Thursday, January 31, 2013

Proses Kreatif Putu Wijaya

Menikmati Perjalanan Sastra Putu Wijaya
Oleh F Akbar

Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.

Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra. Saat masih duduk di sekolah menengah pertama di Bali, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Ketika duduk di sekolah menengah atas, ia memperluas wawasannya dengan melibatkan diri dalam kegiatan sandiwara. Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra.

Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.

Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres. Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama di Jepang (1973) selama satu tahun.

Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1975 ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Setelah itu, ia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman (1979-1985).

Ia juga mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001). Di samping itu, Ia juga pernah mengajar di Amerika Serikat (1985-1988).

Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.

Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya. Terhadap karya-karya Putu itu, Rachmat Djoko Pradopo (dalam Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh, 1985) memberi komentar bahwa Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup karena dorongan naluri yang terpendam dalam bawah sadar, lebih-lebih libido seksual yang ada dalam daerah kegelapan. Di samping itu, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron.

Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.

Karyanya berupa drama ialah Dalam Cahaya Bulan (1966), Lautan Bernyanyi (1967), Bila Malam Bertambah Malam (1970), Invalid (1974), Tak Sampai Tiga Bulan (1974), Anu (1974), Aduh (1975), Dag-Dig-Dug (1976), Gerr (1986), Edan, Hum-Pim-Pah, Dor, Blong, Ayo, Awas, Los, Aum, Zat, Tai, Front, Aib, Wah, Hah, Jpret, Aeng, Aut, dan Dar-Dir-Dor.

Sedangkan dalam bentuk novel diantaranya Bila Malam Bertambah Malam (1971), Pabrik (1976), Stasiun (1977), Keok (1978), Sobat (1981), Lho (1982), Telegram (1972), Tiba-Tiba Malam (1977), Pol (1987), Terror (1991), Merdeka (1994), Perang (1992), Lima (1992), Nol (1992), Dang Dut (1992), Kroco (1995), Byarpet (1995), Cas-Cis-Cus (1995), dan Aus (1996). Dalam bentuk cerpen terkumpul di sejumlah buku diantaranya bertajuk Bom (1978), Es (1980), Gres (1982), Klop, Bor, Protes (1994), Darah (1995), Yel (1995), Blok (1994), Zig Zag (1996), dan Tidak (1999). Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.

Penghargaan yang telah diterimanya ialah sebagai berikut: 1967 Pemenang ketiga Lomba Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (drama Lautan Bernyanyi). 1971 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ (novel Telegram).

1975 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ ( novel Stasiun). 1980 Penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand 1991-1992 Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation Kyoto, Jepang.

Sekarang, Putu Wijaya masih terbaring sakit yang cukup serius. Namun kepada setiap wartawan budaya yang menengoknya Putu mwnuturkan semangatnya untuk terus menggeluti dunia sastra. "Inilah dunia saya yang sesungguhnya," ujar Putu, pelan. ***

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 27 Oktober 2012

Monday, January 28, 2013

Puisi-puisi Anita Retno Lestari

Puisi Bulan, Tuhan, dan Anggur

Bulan di Pangkuanku 

Tuhan, ijinkan aku bermimpi 
seperti Ken Dedes 
bulan jatuh di pangkuanku 
lalu peta dunia berubah 
tapi tanpa pertumpahan darah 
tak ada lagi yang terbunuh 
atas nama pengkhianatan 
atas nama kepengecutan 
atas nama kepahlawanan 

jika bulan di pangkuanku 
akan kuiris-iris seperti semangka 
dan kubagi-bagikan kepada anak-anak jalanan 
kepada perempuan-perempuan malam 
biar mereka tak lagi hidup di kegelapan. 


Pesan Singkat 

Jika aku melupakanmu 
Tolong tegurlah diriku 
Dengan setaman bunga 
Tanpa kenanga. 


Pertanyaan Kepada Tuhan 

Seperti apa rupamu 
Ah, itu pertanyaan dungu 
Karena kau tak seperti apa 
Tak seperti siapa 

Di manakah engkau 
Ini pun pertanyaan lucu 
Karena engkau tak di mana-mana 
Atau di mana-mana 

Siapakah engkau 
Ini juga pertanyaan wagu 
Karena engkau bukan siapa 
Kecuali yang tercinta 

Apakah engkau mencintaiku 
Astaga, kenapa aku ragu 
Setelah tahu mawar itu indah 
Dan dunia demikian cerah. 

Sujud 

Akan kubenturkan kepalaku 
Di atas tanah atau batu 
Jika engkau tak mencintaiku. 


Kasta 

Dengan cinta 
Maafkanlah aku 
karena tak peduli kasta 
Atas bawah sama saja 

Dengan cinta 
Maklumlah aku 
Tak peduli kasta 
 Kau dan aku jadi kita. 

Turis 

Jangan bertanya 
Ke mana kita 
Pergi atau pulang 

Kita berjalan saja 
Untuk kembali 
Ke tempat asal 
Entah di mana 

Seperti pohon mangga 
Pada mulanya biji 
Entah jatuh di mana. 



Segelas Anggur 

Pada pesta 
Kau tuang segelas anggur 
Lalu kau coba mereguknya 
Tiba-tiba lantai hancur 
Langit-langit itu pun runtuh 
Bersama gaunmu yang luruh 
Bumi pun bergoyang-goyang 
Malam jadi amat panjang

(Segelas anggur 
Akankah menemanimu 
Dalam kubur?)


Tentang Penulis
Anita Retno Lestari, kelahiran Pati, 27 Juli 1988, menulis cerpen, puisi, dongeng dan esai. Kini sedang mempersiapkan penerbitan novel-novel remaja yang ditulisnya sejak duduk di bangku MTs dan aktif sebagai penggiat komunitas Sastradipati.

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook