Thursday, January 31, 2013

Proses Kreatif Putu Wijaya

Menikmati Perjalanan Sastra Putu Wijaya
Oleh F Akbar

Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Ketika duduk di sekolah menengah atas, ia memperluas wawasannya dengan melibatkan diri dalam kegiatan sandiwara. Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra.

Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.

Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres. Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama di Jepang (1973) selama satu tahun.

Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1975 ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Setelah itu, ia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman (1979-1985).

Ia juga mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001). Di samping itu, Ia juga pernah mengajar di Amerika Serikat (1985-1988).

Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.

Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya. Terhadap karya-karya Putu itu, Rachmat Djoko Pradopo (dalam Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh, 1985) memberi komentar bahwa Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup karena dorongan naluri yang terpendam dalam bawah sadar, lebih-lebih libido seksual yang ada dalam daerah kegelapan. Di samping itu, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron.

Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.

Karyanya berupa drama ialah Dalam Cahaya Bulan (1966), Lautan Bernyanyi (1967), Bila Malam Bertambah Malam (1970), Invalid (1974), Tak Sampai Tiga Bulan (1974), Anu (1974), Aduh (1975), Dag-Dig-Dug (1976), Gerr (1986), Edan, Hum-Pim-Pah, Dor, Blong, Ayo, Awas, Los, Aum, Zat, Tai, Front, Aib, Wah, Hah, Jpret, Aeng, Aut, dan Dar-Dir-Dor.

Sedangkan dalam bentuk novel diantaranya Bila Malam Bertambah Malam (1971), Pabrik (1976), Stasiun (1977), Keok (1978), Sobat (1981), Lho (1982), Telegram (1972), Tiba-Tiba Malam (1977), Pol (1987), Terror (1991), Merdeka (1994), Perang (1992), Lima (1992), Nol (1992), Dang Dut (1992), Kroco (1995), Byarpet (1995), Cas-Cis-Cus (1995), dan Aus (1996). Dalam bentuk cerpen terkumpul di sejumlah buku diantaranya bertajuk Bom (1978), Es (1980), Gres (1982), Klop, Bor, Protes (1994), Darah (1995), Yel (1995), Blok (1994), Zig Zag (1996), dan Tidak (1999). Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.

Penghargaan yang telah diterimanya ialah sebagai berikut: 1967 Pemenang ketiga Lomba Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (drama Lautan Bernyanyi). 1971 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ (novel Telegram).

1975 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ ( novel Stasiun). 1980 Penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand 1991-1992 Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang.

Sekarang, Putu Wijaya masih terbaring sakit yang cukup serius. Namun kepada setiap wartawan budaya yang menengoknya Putu mwnuturkan semangatnya untuk terus menggeluti dunia sastra. "Inilah dunia saya yang sesungguhnya," ujar Putu, pelan. ***

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 27 Oktober 2012

Monday, January 28, 2013

Puisi-puisi Anita Retno Lestari

Puisi Bulan, Tuhan, dan Anggur

Bulan di Pangkuanku 

Tuhan, ijinkan aku bermimpi 
seperti Ken Dedes 
bulan jatuh di pangkuanku 
lalu peta dunia berubah 
tapi tanpa pertumpahan darah 
tak ada lagi yang terbunuh 
atas nama pengkhianatan 
atas nama kepengecutan 
atas nama kepahlawanan 

jika bulan di pangkuanku 
akan kuiris-iris seperti semangka 
dan kubagi-bagikan kepada anak-anak jalanan 
kepada perempuan-perempuan malam 
biar mereka tak lagi hidup di kegelapan. 


Pesan Singkat 

Jika aku melupakanmu 
Tolong tegurlah diriku 
Dengan setaman bunga 
Tanpa kenanga. 


Pertanyaan Kepada Tuhan 

Seperti apa rupamu 
Ah, itu pertanyaan dungu 
Karena kau tak seperti apa 
Tak seperti siapa 

Di manakah engkau 
Ini pun pertanyaan lucu 
Karena engkau tak di mana-mana 
Atau di mana-mana 

Siapakah engkau 
Ini juga pertanyaan wagu 
Karena engkau bukan siapa 
Kecuali yang tercinta 

Apakah engkau mencintaiku 
Astaga, kenapa aku ragu 
Setelah tahu mawar itu indah 
Dan dunia demikian cerah. 

Sujud 

Akan kubenturkan kepalaku 
Di atas tanah atau batu 
Jika engkau tak mencintaiku. 


Kasta 

Dengan cinta 
Maafkanlah aku 
karena tak peduli kasta 
Atas bawah sama saja 

Dengan cinta 
Maklumlah aku 
Tak peduli kasta 
 Kau dan aku jadi kita. 

Turis 

Jangan bertanya 
Ke mana kita 
Pergi atau pulang 

Kita berjalan saja 
Untuk kembali 
Ke tempat asal 
Entah di mana 

Seperti pohon mangga 
Pada mulanya biji 
Entah jatuh di mana. 



Segelas Anggur 

Pada pesta 
Kau tuang segelas anggur 
Lalu kau coba mereguknya 
Tiba-tiba lantai hancur 
Langit-langit itu pun runtuh 
Bersama gaunmu yang luruh 
Bumi pun bergoyang-goyang 
Malam jadi amat panjang

(Segelas anggur 
Akankah menemanimu 
Dalam kubur?)


Tentang Penulis
Anita Retno Lestari, kelahiran Pati, 27 Juli 1988, menulis cerpen, puisi, dongeng dan esai. Kini sedang mempersiapkan penerbitan novel-novel remaja yang ditulisnya sejak duduk di bangku MTs dan aktif sebagai penggiat komunitas Sastradipati.

Friday, January 25, 2013

Cerpen Dianing

Penjara Dalam Tubuh
(Dianing Widya)

IBU mengantar keluarga Frans hingga ke halaman. Aku di sini memandang dari kursi tamu dengan kepala penuh lintasan kereta api. Dari jauh ribuan lintasan kereta api dengan raungan sirine, saling berebut. Telingaku hampir tak sanggup menampungnya.

Aku lihat Ibu masih setia menunggu satu persatu keluarga Frans masuk ke mobil. Gerakan tubuh mereka begitu lamban, terlebih pada Frans. Kekasih yang setia menemaniku sejak delapan tahun lalu itu, tampak lunglai seperti serdadu kalah perang. Kekasih? Dadaku selalu bergemuruh jika keluargaku menganggapnya sebagai calon suami.

Aku menunduk menekuri lantai yang diam. Aku baru saja menolak lamaran Frans. Bukan karena dia tak tampan atau tak menjanjikan secara finansial. Bukan juga karena ia tak memberitahuku sebelumnya, jika dia hendak berkunjung ke rumah bersama keluarga besar dengan tujuan meminang. Terdengar suara mesin mobil yang mulai dihidupkan. Aku mengangkat kepala. Tak seperti biasa, ketika Ibu mengantar kepulangan Frans. Ibu selalu melambaikan tangan, kali ini tidak.

Ibu mulai menuju ke dalam. Aku dengar helaan napasnya yang berat. Aku belum siap mendengar pertanyaan Ibu akan penolakanku pada Frans. Dan di ambang pintu, wajah Ibu menyiratkan pertanyaan mengapa aku menolak pinangan Frans. Aku menggeleng. Beranjak lalu berlari menuju tempat paling nyaman. Kamarku.

"Maafkan aku Frans," lirih aku berujar. Delapan tahun bukan waktu yang pendek. Waktu itu merentang panjang. Mengurungku dalam penjara yang dindingnya teramat tebal dan tinggi. Penolakanku inilah Frans, yang membebaskan tubuh, hati, jiwa dan rasa. Tetapi penolakan ini pula yang mencipta bentangan penjara baru. Penjara yang ada sejak aku masih kanak-kanak. Genderang perang bertalu-talu di detak nadiku ketika pintu kamar diketuk dari luar, diiringi panggilan Ibu. Aku hanya sanggup memandangi pintu, panggilan Ibu terus terdengar.

"Noura."
Aku persilahkan Ibu masuk. Aku dengar langkahnya yang berirama pelan begitu pintu terbuka. Ibu memandangiku dengan wajah menyimpan sejuta heran. "Mengapa Noura?" Aku menggeleng. Ibu duduk di samping kananku. Aku menunduk. Belasan tahun aku simpan deritaku sendiri. Penderitaan atas pertanyaanku yang tak juga rampung. Pertanyaan yang muncul sejak pertamakali aku jatuh cinta pada teman sekolah. Saat itu aku masih kelas tiga sekolah dasar.

Di dalam kelas, aku selalu mencuri pandang untuk bisa melihat wajahnya yang mencipta semesta dalam diriku. Perasaanku padanya terlampau indah, Ibu. Semula aku pikir hanya perasaan biasa. Hanya kekagumanku yang wajar, nanti akan hilang. Kenyataan tidak. Perasaan itu kian mengental dari waktu ke waktu.

Aku jatuh hati padanya Ibu. Anak perempuanmu ini tak sanggup menyingkirkan pesonanya hingga aku selesai sekolah menengah atas. Aku sangat beruntung. Ia mau berteman dan dekat denganku sejak sekolah dasar. Menginjak SMP kami tambah akrab. Waktu pun berpihak padaku. Selama tiga tahun, kami selalu satu kelas. Aku dan dia sama-sama suka olah raga dan seni. Aku sering menikmati harum keringatnya, juga butiran keringatnya saat meluncur dari sela-sela rambut di pelipisnya, saat tengah bermain volley bersama. Kami satu team dengannya di setiap lomba antar kelas. Aku sangat menikmati wajahnya saat keningnya saling bertaut, karena soal matematika yang rumit. Dia pesona tanpa batas.

Menginjak kelas dua SMU aku didera cemburu. Hatiku perih setiapkali melihatnya bersama Rexi, teman laki-laki yang ia perkenalkan padaku sebagai pacar. Sejak memiliki pacar, waktunya bersamaku jadi berkurang. Jika dulu pulang dan pergi sekolah selalu bersamaku, sekarang Rexi yang menggantikan posisiku. Saat istirahat sekolah, Rexi sudah menunggu di ambang pintu. Lama-lama aku tersingkirkan. Dia yang aku puja tanpa ia sadari, sibuk dengan Rexi. Ketika itu aku merasa dunia tak berpihak padaku. Untuk melupakannya aku menenggelamkan diri dengan pelajaran sekolah. Aku ingin diterima kuliah di universitas terbaik. Tekadku terwujud. Aku senang, tetapi tak mampu aku menepis bayangannya.

Ibu, aku tak tahu apa yang tengah aku alami sejak bertahun-tahun silam. Aku mencintai seseorang yang tak mungkin bisa aku rengkuh. Perasaan cinta itu seringkali ingin aku bunuh, tetapi aku tak pernah bisa. Semua yang melekat di tubuhnya, mewangi dalam fantasiku. Bayangannya tak pernah beranjak dari pikiranku. Siang malam aku terkenang olehnya. Saat hendak tidur dan terjaga hati selalu ingat padanya.

Ibu, cintaku padanya mencipta sembilu. Mencabik-cabik nadiku. Aku terpuruk oleh rasa ini. Cinta yang tak mungkin terbalas hingga matahari pecah sekali pun.

"Kau tak mau cerita sama Ibu," ucap ibu ditengah lamunanku. Aku pandangi wajah Ibu. Aku menggeleng lagi. Diraihnya tanganku.
"Kau ada masalah dengan Frans?" aku menggeleng. "Ada yang kurang dari Frans?" aku menggeleng lagi.

"Lalu?" Kepalaku mampat. Kereta api berseliweran dengan raungannya yang memanjang di sini. Jangan desak aku Ibu. Aku belum bisa menjawab semua pertanyaan yang sesungguhnya mudah aku jawab. Semua masalah bermuara pada tubuh dan emosiku. Bukan karena Frans.

"Noura." Aku mulai merasa didesak. Panjang lebar Ibu mengatakan jika semua orang tahu aku pacaran sangat lama. Semua tetangga melihat Frans adalah calon suamiku. Ibu harus menjawab apa jika ada tetangga tahu, pinangan Frans ditolak. Bagaimana dengan tanggapan orang-orang?

Aku menelan ludah. Aku pandangi lagi wajah Ibu. Kali ini Ibu mengalihkan pandang ke pintu kamar yang terbuka. Menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ibu merisaukan respon tetangga. Aku mengerucutkan mulut.

"Noura siap jadi bahan gunjingan, Bu. Duapuluh sembilan tahun belum menikah dan mungkin tak akan pernah menikah."
"Apa!"

Glekk. Aku seperti tak sadar mengucapkannya. Kalimat itu meluncur saja. "Kau tak akan menikah?" bola mata Ibu menghunjam tepat di jantungku.
"Apa maksudmu?" kali ini suara Ibu memekik tajam meski lirih.

Aku adalah bungsu dari empat bersaudara. Semua kakakku perempuan. Sejak kecil aku sangat berbeda dengan kakak-kakakku. Jika mereka suka memakai rok, mau didandani Ibu, aku memakai rok kalau mau berangkat sekolah saja. Jika ketiga kakakku memanjangkan rambut lalu diekor kuda, aku lebih suka memangkas rambutku sampai ke batas telinga. Semua tetangga selalu membandingkan aku dengan ketiga kakakku yang ayu. Aku, mereka bilang tomboy. Aku sendiri tak merasa seperti itu. Aku pikir aku biasa-biasa saja.

Baru ketika aku menginjak kelas tiga SD, aku mulai mau memanjangkan rambut meski hanya sampai sebahu. Aku mulai mengenakan baju yang beraroma perempuan. Itu karena aku menaruh hati dengan teman sekelasku.

Semua kakakku sudah berkeluarga. Jika mereka pulang di waktu-waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah, selalu pertanyaan yang itu-itu saja. Kapan aku menikah.

"Menikahlah dengan Frans."
"Hah!," keterkejutanku membuat Ibu amat terperangah.

"Bukannya selama ini hubunganmu dengan Frans, baik-baik saja. Apa kekurangan dia. Dia baik, pekerjaan ada, mendukungmu terus bekerja biar pun sudah menikah." Aku pusing.
"Kau akan menjadi perempuan sempurna, dengan melahirkan anak-anak Frans." Aku tambah pusing.
"Kau ..."

"Tidak. Tak mungkin aku menikah dengan Frans." Aku raih bantal. Aku sembunyikan wajahku. Ibu, sesungguhnya ingin aku tumpahkan semua pergulatan batinku selama ini, tetapi aku tak tahu dari mana memulainya.

Delapan tahun bersama Frans aku lalui dengan hambar. Hasrat ingin mengatakan putus, selalu terhalang oleh perasaan kasihan. Seringkali aku ingin jujur pada Frans juga Ibu, siapa sesungguhnya sosok yang aku cinta. Seringkali seribu keberanian aku himpun untuk membuka identitasku. Seribu keberanian itu meleleh oleh bayangan ketakutanku sendiri. Aku takut Frans dan Ibu tak bisa menerima kejujuranku.

Ibu menghitung helai demi helai rambutku. Seringkali dalam sendiri aku bertanya pada Tuhan. Mengapa ia bedakan aku dengan lainnya. Mengapa aku mencintai seseorang yang tak boleh aku cinta atas nama norma. Bahwa perempuan selayaknya jatuh cinta dan menjalin sebuah pertalian dengan seorang laki-laki. Aku justru tertarik kepada sesama perempuan, tragisnya aku tak kuasa menolaknya. Perasaan cinta yang tak pernah aku sengaja ini, yang seringkali membuatku tersisih, terbuang dan kesepian. ***

* Depok, Maret 2012

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 5 Mei 2012

Tuesday, January 22, 2013

Dami N. Toda sang Kritikus

Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda
Oleh Gerson Poyk

Penulis terhenyak ketika memperoleh berita bahwa Dami N Toda telah meninggal pada bulan November 2006 yang lalu. Perkenalan pertama kami terjadi di Sanggar Wowor milik pematung Michael Wowor di Jalan Kalibata Raya pada tahun enam puluhan ketika Menteri Perkebunan waktu itu, Frans Seda, memberi oder kepada Michael untuk membuat patung Irama Revolusi.

Dami masih kuliah di UI ketika itu dan karena ia masih punya hubungan keluarga dengan Michael (kakak perempuan Michael kawin dengan famili Dami seorang yang bergelar 'raja muda' atau bangsawan Manggarai yang kemudian menjadi bupati) maka sudah tentu Michael membantu Demi sekadarnya.

Kami bertiga selalu berdiskusi tentang seni-budaya termasuk bagaimana membangun NTT melalui kesenian khususnya pariwisata budaya umumnya.

Lalu saya menulis di Kompas dan Dami menulis di Suara Karya dan sebuah majalah di Flores mengenai tema pembangunan budaya 'kampung' dan pendidikan non formal yang dalam perkembangan studi kami selanjutnya mungkin mirip apa yang ditulis oleh Paulo Fraire, Ivan Ilich dll, tetapi tidak mengaitkannya dengan revolusi fisik-berdarah. Ada teman yang mengatakan kampung itu mirip Taman Mini tetapi kami membantah karena terbayang, kalau ada proyek maka ada pimpro dari pihak birokrasi yang mudah terserang virus KKN dengan pengusaha (pengembang-pemborong) dsb. Kami ingin agar disamping birokrasi ada adhokrasi yang sehat-bermoral Di atas segalanya lebih baik kalau dimulai dari rakyat secara swakarya. Michael membuat gambar maket mengenai kampung, tersebut dan saya membawanya ke Kupang. Gubernur menganjurkan saya ke kantor humas provinsi untuk bantu-bantu di sana. Tampaknya beliau mengira saya ingin menjadi pegawai negeri. Maka saya pun kembali 'merantau' ke Jakarta.

Ketika Demi menulis skripsi tentang Iwan Simatupang ia datang ke rumah untuk berdiskusi tentang eksistensialisme. Seingat saya, saya hanya mengoceh tentang absurditas, tentang kesadaran sebagai tokoh pertama dan dunia (alam, isteri, anak, orang lain, teman, massa, pemerintah) sebagai tokoh kedua Tokoh pertama penuh kerinduan untuk menyatu dengan tokoh kedua tetapi tidak mungkin dan hanya timbul kontroversi yang disebut absurd walls. Pemeliharaan atau pembiaran atas ketiga tokoh tersebut diperlukan dalam panggung kehidupan. Ide mutlak dibenak yang melahirkan aksi mutlak untuk membunuh salahsatu tokoh berarti bunuh diri secara metafisik dan historis. Yang diperlukan adalah program yang moderat-samaritan, jalan tengah yang dituntun oleh hati nurani. Walaupun dunia ini absurd, banyak anak kecil, perempuan dan lelaki sipil dan militer terkapar menjadi mayat, namun sikap moderat-samaritan perlu dipertahankan. Akan tetapi Dami tidak menyertakannya dalam skripsinya. Sya sangat merasa bersalah karena tidak memberikan buku-buku tentang eksistensialisme yang dibeli ketika tinggal di Amerika karena takut hilang. Semuanya merupakan emas. Walaupun demikian, tidak lama kemudian, muncullah buku kumpulan eseinya yang berjudul Hamba-Hamba Kebudayaan, yang isinya menunjukkan kecerdasan eksistensial Dami.

Setelah ia lulus dari UI, jami bertemu beberapa kali, antara lain di rumah kontrakannya di Matraman (dekat gedung Gramedia) dan saya di seberangnya (di sebuah lorong sempit di samping pasar Pal Meriam, ditepi sungai yang penuh sampah). Pernah ketika saya mengunjungi dia penyair Abdul Hadi WM ada di sana. Keduanya akrab sejak lama, pernah bersama-sama menulis sebuah refererat berjudul Catatan Teoretik Sekitar Penciptaan Novel 70-an. Akan tetapi Dami lebih suka menulis tentang Sutarji Calsoum Bachri. Penyair ini adalah sekali gus fenomena dan noumena. Akan tetapi dia menolak fenomena dalam berpuisi dan ingin iseng sendiri dalam dirinya sendiri yang noumenal itu dengan mantra yang hanya mempunyai arti misterius dan kemagisan yang merdu. Untungnya Mbah Dukun Mantra Riau yang membawa-bawa naluri kekuasaan ke atas panggung sastra dengan mengangkat diri sebagai Presiden Puisi, dianggap main-main saja oleh Gunawan Muhamad. (Dami Toda, Hamba-Hamba Kebudayaan, hal 26). Dami dalam satu ceramahnya di TIM menyinggung 'bahasa diam'. Maksudnya orang yang berdiam saja bisa merupakan kawah yang berisi informasi yang penting. Akan tetapi kalau sumber informasi dalam batin yang tidak diketahui oleh orang lain itu, tidak mendorong terjadinya bentuk (poem atau bentuk seni pada umumnya), mana bisa terjadi internalisasi puitis pada orang lain yang berhadapan dengan orang yang diam itu? Memang, menurut Kant kehidupan keseharian kita merupakan bahagian dari dunia fenomena dengan substrata noumena yang bebas tidak terbuka (apiori) bagi pengentahuan kita Dunia fenomen dapat dikenal oleh logika rasional sedangkan dunia noumena hanya dapat diketuk pintunya yang tertutup itu dengan logika irasional (logika hatinurani, logika analogis-metaforis). Atau mungkin seperti yang disebut oleh Maritain, poetry intuition adalah spiritual energy yang tak berbentuk yang mendorong terjadinya art (bentuk).

Suatu malam ketika selesai makan malam dirumah saya, saya mengantarkan dia sampai ke jalan. Di tengah jalan Matraman Raya yang sunyi lengang di dini hari itu kami berbicara tentang apa saja, termasuk tentang teater sehingga kami bergerak bebas-teatrikal di jalan yang lengang itu. Kemudian ia menghilang ke gangnya.

Lalu tidak lama kemudian dia ke Jerman sedang saya menghilang dari gang tersebut dengan memakai tiga celana dan tiga kemeja sekali gus bersama buku-buku emas saya, mengembara di tanah air sendiri. Rasanya seperti memakai pakaian astronaut di bulan, malah lebih berat karena membawa buku-buku.

Setelah harian Sinar Harapan terbit kembali, ia mengirim e-mail berisi niatnya untuk kami berdua menulis buku riwayat hidup Benedictus Mboi, mantan gubernur NTT dan tulisannya yang panjang tentang Nietzsche. Saya tidak menolak dan tidak menerima karena walaupun nama saya tercantum dalam box namun hanya sebagai anggota dewan redaksi diluar 'garis komando' yang konon kalau harian ini sudah maju barulah ada imbalannya.

Tiba-tiba ada teman yang menghadiahkan sebuah buku tebal tentang sejarah Manggarai. Buku yang tebal yang menunjukkan kemampuan raksasa seorang Dami N. Toda!. Ia mempergunakan waktu dan tenaga sebaik-baiknya di negeri Jerman dan Belanda untuk meneliti buku sejarah kampung halamannya.

Ketika saya ke Flores dalam rangka pembuatan video sastrawan Indonesia prakarsa Yayasan Lontar (dibiayai Ford Foundation), saya ke kota Ruteng kota dimana saya menghabiskan masa kecil saya. Seperti William Saroyan yang kembali ke mata airnya untuk melepaskan rindu dengan minum sambil mencium bau tanah kesayannya, saya mencari mata air saya yang dahulu dan ternyata masih ada, masih membersitkan air yang bisa diminum langsung, air yang membesarkan saya.

Maka timbullah niat menulisi bupati untuk membuatkan sebuah kolam dan sebuah perpustakaan dimana buku-buku dan potret putra-putri terbaik Manggarai, seperti Dami N Toda, Ben Mboi, Thoby Mutis (rector Trisakti) para pastor dan uskup asal Manggarai, yang berjasa dalam dunia pendidikan yang moderat-samaritas. Saya ingin mengirimi Dami video saya itu serta novel saya 'Enu Molas di Lembah Lingko' tetapi selalu tertunda karena selalu menderita 'kanker'.

Dami hanya menerima salam saya lewat seorang pemuda Jerman bernama Thomas Zschocke yang mengadakan penelitian selama dua tahun di Indonesia dan kembali ke Jerman dengan bibliografi dan tesis S2 masing-masing mengenai tulisan dan sastra saya serta S3 mengenai program pendidikan non formal di kampong budaya yang saya kembangkan menjadi program desa informasi (millennium ketiga) dimana sarjana dan seniman belajar dari petani dan petani belajar dari sarjana dan seniman menghadapi alam (pulau dan laut), bekerja dengan tool teknologi tepat guna seperti computer/internet, taktor tangan, gergaji mesin dsb dalam wadah koperasi di atas lahan lingko (kebun di Manggarai yang berbentuk roda sepeda atau sarang laba-laba) modern. Saya doktor muda Jerman tsb bekerja pada program PBB mengenai perkebunan kentang di Peru, bukan di lembah lingko, kampung halaman kami. Pada hal dia pernah berkomenter bahwa program tsb menentukan masa depan Indonesia, Ide desa budaya kami men Doktor-kan (menghidupkan) orang asing. ***

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 30 Desember 2006

Saturday, January 19, 2013

Oase


The Have's Habits
Radhar Panca Dahana
Pekerja sastra dan teater,
dosen pascasarjana Universitas Indonesia


Pergilah Anda bersenggang ketika hari krida! Maka, Anda akan menjadi salah satu orang di antara kaum urban Jakarta, setidaknya yang membuat saya selalu bertanya: sedang apa Jakarta? Hari krida, hari di mana kita semestinya bersenggang, tetirah, mengistirahatkan tidak hanya otot dan urat, tapi juga jiwa-mental dan akal-pikiran, ternyata tidak bagi warga Jakarta.

Di hari resmi libur itu ternyata beban baru ditambah. Kepenatan jiwa, raga, dan pikiran justru bertambah berat. Hari Sabtu pun kini menjadi couchemar bagi orang Perancis, nightmare kata orang Inggris, mimpi jahat kata orang Betawi. Bagaimana tidak? Sejak pukul delapan pagi, hampir di tiap sudut kota hingga beberapa kota penyangga, kita terjebak macet - bahkan hingga berjam-jam. Lebih dari macet di hari kerja biasa.

Entah apa yang hendak mereka - kaum bermobil itu - kerjakan di hari senggang? Yang jelas, bukan peregangan otot, hati dan pikiran yang mereka dapat. Macet, seperti biasa dan umumnya, memberi yang sebaliknya. Lebih dari itu, pemborosan bahan bakar, ausnya onderdil, kerugian kendaraan umum, polusi tambahan, beban plus polisi, sekian waktu tersia-sia, dan sekian banyak cost sosial-ekonomi-budaya lain.

Di lain hari, Anda pun akan merasa terkacaukan oleh perilaku kaum urban - para anggota kelas menengah-atas - dalam soal mobilitas kerja. Anda tak Akan pernah tahu, misalnya, bila saja kota kapital ini mengalami kemacetan lalu lintas. Jika jam-jam berangkat kerja (sekitar pukul 06.00-09.00) dan pulang kerja (16.00-20.00) Jakarta menjadi neraka kemacetan, sudah biasa bagi kita. Tapi di luar jam itu, kemacetan menyiksa masih juga ada, kita pasti bertanya: apa yang kau lakukan Jakarta?

Sungguh saya bingung, kadang tak percaya. Di saat semestinya para the haves yang umumnya pekerja profesional atau pejabat menengah itu tengah sibuk di ruang kerja, konferensi atau negosiasi, ratusan ribu mobil memenuhi jalan. Jika mereka berangkat ke kantor, kenapa siang sekali?

Perilaku sosial kelas ini memang sulit dikira. Dilihat dari cara mereka menggunakan kendaraan untuk memenuhi jalan saja, kita tidak bisa menerapkan pola atau tradisi kaum pekerja profesional yang umum ada di negara berkembang atau negara maju di mana saja. Perilaku tak jelas itu memperlihatkan ketidakpedulian mereka terhadap inefisiensi dan kerugian moral-material yang diakibatkannya. Harga bahan bakar minyak (BBM) tinggi, misalnya, tidaklah masalah bagi mereka untuk mereka uapkan dalam pembakaran yang sia-sia setiap hari.

Mesiu Bom Waktu

Ketidakpedulian pada lingkungan, pada krisis BBM, pada nasib anak-cucu di masa depan, pada harga yang melambung, hampir menjadi ciri dalam perilaku (habit) orang kaya (the haves) ini. Sama seperti tidak pedulinya beberapa di antara mereka yang mencuci mobil dengan keran yang mengucur terus, menyiram aspal kering depan rumahnya dengan air sumur, air pompa, atau air resapan. Seakan air dapat dihisap tiada habis hingga kiamat.

Coba perhatikan rumah-rumah besar di beberapa kawasan: miliaran bahkan puluhan miliar rupiah harganya. Begitu hebat dan menterengnya! Namun satu senti di depannya, kita saksikan got atau selokan mampet, hitam-kotor, bau, menggenangkan berbagai virus, kuman, atau bangkai. Di beberapa sudut berdiri tenda kumuh yang menjadi tempat sebagian rakyat jelata menjual rokok, mie, nasi, atau berbagai minuman. Berbaur dengan seluruh isi got tadi, dengan ancaman maut, dengan ketidakberdayaan, dengan sejenis ketidakpedulian yang berbeda.

Perhatikan suasana di mal, plasa, dan berbagai square atau pusat perbelanjaan modern. Mereka berkumpul hampir tiap petang di bar, klab, coffee shop, resto, fitness center, dan berbagai space untuk hang-out. Mereka menghabiskan Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu tiap malam untuk bersenda - jumlah yang memadai untuk transportasi pegawai rendah dan menengah-bawah setiap bulannya. Bahkan itu setara dengan penghasilan atau biaya hidup bulanan jutaan warga lain.

Perilaku kelas berpunya, tentu kita tahu, bukan bagian tradisi kita. Bukan tradisi komunitas tradisional kita mana pun. Bukan milik sub-etnik mana pun. Dia baru. Dia modern. Posmodern, mungkin. Dia adalah konstruksi sosial baru, jika bukan sebuah rekayasa tingkah laku yang baru. Satu rekayasa yang memang terencana dan memiliki maksud. Untuk mengonsumsi produk-produk mutakhir, misalnya. Rekayasa hasil propaganda raksasa yang globalistis dari persekongkolan kaum kapitalis. Kaum yang menguasai produksi, melalui brand-brand kelas dunia, sementara kita adalah mulut-mulut menganga yang menanti perintah untuk mengunyahnya.

Kini semua itu belum apa-apa. Masih banyak pembela untuk mereka. Masih tersedia cukup argumentasi, bahkan alasan ideologis untuk membenarkan atau menganggapnya sebagai kewajaran. Tapi senjang yang diakibatkan oleh ketidakpedulian ini sesungguhnya menyimpan bara. Bahkan mesiu yang menyusun dirinya menjadi bom waktu.

Sistem kapitalis memang telah memiliki perangkat lunak dan keras, prosedur, dan mekanisme yang "telah terbukti" membuat bom waktu itu tak berkembang dalam kapasitas atom atau nuklir. Paling mengerikan dia hanya sampai pada tingkat TNT, atau bom-bom yang meledakkan pasar atau gedung. Bom-bom kecil yang berfungsi sebagai "katup pelepas" atau semacam alarm dini yang membuat rakyat jelata "yang merasa iri, terinjak dan tereksploatasi" tak berani berbuat lebih jauh lagi. Tapi sampai kapan situasi itu berlangsung?

Senggang Menuju Tenggang

Di beberapa negara Eropa dan negara maju lain, hari libur dan krida adalah hari wajib sebagaimana hari kerja. Satu manusia dewasa akan merasa "rendah" kastanya jika dia tak mampu melaksanakan kewajiban sosial dan moral itu: merasa dosa jika kita bekerja di hari libur, tak berlibur di hari libur. Libur adalah kewajiban karena di situlah manusia mengembalikan hidupnya yang selama lima hari atau 40 jam kerja tiap pekan diperas kebutuhan modern dan disiksa oleh penjara sistem pekerjaan, mekanisme birokrasi, tuntutan profesional, atau ambisi kapitalisme yang memperbudak.

Libur adalah masa tetirah, masa kita kembali jadi manusia; masa bagi kita mengembalikan ritme dan metabolisme hidup kita pada kinerja alam. Mendapatkan penyegaran yang memungkinkan kita bekerja lagi di keesokan harinya dengan kekuatan optimal, ide baru, pikiran segar, dan jiwa yang selalu kembali muda. Libur pun wajib karenanya.

Maka, muncul di kawasan itu berbagai LSM yang khusus membantu publik dengan kesulitan dalam urusan itu. Membantu mereka berlibur (bahkan sekeluarga!) ke mana tempat, hingga luar negeri. Liburan terakhir yang digemari adalah champagne. Ya, mirip nama jenis anggur mahal itu. Makna keduanya sama: dusun. Berlibur dengan tinggal bersama rakyat desa. Mengenali, mengikuti, dan menjalankan rutin hidup orang dusun. Menyadari betapa keberadaan orang desalah yang membuat orang kota nyaman sejahtera.

Berbeda sungguh, tentu, dengan makna libur bagi urban, kaum berpunya, di kota-kota besar kita, Jakarta misalnya, libur berarti "belanja". Membelanjakan sebagai harta untuk memenuhi selera pergaulan, moernitas, selebritas, sensualitas, atau kadang sekadar memuaskan nafsu konsumerme belaka. Shopping di mal, nongkrong di plasa, makan siang di resto gaya Amerika, melipatgandakan tunggakan kartu kredit, membakar sia-sia BBM, menipu apresiasi anak dengan hal-hal artifisial, menambah keletihan badan-batin via macet luar biasa, dan segala lain yang juga luar biasa.

Tidakkah dapat kita sejenak tetirah? Meredam waktu dalam diam, mencipta senggang dalam tenang, mau menenggang lain orang yang hidup tak senang? Retreat sesekali. Menghayati hidup selumrahnya, menghirup udara senikmatnya, memandang keluarga dengan seluruh jiwa, memberi jiwa, tubuh dan akal kita, makanan sehat yang sesungguhnya.

Tidakkah akan lahir, secara perlahan, manusia yang sesungguhnya manusia karenanya. Manusia yang Insya Allah bernama: manusia Indonesia. Nama yang kita tak pernah mengerti dan rancu memahaminya.***

Sumber: Suara Karya, Jumat, 10 Februari 2006

Tuesday, January 15, 2013

Kesusastraan dan Sastrawan

Kesusasteraan Tanpa Sastrawan
(Beni Setia)

Ada serangkaian pertanyaan yang menggoda saya belakangan ini. Terutama, apa konsekuensi dari hubungan antara ilham dengan persiapan pra-menulis seorang pengarang. Di mana, di salah satu sisi, persiapan pra-menulis itu bermakna bakat dan kepekaan, kematangan tehnik dan wawasan mengarang yang berasal dari latihan menulis dan kebiasaan membaca, dan imajinasi dan fantasi yang dihidupkan oleh kreativitas dan empati. Sehingga sesuatu yang pasif dan hanya bertaraf potensi itu mendadak bisa dimotivasi, didinamisasi dan terbangkitkan, sehingga kerja mengarang itu mampu ditunaikan dan karangan terbentuk.

Di sini ada dua hal yang saling melengkapi. Persiapan pra-mengarang itu, yang dibina si pengarang, dan kehadiran ihlam yang seperti lentik cahaya yang bisa me-nunjukkan keberadaan ujung sebuah terowongan, atau kembang api yang menguasai langit malam sehingga panorama bisa dikenali. Dengan kata lain, pengarang tak bi-sa mengandalkan bakat, tehnik dan wawasannya semata. Ia membutuhkan kehadiran sesuatu yang menyebabkan mood menjadi punya zona yang bisa dieksplorasi dan dieksploitasi. Sekaligus pengarang harus mengakui keajaiban ilham, yang dihadirkan Yang Kuasa buat menerangi sebuah wilayah ketidak-disadarian. Di mana yang ter-benam di alam tak sadar, menjadi sesuatu yang disadari di atas ambang alam tak sadar, sehingga ilham itu bagai menggerakkan kesadaran untuk mengendarai pengetahuan, pengalaman, bakat, kreativitas, imajinasi, dan seterusnya.

Di titik itu: siapa sebenarnya yang memiliki sebuah karangan? Si pengarang yang memiliki bakat, kepekaan, kreativitas, kematangan tehnik dan wawasan yang siap digerakkan oleh ilham itu atau justru ilham itu sendiri? Atau semua itu ter-gantung pada keberadaan ilham [baca: sesuatu yang merangsang kehadiran yang sudah ada sejak awal], dan tergantung dari destiny si pengarang (baca: yang telah di-adakan-Nya dan akan hadir menyertai keberadaan seorang manusia di dunia)? Karena itu, karya masterpiece itu, sebenarnya sudah sejak awal ada di Lauh Mahfuz - diciptakan bersama terciptanya alam semesta, disediakan bagi individu yang kebagi-an tugas jadi pion yang akan representasikannya di ruang publik.

Konsekuensinya, ketika sebuah teks karangan diberi landasan illahiah dan misteri destiny macam itu: apa sesungguhnya tanggung jawab seorang pengarang ketika digerakkan ilham untuk menjemput destiny sebuah teks, dan mempublikasikan-nya? Apakah hanya pasif, sebagai yang dikutuk untuk menghadirkan teks yang ditunjuk oleh ilham yang sampai kepadanya, hanya perantara untuk sesuatu yang sudah sejak awal ada? Sehingga ia hanya alat yang tak bisa dituntut konsekuensi dari teks yang keberadaan dijanjikan oleh ilham - peduli ilham itu bisikan setan. Kenapa? Karena ilham itu cuma alat untuk sampai misteri destiny, dan ia tergerak - lebih tepatnya: digerakkan - untuk menghadirkan teks, yang kemudian terbukti bersipat provokatif dan subversif terhadap eksistensi agama, moral, adat, etika, dan ni-lai-nilai sosial-politik-budaya masyarakat.

Kenapa? Karena teks itu hanya hadir untuk dirinya sendiri, meski tentakel ilhamnya menyapa pengarang agar dihadirkan di ruang publik, dan tetap eksis meski ilham itu tidak mampu menggerakkan pengarang dan teks tidak diakui keberadaannya oleh apresiasi di ruang publik. Karena teks merupakan dunia tertutup yang hanya bisa diukur oleh estetika dan kreativitas, sekaligus tak memiliki acuan moral, etika, ideologi, dan seterusnya. Sekaligus, di sisi lainnya, pengarang pun tak memiliki tanggung jawab sosial, moral, didaktik, dan seterusnya. Ia hanya dituntut untuk kreatif, imajinatif-empatik, dan estetik. Bahkan ia bisa berkreasi secara sangat subjektif, dan melulu cuma mengekspresikan teks-teks subjektif yang didapatnya dari kilas-an ilham murni yang merujuk ke misteri dari alam tak sadar subjektif. Dan kare-na itu teks subjektif yang dipublikasikan hanya boleh diukur di aspek bakat, kre-ativitas, imajinasi, kepekaan, estetika dan ekspresi.

Meski bisa saja seorang pengarang berperan sebagai agen yang melakukan se-leksi ilham dan teks secara aktif. Konsekuensinya, tidak setiap ilham diikuti sampai tuntas ke dasar. Atau meski diikuti sampai tuntas dan bisa diujudkan sebagai sebuah teks yang orsinil, maka teks itu kemudian dipertimbangkan oleh besaran etika, moral, agama, dan fungsi sosial-politik-budaya dari yang akan mengapresiasinya. Itu barangkali tanggung jawab sosial pengarang atau sastrawan, sekaligus itu pula yang menyebabkan ilham selalu digerakkan dengan tendensi tertentu, sehingga teks yang ditemukan dan dipublikasikannya itu memiliki kandungan didaktik. Sekaligus si pengarang atau sastrawan menjadi penerang, da'i dan pujangga yang menasihati, berfilsafat, dan menunjukkan jalan terang.

Tetapi semua itu sepertinya mengembalikan kepengarangan atau kesastrawanan pada basis dasar: cuma berbakat, berkreasi, dan mempublikasikannya. Ilham adalah satu hal subjektif - meski satu hari nanti ia akan dihizab karena mengikuti bisikan ilham ini dan menuliskan teks itu. Wawasan, kreativitas dan seterusnya, dan pilihan untuk segera mempublikasikan sebuah teks adalah hal subjektif yang lain. Bahkan tanggung jawab pengarang atau sastrawan itu bisa hanya berkutetan dengan urusan sempurna atau belum sempurnanya sebuah teks. Apa sudah saatnya dipublikasikan atau belum? Atau cuma masalah pilihan dipublikasikan di sana dan tidak di yang lain. Karenanya muncul semacam kesadaran brand image: ini karya saya, ini harus dipublikasikan dibawah kop nama tertentu, dan karenanya tergantung dari saya bila ingin dipublikasikan sebagai karya lepas, kumpulan karya di bawah nama editor, dan seterusnya.

Tetapi, pada dasarnya - dengan sedikit rasa malu dan tahu diri -, seorang pe-ngarang atau sastrawan tak bisa mengklem karyanya itu sebagai 100 % miliknya. Di sana ada ilham, di sana ada pengalaman hidup - pertautan dengan yang lain -, dan di sana ada interteks dengan karangan orang lain yang dibacanya. Sekaligus di ruang publik ada anggapan bahwa teks hidup sedangkan pengarang mati, karena itu kini teks yang berbicara sementara si pengarang - yang dibimbing oleh ilham itu - harus tiarap dan memutuskan hubungan dengan teks. Sekaligus, ketika si pengarang mati, maka teks yang dikongkritkannya berdasar petunjuk ilham itu, karya yang di-publikasikan dan otonom di ruang publik itu berhak diunduh oleh siapa saja.

Oleh yang membacanya, oleh yang kemudian mengkliping dan menunjukkan-nya kepada yang belum sempat membacanya, dan terutama oleh kritikus yang bisa merasakan kelebihan sebuah teks dan tergerak untuk mengumpulkannya dalam sebuah anologi. Di titik ini, ia tidak perlu lagi berhubungan dengan pengarangnya, karena (1) pengarang sudah "mati", dan (2) pengarang itu hanya pion yang digerakkan ilham untuk menjemput sebuah teks, yang semenjak awal sudah sempurna di Lauh Mahfuz. Meski begitu ia harus mempertanggungjawabkan pilihannya dengan menerangkan kenapa memilih teks itu dan bukan teks yang lainnya, apa alasannya, apa latar belakangnya, dan seterusnya. Sehingga kita bisa mengetahui motif pemilihan atas sebuah teks, yang dipertimbangkan karena kelebihan eksistensial murni dari teks dan bukan karena keberadaan dari pengarangnya.

Kenapa? Karena pengarang itu sudah "mati", dan pengarang cuma pion yang digerakkan ilham untuk menjemput sebuah teks yang sejak awal sudah sempurna. Permintan idzin pada pengarang cuma basa-basi, dan keikutsertaan pengarang hanya sampai taraf editing bahasa saja. Lainnya adalah manifestasi keleluasaan dan kebebasan dari si editor - sang paus sastra. Sayangnya sangat langka editor yang mau mempertanggungjawabkan dasar pilihannya pada sebuah teks, dengan tekanan pada fakta eksistensial teks yang otonom, yang sudah sempurna sejak di Lauh Mahfuz.

Bahkan banyak editor dan pengarang atau sastrawan di sisi lainnya yang beranggapan bahwa antologi itu merupakan pengakuan resmi - dengan mitos Angkatan -atas kredibilitas kepengarangan atau kesastrawanan dan bukan pada teks yang sejak awal sudah otonom. Maka jadilah khazanah kesusastraan Indonesia dipenuhi nama orang dan bukan karya. Menyedihkan.***

Sumber: Suara Karya, Minggu, 30 Oktober 2005

Friday, January 11, 2013

Mengenang Asrul Sani

Mengenang Sastrawan Asrul Sani



Rabu 11 Januari lalu tepat setahun meninggalnya sastrawan Asrul Sani. Kepergian beliau tahun lalu, mengejutkan Penulis ketika menyadari kematian sastrawan besar itu melalui SMS yang dikirimkan seorang rekan.

"Bang Asrul, pencetus humanisme universal itu sudah tiada. Ia meninggal di saat negeri menjadi tempat persembunyian manusia yang menginjak-injak humanisme." begitu bunyi SMS dari rekan yang mengabari hari kematian Asrul Sani.

Sejak kecil penulis telah menemui nama Asrul hanya karena suka sekali membaca, mulai dari apa yang tertulis di sobekan koran atau satu halaman buku yang ditiup angin masuk ke lapangan bola, membaca sambil nungging, sampai dengan duduk terpaku membaca koran dan buku di kantor dimana ayah penulis bekerja.

Di Masa Jepang koran-koran Jakarta sampai juga di kota kecil Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, Flores Barat. Waktu itu ayah penulsi bekerja dikantor dagang Tsubono. Di sebelah kantornya ada seorang wartawan Jepang. Barangkali dialah yang mensuplai koran-koran Jakarta itu.

Di samping itu ada toko milik kepala kampung Cina, Tjong Tjong Hie yang penuh dengan koran. Pernah ketika hujan turun dan penulis berlindung di emper tokonya Babah Tjong Hie memegang bahu penulis dan mendorong ke dalam lalu disuruhnya penulis membaca keras-keras dan si babah mendengarnya sambil berjalan ke sana ke mari.

Baru ketika ayah penulis pindah ke Maumere dan kemudian ke Kalabahi, ibukota Alor-Pantar sebagai klerk gubernemen (pegawai negeri), penulis mengenal buku-buku sastra dan majalah seperti Mimbar Indonesia dan Siasat. Semuanya dikirim ke kantor kontrolir (kini bupati) mungkin sebagai nomor perkenalan dan ayah penulis membawa ke rumah.

Di saat itulah penulis mengenal semua nama pujangga termasuk Asrul Sani dan di saat itu penulis sangat tertarik untuk menjadi sastrawan. Bertahun-tahun kemudian, penulis bisa bertemu muka dengan almarhum. Hanya beberapa kali bertemu muka langsung. Sebagai sastrawan angkatan terdahulu dan kami angkatan kemudian, penulis terpengaruh oleh tulisan H.B Jassin yang mengatakan bahwa Asrul Sani itu seorang aristokrat sehingga penulis agak segan mendekatinya. Rasanya tidak sampai lima kali penulis bertemu almarhum selama hampir setengah abad menjadi penduduk Jakarta.

Walaupun demikian, Surat Kepercayaan Gelanggang dan humanisme universal yang dicetuskannya selalu lekat dalam memori dan sudah tentu akhir-akhir ini perlu diperhitungkan dalam situasi dimana teologi pembunuhan telah mencoreng muka bangsa ini di mata dunia.

Penulis masih mengenang pertemuan di sebuah kantor perfilman. Mula-mula penulis duduk berhadapan dengan Wahyu Sihombing almarhum. Wahyu memberi penulis buku skenario karya Ingmar Bergman. Membalik-balik beberapa halaman, penulis punya kesan bahwa membuat skenario gampang karena Ingmar Bergman tidak memakai istilah-istilah tekhnis. Penulis meminjam buku itu.

Tiba-tiba muncul Asrul. Penulis mengatakan padanya bahwa penulis punya cerita mengenai kawin lari. Larinya pakai kuda, mengembara di padang sabana, di celah-celah hutan eukaliptus Timor yang tampaknya mirip dengan padang di benua Australia. Asrul spontan berkata ingin memfilemkan cerita itu. Ada kemungkinan ia bosan dengan alam teratur rapi seperti sawah di Jawa dan Bali. Penulis berjanji akan menyerahkannya dalam sebulan.

Dari kamtor mereka yang selalu penuh dengan calon-calon bintang itu, penulis meluncur ke tempatnya Salim Said, hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul dan minum wiski. Penulis duduk di kursi putarnya Salim dan sambil minum wiski penulis berkata bahwa ternyata untuk mencari duit dan menjadi kaya itu gampang. Tulis saja skenario seperti punya Ingmar Bergman ini. Gampang Haaa, kita gampang jadi kayaaaa!

Tiba-tiba Arifin C. Noer yang baru datang dari desa keluar dari kamar dan duduk di tikar. Matanya melotot dibalik kacamatanya mendengarkan celoteh orang yang akan jadi kaya karena merasa gampang menulis skenario. Hampir setengah botol wiski masuk merangsang otak dan segala krisis dan derita rumahtangga terlupakan. Selama masa-masa krisis penulis biasa minum wiski antara lain di rumahnya. Salim Said dan di rumahnya Syuman Jaya. Syuman, dalam ayunan alkohol mengatakan bahwa ia bisa berkhotbah dengan bagus tetapi yang penting bagi penulis adalah bahwa ia ingin membuat film tentang Sang Guru, sebuah novel penulis tentang seorang guru di Ternate.

Segalanya berlalu setelah bangun pagi dan memulai hari yang baru. Penulis lupa membawa buku skenario Ingmar Bergman. Tanya pada Salim, ia tidak tahu dan sudah tentu Arifin C.Noer yang menyembunyikan buku itu, buku yang membuat dia menjadi sutradara.

Bertemu Bang Asul ia bersuara keras, "Di mana skenario kawin lari di padang sabana. Kalau beluma da kasih saja treatment-nya. Janji sebulan, sudah setahun..."

Cerita tentang kawin lari ini penulis obrolkan juga kepada almarhum Teguh Karya. Tenguh lain. Mungkin karena lama menunggu maka ia membuat sendiri film bertema kawin lari.

Sebenarnya bukan penulis tak mau menulis skenario untuk Bang Asrul tetapi ceritanya dimulai dari Satyagraha Hoerip yang pada suatu pagi datang ke rumah petak gedek penulis, membawa sebuah skenario cerita yang berjudul Masa-Masa Mahasiswa. Karena ia masih menganggur dan belum bekerja maka ia tak punya uang transpor lalu memerintahkan penulis untuk membonceng dia ke Departemen Penerangan untuk menyerahkan skenarionya.

Akhirnya skenarionya diterima dan Bang Asrul Sani merobah judulnya menjadi Apa Yang Kau Cari Palupi. Satyagraha Hoerip mendapat honor RP 40.000.

Melihat jumlah itu penulis tak acuh pada permintaan Bang Asrul tetapi penulis sibuk menulis sebuah novel yang berjudul Cumbuan Sabana yang dimuat bersambung di Kompas dan dibukukan oleh Penerbit Nusa Indah.

Dunia perfileman Indonesia dimasa Orde Lama sangat melempem. Di awal Orde Baru penulis mengatakan kepada Sdr Hadits, ketua PWI pendahulu Harmoko bahwa sebaiknya PWI mengadakan seminar mengenai dunia perfilman kita. Hadits mengirim proposal ke Deppen, diterima dan berlangsunglah seminar pertama di awal Orde Baru yang kemudian menghasilkan antara lain film bermutu seperti Apa Yang Kau Cari Palupi.

Nyaris habislah tokoh-tokoh film nasional yang penulis kenal dekat. Masih terkenang malam-malam yang dingin dihangati kopi ketika penulis ngobrol dengan Teguh Karya di belakang Hotel Indonesia, entah tentang apa, penulis telah lupa, barangkali tentang Caligula, barangkali tentang manusia absurd yang lebih dari sebuah perpustakaan, tentang ekses absolut, tentang metaphysical suicede, tentang negasi absolut atau mungkin tentang afirmasi absolut. Mungkin juga tentang pengidolaan kuantitas dan melupakan kualitas.

Begitu pula malam terakhir dengan Syuman ketika kami ngobrol tentang pembuatan film Sang Guru ditemani Jasso Winarto dan tiba-tiba muncul Poppy Darsono yang mengeluh bahwa ketika ia mendaki gunung, betisnya digigit nyamuk sehingga membuat penulsi memberi order keras-keras kepada Jasso untuk mencari remason lalu sang Jasso menggosok betis Poppy yang bagus itu dnegan minyak yang baunya menyengit itu. Sering inspirasi timbul dari peristiwa iseng dan lucu begini.

Dan dua pertemuan terakhir dengan Bang Asrul, pertama ketika penulis menghadiri pernikahan putranya dan keduanya ketika adik iparnya Riris Sarumpaet dipromosikan menjadi Profesor di Aula UI, Depok. Dalam kedua pertemuan itu Bang Asrul hanya duduk di atas kursi roda. Dalam setiap pertemuan, penulis selalu merasa bersalah karena janji Kawin Lari yang menjadi Cumbuan Sabana itu kepada seorang yang menghembuskan nafas humanisme universal ke dalam dada penulis sejak lama. Ya, begitulah, Ars Longa Vita Brevis. ***


Aminullah HA Noor

* Penulis adalah pekerja seni dan anggota
Dewan Kesenian Banten.


Sumber: Suara Karya, Minggu, 15 Januari 2006



Wednesday, January 09, 2013

Mengenal Sitor Situmoang

Penyair dengan Masa Kerja Terpanjang
Oleh F Akbar 

Seorang sastrawan yang unggul adalah ia yang meresapi semangat kesusastreraannya, namun pada saat yang sama ia menerjemahkannya dengan cara yang istimewa, sehingga ia mengubahn tanggapan sidang pembaca terhadap karya-karya yang dihasilkan angkatan itu. Demikianlah penyair Sitor Situmorang. yang menulis sejak 1948. Tengtu saja ia adalah bagian dari Angkatan 45 yang, langsung atau tidak, digerakkan oleh Chairil Anwar. Dengan menyatakan diri sebagai "ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia", angkatan ini sesungguhnya menegaskan sifat internasional dari seni modern Indonesia; demikianlah, sastra Indonesia, yaitu sastra berbahasa Indonesia, haruslah bergabung dengan, dan menyerap dari modernisme dunia.

Bagaimanapun, dalam amalan, karya-karya sang bekas jajahan berisiko menjadi bayang-bayang belaka dari khazanah terbaru Eropa dan Amerika Utara. Adapun Sitor Situmorang adalah alternatif terhadap generasinya. Ia memperkaya dunia melalui kampung halaman, dan ia menjadikan dunia kampung halaman bersifat dunia.

Pada akhir 1940-an dan selama 1950-an, para penyair kita, dengan meneladani Chairil Anwar, gencar menggalakkan puisi bebas, yaitu puisi yang mengabaikan aturan persajakan. Bagi mereka, puisi yang mendedahkan sang aku yang hendak lepas dari ikatan lama (boleh jadi ia adalah semacam binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya) haruslah menggunakan bentuk yang sebebas-bebasnya.

Namun, sebagaimana terjadi, di tangan para penyair yang tak menguasai bahasa, puisi bebas seringkali menjadi puisi gelap, puisi yang tak bisa berkomunikasi; atau hanya menjadi sesuatu yang "bebas" tapi tak kunjung menjadi puisi. Seakan bereaksi terhadap semua ini (namun tanpa menyangkal puisi bebas, yang juga dikerjakannya), Sitor Situmorang membuktikan bahwa puisi buisa menjadi sangat modern dengan kembali kepada bentuk-bentuk yang sangat tradisional, yaitu syair, pantun dan soneta.

Puisi-puisinya menjadi pantun baru, syair baru dan sonet baru, yang memang berutang kepada puitika lama itu, namun dengan bebas Sitor "menyelewengkan"-nya.Kita baca, misalnya, sajak "The Tale of Two Continents": Dua Kota Satu Kekosongan//dua alamat satu kehilangan//antara nyiur dan salju// merentang ketakpedulian tuju//semoga kasih tahu jalan kembali//pada pintu yang membuka dinihari//ke mana angin membawa diri//kekasih, semoga kau berdua//dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada// terpecah dua benua, suatu kelupaan di sisik samudra.

Puisi diatas memainkan konvensi pantun dan sonet. Jika bait pertama dan kedua bersifat pantun, maka keduanya membalikkan aturan pantun. Namun hubungan sampiran iisi juga tak begitu tegas: semuabarus bisa disebut sampiran, sekaligus isi - semua adalah simbolisme atau pengantar ke masalah, katakanlah, sebuah cinta segita.

Dengan bentuk diatas Sitor Situmorang menegaskan bawa seorang sastrawan tidak perlu terjebak ke dalam semangat pembaruan yang mubazir. Chairil Anwar telah mencontohkan avantgardisme, yaitu bahwa seorang pencipa haruslah terus maju ke depan, menemukan apa yang belum dicapai oleh para pencipta sebelumnya; sayang sekali avantgardisme semacam ini sering menyeret kaum sastrawan ke dalam kebaruan semu. Sedangkan penyair kelahiran Harianboho, Samosir, 1924 ini menunjukkan bahwa seorang sastrawan bisa bergerak leluasa ke belakang, kemasa lampau, kebaruan bukanlah soal menghasilkan barang baru, namun menggunakan perspektif baru untuk menemukan dan mengolah lagi bentuk bentuk lama.

Para pengamat sastra sering menggambarkan sastrawan sebagai sosok romantik yang tercerabut dari lingkungannya; pandangan ini rupanya berlaku juga untuk Sitor Situmorang.Namun bagi kami, tidaklah demikian. Sesungguhnya terdapat hubungan yang berlapis-lapis antara visi sastrawan, bentuk-bentuk sastranya, dengan sosok aku dalam karyanya. Pantun dan syair terdapat dalam pelbagai khazanah Nusantara; dengan menggunakan bentuk bentuk itu pastilah sudah Sitor berakar; tentulah bukan berakar secara otomatis, melainkan menemukan dan mengembangkan akar. Dan ini mensyaratkan pergaulan dengan pelbagai khazanah sastra dari seberang samudra. Dan itulah yang dikerjakan Sitor.

Adapun sosok-aku yang ditampilkan dalam aneka puisinya, tidaklah begitu saja mudah dikatakan sebagai manusia terasing, sosok yang tak bisa menancap di kampung halaman atau berterima di negeri orang. Sosok ini terkadang memang bisa tampak sebagai seorang eksistensialis yang berhadap-hadapan dengan masyarakat, namun bisa juga tampil sebagai si polos yang siap menelanjangi dirinya sendiri; ia bisa juga muncul sebagai sejenis filsuf yang gagap, bisa juga sama sekali menghilang dari puisi untuk menonjolkan rupa dan suara belaka. Dengan demikian, bahasa dan ekspresi keindonesiaan diperluas ke batas-batas yang hampir mustahil.Kita baca dua bait dari puisi "Studie dalam Gelap":

Adakah yang indah dari bibir padat merekah? adakah yang lebih manis dari gelap di bayang alis? dikeningnya pelukis ragu: mencium atau menyelimuti bahu? Tapi rambutnya menuntun tangan hingga pantatnya, penuh saran Menjadi penyair juga berarti menegakkan kerja, bukan mengidealkan sosok pencipta yang mendapat ilham dari angkasa. Dalam arti ini, si penyair adalah produsen yang menolak standar baku bagi dirinya sendiri.

Ia tidak puas dengan puncak puncak yang dicapainya, yang bagi kita adalah puisi-puisinya yang berbentuk pantun, sonet, dan syair. Penyair harus juga mengalami sekian lembah dan jurang dalam kembara kreatifnya. Dan jika menjadi penyair adalah sebuah kerja, maka itu adalah kesanggupan untuk sepanjang waktu, sepanjang hayat.

Pada Sitor tidak berlaku - kita kutif Chairil Anwar - "sekali berarti, sudah itu mati". Penyair menjadi tua,tapi juga meremajakan diri kembali, berkali-kali, mengalami gelombang pasang surut daya cipta, dan selalu beriringan dengan angkatan sastrawan baru.

Sitor juga menghasilkan sajak-sajak yang mendekat kepada wicara sehari-hari, yang seakan hendak berbicara langsung, menjadi semacam catatan harian, sketsa sekali jadi,tanggapan etnografis, atau rekaman fotografis, namun seraya menyisipkan ciri dari zaman keemasannya. Kini Sitor makin populer dengan sebutan penyair dengan masa kerja terpanjang di tanah air, sementara temuan-temuannya di masa awal kiprahnya tetap bergema jauh ke masa depan sastra Indonesia.

Pantaslah dia memperoleh anugerah Penghargaan Achmad Bakrie 2010 dan hadiah uang tunai Rp 250 juta, meski penghargaan berikut hadiah uang tunai tersebut pada akhirnya ditolaknya, tanpa alasan. ***

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 13 Oktober 2012

Sunday, January 06, 2013

Memahami Puisi-puisi Sitor Situmorang

Aminullah HA Noor

Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang, terutama dari periode awal, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat - misalnya tentang keisengan atau keterasingan - melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib-rupa dan tertib-bunyi.

Ciri demikian itu membebaskan dia dari lingkungan pengaruh Chairil Anwar, sosok pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah.

Memahami puisi puisi Sitor Situmorang sebenarnya tidaklah terlalu rumit. Bahkan bisa dikatakan gampang, karena susunan kata dan frase Sitor segera meninggalkan gema di hati dan kepala.

Bisa begitu, karena Sitor Situmorang dalam berkarya apapun tak akan pernah lepas dari kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

Namun, jangan buru-buru mengatakannya penyair kuno hanya karena Sitor Situmorang selalu merasa terikat dengan penggunaan bentuk puisi lama, seperti pantun dan soneta. Sebenarnya, Sitor pun telah menulis banyak mengenai puisi-puisi yang bersentuhan langsung dengan masa lampau dan tradisi kekinian.

Jelaslah, tertib-pola demikian adalah sarana untuk menapis, juga menundukkan, derau dan gebalau pengalaman modern.

Generasi Sitor, masuk dalam Angkatan '45, memang dikenal sebagai kelompok penyair yang begitu mengandrungi puisi bebas. Tetapi Sitor sendiri tidak demikian.

Buktinya, puisi puisi Sitor tidak jarang didominasi dengan persoalan kekinian. Tak jarang pula puisi-puisi Sitor terjebak dalam permainan kata yang berlebihan, kemubaziran, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya.

Kita lihat, puisi bebas Sitor "hanyalah" bentuk yang lebih lentur-cair dari pantun dan sonetanya.

Kesepian, juga keisengan, keterasingan, kebosanan, mungkin juga kemabukan. Kalimat-kalimat yang mengandung unsur filsafat semua ada dalam puisi Sitor: suatu pandangan dunia yang tak tertawarkan lagi?

Seorang penyair modern yang sejati, mestinya adalah sang flaneur, sebagaimana halnya Baudelairre: seorang pejalan iseng yang mengalami pemandangan, dunia, sebagai hal terpecah-pecah, dekaden-ia pencari keburukan ketimbang keindahan.

Namun Sitor adalah seorang flaneur yang tak sepenuh hati. Ia pemburu keindahan atau sisanya.

Seperti Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan membawa kampung halamannya dalam bungkusan. Neruda seperti hendak meluaskan tanah airnya ke seluruh bumi; sedang Sitor, ingin menjadi orang-dunia namun diganduli oleh warisan leluhurnya. Sitor meragukan, mungkin menyangkal, asal-usulnya justru dengan menggunakan puisi lama-soneta dan pantun.

Keduanya sampai juga ke "jalan kiri" dengan alasan berbeda: Neruda lantaran kejenuhannya dengan puisi modern: Sitor, justru karena keberjarakannya. Sitor melakukan rekonsoliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa": demikianlah keisengan (yang tak pernah menjadi filsafat itu) digantikan ide, bahkan ideologi. Maka impresionisme menjadi realisme; dan pantun dan sonet pun bertukar dengan puisi bebas.

Sitor sang flaneur yang bimbang tak cukup radikal dalam melawan komunitasnya, sebagaimana sang komunitas juga begitu setengah hati untuk meninggalkan masa lampaunya. Mungkinkah "aku" menjadi "kami" atau "kita" dalam derap "revolusi"? Mungkin sekali tidak. Puisi Sitor selepas 1970-an adalah upaya mendedahkan "aku" kembali, sang pejalan: kini ia bukan pemburu keisengan melainkan pengumpul cendera mata dari pelosok Nusantara dan mancanegara. Di sini tiada lagi musik atau tertib-bunyi yang bisa melunakkan isi-sajak.

Tapi jika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah dari segala penjuru, "filsafat" dalam puisi tak penting lagi.

Itu sebabnya kita selalu kembali kepada puisi Sitor Situmorang dari 1950-an, di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni-dalam arti menjadi makhluk bermain, homo ludens-setelah kita menjadi begitu jinak dan seragam dalam jejaring sistem.

Menjadi "bunga di atas batu, dibakar sepi": liar, keras kepala, tak menyerah. Demikianlah puisi Sitor yang terbaik, justru membuat kita mampu mengsongsong "filsafat" yang dikandungnya dengan haram. ***

Sumber: Suara Karya, Minggu, 2 Oktober 2005

Thursday, January 03, 2013

Cerpen Beni Setia

Kokok Ayam Tengah Malam

"I don't want close my eyes, I don't want go sleep cause I miss you, baby, and I don't want miss a thing" (Aerosmith) 

WANTI lahir di Surabaya, besar, dan bersekolah di Surabaya. Ketika mendapat SK penempatan sebagai guru di Madiun, pada usia dua puluh tiga tahun lebih, baru ia meninggalkan Surabaya. Kami bertemu ketika sama-sama bekerja di SMP yang sama, sebab aku,asli Madiun,ditempatkan di sana. Berhubungan dua tahun dan menyetujui adagium "produk dalam negeri itu lebih unggul", yang awalnya anjuran agar kami itu berpacaran dan menikah karena sama-sama jomblo dan telah punya pekerjaan dan gaji tetap sehingga sangat siap berumah tangga. Permainan comblang yang sukses. Kini kami punya dua orang anak. Semua bersekolah di SD yang sama, masuk ke SMP yang sama, dan ada di SMA yang sama.

Dan meski pernah masuk di sekolah di mana kami bekerja, kami tidak pernah bersedia menjadi guru mereka. Bukan apa-apa, hanya mencoba untuk menempatkan mereka dalam situasi kompetisi dan tidak terlalu mengandalkan subyektivitas evaluasi belajar mereka. Nilai itu usaha untuk menguasai materi dan menaklukkan varian pertanyaan, dan bukan relasi, supaya mereka terbiasa dituntut bersaing dan mempertahankan kompetensi untuk bersaing yang tinggi. Kata Wanti, "Jangan melihat kami. Marahilah mereka seperti memarahi siswa lain,jangan terlalu mempertimbangkan keberadaan kami."

Yang nomor satu sedang menyusun skripsi, dan si nomor dua baru masuk tahun pertama kuliah. Yang membuat Wanti merasa sangat kehilangan karena setelah pamit ke Surabaya ia tak akan sering pulang ke Madiun, seperti kakaknya yang paling depat pulang tiga bulan sekali. Mungkin karena mereka kos di rumah neneknya,ibu Wanti. Di rumah kini kami cuma tinggal berdua. Menurut perkiraanku, si sulung tak mungkin pulang, dan kalau pulang pasti akan pergi lagi, mengejar kerja dan hidup baru sebagai manusia dewasa.

Menikah dan punya anak, dengan sesekali pulang buat ber-Lebaran. PPPKita akan kesepian b&,OOO kata Wanti. Lupa bila (dulu) ia meninggalkan orang tuanya di Surabaya selama tiga puluhan tahun. Aku juga telah meninggalkan orang tuaku, meski bisa didatangi dalam sepuluh menit, selama tiga puluh delapan tahun. Lima tahun berkuliah, pulang tiga tahun, dan pisah rumah karena menikah selama tiga puluh tahun Anak itu sesuatu yang datang lewat kita, lantas hilang dari tatapan kita sesuai kodratnya yang diadakan dan mencari pasangan untuk mengadakan yang lebih muda. Apa yang tersisa bagi orang tua?

* * *

PERNIKAHAN kami dilakukan malam hari-akad nikah serta resepsi sederhana ala kampung diselenggarakan di malam hari. Di Surabaya hal itu biasa, dan saya tahu: itu biasa dilakukan di malam hari. Tapi bagi kami yang besar di Madiun hal itu agak mengejutkan-bahkan nyaris satu pernyataan adati yang memalukan. Ada tradisi lokal, yang mengatur kalau pernikahan seorang gadis dilakukan tepat di tengah hari,meski akad nikahnya disiselesaikan pagi hari. Karena, bagi kami, yang namanya pernikahan itu upacara Temu Kemanten, yang rumit ritualistik bersipat amat adati. Kalau upacara Temu Kemanten disilakukan di petang hari, itu menandakan si yang melakukan Temu Kemanten itu janda, dan kalau disilakukan malam hari-bahkan di tengah malam, itu menandakan si pengantin perempuan hamil duluan. Pernikahan aibiah.

Tapi seingatku tak pernah ada acara Temu Kemanten yang disilakukan di tengah malam, bahkan tidak pernah ada yang dilakukan petang hari, tidak peduli si kemanten putrinya janda dan bahkan si gadis tak perawan yang telah hamil terlebih dulu. Semua dilakukan di tengah hari. Di mulai jam 12:00 dan berakhir pada 16:00, bahkan sampai jam 17:30. Tampaknya semua sanksi adat itu tak dijalankan secara konsekuen. Yang disiutamakan itu justru acara Temu Kemanten, yang disilakukan oleh pihak orang tua penganten wanita, dan tiga hari kemudian oleh orang pengantin lelaki,acara Ngunduh Mantu. Wajib dan harus meriah. Karena kalau tak disirayakan, maka si orang tua akan malu dan (bahkan) mengalami sekarat panjang. Lantas siapa berani menjalani sekarat panjang? Maka acara Temu Kemanten harus disirayakan,tak peduli mereka menjadi si terlilit utang dan terpaksa menjual tanah? Dan acara Temu Kemanten ulang kami itu, acara Ngunduh Mantu itu, dilakukan dengan bayangan mendung prasangka: Wanti telah hamil sebelum menikah. Untung Wanti tak mengerti, dan aku tak pernah mengatakan itu meski di kantor disindiri oleh beberapa teman. Aku bertekad hendak menunjukkan fakta sesungguhnya-kami tidak melakukan hubungan seks di luar nikah, dengan memaksa Wanti segera hamil, lalu melahirkan anak di atas hitungan sembilan bulan dari titik kami ada menikah. Si anak pertama kami memang lahir terlalu cepat karena jadi proyek pembuktian: Wanti tidak hamil sebelum menikah, dan setiap tempat itu punya adat dan kebiasa tersendiri. Anak lain lahir sesuai rentang anjuran KB.

* * *

WANTI lahir di Surabaya, besar dalam tata pergaulan khas kota besar Surabaya, dan memiliki asumsi adatiah yang aneh dan menurutku,yang kelahiran Madiun, yang di pedalaman Jawa sini, dan sangat kuat dipengaruyhi budaya Mataraman-amat lucu. Mungkin asumsi adatiah itu terbawa oleh fakta nenek Wanti dari garis ibu asli orang Lamongan,padahal kakek dari pihak ibu asli Surabaya, yang terinternalisasi sebagai mekanisme kontrol etika di luar fakta si ibu Wanti terlahir di Surabaya. Fakta bahwa ayah Wanti itu asli Surabaya juga tidak bisa melunturkan asumsi adatiah itu. Atau itu asumsi adatiah yang orsinil Surabaya? Saya tak tahu. Mungkin cuma mitologia yang diciptakan secara internal dan diturunkan sebagai acuan kontrol etika keluarga. Suatu uang eksklusif bersipat famili.

Saya tak ingin tahu. Saya mencoba bersikap pragmatik. Percaya kalau semua itu memang asumsi adatiah eksklusif keluarga, suatu rujukan yang merupakan campuran antara Surabaya serta Lamongan. Asumsi kalau ada ayam berkokok di tengah malam bermakna ada gadis, perawan, si yang belum menikah atau terikat pernikahan,hamil. Semacam keyakinan yang dengan teguh dipertahankan oleh Wanti ketika aku berkali menyangsikannya. "Pasti ada perawan hamil,tunggu saja kalau Mas tidak percaya," katanya,berkukuh. Aku tertawa. Kemudian terbukti kalau Ngatinah, janda, ternyata hamil dan terpaksa gegas dinikahkan tanpa ada upacara Temu Kemanten, tak pernah dilakukan ketika mereka kemudian bercerai, kemudian Ngatinah itu menikah lagi dan punya anak lagi. "Bukan gadis," kataku. Wanti merengut dan bersikukuh kalau kokok ayam tengah malam itu pertanda dari alam, bahwa ada yang hamil di luar nikah.

Dan terpikir, mungkin fakta yang hamil itu masih gadis atau sudah janda terkait dengan waktu si ayam itu berkokok. Sebuah pernyataan dari alam, akan sesuatu yang tidak benar dan harus dibenarkan sebelum terbukti itu tak benar, nyatanya sering baru dibetulkan setelah ketahuan oleh orang sekampung. Dan meski aku melupakan hal itu Wanti tetap peka akan ihwal itu, ia selalu menjagakan aku dan mengatakan kalau ada ayam yang berkokok di tengah malam lagi. Aku terjaga dan mulai menimbang semua anak gadis tetangga. Menyelidik, dan kemudian terhanyak ketika ketahuan kalau si A, si B atau si C telah hamil senelum menikah dan gegas dikawinkan. Celakanya, semua upcara pernikahan dilakukan sesuai urutan normal yang sangat memsipertimbangkan hitungan hari baik, bahkan dengan ritual Temu Kemanten di selepas tengah hari,tetap dimanifestasikan sebagai gadis dan masih perawan.

Apa itu mekanisme buat menjaga kehormatan, untuk tak mempermalukan meski semua orang di kampung mengerti? Dengan kata lain, sanksi adatiah yang bersitujuan menjaga kemurnian etika itu sengaja dimanipulasi, dan semua itu disimaklumi semua orang. Tapi saat toleransi sosial sengaja bermain maka kecenderungan melonggarnya moralitas jadi meningkat, bahkan bersibalik dinikmati sebagai semacam keguyuban.

Sementara keteguhan akan kepekaan alam yang termanifestasikan secara alami-ayam berkokok tengah malam, akan membuat seseorang berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan yang bukan muhrim? Saya tak tahu. Tapi saya percaya kalau ihwal itu akan menjaga anak-anak saya yang perempuan itu kuliah di Surabaya-dengan kos di rumah Neneknya dijaga oleh Pakde dan istri dan sepupunya. Terasa aman meski di kota besar itu moralitas mengendor dan kecenderungan buat berseks bebas meningkat. Saya percaya, dengan landasan acuan agama yang terinternalisasikan, permisivitas hubungan seks di luar nikah, yang akan menghancurkan moral itu masih dikendalikan oleh alam, dengan memicu isyarat ada kehamilan di luar nikah, kokok ayam di tengah malam. Sederhana tapi menakutkan bagi yang peka dan tahu. Insya Allah! ***

Suara Karya, Sabtu, 10 November 2012

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook