Saturday, January 28, 2012

Requiem Kunang-Kunang

Cerpen: Agus Noor

BARANGKALI aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.

Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-olah mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta!

Ada banyak kisah–setidaknya yang pernah aku dengar–kenapa semua penduduk di kota ini buta. Jagat raya semula hanyalah gugusan cahaya. Cahaya yang kuning keemasan. Lalu ruh sepasang manusia pertama tercipta dari cahaya itu. Berbentuk percik cahaya. Kekuningan. Serupa kunang-kunang. Sepasang ruh yang serupa kunang-kunang itu kemudian turun ke dunia, begitu kisah leluhur, lalu berdiam di tubuh manusia, yang semula, hanyalah serupa batang-batang pohon. Tinggi menjulang, diam bagai pertapa. Ruh yang serupa kunang-kunang itu hinggap di tubuh manusia, sebagai sepasang mata, hingga manusia hidup dan bisa melihat dunia. Ketika manusia mati, ruh itu kembali terbang, menjelma kunang-kunang. Dan manusia kembali buta.

Kisah lain datang dari muasal teluk yang terletak di Utara kota ini. Teluk Duka Cita, begitu orang-orang di kota ini menyebutnya. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, mereka sekandung anak Raja Pertama, saling jatuh cinta, dan waktu, juga maut tak mampu menghentikannya. Karena tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan cinta terlarang dua saudara sekandung itu, Permaisuri, sembari terisak meminta syarat yang menurutnya muskil dipenuhi: dalam semalam mereka harus menyediakan kunang-kunang, yang bila dihamparkan dengan rapi, sanggup menutup seluruh permukaan teluk. Cinta yang buta memberi mereka akal, juga kekejaman. Dengan menggabungkan sihir yang dimilikinya, Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, memanggil semua kunang-kunang yang ada, bahkan mereka diam-diam menambahi kunang-kunang itu dengan mata para penduduk yang telah mereka congkel, dan mereka sihir menjadi kunang-kunang. Melihat itu, Raja segera menyuruh para prajurit menebah kunang-kunang yang telah berhasil dikumpulkan itu agar kembali terbang. Maka, meski telah ratusan mata dicongkel untuk menggenapi kunang-kunang agar bisa menutupi seluruh permukaan teluk, hingga pagi tiba, masih ada sebagian teluk yang tak tertutup kunang-kunang. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima mengeram marah, ketika mengetahui cara licik Raja menggagalkan cinta mereka. Di hadapan Raja dan Permaisuri, mereka langsung saling menusuk jantung masing-masing, sambil mengutuk: mereka akan mengambil semua mata seluruh penduduk dan keturunan yang hidup di kota ini, hingga siapa pun yang tak harus menanggung dosa menjadi buta. Kemudian mayat keduanya jatuh ke dalam teluk.

Tak ada muda-mudi kota ini yang berani berpacaran di teluk itu. Bila nekat, sepulang dari sana, mata mereka buta.

Kisah yang ini, barangkali, akan lebih kau percaya. Bermula dari kedatangan pasukan asing, dan perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun setelahnya. Banyak warga yang kemudian dicap pemberontak. Mereka yang dituduh mata-mata pemberontak, langsung ditangkap dan dicongkel matanya. Andai saat itu kau ada di kota ini, jangan kaget, bila seseorang yang kau jumpai pada sore hari, telah menjadi buta pada pagi harinya. Ada gereja tua, yang dianggap menjadi sarang pemberontak, dan pasukan asing itu mengepungnya. Seluruh yang ada di dalamnya diseret keluar dan dikumpulkan di pekuburan yang berada di belakang gereja. Mereka langsung dihabisi dengan serentetan tembakan. Peristiwa itu selalu diperingati dengan misa paling murung di kota ini.

Seperti diriwayatkan leluhur, ruh mereka yang mati akan kembali menjadi kunang-kunang. Bila malam hari, kau bisa menyaksikan puluhan kunang-kunang terbang berkitaran dari arah pekuburan di belakang gereja itu. Atau berjalanlah menyusuri kesunyian lorong-lorong kota ini malam hari, maka kau akan selalu berpapasan dengan kunang-kunang, yang melintas sendirian, atau bergerombol, seakan-akan mereka adalah sebuah keluarga yang sedang jalan-jalan. Jangan kaget, bila tiba-tiba pundakmu seakan ada yang menepuk, dan kau mendapati seekor kunang-kunang telah hinggap di pundakmu. Tak terlalu banyak penerangan di kota ini. Satu-satunya pembangkit listrik yang tersisa hanyalah berasal dari kincir air yang letaknya jauh di luar kota dan sudah payah tenaganya. Para pasukan asing dan penguasa telah lama melupakan kota ini, bagai hendak melupakan dosa mereka dari ingatan mereka. Kota itu terasa murung dan kelabu di siang hari. Dan tanpa penerangan listrik yang cukup, di malam hari kota ini seperti dikuasai kegelapan yang ganjil. Kegelapan yang dipenuhi kunang-kunang yang bagai muncul dari lorong-lorongnya yang paling gelap.

Atau berjalanlah kau menyisir tepian teluk, maka kau akan menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang nyaris menyentuh permukaan airnya yang bagai pulas tertidur. Ribuan kunang-kunang itu seolah ruh yang bangkit dan ingin membebaskan diri dari cengkeraman kutukan masa silam yang kelam. Kadang kau bisa mendengar suara mereka bernyanyi dengan kepedihan yang begitu memilihan. Seperti koor ruh yang purbawi.

Cahaya kunang-kunang akan membuat jalanan kota di malam hari menjadi tampak berpendaran kekuningan, seperti ada mata yang terus menyala dari balik kegelapan. Kau akan melihat kunang-kunang itu bergerombol memenuhi warung dan kafe-kafe, seakan tengah mengobrol. Kau akan menyaksikan kunang-kunang itu hinggap di tiang listrik yang mati, hingga tiang listrik itu terlihat seperti pohon yang menyala kekuningan. Ketika segerombolan kunang-kunang hinggap di serimbun perdu atau tumpukan batu, maka perdu dan batu itu seketika menyala berpendaran. Diding-dinding yang telihat kusam dan tua di siang hari, menjadi berkilauan di malam hari. Dan sebuah pohon meranggas, bisa saja seketika langsung menyala kekuning-kuningan, seakan hiasan lampu jalan atau pohon Natal.

Ada yang hidup di malam hari di kota ini, yang tak hidup di siang hari.

Sebenarnya pernah, suatu saat, kota ini mencoba hidup dan berbenah diri. Banyak pendatang yang mencari peruntungan. Tapi barangkali kota ini memang kota yang ingin dilupakan, atau dilenyapkan. Selalu saja ada hal-hal kecil yang sepertinya sengaja diciptakan untuk menjadi kerusuhan. Pembunuhan dan perkelahian. Rumah ibadah yang dibakar. Penembakan dan ledakan bom. Kota ini menjadi kota yang selalu dipenuhi permusuhan dan kerusuhan. Iman menjadi sesuatu yang menakutkan. Desas-desus tantang pasukan bertopeng yang suka menculik dan mencongkel mata siapa saja yang ditangkapnya, membuat bergidik para warga yang kemudian memilih meninggalkan kota ini. Hingga kota ini tinggal dihuni orang-orang yang sebagian besar telah buta, dan kunang-kunang.

Apalah yang layak diceritakan dari kota yang murung dan hanya didiami orang-orang buta dan kunang-kunang seperti aku ini? Aku, seperti ribuan kunang-kunang lain di kota ini, hidup dalam kesunyian cahaya. Kami seperti menanggung beban masa silam yang sampai kini tak pernah bisa kami pahami. Sebagai ruh, kunang-kunang seperti kami, hidup abadi. Tapi apalah arti keabadian bila kami hidup dalam kesunyian yang tak tertanggungkan seperti ini? Kami hidup untuk melupakan apa yang telah terjadi pada kami. Aku sendiri selalu ingin melupakan ingatan buruk itu. Ketika suatu malam, saat aku masih hidup sebagai manusia, berjalan pulang seusai pesta dansa. Di kelokan jalanan gelap, beberapa orang bertopeng menyergap dan meringkusnya. Aku tak sempat menjerit dan melawan ketika kurasakan belati tepat menikam jantungku. Pada detik terakhir aku hanya sempat merasakan kesakitan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata, tepat, saat mereka mereka mencongkel mataku. Pada detik terakhir itulah, ruhku keluar dari tubuh, dan menjelma kunang-kunang.

Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum Natal. Setelah peristiwa itu, terjadi kerusuhan dan kebakaran, yang menghanguskan nyaris sepertiga kota. Bekas yang disisakannya, berupa onggokan arang kebakaran, bila dilihat dari ketinggian, seperti luka sayatan pedang, yang mengiris wajah kota. Kesakitan yang akan lama kekal dalam ingatan.

***

Dan inilah kali pertama aku akan merayakan Natal sebagai kunang-kunang. Mengenang dan memikirkan apa yang telah terjadi di kota ini, aku diluapi kesedihan, yang membuatku sepertinya akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Ah, aku merasa, aku hanya terlalu dikuasai kesedihan. Mereka yang sudah lama menjadi kunang-kunang, mungkin pernah mengalami perasaan sentimentil seperti ini, tetapi akhirnya menjadi terbiasa. Perasaan sentimentil itulah, yang barangkali, membuatku ingin menceritakan semua kisah ini, kepadamu.

Pada malam Natal di kota ini, kau akan menyaksikan kunang-kunang bermunculan dari penjuru kota, yang bergerak melayang menuju gereja tua, di mana dulu pernah terjadi pembantaian. Kunang-kunang itu memenuhi gereja. Hingga gereja menjadi terang benderang berkilauan kuning keemasan. Pada fresko di belakang altar, kacanya yang buram dan sudah pecah di beberapa bagian, cahaya kunang-kunang itu menampakkan diri bagaikan aura para santa, membuat salib Kristus yang menjulang seolah diselubungi cahaya kesucian yang lembut dan meneduhkan. Sementara para jemaat, yang nyaris sebagian besar renta dan buta, para perempuan yang murung sepanjang hidupnya, mengikuti misa dengan keheningan jiwa yang membuat segala suara di sekitarnya seperti terhisap lesap. Pada saat-saat seperti itu, suara pelan daun yang melayang jatuh menyentuh rerumputan, akan terdengar jelas di telingamu.

Ubi caritas et amor, Deus ibi est

Simul ergo cum in unum congregamur

Ne nos mente dividamur, caveamus

Cessent iurgia maligna, cessent lites

Et in medio nostri sit Christus Deus….

Nyanyian itu, nyanyian itu, membuat aku tak kuasa menahan sedu. Aku membayangkan kota yang terang, teluk yang lembut dan menguarkan kesegaran yang tak terjamah musim. Kotaku, kotaku, yang sesungguhnya elok ini, kenapa engkau ditinggalkan para penduduk yang mencintamu dengan seluruh nestapa dan duka cita?

Keheningan misa mendadak pecah oleh ledakan. Para jemaat yang buta berlarian dan tersandung hingga terjerembap. Aku melihat api berkobar dari arah samping gereja. Seperti ada yang melemparkan bom molotov. Seperti ada ledakan granat atau entah apa yang tak pernah aku tahu. Mungkin seseorang telah menyelusup ke dalam gereja dan meledakkan diri. Dan api makin berkobar. Sebentar lagi, mungkin gereja ini akan terlalap api dan memusnahkan semua kunang-kunang di dalamnya.

Sebelum api itu juga menghanguskanku, mungkin aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini yang masih sempat menceritakan semua ini kepadamu. (*)

Ambon, 2011

Sumber: Kompas Minggu, 25 Januari 2012

download cerpen ini KLIK di sini

Monday, January 16, 2012

Gundar Sepatu AA Navis

Gundar Sepatu

Cerpen AA Navis

Bagi orang parlente gundar sepatu, penting. Karena setiap ke luar rumah, sepatu harus mengkilap. Bagaimana sepatu bisa mengkilap kalau tidak digundar setiap hari.

Di hotel berbintang, tempat golongan elite biasa menginap, gundar sepatu memang tidak disediakan. Yang disediakan flanel berbentuk kantong kecil. Masukkan tangan kedalamnya, lalu sekakan ke sepatu. Kalau sepatu itu kumal betul, panggil pelayan hotel untuk membersihkan. Tapi mana ada orang elite keluar masuk hotel dengan sepatu berlumpur?

Dalam masa perang gerilya, gundar sepatu menjadi lebih penting fungsinya dibandingkan kebutuhan sepatu orang elite. Banyak pejabat dan pejuang menyimpan gundar sepatu di kantong atau di ranselnya, meski kemana-mana mereka memakai sandal dari ban bekas mobil. 

Begini ceritanya, menurut Si Dali.

Sekali pagi terjadi heboh besar. Sersan Bidai merazia semua ransel anggota rombongannya sambil menodongkan pestol rakitan lokal. Mencari miliknya yang hilang. Miliknya yang hilang itu ditemukan dalam ransel Letnan Tondeh. Tak seorang pun menyangka yang mencuri seorang letnan. Lebih tidak ada yang menduga kalau letnan itu mencuri gundar sepatu sersan yang anak buahnya. Bahkan tidak ada yang tidak heran, kalau sersan itu sampai kalap hingga menodongkan pestol karena hilangnya sebuah gundar sepatu saja. Apa benarlah pentingnya gundar sepatu. Peristiwa itu sampai ke telinga komandan batalyon. Menurutnya, seorang sersan menodongkan pestol kepada seorang letnan itu merupakan pelanggaran berat. Benar-benar berat. Si sersan ditangkap. Tapi di daerah gerilya mana ada rumah tahanan provos. Namun hukuman tetap dijatuhkan. Pestolnya dilucuti. Pangkatnya diturunkan jadi kopral. Nyalinya pun copot. Dalam pemeriksaan, dia mengaku sangat marah karena gundar sepatunya dicuri.

Mendengar laporan bahwa seorang letnan sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri, Mayor Segeh yang komandan batalyon, memanggil Letnan Tondeh. Tidak masuk pada akalnya, seorang perwira yang kemana-mana memakai sandal dari ban bekas mobil, sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri.
"Mencuri gundar sepatu lagi. Itu merusak martabat perwira namanya. Bikin malu kamu. Bagaimana mungkin kita bisa menang perang kalau perwira sudah sampai mau mencuri milik anak buah sendiri. Bagaimana macamnya republik ini bila perwiranya sekonyol kamu?" kata Mayor Segeh kepada Letnan Tondeh.

"Gundar sepatu saya hilang. Saya perlu gantinya." kata letnan itu.

"Buat apa gundar sepatu, toh, kamu tidak pakai sepatu?"

Dan ketika komandan mendengar keterangan letnan itu arti gundar sepatu bagi diri sendiri, si Mayor tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya berderai. Kemudian, setelah ujung ketawanya mereda, kata mayor itu: "Jadi? Setiap malam, setiap matamu tidak bisa tidur, kamu elus bulu gundar sepatu itu dengan ujung jarimu. Begitu?"

"Ya. Begitulah."

"Kenapa kamu tidak kawin saja?"

"Teman-teman sudah ambil semua, Mayor. Malah ada yang ambil dua." jawab Letnan Tondeh.

"Jangan menyindir, ya?" kata Mayor Segeh sambil memlototkan matanya, karena selama perang mayor itu sudah punya dua bini.

Menurut desas-desus, setelah peristiwa itu, banyak gundar sepatu dipesan ke kota oleh orang-orang di daerah gerilya itu. Mereka membawa gundar sepatu kemana pun mereka pergi.

Ya, setelah desas-desus yang sampai ke telinga Si Dali, lalu Si Dali bercerita.

"Tak lama setelah heboh gundar sepatu itu daerah kedudukan pasukan kami diserbu musuh. Kami sempat menyingkir ke hutan. Beruntunglah tak seorang pun yang terbunuh. Setelah musuh kembali waktu sore, aku kembali ke pangkalan dengan tertatih-tatih. Yang bernama pangkalan kami terdiri hanya enam rumah kayu kecil-kecil, disamping pondok-pondok dari ilalang yang bertebaran yang kami buat.

Penduduk menamakannya taratak. Di sekitar itu berpencar banyak teratak lagi, yang menjadi tempat tumpangan para pimpinan gerilyawan militer atau sipil. Taratak kami porak poranda. Semua benda bertebaran di tanah. Pecah dan peot. Terkapar seperti petinju kena K.O. Semua orang yang berseragam hijau utuh atau bukan, dan yang orang sipil berpencar-pencar. Bungkuk merukuk-rukuk mencari dan memungut sisa benda milik mereka yang masih utuh atau yang masih bisa dipakai.

Maruhum, seorang camat, yang dimasa perang gerilya itu diangkat jadi Wedana Militer adalah salah seorang penghuni taratak. Waktu aku tiba dia duduk di bawah naungan pohon nangka. Seluruh buah pohon itu, yang muda sampai yang putik, dirontokan musuh yang menyerbu seperti badai. Dagu Maruhum bertopang pada kedua lututnya. Termangu seperti orang yang kepalanya hampa. Boleh jadi juga hatinya tengah melolong atau tersedu. Semua orang, demi melihat aku tiba, pada menggeleng kepala sambil melirikkan mata ke arah Maruhum. Seperti mereka merasa tahu apa yang dirisaukan Maruhum. Menurutku, dalam pikiran mereka, Maruhum risau oleh kehilangan benda yang paling disayangi. Apalagi kalau bukan gundar sepatu. Kesanku juga begitu. Akupun menggelengkan kepala. Tapi bukan karena Maruhum yang risau oleh kehilangan benda yang sesungguhnya tidak akan memenangkan perang masa itu. Melainkan karena aku ingat betapa pentingnya arti gundar sepatu oleh Sersan Bidai sehingga dia sampai berani menodongkan pestol pada Letnan Tondeh.

Menurutku, sebagai Wedana Militer, tugas Maruhum tidak jelas. Selain menghadiri rapat bila ada panggilan Gubernur Militer atau Bupati Militer. Makanya aku anggap fungsinya tidak lebih penting dari gundar sepatu bagi prajurit yang terpisah dengan istri demi memelihara moril gerilyanya.

Namun sekali waktu Maruhum berkata padaku, menurut Pak Rasjid, Gubernur Militer, jabatannya itu penting. Sesuai menurut hukum internasional, suatu negara baru sah keberadaannya, bila ada wilayahnya, ada rakyatnya, ada pemerintahannya. Meski presiden negara itu ditawan, tapi masih ada pimpinan pemerintahan seperti Sjafruddin Prawiranegara. Suatu pemerintahan yang sah, mesti ada organisasi dan stafnya. Itulah fungsi Wedana Militer. Suatu bangsa yang cuma punya berdivisi-divisi tentera saja, betapun kuatnya, tidaklah akan diakui internasional sebagai negara. Paling-paling akan dianggap sebagai gerombolan saja."

Aku mendekati Maruhum. Aku pun duduk bersandar ke pohon nangka itu. Setangkai ranting aku pungut. Ujungnya aku congkel-congkelkan ke tanah sambil mencari bahan bicara. Dalam pikiranku, tanpa gundar sepatu pun orang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya di hutan rimba sekalipun.

"Ada apa, Bung Wed?" tanyaku akhirnya dengan menyingkatkan sebutan Wedana sebagaimana lazimnya orang seusia masa itu.

"Tidak apa-apa." kata Maruhum dengan lesu setelah menarik nafas panjang dan kemudian melepaskannya.

"Ada yang hilang?"

Pertanyaan itu tidak berjawab. Aku kembali mencari-cari bahan pertanyaan lain. Lama juga saat berlalu. "Apa perang ini masih akan lama, Bung?" akhirnya Maruhum bertanya.

"Bisa jadi. Mengapa?"

"Belanda ini bandel betul. Taroklah dia sudah menguasai seluruh negeri ini. Kita kalah. Pemimpin kita di bui. Apakah rakyat yang sudah merasakan nikmat merdeka, pejuang yang sudah biasa bertempur, akan diam-diam saja dibawah penjajahan Belanda itu nanti? Tidak, toh. Perang mungkin sudah selesai, tapi permusuhan akan terus berlangsung. Begitu, kan?" Maruhum berbicara dengan suaranya yang letih.

Seperti tidak memerlukan tanggapan. Dia melanjutkan. "Menurut Gubernur Militer, Pak Rasjid, Belanda tahu mereka tidak akan menang dalam perang ini. Serangan Belanda ini, tidak lain dari usaha mereka untuk memaksa kita ke meja perundingan. Demi menghindarkan kehilangan mukanya. Mereka tangkap Bung Karno dan Bung Hatta. Lalu, mereka hanya mau berunding dengan kedua pemimpin yang ditawan itu. Tidak dengan Sjafruddin. Berunding dengan orang yang ditaw an lebih gampang menekannya, bukan? Ingat sejarah Diponegoro, Imam Bonjol. Belanda berunding setelah mereka itu ditawan."

"Semua orang bicara begitu." kataku asal bicara.

"Bila perang ini selesai, dengan perundingan atau bukan akan banyak persoalan timbul. Lebih rumit dari peperangan ini." kata Maruhum setelah lama dia terdiam.

"Umpamanya?"

Mulut Maruhum terkatup. Dagunya kembali diletakkan ke lututnya. Bayang-bayang pohon nanka sudah tak kelihatan lagi. Sudah hampir sama gelapnya dengan senja yang kian larut. Orang-orang mencari miliknya pada puing-puing rumah yang dirobohkan musuh itu, sudah tidak ada lagi.

"Para prajurit naik pangkat, tentera pelajar ke sekolah tinggi dengan cuma-cuma. Gubernur jadi menteri. Politisi jadi anggota perlemen. Aku sendiri, yang Wedana ini akan bekerja di kantor. Tak tahu aku apa tugasku. Aku kehilangan banyak." katanya setelah lama kami sama-sama terdiam.

Bagaimanapun besarnya pengorbanan kita sudah jadi bangsa yang merdeka. Dengan kemerdekaan itu bangsa ini akan membangun diri agar bisa menikmati hidup yang lebih baik, adil dan sejahtera. Itu pikiranku, yang aku serap dari pidato para pemimpin. Tapi Maruhum berpendapat lain. Dia merasa kehilangan. Kehilangan apa, yang padahal pangkatnya sudah setinggi itu? Wedana.

Menurutku, dia termasuk yang beruntung karena adanya perang ini. Dia tidak sepatutnya bersikap skeptis. Karena cobalah pikirkan, jika Belanda itu kembali ke sini tidak membawa bedil dan meriam, melainkan membawa salam dan senyuman, semua pangkat dan jabatan tinggi itu tidak akan sebanyak ini bertebaran. Paling-paling Maruhum hanya akan jadi klerk sebagaimana yang diceritakannya kepadaku.

Demikian Mayor Segeh. Demikian pula Letnan Tondeh. Namun Maruhum merasa kehilangan pada akhir perang kemerdekaan ini. Kenapa?

"Aku kehilangan gara-gara gundar sepatu." katanya pula setelah lama kami sama-sama
terdiam.

"Hah?" sergahku karena tidak tahu apa hubungannya.

"Kepada Si One, perempuan pedagang yang keluar masuk kota itu aku titip surat untuk istriku. Minta dikirimi gundar sepatu. Kata istriku dalam surat balasannya:

"Gundar sepatu kamu sudah tiada. Untuk pengganti aku kirim yang lain." Bung tahu apa yang dia kirim?"

Tanpa menunggu jawabanku Maruhum berkata dengan suara yang parau: "Pasti dia punya gendak. Lalu dikiriminya aku gundar kamar mandi usang dari ijuk yang kasar". 

Ketika aku ketemu Si One, perempuan yang pedagang keluar masuk kota itu, aku tanyai dia. Sebagaimana orang desa yang biasanya polos, dia ceritakan fungsi gundar sepatu di daerah gerilya pada istri Maruhum. Dan perempuan itu, katanya, marah sekali sampai bercarut-carut.

Dalam hatiku, perempuan mana yang tidak sakit hati, bila diduai. Apalagi dengan gundar sepatu.

Kayutanam, 17 Juni 1997

Sunday, January 15, 2012

Pengakuan Pariyem: Linus Suryadi

PARIYEM, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
Umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun sewu
tanggal lahir saya lupa
Tapi saya ingat betul weton saya
Wukunya Kuningan
di bawah lindungan bethara Indra
Jumat Wage waktunya
ketika hari bangun fajar


LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem.Bagi sastrawan Sapardi Djoko Damono, Linus tak bisa dipisahkan dari prosa liriknya yang terbit pertama kali pada 1981 itu. Menurut Sapardi, inilah satu prosa lirik paling panjang yang pernah dihasilkan sesudah zaman kemerdekaan.

Lewat tokoh Iyem pula, kita bisa melihat pribadi Linus. Keduanya mau tak mau menyandang agama Katolik di KTP, tapi Linus atau Pariyem sejatinya seorang Jawa yang hidup dalam kereligiusan kejawen. “Yesus itu sebenarnya penganut kebatinan,” kilah Linus semasa hidupnya, sebagaimana yang dikutip Ashadi Siregar dalam kata pengantar Pengakuan Pariyem. Keduanya juga pribadi yang lugu tipikal orang desa. “Cah ndeso tenan (benar-benar anak desa),” demikian komentar Umar Kayam. Tapi, di balik keluguan itu, kedua tokoh ini mampu mengekspresikan prinsip hidup yang ndakik-ndakik (rumit) bak priayi. Tak berlebihan jika Linus dan Pengakuan Pariyem pada masanya mendapat perhatian tak cuma dari kritikus sastra atau pembaca sastra, tapi juga dari antropolog dan sosiolog. Sebab, Pengakuan Pariyem adalah sebuah karya sastra yang mencoba mengungkapkan situasi kebudayaan yang ada di Jawa, yang berbenturan dengan kebudayaan lain. “Ini merupakan salah satu tonggak di dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern,” ujar Sapardi, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Inilah puncak pencapaian seorang penyair yang tetap bertahan hidup di Yogyakarta. Sebuah lingkungan kultural yang menjadikannya seorang seniman yang hingga akhir hayatnya hanya menggunakan skuter ke mana-mana, dengan jaket jeans melilit tubuhnya dan tas yang sudah tampak kusam. Meski zaman sudah berubah, gaya hidup Linus tak jauh bergerak dari gaya hidup seniman Malioboro pada 1970-an. Saat itu, ia memutuskan keluar dari kehidupan kampus untuk bergabung dengan komunitas Umbu Landu Parangi, yang kondang dengan sebutan “presiden Malioboro”, dalam Persada Studi Klub. Ia bersama calon penyair lainnya lebih suka “bergelandangan” di Malioboro daripada suntuk di kampus mendengarkan kuliah. “Sejak itu mulailah dia membuat puisi,” tutur Ashadi Siregar, salah seorang sahabat Linus. Saat itu, pemandangan yang jamak adalah wajah cemas sejumlah anak muda–termasuk Linus–yang menunggu kedatangan sang “dewa” Umbu Landu Parangi di depan kantor mingguan Pelopor, hanya untuk mengetahui puisi siapa saja yang dimuat dalam mingguan itu.

Pada mulanya, puisi Linus mirip dengan sajak Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono: sangat liris dan imajinatif. Tapi, menurut Bakdi Sumanto, dosen Fakultas Sastra UGM, dalam perkembangannya Linus mulai menemukan gayanya sendiri, yakni ketika ia mulai mengeksplorasi latar belakang budaya Jawa. Hal inilah yang berkembang terus sehingga melekat menjadi ciri khas Linus, yang kemudian diimbuhi dengan kekuatan liriknya. Maka, lahirlah buku kumpulan puisi maupun prosa yang sangat bercorak Jawa, semisal Langit Kelabu, Perkutut Manggung, Rumah Panggung, Regol Megal-megol, dan Tirta Kamandanu. Karyanya yang dipublikasikan paling akhir–dan belum selesai–adalah Dewi Anjani, yang dimuat jurnal Kalam.

Masalah intervensi kosakata Jawa dalam karya Linus dipersoalkan pembaca, seolah Linus tidak mampu berbahasa Indonesia. Begitu banyak kosakata Jawa yang berloncatan dalam karyanya sehingga memaksa penerbit melampirkan kamus kecil Jawa-Indonesia pada sejumlah buku Linus. Tapi, bagi Sapardi, bahasa sastra ala Linus itu sah karena kultur seperti itu memang ada dalam kenyataan sehari-hari. Apalagi, katanya, Bahasa Indonesia itu kan sangat beragam. “Yang penting adalah kejujuran Linus menggunakan bahasa yang betul-betul milik dia,” ujar Sapardi.

Linus tidak cuma mampu membuat syair, tapi juga dikenal sebagai kritikus sastra lewat tulisannya di berbagai media massa yang kemudian dibukukan, yakni Di Balik Sejumlah Nama. Meski kritik sastra Linus dianggap tidak akademis, menurut Profesor A. Teeuw, pengamat sastra Indonesia yang memberi tulisan pengantar pada buku itu, kritik sastra Linus mengandung daya pengamatan yang orisinal, pemahaman yang tajam, pengalaman membaca yang luas, dan daya cipta yang sehat dan kuat.

Kini khazanah sastra Indonesia kehilangan kontributornya yang paling bersemangat menggauli sastra dari pucuk hingga akarnya. Entah apakah masih ada seorang juri lomba penulisan puisi yang mau menyempatkan diri menyurati peserta yang dianggap potensial hanya sekadar memberi dorongan untuk mengembangkan diri. Dan mungkin hanya Linus yang bersedia melakukan itu.

Berikut ringkasan cerita prosa lirik Pengakuan Pariyem itu:

Itu adalah sepenggal prosa pembuka buku ini. Ya buku ini bertutur tentang Pariyem seorang wanita Jawa, dari desa yg bekerja sebagai “babu” di kota besar Yogyakarta. Laiknya seorang babu, kehidupan Pariyem dipenuhi dengan pengabdian terhadap tuannya. Pariyem sosok yg digambarkan lugu, sabar dan nrimo adalah potret wanita Jawa pada umumnya.

Masa kecil Pariyem boleh dibilang bahagia, bapaknya seorang pemain ketoprak dan simboknya sindhen wayang kulit. Ia kerap mengikut ibunya manggung, duduk manis di belakang dalang. Setelah dewasa ia ngenger di rumah KRT. Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman, Ngayogyakarta sebagai babu.
Istri Ndoro Kanjeng, RA. Cahya Wulaningsih biasa dipanggil nDoro Ayu, seorang yg ayu, luwes, halus tutur katanya, teduh pandangannya serta memiliki jiwa yg luhur dan mulia. Mereka mempunyai 2 orang putra, laki-laki dan perempuan. Yg laki-laki bernama RB. Aryo Atmojo, seorang mahasiswa kuliah di UGM jurusan filsafat. Yg perempuan bernama RA. Wiwit Setyowati, kuliah di Sarjana Wiyata dan sore harinya ngajar beksan di nDalem Pendopo Taman Siswa.

Pariyem betah dan krasan kerja disana, karena keluarga nDoro kanjeng tidak pernah membeda-bedakan status. Hingga pada suatu hari Pariyem dan Den Bagus Ario melakukan hubungan yg tidak seharusnya dilakukan. Pariyem pasrah dan tak kuasa menolak, malah ia menikmati dan menghayati perannya. Toh ia sudah tak perawan lagi, sudah ia berikan kepada Kliwon di sebuah gubuk kecil sepulang nonton wayang. Jadi saat Den Aryo menginginkannya, Pariyem lilo dan nrimo. Nilai-nilai luhur wanita Jawa sudah ia lupakan, harga diri dan kehormatan sudah tak tersisa.

Masalahpun muncul saat tiga bulan kemudian Den Ayu Wiwit menemukan Pariyem muntah-muntah. Malam harinya diadakan pertemuan keluarga dan semuanya setuju Pariyem dikembalikan ke rumahnya hingga melahirkan. Setelah melahirkan ia boleh kembali bekerja di nDalem Suryomentaraman. Semua kebutuhan dan biaya hidup sang bayi akan dipenuhi nDoro Kanjeng. Sekali lagi Pariyem harus pasrah saat tak ada pernikahan, tak ada upacara resmi, dan gendhing Kebo Giro.
Ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-harinya
di Wonosari Gunung Kidul
Tata lahirnya, saya hanya babu
tapi batinnya, saya selir baru.

Sumber:

  • R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto; Sumber: Majalah Tempo (Jakarta), 9 Agustus 199
  • www.inibukukoe.wordpress.com

Friday, January 13, 2012

Monolog: Pulang

(naskah monolog ekspo TSD - Insadha)


Pulang. Kalian pernah pulang? Atau setidaknya pernahkah kalian merasakan rasa rindu pulang sebegitu menggebu, keinginan untuk berada di kampung halaman? Aku pernah mengalaminya, setidaknya kemarin. Kemarin? Ya, kemarin. Kamu tahu apa itu kemarin? Kemarin adalah bukan esok, bukan pula sekarang. Kemarin adalah masa lalu. Masa lalu akan berlalu tanpa meninggalkan jejak atau hanya sekadar sajak ketika kalian tak memaknainya. Oleh sebab itu, aku menceritakan ini pada kalian, supaya masa laluku menjadi sejarah, ya... masa lalu yang kita hargai.

Aku pulang naik kereta, bukan Kereta Kencana seperti dalam dramanya W. S. Rendra, melainkan kereta api. Hm... sudah berabad-abad alat transportasi itu, masih dipakai juga dan tidak jua lekang oleh waktu, malah semakin canggih. Aku hendak pulang ke Solo naik Pramex. Panjang antrian tiket di Lempuyangan Yogya, padahal sebentar lagi kereta akan segera tiba. Ada ibu yang mengomel, dia ingin didahulukan. Huh, memuakkan! Tidakkah dia tahu bahwa dia dan aku dan semua penumpang lainnya adalah sama, maka harus diberi kesempatan yang sama sehingga kami semua harus antri? Tapi, sudahlah. Mungkin ibu itu bukanlah orang yang berpendidikan, atau hanya tidak menyadari kemanusiaan itu sendiri. Lho, apa hubungannya mengantri dengan kemanusiaan?

Kereta tiba sesaat aku mendapatkan tiket. Besi panjang tua itu berdecit di atas besi yang lain, ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit. Pintu pun terbuka dan aku masuk. Penuh?!!! Ini masih pagi!!! Ini juga bukan musim liburan? Apakah selalu seperti ini? Mungkin seperti ini, selalu seperti ini, dan akan selalu seperti ini. Untunglah aku mendapatkan tempat duduk. Aku duduk dekat jendela, duduk menghadap arah yang berlawanan dengan laju kereta. Di samping kananku duduk seorang pria yang tengah asyik mendengkur. Di depannya duduk seorang pria lain tengah asyik membaca warta berita.

Sedangkan di hadapanku duduk dengan tenang seorang wanita. Wajahnya cantik luar biasa. Dilihat dari model pakaiannya, wanita itu adalah pegawai kantor. Mungkin seorang sekretaris. Dia sedang menelpon. Sepertinya dia sedang ada janji dengan seseorang yang sudah akrab dengannya di kota Solo.

“Halo... iya. Saya masih berada di atas kereta nih. Nanti tolong jemput saya di Stasiun Purwosari Solo, ya. Iya... iya... nanti saya tunggu di peron. Atau, kamu yang menunggu di peron? Pukul tujuh kurang sepuluh saya tiba di sana. Ya, nanti kita sarapan di Adem Ayem sembari membicarakan bisnis kita. O... tentu... tentu ada servis tambahan bagi pelanggan setia seperti Anda. Ok. Sampai jumpa.”

Setelah selesai menelpon, dia memejamkan mata dan tidur.

Kami semua duduk berdekatan, tapi sebenarnya kami saling berjauhan. Kami memang berada dalam satu ruangan gerbong kereta, tetapi kami memiliki dunia kami masing-masing. Pria di samping kananku tengah tidur, tengah asyik dengan mimpi-mimpinya. Pria di depannya itu tangah asyik membaca koran, tenggelam dalam berita-berita kelam dari negeri kita tercinta. Wanita di hadapanku juga tidur, wajahnya semakin menggemaskan sewaktu terlelap. Sedangkan aku? Aku mengamati mereka. Aku mengamati seisi gerbong. Aku mengamati pemandangan di luar jendela; ada bukit, ada lembah, ada sawah. Aku mengamati sekelompok bocah berseragam sekolah putih merah mengendarai sepeda berhenti menanti keretaku lewat. Aku mengamati. Mengamati. Dan, kemudian aku bertanya... mengapa... apa... apa... mengapa... .

Perjalanan ini seperti hidup itu sendiri. Hanya bedanya dalam perjalanan ini aku tahu ke mana aku akan pergi, pulang ke kotaku yang baru saja kemarin kutinggalkan. Sedangkan hidup? Tahukah kamu ke mana hidup berjalan? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Satu hal yang pasti... hidup mengarah kepada kematian. Aku akan mati. Gadis cantik di hadapanku itu akan menjadi tua, keriput, dan mati. Pria yang tengah asyik membaca koran itu akan mati. Pria yang tidur di sampingku akan mati. Aku akan mati. Kamu pun akan mati. Pacarmu mati. Orang tuamu mati. Temanmu mati. Musuhmu mati. Tetanggamu mati. Dosenmu mati. Setiap hal yang kita lakukan akan berakhir dengan kematian. Segalanya sia-sia. Setiap detik yang berlalu hanya menyisakan kematian.

Lalu apa gunanya sekolah? Apa gunanya kamu duduk di sini menontonku yang sedang membual? Apa gunanya pula aku menceritakan segenap masa lalu? Jika pada akhirnya kamu, aku, kita semua berakhir dengan kematian?

“Maaf, Mas, masih ada surga... .”

Ya kalau surga itu ada. Bagaimana kalau surga itu tidak lebih dari Neverlanddalam cerita Peter Pan?

“Lalu Tuhan, Mas?”

Ya kalau Tuhan itu ada... . Atau, jikapun ada, apakah Tuhan yang ada dalam pikiranmu secara de iure itu sama dengan Tuhan de facto yang menciptakanmu? Sudahlah, cukup tentang Tuhan. Untuk kali ini aku sedang tak ingin membicarakan Tuhan. Sudah sejak purbakala Tuhan menjadi topik pembicaraan, perdebatan, perselisihan, bahkan alasan percintaan dan pembunuhan.

Jika pada akhirnya kita akan berakhir dalam kematian, lalu buat apa hidup? Buat apa seluruh usaha ini? Buat apa menjalani rutinitas ini? Bangun, sarapan, kuliah, makan siang, kuliah, pertemuan UKM, makan malam, belajar, tidur, bangun lagi... . Dari usia 4 tahun hingga sebesar ini selalu masuk dalam kelas-kelas dan duduk belajar dengan pelajaran yang selalu sama. Membosankan! Segalanya membosankan! Bosan!!!

Mungkin lebih baik jika kalian segera berhenti menontonku, pergi dari sini, pulang ke rumah, dan bilang pada orang tua kalian untuk tak perlu lagi bekerja keras mencari uang demi menguliahkan kalian karena tiada gunanya lagi kuliah, belajar, dan melakukan segala usaha ini. Mungkin ada baiknya jika aku segera mengakhiri omong kosong ini, pergi dari sini, dan meratapi hidupku. Mungkin ada baikya jika kita segera mati lebih dini. Bunuh diri! Ya... ! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri!

TIDAAAAAAAAAK!!! Tiada yang lebih bodoh dari pada itu. Tiada yang lebih egois dari pada bunuh diri. Hidup memang absurd, akan menuju kepada kematian, apapun yang kita lakukan. Namun, hidup yang absurd itu bukan untuk diakhiri.

Apakah ada makna? Ada!!! Kitalah yang memaknai. Kita adalah tuan atas nasib kita sendiri. Kita adalah subyek otonom! Kita bebas, merdeka! Kitalah yang menetukan bagaimana kita mati sebagaimana kita menentukan bagaimana kita hidup. Rendra mati sebagai penyair sebagaimana dia hidup sebagai penyair. Mbah Surip mati sebagai penyanyi sebagaimana dia hidup sebagai penyanyi. Chairil Anwar mati sebagai Binatang Jalang sebagaimana dia hidup sebagai Binatang Jalang. Camus mati sebagai manusia pemberontak sebagaimana dia hidup sebagai manusia pemberontak. Søren Kierkegaard mati sebagai manusia yang senantiasa meratapi Regina Olsen sebagaimana seumur hidupnya dia meratapi wanita itu. Nietzsche mati sebagai pembunuh Tuhan sebagaimana sepanjang sisa hidup warasnya dia memproklamasikan Kematian Tuhan. Itulah kemampuan kita sebagai manusia. Lalu Tuhan? Sudah kukatakan sebelumnya, aku sedang tak ingin membicarakan Dia!!! Tapi jika kamu mengaku mencintai Tuhan, cintailah manusia, sebab manusia adalah citra-Nya.

Eksistensi kita sebagai manusia memiliki esensi kemanusiaan. Kemanusiaan itulah yang harus kita manifestasikan supaya hidup kita bermakna sebelum ajal menyapa. Kita memberi makna dalam setiap pilihan hidup kita. Jam-jam kuliah yang membosankan yang telah menanti di hadapan kalian itu adalah salah satu cara pemanifestasian kemanusiaan itu. Kalian menontonku berceloteh di sini juga adalah pemanifestasian kemanusiaan itu. Aku berceloteh di sini pun, setelah berlatih selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, adalah pemanifestasian kemanusiaan. Dan, seperti halnya kalian memilih untuk kuliah di Sadhar, mengikuti ekspo ini, masuk ke stand TSD, duduk dan mendengarkan aku menceritakan segala omong kosong ini, begitulah aku memaknai perjalanan singkatku dari Jogja ke Solo kemarin.

Perjalanan itu singkat dan pasti akan segera berakhir di Solo. Dan, aku memberi makna perjalanan itu dengan tidak menyapa mereka yang duduk di dekatku, tetapi hanya dengan mengamati mereka. Sesampainya di Solo... aku pulang. Berkali-kali aku melakukan perjalanan Jogja-Solo dan setiap perjalanan pulang itu selalu bermakna baru bagiku. Itulah sebabnya aku tak pernah bosan melakukan perjalanan itu berkali-kali hampir setiap minggu. Pulang... sebab di sana aku akan lebih dekat dengan jantung hatiku... .

Sarang Kalong, 28 Juli 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi
Sumber: mediasastra.com


(Catatan:  Postingan ini dimaksudkan utk memberi contoh naskah monolog dlm pengajaran di kelas. Semoga contoh ini memberi inspirasi bagi siswa yg sedang mempersiapkan naskah monolog utk ujian praktik. Terima kasih utk Padmo “Kalong Gedhe” Adi dari TSD yg telah memberikan contoh dan inspirasi)

Sunday, January 01, 2012

Hujan yang Indah Kurnia JR

JIKA Anda orang yang menyukai hujan, datanglah ke kotaku. Di sini dapat Anda saksikan hujan yang indah bak lukisan.
Aku tidak bohong. Di sini hujan turun seperti gadis kecil yang pemalu, tetapi selalu riang. Kadang kala kubayangkan hujan mengetuk-ngetuk bumi dengan kaki-kaki gadis kecil yang menari kian kemari. Aspal, trotoar, dan pepohonan basah tapi ceria turut menari bersama.
Di sini hujan sering turun dan, uniknya, hampir selalu hanya berupa gerimis. Sesekali saja terjadi hujan lebat dengan angin ribut atau geledek membentak-bentak di angkasa.
Apabila hujan turun, aku paling suka duduk dekat jendela sambil melipat tangan di meja. Kulayangkan pandangan ke luar sambil menyimak ketukan air tempias ke kaca. Dari jendela tampak dinding-dinding dan atap bangunan kuno di seberang jalan. Dalam kondisi kering, tembok dan atapnya tampak kelabu terang, tapi setelah dibasahi hujan, warnanya menggelap dan terlihat misterius, seakan-akan di dalam gedung itu ada makhluk-makhluk gaib yang bergentayangan. Pada bagian tertentu meruap juga nuansa merah bata yang asli, meski tidak mencolok. Bangunan itu ada sebelum aku dilahirkan dan seingat aku bentuknya tidak pernah diubah oleh pemiliknya.

Selain itu, yang kuintai manakala hujan tengah mempersembahkan baktinya kepada bumi adalah angkasa kelabu yang menggigil dan memuncratkan seluruh embun yang menggenangi permukaannya kepada bentang alam yang telentang pasrah. Pernah aku membayangkan langit sebagai dada perempuan yang berdegup dengan suasana batin seorang ibu yang prihatin dan bersedih. Dada yang subur. Dada yang telanjang, tetapi sensualitasnya terselubung oleh uap samar yang menenangkan. Kemudian dada itu berpeluh. Peluh yang menyembul melalui pori-pori dan melapisi kulitnya yang halus dengan genangan embun bening menebal. Ketika angin menepuk dada itu, genangan itu luruh menjadi hujan.
Aku pernah mengungkapkan gambaran tersebut kepada seorang teman, tetapi dia mencibir seraya berujar, “Bukankah seharusnya dada memuncratkan air susu? Mengapa keringat? Lalu di mana keindahannya? Ada-ada saja kamu ini. Air susu adalah metafora bagi cinta seorang ibu. Mestinya kamu tahu, sengawur apa pun imajinasi, sepatutnya diperkuat logika—mungkin dalam ketidakmungkinannya.”
“Haruskah begitu?”
Dia tertawa, kemudian dengan gaya merenung yang dibuat-buat dia bersabda, “Kamu ini naif sekali. Bergaya penyair, tapi tidak paham perkara remeh seperti itu.”
“Aku tidak bermaksud bergaya penyair.”
Temanku tersenyum dan kupikir itu senyuman orang jahat. Agar tidak menambah kesan jahat pada dirinya, aku tidak pernah lagi mengungkapkan apa pun yang melintas di benakku sebagai apa yang dia istilahkan “buah imajinasi”. Anehnya, setelah hijrah ke luar negeri, dia lebih sering bertanya soal hujan kepadaku lewat telepon, pesan singkat, dan surat elektronik. Aku hanya menjawab sekenanya. Kemudian dia memprotes.
Protes itu dia lontarkan dalam obrolan via internet. Saat itu matahari tengah memancarkan cahayanya dengan murah hati. Akhir pekan yang cerah. Terlalu cerah malah.
“Dulu kamu sering berkomentar tentang hujan. Kau bilang indahlah, romantislah, begini, begitu. Sekarang kenapa kering ungkapanmu? Apakah sudah jelek hujan di sana sekarang?”
Uh, sinis sekali.
“Hujannya tetap seperti dulu.”
“Lalu?”
“Aku tidak bisa ceritakan. Kalau kamu mau tahu, pulanglah dan saksikan sendiri. Tak bisa kamu mencerap keindahan hanya lewat komentar orang lain.”
“Wah, hebatnya!”
“Salah sendiri, bertanya soal hujan pada saat matahari bersinar terang.”
“Oh, di sana cerah sekarang?”
“Ya.”
“Di sini beku. Kami dikepung salju seminggu penuh!”
Lambat laun kami semakin jarang berkomunikasi. Mungkin dia sibuk. Aku sendiri sibuk, ditambah kehadiran perempuan yang menjadi ibu bagi putra-putriku. Selanjutnya anak-anak mempersembahkan cucu-cucu untuk kami. Kawanku yang kadang-kadang menyebalkan itu tidak pernah mudik dan tanpa kabar lagi.
Kebiasaanku menikmati hujan tidak pernah berubah, meski tidak sesering dulu. Mungkin intensitas penikmatannya pun tidak sedalam dulu, entahlah. Sesekali aku masih keluar rumah ketika gerimis mulai turun, yang menimbulkan kejengkelan anak bungsuku dan menantu yang tinggal serumah dengan kami. Istriku sendiri tidak banyak cakap. Kukira dia sudah tahu tidak ada gunanya melarang aku menikmati hujan.
“Kalau Papa sakit bagaimana? Sudah tua masih suka keluyuran dalam hujan. Ini payung dan jas hujan.”
Kecerewetannya sungguh menjengkelkan.
“Apakah dulu aku pernah melarang kamu dan kakak-kakakmu berhujan-hujan?” begitulah aku pernah mengomel. Menantuku mundur dengan bijaksana, tapi putriku pantang menyerah.
“Iya. Malah dulu Papa cerewet sekali.”
“Apa iya?”
“Iya.”
Aku mengalah. Kuterima jas hujan parasut yang panjang selutut itu.
“Ini payungnya, Pa.”
“Tidak usah.”
Sempat kudengar gerutu putriku ketika aku membuka pintu dan melangkah, menyentuh tirai gerimis, “Dasar keras kepala.”
***
Itu dulu, sebelum datang tahun-tahun yang ganjil ini.
Pada awal tahun masih kukagumi Januari dan Februari sebagaimana biasa, tapi bulan demi bulan berlalu dan genangan air mulai terbentuk di sudut-sudut kota, bantaran sungai, bahkan hingga di tengah kota. Kendaraan-kendaraan seperti berenang akibat banjir. Kini hujan bukan lagi sekadar gerimis yang menggemaskan bagai kanak-kanak, melainkan berupa curahan air terjun disertai petir dan angin ribut.
Sepanjang hari langit gelap dan mendung selalu mengurung berupa gumpalan-gumpalan hitam yang menakutkan. Aku tidak lagi berminat keluar rumah apabila hujan mulai tercurah. Yang kulakukan hanya duduk mematung di sisi jendela sambil membayangkan masa lalu yang tidak akan kembali. Walaupun demikian, aku tidak ingin berubah pikiran hanya karena perubahan iklim. Aku ingin mengenang hujan yang indah dalam benakku.
Tiba-tiba, petir membahana. Jantungku nyaris copot. Lantas atap berderak diterpa angin.
“Pakai mantel ini, Kek,” bisik cucuku dengan lembut. Senyumnya teduh. Sebentar lagi dia akan menikah. Alangkah cepat waktu berlalu. Kurasakan kantong mataku memberat.
Ketika mantel yang tebal dan lembut menyentuh kulitku, barulah aku menyadari bahwa aku menggigil kedinginan sejak tadi. (*)
.
.
2 April 2011
Sumber: (Kompas, 14 Agustus 2011)

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook