Thursday, September 27, 2012

Analisis Cerpen Bendera Sitok Srengenge

Bermain Peran
Analisis Cerpen Bendera



Apa yang ditampilaan dalam Bendera, semata-mata menekankan pesan. Sangat jelas, seperti yang disebutkan dalam teks, “betapa penting arti sebuah bendera.” Itu adalah pesan yang sangat mudah berterima. Pesan yang lain ialah, misalnya, mengenai persatuan. Bahwa setiap orang serupa benang.

Lembaran kain, yang berasal dari pintalan benang, mengidentifikasikan adanya kesatuan. Setiap yang bersatu akan menjadi sebuah kekuatan. Menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Menjadi sesuatu yang berarti. Setidaknya, pesan-pesan itulah yang secara tersurat akan muncul ketika membaca cerpen karya Sitok Srengege yang dimuat di Kompas, 8 Mei 2011. 
Hal yang menarik dari cerpen ini adalah keminiannya. Tidak seperti cerpen pada umumnya, terlebih Kompas yang menyajikan cerpen dengan beberapa kolom, Bendera hanya terdiri dari dua kolom. Sangat singkat dalam penceritaannya. Dan bahkan, kisah yang ditampilkannya pun begitu sederhana. 

Kisahnya berkisar pada seorang anak, Amir namanya. Ketika pagi hari ia melihat sang Nenek sedang menjahit bendera. Kemudian, sang Nenek memberi beberapa alasan mengapa bendera itu penting. Mengapa sebuah bendera akan berbeda nilainya dengan kain lainnya. Disebutlah sebanyak lima alasan mengapa bendera itu penting. “Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.” Di sekolah, ketika sedang menjadi petugas penggerek bendera, Amir membayangkan bahwa semua orang adalah sehelai benang. “Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu mengayam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.” Kisah hanya diakhiri oleh “Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambing, seperti bendera.”

Terasa, bahwa pesan-pesan yang dimunculkan seperti mengobarkan semangat: nasionalisme. Nasionalisme, sebagai sikap mencintai negara, menjadi konsentrasi garapan dalam cerpen ini. Diksi-diksi bahasa yang digunakan pun secata kasat mata sudah menunjukkan hal demikian. Bahkan, dari judulnya pun sudah tampak.

Namun, yang menjadi penting, bukan sebagaimana tanda yang mudah terbaca itu. Bukan sekadar mengharapkan adanya perubahan rasa nasionalisme setelah membaca cerpen ini. Ada sesuatu yang menunjukkan adanya sindiran dalam cerpen ini. Sesuatu yang boleh jadi tanpa disadari. Cerpen ini membuka borok terhadap nasionalisme itu sendiri.

Sikap Amir yang mengangguk ketika dijelaskan arti penting bendera oleh Nenek, menegaskan demikian. Nasionalisme kita, ternyata serupa sikap Amir, kita belum bisa memahami semuanya. Memahami secara utuh apa itu nasionalisme. Kita hanya mengerti nasionalisme itu sebagai sosok yang tampak di permukaan, namun tidak atau belum mau tahu bagaimana diaplikasikannya sikap itu. 

Selain itu, apa yang disuguhkan dalam cerpen dengan menggiring pembaca pada teks lebih baik menjadi kain, menjadi pakaian, bukan bendera, yang “jika mejadi pakaian, sering dipamerkan dalam cara gemerlapan dan harganya bisa mencapai ratusan juta,” seakan mengalihkan bahwa menjadi sesuatu selaian bendera, berjiwa nasionalisme, tidaklah penting. Menjadi bendera, bersosok nasionalis, ternyata malah digambarkan dengan sebuah keinginan semata. Tidak ada keseriusan di dalam usaha untuk mengapkikasikannya. Itulah sebabnya dalam akhir cerpen , “Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambing, seperti bendera.”Nasionalisme hanyalah dalam hati.***

Eva Dwi Kurniawan

Wednesday, September 26, 2012

Bendera Sitok Srengenge

Bendera
Cerpen Sitok Srengenge


Meski sedang liburan di rumah neneknya di Desa Bangunjiwa, Amir tetap bangun pagi. Sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Kalau sedang tidak libur, Amir bangun pagi untuk bersiap ke sekolah. Amir selalu ingat nasehat Nenek, ”Orang yang rajin bangun pagi akan lebih mudah mendapat rezeki.”

Di mata Amir, Nenek adalah sosok perempuan tua yang bijak dan pintar. Amir tak tahu apa makna nasehat Nenek itu, tapi ia merasa ada benarnya. Bangun pagi membuatnya tidak terlambat tiba di sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran. Selain itu, bangun pagi sungguh menyenangkan. Hanya pada waktu pagi kita bisa menikmati suasana alam yang paling nyaman. Cahaya matahari masih hangat, udara masih bersih, tumbuhan pun tampak segar, seolah semua lebih bugar setelah bangun tidur.

Pagi itu Amir mendapati Nenek duduk sendirian di beranda depan. Rupanya, Nenek sedang menyulam bendera. Amir menyapa dan bertanya, ”Selamat pagi, Nek. Benderanya kenapa?”

”Oh, cucuku yang ganteng sudah bangun!” sahut Nenek pura-pura kaget. ”Bendera ini sedikit robek karena sudah tua.”

”Kenapa tidak beli yang baru saja?”

Nenek tersenyum. ”Belum perlu,” katanya. ”Ini masih bisa diperbaiki. Tidak baik memboroskan uang. Lebih untung ditabung, siapa tahu akan ada kebutuhan yang lebih penting.”

”Bendera tidak penting ya, Nek?”

”O, penting sekali. Justru karena sangat penting, Nenek tidak akan membuangnya.” Nenek berhenti sejenak dan menatap cucunya. ”Kelak, ketika kamu dewasa, Nenek harap kamu juga menjadi penting seperti bendera ini.”

Amir mengamati bendera itu. Selembar sambungan kain merah dan putih. Tidak ada yang istimewa. ”Apa pentingnya, Nek? Apa bedanya dengan kain yang lain?”

Pertanyaan Amir membuat Nenek berhenti menyulam. Nenek diam. Pintar sekali anak ini, kata Nenek dalam hati. Nenek merasa perlu memberi jawaban terbaik untuk setiap pertanyaannya. Untunglah, Nenek teringat Eyang Coelho, seorang lelaki gaek yang cengeng dan sedikit manja, yang membayangkan dirinya bersimpuh dan tersedu di tepi Sungai Paedra. Eyang Coelho pernah menulis sebuah cerita tentang pensil. Nah, Nenek akan meniru cara tokoh perempuan tua dalam cerita itu ketika memberikan penjelasan kepada sang cucu.

”Penting atau tidak, tergantung bagaimana kita menilainya,” akhirnya Nenek berkata. Bendera ini, lanjutnya, bukan kain biasa. Ia punya beberapa keistimewaan yang membedakannya dengan kain-kain lain. Keistimewaan itu yang patut kita tiru.

Pertama: semula ini memang kain biasa. Tapi, setelah dipadukan dengan urutan dan ukuran seperti ini, ia berubah jadi bendera, menjadi lambang negara. Merah-putih ini lambang negara kita, Indonesia. Setiap negara punya bendera yang berbeda. Dan semua warga negara menghormati bendera negaranya. Tapi, jangan lupa, kain ini menjadi bendera bukan karena dirinya sendiri, melainkan ada manusia yang membuatnya. Begitu pula kita bisa menjadi apa saja, tapi jangan lupa ada kehendak Sang Mahapencipta.

Kedua: Pada waktu kain ini dijahit, tentu ia merasa sakit. Tapi sesudahnya, ia punya wujud baru yang indah dan bermakna. Kita, manusia, hendaknya begitu juga. Sabar dan tabah menghadapi sakit dan derita, karena daya tahan itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah.

Ketiga: Bendera akan tampak perkasa jika ada tiang yang membuatnya menjulang, ada angin yang membuatnya berkibar. Artinya, seseorang bisa mencapai sukses dan berguna karena ada dukungan dari pihak-pihak lain. Kita tak boleh melupakan jasa mereka.

Keempat: Makna bendera ini tidak ditentukan oleh tempat di mana ia dibeli, berapa harganya, atau siapa yang mengibarkannya. Ia bermakna karena di balik bentuk dan susunan warnanya ada gagasan dan pandangan yang diwakili. Begitulah, kita pun harus memperhatikan diri dan menjaganya agar tetap selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup kita.

Kelima: Seutas benang menjadi kain, lalu kain menjadi bendera, dan bendera punya makna; karena diperjuangkan dan akhirnya dihormati. Kita juga seperti itu. Harus selalu berusaha agar apa yang kita lakukan bisa bermakna. Jadikan dirimu bermakna bagi orang lain, jika dirimu ingin dihormati.

”Begitulah, cucuku yang ganteng, sekarang kau mengerti?” ujar Nenek mengakhiri penjelasannya.

Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.

”Sudah, sana mandi dulu. Nenek akan menyiapkan gudeg manggar lengkap dengan telor dan daging ayam kampung empuk kesukaanmu.”

Amir menuruti saran Nenek. Ia masuk ke rumah sambil membayangkan kesegaran air sumur pedesaan.

***

Pada kesempatan lain, Amir mendapat tugas sebagai pengibar bendera pada upacara di sekolahnya. Seiring dengan lagu ”Indonesia Raya” yang dinyanyikan serentak oleh para guru dan teman-temannya, ia menarik tali pengikat bendera agar Sang Saka Merah-Putih berkibar di angkasa.

Ketika bendera mencapai puncak tiang, semua peserta upacara khusyuk memberikan penghormatan. Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu menganyam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.

Kelak setiap lembar kain akan berguna. Ada yang menjadi baju, celana, selimut, atau taplak meja. Menjadi lap piring juga berjasa, meski tidak pernah dibanggakan dan murah harganya. Sebaliknya, jika menjadi pakaian, sering dipamerkan dalam acara-acara gemerlapan dan harganya bisa mencapai ratusan juta.

Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambang, seperti bendera.***

Sumber: Kompas, 8 Mei 2011.

Saturday, September 22, 2012

Sastra Kontekstual Ariel Heryanto

Sastra Kontekstual vs Sastra Universal 

Sastra kontekstual yang “berperang sengit” dengan paham sastra universal pada era 80-an membuat catatan sejarah tersendiri dalam kesusateraan Indonesia modern. Sastra kontekstual yang dicetuskan kali pertama oleh Arif Budiman pada era tersebut menimbulkan pro dan kontra terhadap pendapat yang dicetuskannya itu. Banyak yang mengatakan bahwa konsep sastra kontekstual yang dicetuaskannya itu adalah sebuah sensai belaka. Tidak lain karena konsep sastra kontekstual merupakan konsep sastra multikultural dalam arti sempit. 

Artinya, bahwa untuk mengapresiasi atau memahami karya sastra hanya pada saat karya sastra itu dilahirkan, berarti juga bahwa mengapresiasi tentang konsep budaya yang mendasari kelahiran karya sastra tersebut. Sedang untuk mengetahui konsep budaya pada lingkungan karya sastra lahir, perlu juga diketahui tentang konsep-konsep atau nilai-nilai budaya pada semua bangsa. Tidak lain dan tidak bukan karena karya sastra tidak pernah terlepas dari unsur pengarang yang merupakan bagian dari masyarakat. 


Kemuculan sastra kontekstual juga tidak bisa dinafikkan dari acara Sarasehan Kesenian 1984 di Solo. Tepatnya pada tanggal 28 s.d 29 Oktober 1984. Sarasehan Kesenian 1984 dianngap sebagai tempat kelahiran atau tempat tercetusnya paham tersebut (hal:4). 


Buku yang berupa kumpulan artikel mengenai perdebatan sastra kontektual ini meliputi artikel-artikel yang mendukung maupun yang hanya sekadar memberi ucapan sindiran yang terkesan melecehkan. “Sekadar mencari sensai.” Tetapi kedua pendapat yang pro maupun yang kontra memiliki argumen-argumen yang patut diperhitungkan. Artinya kedua pendapat tersebut benar adanya. 

Sastra kontekstual dianggap sebagai sastra kiri dan hanya memihak atau memberi perlindungan pada sastrawan lokal. Maka tidak mengherankan jika konsep ini banyak didukung oleh sastrawan lokal yang masih belum bisa menembusan tingkat dunia. Seperti misal pada konsep sastra multikulturalisme yang memberikan penilaian terhadap karya sastra baik atau buruk dengan hanya melihat kandungan nilai-nilai budaya yang universal. 

Kelahiran buku tentang perdebatan sastra kontekstual ini bukanlah pembulatan atas apa yang dinamakan sebagai sastra kontekstual. Seperti yang diutakan Heryanto dalam pengantarnya bahwa seorang rekan, sastrawan dan ahli sastra, telah ikut berjasa pada usaha menulikan awal catatan pada pengantarnya. Menurut mereka, naskah buku ini tidak menyajikan suatu gagasan yang “bulat” tentang “sastra kontekstual” (hal:v). Namun, “ketidakbulatan” ini yang tanpaknya asyik untuk menambah referensi tentang sejarah sastra. Bahwa sastra konseptual memang pernah muncul dan menjadi isu hangat dalam dunia kesusasteraan kita. 

Selain hal itu, Heryanto juga memberikan alasanya tentang ketidakbulatannya tentang gagasan sastra kontekstual ini. Dia mengatakan pada pengantarnya bahwa secara pribadi dia tidak mengharapkan tercapainya suatu hasil akhir (apalagi kata sepakat) dalam pemikiran tentang “sastra kontekstual” dari seseorang atau beberapa orang belaka. Saya berminat menyajikan suatu rangkaian proses pemikiran yang berkesinambungan, yang dinamis, yang sewaktu-waktu bisa saja disela-selkai oleh masa istirahat, dan masa meriah, yang melibatkan banyak fihak yang tak harus sependapat (hal:vi)*** 

Eva Dwi Kurniawan

Monday, September 17, 2012

Rene Wellek & Austin Warren: Kitab Suci Sastra

Memahami Teori Kesusastraan

Wellek & Warren dalam buku aslinya yang berjudul Theory of Literature ini lebih banyak memfokuskan pembahasannya dalam pengkajian puisi. Ini terlihat dari berbagai penjelasan yang digunakan selalu mengambil contoh genre puisi dalam menjelaskan teorinya.

Ambil contoh saja pada bagian keempat yaitu studi sastra dengan pendekatan intrinsik. Wellek & Werren mencoba memasukkan unsur genre sastra seperti gaya dan stilistika, citra, metafora, dan simbol. Kalau kita berhenti mengklasifikasikan puisi berdasarkan isi dan temanya, dan mulai menayakan jenis wacananya: kalau kita berhenti menguraikan puisi dalam bentuk prosa dan mulai mempelajarai “makna” puisi dari keseluruhan strukturnya yang kompleks, berarti kita mulai berhadapan dengan inti struktur puitis: citra, metafora, simbol dan mitos (hal:235). 

Tampak jelas bahwa Wellek & Werren memfokuskan pengkajiannya pada gengre puisi. Contoh lain adalah pada bab duabelas tentang modus keberadan karya ssatra. Dituliskan bahwa sebelum kita menganalisis strata karya sastra, kita perlu mengajukan sebuah pertanyaan epistemologis yang sulit mengenai modus keberadaan atau “situs ontologis” karya sastra. (Untuk menghemat ruangan, kata karya ssatra dalam pembicaraan ini kita sebut juga dengan puisi (hal:175).

Dalam buku ini disinggung juga kaitan antara teori sastra, sejarah sastra, dan juga teori sastra. Tak mungkin kita menyususn; teori sastra tanpa kritik ssatra atau sejarah sastra, sejarah sastra tanpa kritik sastra dan teori sastra (hal:39). Selain itu, juga disinggguung tentang definisi dan batasan sastra. 

Yang tak kalah menarik dalam buku ini, pembahasan tentang fiksi naratif juga dihadirkan. Maka tidak sulit dalam mengkaji prosa fiksi yang tidak lain adalah fiksi naratif ini. Sebelumnya, Wellek & Werren juga menjelaskan tentang imajinasi atau fiksi dalam sastra di bagian awal buku ini. Istilah sastra sebagai karya “imajinatif” di sini tidak berarti bahwa setiap karya sastra harus memakai imajinasi (citra) (hal:20). Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa pencitraan tidaklah identik dengan rekaan; jadi, bukan merupakan ciri khusus karya sastra (hal:20). Realitas dalam karya fiksi, yakni ilusi kenyataan dan kesan menyakinkan yang ditampilkan kepada pembaca, tidak selalu merupakan kenyataan sehari-hari (hal:278).

Wellek & Werren juga pandai mengajak pembaca untuk berdiskusi. Misalnya pada pembahasan pada fiksi naratif. Bagaimana hubungan fiksi dengan kehisupan? Aliran klasik atau Neo-Klasik akan menjawab bahwa fiksi menampilkan sesuatu yang khas, yang universal-seperti tipe orang pelit (Moliere, Balzac), tipe anak perempuan yang tidak berbelas kasihan (Lear, Gariot) (hal:278).

Buku ini mengutamakan pengkajian sastra pada unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra. Maka masalah di luar sastra pun menjadi bahasan. Biografi, psikologi, masyarakat, dan pemikiran, menjadi bahasan tersendiri dalam mennjelaskan unsur ekstrinsik karya sastra. Sayangnya pengkajian yang hanya pada salah satu genre sastra, yaitu puisi yang menjadi bahasannya, menjadikan buku ini kurang menaraik untuk mengkaji genre sastra lainnya, semisal novel atau cerpen atau naskah drama. Meskipun pengkajian novel, cerpen, dan drama disinggung, namun sangat sedikit.***
Eva Dwi Kurniawan

Wednesday, September 12, 2012

Memahami Cerpen Tradisi Telur Merah

Telur Merah Sanie B Kuncoro: Lahir dan Mati


Perkembangan sastra yang mengarah kepada eksplorasi budaya, terus saja bermunculan. Budaya-budaya lokal terus dianggkat. Bukan sekadar mengangkat nilai-nilai yang ada di dalamnya, namun sekaligus melihatkan bagaimana konflik yang terjadi. Di sini, tampaknya mulai ada kesadaran seorang pengarang untuk melihat realitas yang berada di sekitar mereka itu dengan lebih intents. Semangat multikulturalisme mulai bergenderang.

Keuntungan yang diberikan oleh tradisi penulisan seperti ini sangat banyak. Di antaranya adalah memberikan informasi seputar nilai-nilai apa yang terdapat dalam budaya yang diangkat pengarang. Lalu, kerap juga disuguhkan bagaimana konflik yang mengintarinya. Dengan demikian, sesungguhnya, apa yang disajikan dalam karya sastra, dapat menjadi sebuah data. Data tersebut dapat diolah sedemikian rupa sehingga dapat menyelesaikan persoalan sosial-kemasyarakatan yang terjadi sebenarnya dalam dunia nyata.

Tentu, fakta karya sastra adalah fakta imajinasi. Akan tetapi, karya sastra adalah sebuah mimesis. Karya sastra adalah cermin dari realitas sosial masyarakat yang ada di sekitar pengarang. Dengan demikian, persoalan yang disuguhkan dalam karya sastra tidak akan pernah bertentangan dengan realitas yang sesungguhnya. Hanya saja, yang perlu disadari bahwa artikulasi seorang pengarang dalam menunjukkan nilai budaya beserta persoalannya itu perlu disadar benar. Sebab, ada pengarang yang lebih menunjukkan kritik terhadap nilai budaya yang ditulisnya dengan sangat fulgar. Mengkritik secara tersurat sehingga akan mudah terbaca dengan langsung. Namun, ada pula yang mengkritik dengan sindirian. Umumnya, gaya yang kedua inilah yang banyak digunakan oleh pengarang.

Apa yang dapat dilihat dari Tradisi Telur Merah Sanie B Kuncoro menunjukkan hal demikian. Cerpen itu mengulas persoalan budaya, soal tradisi. Ada semangat multikulturalisme yang ditunjukkan oleh pengarangnya. Kisahnya hanya soal sederhana, yakni soal ponakan yang bertanya tentang sejarah masa lalu sang ibu, saudara bibinya itu. Bertanya tentang sang ibu yang melahirkan tokoh perempuan dalam cerita. Ternyata, sang tokoh perempuan lahir di dunia dengan penuh usaha sang orang tuanya. Dan ketika tokoh perempuan itu mulai pandai berlari, dia diminta oleh seseorang. “Sesudah kau mulai pandai berlari, datang seseorang menagih sesuatu. Katanya, tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini, segala sesuatu ada nilai tukarnya.” 

Nilai budaya yang diangkat dalam cerpen yang dimuat Kompas, 27 Maret 2011, sangat jelas, yakni tradisi telur merah itu sendiri. Hal itu disebutkan dengan baik melalui teks berikut. “Kaummu menamakan bingkisan itu Ma gui an atau Ma yek. Tradisi membagi buah tangan sebagai penanda kelahiran tepat ketika sang bayi genap berusia satu bulan. Itulah kebahagiaan atas anugerah yang harus dirayakan dan diberitakan. Begitulah kotak merah Ma gui an itu dibagikan kepada kerabat dan tetangga, sebagai bagian dari tradisi telur merah.” Apa yang ditunjukkan oleh kutipan di atas membeirikan pengetahuan tentang tradisi telur merah kepada pembaca. Pembaca yang tidak tahu tentang tradisi itu, dapat mengetahui apa dan bagaimana perayaan tradisi khas Tionghoa itu dilakukan. 

Namun, seperti yang telah diungkapkan di atas. Setiap eksplorasi selalu akan menghadirkan persoalan juga. Tradisi Telur Merah juga begitu. Cerpen tersebut tidak sekadar memberikan informasi mengenai perayaan hari kelahiran, namun juga persoalan yang menyebabkan adanya tradisi telur merah. Ternyata, tradisi itu bukan sekadar tradisi yang dilakukan dengan senyum lebar. Ternyata, memiliki anak pada sebagaian orang bukan perkara gampang. Bukan perkara mudah. Akan tetapi sebuah soal yang kerap dipertukarkan. Sebuah usaha yang berat untuk mendapatkannya. Di sinilah soal itu ditekankan. Bahwa kelahiran, kesenangan tidak selamaya akan membawa bahagia, malah sebaliknya, kematian, kesengsaraan.***
Eva Dwi Kurniawan

Friday, September 07, 2012

Novel Perempuan dan Kebangsaan

Sinopsis Novel Perempuan dan Kebangsaan 
karya Idrus

Nirwan adalah calon sastrawan yang berpegang teguh pada paham humanisme. Ia anti kekerasan dan berusaha menghindari pertumpahan darah demi kemanusiaan. Nirwan bekerja pada sebuah penerbitan sebagai redaktur. Di sana ia berkenalan dengan teman-temannya yang juga seorang sastrawan Indonesia yang sudah punya nama. Diantara kawannya bernama Hasil dan Ismak. Terutama Hasil, ia cepat bersahabat.  

Hasil adalah sastrawan senior yang mampu membimbing Nirwan dalam dunia penulisan sastra. Hubungan ini seperti halnya antara guru dan murid. Oleh karena itu, Nirwan ingin melepaskan diri dari kekangan Hasil untuk mengembangkan pemikirannya sendiri. Nirwan juga sering berbeda pendapat dengan Hasil dalam masalah kebangsaan. Menurut Nirwan ide kebangsaan Hasil terlalu sempit dan menganggap Hasil terlalu sentimen dalam rasa kebangsaan, lebih-lebih ketika gelora revolusi menjadi-jadi. Namun, Hasil tetap menghargai tulisan-tulisan Nirwan serta membela dari kritikan Teman sastrawan lainnya.

Nirwan menulis sebuah naskah sandiwara yang akan dimainkan oleh rombongan sandiwara penggemar. Namun, pemimpin penerbitan tidak menyetujui kalau naskah itu dimainkan terlebih dahulu baru diterbitkannya. Namun, karena perbedaan pendapat akhirnya Nirwan mengundurkan diri dari penerbitan dan belakangan diketahui bahwa naskahnya menggunakan kata-kata yang kasar. 

Nirwan kemudian mendapatkan pekerjaan kembali di penerbitan lain. Hasil mencoba mengirimkan naskah namun, ditolak oleh Nirwan karena ia ingin menunjukkan kekuasaannya pada Hasil. 

Perang dunia semakin memuncak, keadaan dalam negeri makin sulit hingga akhirnya Nirwan terpaksa hidup dari sebuah rombongan sandiwara keliling sebagai penjual karcis. Jepang akhirnya kalah, proklamasi dicetuskan dan berkobarlah revolusi. Nirwan yang berpaham humanisme menolak keadaan yang saling bunuh membunuh dalam perang. Akhirnya Nirwan memilih menyingkir ke daerah pedalaman di Malang yang menurutnya lebih tenang. 

Pada suatu hari, datang Hasil ke Malang dalam rangka perjalanan jurnalistiknya. Hasil menceritakan keadaan selama mereka berpisah. Sesudah tujuh bulan di Malang, Nirwan kembali lagi ke Jakarta. Atas pertolongan Hasil, Nirwan akhirnya masuk ke sebuah penerbitan sebagai redaktur. Namun, Nirwan tidak ingin dibimbing oleh Hasil lagi. Dengan diam-diam Nirwan mengirimkan tulisannya ke berbagai surat kabar tanpa sepengetahuan Hasil. 

Agresi Belanda melanda pada tahun 1947, kantor-kantor berhenti bekerja. Nirwan juga tak memiliki uang lagi dan ia bermaksud meminjam pada Hasil. Namun, Hasil tidak mau meminjamkannya. Akhirnya Nirwan memutuskan untuk bekerja pada Belanda dan mendapatkannya di maskapai kapal Belanda. Sejak itu, hubungan mereka putus. 

Novel ini menggunakan alur maju, yang bermula dari perkenalan para tokohnya.Kemudian timbul konflik,diakibatkan Nirwan yang menganggap dirinya dapat berdiri sendiri dan dengan kesombongannya ia membuktikan pada Hasil yang selama ini ia telah membimbingnya. Kemudian konflik memuncak saat Nirwan yang tidak berhasil membuktikan, ia lalu minta bantuan pada Hasil dan ditolongnya. Namun, Nirwan yang masih menganggap bahwa mereka memiliki perbedaan prinsip lalu ia pun menyombongkan diri kembali bahwa ia percaya kalau ia sudah tidak membutuhkan Hasil. Namun, ia jatuh kembali dan pada akhirnya Hasil menyadari sikap Nirwan padanya dan ia tidak ingin tahu tentang keadaan Nirwan.

Monday, September 03, 2012

Apa itu Puisi?

Memahami Puisi

Puisi sangat berbeda dengan prosa. Perbedaan yang utama adalah terletak pada proses penciptaan masing-masing karya sastra itu.

Di dalam puisi seperti diungkapkan oleh Prof. Dr. Mursal Esten yang disampaikan oleh Y vone de Fretes dalam bukunya berjudul "Memahami Puisi" terbitan Angkasa, cetakan 1995, akan berlangsung beberapa proses yang tidak begitu terasa di dalam prosa. Proses tersebut adalah: pertama, 'proses konsentrasi', kedua 'proses intensifikasi', dan ketiga 'proses pengimajian (imagery)'.

Dalam proses 'konsentrasi', segenap unsur puisi (unsur musikalitas, unsur korespondensi, dan unsur bahasa), dipusatkan pada satu permasalahan atau kesan tertentu. Kemudian dalam proses 'intensifikasi' unsur-unsur puisi tersebut berusaha menjangkau permasalahan atau hal yang lebih mendalam atau mendasar.

Adanya kedua proses di atas menyebabkan sebuah puisi menjadi sesuatu yang pelik, sehingga lebih susah dimengerti ibandingkan dengan prosa.

Proses ketiga adalah proses pengmajian (imagery) merupakan suatu yang juga menjadikan puisi berbeda dari prosa. Segenap unsur puisi (musikalitas, korespondensi, dan bahasa) berfungsi menciptakan atau membangun sebuah imaji atau citra tertentu. Bunyi dan rima, hubungan satu lirik (baris) dengan lirik yang lain atau satu bait dengan bait yang lain, dan pilihan kata serta idiom-idiom, semuanya berfungsi membangun imaji atau gambaran tertentu yang dikesankan oleh puisi itu. Imaji inilah yang kemudian melahirkan makna utuh terhadap sebuah puisi.

Dilihat dari sisi 'kata', di dalam prosa cenderung mengikuti makna denotatif (makna harfiah), maka sebuah kata dalam puisi justru cenderung meninggalkan makna denotatif tersebut dan membentuk makna yang bersifat konotatif. Kata 'bulan' di dalam sebuah prosa akan berbeda artinya dengan 'bulan' dalam sebuah puisi.

Memahami penjelasan di atas dan menyadari bahwa puisi berbeda dengan prosa, maka untuk mengartikan puisi pun tentulah berbeda dengan pemahaman prosa. Puisi dibangun melalui proses intensifikasi, maka seorang yang ingin memahami puisi juga harus melakukan proses itu. Ia harus mampu menemukan makna yang terdalam dari setiap kata, frase, lirik, bait, ataupun imaji yang ada di dalam puisi itu. Seorang pembaca puisi harus mampu menangkap makna yang terjauh dari sebuah kata atau larik (berdasarkan makna konotatif yang mungkin dimiliki oleh kata atau larik tersebut).

Selamat mencoba memahami puisi***


Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook