Wednesday, May 30, 2012

Cerita tentang Perbedaan

Joko Swiwi 
Cerpen Seno Gumira Ajidarma 

“CERITAKAN kepada kami tentang perbedaan,” kata murid-murid sekolah dasar itu kepada Ibu Guru Tati, kelak di masa yang akan datang. 
Maka Ibu Guru Tati akan menceritakan legenda Joko Swiwi. Ketika Joko Swiwi lahir, Poniyem merasa dirinya melahirkan seekor ayam, karena bayi yang keluar dari rahimnya terbungkus sepenuhnya oleh sepasang sayap yang basah. Dukun bayinya saja hampir pingsan melihat bayi seperti itu. 
Ketika sayap itu membuka dengan sendirinya, barulah tampak kepala bayi yang akan bernama Joko Swiwi itu. Matanya sudah melek dengan jernih, dan ia langsung tertawa terkekeh-kekeh, seperti bercanda kepada mereka yang terkaget-kaget.
 “He-he-he-he-he….”
Poniyem sebetulnya juga nyaris pingsan, karena ia semula mengira Dirinya betul-betul melahirkan seekor ayam, tetapi pandangan mata bayi itu kepadanya adalah pandangan mata seorang anak kepada ibunya. Poniyem segera merasakan tali batin hubungan ibu dan anak, tali batin ajaib yang berlaku bagi ibu dan anak mana pun, bagaimanapun bentuk rupa ibu dan anak itu, sehingga ketika dukun bayi itu mendekatkan bayi bersayap tersebut ia pun segera merengkuh dan menyusuinya.
Di luar ruangan, orangtua Poniyem melihat Ibu Dukun itu menyibak gorden dan termangu-mangu di pintu.
“Cucu sampean itu Joko Swiwi, Lik.”
“Ha?”
“Iya, Joko Swiwi, mana mungkin bayi seperti itu mau sampean beri nama Bambang Wicaksono.”
JOKO Swiwi memang tidak punya bapak, atau lebih tepat tidak jelas bapaknya. Ketika Poniyem pulang dari luar negeri, ia sudah mengandung tujuh bulan. Entah kenapa semua orang di desanya maklum- maklum saja dan dengan gerak cepat segera mendapatkan seorang suami bagi Poniyem. Tidak penting benar apakah pemuda berusia 30 tahun itu sering meneteskan air liur tanpa sebab dan sama sekali tidak cocok dengan Poniyem yang cantik jelita indah rupawan bahenol nian. Bagi penduduk desa cara seperti itu sungguh cara yang tidak bisa lebih sahih lagi untuk menghapuskan sesuatu yang bisa dianggap sebagai aib.
Tidak peduli apakah pemuda 30 tahun yang setiap hari mengarit dengan air liur menetes-netes dan menyediakan rumput untuk sapi-sapi penduduk itu juga tak punya nama dan tiada pernah jelas asal-usulnya. “Pokoknya yang tidak jelas dijelaskan, yang tidak mapan dimapankan,” ujar Pak Lurah.
Orangtua Poniyem hanya bisa setuju-setuju saja, kecuali kalau mereka pindah dari desa dan hal itu tentu tidak mungkin, karena menginjak tanah di luar desanya saja mereka belum pernah. Maka sejak itu pemuda tanpa nama yang selalu menetes-neteskan air liur itu bernama Bapaknya Joko Swiwi, dan Joko Swiwi menjadi nama resmi bayi bersayap tersebut. Setelah berusia enam tahun ia bersekolah seperti anak- anak desa lain dan terdaftar dengan nama Joko Swiwi.
Hanya saja kalau anak-anak desa harus berjalan kaki naik turun perbukitan kapur untuk belajar matematika, Joko Swiwi terbang langsung dari rumahnya dan kadang-kadang masuk kelas lewat jendela. Usaha orangtua Poniyem untuk mendapat penjelasan dari anaknya selalu gagal.
“Nduk anakku yang cantik, sebetulnya di luar negeri kamu itu berhubungan dengan siapa kok anakmu bisa bersayap seperti itu?” Poniyem biasanya hanya tertunduk, tetapi di balik rambutnya yang panjang terurai menutupi wajah itu ia tersenyum-senyum. Bagaimana mungkin ia menjelaskan apa yang dialaminya dalam mimpi kepada orangtuanya? Bagaimana mungkin ia menjelaskan betapa malam- malamnya yang lelah sehabis bekerja berat 20 jam sehari selalu memberikannya mimpi yang bersambung setiap hari?
Itulah mimpi tentang makhluk-makhluk bersayap dan bercahaya putih kemilau yang selalu mendatangi dan bercinta dengannya dan ia melayani mereka habis-habisan dengan segala kemungkinan yang bisa diberikan oleh imajinasi. Makhluk-makhluk bersayap itu adalah para pecinta yang dahsyat. Meski cuma mimpi, ketika terbangun kasur busa tempatnya tidur di lantai selalu basah kuyup. Ketika mengetahui dirinya hamil, Poniyem memang agak bingung, tetapi ia sungguh- sungguh senang karena yang selama ini dianggapnya mimpi ternyata memberikannya bayi.
“Terima kasih Tuhan,” katanya dalam hati, “terima kasih atas keajaiban ini.”
Kini anaknya bisa terbang dan masuk kelas lewat jendela, ia bangga mempunyai anak Joko Swiwi.
KELAHIRAN Joko Swiwi memang memberi berkah kepada penduduk desa. Kabar tentang kelahiran Joko Swiwi yang tersebar ke mana-mana membuat penduduk desa-desa sekitar berdatangan ingin melihatnya. Dari hari ke hari mereka yang berdatangan bukannya tambah sedikit, melainkan berlipat ganda sampai berdesak-desak berbau keringat. Pak Lurah dengan tangkas segera menyiasati keadaan.
Setiap orang yang memasuki gerbang desa diharuskan membayar, kalau membawa kendaraan dan parkir sudah pasti akan ditagih lagi, tidak peduli apakah itu mobil, sepeda motor, atau cuma sepeda. Bayaran paling wajib tentu untuk setiap kepala bermata yang ingin menyaksikan Joko Swiwi dengan mata kepala sendiri. Bahkan orang buta yang hanya mampu meraba-raba saja ditagih bayaran pula. Memotret tentu ditagih bayaran tambahan, ongkos memotret Joko Swiwi saja dan foto bersama dibedakan. Kalau Poniyem ikut dipotret ditarik lagi ongkos tambahan.
Sebegitu jauh, tiada seorang pun peduli kepada Bapaknya Joko Swiwi, karena memang tiada seorang pun yang tahu betapa pemuda yang selalu menetes-neteskan air liur dan tak jelas tinggal di mana itu (di kuburan, kata sebagian orang) jika malam tiba akan berubah menjadi makhluk bersayap yang putih kemilau gilang gemilang cahaya kencana memasuki mimpi-mimpi Poniyem.
Joko Swiwi sendiri memang layak jadi atraksi. Pada usia balita ia sudah bisa terbang setinggi pohon beringin. Tentu saja selain punya sayap ia juga punya tangan dan karena itu bisa membantu ibunya memetik buah ini-itu, buah kelapa misalnya, karena Bapaknya Joko Swiwi yang masih terus menetes-neteskan air liur itu rupa-rupanya memilih untuk pura-pura tidak mampu melakukannya–ia menjadi hebat hanya apabila malam tiba dan menyatroni Poniyem dalam mimpi sebagai makhluk bersayap yang putih kemilau gilang gemilang cahaya kencana.
Adalah Joko Swiwi yang sejak usia balita sudah terbang berkelebat ke sana kemari. Sayapnya yang besar akan terdengar mengepak ceblak- cebluk di atas rumah-rumah penduduk, benar-benar seperti burung besar, yang lama-lama memang tambah dewasa tampan seni rupawan.
Setiap kali berangkat sekolah, Poniyem selalu saja berpesan: “Hati-hati di jalan Nak, jangan sampai ketabrak helikopter.”
Semakin dewasa kemampuan terbangnya memang semakin bertambah tinggi. Para pilot helikopter suka terkaget-kaget jika Joko Swiwi kebetulan melintas berkelebat di depannya.
“Busyet! Burung apa itu?”
“Oh, bukan burung kok, itu Joko Swiwi!”
“Oh….”
Bukan hanya tinggi dan cepat terbangnya Joko Swiwi, tapi juga indah dan penuh pesona. Kadang kala apabila Poniyem melihat ke langit, dilihatnya Joko Swiwi seperti merayakan angkasa. Sayapnya yang begitu besar membuat ia bisa terbang begitu laju hanya dalam beberapa kepakan sahaja dan selebihnya ia tinggal meluncur dengan sayap terbentang seperti burung elang.
Para peladang ketela suka menghentikan sejenak pekerjaan mencangkulnya, beristirahat sambil menikmati Joko Swiwi yang terbang berputar-putar dalam tarian angkasa. Gadis-gadis desa yang mandi di kali kecil pura-pura berteriak marah tapi senang juga menatap dan ditatap Joko Swiwi.
“Joko Swiwiiiiiiiiiiii!” teriak mereka ramai-ramai.
Mereka itulah yang suka mengumpulkan bulu-bulu Joko Swiwi yang rontok.
Di bawah sudah ramai mereka menantikan bulu-bulu putih yang melayang jatuh dari angkasa itu, berebutan menangkapnya, karena bulu-bulu sayap Joko Swiwi memang cendera mata yang indah. Sepertinya putih, tetapi kalau digerakkan bolak-balik dalam cahaya matahari, akan membiaskan cahaya segala macam warna. Itu pula yang terjadi jika Joko Swiwi mengepakkan sayap di angkasa, bulu-bulu sayapnya membiaskan segenap warna di dunia yang bisa tercerap oleh mata.
“Joko Swiwiiiiiiiiiiii! Sini dong mandi bersama kami!”
Namun Joko Swiwi adalah pemuda yang sopan, ia bukan tukang intip, bukan pula lelaki yang kurang ajar. Maka ia tidak akan terbang merendah untuk melihat-lihat perempuan mandi, melainkan akan terbang meninggi, makin tinggi, dan makin tinggi. Semakin naik dan semakin menyepi dari dunia ramai yang terkasih. Dalam kesunyian langit itulah Joko Swiwi merenungkan dirinya yang bersayap, yang menjadi tontonan, yang selalu dibicarakan dan dimanfaatkan.
Pernah ia membawa Poniyem ibunya terbang sambil membopongnya dan dalam kesunyian langit ia bertanya. “Ibu, Ibu, siapakah bapakku yang sebenarnya Ibu, sehingga aku menjadi bersayap begini?”
Sangatlah wajar jika Joko Swiwi hanya bisa memaklumi, betapa lelaki yang selalu mengarit dan dipanggil Bapaknya Joko Swiwi itu bukanlah ayahnya sama sekali. “Seorang lelaki bersayap tak akan berayahkan lelaki yang selalu menetes-neteskan air liur,” pikirnya.
Namun susahlah bagi Poniyem memberitahukan bahwa lelaki yang menetes-neteskan air liur itu setiap malam menjelma sebagai pecinta bersayap yang putih kemilau dalam mimpinya–tetapi Poniyem tetap bercerita bahwa ayah Joko Swiwi memang adalah makhluk-makhluk bersayap yang putih kemilau celang cemerlang gilang gemilang cahaya kencana yang menggaulinya dalam mimpi-mimpi ketika menjadi TKI di luar negeri.
“Jadi bapakku banyak?”
“Mungkin yang satu itu banyak dan yang banyak itu satu, apalah bedanya? Segenap dunia dengan kita di dalamnya juga cuma satu.”
Joko Swiwi memahami keterasingan ibunya, dan Joko Swiwi kini menghayati keterasingannya sendiri.
ALKISAH, di luar desa mereka berlangsung bencana. Mula-mula satu, lantas dua, disusul empat puluh, berlipat empat ratus, menjadi empat ribu, menjelma empat juta unggas mati berkaparan. Segala makhluk bersayap entah kenapa tewas di mana-mana. Ada yang sekadar tidak pernah bangun dari tidur, ada yang mendadak saja sekarat seperti habis disembelih, tak jarang tiba-tiba jatuh ketika terbang. Bagi orang miskin, unggas penyakitan ini kadang-kadang tetap saja dipanggang dan dibakar.
Wabah telah melanda dunia burung, termasuk di desa-desa sekitar desa tempat kelahiran Joko Swiwi. Masalahnya, para penghuni perbukitan kapur yang tidak pernah menonton televisi karena gambarnya selalu bergoyang-goyang dan suaranya cuma kresak-kresek ini tidak tahu apa- apa tentang wabah yang menyapu bumi. Yang mereka tahu hanyalah ayam bebek mentok piaraan mereka mati semua untuk selama-lamanya, tapi tidak begitu dengan unggas di desa tempat Joko Swiwi dilahirkan.
Pak Lurah dipanggil oleh Pak Camat dan di sana ia dikepung oleh lurah-lurah desa di sekitarnya.
“Pak Lurah, makhluk bersayap ajaib di desa sampean itulah pembawa kutukan ini, kita belum pernah mengalami wabah seperti ini sebelum kedatangan makhluk yang dinamakan Joko Swiwi itu.”
“Kalau memang begitu, kenapa harus menunggu 18 tahun, kenapa tidak dari dulu-dulu ketika Joko Swiwi dilahirkan maka wabah ini melanda?”
“Apakah bedanya? Pokoknya wabah ini ada setelah Joko Swiwi ada, wabah ini membunuh makhluk-makhluk bersayap dan Joko Swiwi adalah makhluk bersayap. Ia suka terbang ceblak-cebluk ke sana kemari. Barangkali saat itulah ia menyebar penyakit ke mana-mana.”
“Nanti dulu, dia bukan burung saya rasa, dia manusia, sama seperti kita, bedanya cuma dia bersayap sahaja. Dia baru saja lulus SMU dan jelas lebih pintar dari ayam-ayam kita. Barangkali sebentar lagi ikut mendaftar ke perguruan tinggi di kota. Penduduk desa kita selama ini hidup seperti katak dalam tempurung, Joko Swiwi bisa terbang ke mana-mana dan membagi pengetahuan untuk kita, apakah sampean-sampean akan membunuhnya?”
“Apakah ada cara lain? Kalau ia tetap hidup, ia akan tetap menyebarkan penyakit!”
“Tapi keberadaan Joko Swiwi belum terbukti menjadi penyebab wabah ini. Sampean-sampean jangan main hakim sendiri!”
“Pak Lurah, peternakan kami hancur karena wabah ini, padahal seluruh penduduk bergantung kepada peternakan itu. Tanah kita terlalu tandus untuk membuat sawah, penjualan panen ketela tergantung kepada para tengkulak, dan para tengkulak belum mampu mengubah penduduk bumi menjadi penggemar gaplek. Peternakan ayam bebek mentok selama ini telah membantu kita. Apakah Pak Lurah mengira kami akan berpangku tangan sahaja? Apakah Pak Lurah tidak tahu kalau wabah ini tidak hanya membunuh unggas tetapi juga manusia? Mereka mati seperti ayam disembelih! Kalaupun Joko Swiwi bukan penyebabnya, ia sungguh pantas menjadi tumbal!”
Pak Lurah memandang Pak Camat yang ternyata cuma bisa mengangkat bahu. Pak Lurah tahu, urusan Pak Camat hanyalah supaya ia bisa terpilih lagi pada musim pemilihan mendatang dan kedudukannya sangatlah ditentukan oleh para lurah desa di dalam kecamatannya. Pak Lurah juga mengerti, penduduk desa-desa tetangga sudah lama iri dengan keberuntungan desanya semenjak kelahiran Joko Swiwi yang mendatangkan berkah. Semua rumah penduduk di desa tempat tinggal Joko Swiwi kini berlantai tegel, sementara rumah penduduk desa-desa lain, kecuali para pemilik peternakan, masih tidak berlantai dan hanya beralaskan tanah yang menyebabkan paru-paru basah.
“Sampean cuma satu orang Pak Lurah, sampean kalah suara. Itulah demokrasi.” Pak Lurah tertunduk, air matanya titik–kali ini ia tidak peduli dengan kedudukannya.
KENTONG titir tanda bahaya terdengar di seluruh desa. Para penduduk berlari ke berbagai gardu penjagaan yang selama ini menganggur karena memang tiada pernah terdapat bahaya mengancam desa dalam seratus tahun terakhir. Namun kini mereka mengalami ancaman yang sungguh tiada terduga, itulah kepungan penduduk desa-desa tetangga mereka sendiri.
“Serahkan Joko Swiwi, atau kami bakar desa kalian!”
Penduduk desa mungkin tidak tahu apa-apa, tetapi dalam urusan harga diri adat mereka memberi pelajaran harus dibela, kalau perlu sampai mengorbankan nyawa.
Bambu runcing segera berada di tangan mereka. Tua muda laki perempuan anak kecil tak luput bersiap siaga.
“Mana musuh kita,” kata mereka dengan bangga, “suruh mereka kemari, biar kusudet ususnya!”
Desa mereka dikitari bukit kapur, mereka berjaga di tempat yang tertinggi. Bongkah-bongkah batu besar telah siap digelindingkan. Para pengepung memang jauh lebih banyak, tetapi mereka tak akan mendapat kemenangan tanpa korban ratusan nyawa. Segenap penduduk telah siap mengadu jiwa atas nama kemerdekaan mereka. Di hadapan Poniyem ibunya yang bermuram durja, Joko Swiwi menundukkan muka.
“Biarlah aku menyerahkan diriku wahai Ibu, tidaklah perlu penduduk desa habis terbunuh karena aku.” “Tapi dirimu bukanlah penyebab wabah itu anakku, kalau dirimu penyebab wabah itu, pasti dirimu sendiri sudah mati. Entah dari mana asal penyakit itu, tapi pasti datangnya bukan dari kamu. Para lurah itu hanya mencari-cari alasan saja untuk membasmi kita, tidak pernah bisa mereka terima betapa desa yang dulunya paling miskin telah menjadi desa yang paling kaya di perbukitan kapur ini. Betapa dengki dan iri hati bisa menjadi parah begini.”
“Biarlah kuserahkan diriku Ibu, nyawaku tidaklah terlalu berharga dibanding kehidupan desa yang kusayangi ini, aku tidak ingin melihat desa ini kosong dan hanya berisi mayat bergelimpangan di sana-sini.”
“Itu tidak mungkin terjadi wahai Joko Swiwi anakku, sebelum mereka melangkahi mayatku!”
Poniyem lantas mengambil sebatang bambu runcing dan keluar rumah dengan gagah. Tubuhnya tinggi seperti Ratih Sanggarwati, dan ia putar bambu runcing itu seperti Sun Go Kong memutar toya, sampai sepuluh orang bisa bergelimpangan seketika.
Joko Swiwi juga keluar rumah dan mengepakkan sayap ke angkasa. Dapat disaksikannya di antara para pengepung itu terdapat sejumlah pemburu yang membawa senapan, seperti siap menembak Joko Swiwi jika berniat lari terbang ke angkasa. Mungkinkah terbayangkan betapa Joko Swiwi tertembak di udara dan bulu-bulu sayapnya rontok berhamburan di udara? Mungkinkah terbayangkan peluru-peluru akan berdesingan di sekitarnya dan beberapa di antaranya akan bersarang di tubuhnya, membuatnya meneteskan darah, dan jatuh melayang dari angkasa? Memang bisa saja ia lolos dari segala kepungan itu dan terbang melarikan diri jauh-jauh sampai ke Singapura, tetapi apalah yang akan dilakukannya di sana?
Minta suaka terlalu rumit baginya, sedangkan Jakarta tidaklah memberi harapan meski sekadar hanya untuk bertanya, karena bahkan burung-burung langka yang dilindungi negara dan dunia tewas pula di sana. Dirinya memang manusia, namun tetap saja makhluk bersayap adanya, sedangkan manusia dan makhluk bersayap adalah sasaran wabah yang tiada pernah dikenalnya pula.Dari angkasa ia menyaksikan segalanya. Dengan sedih dilihatnya penduduk desa yang sederhana siap mengadu jiwa dan kehilangan nyawa. Mungkin memang bukan karena membela Joko Swiwi sebenarnya, lebih karena membela desa yang siap ditindas kekuatan di luarnya, tetapi Joko Swiwi merasa dirinyalah tetap menjadi penyebab utama. Adalah kelahirannya di dunia dalam wujud berbeda menjadi penyebab segalanya.
“Mengapa perbedaan harus dipaksakan, jika persamaan masih dimungkinkan,” pikirnya pula.
Ketika uang mereka sudah terkumpul cukup banyak, karena Joko Swiwi memang adalah tontonan yang dahsyat, terpikir olehnya untuk pergi ke kota dan membedah lepas sepasang sayapnya yang sangat besar itu. Namun bukan saja penduduk desa keberatan, tentu karena sumber penghasilan akan menghilang, melainkan juga Joko Swiwi tak terlalu suka mengubah kodrat keberadaan dirinya meski melakukannya bukanlah suatu dosa.
Desa mereka begitu terpencil karena dunia mereka yang berkapur menjauhkan mereka dari peradaban. Dunia mereka hanyalah dunia putih kapur, debu-debu kapur yang mengakibatkan wajah-wajah berkapur seperti selalu berpupur.
Orang-orang kota menganggap mereka sebagai makhluk-makhluk ajaib yang seluruh tubuhnya putih seperti kapur. Keberadaan Joko Swiwi hanya menjadi pengetahuan orang-orang desa.
Orang-orang kota yang pernah mendengarnya hanya manggut-manggut dengan sopan karena mengiranya sebagai takhayul. Hanya para pilot helikopter yang pernah menyaksikan Joko Swiwi terbang berkelebat ke sana kemari, tetapi para pilot ini cukup berbaik hati untuk tidak memberi tahu para wartawan–apalagi wartawan infotaintment.
“Serahkan segera Joko Swiwi sekarang juga,” terdengar teriakan penduduk desa tetangga, “atau kami bakar habis desa kalian sampai habis rata tanpa sisa.” Jagabaya desanya maju ke muka.
“Majulah kalian sekarang juga, jangan terlalu banyak bicara, tak ada seorang pun akan diserahkan karena rudapaksa.”
Suasana tegang. Joko Swiwi sangat bimbang. Dari langit dilihatnya lingkaran ribuan penduduk lima desa bergerak maju. Bagaimana mungkin ia pergi terbang meninggalkan desanya? Bagaimana mungkin ia bisa menerima desanya akan menjadi bara merah yang menyala-nyala? Sebagai orang desa Joko Swiwi mengerti benar akan bakat kekerasan paling kejam yang tertanam dalam diri orang-orang desa. Pencuri mati dirajam, pezina diarak telanjang, dan perang antardesa adalah pertumpahan darah purba yang sangat mengerikan.
“Seberapa pentingkah seorang Joko Swiwi, seorang manusia yang kebetulan lahir bersayap, sehingga keberbedaannya harus dibela dan dipertahankan?”
Joko Swiwi yang remaja masih berpikir keras. Namun akhirnya ia mengambil keputusan.
SUNGAI Air Mata masih mengalir dari dua sumber mata air yang istimewa. Sumber mata air pertama adalah kedua mata pada patung Poniyem yang terus-menerus mengeluarkan air mata. Begitu banyak dan begitu terus-menerus air mata duka Poniyem itu mengalir sehingga menganak sungai dan betul-betul membentuk aliran sebuah anak sungai.
Sumber mata air kedua adalah sudut kanan mulut pada patung Bapaknya Joko Swiwi yang terus menerus mengeluarkan air liur. Begitu banyak dan begitu terus-menerus air liur ketidaksadaran Bapaknya Joko Swiwi itu mengalir sehingga menganak sungai dan betul-betul membentuk aliran sebuah anak sungai.
Kedua patung itu terletak di atas bukit kapur yang tandus dan gersang, di kaki bukit kedua anak sungai itu bertemu, membentuk sungai yang kemudian disebut Sungai Air Mata. Patung Poniyem yang mengenakan kain dan kebaya bersimpuh dengan kedua tangan di tanah menahan tubuh, sementara kepalanya yang tertunduk agak miring ke kanan, sehingga rambutnya yang panjang ikal mayang jatuh terurai sampai menutupi dada kanan. Patung Bapaknya Joko Swiwi yang mengenakan baju dekil dan celana pendek sobek-sobek berjongkok dan memegang arit seperti dalam kehidupannya sehari-hari, kepalanya yang berwajah bodoh juga agak miring ke kanan sehingga air liurnya keluar dari sudut kanan bibirnya yang selalu terbuka. Sungai Air Mata telah memungkinkan penduduk desa perbukitan kapur itu mengubah ladang ketela mereka menjadi sawah yang subur.
Berabad-abad kemudian kedua patung itu disebut sebagai patung Dewi Air Mata dan patung Dewa Air Liur. Kedua patung itu begitu mirip dengan manusia karena tidak berasal dari batu yang dipahat melainkan manusia yang berubah menjadi patung karena duka tak tertahankan.
“Kenapa disebut Sungai Air Mata, padahal sumber mata airnya bukan hanya air mata melainkan juga air liur?” murid-murid sekolah dasar itu kelak akan bertanya. Ibu Guru Tati tidak menjawab, dan balas bertanya:
 “Itu dia soalnya, kenapa?”

Taipei-Tokyo-Honolulu-M/N1043, Maret 2006

Friday, May 25, 2012

Cerita tentang Senja

Sepotong Senja Untuk Pacarku 
(cerpen Seno Gumira Ajidarma) 

Alina tercinta, 
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.
Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.
Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.
Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.
Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.
Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.
“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”
Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.
“Catat nomernya! Catat nomernya!”
Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.
Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.
“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”
Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.
Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.
“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”
Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.
Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.
Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.
Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.
“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.
Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.
“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”
Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.
Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.
Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.
Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina. “
semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”
Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….
Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.
Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.
Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…
Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.
Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.
Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.
Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. D
engan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.*** 


Cerpen Pililihan Kompas 1993

Sunday, May 20, 2012

Cerita tentang Kejenuhan

S A R M A N 

Cerpen Seno Gumira Ajidarma 

Ceritakanlah padaku tentang kejenuhan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka Juru cerita itu pun bercerita tentang Sarman: 

Pada suatu hari yang cerah, pada suatu hari gajian, Sarman membuat kejutan. 
Stelah menerima amplop berisi uang gaji dan beberapa tunjangan tambahan, dan setelah menorehkan paraf, Sarman termenung-menung. Tak lama. Ia segera berteriak dengan suara keras. 

”Jadi, untuk ini aku bekerja setiap hari, ya? Untuk setumpuk kertas sialan ini, ya?!” 
Ia berdiri dengan wajah tegang. Tangan kirinya mengenggam amplop, tangan kanannya menuding-nuding amplop itu, dan matanya menatap amplop itu dengan penuh rasa benci. 

”Kamu memang bangsat! Kamu memang sialan! Kamu brengsek! Kamu persetan! Memble! Aku tidak sudi kamu perbudak! Aku menolak Kamu!” 

Kantor yang sehari-harinya sibuk, sejuk, saling tak peduli, dengan musik yang lembut itu, pun mendadak jadi gempar. 
”Lho ada apa Man? Kok pagi-pagi sudah nyap-nyap?” 
”Eh, Sarman kenapa dia?” ”Jangan-jangan ia belum makan.” 
”Kesurupan barangkali.” ”Man! Sarman! Sabar man! Nanti kamu dimarahi!”

Tapi Sarman tidak hanya berhenti disini. Ia melompat ke atas meja. Ia robek amplop cokelat itu. Ia keluarkan uang dari dalamnya. Ia robek bundel uangnya. Dan sebagian uangnya ia lemparkan ke udara.


”Nih! Makan itu duit! Mulai hari ini aku tidak perlu di gaji! Dengar tidak kalian!? Tidak perlu digaji! Aku akan bekerja suka rela, tetap rajin seperti biasa! Dengar tidak kalian monyet-monyet?!” 


Berpuluh-puluh uang lembar Rp 10.000,- berguling-guling di udara dihembus angin AC. Kantor itu seperti dikocok-kocok. Para pegawai tanpa malu-malu berebutan uang gaji Sarman. Pria maupun wanita saling berdesak, bersikutan, dorong mendorong, berlompatan meraih rejeki yang melayang-layang di udara. Mereka cepat sekali memasukkan uang itu sekenanya dalam kantong bajunya. Lantas pura-pura tidak tahu.  


Sarman menendang semua benda yang berserakan di mejanya, map-map yang bertumpuk, mesin tik, segelas the, bahkan foto keluarganya ia tending melayang. Layar monitor komputer pun pecah digasaknya 


“Sarman! Kamu gila!” 


Sarman melompat dari meja ke meja dengan ringan seperti pendekar dalam cerita silat. Ia tendang semua barang-barang di atas meja karyawan-karyawan lain, sambil terus memaki-maki. Tak jelasa benar apa yang dimaki. 


Dalam waktu singkat, kator yang terletak di tingkat 17 itu pun berantakan. Sekretaris-sekretaris wanita menjerit: ”Aaaa!” Dan para karyawan pria memperlihatkan jiwa pengecut mereka, tidak berani berbuat apa-apa. Meski dalam hati mengharap Sarman melempar-lempar lagi sisa uang yang dipegangnya. Dan Sarman bukannya tak tahu. 


”Kalian mau uang? Ha? Kamu mau uang? Sukab! Kamu mau uang? Nih! Kamu mau uang? Nih! Kalian semua mau uang? Nih! Nih! Nih! Makan!” Sambil masih melompat dari meja ke meja, Sarman melempar-lemparkan uang di tangannya. Para karyawan berubah jadi serangga yang mengikuti kemana pun Sarman pergi. Suasana kantor sungguh menjadi hingar-bingar. Wajah karyawan-karyawan itu seperti kucing kelaparan. Mereka berebutan dengan rakus. Yang sudah melompat, jatuh terdorong. Yang menubruk uang di lantai, diseret kakinya. Tidak sedikit uang robek dalam pergulatan. Tarik menarik, cakar-mencakar, tendang-menendang, tanpa pandang bulu. 


”He, kalian masih mau uang lagi?” tanya Sarman sambil berdiri di atas meja kepala bagian. Mereka serentak menjawab.
”Mauuu!” 
Sarman tersenyum. Keringat menetes di dahinya. Ia longarkan dasi yang mencekiknya. 
”Baik! Tapi kalian harus berteriak Hidup Uang! Hidup Uang! Setuju?” 
”Setujuuuuu!” 
Maka, seperti pemain softball melempar bola, Sarman pun segera melemparkan lagi segepok uang di tangannya. Uang itu berhamburan di udara, menari-nari bagaikan salju khayalan di hari Natal pada panggung sandiwara. Mata para karyawan dan karyawati berbinar-binar dengan riang, mulut mereka menganga, wajah mereka menujukkan semangat tekad bulat yang sangat mengharukan. 
”Serbuuuu!” teriak mereka bersamaan. 


Pertarungan pun dimulai kembali. Kini mereka berebutan bagai permainan sebuah pesta. Mereka tertawa terkikik-kikik. Saking asyiknya, mereka lupa bahwa banyak kancing baju mereka yang lepas, sepatu copot, rok tersingkap, dan rambut terburai-burai. Sarman berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Ia melompat dari meja ke meja sambil bersalto. 


Ruangan riuh dengan yel, meskipun tidak terlalu serempak, karena mereka berteriak sambil berebutan uang di udara dan di kolong-kolong meja: Hidup Uang! Hidup Uang! 


Mendadak muncul Kepala Bagian. Ia diam saja di pintu, menatap bawahan-bawahannya berpesta pora. Wajahnya disetel supaya berwibawa. Lantas ia melangkah seperti tak terjadi apa-apa, menuju ke mejanya. 


Mula-mula para pegawai itu tidak tahu, mereka masih berebut sambil tertawa-tawa. Namun yang tahu segera terdiam, dan kembali ke mejanya, pura-pura bekerja. Padahal mejanya sudah berantakan dikacaukan Sarman. 


Lambat laun semuanya tahu kehadiran kepala bagian. Mereka mundur dengan tersipu-sipu. Tangan mereka kedua-duanya menggenggam uang. Sisa uang bertebaran di lantai, di kursi, di meja, di bak sampah, bercampur tumpahan kopi dan gelas yang pecah. Kertas-kertas terserak-serak, morat-marit, kacau-balau, kata peribahasa seperti kapal pecah. 


Sarman masih berdiri di salah satu meja. Rambutnya kacau, wajahnya buas seperti binatang tersudut, pakaianya yang biasa rapi, dan sepatunya yang berkilat-kilat, kini kumal. 


Kepala bagian hampir tak mengenali Sarman, karyawan paling rajin dan kedudukannya menanjak dengan cepat. ”Coba, tolong jelaskan apa artinya semua ini,” ujarnya kemudian, dengan sabar, tapi tetap tegas. 


Semua terdiam. Tapi mata mereka semua tertuju ke arah Sarman, yang masih terengah-engah, menjulang di atas meja. 


Dalam sunyi, musik yang lembut terdengar lagi, namun tak membuat suasana menjadi dingin. Pandangan kepala bagian akhirnya pun tertuju pada Sarman. ”Sarman apakah kamu bisa turun dari atas meja itu?” Tanyanya. 


”Bisa pak, tapi saya tidak mau.” 
”Kenapa?” 
”Jawabnya panjang sekali Pak, tidak perlu saya jelaskan.” 
”Kenapa tidak? Kita bisa membicarakanya di ruangan lain dan …” 
”Tidak Pak! Jangan coba-coba merayu!” tukas Sarman, ”Hari ini saya menolak gaji, menolak bekerja, menolak menuruti Bapak. Pokoknya menolak apa saja yang seharusnya terjadi! Saya tidak suka keadaan ini! Saya benci!” 


Kepala Bagian mendekat, dengan wajah kebapakkan ia mencoba menenangkan pegawai kesayangannya itu. ”Apakah kamu mau cuti Sarman? Kamu boleh ambil cuti besar, cutilah satu bulan. Kamu sudah bekerja sepuluh tahun.” 
Tapi Sarman malah menjejak meja, menendang sisa tumpukan kertas di meja itu, lantas melompat lagi ke meja lain. 


Seorang wanita yang duduk di situ terpaku dengan ketakutan, tidak berani bergerak. ”Jangan mendekat! Saya sudah coba jelaskan mulai hari ini saya menolak apa saja! Mengerti tidak? Saya menolak apapun kemauan kalian!” 


Kepala bagian itu sebetulnya ingin marah, dan mengusir Sarman, tapi Sarman terlalu penting untuk perusahaan. Lagi pula alangkah tak layak memecat seorang pegawai yang sangat berjasa seperti Sarman. 


Sementara itu berdatanganlah para karyawan dari bagian lain. Kejadian itu begitu cepat tersebar. Beberapa petugas keamanan memasuki ruangan. Mereka akan bertindak, tapi Kepala Bagian menahan. 


”Tunggu! Biar saya yang mengatasinya! Saya kenal dia, Sarman anak buah saya selama bertahun-tahun.” 


Maka petugas-petugas keamanan pun hanya sibuk dengan HT mereka. Telepon berdering di salah satu meja, memecahkan keheningan, tapi Sarman keburu melompat ke sana dan menendangnya. Ia masih menggenggam sebundel uang. Gajinya memang termasuk tinggi di kantor itu. Maklumlah ia sudah bekerja di sana selama sepuluh tahun. 


”Untuk apa kamu lakukan semua ini Sarman? Untuk apa?” tanya Kepala Bagian. 
”Itu sama sekali tidak penting!”
”Lantas kamu mau apa, aku sudah menawarkan cuti besar, langsung mulai hari ini, tunjangannya bisa kamu ambil hari ini juga. Kamu juga boleh pakai hotel milik perusahaan kita di Bali, pakai Vila kantor kita di Puncak, pergilah dengan tenang biar kami selesaikan pekerjaanmu. Terus terang, selama ini kami memang terlalu…”
”Apa? Cuti? Cuti kata Bapak tadi?” Ujar Sarman sambil meletakkan tangan di telinga, ”Cuti besar setelah sepuluh tahun bekerja. Cuti? Ha-ha-ha-ha! Cuti? Hua-ha-ha-ha! Cuti besar lantas masuk lagi, dan bekerja sepuluh tahun lagi? Huaha-ha-ha! Hua-ha-ha-ha! Ambillah cutimu Pak!”

Dan Sarman dengan lompatan karate menerjang jendela. Jendela tebal di tingkat 17 itu tidak langsung pecah. Sarman meninjunya beberapa kali sampai tangannya berdarah, lantas ia mengambil kursi, mengahantamkannya ke jendela, barulah jendela itu pecah.

Angin yang dahsyat menyerbu masuk kantor. Kertas-kertas berterbangan. Sarman melompat ke jendela. Siap melompat ke bawah. Orang-orang gempar dan menjerit-jerit.
”Sarman! Jangan bunuh diri Sarman!”
”Jangan akhiri hidupmu dengan sia-sia Sarman! Ingat anak istrimu! Ingat orang tuamu di kampung! Ingat Sahabat-sahabat kamu!”
”Sarman! Pakai otakmu! Gunakan akal sehatmu! Hidup ini cukup berharga! Hidup ini tidak sia-sia!”
Sarman yang sudah menghadap ke jalan raya berbalik, sambil menendang sisa kaca di kusen jendela, ia berteriak dengan marah.

”Bangsat kalian semua! Bangsat! Sudah sepuluh tahun aku bangun tiap pagi dan berangkat dengan tergesa-gesa ke kantor ini! Sudah sepuluh tahun aku berangkat pagi hari dan pulang sore hari melalui jurusan yang sama. Sudah sepuluh tahun aku memasukkan kartu absen di mesin keparat itu tiap pagi dan sore! Sudah sepuluh tahun aku melakukan pekerjaan yang itu-itu saja delapan jam sehari! Sudah sepuluh tahun! Dan akan berpuluh-puluh tahun lagi! Memang aku dibayar untuk itu dan bayaran itu tidaklah terlalu kecil! Ini bukan salah kalian! Ini juga bukan salah perusahaan! Ini semua hanya omong kosong! Mengerti tidak kalian monyet-monyet? Ini semua cuma omong kosong!”

 ”Sarman sudah gila,” bisik seseorang.
”Kenapa sih dia bisa begitu?” desis yang lain.

”Semua ini cuma lewat dan berlalu seperti debu!” Sarman masih terus nerocos
”Apa kalian masih ingat angka-angka yang kalian tuliskan kemarin? Apa kalian masih ingat kalimat-kalimat yang kalian tulis kemarin? Apakah kalian masih ingat nama-nama pada daftar relasi kita kemarin? Apa kalian masih ingat nomer-nomer mobil kantor kita yang baru? Apa kalian masih ingat nama-nama pegawai baru kita? Apa kalian masih ingat nama kawan-kawan kita yang sudah keluar dari perusahaan ini? Apa kalian masih ingat nama gombal-gombal yang selalu kita beri komisi? Begitu banyak, begitu dekat, tapi alangkah tidak berarti. Kita semua memang gombal! Aku juga cuma gombal! Jadi, sudahlah, jangan repot-repot! Besok kalian akan lupakan kejadian ini! Lenyap hilang seperti debu! Seperti gombal di pojok gudang! Seperti oli di lantai bengkel! Seperti sekrup…. ”

Sementara Sarman masih terus berpidato, para petugas keamanan tidak kehilangan akal. Mereka memanggil petugas pemadam kebakaran, tapi kedatangannya menimbulkan geger.
”Mana yang kebakaran Pak?”
”Bukan kebakaran!”
”Ada apa?”
”Ada orang mau bunuh diri!”
”Di mana?”
”Tuh!”

Syahdan, di ketinggian tingkat 17, tampaklah jendela yang terbuka itu menganga. Sarman tampak kecil, tapi jelas, menghadap ke dalam sedang berteriak-teriak.

Orang-orang yang sedang berada di bawah berhenti, menatap ke sana. Mobil-mobil juga berhenti. Jalanan macet. Dengan mendadak, Sarman jadi tontonan. Beberapa orang menggunakan teropong. Bahkan ada yang memotret dengan lensa tele. Petugas pemadam kebakaran membentangkan jala. Tangga mobil pemadam kebakaran, yang cuma 40,9 meter, diulurkan. Semprotan air disiapkan, untuk menahan laju kejatuhan tubuh Sarman, kalau jadi melompat. Jalanan macet total. Helikopter polisi merang-raung di udara. Para penonton duduk di atap mobil. Beberapa orang bertaruh dengan jumlah lumayan, Sarman jadi bunuh diri atau tidak. Namun kru televisi terlambat datang.

Jalan lain untuk mencegah Sarman juga diambil. Di Helikopter polisi itu terdapatlah keluarga Sarman, istri Sarman dan anaknya yang bungsu.
”Sarman, lihat itu anak istrimu!” teriak para karyawan dalam gedung.
”Ya, itu anak istrimu! Ingatlah mereka Sarman! Jangan berbuat nekad!”
”Sarman! Sarman! Aku istrimu Sarman! Aku mencintai kamu! Anak-anak juga mencintai kamu! Jangan melompat Sarman!” teriak istrinya sambil menangis, Suaranya menggema lewat penegeras suara di celah raungan helikopter.
”Bapak! Bapak!” seru anaknya. Sarman berbalik.

Dilihatnya wanita itu melambai dengan air mata tumpah ruah. Hatinya tercekat. Ia ingin melambai kembali seperti dilakukannya setiap pagi ketika berangkat ke kantor. Namun ini mengingatkannya pada segepok uang yang masih digenggamnya. Sarman kumat lagi.
Tapi dari dalam kantor, dua petugas kemanan merayap perlahan ke jendela.
”Ingat anak-anak kita Sarman! Mereka membutuhkan kamu! Ingat ibumu, ia mau datang minggu ini dari kampung! Sarman, o Sarman, jangan tinggalkan aku Sarman!” teriak istrinya lagi.
”Apa? Pulang untuk ketemu kamu?! Ketemu dengan segenap tetek-bengekmu?! Pulang untuk menemui segenap omong kosongmu?! Kamu tidak pernah mau tahu perasaanku! Kamu cuma tahu kewajiban-kewajibanku! Kamu cuma tahu ini!” Sarman mengacungkan uang di tangannya,
”Kamu cuma tahu ini kan?!”
”Bukan begitu Sarman, aku tidak bermaksud begitu, kamu salah sangka Sarman, aku …”
”Ini uang kamu! Makan!”

 Dan Sarman melempar ratusan ribu rupiah ke udara. Uang di tangannya sudah habis. Lembaran-lembaran uang itu berteberan ditiup angin, berguling-guling dan berkilauan dalam siraman cahaya matahari.

”Sarman, o Sarman…” Istrinya menangis tersedu-sedu. Anaknya hanya bisa berteriak,
”Bapak! Bapak!” 

Angin masih bertiup kencang di ketinggian itu. Sarman melihat uang gajinya berguling-guling melayang ke bawah. Kertas-kertas itu belum sampai tanah. Masih melayang-layang menyebar. Orang-orang di kantor yang ada di tingkat bawah dari kantor Sarman terkejut melihat uang berterbangan di udara. Di bawah anak-anak maupun orang dewasa bersiap-siap menangkap uang itu. Suasana sangat meriah. Sarman termenung. Sekilas terlintas untuk mengakhiri sandiwara ini. Saat itulah kedua petugas keamanan yang merayap, tiba di jendela. Salah seorang menyergap, berusaha merangkul Sarman, namun gerakkan yang baru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya itu kurang sempurna. Sarman malah jadinya terpeleset, ketika membuat gerakan refleks menghindar.

Petugas itu hanya mencengkeram sepatu Sarman. Orang-orang di bawah berteriak histeris. Oarang-orang dalam gedung berebutan melongok dari jendela. Tubuh Sarman meluncur. Dalam jarak yang cukup jauh Sarman sempat berpikir, sandiwaranya kini menjadi kenyataan.

Dengan gerak mirip tarian, tubuh Sarman menembus sebaran uang kertas yang belum juga sampai ke bumi. Di bawah, pemadam kebakaran telah membentangkan jala penyelamat lebar-lebar. Empat selang memancarkan air dengan keras ke atas.

”Apakah Sarman akhirnya bisa diselamatkan?” desak Alina yang sudah tidak sabar.
”Oh, itu sama sekali tidak penting Alina,” jawab si Juru Cerita, ”Itu sama sekali tidak penting.”***

Kompas, 19 Januari 1986



Tuesday, May 15, 2012

Cerpen Sapardi Djoko Damono

Dl BAWAH BULAN


Tidak terlihat apa pun di bawah bulan yang sedang purnama dan memancarkan sinar keputih-putihan, teramat menyilaukan, di sebuah taman kota. Kecuali seorang tukang sulap yang duduk di bangku taman, yang sore tadi main di sebuah pasar malam. Kecuali seekor ular hijau yang sama sekali diam, yang tidak pemah mengenal sulapan, melingkarkan tubuhnya di tepi taman dekat selokan itu sementara kepalanya tegak seperti menunggu sesuatu. Dan seekor katak, yang tidak pemah percaya kepada cahaya bulan, yang meloncat-loncat di rumputan menuju selokan itu. Dan juga sekuntum bunga rumput, sekuntum saja, yang diam tidak digoyangkan angin karena udara mendadak berhenti kena sihir cahaya bulan itu. 

Cahaya bulan tidak pemah meramal. Itu janji yang tetap dipegangnya. Ia juga tidak pernah mengingatkan atau member! awas-awas. Ia hanya menerima sinar matahari yang kemudian dipantulkannya ke bumi: kilau-kemilau. Tidak ada seorang pun, kecuali si tukang sulap yang agak mengantuk itu, ketika tiba-tiba ular itu melesat menangkap katak yang sedang melompat itu, keduanya kemudian jatuh ke rumputan dan lenyap dalam gelombang bunga rumput yang entah kenapa mendadak mekar bersama-sama dan bergoyang-goyang diterpa angin yang berhasil membebaskan diri dari sihir cahaya bulan.

Tukang sulap kebetulan menyaksikan peristiwa yang mirip sulapan itu, dan sadar bahwa ia tidak sedang main sulap, dan tentu saja ia yakin sekali bahwa pasti ada tukang sulap lain di taman itu. Di bawah bulan yang sedang pumama yang memancarkan sinar yang sangat menyilaukan itu tidak ada seorang pun, kecuali si tukang sulap itu.

Thursday, May 10, 2012

Kuterkam gerimismu Sapardi

Narasi Sepucuk Gerimis 
(kepada Sapardi Djoko Damono) 
Puisi Kurnia Hadinata 

Kuterkam gerimismu Sapardi
lewat laut yang mengantarkan aku pada burung sunyi
dari pulau dengan kegaduhan yang menderu.
Jika aku tak menoleh, senja menjadi gaib, maka sekat malam
terurai bersama gerimis yang meregang di kepak camar.
Sapuan terakhir,
kukatakan kapadamu bahwa akulah lelaki yang menyergap hujan bulan Junimu,
menghunjam perih pada detak jantung anak-anakku,
mengalir dalam keruhnya rahim ibuku.
Perlu aku katakan padamu
hidupku adalah potongan waktu yang meremas sisiran musim
juga laut matamu yang berlayar bersama perahu kertas

Panti-Pasaman, Juni 2006

Sunday, May 06, 2012

Ragam Kritik Sastra Indonesia

Ragam Kritik Sastra Indonesia
Oleh: Faiz Manshur


MUNGKIN sebagian orang masih punya pendapat, sastra adalah bidang marginal, terkucil dari gegap-gempita kesenian panggung dan televisi sekarang ini. Kita hanya menyaksikan eksistensi sastra pada panggung-panggung mini, atau acara bedah buku, temu penulis dengan pembaca yang pengunjungnya bisa kita hitung dengan jari.Namun, biar begitu adanya, eksistensi sastra bukan tidak berguna. Sastra bercita rasa tinggi, akan sangat penting manfaatnya sebagai kontrol terhadap kesenian (bahkan kebudayaan) hasil produk pasar bebas yang serbainstan, imitatif, pasaran, dan rendah nilai estetiknya.
Tentu, untuk membangun sastra yang berkualitas, kritik sastra harus ditempatkan pada sentral diskursus. Beragam perspektif harus disiapkan untuk melihat sesuatu yang tidak pernah kita duga-duga. Hadirnya buku ini tentu penting bagi pembaca untuk lebih mudah melihat keragaman analisis para pegiat sastra, kritikus dan akademis yang selama ini serius terlibat dan meneliti perkembangan sastra Indonesia.
Melalui proses seleksi yang cukup serius, sang editor Kinayati Djojosuroto mengemas 21 esai karya dari 21 kritikus sastra menjadi satu buku berjudul Mozaik Sastra Indonesia. Di dalamnya memuat karya-karya dua generasi. Generasi tua diwakili Asrul Sani, Arief Budiman, Abdul Hadi WM, dan Wilson Nadeak. Sedangkan para kritikus sastra muda yang hadir adalah Agus R Sarjono, Agus Noor, Ahmad Subhanuddin Alwy, Binhad Nurrahmat dan lain-lain. Ada juga tulisan dari para akademisi seperti Maman S Mahayana, Sunaryo Basuki Ks, Suroso, dan Yusrizal Kw.

Tulisan-tulisan yang terkumpul di dalamnya berasal dari naskah-naskah yang pernah diterbitkan di media cetak seperti Majalah Horizon, Kompas, Republika, Media Indonesia dan lain-lain.

Antologi ini diklasifikasi menjadi 6 topik. Bab pertama membicarakan tentang sastra dan konteks. Perbincangan dalam bab ini mengarah pada keterkaitan antara sastra, politik, sosial, dan ideologi. Artinya, pengarang ingin menyampaikan realitas sosial-politik, religi dan budaya dalam bingkai sastra. Esai-esai pada bagian ini setidaknya akan menyegarkan dahaga dunia sastra Indonesia yang selama ini mengalami kekurangan kritik sastra.

Bagian kedua, menyoal sastra dan imajinasi, di mana pembicaraan seputar peranan imajinasi dalam karya sastra ditelaah secara detail dan mendalam. Bagian ketiga, sastra dan pluralisme, menyoroti kreativitas karya sastra yang selalu terikat oleh variabel lain yang berdampak pada sukses atau gagalnya sastrawan dalam mengomunikasikan bahasa. Dijelaskan, sastra tanpa media komunikasi akan mati, pembaca tidak akan bisa menikmati. Masih serupa dengan perbincangan sastra dan konteks, soal pluralisme, demokrasi, dan hak asasi manusia cukup banyak dibicarakan dalam bagian ini.

Pada bagian keempat, Mozaik Sastra Indonesia, pembaca akan disuguhi proses kreatif para penulis sastra dalam menciptakan percikan-percikan ide yang memiliki nilai estetika puisi. Di dalam bab ini, pembicaraan tentang kesaksian kreatif berpuisi dalam memahami warna lokal sastra, latar sosial, dan religi dalam karya sastra juga mendapat tempat.

Bagian kelima, membahas soal sastra cyber. Hadirnya teknologi informasi di Indonesia berdampak pada perkembangan sastra dengan wajah baru dan unik. Sastra cyber merupakan fenomena penting yang tidak mungkin diabaikan dalam perbincangan sastra Indonesia. Era cyber telah menjadikan komunikasi antarmanusia lebih cepat. Seiring dengan itu, para sastrawan baru pun bermunculan melalui internet. Pembicaraan sastra cyber pun makin menarik karena ternyata mempunyai ciri khas yang berbeda dengan sastra media cetak.

Bagian keenam kita akan diajak bertamasya pada proses kreativitas pengarang. Tema ini selalu menjadi topik hangat yang selalu dibutuhkan, terutama sastrawan pemula. Dari sini kita akan melihat tentang suka-duka sastrawan dalam memproduksi ide penulisan.

Seperti yang pernah di katakan oleh Radhar Panca Dahana, ”Sastra memang semestinya dikembalikan kepada pembaca, baik secara teoretis maupun praktis.” Di tingkat teoretis penyingkiran pembaca dalam penelaahan sastra, membuat sastra itu sendiri hanya berputar dalam lingkaran analitik antara para kritikus, ambisi penerbit, atau biografi pengarangnya.

(Faiz Manshur, jurnalis tinggal di Jakarta)
Sumber: Media Indonesia Selasa, 13 September 2005

Thursday, May 03, 2012

Putu Wijaya: Dokter

Dokter
Cerpen Putu Wijaya

Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flu burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun.

Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihat jarum infuslah yang membunuhnya. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima pun, manusia tetap mati.

Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu.

"Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga.
Hidup-mati kami tergantung pada dia!"

"Tapi sudah terlambat."
"Terlambat bagaimana, kami sudah bawa kemari pakai taksi!
Uang kami sudah banyak keluar!"

"Tapi sebelum dibawa kemari nampaknya dia sudah tidak
ada!"
"Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia. Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!"

"Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal."
"Makanya keluarkan ular itu cepat. Pak Dokter jangan
ngomong terus!"

"Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!"
"Jangan bikin kami tambah susah, Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!"

"Cepat bertindak!"
Saya disumpah untuk menjalankan praktik sesuai dengan etik kedokteran. Tetapi, di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit.

Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menenggak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak.

"Kalau Pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat."
"Terlambat bagaimana?!"

"Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya, bersatu dengan darah. Dibawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke puskesmas yang fasilitasnya berengsek ini. Dokter tidak bertanggung jawab!"

"Dokter harus bertindak!"
"Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya hanya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!"

"Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa kemari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati!"

"Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha!"
"Makanya, kau harus berusaha terus, Dokter!"
"Berusaha bagaimana lagi?"
"Panggil! Kejar sekarang!"
"Kejar ke mana?"

"Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasti bisa disusul!"

"Disusul?"
"Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar!"
Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.

"Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor!"

"Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!"

Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa, dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang.

Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.

Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun.

Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu.
"Bagaimana?"
"Tenang!"
"Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!"
"Saya sudah berusaha."
"Dan hasilnya?"
"Lumayan."

"Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak?"

"Berhasil."
Mereka tercengang.
"Jadi dia hidup lagi?"
"Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?"
"Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia kemari!"

"Saya sudah mencoba."
"Terus hasilnya?"
"Itu," kata saya menunjuk pada mayat.

Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.

"Ayo!"
Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.
"Jadi dia hidup lagi?"
Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa.

"Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?"
"Dan mengapa bau?"
"Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur."
"Tidur?"
"Ya. Tidur untuk selamanya."
"Apa?!!!!"
"Tapi dia meninggalkan pesan."
"Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!"
Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji.

"Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali. Puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja!"

Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya.

Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari puskesmas untuk dikuburkan.

Saya sama sekali tidak ingin mengatakan bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kacamata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami.

Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kata sayalah yang paling benar.

Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap.

Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya.

Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah telanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan.

Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut.

Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu, kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke puskesmas, minta agar saya mengobatinya.

Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orang-orang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi "orang bodoh" untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.

Pada suatu malam, datang di puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuh. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman puskesmas

"Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas," kata putra kepala suku. "Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa kemari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!"

Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar puskesmas dengan senjata-senjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan.

Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu.

Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu, akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya.

Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpura-pura jadi dukun agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.

Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajuritnya yang berang itu menatap saya.

"Berhasil, Dokter?"
Tubuh saya gemetar.
"Jangan kecewakan kami, Dokter!"
Saya tidak berani menjawab.

"Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!"

"Saya paham itu."
"Kalau begitu hidupkan lagi Bapa."
"Saya sudah berusaha."
"Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil!"
"Tapi ?"

"Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada?"
"Ya, itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!"

"Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?"

"Apa?"
"Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang, Dokter!"
"Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin."
"Tapi, kau dokter kan?!"
"Betul."

"Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa Bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo, Dokter!"

Saya tidak sanggup menjawab.
"Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?"
"Tidak."
"Kalau begitu, hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong, Dokter!"
"Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas."
Anak kepala suku itu kaget.
"Maksud Dokter, Bapaku mati?"

Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kecewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencincang apa saja yang ada di puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.

Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil.

Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapapun berengseknya. .

"Diam!!!!" teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek.
Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi. Itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf.

"Jangan tembak!!!"
Dengan gemetar saya tunjukkan itu bukan pistol. Itu hanya tiang bendera yang copot.
Anak kepala suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalu entah dari mana datangnya keberanian, saya berbisik.
"Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati!"

Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah.

Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya.

"Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!" serunya.
Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita.
Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.

Sejak itu, bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalaupun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. Saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. ***

(Jawa Pos, 16 Desember 2007)

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook