Showing posts with label LESSON. Show all posts
Showing posts with label LESSON. Show all posts

Thursday, December 29, 2011

Kisi-kisi Ujian Nasional 2012

Membaca dan memahami berbagai teks nonsastra (biografi, artikel, berita, iklan, tabel/diagram, bagan, grafik, peta, denah), berbagai karya sastra (puisi, antologi puisi, cerpen, buku kumpulan cerpen, cerita anak, buku cerita anak, novel remaja, novel angkatan 20 – 30-an, dan drama).

Menulis dan menyunting teks nonsastra dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif dalam bentuk buku harian, surat pribadi, surat dinas, narasi dan pesan singkat, laporan, pengumuman, petunjuk, rangkuman, teks berita, slogan/ poster, iklan, resensi dan karangan, surat pembaca, teks pidato, dan karya ilmiah; menulis teks sastra dalam bentuk puisi, pantun, dongeng, cerpen, dan drama.

DOWNLOAD kisi-kisi UN 2012 semua mapel
silakan KLIK di sini

Tuesday, July 26, 2011

Novel Populer vs Novel Serius

Novel Populer dan Novel Serius

Maman S. Mahayana

Pertanyaan yang banyak muncul di kalangan guru sastra yang menyangkut novel populer adalah: kriteria apa yang menjadi ciri pembeda antara novel serius dan novel populer; bagaimana menangkap dan menentukan perbedaan-perbedaan kedua jenis novel itu Pertanyaan berikutnya menyangkut keraguan: apakah para siswa dibolehkan juga membaca novel-novel populer atau hanya novel serius saja? Pertanyaan terakhir berhu-bungan dengan kemungkinan bacaan itu berdampak negatif: apakah novel populer dapat mendatangkan pengaruh buruk bagi siswa atau tidak?

Sebagai usaha untuk menumbuhkan minat membaca dan meningkatkan apresiasi sastra para siswa, guru sastra hendaklah bersikap arif. Seyogianya kita tidak melarang para siswa untuk membaca novel jenis apapun, karena masalah itu akan dapat disikapi oleh para siswa sendiri sejalan dengan bertambahnya wawasan dan meningkatnya apre-siasi mereka terhadap karya sastra. Semakin luas wawasan seseorang dan semakin tinggi tingkat apresiasinya, semakin selektif dan mendalam pula tuntutan seseorang dalam me-nentukan bahan bacaannya.
Demikianlah, jika ada seorang siswa yang membaca novel-novel populer, kita tak perlu terlalu mengkhawatirkan dampak negatifnya. Tugas kita tinggal menawarkan, kar-ya-karya sastra apa dan karya siapa saja yang sepantasnya dibaca. Mengapa karya-karya tertentu yang sepantasnya dibaca dan mengapa pula yang lainnya tidak? Apa manfaatnya dan apa pula alasannya? Untuk menjawab beberapa pertanyaan itulah, kita perlu me-ngetahui beberapa ciri yang membedakan novel serius dan novel populer.

Seperti juga novel serius, novel populer pun ada yang disajikan secara baik, ada pula yang tidak. Ada novel populer yang bagus, ada pula yang buruk. Meskipun demiki-an, menurut para pakar kebudayaan populer (popular culture), novel populer dan semua karya kebudayaan populer, berangkat dari niat komersial. Tujuan utamanya adalah meng-hasilkan sesuatu yang bersifat materi. Mengingat tujuan utamanya komersial, maka kar-ya-karya populer ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat. Guna mencapai sasaran itu, unsur hiburan menduduki tempat yang sangat penting.

Akibat unsur hiburan begitu ditonjolkan, maka unsur lainnya sering diabaikan. Pe-nekanan yang sedemikian rupa terhadap unsur hiburan inilah yang kemudian banyak men-jerumuskan pengarangnya untuk mengobrol hiburan murahan, bahkan cenderung rendah dan mengabaikan norma-norma kesusilaan. Novel-novel yang mengeksploitasi pornografi misalnya, termasuk ke dalam jenis novel populer yang buruk yang menampilan hiburan dengan selera rendah.

Apakah novel-novel karya Mira W., Marga T., Ike Soepomo, V. Lestari -sekadar menyebut beberapa nama- termasuk jenis novel seperti itu? Seperti telah disebutkan, novel populer ada yang baik ada pula yang buruk. Karya-karya para pengarang di atas, dapatlah dikatakan sebagai novel populer yang baik. Lalu atas dasar apa novel itu disebut populer dan mengapa tidak dimasukkan ke dalam novel serius?

Ciri umum yang paling mudah kita tangkap dalam novel populer adalah bentuk covernya yang sering menonjolkan warna cerah, ilustrasi agak ramai, gambar wanita de-ngan tetesan air mata atau gambar pemuda yang sedang memeluk kekasihnya. Indikator luar ini tentu saja belum dapat sepenuhnya untuk menentukan sebuah novel populer atau tidak. Oleh karena itu, perlu kita mencermati pula indikator dalamnya yang menyangkut unsur-unsur intrinsik novel yang bersangkutan. Mari kita periksa!

Dari segi penokohan, novel populer umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang tidak jelas identitas tradisi-kulturalnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nama tokohnya, seperti Fredy, Sisca, Frans, Boy, Vera, Tommy atau Yance. Mengingat nama-nama itu ti-dak berakar pada kultur daerah, maka identitas sebagian besar tokohnya ditandai dengan latar perkotaan. Adapun tema-tema yang diangkat umumnya menyangkut percintaan para remaja yang masih bersekolah atau mahasiswa. Jika tokoh-tokohnya seperti itu, maka konflik yang muncul di antara tokoh itu berkisar pada status sosial orang tua masing-masing, perebutan pacar, atau persoalan-persoalan remeh-temeh di sekitar usia pubertas.

Dari segi latar tempat dan latar peristiwa, novel populer cenderung menampilkan latar kontemporer dengan berbagai peristiwa yang aktual. Karena mengejar aktualitas dan kontemporer itu, maka latar dalam novel-novel populer akan terus berubah sesuai dengan zamannya. Cintaku di Kampus Biru (dunia kampus), Ali Topan Anak Jalanan (dunia SMA) atau Lupus (dunia SMP/SMA), merupakan contoh latar novel populer yang berubah sesuai dengan kondisi dan suasana zamannya. Sebelum itu, novel-novel tahun 1970-an karya Motinggo Busye, Ali Shahab, Abdullah Harahap, menampilkan latar kehi-dupan rumah tangga yang berantakan.

Ciri lain yang cukup menonjol dalam sastra populer adalah tampilnya tokoh-to-koh yang stereotipe. Tokoh ibu tiri, misalnya, akan tampil dengan sifat-sifatnya yang pilih kasih, kejam, judes, munafik, dan sifat buruk lainnya. Tokoh anak-anak remaja, tampil dengan hura-huranya, pesta, rebutan pacar, darmawisata, dan kebiasaan-kebiasaan para remaja, termasuk mungkin juga dengan tawurannya. Dalam kenyataannya, tidak semua ibu tiri berperilaku buruk yang seperti itu. Demikian juga, tidak semua remaja mempu-nyai kebiasaan demikian. Akibatnya, tidak ada kemungkinan lain bagi pembaca untuk memperoleh gambaran yang khas, unik, dan berbeda dengan kelaziman umum.

Tipe tokoh yang stereotipe itu akan dihadapkan dengan problem yang sederhana, tanpa pendalaman. Tujuannya memang agar pembaca tidak perlu berkerut dahi, berpikir kritis, karena ia lebih menekankan pada unsur hiburannya. Bahkan, tidak jarang novel po-puler menyajikan mimpi-mimpi indah dan semu yang menggoda perasaan pembaca.

Dalam hal itu, perasaan pembaca sengaja dimanfaatkan dan dieksploitasi, agar pembaca seolah-olah menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah sebabnya, pemihakan pengarang kepada tokoh-tokoh yang digambarkannya, sering kali begitu jelas. Pembaca tidak diberi peluang untuk memperoleh penafsiran lain, karena memang tidak ada kemungkinan munculnya ambiguitas atau tafsir ganda. Makna dan amanat yang ditampilkannya bersifat tunggal. Itulah amanat yang banyak terdapat dalam novel populer. Dengan begitu, akhir cerita tidaklah terlalu sulit untuk ditebak, karena memang sengaja dibuat demikian.

Mengingat sastra populer lebih mementingkan kesenangan, kesederhanaan, pe-nyelesaian persoalan yang gampang dan selalu tuntas, dan tidak merangsang pembacanya untuk berpikir, maka dikatakan pula bahwa sastra populer sebagai bacaan untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan; bacaan untuk pembantu rumah tangga, anak-anak atau remaja, dan bukan untuk kaum terpelajar.

***

Apa yang menjadi ciri-ciri novel populer, justru bertentangan dengan ciri-ciri novel serius. Dalam novel serius, pembaca dirangsang untuk berpikir, diperdayai dengan menyelimuti amanat dan pesan pengarangnya. Karena tersembunyinya pesan itu, terbuka peluang bagi pembaca untuk memberi penafsiran yang bermacam-macam. Tema cerita yang rumit, tokoh-tokoh yang mengalami konflik batin dan perubahan sikap. serta latar cerita yang turut mendukung problem yang dihadapi tokoh-tokohnya, justru memberikan banyak hal kepada pembaca. Mungkin pembaca mendapatkan informasi kesejarahan, pe-ngetahuan, pendalaman, dan makna kehidupan manusia.

Secara ringkas, novel serius umumnya menampilkan tema yang kompleks. Meski-pun tak bertema besar atau universal, persoalannya disajikan secara rumit, sehingga me-merlukan penyelesaian yang juga rumit, tidak gampangan, atau mungkin juga tidak ada penyelesaian (open ending). Selain itu, hubungan antar-unsur, seperti tema, latar, tokoh, dan alur, memperlihatkan kepaduannya (koherensi). Dengan demikian, setiap unsurnya hadir secara fungsional; saling mendukung. Dalam novel serius, pengarang cenderung memanfaatkan kebebasan berkreasi (licentia poetica). Dengan kebebasan itu, pengarang akan selalu berusaha menampilkan hal yang baru dengan tetap menjaga orisinalitasnya.

Dalam studi kebudayaan (cultural study), novel serius termasuk ke dalam katego-ri produk kebudayaan tinggi atau elite (high culture), sedangkan novel populer termasuk ke dalam produk kebudayaan massa atau populer (mass culture/popular culture). Kebu-dayaan tinggi atau elite dihasilkan dan diminati hanya oleh kalangan yang sangat terbatas. Pemahaman terhadap produk kebudayaan elite menuntut khalayak yang terlatih, berwa-wasan, dan mempunyai tingkat apresiasi yang tinggi. Mengingat tuntutannya yang demi-kian, maka novel serius dianggap hanya dapat dinikmati oleh kalangan terpelajar.

***

Adanya ciri-ciri yang membedakan novel serius dengan novel populer, tidak ber-arti kita harus mempertentangkan keberadaan kedua jenis novel itu. Tidak perlu pula kita memusuhi keberadaan novel populer, karena novel populer dan novel serius, masing-ma-sing berada dalam kedudukan dan tempatnya sendiri. Yang penting bagi kita adalah pe-mahaman mengenai tempat dan kedudukan masing-masingnya. Dengan pemahaman ini, persoalannya tinggal terserah kepada khalayak pembaca; membaca novel populer akan memperoleh hiburan semata-mata, dan mungkin juga hiburan dengan selera rendah jika novel populer itu tidak baik; dan membaca novel serius, tidak hanya akan memperoleh kenikmatan estetik, tetapi juga pencerahan pikiran dan rasa kemanusiaan.

Dalam konteks apresiasi sastra, tentu saja seyogianya kita memilih novel serius, karena di dalamnya sangat mungkin kita akan memperoleh banyak hal; sangat mungkin pula terjadi beraneka ragam penafsiran. Dengan demikian, terbuka peluang untuk berbe-da pendapat, berargumen, dan menemukan alasan-alasan yang logis. Meskipun demikian, jika kita hendak menggunakan novel populer, maka sepatutnya karya itu termasuk novel populer yang baik. Pemanfaatannya sebaiknya bukan untuk apresiasi, melainkan untuk meningkatkan minat membaca atau sekadar memperoleh hiburan semata-mata.

(Maman S. Mahayana, Pengajar FSUI, Depok)
Sumber: MHAYANA-MAHADEWA.COM

Tuesday, June 08, 2010

Esai: Estetika Cerpen Indonesia

GERAK PERJALANAN ESTETIK CERPEN INDONESIA

Maman S. Mahayana

Cerita pendek Indonesia dalam satu dasawarsa ini, agaknya makin mengukuhkan jati dirinya. Ia tak hanya muncul seperti gelombang yang secara kuantitatif melampaui penerbitan novel dan drama, tetapi juga seperti menempatkan dalam mainstream-nya sendiri. Maka, tidak dapat lain, pembicaraan mengenai cerpen Indonesia, mesti dilekatkan pada dirinya an sich dan bukan sebagai tempelan atau sekadar pelengkap. Kini cerpen Indonesia menunjukkan jalan hidupnya yang lebih mandiri. Kajian kritis terhadapnya dan pembicaraan cerpen dalam institusi (pendidikan) sastra, oleh karena itu, mesti berada dalam kotak tersendiri.

***

Dalam konteks membangun kritik, masalah estetika merupakan salah satu wilayah garapan yang terpusat pada teks. Wilayah lainnya menyangkut pembaca, penerbit, dan pengarang. Dalam wilayah yang disebut terakhir inilah, kita berhadapan dengan berbagai hal yang menyangkut diri pengarang, termasuk di dalamnya persoalan tokoh dan ketokohan seseorang. Jadi, ketika kita berbicara mengenai seorang Sutardji Calzoum Bachri atau siapa pun, kita akan menelusuri kegelisahan kulturalnya, pencarian dan pencapaian estetik dalam ragam sastra yang dimasukinya, tempatnya yang pas dalam sejarah sastra, dan berbagai hal yang melingkarinya. Gagasan dari manakah yang menyatakan pembicaraan kepengarangan (ketokohan) seseorang dalam konteks membangun kritik (criticism) dianggap tak relevan?

Berdasarkan pemahaman itu, perbincangan mengenai kecerpenan siapa pun yang muncul belakangan ini justru menjadi sangat signifikan. Ia tak sekadar relevan dengan kondisi objektif lahirnya sejumlah nama dengan kegelisahan dan style yang masing-masing terasa begitu khas, tetapi juga lantaran sampai sejauh ini, cerpen Indonesia mutakhir terkesan tak punya hubungan dengan gerakan cerpen sebelumnya. Ia seperti tercerabut dari masa lalunya. Bagaimana sesungguhnya peta perjalanan cerpen kita? Belum lagi yang menyangkut gerakan estetiknya yang juga belum banyak diangkat sebagai sebuah wacana perdebatan. Jadi, diskusi soal kecerpenan itu, penting untuk memetakan perjalanan cerpen Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari kesusastraan dan wilayah kebudayaan Indonesia secara keseluruhan.

Bagaimanapun juga, pembicaraan tokoh dan ketokohan, di dalamnya termasuk karya-karya (berikut soal estetik) yang telah dihasilkannya. Bagaimana mungkin kita membicarakan kepengarangan seorang yang tak berkarya? Jika ada perbincangan kritis atas ketokohan seseorang, konteksnya mengacu pada karya yang dihasilkannya, dan bukan pada peranan sosial yang tak berhubungan dengan kepengarangannya. Sebaliknya, pembicaraan ini menjadi tak berdasar jika secara gegabah, kita memejamkan mata terhadap dinamika cerpen Indonesia mutakhir dan menafikan semangat estetiknya. Sekadar berdiri mematung lantaran terpukau oleh estetika masa lalu, tentu saja tidak sehat bagi sebuah perkembangan. Dengan begitu, kisah sukses capaian estetik masa lalu, hendaknya tidak dalam kerangka bernostalgia, tetapi menempatkannya dalam konteks perjalanan sejarah.

Begitulah, untuk menatap perspektif dan berbagai kemungkinan capaian estetik cerpen Indonesia kontemporer ini, tidak dapat lain, kita mesti mencari alat ukur dan bahan pembandingnya. Dalam hubungan itu, maka perbincangan cerpen Indonesia yang muncul dalam satu dasawarsa terakhir ini tidak berarti serta-merta mengubur capaian estetik yang telah ditorehkan sebelumnya. Dengan membenamkan itu –apalagi dengan mematikannya seperti yang dilansir Hudan Hidayat—kita akan kehilangan alat komparasi. Di samping itu, mengingat adanya beberapa kesesatan dalam menempatkan kelahiran dan perjalanan cerpen Indonesia, maka perbincangan ini menjadi sangat relevan, penting, dan mendesak.

***

“Dalam catatan sejarah kesusastraan Indonesia, cerpen merupakan genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak terpenting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai oleh cerita-cerita M. Kasim (bersama Suman Hs.) pada awal tahun 1910-an, yang memperkenalkan bentuk tulisan berupa cerita-cerita yang pendek dan lucu. Sejak saat itulah, di Indonesia mulai dikenal bentuk penulisan cerita pendek (cerpen).” Demikian salah satu bagian dari keterangan yang terdapat dalam buku Horison Sastra Indonesia 2: Kitab Cerita Pendek (2002: xiii—xiv).

Pandangan ini sejalan dengan gagasan yang dilontarkan Ajip Rosidi (Tjerita Pendek Indonesia, 1959) yang juga menempatkan Muhammad Kasim dan Soeman Hs sebagai perintis cerpen Indonesia. Dengan bersumberkan majalah Pandji Poestaka (1923) yang banyak memuat cerita-cerita lucu M. Kasim –belakangan diterbitkan sebagai kumpulan cerita lucu, Teman Duduk, 1936—Ajip menelusuri jejaknya dari tradisi sastra lisan penglipur lara dengan tokoh-tokoh si Kabayan, Lebai Malang, dan Jaka Dolog.

Itulah kesesatan serius dalam menempatkan kelahiran cerpen Indonesia. Bagaimana mungkin karya-karya M. Kasim dalam Pandji Poestaka mendahului cerita-cerita sejenis yang dimuat majalah Sri Poestaka (1918), dan majalah atau suratkabar yang terbit jauh sebelum itu, seperti Biang-lala (Batavia, 1868; dwimingguan), Sahabat Baik (Betawi, 1891; tidak teratur), Pewarta Prijaji (Semarang, 1900; bulanan), Soenda Berita (Cianjur, 1903; mingguan), Bintang Hindia (Bandung, 1903; dwimingguan), Medan Priyayi (Batavia, 1907; harian), Poetri Hindia (Betawi, 1908; dwimingguan), Bok-Tok (Surabaya, 1913; mingguan). Majalah Sahabat Baik, bahkan secara jelas mencantumkan subjudulnya seperti ini: “Hikayat, tjerita, dongeng, sjair, pantoen, dan lain-lain daripada itu.”

Meskipun para penulis cerita ringan dan lucu itu, sebagiannya masih menggunakan nama samaran, setidak-tidaknya cerpen Kanaiki “Trang Boelan Terkenang”, Delima “Djiwa Manis Haloes Tipoenja”, dan Rineff (Rustam Effendi) “Djoerang jang tiada dapat di djembatani” masih dapat kita lacak nama aslinya melalui karya lain atau tanggapan terhadap karya-karya itu. Pasalnya, dalam karya berikutnya atau dari tanggapan pembaca, pengarang sering kali mencantumkan nama aslinya jika ia menyinggung karya sebelumnya atau jika ia menjawab tanggapan pembaca itu.

Kesesatan lain terjadi lantaran hampir semua pengamat sastra Indonesia menafikan keberadaan suratkabar dan majalah. Padahal media massa ini justru menjadi bagian penting dalam sistem reproduksi karya sastra (cerpen, puisi, dan cerita bersambung). Sejak awalnya (akhir abad ke-19) sampai zaman Jepang, hampir tidak ada cerpen yang dipublikasikan langsung dalam bentuk buku. Ia muncul lewat penerbitan media massa. Dalam hal ini, cerpen tidak dapat dipisahkan dari majalah dan suratkabar. Dari sanalah, cerpen Indonesia lahir dan berkembang, dan memperoleh bentuk yang lebih jelas pada tahun 1930-an.

Pada zaman Jepang, cerpen menjadi makin populer ketika pemerintah pendudukan Jepang banyak menyelenggarakan lomba penulisan cerpen. Dari sejumlah cerpenis waktu itu, A.S. Hadisiswoyo, Muhammad Dimyati, Rosihan Anwar pernah memenangi lomba penulisan cerpen. Beberapa nama lain yang karyanya banyak muncul di media massa pada masa itu, antara lain, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan D. Djokokoesoemo.

***

Pada tahun 1950-an, cerpen Indonesia makin mapan keberadaannya. Derasnya pengaruh asing, munculnya semangat kedaerahan, pudarnya dominasi pengarang Sumatra, dan terbitnya berbagai media massa –termasuk majalah Prosa dan Tjerita Pendek yang dikelola Ajip Rosidi– memberi kesempatan munculnya cerpenis dari pelosok tanah air. Bersamaan dengan itu, adanya ruang kebebasan untuk berekspresi, mendorong keberanian melakukan berbagai eksperimen.

Secara struktural, inovasi yang dilakukan lebih banyak menyangkut tema cerita dan tampak masih ada keterikatan pada konvensi. Dengan begitu, dilihat dari sudut gagasan yang ditawarkan, gerakan estetiknya lebih menekankan pada aspek tema. Riyono Pratikto (Api dan Si Rangka), misalnya menampilkan kisah-kisah dunia gaib yang diangkat dari cerita-cerita rakyat; Rendra (“Mungkin Parmo Kemasukan Setan”) menggugat disiplin Katolik, Ramadhan KH (“Antara Kepercayaan”) mengecam kepicikan penganut tradisional Islam dan Kristen; Pramoedya Ananta Toer (Subuh) mengangkat kepedihan lahir-batin akibat perang, dan Navis (“Robohnya Surau Kami”) meledek kepercayaan taklid. Sementara itu, Iwan Simatupang (“Lebih Hitam dari Hitam”), Sitor Situmorang (“Salju di Paris”) dan P. Sengojo (Sengkuni) mengisahkan kegelisahan dan kekacauan pikiran yang bertumpang-tindih dengan tindakan.

Jika sebelumnya, agama dan kepercayaan ditempatkan begitu suci dan terhormat, dalam sejumlah cerpen tahun 1950-an itu, agama tiba-tiba menjadi alat permainan. Eksplorasi pada kekacauan pikiran dan kegelisahan psikologis digunakan sebagai sarana menyampaikan eksperimen. Akibatnya, pikiran dan perasaan si tokoh tampak liar, tak terduga, dan aneh.

Memasuki masa Orde Baru dan terus menggelinding sampai tahun 1970-an, kondisi itu seperti berulang kembali, bahkan jauh lebih luas pengaruhnya. Putu Wijaya, Danarto, Kuntowijoyo –sekadar menyebut tiga nama—menjadi sangat menonjol dalam deretan nama cerpenis waktu itu. Teror Putu Wijaya, nafas sufistik Danarto–Kuntowijoyo seolah-olah begitu memukau dalam kemasan dunia jungkir-balik. Realitas cerpen seperti hendak dikembalikan lagi pada hakikatnya: cerita. Maka, logika formal tidak berlaku di sana. Dibanding generasi sebelumnya, cerpenis tahun 1970-an telah berhasil membangun estetikanya justru sejak awal kemunculannya. Dengan estetikanya itu, mereka tetap bertahan sampai kini. Jadi selain nafasnya panjang, juga estetika yang ditawarkannya mengakar kokoh hingga dapat bertahan lebih dari tiga dasawarsa.
Kita akan tetap menemukan style dan greget (estetika) yang tak jauh berbeda jika kita membandingkan cerpen Putu Wijaya (“Ini Sebuah Surat” 1970 atau Bom, 1978) atau Danarto (“Godlob” atau “Armageddon”) dengan cerpen terbarunya (Putu Wijaya, Tidak, 1999; Danarto, Setangkai Melati di Sayap
Jibril, 2001).

Kuatnya bangunan estetik cerpenis tahun 1970-an itu, memungkinkan mereka dapat bernafas panjang dan tetap bertahan di tengah bermunculannya generasi berikutnya. Kekuatan bangunan estetik ini –harus diakui— justru tak begitu tampak pada cerpenis yang oleh Korrie Layun Rampan dimasukkan ke dalam kotak Angkatan 2000. Sebelum itu, Seno Gumira Ajidarma –lewat Penembak Misterius (1993) dan Saksi Mata (1994)—memang berhasil menawarkan style jurnalistik dalam cerpen-cerpennya. Pengaruhnya juga tampak pada sejumlah cerpenis berikutnya. Tetapi beberapa cerpen terakhir Seno mulai terasa tidak sekuat karya awalnya. Apakah estetika yang dibangun Seno dapat bertahan sampai entah kapan?

Pertanyaan serupa sesungguhnya dapat kita ajukan kepada cerpenis mutakhir kita. Peluang ke arah sana tentu saja masih terbuka. Kurnia JR, lewat Kereta Berangkat Senja—awalnya sungguh menjanjikan. Tetapi kini keberadaannya entah di mana. Yanusa Nugroho niscaya akan dapat bertahan jika ia konsisten dengan dunia Jawa-nya. Lalu, bagaimana pula dengan Joni Ariadinata, Taufik Ikram Jamil, Oka Rusmini, Abidah el Khalieqy, Agus Noor, Hudan Hidayat, Gus tf Sakai, Herlino Soleman dan deretan nama lain yang bertaburan?

Sebagai cerpenis, agaknya mereka akan terus bertahan. Tetapi, berdasarkan karya yang telah mereka hasilkan, sangat mungkin banyak pula yang berguguran. Jamil, Rusmini, Sakai, jika konsisten mengeksplorasi kultur etnik, peluang bertahan tetap terbuka. Bahkan, sangat mungkin akan menghasilkan monumen jika konsistensi itu dipelihara terus. Masalah konsistensi ini juga tentu saja berlaku bagi Khalieqy –lewat pendalaman kisah-kisah sufi—jika ia ingin tetap bertahan. Sementara Noor dan terutama, Hidayat kebertahanannya bergantung pada kemampuannya menjaga kegelisahan psikis. Dan itu menuntut keduanya membongkar buku-buku Sigmund Freud, Carl G. Jung, dan teori psikologi modern. Tanpa itu, keduanya –barangkali—sekadar bertahan untuk tidak masuk degradasi.

Bahaya besar justru dihadapi Joni Ariadinata. Penemuan estetik yang ditawarkannya dalam Kali Mati (1999), ternyata kurang dapat dipelihara dengan baik dalam beberapa cerpennya yang kemudian (Kastil Angin Menderu, 2000; Air Kaldera, 2000). Padahal, di antara nama-nama tadi, Joni telah sangat meyakinkan membuat inovasi; menoreh bangunan estetik –yang mengingatkan kita pada salah satu klub sepakbola Italia, Chievo Verona. Jika tak berhati-hati, meski tak mengalami degradasi, paling banter ia bertahan di papan tengah.

***

Mesti diakui, sejumlah besar cerpenis Indonesia mutakhir, belum teruji oleh waktu. Mencermati karya-karya yang dihasilkannya, memang tampak seperti sebuah gerakan yang mengusung sebuah mainstream-nya sendiri. Banyak hal yang sungguh menjanjikan. Tetapi, janji tetap janji. Ia harus dibuktikan bukan janji kosong, melainkan sebuah monumen! Nah! Hanya waktu jualah yang kelak menentukan.

(Maman S. Mahayana, Pengajar FSUI, Depok).


Friday, April 02, 2010

Matsuni atawa Madah, Rubai, dan Nazam

Mengenal Matsuni/Madah, Rubai, dan Nazam

Matsuni
atawa Madah adalah puja-pujaan untuk orang-orang besar atau perbuatan yang penting-penting. Baris suku karangannya bersajak dua-dua dan bersuku kata 10,12 dan sampai 14 suku. Perhatikan contoh berikut ini

'UMAR
'Umar yang adil dengan perinya
Nyata pun adil sama sendirinya
Dengan 'adil itu anaknya dibunuh
Inilah adalat (keadilan-red) yang benar dan sungguh

Dengan bedah antara isi alam
Lalah yang besar pada siang malam
Lagipun yang menjauhkan segala syair (kejahatan-red.)

Imamu'lhak (ikatan yg benar-red) ke dalam padang masyar
Barang yang Hak ta'ala (kebenaran yg tinggi-red) katakan itu
Maka katanya sebenarnya begitu

Rubai

Namanya sudah mengatakan bahwa ikatan ini terdiri dari empat baris. Terkadang sajaknya terdapat pada dua baris berturut-turut atau pada keempat baris suku karangan. Panjangnya baris tidak tentu. Begitu juga isinya tidak tentu. 
Perhatikan kutipan berikut ini

MANUSIA
Subhanahu'Allah apa hal segala manusia
Yang tubuhnya dalam tanah jadi duli yang sia
Tanah itu kujadikan tubuhnya kemudian
Yang ada dahulu padanya terlalu mulia

Nazam
Ikatan ini terdiri dari dua belas baris. Sajaknya adalah dua-dua dan ada kalanya empat-empat pada baris suku karangannya. Nazam menceritakan perihal. hamba sahaya istana yang setia serta budiman.
Perhatikan kutipan berikut ini.
Bahwa bagi raja sekalian
Hendak ada menteri demikian
Yang pada suatu pekerjaan
Sempurnakan segala kerajaan
Menteri inilah maka tolan raja
Dan peti segenap rahasianya sahaja
Karena kata raja itu katanya
Esa artinya dan dua adanya
Maka menderi yang demikian perinya
Ada keadaan saja dirinya
Jika raja dapat adanya itu
Dapat peti rahasianya itu

Friday, January 22, 2010

Seloka: Salah Satu Bentuk Puisi Melayu Klasik

Mengenal Seloka

Seloka adalah salah satu bentuk puisi Melayu Klasik disamping mantera, bidal, pantun, gurindam, atau syair. Kata seloka beasal dari bahasa Sansekerta “sloka”. Ada berbagai pengertian seloka. Beberapa pengertian tersebut adalah sebagai berikut:

Menurut B. Simorangkir, seloka adalah peribahasa (pepatah) yang diberi sampiran. Lebih lanjut Simorangkir member contoh seloka sebagai berikut.
Anak Agam menjual sutera
Jual di Rengat tengah pekan
Jangan digenggam sebagai bara
Rasa hangat dilepaskan


Sementara menurut Hooykaas, seloka diartikan sebagai pantun yang mengandung kisahan/ibarat dan berisi nasihat. Hooykaas member contoh seloka sebagai berikut:
Terkelip api atas gunung
Orang memarun sarap balai
Maksud hati memeluk gunung
Apa daya tangan tak sampai


Lain lagi pengertian seloka menurut Amir Hamzah. Amir Hamzah mendefinisikan seloka sebagai pantun yang antara sampiran dan isinya terjadi hubungan arti.

Amir Hamzah memberi contoh seloka sebagai berikut

Jalan-jalan sepanjang jalan
Singgah-menyinggah di pagar orang
Pura-pura mencari ayam
Ekor mata di mata orang


Wikipedia mengartikan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang berisi pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Wikipedia menyajikan contoh seloka sebagai berikut
contoh seloka 4 baris:
Sudah bertemu kasih sayang
Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang


contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui


Sedangkan Melayu online hampir senada dengan Wikipedia menjelaskan seloka sebagai bentuk puisi Melayu Klasik yang memuat perumpamaan yang mengandung senda gurau, kejenakaan, khayalan, impian, sindiran, atau ejekan.

Seloka biasanya ditulis dalam dua atau empat baris namun juga terkadang beberapa ditemukan enam baris dengan memakai bentuk pantun atau syair, gurindam, talibun (bahasa berirama), teromba atau mantra. Jika terdiri dari dua bait maka akan tersusun menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari empat baris dengan masing-masing baris terdiri dari 16 kata.

Dalam Sastra Melayu, seloka termasuk dalam jenis puisi bebas. Terkadang rima dapat muncul namun beberapa tanpa ada rima. Secara keseluruhan, seloka berisi cerita yang benar-benar telah dikenal dalam masyarakat Melayu, seperti Pak Kaduk, Lebai Malang, dan lain-lain.

Fungsi seloka tetap seperti karya-karya sastra Melayu yang lain, yaitu sebagai pengajaran ataupun panduan bagi anggota masyarakatnya.
Contoh seloka
Seloka Pak Kaduk

Aduhai malang Pak Kaduk!
Ayamnya menang kampung tergadai
Ada nasi dicurahkan
Awak pulang kebuluran
Mudek menongkah surut
Hilir menongkah pasang
Ada isteri dibunuh
Nyaris mati oleh tak makan
Masa belayar kematian angin
Sudah dilabuh bayu berpuput
Ada rumah bertandang duduk
Aduhai malang Pak Kaduk

Salah satu sindiran di dalam seloka tersebut adalah “Ayamnya menang kampung tergadai.” Lazimnya jika ayamnya menang maka pemilik ayam akan memperoleh hadiah. Hal ini berbalik dengan apa yang dialami Pak Kaduk, sudah ayamnya menang dia harus kehilangan taruhannya yaitu kampungnya. Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan ringkasan ceritanya di bawah ini:
Cerita Pak Kaduk, merupakan cerita yang mengisahkan sepasang suami-istri yang bernama Pak Kaduk dan Mak Siti. Kisah ini terjadi di wilayah negeri Cempaka Sari, yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Indera Sari. Raja dan masyarakatnya hidup dalam lingkungan perjudian. Salah satu kegemaran Raja Indera Sari adalah menyabung ayam

Di dalam wilayah ini ada sepasang suami isteri, Pak Kaduk dan Mak Siti yang hidup di tepi sungai dalam keadaan miskin. Pada suatu hari, Pak Kaduk berkeinginan juga untuk ikut menyabung ayam di kerajaan. Ia membawa ayamnya yang bernama Biring Si Kunani. Dia begitu yakin dengan ayamnya ini akan memenangkan pertandingan dengan ayam-ayam di istana. Pak Kaduk mempersiapkan pakaian dari kertas dan meminta istrinya untuk menjahit pakaian tersebut. Setelah bajunya jadi, Pak Kaduk pergi ke gelanggang sabung. Dengan tipu muslihat yang dilakukan oleh Raja, ayam Pak Kaduk telah ditukar dengan ayam milik baginda yang bernama Si Jalak. Karena keyakinannya, Pak Kaduk tanpa pertimbangan dengan matang mempertaruhkan kampungnya kepada Raja dengan uang sejumlah 50 rial.

Dalam pertandingan tersebut ternyata Biring Si Kunani telah menewaskan Si Jalak. Pak Kaduk tidak tahu bahwa ayamnya telah ditukarkan dengan ayam Baginda. Pak Kaduk melompat-lompat kegirangan karena Biring Si Kunani yang telah menjadi milik Raja disangka ayamnya. Dengan tingkahnya yang melompat-lompat kegirangan membuat bajunya yang dari kertas robek semua sehingga dia menjadi telanjang. Melihat kejadian tersebut Sang Raja dan orang-orang di sekitarnya mentertawakan Pak Kaduk. Akhirnya Pak Kaduk menyadari bahwa semua yang dia kerjakan merupakan tindakan yang salah besar, sehingga dia menyesal atas semua tindakan tersebut.

Ada yang lain lagi, menyamakan seloka dengan pantun berkait.

Download materi ini?

Sunday, August 23, 2009

Analisis Tokoh dan Penokohan Cerpen Ave Maria

Analisis Tokoh dan Penokohan
Cerpen Ave Maria Karya Idrus

Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh (Aminuddin, 2004:79). Dalam hal ini tokoh terdiri atas sepuluh ragam: tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, tokoh sederhana dan bulat, tokoh antagonis, tokoh statis, tokoh berkembang, tokoh tipikal dan tokoh netral (Nurgiantoro, 2000: 176-190).

Berdasarkan sinopsis cerpen “Ave Maria”, tokoh yang penting untuk dibicarakan yaitu Zulbahri, Wartini, dan Syamsu.

Tokoh Zulbahri dalam cerpen “Ave Maria” termasuk tokoh utama. Hal itu dapat dilihat bahwa Zulbahri tokoh yang paling terlibat dengan makna dan tema cerita. Tokoh Zulbahri paling banyak terlibat dengan tokoh lain (Syamsu dan Wartini). Selain itu, Zulbahri, tokoh yang banyak memerlukan waktu penceritaan.

Wartini termasuk tokoh bulat (kompleks). Dalam hal ini ia sebagai sosok wanita munafik. Di depan Zulbahri, ia mengatakan cintanya hanya untuk Zulbahri, namun di depan Syamsu, Wartini mengatakan “Dapatkah seorang perempuan memiliki dua laki-laki sekaligus?” Wartini tidak memiliki kepribadian yang konsisten. Syamsu termasuk tipe tokoh berkembang. Ketika kecil ia ada hubungan cinta monyet, namun ketika ia berada di Shonanto, seolah Syamsu tidak ada hubungan apa-apa dengan Wartini.

Sekembali dari Shonanto, pada mulanya Syamsu dapat menjaga diri dan kehormatan, namun sedikit demi sedikit berubah. Ia perlahan-lahan mencintai Wartini (merusak hubungan Wartini dengan Zulbahri). Dengan kata lain, Syamsu mengalami perubahan (perkembangan perwatakan) akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd dan Lewis, dalam Nurgiantoro, 2000:188).

Penokohan

Albertime Minderop (2005:2) mengartikan penokohan sebagai karakterisasi yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Tujuan analisis ini untuk mencapai suatu pemahaman tentang ketabahan individu dalam suatu komunitas tertentu melalaui pandangan-pandangannya yang mencerminkan pandangan-pandangan warga dalam komunitas yang bersangkutan (Furchan, 2005:7). Dalam hal ini penokohan terdiri atas tiga variasi: 1. teknik ekspositaris, 2. teknik dramatik, dan 3. teknik identifikasi
tokoh.

1. Teknik Ekspositoris

Teknik ekspositoris disebut juga sebagai teknik analitis. Dalam hal ini pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan
memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

Dalam cerpen “Ave Maria” Idrus menggunakan teknik ekspositoris untuk mendeskripsikan sosok Zulbahri. Untuk memperoleh secara jelas dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.


“Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda.” (Idrus, 2004:13)

Teknik ekspositoris yang lain dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.


Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang ...
Aku pergi tinggal di sebuah rumah di gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula, kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kadang tidak. (Idrus, 2002:19-20 )

Dengan teknik ini penggambaran tokoh menjadi lebih konkret.

2. Teknik Dramatik

Jika teknik ekspositoris, pengarang memberikan deskripsi, dalam teknik dramatik para tokoh ditampilkan mirip dengan drama. Dengan teknik ini cerita akan lebih efektif.

Teknik dramatik terdiri atas delapan jenis yaitu teknik cakapan, teknik laku, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, teknik reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, teknik pelukisan latar, teknik pelukisan fisik
(Burhan Nurgiantoro, 2000:201-210).

Dalam cerpen “Ave Maria”, Idrus memanfaatkan penokohan dramatik bentuk teknik cakapan, teknik pikiran dan perasaan, teknik arus kesadaran, dan teknik pelukisan latar.

Teknik cakapan dimaksudkan untuk mencerminkan kedirian tokoh dan menunjukkan perkembangan plot. Hal ini misalnya pada kutipan sebagai berikut.


Adakah yang hendak kaubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.

Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segalagalanya kepadanya. Begitulah kami termenung setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shonanto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula bahwa aku tak dapat menolak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.

Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak
masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang. (Idrus, 2004:16)


Teknik cakapan terdapat pula pada kutipan sebagai berikut.

“Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?”
“Aku terkenang pada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama.”

“Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat
tinggi.”

“Dan semua cita-cita itu kandas bukan, Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu.” (Idrus, 2004:17)


Teknik pikiran dan perasaan mengungkap bagaimana keadaan jalan pikiran, serta perasaan tokoh dalam banyak hal yang mencerminkan sifat kediriannya. Hal ini dalam cerpen “Ave Maria” dapat dilihat sebagai berikut.


Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dan Wartini. Keduanya hormat-menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata bahwa aku seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.

Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku sangat curiga. Segala percakapan Wartini kupikir-pikirkan kalaukalau
ada mempunyai arti lain ... (Idrus, 2004:17)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa pengarang melalui tokoh Zulbahri mengungkapkan kekacauan pikiran dan perasaannya. Dalam hal ini Zulbahri merasa was-was bahwa api cinta antara Waatini dan Syamsu yang sudah padam menyala kembali. Karena khawatirnya, segala kata Wartini kepada Syamsu dipikir-pikir.

Teknik arus kesadaran dimanfaatkan oleh Idrus dalam cerpennya “Ave Maria”. Teknik tersebut berkaitan erat dengan teknik pikiran dan perasaan. Keduanya tidak dapat dibedakan secara pilah karena keduanya menggambarkan tingkah laku batin tokoh. Arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh. Dalam hal ini tanggapan indra bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran pikiran, perasaan, ingatan, harapan, dan asosiasi-asosiasi. Arus kesadaran sering disamakan dengan sinandika (monolog interior). Hal ini dapat dilihat sebagai berikut.


Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu aku melihat majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca carita pendek
yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya ceritacerita pendek itu kepada jiwaku.

Baru aku insaf bahwa kehidupanku yang dulu-dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal. (Idrus, 2004:20)


Teknik pelukisan latar dimanfaatkan Idrus dalam cerpen “Ave Maria “ sebagai prasarana untuk menggugah imaginasi pembaca sehingga apa yang diungkapkan menjadi lebih hidup. Hal tersebut dapat dilihat di bawah ini .


Angin malam mendesir-desirkan daun –daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti berbicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikannya kepada ayah. Air teh yang disediakan ibu dia tak disinggung – singgungnya. Ia berdiri lalu meninggalkan kami ... (Idrus, 2004:20)


Untuk melukiskan situasi malam terang bulan, Idrus mengungkapkan angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Hal ini dimaksudkan bahwa lukisan suasana untuk mengantarkan Zulbahri dengan pikiran bersihnya mengabdikan kepada nusa dan bangsa menjadi tentara jibaku.

Selain itu teknik pelukisan latar dapat dilihat melalui kutipan sebagai berikut.


Pada malam seperti ini pula, Zulbahri berpisah dengan kami buat selamalamanya. Siapa yang takkan terkenang
kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenangkenangan kepada Zulbahri yang telah
dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umum kedengaran lagu Menuetto in G ciptaan Beethoven. (Idrus, 2002:20)


3. Teknik Identifikasi Tokoh

Dalam bidang penokohan, Idrus juga memanfaatkan identifikasi tokoh. Cara ini ada dua ragam yaitu prinsip pengulangan dan prinsip pengumpulan. Pada prinsip pengulangan, pengarang mengulang-ulang sifat kedirian tokoh sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas. Prinsip pengumpulan dalam hal ini kedirian tokoh
diungkapkan sedikit demi sedikit dalam seluruh cerita.

Dalam cerpen “Ave Maria” pengarang memanfaatkan cara prinsip pengulanganprinsip pengumpulan tidak terdapat di dalamnya. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut.


… Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan bahwa ia hanya mencintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata bahwa
Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.…

Hatiku jugalah yang berkata-kata bahwa aku adalah seorang perampok. (Idrus, 2002:17)


4. Kesimpulan

Cerpen “Ave Maria” terdiri atas tiga tokoh penting yaitu Zulbahri, Syamsu, dan Wartini. Isi cerpen tersebut sangat relevan dengan zaman emansipasi wanita (Women’s Lib) yang berakibat sering terjadi perselingkuhan dilakukan oleh wanita.

Pengarang dalam cerpen “Ave Maria” memanfaatkan teknik penokohan berbagai ragam, yaitu teknik ekspositoris, dramatik, dan teknik identifikasi tokoh.

Referensi
Aminuddin. (2004) Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Furchan, H. Arief. (2005). Studi Tokoh: Metode Penelitian Mengenai Tokoh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Idrus (2004). Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Jakarta: Balai Pustaka.
Minderop, Albertime. (2005). Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nurgiyantoro, Burhan. (2000). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.



Download tulisan ini?
KLIK di sini

Sumber: INSAN Vol. 8 No. 1, April 2006
Heru Supriyadi
Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya

Friday, April 17, 2009

Teori dan Kritik Sastra

Teori dan Kritik Sastra: Sebuah Uraian Ringkas

oleh: M. Misbahul Amri


Tulisan berikut ini, meskipun tidak semuanya, merupakan hasil dari apa yang saya dapat ketika mengikuti Pelatihan Teori dan Kritik Sastra, di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Jakarta 27-30 Mei 2002. Selain dari materi yang diberikan, berikut ini juga saya sampaikan beberapa tambahan yang menurut saya relevan untuk disampaikan. Kali ini, saya lebih menekankan pada cakupan materi yang kurang lebih menyeluruh. Hasilnya, tentu saja, tidak bisa mendalam. Oleh karena itu, karena berbagai keterbatasan, perkenankan saya hanya menyampaikan rangkuman yang sangat ringkas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan teori dan kritik sastra.

Untuk mendudukkan sebuah perbincangan agar dapat terarah, definisi mengenai subyek pembicaraan tampaknya tidak bisa dihindari. Akan tetapi, ketika pembicaraan itu dikaitkan dengan pertanyaan "Apakah sastra itu?", tampaknya akan sulit-jika tidak boleh disebut tidak mungkin-didapatkan sebuah kesepakatan final. Kenyataan dilematis seperti ini secara tidak langsung sudah diakui bahkan oleh Plato dalam bukunya yang berjudul Republic. Mengenai dilema ini sudah dibahas panjang lebar oleh David Daiches. Bagaimana kerumitan ini bisa terjadi, tulisan berikut ini akan mencoba memberi gambaran tentang peliknya masalah ini.

Plato dalam salah satu bab buku tersebut (Book X) pada dasarnya tidak berbicara mengenai definisi sastra, namun dari pembahasannya mengenai fungsi sastra-yang merupakan inti pokok pembahasannya-dapat ditarik sebuah definisi bahwa sastra adalah sebuah karya tiruan realitas, yang nota bene adalah wujud tiruan dari dunia ide. Akibatnya, sastra jauh dari kebenaran. Oleh karenanya, keberadaannya tidak begitu mendapat penghargaan dari Plato. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa ia bisa dikesampingkan begitu saja. Sebaliknya, jika dikontrol isinya, ia akan dapat dimanfaatkan dengan baik agar penikmatnya menjadi warga negara yang sesuai dengan keinginan penguasa. Ini bisa terjadi karena karya sastra mempunyai kekuatan untuk menarik penikmatnya melakukan identifikasi diri pada tokoh ciptaan pengarangnya. Inilah dasar pemikiran yang kemudian melahirkan lembaga sensor sastra. Kasus The Satanic Verses-nya Salman Rusdy adalah salah satu contohnya.


Berbeda dengan Plato, Aristoteles bahkan menempatkan karya sastra dan pengarangnya pada posisi yang sangat terhormat. Bagi Aristoteles, sastra, terutama tragedi, adalah dunia kemungkinan yang ditemukan dan diciptakan secara nyata oleh pengarangnya sehingga penikmatnya akan dapat memperoleh katarsis-penyucian jiwa-melalui identifikasinya pada tokoh tragis yang dihadirkannya, dengan nilai kebenaran yang mampu melintasi ruang dan waktu, misalnya Oedipus Rex karya Sophocles. Karena kehebatannya menciptakan dunia kemungkinan tersebut, pengarang tragedi dinilai lebih hebat daripada filosof dan sejarawan, tidak seperti gurunya, Plato, yang menempatkan pengarang bahkan lebih rendah daripada tukang. Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan teori bahwa sastra adalah dunia kemungkinan ciptaan pengarang dan harus bersifat universal.

Berasal dari pemikiran kedua filosof Yunani klasik itulah kemudian berkembang berbagai teori tentang sastra. Dari gagasan mimesisnya Plato, misalnya, melahirkan faham realisme sosial yang dianut oleh mereka yang beraliran Marxisme klasik. Akibatnya, karya sastra yang dianggap baik adalah yang mampu menampilkan realitas perjuangan kelas proletar, misalnya Oliver Twist karya Charles Dickens atau 'Ballad of Birmingham'-nya Dudley Randall, bahkan sebaiknya bisa menggerakkan penikmatnya utuk melakukan gerakan perlawanan seperti Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe, yang mampu menggerakkan masyarakat Amerika sehingga terjadi perang saudara menuntut penghapusan budak. Analisis atau kritik yang menekankan pada perlunya pengaruh karya sastra terhadap masyarakat ini menggunakan pendekatan pragmatik. Kriterianya, semakin besar pengaruh karya sastra terhadap masyarakat, semakin baiklah karya itu. Selain itu, konsep tiruan (mimesis) Plato juga faham bahwa sastra adalah refleksi atau bahkan potret sosial masyarakat yang melahirkannya. Dengan demikian, karya sastra yang baik adalah yang mampu menampilkan potret sosial senyata-nyatanya. Konsep ini kemudian melahirkan pendekatan mimetik dalam kritik sastra.

Sementara itu, memesis Aristoteles dengan dunia kemungkinannya telah melahirkan faham realisme universal, yang selanjutnya mengilhami lahirnya pendekatan objektif. Pendekatan ini menganggap karya sastra mempunyai dunia otonom sehingga terbebas dari faktor-faktor ekstrinsiknya, namun dia mengandung kebenaran universal. Kriterianya, karya sastra yang baik adalah mengandung nilai estetik yang tinggi yang terbentuk dari keterkaitan antar piranti-piranti sastranya. Selanjutnya, yang agaknya bisa dibilang lepas dari kedua tokoh tersebut adalah pendekatan ekspresif. Dalam analisisnya, pendekatan ini menekankan pada pentingnya kedudukan pengarang agar dapat memahami karya yang dihasilkannya. Akibatnya, segala informasi mengenai pengarang menjadi sangat penting, sedangkan teks yang dihasilkannya hanya sebagai alat pembenaran saja. Pendekatan ini diilhami oleh karya sastra aliran romantisme dan psychoanalisisnya Freud. Kriterianya, semakin hebat karya itu mengekspresikan ide pengarang, semakin hebat pula nilai sastranya.

Dengan demikian, secara garis besar, analisis atau kritik sastra dapat dibagi menjadi dua: intrinsik dan ekstrinsik. Analisis intrinsik memusatkan perhatiannya pada piranti sastra dan hubungan antar piranti tersebut sehingga melahirkan sebuah kesatuan yang unik; sedangkan analisis ekstrinsik menekankan pada unsur-unsur luar karya untuk menangkap makna dan nilainya. Degan demikian, perlu ditegaskan di sini bahwa perkembangan kritik sastra tidak kedap dari pengaruh ilmu di luar sastra.

Seorang bapak linguis struktural, Ferdinand de Saussure, misalnya, bahkan sangat besar pengaruhnya terhadap lahirnya pendekatan struktural dan semiotik. Roman Jakobson dan teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Linguistik Praha juga telah memberikan sumbangan mereka dalam kajian sastra dengan lahirnya faham Formalisme Rusia, sehingga Vladimir Propp, misalnya, berhasil membuat teori mengenai cerita rakyat Rusia dalam 'The Morphology of Folktale' dan Tzvetan Todorov membuat tipologi fiksi detektif. Pendekatan struktural dan formalis serta New Criticism (di Amerika yang dipelopori oleh, antara lain, Fryre dan Wimsatt, yang menekankan otonomi karya sastra itu mendapatkan dukungan yang kuat oleh Roland Barthes dalam artikelnya yang berjudul 'The Death of the Author'. Yang diperlukan oleh seorang kritikus sastra adalah kemampuan literer (literary competence).

Cara pandang terhadap sastra yang terakhir ini ternyata juga bahkan melahirkan pemikiran yang sama sekali berbeda. Model kritik yang semula berkeinginan untuk menghindari 'intentional fallacy' dan 'affective fallicy' agar memperoleh pemahaman yang objektif terhadap karya sastra telah melahirkan dasar pijak yang menempatkan pembaca sebagai pemegang kunci utama yang menentukan makna dan nilai suatu karya sastra. Tokoh yang menegaskan peran pembaca ini di antaranya adalah Wolfgang Iser dan Stanley Fish. Kesadaran akan pentingnya pembaca dalam menentukan kandungan karya sastra ini telah melahirkan berbagai pendekatan kontemporer. Kesadaran tentang adanya keberagaman budaya melahirkan kritik posmo. Kesadaran akan jenis kelamin dan nilai-nilai kewanitaan telah melahirkan kritik feminisme. Sementara kesadaran akan ketertindasan ekonomi melahirkan kritik neo Marxisme; sedangkan ketertindasan etnik melahirkan kritik pasca-kolonialisme. Bahkan kelompok gay dan lesbian pun juga tidak mau kalah meskipun teori mereka masih dikategorikan 'queer theory'.

Berbagai cara pandang yang lahir belakangan ini, menurut hemat saya, sebenarnya merupakan reaksi atas gagalnya pandangan modernisme yang 'Euro-sentrik', 'logo-sentrik' dan 'phalo-sentrik' dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dengan sombongnya mengklaim diri bernilai universal dan bebas nila, ditambah dengan datangnya faham dekonstruksi. Akibatnya, definisi-definisi yang selama ini dianggap mapan menjadi dipertanyakan. Contoh yang paling mencolok dalam kajian sastra adalah lahirnya Cultural Studies (Kajian Budaya?) dalam telaah karya sastra sehingga karya-karya populer, bahkan iklan, pun 'disejajarkan' dengan karya kanon dan berhak memperoleh perhatian dan kajian yang serius dari para ahli. Dengan kata lain, definisi Sastra dan sastra dipertanyakan. Demikian juga halnya dengan fakta dan fiksi, sehingga oto/biografi menjadi subjek kajian yang mulai menarik para peneliti. Berbagai pandangan terakhir ini lahir karena adanya kesadaran bahwa segala macam definisi itu sebenarnya tidak lain merupakan ungkapan ideologis (kelompok) pembuatnya sehingga, baik langsung maupun tidak, selalu mengandung muatan politik.

Demikianlah, melalui tulisan yang sangat pendek ini saya berharap semoga dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi dalam perkembangan mengenai teori dan kritik sastra. ***

Disampaikan dalam Seminar Akademik Jurusan Sastra Inggris, FS UM, tgl. 29 Nopember 2002; didiskusikan ulang untuk Workshop Proses Kreatif Bengkel Imajinasi,17 Oktober 2003 di Malang
Dosen Jurusan Sastra Inggris, FS UM


    Sapardi Djoko Damono (2002) Pengarang, Karya Sastra, dan Pembaca. Dalam Bahan Pelatihan Teori dan Kritik Sastra. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia. h.:9-16.

    Plato (1950) Republic. Dalam Dialogues of Plato (translated by Simon & Schuster). New York: Washington Square Press. h.:370-86.

    David Daiches (1956) Critical Approaches to Literature. London: Longman.

    Aristotle (1955) Poetics (Translated by T. Twining). Dalam Aristotle's Poetics and Rhethoric:
    Also Demetrius on Style, Longinus on The Sublime, and other Essays in Classical Criticism. London: J.M. Dent & Sons Ltd.

    Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan baca buku Daiches di atas.

    Mengenai empat pendekatan ini dapat dilihat lebih jauh dalam buku M.H. Abrams (19 ) A Glossary of Literary Terms.

    Lihat karya Damono di atas h.:12; dan Renne Wellek and Austin Warren (1956) Theory of Literature. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.

    Jonathan Culler (1975) Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. Ithaca: Cornell University Press.; Robert Scholes (1974) Structuralism in Literature. New Haven and London: Yale University Press. Jonathan Culler (1981) The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature and Deconstruction. London and Henley: Routledge & Kegan Paul.

    Vladimir Propp (1997) The Morphology of Folktale. Dalam Rivkin, Julie and Ryan, Michael, (eds.). 1997 Literary Theory: An Anthology. Oxford: Blackwell Publisher Ltd. h.: 28-31; Tzvetan

    Todorov (1966) The Typology of Detective Fiction. Dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:158-65.

    A. Teeuw (1983) Membaca dan Menilai Sastra. Jakrta: PT Gramedia.; Terry Eagleton (1983) Literary Theory: An Introduction. Oxford: Oxford University Press.

    Dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:167-72.

    Jonathan Culler (1975) Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. Ithaca: Cornell University Press.

    Wimsatt and Beardsley dalam A. Teeuw (1983) Membaca dan Menilai Sastra. Jakrta: PT Gramedia.

    'The Reading Process: A Phenomenological Approach'. dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:212-28.

    'Interpreting the Variorum. Dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:312-29.

    Anne Cranny-Francis (1994) Popular Culture. Geelong: Deakin University Press. Jonathan Culler (1997) Literary Theory: A very Short Instroduction. Oxford, New York: Oxford University Press.

    Paul Eakin (1985) Fictions in Autobiography: Studies in the Art Self Invention. Princeton: Princeton Univeristy Press.; Paul Eakin (1990) The Referential Aesthetic of Autobiography. dalam Studies in the Literary Imagination. v23 n2 Fall 1990. pp. 129-44.; Charles Berryman (1999) Critical Mirrors: Theories of Autobiography. Mosaic (Winnipeg). March 1999.v32.i1.p.71(1). [online] Available: "http://web1.searchbank.com/itw/ses...8/29855557w3/84!xrn_31_0_A15172961" http://web1.searchbank.com/itw/ses...48/
    "http://web1.searchbank.com/itw/ses...8/29855557w3/84!xrn_31_0_A15172961" 29855557w3/12!xrn_9_0_A54482283 > [Accessed 26/05/99 20:53]

    "_ednref18" 17 John Colmer (1989) Australian Autobiography: The Personal Quest. Melbourne: Oxford University Press Australia.; Brewster, Anne. (1996) Reading Aboriginal Women's Autobiography. Sydney: Syney University Press.

    l "_ednref19" 18 Catherine Belsey (1983) 'Literature, History, Politics'. dalam David Lodge (ed.) (1988) Modern Criticism and Theory: A Reader. London: Longman. h.:400-10.

    Tuesday, March 24, 2009

    Sastrawan Indonesia Tahun 1950-an

    TERBENTUKNYA CITRA PENGARANG INDONESIA


    Maman S. Mahayana


    Pengantar

    Kehidupan dunia kesenimanan di Indonesia, khususnya yang menyangkut citra kesastrawanan kita, baik di dalam kehidupan kemasyarakatan, maupun dalam kehidupannya selaku warganegara sebuah bangsa, sering kali dipandang secara tidak proporsional, jika tidak dapat dikatakan dilecehkan. Profesi kesastrawanan atau pekerjaan sebagai pengarang dianggap tidak lebih baik dari profesi atlet, pegawai negeri atau pengusaha. Citra sastrawan sebagai warga masyarakat yang tidak jelas pekerjaannya dan dengan sendirinya tidak jelas penghasilannya, menyebabkan banyak anggota masyarakat yang memandang rendah profesi itu. Padahal, profesi sastrawan, tidaklah berbeda dengan profesi lain. Ia mempunyai tempatnya sendiri dalam kehidupan sosialnya. Ia juga mempunyai peranannya sendiri yang juga tidak kalah pentingnya dari profesi lain. Di dalam kehidupan sebagai warganegara, banyak pula sastrawan kita yang dikenal luas di tingkat dunia. Tidak sedikit karya sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dengan sendirinya, mereka juga dikenal oleh bangsa lain. Jika salah seorang atlet kita berhasil menjadi juara dalam kejuaraan tingkat dunia, mendapat penghargaan luar biasa dari masyarakat dan pemerintah, lalu mengapa hal yang sama tidak dilakukan kepada sastrawan kita yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dipublikasikan di berbagai negara?

    Itulah yang terjadi dalam dunia kesastrawanan kita. Status sosial sastrawan kita sering dianggap lebih rendah daripada seorang pegawai pemerintah, pengusaha, atau bahkan pedagang. Mengapa penghargaan masyarakat hampir selalu demikian? Untuk menjawab persoalan itu, terpaksalah kita melihat ke belakang, terutama pada dasawarsa ta hun 1950-an. Pada masa itulah, sesungguhnya pembentukan citra sastrawan Indonesia 'dimulai' dan kemudian terus bergulir hingga kini.

    Kerangka Teoretis dan Sumber Data

    Pembicaraan citra sastrawan secara umum termasuk ke dalam pembicaraan sistem makro-sastra, yang di dalamnya dibicarakan sistem pengarang (sastrawan) akan memusatkan perhatiannya pada latar belakang pendidikan sastrawan, lingkungan sosial, ideologi yang dianut, agama, kebudayaan yang melahirkan dan membesarkannya, penghasilannya, serta persoalan yang berkaitan dengan sistem penerbitannya. Masalahnya, bahwa sastrawan adalah anggota masyarakat, sama halnya seperti anggota masyarakat lain. Ia tidak dapat melepaskan dirinya dari lingkungan sosial, tradisi kebudayaan, dan hal lain yang berkaitan dengan itu. Manakala seorang sastrawan mempublikasikan karyanya, ia secara langsung berhadapan dengan penerbit dan masyarakat pembacanya.


    Dalam kaitan dengan persoalan itu, pembicaraan citra sastrawan Indonesia lebih dipusatkan pada sistem pengarang di Indonesia tahun 1950-an yang memang menjadi semacam dasar bagi pembentukan citra sastrawan Indonesia. Meski pembicaraannya lebih khusus menyangkut sistem pengarang tahun 1950-an, tidaklah berarti kita hanya membicarakan para pengarang Indonesia yang karya-karyanya pada tahun 1950-an itu pernah diterbitkan sebagai buku. Cara demikian tidak hanya berarti menggelapkan nama-nama pengarang yang karya-karyanya lebih banyak dipublikasikan dalam lembaran surat kabar atau majalah, tetapi juga menafikan keberadaan pengarang-pengarang baru yang kiprah dalam kegiatannya bersastra, dimulai tahun 1950-an dan dalam tahun-tahun berikutnya justru berperan sangat penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia pascaperang. Sesungguhnya, penelitian yang dilakukan A. Teeuw (1989: 1 - 2) merupakan contoh yang amat baik, betapa penelitian yang semata-mata berdasarkan penerbitan buku, mengundang munculnya pengaburan data. Perhatikan pernyataan Teeuw berikut ini.

    Pada hakikatnya, Rivai Apin menulis sajaknya yang terakhir dalam bulan Agustus 1950 ... dan sejak itu ia giat di bidang kebudayaan yang lain. Juga Asrul Sani tidak banyak lagi menulis sajak sejak 1950 dan cerpen-cerpen pun tidak banyak ... Sejak 1950, ia tidak lagi memainkan peranan penting apa pun di bidang kehidupan sastra ...Di bagian lain, Teeuw (1989: 11) mengungkapkan:

    Pada awal 1960-an, kita pun bertemu untuk pertama-tama nama-nama seperti antara lain, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Moehamad.

    Bahwa Rivai Apin kemudian bergiat dalam bidang kebudayaan yang lain, tidaklah serta-merta ia meninggalkan kegiatannya menulis karya kreatif (: sastra). Tercatat, dalam tahun 1950, lima buah puisinya dimuat majalah Siasat (tiga buah) dan Indonesia (dua buah). Sampai tahun 1957, Rivai Apin masih menghasilkan empat buah puisi lagi. Jadi, dalam tahun 1950-an itu, ia masih menghasilkan sembilan puisi; satu jumlah yang sama yang termuat dalam antologi puisi Tiga Menguak Takdir (1950)1. Empat buah puisi Rivai Apin dari antologi Tiga Menguak Takdir yaitu Kebebasan, Elegi, Batu Tapal dan Tugu dimuat pula dalam Budaya (No. 8 Agustus 1954), Zaman Baru (No. 11, Agustus 1957, No. 23-24, 1958) dalam Bintang Merah (No.8/14, 1958). Kemudian dalam pertengahan 1956 cerpennya "Rumah Tangga" dimuat pula dalam majalah Indonesia No. 8, Juni 1956. Karya-karya Rivai ini juga belum termasuk beberapa esai kesusastraan yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai petunjuk, bagaimana perhatiannya terhadap kesusastraan.

    Hal yang sama juga dapat kita lihat pada diri Asrul Sani, yang menurut A. Teeuw, sejak 1950 tidak lagi memainkan peranan penting apa pun di bidang kesusastraan. Delapan buah puisi Asrul Sani yang termuat dalam antologi Tiga Menguak Takdir, kecuali puisi berjudul "Surat dari Ibu" selebihnya adalah puisi yang pernah dimuat majalah Indonesia, Mimbar Indonesia dan Siasat. Seluruhnya, sejak puisi Anak Laut dimuat majalah Siasat (No. 54, II, 1948) sampai terbit antologi Tiga Menguak Takdir, Asrul Sani telah menghasilkan 19 puisi dan lima buah cerpen; setelah antologi itu terbit sampai tahun 1959, ia masih menghasilkan tujuh buah puisi dua di antaranya termuat dalam Tiga Menguak Takdir, enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, dan tiga terjemahan drama. Jadi, sungguh tak beralasan jika Asrul Sani dikatakan tidak lagi memainkan peranan penting apa pun di bidang kesusastraan.

    Sementara itu, nama Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Darmono, dan Goenawan Mohamad yang menurut A. Teeuw muncul pertama kali awal tahun 1960-an juga tidak sepenuhnya sesuai, kecuali yang disebut terakhir. Sebelum tahun 1960, Taufiq Ismail sedikitnya sudah menghasilkan satu cerpen dan 18 puisi yang dimuat lima majalah: Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia, Gadjah Mada, Media dan Indonesia. Di samping itu, ia juga telah menerjemahkan dua cerpen asing yaitu: Kisah Turunnja Iblis di Division Street karya Nelson Algreen, Siasat (No. 13, 22 Djuli 1955), dan Kolonel dan Sangkar Burungnja karya Harry Brown, Merdeka (No. 11, 14 April 1958) dan lima puisi karya-karya Taniyus Abduh (Tiga Pepatah), Engenio Montale (Laut Tengah), Chalil Matrau (Kenangan pada Dunia Kanak-Kanak); ketiganya dimuat Siasat (26 Agustus 1959), Vincenzo Cardarelli, Fajar dan Patricia Hooper, Pulang Siasat, (2 September 1959 dan November 1957)2.

    Demikian pula nama Sapardi Djoko Damono. Sejak pemuatan puisinya Tjerita Burung Merdeka, (No. 11, April 1958) sampai Tamu Malam Natal, Mimbar Indonesia, (No. 13, 24 Desember 1959), ia telah menghasilkan 21 buah puisi yang dimuat majalah Mimbar Indonesia, Konfrontasi, Merdeka, dan Widjaja.

    Demikianlah, bahwa pembicaraan sistem pengarang yang terlalu mengandalkan data yang berupa terbitan buku dan mengabaikan karya sastra yang muncul di media massa surat kabar dan majalah dapat menimbulkan begitu banyak kekosongan dalam pengungkapan data lainnya yang sesungguhnya amat penting. Jadi tidak dapat lain, dalam pembicaraan ini pun, penelitian yang telah dilakukan Sapardi Djoko Damono dan Ernst Ulrich Kratz merupakan sumber andalan dalam penelitian ini. Pemeriksaan pada sumbernya hanya dilakukan jika ada data yang meragukan dan dipandang perlu untuk melakukan cek ulang. Sekadar contoh, sebuah cerpen karya S. Marjati yang berjudul Dua Kali Sial, tercatat dimuat dalam majalah Kunang-Kunang (No. 5, Februari 1953). Dalam penelitian Sapardi Djoko Damono, nama majalah itu hanya tercatat sekali, sedangkan dalam penelitian E.U. Kratz, nama majalah ini sama sekali tak tercatat. Setelah melihat Katalog Majalah Terbitan Indonesia Koleksi Perpustakaan Nasional dan memeriksanya di Perpustakaan Nasional ternyata majalah Kunang-Kunang adalah majalah anak-anak yang diterbitkan Balai Pustaka pertama kali tahun 1949 dan berhenti penerbitannya tahun 1954. Balai Pustaka kemudian melanjutkan penerbitan majalah ini, tidak lagi untuk kanak-kanak, melainkan untuk para pelajar. Nama majalahnya pun diganti dengan nama Teruna yang mengakhiri penerbitannya tahun 1980.

    Dengan mempertimbangkan data yang bersumber dari majalah dan surat kabar, maka diharapkan, akan terungkapkan, bagaimana sistem pengarang di Indonesia tahun 1950-an; bagaimana peranan sastrawan di tengah masyarakatnya; bagaimana penghidupan atau mata pencahariannya; bagaimana pula pandangan masyarakat terhadap profesi pengarang; benarkah sebagaimana yang dikatakan Sapardi Djoko Damono (1993), "Ditinjau dari satu segi, sastrawan dihormati setinggi-tingginya; ditinjau dari segi yang lain yakni mata pencaharian ia cenderung direndahkan". Lalu mengapa pula dapat terjadi demikian? Marilah kita periksa masalahnya sebagaimana yang menjadi tujuan tulisan ini.

    Terbentuknya Citra Sastrawan Indonesia

    Sinyalemen Sapardi Djoko Damono agaknya sangat beralasan mengingat kecenderungan masyarakat kita, sampai sekarang, masih menempatkan profesi pengarang sebagai profesi yang tak jelas penghasilannya, tidak punya masa depan, kehidupannya serba cuek (tidak peduli), menggelandang dan serba bebas. Pandangan yang demikian seolah-olah dilegitimasi oleh calon seniman yang lebih mementingkan penampilan daripada karyanya sendiri; rambut gondrong, pakaian aneh-aneh lengkap dengan aksesorisnya. Apakah dengan penampilan yang seperti itu, ia hendak menutupi ketidakmampuannya dalam berkarya atau sengaja agar ia mendapat predikat sastrawan yang sebenarnya masih berupa 'angan-angan'. Lalu apa yang melatar belakanginya sehingga pandangan masyarakat terhadap pengarang (seniman) tentu inheren pula dengan profesinya seperti itu? Sebelum kita membicarakan persoalan itu lebih jauh, mari kita telusuri ke masa sebelum perang.

    Pada awalnya, terutama sejak masa pertumbuhan kesusastraan Indonesia, profesi pengarang hampir tidak dapat dipisahkan dari profesi wartawan. Profesi sastrawan atau wartawan ini, lekat pula dengan citra mereka sebagai golongan terpelajar, intelektual, dan kaum pergerakan nasional. Boleh dikatakan, sastrawan masa itu, termasuk golongan intelektual, setidak-tidaknya, mereka adalah lulusan sekolah-sekolah Belanda kecuali Hamka yang lebih banyak memperoleh pendidikan di luar itu. Dengan perkataan lain sastrawan sebelum perang adalah sastrawan dengan latar belakang pendidikan Belanda. Profesinya sebagai pengarang bukan pekerjaannya yang utama, melainkan pekerjaan penunjang atau pekerjaan yang sama sekali tak akan menjadikannya sebagai orang yang lebih terhormat dibandingkan pekerjaan di luar itu, betapapun hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melakukan kerja kepengarangan. Jadi meskipun ia bekerja di pemerintahan, dunia pendidikan ataupun kewartawanan, mengarang (: menjadi sastrawan) tidak menjadikan dirinya lebih rendah atau lebih tinggi dari profesi lain. Dalam pandangan masyarakat Indonesia sebelum perang, tidak ada profesi yang lebih tinggi kedudukannya selain pekerjaan sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah). Masuk dan menjadi pegawai pemerintah, berarti ia masuk sebagai kelompok yang umumnya disebut priyayi.3

    Satu hal yang sangat mungkin bagi rakyat biasa untuk mengangkat status sosialnya dan kemudian masuk ke dalam kelas priyayi adalah dengan menempuh pendidikan Belanda dan bekerja sebagai pegawai pemerintah. Paling tidak, dengan pendidikan Belanda, betapapun ia bekerja sebagai pegawai partikelir, pegawai swasta, ia masih tetap akan dipandang dengan status sosial sebagai priyayi.

    Sesungguhnya adanya perubahan sosial yang menyangkut status kepriyayian sebagai status capaian (achievement) erat kaitannya dengan perubahan kebijaksanaan kolonial Belanda dalam bidang pendidikan bagi penduduk pribumi di tanah jajahan. Dijalankannya politik etis memaksa pemerintah Belanda mengadakan perluasan pendidikan bagi golongan bumiputra. Surat Menteri Jajahan (Pleijte) pada Gubernur Jenderal (Van Limburg Stirum), tanggal 2 Maret 1918 mengungkapkan perlunya segera perluasan HIS dan pendidikan rendah bumiputra (Depdikbud, 1977: 49). Dalam surat itu selanjutnya diungkapkan:

    ... jumlah guru yang telah dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang telah ada dan yang akan didirikan dalam tahun ini (1918: MSM), hampir-hampir tidak cukup untuk memenuhi permintaan guru dalam jangka waktu tujuh tahun yang akan datang. Akan ada kekurangan 650 tenaga pengajar, yang dianggap dapat dicukupi dengan tenaga didikan bebas dan sekolah guru swasta. Jumlah permintaan guru yang ditentukan ini didapat dari rencana pendirian sekolah, yang meliputi 62 sekolah bumiputra kelas 2 dan tujuh sekolah HIS per tahun. Apakah perluasan jumlah sekolah itu tidak dapat dilaksanakan lebih cepat? Mengenai HIS perluasan perlu sekali dilaksanakan lebih cepat, karena hasrat kependidikan ini sangat besar sekali dan ternyata dalam membanjirnya anak-anak yang akan masuk ke sekolah (yang) ada ... Perluasan HIS secara agak besar-besaran hanya mungkin jika dapat tersedia guru bumiputra ...


    Perluasan pendidikan bagi golongan pribumi, di samping karena desakan agar politik etis dijalankan, juga karena Belanda sendiri memerlukan tenaga terampil yang berpendidikan Barat untuk menjalankan birokrasinya di Indonesia. "Dari perluasan dan perkembangan pendidikan inilah ditemukan akar dari perubahan sosial yang mempengaruhi elite Indonesia". Lalu bagaimana dampaknya? Robert van Niel (1984: 75) mengungkapkan:

    Hal ini pada gilirannya membuahkan beragamnya elite Indonesia. Bila di tahun 1900 kelompok priyayilah yang menjadi kaum bangsawan dan administratur menjelang tahun 1914 kelompok ini bertambah dengan sejumlah pegawai pemerintah, teknisi-teknisi pemerintah dan cendekiawan yang sama-sama memerankan peran elite dan yang di mata rakyat biasa Indonesia di desa-desa tercakup ke dalam yang umumnya disebut "priyayi".


    Hal senada diungkapkan Akira Nagazumi (1989: 25), bahwa pembaharuan dalam bidang pendidikan ini telah mempercepat erosi terhadap kedudukan istimewa kaum bangsawan tradisional. "Pendidikan formal menurut pola Barat telah menjadi keharusan bagi orang-orang Jawa yang menginginkan perbaikan kedudukannya di dalam masyarakat kolonial".

    Begitulah bahwa kemunculan sastrawan-sastrawan Balai Pustaka dipandang sebagai golongan elite, bukan karena profesi kepengarangannya, melainkan karena mereka termasuk kaum terpelajar yang memperoleh pendidikan Barat (: Belanda). Dengan begitu, profesi pengarang dianggap sama halnya dengan profesi lain yang pencapaiannya harus lewat pendidikan tertentu. Akibatnya, pekerjaan mengarang tak diperlakukan sebagai satu profesi khusus, tetapi sebagai pekerjaan sambilan atau pekerjaan yang dilakukan di luar pekerjaan rutin yang secara periodik memperoleh gaji atau penghasilan dalam jumlah tertentu.

    Profesi Sastrawan sebelum Perang

    Untuk memperoleh gambaran bagaimana sesungguhnya profesi pengarang Indonesia sebelum perang, berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang melatarbelakanginya.

    Abdul Muis (3 Juli 1886 - 17 Juli 1959)4 pengarang Salah Asuhan (1928) misalnya, mengawali penulisan novelnya tahun 1927, saat ia sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam selama lebih dari satu dasawarsa (1912-1924). Waktu itu, ia dilarang mengunjungi semua daerah di luar pulau Jawa dan Madura sebagai akibat yang dituduhkan kepadanya mengenai peristiwa Toli-Toli di Sulawesi Tengah, Juni 1919, pemogokan pegawai pegadaian di Jawa, 11 Februari 1922, dan keterlibatannya dalam membantu masyarakat Minangkabau memperjuangkan hak tanahnya yang berkaitan dengan pajak (Belasting). Setelah ada larangan itu, Abdul Muis kemudian tinggal di Garut tahun 1924 sebagai petani. Betapapun novelnya Salah Asuhan telah membuat namanya begitu populer, aktivitasnya sendiri sebagian besar dicurahkan dalam bidang kewartawanan dan politik. Bahkan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional, bukanlah karena jasanya di bidang kewartawanan dan kesusastraan, melainkan dalam politik, yaitu dianggap telah berjasa dalam pergerakan kebangsaan ketika ia menjadi anggota Sarekat Islam.

    Pendidikan formal Abdul Muis, sepenuhnya adalah pendidikan Belanda. Lulus ELS (Europese Lagere School) tahun 1900, ia masuk STOVIA (School ter Opleiding van Inlandse Artsen) selama tiga tahun dan keluar dari sekolah kedokteran itu karena sakit. Selanjutnya, berkat bantuan J.H. Abendanon, Direktur Pendidikan di Hindia Timur (Department Orderwijs en Eerredienst), ia bekerja di departemen itu sebagai juru tulis (klerek), satu jabatan yang waktu itu hanya dapat dimasuki oleh orang-orang Indo-Belanda. Hanya dua tahun bekerja di situ (1903 - 1905), ia kemudian bekerja di Bank Rakyat (Volkscredietwezen). Tak tahan melihat penyelewengan yang dilakukan para pejabat bank itu,5 ia memutuskan untuk pindah pekerjaan, bergabung dengan Abdul Rivai yang waktu itu menjadi pemimpin Bintang Hindia, sebuah majalah progresif terbitan Amsterdam, 1901-1908. Abdul Muis sendiri bertindak selaku wartawan dan pemimpin redaksi majalah itu di Jakarta dalam edisi bahasa Indonesia,6 membantu Dr. Tuhuteru. Berakhirnya penerbitan majalah ini akibat dihentikannya dukungan keuangan pemerintah, memaksanya pindah dan bekerja di surat kabar Belanda, Preanger Bode yang juga tidak bertahan lama.

    Selanjutnya tahun 1912, Abdul Muis bersama A. Widiadisastra, seorang wartawan asal Banten yang pernah bekerja di surat kabar Medan Priyayi pimpinan Tirto Adisuryo dan Mohammad Yunus seorang Arab dari Palembang yang bersedia menjadi pendukung keuangannya, mendirikan surat kabar Kaum Muda, sebuah surat kabar progresif berbahasa Indonesia yang belakangan amat diperhitungkan keberadaannya oleh pemerintah Belanda. Sejak itulah, Abdul Muis mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh-tokoh Islam. Atas permintaan Tjokroaminoto, ia bersama Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara dan Wignyadisastra, bergabung dengan Sarekat Islam. Ketiganya kemudian menjadi Ketua (Abdul Muis), Wakil Ketua (Suwardi Suryaningrat) dan Sekretaris (Wignyadisastra) Sarekat Islam Cabang Bandung. Jabatan terakhirnya dalam karier politik adalah sebagai anggota Volksraad.

    Dalam dua dasawarsa abad XX, Muis lebih banyak berkecimpung di dunia kewartawanan dan Sarekat Islam. Setelah kegiatan politiknya ditinggalkan, ia mengarang novel Salah Asuhan. Selepas itu sampai pasca-perang, ia cuma menghasilkan sebuah novel lagi Pertemuan Jodoh (1933) dan beberapa novel terjemahan. Pada awal tahun 1950-an, ia menghasilkan lagi novel dua serangkai, Surapati (1950) dan Robert Anak Surapati (1953).

    Dengan gambaran biografi ringkas Abdul Muis, kita dapat melihat bahwa profesi mengarang tidaklah diperlakukan dan ditempatkan sebagai pekerjaan utama, melainkan pekerjaan yang dilakukan dalam "waktu senggang", sungguhpun sebenarnya keuntungan material yang diperoleh dari karyanya itu tidaklah kecil, apalagi untuk ukuran waktu itu.

    Berapa tepatnya royalti yang diterima seorang pengarang novel untuk karyanya yang diterbitkan Balai Pustaka? Mari kita periksa pernyataan Sutan Takdir Alisjahbana (1992: 22) mengenai honorarium yang diterimanya untuk novelnya, Tak Putus Dirundung Malang yang diselesaikannya ketika ia cuti dari pekerjaannya sebagai guru.

    Masa cuti itu saya pergunakan pergi ke Bandung, berobat di rumah sakit Cimahi. Di rumah sakit itulah saya menyelesaikan roman Tak Putus Dirundung Malang itu. Saya kirimkan ke Balai Pustaka. Pada tahun 1929 saya mendapat honorarium dari Balai Pustaka, kalau saya tidak salah, sebanyak 250 gulden. Ketika itu jumlah itu sangat banyak bagi saya. Coba bayangkan, gaji saya cuma 110 gulden. Dengan uang itu dapat saya membayar antaran untuk kawin dengan Raden Ajeng Rohanidah H. di Bengkulu.

    Ada dua hal yang dapat ditarik dari pernyataan Sutan Takdir Alisjahbana tersebut. Pertama, novel Tak Putus Dirundung Malang diselesaikan ketika Alisjahbana cuti dari pekerjaannya sebagai guru. Jadi jelas pekerjaan mengarang memerlukan waktu tersendiri. Paling tidak, pekerjaan mengarang diperlakukan sebagai pekerjaan nomor sekian dari serangkaian pekerjaan rutin yang diutamakan atau yang menjadi mata pencaharian seseorang. Kedua, penghasilan atau penghargaan material (honorarium) yang diterima Alisjahbana untuk novelnya itu, sebenarnya relatif besar untuk ukuran masa itu. Bahwa ia kemudian dapat membayar antaran untuk menikah dengan seorang putri bangsawan, menunjukkan bahwa honorarium yang diterima Alisjahbana lebih dari sekadar cukup.

    Ketika lamaran Alisjahbana untuk menjadi redaktur Balai Pustaka diterima, ia secara sadar meninggalkan pekerjaannya sebagai guru. Namun waktu itu pekerjaan redaktur bahkan pemimpin redaksi sekalipun, tidaklah populer, jika tidak dapat dikatakan tidak ada artinya, sebagaimana dinyatakan Alisjahbana. Hal itu berarti pula pekerjaan sebagai pengarang, lebih tidak populer lagi, meski honorariumnya sangat memadai.

    Sebagai bahan perbandingan, saat Alisjahbana menerbitkan majalah Pujangga Baru, ia masih bekerja di Balai Pustaka dengan gaji 150 gulden, sedangkan Armijn Pane sebagai guru di Taman Siswa, menurut Alisjahbana, paling banyak mendapat 15 gulden. Jadi, penghasilan sebagai guru tidaklah menjanjikan materi yang berlebihan. Namun kedudukannya di mata masyarakat, pekerjaan guru dipandang lebih terhormat. Hal itu juga diungkapkan Achdiat K. Mihardja (1992: 67) saat ia tak bekerja di pegawai pemerintah (ambtenaar).

    Begitu tamat AMS (SMA) jurusan sastra-budaya Timur, saya langsung bekerja sebagai guru Taman Siswa di Kemayoran, Betawi. Kemudian jadi redaktur surat kabar harian dan majalah. Kemudian lagi buka warung jualan keperluan rakyat sehari-hari. Akhirnya kami membeli "pabrik" kue dan roti ... Tapi selama itu saya pun bekerja sebagai wartawan freelance dan menulis di pelbagai surat kabar dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia, Sunda, maupun Belanda.

    Ketika itu, Achdiat Karta Mihardja ditawari oleh Raden Satjadibrata untuk bekerja di Balai Pustaka dengan permulaan sebagai volontair (magang) dengan gaji sebulan 40 gulden. Sesudah tiga bulan baru diangkat sebagai pegawai tetap dengan pangkat adjunct hoofredacteur (wakil pemimpin redaksi) dengan gaji permulaan 70 gulden. Lalu berapa penghasilan Achdiat (1992: 67) ketika itu dari usaha pabrik kue dan roti miliknya itu?

    ... saya keluarkan buku catatan keluar-masuknya keuangan pabrik kue dan roti itu. Hampir tak percaya meneer Satja ketika melihat jumlah keuntungan bersih dari pabrik itu. Rata-rata per bulan 150 gulden ... akhirnya saya terima juga tawaran itu. Terutama atas desakan ibu saya yang sangat meng-inginkan anaknya menjadi seorang ambtenaar. Ibu, juga Bapak, adalah keturunan menak ... ambtenaar BB (Binnenlands Bestuur) ... saya dapat merasakan betapa iba hati ibu dan bapak yang telah begitu bersusah payah menyekolahkan anaknya ... hasilnya koq cuma menjadi guru Taman Siswa yang gajinya cuma 20 gulden sebulan ... kemudian jadi "tukang nulis di koran" ... kemudian buka warung ... jual kue dan roti. Wah, semua itu kan tidak punya kedudukan sosial apa-apa


    Begitulah, bahwa pada zaman sebelum perang, kedudukan pegawai pemerintah (ambtenaar) dipandang sebagai status yang terhormat. Balai Pustaka sebagai lembaga pemerintah, juga telah menempatkan para pegawainya, dalam pandangan masyarakat, sebagai pegawai pemerintah. Dalam hal ini, profesi lain pun, sejauh tidak berada di bawah lembaga pemerintah, cenderung ditempatkan dalam status yang lebih rendah. Seorang pedagang, misalnya, betapapun secara materi penghasilannya lebih besar daripada pegawai pemerintah, dalam status sosialnya, ia tetap dipandang lebih rendah. Dalam hal ini, pandangan kepriyayian pada masa itu condong diukur berdasarkan pendidikan dan status kepegawaiannya, dan bukan dari profesi, keahlian, dan penghasilannya dalam pekerjaan tertentu. Pandangan inilah yang terus berkembang di masyarakat hingga pascaperang. Dalam kaitannya dengan profesi pengarang, juga masalahnya sama. Terlebih lagi, mengarang dianggap sebagai 'bukan pekerjaan'. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika masyarakat kita, sampai kini, masih tetap melihat kedudukan sastrawan dengan nada yang 'sumbang'. Akibatnya, dapat dipastikan, sebagian besar masyarakat kita, tidak hanya tidak punya keinginan menjadi pengarang, melainkan juga cenderung tidak mau tahu mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan profesi kepengarangan; penghasilannya, peranannya dan syarat (tak tertulis) yang dituntut profesi itu.

    Profesi Sastrawan Sesudah Perang

    Selepas perang sampai pihak Belanda mengakui kedaulatan Indonesia akhir tahun 1949, dibandingkan para pegawai negeri atau pedagang (pengusaha), para pengarang sebenarnya lebih dapat "bertahan hidup". Modalnya, pengetahuan, kemahiran memainkan bahasa, dan ketajaman menangkap situasi zamannya, memungkinkan seorang pengarang dapat "bertahan hidup" dalam situasi apa pun. Itulah yang terjadi pada diri HB Jassin, J.A. Dungga, Darsyaf Rahman, Pramudya Ananta Toer, Achdiat Karta Mihardja, Idrus, Asrul Sani, Rivai Apin, dan sederetan nama lain yang sebelum perang (zaman pra-Jepang dan zaman Jepang) sudah memainkan peranannya dalam kesusastraan Indonesia.

    Achdiat Karta Mihardja yang waktu itu sedang dalam kepayahan keuangan dan menganggur berkepanjangan, dalam arti tidak mempunyai pekerjaan tetap sebagaimana lazimnya pegawai kantor, dalam situasi seperti itulah ia menulis novelnya, Atheis. Lalu berapa honor yang diterimanya waktu itu? Inilah pernyataannya:

    ... ada satu kegembiraan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Yaitu menerima honor untuk buku saya Atheis yang di zaman itu (1949) sudah cukup bagi istri saya untuk langsung membikin rumah di Jalan Tembaga, Galur, Jakarta. (Achdiat, 1992: 82)


    Bagaimanakah pandangan masyarakat terhadap status sosial pengarang dalam dasawarsa tahun 1950-an? Bahwa apa yang terjadi pada tahun 1950-an, sebenarnya tidak terlepas dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Sejak awalnya, ketika terjadi perubahan sosial akibat meluasnya perkembangan pendidikan yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda, telah menempatkan status kepriyayian tak lagi berdasarkan keturunan, melainkan merupakan status capaian yang dapat diraih melalui jalur pendidikan. Akibatnya, jalur profesi tidak lebih penting daripada status kepegawaian yang terkait dengan pemerintahan.

    Pada saat yang bersamaan, sebenarnya, jalur profesi di bidang kewartawanan, ikut memainkan peranan penting dalam pergerakan kebangsaan. Namun, itupun yang dilihat bukan profesi kewartawanannya, melainkan status kepegawaian dan tingkat pendidikan yang dicapainya. Itulah sebabnya, tokoh wartawan macam Tirto Adhi Suryo, Adinegoro, Abdul Muis dan sastrawan-sastrawan 'veteran' seperti Merari Siregar, A. St. Pamuntjak, Sutan Takdir Alisjahbana, Marah Rusli, Sanusi Pane, dan Armijn Pane, di dalam status sosialnya, tidaklah dilihat dari profesinya, melainkan dari status kepriyayiannya.

    Peranan mereka dalam kehidupan bangsa ini kemudian menjadi tak menonjol dan surut ke belakang, saat perang kemerdekaan berkecamuk selama hampir setengah dasawarsa (1945-1949). Yang muncul sebagai tokoh penting dalam tahun 1950-an adalah mereka yang berjasa dalam perang kemerdekaan. Dengan begitu, muncul pula priyayi model baru yaitu mereka yang pendidikan formalnya tidak menonjol, namun berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan negeri ini, hanya karena ia punya keberanian untuk memanggul senjata. Dengan demikian, citra sastrawan-wartawan sebagai pejuang moral, makin terpuruk oleh mereka yang bergerak di bidang kemiliteran dan politik. Itulah citra sastrawan dalam pandangan masyarakat kita dan terus berlanjut hingga kini.

    Peta Sastrawan Tahun 1950-an

    Secara umum peta sastrawan Indonesia tahun 1950-an terdiri atas (1) sastrawan 'veteran' yang kemunculannya sudah dimulai sejak zaman Balai Pustaka, (2) sastrawan pra-kemerdekaan yang kiprahnya diawali pada zaman Pujangga Baru dan zaman Jepang, (3) sastrawan 'anak-anak revolusi' yang masa anak-anak dan masa remajanya dihabiskan di antara desingan peluru dan huru-hara revolusi. Yang disebut terakhir ini kemunculannya dimulai pada awal sampai akhir tahun 1950-an.

    Dilihat dari tahun kelahirannya, sastrawan 'veteran' dan sastrawan prakemerdekaan, lebih dari separohnya adalah produk pendidikan Belanda. Sementara itu kiprahnya dalam kesusastraan Indonesia tahun 1950-an, terutama golongan sastrawan 'veteran' nyaris tenggelam digantikan sastrawan 'anak-anak revolusi'. Kalaupun ada satu-dua di antara mereka yang menerbitkan novel atau antologi puisi, karya itu sama sekali tak menonjol; tidak mengundang daya tarik yang kuat meski secara tematis memperlihatkan perubahan sikap pengarangnya semasa sebelum merdeka dan sesudah merdeka. Abdul Muis, misalnya, masih menghasilkan tiga buah novel, Surapati (Balai Pustaka, 1950), Robert Anak Surapati (Balai Pustaka, 1953), dan Hendak Berbakti (?, 1951). Dua yang disebut di awal merupakan dua serangkai yang mengisahkan ayah-anak (Surapati dan Robert) yang dihadapkan pada persoalan kebangsaan; Surapati melawan Belanda untuk tanah air Indonesia dan Robert memihak Belanda karena itu bangsa ibunya, Susana. Jadi dalam hal ini, Abdul Muis terkesan hendak menegaskan kembali persoalan perkawinan antarbangsa (Hanafi-Corrie), sebagaimana yang disampaikannya dalam Salah Asuhan.

    Marah Rusli juga masih menghasilkan dua buah novel, La Hami (balai Pustaka, 1953) dan Anak dan Kemenakan (1953). Kedua novel ini pun sama sekali tak memperlihatkan kelebihan yang berarti. Yang pertama, menurut pengarangnya, bersumber dari peristiwa sebelum Gunung Tambora meletus tahun 1815. Di dalamnya, unsur mistik dan dunia supernatural mewarna karakteristik tokoh-tokohnya. Sementara yang kedua, terkesan hendak menegaskan konflik tua-muda (Datuk Meringgih dan Samsulbahri) yang di dalam Anak dan Kemenakan konflik itu dimenangkan golongan tua, karena golongan muda sengaja mengalah dan pergi meninggalkan Padang untuk memasuki dunia yang lebih luas.

    Pengarang 'veteran' lain, seperti Matu Mona, Nur Sutan Iskandar, dan Panji Tisna masing-masing masih menghasilkan satu novel yang juga tidak begitu menonjol. Nama-nama mereka praktis tenggelam, dan digantikan oleh golongan sastrawan berikutnya.

    Golongan sastrawan prakemerdekaan, pendidikannya juga merupakan hasil pendidikan Belanda. Kemunculan mereka umumnya sudah dimulai sejak zaman Pujangga Baru. Agak berbeda dengan golongan sastrawan 'veteran, golongan sastrawan prakemerdekaan ini, di samping menghasilkan sejumlah karya yang diterbitkan sebagai buku, juga karya-karya (puisi, cerpen, drama, esai dan karya terjemahan) yang tersebar dalam berbagai majalah dan surat kabar yang terbit tahun 1950-an itu. Golongan inilah yang sebenarnya 'ikut' meramaikan konstalasi kesusastraan Indonesia dasawarsa itu yang sebagian besar didominasi oleh sastrawan 'anak-anak revolusi'.

    Dapatlah disebutkan di sini beberapa di antaranya yang menonjol yang termasuk golongan sastrawan prakemerdekaan.

    Muhammad Dimyati (= Badaruz-zaman) (lahir di Solo, 14 Juni 1913), sesungguhnya termasuk sastrawan tiga zaman. Sastrawan yang karya-karyanya hampir tak pernah dibicarakan ini, memulai karier kepengarangan sejak zaman Pujangga Baru tahun 1935 lewat dua novelnya, Siti Nurjanah dan Student Suleiman yang keduanya diterbitkan tahun 1935.7 Waktu itu ia juga bertindak sebagai pembantu atau koresponden majalah Pujangga Baru. Pada tahun 1940, novelnya yang berjudul Ramona, berhasil keluar sebagai juara pertama dalam lomba penulisan roman yang diselenggarakan majalah Pedoman Masyarakat. Tahun berikutnya (1941), Muhammad Dimyati menghasilkan lagi sebuah novel berjudul Gelombang Perkawinan. Belakangan, cerpennya yang berjudul "Tangan Mentjentjang Bahoe Memikoel" berhasil keluar sebagai pemenang hadiah pertama sayembara yang diselenggarakan harian Asia Raja dan Djawa Baroe tahun 1943.8

    Dalam tahun 1950-an itu, sebenarnya Muhammad Dimyati termasuk sastrawan cukup menonjol. Paling tidak, secara kuantitatif ia menghasilkan satu novel, Yogya Diduduki (Gapura, 1950), dua antologi cerpen, Pengorbanan dan Kebaktian (1950) dan Manusia dan Peristiwa (1951) keduanya diterbitkan Balai Pustaka, 22 cerpen yang dimuat di berbagai majalah yang terbit pada dasawarsa itu, dan sejumlah artikel kesusastraan. Sebelumnya, terutama tahun 1940-an, ia telah pula menghasilkan cerpen sekitar 17-an buah yang dimuat Pandji Poestaka, Keboedajaan Timoer, Djawa Baroe, Pantja Raja, Mimbar Indonesia, Siasat, dan Gema Suasana. Sangat mengherankan, A Teeuw9 nyaris mengabaikan karya-karya Muhammad Dimyati. Bahwa nama Muhammad Dimyati disebut Teeuw tidak lebih dari "cuma" tiga kali, bahkan itu pun dimasukkannya dalam konteks pembicaraan roman picisan, menunjukkan bahwa Teeuw sama sekali mengabaikan karya-karya yang pernah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar. Dalam konteks sistem pengarang, boleh jadi justru Dimyati yang paling mewakili citra pengarang Indonesia.

    Pertama, dibandingkan pengarang lainnya, Muhammad Dimyati termasuk yang pendidikan formalnya tidaklah begitu menonjol. Lulus HIS, ia kemudian melanjutkan ke sekolah agama. Dari sana ia memilih menekuni bidang kewartawanan dan menetapkan untuk menjadi pengarang. Mengingat kondisi telinganya yang tunarungu mengharuskannya lebih banyak belajar sendiri. Selebihnya, ia lebih banyak membaca dan menulis, bahkan belakangan ia menjadi pemimpin redaksi sebuah surat kabar lokal Yogyakarta.

    Kedua, sebagai orang yang menyadari kondisi fisiknya yang demikian, menjadi pengarang merupakan pilihan yang tepat. Dalam hal ini, betapapun ia bekerja pada sebuah media massa, pekerjaannya sebagai wartawan justru bukan merupakan pekerjaannya yang utama. Nyatanya, dengan profesi utamanya sebagai sastrawan atau pengarang, karena ia juga menulis sejumlah esai, ia dapat menghidupi keluarganya dari penghasilannya sebagai pengarang. Satu bukti bahwa profesi kepengarangan tidaklah sebagaimana yang diduga banyak orang.10 Sebulan menjelang wafatnya, cerpen Dimyati dengan nama samaran Abu Ubaidah, menghiasi lembaran majalah Hikmah, (14 November 1958, dan 8 Desember 1958). Ia meninggal dunia dengan sejumlah karya yang belum banyak dibicarakan orang.

    Pengarang lain yang termasuk golongan sastrawan prakemerdekaan adalah Aoh Karta Hadimadja (lahir di Bandung, 15 September 1911 dan meninggal di Jakarta, 17 Maret 1973). Seperti kebanyakan sastrawan yang lahir pada paroh pertama abad ke-19, Aoh adalah produk pendidikan Belanda dengan MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) sebagai pendidikan formal tertinggi yang diikutinya. Lulus MULO ia bekerja sebagai pegawai perkebunan teh, namun terpaksa dirawat di Cisarua karena terserang penyakit paru-paru. Saat dirawat itulah, ia mulai bersahabat dengan buku-buku sastra yang belakangan ternyata menjadi bagian dari kehidupannya.

    Sejauh pengamatan, Aoh mulai memasuki dunia sastra lewat cerpennya "Bertamasya di Hari Minggu" dimuat majalah Pedoman Masyarakat (No.26, 25 Juni 1941), sebuah majalah terbitan Medan yang dikelola Mohammad Yunan Nasution dan Hamka. Selepas itu, beberapa esainya juga dimuat majalah ini. Satu cerpen lagi yang dimuat majalah Pedoman Masyarakat (No. 2, 14 Januari 1942, berjudul "Mengobati Kekecewaan Orang").11

    Sementara itu, puisi pertama Aoh dimuat di majalah Poedjangga Baroe (No. 5, September 1941). Sejak itu sampai tahun 1949, ia menghasilkan 55 buah puisi lagi. Dalam kurun waktu yang sama, ia pun menghasilkan delapan buah cerpen, termasuk cerpennya "Bukan karena Aku" yang dimuat dua kali, yaitu dalam majalah Djawa Baroe (No. 8, 1944), dan surat kabar Asia Raja (15 April 1944). Jumlah itu sebenarnya tidak termasuk esai-esainya yang pernah dimuat Pedoman Masyarakat, Djawa Baroe, Poedjangga Baroe, surat kabar Asia Raya, dan beberapa media lain.
    Melihat jumlah karya yang dihasilkan Aoh sebelum tahun 1950, kematangannya terjadi pada dasawarsa tahun 1950-an itu, betapapun secara kuantitatif tidak seproduktif masa sebelumnya. Sungguh pun begitu ia masih menghasilkan 10-an buah cerpen dan belasan puisi yang dimuat berbagai surat kabar dan majalah. Sementara dua antologi puisinya, Zahra (1950) dan Pecahan Ratna (1952) dan sebuah antologi cerpen, Manusia dan Tanahnya (1952) diterbitkan Balai Pustaka, sedangkan dua buah dramanya, Lakbok (1951) dan Kapten Syaf (1951) muncul dalam majalah Poedjangga Baroe. Di samping itu, ia juga masih sempat menerjemahkan puisi karya Robert Burns, Mengeluhlah Sayang, Afton Sayang, dan Mawar yang Merah, yang dimuat majalah Siasat, 22 April 1959.

    Pada awal tahun 1950-an, Aoh bekerja di Mimbar Indonesia dan dipercaya untuk memegang rubrik "Kesusastraan". Kemudian esai-esai yang pernah dimuat dalam rubrik itu, ditambah dengan esai penulis lain, diterbitkan dalam bentuk buku, berjudul Beberapa Paham Angkatan 45 (Jakarta, Tinta Mas, 1952).

    Dari biografi ringkas Aoh Karta Hadimadja, kita dapat melihat, sesungguhnya Aoh lebih banyak memusatkan perhatian pada profesinya sebagai penulis (:sastrawan) daripada sebagai pegawai Kantor Pusat Kebudayaan (zaman Jepang) dan pegawai perkebunan (awal kemerdekaan). Ia lalu bekerja di Mimbar Indonesia, dan memegang Mimbar Umum ketika berada di Medan, kemudian ke Belanda (1952-1956), menjadi penyiar BBC London seksi Indonesia (1959-1970), dan terakhir bekerja di Penerbit Dunia Pustaka Jaya (1971-1973). Jadi pada awalnya, profesi kepengarangan masih ditempatkan sebagai pekerja 'sambilan' dengan pekerjaan utamanya sebagai pegawai. Belakangan, setelah ia bekerja di Mimbar Umum yang memaksanya untuk terus-menerus menulis, memberi keyakinan bahwa bekerja sebagai pengarang, tidaklah membuatnya kekurangan, bahkan kemudian membuka peluang untuk memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai. Dengan demikian, jelaslah bahwa profesi pengarang setidak-tidaknya bagi Aoh merupakan profesi yang 'prospektif' jika ia terus mengembangkan wawasannya dan melebarkan hubungannya secara lebih luas. Berkat jasanya di bidang kesusastraan itulah, pemerintah Indonesia memberikan Anugerah Seni pada tahun 1972.

    Sebenarnya banyak sastrawan lain termasuk ke dalam golongan sastrawan prakemerdekaan, masih terus berkarya pada dasawarsa tahun 1950-an itu. Beberapa di antaranya, Anas Ma'roef, Rustandi Karta Kusumah, Buyung Saleh, MS Azhar, Hr. Bendaharo, Rosihan Anwar, Bahrum Rangkuti, Saleh Sastrawinata, Bakri Siregar, Taslim Ali, Usmar Ismail, Suwarsih Djojopuspito, Armijn Pane, dan sederetan nama lainnya.

    Dasawarsa 1950-an itu kesemarakannya dimungkinkan oleh peranan yang dimainkan para pengarang 'anak-anak revolusi'. Mereka ada yang mengawalinya sejak tahun pertama dasawarsa itu dan menjelang akhir tahun 1950-an. Oleh karena itu, secara umum, golongan sastrawan ini dapatlah dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu (1) mereka yang telah berkarya sejak awal kemerdekaan, (2) mereka yang muncul pada awal tahun 1950-an, dan (3) mereka yang mulai berkarya menjelang berakhirnya dasawarsa 1950-an, kemudian menjadi sastrawan penting dalam tahun-tahun berikutnya.

    Dari ketiga kelompok itu, kita juga masih dapat melihat peranan masing-masingnya apakah lebih menonjol di bidang novel, cerpen, puisi, drama, esai atau karya terjemahan. Dilihat dari peranannya ini, maka kita juga masih dapat mengelompokkannya lagi dengan menyebut para pengarang yang dianggap paling menonjol di antara bidang-bidang itu.

    Kelompok pertama, dapatlah disebutkan di sini, nama-nama antara lain, Pramudya Ananta Toer, Klara Akustia, Dodong Djiwapradja, S. Rukiah Kertapati, Utuy T. Sontani, Sitor Situmorang, Riyono Pratikto, Herman Pratikto, Hartoyo Andangdjaya, Suradal AM, Suripman, Trisno Sumardjo, Idrus, Muhammad Ali, S.K. Mulyadi, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Dua yang disebut terakhir tak akan dibincangkan lagi. Di samping nama-nama itu, tahun 1950-an itu juga ditandai dengan munculnya para pengarang keturunan Tionghoa yang karya-karyanya dimuat di majalah umum. Mereka antara lain, Khong Bo Ya, Njoo Siong Seng, dan Tan Sioe Tjhay.

    Untuk kelompok pertama ini, Pramudya Ananta Toer merupakan tokoh penting dalam penulisan novel dan cerpen. Dalam tahun 1950-an itu, Pramudya telah menghasilkan sembilan buah novel dan 34 cerpen. Satu jumlah yang memperlihatkan produktivitasnya yang luar biasa. Dalam hal ini beberapa esainya juga patut dipertimbangkan mengingat visi dan sikap kepengarangannya memperlihatkan wa wasan yang amat luas. Hal tersebut terjadi pada awal tahun 1950-an sampai menjelang berakhirnya dasawarsa itu. Memasuki tahun 1960-an, pemikirannya mengenai kesusastraan mulai condong dipengaruhi oleh doktrin politik. Akibatnya ia tidak cuma makin surut produktivitasnya, tetapi juga menjerumuskan karya-karyanya ke dalam bentuk sastra yang condong bernilai rendah. Paling tidak, sebuah cerpennya, "Paman Martil"12 dapat dijadikan bukti kecenderungan itu.

    Selain Pramudya Ananta Toer, tokoh penting dari kelompok ini adalah Sitor Situmorang. Untuk bidang puisi, ia termasuk penyair yang sangat istimewa. Betapapun ia menghasilkan sekitar 15-an cerpen dan dua drama pada dasawarsa itu, peranannya yang menonjol justru di bidang puisi yang secara keseluruhan tampak dari ke-68 puisinya yang muncul di berbagai media massa termasuk antologi puisinya Dalam Sajak dan Wajah tak Bernama, keduanya terbit tahun 1955. Seperti juga Pramudya Ananta Toer, memasuki tahun 1960-an, kekuatan kepenyairannya condong dipengaruhi kekuatan ideologi tertentu.

    Sementara Dodong Djiwapradja dan, terutama, Klara Akustia tidaklah begitu menonjol dibandingkan Sitor. Walaupun demikian Dodong sebenarnya memperlihatkan kematangannya tahun 1950-an, jika kita membandingkan puisinya yang muncul tahun-tahun awal kemerdekaan. Setelah memasuki tahun 1960-an, nama keduanya benar-benar tenggelam dalam putaran politik. Hal yang sama terjadi pula pada diri S. Rukiah Kertapati. Kepenyairannya muncul pada tahun awal kemerdekaan. Ia juga mulai matang pada tahun 1950-an itu, seperti diperlihatkan dalam antologi puisinya, Tandus (Balai Pustaka, 1952) yang berhasil menjadi pemenang Hadiah Sastra Nasional BMKN tahun 1952.

    Beberapa nama lainnya dari kelompok ini adalah Utuy T. Sontani yang sebenarnya lebih menonjol di bidang drama daripada puisi dan prosa, walaupun ia menerbitkan sebuah antologi cerpennya, Orang-Orang Sial (Balai Pustaka, 1951); Trisno Sumardjo dan Hartojo Andangdjaja, dalam tahun 1950-an itu juga tidaklah begitu menonjol, namun belakangan keduanya banyak menerjemahkan karya-karya asing.

    Untuk bidang cerpen, Idrus tahun 1950-an itu secara kuantitatif tidaklah menonjol. Sebuah antologi cerpennya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Balai Pustaka, 1948) yang memuat 12 cerpen, menurut Jassin (1953: 28) membawa gaya penulisan baru yang disebut kesederhanaan baru (nieuwe zakelijkheid). Yang justru menonjol dalam penulisan cerpen pada dasawarsa itu adalah Riyono Pratikto yang dalam sepuluh tahun itu telah menghasilkan sedikitnya 95-an cerpen yang umumnya mengangkat cerita mistik dan dunia supernatural.

    Pengarang lain yang patut disebutkan di sini adalah Suripman (P. Sengodjo), Herman Pratikto, Surandal AM dan Muhammad Ali. Tiga nama yang disebut pertama, secara kualitas dan kuantitas, sebenarnya memperlihatkan kematangannya pada tahun 1950-an itu. Namun tahun-tahun berikutnya, karya mereka tidak pernah lagi muncul. Kumpulan cerpen Suripman, Pahlawan dan Kucing (Balai Pustaka, 1987) diambil dari cerpen-cerpennya yang pernah muncul tahun 1950-an itu.

    Seperti telah disebutkan, dari kelompok ini muncul para penulis keturunan Tionghoa, seperti Khong Bo Ya, Njoo Siong Seng, dan Tan Sioe Tjhay. Nama-nama mereka muncul pascamerdeka atau pada akhir tahun 1940-an dan karya-karya mereka sebagian besar diterbitkan di majalah Star Weekly dan Liberty terbitan Surabaya. Apa artinya para pengarang keturunan Tionghoa ini dalam konteks perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, dan lebih khusus lagi menyangkut sistem kepengarangan di Indonesia.

    Tampak di sini, bahwa semenjak memasuki zaman Jepang, peta kepengarang sastra Indonesia tidak lagi didominasi oleh para pengarang Sumatra. Satu pertanda bahwa para pengarang di luar kelahiran Sumatra, terutama Jawa dan Sunda, mulai ikut memainkan peranannya dalam perjalanan kesusastraan Indonesia. Tak ada lagi dominasi Sumatra (: Minangkabau). Akibatnya, tema dan gaya, dan teristimewa bahasa Indonesia para pengarang di luar Sumatra, memperlihatkan keberagaman yang amat dipengaruhi oleh faktor tradisi budaya para pengarang yang bersangkutan.

    Bahwa sejak awal kemerdekaan sampai tahun 1950-an, bahkan sampai kini, tidak sedikit para pengarang keturunan Tionghoa menulis sejumlah karya sastra untuk pembaca Indonesia secara umum, hal itu juga memperlihatkan bahwa soal-soal kesukuan dan kedaerahan (etnis), tidak lagi dipersoalkan. Satu hal membedakan para penulis keturunan Tionghoa tahun 1950-an dengan para penulis Tionghoa atau Cina peranakan, sebagaimana yang telah diteliti Claudine Salmon, adalah dalam hal pemakaian bahasa Indonesianya. Para penulis keturunan Tionghoa tahun 1950-an menggunakan bahasa Indonesia yang bukan bahasa Indonesia pasar (Melayu pasar).

    Kelompok kedua yang karya-karyanya baru muncul pada tahun 1950 sampai pertengahan dasawarsa itu adalah para pengarang Indonesia yang justru sangat menyemarakkan konstalasi kesusastraan Indonesia tahun 1950-an. Beberapa nama yang perlu disebutkan di sini adalah M.S. Achmad, Sobron Aidit, Trisnojuwono, Bokor Hutasuhut, Ali Audah, Yusack Ananda, Atto Ananda, jamil Suherman, M. Alwi Dahlan, Suwardi Idris, S.M. Ardan, Harijadi S. Hartowardojo, Sugiarta Sriwibawa, Sukanta SA, Motinggo Boesje, Ramadhan K.H., Muhammad Diponegoro, Nugroho Notosusanto, Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Iwan Simatupang, Rendra, dan sederetan nama lain lagi. Kecuali Achmad dan Atto Ananda, para penulis lain yang disebut di atas masih terus bergiat dalam kegiatan kesusastraan. Sobron Aidit, misalnya, betapapun setelah peristiwa G 30 S PKI, ia tinggal di luar negeri dan membuka restoran di Paris, beberapa puisinya belakangan masih sempat ia kirimkan ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

    Yang sangat menonjol dalam kelompok ini pada masa itu adalah Toto Sudarto Bachtiar yang dalam dasawarsa itu telah menghasilkan 126 puisi; Ajip Rosidi (241 puisi dan 43 cerpen); dan Rendra (151 puisi, 25 cerpen, dan satu drama). Motinggo Boesje yang menghasilkan dua drama dan 46 cerpen, mengawalinya sejak cerpen pertamanya, Berantas, dimuat majalah Waktu, 29 Agustus 1954. Setelah itu karya-karyanya terus mengalir macam pabrik yang memproduksi barang tertentu. Nugroho Notosusanto dan Muhammad Diponegoro juga tampil dengan gaya dan tema yang berbeda. Nugroho lebih banyak mengangkat pengalamannya tentang sisi lain sebuah revolusi fisik, sedangkan Muhammad Diponegoro menampilkan kehidupan yang diwarnai dengan suasana keagamaan, hal yang juga tampak dari karya-karya Djamil Suherman.
    Sementara itu, tiga nama yang menonjol tadi; Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi dan Rendra, belakangan terus memantapkan namanya sebagai penyair penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Rendra masih terus dengan kepenyairannya bersama-sama dengan kegiatannya di bidang drama. Toto Sudarto Bachtiar mulai mengalihkan kegiatannya ke bidang penerjemahan. Sedangkan Ajip Rosidi bergiat dalam beragam bidang. Boleh jadi tidak ada bidang dalam kesusastraan yang tidak dimasuki Ajip Rosidi, termasuk juga penerjemahan khasanah sastra asing dan daerah (Sunda).

    Satu nama lain yang dalam tahun 1950-an itu kurang begitu menonjol, namun dalam tahun berikutnya menjadi sastrawan penting dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia adalah Iwan Simatupang. Dasawarsa tahun 1950-an itu, Iwan hanya menghasilkan satu cerpen (Lebih Hitam dari Hitam, Siasat, No. 13, 1959) dan 20 puisi. Tahun berikutnya, terutama lewat empat novelnya, Merahnya Merah, Ziarah, Kering, Koong, ia nyaris tak pernah terpisahkan dari pembicaraan mengenai sastra Indonesia modern.

    Ramadhan K.H. dan Ali Audah dalam perkembangannya menjalankan peranannya sendiri-sendiri dalam kesusastraan kita. Audah kini lebih banyak memusatkan perhatiannya ke bidang penerjemahan, sedangkan Ramadhan K.H., selain menulis puisi, menerjemahkan karya-karya asing, juga membuat buku-buku biografi para tokoh penting negeri ini.

    Kelompok ketiga yang kemunculannya pada pertengahan tahun 1950-an sampai akhir dasawarsa itu sekadar menyebut nama-nama penting antara lain, S. Anantaguna, Bastari Asnin, Ajatrohaedi, Satyagraha Hoerip, M. Poppy Hutagalung, Taufik Ismail, Kirjomulyo, Sapardi Djoko Damono, Agam Wispi, N.H. Dini, Mochtar Lubis, Mansur Samin dan Subagio Sastrowardjojo.

    S. Anantaguna dapatlah dikatakan sebagai pengarang yang tidak sepenting yang lainnya yang disebut di atas, apalagi kemudian ia begitu terlibatkan dalam kegiatan politik (PKI). Ini sangat berbeda dengan Agam Wispi. Meski pada dasawarsa tahun 1950-an itu ia hanya menghasilkan dua cerpen, dua drama, dan 41 puisi, secara keseluruhan karya-karyanya memperlihatkan kedalaman isi dan visi kemanusiaan.

    Kirjomulyo dalam bidang cerpen dan puisi, sebenarnya tidaklah begitu menonjol, dengan menghasilkan sembilan cerpen dan 47 puisi, namun dalam bidang drama, ia cukup penting mengingat pada dasawarsa itu ia menghasilkan delapan drama.

    Sementara Ayatrohaedi dalam perkembangan kepengarangannya tidaklah sepenting kakaknya, Ajip Rosidi. Ia lebih banyak memusatkan perhatiannya pada sejarah kuna (arkeologi) dan bahasa, betapapun sama sekali tak meninggalkan kegiatan di bidang sastra.

    Yang masih terus berlanjut kepengarangannya sampai kini adalah Satyaghraha Hoerip (cerpen), M. Poppy Hutagalung, Bastari Asnin (cerpen), dan teristimewa Taufiq Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Dua yang disebut terakhir itu justru menjadi penyair penting yang masing-masing mempunyai keistimewaannya sendiri. Belakangan dua nama ini juga diundang dan dianugerahi berbagai hadiah dalam dan luar negeri.

    Beberapa Kesimpulan

    Dari pembicaraan sejumlah pengarang yang muncul dalam dasawarsa tahun 1950-an itu, kita dapat menangkap beberapa hal penting dalam sistem pengarang kita.

    Pertama, tidak sedikit di antara para pengarang kita yang secara sadar mengandalkan penghasilannya dari hasil kerjanya sebagai pengarang. Beberapa di antaranya memang ada yang menempatkan kerja atau profesi pengarang sebagai profesi yang dapat dilakukan bersama pekerjaan lain, sehingga kerja kepengarangan dianggap sebagai pekerjaan kedua.

    Kedua, mengingat pada dasawarsa tahun 1950-an itu, muncul pengarang-pengarang non-Sumatra dan masuknya latar dan budaya daerah, serta tampilnya pengarang keturunan Tionghoa, maka "keindonesiaan" sastra Indonesia sebenarnya "dibentuk" pada periode itu.

    Ketiga, pada masa itu juga para sastrawan kita, sering kali tidak hanya memusatkan perhatiannya pada satu bidang sastra itu saja (puisi, prosa, drama, esai, terjemahan) maka sebagian besar pengarang tahun 1950-an adalah pengarang yang "serba bisa".

    Keempat, pada tahun 1950-an itu juga beberapa majalah atau lembaga sengaja menyelenggarakan lomba penulisan puisi, drama, cerpen, atau novel. Dari lomba inilah, muncul pula nama-nama baru, sebagaimana yang dilakukan A.A. Navis lewat cerpennya Robohnya Surau Kami. Cerpen inilah yang mengawali karier kepengarangannya.

    Kelima, mengingat pada tahun 1950-an itu juga banyak karya asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, hal itu sekaligus juga membuka kemungkinan yang sangat luas bagi pengarang lainnya untuk berkenalan dengan kesusastraan asing. Dengan demikian, mereka tidak hanya berangkat dari tradisi budaya kedaerahannya yang harus diejawantahkan lewat bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tetapi juga lewat perkenalannya dengan sastra asing. Iwan Simatupang, adalah contoh yang baik, bagaimana perpaduan Barat - daerah, diejawantahkan dalam kesusastraan yang berbahasa Indonesia.

    Keenam, bahwa citra sumbang profesi pengarang di mata masyarakatnya, sama sekali tidak mengurangi minat dan keinginan para pengarang atau 'calon' pengarang, mengingat di lingkungan para pengarang sendiri ada anggapan bahwa masyarakat kita masih terpaku pada cara berpikir kolonial. Begitu juga soal status kepriyayian, pada tahun 1950-an itu makin tidak populer sebagai status yang begitu tinggi nilainya.

    Ketujuh, ramainya pembicaraan mengenai karya sastra sebagaimana yang dirintis H.B. Jassin sejak awal kemerdekaan dan semakin dimantapkan lagi pada tahun 1950-an, membuka jalan bagi popularitas kritik sastra. Beberapa intelektual atau setidak-tidaknya yang berasal dari lingkungan akademi seperti Slamet Mulyana yang pada dasawarsa itu menulis beberapa drama, Nugroho Notosusanto, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, M. Alwi Dahlan atau Taufiq Ismail, telah makin menyadarkan banyak kalangan bahwa kegiatan kepengarangan tidaklah semata-mata dilahirkan dari bakat alam, melainkan juga wawasan dan intelektual yang mesti diraih lewat berbagai pendidikan.

    Kedelapan, bahwa pendidikan para pengarang kita tahun 1950-an itu sebagian besar adalah pendidikan Belanda. Minat terhadap ilmu pengetahuan yang telah menjadi tradisi pendidikan Belanda, merupakan pengaruh positif yang tertanam dalam diri para pengarang Indonesia tahun 1950-an dan kemudian berlanjut hingga kini.

    Kesembilan, bahwa hingga kini profesi pengarang dianggap sebagai bidang pekerjaan yang 'tidak jelas' sesungguhnya merupakan anggapan dari tradisi berpikir kolonial. Bekerja di kantor tertentu dengan jadwal waktu tertentu, dan penghasilan yang juga tertentu, adalah cara berpikir birokrat yang lahir di zaman kolonial Belanda.

    Kesepuluh, bahwa pengarang tahun 1950-an sebagian besar memperoleh pendidikan Belanda, tetapi ia dibesarkan dalam situasi perang kemerdekaan. Di antara mereka juga tidak dapat dilepaskan begitu saja faktor sosio-kultural dan agama yang melatarbelakanginya. Belum termasuk soal ideologi yang sering ikut mempengaruhi struktur formal karya sastra, sebagaimana terbukti saat memasuki tahun 60-an. Itulah yang membuat karya-karya sastra Indonesia menampilkan tema dan gaya pengungkapan yang begitu beragam. Hal inilah yang membedakan kesusastraan kita dengan kesusastraan negara lain.


    Daftar Pustaka
    Anthony R. (1987). Perjuangan Rakyat Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra Timur, Sinar Harapan, Jakarta.

    Bandjaransari, S. (1952) Sedjarah Pemerintah Kota Jogjakarta. Djawatan Penerangan Kotapradja Jogjakarta, 1952.

    "Daftar Tetap Tjalon Anggota DPR Daerah Istimewa Jogjakarta" (1951) dalam Warta Daerah Istimewa Jogjakarta Th. I No. 3, 4, Sekretariat DPD, Kepatihan.

    Dewan Pemerintah Daerah Istimewa Jogjakarta, Peraturan Kepala Daerah No. 1/KPPP/51: Tata Tertib Tjabang-tjabang Kantor Pemilihan DPR Daerah, Arsip Pemerintah Daerah.

    Djoko. (1974). "Some Notes of the Tiga Daerah Affair", Masyarakat Indonesia Th. I No. 2, LIPI.

    Kantor Pemilihan Pusat Propinsi Jogjakarta. (1951). Pengumuman No. 15/KP3/D/1951 tentang: Daftar Anggota DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 24 Desember 1951, Arsip Sekretariat DPRD.

    Laporan ke III dari Panitia Otonomie DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 20 Djanuari 1953, Arsip Sekretariat DPRD.

    Laporan ke IV Panitia Otonomi DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 25 Agustus 1953. Arsip Sekretariat DPRD.

    Maklumat No. 7/1945 Daerah Istimewa Yogyakarta tentang: Pembentukan Dewan Perwakilan Rakjat Kalurahan, 6 Desember 1945, turunan.

    Maklumat No. 18/1946 Daerah Istimewa Yogyakarta tentang: Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Istimewa Yogyakarta, turunan, Djawatan Pradja, 1950.

    Moedjanto. (1990). The Concept of Power in Javanese Culture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

    Mosi No. 11/DPR/1953 tentang: Kedudukan Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai Daerah Tingkat I yang Berotonomi Penuh, Arsip Sekretariat DPRD.

    Peraturan Daerah No. 6/DPR/1952 tentang: Pedoman untuk DPD, Arsip Sekretariat DPD.

    "Perdjoangan Panitia Tudjuh".(1953) dalam Triwarsa Dewan Perwakilan Rakjat Kotapradja Jogjakarta, Panitia Penerbitan Pemerintah Kotapradja Jogjakarta.

    Pidato Ketua DPR Kotapradja Jogjakarta pada Conferentie DPD dan Ketua-ketua DPRD dalam Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 17 Djuli 1953. Arsip Sekretariat DPRD.

    Pidato Menteri Dalam Negeri pada Upatjara Pelantikan Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Istimewa Jogjakarta 24 Desember 1951, Arsip Sekretariat DPRD.

    Poerbopranoto, K. (1978). Sistem Pemerintahan Demokrasi. Jakarta: PT Eresco.

    Poerwokoesoemo, S. (1953). Triwarsa DPRD Kotapradja Jogjakarta, Sambutan Walikota Jogjakarta, turunan, 29 Nopember 1953.

    Prae Advis Panitia Otonomi Seksi I DPR Daerah Istimewa Jogjakarta dalam Conferentie DPD dan Ketua-ketua DPRD dalam Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 17 Djuli 1953, Arsip Sekretariat DPRD.

    Sjafei, M. Prae Advis pada Kongres Desentralisasi tanggal 10 sampai dengan 13 Maret 1955 di Bandung, Arsip Sekretariat DPRD.

    Soedihardjo, "Sekitar Dewan Kota" (DPR sebelum tanggal 11 November), naskah stensilan, tanpa tahun.

    Sosrokusumo, R.A. (1951). Desentralisasi dan Hak Otonomi. Surabaya: Perpustakaan Adji.

    Sultan Hamengkubuwono IX. (1952). Sambutan Kepala Daerah Istimewa Jogjakarta pada Hari Ulang Tahun ke-I DPR Daerah Istimewa Jogjakarta tanggal 24 Desember 1952, Arsip Sekretariat DPRD.

    Surat Keputusan No. 4/K/DPR/1954: Pedoman bagi Panitia Otonomi DPR Daerah Istimewa Jogjakarta, Arsip Sekretariat DPRD.

    Suyatno. (1974). "Revolution and Social Tension in Surakarta 1945-50", Journal Indonesia No. 17 Tahun I, Cornell University Press, 1974.

    Undang-undang No. 17 tahun 1947 tentang: Pembentukan Haminte Kota Jogjakarta, tanggal 7 Djuni 1947, turunan.

    Undang-undang No. 3 tahun 1950 tentang: Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai Daerah Otonom, turunan.


    Download tulisan ini di sini

    Download Novel Sastra
    Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


    goesprih.blogspot.com Overview

    goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook