Monday, November 12, 2012

Pidato Pramoedya Ananta Toer

Sastra, Sensor, dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan
(Pidato tertulis Pramoedya Ananta Toer yang disampaiakan saat menerima penghargaan Magsaysay di Manila)
Pramoedya Ananta Toer
Saya warganegara Indonesia dari ethnik Jawa. Kodrat ini menjelaskan, bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang didominasi oleh sastra wayang, lisan mau pun tulisan, yang berkisah tentang Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, serta kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih tetap bertumpu pada kewibaan Hindu. Sastra yang dominan ini tanpa disadari mengagungkan klas atau kasta satria, sedang klas-klas atau kasta-kasta dibawahnya tidak punya peran sama sekali. Pekerjaan pokok kasta satria adalah membunuh lawannya. Selain sastra wayang yang agak dominan adalah sastra babad, juga mengagungkan kasta satria, yang ditangan para pujangganya menyulap kejahatan atau kekalahan para raja menjadi mitos yang fantastik.

Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan Sultan Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer terhadap Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah mengalami kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan kekuasaannya atas Laut Jawa sebagai jalan laut internasional. Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mytos ini melahirkan anak-anak mytos yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mytos lain: ditabukan berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan asosiasi orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa disengaja oleh pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi batin rakyat Mataram.
Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan negara, dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan kastanya sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya adalah menafikan kemajuan zaman, memberikan beban histori yang tidak perlu, membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik daripada yang sekarang. Pendapat ini yang membuat saya meninggalkan sama sekali sastra demikian.
Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya, langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak langsung kekuasaan agar masyarakat tak punya peerhatian pada kekuasaan negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak mengindahkan politik. Sastra dari kelompok kedua ini membawa pembacanya berhenti di tempat.
Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang kemerdekaan maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai sastra golongan kedua ini. Seiring dengan pengalaman pribadi tersebut, walau pada awalnya tidak saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia, dan peran individu dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang dicitakan. Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di bidang kreasi.
Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan, standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu terpancarkan baik dengan sadar atau tidak. Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan, bahkan tertindas oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah melawan, bahkan memberontak. Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang - dengan sendirinya dari golongan ketiga ini - dinamai opposan, pemberontak, bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan.
Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun kalah-menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan berarti bahwa demokrasi tidak punya cacad. Eropa yang demokratis di Eropa justru tidak demokratis di negeri-negeri yang dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri jajahannya yang tak mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan idea bisa dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial.
Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade kedua abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak ditujukan pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum tindakan terhadap delik pers diputuskan melalui pengadilan. Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum, dan dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat-setempat. Larangan dan penyitaan, juga oleh pejabat kolonial Pribumi pernah dilakukan terhadap karya ayah saya, tetapi karya itu bukan karya sastra tetapi teks pelajaran sekolah-sekolah dasar yang tidak mengikuti kurikulum kolonial.
Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan. Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak kekuatan Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa yang agraris kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi petani mengakibatkan lahirnya mentalitas baru yang juga merosot. Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya "teposliro" (tahu diri), kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai dengan hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai pada puncak kekuasaan. Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo) sampai 7 tingkat yang berlaku sesuai hierarki kekuasaan menterjemahkan semakin kerdilnya budaya tradisional. Maka dalam sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya belum pernah terjadi. Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang kalau perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra Indonesialah sensor kekuasaan bisa terjadi.
Idea-idea dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa. Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat tidur dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor memang perlu diadakan.
Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang menguntungkan. Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah penduduknya berkembang sebagai faktor-faktor klimatologis yang mendukung pertanian. Bukan suatu kebetulan bila kolonialis Belanda membuat Jawa jadi pusat imperium dunianya di luar Eropa. Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah budaya tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat dihindarkan. Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa menekan ini adalah "tepo-sliro", kehidupan kekuasaan sekarang dinamai dengan bahasa Inggris "self-cencorship". Nampaknya elit kekuasaan malu menggunakan nama aslinya. Dengan demikian menjadi salah satu faset dalam kehidupan modern Indoensia bagaimana orang menyembunyikan atavitas/atavisme.
Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam sastra avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian mengevaluasi dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan. Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus menanggung seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam kemapanannya.
Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi negara? Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini cerita, sebenarnya tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia ditulis dengan nama jelas, diketahui dari mana asalnya, dan juga jelas bersumber dari hanya seorang individu yang tak memiliki barisan polisi, militer, mau pun barisan pembunuh bayaran. Ia hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan kekenyalannya.
Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian demokrasi pancasila, yaitu era kemerdekaan nasional setelah tumbangnya negara kolonial yang bernama Hindia Belanda dan peralihan pendudukan militeristis Jepang. Dalam masa demokrasi liberal di mana negara tetap berdasarkan pancasila yang tak banyak acuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin, sewaktu Presiden Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri dan mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para adikuasa, pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. Soekarno sebagai penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa pancasila di antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen, Declaration of Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis dalam hal keadilan sosial. Semasa demokrasi pancasila yang ditandai dengan gerakan de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan Pancasila bukan saja tidak pernah disebut lagi bahkan pernah ada upaya dari seorang sejarawan orde baru yang mebuat teori bahwa pancasila bukan berasal dari Soekarno. Dalam sejumlah peralihan ini tidak pernah terbukti ada karya sastra yang memberikan pengaruhnya. Dan memang sastra avant garde praktis belum pernah lahir. Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat deskriptif. Bila toh ada avant garde yang lahir itu terjadi semasa penindasan militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang terjadi sama kerasnya dengan penindasannya. Individu tersebut, Chairil Anwar, dengan sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya masyarakat pembaca yang banyak membaca dan menyukai sajak tersebut dan umumnya tak dikaitkan dengan masa pendudukan militeris Jepang waktu ia menciptakannya.
Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau tak langsung- tentang sastra regional dan internasional sekaligus, karena setiap karya sastra adalah otobiografi seorang individu, seorang dari ummat manusia selebihnya, yang mempersembahkan pengalaman batinnya pada kolektivitas pengalaman ummat manusia.
Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme mereka kemudian juga harus membiayai hidupnya kolonialisme. Walau feodalime sebagai suatu sistem sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya masih tetap hidup, bahkan elit kekuasaan mencoba melestarikannya. Sstra avant gardelah yang menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan, dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung resikonya sendirian.
Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali tidak berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti dasar dan sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya mengganggu tidur pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan, yang kuatir suatu kali cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa terlepas.
Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 35,5 tahun. 2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa orde baru, diantaranya 10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga hanya dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara. Sebagai pengarang barang tentu saya berontak terhadap kenyataan ini. Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba berkisah tentang tahap-tahap tertentu perjalanan bangsa ini dan mencoba menjawab: mengapa bangsa ini jadi begini?
Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai lebih pada karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan.
Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat dengan politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut pandangan saya setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu bertautan dengan politik. Bahwa seseorang menerima, menolak, bahkan mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada 
kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan ummat manusia. Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau pun merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik.

Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra harus terpisahkan dari politik. Memang bisa saja politik kotor di tangan dan dari hati politisi yang kolot. Kalau ada yang kotor barang tentu juga ada yang tidak kotor. Dan bahwa sastra sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya keluar dari pikiran para pengarang yang politiknya adalah tidak berpolitik. Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama masyarakat ada kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang "menolak" politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang yang telah mapan dapam pangkuan kekuasaan yang berlaku..***


Thursday, November 08, 2012

Mengenal Fiksi Mini

Fiksi MIni Kurniawan Junaedhie


Fiksi mini karya Kurniawan Junaedhie (KJ) berikut ini merupakan bagian dari buku ANTOLOGI 600 FIKSI MINI yang memuat lebih dari 600 buah fiksi mini sejenis. 

Fiksi mini adalah medium ekspresi yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Bentuknya karya fiksi yang berformat mini, hanya beberapa kalimat saja.. Meski dalam ukuran mini, para pengarang –yang umumnya penyair dan prosais— ini mencoba mengajak pembacanya ke alam kesadaran baru. Kadang berupa tawa, yang tak semua menghibur memang, karena kadang ada ironi di dalamnya. Yang jelas, pembaca dibebaskan menafsirkan sendiri sesuai imajinasi, ilusi dan fantasinya.

Berikut salah satu contoh fiksi mini karya KJ. Semoga memberi inspirasi



BUKU
Buku itu melotot ke arah saya. Dia membetulkan kacamata saya. Iqra, katanya.

TIDUR DI DEPAN TELEVISI
Pacarku bertanya, “sedang apa, Sayang?” Kujawab, “aku sedang ditonton televisi, Darling.”

DI RANJANG
Tengah malam, aku dibangunkan guling. “Sudah berapa malam ya, kamu tidur bersama ranjang?”

ADIK BARU
Suami memeluk dari belakang. “Si bungsu pengen punya adik,“ bisiknya. Istri menyepak tangannya. “Beli saja kalau besok kamu ke kantor.”

SAPI
Kepala itu menggelinding. Masih terngiang suara gunting.

INGATAN
BU : Disewakan sejumlah kenangan. Masih segar dalam ingatan.

FRENCH KISS
Setelah kami berciuman, aku pingsan. Ternyata bibirnya berbisa.

CIUMAN YUDAS
Setelah dia menciumku, besoknya aku flu dan batuk-batuk.

PENANTIAN
Di lapangan bola, istri pemain sepakbola itu berkata: “Aku akan setia menunggumu 1000 tahun lagi.” Setahun berlalu, lapangan sepakbola itu sudah jadi supermall.

KEKASIH
Astaga. Kekasihku nyaris dinodai suaminya.

ISTRI
Jauh di hati dekat di mata.

BUKAN ISTRI
Jauh di mata dekat di handphone.

KESETIAAN PEREMPUAN
Sementara tangan kanannya mengerik punggung suaminya, tangan kirinya menulis pesan singkat untuk kekasihnya: I love you!

SEKOLAH BARU
Ini halaman sekolah anak konglomerat, Nak. Bukan halaman buku puisi Bapak!

INDEKOS
Kekasihku indekos di rumah suaminya.

LAGU MALAM
Setiap malam, kekasihku tidur bersama suaminya.

LUNA MAYA
Satpam muda itu nyelonong ke kamar kerjaku. “Akulah anakmu yang benihnya kamu buang ke got waktu kamu mandi.” Astaga, mirip benar dia dengan Luna Maya.

3 MENIT
Pacarku kirim SMS: “Jangan ganggu aku 3 menit saja. Aku lagi bertengkar dengan suami.”

TIDUR
Setiap malam aku baru tidur jika sudah ada yang bangun.

SAJAK
Begitu siuman dari pingsannya, kata-kata dalam sajak melihat arlojinya. Aneh, ambulan yang membawa ilham ke rumahsakit belum juga tiba, katanya.

CIUMAN BATAL
Kami mendekat. Nafasnya memburu. Kupejamkan mata. Kumonyongkan bibirku. “Miauw!” tiba-tiba seekor kucing melesat di kaki.

KUCING
Kamu mencuri hatiku dan meletakkannya di tempat tersembunyi sampai suatu hari seekor kucing menggondolnya dan membawanya pergi.

CERMIN
Di cermin, jerawatnya bertemu rembulan. “Numpang tanya, salon terdekat mana ya?”

DI JAKARTA
Aku naik busway. Jalanan riuh rendah. Sopir ngebut. Debu berhamburan. Sebuah kepala hinggap di pangkuan.

Sumber: kurniawan-junaedhie.blogspot.com

Sunday, November 04, 2012

Membaca Puisi Kurniawan Junaedhie

Dalam 
Kesederhanaan Kata-Kata


Membaca sajak-sajak Kurniawan Junaedhie (KJ) tak lain adalah membaca perjalanan sejarah seorang manusia, yang penuh getar rasa maupun pikiran-pikiran, sehingga menghadirkan kepuitikalan. Hal ini sebagaimana dikatakan Shelley, bahwa sajak merupakan rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup seorang penyair. Peristiwa itu bisa saja mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.

Kendati merupakan catatan sejarah, tentu bukan buku sejarah biasa. Pasalnya, sebagaimana dikatakan Theodore Watts-Dunton, sajak merupakan satu pengucapan konkrit dan artistik tentang pikiran manusia melalui penggunaan bahasa yang emosional dan berirama. Dan ini dilakukan KJ pada sajak-sajaknya.

Boleh jadi, karena dia sebagai penyair selalu jujur pada hati dan pikirannya. Walau dengan bahasa sederhana, bahkan seringkali menggunakan idiom-idiom B dari kata-kata sehari-hari, namun getar dan luapan emosinya pun hadir dan terasa. Hal ini dapat kita simak pada sajaknya:

SAAT HENDAK PISAH kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis,burung di udara sudah menyanyiawan di langit sudah bergulungan ke penjuru duniakalau aku pergi, jangan suruh aku menangis,jarak antara aku dan kamu tak pernah tercatat dalam petakalau ciumanku dan remasan tanganku tak berasaaku akan bicara pada langit, jiwaku hampakalau aku menangis,apakah bintang dan matahari akan menari dan kau ikut menemani? 1993(Cinta Seekor Singa, halaman 42)

Betapa terasa seorang lelaki yang akan berpisah dengan kekasihnya. Pada bait pertama yang tiga baris, sudah mengantarkan kepada pembacanya tentang kesengsaraan, namun saat aku lirik mencoba menegarkan dirinya: kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis, malah KJ mengutarakan burung di udara sudah menyanyi walau dirinya mengakui perpisahan itu amat memukul hatinya dengan metaforanya: awan di langit sudah bergulungan ke penjuru dunia.

Keterusterangan itu makin tampak pada bait kedua yang empat baris, bahwa ada kegalauan di hati penyair. kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis, pada baris ini pengulangan yang menekankan akan aku lirik menegarkan dirinya. Namun aku lirik menyadari betapa jarak antara aku dan kamu tak pernah tercatat dalam peta.

Bahkan, kalau ciumanku dan remasan tanganku tak berasa yang seharusnya terasa, karena penuh kedalaman cinta. Jika hal ini terjadi, dengan kegeramannya, aku lirik mengatakan aku akan bicara pada langit, jiwaku hampa. Keterusterangan masgulnya hati dan akan menggugat langit, sebuah suasana emosional yang membikin pembaca masuk ke dalam kembara batinnya.

Kegeraman aku lirik terlihat pada bait ke tiga yang tiga baris.Bahkan dalam geramnya, jika aku lirik tak menegarkan dirinya dalam kesengsaraan ini,B maka sang kau lirik bakal menertawainya dengan menari bersama bintang dan matahari. Dan kita amat memahami bahwa bintang merupakan citra dari malam dan matahari adalah citra dari siang.

Jika saja kita percaya bahwa sajak adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah, sebagaimana kata Samuel Taylor Coleridge.

Yang katanya, B bahwa penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya. Namun bagi KJ, sajak ditulisnya dalam getar puitik, bukan susanan kata-kata indah.Simak pada sajaknya:

PEMANDANGAN DINI HARI Untuk: Tina K. jam tujuh petang di Jakarta.jam 5 subuh di Michigan. halo.aku mendengar kamu kesepianaku mendengar kamu terisak di sini aku sedang menulis sajakmenuliskan perpisahan dan penyesalanjam tujuh petang di Jakarta.jam 5 subuh di Michigan. halo.telepon itu tergeletakdi samping sajak. 1994(Cinta Seekor Singa, halaman 67)

Walau KJ amat memperhitungkan logika waktu, namun perasaan dan pikirannya dituliskan begitu saja, sesuai gerak pikir dan rasa tadi. jam tujuh petang di Jakarta./jam 5 subuh di Michigan./halo.//Dan dari sana penyair pun merasakan kau lirik yang kesepian, terisak dan sang aku lirik menuliskan penyesalan perpisahan.

Agaknya sajak-sajak KJ sebagaimana kata Wordsworth, adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Malah kalau Auden menyatakan sajak itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

Dan pada sajak KJ bertajuk Pemandangan Dinihari, lebih tergambarkan pendapat Wordsworth maupun Auden itu.Juga hal ini terasa pada sajak di bawah ini: SAJAK UNTUK LELAKI SIALAN aku menangis seharian di dresi pagi tadi suara gerbong tua menyisir rel, di pagi buta iniaku menangis seharian, melihatmu kuyup dalam hujanaku berpikir: kenapa bulan Mei berjalan begitu lamban? seseorang bertanya, siapakah yang kautangisi?aku tak menjawab sepatah punhatiku ngungun aku melihat sebuah gerbong tua,menyisir rel, di pagi buta ini 1993(Cinta Seekor Singa, halaman 47) Pertanyaan penyair yang sederhana terangkai, menghasilkan getar puitik: aku berpikir: lenapa bulan Mei berjalan begitu lamban?

Yang kemudian diikuti oleh pertanyaan lain: seseorang bertanya, siapakah yang kautangisi?Dari pertanyaan itu, makin dapat dipahami, saat KJ membuka sajaknya dengan: aku menangis seharian di dresi pagi tadi/ suara gerbong tua menyisir rel, di pagi buta ini/aku menangis seharian, melihatmu kuyup dalam hujan. Betapa pengakuan aku lirik melihat dan membayangkan kau lirik, sehingga aku lirik berpendapat:B aku berpikir: lenapa bulan Mei berjalan begitu lamban?

Dan akhirnya, penulis sependapat dengan Maman Mahayana, yang mengatakan: Meskipun hampir setiap orang dapat membuat sajak, niscaya tidak semua orang dapat menjadi penyair. Lalu, bagaimanakah seseorang dapat dikatakan sebagai penyair?

Pertama-tama tentu saja predikat itu datang lantaran karya-karyanya dipandang berkualitas dan bukan sekadar menulis puisi. Kuantitas bukanlah yang menjadi ukurannya. Oleh sebab itu, banyak-tidaknya seseorang menulis puisi, belum menjadi jaminan untuk menyebutnya sebagai seorang penyair. Kepenyairan seseorang semata-mata ditentukan oleh kualitas karyanya yang mampu memberi pencerahan kepada pembacanya.

Dan bagi penulis, KJ bukan sekadar tukang tulis sajak, namun dia penyair dengan kesederhanaan kata, kesederhanaan permasalahan, kesederhanaan ungkapan, melahirkan sajak-sajak yang mencerahkan. ***

Sutan Iwan Soekri Munaf 
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 14 Juli 2012

Thursday, November 01, 2012

Sajak Sajak Kurniawan Junaedhie

Seekor Kucing Hitam
- si dia

Seekor kucing hitam mengeong berkepanjangan
Perempuan itu mencopot pakaiannya
menyerahkan tubuhnya:
untukmu, katanya, hanya untukmu
Suaranya parau, seperti leher burung terkena pisau
Lalu dia memadamkan lampu,
dan rebah di ranjang
seperti sebilah pedang
Lalu malam bertemu siang
Peluh pun jatuh berleleran

Setelah bergulingan semalaman.
perempuan itu kembali pada suaminya,
Dan si lelaki kembali pada istrinya
hidup jalan terus seperti lazimnya
Hanya mereka terlanjur hapal tahi lalat mereka
Satu di pantat kiri, satu di dekat kelamin,
Sebuah tanda lahir di dekat payudara
Juga sebuah kenangan yang mengapung di tengah samudera

2009

Sajak Pendek Untuk Kesunyian 

Langit hitam
Helai malam
Suara daun gemeratak
Dalam kata
mirip sajak

2009

Aku, Kau & Cermin

Tubuhmu terbuat dari tubuh ikan. Licin. Dari sisik-sisik terbaik. Matamu terbuat dari merjan. Bening, berkilau. Hidungmu terbuat dari beling cangkir. Lembut seperti pualam, tak terurai. Bibirmu terbuat dari irisan apel. Lembut tak terpanai. Aku seperti lidah, menjilat-jilat bayangan kelam. Kadang aku menyelam, dan kadang aku terbang tinggi. Tapi cermin itu tidak memantulkan bayanganku sama sekali.

2009

Melankoli

Dia tunduk tersipu
Aku rengkuh bahunya
Angin bertiup lalu
Cuaca yang beku

Sekarang dia tertawa
Aku terbahak
Jangan berteriak
Tak ingin aku melukaimu

Lalu kamar itu senyap
Kata seperti melekat di dinding
Mata kita terpejam
Dan hati berpandangan

2009


Biodata:
Kurniawan Junaedhie, menulis puisi di media massa sejak 1974. Buku puisi tunggalnya, antara lain. “Cinta Seekor Singa” (2009), “Perempuan dalam Secangkir Kopi” (2010), Sepasang Bibir dalam Cangkir” (2011) dan “100 Haiku untuk Sri Ratu”. Ikut dalam sejumlah antologi, al: “The Fifties” (2009), “Senandoeng Radja Ketjil” (2010), dan “Merapi Gugat” (2010), “Kitab Radja-Ratoe Alit” (2011) dll. Tinggal di Serpong, Tangerang, bekerja sebagai pekebun dan editor.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 6 Agustus 2011

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook