Wednesday, January 20, 2010

Contoh Monolog

Monolog Topeng-Topeng

Karya: RACHMAN SABUR

DARI BAGIAN ATAS PANGGUNG ADA DUA BENTANGAN KAIN HITAM DAN KAIN PUTIH. MASING-MASING BERJARAK. DARI DUA BENTANGAN KAIN PUTIH DAN HITAM YANG VERTIKAL INI BISA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS AREA PERMAINAN BAGI SANG PEMAIN. ATAU BISA JUGA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS ALAM NYATA YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN HITAM. DAN BATAS ALAM KHAYALI YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN PUTIH. YANG SEWAKTU-WAKTU BISA DIPAKAI JUGA UNTUK ADEGAN BAYANG-BAYANG. DI DEPANNYA ADA SEBUAH PETI PANJANG BERWARNA HITAM. DI ATASNYA ADA DUA BUAH TOPENG YANG BERWARNA HITAM DAN PUTIH.

PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.

Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?

Kalau saja, saya bisa percaya…, kalau saja kita mau bijaksana sedikit. Tentunya kita dapat membicarakan segala kebohongan yang ada. Segala yang terjadi dan akan terjadi…
Baik. Kalau begitu akan saya mulai saja.

SANG PEMAIN MENGENAKAN TOPENG HITAM. IA BERADA DI LATAR BELAKANG KAIN PUTIH. PADA DIALOG BERIKUT INI, SANG PEMIAN SEOLAH-OLAH SEDANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG. MEREKA SALING BERTATAPAN.

Wajah kita adalah topeng-topeng. Segala wajah semua bertopeng. Ayo! Siapa diantara kita yang bersedia menanggalkan topeng dirinya? Aku tahu wajahmu. Kaupun tahu wajahku yang sebenarnya. Topengku dan topengmu saling menatap penuh kejatahan! Wajah-wajah kita bersembunyi di balik topeng. Topeng-topeng kita bercengkrama di panggung hidup. Lalu kita saling bunuh membunuh! Topengmu dan topengku terus bergerak menarikan kehidupan dan kematian. Bersama para gagak hitam. Yang bersemayam di bukit-bukit kubur.

TERDENGAR KEMBALI BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN DIAM BEBERAPA SAAT. HANYA EKSPRESI TOPENGNYA MASIH MENATAP NANAR. PADA DIALOG SELANJUTNYA, SANG PEMAIN SEOLAH-OLAH SEANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG YANG LAIN. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGHILANG. YANG TERDENGAR HANYA BUNYI PETI YANG DIPUKUL SECARA KONSTAN. SANG PEMAIN DUDUK DI PETI ITU.

Waska! Aku dengar kemiskinanmu di mana-mana. Lapar badan dan lapar jiwa telah membuatmu angkuh! Dan engkau tidak pernah takut mati. Kau dengar Waska? Nasibmu bagai acuan kereta waktu. Berjalan terus berjalan, menyelusuri rel-rel kehidupan yang kumal. Yang telah begitu lama kau kenal.

Waska! Aku lihat borok-borok di seluruh tubuhmu pagi hari. Dan kau sungguh tak peduli matahari! Sementara kau diam membisu di situ, kereta waktumu lewat begitu saja. Tanpa pesan. Perjalan hendak kemana Waska? Dan kau tidak menjawab. Tetap tak peduli.
Waska! Aku lihat sinar di matamu merah menyala-nyala! Waska! Kau dengar? Berjuta-juta orang meneriakkan lapar di belakangmu. Dan aku dengar, siang malam Waska-Waskamu meraung-raung! Mereka menggeram dengan lapar! Mereka menatap nanar! Mereka berkeliaran di mana-mana!

Waska! Mereka gelisah di mana-mana! Mereka kini mengembara keseluruh penjuru kota, mencari-cari kuburnya sendiri, membuat kuburnya sendiri. Lalu tentang mimpi bersarmu, tentang perampokan semesta. Mengendap dalam kekosongan…
Waska! Kini aku melihat kau telah bunuh diri. Kekosongan dan nasibmu, sungguh sempurna.

SANG PEMAIN TIBA-TIBA JATUH DARI ATAS PETI. KEMUDIAN SUNYI. SANG PEMAIN BANGKIT KEMBALI SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA.

Begitulah. Kegelisahan dramatik yang sedang terjadi pada tokoh yang satu ini. Ia telah bertemu dengan tokoh Waska. Seorang tokoh legendaris yang ada dalam lakon sandiwara Umang-Umang. Dimana dalam lakon itu pengembaraan hidup seorang Waska yang jahat, sekaligus sebagai seorang yang baik dapat kita rasakan penderitaannya. Tapi apakah benar Waska itu telah mati? Apakah benar, Waska sebelumnya pernah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa? Dan apakah benar Waska itu gila? Sedangkan menurut kabar burung, katanya sekarang ia lagi memimpin proyek raksasa yang dananya beratus-ratus juta milyar dollar. Untuk lebih jelasnya, baik. Saya akan mencoba menghubungi dia. Mudah-mudahan dia mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang prinsipil dan sangat hakiki itu. Saya percaya, Waska mau memenuhi permintaan sahabatnya. Saya permisi dulu. Waska! Waska! Waska! Waska……!

SANG PEMAIN SEKARANG MENGENAKAN TOPENG PUTIH. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGIRINGI KEMUNCULAN HADIRNYA SEORANG WASKA.

Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, yang profesinya sebagai anak panggung. Kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa nama saya bukan lagi Waska. Nama saya saya sekarang adalah Semar. Siapa bilang saya ini sudah mati? He… he… he… Itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Itu kan sebetulnya hanya trik saja untuk memancing rasa emosi penonton. Untuk merebut simpati pengikut-pengikut saya, dan masyarakat lingkungan saya. Dan itupun saya tidak mati-mati. Saya menjadi sakit di situ. Dan yang paling jelas, itu rekaan pengarangnya. Karena pengarangnya menghendaki demikian, ya sudah.

Sungguh! Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup, kok. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa. Makanya saya masih tetap muda, dan tetap perkasa. Saya betul-betul menikmati kehidupan ini. Setiap detik saya menghirup dan menghembuskan nafas, bagi saya itu adalah kenikmatan, suatu anugerah. Jangan percaya! Itu hanya isu. Orang masih hidup, kok, … dikatakan sudah mati. Bagaimana ini…? Lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan Malaikat Jibril. Bohong itu! Lha, saya hanya pernah bermimpi bertemu dengan Mbah saya. Masa Mbah saya dikatakan malaikat? Itu mengada-ngada, dan itu berlebihan. Jangan-jangan Malaikat Jibril nantinya tersinggung. Mbah saya juga pasti bakal tersinggung dengan fitnah ini.

Baik. Sekarang pertanyaan yang mana, yang belum saya jawab? Oh, ya! Tentang proyek raksasa saya. Memang benar. Proyek ini adalah salah satu dari sekian banyak proyek yang saya kerjakan. Sebetulnya proyek ini adalah proyek kemanusiaan. Dan saya beruntung sekali dapat mengkompensasikannya kedalam bentuk proyek kerohanian, yang semata-mata pengabdian saya terhadap manusia sesama, dan juga pengabdian saya terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Beruntung sekali saya mendapat kepercayaan untuk mengerjakan proyek raksasa ini. Terus terang saja, saya tidak melihat ini sebagai proyek bisnis semata. Tapi ada yang lebih berharga, lebih bernilai dari itu. Yaitu: pengabdian saya terhadap manusia sesama. Juga pengabdian saya terhadap Tuhan saya. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mudah-mudahan proyek ini dapat berjalan dengan lancar, sebagaimana yang diharapkan. Proyek ini juga dapat dikatakan sebagai tanda rasa syukur saya kepada Tuhan, yang telah memberikan rejeki yang berlimpah kepada saya. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Oh… kalau saya teringat kembali kebelakang, kemasa-masa hidup saya yang serba sulit, serba berantakan, serba gelap…, saya jadi teringat kembali kemasa itu.

Tentunya semua orangpun tahu, dulu saya pernah menjadi anak wayang. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kenapa saya berhenti menjadi seorang pemain sandiwara? Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Terlalu sulit untuk dibicarakan. Kalaupun saya harus menjawabnya, mmmhh… alasannya sangat pribadi sekali. Betul-betul sangat pribadi. Jadi lebih tidak usah saya katakan. Maaf. Sekali lagi… maaf. Dan maaf lagi, saya harus segera pergi. Saya ada pertemuan. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya harus menggarap proyek baru. Masih dalam fokus proyek kemanusiaan. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Saya harap semuanya bisa menjadi puas dengan penjelasan yang telah saya sampaikan tadi. Terutama untuk sahabat saya yang paling setia. Saya harap anda puas. Kalau anda merasa belum puas, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi nanti. Atau lebih baik saya undang anda, atau siapa sajalah. Datanglah ke Jakarta, ke hotel saya. Di sana kita bisa ngobrol-ngobrol lebih santai tentang kemanusiaan, secara ilmiah dan hakiki. Saya tunggu. Dan maaf, saya harus segera pergi.

SANG PEMAIN BERGERAK KEBELAKANG KAIN PUTIH. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI TANPA TOPENG.

Bagaimana? Meskipun kita tidak puas, untuk sementara ini kita puas-puaskan saja. Tapi sekarang sudah jelas, bukan? Bahwa Waska itu ternyata masih hidup sehat wal afiat, segar bugar dan masih tetap muda. Kalaupun sekarang ia berganti nama menjadi Semar. Saya yakin itu hanya untuk kebutuhan administrasi dan formalitas saja. Bagaimana tidak, ia seorang Waska. Sekali Waska tetap Waska! Hidup Waska!

Saya heran, kenapa dia harus berhenti menjadi pemain sandiwara. Padahal kita semua menyaksikan sendiri, dia begitu berbakat, potensial. Kemampuannya sangat luar biasa. Refleksinya begitu kuat san sangat sensitif. Padahal dia sebenarnya bisa menjadi seorang pemain yang sempurna. Saya belum pernah melihat orang lain setangguh dia. Betul-betul luar biasa! Saya sampai-sampai pangling melihat perubahan yang begitu besar pada dirinya.

Tapi rasanya saya tidak adil kalau saya harus terus membicarakan tentang kesuksesan Waska. Waska sendiri sudah diberikan kesempatan secara panjang untuk menjawab semua pertanyaan dan isu-isu yang tersiar selama ini. Rasanya kita juga harus sedikit bijaksana untuk memberikan kesempatan bicara kepada Semar. Barangkali ia juga juga ingin menyampaikan sesuatu. Barangkali keanehan atau keajaiban jaman telah terjadi dan harus segera diwartakan kepada semua orang. Segera akan saya panggil Semar.
Semar! Semar! Semar! Semar……!

SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR. KEMUDIAN IA MASUK KEBELAKANG KAIN HITAM. SEBENTAR KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI MENGENAKAN TOPENG HITAM.

Sebelum saya berbicara lebih jauh, terlebih dahulu saya akan meluruskan sebuah kekeliruan. Saya bukanlah Semar. Saya adalah Waska. Saya betul-betul Waska. Memang banyak sekali orang bernama Waska. Tapi saya adalah Waska yang paling Waska. Dunia saya adalah dunia Waska. Penderitaan saya adalah penderitaan Waska. Borok saya adalah borok Waska. Kesunyian saya adalah kesunyian Waska. Mimpi saya adalah mimpi Waska. Sakit saya adalah sakit Waska. Hati saya adalah hati Waska. Keinginan saya adalah keinginan Waska. Dendam saya adalah dendam Waska. Kemiskinan saya adalah kemiskinan Waska. Lapar saya adalah lapar Waska. Sembahyang saya adalah sembahyang Waska. Tuhan saya adalah Tuhan Waska.

Waskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaska…!

IA MENANGIS. SUARANYA MERINTIH MEMILUKAN. KEMUDIAN MEMUKUL-MUKUL PETI. TIBA-TIBA TANGISANNYA BERHENTI. IA GELISAH BERGERAK KESANA-KEMARI. IA SEMAKIN GELISAH. LALU IA BERSEMBUNYI DI BALIK KAIN HITAM. KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI DALAM GELISAH YANG SAMA.

Bagaimana lagi aku harus menjelaskan? Bagaimana lagi Waska? Percuma saja aku berteriak-teriak, karena orang-orang sudah tidak punya telinga. Berpikir Waska! Berpikir! Percuma saja aku berpikir, karena orang-orang sudah tidak mau lagi menerima pikiran orang lain. Berdoa Waska! Berdoa! Percuma saja aku berdoa, karena Tuhan sudah tidak mau mendengar lagi keluhanku. Lebih baik aku melanjutkan mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang dapat memberikan kesunyian yang indah. Ya, lebih baik aku diam dalam mimpi-mimpi itu. Diam bagai batu. Aku memang batu! Batu hitam yang angkuh! Aku harus menjadi angkuh, karena semua orang telah menjadi musuh! Tiba saatnya aku harus mengatakan: tidak kepada semua! Terlebih-lebih kepada orang-orang yang menganggapku sebagai orang tanpa daya upaya, tua dan penyakitan. Akan kubuktikan kepada mereka, bahwa aku adalah seorang Waska. Seorang manusia berantakan, tapi masih punya pikiran. Akan kujelaskan kepada mereka, bahwa aku adalah manusia yang terseret oleh jaman dan peradaban yang edan, namun aku masih tetap punya perasaan. Punya hati nurani. Punya perasaan sakit yang sama seperti orang-orang lainnya. Punya dendam yang sama. Oh! Dendam yang tiada akhirnya. Mengepul panas di ubun-ubunku. Membakar sekujur tubuhku yang hitam berkarat.
Istirahatlah Waska! Kau begitu lelah. Tidurlah…

Siapa bilang aku lelah? Aku tidak lelah! Dan aku tidak butuh tidur! Yang kubutuhkan hanya mimpi! Aku butuh mimpi-mimpi itu. Mimpi sunyi yang indah. Yang membangkitkan gairah hidupku. Dan bintang-bintang berada di tanganku. Kugenggam ia… Ya! Aku harus mendapatkannya. Belum terlambat. Ya! Belum terlambat. Hari masih malam. Masih banyak yang harus kuraih. Bangsat! (BERGERAK LIAR) Mereka mengunyah-ngunyah dagingku! Mereka menghisap darahku! Lintah! Mereka masih tetap saja lapar. Oh…, kebiadaban mana lagi yang harus kusaksikan. Begitu banyak binatang-binatang di sekitarku. Binatang mahal, terpelihara, tapi buasnya minta ampun!

Kau harus lebih buas dari mereka Waska…! Tunjukkan kebuasanmu! Tunjukkan taringmu! Tunjukkan matamu yang merah menyala-nyala! Ayo! Tunjukkan Waska…! Ya… Tuhan! Pandanganku begitu gelap. Sekujur tubuhku demam…. pori-poriku seakan tersumbat. Darah menggelegak naik keatas kepala. Pandangan mataku meremang, kepalaku seakan mau copot… tubuhku… tubuhku terasa kaku dan berat. Lidahku… kenapa lidahku menjadi kelu? (TUMBANG) Bertahanlah Waska! Kau harus bertahan! Dukamu adalah duka semesta! Bangkitlah Waska! Ayo bangkit! (BANGKIT) Ya, aku harus bangkit… aku harus berdiri, aku harus berjalan, aku harus tetap bertahan. Akan kubuktikan, bahwa aku adalah seorang Waska… (TUMBANG LAGI) Berdirilah Waska! Ayo berdiri! Kau harus berdiri di atas kakimu sendiri! Ya, aku harus berdiri… (BANGKIT LAGI) Ayo… kakiku berjalanlah, aku harus menebus kekalahanku… aku harus membayar hutang-hutangku kepada kehidupan ini. Akan aku selesaikan semua persoalan-persoalan ku dengan hidup ini… (TUMBANG LAGI) Waska! Seluruh alam akan berkabung, apabila kau menyerah! Maka bangkitlah Waska! Ayo bangkitlah! Buktikan bahwa kau adalah seorang manusia baja! Buktikan bahwa kau adalah batu hitam yang angkuh! Ayo buktikan Waska! (BANGKIT LAGI) Bnagsat… aku masih tetap seorang Waska, aku masih mampu bangkit, aku masih bisa tegak berdiri, aku masih mampu berjalan. Ayo…! Kakiku berjalanlah…, berjalanlah kemana kau suka. Ayo, kakiku, kau harus berjalan. Pergilah kemana kau mau. Mengembaralah kegunung-gunung, kebukit-bukit, kelembah-lembah. Dan carilah mata air yang sejuk untuk membasuh kakimu yang lusuh. Untuk mengobati luka di sekujur tubuhku. Oh, betapa sejuknya mata air itu menyentuh kepalaku yang lelah. Ayo kaki… berjalanlah. Tempuhlah segala rintangan… (TUMBANG LAGI) Oh…! Rupanya aku ini betul-betul sudah tua… aku lelah… Ya, Tuhan! Sungguh! Aku sudah terlalu lelah… aku berat… oh! Tiba-tiba seluruh pandanganku menjadi gelap (IA MERANGKAK) Begitu gelap… aku seperti masuk kedalam sebuah lorong yang gelap pekat.

Waska! Bertahanlah Waska! Semua itu hanya ilusi Waska! Bukalah matamu! Bukalah pikiranmu! Bukalah pintu hatimu! Buktikan bahwa kau adalah seorang Waska! (IA MASIH TETAP MERANGKAK) Aku sudah tidak tahan lagi Waska! Aku sudah sangat lelah… dan kini aku sedang sekarat…, sudahlah Waska… kau… kau memang kalah…, tapi kau tetap seorang Waska… Ya, Tuhan… aku sangat lelah.

IA MENANGIS. KEMUDIAN SUNYI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SANG PEMAIN BANGKIT SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA. IA BERJALAN SEPERTI SEDIAKALA.

Begitu besar penderitaan Waska. Begitu besar keinginan Waska untuk hidup, untuk tetap bertahan menjadi seorang manusia. Sampai-sampai ia harus menitikkan air matanya. Begitu indah dan menyakitkan. Sulit untuk dibayangkan, nasibnya begitu mengenaskan. Ucapan-ucapannya, kata-katanya…, begitu simbolis, penuh kemarahan dan ketahanan. Tapi sampai pada akhirnya, ia masih tetap punya pikiran. Ia masih tetap punya perasaan.

Sekarang akan saya panggil: Semar…! Waska…! Semar…! Waska…! Semar…! (SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR DAN WASKA) Waska…! Semar….? Waska…? Semar…? Waska…? Tidak seorangpun yang muncul. Seorang Waska tidak mau dikatakan sebagai seorang Waska lagi. Ia sudah menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak mau juga dikatakan sebagai seorang Semar, karena ia adalah seorang Waska. Semar adalah Semar. Seorang Waska adalah seorang Waska. Seorang Waska menginginkan menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak menginginkan menjadi seorang Semar. Kedua-duanya bisa ada. Dan kedua-duanya bisa tidak ada. Sedangkan saya, saya adalah seorang sahabat Waska. Saya hanyalah seorang anak panggung, yang telah lama ditinggalkan……


SELESAI

Download naskah ini KLIK di sini

Monday, January 18, 2010

Umi Kalsum Djamil Suherman




UMI KALSUM

Cerpen Djamil Suherman

Seorang gadis yang namanya tak pernah kusebut-sebut dalam pergaulan dengan teman-teman ialah Umi Kalsum, anak Haji Basuni yang kaya itu. Tapi nama itu diam-diam mengembang di hatiku, ketika itu.

Seperti bunga kacapiring, muka dan kulitnya kemerah-merahan dan kalau ketawa cekung pipinya. O, dia pernah jadi saingan kuat dengan Zainab yang egoistis. Bedanya dengan Zainab, mata Umi teduh seperti laut dan kalau memandang terasa sekali merampas dada. Rambutnya hitam mengombak, sama hitam dengan rambut Fatimah anak Haji Ma'ruf itu.

Mula-mula aku begitu memimpikan dia. Sampai pun pada suaranya yang merdu tiap kali membenamkan daku ke satu fantasi yang indah dan ajaib, sebagaimana kalau aku membayangkan wajah seorang gadis putri nabi yang cantik itu.

Umi kukenal ketika ia mengantarkan bubur-safar ke rumahku. Kami bersalam-salam dan beramah-ramah.

Haji Basuni beranak tiga orang gadis. Yang tua namanya Masanah, sudah bersuami dan punya anak satu. Yang tengah Batifah dan kemudian Umi Kalsum. Kedua kakak-beradik itu masing-masing berumur 15 dan 14 tahun dan merekalah bunga Ketapang itu. Tapi teman-temanku lebih gandrung sama si Umi, sebab ia lebih manis dari pada kakaknya.

Umi bersahabat baik dengan Zainab dan gadis-gadis lainnya di Kedungpring. Mereka berangkat mengaji ke langgar bersama-sama. Beruntun dengan si Rodiyah, anak Pak Abubakar. Toyibah, anak Pak Mudin yang terkenal kenes itu. Afifah, Salamah, Maimunah, Saodah, Fatimah, dan masih banyak lagi.

Perkenalanku dengan Umi diketahui oleh Zainab yang sejak mulanya sudah cemburu. Pada suatu malam, ketika di langgar Nyai Safii diadakan malam qasidahan, aku dan teman-teman mengintip mereka dari lubang dinding langgar mereka. Tampak olehku Umi duduk jejer dengan Fatimah dan Salamah, di pojok. Ketika itu Umi sedang menyanyikan sebuah lagu. Tiba-tiba matanya melihat aku dan ia senyum malu-malu. Betapa pula maluku ketika itu. Tapi kemudian aku ingin mengintipnya lagi. Hatiku berdebar dan seolah ada sesuatu yang melonjak-lonjak di dadaku, seperti angin. Aku tercenung dan berpikir. Aku tak tahu adakah teman-temanku mengetahui keadaanku malam itu. Malam itu aku tak bisa tidur. Dan sengaja tidur di langgar dengan teman-teman banyak sekadar melupakan perasaan yang aneh-aneh. Aku cuma berharap, mudah-mudahan malam itu aku bisa mimpi yang baik dan panjang.

Dalam menelentang melihat langit-langit yang suram, tiba-tiba Ichwan yang kukira sudah tidur itu berkata seperti menyindir.
- Ya, memang begitu bagus matanya, katanya.
- Kau belum tidur, Wan? tanyaku kaget.
- O, mata itu seperti pohon beringin, sambungnya lagi tidak mengindahkan pertanyaanku.
- Kau tadi melihat aku?
- Ya, aku melihat senyuman itu, katanya mengejekku lagi.

Babi orang ini, pikirku. Ichwan menggeliat dan menguap.

- Kau cinta padanya, Wan? tanyaku mulai cemburu.
- Mungkin juga seperti kau.
- Dan kau melamar dia? cemburuku makin kuat; tapi Ichwan cuma ketawa sinis, lalu menjawab:
- Aku tahu perasaanmu, Kawan.
- Perasaanku? Lantas, apa pendapatmu?
-Sayang, aku tak punya pendapat. Aku tahu aku anak Mak Mirah. Lebih dari itu, ndak, katanya kesal.

Pemuda Ichwan yang terkenal kemurung-murungan itu anak keenam Mak Mirah, penjual jamu di kampungku. Ia dua tahun lebih tua dariku, dan dulu pernah melamar si Romlah tapi ditolak oleh gadis itu. Ia jadi linglung, lalu seperti menyadari untungnya ia pun melanjutkan:
— Mudah-mudahan kau berhasil, Kawan, katanya.

Aku diam. Kami diam dengan pikiran masing-masing. Dan ketika kulihat temanku itu tak bergerak-gerak lagi aku teruskan pembicaraanku,
— Aku tak pasti, Kawan. Ichwan tergolek lagi menghadap aku.
— Apanya yang tak pasti?
— Kau sudah tidur?
— Belum
— Si Umi.
— Jadi kau sudah tahu?
— Maksudmu?
— Tentang dia?
— Kenapa?
Ichwan diam lagi. Betapa inginku mengetahui rahasia percakapan itu. Karena tiba-tiba saja hatiku jadi sekecil jangkrik. Aku bertanya, nafsu:
— Dia sudah dilamar orang?
— Beberapa kali.
— Dan tak ada yang diterimanya?

Ichwan batuk sebentar lalu menjengekkan kepalanya seperti mau membuka rahasia itu. Dan katanya.

— Kau tahu, siapa Haji Basuni itu? Dan bagaimana ia mesti mengambil menantu?
— Tidak ...
— Jangan main-main, Kawan; kecuali kalau kau anak hartawan, dan kalau haji itu bisa mengeruk hartamu.
— Juga Amin, Suami Hasanah itu?
— Dia masih misan sama Hasanah. Sekalipun Amin tak sekaya mertuanya, tapi dengan bersuamikan dia kekayaan haji itu takkan jatuh ke tangan orang lain. Lalu terbayang di mataku si Amran yang jadi gila ketika lamarannya ditolak oleh si Fatimah. O, ngeri sekali, kedengarannya. Tapi si Ichwan seperti mengetahui perasaanku ketika tiba-tiba ia berkata lagi:

- Kau tahu, Haji Basuni itu doyan makan riba?
- Maksudmu dia lintah darat?
- Lebih dari itu, ia seorang bakhil seperti Qarun dan kejam seperti Fir’aun.

Tanpa kami ketahui kami diam-diam hanyut dalam mimpi.

Pada suatu hari aku pernah menerima surat dari Umi Kalsum, diantar oleh kemenakannya. Surat itu ditulis dalam bahasa Arab pego, begini bunyinya:
Assalamu alaikum w.w.
Aku senang sekali semalam melihat kau dan mendengar suaramu ketika kaunyanyikan "Tabasam" dalam qasidahan lagu kesayanganku.. Dengan lagu itu aku selalu ingat kau, meski kutahu kau sombong kata teman-temanku.

Tapi aku . . . ah, aku hanya seorang gadis dan tak bisa berbuat selain berangan-angan saja. Aku takut Zainab. Lebih takut lagi pada bapakku. Kau tahu bapakku? O, lebih baik aku melihat dia lekas mati, biar aku bisa melihat kau tiap hari. Kini aku tak bedanya seperti anak monyet yang dirantai dalam kandang. Aku tak boleh melihat laki-laki. O, aku tersiksa siang malam. Aku cuma berharapkan kesempatan yang akan datang. Aku tak betah begini terus. Aku menderita atau lekas mati saja?

Senyumku hanya bentuk pemberontakan terhadap nasibku. Berlagulah kau tiap hari untukku. O, aku sangat menderita. Kepada siapakah aku mesti berharap? O, aku melihat Tuhan ....
Align Right
Wassalam bilmaaf,
(Umi Kalsum)

Seperti lilin rasa hatiku ajur dibakamya. O, begitu malang nasibnya. Tapi dengan tak kuketahui, dari belakang Zainab muncul dan datang hendak merebut surat itu. Untung ia sudah kuremas-remas. Betapa merah mukanya ketika melihat surat itu. Ia tunduk.

- Zainab, kenapa kau berbuat begitu? tanyaku memelas.
- Seharusnya pertanyaan itu aku yang punya, jawabnya lirih.
- Tapi aku tak bersalah bukan?
- Kau menyakiti hatiku.
- Tidak. Aku tak menyakiti hatimu.
- Dan surat itu?
- Itu urusanku sendiri, Nab.
- Dari Umi, bukan?
- Bagaimana kau tahu?
- Aku tahu, kau cinta padanya.
- Tapi sampai hari ini aku tak berbuat apa-apa, bukan?
- Kau akan berbuat.
- Maafkan aku. Nab.

Ia diam. Dan aku merasa tak bisa membuka diri lagi. Melihat aku gugup, Zainab jadi reda. Lalu katanya mendamba:
- Aku cinta padamu. Kenapa kau berbuat itu? Aku tahu, kau tak suka aku. Baiklah, cintailah dia tapi kau takkan berhasil, katanya.

Zainab seperti adik sendiri sejak lama dan begitu dekat dengan keluargaku karena Haji Tayib, ayahnya, adalah sahabat karib bapakku. Kerap kali Zainab disuruh mengantar surat atau barang dagangan ke rumahku. Dan selama itu Zainab seperti saudaraku sekandung. Di waktu senggang ia datang ke rumahku, meski aku tak ada.

- Maafkan aku, Zainab; kataku lagi, numpangi.
- Apa yang mesti kumaafkan?
- Aku telah membuatmu marah.
- Tidak. Aku cuma mau memperingatkan kau. Kau takkan bisa. Aku kuatir kau akan membenciku selama-lamanya; katanya kecewa.
- Sudah sejauh itu dugaanmu, Nab ? Itu tak benar. Aku selalu suka padamu.
Tapi tiba-tiba aku kehilangan pegangan. Dan terbayang di mataku nasib Amran anak petualang itu. Lalu aku ingat kembali percakapanku dengan Ichwan di langgar dulu.
- Zainab, kita masih kanak-kanak, sambungku menghilangkan yang mustahil.
- Lantas?
- Kita tak boleh meneruskan ini.
- Mengapa? Ayahku sudah mengatakan itu pada kakekmu, bukan?
- Aku tahu.
- Kau tak mau?
- Aku baru enam belas tahun jalan ...
- Aku sudah empat belas tahun, kini; tukasnya.
- Jadi kita masih kanak-kanak, bukan?
- Tapi kau betul mencintai aku, ya?
- Aku tak tahu. Tak tahu ... Ya, Zainab, aku mau.

Kami yang kebingungan itu tiba-tiba merasa ada sesuatu yang meliputi pikiran kami masing-masing. Jalan di muka rumahku ramai orang-orang yang mau pergi sembahyang ke langgar, sore itu. Waktu menjelang asar. Santri-santri hilir-mudik dengan bawaan masing-masing.
- Kau tak pulang mandi, Nab?
Ia berpaling dan melihat aku tajam-tajam.
- Baiklah kita sampai di sini dulu, Nab. Tak baik dilihat orang, kita berdua. He, kau dengar, kau dipanggil ibu?
Zainab berpaling lalu masuk ke rumah. Aku berpikir, kenapa aku mesti mencintai gadis yang tak mungkin kudapatkan? Tapi tiba-tiba pikiran itu lenyap manakala kudengar suara azan memanggil-manggil dari langgar.

Oleh pengaruh agama dan adat kami yang kuat, jarang terjadi perhubungan antara laki-laki dan perempuan, di kampungku, kalau di antaranya bukan famili sendiri atau yang sudah dekat dan diketahui oleh orang tua masing-masing, seperti halku dengan Zainab. Sekalipun yang demikian itu tak pemah dilarang, mereka dengan sendirinya takut karena hal itu perbuatan dosa. Jangan pun berhubungan, melihat dengan menimbulkan rasa dan nafsu pun dilarang oleh agama. Perhubungan kami terbatas sapa-menyapa saja. Lebih dari itu, tidak. Kalau seorang laki-laki senang pada seorang gadis maka orang tua laki-laki itu harus mengajukan lamaran kepada orang tua gadis itu, dan perkawinan dilakukan kalau sudah sama-sama setujunya. Tapi karena masyarakat Kedungpring merupakan keluarga besar, maka kejanggalan itu tak terasa benar. Antara kami selalu hormat menghormati.

Pada suatu malam sesudah lepas pengajian di langgar, kami para santri yang akan pulang ada kalanya berbarengan dengan santri-santri perempuan. Kami bercampur. Tapi malam itu Zainab tak tampak olehku.

Di antara beberapa gadis yang menuju tikungan jalan Kedungpring kulihat Umi dan kakaknya berjalan. Tinggal ia berdua lagi, karena rumahnya jauh sedikit ke Ketapang. Diam-diam aku mengikut mereka dan belakang. O, aku ingin benar bercakap-cakap sebentar dengan dia, malam ini. Begitu ayunya sebab bulan mengembang di atas kepalanya.

Sesudah beberapa lama kami berjalan dan ketika akan membelok tikungan lain, Umi menoleh ke belakang. Keduanya menoleh, lalu kami bersenyuman. Keduanya berhenti dan aku menghampiri mereka.
— Assalamu alaikum, kutegur sopan.
— Waalaikumussalam, jawab keduanya.

Kemudian sunyi lagi dan kami diam-diam tegak di tengah jalan itu dengan risaunya. Kurasa kerongkonganku seperti ada kelerengnya, buntu! Kedua gadis itu tunduk malu-malu. Tapi sebelum aku memulai, berkatalah Umi. Katanya lembut:
— Kau dulu sudah terima suratku, bukan?
— Sudah, Umi. Tapi mari kita bicara sambil jalan.
Kami berjalan dan kulihat Latifah yang menepikan jalannya itu lalu kuhampiri.
— Latifah, malam ini kita berkenalan, kataku mesra. Dia ketawa kecil tapi tak terdengar suaranya. Kemudian Umi berkata lagi seperti mengolok:
— Sayang, Zainab tak datang mengaji malam ini, katanya.
— Dia sakit? tanyaku menutupi.
— Kau kan lebih tahu, bukan?
— Umi, kau jangan mengejek.
— Tapi ia kekasihmu, toh?
— Bukan, ia seperti juga kau. Teman. Hanya ia lebih akrab, ia kerap kali datang ke rumahku.
— Sayang, bukan aku yang jadi kau. Umi mengerling lagi dengan manisnya.
— Dan kalau kau?
— Aku lamar dia.
— Kau cemburu, Umi?
Ia diam. Bulan di langit mengawang di kepala kami. Malam berangkat larut.
— Kenapa malam ini kau tak dijemput?
— Kaulah, sekarang, yang menjemput kami.
Bayang-bayang panjang mengikuti kami sepanjang jalan itu. Latifah masih juga diam. Kepalanya tunduk seperti ikut merasakan perasaan kami. Memang ia gadis pemalu. Tidak seperti adiknya.
— Maafkan aku; tiba-tiba kudengar suara Umi lagi, seperti musik merdunya.
Di luar dugaan, dari arah yang kami tuju, kulihat sesosok tubuh manusia berdiri tegak di tepi jalan itu, yang tak jauh lagi dan rumah Umi. Ia mengawasi dengan tajam ke arah kami. Ketika Latifah dan Umi melihat orang itu tiba-tiba muka keduanya jadi pucat dan hampir menjerit.

Kami berhenti beberapa langkah dari orang itu dan orang itu tiba-tiba menghampiri kedua gadis itu. Dan tanpa bicara lebih dulu selayang tangan kulihat menimpa kepala Umi, selayang lagi pada Latifah. Keduanya menjerit lalu berlarian masuk ke rumahnya.

- Bangsat! Siapa kau? bentak orang itu, ketika berpaling ke arahku. Setengah takut aku pun menjawab:
- Saya teman Umi dan Latifah. Tiba-tiba benciku timbul pada haji yang murah tangan itu.
- Cucu Ishak itu?
- Aku mengangguk.
- Kenapa kau berani omong-omong sama anak-anakku?
- Tapi saya tak mengganggu mereka. Kami berteman dan kebetulan berjalan berbareng.
-Tapi aku bilang, tak boleh kaudekati mereka. Kau ngerti, Anak lapar?
Betapa tersinggungku ketika haji itu mengucapkan katanya yang akhir itu. Tapi aku tak berani dan tak bisa berbuat apa-apa selain merengut.
- Sekali lagi, awas! kata haji itu, mengancam. Umi sudah ada tunangan. Pergi! Pergi, kau! Haji itu membentak aku begitu rupa hingga mukanya yang mesum menimbulkan rasa jijikku.

Sedikit pun aku tak bergerak dari tempatku. Aku berpikir: Inikah kata orang haji keluaran Singapura itu? Orang-orang Pesantren Kedungpring menamakan dia haji keluaran Singapura, karena berangkat hajinya dulu tak sampai ke tanah Mekah. Ia berkeliaran di kota itu dengan dagangannya. Dan rahasia yang didiamkan itu diam-diam jadi populer di pesantren kami.

Sesudah haji itu meninggalkan aku dan baru saja aku melangkah, dari rumah Umi terdengar suara gaduh diiringi tangis perempuan. Aku kenal suara itu suara Umi. Ia melolong-lolong dalam sela bentakan dan lecutan pecut.
- Kapok, Pak! Kapook! Aduuh! Kapook!
Kembali hatiku luluh seperti semen. O, dia yang kukasihi itu menjadi korban kenakalanku. Seketika itu tubuhku secara ditempel dosa-dosa. O, air mataku jatuh. Aku menangis. Dan tiba-tiba saja hatiku mendongkol dan benci manakala kubayangkan muka haji yang murah tangan itu. Mau rasanya aku datang ke rumah itu dan berkata kepadanya:
- Kau haji mesum. Mudah-mudahan kau lekas mampus! Atau, mudah-mudahan uangmu habis dimakan rayap. Tapi tiba-tiba saja aku menggigil ketika angin mengembusi kepalaku. Beberapa saat kemudian suara lolong itu tak kedengaran lagi.
Tentang Haji Basuni orang-orang Kedungpring sudah kenal semuanya. Selain takabur dan suka menghina terhadap orang yang tak punya ia juga terkenal kikir. Dan sebab itu lalu timbul istilah yang lucu-lucu dari teman-temanku. Misalnya kalau seorang minta sesuatu pada temannya yang lain dan tak diberi, dia lalu berolok: Bakhilmu seperti Haji Singapura saja. Dan mereka akan ketawa. Tapi yang diolok-olok jadi marah dan membalas ejek: Memangnya, kau tak diambilnya jadi menantu, si! Lalu kawan-kawan itu akan tertawalah lagi.

Berbeda dengan Haji Tayib atau Haji Ma'ruf, Haji Basuni tak pemah mengeluarkan zakat, meski hartanya beribu-ribu. Teman-temanku lalu memberi julukan lagi pada haji yang tak sosial itu. Setrika. Tentang adanya istilah setrika itu diambil dari sebuah cerita dalam kitab: Orang-orang kaya yang tak suka memberikan zakat dan sedekahnya kepada orang-orang miskin, kelak di akhirat uangnya akan dilebur, dijadikan setrika. Dengan setrika itulah punggung orang yang bakhil itu akan dilicinkan.

Aku kurang percaya tentang kabar yang mengatakan bahwa Haji Basuni jarang sembahyang di rumah, apalagi ke langgar. Di bulan puasa ia pernah kedapatan temanku sedang menggelap-gelap dan nongkrong di warung orang Madura di kota. Tapi di muka santri-santri dan sahabat-sahabat kiai ia selalu bermanis-manis untuk menyembunyikan kopiah putihnya itu. Anak-anak perempuannya diwajibkannnya kerja keras di dapur. Mereka membatik, menenun, dan memasak. Mereka tak boleh keluar rumah kalau tak perlu, pergi mengaji ke langgar, umpamanya. Kerap kali anak-anak gadisnya itu disawabi tangannya yang kasar itu. Dan mereka yang kena tangan itu akan menggelepar-gelepar seperti ayam dan meraung-raung.

Haji Basuni bercita-cita agar anak gadisnya itu dilamar oleh orang-orang yang berharta saja. Dan anak-anaknya itu harus menurut apa katanya. Tak boleh membantah dan membela diri.

O, Umi Kalsumku yang manis itu, begitu benar nasibnya; keluhku. Kalau saja haji itu tak murah tangan, takkan begini sentimen aku padanya. Sejak kejadian yang menyedihkan malam itu, lama sekali aku tak berani berjumpa dengan Umi. Melihat dia pun, tidak. Dan memang tak pernah lagi aku melihatnya. Zainab tahu hal ini. Dan betapa gairahnya ketika pada suatu hari ia datang ke rumahku dan buru-buru berkata kepadaku:
— Kau sudah dengar kabar itu? tanyanya.
— Kabar apa?
— Umi.
— Kenapa kau tanyakan itu?
— Maksudku ... dia hamil.
— Ha? Bicara yang benar, kau! teriakku kaget.
— Ssst, jangan keras-keras. Ini masih dirahasiakan, kata si Zainab. Memangnya aku bicara ngawur? Dia sudah tiga bulan!
Aku terenyak. O, ngeri sekali kedengarannya. Zainab masih saja memandangi mukaku. Hingga aku jadi marah:
— Kenapa aku kaulihat seperti itu? Dan Zainab tertunduk.
Aku berpikir, kalau begitu benarlah apa yang dipercakapkan bapak dan ibuku kemarin.
- Kasihan si Umi, kata Bapak.
- Kenapa dia! tanya ibu.
- Ayahnya terlalu keras, sih. Kasihan dia. Sampai di situ percakapan itu tak kudengar lagi. Kepada Zainab yang masih menunggu di hadapanku aku bertanya dengan gugup:
- Dengan siapa kau tahu dia bunting?
- Umi berkali-kali ditanyai bapaknya, tapi ia cuma nangis dan bungkam terus.
- Lalu dia dipukuli?
- Lantaran dia, lalu seisi rumah dipukuli semuanya.
- Masyaallah! Lantas bagaimana?
- Ibunya sudah ikhtiarkan pada dukun, supaya buntingnya bisa kempes. Tapi percuma. Perut itu makin besar-besar juga.
- Lalu, apa kata dukun itu lagi?
- Katanya, yang berbuat itu laki-laki gemuk dan kudisan, yang dulu pernah melamar tapi ditolak oleh bapaknya.
- Apa? Si Mursid yang bugil itu, pikirmu?
- Itu kita tak pasti.
- Dan Umi sekarang di rumahnya?
- Kau tahu, Haji Basuni kemarin menemui ayahmu? Zainab balik bertanya.
- Menemui ayahku?
- Dia berjanji mau memberi sebuah rumah dan uang yang diminta, pada siapa yang mau ngawini anaknya. Sampai hari ini Bu Haji masih menangis terus!
- O, haji laknat. Kalau mati ia pasti digilas neraka! kataku masygul. Zainab mengejek:
- Kau mau?
- Diam, kau! bentakku, tapi Zainab dengan latahnya terus menertawai diriku.
Sejak hari itu pikiranku terpengaruh oleh kabar yang menyedihkan itu. Siapakah yang menduga bahwa kejadian semacam itu menimpa keluarga Haji Basuni? Menimpa Umi Kalsum yang begitu lembut? O, mustika-hidupku yang lama kuimpikan dan yang hendak kurebutkan dengan sepenuh perasaanku itu, kini telah noda. Tapi bagiku Umi tetap suci. Sebab betapapun ia telah berusaha mempertahankan kemerdekaan dirinya dari kekerasan orang tuanya. Bagiku, Umi tetap zamrud dalam harapan dan kenang-kenangan. Tapi kurasakan, betapa kini aku tak tenteram lagi tinggal di rumah. Dan tak kutahu, mengapa begitu besar kesan Umi dalam hatiku. Dan aku tak sanggup berbuat apa-apa.

Kejadian yang menimpa keluarga Haji Basuni itu mula-mula dirahasiakan orang. Tak banyak orang yang mendengar atau mengetahui, sebab memang tidak banyak orang melihat keadaan Umi dari dekat. Tapi akhirnya rahasia itu bocor juga, seperti bau bangkai meski betapapun pandai orang menutup-nutupi. Keluarga haji yang malang itu tak sanggup lagi mempertahankan rasa malunya yang besar. Menurut kabar orang-orang sekampung, pada akhir-akhir ini di rumahnya selalu terdengar orang gaduh dan ribut. Suara perempuan-perempuan yang menangis tak henti-henti hingga para tetangga merasa terganggu. Dan oleh gangguan-gangguan itu para tetangga mulai ikut campur. Mereka sama kuatir akan timbulnya sesuatu kemungkinan yang tak diharapkan.

Dan beberapa hari kemudian kekuatiran itu pun benar-benar menjadilah suatu kenyataan ....

Pada suatu malam sebelum fajar, ketika sedang enak-enaknya orang tidur, tiba-tiba terdengar dari rumah Haji Basuni jeritan orang perempuan. Keadaan jadi ribut. Tetangga-tetangga yang dekat sama datang menyaksikan apa yang kiranya telah terjadi. Juga orang-orang Kedungpring yang letaknya sedikit jauh dari desa itu ikut berkerumun dan dari mulut ke mulut akhirnya peristiwa itu pun tersebarlah merata dengan cepatnya.

Kami serombongan kanak-kanak ikut juga ke sana dengan hati yang cemas. Terlebih aku, yang merasa punya sangkutan batin dengan salah seorang anggota keluarga itu.

Betapa terkejutku manakala seseorang berteriak: Bunuh diri! Bunuh diri!

Dalam ketakutanku kubayangkan sebuah tubuh ramping sedang tergantung pada seutas tali dan sebuah wajah cantik mengeluarkan lidah dan busa. Di situ mataku kupejamkan. Aku tak sanggup melihat kemurungan langit malam itu. Sebuah cahaya menganga di arah timur. Mungkin malam itu sudah menjelang fajar.

Oleh kerusuhan-kerusuhan pikiranku itu aku tak ikut orang-orang itu memasuki rumah Haji Basuni. Tapi sebentar ada kudengar kebenaran pikiranku tadi. Orang-orang itu menyaksikan suatu kejadian yang mengerikan: di kamar mandi Umi didapati mati tergantung!

O, waktu itu aku tak bisa menguasai diriku. Kepalaku terasa pusing dan mataku berkunang dalam peluh dingin yang mengaliri seluruh tubuhku. Aku lari pulang. Sementara itu aku masih mendengar bisik seorang-seorang:
- Dia senyum. Lalu sambung yang lain: - Umi melihat Tuhan.

Tapi aku hanya melihat seutas tambang keras telah menjerat leher halus itu dan menyeretnya ke kubur. Aku melihat seorang laki-laki setengah tua, berkopiah putih dengan bengisnya kemudian melemparkannya ke dalam jurang.

Beberapa hari sesudah kejadian yang mengerikan itu, orang-orang kampung ramai mempercakapkan nama Haji Basuni. Dalam isi percakapan itu terasa benar nada kebencian mereka terhadap haji yang malang itu. Tapi kini aku berpendapat lain, Haji Basuni semestinya dikasihani. Karena setidaknya ia akan dihadapkan pada bayangan ketakutan, selama hidupnya.

Demikianlah akhirnya, Umi Kalsum yang kami kagumi kecantikan dan kelembutannya itu, mengakhiri hidupnya dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Bukan saja keluarganya yang merasa kehilangan. Tapi kami, teman-temannya yang ketika hidupnya saling merebutkannya, ikut pula kehilangan
***

Kisah, No. 7-8, Th. IV, Juli/Agustus 1956

Download cerpen ini KLIK di sini

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook