Sunday, October 28, 2012

Cerpen Bali Sipleg Oka Rusmini

Sipleg
Cerpen Oka Rusmini 



LUH SIPLEG nama perempuan tua itu. Perempuan kurus dengan beragam kerut-kerut tajam yang membuat takut orang yang menatapnya. Menurutku, Sipleg perempuan aneh, yang selalu memandang orang dengan mata penuh curiga. Penuh selidik, penuh tanda tanya. Kadang, dia juga seperti perempuan kebanyakan. Serba ingin tahu. Sering juga kulihat dia diam seperti batu kali. Aku menyukai gayanya yang naif itu. Bagiku, Sipleg perempuan dengan buku terbuka. Tak sembarang orang bisa membacanya. Akulah salah satu perempuan yang dibiarkan memasuki masa lalunya dengan santai. Tanpa dia pernah tahu aku telah mendapatkan cerita tentang hidupnya tanpa dipaksa. Aku juga tidak pernah merengek.

Aku menyukai perempuan-perempuan kuat seperti Sipleg. Dia perempuan kuno, yang tidak bisa membaca dan menulis. Bahasa Indonesianya pun putus-putus. Kadang aku tak paham apa yang dia katakan dalam bahasa Indonesia. Dia terlihat cerdas dan luar biasa bila bercerita tentang pengalaman hidupnya menggunakan bahasa Bali, lebih ekspresif, dan aku dibuat terpukau. Sorot matanya tajam, gerak tubuhnya seperti aktor tunggal dalam sebuah pementasan di panggung. Berapa umur perempuan kurus ini? Tubuhnya yang tua masih terlihat seksi dan menggairahkan? Hidupkah yang memberinya tambahan hidup? Penderitaankah yang membuatnya lebih berkuasa dari hidupnya sendiri?

Perempuan itu tinggal di sebuah desa terpencil. Umur 16 tahun kedua orang tuanya mengawinkan perempuan tipis itu dengan seorang lelaki desanya, Wayan Payuk. Orang tuanya yang tidak jelas penghasilannya berharap perkawinan yang dilakukan Sipleg dengan pemilik tanah mampu mendongkrak kehidupan mereka. Menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Di punggung Sipleglah impian dan harapan itu dibenamkan secara paksa. Hasilnya, rangkaian kemarahan terus beranak-pinak di otak dan aliran darahnya. Dia juga tidak percaya pada kata-kata.

Makanya dia menjelma jadi perempuan bisu. Yang berbicara hanya matanya yang cekung dan tidak ramah. Cenderung menganggap semua hal yang dibicarakan orang-orang tidak ada artinya, tidak berguna bagi hidupnya. Sipleg tidak membutuhkan saran, yang dibutuhkannya adalah bagaimana mencari jalan keluar agar hidupnya lebih baik.

Diam baginya adalah pilihan yang tepat untuk berhadapan dengan mulut-mulut manusia yang tidak pernah berhenti memberi saran ini-itu. Tidak pernah bisa menguliti beratus penderitaan yang ditoreh di lilitan napasnya, usianya, dan jantungnya. Menjelmalah Sipleg perempuan yang jarang bicara, matanya adalah suaranya. Orang desa sering menganggap dia perempuan aneh. Mereka juga beranggapan perempuan tipis dan tinggi itu bisu, dan mengalami sedikit gangguan mental!

“Aku tidak percaya pada semua manusia yang selalu ingin tahu kehidupan orang lain. Payuk, lelaki baik. Tetapi aku tidak menyukai lelaki yang kerjanya hanya pasrah. Menyerahkan hidup pada alam, Tuhan, dan takdir. Tolol namanya manusia seperti itu! Tidak bisakah kita menentang alam, Tuhan, dan takdir? Aku ingin melawan mereka dan jadi pemenang! Melawan apa yang selama ini tabu bagi kehidupan manusia. Aku ingin memiliki jalan sendiri, jalan hidup yang kubangun dan kupercayai sendiri.”

“Hidup itu sudah ada bagian-bagiannya, Sipleg. Yang penting kita terus bekerja. Dengan bekerja hidup kita jadi lebih baik.”

“Aku tidak percaya bahwa hidup sudah dijatah. Kita memang orang miskin, orang-orang yang dianggap terkutuk! Menyusahkan. Tapi kau lihat, bagaimana berbinarnya orang-orang kaya melihat kita? Karena kita bisa diupah semaunya, kita mau bekerja apa saja untuk bisa makan. Aku tidak mau kau suruh mempercayai pikiranmu! Mulai besok, aku ikut ke sawah. Aku ikut mencangkul, menanam padi, dan memberi makan ikan!”

“Kau sedang hamil!”

“Aku tidak bisa seperti ini terus-menerus. Duduk diam. Menunggumu dan mendengarkan meme-mu mengeluh di kupingku. Mengatakan aku perempuan miskin yang tidak menguntungkan! Perempuan penuh kutukan yang bisa menulari seluruh hidup keluarga suaminya!”

Menikah dengan Payuk tidak membuat Sipleg memiliki hidup yang lain. Kemarahannya pada takdir miskin yang dicangkokkan sang Hidup di tubuhnya membuat perempuan bertubuh tipis itu selalu memeram kemarahan yang dalam. Matanya sering dipenuhi debur ombak yang ganas. Kadang, kalau dia sedang diam dan tepekur di pinggir dapur sehabis memasak, orang bisa mendengarkan gemerutuk giginya yang diadu. Matanya bisa setajam taji. Siap dilempar untuk melukai orang-orang yang berada di dekatnya. Perempuan itu merasa tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Jam tiga pagi dia sudah bangun. Mengangkat air dari sungai. Memasak untuk perempuan tua nyinyir yang menganggap dirinya adalah kutukan! Menularkan kesialan dan kemiskinan bagi anak satu-satunya, Wayan Payuk. Lalu siapa yang menyuruh lelaki bertubuh hitam, berurat keras, itu meminang dirinya?

“Kata Payuk kau tidak bisu. Kenapa kau tak pernah bicara?” Suatu hari perempuan tua nyinyir itu mendekat. Bagi Sipleg perempuan tua yang mulai berbau tanah kuburan itu berusaha mencuri perhatiannya. Mungkin dia mulai sadar, tak ada manusia lain yang bisa diajak berbicara selain dia dan Payuk. Mungkin Payuk pernah berkata padanya, istrinya tidak bisu. Sejak kawin, Sipleg memang tidak pernah bicara. Usia perkawinan mereka sudah delapan tahun. Bahkan waktu mertua lelakinya mati, tak seorang pelayat pun diajak bicara.

“Kau marah padaku?” tanya perempuan tua itu.

Sipleg semakin jijik. Mendengar suara perempuan itu sering membuat kemarahan pada hidupnya memuncak. Teringat perempuan tua itulah yang membeli dirinya untuk Payuk. Perempuan tua itu sengaja meminjamkan uang pada ibunya. Karena perempuan tua itu tahu, ibunya tidak mungkin memiliki uang untuk membayar utang. Adik-adik Sipleg banyak. Lelaki satu-satunya di rumah hanya bapak, yang hanya bisa menaburkan benih di perut ibu. Enam adik, semua perempuan. Ibunya mirip pabrik bayi dibanding manusia. Kerjanya hanya mengandung, sampai tidak sempat merawat diri. Tubuhnya kurus. Bayi yang dilahirkan selalu prematur. Semua itu karena perempuan tolol itu sangat percaya pada lelaki yang mengawininya.

Kata bapak, perempuan yang tidak bisa melahirkan bayi lelaki, perempuan sial! Hidup tanpa keturunan lelaki, kiamat! Hidup itu sudah mati tanpa lelaki! Dan, si tolol itu percaya. Sipleg tidak bisa menghitung berapa puluh bayi yang dilahirkan mati! Hanya untuk mendapatkan bayi lelaki, perempuan itu membiarkan tubuhnya dititipi daging terus-menerus. Daging yang memakan isi tubuhnya.

Sering Sipleg berpikir, mungkinkah daging-daging yang tumbuh di perut ibunya memakan isi otaknya? Perempuan tolol itu lebih mirip benda mati dibanding benda hidup. Sipleg tak pernah mendengar suara perempuan itu memanggilnya penuh kasih. Padahal Sipleglah anak tertua. Anak yang selalu menyaksikan perempuan itu berteriak ketika mengeluarkan isi perutnya. Perempuan yang dipanggil memeitu seperti makhluk asing yang tidak dikenalnya. Tanpa suara, tanpa mimpi, tanpa keinginan, tanpa kasih sayang, tanpa tujuan. Hidup apa yang sedang dijalani perempuan itu?

Hari-harinya diisi dengan mempersiapkan segala keperluan lelakinya. Lelaki yang selalu pulang larut malam dan mendengkur sampai siang hari, kadang sampai sore. Sipleg memanggil lelaki itubape, bapak. Dia juga makhluk asing, yang tidak pernah memangkunya, memanggilnya dengan kasih. Kalau lelaki itu bicara selalu berteriak, kasar, dan menjijikkan. Dia tidak pernah tahu betapa perempuan-perempuan di rumah ini sudah seperti gundik-gundik yang tidak boleh memiliki keinginan. Ibunya pernah disiram kopi panas, karena dia lupa memberi gula.

Ada keanehan yang sering membuat Sipleg bertanya pada dirinya sendiri: ibunya tidak pernah menangis? Padahal perempuan itu sering dipukul, dimaki, dan diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh bape. Dia hanya diam.

Suatu pagi, ketika Sipleg akan berangkat ke ladang, dia mendapati ibunya sedang menggunting rambut di atas ubun-ubunnya. Wajah perempuan itu dilumuri darah yang terus mengalir dari batok kepalanya.

“Meme, Meme kenapa?” Sipleg menggigil. Perempuan itu terdiam. Lalu bergegas berlari ke ladang. Mencabuti serumpun tanaman kunyit. Menggerus kunyit itu dan menempelkannya di ubun-ubun. Tak ada suara. Tak ada tangis, tak ada rintihan. Dua menit kemudian, darah tidak mengalir lagi dari batok kepalanya. Sepulang dari ladang memetik sedikit cabe dan sayuran.

Sipleg membersihkan kamar bape. Sebuah linggis tergeletak di depan pintu. Penuh darah. Bahkan seprei dan baju lelaki itu penuh percikan darah. Lelaki sial itu masih mendengkur. Benar-benar binatang, lelaki yang satu ini. Pelan-pelan Sipleg menyentuh tubuh linggis itu. Terasa dingin dan membuatnya menggigil. Tubuh kecilnya tiba-tiba saja berkeringat. Dielusnya tubuh benda tumpul itu. Begitu kasar dan terasa menggairahkan.

Hyang jagat berapa usia perempuan kecil itu sekarang? Tiga belas? Empat belas? Atau dua belas tahun? Sipleg merasakan ada hawa yang lain mengalir dalam tubuhnya. Sebuah kenikmatan yang aneh. Terlebih ketika linggis itu didekapnya ke dada. Terasa dingin dan nikmat. Seolah linggis itu memiliki jari-jari kokoh dan liat, menyentuh dua bukit kecil yang mulai mengeras di dadanya. Bukit itu jadi terasa lunak dan Sipleg merasakan kenikmatan yang belum pernah dirasakannya. Sebuah pelukan yang dia impikan. Benda penuh darah itu membuat perempuan kecil itu menemukan kenikmatan yang selama ini hanya bisa dibayangkan. Luar biasa rasanya.

Sipleg pun meraba keruncingan tubuh linggis itu. Dia menciumnya. Merapatkannya ke bibirnya yang kecil. Tekanan yang kuat pada linggis itu membuat bibir Sipleg tergores. Sipleg membuka mata dan menjilati darah yang menetes dari bibir atasnya. Sipleg mengangkat tubuh linggis itu pelan-pelan. Matanya yang tajam melucuti tubuh lelaki yang tergeletak dengan damai di atas kasur. Hawa panas menaburi tubuhnya. Tiba-tiba saja Sipleg mengangkat tubuh linggis itu, tangannya yang kecil gemetar. Betapa inginnya dia menancapkan tubuh linggis di dalam dekapannya ke dada lelaki besar itu. Lelaki yang telah melumat tubuhnya. Dia bergerak mendekat….

“Sipleg….” Sebuah suara mematahkan langkahnya.

“Sedang apa kau di sini!” Perempuan itu berkata dingin.

“Bukankah Meme yang menyuruhku membersihkan kamar bape?”

Perempuan kurus itu menatap mata anak perempuannya tajam. Sipleg menunduk. Ada sesuatu yang tidak bisa ditentang dalam tubuh Ni Nyoman Songi, matanya yang selalu ingin mengupas tubuh perempuan lain. Sipleg tidak habis pikir, kenapa dia yang selalu dimusuhi perempuan ini. Kenapa bukan I Wayan Sager, lelaki yang mendengkur tanpa dosa di depan mereka. Sipleg menurunkan linggis dari dadanya, menancapkan tubuh linggis itu di lantai. Penuh kemarahan sampai lantai semen di kamar itu retak. Lelaki setan itu tetap mendengkur. Sipleg merasa telah menancapkan di lubang otak lelaki itu. Songi tetap menancapkan matanya di tubuh anak perempuannya. Sampai perempuan kecil itu keluar dari kamar dengan tetap mendekap linggis di dadanya. Seperti mendekap boneka-boneka mahal yang dijual di toko-toko mainan. Tiba-tiba saja tubuh perempuan ini ambruk, lalu melangkah keluar dari kamar Sager dengan hiasan darah di selangkang kakinya. Dia menyeret tubuhnya mendekati balai-balai di depan kamar Sager.

“Sipleg…,” jeritnya terbata-bata. Sipleg terdiam. Dia sudah hapal harus melakukan apa.

***

Seorang dukun dipanggil dari seberang desa. Perempuan tua dengan bau tubuh aneh. Mulutnya selalu disumbat tembakau. Rambutnya gimbal. Giginya hitam. Kukunya juga hitam. Bau kain yang menyelimuti tubuh perempuan itu anyir dan membuat Sipleg selalu bersin. Bau darah yang mengering. Orang-orang di lingkungan desanya sering berbisik pada Sipleg, “Bawalah meme-mu ke puskesmas. Seorang bidan akan menolongnya.”

“Apa kau tidak takut melihat mata perempuan tua itu?”

“Dari baunya yang aneh sudah membuat bulu kudukku berdiri.”

“Aku tidak percaya padanya. Dulu, ketika meme-ku melahirkan adikku semua mati ditolong perempuan itu. Kata orang-orangmeme-ku melahirkan sebelas anak. Tak ada yang hidup kecuali aku.”

“Perempuan itu sakti. Memakan bayi-bayi untuk menambah kesaktiannya. Umurnya ratusan tahun. Dia tidak mungkin mati. Bayi-bayi yang ditolongnya dipakai untuk menebus usianya.”

“Aku merasa perempuan itu menukar bayi Songi dengan bayi mati. Kau pernah melihat bayi-bayi yang dilahirkan Songi? Tubuh bayi itu biru. Bau busuk menguap dari kulitnya. Seperti bau mayat busuk puluhan hari.”

“Aku juga pernah memandikan mayat bayi Songi. Lehernya seperti habis dicekik.”

“Ada juga yang kepalanya membesar. Tanpa jari-jari tangan. Pernah kulihat dia melahirkan bayi yang sudah ada giginya. Mulutnya menyatu dengan saluran hidung.”

“Bukankah perempuan tua itu hampir buta. Siapa nama perempuan itu?”

“Ni Ketut Grubug.”

“Namanya membuat aku merinding. Terdengar aneh.”

“Sepertinya kedatangannya akan membawa bencana.”

“Nama yang mengancam hidup orang lain.”

“Bukankah artinya bencana?”

“Ya, bencana yang mengerikan.”

“Apakah benar dia membunuh bayi-bayi yang dikeluarkan dari tubuh perempuan-perempuan desa ini?”

Semua perempuan kampung itu terus bicara. Sipleg hanya terdiam. Berpikir, apakah perempuan-perempuan hanya bisa bergosip? Ingin tahu semua urusan orang? Dan, bersorak girang atas bencana yang dialami oleh perempuan lain. Termasuk dirinya. Apakah perempuan-perempuan itu juga punya perhatian serius pada hidupnya? Hidup seorang perempuan kecil. Sipleg menggigit bibir. Aku juga seorang perempuan! Sama dengan mereka!

***

Bocah kecil itu terus berlari menembus gelap, menebas udara dingin. Kaki kecilnya tanpa sandal, sudah hapal membaca arah. Sudah terbiasa ditumbuhi duri dan beling. Sudah terbiasa terluka. Nikmat rasanya bila darah keluar dari kakinya. Sipleg sering membiarkan rasa nyeri menggerogoti kakinya, seolah ikut melemaskan tulang-tulang, juga pikirannya. Rasa nyeri yang aneh. Bila dia berjalan pincang, seluruh tubuhnya seperti berolahraga. Sipleg sangat menikmati. Tetapi perempuan yang tubuhnya sering ditumbuhi daging selalu mendelik. Lalu dengan kasarnya dia akan menyeret tubuh kecil Sipleg ke dapur. Matanya mendelik. Tangannya mencengkeram tubuh Sipleg dengan keras. Biasanya Sipleg pasrah. Kadang ada aliran aneh bila tubuh perempuan itu menyentuh tubuhnya. Sipleg merasa punya teman. Dia pun tidak bergerak ketika tubuh ibunya mendudukkan tubuh kecilnya di dapur. Dia begitu cekatan memarut kunyit, dan menggosokkannya ke kaki kecilnya. Dengan penuh amarah. Sipleg tidak meringis, sekalipun kaki itu sudah membengkak.

Rasanya senang membuat perempuan itu bisa sedikit berpaling dari urusan daging di perutnya. Sipleg senang kalau tubuhnya terluka. Songi akan terus mengawasi kondisinya dengan sorot mata yang sangat tidak ramah. Tubuhnya akan berkeringat bila mengobati bagian-bagian tubuh Sipleg yang berdarah. Tangannya begitu terampil. Napasnya turun naik. Dan, sebutir keringat akan jatuh dari keningnya mengenai kulit Sipleg. Udara yang panas akan menjelma sejuk. Sipleg pun akan terus menatap mata Songi yang selalu tidak ramah. Rasanya ingin sekali membuat persoalan besar yang bisa membuat perempuan yang pernah mengandung tubuhnya itu menjerit. Marah. Atau menangis, atau berteriak-teriak karena Sipleg nakal dan memuakkan. Atau tangannya akan mencubit tubuh kecilnya yang liat. Atau menepuk pantatnya yang tipis. Atau…. Apa ya? Semua itu tidak pernah dilakukan Songi. Sipleg masih berlari, sambil terus menerawang membayangkan hidupnya, tubuhnya, mimpinya, keinginannya….

Pikirannya segera tergulung, perempuan tua yang berdiri di hadapannya sudah berdiri kaku di pintu rumahnya. Tanpa bicara perempuan itu menyuruh Sipleg pergi. Sipleg pun akan berlari kencang. Anehnya dia selalu kalah. Perempuan tua itu pasti sudah ada di ambin ibunya ketika dia masuk ke halaman. Bau ketuaan. Bau darah. Bau usia, bau dauN-daun aneh yang diusapkan di perut ibunya. Mata dukun beranak itu dingin. Tak pernah ada senyum. Mulutnya tak pernah mengeluarkan suara. Perempuan inikah yang mengeluarkan dirinya secara paksa dari perut ibunya? Sipleg menggigil. Setiap perempuan itu datang Sipleg ingin membakarnya hidup-hidup. Perempuan itu selalu menyuruhnya menunggui ibunya yang menjerit-jerit kesakitan. Bahkan Sipleg pernah melihat sepasang bambu dijepitkan di kepala adiknya yang baru lahir. Suatu kali, batang bambu itu menggores kepala adiknya yang tipis. Darah muncrat, matilah adiknya.

Bagaimana perempuan tanpa perasaan seperti itu menolong sepotong kehidupan? Bapak tak pernah menunggui ibu. Kadang dia mabuk dan memaki-maki. Marah dengan teriakan ibu yang melolong keras. Banyak daging yang tumbuh dalam perut ibu mati. Perempuan itu memang tak punya jiwa. Dia masih terus membiarkan tubuhnya ditumbuhi daging. Tak pernah peduli pada anak-anaknya yang lain. Usia adik-adik Sipleg tidak sampai lima tahun, mereka mati satu demi satu. Ibu tetap tidak peduli. Perempuan apa yang telah melahirkan aku? Satu-satunya manusia yang bisa bertahan hidup adalah dirinya. Seorang perempuan! Hanya lelaki yang bisa melanjutkan keturunan. Memuja leluhur. Meneruskan garis keluarga. Makanya, perempuan kumuh dan kurus itu tega menjual Sipleg ke Payuk. Tanpa hati, karena perempuan dekil itu memang tidak punya hati. Tidak punya rasa. Membiarkan adik-adiknya kelaparan, makanya banyak adik Sipleg yang mati. Perempuan itu juga tidak punya air mata. Dia terus mengandung, tanpa pernah merasakan apa-apa. (*)


Denpasar-Bali
Sumber: Jawa Pos, 25 April 2010

Wednesday, October 24, 2012

Pengarang Perempuan Indonesia

NH Dini, Hulu Novelis Perempuan Indonesia
Oleh Linda Sarmili 

Kita mengenal namanya Nh Dini semenjak sekolah dasar. Puisinya kerap kali dibacakan dalam berbagai kesempatan, khususnya perlombaan yang berskala nasional. Dia adalah seorang sastrawan yang novel-novelnya dianggap sebagai hulu dari para novelis perempuan di belakang hari.

Untuk segenap jasanya itu, tahun lalu, NH Dini dianugerahi Penghargaan Achmad Bakrie Award. Penghargaan tersebut di berikan di Jakarta, dihadiri ratusan tokoh dari berbagai disiplin ilmu.

Sepanjang karirnya sebagai penulis, Nh. Dini telah memperkuat realisme, merintis ideologi anti-patriarki, dan mendalami novel autobiografis, dalam sastra berbahasa Indonesia. Sastra "realisme fotografis"-nya kaya dengan detail.

Pencapaiannya sangat menonjol, terutama jika disimak dari semangatnya dalam menggali dunia perempuan, termasuk seksualitas tersembunyi, khususnya perempuan Jawa. Begitu juga dengan novel-novelnya, selalu dipadatan dengan beragam cerita tentang kelebihan dan kreativitas perempuan.

Tak pelak lagi, Nh Dini menjadi induk dari novel-novel populer yang ditulis pengarang perempuan, juga menjadi pendahulu bagi karya sejumlah penulis-perempuan yang sejak akhir 1990-an mendorong lebih jauh lagi feminisme ke arah pengungkapan seks dan seksualitas.

Anda pernah membaca betapa hebatnya novel-novel otobiografisnya Nh Dini? Edgar Cairo, salah seorang penyair dari Amsterdam selalu memuji buku novel Nh Dini karena memiliki kedalaman ilmu tentang tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Penilaian serupa juga kerap dikemukan banyak praktisi kebudayaan dan sastrawan di Indonesia.

Novel novel otobiografis karangan Nh Dini, menurut penilaian penulis selalu sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan baik.

Dalam sastra Indonesia, dunia perempuan sebelumnya hampir selalu dilukiskan oleh pengarang laki-laki. Tetapi Dini merebut itu semua dan menegaskan bahwa perempuan hanya bisa tampil wajar dalam fiksi jika dikisahkan oleh perempuan sendiri.

Perempuan memiliki suaranya sendiri yang bukan lagi pemalsuan dari suara laki-laki,begitu kata Nh Dini yang kemudian dibenarkan oleh sejumlah wanita yang menghabiskan kesehariannya dengan dunia menulis.

Dalam novel autobiografis riwayat hidup si pengarang menjadi bahan utama pengisahan. Tetapi hanya pengarang yang cemerlang seperti Dinilah yang sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan amat baiknya.

Beda dengan Nh Dini dari para penerusnya adalah novel-novelnya hadir dengan kualitas bahasa yang tetap terjaga. Kalimat-kalimatnya kokoh, pelukisannya tentang sesuatu tampak halus, kadang samar-samar, sehingga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menerka-nerka.

Penghargaan Achmad Bakrie yang diterimanya pada malam penganugerahan Minggu, 14 Agustus tahun lalu, bertempat di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, membuat para perempuan penulis kagum kepadanya, terutama ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah masih ada waktu menulis di usianya sekarang yang telah mencapai 75 ?

Ternyata Nh Dini menjawab: "saya akan menghabiskan usia saya dengan menulis. Saya merasa bangga apabila tulisan saya bisa memberi makna kepada pembacanya, kepada masyarakat luas, dan kepada usaha pembaruan pembaruan pola pikir perempuan Indonesia".

Ternyata benar, Nh Dini terus menulis untuk memajukan pola pikir perempuan Indonesia, dan memajukan dunia sastra Indonesia.

Baru-baru ini, NH Dini, meluncurkan buku terbarunya berjudul Pondok Baca Kembali ke Semarang Buku yang diterbitkan Gramedia itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Amaris Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini. Peluncuran buku tersebut ditandai dengan Diskusi Buku dan Perjalanan Sastra bersama NH Dini yang dipandu budayawan Semarang Prie GS.

Dalam diskusi tersebut, NH Dini menuturkan perjalanan hidupnya, termasuk bagaimana proses menulis buku-buku yang merupakan pengalaman dan kisah hidupnya. "Semuanya secara jujur saya sampaikan apa adanya," ujar Dini.

"Buku Pondok Baca Kembali ke Semarang" mengisahkan saat Nh Dini kembali ke Tanah Air tahun 1980. Setelah mondar-mandir antara Jakarta dan Semarang, tahun 1985, Dini menetap di kota asalnya, di Kampung Sekayu, Semarang Tengah. Di kampungnya dia mendirikan taman bacaan yang dinamakan Pondok Baca NH Dini.

Diskusi dengan Nh Dini dihadiri keluarga dan penggemar bukunya, bahkan sejumlah anak sekolah dari Semarang mengaku mendapat banyak pencerahan setelah mencermati kalimat demi kalimat yang dituturkan Nh Dini. ***

Sumber: Suara KaryaSabtu, 28 Juli 2012

Saturday, October 20, 2012

Mengenal Psikologi Sastra

Psikologi Sastra

Sebuah karya sastra merupakan kisahan yang senantiasa bergumul dengan para tokoh dengan kepribadian yang tidak lazim, aneh, atau abnormal, sehingga menimbulkan berbagai perasaan bagi para pembaca. Tidak jarang para pembaca bertanya-tanya, mengapa si tokoh berperilaku demikian, apa yang terjadi pada dirinya, apa penyebabnya, dan apa pula akibat dari semua ini. Bahwasanya masalah perilaku mungkin saja terkait dengan masalah-masalah kejiwaan, maka kisahan semacam ini dapat merupakan masalah psikologis.

Psikologi sastra merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah manusia. Lewat tinjauan psikologi akan nampak bahwa fungsi dan peran sastra adalah untuk menghidangkan citra manusia yang seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya atau paling tidak untuk memancarkan bahwa karya sastra pada hakikatnya bertujuan untuk melukiskan kehidupan manusia (Andre Hardjana, 1985:66).

Psikologi sastra adalah cabang ilmu sastra yang mendekati sastra dari sudut psikologi. Perhatiannya dapat diarahkan kepada pengarang, dan pembaca (psikologi komunikasi sastra) atau kepada teks itu sendiri (Dick Hartoko dan B. Rahmanto, 1986:126).

Sementara Wellek-Warren menyatakan bahwa ada empat kemungkinan dalam pemahaman psikologi sastra, yakni: (1) Studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pembeda, (2) Studi proses kreatif, (3) Studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, dan (4) Studi yang mempelajari dampak sastra pada pembaca atau psikologi pembaca (Wellek, Rene dan Austin Warren, 1989:90).

Hubungan antara psikologi dengan sastra sebenarnya telah lama ada, namun penggunaan psikologi sebagai sebuah pendekatan dalam penelitian sastra belum lama dilakukan, menurut Robert Downs (1961:1949, dalam Abdul Rahman, (2003:1), bahwa psikologi itu sendiri bekerja pada suatu wilayah yang gelap, mistik dan yang paling peka terhadap bukti-bukti ilmiah. 

Psikologi dalam karya sastra mempunyai kaitan yang tercakup dalam dua aspek yaitu : Unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Aspek ekstrinsik berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan faktor-faktor kepengarangan dan proses kreativitasnya. Sementara unsur intrinsik membicarakan tentang unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam karya sastra seperti unsur tema, perwatakan dan plot. 

Darmanto Jatman ((1985:165) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memang memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung karena, baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional karena, sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain, bedanya dalam psikologi, gejala tersebut riil, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif. 

Dalam kaitannya dengan psikologi dalam karya sastra, Carld G. Jung menandaskan bahwa karena psikologi mempelajari proses-proses kejiwaan manusia, maka psikologi dapat diikutsertakan dalam studi sastra, sebab jiwa manusia merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan dan kesenian. 

Pikologi Pengarang 

Yang perlu dikaji dalam kaitannya dengan pengarang, menurut Wright (1991:146) adalah mencermati sastra sebagai analog, fantasi percobaan simtom penulis tertentu. Selanjutnya, peneliti dapat memahami beberapa jauh fantasi bergulir dalam sastra. Fantasi adalah permainan ketaksadaran yang bermanfaat. Persoalan penelitian semacam ini perlu hati-hati, sehingga akan dapat ditemukan fantasi natural. Fantasi kejiwaan kadang-kadang tidak masuk akal, tetapi dalam sastra, sah-sah saja. 

Keadaan psikis pengarang adalah suasana unik. Pengarang hidup dalam suasana yang lain dari yang lain. Pada realita semacam ini, tugas peneliti psikologi sastra hendaknya lebih menukik sampai hal-hal yang bersifat pribadi. Hal personal itu dikaitkan dengan sastra yang dihasilkan. Dari sini bisa memunculkan aneka tipe kepengarangan. 

Menurut Ahmad Tohari, sastrawan juga dapat dibagi ke dalam dua tipe psikologis, yaitu sastrawan yang “kesurupan” (possessed) yang penuh emosi, menulis dengan spontan dan yang meramal masa depan dan sastrawan “pengrajin” (maker) yang penuh keterampilan, terlatih dan bekerja dengan serius dan penuh tanggung jawab. 

Psikobudaya adalah kondisi pengarang yang tidak lepas dari aspek budaya. Kejiwaan pengarang dituntun oleh kondisi budayanya. Pengarang yang bebas samasekali dari faktor budaya, hampir tidak ada pengarang tidak lepas dari budaya, pribadi dan moral yang mengitari jiwanya. Oleh karena itu, kreativitas pengarang sebenarnya merupakan “cetak ulang” dari jiwanya. 

Dari faktor budaya psikologis demikian, dapat dimengerti bahwa pengarang tidak tunggal. Pengarang adalah pribadi yang multirupa. Jiwa pengarang dapat diubah atau mengubah budaya. Dalam konteks ini berarti peneliti psikologi sastra perlu memperhatikan aspek budaya disekitar pengarang. Pengarang yang hidup dalam lingkup budaya, kelas, marginal, ketidakadilan tentu berbeda karyanya. Budaya kota dan desa juga akan membentuk pengarang. 

Psikologis Kreativitas Cipta Sastra 

Dorongan kejiwaan tidak bisa dianggap remeh. Kejiwaan ada yang meledak-ledak, ada yang keras, murung, sensasional dan seterusnya. Dorongan ini akan menentukan bagaimana proses kreatif sastra akan terwujud. Proses kreatif adalah daya juang kejiwaan sastra menuju titk tertentu. Proses kreatif akan ditentukan pula oleh etos sastrawan. 

Terbentuknya karya sastra hampir seluruhnya melalui proses kreatif yang panjang, namun panjang dan pendeknya proses ini amat relatif, tergantung kesiapan psikologis sastrawan. Tiap karya memerlukan proses yang berbeda satu dengan yang lain. 


Psikologi Pembaca 

Agak sulit untuk menemukan istilah yang tepat untuk mewadahi konteks psikologi sastra yang terkait dengan resepsi pembaca terhadap sastra. Wilayah psikologi yang berhubungan dengan pembaca memang masih pelik. Ada yang berpendapat, wilayah ini sebenarnya studi sastra, melainkan peneliti pembaca. Pendapat ini tampaknya juga sulit dipertanggungjawabkan sebab bagaimanapun pembaca adalah bagian dari kutub sastra. 
Resepsi pembaca secara psikologis pasti akan terjadi dibandingkan dengan resepsi lain. Penerimaan nilai sastra biasanya justru berasal dari aspek psikologis. Dengan modal kejiwaan, karya sastra akan meresap secara halus keadaan diri pembaca. Oleh sebab itu, pembaca yang bagus tentu mampu meneladani aspek-aspek penting dalam sastra. Nilai-nilai dalam sastra yang mampu membentuk sikap dan perilaku, akan diinternalisasikan dalam diri pembaca. 

Resepsi atau penerimaan sastra oleh pembaca bisa berbeda-beda tafsirnya. Sastra ibarat sebuah surat berharga yang dialamatkan kepada penerima pesan. Namun, dalam sastra ada sejumlah kode-kode psikologis yang bisa memunculkan persepsi lain. Perbedaan nilai yang menuntut kebebasan tafsir. Tafsir yang beragam dan plural, akan memperkaya pesan. Tafsir psikologis akan membangkitkan imajinasi yang berharga. Pembaca bebas bermain imajinasi. Dari situlah pula bebas menciptakan dunianya. 

Psikologi Dalam Sastra itu Sendiri

Persoalan psikologis yang dapat dikaji dari dalam karya sastra itu sendiri adalah persoalan tokoh dan penolohan. Tokoh adalah figur yang dikenal dan sekaligus mengenai tindakan psikologis dalam peristiwa dalam cerita. Dia adalah “eksekutor” dalam sastra. 

Tokoh biasa terdapat dalam prosa dan drama. Tokoh-tokoh yang muncul dibangun untuk melakukan sebuah objek. Tokoh yang termaksud secara psikologis menjadi wakil sastrawan, sastrawan kadang-kadang menyelinapkan pesan lewat tokoh. Pembicaraan tokoh bisa dianggap campuran dari tokoh tipe yang sudah ada dalam tradisi sastra, tokoh menjadi cermin diri sastrawan. Penggarapan tokoh yang matang akan menukik dalam protret diri. Tokoh yang digarap kental, dengan perwatakan yang memukau, akan menjadi daya tarik khusus. Tokoh tersebut tergolong orang-orang yang diamati oleh pengarang, dan pengarang sendiri akan masuk secara alamiah dalam karyanya. ***


Disarikan dari berbagai sumber

Tuesday, October 16, 2012

Membaca Oka Rusmini

Oka Rusmini Makin Menjadi
(Sunaryono Basuki Ks) 

Sejak terbitnya novel Tarian Bumi sebagai cerber Harian Republika, Oka Rusmini menjadi daya tarik sastra Indonesia. Kerenanya Taufiq Ismail dengan Horison Sastra Indonesia memasukkan nukilan novel ini di dalam Kitab Nukilan Novel, Horison Sastra jilid ke III.

Dia mewakili 41 novelis Indonesia yang karyanya dicuplik di dalam buku ini, bersamaan dengan Panji Tisna dan Putu Wijaya. Namun, Tarian Bumi bukanlah novel pertamanya. Saat dia masih duduk di bangku SMA, dai menulis novel berjudul Gurat-Gurat, di muat sebagai cerber di Bali Post tempat dia kemudian bekerja sebagai redaktur.

Novel ini sempat menimbulkan protes karenanya dia memangkasnya dan kemudian mengembangkannya menjadi novel yang kemudian dimuat sebagai cerber di Harian Koran Tempo dengan judul Kenanga yang kemudian diterbitkan oleh Grasindo (2003). Mungkin nasibnya tidak seburuk yang menimpa Wayan Artika yang cerbernya berjudul Incest dimuat sebagai cerber di Koran Bali Post. Dia mendapat protes dari warga kampungnya dan sempat dikucilkan bahkan sampai minta perlindungan polisi. Justru karena peristiwa ini novelnya diterbitkan di Yogyakarta sampai mengalami cetak ulang. Bencana membawa berkah.

Pada ultahnya yang ketiga puluh, 11 Juli 1997, dia menerbitkan kumpulan puisi berjudul Monolog Pohon yang disunting oleh Arief Bagus Prasetyo, seorang pelukis, penyair, esais dan kelak malah menjadi penerjemah handal. Pada saat itu saya menulis cerpen Dayu dan Kisah Cintanya. Dalam cerpen tersebut saya bertanya: Setelah berhasil menyunting kumpulan puisinya, apakah dia akan berhasil menyunting penyairnya? Ternyata Oka Rusmini menikah dengan Arief, keluar dari lingkungan brahmana dan bersedia menjadi seorang mualaf.

Serial Tarian Bumi
Novel Tarian Bumi tak berhenti pada kisah tentang keluarga Ida Ayu Pidada. Dia nampaknya ingin memuaskan diri dengan sebuah novel pendek yang dimuat dalam kumpulan cerpen Sagra.

Sagra sendiri sebagai novelette dapat menyalurkan keinginannya berkisah yang tak selesai di Tarian Bumi. Satu novel dan satu novelette ini telah berhasil mengangkat Fabiola Kurnia, dosen Universitas Negeri Surabaya mencapai gelar doktornya di UI. Promotornya Prof Dr Sapardi Djoko Damono dan Prof Dr Melani Budianta menganggap desertasinya bagus. Nampalnya Oka tidak puas mengobrak-abrik keluarga Ida Ayu Pidada. Dia sudah menulis Kenanga. Jadi Kenanga (Gurat-Gurat) Tarian Bumi,dan Sagra,semacam Saga, kisah keluarga sebagaimana ditulis dalam novel Inggris beberapa jilid berjudul Forsythe Saga.

Tempurung
Novel Tempurung merupakan novelnya yang baru terbit (Grasindo), walau pun novel tersebut sudah disiarkan sebagai cerbung di sebuah harian yang terbit di Jakarta (2004). Apakah yang menarik dari Tempurung? Tentu saja pertama judulnya kok aneh. Lalu ilustrasi sampul dan dalam yang seluruhnya dikerjakan oleh seniman luar negeri Wolfgang Widmoser.

Namun lebih menarik lagi adalah caranya bercerita. Pertama, novel ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni Penjaga Warung yang terdiri dari 8 sub bagian, lalu Tuhan untuk Lelaki yang terdiri dari 12 sub bagian, dan Rumah Perkawinan yang hanya terdiri dari satu bagian, padahal bab ini panjangnya hampir 200 halaman. Pasti melelahkan membaca bab demikian panjang.

Sub bab satu dari bab Satu berjudul Kecombrang. Oka tidak bercerita tentang tokoh manusia tetapi tetang tanaman yang bernama Latin Nicolaia Spesiosa. Dia bercerita tentang kecombrang yang terletak di jendela kamarnya sambil mendengarkan Frank Sinatra yang melantunkan lagu "Have you met Miss Jones". Begitu senangnya Oka dengan lagu ini sampai seluruh lirik lagu itu dikutipnya. Lalu apa hubungannya kecombrang dengan Oka?

Dia bertanya "Bagaimana kalau aku berdansa dengan Frank Sinatra atau kecombranngku?"

Dia bingung memilih antara keduanya karena keduanya sudah menjadi ritus paginya. Baginya lelakinya harus menarik seperti kecombrang dan Frank Sinatra.

Di dalam smsnya dia menatakan bahwa Tempurung ditulis tanpa memakai pakem tertentu. Mungkin yang dia maksud adalah pakem konvensional gaya Aristoteles, walaupun kita merasa bahwa ada awal dan ada akhir. Selain itu, secara tak sadar dia telah terpengaruh pakem budayanya. Lho, kayak apa? Sebentar saya jelaslan.

Pertama saya ingin memuji kelebihannya dalam bercerita. Setiap akhir sub bab dia menyebut tokoh baru, yang dengan segera diperkenalkan dan diperdalam pada sub bab berikutnya.

Beritu terus menerus sehingga cerita berlanjut. Waktu dia menyebut bahwa dia tak mengenal sosok yang dia sebut Mamah pada akhir subbab, maka dia menindak-lanjutinya pada sub bab berikutnya. Kita merasa terhanyut dengan cara berceritanya yang runut ini.

Soal pakem budaya yang secara tak sadar dianutnya adalah budaya Bali yang menyukai keindahan.

Orang Bali menciptakan keindahan, untuk dinikmati banyak orang, namun pada akhirnya semua berakhir jadi abu. Misalnya ogoh2 yang dibuat dengan susah payah dan dengan biaya puluhan juta, setelah diarak berkeliling kota harus berakhir dengan dibakar. Demikian pula dalam upacara pelebon (ngaben).

Semua perangkat pelebon, termasuk Naga Banda karya I Gusti Nyoman Lempad yang dibuat untuk pelebon raja Ubud tahun 1975 setelah diarak ke setra (kubur), menghibur banyak orang termasuk pelukis Affandi dan sejumlah kamerawan film, akhirnya harus dibakar dan jadi abu. Demikian pula dengan novel ini, yang disusun dengan indah, harus diakhiri dengan peristiwa Sipleg yang membakar Ida Ayu Pidagda KRG bukan Pidada tokoh dalam Tarian Bumi dan serialnya KRG.

Semua harus jadi abu. Sipleg pada hal 457 dsb diceritakan diajak Maya untuk membakar Ida Ayu Pidagda. Maya setelah membakar rumah mereka berkata: "Aku punya rahasia, aku telah mengubur ibuku dengan api. Ini semua demi kebaikan kita Sipleg." Tak percaya, sebaiknya baca sendiri bisa lebih asyik.***


* Sunaryono Basuki Ks, novelis
tinggal di Singaraja, Bali

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 21 Agustus 2010

Friday, October 12, 2012

Palung Oka Rusmini

Palung
Cerpen Oka Rusmini 


PEREMPUAN itu mengurai rambutnya yang mulai berwarna kelabu. Cermin di depannya membuatnya selalu merasa ingin berpaling. Ya, dia ingin sekali menonton wajahnya. Membaca remah-renah yang membuat warna kerutan di wajahnya makin keras, seperli goresan garis di kanvas. Setiap garis memiliki maknanya sendiri. Semua lekuk dan kerut itu pasti memiliki cerita. Kelamkah? Ia ingin sekali mengenal dengan detail setiap wajahnya. Seperti sebuah lekuk peta. Oh, bukan. Bukan peta, mungkin lebih tepat palung.

Lengkungnya, kekasarannya, juga deburan air yang menampar-nampar, menyakiti setiap sisi dari keratan tubuhnya. Meninggalkan rasa gilu. Rasa sakit yang tidak mungkin bisa diobati. Rasa sakit yang nikmat? Adakah rasa sakit yang nikmat itu? Begitulah air melukai palung itu, seperti melukai seluruh perjalanan hidup. Tapi palung tidak pernah mengeluh, memaki, atau mengumpat dengan beragam sumpah serapah. Seperti dirinya yang selalu mengumpat dan marah. Kemarahannya seringkali menganggu orang-orang yang berada di dekatnya. Kata orang-orang, kemarahannya begitu mengerikan.

Hanya perempuan yang terluka bisa membunuh dirinya sendiri. Hanya perempuan yang terluka bisa memakan hidup-hidup anak yang dikandungnya. Hanya perempuan terluka yang bisa menggorok batang leher anak yang dikandungnya. Hanya perempuan yang terluka bisa meremas daging hidup yang meletus dari rahimnya lalu membuangnya di tong sampah. Semua itu dilakukannya tanpa beban.

Lalu, kemana hatinya? Kemana perasaannya? Kemana rasa keibuannya? Bukankah perempuan itu makhluk yang membuat bumi damai. Penyejuk yang lebih menyejukkan dari beragam penyejuk. Sapuan angin pegunungan juga tidak bisa mengalahkan rasa sejuk yang lahir dari tubuhnya.

Bagaimana kalau dia perempuan yang terluka? Dikhianati. Ditikam dari belakang. Pikiran, hati, jantung, perasaan, juga seluruh perjalanan hidupnya digerus. Salahkah kalau perempuan itu meradang? Mengamuk! Menghancurkan seluruh makhluk hidup juga benda mati yang muncul di depan matanya?

Pernahkah kau menemukan perempuan yang terluka? Dan bertanya padanya, apakah yang diinginkannya? Obat apakah yang bisa menyembuhkan lukanya?

“Tak ada obat yang bisa menyembuhkan perempuan yang terluka hati, jantung, pikirannya?”

“Aku bisa mencarikan balian, dukun.”

“Tak ada balian yang bisa menyembuhkanku.”

“Bagaimana kalau kutawarkan sepiring menu lelaki. Kau bisa memilihnya. Kau patah hati?”

“Ini lebih dari patah hati?”

“Maksudmu? Adakah yang melukai makhluk hidup bernama perempuan selain patah hati?”

“Ada.”

“Apa?”

“Apa yang ada di otakmu ketika hatimu dicabut paksa. Lalu, di depan matamu hatimu diiris-iris. Untuk sebuah pesta cinta di tengah malam. Sejoli burung malam muncul penuh aroma cinta. Kedatangan di tengah malam. Tamu yang tak pernah diundang. Mereka datang diiringi lagu cinta, kata-kata cinta, puisi-puisi mabuk. Mereka datang-pergi tanpa mengetuk pintu. Juga tidak membuka jendela. Tanpa suara, tanpa bau.”

“Burung apakah itu?”

“Burung pengecut!”

“Kau benar-benar perempuan terluka?”

“Adakah yang lebih tepat dari terluka?”

“Kau terluka?”

“Sangat dalam.”

“Kuhidangkan menu lelaki?”

“Masihkah kuperlukan mahluk itu? Tak adakah pilihan yang lain? Menu yang lebih menggairahkan lagi? Mungkin semangkuk salad perempuan?”

“Tak ada menu perempuan. Kau masih menyantap lelaki kan? Kau bisa memakannya satu demi satu. Kau pilih menunya?”

“Aku ingin hatiku kembali.”

“Apakah sejoli burung malam itu telah memakan hatimu?”

“Mereka tidak hanya makan hatiku. Juga makan jantung dan pikiranku.”

“Apakah kau masih hidup?”

“Mungkin tidak. Lukaku lebih dalam dari luka.”

“Sejoli burung malamkah yang membunuhmu?”

“Mereka tidak hanya membunuhku. Adakah yang lebih kelam dari kematian? Adakah yang lebih menyakitkan dari kebohongan?”

“Kau benar-benar luka parah.”

“Lebih parah dari apa yang sedang kau pikirkan. Perempuan yang terluka itu seperti makhluk buas yang siap menelan apa pun. Kau tahu itu? ”

“Tidak.”

“Jangan pernah membuat perempuan terluka.”

“Kenapa tidak kau bunuh sejoli burung malam itu? Di mana bisa kutemukan pasangan itu? Kalau kau tidak bisa membunuhnya, aku akan datang pada mereka.”

“Mereka sejoli yang cerdik…. Datang ketika kau tertidur…. Pulang ketika kau terbangun. Bagaimana kau akan membunuhnya? Senjata apa yang akan kau pakai?”

“Aku akan bersembunyi menunggu kedatangan mereka.”

“Mereka pecinta yang ulung. Yang lelaki begitu sabar menunggu, berjam-jam dia bisa menunggu sampai kau kelelahan. Dia begitu sabar menunggumu sampai kau benar-benar tertidur. Setelah kau tidur, sejoli itu muncul. Mereka datang tanpa pernah mengetuk pintu. Kedatanganya begitu misterius. Mereka punya kode-kode khusus yang hanya mereka pahami. Mereka juga punya panggilan khusus yang lelaki bernama: Mata Air. Yang perempuan bernama: Bintang.”

“Mata Air?”

“Nama yang indah.”

“Ya. Nama yang terlihat suci, ganas, gaduh, tetap dingin. Kadang-kadang juga terlihat terhormat.”

“Bintang?”

“Karena perempuan itu hanya muncul pada malam hari. Tak ada bintang ketika subuh.”

“Kau terluka?”

“Sangat dalam.”

“Tidakkah kau ingin membunuh mereka?”

“Adakah yang lebih ganas dari kata membunuh?”

“Kau kenapa?”

“Terluka sangat dalam.”

***

PEREMPUAN itu benar-benar ingin menjadi palung. Aku tidak pernah paham, kenapa dia selalu ingin menjadi palung. Kadang, ketika duduk berdua, aku sering memandang matanya yang teduh. Mata yang begitu penuh cerita. Mata yang membuatku merasa nyaman berada di sisinya. Menyentuh kulitnya yang keriput. Atau menatap matanya yang bulat. Mata seorang penari. Mata yang memikat. Mata yang membuat semua orang percaya, bahwa dia seorang perempuan Bali. Perempuan yang biasa menari. Perempuan yang menjajakan tubuhnya hanya untuk para dewa.

Aku belum pernah melihat perempuan yang memandangku begitu tulus. Penuh cinta dan gairah. Tatapannya membuatku bergairah. Seperti magnet yang menarikku. Aku selalu ingin menjatuhkan kepalaku di pangkuannya. Atau aku ingin menangis di dadanya. Atau bercerita lirih di telinganya. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa perempuan ini ketika muda? Makhluk apakah yang tega mencabik-cabiknya. Merusak seluruh sistem kehidupannya. Merampas hari-hari dan masa depannya.

Lelakikah? Yang merusaknya?

“Aku ingin menjadi palung. Yang tidak pernah sakit hati dan terluka ketika disakiti?”

“Adakah manusia yang kuat disakiti?”

“Makanya aku ingin jadi palung.”

“Kau tidak pernah tahu. Mungkin saja luka palung lebih kuat dari lukamu?”

“Aku ingin cantik dan tegar seperti palung?”

“Sejoli malam itu membuatmu sering meracau.”

“Aku tidak meracau. Kau tahu, sejak sejoli malam itu datang di tengah malam dan pulang menjelang subuh. Aku telah kehilangan lelakiku.”

“Lelakimu?”

“Ya. Kupikir dia telah menjelma jadi makhluk asing ketika aku tertidur.”

“Kau tahu yang dilakukannya?”

“Tidak. Aku tertidur. Tetapi aku merasakan lelaki itu mengiris-iris hatiku. Juga mencangkuli jantungku. Mereka selalu datang malam hari menanak pikiranku, menggoreng hati, dan membuat sop jantung untung pesta cinta mereka. Kurasakan kehadiran sejoli malam itu di mimpiku. Lelakiku sering mengigau sambil memanggil sebuah nama. Lalu mereka bercumbu…. Meninggalkan darah yang tercecer dari: pikiran, jantung dan hatiku. Setiap malam mereka datang.”

“Ketika kau tak ada.”

“Ya. Ketika aku tak ada.”

“Bunuhlah!”

“Jejaknya tak ada. Jejaknya tertinggal di otakku.”

“ Aku tahu sekarang. Kenapa kau sering menjerit-jerit sambil meracau.”

“Aku tidak meracau. Aku membaca mantra?”

“Mantra?”

“Ya. Mantra untuk memanggil hati, jantung, dan pikiranku yang bocor dan teriris. Hati, jantung, pikiranku mulai membusuk. Aku tidak meracau! Aku merapal mantra….”

“Ya. Ya. Jangan mengamuk.”

***

PEREMPUAN itu ingin menjadi palung. Keinginan yang sangat aneh! Aku telah jatuh cinta padanya. Sejak melihatnya pertama kali. Jantungku berdegup. Wajah perempuan itu begitu berkarakter. Pipinya yang licin. Hidungnya yang tegak. Matanya, ya, aku suka matanya. Begitu hidup dan membuatku sangat bergairah. Gairah yang tidak pernah kudapatkan dari perempuan mana pun. Ketika dia bercerita, begitu mempesona. Ceritanya begitu runut. Wajahnya terlihat makin cemerlang. Kupikir: perempuan itu adalah perempuan tercantik yang pernah muncul dalam hidupku.

Aku juga menyukai jari-jarinya yang panjang. Kukunya terawat rapi. Kelihatan sekali kalau dia perempuan yang pajam memanjakan tubuhnya.

Aku kembali menatapnya.

“Apakah aku masih terlihat cantik?” Kali ini untuk pertama kali dia berkata padaku. Padahal sudah hampir sepuluh tahun dia tidak bicara. Dia bicara dan menyatakan keinginannya dengan pensil yang selalu digantungkan di lehernya yang jenjang. Kali ini dia bicara?! Aku bergidik. Girang.

Hyang Jagat, perempuan satu-satunya di dunia yang sangat kukagumi. Kubayangkan dia ketika sepuluh tahun yang lalu. Betapa cantiknya. Betapa menggairahkan. Yang menjadi beban pikiranku, kenapa perempuan itu begitu terobsesi menjadi palung. Palung di tengah laut. Sendiri. Kedinginan. Kesepian. Siapa yang bisa membaca perasaan palung di tengah laut?


“Aku bisa merasakan perasaan menjadi palung di tengah laut.” Suaranya terdengar pelan. Lalu kembali sunyi. Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibirnya yang merekah merah. Dia benar-benar perempuan menggairahkan.

***

“KAU memang sudah gila. Bila jatuh cinta dengan perempuan itu. Aku akui dia cantik. Tapi bisakah kau berpikir, apakah kau tidak takut digiling seperti daging ayam potong di mesin blender? Seperti dia menggiling suaminya? Atau memotong anak-anaknya, karena dia merasa hidup anak-anaknya tidak bahagia?”

“Tapi kau tidak mengenalnya?”

“Kau yang tidak mengenalnya! Melihat matanya, aku seperti melihat mata yang mengerikan. Mata yang akan menelanku hidup-hidup!”


“Matanya, begitu cantik. Mata seorang penari!”

“Dulu!”

“Masih terlihat keindahannya!”

“Hah? Keindahan?”

Tak ada seorang psikiater pun bisa melihat keindahan perempuan itu. Aku tahu dari surat-surat yang dikirimkan padaku. Dia perempuan yang terluka, yang merasa disayat-sayat hidupnya. Ditikam dari belakang. Walaupun lelaki yang mengawininya tidak pernah menggores kulitnya seinci pun. Tapi dia perempuan yang terluka. Yang selalu terjaga di tengah malam, melihat suaminya menjelma jadi sejoli burung malam. Bermesra dan mengumbar kata-kata cinta di rumahnya, sambil memutar lagu-lagu cinta picisan yang dibeli di pasar malam.

Perempuan aneh yang tidak pernah tidur, selalu waspada. Dia akan tidur pukul empat pagi. Dan selalu terjaga dengan sorot mata pucat dan kecewa. Dia perempuan yang benar-benar terluka. Perempuan terluka yang bisa memakan apa saja yang telah mematahkan hati, jantung, pikiran, dan kepercayaannya. Perempuan yang membakar radio yang memutar lagi-lagu cinta. Mengumpat tak jelas. Tapi aku mencintainya. Perempuan tercantik dan jujur dengan luka menganga di seluruh perjalanan hidupnya. (*)

.

Denpasar, 2008-2009-2010

Oka Rusmini, saat ini tinggal di Denpasar, Bali. Ia menulis puisi, novel dan cerita pendek. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon(1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003),Patiwangi (2003), Warna Kita (2007) , Erdentanz, novel Tarian Bumi edisi bahasa Jerman (2007), Pandora (2008) dan Tempurung(2010).

Sumber: Jawa Pos, 24 April 2011

Monday, October 08, 2012

Biola Tak Berdawai

Prolog:
Antara Tubuh Dan Jiwa,
Hatiku Berbicara


Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh , dan suara itulah jiwanya tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelamakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai…

Namun berbeda dengan biola yang tak berjiwa, tubuh manusia yang hidup tetap[I tidak mampu menjadi dawai bagi jiwanya, masih tetap menyimpan jiwa itu di dalamnya mereka yang disebut tunadaksa bukanlah seonggok darah dan daging yang tumbuh seperti tanaman, karena bahkan tanaman bagaikan memahami cinta paraperawwat dan menolak para perusaknya.

Betapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk memahami jiwa : pernah dipuja semabari merendahakan tubuh, dan melahirkan para pertapa; bisa dipinggirkan semabari memuja tubuh, dan melahirkan para peraga ada kalanya tubuh dan jiwa tak dipisahkan, yang berarti tubuh menjadi sahih sebagai pencerminan jiwa; namun terlalu sering juga tubuh gagal menjadi cermin memadai bagi penampilan jiwanya.
Terlalu sering kita melihat kebalikannya : tubuh terindah untuk jiwa yang menjijikkan, jiwa terindah dalam jiwa yang mengerikan betapa berpengaruh penampilan sang tubuh dalam penilaian kita tentang jiwanya, dan betapa sering kita tersesat karenanya…

Begitu banyak yang tidak cocok : wajah alim seorang pembunuh, wajah suci seorang pelacur, wajah miskin seorang dermawan, wajah jutawan seorang pengemis yang terlalu banyak meminta untuk dirinya sendiri padahal barangkali memang begitulah adanya, bukankah tidak munhkin memastikan kejahatan seseorang hanya dari wajahnya?

Jiwa kami, jiwa para tunadaksa, sebetulnya hanya bisa diduga-duga saja oleh para perawat kami yang mulia, karena sebenarnyalah jiwa seorang tunadaksa tiada akan pernah bisa diselami oleh mereka yang tubuhnya bersarana sempurna, meski mereka menghabiskan seluruh waktu hidup mereka untuk memikirkannya.

Kami memahami jiwa kami dengan cara kami sendiri, dan dari sudut pandang kami, dengan keberadaan tubuh yang menampung jiwa kami, dengan segenap keutuhannya kami adalah makhluk yang juga sempurna : kami tidak sempurna bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka, tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri.

Kami tidak mendengar karena tidak perlu mendengar, kami tidak melihat karena tidak perlu melihat, kami tidak bersuar karena tidak perlu bersuara, dan kami tidak berpikir karena tidak perlu berpikir tubuh kami tumbuh dalam kebutuhannya sendiri, bebas dari perintah-perintah kami, karena jiwa kami yang merdeka juga telah memerdekakan tubuh kami untuk kembali kepada diri mereka sendiri.

Seolah-olah kami tidak melihat dan mendengar, tetapi kami melihat dan mendengar, seolah-olah kami diam dan membisu, tetapi kami tidak diam dan tidak bisu, seolah-olah kami tumbuh seperti tanaman dan tidak mampu berpikir, tetapi kami bukan tanaman dan kami berpikir dengan cara yang hanya bisa mengkhayatinya semua ini terjadi bukan karena kami berusaha mengelabui, melainkan karena mereka yang merasa dirinya sempurna dan merasa kasihan kepada kami terkelabui oleh perasaan kesempurnaannya sendiri. Kami sendiri tidak merasa kurang sama sekali, karena keberadaan tubuh kami adalah kelengkapan dalam kelahiran kami.

Apakah kami mendengar atau tidak mendengar daun-daun yang menguning dan berguguran diterbangkan angin? Apakah kami melihat atau tidak melihat keteguhan gunung yang diselimuti awan dank abut secara berganti-ganti? Apakah kami merasa dan tidak meras bahwa senja yang keemasan telah memudar dan berganti malam hari? Apakah kami tersentuh atau tidak tesentuh oleh nyanyian jiwa yang bergelombang di sekitar kami? Apakah kami mengenal atau tidak mengenal kebesaran Tuhan dalam geteran alam semesta ini?

Dunia kami adalah ruang kosong yang belum dijelajahi : mereka yang merasa dirinya sempurna hanya mampu mempertimbangkan tubuh kami untuk menebak-nebak jiwa kami, namun usaha yang sudah lama dan luar biasa itu sejauh ini hanya bisa meraba-raba seperti apakah jiwa kami yang tersembunyi dalam ketubuhan yang sangat berbeda dengan ketubuhan mereka. Keberadaan jiwa membuat kami hidup, tetapi adalah keberadaan hati membuat kami masah tetap manusia dan karena danya hati, kami mengenal cinta melampaui pancaindra.

Begitulah kami tidak akan pernah mendengar kata-kata cinta, tetapi hati kami akan merasakannya. Cinta membuat kami tenang, cinta membuat kami bahagia, dan cinta membuat kami terharu. Dari hari ke hari kami dihidupkan oleh cinta sampai kami mati, tubuh kami, raga kami akan sangat cepat mati, tetapi kami tidak akan pernah hilang dari dunia ini : kami hidup dalam diri setiap orang yang mencintai kami. Adal;ah cinta yang akan menghidupkan kami dan adalah cinta yang akan selalu menyelamatkan manusia dibumi, kami para tunadaksa bagaikan penjelmaan malaikat yang turun dari langit untuk menguji, seberapa jauhkah manusia memahami makna cinta kepada sesamanya sendiri.

Tentu saja kami menerti betapa kami bukanlah jenis manusia yang terlalu sama dengan begitu banyak manusia disekitar kami. Para tunadaksa bukanlah penari, para tunadaksa bukanlah penyair, dan para tunadaksa bukan pula para penyanyi, kami bukan ilmuwan, bukan pedagang, bukan pula cendekiawan, apalagi negarawan. Bukankah kami tidak mempunyai bahasa seperti kaum bisu tilu bisa mempunyainya, bukankah kami tidak mempunyai kemampuan membaca seperti orang-orang buta bisa menguasainya, dan bukankah kami juga tidak mempunyai kemampuan menerjemahkan pikiran seperti orang-orang lumpuh pun bisa melakukannya namun dari hari ke hari kami mengada dalam dunia, memberi arti dan makna dengan cara yang hanya para tunadaksa yang mampu memyelaminya.

Mereka memang mencintai kami, dan hati kami telah disejukkan oleh cinta mereka, namunkeindraan mereka yang berbeda dari keindraan kami telah menjadikan hubungan kami dengan mereka yang mencintai kami itu penuh misteri. Demikianlah kami dan mereka bagaikan saling meraba dalam kegelapan dan saling mengulurkan tangan. Ujung-ujung jari kami bagaikan saling bersentuhan ketika mencoba saling mengenal, namun bukanlah keindraan yang telah mempertemukan kami, karena ketika jiwa mendekat bagai tiada berjarak, keindraan itu telah dilampaui.

Bahkan mereka kemudian tidak mengunakan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar dan telapak tangan sekedar untuk meraba. Jiwa mereka sering mendadak lebur dengan jiwa kami, namun bisa pula dengan sendirinya terlepas kembali : seandainya kami bisa berbicara, kami ingin memanggilnya agar jangan pergi, tetapi kami tidak memiliki sesuatu yang membuat kami bisa dimengerti kami tidak mempunyai sarana untuk membahasakan diri kami.

Kami, para tundaksa, bagaikan jiwa yang melayang dalam kelam, jiwa yang melayang-layang dalam gua garba yang tiada akan pernah mencerminkan apa yang kami pikirkan, tidak pernah menerjemahkan apa yang kami rasakan, dan tidak akan pernah menyampaikan apapun yang kami kehendaki, sekadar karena bahasa yang dimungkinkan oleh tubuh kami tidak begitu mudah dipahami. Tetapi tubuh kami adalah tubuh yang berjiwa, dan jiwa kami adalah jiwa yang berhati kami adalah juga manusia, dan keberdaan tubuh kami membuat kami hidup secara murni…

Jika dikau mendengar suara biola, yang menyayat dan merintih di malam hari, apakah dikau mengira suara itu datang hanya karena gesekan tongkat bersenar kepada dawainya? Jika dikau mendengar suara biola, yang mendesah dan berbisik di malam sunyi, apakah dikau mengira suara itu datang hanya Karena ada tangan yang mengesekkannya? Jika dikau mendengar suara biola, yang meratap dan melengking di malam sepi, tidakkah dikau mengira tangan yang menggesek biola itu menjelamakan nada-nada dari dalam jiwa? Tetapi dari manakah datangnya nada-nada yang membentuk lagu dari dalam jiwa itu? Apakah lagu itu datang dari balik kegelapan dari sebuah semesta entah dimana? Dari balik kelam lagu itu datang untuk dimainkan seribu biola tetapi apakah dikau masih mengira nada-nada itu tidak ada, ketika tiada satu biola pun memainkannya dan dunia sepi suara?

Nada-nada itu ada meski kita tidak mendengar suara, selama kita masih berjiwa. Adalah jiwa yang menggerakkan tubuh kita, namun adalah hati yang membuat kita memiliki rasa di luar keindraan kita, karena tanpa hati kita bukanlah manusia sedangkan hati adalah semesta nada-nada. Jiwa kita bagaikan lapisan-lapisan hati tanpa isi, namu apabila lapisan-lapisan itu dibuka ternyata tidak pernah ada habisnya. Setiap lapisan hati bagaikan suatu galaksi dlam semesta jiwa yang tiada bertepi, darimana nada-nadadengan segenap sentuhannya mengembara, dari sebuah jarak yang milyaran tahun cahaya jauhnya hanya untuk menyapamu.

Setiap kali suatu untaian nada menyentuh jiwamu, wahai saudaraku,sebetulnya dikau terhubungkan dengan sebuah dunia dari hati yang berdenyar, yang tiada akan pernah berhenti berdenyar, selama cinta membasuh dan membelainya. Hanya mereka yang mengenal cinta bisa mendengarnya, dan hanya mereka yang bersedia mencintai dan dicintai bisa mengembangkan nada-nada itu di dalam jiwanya. Dengarlah lagu biola itu dalam hatimu saudaraku, apakah biola yang semula satu telah menjadi seribu, ataukah hilang lenyap tak menentu?

Dalam semesta jiwa nada-nada bagaikan kupu-kupu yang beterbangan mencari bunga-bunga cinta mereka tidak akan hinggap di hati yang membatu, mereka tidak akan hinggap di jiwa yang membeku, karena bunga-bunga cinta berkembang dan semerbak, mendenyarkan cahaya cinta ynag semburat di alam semesta, namun hanya kupu-kupu yang mencari bunga cinta seperti mencari madu kemurniaan dunia akan melihat dan mendengarnya.

Cinta melampaui pancaindra, menyentuh langsung ke dalam jiwamu saudaraku, menyapa hatimu yang terbuka terhandap denyar nada-nada yang beterbangan seperti kupu-kupu dalam semesta jiwa. Jika suata hari kita berjumpa wahai saudaraku, ketahuilah betapa dikau melihat tapi tidak melihat kami, betapa dikau mendengar tapi tidak mendengar kami,, karena dikau hanya melihat dan mendengar suatu penampakan, karena suatu penampakan adalah sejuta makna disebaliknya. Namun jika dikau menatap kami dengan mata hatimu saudaraku, kami adlah kupu-kupu bagi bunga-bunga cintamu, adalah nada-nada bagi lagu jiwamu, adalah kata-kata bagi puisi dalam hatimu.

Karena kami tunadaksa, maka suaramu akan menjadi suara kami, kami tunadaksa maka bahasamu akan menjadi bahasa kami karena memang kami tunadaksa bagimu, maka dirimu akan menjadi dawai bagi biola jiwa kami.
Tetapi adalah selalu diri kami sendiri, yang tidak akan pernah sepenuhnya dikau mengerti…

Sumber: www.duniasukab.com

Thursday, October 04, 2012

Gerhana Mata Djenar Maesa Ayu

Gerhana Mata
Cerpen Djenar Maesa Ayu

Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.

Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.

Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.

Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.

Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.

Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.

Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.

Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.

Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.

Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.

Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.

Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.

Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.

Mungkin…

Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.

Mungkin…

Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook