Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Thursday, February 28, 2013

Sastra Kontekstual

Tempat Domisili Seorang Sastrawan
Oleh: Beni Setia


Salah satu gema polemik yang tertinggal dari gairah berkesusastraan pada dekade 80-an kemarin adalah gagasan sastra kontekstual. Secara konsepsi gagasan sastra kontekstual ini menekankan pentingnya kesadaran seorang sastrawan, yang ber-domisili di satu tempat yang kongkrit, dan karenanya menyadari situasi sosial-politik dari tempatnya berdomisili, dan lalu meresponnya. Responnya itu bisa bermakna menandai ketidakadilan sosial, struktural atau nonstruktural, menandai pelaku-pelakunya, dan melakukan penandaan deskriptif dan/atau pemihakan dengan meluncurkan teks kritik atau teks emansipatorik.

Bagi saya sendiri, masalah yang kemudian muncul adalah konsepsi tentang domisili dari kesadaran si sastrawan itu sendiri. Bagi saya, seorang sastrawan tak hanya tinggal, misalnya, di Cimelas, dan karenanya mengamati dan menyimpulkan tatanan struktural sosial-politik masyarakat Cimelas yang memelas di dalam karyanya. Sehingga ia hanya bisa menjadi sastrawan Cimelas - dan karena Cimelas itu bagian dari Indonesia maka ia menjadi sastrawan Indonesia yang kontekstual menghadirkan potret Cimelas. Tapi ia bisa memilih Cimarahmay atau Ciramohpoy yang unik, dan melakukan penelitian partisipasif sehingga ia memahami situasi struktural dari Cimarahmay atau Ciramohpoy secara empatik, lantas menuliskan teks sastra.

Dengan kata lain, yang utama itu bukan domisili dan konteks tapi lokasi dan penelitian partisipasif empatik. Dan semua sastrawan, terutama yang menulis dalam genre sastra prosa, yang menekankan pentingnya faktor setting yang kongkrit bagi pengembangan karakter dan konflik [cerita], terbiasa melakukan penelitian partisipasif empatik tentang detil wilayah dan budaya dari setting yang dipilihnya. Mereka meneliti agar paham akan detil wilayah, budaya dan kebiasaan sosial, mereka melakukan pencocokan wilayah, ciri budaya dan kecederungan sosial setempat, dan karenanya mereka meneguhkan ciri wilayah, corak budaya setempat, dan ilustrasi umum kecenderungan sosial. Mereka melakukan penelitian tertutup, tak terang-terangan melakukan penelitian yang ketat dengan pola dan metoda ilmu sosial. Disebabkan mereka hanya ingin bercerita dan bukan meneliti atau menghadirkan gambaran penelitian yang valid lewat aliran cerita.

Gagasan sastra kontekstual itu sendiri sebenarnya bias, karena berpijak di dua daerah yang berbeda. Sastra yang selalu ada di wilayah fiksi tidak bisa ditarik untuk berserius melakukan pemahaman tematik cerita secara faktual dengan penelitian yang ketat khas ilmu social. Sekaligus pemihakan dan simpati humanistik yang dijadikan motor penelitian dan motif penulisan karya sastra, akan melahirkan gambaran yang berbeda ketika diluncurkan untuk melakukan penelitian dan laporan pene-litan yang bisa diverifikasi secara ilmiah, dengan ketika dipakai untuk menghidupkan cerita secara empatik. Logika dan bahasa, metoda dan displin [kerja] di antara keduanya amat berberda, dan harus tetap berbeda agar semakin jelas mana perbe-daan di antara keduanya. dan, akibatnya, [tentu saja] efek akibat membacanya pun akan berbeda. Yang satu deskriptik dan diharapkan emansipatorik menggugah, se-dangkan yang lainnya imajinatif dan diharapkan melahirkan simpati yang empatik.

Selain itu, pada kenyataannya, tempat domisili seorang sastrawan itu tak cuma tempat bernama Cimelas, Cimarahmay, Ciramohpoy, Ranca Ekol, Legok Agul, Pasir Kingkin, atau Gunung Puntang. Sekaligus mobilitas seorang sastrawan itu tidak hanya gerak insidentil dan reguler antara Cimelas, Cimarahmay, Ciramohpoy, Ran-ca Ekol, Legok Agul, Pasir Kingkin atau Gunung Puntang. Tidak hanya yang ber-sipat real dan kongkreit bisa didatangi setiap orang. Ia juga hidup dalam bacaan, sehingga sewaktu-waktu ia bisa pergi ke Cijulang di dalam alam pikir dan teks Rachmat M. Sas. Karana. Atau Cindulang seorang Aam Amalia. Atau Italia dalam teks Acep Zamzam Noor. Amerika wildwest dalam teks Karl May. Ingris masa lalu dalam teks Charles Dicken atau Conan Doyle. Dan panorama Cina klasik dalam teks Kho Ping Hoo. Panorama Jawa klasik dari teks ketoprak, teks SH Mintardja atau Bastian. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Itu tempat untuk berdomisili yang sama kongkrit dan inspiratifnya dengan se-gala tempat yang bernama Cimelas, Ranca Ekol, Legok Agul, Pasir Kingkin atau Gunung Puntang. Belum lagi teks-teks yang ketat dari hasil penelitian sosial, etnografi, antropologi, dan/atau hanya catatan perjalanan dan kisah biografi dan oto-biografi yang terserak di rak-rak buku non-fiksi perpustakaan umum. Itu satu tempat, baik yang real atau yang hanya berupa impresi, baik yang ada di masa sekarang kini atau yang hanya di masa lalu dan telah musnah hanya tinggal kenangan, yang selalu dikunjungi oleh seorang pengarang. Ke mana dan di mana ia melakukan penelitian fiksional atau faktual tak ketat untuk menentukan lokasi, setting, memperkaya karakter dengan ciri budaya dan kecenderungan sosial, dan seterusnya, yang bersipat sangat monokultural. Terkadang ia hanya merujuk ke satu lokasi, dan mencampurkan type karakter dari lokasi lain, dan mempertemukannya dengan ekspresi ciri budaya yang lain, dan karenanya membangun setting yang sangat multi-kultural. Mana bisa, mana suka di alam kebebasab serba mungkin.

Fenomena itu menyebabkan saya sadar bahwa seorang sastrawan bisa pergi ke mana saja dan bisa bermukim di mana saja - meski secara fisik tinggal di Parong-pong. Sekaligus ia sesungguhnya bisa menulis tentang apa saja, secara bagaimana saja, dengan memanpaatkan penelitian partisipasif dan pemahaman empatik tentang konteks tempat berdomisili secara fisik dan mental - selain kemungkinan yang ber-sipat teramat fantasi dan imajinasi. Karena itu seorang sastrawan yang melulu menulis tentang Landeuh Jugala karena lahir di Landeuh Jugala, bagaimana bagusnya pun ia sebenarnya hanya katak dalam tempurung. Meski kelasnya lebih baik dari si remaja yang melulu menulis sajak cinta karena baru jatuh cinta. Seorang sastrawan adalah yang melakukan penjelajahan. Pramudia Ananta Toer, misalnya, dengan Surabaya di masa kolonial. Saini KM, misalnya, dengan para Puragabaya sebagai pa-sukan pilihan di masa Pajajaran akhir. Budi Darma yang memotret manusia kota kesepian Amerika Serikat dalam Orang-orang Bloomington dan Olenka. Atau Ayu Utami, yang memotret kondisi di kilang minyak, Dumai, Blitar, dan New York dalam Saman dan Larung. Kho Ping Hoo yang gentayangan di Cina padahal ia belum ke Cina sebelum menulis epos Bu Pun Su. Dan seterusnya.

Konsekuensi dari semua itu, pada akhirnya, tak mungkin adalah istilah sastra-wan Bandung, sastrawan Jogja, atau sastrawan Surabaya. Karena konsekuensi dari penyebutan itu adalah harus adanya seorang sastrawan Cebek no. 74, RT 01 RW 02, Desa Karamat Mulya, Kecamatan Soreang, dan Kabupaten Bandung sebagai kon-sekuensi ekstrim dari terma sastrawan Bandung - yang hanya mau ditarik ke atas, ke sastrawan Jawa Barat, Indonesia, dan reginal Asean. Yang ada adalah sastrawan Ohoy atau Ehem, yang menulis di dalam bahasa Sunda atau bahasa Indonesia, dengan cerita yang bersetting monokultural Sunda atau multikurtural seorang Sunda di wilayah perbatasan (budaya) Jawa Mataraman dan Jawa Surabayaan. Di titik ini sastrawan Indonesia adalah sastrawan yang menulis dalam bahasa Indonesia, karena identifikasi konteksual berdasar wilayah berdomisilinya akan menyebabkan kegoyahan. Baik dikarena ia menulis secara multikultural. Atau karena si bersangkutan cenderung bergerak dari wilayah kongkrit ke wilayah kongkrit lainnya, serta dari wilayah mental berdasar bacaan ke wilayah mental berdasarkan bacaan berikutnya.

Karena itu tak ada penyair Bandung bernama Soni Farid Maulana atau Juniarso Ridwan, karena yang ada hanya penyair Soni Farid Maulana - yang kelahir-an Tasikmalaya dan besar secara kreatif di Bandung - dan penyair Juniarso Ridwan - yang menempuh pendidikan formal tehnik di ITB dan jadi birokrat Pemda kodya Bandung. Atau penyair Tasimalaya yang bernama Acep Zamzam Noor, karena yang ada itu penyair Acep Zamzam Noor - kelahiran Tasik, menempuh pendidikan formal artistik di ITB, besar secara kreatif di Bandung dan Jogja, dan kemudian ia mukim di pesantren di Tasikmalaya. Yang ada hanya seorang Saini KM yang serba bisa dan khatam sebagai pemikir. Yang ada hanya seorang Ajip Rosidi, inohong Sunda yang lama di Jepang dan kemudian mukim di Magelang - tetap Sun-da meski tinggal dekat ikon pusat budaya-religi Jawa kuno Borobudur. Dan karena sumbangan mereka selalu bersipat individual meski dampaknya mungkin bisa bersipat lokal, nasional atau regional.

Karenanya untuk apa asylum tempat bernama lokasi domisili si sastrawan selain alamat surat, jujugan silaturahmi, dan zona serah-terima honor? Jadi agak mengerikan juga ketika sebuah intitusi seni di Jakarta mengundang sastrawan Indonesia (baca: yang menulis memakai media bahasa Indonesia) untuk berkumpul di Jakarta dengan pemilahan domisili. Ini masuk wilayah Bandung, kecenderungannya puisi, dan saat ini terdiri dari si AIUO, sehingga merekalah yang berhak masuk sastrawan Bandung dalam buku Nun. Ini masuk wilayah domisili Jawa Timur, kecenderungannya puisi, dan terdiri dari AIUO, sehingga merekalah yang berhak masuk kelompok sastrawan Jawa Timur dalam buku Hamzah. Atau buku Wau mewa-kili wilayah domisili Bali dengan para sastrawan bernama AIUO. Dan seterusnya. Kenapa mereka tak disebut saja sebagai sastrawan Bla, Bli, Blo, dan hadir sebagai sastrawan Bla, Bli Blo, dan dimasukkan ke dalam antologi sastra Kum.

Karena bagi sastrawan hanya ada bahasa, untuk mengungkapkan apa-apa yang didalami secara subyektif di dalam sunyi - meski dikonsultasikannya dengan teman, dengan bacaan, dan dengan imajinasi-fantasi. Dan karenanya kita harus mengakuinya dengan identitas bahasa yang dipakai buat mengungkapkan gagasan. Dan mengakui kebesarannya berdasarkan keunikannya ketika mengungkapkannya di dalam dan dengan bahasa di satu sisi dan fenomena ciri subyektif dari apa yang diungkapkannya - yang didalaminya secara diam-diam dalam sunyi - di sisi lainnya. Itu hakekat seorang sastrawan. Seseorang yang secara KTP tinggal di Babakan Kukulutus, tapi senantiasa bergerak dari satu tempat imajiner bacaan ke tempat imajiner baca-an yang lainnya. Memang. Tetapi, yang jadi permasalahan kemudian: Apa namanya perasaan rindu seorang sastrawan kelahiran Babakan Kukulutas ke Babakan Kukulutus, yang kemudian tinggal di Pasir Combrek dan diberi penghargaan seniman Pasir Combrek?

Impuls rindu yang humanistik. Panggilah kontekstual ingin mengungkapkan ih-wal yang diketahui pasti tetapi belum sempat diungkapkan. Atau hanya kecemasan dari seseorang yang diayunkan waktu dan mendadak menemukan pantulan gema dari dinding batas akhir usia. Atau itu sudah memasuki wilayah filsaafat dan sufi, yang berbeda dari tradisi dan disiplin penelitian ilmu sosial dan empati sastra. Saya tak tahu. Dan mungkin harus membaca lagi agar bisa menulis tentangnya secara lebih jernih. Insya Allah.***

Sumber: Suara Karya, Minggu, 20 November 2005

Wednesday, February 20, 2013

Sastra, Tubuh, Vulgar, dan Tabu

Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu
(Damhuri Muhammad)

Semiotisasi tubuh dalam teks sastra erat kaitannya dengan semesta ketubuhan di dalam wacana postmodernisme, yang menggiring diksi tentang tubuh berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.

Selain itu, vulgaritas "bahasa" sebagaimana ditemukan di dalam Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) dan Kuda Ranjang (kumpulan puisi Binhad Nurrohmat) -untuk menyebut beberapa contoh-, seperti disinyalir oleh Yasraf Amir Piliang (2002), tidak terlepas dari pengaruh perkembangan kapitalisme (sebagai ideologi ekonomi) yang cenderung bergerak ke arah libidonomics, yaitu sistem ekonomi yang di dalamnya terjadi eksplorasi secara ekstrem segala potensi libido sebagai komoditi, dalam rangka meraih keuntungan maksimal (added value). Ideologi libidonomi kapitalisme memperlakukan tubuh dan segala potensi libidonya sebagai titik sentral dalam produksi dan reproduksi ekonomi.

Narasi "kelamin" dapat menjerumuskan karya sastra pada sifat "vulgaritas bahasa" yang berakibat pada pendangkalan nilai-nilai estetik. Dalam wacana postmodernisme, salah satu bentuk vulgaritas dan pendangkalan nilai-nilai estetik adalah Kitsch. Semacam peristilahan untuk karya kepenulisan kreatif yang dianggap sebagai bentuk bad taste (selera rendah) atau "sampah" artistik. Hal ini disebabkan oleh rendahnya standar estetik yang digunakan, sehingga yang menonjol bukan nilai estetik, tetapi nilai provokasi (erotisme, sensualitas, seksualitas). Sikap ekstrem Taufik Ismail yang menganggap "sastra berahi" sangat menjijikkan dan tidak patut dinilai sebagai karya sastra (Ermina. K, Suara Karya,14/03/04), mungkin dilatarbelakangi oleh pemahamannya terhadap fenomena Kitsch di atas. Begitu pun kecemasan Medy Loekito (Republika, 14/11/04), bahwa meskipun tidak trend "sastra seksual" belum menampakkan suatu kepanikan, namun beberapa rekan pendidik sempat mempertanyakan ; "Konon kata sastrawan, bangsa ini rabun sastra, jadi guru harus aktif mengobati rabun itu supaya tidak menjadi kebutaan. Sekarang setelah kami mencanangkan giat membaca bagi semua murid, eh lha kok bacaan yang disediakan yang kurang mendidik.".

Para pendiri Mazhab Frankfurt (Frankfurter Schule) seperti Max Horkheimer, T.W.Adorno dan W.F Haug menegaskan, sensualitas dan nafsu rendah telah menjadi bagian utama dari "industri budaya" (culture industry), yaitu kebudayaan yang berproduksi di dalam lingkaran sensualitas. (Haug : 1983). Penggunaan efek-efek sensualitas merupakan bagian dari penciptaan ilusi, manipulasi sebagai cara untuk mendominasi selera kultural masyarakat, sebagai sebuah kendaraan dalam menciptakan keterpesonaan dan histeria. Dalam konteks ini, Haug menggunakan istilah "teknokrasi sensualitas" (technocrazy of sensuality), untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai estetika ditopengi oleh nilai-nilai sensualitas, glamour dan erotisme.

Postmodernisme dekonstruktif sangat berperan di dalam menciptakan ruang pembebasan tubuh dan hasrat. Foucault, Lyotard, dan Derrida menawarkan logika emancipation of body (pembebasan tubuh) dan liberation of desire (pembebasan hasrat) dari berbagai kekangan dan pembatasannya. Mereka mengembangkan wacana tubuh dan hasrat yang baru untuk mendobrak berbagai benteng, tembok dan tapal batas yang selama ini membatasi artikulasi dan pelepasan hasrat. Menghancurkan berbagai bentuk kekuasaan, baik kekuasaan dalam keluarga, negara, maupun agama. Menentang otoritas atau hegemoni yang selama ini membatasi eksploitasi tubuh.

Foucault di dalam The History of Sexuality ; an Introduction (1978) menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan. Pertama, kekuasaan atas tubuh, yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang). Kedua, kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya. Kekuasaan dari dalam tubuh ini harus menantang kekuasaan atas tubuh, melalui sebuah "revolusi tubuh" sehingga tercipta ruang bagi perkembangbiakan (proliferation) dan pelipatgandaan (multiplicity) diskursus seksual yang terbebas dari dominasi kekuasaan.

Revolusi tubuh dalam rangka pembebasannya dari etos ketertindasan atas dominasi kekuasaan norma-norma, tabu, hukum dan undang-undang membutuhkan muara bagi pelepasannya. Kapitalisme (melalui budaya komoditinya) adalah muara utama bagi pelepasan hasrat yang tersumbat itu, sehingga memberi peluang kepada setiap orang untuk menggali setiap potensi hasrat dan energi libidonya sebagai komoditi. Sinyalemen ini dikuatkan oleh pemikiran J.F Lyotard di dalam Libidinal Economy (1993), bahwa kapitalisme telah mengalami transformasi ke arah kecenderungan baru yang disebut dengan "libido ekonomi" (libidinal economy), yang di dalamnya diciptakan ruang bagi pelepasan hasrat, sehingga setiap orang harus dapat mengeksplorasi dan memasarkan setiap rangsangan libido untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Maka, betis yang tersingkap, pusar yang sengaja dipertontonkan atau paha yang dipamerkan tidak dianggap sebagai bentuk degradasi moral, melainkan sebuah bentuk nilai jual dan currency. Karena itu, Lyotard berpendapat, kebudayaan harus bersifat afirmatif (affirmatif) dan permisif (permissive), sehingga dengan cara demikianlah manusia dapat meraih kesenangan dan jouissance yang memadai. Ironisnya, dalam lingkaran ketelanjangan kata, frase dan kalimat yang "meresahkan" itu, masih ada penulis dan penggiat sastra yang "memekikkan" pembelaan, bahwa karya-karya yang mengumbar berahi jangan hanya dihujat, tapi juga perlu diaparesiasi, bahkan ada yang mengumandangkan sebuah "teriakan apologetik", bahwa berahi juga menyuarakan sebuah ideologi. Ideologi apa?.

Ketika berahi sudah kehilangan nilai tukar, atau sudah tidak layak jual (marketable) lagi, tentu para penyair, cerpenis dan novelis akan berhenti mengekploitasi seks di dalam karya-karya mereka. Ya, tentu mereka akan beralih mencari "lahan baru" yang lebih punya "nilai jual". Bantahan, dan pembelaan-pembelaan tak berdasar dari para perumus "sastra telanjang" itu, alih-alih dapat memperlihatkan idealisme dan konsistensi mereka untuk terus melahirkan karya-karya yang "berlumur" berahi, justru yang terbaca adalah corak kepengarangan yang "menghamba" pada model estetika "tak bermalu".

* Depok, 110405
Sumber: Suara Karya, Minggu, 10 Juli 2005


Catatan Redaksi:

Selain menulis cerpen, Damhuri Muhammad juga menulis esai sastra dan resensi buku di Kompas, Republika, Suara Karya, Sinar Harapan, Bali Post, Lampung Post, Sriwijaya Post, Waspada, Riau Pos, Nuansa Budaya, Singgalang, dll.
Buku antologi cerpennya, Laras ; Tubuhku Bukan Milikku, Maret 2005. Kini alumni Program Studi Ilmu Filsafat Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada ini berdomisili di Jakarta. Alamat Email: damhurimuhammad@yahoo.com

Saturday, January 19, 2013

Oase


The Have's Habits
Radhar Panca Dahana
Pekerja sastra dan teater,
dosen pascasarjana Universitas Indonesia


Pergilah Anda bersenggang ketika hari krida! Maka, Anda akan menjadi salah satu orang di antara kaum urban Jakarta, setidaknya yang membuat saya selalu bertanya: sedang apa Jakarta? Hari krida, hari di mana kita semestinya bersenggang, tetirah, mengistirahatkan tidak hanya otot dan urat, tapi juga jiwa-mental dan akal-pikiran, ternyata tidak bagi warga Jakarta.

Di hari resmi libur itu ternyata beban baru ditambah. Kepenatan jiwa, raga, dan pikiran justru bertambah berat. Hari Sabtu pun kini menjadi couchemar bagi orang Perancis, nightmare kata orang Inggris, mimpi jahat kata orang Betawi. Bagaimana tidak? Sejak pukul delapan pagi, hampir di tiap sudut kota hingga beberapa kota penyangga, kita terjebak macet - bahkan hingga berjam-jam. Lebih dari macet di hari kerja biasa.

Entah apa yang hendak mereka - kaum bermobil itu - kerjakan di hari senggang? Yang jelas, bukan peregangan otot, hati dan pikiran yang mereka dapat. Macet, seperti biasa dan umumnya, memberi yang sebaliknya. Lebih dari itu, pemborosan bahan bakar, ausnya onderdil, kerugian kendaraan umum, polusi tambahan, beban plus polisi, sekian waktu tersia-sia, dan sekian banyak cost sosial-ekonomi-budaya lain.

Di lain hari, Anda pun akan merasa terkacaukan oleh perilaku kaum urban - para anggota kelas menengah-atas - dalam soal mobilitas kerja. Anda tak Akan pernah tahu, misalnya, bila saja kota kapital ini mengalami kemacetan lalu lintas. Jika jam-jam berangkat kerja (sekitar pukul 06.00-09.00) dan pulang kerja (16.00-20.00) Jakarta menjadi neraka kemacetan, sudah biasa bagi kita. Tapi di luar jam itu, kemacetan menyiksa masih juga ada, kita pasti bertanya: apa yang kau lakukan Jakarta?

Sungguh saya bingung, kadang tak percaya. Di saat semestinya para the haves yang umumnya pekerja profesional atau pejabat menengah itu tengah sibuk di ruang kerja, konferensi atau negosiasi, ratusan ribu mobil memenuhi jalan. Jika mereka berangkat ke kantor, kenapa siang sekali?

Perilaku sosial kelas ini memang sulit dikira. Dilihat dari cara mereka menggunakan kendaraan untuk memenuhi jalan saja, kita tidak bisa menerapkan pola atau tradisi kaum pekerja profesional yang umum ada di negara berkembang atau negara maju di mana saja. Perilaku tak jelas itu memperlihatkan ketidakpedulian mereka terhadap inefisiensi dan kerugian moral-material yang diakibatkannya. Harga bahan bakar minyak (BBM) tinggi, misalnya, tidaklah masalah bagi mereka untuk mereka uapkan dalam pembakaran yang sia-sia setiap hari.

Mesiu Bom Waktu

Ketidakpedulian pada lingkungan, pada krisis BBM, pada nasib anak-cucu di masa depan, pada harga yang melambung, hampir menjadi ciri dalam perilaku (habit) orang kaya (the haves) ini. Sama seperti tidak pedulinya beberapa di antara mereka yang mencuci mobil dengan keran yang mengucur terus, menyiram aspal kering depan rumahnya dengan air sumur, air pompa, atau air resapan. Seakan air dapat dihisap tiada habis hingga kiamat.

Coba perhatikan rumah-rumah besar di beberapa kawasan: miliaran bahkan puluhan miliar rupiah harganya. Begitu hebat dan menterengnya! Namun satu senti di depannya, kita saksikan got atau selokan mampet, hitam-kotor, bau, menggenangkan berbagai virus, kuman, atau bangkai. Di beberapa sudut berdiri tenda kumuh yang menjadi tempat sebagian rakyat jelata menjual rokok, mie, nasi, atau berbagai minuman. Berbaur dengan seluruh isi got tadi, dengan ancaman maut, dengan ketidakberdayaan, dengan sejenis ketidakpedulian yang berbeda.

Perhatikan suasana di mal, plasa, dan berbagai square atau pusat perbelanjaan modern. Mereka berkumpul hampir tiap petang di bar, klab, coffee shop, resto, fitness center, dan berbagai space untuk hang-out. Mereka menghabiskan Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu tiap malam untuk bersenda - jumlah yang memadai untuk transportasi pegawai rendah dan menengah-bawah setiap bulannya. Bahkan itu setara dengan penghasilan atau biaya hidup bulanan jutaan warga lain.

Perilaku kelas berpunya, tentu kita tahu, bukan bagian tradisi kita. Bukan tradisi komunitas tradisional kita mana pun. Bukan milik sub-etnik mana pun. Dia baru. Dia modern. Posmodern, mungkin. Dia adalah konstruksi sosial baru, jika bukan sebuah rekayasa tingkah laku yang baru. Satu rekayasa yang memang terencana dan memiliki maksud. Untuk mengonsumsi produk-produk mutakhir, misalnya. Rekayasa hasil propaganda raksasa yang globalistis dari persekongkolan kaum kapitalis. Kaum yang menguasai produksi, melalui brand-brand kelas dunia, sementara kita adalah mulut-mulut menganga yang menanti perintah untuk mengunyahnya.

Kini semua itu belum apa-apa. Masih banyak pembela untuk mereka. Masih tersedia cukup argumentasi, bahkan alasan ideologis untuk membenarkan atau menganggapnya sebagai kewajaran. Tapi senjang yang diakibatkan oleh ketidakpedulian ini sesungguhnya menyimpan bara. Bahkan mesiu yang menyusun dirinya menjadi bom waktu.

Sistem kapitalis memang telah memiliki perangkat lunak dan keras, prosedur, dan mekanisme yang "telah terbukti" membuat bom waktu itu tak berkembang dalam kapasitas atom atau nuklir. Paling mengerikan dia hanya sampai pada tingkat TNT, atau bom-bom yang meledakkan pasar atau gedung. Bom-bom kecil yang berfungsi sebagai "katup pelepas" atau semacam alarm dini yang membuat rakyat jelata "yang merasa iri, terinjak dan tereksploatasi" tak berani berbuat lebih jauh lagi. Tapi sampai kapan situasi itu berlangsung?

Senggang Menuju Tenggang

Di beberapa negara Eropa dan negara maju lain, hari libur dan krida adalah hari wajib sebagaimana hari kerja. Satu manusia dewasa akan merasa "rendah" kastanya jika dia tak mampu melaksanakan kewajiban sosial dan moral itu: merasa dosa jika kita bekerja di hari libur, tak berlibur di hari libur. Libur adalah kewajiban karena di situlah manusia mengembalikan hidupnya yang selama lima hari atau 40 jam kerja tiap pekan diperas kebutuhan modern dan disiksa oleh penjara sistem pekerjaan, mekanisme birokrasi, tuntutan profesional, atau ambisi kapitalisme yang memperbudak.

Libur adalah masa tetirah, masa kita kembali jadi manusia; masa bagi kita mengembalikan ritme dan metabolisme hidup kita pada kinerja alam. Mendapatkan penyegaran yang memungkinkan kita bekerja lagi di keesokan harinya dengan kekuatan optimal, ide baru, pikiran segar, dan jiwa yang selalu kembali muda. Libur pun wajib karenanya.

Maka, muncul di kawasan itu berbagai LSM yang khusus membantu publik dengan kesulitan dalam urusan itu. Membantu mereka berlibur (bahkan sekeluarga!) ke mana tempat, hingga luar negeri. Liburan terakhir yang digemari adalah champagne. Ya, mirip nama jenis anggur mahal itu. Makna keduanya sama: dusun. Berlibur dengan tinggal bersama rakyat desa. Mengenali, mengikuti, dan menjalankan rutin hidup orang dusun. Menyadari betapa keberadaan orang desalah yang membuat orang kota nyaman sejahtera.

Berbeda sungguh, tentu, dengan makna libur bagi urban, kaum berpunya, di kota-kota besar kita, Jakarta misalnya, libur berarti "belanja". Membelanjakan sebagai harta untuk memenuhi selera pergaulan, moernitas, selebritas, sensualitas, atau kadang sekadar memuaskan nafsu konsumerme belaka. Shopping di mal, nongkrong di plasa, makan siang di resto gaya Amerika, melipatgandakan tunggakan kartu kredit, membakar sia-sia BBM, menipu apresiasi anak dengan hal-hal artifisial, menambah keletihan badan-batin via macet luar biasa, dan segala lain yang juga luar biasa.

Tidakkah dapat kita sejenak tetirah? Meredam waktu dalam diam, mencipta senggang dalam tenang, mau menenggang lain orang yang hidup tak senang? Retreat sesekali. Menghayati hidup selumrahnya, menghirup udara senikmatnya, memandang keluarga dengan seluruh jiwa, memberi jiwa, tubuh dan akal kita, makanan sehat yang sesungguhnya.

Tidakkah akan lahir, secara perlahan, manusia yang sesungguhnya manusia karenanya. Manusia yang Insya Allah bernama: manusia Indonesia. Nama yang kita tak pernah mengerti dan rancu memahaminya.***

Sumber: Suara Karya, Jumat, 10 Februari 2006

Tuesday, January 15, 2013

Kesusastraan dan Sastrawan

Kesusasteraan Tanpa Sastrawan
(Beni Setia)

Ada serangkaian pertanyaan yang menggoda saya belakangan ini. Terutama, apa konsekuensi dari hubungan antara ilham dengan persiapan pra-menulis seorang pengarang. Di mana, di salah satu sisi, persiapan pra-menulis itu bermakna bakat dan kepekaan, kematangan tehnik dan wawasan mengarang yang berasal dari latihan menulis dan kebiasaan membaca, dan imajinasi dan fantasi yang dihidupkan oleh kreativitas dan empati. Sehingga sesuatu yang pasif dan hanya bertaraf potensi itu mendadak bisa dimotivasi, didinamisasi dan terbangkitkan, sehingga kerja mengarang itu mampu ditunaikan dan karangan terbentuk.

Di sini ada dua hal yang saling melengkapi. Persiapan pra-mengarang itu, yang dibina si pengarang, dan kehadiran ihlam yang seperti lentik cahaya yang bisa me-nunjukkan keberadaan ujung sebuah terowongan, atau kembang api yang menguasai langit malam sehingga panorama bisa dikenali. Dengan kata lain, pengarang tak bi-sa mengandalkan bakat, tehnik dan wawasannya semata. Ia membutuhkan kehadiran sesuatu yang menyebabkan mood menjadi punya zona yang bisa dieksplorasi dan dieksploitasi. Sekaligus pengarang harus mengakui keajaiban ilham, yang dihadirkan Yang Kuasa buat menerangi sebuah wilayah ketidak-disadarian. Di mana yang ter-benam di alam tak sadar, menjadi sesuatu yang disadari di atas ambang alam tak sadar, sehingga ilham itu bagai menggerakkan kesadaran untuk mengendarai pengetahuan, pengalaman, bakat, kreativitas, imajinasi, dan seterusnya.

Di titik itu: siapa sebenarnya yang memiliki sebuah karangan? Si pengarang yang memiliki bakat, kepekaan, kreativitas, kematangan tehnik dan wawasan yang siap digerakkan oleh ilham itu atau justru ilham itu sendiri? Atau semua itu ter-gantung pada keberadaan ilham [baca: sesuatu yang merangsang kehadiran yang sudah ada sejak awal], dan tergantung dari destiny si pengarang (baca: yang telah di-adakan-Nya dan akan hadir menyertai keberadaan seorang manusia di dunia)? Karena itu, karya masterpiece itu, sebenarnya sudah sejak awal ada di Lauh Mahfuz - diciptakan bersama terciptanya alam semesta, disediakan bagi individu yang kebagi-an tugas jadi pion yang akan representasikannya di ruang publik.

Konsekuensinya, ketika sebuah teks karangan diberi landasan illahiah dan misteri destiny macam itu: apa sesungguhnya tanggung jawab seorang pengarang ketika digerakkan ilham untuk menjemput destiny sebuah teks, dan mempublikasikan-nya? Apakah hanya pasif, sebagai yang dikutuk untuk menghadirkan teks yang ditunjuk oleh ilham yang sampai kepadanya, hanya perantara untuk sesuatu yang sudah sejak awal ada? Sehingga ia hanya alat yang tak bisa dituntut konsekuensi dari teks yang keberadaan dijanjikan oleh ilham - peduli ilham itu bisikan setan. Kenapa? Karena ilham itu cuma alat untuk sampai misteri destiny, dan ia tergerak - lebih tepatnya: digerakkan - untuk menghadirkan teks, yang kemudian terbukti bersipat provokatif dan subversif terhadap eksistensi agama, moral, adat, etika, dan ni-lai-nilai sosial-politik-budaya masyarakat.

Kenapa? Karena teks itu hanya hadir untuk dirinya sendiri, meski tentakel ilhamnya menyapa pengarang agar dihadirkan di ruang publik, dan tetap eksis meski ilham itu tidak mampu menggerakkan pengarang dan teks tidak diakui keberadaannya oleh apresiasi di ruang publik. Karena teks merupakan dunia tertutup yang hanya bisa diukur oleh estetika dan kreativitas, sekaligus tak memiliki acuan moral, etika, ideologi, dan seterusnya. Sekaligus, di sisi lainnya, pengarang pun tak memiliki tanggung jawab sosial, moral, didaktik, dan seterusnya. Ia hanya dituntut untuk kreatif, imajinatif-empatik, dan estetik. Bahkan ia bisa berkreasi secara sangat subjektif, dan melulu cuma mengekspresikan teks-teks subjektif yang didapatnya dari kilas-an ilham murni yang merujuk ke misteri dari alam tak sadar subjektif. Dan kare-na itu teks subjektif yang dipublikasikan hanya boleh diukur di aspek bakat, kre-ativitas, imajinasi, kepekaan, estetika dan ekspresi.

Meski bisa saja seorang pengarang berperan sebagai agen yang melakukan se-leksi ilham dan teks secara aktif. Konsekuensinya, tidak setiap ilham diikuti sampai tuntas ke dasar. Atau meski diikuti sampai tuntas dan bisa diujudkan sebagai sebuah teks yang orsinil, maka teks itu kemudian dipertimbangkan oleh besaran etika, moral, agama, dan fungsi sosial-politik-budaya dari yang akan mengapresiasinya. Itu barangkali tanggung jawab sosial pengarang atau sastrawan, sekaligus itu pula yang menyebabkan ilham selalu digerakkan dengan tendensi tertentu, sehingga teks yang ditemukan dan dipublikasikannya itu memiliki kandungan didaktik. Sekaligus si pengarang atau sastrawan menjadi penerang, da'i dan pujangga yang menasihati, berfilsafat, dan menunjukkan jalan terang.

Tetapi semua itu sepertinya mengembalikan kepengarangan atau kesastrawanan pada basis dasar: cuma berbakat, berkreasi, dan mempublikasikannya. Ilham adalah satu hal subjektif - meski satu hari nanti ia akan dihizab karena mengikuti bisikan ilham ini dan menuliskan teks itu. Wawasan, kreativitas dan seterusnya, dan pilihan untuk segera mempublikasikan sebuah teks adalah hal subjektif yang lain. Bahkan tanggung jawab pengarang atau sastrawan itu bisa hanya berkutetan dengan urusan sempurna atau belum sempurnanya sebuah teks. Apa sudah saatnya dipublikasikan atau belum? Atau cuma masalah pilihan dipublikasikan di sana dan tidak di yang lain. Karenanya muncul semacam kesadaran brand image: ini karya saya, ini harus dipublikasikan dibawah kop nama tertentu, dan karenanya tergantung dari saya bila ingin dipublikasikan sebagai karya lepas, kumpulan karya di bawah nama editor, dan seterusnya.

Tetapi, pada dasarnya - dengan sedikit rasa malu dan tahu diri -, seorang pe-ngarang atau sastrawan tak bisa mengklem karyanya itu sebagai 100 % miliknya. Di sana ada ilham, di sana ada pengalaman hidup - pertautan dengan yang lain -, dan di sana ada interteks dengan karangan orang lain yang dibacanya. Sekaligus di ruang publik ada anggapan bahwa teks hidup sedangkan pengarang mati, karena itu kini teks yang berbicara sementara si pengarang - yang dibimbing oleh ilham itu - harus tiarap dan memutuskan hubungan dengan teks. Sekaligus, ketika si pengarang mati, maka teks yang dikongkritkannya berdasar petunjuk ilham itu, karya yang di-publikasikan dan otonom di ruang publik itu berhak diunduh oleh siapa saja.

Oleh yang membacanya, oleh yang kemudian mengkliping dan menunjukkan-nya kepada yang belum sempat membacanya, dan terutama oleh kritikus yang bisa merasakan kelebihan sebuah teks dan tergerak untuk mengumpulkannya dalam sebuah anologi. Di titik ini, ia tidak perlu lagi berhubungan dengan pengarangnya, karena (1) pengarang sudah "mati", dan (2) pengarang itu hanya pion yang digerakkan ilham untuk menjemput sebuah teks, yang semenjak awal sudah sempurna di Lauh Mahfuz. Meski begitu ia harus mempertanggungjawabkan pilihannya dengan menerangkan kenapa memilih teks itu dan bukan teks yang lainnya, apa alasannya, apa latar belakangnya, dan seterusnya. Sehingga kita bisa mengetahui motif pemilihan atas sebuah teks, yang dipertimbangkan karena kelebihan eksistensial murni dari teks dan bukan karena keberadaan dari pengarangnya.

Kenapa? Karena pengarang itu sudah "mati", dan pengarang cuma pion yang digerakkan ilham untuk menjemput sebuah teks yang sejak awal sudah sempurna. Permintan idzin pada pengarang cuma basa-basi, dan keikutsertaan pengarang hanya sampai taraf editing bahasa saja. Lainnya adalah manifestasi keleluasaan dan kebebasan dari si editor - sang paus sastra. Sayangnya sangat langka editor yang mau mempertanggungjawabkan dasar pilihannya pada sebuah teks, dengan tekanan pada fakta eksistensial teks yang otonom, yang sudah sempurna sejak di Lauh Mahfuz.

Bahkan banyak editor dan pengarang atau sastrawan di sisi lainnya yang beranggapan bahwa antologi itu merupakan pengakuan resmi - dengan mitos Angkatan -atas kredibilitas kepengarangan atau kesastrawanan dan bukan pada teks yang sejak awal sudah otonom. Maka jadilah khazanah kesusastraan Indonesia dipenuhi nama orang dan bukan karya. Menyedihkan.***

Sumber: Suara Karya, Minggu, 30 Oktober 2005

Sunday, January 06, 2013

Memahami Puisi-puisi Sitor Situmorang

Aminullah HA Noor

Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang, terutama dari periode awal, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat - misalnya tentang keisengan atau keterasingan - melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib-rupa dan tertib-bunyi.

Ciri demikian itu membebaskan dia dari lingkungan pengaruh Chairil Anwar, sosok pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah.

Memahami puisi puisi Sitor Situmorang sebenarnya tidaklah terlalu rumit. Bahkan bisa dikatakan gampang, karena susunan kata dan frase Sitor segera meninggalkan gema di hati dan kepala.

Bisa begitu, karena Sitor Situmorang dalam berkarya apapun tak akan pernah lepas dari kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

Namun, jangan buru-buru mengatakannya penyair kuno hanya karena Sitor Situmorang selalu merasa terikat dengan penggunaan bentuk puisi lama, seperti pantun dan soneta. Sebenarnya, Sitor pun telah menulis banyak mengenai puisi-puisi yang bersentuhan langsung dengan masa lampau dan tradisi kekinian.

Jelaslah, tertib-pola demikian adalah sarana untuk menapis, juga menundukkan, derau dan gebalau pengalaman modern.

Generasi Sitor, masuk dalam Angkatan '45, memang dikenal sebagai kelompok penyair yang begitu mengandrungi puisi bebas. Tetapi Sitor sendiri tidak demikian.

Buktinya, puisi puisi Sitor tidak jarang didominasi dengan persoalan kekinian. Tak jarang pula puisi-puisi Sitor terjebak dalam permainan kata yang berlebihan, kemubaziran, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya.

Kita lihat, puisi bebas Sitor "hanyalah" bentuk yang lebih lentur-cair dari pantun dan sonetanya.

Kesepian, juga keisengan, keterasingan, kebosanan, mungkin juga kemabukan. Kalimat-kalimat yang mengandung unsur filsafat semua ada dalam puisi Sitor: suatu pandangan dunia yang tak tertawarkan lagi?

Seorang penyair modern yang sejati, mestinya adalah sang flaneur, sebagaimana halnya Baudelairre: seorang pejalan iseng yang mengalami pemandangan, dunia, sebagai hal terpecah-pecah, dekaden-ia pencari keburukan ketimbang keindahan.

Namun Sitor adalah seorang flaneur yang tak sepenuh hati. Ia pemburu keindahan atau sisanya.

Seperti Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan membawa kampung halamannya dalam bungkusan. Neruda seperti hendak meluaskan tanah airnya ke seluruh bumi; sedang Sitor, ingin menjadi orang-dunia namun diganduli oleh warisan leluhurnya. Sitor meragukan, mungkin menyangkal, asal-usulnya justru dengan menggunakan puisi lama-soneta dan pantun.

Keduanya sampai juga ke "jalan kiri" dengan alasan berbeda: Neruda lantaran kejenuhannya dengan puisi modern: Sitor, justru karena keberjarakannya. Sitor melakukan rekonsoliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa": demikianlah keisengan (yang tak pernah menjadi filsafat itu) digantikan ide, bahkan ideologi. Maka impresionisme menjadi realisme; dan pantun dan sonet pun bertukar dengan puisi bebas.

Sitor sang flaneur yang bimbang tak cukup radikal dalam melawan komunitasnya, sebagaimana sang komunitas juga begitu setengah hati untuk meninggalkan masa lampaunya. Mungkinkah "aku" menjadi "kami" atau "kita" dalam derap "revolusi"? Mungkin sekali tidak. Puisi Sitor selepas 1970-an adalah upaya mendedahkan "aku" kembali, sang pejalan: kini ia bukan pemburu keisengan melainkan pengumpul cendera mata dari pelosok Nusantara dan mancanegara. Di sini tiada lagi musik atau tertib-bunyi yang bisa melunakkan isi-sajak.

Tapi jika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah dari segala penjuru, "filsafat" dalam puisi tak penting lagi.

Itu sebabnya kita selalu kembali kepada puisi Sitor Situmorang dari 1950-an, di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni-dalam arti menjadi makhluk bermain, homo ludens-setelah kita menjadi begitu jinak dan seragam dalam jejaring sistem.

Menjadi "bunga di atas batu, dibakar sepi": liar, keras kepala, tak menyerah. Demikianlah puisi Sitor yang terbaik, justru membuat kita mampu mengsongsong "filsafat" yang dikandungnya dengan haram. ***

Sumber: Suara Karya, Minggu, 2 Oktober 2005

Monday, November 12, 2012

Pidato Pramoedya Ananta Toer

Sastra, Sensor, dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan
(Pidato tertulis Pramoedya Ananta Toer yang disampaiakan saat menerima penghargaan Magsaysay di Manila)
Pramoedya Ananta Toer
Saya warganegara Indonesia dari ethnik Jawa. Kodrat ini menjelaskan, bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang didominasi oleh sastra wayang, lisan mau pun tulisan, yang berkisah tentang Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, serta kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih tetap bertumpu pada kewibaan Hindu. Sastra yang dominan ini tanpa disadari mengagungkan klas atau kasta satria, sedang klas-klas atau kasta-kasta dibawahnya tidak punya peran sama sekali. Pekerjaan pokok kasta satria adalah membunuh lawannya. Selain sastra wayang yang agak dominan adalah sastra babad, juga mengagungkan kasta satria, yang ditangan para pujangganya menyulap kejahatan atau kekalahan para raja menjadi mitos yang fantastik.

Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan Sultan Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer terhadap Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah mengalami kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan kekuasaannya atas Laut Jawa sebagai jalan laut internasional. Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mytos ini melahirkan anak-anak mytos yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mytos lain: ditabukan berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan asosiasi orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa disengaja oleh pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi batin rakyat Mataram.
Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan negara, dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan kastanya sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya adalah menafikan kemajuan zaman, memberikan beban histori yang tidak perlu, membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik daripada yang sekarang. Pendapat ini yang membuat saya meninggalkan sama sekali sastra demikian.
Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya, langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak langsung kekuasaan agar masyarakat tak punya peerhatian pada kekuasaan negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak mengindahkan politik. Sastra dari kelompok kedua ini membawa pembacanya berhenti di tempat.
Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang kemerdekaan maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai sastra golongan kedua ini. Seiring dengan pengalaman pribadi tersebut, walau pada awalnya tidak saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia, dan peran individu dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang dicitakan. Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di bidang kreasi.
Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan, standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu terpancarkan baik dengan sadar atau tidak. Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan, bahkan tertindas oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah melawan, bahkan memberontak. Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang - dengan sendirinya dari golongan ketiga ini - dinamai opposan, pemberontak, bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan.
Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun kalah-menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan berarti bahwa demokrasi tidak punya cacad. Eropa yang demokratis di Eropa justru tidak demokratis di negeri-negeri yang dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri jajahannya yang tak mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan idea bisa dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial.
Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade kedua abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak ditujukan pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum tindakan terhadap delik pers diputuskan melalui pengadilan. Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum, dan dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat-setempat. Larangan dan penyitaan, juga oleh pejabat kolonial Pribumi pernah dilakukan terhadap karya ayah saya, tetapi karya itu bukan karya sastra tetapi teks pelajaran sekolah-sekolah dasar yang tidak mengikuti kurikulum kolonial.
Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan. Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak kekuatan Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa yang agraris kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi petani mengakibatkan lahirnya mentalitas baru yang juga merosot. Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya "teposliro" (tahu diri), kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai dengan hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai pada puncak kekuasaan. Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo) sampai 7 tingkat yang berlaku sesuai hierarki kekuasaan menterjemahkan semakin kerdilnya budaya tradisional. Maka dalam sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya belum pernah terjadi. Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang kalau perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra Indonesialah sensor kekuasaan bisa terjadi.
Idea-idea dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa. Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat tidur dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor memang perlu diadakan.
Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang menguntungkan. Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah penduduknya berkembang sebagai faktor-faktor klimatologis yang mendukung pertanian. Bukan suatu kebetulan bila kolonialis Belanda membuat Jawa jadi pusat imperium dunianya di luar Eropa. Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah budaya tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat dihindarkan. Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa menekan ini adalah "tepo-sliro", kehidupan kekuasaan sekarang dinamai dengan bahasa Inggris "self-cencorship". Nampaknya elit kekuasaan malu menggunakan nama aslinya. Dengan demikian menjadi salah satu faset dalam kehidupan modern Indoensia bagaimana orang menyembunyikan atavitas/atavisme.
Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam sastra avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian mengevaluasi dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan. Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus menanggung seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam kemapanannya.
Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi negara? Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini cerita, sebenarnya tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia ditulis dengan nama jelas, diketahui dari mana asalnya, dan juga jelas bersumber dari hanya seorang individu yang tak memiliki barisan polisi, militer, mau pun barisan pembunuh bayaran. Ia hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan kekenyalannya.
Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian demokrasi pancasila, yaitu era kemerdekaan nasional setelah tumbangnya negara kolonial yang bernama Hindia Belanda dan peralihan pendudukan militeristis Jepang. Dalam masa demokrasi liberal di mana negara tetap berdasarkan pancasila yang tak banyak acuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin, sewaktu Presiden Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri dan mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para adikuasa, pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. Soekarno sebagai penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa pancasila di antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen, Declaration of Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis dalam hal keadilan sosial. Semasa demokrasi pancasila yang ditandai dengan gerakan de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan Pancasila bukan saja tidak pernah disebut lagi bahkan pernah ada upaya dari seorang sejarawan orde baru yang mebuat teori bahwa pancasila bukan berasal dari Soekarno. Dalam sejumlah peralihan ini tidak pernah terbukti ada karya sastra yang memberikan pengaruhnya. Dan memang sastra avant garde praktis belum pernah lahir. Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat deskriptif. Bila toh ada avant garde yang lahir itu terjadi semasa penindasan militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang terjadi sama kerasnya dengan penindasannya. Individu tersebut, Chairil Anwar, dengan sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya masyarakat pembaca yang banyak membaca dan menyukai sajak tersebut dan umumnya tak dikaitkan dengan masa pendudukan militeris Jepang waktu ia menciptakannya.
Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau tak langsung- tentang sastra regional dan internasional sekaligus, karena setiap karya sastra adalah otobiografi seorang individu, seorang dari ummat manusia selebihnya, yang mempersembahkan pengalaman batinnya pada kolektivitas pengalaman ummat manusia.
Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme mereka kemudian juga harus membiayai hidupnya kolonialisme. Walau feodalime sebagai suatu sistem sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya masih tetap hidup, bahkan elit kekuasaan mencoba melestarikannya. Sstra avant gardelah yang menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan, dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung resikonya sendirian.
Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali tidak berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti dasar dan sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya mengganggu tidur pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan, yang kuatir suatu kali cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa terlepas.
Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 35,5 tahun. 2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa orde baru, diantaranya 10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga hanya dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara. Sebagai pengarang barang tentu saya berontak terhadap kenyataan ini. Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba berkisah tentang tahap-tahap tertentu perjalanan bangsa ini dan mencoba menjawab: mengapa bangsa ini jadi begini?
Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai lebih pada karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan.
Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat dengan politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut pandangan saya setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu bertautan dengan politik. Bahwa seseorang menerima, menolak, bahkan mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada 
kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan ummat manusia. Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau pun merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik.

Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra harus terpisahkan dari politik. Memang bisa saja politik kotor di tangan dan dari hati politisi yang kolot. Kalau ada yang kotor barang tentu juga ada yang tidak kotor. Dan bahwa sastra sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya keluar dari pikiran para pengarang yang politiknya adalah tidak berpolitik. Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama masyarakat ada kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang "menolak" politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang yang telah mapan dapam pangkuan kekuasaan yang berlaku..***


Sunday, November 04, 2012

Membaca Puisi Kurniawan Junaedhie

Dalam 
Kesederhanaan Kata-Kata


Membaca sajak-sajak Kurniawan Junaedhie (KJ) tak lain adalah membaca perjalanan sejarah seorang manusia, yang penuh getar rasa maupun pikiran-pikiran, sehingga menghadirkan kepuitikalan. Hal ini sebagaimana dikatakan Shelley, bahwa sajak merupakan rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup seorang penyair. Peristiwa itu bisa saja mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.

Kendati merupakan catatan sejarah, tentu bukan buku sejarah biasa. Pasalnya, sebagaimana dikatakan Theodore Watts-Dunton, sajak merupakan satu pengucapan konkrit dan artistik tentang pikiran manusia melalui penggunaan bahasa yang emosional dan berirama. Dan ini dilakukan KJ pada sajak-sajaknya.

Boleh jadi, karena dia sebagai penyair selalu jujur pada hati dan pikirannya. Walau dengan bahasa sederhana, bahkan seringkali menggunakan idiom-idiom B dari kata-kata sehari-hari, namun getar dan luapan emosinya pun hadir dan terasa. Hal ini dapat kita simak pada sajaknya:

SAAT HENDAK PISAH kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis,burung di udara sudah menyanyiawan di langit sudah bergulungan ke penjuru duniakalau aku pergi, jangan suruh aku menangis,jarak antara aku dan kamu tak pernah tercatat dalam petakalau ciumanku dan remasan tanganku tak berasaaku akan bicara pada langit, jiwaku hampakalau aku menangis,apakah bintang dan matahari akan menari dan kau ikut menemani? 1993(Cinta Seekor Singa, halaman 42)

Betapa terasa seorang lelaki yang akan berpisah dengan kekasihnya. Pada bait pertama yang tiga baris, sudah mengantarkan kepada pembacanya tentang kesengsaraan, namun saat aku lirik mencoba menegarkan dirinya: kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis, malah KJ mengutarakan burung di udara sudah menyanyi walau dirinya mengakui perpisahan itu amat memukul hatinya dengan metaforanya: awan di langit sudah bergulungan ke penjuru dunia.

Keterusterangan itu makin tampak pada bait kedua yang empat baris, bahwa ada kegalauan di hati penyair. kalau aku pergi, jangan suruh aku menangis, pada baris ini pengulangan yang menekankan akan aku lirik menegarkan dirinya. Namun aku lirik menyadari betapa jarak antara aku dan kamu tak pernah tercatat dalam peta.

Bahkan, kalau ciumanku dan remasan tanganku tak berasa yang seharusnya terasa, karena penuh kedalaman cinta. Jika hal ini terjadi, dengan kegeramannya, aku lirik mengatakan aku akan bicara pada langit, jiwaku hampa. Keterusterangan masgulnya hati dan akan menggugat langit, sebuah suasana emosional yang membikin pembaca masuk ke dalam kembara batinnya.

Kegeraman aku lirik terlihat pada bait ke tiga yang tiga baris.Bahkan dalam geramnya, jika aku lirik tak menegarkan dirinya dalam kesengsaraan ini,B maka sang kau lirik bakal menertawainya dengan menari bersama bintang dan matahari. Dan kita amat memahami bahwa bintang merupakan citra dari malam dan matahari adalah citra dari siang.

Jika saja kita percaya bahwa sajak adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah, sebagaimana kata Samuel Taylor Coleridge.

Yang katanya, B bahwa penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya. Namun bagi KJ, sajak ditulisnya dalam getar puitik, bukan susanan kata-kata indah.Simak pada sajaknya:

PEMANDANGAN DINI HARI Untuk: Tina K. jam tujuh petang di Jakarta.jam 5 subuh di Michigan. halo.aku mendengar kamu kesepianaku mendengar kamu terisak di sini aku sedang menulis sajakmenuliskan perpisahan dan penyesalanjam tujuh petang di Jakarta.jam 5 subuh di Michigan. halo.telepon itu tergeletakdi samping sajak. 1994(Cinta Seekor Singa, halaman 67)

Walau KJ amat memperhitungkan logika waktu, namun perasaan dan pikirannya dituliskan begitu saja, sesuai gerak pikir dan rasa tadi. jam tujuh petang di Jakarta./jam 5 subuh di Michigan./halo.//Dan dari sana penyair pun merasakan kau lirik yang kesepian, terisak dan sang aku lirik menuliskan penyesalan perpisahan.

Agaknya sajak-sajak KJ sebagaimana kata Wordsworth, adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Malah kalau Auden menyatakan sajak itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

Dan pada sajak KJ bertajuk Pemandangan Dinihari, lebih tergambarkan pendapat Wordsworth maupun Auden itu.Juga hal ini terasa pada sajak di bawah ini: SAJAK UNTUK LELAKI SIALAN aku menangis seharian di dresi pagi tadi suara gerbong tua menyisir rel, di pagi buta iniaku menangis seharian, melihatmu kuyup dalam hujanaku berpikir: kenapa bulan Mei berjalan begitu lamban? seseorang bertanya, siapakah yang kautangisi?aku tak menjawab sepatah punhatiku ngungun aku melihat sebuah gerbong tua,menyisir rel, di pagi buta ini 1993(Cinta Seekor Singa, halaman 47) Pertanyaan penyair yang sederhana terangkai, menghasilkan getar puitik: aku berpikir: lenapa bulan Mei berjalan begitu lamban?

Yang kemudian diikuti oleh pertanyaan lain: seseorang bertanya, siapakah yang kautangisi?Dari pertanyaan itu, makin dapat dipahami, saat KJ membuka sajaknya dengan: aku menangis seharian di dresi pagi tadi/ suara gerbong tua menyisir rel, di pagi buta ini/aku menangis seharian, melihatmu kuyup dalam hujan. Betapa pengakuan aku lirik melihat dan membayangkan kau lirik, sehingga aku lirik berpendapat:B aku berpikir: lenapa bulan Mei berjalan begitu lamban?

Dan akhirnya, penulis sependapat dengan Maman Mahayana, yang mengatakan: Meskipun hampir setiap orang dapat membuat sajak, niscaya tidak semua orang dapat menjadi penyair. Lalu, bagaimanakah seseorang dapat dikatakan sebagai penyair?

Pertama-tama tentu saja predikat itu datang lantaran karya-karyanya dipandang berkualitas dan bukan sekadar menulis puisi. Kuantitas bukanlah yang menjadi ukurannya. Oleh sebab itu, banyak-tidaknya seseorang menulis puisi, belum menjadi jaminan untuk menyebutnya sebagai seorang penyair. Kepenyairan seseorang semata-mata ditentukan oleh kualitas karyanya yang mampu memberi pencerahan kepada pembacanya.

Dan bagi penulis, KJ bukan sekadar tukang tulis sajak, namun dia penyair dengan kesederhanaan kata, kesederhanaan permasalahan, kesederhanaan ungkapan, melahirkan sajak-sajak yang mencerahkan. ***

Sutan Iwan Soekri Munaf 
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 14 Juli 2012

Wednesday, October 24, 2012

Pengarang Perempuan Indonesia

NH Dini, Hulu Novelis Perempuan Indonesia
Oleh Linda Sarmili 

Kita mengenal namanya Nh Dini semenjak sekolah dasar. Puisinya kerap kali dibacakan dalam berbagai kesempatan, khususnya perlombaan yang berskala nasional. Dia adalah seorang sastrawan yang novel-novelnya dianggap sebagai hulu dari para novelis perempuan di belakang hari.

Untuk segenap jasanya itu, tahun lalu, NH Dini dianugerahi Penghargaan Achmad Bakrie Award. Penghargaan tersebut di berikan di Jakarta, dihadiri ratusan tokoh dari berbagai disiplin ilmu.

Sepanjang karirnya sebagai penulis, Nh. Dini telah memperkuat realisme, merintis ideologi anti-patriarki, dan mendalami novel autobiografis, dalam sastra berbahasa Indonesia. Sastra "realisme fotografis"-nya kaya dengan detail.

Pencapaiannya sangat menonjol, terutama jika disimak dari semangatnya dalam menggali dunia perempuan, termasuk seksualitas tersembunyi, khususnya perempuan Jawa. Begitu juga dengan novel-novelnya, selalu dipadatan dengan beragam cerita tentang kelebihan dan kreativitas perempuan.

Tak pelak lagi, Nh Dini menjadi induk dari novel-novel populer yang ditulis pengarang perempuan, juga menjadi pendahulu bagi karya sejumlah penulis-perempuan yang sejak akhir 1990-an mendorong lebih jauh lagi feminisme ke arah pengungkapan seks dan seksualitas.

Anda pernah membaca betapa hebatnya novel-novel otobiografisnya Nh Dini? Edgar Cairo, salah seorang penyair dari Amsterdam selalu memuji buku novel Nh Dini karena memiliki kedalaman ilmu tentang tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Penilaian serupa juga kerap dikemukan banyak praktisi kebudayaan dan sastrawan di Indonesia.

Novel novel otobiografis karangan Nh Dini, menurut penilaian penulis selalu sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan baik.

Dalam sastra Indonesia, dunia perempuan sebelumnya hampir selalu dilukiskan oleh pengarang laki-laki. Tetapi Dini merebut itu semua dan menegaskan bahwa perempuan hanya bisa tampil wajar dalam fiksi jika dikisahkan oleh perempuan sendiri.

Perempuan memiliki suaranya sendiri yang bukan lagi pemalsuan dari suara laki-laki,begitu kata Nh Dini yang kemudian dibenarkan oleh sejumlah wanita yang menghabiskan kesehariannya dengan dunia menulis.

Dalam novel autobiografis riwayat hidup si pengarang menjadi bahan utama pengisahan. Tetapi hanya pengarang yang cemerlang seperti Dinilah yang sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan amat baiknya.

Beda dengan Nh Dini dari para penerusnya adalah novel-novelnya hadir dengan kualitas bahasa yang tetap terjaga. Kalimat-kalimatnya kokoh, pelukisannya tentang sesuatu tampak halus, kadang samar-samar, sehingga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menerka-nerka.

Penghargaan Achmad Bakrie yang diterimanya pada malam penganugerahan Minggu, 14 Agustus tahun lalu, bertempat di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, membuat para perempuan penulis kagum kepadanya, terutama ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah masih ada waktu menulis di usianya sekarang yang telah mencapai 75 ?

Ternyata Nh Dini menjawab: "saya akan menghabiskan usia saya dengan menulis. Saya merasa bangga apabila tulisan saya bisa memberi makna kepada pembacanya, kepada masyarakat luas, dan kepada usaha pembaruan pembaruan pola pikir perempuan Indonesia".

Ternyata benar, Nh Dini terus menulis untuk memajukan pola pikir perempuan Indonesia, dan memajukan dunia sastra Indonesia.

Baru-baru ini, NH Dini, meluncurkan buku terbarunya berjudul Pondok Baca Kembali ke Semarang Buku yang diterbitkan Gramedia itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Amaris Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini. Peluncuran buku tersebut ditandai dengan Diskusi Buku dan Perjalanan Sastra bersama NH Dini yang dipandu budayawan Semarang Prie GS.

Dalam diskusi tersebut, NH Dini menuturkan perjalanan hidupnya, termasuk bagaimana proses menulis buku-buku yang merupakan pengalaman dan kisah hidupnya. "Semuanya secara jujur saya sampaikan apa adanya," ujar Dini.

"Buku Pondok Baca Kembali ke Semarang" mengisahkan saat Nh Dini kembali ke Tanah Air tahun 1980. Setelah mondar-mandir antara Jakarta dan Semarang, tahun 1985, Dini menetap di kota asalnya, di Kampung Sekayu, Semarang Tengah. Di kampungnya dia mendirikan taman bacaan yang dinamakan Pondok Baca NH Dini.

Diskusi dengan Nh Dini dihadiri keluarga dan penggemar bukunya, bahkan sejumlah anak sekolah dari Semarang mengaku mendapat banyak pencerahan setelah mencermati kalimat demi kalimat yang dituturkan Nh Dini. ***

Sumber: Suara KaryaSabtu, 28 Juli 2012

Tuesday, October 16, 2012

Membaca Oka Rusmini

Oka Rusmini Makin Menjadi
(Sunaryono Basuki Ks) 

Sejak terbitnya novel Tarian Bumi sebagai cerber Harian Republika, Oka Rusmini menjadi daya tarik sastra Indonesia. Kerenanya Taufiq Ismail dengan Horison Sastra Indonesia memasukkan nukilan novel ini di dalam Kitab Nukilan Novel, Horison Sastra jilid ke III.

Dia mewakili 41 novelis Indonesia yang karyanya dicuplik di dalam buku ini, bersamaan dengan Panji Tisna dan Putu Wijaya. Namun, Tarian Bumi bukanlah novel pertamanya. Saat dia masih duduk di bangku SMA, dai menulis novel berjudul Gurat-Gurat, di muat sebagai cerber di Bali Post tempat dia kemudian bekerja sebagai redaktur.

Novel ini sempat menimbulkan protes karenanya dia memangkasnya dan kemudian mengembangkannya menjadi novel yang kemudian dimuat sebagai cerber di Harian Koran Tempo dengan judul Kenanga yang kemudian diterbitkan oleh Grasindo (2003). Mungkin nasibnya tidak seburuk yang menimpa Wayan Artika yang cerbernya berjudul Incest dimuat sebagai cerber di Koran Bali Post. Dia mendapat protes dari warga kampungnya dan sempat dikucilkan bahkan sampai minta perlindungan polisi. Justru karena peristiwa ini novelnya diterbitkan di Yogyakarta sampai mengalami cetak ulang. Bencana membawa berkah.

Pada ultahnya yang ketiga puluh, 11 Juli 1997, dia menerbitkan kumpulan puisi berjudul Monolog Pohon yang disunting oleh Arief Bagus Prasetyo, seorang pelukis, penyair, esais dan kelak malah menjadi penerjemah handal. Pada saat itu saya menulis cerpen Dayu dan Kisah Cintanya. Dalam cerpen tersebut saya bertanya: Setelah berhasil menyunting kumpulan puisinya, apakah dia akan berhasil menyunting penyairnya? Ternyata Oka Rusmini menikah dengan Arief, keluar dari lingkungan brahmana dan bersedia menjadi seorang mualaf.

Serial Tarian Bumi
Novel Tarian Bumi tak berhenti pada kisah tentang keluarga Ida Ayu Pidada. Dia nampaknya ingin memuaskan diri dengan sebuah novel pendek yang dimuat dalam kumpulan cerpen Sagra.

Sagra sendiri sebagai novelette dapat menyalurkan keinginannya berkisah yang tak selesai di Tarian Bumi. Satu novel dan satu novelette ini telah berhasil mengangkat Fabiola Kurnia, dosen Universitas Negeri Surabaya mencapai gelar doktornya di UI. Promotornya Prof Dr Sapardi Djoko Damono dan Prof Dr Melani Budianta menganggap desertasinya bagus. Nampalnya Oka tidak puas mengobrak-abrik keluarga Ida Ayu Pidada. Dia sudah menulis Kenanga. Jadi Kenanga (Gurat-Gurat) Tarian Bumi,dan Sagra,semacam Saga, kisah keluarga sebagaimana ditulis dalam novel Inggris beberapa jilid berjudul Forsythe Saga.

Tempurung
Novel Tempurung merupakan novelnya yang baru terbit (Grasindo), walau pun novel tersebut sudah disiarkan sebagai cerbung di sebuah harian yang terbit di Jakarta (2004). Apakah yang menarik dari Tempurung? Tentu saja pertama judulnya kok aneh. Lalu ilustrasi sampul dan dalam yang seluruhnya dikerjakan oleh seniman luar negeri Wolfgang Widmoser.

Namun lebih menarik lagi adalah caranya bercerita. Pertama, novel ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni Penjaga Warung yang terdiri dari 8 sub bagian, lalu Tuhan untuk Lelaki yang terdiri dari 12 sub bagian, dan Rumah Perkawinan yang hanya terdiri dari satu bagian, padahal bab ini panjangnya hampir 200 halaman. Pasti melelahkan membaca bab demikian panjang.

Sub bab satu dari bab Satu berjudul Kecombrang. Oka tidak bercerita tentang tokoh manusia tetapi tetang tanaman yang bernama Latin Nicolaia Spesiosa. Dia bercerita tentang kecombrang yang terletak di jendela kamarnya sambil mendengarkan Frank Sinatra yang melantunkan lagu "Have you met Miss Jones". Begitu senangnya Oka dengan lagu ini sampai seluruh lirik lagu itu dikutipnya. Lalu apa hubungannya kecombrang dengan Oka?

Dia bertanya "Bagaimana kalau aku berdansa dengan Frank Sinatra atau kecombranngku?"

Dia bingung memilih antara keduanya karena keduanya sudah menjadi ritus paginya. Baginya lelakinya harus menarik seperti kecombrang dan Frank Sinatra.

Di dalam smsnya dia menatakan bahwa Tempurung ditulis tanpa memakai pakem tertentu. Mungkin yang dia maksud adalah pakem konvensional gaya Aristoteles, walaupun kita merasa bahwa ada awal dan ada akhir. Selain itu, secara tak sadar dia telah terpengaruh pakem budayanya. Lho, kayak apa? Sebentar saya jelaslan.

Pertama saya ingin memuji kelebihannya dalam bercerita. Setiap akhir sub bab dia menyebut tokoh baru, yang dengan segera diperkenalkan dan diperdalam pada sub bab berikutnya.

Beritu terus menerus sehingga cerita berlanjut. Waktu dia menyebut bahwa dia tak mengenal sosok yang dia sebut Mamah pada akhir subbab, maka dia menindak-lanjutinya pada sub bab berikutnya. Kita merasa terhanyut dengan cara berceritanya yang runut ini.

Soal pakem budaya yang secara tak sadar dianutnya adalah budaya Bali yang menyukai keindahan.

Orang Bali menciptakan keindahan, untuk dinikmati banyak orang, namun pada akhirnya semua berakhir jadi abu. Misalnya ogoh2 yang dibuat dengan susah payah dan dengan biaya puluhan juta, setelah diarak berkeliling kota harus berakhir dengan dibakar. Demikian pula dalam upacara pelebon (ngaben).

Semua perangkat pelebon, termasuk Naga Banda karya I Gusti Nyoman Lempad yang dibuat untuk pelebon raja Ubud tahun 1975 setelah diarak ke setra (kubur), menghibur banyak orang termasuk pelukis Affandi dan sejumlah kamerawan film, akhirnya harus dibakar dan jadi abu. Demikian pula dengan novel ini, yang disusun dengan indah, harus diakhiri dengan peristiwa Sipleg yang membakar Ida Ayu Pidagda KRG bukan Pidada tokoh dalam Tarian Bumi dan serialnya KRG.

Semua harus jadi abu. Sipleg pada hal 457 dsb diceritakan diajak Maya untuk membakar Ida Ayu Pidagda. Maya setelah membakar rumah mereka berkata: "Aku punya rahasia, aku telah mengubur ibuku dengan api. Ini semua demi kebaikan kita Sipleg." Tak percaya, sebaiknya baca sendiri bisa lebih asyik.***


* Sunaryono Basuki Ks, novelis
tinggal di Singaraja, Bali

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 21 Agustus 2010

Thursday, September 27, 2012

Analisis Cerpen Bendera Sitok Srengenge

Bermain Peran
Analisis Cerpen Bendera



Apa yang ditampilaan dalam Bendera, semata-mata menekankan pesan. Sangat jelas, seperti yang disebutkan dalam teks, “betapa penting arti sebuah bendera.” Itu adalah pesan yang sangat mudah berterima. Pesan yang lain ialah, misalnya, mengenai persatuan. Bahwa setiap orang serupa benang.

Lembaran kain, yang berasal dari pintalan benang, mengidentifikasikan adanya kesatuan. Setiap yang bersatu akan menjadi sebuah kekuatan. Menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Menjadi sesuatu yang berarti. Setidaknya, pesan-pesan itulah yang secara tersurat akan muncul ketika membaca cerpen karya Sitok Srengege yang dimuat di Kompas, 8 Mei 2011. 
Hal yang menarik dari cerpen ini adalah keminiannya. Tidak seperti cerpen pada umumnya, terlebih Kompas yang menyajikan cerpen dengan beberapa kolom, Bendera hanya terdiri dari dua kolom. Sangat singkat dalam penceritaannya. Dan bahkan, kisah yang ditampilkannya pun begitu sederhana. 

Kisahnya berkisar pada seorang anak, Amir namanya. Ketika pagi hari ia melihat sang Nenek sedang menjahit bendera. Kemudian, sang Nenek memberi beberapa alasan mengapa bendera itu penting. Mengapa sebuah bendera akan berbeda nilainya dengan kain lainnya. Disebutlah sebanyak lima alasan mengapa bendera itu penting. “Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.” Di sekolah, ketika sedang menjadi petugas penggerek bendera, Amir membayangkan bahwa semua orang adalah sehelai benang. “Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu mengayam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.” Kisah hanya diakhiri oleh “Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambing, seperti bendera.”

Terasa, bahwa pesan-pesan yang dimunculkan seperti mengobarkan semangat: nasionalisme. Nasionalisme, sebagai sikap mencintai negara, menjadi konsentrasi garapan dalam cerpen ini. Diksi-diksi bahasa yang digunakan pun secata kasat mata sudah menunjukkan hal demikian. Bahkan, dari judulnya pun sudah tampak.

Namun, yang menjadi penting, bukan sebagaimana tanda yang mudah terbaca itu. Bukan sekadar mengharapkan adanya perubahan rasa nasionalisme setelah membaca cerpen ini. Ada sesuatu yang menunjukkan adanya sindiran dalam cerpen ini. Sesuatu yang boleh jadi tanpa disadari. Cerpen ini membuka borok terhadap nasionalisme itu sendiri.

Sikap Amir yang mengangguk ketika dijelaskan arti penting bendera oleh Nenek, menegaskan demikian. Nasionalisme kita, ternyata serupa sikap Amir, kita belum bisa memahami semuanya. Memahami secara utuh apa itu nasionalisme. Kita hanya mengerti nasionalisme itu sebagai sosok yang tampak di permukaan, namun tidak atau belum mau tahu bagaimana diaplikasikannya sikap itu. 

Selain itu, apa yang disuguhkan dalam cerpen dengan menggiring pembaca pada teks lebih baik menjadi kain, menjadi pakaian, bukan bendera, yang “jika mejadi pakaian, sering dipamerkan dalam cara gemerlapan dan harganya bisa mencapai ratusan juta,” seakan mengalihkan bahwa menjadi sesuatu selaian bendera, berjiwa nasionalisme, tidaklah penting. Menjadi bendera, bersosok nasionalis, ternyata malah digambarkan dengan sebuah keinginan semata. Tidak ada keseriusan di dalam usaha untuk mengapkikasikannya. Itulah sebabnya dalam akhir cerpen , “Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambing, seperti bendera.”Nasionalisme hanyalah dalam hati.***

Eva Dwi Kurniawan

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook