Tuesday, December 28, 2010

Cerpen Marhalim Zaini: Kolase Waktu

Percakapan-Percakapan yang Tak Selesai
Cerpen Marhalim Zaini

GELAP bangkit seperti kelelawar raksasa yang merentangkan sayap di atas kampung ini. Agaknya, malam di mana-mana, selalu menanggungkan kecemasan yang tak mudah diuraikan. Terasa berat, memekat, misterius, itulah hitam. Kalaupun ada gangguan kosmis yang secara tak disangka-sangka bersilang sengkarut di depan mata telanjang kita, apalagi di belakang punggung kita, tak ada yang bisa diperbuat selain diam. Membiarkan ia lewat, atau kalaupun singgah sebagai hantu jembalang, cukuplah kita berkomat-kamit melafazkan beberapa baris ayat, memberi dinding bagi tubuh kita yang rumpang. Apa sesungguhnya yang paling kita takutkan dari hidup yang tak seberapa lama ini? Kampung yang telah lama mati suri ini, hutan-hutan yang kian meninggi dan berbiak dengan rambut daunnya yang kacau, akan menyembunyikan dari mata langit tentang apa pun yang sedang bernapas di bawahnya. Orang-orang adalah makhluk yang kadang ada sebagai sebuah kenyataan yang ganjil, dan kadang tiada dalam bayang-bayang aneh tentang masa lalu, juga masa depan. Masa kini, adalah dunia yang pikun, bahkan tanpa ingatan. Jadi, seraplah kolase waktu yang bergerak kadang cepat, terlampau cepat, kadang lambat, terlampau lambat, kadang malah bagai bandul jam yang ke sana kemari dalam kebimbangan yang konstan. Atau, kita melihatnya hanya sebagai sebentuk benda mati yang bergoyang, dan tak mampu lagi mencatat suhu tubuh dalam musim apa pun.
***
Kolase 1:

TAK jauh dari kampung ini, di ujung pelabuhan internasional yang ambisius, yang tersadai di tepi pantai yang dangkal, sebuah mobil menghadap ke selat besar sedang menyembunyikan sepasang manusia yang memadu kasih di dalam tubuhnya. Mobil itu bergoyang seperti sedang berjoget mengikuti irama empasan ombak yang gusar. Angin bernapas tersengal-sengal dalam gelap malam yang menyungkup. Apakah sepasang manusia itu sedang berbahagia? Sedang tak berpikir tentang apa pun selain kenikmatan? Siapakah mereka? Apakah mereka anak seorang pejabat? Atau anak seorang guru, anak ustaz, anak bandit, anak para koruptor, anak penegak hukum, dan anak siapa pun? Tidak. Tak ada status atau identitas untuk sebuah kenikmatan, bukan? Ia serupa pakaian yang kapan pun bisa dilepaskan, dan diganti dengan pakaian yang lain, atau malah tak berpakaian sekalipun. Telanjang kadang membuat orang lebih bebas untuk membiarkan rasa malunya bergerak dalam wujudnya yang natural. Jadi untuk apa memelihara rasa malu? Bukankah, kedua insan ini memang sedang berkuasa atas tubuhnya sendiri ketika mereka memilih untuk telanjang? Atau mereka sedang saling menguasai atas yang lain?
Tapi mari kita dengarkan cuplikan percakapan mereka sehabis pergumulan:
“Kita baru saja selesai berperang.”
“Apakah kita sama kuatnya?”
“Tidak tahu. Mungkin ya.”
“Bukankah Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia PBB 1967 menyatakan: Semua manusia dilahirkan bebas dan sederajat?”
“Tapi itu kan pernyataan tentang prinsip moral? Bukan tentang fakta empiris!”
“Berarti kita berbeda?”
“Ya, jelas. Para ilmuwan banyak yang bilang, bahwa perbedaan-perbedaan biologis-genetik, hormonal, juga menentukan perbedaan gender dalam tingkah laku, pikiran, agresi, pola-pola seksual, dan semua aktivitas manusia! Dan secara lebih riil, lihat saja pakaianmu pakaianku, tata riasmu, gaya rambutmu, bentuk tubuhmu, jelas ada simbolisasi yang bertentangan.”
“Tapi gender bukan sekadar biologis kan?”
“….”
“Bisa sosial, kultural, ekonomi, historis, dan lain-lain!”
“Ya, tapi semuanya relatif.”
“Aku setuju sama Aristoteles dalam satu hal, pria dan wanita itu berlawanan, tapi bukan sebagai spesies yang berbeda. Mereka memang berbeda dalam tubuh, tapi tidak dalam substansi.”
“Tapi kau jangan lupa, ketika Aristoteles bicara dalam konteks politik, ia bahkan menyimpulkan begini, laki-laki itu pada hakikatnya lebih unggul dan wanita lemah: yang satu memerintah, yang lain diperintah….”
“Ah, itu kan ego lelakinya Aristoteles yang bilang….”
“Kau ini!”
“Kau juga!”
“Melawan ya?”
“Kita kan memang sedang perang?”
“Dasar, perempuan!”
“Dasar laki-laki!”
“Kita putus!”
“Ya, sudah, putus saja….”
***
Kolase 2:
DI kampung ini juga, pada malam ini juga, di sebuah rumah panggung yang renta, seorang lelaki tua sedang mengasah pisau sadap karet. Matanya tiba-tiba berlinangan air mata, dan air mata itu jatuh satu-satu di atas batu asah. Kenapa ia menangis. Kalau ditanya pada semua orang di seluruh dunia ini pun, tak kan tahu apa penyebabnya. Sebab dia sendiri pun tak tahu kenapa setiap kali dia mengasah pisau sadap karet ini, air matanya leleh. Apakah Tuhan tahu? Setiap orang ber-Tuhan pasti bilang, bahwa tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di mata Tuhan. Tapi siapakah yang tahu bahwa Tuhan itu tahu tentang sejarah air mata seorang lelaki tua sebatang kara? Ya, mungkin sebatang kara-lah yang membuat lelaki tua ini tak malu menangis setiap malam, setiap kali ia mengasah pisau sadap karet, karena tak kan ada yang melihat ia menangis, bukan? Dan kenapa pula sebatang kara? Karena itu pilihan hidup. Bukankah setiap orang berhak memilih pilihan hidupnya sendiri, meski kemudian harus menyesali dan menangisinya sendiri? Yang pasti lelaki tua ini memang sedang berkuasa atas kesedihannya sendiri, atas air matanya sendiri, sebab memang hanya itu yang sekarang ia miliki. Apakah menjadi miskin adalah juga pilihan?
Tapi ada baiknya kita simak percakapan lelaki tua ini dengan air matanya:
“Kenapa kau menetes lagi?”
“Biar kau tak sepi. Aku kan sahabatmu….”
“Tapi aku akan jadi orang tua yang cengeng.”
“Tidak semua menangis itu cengeng. Nyatanya kau kuat selama ini. Sekian puluh tahun ditinggal anak istri, tak punya harta benda, kau tetap bisa hidup.”
“Hidup dengan air mata?”
“Kau malu punya sahabat macam aku ya?”
“Tak hanya aku, semua orang akan malu….”
“Kenapa?”
“Tak usahlah tanya-tanya. Lebih baik kau diam saja!”
“Kau egois!”
“Diamlah!”
“Apa karena kau merasa berkuasa atas aku?”
“Diam!”
“Kalau aku pergi bagaimana?”
“Pergilah!”
“Kau tak menyesal, kalau nanti kau tak lagi punya air mata?”
“Air mata tak berguna!”
“Kalau kau tak bisa menangis lagi baru tahu!”
“Aku benci menangis!”
“Ya, sudah, aku pergi….”
“Pergiiiiiiiiiiiiiiiii!”
“Tapi ingat, jangan bunuh diri ya!”
“Pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”
***
Kolase 3:
DI kampung ini juga, pada malam ini juga, seorang perempuan muda yang bunting sedang mendodoi anaknya berumur satu tahun setengah dalam buaian. Buaian itu terbuat dari kain sarung yang diikat dengan tali yang menggantung di kayu broti tengah rumah. Tak jauh darinya, tiga orang anaknya yang lain sedang terbaring terlentang melihat cahaya bulan dari lubang-lubang atap rumbia yang bocor. Setiap musim hujan tiba, anak-anaknya itu paling girang menampung air hujan yang menetes dari atap rumbia itu dengan besen. Bunyi air yang jatuh itu seperti bunyi tut-tut piano yang tak beraturan. Kadang mereka juga bernyanyi layaknya seorang biduan yang kehilangan panggung. Apa sesungguhnya yang sedang mereka pikirkan tentang hujan yang jatuh menetes dari lubang bocor atap rumahnya itu? Mungkin mereka ingin menjadi hujan yang dengan berani turun dari langit yang jauh. Atau mereka tak sedang memikirkan apa pun selain bermain dan bermain. Mereka memang sedang berkuasa dengan permainannya sendiri, dengan imajinasinya sendiri. Karena mereka memang punya dunianya sendiri. Tapi di manakah Ayah anak-anak ini? Pedulikah mereka ke mana Ayahnya pergi. Sang istri, perempuan yang bunting itu, agaknya pun sudah tak begitu peduli ke mana suaminya pergi malam-malam begini. Sebab siapa yang bisa berkuasa atas pilihan orang lain?
Mari kita ikuti percakapan tiga anak yang terbaring itu:
“Bintangnya banyak….”
“Tiap malam langit dipenuhi bintang….”
“Langit rumah kita….”
“Ya, di luar langit tak berbintang.”
“Berarti rumah kita indah?”
“Ya, seperti surga.”
“Kau pernah ke surga?”
“Pernah.”
“Kapan?”
“Ya sekarang ini.”
“Ini kan surga icak-icak.”
“Tak ada surga lagi di luar sana.”
“Ada.”
“Dalam mimpi.”
“Aku juga pernah bermimpi masuk surga, tapi tak seindah surga di rumah kita ini.”
“Surga dalam mimpi itu cuma sekejap. Tapi surga ini ada tiap malam.”
“Tapi surga itu tempat yang enak-enak kan? Makan enak, tidur enak, mainannya banyak, semua enak-enak. Tapi di rumah ini tak ada yang enak. Cuma ada bintang saja….”
“Ya, karena ini surga orang miskin.”
“Ah, tak enak ya surga orang miskin?”
“Ya, aku juga ingin masuk surga orang kaya….”
“Di mana?”
“Di rumah Tok Penghulu. Aku pernah ke sana, diajak sama anaknya, Ahmad.”
“Enak ya?”
“Enak sekali.”
“Kita ke sana yuk sekarang….”
“Ah, mana boleh sama Emak.”
“Coba kau yang bilang.”
“Mak, kami ke surga orang kaya ya….”
“Diaaaaaaaaam! Tidur kaliaaaaaaaaan!”
***
Kolase 4:
DI kampung ini juga, pada malam ini juga, di sebuah lokasi pengeboran minyak baru, sejumlah lelaki sedang beristirahat dalam tenda-tenda setelah seharian bekerja. Laki-laki dengan badannya yang tegap-tegap dan berwajah keras itu, sebagian masih duduk-duduk di atas batang pohon kelapa yang sengaja ditebang. Tanah yang sedang mereka bor ini, adalah tanah warga yang masih belum selesai perhitungan ganti ruginya. Belum selesai proses pembebasannya. Tapi pohon kelapa, juga karet, atau apapun yang berdiri di atas “tanah basah“ itu mereka babat habis. Orang-orang kampung yang merasa tersenggol tanahnya komplain. Tapi suaranya parau, serak, bahkan lenyap. Pengeboran pun berlanjut, warga pun tetap terus bersungut-sungut. Di sini, siapa yang paling berkuasa? Sebagian laki-laki lain tampak sedang membuat api unggun. Mereka sedang memanggang sesuatu. Bau panggangan itu demikian menyengat. Bahkan dalam radius seratus meter pun masih akan tercium aromanya. Bau apakah itu? Daging anjing. Ya, sebagian mereka gemar makan daging anjing, juga daging babi, bahkan daging monyet. Siapakah mereka? Tak tahu. Mereka sengaja didatangkan dari jauh, dari berbagai daerah. Bahasa mereka campur-campur. Sulit mendeteksinya. Sejak mereka datang di kampung ini, para Tionghoa atau Orang Asli yang gemar memelihara anjing merantainya di rumah. Sebagian orang sedang merasa berkuasa atas nyawa anjingnya. Orang lain merasa berkuasa atas selera makannya.
Mari coba kita curi dengar percakapan mereka yang sedang makan panggang anjing:
“Bah, baunya sedap sekali!”
“Yoi. Mantap betul!”
“Banyak juga anjing di kampung ini ya?”
“Anjing liar itu….”
“Aku juga nampak sarang babi di hutan karet sana!”
“Bah, mantaplah itu. Besok kita cincang dia!”
“Bisa gemuk aku di sini.”
“Tidak di sini pun, kau memang sudah gemuk.”
“Ada cewek tak ya di kampung ini?”
“Cewek banyaklah. Kau cari saja di rumah-rumah….”
“Ah, mampus aku kena bacok bapaknya!”
“Maksud kau cewek nganggur?”
“Iyalah….”
“Ah, mana ada kampung kecil begini ada tempat pelacuran?”
“Iya ya… tapi banyak yang miskin orang sini!”
“Apa hubungannya?”
“Ya, cari duitlah….”
“Kalau pun mereka mau tak mungkin di kampung sendiri. Bodoh kau!”
“Ah, makanya jangan makan anjing melulu, bisa jadi anjing kau!”
“Ah, munafik kau! Kalau ada cewek kau mau juga kan?”
“Sudahlah….”
“Tapi mana kuat aku, sebulan di sini tak begituan?”
“Ah, sudahlah… dasar anjing kau!”
“Kau juga!”
“Babi kau!”
“Kau juga!”
“Monyet kau!”
“Kau juga!”
“Binatang kaaaaaaaaaaau!” (*)
Suara Merdeka, 3 Oktober 2010

Monday, December 20, 2010

Miftah Fadhli: Masjid Penuh Malaikat

Masjid Penuh Malaikat

Cerpen Miftah Fadhli

“KI MA’UN, kenapa pintu masjid belum dibuka?” tanya Jawi ketika menghampiri Ki Ma’un yang hanya nongkrong di depan pagar masjid. “Lha, malah ngendhuk di sini. Kenapa belum dibuka masjidnya, Ki.”

Ki Ma’un tengadah. Kedua alisnya melorot membentuk kerut. Sambil membetulkan kopiah dan mengusap kerak ludah di ujung bibir, dia memberikan kunci mesjid kepada Jawi dengan wajah kusut. Jawi yang gelagapan karena saat itu dia belum siap melipat sarungnya terpaksa menerima dengan raut heran.

“Kenapa tho, Ki? Kenapa kuncinya diberikan ke saya tho?” ucap Jawi sambil sesekali mengusap matanya yang penuh belek.

Jawi berjalan agak terkantuk ke teras mesjid. Sepi meraup dingin yang tadi sempat Jawi rasakan di perjalanan. Tidak biasanya masjid setenang ini. Dingin yang memuncak tiba-tiba melorot tak berdaya berganti hangat, sekaligus suasana hening tanpa bunyi sedikit pun. Jawi mengintip dari jendela. Yang dapat ia lihat hanya bayangan samar kain pembatas di dalam mesjid yang dikuak ke atas. Lalu, dengan hati-hati sambil sebelumnya menoleh kepada Ki Ma’un yang tak meninggalkan duduknya, ia memasukkan kunci pada lubangnya. Ia putar ke kanan, lalu “klik”. Diputar ke kanan kedua kalinya, kemudian terdengar lagi “klik”. Ia tersenyum. Berbalik sebentar pada Ki Ma’un yang juga berbalik, namun cepat memalingkan muka dan menunduk cemberut.

“Wong aneh Ki Ma’un ini. Ndak ada apa-apa kok ngekengkreng begitu kayak ayam,” celoteh Jawi sambil memutar gagang pintu. Tidak ada suara “klik treeek” seperti biasa saat membuka pintu. Justru gagang pintu yang kembali pada posisinya semula sulit diputar untuk kedua kalinya. Jawi bingung. Diputarnya lagi berulang-ulang, namun hasilnya tetap sama saja. Gagang pintu tak bergerak.

“Pintunya rusak, Ki?”

“Ya ndak. Kemarin gagangnya baru diganti dengan yang paling baru dan mahal. Ndak mungkin rusak,” jawab Ki Ma’un tak bertenaga.

Jawi mencoba sekali lagi, tapi gagal. Ia berputar ke pintu samping, menjumput kunci kedua. Dimasukkannya kunci, diputarnya gagang pintu, kembali pada posisi semula, lalu diputar lagi. Hasilnya tetap sama. Dan, tak berubah pula ketika ia mencoba pada pintu ketiga.

“Atau kuncinya yang ndak pas, Ki?”

“Kamu dengar bunyi apa itu tadi? Kalau bisa diputar, ya berarti pas tho,” jawab Ki Ma’un kesal.

Akhirnya, Jawi bergabung dengan Ki Ma’un. Duduk di sebelahnya dan menyerahkan kunci itu padanya lagi.

“Memangnya sudah berapa lama Ki di sini?” tanya Jawi.

“Sejak sejam yang lalu,” ucap Ki Ma’un.

“Duh, kenapa bisa begitu ya? Masak pintu tiba-tiba ndak iso dibuka ya?” gerutu Jawi sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia mengapit kopiahnya di bilah ketiak sambil membetulkan lipatan sarung yang dari tadi terus melorot.

Ia memandang sekeliling. Hari ini aneh, sangkanya. Biasanya orang sering berseliweran di depan masjid meski masih pukul setengah lima. Setengah jam lagi seharusnya azan Subuh. Biasanya akan ada rombongan ibu-ibu pedagang menggondol dagangannya dengan tampah atau keranjang. Para jamaah juga seharusnya sudah ada yang datang ke masjid, tapi Jawi tak melihat satu pun muka mereka.

“Mustahil ndak bisa dibuka, Ki,” Jawi geram.

Kemudian, ia merebut kunci dari Ki Ma’un dan mencobanya lagi. Tetap tak terbuka. Jawi mengelilingi mesjid, bahkan sempat melongok ke dalam toilet. Sebentar ia berdiri di samping kanan masjid sembari mengedarkan pandangannya pada semua benda. Ia merasa aneh. Tak ada angin, tak ada sesuatu yang bergerak normal. Jika ia merasakan ada angin, itu karena ia merasa tengkuknya tiba-tiba dingin seperti diembus. Bulu kuduknya meradang. Ia menghampiri Ki Ma’un.

“Hari ini kok aneh ya, Ki?”

“Aneh bagaimana?”

“Kok ndak ada orang lewat, ndak ada angin, ndak ada apa gitu Ki. Tenang sekali di sini,” ucap Mail mengelus-elus tengkuknya yang masih terasa dingin.

Ki Ma’un hanya menoleh, menatapnya sayu, lalu berbalik mengusap wajahnya. Rasa kantuk sepertinya masih mengganjal Ki Ma’un, sebab sedari tadi ia terus mengucek-ucek kedua matanya. Kelopak matanya turun dan sepertinya ia sangat kelelahan.

“Tadi malam aku ngeronda sampai jam dua. Masih ada beberapa penduduk lewat kok.” Ucap Ki Ma’un.

Jawi mengangguk setuju, sebab ia juga sempat mendengar beberapa pemuda di warung samping rumahnya bernyanyi hingga pukul tiga. Juga terdengar alunan musik gondang dari rumah Ompu Manitir yang tak jauh dari rumahnya. Ia tahu di rumah Ompu Manitir sedang diadakan pesta perkawinan anak keduanya. Pesta itu sendiri sudah berlangsung sejak dua hari lalu.

Sebenarnya, keheranan Jawi sudah berlangsung sejak ia keluar dari pintu rumah. Bahkan, bunyi kancing kemejanya yang jatuh saja bisa ia dengar saking sunyinya. Langit tampak gelap. Sunyi membahana di sekeliling perkampungan. Ia pun bingung saat melewati rumah Ompu Manitir, tidak ada lagi peralatan pesta bertengger di situ. Sekadar sampah atau sisa-sisa kayu bekas api unggun saja tidak ia temukan. Biasanya Ompu Manitir membuat api unggun di depan rumahnya jika ada acara hingga larut malam.

Hal yang paling membuatnya merinding adalah ketika ia melintas di depan rumah Pakde Suryaman. Rumah lelaki dermawan itu gelap, sama sekali tak disinari cahaya. Lampu jalan sudah tak berfungsi sejak dua hari lalu dan tak diganti. Ia sempat berhenti sebentar melihat-lihat sekeliling rumahnya. Begitu tenang. Seakan ia pun ikut hanyut dalam ketenangan yang luar biasa itu.

Kemarin, Pakde Suryaman baru saja menggelar wiridan bersama anak-anak yatim. Padahal, kondisinya saat itu sedang sakit hingga ia mesti duduk di kursi roda, tapi tetap memaksakan ikut membagi-bagi sembako kepada anak-anak yatim itu. Jawi sendiri ikut membantu.

Jawi beranjak lagi dari samping Ki Ma’un. Kali ini ia mencoba melongok dari lubang ventilasi. Ia mengambil dingklik di samping tiang dan berusaha memanjang-manjangkan leher demi melihat ke dalam mesjid. Darahnya terkesiap. Jantungnya berdetak kencang saat ia menyaksikan di shaf imam terdapat Alquran terbuka di atas dudukannya dengan mikrofon duduk di depannya. Cahaya di atasnya menyala meski redup.

“Ki, sampeyan lupa membereskan masjid, ya?” katanya tanpa beranjak.

“Ndak mungkin aku lupa. Wong tadi sehabis Isya sudah kubereskan semua.”

“Ada Alquran di barisan imam, Ki. Masih terbuka. Juga ada mikrofon di situ.”

“Ndak mungkin ah. Aku yakin sekali sudah kubereskan semua Alquran dan mikrofon ke tempatnya.” Bantah Ki Ma’un sebal.

Jawi mengintip ke arah jam dinding. Sudah pukul lima. Seharusnya azan subuh sudah berkumandang, namun ia tak mendengar azan dari masjid manapun. Padahal, kampungnya dikelilingi tiga buah masjid yang selalu tepat waktu mengumandangkan azan.

“Ki, bawa jam ndak? Sudah jam piro?” tanya Jawi masih tak beranjak dari tempatnya.

“Jam limo lewat sikit. Kenapa ndak ada azan, ya?” Ki Ma’un ternyata menyadari hal yang sama.

“Aku juga ndak mengerti, Ki. Ono opo tho?” Jawi menghampiri Ki Ma’un. Sambil berjalan tergopoh-gopoh ia meminta lagi kunci masjid pada lelaki tua itu.

“Sudahlah. Ndak akan bisa dibuka. Wong aku sendiri sudah mencobanya lima kali, tetep ndak iso.” Kata Ki Ma’un urung memberikan kunci pada Jawi.

Bagai kena mantra sirep, Jawi dan Ki Ma’un tiba-tiba merasa tak dapat menggerakkan tubuhnya ketika angin berembus demikian kuat hingga mengempas kopiah keduanya. Langit tiba-tiba mengeluarkan cahaya kekuningan demikian perlahan. Mereka dapat melihat bayangan mereka sendiri diterpa cahaya fajar yang tiba-tiba saja menyembul dari balik ufuk. Barulah mereka dapat menggerakkan tubuh secara perlahan ketika Kades Darmadji datang menghampiri.

“Lho, kalian masih di sini rupanya. Sudah dimatikan kasetnya kan? Lho, pintu masjidnya kok ditutup lagi,” ujar Kades Darmadji menepuk pundak Ki Ma’un.

Jawi yang bingung setengah mati bertanya, “Ada apa ya, Pak?”

Kades Darmadji tertawa seloroh, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini bagaimana tho, Jawi. Lha wong tadi kamu yang ngumumken Pak Suryaman meninggal. Ya, sudah jangan bercanda. Sudah kamu matikan kan kaset Yasinnya?”

“Kaset Yasin opo tho. Wong dari tadi masjidnya ndak iso dibuka,” sambung Ki Ma’un terheran-heran.

Kades Darmadji kembali tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia heran melihat kedua lelaki di depannya saling pandang dengan wajah kusut.

“Ki Ma’un ini pintar bercanda ya. Wong suara kaset sekeras geledek begitu kok malah nanya kaset opo. Sudahlah, Ki, Jawi, saya tunggu di rumah Pak Suryaman ya.” Kades Darmadji meninggalkan kedua lelaki yang masih tak mengerti apa-apa.

Mereka tetap saling pandang. Tak berkedip sekalipun. Mencoba mengingat-ingat kembali. Mereka yakin tak mendengar suara kaset apa pun, bahkan tak merasa mengumumkan berita apa pun karena memang sejak tadi mereka tak bisa masuk masjid.

Ki Ma’un memberikan kunci masjid pada Jawi. Jawi yang masih tak percaya berjalan agak gontai menuju pintu masjid. Ia masukkan kunci perlahan, lalu memutar gagang pintu. Sesaat pintu terbuka setelah Jawi mendorongnya sedikit. Dilihatnya kain pembatas jamaah terlipat ke atas. Tak ada Alquran dan mikrofon tergeletak di barisan imam seperti yang ia lihat tadi. (*)
Tumpatan, 2010
Sumber: Republika, 5 Desember 2010

Friday, December 17, 2010

Kirjomulyo: Penggali Batu Kapur

Penggali Batu Kapur
Kirjomulyo
Download puisi ini KLIK DI SINI
Beginilah ia bernyanyi
dengan irama gugur batu
gugur bumi gugur hati
Hingga lading berderak
burung-burung merendah
merasa berat langit
betapa berat hari
angin menggantungi sayap
kabut meradangi arah

Entah ia melepas dera
entah bertahan dari terik
atau bertantang keras batu
nyanyiannya sederas getar derita
langsung mengenai dasar
darahku memutih
tulang menyusut
-- hula hulee hu la ho oo
hula hulee hula ho oo

Begitu, berat melepas
sekejap dating sekejap hilang
ditiupkan arah angina
matanya pudar hijau kapur
dahinya hitam-hitam batu
peluhnya deras putih letih
jejak makin dalam
lagunya makin memanjang
hilang lepas-lepas

Ketika satu berhenti menganyam
Ia memandang padaku
Bersenyum, senyum ladang
Bertanya dengan suara bukit
-- tuan heran memandang kami
kami lahir di tanah kapur
anakku empat, anakku putih
mata ayam hidung ibu
gelaknya melepas angin

-- Aku terharu bapa
seluruh umur di tanah kapur
kulit bapa hitam batu
mata bapa perih kapur
Ccnta berlebih dari yang lain
hati bapa hati belerang
cinta alam sekeras bintang
tak pernah kujumpakan di mana pun

-- Begitulah bercinta umur
tapi jangan tuan terlalu lama
memandang kami
sebelah utara ada laut
sebelah selatan ada pantai
Kalau kami tak berjanji
pada diri dan kebun halaman
sudah bukan lagi penggali kapur

Salam tuan
marilah turut menyaksikan
akan tuan rasa nanti
getar apa tersimpan di hati
getar di hati kami
-- hula hulee hula ho oo
hula hulee hula ho oo
getar dalam hitam malam
getar jauh biru laut***


download puisi ini
silakan KLIK DI SINI

Tuesday, December 07, 2010

WS Rendra baca puisi: Ketika Rambutmu Tergerai

SETELAH RAMBUTMU TERGERAI

Puisi WS Rendra


Download puisi ini Silakan KLIK di sini
Download WS Rendra Membaca puisi ini (mp3) silakan KLIK di sini


rambutmu yang rimbun tergerai
bagaikan pelepah palma menyentuh rerumputan
maka teduhlah pangkuanmu
dan kegelisahanku menggeletak di situ

matamu yang lebar memantulkan wajahku
aku menyebut namamu, kamu menyebut namaku
suara kita mengambang terapung dalam waktu melayang-layang di cakrawala jiwa
ditelan sepi yang abadi
dan segera saling merasa bahwa kita punya derita yang sama

bulu-bulu halus di susumu bergetar dilanda napas birahiku
leher dan pundakmu adalah pelabuhan zaman
teluk alam yang mampu menanggapi badai lelaki
menghamburlah badaiku kepadamu
badai dari kuku
badai dari ujung jari
badai dari kulit perut
badai dari mimpi kanak-kanakku
badai dari hasrat yang terpendam
badai dari naluri purbakala
badai 36 tahun dari hidupku
melanda pinggulmu

pinggulmu yang sentosa bagai perahu
membawaku mengembara ke alam dongengan
kamu adalah ratu syeba, cleopatra, drupadi
kamu adalah dewi durga

kukulum telingamu
gurih dan lembut rasanya
dan napas hidupku melewati selaput telinga,
masuk kedalam dada dan perutmu
aku mencari jiwamu
kita tak bisa bicara
kita tak usah bicara
kata-kata adalah bayangan dari harapan
tetapi bukan harapan yang sebenarnya
kata-kata adalah janji, tetapi bukannya isi hati

di dalam badai jiwa kita saling menerka dan meraba
wahai, wanita dengan rambut bau cendana
betapa kamu lihat diriku
aku ada,
tetapi siapakah aku

kukerahkan seluruh diriku kepada tanganku yang membelaimu
urat lehermu yang biru berbicara dalam denyutan-denyutan
jari-jarimu mencengkeram kasur sofa
itulah bahasa yang kuat
di luar kata-kata banyak kita bicara
denyut jantungmu berjawaban dengan denyut jantungku
dua tubuh satu getaran
dua jiwa satu bahasa
astaga!
kau gigit pundakku dan segera aku alami apa maknanya



WS Rendra
Komunitas Utan Kayu, 13 Mei 2006

dibacakan pada deklarasi "Masyarakat Bhinneka Tunggal Ika"
berdasarkan keprihatinan pada RUU APP


Download puisi ini Silakan KLIK di sini
Download WS Rendra Membaca puisi ini (mp3) silakan KLIK di sini


Rendra Baca Puisi: Rick Dari Corona

RICK DARI CORONA

WS. Rendra


Download Puisi ini KLIK di sini
Download Rendra baca puisi ini (mp3) KLIK di sini

(Di Queenz Plaza
di stasion trem bawah tanah
ada tulisan di satu temboknya:
“Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?”)


Ya.
Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?

- Akulah Betsy
Ini aku di sini.
Bestsy Wong dari Jamaica.
Kakek buyutku dari Hongkong.
Suamiku penjaga elevator
Pedro Gonzales dari Puertorico
suka mabuk dan suka berdusta.
Kalau ingin ketemu, telepon saja aku.
Pagi hari aku kerja di pabrik roti
Selasa dan Kamis sore
aku miliknya Mickey Ragolsky
si kakek Polandia
yang membayar sewa kamarku.
Cobalah telpon hari Rabu.

Jangan kuatirkan suamiku.
Ia akan pura-pura tak tahu.
O, ya, sebelum lupa:
dua puluh dollar ongkosnya.

Betsyku bersih dan putih sekali
lunak dan halus bagaikan karet busa.
Rambutnya mewah tergerai
bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
Dan kakinya sempurna.
Singsat dan licin
bagaikan ikan salmon

(Rick dari Corona
di perut kota New York
memandang kanan kiri
sambil minum jeruk soda)

Betsy.
Di mana engkau, Betsy?

- Ini, Betsy Hudson di sini.
aku merindukan alam hijau
tapi benci agraria.
Aku percaya pada dongeng aneka ragam
Aku percaya pada benua Atlantis.
Dan juga percaya bahwa hidup di bulan
lebih baik dari hidup di bumi.
Pada politik aku tak percaya.
Namaku Betsy.
Memang.
Tapi kita tak mungkin ketemu
Siang hari aku kerja jadi akuntan.
Malam hari aku suka nulis buku harian.
Untuk merias diri
memelihara rambut dan kuku
telah pula memakan waktu.
Namaku Betsy.
Cantik
Aku suka telanjang di depan kaca.
Aku benci lelaki.

(Dengan mobil sport dari Inggris
Rick dari Corona
mengitari kota New York
berkacamata hitam sekali.
Melanggar aturan lalu lintas
ia disetop polisi
sambil masih mimpi siang hari)

Betsy gemerlapan bagai lampu-lampu Broadway.
Betsy terbang dengan indah.
Bau minyak wanginya menidurkan New York
Dan selalu sesudah itu
aku diselimutinya
dengan selimut katun
yang ditenunnya sendiri
Betsy, di mana engkau, Betsy.

- Di sini, bodoh!
Kau selalu tak mendengarkan aku, Ricky!
Kau selalu menciptakan kekusutan.
Sepatu tak pernah kauletakkan pada raknya.
Selalu kau pakai dasi yang kacau warnanya.
Berapa kali pula kau kuperingatkan
kalau tidur jangan mendengkur.
Itu barbar.
Dan Ricky!
Kau harus belajar makan sup yang lebih sopan!

(New York mengangkang.
Keras dan angkuh.
Semen dan baja.
Dingin dan teguh.
Adapun di tengah-tengah cahaya lampu gemerlapan
terdengar musik gelisah
yang tentu saja
tak berarti apa-apa)

Rick dari Corona telah di sini
Ya. Ya.
Betsy, engkau di mana?
- Ricky, sayang, aku di sini.
Ya. Ya.
+ Engkau hitam.
Engkau bukan Betsy.
Engkau macam Negro dari Harlem.
- Pegang pinggulku
Rasakan betapa lunak dan penuhnya.
Namaku Betsy. Ya. Ya.
+ Gadisku selalu menjawab dengan sabar
segala pertanyaanku yang bodoh dan sangsi.
- Aku Betsy kerna aku Negro.
Kerna aku Negro
aku adalah tanggung jawabmu.
Ya, namaku Betsy.
Telah kuputuskan namaku Betsy
+ Apyun. Apyun.
Aku hasratkan pengalaman mistis.
Aku ingin melukis tubuhmu telanjang.
sambil kuhisap mariyuana.
- Ricky, sayang, engkau akan kuninabobokan.
Dan bagai bayi akan kau puja tetekku.
+ Dari Queens. Dari Brooklyn. Dan dari Manhattan….
- Ricky, sayang, garudaku sayang.
+ Sebab irama combo, sebab buaian saxophone…
- Pejamkan matamu.
Dan bagaikan banyo
mainkanlah aku

(Di Harlem, Manhattan, New York
di mana orang tinggal penuh sesak
di mana udara bau air kencing dan sampah
di musim panas dengan udara sembilan puluh lima drajat
para Negro menari watusi di tepi jalan
dan pada drajat ke seratus dua
terjadi perkelahian antara mereka).

Hallo. Hallo.
Di sini Rick dari Corona.
Dan Betsy juga di sini…
Hallo, Dokter.
Kami harus disuntik sekarang juga.
Kami kena rajasinga.

Download Puisi ini KLIK di sini
Download Rendra Baca puisi ini (mp3) KLIK di sini

Sunday, December 05, 2010

SKL (kisi-kisi) UN 2011

Sebanyak 73 persen ketidaklulusan ujian nasional (UN) tingkat SMA/SMK/MA disebabkan siswa tidak lulus mata pelajaran Bahasa Indonesia (Suara Pembaruan, Kamis 29 April 2010). Untuk itu berikut ini akan dipaparkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) UN Bahasa Indonesia untuk SMA, disertai indikator penyusunan soal.

Ada 2 (dua) SKL Bahasa Indonesia yaitu MEMBACA dan MENULIS. Membaca mencakup: Memahami secara kritis berbagai jenis wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, laporan, karya ilmiah, teks pidato, berbagai jenis paragraf (naratif, deskriptif, argumentatif, persiasif, dan eksposisi), serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, cerpen, drama, novel, biografi, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu Klasik. Sedangkan MENULIS mencakup, menyunting, dan menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, pendapat, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks naratif, deskriptif, eksposisi, argumentatif, teks pidato, artikel/esai, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, novel, kritik, dan esai dengan mempertimbangkan kesesuaian isi dengan konteks, kepadanan, ketepatan struktur, ejaan, pilihan kata, dan penggunaan bahasa.

Indikator penyusunan soal pada UN tahun 2011 ini tampaknya ada sedikit perbedaan dengan indikator SKL tahun sebelumnya. Berikut adalah indikator SKL membaca:
1. Menentukan unsur-unsur paragraf suatu artikel
2. Menentukan isi paragraf biografi
3. Menentukan isi paragraf, simpulan paragraf, dan arti istilah/kata dalam paragraf

4. Menentukan OPINI dalam tajuk rencana
5. Menentukan isi dan simpulan grafik, diagram, atau table
6. Menentukan unsur intrinsic da nisi hikayat sastra melayu klasik
7. Menentukan unsur intrinsic cerpen/novel
8. Menentukan masalah dan amanat dalam drama
9. Menentukan maksud gurindam
10. Menentukan unsur intrinsic puisi
11. Menentukan isi kutipan esai

Indikator secara lengkap dapat di-download di sini.

Mudah-mudahan tulisan/indikator ini membantu Anda yang akan menempuh UN 2011. Dan semoga angka 73 % penyebab tidaklulusan UN tahun lalu adalah bahasa Indonesia tidak terulang lagi.

Download indikator / kisi-kisi UN 2011 (bahasa Indonesia) 

Wednesday, October 20, 2010

Rendra: Mencari Bapa

Mencari Bapa
Puisi WS Rendra

Namaku Suto
ketika aku lahir
hujan turun dengan lebatnya
di ujung senjakala.
Sebagai bayi tubuhku terlalu besar.
Aku lahir dengan kaki lebih dulu.
Ibuku berteriak: “Aaak !“ — lalu mati.


Begitulah aku lahir tanpa ibu.
Tangisku keras mengalahkan hujan.
Kilat menggelegar bertalu-talu
aku tandingi dengan tangisku.


Ayahku Tuan Besar.
Rumah besar. Harta besar.
Kuasa besar. Kakinya besar.
Pegawainya besar pula jumlahnya.

Ia melihat ibuku mati.
Ia cium keningnya,
sambil meneteskan air-mata.
Lalu ia memandang padaku,
dan kepada seorang pelayan ía berkata:
“Asuhlah ia di gedung samping.
Cukupilah kebutuhannya.
Tangisnya terlalu kuat.
Sungguh terlalu keras suaranya.”

Umurku sepuluh bulan
aku bisa berjalan.
Umurku setahun aku bicara.
Dengan kuat aku hisap tetek babu,
aku kempit pinggangnya
dengan pahaku.
Setelah umur dua tahun,
aku menggambar dan menyanyi.


Seluruh lantai
dengan kapur aku gambari.
Seluruh tembok
dengan arang aku coreti.
Dan aku menggambar sambil menyanyi.


Babu pengasuhku sering berkata:
“Sekali waktu ayahanda akan murka.
Lantai dan tembok bukan tempat menggambar.
Dan lagijangan terlalu keras-keras bernyanyi.”

Aku tidak mengindahkan
kata-kata pengasuhku.
Permainanku yang utama
adalah menggambar dan bernyanyi.
Di situlah aku mendapat kepuasan.


Pada suatu hari
ketika umurku lewat empat tahun
ayahku datang dan berkata:
“Aku membawa hadiah untukmu.
Inilah pinsil dan kertas gambar.
Jangan lagi lantai dan tembok kamu gambari.”


“Aku tidak mau pinsil dan kertas gambar.
Terlalu kecil.
Aku suka menggambar besar.
Aku suka tembok dan lantai.”

“Apakah kamu hanya suka gajah ?“

“Tidak
aku menggambar orang dan kuda.
Tetapi besar-besar. Selalu besar-besar.”

“Kamu bengal!
Aku juga tidak senang
kamu terlalu keras menyanyi.”


“Aku ingin suling !“ sahutku.


“Tidak boleh !“ kata ayahku.
“Suling akan menambah kegaduhan.”


Di hari ulang tahunku yang kelima
aku datangi penjaga gudang,
seorang pegawai yang sudah tua.
Aku jambak rambutnya,
dan aku berkata:
“Berikan padaku sulingmu !“
Ia menolak dan meronta.
Aku pukul kepalanya dengan kayu.
Ia pingsan. Lalu aku curi sulingnya.


Pada suatu siang, selesai makan,
aku meniup sulingku.
Aku teringat dongeng orang tentang ibu.
Aku lebih lebur ke dalam sulingku.


Tiba-tiba pengawal ayahku datang:
“Tuan Muda
ayahanda sedang akan beradu
permainan suling Anda
sangat mengganggu tidur siangnya.”


“Aku bersuling mengenang ibu.
Janganlah aku kamu ajak bicara.
Pergilah kamu !“

Tidak lama kemudian
pengawal itu datang lagi:
“Maaf Tuan Muda
tetapi beginilah titah ayahanda.”
Lalu aku dibekuk dan dipanggulnya.


Aku dibawa ke rumah besar.
Diletakkan aku di lantai pendopo
ayahku berdiri di depanku.


“Kamu bengal !“ kata ayahku.
“Sejak bayi suaramu terlalu keras.
Tangismu keras. Nyanyimu keras.
Kamu adalah kegaduhan dalam hidupku.
Aku tidak suka kepadamu !“


Aku duduk di lantai.
Aku tatap mata ayahku.
Aku tiup suling
sambil menatap mata ayahku.
Yang kupikir adalah ibuku.


Alis-mata ayahku terangkat naik.
Napasnya menjadi deras.
Ia membungkuk
lalu menampar pipiku.
Sulingku terpelanting.
Aku terpelanting.
Darah keluar dan mulutku.
Aku usap dengan tangan
lalu aku tatap ayahku.


“Singkirkan ía dan sini !“
titah ayahku, “Aku membuangnya !“


Pengawal menyeretku
dan melemparkan aku ke luar halaman.
Di tepi jalan aku menangis.
Capek menangis aku menyanyi.
Akhirnya hari senja.


Aku berdiri.
Aku hampini gerbang halaman
dan berkata kepada penjaganya:
“Buka gerbang. Aku mau masuk.”


Penjaga itu menggelengkan kepala.
“Menurut titah ayahanda
Anda tidak boleh masuk.
Anda sudah dibuang.
Pergilah jauh, ke dalam kegelapan.”


Malam gelap sekali.
Suara serangga lebih tajam kedengarannya.
Aku merasa tergetar.
Meskipun kecut, aku kepalkan tanganku.
Aku berlari, menyerbu kegelapan.


Beberapa jam berlari
akhirnya aku sampai ke pasar.
Capek dan lapar
aku tidur di atas bangku.


Hari berikutnya aku berjalan lagi
tanpa tahu ke mana arahnya.
Di siang hari aku tak kuasa menahan lapar.
Aku hampiri seorang lelaki di pinggir toko.
Aku tarik lengan bajunya
dan aku acungkan telapak tanganku.
Ia menatapku.
Aku membalas menatapnya.
Ia terpesona. Aku menatapnya.
“Anak cakep !“ katanya.
Lalu ia pungut uang dan sakunya
diberikan kepadaku.

Ketika aku makan di pasar
banyak anak merubungku.
Pakaian mereka compang-camping,
mata beringas, badan kotor.

Seorang anak yang terbesar
menghampiriku dan berkata:
“Kamu anak baru !“
Aku tidak menyahut.
Dalam hati aku senang mereka.
“Siapa namamu ?“
Aku tidak menyahut.
Aku kurang senang bau tubuhnya.
“Kamu sombong !“ katanya.
“Jangan ganggu !“ kataku.
Semua anak tertawa.
Yang satu itu menjadi gemetar
dengan muka merah padam.
Ia julurkan tangannya.
Aku dicekiknya.
Lalu aku tendang kemaluannya.


Kami berkelahi.
Semua anak mengeroyokku.
Darah mengalir dari kepalaku.
Darah mengalir dari wajahku.
Dunia berputan. Aku pingsan.


Di malam harinya
dengan kepala dan muka penuh luka,
dengan seluruh tubuh merasa kaku.
Aku pergi mencari mereka.


Aku lihat mereka tidur di bangsal pasar.
Pemimpinnya tidur di pojokan.
Aku pergi mencari api.
Lalu aku kembali dan membakar bangsal pasar.


Lintang pukang mereka berlari.
Aku lempari mereka dengan batu.
Pemimpinnya aku hampiri.
Ia terlambat berdiri.
Aku pukul kepalanya dengan bata.
Ia mendelik dan berkata: “Kamu iblis !”
Lalu ia tak sadarkan diri. Barangkali mati.


Kemudian aku melarikan diri.
Sejak saat itu aku selalu berpindah-pindah.
Mengembara. Ke mana saja arahnya.
Dari kota ke kota seperti menghitung gundu.
Dan desa ke desa seperti menghitung kenangan.


Pada waktu umurku sepuluh tahun
aku kumpulkan pengemis-pengemis kecil
aku ajari menyanyi,
main gendang, suling dan rebana.


Kami mengemis sambil menyanyi.
Dar kota ke kota seperti merangkai merjan.
Dari desa ke desa seperti merangkai bunga.

Ketika usiaku dua belas tahun
pecahlah perang.
Tentara asing menduduki negara.
Aku dan teman-temanku lari
masuk ke dalam hutan.


Kami hidup dari mencuri
kami hidup dari buah-buahan
kami tidak lagi bisa bernyanyi.
Anak-anak yang hilang
menggabung kepada kami.


Pada waktu usiaku enam belas tahun
perang selesai. Musuh pergi.
Kami turun kembali ke kota.
Beberapa anak pergi
mencari orang tuanya.


“Siapa orang tuamu ?“
salah sorang bertanya kepadaku.
“Aku anak kuntilanak !“
jawabku.


Dan lalu pikiranku melayang.
Serasa aku terangkat dari tanah.
Debar jantungku menjadi pelan.
Ubun-ubun kepalaku serasa terbuka.


Aku teringat rumah ayahku.


Aku mencuri cat.
Di malam hari aku membuat gambar:
di aspal jalan, di tembok-tembok.
Di siang hari aku pergi ke hutan
omong-omong dengan pohonan.
Aku merasa sunyi, melayang-layang.


Tujuh hari aku merasa aneh.
Pada hari ketujuh aku naik ke gunung.
Di puncaknya memandang ke bawah
melihat dunia yang luas.
Lalu memandang ke atas
melihat langit.
Dan di kejauhan
langit dan bumi bertemu di cakrawala.

Maka pada malam harinya,
keadaan gelap gulita.
Mendung menutupi bintang-bintang.
Angin menyapu dan menderu.


Di dalam kegelapan aku berdiri
aku berseru sekuat tenaga:
“Ayah, aku datang mencarimu !“


Kemudian teman-teman aku kumpulkan.
“Kita menyanyi dan mengemis lagi !“ kataku.
“Kita akan mengembara.
Aku ingin mencari ayahku.”


Tiba-tiba teman-temanku terpaku.
Ada yang memalingkan muka.
Ada yang menundukkan kepala.
Mereka meneteskan air mata.


Salah satu berkata:
“Akujuga ingin mencari bapa.”
Segera yang lain bicara sama.
Mereka tidak ingin sebatang-kara.


“Kali mengalir menuju lautan.
Langit dan bumi
bertemu di cakrawala.
Kita akan pergi mencari bapa,”
begitu kataku kepada mereka.


Tujuh tahun kami mengembara.
Dari kota ke kota seperti menghitung bintang.
Dari desa ke desa seperti menghitung mega.


Dan setiap kali
ada yang datang kepada kami
seraya berkata:
“Akujuga mencari bapa.”


Maka barisan kami semakin besar.
Kami mencegat kereta api.
Kami acungkan tangan.
Dan kepada masinis aku berkata:
“Barisan kami ini
akan menumpang di atas gerbong.
Kami semua mencari bapa.”


Masinis itu berdiri mengangkang.
Kedua matanya tidak sama besarnya,
menatap kepadaku.
Aku pun juga menatapnya.
“Aku seperti pernah melihatmu!” katanya.

Dua orang temanku
menghampiri masinis itu
dan mencekik lehernya.
“Apajawabmu ?“ tanyaku.
“Naiklah !” katanya.
Lalu teman-teman melepas lehernya.

Masinis itu menangis terguncang-guncang.
Ia menubruk dan memelukku.
“Aku pun mencari bapa.
Empat puluh dua tahun mencari bapa.”
Begitu ia berkata sembari tersedu.


Kereta api menderu —
Kami semua mencari bapa.
Masinis dan penumpang juga.


Kereta api menderu: jawaban tidak menentu. —-
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dan kota ke kota: kami rampok toko-tokonya. —
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dan desa ke desa: kami rampok panennya. —
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.


Kereta api menembus malam,
menembus siang,
menembus minggu dan bulan,
menembus tahun —
tujuh tahun.


Kereta api yang menderu terhenti.
Waktu siang, matahari di puncak kepala.
Seorang gembrot mengangkang di jalan kereta.
Tangannya diacungkan
dan di belakangnya
ada seratus anak buahnya.
Si gembrot adalah penyamun yang ternama.


“Suto ! Keluarlah kamu !“ ia berseru.


Aku keluar. Melangkah ke depannya.
“Kamu mencari bapa.
Aku adalah bapamu.
Dan seratus anak buahku mi
adalah bapa anak buahmu”.
Aku menatap matanya
Aku melihat semak belukar,
ketonggeng, lipan dan ular.
Aku berkata: “Enyahlah kamu!
Aku telah menatap kamu.
Aku tidak melihat langit dan bumi.
Kamu bukan ayahku!
Seratus buah anak buahmu
sudah teler kemaluannya.
Mereka tak punya anak !“


Segera si gembrot berkata pu1a
“Dengarkan, Suto.
Rumahku besar. Pelayanku seribu.
Istriku mati ketika melahirkan kamu.
Lalu aku menikah sembilan kali lagi.
Kamu dulu suka menggambar
di lantai dan di tembok.
Dan kamu suka melenguh seperti lembu.
Kamu meniup suling untuk menggangguku,
karena itu aku gampar kamu.
Tetapi kamu membandel.
Malah menatapku dengan matamu yang bego.
Lalu aku usir kamu.
Kamu lihat sekarang,
aku adalah ayahmu !“


Begitu ia selesai ngomong,
tanganku yang kiri
menonjok ulu hatinya.
Dan ketika ia terbungkuk
aku jitak ubun-ubunnya.
Ia glangsaran.
Dengan injakan kaki
aku patahkan lengannya.
“Sarat !“ kataku. “Kamu bukan ayahku.”


Kereta api menderu: menyemburkan api rindu.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari kota ke kota: kami berdebar dan bertanya.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari desa ke desa: kami membaca kuburan tua.
Ya, bapa. Ya, bapa. ‘Ya, bapa.
Kereta api menembus tahun, menembus barat,
menembus utara,
berputar melingkar —
sebelas tahun lamanya.


Tiba-tiba kereta api terhenti.
Di depan menghadang penglihatan istimewa:
seorang tua yang tampan,
dengan dandanan adat yang sempurna,
menghadang di jalan.
Di depannya tergelar hidangan pesta:
buah-buahan, sate, ayam panggang,
danjuga para wanita.
Di belakangnya truk-truk yang baru
penuh dengan barang-barang yang di-pak rapi
semuanya baru datang dan gudang.


“Aku mohon ketemu Suto !“ katanya.
Aku keluar: “Namaku Suto.”


“Aku persembahkan hantaran ini,” katanya pula.
“Enam puluh tahun aku menunggu.
Warta tentangmu telah tersebar.
Kini aku gembira bisa bertemu.
Bisa mempersembahkan tanda-mataku.”


“Pemberianmu aku ambil. Terima kasih”


“Suto. Ingatlah: siapakah aku? Akulah bapamu!”
Aku menatap matanya.
Aku lihat banyak cahaya kunang-kunang,
permainan reklame neon,
dan gorden kain tetoron.

Sambil mendekat, aku berkata kepadanya:
“Mulutmu bau keranjang sampah.
Kamu bukan bapaku.
Sekarang: enyah!”


Ia menangis; Mengusap air mata dan berkata:
“Waktu kamu lahir
hujan turun dengan lebatnya.
Kamu dibesarkan di gedung samping.
Kamu suka menggambar.
Kamu pukul penjaga gudang dan kamu ambil sulingnya.
Anakku, apakah kamu sudah lupa kepadaku ?“


Aku ludahi mukanya.
Aku buka celanaku,
dan aku kencingi hidangan suguhannya.
Dengan pisau roti aku potong telinga kirinya.
“Minggat !“ seruku. Dan kereta menderu.


Kereta api menderu: membelah jiwa. —
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari kota ke kota: membelah raga. __
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari desa ke desa: membelah rasa. __
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.


Kereta api menyelam lautan.
Kereta api naik ke gunung-gunung.
Kereta api terbang di udara.
Ya, Tuhan, dua puluh tahun lamanya.


Tiba-tiba kereta api terhenti.
Hening. Tak ada apa-apa yang terjadi.
Cuma seorang wanita
dengan kebaya berenda.
Ia berdiri menunduk,
menghadang di tengah jalan.


Masmis berseru:
“Apa maumu ?“ — Hening.
“Siapakah kamu ?“ — Hening.
“Apakah kamu ingin mati ?“ — Hcning.


Aku turun dan menatap kepadanya.
Cahaya bintang remang-remang.
Tak bisa kulihat matanya.
Aku menatap, aku melihat teratai.


“Aku ingin kamu bicara!” kataku.
“Namaku Suto,” sambungku pula.
“Aku tahu.” Suaranya seakan-akan datang dan lembah.
“Aku mencari bapa.”
“Aku tahu.”
“Apakah kamu akan mengaku bapaku?”
Ia meludah.
“Siapakah namamu?” tanyaku.
“Gula-gula,” jawabnya.
“Apa pekerjaanmu?”
“Lonte.”


Aku melangkah lebih maju
dan kembali bertanya:
“Kamu mau apa ?“
“Aku akan naik keretamu.”
Lalu ia menengadah.
Matanya menatap padaku.
Aku melihat samodra
aku melihat kaki langit
aim melihat surya menikah dengan rembulan.
“Silahkan naik,” kataku.


Aku gandeng ia naik ke gerbong
dan seterusnya kami tetap bergandengan.
Lama-lama aku merasa
aku tidak mau melepas gandengan itu.
Aku usap punggung tangannya
dengan ibu jariku.
Aku melihat perahu di telaga.


Kereta api menderu: aku pegang dadanya.
Peluit kereta berseru: aku raba pahanya.
Desir angin masukjendela: astaga!
“Aku terpikat kamu,” kataku.
“Tahukah kenapa aku datang?” ia bertanya.
“Kenapa ?“
“Aku ingin tidur dengan semua teman-temanmu.”
“Tetapi aku ingin tidur dengan kamu.”
“Ya, itu bisa.
Tetapi aku juga ingin tidur
dengan teman-temanmu.”
“Apakah kamu….
“Kuat, maksudmu. ?“
“Ya.”
“Lihat saja nanti.”


Aku tidak berdaya.
Aku terpikat kepadanya.
Aku melihat batang-batang pimping
di bawah sinar rembulan.


Wanita itu berkata:
“Hentikan kereta!”


Kereta berhenti.
Kami berada di punggung gunung.
Lerengnya landai.
Di bawah adalah lembah.
Hari terang tanah.
Fajar akan tiba.

kami semua keluar dan kereta.
Wanita itu berdiri di tempat ketinggian.
Tubuhnya tampak sintal.
Wajahnya cantik.
Rambut-rambut lembut menghias dahinya.
Pinggul dan dadanya cukup semok.


Kami semua terdiam. Terpesona.
Fajar memancar dan dirinya:
“Orang-orang yang mencari bapa,
orang-orang dan kereta yang menderu,
aku datang kepadarnu.”
Begitu ia berseru
dengan resap dan berwibawa.
“Aku ingin tidur dengan kamu semua.”


Orang-orang menganga keheranan
“Tentu saja tidak bersama-sama,
tetapi satu per satu.”
Orang-orang menggosok matanya,
mencubit pahanya sendiri.
mereka tidak bermimpi.
Dan, lalu
teganglah semua kemaluan mereka.

Keributan hampir terjadi
tetapi aku segera berseru:
“Aku yang lebih dulu!”

Keributan terhenti
dan wanita itu berkata:
“Inilah satu hal yang penting.
Satu upacara yang sungguh-sungguh. Karena itu ada urutannya.”
“Ya, aku nomor satu!”
“Boleh saja. Begitulah sepantasnya.
Kamu akan membuka
dan menutup acara.
Tetapi yang aku maksud urutan
bukan itu.
Melainkan urutan tata-cara.
Pertama tentu saja:
kamu semua harus menyikat gigi.
Lalu mandi.
Kemudian kita sarapan bersama.
Setelah itu duduk-duduk lebih dulu. Baru kemudian kita mulai.
tanpa tata-cara mi, maksud aku gagalkan.”


“Kami semua akan mematuhinya!”
kataku. Dan semua setuju.
Sementara itu fajar telah sempurna.


Ia memimpin kami turun ke lembah.
Kami masuk ke dalam kali
dan mandi bersama.


Di air kali terbayang awan.
Sejuknya air masuk ke badan.
Sambil mandi memandang hutan.


Kami duduk di dalam kali.
Di dalam perut terkumpul hawa murni.
Hawa naik ke puncak kepala.
Ubun-ubun serasa terbuka.


Dan lalu kami sarapan di dalam hutan.
Rasa nasi, bau kayu api yang terbakar,
terasa satu di dalam keserasian.
Hutan, aku dan teman-teman
serasa saling terlibat
sejak jaman purbakala.


Sehabis sarapan,
kami rebah memandang mega.
Mendengar angin di antara daunan.


Semua berjalan
sesuai dengan anjurannya.
Kemudian ia menggandengku
kembali ke kereta
diikuti orang-orang lainnya.


Lalu masuklah kami ke dalam gerbong.
Yang lain pada antri menunggu.

Ia membuka pakaianku.
Pelan-pelan. Satu per satu.
Lalu tangannya meraba kemaluanku.
Dan ia masukkan lidahnya
ke dalam mulutku.


Selapik seketiduran.
Sebumi dan selangit.
Dua badan satu jiwa.
Dua jiwa satu badan.
Bulan dan surya telah lebur
menjadi kosong.


Begitulah telah terjadi. Bergoyang-goyang.
Kereta api membelah bumi.
Kami bertapa dan berkata:
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Kereta api membelah langit.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dan kami berseru: Bapa kami di sorga.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.


Kereta api menderu: berabad-abad lamanya.
Tiba-tiba kami saling memandang.
Menatap dalam-dalam. Melihat.
Dan saling berkata:
“Astaga. Baru sekarang aku sadari,
kamulah bapaku!”

Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari kota ke kota: kami berkarya, kami bekerja.
Kepada orang di jalan kami berkata:
“Bapa. Aku putramu.”


Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari desa ke desa: kami mengolah, kami mencipta.
Dan kepada para petani kami berkata:
“Kamulah bapaku. Aku pulang untuk bekerja.”
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya,. bapa.

Bapa kami yang berada di sorga
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Kyrie, Eleison
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Allahu Akbar
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Namyo - Ho - Ren - Ge - Kyo
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Aum. Mani. Padme. Hum
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Ya, Allah. Ya, Allah. Ya, Allah.
Laa illaha illallah.
Laa illaha ilallah.
Laa illaha ilallah.

Yogya, 11 Juli 1975

Saturday, October 16, 2010

Lukisan Perkawinan Hamsad Rangkuti

LUKISAN PERKAWINAN
Cerpen Hamsad Rangkuti

Kecurigaan sudah lama mengganggu ketentraman hidup Jody Sutisna. Ia membayangkan yang tidak-tidak tentang apa yang terjadi di rumah ketika ia berada di kantor. Ia mula-mula membantah kecurigaan yang menghinggapi pikirannya itu. Bukankah cinta itu sendiri telah membuahkan tiga anak yang mereka kasihi? Apakah mungkin penyelewengan itu dimulai oleh campur tangannya dokter untuk tidak terjadinya pembuahan di rahim para wanita? Mereka memberikan obat-obat kepada kaum ibu untuk menghentikan kelahiran. Mereka menjadi cantik kembali. Mereka lebih banyak punya waktu untuk menghias diri. Mereka tidak diganggu oleh kesibukkan untuk mengurus anak-anak. Mereka lalu menghabiskan waktu untuk mempersolek diri. Pada mulanya mereka melakukan itu untuk mengikat suami agar betah tinggal di rumah. Tetapi lama-kelamaan mereka melakukan itu untuk memikat kekasih-kekasih gelap mereka. Mereka mempersolek diri untuk dua sasaran sekaligus. Untuk sang suami dan untuk para kekasih gelap mereka. Begitulah pada mulanya terjadi seperti hal yang tidak sengaja. Tetapi lama-kelamaan cinta telah terbagi. Hati telah terpecah. Mula-mula terpecah menjadi dua. Dan sehari ke sehari hati terpecah sudah tidak seimbang.
Kepingan-kepingan baru telah bertambah lebih banyak berpindah dan kepingan sang suami ke kepingan kekasih gelap. Sampai akhirnya mereka telah berani berpihak kepada yang baru. Menemukan kekurangan-kekurangan yang lama. Kelemahan-kelemahan maupun kejelekkan sang suami sudah tampak jelas terpapar di hadapan sang istri. Kalau sudah sampai ke taraf demikian, seorang dan keduanya harus mengalah. Seseorang harus melepaskan sesuatu yang telah menjadi miliknya, atau memusnahkan keduanya sama sekali. Pikiran itulah yang telah mengganggu Jody Sutisna pada akhir-akhir ini. Mana yang harus dilakukan. Mengusir si istri bersama pelukis itu, atau membunuh keduanya sekaligus.
Kecelakaan yang datang menimpa keluarga Jody Sutisna diawali oleh keterampilannya menembak seekor macan di tengah rimba. Macan itu persis tertembak di antara kedua matanya. Ia bergambar dengan hasil buruannya di tengah rimba. Teman-teman seperburuannya mengambil foto itu untuk mengabadikan Jody Sutisna dengan bangkai binatang hasil buruannya. Jody Sutisna di dalam foto itu mengangkat sebelah kakinya menginjak tubuh macan yang telah mati tergeletak di antara semak belukar. Beberapa bulan kemudian, timbul pikirannya untuk membesarkan potret itu. Dia adalah orang yang mampu. Dia bisa membayar seorang pelukis untuk membesarkan potret itu dalam ukuran yang besar. Dia merencanakan memajang lukisan itu kelak di atas bangkai macan yang telah diawetkan itu di ruang tamu. Pasti para tamunya sesama pemburu menjadi kagum melihat lukisan dirinya bersama macan hasil buruannya diabadikan dalam bentuk lukisan. Mereka bisa melihat binatang itu dalam wujud yang utuh, diawetkan, berdiri siap menerkam, dan di belakangnya, di dinding ruang tamu itu, para sahabatnya itu juga dapat melihat dirinya bersama binatang buruannya diabadikan di atas kanvas dalam karya lukis.

Itulah awal dan mala petaka itu. Ia mendatangkan seorang pelukis ke rumahnya. Pada mulanya si pelukis membawa pulang potret itu untuk dilukis. Sebulan kemudian lukisan itu telah selesai. Lukisan itu cukup sempurna. Di pajang di ruang tamu.
Tibalah, gilirannya si istri minta dilukis berdiri di samping bangkai macan yang telah diawetkan itu. Si suami tidak keberatan. Malah ia merasa senang mendengar permintaan istrinya agar dilukis bersama macan hasil buruannya. Dia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya telah mengundang bencana ke dalam rumahnya. Pada mulanya bencana itu tidak akan tampak dengan segera. Tetapi awal dan itu semua dimulai oleh pandangan yang saling beradu. Si pelukis memandang tepat ke dalam mata si istri, memindahkan garis-garis bentuk tubuh wanita itu ke atas kain kanvas. Bagi si pelukis, melukis seorang wanita adalah hal yang biasa. Dia telah banyak melukis wanita-wanita genit dijadikan model. Pelukis-pelukis itu juga pada akhirnya meniduri model-model mereka. Meniduri model adalah hal yang biasa bagi seorang pelukis. Bila tubuh sudah menyatu, maka kekuatan goresan kuas akan lebih sempurna memindahkan wujud wanita yang dilukis. Menyatulah segala-galanya.
Tetapi kali ini si pelukis bukanlah melukis seorang model dan wanita-wanita yang semacam itu. Ia melukis seorang istri orang yang terhormat. Istri dan orang yang punya kedudukan yang baik di masyarakat. Tidak mungkin ia harus menyamakannya dengan model-model lukisannya yang lain.
Tiap hari si pelukis datang ke rumah Jody untuk meneruskan lukisan yang belum selesai. Dan hari ke hari ia memandang tepat ke dalam mata si istri. Rumah yang luas, kesenyapan ruangan yang terjaga terus-menerus sepanjang siang, adalah faktor penunjang kesuksesan liciknya iblis menganggu kedua mereka. Anak-anak pergi ke sekolah. Pembantu rumah sibuk di dapur. Tukang kebun tidak akan berani masuk ke ruang tamu. Si iblis pun mulai memasuki naluri rendah manusia. Ia menggerakkan keberanian si pelukis untuk menyentuh si istri guna mengatur posisi lebih sempurna.
“Coba Nyonya memandang tepat kepada saya. Ingat posisi yang kemarin. Sedikit Nyonya berubah, akan mengganggu keserasian lukisan yang sedang kita selesaikan ini. Apakah Nyonya telah lelah?”
Si nyonya rumah senyum. Ia bergerak ke arah yang diminta si pelukis. Tetapi bagi si pelukis, gerakan itu belum sempurna seperti yang ia kehendaki. Si pelukis meninggalkan kanvasnya dan mendekati si nyonya rumah yang tampak agak gugup. Si pelukis menyentuh dagu si wanita.
“Nyonya harus bersikap seperti ini.” Sentuhan telah terjadi. Degup jantung keduanya tambah keras. Tetapi keduanya masih saling menjaga nafsu rendah mereka. Tetapi sentuhan yang sedikit itu telah membuka jalan untuk belaian-belaian yang lebih jauh.
Ada semacam petualangan baru dalam diri Sri Suharti Jody Sutisna. Dia merasakan kokok ayam menyambut fajar semacam genta yang merdu ditelinganya. Hari sebentar lagi akan siang. Ayam itu membangunkan Sri untuk bersiap-siap menyambut si pelukis di ruang depan. Sri pagi-pagi telah mandi dan mulai membenahi diri. Bila Jody telah berangkat ke kantor, Sri duduk berlama-lama di depan kaca. Ia memakai baju yang tipis Untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya dan balik kain yang tembus pandang. Mata pelukis itu memancarkan suatu kenikmatan yang lain pada saat memandang dirinya dari balik kerlingan yang mencuri-curi. Rok yang tersingkap menunjukkan betis yang bersih. Mengapa ia selalu duduk dengan sembrono dan membiarkan ujung rok yang dipakainya tersingkap jauh di atas lutut? Mengapa ia tidak buru-buru menutupnya dan melindungi kedua betisnya yang telanjang dan sudut mata yang mencuri-curi itu? Tetapi itu adalah suatu kenikmatan yang baru. Mengundang keberahian yang terlarang.
Mengapakah aku ini, pikir Sri, menanggapi sikapnya yang membiarkan bagian-bagian tubuhnya yang telanjang itu dinikmati oleh kerlingan nakal si pelukis. Apakah cintaku pada Jody telah luntur? Bukankah cinta semacam pelita yang menerangi terus-menerus perjalanan hidup sebuah perkawinan? Perkawinan sejati adalah tidak ubahnya seperti dua orang kekasih berjalan di dalam gelap, cintalah yang akan bertindak sebagai pelita menerangi perjalanan hidup perkawinan itu. Apakah pelita itu telah padam di dalam diriku. Cinta adalah suatu pengutamaan yang luar biasa yang dituntut baik bagi seorang pria ataupun wanita. Perkawinan menuntut saling rasa terikat yang wajar, cintalah yang bertindak sebagai benang pengikat itu, sehingga seseorang tidak terlepas dan kewajiban moral. Tetapi itu untuk berapa lama bisa bertahan pada seseorang, baik lelaki maupun pria. Pengutamaan yang luar biasa itu bisa berapa lama bertahan pada seseorang. Sebulan, setahun, ataukah sampai mempunyai beberapa makhluk sebagai basil dan buah perkawinan itu? Dasar agamakukah yang tidak kukuh, Sehingga aku tidak takut dengan bayangan dosa? Ataukah aku mencintai pelukis ini? Bukankah cinta bisa mendobrak kekuatan dasar rasa terikat seseorang dengan hidup perkawinan ataupun dasar keagamaan seseorang? Apakah aku telah menaruh cinta pada pelukis ini? Bukankah nafsu dan cinta saling berdekatan satu dengan yang lain? Keduanya tidak dapat dipisahkan bagi seorang pria dan wanita yang normal. Cinta dan nafsu datangnya berbarengan pada diri seseorang. Apakah aku sudah tidak kuat untuk mengelakkannya? Keheningan ini, ketenangan dalam rumah yang luas ini telah menggiring keduanya ke dalam suasana yang baru bagi mereka.
Pernah suatu hari Jody menelepon ke rumahnya dan kantor. Lama ia menanti orang untuk mengangkat telepon itu. Baru kemudian pembantu rumah mengangkat dan menyambut teleponnya. Pembantu rumah berkata pada Jody bahwa nyonya pergi bersama pelukis itu dengan mobil sejak pagi. Ke mana mereka pergi, pikir Jody. Ia mulai tidak tentram duduk di belakang meja dalam ruangan yang ber-ac. Pikirannya mulai menerawang tentang sesuatu yang menyakitkan yang dilakukan oleh istrinya. Mengapa ia mengundang kesempatan kepada istrinya. Mengapa ia memberi kesempatan itu datang ke rumahnya. Mengapa ia memberi kebebasan pada istrinya untuk menerima pelukis itu di ruang tamu mereka. Apakah ia tidak dapat melihat perubahan-perubahan yang begitu menyolok yang diperlihatkan istrinya? Mereka sering bertengkar akhir-akhir ini. Hal-hal kecil telah menimbulkan buah pertengkaran di antara mereka. Apakah ini bukan suatu pelampiasan dari rasa cernburunya? Tetapi mengapa ia tidak berani berterus terang untuk mengatakan rasa cemburunya pada si istri? Dan mengapa ia menunjukkan sikap yang sedikit pun tidak merasa kegoncangan dengan hadirnya pelukis itu tiap hari di rumahnya. Ia memandang hal itu suatu yang wajar. Bahwa pelukis itu harus menyelesaikan lukisannya dan si istri harus menyediakan dirinya untuk terus-menerus dipandang oleh si pelukis. Tetapi apakah aku tidak menyadari bahwa perkembangan dan lukisan itu sangat lambat? Apakah aku tidak melihat bahwa ada semacam taktik yang dilancarkan oleh si pelukis untuk melama-lamakan rampungnya lukisan itu. Keangkuhannya sebagai seorang yang berkedudukan tinggilah yang membuat ia tampak tidak goyah sedikit pun. Ia merasa kuat dan penuh keyakinan diri untuk tidak semudah itu milik yang dicintainya lepas begitu saja jatuh ke tangan seorang seniman seperti pelukis itu. Apa yang lebih pada diri pelukis itu untuk membikin cinta istrinya mulai beralih? Itu tidak masuk akal. Iblis yang mengganggu pikiranku. Tidak ada alasan yang kuat untuk membikin aku cemburu padanya. Tetapi mengingat masa mudanya yang liar, telah mendatangkan rasa curiganya pada pelukis itu. Bukankah seniman-seniman itu menganggap wanita semacam alat untuk memperoleh kenikmatan? Sejak umur remajaku, aku telah merusak diri sendiri dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Menghabiskan masa remajaku dengan wanita-wanita yang menjual dirinya. Aku tahu pelukis itu menganggap hubungan seks antara pria dan wanita di luar nikah suatu hal yang wajar. Kalau mereka mau meniduri wanita-wanita yang penuh dengan kuman-kuman penyakit di tempat-tempat pelacuran, mengapa ia tidak mungkin mempergunakan untuk menikmati tubuh istriku yang bersih? Aku harus mencegahnya sebelum penyelewengan itu terjadi. Skandal adalah peristiwa yang memalukan keluarga. Aku harus mencegahnya. Kalau di meja makan, kita jangan terlalu percaya pada kucing, di tempat tidur, kita jangan terlampau percaya pada istri. Perempuan seperti kuda. Harus dikekang dan diikat di tengah padang. Kalau kau membiarkannya lepas, bisa celaka. Tutup matanya bila kau membawanya menarik kereta. Bila tidak, dia akan melihat ke segala jurusan, sehingga kereta kudamu akan tergelincir masuk jurang dibuatnya. Pikiran itulah yang menguasai Jody pada saat-saat kritis ini. Jangan dibiarkan mereka terus-menerus di ruang tamu, lama-kelamaan mereka akan masuk ke ruang dalam. Dan kalau aku membiarkannya, mereka akan masuk ke kamar tidur. Itu tidak boleh terjadi.
“Ke mana kau pergi dengan pelukis itu siang tadi?”
“Kami membeli cat. Cat merahnya habis.”
“Mengapa tidak kau biarkan ia pergi sendiri dengan kendaraan umum.”
“Ia ingin cepat-cepat. Lagi pula aku telah capek duduk terus-menerus di depannya. Apa salahnya aku antar ia ke toko cat.”
“Mobil itu kubeli bukan untuk menyuruhmu mengantar pelukis ke toko cat. Aku tidak senang kau berbuat sejauh itu.”
“Aku tidak melihat perbuatan tercela untuk itu.”
“Suruh pelukis itu selesaikan lebih cepat lukisanmu. Aku tidak suka ia datang terus-menerus tiap hari kemari. Aku curiga membiarkan kamu berdua dalam rumah ini.”
“Kau menuduhku sekotor itu? Jiwamu sudah sekotor yang kautuduhkan padaku.”
Begitulah istri-istri itu membela dirinya. Ia berlindung di balik air matanya. Ia menangis menutupi perbuatannya. Ia mengelak dengan kata-katanya. Ia sedikit pun tidak merasa berdosa. Begitukah wanita-wanita itu bila telah melangkah terlampau jauh? Jody berkesimpulan seperti itu.
Retak sudah hampir tidak bisa dipertahankan lagi dalam perjalanan hidup rumah tangga Jody Sutisna. Keadaan sudah makin kritis. Keduanya saling tegang. Percekcokan sering terjadi. Hal-hal yang tidak perlu di persoalkan telah menjurus ke sebab pertengkaran mulut. Sementara itu pun lukisan telah rampung. Bagi Jody, kerampungan lukisan itu adalah penyelesaian yang baik terhadap kecurigaannya. Lukisan telah dipajang di ruang tamu. Kecurigaannya sudah berangsur lenyap. Untuk lenyap sama sekali tidaklah semudah itu. Dia harus diyakinkan sedemikian rupa sampai bekas itu hilang sama sekali. Apakah bekas itu akan dilenyapkan? Apakah kedua lukisan itu harus dilenyapkan? Tidak. Itu adalah hal yang kekanak-kanakan. Aku harus mempercayai pengakuan istriku. Apalagi yang harus kupercayai, kalau bukan pengakuan istriku sendiri? Apa salahnya aku mempercayai pengakuan orang yang kucintai? Mengapa aku menuduhnya sekotor itu? Bukankah itu semacam tuduhan yang belum pasti? Jiwaku yang telah kotor. Kotor semenjak usia remajaku. Semenjak kawin aku tidak pernah melakukan itu. Aku sekarang suci dan perbuatan-perbuatan seperti itu. Bukankah kekotoran masa lalu itu suatu kemungkinan mengotori jalan pikiranku? Aku menuduh orang sama berbuat seperti yang kulakukan pada masa remajaku. Jangan. Jangan sama ratakan orang Seperti masa remajaku. Itu tidak adil.
Jody mengikis kecurigaannya seperti itu. Dengan demikian ia menjadi tenang dalam hidupnya. Keadaan rumah tangga sudah mulai menjadi normal. Kemesraan hidup berkeluarga sudah mulai tumbuh kembali antar dia, istrinya dan anak-anaknya. Kerukunan itu tiba-tiba buyar kembali ketika pada suatu siang ia mendapat kabar melalui laporan teman baiknya. Jody kaget mendengar temannya bercanda dalam telepon.
“Mengapa kau biarkan nasi di piringmu di makan orang lain?”
“Mengapa kau bergurau seperti itu?”
“Aku melihat istrimu dengan pelukis yang melukis bangkai macan di rumahmu. Mereka berdua dalam mobil. Istrimu menyetir mobilmu sendiri. Pelukis itu duduk di sampingnya. Aku tidak tahu mereka habis pergi dan mana.”
“Bajingan!” Jody menghentakkan gagang telepon. Ia mengeluarkan mobil dari taman parkir dan melejit menuju ke rumahnya.
Di rumah dia temui pelukis itu duduk di ruang tamu. Pelukis itu berdiri memberi salam. Ia tidak acuh dan langsung ke ruang dalam. Istrinya terperanjat. Ia berdiri lemas memegang dinding.
“Aku meminta pelukis itu melukis protret perkawinan kita, Mas. Aku memang sengaja tidak mengatakannya padamu. Lukisan itu telah rampung. Aku ingin menghadiahkannya pada kita berdua sebagai kado ulang tahun perkawinan kita yang kesepuluh. Lukisan itu telah selesal. Ada kau lihat di ruang tamu?”
“Apa pun alasanmu, aku sudah tidak percaya pada omonganmu. Suruh pelukis itu pergi. Aku tidak kuat melihatnya. Apa kau mau ia tewas seperti macan dalam lukisannya seni ini?”
Sri bergegas membawa sejumlah uang ke ruang depan. Ia menyerahkan uang pada pelukis itu sebagai penyelesaian sisa pembayaran. Setelah itu si pelukis pergi penuh tanda tanya di hatinya.
Jody menarik tangan istrinya dengan kasar, dan menghempaskannya di atas sofa.

“Perempuan jalang. Sudah kularang kau bergaul dengan pelukis itu, malah sekarang kau bawa ia ke rumah mi. Apa yang kau lihat pada dirinya sehingga kau berpaling dan diriku?”

“Aku hanya ingin membuat kejutan pada hari ulang tahun perkawrnan kita. Kau lihat lukisan yang dibuatnya itu. Malam penganten kita, Mas. Aku hanya memesan itu untuk dia lukis. Kau lihat foto yang lama itu. Kertasnya telah rusak. Gambar perkawinan kita dalam foto itu telah rusak dimakan ngengat. Aku ingin menjadikannya baru sama sekali.”

“Omong kosong. Dasar wanita pandai menyembunyikan kebusukan yang pernah di lakukan. Aku tidak bisa berlama-lama melihatmu. Aku sudah lama tidak berburu. Aku khawatir kau bisa menjadi mangsa senapan berburu itu!” Jody menunjuk bedil berburunya yang tersangkut rapi di dinding ruang tamu. Bedil itu tersangkut di sana berfungsi sebagai perabotan dan sekaligus hiasan dinding.

Jody pergi dengan kasar meninggalkan istrinya duduk menangis di ruang tamu di atas sofa. Dia dengar mobil suaminya dilarikan dengan kecepatan luar biasa waktu masuk ke jalan besar. Sri menangis. Ia menyesali ketidakterusterangannya waktu memesan lukisan itu. Apa artinya membuat kejutan bila ketidakpercayaan sang suami pada kesuciannya telah timbul akibatnya. Aku harus menjelaskannya pada Jody. Dia harus tahu siapa sebenarnya pelukis itu. Apakah ia tidak tergugah melihat kemiskinannya? Apakah aku salah memesan lukisan hanya untuk menyelamatkan hidup istri dan anak-anaknya? Mengapa ia menuduh hidup seorang seniman, moral seorang seniman, sekotor yang dia tuduhkan? Aku harus bawa dia kemari bersama keluarga dan anak-anaknya. Besok pada hari ulang tahun perkawinan kami ia akan kubawa kemari. Itu harus dijelaskan. Istrinya dan anak-anaknya. Apa salahnya membawa mereka ke dalam rumah yang mereka sendiri belum pernah memasukinya? Istri pelukis itu, anak-anak pelukis itu.

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Jody dan Sri yang kesepuluh. Jody telah reda marahnya kepada istrinya. Ia telah memaafkan kelancangan istrinya yang telah terlanjur memesan lukisan hari pernikahan mereka kepada pelukis yang dicemburuinya. Ia duduk tenang di belakang meja dalam ruangan yang ber-ac. Tetapi tiba-tiba telepon berdering. Seorang teman menelepon, dan nada telepon itu tidak jauh berbeda ketika ia menerima laporan tentang istrinya.
“Aku melihat dan balik kaca mobilku. Istrimu dan pelukis itu bepergian dalam mobil yang disetir istrimu.”

“Kau jangan main-main. Istriku telah berjanji untuk tidak bergaul dengan pelukis itu. Lagi pula hari ini ia mesti di rumah untuk menanti tamu-tamu kami.”

“Aku tidak mungkin keliru dengan penglihatanku. Kau adalah sahabatku Jody. Apakah kau cukup percaya dengan seniman-seniman itu? Kau tentu telah banyak membaca tentang skandal-skandal yang mereka lakukan di antara istri-istri teman mereka. Semoga mataku salah melihat apa yang sebenarnya tidak benar itu. Semoga aku keliru.”

Jody meletakkan gagang telepon, karena orang yang meneleponnya meletakkan lebih dahulu gagang telepon di seberang sana. Jody menyandarkan diri di sandaran kursi duduknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Bulu-bulu tangannya merinding membayangkan seandainya apa yang dikatakan temannya itu benar. Apakah aku akan menjadi seorang pembunuh. Ia keluar dan kamar kerjanya. Suara mobilnya melenyap meninggalkan taman parkir Wisma Nusantara. Kantornya tampak mengecil di tingkat ke sepuluh gedung itu,

Didapatinya keadaan rumah masih sepi oleh para tetamu. Pesta dimulai pada sore hari sampai dekat senja. Para tetamu adalah teman-teman dekat mereka. Paling banyak dua puluh pasang suami istri. Sekarang baru pukul tiga siang. Ke mana mereka semua? Pikir Jody. Dan pembantu rumah, dia tahu bahwa ketiga anaknya bermain di pekarangan belakang. Para pembantu rumah tangga sibuk menyiapkan makanan untuk pesta di dapur. Dan si istri memang tidak ada di rumah. Sri kira-kira lima belas menit yang lalu pergi dengan menyetir sendiri mobilnya. Tidak meninggalkan pesan.

Sudah pasti sundal itu mendatangi kekasih gelapnya, si pelukis keparat. Apa yang dilihat Muharso adalah benar. Ia bepergian dengan kekasih gelapnya, sementara orang di rumah sibuk menyiapkan makanan untuk pesta peningatan perkawinannya sendiri. Bukankah itu seorang perempuan terkutuk? Aku harus membunuhnya. Setelah itu, baru aku membunuh pelukis itu.
Jody memanggil ketiga anaknya dan menyuruh mereka diam di dalam kamar. Pembantu rumah tidak diperkenankannya masuk ruang tamu bila tidak diperlukan. Tukang kebun harus tetap berdiam diri dalam kebun di belakang rumah. Setelah semua perintahnya dilaksanakan, Jody menurunkan senapan berburunya dan dinding. Dia memasukkan peluru-peluru ke dalam senjata api itu. Debu berterbangan dan gagang senjata berburu itu tertiup oleh napas Jody yang mulai sesak karena amarah. Ia mencoba membidikkannya ke arah bangkai macan yang diawetkan. Aku mesti menembak tepat di antara kedua mata Sri, si khianat itu.
Jody menunggu dengan amarahnya. Pada saat-saat begitulah ia mengenang masa-masa bahagia mereka. Mata Jody berlinangan. Ia mengingat pertemuan mereka di bangku kuliah. Sri duduk di bawah satu tingkat dengan Jody. Mereka bertemu, saling jatuh cinta dan disudahi memasuki jenjang pernikahan. Mereka kawin atas dasar cinta-mencintai. Tetapi pengkhianatan itu harus dimusnahkan. Aku luka dibuatnya. Tidak ada artinya aku memacu diri dalam dunia bisnis untuk menyenangkan hidupnya. Menyenangkan hidup anak-anak kami. Aku telah dilangkahi sedemikian jauh. Pengkhianatan itu. Biarlah aku membunuh demi harga diri. Memulihkan kembali nama baik keluarga.

Dia perhatikan lukisan-lukisan yang dipajang di dinding. Lukisan dirinya sendiri menginjak bangkai seekor macan yang ia tembak dalam rimba Sumatra. Lukisan istrinya duduk di belakang tubuh bangkai macan yang diawetkan. Kemudian dia perhatikan lukisan perkawinan mereka yang diabadikan sepuluh tahun yang lalu. Sri memakai pakaian putih-putih dan dia sendiri memakai pakaian jas warna kelabu, di latar belakang ada hiasan pelaminan berbentuk sungkup dalam warna kuning keemasan.

Betapa cepat itu semua tertinggal oleh waktu. Anak-anak telah menjadi besar. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Dia sibuk sendiri mengurus dirinya sendiri. Apakah aku juga tidak bersalah dalam hal ini? Aku kurang memperhatikannya. Aku sibuk dengan teman-teman bisnisku. Aku sibuk dengan cerita-cerita berburu di antara teman-teman berburuku. Mengapa aku tidak pernah sekalipun dalam hidupnya pada masa akhir-akhir ini untuk membicarakan kesenangan-kesenangannya? Membicarakan masa lalu perkawinan kami. Mengapa aku tidak pernah memperhatikannya? Membawanya kembali. mengunjungi tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan cinta kami. Mengapa aku tidak pernah memuji hanya sekali saja tentang masakan-masakan yang ia buat khusus untuk aku. Aku telah terlampau jauh meninggalkannya. Aku harus memperhatikan Sri. Ia membutuhkan itu. Tetapi pengkhianatan itu sudah keterlaluan. Mengapa ia sampai hati mengkhianati kesetiaannya. Mengkhianati janji setia yang kami ucapkan bersama begitu masing-masing meninggalkan bangku kuliah. Apakah waktu yang sekian lama itu cukup kuat mengalahkan kekuatan cinta seseorang? Cinta menuntut pengutamaan sesuatu untuk kelangsungan cinta itu sendiri dan menyampingkan segala sesuatu untuk menyelamatkan cinta itu. Tetapi Sri telah meninggalkan pengutamaan sesuatu itu, dan dia telah membiarkan penyimpangan yang merusak cmta itu. Aku tidak kuat hidup terus-menerus berdampingan dengan orang yang kucintai, yang sekarang telah menjadi orang yang khianat. Aku juga tidak rela melepaskannya untuk dinikmati atau dimiliki oleh orang lain, sementara aku masih bisa melihat kebahagiannya dengan orang lain. Itulah egoisme dalam cinta. Cinta bagiku adalah sesuatu yang harus dimiliki untuk selamanya. Sekali ia ternoda, ia harus dimusnahkan.

Suara mobil terdengar masuk ke pekarangan. Jody memandang dengan pandangan yang tajam seperti berpuluh-puluh anak panah dilepaskan ke tubuh Sri dan pelukis yang duduk di sampingnya di balik kaca depan mobil. Jody memandang dengan gemas. Mobil itu diparkir jauh dar rumah. Sri turun dan dalam mobil. Si pelukis juga turun dan dalam mobil. Jody tidak kuat menahan amarahnya. Sundal dan kekasihnya harus dibunuh. Kata Jody membidik tepat ke kepala istrinya. Dia melihat Sri seperti dia melihat pertama sekali Sri waktu melaksanakan masa-masa perpeloncoan.

Sri kembali mendekati mobil yang diparkir. Ia seperti mengingat sesuatu yang terlupakan. Ia melihat ke dalam mobil. Di tempat duduk belakang, istri pelukis dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil duduk diam-diam di pangkuan ibunya. Anak yang terkecil, melekat erat di buah dada ibunya. Anak itu menyusu dengan lahap.
“Kakak dan anak-anak di sini saja dulu. Kalau aku telah ceritakan maksud kedatangan kakak dan anak-anak beserta suami kakak kepada suamiku, barulah kakak aku jemput kemari. Aku lihat mobilnya sudah ada. Berarti Jody ada di rumah.”

Sri kembali berjalan berdampingan bersama si pelukis. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan si pelukis, istrinya dan anak-anaknya kepada Jody. Dengan demikian, Jody bisa mengerti duduk persoalannya, dan dia bisa memaafkan aku, menghapus segala kecurigaannya selama in Tetapi Sri tidak tahu, bahwa kepalanya sedang dalam sasaran peluru suaminya sendiri. Dia berjalan seperti dia tidak menghadapi suatu bahaya apa pun. Manusia memang tidak tahu, bahwa sedetik lagi maut akan menjemputnya. Siapa yang bias menduga tentang kematiannya sendiri. Begitulah Sri berjalan seperti ia menyongsong kematian itu sendiri. Selangkah. Dua langkah. Tiba-tiba saja dia telah menjadi lebih dekat dengan tempat di mana suaminya berdiri kukuh dengan senapan berburu yang siap diledakkan ke atas pelipis si istri. Sedetik lagi, atau mungkin beberapa detik lagi, kepala Sri akan pecah berhamburan di atas kerikil ditembus peluru yang diledakkan oleh suaminya sendiri.
Dari balik kaca mobil, istri pelukis memandang suaminya melangkah berdampingan dengan Sri mendekati ambang pintu. Anaknya yang terkecil masih terus mendekap dan menyusu. Anak kecil itu terpekik mendengar ledakan. Ibunya mencoba membuka pintu mobil. Ledakan kedua menyusul. Ledakan ketmga memekakkan bayi itu. Beberapa ekor burung merpati menggelepar kaget dan terbang dan ujung-ujung genteng. Seisi rumah menjadi panik. Anak-anak yang terkunung di kaman belakang menangis menggedor-gedor daun pintu yang terkunci.

Tidak terdengar letusan lagi. Suasana menjadi Senyap. Keadaan menjadi hening, karena suana yang menggelegar barn saja lenyap. Angin menampan daun-daun. Tidak terdengan bunyi kerikil diinjak tapak-tapak sepatu. Sri berdini di tempat ia melangkah. Si pelukis terpaku di atas sepatu-patunya. Semua bertanya-tanya ten- tang apa yang telah terjadi di ruang tamu.
Sri tiba-tiba memekik dan berlani ke dalam rumah. Ia telah mengira yang tidak-tidak. Apakah Jody membunuh dininya. Menembak pelipisnya sendiri. Tetapi dia tidak meithat hal yang mencurigakan untuk menguatkan dugaan itu. Jody duduk tenang-tenang di atas sofa. Senapan di tangannya masih mengeluarkan asap bekas mesiu. Lukisan perkawinan mereka jatuh dan atas dinding.
“Apa yang terjadi, Mas? Mengapa kau? Aku membawa pelukis itu dan keluarganya. Mereka aku jemput untuk ikut merayakan pesta peringatan perkawinan kita. Aku ingin kau menyambut mereka seperti kau menyambut tamu-tamu terhormat kita yang lain. Kau lihatlah mereka, Mas. Mereka hidup sengsara. Pelukis-pelukis itu sengsara. Lukisan-lukisan mereka tidak laku. Aku memesan lukisan perkawinan kita, hanya untuk memberi pekerjaan padanya. Kau tidak tahu, Mas. Dia bercerita ketika dia melukis aku sepanjang hari. Mereka menderita. Orang tidak membeli lukisan-lukisan mereka. Istri dan ketiga anaknya ada di dalam mobil. Mereka aku paksa untuk berani datang kemari. Mereka aku minta untuk menjelaskan kepadamu. Untuk menghapus kecurigaanmu. Apa yang telah terjadi dengan kau Mas? Di mana anak-anak kita?”

Jody duduk diam tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan istrinya. Dia tunduk memandangi slongsong peluru yang tenlempar di atas permadani dekat kaki meja.

“Aku sebenarnya mau membunuh lalat-lalat itu. Mereka terbang dan hinggap mengotori lukisan perkawinan kita. Tetapi lalat-lalat itu terlalu kecil untuk sasaran peluruku. Aku tidak mengenal lalat-lalat itu. Tetapi lukisan itu telah menjadi rusak. Dinding di belakangnya menjadi berlobang-lobang bekas peluru.”
“Maafkan aku kalau telah mengganggu ketentraman keluarga Tuan. Aku hanya mengerjakan profesiku.”

“Di mana anak-anak?”

“Aku mengurung mereka dalam kamar. Aku tidak tega membiarkan anak-anak itu melihat apa yang akan terjadi pada ibu mereka.”

“Apa maksudmu Mas?”

“Aku sebenarnya telah membidik tepat senapan berburu ini ke atas pelipis di antara kedua matamu. Aku hanya tinggal menarik pelatuknya. Tetapi aku tidak kuat untuk melakukannya. Aku benar-benar tidak kuat. Tetapi aku terus memaksanya. Dan. . . begitu aku menarik pelatuk, secepat itu pula aku mengalihkan laras senjata api ini ke pelipismu di dalam lukisan perkawinan kita. Aku menembakmu dan menambak diriku sendiri di dalam lukisan itu. Aku hampir saja membunuhmu.”
“Alangkah mengerikan kedengarannya.”
Sri berlari ke kamar belakang. Ia buka pintu kamar, dan ketiga anaknya berhamburan lari menerkam ibu mereka.
“Di mana istrii dan ketiga anakmu Bung?”
“Di dalam mobil.”
“Ambil mereka. Bawa masuk.”
Jody menyangkutkan kembali senapan berburunya ke atas dinding. Si pelukis membawa masuk istri dan ketiga anaknya. Mereka kelihatan takut-takut memasuki ruang tamu yang mewah itu. Sri juga datang ke ruang tamu. Ia membawa serta ketiga orang anaknya.

“Mari silakan duduk,” kata Jody.
“Terima kasih. Kami telah mengganggu ketentraman hidup keluarga Tuan.”
“Apakah Saudara bisa memperbaiki lukisan perkawinan ini?”
“Saya yakin, saya bisa. Saya akan memperbaikinya, Tuan Jody. Lukisan itu akan saya perbaiki sesempurna mungkin. Saya yakin, Tuan kelak tidak akan dapat menandai lagi, bahwa lukisan perkawinan itu pernah dirobek tiga butir peluru yang Tuan tembakkan sendiri dan senapan berburu Tuan.”
Depok, 1979

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook