Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Sunday, February 24, 2013

Kenangan Pramoedya


Puisi Oleh: Eka Budianta
Kenangan Pramoedya

(6 Februari 1925 - 30 April 2006) 
Kamu mencintai tulang dan pori-pori
Bumi kelahiranmu dan semua bangsa 
Para korban kebodohan yang terlupa 

Tetapi ketika kautulis kebenaran 
Kamu dijebloskan ke penjara 
Buku-buku dan pembacamu teraniaya 

Akan kukenang Pramoedya 
Dengan seluruh keangkuhan saudaraku 
Yang tidak sanggup memahami mencintaimu 

Di langit hatiku hujan telah reda 
Tinggal namamu tertulis dan bersinar 
Menagih cintaku pada bumi manusia 
 (2006) 


Perjalanan Sungai 
(1) 

Sungai yang dulu menangis 
Di antara batu-batu di pegunungan 
Sekarang telah sampai di kota 
Dan akan terus menuju ke laut 

Tak lagi terdengar derai air terjun 
Udara sejuk, nyanyian burung, semerbak bunga 
Telah berganti panas terik dan polusi 
Sampah, minyak bekas, ikan-ikan mati 

Tapi aku terus mengalir 
Menyilakan kapal-kapal berbeban berat 
Masuk dari muara 
Menyambut hangat hempasan ombak dunia 

(2) 

Sungai-sungai kecil, sungai-sungai besar 
Bergelora dalam hidup singkat ini 
Pegunungan dan air terjun memanggil 
Burung-burung mencicit 
Menyulut awan putih 
Menjadi lautan menyala 
Menyepuh nama-namamu 

Kota-kota kecil, kota-kota besar 
Gemuruh dalam sunyi hati 
Burung-burung menyayat sungai 
Mengalirkan cinta 
Di ambang usia saat butir-butir pohon 
Menunggu undangan dari langit yang kekal 
(2003) 

Sebelum Laut Bertemu Langit 

Seekor penyu pulang ke laut 
Setelah meletakkan telurnya di pantai 
Malam ini kubenamkan butir-butir 
Puisiku di pantai hatimu 
Sebentar lagi aku akan balik ke laut. 

Puisiku - telur-telur penyu itu-
mungkin bakal menetas menjadi tukik-tukik perkasa 
yang berenang beribu mil jauhnya 
Mungkin juga mati 
Pecah, terinjak begitu saja 

Misalnya sebutir telur penyu
menetas di pantai hatimu 
tukik kecilku juga kembali ke laut 
Seperti penyair mudik ke sumber matahari 
melalui desa dan kota, gunung dan hutan 
yang menghabiskan usianya 

Kalau ombak menyambutku kembali 
Akan kusebut namamu pantai kasih 
Tempat kutanamkan kata-kata
yang dulu melahirkan aku 
bergenerasi yang lalu 

Betul, suatu hari penyu itu
tak pernah datang lagi ke pantai 
sebab ia tak bisa lagi bertelur 
Ia hanya berenang dan menyelam 
menuju laut bertemu langit 
di cakrawala abadi 
Jakarta, 2003

Tentang Penulis
Eka Budianta lahir di Ngimbang, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Penulis produktif ini mengenal secara pribadi Pramoedya Ananta Toer sejak 1983. Kedekatannya dengan Pramoedya dituangkan dalam buku "Mendengar Pramoedya" tahun 2005. Karya terakhirnya Eka Budianta Mekar di Bumi terbit tahun 2006.

Saturday, February 16, 2013

Puisi Rahasia Tuhan, Lelah, Lakon, dan Duka

Puisi Puisi Dwi Rejeki



Menuju Tuhannya

Barisan laki laki menuju pura 
dan perempuan dalam kebaya 
wajah wajah pasrah berbagai rupa 
berangkat menuju Tuhannya 
di gerbang pura 
barisan merapat 
berharap dinaungi para dewa 
hidup telah diserahkan 
ada janji yang terucap 
pada kalimt suci tengah malam
meski tak bisa merubah dunia 
tapi harapan tetap dinyalakan 
nyanyian alam memecah hening 
mereka larut dalam doa 
munuju muara kebesaran pencipta 

* Pebruari 2009 


Lelah

Aku masih tersandar 
di tepi buritan 
angin kencang menerpa segala 
kupandangi sandal jepit 
kutinggal sebelah 
aku lelah pandangi langit 
kelamarungi belantara tak bertepi 
seperti tak ada jalan keluar 
hanya berputar 
 tanpa ada arah terbentang 
waktu tersita tanpa tanya 
aku terjebak tanpa daya 
hanya gundah yang meraja 
mengitari seluruh nafasku 
ku ingin kembali kayuhi bidukku 
menapaki tepian yang tenang 
 hati hendak berontak
 dari kegelapan ini 
ketika senja menyambutku
 tak harap gelombang menjelang 
aku hanya ingin kembali pada tepi 

 * Maret 2009
Rahasiamu 

Bulan Berisik 
di sela gemuruh hati 
yang menggapai 
dan aku masih terpaku 
akan dirimu, tentangmu, rahasiamu 
yang tak pernah kumengerti 
tapi bulan kini memerah 
oleh suaraku yang telah bebas 
dan menemukan dirinya 

* April 2009

Dukamu 

 Jendela hati
 yang tak tersingkap
 dalam deru angin malam 
dendangkan lagu
 pecahkan sunyi ini 
aku tetap berharap 
di balik kisi hati
 ada belas luka 
yang mengering 
dukamu seperti sembiluku
 menyeretku jauh 
terlempar dari sumbu 
membawaku pergi 
menjauhi suara hati 

 * Januari 2009 

Sepenggal Lakon
Ini sepenggal lakon 
yang terlupakan 
kisah pilu dua nafas 
terpisahkan oleh derajat 
yang dikeramatkan 
Mereka pemuja kasta 
lahir untuk dipuja mati 
seperti raja 
gemerlap dunia 
pisahkan janji suci 
persetubuhan yang diharamkan 
disaksikan burung-burung 
di tanah lepas 
berarak iringi rintihan sunyi 
mengoyak derajat yang diagungkan 

* Mei 2009

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 16 Juni 2012

Monday, January 28, 2013

Puisi-puisi Anita Retno Lestari

Puisi Bulan, Tuhan, dan Anggur

Bulan di Pangkuanku 

Tuhan, ijinkan aku bermimpi 
seperti Ken Dedes 
bulan jatuh di pangkuanku 
lalu peta dunia berubah 
tapi tanpa pertumpahan darah 
tak ada lagi yang terbunuh 
atas nama pengkhianatan 
atas nama kepengecutan 
atas nama kepahlawanan 

jika bulan di pangkuanku 
akan kuiris-iris seperti semangka 
dan kubagi-bagikan kepada anak-anak jalanan 
kepada perempuan-perempuan malam 
biar mereka tak lagi hidup di kegelapan. 


Pesan Singkat 

Jika aku melupakanmu 
Tolong tegurlah diriku 
Dengan setaman bunga 
Tanpa kenanga. 


Pertanyaan Kepada Tuhan 

Seperti apa rupamu 
Ah, itu pertanyaan dungu 
Karena kau tak seperti apa 
Tak seperti siapa 

Di manakah engkau 
Ini pun pertanyaan lucu 
Karena engkau tak di mana-mana 
Atau di mana-mana 

Siapakah engkau 
Ini juga pertanyaan wagu 
Karena engkau bukan siapa 
Kecuali yang tercinta 

Apakah engkau mencintaiku 
Astaga, kenapa aku ragu 
Setelah tahu mawar itu indah 
Dan dunia demikian cerah. 

Sujud 

Akan kubenturkan kepalaku 
Di atas tanah atau batu 
Jika engkau tak mencintaiku. 


Kasta 

Dengan cinta 
Maafkanlah aku 
karena tak peduli kasta 
Atas bawah sama saja 

Dengan cinta 
Maklumlah aku 
Tak peduli kasta 
 Kau dan aku jadi kita. 

Turis 

Jangan bertanya 
Ke mana kita 
Pergi atau pulang 

Kita berjalan saja 
Untuk kembali 
Ke tempat asal 
Entah di mana 

Seperti pohon mangga 
Pada mulanya biji 
Entah jatuh di mana. 



Segelas Anggur 

Pada pesta 
Kau tuang segelas anggur 
Lalu kau coba mereguknya 
Tiba-tiba lantai hancur 
Langit-langit itu pun runtuh 
Bersama gaunmu yang luruh 
Bumi pun bergoyang-goyang 
Malam jadi amat panjang

(Segelas anggur 
Akankah menemanimu 
Dalam kubur?)


Tentang Penulis
Anita Retno Lestari, kelahiran Pati, 27 Juli 1988, menulis cerpen, puisi, dongeng dan esai. Kini sedang mempersiapkan penerbitan novel-novel remaja yang ditulisnya sejak duduk di bangku MTs dan aktif sebagai penggiat komunitas Sastradipati.

Thursday, November 08, 2012

Mengenal Fiksi Mini

Fiksi MIni Kurniawan Junaedhie


Fiksi mini karya Kurniawan Junaedhie (KJ) berikut ini merupakan bagian dari buku ANTOLOGI 600 FIKSI MINI yang memuat lebih dari 600 buah fiksi mini sejenis. 

Fiksi mini adalah medium ekspresi yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Bentuknya karya fiksi yang berformat mini, hanya beberapa kalimat saja.. Meski dalam ukuran mini, para pengarang –yang umumnya penyair dan prosais— ini mencoba mengajak pembacanya ke alam kesadaran baru. Kadang berupa tawa, yang tak semua menghibur memang, karena kadang ada ironi di dalamnya. Yang jelas, pembaca dibebaskan menafsirkan sendiri sesuai imajinasi, ilusi dan fantasinya.

Berikut salah satu contoh fiksi mini karya KJ. Semoga memberi inspirasi



BUKU
Buku itu melotot ke arah saya. Dia membetulkan kacamata saya. Iqra, katanya.

TIDUR DI DEPAN TELEVISI
Pacarku bertanya, “sedang apa, Sayang?” Kujawab, “aku sedang ditonton televisi, Darling.”

DI RANJANG
Tengah malam, aku dibangunkan guling. “Sudah berapa malam ya, kamu tidur bersama ranjang?”

ADIK BARU
Suami memeluk dari belakang. “Si bungsu pengen punya adik,“ bisiknya. Istri menyepak tangannya. “Beli saja kalau besok kamu ke kantor.”

SAPI
Kepala itu menggelinding. Masih terngiang suara gunting.

INGATAN
BU : Disewakan sejumlah kenangan. Masih segar dalam ingatan.

FRENCH KISS
Setelah kami berciuman, aku pingsan. Ternyata bibirnya berbisa.

CIUMAN YUDAS
Setelah dia menciumku, besoknya aku flu dan batuk-batuk.

PENANTIAN
Di lapangan bola, istri pemain sepakbola itu berkata: “Aku akan setia menunggumu 1000 tahun lagi.” Setahun berlalu, lapangan sepakbola itu sudah jadi supermall.

KEKASIH
Astaga. Kekasihku nyaris dinodai suaminya.

ISTRI
Jauh di hati dekat di mata.

BUKAN ISTRI
Jauh di mata dekat di handphone.

KESETIAAN PEREMPUAN
Sementara tangan kanannya mengerik punggung suaminya, tangan kirinya menulis pesan singkat untuk kekasihnya: I love you!

SEKOLAH BARU
Ini halaman sekolah anak konglomerat, Nak. Bukan halaman buku puisi Bapak!

INDEKOS
Kekasihku indekos di rumah suaminya.

LAGU MALAM
Setiap malam, kekasihku tidur bersama suaminya.

LUNA MAYA
Satpam muda itu nyelonong ke kamar kerjaku. “Akulah anakmu yang benihnya kamu buang ke got waktu kamu mandi.” Astaga, mirip benar dia dengan Luna Maya.

3 MENIT
Pacarku kirim SMS: “Jangan ganggu aku 3 menit saja. Aku lagi bertengkar dengan suami.”

TIDUR
Setiap malam aku baru tidur jika sudah ada yang bangun.

SAJAK
Begitu siuman dari pingsannya, kata-kata dalam sajak melihat arlojinya. Aneh, ambulan yang membawa ilham ke rumahsakit belum juga tiba, katanya.

CIUMAN BATAL
Kami mendekat. Nafasnya memburu. Kupejamkan mata. Kumonyongkan bibirku. “Miauw!” tiba-tiba seekor kucing melesat di kaki.

KUCING
Kamu mencuri hatiku dan meletakkannya di tempat tersembunyi sampai suatu hari seekor kucing menggondolnya dan membawanya pergi.

CERMIN
Di cermin, jerawatnya bertemu rembulan. “Numpang tanya, salon terdekat mana ya?”

DI JAKARTA
Aku naik busway. Jalanan riuh rendah. Sopir ngebut. Debu berhamburan. Sebuah kepala hinggap di pangkuan.

Sumber: kurniawan-junaedhie.blogspot.com

Thursday, November 01, 2012

Sajak Sajak Kurniawan Junaedhie

Seekor Kucing Hitam
- si dia

Seekor kucing hitam mengeong berkepanjangan
Perempuan itu mencopot pakaiannya
menyerahkan tubuhnya:
untukmu, katanya, hanya untukmu
Suaranya parau, seperti leher burung terkena pisau
Lalu dia memadamkan lampu,
dan rebah di ranjang
seperti sebilah pedang
Lalu malam bertemu siang
Peluh pun jatuh berleleran

Setelah bergulingan semalaman.
perempuan itu kembali pada suaminya,
Dan si lelaki kembali pada istrinya
hidup jalan terus seperti lazimnya
Hanya mereka terlanjur hapal tahi lalat mereka
Satu di pantat kiri, satu di dekat kelamin,
Sebuah tanda lahir di dekat payudara
Juga sebuah kenangan yang mengapung di tengah samudera

2009

Sajak Pendek Untuk Kesunyian 

Langit hitam
Helai malam
Suara daun gemeratak
Dalam kata
mirip sajak

2009

Aku, Kau & Cermin

Tubuhmu terbuat dari tubuh ikan. Licin. Dari sisik-sisik terbaik. Matamu terbuat dari merjan. Bening, berkilau. Hidungmu terbuat dari beling cangkir. Lembut seperti pualam, tak terurai. Bibirmu terbuat dari irisan apel. Lembut tak terpanai. Aku seperti lidah, menjilat-jilat bayangan kelam. Kadang aku menyelam, dan kadang aku terbang tinggi. Tapi cermin itu tidak memantulkan bayanganku sama sekali.

2009

Melankoli

Dia tunduk tersipu
Aku rengkuh bahunya
Angin bertiup lalu
Cuaca yang beku

Sekarang dia tertawa
Aku terbahak
Jangan berteriak
Tak ingin aku melukaimu

Lalu kamar itu senyap
Kata seperti melekat di dinding
Mata kita terpejam
Dan hati berpandangan

2009


Biodata:
Kurniawan Junaedhie, menulis puisi di media massa sejak 1974. Buku puisi tunggalnya, antara lain. “Cinta Seekor Singa” (2009), “Perempuan dalam Secangkir Kopi” (2010), Sepasang Bibir dalam Cangkir” (2011) dan “100 Haiku untuk Sri Ratu”. Ikut dalam sejumlah antologi, al: “The Fifties” (2009), “Senandoeng Radja Ketjil” (2010), dan “Merapi Gugat” (2010), “Kitab Radja-Ratoe Alit” (2011) dll. Tinggal di Serpong, Tangerang, bekerja sebagai pekebun dan editor.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 6 Agustus 2011

Monday, September 03, 2012

Apa itu Puisi?

Memahami Puisi

Puisi sangat berbeda dengan prosa. Perbedaan yang utama adalah terletak pada proses penciptaan masing-masing karya sastra itu.

Di dalam puisi seperti diungkapkan oleh Prof. Dr. Mursal Esten yang disampaikan oleh Y vone de Fretes dalam bukunya berjudul "Memahami Puisi" terbitan Angkasa, cetakan 1995, akan berlangsung beberapa proses yang tidak begitu terasa di dalam prosa. Proses tersebut adalah: pertama, 'proses konsentrasi', kedua 'proses intensifikasi', dan ketiga 'proses pengimajian (imagery)'.

Dalam proses 'konsentrasi', segenap unsur puisi (unsur musikalitas, unsur korespondensi, dan unsur bahasa), dipusatkan pada satu permasalahan atau kesan tertentu. Kemudian dalam proses 'intensifikasi' unsur-unsur puisi tersebut berusaha menjangkau permasalahan atau hal yang lebih mendalam atau mendasar.

Adanya kedua proses di atas menyebabkan sebuah puisi menjadi sesuatu yang pelik, sehingga lebih susah dimengerti ibandingkan dengan prosa.

Proses ketiga adalah proses pengmajian (imagery) merupakan suatu yang juga menjadikan puisi berbeda dari prosa. Segenap unsur puisi (musikalitas, korespondensi, dan bahasa) berfungsi menciptakan atau membangun sebuah imaji atau citra tertentu. Bunyi dan rima, hubungan satu lirik (baris) dengan lirik yang lain atau satu bait dengan bait yang lain, dan pilihan kata serta idiom-idiom, semuanya berfungsi membangun imaji atau gambaran tertentu yang dikesankan oleh puisi itu. Imaji inilah yang kemudian melahirkan makna utuh terhadap sebuah puisi.

Dilihat dari sisi 'kata', di dalam prosa cenderung mengikuti makna denotatif (makna harfiah), maka sebuah kata dalam puisi justru cenderung meninggalkan makna denotatif tersebut dan membentuk makna yang bersifat konotatif. Kata 'bulan' di dalam sebuah prosa akan berbeda artinya dengan 'bulan' dalam sebuah puisi.

Memahami penjelasan di atas dan menyadari bahwa puisi berbeda dengan prosa, maka untuk mengartikan puisi pun tentulah berbeda dengan pemahaman prosa. Puisi dibangun melalui proses intensifikasi, maka seorang yang ingin memahami puisi juga harus melakukan proses itu. Ia harus mampu menemukan makna yang terdalam dari setiap kata, frase, lirik, bait, ataupun imaji yang ada di dalam puisi itu. Seorang pembaca puisi harus mampu menangkap makna yang terjauh dari sebuah kata atau larik (berdasarkan makna konotatif yang mungkin dimiliki oleh kata atau larik tersebut).

Selamat mencoba memahami puisi***


Saturday, June 16, 2012

Puisi Perang Puisi Kalah

PERIHAL KALAH TARUNG
Puisi Dody Kristianto 

Bagaimana bila jurus dan siasatmu yang paling
ampuh tak mampu meredakan ia? Memindah ia
dari berdirinya

atau jika belukar dan bebatang tinggi menampik 
menjagamu, menyamarkanmu dari tatapnnya 
yang berjaga 

tentu kamu lebih menunggu guntur di langit
bertandang dan menyambar ia yang masih
memainkan jurus yang tak mampu kamu elakkan.

Kamu yang telah memainkan segala senjata,
yang menampakkan itikad menyentuh bagian
jantungnya. Semua muslihatmu telah ia kira,
telah ia hitung sampai pada tusukan pedangmu
yang terhalus.

Tentu ia lebih banyak mendaras kitab dibanding 
 kamu yang hanya sebatas mengeja 

Maka, biar jurusnya menghampirimu. Pasrah saja
pada gerak di depan mata. Namun, amati segala
laku yang disimpan tinju itu. kamu tentu tak
menduga bila tinjunnya melepas bayangan yang
berniat meninggalkan jejak memar pada dadamu.

Atau bila tiba-tiba telapak itu berwujud pedang,
menyentuh dan meninggalkan sayatan atau irisan
pada kulitmu.

Semua lagak lagamnya tentu kamu simpan dalam
 kenangan. Kelak, kamu berharap akan berjumpa
lagi dengannya. Mengembalikan segala memar
dan luka yang ia tinggalkan.

Tentu kamu harus teguh mengucap doa agar
jurus termahirnya tidak menyentuh tubuh
dalammu dan membalikmu menuju tanah basah
yang tak pernah kamu rasa.

Bila demikian, kamu tentu mengucap selamat 
tinggal bukan ? 

2012

MELATIH PUKULAN KIDAL

Bukan ada sopan itu
yang kamu cemaskan benar bukan
tapi bagaimana yang tak imbang ini
kini sejalan

Selaras dalam gerak, menyatu dalam sajak
hingga yang terlihat ialah sepasang hantam
paling rancak

Kuatkanlah, sebagaimana kamu mengenali
tangan kananmu yang sanggup memecah batu

Pertama
bila mampu keraskan ia
hingga sebuah martil atau bebatu
yang jatuh dari langit lain
tak sanggup menggoyang keteguhannya

Kedua
ia sungguh perlu lemas
ia perlu mengambang namun mematikan
ia perlu mengenal bagaimana ular yang tenang
sanggup melemahkan seekor macan

Ia perlu berguru ihwal keluwesan
pada dedaun yang sudah hilang hijaunya
dan tinggal menunggu waktu pulang ke tanah

2012 
Sumber; Kompas, 25 Maret 2012

Friday, June 08, 2012

Puisi Protes Puisi Kritik

AKU TULIS PAMPLET INI 
Puisi W.S. Rendra 

 Aku tulis pamplet ini
 karena lembaga pendapat umum
 ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan
kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku 
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah yang teronggok bagai sampah Kegamangan.
Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

 Pejambon Jakarta 27 April 1978 
 Potret Pembangunan dalam Puisi

Thursday, May 10, 2012

Kuterkam gerimismu Sapardi

Narasi Sepucuk Gerimis 
(kepada Sapardi Djoko Damono) 
Puisi Kurnia Hadinata 

Kuterkam gerimismu Sapardi
lewat laut yang mengantarkan aku pada burung sunyi
dari pulau dengan kegaduhan yang menderu.
Jika aku tak menoleh, senja menjadi gaib, maka sekat malam
terurai bersama gerimis yang meregang di kepak camar.
Sapuan terakhir,
kukatakan kapadamu bahwa akulah lelaki yang menyergap hujan bulan Junimu,
menghunjam perih pada detak jantung anak-anakku,
mengalir dalam keruhnya rahim ibuku.
Perlu aku katakan padamu
hidupku adalah potongan waktu yang meremas sisiran musim
juga laut matamu yang berlayar bersama perahu kertas

Panti-Pasaman, Juni 2006

Thursday, April 26, 2012

Setangkai Bunga Buat Ibu Guru TK

Puisi-puisi Imam Budhi Santosa

Setangkai Bunga buat Ibu Guru TK   

Dengan mulut mawar hati melati, ia mengajak
anak-anak berdiri, berbaris, menggambar
dan menyanyi. menyelipkan merpati dan kupu-kupu
ke dalam buku, bersama angka-angka
bilangan demi bilangan yang membuat dunia
terbuka. "Bintang memang jauh, anakku.
Tapi, engkau punya kaki untuk berlari
mata untuk mencari dan tangan untuk menggapai."
Seperti sinar matahari, ia menguak jeruji
menerobos kisi-kisi. Langkahnya seringan angin
dadanya serupa permadi atau padang rumput
(tak ada kabut, lengkung cakrawala berpaut).
Ia tak menjual madu, janji-janji beledu
ia hanya patut disebut ibu. Ibuku ibumu
karena ribuan anak telah melesat ke angkasa
lewat pundaknya. Tapi, ia tetap di sini
seperti jembatan, menunggu jejak-tapak anak
berlari dan menginjak, yang membuat wangi
nama dan kuburnya kelak

2000
Isyarat Bulan

Lewat genting kaca, bulan itu
menjenguk kembali dan bertanya
"Sudahkah engkau merasa tua?"

Mungkin, ia tak melihat. Di atas bantal
rambutmu rambutku selesai terpintal
ketika sama-sama menari
melepas rumbai-rumbai aksesori

Purnama berikutnya, bulan hanya lewat
dan senyumnya seperti menyimpan
ribuan isyarat, membuatmu tiba-tiba bergumam
seperti menggoda, memancing air mata

"Bulan tak pernah merasa tua
karena sendirian di angkasa..."

1997

Wednesday, April 11, 2012

Taufiq Ismail: Bangsa Pengemis

KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,
LALU KALIAN PAKSA KAMI
MASUK MASA PENJAJAHAN BARU,
Kata Si Toni

Puisi Taufiq Ismail

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

1998

Wednesday, February 29, 2012

Peringatan Wiji Thukul: LAWAN !

LAWAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Sunday, September 11, 2011

2 Sajak ORGIL Joko Pinurbo

RUMAH KONTRAKAN
untuk ulang tahun SPD

Tubuhku adalah rumah kontrakan yang sudah sekian waktu
aku diami sampai aku lupa bahwa itu bukan rumahku.
Tiap malam aku berdoa semogalah aku lekas kaya supaya bisa
membangun rumah sendiri yang lebih besar dan nyaman,
syukur dilengkapi taman dan kolam renang.

Tadi malam si empunya rumah datang dan marah-marah.
"Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara
aku butuh biaya untuk memperbaiki rumah ini."
"Maaf Bu," aku menjawab malu, "uang saya baru saja habis
buat bayar utang. Sabarlah sebentar, bulan depan pasti
sudah saya lunasi. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri."

Pada hari yang dijanjikan si empunya rumah datang lagi.
Ia marah besar melihat rumahnya makin rusak dan berantakan.
"Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara
aku butuh biaya untuk merobohkan rumah ini."

Dengan susah payah akhirnya aku bisa melunasi uang kontrak.
Bahkan diam-diam si rumah sumpek ini kupugar-kurombak.
Saat si empunya datang, ia terharu mendapatkan rumahnya
sudah jadi baru. Sayang si penghuninya sudah tak ada di sana.
Ia sudah pulang kampung, kata seorang tetangga.
Dan si empunya rumah tersedu: "Orgil, aku tak akan pernah
merobohkan rumah ini. Aku akan tinggal di rumahmu ini."

(2001)

RONDA

Beberapa hari terakhir ini kampung kami sering dilanda
gangguan keamanan. Pencurian mulai merajalela, bahkan telah
terjadi perampokan disertai penganiayaan. Kepala kampung
memerintahkan agar kegiatan ronda digalakkan karena
tidak mungkin berharap sepenuhnya kepada petugas keamanan.

Malam itu Pak Orgil hendak melaksanakan tugas ronda.
Ia warga kampung yang rajin dan setia, meskipun tubuhnya
yang kurus dan tua kurang mendukung gelora semangatnya.
Kalau ronda ia suka memakai topi ninja berwarna hitam,
mungkin untuk sekadar gagah-gagahan. Tapi malam itu
ia tidak mengenakannya karena topi kebanggaannya itu hilang
dicuri orang ketika sedang dijemur di depan rumahnya.
Nah, ia memukul-mukul tiang listrik, memanggil-manggil
teman-temannya, namun yang dipanggil-panggil tidak juga
menampakkan batang hidungnya.

Sambil bersiul-siul Pak Orgil berjalan gagah ke gardu ronda.
Ia terperangah melihat di gardu ronda sudah ada beberapa
orang pencoleng sedang bermain kartu sambil terbahak-bahak
dan meneriakkan kata-kata yang bukan main kasarnya.
Bahkan ia jelas-jelas melihat salah seorang pencoleng
dengan enaknya mengenakan topi ninja kesayangannya.
"Ada musuh!" seru seorang pencoleng dan kawanan pencoleng
segera bersiaga untuk meringkusnya. Secepat kilat Pak Orgil
melompat dan bersembunyi di sebuah rumpun bambu.
Tubuhnya menggigil demi melihat wajah sangar
para pencoleng sampai ia terkencing-kencing di celana.

Tidak lama kemudian muncul serombongan petugas patroli,
hendak memeriksa keadaan. "Bagaimana situasi malam ini?"
tanya seorang petugas.'Aman!" seru orang-orang
di gardu ronda yang sebenarnya adalah para baiingan.

Meskipun ketakutan, Pak Orgil tidak kehilangan akal'
Ia punya keahlian menirukan suara binatang, dan ia paling fasih
menirukan suara anjing. Maka mulailah ia menggongong
dan melolong. Para pencoleng yang merasa sangat terganggu
oleh suara anjing serempak mengumpat:'Asu!"
Tapi gonggongan dan lolongan itu makin menjadi-jadi
sampai beberapa orang kampung mulai berhamburan keluar.
Menyadari ada ancaman, kawanan pencoleng yang sedang
menguasai gardu ronda segera lari tunggang langgang.
Dengan terkekeh-kekeh Pak Orgil keluar dari tempat
persembunyian dan teman-temannya yang sudah hafal
dengan kelakuannya serempak berseru: 'Asu!"

(2001)

Tuesday, August 30, 2011

3 Sajak KAMAR MANDI Joko Pinurbo

ANTAR AKU KE KAMAR MANDI

Tengah malam ia tiba-tiba terjaga, kemudian membangunkan
Seseorang yang sedang mendengkur di sampingnya.
Antar aku ke kamar mandi.

Ia takut sendirian ke kamar mandi
sebab jalan menuju kamar mandi sangat gelap dan sunyi.
Jangan-jangan tubuhku nanti tak utuh lagi.

Maka Kuantar kau ziarah ke kamar mandi
dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki.
Kau menunggu di luar saia. Ada yang harus kuselesaikan sendiri.

Kamar mandi gelap gulita. Kauraba-raba peta tubuhmu
dan kaudengar suara: Mengapa tak iuga kautemukan Aku?

Menjelang pagi ia keluar dari karnar mandi
dan Seseorang yang tadi mengantarnya sudah tak ada lagi.
Dengan wajah berseri-seri ia pulang ke ranjang;
ia dapatkan Seseorang sedang mendengkur nyaring sekali.

Jangan-jangan dengkurMu yang bikin aku takut ke kamar mandi.

(2001)

DI TENGAH PERJALANAN

Di tengah perjalanan antara kamar tidur dan kamar mandi
kami bertemu setelah sekian lama saling menunggu.
la pulang dari mandi, aku sedang berangkat menuju mandi.
Langkahnya mendadak terhenti, pandangnya ragu
dan aku tertegun antara gugup dan rindu.

"Hai, apa kabar?" kami sama-sama menyeru.
Kami bertubrukan, berpelukan di bawah cahaya temaram.
Ketika itu tengah malam. Rumah seperti kuburan.
Lolong aniing bersahutan. Jam dinding menggigil ketakutan.

"Jangan ke kamar mandi. Di sana tubuhmu akan dikuliti.
lkutlah aku pulang ke kamar tidur. Sakitmu akan kuhabisi."
“Tapi kamar tidur sudah hancur. Di sana kau akan dimusnahkan.
Mari ikut aku pesiar ke kamar mandi. Sakitmu akan kuhabiskan."

Kami bersitegang seperti seteru ingin saling mengalahkan.
“Kau memang bangsat. Sekian lama aku menunggu di kamar tidur,
kau enak-enak bertapa di kamar mandi."
“Kau sangat keparat. Sekian lama aku menanti di kamar mandi,
kau enak-enak mengeram di kamar mimpi."

"Bagaimana kalau kita gelut di kamar tidur?"
"Ah, lebih seru berkelahi di kamar mandi"'

Di tengah perjalanan antara kamar tidur dan kamar mandi
kami tak tahu siapa akan mampus lebih dulu.

(2001)


ATAU

Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
"Pilih cinta atau nyawa?" ia mengancam.

"Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,"
saya menghiba, "supaya saya bersih dari dosa.
Setelah itu, perkosalah saya."

Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang
entah ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas:
jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan.

Apa dosa saya? Saya tidak pernah menyakiti perempuan
kecuali saat saya dilahirkan.

Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
"Pilih perkosa atau nyawa?" ia mengancam.
Saya panik, saya jawab sembarangan: "Saya pilih atau!"

la mengakak. "Kau pintar," katanya. Kemudian
ia mencium leher saya dan berkata:”Tidurlah tenang
dukacintaku. Aku akan kembali ke dalam mimpi-mimpimu."
(2001)

Download puisi ini KLIK di sini

Friday, August 26, 2011

Puisi Mawar dan Jembatan Burung

MAWAR
Karya : Ihung (Dian Nendi)

Seikat mawar
Dijual penyamun
Di jalanan

Di bawah lampu merah
Diantara simpang-siur kemacetan
Adu-tawar dan perdebatan
Menjadi warna
Peradaban

Dari mulut ke mulut
Dari hari ke hari
Harum mawar laksana topan
Memporak-porandakan kedamaian
Terang bulan diatas klopak trotoar

Seikat mawar
Yang dijual penyamun di jalanan
Tak lebih dari sepasir janji
Yang butirnya
membuat matamu buta
Dan kau
Tak bisa lagi meraba
di mana
Keadilan itu bertahta

JEMBATAN BURUNG-BURUNG
Karya : Ihung (Dian Nendi)

Burung-burung terbang ke tenggara
Meninggalkan sarang dan sanak saudara
Meninggalkan sempurna luka; hutan yang terbakar
Gemuruh batang tumbang
Derak ranting dan kabut tebal
Mengantar hingga batas kota

Di atas tiang jembatan
Dilumpuhkannya kebahagiaan itu
Dikenangnya pula batasan hening dan air mata

Lalu mereka lintasi sungai-sungai kering
Batu-batu hitam yang diterkam kerontang
Lumpur terik dan keriting
Menunjuk arah muasal bising
Tempat segala pekik melebihi deru angin

Tak ada suara menyertai perjalanan
Paruh-paruh terkatup
Diliput basah lumut yang tinggal lamunan
Dililit kembang akar yang tinggal sejarah
Hanya hati yang melesat mendahului pergi
Menjumpai antrian panjang kendaraan

Lalu-lalang orang di lantai atas gedung pertokoan
Segala poster dan juga spanduk-spanduk iklan
Yang mereka tanyakan
Kenapa mesti hutan yang dijadikan ajang pertempuran
Kenapa mesti mereka yang kemudian harus mencatat kecemasan

Lalu sepenggal getir mengisahkan kepiluan
Ketika langit membangun mendung dari jutaan burung-burung
Ketika cakar demi cakar
menggambar darah
Dikibar jantungmu yang lambat tengadah

"burung ababil menyerang kota
Burung ababil menyerang kita!"

Sunday, June 26, 2011

Puisi-Puisi Rustam Effendi

Puisi-puisi Rustam Effendi

Tanah Air

Berpadang katifah* hijau
berlembah, bekasan danau,
berlangit bertudung awan
bergunung berbukit, berpantai lautan.
O, tanah airku, yang indah sangat.
O, tanah airku yang beta cinta,
Di malam menjadi mimpi,
di siang merayan hati,
Terkurang madahan Sa'ir,
pelagukan ihtisym** asmara Kadir,
O, tanah airku yang beta cinta.
O, tanah airku yang sangat kaya,
bergoa penyimpan logam,
berkolam penerang malam,
bersungai berbatu ratna,
lautan menyimpan harta mutiara,
O, tanah airku yang sangat kaya.
O, tanah airku yang sangat subur,
bertikar bersawah padi,
berladang berkebun kopi,
Berharta di dalam hutan,
membual usaha bukan buatan,
O, tanah airku yang sangat subur.

* Permadani
** hormat

Cahaya Merdeka

Kepada Tanah Airku
Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap hitam
Kau renggut aku hingga akan jiwaku,
Kau angkat aku membubung
menatap wajah Suria Merdeka .....
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora arusmu,
Kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tindakan nyata !
Telah kau remuk aku
bersatu-padu dengan sinarmu
Ta' mungkin k aku 'kan surut lagi
sampai airmu lipur cahyamu dalam matiku .......
Akan mengembus angin
dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
membawa nikmat cahya merdeka ......
Dan sujudlah aku
di hadirat Tuhanku menunggu
putusan akhirku di dunia baka !

Kepada Yang Bergurau

O Engkau cucu Adam
Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
Alangkah senang sentosamu,
Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara
O Engkau Ratna alam,
Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,
Soraikan gelak suaramu,
Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.
O Engkau makhluk Tuhan,
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
Sekalipun tuan dalam bergurau.
Jauh bersunyi tolan
Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,
Merindukan tanah dapat merdeka.

Lautan

Terdengar derai ombak, bercerai,
Terhampar ke pantai, sorai terurai.
Mengaum deram, derum lautan,
Walaupun di dalam malam yang kelam.
Terbentang muka, alun tiada,
Tergenang segara, tida’ terduga
Menyanam air, dalam arusan,
Satupun ta’ mungkin, dapat menyilam.
Demikianlah konon lautan hidup,
Bersabung ombak sebelah ke luar,
Bercatur rasaian, senang dan sukar.
Bagaimanakah artinya rahasia hidup?
Apakah ujud manusia bernyawa?
Seorang pun tiada mungkin menduga.


Mencahari

Bersalut ratna diselang emas berhari-hari,
Itulah kalung perjalanan hidupku,
Membenturkan kesenangan cahaya nubari,
Tiadalah pernah digetus pilu, rantaian mutu.
Menggeleng hati, menampik kata yang beta sebut,
Timbullah kurang, di untaian permata,
Merenggutkan gembiraku ke dalam selaput,
Menungan dada. Menurut beta, sepanjang data
Seperti sayap rajawali datang menyerang kalbu,
Menutup sinar persenyuman sejahtera,
Demikian kegelapan di dalam hatiku.
Seperti buta mencahari jalan, meraba-raba,
Begitu beta bergontaian seorangku,
Menuruti kebenaran tujuan bangsaku.

Mengeluh I

Bukanlah beta berpijak bunga,
Melalui hidup menuju makam
Setiap saat disimbur sukar,
Bermandi darah dicucurkan dendam.
Menangis mata melihat makhluk,
Berharta bukan berhak pun bukan
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyatu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
Suara sebat sedanan rusuh,
Menghimpit madah, gubahan cintaku.

Mengeluh II

Bilakah bumi bertabur bunga,
Disebarkan tangan yang tiada terikat,
Dipetik jari, yang lemah lembut,
Ditandai sayap kemerdekaan ra’yat?
Bilakah lawang bersinar Bebas,
Ditinggalkan dera yang tiada berkata?
Bilakah susah yang beta benam,
Dihembus angin, kemerdekaan kita?
Di sanalah baru bermohon beta,
Supaya badanku berkubur bunga,
Bunga bingkisan, suara sa’irku.
Di situlah bersuka beta,
Pabila badanku bercerai nyawa,
Sebab menjemput Manikam bangsaku.

Sunday, June 05, 2011

Puisi-puisi Toto ST Radik

Puisi Toto ST Radik

Amsal Sebilah Pisau

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu terisak sedih
sudah berharihari tak ada apa pun, sekadar bawang merah
atau seekor cicak melintas, untuk dicincang
jamur karat membelukar di tubuhnya yang kian suram dan renta
matanya yang tumpul masih berkilat karena siksa lapar
namun ruang dan waktu yang mengepung dirinya hanya
menurunkan sepi

seseorang meninggalkannya begitu saja di meja makan itu
tanpa tugas tanpa mangsa
padahal begitu nyaring ia dengar suara erang daging dan deras darah
yang muncrat di jalanjalan kelam dari jaman ke jaman
sejak qabil membantai habil
o, daging yang ranum darah yang harum
aku menginginkanmu di hari tuaku yang buruk ini! ratapnya
pedih dibekuk kenangan yang mendatanginya bertubitubi

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu meraung sangsai
seperti putus asa
sudah berharihari ia tak menemu cara bunuh diri: mengakhiri
seluruh perjalanannya dan memulai lagi pengelanaan baru
menyusuri jalanjalan kelam di dunia lain
bersama orangorang lain
sebagai korban

---Serang, 1998-1999

Catatan harian Seorang Penyair

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata

hanya perempuan boleh bersedih
dan menangis

lelaki adalah serdadu: baja yang ditempa
di atas api
keras dan padat dan kejam menggenggam hidup

tak ada sepetak ruang dan sejenak waktu
untuk bertanya
tentang sesuatu yang sederhana

segalanya telah selesai
dalam kitab kalah atau menang

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata: aku pun pergi

ke negeri puisi
di mana kegembiraan dan kesedihan
keraguan dan cinta

tak ditampik atau menampik

----Serang, 1998


Di tengah Ladang Jagung

di tengah ladang jagung
kuterjemahkan ayatayat cintamu
di antara gerak daundaun
dan dzikir embun

di tengah ladang jagung

aku lelaki dengan tubuh legam berkilau
dibakar matahari
dalam gairah cinta menggelegak

di tengah ladang jagung
aku penari yang khusyuk mengurai doa
menjadi beribu gerak di antara riak kenangan
kenyataan hari ini, dan impian masa depan

di tengah ladang jagung
di bukit yang jauh dari tahuntahun gaduh
dan usia kemarau, aku tengadah ke langit
menyerap seluruh cahaya

---Serang, 1998

Indonesia, Pada Sebuah Malam

indonesia -- pada sebuah malam yang jauh
bulan separuh. burung alap-alap memekikkan seluruh
nyanyian kepedihan dan alamat-alamat kematian
sunyi pun tumbuh berkawan ketakutan
menjalar ke setiap rumah, mengetuk pintu-pintu
yang rapuh. dan angin seperti bersekutu
menghunjamkan dingin, tajam bagai tatapan
sepasang mata kucing hitam. kemudian hujan
jatuh, berputar-putar dalam tarian tanpa irama
menderas tak tertahan menuju jantung kegelapan
mengisyaratkan badai

indonesia -- pada sebuah malam penuh hujan
bulan tersingkir seperti menegaskan kegelapan sihir
lolong anjing dari bukit-bukit jauh mengarungi
detik amarah yang bergelombang gaduh. bunga-bunga
berganti batu, dendang sayang berganti kibasan parang
semburan peluru dan kobaran api. darah pun tumpah
di setiap jengkal tanah. mengalir ribuan kilometer
bersama airmata yang diam-diam menyimpan kenangan
sejarah negeri hijau. sobekan bendera terbakar
di atas meja perjudian. mantera-mantera, doa-doa, kutukan
seribu kata saling tindih saling cakar di antara
percakapan-percakapan aneh penuh sandi

indonesia -- pada sebuah malam huru-hara
aku menundukkan kepala di kamar berdebu
membaca baris demi baris sajak-sajakku yang berlepasan
dari penjara kertas: melangkah di jalan-jalan berbatu!

Serang, 31.12.1996

Sawah Satu

di sawah sunyi ini aku menanam
benih padi
menyelam ke dasar lumpur
membuka birahi bumi
dan menanam lagi

di sawah sunyi ini aku menari
sendiri
mengembara ke dasar doa
mereguk saripati bumi
dan menari lagi

di sawah sunyi ini aku rebah
pada tanah
menjemput gelisah
menulis sejarah

---Serang, 1999

Thursday, May 19, 2011

Puisi-puisi Umbu Landu Paranggi

Puisi Umbu Landu Paranggi

Melodia

cintalah yang membuat diriku betah untuk sesekali bertahan
karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam
mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja
karena kesetianlah maka jinak mata dan hati mengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitar jarak dalam gempuran waktu
takkan jemu-jemu nafas bergelut resini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawahbantal, pananggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi gairah bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan


Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
Sepi yang selalu dingin gumam terbantun di buritan
Juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
Dimana-mana, dimana-mana menghadang cakrawala
Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
Rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
Dimana-mana, dimana-mana mengepung dendam rindu
Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
Mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
Namun membujuk jua langkah, pantai, mega lalu burung-burung
Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
Saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang

Kata, Kata, Kata


Kenangkanlah gumam pertama
Pertemuan tak terduga
Di suatu kota pantai
Di suatu hari kemarau
Di suatu keasingan rindu
Di suatu perjalanan biru
Kenangkanlah bisikan pertama
Risau pertarungan kembara
Duka percintaan sukma
Rahasia perjanjian sunyi
Kenangkanlah percakapan pertama
Gugusan waktu, napas dan peristiwa
Mungkin hanya angin, daun dan debu
Pesona terakhir nyanyian sajakku

Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
mengahdang senja
yang memanggil petualang
sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda
sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu
lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
kerna kumau lebih cinta
hujan aku ke gigir cakrawala

Solitude

dalam tangan sunyi
jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengeristal rindu dendam
dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh bergema
menggilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kikinian
seberkas cahaya dari menara waktu
menembus tapisan untung malang nasibku
di laut tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi






Saturday, April 30, 2011

Puisi-puisi Kuntowijoyo

Puisi Kuntowijoyo

Kelahiran
Setelah benih disemaikan
Di pagi pupus menggeliat
Bayi meninggalkan rahim
Memaklumkan kehadiran

Cempaka di jambangan
Menyambut bidadari
Turun memandikan
Bahkan hari menanti
Sampai selesai ia mengeluskan jari
Merestu kelahiran
Membungkus dengan sari
Mendendangkan kehidupan

Para perempuan
Berdandan serba kuning
Pucuk mawar di tangan
Duduk bersila
Menggumam doa-doa

Hari yang semalam dikuburkan
sudah tiba kembali

Selalu kelahiran baru

Perjalanan ke Langit

Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
Kereta cahaya ke langit
Kata sudah membujuk
Bumi untuk menanti

Sudah disiapkan
Awan putih di bukit
Berikan tanda
Angin membawamu pergi
Dari pusat samudera

Tidak cepat atau lambat
Karena menit dan jam
Menggeletak di meja
Tangan gaib mengubah jarum-jarumnya
Berputar kembali ke-0

Waktu bagi salju
Membeku di rumputan
Selagi kaulakukan perjalanan.

In Memoriam: Yang Terbunuh

Sekali, hutan tidak menumbuhkan pohon
Burung melayap-layap, terbakar bulu-bulunya
Bumi mengaduh, menggapai bebannya
Pemburu tidak pulang sesudah petang tiba
Lampu malam dipetik dari gunung api.

Malaikat di angkasa menyilang tangan di dada
Menyesali dendam yang tumpah
Memalingkan muka tiap kali darah menetes di tanah.

"Mengapa kaubunuh saudara kandungmu?"


Engkau Sukma

Sukmamu bangkit
Bagai bianglala
Berdiri
Di cakrawala
Merenda siang dalam impian
Gemerlap warna-warni benang sutra.

Badai tidak datang
Angin pulang ke pangkalan
Istirahat panjang.

Langit menyerah padamu
Menggagalkan lingkaran
Surya kabur kembali ke timur.

Sepi.
Hanya napasmu yang tenang
Terdengar bagai nyanyian.

Sesudah Perjalanan


Sesampai di ujung
engkau menengadah ke langit
kekosongan yang lembayung

Ayolah, Ruh
tiba saatnya
engkau menyerahkan diri

Sunyi mengantarmu ke kemah
di balik awang-uwung
di mana engkau istirahat
sesudah perjalanan yang jauh


Sunday, April 24, 2011

Syair Nasihat kepada Anak

Syair Nasihat kepada Anak

Raja Ali Haji

Dengarkan tuan ayahanda berperi,
Kepada anakanda muda bestari,
Jika benar kepada diri,
Masihat kebajikan ayahanda beri.


Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.


Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.


Jika anakanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.


Tutur yang manis anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.


Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.


Nasehat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.


Setelah orang besar fikir yang karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru-biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu.


Tingkah dan laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.


Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takbur tidak membilan orang,
Dengan manusia selalu berperang.


Anakanda jauhkan kelakukan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tiada laku suatu dewani.


Setengah yang kurang akal dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.


Ke sana ke mari langgar dan rampuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang berjumpa lantas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.


Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai temasya.


Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.


Jika mamerintah dengan cemeti,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati,
Barangkali datang fikir hendak mati.


Inilah nasehat ayahanda tuan,
Kepada anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.


Habislah nasehat habislah kalam,
Ayahanda memberi tabik dan salam,
Kepada Orang Masihi dan Islam,
Mana-mana yang ada bekerja di dalam.

(Raja Ali Haji)

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook