “berperi” (berkata), “madahan” (pujian), “mair” (maut/kematian), “mat” (irama), “digamat” (dilagukan/melagukan), “nak” (hendak), “mamang” (bingung/ketakutan). Kata-kata itu dipilih bukan karena makna atau arti dari kata-kata itu sangat mendalam tetapi lebih karena pengarang ingin mendapatkan persajakan-persajakan akhir.

Dari sisi bahasa kias, secara sekilas ada empat majas yang segera bisa kita lihat, yakni (a) Majas hiperbola: “Bukan beta budak negeri”, dan “Meski menurut undangan mair” (b) Majas personifikasi: “Dapat terkurung kikisan memang”, dan “Dapat melemah bingkaian pantun”. (c) Majas tautologi: “Untai rangkaian seloka lama”. (d) Majas Repetisi: Bukan beta bijak berperi/ Bukan beta budak negeri/Bukan beta bijak berlagu/Bukan beta berbuat baru. Majas-majas tersebut dimaksudkan penulis untuk mempertajam daya ucap dalam berpuisi. Tetapi kesan yang muncul lebih dominan efek ritmis persajakan akhir yang diarah. Analisis bahasa kias masih bisa diperdalam lagi.

Karena puisi di atas lebih dimaksudkan sebagai sebuah nyanyian, maka ditilik dari sisi citraan/imajinya, maka imaji/citraan yang dominan adalah imaji/citraan pendengaran. Perhatikan kutipan berikut ini: “Lemah laun lagu dengungan”/”Matnya digamat rasain waktu”/”Hanya mendengar bisikan alun

Hal yang ingin dinyatakan penulis melalui puisi di atas adalah kebebasan mengekspresikan diri melalui sastra. Bahwa persajak adalah mengekspresikan isi hati, mengekspresikan keinginan-keinginan yang terpendam di dada. Maka aspek kebebasan berekspresi itulah yang ingin diungkapkan. Untuk itu, pesan yang bisa dipetik dari puisi di atas adalah percaya dirilah ketika kamu berkarya. Jangan mudah putus asa dalam melakukan sesuatu, dan sebagainya.

Secara ringkas, puisi di atas ingin menyatakan bahwa penulis mengungkapkan bahwa dirinya tidak dapat berkata dengan bijaksana. Tidak pandai mengubah pujian dari syair. Penulis bukanlah budak Negara, walaupun harus menghadapi kematian. Ketentuan penuh telah penulis abaikan. Bahkan serangkaian sajak seloka lama, penulis juga telah mengabaikannya, karena penulis menganggap lagunya lahir dari jiwanya. Penulis merasa kesulitan untuk dapat menyampaikan irama yang terdapat dalam hati sanubari penulis. Lagu berdengung dengan lemah dan pelan, iramanya dilagukan sesuai dengan keadaan dan waktu. Kadang penulis merasakan kesusahan yang sesaat, karena menanti pujian. Penulis juga merasa sulit untuk dapat mendekat karena terperangkap dan terkikis oleh kebingungan dan ketakutan. Penulis tidak pandai dalam berlagu karena dapat melemahkan rangkaian pantun. Penulis tidak melakukan hal yang baru karena hanya mendengar lantunan lagu.

Sumber: colinawati.blog.uns.ac.id

Saturday, April 09, 2011

Syair Sinar Gemala Mestika Alam

Syair Raja Ali Haji

Bahwa inilah syair yang bernama

SINAR GEMALA MESTIKA ALAM

terhias di dalamnya kisah Maulud Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang amat indah ceritanya
Terjemah dengan bahasa Melayu oleh
Almarhum Raja Ali Al-Hajj
ibni Almarhum Raja Ahmad Al-Hajj
ta’amadahu lillahi ta’ala birahmati
wa ’ada ‘alaina min barakatihi amin



Diterbitkan oleh Mathba’ah Al-Riauwiyah
28 Sya’ban 1311 H/ 5 Maret 1894 M

Bismillahir rahmanir rahim

bismillahi permulaan kalam
alhamdulillah Tuhan seru alam
selawatkan nabi sayidil anam
serta keluarganya sahabat yang ikram


wa ba’duhu kemudian daripada itu
faqir mengarang syair suatu
kepada Allah mintak perbantu
menyudahkan maulud nabi yang ratu


Nabi Muhammad rasul yang mulia
ialah penghulu segala dunia
barang siapa berimankan dia
dunia akhirat mendapat bahagia


bangsanya Quraisy yang utama
ayahandanya Abdullah bernama
bundanya Aminah nama selama
binti Al-Wahab yang seksama


masa dia mengandung nabi-Allah
tiadalah berat tiadalah lelah
di dalam Mekkah syarafatullah
beberapa tanda kemuliaan terjumlah


tatkala bundanya mengandungnya
ringan dan senang tiada sakitnya
pada suatu masa waktunya
antara jaga dengan tidurnya


datanglah malaikat memberi khabar
kepada bundanya Aminah muktabar
engkau ini buntingkan sayidil basyar
nabi yang mulia yang amat besar


tatkala hampir akan bulannya
datanglah malaikat mengajarnya
beberapa jampi dengan serapahnya
memeliharakan daripada kejahatan seterunya


pada awal bulan pertama
bermimpilah Aminah perempuan utama
nabi-Allah Adam datang menjelma
berkatalah ia bersama-sama


katanya hai Aminah yang mulia
engkau buntingkan penghulu dunia
beranakkan dia tiada sia-sia
dunia akhirat mendapat bahagia


bulan kedua bermimpilah serta
nabi-Allah Idris memberi berita
kepada Aminah ia berkata
engkau buntingkan junjungan mahkota


bulan ketiga dikata orang
nabi-Allah Nuh datang seorang
berkhabarlah ia dengan yang terang
nabi dibuntingkan futuh berperang


bulan yang keempat tahun Fil
datang kepadanya Ibrahim Al-Khalil
berkhabar kepadanya sirr dan qalil
engkau buntingkan nabi yang jalil


bulan yang kelima khabar yang tentu
nabi-Allah Ismail datang begitu
berkhabar juga demikian itu
akan kelebihan nabi yang ratu


apabila sampai bulan yang enam
nabi-Allah Musa ‘alaihis salam
datang berkhabar di dalam manam
kelebihan nabi sayidil anam


bulan yang ketujuh pula dikata
nabi-Allah Daud datanglah serta
kepada Aminah memberi warta
kelebihan nabi alam semesta


bulan kedelapan nabi Sulaiman
datang dengan kesukaan iman
memberi khabar yang keterangan
buntingkan nabi akhirul zaman


bulan sembilan tidak selisih
datang kepadanya Isa al masih
ia berkata hai kekasih
engkau buntingkan nabi yang fasih


segala nabi yang disebut itu
memberi ia khabar yang tentu
apabila diperanakkan matahari perbantu
namakan Muhammad demikian itu


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 1

malam Isnin dua belas harinya
dahulu sedikit daripada fajarnya
masa diperanakkan oleh bundanya
beberapa mukjizat zahir padanya


setengah daripada irhash ikram
menerangi cahaya tempat-tempat yang kelam
masyrik dan magrib tempat yang balam
teranglah cahaya sayidil anam


setengah daripada irhash ter’ala
habis tersungkur segala berhala
yang disembah oleh kafir yang cela
ibadatnya batal tiada pahala


setengah daripada hairan kira-kira
bergoncang maligai singgasana Kusra
terkejut atasnya hulubalang tentera
lenyaplah akal budi bicara


padamlah api yang disembah kufar
masa diperanakkan sayidil basyar
beberapa lagi irhash yang besar-besar
di dalam barzanji berpanjangan khabar


dihias syurga pada malamnya
menyerulah segala kainat padanya
masyrik dan magrib tiap-tiap pihaknya
ahla wa sahla perkataannya




Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 2


sifat diperanakkan nabi kita
terkerat pusat bercelak mata
berkhatan memang khabar yang nyata
dengan kodrat Tuhan semesta


beberapa lagi khabar yang sah
tatkala dibuntingkan bundanya Aminah
segala anbiya’ memberi basyarah
kepada bundanya memberi isyarah


masa diperanakkan junjungan alam
hadirlah sertanya Asiah dan Maryam
serta bidadari syurga yang ikram
datang memuliakan nabi yang ‘azam


itulah nabi yang ajaib
bin Abdullah bin Abdul Muntallib
bin Hasyim bi larib …
bin Abdil Manaf nama Liqaib


nama yang betul Al-Mughirah
bin Qusai bin Hakam bin Murrah
bin Ka’ab bin Luwai masyhurah
bin Ghalib bin Fihar bin Quraisyiyah


keturunan daripada nabi-Allah Ismail
bin nabi-Allah Ibrahim al-khalil
nabi kekasih ra-izil jalil
dunia akhirat dialah zhalil


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 3


wafat dahulu ayah bundanya
tinggallah ia dengan yatimnya
tinggal mamaknya memeliharakannya
kata orang Abu Thalib namanya


menyusukan dia beberapa jariyah
perempuan yang baik-baik shahbul ‘affah
setengah daripadanya Tsuaibah al-Aslamiyah
setengah daripadanya Halimatus Sa’diyah


mamaknya memeliharakan bersungguh-sungguh
makan dan minum ialah merengkuh
seumpama menating minyak yang penuh
karena ia orang tua senonoh


masa kecilnya beberapa ‘ajaibiyah
irhash yang nyata mukhaliful ‘addah
dipayungkan oleh awan yang rendah
beberapa lagi ajaib yang indah


seperti tersebut di dalam siarah
memberi salam setengah hajarah
susu yang hampa jadi mencurah
tiadalah payah lagi diperah


ajaib manusia pada masanya
melihatkan irhash berbagai macamnya
di dalam Mekkah beberapa zamannya
tiada pernah seumpamanya


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 4


umurnya sampai duabelas ‘am
dibawa mamanya ke negeri Syam
pergi berniaga dagangan bermacam
berjual beli siang dan malam


seorang ulama rahib yang ihsan
dikenalnya nabi akhirul zaman
ia pun terkejut serta hairan
keluarlah tuturnya tiada tertahan


aku melihat rasul yang mulia
jadi penghulu sekalian dunia
Taurat dan Injil menyebutkan dia
sifat nubuwahnya nyata sedia


kayu dan batu sujud baginya
khatamun-nubuwah antara belikatnya
apabila mamanya mendengar khabarnya
ia terkejut serta takutnya


lalu disuruhnya hantar pulang
takutkan fitnah Yahudi jembalang
tiada berapa lamanya berselang
mamaknya balik ke negeri terbilang


yaitu Mekkah negeri sendiri
sampai ke Mekkah berdiam diri
memeliharakan nabi sehari-hari
makan dan pakai yang ugahari




Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 5


apabila sampai umurnya ramuzkah
pergi berniaga ke negeri Bashrah
membawa modal Siti Khadijah
perempuan yang mulia di dalam Mekkah


serta khadamnya Maisyarah namanya
dengan nabi disuruhkannya
serta beberapa khalifah sertanya
daripada Quraisy kaum kerabatnya


apabila sampai ke negeri Bashrah
berhentilah nabi pada satu arah
bertentangan dengan suatu shauma’ah
bagi pendeta nashraniyah


namanya datuk Nastur Nashrani
dikenalnya nabi habibur rahmani
sebab beberapa pertandaan seni
daripada irhash Tuhan rabbani


bersandar kepada kayu hampirnya
sudah tersebut di dalam kitabnya
tiadalah lain daripadanya
melainkan nabi juha mustahiknya


dia pun datang menghormatkan
kepada Maisyarah ditanyakan
alamat di mata diizahirkan
Maisyarah mengata ia bahkan


apabila selesai daripada hal
berbalik ke Mekkah nabi yang akmal
serta kaumnya berambal-ambal
serta keuntungan daripada modal


sekira-kira negeri Mekkah dekat
zahirlah pula irhash dahsyat
Siti Khadijah ada melihat
nabi dinaungi dua orang malaikat


apabila tiba nabi yang syahda
berjumpalah dengan Siti yang muda
berkhabarlah dagangan untung berganda
Siti pun suka di dalam dada


datanglah hidayah yang akbar
daripada Tuhan ilahul jabbar
kepada Khadijah perempuan ahyar
jatuhlah hatinya dengan sebentar


hendak bersuamikan nabi yang muda
karena ada kelebihannya ada
mukjizat dan irhash beberapa tanda
perkhabaran Maisyarah sudah memada


kepada rasulullah dikhabarkannya
barang yang dimaksud kepada hatinya
bersuamikan jua kehendaknya
rihul-iman sudah diciumnya


selesailah nabi mendengarkan peri
berangkatlah balik ke rumah sendiri
segala mamanya kanan dan kiri
berkhabarlah nabi akan hal diri


gemarlah segala mamanya tuan
karena Khadijah setinggi-tinggi perempuan
di dalam bangsa Quraisy sekalian
bangsa dan rupa serta hartawan


pergilah Abu Thalib serta mama
meminang Khadijah perempuan utama
kepada walinya yang utama
tiada tertahan lalu diterima


sudah selesai demikian itu
nikah kahwinlah serta bersatu
duduklah keduanya beberapa waktu
dapatlah anak satu ke satu


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 6


tatkala sampai umur empat puluh
dibangkitkan Allah jadi pesuruh
mendirikan ugama yang amat teguh
segala ugama habislah runtuh


tiadalah diterima ilahul ‘alam
selain daripada ugama Islam
dimulai dengan ra-itul manam
seperti cahaya falak-ul subhul ikram


hikmatnya jangan ia terperanjat
akan melihat malaikat yang hebat
yaitu Jibrail malaikat yang kuat
jadi suruhan rabbul kainat


kemudian daripada itu halnya
menjauhkan diri daripada kampungnya
suka bersunyi seorang dirinya
di bukit Hira’ konon khabarnya


bagi Bukhari punya perkataan
di jabal Hira’ kira-kira sebulan
li ibni Ishaq pada bulan ramadhan
keduanya itu riwayat handalan


pada malam tujuh belas lailatul qadriyah
malaikat Jibril pun datanglah
katanya iqra’ makna bacalah
jawab nabi yang dibaca apalah


dipeluk Jibrail serta dipicitnya
katanya iqra’ dengan sesungguhnya
dijawab bagaimana bacaannya
dipeluk Jibrail serta diajarnya


katanya iqra’ bismirabbika
membacalah nabi tiadalah leka
kemudian dari itu beberapa ketika


kemudian Jibrail datang semula
membawa firman Allah ta’ala
ya ayyuhal mudatsir dibacakan pula
kemudian yang lain Quran yang a’la




Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 7


nabi pun berhadap kepada kaumnya
membawa firman amar nahinya
kebanyakan Quraisy mendustakannya
melainkan Abu Bakar membenarkannya


setengah Quraisy membenarkannya
mana-mana yang terdahulu pada azalnya
membenarkannya bersungguh hatinya
tiadalah takut atau gentarnya


seperti Ali karamullahu-wajhah
dan perempuannya Siti Khadijah
dan Zaid bin Haritsah
demikian Bilal ibni Rabbah


kemudian Usman bin Thalhah
dan Sa’ad dan Sa’id kedua bertuah
dan ibni ‘Auf ibni Shafiah
dan lain daripada Quraisyiyah


dan lain mana-mana untung janji
masuklah ia ugama terpuji
ditinggalkannya ugama yang keji
mengikut ugama shahibul furaji


mana-mana yang disesatkan Allah
seperti Abu Jahal laknatullah
akan nabi didustakannyalah
jadilah syaitan seteru Allah


nabi sebagai jua menyeru
tiada diperdulikan bapa dan ibu
tiadalah takut langgar dan serbu
seumpama tetap kota dan kubu


lain daripada itu beberapa pula
suruh dan larang Allah ta’ala
di dalam Quran ‘azza wa jalla
perintahan yang baik tiada cela


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 8


apabila dizahirkan olehnya nabi
ugama Islam yang terpuji
mendustakan kaumnya ahlil-makki
menyakiti dengan sumpah dan maki


tiada diindahkan nabi Muhammad
bersungguh-sungguh juga mengajar ummat
melepaskan daripada kafir zhalalat
di negeri akhirat boleh selamat


tiadalah mereka itu mengindahkan dia
diperbuatnya juga perbuatan sia-sia
menyakitkan nabi beberapa bahaya
sampai dilontarnya nabi yang mulia


di dalam hal yang demikian itu
diperintahkan oleh Tuhan yang satu
mikraj ke langit khabar yang tentu
mukjizat yang besar demikian itu


apabila mati Abu Thalib mamanya
serta Khadijah isterinya
kesakitanlah muslimin sekaliannya
beberapa kesusahan ditanggungnya


di dalam tiada beberapa lama
berpindahlah nabi Muhammad ternama
ke negeri Madinah yang utama
di situlah bertambah keras ugama


ketika itu teranglah kelam
tampak tingginya ugama Islam
tampak kehinaan kafir yang tenggelam
berhujah berperang mukanya hiram


perang Badar permulaannya
perang Uhud kemudiannya
perang Khandaq mengiringinya
perang Khaibar pula di belakangnya


tiap-tiap perang nabi yang mulia
si kafir juga mendapat bahaya
terbunuh tertawan dijadikan sahaya
Islam juga mendapat bahagia


sebab nabi rasul yang benar
mukjizatnya Quran yang amat besar
khabar yang gaib khabar izhar
semuanya berbetulan dengannya khabar


ugama Islam kekal berdiri
ilal akir yaumid dahari
mansuh sekalian ugama yang bahari
Yahudi Nasrani demikain peri


hingga sampai pada khalifahnya
mendirikan ugama sangat teguhnya
Syam dan Rum, Parsi sertanya
dilanggar diperang dikalahkannya


sebab berperang ugama yang mulbih
nabi Muhammad lisanul fasih
hatinya suci sangatlah bersih
akan dunia tiada ia kasih


sifat kepujian dihimpun kepadanya
sifat kecelaan jauh daripadanya
hai segala kamu umatnya
ikut olehmu akan jalannya


serta kasih akan dianya
sukakan olehmu mendengar kisahnya
apalagi bulan mauludnya
harus dibesarkan itu waktunya


seperti makan minum ugahari
jangan yang berat menyakiti diri
menzahirkan kesukaan demikian peri
kepada ahlil Islam masyhuri


karena beberapa negeri yang besar
mengerjakan maulud sayidil basyar
tiada ada ulama yang ingkar
karena adat hasanah yang benar


tamatlah syair maulud ini
bahasa Melayu di sebelah sini
aku mukhtasarkan hai ikhwani
kuambil waqa’ahnya sahaja begini


ini doa dimelayukan adanya



ayuhai nabi rasul yang mulia
harapkan syafa’at kita kan dia
pada mahsyar berhimpun manusia
menghukumkan kita Tuhan yang kaya


ayuhai nabi junjunganku
tiadalah lain pengharapan aku
hanyalah tuan mahkotaku
melepaskan dari kejahatan laku


ayuhai nabi kami Muhammad
tuan-hambalah nabi kasihkan umat
syafa’atkan kami hari kiamat
daripada huruhara yang amat azmat


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



tamatlah syair maulud ini
dikalimahkan dengan bahasa Melayu


***


kemudian daripada demikian itu
di akhir nin ada pesan suatu
kepada pembaca syair nin tentu
sebarang maklum tuan di situ


pesanan nazir di mathba’ah ini
kepada sekalian sahabat ikhwani
syair yang sudah dithaba’ di sini
yang lain tak boleh membuat begini


tiada diizinkan selama-lamanya
mathba’ah yang lain mencetak dianya
tertentulah mathba’ah yang punya
bersalahan membeli berapa ratusnya


karena itulah segala ikhwan
bolehlah beli wahai bangsawan
baik laki-laki atau perempuan
membacanya boleh menghiburkan rawan


harganya murah sudahlah esah
tuan tiada berkeluh kesah
belilah tuan ahlil-madrasah
syair nabi empunya kisah


gemala mestika syair bernama
diterjemahkan sudah beberapa lama
inilah syair yang terutama
kisah al-nabi rasul seksama


bahasa Melayu disyairkan sudah
sekalian kita tidaklah gundah
mencari pahamnya jadilah mudah
tiada panjang tunduk tengadah


bersalahan bahasa Arab Kharsani
sukar dabitnya kita di sini
bahasa Melayu demikian ini
mesra pahamnya boleh dijalani


hingga inilah pesanan beta
kepada pembaca sekalian rata
kemudian salam hamba berserta
tamat al-kalam hamba berkata

Sesungguhnya telah selesai dicetak syair ini bihamdillahi al-karim al-wahhab
di dalam Mathba’ah Riauwiyah ‘ala zimmati Ali ibni Ahmad Al-‘Athas
pada 28 Sya’ban 1311 H/5 Maret 1894 M.


Tuesday, April 05, 2011

Cerpen Penari Hujan

Penari Hujan

Cerpen Noviana Kusumawardhani

”Aku akan selalu ingat kamu saat hujan.”
”Kenapa?”
”Karena kita sering menari bersama hujan.”
”Hanya itu alasanmu?”
”Bukan, karena kamu perempuan hujan.”
”Maksudmu?”
”Hujan dan kamu adalah cintaku…”

Lelaki itu datang dari kabut di satu sore yang mendung. Di antara detik suara gerimis dan leleh keringat yang bercampur dengan sengau napas yang mengeluarkan asap seperti naga yang kelelahan. Lelaki itu menyimpan mata yang aneh. Mata yang selalu murung meski urat-urat di sekitar mulutnya tertarik ke atas untuk mengukir sepenggal tawa. Mata itu membutuhkan kemampuan ekstra jenius untuk mengurai satu per satu sel-sel makna di dalamnya. Aku melihat Siwa sedang tidak menari di mata itu. Mata yang marah. Mata yang diam. Mata itu membutuhkan istirahat dari pertanyaan.
”Aku belum pernah ke tempat ini.”
”Aku juga. Eh tapi orangtua kamu tinggal di kota itu kan?”
Percakapan biasa dari sebuah pertemuan tampak biasa. Kami tidak begitu mengenal satu sama lain pada awalnya. Tapi aku merasa lelaki itu telah ada dalam tubuhku beratus-ratus tahun yang lalu. Aku tahu sekali pertemuan itu akan terjadi dan entah kenapa aku percaya sejak awal bahwa dia selalu mencariku selama ini. Mata itu bicara. Mata itu merindukan kedatanganku. Mata itu tertawa memandangku.
”Kamu seperti orang patah hati deh…”
” Memang. Kamu juga seperti orang marah…”
”Memang. Jadi kita sama- sama orang cacat neh?”
”Cacat?”
” Iya, cacat emosi.”
Hujan sering turun dalam di gelap atau di pagi dengan kabut menghebat. Kami bicara banyak dalam kata, tapi juga kami bicara banyak antara mata. Kami sering tertawa melihat hujan yang menari seperti tarian Siwa. Kami melihat hujan yang riang. Hujan yang tertawa. Aku sangat suka hujan karena lelaki itu selalu tertawa saat hujan. Kami bermain air seperti kanak-kanak yang melihat dewi rembulan. Tangan kami menengadah ke langit sambil tubuh kami berputar mengikuti irama hujan. Kami menyebutnya tarian hujan dan aku memanggil lelaki itu si Penari Hujan. Aku dan Penari Hujan pun bercinta di bawah hujan.
” Hujan itu indah.”
” Kupu-kupu juga indah, kamu tahu kan aku suka kupu-kupu?”
” Hujan itu ajaib.”
” Cinta juga ajaib.”
” Hujan itu tarian semesta.”
” Kamu hadiah semesta.”
” Aku mencintaimu…”
Cinta itu seperti hujan. Sering meruah tiba-tiba. Menyisakan warna-warna di langit bernama pelangi. Penari Hujan sering berdiri di depan pintu menatap hujan. Bibirnya terkatup rapat. Mata kecilnya berkejap-kejap menghalau air yang mendesak keluar. Aneh, mengapa tidak ditumpahkan saja air di matanya sehingga berbaur bersama air hujan yang dicintainya itu? Mata itu ketakutan akan kesendirian. Sunyi yang mengentak dan merongga ke sudut hitam hatinya. Sunyi itu dia sebut hantu. Ah, bukankan hantu itu hanya ada di kepala Sayangku? Penari Hujan takut hantu bernama Sunyi.
”Perempuan, kamu mencintaiku?”
” Mengapa kamu tanya itu? Kita sering menari bersama hujan kan?”
”Kamu mencintaiku?”
” Seperti katamu, hujan dan kamu adalah cinta.”
”Cinta… Sejatikah cintamu?”
”Pertanyaan yang aneh. Cinta sejati, cinta murni, Cinta palsu, Cinta bohong-bohongan? Apa bedanya?”
Selalu pertanyaan tentang cinta tidak pernah selesai. Semua selalu mencari dan bertanya tentang cinta sejati. Adakah cinta sejati itu? Ah, Penari Hujan cinta bagiku selalu sejati dan pertama. Karena setiap cinta yang kubuat selalu satu-satunya dan pertama kali kuberikan ke lelaki yang kujatuhcintai. Satu cinta dan cinta lainnya tidak pernah sama. Mungkin mirip-mirip tapi tidak ada satu pun yang sama persis. Cinta yang kupunya bagiku selalu adi busana, cinta yang dibuat tangan oleh perancangnya. Bukan cinta pakaian jadi buatan pabrik konveksi. Massal dan seragam. Cinta itu selalu sejati karena tidak pernah dirancang kapan jatuhnya dan kapan hilangnya. Aku selalu merenda cintaku dengan hati dan jiwaku untuk semua lelaki yang beruntung membuatku mau merenda cinta itu. Cinta untukku selalu menyanyikan keindahan, jika ada tangis dan air mata itu hanya para ego yang terluka. Egoku selalu terluka karena sekarang aku selalu menangis.
”Kamu mau tinggal bersamaku selamanya di sini?”
” …”
”Mengapa kamu diam?”
”Aku ingin mengejar asal pelangi itu. Mau ikut?”
”Kamu tidak mencintaiku? Mengapa ingin pergi?”
”Mengejar pelangi dan cintaku tidak ada hubungannya.”
”Tapi kamu akan meninggalkanku.”
”Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu sudah ada dalam hatiku, dalam tubuhku.”
”Kamu jahat. Kamu akan pergi meninggalkanku.”
”Maksudmu kamu mau tubuhku selalu ada bersamamu? Mana yang kamu inginkan dariku: tubuh ini bersamamu atau hatiku bersamamu?”
”Huh, kamu lebih mencintai negeri pelangimu daripada aku”
Lelaki itu tidak pernah tahu, aku hidup dari pecahan-pecahan puzzle mimpiku. Udara setiap pagi yang kuhirup mengembuskan satu puzzle baru yang harus kutata agar menjadi mimpi utuh. Mungkin mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan tapi dengan membuat keping-keping puzzle paling tidak aku punya semangat menyusunnya. Kamu tidak pernah mengerti di setiap keping puzzle itu ada kamu, Sayangku. Tidakkah itu cukup bagimu? Kita sudah ada sejak beratus tahun lalu dan apa yang kita punya itu tidak akan pernah hilang dan mati. Selalu ada di tempatnya. Selalu ada di sana.
”Datanglah lebaran nanti, aku ingin mengenalkanmu ke keluargaku. Aku ingin menikahimu.”
”Haruskah?”
”Bukankah kamu mencintaiku. Kamu bilang kamu mau jadi istriku. Gimana sih?”
”Aku kan sudah bilang aku ingin ke negeri pelangi dulu. Bukankah kita sudah bicarakan hal ini?”
”Aku benar-benar ingin kamu datang Lebaran nanti. Aku tunggu kamu. Ibuku sayang kamu”
”Aku juga sayang ibumu”
Lelaki itu terus menunggu. Hingga dia tahu bahwa perempuan hujannya telah pergi ke Negeri Pelangi. Saat itu juga dia berhenti menari dan membenci hujan. Setiap hujan tiba dia selalu memaki langit yang memberi warna abu-abu yang pernah sangat dia suka. Air hujan membuat kaki dan tangannya membeku. Tak lagi mampu menarikan tarian semesta seperti ketika Tamino bertemu Pamina, sepasang kekasih di Magic Flute, opera terakhir Mozart. Derap kaki menari di atas bumi telah disimpannya, dengan satu warna merah di dada.
Waktu menyimpan misterinya sendiri.
Waktu seperti pendulum, yang selalu kembali ke tempat di mana kita mengayunkannya. Kita pun akan selalu bertemu di tempat di mana kita akan mulai
Dear Penari Hujan kekasihku…
Saat kamu membaca suratku, aku sudah tidak lagi di Negeri Pelangi. Ternyata Negeri Cahaya lebih memikatku. Negeri di mana waktu seolah berhenti berdetak. Waktu yang seperti bunyi jantung kita sendiri. Bunyi itu merenda mimpi, harapan dan juga cinta. Sungguh, kamu mungkin tidak akan pernah mengerti aku dan mungkin tidak akan pernah mengerti selama hidupmu tentang semua mimpiku. Tetapi kekasihku kamu harus mengerti bahwa dalam setiap langkahku dan napasku selalu ada tarian-tarian hujanmu. Tarian yang berdentam dengan irama terindah. Bunyi itu begitu merdu, para pemetik harpa di surga pun akan iri mendengarnya. Karena tarian hujanmu adalah gerak semesta yang berasal dari jiwamu. Kamu masih sering menari ketika hujan tiba bukan sayangku? Tarian hujan itu bukan untukku atau bukan untuk orang-orang yang kamu cintai. Tetapi tarian itu untuk dirimu sendiri. Kamu hidup dari tarian itu. Gerakkan kaki dan tanganmu lagi sayangku. Menarilah. Ikuti bunyi terindah dari hatimu. Kelak, pada satu hujan di satu senja, di mana langit begitu jingga dengan semburat keputihan, aku berjanji akan selalu datang. Jangan pernah bertanya lagi tentang cintaku. Karena cintaku itu seperti angin. Tidak ada warna dan bentuknya tetapi kamu selalu akan bisa merasakannya. Jaga dirimu selalu baik-baik sayangku. Hujan selalu musik terindah dalam tarian-tarian kita. Ada pelukan dan ciumanku dari tempat tersepi di dunia…di hatiku…
Selalu mencintaimu dengan hidupku
Perempuan Hujanmu
Surat itu diterimanya sehari setelah kelahiran anak pertamanya. Bayi perempuan yang cantik. Perempuan kecil itu lahir di sebuah hujan yang aneh di akhir bulan Juli. Hujan seperti tanpa henti. Hujan itu seperti pukulan-pukulan tabla dan sitar para pemusik Siwa ketika dia mulai menggerakkan tangan dan kakinya di atas semesta. Lelaki sejenak ragu. Tetapi tangan dan kakinya seperti tanpa tuan terus bergerak. Tanpa peduli teriakan istrinya dan tangis bayinya, lelaki itu berlari keluar. Ditengadahkannya kedua tangannya ke langit abu-abu dengan sedikit semburat putih. Air hujan sangat deras mengguyur bumi, bau tanah kering yang meranggas begitu kental ketika air itu menyentuhnya. Petir pun berkilat seperti suara perkusi para pemusik samba seolah tertawa riang menyambut kembalinya lelaki penyuka hujan itu. Bumi pun bersorak ketika kaki lelaki itu menjejakkan kembali di atas tubuhnya dan meliukkan kembali tarian-tarian semestanya.
Sebuah sore yang indah.
….
Perempuan Hujanku
Terima kasih untuk suratmu. Kamu benar, tarian hujan itu adalah hidupku. Aku begitu mencintai tarian itu lebih dari apa pun di dunia ini. Ketika anak perempuanku lahir, aku melihat matanya seperti matamu. Mata yang mampu membuatku kembali menari. Aku begitu bahagia bisa menari lagi. Hujan ternyata adalah diriku dan tarian adalah napasku. Perempuanku, aku akan selalu mengingat setiap langit memerah saat menjelang gelap. Senja selalu seperti bisikanmu di saat aku begitu lelah. Aku akan selalu tahu kamu mencintaiku setiap angin menerpa wajahku. Kamu benar, cinta itu selalu ada di sana, bersama waktu yang melahirkannya. Perempuanku, kamu harus janji selalu bahagia ya? Sungguh, aku berjanji akan selalu menari lagi. Mencintaimu dalam diamku
Lelaki Hujanmu
Kebahagiaan itu ternyata seperti sebuah ciuman. Akan begitu menyenangkan ketika kita membaginya.
Hujan dan lelaki itu adalah bahagia.
Ubud, Agustus 2009
Sumber: Kompas, September 2009

Download cerpen ini KLIK di sini

Friday, April 01, 2011

Puisi Yvonne de Fretes

Sajak-sajak Yvonne de Fretes

Sajak Buat mama (almarhumah)

kasih yang terpajang
pada sorot matamu
bersinar bagaikan Matahari
mengalun bagi Puisi
tapi, barangkali Mama memang sebuah puisi
yang diam - tapi
yang
perkasa
indah
lembut
ah, lautan khayalan bersenandung
berkelana tanpa peta - menyangkut pada potret-potret yang kuning,
dan kisah lama, pada sepi yang saling menyentuh
dan senandung itu, lagumu, laguku
lagu kita
gadis kecilmu dulu
elok, pintar, pemalu (kata Mama kan ?)
gemar menyendiri
melamun
menatap
menanya
tentang apa di balik kaki bukit
tentang bulan pucat
tentang Gamalama yang marah
tentang mimpi-mimpi
tentang cinta
tentang.....
hidup memang tumpukan hari, Mama
yang berlari, berpacu, dengan waktu, denyut hati yang gelisah, luka dan sunyi
di tengah tawa, sukacita, berkat-berkat
inilah dia kini
ingin memiliki keperkasaanmu selain cinta
yang tak jemu-jemunya kau ajarkan
membuatnya selalu bahagia
oleh hidup yang seimbang
lalu
meskipun memang banyak yang tak sempat terucapkan
timbunan sesal dan maaf
timbunan sayang dan kasih
tapi
dari seberang sana
kasih yang berbinar
disorot matamu
Matahari dan Puisi itu
memandang dalam diam dan tersenyum
ah, begitu agung cintamu, Mama

Lombok, Juni 1992


Jakarta 94-95

di ujung tahun
”menjelang pintu-pintunya yang membuka menuju yang tak dikenal”
ke simpang mana
jejak akan kita tinggalkan
tatapanmu
kuingin membelainya sekilas
dan berbisik
kegelisahan itu bisa mengurus diri sendiri
di rimbapun
ada
sumsum
dan madu kehidupan
perjalanan
tak kunjung usai?
tapi layakkah
keindahan
kegairahan
getaran ini
dicurigai
hidup memang
sebuah
Pertanyaan, sayang
“ mungkin memang kita akan membuka pintu-pintu hari, dan kelak
akan kita masuki Yang Tak Dikenal “
tangan ini
genggamlah
rapat dalam jari-jariMu
agar mimpi bisa kuajak berlari
menembus
ruang, dan
waktu
ini bukan cuma judul sebuah lagu
atau puisi
dan kita
bukan cuma angin yang mengusik pinus yang menghitam
bukan cuma kabut yang lembut menggeliat
kita
juga api yang bisa membakar
pada pendakian yang mengintip di balik pintu


Padang 1995

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook