Tuesday, July 31, 2012

Pasir Retak Afrizal Malna

Pasir Retak 

Cerpen Afrisal Malna 

HUJAN turun di atas api. Suara api dan suara hujan bercampur seperti suara sungai dengan alirannya yang deras. Keduanya menjadi nyanyian cinta menjelang senja. 

Hujan tak tahu kenapa api membuat warna merah jingga yang panas, api juga tak tahu kenapa hujan dipanggil hujan setiap ia turun, seperti mahluk terbuat dari air yang turun dari langit. Mereka berdua, hujan dan api itu, mengatakan: biarlah angin terus berjalan dari kota ke kota, mengantar gunung dan laut kepadamu, mengantar langit dan tanah kepadamu, mengantar bisik-bisik dari dalam sejarah lebih dekat lagi dengan telingamu. Keduanya menolak tentang berita yang disiarkan beberapa pemancar TV, bahwa telah turun “hujan api” di sebuah kota. 

Kami adalah hujan dan api, bukan hujan-api. 

Basa-basi itu, antara hujan dan api, mereka katakan itu setiap pagi hanya untuk merayu agar angin mengunjungi pintu-pintu rumah yang masih tertutup di pagi hari. Kadang, angin itu, menempelkan selembar daun di daun pintu rumah yang masih tertutup. Dan mengatakan, aku tidak pernah memikirkan bagaimana waktu menghitung dirinya setiap saat, dan sedikit kecelakaan yang kadang-kadang terjadi. Kami adalah hujan dan api untuk sejarahmu yang disimpan oleh angin. 
***
Pagi itu langit berwarna biru. Hanya biru. Tak ada awan. Seperti lengkungan dari bundaran bola yang rata. Mirip kubah biru mengapung di atas kabut. Angin, yang merajut daun-daun dengan dahannya, rumah dengan tanah tempatnya berdiri, laut dengan ombaknya, gunung dengan jurang dan tebing-tebingnya, tidak berhembus. Semua yang dilihat tampak kaku, gambar-gambar yang tak bergerak, alam dan kehidupan hadir seperti tempelan-tempelan potret dalam sebuah bola. 

Di Semarang, dalam sebuah bangunan tua yang dibuat akhir abad 19, seorang perempuan sedang melahirkan. Bangunan dengan tiang-tiang tinggi, tembok-tembok besar, teras yang juga besar ini, kini sudah berubah menjadi kantor sebuah bank. Bangunan dengan arsitektur kolonial ini banyak tersebar di kota yang sangat dekat dengan kaki-kaki air. Setiap hujan datang atau laut pasang, banjir akan menggenanginya. Di lingkungan luarnya, bayangan bukit-bukit dan gunung, berdiri seperti candi-candi alam yang dihasilkan oleh proses geologi waktu yang panjang dan terus-menerus. 

Perempuan yang melahirkan itu datang dari keluarga petani yang tinggal di sebuah desa di Bromo, Jawa Timur. Perempuan itu tidak tahu kenapa ia memilih kota Semarang untuk melahirkan bayinya. Ia hanya memenuhi dorongan dari dalam dirinya untuk pergi ke semarang, dan melahirkan bayinya di bangunan tua yang kini sudah menjadi kantor bank itu. 

Seluruh pegawai bank panik melihat seorang perempuan tiba-tiba melahirkan. Perempuan itu tidak mungkin dibawa ke rumah sakit karena begitu saja ia melahirkan di kursi tempat nasabah bank menunggu antrian. Kaki perempuan itu mengangkang. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya menggigit telapak tangannya hingga berdarah saat mengeluarkan bayinya dari rahimnya. 

Ketika bayi itu lahir, melewati vagina ibunya, ia seperti keluar melewati hujan dan api. Suara sungai dengan alirannya yang deras dan suara cinta menjelang senja. Lalu angin kembali berhembus. Bayi itu seorang perempuan dan diberi nama Kembang Kertas. Ibunya tak tahu kenapa nama ini tiba-tiba saja muncul dalam benaknya dan menjadi nama untuk bayinya. 

Kelahiran itu mengejutkan seluruh pegawai dan nasabah bank karena bayi itu tidak berwajah. Mukanya rata, tetapi tampak anggun dan indah. Mulutnya terletak pada pusarnya, telinganya ada di bahunya. Seluruh bagian tubuhnya bisa bernapas dan mencium berbagai bau di sekitarnya. Dokter-dokter yang datang tidak bisa mengatakan bahwa bayi itu cacat karena seluruh indranya berfungsi dengan baik, hanya letaknya berubah. Tubuh manusia seperti mengalami revolusi melalui kelahiran Kembang Kertas. 

Ibunya kembali membawa Kembang Kertas ke desanya, di Bromo. Suaminya hanya seorang lelaki desa sederhana, yang kadang mencari tambahan uang dengan menyewakan kuda kepada turis, mengantar turis mengelilingi padang pasir dari kawah Bromo. 

Kembang Kertas tumbuh dengan dunianya sendiri. Ia sensitif untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Ia bisa duduk berlama-lama hanya menghadap tembok di rumahnya. Kadang selama 8 jam ia hanya duduk menghadap ke tembok. Dan orang tidak pernah ada yang tahu, apa yang sedang dilihatnya, karena kedua matanya ada di telapak tangannya. Wajahnya yang rata membuatnya hidup seperti memakai topeng yang selalu menutupinya. 

Ia tidak mau sekolah. Setiap diajak ke sekolah ia menjerit-jerit seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan baginya. Semua yang dilihatnya seakan-akan bukan kenyataan yang sebenarnya. Kedua matanya yang terletak di telapak tangannya, dan selalu mengeluarkan suara seperti suara mekanik dari kamera yang sedang merekam, bisa melihat dua kenyataan sekaligus: kenyataan yang terlihat dan kenyataan yang tersembunyi. 

Kembang Kertas memang tidak mau sekolah. Tapi tidak ada yang tahu kalau setiap hari ia selalu belajar bahasa rahasia melalui kenyataan tersembunyi yang dilihatnya. Kabut, katanya, aku bukanlah timbunan air yang pergi dari botol-botol minumanmu. Pohon, katanya, aku tidak mengerti bagaimana caranya menyintaimu. Sejarah, katanya, aku tidak mempunyai obat untuk menyembuhkan lukamu. Cinta, katanya, aku selalu heran apakah ada hati yang terbuat dari sebuah pagi yang baru saja meninggalkan malam. 

Semua seperti hadir dalam pasangan yang tidak semestinya. Pasangan yang selalu dibuat berbeda. Tetapi keduanya terajut kembali menghasilkan pakaian baru, dan pakaian itu akan menjadi doa dan cinta bagi yang mengenakannya. 

Setiap menonton TV bersama ibu dan ayahnya, di rumah mereka seperti sedang terjadi sebuah ritual, karena Kembang Kertas menonton TV lewat kedua telapak tangannya. Kedua telapak tangannya akan terangkat ke atas seperti orang menyembah, menyusuri layar monitor TV. Setiap menonton siaran berita, Kembang Kertas akan mengatakan: bukan dia pembunuhnya… bukan dia pelaku korupsi itu… istri anggota DPR itu memiliki banyak pacar… di dalam rumah itu ada banyak senjata dan uang … bukan dia yang meledakkan hotel itu. 

Kembang Kertas bisa menunjukkan dengan tepat siapa pelaku sesungguhnya dari banyak siaran berita peristiwa kriminal, politik, dan berita-berita lainnya di TV. Kemampuan Kembang Kertas seperti itu membuat ibu dan ayahnya takut. Kemampuan yang berbahaya. Kemampuan yang bisa membuat kekacauan baru. Kemampuan yang membuat kedua orang tua Kembang Kertas heran, apa itu manusia apa itu hidup apa itu semua yang dijalaninya? Dan kedua orang tua kembang kertas berusaha menyembunyikan kemampuan Kembang Kertas seperti itu dari dunia luar. 
*** 
Hujan turun di atas api. Percikan-percikan air dan api memisahkan diri dari hujan dan api, bertebaran di udara. Yang satu seperti kumpulan titik-titik bening yang bergerak memencar, satunya lagi seperti kumpulan titik-titik merah menyilaukan. Percikan-percikan air dan api itu membuat kembangnya sendiri, seperti tahun baru yang dirayakan oleh para pertapa di puncak gunung. 

Kembang air dan kembang api menari-nari, saling memecah dan membelah diri, lalu bersatu kembali menjadi nyanyian cinta di akhir malam. Mereka berdua melukis waktu seperti daun-daun yang tumbuh menutupi seluruh daun dan batangnya sendiri. Setiap pagi menjelang, pohon yang seluruh dirinya telah tertutup daun itu, menyambut matahari lewat warna hijaunya yang terbuka. Tanah, mungkin bisa berubah kembali menjadi besi atau buah pepaya, tetapi tidak mungkin berubah menjadi sebuah hotel, katanya. Laut, mungkin bisa berubah menjadi balok es atau ikan-ikan, tetapi tidak mungkin berubah menjadi sebuah TV, katanya. 
*** 
Di Batu Sangkar, Sumatra Barat, sebuah kota dengan suasana Minang lama, kejadian yang sama terulang. Sebuah bangunan dengan arsitektur kolonial, yang kini sudah berubah jadi bangunan untuk sekolah, tiba-tiba kedatangan seorang perempuan yang akan melahirkan. Perempuan itu datang dari sebuah keluarga sederhana yang hidup dari berdagang pakaian di Medan. 

Murid-murid dan guru-guru di sekolah itu panik melihat perempuan itu melahirkan. Kakinya mengangkang. Ia tidak mengeluarkan suara ketika melahirkan. Tetapi darah dari lidahnya menetes. Perempuan itu menahan rasa sakit dengan menggigit lidahnya sendiri. Seorang bayi perempuan kemudian lahir melalui vagina ibunya seperti melahirkan tarian-tarian kembang air dan kembang api. 

Bayi perempuan tidak berwajah itu, wajahnya rata seperti dinding ember plastik, mirip dengan bayi yang lahir di Semarang. Bayi itu juga diberi nama Kembang Kertas oleh ibunya. 

Bayi itu tumbuh bersama butiran-butiran waktu yang membesarkannya. Setiap saat, waktu melayani dan menyusuinya, karena air susu ibunya sendiri kering. Kembang Kertas minum susu dari air susu waktu, setiap ia merasa haus. Jiwa dan tubuhnya sangat sensitif. Ia tumbuh seperti seonggok daging yang berjalan tanpa tulang. 

Ketika Kembang Kertas mulai mengenali kehidupan sosial, bahwa setiap orang memiliki nama, ia melihat manusia seperti omong kosong yang cerewet. Ia merasa bahasa lebih banyak melukainya daripada membantunya berkomunikasi. Beberapa kata, seperti menyimpan luka dan pisau sekaligus. Kembang Kertas kemudian lebih banyak sendiri. Waktunya lebih banyak dihabiskan dengan mencuci. Setiap hari ia mencuci apa pun yang kotor, dari pakaian kotor, cucian kotor, sampai dengan membersihkan genteng-genteng yang berjamur. 

Pagi itu langit berwarna biru. Hanya biru. Tak ada awan. Seperti lengkungan dari bundaran bola yang rata. Mirip kubah biru mengapung di atas kabut. Angin, yang merajut daun-daun dengan dahannya, rumah dengan tanah tempatnya berdiri, laut dengan ombaknya, gunung dengan jurang dan tebing-tebingnya, tidak berhembus. Semua yang dilihat tampak kaku, gambar-gambar yang tak bergerak, alam dan kehidupan hadir seperti tempelan-tempelan potret dalam sebuah bola. 

Lalu Kembang Kertas mulai menggerakkan tangannya di atas permukaan air, di bak mandi kamar mandi rumahnya. Air beriak dan bergerak. Halus dan sangat halus. Tempelan-tempelan potret itu pun mulai bergerak. Dalam bak mandi itu, Kembang Kertas seperti bisa melihat seluruh sejarah yang pernah terjadi. Tentang armada laut yang bergerak dari Maluku, membawa rempah-rempah, berlayar memasuki gerbang Malaka, kehidupan di Sriwijaya, Majapahit atau Singosari. Kerajaan Pajajaran dan Mataram. 

Orang-orang yang terus belajar bersama waktu, kemudian menjelma menjadi air setelah mereka mati. Waktu bergerak seperti seekor gajah yang menanam pohon beringin di mana-mana. Dan pada saat yang sama, orang-orang membunuh gajah itu dan membunuhnya, dan menebangi pohon-pohon beringin itu setelah tumbuh besar. Kami membunuhi gajah-gajah dan menebangi pohon-pohon agar keluarga kami bisa hidup, katanya. 

Kembang Kertas membaca banyak sejarah yang telah ditulis, tidak sama dengan sejarah yang disaksikan dalam air bak kamar mandinya. Ia bisa melacak seluruh jejak sejarah, seperti memasuki rekaman video yang dibuat oleh air mata dan buih-buih ombak. Matahari tropis membuat warna sejarah itu tampak lebih kekuning-kuningan dan berdebu. 

Hari mungkin telah malam, mungkin telah pagi, mungkin akan menjelang siang, katanya, sayang sekali jam di tanganku bukanlah hitung-hitungan bulan dan matahari. Orang tua Kembang Kertas di Medan, cemas, karena anaknya bisa berbahasa Jawa, bahasa Aran, China dan Sansakerta. Padahal tidak pernah ada yang mengajarinya bahasa-bahasa itu. Ketika ia berusia 9 tahun, Kembang Kertas juga bisa berbahasa Belanda, Rusia, Jerman dan Inggris. Dan tak ada seorang pun yang pernah mengajarinya bahasa-bahasa itu. 

Kembang Kertas, tubuhnya, menjadi sarang sejarah dan bahasa-bahasa. Ia semakin takut untuk bertemu dengan orang lain. Ia terus mencuci sepanjang hari. Hingga suatu hari ia bertemu dengan sebuah sungai. Sungai itu begitu bening, mengalir seperti sungai kata-kata. Sungai yang mengalirkan banyak bahasa dan sejarah pada batang tubuhnya. Bahasa dan sejarah menjadi begitu bening dilihatnya, mengalir dalam sungai itu. 

Ikan-ikan menggunakan berbagai bahasa itu untuk bernyanyi dalam sungai itu. Batu menggunakan berbagai warna dari sejarah dalam sungai itu. Pasir di sungai, hidup dalam buaian musik gamelan yang terus berbunyi di dasarnya. Seniman-seniman menjadi gila untuk mewarnai kehidupan. 

Sungai itu begitu menggoda perhatian Kembang Kertas. Kembang Kertas mulai merasakan tubuhnya seperti air yang sedang beriak, menetes, merembes ke dalam tanah di pingggir sungai itu. Air terus menetes dari tubunhnya dan terus merembes ke dalam tanah di pingggir sungai itu. Waktu juga seperti ikut menetes, langit ikut menetes, pohon-pohon ikut menetes, sungai ikut menetes. 

Setelah itu, orang tidak pernah melihat Kembang Kertas. Keluarganya telah mencarinya ke mana-mana. Tetapi Kembang Kertas seperti telah sirna begitu saja. Tetapi, setiap orang menangkap ikan di sungai itu, ikan itu menetes dan menjadi air di telapak tangan mereka. 

Di Yogyakarta… di Bandung… di Makassar… di Denpasar… di Cirebon… di Palembang… di Solo… Jakarta… juga di Amsterdam, Tokyo dan di New York, lahir bayi perempuan yang sama, tanpa wajah. Mereka semua lahir dalam sebuah bangunan dengan arsitektur kolonial. 

Mereka semua bernama Kembang Kertas. (*) 

Sumber: Jawa Pos 20 mei 2012

Friday, July 27, 2012

Belajar Sastra

Untuk Apa Kita Belajar Sastra?

Karya sastra adalah karya seni yang berbicara tentang masalah hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan  dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Esten, 1980). Sejalan dengan hal tersebut, Rusyana, (1982) menyatakan, bahwa “sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam pengungkapan penghayatannya tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan dengan menggunakan bahasa.” 

Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik makna bahwa karya sastra adalah karya seni, mediumnya (alat penyampainya) adalah bahasa, isinya adalah tentang manusia, bahasannya adalah tentang hidup dan kehidupan, tentang manusia dan kemanusiaan. 

Lalu, untuk apa kita perlu mempelajari sastra? Untuk apa kita berlajar sastra? Apa hasil dari pembelajarn sastra? Mengapa belajar bahasa Indonesia sekaligus juga harus belajar sastra Indonesia?

Dalam konteks ini, Oemarjati,(1992) menyatakan bahwa  “pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya (lebih ) tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menum-buhkan, dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilian – baik dalam konteks individual, maupun sosial.”Pembelajaran sastra tidak dapat dipisahkan dengan pembelajaran bahasa. Namun, pembelajaran sastra tidaklah dapat disamakan dengan pembelajaran bahasa. Perbedaan hakiki keduanya terletak pada tujuan akhirnya. 

Dengan demikian, pembelajaran sastra sangatlah diperlukan. Hal itu bukan saja ada hubungan dengan konsep atau pengertian sastra, tetapi juga ada kaitan dengan tujuan akhir dari pembelajaran sastra. Dewasa ini sama-sama dirasakan, kepekaan manusia terhadap peristiwa-peristiwa di sekitar semakin tipis, kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi semakin berkurang. Apakah ada celah alternatif melalui pembelajaran sastra untuk mengobati kekurangpekaan itu?

Inilah barangkali yang perlu menjadi bahan renungan sebagai dasar untuk mempersiapkan pembelajaran sastra di kelas. Pembelajaran sastra adalah pembelajaran apresiasi. Menurut Efendi dkk. (1998), “Apreasisi adalah kegiatan mengakrabi karya sastra secara sungguh-sungguh. Di dalam mengakrabi tersebut terjadi proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, penikmatan, dan setelah itu penerapan.” 

Pengenalan terhadap karya sastra dapat dilakukan melalui membaca, mendengar, dan menonton. Hal itu tentu dilakukan secara bersungguh-sungguh. Kesungguhan dalam kegiatan tersebut akan bermuara kepada pengenalan secar bertahap dan akhirnta sampai ke tingkat pemahaman. Pemahaman terhadap karya sastra yang dibaca, didengar, atau ditonton akan mengantarkan peserta didik ke tingkat penghayatan. Indikator yang dapat dilihat setelah menghayati karya sastra adalah jika bacaan, dengaran, atau tontonan sedi ia akan ikut sedih, jika gembira ia ikut gembira, begitu seterusnya. Hal itu terjadi seolah-olah ia melihat, mendengar, dan merasakan dari yang dibacanya. Ia benar-benar terlibat dengan karya sastra yang digeluti atau diakrabinya.

Setelah menghayati karya sastra, peserta didik akan masuk ke wilayah penikmatan. Pada fase ini ia telah mampu merasakan secara mendalam berbagai keindahan yang didapatkannya di dalam karya sastra. Perasaan itu akan membantunya menemukan nilai-nilai tentang manusia dan kemanusiaan, tentang hidup dan kehidupan yang diungkapkan di dalam karya itu. 

Menurut Rusyana (1984:322), “kemampuan mengalami pengalaman pengarang yang tertuang di dalam karyanya dapat menimbulkan rasa nikmat pada pembaca.” Selanjutnya dikatakan, “Kenikmatan itu timbul karena: (1) merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain; (2) bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan lebih baik; (3) menikmati sesuatu demi sesuatu itu sendiri, yaitu kenikatan estetis.” Fase terakhir dalam pembelajaran sastra adalan penerapan. Penerapan merupakan ujung dari penikmatan. Oleh karena peserta didik merasakan kenikmatan pengalaman pengarang melalui karyanya, ia mencoba menerapkan nilia-nilai yang ia hayati dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan itu akan menimbulkan 
perubahan perilaku. Itulah yang diungkapkan oleh Oemarjati (1992), “Dengan sastra mencerdaskan siswa: Memperkaya Pengalaman dan Pengetahuan.”

Jadi, mari kita berlajar dan mengapresiasi sastra.***

Tuesday, July 24, 2012

Sastra dan BUKAN Sastra

Sastra: Antara Khayali, Nilai Seni, Bahasa yang Khas, Imajinatif dan non-Imajinatif


Seringkali kita bingung mendefinisikan apa itu sastra. Pun kita kesusahan menggolongkan teks yang kita baca itu sastra atau bukan. Referensi berikut ini, mungkin bisa membantu Anda membedakan teks SASTRA dan BUKAN SASTRA.

Menuru Sumardjo dan Saini (1986:13), “Ada tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya-karya (tulis) lain yang bukan sastra, yaitu sifat khayali (fictionality), adanya nilai-nilai seni (esthetic values), dan adanya cara penggunaan bahasa yang khas (special use of language).”

Sifat khayali karya sastra merupakan akibat dari kenyataan bahwa sastra dicipta dengan daya khayal. Walaupun sastra hendak berbicara tentang kenyataan dan masalah kehidupan yang nyata, karya sastra terlebih dahulu menciptakan dunia khayali sebagai latar belakang tempat kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah itu dapat direnungkan dan dihayati oleh oleh pembaca.

Melalui dunia khayal pembaca dapat menghayati kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah di dalam bentuk kongkretnya, dan yang tersentuh oleh masalah-masalah itu bukan hanya pikirannya saja, akan tetapi juga perasaan dan khayalannya. Dengan demikian pembaca dapat menjawab (merespon) kenyataan atau masalah dengan seluruh kepribadainnya. Respon seperti itu berbeda dengan yang diberikan pembaca kepada karya-karya yang bukan sastra seperti karya ilmiah atau filsafat.

Adanya nilai-nilai seni (estetik) bukan saja merupakan persyaratan yang membedakan karya sastra dari yang bukan sastra. Melalui nilai-nilai seni (estetis) itu sastrawan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan sejelas-jelasnya, sedalam-dalamnya, sejelas-jelasnya. Nilai-nilai seni itu adalah keutuhan (unity) atau kesatuan dalam keragaman (unity in variety), keseimbangan (balance), keselarasan (harmony), dan tekanan yang tepat (righ emphasis).

Penggunaan bahasa secara khusus sangat jelas tampak pada karya-karya puisi. Walaupun begitu, sebenarnya di dalam novel dan drama pun penggunaan bahasa seperti itu dilkukan para sastrawan dengan sadar dan seksama. Para sastrawan berusaha agar melalui pengolahan terhadap bahasa akan meningkatkan daya ungkap dan sekaligus keindahan bahasa itu. Baris-baris dalam bukan saja diusahakan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan penyairnya, tetapi menjadi daya tarik pula melalui keindahan irama dan bunyinya.

Bahasa dalam sebuah novel diolah begitu rupa, sehingga dengan beberapa kalimat saja sastrawan dapat menggambarkan dengan jelas dan menarik suatu peristiwa. Demikian pula halnya dalam bahasa dan drama. Ucapan seorang tokoh yang tampaknya sederhana dan alamiah kalau diperiksa dengan seksama ternyata berbeda dengan ucapan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan tokoh dalam drama sekaligus mengungkapkan pikiran dan perasaan tokoh itu dan suasana serta keadaan di mana tokoh itu berada.

Sumarjo dan Saini (1986) menggolongkan sastra menjadi dua kelompok, yakni sastra imajinatif dan sasta non-imajinatif. Sastra imajinatif terdiri dari dua genre (jenis) yakni prosa dan puisi. Prosa terdiri dari fiksi dan drama. Fiksi meliputi novel, cerita pendek, dan novelet. Drama meliputi drama prosa dan drama puisi. Tampilan drama tersebut meliputi komedi, tragedy, melodrama, dan tragic komedi. Puisi meliputi puisi epic, lirik, dan dramatik. Sedangkan sastra non-imajinatif terdiri dari esai, kritik, biografi, otobiografi, sejarah, memoir, catatan harian, dan surat-surat. Perbedaan antara sastra imajinatif dengan sastra non-imajinatif dapat dilihat di bawah ini.

Sastra Non-imajinatif
  1. Memenuhi estetika seni (unity, balance, harmony, dan right emphasis)
  2. Cenderung mengemukakan fakta
  3. Bahasa cenderung denotative (makna tunggal)

Sastra Imajinatif
  1. Memenuhi estetika seni (unity, balance, harmony, dan right emphasis)
  2. Cenderung khayali
  3. Bahasa cenderung konotatif (makna ganda)
Nah, apakah persoalan semakin jelas? Atau justru semakin bingung? Sastra kok jadi teknis begini? Jika ini terjadi pada Anda, tentulah Anda perlu mempelajari referensi yang lain. Selamat mencari apa itu SASTRA dan BUKAN SASTRA***


Saturday, July 21, 2012

Kabut Neraka Danarto

KABUT NERAKA
Cerpen Danarto 

TUBUH-TUBUH dilumatkan, rumah-rumah dikunyah-kunyah. Pasar-pasar dihancurkan, masjid yang indah diledakkan. Apa saja yang tegak di atas tanah harus dilumatkan dari penciuman bumi, dari arang kehidupan, demi wajah dan kemenangan. Permusuhan antara Sunni lawan Syiah semakin membara ketika tiba-tiba di Baghdad, Irak, muncul kabut hitam pekat yang besar sekali, diam tak bergerak, mengambang di udara. Golongan Sunni menganggap kabut hitam itu rekayasa Syiah untuk mengacaukan situasi, sedang golongan Syiah menuduh Sunni menciptakan kabut hitam untuk menggagalkan upaya perdamaian. Sementara itu tentara-tentara Amerika menyebut kabut hitam raksasa itu sebagai “Kabut Neraka”. 

Mereka, serdadu-serdadu Amerika, menjadikan Kabut Neraka sebagai hiburan. Hiburan baru yang mengasyikkan. Mereka berjingkrak-jingkrak sambil mengacung-acungkan lembaran uang, mendendangkan lagu-lagu rock favoritnya sambil berteriak-teriak, “Poverty is their kitchens. Held hostage by oil-for-food”, serta menembak-nembakkan senapan ke arah kabut uring-uringan. Dalam situasi kesetanan yang penuh tanda tanya, miris, keheranan, juga ketegangan karena pernah seorang tentara Amerika memasuki kabut itu dan tak pernah keluar lagi. Dalam keadaan ketakutan dan penasaran, tentara yang lain berlari kencang menerobos ke dalam kabut itu… ditelan… juga tak pernah keluar lagi. 

*** 

Tentara-tentara yang lain dengan humpee yang dikebut menerabas ke dalam kabut itu. Lagi-lagi kendaraan roda empat dengan empat orang tentara penumpangnya tak pernah nongol kembali untuk selama-lamanya. Hanya dalam waktu beberapa hari, Kabut Neraka, nama yang sexy, yang diberikan tentara paling muda dari Ohio, Long John Potomosth namanya, yang suka membanyol, menjadi gelanggang taruhan yang spektakuler. Para prajurit bertaruh dengan uang untuk siapa saja yang berani memasuki kabut itu dan keluar kembali dengan selamat. Sudah sebelas orang tentara menghambur ke dalamnya dan lenyap. Sebuah arena pertempuran baru yang sangat menantang, yang sangat mengasyikkan, dan sangat menakutkan. Akhirnya hari-hari peperangan yang sebenarnya sudah tidak menarik lagi. Bom-bom bunuh diri menjadi berita yang dilupakan.

Wartawan-wartawan dari dalam dan luar negeri tumplek-blek di kawasan kabut itu. Mereka membangun tenda-tenda mengelilingi kabut itu. Para jurnalis dengan bersemangat melaporkannya ke surat kabar, majalah, dan kantor-kantor berita yang menugasinya. Termasuk berita-berita tentang kegilaan tentara-tentara Amerika yang kesetanan bagai kena sihir kabut itu. Rupanya tentara-tentara Amerika malah berjumpalitan dibilang kesurupan oleh kabut itu, bahkan ada yang minta dituliskan dengan kata-kata yang lebih kejam lagi. Para redaktur akhirnya menuduh para wartawannya tidak lebih waras. 

Sejumlah ulama Sunni dan Syiah dari berbagai negeri berdatangan menyaksikan betapa kabut itu mengerikan bagai dikirim dari neraka jahanam. Para ulama menyatakan bahwa kabut itu merupakan akumulasi penderitaan rakyat Irak yang lebih menyedihkan dari peperangan maupun pembantaian. Betapa kabut itu memiliki kekuatan yang besar untuk menggagalkan upaya-upaya perdamaian. Lalu kedua golongan ulama mengirim rekomendasi kepada PBB agar menaruh perhatian yang lebih besar lagi kepada keselamatan dan kesejahteraan rakyat Irak. Juga negara-negara Barat diminta dengan sungguh-sungguh menyelamatkan Irak supaya tidak menjadi negara gagal. 

Ketika komandan menyaksikan pertandingan itu, komandan yang bertanggung jawab atas keselamatan bala tentaranya akhirnya melarang permainan judi dan menutup gelanggang tersebut. Komandan mengisolasi kabut hitam pekat itu dengan memagarinya dengan kawat listrik dan dijaga ketat tiap sisi-sisinya agar tentara-tentara tidak nekat lagi terjun ke dalam Kabut Neraka. Sudah sebanyak 150 batang lebih kendaraan rongsokan, tank, helikopter, jip, panser, mobil, humpee, didorong masuk ke dalamnya dan dicoba dikait kembali dengan pengungkit, namun sia-sia, semuanya lenyap. 

Para ulama kedua golongan kemudian menggelar doa bersama memohon dibukakan pintu gerbang pengetahuan tentang benda yang musykil itu. Begitu juga para pakar dari Pentagon dan badan-badan riset nasional tentara koalisi dari berbagai negara turun tangan melakukan investigasi terhadap gejala yang aneh dan menarik itu. Foto-foto Kabut Neraka kemudian beredar di seluruh dunia dan menjadi topik perbincangan di acara-acara televisi, radio, maupun diskusi-diskusi terbuka oleh para ahli maupun anak-anak muda yang selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Berminggu-minggu sampai berbulan-bulan para ulama dan para ahli yang menetap di Baghdad menyelidikinya tetapi tidak mendapatkan jawaban.
*** 
Kawasan Kabut Neraka di kemudian hari menjadi kawasan wisata bagi para wisdom (wisatawan domestik) dan wisman (wisatawan mancanegara) yang cukup memiliki keberanian untuk tidak ambil peduli terhadap kancah peperangan yang setiap saat bergolak. Di kemudian hari tidak ada yang bisa dilihat di kawasan itu kecuali pagar yang menjulang tinggi untuk menutup kabut hitam pekat itu. Termasuk anak-anak yang mencoba mengintip-intip yang tentu saja diusir oleh para penjaga karena kawat yang memagari itu dialiri listrik. Mengingat kawasan itu berbahaya, lalu komandan kawasan itu menutupnya untuk umum. 

Namun demikian, tangan-tangan jail yang ingin hiburan, meledakkan pagar kawat listrik yang mengelilingi kabut itu sehingga hancur berantakan dan tampaklah lagi kabut dengan perkasa mengambang di udara. Para prajurit Amerika bersorak kegirangan sambil menembak-nembakkan senapannya. Acara perjudian pun dimulai lagi dan komandan hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenyataannya, suasana menjadi meriah kembali. Kabut Neraka memang menakutkan tapi juga menyenangkan. Dua sisi karakter kabut itu begitu memesona yang tak berbanding oleh keajaiban apa pun yang tergelar di dunia dewasa ini. 
*** 
Bermula dari anak-anak kecil yang bermain bola terkesiap menatap kabut kental yang tiba-tiba saja muncul di atas kepala mereka. Seorang anak Irak yang punya sahabat seorang tentara Amerika memberi tahu tentang kabut aneh itu. Si tentara Amerika mendatangi dan menatap dengan terbengong-bengong kabut hitam itu. 

Ia mendekati kabut tetapi langkahnya terhenti ketika tiba-tiba sebatang tank meloncat menabrak kabut dan ditelan ke dalamnya. Serta-merta tentara itu menghardik anak-anak supaya menjauh dari kabut. Sebatang helikopter yang lain meloncat menabrak kabut dan lenyap pula ke dalamnya. Semua ternganga-nganga. 

Beberapa anak menangis sambil berlari menjauh. Tak lama kemudian beberapa orang tua, laki-laki dan perempuan, gadis-gadis, berdatangan ke tempat kabut itu. Seorang ibu menangis meneriakkan, “Allahu Akbar!” lalu terduduk seperti tersihir menatap kabut itu dengan tajam. 

Ketika terjadi revolusi sosial di Yaman, Mesir, Libya, Tunisia, Siria, kabut itu masih dengan tenang mengambang di udara Irak yang kemudian menarik kedatangan Raja Abdullah dari Yordania dan Presiden Ahmadinejad dari Iran. Lalu disusul kedatangan Alwi Shihab, penasihat Presiden Yudhoyono; dan Muhammad Said Agil Shiradj, ketua umum PB NU; Gus Mus, seorang sufi seniman; Yenny Wahid dari Wahid Institute; Nurul Arifin dari Golkar; Siti Musdah Mulia, seorang sufi perempuan reformis; Ahmad Syafii Maarif yang disanjung sebagai Bapak Bangsa; serta Habib Lutfi, seorang ulama sufi Indonesia yang memiliki pengikut sekian juta; juga sejumlah ulama sufi dari berbagai negeri. (*) 

Kota Tangerang Selatan, 29 Juni 2012 
Sumber: Jawa Pos, 8 Juli 2012

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook