Monday, November 28, 2011

Cerpen Bulan Pesisir

Mawaidi D Mas

BILA laut pasang, aku akan mengejarnya hingga buih-buih itu seakan mendesis. Bila laut pasang itulah aku akan setia menunggu denyar pagi hingga matahari tenggelam menanggalkan kenangan. Aku seharian di pantai. Tak peduli terik matahari yang membakar kulitku. Di pantai adalah sebagian dari kegemaranku untuk sekadar beriang di sana.

Di bibir pantai, kerap kali aku menyaksikan sebuah perahu cadik yang terapung di atas pintalan air. Perahu cadik itu sering oleng ke kanan-ke kiri ketika ombak datang. Ah, perahu cadik itu, bukan badai atau angin yang mengempas sehingga ia kupantau selalu, tapi keinginan dan kebiasaan pemuda itu untuk bermain angin. Katanya, seorang lelaki yang ingin memancing ikan, kalau tidak bersahabat dengan angin maka ia akan nahas. Artinya, ia tak kan mendapatkan apa-apa.
Pemuda itu mempunyai pendirian sekokoh karang. Di matanya ia tak kenal lelah, apalagi putus harapan untuk menangkap ribuan ikan. Ia sudah terlanjur mencintai pendayung. Tak sia-sia bila pemuda itu seharian di sana, menemani anak-anak ikan sambil dipungut melalui kail pancingnya. Bila pulang pemuda itu akan membawa serajut atau dua rajut ikan yang beragam, mulai dari belena’, mellang, resore dan sebagian cumi-cumi yang didapatkannya.

Bibirnya akan bersyukur kepada Yang Mahapemilik Laut. Keningnya bersinar menyiratkan tanda kebahagiaan. Buru-buru ia menepi dan menambatkan perahu cadiknya. Pemuda itu tak bodoh, ia tak menambatkan perahu cadiknya di dekat pregi, karena ia khawatir ombak malam akan mengamuk lalu menerjang dan membenturkan ke batu-batu.

Aku melempar pandang ke tengah laut, menyaksikan bangau-bangau yang berebutan anak ikan. Nasib sungguh bangau itu, tak bisa menikmati santapan lezatnya. Bila anak ikan berada di paruhnya, ia harus kabur demi menyelamatkan mangsanya. Lalu bangau itu hinggap di pregi. Dipatuk-patuk anak ikan itu sampai remuk. Ditelan dagingnya. Perutnya kembung sedikit-sedikit. Tanpa ia sadar si teman rakusnya sedang menghampiri untuk merebut.

Oh, indahnya panorama laut.

Ibu sering melarang kalau aku seharian berada di pantai.

“Tidak baik perempuan sendirian jauh-jauh dari rumah,” kata Ibu.

Sebenarnya rumahku tak jauh dengan tempat permainanku, tapi perkataan Ibu merupakan sebuah kekhawatiran untukku.

Akhir-akhir ini banyak pemuda yang datang ke rumah untuk mempersuntingku, tapi aku menolak. Pemuda-pemuda itu sama sekali tak cocok bagiku. Sesungguhnya, mereka bukan tidak gagah, tampan dan kaya raya, tapi hati ini tak pernah terketuk sama sekali untuk suka.

Entah, aku tidak mengerti gerangan apa yang ada dalam kalbuku. Aku sangat berterima kasih atas kekhawatiran Ibu. Kekekhawatirannya menunjukkan bahwa ia adalah orang satu-satunya yang tak ingin kehilangan aku. Ibu, Ibu….

“Jika kau berkehendak menjadi istriku, aku yang akan menjagamu dari gombalan laki-laki, aku akan membuat perhitungan dengan mereka kalau perlu, jika benar-benar mengusikmu. Akan kuasah celuritku ini untuk menebas leher mereka.”

“Aduh, semua yang kau tawarkan terlalu baik untukku, tapi aku tidak ingin semua itu. Aku rasa semua pemuda bisa berbuat demikian,” timpalku.

Dahinya berkerut. Sedikit ia menatapku lurus. Kudongakkan kepala sembari kuadukan mataku pada sepasang matanya. Pemuda ini benar-benar bermata celurit. Tatapannya tajam membuat aku enggan.

“Kau meremehkan aku?” ia berkata kemudian. Nafasnya naik turun.

“Aku hanya ingin pemuda yang dapat membahagiakan Ayah dan Ibuku, bukan hanya aku,” jelasku kemudian.

“Oh, hanya itu, toh! Kalau itu keinginanmu mengapa tak bilang sejak kemarin? Baiklah, akan kubuatkan kau perahu yang banyak dan besar, agar kita dapat menjelajahi samudera. Setelah itu, akan kutaklukkan makhluk-makhluk laut untuk tunduk kepadamu, juga keluargamu. Bagaimana cantik?” gombalnya.

Begitulah pemuda desa yang datang kepadaku, di kepalanya berikatkan kain merah, rambutnya yang panjang menutupi alisnya. Di tangannya ia membawa sebilah celurit. Ketika berbicara, pemuda desa itu berteriak-teriak sambil mengangkat celuritnya tinggi-tinggi. Tapi aku tetap bersikap seperti biasa. Kedatangannya tidak membuat aku membungahkan hatiku, melainkan menjadi tamu yang datang hanya untuk pergi.

“Kamu ingin laki-laki yang bagaimana, Bulan? Kau sudah dewasa, kau layak berkeluarga.”

Ibu menanyaiku. Diamlah aku sebatas menyunggingkan senyum. Ibu mengerti terhadap tingkahku. Diam untuk sesuatu, tersenyum untuk sesuatu, hal itu merupakan karakter gadis desa yang sedang jatuh cinta, begitu kata adat.

“Ibu tidak tahu harus menolak dengan cara apa lagi, Bulan. Alasannya Ibu tak bisa. Cukup kamu saja yang menemui, Ibu nurut padamu.” Keluh Ibu.

“Kenapa Ibu menyerah begitu saja?”

“Entahlah, Bulan.”

“Ah, Ibu. Seperti tak pernah punya suami saja,” rayuku.

“Ya, Ibu akui. Tapi pemuda satu-satunya yang melamar Ibu cuma ayahmu,” jawab Ibu sambil menatap lekat mataku.

“Ibu suka?” pancingku.

“Mula-mula tidak. Tapi ayahmu sangat perhatian pada Ibu. Akhirnya, cinta tidak membawa jodoh, tapi jodoh yang membawa cinta….”

“Jadi Ibu tak pernah cinta pada Ayah?”

“Nah, ketika Ibu dijodohkan dengan ayahmu, baru saat itu Ibu merasakan apa itu cinta.”

“Cinta?”

“Ya. Sebenarnya cinta itu mustahil adanya.”

“O, ya?” heranku.

“Kecuali ia punya perasaan.”

Kami tertawa.

Ibu bertutur banyak tentang masa lalunya bersama Ayah. Tapi aku tidak bisa seperti Ibu. Menjelma karakternya sulit bagiku. Sikap perbedaan yang kutingkahkan membuat Ibu mengatakan aku aneh. Dari keanehan itulah banyak orang yang kagum dengan aku. Entahlah, ada apa dengan diriku?

***

SUATU hari, datang ke rumah seorang pemuda dengan mobil hitam pekat mengilat. Postur tubuhnya yang tak terlalu tinggi dan kemeja yang di pakainya akur dengan celana hitamnya, membuat aku memandang dia lebih hati-hati.

Pada Ibu, pemuda itu menanyaiku. Tutur sapanya yang lembut sekilas mengingatkan aku pada mendiang Ayah.

“Bolehkah aku bertemu dengan Bulan?” tanyanya.

“Jika ada perlu silakan katakan pada Ibu,” sanggah Ibu. Ia sungguh tak mendustai janjinya.

“Aku ingin menemuinya langsung.” Pemuda itu memaksa.

“Maaf, Bulan tidak mau kalau bukan kehendaknya sendiri, mengertilah.”

“Ayolah, Bu! Saya ingin membayarnya kalau perlu. Asalkan Ibu mengizinkan saya bertemu dengan anakmu.”

Pemuda itu terus memaksa hingga Ibu bosan untuk mencegahnya. Oh, Ibu! Tidak biasanya pada hari itu datang pemuda yang memaksakan diri untuk bertemu dengan aku. Hari itulah pemuda berkaca mata itu mengutarakan niat baiknya. Segala kekayaan yang dimilikinya ia tawarkan. Mengagumkan!

“Atau aku akan memindahkan rumahmu di pesisir ini ke kota, agar kamu lebih leluasa membeli segala kesukaanmu: mahkota, berlian atau cincin zaitun….”

“Aku tidak menyukai itu semua, aku ingin bersama pantai ini.”

“Apa? Gila! Baiklah, aku akan merubah pantai ini menjadi pantai wisata, seperti Lombang. Di sekeliling rumahmu akan banyak cemara dan kamu akan menjadi seorang ratu di pesisir ini.”

Aku tetap pada prinsipku. Entah mengapa, pemuda yang datang untuk mempersuntingku ini bagaikan anak belut. Licin. Tak mudah singgah di palung hatiku. Rintihnya, hati ini masih suka menyaksikan laut. Duduk di atas batu yang terkubur separuh makin menemani kesendirianku bersama kesiur angin. Aku dengan puas menemani ombak yang berkejaran, lalu ombak itu akan saling tubruk-menubruk bila hingga di tepian.

Seperantauan Ayah ke dalam tanah menuntutku untuk mencintai laut, pun juga ombak. Aku ingin mengenang Ayah di pantai ini. Seperti pemuda yang tengah sibuk dengan kemudinya itu. Ayah adalah sosok pemabuk laut. Perahu-perahu hasil tangannya kini banyak digemari penduduk pesisir. Jala yang dipakai Ayah ketika senja tiba untuk menangkap resore masih utuh menggantung di dinding rumah. Tak ada yang berani menyentuhnya, sekalipun Ibu. Sepewasiat Ayah, ia menyuruhku untuk mewariskan jalanya kepada suamiku.

“Bulan, ke mana Ibumu?” tanya Ayah di pembaringan nya. Sewaktu Ayah sakit, ia selalu menyuruhku tak jauh di dekatnya. Batuk berat di dadanya ia tahan dalam-dalam.

“Ibu tidak ada, mungkin ke Langitan jual ikan,” jawabku. Tak terasa air mataku jatuh kala itu.

“Bulan, Ayah ingin menitipkan jala itu padamu.” Kudengar kalimat itu semakin lirih.

“Maksud Ayah?” tanyaku tak kalah lirihnya.

“Sebelum Ayah pergi, Ayah titipkan jala itu untuk kau berikan pada suamimu kelak, jangan biarkan ikan-ikan itu dikuasai oleh orang asing yang kemudian penduduk pesisir ini akan tiada penghasilan.” Begitu kalimat yang terlontar di bibir Ayah untuk yang terakhir kalinya. Aku sedih. Aku tahu maksud Ayah, ia mengharapkan seorang pemuda di keluarga ini, tak lain adalah suamiku.

Aku merasa bersalah ketika mengingat semua itu. Sebenarnya aku mempunyai saudara laki-laki, Bintang namanya, adikku. Tapi ia sudah meninggal lantaran tenggelam dibawa arus yang sangat dahsyat sepuluh tahun yang silam.

Ibu histeris kala itu. Perlahan mataku menjatuhkan ombak, ombak yang kuakrabi semenjak aku lahir di pantai ini.

Anehnya, Ayah hanya mewasiatkan padaku. Ibu tak tahu tentang wasiat jala itu. Seandainya saja Ibu tahu, tidak akan ada pemuda yang berlomba-berlomba memburuku untuk dijadikan permaisurinya. Pernah, aku ingin mengutarakan wasiat jala itu pada Ibu, tapi aku takut berdosa. Jadi wajar, kerap bila Ibu sibuk sendiri mengumpulkan beberapa alasan kepada orang-orang yang ingin memperisteriku. Semuanya karena aku.

Seperti jala itu, Ibu tidak akan pernah melarangku mengapa aku suka pada laut dan menyaksikan pemuda di perahu cadik itu.

***

(dikisahkan….)

IBU, lihatlah di sana. Aku suka keindahan itu. Aku ingin memilikinya untuk kuhadiahkan kepadamu. Di sana ada ikan-ikan, perahu cadik, dan pemuda itu, Bu! Engkau jangan khawatir bila aku menyendiri menepi di sini. Engkau jangan khawatir bila aku ada merenung di sini. Sebab, di sanalah Ibu, telunjukku akan melukis sebuah perahu dan pemuda di perahu cadik itu. (*)

Yogyakarta/Rumah Diva, 2011

Mawaidi D Mas, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. 
Cerpennya terkumpul dalam antologi Kembala Air Mata (Komunitas PERSI, 2011)

(Sumber: Suara Merdeka, 30 Oktober 2011)

Friday, November 25, 2011

Cerpen Clara Ng: You Xi Sudah Menunggu

You Xi Sudah Menunggu
Cerpen Clara Ng 


BERTAHUN-TAHUN lamanya aku begitu percaya pada Cai Shen, Dewa Pemberi Rezeki, yang mendengarkan permohonan manusia. Di antara asap hio yang melenggang tipis-tipis selayaknya tirai halus, aku berdoa dengan tulus di hadapannya. Tidak ada lagi yang kuinginkan selain mendengarnya berbisik “ya” di tiap mimpi-mimpiku. Aku meronce benang-benang puja-puji surgawi agar naga merah bersisik logam yang jahat bergemerincing tak bisa muncul dan menyemburkan api di altar persembahan ini.
Aku mulai menghitung umurku ketika dentum tambur tetabuhan layaknya iring-iringan barongsai membahana di kepala. Sudah berapa lama kalender usang luruh dari tempatnya menggantung? Semua bayangan menjadi rata bumi. Hilang dalam merah cairan arak bagai darah. Aku mengabaikan retakan-retakan sakit di ujung dada, berusaha berkonsentrasi pada sembahyang.
“Duhai Tuhan, berikan aku rezeki yang makmur sentosa.”
Telepon tua di atas bufet berdering. Rasa dingin tiba-tiba membakar seluruh ruangan yang tadinya hangat. Tanpa mendekat, aku ingat bagaimana telepon itu berdering di malam-malam buta seperti ini. Tanganku gemetar memegang gagangnya. Suara cempreng perempuan bercengkok Cina mengabarkan: You Xi sudah menunggu, ada lelaki yang terpikat.

AKU tidak pernah kenal subuh. Dia selalu lewat begitu saja di atas kepalaku. Sudah lama sekali subuh kalah pamor dengan senja. Setiap subuh kamu mengenakan daster hijau dengan rambut yang digelung tinggi-tinggi dengan gelang karet. Kamu bangun sejam sesudahku, dengan mata mengantuk dan bibir terkunci rapat. Suara ceburan air dari gayung plastik di kamar mandi menandai kehadiranmu di ujung subuh yang masih hening. Aku tidak pernah melupakan wangimu yang segar. Tengkukmu yang putih. Anak-anak rambut yang menggerayangimu, seperti rumput-rumput basah yang menumbuhi ceruk kebun.
Kita adalah sepasang di antara ratusan yang tergeletak di dapur. Kue mangkuk. Kue cucur. Kue serabi. Semuanya serba hangat. Kita biakkan rasa hangat pada langit yang masih separuh dingin. Kita selalu bekerja dengan cekatan dalam diam. Jam enam, kamu akan berangkat ke pasar bersama tumpukan kue-kue untuk mengantarkannya kepada tante pemilik toko yang judes, katamu.
Rumah ini hanya petakan kecil berukuran 3×7 meter, selalu kebanjiran dan dindingnya lembab. Kita hanya sepasang tikus tinggal di lubang, berjuang melawan kematian yang muram. Namun aku tidak mau mati dengan kemiskinan yang bertahun-tahun melilitiku seperti ular. Mari, tulikan perasaan sakit, pintal sulur-sulur kesempatan. Sebulan lalu telah kuperkenalkan padamu seorang lelaki bermata sayu tapi memiliki keteguhan berbisnis. Lelaki bercodet di pipi kiri tapi menyetir sedan besar. Lelaki sedikit juling, tapi apalah artinya mata kalau tangan tidak menggenggam dompet yang gemuk?
Kalau aku bercerita tentang lelaki itu, kamu membanting-banting barang. Tanganmu terlalu kuat mencengkram kue-kue, sampai aku membayangkan tangan yang sama sedang menekan leherku karena jengkel. Tidak, aku tidak takut padamu. Memangnya kita bisa apa? Uang tidak pernah datang untuk pagi yang tidak pernah biru. Kita harus melawan kepapaan ini sebelum dia mencampakkan kita, seperti penderitaan mencampakkan ayah dan ibuku dulu.
Kamu tahu bagaimana cerita ayah dan ibuku? Kamu mengangkat bahu sambil tersenyum tawar. Padahal cerita itu sudah kuulang berkali-kali. Apa kamu sudah bosan? Mungkin tidak tertarik lagi. Mungkin kamu menumpulkan perasaan dan pikiranmu. Tapi seperti lingkaran setan yang tak berujung, aku bercerita kepadamu pada tiap kesempatan asing yang kita miliki. Tentang kisah kakek dan nenekmu yang kurus ditelan kekosongan. Tentang kisah kepapaan yang mengenaskan.
Bertahun-tahun lamanya, sama seperti aku yang tanpa lelah memohon doa kepada Cai Shen, mereka juga selalu mengimpikanku memiliki suami yang kaya raya agar kemelaratan kami tertolong. Agar adik-adikku yang berjumlah delapan bisa berpakaian bersih dan pergi ke sekolah. Aku jatuh cinta dengan seorang lelaki berkulit hitam, tapi mereka menjodohkanku dengan lelaki tua berperut buncit. Aku ingin lari. Tapi orangtuaku bilang hanya ini satu-satunya jalan untuk memiliki uang. Semalam sebelum perkawinan, aku menyilet nadiku. Jelas aku bakal mati, tapi aku heran ketika aku selamat. Berarti aku memang harus menerima takdirku yang bertahun-tahun kubenci setengah mati.
Oktober itu, sembilan belas tahun lalu, aku menemukan diriku hamil setelah si babi busuk memperkosa dan memukulku berkali-kali di ranjang. Aku ketakutan setengah mati, aku ingin lari lagi. Dia menemukanku, lalu memukuliku habis-habisan sampai aku mengalami pendarahan. Aku tidak kuat. Sungguh-sungguh tidak kuat. Tubuhku lebam biru setiap hari. Bibirku pecah. Rambutku rontok. Dibalaskah luka-luka ini dengan segepok uang? O, tidak. Dia hanya memberiku sesendok pahit kemiskinan yang setiap hari harus aku telan bersamanya.
Sebulan kemudian, si babi busuk mati. Aku tidak ingat persisnya bagaimana dia mati. Aku sudah mengosongkan kenanganku tentangnya. Pokoknya dia mati. Mati dibunuh, mati terbunuh, mati ditelan setan, apa bedanya. Tidak ada makanan di atas meja sejak dia dikremasi. Aku tak sudi jadi perempuan setengah gila tanpa suami. Ekorku tumbuh dengan cepat. Telingaku juga. Aku mulai mencicit. Aku bertahan hidup, menjadi tikus sinting dengan bayi kecil di gendongan. Itu kamu.

SUBUH tidak pernah datang kepada kita. Subuh melewati kita. Konon katanya, subuh adalah janji atau harapan atau entah apa yang disampaikan langit kepada bumi. Langit menghendakiku untuk terus berjuang, tidak putus asa. Aku masih percaya pada Cai Shen, bahwa dia akan selalu mengingatku waktu aku didera berbagai kemalangan.
Datang berita itu di telingaku, tentang orang-orang yang mengadu nasib di Taiwan. Bukan orang-orang tua seperti aku yang sudah renta, tapi para perempuan Cina yang memiliki wajah jelita dan tubuh ranum. Dijual, dijadikan kekasih pengusir sepi, atau gundik pelepas lelah, sebelum akhirnya hidup makmur selama-lamanya. Siapa yang bisa mengabaikan mimpi muluk seperti itu di bayangan orang-orang miskin macam kita? Sudah pasti aku langsung menyukainya.
Hujan di jendela. Kusampaikan berita ini kepadamu sambil memandangi sepasang mata hitam yang memantulkan potret-potret suram. Aku tidak berani mendekatimu walaupun jarak hanya sekitar satu guling di ranjang tipis kita. Baiklah, lelaki dengan dompet gendut itu sudah pasti tidak kamu inginkan. Sekarang bagaimana dengan kehidupan baru di Taiwan, menjadi nyonya-nyonya mewah dengan sopir dan pembantu yang bisa kamu perintah-perintah? Aku mendesakmu, mendesakmu dengan keras.
Lalu malam itu, saat makan malam dengan tahu dan kacang panjang, kusampaikan lagi permintaanku. Lagi dan lagi. Di setiap tempo. Di atas meja. Di lantai. Di jendela. Di kamar mandi. Sebelum kamu tidur. Sesudah kamu bangun. Sampai kamu harus menyerah. Sampai gerimis tidak mampu turun di pematang mata kita yang kering kerontang.
Dua bulan kemudian telepon berdering di tengah malam. Kamu sudah berangkat ke negeri impian Taiwan, dengan tante-tante yang menjanjikan matahari subuh. Ada banyak lelaki Taiwan yang akan kamu temui di sana. Baru pertama kali kurasakan Cai Shen mendengar permohonanku. Berita tiba dengan sangat cepat: You Xi sudah menunggu, ada lelaki yang terpikat. Itu kamu. Itu namamu. Kamu sedang menunggu lelaki yang memberimu kekayaan.

SEJAK hari itu, aku tidur sendirian, tapi tidak apa karena kamu pasti sedang bersuka-suka ria di sana. Sejujurnya aku tidak suka kamu berada begitu jauh daripadaku, tapi tidak pernah kukatakan padamu. Untuk apa banyak berkata-kata? Seperti ibuku ketika dia tahu aku tersiksa oleh si babi busuk. Tidak ada penyesalan, tidak ada ucapan dramatis antara ibu-anak. Apalagi air mata.
Aku membayangkan dirimu seperti para artis di televisi. Cantik, sempurna. Gadis-gadis yang memakai baju warna warni, dengan kulit bening berkilau. Apartemen di atas langit. Mobil-mobil gagah perkasa. Makanan yang lengkap di meja, sehari tiga kali. Tidak perlu bangun ketika semua terlelap. Tidak perlu menyesal dilewati subuh. Tidak perlu dibodohi riwayat kemiskinan.
Kamu mungkin sudah melupakanku, ibumu yang menyusui dan membesarkanmu. Tidak apa-apa, cukuplah kamu mengirimkan sedikit uang kepada ibumu untuk sekadar menyambung hidup. Aku ingin lupa aku memiliki seorang anak. Aku ingin melenyapkan bulan April yang pernah melahirkanmu. Sebab telah hilang surga di kakiku, menjadi lautan lumpur, sejak aku menjualmu. Semoga malaikat menabuh kendang di sarang malammu agar secuil saja ia membisikkan bahwa cintaku abadi seperti cinta seorang ibu pada hakekatnya.
Aku selalu mengingat kata-katamu yang terakhir, walaupun aku tidak yakin aku bisa mengingatnya dengan tepat. Sepertinya kamu mengigau ketika kamu mengatakan itu. Tapi mungkin aku yang mengigau, bukan? Bagaimana aku bisa percaya pada pikiranku sendiri yang semakin lama semakin tidak jelas ini? Sejak kamu pergi, aku tetap menjadi tikus kecil yang kesepian. Tak ada yang menjilati tubuku yang biasanya dipenuhi nanah akibat luka-luka di sepanjang gorong-gorong. Hanya kamu yang ikhlas melakukannya, tapi itu dulu. Di zaman pembantaian yang berbeda.
Antara cepat atau lamban, waktu berputar tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kamu pasti tidak tahu apa yang terjadi di kota ini. Naga merah bersisik logam yang hidup di altar sembahyang kita benar-benar terbangun. Dia bergerak, berkeliaran di sepanjang rumah kecil ini, menciptakan tragedi darah di mana-mana. Jangankan tikus kecil macam aku, anjing-anjing yang berbulu cantik pun menjadi korban kemarahan naga merah. Ya, kamu harusnya tahu dari Taiwan negeri seribu teratai, tempat tinggalmu yang aman tentram. Tanggal itu. Hari ini. Ketika matahari terjagal dan berlalu ke negeri api. Tanggal 13 Mei 1998.

AKU sudah menebus berbagai kesalahanku pada wajahmu yang purnama dan jelita. Jangan kamu kalap pada mereka yang mengerat kulitku sehelai demi sehelai. Lupakan cerita-cerita kelabu yang mengepulkan asap panas. Tutuplah telingamu atas bisikan balas dendam yang menghardikmu berulang-ulang. Aku tak pernah ingin bercakap tentang apa yang terjadi, tapi leluhur-leluhur memohonku.
Lampion sudah lupa pada terangnya sebab terang sudah menyala. Tak ada hujan, tak ada keselamatan.Yang ada hanya seringai dan olok-olok. Mereka leluasa menyelusuri lekuk gubuk pengap kita, memutar-balikkan meja persembahan, membongkar laci-laci bufet, memusnahkan foto-foto keturunan kita, dan melepaskan ribuan kelelawar lewat lubang vaginaku yang kecil. Inilah persetubuhan kesetanan kepada yang bermata sipit dan berkulit putih kemilau. Padahal aku bukan jenis yang sama dengan yang mereka cari. Kulit putih? Kemilau? Aku hanya seekor binatang pengerat berbulu hitam yang berlari-lari di sepanjang gorong-gorong kelam.
Sejak tanggal keparat itu, aku kembali menjadi kanak-kanak lagi dan percaya bahwa kalender telah lama bunuh diri. Gubuk kita tak pernah ada, hancur berkalang tanah. Terakhir kuingat tarian api merayakan kemenangan dewa lain yang terasa asing bagiku. Aku terlempar keluar, teronggok tak berdaya di tengah hutan beton kemiskinan. Aku melihat neraka, menembusnya dari gerbang depan sampai ke pintu belakang.
Tak usah marah pada mereka sebab sudah lama aku melupakan kemolekan negeri ini. Terlalu sering tubuhku dibentur-benturkan musim kemarau yang bungkuk karena encok. Kenanganku tak lagi berisi kota-kota penuh rasa cinta. Apalah artinya seratus persetubuhan yang dipaksakan lagi? Pahamlah kamu, tak ada yang mampu menyakitiku sejak hari aku membiarkan tetekku menggelembung karena menyusuimu. Barangkali kamu takkan sampai di garis batas pembicaraan ini sampai seorang bayi mengacak-acak rahimmu yang suci.

MAKANAN pagi hanya segelas teh hangat, dan itu lebih dari cukup. Aku menyeruputnya susah payah. Beginilah subuhku selama bertahun-setahun sejak kehilanganmu. Kekosongan yang semakin menjauh. Jarak yang tak bisa dijembatani antara Taiwan dan Indonesia. Perempuan muda berpakaian daster hijau yang meneriakiku dari dapur bukan kamu, dia hanya tetangga beberapa kelokan jalan kita dulu yang rumahnya selamat dari amukan api di bulan Mei persetan itu. Dia menampungku, si gelandangan uzur, untuk sementara.
Aku senang diperbolehkan duduk di berandanya, ruko yang penuh dengan tumpukan besi karatan. Malamnya aku dipersilakan tidur di sana, beralaskan anyaman tikar. Lumayan, aku tidak kehujanan atau kepanasan. Hanya sedikit digigit nyamun. Aku membalas budi baik mereka dengan menyapu lantai, memasak, dan membersihkan meja sembahyang.
Pada akhirnya, aku sering membayangkan hidupmu yang bahagia di Taiwan. Kesimpulanku tentangmu tak pernah salah. Apakah kamu masih bisa mengingatku? Aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi kecuali suara cempreng dari tante-tante yang membawamu jauh ke negeri nenek moyang kita. Tak ada lagi berita pasti yang datang setelah itu. Kata kabar burung, kamu berdandan setiap malam. Kata kabar burung, kamu sering menghadiri pesta-pesta mewah. Aku selalu bersyukur, sebab Cai Shen pasti rajin menyambangi rumahmu di sana. Tak sia-sia aku memohon padanya.
Aku mengambil ember di pojok kamar mandi, kugulung celana panjangku. Setumpuk cucian baju telah menanti. Aku menggumankan satu lagu kanak-kanak Cina yang sering kuyanyikan waktu meninabobokanmu dulu. Lalu aku mulai bekerja, menggosok baju-baju di penggilasan dengan tanganku yang belakangan ini sering gemetar karena rematik. Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku cukup bahagia memikirkanmu bahagia. Sebab telah kuserahkan anak perempuanku yang paling jelita di tangan lelaki Taiwan yang kaya raya. Beruntunglah kamu, jalan nasibmu sungguh rupawan. (*)


Clara Ng sudah menerbitkan banyak buku, antara lain Jampi-Jampi Varaiya (novel, 2010) dan Malaikat Jatuh dan Cerita-cerita Lainnya (kumpulan cerita pendek, 2008). Ia juga menulis cerita anak-anak.

Sumber: Koran Tempo, 3 April 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Monday, November 21, 2011

Negeri Penidur

Cerpen Toni Lesmana

LELAP sekali dirimu terbaring di lantai. Tak ada yang bergerak selain isyarat lemah napasmu. Mimpi apa yang tumbuh dalam tidurmu? Aku hanya bisa memandangmu. Tubuhmu nyaris telanjang. Aku terus memandangimu sambil perlahan merayap di tembok, memanjat kaca jendela dan meloloskan diri pada lubang angin.

Tak tahan melihatmu terus tertidur, aku ingin pergi sebentar melihat negerimu. Barangkali aku akan menemukan sesuatu yang dapat membunuh seluruh rinduku padamu. Atau mungkin pergi darimu selamanya. Tidak, aku tak mungkin sanggup. Tapi aku harus lepas dan bertualang. Masih sempat kulirik tumpukan buku dan kertas yang berserak di lantai. Tulisan yang belum tamat di layar komputer. Sama seperti dirimu, mereka juga pulas dan lelap. Dari kamarmu, kutangkap tubuh istrimu yang meringkuk, seperti memeluk. Ada gerak-gerik di sana. Namun aku tak tahan lagi. Betapa aku sakit menatapmu terus tertidur.

Pekarangan yang dingin, kabut merubung lampu-lampu. Aku menyusupinya. Rumah-rumah kelabu. Gang yang lembab. Ada suara yang cukup nyaring di ujung gang. Aku melayang perlahan di tanah basah. Dan melesat menuju suara itu. Seorang pedagang nasi goreng nampak sedang sibuk mendorong gerobak sambil memukul-mukul wajannya. Dua orang pemuda mabuk menghampirinya, tawar-menawar. Akhirnya dengan muka sedikit marah penjual nasi goreng itu meluluskan keinginan sang pembeli. Kedua pemuda itu duduk di trotoar. Meracau tak tentu. Mata mereka rapat terpejam. Begitu pula mata sang pedagang. Bagaimana mereka bisa mabuk dan berdagang dalam keadaan tertidur? Keparat. Aku teringat dirimu. Dirimu yang melulu tidur. Dirimu yang sering kukutuk karena tak juga membuka mata barang sekejap. Ternyata tak hanya dirimu. Negeri apa sebenarnya yang kau tinggali dan tak pernah usai kau cintai ini?

Lepas dari mulut gang, aku cepat-cepat meninggalkan pemandangan suram yang tadi kukejar dengan penuh pengharapan. Berlari dalam kabut menuju pusat kota. Orang gila berteriak-teriak di jembatan. Gelandangan memeluk kardus di trotoar. Sepasang manusia berciuman di bawah lampu jalan. Seorang fotografer asyik memotret sebuah bangunan kuno. Serombongan anak punk bernyanyi-nyanyi sambil berjalan. Satpam sebuah rumah repot mengejar pencuri. Tapi mata mereka semuanya terpejam. Mereka semua tidur. Itulah kehidupan dalam tidur. Aku terus berlari. Berlari dalam penasaran. Kususuri seluruh pelosok kota. Memasuki gedung demi gedung. Melewati perempatan demi perempatan. Melesat ke alun-alun. Berdiam di terminal. Menyaksikan pasar. Mengaduh di stasiun. Apa yang kudapati adalah orang-orang yang tertidur. Semuanya berjalan sambil tidur. Tak ada mata yang terbuka. Tak seorang pun terjaga. Tubuh-tubuh itu bergerak dengan mata tertutup.

Malam sebentar lagi usai. Orang-orang dan kendaraan mulai memenuhi jalanan. Lampu-lampu mati dan kabut menyusut entah ke mana. Aku menyaksikan matahari pagi terbit di sebuah pelataran gedung pemerintahan. Orang-orang dengan pakaian rapih dan berseragam nampak mulai sibuk menyiapkan segala sesuatu. Sepertinya bakal ada acara. Ada panggung lumayan besar dengan peralatan band dan tata suara lengkap. Kursi-kursi tertata rapih. Hajatan di gedung yang paling besar dan megah. Perlahan semakin banyak yang datang. Para pejabat, pengisi acara, juga masyarakat, datang sebagai penonton. Puluhan bahkan ribuan orang mulai memadati pelataran gedung yang luas. Acara yang meriah. Pidato-pidato dengan suara yang lantang dan bersemangat, tangan yang terkepal, dan riuh sorak masyarakat. Doa-doa dipanjatkan. Puisi, lagu, dan tarian dipentaskan. Mereka mengerjakan itu dengan mata terpejam. Padahal matahari nyaris mencapai puncak ketinggian di langit.

Aku pun mengikuti anak-anak sekolah yang berjalan riang menuju sekolah mereka. Tak berapa lama kemudian di dalam kelas kulihat guru mengajar sambil tidur dan anak-anak sekolah belajar sambil bermimpi. Dan kecewa membawaku melayang dari satu kantor ke kantor yang lain. Tak berbeda adanya. Orang-orang bekerja sambil tidur. Mereka mengerjakan dan menyaksikan korupsi tanpa membuka mata. Di pengadilan, hakim menjatuhkan vonis dengan mata tertutup. Sipir penjara menjaga narapidana juga tanpa membuka mata. Semua berjalan dengan tenang tanpa gejolak. Dan aku berlari lagi ke pabrik-pabrik yang riuh dan gaduh. Para buruh berpeluh dalam tidurnya. Sang majikan menghitung uang sambil tidur pulas.

Aku ingin pergi sejauh-jauhnya, barangkali masih ada kehidupan yang terjaga dan waspada. Sepasang mata yang terbuka. Namun, di jalanan aku menemukan sekelompok demonstran yang meneriak yel-yel berani juga dengan mata yang tidur. Beberapa melakukan perusakan dan terjadi bentrokan sambil bermimpi. Dengan sedikit malu-malu aku singgah di beberapa rumah ibadat, mengikuti sejumlah ritual yang khusyuk. Hanya seperti khusyuk, nyatanya mereka juga beribadah dalam tidur.

PERJALANAN segera saja membosankan. Siang hari saja sudah begini. Apalagi malam hari. Tak ada seorang pun yang membuka mata. Semuanya hidup dalam tidur. Kesadaran seperti sebuah kondisi yang tak lagi diperlukan. Sementara ketidaksadaran menjadi sebuah kehidupan. Barangkali aku sedikit bisa memahami apa yang terjadi pada dirimu, setelah selama ini aku menganggap dirimu gila. Kini tak dapat disangkal, bahwa kau adalah bagian dari sebuah negeri yang memang lelap dan tak pernah bangun. Sepanjang perjalanan pulang aku mulai belajar menutup mata sambil melayang. Namun berkali-kali aku tersesat. Dan semakin jauh dari rumahmu, dari dirimu. Alih-alih semakin dekat, ini malah semakin menjauh. Aku muncul di pasar yang terbakar, di samping sebuah bom yang meledak, di sekolah yang runtuh, juga di sebuah rumah ibadat yang dilempari batu. Betapa susah menggenapi perjalanan sambil menutup mata.

Tiba-tiba aku berada di perempatan bersama pengamen dan anak-anak kecil penjual cobek batu, malah tak sengaja masuk ke kamar hotel dan menyaksikan seorang pejabat memeluk tubuh perempuan muda yang pasti bukan istrinya. Aku melayang-layang tak tentu arah. Heran sungguh aku, bagaimana dirimu dan penghuni negeri ini bisa melakukan semuanya dengan kelopak mata yang terkunci. Akhirnya kubuka kembali mataku lebar-lebar, lantas melayang cepat di atas kota. Senja hampir habis. Dan aku ingin segera kembali ke rumahmu. Ke tubuhmu. Cukup sudah perjalanan ini. Setidaknya dapat kupahami apa yang terjadi pada dirimu.

Hinggap di atap rumahmu, aku memasuki celah-celah genting. Meluncur turun ke lubang di langit-langit rumahmu. Aku melihat dirimu masih terbaring di lantai. Sementara istrimu seperti sedang menyusui.

Kau tertidur dengan telentang. Wajahmu begitu damai. Dadamu bergerak halus. Napasmu lemah. Tubuh yang sering kucaci kini nampak sangat indah. Indah dalam tidurnya yang lelap. Tubuhmu. Aku cepat meluncur kembali. Namun aku tak dapat menjejak lantai. Aku hanya melayang-layang mengitari tubuhmu. Tanganku menggapai-gapai namun tak dapat menyentuh. Tanganku tak dapat menyentuh apa pun. Semuanya. Rambutmu. Hidungmu. Bibirmu. Tanganmu. Dadamu. Kakimu. Semuanya tak dapat kusentuh. Tanganku hanya menembus semuanya.

.

TIBA-TIBA aku menjadi begitu takut. Aku lupa bagaimana aku meninggalkanmu. Meninggalkan tubuhmu. Aku lupa. Kini aku begitu merindukan memasuki kembali tubuhmu. Tubuhku. Namun aku tak tahu bagimana caranya. Aku mulai berteriak-teriak. Namun tentu kau tak akan mendengarku. Tak akan ada yang mendengarku. Aku melayang-layang dalam rumah. Aku tabrak semua barang. Namun tak satu pun yang bergerak.

Tubuhmu nampak semakin indah.

Tubuhmu. Tapi kini tubuhmu tak lagi telanjang, tapi mengenakan kemeja dan celana jeans. Berarti tubuhmu telah bergerak selama aku pergi. Bagaimana mungkin? Bagaimana kau bergerak sementara aku pergi meninggalkanmu. Tubuhmu adalah tubuhku.

Itu tubuhku! Aku berteriak tiba-tiba entah pada siapa. Ketakutan semakin merajalela. Aku tak dapat memasuki tubuhku sendiri. Aku hanya melayang berputar-putar seperti layangan putus. Ketika aku melihatmu terbangun. Berdiri. Berjalan menuju kamar. Lantas berbalik, mengarah ke dapur. Memanaskan air. Menyeduh teh. Dan membawanya ke ruang tengah. Tubuhmu menyalakan komputer. Menyalakan sebatang rokok. Aku menghalang-halangi. Namun aku, tubuhku, kau tembus begitu saja. Ah, matamu yang terus terpejam itu, membuatku seperti gila.

Itu tubuhku! Aku berteriak berulangkali. Kini dengan tangisan dan jeritan.

Tubuhmu mulai menulis di komputer. Asyik sendiri.

Aku melihatmu. Hanya dapat melihatmu. Aku ingin memasukimu. Tubuhmu adalah tubuhku. Tubuhku. Aku melayang kesepian di sudut ruangan. Tak tahu hendak bagaimana. Sungguh, mulai dapat kupahami kau hidup sambil tertidur. Namun kini, aku tak dapat mengerti bagaimana dapat kau hidup tanpa nurani, tanpa hati. Barangkali seluruh penghuni negeri penidur ini tak hanya hidup dalam tidur, barangkali mereka juga hidup tanpa hati, tanpa ruh. Seperti jarum detik. Seperti mesin. Seperti robot. Seperti tubuhmu kini. Tubuhku, tubuhku. Alangkah malang tubuhku.

Aku terus mengingat cara untuk dapat memasukimu. Aku ingin menceritakan perjalananku. Aku ingin mengajakmu untuk menulis dengan mata terbuka. Namun aku hanya dapat melayang-layang. Tersesat sendiri tanpa tubuh. (*)


Kedungpanjang, 2011
(Sumber: Koran Tempo, 30 Oktober 2011)
Toni Lesmana lahir di Sumedang 25 November 1976. Menetap di Ciamis, Jawa Barat. 
Ia juga menulis puisi dan cerita dalam bahasa Sunda

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Friday, November 18, 2011

Tinjauan Sosiologi Sastra Tirani dan Benteng Taufiq Ismail

Sri Handayani. S840809027. 2011. Kritik Sosial dan Nilai Edukatif Puisi dalam Tirani dan Benteng Karya Taufiq Ismail: Tinjauan Sosiologi Sastra. Tesis, Surakarta. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Juli. 2011 Pembimbing 1. Prof. Dr. Kunardi Harjoprawiro, M.Pd 2. Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kritik sosial dan nilai edukatif yang terdapat dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut antara lain 1) mendeskripsikan tema-tema yang terdapat dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail, 2) mendeskripsikan kritik sosial yang terdapat dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail, 3) mendeskripsikan latar belakang sosiologi sastra kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail, 4) mendeskripsikan nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini dari novel, informan, dan dokumen. Teknik Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Data penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling (sampel bertujuan). Teknik validasi data yang digunakan adalah trianggulasi, yaitu triangulasi data, teori, dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif.

Hasil analisis data puisi Tirani dan Benteng menunjukkan adanya kritik sosial dan nilai edukatif. Kritik sosial yang terdapat dalam puisi Tirani dan Benteng terkait dengan protes masyarakat menuntut pemerintah untuk mewujudkan stabilitas keamanan, ekonomi, politik dan hukum. Puisi-puisi dalam Tirani dan Benteng menggambarkan tentang keadaan negara yang mencekam, rakyat yang menderita kelaparan, situasi politik yang memanas, dan hukum yang tidak memihak kebenaran. Selain itu, kesejahteraan masyarakat, keadilan sosial, masyarakat yang menggugat kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat dan kebebasan berpendapat juga menjadi tema penting dalam puisi-puisi Tirani dan Benteng. Nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam puisi-puisi Tirani dan Benteng terkait dengan nilai pendidikan moral, etika, sosial, dan religius. Nilai pendidikan moral dan sosial digambarkan dengan pernyataan yang berhubungan dengan kepedulian sosial, jiwa solidaritas, dan saling menghormati. Nilai pendidikan etika dinyatakan dengan perilaku ketidaksopanan, kebatilan, dan kejahatan yang dilakukan para penguasa. Nilai pendidikan religius ditunjukkan oleh ungkapan yang menyatakan keesaan Tuhan, keikhlasan, dan doa.

Abstrak

Tuesday, November 15, 2011

Anakku Lahir dari Rahim Televisi

Cerpen R Giryadi


ANAK-anak hilang

Aku takut mendengar jeritan anak-anak yang berlari di pematang sawah. Bermain-main layang-layang mengusir mendung dan halilintar yang menyambar-nyambar ujung rambutnya.

Mereka berteriak-teriak: ‘cempe-cempe undangna barat gedhe, tak opahi duduh tape, lek entek njupuka dhewe’.

Anak-anak berlari menyambut puting beliung. Sembari mengibas-ibaskan kaosnya, laksana cowboy yang menghalau sapi-sapi. Cakrawala memapaknya. Anak-anak hilang. Hilang ditelan senja.

Cangkul dan tampah, dipukul bertalu-talu. Malam pun kian melaju.

“Ke mana anak-anak?! Ditelan grahono!” Suara tetabuhan cangkul, tampah, dan rinjing, terus bertalu-talu. Bertala Kala berjoget kegirangan. Anak-anak lolos dari cengkeraman mautnya.

Anak-anak pun tertidur pulas dalam rahim istriku. Aku mengusap peluh.

“Apa dia anakku?” aku bertanya dalam paruh malam, tanpa bulan yang hilang ditelan raksasa.

“Bukan?”

Anak-anak menggeliat. Istriku menglenguh!
Paranoid kelahiran

Aku gemetar, tiba-tiba anak-anak menendang-nendang dinding rahim istriku. Istriku meraung-raung, menggelinjang, membanting tubuhnya di kasur butut. Anak-anak tertawa-tawa. Mereka membawa poster bertuliskan: ‘lahirkan aku!’

Aku tambah gemetar, melihat anak-anak, meneriakan yel-yel. Mereka membawa mikropon. Seluruh dinding rahim istriku mereka tendang-tendang. Istriku mengejang.

Aku berusaha tenang. Tanganku gemetaran. Hatiku berdegup keras, mendengar suara-suara dari rahim istriku.

Sementara, di luar sana,—sepuluh tindah dari kamarku—orang-orang bercengkerama tentang sebuah tragedi. Seorang anak terjatuh dari kereta api, kepalanya pecah seperti buah melon. Tak jauh dari ceceran tubuh itu, anak-anak sebayanya memandangi tubuh hancur, sembari mengunyah permen yang telah menggerogoti giginya. Anak-anak bertanya, ‘Apakah ia Spongebob?’

Di koran kuning, terpampang judul besar tentang seorang bapak yang membakar hidup-hidup anak istrinya karena kelaparan. Di sudut lain, dengan huruf berwana merah koran itu menulis, seorang anak diperkosa ayah tirinya, seorang anak dibuang di tempat sampah, seorang anak terkena ledakan tabung LPG. Anak tewas tersiram air panas.

Sementara di televisi disiarkan, seorang anak kepalanya membesar, seorang anak lahir dempet, seorang anak lahir tanpa bapak, seorang anak lahir di tengah dentuman meriam, seorang anak yang tak bisa membeli es krim di siang hari, karena ibunya tak memberinya uang. Ibunya masih bekerja di Malaysia. Ibunya minggat dan tak pernah kembali.

Semuanya mendatangkan iklan besar. Iklan untuk anak-anak!

“Apakah anakku akan lahir?”

.

Anak-anak tertawa

Lidahnya dijulur-julurkan, seperti mengejekku yang terpaku di hadapan rimbun jembut istriku. Istriku seperti ikan dalam kulkas. Beku tak berdaya. Tubuhnya bergetaran. Seperti terkena guncangan gempa.

.

Istriku menangis

“Itulah anak-anak. Meski masa indahnya dirampas. Ia tetap saja tertawa riang,” desisku sembari memeras keringat dingin, menghibur istriku. Tertawa anakku semakin keras.

.

Aku terbelalak

Perut istriku seperti magma. Anakku berlari-lari di gigir rahim istriku. Mereka aku raih di antara semboyan: dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja! Aku memilih laki-laki.

“Kalian hidup di abad besi. Lahirlah dengan tubuh besi!”

Maka meledaklah rahim istriku. Langit senja merah darah. Suara azan menggema, berkelindan dengan suara nyanyian anak pertamaku.



‘Aku anak sehat tubuhku kuat

karena ibuku rajin dan cermat

semasa aku bayi, slalu diberi asi

makanan bergizi dan imunisasi!’



Anakku menyanyi dengan riang. Ia aku sambut dengan perasaan hampa. Ia lahir, di tengah rimbun jaman besi. Jaman televisi.

“Anakku harus sekuat Gatutkaca. Masuklah ke kawah Candradimuka!”

Maka, dalam otaknya aku tanamkan pisau, belati, pedang, bayonet, keris, kapak, revolver, magnum, AK47, M16. Dalam hatinya aku curahkan adonan hati babi yang diseduh dengan bisa ular, kalajengking, dan kencing tikus got.

“Jadilah manusia. Jadilah manusia. Jadilah manusia!”

Sebuah kembang api besar berloncatan di langit, menyambut kelahirannya. Suaranya berdentuman seperti bom. Atau bom serupa kembang api. ‘Itu perbuatan teroris. Kita harus melawannya!’ suara gemuruh televisi mengganggu tidur anakku.

“Negeri ini terlalu keras untuk kita singgahi!” igaunya.

Iklan-iklan bersengkarut menawarkan produk instan. ‘Tulang kuat, tulang sehat!’

.

Cuci otak

Di TV para badut memainkan perannya merebutkan kursi yang sudah lapuk. Hewan pemamah rupiah berkeliaran bagai serangga anti oksida. Mereka menghabiskan uang dalam brankas. Sementara di belakang mereka para aparat hukum sedang takjim melihat drama Sarimin. Tawa mereka sangat keras. Sekeras hatinya yang digelitik oleh aktor bertubuh tambum dan berkacamata tebal itu.

Para politikus beramai-ramai beralih profesi menjadi pelawak. “Gedung Srimulat tergusur. Awaknya pada pindah ke Senayan,” komentar pengamat politik, yang gaya bicaranya tak beda dengan badut ulang tahun.

Anakku tersenyum—apa tertawa?—melihat adegan, seperti dalam adegan panggung OVJ (Opera Van Java). Penonton tertawa, tetapi para pelawak tak tahu apa yang sedang ditertawakan.

“Haaaaa… haaaa… haaaaa!” mereka saling menyakiti.

Drama kocak ini tidak akan berakhir. Dalangnya bingung, bagaimana mengakhiri, cerita negeri ini!.

Orang-orang semakin pandai, bagaimana menirukan badut bermain akrobat di Senayan, atau para gurita yang mengerami dolar. Sementara para maling yang sok budiman, membagi-bagikan lembaran rupiah bergambar dirinya. Di sudut kanan atas bertuliskan: ‘Pilihlah aku!’

Seorang penyiar televisi dengan gayanya yang khas, mencoba menggiring opini, agar penonton percaya, apa yang diomongkan benar adanya. Iklan sabun cuci, menawarkan pembersih pakaian yang super cemerlang.

“Apakah secemerlang cuci otak?” napasku terengah-engah menyaksikan anak-anak dikosongkan otaknya, kemudian diganti dengan mesin remote control. Mereka ingin menjadi sahid di tengah murka jaman.

“Jangan takut, Nak. Ini hanya propaganda!?”

.

Jarik Sidomukti

Air mata istriku perlahan menetes. Aku mengusapnya dengan jarik sidomukti kumal peninggalan orang tua. Hanya itu warisan yang sangat berharga.

“Anakku kau jangan takut. Inilah jaman yang harus kita lalui!” bisikku pada telinga merahnya. Tubuhnya yang mungil aku bebat dengan jarik sidomukti.

“Semoga engkau selamat dan sejahtera di tengah jaman yang galau ini,” bisikku.

Ibuku membayang dalam kelam malam. Wajahnya yang tirus, manggut-manggut, seakan membenarkan bisikanku. Tetapi matanya yang membiru, mengalirkan air mata. Tak terdengar isaknya.

“Apakah kita bisa membesarkan?” tangis istriku meledak, seperti merajuk pada bayang-bayang ibuku yang hilang ditelan malam.

“Entahlah?” Aku cium sidomukti. Bau keringat ibuku masih terasa membekas. Dari keringat itulah aku lahir. Dari keringat itulah aku dibesarkan hidup. Dengan jarik inilah aku ditimang dan dibesarkan.

“Kamu harus hidup, Nak. Jarik sidomukti ini akan melindungimu!”

.

Pada subuh

Aku masih mecicil di depan televisi. MU dikalahkan Barcelona pada final liga Champions. Sebuah partai besar, sedang bersilat lidah. Aku mengumpat habis-habisan. Kemelut PSSI tak segera berakhir. Banyak pecundang menjadi sok pahlawan.

“Atau jangan-jangan kita lupa beda pecundang dan pahlawan?”

Itu tidak penting. Azan subuh telah berlalu. Aku masih termangu di depan televisi. Aku pindah cenel. Orang-orang berebut tiket ke surga. Aku pindah cenel. Sepagi ini orang sudah saling umpat di televisi.

Istriku berteriak, “Kang, anakmu, tolong!”

Aku beranjak. Aku matikan televisi.

Anakku menggeliat. “Jangan matikan televisi!” serunya.

Aku hidupkan televisi. Mata anakku terpejam. Mulutnya komat-kamit. Entah apa yang dirapalkan dalam mimpinya?

Hmmm, bau pipisnya menyengat hidung.

.

Pada siang

“Kang, bangun!” lamat-lamat terdengar suara istriku. “Sudah, siang masih juga mendengkur! Apa tidak kerja?”

Televisi menyiarkan berita siang. Aku segera beranjak dari tempat tidur. Tubuhku basah kuyup, diguyur air.

“Apa tidak ingat, Sukir minta tas sekolah gambar Ipin-Upin!” teriak istriku. Kali ini sangat dekat dengan telingaku.

“Tas Ipin-Upin? Emang uang dari Hongkong,” ledekku.

“Ya dari nyopet juga gak papa. Asal anakmu tidak menangis. Ia juga minta susu Dancow atau Milo!”

“Apalagi?”

“Ia pingin seperti macan. Ia minta Biskuat.”

“Apalagi?”

“Es crem Magnum!”

“Kalau tidak bisa membelikan?”

“Bunuh saja Sukir, biar tidak bawel, minta ini-itu!”

Aku matikan televisi. Aku keluar rumah, menghunus sangkur. Entah untuk jambret atau membunuh Sukir? Tunggulah beritanya! (*)


Surabaya, Mei 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Friday, November 11, 2011

Pring Re-ke-tek Gunung Gamping Ambrol

Cerpen Seno Gumira Ajidarma

RIBUAN orang baik-baik telah berkumpul di atas bukit, siap menyerbu perkampungan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, yang terletak di tepi sebuah sungai yang mengalir dan berkelok dengan tenang, begitu tenang, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih tenang, yang memantulkan cahaya kemerah-merahan membara di langit meskipun matahari sudah terbenam.

Ribuan, barangkali lebih dari sepuluh ribu, sebut saja beribu-ribu orang baik-baik telah siap dengan segenap senjata tajam, parang-golok-kelewang, tombak, linggis, pentungan besi, rantai, alu, kayu, maupun badik yang lekuk liku dan geriginya jelas dibuat agar ketika ditusukkan mampu menembus perut dengan mulus, dan ketika ditarik keluar membawa serta seluruh isi perut itu tanpa dapat dibatalkan.

Beribu-ribu orang baik-baik, tiada satu pun tiada membawa senjata, tampak sangat amat siap menggebuk dan menyabet, mencincang dan membantai, memenggal dan menyembelih, bagai tiada tujuan lain dalam hidup ini selain melakukan pembunuhan dan tiada lain selain pembunuhan. Orang baik-baik yang sebelumnya tampak sebagai orang-orang yang selalu ketakutan, karena memang penakut dan pengecut jika sendirian, mendadak bagai kerasukan setan ketika melebur dalam jumlah ribuan.

Terdengar dentang parang saling diadukan seperti tiada sabar lagi untuk ditetakkan, suara kelewang diasah pada batu basah demi jaminan betapa darah pasti akan tersemburkan, semua orang sibuk dengan alat-alat pembunuhan, senjata tajam maupun senjata tumpul, yang telah disahihkan untuk memberlangsungkan pembinasaan.

Sebentar lagi, tepat pada saat hari menjadi gelap, telah disepakati menjadi waktu penyerbuan.

“Jika mereka masih tidak mau menyerahkan pemerkosa itu,” kata seseorang sambil mengacungkan pentungan, “perkampungan itu harus dibakar.”

Disebutkan betapa anak perempuan Pak Carik telah diperkosa. Ia ditemukan terkapar di jalan keluar desa setelah hilang semalaman. Para penggali kapur yang berangkat pada pagi hari berembun segera membawanya kembali ke desa, yang segera saja menjadi gempar. Mirah, kembang desa sederhana, tetapi yang justru karena itu layak dipuja, telah dihinakan begitu rupa sehingga nyaris tak bisa menangis dan tak bisa berbicara.

“Siapa mereka, Mirah? Siapa?”

Pak Lurah yang berkumis melintang tampak begitu berang, bertanya terus sambil memaksa, karena baginya penghinaan ini bukanlah hanya penistaan kepada seorang perawan umur 16 tahun yang diperkosa, melainkan juga penghinaan kepada desa. Pak Carik sendiri, ayah dari korban yang tak bisa bersuara, kaku beku membisu seribu bahasa.

“Katakan Mirah, katakan! Supaya aku tidak membunuh sembarang manusia!”

Wajah Mirah sulit diceritakan, karena perasaan yang terbayang di wajahnya pun mustahil diterjemahkan. Namun cerita para penggali kapur tentang kain dan kebayanya yang koyak moyak dan centang perenang, tanpa harus bernoda darah segala, bagi orang-orang desa itu sudah lebih dari segala pengungkapan.

Sebetulnya belum jelas bagaimana Mirah bisa ditemukan terkapar pada pagi hari di tempat itu. Di desa terpencil seperti itu, anak gadis seperti Mirah pasti sudah berada di dalam rumah pada pukul enam sore. Untuk berada di sana, seseorang atau beberapa orang, harus menculiknya—dan pikiran semua orang memang Mirah itu pasti diculik, diperkosa di tengah jalan itu, lantas dibuang….

Tepatnya lebih baik begitu, supaya terdapat pihak yang bisa diganyang.

Tidak jelas juga mengapa kecurigaan dan kesalahan harus dialamatkan kepada perkampungan para pencuri. Namun beberapa saat lagi, ribuan orang yang merupakan gabungan dua puluh desa di sekitar pegunungan kapur itu sudah akan menyerbu perkampungan.

***

“Seandainya pun tidak ada peristiwa pemerkosaan ini, perkampungan candala itu memang sudah lama harus dibakar,” kata Pak Lurah kepada Jagabaya yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. Sebagai penjaga keamanan, ia tahu diri betapa selama ini hanya menjadi tertawaan para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur yang menghuni perkampungan itu.

Jalan keluar itu memang terarah menuju perkampungan di bawah sebuah bukit kapur, tetapi penduduk desa tidak pernah menapakinya turun ke sana, melainkan percabangannya yang menuju ke atas, tempat mereka melinggis dinding-dinding di bukit kapur, dan mengumpulkan bongkahannya yang menggelinding. Batu-batu kapur yang putih kekuning-kuningan telah lama menjadi sumber kehidupan mereka, sampai mereka lupa sebelumnya orang tua mereka mendapatkan penghasilan dari mana.

Di pegunungan kapur tidak ada sawah, jadi nenek moyang mereka, bahkan sampai kepada orang tua mereka yang beberapa di antaranya masih hidup, tentu mempertahankan kehidupan dengan segala cara. Mulai dari berburu dan menjerat binatang, mencari ikan di sungai, dan sekadar berkebun di tengah hutan supaya ada yang bisa dimakan. Bagi mereka yang belum pernah melakukan perjalanan ke luar desa, dijamin tidak pernah mengunyah nasi dan sudah cukup bahagia dengan ubi.

Ketika jalan aspal dibuat nun di balik pegunungan kapur, dan dari jalan aspal itu muncul sejumlah truk yang bersedia membeli dan mengangkut bongkahan batu-batu kapur, tidak kurang dari dua puluh desa sampai hari ini hidup dari penggalian kapur. Dalam waktu empat puluh tahun wajah pegunungan itu sudah berubah. Apa yang semula tampak sebagai pegunungan dengan punggung bukit memanjang, separuhnya kini lebih terlihat sebagai dinding-dinding tegak lurus dan jurang-jurang baru yang terbentuk karena penggalian. Maka jalan setapak bisa juga berarti jalan setapak dengan jurang dalam di sisi kiri dan kanan.…

Pada jalan setapak seperti itulah Mirah ditemukan.

“Ini saat yang tepat untuk membasmi mereka,” ujar Pak Lurah berulang-ulang.

Dengan datangnya truk-truk pengangkut bongkahan batu kapur, sedikit demi sedikit datang pula orang-orang dari luar desa, yang jika tidak ikut menggali atau membuka warung makan bagi para pekerja, di antaranya ada pula yang menjadi perantara pembelian bongkahan batu-batu, membuka kios rokok dan sampo untuk membersihkan rambut dari serbuk-serbuk kapur, dan sejumlah pekerjaan yang tidak begitu dipahami penduduk desa. Di antara pekerjaan itu antara lain menyewakan pengeras suara dan televisi untuk menyanyi-nyanyi. Adapun mereka yang menyewa pengeras suara dan televisi itu dilayani perempuan pekerja yang menyediakan minuman, ikut menyanyi, dan hampir selalu tersenyum dengan amat sangat manis sekali.

Senyuman itu juga dipermasalahkan penduduk desa, karena tidak dianggap sebagai senyum keramahan melainkan senyum rayuan.

“Senyum rayuan beracun!”

Kata orang-orang yang merasa wajib menjaga kesucian di setiap desa orang baik-baik.

Sebetulnya hanya para penggali kapur dari luar desa sajalah yang dalam kesepian dan keterasingan alam pegunungan kapur datang ke sana untuk melewatkan waktu. Namun pemandangan orang menyanyi dan tertawa-tawa rupanya memberikan perasaan tidak menyenangkan bagi orang-orang yang merasa dirinya suci.

“Lagipula, siapa bilang penduduk desa suatu hari tidak akan pernah tergoda?”

Tentu saja senyum yang manis adalah senyum yang manis. Apalagi jika itu senyuman yang manis sekali. Manusia yang bermata dan berhati tidak akan terlalu keberatan, jika suatu ketika secara suka rela merasa lebih baik tergoda sahaja.

Mirah masih terpaku beku tanpa suara. Pandangan matanya sungguh tanpa makna, bagaikan mata itu terbuat dari kelereng layaknya. Sebetulnya tidak ada kesimpulan yang bisa diambil dari pandangan mata seperti itu. Namun tergeletaknya anak Pak Carik di jalan keluar desa yang mengarah ke perkampungan itu bagai telah menyimpulkan sesuatu.

Memang benar, apabila ada pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan, selalu saja kecurigaan terarah ke perkampungan itu. Memang benar pula betapa tiada pernah ada bukti, karena kambing yang lenyap dari kandang tak meninggalkan jejak, begal menyambar dan menghilang pada remang senja bagaikan bayangan, dan mayat korban selalu merupakan buangan dari desa tak dikenal yang tidak pernah menunjuk langsung siapa pembunuhnya. Betapapun kali ini seperti terdapat kesepakatan tanpa perlu peresmian, bahwa perkampungan itu sudah waktunya dimusnahkan, jika perlu bahkan tanpa alasan!

Kebencian, ya kebencian yang tidak mungkin dicari alasannya, adalah satu-satunya alasan itu sendiri.…

Orang-orang luar, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang tidak mungkin sepenuhnya dimengerti, menimbulkan kebencian karena selalu tampak menyanyi dan tertawa-tawa.

Telah dikirimkan Jagabaya yang selalu gagal menjaga datangnya bahaya itu ke sana, dengan tugas meminta penyerahan sang pemerkosa.

Jagabaya itu, yang sejak awal sudah selalu ragu, pulang dengan tangan hampa.

“Apa kata mereka?”

Jagabaya pun menirukan jawaban kepala perkampungan di bawah sana.

“Pemerkosa? Tidak ada pemerkosa di kampung ini! Mungkin kami memang sebangsa candala, tetapi kami sama sekali tidak perlu memperkosa siapa pun di luar kampung ini untuk mendapatkan cinta, karena di kampung ini cinta macam apapun setelah dibagi rata masih selalu bersisa. Tidakkah kalian sadari betapa semua perempuan memang pelacur di kampung ini? Dan perempuan kampung ini sudah jelas senyumannya manis sekali, baik kepada orang luar, apalagi kepada saudara candalanya sendiri! Tuduhan apalagi yang ingin ditimpakan kepada kami? Kami telah membuka warung makan dan kami telah membuka kios rokok maupun sampo maupun sabun untuk membasuh debu-debu kapur, tetapi kalian rupanya lebih suka menganggap kami sebagai candala! Katakan kepada bangsamu, bangsa orang-orang yang menamakan dirinya orang baik-baik itu, kami tidak takut mati, karena apapun yang kami lakukan selalu kami pertanggungjawabkan dengan seluruh hidup kami!”

Dalam keremangan, tetap saja terasa betapa wajah Pak Lurah merah dan padam.

“Dasar bejad!”

Ia mengangkat pedangnya bagaikan Drestajumena bersiap memimpin balatentara Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Langit yang tadi kemerah-merahan dan membara sekarang memang sudah gelap. Perlu waktu sehari penuh untuk berkeliling dari desa ke desa, meyakinkan setiap lurahnya untuk ikut membasmi kampung candala.

“Serbu!”

Maka ribuan orang baik-baik dari dua puluh desa yang mengelilingi bukit bersama lurahnya masing-masing segera menyerbu ke bawah dengan senjata di tangan. Mereka berlari dalam gelap sambil berteriak-teriak, sebagian besar untuk menutupi ketakutannya sendiri. Ada yang tersandung batu dan jatuh tertelungkup lantas mati terinjak ribuan penyerbu di belakangnya. Ada yang menahan lari karena takut mati, tetapi terseret dan terpaksa melaju ke depan jua. Ada pula yang menyerbu dengan semangat tekad bulat seolah-olah memang membela keadilan dan kebenaran, meski jika diamati jelas tidak menguasai cara bertempur sama sekali. Namun dalam kegelapan segala perbedaan hanya melebur dalam gelombang serbuan penuh amarah, karena berita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa Mirah putri Pak Carik telah diperkosa. Siapa lagi pelakunya jika bukan begundal dari kampung candala?

***

Syahdan, di perkampungan tak bernama di tepi sungai yang mengalir dengan tenang dan berkelok yang selama ini dikenal sebagai kampung tempat bermukimnya para pencuri, perampok, pembunuh, dan pelacur, tampak semua orang dengan wajah sungguh-sungguh telah bersiap menyambut penyerbunya. Mereka tidak perlu berteriak-teriak dan hanya dengan saling memandang telah sangat siaga. Jumlah mereka tidak sampai seratus orang, tetapi wajah mereka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.

Nyaris tidak ada seorang pun yang memegang senjata karena apapun yang dipegangnya bisa menjadi senjata yang sangat berguna. Ada yang memegang batang kayu, ada yang memegang gagang sapu, dan ada pula yang cukup memegang sebatang lidi. Para pelacur yang senyumnya manis, begitu manis, bagaikan tiada lagi yang lebih manis, ada yang tampak mengebutkan selendang dan ada pula yang menggenggam ratusan jarum.

Tidakkah segenap orang baik-baik itu menyadari, betapa tindakan mereka itu seperti bunuh diri sahaja? Tidakkah mereka sadari, betapa para candala, jika memang candala, dan tiada lain selain candala, yang selalu terpinggirkan dari zaman ke zaman, tentulah jauh lebih siap menghadapi pertempuran terbuka daripada mereka, meskipun dikeroyok orang baik-baik begitu banyaknya? Tidakkah telah sering mereka bicarakan juga, meskipun tak pernah dan tiada akan pernah dengan bukti nyata, betapa para candala sebagai manusia memang digjaya dengan segala mantra sirep, tenung, teluh, kebal tubuh, dan setelah merapal ilmu halimunan bila perlu dapat menghilang bersama senja?

Tidakkah ribuan orang baik-baik yang menyerbu bagaikan air bah ke bawah menuju perkampungan candela di pegunungan kapur itu tak sadar, setaksadar-taksadarnya, betapa batang kayu, gagang sapu, dan sebatang lidi itu sekali digerakkan, sembari melenting-lenting di atas kepala, akan memakan korban jiwa, setidaknya ratusan dari mereka dalam seketika? Begitulah, ribuan orang baik-baik yang sedang berteriak-teriak sambil berlari-lari itu, betapapun tidaklah pernah membayangkan, bagaimana selendang yang halus dan wangi itu akan dapat memecahkan kepala, dan betapa ratusan jarum dalam genggaman akan melesat seketika bagaikan bermata untuk mencabut ratusan nyawa.

Banjir darah akan membuat bukit kapur itu menjadi merah.

“Serbuuuuuuuuu!”

Teriakan membahana yang terdengar dari jauh itulah yang telah menggugah kembali kesadaran Mirah, sehingga matanya yang semula bagaikan kelereng itu kini tampak bersukma dan bibirnya bergetar seperti mau berbicara.

Namun, betapapun, segalanya sudah terlambat.

Sudah terlambat bagi Mirah untuk menyampaikan, bahwa yang telah menyambarnya ketika ia kembali dari sumur pada pagi buta, melarikannya ke jalan itu dan berusaha—ya, masih berusaha—memaksakan suatu kehendak yang tidak dipahaminya, tiada lain dan tiada bukan adalah anak Pak Lurah adanya…. (*)

Kampung Utan, Sabtu 1 Januari 2011

Sumber: Kompas, 5 Juni 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Tuesday, November 08, 2011

STILISTIKA RONGGENG DUKUH PARUK

Stilistika RDP karya Ahmad Tohari memiliki keunikan dan kekhasan ala Tohari yang tidak ditemukan dalam karya sastra lain. Keistimewaan stilistika RDP terletak pada pemberdayaan segenap potensi bahasa sebagai sarana sastra yang memiliki daya ekspresif, makna asosiatif, dan kaya akan kata konotatif dan berunsur alam. Mayoritas stilistika RDP merupakan hasil kreasi Tohari yang orisinal. Orisinalitas stilistika RDP mencerminkan individuasi Tohari yang tampak pada bentuk ekspresi, keselarasan bentuk dan isi (harmoni), kejernihan dan kedalaman tujuan yang berkaitan dengan intensitas bahasa.

Stilistika RDP kaya nuansa intelektual, sarat muatan filosofis budaya Jawa, dan wawasan religius. Hal itu tidak terlepas dari latar sosiohistoris Tohari yang hidup dan dibesarkan dalam keluarga Jawa santri dan akrab dengan masyarakat peronggengan. Stilistika RDP sebagai sarana sastra tersebut terkesan ekspresif, asosiatif, dan provokatif. Ekspresif karena stilistika RDP mampu menghidupkan lukisan suasana, kondisi, dan peristiwa dalam imajinasi pembaca seolah-olah lukisan itu hidup. Asosiatif karena berbagai kreasi bahasa dan gaya bahasa yang diciptakan dan dimanfaatkan Tohari mampu menimbulkan asosiasi makna bagi pembaca sehingga memudahkan pemahaman akan gagasan dalam RDP. Adapun provokatif karena gaya bahasa dalam RDP dikolaborasikan sedemikian rupa antara gaya kata (diksi), kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan sehingga mengesankan pembaca. Adanya kolaborasi dengan sarana retorika menimbulkan unsur permainan bunyi berupa asonansi dan aliterasi sehingga melahirkan orkestrasi bunyi yang indah dalam eufoni dan kokofoni.

Kekhasan stilistika RDP terlihat pada pemanfataan bentuk-bentuk kebahasaan antara lain pada diksi, bahasa figuratif, dan citraan. Diksi dalam RDP demikian kaya dan variatif. Di antara diksi dalam stilistika RDP, kata konotatiflah yang paling dominan, disusul kosakata bahasa Jawa, kata serapan dari bahasa asing, kata dengan objek alam. Kata sapaan khas dan nama diri, kata seru khas Jawa dan kata vulgar juga mewarnai RDP. Dominasi kata konotatif menunjukkan hakikat karya sastra sebagai karya fiksi yang memiliki sifat polyinterpretable dan kaya makna. Diperlukan ekspresi kata yang asosiatif dan prismatif dalam karya sastra. Sebagai sarana ekspresi, tiap diksi memiliki fungsi masing-masing dalam mendukung gagasan yang dikemukakan. Khususnya kosakata bahasa Jawa yang bertebaran di RDP digunakan Tohari untuk menciptakan latar sosial budaya masyarakat Banyumas sesuai dengan latar cerita.

Sebagai ilustrasi, berikut dipaparkan contoh diksi dalam RDP.
(1) Kelak Srintil bercerita padaku bahwa dia segera terjaga kembali ketika Dower membangunkannya dengan dengus napas lembu jantan. Srintil tidak mengatakan apa yang dialaminya kemudian sebagai suatu perkosaan. (hlm. 76)
Bentuk dengus napas lembu jantan dengan gaya metaforis pada data di atas merupakan pelukisan khas tentang keadaan seseorang yang dilanda birahi. Ungkapan itu orisinal kreasi Tohari, tidak ditemukan pada karya sastra lain. Dengan ungkapan metaforis, dengus napas lembu jantan , pembaca akan memperoleh kesan lebih dalam sehingga dapat membayangkan lebih jelas bagaimana gejolak jiwa seorang lelaki yang sedang dikuasai renjana berahi . Lembu merupakan hewan yang dipandang oleh masyarakat Jawa sebagai symbol kekuatan/ kejantanan lelaki. Tentu berbeda efeknya jika keadaan lelaki yang sedang dilanda birahi dilukiskan dengan kalimat biasa, misalnya ... dengan nafsu birahi yang membara .

Bahasa figuratif yang unik dan khas Tohari juga cukup dominan dalam RDP yang meliputi pemajasan, tuturan idiomatik, dan peribahasa. Melalui bahasa figuratif maka stilistika RDP menjadi lebih hidup, ekspresif, dan sensual. Majas dalam RDP memberi daya hidup, memperindah, dan mengefektifkan pengungkapan gagasan. Bahasa figuratif dalam RDP dominan dimanfaatkan oleh Tohari. Di antara jenis bahasa figuratif, majaslah yang paling dominan dibanding tuturan idiomatik. Majas dalam RDP didominasi oleh Metafora, disusul kemudian oleh Personifikasi, dan Simile. Adapun majas Metonimia sedikit, demikian pula Sinekdoki (pars pro toto dan totum pro parte). Ilustrasi berikut menunjukkan keunikan dan kekhasan majas dalam RDP.
(2) Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang. (hlm. 14)
Metafora pada data di atas melukiskan keindahan dunia anak-anak di pedukuhan kecil yang masih tradisional, serba gembira, bebas bermain, belum memiliki tanggung jawab keluarga, dan fisik masih prima. Dunia anak-anak merupakan fase kehidupan yang indah dan tidak mungkin terulang lagi pada kehidupan seseorang. Banyak kenangan yang tidak terlupakan, baik yang menggembirakan maupun yang menyedihkan. Tohari mengibaratkannya sebagai surga yang hanya sekali datang . Demikian plastis pelukisan dunia anak-anak dengan metafora tersebut. Yang lebih mengesankan, metafora itu dirangkai dengan gaya bahasa paralelisme di atasnya, Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang. Bila diekspresikan dengan bahasa biasa, misalnya, ...masa kanak-kanak adalah masa yang sangat indah dan hanya sekali terjadi dalam hidup ini , lukisan itu tentu tidak menarik, tidak mengesankan pembaca sehingga tidak memiliki daya pikat. Lebih memikat lagi metafora itu dipadukan dengan unsur permainan bunyi vokal /a/ dan konsonan /k/ dan /m/, asonansi dan aliterasi sehingga menimbulkan irama indah sebagai eufoni dan kokofoni.

Tuturan idiomatik cukup banyak dimanfaatkan dalam RDP. Tuturan idiomatik dalam RDP dapat dibagi menjadi dua jenis yakni tuturan idiomatik klise dan orisinal kreasi Tohari. Tuturan idiomatik klise mengindikasikan bahwa Tohari menguasai bentuk-bentuk idiom lama yang efektif dari segi ekspresi dan makna. Adapun tuturan idiomatik orisinal menunjukkan bahwa Tohari adalah pengarang yang kreatif dalam pemberdayaan segenap potensi bahasa.
(3) Dia yang hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur cetak biru seorang ronggeng. (hlm. 231)
Idiom kreasi Tohari cetak biru pada data tersebut secara harfiah adalah blue print yang berarti suratan takdir yang harus dijalani oleh manusia sebagai jalan hidup yang harus dilaluinya. Diterimanya profesi sebagai ronggeng sebagai tugas hidup yang harus dijalaninya, yakni menjadi pemangku naluri primitif; naluri berahi yang membebaskan diri dari norma dan etika. Menjadi ronggeng, itulah dunianya, kesadarannya. Ronggeng adalah keperempuanan yang menari, menyanyi, serta kerelaan melayani kelelakian. Itulah cetak biru yang dipahami Srintil sebagai ronggeng.

Citraan dalam RDP meliputi tujuh jenis citraan. Dari ketujuh jenis citraan dalam RDP, citraan intelektual yang dominan, disusul citraan visual, gerak, pendengaran, dan perabaan. Dominasi citraan intelektual dalam RDP menunjukkan bahwa Tohari sebagai pengarang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi di samping keunggulan bercerita tentang masalah sosial, budaya, moral, jender, humanitas, dan religiositas.

Tohari memanfaatkan citraan dalam RDP untuk menghidupkan lukisan keadaan, peristiwa, latar cerita, penokohan, dan suasana batin tokoh dan menimbulkan imajinasi yang indah pada pembaca. Dengan citraan, berbagai gagasan menjadi memiliki daya ekspresif, indah, dan sensual. Citraan semakin indah karena dikolaborasikan dengan sarana retorika tertentu seperti Metafora, Simile, Personifikasi, dan Hiperbola. Kolaborasi itu menimbulkan eofoni dan kokofoni sehingga melahirkan orkestrasi bunyi dengan irama yang indah.

Ilustrasi berikut merupakan citraan intelektual dalam RDP yang khas Tohari.
(4) Selera agung yang transendental terhadap segala citakarsa manusia dan karena keagungannya manusia diminta untuk runduk oleh suara bening di dalam jiwa. Runduk dalam cita dan perilaku, runduk dalam karsa dan karya. Dan kemudian Srintil dengan nilai kemanusiaannya sendiri merasa selera agung, meski tanpa sepatah kata jua, membuka pintunya bagi segala manusia dan kepada tiap-tiap jiwa untuk masuk dan menyelaraskan diri kepadanya (hlm. 355)
Data di atas menunjukkan intensitas Tohari dalam memahami aspek transendental yang esensial bagi kehidupan manusia. Melalui citraan intelektual dengan majas Metonimia, Tohari menggelitik pembaca agar dalam berbuat dan berkarya selalu mengikuti suara hati nurani yang tidak pernah salah, selalu berbisik ke arah kebenaran. Manusia harus berusaha menyelaraskan segala perilakunya dengan ajaran Tuhan dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Agaknya pada bagian ini Tohari terilhami oleh makna firman Tuhan: Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji ii ilaa rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fi ibaadii wadkhulii jannatii, artinya, Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu agar memperoleh keridhaan-Nya dan masuklah ke dalam golongan hamba-Ku (yang beriman) dan masuklah ke dalam surga-Ku (Q.S. al-Fajr: 27-30).

Dapat dikemukakan bahwa stilistika merupakan sarana sastra yang berperan penting dalam menciptakan daya estetis karya sastra. Sebagai sarana sastra, stilistika RDP diciptakan Tohari untuk mengekspresikan gagasan sebagai esensi sastra.

Oleh: Ali Imron Al-Ma’ruf  
(Disajikan dalam Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI) di
Kusuma Agro Wisata Resort & Convention Hotel, Batu Malang, tanggal 5-7 November 2009.

DOWNLOAD tulisan ini KLIK di sini

Saturday, November 05, 2011

Cerpen Kampung Rampok Yudhi Herwibowo

KAMPUNG RAMPOK
Cerpen Yudhi Herwibowo

DATANGLAH kalau kau berani!
Singgahi kampungku, kampung rampok! Letaknya tak jauh dari jalan besar di ujung kota, di setapak kecil berbatu yang selalu berbau anyir. Kau cukup bertanya kepada orang yang kau temui di situ, dan mereka akan dengan mudah menunjukkan arahnya. Hanya menunjukkan, tanpa mau mengantarnya!
Bagi orang luar, kampung kami memang nampak menakutkan. Tapi kau jangan berpikir berlebihan tentang ini. Sebenarnya kampung kami tak jauh berbeda dengan kampung-kampung yang sering kau jumpai di tempat lain, seperti kampung pemulung atau pun kampung pengemis. Tak ada yang terlalu berbeda. Luasnya biasa saja, tak besar juga tak kecil. Bentuk rumah-rumahnya pun standar, dari kayu dan beratap sirap. Pohon-pohonnya idem, sedang-sedang dan berdaun rimbun. Bahkan orang-orang yang tinggal di dalamnya pun tak bisa dibedakan, ada yang bergaya gembel, dan ada yang bergaya perlente. Benar-benar kampung yang umum.
Hanya saja, yang sedikit berbeda, penghuninya memang sebagian besar adalah rampok, dan kawan-kawannya, seperti maling, copet, tukang gendam, dan lain-lainnya.
Karena isinya begini, maka mau tak mau pola hidup di kampung ini menjadi sedikit lain. Di sini siang adalah malam, dan malam adalah siang. Senja adalah fajar dan fajar adalah senja. Semua bangun saat senja mulai datang dan tidur saat fajar dimulai.
Jangan kau bayangkan kami berpamitan sambil berucap, “Papa pergi dulu,” kepada istri atau pun anak kami. Teriakan seperti itu tak kami kenal di sini. Terlebih bagiku yang hidup sebatang kara. Perampok kere yang kata teman-temanku bernyali payah.
Hahah, aku tak terlalu perduli. Aku sudah cukup nyaman tinggal di sini. Aman dari kejaran siapa pun. Bisa nebeng makan di mana pun. Sesekali saja aku akan beraksi. Karena kalau beruntung, sekali beraksi sudah cukup buat hidup selama 1 bulan, atau lebih. Walau sering juga hanya sekedar buat beli rokok.
Kau tak perlu bertanya-tanya tentang aku. Itu tak akan menarik. Lebih menarik bila kau bertanya tentang kampung ini. Dan aku akan dengan senang menceritakan padamu.
Aku memang tak tahu perampok mana yang pertama kali hidup di sini. Yang pasti itu telah berlangsung sejak lama. Dulu nama kampung ini adalah Kampung Suka Maju. Itu tertulis jelas di gapura kampung. Namun entah kenapa tulisan itu kemudian hilang. Luntur, karena di setiap Agustus tak kembali dicat. Lalu entah siapa yang iseng, di tempat tulisan itu kemudian dipiloks dengan tulisan: Kampung Rampok, dengan warna genjreng.
Tentu saja, beberapa penduduk protes. Ujar mereka status rampok tak perlu terlalu diekspos sedemikian rupa. Rampok bukan profesi seperti anggota dewan, yang bisa membanggakan. Namun protes itu tak digubris. Ternyata lebih banyak yang tak perduli soal ini. Maka sejak itulah nama kampung kami menjadi Kampung Rampok.
Kepala kampung kami bernama Bapak Budiman. Walau namanya Budiman, namun tak ada kelakuan-kelakuan budiman yang nampak darinya. Ia memang bukan orang asli kampung ini, tapi rampok senior di antara kami semua. Dulu ia datang bersama ratusan anak buahnya untuk membunuh musuhnya, yang menjadi kepala kampung kami. Setelah itu, ia memutuskan untuk tinggal di sini dan menjadi kepala kampung kami yang baru. Ia juga yang kemudian meminta kami untuk memanggilnya Bapak Budiman. Dan kami mengiyakan saja. Toh, itu hanya soal sebutan, jadi sama sekali tak tak berarti. Seperti nama Slamet yang diharapkan terus bisa selamat, toh pada akhirnya mati juga!
***
Sebenarnya tak ada yang istimewa tinggal di kampung kami. Lama kelamaan aku bosan juga. Kau mungkin bisa membayangkan keadaan ini. Tak ada perempuan baru, dan orang-orang makin sulit kudekati, walau aku telah memasang tampang paling memelas sekali pun.
Apalagi akhir-akhir ini kepala kampung kami menjadi lebih kejam. Aku sadar, mengatur para rampok tak seperti mengatur anak kecil. Walau kepala kampung cukup ditakuti, namun itu tak cukup mampu merubah kebiasaan.
Aku sering mendengar beberapa rampok senior mati gara-gara tertidur saat rapat kampung. Mayatnya kemudian dijadikan contoh kepada para rampok lainnya yang ada dalam jajaran pejabat agar esok bisa lebih disiplin. Tapi itu tak berarti banyak. Beberapa hari sekali, kembali akan ada rampok lain yang dihukum mati! Tetap tak akan merubah apa-apa. Kematian sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Kami yang akan heran, bila beberapa hari tak mendengar berita kematian.
Begitulah. Bagi kau yang tak pernah di sini, mungkin akan berkerut kening tak percaya. Tapi itulah yang terjadi di sini.
Namun suatu hari ada kejadian besar yang terjadi. Saat hari terasa sangat biasa, tanpa kami duga muncullah seorang memasuki kampung kami di tengah terik matahari terpuncak.
Semula aku dan Bahol, seorang rampok pemula yang masih dalam taraf training, sedang bersantai di teras warung mencoba tak perduli, seperti ketakperdulian kami pada anjing yang tengah kawin di depan kami. Aku hanya sekilas meliriknya dengan enggan. Paling, hanya rampok-rampok baru yang mencari perlindungan, atau minimal, mencari saudaranya di sini!
Dengan langkah yakin, ia kemudian menghampiri kami. “Maaf,” ujarnya dengan suara kaku, “siapa kepala kampung di sini?”
Aku dan Bahol saling pandang, sebelum akhirnya tertawa lebar. Jelas sekali kini, bila orang di depan kami ini sepertinya tersesat! Seorang dungu yang mencari mati!
Namun saat aku akan semakin keras tertawa mengiringi tawa Bahol, mulutku tiba-tiba terasa kaku, saat melihat lebih jelas lelaki itu. Entah mengapa baru kusadari bila tubuh lelaki di depanku ini nampak berasap. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tapi yang jelas sinar matahari seterik apa pun tak akan membuat tubuh kita berasap bukan? Maka segera saja aku memberi tanda kepada Bahol untuk diam.
“Di sana rumahnya!” aku langsung menunjukkan padanya.
Bahol menatapku berang. Tapi tatapanku membuatnya terdiam. Ia segera menyadari apa yang kulihat. Lalu tanpa bicara lagi, lelaki itu langsung melanjutkan langkahnya. Diam-diam kami tak melepas mata kami lagi hingga ia benar-benar sampai di depan kediamam kepala kampung kami.
Dengan suara lantang, ia kemudian berteriak, “Apa kau kepala kampung di sini?”
Teriakan itu membuat beberapa rampok yang sebelumnya teler di emper-emper warung tuak, mulai terbangun, terganggu akan teriakan itu.
Lalu suara berdebam terdengar memecah keterikan ini, seiring munculnya kepala kampung kami dari balik pintu. “Bajingan mana yang berani mencariku, heh?” teriaknya.
Tanpa banyak cingcong, lelaki berasap itu segera saja membuka bajunya, menampakkan kulit tubuhnya yang hitam legam. Saat itulah baru kulihat kalau dari seluruh tubuhnyalah, mungkin pori-porinya, asap putih itu muncul.
Kepala kampung kami menatapnya dengan sinis. Ia tentu saja bukan orang sembarangan. Kau tahu, ia sudah membunuh ratusan orang dengan berbagai gaya. Prinsip membunuhnya cukup menyebalkan,Membunuh Kita Gaya. Dan ini bukan slogan omong kosong. Aku tahu sekali bila ia bisa membunuh seseorang sambil kentut.
Tapi lelaki berasap ini sama sekali tak nampak takut. Ia terus menatap kepala kampung kami dengan tatapan paling tajam.
Dan kau pasti bisa menebak, apa yang akan terjadi kemudian. Ya, pertarungan sengit di antara keduanya.
Kepala kampung kami yang tak mau terlalu berkeringat sudah membawa tangannya meraih pintol yang selalu terselip di balik bajunya. Namun lelaki berasap itu sudah menduga gerakan itu. Ia segera bergerak cepat ke depan. Tubuhnya yang tiba-tiba seperti berapi, sudah meluncur deras ke arah kepala kampung kami.
Tentu saja itu membuat kepala kampung kami terbelalak. Itu yang membuat gerakannya terhenti sepersekian detik saja. Namun itu sudah cukup untuk membiarkan gerakan tubuh lawannya menderu ke tubuhnya!
Kejayaannya nampaknya harus berakhir hari ini. Ia mati dengan tubuh berlubang penuh api!
Kami semua memandang dengan tak percaya. Ketakutan kami muncul saat itu juga. Dan lelaki berasap itu seperti tahu akan kondisi ini. Ia kemudian berdiri tegak menyapu pandangan pada kami semua yang ada. Tanpa bicara tatapannya jelas menantang kami. Seakan-akan menunggu gerakan kami. Namun ketika tak ada dari kami yang bergerak, ia tersenyum sinis, dan mulai melangkah masuk ke dalam kediamam rumah kepala kampung kami yang lama.
Sejak itu, walau tanpa bicara satu kata pun, ia sudah menjadi kepala kampung kami yang baru.
Itu tak masalah buat kami. Siapa pun pemimpinnya, sama sekali tak berpengaruh bagi kami. Seperti iklan teh botol itu, siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak perduli!
***
Tapi kali ini kami tak bisa terlalu tak perduli!
Kepala kampung kami yang tak banyak bicara itu ternyata bukan manusia biasa! Semula kami hanya melihatnya sedikit berbeda karena ia lebih suka berendam di kubangan air. Namun hanya sehari berselang kami telah tahu kebiasaan-kebiasaan lainnya. Dan satu yang paling menakutkan adalah kebiasaannya memakan daging bayi. Beberapa balita bahkan ditangkapnya juga untuk dijadikan sarapan. Aku beberapa kali melihatnya sedang menyemil paha bayi, seakan sama kriuk-kriuknya dengan pahan ayam!
Untuk itu, ia memerintahkan semua perempuan di kampung ini, yang semuanya hanyalah pelacur-pelacur, untuk segera beranak. Poster-poster usang tentang Keluarga Berencana yang sudah iseng dicorat-coret, bertulis; Dua Anak Cukup, rampok atau bukan rampok sama saja, segera dicopot tanpa tersisa! Ia bahkan menjanjikan akan memberikan segepok uang bagi anak-anak yang diberikan padanya!
Kebiasaan buruk ini tentu saja dengan cepat menyebar ke kampung-kampung lain, hingga pada akhirnya beberapa polisi pun datang ke kampung kami. Awalnya kupikir meraka datang untuk, seperti biasa, meminta jatah. Namun ternyata tidak. Mereka tanpa basa-basi lagi, langsung menuju ke rumah kepala kampung kami.
Dan hasilnya bisa kau tebak! Kami hanya melihat kedua penegak hukum itu masuk ke dalam rumah, setelah itu tak terlihat lagi keduanya keluar. Lalu kudengar, kepala kampung kami memanggil pembantu-pembantunya untuk membuat beberapa lubang di belakang rumah.
Aku dan orang-orang di sekitarku bergidik. Walau di sini merupakan tempat berkumpulnya rampok paling hebat, tapi berkonfrontasi langsung dengan polisi, adalah sesuatu hal yang sangat dihindari!
Maka lama-kelamaan, tanpa bisa dihindari lagi, kampung kami semakin mencekam. Beberapa dari kami bahkan sudah merasa tak nyaman untuk tinggal di sini. Satu persatu kemudian memutuskan untuk pergi. Termasuk Bahol. Namun hanya berselang lontaran keinginannya itu, keesokan paginya kami semua sudah melihat kepalanya tertancap di tombak di pintu masuk kampung.
Aku hanya bisa menelan ludah tak percaya. Saat itulah kusadari kalau kami tak lagi bisa pergi dari kampung kami!
***
Dan kau tahu apa yang terjadi sejak itu? Mendung hitam seakan menyelimuti kampung kami. Mendung paling pekat. Kami tak lagi bangga dengan keberadaan kampung kami. Kepala kampung kami benar-benar telah menjelma iblis yang sangat menakutkan!
Tangannya begitu mudah membunuh. Ketiadaan bayi dan anak-anak, membuatnya membunuhi kami satu demi satu, mulai dari yang termuda. Ini membuat ketakutan memuncak.
Di saat-saat seperti inilah, secercah cahaya kemudian datang di ujung kampung. Terang benderang membawa seorang lelaki tua dengan pakaian putih yang berkibaran di tiup angin.
Kami hanya menatap kedatangannya tanpa bicara. Lelaki tua itu pun, membalas menatap kami dengan tatapannya yang tenang, lalu seakan telah tahu tujuannya, ia terus kembali melangkah menuju kediaman kepala kampung kami. Langkahnya begitu perlahan, seakan mengikuti gerakan angin yang kini bertiup lembut.
Saat tulah baru kusadari lelaki tua itu sama sekali tak meninggalkan jejak dalam langkah-langkahnya. Aku hanya bisa memandang tak percaya. Dalam hati aku sudah berharap bila sosok inilah yang akan menjadi penyelamat kami semua di sini.
Lalu pertarungan tak lagi bisa terelakkan!
Jantungku terasa berdetak begitu kencang menatap pertarungan itu. Kau pasti menduga bila lelaki tua itu pada akhirnya akan memenangkan pertarungan dan membunuh iblis jahat itu, sama seperti akhir film-film pendekar atau pun di film-film hantu yang kini banyak beredar.
Tapi nampaknya kau salah. Melihat pertarungan di depan sana, di mana api terus menguasai lelaki tua itu, yang setapak demi setapak mundur dari pijakannya, sepertinya akhir kisah ini belum berakhir seperti itu.
Ah, ini menyesakkan. Aku tak tahu harus berkata apa lagi padamu. Harapanku sepertinya telah sirna. Rasanya tak ada lagi yang ingin kuceritakan padamu.
Datanglah kalau kau berani! Singgahi kampungku, kampung rampok! Kampung yang kami sendiri takut untuk tinggal…. (*)


Pawon Solo, 2010
Sumber: Jawa Pos, 9 Oktober 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook