Tuesday, August 30, 2011

3 Sajak KAMAR MANDI Joko Pinurbo

ANTAR AKU KE KAMAR MANDI

Tengah malam ia tiba-tiba terjaga, kemudian membangunkan
Seseorang yang sedang mendengkur di sampingnya.
Antar aku ke kamar mandi.

Ia takut sendirian ke kamar mandi
sebab jalan menuju kamar mandi sangat gelap dan sunyi.
Jangan-jangan tubuhku nanti tak utuh lagi.

Maka Kuantar kau ziarah ke kamar mandi
dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki.
Kau menunggu di luar saia. Ada yang harus kuselesaikan sendiri.

Kamar mandi gelap gulita. Kauraba-raba peta tubuhmu
dan kaudengar suara: Mengapa tak iuga kautemukan Aku?

Menjelang pagi ia keluar dari karnar mandi
dan Seseorang yang tadi mengantarnya sudah tak ada lagi.
Dengan wajah berseri-seri ia pulang ke ranjang;
ia dapatkan Seseorang sedang mendengkur nyaring sekali.

Jangan-jangan dengkurMu yang bikin aku takut ke kamar mandi.

(2001)

DI TENGAH PERJALANAN

Di tengah perjalanan antara kamar tidur dan kamar mandi
kami bertemu setelah sekian lama saling menunggu.
la pulang dari mandi, aku sedang berangkat menuju mandi.
Langkahnya mendadak terhenti, pandangnya ragu
dan aku tertegun antara gugup dan rindu.

"Hai, apa kabar?" kami sama-sama menyeru.
Kami bertubrukan, berpelukan di bawah cahaya temaram.
Ketika itu tengah malam. Rumah seperti kuburan.
Lolong aniing bersahutan. Jam dinding menggigil ketakutan.

"Jangan ke kamar mandi. Di sana tubuhmu akan dikuliti.
lkutlah aku pulang ke kamar tidur. Sakitmu akan kuhabisi."
“Tapi kamar tidur sudah hancur. Di sana kau akan dimusnahkan.
Mari ikut aku pesiar ke kamar mandi. Sakitmu akan kuhabiskan."

Kami bersitegang seperti seteru ingin saling mengalahkan.
“Kau memang bangsat. Sekian lama aku menunggu di kamar tidur,
kau enak-enak bertapa di kamar mandi."
“Kau sangat keparat. Sekian lama aku menanti di kamar mandi,
kau enak-enak mengeram di kamar mimpi."

"Bagaimana kalau kita gelut di kamar tidur?"
"Ah, lebih seru berkelahi di kamar mandi"'

Di tengah perjalanan antara kamar tidur dan kamar mandi
kami tak tahu siapa akan mampus lebih dulu.

(2001)


ATAU

Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
"Pilih cinta atau nyawa?" ia mengancam.

"Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,"
saya menghiba, "supaya saya bersih dari dosa.
Setelah itu, perkosalah saya."

Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang
entah ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas:
jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan.

Apa dosa saya? Saya tidak pernah menyakiti perempuan
kecuali saat saya dilahirkan.

Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
"Pilih perkosa atau nyawa?" ia mengancam.
Saya panik, saya jawab sembarangan: "Saya pilih atau!"

la mengakak. "Kau pintar," katanya. Kemudian
ia mencium leher saya dan berkata:”Tidurlah tenang
dukacintaku. Aku akan kembali ke dalam mimpi-mimpimu."
(2001)

Download puisi ini KLIK di sini

Friday, August 26, 2011

Puisi Mawar dan Jembatan Burung

MAWAR
Karya : Ihung (Dian Nendi)

Seikat mawar
Dijual penyamun
Di jalanan

Di bawah lampu merah
Diantara simpang-siur kemacetan
Adu-tawar dan perdebatan
Menjadi warna
Peradaban

Dari mulut ke mulut
Dari hari ke hari
Harum mawar laksana topan
Memporak-porandakan kedamaian
Terang bulan diatas klopak trotoar

Seikat mawar
Yang dijual penyamun di jalanan
Tak lebih dari sepasir janji
Yang butirnya
membuat matamu buta
Dan kau
Tak bisa lagi meraba
di mana
Keadilan itu bertahta

JEMBATAN BURUNG-BURUNG
Karya : Ihung (Dian Nendi)

Burung-burung terbang ke tenggara
Meninggalkan sarang dan sanak saudara
Meninggalkan sempurna luka; hutan yang terbakar
Gemuruh batang tumbang
Derak ranting dan kabut tebal
Mengantar hingga batas kota

Di atas tiang jembatan
Dilumpuhkannya kebahagiaan itu
Dikenangnya pula batasan hening dan air mata

Lalu mereka lintasi sungai-sungai kering
Batu-batu hitam yang diterkam kerontang
Lumpur terik dan keriting
Menunjuk arah muasal bising
Tempat segala pekik melebihi deru angin

Tak ada suara menyertai perjalanan
Paruh-paruh terkatup
Diliput basah lumut yang tinggal lamunan
Dililit kembang akar yang tinggal sejarah
Hanya hati yang melesat mendahului pergi
Menjumpai antrian panjang kendaraan

Lalu-lalang orang di lantai atas gedung pertokoan
Segala poster dan juga spanduk-spanduk iklan
Yang mereka tanyakan
Kenapa mesti hutan yang dijadikan ajang pertempuran
Kenapa mesti mereka yang kemudian harus mencatat kecemasan

Lalu sepenggal getir mengisahkan kepiluan
Ketika langit membangun mendung dari jutaan burung-burung
Ketika cakar demi cakar
menggambar darah
Dikibar jantungmu yang lambat tengadah

"burung ababil menyerang kota
Burung ababil menyerang kita!"

Monday, August 22, 2011

Demistifikasi Perempuan Patriarki dalam Sihir Perempuan

Sihir yang Membebaskan

Diantara maraknya karya-karya penulis perempuan muda yang bermunculan pada saat ini, secara kasar ada dua kecenderungan utama yang dapat kita lihat. Yang pertama adalah karya-karya penulis perempuan yang secara sadar mengangkat tubuh dan seksualitas sebagai persoalan serius. Kedua, karya-karya penulis perempuan yang tidak secara khusus bergelut dengan soal-soal keperempuanan, meskipun tokoh-tokoh utamanya kebanyakan adalah perempuan. Termasuk dalam kelompok pertama adalah Ayu Utami, Dinar Rahayu, dan djenar Maesa Ayu,untuk menyebut beberapa diantaranya. Sementara itu, nama-nama seperti Linda Christianty, Nukila Amal, Nova Riyanti Yusuf, dan beberapa yang lain cenderung menjadi bagian dari kelompok kedua.

Intan Paramadhita, dari segi pilihan topik, tampaknya lebih mudah dikelompokkan bersama mereka yang tidak terlalu pusat perhatiannya pada soal-soal tubuh perempuan dan seksualitasnya. Namun, ada dua hal penting yang membedakan Intan dari kebanyakan penulis perempuan dalam kelompok ini. Pertama, Intan menempatkan perspektif perempuan sebagai aspek utama dalam banyak cerpennya. Karya-karyanya tak hanya berbicara tentang tokoh-tokoh perempuan dan apa yang dialami mereka, melainkan juga memandang kesemuanya itu dari kacamata perempuan. Persoalan sudut pandang ini penting, terutama dalam membingkai pesan yang hendak disampaikan lewat cerita dan mengarahkan identifikasi pembaca pada tokoh-tokoh perempuan dalam cerita.

Hal kedua, yang juga menarik untuk diperbincangkan, adalah teknik penceritaan. Dalam hal inilah barangkali Intan Paramadhita membedakan dirinya dari para penulis segenerasinya. Intan bertutur dengan strategi yang diperhitungkan secara cermat dan metodik untuk mencapai efek tunggal yang klimaktik pada akhir setiap ceritanya. Dalam hal ini, ia setia betul dengan diktum cerita pendek yang pernah digariskan cerpenis Amerika tersohor, Edgar Allan Poe, yang menegaskan bahwa sebuah cerpen dinilai efektif apabila mampu mengarahkan segala peranti kreatif yang dimilikinya untuk mencapai sebuah efek yang tunggal dan dramatik pada penghujung cerita. Dalam praktiknya, Poe sendiri dikenal sebagai seorang penulis cerita horor bernuansa gothik yang selalu menghadirkan kejutan pada akhir setiap karyanya. Jejak-jejak resep Poe ini juga dapat dilacak dalam banyak cerpen karya O. Henry, yang gemar menghadirkan kejutan bahkan pada kalimat terakhir sebelum cerita betil-betul tamat.

Pada karya-karya Intan, teknik bercerita yang khas ini juga dibalut oleh suasana horor yang membuat cerita kian mencekam seiring dengan perkembangannya, ditambah lagi dengan perspektif perempuan yang digunakan olehnya untuk membangun penokohan dan alur. Beberapa tahun yang lampau, Haryati Soebadyo, dengan nama samaran Aryanti, juga pernah menulis cerpen-cerpen bergenre misteri dan horor uang melibatkan makhluk-makhluk supernatural, tetapi perbedaan prinsip antara karya-karya haryati dan Intan terletak pada perspektifnya. Meskipun banyak tokoh perempuan dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan bersosok hantu atau mahkluk gaib lainnya, lewat perspektif perempuan yang digunakan Intan keberpihakan dan simpati pembaca berhasil digiring ke tokoh-tokoh hantu yang secara tradisional dipandang sebagai momok yang menakutkan itu.

Dalam “Pemintal Kegelapan”, misalnya, seorang anak perempuan memendam rasa ingin tahunya tentang apa yang ada dibalik dinding kamar misterius yang selalu terkunci di loteng rumahnya. Aksesnya ke isi ruangan itu hanyalah dongengan ibunya tentang seorang hantu perempuan patah hati yang tak pernah berhenti memintal selimut untuk suaminya yang pergi meninggalkan dirinya. Klimaks cerita terjadi ketika sang tokoh tumbuh menjadi seorang dewasa, dan ibunya yang usianya tak lagi panjang akibat menderita kanker itu memutuskan untuk mengungkap rahasia hantu pemintal di atas loteng. Pembaca dihadapkan pada kengerian, tetapi juga pada kepedihan dan pemahaman akan derita dan keterasingan seorang perempuan yang tak lagi punya tempat terhormat di mata masyarakat.

Sementara itu, dalam legenda kedua, “Vampir”, cerita dibingkai oleh legenda vampirpenghisap darah yang sudah sangat tersohor. Tidak ada yang istimewa dalam hal ini andai saja Intan tidak membawa legenda tersebut ke tataran kenyataan masa kini, sehingga pakem kisah vampir tak harus diikuti secara ketat. Barangkali, kisahnya lebih mirip dengan kisah-kisah yang ada dalam seri kisah vampir karya penulis Anne Rice, atau bahkan dengan seri teve Buffy the Vampire Slayer daripada dengan kisah klasik drakula versi Bram Stoker misalnya. Lewat strategi yang dibangun secara sabar dan cermat dalam ruang cerpen yang sesungguhnya sangat terbatas, akhir cerita memang menyajikan suatu kejutan. Meskipun pembaca selalu diberikan petunjuk di sana-sini, tak urung akhir cerita tetap mencengangkan. Ada adegan yang biasanya menjadi momen paling dramatik dalam kisah-kisah vampir, yakni momen ketika sang vampir menghisap darah korbannya yang selalu terlambat menyadari apa yang sedang dihadapinya. Oleh Intan, justru momen ini tampaknya sengaja tak digambarkan. Pembaca hanya melihat aftermath apa yang terjadi melalui kesimpulan yang harus ditariknya sendiri setelah cerita usai. Teknik ini justru memberi bobot lebih kepada cerpen “Vampir”, dan ia pun menjadi sebuah kisah vampir yang tidak biasa.

“Perempuan Buta tanpa Ibu Jari” adalah salah satu cerpen dalam kumpulan ini yang cukup mengusik perasaan bahkan setelah pembacaan usai. Beberapa yang lainnya dalah “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, serta “Pintu Merah” dan “Jeritan dalam Botol”. Keempatnya tidak membiarkan kita menikmati cerita hanya sebagai hiburan belaka karena ada sesuatu yang mengusik dan tak mau pergi begitu saja dari benak pembaca. Mungkin ini terkait erat tidak hanya dengan demistifikasi sosok perempuan dalam wacana patriarki, tetapi lebih karena ia menjadi suatu upaya de-demonisai perempuan. Tokoh-tokoh perempuan dalam cerpen-cerpen dibungkam dan dipinggirkan lewat stigma kegilaan (tokoh Mak Ipah) dan kejahatan (tokoh cacat tak bernama dalam “Perempuan Buta”) yang dikenakan pada mereka. Hanya sudut pandang jurucerita yang berperspektif perempuan sajalah yang mampu memperlihatkan kegilaan dan kejahatan itu tetapi tidak sebagai suatu aib atau cacat sebagaimana yang mungkin akan dilihat dalam patriarki. Dalam kedua cerpen itu, para tokoh ‘gila’ dan ‘jahat’ dibiarkan bersaksi dan mengartikulasikan versi kenyataan menurut perspektif mereka.

Dalam “Pintu Merah” dan “Jeritan dalam Botol” warna cerita agak surrealistik, yang lebih memperkuat efek horor sebagai tiang utama cerita. Namun, bukan ini yang membuat pembaca terusik. “Pintu Merah” amat kaya dengan metafor yang melukiskan kontestasi antara patriarki dan perempuan. Uniknya, pertarungan ini dalam tataran dunia nyata diwujudkan dalam hubungan antara seorang ayah dan anak perempuannya yang tampaknya dilandasi oleh cinta tetapi sesungguhnya merupakan sebuah relasi kuasa yang berat sebelah Intan memilih untuk menyelsaikan konflik pada tataran dunia mimpi, yang pada akhir cerita tak lagi menunjukan garis batas yang jelas dengan dunia nyata. Sementara itu, “Jeritan dalam Botol” terkesan unik dan mengganggu justru karena strategi penyelsaian cerita yang diambilnya berbeda dari cerpen-cerpen lainnya dalam kumpulan yang sama. Akhir cerita tidak konklusif, meskipun alurnya tak kalah mencekam dibandingkan kisah-kisah lainnya. Persoalan yang dihadapi Gita, tokoh utama cerita, yang merupakan persoalan khas perempuan──suara yang terbungkam dan terbisukan──tetap disangkali oleh Gita sendiri, walaupun ada indikaso pada akhir cerita untuk memperlihatkan bahwa persoalan itu nyata dan serius.

“Darah” juga merupakan sebuah cerpen yang unik. Ia berbicara pada tataran yang sangat biologis tentang tubuh perempuan yang mengalami demonisasi, tetapi pembebasan dari demonisasi itu tidak dinyatakan lewat perayaan seksualitas tubuh, seperti yang dilakukan oleh beberapa penulis perempuan sebayanya. Intan mendekati persoalan tubuh perempuan dari fenomena yang paling kuat digunakan sebagai signifier perempuan dan yang, pada saat yang sama, paling ditakuti oleh laki-laki, yaitu fenomena haid. Keunikan cerpen ini juga muncul dari nadanya yang ambivalen. Disatu pihak, Intan memperlihatkan bahwa darah yang keluar dari tubuh perempuan di saat haid adalah “bibir” yang “merah basah”, “segar”, dan “indah”. Ia, singkat kata, adalah “hidup”. Namun, di lain pihak, kesemuanya itu disampaikan bersama dengan kekotoran: latar toilet, sampah pembalut wanita, jok mobil yang berlumuran darah, dan anjing-anjing yang mengendus dengan lidah menjulur. Memang, kekotoran ini sendiri tampaknya hendak didekonstruksi, tetapi ia tinggal tersisa hingga akhir cerita sebagai sebuah mitos yang melawan untuk diakhiri riwayatnya.

Secara keseluruhan, apa yang dikatakan Nirwan Dewanto maupun Melani Budianta pada halaman belakang sampul memang cukup tepat menggambarkan kumpulan cerpen Sihir Perempuan ini. Genre kisah menyeramkan yang bertujuan menghibur pembaca dengan sangat efektif untuk mengkomunikasikan pengalaman perempuan, memberi mereka suara, dan mendemistifikasi mitos perempuan sebagai demon yang telah terlanjur disebarluaskan oleh patriarki. Sudut pandang perempuan berperan sentral dalam menjadikan genre kisah hantu ini berperan lebih sebagai sarana penyampai pesan daripada sekedar urusan bentuk. Dalam cerpen-cerpen Intan, sudut pandang perempuan tersebut digunakan secara konsisten tanpa disertai aneka macam kredo dan jargon, yang bisa saja mereduksi kumpulan ini menjadi propaganda feminis dan berpotensi menjadi kontra-produktif terhadap demistiikasi yang hendak ditawarkan. Intan telah mengambil jalan yang berbeda untuk membiarkan perempuan berbicara, dan kumpulan cerpennya menjadi alternatif bagi strategi baru yang dengan cepat mulai menjadi usang, yakni membuat perempuan berbicara tentang dirinya (tubuhnya) melalui seksualitasnya, seperti yang ditempuh oleh sebagian penulis selama ini. Berbeda dari mereka, Intan jusru memilih berhadapan langsung dengan demonisasi perempuan yang dilakukan patriarki dan mengubahnya menjadi sarana efektif untuk mendekonstruksi demonisasi itu. Ia mengundang pembacanya untuk berani melihat apa yang sesungguhnya ada di balik wajah hantu bernama ‘perempuan’ dan menyadari bahwa tidak ada yang menyeramkan di sana kecuali bahwa kita sedang melihat refleksi diri kita sendiri. Inilah sumbangan paling signifikan yang diberikan oleh Sihir Perempuan pada khasanah sastra perempuan di Indonesia kini.

Manneke Budiman (Universitas Indonesia)

Thursday, August 18, 2011

Memahami Canting Arswendo Atmowiloto

Raden Ngabei Setrokusumo adalah seorang pengusaha batik tradisional yang mereknya Canting yang terletak di solo dan tiba-tiba membuat keluarganya terkejut. Bagaimana tidak, Raden Ngabei Setrokusumo adalah seorang keturunan keraton, yang kaya dan dihormati serta disegani oleh semua orang, namun memutuskan untuk menikah dengan wanita yang berasal bukan dari keluarga kraton yang miskin. Wanita yang hendak dinikahinya itu bernama tuginem. Tuginem adalah salah seorang buruh pabrik yang bekerja di batik tradisional milik Raden Ngabei Setrokusumo. Karena Tuginem hanyalah buruh seorang pabrik yang miskin dan bukan berasal dari keluarga keraton, dan bukan pula berasal dari keluarga priyayi seperti Raden Ngabei Setrokusumo, meskipun banyak mendapat tentangan dari keluaraga besar Raden Ngabei Setrokusumo mereka tetap melangsungkan pernikahan.

Orang tua tuginem sangat terkejut entah bagaimana perasaannya ketika Tuginem anaknya akan dijadikan istri oleh seorang Raden Ngabei Setrokusumo yang kaya dan berasal dari keluarga keraton yang sangat terhormat dan disegani banyak orang menikah dengan anaknya Tuginem karena Ia hanyalah seorang buruh batik yang secara turun temurun mengabdi pada keluarga Setrokusumo. Orang tua Tuginem hanya percaya bahwa mungkin memang sudah takdir yang digariskan Allah SWT sehingga membawa anak gadisnya menjadi seorang priyayi dan menjadi keluarga keraton yang kaya.

Setelah menikah rumah tangga Raden Ngabei setrokusumo dan Tuginem sangat harmonis dan keduanya sama-sama merasakan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Tuginem benar-benar mengabdi dirinya kepada suaminya karena ia merasa mendapatkan anugerah dari Allah yang maha kuasa. Setelah menjadi istri dari Raden Ngabei, Tuginem di panggil dengan nama ibu Bei. Dengan diam-diam ternyata Ibu Bei membantu uasaha batik yang didirikan oleh suaminya. Ia sangat bekerja keras membantu uasaha batik suaminya berkat kerja kerasnya, usaha batik yang mereknya Canting milik mereka berkembang pesat. Perkawinan antara Raden Ngabei dan Tuginem menghasilkan enam anak. Mereka adalah Wahyu Dewabrata anak pertama, kemudian berturut-turut Lintang Dewanti, lalu Bayu Dewasuni, kemudian lahir lagi Ismaya Dewa Kusuma, Wening Dewamurti, dan terakhir si bungsu Subandini Dewa Putri yang kerap di panggil dengan sebutan Ni. Ibu Bei dan raden Ngabei memiliki banyak anak dan Ibu Bei menjadi wanita karier, meskipun demikian Ibu Bei tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Dia tetap ada waktu dan senantiasa melayani anak-anakny yang membangggakan karena Ibu Bei sangat sayang pada mereka. IBu Bei berhasil mengeban wangsit sang Maha Pencipta. Bagi Bu Bei, Pak Bei adalah sosok seorang pelindung. Bu Bei sangat percaya bahwa perlindungannya akan selalu mendatangkan kebaikan. Oleh sebab itu, Ibu Bei pun merasa berkewajiban untuk menyediakan perlindungannya benar-benar kukuh kuat sebagai tonggak keluarga. Kesadaran ini pula yang menyebabkan Bu Bei harus mampu mengatur segala pengeluaran dan pemasukan yang memungkinkan sang pelindung tetap berdiri kokoh sbagai tonggak keluarga. Kegiatan ini dilakukan secara diam-diam oleh istrinya tanpa campur tangan dari suaminya. Tempat basis Ibu Bei adalah pasar klewer. Tetapi, kekuatan Ibu Bei dalam mengurus usaha batiknya dan mengurus kehidupan rumah tanggany semakin lama semakin berkurang akibatusianya yang semakin bertambah dan sudah tua. Kelincahannya dalam menangani pedagang di pasar klewer Solo, tepat Ia menjajakan batik Cantingnya mulai menurun, padahal batik canting produk merk mulai mendapat saingan berat dari produk prabik besar dan modern.

Subandini Dewa Putri, putri bungsu Raden Ngabei dan ibu Bei merasa tergugah hatinya untuk mengambil alih usaha tersebut karena ia melihat usaha batik Canting milik orang tuanya mulai semakin menurun dan memiliki banyak saingan. Subandini Dewa Putri ingin membangkitkan kembali usaha keluarganya namun niatnya untuk mengembangkan batik Canting milik keluargany ditentang oleh semua kakanya dan akibatnya terjadi perselisihan diantara mereka. Tetapi perselisihan diantara mereka dapat diselesaikan oleh Raden Ngabei dengan penuh bijaksana dan kewibawaan dan tidak lama kemudian istri Raden Ngabei atau disebut Ibu Bei telah meninggal dunia. Anak bungsu dari Raden Ngabei dan almarhumah Ibu Bei yaitu Subandini Dewa Putri yang biasanya di panggil dengan sebutan Ni mengambil alih usaha bati Canting. Dengan penuh semangat Ni berusaha melakukan persaingan dengan batik-batik besar. Namun usaha Ni tidak berhasil dan Ia kalah bersaing. Penjualan batiknya semakin merosot dan akibatnya Ni merasa frustasi dan jatuh sakit. Bahkan Ni hamper meninggal dunia karena sakitnya yang sangat parah. Ketika sakit timbul kesadaran dalam dirinya. Dia mulai mengerti mengapa usaha batikny tak dapat bersaing dengan produk-produk keluaran pabrik. Masalah merk yang menjadi salah satu penyebabnya. Dengan keteguhan hatinya Ni akhirnya memutuskan untuk mengubah merk batiknya Canting menjadi Canting Daryono kemudian Ni meneruskan usaha batik tradisional milik keluarganya.

Ni tidak menangani usahanya sendiri tetapi di bantu oleh kakak-kakaknya. Keputusan mengubah nama itupun sangat tepat . usaha batik mereka, secara perlahan mulai mampu bersaing di pasaran. Batik mereka mulai terkenal lagi, tidak hanya di dalam negeri melainkanm mulai dilirik oleh turis asing. Sungguh suatu kerja keras yang tiada henti. Mereka sekeluarga saling bahu membahu menangani usaha tersebut walaupun dulu kakak-kakaknya tidak menyetujui niat Ni untuk membangkitkan butik keluarganya. Namun akhirnya usaha tersebut berjalan dengan sesuai hati mereka.

Kemudian Ni menikah dengan Hermawan pilihan hatinya yang sudah lama menunggunya selama gadis itu menangani perusahaan keluarganya. Pesta perkawinan mereka diadakan tepat pada hari selamatan setahun meninggalnya Bu Bei yang mengelola batik Canting yang paling legendaris dalam keluarga besar Setrokusumo.

Makna feminisme novel ini tampak dalam peran wanita Ibu Bei yang bersifat feminisme, ia mampu melaksanakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang tegar, sabar dan bijaksana. Selain itu Ibu Bei juga membantu Raden Ngabei yaitu suaminya dalam menjalankan bisnis batik merk Canting. Ia juga sangat perhatian dan dengan penuh rasa kasih sayang merawat anak-anaknya. Peran feminism tampak juga pada tokoh Ni yang merupakan seorang wanita yang tegar , Ia mampu menyelesaikan setiap masalah yang selalu menghadangya. Sebagai anak bungsu Ni merasakan suatu kewajiban untuk memajukan bisnis batik milik orang tuanya yang mulai redup. Walaupun sedang sakit dan bahkan hampir meninggal dunia Ni berusaha sekuat tenaga untuk berkorban demi semua itu. Pengorbanan Ni akhirnya membuahkan hasil. Batik Canting miliknya mulai bersaing lagi dengan batik-batik lainnya. Hanya mengganti sebuah merk usaha bisnis batik dapat berkembang. Ni juga tetap menjalankan kewajibannya mengurus anak-anaknya, seperti yang telah dilakukan ibunya dulu ketika masih hidup.

Wednesday, August 10, 2011

Wawasan Kepengarangan Kuntowijoyo

Wawasan Sastra & Kepengarangan Kuntowijoyo

Dunia ini fana, tiada kekal  bagaikan sarang laba-laba

Ia hanya bayang-bayang yang cepat berlalu
Seorang tamu pada malam hari
Mimpi seorang yang sedang tidur nyenyak
Dan sekilat cahaya yang bersinar di cakrawala harapan
(Nukilan sajak Ali bin Abi Thalib pada batu nisan Sultan Malik al-Saleh, 
raja Pasai Aceh — wafat 1297 M)

Kuntowijoyo telah berpulang ke rahmatullah dua pekan lalu. Seorang sastrawan dan ilmuwan yang disegani telah menutup mata dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kepergiannya terasa begitu menyesakkan, karena ketika ini sastra Indonesia sedang dilanda krisis pemikiran, sedangkan Kuntowijoyo adalah seorang di antara pemikir sastra yang gagasan-gagasannya senantiasa bernas dan segar. Lebih dari itu ia adalah salah seorang dari sedikit penulis 1970an yang prolifik hingga masa senja hidupnya. Dia telah menulis sejak masih duduk di bangku kuliah. Puluhan cerpen, puisi, beberapa novel dan naskah drama, kumpulan esai dan hasil penelitian dalam ilmu sejarah lahir dari tangannya. Suatu hal yang hampir tidak dapat dilakukan oleh sastrawan lain seangkatannya.

Cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang awal (madya 1960-an), khususnya dalam antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga, dipilih untuk dijadikan titik tolak pembahasan karena mencerminkan ide-ide kepengarangan yang mulai berkembang di kalangan sastrawan muda Indonesia pasca polemik Lekra-Manifes Kebudayaan. Salah satu ide kepengarangan yang mulai berkembang itu ialah hasrat kuat melepaskan diri dari belenggu paham realisme (formal atau sosial) yang dirasakan mengkungkung dunia kepengarangan. Menurut pengarang-pengarang yang terangsang oleh ide baru itu, tugas pengarang bukan sekadar memotret realitas, tetapi juga melakukan kritik, idealisasi dan simbolisasi terhadap realitas. Dengan demikian hasil karyanya tidak hanya berpijak pada realitas kehidupan keseharian atau sosial, tetapi juga pada realitas spiritual dan budaya. Karya sastra lantas tidak hanya menjadi semacam dokumen sosial dan sejarah, tetapi lebih jauh menjadi dokumen kemanusiaan dalam artian luas. Di situ manusia tidak hanya dilihat sebagai makhuq sosial atau kejiwaan, tetapi juga makhluq spiritual yang memiliki kemampuan mentransendensikan diri.

Gagasan kepengarangan seperti tercermin betul dalam esai dan karya-karya Kuntowijoyo, sebagaimana juga tercermin dalam karya-karya Danarto, Arifin C. Noer dan Gerson Poyk. Tetapi mungkin agak mengejutkan juga, karena seorang pengarang seperti Kuntowijoyo yang mengangankan lahirnya karya-karya yang bercorak spiritual atau sufistik, dapat melahirkan sebuah novel sosial, yaitu Pasar, yang mengangkat tema perubahan dalam masyarakat yang tatanan nilainya mulai bergeser dan pola komunikasinya berubah, antara lain disebabkan hadirnya sistem perbankan dalam masyarakat yang masih terikat pada sistem ekonomi dan pasar tradisional.

Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra transendental, yang yang dikemukakan dalam acara Duapuluh Sastrawan Bicara di DKJ TIM, Jakarta pada tahun 1983, lebih jauh lagi merupakan perkembangan lanjut dari ide-idenya yang mulai tumbuh pada pertengahan 1960-an. Gagasannya itu ternyata bertolak dari pemikirannya, seperti dituliskan dalam esainya “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” (Horison,1973). Kuntowijoyo antara lain mengatakan bahwa, “Yang kita harapkan sekarang ialah suatu pembangunan kembali dalam pemikiran (termasuk pemikiran dalam sastra) yang mampu membuat orang terhindar dari memilih antara pengalaman yang miskin dan pincang di satu pihak, dan akal yang dibuat-buat di lain pihak.” Salah satu caranya ialah dengan merubah pemahaman kita tentang manusia.

Kuntowijoyo mengemukakan bahwa pemahaman manusia tentang dirinya sendiri harus memakai konsep kunci baru, yaitu simbolisme. Maka pertenyaan mengenai hakekat sastra dan hubungannya dengan realitas harus diubah. Sastra bukan sekadar representasi dari realitas, tetapi simbol. Simbol ialah penemuan dan penciptaan manusia, yang merupakan upaya spiritualnya untuk bisa hidup dalam dimensi baru dari realitas. Di situ manusia menemukan dirinya dan kesadarannya yang lebih kaya. Penemuan simbol yang hanya milik manusia ini telah membuatnya berbeda dengan binatang. Mitos, agama, bahasa, kesenian, sejarah dan ilmu pengetahuan adalah simbol. Sastra adalah simbol yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Tiap simbol mempunyai kebenarannya sendiri, hingga jangan mencari kebenaran dari satu simbol pada simbol lainnya. Jadi jangan mencari kebenaran dari sastra di dalam ilmu pengetahuan, karena tidak akan pernah didapatkan.

Pengertian tentang ‘simbol’ yang dimaksudkan Kuntowijoyo, tidak dapat disamakan dengan ‘sign’ atau ‘sememe’ dalam pemikiran kaum strukturalis dan semiotik, karena ia lebih mendekati pengertian ‘metafora’ Paul Ricoeur atau ‘symbol’ Gadamer. Sedangkan kenyataan yang ditampilkannya dapat dirujuk pada pengertian Ibn `Arabi tentang ‘alam misal’ (`alam al-mitsal), yaitu alam kehidupan yang menjadi perantara atau penyambung antara pengalaman transendental dan pengalaman empiris manusia. Henri Corbin mengartikan ‘alam misal’ sebagai ‘alam imaginasi’. Begitulah yang disajikan sebuah karya sastra pada dasarnya adalah sebuah alam misal, sebuah simbol atau metafora tentang kehidupan yang dipahami dan sekaligus pengalaman yang dihayati pengarang.

Pengertian Kuntowijoyo bahwa tindakan menulis karya sastra sebagai menciptakan simbol di sini, barangkali juga bisa dimengerti melalui konsep kunci yang dilakukan oleh Robert Jauss dalam telaah resepsi dan hermeneutika sastranya. Dua konsep kunci Jauss itu ialah Erfahrung dan Erlibniz. Yang pertama dimaksudkan sebagai ‘tindakan perenungan’ yang mencakup pengenalan terhadap sesuatu dan tidak hanya bersifat intelektual, tetapi melibatkan juga sarana spiritual dan kejiwaan manusia yang lain seperti rasa, intuisi dan penikmatan estetis. Sedangkan yang kedua, erlibniz, ialah pengalaman yang terhayati (tentang apa saja) yang menjadi sasaran dari erfahrung. Menurut Jauss (1973) hubungan seseorang (termasuk pengarang atau pembaca karya sastra) dengan sesuatu yang dihayati melalui pengalaman (erlibniz) bersifat konkrit dan langsung.

Demikian, sekalipun karya sastra merupakan ‘simbol’ dan bukan ‘representasi realitas’, ia mempunyai hubungan nyata dan langsung dengan kehidupan. Karya sastra adalah hasil dari tindakan perenungan terhadap sesuatu yang dikenal, dipahami dan dihayati, baik secara intelektual, intuitif dan emosional oleh pengarang. Jadi, menurut Kuntowijoyo, yang ada dalam karya sastra adalah simbol, dan simbol adalah sarana konsepsi tentang obyek. Dalam simbol ini manusia mentransformasikan lingkungan dan pengalaman hidupnya. Simbol lantas menjelma seolah-olah sebuah dunia baru. Karena itu hubungan karya sasta dengan realitas tidak dapat dipandang sebagaimana hubungan antara cermin dan benda di hadapan cermin. Keharuan membaca karya sastra karenanya juga berbeda dari keharuan menghadapi peristiwa sehari-hari. Yang keseharian pada dasarnya, menurut Abhinava Gupta, dalam teori sugestinya (Rasa Dvanyaloka), bersifat khusus atau partkular, namun setelah diangkat dalam karya sastra telah mengalami ‘universalisasi’ sehingga pengalaman yang semula bersifat individual bisa dirasakan menjadi pengalaman yang bersifat universal.

Menurut Kuntowijoyo lagi, sastra tidak menunjuk pada obyek tertentu, melainkan gagasan atau imagisasi tentang sesuatu. Kemungkinan-kemungkinan sastra sangat luas, tidak sebagaimana diduga kebanyakan orang. Kadang-kadang sastra merupakan suatu sublimasi, proyeksi atau katharsis terhadap suatu kejadian. Kadang-kadang sastra ingin mencapai sesuatu yang jauh, dalam dan sunyi. Ia kerap bicara dalam suatu keheningan yang kudus. Untuk memahaminya, karena itu, menuntut pengerahan seluruh daya rohani. Khususnya pemahaman, sebab karya sastra bukan hanya rasa, tetapi juga mengandung inteligensia dan kearifan (wisdom, al-hikmah).

Karya sastra bukan hanya memberi kesan melalui fungsinya, tetapi terutama melalui kualitas pesan moral dan kemanusiaannya yang disugestikan melalui ungkapan-ungkapan estetisnya yang memiliki daya pembayang (imaginasi) yang kuat. Dalam upaya melahirkan karya sastra yang diidamkannya itu Kuntwowijoyo menggunakan sarana-sarana estetik sastra klasik seperti penciptaan tokoh, kejadian dan latar cerita yang aneh, ganjil, ajaib, serba unik, mengagumkan, mengerikan dan kadang-kadang dahsyat. Caranya membangun alur cerita, menampilkan tokoh dan kerjadian, serta latar cerita, dapat dibandingkan penulis-penulis lain yang sezaman seperti Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Arifin C. Noer dan lain-lain. Sekali pun tokoh cerpen-cerpen dan novel Kuntowijoyo terkesan ganjil, namun tetap berpijak pada realitas.

Contoh terbaik ialah cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang awal yang dimuat dalam majalah Horison pada awal 1970-an seperti “Burung Kecil Bersarang Di Pohon”, “Sepotong Kayu Untuk Tuhan” dan “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”. “Burung Kecil Bersarang di Pohon” merupakan cerpen religius dan eksistensialistik yang menarik.

Seorang guru besar ilmu fiqih dan tauhid bersiap untuk menyampaikan khotbah Jum’at di sebuah masjid. Ia memakai baju putih, peci dan sarung yang bersih. Karena letak masjid cukup jauh, maka tokoh harus berangkat agak awal. Ia terpaksa melalui sebuah jalan dan pasar yang ramai. Sepanjang perjalanan itu ia mencemooh orang-orang yang sibuk berjual beli di pasar melakukan kegiatan duniawi, seakan-akan lupa bahwa hari itu adalah hari Jum’at dan saatnya orang bersiap pergi ke masjid. Di tengah perjalanan, ketika melewati sebuah tegalan, ahli fiqih kita bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang berusaha menangkap seekor burung, tetapi tidak bisa karena burung itu bertengger di dahan pohon yang tinggi. Merasa kasihan, sang professor berhenti dan berusaha menolong anak itu untuk menangkap burung yang diinginkan. Karena asyiknya menolong anak itu, dia lupa harus berangkat cepat ke masjid. Seusai menolong anak kecil itu, ahli fiqih kita merasa sangat bahagia. Tetapi tidak lama kemudian hatinya merasa sedih karena baju yang dipakainya ternyata sudah kotor, dan lebih sedih lagi karena ketika dia sampai di masjid, salat Jum’at sudah usai dan orang-orang sudah berhampuran ke luar meninggalkan masjid.

Ia malu pada orang-orang yang mungkin akan mencemoohnya. Ia ingin masuk ke dalam masjid sendirian dan salat sendirian. Pikiran aneh muncul di kepalanya, jangan-jangan anak itu penjelmaan setan yang tugasnya menggoda manusia di jalan Tuhan. Ia merasa takut dimurkai oleh Tuhan, padahal baru saja ia merasakan suatu perasaan berbeda bersama anak kecil itu, perasaan bahwa ia bekerja keras, memanjat pohon asam untuk menangkap burung dan perbuatannya memberikan kebahagiaan kepada anak kecil itu. Ia baru saja merasa menjadi ‘manusia’ dalam arti sebenarnya bersama anak kecil itu, yang kini muncul sebagai bayangan setan.

Kuntowijoyo menutup cerpennya sebagai berikut: “Kemudian dia berpikir. Dia Yang Maha Tinggilah yang menggerakkan semuanya itu. Itu salah-Mu sendiri. Tidak. Engkau tidak bersalah. Tentulah, itu karena Dia ingin menunjukkan sesuatu kepadanya. Sebenarnyalah, ia mengerti sesuatu. Maka ia pun menangis. Seorang lelaki mendekat kepadanya. ‘Buya!’ kata orang itu. Ia menolak orang itu dan mencoba tersenyum. Karena kegembiraanlah ia menangis. “Tak ada apa-apa, pak!’ katanya. Ia pergi mengambil air wudhu. Mukanya berseri-seri. Orang-orang masih berkerumun di luar, ketika ia masuk ke dalam. Pengalaman hari itu pastilah suatu kesengajaan Tuhan. Ia tidak ragu. Alangkah ajaibnya cara-Mu menunjukkan. Anak kecil itu ialah anak manusia. Ia rindu kepada anak itu, burung-burung bahkan keributan pasar. Seperti sekarang, ia rindu kepada-Nya.’”

Dalam “Sepotong Kayu untuk Tuhan” Kuntowijoyo menyajikan kisah lelaki tua di sebuah dusun terpencil. Ia hidup bersama istrinya yang bawel. Ia berkebun di di tanah warisan orang tuanya. Sekalipun a bekerja keras, istrinya memandangnya pemalas. Suatu hari ketika ia sendirian di rumah dan istrinya pergi menjenguk anaknya di desa lain, timbullah hasratnya untuk bermalas-malas dan menikmati kesendirian sesantai mungkin. Tetapi tiba-tiba kesadaran muncul dalam dirinya: sebagai seorang Muslim tidaklah baik bermalas-malas dan menyia-nyiakan waktu. Kini dia ingat di dusun itu orang sedang membangun sebuah masjid dan surau. Telah banyak orang memberikan sumbangan baik tenaga, pikiran dan harta. Ingat ini dia pun mengurungkan niatnya untuk bermalas-malas. Dia pergi menuju kebunnya. Ia menemukan sebuah pohon nangka tua yang ditanam dan dipeliharanya sendiri sejak kecil. Dia memilih batang nangka itu sangat baik untuk disumbangkan bagi pembangunan masjid itu. Dia bekerja keras menebang pohon itu bersama seorang temannya. Dia ingin menyumbangkan pohon itu secara diam-diam.

Pada suatu malam yang gelap, kayu nangka itu dia hanyutkan ke sungai dan tidak lama kemudian kayu itu terdampar tidak jauh dari tempat masjid dan surau itu sedang dibangun. Tetapi sayang, pada waktu subuh ketika ia datang ke tempat itu, dia melihat kayu nangka itu sudah tidak ada di sana. Ia telah dibawa hanyut oleh banjir yang datang tengah malam. Mula-mula dia kecewa, akan tetapi kemudian tersenyum sambil berkata, ‘Sesuatu telah hilang. Tidak. Tidak ada yang hilang…Sampai kepada-Mukah Tuhan?’

Cerpen ini begitu simbolik dan puitik, dan sangat sufistik, namun tetap berpijak pada realitas. Tentu saja kesufistikan cerpen Kuntowijoyo itu berbeda dengan kesufistikan cerpen-cerpen Danarto. Bandingkan cerpen ini dengan cerpen Kuntowijoyo yang lain, “Dilarang Mencintai Bunga”. Dalam cerpen ini diceritakan seorang anak dihadapkan pada pilihan yang sama peliknya: Mengikuti jalan hidup ayahnya yang senang pekerjaan kasar, atau mengikuti jalan hidup seorang kakek tua tetangganya yang misterius dan merasa bahagia hidup sendiri dengan bunga-bunga yang ditanam di kebunnya. Ketentraman dan kedamaian bagi si kakek tua adalah sumber kesempurnaan dan kebahagiaan. Tetapi ayah anak itu memandang bahwa sumber kebahagiaan adalah bekerja keras membangun jembatan dan gedung. Tanpa orang yang bekerja kasar, kata si ayah, tidak mungkin manusia mencapai kemakmuran. Ternyata si anak memilih untuk memilih kedua-duanya dengan cara menyeimbangkannya. Tindakan dan renungan (aksi dan kontemplasi) sama pentingnya dalam hidup. Kita tidak tahu yang mana yang lebih utama dan harus didahulukan, seperti halnya tidak mudah menentukan mana yang lebih dulu telur apakah ayam.

Gagasan kepengarangan Kuntowijoyo yang telah berkembang sejak awal 1970an itu mencapai puncak sublimasinya dalam novelnya Khotbah Di Atas Bukit.Novel ini kemungkinan besar ditulis oleh Kuntowijoyo pada tahun 1972 atau 1973, pada saat dia menulis esainya “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” seperti dikutip dalam awal tulisan ini. Seperti kehadiran cerpen Danarto “Rintrik” dan novel Iwan Sumatupang Ziarah, keduanya pada akhir 1960an, kehadiran novel Kuntowijoyo merupakan sesuatu yang baru dan ganjil dalam penciptaan karya sastra di Indonesia. Ia bukan novel biasa yang bertolak dari wawasan realisme formal atau realisme sosial. Cerita hadir sebagai dunia baru yang dicipta oleh pengarang berdasarkan imaginasinya dan pengalaman-pengalaman pengarang dihadirkan sebagai simbol. Mungkin karena tidak biasa itulah maka ketika novel ini disiarkan sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada tahun 1974, pembaca mencemooh dan menyesalkan publikasi novel tersebut di suratkabar kesayangannya. Setelah novel itu diterbitkan pada tahun 1976 oleh Pustaka Jaya, tidak banyak kritikus sastra memberi perhatian kepada novel ini. Sambutan awal yang menggembirakan terhadap novel ini diberikan oleh Mangunwijaya pada tahun 1982. Tetapi ketika novel ini diterbitkan kembali pada awal tahun 1990an oleh Bentang, dalam setahun saja ternyata mengalami cetak ulang 3 kali.

Ada beberapa hal yang dapat dicatat mengenai novel ini, mudah-mudahan masih dalam konteks kepengarangan Kuntowijoyo dan perspektif wawasan estetiknya. Pertama, bagi pembaca yang pernah tinggal di Yogya pada akhir 1960an dan awal 1970-an, latar yang dipaparkan Kuntowijoyo dalam novelnya itu akan membawanya ingat pada Kaliurang, sebuah tempat peristirahatan di lereng Gunung Merapi di sebelah utara kota Gudeg itu. Ketika itu Kaliurang masih sepi dan benar-benar merupakan daerah peristirahatan yang nyaman. Cerita-cerita yang aneh, ceram dan ganjil banyak kita dengar dari orang yang pernah tinggal di situ. Kaliurang juga merupakan tempat orang-orang kebatinan nyepi dan meditasi, atau tirakat dan melakukan ritual yang aneh. Semua itu berhasil disublimasikan oleh Kuntowijoyo dalam Khotbah Di Atas Bukit.

Kedua, dalam menggarap novelnya itu Kuntowijoyo juga menggunakan sarana-sarana estetik dari sastra mistikal atau sufi. Misalnya tampak dengan hadirnya tokoh kembar Barman dan Humam, yang dapat dihubungkan dengan Kisah Dewa Ruci. Dalam Dewa Ruci, Bima berjumpa dengan tokoh kembarannya Dewa Ruci (yang tubuhnya lebih kecil, tetapi wajahnya mirip). Perjalanan ke gunung yang dilakukan oleh Barman untuk beristirahat bersama Poppy, wanita yang dihadiahkan oleh anaknya untuk mendampingi hidupnya selama tinggal di tempat peristirahatan di lereng gunung, adalah semacam tamsil atau kias bagi perjalanan rohani manusia dari tempat rendah ke tempat tinggi. Tamsil semacam ini lazim digunakan oleh pengarang-pengarang Jawa Kuna dan sufi Melayu. Bandingkan misalnya dengan Arjuna Wiwaha, atau kisah perjalanan tokoh-tokoh cerita Melayu seperti Hikayat Inderaputra. Tamsil pendakian ke puncak gunung untuk menjumpai kebenaran tertinggi juga digunakan oleh Hamzah Fansuri pada abad ke-16 dalam syair-syair tasawufnya. Kuntowijoyo sangat akrab dengan simbol-simbol semacam itu dan dapat mentranformasikannya ke dalam novelnya.

Ketiga, bagi pembaca yang pernah mengikuti diskusi-diskusi sastra informal yang sering dilakukan sastrawan-sastrawan muda Yogya di warung-warung kopi dan gudeg di Malioboro dan tempat lain, akan mudah memahami bahwa dialog-dialog dalam novel Kuntowijoyo itu mencerminkan apa yang sering didiskusikan oleh penulis-penulis muda pasca 1965. Di antara materi-materi yang didiskusikan kala itu ialah mengenai falsafah eksistensialisme, mistisisme, religiusitas, sastra absurd dan lain-lain, yang semuanya itu sebetulnya merupakan fenomena awal bagi munculnya posmodernisme. Dialog-dialog dalam Khotbah Di Atas Bukit, setidak-tidaknya berkisar di sekitar eksistensialisme, mistisisme dan religiusitas. Kala itu hedonisme material, yang dicerminkan dalam kehidupan Barman, juga sudah mulai tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya tingkat kemakmuran ekonomi manusia kota. Tidak kalah lagi, kala itu ialah suburnya aliran kebatinan atau kepercayaan. Semua itu tergambar dalam novel Kuntowijoyo. Hanya karena penyajiannya yang tidak mengikuti alur dan bingkai realisme formal/sosial, maka pada awal terbitnya novel ini kurang mendapat sambutan masyarakat sastra.

Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra transendental, yang dikemukakannya pada tahun 1983, saya kira bertolak dari novelnya ini. Sedangkan gagasannya tentang sastra profetik merupakan perkembangan lebih jauh lagi. Kata Kuntowijoyo, “Saya kira kita memerlukan juga sebuah sastra transendental. Oleh karena tampak aktualitas kita tidak dicetak oleh roh kita, tetapi dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial, dan kekuasaan maka kita tidak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata kongkrit dan empiris yang dapat ditangkap indera kita. Kesaksian kita kepada aktualitas dan sastra adalah sebuah kesaksian lahiriah – jadi sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri daro aktualitas, dan kedua, membebaskan diri dari peralatan inderawi kita (Dua Puluh Sastrawan Bicara, DKJ 1984:154-5).
Pembebasan dari aktualitas dalam sastra merupakan jalan (semacamsuluk) menuju aktualitas baru. Yaitu dunia makna-makna. Perjalanan Barman ke tempat peristihatan ke lereng gunung, walaupun motif awalnya untuk beristirahat seraya bersenang-senang bersama seorang wanita cantik, pada dasarnya merupakan simbol pembebasan yang dimaksudkan, sekaligus kenaikan seseorang dari hal yang jasmani dan inderawi menuju maqam rohani dan maknawi. Di lereng gunung itulah, Barman – berkat diplomat tua yang telah duda dan hedonis tulen – menemukan makna baru dalam hidupnya, dan memahami sebab-sebab dari nihilismenya. Makna baru dijumpai setelah dia menyucikan diri (ditamsilkan dengan membersihkan diri dengan air gunung yang jernih, atau athirta dalam mistik Hindu Jawa) dan menenggelamkan diri dalam kesunyataan alam awang-uwung (ahanyutan, fana’). Pada tahapan berikutnya dia berjumpa dengan Humam, kembaran dirinya yang tidak lain adalah manifestasi dari diri rohaninya yang selama ini terlupakan disebabkan terlalu silau pada kesenangan jasmani dan duniawi.

Dalam konteks sastra, pembebasan tersebut berkenaan dengan bahan penulisan. Selama ini, menurut Kuntowijoyo, pengarang terlalu terikat dan tergantung pada aktualitas. Pembebasan harus diakukan supaya sebuah gagasan murni tentang dunia dan manusia bisa didapatkan dan imaginasi sanggup mencipakan sebuah dunia tersendiri yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan peristiwa keseharian. Kita tidak harus hanya menjadi jurubicara dari dunia ejala-gejala, tetapi yang lebih penting ialah mengungkap apa yang berada di sebalik tangkapan indera. Kita menjadi wakil dari sebuah dunia yang penuh makna. Ini bersangkut paut dengan cara kita mendekati obyek-obyek sastra, yaitu seperti menangkap hakikat segala sesuatu. Untuk sebuah sastra transendental yyang pening bukan bentuk, tetapi makna; yang ‘di dalam’ bukan ‘yang di permukaan’. Perjalanan ke dunia makna adalah pendakian atau penerbangan ke dunia atas, seperti dinyatakan dalam sajaknya “Perjalanan ke Langit” (dalam antologi Isyarat 44):

Bagi yang merindukanTuhan menyediakanKereta cahaya ke langitKata sudah membujukBumi unuk menantiSudah disiapkanAwan putih di bukit
Berikan tandaAngin membawamu pergiDari pusat samuderaTidak cepat ata lambatKarena menit dan jamMenggeletak di mejaTangan gaib mengubah jarum jamBerputar kembali ke-0
Waktu bagai saljuMembeku di rumputanSelagi kau lakukan perjalanan
Khotbah Di Atas Bukit merupakan novel yang sarat dengan renungan-renungan sufistik dan filosofis. Banyak sarana estetik sastra mistik Jawa dan sufi Melayu yang digunakan. Selain tamsil pendakian ke gunung, penghadiran tokoh kembar, laku penyucian diri dan kehanyutan, juga penggunaan unsur erotis. Barman, tokoh utama novel itu, mengakhiri hidupnya dengan menunggang kuda putih. Dalam mitos Hindu, pada akhir zaman Kalki – yang merupakan penjelmaan Wisnu – akan muncul menunggang kuda putih. Kuntowijoyo juga menggunakan paradoks-paradoks sufi dalam monolog atau pun dialog tokoh novelnya. Misalnya perkataan Human kepada Barman, “Keadaanku ialah ketiadaanku. Atau sebaliknya!’

Di sini terdengar gema dari renungan sufistik Sunan Bonang dalam Suluk Kaderesan:
Nafi jinis (peniadaan genus) berarti‘Yang tidak wujud’Adanya ialah tiadaNafi nakirah (peniadaan mutlak) artinyaKewujudannya diciptaAdanya disebabkan perintah Kun! (fayalkun)Tamsil nafi jinisJika dirujuk pada dirinya sendiriBerarti hakikatnya tiadaKetahui ini!Kata nakirah lantas berartiAda dan tiada bukan sifatnya (yang abadi)Nama yang dapat diberikan ialah tiada
Yakini ini, sungguh pun sukarYakini makna dua hal ini!Tiada itu dikenakanPada benda-benda yang tak punya wujud (hakiki)Dan itu disebut ‘suwung’ (kosong)Yang jika lenyap tak meninggalkan bekas
(lihat Kembali Ke Akar Kembali ke Sumber. 1999:33)

Satu lagi renungan sufistik dalam bentuk paradoks pernyataan di dalam novel itu ialah komentar khalayak ramai ketika menyaksikan kematian Barman yang terjerumus jurang bersama kuda putihnya:
“Tak ada lagi harapan!” kata orang yang satu.“Tak ada lagi putus asa!” sahut prang kedua dan seterusnya.“Tidak ada lagi kebahagiaan!”“Tidak ada lagi kesedihan!”“Dan yang ada adalah hidup (al-hayy, pen.) kita!”“Yang sempurna!”“Yang kosong…”“Tidak ada lagi yang bertentangan!”“Aduh darahnya!” = “Aduh senyumnya!”“Aduh remuknya!” = “Aduh bagus wajahnya!”
Melalui dialog-dialog ini Kuntowijoyo ingin memperlihatkan bahwa suatu peristiwa dalam kehdupan ini bisa menimbulkan kesan, tanggapan dan bahkan pendapat yang berbeda-beda. Segala sesuatu di dunia fenomena ini memang relatif, dan relativisme menimbulkan apa yang disebut oleh Lao Tze sebagai chaos(dalam Tao Te Ching). Kita pun juga pasti memiliki tanggapan yang berbeda tentang pengarang yang berbeda-beda, termasuk Kuntowijoyo. Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa Kuntowijoyo merupakan penulis Indonesia sesudah kemerdekaan yang pertama kali mengungkapkan persoalan falsafah perenial dalam karangan prosanya bersama-sama Danarto.

Selamat jalan sohib yang budiman! Selamat jalan mas Kunto!

Jakarta 15 April 2005
Abdul Hadi W. M.

Sunday, August 07, 2011

Kumpulan Cerpen Bidadari Meniti Pelangi

POTRET KEHIDUPAN KAUM PINGGIRAN

Cerita pendek (cerpen) sebagai subgenre prosa sampai hari ini masih menduduki tempat utama dalam publik sastra Indonesia. Paling tidak, hal itu dapat dibuktikan dari banyaknya koran di Indonesia yang masih mau menyediakan ruang untuk pemuatan cerpen. Kalau tidak dipandang penting dan tidak dibutuhkan, tentu para pengelola koran tidak perlu mengorbankan ruang “hanya” untuk memuat sebuah cerpen. Kompas, Media Indonesia, Repuiblika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Suara Karya, Koran Tempo, Bali Pos, Singgalang, Pikiran Rakyat, dan sejumlah koran lain yang tak tersebutkan di sini tiap minggu memuat cerpen. Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti apakah cerpen yang dimuat dalam koran tersebut dibaca atau tidak, kenyataannya koran-koran itu secara ajeg memuat cerpen tiap minggunya. Itu menunjukkan bahwa cerpen dipandang masih dibutuhkan pembaca.

Banyaknya naskah yang masuk ke meja redaksi tiap harinya menandakan bahwa cerpen masih diminati. Keberanaian penerbit membukukan cerpen yang semula dimuat di koran adalah fakta lain lagi yang menyiratkan bahwa minat dan gairah orang untuk menulis dan membaca cerpen di Indonesia cukup tinggi. Ketika sebuah penerbit (komersial) berani menerbitkan cerpen, maka ia telah mempertimbangkan kemungkinan untung dan ruginya. Mustahil penerbit berani menerbitkan cerpen kalau produk itu akhirnya tidak dibeli dan dibutuhkan orang.

Salah satu penerbit yang cukup berani dan produktif dalam menerbitkan buku-buku sastra, khususnya kumpulan cerpen, adalah penerbit buku Kompas. Tiap tahun penerbit itu menerbitkan cerpen-cerpen terbaik (pilihan) yang pernah dimuat di koran Kompas. Selain itu, penerbit tersebut juga menerbitkan cerpen-cerpen lain, baik yang sebelumnya pernah dimuat di Kompas maupun dimuat di koran lain. Sampai saat ini penerbit buku Kompas telah menerbitkan puluhan kumpulan cerpen. Bidadari Meniti Pelangi (selanjutnya cukup disebut BMP) adalah salah satu buku kumpulan cerpen di antara sejumlah buku kumpulan cerpen lain yang diterbitkan oleh penerbit buku Kompas.

Buku ini memuat 18 cerpen yang sebelumnya pernah dipublikasikan di sejumlah media, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Media Indonesia, dan tabloit Nova. Meskipun penulisnya seorang guru, secara tematik BMP tidak menyoroti kehidupan guru. BMP lebih banyak berbicara tentang berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, keamanan/ketenteraman, dan kekerasan, terutama yang terkait dengan kehidupan dan nasib orang-orang kecil, dan kaum pinggiran. Tidak heran jika dalam BMP nasib dan kehidupan kuli bangunan, petani yang menjadi korban penggusuran, pelacur, pencuri, dan golongan lain yang menjadi korban kekerasan menjadi fokus cerita. Penderitaan orang-orang yang ditinggalkan sanak famili (anak, suami) karena konflik sosial serta ekses atau penderitaan orang-orang yang menjadi korban dari proyek pembangunan jalan dan pembangunan perumahan menghiasi BMP.

“Perusuh” yang menjadi pembuka BMP, misalnya, menampilkan tokoh Karli yang menjadi korban penggusuran. Karli tersingkir setelah tanahnya digusur untuk proyek pembangunan perumahan. Tidak hanya itu, Karli dihakimi massa karena mencuri barang-barang pengembang (developer) perumahan. Sebelumnya, Karli adalah seorang petani biasa yang menggantungkan hidup dari tanah yang digarapnya. Entah bagaimana prosesnya, Karli akhirnya kehilangan sumber penghidupan karena tanahnya tergusur untuk perumahan. Tidak dijelaskan dalam cerpen ini berapa besar ganti rugi yang diterima Karli. Namun, satu hal jelas, Karli kehilangan sumber nafkah, kehilangan harga diri, dan kehilangan kendali. Keadaan telah membuat Karli menjadi pencuri. Risiko yang harus ditanggung seorang pencuri apabila aksinya gagal minimal ada dua: dihakimi massa atau masuk dalam jeruji penjara. Karli mengalami keduanya. Sangat ironis: Karli tersungkur di bumi yang selama ini menopang hidupnya, bumi yang selama ini memberi harga diri, bumi yang selama ini memungkinkan dia berdiri tegak untuk mengisi kehidupan sehari-harinya bersama Ijah, istrinya.

Dari pemaparan ringkas itu terlihat bahwa secara tematik, cerpen tersebut berbicara tentang penderitaan yang dialami dan melekat pada diri orang kecil, orang pinggiran, atau orang yang terpinggirkan oleh keadaan. Tema semacam itu—dengan gaya penyampaian yang berbeda-beda—boleh dikatakan mendominasi BMP. “Bulan Terapung di Kali”, “Isteriku dan Kelambit”, “Hukuman bagi Sarkum”, “Lembah Bayang-Bayang”, “Anjing Penjaga Bayi”, dan “Kapuk-Kapuk Randu Merekah,” semuanya melukiskan kehidupan dan derita orang-orang kecil yang disebabkan oleh berbagai hal: penggusuran, kemiskinan, dan kekerasan. Sekalipun orang-orang kecil dalam sejumlah cerpen tersebut tidak selalu menjadi tokoh utama, dari kisah yang tergelar, tak pelak, tersirat juga kegetiran hidup mereka. Dalam “Bulan Terapung di Kali,” misalnya, terkandung saran kemurungan dan kekelaman. Kehidupan orang-orang kecil yang tinggal di tepi kali dengan segala warna dan isinya: kekerasan, kekumuhan, kemiskinan, dan kemesuman dilukiskan sedemikian rupa sehingga terasa mengharukan. Berbagai peristiwa yang hadir lewat penuturan Aku mengalir begitu saja, nyaris tak ada kejutan sebagai pemanis cerita. Prasetyo—penulis cerpen ini—mengikat perhatian pembaca dengan menciptakan Aku yang bertutur tentang pengalaman dan kehidupannya di suatu pemukiman kumuh di tepi kali.

Nada kelam yang terkait dengan kemiskinan terpotret juga dalam “Hukuman bagi Sarkum.” Namun, berbeda dengan cerpen sebelumnya, cerpen itu disajikan dengan gaya diaan. Narator bertindak sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita. Dari posisi itulah ia menuturkan kisah tentang seorang Sarkum yang menuai “hasil” dari kejahatan yang dilakukannya. Kejahatan yang dilakukan Sarkum ditarbelakangi kemiskinan. Berbeda dengan “Perusuh,” yang dipotret Prasetyo dalam “Hukuman bagi Sarkum” adalah kehidupan orang kecil yang menjadi korban pembangunan jalan tol. Sama halnya dengan Karli, Sarkum—tokoh utama dalam cerpen tersebut—dihadapkan pada persoalan tempat tinggal. Jika Karli tergusur dari tanahnya sendiri, Sarkum tergusur dari rumah kontrakannya. Penggusuran demi penggusuran yang dialami Sarkum telah mengusik ketenteraman hidupnya. Sama halnya dengan Karli, Sarkum mengakhiri petualangannya di jeruji penjara, bahkan akhirnya ia mati karena dibunuh. Dan Surti—istrinya—kembali kepada kehidupan lamanya: melacur.

Cerpen lainnya yang juga mengetengahkan kehidupan orang kecil yang tertindih beban hidup adalah ”Isteriku dan Kelambit”. Dalam cerpen itu yang menjadi sorotan Prasetyo adalah kehidupan rumah tangga orang kecil yang terguncang oleh persoalan anak. Aku—tokoh utama cerpen itu—yang menjadi kuli bangunan mendadak terinjak harga dirinya ketika diperolok-olok profesinya oleh istrinya. Sebaliknya, istri Aku menjadi panas hati dan mengusir suaminya saat Aku mulai menyinggung status Tarno, anaknya. Di pengasingan Aku disadarkan oleh jeritan seekor kelambit yang mencari anaknya di pagi hari. Kejadian itu seakan membukakan hati Aku tentang arti kesetiaan induk terhadap anaknya, kesetiaan ibu kepada anaknya. Atas kejadian itu, rasa bersalah dan penyesalan pada diri Aku pun terbit. Maka pulanglah Aku ke rumah untuk menemui istrinya.

Beberapa cerpen yang disinggung tersebut merupakan contoh bagaimana kehidupan orang-orang pinggiran diangkat Prasetyo dalam BMP. Sebetulnya, pengarang yang berkali-kali menang dalam lomba penulisan cerpen itu tidak hanya berbicara tentang orang-orang kecil dalam cerpen-cerpennya. “Permainan Boneka” dan “Kupu-Kupu Bersayap Patah” adalah dua contoh cerpen Prasetyo yang menyoroti kehidupan (jiwa) orang-orang yang menjadi korban dari konflik antaretnik. Meskipun tidak merujuk secara eksplisit ke peristiwa tertentu, dua cerpen tersebut—dilihat dari aspek kisah dan perilaku tokohnya—mengingatkan kita pada konflik antaretnik pada kurun waktu tertentu di Indonesia. Dalam “Permainan Boneka” dilukiskan kesedihan seorang ibu penjual sate yang anaknya mati mengenaskan dalam konflik tersebut. Melalui penggambaran Ino—anak seorang pelukis—terkuaklah kepiluan seorang ibu yang anaknya dipenggal kepalanya. Tak dipakai kata pilu, kejam, atau menyedihkan dalam cerpen itu, tetapi bila kita kunyah dengan hati, saranan dan siratan kekejaman serta kepiluan menyarat dan memancar dari cerpen tersebut. Meskipun tidak diteriakkan—lewat narator atau tokoh utama—nada simpati dan prihatin terhadap nasib tokoh ibu dapat kita rasakan.

Nada semacam itu juga terlihat dalam “Kupu-Kupu Bersayap Patah.” Seorang penjual sate yang buntung kakinya dan terusir dari tempatnya menjalin persahabatan yang tulus dan mesra dengan seorang bocah, Etrisa. Lewat cerpen tersebut diperlihatkan betapa sikap lembut yang diperlihatkan tukang sate kepada Etrisa menjadi sarana yang elok untuk menjalin komunikasi dan persahabatan. Sikap tanpa prasangka dan tanpa pamrih yang ditunjukkan Etrisa kepada tukang sate dan sikap tanpa perhitungan serta kepedulian tukang sate terhadap Etrisa seakan menyindir orang-orang dewasa yang terlibat permusuhan. Sama halnya dengan “Permainan Boneka,” “Kupu-Kupu Bersayap Patah” juga tidak secara eksplisit merujuk ke peristiwa tertentu. Namun, dari cerita itu tersirat nada sindiran dan kepedihan. Tukang sate yang dapat menjalin hubungan dan persahabatan dengan bocah bernama Etrisa dilatari oleh kerinduan dan kenangan tukang sate pada anaknya yang menjadi korban kerusuhan atau konflik.

Selain mengangkat tema sosial, khususnya yang bertalian dengan kehidupan orang kecil, Prasetyo lewat BMP juga menggarap tema lain yang—setidaknya dari perilaku tokoh-tokohnya—tidak langsung berhubungan dengan kehidupan orang kecil. “Dua Ekor Cicak Merayap,” dan “Anak Panah Merajam Dada,” misalnya, lebih menyoroti makna kesetiaan. Cerpen pertama menggunakan acuan cerita rakyat, Alingdarma, sementara cerpen kedua menggunakan acuan wayang (kisah Narasoma atau Salya) untuk menjelaskan makna kesetiaan.

Sejumlah cerpen lain yang belum disinggung secara tersirat menyoroti persoalan moralitas. Dalam “Sang Malaikat” dilukiskan hari-hari akhir seorang pemburu. Melalui cerpen itu seakan hendak ditunjukkan berlakunya “hukum karma” bagi seseorang. Ungkapan “Siapa menanam akan menuai” kiranya relevan untuk disematkaitkan dengan nasib Sang Malaikat yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyakitkan. Apa yang dilakukan Sang Malaikat pada masa lalu, membantai para gali, seakan dibayar oleh proses kematiannya yang menyakitkan. Ia mati setelah diseruduk babi hutan.

“Pemakaman Sunyi” menunjukkan nada yang mirip dengan “Sang Malaikat” sekalipun tokoh yang memainkan cerita menunjukkan latar belakang yang berbeda. “Pemakaman Sunyi” mengisahkan proses penguburan seorang pejabat yang amat berbeda jika dibandingkan dengan penguburan jenazah tukang sampah. Penggalian kubur untuk jenazah pejabat dilakukan dengan susah-payah, sementara penggalian kubur untuk jenazah tukang sampah berjalan begitu lancar dan mudah. Meskipun tidak ada penuturan bagaimana perilaku sang pejabat dan tukang sampah semasa hidup, secara tersirat pembaca seperti dibawa kepada satu kesimpulan bahwa lancar tidaknya penguburan jenazah sangat ditentukan, minimal berhubungan dengan, tingkah polah orang itu semasa masih hidup.

Tidak mungkin semua cerpen yang dihimpun dalam BMP dikemukakan. Seperti telah disebutkan dalam bagian awal, cerpen-cerpen yang terhimpun dalam BMP memperlihatkan tema yang beragam, tetapi kehidupan kaum pinggiran yang erat kaitannya dengan kemiskinan, penggusuran, kekerasan merupakan persoalan yang dominan. Persoalan-persoalan tersebut disoroti lewat kisah yang ditokohi orang-orang kecil (kuli bangunan, pelacur, tukang sate, pencuri, pembantu rumah tangga) yang menjadi korban keadaan. Apa yang terjadi pada batin para tokoh itu diperlihatkan lewat jalinan cerita yang padu. Cerpen-cerpen dalam BMP kadang terjalin lewat alur yang sederhana dengan sedikit kilas baik. Aspek kejutan yang biasanya ditempatkan di akhir cerita atau konflik yang dibangun lewat perdebatan antartokoh nyaris tidak ditemukan dalam BMP. Namun, tidak berarti BMP kehilangan kekuatan artistiknya. Gaya penuturan yang mengalir, pilihan kata yang irit dan tepat (puitis, tidak bombastik) serta penentuan posisi atau sikap pencerita yang tidak menggurui, menggiring, atau memprovokasi pembaca merupakan kekuatan cerpen yang terhimpun dalam BMP.

Tak ada kutukan, penistaan, sumpah serapah, atau penghakiman oleh narrator yang tertuju pada tokoh. Saat menunjukkan perbedaan yang tajam antara anak kandung dan anak tiri serta perilaku ibu tiri yang berlawanan dengan stereotipe atau gambaran umum tentang ibu tiri dalam “Kapuk-Kapuk Randu Merekah” narator tidak terjebak pada sikap berpihak. Karena itu, dalam cerpen tersebut tak dijumpai kecerewetan atau kenyinyiran narator. Kedurhakaan diperlihatkan narator lewat percakapan antartokoh dan sedikit narasi. Narator—yang dalam banyak hal sering diidentikkan dengan pengarang--bisa menahan diri untuk tidak secara sewenang-wenang menghukum Agung (si durhaka), anak tertua Emak. Mungkin kecenderungan inilah yang membuat S. Prasetyo Utomo menganggap dirinya sebagai seorang penulis realis (lihat hlm vii—xi). Ia bahkan menyebut diri sebagai “juru cerita.”

Jika kerealisan itu dikaitkan dengan dari mana tema cerpen dalam BMP ini digali, saya kira tidak perlu ada keberatan yang diajukan. Namun, jika kerealisan itu dikaitkan dengan gaya penyampaian, mungkin pengakuan Prasetyo membutuhkan catatan. Realisme sebagai gaya biasanya dikaitkan dengan bagaimana pengarang menyikapi realita dan mengolah realita menjadi cerita. Tidak seperti seorang penulis romantis yang cenderung menanggapi sesuatu dan melukiskan sesuatu dengan mengandalkan pada perasaan, maka seorang realis menunjukkan kesetiaannya pada realita yang dicerap-alaminya. Pewujudan realita ke karya tidak digerakkan oleh perasaan, tetapi oleh realita itu sendiri. Bagaimana realita tampil (terkesan) apa adanya dalam karya menjadi tumpuan utama. Realita yang diusung ke dalam karya tidak dibalut keinginan penulis untuk memperindahnya, ia harus terkesan tampil apa adanya. Dalam konteks itu, saya melihat cerpen-cerpen dalam BMP lebih memperlihatkan gaya campuran realisme dengan romantisme. Dengan kata lain, BMP dituturkan dalam gaya realism romantik. Hal itu paling tidak dapat dilihat dari cara Prasetyo memilih kata yang cenderung puitik dan metaforik. Contoh sederhana dapat dilihat pada judul tiap cerpen. “Bulan Terapung di Kali,” “Bidadari Meniti Pelangi,” “Lembah Bayang-Bayang,” “Kupu-Kupu Bersayap Patah,” “Kapuk-Klapuk Randu Merekah,” “Anak Panah Merajam Dada” adalah judul-judul yang terasa asosiatif daripada informatif. Pemilihan judul semacam itu mengisyaratkan suatu gaya penulisan romantik tinimbang realis. Kelambit yang dianalogikan dengan istri pada “Istriku dan Kelambit” jelas menyiratkan bahwa cerpen itu tidak sepenuhnya ditulis dalam gaya realis. Penggunaan acuan dan penuturan dalam “Dua Ekor Cicak Merayap” dan “Anak Panah Merajam Dada” kiranya juga menjadi bukti lain bahwa cerpen-cerpen dalam BMP tidak sepenuhnya disajikan dalam gaya realis.

Sebetulnya, ditulis dalam gaya apa pun--romantis atau realis--untuk suatu karya, tidaklah menjadi persoalan. Lagi pula batas antara gaya realis dan romantis dalam suatu karya sering tidak tajam. Pada karya yang mengatasi batas ruang dan waktu dan yang menjadi perhatian banyak orang, umumnya tidak dikaitkan dengan label yang mengacu pada satu aliran tertentu. Saya kira, dalam memandang BMP kita juga dapat mengabaikan label yang terkaitkan dengan aliran. Terlepas dari gaya apa yang dipakai Prasetyo dalam menulis, cerpen-cerpen dalam BMP, menurut hemat saya, bukan saja berhak mendapat pujian, melainkan juga laik dijadikan sebagai bahan kupasan.

Sunu Wasono

Thursday, August 04, 2011

Datangnya dan Perginya AA Navis

Datangnya Dan Perginya
Cerpen AA Navis

Ketika surat pertama Masri datang, melonjaklah keinginan hendak menemuinya di tahun yang lalu. Surat itu diciumnya berulang-ulang dan disimpannya di antara lembaran Quran. Setiap hari ia membaca Quran itu, setiap itu pula ia menciumnya. Dan sebuah kalimat yang disenanginya selalu saja mengikat matanya. Meski kalimat itu sudah lengket dalam ingatan masih juga dibacanya lagi.

"Datanglah, Ayah. Hati kami rasa terbakar karena rindu. Tidakkah Ayah ingin berjumpa dengan Arni, menantu Ayah? Dan dengan kedua cucu Ayah, Masra dan Irma?"

"Ya, tentu, Anakku. Tentu. Kenapa tidak. Aku sudah tua. Sebelum aku mati, aku mesti bertemu dengan kau semua," kata orang tua itu dalam hati. Lalu diraba-raba dadanya sebelah kanan. Mencari-cari sesuatu di dalam saku-dalam pada jasnya. Dan kemudian tangannya itu hilang di balik lipatan jas. Sebentar saja. Keluar lagi bersama selembar amplop yang tepinya telah lusuh. Dibukanya tutup amplop itu dan dari dalam dikeluarkannya sebuah foto sebesar poskar. Dan matanya menatap bulat. Serta di bibirnya yang mencekung ke dalam tergores senyum kepuasan.

"Pakai kumis kau sekarang, Masri. Sudah berubah benar. Berbahagia kau dengan Arni, ya? Sudah dua anakmu sekarang Ayah juga turut berbahagia bersamamu, Nak. Selamanya ayahmu merasa bahagia melihat rumah tangga yang berbahagia. Apalagi engkau, Anakku." Lalu poskar itu dimasukkannya kembali ke dalam amplopnya. Baru setengah, ia keluarkan lagi. Dibawanya ke bibirnya. Tak sampai. Ia ingat ada orang-orang di sekelilingnya. Dan poskar itu dimasukkannya lagi ke dalam amplop.

Disimpannya kembali ke dalam saku jasnya. Ia bersandar selelanya. Dan kenangannya melayang ke masa yang lalu.

Selagi Masri berumur tiga tahun, istrinya yang dicintai itu meninggal. Waktu itu ia masih muda. Dan hatinya patah sudah. Dan ia merasa-rasakan, bahwa bahagia tak mungkin lagi datang padanya. Tapi kesunyian menerpanya selalu. Sepi sekali. Itu tiada terderitakan. Dan datangnya pada malam di waktu matanya tak hendak terpicingkan. Datangnya mengoyak-ngoyak. Maka akhirnya ia kawin lagi. Tapi malah perkawinan ini tambah merusakkan hatinya. Hatinya yang masih mengenang cinta kasih mendiang ibu Masri diobrak-abrik oleh kedatangan perempuan ini. Ia ingin segalanya tiada berubah. Susunan rumahnya, aturan makannya, ia mau seperti yang dilakukan oleh ibu Masri. Tapi istrinya yang baru ini tiada rela suaminya tenggelam dalam suasana lama. Dan mereka tak berbahagia. Pertengkaran sering terjadi sampai mereka bercerai. Meski si istri sedang mengandung.

Lama kemudian ia kawin lagi. Tapi bercerai pula akhirnya. Kawin dan cerai lagi. Dan terasalah olehnya bahwa rumah tangga tak mungkin memberikan kesenangan lagi baginya. Lalu kesepian hatinya diisinya dengan perempuan yang takkan mengikatnya dengan syarat-syarat kawin.

"Ah, ibu Masri cuma satu. Cuma satu perempuan seperti dia. Dia baik. Baik sekali. Semua orang suka padanya. Semua orang. Dan dia pandai. Pandai dalam segala hal. Tapi, yah, Tuhan terlalu cepat mengambil tiap-tiap yang dikasihi seseorang. Ah, aku tak mengerti, kenapa semua orang yang berbudi baik, terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. Aku tak mengerti, kenapa mesti begitu. Ataukah dunia ini hanya boleh ditempati orang-orang yang tak baik saja? Ah, maka itu dunia ini tak mungkin jadi surga gerangan?" ia mengomentari lamunannya. Dan kepalanya digeleng-gelengkannya. Dan matanya berlinang puncak kepiluannya. Diangkatnya kaca matanya, lalu dipijit-pijitnya jangat di bawah biji matanya, menahan linangan jangan sampai jatuh. Dipasangnya kembali kaca matanya. Dan ia bersandar lagi pada sandaran tempat duduknya.

Kereta api yang ditumpanginya masih melaju kencang. Orang-orang sekitarnya sudah habis mengantuk. Kepalanya mengangguk-angguk bagai kepala boneka bergoyang. Bahkan ada yang pulas sama sekali, sehingga air ludahnya meleleh seperti lendir dari sudut bibirnya. Dan ada yang terangguk-angguk dan ketika kepalanya seperti akan jatuh ke pangkuannya, ia terbangun lagi. Namun mata orang tua itu masih nyalang juga. Dilemparkan pandangannya keluar jendela. Alam di luar menghijau dan disungkup oleh awan yang memutih di langit. Di kejauhan burung elang terbang berbegar. Lalu semuanya jadi memudar. Dipudari oleh kenangannya kep ada Masri, anaknya.

Pengisian kehampaan dengan dambaan perempuan di sepanjang malam itu, menjadikannya hanyut berlarut-larut. Merusakkan hidupnya sendiri. Hingga Masri yang terdidik kasih sayangnya, menjadi disiksa oleh olok-olok kawan-kawannya di sekolah. Namun si anak tetap tidak percaya bahwa kesucian ayahnya telah rusak. Si anak ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri: benarkah ayahnya seperti yang dikatakan teman-temannya. Dan si anak mengintip. Mengintip kebahagiaan ayahnya dalam rangkulan perempuan jalang itu. Ah, betapalah hancurnya hati si anak. Mungkin ingin ia membutakan matanya, agar segala yang di depan matanya itu tiada terlihat. Dan ia temui ayahnya dengan dendam tiada terbada. Kehadiran Masri menjadi olok-olok perempuan yang dibayarnya. Dan ia merasa terhina dan marah sekali. Tapi si anaklah yang jadi sasaran marahnya. Ditamparnya sekuasa kuatnya. Namun si anak diam dalam kesakitan. Dibiarkannya ayahnya berbuat sesuka hatinya.

"Kurang ajar kau. Bikin malu. Ayo, pergi. Kau bukan anakku lagi!"

"Memang aku bukan anak ayah yang begini. Aku memang mau pergi!" si anak membangkang.

"Kau kurang ajar!"

"Kalau aku kurang ajar, bukan salahku. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini.
Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir, Ayah lagi yang merusaknya! "

Si ayah betul-betul hilang kesabarannya. Jika tadi perempuan jalang yang dibayarnya sudah pandai menertawakannya, maka sekarang anaknya sendiri yang menghinanya. Ia hendak memukul lagi. Tapi si anak cepat pergi tak kembali lagi ke rumah ayahnya.

Orang tua itu merasa napasnya tertahan. Jantungnya kencang berdebar. Dan ia sadar lagi dari lamunannya. Tepekur ia dalam kesadaran pikirannya. Yang waras. "Memang terlalu," katanya dalam hati. "Perkataan Masri melukai hatiku sungguh -sungguh. Tentu Masri takkan begitu kalau bukan aku ayahnya. Tentu anak orang lain takkan berkata begitu kepada ayahnya. Tentu aku ayah yang salah. Jahat. Kalau aku pikir-pikir kini, Masri, aku merasa kautelanjangi bila aku bertemu kau nanti. Aku memang ayah yang tak baik. Tapi, Anakku, perkataanmu dulu itu benar, Anakku. Perkataanmu dulu menimbulkan kesadaranku kemudian. Malam-malam ketika aku berbaring di tempat tidur di rumah kita, lambat laun aku insaf. Akulah yang salah. Akulah ayah yang celaka. Tapi kau sudah pergi, Anakku. Kepergianmu yang tak kembali lagi itu, menghancurkan hatiku. Aku ingin kau terus di sisiku, karena kau anakku satu-satunya. Karena kau duniaku, tempat aku berpegang lagi. Tapi kau tak ada lagi. Ingin aku maafmu, Nak. Ingin sekali ketika itu. Tapi kau tak kunjung datang.

Kemudian aku tobat, Anakku. Aku lemparkan kehidupan duniawi. Aku jual segala harta benda kita. Aku wakafkan. Dan aku pergi ke dusun jauh. Aku tinggal di mesjid sana. Aku serahkan diriku kepada Allah. Bertahun-tahun lamanya. Dan di samping itu kuajak manusia di sekitarku hidup dalam rukun damai. Semuanya, semua rumah tangga di dusun itu, ikut aku mendamaikannya, membahagiakannya, kalau ada terjadi cekcok.

Alangkah bahagianya hatiku, Nak, kalau aku melihat kebahagiaan rumah tangga mereka. Karena aku sendiri mengerti apa arti kebahagiaan rumah tangga itu. Tapi, Masri, ketika aku menerima suratmu setahun yang lalu, kuakui aku bimbang mulanya menerima ajakkanmu. Aku merasa ditelanjangi. Anak yang kutampar, anak yang kuusir dulunya, anak itu yang mengajak aku datang ke rumahnya. Aku malu. Malu sekali, Masri. Dan aku tak mau datang. Enggan karena malu. Tap i tahu kau, suratmu itu selalu kucium?

Dan kemudian datang suratmu lagi. Juga tak kubalas. Dan suratmu yang ketiga beserta wesel uang itu, tidak mengguncangkan hatiku dari pendirianku semula. Tapi, Masri, uang itu aku ambil juga ke kantor pos akhirnya. Karena terpaksa. Karena ada orang lain yang hendak kutolong dengan uang kirimanmu itu. Kalau aku sudah mengambil uangmu, Anakku, aku terpaksa juga mengunjungimu. Terpaksa bukan berarti aku tak mau, tapi karena aku sangat malu bertemu denganmu.

Tapi sekali aku ingat, aku sudah tua. Umurku takkan lama lagi. Dan kalau aku mati, aku mau tak semiang dosa pun lengket di badanku. Dosaku yang terbesar akan hapus oleh maafmu, Anakku. Kini aku datang menyerahkan diriku padamu, sebagai ayah yang kalah. Tahu kau, Anakku, oleh surat-suratmu yang tak bosan-bosannya datangnya itu, sampai empat kali, dan tak pernah kubalas, merobohkan sifat-sifatku yang buruk. Sifat-sifatku yang tinggi hati, karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. Aku insaf sekarang, kesombongan itulah yang menghancurkan kehidupanku selama ini

"Ada apa, Pak? Kenapa Bapak menangis?" sebuah suara masuk ke telinga orang tua itu.

Tersentak ia dari lamunannya. Dan dirasanya lelehan air di atas ujung mulutnya. Disekanya cepat. Lalu dicobanya tersenyum manis kepada si penegur. Kemudian dipalingkan matanya ke luar jendela. Dilihatnya alam hijau membiru disela oleh rumah-rumah yang berkelompok tiada teratur. Kian lama kian ramai. Tapi kereta api masih laju juga jalannya. Kedengaran desisan lok kejar-berkejaran. Dan kota yang dituju hampir sampai kini. Ketika kereta bertambah perlahan jalannya, bertambah kencanglah jantungnya memukul. Maka yakinlah ia, ia akan berjumpa dengan anaknya. Dan tentu nanti maafan anaknya akan diperolehnya sepenuh ikhlas. Tentu. Terasalah betapa damainya dunia ini olehnya. Dan kalau ia mati kelak, matinya tanpa membawa dosa. Dalam kedamaian itu, kereta pun berhenti. Dan dalam liputan kedamaian itu pula ia meningkat anak tangga rumah anaknya. Tidaklah ia merasa capek sedikit pun oleh guncangan kereta api hampir sepenuh hari itu. Tapi napasnya menyesak juga oleh pukulan jantungnya yang tambah berdebar, seperti debar ketika mula pertama ia memasuki ambang pintu bilik istrinya. Namun ia merasa dirinya segar. Dan ia regup hawa di sekitar rumah anaknya sedalam-dalamnya, agar ia lebih merasa bersatu dengan kehidupan sekitar yang indah itu. Dihadapkan mukanya ke barat, ke utara, ke timur, dan ke selatan. Sedangkan pada garis bibirnya tergores senyum bahagia.

Ketika ia membalikkan badannya menghadap pintu lagi, alangkah terkejutnya orang tua itu. Kedamaian alam yang memagutnya tadi, serta-merta terlempar jauh, terpelanting remuk. Seorang perempuan kurus hampir serupa mayat, berkecak tegak di ambang pintu. Menatap dengan tegar. Sedangkan laki-laki tua itu terpukau dalam kekecutan dan gigilan. Ia tak mengerti kenapa perempuan itu harus ada di situ. Jalan pikirannya begitu lamban. Maka ia mengajak alamnya berdamai kembali dengan serba sangka yang segala baik atas kehadiran perempuan itu di situ.

"Mengapa kau datang juga?" tanya perempuan itu ketus. Dan keketusan pertanyaan itu demikian kesat masuk ke telinga laki-laki itu. Maka hatinya tersinggung. Rasa kesombongan yang telah lama mengendap jauh di lubuk hatinya, menjolak lagi dengan panasnya. Dan dengan pandangan mata yang menyala berang, ia berkata. "Aku kemari ke rumah anakku. Karena diminta datang." Tapi ucapannya itu hilang di ujung bibirnya yang gemetar. Tak bersuara mencapai sasarannya.

"Kalau datangmu hendak membawa keonaran, pergilah kini-kini," perempuan itu menegas lagi.

"Rumah ini, rumah anakku. Aku datang karena dipanggil," laki-laki tua itu berkata lagi dengan berangnya.

Tapi perempuan itu tidak mendengar apa-apa dari mulut laki-laki yang tegak bagai patung di ambang pintu itu. Dan perempuan itu berkata lagi. "Tapi kalau datangmu untuk kebaikan, masuklah."

Dan laki-laki tua itu tak hendak bertengkar di tangga rumah anaknya. Ia masuk membawa hatinya yang ragu dan bertanya-tanya. Tapi keragu-raguan itu segera menyingkir jauh ketika ia memandang keliling ruangan rumah itu. Begitu sederhana, tapi semuanya teratur rapi. Bersih. Dan yang terpenting begitu serasinya. Maka tahulah ia bahwa anaknya, Masri, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan bersama istrinya. Ia pun ikut merasa bahagia. Dan lupalah ia sejenak kepada perempuan yang memandangnya nanap dan dengan hatinya yang kecut.

"Alangkah bahagianya Masri," ia berkata seolah kepada dirinya sendiri. "Tentu Arni, istri yang cocok."

"Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain," kata perempuan itu mencetus.

Dan laki-laki itu terantuk lagi pada kehadiran perempuan itu. Maka tahulah ia bahwa ucapan perempuan itu bermaksud menempelak dirinya. Juga merupakan suatu pukulan untuk mengenang kembali kehidupannya yang lalu. Hatinya tersinggung. Tapi ia tak mampu membangkitkan kesombongan yang tadinya menjolak-jolak. Ia kini jadi lemah dan sempoyongan oleh pukulan itu. Digapainya sebuah kursi. Dalam sempoyongan itu, berbalik-balik sejarah kehidupannya yang lama. Semua pada bagian yang hitam dan pahit-pahit yang paling ia kenang.

"Maafkanlah aku, Iyah. Aku memang orang yang tak baik. Umurku yang setua ini, hampir mati malahan, menginginkan semuanya dalam kedamaian dan kebaikan. Hendaknya jika aku mati, matiku dalam kebersihan dosa-dosa yang telah aku lakukan," katanya lama kemudian dengan suara yang parau serta pengucapannya yang bergetar.

"Cerita maaf, memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang. Tapi bagiku, orang yang selamanya dalam kesulitan ini, cerita maaf haruslah diperhitungkan dulu. Perhitungan antara aku dan kau," kata perempuan itu tanpa kehilangan gayanya yang ketus.

"Iyah," kata laki-laki itu lagi dengan gaya yang meminta belas kasihan.

"Ketika lama sesudah aku menceraikan kau dulu, aku telah menyesal." Namun tak ada kata-kata keluar dari mulutnya selain hanya menyebut nama perempuan itu.

"Sekarang kau datang kemari, hanya untuk merusak."

"Kau tahu aku akan datang?"

"Tahu. Tapi aku selalu berusaha supaya kau tak jadi datang. Tapi aku tak bisa mencegahmu datang."

"Mengapa kau mencegahku?"

"Kedatanganmu merusak."

"Tapi aku sudah tobat. Aku sudah lama menyediakan hidupku untuk kebaikan. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup."

"Tapi kedatanganmu kemari tetap membawa dosa."

"Membawa dosa? Kenapa dosa kubaw a? Bukankah aku diminta datang kemari untuk...," ia terhenti sejenak. Tapi kemudian disambungnya lagi. "Maksudku aku datang untuk minta maaf anakku. Demi kebahagiaan anakku dengan istrinya."

"Istri Masri anakku. Juga anakmu," kata perempuan ketus.

"Iyah," kata laki-laki itu terpekik dalam suaranya yang parau. Dan tiba-tiba tububnya gemetar, kemudian layu terkulai ia di sandaran kursi. Tak dapat ia berkata sepatah pun lagi. Pikiran dan perasaannya menampak bayangan kacau yang bertelau-telau tiada berbentuk apapun. Memenuhi segala ruang. Lama sekali begitu. Dan ketika sadar pada dirinya lagi, ia tak berani menyalangkan matanya untuk melihat kenyataan di sekitarnya. Ia mau mencoba berpikir dan menimbang-nimbang segala yang terjadi dan teralami oleh dirinya sendiri.

"Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung, sejak itu sampai sekarang, aku sediakan diriku dipukuli kutukan. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini, asal mereka tetap bahagia." Suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang tersandar nanar di kursi.

"Mengapa tak kaukatakan?"

"Mengapa aku katakan?"

Dan laki-laki tua itu membuka matanya dan bertanya lagi. "Bukankah itu dosa?"

"Benar. Bagi siapa yang tahu."

"Karena itu kaubiarkan mereka tak tahu?" Ia mulai membangkitkan dirinya lagi.

"Walau bagaimanapun mereka harus tahu. Harus. Mesti. Wajib." Lalu sekujur tubuhnya melemah lagi. Sejenak kemudian dengan suaranya yang mendesis parau ia melanjutkan kata-katanya. "Ini semua dosa, Iyah. Dosa besar. Dosa bagi kita. Dosa bagiku, dosa bagi kau. Juga dosa bagi mereka."

Tak suatu pun terdengar. Sepi dan sunyi. Perempuan yang kurus dengan kulitnya yang bagai telah mersik itu, masih berdiri tegar di tempatnya. Sedangkan laki-laki masih terkapat di sandaran kursi.

"Aku harus memberitahu mereka. Setelah itu mereka harus bercerai. Ini mesti. Kalau selama ini aku telah mendapat keridaan Tuhan, kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku? Maka itu mesti aku katakan kepada mereka," kata laki-laki tua itu sambil memicingkan matanya terus, seolah enggan melihat segala kenyataan yang ada. Ia dengar lagi Iyah berkata. Tapi nadanya mengejek. "Oh, alangkah tamaknya kau. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu.

Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. Hanya karena kau takut memikul hukuman atas dosa-dosamu seorang."

"Iyah," katanya dengan suaranya yang lesu.

"Biarkan mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya," kata perempuan itu menegaskan.

"Aku tak sanggup."

"Tak sanggup?"

" Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan."

"Hmm. Sekarang pandai kau mengatakan itu. Kenapa tidak dari dulu-dulu?"

Hatinya luka lagi. Luka oleh ejekan Iyah. Tapi ia tahu, ia yang salah. Maka ia diam saja. Tapi kemudian ketika ia sadar pada amalan dan ketaatannya pada Tuhan, ia berkata dengan suara yang tegas dan dengan nada yang pasti. "Iyah, walaupun apa katamu, walaupun bagaimana benarnya kebenaran yang kaukatakan, ada lagi kebenaran yang mesti kita junjung tinggi. Kebenaran Tuhan. Manusia harus siap mengorbankan dirinya untuk menjunjung tinggi aturan-Nya."

"Hm. Sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Kenapa? Karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. Karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Kaupikir, dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kaulakukan sendiri?"

"Walau bagaimana, mesti kukatakan kepada mereka bahwa mereka bersaudara kandung."

"Demi menjunjung perintah Tuhan?"

"Demi menjunjung perintah Tuhan yang kusembah siang malam."

"Meski akan merobohkan kebahagiaan hidup manusia lain."

"Itu tak soal. Karena manusia itu berakal, dan harus beriman. "

"Omong kosong. Akal kau, iman kau, hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu. "

"Kau murtad, Iyah!"

"Lebih baik dari orang sepengecut kau!"

Dan si laki-laki merasa tak perlu membantah lagi. Ia telah mengambil putusan.

Putusan yang sesuai dengan kepercayaan yang ia junjung bertahun-tahun lamanya. Iyah juga merasa, bahwa lawannya tak hendak mundur dari pendiriannya. Tapi ia tahu juga, bahwa kepercayaan manusia sukar dilenyapkan dengan perdebatan dan dengan dalil-dalil apapun. Dia kenal manusia seperti bekas suaminya itu, bahkan manusia lainnya, yang akan kalah oleh tusukan yang melalui perasaan kemanusiaannya. Maka ia berkata lagi dengan nada yang merendah sedih, dan seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri. Katanya, "Sebentar lagi anak-anakmu akan datang. Kau lihatlah nanti, betapa bahagianya mereka. Mereka sudah punya anak dua. Malah hampir tiga. Kalau mereka kauberi tahu, bahwa mereka bersaudara kandung, mereka pastilah akan bercerai. Kalau mereka mengerti dan beriman seperti kau, boleh saja. Tapi kalau mereka tidak
beriman, hancurlah hati kemudiannya. Hancurlah kehidupannya, kehidupan yang dahulu sudah pemah kaurusakkan. Mereka bercerai. Dan anak-anaknya akan jadi apa? Tiga orang bukan sedikit. Betapalah dalam tusukan ejekan itu akan menyakitkan hati. Baiknya kalau mereka beriman seperti kau. Tapi kalau tidak?

Iyah berbicara lama sekali, pelan-pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu. Dan selama itu pula tanpa disadari laki-laki itu, bangunan pendiriannya telah dikorek-korek.

"Aku tahu," kata Iyah seterusnya. "Bahwa adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Tapi aku dari semula sudah salah. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. Dalam hal ini mereka tidak salah. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu, aku ditindih perasaan berdosa sepanjang waktu. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang. Kurangkah imanku, kalau dosaku adalah dosaku. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain, apalagi kepada anak-anakku? Dosaku takkan kupupus kalau karenanya mereka akan hancur hati dan kehidupannya. Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. Aku merasakan itu. Dan aku tak
rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu."

Tapi suara Iyah tak tetap lagi. Sudah serak dan terputus-putus. Dia lalu menangis tersedu-sedu. Dan ketika itulah kekukuhan bangunan pendirian laki-laki tua itu hancur berderai-derai. Dia kalah sudah. Kalah oleh perasaan kemanusiaannya yang bertentangan dengan keimanan kepada Tuhannya. Diambilnya bungkusan kainnya, lalu ia melangkah ke pintu. Dan sebelum pintu ditutupnya, berkatalah ia dengan sayu, "Iyah, sebaiknya aku tak kemari. Bahkan kalau hendak memikul dosa-dosalah hidup kita ini, sebaiknya juga kita manusia ini tak usah ada. Tapi manusia tetap ada dan Tuhan pun ada. Dosa kepada Tuhan akan dapat ampunan-Nya kalau kita tobat, Iyah, karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Tapi kalau dosa itu kepada manusia, sukarlah mendapat penyelesaiannya. Dan aku telah lama tidak berbuat dosa lagi bagi manusia, apalagi terhadap manusia yang terdiri dari darah dagingku sendiri. Aku pergi, Iyah. Dan jangan kaukatakan pada siapapun tentang kita, dan tentang apa yang kita lakukan ini. Kau tahu apa yang kita lakukan Iyah."

Perempuan itu mengangguk. Lalu pintu itu tertutup lambat-lambat. Dan laki-laki itu melangkah dengan tenang ke muka, tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah. Dan Iyah tinggal dengan perasaan yang juga pergi dan menghilang jauh meninggalkan pintu yang telah tertutup karena menuruti bekas suaminya, ayah Masri dan juga ayah Arni..***

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook