Tuesday, January 13, 2009

Becak Terakhir di Dunia

Becak Terakhir di Dunia
atawa Rambo


Ceritakanlah padaku tentang kepunahan,” kata Alina pada tukang cerita itu. Maka tukang cerita itu pun bercerita tentang Rambo

***
Langit semburat ungu. Senja telungkup ke kota itu. Dari dalam kota, kafilah beratus-ratus truk menggebu melewati padang pasir, mengangkut beribu-ribu becak. Debu mengepul di balik bayang-bayang hitam yang memanjang seperti naga raksasa. Deretan truk itu bagaikan tak putus-putus keluar dari kota mengangkuti beribu-ribu becak. Musik yang dahsyat membahana di telinga para sopir. Beratus-ratus sopir truk mengenakan walkman. Beratus-ratus walkman menggaungkan musik padang pasir.

Beratus-ratus truk meluncur di padang pasir. Di bagasi truk itu, becak-becak menungging, rodanya berputar-putar dan bergoyang-goyang. Kepulan debu makin memanjang. Dari jauh tampak membubung dalam sisa cahaya senja. Beratus-ratus truk terus meluncur tanpa berbelok. Beribu-ribu orang jongkok di tepi lintasan truk-truk itu dengan mata kosong. Tangan mereka sesekali terulur entah mau apa. Sesekali mulut mereka mengeluarkan keluhan lemah. Namun sopir-sopir menekan pedal gas dalam-dalam. Mata mereka waspada ke depan. Mereka tdk menoleh ke kiri atau ke kanan. Dan di telinga mereka bergema musik padang pasir yang syahdu. Keras sekali.

Beratus-ratus truk menuju ke pantai. Ombak menghempas-hempas dan berdebur-debur bagaikan dewa laut yang kelaparan. Beratus-ratus truk tiba di pantai. Ombak menderu-deru dan angin mendesis-desis. Ratusan truk berjajar-jajar membelakangi laut. Ratusan bagasi truk terangkat bersama-sama dan beribu-ribu becak berpindah tempat ke ratusan perahu angkutan. Beratus-ratus perahu mengangkut beribu-ribu becak dalam ombak yang ganas. Di tengah laut, beratus-ratus perahu menumpahkan beribu-ribu becak bersama-sama. Beribu-ribu becak meluncur ke dasar laut membuyarkan ikan-ikan. Tak lama kemudian, becak itu berubah menjadi fosil.

Di puncak bukit karang, seorang lelaki tegak menatap pemandangan itu. Latar belakang langit senja membuat lelaki itu hanya tampak seperti sosok hitam. Ia berdiri tegak seperti patung, matanya menatap tajam pada beratus-ratus becak perahu yang memuntahkan beribu-ribu becak. Ia masih tetap di sana sampai perahu-perahu kembali ke pantai, dan truk-truk meluncur kembali ke kota, meninggalkan kepulan debu yang memanjang. Di samping sosok kehitaman lelaki itu, tampaklah bayangan sebuah becak.

Pada malam hari, Ia mengendarai becak itu menuruni bukit. Sampai di kaki bukit, seorang wanita melambaikan tangannya: “Cak!”

Becak itu berhenti.

“Ke pasar berapa, Bang?”

Gopek.”

Nopek mau?”

“Naik.”

Becak itu segera melaju di padang pasir menuju kota yang kini gemerlapan. Di jalan mereka menyalip beribu-ribu orang yang tadi jongkok di tepi jalan dengan pandangan mata kosong.

“Rambo!” teriak mereka ketika melihat becak itu.

“Apa?!”

“Hati-hatilah Rambo!”

“Kenapa?”

“Waspadalah! Becakmu kini adalah becak terakhir di dunia!”

“Aku tahu.”

Ya, Itulah Rambo si tukang becak. Tubuhnya luar biasa tegap. Wajahnya tampan tapi agak bego. Ia menggenjot becaknya dengan kencang. Rambutnya yang agak gondrong melambai-lambai. Ikat kepalanya juga melambai-lambai. Dari langit terdengar lagu melayu.

Kudaku lari gagah berani …

Rambo memang bukan sembarang tukang. becak. Becak yang digenjotnya pun bukan becak sembarangan. Becak itu adalah Becak Kencana. Dengan becak itu Rambo telah menjuarai reli akbar Paris-Dakar dalam kelas becak. Telah keliling dunia mengendarai becak sampai tiga kali. Telah ikut sirkus keliling yang mempertunjukkan atraksi becak-becak. Rambo mampu berjalan di atas tali mengendarai becak, satu roda becak itu menapak tali, dua roda depan terangkat ke atas. Belum lagi akrobat-akrobat becak yang lain.

Becak Kencana itu kini melaju ke dalam kota. Keringat berleleran di tubuh Rambo. Kaos singletnya basah. Bahkan celana renang yang dipakainya pun basah. Sesekali ia mengelap wajahnya dengan handuk kecil di lehernya. Kakinya yang bersepatu basket mengayuh terus tanpa henti. Wanita dalam becak itu duduk dengan santai. Kakinya menjuntai dan tangannya terus-menerus menyisir rambut.

Dengan kecepatan angin, Becak Kencana menembus gerbang kota. Para petugas bersenjata Armalite dan Kalashnikov yang sedang asyik merenung-renung terkejut. Seseorang segera memberondong. Tapi luput.

“Gila! Masih ada saja becak di kota ini!”

“Itulah becak terakhir yang belum digaruk!”

“Cepat laporkan!”

Dalam sekejap kota itu jadi hiruk pikuk. Sirene polisi meraung-raung. Mobil-mobil polisi dengan lampu merahnya yang sorot cahayanya berputar-putar segera melejit di jalanan, memburu satu-satunya becak yang masih gen-tayangan.

Rambo ngebut di sela-sela kendaraan lain. Orang-orang di dalam mobil atau di trotoar yang melihatnya terperangah.

“Lihat! Becak Kencana belum digaruk!”

“Itu Rambo!”

Keringat Rambo berkilatan disiram hujan cahaya dari reklame-reklame neon raksasa.

“Sebelah mana pasarnya?” teriaknya di antara deru kendaraan yang berseliweran.

“Masih jauh!”

“Di mana?”

“Ujung dunia,” Dan wanita itu tertawa berkepanjangan. Tapi belum lagi Rambo memahami maksudnya, suara sirene mobil polisi terdengar makin nyaring. Di hadapannya mobil polisi itu mendecit menghadang jalan. Dengan lincah Rambo membelokkan becaknya. Ia menyelusup di jalan-jalan kecil, lantas muncul di jalan-jalan besar yang lain.

Di setiap jalan besar, petugas-petugas ber-HT segera melaporkan ketika melihat Becak Kencana melaju.

“Rambo melintas Jalan Satu!”

“Becak Kencana melintas Jalan Dua!”

Setiap jalan ke luar telah disumbat, namun Rambo tetap saja bisa mengecoh. Kadang-kadang ia meng-genjot becaknya terbang di atas mobil polisi. Sementara wanita di dalam becak itu tetap saja tertawa-tawa sambil terus-menerus menyisiri rambut.

Hampir seluruh polisi di kota itu telah dikerahkan. Sirene menjerit-jerit sepanjang jalan. Lalu lintas kacau. Rambo malang-melintang dengan akrobatis. Ia menggenjot Becak Kencana kencang-kencang dalam berbagai gaya. Kadang-kadang becak itu berjalan miring, hanya dengan dua roda, tapi tak jarang pula cuma dengan satu roda. Di tempat-tempat strategis, para juru kamera TV mengabadikan perjuangan Rambo. Seorang reporter TV berkomentar:

“Dahsyat sekali! Tak kurang tiga ribu polisi mengejar becak terakhir di dunia! Tapi Becak Kencana yang dikemu-dikan Rambo belum juga tertangkap! Rupa-rupanya Rambo jauh lebih paham seluk beluk jalanan kota ini ketimbang para polisi! Ia melaju! Ia menyalip! Ia mengepot! Dari ujung jalan satu ke ujung jalan lain. Rambo melesat seperti setan! Dari gang ke gang! Dari jembatan ke jembatan! Lihat saudara-saudara! Lihatlah pada layar TV Anda! Seorang tukang Becak diuber-uber tiga ribu polisi. Inilah sejarah! Saudara-saudara sedang menyaksikan nasib becak terakhir di dunia. Dikemudikan pengemudi becak terbaik dan terakhir di dunia!”

Pada layar TV, gambar Rambo terus menerus bisa diikuti penonton. Para kamerawan pun agaknya tak kalah lincah. Setiap jengkal perjalanan Rambo bisa mereka kejar. Para reporter berganti-ganti melaporkan pandang-an mata mereka.

“Para pirsawan di mana saja Anda berada! Lihatlah peluh Rambo yang bercucuran spt butir-butir mutiara! Napasnya terengah-engah! Wajahnya memelas tapi memendam kemarahan. Ia terus-menerus menggenjot becaknya! Matanya nyalang! Astaga! Para pirsawan di rumah! Lihatlah matanya! Matanya menyimpan dendam! Dendam yang tak pernah bisa terbalas! Tidak pernah ada tukang becak bermata spt itu saudara-saudara sekalian! Tukang becak biasa bermata loyo, malas, dan pasrah! Tapi ini? Para pirsawan di seantero tanah air, apakah mata Rambo mewakili perasaan tukang-tukang becak di seluruh dunia yang becaknya digaruk?!”

Rambo masih menggenjot becaknya. Ia mulai bisa menjauh dari kejaran polisi. Ia memasuki daerah kumuh yang tak bisa dilalui mobil polisi. Sebetulnya sepeda motor polisi masih bisa mengejar, kalau mau, tapi banyak di antara sepeda motor itu sudah rusak bergelimpangan ketika menguber-uber Rambo di jalan raya. Rambo telah menyapu mereka ke comberan satu per satu. Sisanya mau masuk ke daerah itu takut. Maklumlah mereka bisa dikepruk tangan-tangan tak kelihatan dari belakang. Para kamerawan ragu-ragu pula masuk ke sana, apalagi mengingat peralatan mereka yang serba mahal. Maka mereka naik ke gedung-gedung tinggi, dan menembak-kan kameranya dari sana.

Dari ketinggian tampak Rambo menggenjot becaknya pelan-pelan. Di ujung jalan sekelompok orang berjoget mengikuti irama dangdut, diterangi lampu petromaks.

“Aku turun di sini, kita sudah sampai,” ujar wanita yang tak henti-hentinya menyisiri rambut itu tiba-tiba.

“Inikah ujung dunia?”

Wanita itu hanya tertawa. “Kamu tidur di tempatku saja,” katanya sambil menarik tangan Rambo. Tukang becak itu menurut saja. Mereka lenyap di kegelapan.

“Mereka lenyap di kegelapan! Para pirsawan di rumah, Rambo dan wanita penumpangnya menghilang ke sebuah gubuk! Dari tempat reporter Anda berada, hanya tampak Becak Kencana parkir di depan gubuk reyot yang biasa digunakan para pelacur. Saudara penonton di rumah, di daerah hitam ini orang-orang tidak terlalu peduli dengan Rambo. Mereka juga tidak peduli ada tiga ribu polisi sedang memburu-buru Becak Kencana. Mereka sendiri sudah terlalu sering digusur, diciduk, maupun digaruk. Mereka adalah . . . “

Reporter TV itu terus melaporkan keadaan. Sementara di sekeliling wilayah kumuh itu, satu per satu bermuncul-an anggota pasukan tentara. Mereka merayap perlahan dengan senapan M-16 di tangan. Beberapa orang bah-kan membawa bazoka. Di dalam gubuk, kedua orang itu bercakap-cakap.

“Aku pelacur. Kami sudah biasa digaruk. Nasib kita sama-sama tergusur.”

“Tapi pelacur tak akan pernah habis digaruk, lain dengan becak. Becakku adalah becak terakhir di dunia. Tak akan pernah ada pelacur terakhir di dunia. Kamu lebih untung…”

“Ah, sudahlah Rambo,” kata pelacur muda itu sambil mengusap peluh di wajah Rambo, lantas ditariknya kepala tukang becak itu. Lantas diciumnya. Lantas mereka main cinta.

Secercah cahaya menerangi Becak Kencana yang nongkrong di luar. Rambo mengunci rodanya dengan rantai, dibelitkan ke sebuah tiang.

“Pirsawan TV di seantero tanah air”, kali ini suara si reporter rendah sekali, nyaris berbisik. “Satu batalion tentara telah didatangkan utk menyergap Rambo. Maklumlah, kalau becak terakhir di dunia ini tidak juga berhasil dirazia, yang berwajib akan malu. Bukan saja malu krn tak mampu membasmi becak, tapi juga malu krn di negara modern ini masih saja ada becak. Untuk dosa ini, Rambo bisa dihukum tembak. Memang, para bekas tukang becak belum mendapat pekerjaan baru. Namun, wajah kota yang bersih, dan jalanan yang lebih indah tanpa becak jauh lebih penting. Bukankah negara kita sedang membangun? Saudara-saudara penonton TV. Suasana makin menegangkan. Sekitar gubuk reyot tempat Rambo dan wanita tadi masuk sudah dikepung rapat. Sayup-sayup terdengar musik dangdut. Pada layar TV Anda tampak mereka merayap dengan senjata di tangan. Namun orang-orang yang berjoget di ujung jalan itu tidak peduli. Nah, lihat saudara-saudara, komandan operasi berbicara lewat pengeras suara…”

“Rambo! Menyerahlah! Kamu sudah dikepung! Kamu tidak mungkin bisa lolos! Serahkan becakmu dengan suka rela!”

Sepi. Tak ada jawaban. Malam serasa lebih kelam.

“Kalau kamu menyerah dengan baik-baik, kami akan memberi kamu pekerjaan Kamu tidak usah menggenjot becak!”

Masih sepi. Suara tikus mencericit dari lubang got.

“Kami akan memberi kamu sebuah bajaj! Sebuah Bajaj Kencana!”

Dari dalam gubuk terdengar suara tawa wanita.

“He, ada berapa bajaj tersedia untuk seluruh bekas tukang becak?” teriak wanita itu, di tengah tawanya yang berkepanjangan.

“Bangsat kamu Rambo! Kami tidak punya pilihan lain! Maaf, sebetulnya kami bersimpati padamu, tapi kami hanya menjalankan tugas! Siap menyerbu! Satu … Dua…”

Tapi tiba-tiba pintu gubuk reyot itu terbuka.

“Tahan! Aku menyerah!” Rambo mengangkat kedua tangannya. Wajahnya loyo, malas, dan pasrah, seperti umumnya tukang becak. Pelacur itu mengikut di belakangnya dengan malu-malu.

“Astaga! Saudara-saudara pirsawan. Pahlawan kita menyerah! Lambang pemberontakan kita menyerah! Sungguh memalukan! Ini tidak boleh terjadi! Tidak! Rambo! Jangan menyerah Rambo! Matilah sebagai ksatria! Matilah sebagai pahlawan!” Reporter TV itu berteriak-teriak dari atap gedung. Di rumah-rumah, para penonton TV juga riuh berteriak-teriak. Suasana kota hiruk pikuk.

“Jangan bikin malu Rambo!”

“Bangsat kamu Rambo!”

“Kami tidak punya lambang lagi!”

“Kami sendiri tidak berani!”

“Rambo! Sialan lu! Dibayar berapa kamu?!”

Bahkan banyak yang menendang dan melempar kaca layar TV-nya sampai pecah.

“Jadi, kamu menyerah Rambo?” komandan itu menegaskan. Rambo maju ke depan, masih mengangkat kedua tangan.

“Ya, aku menyerah. Aku bukan pahlawan. Dan aku tidak mau jadi pahlawan. Aku Cuma tukang becak yang takut mati dan perlu makan…”

Komandan itu tersenyum sejenak. Namun mendadak berseru: “Tembaaakkk!!!”

***

“Sudah! Sudah! Jangan teruskan!” teriak Alina pada tukang cerita itu. “Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi! Kenapa sih ceritanya harus berakhir seperti itu?”

“Begitulah jaman berubah Alina. Punah dinosaurus. Punah suku Apache. Punah pula becak-becak…”

“Zaman memang sudah berubah. Tapi kenapa kita juga ikut berubah?”

Tukang cerita itu tidak menjawab. Ia hanya meringis. Sehingga mirip patung Buddha yang sedang tertawa.

***
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Jakarta, Februari 1986

Thursday, January 08, 2009

Calon Presiden

Calon Presiden


SEORANG lelaki tampan, dengan pakaian hitam-hitam, rambut agak gondrong, tinggi langsing, kulit sawo matang, berusia sekitar 40 tahun, datang menemui saya. Wajahnya begitu khas. Wajah yang mengesankan milik keturunan ningrat atau keraton. Sebelumnya, sekretaris redaksi di kantor tempat saya bekerja memberitahu saya, ada tamu istimewa ingin menemui saya. Ketika saya tanya, siapa namanya, ia kembali menegaskan; tamu istimewa! Tidak lebih dari itu.

Dan tamu istimewa itu kini sudah ada di ruangan saya. Ia menyalami saya dengan ramah, lalu duduk berhadapan. Saya merasakan kharismanya yang menakjubkan.

"Anda siapa?" tanya saya.

"Bukan siapa-siapa," sahutnya pendek.

"Maksud saya, nama Anda?"


"Sebut saja nama yang Anda inginkan, itulah nama saya."

"Anda tidak punya nama?"

"Entahlah. Saya sendiri lupa lagi nama saya. Mungkin Wisnu, mungkin Surya, mungkin Yudistira, mungkin Manikmaya, mungkin Bisma, mungkin Kresna, mungkin Sadewa, mungkin Aradea, mungkin juga Arjuna."

"Jadi saya mesti memanggil Anda dengan sebutan apa?"

"Kan sudah saya bilang, apapun yang Anda sebut, itulah nama saya. Suka-suka Anda."

"Anda dari mana?"

"Saya baru turun gunung. Lima tahun lamanya saya semedi di puncak sebuah gunung."

"Semedi lima tahun? Buat apa?"

"Buat meyakinkan diri, apakah pantas atau tidak kalau saya mencalonkan diri jadi presiden."

"Mencalonkan diri jadi presiden?"

"Saya sudah bisa menduga, Anda pasti tidak akan percaya."

"Maksud saya, jadi calon presiden itu kan mesti melalui partai yang signifikan jumlah suaranya. Nah, partai Anda apa?"

"Saya tak perlu partai."

"Tanpa partai Anda tak akan bisa mencalonkan diri jadi presiden."

"Itu kan peraturan masa sekarang. Bagi saya tidak berlaku, sebab saya datang dari masa lampau. Saya tidak kena peraturan itu. Saya turun gunung karena mendapatkan wangsit untuk memimpin negeri ini."

"Wangsit dari siapa?"

"Dari sekian banyak leluhur saya. Sebut saja nama leluhur yang Anda kenal, itulah leluhur saya. Mungkin Sri Baduga Maharaja, mungkin Walangsungsang, mungkin Wastukancana, mungkin Mandi Minyak, mungkin Sang Manarah, mungkin Bagus Rangin, mungkin Geusan Ulun, mungkin Suryakancana, semua serba mungkin."

"Tapi kata seorang paranormal, yang akan memimpin negeri ini lima tahun ke depan, berasal dari Jawa."

"Ya, mungkin saja saya. Saya kan tidak tahu persis, apakah saya ini orang Jawa, Sunda, atau orang Indonesia Timur. Anda buka lagi sejarah, dulu yang sangat dikenal itu kan Sunda Besar dan Sunda Kecil."

"Lalu, apa maksud kedatangan Anda ke sini?"

"Saya butuh publikasi. Koran yang Anda pimpin adalah koran harian terkemuka yang beroplah besar dan sangat disegani. Tolong Anda wawancarai saya, dan tulislah tentang saya. Biar masyarakat tahu, calon pemimpin yang selama ini mereka dambakan telah datang dan siap memimpin negeri ini."

Saya termangu sesaat. Tamu istimewa itu sepertinya memahami kebingungan saya.

"Saya bisa merasakan kebingungan Anda. Tapi yakinlah, kalau Anda menulis tentang saya, pasti banyak pembaca yang ingin tahu. Bahkan tidak mustahil, oplah koran Anda akan meningkat. Saya datang dari masa lampau, dan saya hanya butuh ditampilkan melalui koran Anda."

"Dengan cara apa Anda bisa memimpin negeri ini?"

"Saya bisa menjadi insipirasi bagi siapapun yang mau memimpin negeri ini dengan tulus, dengan pengabdian, dan bukan untuk menguasai jabatan lalu mengumpulkan kekayaan. Seorang pemimpin sejati adalah pemimpin yang rela menderita untuk kesejahteraan rakyatnya. Bukan sebaliknya, menikmati kesenangan diatas penderitaan rakyatnya. Negeri ini negeri makmur. Dan adil makmur baru bisa terwujud, bila para pemimpin negeri ini selalu mengabdi pada kepentingan rakyat, dengan mewujudkan kedamaian dalam perbedaan, kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan."

Saya terdiam sesaat. Memang aneh, meskipun saya berhadapan dengan orang yang benar-benar membingungkan, tapi saya begitu menikmati ucapan-ucapannya. Bahkan sama sekali saya tidak merasakan dan tidak punya anggapan bahwa tamu istimewa yang saya hadapi ini punya kelainan jiwa, misalnya. Ia telah menyihir saya untuk terus mendengarkan dan bertanya, malah tanpa terasa melakukan apapun keinginannya.

"Saya tahu, Anda masih meragukan saya," katanya. "Tapi saya juga tahu, Anda tidak menyepelekan kehadiran saya."

"Boleh saya tahu alamat Anda? Pekerjaan Anda? Keluarga Anda?"

Ia tersenyum.

"Saya datang dan pergi, saya ada dan tiada, saya hidup tanpa bekerja, saya sendirian. Alamat saya, jauh di masa lampau."

"Apakah itu zaman Pajajaran?"

"Anda kenal zaman Pajajaran?"

"Saya pernah membacanya."

"Saya tahu, di sini kalau bicara masa lampau selalu identik dengan Pajajaran, dengan Prabu Siliwangi. Anda punya kebanggaan pada masa lampau leluhur Anda. Sama seperti saya."

"Kalau Anda ingin dimuat dalam koran saya, Anda harus sebutkan nama Anda. Seperti kata Anda, saya bisa bebas memilih nama Anda, tapi saya lebih suka kalau nama itu disebut oleh Anda."

"Kalau Anda peka, sesungguhnya nama saya sudah banyak disebut. Bahkan saya berani memastikan, bahwa inisial huruf presiden yang akan datang adalah huruf A, M, W dan S.

"Singkatan dari nama apa?"

"A itu Adikarya, nama saya. M itu Mahakarya, juga nama saya. W. itu Wisnukarya, masih nama saya." Ia berhenti sesaat. Saya langsung bertanya.

"Lalu, S-nya singkatan nama apa?"

"Satria Piningit."

"Satria Piningit?"

"Pasti Anda pernah mendengarnya. Karena kata paranormal, dialah yang diharapkan bisa tampil sebagai pemimpin negeri ini, dialah yang diharapkan bisa mewujudkan harapan rakyat negeri ini. Dan saya datang memenuhi harapan rakyat negeri ini."

"Anda Satria Piningit?"

"Ya, sayalah orangnya."

Saya terdiam lagi. Ia menatap saya, lalu tersenyum.

"Saya tahu, Anda masih meragukan saya."

"Saya benar-benar bingung."

"Semua orang sekarang ini sedang bingung. Bingung memilih calon presiden yang sesuai dengan dambaan hati nuraninya, sebab kalau salah pilih, ia juga akan menanggung akibatnya. Maka sekarang inilah saat yang tepat untuk kehadiran saya. Tolong tulis dalam koran Anda, bahwa calon pemimpin yang didambakan sudah datang! Satria Piningit telah muncul!"

"Apakah rakyat akan percaya? Bukankah nama Anda tidak terdaftar dalam bursa calon presiden?"

"Yang namanya Satria Piningit itu justru muncul diluar dugaan. Bukan dimunculkan sebagai hasil koalisi dua partai, atau dirancang dan dicalonkan dari partai besar atau hasil konvensi. Saya pasti akan menyita perhatian, sebab saya muncul diluar daftar calon presiden."

"Saya makin bingung."

"Nanti Anda akan paham dan Anda akan menghargai kehadiran saya di sini. Boleh saya minta sesuatu dari Anda?"

"Apa?"

"Panggil fotografer koran Anda. Tolong foto saya di ruangan ini bersama Anda. Biar Anda yakin, bahwa Anda bersama calon presiden yang datang dari masa lampau."

Saya benar-benar seperti kena hipnotis. Tangan saya langsung memijit nomor telepon. Memanggil salah seorang fotografer. Kemudian seperti permintaannya, saya dipotret dengan dia di ruangan kerja saya.

Tanpa terasa, saya ngobrol dengan dia menghabiskan waktu tiga jam lebih. Ketika hendak meninggalkan ruangan saya, dia sempat berkata.

"Jangan salah memilih, sebab masa depan negeri ini sangat tergantung dari pemimpin hasil pilihan Anda."

Besoknya saya sudah menyiapkan tulisan tentang dia, dan saya beri judul "Calon Presiden, Satria Piningit Sudah Datang". Sesungguhnya saya juga tidak begitu yakin dengan tulisan itu, sebab siapa tahu presiden yang terpilih nanti adalah seorang wanita bukan seorang satria. Tapi yang sangat mengagetkan, justru setelah saya melihat hasil foto saya dengan Satria Piningit di ruangan kerja saya. Dalam foto itu begitu jelas sosok saya, tapi sosok Satria Piningit justru agak kabur, dan hanya berupa penampakan seorang satria tampan bermahkota yang wajahnya sama persis dengan dia. Jangan-jangan seperti yang dia ucapkan; saya datang dari masa lampau. Lalu saya mencoba merenung, apakah saya sedang menyaksikan Dunia Lain?

Percaya tidak percaya, akhirnya tulisan dan foto itu saya muat juga. Dan benar seperti apa yang dikatakannya, tulisan dan fotonya membuat heboh dan terus-menerus jadi bahan gunjingan. Tiras koran meningkat deras. Saya terpaksa menuliskan lagi tentang pertemuan dengan Satria Piningit itu lebih fantastis, atas permintaan pembaca. Tapi yang membuat saya kaget, sewaktu suatu hari saya menerima SMS misterius. Bunyi kalimatnya seperti ini: "Saya sangat mencintai negeri ini, dan kalau Anda mencintai negeri ini, jangan salah pilih. Anda tahu kriteria calon pemimpin yang bisa menyelamatkan negeri ini, kan? Sayalah calon presiden yang Anda dambakan!"

Dan di layar HP saya, lalu muncul sosok dalam gambar yang buram. Sosok yang sama persis dengan foto penampakan Satria Piningit yang datang ke kantor saya.

Tiba-tiba telefon di meja kerja saya berdering. Saya segera mengangkatnya. Terdengar suara seseorang.

"Bolehkah saya bertemu dengan Anda?"

"Anda siapa?"

"Calon Presiden."

"Calon Presiden?"

"Ya."

"Satria Piningitkah?"

Tidak terdengar jawaban.

Saya termangu sesaat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju ke arah pintu ruangan. Pintu bergerak seperti ada yang membuka. Tapi tak ada siapa-siapa. Tak ada penampakan Calon Presiden. ***

Cerita Pendek Eddy D. Iskandar

Download Novel Sastra
Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook