Thursday, February 28, 2013

Sastra Kontekstual

Tempat Domisili Seorang Sastrawan
Oleh: Beni Setia


Salah satu gema polemik yang tertinggal dari gairah berkesusastraan pada dekade 80-an kemarin adalah gagasan sastra kontekstual. Secara konsepsi gagasan sastra kontekstual ini menekankan pentingnya kesadaran seorang sastrawan, yang ber-domisili di satu tempat yang kongkrit, dan karenanya menyadari situasi sosial-politik dari tempatnya berdomisili, dan lalu meresponnya. Responnya itu bisa bermakna menandai ketidakadilan sosial, struktural atau nonstruktural, menandai pelaku-pelakunya, dan melakukan penandaan deskriptif dan/atau pemihakan dengan meluncurkan teks kritik atau teks emansipatorik.

Bagi saya sendiri, masalah yang kemudian muncul adalah konsepsi tentang domisili dari kesadaran si sastrawan itu sendiri. Bagi saya, seorang sastrawan tak hanya tinggal, misalnya, di Cimelas, dan karenanya mengamati dan menyimpulkan tatanan struktural sosial-politik masyarakat Cimelas yang memelas di dalam karyanya. Sehingga ia hanya bisa menjadi sastrawan Cimelas - dan karena Cimelas itu bagian dari Indonesia maka ia menjadi sastrawan Indonesia yang kontekstual menghadirkan potret Cimelas. Tapi ia bisa memilih Cimarahmay atau Ciramohpoy yang unik, dan melakukan penelitian partisipasif sehingga ia memahami situasi struktural dari Cimarahmay atau Ciramohpoy secara empatik, lantas menuliskan teks sastra.

Dengan kata lain, yang utama itu bukan domisili dan konteks tapi lokasi dan penelitian partisipasif empatik. Dan semua sastrawan, terutama yang menulis dalam genre sastra prosa, yang menekankan pentingnya faktor setting yang kongkrit bagi pengembangan karakter dan konflik [cerita], terbiasa melakukan penelitian partisipasif empatik tentang detil wilayah dan budaya dari setting yang dipilihnya. Mereka meneliti agar paham akan detil wilayah, budaya dan kebiasaan sosial, mereka melakukan pencocokan wilayah, ciri budaya dan kecederungan sosial setempat, dan karenanya mereka meneguhkan ciri wilayah, corak budaya setempat, dan ilustrasi umum kecenderungan sosial. Mereka melakukan penelitian tertutup, tak terang-terangan melakukan penelitian yang ketat dengan pola dan metoda ilmu sosial. Disebabkan mereka hanya ingin bercerita dan bukan meneliti atau menghadirkan gambaran penelitian yang valid lewat aliran cerita.

Gagasan sastra kontekstual itu sendiri sebenarnya bias, karena berpijak di dua daerah yang berbeda. Sastra yang selalu ada di wilayah fiksi tidak bisa ditarik untuk berserius melakukan pemahaman tematik cerita secara faktual dengan penelitian yang ketat khas ilmu social. Sekaligus pemihakan dan simpati humanistik yang dijadikan motor penelitian dan motif penulisan karya sastra, akan melahirkan gambaran yang berbeda ketika diluncurkan untuk melakukan penelitian dan laporan pene-litan yang bisa diverifikasi secara ilmiah, dengan ketika dipakai untuk menghidupkan cerita secara empatik. Logika dan bahasa, metoda dan displin [kerja] di antara keduanya amat berberda, dan harus tetap berbeda agar semakin jelas mana perbe-daan di antara keduanya. dan, akibatnya, [tentu saja] efek akibat membacanya pun akan berbeda. Yang satu deskriptik dan diharapkan emansipatorik menggugah, se-dangkan yang lainnya imajinatif dan diharapkan melahirkan simpati yang empatik.

Selain itu, pada kenyataannya, tempat domisili seorang sastrawan itu tak cuma tempat bernama Cimelas, Cimarahmay, Ciramohpoy, Ranca Ekol, Legok Agul, Pasir Kingkin, atau Gunung Puntang. Sekaligus mobilitas seorang sastrawan itu tidak hanya gerak insidentil dan reguler antara Cimelas, Cimarahmay, Ciramohpoy, Ran-ca Ekol, Legok Agul, Pasir Kingkin atau Gunung Puntang. Tidak hanya yang ber-sipat real dan kongkreit bisa didatangi setiap orang. Ia juga hidup dalam bacaan, sehingga sewaktu-waktu ia bisa pergi ke Cijulang di dalam alam pikir dan teks Rachmat M. Sas. Karana. Atau Cindulang seorang Aam Amalia. Atau Italia dalam teks Acep Zamzam Noor. Amerika wildwest dalam teks Karl May. Ingris masa lalu dalam teks Charles Dicken atau Conan Doyle. Dan panorama Cina klasik dalam teks Kho Ping Hoo. Panorama Jawa klasik dari teks ketoprak, teks SH Mintardja atau Bastian. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Itu tempat untuk berdomisili yang sama kongkrit dan inspiratifnya dengan se-gala tempat yang bernama Cimelas, Ranca Ekol, Legok Agul, Pasir Kingkin atau Gunung Puntang. Belum lagi teks-teks yang ketat dari hasil penelitian sosial, etnografi, antropologi, dan/atau hanya catatan perjalanan dan kisah biografi dan oto-biografi yang terserak di rak-rak buku non-fiksi perpustakaan umum. Itu satu tempat, baik yang real atau yang hanya berupa impresi, baik yang ada di masa sekarang kini atau yang hanya di masa lalu dan telah musnah hanya tinggal kenangan, yang selalu dikunjungi oleh seorang pengarang. Ke mana dan di mana ia melakukan penelitian fiksional atau faktual tak ketat untuk menentukan lokasi, setting, memperkaya karakter dengan ciri budaya dan kecenderungan sosial, dan seterusnya, yang bersipat sangat monokultural. Terkadang ia hanya merujuk ke satu lokasi, dan mencampurkan type karakter dari lokasi lain, dan mempertemukannya dengan ekspresi ciri budaya yang lain, dan karenanya membangun setting yang sangat multi-kultural. Mana bisa, mana suka di alam kebebasab serba mungkin.

Fenomena itu menyebabkan saya sadar bahwa seorang sastrawan bisa pergi ke mana saja dan bisa bermukim di mana saja - meski secara fisik tinggal di Parong-pong. Sekaligus ia sesungguhnya bisa menulis tentang apa saja, secara bagaimana saja, dengan memanpaatkan penelitian partisipasif dan pemahaman empatik tentang konteks tempat berdomisili secara fisik dan mental - selain kemungkinan yang ber-sipat teramat fantasi dan imajinasi. Karena itu seorang sastrawan yang melulu menulis tentang Landeuh Jugala karena lahir di Landeuh Jugala, bagaimana bagusnya pun ia sebenarnya hanya katak dalam tempurung. Meski kelasnya lebih baik dari si remaja yang melulu menulis sajak cinta karena baru jatuh cinta. Seorang sastrawan adalah yang melakukan penjelajahan. Pramudia Ananta Toer, misalnya, dengan Surabaya di masa kolonial. Saini KM, misalnya, dengan para Puragabaya sebagai pa-sukan pilihan di masa Pajajaran akhir. Budi Darma yang memotret manusia kota kesepian Amerika Serikat dalam Orang-orang Bloomington dan Olenka. Atau Ayu Utami, yang memotret kondisi di kilang minyak, Dumai, Blitar, dan New York dalam Saman dan Larung. Kho Ping Hoo yang gentayangan di Cina padahal ia belum ke Cina sebelum menulis epos Bu Pun Su. Dan seterusnya.

Konsekuensi dari semua itu, pada akhirnya, tak mungkin adalah istilah sastra-wan Bandung, sastrawan Jogja, atau sastrawan Surabaya. Karena konsekuensi dari penyebutan itu adalah harus adanya seorang sastrawan Cebek no. 74, RT 01 RW 02, Desa Karamat Mulya, Kecamatan Soreang, dan Kabupaten Bandung sebagai kon-sekuensi ekstrim dari terma sastrawan Bandung - yang hanya mau ditarik ke atas, ke sastrawan Jawa Barat, Indonesia, dan reginal Asean. Yang ada adalah sastrawan Ohoy atau Ehem, yang menulis di dalam bahasa Sunda atau bahasa Indonesia, dengan cerita yang bersetting monokultural Sunda atau multikurtural seorang Sunda di wilayah perbatasan (budaya) Jawa Mataraman dan Jawa Surabayaan. Di titik ini sastrawan Indonesia adalah sastrawan yang menulis dalam bahasa Indonesia, karena identifikasi konteksual berdasar wilayah berdomisilinya akan menyebabkan kegoyahan. Baik dikarena ia menulis secara multikultural. Atau karena si bersangkutan cenderung bergerak dari wilayah kongkrit ke wilayah kongkrit lainnya, serta dari wilayah mental berdasar bacaan ke wilayah mental berdasarkan bacaan berikutnya.

Karena itu tak ada penyair Bandung bernama Soni Farid Maulana atau Juniarso Ridwan, karena yang ada hanya penyair Soni Farid Maulana - yang kelahir-an Tasikmalaya dan besar secara kreatif di Bandung - dan penyair Juniarso Ridwan - yang menempuh pendidikan formal tehnik di ITB dan jadi birokrat Pemda kodya Bandung. Atau penyair Tasimalaya yang bernama Acep Zamzam Noor, karena yang ada itu penyair Acep Zamzam Noor - kelahiran Tasik, menempuh pendidikan formal artistik di ITB, besar secara kreatif di Bandung dan Jogja, dan kemudian ia mukim di pesantren di Tasikmalaya. Yang ada hanya seorang Saini KM yang serba bisa dan khatam sebagai pemikir. Yang ada hanya seorang Ajip Rosidi, inohong Sunda yang lama di Jepang dan kemudian mukim di Magelang - tetap Sun-da meski tinggal dekat ikon pusat budaya-religi Jawa kuno Borobudur. Dan karena sumbangan mereka selalu bersipat individual meski dampaknya mungkin bisa bersipat lokal, nasional atau regional.

Karenanya untuk apa asylum tempat bernama lokasi domisili si sastrawan selain alamat surat, jujugan silaturahmi, dan zona serah-terima honor? Jadi agak mengerikan juga ketika sebuah intitusi seni di Jakarta mengundang sastrawan Indonesia (baca: yang menulis memakai media bahasa Indonesia) untuk berkumpul di Jakarta dengan pemilahan domisili. Ini masuk wilayah Bandung, kecenderungannya puisi, dan saat ini terdiri dari si AIUO, sehingga merekalah yang berhak masuk sastrawan Bandung dalam buku Nun. Ini masuk wilayah domisili Jawa Timur, kecenderungannya puisi, dan terdiri dari AIUO, sehingga merekalah yang berhak masuk kelompok sastrawan Jawa Timur dalam buku Hamzah. Atau buku Wau mewa-kili wilayah domisili Bali dengan para sastrawan bernama AIUO. Dan seterusnya. Kenapa mereka tak disebut saja sebagai sastrawan Bla, Bli, Blo, dan hadir sebagai sastrawan Bla, Bli Blo, dan dimasukkan ke dalam antologi sastra Kum.

Karena bagi sastrawan hanya ada bahasa, untuk mengungkapkan apa-apa yang didalami secara subyektif di dalam sunyi - meski dikonsultasikannya dengan teman, dengan bacaan, dan dengan imajinasi-fantasi. Dan karenanya kita harus mengakuinya dengan identitas bahasa yang dipakai buat mengungkapkan gagasan. Dan mengakui kebesarannya berdasarkan keunikannya ketika mengungkapkannya di dalam dan dengan bahasa di satu sisi dan fenomena ciri subyektif dari apa yang diungkapkannya - yang didalaminya secara diam-diam dalam sunyi - di sisi lainnya. Itu hakekat seorang sastrawan. Seseorang yang secara KTP tinggal di Babakan Kukulutus, tapi senantiasa bergerak dari satu tempat imajiner bacaan ke tempat imajiner baca-an yang lainnya. Memang. Tetapi, yang jadi permasalahan kemudian: Apa namanya perasaan rindu seorang sastrawan kelahiran Babakan Kukulutas ke Babakan Kukulutus, yang kemudian tinggal di Pasir Combrek dan diberi penghargaan seniman Pasir Combrek?

Impuls rindu yang humanistik. Panggilah kontekstual ingin mengungkapkan ih-wal yang diketahui pasti tetapi belum sempat diungkapkan. Atau hanya kecemasan dari seseorang yang diayunkan waktu dan mendadak menemukan pantulan gema dari dinding batas akhir usia. Atau itu sudah memasuki wilayah filsaafat dan sufi, yang berbeda dari tradisi dan disiplin penelitian ilmu sosial dan empati sastra. Saya tak tahu. Dan mungkin harus membaca lagi agar bisa menulis tentangnya secara lebih jernih. Insya Allah.***

Sumber: Suara Karya, Minggu, 20 November 2005

Sunday, February 24, 2013

Kenangan Pramoedya


Puisi Oleh: Eka Budianta
Kenangan Pramoedya

(6 Februari 1925 - 30 April 2006) 
Kamu mencintai tulang dan pori-pori
Bumi kelahiranmu dan semua bangsa 
Para korban kebodohan yang terlupa 

Tetapi ketika kautulis kebenaran 
Kamu dijebloskan ke penjara 
Buku-buku dan pembacamu teraniaya 

Akan kukenang Pramoedya 
Dengan seluruh keangkuhan saudaraku 
Yang tidak sanggup memahami mencintaimu 

Di langit hatiku hujan telah reda 
Tinggal namamu tertulis dan bersinar 
Menagih cintaku pada bumi manusia 
 (2006) 


Perjalanan Sungai 
(1) 

Sungai yang dulu menangis 
Di antara batu-batu di pegunungan 
Sekarang telah sampai di kota 
Dan akan terus menuju ke laut 

Tak lagi terdengar derai air terjun 
Udara sejuk, nyanyian burung, semerbak bunga 
Telah berganti panas terik dan polusi 
Sampah, minyak bekas, ikan-ikan mati 

Tapi aku terus mengalir 
Menyilakan kapal-kapal berbeban berat 
Masuk dari muara 
Menyambut hangat hempasan ombak dunia 

(2) 

Sungai-sungai kecil, sungai-sungai besar 
Bergelora dalam hidup singkat ini 
Pegunungan dan air terjun memanggil 
Burung-burung mencicit 
Menyulut awan putih 
Menjadi lautan menyala 
Menyepuh nama-namamu 

Kota-kota kecil, kota-kota besar 
Gemuruh dalam sunyi hati 
Burung-burung menyayat sungai 
Mengalirkan cinta 
Di ambang usia saat butir-butir pohon 
Menunggu undangan dari langit yang kekal 
(2003) 

Sebelum Laut Bertemu Langit 

Seekor penyu pulang ke laut 
Setelah meletakkan telurnya di pantai 
Malam ini kubenamkan butir-butir 
Puisiku di pantai hatimu 
Sebentar lagi aku akan balik ke laut. 

Puisiku - telur-telur penyu itu-
mungkin bakal menetas menjadi tukik-tukik perkasa 
yang berenang beribu mil jauhnya 
Mungkin juga mati 
Pecah, terinjak begitu saja 

Misalnya sebutir telur penyu
menetas di pantai hatimu 
tukik kecilku juga kembali ke laut 
Seperti penyair mudik ke sumber matahari 
melalui desa dan kota, gunung dan hutan 
yang menghabiskan usianya 

Kalau ombak menyambutku kembali 
Akan kusebut namamu pantai kasih 
Tempat kutanamkan kata-kata
yang dulu melahirkan aku 
bergenerasi yang lalu 

Betul, suatu hari penyu itu
tak pernah datang lagi ke pantai 
sebab ia tak bisa lagi bertelur 
Ia hanya berenang dan menyelam 
menuju laut bertemu langit 
di cakrawala abadi 
Jakarta, 2003

Tentang Penulis
Eka Budianta lahir di Ngimbang, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Penulis produktif ini mengenal secara pribadi Pramoedya Ananta Toer sejak 1983. Kedekatannya dengan Pramoedya dituangkan dalam buku "Mendengar Pramoedya" tahun 2005. Karya terakhirnya Eka Budianta Mekar di Bumi terbit tahun 2006.

Wednesday, February 20, 2013

Sastra, Tubuh, Vulgar, dan Tabu

Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu
(Damhuri Muhammad)

Semiotisasi tubuh dalam teks sastra erat kaitannya dengan semesta ketubuhan di dalam wacana postmodernisme, yang menggiring diksi tentang tubuh berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.

Selain itu, vulgaritas "bahasa" sebagaimana ditemukan di dalam Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) dan Kuda Ranjang (kumpulan puisi Binhad Nurrohmat) -untuk menyebut beberapa contoh-, seperti disinyalir oleh Yasraf Amir Piliang (2002), tidak terlepas dari pengaruh perkembangan kapitalisme (sebagai ideologi ekonomi) yang cenderung bergerak ke arah libidonomics, yaitu sistem ekonomi yang di dalamnya terjadi eksplorasi secara ekstrem segala potensi libido sebagai komoditi, dalam rangka meraih keuntungan maksimal (added value). Ideologi libidonomi kapitalisme memperlakukan tubuh dan segala potensi libidonya sebagai titik sentral dalam produksi dan reproduksi ekonomi.

Narasi "kelamin" dapat menjerumuskan karya sastra pada sifat "vulgaritas bahasa" yang berakibat pada pendangkalan nilai-nilai estetik. Dalam wacana postmodernisme, salah satu bentuk vulgaritas dan pendangkalan nilai-nilai estetik adalah Kitsch. Semacam peristilahan untuk karya kepenulisan kreatif yang dianggap sebagai bentuk bad taste (selera rendah) atau "sampah" artistik. Hal ini disebabkan oleh rendahnya standar estetik yang digunakan, sehingga yang menonjol bukan nilai estetik, tetapi nilai provokasi (erotisme, sensualitas, seksualitas). Sikap ekstrem Taufik Ismail yang menganggap "sastra berahi" sangat menjijikkan dan tidak patut dinilai sebagai karya sastra (Ermina. K, Suara Karya,14/03/04), mungkin dilatarbelakangi oleh pemahamannya terhadap fenomena Kitsch di atas. Begitu pun kecemasan Medy Loekito (Republika, 14/11/04), bahwa meskipun tidak trend "sastra seksual" belum menampakkan suatu kepanikan, namun beberapa rekan pendidik sempat mempertanyakan ; "Konon kata sastrawan, bangsa ini rabun sastra, jadi guru harus aktif mengobati rabun itu supaya tidak menjadi kebutaan. Sekarang setelah kami mencanangkan giat membaca bagi semua murid, eh lha kok bacaan yang disediakan yang kurang mendidik.".

Para pendiri Mazhab Frankfurt (Frankfurter Schule) seperti Max Horkheimer, T.W.Adorno dan W.F Haug menegaskan, sensualitas dan nafsu rendah telah menjadi bagian utama dari "industri budaya" (culture industry), yaitu kebudayaan yang berproduksi di dalam lingkaran sensualitas. (Haug : 1983). Penggunaan efek-efek sensualitas merupakan bagian dari penciptaan ilusi, manipulasi sebagai cara untuk mendominasi selera kultural masyarakat, sebagai sebuah kendaraan dalam menciptakan keterpesonaan dan histeria. Dalam konteks ini, Haug menggunakan istilah "teknokrasi sensualitas" (technocrazy of sensuality), untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai estetika ditopengi oleh nilai-nilai sensualitas, glamour dan erotisme.

Postmodernisme dekonstruktif sangat berperan di dalam menciptakan ruang pembebasan tubuh dan hasrat. Foucault, Lyotard, dan Derrida menawarkan logika emancipation of body (pembebasan tubuh) dan liberation of desire (pembebasan hasrat) dari berbagai kekangan dan pembatasannya. Mereka mengembangkan wacana tubuh dan hasrat yang baru untuk mendobrak berbagai benteng, tembok dan tapal batas yang selama ini membatasi artikulasi dan pelepasan hasrat. Menghancurkan berbagai bentuk kekuasaan, baik kekuasaan dalam keluarga, negara, maupun agama. Menentang otoritas atau hegemoni yang selama ini membatasi eksploitasi tubuh.

Foucault di dalam The History of Sexuality ; an Introduction (1978) menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan. Pertama, kekuasaan atas tubuh, yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang). Kedua, kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya. Kekuasaan dari dalam tubuh ini harus menantang kekuasaan atas tubuh, melalui sebuah "revolusi tubuh" sehingga tercipta ruang bagi perkembangbiakan (proliferation) dan pelipatgandaan (multiplicity) diskursus seksual yang terbebas dari dominasi kekuasaan.

Revolusi tubuh dalam rangka pembebasannya dari etos ketertindasan atas dominasi kekuasaan norma-norma, tabu, hukum dan undang-undang membutuhkan muara bagi pelepasannya. Kapitalisme (melalui budaya komoditinya) adalah muara utama bagi pelepasan hasrat yang tersumbat itu, sehingga memberi peluang kepada setiap orang untuk menggali setiap potensi hasrat dan energi libidonya sebagai komoditi. Sinyalemen ini dikuatkan oleh pemikiran J.F Lyotard di dalam Libidinal Economy (1993), bahwa kapitalisme telah mengalami transformasi ke arah kecenderungan baru yang disebut dengan "libido ekonomi" (libidinal economy), yang di dalamnya diciptakan ruang bagi pelepasan hasrat, sehingga setiap orang harus dapat mengeksplorasi dan memasarkan setiap rangsangan libido untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Maka, betis yang tersingkap, pusar yang sengaja dipertontonkan atau paha yang dipamerkan tidak dianggap sebagai bentuk degradasi moral, melainkan sebuah bentuk nilai jual dan currency. Karena itu, Lyotard berpendapat, kebudayaan harus bersifat afirmatif (affirmatif) dan permisif (permissive), sehingga dengan cara demikianlah manusia dapat meraih kesenangan dan jouissance yang memadai. Ironisnya, dalam lingkaran ketelanjangan kata, frase dan kalimat yang "meresahkan" itu, masih ada penulis dan penggiat sastra yang "memekikkan" pembelaan, bahwa karya-karya yang mengumbar berahi jangan hanya dihujat, tapi juga perlu diaparesiasi, bahkan ada yang mengumandangkan sebuah "teriakan apologetik", bahwa berahi juga menyuarakan sebuah ideologi. Ideologi apa?.

Ketika berahi sudah kehilangan nilai tukar, atau sudah tidak layak jual (marketable) lagi, tentu para penyair, cerpenis dan novelis akan berhenti mengekploitasi seks di dalam karya-karya mereka. Ya, tentu mereka akan beralih mencari "lahan baru" yang lebih punya "nilai jual". Bantahan, dan pembelaan-pembelaan tak berdasar dari para perumus "sastra telanjang" itu, alih-alih dapat memperlihatkan idealisme dan konsistensi mereka untuk terus melahirkan karya-karya yang "berlumur" berahi, justru yang terbaca adalah corak kepengarangan yang "menghamba" pada model estetika "tak bermalu".

* Depok, 110405
Sumber: Suara Karya, Minggu, 10 Juli 2005


Catatan Redaksi:

Selain menulis cerpen, Damhuri Muhammad juga menulis esai sastra dan resensi buku di Kompas, Republika, Suara Karya, Sinar Harapan, Bali Post, Lampung Post, Sriwijaya Post, Waspada, Riau Pos, Nuansa Budaya, Singgalang, dll.
Buku antologi cerpennya, Laras ; Tubuhku Bukan Milikku, Maret 2005. Kini alumni Program Studi Ilmu Filsafat Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada ini berdomisili di Jakarta. Alamat Email: damhurimuhammad@yahoo.com

Saturday, February 16, 2013

Puisi Rahasia Tuhan, Lelah, Lakon, dan Duka

Puisi Puisi Dwi Rejeki



Menuju Tuhannya

Barisan laki laki menuju pura 
dan perempuan dalam kebaya 
wajah wajah pasrah berbagai rupa 
berangkat menuju Tuhannya 
di gerbang pura 
barisan merapat 
berharap dinaungi para dewa 
hidup telah diserahkan 
ada janji yang terucap 
pada kalimt suci tengah malam
meski tak bisa merubah dunia 
tapi harapan tetap dinyalakan 
nyanyian alam memecah hening 
mereka larut dalam doa 
munuju muara kebesaran pencipta 

* Pebruari 2009 


Lelah

Aku masih tersandar 
di tepi buritan 
angin kencang menerpa segala 
kupandangi sandal jepit 
kutinggal sebelah 
aku lelah pandangi langit 
kelamarungi belantara tak bertepi 
seperti tak ada jalan keluar 
hanya berputar 
 tanpa ada arah terbentang 
waktu tersita tanpa tanya 
aku terjebak tanpa daya 
hanya gundah yang meraja 
mengitari seluruh nafasku 
ku ingin kembali kayuhi bidukku 
menapaki tepian yang tenang 
 hati hendak berontak
 dari kegelapan ini 
ketika senja menyambutku
 tak harap gelombang menjelang 
aku hanya ingin kembali pada tepi 

 * Maret 2009
Rahasiamu 

Bulan Berisik 
di sela gemuruh hati 
yang menggapai 
dan aku masih terpaku 
akan dirimu, tentangmu, rahasiamu 
yang tak pernah kumengerti 
tapi bulan kini memerah 
oleh suaraku yang telah bebas 
dan menemukan dirinya 

* April 2009

Dukamu 

 Jendela hati
 yang tak tersingkap
 dalam deru angin malam 
dendangkan lagu
 pecahkan sunyi ini 
aku tetap berharap 
di balik kisi hati
 ada belas luka 
yang mengering 
dukamu seperti sembiluku
 menyeretku jauh 
terlempar dari sumbu 
membawaku pergi 
menjauhi suara hati 

 * Januari 2009 

Sepenggal Lakon
Ini sepenggal lakon 
yang terlupakan 
kisah pilu dua nafas 
terpisahkan oleh derajat 
yang dikeramatkan 
Mereka pemuja kasta 
lahir untuk dipuja mati 
seperti raja 
gemerlap dunia 
pisahkan janji suci 
persetubuhan yang diharamkan 
disaksikan burung-burung 
di tanah lepas 
berarak iringi rintihan sunyi 
mengoyak derajat yang diagungkan 

* Mei 2009

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 16 Juni 2012

Tuesday, February 12, 2013

Kritik Cerpen Raudal Tanjung Banua

Mendulang Cerita dari Amsal dan Umpama
(Damhuri Muhammad)

Teks cerpen terkadang dapat diandaikan sebagai 'khabar' tertulis yang disampaikan oleh seorang 'juru khabar'. Bila hipotesis di atas dapat diandalkan, maka pergulatan seorang cerpenis (juru khabar) agaknya bukan pada substansi khabar (baik atau buruk), tetapi bagaimana cara ia menggarap, mengolah dan menyiarkan khabar itu. Khabar petaka, bila penyampaiannya dikemas dengan bahasa yang teduh, sejuk dan bijak boleh jadi tetap (seolah-olah) terdengar seperti 'khabar baik'. Sebaliknya, khabar gembira jika medium pengabarannya cacat dan tak memadai bisa saja tersiar seperti 'khabar buruk'.

Di sinilah 'martabat' dan jati diri teks sastra dipertaruhkan. Bahwa, pencapaian estetik tidak diukur pada seberapa banyak anasir pesan dapat tersuguhkan, tapi ditentukan oleh seberapa kokoh, dan seberapa kuat konstruksi medium penyampaian pesan yang dibangun pengarang. Seperti kata Raya Dewi (2002), sastra adalah artikulasi estetik dalam bentuk teks, bukan risalah sosial. Dengan kata lain, cerpenis akan lebih bergelut dengan 'cara', ketimbang berobsesi pada tercapainya 'tujuan'. Lebih bergelimang dengan 'proses' ketimbang menghamba pada 'hasil'.

Begitulah 'laku estetik' yang diperankan Raudal Tanjung Banua dalam kumpulan cerpen Parang Tak Berulu (Gramedia Pustaka Utama, 2005). Ia berkhabar perihal amsal, umpama atau semacam 'gunjingan' metaforik tentang sebilah parang yang tak lagi utuh sebagai parang. Masihkah dapat disebut parang bilamana sudah tak berulu, tak bergagang?. Sejatinnya bukan soal parang tersebut khabar yang hendak disampaikan pengarang. Tapi, tentang etos ketakberdayaan janda beranak satu bernama Gondan. Di negeri tempat khabar ini dipungut, peruntungan perempuan yang ditinggal suami ibarat Parang Tak Berulu. Meski ketajamannya tetap diasah, tapi tak bakal kokoh bila 'mencatuk' dan mengerat. Seperti kalimat umpama yang lain ; 'Lurah Tak Berbatu', 'Ijuk Tak Bersaga', 'Sawah Tak Berpembatang'. Inilah tabiat 'kata melereng', sindiran pedas, yang jika terdengar amat menyakitkan. Mungkin jauh lebih pedih dari goresan mata parang sesungguhnya.

Adalah Gombak (anak laki-laki Gondan) satu-satunya peninggalan Jibun (suami Gondan) yang meski telah bersusah payah memperbaiki ulu parang, namun selalu gagal. Ulu yang terpasang tetap saja longgar, dan kerap lepas terpelanting setiap diayunkan bundanya saat mengeping kayu. Sewaktu ayahnya masih ada, Gombak dimanjakan, tak pernah memegang parang, apalagi belajar bagaimana cara mengganti ulunya. Begitu pun Gondan. Tak pernah menginjak lumpur sawah, hidup berkecukupan, bahkan Jibun berhasil membangun rumah sendiri (terpisah dari mertua) untuk istrinya. Tapi, Jibun tak berdaya melawan egoisme kesukuan Sutan Mangkudu (paman/mamak Gondan) yang sejak awal tak merestui pernikahan mereka. Alasan penolakan Sutan Mangkudu memang sudah jamak di negeri itu ; Jibun, laki-laki tak bersuku. Orang datang, orang dagang, tak jelas asal-usulnya, tak bersilsilah. Inilah asal muasal lepasnya ulu dari parang, hingga Gondan hidup menjanda dan jatuh susah ; pasrah pada nasib sebagai pengeping kayu bakar. Itupun dengan parang yang sudah cela ; tak berulu. Apa boleh buat!

'Diam-diam' Gombak hendak mencari ulu yang kokoh bagi 'parang' bundanya. Itulah pak Anjang, penjual ikan keliling yang menaruh hati pada Gondan. Namun, Gondan tak yakin, pak Anjang mampu jadi pengganti Jibun, pengganti ulu parang yang sudah hilang. Sebab, bagaimanapun juga pak Anjang sudah beristri. Dan, sudah pasti Gondan bakal tertuduh sebagai perempuan benalu, perusak rumah tangga orang. Maka, selamanyalah parang itu tak bakal berulu.

Tersebab khabar yang diusung adalah hasil eksplorasi di ranah etnik tertentu, Raudal tampak hendak melakukan 'universalisasi konteks' agar metafora Parang Tak Berulu familiar di dalam nalar pembaca mana pun (tidak hanya etnik Minang). Maka, terbacalah improvisasi pengarang, yakni mengganti kata lading (baca; bahasa Padang 'parang') dengan parang. Problemnya, kata 'parang' tidak serta merta dengan gampang dilekatkan pada pekerjaan mengeping kayu. Sebab, pekerjaan mengeping (membelah) biasanya dilakukan dengan perkakas ; 'kapak'. Sementara lading atau parang sifatnya memotong (mengerat). Tapi, ini hanya soal ibarat. Toh, khabar yang hendak disiarkan tak ada hubungannya dengan makna detonatif kata 'parang'.

Eksplorasi tematik yang digali dari kultur etnik, sebagaimana disinyalir kritikus Maman S. Mahayana (2002) merupakan peluang yang menjanjikan lahan berlimpah. Warna lokal seperti mata air gagasan yang tak pernah kering. Menyimpan benih-benih kisah yang tak 'sudah-sudah' jika para pengarang mau mengolah. Tengoklah, Oka Rusmini (Bali), Darman Moenir, Wisran Hadi, Gus Tf Sakai (Minang), Taufik Ikram Jamil (Riau), Yanusa Nugroho (Jawa), beberapa contoh pengarang yang menggauli kultur etnik dengan amat cerdas. Begitu pun Umar Kayam (Para Priyayi), Linus Suryadi AG (Pengakuan Pariyem), Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk). Raudal Tanjung Banua, sebagai generasi baru cerpenis yang terlahir di Ranah Minang tak menyia-nyiakan peluang itu. Parang Tak Berulu adalah kumpulan cerpennya yang ketiga setelah Pulau Cinta di Peta Buta (Jendela, 2003) dan Ziarah Bagi yang Hidup (Mahatari, 2004). Sejak awal kepengarangannya, cerpenis peraih anugerah sastra Horison, 2004 (Cerobong Tua Terus Mendera) ini begitu tekun dan bersetia membolak-balik lembaran khazanah kaba (tradisi sastra lisan Minang Kabau) yang nyaris terabaikan oleh pengarang-pengarang seusianya.

Raudal tak henti-hentinya melakukan ekperimentasi teknik berkisah, untuk meraih kompetensi literer sebagai 'juru kaba' yang piawai dan tak terjerumus pada model simbolisme atau realisme yang udik. Hal ini diakui Nirwan Dewanto sebagaimana tertera di cover belakang buku ini, bahwa Raudal menjalankan siasat naratif yang jitu dalam menghadapi realitas besar. Anasir kecil seperti pisau atau parang bisa bermakna kelamin atau bayangan lelaki yang merangsang konflik di bawah permukaan. Sejumlah kisah Raudal menjadi sistem yang utuh, namun sekaligus menjadi prisma yang memancarkan masalah kaum, puak atau satuan sosial yang lebih besar. Raudal berhasil meneruskan kompleksitas tradisi lisan (kaba) ke dalam tradisi tulisan, tradisi sastra.

Sebagai 'juru khabar' yang mampu menyulam kisah dengan langgam puitik, runtut dan model pengungkapan yang berirama, pembaca bisa saja terkecoh bahwa ketertindasan tokoh Upik (Ranah Berkabut) lantaran mitos 'pusar-pusar ternak' yang melekat di ubun-ubunnya pun terdengar (seolah-olah) 'khabar baik'. Diceritakan tentang 'tahyul' turun temurun bahwa seorang anak yang memiliki 'pusar-pusar kembar', dipercayai sebagai isyarat dan pertanda bakal berkembang biaknya binatang ternak yang dipeliharanya. Maka, Upik tak perlu bercita-cita tinggi seperti abangnya (Kandik) yang ingin jadi tentara. Perempuan itu seolah-olah sudah terselamatkan hanya dengan mengikuti 'garis' nasib sebagai pengembala ternak (ayam, itik, kambing, sapi dan kerbau). Celakanya, 'alih-alih' dapat menikmati jerih payahnya mengembangbiakkan ternak, Upik justru jadi sasaran kesewenang-wenangan ayahnya (penjudi, dan suka menganggu istri orang) yang bebas merampas ternak-ternak peliharaannya. Begitupun Kandik (bila kalah berjudi), yang dengan gampang menyeret kambing-kambing Upik. Mitos 'pusar-pusar ternak' yang diyakini bakal berbuah berkah, ternyata hanya menyuburkan iklim kekerasan 'diam-diam'.

Ketertindasan Upik, 'setali tiga uang' dengan penderitaan Gondan (Parang Tak Berulu) yang menanggung gunjing, bisik dan selidik sejak kepergian suaminya. Begitu pun Hindun (Perempuan yang Jatuh dari Pohon), yang mesti berjuang mati-matian 'menegakkan' hidup keluarga setelah ditinggal mati ayahnya. Hindun mengisolasi diri dari pergaulan gadis-gadis kampung seusianya, tinggal di ladang bersama ibunya. Di sini, Raudal memperlihatkan betapa banyak pantangan adat yang kaku, kolot, kampungan dan sering merendahkan martabat perempuan. Misalnya, terlarang bagi perempuan memanjat pohon. Apakah karena perempuan tak boleh lebih tinggi dari laki-laki? Lalu, terlarang meminang perempuan yang tak tinggal di rumah sendiri. Bila Hindun masih tinggal di ladang, niscaya ia tak bakal bersuami sampai mati. Maka, Hindun pun melanggar pantangan, sejak kecil ia sudah berani memanjat pohon, dan juga bertekad tak akan tinggal di dalam kampung. Hingga suatu ketika, Hindun memanjat pohon keramat. Celakanya, perempuan itu kena batunya. Hindun jatuh, dan mati. Konon, kematian Hindun dianggap sebagai 'karma', tersebab telah melanggar pantangan. Dan, kematian seperti itu tak bakal disembahyangkan.

Maka, betapapun halusnya rumusan 'bahasa pengabaran' dalam teks cerpen Raudal, pembaca yang peka tetap akan memahami kisah Gondan, Hindun, Jumilah (Tali Rebab) dan Andam (Laju Buaian di Rumah tak Berpenghuni) adalah 'khabar buruk' perihal perempuan-perempuan yang tak bernasib mujur, (justru) di ranah kultur matrilineal yang konon sangat memuliakan kaum ibu.


* Jakarta, 2005

Catatan Redaksi
Penulis adalah cerpenis, tinggal di Jakarta. Email:damhurimuhammad@yahoo.com. Hp: 081314988729
Selain menulis cerpen, dan esai sastra, Damhuri Muhammad juga membuat resensi buku di Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Suara Karya, Bali Post, Lampung Post, Sriwijaya Post, Waspada, Riau Pos, Nuansa Budaya, Singgalang, dll Buku antologi cerpennya ; LARAS (Tubuhku Bukan Milikku), 2005

Sumber: Suara Karya, Minggu, 2 Oktober 2005

Friday, February 08, 2013

Apresiasi Puisi Sitor

Memahami Puisi-puisi Sitor Situmorang
(Aminullah HA Noor) 

Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang, terutama dari periode awal, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat - misalnya tentang keisengan atau keterasingan - melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib-rupa dan tertib-bunyi.

Ciri demikian itu membebaskan dia dari lingkungan pengaruh Chairil Anwar, sosok pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah.

Memahami puisi puisi Sitor Situmorang sebenarnya tidaklah terlalu rumit. Bahkan bisa dikatakan gampang, karena susunan kata dan frase Sitor segera meninggalkan gema di hati dan kepala.

Bisa begitu, karena Sitor Situmorang dalam berkarya apapun tak akan pernah lepas dari kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

Namun, jangan buru-buru mengatakannya penyair kuno hanya karena Sitor Situmorang selalu merasa terikat dengan penggunaan bentuk puisi lama, seperti pantun dan soneta. Sebenarnya, Sitor pun telah menulis banyak mengenai puisi-puisi yang bersentuhan langsung dengan masa lampau dan tradisi kekinian.

Jelaslah, tertib-pola demikian adalah sarana untuk menapis, juga menundukkan, derau dan gebalau pengalaman modern.

Generasi Sitor, masuk dalam Angkatan '45, memang dikenal sebagai kelompok penyair yang begitu mengandrungi puisi bebas. Tetapi Sitor sendiri tidak demikian.

Buktinya, puisi puisi Sitor tidak jarang didominasi dengan persoalan kekinian. Tak jarang pula puisi-puisi Sitor terjebak dalam permainan kata yang berlebihan, kemubaziran, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya.

Kita lihat, puisi bebas Sitor "hanyalah" bentuk yang lebih lentur-cair dari pantun dan sonetanya.

Kesepian, juga keisengan, keterasingan, kebosanan, mungkin juga kemabukan. Kalimat-kalimat yang mengandung unsur filsafat semua ada dalam puisi Sitor: suatu pandangan dunia yang tak tertawarkan lagi?

Seorang penyair modern yang sejati, mestinya adalah sang flaneur, sebagaimana halnya Baudelairre: seorang pejalan iseng yang mengalami pemandangan, dunia, sebagai hal terpecah-pecah, dekaden-ia pencari keburukan ketimbang keindahan.

Namun Sitor adalah seorang flaneur yang tak sepenuh hati. Ia pemburu keindahan atau sisanya.

Seperti Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan membawa kampung halamannya dalam bungkusan. Neruda seperti hendak meluaskan tanah airnya ke seluruh bumi; sedang Sitor, ingin menjadi orang-dunia namun diganduli oleh warisan leluhurnya. Sitor meragukan, mungkin menyangkal, asal-usulnya justru dengan menggunakan puisi lama-soneta dan pantun.

Keduanya sampai juga ke "jalan kiri" dengan alasan berbeda: Neruda lantaran kejenuhannya dengan puisi modern: Sitor, justru karena keberjarakannya. Sitor melakukan rekonsoliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa": demikianlah keisengan (yang tak pernah menjadi filsafat itu) digantikan ide, bahkan ideologi. Maka impresionisme menjadi realisme; dan pantun dan sonet pun bertukar dengan puisi bebas.

Sitor sang flaneur yang bimbang tak cukup radikal dalam melawan komunitasnya, sebagaimana sang komunitas juga begitu setengah hati untuk meninggalkan masa lampaunya. Mungkinkah "aku" menjadi "kami" atau "kita" dalam derap "revolusi"? Mungkin sekali tidak. Puisi Sitor selepas 1970-an adalah upaya mendedahkan "aku" kembali, sang pejalan: kini ia bukan pemburu keisengan melainkan pengumpul cendera mata dari pelosok Nusantara dan mancanegara. Di sini tiada lagi musik atau tertib-bunyi yang bisa melunakkan isi-sajak.

Tapi jika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah dari segala penjuru, "filsafat" dalam puisi tak penting lagi.

Itu sebabnya kita selalu kembali kepada puisi Sitor Situmorang dari 1950-an, di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni-dalam arti menjadi makhluk bermain, homo ludens-setelah kita menjadi begitu jinak dan seragam dalam jejaring sistem.

Menjadi "bunga di atas batu, dibakar sepi": liar, keras kepala, tak menyerah. Demikianlah puisi Sitor yang terbaik, justru membuat kita mampu mengsongsong "filsafat" yang dikandungnya dengan haram. ***
Sumber: Suara Karya, Minggu, 2 Oktober 2005

Monday, February 04, 2013

Menikah, Anak, dan Rumah

Engkau adalah Rumah
Cerpen Dianing Widya

MATAHARI pecah di kepalaku. Kebahagiaan di depan mata itu, engkau hancurkan Layla. Tanggal pernikahan yang kita sepakati bagai mainan bagimu. Ponselmu tak pernah aktif. Apartementmu kosong. Teman-teman kantormu hanya bilang kamu pindah tanpa meninggalkan alamat kerja baru. Kedua orangtuamu, saudaramu hanya mengangkat bahu ketika aku tanya keberadaanmu.

Berbilang tahun aku memilih sendiri. Aku tak punya hasrat dengan siapa pun selain dirimu. Lalu hampir setiap aku pulang kampung, selalu saja pertanyaan yang berulang ibu tanyakan kepadaku. Kapan menikah Ganang? Pertanyaan ibu yang berulang, kesulitanku membunuh bayanganmu membuat aku frustasi. Aku harus menenggelamkan diri untuk melupakanmu Layla, hingga aku menemukan duniaku. Mengumpulkan anak-anak jalanan untuk aku sekolahkan bersama beberapa teman.

* * *

Darahku berdesir saat aku temukan engkau di sebuah sekolah dasar dengan menggandeng seorang anak laki-laki. Sampai hatimu Layla. Engkau meninggalkanku demi laki-laki lain. Sekarang di sampingmu seorang anak laki-laki menambah hatiku teriris. Engkau menggandengnya dengan penuh kasih.

Tentu karena kamu adalah ibunya.Aku pun menyekolahkan seorang anak di sini. Sayang dia bukan anak kandungku, melainkan anak yang terlantar. Ayahnya meninggalkannya setahun lalu saat ia berusia lima tahun. Kakaknya saat ini kelas dua SMP. Untuk menyambung hidup ibu mereka menjadi pencuci baju di tiga rumah.

Layla, banyak dari anak-anak yang aku dan teman-teman sekolahkan datang dari keluarga berantakan. Suami yang pergi mendadak lalu bertahun-tahun tanpa kabar, ayah yang sembunyi-sembunyi menikah lagi dan memilih menceraikan istri pertama, setelah istri pertama mengetahui dan tidak menerima. Ada lagi suami yang mengusir istri dan anaknya setelah ia menikah lagi.

Layla, engkau tak akan percaya dengan ceritaku, seperti halnya saat pertama aku menghadapi kenyataan. Banyak istri yang dizalimi suaminya lalu anak-anak ikut terseret di dalamnya. Ironisnya mereka dari kaum papa, lalu pendidikan anak-anak terbengkalai karena si istri harus bekerja sendirian. Untuk melupakanmu Layla aku dan temanku menggalang dana. Menyelamatkan anak-anak mereka.

Pelan-pelan pergaulanku dengan mereka, membuat aku merasa mereka bagian dalam hidupku. Aku bahagia di sini Layla. Aku menghela napas sembari melihatmu dari kejauhan. Seandainya dulu engkau tetap menikah denganku tentu bahagiaku sempurna.

Melihat anak yang engkau gandeng itu, aku menautkan kening. Kita berpisah belum genap lima tahun. Kini engkau menggandeng anak usia tujuh tahunan. Logikanya jika engkau langsung hamil setelah menikah anakmu baru berusia empat sampai lima tahun. Anak siapa dia Layla. Mungkinkah engkau meninggalkanku untuk menikah dengan duda kaya raya?

* * *

Layla, sejak pertemuan kita di sekolah itu, aku ingin tahu keberadaanmu. Aku ingin tahu tetapi sejenak hatiku susut. Tak pantas jika aku menelusuri jejakmu, sementara kamu sekarang adalah istri orang. Maka setiap aku mengantar anak yang aku sekolahkan itu, aku hanya berani melihatmu dari jauh. Tetapi tahukah kamu Layla, sungguh aku sangat ingin menyapamu meski hanya sekedar bertanya kabar.

Hingga suatu hari aku berpikir mengapa kamu selalu sendirian mengantar anakmu sekolah? Aku belum pernah melihatmu bersama suami. Hal ini membuatku menduga-duga tentang kamu. Mungkinkah kamu kini menjanda. Pikiran curangku berujar itu jauh lebih baik. Aku mau menjadi suamimu Layla. Tak peduli kamu adalah janda dengan beberapa anak.

Satu tahun sudah cukup bagiku untuk menuntaskan rasa penasaranku. Di hari pengambilan rapor kamu datang sendiri. Engkau terkejut ketika aku menyapamu. Semula engkau melihatku seperti melihat hantu di siang hari. Terlihat engkau ingin berlari tetapi sikap santun yang engkau punya membuatmu bertanya kabarku. Tentu kabarku sangat buruk.

Engkau lalu menghela napas. Menunduk. Tiba-tiba anak kecil yang selalu engkau antar itu menghampirimu, bergelayut di pinggangmu.
"Tante pulang." Jantungku berhenti berdetak. Anak itu memanggilmu tante, bukan ibu atau mama.

"Attar," tiba-tiba seorang gadis menghampiri anak laki-laki itu dan merayunya untuk mau pulang dengannya. Anak itu mengiyakan.

"Mbak, Attar pulang sama saya ya," ujar gadis itu. Engkau mengangguk. Aku lihat anak laki-laki bernama Attar itu sangat akrab dengan gadis itu. Terdengar juga ajakan gadis itu ke sanggar untuk mengambil buku bacaan baru.

Sekarang tinggal aku dan engkau. Sekolah satu persatu ditinggalkan penghuninya. Siang itu aku beranikan diri memintamu berbincang sejenak. Tanpa aku duga engkau malah mengajakku ikut ke mobilmu. Aku terpana. Bagaimana mungkin seorang istri satu mobil dengan laki-laki yang bukan suaminya? Aku ragu tetapi engkau dengan santai menggandeng lenganku.

Jantungku bergemuruh Layla saat engkau bimbing lenganku, terlebih ketika kita benar-benar berada dalam mobil. Aku panas dingin. Aku takut jika ada yang melihat kita dan mengadu ke suamimu. Engkau malah tersenyum tipis ketika aku sampaikan kecemasanku. Membuat aku menduga-duga tentang suamimu.

"Aku belum pernah menikah Ga," ucapmu tanpa menolehku. Aku tertegun. Lima tahun lalu engkau pergi begitu tiba-tiba. Sekarang engkau mengaku belum menikah. Lalu anak yang selalu kau antar sekolah itu anak siapa. Engkau menjelaskan jika anak itu bukan anakmu. Aku belum tahu ke mana arah bicaramu. Tak lama kamu belokkan mobil ke kiri. Terus masuk ke dalam, sepanjang jalan adalah rel kereta api. Kamu terus melajukan mobil tanpa aku tahu arah tujuanmu.

Tak lama kemudian engkau hentikan mobil. Aku memandangmu sejenak. Di depan sana sampah menggunung. Engkau menurunkan kaca mobil lalu mematikan mesin. Engkau memandang ke gunungan sampah itu.
"Attar aku temukan meringkuk di situ." Aku mengikuti arah telunjukmu. Sebuah batu besar.

"Tubuhnya memar-memar, dia bilang dipukuli oleh ayahnya." Aku menunduk. Bagaimana mungkin seorang ayah memukuli anaknya yang masih kecil. Jauh di lubuk hatiku, aku sangat ingin memiliki keturunan. Aku ingin uang dari keringatku bisa dinikmati anak dan istriku. Betapa menyenangkan punya anak sendiri. Pulang kerja kita disambut anak, hilang sudah letih karena senyum dan tawa mereka. Setiap pekan aku bisa membawa anak-anakku keluar rumah. Makan di rumah makan favorit, atau jalan-jalan ke taman, atau pergi ke bioskop. Alangkah senangnya melihat anak-anakku bersama perempuan yang aku cinta, Layla.

Dadaku terasa sesak. Kenyataan menamparku keras. Air ludah yang aku telan terasa perih di kerongkongan. Aku menghela napas lagi. Aku sebut nama Layla dalam-dalam menelusuri rongga dadaku.

"Attar menolak. Ia ketakutan ketika aku ingin mengantarnya pulang," ucapmu diantara rasa nyeri hatiku. Lalu panjang lebar engkau cerita. Sejak berpisah denganku engkau mengaku patah hati. Aku terpana. Apakah engkau tak tahu Layla? Aku remuk redam karena kepergianmu? Aku terpana lagi ketika engkau mencari anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya untuk kamu sekolahkan, kamu tampung di sebuah rumah, kamu bimbing mereka untuk memiliki semangat untuk maju. Engkau katakan itu sebagai pelarianmu.

"Aku ingin mereka punya impian," ujarmu kemudian.Aku diam. Duduk di sampingmu akan menjadi sia-sia jika aku tak mendesakmu untuk mengatakan alasanmu tak menikah sampai sekarang.

"Aku tak mungkin menikah Ganang." Aku terhenyak. Tanpa menunggu pertanyaanku engkau menjawab dengan terbata-bata. Penyakit yang engkau derita tak memungkinkan untuk hamil. Aku tercengang ketika engkau menyebut nama penyakit yang menyeramkan itu. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu rahimmu harus diangkat. Kamu jelas tak bisa hamil. Satu hal yang aku sesalkan mengapa engkau tak pernah cerita.

"Aku takut," ucapmu pendek sambil menunduk.
Aku lemas. Aku sandarkan kepala di jok mobil. Memejamkan mata. Tak aku sangka sama sekali.

"Kita hampir menikah Layla, kita sudah memesan undangan. Tiba-tiba ..." "Aku bingung, frustasi tak tahu harus bagaimana. Menikah denganmu sangat tidak mungkin. Laki-laki mana yang mau menikah dengan perempuan yang tak bisa memberi keturunan." Aku menghela napas dalam-dalam. Aku angkat kepalaku. Memandangnya lekat-lekat. Aku memintanya untuk diantar pulang.

* * *

Aku rebahkan tubuhku di atas kasur. Penjelasan Layla tadi siang mengoyak batinku. Pelan-pelan mengalir perasaan iba padanya. Lima tahun bukan waktu pendek untuk kesendirian. Aku sampai detik ini masih menyimpan perasaan sayang kepadanya. Aku memang ingin menikahinya, lalu dari rahimnya lahir anak-anakku. Aku menggeleng. Layla tak bisa memberiku keturunan. Apa arti hidup tanpa keturunan, aku tak bisa membayangkan begitu hari-hari senyap tanpa anak-anak.

Betapa kejamnya aku jika meninggalkan Layla karena kanker ovarium yang diderita. Haruskah ia menanggung sendiri sakitnya?

Ini tidak adil. Pantaskah aku meninggalkannya setelah tahu ia tak bisa memberiku anak? Aku beranjak dari tempat tidurku. Akan aku temui Layla. Akan aku mohon padanya untuk mau menikah denganku. Tak peduli ia tak bisa memberiku anak. Bersamanya aku ingin menyekolahkan banyak anak lagi. Anak-anak dari kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tanganku, Layla juga kita.***

* Depok, Oktober 2011

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 5 November 2011

Thursday, January 31, 2013

Proses Kreatif Putu Wijaya

Menikmati Perjalanan Sastra Putu Wijaya
Oleh F Akbar

Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Ketika duduk di sekolah menengah atas, ia memperluas wawasannya dengan melibatkan diri dalam kegiatan sandiwara. Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra.

Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.

Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres. Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama di Jepang (1973) selama satu tahun.

Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1975 ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Setelah itu, ia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman (1979-1985).

Ia juga mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001). Di samping itu, Ia juga pernah mengajar di Amerika Serikat (1985-1988).

Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.

Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya. Terhadap karya-karya Putu itu, Rachmat Djoko Pradopo (dalam Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh, 1985) memberi komentar bahwa Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup karena dorongan naluri yang terpendam dalam bawah sadar, lebih-lebih libido seksual yang ada dalam daerah kegelapan. Di samping itu, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron.

Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.

Karyanya berupa drama ialah Dalam Cahaya Bulan (1966), Lautan Bernyanyi (1967), Bila Malam Bertambah Malam (1970), Invalid (1974), Tak Sampai Tiga Bulan (1974), Anu (1974), Aduh (1975), Dag-Dig-Dug (1976), Gerr (1986), Edan, Hum-Pim-Pah, Dor, Blong, Ayo, Awas, Los, Aum, Zat, Tai, Front, Aib, Wah, Hah, Jpret, Aeng, Aut, dan Dar-Dir-Dor.

Sedangkan dalam bentuk novel diantaranya Bila Malam Bertambah Malam (1971), Pabrik (1976), Stasiun (1977), Keok (1978), Sobat (1981), Lho (1982), Telegram (1972), Tiba-Tiba Malam (1977), Pol (1987), Terror (1991), Merdeka (1994), Perang (1992), Lima (1992), Nol (1992), Dang Dut (1992), Kroco (1995), Byarpet (1995), Cas-Cis-Cus (1995), dan Aus (1996). Dalam bentuk cerpen terkumpul di sejumlah buku diantaranya bertajuk Bom (1978), Es (1980), Gres (1982), Klop, Bor, Protes (1994), Darah (1995), Yel (1995), Blok (1994), Zig Zag (1996), dan Tidak (1999). Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.

Penghargaan yang telah diterimanya ialah sebagai berikut: 1967 Pemenang ketiga Lomba Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (drama Lautan Bernyanyi). 1971 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ (novel Telegram).

1975 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ ( novel Stasiun). 1980 Penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand 1991-1992 Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang.

Sekarang, Putu Wijaya masih terbaring sakit yang cukup serius. Namun kepada setiap wartawan budaya yang menengoknya Putu mwnuturkan semangatnya untuk terus menggeluti dunia sastra. "Inilah dunia saya yang sesungguhnya," ujar Putu, pelan. ***

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 27 Oktober 2012

Monday, January 28, 2013

Puisi-puisi Anita Retno Lestari

Puisi Bulan, Tuhan, dan Anggur

Bulan di Pangkuanku 

Tuhan, ijinkan aku bermimpi 
seperti Ken Dedes 
bulan jatuh di pangkuanku 
lalu peta dunia berubah 
tapi tanpa pertumpahan darah 
tak ada lagi yang terbunuh 
atas nama pengkhianatan 
atas nama kepengecutan 
atas nama kepahlawanan 

jika bulan di pangkuanku 
akan kuiris-iris seperti semangka 
dan kubagi-bagikan kepada anak-anak jalanan 
kepada perempuan-perempuan malam 
biar mereka tak lagi hidup di kegelapan. 


Pesan Singkat 

Jika aku melupakanmu 
Tolong tegurlah diriku 
Dengan setaman bunga 
Tanpa kenanga. 


Pertanyaan Kepada Tuhan 

Seperti apa rupamu 
Ah, itu pertanyaan dungu 
Karena kau tak seperti apa 
Tak seperti siapa 

Di manakah engkau 
Ini pun pertanyaan lucu 
Karena engkau tak di mana-mana 
Atau di mana-mana 

Siapakah engkau 
Ini juga pertanyaan wagu 
Karena engkau bukan siapa 
Kecuali yang tercinta 

Apakah engkau mencintaiku 
Astaga, kenapa aku ragu 
Setelah tahu mawar itu indah 
Dan dunia demikian cerah. 

Sujud 

Akan kubenturkan kepalaku 
Di atas tanah atau batu 
Jika engkau tak mencintaiku. 


Kasta 

Dengan cinta 
Maafkanlah aku 
karena tak peduli kasta 
Atas bawah sama saja 

Dengan cinta 
Maklumlah aku 
Tak peduli kasta 
 Kau dan aku jadi kita. 

Turis 

Jangan bertanya 
Ke mana kita 
Pergi atau pulang 

Kita berjalan saja 
Untuk kembali 
Ke tempat asal 
Entah di mana 

Seperti pohon mangga 
Pada mulanya biji 
Entah jatuh di mana. 



Segelas Anggur 

Pada pesta 
Kau tuang segelas anggur 
Lalu kau coba mereguknya 
Tiba-tiba lantai hancur 
Langit-langit itu pun runtuh 
Bersama gaunmu yang luruh 
Bumi pun bergoyang-goyang 
Malam jadi amat panjang

(Segelas anggur 
Akankah menemanimu 
Dalam kubur?)


Tentang Penulis
Anita Retno Lestari, kelahiran Pati, 27 Juli 1988, menulis cerpen, puisi, dongeng dan esai. Kini sedang mempersiapkan penerbitan novel-novel remaja yang ditulisnya sejak duduk di bangku MTs dan aktif sebagai penggiat komunitas Sastradipati.

Friday, January 25, 2013

Cerpen Dianing

Penjara Dalam Tubuh
(Dianing Widya)

IBU mengantar keluarga Frans hingga ke halaman. Aku di sini memandang dari kursi tamu dengan kepala penuh lintasan kereta api. Dari jauh ribuan lintasan kereta api dengan raungan sirine, saling berebut. Telingaku hampir tak sanggup menampungnya.

Aku lihat Ibu masih setia menunggu satu persatu keluarga Frans masuk ke mobil. Gerakan tubuh mereka begitu lamban, terlebih pada Frans. Kekasih yang setia menemaniku sejak delapan tahun lalu itu, tampak lunglai seperti serdadu kalah perang. Kekasih? Dadaku selalu bergemuruh jika keluargaku menganggapnya sebagai calon suami.

Aku menunduk menekuri lantai yang diam. Aku baru saja menolak lamaran Frans. Bukan karena dia tak tampan atau tak menjanjikan secara finansial. Bukan juga karena ia tak memberitahuku sebelumnya, jika dia hendak berkunjung ke rumah bersama keluarga besar dengan tujuan meminang. Terdengar suara mesin mobil yang mulai dihidupkan. Aku mengangkat kepala. Tak seperti biasa, ketika Ibu mengantar kepulangan Frans. Ibu selalu melambaikan tangan, kali ini tidak.

Ibu mulai menuju ke dalam. Aku dengar helaan napasnya yang berat. Aku belum siap mendengar pertanyaan Ibu akan penolakanku pada Frans. Dan di ambang pintu, wajah Ibu menyiratkan pertanyaan mengapa aku menolak pinangan Frans. Aku menggeleng. Beranjak lalu berlari menuju tempat paling nyaman. Kamarku.

"Maafkan aku Frans," lirih aku berujar. Delapan tahun bukan waktu yang pendek. Waktu itu merentang panjang. Mengurungku dalam penjara yang dindingnya teramat tebal dan tinggi. Penolakanku inilah Frans, yang membebaskan tubuh, hati, jiwa dan rasa. Tetapi penolakan ini pula yang mencipta bentangan penjara baru. Penjara yang ada sejak aku masih kanak-kanak. Genderang perang bertalu-talu di detak nadiku ketika pintu kamar diketuk dari luar, diiringi panggilan Ibu. Aku hanya sanggup memandangi pintu, panggilan Ibu terus terdengar.

"Noura."
Aku persilahkan Ibu masuk. Aku dengar langkahnya yang berirama pelan begitu pintu terbuka. Ibu memandangiku dengan wajah menyimpan sejuta heran. "Mengapa Noura?" Aku menggeleng. Ibu duduk di samping kananku. Aku menunduk. Belasan tahun aku simpan deritaku sendiri. Penderitaan atas pertanyaanku yang tak juga rampung. Pertanyaan yang muncul sejak pertamakali aku jatuh cinta pada teman sekolah. Saat itu aku masih kelas tiga sekolah dasar.

Di dalam kelas, aku selalu mencuri pandang untuk bisa melihat wajahnya yang mencipta semesta dalam diriku. Perasaanku padanya terlampau indah, Ibu. Semula aku pikir hanya perasaan biasa. Hanya kekagumanku yang wajar, nanti akan hilang. Kenyataan tidak. Perasaan itu kian mengental dari waktu ke waktu.

Aku jatuh hati padanya Ibu. Anak perempuanmu ini tak sanggup menyingkirkan pesonanya hingga aku selesai sekolah menengah atas. Aku sangat beruntung. Ia mau berteman dan dekat denganku sejak sekolah dasar. Menginjak SMP kami tambah akrab. Waktu pun berpihak padaku. Selama tiga tahun, kami selalu satu kelas. Aku dan dia sama-sama suka olah raga dan seni. Aku sering menikmati harum keringatnya, juga butiran keringatnya saat meluncur dari sela-sela rambut di pelipisnya, saat tengah bermain volley bersama. Kami satu team dengannya di setiap lomba antar kelas. Aku sangat menikmati wajahnya saat keningnya saling bertaut, karena soal matematika yang rumit. Dia pesona tanpa batas.

Menginjak kelas dua SMU aku didera cemburu. Hatiku perih setiapkali melihatnya bersama Rexi, teman laki-laki yang ia perkenalkan padaku sebagai pacar. Sejak memiliki pacar, waktunya bersamaku jadi berkurang. Jika dulu pulang dan pergi sekolah selalu bersamaku, sekarang Rexi yang menggantikan posisiku. Saat istirahat sekolah, Rexi sudah menunggu di ambang pintu. Lama-lama aku tersingkirkan. Dia yang aku puja tanpa ia sadari, sibuk dengan Rexi. Ketika itu aku merasa dunia tak berpihak padaku. Untuk melupakannya aku menenggelamkan diri dengan pelajaran sekolah. Aku ingin diterima kuliah di universitas terbaik. Tekadku terwujud. Aku senang, tetapi tak mampu aku menepis bayangannya.

Ibu, aku tak tahu apa yang tengah aku alami sejak bertahun-tahun silam. Aku mencintai seseorang yang tak mungkin bisa aku rengkuh. Perasaan cinta itu seringkali ingin aku bunuh, tetapi aku tak pernah bisa. Semua yang melekat di tubuhnya, mewangi dalam fantasiku. Bayangannya tak pernah beranjak dari pikiranku. Siang malam aku terkenang olehnya. Saat hendak tidur dan terjaga hati selalu ingat padanya.

Ibu, cintaku padanya mencipta sembilu. Mencabik-cabik nadiku. Aku terpuruk oleh rasa ini. Cinta yang tak mungkin terbalas hingga matahari pecah sekali pun.

"Kau tak mau cerita sama Ibu," ucap ibu ditengah lamunanku. Aku pandangi wajah Ibu. Aku menggeleng lagi. Diraihnya tanganku.
"Kau ada masalah dengan Frans?" aku menggeleng. "Ada yang kurang dari Frans?" aku menggeleng lagi.

"Lalu?" Kepalaku mampat. Kereta api berseliweran dengan raungannya yang memanjang di sini. Jangan desak aku Ibu. Aku belum bisa menjawab semua pertanyaan yang sesungguhnya mudah aku jawab. Semua masalah bermuara pada tubuh dan emosiku. Bukan karena Frans.

"Noura." Aku mulai merasa didesak. Panjang lebar Ibu mengatakan jika semua orang tahu aku pacaran sangat lama. Semua tetangga melihat Frans adalah calon suamiku. Ibu harus menjawab apa jika ada tetangga tahu, pinangan Frans ditolak. Bagaimana dengan tanggapan orang-orang?

Aku menelan ludah. Aku pandangi lagi wajah Ibu. Kali ini Ibu mengalihkan pandang ke pintu kamar yang terbuka. Menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ibu merisaukan respon tetangga. Aku mengerucutkan mulut.

"Noura siap jadi bahan gunjingan, Bu. Duapuluh sembilan tahun belum menikah dan mungkin tak akan pernah menikah."
"Apa!"

Glekk. Aku seperti tak sadar mengucapkannya. Kalimat itu meluncur saja. "Kau tak akan menikah?" bola mata Ibu menghunjam tepat di jantungku.
"Apa maksudmu?" kali ini suara Ibu memekik tajam meski lirih.

Aku adalah bungsu dari empat bersaudara. Semua kakakku perempuan. Sejak kecil aku sangat berbeda dengan kakak-kakakku. Jika mereka suka memakai rok, mau didandani Ibu, aku memakai rok kalau mau berangkat sekolah saja. Jika ketiga kakakku memanjangkan rambut lalu diekor kuda, aku lebih suka memangkas rambutku sampai ke batas telinga. Semua tetangga selalu membandingkan aku dengan ketiga kakakku yang ayu. Aku, mereka bilang tomboy. Aku sendiri tak merasa seperti itu. Aku pikir aku biasa-biasa saja.

Baru ketika aku menginjak kelas tiga SD, aku mulai mau memanjangkan rambut meski hanya sampai sebahu. Aku mulai mengenakan baju yang beraroma perempuan. Itu karena aku menaruh hati dengan teman sekelasku.

Semua kakakku sudah berkeluarga. Jika mereka pulang di waktu-waktu tertentu seperti lebaran atau liburan sekolah, selalu pertanyaan yang itu-itu saja. Kapan aku menikah.

"Menikahlah dengan Frans."
"Hah!," keterkejutanku membuat Ibu amat terperangah.

"Bukannya selama ini hubunganmu dengan Frans, baik-baik saja. Apa kekurangan dia. Dia baik, pekerjaan ada, mendukungmu terus bekerja biar pun sudah menikah." Aku pusing.
"Kau akan menjadi perempuan sempurna, dengan melahirkan anak-anak Frans." Aku tambah pusing.
"Kau ..."

"Tidak. Tak mungkin aku menikah dengan Frans." Aku raih bantal. Aku sembunyikan wajahku. Ibu, sesungguhnya ingin aku tumpahkan semua pergulatan batinku selama ini, tetapi aku tak tahu dari mana memulainya.

Delapan tahun bersama Frans aku lalui dengan hambar. Hasrat ingin mengatakan putus, selalu terhalang oleh perasaan kasihan. Seringkali aku ingin jujur pada Frans juga Ibu, siapa sesungguhnya sosok yang aku cinta. Seringkali seribu keberanian aku himpun untuk membuka identitasku. Seribu keberanian itu meleleh oleh bayangan ketakutanku sendiri. Aku takut Frans dan Ibu tak bisa menerima kejujuranku.

Ibu menghitung helai demi helai rambutku. Seringkali dalam sendiri aku bertanya pada Tuhan. Mengapa ia bedakan aku dengan lainnya. Mengapa aku mencintai seseorang yang tak boleh aku cinta atas nama norma. Bahwa perempuan selayaknya jatuh cinta dan menjalin sebuah pertalian dengan seorang laki-laki. Aku justru tertarik kepada sesama perempuan, tragisnya aku tak kuasa menolaknya. Perasaan cinta yang tak pernah aku sengaja ini, yang seringkali membuatku tersisih, terbuang dan kesepian. ***

* Depok, Maret 2012

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 5 Mei 2012

Tuesday, January 22, 2013

Dami N. Toda sang Kritikus

Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda
Oleh Gerson Poyk

Penulis terhenyak ketika memperoleh berita bahwa Dami N Toda telah meninggal pada bulan November 2006 yang lalu. Perkenalan pertama kami terjadi di Sanggar Wowor milik pematung Michael Wowor di Jalan Kalibata Raya pada tahun enam puluhan ketika Menteri Perkebunan waktu itu, Frans Seda, memberi oder kepada Michael untuk membuat patung Irama Revolusi.

Dami masih kuliah di UI ketika itu dan karena ia masih punya hubungan keluarga dengan Michael (kakak perempuan Michael kawin dengan famili Dami seorang yang bergelar 'raja muda' atau bangsawan Manggarai yang kemudian menjadi bupati) maka sudah tentu Michael membantu Demi sekadarnya.

Kami bertiga selalu berdiskusi tentang seni-budaya termasuk bagaimana membangun NTT melalui kesenian khususnya pariwisata budaya umumnya.

Lalu saya menulis di Kompas dan Dami menulis di Suara Karya dan sebuah majalah di Flores mengenai tema pembangunan budaya 'kampung' dan pendidikan non formal yang dalam perkembangan studi kami selanjutnya mungkin mirip apa yang ditulis oleh Paulo Fraire, Ivan Ilich dll, tetapi tidak mengaitkannya dengan revolusi fisik-berdarah. Ada teman yang mengatakan kampung itu mirip Taman Mini tetapi kami membantah karena terbayang, kalau ada proyek maka ada pimpro dari pihak birokrasi yang mudah terserang virus KKN dengan pengusaha (pengembang-pemborong) dsb. Kami ingin agar disamping birokrasi ada adhokrasi yang sehat-bermoral Di atas segalanya lebih baik kalau dimulai dari rakyat secara swakarya. Michael membuat gambar maket mengenai kampung, tersebut dan saya membawanya ke Kupang. Gubernur menganjurkan saya ke kantor humas provinsi untuk bantu-bantu di sana. Tampaknya beliau mengira saya ingin menjadi pegawai negeri. Maka saya pun kembali 'merantau' ke Jakarta.

Ketika Demi menulis skripsi tentang Iwan Simatupang ia datang ke rumah untuk berdiskusi tentang eksistensialisme. Seingat saya, saya hanya mengoceh tentang absurditas, tentang kesadaran sebagai tokoh pertama dan dunia (alam, isteri, anak, orang lain, teman, massa, pemerintah) sebagai tokoh kedua Tokoh pertama penuh kerinduan untuk menyatu dengan tokoh kedua tetapi tidak mungkin dan hanya timbul kontroversi yang disebut absurd walls. Pemeliharaan atau pembiaran atas ketiga tokoh tersebut diperlukan dalam panggung kehidupan. Ide mutlak dibenak yang melahirkan aksi mutlak untuk membunuh salahsatu tokoh berarti bunuh diri secara metafisik dan historis. Yang diperlukan adalah program yang moderat-samaritan, jalan tengah yang dituntun oleh hati nurani. Walaupun dunia ini absurd, banyak anak kecil, perempuan dan lelaki sipil dan militer terkapar menjadi mayat, namun sikap moderat-samaritan perlu dipertahankan. Akan tetapi Dami tidak menyertakannya dalam skripsinya. Sya sangat merasa bersalah karena tidak memberikan buku-buku tentang eksistensialisme yang dibeli ketika tinggal di Amerika karena takut hilang. Semuanya merupakan emas. Walaupun demikian, tidak lama kemudian, muncullah buku kumpulan eseinya yang berjudul Hamba-Hamba Kebudayaan, yang isinya menunjukkan kecerdasan eksistensial Dami.

Setelah ia lulus dari UI, jami bertemu beberapa kali, antara lain di rumah kontrakannya di Matraman (dekat gedung Gramedia) dan saya di seberangnya (di sebuah lorong sempit di samping pasar Pal Meriam, ditepi sungai yang penuh sampah). Pernah ketika saya mengunjungi dia penyair Abdul Hadi WM ada di sana. Keduanya akrab sejak lama, pernah bersama-sama menulis sebuah refererat berjudul Catatan Teoretik Sekitar Penciptaan Novel 70-an. Akan tetapi Dami lebih suka menulis tentang Sutarji Calsoum Bachri. Penyair ini adalah sekali gus fenomena dan noumena. Akan tetapi dia menolak fenomena dalam berpuisi dan ingin iseng sendiri dalam dirinya sendiri yang noumenal itu dengan mantra yang hanya mempunyai arti misterius dan kemagisan yang merdu. Untungnya Mbah Dukun Mantra Riau yang membawa-bawa naluri kekuasaan ke atas panggung sastra dengan mengangkat diri sebagai Presiden Puisi, dianggap main-main saja oleh Gunawan Muhamad. (Dami Toda, Hamba-Hamba Kebudayaan, hal 26). Dami dalam satu ceramahnya di TIM menyinggung 'bahasa diam'. Maksudnya orang yang berdiam saja bisa merupakan kawah yang berisi informasi yang penting. Akan tetapi kalau sumber informasi dalam batin yang tidak diketahui oleh orang lain itu, tidak mendorong terjadinya bentuk (poem atau bentuk seni pada umumnya), mana bisa terjadi internalisasi puitis pada orang lain yang berhadapan dengan orang yang diam itu? Memang, menurut Kant kehidupan keseharian kita merupakan bahagian dari dunia fenomena dengan substrata noumena yang bebas tidak terbuka (apiori) bagi pengentahuan kita Dunia fenomen dapat dikenal oleh logika rasional sedangkan dunia noumena hanya dapat diketuk pintunya yang tertutup itu dengan logika irasional (logika hatinurani, logika analogis-metaforis). Atau mungkin seperti yang disebut oleh Maritain, poetry intuition adalah spiritual energy yang tak berbentuk yang mendorong terjadinya art (bentuk).

Suatu malam ketika selesai makan malam dirumah saya, saya mengantarkan dia sampai ke jalan. Di tengah jalan Matraman Raya yang sunyi lengang di dini hari itu kami berbicara tentang apa saja, termasuk tentang teater sehingga kami bergerak bebas-teatrikal di jalan yang lengang itu. Kemudian ia menghilang ke gangnya.

Lalu tidak lama kemudian dia ke Jerman sedang saya menghilang dari gang tersebut dengan memakai tiga celana dan tiga kemeja sekali gus bersama buku-buku emas saya, mengembara di tanah air sendiri. Rasanya seperti memakai pakaian astronaut di bulan, malah lebih berat karena membawa buku-buku.

Setelah harian Sinar Harapan terbit kembali, ia mengirim e-mail berisi niatnya untuk kami berdua menulis buku riwayat hidup Benedictus Mboi, mantan gubernur NTT dan tulisannya yang panjang tentang Nietzsche. Saya tidak menolak dan tidak menerima karena walaupun nama saya tercantum dalam box namun hanya sebagai anggota dewan redaksi diluar 'garis komando' yang konon kalau harian ini sudah maju barulah ada imbalannya.

Tiba-tiba ada teman yang menghadiahkan sebuah buku tebal tentang sejarah Manggarai. Buku yang tebal yang menunjukkan kemampuan raksasa seorang Dami N. Toda!. Ia mempergunakan waktu dan tenaga sebaik-baiknya di negeri Jerman dan Belanda untuk meneliti buku sejarah kampung halamannya.

Ketika saya ke Flores dalam rangka pembuatan video sastrawan Indonesia prakarsa Yayasan Lontar (dibiayai Ford Foundation), saya ke kota Ruteng kota dimana saya menghabiskan masa kecil saya. Seperti William Saroyan yang kembali ke mata airnya untuk melepaskan rindu dengan minum sambil mencium bau tanah kesayannya, saya mencari mata air saya yang dahulu dan ternyata masih ada, masih membersitkan air yang bisa diminum langsung, air yang membesarkan saya.

Maka timbullah niat menulisi bupati untuk membuatkan sebuah kolam dan sebuah perpustakaan dimana buku-buku dan potret putra-putri terbaik Manggarai, seperti Dami N Toda, Ben Mboi, Thoby Mutis (rector Trisakti) para pastor dan uskup asal Manggarai, yang berjasa dalam dunia pendidikan yang moderat-samaritas. Saya ingin mengirimi Dami video saya itu serta novel saya 'Enu Molas di Lembah Lingko' tetapi selalu tertunda karena selalu menderita 'kanker'.

Dami hanya menerima salam saya lewat seorang pemuda Jerman bernama Thomas Zschocke yang mengadakan penelitian selama dua tahun di Indonesia dan kembali ke Jerman dengan bibliografi dan tesis S2 masing-masing mengenai tulisan dan sastra saya serta S3 mengenai program pendidikan non formal di kampong budaya yang saya kembangkan menjadi program desa informasi (millennium ketiga) dimana sarjana dan seniman belajar dari petani dan petani belajar dari sarjana dan seniman menghadapi alam (pulau dan laut), bekerja dengan tool teknologi tepat guna seperti computer/internet, taktor tangan, gergaji mesin dsb dalam wadah koperasi di atas lahan lingko (kebun di Manggarai yang berbentuk roda sepeda atau sarang laba-laba) modern. Saya doktor muda Jerman tsb bekerja pada program PBB mengenai perkebunan kentang di Peru, bukan di lembah lingko, kampung halaman kami. Pada hal dia pernah berkomenter bahwa program tsb menentukan masa depan Indonesia, Ide desa budaya kami men Doktor-kan (menghidupkan) orang asing. ***

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 30 Desember 2006

Saturday, January 19, 2013

Oase


The Have's Habits
Radhar Panca Dahana
Pekerja sastra dan teater,
dosen pascasarjana Universitas Indonesia


Pergilah Anda bersenggang ketika hari krida! Maka, Anda akan menjadi salah satu orang di antara kaum urban Jakarta, setidaknya yang membuat saya selalu bertanya: sedang apa Jakarta? Hari krida, hari di mana kita semestinya bersenggang, tetirah, mengistirahatkan tidak hanya otot dan urat, tapi juga jiwa-mental dan akal-pikiran, ternyata tidak bagi warga Jakarta.

Di hari resmi libur itu ternyata beban baru ditambah. Kepenatan jiwa, raga, dan pikiran justru bertambah berat. Hari Sabtu pun kini menjadi couchemar bagi orang Perancis, nightmare kata orang Inggris, mimpi jahat kata orang Betawi. Bagaimana tidak? Sejak pukul delapan pagi, hampir di tiap sudut kota hingga beberapa kota penyangga, kita terjebak macet - bahkan hingga berjam-jam. Lebih dari macet di hari kerja biasa.

Entah apa yang hendak mereka - kaum bermobil itu - kerjakan di hari senggang? Yang jelas, bukan peregangan otot, hati dan pikiran yang mereka dapat. Macet, seperti biasa dan umumnya, memberi yang sebaliknya. Lebih dari itu, pemborosan bahan bakar, ausnya onderdil, kerugian kendaraan umum, polusi tambahan, beban plus polisi, sekian waktu tersia-sia, dan sekian banyak cost sosial-ekonomi-budaya lain.

Di lain hari, Anda pun akan merasa terkacaukan oleh perilaku kaum urban - para anggota kelas menengah-atas - dalam soal mobilitas kerja. Anda tak Akan pernah tahu, misalnya, bila saja kota kapital ini mengalami kemacetan lalu lintas. Jika jam-jam berangkat kerja (sekitar pukul 06.00-09.00) dan pulang kerja (16.00-20.00) Jakarta menjadi neraka kemacetan, sudah biasa bagi kita. Tapi di luar jam itu, kemacetan menyiksa masih juga ada, kita pasti bertanya: apa yang kau lakukan Jakarta?

Sungguh saya bingung, kadang tak percaya. Di saat semestinya para the haves yang umumnya pekerja profesional atau pejabat menengah itu tengah sibuk di ruang kerja, konferensi atau negosiasi, ratusan ribu mobil memenuhi jalan. Jika mereka berangkat ke kantor, kenapa siang sekali?

Perilaku sosial kelas ini memang sulit dikira. Dilihat dari cara mereka menggunakan kendaraan untuk memenuhi jalan saja, kita tidak bisa menerapkan pola atau tradisi kaum pekerja profesional yang umum ada di negara berkembang atau negara maju di mana saja. Perilaku tak jelas itu memperlihatkan ketidakpedulian mereka terhadap inefisiensi dan kerugian moral-material yang diakibatkannya. Harga bahan bakar minyak (BBM) tinggi, misalnya, tidaklah masalah bagi mereka untuk mereka uapkan dalam pembakaran yang sia-sia setiap hari.

Mesiu Bom Waktu

Ketidakpedulian pada lingkungan, pada krisis BBM, pada nasib anak-cucu di masa depan, pada harga yang melambung, hampir menjadi ciri dalam perilaku (habit) orang kaya (the haves) ini. Sama seperti tidak pedulinya beberapa di antara mereka yang mencuci mobil dengan keran yang mengucur terus, menyiram aspal kering depan rumahnya dengan air sumur, air pompa, atau air resapan. Seakan air dapat dihisap tiada habis hingga kiamat.

Coba perhatikan rumah-rumah besar di beberapa kawasan: miliaran bahkan puluhan miliar rupiah harganya. Begitu hebat dan menterengnya! Namun satu senti di depannya, kita saksikan got atau selokan mampet, hitam-kotor, bau, menggenangkan berbagai virus, kuman, atau bangkai. Di beberapa sudut berdiri tenda kumuh yang menjadi tempat sebagian rakyat jelata menjual rokok, mie, nasi, atau berbagai minuman. Berbaur dengan seluruh isi got tadi, dengan ancaman maut, dengan ketidakberdayaan, dengan sejenis ketidakpedulian yang berbeda.

Perhatikan suasana di mal, plasa, dan berbagai square atau pusat perbelanjaan modern. Mereka berkumpul hampir tiap petang di bar, klab, coffee shop, resto, fitness center, dan berbagai space untuk hang-out. Mereka menghabiskan Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu tiap malam untuk bersenda - jumlah yang memadai untuk transportasi pegawai rendah dan menengah-bawah setiap bulannya. Bahkan itu setara dengan penghasilan atau biaya hidup bulanan jutaan warga lain.

Perilaku kelas berpunya, tentu kita tahu, bukan bagian tradisi kita. Bukan tradisi komunitas tradisional kita mana pun. Bukan milik sub-etnik mana pun. Dia baru. Dia modern. Posmodern, mungkin. Dia adalah konstruksi sosial baru, jika bukan sebuah rekayasa tingkah laku yang baru. Satu rekayasa yang memang terencana dan memiliki maksud. Untuk mengonsumsi produk-produk mutakhir, misalnya. Rekayasa hasil propaganda raksasa yang globalistis dari persekongkolan kaum kapitalis. Kaum yang menguasai produksi, melalui brand-brand kelas dunia, sementara kita adalah mulut-mulut menganga yang menanti perintah untuk mengunyahnya.

Kini semua itu belum apa-apa. Masih banyak pembela untuk mereka. Masih tersedia cukup argumentasi, bahkan alasan ideologis untuk membenarkan atau menganggapnya sebagai kewajaran. Tapi senjang yang diakibatkan oleh ketidakpedulian ini sesungguhnya menyimpan bara. Bahkan mesiu yang menyusun dirinya menjadi bom waktu.

Sistem kapitalis memang telah memiliki perangkat lunak dan keras, prosedur, dan mekanisme yang "telah terbukti" membuat bom waktu itu tak berkembang dalam kapasitas atom atau nuklir. Paling mengerikan dia hanya sampai pada tingkat TNT, atau bom-bom yang meledakkan pasar atau gedung. Bom-bom kecil yang berfungsi sebagai "katup pelepas" atau semacam alarm dini yang membuat rakyat jelata "yang merasa iri, terinjak dan tereksploatasi" tak berani berbuat lebih jauh lagi. Tapi sampai kapan situasi itu berlangsung?

Senggang Menuju Tenggang

Di beberapa negara Eropa dan negara maju lain, hari libur dan krida adalah hari wajib sebagaimana hari kerja. Satu manusia dewasa akan merasa "rendah" kastanya jika dia tak mampu melaksanakan kewajiban sosial dan moral itu: merasa dosa jika kita bekerja di hari libur, tak berlibur di hari libur. Libur adalah kewajiban karena di situlah manusia mengembalikan hidupnya yang selama lima hari atau 40 jam kerja tiap pekan diperas kebutuhan modern dan disiksa oleh penjara sistem pekerjaan, mekanisme birokrasi, tuntutan profesional, atau ambisi kapitalisme yang memperbudak.

Libur adalah masa tetirah, masa kita kembali jadi manusia; masa bagi kita mengembalikan ritme dan metabolisme hidup kita pada kinerja alam. Mendapatkan penyegaran yang memungkinkan kita bekerja lagi di keesokan harinya dengan kekuatan optimal, ide baru, pikiran segar, dan jiwa yang selalu kembali muda. Libur pun wajib karenanya.

Maka, muncul di kawasan itu berbagai LSM yang khusus membantu publik dengan kesulitan dalam urusan itu. Membantu mereka berlibur (bahkan sekeluarga!) ke mana tempat, hingga luar negeri. Liburan terakhir yang digemari adalah champagne. Ya, mirip nama jenis anggur mahal itu. Makna keduanya sama: dusun. Berlibur dengan tinggal bersama rakyat desa. Mengenali, mengikuti, dan menjalankan rutin hidup orang dusun. Menyadari betapa keberadaan orang desalah yang membuat orang kota nyaman sejahtera.

Berbeda sungguh, tentu, dengan makna libur bagi urban, kaum berpunya, di kota-kota besar kita, Jakarta misalnya, libur berarti "belanja". Membelanjakan sebagai harta untuk memenuhi selera pergaulan, moernitas, selebritas, sensualitas, atau kadang sekadar memuaskan nafsu konsumerme belaka. Shopping di mal, nongkrong di plasa, makan siang di resto gaya Amerika, melipatgandakan tunggakan kartu kredit, membakar sia-sia BBM, menipu apresiasi anak dengan hal-hal artifisial, menambah keletihan badan-batin via macet luar biasa, dan segala lain yang juga luar biasa.

Tidakkah dapat kita sejenak tetirah? Meredam waktu dalam diam, mencipta senggang dalam tenang, mau menenggang lain orang yang hidup tak senang? Retreat sesekali. Menghayati hidup selumrahnya, menghirup udara senikmatnya, memandang keluarga dengan seluruh jiwa, memberi jiwa, tubuh dan akal kita, makanan sehat yang sesungguhnya.

Tidakkah akan lahir, secara perlahan, manusia yang sesungguhnya manusia karenanya. Manusia yang Insya Allah bernama: manusia Indonesia. Nama yang kita tak pernah mengerti dan rancu memahaminya.***

Sumber: Suara Karya, Jumat, 10 Februari 2006

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook