Thursday, August 30, 2012

Cerpen tentang Otak yang Hilang

OTAK YANG HILANG

Cerpen Eka Maryono


SEORANG laki-laki tiba-tiba masuk ke kantor polisi.

“Lapor, Pak, otak saya hilang.”

“Hah? Jangan bercanda, Saudara!”

“Sungguh, Pak, otak saya hilang!”

Kok bisa-bisanya otak Saudara hilang? Saudara jangan main-mainah!”

“Sumpah, Pak! Pasti dicuri maling sewaktu saya tidur. Lihat nih kalau bapak nggak percaya.” Lelaki itu menunjukkan kawat yang mencuat di ubun-ubun kepala.

“Apa itu?”

“Tadi saya menyuruh sopir mengebor kepala saya. Bapak lihat sendiri kan, kalau otak saya ada, mana mungkin kawat ini bisa begininih.” Lelaki itu mengaduk-aduk lubang bekas bor di kepalanya dengan kawat.
Begitulah, ketika bangun tidur di suatu pagi, tokoh kita ini—seorang anggota dewan yang terhormat—terkejut saat menyadari otaknya hilang. Padahal sudah 42 tahun otak itu tersimpan rapi dalam batok kepalanya, dan selama ini aman-aman saja. Entah bagaimana dia bisa hidup tanpa otaknya. Yang jelas, beberapa jam kemudian, tokoh kita sudah berada di ruang praktek dokter spesialis bedah otak di sebuah rumah sakit terkenal.

“Aneh ya, aneh, benar-benar aneh.” Dokter sibuk membolak-balik hasil foto rontgen. “Hilang ke mana ya otak Anda?”

“Aduh, Pak Dokter kok malah nanya ke saya?”

“Oh ya, ya, maaf. Ini kasus aneh. Baru pertama kali terjadi di dunia medis ada otak manusia bisa hilang ketika tidur.” Dokter kembali membolak-balik foto rontgen di tangannya, entah sedang mencari apa, mungkin dia berharap otak pasiennya jatuh dari dalam foto rontgen itu.
“Begini, saya akan konsultasi dulu dengan rekan-rekan yang lain. Kebetulan sore ini ada arisan dokter ahli bedah otak. Saya akan diskusikan masalah ini di sana. Pasti ada jawaban logis untuk penyakit Anda, itu pasti, saya janji.”

Hanya begitu saja, lagi-lagi tokoh kita merasa kecewa. Bahkan dokter pun tak sanggup menjelaskan kenapa otaknya bisa hilang. Tokoh kita benar-benar bingung. Kalau benar otaknya dicuri maling, kenapa bukan barang-barang berharga saja yang dicuri? Memangnya otaknya laku dijual? Atau jangan-jangan mau dijadikan campuran gulai kambing? Hiii! Dia merinding membayangkan otaknya direbus dalam kuah berbumbu.

Sepanjang yang bisa diingatnya—karena sebagian ingatannya ikut hilang bersama otaknya—otak yang hilang itu memang jarang digunakan. Setiap pagi ketika bangun tidur, sarapan sudah terhidang di atas meja. Mau mandi, handuk sudah disiapkan. Habis mandi, jas, dasi dan sepatu pun tersedia. Mau masuk dan keluar mobil saja, pintu dibukakan sopir. Di kantor pun dia lebih banyak duduk santai di ruang kerja karena semua tugas sudah dikerjakan oleh sekretaris dan staf ahli. Dia tak perlu memikirkan apa-apa lagi karena orang lain sudah memikirkannya lebih dulu.

“Saya yakin, otak saya tersinggung karena jarang saya pakai. Akibatnya dia marah dan kabur ketika saya tidur,” katanya kepada seorang psikiater yang kebetulan lokasi prakteknya berseberangan dengan rumah sakit tadi.

Ahli kedokteran jiwa itu, seorang wanita muda berparas cantik, membenahi kacamatanya. Sejujurnya dia gusar dengan pernyataan tokoh kita. Soal analisa penyebab larinya si otak adalah pekerjaannya, bukan tugas pasien untuk mencari tahu. Namun sang psikiater agak malu juga untuk menunjukkan ketidaksenangannya. Dia baru beberapa bulan membuka praktek, dan dirinya yang masih hijau memang harus sedikit bersabar menghadapi pasien yang datang dengan keluhan luar biasa ini.

“Pada otak manusia terdapat lapisan tipis berwarna abu-abu yang disebut cerebral cortex,” sang psikiater menunjuk lembaran kertas berisi gambar otak manusia yang tertempel di dinding ruang praktek, “Nah, di lapisan korteks ini terdapat berbagai macam pusat saraf yang mengendalikan ingatan, perhatian, persepsi, pertimbangan, bahasa dan kesadaran.”

Tokoh kita yang terhormat bersemangat mendengar penjelasan tersebut. Sepertinya si psikiater tahu banyak tentang seluk beluk otak manusia.

“Kerusakan pada area cortex berhubungan dengan kurangnya empati, respon yang buruk pada ketakutan dan penderitaan, atau kurangnya emosi kesadaran diri seperti rasa bersalah dan rasa malu. Apa akhir-akhir ini Bapak sering merasa bersalah atau merasa malu?”

Tokoh kita tersentak. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, sejak lama otaknya hanya dipakai untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Studi banding ke luar negeri, makan siang dengan sekretaris cantik, tatap muka dengan tokoh-tokoh kelas atas, fitness, main golf, berenang, berkuda di puncak, pokoknya apa sajalah asal jangan disuruh mikir yang berat-berat. Dan jika ada keluhan ini itu dari masyarakat, tokoh kita langsung mengistirahatkan otaknya. Tapi sebagai manusia yang masih memiliki nurani, terkadang dia malu juga pada diri sendiri.

“Ya, saya memang sering merasa bersalah, juga malu kalau tidak sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tapi saya yakin bukan itu masalahnya. Otak saya marah karena jarang saya pakai, makanya dia pergi. Sayang sekali. Seharusnya dia bicara dulu baik-baik, bilang apa maunya, pasti saya turuti. Kalau tiba-tibangambek dan langsung pergi, saya juga akhirnya yang susah.”

Psikiater itu mencermati tiap perubahan ekspresi di wajah tokoh kita sembari menafsirkan kata demi kata yang didengarnya. Setelah hampir satu jam mengerahkan segenap kemampuan yang dia dapat di bangku kuliah dan hasil membaca ratusan buku-buku ilmu jiwa, akhirnya sampailah sang psikiater muda pada sebuah kesimpulan. Begini hasil analisanya:

“Saya rasa Anda mengalami skizofrenia, sebuah gangguan pada perilaku, pikiran, emosi dan persepsi. Skizofrenia merupakan sindrom klinis yang paling membingungkan. Penderitanya bisa merasa ketakutan, rendah diri, atau sebaliknya berada dalam posisi superior yang mengancam orang lain.”

“Maksud Anda saya gila? Keterlaluan! Saya tidak gila!” Tokoh kita tiba-tiba berdiri, membuat gugup psikiater yang belum berpengalaman itu.

“Benar-benar menyebalkan! Seharian ini saya menghabiskan waktu meminta bantuan pada orang-orang yang tidak memahami akar persoalan. Otak saya hilang! Sekarang saya ingin tahu kenapa dan ke mana otak saya pergi! Saya ingin otak saya kembali! Titik!”
***
Didera rasa kesal dan putus asa, tokoh kita akhirnya membuat sayembara. Hadiah besar akan diberikan bagi siapa saja yang dapat mengembalikan otaknya. Maka berduyun-duyunlah orang datang ke rumahnya.

“Ini pak otaknya, kebetulan barusan nemu di jalan.”

“Kecil banget, ada-ada saja, ini sih otak ayam. Pergi sana!”

“Ini pak, otak yang besar, pas sama ukuran kepala bapak.”

Hmmm, kok ada lengket-lengketnya? Warna kuning ini apa? Bau gulai kambing? Ini otak embek ya? Kurang ajar!”

“Yang ini asli otak manusia lho pak. Boleh dicoba dulu, kalo cocok baru bayar.”

Hiii, otak siapa ini? Kok baunya busuk? Ada belatungnya! Baru digali dari kuburan ya? Hiii!”

***
Sampai berbulan-bulan kemudian, ribuan orang datang silih berganti, dari dalam maupun luar kota, bahkan ada yang datang dari luar negeri. Tapi keberadaan otak tokoh kita tetap misterius. Akibatnya tokoh kita benar-benar putus asa. Akhirnya dia memasang iklan di berbagai surat kabar. Isinya permohonan maaf. Dia mengaku khilaf karena tidak maksimal menggunakan otaknya. Dia memohon, benar-benar memohon, jika otaknya membaca iklan tersebut, sudilah kiranya sang otak mau kembali masuk ke dalam kepalanya.

Tentu saja kelakuan tokoh kita mengundang beragam reaksi dari masyarakat. Banyak orang merasa prihatin, namun lebih banyak lagi yang menganggap musibah tersebut sebagai hukum karma. Tak ketinggalan rekan-rekan sejawat tokoh kita ikut pula memberi komentar. Nyinyir-nyinyir komentarnya.

“Itu kan salahnya sendiri karena dia jarang memakai otaknya. Kalau saya sih selalu mencurahkan pikiran dan tenaga demi menyalurkan aspirasi masyarakat,” kilah seorang anggota dewan dengan mimik bangga dalam sebuah tayangan televisi.

“Saya rasa kejadian ini cuma rekayasa, biasalah… buat pengalihan isu,” kata seorang anggota dewan yang lain. “Mana mungkin sih otak bisa hilang begitu saja, kecuali kalau sejak lahirnya dia memang tidak punya otak. Atau jangan-jangan dia korban cuci otak aliran sesat?”

Sungguh kasihan … tokoh kita jadi frustasi mendengar semua komentar itu. Politik memang jahat. Politik tak mengenal sahabat. Politik hanya mengenal peluang dan tak punya belas kasihan. Tidak ada penghargaan bagi manusia tak berotak seperti dirinya. Tanpa otak, derajatnya sebagai manusia turun sampai ke titik nol.

Tokoh kita terpaksa menjalani sisa hidup dengan rasa malu, juga rasa takut. Kepergian otak tersayang bisa menginspirasi bagian-bagian tubuhnya yang lain untuk ikut pergi. Jadi tokoh kita mulai mewaspadai mata, telinga, dan lidahnya sendiri, Ketiga pancaindra itu juga tak pernah optimal dia gunakan, maka bukan mustahil ketiganya akan ikut kabur atau hilang dicuri orang.

Selama ini, matanya memang senang menyaksikan keindahan dunia, tapi enggan melihat rakyat yang sedang menderita. Telinganya suka mendengar musik-musik indah, obrolan segar, cekikikan perempuan di atas ranjang, tapi malas mendengar jerit tangis manusia. Lidahnya sering mengucapkan segudang janji indah pada masyarakat, tapi janji-janji itu jarang dia tepati.

Tokoh kita juga menjadi sangat berhati-hati pada semua orang. Dia curiga mereka ingin mencuri mata, telinga dan lidahnya. Mungkin mereka ingin membalas dendam dengan cara seperti itu. Maka ketika dia merasa orang-orang mulai melirik mata, telinga dan lidahnya, dia langsung menjerit seperti orang kerasukan.
***
Seorang anggota dewan yang hendak masuk ke mobil dicegat oleh puluhan wartawan di pelataran gedung parlemen.

“Kemarin rekan Anda dibawa ke rumah sakit jiwa, komentar Anda bagaimana?”

Ah, itu cuma rekayasa, seperti pernah saya bilang… buat pengalihan isu.”

”Anda masih tidak percaya kalau otak rekan Anda benar-benar hilang?”

Ah, ini kan konspirasi intelijen tingkat tinggi.”

“Tapi faktanya otak itu benar-benar hilang. Menurut Anda, hilang dicuri atau kabur sendiri?”

Wah, itu saya nggak tahu, tanya sendiri dong ke otaknya.”

“Katanya siang ini Anda hendak mengunjungi masyarakat miskin di luar kota?”

“Ya, ya, betul itu. Sudah ya, jadwal kerja saya padat sekali nih.”

Si anggota dewan buru-buru masuk ke dalam mobil. Beberapa ratus meter mobil berjalan, sang senator sudah asyik bertelepon ria dengan seseorang.

“Iya, Sayang, tunggu sebentar ya abang sedang dalam perjalanan ke sana. Daaah sayaaaang. Kebut dikit, Mat. Dah terlambat nih.”

“Ke tempat biasa, Pak?”

“Ya iyalah, pake nanya segala.”

Anggota dewan kita melirik arloji emasnya, kemudian dengan nyaman menyandarkan kepala di jok mobil. Lagu instrumentalia yang dipasang Mamat ditambah sejuk AC mobil membuat suasana makin terasa nyaman. Reda sudah cenat-cenut yang tadi sempat dia rasa gara-gara harus memutar otak untuk menjawab pertanyaan wartawan. Sekarang kepalanya terasa ringan, benar-benar ringan, seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam sana. (*)

Sumber:  Republika, 8 Juli 2012

Sunday, August 26, 2012

Novel Surapati karya Abdoel Muis

Sinopsis Novel Surapati 

Pada tahun 1680 di Kota Jakarta dikisahkan seorang saudagar Belanda bernama Edeler Moor mempunyai budak belian yang tidak menentu asal usulnya. Ada orang yang mengatakan ia berasal dari Bali dan ada pula yang mengatakan ia keturunan Makasar. Budak ini bernama Si Untung. Karena bergaul dengan akrabnya, maka sesudah remaja Si Untung saling bercinta dengan Suzane putri tunggal tuannya. 

Untung bergaul dengan akrab dengan seorang kyai yang anti perbudakkan dan memusuhi kompeni, Kyai Embun namanya. Kyai inilah yang kemudian menikahkan Untung dengan Suzane secara diam-diam. Karena semakin lama kandungan Suzane semakin membesar akhirnya perkawinan mereka pun diketahui oleh Edeler Moor. Menghadapi kenyataan tentu saja Edeler Moor menjadi murka dan ia tidak lagi mempercayai Untung yang telah ia anggap sebagai keluarganya. Peristiwa ini diadukan Edeler Moor kepada kompeni. Untung dan Kyai Embun akhirnya dipenjarakan sedangkan Suzane diasingkan ke Makasar.

Di Penjara Untung dan Kyai Embun berkenalan dengan Wirayuda. Lalu mereka bersepakat untuk mengadakan pemberontakan di penjara, kemudian melarikan diri. Dengan mendapat dukungan dari kawannya Untung memimpin pemberontakan dan mereka berhasil melarikan diri ke hutan-hutan. Di tempat itu mereka menyusun pasukan dan kemudian terkenal sebagai pemberontak yang paling ditakuti oleh kompeni. 

Di dalam pelariannya, pasukan Untung kedatangan pasukan kompeni yang dipimpin oleh Kapten Ruys yang mendapat perintah untuk mencari Pangeran Purbaya, karena ada kabar tersiar bahwa musuh kompeni itu telah suka berdamai. Anehnya pasukan itu tidak menyerang Untung malah mereka mengajak untuk berbicara. Ternyata Kapten Ruys cerdik memanfaatkan kemampuannya untuk mencari Pangeran Purbaya sekaligus ia memasang perangkap untuk menjebak Untung. Untung yang mengetahui jebakan ini mengadakan perjanjian setelah mempertimbangkannya. Ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan apabila berhasil menemukan Pangeran Purbaya, kesalahannya akan diampuni kompeni. 

Pangeran Purbaya adalah anak kedua dari Sultan Agung Tirtayasa penguasa Banten. Ia bersama ayahandanya memerangi Sultan Haji yang memberontak dan dibantu oleh kompeni. Ketika perlawanannya semakin terdesak dan ayahnya tertangkap lalu kemudian Sultan Haji menjadi penguasa Banten, Pangeran Purbaya melarikan diri ke tempat persembunyiannya di kaki Gunung Gede.Di tempat inilah Untung, Kyai Embun dan Wirayuda bertemu dengan Pangeran Purbaya. 

Pada prinsipnya Pangeran Purbaya menyetujui untuk dibawa Untung untuk menyerahkan diri pada kompeni. Karena ia percaya pada Untung yang berbudi halus dan kesatria. Keputusan ini disambut dengan baik oleh istri pertamanya. Sedangkan Raden Gusik Kusumah putri Pangeran Mangkubumi Nerangkusuma dari Mataram yang menjadi istri kedua menolak untuk menyerah dan ia minta untuk bercerai. 

Untung tidak jadi membawa Pangeran Purbaya ke Jakarta, karena tiba-tiba tempat persembunyiannya diserbu oleh pasukan kompeni di bawah pimpinan Kopral Kuffeler. Lalu pertempuran pun terjadi. Untung dan pasukannya dapat mengalahkan pasukan Belanda. Kemudian pergi ke Cirebon untuk meminta perlindungan kepada Sultan Cirebon. Di Cirebon ia diterima dengan baik karena Sultan Cirebon masih pamannya Raden Gusik. Dan setelah terlebih dahulu difitnah oleh anak angkat Sultan, Untung diberi gelar Surapati oleh Sultan Cirebon. Mengingat keamanan Sultan Cirebon menyarankan supaya Untung Surapati pergi ke Mataram untuk meminta perlindungan pada Sultan Amangkurat II. 

Karena telah bercerai dengan Pangeran Purbaya, sejak perjalanan dari Gunung Gede sampai ke Cirebon, Raden Gusik terus menerus mengikuti kemana Untung pergi dan tali percintaan diantara mereka terjadi. 

Setelah membantu Amangkurat II memadamkan pemberontakan Bupati Banyuwangi yag lalim pada waktu itu, sebagai hadiah diberikannya daerah Pasuruan untuk dipimpin dan Untung bergelar Raden Temanggung Wironegoro. 

Waktu terus berjalan dari tahun ke tahun, Untung Surapati dapat memimpin Pasuruan dengan aman dan subur. Dari perkawinannya dngan Raden Gusik dikaruniai tiga orng putra. Sedangkan Kerajaan Mataram, tampuk pimpinannya sudah beralih pada putra mahkota yaitu Amangkurat III yang disebut Raden Mas. Karena raja ini tercela perangainya ia banyak mendapat musuh. Dan tak lama kemudian terjadi pemberontakan di Mataram di bawah pimpina Raden Puger yang bergelar Paku Buwono. Akhirnya Amangkurat III jatuh singgahsananya dan ia meminta perlindungan pada Untung Surapati. Dan kompeni memaklumkan perang dengan Untung Surapati. 

Untuk menyelidiki situasi di Pasuruan, kompeni mengirimkan seorang tentara berpangkat kopral yang memiliki wajah indo bernama Robert untuk dijadikan mata-mata. Tetapi malang Robert ditangkap di Pasuruan dan diketahui bahwa ia adalah anak dari perkawinan Untung dengan Suzane. Lewat Robert didapatka informasi bahwa Suzane telah meninggal dua puluh tahun yang lalu dan Robert diasuh oleh Van Rijnsaudagar di Amsterdam sebelum ia masuk kompeni. Oleh Untung Surapati, Robert diminta untuk tinggal di Pasuruan tetapi ia menolak dan ia lebih senang menjadi orang Belanda daripada orang Jawa. Untung Surapati mengalah akhirnya. Biarpun mendapat bantuan dari Pangeran Jayengrono Bupati Surabaya yang berpura-pura memihak pada kompeni akhirnya dalam pertempuran di Bangil Untung, Kyai Embun, dan Wirayuda tewas oleh serangan kompeni yang dipimpin oleh Mayor Govert Knol. Setelah ayahnya meninggal, Robert keluar dari kerajaan Pasuruan untuk menempuh hidupnya secara tersendiri.Sedangkan perlawanan menghadapi tentara kompeni dilanjutkan oleh ketiga anak Untung lainnya. Tamatlah riwayat hidup Untung yang bergelar Raden Temanggung Wironegoro sebagai budak belian yang berhasil menjadi raja yang berwibawa dan ditakuti yang kemudian mengangkat senjata melawan kompeni.

Monday, August 20, 2012

Memahami Prinsip-Prinsip Kritik Sastra

Sekilas Kritik Sastra
Resensi sastra Eva Dwi Kurniawan


Mempelajari sastra meliputi tiga hal, teori, sejarah dan kritik. Tanpa ketiga unsur tersebut, mustahil kita bisa memahami sastra dengan lebih sempurna. Atau hanya mempelajari keduanya: teori dan sejarah, teori dan kritik, atau sejarah dan kritik, tidak akan pernah bisa sempurna apresisi kita dalam memahami sastra. 

Teori sastra berfungsi sebagai modal awal dalam mengkaji sastra. Tanpa modal dasar ini, kita kan mengalami kesulitan untuk mengkaji karya sastra. Tidak lain karena dalam teori sastra, kita bisa mengetahui seluk beluk dan latar belakang permasalahan yang mendasar dalam karya sastra. Semisal tentang penyelidikan hal yang berhubungan dengan apakah sastra itu, apakah hakekat sastra, dasar-dasar sastra, membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan teori dalam bidang sastra, bermacam-macam gaya, teori komposisi sastra, jenis-jenis sastra, (genre), teori penilaian dan sebagainya (hal:9). Dan juga pendekatan-pendekatan sastra yang digunakan untuk menilai karya sastra. Itu semua bisa didapatkan dalam teori sastra.

Sejarah sastra pun demikian. Kita tidak bisa membuat penilai karya sastra, misal novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli sebagai karya satra yang buruk karena penggunaan bahasa yang berlebihan. Itu tidak tepat. Sebab, jika kita mengetahui sejarah kesusateraan, maka karya Marah Rusli tersebutlah yang sangat baik. Karena memang, dalam periode Balai Putaka, penggunaan gaya bahasa yang demikain itulah yang terbaik. Sebab itu, pemahaman terhadap sejarah sastra perlu mendapat porsi yang lebih kurang sama dengan pemahaman terhadap teori dan kritik sastra. Sejarah sastra bertugas menyususn perkembangan sastra dari mulai timbulnya hingga perkembangannya yang terakhir (hal:9). 

Lalu apa fungsi kritik? Pradopo mengatakan bahwa kepentingan kritik sastra bagi masyarakat pada umumnya untuk penerangan (hal:2). Maksudnya adalah bahwa sebuah karya sastra tidak akan bisa dimaknai secara utuh dalam satu kesatuan jika tidak dikaji lebih dalam. Untuk mengkaji ini diperlukan seorang kritikus sastra, yaitu sebagai pemberi penjelasan terhadap karya sastra yang ada. Baik teori, sejarah, maupun kritik saling bantu membantu. Ketiga disiplin ilmu tersebut tidak bisa berdiri sendiri.

Dalam buku ini dijelaskan tentang kritik sastra. Baik pendefinisiannya, fungsinya dan peran yang saling kait mengkait dengan sejarah dan teori sastra. Langkah-langkah dalam melakukan kritik sastra pun dijelaskan dalam buku ini. Selain memberikan referensi tentang kritik sastra Indonesia modern, buku ini juga menghadirkan beberapa profil kritikus sastra Indonesia Modern. Diantaranya adalah H.B. Jassin, Amal Hamzah, Ajip Rosidi, J.U. Nasution, Junus Amir Hamzah, Boen S. Oemarjati, dan M.S Hutagalung. Meskipun profil kritikus ssatra Indonesia modern yang dihadirkan begitu singkat, tetapi bisa membuat referensi pembaca tentang dunia kritik ssatra Indonesia modern lebih banyak.

Sayangnya penjelasan yang diberikan banyak pengulangan terhadap penjelasan yang diberikan. Sebab itulah penjelasan yang teramat jelas ini malah terkadang menimbulkan kejemuan bagi pemula yang ingin belajar kritik sastra. Tapi bagaimanapun, buku ini sangat layak untuk dikonsumsi bagi penggemar, terutama bagi akademisi sastra.


Thursday, August 16, 2012

Cerpen Kabut Ibu

Kabut Ibu
Cerpen Mashdar Zainal 

DARI kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.

Awalnya, orang-orang mengira bahwa rumah kami tengah sesak dilalap api. Tapi kian waktu mereka kian bosan membicarakannya. Karena mereka tak pernah melihat api sepercik pun menjilati rumah kami. Yang mereka lihat hanya asap tebal yang bergulung-gulung. Kabut. Pada akhirnya, mereka hanya akan saling berbisik, “Begitulah rumah pengikut setan, rumah tanpa Tuhan, rumah itu pasti sudah dikutuk.”
***
Peristiwa itu terjadi berpuluh-puluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu. Sayup-sayup, di ruang depan ayah tengah berbincang dengan beberapa orang. Entah apa yang mereka perbincangkan, namun sepertinya mereka serius sekali. Desing golok yang disarungkan pun terdengar tajam. Bahkan beberapa kali mereka meneriakkan nama Tuhan.

Beberapa saat kemudian ayah mendatangi kami yang tengah gemetaran di kamar belakang. Ayah meminta kami untuk segera pergi lewat pintu belakang. Ayah meminta kami untuk pergi ke rumah Abah (bapak dari Ayah) yang terletak di kota kecamatan, yang jaraknya tidak terlampau jauh.

Masih lekat dalam kepalaku, malam itu ibu menuntunku terburu-buru melewati jalan pematang yang licin. Cahaya bulan yang redup malam itu cukup menjadi lentera kami dari laknatnya malam. Beberapa kali aku terpeleset, kakiku menancap dalam kubang lumpur sawah yang becek dan dingin, hingga ibu terpaksa menggendongku. Sesampainya di rumah abah. Ibu mengetuk pintu terburu-buru, dan melemparkan diri di tikar rami. Napasnya tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Abah mengambilkan segelas air putih untuk ibu, sebelum mengajakku tidur di kamarnya.

Malam itu, abah menutup pintu rapat-rapat dan berbaring di sebelahku. Sementara, di luar riuh oleh teriakkan-teriakkan, suara kentongan, juga desing senjata api sesekali. Abah menyuruhku untuk segera memejamkan mata.

Subuh paginya, ketika suara adzan terdengar bergetar, abah memanggil-manggil nama ibu sambil menelanjangi seluruh bilik. Abah panik karena ibu sudah tidak ada lagi di kamarnya.

Selepas dhuha, abah mengantarku pulang dengan kereta untanya. Ibumu pasti sudah pulang duluan, begitu kata abah. Sesampainya di depan rumah, tiba-tiba abah menutup kedua mataku dengan telapak tangannya yang bau tembakau. Dari sela-sela jari abah aku bisa menilik kaca jendela dan pintu yang hancur berantakan, terdapat bercak merah di antara dinding dan teras. Warna merah yang teramat pekat, seperti darah yang mengering. Buru-buru abah memutar haluan, membawaku pulang kembali ke rumahnya. Dari kejauhan aku melihat lalu lalang orang di depan rumah kami yang kian mengecil dalam pandanganku. Orang-orang itu tampak terlunta-lunta mengangkat karung keranda.

“Mengapa kita tak jadi pulang, Bah?” tanyaku.

“Rumahmu masih kotor, biar dibersihkan dulu,” abah tersengal-sengal mengayuh kereta untanya.
“Kotor kenapa, Bah?”

Abah terdiam beberapa jenak, “Ya… kotor, mungkin semalam banjir.”

“Banjir? Kan semalam tidak hujan, Bah. Banjir apa?”

“Ya banjir….”

“Banjir darah ya, Bah, kok warnanya merah….”

“Hus!”
***
Berselang jam, pada hari yang sama, abah memintaku untuk tinggal sebentar di rumah. Aku tak boleh membuka pintu ataupun keluar rumah sebelum abah datang.

“Jangan ke mana-mana, Abah mau bantu-bantu membersihkan rumahmu dulu, sekalian jemput ibumu.”
Aku tak tahu apa yang tengah terjadi di luar sana, tapi hawa mencekam itu sampai kini masih membekas. Selagi abah pergi, aku hanya bisa mengintip keadaan di luar dari celah-celah dinding papan. Di luar sepi sekali. Sangat sepi. Kampung ini seperti kampung mati. Lama sekali abah tak kunjung datang. Jauh selepas ashar, baru kudengar decit rem kereta untanya di depan rumah. Aku mengempaskan napas lega. Menyogsong abah.

Abah tertatih merangkul ibu. Ibu yang hanya terdiam lunglai seperti boneka. Matanya kosong tanpa kedipan. Rambutnya acak-acakan, tak karuan. Guritan matanya lebam menghitam.

Ketika kutanya abah, ada apa dengan ibu? Abah hanya menjawab singkat, bahwa ibu sedang sakit. Lalu aku bertanya lagi pada abah, ayah mana? Dan abah tidak menjawab. Namun, beberapa waktu kemudian, dengan sangat perlahan, abah mulai menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya akan didatangi kematian—lantaran mereka pernah hidup. Maka serta-merta aku paham dengan warna merah yang menggenang di teras rumah tadi pagi. Saat itu aku tak bisa menangis. Namun, dadaku sesak menahan ngeri.
***
Semenjak hari yang merah itulah, ibu tak pernah sudi keluar kamar, apalagi keluar rumah. Ketika ibu kami paksa untuk menghirup udara luar, ia akan menjerit dan meronta tak karuan. Pada akhirnya, aku dan abah hanya bisa pasrah. Tampaknya ada sesuatu yang rusak dalam kepala ibu. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ibu seperti sudah tak peduli lagi pada dunia. Sepanjang hari pekerjaanya hanya diam, sesekali menggedor-gedor meja dan lemari, menghantam-hantamkan bantal ke dinding dan terdiam lagi.

Ibu memang benar-benar sakit. Makan dan minum, harus kami yang mengantarkan ke kamarnya. Mandi pun harus kami yang menuntunnya. Berganti pakaian, menyisir rambut, melipat selimut, semua aku dan abah yang melakukannya. Hanya satu hal yang kami tidak mengerti: kamar ibu selalu berkabut.

Lelah sudah kami mengusir kabut-kabut itu dari sana. Kabut yang selalu muncul tiba-tiba. Kabut yang selalu mengepul. Setelah kami menutup kembali pintu dan jendela, mengepul lagi dan lagi. Setelah kami tilik dengan saksama, baru kami menyadari sesuatu, bahwa kabut itu bersumber dari mata ibu. Sejauh ingatanku ibu tak pernah menitiskan air mata. Namun dari matanya selalu mengepul kabut tebal yang tak pernah kami pahami muasalnya. Mungkinkah kabut itu berasal dari air mata yang menguap lantaran tertahan bertahun-tahun lamanya. Entahlah.
***
Pada akhirnya, bagi kami, kabut ibu menjadi hal yang biasa. Kami hanya butuh membuka pintu dan jendela lebar-lebar untuk memecah kabut itu. Namun begitulah, semenjak kami menyadari keberadaan kabut itu, ibu tak lagi sudi membukakan pintu kamarnya untuk kami. Makanan dan minuman kami selipkan melewati jendela kaca luar. Namun sepertinya ia tak lagi peduli dengan makanan, beberapa kali kami menemukan makanan yang kami selipkan membusuk di tempat yang sama. Tak tersentuh sama sekali. Ketika kami memanggil-manggil nama ibu, tak ada sahutan sama sekali dari dalam, kecuali kepulan kabut yang memudar dan pecah di depan mata kami.

Sementara, kian waktu, kamar itu kian buram oleh kabut yang terus mengental. Kami tak bisa melihat jelas ke dalamnya. Hingga suatu ketika, aku dan abah berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar ibu. Kami benar-benar berniat melakukan itu. Kami benar-benar khawatir dengan keadaan ibu. Linggis dan congkel kami siapkan. Beberapa kali kami melemparkan hantaman. Pintu itu bergeming. Kami terus menghantamnya, mencongkelnya, mendobraknya… hingga pintu itu benar-benar rebah berdebam di tanah.

Aku dan abah mengibaskan kabut itu pelan-pelan. Membuka jendela lebar-lebar. Perlahan kami mendapati kabut itu memudar dan pecah. Beberapa saat kemudian kabut itu benar-benar lenyap. Namun kamar ibu menjadi sangat senyap. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada ranjang yang membatu, juga bantal selimut yang tertata rapi. Kami tidak melihat ibu di sana. Aneh, kami juga tidak melihat ibu berkelebat atau berlari keluar kamar. Yang kami saksikan dalam bilik itu hanya kabut yang kian menipis dan hilang.

Kami masih belum yakin ibu hilang. Berhari-hari kami mencari ibu sampai ke kantor kecamatan. Kami juga menyebarkan berita kehilangan sampai kantor polisi. Waktu melaju, berbilang pekan dan bulan, namun ibu tak juga kami temukan. Hingga keganjilan itu muncul dari kamar ibu. Kabut itu. Kabut itu masih terus mengepul dari kamar ibu, entah dari mana muasalnya. Lambat laun kami berani menyimpulkan, bahwa ibu tidak benar-benar hilang. Ibu masih ada di rumah ini, di kamarnya. Kabut itu, kabut itu buktinya. Kabut itu adalah kabut ibu. Kabut yang tak pernah ada kikisnya.
***
Akhirnya, aku dan abah memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kamar ibu. Membiarkan kabut itu terus melata. Berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar 
mandi, hingga merebak ke teras depan.

Kami tak perlu lagi memedulikan ocehan orang-orang yang mengatakan bahwa rumah kami adalah rumah setan, rumah tak bertuhan, rumah yang menanggung kutukan. Karena, kami yakin, tak lama lagi, kabut itu pun akan menelan rumah kami, sebagaimana ia menelan ibu. (*)


Ketika Kabut, Malang, 11-11-11
Sumber: Kompas, 8 Juli 2012

Sunday, August 12, 2012

Mengenal Fiksi Mini

FIKSI MINI: MENYULING CERITA, MENYULING DUNIA

Agus Noor

For sale: baby shoes, never worn.
Ernest Hemingway


Saya menyebutnya fiksi mini. Itulah bentuk fiksi mini yang saya himpun dalam antara lain dalam "Anjing & Fiksi Mini Lainnya" atau “35 Cerita untuk Seorang Wanita” (Jawa Pos, 1 November 2009). Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh “keluasan dan kedalaman kisah”. Kutipan di awal tulisan, merupakan karya penulis dunia, Hemingway, adalah salah satu contoh “novel terbaik dunia”, yang ditulis hanya dengan beberapa patah kata. Karya itu, ditulis di tahun 1920, karna Hemingway bertaruh dengan rekannya: bahwa ia mampu nenulis novel lengkap dan hebat hanya dengan enam kata. Dan penulis Amerika itu menyatakan: itulah karya terbaiknya.

Tapi, bila kita mau melihat bentuk-bentuk karya sastra yang sudah ada, fiksi mini sesungguhnya punya jejak sejarah yang panjang. Artinya, tidak dimulai di tahun 1920, ketika Hemingway menulsikan fiksi mininya itu. Kita ingat fabel-fabel pendek yang ditulis Aesop (620-560 SM), adalah sebuah “kisah mini” yang penuh suspensdalam kependekannya. Kita bisa melihat pula kisah-kisah sufi dari Timur tengah, yang turunannyapopuler sampai sekarang dalam bentuk anekdot-anekdot semacam Narsuddin Hoja atau Abunawas. Kisan-kisan kebajikan zen di Tiongkok, yang bahkan seringkali lebih menggungah ketimbang cerita panjang yang bertele-tele.

Di Perancis, fiksi mini dikenal dengan nama nouvelles. Orang Jepang menyebut kisah-kisah mungil itu dengan nama “cerita setelapak tangan”, karena cerita itu akan cukup bila dituliskan di telepak tangan kita. Ada juga yang mneyebutnya sebagai “cerita kartu pos” (postcard fiction), karena cerita itu juga cukup bila ditulis dalam kartu pos. Di Amerika, ia juga sering disebut fiksi kilat (flash fiction), dan ada yang menyebutnya sebagai sudden fiction atau micro fiction. Bahkan, seperti diperkenalkan Sean Borgstrom, kita bisa menyebutnya sebagai nanofiction. Apa pun kita menyebutnya, saya pribadi lebih suka menamainya sebagai fiksi mini.

Ada yang mencoba memberi batasan fiksi mini itu melalui jumlah katanya. Misalkan, sebuah karya bisa disebut fiksi mini bila ia terbentuk dari tak lebih 50 kata. Ada yang lebih longgar lagi, sampai sekitar 100 kata. Dalam batasan seperti ini, maka kita akan menemukan bahwa banyak penulis dunia seperti Kawabata, Kafka, Chekov, O Henry, sampai Ray Bradbury, Italio Calvino dan yang paling mutakhir Julio Cortazar, menghasilkan fiksi mini yang dahsyat. Kedahsyatan itu terasa, betapa dalam kisah yang ditulis dengan “beberapa kalimat saja”, kita dibawa pada petualangan imajinatif yang luar biasa. Dan inilah, memang, yang membuat fiksi mini, terasa punya hulu ledak. Ia seperti bom kecil, yang ditanamkan ke kepala kita, dan ledakannya membuat otak kita berguncang. Ada gema panjang, yang bahkan terus menggoda dan tak mudah hilang, setelah kita membacanya dalam sekejap.

Sembari mengutip Cortazar, Hasif Amini pernah menyebut, bila novel adalah pertandingan tinju dua belas ronde, maka cerpen ibarat pertandingan tinju yang berakhir dengan KO atau TKO – mungkin di rondo ke empat atau ronde ke enam.. Maka, fiksi mini ibarat pukulan telak yang langsung membuat lawan terjengkang pada kesempatan pertama. Atau, bayangkanlah sebuah ruang tunggu, begitu Amini melukiskan. Novel ibarat kita tengah berbincang-bincang secara panjang dengan seseorang yang kita jumpai di ruang tunggu. Kita jadi merasa mengenal atau mengetahui keseluruhan kisah hidup orang itu. Cerpen menjadi seperti perbincangan singkat dengan seseorang di ruang tunggu, dan kita merasa “hanya” mengetahui satu bagian dari kisah hidup orang itu. Maka, fiksi mini, adalah seseorang yang tiba-tiba saja datang, lalu berkata sepatah dua patah kata, atau sekalimat, yang membuat kita terperangah. Dan orang itu, mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu? Begitu efek fiksi mini. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak.

Bila, saya disuruh menegaskan melalui jumlah kata, maka saya akan membatasi pada jumlah 50 kata itu, untuk sebuah karya bisa disebut fiksi mini. Tapi rumusannya adalah, ‘menceritakan sebuah kisah dengan seminim mungkin kata’. Maka, semakin sedikit jumlah kata itu, maka semakin berhasil fiksi mini itu. Tapi, tentu saja, bukan cuma jumlah kata itu yang membuat fiksi mini kuat. Dalam jumlah kata yang secuil itu, tetap harus membayangkan sebuah kisah panjang, atsmosfir kisah yang luas, bayangan karakter, ada konnflik dan suspens, atau mungkin teka-teki yang tak kunjung selesai. Semakin sedikit kata, tetapi semakin luas membentang kisah di dalamnya, dalam koridor itulah seorang pengarang ditantang untuk menghasilkan fiksi mini yang kuat.

Saya menyebutnya fiksi mini (bukan prosa mini), karena fiksi mini memang bisa juga berbentuk puisi. Tetapi, tentu saja, bila menyangku urusan kategorisasi, fiksi mini tetap harus memiliki elemen narataif atau penceritaan, untuk membedakannnya dengan “puisi pendek’ (misalnya). Karena kita tahu, ada bentuk-bentuk puisi yang sangat pendek, seperti haiku, tetapi barangkali tetap lebih nyaman bila disebut sebagai puisi pendek, bukan fiksi mini. Maka, dalam fiksi mini itu, elemen dasar penceritaan atau naratif (yang karenanya menjadi lebih dekat pada prosa) bisa ditemukan. Kita mengenal element penceritaan seperti penokohan (protagonis dan antagonis), konflik, obstacles atau juga complication dan resolution. Barangkali, pada fiksi mini, justru resolution itu yang dihindari, karena dalam fiksi mini, akhir (ending) menjadi semcam gema, yang terus dibiarkan tumbuh dalam imajinasi pembaca. Karakter menjadi kelebatan tokoh yang seperti kita kenal, tetapi tak mudahdipastikan, dan karenanya bergerak cepat. Itulah yang justru membuat kita penasaran.

Saya akan kutipkan satu contoh. Berikut ini adalah karya Joko Pinurbo, yang “resminya” oleh penulisnya sendiri, disebut puisi. Tapi, menurut saya, ia bisa disebut fiksi mini:

Penjahat Berdasi

Ia mati dicekik dasinya sendiri.

Dalam karya itu, kita menemukan bayangan tokoh, yakni “si penjahat berdasi”. Di sana suatu konflik yang membuat si tokoh itu akhirnya mati secara mengerikan: dicekik oleh dasinya sendiri. Perhatikan kata “dicekik” dan buka “tercekik”, misalnya. Dalam kata “dicekik” itulah, kita menemukan unsur plot arau alur: bagaimana suatu hari dasi itu berubah seperti tangan hitam dan kasar yan jengkel dan kemudian mencekik leher di tokoh itu”. Memilih kata yang tepat, efektif dan kuat secara imajinatif, menjadi kunci lain bagi proses penulisan fiksi mini.

Saya sengaja mengutip “fiksi mini” Joko Pinurbo itu, sekadar untuk memperlihatkan, betapa sesungguhnya, selama ini, fiksi mini, banyak digarap oleh penulis kita. Puisi-puisi yang menghadirkan dirinya menjadi semacam prosa, sebagaimana yang kerap ditulis oleh Joko Pinurbo (seperti Celana atau Tukang Cukur) atau juga oleh Sapardi Joko Damono (Perahu Kertas atau Mata Pisau). Dalam pengantar kumpulan prosanyaPengarang Telah Mati, Sapardi menegaskan kalau prosa-prosa pendek itu disebutnya “cerpen mini” karena ia memang menyebutnya prosa. Padahal, menurut saya, prosa-prosa pendek – atau fiksi mini dalam istilah saya – telah banyak ditulis Sapardi, seperti dalam sajak “Tuan”, meski ia menyebutnya puisi. Mari kita kutip sajak “Tuan” itu, dan saya tulis ulang dengan gaya prosa:

Tuan

“Tuan Tuhan, bukan?” Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

Tidak bisa tidak, itu adalah bentuk fiksi mini, meski penulisnya sendiri menyebutnya sebagai puisi. Barangkali, karena saat puisi itu ditulis, istilah fiksi mini belum terlalu ngetrend. Saat ini, ketika dunia semakin berkelebat, ketika waktu kian bisa dilipat-lipat begitu kecil dan praktis, ketika dunia seperti telepon genggam yang kita simpan dalam saku celana, segala yang sekilas seperti telah menjadi nafas kita sehari-hari, dan kita menjadi merasa penting segala macam hal yang mesti serba sekilas, selintas, gegas dan ringkas. Ketika intenet mulai mendominasi, maka fiksi mini menjadi trend yang menggoda dan digandrungi. Kecepatan dan keringkasan adalah ciri tulisan di internet. Barangkali, karena itulah, fiksi mini seperti menemukan habitatnya yang pas di laman internet. Kurnia Effendi, seorang penulis cerpen Indonesia, saat saya membacakan dan mendiskusikan fiksi mini di Warung Apresiasi Sastra Bulungan Jakarta, melihat problem terbesar fiksi mini ketika ia bersinggungan dengan media utama publikasi sastra kita, yakni koran. Fiksi mini menjadi mustahil muncul di koran, kata Effendi, karena “ruang koran menjadi teralu luas untuk bentuk fiksi mini. Maka saya mencoba mensiasatinya dengan cara “menghimpun sekian fiksi mini”, seperti dalam “35 Cerita buat Seorang Wanita” itu atau dalam “20 Keping Puzzle Cerita”. Pada dasarnya, itu adalah fiksi mini, yang tiap bagian kisahnya berdiri sendiri. Menghimpunnya hanyalah menjadi semacam strategi publikasi.

Ketika dunia makin pendek, pengarang pun ditantang untuk menyuling cerita. Menyuling cerita, begitulah pada dasarnya proses penulisan fiksi mini. Atau pengarang seperti ahli kimia yang mencoba menemukan atom cerita. Ia membuang dan mengurai detail yang kadaluarsa, yang hanya akan mengganggu dan mengotori kemurnian imajinasi. Ketika dunia sudah menjadi terlalu prosais, terlalu banyak kehebohan cerita yang sesungguhnya hanya gegap-gempita yang menyesatkan, yang terus menerus direproduksi hingga tak lebih menjadi kisah-kisah yang yang mekanis dan gampang kita duga, maka fiksi mini seperti sebuah jalan spiritual untuk menemukan semua esensi cerita. Menyuling cerita, menjadi pencarian spiritualitas cerita, sebagaimana tersirat dalam fiksi mini-fiksi mini seputar zen budisme. Barangkali, itulah “teologi fiksi mini”, yang membuatnya menjadi penting dan relevan untuk kita yang megam-megam dalam samudera cerita, dan kita justru terasing dari semua cerita yang direproduksinya.

Saya ingin menutup esai ini dengan satu fiksi mini saya,

Sebutir Debu

Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.

Jagat raya ini hanyanya sebutir debu. Begitulah jagat raya di mata Tuhan. Maka inilah akar teologis dari fiksi mini, bahwa Tuhan menyusun jagat raya ini sebagai pengarang yang telah menemukan esensi cerita. Jagat raya ini adalah fiksi mini yang telah berhasil ditulis oleh Tuhan dengab piawai.

Sekarang, pejamkanlah mata. Biarkan segala hirup pikuk cerita lenyap dari kepalamu, hingga yang tersisa adalah bentangan kesunyian imajinasi yang paling ultim, sublim. Itulah esensi cerita yang kini muncul dalam kemurnian imajinasimu. Tidakkah kau ingin terus-menerus menyuling dan menuliskannya?


Sumber: www.agusnoorfiles.wordpress.com, November 21, 2009

Novel Pujani Karya Walujati Supangat

Sinopsis Pujani 

Pujani, seorang wanita yang berhati lembut dan keibuan, memutuskan untuk hidup dalam ikatan perkawinan dengan seorang pelukis yang bernama Suratno. Keduanya saling mengasihi dan saling memperhatikan kepentingan lawan jenisnya. Hidup perkawinan seolah firdaus yang takkan pernah berubah. Tetapi ketika Pujani telah memberikan seorang anak perempuan dari rahimnya, hidup perkawinan mereka mulai menunjukkan gejala keretakan. Suratno merasa bahwa Pujani mulai lebih banyak memberikan waktunya buat anak mereka, Ismilah, daripada untuk dirinya. Sikap Suratno juga mulai acuh tak acuh terhadap istri dan anaknya. Pertengkaran-pertengkaran antara suami istri itu makin sering terjadi, keduanya saling menyalahkan. 

Suratno mencari hiburan dari kemelut rumah tangganya di sanggar perkumpulan para pelukis. Di sana pelukis Suratno bebas bergaul dengan calon-calon pelukis lelaki dan wanita. Pujani tidak tahan menyaksikan tingkah laku liar suaminya ini dan minta bercerai.

Setelah bercerai, orang tua Pujani meminta kepadanya agar hidup bersama mereka kembali di Surakarta. Tetepi Pujani menolak, karena ia mampu hidup sendiri dan membesarkan anaknya. Pujani menjadi guru di Bogor. Ibu Pujani yang sangat prihatin terhadap hidup perkawinan anaknya, telah lama menderita tekanan batin. Rupanya penolakan Pujani untuk hidup bersama orangtuanya makin memperberat penderitaan ibunya, sehingga mengakibatkan kematian ibunya. Karena merasa bersalah, maka Pujani akhirnya mematuhi permintaan keluarganya agar menemani ayahnya yang sepeninggal lstrinya dirawat kakak Pujani di Ciamis. Pada waktu menemui ayahnya inilah, anak Pujani sakit keras. Ayahnya menasehatkan untuk mengganti nama anaknya dari Ismilah menjadi Kustiati. Dan si anak sembuh. 

Ayah Pujani juga prihatin menyaksikan anak perempuannya itu. Ia berkali-kali mendesak kepada Pujani agar mau menikah lagi, sebab cukup banyak lelaki yang mau memperistrinya namun Pujani menolak. Akibat rasa bersalah yang tumbuh di batin Pujani karena tidak pernah mematuhi anjuran-anjuran orang tuanya, sehingaga ibunya malah meninggal, maka Pujani terserang TBC dan sakitnya semakin parah. Kemudian ia dibawa ke Bandung untuk dirawat. 

Sementara itu, Suratno menikah lagi dengan kawan sesama pelukis bernama Juita. Namun, watak Juita berbeda sekali dengan Pujani. Juita galak, berani melawan lelaki dan bebas. Hidup perkawinan Suratno diisi dengan banyak ketegangan yang seolah-olah Suratno dikekang oleh istri barunya. Pujani yang telah sembuh dari penyakitnya dan sebenarnya ia masih mencintai Suritno, akhirnya mengetahui kehidupan rumah tangga dari mantan suaminya, ia pun kembali kambuh penyakitnya dan mengakibatkan kematiaannya. Suratno akhirnya bercerai dari Juita karena pergaulan Juita yang semakin bebas dan ia menjauhkan diri dari pergaulan dengan kaum wanita. 

Suratno mengajar melukis pada sekelompok calon pelukis muda, diantaranya Kustiati seorang gadis belia. Suratno mulai tertarik pada Kustiati yang lantaran memiliki kemiripan dengan Pujani. Tetapi ada pemuda lain yang juga menaruh hati pada Kustiati bernama Sugondo. Hingga pada suatu saat, Kustiati meminta untuk melukis foto ibunya dan alangkah terkejutnya Suratno ketika ia melihat fotonya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pujani mantan istrinya. Suratno akhirnya memutuskan untuk menyerahkan Kustiati yang tak lain bernama Ismilah,anaknya itu, kepada Sugondo. Beberapa bulan kemudian Suratno meninggal dunia.

Tuesday, August 07, 2012

Pengantar Ilmu Sastra

Memahi Dasar-Dasar Sastra


Dalam buku ini, masalah teks sastra paling banyak mendapat perhatian dari penulisnya. Hal ini karena karya sastra merupakan karya seni yang bermediumkan bahasa. sedang bahasa sastra tulis tidak akan mungkin pernah terlepas dari teks. Maka tak mengherankan jika ketiga penulis memberikan perhatian yang lebih intens kepada masalah teks. Yang dimaksud dengan teks ialah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis, dan pragmatik merupakan suatu kesatuan (hal:86). Teks yang dikaji meliputi teks puisi, drama, dan naratif. 

Sebelum memasuki pembahasan tentang teks, pembaca dihadapkan pada masalah dasar tentang sastra. Bagaimanakah pandangan-pandangan para filsuf terhadap sastra pada era yunani kuno hingga pandangan masyarakat modern saat ini tentang ssatra. Kita dapat mengetahui alasan dari pendapat Plato yang menganggap bahwa sastrawan tidak akan lebih berguna dari tukang kayu menjadi tumbang oleh pendapat muridnya. Menurut Plato maka tukang-tukang yang membuat barang-barang lebih berguna daripada orang-orang yang hanya melukiskan barang-barang itu (hal:16). Dan lewat buku ini pula kita bisa mengetahu bahwa pendapat Plato itu mendapat sanggahan. 

Aristoteles, sebagai murid Plato menyanggah pendapat gurunya itu. Menurut Aristoteles penampakan kenyataan dan ide-ide tidak lepas yang satu dari yang lain; dalam setiap obyek yang kita amati di dalam kenyataan terkandung idenya dan itu tak dapat dilepas dari obyek itu (hal:17).

Lebih lanjut lagi dituliskan dalam buku ini bahwa: bagi Aristoteles mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan merupkan sebuah proses kreatif; penyair, sambil bertitik pangkal pada kenyataan, menciptakan sesuatu yang baru. Dengan bermimesis, penyair menciptakaan kembalikenyatan: adapun bahannya ialah barang-barang seperti adanya, atau “barang-barang seperti pernah ada, atau seperti kita bayangkan, atau seperti ada menurut pendapat orang, atau seperti seharusnya ada “ (yaitu fakta dari masa kini atau masa silam, kenyakinan, cita-cita) (hal:17).

Tentang kefiksian sebuah karya sastra, dalam buku ini juga sempat disinggung. Poin yang lebih fokus dijabarkan dalam masalah cerita rekaan dalam buku ini terletak pada masalah fokalisator. Hubungan antara unsur-unsur peristiwa dan visi yang disajikan kepada kita disebut fokalisasi (fokus=kacah perhatian). Fokalisasi merupakan obyek langsung bagi teks naratif (hal:131). Yang dimaksudkan dengan teks-teks naratif ialah semua teks yang tidak bersifat dialog dan isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa (hal:119). Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang termasuk jenis naratif tidak hanya sastra, melainkan juga setiap bentuk warta berita, laporan dalam surat kabar atau lewat televisi, berita acara, sas-sus, dan sebagainya (hal:119).

Sayangnya, untuk memahami buku ini sangat sulit bagi pemula yang suka sastra. Pasalnya buku terjemahan ini seakan langsung menerjemahkan begitu saja ke dalam bahasa indonesia. Tanpa melihat proses gramatikal dan semantik tata bahasa Indonesia.***

Eva Dwi Kurniawan

Friday, August 03, 2012

Sinopsis Novel di Tepi Kali Bekasi

Di Tepi Kali Bekasi
Novel Pramoedya Ananta Toer

Farid adalah anak seorang bekas tentara Kompeni yang kini tinggal di Jakarta. Karena ayahnya bekas tentara Kompeni, yang tahu bagaimana kekejaman Belanda dan kesengsaraan rakyat Bekasi, maka beliau suka menceritakan peristiwa masa silamnya kepada anaknya, terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi di tepi Kali Bekasi. 

Bekasi, tempat yang membekas hati. Dan kalinya yang nampak tenang damai itu, telah menyimpan berbagai ragam pengalaman. Hebat, ngeri dan menyeramkan pengalaman yang didapatnya dari zaman ke zaman. 

Dalam zaman penjajahan Belanda, berpuluh kali terjadi pertempuran berdarah antara rakyat dengan militer Belanda atau pun marsose. 

Alangkah banyaknya Belanda yang binasa di Bekasi. Dan alangkah banyaknya penduduk yang tak berdosa naik ke tiang gantungan, ditembak dengan tiada bersebab, disapu dengan sapu kawat, dicincang sampai lumat-lumat, ditembusi dengan sangkur, karena didakwa campur tangan dengan kaum teror, gerakan penjahat di bawah tanah melawan Belanda penjajah. Alangkah banyak kanak-kanak yang menjerit pilu, meraung-raung karena kehilangan bapak serta ibu. Alangkah banyaknya gadis kampung yang mengorbankan kehormatannya untuk melindugi keluarganya dari sangkur Belanda. 

Sampai saat itu pertempuran masih berkecamuk antara pemuda-pemuda setempat dengan pihak Inggris-Belanda-Inlander. Dengan perang tersebut dan dengan mendengar tentang bagaimana kesengsaraan dan penderitaan rakyat, maka Farid menginginkan sekolah tentara di Cikampek. Niat tersebut pada mulanya tidak berkenan di hati ayahnya, sebab beliau merasa khawatir bila nantinya anaknya menderita dan terlunta-lunta seperti yang pernah dialaminya. Namun dengan perasaan berat akhirnya beliau mengizinkan anaknya sekolah di Cikampek. Dengna berkendaraan kereta Farid meninggalkan ayahnya menuju Cikampek. 

Di tengah perjalanan itu dia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yaitu Amir dan Surip. Mereka juga mempunyai tujuan yang sama. Sampai di kota perjuangan itu Farid dan kawan-kawannya mendaftarkan diri. Setelah segala administrasi dan lainnya beres, tiga sekawan itu digembleng dan dilatih kemiliteran selama satu tahun. Setelah mahir dalam hal angkat senjata, mereka pun menerima pembagian tugas. Farid di bagian militer jalanan, Surip ditempatkan di bagian keuangan dan Amir ditempatkan di garis depan, tempat pertempuran. 

Sekian lama mereka tidak bertemu. Kabar yang datang mengatakan Amir gugur di medan pertempuran. Betapa kaget Farid dan Surip serta sahabat-sahabat lainnya. Berita yang mengejutkan ini disampaikna pula oleh Farid kepada Nanny, seorang gadis Indo, teman dekat Amir. Nanny kaget menerima berita ini. Sedihlah hatinya. Dan Farid serta Surip menghiburnya, sehingga Nanny dapat menerima kenyataan hidupnya. Pergaulan antara mereka ini, menimbulkan rasa cinta dalam hati Farid. Namun dia tidak berani mengutarakannya, sebab takut ditolak. 

Setelah sekian lama perasaan itu dipendam, akhirnya Farid memberanikan diri untuk mengemukakan isi hatinya. Ternyata Nanny tidak menolaknya. Betapa girang hati Farid. Hubungan mereka pun kian intim. Namun di balik itu, Surip mengatakan bahwa Nanny mencintai dirinya, sebab setelah meninggalnya Amir, Nanny diurus dan sering dibiayai oleh Surip. Ini membuat hati Farid gelisah dan bimbang. Setelah lama Farid tinggal di Cikampek akhirnya ia dipindahkan ke Kranji. Di sana ia menjadi wakil Kepala Batalyon. Ia berminat menjenguk ayahnya di Jakarta, namun di sana tak dijumpai orangtua yang sangat menyayanginya itu. Dari tetangganya diperoleh kabar, bahwa ayahnya pergi karena seluruh isi rumah dirampas musuh. Farid pun berniat meninggalkannya. Namun kehendak yang Kuasa mempertemukan ayah dan anak itu. Mereka saling melepaskan rindu masing-masing di rumah tetangga. Ayahnya menginginkan agar Farid dapat lebih lama tinggal bersamanya. Namun karena tugas selalu menanti, Farid tak dapat memenuhi harapan ayahnya. Tugas itulah yang sejak lama diidam-idamkannya sebagai seorang tentara. Maka Farid kembali ke Kranji. Di sana dia berkenalan dengan Fatimah, yang lalu menjadi akrab. Namun sebenarnya Farid masih selalu mengingat Nanny, walau Surip selalu menyayanginya. Tak terduga sebelumnya, tiba-tiba Surip memberitahukan padanya bahwa Nanny kini dalam keadaan sengsara hidupnya. Surip tak lagi menanggung biaya hidup Nanny, karena ia telah keluar dari pekerjaannya. Kini ia masuk kemiliteran jalanan. Mendengar hal itu Farid semakin kasihan pada Nanny. 

Dikabarkan bahwa musuh sudah ada di daerah Bekasi untuk melakukan penyerangan. Ini mengejutkan tentara dan rakyat. Pikiran Farid masih tertuju kepada Nanny walau dalam keadaan kacau dan panik. Rakyat dan tentara mencari perlindungan dari rentetan senjata yang ditembakkan musuh. Mereka berlarian untuk menyelamatkan diri. Begitu pula halnya Farid dan Surip. Dalam keadaan yang serba gawat itu sebentar-sebentar pikiran Farid tertuju pada ayahnya, Fatimah, dan juga Nanny, gadis Indo Prancis yang memihak bangsa Indonesia. Gadis itu sangat besar jasanya pada Amir dan dirinya, sehingga api asmara sempat berkobar di antara mereka. Namun kini yang terdengar hanyalah dentuman meriam dan tembakan beruntun. Di sela-sela tembakan yang terus bergema dari kedua belah pihak, itulah mereka saling mengumandangkan kenangan masing-masing. Dari tepi ke tepi Bekasi yang penuh riwayat; Bekasi yang penuh kisah, ini berulang kembali. Mereka di sana, kita di sini, tepi menepi di kali Bekasi.


Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook