Friday, March 30, 2012

Kritikus dan Peneliti Sastra

KELANGKAAN KRITIKUS DAN PENELITI SASTRA


TAK terbantahkan, dengan tulisan berjudul 30 Tahun Terakhir Tak Ada Novel Bermutu dari Sumatera Barat (Haluan, Minggu 23/1) Darman Moenir berhasil meng­gu­gah gairah sejumlah intelek­tual untuk penulis esai sastra sekaligus mempublikasikannya di harian kesayangan ini. Semangat mereka semoga dapat dipelihara dan semakin menya­la-nyala, menyinari aktivitas berkesusastraan, terutama di daerah tercinta ini.

Dan kini, pada gilirannya masalah langkanya kritikus (baca: kritikus dan peneliti) sastra di daerah ini pun ditaja menjadi tema yang seyogianya dibahas. Sebab, menurut redak­tur “Kultur” Harian Haluan: “... karya-karya yang lahir dari rahim sastrawan Sumatera Barat —baik berupa cerpen, puisi maupun novel— tak terpindai secara cermat dan hanya menghuni rak-rak buku tanpa perbincangan yang dialek­tis dan dalam”.

Artinya apa? Perkemba­ngan dan identitas keberadaan kesusastraan tak bisa lepas dari peran serta kritikus sastra. Karenanya, legitimasi, degrada­si ataupun kelangkaan kritikus, kapan dan di manapun, selalu membuncahkan jagat sastra —menjadi persoalan klasik yang tetap aktual, relevan dan menantang.

Dan ketika (ke)budaya(an) massa koran serta yang terakhir media maya alias internet menjadi begitu berkuasa, tradi­si romantik yang cenderung ke detail dan melahirkan kritik sastra buku dan majalah ala Jassin dianggap sudah tidak relevan. Persoalannya adalah, kehadiran kritik(us) sastra (di) koran semakin (men)jauh dari yang diharapkan, sementara yang di internet —kalaulah boleh disebut kritik(us)— tak dan atau belum “terkendali” sama sekali. Hal ini dapat ditelusuri dari hangat dan rancunya silang pendapat yang difasilitasi sebuah harian ibu kota antara Arif Bagus Praset­yo, Damhuri Muhammad, Wicaksono Adi, Binhad Nur­roh­mat dan Budiarto Danujaya. Relatif senada dengan mereka, Muhammad Subhan dalam Biarkan Pembaca yang Menjadi “Hakim” (Haluan, Minggu 13/2) pun terkesan sangat ber­sahaja dan absurd.

Ke depan figur-figur sastra kita mungkin harus lebih berhati-hati menyitir vonis “kritik(us) sastra sudah mati”. Atau menyangkutpautkan “kelarismanisan” sebutlah novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi dengan mutunya, dan sebaliknya mengklaim “kekuranglarismanisan” taruh­lah novel-novel pemenang Sayembara Menulis Roman Dewan Kesenian Jakarya (DKJ) sebagai tidak dan atau kurang bermutu.

***

Kritikus yang juga dikenal sebagai peneliti sastra ter­kemuka seperti Faruk HT, Maman S Mahayana atau Budiarto Danujaya mensinyalir bahwa kritikus sastra, seiring zaman, terlihat mencari bentuk dan mediumnya. Dengan kata lain, kritik sastra ternyata begitu fleksibel, bisa menye­suaikan diri dengan zaman: buku, majalah, pengantar-buku, koran dan atau internet.

Akan tetapi perlu diga­risbawahi, keberhasilan atau keabsahan kritik sastra bukan bergantung kepada siapa yang membuat atau apa dan di mana ia dipublikasikan, melainkan oleh kebernasan atau “sesuatu” yang ada pada kritik itu. Dengan demikian, seekstrem apa pun kita menolak keha­diran seorang kritikus, tapi jika orang itu sanggup memformu­lasikan kritiknya sebagai sebu­ah kritik yang qualified maka akan jadi dan di”dikritikus”kan khalayaklah dia.

Dan menurut hemat kita di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Nyaris senapas dengan sinyalemenen yang dilontarkan Sapardi Djoko Damono dalam “Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia” di Denpasar, Bali, beberapa tahun yang lalu. Guru Besar (emeritus) FSUI itu mengisyaratkan sebab-musabab “keterpinggiran” atau stagnasi keberadaan kritik(us) sastra dengan kalimat, bahwa untuk bisa membicarakan karya sastra secara baik kritikus harus lebih pintar atau minimal sama cerdasnya dengan pengarang.

(Maka idealnya, seyogia­nyalah seorang kritikus mengu­asai seluk-beluk sastra yang maksimal sembari terus mem­pe­lajari puspa-ragam informasi yang beredar di tengah masya­rakat. Bermodal pengetahuan yang memadailah seorang kritikus leluasa mengulas karya sastra. Tapi memang, kritikus yang akan berhasil dengan misi dan visi maupun citranya adalah kritikus yang cerdas meman­faatkan peluang zaman lewat medium yang dimasukinya).

Suatu keniscayaan, tiap generasi harus memiliki juru bicara, karena tiap zaman punya keunikan dan proble­matikanya sendiri. Sesuai sifat serta fungsinya sang juru bicara alias kritik(us) akan berperan menjembatani pembaca dan (pengarang) karya sastra. Kecu­ali itu, kritik dengan segala konsekuensinya sangat boleh jadi diperlukan sastrawan, sebagai tolok ukur —yang ironisnya, bukan tidak mustahil justru menyesatkan dan mem­bunuh atau sebaliknya melam­bungkan karya sastra(wan).

Terkait relasi kritik dengan karya dan masyarakatnya pe­nyair merangkap prosais terke­nal Gus tf Sakai pernah menu­lis, bahwa sublimitas seorang seniman adalah kehidupan sedang sublimitas seorang kritikus adalah karya seni. Ketimbang menyerahkan dan menghadapkan diri pada “ke­ang­kuhan” sebuah karya, kri­tikus menempuh jalan tersen­diri yang sebetulnya ironi: mengritik dengan bahasa yang karena keharusannya bermain dalam gugus pengertian.

Lebih jauh dari itu, tersebab filsafat dikotomi kritik jadi lebih bersifat konseptual. Karya sastra yang diposisikan sebagai sarana penyampaian masalah sosial ditempatkan kritik(us) sebagai subordinat suatu kepen­tingan. Karya sastra sebagai “alat” pencapaian ide-ide besar tentang seni mengambil tempat yang sangat individualistik. Karya sastra yang cenderung memanifestasikan tingkah-laku keseharian akan ditempatkan sebagai sesuatu yang agung, tinggi, didaktik dan karenanya akan terbebani oleh berbagai tuntutan dan harapan. Karya sastra (dunia simbolik) yang selalu berinteraksi dengan dunia sosial dan material, tidak saja akan membuat karya kehila­ngan otonomi tetapi juga akan direduksi kritik(us) dengan banyak aspek kepentingan yang menyertai karya tersebut.

***

Kemangkusan kritik sastra berkaitan erat dengan kearifan kritikus menjaga penetrasi porsi tulisan yang mengacu pada sifat serta fungsi kritik, di samping kepiawaian kritikus menyiasati medium (buku, majalah, peng­an­tar-buku, koran, internet) yang hendak dimanfaatkannya.

Namun kearifan dan keli­haian kritikus memahami maksud, kiat, style berikut gaya bahasa (yang pas) yang akan digunakan mengupas karya sastra jelas tak berarti andaikata ia tidak bijak dan jeli menang­kap keindahan atau kelemahan yang terkandung dalam sebuah karya. Ini ditengarai bertali-temali dengan keseriusan, ketekunan, kejujuran dan objektivitas kritikus sewaktu menimbang karya yang dihada­pinya. Sebagai ilustrasi, konon di sinilah keunggulan HB Jassin. Sejarah membuktikan, Chairil Anwar yang (selama­nya) ia sanjung langsung dike­cam begitu menyadari penyair besar itu “mencuri” sajak A Song of the Sea Hsu Chih-Mo.

Tak heran, di ajang “Kong­res Kesenian Indonesia I” tempo hari penyair kondang Taufiq Ismail mengungkapkan unek-uneknya dengan menga­takan bahwa semenjak HB Jassin “pensiun” menulis kritik dunia sastra kita merasa sangat kehilangan. Keadaan itu diper­buruk karena beberapa kritikus yang bilangannya bisa dihitung dengan jari tangan sudah memasuki “masa persiapan pensiun” pula. Sementara FSUI yang pada masa jayanya punya sebarisan jago seakan dilanda degenerasi.

Sementara lewat salah satu esainya Darman Moenir secara spesifik mempertanyakan eksis­tensi serta regenerasi kritikus sastra di daerah ini: “..., adakah atau mungkinkah lahir (lagi) kritikus sastra dan ilmuwan sastra seandal, sekeras, sehebat dan seproduktif Umar Yunus?”. Dan sehabis mencatat beberapa nama kritikus sastra papan atas dari “luar” sana novelis ini pun menulis: “Dari Sumatera Barat? Ada Mursal Esten, dulu. Seka­rang? Sayup-sayup pernah terdengar nama Hasanuddin W.S., Ivan Adilla, Adriyetti Amir, M. Yusuf, Atmazaki, Wannofri Samry, Fadlillah Malin Sutan, Nelson Alwi, Dasril Ahmad, Hermawan”.

Pendek kata, sekian banyak pembicaraan, perdebatan atau kajian menyangkut keberadaan kritik(us) selama ini selalu menyiratkan keresahan, keke­cewaan serta keprihatinan para pencinta sastra. Mengapa kelahiran maupun kehidupan pengarang dan karyanya seolah-olah tak terikuti sedikit juga oleh kritik(us) sastra. Sangat mungkin karena, bak kata orang, pengarang mencipta berdasarkan kekuatan imajina­sinya sedangkan kritikus bicara dengan keluasan (ilmu) penge­tahuannya.

NELSON ALWI
(Budayawan tinggal di Padang)

Tuesday, March 27, 2012

Nyak Bedah Hamsad Rangkuti

Nyak Bedah
Oleh Hamsad Rangkuti

Setiap saya bangun pagi saya menemui pedagang nasi uduk itu tengah dikerubuti para pembelinya. Tidak pernah saya melihat dia seorang diri saja di belakang meja dagangannya. Seolah dia itu gula dan para pembeli itu adalah semut. Lalu saya pikir, apakah tetangga saya, para pembeli itu, tidak pernah menanak nasi untuk sarapan pagi mereka. Atau, barangkali, nasi uduk yang dijual Nyak Bedah sudah tidak bisa di­lupakan para tetangga saya begitu mereka terjaga dari tidurnya. Mengapa saya berkata begitu? Sebab saya lihat para pembeli itu belum bersih dari sisa tidur mereka. Artinya mereka belum membersihkan diri di kamar mandi. Barangkali bau mereka mengalahkan aroma santan kelapa di dalam nasi uduk Nyak Bedah. Para pembeli itu, yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak, ributnya bukan main minta dilayani paling dulu. Mereka berkata keras-keras seperti anak-anak ayam menciap mencari induknya. Dan, sebagian besar suara merekalah yang membikin aku terbangun. Dan, begitu jendela kamar kubuka, mereka melihat kepadaku, dan berkata selamat pagi. Mereka terkadang menawari aku nasi uduk itu.
Begitulah selalu setiap pagi. Gang yang sempit itu dijejali anak-anak sehingga orang berjalan menjadi susah dibuatnya. Tetapi, akhir-akhir ini aku menjadi terlambat bangun. Suara berisik para pembeli nasi uduk Nyak Bedah tidak membangunkanku. Dan, selalu ketika aku membuka daun jendela, aku lihat Nyak Bedah seorang diri saja di belakang meja nasi uduknya. Nasi uduk yang dibungkus di dalam daun pisang masih bertumpuk di dalam baskom. Sambal kacang yang cair masih penuh di dalam stoples. Aku tidak pernah tertarik menanyanya mengapa dagangannya sepi dari para pembeli. Aku sudah biasa hidup rutin begitu bangun pagi. Ambil rokok bercengkeh banyak. Membakar ujungnya. Duduk ber­lama-lama di dalam kamar kecil. Membaca koran di atas tongkrongan WC. Sesudah begitu keluar lagi. Duduk bermalas-malas dengan kucing kesayanganku. Meng­hirup kopi panas sambil mendengar lagu dari kaset khusus menempel di kedua daun telinga. Aku selalu berbuat begitu sebab hidup berisik di perkampungan Kota Jakarta bisa tertolong. Untunglah ada kaset khusus yang menempel di kedua daun telinga yang dapat menyumpal suara berisik di luar kamar kita.
Saya tidak pernah malu berjalan dengan walkman melekat menyumbat kedua lubang telinga menyelusuri gang sempit kampung saya. Saya telah terbiasa berbuat begitu: membungkus hidup saya dengan musik-musik indah di mana pun saya berada. Saya tidak pernah lagi menangkap rengek anak-anak merongrong kemiskinan ibu-bapak mereka. Saya juga tidak pernah memikirkan apa penyebab orang menjadi sepi di depan meja nasi uduk Nyak Bedah. Saya berjalan seenaknya dengan telinga tersumbat di depan meja dagangannya yang lengang. Dia saya lihat memandang kepada saya. Dia mungkin menegur saya. Apa yang dia katakan tidak saya dengar. Di dalam telinga saya sedang mengumandang musik disko sehingga gendang telinga saya tidak me­nangkap ucapan Nyak Bedah. Dia sama seperti orang bisu di dalam penglihatan saya.
Begitulah kehidupan saya. Saya tidak pernah me­mikirkan orang lain. Sampai hal seperti itu sudah berjalan hampir cukup lama baru kemudian saya merasa perlu menanggalkan walkman dari daun telinga saya dan mencoba mendengar dari Nyak Bedah apa penyebab dagangannya menjadi sepi. Mengapa saya berbuat be­gitu? Karena selama ini saya terus-menerus terlambat bangun pagi. Suara berisik para pembeli di depan meja dagangan Nyak Bedah sudah tidak terkumandang mem­bangunkan tidur pagi saya. Dering weker tidak pernah berhasil membangunkan saya. Dan, celakanya, weker itu tidak pernah mau mengulangi lagi deringnya kalau saya tidak terbangun. Lain halnya dengan berisik orang di depan dagangan Nyak Bedah. Berisik yang terus-menerus dari mulut para pembeli nasi uduk Nyak Bedah lebih berhasil untuk membangunkanku. Tetapi, suara berisik itu sudah tidak ada. Oleh sebab itulah, saya mencopot walkman dari daun telinga saya dan menanyakan apa penyebab sepinya dagangan Nyak Bedah dari pembeli. Saya melakukan itu demi kepentingan saya juga.
"Pagi, Nyak Bedah." Begitu saya berbasa-basi kepada Nyak Bedah. "Tumben nih negur gue. Dikemanein tu penyumpel daun telinge?"
(Maaf para pembaca di seluruh Tanah Air. Saya terpaksa menuliskan ucapan Nyak Bedah di dalam cerita ini memakai bahasanya sendiri. Dia orang Betawi asli. Kalau saya menulisnya dengan bahasa Indonesia yang baik, Anda tentu tidak akan dapat merasakan kekhasan Nyak Bedah waktu bercakap-cakap.)
"Adeh!" kata saya memakai logat Betawi. Saya kira dengan demikian tentu akan terjadi keintiman di antara kami. "Emangnya Nyak Bedah ingin cobe pakai di daun telinge, Nyak?"
"Ape nanti kate orang?"
"Peduli amat dengan kate orang. Nyak perlu me­nyumbat daun telinge Nyak supaye Nyak tidak ke­sandung-sandung kemajuannye. Aye punye kaset lagu Betawi ash. Nyak bisa dengerin di walkman saye. Mau Nyak mencobenye?"
"Kagak useh ye. Ane kire orang akan ngetawain aye. Lagi pula Nyak pake kerudung. Ape kate orang nanti?"
"Nyak singkaplah kerudung Nyak itu. Nyak lekatkan ke kedua daun telinge Nyak alat penyumbat daun telinge itu, lalu kerudung itu Nyak pakai lagi. Orang tidak akan melihat Nyak pake walkman. Mau Nyak mencobenye? Aye punya kaset irama gambus. Atau Nyak suke dangdut?"
"Nyak kagak suke mendengerin lagu-lagu kayak itu. Harem hukumnye."
"Kata siape?"
"Kate Nyak sendiri."
"Ngomong-ngomong ya, Nyak," kata saya mulai masuk ke persoalan, "mengape tumben ni dagangan pade sepi melulu? Aye kagak lihat tu pembeli. Ke mane tu pade langganan? Ape sudah pade bosan?"
"Tu die. Ape Nak Kosim belum tahu?"
"Aye kagak tahu, Nyak. Emang ade ape?"
"Di ujung jalan kite ini ade orang buke pabrik roti. Roti-roti yang rusak dalam pembakaran mereka jual mureh. Satu bungkus besar dalam plastik lime puluh rupieh."
"Jadi, mereka lebih suka roti daripade nasi uduk?"
"Gitu kalik rupenye!"
"Coba Nyak bikinin aye dua bungkus nasi uduk Nyak. Aye kepingin coba nasi uduk Nyak."
"Ape kagak salah lu? Yang bener aje deh. Kalik Nyak saleh denger ini!'
"Bener Nyak. Aye kepingin coba nasi uduk. Kok Nyak ngomong begitu?"
"Masak orang yang suke pake penyumbat daun telinge mau makan nasi uduk Nyak! Kagak saleh tu?"
"Lidah aye kagak berubeh Nyak. Telinga aye yang berubeh. Lidah sih tetap lidah tempe. Telinga aye yang berubah."
Saya santap dua bungkus nasi uduk Nyak Bedah. Saya pikir nasi begini enak kok ditinggal oleh para tetangga saya. Kok mereka lari membeli roti rusak dari pem­bakaran.
Sesudah pada hari saya menyempatkan bercakap-cakap dengan Nyak Bedah, saya lihat dagangannya tetap saja sepi. Saya jadi kasihan melihat dia. Dia terus-menerus mengibas-ngibaskan kain serbet, mengusir lalat yang mencoba hinggap di nasi uduknya. Dan, sebagaimana biasa, saya menyumbat daun telinga saya dengan walkman dan berjalan di depan dagangan Nyak Bedah untuk pergi ke tempat kerja saya: Saya lihat dia mengangkat tangan memberi salam kepada saya. Mungkin dia menegur penuh basa-basi. Tapi, musik di gendang telinga saya tidak memberi kesempatan pada suara Nyak Bedah. Mata saya yang masih berfungsi. Telinga saya tidak acuh dengan dunia luar. Tetapi, celakanya, saya terus saja terlambat bangun pagi setiap hari. Sudah saya katakan, weker tidak sanggup membangunkan saya. Weker tidak pernah mengulangi deringnya kalau kita tidak terbangun. Maka, saya masih tetap membutuhkan suara berisik di depan dagangan Nyak Bedah. Bukan apa-apa: berisik mereka membantu saya untuk terjaga dari tidur lelap pagi hari. Apa yang saya lihat kalau saya menyingkap kain jendela, lain tidak kecuali saya hanya dapat melihat Nyak Bedah yang terus-menerus mengibas-ngibas kain serbet mengusir lalat. Saya jadi kasihan melihat dia. Saya pikir, saya harus menghibur dia. Maka saya datangi dia pagi itu.
"Pagi Nyak Bedah!" kata saya menegurnya.
"Belum bosan juga mereka makan roti?"
"Kagak ade mereka datang kemari, belum kalik. Orang sekarang kedemenannye pade berubeh."
"Bagaimane kalau Nyak dengerin musik aje? Lagu-lagu Betawi. Nyak pinjam walkman saya. Saya kasihan ngeliati Nyak terus-menerus tenmenung-menung. Nyak harus cobe dengarin musik Betawi sambil nungguin dagangan yang sepi. Nyak pinjam walkman saya. Aye kagak keberatan Nyak meminjamnya. Aye ade punye dua walkman seperti itu. Tapi Nyak jangan jual. Bagaimana Nyak?"
"Kagak ah! Ape kate orang nanti?"
"Dagangan Nyak sepi orang kagak ambil pusing. Jadi, orang kagak boleh ambil pusing kalau Nyak pake penyumbat telinge. Gimane Nyak? Aye punye kaset banyak. Nyak pasti demen dengan kaset-kaset ane. Ade Betawi. Ade kasidahan. Ade musik dangdut. Ade keliningan Sunde. Ade gamelan Jawe. Pokoknye Nyak pasti demen."
"Apa ade kaset pengajian?" "Orang mengaji maksud Nyak?"
“Iye.”
"Ade. Aye punya kaset Nanang Kosim. Apa Nyak mau dengerinnye?"
"Kalau ade kaset pengajian boleh deh. Ane tutupi tu alat penyumbat daun telinge dengan kerudung ane, tentu orang pade kagak ngeliat."
"Dilihat orang juge kagak ape-ape Nyak. Aye ambilin ye Nyak”
"Kalau ade suare orang wanita yang ngaji. Nyak demennya dengerin suare orang wanita yang ngaji. Ape ade?"
"Ade Nyak! Maria Ulfah. Entar ya Nyak. Aye ambilin."
Saya buka kerudung Nyak Bedah. Saya minta maaf untuk melakukan itu kepadanya. Saya lekatkan head­phone walkman di kedua daun telinganya. Dia kegelian waktu alat penyumbat lubang telinga itu menyentuh kulit telinganya. Tapi, saya bilang: "Jangan gusar Nyak. Mu­la-mula terasa mengganggu. Lama-kelamaan Nyak akan merasa seperti Nyak mengenakan anting-anting lima puluh gram."
Dia senyum dan saya tutupkan kembali kain kerudung di kepalanya. Alat penyumbat daun telinga itu terlindung di balik kain kerudungnya yang tipis. Saya masukkan kaset pengajian suara Maria Ulfah. Saya lihat reaksi apa yang timbul pada diri Nyak Bedah. Dia membetulkan kain kerudungnya. Saya tidak dapat menerka perasaan apa yang timbul pada batinnya. Tetapi, yang jelas dia akan mendengar bahwa seluruh dunia ini sedang dipe­nuhi kumandang ayat suci Al Quran. Dia menjadi khusyuk mendengarnya. Dan, saya bisa saja menyetel volume walkman itu sehingga dia mendengarkan orang mengaji seperti petir menggelegar di dalam gendang telinganya.
Saya ambil dua bungkus nasi uduk dari dalam baskom di atas meja. Dia melihatnya dengan senyum. Dia me­nuding-nuding sambal kacang di dalam stoples. Dengan alat penyumbat daun telinga melekat di kedua telinganya dia seolah tidak dapat berbicara dengan sempurna. Saya dapat menangkap apa yang dia maksud. Saya ambil sambal kacang dari dalam stoples. Saya gaulkan di dalam nasi uduk. Saya ambil sendok dan saya pun memakan­nya. Sebelum saya pergi, saya ajari dia bagaimana mempergunakan walkman itu. Saya balik kaset untuk mendengarkan bagiannya yang lain. Waktu saya akan pergi, saya tinggalkan uang lima puluh rupiah di atas meja. Nyak Bedah mengibas-ngibaskan tangannya mem­beri isyarat agar saya tidak membayar nasi uduk itu. Tetapi, saya tidak hiraukan larangan itu. Saya tinggalkan uang lima puluh rupiah di atas meja. Saya tinggalkan dia dengan walkman melekat di kedua daun telinganya. Lama saya perhatikan dari balik kain jendela kamar saya. Nyak Bedah duduk dengan asyik penuh kekhusyukan di belakang dagangannya yang lengang dan walkman mem­bayang di balik kain kerudungnya yang tipis.
Besok paginya dia menegurku.
"Ade kaset lainnya?"
"Ade! Nyak demen lagu Betawi?"
"Gambang Kromong?"
“Iye”
Saya bawakan lagu Betawi asli. Dia pun mendengar­kannya.
Besok paginya aku bawakan cerita Si Pitung Jago Betawi.
Pagi berikutnya saya bawakan pula cerita Si Jampang Macan Kemayoran.
Kemudian pada pagi yang lain, saya bawakan kaset cerita legende Nyai Dasima berontak pada tuannya Belanda.
Dan, pada pagi yang lain, saya bawakan cerita ke­pahlawanan Muhammad Husni Thamrin.
Hari terakhir pada minggu kedua, saya minta walkman itu. Waktu saya akan membawanya dia berkata: "Berape hargenye?"
"Seratus lime puluh ribu Nyak!"
"Nyak mau ngumpulin uang, ah. Pingin punye!"
"Murah Nyak. Nyak jual aje tanah Nyak!" kata saya. Dengan demikian, saya telah berhasil meracuninya. Ba­rangkali, itu tugas yang cocok untuk orang semacam saya!**

Friday, March 23, 2012

Musyawarah Ngengat

Cerpen Geger Riyanto

Banyak hal yang tak diketahui manusia dari kami.Yang terutama, manusia tak tahu bahwa kami mewariskan ingatan ke anak-anak kami.Bukan sekadar memaktubkan ingatan badani tentang bagaimana menggunakan senjatasenjata yang tersedia di tubuh kami,tapi adalah ingatan tentang pengalaman hidup kami.
Ingatan akan betapa kami membenci manusia. Hanya karena anak-anak kami menggerogoti setitik–dua titik kain yang dikenakannya—karena kodratnya untuk bertahan hidup—mereka membantai jutaan dari kami dengan cara-cara yang mengenaskan.
Pernah aku lolos dari maut hanya untuk melihat bagaimana kawan-kawanku terbujur kaku dengan wajah yang membiru. Maut yang berwujud gumpalan awan—yang anehnya terbang jauh lebih rendah dari ketinggian langit itu—ternyata berasal dari tongkat ajaib yang dipegang seorang manusia.
Namun, di antara kawan-kawanku yang berhamburan bagai dedaunan yang akan menyerah kepada terpaan angin, kekasihku—kekasih pertamaku itu—mengangkat kepalanya melawan kematian.Kemudian, sayapnya berangsur meninggi dan bergerakgerak, berusaha mengepak.
Jikalau kau ada di situ,menyandarkan daun telingamu ke keheningan yang mengikuti rombongan kematian itu, kau akan mendengar jantungku kembali berderap segiat kepak sayap di saatsaat aku menjalin kasih dengannya: aku gembira. Hatiku yang remuk kembali utuh.
Namun, saat ia hendak mendongak, sepertinya untuk membalas tatapanku— dan tentunya menyempurnakan kebahagiaanku—seorang manusia merenggutnya. Dan dengan wajah yang sediam batang pohon, ia merobek kekasihku seperti merobek daun, seperti merobek jantungku di saat yang sama.
Lalu dilepasnya kekasihku ke rengkuhan angin yang menerpa. Kekasihku, dalam kepingankepingan, hanyut ke samudra kematian untuk selamanya. Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin mewariskan ingatan getir ini kepada anak-anakku.Namun,aku tak bisa menentang ketetapan Sang Pemberi, entah apa maksudnya,namun kurasa baik.
Lagi pula, ingatan ini akan mengajar anak-anakku kewaspadaan akan betapa bengisnya manusia. Maka, suatu hari kami semua bermusyawarah, merundingkan bagaimana caranya membalas manusia, mamalia pemegang gelar pembantai terbesar selama abad-abad yang berjalan.
”Apakah kita harus menyerang mereka secara bergerombol seperti yang dilakukan para belalang dahulu, waktu diperintahkan oleh Tuhan untuk menelanjangi kebobrokan Firaun?” usul salah seekor saudara kami. ”Tidak, saudaraku. Senjata yang manusia gunakan sudah berbeda dengan zaman Firaun.
Seandainya pun belalang-belalang itu menyerbu Firaun hari ini, mereka akan segera dilumat dengan awan maut manusia,” jawab tetua kami. ”Tapi,bukankah ada Tuhan?” ”Percuma saja tanpa manusia nabi.
Sebab, bila Tuhan datang sendiri tanpa melalui perantaraan manusia nabi, dunia yang terbatas ini dapat luluh lantak dalam sekejap.” ”Lantas,mengapa tak ada ngengat nabi,tetua?” ”Sudahlah.
Sudah sepanjang sejarah, bangsa ngengat merenungkan pertanyaan itu.Tentu musyawarah yang bagai setitik embun dalam sejarah bangsa ngengat ini tak muat untuk merenungkan pertanyaan tersebut.” ”Baik,tetua.Lagi pula,kita sedang mau bertindak,bukan mengeluh.”
Tiba-tiba aku ingat, suatu waktu aku pernah melihat seorang manusia dewasa meronta-ronta, meraungraung selayaknya manusia anak, dan menampar manusia-manusia dewasa lainnya yang, entah mengapa, tertunduk diam di hadapannya. Lantas, dengan tangannya yang gemulai ia menunjuk-nunjuk ke lubang di bahu baju yang dipakaikan pada sesosok patung manusia.
Mengapa sebegitu gegarnya? Kutelusuri dengan waspada pakaian itu,namun tak kutemukan sesuatu yang berbeda kecuali di bagian leher pakaian itu tertempel tulisan ”Guess”. Mengapa manusia dapat kembali menjadi kera hanya karena itu? Sama sekali aku tak mampu mencernanya.
Namun, menyenangkan sekali melihat manusia derajatnya merosot jauh, bahkan di bawah bangsa lintah yang berbangga walau menyeret alat reproduksinya di atas lumpur. Saling menyakiti satu sama lain hanya karena sepotong benda tak bernyawa— yang bahkan tak bisa meruang dalam perut yang lapar.
Dan menurut ingatan nenek moyangku, hanya karena itu pun mereka tega saling mencincang dan mengeluarkan isi perut sesamanya. Kalau begini, nampaknya kami para ngengat pun bisa memicu perang dunia manusia ketiga. ”Kurasa aku tahu apa yang bisa kita lakukan, saudara-saudariku,” ujarku dengan tenang.
Akhirnya kami semua menetapkan bahwa siapa pun yang dapat mendaratkan telurnya di pakaian manusia yang berbubuh tulisan ”Guess”, ”Gucci”, ”Etienne Aigner”,”Marks & Spencer”, ”Boss”, ”Giorgio Armani”, dan lain-lain yang sejenisnya, akan kami angkat sebagai seekor pahlawan dalam ingatan kami.
Itu adalah penghargaan tertinggi yang bisa diterima seekor ngengat. Kata manusia, hidup kami sangat Shakespearian karena harus memilih antara bercinta atau bertahan hidup. Benar bahwa lelaki kami mati setelah bercinta dan wanita kami meninggalkan hidup setelah mendaratkan telur.
Tapi mereka,manusia, sungguh tolol dalam mengartikannya.Apakah yang ada di benak mereka hanya bercinta? Kendati pun tak bercinta, darah dan daging kami hanya seusia sekali pergantian musim.Namun, dalam almari kelabu kepala anak-anak kami— manusia menyebutnya otak, tak berselera sekali?—kami menjadi abadi.
Dan dia, yang diangkat sebagai pahlawan dalam ingatan kami,akan terus hidup dalam palungan ingatan semua ngengat sepanjang jutaan tahun yang melintang.Kendati tongkat kekuasaan bumi telah berpindah-pindah tangan.
***
Ingatan yang diwariskan oleh seluruh nenek moyang kami menyatakan diri secara sekaligus dalam benak kami seperti pasar. Dalam lorong ingatan yang berjejalan itu, kami menyaksikan masa-masa surga bagi para ngengat yang datang setelah dinosaurus tiba-tiba punah dari muka bumi.
Dunia benar-benar menjadi milik para ngengat seutuhnya. Betapa indahnya kehidupan saat itu. Namun,masa-masa surga itu dalam sekejap pula musnah karena mamalia tiba-tiba muncul dan tak lama kemudian menjadi penguasa dunia. Dalam sekejap berikutnya, ingatan kami tersambung ke ingatan terakhir yang diwariskan kepada kami: bagaimana ibu kami meninggal.
Ia dilumat dengan sapu oleh mamalia yang menjadi penguasa dunia hari ini. Untunglah, sekilas, sebelum dipukul oleh makhluk yang lebih dingin dari zaman es itu,ibu berhasil mendaratkan kami sebagai telur-telur di atas gaun yang membungkus rapat tubuh patung manusia dan bertuliskan ”Marks & Spencer” di lehernya.
Saat itu kami langsung tahu bahwa ibu kami menjadi pahlawan bagi para ngengat. Ingatan-ingatan nenek moyang kami terus berjejalan, membuat perasaan kami terbuai di satu waktu, namun terbanting hingga remuk di detik berikut yang menjalin ingatan getir.Kami ingin bisa mengendalikannya, tapi tak bisa, sebab kami sendiri tak mempunyai ingatan.
Di antara litani ingatan nenek moyang yang riuh menyesaki benak kami, kami tak memiliki ingatan yang berasal dari pengalaman kami sendiri. Sejak kami menetas dari telur, kami tak menyapa apa pun, kecuali kegelapan. Tapi, di sekeliling kami tersedia banyak sekali makanan dan semuanya melelehkan wewangian dunia dalam mulut kami: wol, katun, sutra, kasmir, bahkan bulu beruang.
Maka, kerja kami hanyalah makan atau mendengarkan suara kami sendiri mengunyah dan mencerna, memecah kesunyian sepanjang hayat ini. Kesenangan kecil itu harus berakhir, sebab mulut kami dengan sendirinya tiba-tiba memuncratkan berhelai- helai serabut yang memintal tubuh kami,lalu membungkusnya rapatrapat.
Rupanya kami masuk ke masa kepompong, masa yang membunuh kami dengan kebosanan. Dan kalau bukan kebosanan yang menambatkan belenggunya di pikiran kami,tentu tak lain adalah ingatan nenek moyang yang merobek-robek hati kami, namun kemudian menjahitnya kembali, namun lantas merobeknya lagi.
Namun, akan tiba saatnya untuk mengakhiri semua ini. Saat di mana sayap kami tumbuh,membelah udara hening yang sedari awal menyelimuti punggung kami.Saat bagi kami untuk melawan gaya tarik bumi yang menindih kami dalam ketidakberdayaan, dan kemudian terbang membelah kesunyian. Menerabas kegelapan ini. Merayakan keabadian ibu kami bersama saudara-saudari ngengat yang menanti kami di luar kegelapan ini.

***
Seandainya usia ngengat-ngengat itu mencapai satu tahun, barulah mereka akan menyapa cahaya, kebisingan, dan dunia luar—barulah mereka akan mengalami hidupnya sendiri sebagaimana yang mereka impi-impikan sepanjang hayat. Namun tidak. Ngengat terakhir mati pada hari keseratus sepuluh.
Menyisakan sekitar dua ratus empat puluhan hari lagi sebelum Natal selanjutnya, sebelum lemari kayu oak yang kokoh dan bergaya khas Yunani itu dibuka untuk menyimpan gaun-gaun baru bertuliskan ”Gucci”dan ”Giorgio Armani”. Dan cahaya yang akhirnya menyelisik masuk ke lemari yang rapat itu, menyapa ngengat-ngengat yang sudah berhamburan bagaikan daun.
Menyapa busana-busana berkelas yang sudah berlubang dan compangcamping tak karuan bagaikan medan perang. Menyapa kesunyian yang sejenak pernah diisi oleh kepak sayap para ngengat yang bernafsu membelah kegelapan, tapi tak bisa: apa daya makhluk setipis daun dan tiga senti melawan kayu oak raksasa nan kokoh?
Namun, apa yang direncanakan dalam musyawarah ngengat tak pernah berhasil—kendati martir telah berguguran.Sebab sang nyonya besar melemparkan gaun barunya ke dalam almarinya dan langsung menutupnya, tanpa sepintas pun menoleh ke gaungaun lamanya yang sudah dibabat oleh sepasukan ngengat muda yang semusim lalu menetas di atasnya.
Lantas,ia melanjutkan hidupnya yang ganjil, tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Para ngengat yang bertugas mematamatai istana sang nyonya besar kian tidak mampu memahami perilaku makhluk bernama manusia ini. Mereka pun berpikir, siapa pula ngengat yang mampu.
Maka, peristiwa ini sepatutnya menjadi persoalan baru untuk dipecahkan dalam musyawarah besar ngengat selanjutnya. Dan mungkin ngengat yang dapat benar-benar memecahkannya kali ini patut diganjar Nobel Perdamaian Ngengat. ***

Depok, 2008
Seputar Indonesia, Edisi 14 Desember 2008)

Saturday, March 03, 2012

Cerpen: Buku Imajiner Tentang Sungai

Cerpen: Muliadi Gf


BUKALAH buku itu, Sahabat, dan kau akan menemukan sungai. Setelah halaman pertama, kita akan sampai ke halaman milik Om Amir. Bila hendak ke sungai, seperti dulu, kita harus melampaui halaman itu. Satu halaman penuh telah beliau isi dengan jambu mete, ubi, dan beberapa tanaman lain. Halaman itu lebih pantas kita sebut kebun.


Membuka halaman baru, kita akan memutar melewati tiga buah rumah. Ingat, lembar baru pasti di sebelah kanan, kita mengarah ke kanan. Di salah satu rumah, kau akan membaca kalimat berisi panggilan untuk seorang kawan. Tentu lebih asyik bermain di sungai bila beramai-ramai.

Sebatang pohon jambu yang selalu menjatuhkan serbuk-serbuk merah jambu berbentuk bulu babi, lembut, dan kecut berair, berdiri di tengah halaman itu. Kita melewatinya, dan kau akan ingat pernah memanjatnya dan terjatuh di situ. Saat teman-teman datang, kita berlomba lari menuju benteng, benteng kita, benteng yang disusun dari batu-batu besar terikat kawat, pembendung debit air sungai yang selalu naik jika hujan deras tiba. Benteng itu membentang sepanjang sungai, dan di bawah jembatan. Sesaat setelah hujan deras, kita terbiasa mengikuti batang-batang kayu, sampah, bangkai, dan kotoran manusia, serta apa saja, dibawa hanyut arus dari hulu.

Namun, karena buku ini ditulis saat bulan pelit hujan, kita tak akan menemui air yang tinggi. Tapi, tentu saja, kau bisa mengingatnya. Tentu saja, kau bisa mengingat di benteng bawah jembatan itulah kita biasa melabuhkan pancing atau berenang. Kau ingat, tidak? Teman kita Abe dengan polosnya berkata, “Tunggu dulu, akan kuukur tinggi air,” sebelum mencebur ke air, sementara kita tahu ia tidak pandai berenang. Lama tak tampak apa-apa selain gelembung-gelembung kecil, lalu kau, kau yang paling berani, melompat ke air, berjumpalitan di dalamnya, dan muncul terengah-engah dengan memeluk Abe yang megap-megap seperti ikan. Saat sadar, ia masih sempat berujar, “Wah, ternyata dalam, Kawan.” Jangan tertawa, kita harus menghargainya.

Saat kita datang ini, air sungai dangkal, maka mari bermain-main saja di antara batu-batu kali, mari…. Sebatas tumit, air menjilat-jilat kita, geli, dan biasanya kau akan mengusulkan untuk berburu udang-udang kecil di balik batu-batu, membongkarnya, udang itu melecut ke balik batu lain, air keruh di bawah kita, dan kau–menunjukkan keras kepalamu–terus memburu hingga celah-celah benteng batu. Udang itu tak terlihat lagi, ia menghilang ke halaman sebelah. Mari kita buka halaman baru….

Di halaman baru, air sungai naik, tapi masih terjangkau tubuh-tubuh kecil kita. Seseorang melompat ke dalam air berwarna cokelat yang bercampur lumpur, diikuti yang lain, kau, aku. Tahukah kau, di sungai itulah aku untuk pertama kalinya mengenal genangan air yang lebih dalam dan lebih luas dari bak mandi rumahku. Namun, baru di kemudian hari, di negeri orang, aku pandai berenang. Mungkin karena di saat kawan-kawan lain belajar berenang, perhatianku tertuju pada kenikmatan berada dalam belaian air sungai seperti selimut panjang berwarna cokelat di mana aku bebas bergerak ke mana saja dan melakukan apa saja tanpa merasa perlu merapikannya sehabis bermain sepuas hati. Ya, mungkin karena itu. Aku sangat menikmatinya.

Halaman berikutnya sekilas akan mengingatkanmu saat kita pergi mengaji. Kau mengeluh sakit perut dan hendak membuang kegelisahan di perutmu. Kau lalu meminta izin kepada Puang Latte, guru mengaji kita, yang segera dibolehkan oleh beliau. Guru mengaji kita terkenal berwatak tegas, tetapi melihatmu, terbit keberanianku, kuangkat tangan dan setengah berteriak, “Saya juga, Puang!” lalu diikuti seseorang, “Saya juga, Puang!” dan diikuti lagi seorang, “Saya juga, Puang!”

Selanjutnya, kita memanfaatkan kurangnya sosialisasi pemerintah tentang pentingnya membangun kakus saat itu. Kita manfaatkan betul-betul, sebaik-baiknya, bahkan sebanyak-banyaknya, hingga selebih-lebihnya. Tapi, tentu saja, Sahabat, seperti kata guru mengaji kita: segala yang berlebihan itu tidak baik adanya. Kita membuktikannya. Saat kau sedang serius mengeluarkan telur-telur kuningmu di tepi sungai, aku dan yang lain memburu anak ikan conde’ di celah-celah batu. Ikan itu sangat kecil; bertotol-totol.

Perburuan menjadi sesuatu yang sia-sia karena gerakannya yang sangat gesit. Tapi, kepala kami sekeras batu-batu kali, kami terus memburu. Tak ada yang sia-sia bagi anak-anak seperti kita, tak ada pretensi, dan tujuan melakukannya pun seakan tenggelam dalam sungai kepala kita. Kita hanya bermain. Hingga tiba… kau selesai mencuci bokongmu, dan kau bergabung bersama kami untuk memburu conde’ genit, dari jauh datanglah dua malaikat berjalan santai ke arah kita.

Malaikat itu membawa masing-masing sebilah bambu yang tampaknya diambil begitu saja dari pagar reot samping rumah. Itu bapakmu, dan seorang lagi, bapakku. Dua orang kawan kita lebih dulu sadar—curang mereka, tak memberi tahu!—mengambil langkah seribu. Sedangkan, kau dan aku terpana, bagai terhipnotis oleh kemunculan sosok serupa malaikat itu, dan baru tersadar saat bilah bambu mencium lembut—tentu bohong—pantat, paha, dan betis kita. Esok tahulah kita, sementara asyik memburu ikan conde’, sang guru mengaji datang ke rumah menanyakan kepergian kita ke sungai yang rasanya terlalu lama untuk orang yang hanya ingin buang air besar saja. Hmm, ikan conde’ sialan! Ditularkannya totol-totol ke betis kita.

Untuk waktu yang lama, sungai itu menjadi kepala keluarga desa kita, menjadi tulang punggungnya. Dari dasar sungai, batu-batu kali dari yang sebesar kuku hingga kepalan tangan sampai sebesar kepala dikeruk. Lalu, ibu-ibu berdaster lusuh dan berbedak pica [1] akan jongkok di depan tatakan batu, di tepi sungai, mengayunkan lengan-lengannya yang gembung dan lentur ke batu yang dijepit alat terbuat dari sekerat ban dengan gagang dari dahan kayu. Hasilnya yang berupa kepingan batu kecil tajam akan terlihat membukit di tepi sungai itu, sungai kita, menunggu satu truk terbuka datang mengangkutnya ke proyek entah di mana, pembangunan rumah entah milik siapa.

Truk-truk itu ikut menggoda beberapa kawan kita, kebanyakan yang putus sekolah, mengambil mereka dari rombongan di tepi jalan dusun untuk menjadi pakkoli’ [2], bekerja menyekop batu-batu yang telah mampus dipukul itu ke atas truk sebelum menyekopnya lagi di tempat tujuan. Sebelum itu, mereka akan terlihat bergelantungan di atas truk, merokok, bersenda-gurau, yang segera membuat kita iri.

Sungai itu telah sangat baik pada kita, Sahabat. Ia menerima semuanya. Di batang tubuhnya, kebersihan dan kekotoran bercampur aduk. Kau akan melihat seorang perempuan mencuci di tepinya, sementara di tepi lain seseorang tengah berjongkok dengan sarung menutup hidung—kau tahu kan apa yang dilakukannya? Di tempat bocah-bocah mandi, seseorang akan menitip sampah tanpa alamat tujuan yang jelas. Di sungai itu pula, aku menemanimu mencuci usus sapi, kau ingat? Kau ingatkah saat sementara menggosok isi perut sapi yang mirip handuk, hanyut di depan kita sepasang bangkai kambing berperut gembung yang dililiti ulat kecil? Mungkin kau lupa, tapi pasti kau ingat setelah itu, sesampainya di rumah, usus sapi yang telah menjadi coto, kita makan dengan lahapnya, aku bahkan habis sampai tiga mangkok. Sungai itu sangat baik, Sahabat. Sungai itu suci, ia adalah air wudhu abadi yang mampu menyucikan segala macam kotoran.

Tiap kali pulang ke desa, aku akan ke sungai itu, memaku perhatianku pada batu-batu kecil di dasar sungai. Sekali waktu, sementara mengamati batu-batu sungai, aku tiba-tiba teringat ceritamu tentang Nenek Era. Aku akan mengangkat pandang ke arah rumah-rumah di kampung sebelah sungai, ia tinggal di sana. Hampir tiap minggu di masa kecilmu dulu, ia menyeberangi sungai dengan sesuatu di balik lindung sarungnya. Ia tak mau orang lain melihat yang ia bawa.

Kupandangi batu-batu di balik air, membayangkan telapak kakinya yang kecil nan keriput menyentuh batu-batu licin itu, meraba-raba lewat getaran hangat air sungai sebatas lutut, memijak dituntun sensor halus dalam betisnya yang kecil-pendek, dan tidak merapikan sarungnya hingga sampai di rumahmu dengan sosok bagai orang kedinginan hendak mandi.

Aku ingat semuanya, Sahabat, aku ingat. Nenek Era, dengan matanya yang sebelah memutih oleh katarak dan kehangatan perempuan tua seusianya, selalu mengelus rambutmu dan berkata, “Awwee… appoku (Oh, Cucuku),” dan mulai mengeluarkan sesuatu yang ia bungkus dalam sarungnya, sebuah permata berharga dari kebeningan masa kecilmu: sebungkus biskuit. Lihat, Sahabat, air sungai itu begitu bening. Hingga kau usia SMP, ia masih sering bolak-balik membawakanmu biskuit, kadang pula pisang, rambutan, atau jeruk, dan semua ia bungkus dalam sarungnya.

Masih seperti sebelumnya, masih setia dengan sungai sebagai jembatannya, ia tunjukkan kekuatannya dengan menyeberangi sungai itu. Beberapa tahun lalu, dalam Januari yang hujan, kau menawarkan diri mengantarnya dengan motor, tapi ia menolak dengan alasan takut. Pada akhirnya, ia ngotot menyeberangi sungai yang saat itu meluap karena hujan sedari pagi. Kau mengantarnya hingga bibir sungai. Dalam kegelapan malam, kau pandangi lekat-lekat siluet nasib usia tuanya, membelah air hingga ke seberang. Saat ini, aku membayangkan ia berbalik melambaikan tangan padamu, dan di bening air sungai itu, tampak potongan kecil biskuit yang hancur pelan-pelan terbawa arus.

Arus lain—arus waktu—yang paralel dengan arus itu, telah menghanyutkan kenangan masa kecil kita. Apa yang kutulis ini hanya sebagian yang telah hanyut, namun terdampar entah di hari apa, jam berapa, waktu kapan; menyisakan sungai kenangan yang kian dangkal dan keruh, seperti sungai itu di masa kini.

Setelah ini, akan kutinggalkan kau sendiri, Sahabat. Tapi, teruslah membaca, bukalah halaman baru…. datanglah, kembalilah sekali lagi, untuk kesekian kali, ke sungai itu. Masuklah, ikuti arusnya, telusuri hingga ke laut, di sanalah bermuara sebagian lagi kenangan tentang sungai itu, kenangan yang terlalu banyak dan terlalu luas dari yang mampu kutuliskan dalam sebuah buku. (*)

Gowa, 2009 ­ Barru, 2012

Catatan:
[1] Bedak dari beras tumbuk, biasanya untuk melindungi kulit dari matahari
[2] Kuli batu

Penulis lahir dan tinggal di Barru, Sulawesi Selatan. Pembelajar menulis fiksi secara otodidak sejak 2009. Beberapa cerita pendeknya dipublikasikan di media massa.

Sumber:  Republika, 19 Februari 2012

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook