Friday, July 29, 2011

Mengenang Kuntowijoyo

Kesederhanaan dan Kematangan Berpikir Kuntowijoyo

Kuntowijoyo sejak mula dikenal sebagai penulis prosa yang ulung. Namun, ternyata ia pun penyair yang hebat. Sebagai penyair, Kuntowijoyo telah menghasilkan tiga kumpulan sajak, Suluk Awang Uwung (1975), Isyarat (1976), dan Makrifat Daun, Daun Makrifat (1995).

Mengenai kepenyairannya ini, Ajip Rosidi (1977:543) pernah mengatakan, “Kalau kebanyakan pengarang lain mulai dengan menulis sajak, kemudian menjadi mantap dalam menulis prosa, maka sebaliknya dengan Kuntowijoyo. Ia, sejak masih duduk di SMA, menulis cerpen, kemudian drama, esai, dan roman. Baru ketika bermukim di Amerika Serikat untuk mencapai gelar M.A dan Ph.D., ia menulis sajak, sekaligus dua buah kumpulan.”

Dua buah kumpulan sajak yang dimaksud Ajip Rosidi itu ialah Isyarat dan Suluk Awang Uwung. Di dalam dua antologi itu kita disuguhi berbagai pengalaman Kuntowijoyo ketika ia tengah melanjutkan pendidikan di University of Connecticut (1974) hingga mendapat gelar M.A dan di Columbia University (1980) hingga mendapat gelar Ph.D. Sedangkan pada Makrifat Daun, Daun Makrifat kita dihadapkan pada berbagai pengalaman religius Kuntowijoyo selama hidupnya, mungkin juga ketika selama ia sakit.

Sekarang, jika Kuntowijoyo dikatakan sebagai sosok yang “suntuk-serius” dalam menulis sastra tidaklah berlebihan. Buktinya adalah beberapa penghargaan dan hadiah sastra telah diterimanya. Tidak hanya untuk karya prosa, tetapi juga untuk karya drama. Bahkan ketika masih mahasiswa di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM, dua hadiah bergengsi diraihnya, yaitu Hadiah Harapan dari Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (BPTNI) untuk drama Rumput-Rumput Danau Bento (1968) dan Hadiah Pertama Sayembara Menulis Cerpen di Majalah Sastra untuk cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1968). Masih semasa mahasiswa, ia pun pernah menjabat Sekretaris Lembaga Kebudayaan Islam. Kemudian, sampai 1971, ia menjadi Ketua Studi Grup Mantika. Dari dua wadah kesenian itulah ia bergaul dengan para tokoh muda teater, seperti Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, dan Salim Said. Selepas itu, setelah menjadi dosen di Fakultas Sastra UGM, ia kembali mendapat Hadiah Sayembara Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta untuk drama Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda dan Cartas (1972), Hadiah Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internasional untuk novel Pasar (1972), dan Hadiah Penulisan Lakon Dewan Kesenian Jakarta untuk drama Topeng Kayu (1973).

Namun, benarkah dunia sastra yang ia geluti itu semua bermula dari sesuatu yang “sederhana”? Pertanyaan ini cukup menggelitik karena dalam lampiran Kata Sambutan saat menerima SEA Write Award 1999, Kuntowijoyo pernah menulis, “... Buru-buru harus saya katakan bahwa pada dasarnya saya menulis dengan intuisi, tidak dengan formula apapun. Artinya, cerita rekaan begitu saja keluar secara langsung, alamiah, dan sederhana… Cerita-cerita selalu mulai dengan gagasan yang sangat sederhana…”. Benarkah karya-karyanya itu dimulai dari sesuatu yang “sederhana” dan “tanpa formula”? Ah, kita endapkan saja pertanyaan itu. Saya dan Anda tentunya sependapat bahwa apa yang dinyatakannya itu sekedar ungkapan dari seorang yang rendah hati. Saya yakin, secara perlahan, ketika Anda membaca karya-karya Kuntowijoyo, jawabannya akan terkuak sendiri.

Saya kok yakin betul bahwa gagasan cerita yang “sederhana” itu telah mengendap dalam pikiran Kuntowijoyo lalu diungkapkannya dengan “formula” tertentu. Sebab, ia sendiri mengatakan, “Saya cenderung mengendapkan gagasan cerita untuk ‘beberapa lama’, sampai saya yakin bahwa cerita itu ada harganya untuk diketahui orang lain. Maka menoleh ke belakang terhadap pekerjaan saya, ternyata saya juga menggunakan semacam for mula tetapi tidak wantah begitu saja...”. Di lain waktu, saat dimintai pendapatnya tentang bagai mana mengekspresikan pengalaman kreatif, ia pun pernah berkata, ".... Di dalam mengekspresikan endapan pengalaman, sebagai sastra wan, kita harus mengekspresikannya sebaik mungkin. Ingat, di dalam setiap endapan pengalaman ada nilai-nilai estetik dan profetik yang menyadarkan kita pada kehadiran Yang Maha Kuasa!"

Itulah sosok Kuntowijoyo, seorang pemikir yang cenderung menunggu gagasan sampai matang betul. “Matang”, menurutnya, berarti semua unsur cerita menjadi lengkap, tetapi tetap terasa spontan, wajar, tanpa beban. Secara berkelakar, Kuntowijoyo mengungkapakan bahwa kelengkapan unsur-unsur sebuah cerita dapat dirumuskan sebagai three in one—persis seperti shampoo dengan krim pem bersih, kondisioner rambut, dan anti ketombe. Ketiga unsur itu—yang banyak dijadikan acuan analisis sosiologis terhadap karya-karya Kuntowijoyo—ialah strukturalisasi pengalaman, strukturalisasi imajinasi, dan strukturalisasi nilai.

Tidak saja dalam menulis karya sastra, ketika menuangkan “pemikiran kesejarawanannya” pun, Kuntowijoyo selalu mematangkan buah pikirannya sebelum dituangkan dalam tulisan-tulisan. Lihatlah buku kumpulan esainya Radikalisasi Petani (1993, 2002). Kuntowijoyo tidak sekedar menulis fakta empiris. Ia memaknai sebuah peristiwa sejarah secara kritis lalu dimatangkannya untuk memompa semangat keperintisan. Sebab baginya, dalam sejarah, “..apa yang sebenarnya telah terjadi ialah sebuah fakta psikologis… Tantangan kita, ialah bagaimana kita memahami peristiwa itu, sekalipun tanpa komitmen sejarawan tentang kebenaran sebuah keajaiban….”

Kematangannya sebagai sejarawan itu pun tercermin dalam buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), dan Identitas Politik Umat Islam (1997).

Kembali tentang konsep “sederhana” Kuntowijoyo dalam menulis prosa, demikian jugakah dengan konsep karya-karya puisinya? Di dalam puisi-puisinya, selain menangkap kesederhanaan dan kematangan, saya juga menangkap ungkapan-ungkapan liris, namun penuh simbol. Bacalah sebuah puisi dalam antologi puisi Isyarat (1976) berikut: “Di makam/ Ruh tidak bersatu dengan bumi/ Mereka kembali ke Kekosongan/ Sedang bunga kemboja/ Mengabarkan hari sudah sore/ Selalu sudah sore/Pada penghujungnya....”. Dalam Suluk Awang Uwung, ia pun menulis ini: Jantung berdetak/ menggugurkan impian/ dari balik sepi/ merpati putih/ hinggap di pucuk kabut/ Ketahuilah:/ Kaurindukan kekosongan

Begitu liris dan simbolis! Simbol yang terdapat dalam puisi-puisinya secara esensial mampu menggiring hati dan pikiran kita ke sebuah renungan yang liris tentang kematian. Di tangannya bunga kemboja dan merpati putih pun mampu mengabarkan kematian itu. Ya, dari sejumlah puisi yang ditulisnya, ia sering menggiring pembaca ke arah kesadaran religius bahwa manusia itu fana adanya.

Mari, kita lihat juga sisi lain dari Kuntowijoyo, namun masih dalam bingkai “kesederhanaan”-nya. Ketika menanggapi sistem kenegaraan di Indonesia secara teknis, Kuntowijoyo berpendapat bahwa negara mestinya juga negara “sederhana”, yang hanya mengurus masalah teknis, yang lahiriah (tangible). Masalah nonteknis diserahkan ke masyarakat. Katanya, negara tidak perlu mengurus segala macam urusan masyarakat yang bersifat teknis. Misalnya, negara tidak perlu mengurus isi kesenian. Pencekalan seniman, pelarangan buku, penolakan izin pertunjukan. Kecaman resmi terhadap bentuk kesenian dan campur tangan lain harus ditiadakan. Tetapi menurutnya, pengecualian tetap diperlukan, misalnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai hukum. Negara sederhana, tegasnya, adalah pelaksanaan sila keempat Pancasila. Ia melihat di masa Orde Baru, negara adalah seperti gurita yang tangannya menjangkau ke mana-mana. Rakyat takut berbuat salah. Kooptasi negara terhadap partai politik membuat legalitas kekuasaan tak- terbantah.

Pemikirannya tentang “negara sederhana” itu, tidak diungkapkan dalam acara yang sederhana-biasa. Kuntowijoyo mengungkapkannya dalam sebuah makalah yang disajikan pada saat acara tasyakuran ulang tahun ke-53 Kemerdekaan RI, Selasa malam, tanggal 18 Agustus 1998, ketika gempita reformasi masih hangat di telinga. Makalahnya itu dibacakan oleh istrinya, Ibu Ning (Dra. Susilaningsih, M.A). Saya terharu ketika itu, Kuntowijoyo berada di sebelah istrinya selama makalah dibacakan. Waktu itu ia masih dalam proses penyembuhan akibat serangan stroke. Acara tasyakuran itu sendiri diselenggarakan Pusat Pengkajian dan Studi Kebijakan (PPSK) Yogyakarta, lembaga yang didirikan oleh Kuntowijoyo tahun 1980 bersama Prof. Dr. Amien Rais dan Dr. Chairil Anwar. Pada kesempatan itu pula ia mengatakan harapannya terhadap bangsa Indonesia,”.... bangsa Indonesia sekarang harus mengedepankan paradigma kenegaraan jauh ke depan, yakni negara rasional. Budaya politik masa depan harus lintas agama dan lintas suku. Nasionalisme politik masa depan adalah nasionalisme politik yang mengakui pluralitas. Superioritas suku bangsa (Jawa atas sabrang, pri atas non-pri, non- pri atas pri) harus dihilangkan.”

Memang, mengikuti pemikiran Kuntowijoyo, kita akan melihat sosok dari seorang yang beridentitas multidimensional. Ia begitu fasih berbicara tentang kenegaraan dan begitu lancar berbicara tentang Islam dan masa depannya. Ia juga dapat menjalani hidup di beragam “habitat”. Ia sangat dihargai keilmuannya di dunia akademis sekaligus mampu membawa diri di lingkungan yang, katanya, selalu menuntutnya untuk menjadi “humoris”. Ia pun menyandang sejumlah identitas dan julukan. Ia adalah guru besar (emeritus), sejarawan, budayawan, sastrawan, penulis-kolumnis, intelektual muslim, aktivis, dan khatib. Dan, tentunya, ia adalah seorang suami yang baik dan seorang ayah yang bijaksana bagi dua putranya, Ir. Punang Amaripuja, S.E., M.Sc. dan Alun Paradipta. Pada bulan Januari 1992, ia terserang radang selaput otak kecil atau Meningo encephalitis, yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Sejak itu berbagai penyakit datang dan pergi menghampiri dirinya. Namun Tuhan Maha Pemurah, secara fisik kelihatan sakit, ternyata tidak demikian dengan daya kreatifnya yang terus meledak-meledak.

Bayangkan, kendati sebagian hari-harinya dijalani dalam keadaan sakit, tulisannya masih terus mengalir. Beberapa buku lahir dari tangannya dan belum terhitung tulisannya di berbagai media massa. Buku-bukunya mendapat pujian dari berbagai kalangan intelektual. Ia disebut sebagai intelektual yang mampu menerjemahkan konsep perjuangan ke dalam langkah nyata. Hal itu tercermin dalam buku Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991) dan Identitas Politik Umat Islam (1997). Pada masa itu, karya sastra yang lahir ditangannya, antara lain Impian Amerika (1998), Hampir Sebuah Subversi (1999), Mantra Pejinak Ular (2000), dan Fabel Mengusir Matahari (2000). Menjelang akhir hayat, menurut Ibu Ning, Kuntowijoyo pun masih bersemangat menulis. Tidak ada tanda-tanda ia akan pergi selamanya dalam waktu dekat. Aktivitas kesehariannya hingga Minggu malam, tanggal 20 Februari 2005, masih biasa-biasa. Pagi-pagi sebelum dibawa ke rumah sakit, ia sempat melanjutkan mengetik buku Mengalami Sejarah. Bahkan, ia pun bercerita ingin menulis buku tentang Muhammadiyah untuk menyambut muktamar. Pada Senin, tanggal 21 Februari 2005, ia menderita diare. Lalu dia dibawa ke Rumah Sakit Sardjito. Ia dirawat di Paviliun Cendrawasih hingga sore. Sekitar pukul 20.00, kondisinya menurun dan harus dirawat di intensive care unit (ICU). Selasa, tanggal 22 Februari 2005 pukul 16.00, ia meninggalkan kita untuk selamanya. Meningalkan budi baik dan karya-karyanya.

Rawamangun, 22 Februari 2006
Ganjar Hwia

Tuesday, July 26, 2011

Novel Populer vs Novel Serius

Novel Populer dan Novel Serius

Maman S. Mahayana

Pertanyaan yang banyak muncul di kalangan guru sastra yang menyangkut novel populer adalah: kriteria apa yang menjadi ciri pembeda antara novel serius dan novel populer; bagaimana menangkap dan menentukan perbedaan-perbedaan kedua jenis novel itu Pertanyaan berikutnya menyangkut keraguan: apakah para siswa dibolehkan juga membaca novel-novel populer atau hanya novel serius saja? Pertanyaan terakhir berhu-bungan dengan kemungkinan bacaan itu berdampak negatif: apakah novel populer dapat mendatangkan pengaruh buruk bagi siswa atau tidak?

Sebagai usaha untuk menumbuhkan minat membaca dan meningkatkan apresiasi sastra para siswa, guru sastra hendaklah bersikap arif. Seyogianya kita tidak melarang para siswa untuk membaca novel jenis apapun, karena masalah itu akan dapat disikapi oleh para siswa sendiri sejalan dengan bertambahnya wawasan dan meningkatnya apre-siasi mereka terhadap karya sastra. Semakin luas wawasan seseorang dan semakin tinggi tingkat apresiasinya, semakin selektif dan mendalam pula tuntutan seseorang dalam me-nentukan bahan bacaannya.
Demikianlah, jika ada seorang siswa yang membaca novel-novel populer, kita tak perlu terlalu mengkhawatirkan dampak negatifnya. Tugas kita tinggal menawarkan, kar-ya-karya sastra apa dan karya siapa saja yang sepantasnya dibaca. Mengapa karya-karya tertentu yang sepantasnya dibaca dan mengapa pula yang lainnya tidak? Apa manfaatnya dan apa pula alasannya? Untuk menjawab beberapa pertanyaan itulah, kita perlu me-ngetahui beberapa ciri yang membedakan novel serius dan novel populer.

Seperti juga novel serius, novel populer pun ada yang disajikan secara baik, ada pula yang tidak. Ada novel populer yang bagus, ada pula yang buruk. Meskipun demiki-an, menurut para pakar kebudayaan populer (popular culture), novel populer dan semua karya kebudayaan populer, berangkat dari niat komersial. Tujuan utamanya adalah meng-hasilkan sesuatu yang bersifat materi. Mengingat tujuan utamanya komersial, maka kar-ya-karya populer ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat. Guna mencapai sasaran itu, unsur hiburan menduduki tempat yang sangat penting.

Akibat unsur hiburan begitu ditonjolkan, maka unsur lainnya sering diabaikan. Pe-nekanan yang sedemikian rupa terhadap unsur hiburan inilah yang kemudian banyak men-jerumuskan pengarangnya untuk mengobrol hiburan murahan, bahkan cenderung rendah dan mengabaikan norma-norma kesusilaan. Novel-novel yang mengeksploitasi pornografi misalnya, termasuk ke dalam jenis novel populer yang buruk yang menampilan hiburan dengan selera rendah.

Apakah novel-novel karya Mira W., Marga T., Ike Soepomo, V. Lestari -sekadar menyebut beberapa nama- termasuk jenis novel seperti itu? Seperti telah disebutkan, novel populer ada yang baik ada pula yang buruk. Karya-karya para pengarang di atas, dapatlah dikatakan sebagai novel populer yang baik. Lalu atas dasar apa novel itu disebut populer dan mengapa tidak dimasukkan ke dalam novel serius?

Ciri umum yang paling mudah kita tangkap dalam novel populer adalah bentuk covernya yang sering menonjolkan warna cerah, ilustrasi agak ramai, gambar wanita de-ngan tetesan air mata atau gambar pemuda yang sedang memeluk kekasihnya. Indikator luar ini tentu saja belum dapat sepenuhnya untuk menentukan sebuah novel populer atau tidak. Oleh karena itu, perlu kita mencermati pula indikator dalamnya yang menyangkut unsur-unsur intrinsik novel yang bersangkutan. Mari kita periksa!

Dari segi penokohan, novel populer umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang tidak jelas identitas tradisi-kulturalnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nama tokohnya, seperti Fredy, Sisca, Frans, Boy, Vera, Tommy atau Yance. Mengingat nama-nama itu ti-dak berakar pada kultur daerah, maka identitas sebagian besar tokohnya ditandai dengan latar perkotaan. Adapun tema-tema yang diangkat umumnya menyangkut percintaan para remaja yang masih bersekolah atau mahasiswa. Jika tokoh-tokohnya seperti itu, maka konflik yang muncul di antara tokoh itu berkisar pada status sosial orang tua masing-masing, perebutan pacar, atau persoalan-persoalan remeh-temeh di sekitar usia pubertas.

Dari segi latar tempat dan latar peristiwa, novel populer cenderung menampilkan latar kontemporer dengan berbagai peristiwa yang aktual. Karena mengejar aktualitas dan kontemporer itu, maka latar dalam novel-novel populer akan terus berubah sesuai dengan zamannya. Cintaku di Kampus Biru (dunia kampus), Ali Topan Anak Jalanan (dunia SMA) atau Lupus (dunia SMP/SMA), merupakan contoh latar novel populer yang berubah sesuai dengan kondisi dan suasana zamannya. Sebelum itu, novel-novel tahun 1970-an karya Motinggo Busye, Ali Shahab, Abdullah Harahap, menampilkan latar kehi-dupan rumah tangga yang berantakan.

Ciri lain yang cukup menonjol dalam sastra populer adalah tampilnya tokoh-to-koh yang stereotipe. Tokoh ibu tiri, misalnya, akan tampil dengan sifat-sifatnya yang pilih kasih, kejam, judes, munafik, dan sifat buruk lainnya. Tokoh anak-anak remaja, tampil dengan hura-huranya, pesta, rebutan pacar, darmawisata, dan kebiasaan-kebiasaan para remaja, termasuk mungkin juga dengan tawurannya. Dalam kenyataannya, tidak semua ibu tiri berperilaku buruk yang seperti itu. Demikian juga, tidak semua remaja mempu-nyai kebiasaan demikian. Akibatnya, tidak ada kemungkinan lain bagi pembaca untuk memperoleh gambaran yang khas, unik, dan berbeda dengan kelaziman umum.

Tipe tokoh yang stereotipe itu akan dihadapkan dengan problem yang sederhana, tanpa pendalaman. Tujuannya memang agar pembaca tidak perlu berkerut dahi, berpikir kritis, karena ia lebih menekankan pada unsur hiburannya. Bahkan, tidak jarang novel po-puler menyajikan mimpi-mimpi indah dan semu yang menggoda perasaan pembaca.

Dalam hal itu, perasaan pembaca sengaja dimanfaatkan dan dieksploitasi, agar pembaca seolah-olah menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah sebabnya, pemihakan pengarang kepada tokoh-tokoh yang digambarkannya, sering kali begitu jelas. Pembaca tidak diberi peluang untuk memperoleh penafsiran lain, karena memang tidak ada kemungkinan munculnya ambiguitas atau tafsir ganda. Makna dan amanat yang ditampilkannya bersifat tunggal. Itulah amanat yang banyak terdapat dalam novel populer. Dengan begitu, akhir cerita tidaklah terlalu sulit untuk ditebak, karena memang sengaja dibuat demikian.

Mengingat sastra populer lebih mementingkan kesenangan, kesederhanaan, pe-nyelesaian persoalan yang gampang dan selalu tuntas, dan tidak merangsang pembacanya untuk berpikir, maka dikatakan pula bahwa sastra populer sebagai bacaan untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan; bacaan untuk pembantu rumah tangga, anak-anak atau remaja, dan bukan untuk kaum terpelajar.

***

Apa yang menjadi ciri-ciri novel populer, justru bertentangan dengan ciri-ciri novel serius. Dalam novel serius, pembaca dirangsang untuk berpikir, diperdayai dengan menyelimuti amanat dan pesan pengarangnya. Karena tersembunyinya pesan itu, terbuka peluang bagi pembaca untuk memberi penafsiran yang bermacam-macam. Tema cerita yang rumit, tokoh-tokoh yang mengalami konflik batin dan perubahan sikap. serta latar cerita yang turut mendukung problem yang dihadapi tokoh-tokohnya, justru memberikan banyak hal kepada pembaca. Mungkin pembaca mendapatkan informasi kesejarahan, pe-ngetahuan, pendalaman, dan makna kehidupan manusia.

Secara ringkas, novel serius umumnya menampilkan tema yang kompleks. Meski-pun tak bertema besar atau universal, persoalannya disajikan secara rumit, sehingga me-merlukan penyelesaian yang juga rumit, tidak gampangan, atau mungkin juga tidak ada penyelesaian (open ending). Selain itu, hubungan antar-unsur, seperti tema, latar, tokoh, dan alur, memperlihatkan kepaduannya (koherensi). Dengan demikian, setiap unsurnya hadir secara fungsional; saling mendukung. Dalam novel serius, pengarang cenderung memanfaatkan kebebasan berkreasi (licentia poetica). Dengan kebebasan itu, pengarang akan selalu berusaha menampilkan hal yang baru dengan tetap menjaga orisinalitasnya.

Dalam studi kebudayaan (cultural study), novel serius termasuk ke dalam katego-ri produk kebudayaan tinggi atau elite (high culture), sedangkan novel populer termasuk ke dalam produk kebudayaan massa atau populer (mass culture/popular culture). Kebu-dayaan tinggi atau elite dihasilkan dan diminati hanya oleh kalangan yang sangat terbatas. Pemahaman terhadap produk kebudayaan elite menuntut khalayak yang terlatih, berwa-wasan, dan mempunyai tingkat apresiasi yang tinggi. Mengingat tuntutannya yang demi-kian, maka novel serius dianggap hanya dapat dinikmati oleh kalangan terpelajar.

***

Adanya ciri-ciri yang membedakan novel serius dengan novel populer, tidak ber-arti kita harus mempertentangkan keberadaan kedua jenis novel itu. Tidak perlu pula kita memusuhi keberadaan novel populer, karena novel populer dan novel serius, masing-ma-sing berada dalam kedudukan dan tempatnya sendiri. Yang penting bagi kita adalah pe-mahaman mengenai tempat dan kedudukan masing-masingnya. Dengan pemahaman ini, persoalannya tinggal terserah kepada khalayak pembaca; membaca novel populer akan memperoleh hiburan semata-mata, dan mungkin juga hiburan dengan selera rendah jika novel populer itu tidak baik; dan membaca novel serius, tidak hanya akan memperoleh kenikmatan estetik, tetapi juga pencerahan pikiran dan rasa kemanusiaan.

Dalam konteks apresiasi sastra, tentu saja seyogianya kita memilih novel serius, karena di dalamnya sangat mungkin kita akan memperoleh banyak hal; sangat mungkin pula terjadi beraneka ragam penafsiran. Dengan demikian, terbuka peluang untuk berbe-da pendapat, berargumen, dan menemukan alasan-alasan yang logis. Meskipun demikian, jika kita hendak menggunakan novel populer, maka sepatutnya karya itu termasuk novel populer yang baik. Pemanfaatannya sebaiknya bukan untuk apresiasi, melainkan untuk meningkatkan minat membaca atau sekadar memperoleh hiburan semata-mata.

(Maman S. Mahayana, Pengajar FSUI, Depok)
Sumber: MHAYANA-MAHADEWA.COM

Saturday, July 23, 2011

Kitab Omong Kosong Seno Gumira Ajidarma:

Sebuah Teks Postkolonial

Apa yang menyebabkan novel Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma mendapat penghargaan dari dewan juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2005 yang diketuai Prof. Dr. Riris K. Toha-Sarumpaet--yang juga Ketua Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat? Apakah karena bahasa yang digunakan Seno demikian memikat atau karena isinya --yakni pesan (message)-- yang luar biasa? 
Kalau kita bandingkan novel Kitab Omong Kosong dengan novel Negeri Senja --karya Seno lainnya yang juga mendapat penghargaan KLA 2004-- akan tampak bahwa bahasa yang digunakan Seno dalam Negeri Senja sebenarnya lebih simbolik, lebih merupakan bahasa metaforis yang memperkuat makna tekstual novel tersebut.

Lantas, apa yang membuat Kitab Omong Kosong terpilih sebagai novel asli Indonesia terbaik pada 2005 lalu serta mendapatkan hadiah Rp 100 juta? Novel yang memiliki ketebalan 623 halaman ini ternyata memiliki message yang luar biasa. Dalam Kitab Omong Kosong, Seno mempertanyakan kembali nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan keadilan yang selama ini sudah dianggap mapan --sebuah sudut pandang yang menggunakan perspektif postkolonial, dengan mendekonstruksi sebuah sistem yang telah ada. Kebenaran, menurut Seno melalui salah satu tokoh utamanya, Satya, hanyalah sebuah dongeng. Kebenaran tidak bisa dipegang dan hanya bisa dikira-kira, dengan cara-cara yang disetujui bersama. Tapi, tetap saja [kebenaran itu] bersifat kira-kira, dan karena sifatnya yang kira-kira itu, maka sifatnya hanya untuk sementara (hlm. 166).

Dengan demikian, kebenaran yang ada adalah kebenaran relatif yang sangat bergantung kepada siapa yang mengemukakan dan adanya pengakuan publik mengenai hal itu. Kebenaran itu akan terus dipegang hingga ada yang membuktikan kekeliruannya. Karena itulah tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar, sebab kebenaran mutlak itu hanya melekat pada Tuhan.

Sama halnya dengan kebenaran, persoalan keadilan dan keindahan pun menjadi relatif dan sangat bergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan serupa itulah Seno Gumira Ajidarma mendekonstruksi kitab Ramayana karya Walmiki dan kemudian merekonstruksinya kembali menjadi Kitab
Omong Kosong.

Setidaknya ada tiga hal yang didekonstruksi Seno dari kitab Ramayana Walmiki itu. Pertama, karakter Sri Rama--yang merupakan titisan Dewa Wisnu--dan Laksmana, yang digambarkan sebagai tokoh agung dalam Ramayana, berubah menjadi tokoh yang bengis, tidak mengenal rasa peri kemanusiaan, sekaligus memperlihatkan diri mereka sebagai sosok penguasa yang tidak bijak dalam Kitab Omong Kosong. Di tangan Seno, Rama dan Laksmana digambarkan sebagai orang yang telah terpengaruh oleh apa yang disebut Seno sebagai “gelembung Rahwana” sehingga menyebabkan keduanya, bahkan seluruh rakyat Ayodya, menjadi jahat atau pun menjadi tokoh antagonis dalam cerita itu.

Kedua, sebagaimana lazimnya karya seni produk postkolonial, Seno menggunakan perspektif baru dalam melihat persoalan kehidupan. Suara-suara yang selama ini terpinggirkan atau tersubordinasikan dimanfaatkan dengan baik oleh Seno dalam Kitab Omong Kosong. Suara kaum perempuan, misalnya, yang diwakili Sinta--tokoh yang demikian pasrah dalam Ramayana--keluar dengan deras bagaikan air yang membludak dari bendungan, sehingga sangat menusuk perasaan siapa saja (termasuk perasaan siluman yang digambarkan Seno juga memiliki hati). “Kalau dia memang cinta kepadaku, mengapa dia tidak terima saja aku apa adanya, meski seandainya Rahwana telah memperkosa diriku? Kalau dia memang cinta kepadaku, bahkan jika aku telah berbuat seperti seorang pelacur kepada Rahwana, yang menyerahkan tubuh demi keselamatanku, tak juga Rama harus menimbang-nimbang diriku. Cinta adalah cinta. Terimalah aku seperti apa adanya,” gerutu Sinta (hlm. 26).

Ketiga, terkait dengan gugatan dari kaum pinggiran, Seno juga menggunakan manusia biasa, seperti Maneka (pelacur) dan Satya (penggembala) sebagai tokoh utama dalam novel ini. Sementara manusia agung (uebermensch) seperti Rama, Laksmana, dan bahkan Walmiki dihadirkan sebagai sasaran kritik atau gugatan suara-suara subaltern itu. Satya dan Maneka merupakan simbol orang-orang kecil yang selama ini menjadi korban dan ingin menuntut haknya.

Satya, misalnya, tidak berdaya setelah menyaksikan sendiri bagaimana pasukan berkuda yang dipimpin Laksmana dari kerajaan Ayodya membumihanguskan desanya di kerajaan Mantura. Ayah, ibu, saudara, tetangga, bahkan binatang-binatang ternak yang ada di desanya semuanya dibunuh oleh pasukan Laksmana.

Sementara Maneka adalah seorang perempuan yang sejak berumur sembilan tahun dititipkan ayahnya di sebuah rumah bordil. Apalagi pada punggungnya terdapat rajah atau tatto kuda--yang diyakini banyak orang sebagai penyebab malapetaka. Ketika Maneka berhasil dilarikan dari rumah bordil oleh Sarita, sahabatnya, yang tidak tega menyaksikan Maneka diperkosa oleh seisi kota setelah tahu ada rajah kuda di punggung Maneka, maka ia memantapkan diri untuk segera mengubah nasibnya. Jalan yang ditempuh Maneka adalah mencari Walmiki, tukang cerita dan penulis Ramayana—sebuah buku yang berisi banyak korban berguguran akibat perang. Dan, setiap kali Maneka bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan, ia selalu mendapat petunjuk yang sama, bahwa Walmiki selalu berjalan ke arah matahari tenggelam.

Sejak itu pula Maneka yang ditemani Satya selalu berjalan ke arah senja. Tampak bahwa “senja” sering menjadi obsesi Seno Gumira Ajidarma dalam bercerita. Dan, bisa jadi, senja menjadi inspirasi karya-karyanya. Dalam beberapa karyanya, baik cerpen maupun novel, Seno memang sering memanfaatkan latar senja.

Lantas, apa itu Kitab Omong Kosong? Kitab ini lahir dari hasil perenungan Hanoman tentang hidup dan kehidupan itu sendiri. Dalam Kitab Omong Kosong ini, Hanoman dan Walmiki menjadi tokoh yang cukup penting, karena keduanya berkaitan langsung dengan pengembaraan Satya dan Maneka.

Walmiki demikian berarti bagi Maneka yang ingin mengubah nasibnya. Saat bertemu Walmiki, Maneka meminta agar Walmiki mengubah ceritanya agar ia tidak bernasib sial. Gugatan semacam ini juga keluar dari tokoh-tokoh figuran yang tampil sebentar dalam kitab Ramayana dan hanya untuk dimatikan oleh pengarangnya. Misalnya, Kapimoda, Trijata, Talamariam, Bubukshah, dan Gagang Aking. Terhadap semua gugatan itu, Walmiki mengatakan bahwa dirinya sudah lupa dengan tokoh-tokoh figuran semacam itu, apalagi tokoh yang hadir di tengah massa dan tidak memiliki karakter tertentu. Walmiki menjelaskan bahwa sebenarnya tokoh-tokoh itu, termasuk Maneka, bisa menentukan nasibnya sendiri. Kepada seorang tokoh yang tidak jelas karakternya, Walmiki mengatakan, “Tulislah ceritamu sendiri, maka engkau akan menjadi sebuah pribadi.”

“Aku tidak bisa menulis.”

Walmiki menjadi sangat jengkel. “Kalau begitu engkau sial! Sudahlah! Pergilah!” (hlm. 515).

Sementara tokoh Hanoman sangat berpengaruh dalam proses pencarian makna hidup yang dilakukan Satya, terutama karena Hanoman telah menulis Kitab Omong Kosong selama ia melakukan pertapaan. Hal itu dilakukan Hanoman setelah ia berbeda jalan dengan kebijakan politik Rama yang ingin menjadikan Ayodya sebagai kerajaan adidaya (super power), yang ingin mengkooptasi semua kerajaan yang ada di seluruh anak benua.

Nama kitab itu, Kitab Omong Kosong, tidak keliru sebagai kunci segala bidang dalam ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan itu sebenarnya omong kosong saja. “Kalau ilmu pengetahuan hanya suatu cara menggambarkan kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri, sementara kenyataan itu sendiri tidak mungkin diketahui, maka ilmu pengetahuan itu sendiri menggambarkan apa kalau bukan kekosongan?” (hlm. 203). Pada akhirnya, Maneka merasa yakin bahwa ia bisa mengubah nasibnya yang malang. Hal itu terjadi setelah Maneka bertemu Walmiki secara tak sengaja di suatu tempat, di sebuah padang rumput yang tak jauh dari Gurun Thar, tempat Maneka dihukum rajam oleh bandit-bandit Gurun Thar. Demikian pula dengan Satya, yang telah kehilangan segala-galanya, kini sangat paham bagaimana cara memaknai hidup setelah membaca Kitab Omong Kosong tulisan Hanoman yang terdiri dari lima bagian itu. Isi Kitab Omong Kosong itu tercermin dari judul masing-masing bagian, yakni “Dunia Seperti Adanya Dunia”, “Dunia Seperti Dipandang Manusia”, “Dunia yang Tidak Ada”, “Mengadakan Dunia”, dan “Kitab Keheningan”--yang merupakan puncak pencapaian dari proses panjang pencarian makna hidup. Ternyata, di dalam kitab bagian kelima itu tidak ada satu huruf pun. Kosong. Dan, hanya berisi lembaran-lembaran daun lontar yang bersih tak berhuruf. Dengan kekosongan itu pula Satya dan Maneka membaca dunia, membaca alam semesta.

Seno Gumira Ajidarma yang dalam Kitab Omong Kosong “mengidentifikasikan” dirinya sebagai Togog, mengatakan bahwa ia “tahu diri betapa cerita ini tidak menarik, dibuat dengan ngawur, tergesa-gesa, terkantuk-kantuk, berlari dari kota ke kota, tanpa pernah mau belajar, ditulis tanpa perenungan, berpura-pura pintar, padahal tidak ada isinya sama sekali…. Tolong sampaikan agar cerita ini tidak usah dibaca, karena membuang waktu, pikiran, dan tenaga. Sungguh hanya suatu omong kosong belaka (hlm. 619). Sebuah epilog yang nakal, tapi bikin penasaran.

Ironis, sekali-sekali kita memang harus mendengar suara Togog dan tidak harus mendengar suara Semar terus. Harapan seperti itu memang selayaknya kita renungkan. Namun, dalam hal Kitab Omong Kosong ini, sebaiknya kita jangan percaya dulu dengan apologi Togog.


Asep Sambodja (Universitas Indonesia)

Friday, July 22, 2011

Umar Kayam: Para Priyayi (Sebuah Novel)

Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi. Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang.

Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih. Hubungan Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut.

Lantip selalu ikut membantu menyiapkan dagangan tempe, dan ikut menjajakan nya berjalan di samping atau di belakang Mboknya menyelusuri jalan dan lorong kota. Lantip ingat bahwa dalam perjalan itu sengatan terik matahari Wanagalih. Wanagalih memang terkenal sangat panas dan rasa haus yang benar-benar mengeringkan tengorokan. Sekali waktu Lantip pernah merengek kepada Emboknya untuk dibelikan jajanan. Dengan ketus Emboknya menjawab dengan “Hesy! Ora usah”, dan Lantip pun terdiam. Lantip tahu Emboknya, meskipun murah hati juga sangat hemat dan tegas. Dia akan lebih senang bila kami melepas haus di sumur pojok alun-alun atau bila beruntung dapat sekedar air teh di rumah langganan Emboknya. Salah satu langganan Emboknya yang murah hati itu adalah keluarga Sastrodarsono. Mereka dipanggil oleh keluarga Sastrodarsono. Mereka menyebutnya dengan “Ndoro Guru” dan “Ndoro Guru Putri”. Waktu mereka melihat Embok datang membawa Lantip, Ndoro Guru menanyakan dengan nada suara sangatlah ulem-nya dan penuh wibawa.

“Lho, Yu, kok anakmu kamu bawa?”

“Inggih, Ndoro. Di rumah tidak ada orang yang menjaga tole.”

“Lha, kasian begitu. Anak sekecil itu kamu eteng-eteng ke mana-mana.”

“Habis bagaimana lagi, Ndoro.”

Lantip ingat bagaimana kedua suami-istri itu memandang mereka lama-lama. Lantip hanya menundukkan kepala saat percakapan berlangsung. Untuk seorang anak desa yang baru berumur enam tahun, dan anak bakul tempe yang sederhana, tidak mungkin ada keberanian baginya untuk mendongak ke atas, menatap muka priyayi-priyayi itu.

Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.

Dalam rumah tangga Ndoro guru, di samping harus membesarkan anak-anaknya, juga menampung beberapa kemenakan. Dengan kata lain rumah tangga Ndoro guru adalah rumah tangga khas priyayi jawa. Sang priyayi adalah juga soko guru keluarga besar yang berkewajiban menampung sebanyak mungkin anggota keluarga –jaringan itu ke dalam rumah tangganya. Rezeki dan pangkat itu jangan dimakan sendiri, tidak pantas, saru, bila ada seseorang anggota keluarga besar priyayi sampai kleleran, terbengkalai, jadi gelandangan, tidak menikmati pendidikan. Begitu sering saya dengar Ndoro guru menasehati anak-anaknya dan siapa saja.

Pada suatu sore sesudah persinggahan rutin mereka di jalan Setenan, mereka duduk di amben di depan rumah mereka di Wanalas. Emboknya kemudian mendudukan Lantip dihadapannya.

“Wage, Le, anakku yo, engger. Kamu sekarang sudah besar sudah enam tahun. Sudah waktunya kamu pergi dari desa yang kecil dan sumpek ini.”

“Pergi, Embok? Kita akan pergi?”

“Bukan kita. Kamu sendiri, Le.”

“Saya harus pergi ka mana, Embok?”

“Kamu akan nderek, ikut Ndoro Guru di Setenan, Le.”

“Kamu nderek Ndoro Guru supaya lekas pinter, lekas sekolah.”

Suatu hari sesudah Lantip tinggal bersama keluarga Sastrodarsono, Mbok berkunjung untuk menengok Lantip. Trdengar Ndoro Guru kakung menyatakan keinginannya agar Lantip disekolahkan karena waktu itu Lantip sudah berusia hampir tujuh tahun. Mereka juga mengusulkan agar mengganti nama Wage menjadi Lantip yang artinya cerdas, tajam otaknya.

Tidak terasa Lantip sudah duduk di kelas lima dan sudah membayangkan setahun lagi akan tamat sekolah Desa Karangdompol. Setamat sekolah akan banyak kesempatan meneruskan sekolah ke sekakel, schakel school kata orang Belanda, yaitu sekolah peralihan yang tujuh tahun lamanya. Lantip membayangkan setelah tamat sekolah akan bekerja dan dapat membalas budi Emboknya dan keluarga Ndoro Guru Sastrodarsono. Tapi, tiba-tiba datang kegoncangan itu! Pak dukuh datang dari Wanalawas dengan tergopoh-gopoh mengabarkan Emboknya meninggal karena keracunan jamur. Saat itu bagaimana hancur dan sedihnya hati Lantip.

Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia hanya bekerja sebagai guru bantu di Ploso. Dengan janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi.

Mereka tinggal setahun di Ploso yang kemudian membeli rumah kecil di jalan Satenan. Segera setelah mereka menempati rumah itu, Mereka dengan para pembantunya mulai mengembangkan tempat tinggal itu sebagaimana rumah tangga yang mereka inginkan yaitu rumah tangga priyayi. Akan tetapi bagaimanapun, naluri petani Sastrodarsono, dan juga Dik Ngaisah masih hadir juga dalam tubuh mereka. Mereka memilih untuk menggaji para buruh-buruh sawah untuk mengolah tegalan dan sawah yang ada di belakang rumahnya berbagai macam tanaman. Walaupun rumah tangga priyayi, mereka tidak boleh tergantung pada gaji. Jadi priyayi itu adalah menjadi orang terpandang kedudukannya di masyarakat bukan jadi orang kaya, tapi karena kepinterannya.

Anak-anak mereka lahir dalam jarak dua tahun antara seorang dengan yang lain. Noegroho anak yang paling tua, kemudian menyusul kelahiran adik-adik Noegroho, Hardojo dan Soemini. Anak-anaknya mereka masukan ke sekolah HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, kemudian meneruskan pelajaran ke sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS atau sekolah-sekolah guru menengah, seperti Sekolah Normaal, Kweek Sekul dan sebagainya. Menurut meneer Soetardjo dan meneer Soerojo di sekolahnya anak-anak mereka itu rata-rata bagus dalam bahasa Belanda dan berhitung, anak-anak meraka maju dan pintar di sekolah. Noegroho sangat senang dan kuat dalam sejarah dan ilmu bumi, Hardojo kuat dalam bahasa Belanda, mengarang dan berhitung, Soemini sangat fasih dalam bahasa Belandanya.

Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun hanya priyayi rendahan yaitu bekerja sebagai juru tulis di kabupaten. Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya mereka sekolahkan di HIS.

Soenandar, yang masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat yang sangat buruk walaupun berkali-kali sering dipukuli oleh Sastrodarsono dengan bambu agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri, dia juga sering mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang.

Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar.

Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya adalah gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena Soenandar, yang ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari Sastrodarsono.

Dalam mendidik dan membesarkan keponakan-keponakannya Sastrodarsono merasa tidak berhasil bila dibandingkan dengan anak-anak kandungnya, mereka mandapat pendidikan dan pekerjaan serta kedudukan yang baik.

Soemini yang sudah berumur dua belas tahun dan baru duduk di kelas lima. Dua tahun lagi dia sudah kelas tujuh umurnya empat balas tahun, dan sesudah tamat umurnya sudah dekat dengan lima belas tahun. Maka sudah sepantasnya dicarikan jodoh yang pantas buat Soemini. Soemini menikah dengan Raden Harjono, seorang mantri polisi, anak tunggal Kamas Soemodiwongso. Keluarga Sastrodarsono sangat terkesan dengan perilaku Raden Harjono yang sopan, luwes, ngganteng, baik hati, dan cerdas.

Dalam rumah tangganya Soemini mendapat goncangan karena mengetahui suaminya Harjono selingkuh dengan perempuan yang bekerja sebagai penyanyi keroncong Sri Asih. Ia mengadu kepada Sastrodarsono. Tetapi akhirnya dapat terselesaikan.

Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas dan yang paling banyak disenangi orang. Sekarang seperti adiknya, Soemini, sudah mapan mau membangun rumah tangga di tempatnya ia mengajar di Yogya dengan seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan menikah dengan Dik Nunuk yang nama lengkapnya adalah Maria Magdalena Sri Moerniati begitu nama calon istri Nugroho, guru sekolah dasar khusus untuk anak perempuan di kampung Beskalan ditolak oleh keluarga Sastrodarsono yang keluarganya beragama Islam.

Setelah kegagalan menikah dengan Dik Nunuk hidup Nugroho merasa tidak bergairah lagi. Prilaku dan sifat Dik Nunuk selalu membayangi kehidupannya dan apabila ia teringat dengan Nunuk ia selalu mampir kepada Bude Suminah di Penumping, sekedar membicarakan masa lalunya dengan Nunuk, karena berkat Bude Suminah itulah kedekatannya dengan Nunuk.

Pada suatu sore Nugroho sedang memimpin murid-murid kelas tujuh bermain kasti. Seperti biasa mereka bermain dengan gembira dan penuh gurauan. Kemudian giliran Soemarti yang memukul bola, tetapi saat berlari menuju hong kakinya terporosok dan jatuh. Soemarti mengaduh kesakitan dan cepat mendapat pertolongan Noegroho. Sejak kejadian itu Nugroho lebih sering berkunjung ke rumah Soemarti anak tunggal keluarga priyayi Brotodinomo seorang pensiunan panewu, kira-kira sederajat dengan asisten wedana di Wonogiri. Yang akhirnya mereka menikah dan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki yang bernama Harimurti.

Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon, hal ini dikarena bapaknya dituduh mendirikan sekolah liar, padahal Sastrodarsono mendirikan sekolah hanya untuk menolong orang-orang desa yang tidak bisa membaca dan menulis, “yang disebut sekolah di Wanalas itu usaha kami sekeluarga. Kami pengagum Raden Adjeng Kartini, Ndoro. Kami Cuma meniru beliau, Ndoro.” Begitu ucapan bapaknya masih terngiang di telinga Noegroho saat beralasan pada tuan Nippon.

Seperti biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.

Dalam mengurus rumah tangganya Noegroho tidak berhasil seperti kedudukannya yang priyayi yang terhormat dikalangan masyarakat seperti yang diharapkan oleh Sastrodarsono, karena Marie anak perempuan Noegroho hamil sebelum menikah. Maridjan, laki-laki yang menghamilinya, adalah laki-laki miskin, orang desa, kehidupannya pun cukup dengan mengontrak. Yang lebih parahnya lagi Maridjan itu pernah memperkosa pembantu rumah kost-nya sampai akhirnya menikah dan pada saat kenal dengan Marie, Maridjan dalam kasus perceraian. Tetapi berkat bantuan Lantip dan Hari akhirnya Maridjan menikahi Marie.

Persiapan pernikahan Marie dikalutkan dengan meninggalnya Mbah Putri. Saat pernikahan Marie, Sastrodarsono tidak dapat menghadirnya karena masih terlihat lemas (mengurusi meninggalknya Mbah Putri).

***

Gus Hari anak tunggalnya Hardojo sudah diduga sejak kecil tumbuh sebagai pemuda yang peka, gampang menaruh belas kepada penderitaan orang. Dia sangat cerdas dan banyak menaruh perhatian pada bidang kesenian. Tetapi walaupun ia keluaran dari suatu perguruan tinggi dalam kehidupannya tidak memanfaatkan hasil kuliahnya itu tetapi ia bergabung dengan lekra kesenian wayang.

Dalam kesempatan itulah Hari pun berkenalan dengan Gadis seorang penulis nama aslinya Retno Dumilah yang menjadi pacarnya, karena kedekatannya itu sampai mereka pun melakukan perbuatan yang dilarang agama sampai akhirnya Gadis pun hamil. Mengetahui hal itu Hari sangat ingin segera menikahi Gadis. Pada waktu pertunangan Lantip dengan Halimah kesempatan itu dipergunakan Hari untuk memperkenalkan calon istrinya itu pada keluarga besar Sastrodarsono.

Pada suatu waktu mereka mengadakan pawai yang meneriakan dukungannya kepada Dewan Revolusi, Hari bersama Gadis yang sama-sama tergabung dalam kesenian terperangkap, karena pada saat itu ABRI sedang mengambil alih mengadakan pembersihan terhadap semua anggota PKI dan ormas-ormasnya.

“Hari, kamu dalam bahaya. Sebaiknya kamu jangan lari. Nanti kita cari jalan yang sebaiknya agar kau bisa selamat.”

“Saya memang tidak akan lari. Saya akan jelaskan semuanya jika ditangkap, saya kan bukan anggota PKI?”

Dalam keadaan gawat seperti itu Lantip memberikan saran agar sebaiknya Hari meyerahkan dirinya, dan nanti bisa meminta bantuan pada Pakde Nugroho untuk pembebasannya.

Sementara Gadis pun tertangkap dan dianggapnya sebagai gerwani, ia hamil dalam penjara sampai akhirnya meninggal saat akan melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan.

Sepeninggalannya Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang aampai akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu.

Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun menggandeng Halimah untuk pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam Mboknya.

Wednesday, July 13, 2011

Sutardji pada Suatu Malam di Suatu Warung

Suatu Malam Suatu Warung
Cerpen Sutardji Calzoum Bachri

Tiga orang lelaki muda dan seorang pelacur tua duduk di depan meja sebuah warung. Warung itu muram karena lampunya muram dan sumbunya kecil pula dipasang. Sedang malam sudah larut dan bulan di luar sebelah saja kelihatan.
Ketiga lelaki itu bajunya lusuh, dan malam dan warung yang muram membikin lusuh bajunya bertambah kumal kelihatan. Seorang dari mereka, yang bersampingan dengan pelacur tua, memakai topi. Topi itu disediakannya untuk mentari siang tadi., tapi bila malam datang dibiarkannya saja di sana, di atas kepalanya, di bawah bulan dan pada malam yang dingin datangnya. Debu jalanan menutupi jaket tipis dari yang seorang lagi. Debu itu ada tebalnya karena itu debu jalanan sepanjang siang. Tapi, biru baru jaket itu masih dapat kelihatan. Sedang yang satu lagi belum bercukur. Bulu-bulu banyak di mukanya membikin dia yang paling kumal di antara mereka.
Ketiga lelaki itu diam saja karena mereka dari tadi sudah lelah dnegan percakapan. Ketiga lelaki itu saling mereguk kopinya sebentar-sebentar, merenung-renung dan meminta tambah lagi kopi bila kehabisan.
Lelaki yang bertopi memandang kalender dinding warung. Kalender itu banyak kumalnya karena banyak digunakan. Ada tanda silang ada tanda bulatan pada beberapa angka-angkanya. Di bagian yang kosong ada pula angka-angka dari tulisan tangan yang sangat jelek kelihatan. Dan coretan sepasang paha ada pada samping kosong yang lain. Paha itu sedap digambarkan. Ada bulunya dan bila kau melihtanya kau takkan bisa tahu paha itu lelaki atau perempuan. Lelaki yangn bertopi terus merenung pada kalender.
“Tiga bulan lagi Desember, habis pula sebuah tahun,” katanya.
“Hm,” kata lelaki yang di sampingnya. Sedang yang satu lagi, yang paling kumal, diam karena dia lagi menuangkan kopi ke mulutnya.
“Tahun ini sedikit sekali aku mencipta. Aku kurang kreatif,” katanya dan dia terus merenung-renung ke kalender itu, “Aku takut.”
“Hm?” kata yang tadi bilang hm. Sedang yang satu lagi masih menghirup kopinya.
“Aku takut daya kreatifku menyusut terus. Kau tahu aku hanya dapat membuat tiga cerpen dan delapan sajak saja tahun ini. Sedangkan novelku itu majunya seperti siput.”
“Samalah aku,” kata yang tadi bilan hm, “Cuma enam sajak. Kamu masih mendingan, Har.”
Yang tadi menghirup kopi meletakkan gelasnya ke meja.
“Aku dua puluh empat sekarang,” kata Nahar, “Mengerikan bila orang seumurku telah melewati puncak kreativitasnya yang cuma belasan cerpen dan sajak. Aku benar-benar takut. Kau takut, Man?”
“Hm,” kata Rahman.
“Bukan banyaknya yang penting,” kata yang meletakkan gelas kopi.
“Memang,” kata Nahar. Dia agak palak karena Rahman cuma bilang hm dan Amir menjawab seenaknya.
“Orang bisa saja jadi penyair yang baik dengan membuat satu sajak saja dalam hidupnya,” kata Amir.
“Siapa penyairnya!” kata Nahar menantang. Palaknya jadi terangsang karena Amir masih menjawab sesedap-sedapnya.
Amir diam. Dia memang tak dapat menyebutkan. Dan bila dia demikian, diam dalam perdebatan itu, artinya dia memang tak tahu apa yang harus dijawabkan. Karena dia tak pernah diam karena sebab-sebab persahabatan dalam perdebatan.
“Coba kaubayangkan bila kita yang begini muda kehabisan daya cipta,” kata Nahar, “Aku benar-benar takut.”
“Hm,” kata Rahman.
“Aku tak takut hutang. Aku tak takut sipilis dan gonorrhoea. Aku takut Tuhan menghilangkan daya kreatifku,” kata Nahar.
“Lagipula, kalau kau sipilis atau gonorrhoea, kau tak bisa menulis,” kata Amir.
“Tidak, aku tak takut sipilis. Aku tak takut gonorrhoea,” kata Nahar. Dia mencekam cepat-cepat pada antara dua pangkal paha pelacur tua itu. Pelacur itu menjerit, “Au,” kemudian ketawa kecil, “Ha… ha…”
“Aku tak takut Tuhan,” kata Nahar lagi.
“Semua orang takut Tuhan dan juga sipilis,” kata Amir.
“Aku tak takut sipilis,” kata Nahar, “Kau bayarkan aku, Man. Biar aku main dengannya.”
“Aku tak sipilis,” kata pelacur tua itu. Dia memaksa membuat dirinya marah karena dia dari tadi sendirian saja dengan pikirannya dan tak mendengarkan mereka. Dia meletakkan tangannya pada paha Nahar. Dia memandang Nahar dan matanya mengharapkan. Rahman diam. Amir ketawa pelan-pelan.
“Bayarkan dia, Man,” kata Amir, “Biar dia rasa sipilis itu apa.”
“Aku tak sipilis!” pelacur itu marah dan marahnya datang sendirian. Rahman tetap diam. Sesuatu yang kosong mengisi dadanya diam-diam. Yang punya warung, perempuan tua yang lebih tua lagi karena beban kantuknya mulai memperhatikan mereka. Diusapnya bibirnya dengan telapak tangan, dia mengusir kantuknya di sana. Dan matanya berusaha memadatan pandangan pada mereka.
“Aku tak peduli kau sipilis atau tidak. Aku berani main dengan kau. Bayarkan aku, Man,” kata Nahar.
“Aku memang tak sipilis,” kata pelacur itu lagi.
“Gajah pun bisa disipilisnya,” kata Amir pada Nahar, “Apalagi kau! Ujung kakimu sampai rambut bisa sipilis semua.”
“Tidak , aku tidak sipilis. Aku tidak gonorwa!” pelacur itu menjerit marah. Dia memandang Amir. Dia memandang Rahman. Dia memandang keduanya dengan garang. Amir diam. Rahman tetap diam dan sesuatu yang kosong dalam semakin besar rasa kosongnya. Dan dia diam-dian memandang mata pelacur tua itu yang jadi bertambah merah dalam marahnya. Pipi yang dibedaki merah jadi seperti tomat yang mau busuk kelihatan. Bibir keriput agak segar kena air liur dari teriakan. Urat lehernya membuat cekung yang panjang dalam dongakan menantang. Pelacur tua itu memandang yang punya warung.
“Aku tak pernah sakit. Ibu kan tahu aku tak pernah sakit?” katanya. Dan dia memandang pada lelaki bertiga.
“Tanyakan pada dia. Dia tahu aku tak pernah sakit,” katanya.
Pelacur tua itu memandang lagi pada yang punya warung, minta diiyakan. Yang punya warung diam. Dia sering mendengar pertengkaran di warungnya dan biasanya dia diam saja. Karena setiap pertengkaran selalu asalnya sama saja, mempertahankan kepura-puraan. Tapi, lelaki ini memang ada benarnya, pikirnya. Aku memang takut sipilis. Aku memang takut gonorwa. Yang punya warung itu mengingat-ingat kembali sakitnya.
Dia tak tahu benar apa sakitnya. Apa itu sipilis apa itu gonorwa. Bagaimana pun yang mereka maksudkan, pikirnya. Dan dia mengingat kenanya. Lama, sudah lama sekali, pikirnya. Dan dia mengingat kembali besar takutnya hingga ia pun mencoba membuka warung dengan mengumpulkan uang. Dan Inah ini benar juga, pikirnya. Bila sakit-sakitan, orang tak kan dapat setiap malam datang kemari, pikirnya. Memang sudah lama kelihtan orang tak mengambilnya lagi. Orang hanya memegang-megang dadanya, memegang-megang pahanya, memegang-megang pantatnya saja di sini. Dan lelaki yang memegang membayarkan kopi dan kue-kue yang dimakannya. Memang tak pernah kelihatan lagi dia pergi dengan lelaki yang memegangnya, pikirnya. Tapi, ini bukan berarti dia telah sakit-sakitan. Tepatnya mungkin karena dia telah tua, pikirnya. Ketuaan mengingatkannya pada dirinya sendiri. Sesuatu yang duka menyerap pikirannya. Dia tak lagi mau meneruskan dan dia pun mendiamkan pikirannya diam-diam. Jadi, ketika pelacur tua itu minta diiyakan dia tetap diam.
Pelacur tua yang pipinya seperti tomat mau busuk itu matanya berair sekarang karena yang punya warung diam tak mengiyakan.
“Aku tak sipilis. Aku tak gonorwa. Aku tak pernah sakit,” dia menjerit kuat-kuat agar air di matanya tak kelihatan.
“Ayolah main,” katanya pada Nahar.
“Bayarkan aku, Man,” kata Nahar.
“Tak usah bayar,” kata pelacur itu, “Aku tak sakit.”
“Aku tak mau prai. Kau kan cari makan.”
“Ayolah main. Tak usah bayar!”
“Bayarkan aku, Man.”
“Ayolah main!”
“Bayarkan aku, Man.”
Rahman diam.
“Aku tak sakit tak sakit tak sakit!” pelacur itu menangis dan tomat yang mau busuk itu pecah sekarang. Dia keluar berlari ke jalan sambil memaki-maki dalam malam yang muram.
Mengapa kau tak bayarkan saja, Man. Biar dia tahu sakitnya, Amir bilang demikian. Jerit tangis pelacur itu membuatnya hanya dapat mengucapkan dalam pikiran. Sesuatu rasa kosong dalam dada Rahman makin besar rasa kosongnya. Tempat kosong bekas pelacur itu, gelasnya yang kosong dan sekerat kue yang tinggal, membesarkan rasa kosongnya. Rahman menatap sisa kue pelacur itu, mencari bekas giginya di sana agar rasa kosongnya mungkin dapat dilupakan. Tapi kosong itu tetap makin besar rasa kosongnya, menangkup segala yang tinggal dari pelacur tua itu, tempat duduknya, gelas yang kosong, sisa kue, dan sisa-sisa makian yang masih dapat kedengaran ditinggalkanya di ujung jalan. Rahman memandang yang punya warung. Yang punya warung telah dari tadi kembali menunduk dalam kantuknya.
“Tiga bulan lagi Desember. Ah habis pula sebuah tahun,” kata Nahar. Dia ingin mengatakan lagi tentang tahunnya, tapi kelihatan Amir ingin tetap diam dan Rahman tetap dalam renungan. Jadi, dia pun diam merenung sendiri akan tahunnya.
Rahman cepat-cepat menghabiskan kopinya dan menampakkan gerak agar Nahar dan Amir juga berbuat demikian. Nahar dan Amir menurutkannya karena Rahmanlah yang membayar. Nahar dan Amir tak punya uang. Nahar dan Amir tak punya uang sekarang seperti kemarin, seperti kemarinnya, seperti kemarin kemarin kemarinnya lagi tak punya uang. Nahar dan Amir selalu kehabisan uang karena hampir tak ada uang mereka untuk dihabiskan karena mereka mengharapkan uang dari honor puisi dan lain-lain karangan. Jadi, rahmanlah yang selalu membayar. Rahman tak merasa payah untuk selalu membayar karena uang dari orangtuanya tak payah datang.
Yang punya warung dengan ngantuk menghitung jumlah kopi yang diminum dan apa-apa yang dimakan mereka. Dan bila dia telah menjumlahkan semua, Rahman menyuruhnya menggabungkan pula dengan apa-apa yang dimakan pelacur dan minumnya.
Malam bertambah panjang malamnya, dan ketiga lelaki itu melangkah kakinya dalam malam yang panjang (***)

Thursday, July 07, 2011

Cerpen Dinding Mawar

Dinding Mawar

Cerpen Yanusa Nugroho

Tingginya hampir tiga kali tinggiku. Membentang dari utara hingga selatan, selebar kira-kira 700 meter. Tebalnya aku tak tahu persis, karena, bahkan dari celah-celahnya saja, aku tak mampu menembus sisi lain dari bentangan ini. Dan percayalah ini memang sebuah dinding; dinding mawar.

Semuanya adalah mawar kampung, mawar yang paling kusukai, karena satu-satunya yang mampu mengharumkan alam sekitarnya. Mawar jenis lain, yang impor atau yang sudah silangan, kurang kusukai. Mengapa? Sederhana saja. Mawar-mawar itu, meskipun kelopaknya lebih besar-besar dan warnanya lebih beragam, lebih sedap dipandang mata, bagiku tak lebih seperti Mona, Ingrid, atau Mely. Cantik, tapi hanya manequin. Sempurna fisiknya, tapi tak memberiku “kehidupan” sama sekali.

Maaf bila aku membandingkan bunga dengan perempuan. Bagiku perempuan itu penting, karena dia adalah ruh bagi laki-laki. Mawar yang mampu memberiku ruh adalah mawar kampung ini. Dengan ruh yang kumiliki itu, aku memiliki tenaga luar biasa, sehingga seringkali aku menitikkan air mata, merasuki keindahan alam ini. Percayalah, itu semua karena mawar kampung ini.

“Mau diapakan semak-semak itu nanti?” ucap istriku tak acuh, sambil menekan-nekan tombol HP-nya.

“Ya,..enggak diapa-apain…,” jawabku menahan dongkol.

“Jorok, ah… halaman segini luasnya masak memelihara semak….”

“Kamu itu…masak, mawar segini bagusnya kamu bilang….”

“Halooo… Eni? hai… lagi ngapain…” dan dia seperti tenggelam dalam pembicaraan dengan karibnya, begitu saja, meninggalkan kalimatku yang menggantung di kekosongan.

Kami, dua tahun lalu, membeli tanah ini. Tanah seluas 5.000 meter persegi ini kami beli semata-mata karena aku tertarik pada dinding mawar ini. Waktu itu, begitu aku diajak melihat langsung oleh si pemilik, jiwaku seakan tersedot, terjerat erat oleh daya hidup dinding mawar ini. Dia, dinding mawar ini, seakan cinta pertamaku, yang mampu membuatku tak bernafas belasan detik. Mungkin mulutku ternganga, wajahku seketika tolol, lantaran ruhku melayang entah ke mana.

Lalu, dengan begitu saja aku memutuskan untuk membelinya.

Sesampai di rumah, ketika kusampaikan ke istriku, hanya senyum yang kuterima. Lalu dengan santainya dia berkata, “Jadi, sekarang mau bisnis tanah, nih… makanya, dari dulu aku bilang apa… begitu tahu enaknya, keranjingan….”

Aku diam saja. Biar saja dia punya penafsiran begitu, karena memang beralasan. Baru setahun sebelumnya, kami membeli tanah dengan luas yang sama di daerah Bogor.

“Tapi, yang ini, kayaknya, aku enggak mau jual…,” kataku tenang, menanggapi ucapannya yang seakan mengibarkan bendera kemenangannya atas sikapku beberapa waktu lalu.

“Lho, terus untuk apa?”

“Ya, enggak tahu, tapi yang jelas… yang ini enggak akan kujual….”

Istriku terdiam sesaat, lalu, “Lihat saja, nanti…,” ucapnya yakin seolah semua sudah terbayang di matanya.

“Jujur saja, aku enggak tahu, kenapa aku memilih ’gubuk di tengah rimba’ dan bukannya hotel bintang 5…,” gerutunya. Itu terjadi ketika dia kuajak menginap di rumah “dinding mawar” ini. Lalu disusul penyesalannya lantaran tak membawa player, karena dengan begitu dia tak bisa menyaksikan “Phantom of the Opera”.

“Melankolis…,” ledekku.

“Idih, enggak romantis….”

Akhirnya, ranjang besar ini kurasakan terlalu dingin dan terlalu luas, bahkan hanya untuk sepasang suami istri. Sambil membayangkan anak-anak kami berlarian atau bersepeda di halaman luas ini, lama-kelamaan aku terlelap. Bayangan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Pagi buta, aku sudah terjaga. Aku berjalan, tanpa alas kaki, menyaruk-nyaruk kabut tipis putih susu di hamparan ini. Aku berjalan sambil menatap dinding mawar itu.

Kian dekat langkahku, kian kuat degup jantungku. Ya, persis seperti ketika kujumpai si “prenjak” istriku itu, dulu, hampir 20 tahun lalu. Dia yang tahu bahwa aku naksir, berlagak tak acuh tapi butuh. Aku tahu, dia pun naksir aku. Dan entah mengapa rasa saling tertarik itu kami biarkan menggantung sampai setahun; sebuah misteri yang nikmat. Aku, dan kurasa dia juga, menikmati saat-saat pandangan kami bertumbuk dalam jarak tertentu, karena kami berkelompok dengan geng kami masing-masing. Detik-detik yang memerangkap, lalu disusul senyum, wajah yang tertunduk, jantung yang berdegup keras, sungguh kenikmatan yang tak bisa dibeli bahkan di surga sekalipun.

Dinding mawar ini kian memukauku. Dan akhirnya langkahku terhenti pada jarak pandang yang tak bisa kuperkirakan. Angin pagi, samar-samar menaburkan keharuman mawar-mawar itu ke lubang hidungku. Inderawiku meriap-riap, kuhirup kesegaran yang indah ini. Kalau saja ini kebahagiaan, sungguh tak terkira besarnya.

Entah berapa lama aku berdiri dengan mata terpejam, menikmati arus kebahagiaan yang mengalir di setiap sel tubuhku, aku tak tahu. Kurasakan perlahan-lahan kehangatan mengaliri tengkuk, punggung, dan sekujur tubuhku.

Aku terbahak-bahak di pagi cerah itu, menertawakan matahari yang merasa kikuk berada di punggungku. Aku tersadar, ketika telingaku menangkap gesekan sapu lidi Pak Kadi yang sedang membersihkan halaman. Dialah yang selama ini merawat tanah dan rumah ini, dan dia orang yang sejak kecil tinggal di wilayah ini. “Pak…,” kataku sambil melambaikan tangan. “Di sebelah sana, di balik mawar ini… tanah siapa?”

“Kebon karet, Pak… punya Haji Mandar….”

“Kebon karet?”

“Iya, tapi sudah enggak terawat….Kosong. Katanya sih, mau dijual… Berminat, Pak?”

“Beli tanah lagi?” tiba-tiba istriku sudah berada di antara kami.

Pak Kadi tertawa, dan aku merasakan diriku mentah lagi.

“Tuh, sarapannya sudah disiapin sama Bik Min…,” potong istriku tak acuh.

“Aku penasaran, masak ada kerimbunan mawar tak bisa ditembus pandangan mata?” ucapku sambil menyuapkan nasi goreng.

“Buat apa, sih, segitu penasarannya?”

“Ya, penasaran aja.”

“Enggak masuk akal.”

“Emangnya, cinta itu masuk akal? terlalu besar buat diselipkan di akal kita yang sempit…,” godaku sambil mencoel dagunya yang indah itu. Ah, pipinya bersemu merah.

“Idih, tua-tua, genit…,” kilahnya, lalu bangkit dan mengambilkan air minumku.

“Sebetulnya, aku masa bodoh dengan yang di seberang dinding mawar itu.” Kataku begitu saja, entah suara siapa sebetulnya yang kuucapkan itu.

“Terus? … Idih, Mas kok makin aneh, sih?”

“Masak begini aja aneh?”

“Maunya apa, coba?”

“Aku kepingin berada di dalam ’dinding mawar’ itu…,” sekali lagi, kata-kata itu seperti tersusun sendiri, hidup dan terlontar dari mulutku.

Tak kusangka, istriku menatapku cukup lama, seakan kedua mata beningnya itu ingin menembus rongga mataku, mencari di mana aku berada. Kemudian dengan lembutnya dia memelukku dengan perasaan sayang luar biasa.

Ketika dia menitikkan air mata, aku sadar bahwa batinnya tergores. Dia menafsirkan bahwa kewarasanku sudah mulai rapuh.

“Apanya yang aneh?” bisikku lembut. “Aku ingin tahu sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, dan ingin mencobanya sendiri. Apa yang aneh dengan itu?”

“Kelopaknya indah, tapi batangnya, kan penuh duri.” Bisiknya lembut.

“Ngerti….”

“Durinya, kan, tajam?”

“Paham….”

“Bisa terluka….”

“Percaya….”

“Bukan cuma luka, tubuh Mas akan hancur oleh sayatan durinya!”

“Nikmatnya….”

Wulaningtyas, istriku itu, menjauh dengan wajah “durga”-nya.

“Sebaiknya jangan pernah mengucapkan keinginan sinting itu di depanku, karena aku tak mau terseret kegilaanmu….” Lalu dia balik arah dan menghilang di kamar.

Aku sendirian lagi, melanjutkan suapanku di pagi itu. Perasaan aneh menggelimangi diriku. Aku seperti disadarkan oleh kalimat istriku, tetapi yang sekaligus menciptakan daya dorong untuk mewujudkan apa yang baru saja kuucapkan padanya. Jika mataku mampu menyerap keindahannya, tentunya kulitku pun mampu menerima kepedihannya. Sesaat aku ragu akan ucapanku, namun ada perasaan lain yang menepiskan keraguanku.

Aku berjalan. Baru kali ini aku bisa merasakan bahwa langkah ini milikku.

Ketika aku bocah, aku adalah milik impian dan harapan bapak-ibuku. Ketika aku kuliah, aku milik suatu sistem yang ingin membentukku. Ketika aku menikah, aku milik tatanan sosial dan tentu saja menjadi milik istriku. Ketika aku bekerja dan memimpin berbagai perusahaan, aku milik orang banyak, dan segala sesuatunya harus terikat pada logika orang banyak. Seperti sebuah iklan televisi, aku selama ini harus “sempurna” tampil. Baju rapi. Wajah dibedaki. Senyumku diarahkan, makanku harus terlihat nikmat agar semua yang menonton “terpengaruh”. Ah, kedunguan kerbau ini, betapa makin menggelimangi hidupku.

Tapi, pagi ini, semuanya yang mencekikku itu sirna dalam sekejap, begitu kuputuskan untuk masuk ke dalam “dinding mawar” ini. Luar biasa. Aku merasakan kerianganku, jiwaku bersorak girang. Gairah hidupku tiba-tiba terpompa kembali.

“Nanti Kus jemput aku pulang. Aku ke rumah mama….” ucap istriku dingin. Dia mematung dengan tas pakaiannya.

“Sayang sekali, sebetulnya aku ingin menggandengmu ke pelaminan kita di sana itu…,” bisikku, menunjuk rimbunnya dinding mawar.

Kulihat tubuhnya yang tegak, bergetar hebat, dia menangis dalam usahanya untuk tegar.

Kusentuh batang berduri ini. Kutatapi kelopak yang indah ini. Kuserap kemurnian ini. Perlahan kusibak batang mawar ini dengan telapak tanganku. Duri menciumnya dan bermandi merah darahku. Aku melangkah, dan duri-duri bermanja ria merangkul kakiku, lalu lenganku, wajahku, kepalaku, punggungku….

Kurasakan setiap tusukannya yang pedih, namun sekaligus memijarkan kenikmatan seorang perempuan yang melahirkan kehidupan ke alam ini. Kurasakan sayatan dan robekan di kulitku, sebagaimana kurasakan sobekan tubuh perempuan yang melahirkan. Hidup ini indah dan dibayar dengan kenikmatan luka.

Aku terus melesak ke dalam rimba dinding mawar. Kurasakan darah menggelimang di sekitar alisku, kemudian menetes nyaris membasahi bola mata. Kuseka, dan kulihat tanganku merah penuh luka. Batang-batang kusibak, dan tak kulihat ujung sana. Kian kusibak, aku hanya memasuki kedalaman yang lain. Sementara duri-duri kenikmatan ini kian bersukacita menyambutku. Mereka seakan bidadari yang terbakar atau membakar gairahku, dengan ketajamannya. Menggosok-gosokkan dan seringkali menancapkan dengus gairahnya ke jiwaku.

Mungkinkah Abimanyu merasakan apa yang kurasakan, ketika tubuhnya dirajam panah Kurawa? Kurasa ya, hanya saja mungkin berbeda dalam memaknainya. Aku tak peduli. Yang kurasakan, tiba-tiba aku menemukan sebuah jawaban yang selama ini kucari.

Ketika kubuka mataku, yang kulihat adalah wajah istriku. Matanya sembab. Dia tersenyum penuh perasaan “plong”. Dari penuturannya aku tahu bahwa hampir dua jam aku tenggelam di dinding mawar. Istriku yang cemas, akhirnya tak jadi pulang, dan bersama Pak Kadi, beberapa tetangga, dan akhirnya si Kus, yang telanjur berangkat dari rumah, menemukanku terkulai penuh luka dan pingsan.

“Aku enggak peduli apa yang Mas lakukan, yang penting Mas selamat dan tetap sayang sama aku…,” bisiknya penuh kebahagiaan.

Aku tersenyum, dan menjawab bahwa yang terpenting justru yang sedang kita lakukan, apa pun hasilnya menjadi nomor sekian. “Yang penting kan mencintaimu, nah apakah cintaku disambut atau di-prek-in, enggak penting buat aku…,” godaku.

“Jangan khawatir, mulai sekarang, kalau Mas mau, bisa kapan saja keluar-masuk dinding mawarmu itu…,” bisiknya lembut.

Aku tersengat, jangan-jangan….

“Enggak, kok… cuma di bagian tengahnya. Kemarin aku suruh Pak Kadi bikinin lorong, dan dikasih fiber melengkung sedalam dinding mawar itu. Jadi, Mas bisa masuk, jalan- jalan, sampai mentok… tanpa luka-luka lagi…. Persis di Sea World itu… bedanya yang ini melihat duri-duri…” dan senyumnya mekar.

Aku tersenyum, entah apa yang kurasakan aku tak tahu. Yang kurasakan hanyalah air mataku menetes hangat.

“Aku hebat, ya…,” goda istriku manja.

Ya, ya… kamu hebat, bisikku dalam hati. Ya, dan anehnya, perasaan bahagia ketika duri-duri mawar melukaiku itu, kembali menderas dalam jiwaku. Tapi ada yang kurasa aneh, membayangkan dinding mawar itu berlorong fiber!

Pinang 982
Sumber: Kompas, Desember 2006

Sunday, July 03, 2011

Tentang Sosiologi Sastra

Sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti “kawan atau masyarakat” dan kata Yunani logos yang berarti “ilmu”. Jadi sosiologi adalah ilmu mengenai masyarakat. Secara harfiah sosiologi berasal dari bahasa Latin socius yang artinya “sahabat, kawan” dan logos yang artinya “ilmu pengetahuan”. Jadi sosiologi adalah ilmu tentang cara bergaul yang baik dalam masyarakat.

Alvin Bertrand menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang hubungan manusia yang satu dengan manusia yang. Sementara Rene Wellek dan Austin Warren menjelaskan bahwa sosiologi menjabarkan pengaruh dan kedudukan sastra terhadap manusia dalam masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pendapat Roucek dan Warren, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia dalam masyarakat.

Menurut William F. Ogburn dan Meyeer F. Nimkoff sosiologi merupakan proses menyesuaikan manusia dengan lingkungannya yang hasilnya dikaitkan dengan organisasi masyarakat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat.
Swingewood berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan organisasi-organisasi sosial dalam masyarakat. Sosiologi menurut Bottomore adalah ilmu positif yang modelnya sejenis dengan ilmu-ilmu alam, seperti model dari fisika dan model dari biologi.

Sosiologi sastra memandang karya sastra berhubungan dengan masyarakat. Seperti dikatakan oleh Baribin, bahwa cara kerja pendekatan sosiologi dipandu oleh hubungan karya sastra dengan kelompok sosial, hubungan selera masyarakat dengan kualitas karya sastra, serta hubungan gejala yang timbul di sekitar pengarang dengan karyanya.

Perspektif sosiologi sastra dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu (1) memandang sastra sebagai dokumen sosial, (2) memandang situasi sosial pengarang, (3) memandang cara yang dipakai pengarang dalam membuat karyanya berkaitan dengan kondisi sosial budaya dan peristiwa sejarah.

Sastra merupakan hasil cipta seorang pengarang dengan menggunakan manusia dan sekitarnya (masyarakat) sebagai sarana untuk mengungkapkan ide-idenya. Di sini terlihat antara sosiologi dan sastra mempunyai objek yang sama, yaitu manusia dan masyarakat, perbedaannya terletak pada pendekatannya. Sosiologi memfokuskan pada analisis ilmiah dan objektif, sedangkan sastra memfokuskan penghayatan melalui perasaan. Maka dari itu, sosiologi dan sastra mempunyai hubungan yang erat. Sosiologi mempelajari masalah sosial dalam masyarakat, sedangkan sastra merupakan media untuk mendokumentasi masalah-masalah sosial.

Jadi dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud sosiologi sastra adalah suatu pendekatan terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Pandangan tentang sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren bahwa sosiologi sastra membicarakan tentang pengarang yang mempermasalahkan status sosial dan ideologi sosial pengarang. Menurut Ian Watt, sosiologi sastra menampilkan keadaan masyarakat dan fakta-fakta sosial dalam karyanya.

Sosiologi sastra mempermasalahkan lingkungan kebudayaan dan peradaban yang menghasilkan. Hal ini sesuai dengan pandangan Swingewood tentang sosiologi sastra, bahwa sosiologi sastra mempelajari manusia dan organisasi-organisasi sosial dalam masyarakat. Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa sosiologi sastra berhubungan dengan manusia imajiner serta masalah-masalah sosialnya yang terjadi dalam masyarakat.

Konsep Dasar Ian Watt Tentang Sosiologi Sastra

Menurut Ian Watt, ada tiga kecenderungan utama terhadap karya sastra. Pertama, konteks sosial pengarang. Keadaan sosial dalam masyarakat mempengaruhi pengarang dalam membuat karya sastra. Berkaitan dengan cara pengarang mendapatkan pekerjaan, profesional dalam mengarang, masyarakat yang dituju oleh pengarang. Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Karya sastra ditampilkan berdasarkan keadaan masyarakat beserta masalah-masalah sosial oleh pengarang dalam karyanya. Ketiga, fungsi sosial sastra.Ada 3 fungsi sastra yaitu (a) sebagai pembaharu dan perombak (b) sebagai penghibur belaka (c) sebagai pengajar sesuatu dengan cara menghibur.

Berdasarkan klasifikasi di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa sosiologi sastra merupakan pendekatan terhadap sastra dengan masyarakat yang mempunyai cakupan luas mengenai pengarang, teks sastra sebuah karya sastra serta pembacanya. Oleh karena itu, penulis menggunakan klasifikasi sosial menurut Ian Watt karena pengarang menampilkan keadaan masyarakat dan fakta-fakta sosial dalam karyanya.


Hubungan Masalah Sosial Dengan Karya Sastra

Hubungan antara masalah sosial dengan sastra bersifat deskriptif (memaparkan sesuatu apa adanya sesuai dengan bentuk atau kenyataan yang ada). Hal yang harus diperhatikan ada 3 yaitu: Pertama, sosiologi pengarang, profesi pengarang dan institusi pengarang. Masalah yang dihadapi mencakup dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Kedua, isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitn dengan masalah sosial. Ketiga, pembaca dan dampak sosial karya sastra.

Sastra dan masalah sosial mempunyai perbedaan, namun dapat memberikan penjelasan tentang sastra. Sastra adalah karya seni ekspresi kehidupan manusia. Dengan demikian, antara karya sastra dengan sosial merupakan dua bidang yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya yang menyajikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan tata nilai dan bentuk dari kondisi social yang terdapat dalam kehidupan manusia.

DOWNLOAD silakan KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook