Sunday, June 26, 2011

Puisi-Puisi Rustam Effendi

Puisi-puisi Rustam Effendi

Tanah Air

Berpadang katifah* hijau
berlembah, bekasan danau,
berlangit bertudung awan
bergunung berbukit, berpantai lautan.
O, tanah airku, yang indah sangat.
O, tanah airku yang beta cinta,
Di malam menjadi mimpi,
di siang merayan hati,
Terkurang madahan Sa'ir,
pelagukan ihtisym** asmara Kadir,
O, tanah airku yang beta cinta.
O, tanah airku yang sangat kaya,
bergoa penyimpan logam,
berkolam penerang malam,
bersungai berbatu ratna,
lautan menyimpan harta mutiara,
O, tanah airku yang sangat kaya.
O, tanah airku yang sangat subur,
bertikar bersawah padi,
berladang berkebun kopi,
Berharta di dalam hutan,
membual usaha bukan buatan,
O, tanah airku yang sangat subur.

* Permadani
** hormat

Cahaya Merdeka

Kepada Tanah Airku
Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap hitam
Kau renggut aku hingga akan jiwaku,
Kau angkat aku membubung
menatap wajah Suria Merdeka .....
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora arusmu,
Kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tindakan nyata !
Telah kau remuk aku
bersatu-padu dengan sinarmu
Ta' mungkin k aku 'kan surut lagi
sampai airmu lipur cahyamu dalam matiku .......
Akan mengembus angin
dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
membawa nikmat cahya merdeka ......
Dan sujudlah aku
di hadirat Tuhanku menunggu
putusan akhirku di dunia baka !

Kepada Yang Bergurau

O Engkau cucu Adam
Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
Alangkah senang sentosamu,
Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara
O Engkau Ratna alam,
Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,
Soraikan gelak suaramu,
Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.
O Engkau makhluk Tuhan,
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
Sekalipun tuan dalam bergurau.
Jauh bersunyi tolan
Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,
Merindukan tanah dapat merdeka.

Lautan

Terdengar derai ombak, bercerai,
Terhampar ke pantai, sorai terurai.
Mengaum deram, derum lautan,
Walaupun di dalam malam yang kelam.
Terbentang muka, alun tiada,
Tergenang segara, tida’ terduga
Menyanam air, dalam arusan,
Satupun ta’ mungkin, dapat menyilam.
Demikianlah konon lautan hidup,
Bersabung ombak sebelah ke luar,
Bercatur rasaian, senang dan sukar.
Bagaimanakah artinya rahasia hidup?
Apakah ujud manusia bernyawa?
Seorang pun tiada mungkin menduga.


Mencahari

Bersalut ratna diselang emas berhari-hari,
Itulah kalung perjalanan hidupku,
Membenturkan kesenangan cahaya nubari,
Tiadalah pernah digetus pilu, rantaian mutu.
Menggeleng hati, menampik kata yang beta sebut,
Timbullah kurang, di untaian permata,
Merenggutkan gembiraku ke dalam selaput,
Menungan dada. Menurut beta, sepanjang data
Seperti sayap rajawali datang menyerang kalbu,
Menutup sinar persenyuman sejahtera,
Demikian kegelapan di dalam hatiku.
Seperti buta mencahari jalan, meraba-raba,
Begitu beta bergontaian seorangku,
Menuruti kebenaran tujuan bangsaku.

Mengeluh I

Bukanlah beta berpijak bunga,
Melalui hidup menuju makam
Setiap saat disimbur sukar,
Bermandi darah dicucurkan dendam.
Menangis mata melihat makhluk,
Berharta bukan berhak pun bukan
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyatu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
Suara sebat sedanan rusuh,
Menghimpit madah, gubahan cintaku.

Mengeluh II

Bilakah bumi bertabur bunga,
Disebarkan tangan yang tiada terikat,
Dipetik jari, yang lemah lembut,
Ditandai sayap kemerdekaan ra’yat?
Bilakah lawang bersinar Bebas,
Ditinggalkan dera yang tiada berkata?
Bilakah susah yang beta benam,
Dihembus angin, kemerdekaan kita?
Di sanalah baru bermohon beta,
Supaya badanku berkubur bunga,
Bunga bingkisan, suara sa’irku.
Di situlah bersuka beta,
Pabila badanku bercerai nyawa,
Sebab menjemput Manikam bangsaku.

Wednesday, June 22, 2011

Cerpen Seekor Anjing

Seekor Anjing Manis

Cerpen: Sungging Raga

Manisha nyaris terlambat sekolah. Ia bangun kesiangan karena semalam menonton televisi sampai larut, sampai-sampai justru televisi itu yang menonton dirinya terlelap di sofa ruang tamu. Mungkin acara televisi itu terbawa hingga ke dalam mimpinya, bahkan mungkin saja dalam mimpi itu Manisha kembali menonton televisi, lantas tertidur lagi, maka ia pun akan bermimpi di dalam mimpi. Betapa lelapnya tidur yang seperti itu.

Sayangnya, ia harus masuk sekolah. Maka pagi ini Manisha terjaga setelah ibunya tak henti-henti menggedor pintu kamar.

Ketika membuka mata, cahaya matahari sudah separuh menerangi kamarnya. Ia pun bangkit, melemparkan selimut, lalu mandi dengan sangat tergesa-gesa. ”Itu masih ada sabun di telingamu! Dibilas yang bersih!” bentak ibunya ketika ia baru keluar dari kamar mandi.

Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat jam dinding, sudah pukul tujuh kurang lima belas menit, padahal ia belum juga mengenakan seragam, apalagi sarapan. Dan seolah sudah bisa menebak, ibunya segera membungkus nasi yang sudah terhidang di meja makan. ”Ini, dimakan nanti kalau istirahat.” Kata ibunya, masih dengan nada tinggi. Manisha mencoba untuk tersenyum sebagai tanda terima kasih, tetapi tak bisa, atau lebih tepatnya, tidak sempat. Sementara itu, ayahnya pasti belum pulang, sebagai satpam bank, ayahnya sering mendapat giliran jaga malam, sangat jarang Manisha menemui sang ayah pagi hari, padahal kalau ayahnya ada, ia bisa bermanja-manja sebentar untuk meminta uang saku tambahan, bahkan ibunya bisa mendadak berubah sabar, tidak berbicara dengan nada tinggi seperti pagi ini.

Manisha selesai memakai sepatu, bungkusan nasi hangat hanya dengan lauk tempe itu dimasukkan ke dalam tas, lalu ia pun bergegas meninggalkan rumah. Ia sangat terburu-buru, sampai-sampai uang saku yang telah disiapkan ibunya di atas meja tidak diraihnya. Bahkan, ia tak sempat berpikir adakah pekerjaan rumah apa yang harus disiapkan hari ini. Ia berhambur keluar rumah tanpa sempat mencium tangan atau mengucapkan salam.

Ia segera berlari, suara buku-buku terguncang di dalam tas. Ia melewati beberapa petak bunga di pekarangan, lalu menelusuri trotoar yang berpasir. Sebenarnya sekolah Manisha tak begitu jauh, kalau berjalan santai, sepuluh menit saja sudah sampai. Sekolahnya terletak di seberang jalan raya, Manisha hanya harus melewati trotoar, lalu masuk ke sebuah gang, muncul di jalan raya, lantas menyeberang. Namun ternyata, selepas melewati trotoar, di sebuah gang itulah ia mendapat masalah.

Di gang sempit itu langkah Manisha terhenti dan memicingkan matanya.

”Sejak kapan ada anjing di situ?” gumamnya. Ia melihat seekor anjing yang sedang meringkuk di sudut gang, tentu saja ia heran, sebab kemarin-kemarin gang itu lengang, ia bisa melenggang bebas sambil menempelkan tangannya pada sepanjang dinding gang yang dingin dan lembab. Tetapi kenyataan berkata lain pagi ini, sudah terlambat masuk sekolah, ada anjing pula.

Sepertinya anjing itu sedang tidur. Hewan itu membaringkan dirinya agak jauh di tepi gang sana, Manisha sudah berjalan sampai ke tengah-tengah hingga akhirnya melihat anjing yang sedang menggeletak sangat santai itu, sepasang kaki depan dilipat untuk menopang dagu, dengan mata terpejam, seolah menunjukkan bahwa anjing itu pemalas, tetapi mungkin juga anjing itu sedang kekenyangan, mungkin baru selesai melahap kucing kumal yang memang tak lagi punya harapan untuk hidup. Mungkin sudah beberapa ekor kucing yang diterkam hingga hewan itu tak mampu menopang tubuhnya untuk sementara waktu sehingga kini memilih untuk berbaring saja.

Manisha terpaksa berhenti, napasnya masih tersengal setelah berlari di sepanjang trotoar, ia menggaruk-garuk kepalanya, rambut yang sudah tersisir rapi itu kini sedikit berantakan, sekarang ia diam saja, sementara waktu terus beranjak, detik demi detik beranak pinak. Manisha kebingungan, ia berharap anjing itu tidur saja yang lelap. Mata binatang itu memang banyak tertutup, tetapi bukankah pendengaran seekor anjing sangat peka? Ah, betapa sempitnya gang itu. Sepeda motor saja tak bisa datang dari dua arah, harus ada yang mengalah. Manisha menunggu sejenak, berharap ada yang lewat situ untuk memberinya pertolongan, sebab ia tidak mungkin pulang lagi, ibunya pasti marah besar. Terkadang ia menyesal mengapa punya rumah yang hanya bisa dilewati melalui sebuah gang. Sebenarnya dahulu tidak ada gang sempit itu, hanya saja, sejak lahan tak jauh dari rumahnya terkena dampak pembangunan mal, maka gang itu pun terbentuk dari sebuah mal di bagian kiri, dan toko bertingkat yang sudah lebih dulu ada di bagian kanan. Sejak itulah, kalau mau berangkat dan pulang sekolah, hanya gang tersebut jalan terdekat yang bisa dilewati. Sementara kalau lewat trotoar harus berputar terlalu jauh, lama, dan sangat melelahkan.

Waktu bergulir pelan tetapi pasti, Manisha semakin kebingungan, ia memandangi hewan yang masih tetap meringkuk di sudut gang. Anjing itu berbulu hitam legam, entah berasal dari ras apa, sepertinya kumuh sekali, kalau lebih diperhatikan, hidungnya berlendir, lidahnya juga terjulur, ada liur yang tak kunjung menetes ke tanah. Jangan-jangan sudah mati? Entah mengapa tiba-tiba Manisha sudah berada lebih dekat dengan anjing itu. Ia melangkah perlahan dalam keadaan setengah melamun, tetapi sewaktu sadar, ia pun kembali menjauh dengan jantung berdebar kencang.

”Kalau begini terus, tidak bisa sampai di sekolah.”

Manisha berpikir. Sayangnya, di kamusnya tak ada kata bolos, ia harus tetap masuk sekolah, sebab bolos adalah hal yang bisa membuat ibunya sangat murka, tadi pagi ibunya sudah marah-marah karena ia kesiangan, padahal ia paling takut dengan kemurkaan ibunya. Meski ia tahu ibunya sayang kepadanya, tetapi kalau marah tetap saja mengerikan. Biasanya, ia suka pura-pura tertidur kalau sedang dimarahi, menutupi telinganya dengan bantal agar tak mendengar suara ibunya yang terus-menerus berbicara, dan biasanya pula sang ibu akan menunggu, sampai kapan Manisha bisa sabar untuk pura-pura tertidur, terkadang ia bisa benar-benar tertidur pada akhirnya, terkadang pula tetap tak bisa tidur, hanya bisa menunggu emosi ibunya reda, dan akhirnya, mereka akan saling menunggu, siapa yang paling sabar di antara keduanya.

Sudah ratusan kali Manisha dimarahi ibunya, entah karena kesalahan fatal semacam menumpahkan gula dari stoples, atau membiarkan air keran kamar mandi terbuka yang menyebabkan airnya meluber, sampai beragam alasan yang menurutnya mengada-ada. Lama kelamaan, Manisha bisa dikriminalisasi oleh ibunya sendiri. Bahkan gadis itu sempat berpikir bahwa ibunya tidak benar-benar sayang kepadanya. Lebih jauh lagi, pernah terlintas seburuk-buruk pertanyaan dalam otaknya, apakah ia benar-benar anak kandung dari seorang wanita yang suka memarahinya nyaris setiap hari itu? Manisha pernah mendengar tetangga bercerita bahwa ia sebenarnya ditemukan di jalan, menangis dalam kardus yang digeletakkan di tepi trotoar, ada juga yang bilang bahwa ia diambil dari panti asuhan, tetapi ibunya selalu mengatakan itu semua tidak benar, dan ia percaya bahwa para tetangga memang hanya bercanda, apalagi banyak yang berkata bahwa hidung dan pipi Manisha mirip sekali dengan milik ibunya.

Meski begitu, Manisha tetap tak mengerti mengapa ibunya suka marah-marah, apakah ibunya mengidap penyakit? Ia terkadang iri kepada kawan-kawan sekelasnya, ia iri kepada Suminten yang suka dibawakan bekal bermacam-macam, ”Ibuku tadi pagi buat roti kismis, besok rencananya mau buat brownies.” Begitu biasanya Suminten akan berbangga-bangga, sementara Manisha cukup diam saja. Ia juga sering iri kepada Nalea, kawan sebangku yang selalu dijemput ibunya sepulang sekolah baik cerah ataupun hujan, sementara Manisha tak pernah dijemput, berangkat sendiri, pulang pun sendiri. Tetapi ia sadar bahwa ibunya memang tidak punya waktu untuk menjemput, ibunya adalah tukang cuci yang setiap hari sibuk berkeliling dusun untuk menerima cucian-cucian kotor. Oleh karena itulah Manisha sudah biasa melakukan banyak hal sendiri.

Jadi, kalau ia mendapat masalah seperti sekarang ini, Manisha harus menyelesaikan sendiri.

Dan ternyata ia juga lupa membawa jam tangan kecil, ia melihat pergelangan tangannya, hampa, ia tak tahu sekarang sudah jam berapa, ia tak tahu bel sekolah sudah berbunyi atau belum. Ia belum juga ingat bahwa ada dua pekerjaan rumah yang akan dikoreksi hari ini. Ia nyaris tak peduli lagi seandainya Bu Mursleh—guru Matematika berkacamata yang suka bawa camilan ke dalam kelas itu—tiba-tiba mengadakan ulangan mendadak. Sekarang perhatiannya hanya tertuju pada anjing itu. Tubuh hewan itu memang tidak cukup besar. Tetapi bulunya yang hitam legam nan lebat membuat Manisha ngeri. Tentu ia takut digigit, apalagi ia tahu gigitan anjing bisa menimbulkan penyakit, kemarin ia melihat berita wabah rabies yang menelan banyak korban di suatu daerah, siapa tahu anjing ini membawa penyakit yang sama!

Manisha menelan ludah, kalau harus digigit, ia lebih suka digigit si Jupritus saja, teman sekelas yang terlampau nakal itu.

Kemudian Manisha mengingat sesuatu, rasanya ia pernah mendengar cerita-cerita tentang anjing, entah itu dari kawannya atau mungkin dari ayahnya, ia sudah lupa siapa yang bercerita, ia hanya ingat isinya, semacam teori, bahwa kalau lewat di dekat anjing yang tertidur harus tenang, tidak boleh lari, karena kalau lari anjing itu justru mengejar, sebab langkah kaki yang terburu-buru sangat mengganggu. Tetapi teori itu seperti berbalik di kepalanya, yang terbayang adalah: Kalau berjalan terburu-buru maka anjing itu akan memburunya dengan segera, kalau berjalan tenang maka anjing itu akan memakannya juga dengan tenang penuh kedamaian.

Tidak. Tidak. Manisha menggelengkan kepalanya. Ia menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya, ia heran mengapa nyaris tak ada yang lewat gang itu. Hanya sosok orang-orang berkelebat saja, tak ada yang berbelok, tetapi ia juga tak mau ibunya tiba-tiba muncul di situ dengan wajah mengerikan. Ia ingin libur dari amarah sang ibu barang sehari—kalau pun bisa, apalagi di gang ini ia tak bisa pura-pura tertidur seperti biasa kalau ibunya tiba-tiba muncul di ujung situ.

Manisha mencoba untuk kembali melangkah, berat sekali. Dan semakin dekat, rasa takutnya justru semakin bertambah, apalagi sesekali anjing itu menggeliat, mungkin hewan itu tahu ada yang sedang menunggunya terjaga, mungkin hewan itu senang ada gadis kecil yang memerhatikannya. Itu artinya, Manisha dan seekor anjing sedang bermain kucing-kucingan perasaan.

”Anjing manis, Manisha mau lewat.” Ia mengucapkan kalimat itu seperti doa. Sebab, ia hanya bisa berharap anjing itu pergi dari gang. Cukup itu saja.

***

Matahari bergegas naik, cahaya berangsur-angsur terik. Di sebuah gang sempit yang tidak begitu kumuh, seekor anjing sedang tertidur pulas, binatang berkaki empat itu mungkin tengah bermimpi ada di sebuah kebun surga, merebah di pangkuan bidadari jelita. Sementara tak jauh dari situ, ada seorang anak SD yang sudah terlambat sekolah, dia berdiam di situ sebab takut melangkah, dia masih menunggu anjing tersebut pergi, dia mengira hewan mengerikan itu hanya pura-pura tertidur, sama seperti dirinya kalau sedang dimarahi ibunya.
(Situbondo, 2009)
Sumber: Kompas, Januari 2010

Saturday, June 18, 2011

Agus Noor: Menangis Sepanjang Hari

Ada yang Menangis Sepanjang Hari…

Cerpen Agus Noor

Tangisan itu seperti kesedihan yang mengapung di udara. Menyelesup ke rumah-rumah kampung pinggir kota itu. Karena hampir setiap hari mendengar orang menangis, maka para warga pun tak terlalu peduli.
Tapi ketika sampai malam tangis itu terus terdengar, sebagian warga pun menjadi mulai terganggu. Tiba-tiba saja tangis itu seperti mengingatkan pada banyak kesedihan yang diam-diam ingin mereka lupakan. Tangis itu jadi mirip cakar kucing yang menggaruk-garuk dinding rumah. Bagai mimpi buruk yang menggerayangi syaraf dan minta diperhatikan. Beberapa warga yang jengkel langsung mendatangi pos ronda.
”Siapa sih yang terus-terusan menangis begitu?!”
”Apa dia tak lagi punya urusan yang harus dikerjakan selain menangis seharian. Ini sudah keterlaluan!”
”Suruh keparat itu berhenti menangis,” sergah warga lainnya.
”Ah paling juga itu tangisan Kumirah,” ujar seorang peronda. ”Ia pasti masih sedih karena suaminya mati dibakar kemaren.”
Orang-orang terdiam. Mendadak saja mereka teringat Sidat yang ketangkap mencuri jagung rebus, kemudian dibantai ramai-ramai. Belum puas melihat Sidat bonyok dan ringsek, seseorang menyiramkan bensin ke tubuh suami Kumirah itu. Sidat mengerang-erang terkapar. Bau daging yang melepuh terbakar itu membuat mereka merinding. Bau daging bakar yang harum campur aroma bensin itu kini kembali tercium. Seakan masih menempel di udara. Bau yang bagai kembali mengapung bersama isak tangis. Adakah yang lebih menyedihkan dari tangisan itu?
Para peronda dan beberapa warga segera menuju kontrakan Kumirah. Kamar itu sepi terkunci. Tak ada tangis merembes dari dalamnya. Tangis itu mengambang di udara entah berasal dari mana. Seperti menggenang dan mengepung mereka. Mereka sudah sambangi tiap rumah, tapi tak menemukan siapa yang menangis begitu sedih begitu nelangsa seperti itu. Kadang tangis itu terdengar seperti suara tangis bayi yang rewel kelaparan. Kadang seperti suara perempuan terisak setelah digampar suaminya yang mabok. Kadang terisak panjang. Kadang seperti keluhan. Kadang seperti erang binatang sekarat. Kadang seperti sayatan panjang yang mengiris malam.
Berhari-hari tangisan itu terdengar timbul-tenggelam merepihkan kesedihan yang paling memilukan. Hidup sudah sedemikian penuh kesedihan kenapa pula mesti ditambah-tambahi mendengarkan tangisan yang begitu menyedihkan sepanjang hari seperti itu?
”Ini sudah keterlaluan!” geram seorang warga. ”Bukannya saya melarang orang menangis, tapi ya tahu diridong. Masak nangis nggak berhenti-henti begitu.” Lalu kompak, warga sepakat mengadu pada Pak RT.
”Kami harap Pak RT segera mencari siapa yang terus-menerus menangis begitu…”
”Lho, apa salahnya orang menangis. Kadang menangis kan ya perlu,” ujar Pak RT.
”Kalau nangisnya sebentar sih nggak papa. Kalau terus-terusan kan kami jadi terganggu.”
”Terus terang, kami juga jadi ikut-ikutan sedih karenanya.”
”Jadi kebawa pingin nangis…”
”Itu namanya mengganggu ketertiban!”
”Pokoknya orang itu harus segera diamankan!”
Tak ingin terjadi hal-hal yang makin meresahkan, Pak RT segera menghubungi Ketua RW, karena barangkali yang terus-terusan menangis itu dari kampung sebelah. Seminggu lalu memang ada warga kampung dekat pembuangan sampah yang mati gantung diri setelah membunuh istri dan empat anaknya yang masih kecil. Mungkin roh orang itu masih gentayangan dan terus-terusan menangis. Namun Ketua RW menjelaskan kalau suara tangis itu memang terdengar di seluruh kampung.
”Warga seberang rel juga cerita, kalau mereka siang malam mendengar suara tangis itu,” kata Ketua RW. ”Makanya, kalau sampai nanti malem suara tangis itu terus terdengar, saya mau lapor Pak Lurah.”
***
Pada hari ke-3, suara tangis itu terdengar makin panjang dan menyedihkan. Tangisan itu terdengar begitu dekat, tetapi ketika didatangi seakan berasal dari tempat yang jauh. Tangis itu seperti air banjir yang meluber ke mana-mana. Orang-orang mendengar tangisan itu makin lama makin sarat rintihan dan kepedihan. Tangisan yang mengingatkan siapa pun pada kesedihan paling pedih dan tak terbahasakan. Siapakah dia yang terus-terusan menangis penuh kesedihan seperti itu? Bila orang itu menangis karena penderitaan, pastilah itu karena penderitaan yang benar-benar tak bisa lagi ditanggungnya kecuali dengan menangis terus-menerus sepanjang hari.
Pada hari ke-17 seluruh kota sudah digelisahkan tangisan itu. Para Lurah segera melapor Pak Camat. Tapi karena tak juga menemukan gerangan siapakah yang terus-terusan menangis, Pak Camat pun segera melapor pada Walikota, yang rupanya juga sudah merasakan kegelisahan warganya karena tangis yang terus-menerus terdengar sepanjang hari itu. Tangis itu telah benar-benar mengganggu karena orang-orang jadi tak lagi nyaman. Tangis itu makin terdengar ganjil ketika menyelusup di antara bising lalu-lintas. Tangis itu telah menjadi teror yang menyebalkan. Radio dan koran-koran ramai memberitakan. Mencoba mencari tahu siapakah yang terus- menerus menangis sepanjang hari, berhari-hari…
Orang-orang hanya bisa menduga dari manakah asal tangisan itu. Siapakah yang tahan terus- terusan menangis seperti itu.
”Mungkin itu tangis pembantu yang disiksa majikannya…”
”Mungkin itu tangisan buruh yang baru terkena PHK.”
”Mungkin itu tangisan korban mutilasi…”
”Barangkali itu tangisan bocah yang mati disodomi dan mayatnya dibuang ke dasar kali dan tak ditemukan sampai kini…”
”Barangkali itu tangisan pedagang kaki lima yang digusur dan tubuhnya tersiram air panas.”
”Atau bisa jadi itu tangisan kuntilanak…”
”Mungkin tangisan Suster Ngesot…”
Hingga hari ke-65 tangisan itu makin terdengar penuh kepedihan dan membuat Walikota segera menghadap Gubernur. Ternyata Gubernur memang sudah mendengar tentang tangis yang terdengar hingga ke seluruh provinsi. Tangisan itu bagai mengalir sepanjang jalan sepanjang sungai sepanjang hari sepanjang malam, melintasi perbukitan kering, merayap di hamparan sawah yang tergenang banjir dan terdengar gemanya yang panjang hingga ngarai dan lembah yang kelabu sampai ke dusun-dusun paling jauh di pedalaman.
Tangis itu mengalun sayup-sayup bersama galau angin yang melintasi padang savana dan teluk-teluk yang redup sampai ke pantai-pantai. Tangisan itu bagai mampu meredakan deru ombak hingga laut terlihat bening dan datar berkilauan di bawah cahaya bulan yang keperakan. Orang- orang termangu diluapi kesenduan setiap mendengar tangisan yang timbul tenggelam itu. Para penyair menuliskan sajak-sajak perihal kesenduan dan kesedihan tangis itu seakan-akan itulah tangisan paling menggetarkan yang pernah mereka dengar.
Pada hari ke-92 para menteri berkumpul membahas laporan para Gubernur perihal tangis yang telah terdengar ke seluruh negeri. Tangis itu bahkan terdengar begitu memelas ketika melintasi gang-gang becek di Ibu Kota. Terdengar terisak-isak serak bagai riak yang mengapung di gemerlap cahaya lampu gedung- gedung menjulang hingga setiap orang yang mendengar sekan diiris-iris kesedihan.
”Apakah kita mesti melaporkan hal ini pada Presiden?” kata seorang Menteri.
Menteri yang lain hanya diam.
***
Pada hari ke-100, tangis itu sampai juga ke kediaman Presiden yang asri dan megah. Tangis itu menyelusup lewat celah jendela, dan membuat Presiden tergeragap dari kantuknya. Ia menyangka itu tangis cucunya. Tadi sore anak dan menantunya memang mengajak cucu pertamanya tidur di sini. Mungkin dia kehausan, batin Presiden, lalu bangkit menuju kamar sebelah. Tapi cucunya yang mungil itu tampak lelap. Betapa pulas dan damai tidur cucunya itu. Lalu siapa yang menangis? Seperti terdengar dari luar sana. Pelan Presiden membuka jendela, tapi yang tampak hanya bayangan pagar yang baru direhab menghabiskan 22,5 Milyar.
Mendadak istrinya sudah di sampingnya.
”Ada apa?”
”Saya seperti mendengar suara tangis…”
”Siapa?”
”Entahlah…”
”Sudah, tidur saja. Besok kamu mesti pidato,” kata istrinya. ”Apa ya nanti kamu akan mengeluh hanya karena mendengar tangis itu?”
Presiden hanya tersenyum. Tetap berusaha tampak anggun dan tenang. Lalu menutup jendela.
***
Sementara tangisan itu terus mengalun dan angin perlahan-lahan bagai susut. Segala suara bagai meredup dan mengendap dalam gelap. Semesta terkesima dan seketika terdiam. Seekor lelawa yang terbang melintas malam mendadak berhenti di udara. Sebutir embun yang bergulir mendadak tergantung beku di ujung daun. Beberapa ekor kunang-kunang dengan cahaya kuning yang redup pucat terlihat diam mengapung dalam dingin. Semesta begitu hening. Tak ada suara selain tangis yang penuh kesedihan itu. Tangis yang terus mengalun mengalir hingga galaksi-galaksi paling jauh.
Apakah kau dengar tangisan itu?
Jakarta, 2007-2010
Sumber: Kompas, Maret 2010

Sunday, June 05, 2011

Puisi-puisi Toto ST Radik

Puisi Toto ST Radik

Amsal Sebilah Pisau

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu terisak sedih
sudah berharihari tak ada apa pun, sekadar bawang merah
atau seekor cicak melintas, untuk dicincang
jamur karat membelukar di tubuhnya yang kian suram dan renta
matanya yang tumpul masih berkilat karena siksa lapar
namun ruang dan waktu yang mengepung dirinya hanya
menurunkan sepi

seseorang meninggalkannya begitu saja di meja makan itu
tanpa tugas tanpa mangsa
padahal begitu nyaring ia dengar suara erang daging dan deras darah
yang muncrat di jalanjalan kelam dari jaman ke jaman
sejak qabil membantai habil
o, daging yang ranum darah yang harum
aku menginginkanmu di hari tuaku yang buruk ini! ratapnya
pedih dibekuk kenangan yang mendatanginya bertubitubi

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu meraung sangsai
seperti putus asa
sudah berharihari ia tak menemu cara bunuh diri: mengakhiri
seluruh perjalanannya dan memulai lagi pengelanaan baru
menyusuri jalanjalan kelam di dunia lain
bersama orangorang lain
sebagai korban

---Serang, 1998-1999

Catatan harian Seorang Penyair

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata

hanya perempuan boleh bersedih
dan menangis

lelaki adalah serdadu: baja yang ditempa
di atas api
keras dan padat dan kejam menggenggam hidup

tak ada sepetak ruang dan sejenak waktu
untuk bertanya
tentang sesuatu yang sederhana

segalanya telah selesai
dalam kitab kalah atau menang

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata: aku pun pergi

ke negeri puisi
di mana kegembiraan dan kesedihan
keraguan dan cinta

tak ditampik atau menampik

----Serang, 1998


Di tengah Ladang Jagung

di tengah ladang jagung
kuterjemahkan ayatayat cintamu
di antara gerak daundaun
dan dzikir embun

di tengah ladang jagung

aku lelaki dengan tubuh legam berkilau
dibakar matahari
dalam gairah cinta menggelegak

di tengah ladang jagung
aku penari yang khusyuk mengurai doa
menjadi beribu gerak di antara riak kenangan
kenyataan hari ini, dan impian masa depan

di tengah ladang jagung
di bukit yang jauh dari tahuntahun gaduh
dan usia kemarau, aku tengadah ke langit
menyerap seluruh cahaya

---Serang, 1998

Indonesia, Pada Sebuah Malam

indonesia -- pada sebuah malam yang jauh
bulan separuh. burung alap-alap memekikkan seluruh
nyanyian kepedihan dan alamat-alamat kematian
sunyi pun tumbuh berkawan ketakutan
menjalar ke setiap rumah, mengetuk pintu-pintu
yang rapuh. dan angin seperti bersekutu
menghunjamkan dingin, tajam bagai tatapan
sepasang mata kucing hitam. kemudian hujan
jatuh, berputar-putar dalam tarian tanpa irama
menderas tak tertahan menuju jantung kegelapan
mengisyaratkan badai

indonesia -- pada sebuah malam penuh hujan
bulan tersingkir seperti menegaskan kegelapan sihir
lolong anjing dari bukit-bukit jauh mengarungi
detik amarah yang bergelombang gaduh. bunga-bunga
berganti batu, dendang sayang berganti kibasan parang
semburan peluru dan kobaran api. darah pun tumpah
di setiap jengkal tanah. mengalir ribuan kilometer
bersama airmata yang diam-diam menyimpan kenangan
sejarah negeri hijau. sobekan bendera terbakar
di atas meja perjudian. mantera-mantera, doa-doa, kutukan
seribu kata saling tindih saling cakar di antara
percakapan-percakapan aneh penuh sandi

indonesia -- pada sebuah malam huru-hara
aku menundukkan kepala di kamar berdebu
membaca baris demi baris sajak-sajakku yang berlepasan
dari penjara kertas: melangkah di jalan-jalan berbatu!

Serang, 31.12.1996

Sawah Satu

di sawah sunyi ini aku menanam
benih padi
menyelam ke dasar lumpur
membuka birahi bumi
dan menanam lagi

di sawah sunyi ini aku menari
sendiri
mengembara ke dasar doa
mereguk saripati bumi
dan menari lagi

di sawah sunyi ini aku rebah
pada tanah
menjemput gelisah
menulis sejarah

---Serang, 1999

Wednesday, June 01, 2011

Cerpen Pemetik Air Mata

Pemetik Air Mata

Cerpen Agus Noor

Mereka hanya muncul malam hari. Peri-peri pemetik air mata. Selalu datang berombongan— kadang lebih dari dua puluh—seperti arak-arakan capung, menjinjing cawan mungil keemasan, yang melekuk dan mengulin di bagian ujungnya. Ke dalam cawan mungil itulah mereka tampung air mata yang mereka petik. Cawan itu tak lebih besar dari biji kenari, tapi bisa untuk menampung seluruh air mata kesedihan di dunia ini. Saat ada yang menangis malam-malam, peri-peri itu akan berkitaran mendekati, menunggu air mata itu menggelantung di pelupuk, kemudian pelan-pelan memetiknya. Bila sebulir air mata bergulir jatuh, mereka akan buru-buru menadahkan cawan itu. Begitu tersentuh jari-jari mereka yang ajaib, setiap butir air mata akan menjelma kristal.

Mereka tinggal di ceruk gua-gua purba. Ke sanalah butir-butir air mata yang dipetik itu dibawa. Di selisir ulir batu alir, di antara galur batu kapur berselubung tirai marmer bening yang licin dan basah, di jejulur akar-akar kalsit yang bercecabang di langit-langit stalagtit, peri-peri itu membangun sarang. Butir-butir air mata itu ditata menjadi sarang mereka, serupa istana-istana kecil yang saling terhubung jembatan gantung yang juga terbuat dari untaian air mata. Di langit-langit gua itu pula butir-butir air mata itu dironce terjuntai menyerupai jutaan lampu kristal yang berkilauan.

Seorang pencuri sarang walet menemukan tempat peri-peri pemetik air mata itu tak sengaja. Setelah berhari-hari menyelusup celah gua, ia merasakan kelembaban udara yang tak biasa, hawa yang membuat kuduknya meriap, dan menyadari dirinya telah tersesat dan tak akan lagi melihat dunia karena setiap kali bersikeras mencari jalan keluar ia justru merasa semakin mendekati kematian. Kesepian gua itu begitu hitam dan mengerikan. Bahkan kelelawar, ular dan lintah pun seperti memilih menjahuinya. Sayup jeritan dan gema kelepak ribuan walet seperti berada di dunia yang berbeda. Semua suara seperti lesap—bahkan ia tak mendengar suara napasnya sendiri—dan ia merasakan betapa udara tipis dan bau memualkan yang bukan berasal dari tumpukan kotoran kelelawar atau lumpur belerang membuatnya limbung dan perlahan-lahan seperti mulai mengapung.

Saat kesadarannya seperti terisap, lamat-lamat didengarnya tangisan yang begitu gaib, menggema dari palung gua. Sampai kemudian ia menyadari betapa tangisan itu berasal dari butir-butir kristal bening yang menempel dan bergelantungan nyaris memenuhi seluruh langit-langit stalagtit di mana ribuan peri mungil tampak beterbangan lalu lalang. Pada saat-saat tertentu butir-butir kristal air mata itu memang memperdengarkan kembali kesedihan yang masih tersimpan di dalamnya. Tak ada yang bisa menghapus kesedihan bukan, bahkan ketika kesedihan itu telah menjelma kristal? Di lambung gua itu bergaung jutaan tangisan yang terdengar bagaikan simfoni kesedihan yang agung.

Ketika akhirnya lelaki pencuri sarang walet itu meninggalkan jazirah peri dan menemukan jalan pulang, ia membawa sekarung kristal air mata yang kemudian dijualnya eceran. Kristal-kristal air mata itulah yang kini banyak dijajakan di pinggiran dan perempatan jalan.

***
Sandra tak percaya cerita itu. Meski ia sering melihat para pengasong menjajakan kristal air mata itu. Sering mereka mengetuk-ngetuk kaca mobilnya, setengah memaksa.

”Air mata, Bu? Murah… Seribu tiga, Bu… Seribu tiga…”

Dulu, semasa kanak, setiap kali melihat Mamanya diam-diam menangis, Sandra selalu berharap peri-peri pemetik air mata itu muncul. Mamanya memang sering menangis terisak malam-malam. Ia pun selalu menangis bila melihat Mamanya menangis. Tapi Sandra berusaha menahan tangisnya karena Mamanya pasti akan langsung membentak bila tahu ia menangis. ”Jangan cengeng anak setan!” Kadang teriakan itu disertai lembaran kaleng bir yang segera bergemerontangan di lantai yang penuh puntung dan debu rokok. Rumahnya memang selalu berantakan. Selalu ada pakaian dalam Mamanya yang berceceran begitu saja di lantai. Tumpahan bir di meja, bercak-bercak sisa muntahan di pojokan, botol-botol minuman yang menggelinding ke mana-mana. Kasur yang selalu melorot seprainya. Bantal- bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus- menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.

Suara Mama memang nyaris selalu membentak. Pernah sekali Sastra bertanya soal Papanya, tetapi ia langsung disemprot mulutnya yang berbau alkohol, ”Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!” Meski begitu Sandra tahu kalau sesungguhnya perempuan itu menyayanginya. Bila pulang setelah pergi berhari-hari—Mamanya memang selalu pergi berhari-hari keluar kota atau entah ke mana, kadang mendadak pergi terburu-buru begitu saja malam-malam setelah menerima pager—selalu ada oleh-oleh menyenangkan untuk Sandra. Sering boneka. Tapi Sandra lebih senang bila ia dioleh-olehi buku cerita.

Sering, bila hari Minggu, Mamanya juga mengajaknya jalan-jalan. Membelikannya baju, mengajak makan kentang goreng atau ayam goreng. Saat Sandra menikmati es krim, perempuan itu tampak selalu menatap dengan mata penuh cinta. Tanpa sadar ia akan bergumam, ”Sandra, Sandra….” Sambil membersihkan mulut Sandra yang belepotan.

Tapi saat-saat paling menyenangkan bagi Sandra adalah saat perempuan itu membacakannya cerita dari buku berbahasa Inggris dengan gambar-gambar berwarna. Kadang tanpa sadar di tengah-tengah cerita yang dibacakannya, air mata Mamanya menetes.

”Kenapa Mama menangis?”

”Tidak, Sandra… Mama tidak menangis.”

”Kenapa manusia bisa menangis, Mama?”

”Karena manusia diciptakan dari kesedihan.”

”Kenapa mesti ada kesedihan, Mama?”

”Diamlah. Jangan cerewet. Atau Mama hentikan bacanya!”

Lalu Mama kembali membacakan cerita tentang peri-peri pemetik air mata.

Pada mulanya adalah sebutir air mata. Saat itu Tuhan begitu sedih dan kesepian, hingga meneteskan sebutir air mata. Dari sebutir air mata sejernih putih telur itulah tercipta semesta, hamparan kabut, langit lakmus yang belum dihuni bintang-bintang, makhluk-makhluk gaib, pepohonan dan sungai-sungai madu. Kemudian, pada hari ke tujuh, barulah terbit cahaya. Dari sebutir air mata itu pula muncul sepasang manusia pertama. Karena tahu manusia akan mengenal kesedihan, maka sebelum menciptakan maut, Tuhan menciptakan lebih dulu peri-peri pemetik buah kesedihan. Saat itu memang ada tumbuh Pohon Kesedihan, yang buah-buah bening segarnya selalu bercucuran dari ranting-rantingnya. Setiap kali datang musim semi, peri-peri itulah yang selalu memetiki buah-buah kesedihan yang telah ranum, yang membuat manusia tergoda menikmatinya.

Saat manusia sedih karena harus pergi dari surga, peri-peri pemetik air mata turun menyertai. Maka, sejak saat itu, bila ada manusia menangis malam-malam, peri-peri itu akan muncul dan memetik air matanya yang bercucuran.

Setiap kali mendapati Mamanya menangis, Sandra pun berharap peri-peri pemetik air mata itu muncul. Ia tahu peri-peri itu bisa menghapus kesedihan dari mata Mamanya. Tapi Sandra tak pernah melihat peri itu muncul, dan Mamanya terus terisak menahan tangis, sembari kadang-kadang memeluk dan dengan lembut menciumi Sandra yang pura-pura tertidur pulas. Setiap malam Sandra memang selalu pura-pura bisa tertidur lelap, terutama bila ada laki-laki entah siapa datang ke rumahnya. Sandra tak pernah lupa ketika suatu malam Mamanya pelan-pelan memindahkannya ke kolong ranjang dan mengira ia sudah tertidur, padahal ia bisa mendengar suara lenguh Mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang. Juga suara dengus sebal Mamanya ketika akhirnya laki-laki itu mendengkur keras sekali. Di kolong ranjang Sandra terisak pelan, ”Mama… Mama….” 
Pipinya basah air mata.

Bahkan saat itu peri-peri pemetik air mata yang diharapkannya tak pernah muncul. Itulah sebabnya ia tak percaya.
***
Tapi Bita, anak semata wayangnya, punya beberapa butir kristal air mata itu. Dia membelinya dari seorang pedagang mainan di sekolahnya. Cerita tentang pencuri sarang walet yang menemukan koloni peri itu pun didengarnya dari Bita. Kata anaknya yang berumur 10 tahun itu, cerita itu dia dengar langsung dari penjual kristal air mata itu.

”Itu bohong, sayang…”

”Kenapa penjual itu mesti bohong, Mama? Ini memang air mata beneran, kok. Cobalah Mama dengerin, kadang-kadang ia mengeluarkan tangisan.” Lalu Bita berceloteh riang, kalau kawan-kawan sekolahnya juga banyak yang membeli butir-butir kristal air mata itu untuk dikoleksi. ”Semua anak laki-laki di sekolah sekarang enggak suka lagi adu jangkrik. Saat istirahat, mereka lebih suka mengadu kristal-kristal air mata miliknya. Kristal air mata yang mengeluarkan tangisan paling panjang dan paling menyedihkan yang menang.”

Bita menyimpan koleksi kristal air matanya di kotak kecil, dan selalu menaruhnya di sisi bantal tidurnya. Kadang Bita terbangun ketika didengarnya kristal-kristal air mata itu mengeluarkan tangisan. ”Bita senang mendengar tangisan mereka yang merdu, Mama,” katanya. ”Apa Mama juga suka menangis kalau malam?”

Tidak, tidak—tapi Sandra tak mengucapkannya.

”Apakah kalau Bita menangis, peri-peri itu juga akan muncul, Mama?”

Sandra mencoba tersenyum.

”“Sekarang tidurlah,” Sandra berusaha menghentikan percakapan, kemudian dengan lembut menyelimuti dan mencium keningnya. Baru saja beranjak hendak keluar kamar, terdengar suara Bita,

”Apa besok Papa jadi ngajak Bita jalan-jalan?”

Sandra tersenyum. ”Nanti Mama tanyakan Papamu, ya. Kamu kan tahu, Papamu sibuk.…”
Lalu mematikan lampu.
***
Suaminya tengah berbaring di ranjang ketika Sandra masuk. Senyumnya masih tetap memikat seperti saat pertama kali Sandra melihatnya, ketika suatu malam ia menyanyi di sebuah kafe. Senyum yang membuatnya jatuh cinta. Ia bukannya tak berdaya oleh senyum itu. Namun senyum itu sejak mula memang telah membuatnya percaya, bahwa ia akan menemukan hidup yang lebih baik. Sandra memang tak ingin nasibnya berakhir celaka seperti Mamanya: digeroti penyakit kelamin saat tua dan ditemukan mati tergorok di losmen murahan.

Tidak. Tidak. Sandra tidak ingin seperti Mamanya. Bahkan Sandra tahu kalau Mamanya tak pernah menginginkan ia menjadi seperti Mamanya. Sandra selalu ingat, dulu, di saat-saat Mamanya begitu tampak mencintainya, perempuan itu selalu mendekapnya erat-erat sembari sesekali berbisik terisak, ”Berjanjilah pada Mama, kamu akan menjadi wanita baik-baik, Sandra.”

”Seperti Mama?”

”Tidak. Kamu jangan seperti Mama, Sandra. Jangan seperti Mama….”

Sandra merasa hidupnya jauh lebih beruntung dari hidup Mamanya karena punya suami yang mencukupi hidupnya. Bagaimana pun suaminya memang laki-laki penuh perhatian yang pernah dikenalnya. Setidaknya dibanding puluhan laki-laki yang hanya iseng terhadapnya.

Berbaring di ranjang, hanya dengan selimut di bawah pinggang, suaminya terlihat segar. Hmm, pasti habis mandi air hangat, batin Sandra. Itu berarti laki-laki itu memang menginginkannya malam ini. Sandra segera meredupkan lampu, membuka gaunnya, dan bersijengkat naik ke ranjang. Bau harum tubuh laki-laki itu merangsanya untuk menciuminya. Ia hafal dengan denyut otot laki-laki itu yang perlahan meregang. Sandra ingin selalu membuat laki-laki itu betah bersamanya.

”Kamu menyenangkan sekali malam ini,” desah laki-laki itu tersengal, setelah lenguh panjang dan berbaring lemas memeluk Sandra.

”Makanya kamu nginep saja malam ini. Biar besok sekalian ngajak Bita jalan-jalan.”

Ketika laki-laki itu hanya diam, Sandra tahu kalau ia telah meminta yang tak mungkin laki-laki itu penuhi. Selama ini mereka memang sepakat, Sandralah yang akan mengurus Bita. Mengantar jemput ke sekolah. Menemani jalan-jalan atau pergi makan. Dan Sandra selalu mengatakan ”Papamu sibuk…” setiap kali Bita bertanya kenapa Papa enggak pernah ikut?

Sandra tahu malam ini laki-laki itu pun harus pergi. Sandra sudah terbiasa dengan pertemuan-pertemuan yang cuma sebentar seperti ini. Tapi ketika selepas jam 2 dini hari Sandra mendengar derum mobil laki-laki itu keluar rumahnya, ia benar-benar tak kuasa menahan air matanya. Dulu, saat ia seusia Bita, Sandra selalu pura-pura tertidur ketika ada laki-laki keluar masuk rumahnya. Apakah Bita kini juga pura-pura tak mendengar suara mobil itu pergi?

Sandra ingin semua ini akan berjalan baik seterusnya. Ia berusaha serapi mungkin menyembunyikan. Ia tak ingin Bita sedih. Ia ingin Bita menikmati masa-masa sekolahnya dengan nyaman dan tak cemas menghadapi pelajaran mengarang. Sandra kembali merasakan saat-saat paling sedih masa kanak-kanaknya, saat ia tahu kalau ibunya pelacur. Sungguh, ia tak ingin Bita tahu, kalau ibunya hanya istri simpanan.

Sandra merasa bantalnya basah. Ia berharap, sungguh-sungguh berharap, para peri pemetik air mata itu muncul malam ini.

Yogyakarta, 2009
Seluruh kisah masa kanak-kanak Sandra bisa dibaca pada cerpen 
Pelajaran Mengarang, karya Seno Gumira Ajidarma.
Sumber: Kompas, Oktober 2009

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook