Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Friday, January 13, 2012

Monolog: Pulang

(naskah monolog ekspo TSD - Insadha)


Pulang. Kalian pernah pulang? Atau setidaknya pernahkah kalian merasakan rasa rindu pulang sebegitu menggebu, keinginan untuk berada di kampung halaman? Aku pernah mengalaminya, setidaknya kemarin. Kemarin? Ya, kemarin. Kamu tahu apa itu kemarin? Kemarin adalah bukan esok, bukan pula sekarang. Kemarin adalah masa lalu. Masa lalu akan berlalu tanpa meninggalkan jejak atau hanya sekadar sajak ketika kalian tak memaknainya. Oleh sebab itu, aku menceritakan ini pada kalian, supaya masa laluku menjadi sejarah, ya... masa lalu yang kita hargai.

Aku pulang naik kereta, bukan Kereta Kencana seperti dalam dramanya W. S. Rendra, melainkan kereta api. Hm... sudah berabad-abad alat transportasi itu, masih dipakai juga dan tidak jua lekang oleh waktu, malah semakin canggih. Aku hendak pulang ke Solo naik Pramex. Panjang antrian tiket di Lempuyangan Yogya, padahal sebentar lagi kereta akan segera tiba. Ada ibu yang mengomel, dia ingin didahulukan. Huh, memuakkan! Tidakkah dia tahu bahwa dia dan aku dan semua penumpang lainnya adalah sama, maka harus diberi kesempatan yang sama sehingga kami semua harus antri? Tapi, sudahlah. Mungkin ibu itu bukanlah orang yang berpendidikan, atau hanya tidak menyadari kemanusiaan itu sendiri. Lho, apa hubungannya mengantri dengan kemanusiaan?

Kereta tiba sesaat aku mendapatkan tiket. Besi panjang tua itu berdecit di atas besi yang lain, ckiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit. Pintu pun terbuka dan aku masuk. Penuh?!!! Ini masih pagi!!! Ini juga bukan musim liburan? Apakah selalu seperti ini? Mungkin seperti ini, selalu seperti ini, dan akan selalu seperti ini. Untunglah aku mendapatkan tempat duduk. Aku duduk dekat jendela, duduk menghadap arah yang berlawanan dengan laju kereta. Di samping kananku duduk seorang pria yang tengah asyik mendengkur. Di depannya duduk seorang pria lain tengah asyik membaca warta berita.

Sedangkan di hadapanku duduk dengan tenang seorang wanita. Wajahnya cantik luar biasa. Dilihat dari model pakaiannya, wanita itu adalah pegawai kantor. Mungkin seorang sekretaris. Dia sedang menelpon. Sepertinya dia sedang ada janji dengan seseorang yang sudah akrab dengannya di kota Solo.

“Halo... iya. Saya masih berada di atas kereta nih. Nanti tolong jemput saya di Stasiun Purwosari Solo, ya. Iya... iya... nanti saya tunggu di peron. Atau, kamu yang menunggu di peron? Pukul tujuh kurang sepuluh saya tiba di sana. Ya, nanti kita sarapan di Adem Ayem sembari membicarakan bisnis kita. O... tentu... tentu ada servis tambahan bagi pelanggan setia seperti Anda. Ok. Sampai jumpa.”

Setelah selesai menelpon, dia memejamkan mata dan tidur.

Kami semua duduk berdekatan, tapi sebenarnya kami saling berjauhan. Kami memang berada dalam satu ruangan gerbong kereta, tetapi kami memiliki dunia kami masing-masing. Pria di samping kananku tengah tidur, tengah asyik dengan mimpi-mimpinya. Pria di depannya itu tangah asyik membaca koran, tenggelam dalam berita-berita kelam dari negeri kita tercinta. Wanita di hadapanku juga tidur, wajahnya semakin menggemaskan sewaktu terlelap. Sedangkan aku? Aku mengamati mereka. Aku mengamati seisi gerbong. Aku mengamati pemandangan di luar jendela; ada bukit, ada lembah, ada sawah. Aku mengamati sekelompok bocah berseragam sekolah putih merah mengendarai sepeda berhenti menanti keretaku lewat. Aku mengamati. Mengamati. Dan, kemudian aku bertanya... mengapa... apa... apa... mengapa... .

Perjalanan ini seperti hidup itu sendiri. Hanya bedanya dalam perjalanan ini aku tahu ke mana aku akan pergi, pulang ke kotaku yang baru saja kemarin kutinggalkan. Sedangkan hidup? Tahukah kamu ke mana hidup berjalan? Tidak ada yang tahu dengan pasti. Satu hal yang pasti... hidup mengarah kepada kematian. Aku akan mati. Gadis cantik di hadapanku itu akan menjadi tua, keriput, dan mati. Pria yang tengah asyik membaca koran itu akan mati. Pria yang tidur di sampingku akan mati. Aku akan mati. Kamu pun akan mati. Pacarmu mati. Orang tuamu mati. Temanmu mati. Musuhmu mati. Tetanggamu mati. Dosenmu mati. Setiap hal yang kita lakukan akan berakhir dengan kematian. Segalanya sia-sia. Setiap detik yang berlalu hanya menyisakan kematian.

Lalu apa gunanya sekolah? Apa gunanya kamu duduk di sini menontonku yang sedang membual? Apa gunanya pula aku menceritakan segenap masa lalu? Jika pada akhirnya kamu, aku, kita semua berakhir dengan kematian?

“Maaf, Mas, masih ada surga... .”

Ya kalau surga itu ada. Bagaimana kalau surga itu tidak lebih dari Neverlanddalam cerita Peter Pan?

“Lalu Tuhan, Mas?”

Ya kalau Tuhan itu ada... . Atau, jikapun ada, apakah Tuhan yang ada dalam pikiranmu secara de iure itu sama dengan Tuhan de facto yang menciptakanmu? Sudahlah, cukup tentang Tuhan. Untuk kali ini aku sedang tak ingin membicarakan Tuhan. Sudah sejak purbakala Tuhan menjadi topik pembicaraan, perdebatan, perselisihan, bahkan alasan percintaan dan pembunuhan.

Jika pada akhirnya kita akan berakhir dalam kematian, lalu buat apa hidup? Buat apa seluruh usaha ini? Buat apa menjalani rutinitas ini? Bangun, sarapan, kuliah, makan siang, kuliah, pertemuan UKM, makan malam, belajar, tidur, bangun lagi... . Dari usia 4 tahun hingga sebesar ini selalu masuk dalam kelas-kelas dan duduk belajar dengan pelajaran yang selalu sama. Membosankan! Segalanya membosankan! Bosan!!!

Mungkin lebih baik jika kalian segera berhenti menontonku, pergi dari sini, pulang ke rumah, dan bilang pada orang tua kalian untuk tak perlu lagi bekerja keras mencari uang demi menguliahkan kalian karena tiada gunanya lagi kuliah, belajar, dan melakukan segala usaha ini. Mungkin ada baiknya jika aku segera mengakhiri omong kosong ini, pergi dari sini, dan meratapi hidupku. Mungkin ada baikya jika kita segera mati lebih dini. Bunuh diri! Ya... ! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri! Bunuh diri!

TIDAAAAAAAAAK!!! Tiada yang lebih bodoh dari pada itu. Tiada yang lebih egois dari pada bunuh diri. Hidup memang absurd, akan menuju kepada kematian, apapun yang kita lakukan. Namun, hidup yang absurd itu bukan untuk diakhiri.

Apakah ada makna? Ada!!! Kitalah yang memaknai. Kita adalah tuan atas nasib kita sendiri. Kita adalah subyek otonom! Kita bebas, merdeka! Kitalah yang menetukan bagaimana kita mati sebagaimana kita menentukan bagaimana kita hidup. Rendra mati sebagai penyair sebagaimana dia hidup sebagai penyair. Mbah Surip mati sebagai penyanyi sebagaimana dia hidup sebagai penyanyi. Chairil Anwar mati sebagai Binatang Jalang sebagaimana dia hidup sebagai Binatang Jalang. Camus mati sebagai manusia pemberontak sebagaimana dia hidup sebagai manusia pemberontak. Søren Kierkegaard mati sebagai manusia yang senantiasa meratapi Regina Olsen sebagaimana seumur hidupnya dia meratapi wanita itu. Nietzsche mati sebagai pembunuh Tuhan sebagaimana sepanjang sisa hidup warasnya dia memproklamasikan Kematian Tuhan. Itulah kemampuan kita sebagai manusia. Lalu Tuhan? Sudah kukatakan sebelumnya, aku sedang tak ingin membicarakan Dia!!! Tapi jika kamu mengaku mencintai Tuhan, cintailah manusia, sebab manusia adalah citra-Nya.

Eksistensi kita sebagai manusia memiliki esensi kemanusiaan. Kemanusiaan itulah yang harus kita manifestasikan supaya hidup kita bermakna sebelum ajal menyapa. Kita memberi makna dalam setiap pilihan hidup kita. Jam-jam kuliah yang membosankan yang telah menanti di hadapan kalian itu adalah salah satu cara pemanifestasian kemanusiaan itu. Kalian menontonku berceloteh di sini juga adalah pemanifestasian kemanusiaan itu. Aku berceloteh di sini pun, setelah berlatih selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, adalah pemanifestasian kemanusiaan. Dan, seperti halnya kalian memilih untuk kuliah di Sadhar, mengikuti ekspo ini, masuk ke stand TSD, duduk dan mendengarkan aku menceritakan segala omong kosong ini, begitulah aku memaknai perjalanan singkatku dari Jogja ke Solo kemarin.

Perjalanan itu singkat dan pasti akan segera berakhir di Solo. Dan, aku memberi makna perjalanan itu dengan tidak menyapa mereka yang duduk di dekatku, tetapi hanya dengan mengamati mereka. Sesampainya di Solo... aku pulang. Berkali-kali aku melakukan perjalanan Jogja-Solo dan setiap perjalanan pulang itu selalu bermakna baru bagiku. Itulah sebabnya aku tak pernah bosan melakukan perjalanan itu berkali-kali hampir setiap minggu. Pulang... sebab di sana aku akan lebih dekat dengan jantung hatiku... .

Sarang Kalong, 28 Juli 2009
Padmo “Kalong Gedhe” Adi
Sumber: mediasastra.com


(Catatan:  Postingan ini dimaksudkan utk memberi contoh naskah monolog dlm pengajaran di kelas. Semoga contoh ini memberi inspirasi bagi siswa yg sedang mempersiapkan naskah monolog utk ujian praktik. Terima kasih utk Padmo “Kalong Gedhe” Adi dari TSD yg telah memberikan contoh dan inspirasi)

Monday, August 23, 2010

Sumur Tanpa Dasar Arifin C. Noer

Sendiri. Kesepian. Kesunyian tak bertepi akan menyergap manusia yang selalu dan sering kali dirundung kegelisahan eksistensi dirinya. Jelas kondisi psikologis seperti ini selalu mengungkung Jumena Martawangsa – tokoh utama dalam lakon Sumur Tanpa Dasar, karya Arifin C. Noor

Naskah Sumur Tanpa Dasar yang ditulis oleh Arifin C Noor di tahun 1950-an semasa awal kuliahnya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Drama ini menceritakan Jumena Martawangsa tokoh utama dari lakon ini—seorang lelaki tua yang dikejar-kejar kegelisahan eksistensial dirinya sendiri. Kegalauan yang muncul dari suatu pemberontakan atau mungkin kesombongan cara berpikir yang terbatas melawan ketakterbatasan dalam diri Jumena. Tipikal problematik masyarakat modern yang selalu berpikir bahwa manusia layaknya harus mengolah habis-habisan nasib dan suratan hidupnya.

Berikut adalah penggalan naskah Sumur Tanpa Dasar. JIka Anda ingin membaca secara lengkap naskah ini atau ingin mendownload silakan klik read more dan klik download di bawah postingan.

BAGIAN PERTAMA


1
SANDIWARA INI KITA MULAI DENGAN SUARA DETAK-DETIK LONCENG YANG MENGGEMA MEMENUHI RUANG. SUARA DETAK-DETIK INI BERJATUHAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MENIMBULKAN BERMACAM-MACAM ASOSIASI. SESEKALI DI SELA-SELA SUARA INI MENYAYUP PANJANG LOLONG ANJING ATAU SRIGALA YANG SEDANG ‘MERAIH’ BULAN.

2
LONCENG ITU ANTIC, TUA, AGUNG DAN KUKUH PENUH RAHASIA. DARI RONGGA LONCENG MUNCUL KABUT-KABUT ATAU PARA PEMAIN YANG MELUKISKAN KABUT-KABUT. MEREKA MELANGKAH MENGENDAP-ENDAP UNTUK SELANJUTNYA SECARA PENUH RAHASIA MENYEBAR KE SEGENAP ARAH DAN SEGERA GAIB SIRNA.

3
PIGURA ITU TANPA GAMBAR TANPA POTO, KOSONG, TERGANTUNG SUNYI DAN PENUH RAHASIA

4
DI ATAS KURSI GOYANG JUMENA MARTAWANGSA BERGOYANG-GOYANG SUNYI. TAMPAK SESAK PERNAFASANNYA. SEKALI PUN BEGITU, KEDUA MATANYA MASIH MENYOROTKAN PANDANGAN YANG TAJAM. AMAT TAJAM. DAN DALAM KEADAAN SEPER JUMENA KELIHATAN SEPERTI SEDANG MENGHITUNG DETAK-DETIK LONCENG.
SEJAK TADI, SEONGGOK KABUT BERDIRI DI SAMPINGNYA MEMEAINKAN SEHELAI TALI YANG SIAP UNTUK MENGGANTUNG LEHER. AGAK BEBERAPA SAAT JUMENA MENIMBANG-NIMBANG TALI ITU. KEMUDIAN KABUT ITU MENDEKATKAN TALI GANTUNGAN ITU DAN JUMENA MENCOBA MEMASANG PADA LEHERNYA. DIA TERTAWA.

JUMENA
Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada

Sambil tertawa ia memberikan isyarat agar kabut pembawa tali pergi. Dan pada saat itu detak-detik lonceng semakin lantang. Dari rongga lonceng muncul Sang Kala alias Pemburu yang siap dengan senapannya. Ketika senapan itu meletus, terkumpullah seluruh amarah dan kekagetan Jumena

JUMENA
Bangsat!

TATKALA SANG KALA GAIB BERDENTANGANLAH LONCENG ITU. KEMUDIAN BERDENTANG JUGALAH BERJUTA LONCENG-LONCENG DAN WEKER. SEDEMIKIAN RUPA SUARA ITU MENEROR SEHINGGA MENYEBABKAN JUMENA BANGKIT. DAN PADA SAAT JUMENA BERDIRI, HENING MENGGANTIKAN SUASANA. LALU JUMENA DUDUK KEMBALI.

PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DI KAKI KURSI GOYANG DENGAN TEMPOLONG YANG LAIN.

P. TUA (Sambil pergi)
Terlalu bernafsu. Pucat sekali wajahnya

5

ENTAH DARI SEBELAH MANA EUIS MUNCUL

JUMENA
Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang. Tapi juga kalau saya tenang, tak akan pernah ada sandiwara ini

EUIS
Akang

JUMENA
Euis

EUIS
Apa yang akang lihat?

JUMENA
Kau

EUIS
Kenapa?

JUMENA
Ingin tahu apa kau betul-betul cantik

EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI JUMENA, TELINGA JUMENA DAN LAIN-LAIN SEHINGGA MEMBUAT JUMENA KEGELIAN. KEDUANYA TERTAWA-TAWA. SEKONYONG-KONYONG JUMENA MEMATUNG, MURUNG

EUIS
Kenapa, Akang?
(Jumena Memainkan Bulu Matanya Sendiri)
Kenapa tiba-tiba muram, Akang?

JUMENA (Manja-tua)
Umur Euis berapa?

EUIS
Dua enam

JUMENA
Itulah sebabnya!

EUIS
Percayalah akang. Euis akan tetap mencintai akang sekalipun umur akang delapan puluh tiga tahun

JUMENA
Betul?

EUIS
sumpah

JUMENA
Kalau delapan lima?

EUIS
Cinta

JUMENA
Seratus tahun?

EUIS
Euis akan tetap menciumi leher akang

KEMBALI EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI LEHER JUMENA DAN LAIN-LAIN. KEDUA-DUANYA TERTAWA

JUMENA
Kalau saja saya tahu kau betul-betul mencintai saya

EUIS
Euis sangat cinta pada akang

JUMENA
Menyenangkan sekali kalau itu benar

EUIS
Betul Euis mencintai akang

JUMENA
Mungkin, saying akang tidak tahu persis

EUIS
Tidak perlu

JUMENA
Perlu. Bahkan akang juga ingin tahu apa betul akang bahagia
(Terus mereka berciuman dan tertawa-tawa)
Sesekali enak juga berhibur seperti ini

TERUS MEREKA BERCIUMAN DAN TERTAWA

6

ENTAH DARI MANA MARJUKI KARTADILAGA MUNCUL. IA TERSENYUM SAMBIL MENYEDOT PIPA ROKOKNYA

JUMENA (Kesal-sedih)
Kenapa kau rusak sendiri? Kenapa kau berubah? Lenyapkan itu

(Begitu melihat Marjuki, perhatian Euis beralih dan langsung merangkulnya)

Bangsat. Kau rusak sendiri. Semuanya kau rusak sendiri

(Dalam sunyi Jumena menimbang-nimbang sendiri apa yang baru diucapkannya)

Siapa bilang aneh? Semua ini mungkin saja terjadi. Tuhan, kenapa justru saya merasakan sesuatu semacam kenikmatan dengan segala pikiran-pikiran ini? Kau jebak saya, Tuhan. Kau jebak saya. Tega. Kau! (lalu mulai dengan pikirannya) saya kira mula-mula istri saya…. (Agak lama) Ya, mula-mula istri saya akan berlaku seperti bidadari

(Euis menutup wajahnya seperti seorang gadis kecil)

Mungkin saja….

EUIS (Gemetar)
Tidak mungkin Juki

JUKI
Mungkin saja

EUIS (Gemetar)
Tidak mungkin. Saya tidak bisa meninggalkan dia

JUKI
Segalanya mungkin. Tidak ada tidak mungkin

EUIS
Hati saya mulai bersuara lagi

JUKI
Kalau begitu kau sedang membunuh dirimu sendiri. Apa kamu merasa sedang dihukum? Apa ayahmu sedang melecutmu?

EUIS
Dada saya bergetar sangat kencangnya

JUMENA
Kalimat-kalimat ini berasal dari syahwat

Lolong anjing di kejauhan

EUIS
Kau dengar anjing yang melolong itu?

JUKI
Bukankah suara itu suara kita sendiri? Anjing yang melolong dan menggonggong? Bulan yang kuning

JUMENA
….suara-suara kesepian yang baka dan purba…

JUKI
Euis

EUIS (Sangat takut)
Juki, dia suami saya

JUKI
Dan saya?

EUIS (Bertubi-tubi menciumi Jumena)
Saya mencintai suami saya seperti saya mencintai ayah saya sendiri

JUMENA
Setiap kali dia berlebihan menciumi saya, terasa ciuman itu sebagai niat pembunuhan

JUKI (Melangkah akan pergi)
Baiklah!

JUMENA
Apa yang akan ia lakukan?

EUIS (Mengejar)
Marjuki!

JUMENA
Saya kira begitu

JUKI
Euis, musuh kita selama ini adalah perasaan. Kita harus memusnahkannya. Membunuhnya sama sekali. Kedua orang tua saya mati karena perasaan mereka sendiri. Mereka bangkrut karena mereka terlalu mencintai paman saya. Dan akhirnya mereka mati sebelum mati. karena saya tahu betul kejadian itu, tentu saja saya tidak mau bernasib sama seperti mereka. Saya harus menang terhadap perasaan saya dank au pun harus menang terhadap perasaanmu

EUIS
Tapi bagaimana pun dia suami saya

JUKI
Dan saya?

EUIS MENGGIGIT IBU JARINYA SENDIRI YANG KIRI

JUMENA
Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?

EUIS
Seorang suami yang mencintainya…

JUMENA
Saya sangsi…

JUKI
Dan sekalipun dia seorang perempuan atau banci? Tidak, sayang. Seorang perempuan selamanya hanyalah mengharapkan seorang laki-laki. Kalau tidak, pasti bukan perempuan. (Mendekat) lihatlah saya. Seorang laki-laki. Seluruhnya seratus persen

JUMENA
Kenapa membersit pikiran-pikiran seperti ini? Enyah! Enyah!

JUKI
Saya yakin ketika kau sendirian dalam kamar, kau sering duduk-duduk di muka cermin, dan kau tentu sangat suka berbicara pada dirimu dalam cermin

EUIS (Dalam cermin)
Saya seorang perempuan. Saya kesepian. Saya harus menerima apa adanya. Dia suara saya. Bagaimanapun!

JUKI
Kau tahu siapa yang membantah itu?

JUMENA (Melanjutkan)
Itulah musuhmu selama ini

JUKI
Perasaanmu!

EUIS
Tapi kalau itu kita kerjakan berbahaya. Lagi, kenapa kita harus…

JUKI
Bahaya harus berani kita tempuh kalau kita sungguh-sungguh menghendaki kepuasan dalam hidup kita

EUIS
Saya kira saya sudah cukup puas. Saya kira cukup itu…

JUKI
Euis, kau bisa gila karena kelemahanmu. Kau jangan cepat puas. Apa yang kita kecap dalam beberapa hari ini hanya sebagian kecil saja dari sukses. Kita belum mendapatkan semuanya. Jangan takut pada diri sendiri. Persetan itu hati nurani. Diri sendiri adalah milik kita sendiri. Kita harus bebas. Bebas seperti malam-malam dahulu ketika suamimu pergi ke Tasikmalaya. Malam-malam ketika alam yang murni mempertontonkan dirinya, di mana kita menjadi putra-puteri alam sejati, terbuka dan merdeka

Suara kecapi di kejauhan, sayup dibawa angina sesekali. Jumena memejamkan mata

JUKI (makin rapat merangkul Euis)
Masih ingat pada Abu nawas?

Euis menggaguk kecil. Manja

JUKI
Di tepi sebuah parit, raja berjongkok akan melaksanakan hajat besarnya. Tapi baru saja berjongkok, baginda marah-marah dengan dahsyat, sebab baginda melihat seonggok najis kampul-kampul lewat di bawah anusnya

JUMENA
Apa dia juga berdongeng seperti saya?

JUKI
Maka tatkala dilaporkan bahwa najis yang terombang-ambing itu adalah najis Abunawas, dipanggilnya Abunawas, “Abunawas!”

JUMENA
“Hamba, Tuanku”

JUKI
“Bukankah kau bersalah?”

JUMENA
Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI
“Ha?” Mata raja melotot

JUMENA
“Bahkan sebaliknya tuanku”

JUKI
“Hamba ingin menang sebagai pemuja nomor wahid paduka” Kata Abu Nawas “Saksikanlah kini, tuanku raja, sekarang terbuktilah bahwa Abunawas si warga Baghdad yang paling takjim hormatnya. Tidak saja orangnya suka mengiring ke mana gbaginda pergi, bahkan najisnya pun mengiring najis rajanya”

(Jumena cemberut, sedangkan Euis terpingkal-pingkal)

Sekalian pengawalnya tersenyum seraya manggut-manggut “Abunawas, kaulah permadani terbaik di kota Baghdad”

(Euis Semakin Terpingkal-Pingkal Sambil Menahan Perutnya)

Lucu?

EUIS
Sangat amat lucu

JUKI
Tidakkah Abunawas seorang yang cerdik?

EUIS
Cerdik sekali. Raja kecerdikan

JUKI
Ya, dan kecerdikan bukan berasal dari perasaan, tetapi dihasilkan oleh kepala dan pikiran. Kau mengerti?

JUMENA
Kejadian seperti ini adalah mungkin dan tidak mungkin. Bagaimana saya harus menaruh kepercayaan kepada orang? Ah, lebih baik duduk-duduk di teras

EUIS
Saya mengerti

JUKI
Kau ahrus betul-betul berani. Berani seperti malam-malam itu

EUIS
Saya betul-betul berani sekarang. Saya kira Abunawas adalah guru kita

JUKI
Masih kau merasa bersalah?

EUIS
Tidak. Saya yakin suami sayalah yang bersalah

JUMENA
Kalau saja dia berani nyerocos seperti itu

JUKI
Kenapa kau bilang begitu?

EUIS
Dia perakus. Mata duitan

(Jumena mengambil sesuatu dan melemparkannya ke pintu)

Pagi-pagi ia sudah pergi mengurus dagangannya, mengurusio pabrik-pabriknya. Pulang-pulang jam dua, jam tiga, lalu selama beberapa jam menghitung-hitung hartanya dan memandangi lemari hitamnya. Setelah maghrib ia menulis atau membaca, lalu pergi. Pulang-pulang jam sembilan, sebentar duduk-duduk minum the atau kopi lalu akhirnya kembali menghitung-hitung harta dan memandangi lemari hitamnya. Itulah semuanya yang dikerjakannya secara rutin seperti mesin, selama hampir lima tahun saya jadi istrinya.


Download naskah lengkap?
silakan KLIK DI SINI

Friday, August 13, 2010

Bila Malam Bertambah Malam Putu Wijaya

Bila Malam Bertambah Malam (BMBM) bercerita mengenai kehidupan di sebuah puri milik Gusti Biang, seorang keturunan bangsawan Bali. Dalam kesehariannya Gusti Biang selalu ditemani oleh dua abdi setia, Wayan dan Nyoman. Meski tabiat Gusti Biang sama sekali tak mencerminkan kebangsawanan, kedua sudra ini tetap dengan rela hati melayani sang majikan.

Masalah bermula ketika ketika ketidakcocokan di antara mereka memuncak, hingga Nyoman diusir oleh Gusti Biang. Karena tanpa diketahui Gusti Biang, Ngurah; anak semata wayangnya yang sedang belajar di kota; ternyata saling merajut cinta bersama Nyoman. Ketidaksetujuan Gusti Biang terhadap hubungan keduanya (yang didasarkan pada sistem kasta), akhirnya membuka rahasia besar yang selama ini ditutupi-tutupi.

Berikut ini adalah naskah teater Bila Malam Bertambah Malam. Jika Anda ingin membaca secara lengkap atau download naskah ini silakan terus membaca dan KLIK download di akhir postingan ini

Secara garis besar, tema sentral BMBM adalah tentang sebuah cara memanusiakan manusia. Dimana Gusti Biang yang notabene terlahir dari kasta ksatria, mau tidak mau harus menuruti nurani dan logika dengan meninggalkan kehormatannya, atas nama cinta. Naskah yang mengambil setting waktu periode 60-an ini, ternyata masih tetap relevan dipentaskan hari ini. Dimana kebenaran yang dilegitimasi atas nama kebudayaan (dalam berbagai varian-nya), masih tetap dipertahankan oleh para pengikut setia yang kadangkala bertindak di luar logika.

Naskah ini bukan semata ingin menentang apa yang disebut sebagai budaya. Melainkan lebih kepada usaha seorang Putu Wijaya, untuk menyuarakan bahwa siapapun orangnya, dan dari rahim siapa dia tercipta, tetaplah seorang Manusia. Naskah ini bisa dikatakan adalah cara Putu untuk mengkritik (baca: meruntuhkan) sistem kasta yang berlaku di Bali. Dimana sistem semacam ini, telah menempatkan manusia pada hirarki yang semata didasarkan pada faktor keberuntungan. Dalam artian, ketika seseorang terlahir dari rahim brahmana atau ksatria, otomatis dia akan lebih terhormat dibanding mereka yang lahir dari seorang waisya atau sudra.

Pemberontakan budaya (yang dalam konteks Bali sebenarnya sangat radikal) ini, disampaikan Putu dengan cara yang cukup sederhana. Melalui bidang yang digelutinya (yaitu teater dan kata-kata), Putu berbicara dengan cara yang sungguh amat cerdas. Alih-alih melalui aksi demostrasi yang penuh makian, hujatan, dan aksi kekerasan, Putu justru memilih cara santun untuk menunjukkan perlawanannya.

BABAK I

MALAM DI TEMPAT KEDIAMAN GUSTI BIANG. SEBUAH BALE YANG DISEMPURNAKAN UNTUK TEMPAT TINGGAL.

GUSTI BIANG MEMANGGIL-MANGGIL WAYAN.


Adegan I

KELIHATAN NYOMAN SEDANG MENYIAPKAN MAKAN MALAM UNTUK GUSTI BIANG. SEMENTARA WAYAN MENGAMPELAS PATUNG. ORIGINAL SOUNTRACK: WAYAN .. Wayaaaaaan ....
NYOMAN MEMBERI ISYARAT KEPADA WAYAN.

NYOMAN
Benar Ida akan pulang hari ini?

WAYAN
Ya ....


Adegan II

DI RUANG DEPAN ADA KURSI GOYANG DAN KURSI TAMU. GUSTI BIANG NGOMEL TERUS.

GUSTI BIANG
Si tua itu tak pernah kelihatan kalau sedang dibutuhkan. Pasti ia sudah berbaring di kandangnya menembang seperti orang kasmaran pura-pura tidak mendengar, padahal aku sudah berteriak, sampai leherku patah. Wayaaaaan ..... Wayaaaaan tuaaaa.....

WAYAN
Nuna sugere GUSTI BIANG, kedengarannya seperti ada yang berteriak ................

GUSTI BIANG
Leherku sampai putus memanggilmu, telingamu masih kamu pakai tidak?

WAYAN
Tentu saja Gusti Biang, itu sebabnya tiyang datang .........

GUSTI BIANG
Jangan berbantah denganku. Kau sudah tua dan rabun, lubang telingamu sudah ditempati kutu busuk. Kau sudah tuli, malas dan suka berbantah, cuma bisa bergaul dengan si belang. Kau dengar itu kuping tuli?

WAYAN
Betul Gusti Biang.

WAYAN MENINGGALKAN RUANGAN DAN GUSTI BIANG TETAP DUDUK DAN MENGAMBIL JARUM. BERULANG-ULANG MENGGOSOK MATA SAMBIL MENGGERUTU.


Adegan III

GUSTI BIANG
Lubangnya terlalu kecil. Benangnya terlalu besar, sekarang ini serba terlampau. Terlampau tua, terlampau gila, terlampau kasar, terlampau begini, terlampau begitu. Sejak kemarin aku tidak berhasil memasukkan benang ini. Sekarang mataku berkunang-kunang. Oh, barangkali toko itu sudah menipu lagi. Atau aku terbalik memegang ujungnya? Wayaaaaan ...

Membaca atau Download naskah ini?
Silakan KLIK DI SINI

Tuesday, July 06, 2010

Drama Pendek: Matahari di Sebuah Jalan Kecil

MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL
(Karya Arifin C. Noer)

Sebentar lagi berkas-berkas di langit akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang dan panas. Jalan itupun akan mulai hidup, bernafas dan debu-debu akan segera berterbangan mengotori udara.
Jalan itu bukan jalan kelas satu. Jalan itu jalan kecil yang hanya dilalui kendaraan-kendaraan dalam jumlah kecil. Tetapi sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni SIMBOK yang berjualan pecel di halaman.
Seorang laki-laki yang sejak malam terbaring, tidur di ambang pintu yang terpalang tak dipakai itu, bangun dan menguap setelah seorang yang bertubuh pendek membangunkannya. Laki-laki itu adalah PENJAGA MALAM.

1. PENJAGA MALAM : Uuuuuh, gara-gara pencuri, aku jadi kesiangan.
2. SI PENDEK : Tadi malam ada pencuri?
3. PENJAGA MALAM : Di sana, di ujung jalan itu! (menunjuk)
4. SI PENDEK : Tertangkap?
5. PENJAGA MALAM : Dia licik seperti belut. (menggeliat lalu pergi)
6. SI PENDEK : (duduk lalu membaca koran)

Seorang pemuda (anak laki-laki) membawa baki di atas kepalanya lewat. Ia menjajakan kue donat dan onde-onde. Suaranya nyaring sekali. Tak ada orang mengacuhkannya. Begitu ia lenyap seorang pemuda lewat pula yang berjalan dengan perlahan, berbaju lurik kumal, sepatu kain yang sudah rusak dan buruk, wajahnya pucat. Sebentar ia memperhatikan orang-orang yang tengah makan lalu ia pergi dan iapun tak diperhatikan orang.
Gemuruh mesin yang tak pernah berhenti itu, yang abadi itu, makin lama makin mengendur daya bunyinya sebab lalu lintas di jalan itu mulai bergerak dan orang-orang semakin banyak di halaman pabrik itu. SIMBOK pun makin sibuk melayani mereka. Lihatlah!

7. SI TUA : (menerima pecel) Sedikit sekali.
8. SIMBOK : (tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)
9. SI PECI : Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)
10. SI TUA : Tempe lima rupiah sekarang.
11. SI KACAMATA : Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.
12. SI PECI : Semua perempuan ya ngeluh.
13. SI KURUS : Semua orang pengeluh.
14. SI KACAMATA : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.
15. SI PECI : Apa yang tidak naik?
16. SI TUA : Semua naik.
17. SI KURUS : Gaji kita tidak naik.
18. SI KACAMATA : Anak saya yang tertua tidak naik kelas.
19. SI TUA : Uang seperti tidak ada harganya sekarang.
20. SI KURUS : Tidak seperti…. Ah memang tak ada harganya.
21. SI TUA : (mengangguk-angguk)
22. SI PECI : Ya.
23. SI KACAMATA : Ya.
24. SI PENDEK : Menurut saya (menurunkan koran yang sejak tadi menutupi wajahnya. Sebentar ia berfikir sementara kawannya bersiap mendengar cakapnya). Menurut saya, sangat tidak baik kalau kita tak henti-hentinya mengeluh sementara masalah yang lebih penting pada waktu ini sedang gawat menantang kita. Dalam seruan serikat kerja kitapun telah dinyatakan demi menghadapi revolusi dan soal-soal lainnya yang menyangkut negara kita harus turut aktif dan bersiap siaga untuk segala apa saja dan yang terpenting tentu saja perhatian kita.
25. SI TUA : (menggaruk-garuk)
26. SI PENDEK : Ya, baru saja saya baca dari koran….nich, korannya…. Bahwa kita harus waspada terhadap anasir-anasir penjajah, kolonialisme. Kita harus hati-hati dengan mulut yang manis dan licin itu. (tiba-tiba batuk dan keselek)…..tempe mahal tidak enak rasanya… (meneruskan yang semula) beras yang mahal hanya soal yang tidak lama.
27. SI PECI : Ya.
28. SI KACAMATA : Ya.
29. SI PENDEK : Ya.
30. SI TUA : Dulu (batuk-batuk), dulu saya hanya membutuhkan uang sepeser untuk sebungkus nasi.
31. SI PECI : Dulu?
32. SI TUA : Ketika jaman normal.
33. SI KURUS : Jaman Belanda.
34. SI TUA : Ya, jaman Belanda. Untuk sehelai kemeja saya hanya membutuhkan uang sehelai rupiah.
35. SI KURUS : Tapi untuk apa kita melamun, untuk apa kita mengungkap-ungkap yang dulu?
36. SI PENDEK : (makin berselera) Ya, untuk apa? Untuk apa kita melamun? Untuk apa kita mengkhayal? Apakah dulu bangsa kita ada yang mengendarai mobil? Sepedapun hanya satu dua orang saja yang memilikinya. Kalaupun dulu ada itulah mereka para bangsawan, para priyayi dan para amtenar yang hanya mementingkan perut sendiri saja. Sekarang lihatlah ke jalan raya.
37. SI PENDEK : …… Lihatlah Kemdal Permai, stanplat. Pemuda-pemuda kita berkeliaran dengan sepeda motor. Kau punya sepeda? Ya, kita bisa mendengarkan lagu-lagu dangdut dari radio. Ya?
38. SI KACAMATA : Ya.
39. SI PENDEK : Ya, tidak?
40. SI KURUS : Ya.
41. SI PENDEK : Ya, tidak?
42. SI TUA : (mengangguk-angguk)
43. SI PENDEK : Sebab itu kita tidak perlu mengeluh, apalagi melamun dan mengkhayal, sekarang yang penting kita bekerja, bekerja yang keras.
44. SI KACAMATA : Saya juga berpikir begitu.
45. SI PENDEK : Kita bekerja dan bekerja keras untuk anak-anak kita kelak.
46. SI KACAMATA : Saya ingin anak saya memiiki yamaha bebek.
47. SI PENDEK : Asal giat bekerja kita bebas berharap apa saja.
48. SI KURUS : Tapi kalau masih ada korupsi? Anak kita akan tetap hanya kebagian debu-debunya saja dari motor yang lewat di jalan raya.
49. SI PECI : Ya.
50. SI KACAMATA : Ya.
51. SI TUA : Ya, sekarang kejahatan merajalela.
52. SI KURUS : Semua orang bagai diajar mencuri dan menipu.
53. SI KACAMATA : semua orang.
54. SI KURUS : Uang serikat kerja kitapun pernah ada yang menggerogoti (melirik kepada si pendek)
55. SI PECI : Ya, setahun yang lalu. (melirik si pendek)
56. SI KACAMATA : Ya, dan sampai sekarang belum tertangkap tuyulnya. (melirik pad si pendek)
57. SI TUA : (mengangguk-angguk)

PEMUDA muncul lagi, mula-mula ragu lalu ia turut bergerombol dan makan pecel.

58. SI PECI : Ya, setahun yang lalu (melirik si pendek) Sekarang kita sukar mempercayai orang.
59. SI KURUS : Bahkan kita takkan percaya lagi pada kucing. Kucing sekarang takut pad tikus dan tikus sekarang besar-besar, malah ada yang lebih besar daripada kucing, dan adapula tikus yang panjangnya satu setengah meter dan empat puluh kilogram beratnya. Tapi yang lebih pahit kalau kucing jadi tikus alias kucing sendiri sama kurang ajarnya dengan tikus.
60. SI PECI : Ya, sekarang kucing malas-malas dan kurang ajar.
61. SI KACAMATA : Dunia penuh tikus sekarang.
62. SI KURUS : Dan tikus-tikus jaman sekarang beraqni berkeliaran di depan mata pada siang hari bolong.
63. SI TUA : Omong-omong perkara tikus, (batuk-batuk) sekarang ada juga orang yang makan tikus.
64. SI KACAMATA : Bukan tikus, cindel. Orang Tionghoa di tempat saya biasa menelan cindel hidup-hidup dengan kecap, mungkin untuk obat.
65. SI TUA : Bukan cindel, tikus-tikus, Wirog. Petani-petani sudah sangat jengkel karena diganggu sawahnya, sehingga mereka dengan geram dan jengkel lalu memakan tikus-tikus sebagai lauk, daripada mubazir. Tapi ada juga yang memakan tikus itu sebab……….lapar.
66. SI PECI : Ya, sekarang sudah hampir umum di kampung-kampung, bahkan ada juga anjuran dari pemerintah setempat.
67. SI KURUS : (pada si tua) Enak?
68. SI TUA :Ha?
69. SI KURUS : Sedap?
70. SI TUA : Saya tidak turut makan (tersenyum).

Semua tertawa. Lonceng bekerja berdentang. Mereka masing-masing menghitung dan menyerahkan uang pada SIMBOK kemudian pergi bekerja, lewat jalan samping. Yang terakhir adalah si pendek.

71. SI PENDEK : Berapa Mbok?
72. SIMBOK : Apa?
73. SI PENDEK : Nasi pecel dua, tempe satu, tahu satu, rempeyek satu.
74. SIMBOK : Tujuh puluh lima.
75. SI PENDEK : Bon. (pergi)

Pemuda menghabiskan makannya dengan lahap sekali, setelah membuang cekodongnya ia minta air yang biasa disediakan oleh penjual pecel itu. Ia berdiri, merogoh saku celana. Ia cemas, saku baju dirogohnya. Ia makin cemas, Simbok memperhatikan dengan biasa.

76. SIMBOK : Ada yang hilang?
77. PEMUDA : Barangkali tidak.
78. SIMBOK : Apa?
79. PEMUDA : Dompet.
80. SIMBOK : Dompet? Ada uang di dalamnya?
81. PEMUDA : Juga surat keterangan penduduk. Tapi (mengingat-ingat) barangkali saya lupa dan tidak hilang. Tadi malam saya mengenakan baju hijau dengan celana lurik hijau. Yang mungkin dompet itu dalam saku baju hijau….. Berapa Mbok?
82. SIMBOK : Nasi dua.
83. PEMUDA : Tempe dua, tahu tiga.
84. SIMBOK : Delapan puluh.
85. PEMUDA : (seraya hendak pergi) Sebentar saya pulang mengambil uang. Dompet saya dalam saku baju hijau barangkali.
86. SIMBOK : Nanti dulu.
87. PEMUDA : Tak akan lebih dari sepuluh menit. Segera saya kembali.
88. SIMBOK : Tapi sebentar lagi saya mau pergi dari sini.
89. PEMUDA : Tapi dompetku ketinggalan di rumah. Sebentar rumahku tidak jauh dari sini.
90. SIMBOK : Ya, tapi sebentar lagi saya akan pergi dari sini.
91. PEMUDA : Sebentar (akan pergi)
92. SIMBOK : (berdiri dan berseru) Hei, nanti dulu. Bayarlah baru kau boleh pergi.
93. PEMUDA: Jangan berteriak. Tentu saja saya akan membayar. Tapi saya mesti mengambil uang dulu di rumah. Mbok tidak percaya?
94. SIMBOK: (diam)
95. PEMUDA: Tunggulah sebentar, saya orang kampung sini juga.

TERDENGAR ADA SUARA: Ada apa Mbok?

96. SI KURUS: Ada apa Mbok? (di jendela)
97. SIMBOK: Dia belum bayar.
98. PEMUDA: Tunggulah lima menit (pergi).
99. SI KURUS: Hai, dik! Tunggu!
100. PEMUDA: Saya akan mengambil uang. Saya belum membayar makanan saya, sebab itu saya akan pulang mengambil uang saya. Dompet saya ketinggalan.
101. SI KURUS:Ya, tapi jangan main minggat-minggatan.
102. PEMUDA: Saya tidak berniat lari atau minggat, lagipula saya sudah bilang sama si Mbok.
103. SI KURUS: Simbok mengijinkan?
104. PEMUDA: Saya Cuma sebentar.
105. SI KURUS: Simbok memperbolehkan engkau pergi?
106. PEMUDA: (diam)
107. SI KURUS: Simbok keberatan engkau meninggalkan tempat ini sebelum engkau membayar makananmu.
108. PEMUDA: Bagaimana dapat saya bayar? Dompet saya ketinggalan.
109. SI KURUS: Ya, tapi jangan main minggat-minggatan.
110. PEMUDA: Saya tidak berniat minggat atau lari.
111. SI KURUS: (lenyap dari jendela, muncul dari pintu samping) Dimana rumahmu?
112. PEMUDA: Dekat.
113. SI KURUS: Dekat di mana?
114. PEMUDA: Di kampung ini.
115. SI KURUS: Ha? (pada Simbok) Mbok, kenal pada anak itu?
116. SIMBOK: Seumur hidup baru pagi ini saya menjumpainya. Tapi peristiwa semacam ini kerap kualami. Dulu saya percaya ada orang yang betul-betul ketinggalan uangnya tetapi orang-orang sebangsa itu tidak pernah kembali. Seminggu yang lalu saya tertipu dua puluh rupiah. Tampangnya gagah dan meyakinkan sekali, waktu itu ia bilang uangnya tertinggal di rumah. Tapi sampai hari ini pecel yang dimakannya belum dibayar. Benar dua puluh itu tidak banyak, tetapi dua puluh kali sepuluh adalah tidak sedikit. Sekarang saya sudah kapok dan cukup pengalaman.
117. SI KURUS: Baru sekarang ini kau jajan pada simbok, bukan?
118. PEMUDA: Ya.
119. SI KURUS: Lalu kenapa kau berani-berani jajan padahal kamu tahu tak beruang.
120. PEMUDA: Saya beruang.
121. SI KURUS: Bayarlah sekarang.
122. PEMUDA: Uang saya ketinggalan.
123. SI KURUS: Kenapa kau berani jajan.
124. PEMUDA: Saya tidak tahu kalau uang saya ketinggalan di saku baju hijau. Dan sekarang saya akan pergi mengambil uang itu.

MUNCUL DI JENDELA, SI PECI

125. SI PECI: Ada apa dia?
126. SI KURUS: Makan tidak bayar.
127. SI PECI: Siapa?
128. SI KURUS: Pemuda ini.
129. SI PECI: Dia? (lenyap dari jendela muncul dari pintu)
130. SI KURUS: Kau bayarlah sebelum orang-orang ramai datang ke sini.
131. SI PECI: Ya, bayarlah. (pada simbok) Berapa dia habis?
132. SI KURUS: Berapa Mbok?
133. SIMBOK: Delapan puluh.

DUA ORANG ANAK MASUK, MEREKA MENONTON

134. SI KURUS: Kenapa jadi diam?
135. SI PECI: Kenapa?
136. PEMUDA: Saya tidak berniat minggat.
137. SI KURUS: Masih muda sudah belajar tidak jujur. Masih muda sudah belajar makan tanpa jerih payah.
138. SI PECI: Kenapa tidak membayar?
139. PEMUDA: Saya mau membayar, uang saya ketinggalan.
140. SI PECI: Ketinggalan di mana?
141. SI KURUS: Di bank?
142. PEMUDA: Di rumah.
143. SI KURUS: Di mana rumahmu?
144. PEMUDA: Di sini.
145. SI KURUS: Di sini di mana?
146. PEMUDA: Di kampung ini.
147. SI KURUS: Kau warga kampung ini?
148. PEMUDA: Saya orang baru.
149. SI KURUS: Kau tahu nama kampung ini?
150. PEMUDA: Pegulen.
151. SI KURUS: Pegulen? Di RT mana kau tinggal?
152. PEMUDA: Di RT lima.
153. SI KURUS: RT lima betul?
154. PEMUDA: Kalau tidak keliru.
155. SI KURUS: Kalau tidak keliru?
156. PEMUDA: Mungkin saya lupa, saya orang baru.
157. SI KURUS: Baik. Siapa kepala RT lima?
158. PEMUDA: Saya orang baru di kampung ini.
159. SI KURUS: Tentu saja kau harus mengatakan orang baru di kampung ini, sebab kalau kau mengatakan orang lama di kampung sini tentu kau harus menjawab siapa nama kepala RT lima. Baik, dari mana asalmu?
160. PEMUDA: Muntilan.
161. SI KURUS: Dekat. Nah, kau katakan di mana tempat tinggalmu?
162. PEMUDA: RT lima Pegulen.
163. SI KURUS: RT lima dimana?
164. PEMUDA: Di RT lima.
165. SI KURUS: Ya, di rumah siapa?
166. PEMUDA: Dekat bengkel Slamet.
167. SI KURUS: Bengkel Slamet, bengkel mobil itu?
168. PEMUDA: Bengkel sepeda.
169. SI KURUS: O.., Ya betul, bengkel sepeda. Di mana bengkelnya?
170. PEMUDA: Di dekatnya.
171. SI KURUS: Di atasnya?
172. PEMUDA: Di sebelahnya.
173. SI KURUS: Ya, di sebelah atas.
174. PEMUDA: Sebelah kiri.
175. SI KURUS: O…, rumah siapa itu?
176. PEMUDA: Rumah tukang sepatu.
177. SI KURUS: Hapal sekali. Tukang sepatu siapa namanya?
178. PEMUDA: E….. Mas Narko, Sunarko.
179. SI KURUS: Salah, ternyata kau bohong. Nah, sejak sekarang saya akan memanggilmu pembohong. Rumah itu adalah rumah saya. Di muka rumah itupun berdiri rumah Simbok ini. Kau bohong.
180. PEMUDA: Saya tidak bohong. Bukankah diantara rumah saudara dan bengkel ada sebuah rumah petak yang agak bagus.
181. SI KURUS: Kau cerdas sekali, tapi tolol. Rumah itupun rumah pak Prawiro, bukan rumah mas Sunarko.
182. PEMUDA: Barangkali namanya Sunarko Prawiro.
183. SI KURUS: Indah sekali namanya. Kau yakin benar nama itu?
184. PEMUDA: Saya tidak begitu kenal namanya.
185. SI KURUS: Tentu saja pak Prawiro itu sangat tidak kenal padamu.
186. PEMUDA: Tapi saya kenal orangnya dan saya mondok pada istrinya.
187. SI KURUS: Setiap orang yang punya sepatu yang rusak dan buruk seperti sepatumu pasti kenal padanya. Dia tukang sepatu.
188. PEMUDA: Tapi saya betul-betul kenal.
189. SI KURUS: Betul?
190. PEMUDA: Betul.
191. SI KURUS: Betul?
192. PEMUDA: (diam)
193. SI KURUS: Puh! Pembohong. Tampangmu saja sudah mirip bajingan. Pintar kau ngoceh ya? Saya adalah orang yang paling benci pada ketidakjujuran, saya muak. Saya menyesal sekali melihat penipu semuda kau. Tapi saya terlanjur muak. Saya benci, kau tahu? Gaji saya sedikit, tapi saya tak mau menipu atau mencuri. Ya, tentu saja kau semakin kurus, sebab benar kata Joyoboyo, yang pintar keblinger yang jujur mujur. Sekarang baiklah, bayar atau tidak? Ya memang sedikit uang delapan puluh rupiah, tapi bagi saya kejahatan tetap kejahatan, dan saya benci serta menyesal, yang melakukan perbuatan hina itu adalah manusia bukan anjing. Dan lebih menyesal lagi kalau yang melakukan kerja nista itu adalah bakal dan calon orang, yaitu kamu, PEMUDA. Nah, bayar atau tidak? Terus terang.
194. PEMUDA: Saya mau bayar.
195. SI KURUS: Bayarlah!
196. PEMUDA: Uang saya ketinggalan.
197. SI KURUS: Ketinggalan di mana? Di Bank? Di kantong pak Prawiro atau mau mencopet dahulu? Mau belajar jadi garong… biar… cair kepalamu? Sayang kumismu jarang, kalau panjang dan lebat saya sudah gemetar.
198. PEMUDA: Betul, uang saya ketinggalan.
199. SI KURUS: Bohong!
200. PEMUDA: Sungguh.
201. SI KURUS: bohong. Kau tadi sudah bohong sebab itupun kau pasti pembohong.
202. PEMUDA: Percayalah mas, kalau saya berbohong………
203. SI KURUS: (memotong) Bohong. Bohong kau…… (geram hendak memukul pemuda itu tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya) Saya percaya kau adalah manusia, bukan binatang. Saya jadi ingat saudara saya sendiri. Seperti sekarang juga saya merasa parah dalam hati. Waktu itu saya tidak bisa menahan diri lagi sebenarnya, tetapi saya juga mengerti bahwa saudara saya itu mesti masuk penjara, sebab ia telah melakukan kejahatan yang kubenci, tapi saya merasa parah dan tetap benci akan apa yang berbau ketidakjujuran. Sekarang terus terang saja mau bayar atau tidak?

DARI PINTU MUNCULLAH SI KACAMATA, SI TUA, DAN LAIN-LAIN, YANG TAK HADIR HANYA SI PENDEK.

204. SI KACAMATA: Ada apa?
205. SI PECI: Makan tidak bayar.
206. SI TUA: Siapa, pemuda ini?
207. SI PECI: Ya, pemuda ini?
208. SI KACAMATA: Segagah ini?
209. SI PECI: Kalau tidak gagah barangkali tidak berani ia menipu (pada pemuda) Hei, pemuda. Kau punya uang tidak?
210. PEMUDA: (lama) Punya.
211. SI PECI: Nah, kenapa mesti tidak bayar?
212. PEMUDA: Uang saya ketinggalan.
213. SI PECI: Ketinggalan? Lebih baik tidak usah berbohong. Kalau bersikeras semua orang akan mengempalkan tangannya dan darah akan mengotori mukamu nanti. Bayar atau…
214. PEMUDA: Uang saya ketinggalan.
215. SI KURUS: Ketinggalan-ketinggalan. Sekarang mengakulah. Kau mau menipu ya?
216. SI PECI: Punya uang tidak?
217. SI KURUS: Mengaku.
218. SI PECI: Kau pasti tidak punya uang.
219. SI KURUS: Dan kau mengaku penipu.
220. SI TUA: Nah, bilang saja terus terang, jangan kau sakiti badanmu sendiri.
221. SI KACAMATA: Sudah kawan-kawan, saya yakin dia tidak beruang. Tapi….. Sebab itu lebih baik ia menanggalkan celananya saja. Kalau memang dia berduit tentu ia nanti boleh mengambil celananya kembali. Jadi celananya jadi jaminan. Bagaimana?
222. SI PECI: Ya, lebih baik begitu, semua orang setuju.
223. SI KURUS: Tanggalkan pakaianmu.
224. PEMUDA: Saya malu.
225. SI KURUS: Tidak, kau tidak punya malu. Kau tidak malu makan tidak bayar. Tanggalkan celanamu! Tanggalkan!
226. SI PECI: Cepat!
227. PEMUDA: Saya tidak pakai celana dalam.
228. SI KURUS: Bohong, kau pembohong sebab itu kau pembohong.
229. PEMUDA: Sungguh mati. Demi Tuhan, tentang celana dalam saya tidak berbohong. Kalau saya menanggalkan pantalon saya, saya telanjang. Oh, sungguh saya tidak tahu bagaimana saya mengatakannya. Dan tentu saja sayapun tak dapat membuktikannya. Percayalah kalau saya membuka celana, akan telanjanglah saya.
230. SI KURUS: Sejak tadi kau sedang menelanjangi dirimu sendiri dan kau diam-diam telah memberi api pada setiap orang yang telah melihatmu.

TIBA-TIBA SEORANG PEREMPUAN JURAGAN BATIK BERSAMA PEMBANTU YANG MEMAYUNGINYA MUNCUL DAN IA TERTARIK UNTUK MELIHAT KEJADIAN ITU.

231. PEREMPUAN: (dengan yang nyata-nyata dibuat-buat ia bicara pada si kacamata) Ada apa to dik?
232. SI KACAMATA: Makan tidak bayar.
233. PEREMPUAN: Siapa?
234. SI KACAMATA: Si pemuda ini.
235. PEREMPUAN: O, lalu?
236. SI KACAMATA: Mula-mula dia mau menipu pura-pura akan mengambil uang yang katanya ketinggalan tetapi agaknya dia berbohong. Sebab itu kami sepakat kalau ia menanggalkan celananya untuk pengganti uang atau untuk jaminan kalau memang di punya uang.
237. PEREMPUAN: Berapa tho, habisnya?
238. SI KACAMATA: Berapa dik?
239. SI KURUS: Delapan puluh rupiah.
240. PEREMPUAN: Ah, sedikit. Baiklah, jangan ribut-ribut. Kasihan. (mengambil uang dari tasnya) Ini Mbok seratus rupiah.
241. SI KURUS: Nanti dulu, Mbakyu. Mbakyu bilang kasihan padanya, sehingga mendorong rasa kasihan Mbakyu untuk membayarnya. Tidak, tidak, saya tidak tersinggung. Sayapun memang kalau delapan puluh itu sedikit dan saya juga dapat atau siapa saja masih mampu memberi, tapi bukan itu soalnya. Kalau Mbakyu kasihan padanya sama seperti Mbakyu membantu melahirkan seorang bandit di tanah kewalian ini. Saya juga maklum, apa yang Mbakyu lakukan itu mulia, tapi hal yang mulia juga minta tempat dan saat yang tepat. Dan sekarang saat tidak minta yang sejenis itu. Apa yang kami lakukan sekarang adalah juga kemuliaan, meskipun menampakkan kekasaran dan penghinaan, tetapi ia juga bersama kemuliaan yang diridhoi Tuhan. Dan jangan lupa saya dan teman-teman di sini atau siapa saja juga mampu kalau berniat memberi anak pemuda ini uang seratus rupiah, tetapi bukan itu soalnya.
242. SI PECI: Ya, itu soalnya.
243. SI KACAMATA: Ya.
244. SI TUA: (mengangguk-angguk)

TANPA MEMBERI REAKSI APA-APA PEREMPUAN DAN PEMBANTUNYA PERGI MELANJUTKAN PERJALANAN.

245. SI PECI: Sombong benar perempuan itu.
246. SI KURUS: Mau buka celana tidak?
247. PEMUDA: (diam)
248. SI KURUS: Baiklah, tadi saya sudah berkata dan saya percaya bahwa kau bukan anjing, karenanya kau pasti memiliki rasa malu. Baik, sekarang bajumu saja kau tanggalkan.
249. SI PECI: Ya, baju saja.
250. SI KACAMATA: Ya, baju saja.
251. SI PECI: Ayo cepat.
252. SI TUA: Nah, sebentar lagi kalau mata orang-orang di sini copot dan melotot, maka gemparlah di muka pabrik ini, sebab ada seorang pemuda yang dipukuli ramai-ramai oleh orang banyak.
253. PEMUDA: Saya melepaskan baju saya, Pak!
254. SI KURUS: Lepaskan!
255. PEMUDA: Saya tidak berkaos.
256. SI PECI: Tak perduli. Tanggalkan.
257. SI KURUS: Malu, malu! Priyayi kamu? Ha? Tak berkaos malu, tapi berani menipu. Laknat kau ini. Penipu bagi dirimu sendiri! Lepaskan!
258. PEMUDA: Saya akan melepaskan tapi bukan baju melainkan sepatu.
259. SI PECI: Sepatu kain yang jebol itu? Kau telah membuat dagelan yang lebih menjengkelkan lagi tau?
260. SI KACAMATA: Ya, satu rupiah tak akan ada orang yang sudi membeli sepatu abunawas itu.

TIBA-TIBA TERDENGAR GEMURUH SUARA TRUK. MENDEKAT DAN BERHENTI TIDAK JAUH DARI TEMPAT ITU.
261. SI KACAMATA: Nah, pak sopir datang. Biarlah dia yang membereskannya biar tahu rasa kalau nanti lengannya sudah dikilir oleh pak sopir.
262. SI SOPIR: Ada apa hah?
263. SI PECI: Makan tak bayar.
264. SI SOPIR: Si kecil ini?
265. SI KACAMATA: Ya, si kecil ini.
266. SI SOPIR: (pada pemuda) Oo, sudah kenyang, hah? Terlalu pagi. Matahari masih terlalu rendah untuk dikhianati. (pada si peci) Lalu, akan kita apakan dia?
267. SI PECI: Ia harus menanggalkan bajunya.
268. SI SOPIR: Begitu semestinya. Lebih baik makan baju daripada makan tidak bayar, bukan? Lalu?
269. SI PECI: Ia menolak melepaskan bajunya.
270. SI SOPIR: Itu tidak adil, ia bisa menolak untuk telanjang badan tapi ia makan tanpa bayar seenaknya. Itu tidak adil. (pada pemuda) He, anak muda. Kau pemuda Indonesia, bukan? Tidak, jangan mengangguk! Kalau kau meng-iya-kan pertanyaan saya kau sama dengan mengatakan bahwa pemuda Indonesia itu dibolehkan makan di warung tanpa bayar. Tidak, tanah ini akan menangis mendengar cerita itu. Dengarkan! Dulu waktu sehabis perang saya juga pernah menjadi pencopet, tanpa perduli lagi. Tapi malang rupanya tangan ini terlampau kasar sehingga tangan ini lebih suka diborgol, dalam penjara. Nah, di tempat yang sepi itu aku mengakui bahwa aku telah menyakiti orang, menyakiti hati dari tanah yang kita cintai ini dan pasti Tuhan akan menutup pintuNya bagi orang semacam aku. Sebab itulah setelah aku keluar dari rumah yang baik dan mulia itu, kemudian aku menjadi lebih maklum bahwa kita tak boleh berbuat jahat. Tidak, jangan. Tapi dengarlah lagi! Kau tahu, kalau kau berjalan ke arah barat dari arah sini kau akan sampai pada sebuah perempatan, di mana berdiri beberapa batang pohon beringin. Kau tentu sudah tahu di belakang pohon beringin itu berderet asrama. Dan kau tahu asrama apa itu? (lama) Asrama Polisi! Nah, kau suk kuantarkan ke asrama itu?
271. PEMUDA: (diam)
272. SI SOPIR: Suka! Tentu tidak, ya? Nah, copot bajumu!
273. PEMUDA: Saya malu.
274. SI SOPIR: Jangan malu-malu (keras) copot!

PEMUDA MENANGGALKAN BAJUNYA PADA SI PECI.

275. SI PECI: (menyerahkan baju kepada Simbok) Simpanlah baju ini Mbok. Nanti kalau ia kembali membawa uang berikan baju ini.
276. SI SOPIR: Beres sudah! Ayolah, kita bekerja sekarang. Habis waktunya terbuang.

ORANG-ORANG PERGI, MASUK KE DALAM PABRIK. KECUALI SI SOPIR YANG PERGI KE ARAH DARI MANA IA MUNCUL TADI. TAPI BELUM LAMA DUA LANGKAH ORANG-ORANG BERGERAK TIBA-TIBA….

277. SI KURUS: Saya kira kalau baju itu disimpan Simbok sekarang niscaya kurang aman. Lebih baik baju itu dititipkan pada Abduh yang kerjanya dekat jendela.
278. SI PECI: Baiklah, Mbok, saya membawa bajunya ke dalam. Kalau ada apa-apa panggillah saya. (menerima baju)

BERES SUDAH……ORANG-ORANG SUDAH MULAI BEKERJA, DI HALAMAN ADA SIMBOK DAN SI PEMUDA. GEMURUH MESIN KEMBALI NYATA. LEWAT SEORANG PEREMPUAN MENJAJAKAN JENANG GENDUL. SANGAT NYARING SUARANYA.

279. PEMUDA: Mbok, mula-mula maksud saya tidak akan menipu. Sesudah dua hari ini saya hanya minum air mentah saja. Tidak makan apa-apa.
280. SIMBOK: (diam)
281. PEMUDA: Seminggu yang lalu saya masih di Klaten, bekerja di sebuah bengkel. Ya aku tidak cukup dapat makan. Sebab itulah aku mencari pekerjaan di sini.
282. SIMBOK: (diam)
283. PEMUDA: Asalku sendiri dari desa, desa yang wilayahnya di gunung kidul, Wonogiri. Juga Mbok pun tahu tanah macam apa yang menguasai tanah macam gunung kidul itu. Tanah tandus. Tanah yang tidak mengkaruniakan buah bagi mulut yang papa. Sebab itulah aku turun dan mengembara sampai ke pesisir utara ini. Tapi jarak selatan sampai ke pesisir utara tidak juga memberikan apa-apa. Karenanya aku terus menyusuri ke Barat, ke tanah wali ini, dengan harapan tanah serta rumah di kota ini akan sudi memberi makan saya. Tujuh hari sudah saya disini dan dua hari sudah saya lapar. Dan pada hari ketiga kelaparan saya membawa saya kemari ke tempat Mbok berjualan pecel. Tidak, saya tidak bermaksud menipu. Sekali-kali tidak (menengadah) Tuhan, kutuklah aku!
284. SIMBOK: (bangkit dan bergerak menuju jendela dan berseru) Abduh! Abduh!
285. SI PECI: (di jendela) Ada apa Mbok?
286. SIMBOK: Mana baju tadi?
287. SI PECI: Dia membawa uang?
288. SIMBOK: Tidak, baju itu akan saya bawa ke pasar, saya jual.
289. SI PECI: Nanti direbut oleh anak itu lagi.
290. SIMBOK: Tidak, kemarikan saja.
291. SI PECI: Baiklah (lenyap dari jendela, kemudian Simbok menerima baju tadi lewat jendela)
292. PEMUDA: Ya, Mbok sebelum saya memesan nasi pecel tadi saya sudah berjanji pada diri sendiri, tidak, saya harus membayar! Entah kapan saja tapi harus bayar. Demi Allah, hukumlah saya. Ya, Mbok kalaupun saya pergi tak kembali kesini atau kapan saja saya pasti kemari untuk membayar makan saya. Ibu saya mengajarkan kejujuran dan hukum bahwa, bekerja artinya tenaga, bahwa bekerja artinya makan. Hal itu kusadari sejk aku mulai tahu bahwa tanah tempat saya berpijak sangat keras, begitu angkuh dan tandus.
293. SIMBOK: (memberikan baju tanpa berkata apa-apa)
294. PEMUDA: Tidak Mbok, bukan maksud saya minta dikasihani, saya hanya ingin menceritakan dan saya hanya ingin mengatakan bahwa hati saya bersih. Terhadap baju itu sudah rela dan paham bahwa barang itu patut saya berikan pada Simbok sebagai ganti makanan yang telah saya makan.
295. SIMBOK: Terimalah.
296. PEMUDA: tidak.
297. SIMBOK: Terimalah.
298. PEMUDA: tidak.
299. SIMBOK: Terimalah.
300. PEMUDA: Mbok percayalah.
301. SIMBOK: Saya percaya sebab itu kau harus mau menerima baju kembali.
302. PEMUDA: Tapi baju ini bukan milikku lagi. Ibu bilang aku tidak boleh memiliki barang kepunyaan orang lain. Tidak… Ada air mata di mata Simbok.
303. SIMBOK: Tidak.
304. PEMUDA: Saya tidak tahan melihat orang menangis, meskipun ibuku senantiasa menangis setiap malam. Dan sekarang hanya tinggal tangisnya belaka sebab itu telah lewat. Simbok kasihan pada saya lalu menangis? Tidak!
305. SIMBOK: Tidak, saya ingat anak saya.
306. PEMUDA: Simbok punya anak?
307. SIMBOK: Ya, satu-satunya, jantan yang cantik.
308. PEMUDA: Dimana sekarang?
309. SIMBOK: Di sini.
310. PEMUDA: Di sini?
311. SIMBOK: Di Kendal. Di PENJARA.
312. PEMUDA: Ha?
313. SIMBOK: Ya, sayapun tak pernah menyangka, anak saya itu akan menjadi pencuri sepeda. Tidak, saya cukup memberi ia makan. Tapi barangkali disebabkan pergaulannya atau barangkali saya salah mengajar atau mendidik dia atau…..atau…..atau…. Oh, saya tidak tahu. Tapi aku tahu dan percaya matamu lain dengan matanya. Saya melihat matamu bening, sebab itu saya yakin kau tidak seperti anak saya. Kau seperti kemenakan saya. Kau pasti…Kau pasti anak baik. (tiba-tiba) Akh, cepat terimalah baju ini dan segeralah kau pergi dari tempat ini sebelum penjaga malam sampai kemari.
314. PEMUDA: (menerima baju itu) baiklah. Terima kasih dan selamat tinggal Mbok.

BEGITU IA LENYAP, MUNCUL PENJAGA MALAM YANG TAMPAK BARU SELESAI MANDI. IA TAMPAK KEDINGINAN.

315. PENJAGA MALAM: Minta pecel yang pedes (kedinginan). Katanya tadi ada pemuda yang mau menipu?
316. SIMBOK: (tak begitu acuh) Ya.
317. PEMJAGA MALAM: Bagaimana tampangnya?
318. SIMBOK: Kurus dan cantik.
319. PENJAGA MALAM: Pakai baju lurik.
320. SIMBOK: Ya, kalau tidak salah.
321. PENJAGA MALAM: Bajigur! Bajigur! Kurang ajar dia. Tapi dia tak jadi menipu di sini bukan? Kemana ia? Jangkrik anak itu! Belut!
322. SIMBOK: Ada apa? Ada apa?
323. PENJAGA MALAM: Pasti dia. Kemarin malam dia juga menipu di sebuah warung di pasar Kauman.
324. SIMBOK: Haa….? (menelan ludah) Ya, Allah.

LANGIT DI ATAS MULAI KOTOR OLEH NAFAS MANUSIA DAN LALU LINTASPUN MULAI LEBIH RAMAI. SEORANG ANAK LAKI-LAKI MENJAJAKAN ES LILIN LEWAT, TANDA HARI SUDAH SIANG. SUARANYA NYARING, MENYEMBUL DI SELA-SELA KESIBUKAN.

--- TAMAT ---

Download naskah ini KLIK di sini

Wednesday, April 28, 2010

Contoh Drama Pendek Puntung CM Pudjadi

A.Y.O. !

Drama Pendek Puntung CM Pudjadi

(naskah ini pernah dimuat di Harian BERNAS Yogya tahun 90-an)



DRAMA dimulai saat seorang laki-laki terkapar mengerang-erang di atas panggung. Nampaknya ia baru saja dianiaya. Mukanya bersimbah darah yang meleleh dari hidungnya.

Seseorang mendatangi kemudian nampak panik dan berteriak-teriak meminta tolong. Ia meraih sebuah kenthongan atau entah apa yang kemudian ia bunyikan dengan irama gaduh.

Datang serombongan orang yang kemudian ikut-ikutan panik dan kacau. Lantas lebih kacau lagi ketika orang-orang yang datang kemudian itu ikut-ikutan memukul-mukul benda apa saja asal menimbulkan bunyi.

Kemudian datang seorang lagi yang agaknya keheranan melihat sekumpulan orang panik tanpa berbuat sesuatu kecuali memukul-mukul. Ia berusaha melerai orang-orang, menenangkan.

Seseorang

Tenang dulu, Saudara. Tenang dulu…. Ini ada apa? Mengapa tiba-tiba kalian menjadi panik dan gaduh tidak karuan? Ada apa?

Suara kenthongan dan kegaduhan yang lain berhenti.


Seseorang
Coba dijelas kan dulu pada saya ada persoalan apa? Kok tiba-tiba saja menjadi begini.

Yang lain
Iya. ada apa?

Yang lain
Lho, ada apa?


Si orang yang datang pertama kali tentu saja perlu menjelaskan.


Orang yang I
Ini begini. Orang yang terkapar ini adalah warga kita. Tadi saya melihat ia bertengkar dengan seorang prajurit pengawal raja. Lantas tiba-tiba plok! dan bak-buk-bak-buk! Kemudian ia terkapar.

Yang lain
Jadi orong ini dipukuli dengan semena-mena dan tanpa peri kemanusiaan oleh seorang prajurit pengawal raja?

Orang I
Ya.

Yang lain
Tanpa perlawanan'?

Orang I
Tanpa perlawanan.

Yang lain
Kamudian ditinggal pergi?

Orang I
Kemudian ditinggal pergi

Yang lain
Biadab!

Yang lain
Tidak berperikemanusiaan!

Yang lain
Sewenang-wenang!

Yang lain
Main hakim sendiri!

Yang lain
Tidak bertanggung jawab!

Yang lain
Kurangajar!

Lantas suasana kembali menjadi gaduh. Seseorang tampil kembali menjadi penenang.

Seseorang
Tenang dulu saudara-saudara. Kita harus bisa berpikir dengan jernih! (Suasana menjadi tenang kembali). Nah, apakah yang akan kita lakuka, mari kita rembug secara baik-baik.

Seseorang tampil mengobarkan semangat.

Pemberi semangat
Saudara-saudara, kita telah melihat sebuah tindakan sewenang-wenang di depan mata kita. Kita telah melihat pelangaaran kemanusiaan. Kita melihat main hakim dan tindakan dari orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita akan biarkan terus kejadian seperti ini akan terjadi setiap saat?!

Orang-orang
Tidaaaaakkk!

Pemberi semangat
Ini bukan kejadian yang pertama kalinya, Saudara. Dan kejadian ini tidak akan berhenti apabila kita tidak bertindak. Apakah Saudara bersedia untuk menghentikan sebuah tindakan kesewenang-wenangan ini dan menjadi patriot, perintis tegaknya sebuah keadilan di bumi ini?

Orang-orang
Bersediaaaa!!!

Pemberi semangat
Lantas apakah kita harus menunggu sampal kita sendiri menjadi korban pembantaian oleh oknum kurang ajar dan tak bertanggungjawab itu?

Orang-orang
Tidaaak!

Yang lain
Kita harus melakukan sesuatu.

Yang lain
Kita harus tegakkan keadilan di bumi pertiwi ini.

Yang lain
Ini bukan kejadian yang pertama. Dulu ada juga warga kita yang diperlakukan seperti ini

Yang lain
Dan kejadian ini akan terus terulang.

Yang lain
Dulu orang kampung sebelah malah sampai sekarat

Yang lain
Kita harus menghentikan kebiadaban tni

Yang lain
Ini tidak bisa kita biarkan.

Yang lain
Kita harus menghentikan kesewenang-wenangan ini. Kita harus melakukan sesuatu.

Yang lain
Ya! Kita harus melakukan sesuatu.

Yang lain
Tapi 'sesuatu' itu apa?

Yang lain
Ya entah pokoknya yang bisa menghentikan tindakan sewenang-wenang ini.

Yang lain
Kita harus meminta pertanggungjawaban oknum yang menganiaya warga kita ini.

Yang lain
Kita tuntut beramai-ramai.

Yang lain
Berbondong-bondong kita datangi komandan si oknum, kita laporkan tindakannya yang kurang ajar.

Yang lain
Kalau perlu kita datangt sambil membawa poster-poster dan slogan- slogan.

Yang lain
Sambil kita teriakkan yel-yel

Yang lain
Kalau perlu kita hubungi pers!

Yang lain
Mari kita lakukan !

Yang lain
Ayo !

Yang lain
Ayo !


Yang lain
Ayo ! Ayo !

Seseorang
Sebentar! Kalau kita mau menghadap komandannya dan melaporkan tindakan oknum tadi, kita betul-betul harus tahu permasalahannya, kronologis peristiwanya, apakah Saudara mengerti dengan jelas urut-urutan kejadiannya?

Semuanya bengong.

Yang lain
Lho, tadi yangmelihat pertama siapa?

Yang lain
Iya, yang mengetahui urutan kejadiannya siapa?

Yang lain
Siapa?

Yang lain
Kalau tidak salah kamu toh yang melihat dan menjadi saksi kebiadaban oknum prajurit kurangajar tadi?

Orang I
Saya cuma lihat sedikit

Yang lain
Itu sudah cukup. Untuk seterusnya kita sudah bisa membayangkan kejadiannya.

Yang lain
Tidak bisa dong, kita harus jelas dan pasti dengan kejadiannya agar laporan kita bisa dipertangungjawabkan.

Yang lain
Lha, tadi urutan kejadian yang Saudara lihat bagaimana?

Orang I
Saya sedangberdiri di sana, kemudian saya mendengar ada pertengkaran antara korban ini dengan seorang oknum prajurit kerajaan. Kemudian plok dan lantas bak-buk-bak-buk. Kemudian orang ini terkapar di sini mengerang-erang.

Yang lain
Jadi bertengkar lantas plok-bak-buk-bak-buk?

Orang 1
Lantas nyekakar dan mengerang-erang!

Yang lain
Biadab!

Yang lain
Kurang ajar!
Yang lain
Tidak berperikemanusiaan!
Yang lain
Barbar dan kurangajar!

Pemberi semangat
Diam! Kalau kita sekedar mengumpat-umpat. persoalannya tidak bakalan selesai. Begini, kita harus melakukan sesuatu!

Yang lain
Lantas bagaimana tindakan kita?

Pemberi semangat
Kita sudah mendengar ceritanya. Kita sudah melihat korbannya, maka sekarang saatnya kita bertindak!

Yang lain
Bertindak bagaimana?

Pemberi semangat
Pokoknya bertindak!

Yang lain
Bertindak bagaimana?

Pemberi semangat
Melakukan sesuatu !

Semua
Ayoooo!

Seseorang
Sesuatu yang bagaimana?

Pemberi semangat
Pokoknya menghentikan tindakan sewenang-wenang dan menegakkan keadilan di muka bumi!

Semua
Ayooo!

Seseorang
Bagaimana caranya?

Pemberi semangat
Kita datangi komandan pasukan si oknum. Kita beri laporan. Kita tuntut!

Semua
Ayooo!

Seseorang
Lantas?

Pemberi semangat
Kita tuntut si prajurit edan itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Semua
Ayooo!

Seseorang
Setelah itu?

Pemberi semangat
Kita suruh si prajurit mengakui kesalahannya, agar ia menjadi jera, kemudian tidak melakukan perbuatan ini lagi dan keadilan kita tegakkan!

Semua
Ayooo!

Seseorang
Apakah semudah itu?

Pemberi semangat
Akan kita coba! Saudara-saudara, apakah saudara rela kesewenang-wenangan mendera kita tiap hari?

Semua
Tidaaaakk!

Pemberi semangat
Apakah akan kita biarkan satu per satu warga kita akan mengalami kejadian seperti korban kali ini?

Semua
Tidaaakk!

Pemberi semangat
Lantas kenapa Saudara tetap di sini. Apa yang kalian tunggu???

Yang lain
Ayo kita lakukan sekarang!

Yang lain
Sekarang!

Yang lain
Ayo!

Yang lain
Ayo!

Yang lain
Ayo! Ayo!

Yang lain
Ayo, Saudara saja nanti yang nienjadi juru bicara kita, cucuking ajurit kelompok ini.

Si pemberi semangat justru celingak-celinguk.

Yang lain
Ayo! Kenapa jadi lembek!

Pemberi semangat
(Kendor) Lho. untuk menjadi cucuking ajurit toh tidak mesti saya. . .

Yang lain
Lantas siapa?

Yang lain
Tidak ada yang lainnya.

Yang lain
Kita semua sudah melihat bagaimana pandainya Saudara berbicara dan berpidato membangkitkan semangat kami. Maka tak ada colon lain kecuali Saudara.

Pemberi semangat
Jangan saya, bagaimana kalau saya tunjuk saja. Saudara...

Yang lain
Wah., jangan, saya… saya tak biasa berbicara, apalagi di depan umum dan melaporkan suatu kejadian penting.

Pemberi semangat
Apa Saudara?


Yang lain
Wah, saya sok kecetit lidah kalau berbicara di depan pejabat Jangan jangan laporan saya malah terbalik.

Pemberi semangat
Bagaimana kalau Saudara saja.

Yang lain
Enak saja menunjuk saya. Saya ini dari tadi kan cuma ikut-ikutan saja, masak ditunjuk jadi pimpinan.

Pemberi semangat
Lantas siapa?

Semua
Ya Saudara!

Pemberi semangat
(Ciut nyalinya) Jangan saya. . . Saya sebaiknya berada di belakang.

Yang lain
Saudara harus mau!
Yang lain
Ya. Harus!

Pemberi semangat
(ciut nyali namun tiba-tiba mendapat ilham)
Ah, jangan saya. Saya lebih tepat menolong korban ini saja. Merawatnya.
Lho, korban ini keadaannya sangat parah, butuh segera pertolongan. Nah, saya menyediakan diri untuk merawatnya...

Pemberi semangat lantas mencoba merawat korban.

Yang lain
E. e, benar juga, merawat korban yang terluka seperti ini juga membutuhkan suatu pengorbanan tertentu. Sebaiknya saya bantu saudara itu...

Yang lain
Kemanusiaan memang harus ditegakkan. Kita tolong dia.

Yang lain
Betul sekali, mari saya bantu.

Yang lain
Mau diangkut ke mana? Mari saya bantu.

Yang lain
Yuk dibantu yuk...

Seseorang
Lho, bagaimana dengan keadilan yang mau kita tegakkan

Pemberi semangat
Silahkan diperjuangkan Mas, saya lebih cocok memperjuangkan kemanusiaan. Tugas kemanusian saya pikir juga tugas yang mulia.

Mereka beramai-ramai menggotong korban.



Tinggal di panggung cuma satu orang. Si orang I, saksi yang melihat kejadian pertama kali. Beberapa saat kemudian terdengar suara pertengkaran dari sudut panggung. Lantas terdengar suara : Plok! Bak-buk-bak-buk!

Lantas seseorang yang berlumuran darah terhuyung masuk panggung kemudian terkapar jatuh. Si orang I segera membunyikan kentongan. Ribut dan secara perlahan layar di tutup***


Download naskah drama ini KLIK DI SINI
Naskah drama lain? Klik di sini

Tuesday, April 27, 2010

MANGIR: Drama Pramudya Ananta Tuur

Mangir
Pramudya Ananta Tuur

Dramatic Personae

Wanabaya, Ki Ageng Mangir, pemuda, + 23 tahun, prajurit, pendekar, panglima Mangir, tua Perdikan Mangir, tampan, tinggi, perkasa dan gagah.

Baru Klinting, tetua Perdikan Mangir, pemuda, + 26 tahun, prajurit, ahli siasat, pemikir, organisator.

Pambayun, Putri, putri pertama Panembahan Senapati dengan permaisuri, + 16 tahun, telik Mataram, berpikiran masak.

Suriwang, pandai tombak, + 50 tahun, pengikut fanatik Baru Klinting.

Kimong, telik Mataram, + 30 tahun.

Tumenggung Mandaraka, pujangga dan penasihat kerajaan Mataram, + 92 tahun, kepala rombongan telik Mataram.

Ki Ageng Pamanahan, ayah Panembahan Senapati, + 90 tahun.

Pangeran Purbaya, anak pertama Panembahan Senapati, + 20 tahun.

Tumenggung Jagaraga, anggota rombongan telik Mataram, kepala pasukan dari 1000 orang, + 35 tahun.

Tumenggung Pringgalaya, anggota rombongan telik Mataram, kepala pasukan dari 1000 orang, + 45 tahun.

Panembahan Senapati. Raja Pertama Mataram, + 45 tahun.

Demang Pajang, + 42 tahun.

Demang Patalan, + 35 tahun.

Demang Pandak, + 46 tahun.

Demang Jodog, + 55 tahun

Pencerita (troubadour).

Pencerita (Troubadour) bercerita dengan iringan gendang kecil sebelum layar diangkat

Siapa belum pernah dengar Cerita lama tentang Perdikan Mangir Sebelah barat daya Mataram?
Dengar, dengar, dengar: aku punya cerita.
Tersebut Ki Ageng Mangir Tua, Tua Perdikan Wibawa ada dalam dadanya Bijaksana ada pada lidahnya rakyat Mangir hanya tahu bersuka dan bekerja
Tinggal sejengkal lidah
Dijadikannya tombak pusaka
Itulah konon tombak pusaka
Si Baru Klinting….

Layar – terbuka pelan-pelan dalam tingkahan gendang pencerita, mengangakan panggung yang gelap gulita.
Pencerita – berjalan mundur memasuki panggung gelap dengan pukulan gendang semakin lemah, kemudian hilang dari panggung.
Setting – Sebuah ruang pendopo di bawah sokosoko guru terukir berwarna (polichromed), dilengkapi dengan sebuah meja kayu dan beberapa bangku kayu.
Di atas meja berdiri sebuah gendi bercucuk berwarna kehitaman. Dekat pada sebuah soko guru berdiri sebuah jagang tombak dengan tujuh bilah tombak berdiri padanya. Latar – belakang adalah dinding rumah- dalam, sebagian tertutup dengan rana kayu berukir dan sebuah ambin kayu bertilam tikar mendong.

BARU KLINTING (duduk di sebuah bangku pada ujung meja, menoleh pada penonton).
Hmm! (Dengan perbukuan jari-jari tangan memukul pojokan meja, dalam keadaan masih menoleh pada penonton). Sini, kau Suriwang!

SURIWANG(memasuki panggung membawa seikat mata tombak tak bertangkai, berhenti; dengan satu tangan berpegang pada sebuah sokoguru).
Inilah Suriwang, pandai tombak terpercaya Baru Klinting. (menghampiri Baru Klinting, meletakkan ikatan tombak di atas meja). Pilih mana saja, Klinting, tak bakal kau dapat mencela.

BARU KLINTING (mencabut sebilah, melempar-tancapkan pada daun meja, mengangkat dagu): Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan.

SURIWANG
Ai-ai-ai tak bisa lain. Segala apa yang baik untuk Suriwang, lebih baik lagi untuk Klinting, laksana kebajikan menghias wanita jelita, laksana bintang menghias langit-lebih, lebih baik lagi untuk Wanabaya, Ki Ageng Mangir.

BARU KLINTING (memberi isyarat dengan kepala).
Tinggalkan yang tertancap ini. Singkirkan selebihnya di ambin sana.

SURIWANG (mengambil ikatan mata tombak, mendekatkan mulut pada Baru Klinting).
Semua usaha kembang, bumi ditanami jadi. Datanglah hari setelah setahun menanti Pesta awal Sura
Ronggeng, wayang, persabungan, gelut, lomba tombak, Dekat-jauh, tua-muda, bujang-perawan, semua dating Di dapur Ki Ageng Mangir Tua Habis pisau perajang terpakai.
Datang perawan Mendes mohon pada Ki Ageng:
- Pinjami si Mendes ini pisau sebilah - Hanya tinggal belati pusaka boleh kau menggunakan, tapi jangan kau lupa Dipangku dia jadi bahala. Perawan Mendes terlupa belati pusaka dipangkunya
Ah, ah, bayi mendadak terkandung dalam rahimnya Lahir ke atas bumi berwujud ular sanca
- Inilah aku, ampuni, Bunda, jasadku begini rupa Malu pada perdikannya
Malu pada sanak tetangga, Ki Ageng lari seorang diri, Jauh ke gunung Merapi, Mohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Ki Ageng Mangir Tua bertapa. Dia bertapa!
Datang seekor ular padanya Melingkar mengangkat sembah – Inilah Baru Klinting sendiri.
Datang untuk berbakti Biar menjijikkan begini Adalah putramu sendiri. Ki Ageng mengangkat muka
Kecewa melihat sang putra - Tiada aku berputra seekor ular Kecuali bila berbukti Dengan kepala sampai ekor Dapat lingkari Gunung Merapi. Tepat di hadapan Ki Ageng Mangir Tua Baru Klinting lingkari Gunung Merapi Tinggal hanya sejengkal Lidah dijelirkan untuk penyambung Ki Ageng memenggalnya dengan keris pusaka. Ular lari menghilang Mengapa tak kau perintahkan balatentara
Mangir menusuk masuk ke benteng Matarammelindas raja dan semua calonnya?

BARU KLINTING (pergi menghindar).

SURIWANG (membawa ikatan mata tombak, bicara pada diri sendiri).
Baru Klinting! Seperti dewa turun ke bumi dari ketiadaan. (menganggukangguk).
Anak desa ahli siasat – dengan Ronggeng Jaya Manggilingan digilingnya balatentara
Mataram, pulang ke desa membawa kemenangan. (pada Baru Klinting). Masih kau biarkan Panembahan Senapati berpongah dengan tahta dan mahkota?

BARU KLINTING (bersilang tangan).
Mataram takkan lagi mampu melangkah ke selatan. Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya. Pada akhirnya bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.

SURIWANG (meletakkan ikatan tombak di atas Iantai, menghampiri Baru Klinting).
Bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.

BARU KLINTING
Belum mampu pandangmu menembus hari dekat mendatang? Dia akan datang – hari penghinaan itu. Kan meruap hilang impian Panembahan, jadi raja tunggal menggagahi Pulau Jawa. Bakal telanjang diri dia dalam kekalahan dan kehinaan.

SURIWANG
Ai-ai-ai tak bisa lain, Klinting. Perdikan Mangir sudah lima turunan berdiri. Lapanglah jalan bagi Sri Maharatu Dewi Suhita Majapahit.
Demak tak berani raba, Pajang tak pernah jamah. Ai-ai-ai, Panembahan Senapati, anak ingusan kemarin, kini mau coba-coba kuasai Mangir.

BARU KLINTING
Apa pula hendak kau katakan, Suriwang?

SURIWANG
Mataram bernafsu mengangkang di atas Mangir! Ai-ai-ai. Mengangkat diri jadi raja, kirimkan patihnya Singaranu – ke Mangir, Klinting, – menuntut takluk dan upeti, barang gubal dan barang jadi. Perdikan Mangir hendak dicoba! Pulang tangan hampa, balik kembali dengan balatentara. Kau telah bikin panglima Mataram, Takih Susetya, berantakan dengan supit-urangnya. Ai-ai-ai tak bisa lain, tak bisa lain. Klinting, kau benar-benar dewa turun ke bumi – tumpas mereka dengan Ronggeng Jaya Manggilinganmu. Ke mana panglima Mataram itu kini menghilang larikan malunya?

BARU KLINTING
Bikin kau tombak tambahan – delapan ratus mata senilai ini (menuding pada mata tombak tertancap di atas meja).

SURIWANG
Delapan ratus lagi – bukan cuma Mataram, Ki Ageng Mangir Muda.

BARU KLINTING (memperingatkan).
Mangir akan tetap jadi Perdikan, tak bakal jadi kerajaan.
Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain, yang lain sama dengan semua.

Baca dan download naskah lengkap?

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook