Showing posts with label Sastra Melayu. Show all posts
Showing posts with label Sastra Melayu. Show all posts

Monday, December 31, 2012

Kisah Pararaton

Kisah Ken Arok (lanjutan)

Kemudian Ranggawuni menjadi raja, ia dengan Mahisa Campaka dapat diumpamakan seperti dua ular naga didalam satu liang. Ranggawuni bernama nobatan Wisnuwardana, demikanlah namanya sebagai raja, Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya, bernama nobatan Batara Narasinga. Sangat rukunlah mereka, tak pernah berpisah. Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun Saka 1193. Ia berangkat menyerang Mahibit, untuk melenyapkan Sang Lingganing Pati. Adapun sebabnya Mahibit kalah, karena kemasukkan orang yang bernama Mahisa Bungalan. Sri Ranggawuni menjadi raja lamanya 14 tahun, ia wafat pada tahun 1194, dicandikan di Jajagu. Mahisa Campaka wafat, dicandikan di Kumeper, sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir.

Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda. 

Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik ke atas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani. Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel.

Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu. Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang. Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya. Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan. Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: "Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi." Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua. Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling.

Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: "Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami." Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya. Sekarang Raden Wijaya ditunjuk untuk berperang melawan tentara yang datang dari sebelah utara Tumapel, disertai oleh para arya terkemuka: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang Sora, Dangdi Gajah Pangon, anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng dan Wirot, semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya. Kemudian turunlah tentara besar besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Aksa, menuju ke Lawor, mereka ini tak diperbolehkan membikin gaduh, tidak membawa bendera, apalagi bunyi bunyian, sedatangnya di Sidabawana langsung menuju Singasari. Yang menjadi prajurit utama dari tentara Daha sebelah selatan ini, yalah: Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot dan Bowong. Ketika Batara Siwa Buda sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih, maka pada waktu itu ia dikalahkan, semua gugur, Kebo Tengah yang melakukan pembalasan, meninggal di Manguntur. (bersambung)

Friday, December 28, 2012

Kisah Para Datu

Kisah Ken Arok (Bagian IV)

Apanji Tohjaya menjadi raja di Tumapel. Sang Anusapati mempunyai seorang anak laki laki bernama Ranggawuni, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan. Mahisa Wonga Teleng, saudara Apanji Tohjaya, sama ayah lain ibu, mempunyai anak laku laki, ialah: Mahisa Campaka, hubungan keluarganya dengan Apanji Tohjaya adalah kemenakan juga. Pada waktu Apanji Tohjaya duduk di atas tahta, disaksikan oleh orang banyak, dihadap oleh menteri menteri, semua terutama Pranaraja, Ranggawuni beserta Kebo Campak juga menghadap. Kata Apanji Tohjaya: "Wahai, menteri menteri semua, terutama Pranaraja, lihatlah kemenakanku ini, luar biasa bagus dan tampan badannya.

Bagaimana rupa musuhku di luar Tumapel ini, kalau dibandingkan dengan orang dua itu, bagaimanakah mereka, wahai Pranaraja." Pranaraja menjawab sambil menyembah: "Betul tuanku, seperti titah tuanku itu, bagus rupanya dan sama sama berani mereka berdua, hanya saja tuanku, mereka dapat diumpamakan sebagai bisul di pusat perut tak urung akan menyebabkan mati akhirnya." Paduka batara itu lalu diam, sembah Pranaraja makin terasa, Apanji Tohjaya menjadi marah, lalu ia memanggil Lembu Ampal, diberi perintah untuk melenyapkan kedua bangsawan itu. Kata Apanji Tohjaya kepada Lembu Ampal: "Jika kamu tidak berhasil melenyapkan dua orang kesatriya itu, kamulah yang akan kulenyapkan."

Pada waktu Apanji Tohjaya, memberi perintah kepada Lembu Ampal melenyapkan dua bangsawan itu, ada seorang brahmana yang sedang melakukan upacara agama sebagai pendeta istana untuk Apanji Tohjaya. Dang Hyang itu mendengar, bahwa kedua bangsawan itu disuruh melenyapkan. Sang Brahmana menaruh belas kasihan kepada dua bangsawan, lalu memberi tahu: "Lembu Ampal diberi perintah untuk melenyapkan tuan berdua, kalau tuan kalian dapat lepas dari Lembu Ampal ini, maka Lembu Ampallah yang akan dilenyapkan oleh Seri Maharaja." Kedua bangsawan itu berkata: "Wahai Dang Hyang, bukanlah kami tidak
berdosa."

Sang Brahmana menjawab: "Lebih baik tuan bersembunyi dahulu." Karena masih dibimbangkan, kalau kalau brahmana itu bohong, maka kedua bangsawan itu pergi ke Apanji Patipati. Kata bangsawan itu: "Panji Patipati, kami bersembunyi di dalam rumahmu, kami mengira, bahwa kami akan dilenyapkan oleh Batara, kalau memang akan terjadi kami dilenyapkan itu, kami tidak ada dosa." Setelah itu maka Apanji Patipati mencoba mendengar dengarkan: "Tuan, memang betul, tuan akan dilenyapkan, Lembu Ampal lah yang mendapat tugas." Keduanya makin baik cara bersembunyi, dicari, kedua duanya tak dapat diketemukan. Didengar dengarkan, kemana gerangan mereka pergi, tak juga dapat terdengar. Maka Lembu Ampal didakwa bersekutu dengan kedua bangsawan itu oleh Batara. Sekarang Lembu Ampal ditindak untuk dilenyapkan, larilah ia, bersembunyi di dalam rumah tetangga Apanji Patipati. Lembu Ampal mendengar, bahwa kedua bangsawan berada di tempat tinggal Apanji Pati Pati. Lembu Ampal pergi menghadap kedua bangsawan, kata Lembu Ampal kepada kedua bangsawan itu: "Hamba berlindung kepada tuan hamba, dosa hamba: disuruh melenyapkan tuan oleh Batara. Sekarang hamba minta disumpah, kalau tuan tidak percaya, agar supaya hamba dapat menghamba paduka tuan dengan tenteram." Setelah disumpah dua hari kemudian Lembu Ampal menghadap kepada kedua bangsawan itu: "Bagaimanakah akhirnya tuan, tak ada habis habisnya terus menerus bersembunyi ini, sebaiknya hamba akan menusuk orang Rajasa, nanti kalau mereka sedang pergi kesungai." 

Pada waktu sore Lembu Ampal menusuk orang Rajasa, ketika orang berteriak, ia lari kepada orang Sinelir. Kata orang Rajasa: "Orang Sinelir menusuk orang Rajasa. Kata orang Sinelir: "Orang Rajasa menusuk orang Sinelir." Akhirnya orang orang Rajasa dan orang orang Sinelir itu berkelahi, bunuh membunuh sangat ramainya, dipisah orang dari istana, tidak mau memperhatikan. Apanji Tohjaya marah, dari kedua golongan ada yang dihukum mati. Lembu Ampal mendengar, bahwa dari kedua belah pihak ada yang dilenyapkan, maka Lembu Ampal pergi ke Orang Rajasa. Kata Lembu Ampal: "Kalau kamu ada yang akan dilenyapkan hendaknyalah kamu mengungsi kepada kedua bangsawan, karena kedua bangsawan itu masih ada." Orang orang Rajasa menyatakan kesanggupannya: "Nah, bawalah kami hamba hamba ini menghadapnya, wahai Lembu Ampal." Maka ketua orang Rajasa dibawa menghadap kepada kedua bangsawan. Kata orang Rajasa itu: "Tuanku, hendaknyalah tuan lindungi hamba hamba Rajasa ini, apa saja yang menjadi tuan titah, hendaknyalah hamba tuan sumpah, kalau kalau tidak sungguh sungguh kami menghamba ini, kalau tidak jujur
penghambaan kami ini." Demikian pula orang Sinelir, dipanggilah ketuanya, sama kesanggupannya dengan orang Rajasa, selanjutnya kedua belah pihak telah didamaikan dan telah disumpah semua, lalu dipesan: "Nanti sore hendaknya kamu datang kemari, dan bawalah temanmu masing masing, hendaknyalah kamu memberontak meluka lukai di dalam istana."

Orang Sinelir dan orang Rajasa bersama sama memohon diri. Setelah sore hari orang orang dari kedua belah pihak datang membawa teman temannya, bersama sama menghadap kepada kedua bangsawan, mereka keduanya saling mengucap selamat datang, lalu berangkat menyerbu ke dalam istana. Apanji Tohjaya sangat terperanjat, lari terpisah, sekali gus kena tombak. Sesudah huru hara berhenti, ia dicari oleh hamba hambanya, diusung dan dibawa lari ke Katanglumbang. Orang yang mengusung lepas cawatnya, tampak belakangnya. Kata Apanji Tohjaya kepada orang yang memikul itu: "Perbaikilah cawatmu, karena tampak belakangmu." Adapun sebabnya ia tidak lama menjadi raja itu, karena pantat itu.

Setelah datang di Lumbangkatang, wafatlah ia, lalu dicandikan di Katanglumbang, ia wafat pada tahun Saka 1172. (bersambung)

Wednesday, December 26, 2012

Kisah Ken Arok

Kisah Para Datu (Bagian III)

Adalah seorang hambanya berpangkat pengalasan di Batil, dipanggil oleh Nusapati, disuruh membunuh Ken Angrok, diberi keris buatan Gandring, agar supaya dipakainya untuk membunuh Sang Amurwabumi, orang di Batil itu disanggupi akan diberi upah oleh Nusapati. Berangkatlah orang Batil masuk kedalam istana, dijumpai Sang Amurwabumi sedang bersantap, ditusuk dengan segera oleh orang Batil. Waktu ia dicidera, yalah: Pada hari Kamis Pon, minggu Landhep, saat ia sedang makan, pada waktu senjakala, matahari telah terbenam, orang telah menyiapkan pelita pada tempatnya.

Sesudah Sang Amurwabumi mati, maka larilah orang Batil, mencari perlindungan pada Sang Anusapati, kata orang Batil: "Sudah wafatlah ayah tuan oleh hamba." Segera orang Batil ditusuk oleh Nusapati.

Kata orang Tumapel: "Ah, Batara diamuk oleh pengalasan di Batil, Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1168, dicandikan di Kagenengan. Sesudah demikian, sang Anusapati mengganti menjadi raja, ia menjadi raja pada tahun Saka 1170. Lama kelamaan diberitakan kepada Raden Tohjaya, anak Ken Angrok dari isteri muda, sehingga ia mendengar segala tindakan Anusapati, yang mengupahkan pembunuhan Sang Amurwabumi kepada orang Batil. Sang Apanji Tohjaya tidak senang tentang kematian ayahnya itu, meikir mikir mencari cara untuk membalas, agar supaya ia dapat membunuh Anusapati. Anusapati tahu, bahwasanya ia sedang direncana oleh Panji Tohjaya, berhati hatilah Sang Anusapati, tempat tidurnya dikelilingi kolam, dan pintunya selalu dijaga orang, sentosa dan teratur. 

Setelah lama kemudian Sang Apanji Tohjaya datang menghadap dengan membawa ayam jantan pada Batara Anuspati. Kata Apanji Tohjaya: "Kakak, ada keris ayah buatan Gandring, itu hamba pinta dari tuan." Sungguh sudah tiba saat Batara Anuspati. Diberikan keris buatan Gandring oleh Sang Anusapati, diterima oleh Apanji Tohjaya, disisipkan dipinggangnya, lalu kerisnya yang dipakai semula, diberikan kepada hambanya. Kata Apanji Tohjaya: "Baiklah, kakak mari kita menyiapkan ayam jantan untuk segera
kita ajukan di gelanggang."

Menjawablah Sang Adipati: "Baiklah, adik." Selanjutnya ia menyuruh kepada hamba pemelihara ayam mengambil ayam jantan, kata Anusapati: "Nah, adik mari mari kita sabung segera.", "Baiklah" kata Apanji Tohjaya. Mereka bersama sama memasang taji sendiri – sendiri, telah sebanding, Sang Anusapati asyik sekali. Sungguh telah datang saat berakhirnya, lupa diri, karena selalu asyik menyabung ayamnya, ditusuk keris oleh Apanji Tohjaya. Sang Anusapati wafat pada tahun Saka 1171, dicandikan di Kidal. (bersambung)

Sunday, December 23, 2012

Kisah Ken Arok

Kisah Para Datu (Bagian II)

Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. Kata guru: "Jika sudah masak jambu itu, petiklah". Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang-kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak- nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong-bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru. Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru. Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah. 

Kata guru kepada murid murid: "Apakah sebabnya maka jambu itu rusak." Menjawablah pengiring guru: "Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu". Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman. Ken Angrok tidur lagi di atas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. 

Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar. Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : "Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru." 

Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya. Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani di dalam pertemuan di dalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui alan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. "Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya" kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa." Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala. 

Ada seorang pemikat burung ptpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil-manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh-tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal di situ, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan. Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu ke mana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan di bawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. Sekarang ia menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang ke seberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu. Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seorang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah:

"Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi ke mari." menjawablah penguasa daerah itu: "Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak di sini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain di sini" Kata orang-orang yang mengejar: "Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang." Segera pergilah yang mengejar. 

Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: "Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan". Maka kata ken Angrok: "Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu. Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan di atas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap-tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: "Apakah sebabnya maka nasi itu hilang". Sekarang nasi anak gembala kepala Lingkungan di tempat membajak itu diintai, dengan  bersembunyi, anak gembalanya disuruh membajak, tak lama kemudian Ken Angrok datang dari dalam hutan, maksud Ken Angrok akan mengambil nasi, ditegor oleh kepala lingkungan: "Terangnya, kamulah, buyung, yang nengambil nasi anak gembalaku tiap tiap hari itu," 

Ken Angrok menjawab: "Betullah tuan kepala lingkungan, saya inilah yang mengambil nasi anak gembala tuan tiap-tiap hari, karena saya lapar, tak ada yang kumakan.." Kata kepala Lingkungan: "Nah buyung. datanglah ke asramaku, kalau kamu lapar, mintalah nasi tiap tiap hari, memang saya tiap tiap hari mengharap ada tamu datang". Lalu Ken Angrok diajak pergi ke rumah tempat tinggal kepala lingkungan itu, dijamu dengan nasi dan lauk pauk. Kata kepala lingkungan kepada isterinya: "Nini batari, saya berpesan kepadamu, kalau Ken Angrok datang kemari, meskipun saya tak ada di rumah juga, lekas lekas terima sebagai keluarga, kasihanilah ia" diceriterakan, Ken Angrok tiap tiap hari datang, seperginya dari situ menuju ke Lulumbang, ke banjar Kocapet. Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada, ia pulang dari Kebalon, bernama Mpu Palot, ia adalah tukang emas, berguru kepada kepala desa tertua di Kebalon yang seakan akan sudah berbadankan kepandaian membuat barang barang emas dengan sesempurna sesempurnanya, sungguh ia telah sempurna tak bercacad, Mpu Palot pulang dari Kebalon, membawa beban seberat lima tahil, berhenti di Lulumbang, Mpu Palot itu takut akan pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang dikhabarkan melakukan perkosaan di jalan, bernama Ken Angrok. Mpu Palot tidak melihat orang lain, ia berjumpa dengan Ken Angrok di tempat beristirahat. 

Kata ken Angrok kepada Mpu Palot: ,,Wahai, akan pergi kemanakah tuanku ni," 

Kata Mpu, menjawabnya: "Saya sedang bepergian dari Kebalon, buyung, akan pulang ke Turyantapada, saya takut di jalan, memikir mikir ada orang yang melakukan perkosaan dijalan, bernama Ken Angrok". Tersenyumlah Ken Angrok: "Nah Tuan, anaknda ini akan menghantarkan pulang tuan, anaknda nanti yang akan melawan kalau sampai terdjadi berjumpa dengan orang yang bernama ken Angrok itu, laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan khawatir." Mpu di Tuyantapada itu merasa berhutang budi mendengar kesanggupan Ken Angrok. Setelah datang di Turyantapada, Ken Angrok diajar ilmu kepandaian membuat barang barang emas, lekas pandai, tak kalah kalau kesaktiannya dibandingkan dengan Mpu Palot, selanjutnya Ken Angrok diaku anak oleh Mpu Palot, itulah sebabnya asrama Turyantapada dinamakan daerah Bapa. Demikianlah Ken Angrok mengaku ayah kepada Mpu Palot, karena masih ada kekurangan Mpu Palot itu, maka Ken Angrok disuruhi pergi ke Kebalon oleh Mpu Palot, disuruh menyempurnakan kepandaiaan membuat barang barang emas pada orang tertua di Kebalon, agar dapat menyelesaikan bahan yang ditinggalkan oleh bapak kepala lingkungan. Ken Angrok berangkat menuju ke Kebalon, tidak dipercaya Ken Angrok itu oleh penduduk di Kebalon. Ken Angrok lalu marah : "Semoga ada lobang di tempat orang yang hidup menepi ini," Ken Angrok menikam, orang lari mengungsi kepada kepala desa tertua di Kebalon, dipanggil berkumpul petapa petapa yang berada di Kebalon semua, para guru Hyang, sampai pada para punta, semuanya keluar, membawa pukul perunggu, bersama sama mengejar dan memukul Ken Angrok dengan pukulan perunggu itu, maksud para petapa itu akan memperlihatkan kehendaknya untuk membunuh Ken Angrok. Segera mendengar suara dari angkasa: "Jangan kamu bunuh orang itu, wahai para petapa, anak itu adalah anakku, masih jauh tugasnya di alam tengah ini."

Demikanlah suara dari angkasa, terdengar oleh para petapa. Maka ditolong Ken Angrok, bangun seperti sedia kala. Ken Angrok lalu mengenakan kutuk: "Semoga tak ada petapa di sebelah timur Kawi yang tidak sempurna kepandaianya membuat benda-benda emas". Ken Angrok pergi dari Kebalon, mengungsi ke Turyantapada, ke daerah lingkungan Bapa; sempurnalah kepandaiannya tentang emas. Ken Angrok pergi dari lingkungan Bapa menuju ke daerah desa Tugaran, Kepala tertua di Tugaran tidak menaruh belas digangguilah orang Tugaran oleh Ken Angrok, arca penjaga pintu gerbangnya didukung diletakkan di daerah lingkungan Bapa, kemudian dijumpai anak perempuan kepala tertua di Tugaran itu, sedang menanam kacang di sawah kering. Gadis ini lalu ditemani di dalam pertemuan oleh Ken Angrok, lama kelamaan tanaman kacang menghasilkan berkampit kampit; inilah sebabnya pula maka kacang Tugaran benihnya mengkilat besar dan gurih. Ia pergi dari Tugaran pulang ke daerah Bapa lagi. Kata ken Angrok: "Kalau saja kelak menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini. Di kota Daha dikabarkan tentang Ken Angrok, bahwa ia merusuh dan bersembunyi di Turyantapada, dan Daha, Diadakan tindakan untuk melenyapkannya, ia dicari oleh orang orang Daha, pergilah dari daerah Bapa menuju ke gunung Pustaka. Ia pergi dari situ, mengungsi ke Limbehan, kepala tertua di Limbehan menaruh belas kasihanlah dimintai perlindungan oleh Ken Angrok itu, akhirnya Ken Angrok berjiarah ke tempat keramat Rabut Gunung Panitikan.

Kepadanya turun petunjuk dewa, disuruh pergi ke Rabut Gunung Lejar pada hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama, para dewa bermusyawarah berrapat; Demikian ini kata seorang nenek kebayan di Panitikan: "Saya akan membantu menyembunyikan kamu, buyung, agar supaya tak ada yang akan tahu, saya akan menyapu di Gunung Lejar pada waktu semua dewa-dewa bermusyawarah." Demikian kata nenek kebayan di Panitikan itu. 

Ken Angrok lari menuju ke Gunung Lejar, hari Rebo Wage, minggu Wariga pertama tiba, ia pergi ke tempat musyawarah. Ia bersembunyi di tempat sampah ditimbuni dengan semak belukar oleh nenek kebayan Panitikan. Lalu berbunyilah suara tujuh nada, guntur, petir, gempa guruh, kilat, taufan, angin ribut, hujan bukan masanya, tak ada selatnya sinar dan cahaya, maka demikian itu ia mendengar suara tak ada hentinya, berdengung dengung bergemuruh. Adapun inti musyawarah para dewa: "Yang rnemperkokoh nusa Jawa, daerah manalah mestinya." Demikianlah kata para dewa, saling mengemukakan pembicaraan: "Siapakah yang pantas menjadi raja di pulau Jawa," demikian pertanyaan para dewa semua. Menjawablah dewa Guru: "Ketahuilah dewa dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa." Kini keluarlah Ken Angrok dari tempat sampah, dilihat, oleh para dewa; semua dewa menjetujui, ia direstui bernama nobatan Batara Guru, demikian itu pujian dari dewa dewa, yang bersorak sorai riuh rendah. Diberi petunjuklah Ken Angrok agar mengaku ayah kepada seorang brahmana yang bernama Sang Hyang Lohgawe. dia ini baru saja dari Jambudipa, disuruh menemuinya di Taloka. Itulah asal mulanja ada brahmana di sebelah timur Kawi. Pada waktu ia menuju ke Jawa, tidak berperahu. hanya menginjak rumput kekatang tiga potong, setelah mendarat dari air, lalu menuju ke daerahTaloka, dang Hyang Lohgawe berkeliling mencari Ken Angrok. Kata Dang Hyang Lohgawe: "Ada seorang anak, panjang tangannya melampaui lutut, tulis tangan kanannya cakera dan yang kiri sangka, bernana Ken Angrok. Ia tampak pada waktu aku memuja, ia adalah penjelmaan Dewa Wisnu, pemberitahuannya dahulu di Jambudwipa, demikian: "Wahai Dang Hyang Lohgawe, hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tak ada disini, aku telah menjelma pada orang di Jawa, hendaknya kamu mengikuti aku di tempat perjudian." Tak lama kemudian Ken Angrok didapati di tempat perjudian, diamat amati dengan baik baik, betul ia adalah orang yang tampak pada Dang Hyang Lohgawe sewaktu ia memuja. Maka ia ditanyai. Kata Dang Hyang Lohgawe: "Tentu buyunglah yang bernama Ken Angrok, adapun sebabnya aku tahu kepadamu, karena kamu tampak padaku pada waktu aku memuja". Menjawablah Ken Angrok: "Betul tuan, anaknda bernama Ken Angrok." 

Dipeluklah ia oleh brahmana itu. Kata Dang Hyang Lohgawe: "Kamu saya aku anak, buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh ke mana saja kamu pergi." 

Ken Angrok pergi dari Taloka, menuju ke Tumapel, ikut pula brahmana itu. Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba pada akuwu. kepala daerah di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba hambanya, Kata Tunggul Ametung: "Selamatlah tuanku brahmana, dimana tempat asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan." Menjawablah Dang Hyang Lohgawe: Tuan Sang Akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saja ini sangat ingin menghamba kepada sang akuwu". Menjawablah Tunggul Ametung: "Nah, senanglah saya, kalau tuan Dang Hyang dapat bertempat tinggal dengan tenteram pada anaknda ini". Demikianlah kata Tunggul Ametung. Lamalah Ken Angrok menghamba kepada Tunggul Ametung yang berpangkat akuwu di Tumapel itu, Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa. Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai Tumapel. Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen, langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes; Tunggul Ametung sangat senang melihat gadis cantik itu. 

Kebetulan Mpu Purwa tak ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh Tunggu1 Ametung. Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak baik: "Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga orang orang di Panawidjen ini, semoga menjadi kering tempat mereka mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan. Demikian kata Mpu Purwa: ,,Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya terang, kutukku kepadanya, hanya: semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar." Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawidjen. Setelah datang di Tumapel, ken Dedes ditemani seperaduar oleh Tunggul Ametung, Tunggul Ametung tak terhingga cinta kasihnya, baharu saja Ken Dedes menampakkan gejala gejala mengandung, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji; Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu, jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuat. Setelah Tunggul Ametung pulang dari bercengkerama itu, Ken Angrok memberitahu kepada Dang Hyang Lohgawe, berkata: "Bapa Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya, tanda perempuan yang bagaimanakah demikian itu, yanda buruk atau tanda baikkah itu". Dang Hyang menjawab: " Siapa itu, buyung". Kata Ken Angrok: " Bapa, memang ada seorang perempuan, yang kelihatan rahasianya oleh hamba". Kata Dang Hyang: "Jika ada perempuan yang demikian, buyung, perempuan itu namanya: Nawiswari, ia adalah perempuan yang paling utama, buyung, berdosa, jika memperisteri perempuan itu, akan menjadi maharaja." Ke Angrok diam, akhirnya berkata: "Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu ialah isteri sang akuwu di Tumapel, jika demikian akuwu, saya akan bunuh dan saya ambil isterinya, tentu ia akan mati, itu kalau tuan mengijinkan." Jawab Dang Hyang: " Ya, tentu matilah, buyung, Tunggul Ametung olehmu, hanya saja tidak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta, batasnya adalah kehendakmu sendiri." Kata Ken Angrok: "Jika demikian, Bapa, hamba memohon diri kepada tuan." Sang Brahmana menjawab: "Akan kemana kamu buyung?" Ken Angrok menjawab: " Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba bernama Bango Samparan, ia cinta kepada hamba, dialah yang akan hamba mintai pertimbangan, mungkin ia akan menyetujuinya." 

Kata Dang Hyang: "Baiklah kalau demikian, kamu jangan tinggal terlalu lama di Karuman, buyung." Kata Ken Angrok: "Apakah perlunya hamba lama di sana." 

Ken Angrok pergi dari Tumapel, sedatangnya Karuman, bertemu dengan Bango Samparan. "Kamu ini keluar dari mana, lama tidak datang kepadaku, seperti didalam impian saja bertemu dengan kamu ini, lama betul kamu pergi." Ken Angrok menjawab: "Hamba berada di Tumapel, Bapa, menghamba pada sang akuwu. Adapun sebabnya hamba datang kepada tuan, adalah seorang isteri akuwu, turun dari kereta, tersingkap rahasianya, kelihatan bernyala oleh hamba. Ada seorang brahmana yang baru saja datang di Jawa, bernama Dang Hyang Lohgawe, ia mengaku anak kepada hamba, hamba bertanya kepadanya: "Apakah nama seorang perempuan yang menyala rahasianya itu." Kata Sang Brahmana: "Itu yang disebut seorang perempuan ardana reswari, sungguh baik tanda itu, karena siapa saja yang memperisterinya, akan dapat menjadi maharaja." Bapa Bango, hamba ingin menjadi raja, Tunggul Ametung akan hamba bunuh, isterinya akan hamba ambil, agar supaya anaknda menjadi raja, hamba minta persetujuan Bapa Dang Hyang, Kata Dang Hyang: "Buyung Angrok, tidak dapat seorang brahmana memberi persetujuan kepada orang yang mengambil isteri orang lain, adapun batasnya kehendakmu sendiri." 

Itulah sebabnya hamba pergi ke Bapa Bango, untuk meminta ijin kepada bapa, sang akuwu akan hamba bunuh dengan rahasia, tentu akuwu mati oleh hamba." Menjawablah Bango Samparan: "Nah, baiklah kalau demikian, saya memberi ijin, bahwa kamu akan menusuk keris kepada Tunggul Ametung dan mengambil isterinya itu, tetapi hanya saja, buyung Angrok, akuwu itu sakti, mungkin tidak dapat luka, jika kamu tusuk keris yang kurang bertuah. Saya ada seorang teman, seorang pandai keris di Lulumbang, bernama Mpu Gandring, keris buatannya bertuah, tak ada orang sakti terhadap buatannya, tak perlu dua kali ditusukkan, hendaknyalah kamu menyuruh membuat keris kepadanya, jikalau keris ini sudah selesai dengan itulah hendaknya kamu membunuh Tunggul Ametung secara rahasia." 

Demikian pesan Bango Samparan kepada Ken Angrok. kata Ken Angrok: "Hamba memohon diri, Bapa, akan pergi ke Lulumbang." Ia pergi dari Karuman, lalu ke Lulumbang, bertemu dengan Gandring yang sedang bekerja di tempat membuat keris. Ken Angrok datang lalu bertanya: "Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu, hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai didalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan." 

Kata Mpu Gandring: "Jangan lima bulan itu, kalau kamu menginginkan yang baik, kira – kira setahun baru selesai, akan baik dan matang tempaannya," Ken Angrok berkata: "Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya selesai didalam lima bulan." Ken Angrok pergi dari Lulumbang, ke Tumapel bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe yang bertanya kepada Ken Angrok: "Apakah sebabnya kamu lama di Tumapel itu." Sesudah genap lima bulan, ia ingat kepada perjanjiannya, bahwa ia menyuruh membuatkan keris kepada Mpu Gandring. Pergilah ia ke Lulumbang, bertemu dengan Mpu Gandring yang sedang mengasah dan memotong motong keris pesanan Ken Angrok. Kata Ken Angrok: "Manakah pesanan hamba kepada tuan Gandring." Menjawablah Gandring itu: "Yang sedang saya asah ini, buyung Angrok." Keris diminta untuk dilihat oleh Ken Angrok. 

Katanya dengan agak marah: "Ah tak ada gunanya aku menyuruh kepada tuan Gandring ini, bukankah belum selesai diasah keris ini, memang celaka, inikah rupanya yang tuan kerjakan selama lima bulan itu." Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu. 

Lalu diletakkan pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua, diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua. 

Kini Gandring berkata: "Buyung Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu." 

Sesudah Gandring berkata demikian lalu meninggal. Sekarang Ken Angrok tampak menyesal karena Gandring meninggal itu, kata Ken Angrok: "Kalau aku menjadi orang, semoga kemulianku melimpah, juga kepada anak cucu pandai keris di Lulumbang." Lalu pulanglah Ken Angrok ke Tumapel. Ada seorang kekasih Tunggul Ametung, bernama Kebo Hijo, bersahabat dengan Ken Angrok, cinta mencintai. Pada waktu itu Kebo Hijo melihat bahwa Ken Angrok menyisip keris baru, berhulu kayu cangkring masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar, senanglah Kebo Hijo melihat itu. Ia berkata kepada Ken Angrok: " Wahai kakak, saya pinjam keris itu." Diberikan oleh Ken Angrok, terus dipakai oleh Kebo Hijo, karena senang memakai melihatnya itu. Lamalah keris Ken Angrok dipakai oleh Kebo Hijo, tidak orang Tumapel yang tidak pernah melihat Kebo Hijo menyisip keris baru dipinggangnya. Tak lama kemudian keris itu dicuri oleh Ken Angrok dan dapat diambil oleh yang mencuri itu. Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja. Sekarang sesudah pagi pagi keris yang tertanam didada Tunggul Ametung diamat amati orang, dan oleh orang yang tahu keris itu dikenal keris Kebo Hijo yang biasa dipakai tiap tiap hari kerja. Kata orang Tumapel semua: "Terangnya Kebo Hijolah yang membunuh Tunggul Ametung dengan secara rahasia, karena memang nyata kerisnya masih tertanam didada sang akuwu di Tumapel. 

Kini Kebo Hijo ditangkap oleh keluarga Tunggul Ametung, ditusuk dengan keris buatan Gandring, meninggallah Kebo Hijo. Kebo Hijo mempunyai seorang anak, bernama Mahisa Randi, sedih karena ayahnya meninggal, Ken Angrok menaruh belas kasihan kepadanya, kemana mana anak ini dibawa, karena Ken Angrok luar biasa kasih sayangnya terhadap Mahisa Randi. Selanjutnya Dewa memang telah menghendaki, bahwasanya Ken Angrok memang sungguh sungguh menjadi jodoh Ken Dedes, lamalah sudah mereka saling hendak menghendaki, tak ada orang Tumapel yang berani membicarakan semua tingkah laku Ken Angrok, demikian juga semua keluarga Tunggul Ametung diam, tak ada yang berani mengucap apa apa, akhirnya Ken Angrok kawin dengan Ken Dedes. Pada waktu ditinggalkan oleh Tunggul Ametung, dia ini telah mengandung tiga bulan, lalu dicampuri oleh Ken Angrok. Ken Angrok dan Ken Dedes sangat cinta mencintai. Telah lama perkawinannya. Setelah genap bulannya Ken Dedes melahirkan seorang anak laki laki, lahir dari ayah Tunggul Ametung, diberi nama Sang Anusapati dan nama kepanjangannya kepanjiannya Sang 
Apanji Anengah. Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak. Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya,adik panji Tohjaya, bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. 

Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang. Sudah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua takut terhadap Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan keinginannya untuk menjadi raja, orang orang Tumapel semua senang, kalau Ken Angrok menjadi raja itu. Kebetulan disertai kehendak nasib, raja Daha, yalah raja Dandhang Gendis, berkata kepada para bujangga yang berada di seluruh wilayah Daha, katanya: "Wahai, tuan tuan bujangga pemeluk agama Siwa dan agama Budha, apakah sebabnya tuan tuan tidak menyembah kepada kami, bukanlah kami ini semata mata Batara Guru." Menjawablah para bujangga di seluruh daerah negara Daha: "Tuanku, semenjak jaman dahulu kala tak ada bujangga yang menyembah raja." demikianlah kata bujangga semua. 

Kata Raja Dandhang Gendis: "Nah, jika semenjak dahulu kala tak ada yang menyembah, sekarang ini hendaknyalah kami tuan sembah, jika tuan tuan tidak tahu kesaktian kami, sekarang akan kami beri buktinya." Kini Raja Dandhang Gendis mendirikan tombak, batang tombak itu dipancangkan kedalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: "Nah, tuan tuan bujangga, lihatlah kesaktian kami." Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, semata mata Batara Guru perwujudannya, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah, semua tidak ada yang mau, bahkan menentang dan mencari perlindungan ke Tumapel, menghamba kepada Ken Angrok. Itulah asal mulanya Tumapel tak mau tahu negara Daha. Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Siwa dan 
Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe, ia diangkat menjadi pendeta istana, adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada Ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, semua dipanggil, diberi perlindungan dan diberi belas balasan atas budi jasanya, misalnya Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala lingkungan Turyantapada, dan anak anak pandai besi Lulumbang yang bernama Mpu Gandring, seratus pandai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa di dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya. 

Adapun anak Kebo Hijo disamakan haknya dengan anak Mpu Gandring. Anak laki laki Dang Hyang Lohgawe, bernama Wangbang Sadang, lahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dikawinkan dengan anak Bapa Bango yang bernama Cucu Puranti, demikianlah inti keutamaan Sang Amurwabumi. Sangat berhasillah negara Singasari, sempurna tak ada halangan. Telah lama terdengar berita, bahwa Ken Angrok sudah menjadi raja, diberitahulah raja Dandhang Gendis, bahwa Ken Angrok bermaksud akan menyerang Daha. Kata Raja Dandhang Gendis: "Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah." Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian. Kata Sang Amurwabumi: "Wahai, para bujangga pemeluk Siwa dan Budha, restuilah kami mengambil nama nobatan Batara Guru." Demikianlah asal mulanya ia bernama nobatan    Batara Guru, direstui oleh bujangga brahmana dan resi. Selanjutnya ia lalu pergi menyerang Daha. Raja Dandhang Gendis mendengar, bahwa Sang Amurwabumi di Tumapel datang menyerang Daha, Dandhang Gendis berkata: "Kami akan kalah, karena Ken Angrok sedang dilindungi Dewa." 

Sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, berperang di sebelah utara Ganter, bertemu sama sama berani, bunuh membunuh, terdesaklah tentara Daha. 

Adik Raja Dandhang Gendis gugur sebagai pahlawan, ia bernama Mahisa Walungan, bersama sama dengan menterinya yang perwira, bernama Gubar Baleman. Adapun sebabnya itu gugur, karena diserang bersama-sama oleh tentara Tumapel, yang berperang laksana banjir dari gunung.

Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti kekuatanperang telah kalah. Maka tentara Daha bubar seperti lebah, lari terbirit birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut semua payung  payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan lagi. 

Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa, bergantung gantung di angkasa, beserta dengan kuda, pengiring kuda, pembawa payung, dan pembawa tempat sirih, tempat air minum, tikar, semuanya naik ke angkasa. Sungguh kalah Daha oleh Ken Angrok. Dan adik adik Sang Dandhang Gendis, yalah: Dewi Amisam, Dewi Hasin, dan Dewi Paja diberi tahu, bahwa raja Dandhang Gendis kalah berperang, dan terdengar, ia telah di alam dewa, bergantung gantung di angkasa, maka tuan dewi ketiga tiganya itu menghilang bersama sama dengan istananya juga. Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil  mengalahkan Daha pada tahun saka : 1144. 

Lama kelamaan ada berita, bahwa sang Anusapati, anak tunggal Tunggul Ametung bertanya tanya kepada pengasuhnya. "Hamba takut terhadap ayah tuan", demikian kata pengasuh itu: "Lebih baik tuan berbicara dengan ibu tuan". Karena tidak mendapat keterangan, Nusapati bertanya kepada ibunya: "Ibu, hamba bertanya kepada tuan, bagaimanakah jelasnya ini?" Kalau ayah melihat hamba, berbeda pandangannya dengan kalau ia melihat anak anak ibu muda, semakin berbeda pandangan ayah itu." Sungguh sudah datang saat Sang Amurwabumi. Jawab Ken Dedes: "Rupa rupanya telah ada rasa tidak percaya, nah, kalau buyung ingin tahu, ayahmu itu bernama Tunggul Ametung, pada waktu ia meninggal, saya telah mengandung tiga bulan, lalu saya diambil oleh Sang Amurwabumi.: Kata Nusapati: "Jadi terangnya, ibu, Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana tentang meninggalnya ayah itu?" "Sang Amurwabumi buyung yang membunuhnya." Diamlah Ken Dedes, tampak merasa membuat kesalahan karena memberi tahu soal yang sebenarnya kepada anaknya. Kata Nusapati: "Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. itu hamba pinta, ibu." Diberikan oleh Ken Dedes. Sang Anusapati memohon diri pulang ke tempat tinggalnya. (bersambung)


Thursday, December 20, 2012

Kisah Ken Arok

Kisah Para Datu (Bagian I)

Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus-mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak. Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu. Kata Tapawangkèng: "Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh ke dalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu." Kemudian orang yang memutus-mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup menjadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi di dalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya. 

Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui intisari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah. Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi. Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temannya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta-mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam. Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, iyalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim: Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur. Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: "Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa". Dewa Brahma lalu menghilang. 

Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: "Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani di dalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu. 

Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani di dalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. "Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi." 

Kata Gadjahpara: "Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi". 

Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: "Luar biasa panas anak di dalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki-laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia". 

Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak-kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong. 

Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut-nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak-kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari. 

Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata Ken Endok: "Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya." 

Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. 

Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok. Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama-kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua-duanya: "Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak". Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur. Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan; Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. "Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok." Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. 

Dia itu lalu ke tempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanya. Adapun nama anak-anaknya dari isteri muda, ialah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman. Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok. Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta-mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertempat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf-huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk-bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf-huruf hidup dan huruf-huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama-nama minggu. Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru. Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri. (bersambung)

Friday, September 30, 2011

Hikayat Meudeuhak: Cerita Jenaka

Cerita jenaka atau cerita lucu diisaratkan yang dapat membangkitkan tawa, kocak, lucu dan menggelikan. Dapat juga sesuatu yang cerdik, berakal dan faham ilmu siasat. Ya cerita jenaka merupakan cerita tentang tokoh yang lucu, menggelikan dan licik atau licin. Dalam kesusastraan Melayu Klassik cerita jenaka dikenal dengan, Pak Kaduk, Lebai Malang, Si Luncai, Pak Pandir, Pak Belalang dan Hikayat Meudeuhak. Nama Hikayat Meudeuhak dikenal sebutan di Aceh. Bagi orang Aceh, Meudeuhak, yang merupakan tokoh utama dalam cerita jenaka ini, adalah seorang pemimpin yang diidamkan.

Hikayat Meudeuhak merupakan karya sastra yang tidak diketahui pengarangnya. Dr. Snouck Hurgrunje mengklarifikasi Hikayat Meudeuhak versi Aceh, berasal dari hikayat Melayu yang berjudul Masyhudulhak yang pernah diterbitkan oleh G.A. Koff pada tahun 1882. HikayatMeudeuhak ini ditulis dalam huruf Arab-Melayu dengan bahasa Aceh. Pada halaman akhir hikayat setebal 342 halaman ini, dicantumkan nama pemiliknya, yaitu Teungku Akob Gampong Blang Panyang Meunasah Baro. Tidak diketahui siapa penyalin hikayat versi Aceh ini, namun dicantumkan tanggal penyalinannya, yaitu hari Sabtu tanggal 15 Zulkaedah 1333 H atau 25 September 1915. Adapun beberapa cerita telah diubah-suai dengan ditambah oleh penyalin ke dalam Bahasa Aceh. Adapun ringkasan cerita hikayat ini adalah sebagai berikut:

Bermula dari seorang raja di negeri Wutu bernama Sultan Wadihara yang mempunyai seorang kadi bernama Bangka Sakti. Kadi ini mempunyai istri yang bernama Rakna Kasan. Dari perkawinannya tersebut lahirlah seorang putra yang diberi nama Meudeuhak. Sejak kecil Meudeuhak telah memperlihatkan kecerdasannya. Hal ini terbukti dengan mampu menyelesaikan beberapa perkara dengan bijaksana; diantaranya Si Bangkok dengan pencuri, dua orang ibu memperebutkan anak, dan setan mencuri pedati.

Pada umur tujuh tahun kepintarannya diuji oleh raja dan empat orang guru ahli. Meudeuhak dapat menjawab semua persoalan yang diajukan dengan benar. Suatu ketika raja meminta Meudeuhak untuk memindahkan gunung ke istana. Dengan kecerdasannya ia menyang¬gupi permintaan raja tersebut, asalkan raja bisa menyediakan tali yang kuat untuk menarik gunung. Setelah melihat kecerdasan Meudeuhak, maka raja mengangkatnya menjadi penasihat pribadi. Hal ini membuat keempat orang guru menjadi iri, dan selalu berusaha untuk menjatuhkan Meudeuhak, namun selalu gagal berkat kecerdikannya. Kaseumi Diwi ditinggalkan oleh suaminya yang jahat, lalu dijadikan istri oleh Raja Wadiharah. Sedangkan Meudeuhak menyunting gadis yang bernama Amrak. Keempat guru tersebut terus menyebarkan fitnah, namun berkat kecerdikan Amrak dapat dibuktikan Meudeuhak tidak bersalah. Akhirnya keempat guru tersebut dihukum oleh raja. Raja Wadihirah diuji oleh jin yang menjelma menjadi seorang laki-laki bernama Diwatu. Dengan bantuan Meudeuhak semua pertanyaan Diwatu dapat dijawab dengan benar oleh raja. Diwatu menyarankan seorang raja bisa bermega-mega apabila mempunyai orang tua yang bijaksana sebagai penasihat, seorang hartawan sebagai teman dekat, dan raja harus cinta kepada alim ulama. Akhirnya semua urusan pemerintahan diserahkan raja kepada Meudeuhak. Negeri pun menjadi makmur dan maju.

Pada akhir hikayat ini diceritakan Raja Sumbang Hiran yang kalah berperang dengan Meudeuhak mengatur siasat baru. Raja Wadiharah dipancing dengan gadis-gadis cantik dan putrinya yang bernama Rak Keubandi. Raja Wadiharah pun tertarik terhadap Rak Keubandi. Maka raja pergi ke negeri Panca Lara, namun Raja Sumbang Hiran sudah merencanakan pembunuhan, tetapi diketahui dan digagalkan oleh Meudeuhak. Akhirnya raja selamat dan dapat mempersunting Rak Keubandi. Raja Sumbang Hiran pun menyerah dan dinasihati oleh Meudeuhak. Pemerintahan negeri Panca Larah diserahkan kepada Meudeuhak, kemudian diatur sebagai mana mestinya. Setelah itu, Meudeuhak dan Raja Wadiharah pulang ke negeri Wutu. (Ensiklopedi Aceh)

Kearifan Lokal

Sebagai jerita jenaka Hik Meudeuhak juga mengandung kearifan lokal. Dikisahkan ada seorang perempuan muda pergi bermain ke sebuah padang. Perempuan muda itu membawa seorang bayi laki-laki. Ketika sampai di sebuah kolam, bayi itu diletakkan di pinggir kolam lalu ia menimba air. Sementara itu datang seorang perempuan cantik seusia dengan perempuan muda tadi. Perempuan cantik itu mengambil bayi lalu membawa pergi. Melihat bayinya dibawa pergi, perempuan muda itu mengejar karena ingin mengambil bayinya. Sambil bertanya kenapa bayinya dibawa. Namun wanita cantik itu mengatakan bahwa bayi itu adalah anaknya. Pertengkaran antara kedua perempuan itu semakin meruncing karena saling mengaku bayi yang satu itu anak mereka. Akhirnya orang-orang meminta kedua perempuan itu membawa persoalannya ke Meudeuhak.
Dihadapan Meudeuhak kedua perempuan itu menjelaskan bahwa bayi yang satu adalah anak mereka. Kedua perempuan itu meminta agar Meudeuhak dapat memutuskan secara adil.

Meudeuhak mulai bertanya kepada perempuan cantik itu, anak siapakah bayi itu. Ini segera dijawab dan ia menjelaskan bahwa bayi itu adalah anaknya.

Kemudian Meudeuhak bertanya pula kepada perempuan muda itu bayi itu sebenarnya anak siapa. Perempuan muda itupun menjawab bahwa bayi itulah adalah anaknya. Orang-orang yang mendengar merasa heran; dua orang perempuan mengaku anak pada seorang bayi.

Meudeuhak mulai berpikir. Seorang anak dua ibunya. Tak lama kemudian Meudeuhak menemukan cara. Bayi itu diletakkan pada sebuah tempat. Kedua perempuan yang mengaku ibu bayi disuruh berjalan yang satu ke timur yang satu ke barat dengan jarak masing-masing 100 depa. Ketika gong yang dipalu nanti berbunyi keduanya berlari adu cepat untuk mendapatkan si bayi. Siapa yang lebih cepat dialah ibu bayi itu.

Cara seperti ini disetujui oleh kedua perempuan itu dan mulailah dilaksanakan. Gong dibunyikan dan kedua perempuan berlari cepat mendapatkan si bayi. Perempuan cantik itu sangat cepat larinya segera mengambil bayi dan menggendongnya. Perempuan muda terlambat namun mengejar ingin merebut si bayi. Nampaklah kedua perempuan itu saling berebut bayi. Melihat kejadian itu Meudeuhak mencegah. Lalu Meudeuhak meminta agar bayi diberikan padanya. Sambil berkata:
Siblah sapo ta meutueng-tueng
Bah meubulueung jinoe sigra
(Ambil oleh kalian masing-masing sebelah
Biar kubelah sekarang juga)
Mendengar usul itu perempuan cantik segera setuju. Sedang perempuan muda tidak. Perempuan muda itu berucap: (terjemahan T.A.Sakti)
Aneuk diulon teu bek taplahDiulon sah nyo aneukdaTajot keujih nyang ban sabohBek cit tapoh aneuk hamba(Anakku jangan tuan belahDia sungguh anakku sendiriBerikan saja untuk diaJangan di bunuh anak hamba)
Lalu perempuan muda itu berserah diri pada Tuhan. Mendengar tutur kata perempuan muda itu, Meudeuhak percaya bahwa benarlah ia ibu bayi itu. Dan tak mungkin bayi itu anak perempuan cantik yang tak punya kasih sayang sehingga rela anaknya dibelah. Hewan saja tidak akan memangsa anaknya.

Sementara itu perempuan cantik masih bersitegang mengaku dialah ibu bayi itu. Bukankah sesuai aturan perjanjian yang menye¬butkan siapa yang duluan mendapatkan anak dialah ibu sang bayi. Mengapa memungkiri perjanjian itu.

Meudeuhak menyebutkan perempuan cantik itu jelmaan setan oleh karena itu ia cepat berlari. Setan juga suka mengacau dan suka bersilat lidah. Lalu Meudeuhak memerintahkan setan perempuan cantik itu pergi dan jangan mengganggu dan mengkhianati manusia lagi. Setelah disumpah ia pun pergi.

Masih banyak kearifan lokal yang dapat ditemukan dalam hikayat Meudeuhak yang terdiri dari 2600 bait itu. Coba kita ikuti satu kisah lainnya lagi.

Raja memerintahkan kepada seorang bujang membawa sepotong kayu. Kayu itu disampaikan kepada Meudeuhak dan minta ditentukan mana yang ujung dan mana yang pangkal. Bila jawaban Meudeuhak salah ia akan didenda dengan membayar 1000 dinar.

Bujang cepat pergi menemui Meudeuhak dengan penuh rasa takut. Bagamana tidak takut kayu itu diraut sama besar pangkal dan ujung sehingga sukar ditebak. Dengan rasa takut yang amat sangat karena kawatir Meudeuhak tak bisa menjawab dan harus membayar mahal kayu itu dibawa ke Meudeuhak. Sambil memberikan kayu, disampaikan pertanyaan Raja kepada Meudeuhak. (terjemahan T.A. Sakti)
Ujong ngon uram ta peumeuriMeueng han tabri siribee dinaMasa neukheuen Sakeuti neumoeMeuteu taloe ro ie mata(Yang mana pangkal yang mana ujungJika tidak harus kita bayar 1000 dinarBerkati sakti sambil menangisBercucuran air matanya)
Meudeuhak memperhatikan kayu dan mengatakan, janganlah kita gundah, nanti Allah akan menolong. Dimasukkan kayu ke dalam air nanti akan nampak mana ujung dan mana pangkal. Yang tenggelam adalah pangkal dan yang timbul adalah ujung. Lalu kayu itu diberi tanda. Bujang menghadap raja dan menyampaikan jawaban yang diberikan Meudeuhak. Mendengar jawaban Meudeuhak yang tepat Raja terkagum-kagum.

Kearifan lokal diatas dapat kita lihat yang pertama menyentuh batin manusia sedang yang kedua menguji akal pikiran. Semakin banyak kearifan lokal kita temukan niscaya semakin kenal kita betapa nenek moyang telah membekali kita dengan kearifan yang diwariskan yang tersimpan dalam berbagai bentuk budaya. Tinggal lagi bagaimana upaya kita memungutnya.

LK Ara
Download  tulisan ini KLIK di sini

Sunday, April 24, 2011

Syair Nasihat kepada Anak

Syair Nasihat kepada Anak

Raja Ali Haji

Dengarkan tuan ayahanda berperi,
Kepada anakanda muda bestari,
Jika benar kepada diri,
Masihat kebajikan ayahanda beri.


Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.


Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.


Jika anakanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.


Tutur yang manis anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.


Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.


Nasehat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.


Setelah orang besar fikir yang karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru-biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu.


Tingkah dan laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.


Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takbur tidak membilan orang,
Dengan manusia selalu berperang.


Anakanda jauhkan kelakukan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tiada laku suatu dewani.


Setengah yang kurang akal dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.


Ke sana ke mari langgar dan rampuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang berjumpa lantas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.


Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai temasya.


Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.


Jika mamerintah dengan cemeti,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati,
Barangkali datang fikir hendak mati.


Inilah nasehat ayahanda tuan,
Kepada anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.


Habislah nasehat habislah kalam,
Ayahanda memberi tabik dan salam,
Kepada Orang Masihi dan Islam,
Mana-mana yang ada bekerja di dalam.

(Raja Ali Haji)

Saturday, April 09, 2011

Syair Sinar Gemala Mestika Alam

Syair Raja Ali Haji

Bahwa inilah syair yang bernama

SINAR GEMALA MESTIKA ALAM

terhias di dalamnya kisah Maulud Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang amat indah ceritanya
Terjemah dengan bahasa Melayu oleh
Almarhum Raja Ali Al-Hajj
ibni Almarhum Raja Ahmad Al-Hajj
ta’amadahu lillahi ta’ala birahmati
wa ’ada ‘alaina min barakatihi amin



Diterbitkan oleh Mathba’ah Al-Riauwiyah
28 Sya’ban 1311 H/ 5 Maret 1894 M

Bismillahir rahmanir rahim

bismillahi permulaan kalam
alhamdulillah Tuhan seru alam
selawatkan nabi sayidil anam
serta keluarganya sahabat yang ikram


wa ba’duhu kemudian daripada itu
faqir mengarang syair suatu
kepada Allah mintak perbantu
menyudahkan maulud nabi yang ratu


Nabi Muhammad rasul yang mulia
ialah penghulu segala dunia
barang siapa berimankan dia
dunia akhirat mendapat bahagia


bangsanya Quraisy yang utama
ayahandanya Abdullah bernama
bundanya Aminah nama selama
binti Al-Wahab yang seksama


masa dia mengandung nabi-Allah
tiadalah berat tiadalah lelah
di dalam Mekkah syarafatullah
beberapa tanda kemuliaan terjumlah


tatkala bundanya mengandungnya
ringan dan senang tiada sakitnya
pada suatu masa waktunya
antara jaga dengan tidurnya


datanglah malaikat memberi khabar
kepada bundanya Aminah muktabar
engkau ini buntingkan sayidil basyar
nabi yang mulia yang amat besar


tatkala hampir akan bulannya
datanglah malaikat mengajarnya
beberapa jampi dengan serapahnya
memeliharakan daripada kejahatan seterunya


pada awal bulan pertama
bermimpilah Aminah perempuan utama
nabi-Allah Adam datang menjelma
berkatalah ia bersama-sama


katanya hai Aminah yang mulia
engkau buntingkan penghulu dunia
beranakkan dia tiada sia-sia
dunia akhirat mendapat bahagia


bulan kedua bermimpilah serta
nabi-Allah Idris memberi berita
kepada Aminah ia berkata
engkau buntingkan junjungan mahkota


bulan ketiga dikata orang
nabi-Allah Nuh datang seorang
berkhabarlah ia dengan yang terang
nabi dibuntingkan futuh berperang


bulan yang keempat tahun Fil
datang kepadanya Ibrahim Al-Khalil
berkhabar kepadanya sirr dan qalil
engkau buntingkan nabi yang jalil


bulan yang kelima khabar yang tentu
nabi-Allah Ismail datang begitu
berkhabar juga demikian itu
akan kelebihan nabi yang ratu


apabila sampai bulan yang enam
nabi-Allah Musa ‘alaihis salam
datang berkhabar di dalam manam
kelebihan nabi sayidil anam


bulan yang ketujuh pula dikata
nabi-Allah Daud datanglah serta
kepada Aminah memberi warta
kelebihan nabi alam semesta


bulan kedelapan nabi Sulaiman
datang dengan kesukaan iman
memberi khabar yang keterangan
buntingkan nabi akhirul zaman


bulan sembilan tidak selisih
datang kepadanya Isa al masih
ia berkata hai kekasih
engkau buntingkan nabi yang fasih


segala nabi yang disebut itu
memberi ia khabar yang tentu
apabila diperanakkan matahari perbantu
namakan Muhammad demikian itu


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 1

malam Isnin dua belas harinya
dahulu sedikit daripada fajarnya
masa diperanakkan oleh bundanya
beberapa mukjizat zahir padanya


setengah daripada irhash ikram
menerangi cahaya tempat-tempat yang kelam
masyrik dan magrib tempat yang balam
teranglah cahaya sayidil anam


setengah daripada irhash ter’ala
habis tersungkur segala berhala
yang disembah oleh kafir yang cela
ibadatnya batal tiada pahala


setengah daripada hairan kira-kira
bergoncang maligai singgasana Kusra
terkejut atasnya hulubalang tentera
lenyaplah akal budi bicara


padamlah api yang disembah kufar
masa diperanakkan sayidil basyar
beberapa lagi irhash yang besar-besar
di dalam barzanji berpanjangan khabar


dihias syurga pada malamnya
menyerulah segala kainat padanya
masyrik dan magrib tiap-tiap pihaknya
ahla wa sahla perkataannya




Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 2


sifat diperanakkan nabi kita
terkerat pusat bercelak mata
berkhatan memang khabar yang nyata
dengan kodrat Tuhan semesta


beberapa lagi khabar yang sah
tatkala dibuntingkan bundanya Aminah
segala anbiya’ memberi basyarah
kepada bundanya memberi isyarah


masa diperanakkan junjungan alam
hadirlah sertanya Asiah dan Maryam
serta bidadari syurga yang ikram
datang memuliakan nabi yang ‘azam


itulah nabi yang ajaib
bin Abdullah bin Abdul Muntallib
bin Hasyim bi larib …
bin Abdil Manaf nama Liqaib


nama yang betul Al-Mughirah
bin Qusai bin Hakam bin Murrah
bin Ka’ab bin Luwai masyhurah
bin Ghalib bin Fihar bin Quraisyiyah


keturunan daripada nabi-Allah Ismail
bin nabi-Allah Ibrahim al-khalil
nabi kekasih ra-izil jalil
dunia akhirat dialah zhalil


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 3


wafat dahulu ayah bundanya
tinggallah ia dengan yatimnya
tinggal mamaknya memeliharakannya
kata orang Abu Thalib namanya


menyusukan dia beberapa jariyah
perempuan yang baik-baik shahbul ‘affah
setengah daripadanya Tsuaibah al-Aslamiyah
setengah daripadanya Halimatus Sa’diyah


mamaknya memeliharakan bersungguh-sungguh
makan dan minum ialah merengkuh
seumpama menating minyak yang penuh
karena ia orang tua senonoh


masa kecilnya beberapa ‘ajaibiyah
irhash yang nyata mukhaliful ‘addah
dipayungkan oleh awan yang rendah
beberapa lagi ajaib yang indah


seperti tersebut di dalam siarah
memberi salam setengah hajarah
susu yang hampa jadi mencurah
tiadalah payah lagi diperah


ajaib manusia pada masanya
melihatkan irhash berbagai macamnya
di dalam Mekkah beberapa zamannya
tiada pernah seumpamanya


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 4


umurnya sampai duabelas ‘am
dibawa mamanya ke negeri Syam
pergi berniaga dagangan bermacam
berjual beli siang dan malam


seorang ulama rahib yang ihsan
dikenalnya nabi akhirul zaman
ia pun terkejut serta hairan
keluarlah tuturnya tiada tertahan


aku melihat rasul yang mulia
jadi penghulu sekalian dunia
Taurat dan Injil menyebutkan dia
sifat nubuwahnya nyata sedia


kayu dan batu sujud baginya
khatamun-nubuwah antara belikatnya
apabila mamanya mendengar khabarnya
ia terkejut serta takutnya


lalu disuruhnya hantar pulang
takutkan fitnah Yahudi jembalang
tiada berapa lamanya berselang
mamaknya balik ke negeri terbilang


yaitu Mekkah negeri sendiri
sampai ke Mekkah berdiam diri
memeliharakan nabi sehari-hari
makan dan pakai yang ugahari




Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 5


apabila sampai umurnya ramuzkah
pergi berniaga ke negeri Bashrah
membawa modal Siti Khadijah
perempuan yang mulia di dalam Mekkah


serta khadamnya Maisyarah namanya
dengan nabi disuruhkannya
serta beberapa khalifah sertanya
daripada Quraisy kaum kerabatnya


apabila sampai ke negeri Bashrah
berhentilah nabi pada satu arah
bertentangan dengan suatu shauma’ah
bagi pendeta nashraniyah


namanya datuk Nastur Nashrani
dikenalnya nabi habibur rahmani
sebab beberapa pertandaan seni
daripada irhash Tuhan rabbani


bersandar kepada kayu hampirnya
sudah tersebut di dalam kitabnya
tiadalah lain daripadanya
melainkan nabi juha mustahiknya


dia pun datang menghormatkan
kepada Maisyarah ditanyakan
alamat di mata diizahirkan
Maisyarah mengata ia bahkan


apabila selesai daripada hal
berbalik ke Mekkah nabi yang akmal
serta kaumnya berambal-ambal
serta keuntungan daripada modal


sekira-kira negeri Mekkah dekat
zahirlah pula irhash dahsyat
Siti Khadijah ada melihat
nabi dinaungi dua orang malaikat


apabila tiba nabi yang syahda
berjumpalah dengan Siti yang muda
berkhabarlah dagangan untung berganda
Siti pun suka di dalam dada


datanglah hidayah yang akbar
daripada Tuhan ilahul jabbar
kepada Khadijah perempuan ahyar
jatuhlah hatinya dengan sebentar


hendak bersuamikan nabi yang muda
karena ada kelebihannya ada
mukjizat dan irhash beberapa tanda
perkhabaran Maisyarah sudah memada


kepada rasulullah dikhabarkannya
barang yang dimaksud kepada hatinya
bersuamikan jua kehendaknya
rihul-iman sudah diciumnya


selesailah nabi mendengarkan peri
berangkatlah balik ke rumah sendiri
segala mamanya kanan dan kiri
berkhabarlah nabi akan hal diri


gemarlah segala mamanya tuan
karena Khadijah setinggi-tinggi perempuan
di dalam bangsa Quraisy sekalian
bangsa dan rupa serta hartawan


pergilah Abu Thalib serta mama
meminang Khadijah perempuan utama
kepada walinya yang utama
tiada tertahan lalu diterima


sudah selesai demikian itu
nikah kahwinlah serta bersatu
duduklah keduanya beberapa waktu
dapatlah anak satu ke satu


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 6


tatkala sampai umur empat puluh
dibangkitkan Allah jadi pesuruh
mendirikan ugama yang amat teguh
segala ugama habislah runtuh


tiadalah diterima ilahul ‘alam
selain daripada ugama Islam
dimulai dengan ra-itul manam
seperti cahaya falak-ul subhul ikram


hikmatnya jangan ia terperanjat
akan melihat malaikat yang hebat
yaitu Jibrail malaikat yang kuat
jadi suruhan rabbul kainat


kemudian daripada itu halnya
menjauhkan diri daripada kampungnya
suka bersunyi seorang dirinya
di bukit Hira’ konon khabarnya


bagi Bukhari punya perkataan
di jabal Hira’ kira-kira sebulan
li ibni Ishaq pada bulan ramadhan
keduanya itu riwayat handalan


pada malam tujuh belas lailatul qadriyah
malaikat Jibril pun datanglah
katanya iqra’ makna bacalah
jawab nabi yang dibaca apalah


dipeluk Jibrail serta dipicitnya
katanya iqra’ dengan sesungguhnya
dijawab bagaimana bacaannya
dipeluk Jibrail serta diajarnya


katanya iqra’ bismirabbika
membacalah nabi tiadalah leka
kemudian dari itu beberapa ketika


kemudian Jibrail datang semula
membawa firman Allah ta’ala
ya ayyuhal mudatsir dibacakan pula
kemudian yang lain Quran yang a’la




Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 7


nabi pun berhadap kepada kaumnya
membawa firman amar nahinya
kebanyakan Quraisy mendustakannya
melainkan Abu Bakar membenarkannya


setengah Quraisy membenarkannya
mana-mana yang terdahulu pada azalnya
membenarkannya bersungguh hatinya
tiadalah takut atau gentarnya


seperti Ali karamullahu-wajhah
dan perempuannya Siti Khadijah
dan Zaid bin Haritsah
demikian Bilal ibni Rabbah


kemudian Usman bin Thalhah
dan Sa’ad dan Sa’id kedua bertuah
dan ibni ‘Auf ibni Shafiah
dan lain daripada Quraisyiyah


dan lain mana-mana untung janji
masuklah ia ugama terpuji
ditinggalkannya ugama yang keji
mengikut ugama shahibul furaji


mana-mana yang disesatkan Allah
seperti Abu Jahal laknatullah
akan nabi didustakannyalah
jadilah syaitan seteru Allah


nabi sebagai jua menyeru
tiada diperdulikan bapa dan ibu
tiadalah takut langgar dan serbu
seumpama tetap kota dan kubu


lain daripada itu beberapa pula
suruh dan larang Allah ta’ala
di dalam Quran ‘azza wa jalla
perintahan yang baik tiada cela


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



Fasal 8


apabila dizahirkan olehnya nabi
ugama Islam yang terpuji
mendustakan kaumnya ahlil-makki
menyakiti dengan sumpah dan maki


tiada diindahkan nabi Muhammad
bersungguh-sungguh juga mengajar ummat
melepaskan daripada kafir zhalalat
di negeri akhirat boleh selamat


tiadalah mereka itu mengindahkan dia
diperbuatnya juga perbuatan sia-sia
menyakitkan nabi beberapa bahaya
sampai dilontarnya nabi yang mulia


di dalam hal yang demikian itu
diperintahkan oleh Tuhan yang satu
mikraj ke langit khabar yang tentu
mukjizat yang besar demikian itu


apabila mati Abu Thalib mamanya
serta Khadijah isterinya
kesakitanlah muslimin sekaliannya
beberapa kesusahan ditanggungnya


di dalam tiada beberapa lama
berpindahlah nabi Muhammad ternama
ke negeri Madinah yang utama
di situlah bertambah keras ugama


ketika itu teranglah kelam
tampak tingginya ugama Islam
tampak kehinaan kafir yang tenggelam
berhujah berperang mukanya hiram


perang Badar permulaannya
perang Uhud kemudiannya
perang Khandaq mengiringinya
perang Khaibar pula di belakangnya


tiap-tiap perang nabi yang mulia
si kafir juga mendapat bahaya
terbunuh tertawan dijadikan sahaya
Islam juga mendapat bahagia


sebab nabi rasul yang benar
mukjizatnya Quran yang amat besar
khabar yang gaib khabar izhar
semuanya berbetulan dengannya khabar


ugama Islam kekal berdiri
ilal akir yaumid dahari
mansuh sekalian ugama yang bahari
Yahudi Nasrani demikain peri


hingga sampai pada khalifahnya
mendirikan ugama sangat teguhnya
Syam dan Rum, Parsi sertanya
dilanggar diperang dikalahkannya


sebab berperang ugama yang mulbih
nabi Muhammad lisanul fasih
hatinya suci sangatlah bersih
akan dunia tiada ia kasih


sifat kepujian dihimpun kepadanya
sifat kecelaan jauh daripadanya
hai segala kamu umatnya
ikut olehmu akan jalannya


serta kasih akan dianya
sukakan olehmu mendengar kisahnya
apalagi bulan mauludnya
harus dibesarkan itu waktunya


seperti makan minum ugahari
jangan yang berat menyakiti diri
menzahirkan kesukaan demikian peri
kepada ahlil Islam masyhuri


karena beberapa negeri yang besar
mengerjakan maulud sayidil basyar
tiada ada ulama yang ingkar
karena adat hasanah yang benar


tamatlah syair maulud ini
bahasa Melayu di sebelah sini
aku mukhtasarkan hai ikhwani
kuambil waqa’ahnya sahaja begini


ini doa dimelayukan adanya



ayuhai nabi rasul yang mulia
harapkan syafa’at kita kan dia
pada mahsyar berhimpun manusia
menghukumkan kita Tuhan yang kaya


ayuhai nabi junjunganku
tiadalah lain pengharapan aku
hanyalah tuan mahkotaku
melepaskan dari kejahatan laku


ayuhai nabi kami Muhammad
tuan-hambalah nabi kasihkan umat
syafa’atkan kami hari kiamat
daripada huruhara yang amat azmat


Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi



tamatlah syair maulud ini
dikalimahkan dengan bahasa Melayu


***


kemudian daripada demikian itu
di akhir nin ada pesan suatu
kepada pembaca syair nin tentu
sebarang maklum tuan di situ


pesanan nazir di mathba’ah ini
kepada sekalian sahabat ikhwani
syair yang sudah dithaba’ di sini
yang lain tak boleh membuat begini


tiada diizinkan selama-lamanya
mathba’ah yang lain mencetak dianya
tertentulah mathba’ah yang punya
bersalahan membeli berapa ratusnya


karena itulah segala ikhwan
bolehlah beli wahai bangsawan
baik laki-laki atau perempuan
membacanya boleh menghiburkan rawan


harganya murah sudahlah esah
tuan tiada berkeluh kesah
belilah tuan ahlil-madrasah
syair nabi empunya kisah


gemala mestika syair bernama
diterjemahkan sudah beberapa lama
inilah syair yang terutama
kisah al-nabi rasul seksama


bahasa Melayu disyairkan sudah
sekalian kita tidaklah gundah
mencari pahamnya jadilah mudah
tiada panjang tunduk tengadah


bersalahan bahasa Arab Kharsani
sukar dabitnya kita di sini
bahasa Melayu demikian ini
mesra pahamnya boleh dijalani


hingga inilah pesanan beta
kepada pembaca sekalian rata
kemudian salam hamba berserta
tamat al-kalam hamba berkata

Sesungguhnya telah selesai dicetak syair ini bihamdillahi al-karim al-wahhab
di dalam Mathba’ah Riauwiyah ‘ala zimmati Ali ibni Ahmad Al-‘Athas
pada 28 Sya’ban 1311 H/5 Maret 1894 M.


Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook