Wednesday, August 10, 2011

Wawasan Kepengarangan Kuntowijoyo

Wawasan Sastra & Kepengarangan Kuntowijoyo

Dunia ini fana, tiada kekal  bagaikan sarang laba-laba

Ia hanya bayang-bayang yang cepat berlalu
Seorang tamu pada malam hari
Mimpi seorang yang sedang tidur nyenyak
Dan sekilat cahaya yang bersinar di cakrawala harapan
(Nukilan sajak Ali bin Abi Thalib pada batu nisan Sultan Malik al-Saleh, 
raja Pasai Aceh — wafat 1297 M)

Kuntowijoyo telah berpulang ke rahmatullah dua pekan lalu. Seorang sastrawan dan ilmuwan yang disegani telah menutup mata dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kepergiannya terasa begitu menyesakkan, karena ketika ini sastra Indonesia sedang dilanda krisis pemikiran, sedangkan Kuntowijoyo adalah seorang di antara pemikir sastra yang gagasan-gagasannya senantiasa bernas dan segar. Lebih dari itu ia adalah salah seorang dari sedikit penulis 1970an yang prolifik hingga masa senja hidupnya. Dia telah menulis sejak masih duduk di bangku kuliah. Puluhan cerpen, puisi, beberapa novel dan naskah drama, kumpulan esai dan hasil penelitian dalam ilmu sejarah lahir dari tangannya. Suatu hal yang hampir tidak dapat dilakukan oleh sastrawan lain seangkatannya.

Cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang awal (madya 1960-an), khususnya dalam antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga, dipilih untuk dijadikan titik tolak pembahasan karena mencerminkan ide-ide kepengarangan yang mulai berkembang di kalangan sastrawan muda Indonesia pasca polemik Lekra-Manifes Kebudayaan. Salah satu ide kepengarangan yang mulai berkembang itu ialah hasrat kuat melepaskan diri dari belenggu paham realisme (formal atau sosial) yang dirasakan mengkungkung dunia kepengarangan. Menurut pengarang-pengarang yang terangsang oleh ide baru itu, tugas pengarang bukan sekadar memotret realitas, tetapi juga melakukan kritik, idealisasi dan simbolisasi terhadap realitas. Dengan demikian hasil karyanya tidak hanya berpijak pada realitas kehidupan keseharian atau sosial, tetapi juga pada realitas spiritual dan budaya. Karya sastra lantas tidak hanya menjadi semacam dokumen sosial dan sejarah, tetapi lebih jauh menjadi dokumen kemanusiaan dalam artian luas. Di situ manusia tidak hanya dilihat sebagai makhuq sosial atau kejiwaan, tetapi juga makhluq spiritual yang memiliki kemampuan mentransendensikan diri.

Gagasan kepengarangan seperti tercermin betul dalam esai dan karya-karya Kuntowijoyo, sebagaimana juga tercermin dalam karya-karya Danarto, Arifin C. Noer dan Gerson Poyk. Tetapi mungkin agak mengejutkan juga, karena seorang pengarang seperti Kuntowijoyo yang mengangankan lahirnya karya-karya yang bercorak spiritual atau sufistik, dapat melahirkan sebuah novel sosial, yaitu Pasar, yang mengangkat tema perubahan dalam masyarakat yang tatanan nilainya mulai bergeser dan pola komunikasinya berubah, antara lain disebabkan hadirnya sistem perbankan dalam masyarakat yang masih terikat pada sistem ekonomi dan pasar tradisional.

Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra transendental, yang yang dikemukakan dalam acara Duapuluh Sastrawan Bicara di DKJ TIM, Jakarta pada tahun 1983, lebih jauh lagi merupakan perkembangan lanjut dari ide-idenya yang mulai tumbuh pada pertengahan 1960-an. Gagasannya itu ternyata bertolak dari pemikirannya, seperti dituliskan dalam esainya “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” (Horison,1973). Kuntowijoyo antara lain mengatakan bahwa, “Yang kita harapkan sekarang ialah suatu pembangunan kembali dalam pemikiran (termasuk pemikiran dalam sastra) yang mampu membuat orang terhindar dari memilih antara pengalaman yang miskin dan pincang di satu pihak, dan akal yang dibuat-buat di lain pihak.” Salah satu caranya ialah dengan merubah pemahaman kita tentang manusia.

Kuntowijoyo mengemukakan bahwa pemahaman manusia tentang dirinya sendiri harus memakai konsep kunci baru, yaitu simbolisme. Maka pertenyaan mengenai hakekat sastra dan hubungannya dengan realitas harus diubah. Sastra bukan sekadar representasi dari realitas, tetapi simbol. Simbol ialah penemuan dan penciptaan manusia, yang merupakan upaya spiritualnya untuk bisa hidup dalam dimensi baru dari realitas. Di situ manusia menemukan dirinya dan kesadarannya yang lebih kaya. Penemuan simbol yang hanya milik manusia ini telah membuatnya berbeda dengan binatang. Mitos, agama, bahasa, kesenian, sejarah dan ilmu pengetahuan adalah simbol. Sastra adalah simbol yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Tiap simbol mempunyai kebenarannya sendiri, hingga jangan mencari kebenaran dari satu simbol pada simbol lainnya. Jadi jangan mencari kebenaran dari sastra di dalam ilmu pengetahuan, karena tidak akan pernah didapatkan.

Pengertian tentang ‘simbol’ yang dimaksudkan Kuntowijoyo, tidak dapat disamakan dengan ‘sign’ atau ‘sememe’ dalam pemikiran kaum strukturalis dan semiotik, karena ia lebih mendekati pengertian ‘metafora’ Paul Ricoeur atau ‘symbol’ Gadamer. Sedangkan kenyataan yang ditampilkannya dapat dirujuk pada pengertian Ibn `Arabi tentang ‘alam misal’ (`alam al-mitsal), yaitu alam kehidupan yang menjadi perantara atau penyambung antara pengalaman transendental dan pengalaman empiris manusia. Henri Corbin mengartikan ‘alam misal’ sebagai ‘alam imaginasi’. Begitulah yang disajikan sebuah karya sastra pada dasarnya adalah sebuah alam misal, sebuah simbol atau metafora tentang kehidupan yang dipahami dan sekaligus pengalaman yang dihayati pengarang.

Pengertian Kuntowijoyo bahwa tindakan menulis karya sastra sebagai menciptakan simbol di sini, barangkali juga bisa dimengerti melalui konsep kunci yang dilakukan oleh Robert Jauss dalam telaah resepsi dan hermeneutika sastranya. Dua konsep kunci Jauss itu ialah Erfahrung dan Erlibniz. Yang pertama dimaksudkan sebagai ‘tindakan perenungan’ yang mencakup pengenalan terhadap sesuatu dan tidak hanya bersifat intelektual, tetapi melibatkan juga sarana spiritual dan kejiwaan manusia yang lain seperti rasa, intuisi dan penikmatan estetis. Sedangkan yang kedua, erlibniz, ialah pengalaman yang terhayati (tentang apa saja) yang menjadi sasaran dari erfahrung. Menurut Jauss (1973) hubungan seseorang (termasuk pengarang atau pembaca karya sastra) dengan sesuatu yang dihayati melalui pengalaman (erlibniz) bersifat konkrit dan langsung.

Demikian, sekalipun karya sastra merupakan ‘simbol’ dan bukan ‘representasi realitas’, ia mempunyai hubungan nyata dan langsung dengan kehidupan. Karya sastra adalah hasil dari tindakan perenungan terhadap sesuatu yang dikenal, dipahami dan dihayati, baik secara intelektual, intuitif dan emosional oleh pengarang. Jadi, menurut Kuntowijoyo, yang ada dalam karya sastra adalah simbol, dan simbol adalah sarana konsepsi tentang obyek. Dalam simbol ini manusia mentransformasikan lingkungan dan pengalaman hidupnya. Simbol lantas menjelma seolah-olah sebuah dunia baru. Karena itu hubungan karya sasta dengan realitas tidak dapat dipandang sebagaimana hubungan antara cermin dan benda di hadapan cermin. Keharuan membaca karya sastra karenanya juga berbeda dari keharuan menghadapi peristiwa sehari-hari. Yang keseharian pada dasarnya, menurut Abhinava Gupta, dalam teori sugestinya (Rasa Dvanyaloka), bersifat khusus atau partkular, namun setelah diangkat dalam karya sastra telah mengalami ‘universalisasi’ sehingga pengalaman yang semula bersifat individual bisa dirasakan menjadi pengalaman yang bersifat universal.

Menurut Kuntowijoyo lagi, sastra tidak menunjuk pada obyek tertentu, melainkan gagasan atau imagisasi tentang sesuatu. Kemungkinan-kemungkinan sastra sangat luas, tidak sebagaimana diduga kebanyakan orang. Kadang-kadang sastra merupakan suatu sublimasi, proyeksi atau katharsis terhadap suatu kejadian. Kadang-kadang sastra ingin mencapai sesuatu yang jauh, dalam dan sunyi. Ia kerap bicara dalam suatu keheningan yang kudus. Untuk memahaminya, karena itu, menuntut pengerahan seluruh daya rohani. Khususnya pemahaman, sebab karya sastra bukan hanya rasa, tetapi juga mengandung inteligensia dan kearifan (wisdom, al-hikmah).

Karya sastra bukan hanya memberi kesan melalui fungsinya, tetapi terutama melalui kualitas pesan moral dan kemanusiaannya yang disugestikan melalui ungkapan-ungkapan estetisnya yang memiliki daya pembayang (imaginasi) yang kuat. Dalam upaya melahirkan karya sastra yang diidamkannya itu Kuntwowijoyo menggunakan sarana-sarana estetik sastra klasik seperti penciptaan tokoh, kejadian dan latar cerita yang aneh, ganjil, ajaib, serba unik, mengagumkan, mengerikan dan kadang-kadang dahsyat. Caranya membangun alur cerita, menampilkan tokoh dan kerjadian, serta latar cerita, dapat dibandingkan penulis-penulis lain yang sezaman seperti Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Arifin C. Noer dan lain-lain. Sekali pun tokoh cerpen-cerpen dan novel Kuntowijoyo terkesan ganjil, namun tetap berpijak pada realitas.

Contoh terbaik ialah cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang awal yang dimuat dalam majalah Horison pada awal 1970-an seperti “Burung Kecil Bersarang Di Pohon”, “Sepotong Kayu Untuk Tuhan” dan “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”. “Burung Kecil Bersarang di Pohon” merupakan cerpen religius dan eksistensialistik yang menarik.

Seorang guru besar ilmu fiqih dan tauhid bersiap untuk menyampaikan khotbah Jum’at di sebuah masjid. Ia memakai baju putih, peci dan sarung yang bersih. Karena letak masjid cukup jauh, maka tokoh harus berangkat agak awal. Ia terpaksa melalui sebuah jalan dan pasar yang ramai. Sepanjang perjalanan itu ia mencemooh orang-orang yang sibuk berjual beli di pasar melakukan kegiatan duniawi, seakan-akan lupa bahwa hari itu adalah hari Jum’at dan saatnya orang bersiap pergi ke masjid. Di tengah perjalanan, ketika melewati sebuah tegalan, ahli fiqih kita bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang berusaha menangkap seekor burung, tetapi tidak bisa karena burung itu bertengger di dahan pohon yang tinggi. Merasa kasihan, sang professor berhenti dan berusaha menolong anak itu untuk menangkap burung yang diinginkan. Karena asyiknya menolong anak itu, dia lupa harus berangkat cepat ke masjid. Seusai menolong anak kecil itu, ahli fiqih kita merasa sangat bahagia. Tetapi tidak lama kemudian hatinya merasa sedih karena baju yang dipakainya ternyata sudah kotor, dan lebih sedih lagi karena ketika dia sampai di masjid, salat Jum’at sudah usai dan orang-orang sudah berhampuran ke luar meninggalkan masjid.

Ia malu pada orang-orang yang mungkin akan mencemoohnya. Ia ingin masuk ke dalam masjid sendirian dan salat sendirian. Pikiran aneh muncul di kepalanya, jangan-jangan anak itu penjelmaan setan yang tugasnya menggoda manusia di jalan Tuhan. Ia merasa takut dimurkai oleh Tuhan, padahal baru saja ia merasakan suatu perasaan berbeda bersama anak kecil itu, perasaan bahwa ia bekerja keras, memanjat pohon asam untuk menangkap burung dan perbuatannya memberikan kebahagiaan kepada anak kecil itu. Ia baru saja merasa menjadi ‘manusia’ dalam arti sebenarnya bersama anak kecil itu, yang kini muncul sebagai bayangan setan.

Kuntowijoyo menutup cerpennya sebagai berikut: “Kemudian dia berpikir. Dia Yang Maha Tinggilah yang menggerakkan semuanya itu. Itu salah-Mu sendiri. Tidak. Engkau tidak bersalah. Tentulah, itu karena Dia ingin menunjukkan sesuatu kepadanya. Sebenarnyalah, ia mengerti sesuatu. Maka ia pun menangis. Seorang lelaki mendekat kepadanya. ‘Buya!’ kata orang itu. Ia menolak orang itu dan mencoba tersenyum. Karena kegembiraanlah ia menangis. “Tak ada apa-apa, pak!’ katanya. Ia pergi mengambil air wudhu. Mukanya berseri-seri. Orang-orang masih berkerumun di luar, ketika ia masuk ke dalam. Pengalaman hari itu pastilah suatu kesengajaan Tuhan. Ia tidak ragu. Alangkah ajaibnya cara-Mu menunjukkan. Anak kecil itu ialah anak manusia. Ia rindu kepada anak itu, burung-burung bahkan keributan pasar. Seperti sekarang, ia rindu kepada-Nya.’”

Dalam “Sepotong Kayu untuk Tuhan” Kuntowijoyo menyajikan kisah lelaki tua di sebuah dusun terpencil. Ia hidup bersama istrinya yang bawel. Ia berkebun di di tanah warisan orang tuanya. Sekalipun a bekerja keras, istrinya memandangnya pemalas. Suatu hari ketika ia sendirian di rumah dan istrinya pergi menjenguk anaknya di desa lain, timbullah hasratnya untuk bermalas-malas dan menikmati kesendirian sesantai mungkin. Tetapi tiba-tiba kesadaran muncul dalam dirinya: sebagai seorang Muslim tidaklah baik bermalas-malas dan menyia-nyiakan waktu. Kini dia ingat di dusun itu orang sedang membangun sebuah masjid dan surau. Telah banyak orang memberikan sumbangan baik tenaga, pikiran dan harta. Ingat ini dia pun mengurungkan niatnya untuk bermalas-malas. Dia pergi menuju kebunnya. Ia menemukan sebuah pohon nangka tua yang ditanam dan dipeliharanya sendiri sejak kecil. Dia memilih batang nangka itu sangat baik untuk disumbangkan bagi pembangunan masjid itu. Dia bekerja keras menebang pohon itu bersama seorang temannya. Dia ingin menyumbangkan pohon itu secara diam-diam.

Pada suatu malam yang gelap, kayu nangka itu dia hanyutkan ke sungai dan tidak lama kemudian kayu itu terdampar tidak jauh dari tempat masjid dan surau itu sedang dibangun. Tetapi sayang, pada waktu subuh ketika ia datang ke tempat itu, dia melihat kayu nangka itu sudah tidak ada di sana. Ia telah dibawa hanyut oleh banjir yang datang tengah malam. Mula-mula dia kecewa, akan tetapi kemudian tersenyum sambil berkata, ‘Sesuatu telah hilang. Tidak. Tidak ada yang hilang…Sampai kepada-Mukah Tuhan?’

Cerpen ini begitu simbolik dan puitik, dan sangat sufistik, namun tetap berpijak pada realitas. Tentu saja kesufistikan cerpen Kuntowijoyo itu berbeda dengan kesufistikan cerpen-cerpen Danarto. Bandingkan cerpen ini dengan cerpen Kuntowijoyo yang lain, “Dilarang Mencintai Bunga”. Dalam cerpen ini diceritakan seorang anak dihadapkan pada pilihan yang sama peliknya: Mengikuti jalan hidup ayahnya yang senang pekerjaan kasar, atau mengikuti jalan hidup seorang kakek tua tetangganya yang misterius dan merasa bahagia hidup sendiri dengan bunga-bunga yang ditanam di kebunnya. Ketentraman dan kedamaian bagi si kakek tua adalah sumber kesempurnaan dan kebahagiaan. Tetapi ayah anak itu memandang bahwa sumber kebahagiaan adalah bekerja keras membangun jembatan dan gedung. Tanpa orang yang bekerja kasar, kata si ayah, tidak mungkin manusia mencapai kemakmuran. Ternyata si anak memilih untuk memilih kedua-duanya dengan cara menyeimbangkannya. Tindakan dan renungan (aksi dan kontemplasi) sama pentingnya dalam hidup. Kita tidak tahu yang mana yang lebih utama dan harus didahulukan, seperti halnya tidak mudah menentukan mana yang lebih dulu telur apakah ayam.

Gagasan kepengarangan Kuntowijoyo yang telah berkembang sejak awal 1970an itu mencapai puncak sublimasinya dalam novelnya Khotbah Di Atas Bukit.Novel ini kemungkinan besar ditulis oleh Kuntowijoyo pada tahun 1972 atau 1973, pada saat dia menulis esainya “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” seperti dikutip dalam awal tulisan ini. Seperti kehadiran cerpen Danarto “Rintrik” dan novel Iwan Sumatupang Ziarah, keduanya pada akhir 1960an, kehadiran novel Kuntowijoyo merupakan sesuatu yang baru dan ganjil dalam penciptaan karya sastra di Indonesia. Ia bukan novel biasa yang bertolak dari wawasan realisme formal atau realisme sosial. Cerita hadir sebagai dunia baru yang dicipta oleh pengarang berdasarkan imaginasinya dan pengalaman-pengalaman pengarang dihadirkan sebagai simbol. Mungkin karena tidak biasa itulah maka ketika novel ini disiarkan sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada tahun 1974, pembaca mencemooh dan menyesalkan publikasi novel tersebut di suratkabar kesayangannya. Setelah novel itu diterbitkan pada tahun 1976 oleh Pustaka Jaya, tidak banyak kritikus sastra memberi perhatian kepada novel ini. Sambutan awal yang menggembirakan terhadap novel ini diberikan oleh Mangunwijaya pada tahun 1982. Tetapi ketika novel ini diterbitkan kembali pada awal tahun 1990an oleh Bentang, dalam setahun saja ternyata mengalami cetak ulang 3 kali.

Ada beberapa hal yang dapat dicatat mengenai novel ini, mudah-mudahan masih dalam konteks kepengarangan Kuntowijoyo dan perspektif wawasan estetiknya. Pertama, bagi pembaca yang pernah tinggal di Yogya pada akhir 1960an dan awal 1970-an, latar yang dipaparkan Kuntowijoyo dalam novelnya itu akan membawanya ingat pada Kaliurang, sebuah tempat peristirahatan di lereng Gunung Merapi di sebelah utara kota Gudeg itu. Ketika itu Kaliurang masih sepi dan benar-benar merupakan daerah peristirahatan yang nyaman. Cerita-cerita yang aneh, ceram dan ganjil banyak kita dengar dari orang yang pernah tinggal di situ. Kaliurang juga merupakan tempat orang-orang kebatinan nyepi dan meditasi, atau tirakat dan melakukan ritual yang aneh. Semua itu berhasil disublimasikan oleh Kuntowijoyo dalam Khotbah Di Atas Bukit.

Kedua, dalam menggarap novelnya itu Kuntowijoyo juga menggunakan sarana-sarana estetik dari sastra mistikal atau sufi. Misalnya tampak dengan hadirnya tokoh kembar Barman dan Humam, yang dapat dihubungkan dengan Kisah Dewa Ruci. Dalam Dewa Ruci, Bima berjumpa dengan tokoh kembarannya Dewa Ruci (yang tubuhnya lebih kecil, tetapi wajahnya mirip). Perjalanan ke gunung yang dilakukan oleh Barman untuk beristirahat bersama Poppy, wanita yang dihadiahkan oleh anaknya untuk mendampingi hidupnya selama tinggal di tempat peristirahatan di lereng gunung, adalah semacam tamsil atau kias bagi perjalanan rohani manusia dari tempat rendah ke tempat tinggi. Tamsil semacam ini lazim digunakan oleh pengarang-pengarang Jawa Kuna dan sufi Melayu. Bandingkan misalnya dengan Arjuna Wiwaha, atau kisah perjalanan tokoh-tokoh cerita Melayu seperti Hikayat Inderaputra. Tamsil pendakian ke puncak gunung untuk menjumpai kebenaran tertinggi juga digunakan oleh Hamzah Fansuri pada abad ke-16 dalam syair-syair tasawufnya. Kuntowijoyo sangat akrab dengan simbol-simbol semacam itu dan dapat mentranformasikannya ke dalam novelnya.

Ketiga, bagi pembaca yang pernah mengikuti diskusi-diskusi sastra informal yang sering dilakukan sastrawan-sastrawan muda Yogya di warung-warung kopi dan gudeg di Malioboro dan tempat lain, akan mudah memahami bahwa dialog-dialog dalam novel Kuntowijoyo itu mencerminkan apa yang sering didiskusikan oleh penulis-penulis muda pasca 1965. Di antara materi-materi yang didiskusikan kala itu ialah mengenai falsafah eksistensialisme, mistisisme, religiusitas, sastra absurd dan lain-lain, yang semuanya itu sebetulnya merupakan fenomena awal bagi munculnya posmodernisme. Dialog-dialog dalam Khotbah Di Atas Bukit, setidak-tidaknya berkisar di sekitar eksistensialisme, mistisisme dan religiusitas. Kala itu hedonisme material, yang dicerminkan dalam kehidupan Barman, juga sudah mulai tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya tingkat kemakmuran ekonomi manusia kota. Tidak kalah lagi, kala itu ialah suburnya aliran kebatinan atau kepercayaan. Semua itu tergambar dalam novel Kuntowijoyo. Hanya karena penyajiannya yang tidak mengikuti alur dan bingkai realisme formal/sosial, maka pada awal terbitnya novel ini kurang mendapat sambutan masyarakat sastra.

Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra transendental, yang dikemukakannya pada tahun 1983, saya kira bertolak dari novelnya ini. Sedangkan gagasannya tentang sastra profetik merupakan perkembangan lebih jauh lagi. Kata Kuntowijoyo, “Saya kira kita memerlukan juga sebuah sastra transendental. Oleh karena tampak aktualitas kita tidak dicetak oleh roh kita, tetapi dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial, dan kekuasaan maka kita tidak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata kongkrit dan empiris yang dapat ditangkap indera kita. Kesaksian kita kepada aktualitas dan sastra adalah sebuah kesaksian lahiriah – jadi sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri daro aktualitas, dan kedua, membebaskan diri dari peralatan inderawi kita (Dua Puluh Sastrawan Bicara, DKJ 1984:154-5).
Pembebasan dari aktualitas dalam sastra merupakan jalan (semacamsuluk) menuju aktualitas baru. Yaitu dunia makna-makna. Perjalanan Barman ke tempat peristihatan ke lereng gunung, walaupun motif awalnya untuk beristirahat seraya bersenang-senang bersama seorang wanita cantik, pada dasarnya merupakan simbol pembebasan yang dimaksudkan, sekaligus kenaikan seseorang dari hal yang jasmani dan inderawi menuju maqam rohani dan maknawi. Di lereng gunung itulah, Barman – berkat diplomat tua yang telah duda dan hedonis tulen – menemukan makna baru dalam hidupnya, dan memahami sebab-sebab dari nihilismenya. Makna baru dijumpai setelah dia menyucikan diri (ditamsilkan dengan membersihkan diri dengan air gunung yang jernih, atau athirta dalam mistik Hindu Jawa) dan menenggelamkan diri dalam kesunyataan alam awang-uwung (ahanyutan, fana’). Pada tahapan berikutnya dia berjumpa dengan Humam, kembaran dirinya yang tidak lain adalah manifestasi dari diri rohaninya yang selama ini terlupakan disebabkan terlalu silau pada kesenangan jasmani dan duniawi.

Dalam konteks sastra, pembebasan tersebut berkenaan dengan bahan penulisan. Selama ini, menurut Kuntowijoyo, pengarang terlalu terikat dan tergantung pada aktualitas. Pembebasan harus diakukan supaya sebuah gagasan murni tentang dunia dan manusia bisa didapatkan dan imaginasi sanggup mencipakan sebuah dunia tersendiri yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan peristiwa keseharian. Kita tidak harus hanya menjadi jurubicara dari dunia ejala-gejala, tetapi yang lebih penting ialah mengungkap apa yang berada di sebalik tangkapan indera. Kita menjadi wakil dari sebuah dunia yang penuh makna. Ini bersangkut paut dengan cara kita mendekati obyek-obyek sastra, yaitu seperti menangkap hakikat segala sesuatu. Untuk sebuah sastra transendental yyang pening bukan bentuk, tetapi makna; yang ‘di dalam’ bukan ‘yang di permukaan’. Perjalanan ke dunia makna adalah pendakian atau penerbangan ke dunia atas, seperti dinyatakan dalam sajaknya “Perjalanan ke Langit” (dalam antologi Isyarat 44):

Bagi yang merindukanTuhan menyediakanKereta cahaya ke langitKata sudah membujukBumi unuk menantiSudah disiapkanAwan putih di bukit
Berikan tandaAngin membawamu pergiDari pusat samuderaTidak cepat ata lambatKarena menit dan jamMenggeletak di mejaTangan gaib mengubah jarum jamBerputar kembali ke-0
Waktu bagai saljuMembeku di rumputanSelagi kau lakukan perjalanan
Khotbah Di Atas Bukit merupakan novel yang sarat dengan renungan-renungan sufistik dan filosofis. Banyak sarana estetik sastra mistik Jawa dan sufi Melayu yang digunakan. Selain tamsil pendakian ke gunung, penghadiran tokoh kembar, laku penyucian diri dan kehanyutan, juga penggunaan unsur erotis. Barman, tokoh utama novel itu, mengakhiri hidupnya dengan menunggang kuda putih. Dalam mitos Hindu, pada akhir zaman Kalki – yang merupakan penjelmaan Wisnu – akan muncul menunggang kuda putih. Kuntowijoyo juga menggunakan paradoks-paradoks sufi dalam monolog atau pun dialog tokoh novelnya. Misalnya perkataan Human kepada Barman, “Keadaanku ialah ketiadaanku. Atau sebaliknya!’

Di sini terdengar gema dari renungan sufistik Sunan Bonang dalam Suluk Kaderesan:
Nafi jinis (peniadaan genus) berarti‘Yang tidak wujud’Adanya ialah tiadaNafi nakirah (peniadaan mutlak) artinyaKewujudannya diciptaAdanya disebabkan perintah Kun! (fayalkun)Tamsil nafi jinisJika dirujuk pada dirinya sendiriBerarti hakikatnya tiadaKetahui ini!Kata nakirah lantas berartiAda dan tiada bukan sifatnya (yang abadi)Nama yang dapat diberikan ialah tiada
Yakini ini, sungguh pun sukarYakini makna dua hal ini!Tiada itu dikenakanPada benda-benda yang tak punya wujud (hakiki)Dan itu disebut ‘suwung’ (kosong)Yang jika lenyap tak meninggalkan bekas
(lihat Kembali Ke Akar Kembali ke Sumber. 1999:33)

Satu lagi renungan sufistik dalam bentuk paradoks pernyataan di dalam novel itu ialah komentar khalayak ramai ketika menyaksikan kematian Barman yang terjerumus jurang bersama kuda putihnya:
“Tak ada lagi harapan!” kata orang yang satu.“Tak ada lagi putus asa!” sahut prang kedua dan seterusnya.“Tidak ada lagi kebahagiaan!”“Tidak ada lagi kesedihan!”“Dan yang ada adalah hidup (al-hayy, pen.) kita!”“Yang sempurna!”“Yang kosong…”“Tidak ada lagi yang bertentangan!”“Aduh darahnya!” = “Aduh senyumnya!”“Aduh remuknya!” = “Aduh bagus wajahnya!”
Melalui dialog-dialog ini Kuntowijoyo ingin memperlihatkan bahwa suatu peristiwa dalam kehdupan ini bisa menimbulkan kesan, tanggapan dan bahkan pendapat yang berbeda-beda. Segala sesuatu di dunia fenomena ini memang relatif, dan relativisme menimbulkan apa yang disebut oleh Lao Tze sebagai chaos(dalam Tao Te Ching). Kita pun juga pasti memiliki tanggapan yang berbeda tentang pengarang yang berbeda-beda, termasuk Kuntowijoyo. Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa Kuntowijoyo merupakan penulis Indonesia sesudah kemerdekaan yang pertama kali mengungkapkan persoalan falsafah perenial dalam karangan prosanya bersama-sama Danarto.

Selamat jalan sohib yang budiman! Selamat jalan mas Kunto!

Jakarta 15 April 2005
Abdul Hadi W. M.

Sunday, August 07, 2011

Kumpulan Cerpen Bidadari Meniti Pelangi

POTRET KEHIDUPAN KAUM PINGGIRAN

Cerita pendek (cerpen) sebagai subgenre prosa sampai hari ini masih menduduki tempat utama dalam publik sastra Indonesia. Paling tidak, hal itu dapat dibuktikan dari banyaknya koran di Indonesia yang masih mau menyediakan ruang untuk pemuatan cerpen. Kalau tidak dipandang penting dan tidak dibutuhkan, tentu para pengelola koran tidak perlu mengorbankan ruang “hanya” untuk memuat sebuah cerpen. Kompas, Media Indonesia, Repuiblika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Suara Karya, Koran Tempo, Bali Pos, Singgalang, Pikiran Rakyat, dan sejumlah koran lain yang tak tersebutkan di sini tiap minggu memuat cerpen. Meskipun tidak dapat diketahui secara pasti apakah cerpen yang dimuat dalam koran tersebut dibaca atau tidak, kenyataannya koran-koran itu secara ajeg memuat cerpen tiap minggunya. Itu menunjukkan bahwa cerpen dipandang masih dibutuhkan pembaca.

Banyaknya naskah yang masuk ke meja redaksi tiap harinya menandakan bahwa cerpen masih diminati. Keberanaian penerbit membukukan cerpen yang semula dimuat di koran adalah fakta lain lagi yang menyiratkan bahwa minat dan gairah orang untuk menulis dan membaca cerpen di Indonesia cukup tinggi. Ketika sebuah penerbit (komersial) berani menerbitkan cerpen, maka ia telah mempertimbangkan kemungkinan untung dan ruginya. Mustahil penerbit berani menerbitkan cerpen kalau produk itu akhirnya tidak dibeli dan dibutuhkan orang.

Salah satu penerbit yang cukup berani dan produktif dalam menerbitkan buku-buku sastra, khususnya kumpulan cerpen, adalah penerbit buku Kompas. Tiap tahun penerbit itu menerbitkan cerpen-cerpen terbaik (pilihan) yang pernah dimuat di koran Kompas. Selain itu, penerbit tersebut juga menerbitkan cerpen-cerpen lain, baik yang sebelumnya pernah dimuat di Kompas maupun dimuat di koran lain. Sampai saat ini penerbit buku Kompas telah menerbitkan puluhan kumpulan cerpen. Bidadari Meniti Pelangi (selanjutnya cukup disebut BMP) adalah salah satu buku kumpulan cerpen di antara sejumlah buku kumpulan cerpen lain yang diterbitkan oleh penerbit buku Kompas.

Buku ini memuat 18 cerpen yang sebelumnya pernah dipublikasikan di sejumlah media, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Media Indonesia, dan tabloit Nova. Meskipun penulisnya seorang guru, secara tematik BMP tidak menyoroti kehidupan guru. BMP lebih banyak berbicara tentang berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, keamanan/ketenteraman, dan kekerasan, terutama yang terkait dengan kehidupan dan nasib orang-orang kecil, dan kaum pinggiran. Tidak heran jika dalam BMP nasib dan kehidupan kuli bangunan, petani yang menjadi korban penggusuran, pelacur, pencuri, dan golongan lain yang menjadi korban kekerasan menjadi fokus cerita. Penderitaan orang-orang yang ditinggalkan sanak famili (anak, suami) karena konflik sosial serta ekses atau penderitaan orang-orang yang menjadi korban dari proyek pembangunan jalan dan pembangunan perumahan menghiasi BMP.

“Perusuh” yang menjadi pembuka BMP, misalnya, menampilkan tokoh Karli yang menjadi korban penggusuran. Karli tersingkir setelah tanahnya digusur untuk proyek pembangunan perumahan. Tidak hanya itu, Karli dihakimi massa karena mencuri barang-barang pengembang (developer) perumahan. Sebelumnya, Karli adalah seorang petani biasa yang menggantungkan hidup dari tanah yang digarapnya. Entah bagaimana prosesnya, Karli akhirnya kehilangan sumber penghidupan karena tanahnya tergusur untuk perumahan. Tidak dijelaskan dalam cerpen ini berapa besar ganti rugi yang diterima Karli. Namun, satu hal jelas, Karli kehilangan sumber nafkah, kehilangan harga diri, dan kehilangan kendali. Keadaan telah membuat Karli menjadi pencuri. Risiko yang harus ditanggung seorang pencuri apabila aksinya gagal minimal ada dua: dihakimi massa atau masuk dalam jeruji penjara. Karli mengalami keduanya. Sangat ironis: Karli tersungkur di bumi yang selama ini menopang hidupnya, bumi yang selama ini memberi harga diri, bumi yang selama ini memungkinkan dia berdiri tegak untuk mengisi kehidupan sehari-harinya bersama Ijah, istrinya.

Dari pemaparan ringkas itu terlihat bahwa secara tematik, cerpen tersebut berbicara tentang penderitaan yang dialami dan melekat pada diri orang kecil, orang pinggiran, atau orang yang terpinggirkan oleh keadaan. Tema semacam itu—dengan gaya penyampaian yang berbeda-beda—boleh dikatakan mendominasi BMP. “Bulan Terapung di Kali”, “Isteriku dan Kelambit”, “Hukuman bagi Sarkum”, “Lembah Bayang-Bayang”, “Anjing Penjaga Bayi”, dan “Kapuk-Kapuk Randu Merekah,” semuanya melukiskan kehidupan dan derita orang-orang kecil yang disebabkan oleh berbagai hal: penggusuran, kemiskinan, dan kekerasan. Sekalipun orang-orang kecil dalam sejumlah cerpen tersebut tidak selalu menjadi tokoh utama, dari kisah yang tergelar, tak pelak, tersirat juga kegetiran hidup mereka. Dalam “Bulan Terapung di Kali,” misalnya, terkandung saran kemurungan dan kekelaman. Kehidupan orang-orang kecil yang tinggal di tepi kali dengan segala warna dan isinya: kekerasan, kekumuhan, kemiskinan, dan kemesuman dilukiskan sedemikian rupa sehingga terasa mengharukan. Berbagai peristiwa yang hadir lewat penuturan Aku mengalir begitu saja, nyaris tak ada kejutan sebagai pemanis cerita. Prasetyo—penulis cerpen ini—mengikat perhatian pembaca dengan menciptakan Aku yang bertutur tentang pengalaman dan kehidupannya di suatu pemukiman kumuh di tepi kali.

Nada kelam yang terkait dengan kemiskinan terpotret juga dalam “Hukuman bagi Sarkum.” Namun, berbeda dengan cerpen sebelumnya, cerpen itu disajikan dengan gaya diaan. Narator bertindak sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita. Dari posisi itulah ia menuturkan kisah tentang seorang Sarkum yang menuai “hasil” dari kejahatan yang dilakukannya. Kejahatan yang dilakukan Sarkum ditarbelakangi kemiskinan. Berbeda dengan “Perusuh,” yang dipotret Prasetyo dalam “Hukuman bagi Sarkum” adalah kehidupan orang kecil yang menjadi korban pembangunan jalan tol. Sama halnya dengan Karli, Sarkum—tokoh utama dalam cerpen tersebut—dihadapkan pada persoalan tempat tinggal. Jika Karli tergusur dari tanahnya sendiri, Sarkum tergusur dari rumah kontrakannya. Penggusuran demi penggusuran yang dialami Sarkum telah mengusik ketenteraman hidupnya. Sama halnya dengan Karli, Sarkum mengakhiri petualangannya di jeruji penjara, bahkan akhirnya ia mati karena dibunuh. Dan Surti—istrinya—kembali kepada kehidupan lamanya: melacur.

Cerpen lainnya yang juga mengetengahkan kehidupan orang kecil yang tertindih beban hidup adalah ”Isteriku dan Kelambit”. Dalam cerpen itu yang menjadi sorotan Prasetyo adalah kehidupan rumah tangga orang kecil yang terguncang oleh persoalan anak. Aku—tokoh utama cerpen itu—yang menjadi kuli bangunan mendadak terinjak harga dirinya ketika diperolok-olok profesinya oleh istrinya. Sebaliknya, istri Aku menjadi panas hati dan mengusir suaminya saat Aku mulai menyinggung status Tarno, anaknya. Di pengasingan Aku disadarkan oleh jeritan seekor kelambit yang mencari anaknya di pagi hari. Kejadian itu seakan membukakan hati Aku tentang arti kesetiaan induk terhadap anaknya, kesetiaan ibu kepada anaknya. Atas kejadian itu, rasa bersalah dan penyesalan pada diri Aku pun terbit. Maka pulanglah Aku ke rumah untuk menemui istrinya.

Beberapa cerpen yang disinggung tersebut merupakan contoh bagaimana kehidupan orang-orang pinggiran diangkat Prasetyo dalam BMP. Sebetulnya, pengarang yang berkali-kali menang dalam lomba penulisan cerpen itu tidak hanya berbicara tentang orang-orang kecil dalam cerpen-cerpennya. “Permainan Boneka” dan “Kupu-Kupu Bersayap Patah” adalah dua contoh cerpen Prasetyo yang menyoroti kehidupan (jiwa) orang-orang yang menjadi korban dari konflik antaretnik. Meskipun tidak merujuk secara eksplisit ke peristiwa tertentu, dua cerpen tersebut—dilihat dari aspek kisah dan perilaku tokohnya—mengingatkan kita pada konflik antaretnik pada kurun waktu tertentu di Indonesia. Dalam “Permainan Boneka” dilukiskan kesedihan seorang ibu penjual sate yang anaknya mati mengenaskan dalam konflik tersebut. Melalui penggambaran Ino—anak seorang pelukis—terkuaklah kepiluan seorang ibu yang anaknya dipenggal kepalanya. Tak dipakai kata pilu, kejam, atau menyedihkan dalam cerpen itu, tetapi bila kita kunyah dengan hati, saranan dan siratan kekejaman serta kepiluan menyarat dan memancar dari cerpen tersebut. Meskipun tidak diteriakkan—lewat narator atau tokoh utama—nada simpati dan prihatin terhadap nasib tokoh ibu dapat kita rasakan.

Nada semacam itu juga terlihat dalam “Kupu-Kupu Bersayap Patah.” Seorang penjual sate yang buntung kakinya dan terusir dari tempatnya menjalin persahabatan yang tulus dan mesra dengan seorang bocah, Etrisa. Lewat cerpen tersebut diperlihatkan betapa sikap lembut yang diperlihatkan tukang sate kepada Etrisa menjadi sarana yang elok untuk menjalin komunikasi dan persahabatan. Sikap tanpa prasangka dan tanpa pamrih yang ditunjukkan Etrisa kepada tukang sate dan sikap tanpa perhitungan serta kepedulian tukang sate terhadap Etrisa seakan menyindir orang-orang dewasa yang terlibat permusuhan. Sama halnya dengan “Permainan Boneka,” “Kupu-Kupu Bersayap Patah” juga tidak secara eksplisit merujuk ke peristiwa tertentu. Namun, dari cerita itu tersirat nada sindiran dan kepedihan. Tukang sate yang dapat menjalin hubungan dan persahabatan dengan bocah bernama Etrisa dilatari oleh kerinduan dan kenangan tukang sate pada anaknya yang menjadi korban kerusuhan atau konflik.

Selain mengangkat tema sosial, khususnya yang bertalian dengan kehidupan orang kecil, Prasetyo lewat BMP juga menggarap tema lain yang—setidaknya dari perilaku tokoh-tokohnya—tidak langsung berhubungan dengan kehidupan orang kecil. “Dua Ekor Cicak Merayap,” dan “Anak Panah Merajam Dada,” misalnya, lebih menyoroti makna kesetiaan. Cerpen pertama menggunakan acuan cerita rakyat, Alingdarma, sementara cerpen kedua menggunakan acuan wayang (kisah Narasoma atau Salya) untuk menjelaskan makna kesetiaan.

Sejumlah cerpen lain yang belum disinggung secara tersirat menyoroti persoalan moralitas. Dalam “Sang Malaikat” dilukiskan hari-hari akhir seorang pemburu. Melalui cerpen itu seakan hendak ditunjukkan berlakunya “hukum karma” bagi seseorang. Ungkapan “Siapa menanam akan menuai” kiranya relevan untuk disematkaitkan dengan nasib Sang Malaikat yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyakitkan. Apa yang dilakukan Sang Malaikat pada masa lalu, membantai para gali, seakan dibayar oleh proses kematiannya yang menyakitkan. Ia mati setelah diseruduk babi hutan.

“Pemakaman Sunyi” menunjukkan nada yang mirip dengan “Sang Malaikat” sekalipun tokoh yang memainkan cerita menunjukkan latar belakang yang berbeda. “Pemakaman Sunyi” mengisahkan proses penguburan seorang pejabat yang amat berbeda jika dibandingkan dengan penguburan jenazah tukang sampah. Penggalian kubur untuk jenazah pejabat dilakukan dengan susah-payah, sementara penggalian kubur untuk jenazah tukang sampah berjalan begitu lancar dan mudah. Meskipun tidak ada penuturan bagaimana perilaku sang pejabat dan tukang sampah semasa hidup, secara tersirat pembaca seperti dibawa kepada satu kesimpulan bahwa lancar tidaknya penguburan jenazah sangat ditentukan, minimal berhubungan dengan, tingkah polah orang itu semasa masih hidup.

Tidak mungkin semua cerpen yang dihimpun dalam BMP dikemukakan. Seperti telah disebutkan dalam bagian awal, cerpen-cerpen yang terhimpun dalam BMP memperlihatkan tema yang beragam, tetapi kehidupan kaum pinggiran yang erat kaitannya dengan kemiskinan, penggusuran, kekerasan merupakan persoalan yang dominan. Persoalan-persoalan tersebut disoroti lewat kisah yang ditokohi orang-orang kecil (kuli bangunan, pelacur, tukang sate, pencuri, pembantu rumah tangga) yang menjadi korban keadaan. Apa yang terjadi pada batin para tokoh itu diperlihatkan lewat jalinan cerita yang padu. Cerpen-cerpen dalam BMP kadang terjalin lewat alur yang sederhana dengan sedikit kilas baik. Aspek kejutan yang biasanya ditempatkan di akhir cerita atau konflik yang dibangun lewat perdebatan antartokoh nyaris tidak ditemukan dalam BMP. Namun, tidak berarti BMP kehilangan kekuatan artistiknya. Gaya penuturan yang mengalir, pilihan kata yang irit dan tepat (puitis, tidak bombastik) serta penentuan posisi atau sikap pencerita yang tidak menggurui, menggiring, atau memprovokasi pembaca merupakan kekuatan cerpen yang terhimpun dalam BMP.

Tak ada kutukan, penistaan, sumpah serapah, atau penghakiman oleh narrator yang tertuju pada tokoh. Saat menunjukkan perbedaan yang tajam antara anak kandung dan anak tiri serta perilaku ibu tiri yang berlawanan dengan stereotipe atau gambaran umum tentang ibu tiri dalam “Kapuk-Kapuk Randu Merekah” narator tidak terjebak pada sikap berpihak. Karena itu, dalam cerpen tersebut tak dijumpai kecerewetan atau kenyinyiran narator. Kedurhakaan diperlihatkan narator lewat percakapan antartokoh dan sedikit narasi. Narator—yang dalam banyak hal sering diidentikkan dengan pengarang--bisa menahan diri untuk tidak secara sewenang-wenang menghukum Agung (si durhaka), anak tertua Emak. Mungkin kecenderungan inilah yang membuat S. Prasetyo Utomo menganggap dirinya sebagai seorang penulis realis (lihat hlm vii—xi). Ia bahkan menyebut diri sebagai “juru cerita.”

Jika kerealisan itu dikaitkan dengan dari mana tema cerpen dalam BMP ini digali, saya kira tidak perlu ada keberatan yang diajukan. Namun, jika kerealisan itu dikaitkan dengan gaya penyampaian, mungkin pengakuan Prasetyo membutuhkan catatan. Realisme sebagai gaya biasanya dikaitkan dengan bagaimana pengarang menyikapi realita dan mengolah realita menjadi cerita. Tidak seperti seorang penulis romantis yang cenderung menanggapi sesuatu dan melukiskan sesuatu dengan mengandalkan pada perasaan, maka seorang realis menunjukkan kesetiaannya pada realita yang dicerap-alaminya. Pewujudan realita ke karya tidak digerakkan oleh perasaan, tetapi oleh realita itu sendiri. Bagaimana realita tampil (terkesan) apa adanya dalam karya menjadi tumpuan utama. Realita yang diusung ke dalam karya tidak dibalut keinginan penulis untuk memperindahnya, ia harus terkesan tampil apa adanya. Dalam konteks itu, saya melihat cerpen-cerpen dalam BMP lebih memperlihatkan gaya campuran realisme dengan romantisme. Dengan kata lain, BMP dituturkan dalam gaya realism romantik. Hal itu paling tidak dapat dilihat dari cara Prasetyo memilih kata yang cenderung puitik dan metaforik. Contoh sederhana dapat dilihat pada judul tiap cerpen. “Bulan Terapung di Kali,” “Bidadari Meniti Pelangi,” “Lembah Bayang-Bayang,” “Kupu-Kupu Bersayap Patah,” “Kapuk-Klapuk Randu Merekah,” “Anak Panah Merajam Dada” adalah judul-judul yang terasa asosiatif daripada informatif. Pemilihan judul semacam itu mengisyaratkan suatu gaya penulisan romantik tinimbang realis. Kelambit yang dianalogikan dengan istri pada “Istriku dan Kelambit” jelas menyiratkan bahwa cerpen itu tidak sepenuhnya ditulis dalam gaya realis. Penggunaan acuan dan penuturan dalam “Dua Ekor Cicak Merayap” dan “Anak Panah Merajam Dada” kiranya juga menjadi bukti lain bahwa cerpen-cerpen dalam BMP tidak sepenuhnya disajikan dalam gaya realis.

Sebetulnya, ditulis dalam gaya apa pun--romantis atau realis--untuk suatu karya, tidaklah menjadi persoalan. Lagi pula batas antara gaya realis dan romantis dalam suatu karya sering tidak tajam. Pada karya yang mengatasi batas ruang dan waktu dan yang menjadi perhatian banyak orang, umumnya tidak dikaitkan dengan label yang mengacu pada satu aliran tertentu. Saya kira, dalam memandang BMP kita juga dapat mengabaikan label yang terkaitkan dengan aliran. Terlepas dari gaya apa yang dipakai Prasetyo dalam menulis, cerpen-cerpen dalam BMP, menurut hemat saya, bukan saja berhak mendapat pujian, melainkan juga laik dijadikan sebagai bahan kupasan.

Sunu Wasono

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook