Showing posts with label Monolog. Show all posts
Showing posts with label Monolog. Show all posts

Friday, January 13, 2012

Monolog: Pulang

(naskah monolog ekspo TSD - Insadha)


Pulang. Kalian pernah pulang? Atau setidaknya pernahkah kalian merasakan rasa rindu pulang sebegitu menggebu, keinginan untuk berada di kampung halaman? Aku pernah mengalaminya, setidaknya kemarin. Kemarin? Ya, kemarin. Kamu tahu apa itu kemarin? Kemarin adalah bukan esok, bukan pula sekarang. Kemarin adalah masa lalu. Masa lalu akan berlalu tanpa meninggalkan jejak atau hanya sekadar sajak ketika kalian tak memaknainya. Oleh sebab itu, aku menceritakan ini pada kalian, supaya masa laluku menjadi sejarah, ya... masa lalu yang kita hargai.

Aku pulang naik kereta, bukan Kereta Kencana seperti dalam dramanya W. S. Rendra, melainkan kereta api. Hm... sudah berabad-abad alat transportasi itu, masih dipakai juga dan tidak jua lekang oleh waktu, malah semakin canggih. Aku hendak pulang ke Solo naik Pramex. Panjang antrian tiket di Lempuyangan Yogya, padahal sebentar lagi kereta akan segera tiba. Ada ibu yang mengomel, dia ingin didahulukan. Huh, memuakkan! Tidakkah dia tahu bahwa dia dan aku dan semua penumpang lainnya adalah sama, maka harus diberi kesempatan yang sama sehingga kami semua harus antri? Tapi, sudahlah. Mungkin ibu itu bukanlah orang yang berpendidikan, atau hanya tidak menyadari kemanusiaan itu sendiri. Lho, apa hubungannya mengantri dengan kemanusiaan?

Kereta tiba sesaat aku mendapatkan tiket. Besi panjang tua itu berdecit di atas besi yang lain, ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit. Pintu pun terbuka dan aku masuk. Penuh?!!! Ini masih pagi!!! Ini juga bukan musim liburan? Apakah selalu seperti ini? Mungkin seperti ini, selalu seperti ini, dan akan selalu seperti ini. Untunglah aku mendapatkan tempat duduk. Aku duduk dekat jendela, duduk menghadap arah yang berlawanan dengan laju kereta. Di samping kananku duduk seorang pria yang tengah asyik mendengkur. Di depannya duduk seorang pria lain tengah asyik membaca warta berita.

Sedangkan di hadapanku duduk dengan tenang seorang wanita. Wajahnya cantik luar biasa. Dilihat dari model pakaiannya, wanita itu adalah pegawai kantor. Mungkin seorang sekretaris. Dia sedang menelpon. Sepertinya dia sedang ada janji dengan seseorang yang sudah akrab dengannya di kota Solo.

“Halo... iya. Saya masih berada di atas kereta nih. Nanti tolong jemput saya di Stasiun Purwosari Solo, ya. Iya... iya... nanti saya tunggu di peron. Atau, kamu yang menunggu di peron? Pukul tujuh kurang sepuluh saya tiba di sana. Ya, nanti kita sarapan di Adem Ayem sembari membicarakan bisnis kita. O... tentu... tentu ada servis tambahan bagi pelanggan setia seperti Anda. Ok. Sampai jumpa.”

Setelah selesai menelpon, dia memejamkan mata dan tidur.

Kami semua duduk berdekatan, tapi sebenarnya kami saling berjauhan. Kami memang berada dalam satu ruangan gerbong kereta, tetapi kami memiliki dunia kami masing-masing. Pria di samping kananku tengah tidur, tengah asyik dengan mimpi-mimpinya. Pria di depannya itu tangah asyik membaca koran, tenggelam dalam berita-berita kelam dari negeri kita tercinta. Wanita di hadapanku juga tidur, wajahnya semakin menggemaskan sewaktu terlelap. Sedangkan aku? Aku mengamati mereka. Aku mengamati seisi gerbong. Aku mengamati pemandangan di luar jendela; ada bukit, ada lembah, ada sawah. Aku mengamati sekelompok bocah berseragam sekolah putih merah mengendarai sepeda berhenti menanti keretaku lewat. Aku mengamati. Mengamati. Dan, kemudian aku bertanya... mengapa... apa... apa... mengapa... .

Perjalanan ini seperti hidup itu sendiri. Hanya bedanya dalam perjalanan ini aku tahu ke mana aku akan pergi, pulang ke kotaku yang baru saja kemarin kutinggalkan. Sedangkan hidup? Tahukah kamu ke mana hidup berjalan? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Satu hal yang pasti... hidup mengarah kepada kematian. Aku akan mati. Gadis cantik di hadapanku itu akan menjadi tua, keriput, dan mati. Pria yang tengah asyik membaca koran itu akan mati. Pria yang tidur di sampingku akan mati. Aku akan mati. Kamu pun akan mati. Pacarmu mati. Orang tuamu mati. Temanmu mati. Musuhmu mati. Tetanggamu mati. Dosenmu mati. Setiap hal yang kita lakukan akan berakhir dengan kematian. Segalanya sia-sia. Setiap detik yang berlalu hanya menyisakan kematian.

Lalu apa gunanya sekolah? Apa gunanya kamu duduk di sini menontonku yang sedang membual? Apa gunanya pula aku menceritakan segenap masa lalu? Jika pada akhirnya kamu, aku, kita semua berakhir dengan kematian?

“Maaf, Mas, masih ada surga... .”

Ya kalau surga itu ada. Bagaimana kalau surga itu tidak lebih dari Neverlanddalam cerita Peter Pan?

“Lalu Tuhan, Mas?”

Ya kalau Tuhan itu ada... . Atau, jikapun ada, apakah Tuhan yang ada dalam pikiranmu secara de iure itu sama dengan Tuhan de facto yang menciptakanmu? Sudahlah, cukup tentang Tuhan. Untuk kali ini aku sedang tak ingin membicarakan Tuhan. Sudah sejak purbakala Tuhan menjadi topik pembicaraan, perdebatan, perselisihan, bahkan alasan percintaan dan pembunuhan.

Jika pada akhirnya kita akan berakhir dalam kematian, lalu buat apa hidup? Buat apa seluruh usaha ini? Buat apa menjalani rutinitas ini? Bangun, sarapan, kuliah, makan siang, kuliah, pertemuan UKM, makan malam, belajar, tidur, bangun lagi... . Dari usia 4 tahun hingga sebesar ini selalu masuk dalam kelas-kelas dan duduk belajar dengan pelajaran yang selalu sama. Membosankan! Segalanya membosankan! Bosan!!!

Mungkin lebih baik jika kalian segera berhenti menontonku, pergi dari sini, pulang ke rumah, dan bilang pada orang tua kalian untuk tak perlu lagi bekerja keras mencari uang demi menguliahkan kalian karena tiada gunanya lagi kuliah, belajar, dan melakukan segala usaha ini. Mungkin ada baiknya jika aku segera mengakhiri omong kosong ini, pergi dari sini, dan meratapi hidupku. Mungkin ada baikya jika kita segera mati lebih dini. Bunuh diri! Ya... ! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri!

TIDAAAAAAAAAK!!! Tiada yang lebih bodoh dari pada itu. Tiada yang lebih egois dari pada bunuh diri. Hidup memang absurd, akan menuju kepada kematian, apapun yang kita lakukan. Namun, hidup yang absurd itu bukan untuk diakhiri.

Apakah ada makna? Ada!!! Kitalah yang memaknai. Kita adalah tuan atas nasib kita sendiri. Kita adalah subyek otonom! Kita bebas, merdeka! Kitalah yang menetukan bagaimana kita mati sebagaimana kita menentukan bagaimana kita hidup. Rendra mati sebagai penyair sebagaimana dia hidup sebagai penyair. Mbah Surip mati sebagai penyanyi sebagaimana dia hidup sebagai penyanyi. Chairil Anwar mati sebagai Binatang Jalang sebagaimana dia hidup sebagai Binatang Jalang. Camus mati sebagai manusia pemberontak sebagaimana dia hidup sebagai manusia pemberontak. Søren Kierkegaard mati sebagai manusia yang senantiasa meratapi Regina Olsen sebagaimana seumur hidupnya dia meratapi wanita itu. Nietzsche mati sebagai pembunuh Tuhan sebagaimana sepanjang sisa hidup warasnya dia memproklamasikan Kematian Tuhan. Itulah kemampuan kita sebagai manusia. Lalu Tuhan? Sudah kukatakan sebelumnya, aku sedang tak ingin membicarakan Dia!!! Tapi jika kamu mengaku mencintai Tuhan, cintailah manusia, sebab manusia adalah citra-Nya.

Eksistensi kita sebagai manusia memiliki esensi kemanusiaan. Kemanusiaan itulah yang harus kita manifestasikan supaya hidup kita bermakna sebelum ajal menyapa. Kita memberi makna dalam setiap pilihan hidup kita. Jam-jam kuliah yang membosankan yang telah menanti di hadapan kalian itu adalah salah satu cara pemanifestasian kemanusiaan itu. Kalian menontonku berceloteh di sini juga adalah pemanifestasian kemanusiaan itu. Aku berceloteh di sini pun, setelah berlatih selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, adalah pemanifestasian kemanusiaan. Dan, seperti halnya kalian memilih untuk kuliah di Sadhar, mengikuti ekspo ini, masuk ke stand TSD, duduk dan mendengarkan aku menceritakan segala omong kosong ini, begitulah aku memaknai perjalanan singkatku dari Jogja ke Solo kemarin.

Perjalanan itu singkat dan pasti akan segera berakhir di Solo. Dan, aku memberi makna perjalanan itu dengan tidak menyapa mereka yang duduk di dekatku, tetapi hanya dengan mengamati mereka. Sesampainya di Solo... aku pulang. Berkali-kali aku melakukan perjalanan Jogja-Solo dan setiap perjalanan pulang itu selalu bermakna baru bagiku. Itulah sebabnya aku tak pernah bosan melakukan perjalanan itu berkali-kali hampir setiap minggu. Pulang... sebab di sana aku akan lebih dekat dengan jantung hatiku... .

Sarang Kalong, 28 Juli 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi
Sumber: mediasastra.com


(Catatan:  Postingan ini dimaksudkan utk memberi contoh naskah monolog dlm pengajaran di kelas. Semoga contoh ini memberi inspirasi bagi siswa yg sedang mempersiapkan naskah monolog utk ujian praktik. Terima kasih utk Padmo “Kalong Gedhe” Adi dari TSD yg telah memberikan contoh dan inspirasi)

Sunday, February 13, 2011

Download Naskah Drama Monolog

Berikut beberapa naskah drama monolog yang bisa digunakan untuk pembelajaran di kelas. Naskah-naskah  drama monolog yang ditampilkan sangat bervariasi, mulai dari karya sastrawan terkenal sekelas Arifin C. Noer, Soni farid Maulana, Ikun Sri Kuncoro, Rachman Sabur, sampai karya siswa-siswa kelas bahasa dalam pelajaran seni teater. Paling tidak naskah-naskah ini akan membantu pengajaran di kelas, membantu memberi contoh konkrit naskah drama monolog dan sebagai bahan diskusi di kelas. Semoga bermanfaat.

Topeng-Topeng – Rachman Sabur

Wajah kita adalah topeng-topeng. Segala wajah semua bertopeng. Ayo! Siapa diantara kita yang bersedia menanggalkan topeng dirinya? Aku tahu wajahmu. Kaupun tahu wajahku yang sebenarnya. Topengku dan topengmu saling menatap penuh kejahatan! Wajah-wajah kita bersembunyi di balik topeng. Topeng-topeng kita bercengkrama di panggung hidup. Lalu kita saling bunuh-membunuh! Topengmu dan topengku terus bergerak menarikan kehidupan dan kematian

Baca: klik di sini
Download : Klik di sini


KASIR KITA -Arifin C Noer

Saya sangat susah sebab istri saya cantik sekali. Kecantikannya itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara. Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik. Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri tidak percaya bahwa dia itu istri saya. Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu pandang pertama kalinya di suatu pesta, berkata saya dalam hati: maulah saya menyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan selamanya sulit diterka...

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Anak Kabut - Soni Farid Maulana

Tatolah aku, kekasihku, dengan segenap cintamu. Janganlah ragu, gambarlah seekor naga mungil pada kedua belah payudaraku. Sungguh aku tidak suka gambar kupu-kupu atau bunga. Keduanya tidak melambangkan jiwa kita yang liar—keluar masuk nilai-nilai dari malam ke malam, dari pintu ke pintu diskotik. Disergap asap rokok. Irisan cahaya melambungkan jiwa kita pada impian Amerika atau impian apa saja.

Tatolah aku, kasihku, jangan ragu walau ayah dan ibuku tidak setuju. Dulu, ya, dulu. Tato memang simbol napi tapi sekarang lain maknanya. Ia sumber keindahan, semacam aksesoris, semacam tanda, postmodern di akhir abad 20. ya, memang, sejak 12000 tahun sebelum masehi orang sudah mengenal tato. Tapi adakah mereka seberani aku? Kasihku, jangan ragu, tatolah aku, aku tak mau kalah dengan ratu Alexandra yang hidup di abad 19 di Rusia

Download: KLIK di sini

Ibu Kita Raminten – Ikun Sri Kuncoro

Saya, malam itu, tanggal 22 Desember 2004 memang berada di kamar bapak Prihartono di jalan Ahmad Yani no. 1. Tetapi seperti yang telah saya katakan, kenapa saya di rumah itu? ... Saya, ... dipaksa Stambul ... Anak saya. Malam itu, Stambul pulang. Dan seperti beberapa malam sebelumnya, Stambul membujuk saya untuk menjadi gundik bapak Prihartono.

Menurut Stambul, hidup saya akan lebih baik kalau saya bersedia bekerja pada Pak Prihartono. Katanya, Pak Prihartono sedang membutuhkan seorang tukang pijat. Yang diinginkan adalah seorang tukang pijat yang muda. Tapi Stambul yakin bahwa tak akan ada perempuan muda yang bersedia menjadi tukang pijat Pak Pri. Meskipun tua, Pak Pri duitnya banyak. Pak Pri akan memberi uang berlimpahan, cukup makan, cukup pakaian, dan saya hanya disuruh memijat-mijat. Hanya itu saja. Memijat.

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Para Penjilat -- Toga Nainggolan


Rumah segede ini yang tinggal cuma aku? Payah. Benar-benar payah jadi orang kaya. Sangat kesepian. Dengan tetangga saja tak kenal. Bukannya aku tak mau tapi pasti mereka juga tak mau. Maklum, pasti sibuk alasannya. Alasan klasik yang manjur juga untuk menolak sesuatu…

Download: KLIK di sini




Kebohongan Atau ? -- Aji Moundry


Nama saya Odoy, umur saya belum terlalu tua sekitar 25-an lah… saya cuma lulusan SMA…penganguran… pasti banyak yang berpikir bahwa saya menggerutu dari tadi karena saya tidak bekerja. Salah. Saya menggerutu karena saya akan mati. Ya…mati. Bertemu dengan yang menciptakan saya. Saya akan mati beberapa menit lagi. Pasti banyak yang tidak percaya dan bertanya-tanya kalau saya sebentar lagi akan mati. Saya akan ditembak mati. Benar ditembak di kepala tepat di depan jidat saya.

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Sahud Sabeni atawa The Hood -- Rembrant



Selamat pagi Indonesia! Hari ini pukul dua pagi Bank Indonesia dinyatakan telah dirampok! Pihak kepolisian menduga perampokan ini dilakukan oleh SAHUD SABENI alias Bang Hood atau The Hood, Robin Hoodnya Indonesia perampok legendaris yang konon selalu mendonasikan hasil rampokannya kepada para korban bencana alam. Perampok dermawan ini telah melakukan perampokan di hampir 20 bank terbesar Indonesia sebelumnya dan belum pernah tertangkap, penjahat bersama komplotannya ini selalu lolos sebelum polisi datang ke tempat kejadian. Tapi hari ini kita akan melihat keberhasilan para polisi dalam penangkapan The Hood! Kami akan terus menyiarkan perkembangan ini kedalam layar kaca Anda!

Download: KLIK di sini

Patung Penjaga – Theo Adimas

Hari ini benar-benar hari yang aneh. Yah, sesungguhnya sudah tidak aneh lagi sih untukku. Sudah cukup sering terjadi di sini orang minta keringanan hukuman, minta dibebaskan, minta jaminan keamanan, dan bahkan memaksa bebas dengan caranya pun ada. Padahal jelas mereka menempatkan aku disini sebagai simbol. “Inilah perlambangan dari niat kami untuk menjalankan tugas sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan.” Itu yang mereka katakan saat meletakkanku di sini

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini



Sampah -- Felix Hendi

Aku manusia, sama seperti manusia-manusia lainnya. Manusia yang punya hak untuk hidup layak, punya istri, anak, uang, rumah dan kebebasan. Aku dulu anak desa, hidup dari mencangkul....
Pak, apa warung ini butuh pekerja? Saya sedang cari kerja, Pak, saya boleh membantu? Saya mau digaji berapa saja asal ada kerjaan buat saya. Bu, saya butuh kerja, saya bisa bantu cuci piring atau apa saja, asal saya bisa makan

Download: KLIK di sini


Manequin – Jonathan H

Menjadi manequin sangat enak, ya kan? Tiap dua bulan sekali bisa ganti gaya. Tiap ada acara khusus, bisa dipajang di etalase. Semua mata memandang, semua merek terpasang. Dari merk terbaru: Glue, Lava, dan Vella, sampai merk lama kayak Polo, Versace, Planet Surf, Nevada, udah pernah tak pakai. Disainer terkenal dari Luis Vitton sampai Ivan Gunawan sudah pernah melekat di aku dengan gagahnya. Look at me! Aku punya banyak gaya. (berpose seperti model) I’m very fashionable, you know!

Tapi aku merasa muak dan bosan juga. Aku dipakai untuk menyombong. Baju biasa aja, dilekatkan padaku agar semua pengunjung bisa melihat. Dasar sombong! Aku benci kesombongan, berbeda dengan aku, sudah tampan, rendah hati pula.

Baca: KLIK di sini
Download: KLIK di sini

Wednesday, April 28, 2010

Contoh Drama Pendek Puntung CM Pudjadi

A.Y.O. !

Drama Pendek Puntung CM Pudjadi

(naskah ini pernah dimuat di Harian BERNAS Yogya tahun 90-an)



DRAMA dimulai saat seorang laki-laki terkapar mengerang-erang di atas panggung. Nampaknya ia baru saja dianiaya. Mukanya bersimbah darah yang meleleh dari hidungnya.

Seseorang mendatangi kemudian nampak panik dan berteriak-teriak meminta tolong. Ia meraih sebuah kenthongan atau entah apa yang kemudian ia bunyikan dengan irama gaduh.

Datang serombongan orang yang kemudian ikut-ikutan panik dan kacau. Lantas lebih kacau lagi ketika orang-orang yang datang kemudian itu ikut-ikutan memukul-mukul benda apa saja asal menimbulkan bunyi.

Kemudian datang seorang lagi yang agaknya keheranan melihat sekumpulan orang panik tanpa berbuat sesuatu kecuali memukul-mukul. Ia berusaha melerai orang-orang, menenangkan.

Seseorang

Tenang dulu, Saudara. Tenang dulu…. Ini ada apa? Mengapa tiba-tiba kalian menjadi panik dan gaduh tidak karuan? Ada apa?

Suara kenthongan dan kegaduhan yang lain berhenti.


Seseorang
Coba dijelas kan dulu pada saya ada persoalan apa? Kok tiba-tiba saja menjadi begini.

Yang lain
Iya. ada apa?

Yang lain
Lho, ada apa?


Si orang yang datang pertama kali tentu saja perlu menjelaskan.


Orang yang I
Ini begini. Orang yang terkapar ini adalah warga kita. Tadi saya melihat ia bertengkar dengan seorang prajurit pengawal raja. Lantas tiba-tiba plok! dan bak-buk-bak-buk! Kemudian ia terkapar.

Yang lain
Jadi orong ini dipukuli dengan semena-mena dan tanpa peri kemanusiaan oleh seorang prajurit pengawal raja?

Orang I
Ya.

Yang lain
Tanpa perlawanan'?

Orang I
Tanpa perlawanan.

Yang lain
Kamudian ditinggal pergi?

Orang I
Kemudian ditinggal pergi

Yang lain
Biadab!

Yang lain
Tidak berperikemanusiaan!

Yang lain
Sewenang-wenang!

Yang lain
Main hakim sendiri!

Yang lain
Tidak bertanggung jawab!

Yang lain
Kurangajar!

Lantas suasana kembali menjadi gaduh. Seseorang tampil kembali menjadi penenang.

Seseorang
Tenang dulu saudara-saudara. Kita harus bisa berpikir dengan jernih! (Suasana menjadi tenang kembali). Nah, apakah yang akan kita lakuka, mari kita rembug secara baik-baik.

Seseorang tampil mengobarkan semangat.

Pemberi semangat
Saudara-saudara, kita telah melihat sebuah tindakan sewenang-wenang di depan mata kita. Kita telah melihat pelangaaran kemanusiaan. Kita melihat main hakim dan tindakan dari orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita akan biarkan terus kejadian seperti ini akan terjadi setiap saat?!

Orang-orang
Tidaaaaakkk!

Pemberi semangat
Ini bukan kejadian yang pertama kalinya, Saudara. Dan kejadian ini tidak akan berhenti apabila kita tidak bertindak. Apakah Saudara bersedia untuk menghentikan sebuah tindakan kesewenang-wenangan ini dan menjadi patriot, perintis tegaknya sebuah keadilan di bumi ini?

Orang-orang
Bersediaaaa!!!

Pemberi semangat
Lantas apakah kita harus menunggu sampal kita sendiri menjadi korban pembantaian oleh oknum kurang ajar dan tak bertanggungjawab itu?

Orang-orang
Tidaaak!

Yang lain
Kita harus melakukan sesuatu.

Yang lain
Kita harus tegakkan keadilan di bumi pertiwi ini.

Yang lain
Ini bukan kejadian yang pertama. Dulu ada juga warga kita yang diperlakukan seperti ini

Yang lain
Dan kejadian ini akan terus terulang.

Yang lain
Dulu orang kampung sebelah malah sampai sekarat

Yang lain
Kita harus menghentikan kebiadaban tni

Yang lain
Ini tidak bisa kita biarkan.

Yang lain
Kita harus menghentikan kesewenang-wenangan ini. Kita harus melakukan sesuatu.

Yang lain
Ya! Kita harus melakukan sesuatu.

Yang lain
Tapi 'sesuatu' itu apa?

Yang lain
Ya entah pokoknya yang bisa menghentikan tindakan sewenang-wenang ini.

Yang lain
Kita harus meminta pertanggungjawaban oknum yang menganiaya warga kita ini.

Yang lain
Kita tuntut beramai-ramai.

Yang lain
Berbondong-bondong kita datangi komandan si oknum, kita laporkan tindakannya yang kurang ajar.

Yang lain
Kalau perlu kita datangt sambil membawa poster-poster dan slogan- slogan.

Yang lain
Sambil kita teriakkan yel-yel

Yang lain
Kalau perlu kita hubungi pers!

Yang lain
Mari kita lakukan !

Yang lain
Ayo !

Yang lain
Ayo !


Yang lain
Ayo ! Ayo !

Seseorang
Sebentar! Kalau kita mau menghadap komandannya dan melaporkan tindakan oknum tadi, kita betul-betul harus tahu permasalahannya, kronologis peristiwanya, apakah Saudara mengerti dengan jelas urut-urutan kejadiannya?

Semuanya bengong.

Yang lain
Lho, tadi yangmelihat pertama siapa?

Yang lain
Iya, yang mengetahui urutan kejadiannya siapa?

Yang lain
Siapa?

Yang lain
Kalau tidak salah kamu toh yang melihat dan menjadi saksi kebiadaban oknum prajurit kurangajar tadi?

Orang I
Saya cuma lihat sedikit

Yang lain
Itu sudah cukup. Untuk seterusnya kita sudah bisa membayangkan kejadiannya.

Yang lain
Tidak bisa dong, kita harus jelas dan pasti dengan kejadiannya agar laporan kita bisa dipertangungjawabkan.

Yang lain
Lha, tadi urutan kejadian yang Saudara lihat bagaimana?

Orang I
Saya sedangberdiri di sana, kemudian saya mendengar ada pertengkaran antara korban ini dengan seorang oknum prajurit kerajaan. Kemudian plok dan lantas bak-buk-bak-buk. Kemudian orang ini terkapar di sini mengerang-erang.

Yang lain
Jadi bertengkar lantas plok-bak-buk-bak-buk?

Orang 1
Lantas nyekakar dan mengerang-erang!

Yang lain
Biadab!

Yang lain
Kurang ajar!
Yang lain
Tidak berperikemanusiaan!
Yang lain
Barbar dan kurangajar!

Pemberi semangat
Diam! Kalau kita sekedar mengumpat-umpat. persoalannya tidak bakalan selesai. Begini, kita harus melakukan sesuatu!

Yang lain
Lantas bagaimana tindakan kita?

Pemberi semangat
Kita sudah mendengar ceritanya. Kita sudah melihat korbannya, maka sekarang saatnya kita bertindak!

Yang lain
Bertindak bagaimana?

Pemberi semangat
Pokoknya bertindak!

Yang lain
Bertindak bagaimana?

Pemberi semangat
Melakukan sesuatu !

Semua
Ayoooo!

Seseorang
Sesuatu yang bagaimana?

Pemberi semangat
Pokoknya menghentikan tindakan sewenang-wenang dan menegakkan keadilan di muka bumi!

Semua
Ayooo!

Seseorang
Bagaimana caranya?

Pemberi semangat
Kita datangi komandan pasukan si oknum. Kita beri laporan. Kita tuntut!

Semua
Ayooo!

Seseorang
Lantas?

Pemberi semangat
Kita tuntut si prajurit edan itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Semua
Ayooo!

Seseorang
Setelah itu?

Pemberi semangat
Kita suruh si prajurit mengakui kesalahannya, agar ia menjadi jera, kemudian tidak melakukan perbuatan ini lagi dan keadilan kita tegakkan!

Semua
Ayooo!

Seseorang
Apakah semudah itu?

Pemberi semangat
Akan kita coba! Saudara-saudara, apakah saudara rela kesewenang-wenangan mendera kita tiap hari?

Semua
Tidaaaakk!

Pemberi semangat
Apakah akan kita biarkan satu per satu warga kita akan mengalami kejadian seperti korban kali ini?

Semua
Tidaaakk!

Pemberi semangat
Lantas kenapa Saudara tetap di sini. Apa yang kalian tunggu???

Yang lain
Ayo kita lakukan sekarang!

Yang lain
Sekarang!

Yang lain
Ayo!

Yang lain
Ayo!

Yang lain
Ayo! Ayo!

Yang lain
Ayo, Saudara saja nanti yang nienjadi juru bicara kita, cucuking ajurit kelompok ini.

Si pemberi semangat justru celingak-celinguk.

Yang lain
Ayo! Kenapa jadi lembek!

Pemberi semangat
(Kendor) Lho. untuk menjadi cucuking ajurit toh tidak mesti saya. . .

Yang lain
Lantas siapa?

Yang lain
Tidak ada yang lainnya.

Yang lain
Kita semua sudah melihat bagaimana pandainya Saudara berbicara dan berpidato membangkitkan semangat kami. Maka tak ada colon lain kecuali Saudara.

Pemberi semangat
Jangan saya, bagaimana kalau saya tunjuk saja. Saudara...

Yang lain
Wah., jangan, saya… saya tak biasa berbicara, apalagi di depan umum dan melaporkan suatu kejadian penting.

Pemberi semangat
Apa Saudara?


Yang lain
Wah, saya sok kecetit lidah kalau berbicara di depan pejabat Jangan jangan laporan saya malah terbalik.

Pemberi semangat
Bagaimana kalau Saudara saja.

Yang lain
Enak saja menunjuk saya. Saya ini dari tadi kan cuma ikut-ikutan saja, masak ditunjuk jadi pimpinan.

Pemberi semangat
Lantas siapa?

Semua
Ya Saudara!

Pemberi semangat
(Ciut nyalinya) Jangan saya. . . Saya sebaiknya berada di belakang.

Yang lain
Saudara harus mau!
Yang lain
Ya. Harus!

Pemberi semangat
(ciut nyali namun tiba-tiba mendapat ilham)
Ah, jangan saya. Saya lebih tepat menolong korban ini saja. Merawatnya.
Lho, korban ini keadaannya sangat parah, butuh segera pertolongan. Nah, saya menyediakan diri untuk merawatnya...

Pemberi semangat lantas mencoba merawat korban.

Yang lain
E. e, benar juga, merawat korban yang terluka seperti ini juga membutuhkan suatu pengorbanan tertentu. Sebaiknya saya bantu saudara itu...

Yang lain
Kemanusiaan memang harus ditegakkan. Kita tolong dia.

Yang lain
Betul sekali, mari saya bantu.

Yang lain
Mau diangkut ke mana? Mari saya bantu.

Yang lain
Yuk dibantu yuk...

Seseorang
Lho, bagaimana dengan keadilan yang mau kita tegakkan

Pemberi semangat
Silahkan diperjuangkan Mas, saya lebih cocok memperjuangkan kemanusiaan. Tugas kemanusian saya pikir juga tugas yang mulia.

Mereka beramai-ramai menggotong korban.



Tinggal di panggung cuma satu orang. Si orang I, saksi yang melihat kejadian pertama kali. Beberapa saat kemudian terdengar suara pertengkaran dari sudut panggung. Lantas terdengar suara : Plok! Bak-buk-bak-buk!

Lantas seseorang yang berlumuran darah terhuyung masuk panggung kemudian terkapar jatuh. Si orang I segera membunyikan kentongan. Ribut dan secara perlahan layar di tutup***


Download naskah drama ini KLIK DI SINI
Naskah drama lain? Klik di sini

Tuesday, April 27, 2010

Contoh Drama Pendek dua Orang: Nyanyian Angsa - Anton P. Chekov

NYANYIAN ANGSA

Anton P.Chekov

Pelaku :
Vasili Svietlovidoff : Seorang komedian berumur 68 tahun
Nikita Ivanitch : Seorang promter (pembisik), orang tua


Skene ini terjadi di atas sebuah teater daerah. Malam hari setelah pementasan. Si sebelah kanan keadaannya tidak teratur dan ada pintu usang tak bercat ke kamar-kamar pakaian. Di sebelah kiri dan latar belakang pentas diseraki oleh bermacam-macam barang usang. Di bagian tengah ada sebuah kursi polos terjungkir.


1. SVIETLOVIDOFF:
(dengan sebuah lilin ditangan, keluar dari kamar pakaian dan tertawa)
ya, ya ini gila sekali! Sungguh ini lelucon yang sangat bagus. Aku jatuh dari kamar pakaian setelah pementasan habis, dan di situ aku dengan tenang ngorok setelah semua orang meninggalkan gedung teater ini. Ah! Aku memang orang tua yang tolol, si tua yang sialan! Kiranya aku telah minum lagi sehingga aku tertidur di dalam sana, tergeletak. Sungguh pintar! Selamatlah kau pemuda gaek! (memanggil) Yeghorka! Petruskha! Di mana engkau setan, Petruska? Kedua bajingan itu tentulah sudah tidur, dan meskipun gempa tak akan bisa membangunkan mereka sekarang!

Yekhorka (mengambil kursi polos, lalu duduk setelah meletakkan lilin di atas lantai) tak ada suara! Hanya gema yang menyahutku.

Aku beri Yegorkha dan Petruskha persen setiap hari dan mereka telah hembus dan mungkin sekali telah mengunci gedung teater ini. (menggoyang-goyangkan kepalanya). Aku mabuk.

Ugh, pementasan malam ini sungguh menggembirakan, dan alngkah gilanya jika dipikir. Berapa banyak bir dan anggur yang telah kutuang ke dalam tenggorokan untuk menghormati peristiwa ini. Luar biasa! Rasanya tubuhku ikut tenggelam seluruhnya dan kurasa ada dua puluh macam lidah didalam mulutku. Sungguh gila! Tolol sekali! Si jahanam yang malang dan gaek ini telah mabuk lagi dan tidak tahu apa sebenarnya yang dia Tuhankan! Ugh kepalaku remuk, seluruh tubuhku menggeletar dan aku m,erasa dingin serta gelap bagaikan dalam kolong bawah tanah. Bahkan jika aku tidk lupa hancurnya kesehatanku, seharusnyalah aku ingat umurku. Betul-betul si gaek yang tolol aku ini. Yah! Umurku yang telah tua, tak ada gunanya lagi. dan aku yang berlaku dengan tolol, pongah, dan pura-pura muda padahal hidupku sekarang telah usai. Kuciumi juga tanganku yang telah enampuluh depalan tahun berlalu dan tak mungkin kulihat kembali. Aku kosongkan botol itu. Hanya tinggal beberapa tetes lagi di dasar, itupun cuma kerak-kerak. Ya, ya demikianlah halnya, Vasili, pemuda gaek. Waktu telah tiba bagimu untuk meltih peranan sebagai orang mati, suka atau tidak. Kematian kini sedang diperjalanan menujumu (melotot ke atas).

Aneh sekali, meskipun aku telah berada di pentas 40 tahun selama ini, baru kali pertama inilah aku menyaksikan gedung teater ini malam hari, setelah lampu-lampu dipadamkan. Untuk kali pertama! (berjalan bangkit ke arah lampu kaki) alangkah gelapnya di sini. Aku tak dapat melihat apa-apa. Oh ya, aku dapat melihat lubang sipembisik dan mejanya, terbaring di dalam liang yang gelap, hitam tak berdasar, macam kuburan dimana maut mungkin sedang bersembunyi. Brrrrr …….. betapa dinginnya ini. Angin berhembus dari tetater kosong ini seperti keluar dari terowongan batu. Ini tempat hantu! Tengkukku jadi begidik (menggigil). Yegorkha! Petruskha! Dimana kalian berdua? Apa yang menyebabkan aku merasa benda-benda yang ada di sekitarku menyeramkan? Aku semestinya diberi minuman, aku seorang tua. Aku tidak akan hidup lebih lama lagi. pada usia 68 orang pergi ke tempat beribadah, dan bersiap-siap untuk kematian. Tetapi aku di sini. Ya tuhan! Anak yatim tua ini mabuk dalam pakaian tololnya. Aku tidak pantas lagi kelihatan begini. Aku mestinya pergi untuk menukarnya.
…………. Ini memang tempat maut dan aku tentu akan mampus ketakutan kalau di sini semalaman. (keluar menuju kamar pakaian). Ketika itu juga muncul nikita ivanitch, muncul dengan pakaian serba putih dari kamar pakaian di ujung pentas.

2. SVIETLOVIDOFF:
(melihat Ivanitch, kemudian menjerit kaget sambil mundur ke belakang) Siapa kau? Apa, apa perlumu? (menghentakkan kaki) siapa kau?

3. IVANITCH :
Ini aku, Tuan…!

4. SVIETLOVIDOFF :
Siapa kau? Ivanitch?

5. IVANITCH :
(Datang mendekat perlahan-lahan) Ini aku,Tuan, si pembisik!

6. SVIETLOVIDOFF :
(Terhuyung-huyung ke kursi, bernafas sesak lalu menggeletar hebat) Ya Tuhan! Siapakah kau? Itu kau… kaukah itu Nikituskha? Apa…apa yang kau kerjakan di sini?

7. IVANITCH :
Aku menginap malam ini di lemari pakaian. Mohon sekali tuan jangan beritahukan Alexi Komitch. Aku tak punya tempat tinggal lain untuk menginap malam ini. Aku sungguh-sungguh tak punya.

8. SVIETLOVIDOFF :
Ah! Nikituskha? Cobalah pikir, mereka menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak.Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementasan selesai, untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang ke rumah. Dan aku, akulah… orang tua itu Nikituskha! Usiaku telah 68,sakit-sakitan lagi, dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup. (Jatuh memeluk leher IVANITCH dan menangis). Jangan pergi jauh NIKITUSKHA! Aku sudah uzur, tak ada harapan lagi, dan kurasa inilah saatnya aku mati. Oh ini sangat mengerikan! Mengerikan sekali!

9. IVANITCH :
(Kasihan dan penuh hormat) Tuan, kini sebaiknya Tuan pulang saja.

10. SVIETLOVIDOFF :
Aku tak mau pulang. Aku tak punya rumah. Tidak! Tidak! Tidak!

11. IVANITCH :
Oh Masak Tuan lupa di mana Tuan tinggal?

12. SVIETLOVDOFF :
Aku tak mau kesana, aku tak mau! Aku cuma sendirian di sana. Aku tak punya keluarga. Nikituskha! Tak punya istri, tak punya anak. Aku seperti angin yang berhembus melintasi padang-padang yang sepi. Aku akan mati dan tak seorangpun akan mengikuti. "Sungguh mengerikan kesendirian ini.Tak ada yang membahagiakanku, tak ada yang mengasihiku. Tak ada yang mau menolong aku ketempat tidur kalau aku mabuk. Punya siapakah aku ini? Siapa yang membutuhkan aku? Dan siapakah yang mencintai aku? Tak sebuah hatipun, Nikituskha.

13. IVANITCH :
(Menangis) Penonton mencintai Tuan.

14. SVIETLOVIDOFF :
Penonton sudah pulang. Mereka semua sudah tidur dan melupakan si badut tuanya. Tidak seorangpun membutuhkan aku, tak ada yang mencintaiku. Aku tak punya istri dan tak punya anak.

15. IVANITCH :
Oh Tuan.oh Tuan! Jangan jadi begitu murung karenanya.

16. SVIETHLOVIDOFF :
Tetapi aku seorang laki-laki dan masih hidup segar. Darah masih terus mengalir dalam nadiku, darah warisan bangsawan. Aku seorang Aristokrat Nikithuskha! Aku telah mengabdi dalam ketentaraan dibagian artileri sebelum jatuh aku jatuh hina. Betapa gagahnya aku sewaktu muda. Tampan gagah dan berani! Kemanakah itu semua pergi? Apa jadinya itu semua dimasa tua? Tentulah ada liang yang telah menelan itu semua! Aku mengenang itu semua sekarang.
Telah 45 tahun hidupku tenggelam disitu. Hidup apa itu Nikituskha?Aku dapat melihatnya dengan jelas seperti melihat wajahmu : remaja yang riang , bersemangat, gairah pujaan wanita. Wanita Nikituskha!

17. IVANITCH :
Sebaiknya Tuan tidur saja sekarang!

18. SVIETLOVIDOFF :
Ketika baru-baru aku naik ke pentas, semasih gairah remaja bergejolak, aku ingat seorang wanita yang jatuh cinta karena aktingku. Dia sangat cantik, tinggi semampai, muda, suci, tak bercela, berseri-seri laksana fajar musim panas. Semuanya dapat tembus menyinari kegelapan malam.
Masih kuingat sekali ketika aku berdiri di depannya seperti sekarang aku berdiri didepanmu.Dia kelihatan begitu mencintaiku, tidak seperti kenyataan kemudian. Berkatalah ia kepadaku supaya memandang dengan pandangan demikian! Pandangan yang tidak dapat kulupakan, tidak bahkan sampai kekubur seklipun. Begitu kasih, begitu lembut, begitu dalam, begitu bersinar ceria!
Dengan sangat riang mabuk kepayang, aku berlutut di hadapannya. Lalu aku mohon demi kebahagiaan, dan berkatalah ia: " tinggalkan pentas".
Kau mengerti? Dia dapat mencintai akting. Tetapi, buat mengawininya tidak! Aku sedang berlakon pada suatu ketika. Ya, aku ingat, aku berperan sebagai badut yang tolol. Setelah berlakon aku merasa mataku jadi terbuka karena melihat apa yang pernah kuanggap pemujaan kepada seni begitu suci, sebenarnya adalah khayalan dan impian kosong belaka. Bahwa aku adalah badut yang tolol dan menjadi permainan yang asing dan sia-sia.
"Akhirnya aku mengerti tentang penonton. Sejak saat itu aku tak percaya lagi pada tepukan tepukan mereka, atau pada bungkusan bunga mereka atau pada ketertarikan mereka. Ya, Nikituskha!orang memuja aku, membeli gambarku, tetapi aku tetap asing bagi mereka. Mereka memburu-mburu supaya dapat bertemu dengan aku tetapi melarang adik perempuan atau putrinya untuk kawin denganku, seorang yang hina dina. Tidak! Aku tak yakin lagi kepada mereka. (terhenyak dalam kursi polos) Tak yakin lagi kepada mereka.

19. IVANITCH :
Oh Tuan!Kau kelihatan begitu pucat pasi. Kau dekati aku dengan kematian. Ayolah, kasihani aku!

20. SVIETLOVIDOFF :
Ketika aku telah mengetahui segalanya dan pengetahuan itu telah dibeli tunai, Nikituskha! Setelah itu…jika gadis itu…nah, kumulailah penggambaran tanpa tujuan hidup dari hari kehari, tanpa tujuan apa-apa.Akupun mengambil peranan pelawak murahan. Membiarkan diriku hancur.Oh, mestinya aku dulu adalah seorang artis yang besar namun perlahan-lahan aku buang jauh-jauh bakatku dan memainkan banyolan-banyolan tolol, kehilangan pegangan, kehilangan kekuatan ekspresi diri. Lalu, akhirnya hanya menjadi seorang banci Marry Andrew dari pada seorang laki-laki. Aku telah ditelan seluruhnya kedalam liang besar yang gelap. Namun, malam ini ketika aku terbangun kulihat kebelakang. Di sana , di sampingku terbentanglah waktu68 tahun.
Barulah aku menyadari betapa lamannya itu sudah. Dan, semua itu telah berlalu… (tersedu-sedu)…semuanya telah berlalu…..

21. IVANITCH :
Di sana, di sana, Tuan! Diamlah….mudah-mudahan! (Memanggil) Petrushka! Yegorhka!

22. SVIETLOVIDOFF :
"Tetapi, betapa jeniusnya aku. Aku tidak bisa membayangkan kemampuanku, betapa fasih, bagaimana menariknya aku, betapa peka, dan betapa hebat tali senar (menepuk-nepuk dada) menggetar di dalam dada ini. Sungguh berdebar perasaanku memikirkannya!
Dengarlah sekarang! Tunggu! Biar aku tarik napas dulu. Yah, sekarang dengarkanlah ini:
Berlindung darah ivan kini kembali
Terkipas dari bibirku pemberontakan berkobar
Akulah Dimitri yang buta! Di dalam kobaran apiu
Boris akan musnah diatas tahta yang kutuntut
Cukup! Pewaris tsar tak tampak lagi
Berlutut ke sana ke ratu Polanbdia yang congkak"
(dari : Boris Gonudof, karya Pushkin)

Jelekkah itu, ha? (cepat) Tunggu! Nah ini sesuatu dari Raja Lear. Langit gelap, kelihatan hujan turun deras, guruh mengguntur, kilat … zzz zzz zzz … menerangi seluruh permukaan langit, dan kemudian dengarkanlah :
Tiuplah angin, hancurkan pelipismu! Amuk! Tiupkan!
Sehingga kau basahi puncak menara kami, tenggelamkanlah ayam-ayam Kau berlekang pikiran yang pasti membakar
Patung disambar petir
Hanguskan kepalaku yang ubanan!
Dan kau segala guruh
Yang menggelegar pukul ratakan bentuk dunia yang gemuk!
Hancurkan kesuburan dunia, segala kecambah leburkan sekali
Itulah yang membuat orang tak bersyukur!
(Tak sabar) Sekarang, peran si tolol. (Menghentakkan kakinya) Lekas ambil peran si tolol! Cepat! Aku tidak bisa menunggu.

23. IVANITCH :
(Mengambil peran si tolol) Nunolo, air suci istana di dalam rumah gersang lebih baik daripada air hujan di rumah ini. Bagus, Nunolo, masuklah. Mintalah anugerah putrimu : ini adalah malam belas kasihan bagi orang-orang bijaksana maupun orang tolol.

24. SVIETLOVIDOFF :
Menggunturlah sesuka hatimu! Muntahkan kabar! Luncurkanlah hujan! Bukan cuma hujan. Angin, kilat, api adalah putri-putrimu. Aku bukan menuntutmu, kau anasir-anasir, dengan kejahatan aku tak pernah beri kau kerajaan, kunamakan kau anak-anak nada
Ah! Sungguh mampu dan berbakat kau! Dan, aku memang artis ulung! Selanjutnya kini, iniloah sesuatu lagi semacam tadi, untuk mengembalikan masa mudaku lagi. Umpamanya, ambillah ini, dari Hamlet aku akan mulai … biarkan aku … bagaimana mulainya? Oh ya, inilah dia. (Mengambil peran Hamlet) Oh! Para pencacat, biarkan aku sendirian! Kembalikan kalian! Mengapa kalian bermaksud mencari bauku? Sehingga kalian masuk dalam jebakan.

25. IVANITCH :
Oh Tuanku, jikalau tugasku begitu garang, maka kekasihku begitu curang

26. SVIETLOVIDOFF :
Aku sungguh-sungguh tak mengerti itu

27. IVANITCH :
Tuanku, aku tak pandai.

28. SVIETLOVIDOFF :
Kuharap kau.

29. IVANITCH :
Percayalah, aku tak pandai.

30. SVIETLOVIDOFF :
Aku mohon padamu!

31. IVANITCH :
Aku tak pandai memegangnya, Tuanku.

32. SVIETLOVIDOFF :
Ini mudah saja seperti berbaring-baring : tutuplah lubang-lubang itu dengan jari, keluarkan napas dari mulutmu, dan nanti akan terdengar musik yang amat merdu. Perhatikan, itu penutupnya.:

33. IVANITCH :
Tetapi, itulah yang aku tidak bisa memakainya agar cocok : aku tak ahli.

34. SVIETLOVIDOFF :
Mengapa? Ingatlah betapa tak bergunanya kau lakukan untukku, kau harus nampak paham akan istirahatku, kau harus menangkap hakekat dari kegaibanku, kau harus mendengar dari catatanku yang mula-mula hingga puncak pedomanku.
Dan di situlah terdapat berbagai musik, suara yang indah di dalam alat yang kecil ini, meskipun kau tak bisa meniupnya hingga berbunga. Astaga! Kau pikir aku hanya muda meniup suling itu saja? Sebetulnya, alat instrumen mana yang kau kehendaki? Meskipun kau tak yakin kepadaklu, kau memang tak bisa melakukannya untukku
(Tertawa dan bertepuk) Hebat! Hebat sekali! Di manakah setan yang bersarang di dalam usia tua ini? Aku bukan orang tua, semuanya itu omong kosong. Arus tenaga masih mengalir di dalam diriku. Inilah hidup, gairah, dan muda!
Usia tua dan jenius tentulah tidak berdampingan bersama-sama. Kau nampak membisu saja. Nikitushka. Tunggulah sejenak sampai kekuatanku pulih.
Oh! Rumah! Sekarang perhatikan! Pernahkah kau mendengar lembut seperti:
Bulan telah lenyap, tiada lagi cahaya
Mendampingi gugusan bintang kesepian yang meratap pucat
Di cakrawala ada yang tiba-tiba bercahaya
Bunga putih bersih di tengah-tengah lembah bunga mawar
Disusupi kunang-kunang,
Yang cahayanya suram berkedip-kedip,
Bagai harapan yang enggan menjelma
(Suara-suara pintu terdengar) Apakah itu?

35. IVANITCH :
Itu tentu Petrushka dan Yegorhka pulang. Ha, engkau memang jenius, Tuan.

36. SVIETLOVIDOFF :
(Memanggil, berpaling ke arah suara-suara tadi) Kasihanilah anak-anak. (Kepada IVANITCH) Ayolah kita pergi tukar pakaian. Aku bukan orang tua. Semua itu tolol, omong kosong! (Tertawa gembira)Apa yang kau tangisi? Ini bukan … kemauan! Ya, ya, segalanya ini bukan kemauan! Mari, mari orang tua, jangsan terbeliak bigitu! Apa sebab kau terbeliak begitu? Ya, ya, (memeluk sambil menangis) Jangan menangis! Di mana ada seni dan jenius di situ pasti tidak ada segala ketentuan, kesepian, atau penyakitan … hanya kematian itu yang semakin dekat. (Tersedu-sedu)Tidak! Tidak, Nikitushka!
"Segalanya itu telah berlalu dari kita sekarang! Betapa jeniusnya aku!
Aku seperti uap lemin, botol pecah. Dan, kau, kau adalah tikus tua gedung teater … pembisik, ayolah!
(Mereka pergi) Aku bukanlah jenius. Aku hanyalah cocok disamakan dengan promter. Bahkan, untuk itupun aku terlalu tua. Ya … kau ingatkan baris-baris ini dari Othelo, Nikitushka!
Selamat tinggal kenangan damai!
Maha perang
Yang mengalahkan angin unggul!
Oh, selamat tinggal!
Selamat tinggal ringkik kuda, dan sangkakala terompet
Pukulan genderang bersemangat
Suling yang menembus pendengaran
Diterjemahkan oleh : Djohan A. Nasution

Download? Klik di sini

Tuesday, April 20, 2010

Drama Pendek: KOOR

KOOR
(Kidung Orang-orang Rakus)
Oleh Teater Lembaga

ADEGAN 1

Musik.Orang-orang berperut buncit bermunculan dalam aktivitas mereka, tenggelam dalam irama dan nyanyian gembira. hingga satu moment, gerakan mereka membeku. kurop, menyibak keramaian, bicara pada penonton.

KUROP
Koor? Kedengerannya aneh gak, sih? Tapi di sini, di negeri kami yang bernama Negri Durjanasia ini, anda boleh bilang kalo setiap kami semua adalah penganut koor yang taat. Karena koor adalah nilai luhur warisan para leluhur. Anda bisa buktikan semua itu dengan melihat bagaimana cara kami memelihara dan membuncitkan perut-perut kami. Karena perut buncit adalah lambang kegagahan kami, kewibawaan, kesuksesan, kesejahteraan dan kesempurnaan hidup kami. Jadi sudah sewajarnya kalo kami mengarahkan semua tindakan-tindakan kami- tanpa terkecuali, demi perut-perut buncit kami ini. Lantas, anda semua mungkin akan bertanya... bagaimana cara kami melestarikan koor yang luhur itu secara turun-temurun? Ahaa...inilah negeri kami, rumah kami...kami akan terus ada dan berkembang dalam...tradisi!

orang-orang yang tadi membeku dalam aktivitas mereka, tiba-tiba mencair kembali, menyanyi dan menari, riang.

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tradisi!...Koor!...Tradisi!...Koor!...Tradisi!... Koor! Lestarikanlah tradisi!...Koor!...

Purok masuk, sosoknya nampak paling kurus, penampilannya ganjil dibandingkan yang lain. purok celingukan, seperti orang linglung.

ORANG 1 (Nyanyi)
Dengan tradisi koor...kita tau kapan kita mesti tidur...

ORANG 2 (Nyanyi)
...kita tau kapan mesti bangun...

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tradisi!...Koor!...Tradisi!..Koor!...Makmur....!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Jangan jadi orang jujur...hidupnya nanti malah mundur!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tau sama tau...itu jurus yang paling manjur!

PEREMPUAN 1 (Nyanyi)
Mau belanja di pasar, jangan cuma bawa uang...ajak saudara atau teman, biar bisa bersekongkolan...

PEJABAT 1 (Nyanyi)
Kedudukan tinggi, jadi mentri, atau polisi...cukup pake koneksi.

ANAK-ANAK KECIL (Nyanyi)
Umur tiga tahun kami mulai belajar curang...umur lima tahun belajar tipu-tipuan...

ANAK-ANAK REMAJA (Nyanyi)
Umur lima belas mulai praktek lapangan...curi-curi waktu...cari-cari kesempatan. Jilat sana-jilat sini...rebut kedudukan orang!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Itulah nilai luhur warisan para leluhur...

sekelompok orang-orang sedang melakukan transaksi di pasar dengan saling mencurangi. kurop hadir di antara mereka.

KUROP (Pada penonton)
Beginilah cara kami hidup dalam adab kesantunan yang terpelihara dengan baik. Dari generasi ke generasi. Saling menjegal satu sama lain, sikut sana-sikut sini, saling curang-mencurangi- dengan arif. Dan dengan begitu kebersamaan kami terus tumbuh, tercipta oleh satu kebutuhan yang sama...yaitu; kebutuhan membuncitkan perut pribadi!

Black Out


Gelap. Hanya sebulat cahaya menerangi wajah purok. purok tercekam sendirian. suara-suara berita tentang purok, sang koruptor terdengar dari berbagai siaran membuat suara dari berita itu menjadi saling bertumpuk. lampu follow masih menyorot wajah purok yang duduk di sebuah kursi dengan wajah yang pucat dan bibir yang bergetar. tiba-tiba terdengar suara ketukan palu menghentikan suara berita-berita tentang koruptor itu.

SUARA HAKIM
Terdakwa PUROK terbukti melakukan penggelapan uang sehingga negara mengalami kerugian sebesar 15 trilyun. Dan terdakwa Purok berhak atas hukuman 10 tahun penjara!

Lampu tiba-tiba terang semua. suasana pasar di negeri durjanasia, riuh oleh semua penduduk negeri yang semuanya berperut buncit.
purok masih duduk di kursinya memandangi sekeliling dengan rasa heran melihat berbagai kecurangan yang ada di pasar itu. seorang penjual mengusir purok dari bangkunya.

PENJUAL
Minggir! Kursi ini buat langganan saya. Enak aja maen dudukin!

PUROK
Maaf, maaf...

Seorang penjual beras sedang menempelkan besi pada timbangannya supaya jadi berat sebelah.

PENJUAL BERAS
Bagus. ( pada pembeli) Ayo, beras murah, beras murah....

seorang pemuda sudah selesai membeli sehelai kain selendang.

PENJUAL SELENDANG (Menamparkan uang ke selendang)
Laris manis, laris manis...

Si pemuda langsung mendekati pacarnya, memberikan kain itu dengan sikapnya yang romantis. si gadis tersenyum senang dan kaget melihat lipatan kain itu bolong. si gadis langsung menampar si pemuda dan langsung pergi. si pemuda memandang si penjual kain. si penjual kain nampak puas.

PENJUAL KAIN
Selendang sutra, selendang sutra...

Kecurangan terjadi di mana-mana. purok selalu merespon dan mencoba mencegah para pembeli untuk tidak belanja di situ. kurop, seorang petugas polisi, memperhatikan tingkahnya. Purok semakin kebingungan menghadapi keadaan negri yang menurutnya kacau balau. Kurop, terus mengamati tingkah purok yang semakin aneh.

KUROP
Hei, kamu! Sini!

Purok celingukan, bingung.

KUROP
Kamu! Iya! Kamu, sini!

PUROK
Saya pak?

KUROP
Iya, kamu! Kamu pikir saya ngomong sama malaikat?... Sini!

Purok tegang dan dengan terpaksa menghampiri Kurop.

KUROP
Kenapa badan kamu kurus?

PUROK
Hah? Ooo...(Menganehi keadaan sekeliling)


Ingin baca naskah lengkap?
DOWNLOAD naskah ini? KLIK DI SINI

Contoh Monolog Topeng-topeng

Monolog Topeng-Topeng
Karya: RACHMAN SABUR

DARI BAGIAN ATAS PANGGUNG ADA DUA BENTANGAN KAIN HITAM DAN KAIN PUTIH. MASING-MASING BERJARAK. DARI DUA BENTANGAN KAIN PUTIH DAN HITAM YANG VERTIKAL INI BISA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS AREA PERMAINAN BAGI SANG PEMAIN. ATAU BISA JUGA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS ALAM NYATA YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN HITAM. DAN BATAS ALAM KHAYALI YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN PUTIH. YANG SEWAKTU-WAKTU BISA DIPAKAI JUGA UNTUK ADEGAN BAYANG-BAYANG. DI DEPANNYA ADA SEBUAH PETI PANJANG BERWARNA HITAM. DI ATASNYA ADA DUA BUAH TOPENG YANG BERWARNA HITAM DAN PUTIH.

PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.

Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?

Kalau saja, saya bisa percaya…, kalau saja kita mau bijaksana sedikit. Tentunya kita dapat membicarakan segala kebohongan yang ada. Segala yang terjadi dan akan terjadi…
Baik. Kalau begitu akan saya mulai saja.

SANG PEMAIN MENGENAKAN TOPENG HITAM. IA BERADA DI LATAR BELAKANG KAIN PUTIH. PADA DIALOG BERIKUT INI, SANG PEMIAN SEOLAH-OLAH SEDANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG. MEREKA SALING BERTATAPAN.

Wajah kita adalah topeng-topeng. Segala wajah semua bertopeng. Ayo! Siapa diantara kita yang bersedia menanggalkan topeng dirinya? Aku tahu wajahmu. Kaupun tahu wajahku yang sebenarnya. Topengku dan topengmu saling menatap penuh kejatahan! Wajah-wajah kita bersembunyi di balik topeng. Topeng-topeng kita bercengkrama di panggung hidup. Lalu kita saling bunuh membunuh! Topengmu dan topengku terus bergerak menarikan kehidupan dan kematian. Bersama para gagak hitam. Yang bersemayam di bukit-bukit kubur.

TERDENGAR KEMBALI BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN DIAM BEBERAPA SAAT. HANYA EKSPRESI TOPENGNYA MASIH MENATAP NANAR. PADA DIALOG SELANJUTNYA, SANG PEMAIN SEOLAH-OLAH SEANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG YANG LAIN. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGHILANG. YANG TERDENGAR HANYA BUNYI PETI YANG DIPUKUL SECARA KONSTAN. SANG PEMAIN DUDUK DI PETI ITU.

Waska! Aku dengar kemiskinanmu di mana-mana. Lapar badan dan lapar jiwa telah membuatmu angkuh! Dan engkau tidak pernah takut mati. Kau dengar Waska? Nasibmu bagai acuan kereta waktu. Berjalan terus berjalan, menyelusuri rel-rel kehidupan yang kumal. Yang telah begitu lama kau kenal.

Waska! Aku lihat borok-borok di seluruh tubuhmu pagi hari. Dan kau sungguh tak peduli matahari! Sementara kau diam membisu di situ, kereta waktumu lewat begitu saja. Tanpa pesan. Perjalan hendak kemana Waska? Dan kau tidak menjawab. Tetap tak peduli.
Waska! Aku lihat sinar di matamu merah menyala-nyala! Waska! Kau dengar? Berjuta-juta orang meneriakkan lapar di belakangmu. Dan aku dengar, siang malam Waska-Waskamu meraung-raung! Mereka menggeram dengan lapar! Mereka menatap nanar! Mereka berkeliaran di mana-mana!

Waska! Mereka gelisah di mana-mana! Mereka kini mengembara keseluruh penjuru kota, mencari-cari kuburnya sendiri, membuat kuburnya sendiri. Lalu tentang mimpi bersarmu, tentang perampokan semesta. Mengendap dalam kekosongan…
Waska! Kini aku melihat kau telah bunuh diri. Kekosongan dan nasibmu, sungguh sempurna.

SANG PEMAIN TIBA-TIBA JATUH DARI ATAS PETI. KEMUDIAN SUNYI. SANG PEMAIN BANGKIT KEMBALI SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA.

Begitulah. Kegelisahan dramatik yang sedang terjadi pada tokoh yang satu ini. Ia telah bertemu dengan tokoh Waska. Seorang tokoh legendaris yang ada dalam lakon sandiwara Umang-Umang. Dimana dalam lakon itu pengembaraan hidup seorang Waska yang jahat, sekaligus sebagai seorang yang baik dapat kita rasakan penderitaannya. Tapi apakah benar Waska itu telah mati? Apakah benar, Waska sebelumnya pernah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa? Dan apakah benar Waska itu gila? Sedangkan menurut kabar burung, katanya sekarang ia lagi memimpin proyek raksasa yang dananya beratus-ratus juta milyar dollar. Untuk lebih jelasnya, baik. Saya akan mencoba menghubungi dia. Mudah-mudahan dia mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang prinsipil dan sangat hakiki itu. Saya percaya, Waska mau memenuhi permintaan sahabatnya. Saya permisi dulu. Waska! Waska! Waska! Waska……!

SANG PEMAIN SEKARANG MENGENAKAN TOPENG PUTIH. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGIRINGI KEMUNCULAN HADIRNYA SEORANG WASKA.

Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, yang profesinya sebagai anak panggung. Kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa nama saya bukan lagi Waska. Nama saya saya sekarang adalah Semar. Siapa bilang saya ini sudah mati? He… he… he… Itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Itu kan sebetulnya hanya trik saja untuk memancing rasa emosi penonton. Untuk merebut simpati pengikut-pengikut saya, dan masyarakat lingkungan saya. Dan itupun saya tidak mati-mati. Saya menjadi sakit di situ. Dan yang paling jelas, itu rekaan pengarangnya. Karena pengarangnya menghendaki demikian, ya sudah.

Sungguh! Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup, kok. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa. Makanya saya masih tetap muda, dan tetap perkasa. Saya betul-betul menikmati kehidupan ini. Setiap detik saya menghirup dan menghembuskan nafas, bagi saya itu adalah kenikmatan, suatu anugerah. Jangan percaya! Itu hanya isu. Orang masih hidup, kok, … dikatakan sudah mati. Bagaimana ini…? Lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan Malaikat Jibril. Bohong itu! Lha, saya hanya pernah bermimpi bertemu dengan Mbah saya. Masa Mbah saya dikatakan malaikat? Itu mengada-ngada, dan itu berlebihan. Jangan-jangan Malaikat Jibril nantinya tersinggung. Mbah saya juga pasti bakal tersinggung dengan fitnah ini.

Baik. Sekarang pertanyaan yang mana, yang belum saya jawab? Oh, ya! Tentang proyek raksasa saya. Memang benar. Proyek ini adalah salah satu dari sekian banyak proyek yang saya kerjakan. Sebetulnya proyek ini adalah proyek kemanusiaan. Dan saya beruntung sekali dapat mengkompensasikannya kedalam bentuk proyek kerohanian, yang semata-mata pengabdian saya terhadap manusia sesama, dan juga pengabdian saya terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Beruntung sekali saya mendapat kepercayaan untuk mengerjakan proyek raksasa ini. Terus terang saja, saya tidak melihat ini sebagai proyek bisnis semata. Tapi ada yang lebih berharga, lebih bernilai dari itu. Yaitu: pengabdian saya terhadap manusia sesama. Juga pengabdian saya terhadap Tuhan saya. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mudah-mudahan proyek ini dapat berjalan dengan lancar, sebagaimana yang diharapkan. Proyek ini juga dapat dikatakan sebagai tanda rasa syukur saya kepada Tuhan, yang telah memberikan rejeki yang berlimpah kepada saya. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Oh… kalau saya teringat kembali kebelakang, kemasa-masa hidup saya yang serba sulit, serba berantakan, serba gelap…, saya jadi teringat kembali kemasa itu.

Tentunya semua orangpun tahu, dulu saya pernah menjadi anak wayang. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kenapa saya berhenti menjadi seorang pemain sandiwara? Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Terlalu sulit untuk dibicarakan. Kalaupun saya harus menjawabnya, mmmhh… alasannya sangat pribadi sekali. Betul-betul sangat pribadi. Jadi lebih tidak usah saya katakan. Maaf. Sekali lagi… maaf. Dan maaf lagi, saya harus segera pergi. Saya ada pertemuan. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya harus menggarap proyek baru. Masih dalam fokus proyek kemanusiaan. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Saya harap semuanya bisa menjadi puas dengan penjelasan yang telah saya sampaikan tadi. Terutama untuk sahabat saya yang paling setia. Saya harap anda puas. Kalau anda merasa belum puas, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi nanti. Atau lebih baik saya undang anda, atau siapa sajalah. Datanglah ke Jakarta, ke hotel saya. Di sana kita bisa ngobrol-ngobrol lebih santai tentang kemanusiaan, secara ilmiah dan hakiki. Saya tunggu. Dan maaf, saya harus segera pergi.

SANG PEMAIN BERGERAK KEBELAKANG KAIN PUTIH. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI TANPA TOPENG.

Bagaimana? Meskipun kita tidak puas, untuk sementara ini kita puas-puaskan saja. Tapi sekarang sudah jelas, bukan? Bahwa Waska itu ternyata masih hidup sehat wal afiat, segar bugar dan masih tetap muda. Kalaupun sekarang ia berganti nama menjadi Semar. Saya yakin itu hanya untuk kebutuhan administrasi dan formalitas saja. Bagaimana tidak, ia seorang Waska. Sekali Waska tetap Waska! Hidup Waska!

Saya heran, kenapa dia harus berhenti menjadi pemain sandiwara. Padahal kita semua menyaksikan sendiri, dia begitu berbakat, potensial. Kemampuannya sangat luar biasa. Refleksinya begitu kuat san sangat sensitif. Padahal dia sebenarnya bisa menjadi seorang pemain yang sempurna. Saya belum pernah melihat orang lain setangguh dia. Betul-betul luar biasa! Saya sampai-sampai pangling melihat perubahan yang begitu besar pada dirinya.

Tapi rasanya saya tidak adil kalau saya harus terus membicarakan tentang kesuksesan Waska. Waska sendiri sudah diberikan kesempatan secara panjang untuk menjawab semua pertanyaan dan isu-isu yang tersiar selama ini. Rasanya kita juga harus sedikit bijaksana untuk memberikan kesempatan bicara kepada Semar. Barangkali ia juga juga ingin menyampaikan sesuatu. Barangkali keanehan atau keajaiban jaman telah terjadi dan harus segera diwartakan kepada semua orang. Segera akan saya panggil Semar.
Semar! Semar! Semar! Semar……!

SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR. KEMUDIAN IA MASUK KEBELAKANG KAIN HITAM. SEBENTAR KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI MENGENAKAN TOPENG HITAM.

Sebelum saya berbicara lebih jauh, terlebih dahulu saya akan meluruskan sebuah kekeliruan. Saya bukanlah Semar. Saya adalah Waska. Saya betul-betul Waska. Memang banyak sekali orang bernama Waska. Tapi saya adalah Waska yang paling Waska. Dunia saya adalah dunia Waska. Penderitaan saya adalah penderitaan Waska. Borok saya adalah borok Waska. Kesunyian saya adalah kesunyian Waska. Mimpi saya adalah mimpi Waska. Sakit saya adalah sakit Waska. Hati saya adalah hati Waska. Keinginan saya adalah keinginan Waska. Dendam saya adalah dendam Waska. Kemiskinan saya adalah kemiskinan Waska. Lapar saya adalah lapar Waska. Sembahyang saya adalah sembahyang Waska. Tuhan saya adalah Tuhan Waska.

Waskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaska…!

IA MENANGIS. SUARANYA MERINTIH MEMILUKAN. KEMUDIAN MEMUKUL-MUKUL PETI. TIBA-TIBA TANGISANNYA BERHENTI. IA GELISAH BERGERAK KESANA-KEMARI. IA SEMAKIN GELISAH. LALU IA BERSEMBUNYI DI BALIK KAIN HITAM. KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI DALAM GELISAH YANG SAMA.

Bagaimana lagi aku harus menjelaskan? Bagaimana lagi Waska? Percuma saja aku berteriak-teriak, karena orang-orang sudah tidak punya telinga. Berpikir Waska! Berpikir! Percuma saja aku berpikir, karena orang-orang sudah tidak mau lagi menerima pikiran orang lain. Berdoa Waska! Berdoa! Percuma saja aku berdoa, karena Tuhan sudah tidak mau mendengar lagi keluhanku. Lebih baik aku melanjutkan mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang dapat memberikan kesunyian yang indah. Ya, lebih baik aku diam dalam mimpi-mimpi itu. Diam bagai batu. Aku memang batu! Batu hitam yang angkuh! Aku harus menjadi angkuh, karena semua orang telah menjadi musuh! Tiba saatnya aku harus mengatakan: tidak kepada semua! Terlebih-lebih kepada orang-orang yang menganggapku sebagai orang tanpa daya upaya, tua dan penyakitan. Akan kubuktikan kepada mereka, bahwa aku adalah seorang Waska. Seorang manusia berantakan, tapi masih punya pikiran. Akan kujelaskan kepada mereka, bahwa aku adalah manusia yang terseret oleh jaman dan peradaban yang edan, namun aku masih tetap punya perasaan. Punya hati nurani. Punya perasaan sakit yang sama seperti orang-orang lainnya. Punya dendam yang sama. Oh! Dendam yang tiada akhirnya. Mengepul panas di ubun-ubunku. Membakar sekujur tubuhku yang hitam berkarat.
Istirahatlah Waska! Kau begitu lelah. Tidurlah…

Siapa bilang aku lelah? Aku tidak lelah! Dan aku tidak butuh tidur! Yang kubutuhkan hanya mimpi! Aku butuh mimpi-mimpi itu. Mimpi sunyi yang indah. Yang membangkitkan gairah hidupku. Dan bintang-bintang berada di tanganku. Kugenggam ia… Ya! Aku harus mendapatkannya. Belum terlambat. Ya! Belum terlambat. Hari masih malam. Masih banyak yang harus kuraih. Bangsat! (BERGERAK LIAR) Mereka mengunyah-ngunyah dagingku! Mereka menghisap darahku! Lintah! Mereka masih tetap saja lapar. Oh…, kebiadaban mana lagi yang harus kusaksikan. Begitu banyak binatang-binatang di sekitarku. Binatang mahal, terpelihara, tapi buasnya minta ampun!

Kau harus lebih buas dari mereka Waska…! Tunjukkan kebuasanmu! Tunjukkan taringmu! Tunjukkan matamu yang merah menyala-nyala! Ayo! Tunjukkan Waska…! Ya… Tuhan! Pandanganku begitu gelap. Sekujur tubuhku demam…. pori-poriku seakan tersumbat. Darah menggelegak naik keatas kepala. Pandangan mataku meremang, kepalaku seakan mau copot… tubuhku… tubuhku terasa kaku dan berat. Lidahku… kenapa lidahku menjadi kelu? (TUMBANG) Bertahanlah Waska! Kau harus bertahan! Dukamu adalah duka semesta! Bangkitlah Waska! Ayo bangkit! (BANGKIT) Ya, aku harus bangkit… aku harus berdiri, aku harus berjalan, aku harus tetap bertahan. Akan kubuktikan, bahwa aku adalah seorang Waska… (TUMBANG LAGI) Berdirilah Waska! Ayo berdiri! Kau harus berdiri di atas kakimu sendiri! Ya, aku harus berdiri… (BANGKIT LAGI) Ayo… kakiku berjalanlah, aku harus menebus kekalahanku… aku harus membayar hutang-hutangku kepada kehidupan ini. Akan aku selesaikan semua persoalan-persoalan ku dengan hidup ini… (TUMBANG LAGI) Waska! Seluruh alam akan berkabung, apabila kau menyerah! Maka bangkitlah Waska! Ayo bangkitlah! Buktikan bahwa kau adalah seorang manusia baja! Buktikan bahwa kau adalah batu hitam yang angkuh! Ayo buktikan Waska! (BANGKIT LAGI) Bnagsat… aku masih tetap seorang Waska, aku masih mampu bangkit, aku masih bisa tegak berdiri, aku masih mampu berjalan. Ayo…! Kakiku berjalanlah…, berjalanlah kemana kau suka. Ayo, kakiku, kau harus berjalan. Pergilah kemana kau mau. Mengembaralah kegunung-gunung, kebukit-bukit, kelembah-lembah. Dan carilah mata air yang sejuk untuk membasuh kakimu yang lusuh. Untuk mengobati luka di sekujur tubuhku. Oh, betapa sejuknya mata air itu menyentuh kepalaku yang lelah. Ayo kaki… berjalanlah. Tempuhlah segala rintangan… (TUMBANG LAGI) Oh…! Rupanya aku ini betul-betul sudah tua… aku lelah… Ya, Tuhan! Sungguh! Aku sudah terlalu lelah… aku berat… oh! Tiba-tiba seluruh pandanganku menjadi gelap (IA MERANGKAK) Begitu gelap… aku seperti masuk kedalam sebuah lorong yang gelap pekat.

Waska! Bertahanlah Waska! Semua itu hanya ilusi Waska! Bukalah matamu! Bukalah pikiranmu! Bukalah pintu hatimu! Buktikan bahwa kau adalah seorang Waska! (IA MASIH TETAP MERANGKAK) Aku sudah tidak tahan lagi Waska! Aku sudah sangat lelah… dan kini aku sedang sekarat…, sudahlah Waska… kau… kau memang kalah…, tapi kau tetap seorang Waska… Ya, Tuhan… aku sangat lelah.

IA MENANGIS. KEMUDIAN SUNYI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SANG PEMAIN BANGKIT SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA. IA BERJALAN SEPERTI SEDIAKALA.

Begitu besar penderitaan Waska. Begitu besar keinginan Waska untuk hidup, untuk tetap bertahan menjadi seorang manusia. Sampai-sampai ia harus menitikkan air matanya. Begitu indah dan menyakitkan. Sulit untuk dibayangkan, nasibnya begitu mengenaskan. Ucapan-ucapannya, kata-katanya…, begitu simbolis, penuh kemarahan dan ketahanan. Tapi sampai pada akhirnya, ia masih tetap punya pikiran. Ia masih tetap punya perasaan.

Sekarang akan saya panggil: Semar…! Waska…! Semar…! Waska…! Semar…! (SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR DAN WASKA) Waska…! Semar….? Waska…? Semar…? Waska…? Tidak seorangpun yang muncul. Seorang Waska tidak mau dikatakan sebagai seorang Waska lagi. Ia sudah menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak mau juga dikatakan sebagai seorang Semar, karena ia adalah seorang Waska. Semar adalah Semar. Seorang Waska adalah seorang Waska. Seorang Waska menginginkan menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak menginginkan menjadi seorang Semar. Kedua-duanya bisa ada. Dan kedua-duanya bisa tidak ada. Sedangkan saya, saya adalah seorang sahabat Waska. Saya hanyalah seorang anak panggung, yang telah lama ditinggalkan……


SELESAI

Download naskah ini

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook