Friday, June 26, 2009

Rendra: Sajak Orang Kepanasam

SAJAK ORANG KEPANASAN

karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu .....
karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan .....
maka kita bukan sekutu

karena kami kucel
dan kamu gemerlapan .....
karena kami sumpeg
dan kamu mengunci pintu .....
maka kami mencurigaimu

karena kami terlantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan .....
karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar .....
maka kami tidak menyukaimu


karena kami dibungkam
dan kamu nrocos bicara .....
karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan .....
maka kami bilang TIDAK kepadamu

karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana .....
karena kami cuma bersandal
dan kamu bebas memakai senapan .....
karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara .....
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu

Thursday, June 25, 2009

Raudal Tanjung Banua: Sopir, Penumpang dan Bis

Seorang Sopir, Seorang Penumpang, dan Bis yang Berangkat



SOPIR itu masih bangun, tentu saja, karena bis yang dibawanya masih meluncur di jalan raya. Semua orang telah tertidur, dan sopir itu masih terus terjaga. Ketika kemudian aku terbangun oleh rem mendadak yang cukup menyentak dan mengejutkan, tiba-tiba aku merasa telah kehilangan sesuatu. Entah apa.

Sungguh aneh perasaanku saat terjaga. Sudah sampai di mana? Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir, dan pemandangan ke depan terlihat terang-benderang. Tapi tak satupun ada penanda yang dapat kubaca atau dengan segera kukenali, kecuali satu-dua lentera di rumah-rumah yang sunyi. Selebihnya hanya kampung yang tidur tenteram, mungkin pula tidak tenteram, di tepi jalan yang legam. Kampung yang tak bernama, susah-payah kukenali. Berarti benar, aku telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin lagi kudapatkan, sebaik sang sopir mendapatkannya. Aku bahkan asing dengan tempatku berada.

Benar, banyak yang bilang padaku selama perjalanan. Sebagai misal, aku tidak tahu posisiku di mana. Tak tahu, apa gerangan tadi di tengah jalan hingga sopir mendadak ngerem; pasti hanya dia yang tahu, dia seorang. Apakah ada kendaraan lain yang terlalu menyorong ke tengah? Apakah sebuah lobang, atau jembatan rusak yang lantainya menganga, atau sesuatu yang melintas tiba-tiba? Mungkin makhluk halus yang suka menggoda-sebagaimana jamak kudengar di kampung-atau setidaknya seekor babi menyeruduk mendadak? Mungkin harimau kumbang yang ke luar dari hutan di kiri-kanan jalan. Entah. Bukankah aku telah kehilangan banyak hal gara-gara kantuk dan lelah, sehingga membiarkan semua berlalu begitu saja?

Tapi, tidak sopir itu. Lihatlah, ia masih bangun! Ya, matanya terbuka, tangannya bergerak dan bekerja. Tanpa banyak merokok (gampang disimpulkan ia bukan perokok berat) yang biasanya jadi alasan buat begadang. Tak ada kopi, apalagi alkohol yang kulihat, hanya air putih dalam botol mineral dan sesekali saja diteguknya. Tak ada musik, kuduga bahkan tipe-nya sudah tak ada; bis ini sudah tua, tapi irama putaran rodanya masih terjaga-berkat sang sopir yang bersetia. Situasi ini benar-benar membuatnya sendirian. Tak ada kawan berbagi, jarang berselisih dengan kendaraan lain, untuk sekadar membunyikan klakson sebagai bentuk tegur-sapa.

Aku teringat bis-bis di Pulau Jawa. Jika aku naik bis dari Yogya ke Surabaya atau Yogya-Jakarta, boleh dikatakan sopirnya tidak sendirian. Sebab sepanjang jalan yang dilalui tiada lain kota demi kota, tempatnya singgah di banyak terminal, dan selalu saja ada penumpang yang naik-turun. Akibatnya, kondektur tak mungkin ikut tertidur, bahkan penumpang pun tak bisa benar-benar tertidur karena selalu ada teriakkan kondektur yang membahana. Begitu pula sepanjang jalan, sopir selalu memiliki hiburan sendiri dengan saling berkejaran sesama bis malam, berselisih dengan macam-macam kendaraan, dan menyalip dengan liar. Dengan suasana semacam ini, kuduga sang sopir tidaklah sendirian karena ia punya hiburan.

Tapi, di jalanan Sumatera, entah mengapa, aku merasakan mereka sungguh sendiri. Apalagi dimalam hari. Hanya jalanan lengang yang mereka hadang, sesekali saja bersirobok dengan kendaraan lain. Namun, dengan kesunyian seperti itu, aku merasakan ia terlihat lebih tenang mendapatkan apapun sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba aku merasa cemburu kepadanya. Aku pandang wajahnya dari samping, begitu lurus menatap ke depan, begitu sabar untuk bertahan. Karena memandang dari samping, maka yang paling tampak menonjol adalah hidungnya yang mancung tapi agak bengkok sedikit seperti paruh burung gagak atau kakak tua. Rahangnya tidak terlalu tegas, tak jauh beda dengan bahu atau bagian tubuhnya yang lain, bahkan dengan kemeja coklat tanah yang agak kebesaran, ia terkesan lebih kurus. Tapi tak ada tanda-tanda tubuh itu akan menyerah oleh jarak dan waktu, oleh kantuk dan bosan. Atau, tidakkah kantuk dan bosan itu telah terlipat di raut wajah?

Sayang, ia jarang berpaling, katakanlah untuk mengetahui keadaan penumpangnya, sehingga aku tak bisa tahu sepenuhnya raut wajah itu. Ada memang beberapa kali ia menoleh ke samping kiri-ke arahku!-tapi entah mengapa aku selalu memilih pura-pura tidak peduli. Dan tampaknya ia pun benar-benar tak peduli, sebagaimana ia tidak peduli pada penumpangnya yang lain, di mana juga tak seorang pun yang peduli kepadanya.

Akulah penumpang satu-satunya yang kini bangun bersama dia. Sedang kondekturnya pun tak mungkin bangun, lihatlah, ia terlelap dalam posisi yang sangat menyedihkan: tubuhnya tergayut di dinding pintu, kepala terkulai, mengingatkan aku pada gambar nabi yang disalibkan. Ya, tidur adalah dunia yang damai dan tenteram-kubaca dari raut wajahnya yang kelelahan. Dan sebagai orang satu-satunya yang bangun, mestinya aku bersikap tenang karena apa bedanya aku dengan sang sopir? Aku toh menyaksikan juga pemandangan yang sama, jalan yang membelah kampung dan kawasan hutan, tanpa harus merasa kehilangan.

Tapi tidak. Entah mengapa, hatiku sukar diajak berdamai, malah cemburu dan iri yang terus kurasakan. Sudah berapa jarak ditempuh sang sopir, berapa kampung dan kota yang ia lewati-dengan mata terbuka? Semua panorama miliknya. Semua kejadian ia saksikan, dan disimpannya sendiri dalam kepala. Sedang aku? Aneh, aku merasa tolol dan dungu. Juga orang-orang itu, penumpang lain yang mendengkur dan bermimpi. Paling mereka hanya akan terjaga, nanti, saat bis telah berhenti, mungkin di sebuah warung nasi atau di sebuah kota kecil sehabis jalanan menurun dan mendaki.

Bis terus berjalan, dan sopir itu masih bangun, tentu saja. Tapi sebenarnya ia tak lagi sendiri. Bukankah ada aku yang berjaga, menemaninya? Adakah ia tahu dan peduli? Aku sengaja membuat gerakan menggeliat dengan mengangkat tangan untuk memancing perhatiannya, tapi ia tak hirau sama sekali. Lalu aku menguap dengan menekankan pada efek yang sebaliknya: menguap bukan pertanda ngantuk, tapi mengisyaratkan keterjagaan. Ia pun tidak peduli dan dengan segera aku menyesali diri: jangan-jangan aku hanya mengganggu konsentrasinya. Bukankah menguap, bagaimanapun identik dengan tidur? Ingin aku mengajaknya bercakap, mungkin dengan bertanya sesuatu entah apa. O, ya, mungkin menanyakan sudah sampai di mana! Tapi sialan, tak satu kalimat pun dapat kuucapkan.

Padahal benar, aku masih belum mengenali daerah yang dilalui dan dengan susah-payah harus kuusahakan sendiri. Maklumlah, sudah bertahun-tahun aku tidak pulang. Dulu, semasa bersekolah di kota kabupaten atau sesekali ke ibukota provinsi, aku selalu melewati jalan ini. Berangkat dan pulang adalah perjalanan yang menyenangkan karena pemandangannya sangatlah mengasyikkan. Selepas hutan rimba, kita akan bersua kampung-kampung yang tiba-tiba membuka pepat hutan, kemudian pasar yang hanya ramai sekali sepekan, kemudian tanjakan dengan jalan berkelok-kelok, jurang dan ngarai yang berbatasan langsung dengan lautan. Daerahku memang unik. Diapit Samudera Indonesia dan diapit Bukit Barisan, membuat hamparan daratannya tidak terlalu luas, hanya memanjang di tepi pantai ratusan kilometer dari Tapan hingga Tarusan. Kadang aku berpikir, jangan-jangan hutan rimba di kiri-kananku sudah tidak lagi dapat dipercaya. Maksudku, di bagian sisi jalan saja yang terkesan lebat dan dibiarkan apa adanya, tapi radius sekian meter di kedalaman sudah berlobang dan bolong-bolong.

BIS terus berjalan. Sebenarnya dengan jarang pulang, aku ingin ke kota Padang dengan naik bis agak siang, tapi kapal laut dari Teluk Bayur baru akan berangkat pagi hari. Kupikir tidak efektif. Maka tidak apalah agak sedikit malam, sehingga aku bisa menjaga kantukku melihat kampung-kampung yang masih bangun. Tapi, aku lupa, transportasi agak jelek, pada hari-hari tertentu seperti Senin dan Minggu akan penuh. Maka benar, aku yang berangkat petang Minggu malam Senin-yang dipercayai sebagai hari baik buat perjalanan jauh tidak kunjung mendapat tumpangan. Satu-satunya bis yang kami tunggu, dan itu sudah larut sekali hanyalah bis dari Selatan, tepatnya dari Bengkulu atau Sungaipenuh. Dan malam itu, aku akhirnya menaiki bis dari Bengkulu.

Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir. Sebab hanya ada satu bangku kosong yang sudah ditempati Ida, istriku-yang tertidur sambil memeluk Tsabit, anak semata wayangku yang sebenarnya sedang sakit. Tapi karena kami percaya pada hari baik, kami tak perlu menunda perjalanan. Ah, kasihan sesungguhnya mereka-Tsabit dan Ida-jauh-jauh kuajak pulang dari Jawa dengan keadaan cukup menderita.

Bis jalan menanjak. Laut bergemuruh di sisiku. Dalam kelam. Hanya di kejauhan dapat kusaksikan cahaya lampu bagan (kapal kayu penangkap ikan) bagai ribuan kunang-kunang nun ke ketengahan-laut yang tak berwatas. Selepas itu, kami memasuki sebuah kampung yang penuh dengan orang-orang. Rupanya ada helat khitanan atau kawinan yang menanggap organ-tunggal. Biasanya kesenian tradisional rabab semalam suntuk dengan kaba atau lagu-lagu daerah yang hiruk-pikuk. Tapi kini orang telah meninggalkan tradisi itu dan memilih organ tunggal yang membuat siapapun bisa berjoget di jalan-jalan. Seperti malam ini, sudah larut sekali. Tapi mereka tak hendak minggir ketika bis nyaris berhenti.

Pelan sekali bis yang kunaiki ini membelah kerumunan orang kampung yang sedang dihibur irama Melayu alunan orgen tunggal. Kebetulan yang bernyanyi seorang perempuan bahenol yang bergoyang kiri-kanan tak ketulungan.

Sementara orang-orang yang berjoget, sebagian berhenti. Mereka menyadari sebuah bis terkepung di antara mereka-yang selama ini selalu ngebut-dan mereka seperti berebut menempelkan telapak tangannya ke dinding dan kaca bis. Beberapa dari telapak tangan itu tercetak agak kurus di kaca jendela, meninggalkan bekas berembun cukup lama. Dingin. Sebagian bersorak-sorai tak jelas. Beberapa penumpang terbangun, mengintip di jendela dan segera saja disergap irama Melayu yang membahana. Beberapa di antara mereka tercengang sebentar, tapi segera sadar dan terus memandang ke luar. Sementara orang-orang di luar memandang ke dalam, bagai menembus labirin kaca jendela. Kusaksikan tatapan mereka yang di luar berpadu dengan tatapan mereka yang di dalam bis. Ada bahasa yang tak terucapkan, antara mereka yang tinggal dan mereka yang pergi.

Akupun menatap nanap di kaca, beradu pandang dengan mereka yang bergerombol di tepi jalan. Seorang lelaki berpulun kain sarung jelas menatap ke arahku; aku pun menatap matanya. Kami bertatapan. Hei, kita bertatapan, bukan? Tapi apa yang kita katakan? Tak satupun yang kami katakan. Tapi, sebenarnya banyak yang kita katakan, bukan? Kami pasti setuju. Kita bersetuju, bukan? Ya, kami bersetuju, dalam diam.

Wajah itu masih ngungun di balik pulunan sarung. Seketika mengingatkanku pada karya seorang perupa di Yogya, Mella Jarsama namanya. Ia pernah berpameran dengan menampilkan sepasang orang terkungkung pakaian pelepah pisang, lokan dan manik-manik sehingga wajah mereka seperti tersimpan di balik cadar, penuh tatapan aneh; perpaduan rasa dingin, benci dan misteri. Kini wajah itu bagai hadir menatapku dalam pulunan kain sarung, di balik kaca yang mulai mengabur oleh embun. Membuatku kian dipusing rasa asing. Bahkan ketika bis tiba-tiba lepas dari jebakan, aku merasakan keasingan yang lain; terbebas dari tatapan aneh di luar jendela, aku merasakan tatapan itu kemudian berpindah ke dalam bis, kepada semua penumpang yang tertidur terbungkus stelan malam-jacket, sweeter, atau selimut tebal. Aku melihat wajah semua penumpang seperti menyimpan penderitaan dan ketakutan; menyeringai, ngorok bagai digorok, lemah pasrah dan teronggok dingin di kursi-kursi yang kusam. Kondektur itu bahkan sudah serupa orang tergantung di dinding pintu. Juga Ida istriku, juga Tsabit anakku, kulihat wajah mereka berubah aneh dan dingin dalam temaram cahaya yang jatuh redup dari plafon bis tua ini.

Barulah ketika jalan sedikit menurun, bis berhenti di sebuah rumah makan, aku tersadar telah sampai di Siguntur, sebuah daerah yang banyak rumah makannya dan biasanya bis-bis berhenti di sini untuk berbagai-bagai keperluan. Dan sebagaimana kuduga, orang-orang pun bangun dengan cara yang lazim: seperti orang bego, turun dan melongo, menggeliat sebentar melepas penat badan, lalu mencari kamar mandi sekadar untuk kencing-tanpa cuci muka-karena bukankah di bis yang melaju akan melanjutkan tidur lagi? Yang lapar dan punya duit makan, yang lain merokok di kedai, membeli minuman ringan sambil menonton kondektur mencongkel ban. Atau mencuri pandang pada perempuan penumpang yang entah mengapa di tengah suasana malam semacam ini terasa cantik belaka dan meruapkan semacam aroma seksual.

Dua orang bercakap-cakap di sampingku. Yang kurus ceking bertanya dari mana dan hendak ke mana bis yang ia naiki ini. Aneh juga, pikirku, bagaimana ia bisa menumpang bis yang tidak ia kenali? Tapi, ah, wajar saja karena mungkin ia naik di lain kota dan tentu tak sepenuhnya bisa membaca nama dan tujuan. Yang gemuk pendek bercerita bahwa bis berangkat jam dua dari Bengkulu, dan akan terus ke Medan.

Entah mengapa aku kembali teringat sang sopir. Berapa lama lagi ia harus bertahan? Ataukah ada yang akan menggantikan? Kondektur menurunkan ban serap, menambah angin, tapi kudengar ada yang mendesis, dan si kondektur menggerutu, “Sial, bocor!” Ketika bangun suaranya keras dan menggelegar, saat tidur semua yang ada padanya sempurna ditelan beban dan lelah malam. Aku masih asing sendiri. Apalagi rumah makan itu di tengah hutan, diapit bukit-bukit yang tak sepenuhnya terlihat dalam kelam. Rasanya aku baru saja mendarat di ranah asing, lantas menemukan rumah makan itu, menemukan menu-menu yang sulit kucecap. Aku hanya memandangi Ida, istriku makan dengan lahap. Tentu saja ia sudah sangat lapar, dan aku melihat dirinya bagai seseorang yang tersesat.

BIS kemudian melanjutkan perjalanan. Aku tahu, tak lama lagi aku akan memasuki kota Padang-jalan-jalan sudah kukenal berkat penanda rumah makan di Siguntur. Aku merasa ada yang bakal hilang. Fajar sebentar lagi menyingsing. Dan aku akan turun di simpang Teluk Bayur, arah jalan ke pelabuhan. Bis itu lalu akan meninggalkan kami, penuh debu, derak dan deru.

Begitulah, bis akhirnya sampai di persimpangan yang kutuju. Aku minta berhenti. Bis menepi dan kondektur dengan gerak lamban menurunkan barang-barang kami. Sampai detik terakhir ketika bis akan melaju, aku tetap tak mampu bercakap dengan sang sopir barang sepatah pun, bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih! Ah, lidah yang kelu!

Lalu, dengan perasaan asing, sekaligus haru, aku menatap bis itu melanjutkan perjalanan; tentu, ia akan singgah sebentar di terminal kota Padang, untuk akhirnya terus ke Medan. Betapa panjang perjalanan. Di tangga ke kapal, nanti, pasti aku tak bakal melupakan sang sopir yang entah mengapa tiba-tiba mengundang seluruh rasa dalam diriku. Aku kasihan padanya yang bertahan dengan pemandangan itu-itu juga, dengan jarak waktu yang sama. Sebagai sopir, musafir abadi. Sedang aku, sebentar lagi akan menyaksikan lautan luas terbentang, alam tiada berbatas, cakrawala yang gaib dan ajaib di kejauhan. Tapi, aku juga cemburu kepadanya yang menyaksikan semua kejadian di sepanjang perjalanannya yang hening.

Ah, bis itu telah berangkat, sopir itu telah membawanya laju, berderak-derak, dalam jarak dan waktu. Panjang dan jauh. Tapi seorang penumpang masih mengenangnya, sampai sekarang. Sebab, sebagaimana kau baca di koran-koran (aku juga membacanya sesampai di Tanjung Priok), sebuah bis Jurusan Bengkulu-Medan terguling di jalan. Badannya remuk masuk ke dalam sungai. Kernetnya luka pada lambung, mengucur darah. Sopirnya yang berhidung bengkok seperti paruh burung gagak atau paruh kakak tua dinyatakan hilang, dan tentu saja para polisi, seperti biasa, dengan enteng menyebutnya melarikan diri. Sebagian percaya ia hanyut ke laut.

Tapi aku lebih percaya bahwa sang sopir yang sempat kukagumi sekaligus kucemburui sepanjang perjalanan itu, punya nasibnya sendiri. Tak mungkin ia melarikan diri, tentu saja, karena dalam bayanganku ia telah menjelma burung gagak ajaib yang tatapannya sedingin laki-laki berpulun kain sarung di tepi jalan, atau orang berkerudung serat batang pisang di sebuah pameran seni. Paruh bengkoknya terasa gemerincing dalam ingatan, bagai lokan kering dimainkan jari-jari Maut yang panjang.

* Rumahlebah Yogyakarta, 2004-2005
Raudal Tanjung Banua (Dimuat di Suara Karya, 17 April 2005)

Wednesday, June 24, 2009

Rendra: Sajak Anak Muda

SAJAK ANAK MUDA


Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?

inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.


Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Tuesday, June 23, 2009

Semangka Emas, cerita rakyat Sambas

Muzakir dan Dermawan


Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Sambas, Kalimantan Barat, hiduplah seorang saudagar yang kaya-raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Namun, keduanya memiliki sifat dan tingkah laku yang sangat berbeda. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang. Ia tidak pernah memberikan sedekah kepada fakir miskin. Sebaliknya, Derwaman sangat peduli dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Ia tidak rakus dengan harta dan uang.

Sebelum meninggal dunia, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Ia bermaksud agar anak-anaknya tidak berbantahan dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak. Setelah harta tersebut dibagi, Muzakir dan Dermawan tinggal terpisah di rumahnya masing-masing. Muzakir tinggal di rumahnya yang mewah, demikian pula Dermawan. Uang bagian Muzakir dimasukkan ke dalam peti, lalu ia kunci. Bila ada orang miskin datang ke rumahnya, ia bukannya memberinya sedekah, melainkan tertawa mengejeknya. Bahkan ia tidak segan-segan mengusirnya jika orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya.

Suatu hari, seorang perempuan tua dengan pakaian compang-camping berjalan terseok-seok datang menuju rumah Muzakir. Di depan rumah Muzakir, nenek tua itu memohon belas kasihan,

“Tuan, kasihanilah nenek. Berilah nenek sedekah!”

Mendengar suara nenek itu, Muzakir keluar dari dalam rumahnya dan menertawakan perempuan tua itu, “Ha ha ha…. Hai nenek jelek, pergi kau dari sini! Aku muak melihat wajahmu yang keriput itu!”

Meskipun dibentak, nenek tua itu tidak mau beranjak. Ia pun terus mengiba kepada Muzakir, “Tapi tuan, nenek sudah dua hari tidak makan, kasihanilah nenek.”

Melihat nenek itu tidak mau pergi, Muzakir menyuruh orang gajiannya untuk mengusirnya. Akhirnya, perempuan tua yang malang itu pun pergi tanpa mendapat apa-apa, kecuali penghinaan.

Orang-orang miskin yang sudah mengetahui sifat Muzakir yang kikir itu, termasuk si nenek tua tadi, tidak mau lagi ke rumah Muzakir. Mereka kemudian berduyun-duyun ke rumah Dermawan. Berbeda dengan sifat Muzakir, Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin tersebut dengan senang hati dan ramah. Mereka dijamunya makan dan diberinya uang karena ia merasa iba melihat mereka hidup miskin dan melarat. Hampir setiap hari orang-orang miskin datang ke rumahnya. Lama-kelamaan harta dan uang Dermawan habis, sehingga ia tidak sanggup lagi menutupi biaya pemeliharaan rumahnya yang besar.

Akhirnya, ia pindah ke rumah yang lebih kecil, dan mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dengan keadaan hidupnya. Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu.

“Itulah akibatnya selalu melayani orang-orang miskin. Pasti kamu juga ikut miskin, dasar memang tolol si Dermawan itu,” gumam si Muzakir. Bahkan, Muzakir merasa bangga sekali karena bisa membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya itu.

Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan, “Kasihan,” kata Dermawan. “Sayapmu patah, ya?” lanjut Dermawan berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. “Biar kucoba mengobatimu,” katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu pun menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan akhirnya ia pun terbang.

Keesokan harinya burung pipit itu kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, lalu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tersenyum melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun hanya biji biasa, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanamnya di belakang rumahnya. Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Ternyata, yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur.

Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya, karena banyak sekali bunganya. “Kalau bunganya ini semuanya menjadi buah, saya pasti kenyang makan semangka dan sebagiannya bisa saya sedekahkan kepada fakir miskin,” kata Dermawan dalam hati berharap.

Tetapi aneh, setelah beberapa minggu semangka itu ia pelihara dengan baik, namun di antara bunganya yang banyak itu hanya satu yang menjadi buah. Meskipun hanya satu, semangka itu semakin hari semakin besar, jauh lebih besar dari semangka umumnya. Dermawan tergiur melihat semangka besar itu. “Kelihatannya sedap sekali semangka ini. Mmm….harum sekali baunya,” ucap Dermawan setelah mencium semangka itu.

Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya semangka itu dipanen. Dermawan memetik buah semangka itu. “Wah…, bukan main beratnya semangka ini,” gumam Dermawan sambil terengah-engah mengangkat semangka itu. Kemudian ia membawa semangka itu masuk ke dalam rumahnya, dan diletakkannya di atas meja. Lalu dibelahnya dengan pisau. Setelah semangka terbelah, betapa terkejutnya Dermawan. “Wow, benda apa pula ini?” tanya Dermawan penasaran. Ia melihat semangka itu berisi pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Disangkanya hanya pasir biasa. Setelah diperhatikannya dengan sungguh-sungguh, ternyata pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia tidak sadar kalau dari luar rumahnya ada seekor burung memperhatikan tingkahnya. Setelah burung itu mencicit, baru ia tersadar. Ternyata, burung itu adalah burung pipit yang pernah ditolongnya.

“Terima kasih! Terima kasih!” seru Dermawan dengan senangnya. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.

Keesokan harinya, Dermawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Meskipun setiap hari dan setiap saat orang-orang miskin tersebut datang ke rumahnya, Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu. Uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah-ruah. Tersiarlah kabar di seluruh kampung bahwa Dermawan sudah tidak miskin lagi.

Suatu hari, berita keberhasilan Dermawan terdengar oleh abangnya, Muzakir. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Ia pun ingin mengetahui rahasia keberhasilan adiknya, lalu ia pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepada Muzakir tentang kisahnya.

Mengetahui hal tersebut, Muzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kakinya atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, tak seekor burung pun yang mereka temukan dengan ciri-ciri demikian. Muzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Ia gelisah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan burung yang patah sayapnya. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan (sumpit). Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung itu. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang.

Tak lama, burung itu kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira. Dalam hatinya, ia selalu berharap agar cepat menjadi kaya, “Ah, sebentar lagi saya akan menjadi kaya-raya dan melebihi kekayaan si Dermawan,” kata Muzakir dalam hati tak mau kalah. Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tiga hari kemudian, tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan.

Beberapa bulan kemudian, tibalah waktunya semangka itu dipanen. Dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir sudah tidak sabar lagi ingin melihat emas urai murni berhamburan dari dalam semangka itu. Ia pun segera mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil muntah-muntah, karena tidak tahan dengan bau lumpur itu. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya. Muzakir menjadi sangat malu ditertawakan oleh orang-orang di sekitarnya.***

Monday, June 22, 2009

Agus Noor: Cerpen Seekor Kupu-kupu

Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu

Cerpen Agus Noor

1.
AKU terbang menikmati harum cahaya pagi yang bening keemasan bagai diluluri madu, dan terasa lembut di sayap-sayapku. Sungguh pagi penuh anugerah buat kupu-kupu macam aku. Kehangatan membuat bunga-bunga bermekaran dengan segala kejelitaannya, dan aku pun melayang-layang dengan tenang di atasnya.
Sesaat aku menyaksikan bocah-bocah manis yang berbaris memasuki taman, dengan topi dan pita cerah menghiasi kepala mereka. Aku terbang ke arah bocah-bocah itu. Begitu melihatku, mereka segera bernyanyi sembari meloncat-loncat melambai ke arahku, "Kupu-kupu yang lucuuu, kemana engkau pergiii, hilir mudik mencariii…"
Aku selalu gembira setiap kali bocah-bocah itu muncul. Biasanya seminggu sekali mereka datang ke taman ini, diantar ibu guru yang penuh senyuman mengawasi dan menemani bocah-bocah itu bermain dan belajar. Berada di alam terbuka membuat bocah-bocah itu menemukan kembali keriangan dan kegembiraannya. Taman penuh bunga memang terasa menyenangkan, melebihi ruang kelas yang dipenuhi bermacam mainan. Sebuah taman yang indah selalu membuat seorang bocah menemukan keluasan langit cerah. Ah, tahukah, betapa aku sering berkhayal bisa terbang mengarungi langit jernih dalam mata bocah-bocah itu? Siapa pun yang menyaksikan pastilah akan terpesona: seekor kupu-kupu bersayap jelita terbang melayang-layang dalam bening hening mata seorang bocah…
Aku pingin menjadi seperti bocah-bocah itu! Menjadi seorang bocah pastilah jauh lebih menyenangkan ketimbang terus-menerus menjadi seekor kupu-kupu. Alangkah bahagianya bila aku bisa menjadi seorang bocah lucu yang matanya penuh kupu-kupu. Terus kupandangi bocah-bocah itu. Alangkah riangnya. Alangkah gembiranya. Uupp, tapi kenapa dengan bocah yang satu itu?! Kulihat bocah itu bersandar menyembunyikan tubuhnya di sebalik pohon. Dia seperti tengah mengawasi bocah-bocah yang tengah bernyanyi bergandengan tangan membentuk lingkaran di tengah taman itu…
Seketika aku waswas dan curiga: jangan-jangan bocah itu bermaksud jahat --dia seperti anak-anak nakal yang suka datang ke taman ini merusak bunga dan memburu kupu-kupu sepertiku. Tapi tidak, mata bocah itu tak terlihat jahat. Sepasang matanya yang besar mengingatkanku pada mata belalang yang kesepian. Dia kucel dan kumuh, meringkuk di balik pohon seperti cacing yang menyembunyikan sebagian tubuhnya dalam tanah, tak ingin dipergoki. Mau apa bocah itu? Segera aku terbang mendekati…
Aku bisa lebih jelas melihat wajahnya yang muram kecoklatan, mirip kulit kayu yang kepanasan kena terik matahari. Dia melirik ke arahku yang terbang berkitaran di dekatnya. Memandangiku sebentar, kemudian kembali mengawasi bocah-bocah di tengah taman yang tengah main kejar-kejaran sebagai kucing dan tikus. Aku lihat matanya perlahan-lahan sebak airmata, seperti embun yang mengambang di ceruk kelopak bunga. Aku terbang merendah mendekati wajahnya, merasakan kesedihan yang coba disembunyikannya. Dia menatapku begitu lama, hingga aku bisa melihat bayanganku berkepakan pelan, memantul dalam bola matanya yang berkaca-kaca…
Terus-menerus dia diam memandangiku.


2.
HERAN nih. Dari tadi kupu-kupu itu terus terbang mengitariku. Kayaknya dia ngeliatin aku. Apa dia ngerti kalau aku lagi sedih? Mestinya aku nggak perlu nangis gini. Malu. Tapi nggak papalah. Nggak ada yang ngeliat. Cuman kupu-kupu itu. Ngapain pula mesti malu ama kupu-kupu?! Dia kan nggak ngerti kalau aku lagi sedih. Aku pingin sekolah. Pingin bermain kayak bocah-bocah itu. Gimana ya rasanya kalau aku bisa kayak mereka?
Pasti seneng. Nggak perlu ngamen. Nggak perlu kepanasan. Nggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Nggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu nggak mati, dan bapak nggak terus-terusan mabuk, pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Nggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan.
Aku senang tiduran di sini. Sembunyi-sembunyi. Nggak boleh keliatan, entar diusir petugas penjaga kebersihan taman. Orang kayak aku emang nggak boleh masuk taman ini. Bikin kotor --karena suka tiduran, kencing dan berak di bangku taman. Makanya, banyak tulisan dipasang di pagar taman: Pemulung dan Gelandangan Dilarang Masuk. Makanya aku ngumpet gini. Ngeliatin bocah-bocah itu, sekalian berteduh bentar.
Kalau ajah aku bebas main di sini. Wah, seneng banget dong! Aku bisa lari kenceng sepuasnya. Loncat-loncat ngejar kupu-kupu. Nggak, nggak! Aku nggak mau nangkepin kupu-kupu. Aku cuman mau main kejar-kejaran ama kupu-kupu. Soalnya aku paling seneng kupu-kupu. Aku sering mengkhayal aku jadi kupu-kupu. Pasti asyik banget. Punya sayap yang indah. Terbang ke sana ke mari. Sering aku bikin kupu-kupu mainan dari plastik sisa bungkus permen yang warna-warni. Aku gunting, terus aku pasang pakai lem. Kadang cuman aku ikat pakai benang aja bagian tengahnya. Persis sayap kupu beneran! Kalau pas ada angin kenceng, aku lemparin ke atas. Wuuss… Kupu-kupuan plastik itu terbang puter-puter kebawa angin. Kalau jumlahnya banyak, pasti tambah seru. Aku kayak ngeliat banyak banget kupu-kupu yang beterbangan…
Ih, aneh juga kupu-kupu ini! Dari tadi terus muterin aku. Apa dia ngerti ya, kalau aku suka kupu-kupu? Apa dia juga tau kalau aku sering ngebayangin jadi kupu-kupu? Apa kupu-kupu juga bisa nangis gini kayak aku? Bagus juga tuh kupu. Sayapnya hijau kekuning-kuningan. Ada garis item melengkung di tengahnya. Kalau saja aku punya sayap seindah kupu-kupu itu, pasti aku bisa terbang nyusul ibu di surga. Ibu pasti seneng ngelus-elus sayapku…
Aku terus ngeliatin kupu-kupu itu. Apa dia ngerti yang aku pikirin ya?

3.
BERKALI-KALI, kupu-kupu dan si bocah bertemu di taman itu.
Kupu-kupu itu pun akhirnya makin tahu kebiasaan si bocah, yang suka sembunyi di sebalik pohon. Sementara bocah itu pun jadi hapal dengan kupu-kupu yang suka mendekatinya dan terus-menerus terbang berkitaran di dekatnya. Kupu-kupu itu seperti menemukan serimbun bunga perdu liar di tengah bunga-bunga yang terawat dan ditata rapi, membuatnya tergoda untuk selalu mendekati. Kadang kupu-kupu itu hinggap di kaki atau lengan bocah itu. Bahkan sesekali pernah menclok di ujung hidungnya. Hingga bocah itu tertawa, seakan bisa merasa kalau kupu-kupu itu tengah mengajaknya bercanda.
Kupu-kupu dan bocah itu sering terlihat bermain bersama, dan kerap terlihat bercakap-cakap. Dan apabila tak ada penjaga taman (biasanya selepas tengah hari saat para penjaga taman itu selesai makan siang lalu dilanjutkan tiduran santai sembari menikmati rokok) maka kupu-kupu itu pun mengajak si bocah kejar-kejaran ke tengah taman.
"Ayolah, kejar aku! Jangan loyo begitu…," teriak kupu-kupu sembari terus terbang ke arah tengah taman.
Dan si bocah pun berlarian tertawa-tawa mengejar kupu-kupu itu.
"Kamu curang! Kamu curang! Bagaimana aku bisa mengejarmu kalau kamu terus terbang?! Kamu curang! Tungguuu kupu-kupuuu… Tungguuuu…"
Kupu-kupu itu terus terbang meliuk-liuk riang. Lalu kupu-kupu itu hinggap di setangkai pohon melati. Kupu-kupu itu menunggu si bocah yang berlarian mendekatinya dengan napas tersengal-sengal.
"Coba kalau aku juga punya sayap, pasti aku bisa mengejarmu…," bocah itu berkata sambil memandangi si kupu-kupu.
"Apakah kamu yakin, kalau kamu punya sayap kamu pasti bisa menangkapku?"
"Pasti! Pasti!"
Kupu-kupu itu tertawa --dan hanya bocah itu yang bisa mendengar tawanya.
"Benarkah kamu ingin punya sayap sepertiku?" tanya kupu-kupu.
"Iya dong! Pasti senang bisa terbang kayak kamu. Asal tau ajah, aku tuh sebenernya sering berkhayal bisa berubah jadi kupu-kupu…" Lalu bocah itu pun bercerita soal mimpi-mimpi dan keinginannya. Kupu-kupu itu mendengarkan dengan perasaan diluapi kesyahduan, karena tiba-tiba ia juga teringat pada impian yang selama ini diam-diam dipendamnya: betapa inginnya ia suatu hari menjelma menjadi manusia…
"Benarkah kamu sering membayangkan dirimu berubah jadi kupu-kupu? Apa kamu kira enak jadi kupu-kupu seperti aku?"
"Pasti enak jadi kupu-kupu seperti kamu…"
"Padahal aku sering membayangkan sebaliknya, betapa enaknya jadi bocah seperti kamu…"
"Enakan juga jadi kamu!" tegas bocah itu.
"Lebih enak jadi kamu!" jawab kupu-kupu.
"Lebih enak jadi kupu-kupu!"
"Lebih enak jadi bocah sepertimu!"
Setiap kali bertemu, setiap kali berbicara soal itu, kupu-kupu dan bocah itu semakin saling memahami apa yang selama ini mereka inginkan. Bocah itu ingin berubah jadi kupu-kupu. Dan kupu-kupu itu ingin menjelma jadi si bocah.
"Kenapa kita tak saling tukar saja kalau begitu?" kata kupu-kupu.
"Saling tukar gimana?"
"Aku jadi kamu, dan kamu jadi aku."
"Apa bisa? Gimana dong caranya?"
"Ya saling tukar saja gitu…"
"Kayak saling tukar baju?" Bocah itu ingat kalau ia sering saling tukar baju dengan temen-temen ngamennya, biar kelihatan punya banyak baju. "Iya, gitu?"
"Hmm, mungkin seperti itu..."
Keduanya saling pandang. Ah, pasti akan menyenangkan kalau semua itu terjadi. Aku akan berubah jadi kupu-kupu, batin bocah itu. Aku akan bahagia sekali kalau aku memang bisa menjelma manusia, desah kupu-kupu itu dengan berdebar hingga sayap-sayapnya bergetaran.
"Bagaimana?" kupu-kupu itu bertanya.
"Bagaimana apa?"
"Jadi nggak kita saling tukar? Sebentar juga nggak apa-apa. Yang penting kamu bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi kupu-kupu. Dan aku bisa merasakan bagaimana kalau jadi bocah seperti kamu. Setelah itu kita bisa kembali lagi jadi diri kita sendiri. Aku kembali jadi kupu-kupu lagi. Dan kamu kembali lagi jadi dirimu. Gimana?"
Si bocah merasa gembira dengan usul kupu-kupu itu. Gagasan yang menakjubkan, teriaknya girang. Lalu ia pun mencopot tubuhnya, agar kupu-kupu itu bisa merasuk ke dalam tubuhnya. Dan kupu-kupu itu pun segera melepaskan diri dari tubuhnya, kemudian menyuruh bocah itu masuk ke dalam tubuhnya. Begitulah, keduanya saling berganti tubuh. Bocah itu begitu senang mendapati dirinya telah berwujud kupu-kupu. Sedangkan kupu-kupu itu merasakan dirinya telah bermetamorfosa menjadi manusia.

4.
WAH enak juga ya jadi kupu-kupu! Bener-bener luar biasa. Lihat, sinar matahari jadi kelihatan berlapis-lapis warna-warni lembut tipis, persis kue lapis. Aku juga ngeliat cahaya itu jadi benang-benang keemasan, berjuntaian di sela-sela dedaunan. Aku jadi ingat benang gelasan yang direntangkan dari satu pohon ke pohon yang lain, setiap kali musim layangan. Aku lihat daun-daun jadi tambah menyala tertimpa cahaya. Semuanya jadi nampak lebih menyenangkan. Dengan riang aku melonjak-lonjak terbang. Terlalu girang sih aku. Jadi terbangku masih oleng dan nyaris nubruk ranting pohon.
"Hati-hati!"
Kudengar teriakan, dan kulihat kupu-kupu yang kini telah merasuk ke dalam tubuh bocahku. Dia kelihatan panik memandangi aku yang terbang jumpalitan. Aku bener-bener gembira. Tak pernah aku segembira ini. Emang nyenengin kok jadi kupu-kupu.
Aku terus terbang dengan riang…

5.
TUBUHKU perlahan-lahan berubah, dan mulai bergetaran keluar selongsong kepompong. Kemudian kudengar gema bermacam suara yang samar-samar, seakan-akan menghantarkan kepadaku cahaya pertama kehidupan yang berkilauan. Dan aku pun seketika terpesona melihat dunia untuk pertama kalinya, terpesona oleh keelokan tubuhku yang telah berubah. Itulah yang dulu aku rasakan, ketika aku berubah dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Dan kini aku merasakan keterpesonaan yang sama, ketika aku mendapati diriku sudah menjelma seorang bocah. Bahkan, saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang lebih meruah dan bergairah.
Aku pernah mengalami bagaimana rasanya bermetamorfosa, karena itu aku bisa menahan diri untuk lebih menghayati setiap denyut setiap degup yang menandai perubahan tubuhku. Aku merasakan ada suara yang begitu riang mengalir dalam aliran darahku, seperti berasal dari jiwaku yang penuh tawa kanak-kanak. Aku ingin melonjak terbang karena begitu gembira. Tapi tubuhku terasa berat, dan aku ingat: aku kini tak lagi punya sayap.
Lalu kulihat bocah itu, yang telah berubah menjadi kupu-kupu, terbang begitu riang hingga nyaris menabrak ranting pepohonan. Aku berteriak mengingatkan, tetapi bocah itu nampaknya terlalu girang dalam tubuh barunya. Dia pasti begitu bahagia, sebagaimana kini aku berbahagia.
Kusaksikan bocah itu terbang riang mengitari taman, kemudian hilang dari pandangan. Aku pun segera melenggang sembari bersiul-siul. Tapi aku langsung kaget ketika seorang penjaga taman menghardikku, "Hai!! Keluar kamu bangsat cilik!" Kulihat penjaga taman itu mengacungkan pemukul kayu ke arahku. Segera aku kabur keluar taman.

6.
KETIKA bocah yang telah berubah menjadi kupu-kupu itu terbang melintasi etalase pertokoan, ia bisa melihat bayangan tubuhnya bagai mengambang di kaca, dan ia memuji penampilannya yang penuh warna. Sayapnya hijau kekuning-kuningan dengan garis hitam melengkung di bagian tengahnya. Rasanya seperti pangeran kecil berjubah indah.
Tapi segera ia menjadi gugup di tengah lalu lalang orang-orang yang bergegas. Bising lalu lintas membuatnya cemas. Puluhan sepeda motor dan mobil-mobil mendengung-dengung mirip serangga-serangga raksasa yang siap melahapnya. Ia gemetar, tak berani menyeberang jalan. Dari kejauhan ia melihat truk yang menderu bagai burung pelatuk yang siap mematuk. Tiba-tiba ia menyadari, betapa mengerikannya kota ini buat seekor kupu-kupu sekecil dirinya. Sungguh, kota ini dibangun bukan untuk kupu-kupu sepertiku. Ia merasakan dirinya begitu rapuh di tengah kota yang semerawut dan bergemuruh. Gedung-gedung jadi terlihat lebih besar dan begitu menjulang dalam pandangannya. Tiang-tiang dan bentangan kawat-kawat tampak seperti perangkap yang siap menjerat dirinya. Semua itu benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya. Ketika ia sampai dekat stasiun kereta, ia menyaksikan trem-trem yang berkelonengan bagaikan sekawanan ular naga dengan mahkota berlonceng terpasang di atas kepala mereka. Sekawanan ular naga yang menjadi kian mengerikan ketika malam tiba. Ia menyaksikan orang-orang yang keluar masuk perut naga itu, seperti mangsa yang dihisap dan dikeluarkan dari dalam perutnya…
Ia begitu gemetar menyaksikan itu semua, dan buru-buru ingin pergi. Ia ingin kembali ke taman itu. Ia ingin segera kembali menjadi seorang bocah.

7.
SEMENTARA itu, kupu-kupu yang telah berubah jadi bocah seharian berjalan-jalan keliling kota. Lari-lari kecil keluar masuk gang. Main sepak bola. Bergelantungan naik angkot. Kejar-kejaran di atas atap kereta yang melaju membelah kota. Rame-rame makan bakso. Ia begitu senang karena bisa melakukan banyak hal yang tak pernah ia lakukan ketika dirinya masih berupa seekor kupu-kupu.
Tengah malam ia pulang dengan perasaan riang, sembari membayangkan rumah yang bersih dan tenang. Hmm, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana enaknya tidur dalam sebuah rumah. Selama ini ia hanya tidur di bawah naungan daun, kedinginan didera angin malam. Rasanya ia ingin segera menghirup semua ketenangan yang dibayangkannya.
Tapi begitu ia masuk rumah, langsung ada yang membentak, "Dari mana saja kamu!" Ia lihat seorang laki-laki yang menatap nanar ke arahnya. Ia langsung mengkerut. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi suasana seperti ini.
"Brengsek! Ditanya diam saja," laki-laki itu kembali membentak, mulutnya sengak bau tuak. Inikah ayah bocah itu? Ia ingat, bocah itu pernah bercerita tentang bapaknya yang seharian terus mabuk dan suka memukulinya. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika laki-laki itu mencekik lehernya. "Uang!" bentak laki-laki itu, "Mana uangnya?! Brengsek! Berapa kali aku bilang, kamu jangan pulang kalau nggak bawa uang!"
Ia meronta berusaha melepaskan diri, membuat laki-laki itu bertambah marah dan kalap. Ia rasakan tamparan keras berkali-kali. Ia rasakan perih di kulit kepalanya ketika rambutnya ditarik dan dijambak, lantas kepalanya dibentur-benturkan ke dinding. Ia merasakan cairan kental panas meleleh keluar dari liang telinganya. Kemudian perlahan-lahan ia merasakan ada kegelapan melilit tubuhnya, seakan-akan membungkus dirinya sebagai kepompong. Ia rasakan sakit yang bertubi-tubi menyodok ulu hati. Membuatnya muntah. Saat itulah bayangan bocah itu melintas, dan ia merasa begitu marah. Kenapa dia tak pernah cerita kalau bapaknya suka menghajar begini? Ia megap-megap gelagapan ketika kepalanya berulang-ulang dibenamkan ke bak mandi…

8.
UDAH hampir seharian aku nunggu. Kok dia belum muncul juga ya? Aku mulai bosen jadi kupu-kupu begini. Cuma terbang berputar-putar di taman. Habis, aku takut terbang jauh sampai ke jalan raya kayak kemarin sih! Takut ketubruk, dan sayap-sayapku remuk. Padahal sebelum jadi kupu-kupu, aku paling berani nerobos jalan. Aku juga bisa berenang, dan menyelam sampai dasar sungai ngerukin pasir. Sekarang, aku cuman terbang, terus-terusan terbang. Nyenengin sih bisa terbang, tapi lama-lama bosen juga. Apalagi kalau cuman berputar-putar di taman ini.
Cukup deh aku ngrasain jadi kupu-kupu gini. Banyak susahnya. Apa karna aku nggak terbiasa jadi kupu-kupu ya? Semaleman ajah aku kedinginan. Tidur di ranting yang terus goyang-goyang kena angin, kayak ada gempa bumi ajah. Aku ngeri ngeliat kelelawar nyambar-nyambar. Ngeri, karena aku ngerasa enggak bisa membela diri. Waktu jadi bocah aku berani berkelahi kalau ada yang ngancem atau ganggu aku. Sekarang, sebagai kupu-kupu, aku jadi ngerasa gampang kalahan. Nggak bisa jadi jagoan! Karna itu aku ingin cepet-cepet berhenti jadi kupu-kupu...
Nggak bisa deh kalau hanya nunggu-nunggu begini. Gelisah tau! Kan kemarin dia janji, hanya mau tukar sebentar. Apa dia keenakan jadi aku, ya? Jangan-jangan dia lagi rame-rame ngelem ama kawan-kawannku. Atau dia lagi didamprat ayah? Ah, moga-moga ajah tidak. Tapi ngapain sampai gini hari belum datang juga? Terus terang aku udah cemas. Aku mesti ketemu dia. Aku nggak mau terus-terusan jadi kupu-kupu gini.
Baiklah, daripada cemas gini, mendingan aku nyusul dia. Apa dia pulang ke rumahku ya? Aku mesti nyari dia, ah!

9.
IA mendapati kemurungan di sekitar rumahnya. Bocah yang telah menjadi kupu-kupu itu bisa merasakan indera kupu-kupunya menangkap kelebat firasat, sebagaimana indera serangga bila merasakan bahaya. Ia mencium bau kematian, bagaikan bau nektar yang menguar. Dan ia bergegas terbang masuk rumah. Ia tercekat mendapati tubuh bocah itu terbujur di ruang tamu. Memar lebam membiru, mengingatkannya pada rona bunga bakung layu. Apa yang terjadi? Alangkah menyedihkan melihat jazad sendiri. Segalanya terasa mengendap pelan, namun menenggelamkan. Ia terbang berkelebat mendekati para tetangganya yang duduk-duduk bercakap-cakap pelan. Kemudian ia mencoba mengajak para tetangga itu bercakap-cakap dengan isyarat kepakan sayapnya. Tapi tak ada yang memahami isyaratnya. Tentu saja mereka tak tahu bagaimana caranya berbicara pada seekor kupu-kupu sepertiku! Dan ia merasa kian ditangkup sunyi, terbang berputar-putar di atas jazadnya. Ia merasakan duka itu, melepuh dalam mata yang terkatup. Sepasang kelopak mata yang membiru itu terlihat seperti sepasang sayap kupu-kupu yang melepuh rapuh. Ia terbang merendah, dan mencium kening jazad itu. Saat itulah ia mendengar percakapan beberapa pelayat.
"Lihat kupu-kupu itu…"
"Aneh, baru kali ini aku melihat kupu-kupu hinggap di kening orang mati."
"Kupu-kupu itu seperti menciumnya…"
"Mungkin kupu-kupu itu tengah bercakap-cakap dengan roh yang barusan keluar dari tubuh bocah itu."
Bocah yang telah berubah menjadi kupu-kupu itu kemudian terbang keluar ruangan, dan orang-orang yang melihatnya seperti menyaksikan roh yang tengah terbang keluar rumah. Tapi ke mana roh kupu-kupu itu? Ia tak tahu ke mana roh kupu-kupu itu pergi. Apa sudah langsung terbang membumbung ke langit sana? Apakah kalau kupu-kupu mati juga masuk surga?
Di surga, aku harap roh kupu-kupu itu bertemu ibuku. Aku ingin dia bercerita pada ibuku, bagaimana kini aku telah menjadi seekor kupu-kupu yang terus-menerus dirundung rindu. Semua kejadian berlangsung bagaikan bayang-bayang yang dengan gampang memudar namun terus-menerus membuatku gemetar.
Bunga-bunga mekar dan layu, sementara aku masih saja selalu merasa perih setiap mengingat kematian kupu-kupu yang menjelma jadi diriku itu. Kuharap bapak membusuk di penjara. Aku terbang, terus terbang, berusaha meneduhkan kerisauanku. Aku ingin terbang menyelusup ke mimpi setiap orang, agar mereka bisa mengerti kerinduan seorang bocah yang berubah menjadi kupu-kupu. Dapatkah engkau merasakan kesepian seorang bocah yang berubah menjadi kupu-kupu seperti aku?
Aku terbang mencari taman yang dapat menentramkanku. Aku terbang mengitari taman-taman rumah yang menarik perhatianku. Aku suka bertandang ke rumah-rumah yang penuh keriangan kanak-kanak. Keriangan seperti itu selalu mengingatkan pada seluruh kisah dan mimpi-mimpiku. Aku suka melihat anak-anak itu tertawa. Aku suka terbang berkitaran di dekat jendela kamar tidur mereka.
Seperti pagi ini. Dari jendela yang hordennya separuh terbuka, aku menyaksikan bocah perempuan yang masih tertidur pulas. Kamar itu terang, dan cahaya pagi membuatnya terasa lebih tenang. Sudah sejak beberapa hari lalu aku memperhatikan bocah perempuan itu. Dari luar jendela, dia terlihat seperti peri cilik cantik yang terkurung dalam kotak kaca. Aku terbang menabrak-nabrak kaca jendelanya. Aku ingin masuk ke dalam kamar bocah perempuan itu. Betapa aku ingin menyelusup ke dalam mimpinya…

10.
HANGAT pagi mulai terasa menguap di horden jendela yang setengah terbuka, tetapi kamar berpendingin udara itu tetap terasa sejuk. Bocah perempuan itu masih meringkuk dalam selimut. Sebentar ia menggeliat, dan teringat kalau hari ini Mamanya akan mengajak jalan-jalan. Karena itu, meski masih malas, bocah perempuan itu segera bangun, dan ia terpesona menatap cahaya bening matahari di jendela. Seperti sepotong roti panggang yang masih panas diolesi mentega, cahaya matahari itu bagaikan meleleh di atas karpet kamarnya. Cuping hidung bocah itu kembang-kempis, seakan ingin menghirup aroma pagi yang harum dan hangat.
Di luar jendela, dilihatnya seekor kupu-kupu tengah terbang menabrak-nabrak kaca jendela, seperti ingin masuk ke dalam kamarnya. Segera ia mendekati jendela. Ia pandangi kupu-kupu itu. Sayapnya, hijau kekuning-kuningan, bergaris hitam melengkung di tengah-tengahnya. Seperti kupu-kupu dalam mimpiku semalam, gumam bocah perempuan itu. Lalu ia ingat mimpinya semalam: ia bertemu seorang bocah yang telah menjelma kupu-kupu. Terus ia pandangi kupu-kupu itu. Kayaknya kupu-kupu itu yang semalam muncul dalam mimpiku? Jangan-jangan itu memang kupu-kupu yang semalam meloncat keluar mimpiku? Bocah perempuan itu ingin membuka jendela. Tapi jendela itu penuh teralis besi. Lagi pula daun jendelanya dikunci mati, karena orang tuanya takut pencuri. Bocah perempuan itu hanya bisa memandangi kupu-kupu yang terus terbang menabrak-nabrak kaca jendela…
Pintu kamar terbuka, muncul Mamanya yang langsung terkejut mendapati anaknya tengah berdiri gelisah memandangi jendela. "Kenapa?" tanya Mama sambil memeluk putrinya dari belakang, berharap pelukannya akan membuat putrinya tenang.
"Kasihan kupu-kupu itu, Mama…"
"Kenapa kupu-kupu itu?"
"Aku ingin kenal kupu-kupu itu."
"Kamu ingin tahu kupu-kupu? Kamu suka kupu-kupu?"
Bocah perempuan itu mengangguk.
"Kalau gitu cepet mandi, ya. Biar kita bisa cepet jalan-jalan. Nanti habis Mama ke salon kita mampir ke toko buku, beli buku tentang kupu-kupu. Kamu boleh pilih sebanyak-banyaknya… Atau kamu pingin ke McDonald dulu?"
Bocah perempuan itu menatap ibunya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ingin bercerita soal mimpinya semalam. Ingin mengatakan kenapa ia suka pada kupu-kupu di luar itu. Ia ingin menceritakan apa yang dirasakannya, tapi tak tahu bagaimana cara mengatakan pada Mamanya.
Setelah lama terdiam, baru bocah itu berkata, "Gimana ya, Ma… kalau suatu hari nanti aku menjadi kupu-kupu?"
Mamanya hanya tersenyum. Sementara kupu-kupu di luar jendela itu terus-menerus terbang menabrak-nabrak jendela, seperti bersikeras hendak masuk dan ingin menjawab pertanyaan bocah perempuan itu.

11.
PERNAHKAH suatu pagi engkau menyaksikan seekor kupu-kupu bertandang ke rumahmu? Saat itu engkau barangkali tengah sarapan pagi. Engkau tersenyum ke arah anakmu yang berwajah cerah, seakan-akan masih ada sisa mimpi indah yang membuat pipi anakmu merona merah. Engkau segera bangkit ketika mendengar anakmu berteriak renyah, "Papa, lihat ada kupu-kupu!"
Dan engkau melihat kupu-kupu bersayap hijau kekuning-kuningan dengan garis hitam melengkung di bagian tengahnya sedang terbang berputar-putar gelisah di depan pintu rumahmu. Kupu-kupu itu terlihat ragu-ragu ingin masuk ke rumahmu. Apakah yang melintas dalam benakmu, ketika engkau melihat kupu-kupu itu?
Kuharap, pada saat-saat seperti itu, engkau terkenang akan aku: seorang bocah yang telah berubah menjadi seekor kupu-kupu…

Surabaya-Yogyakarta, 2004

Sunday, June 21, 2009

Rendra: Sajak Peperangan Abimanyu

SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU
(Untuk puteraku, Isaias Sadewa)



Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,
di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
karena ia telah lunas
menjalani kewjiban dan kewajarannya.
Setelah ia wafat
apakah petani-petani akan tetap menderita,
dan para wanita kampung
tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
Saat itu ia mendengar
nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.


Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.
Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
Di saat badan berlumur darah,
jiwa duduk di atas teratai.

Ketika ibu-ibu meratap
dan mengurap rambut mereka dengan debu,
roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala
untuk menanam benih
agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
- dari zaman ke zaman

Friday, June 19, 2009

Cerpen Koran

Inovasi dalam Cerpen Koran


NIRWAN Dewanto, pada periode 90-an, sempat memuji cerpen koran, "Harus kita akui, bahwa cerpen-cerpen terbaik di Indonesia selama lima tahun terakhir muncul di Kompas dan Matra, bukan di Horison." (lihat Pengantar Nirwan Dewanto dalam Pelajaran Mengarang, Cerpen Pilihan Kompas 1993). Dalam pengantar yang sama, melihat kondisi cerpen koran pada saat itu, Nirwan pun sempat berkomentar bahwa ruang cerpen di surat kabar, betapa pun terbatas, menyediakan potensi penyegaran sastra yang tidak kecil.

Akan tetapi, dalam tulisan, "Masih Perlukah Sejarah Sastra? (Kompas, 4/3/2000), Nirwan menulis kalimat yang agak mengejutkan, "...penulis yang ada sekarang hanya mampu menghasilkan cerpen koran." Tersirat pada peremehan terhadap mutu cerpen koran dalam kalimat tersebut.

Sikap Nirwan yang seolah berbalik di atas memang mengherankan. Namun perlu segera disadari bahwa cerpen koran memang telah lama dan telah banyak mendapat kritik yang tidak mengenakkan.

Kritik yang ditujukan terhadap cerpen koran mengarah pada penilaian bahwa cerpen koran mengecewakan dari berbagai seginya, terutama dalam upaya melakukan pencapaian estetika.

Salah satu hal yang dianggap menjadi penyebabnya adalah terbatasnya ruang (jumlah halaman) yang disediakan. Mengenai ruang ini, para pengamat maupun para penulis cerpen sering membandingkannya dengan majalah.

Seperti diketahui bersama, pada awal perkembangannya (1945-1970-an), cerpen tumbuh dalam majalah. Terutama majalah kebudayaan/kesusastraan, seperti Pantja Raya, Zenith, Indonesia, Kisah, Sastra, Zaman Baru (majalah Lekra), Horison, Basis, dan lain-lain. Majalah-majalah tersebut memiliki visi-misi untuk pengembangan kebudayaan/kesusastraan. Dengan karakteristiknya ini, majalah-majalah tersebut memberikan ruang yang leluasa bagi cerpen. Longgarnya ruang ini diyakini merupakan faktor yang menyebabkan cerpen dapat melakukan eksplorasi dalam bidang estetika.

Sekarang, seiring dengan kematian majalah, cerpen tumbuh dalam koran dengan ruangan yang terbatas. Terbatasnya ruang ini menjadi masalah tersendiri bagi para penulis cerpen, terutama penulis generasi cerpen majalah. Pendeknya, dari keterbatasan koran tersebut, para pengarang merasakan berbagai "kehilangan". Adapun para pengamat merasakan berbagai penurunan kualitas, yang menimbulkan semacam keyakinan bahwa cerpen majalah lebih berhasil melakukan pencapaian estetika daripada cerpen koran.

Harus diakui bahwa tak semua cerpen koran berhasil melakukan pencapaian estetika. Namun juga tak semua cerpen majalah berhasil melakukannya. Karya-karya dari cerpen majalah yang sering disebut berhasil melakukan pencapaian estetik tentunya hanya sebagian atau beberapa saja yang memang merupakan masterpiece. Begitu pula dengan cerpen koran. Tak semua cerpen koran bersifat lugas, topikal, dan permukaan. Banyak pula yang berhasil melakukan pencapaian estetik sekalipun ruangnya terbatas. Bahkan, pencapaian estetika dari cerpen koran, dapat dikatakan telah sampai pada tahap inovasi, seperti yang dilakukan Joni Ariadinata.

***

INOVASI dalam karya sastra sudah terjadi sejak 1942-an tatkala konsep estetika Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru dirombak oleh angkatan 1945-an. Inovasi ini terjadi lagi tahun 1970-an, dan terjadi juga sekarang, terutama dalam bidang cerpen.

Idrus adalah salah seorang pengarang yang sering dinyatakan sebagai pembaharu dalam bidang prosa. Ia adalah pemisah antara prosa zaman revolusi dengan angkatan Pujangga Baru. Inovasinya adalah hal isi, gaya dan penggunaan bahasa dianggap revolusioner. A. Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia I (1980) pernah mengulas bahwa berbeda dengan angkatan Pujangga Baru yang mementingkan keindahan dan kehalusan, Idrus justru memilih kenyataan yang kejam, kasar, hal-hal yang menyinggung dan kata-kata yang dikemukakan kepada pembaca dengan cara yang agak menentang. Kekterusterangan dan kesederhanaan menjadi norma karya prosanya. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam karyanya pendek-pendek dan bersahaja dengan kecenderungan terhadap pembentukan kalimat nominal. Kata dasar banyak menggantikan kata berimbuhan. Ia pun tak segan-segan memasukkan bahasa Jakarta-Jawa sehari-hari, dan bahasa-bahasa asing menggantikan bahasa Melayu resmi.

Pada tahun 1970-an, inovasi terjadi dalam cara melihat kenyataan. Pada waktu itu, meminjam ungkapan Th Sri Rahayu Prihartini (Kompas, 14/6/1998), sastra realis "dirongrong" oleh para inovator seperti Putu Wijaya dan Danarto. Begitu pula segi estetika. Alur tidak harus terikat hukum kausalitas, peristiwa bukan hanya yang masuk akal, latar waktu tidak hanya terikat lampau dan kini, pencerita pun kadang-kadang tidak pasti kedudukannya.

Pada Joni Ariadinata (salah seorang cerpenis yang tumbuh lewat koran), cerpen-cerpennya masih bersifat realis. Inovasinya ini nampak pada bidang bahasa. Dikatakan inovasi karena bahasa yang digunakan Joni berbeda dengan bahasa yang digunakan atau yang terdapat dalam karya-karya sastra sebelumnya dan karya sastra pada umumnya. Inovasi ini tidak tampak sebagai upaya "beraneh-aneh", tetapi dilakukan dalam upaya untuk mengedepankan, mengaktualkan (foreground) sesuatu yang dituturkan sehingga pas dengan ide yang ingin disampaikan.

Dalam menulis cerpen, Joni sangat mempertimbangkan kepekatan dan efektivitas bahasa. Kesungguhan dalam memperoleh kepekatan tersebut sejajar dengan cara penyair mengeksplorasi kata untuk puisi: mencari kata yang paling pas untuk suatu ide, mengupayakan tumbuhnya berbagai efek dari bahasa yang disajikannya sehingga terdengar bunyinya, terasa iramanya, terlihat bentuknya, dan seterusnya, seperti ini: Kalimas berdengung, lalat menemplek di tiang besi, tembok-tembok: air surut. Pada lumut tersembul, dan lumpur. Para keting -dagingnya tak enak -ikan betok berkecipluk memakan kotoran; bulet-bulet, warna hitam. Gelepok! Keciprak Mak Nil membuang sampah... (cerpen "Rumah Bidadari").

Selain upaya membuat efek seperti di atas, Joni cenderung tak mau berpanjang-panjang dengan kalimat dalam mendeskripsikan sesuatu. Ia cukup menyimpan satu kata atau satu frasa, tetapi efektif dalam memberi gambaran sesuatu. Bahkan demi efektivitas ini, Joni tak segan-segan melakukan penyimpangan kebahasaan. Pada umumnya berupa pemendekan kalimat, yakni pemenggalan kata-kata yang seharusnya merupakan satu kalimat menjadi beberapa kalimat sehingga terjadilah penghilangan (baca: pelesapan) unsur subjek, predikat atau objek. Pemendekan kalimat tersebut menjadikan bahasa dan informasi yang disampaikan lebih efektif. Kalimat-kalimat pendek (umumnya hanya terdiri atas satu kata atau frasa) ternyata mencapai efek estetis tertentu, yakni sekalipun hanya satu kata/frasa, tapi berbicara banyak. Lihatlah petikan berikut:

Ini rumah. Cuma satu. Atap seng bekas, berkarat, triplek templek-templek, ditambal plastik, ada tikar: tentu, ember buat cebok. Dua ruang: satu untuk Siti, tak boleh diganggu gugat. Yang lain, tempat Mak Nil biasa kerja... Tak butuh jendela. Kalau masuk membungkuk. Sumpek. (Cerpen Rumah Bidadari).

Dalam dialog, Joni pun tak mau berpanjang-panjang dengan kalimat penjelasan. Contohnya seperti ini: "Siti itu anakmu... Kuwalat!! Dasar bajingan. Kalian meniduri anakmu sendiri heh?! Ya Gustiii..." beledek.

atau: "Aku tak ingin Mak diam di sini!" gelisah. "Aku ingin kau segera enyah dari sini," diam.

Satu kata, seperti beledek, gelisah, diam, bagi Joni cukup menjelaskan situasi/suasana, gerak-gerik tokoh, atau siapa yang bicara.

***

BEGITULAH, ternyata dari tumpukan keluhan dan kekesalan terhadap mutu cerpen koran, kita menemukan mutiara yang terpendam jauh di dasar samudra sastra. Ia tak akan kita temukan jika hanya mencari di atas permukaan. Kita harus menyelaminya terlebih dahulu hingga ke dasarnya untuk menemukan kelebihan dan eksplorasi-eksplorasi yang ada. Di sini pula terlihat bahwa persoalan eksplorasi estetika tidak selalu tergantung pada ruangan. Apalagi kini terlihat tak ada perbedaan mencolok antara cerpen majalah dan cerpen koran. Sastra adalah sastra di manapun ia berada. ***

Nenden Lilis A
Kompas Minggu, 14 Oktober 2001

Wednesday, June 17, 2009

Burung Bayan, Cerita dari Riau

Burung Bayan dan Si Penggetah
(Cerita Rakyat Riau )


Alkisah, di pinggir hutan belantara, terdapatlah sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga miskin. Karena kerja si Miskin setiap hari adalah menggetah burung, maka penduduk sekitar memanggilnya si Penggetah. Burung-burung hasil getahannya tersebut ia jual di kampung tetangga, tak jauh dari rumahnya. Karena si Penggetah mengetahui Burung Bayan memiliki bulu dan suara yang indah dan pandai berbicara, maka ia berkeinginan untuk menggetah Burung Bayan.

Suatu hari, setelah si Miskin mempersiapkan segala keperluan untuk menggetah, berangkatlah ia ke dalam hutan belantara. Tak lama kemudian, ia pun menemukan sebuah pohon yang menurutnya sangat strategis untuk memasang getah. Setelah memasang getah di ranting kering pada pohon itu, ia kemudian menunggu di bawah pohon. Sambil berharap burung Bayan yang diidamkannya terkena getah, ia mengucapkan janji dalam hati, “Jika aku berhasil mendapatkan Burung Bayan, maka aku akan memberinya sangkar emas.”

Benarlah, ketika siang menjelang, burung Bayan terperangkap pada getah yang telah dilekatkan si Penggetah di ranting pohon. Burung itu dibersihkan si Penggetah dengan minyak, hingga bulunya nampak indah mengkilat. Lalu diambilnya sangkar kayu yang telah disiapkannya. Sambil memasukkan burung itu ke dalam sangkar, si Penggetah berkata, “Burung Bayan, sebenarnya aku berjanji apabila berhasil mendapatkanmu, akan aku beri sangkar emas. Tapi, tahulah kau, jangankan emas, uang pun aku tak punya, karena aku sangat miskin,” kata si Penggetah dengan nada iba.


Tiba-tiba burung Bayan itu menjawab, “Kalau kau memang menginginkan emas, tampunglah kotoranku. Kotoran itu nantinya akan menjadi emas.”

Mendengar jawaban Burung Bayan, si Penggentah tersentak kaget. “Ah, yang benar saja, Bayan! Kalau begitu, aku akan mengumpulkan semua kotoranmu,” sahut si Penggetah dengan semangatnya.

Setelah beberapa hari si Penggetah mengumpulkan kotoran, maka berubahlah kotoran itu menjadi butiran emas. Si Penggetah lalu menjual emas itu dan membelikan sangkar emas untuk si Bayan.

Kesaktian Burung Bayan itu terdengar oleh seluruh penduduk negeri. Hingga suatu hari, kabar itu sampai ke telinga Raja Helat, seorang raja yang tamak. Maka diperintahnyalah seorang utusan istana bernama Bujang Selamat untuk pergi ke rumah si Penggetah. Alangkah terkejutnya si Penggetah melihat utusan istana datang ke gubuk reyotnya. “Waduh, gawat! Ada apa utusan istana datang ke sini. Jangan-jangan si Bayan mau dibawa ke istana,” gumam si Penggetah dengan cemasnya.

Melihat raut wajah si Penggetah yang pucat, Bujang Selamat kemudian menenangkan hati si Penggetah dan berkata, “Janganlah engkau takut, Penggetah, aku datang hanya untuk menyampaikan titah raja.”

Dengan hati-hati, si Penggetah bertanya, “Titah apa yang hendak tuan sampaikan kepadaku?”

Bujang Selamat kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, “Baginda Raja tahu engkau memiliki burung yang pandai bicara dan kotorannya bisa menjadi emas. Untuk itulah aku ke sini, karena Baginda Raja ingin memilikinya.”

Mendengar penjelasan Bujang Selamat, si Penggetah menjadi bingung. Belum sempat dia menjawab, Bujang Selamat berkata lagi.

”kau jangan khawatir, karena kami akan menggantinya dengan uang atau barang yang kau inginkan. Tapi kalau kau menolaknya, maka kami akan mengambilnya dengan paksa,” lanjut Bujang Selamat.

Si Penggentah hanya diam mendengar penjelasan Bujang Selamat. Dia berpikir bagaimana cara yang baik untuk menolak, karena si Penggetah tahu benar sifat Raja Helat yang terkenal kejam itu.

Maka dengan hati-hati, dia berkata kepada Bujang Selamat, “Begini saja Bujang Selamat, supaya adil, bagaimana kalau kita tanyakan kepada si Bayan, apakah dia mau dibawa ke istana Raja Helat?” bujuk si Penggetah.

Setelah menimbang-nimbang, Bujang Selamat setuju dengan tawaran si Penggetah. Lalu ditanyalah si Bayan: “Hai Bayan, engkau telah mendengar sendiri pembicaraan kami, maka maukah engkau dibawa ke istana Raja Helat?” tanya si Penggetah.

Burung Bayan melihat kepada Bujang Selamat, lalu dengan tegas menjawab: “Hai Bujang Selamat, aku mau bertuankan Raja Helat asalkan dia mau memenuhi syaratku,” kata si Bayan.

“Apa syaratnya?” tanya Bujang Selamat.

“Syaratnya, sebelum Raja menjadi tuanku, maka Raja Helat harus mendengarkan ceritaku. Sebelum ceritaku selesai, aku tidak boleh berpindah tuan,” tegas Si Bayan.

Syarat yang diberikan si Bayan tidaklah sulit. Tanpa berpikir panjang Bujang Selamat pun setuju. “Kalau begitu, baiklah,” kata Bujang Selamat.

Setelah sepakat, mereka pun membawa si Bayan ke istana. Sesampainya di istana, si Bayan mulai bercerita di hadapan Raja Helat dan keluarga istana. Cerita-cerita yang dirangkainya sangat menarik, sehingga Raja Helat terpesona dan selalu meminta Si Bayan terus bercerita. Karena Si Bayan ini adalah burung yang cerdik, maka untuk setiap cerita yang diminta raja, ia selalu meminta syaratnya dipenuhi. Selain itu, si Bayan juga mengajukan permintaan kepada Raja Helat. Untuk setiap cerita yang diberikannya, Raja harus mengganti dengan segantang (setara dengan 4 kg) emas murni serta makanan dan minuman. Raja Helat pun tidak keberatan, semua yang diminta Si Bayan selalu dipenuhi saat itu juga. Si Bayan lalu memberikan emas, makanan, dan minuman tersebut kepada Si Penggetah.

Si Bayan yang cerdik itu selalu membuat cerita yang dituturkannya panjang dan bersambung, maka tanpa terasa sudah berminggu-minggu ia bercerita di hadapan Raja Helat, keluarga istana, dan rakyat negeri. Emas, makanan, dan minuman yang diterima si Penggetah pun semakin banyak. Sebagian dia simpan, dan sebagian lainnya ia bagikan kepada rakyat yang miskin.

Begitulah seterusnya setiap hari, sampai gudang kerajaan tempat menyimpan emas, makanan, dan minuman menjadi kosong. Sekarang, raja yang kejam itu sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Akibatnya, rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya. Kekayaan yang seharusnya dibagikan kepada rakyatnya yang miskin, tak pernah dilakukannya. Selama ini Raja Helat menimbun kekayaan untuk dinikmati sendiri bersama keluarganya.

Akhirnya Raja Helat berhasil ditumbangkan dan diturunkan tahtanya oleh si Burung Bayan, si Penggetah, dan rakyat negeri. Si Penggetah kemudian diangkat oleh seluruh rakyat sebagai Raja, sedangkan si Bayan diangkat menjadi penasehat raja. Sejak negeri itu diperintah oleh si Penggetah, rakyatnya hidup damai, makmur dan sejahtera.***

Monday, June 15, 2009

Rendra: Sajak Potret keluarga

SAJAK POTRET KELUARGA


Tanggal lima belas tahun rembulan.
Wajah molek bersolek di angkasa.
Kemarau dingin jalan berdebu.
Ular yang lewat dipagut naga.
Burung tekukur terpisah dari sarangnya.
Kepada rekannya berkatalah suami itu :
“Semuanya akan beres. Pasti beres.
Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya.
Kesukaran selalu ada.
Itulah namanya kehidupan.
Apa yang kita punya sudah lumayan.
Asal keluarga sudah terjaga,
rumah dan mobil juga ada,
apa palgi yang diruwetkan ?
Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan.
Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa.
Di rumah ada TV, anggrek,
air conditioning, dan juga agama.
Inilah kesejahteraan yang harus dibina.
Kita mesti santai.
Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran.
Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan.
Salah-salah malah hilang jabatan.”
………

Tanggal lima belas tahun rembulan
Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang.
Malam disambut suara halus dalam rumputan.
Anjing menjenguk keranjang sampah.
Kucing berjalan di bubungan atap.
Dan ketonggeng menunggu di bawah batu.

Isri itu duduk di muka kaca dan berkata :

“Hari-hari mengalir seperti sungai arak.
Udara penuh asap candu.
Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.
Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.
Tak ada yang bisa diambil pegangan.
Suamiku asyik dengan mobilnya
padahal hidupnya penuh utang.
Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.
Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
Apakah jaminan pendidikannya ?
Ah, Suamiku !
Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
pikirannya jelas pula.
Tetapi kini serba tidak kebenaran.
Setiap barang membuatnya berengsek.
Padahal harganya mahal semua.
TV Selalu dibongkar.
Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
Akhirnya tertidur…….
Sementara TV-nya membuat kegaduhan.
Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.
Gampang marah soal mobil
Gampang pula kambuh bludreknya
Makanan dengan cermat dijaga
malahan kena sakit gula.
Akulah yang selalu kena luapan.
Ia marah karena tak berdaya.
Ia menyembunyikan kegagalam.
Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.
Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya !”
…......................................


Tanggal lima belas tahun rembulan.
Tujuh unggas tidur di pohon nangka
Sedang di tanah ular mencari mangsa.
Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.
Di tebing yang landai tidurlah buaya.
Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.

Sang Putri yang di SLA, berkata :

“Kawinilah aku. Buat aku mengandung.
Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu.
Aku membenci duniaku ini.
Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah.
Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV
Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.
Suasana tegang di dalam rumah
meskipun rapi perabotannya.
Aku yakin keluargaku mencintaiku.
Tetapi semuanya ini untuk apa ?
Untuk apa hidup keluargaku ini ?
Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV ?
Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan ?
Dan aku ? Apa jadinya aku nanti ?
Tiga belas tahun aku belajar di sekolah.
Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri.
Untuk apakah kehidupan kami ini ?
Untuk makan ? Untuk baca komik ?
Untuk apa ?
Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa !
Kemacetan mencengkeram hidup kami.
Kakasihku, temanilah aku merampok Bank.
Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku “
………....................................

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya
di bawah cahaya bulan.
Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan.
Akar bambu bercahaya pospor.
Keleawar terbang menyambar-nyambar.
Seekor kadal menangkap belalang.

Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :

“ Ayah dan ibu yang terhormat,
aku pergi meninggalkan rumah ini.
Cinta kasih cukup aku dapatkan.
Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.
Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.
Aku menolak untuk mengejar kemewahan,
tetapi kehilangan kesejahteraan.
Bahkan kemewahan yang ayah punya
tidak juga berarti kemakmuran.
Ayah berkata : “santai, santai ! “
tetapi sebenarnya ayah hanyut
dibawa arus jorok keadaan
Ayah hanya punya kelas,
tetapi tidak punya kehormatan.
Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?
Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?
Apakh produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?
Seorang petani lebih produktip daripada ayah.
Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.
Ayah hanya bisa membuat peraturan.
Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.
Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.
Ayah tidak produktip melainkan destruktip.
Namun toh ayah mendapat gaji besar !
Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?
tidak pernah, bukan ?

Terlalu beresiko, bukan ?
Apakah aku harus mencontoh ayah ?
Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.
Ayah dan ibu, selamat tinggal.
Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “

Saturday, June 13, 2009

Joni Ariadinata: Kambing

Kambing



Di pintu surga nanti, ia adalah kambing yang sial. Daging memang gemuk-gempal, bulu putih mulus, tanduk melingkar kokoh, harapan hidup dan masa depan gemilang --ya ya, memang begitu, semua ihwal tentang syarat masuknya ''surga para kambing'' (seperti yang dikatakan Tuhan dalam kitab-Nya) telah tercukupi. Maka ketika roh baiknya dicabut, ia tersenyum. Di saat liang nafasnya ngorok lantaran sekarat, kamu bayangkanlah itu: ''darah ini muncrat melesat dari jantung muda dan sehat!'' Maka ia teramat ikhlas. Di kala lehernya yang mulus itu digorok dengan bismillah, lalu tulang penyangga leher itu ditebas paksa dengan suara ''krak!'' hingga menggelindinglah kepalanya dengan sukses (disertai sorak sorai anak-anak), ia masih begitu gembira. Lalu kakinya yang kokoh dipotong-potong, kulitnya yang mulus disayat-sayat, dagingnya diiris-iris, jerohan diobrak-abrik, hati dan jantung dicabut, tulang-belulang dicacah dirajang dipisah-pisah....

Maka rohnya yang suci dan penuh harapan pun terbang menuju pintu surga. Surga yang dijaga para malaikat (malaikat yang menyerupai kambing-kambing dengan ketampanan tak tertandingi). Lalu, pada saat itulah ia tahu bahwa ia adalah kambing yang sial. Seorang malaikat penjaga dengan tegas berkata: ''Tuhan telah berkata kepadamu, lewat perantara aku, bahwa kamu ditolak untuk memasuki surga.''

Demikianlah maka ia menggerutu tentang sebab-sebab nasib yang celaka.

Kampung Darjeling, itulah kampung para pencari surga yang ingin ia ceritakan. Di bawah terob deklit plastik saat seutas tali gantungan terpancang hebat, menjulur mengayun-ayun. Orang-orang menatap kagum, para lelaki, perempuan-perempuan, anak-anak, menantikan sesuatu. Berderet, bergimbung, ada yang pura-pura sibuk, menggobrol, menunjuk-nunjuk. Langit cerah. Angin sejuk. Di bawah deklit tali gantungan semakin hebat. Lalu meledak suara riuh: ''Mereka datang!'' Load speaker merek Toa dibunyikan: ''Sodara-sodara, binatang sudah datang. Harap bertepuk tangan!!''

''Semua takbir! Ayo, yang bisa takbiran, semua ikut takbir! Mumpung hari raya kurban. Yang hanya bisa ngomongin orang saja, kali ini diam! Ibu-ibu jangan cerewet. Cukup kalian lihat. Ke mana Usthaadd Mariot, he?'' Haji Dulroji sinis menyebut kata ''ustad'' dengan ''usthaadd'' lantaran kedudukannya di mata Tuhan lebih baik. Lalu tiga lelaki tua, peot, dan mungkin hampir mati, mengerti: mereka tertawa. Lalu seorang di antara yang tua, peot, dan mungkin hampir mati itu bilang: ''Usthaadd Mariot tak kelihatan. Tak datang. Dia pasti malu.''


''Apa perlu disusul?''
''Tak perlu,'' Haji Dulroji merebut mikropon yang dipegang Solsoleh. Solsoleh tentu bersikeras mempertahankan mikropon seperti membela nyawanya sendiri lantaran ''dalam rapat panitia besar, ia ditetapkan secara resmi menjadi pembawa acara''. Solsoleh memberi sumbangan untuk binatang sebanyak 20 ribu, itulah kenapa ia mendapat kehormatan sebagai pembawa acara. Sementara Kaji Dulroji (ia menyebut kata ''haji'' dengan ''kaji'' semata-mata lantaran benci), cuman menyumbang 5 ribu. Tapi demi Tuhan Yang Maha Penyayang (karena melihat bagaimana mata Kaji Dulroji melotot), ia ngeri, dan menyerahkan mikropon segera. ''Aku hanya pinjam mikroponnya sebentar, Solsoleh!''

''Nah, sodara-sodara,'' teriak speaker Toa dari mulut Haji Dulroji, ''sehubungan karena Usthaaaadddd Mariot tak datang (hadirin tertawa), maka kita mulai saja penyembelihan binatang. Tak perlu pake doa bahasa Arab untuk memulai pembunuhan binatang, karena hanya Usthaaadd Mariot yang biasanya suka pamer, pura-pura ngerti bahasa Arab (hadirin tertawa lagi). Tuhan tidak bodoh. Dia pasti ngerti bahasa kita. Setuju?''

''Setuju!''

Orang-orang bersorak. Bergimbung berkeliling. Membentuk lingkaran. Binatang yang baru datang (diiringi sorak sorai) digiring ke tengah naungan deklit, di bawah tali gantungan hebat. Ia adalah binatang, seekor kambing gemuk yang gagah. Ia yang sesungguhnya dididik oleh tangan gembala jujur. Dengan makanan rumput halal yang selalu dijemput dengan bismillah. Hingga pada sebuah pagi (sebuah pagi yang ia rasakan sebagai puncak kemudaan dan kegagahan), tubuhnya yang perkasa itu digiring menuju pasar hewan. Lalu seorang saudagar bernama Juragan Imron menaksirnya dengan penuh kekaguman. Pada saat bersamaan, muncul Lelaki Berpakaian Santri membawa segepok recehan terdiri dari uang logam ratusan, seribuan, lima ribuan, dan sepuluh ribuan dengan ukuran fantastik: satu kantong plastik kresek. Demikian Lelaki Berpakaian Santri mengatakan: ''Uang hasil patungan warga Kampung Darjeling untuk satu ekor kambing gemuk!'' Gembala jujur menerima uang dari Juragan Imron tujuh ratus dua puluh ribu. Lelaki Berpakaian Santri membeli kambing gemuk dari Juragan Imron seharga delapan ratus dua puluh ribu, dengan pesan penting (didahului oleh ucapan assalamu'alaikum) sebagai berikut: ''Dalam kuitansi, catat harganya sembilan ratus lima puluh dua ribu!'' Tentu, Juragan Imron mengatakan dengan bijak: ''Biasa lah sodara, kita sama-sama maklum. Tambah dua puluh ribu untuk menaikkan angka kuitansi. Bagaimana?'' Kedua-duanya mengangguk. Kedua-duanya tertawa. Lelaki Berpakaian Santri menyeret binatang dengan impian bisa membelikan anaknya pakaian, sekaligus ''jatah daging paling banyak''. Sementara Juragan Imron melepas binatang dengan lega sambil menjawab ucapan salam yang berbunyi, ''Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokaatuh.''

Maka demikianlah binatang paling beruntung di hari raya kurban itu diseret menuju tiang tali gantungan. Haji Dulroji berkenan untuk tetap merebut mikropon dari Solsoleh, mengatakan dengan khidmat: ''Sodara-sodara, seperti kita ketahui bahwasanya Usthaaadd Mariot tidak datang karena malu. Kenapa karena malu? Karena sodara-sodara, seperti kita ketahui, dia tidak setuju dengan adanya kurban patungan. Nah, sehubungan dengan itu, saya minta sodara yang biasa membunuh binatang supaya maju menggantikan Usthaaadd Mariot!''

''Kalo dia tidak setuju kurban patungan, kenapa dia tidak kurban saja sendirian?''
''Nah, betul apa katamu Murod! Dia bilang, kurban patungan itu tidak sah. Nah, apa pendapatmu Murod? Seperti kita ketahui bersama, sodara-sodara, kurban itu yang penting adalah binatang. Binatang itu sekarang sudah ada, yaitu hasil patungan kita, warga yang beriman. Untuk itu, marilah sebelum kita bunuh, kita berdoa pake bahasa kita! Nah, sodara Murod, apakah kamu pernah membunuh binatang?''

''Saya pernah membunuh babi hutan.''

''Sebentar Pak Haji, apa perlu para penyumbang patungan itu diumumkan?'' seseorang menyela.

''Tidak perlu!!'' buru-buru Haji Dulroji mengelak dengan galak, tentu ia yang akan malu lantaran nilai patungannya cuman lima ribu. Ketika Ustad Mariot menuding pada saat rapat besar kampung, seminggu yang lalu, ia masih bisa mengelak dengan mengatakan: ''Sebagai haji, tentu aku sudah berniat berkurban. Tapi karena anakku mendadak minta dibelikan sepeda balap, maka niat itu terpaksa kutunda. Tahun depan aku pasti berkurban. Nah, sodara Ustad Mariot, daripada tidak ada yang berkurban sama sekali, bukankah lebih baik patungan? Nah, kurban itu yang paling penting adalah ada binatang, nah, bla-bla-bla...."

''Sodara Murod, apakah sudah siap membunuh binatang?'' kembali Haji Dulroji memberi perintah. ''Tak usah diumumkan. Tuhan toh sudah tahu siapa yang beriman dan siapa yang tidak.''

''Sebentar Pak Haji, ada surat dari Kepala Dusun!'' seseorang menyeruak maju. Haji Dulroji kembali mangkel. ''Surat apa, heh?''

''Katanya amanat. Penting.''

Haji Dulroji menggerutu. Ia menerima amanat penting dan membacanya dalam hati: ''Kepada Haji Dulroji, ulama kepala panitia kurban. Sehubungan saya mendengar akan ada perayaan yang di dalamnya ada menyembelih kambing. Maka sehubungan istri saya hamil dan tadi malam nyidam dan ada permintaan perihal daging kambing. Maka harap setelah selesai penyembelihan, dikirim buntut dan satu paha kanan belakang untuk kepentingan nyidam dimaksud. Harap diteruskan kepada yang berwenang membagikan daging kambing. Sekian dan terima kasih. Tertanda Ngadimin Basir Kepala Dusun.''

Haji Dulroji komat-kamit tak jelas. Hadirin mendekat tak sabar, merubung hingga Haji Dulroji sontak marah: ''Yang tidak berkepentingan bubar! Coba, panitia inti berkumpul. Kita rapat darurat!'' Tentu, mendengar kata rapat darurat (yang artinya adalah pasti gawat), 23 orang panitia inti yang terdiri dari 7 sesepuh sebagai koordinator setiap seksi, serta 16 anggota tetap langsung mendekat. Rapat bisik-bisik. Surat amanat kembali dibaca bisik-bisik. Tegang. Seseorang sesepuh bilang tak apa. Yang lain usul jangan paha kanan, buntut dan kaki kanan saja. Hus, lelaki ketua RT yang adalah masih famili Kepala Dusun menggerutu. Sukarim, ketua seksi undangan yang sejak awal memang gelisah, bilang dengan malu, ''Sebetulnya saya kepingin terus terang, istri saya kurang darah, tentu saja kalau boleh saya mau minta hatinya, dan juga jatah daging tentu, yah... begitulah yang namanya penyakit, saya pikir semua pasti setuju, yah...'' Demi mendengar hal-hal kegawatan soal penyakit, tiba-tiba semua wajah mendadak cerah. Sepertinya telah datang ilham-ilham yang baik. Haji Dulroji berkata jujur, ia kena asam urat, maka untuk jatahnya tak boleh tercampur usus, ''harus daging semua''. 10 orang langsung mengatakan setuju, sambil mengatakan bahwa akhir-akhir ini mereka juga merasa darah rendah, ''kalau berdiri suka agak pusing,'' katanya. Walhasil, bagi yang mengatakan darah rendah, jatahnya harus ditambah. Ada yang usul secara istimewa bahwa sudah seminggu ini dua anaknya bertengkar terus, harus dikasih torpedo katanya, biar rukun. ''Maksud sodara Sali, dikasih kontol kambing? Itu memang baik untuk merukunkan dua saudara yang bertengkar, baik, nanti kita tambah jatahnya dengan torpedo.'' Semua tertawa. Lucu. Akhirnya rapat darurat ditutup dengan kesimpulan-kesimpulan yang mengagumkan. Seluruh panitia inti bisa bernafas lega, sampai ketika tiba-tiba Ahmad Masri bertanya: ''Bagaimana dengan jatah Ustad Mariot?''

Panitia inti yang nyaris bubar dengan tertawa, tiba-tiba hening. Menatap Haji Dulroji dengan tegang.

''Tak usah dikasih! Dia kan tidak setuju,'' Haji Dulroji berkata tegas.

''Tapi bagaimanapun dia imam di surau. Dan juga sering ngisi pengajian di kampung sebelah. Bagaimana kalau dia terus ngomongkan fitnah di kampung sebelah?'' Nah, ini dia muncul persoalan, dan baru terpikir oleh semua, bahwa Ustad Mariot bermulut tipis, nyinyir, dan ceriwis. Maka, demi melihat kegawatan muka-muka panitia inti yang mendadak terdiam, dengan bijak akhirnya Haji Dulroji mengambil keputusan penting. Sebuah keputusan yang diyakini semua pihak berdasarkan ilham yang datang dari Tuhan.

''Kalau begitu, kita kirim kepala kambing!''

Rapat bubar. Di bawah tali gantungan yang hebat, Murod komat-kamit berdoa, dengan gobang berkilat. Siap membunuh.

Adalah kambing sial, yang seluruh jiwa dan raganya telah dipasrahkan pada kehendak takdir. Di bawah naungan deklit. Angin sejuk. Matahari yang cerah. Kegembiraan orang-orang. Sesungguh-sungguhnyalah ia adalah kambing gemuk perkasa, yang dibesarkan oleh tangan gembala jujur. Dengan rumput halal yang senantiasa dijemput dengan bismillah. Maka ketika rohnya tercerabut, ia terbang dengan penuh keyakinan menuju pintu surga. Terbang diiringi gema takbir bersama jutaan roh-roh binatang suci yang datang dari berbagai penjuru. Demikian ia tak pernah paham, bahwa keputusan Tuhan atas nasibnya yang gemilang, lantaran terhalang oleh kemarahan seorang lelaki. Begitulah malaikat penjaga surga itu menceritakan, tentang seorang lelaki miskin yang tiba-tiba beringas. ''Ia adalah lelaki miskin yang menenteng kepala kambing penuh darah dari pintu rumahnya. Lelaki itu kemudian berteriak dan menyebut kepala kambing itu dengan sebutan ''kepala kambing haram''. Dan dengan bengis melemparkannya ke tengah orang-orang.''

Jogjakarta, Desember 2008
Diambil dari Kendari Pos, Sabtu, 13 Desember 2008

Thursday, June 11, 2009

Rendra: Sajak Tangan

SAJAK TANGAN

Inilah tangan seorang mahasiswa,
tingkat sarjana muda.
Tanganku. Astaga.
Tanganku menggapai,
yang terpegang anderox hostes berumbai,
Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,
tak ada jawaban.
Aku tendang pintu,
pintu terbuka.
Di balik pintu ada lagi pintu.
Dan selalu :
ada tulisan jam bicara
yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana
dan aku keluar mengembara.
Aku ditelan Indonesia Raya.


Tangan di dalam kehidupan
muncul di depanku.
Tanganku aku sodorkan.
Nampak asing di antara tangan beribu.
Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,
tangan nelayan yang bergaram,
aku jabat dalam tanganku.
Tangan mereka penuh pergulatan
Tangan-tangan yang menghasilkan.
Tanganku yang gamang
tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong,
tangan pejabat,
gemuk, luwes, dan sangat kuat.
Tanganku yang gamang dicurigai,
disikat.

Tanganku mengepal.
Ketika terbuka menjadi cakar.
Aku meraih ke arah delapan penjuru.
Di setiap meja kantor
bercokol tentara atau orang tua.
Di desa-desa
para petani hanya buruh tuan tanah.
Di pantai-pantai
para nelayan tidak punya kapal.
Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
Tanganku mengepal.
Tetapi tembok batu didepanku.
Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.
Aku berjalan mengembara.
Aku akan menulis kata-kata kotor
di meja rektor

Tuesday, June 09, 2009

Penyumpit, cerita rakyat Bangka-Belitung

Si Penyumpit


Alkisah, di sebuah daerah di Pulau Bangka, hiduplah seorang pemuda yang sangat mahir menyumpit binatang buruan. Sumpitannya selalu mengenai sasaran. Oleh karenanya, masyarakat memanggilnya si Penyumpit. Selain mahir menyumpit, ia juga pandai mengobati berbagai macam penyakit. Bakat menyumpit dan mengobati tersebut ia peroleh dari ayahnya.

Pada suatu hari, Pak Raje, Kepala Desa di kampung itu, meminta si Penyumpit untuk mengusir kawanan babi hutan yang telah merusak tanaman padinya yang sedang berbuah, dengan dalih bahwa orang tua si Penyumpit sewaktu masih hidup pernah berhutang kepadanya. Demi membayar hutang orang tuanya, si Penyumpit rela bekerja pada Pak Raje. Keesokan harinya, berangkatlah si Penyumpit ke ladang Pak Raje untuk melaksanakan tugas. Sesampainya di ladang, ia membakar kemenyan untuk memohon kepada dewa-dewa dan mentemau (dewa babi), agar kawanan babi tersebut tidak merusak tanaman padi Pak Raje. Si Penyumpit kemudian melakukan ronda dengan memantau seluruh sudut ladang hingga larut malam. Sudah tiga malam si Penyumpit meronda, namun belum terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Meskipun situasi aman, si Penyumpit terus berjaga-jaga. Ketika memasuki malam ketujuh, dari kejauhan tampak oleh si Penyumpit tujuh kawanan babi hutan sedang beriring-iringan hendak memasuki ladang. Satu per satu babi hutan itu melompati pagar batu yang telah dibuat Pak Raje.

Mengetahui hal itu, si Penyumpit segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dengan sumpit di tangan yang siap untuk digunakan. Ketika kawanan babi tersebut mulai mengobrak-abrik tanaman padi yang tak jauh dari pohon tempat ia bersembunyi, dengan hati-hati pemuda itu mengangkat sumpitnya, lalu disumpitkannya ke arah babi yang paling dekat dengannya. Sumpitannya tepat mengenahi sisi sebelah kiri perut babi itu. Sesaat kemudian, kawanan babi itu tiba-tiba menghilang bersama dengan anak sumpitnya. Melihat peristiwa aneh itu, si Penyumpit menjadi penasaran. Keesokan harinya, si Penyumpit menyusuri ceceran darah hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah gua yang di sekelilingnya ditumbuhi semak-belukar. Dengan hati-hati, pemuda itu memasuki gua tersebut. Sesampainya di dalam, ia sangat terkejut, karena melihat seorang putri yang tergeletak di atas pembaringan yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Salah seorang dari wanita tersebut adalah ibu sang Putri.

“Hai, anak muda! Engkau siapa?” tanya ibu sang putri.

“Saya si Penyumpit,” jawab si pemuda dengan ramah. “Ada perlu apa Engkau ke sini?” tanya ibu sang putri dengan nada menyelidik.

“Saya sedang mencari anak sumpit saya yang hilang bersama dengan seekor babi hutan,” jawabnya. “Benda yang engkau cari itu ada pada putriku,” kata ibu sang putri.

“Bagaimana bisa anak sumpit saya ada pada putri Bibi?” tanya si Penyumpit heran.

“Ketahuilah, anak muda! Babi yang engkau sumpit itu adalah penjelmaan putriku,‘ jelas ibu sang putri. Si Penyumpit sangat kaget mendengar penjelasan ibu sang putri.

“Jadi…, kalian adalah babi jadi-jadian?” tanya si Penyumpit dengan heran.

“Benar, anak muda,” jawab ibu sang putri. “Kalau begitu, saya minta maaf, karena tidak mengetahui hal itu,” kata si Penyumpit dengan rasa menyesal. “Sudahlah, anak muda. Lupakan saja semua kejadian itu. Yang penting sekarang adalah bagaimana melepaskan benda ini dari perut putriku,” kata ibu sang putri. “

Baiklah. Saya akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati luka putri bibi. Tolong saya dicarikan beberapa helai daun keremunting[1] dan tumbuklah hingga halus,” pinta si Penyumpit.

Untuk memenuhi permintaan itu, ibu sang putri segera memerintahkan beberapa dayangnya untuk mencari daun keremunting yang banyak terdapat di sekitar mereka. Tak berapa lama, dayang-dayang tersebut sudah kembali dengan membawa daun yang dimaksud. Setelah yang diperlukan disiapkan, si Penyumpit mendekati gadis cantik yang sedang terbaring lemas itu, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tampaklah sebuah benda runcing yang menancap di perut sang putri, yang tidak lain adalah mata sumpit miliknya. Sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra, si Penyumpit mencabut mata sumpit itu dengan pelan-pelan. Setelah mata sumpit terlepas, bekas luka tersebut kemudian ditutupinya dengan daun keremunting yang sudah dihaluskan untuk menahan cucuran darah yang keluar.

Beberapa saat kemudian, luka sang putri sembuh dan tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun.

“Sekarang putri Bibi sudah sembuh. Izinkanlah saya mohon diri,” pamit pemuda itu dengan sopan.

“Baiklah, anak muda! Ini ada oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih kami, karena engkau telah menyembuhkan putriku. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh,[2] daun simpur,[3] dan buah jering.[4] Tapi, bungkusan ini jangan dibuka sebelum engkau sampai di rumah,” pesan ibu sang putri.

“Baik, Bi!” jawab pemuda itu, lalu pergi meninggalkan gua.

Setibanya di rumah, si Penyumpit segera membuka bungkusan tersebut. Alangkah terkejutnya ia, karena isi bungkusan itu tidak seperti yang disebutkan ibu sang putri. Bungkusan itu ternyata berisi perhiasan berupa emas, berlian, dan intan permata. “Waw…, berharga sekali benda ini!” tanya si Penyumpit dengan rasa kagum. “Dengan benda ini, aku akan menjadi kaya-raya,” gumamnya dengan perasaan gembira.

Keesokan harinya, si Penyumpit pergi menjual seluruh benda berharga itu kepada seorang saudagar kaya di kampung itu. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli ladang yang luas, rumah mewah, dan melunasi seluruh hutang ayahnya kepada Pak Raje. Sejak itu, tersiarlah kabar bahwa si Penyumpit telah menjadi kaya-raya. Berita itu juga didengar oleh Pak Raje. Ia pun berniat untuk mengikuti jejak si Penyumpit.

Suatu hari, Pak Raje meminjam sumpit pemuda itu dan kemudian pergi berburu babi hutan di ladang miliknya. Dalam perburuannya, ia berhasil menyumpit seekor babi. Setelah itu ia mengikuti jejak dan menemukan babi hutan itu, yang ternyata penjelmaan sang putri. Pak Raje berusaha menyembuhkan luka yang diderita oleh sang Putri, namun tidak berhasil karena ia tidak memiliki keahlian mengobati penyakit. Akhirnya, ia diserang berpuluh-puluh babi hutan. Dengan tubuh yang penuh luka-luka, ia berjalan sempoyongan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Pak Raje langsung tergeletak tidak sadarkan diri, karena tidak tahan lagi menahan rasa sakit.

Putri sulung Pak Raje segera menyampaikan nasib malang yang menimpa ayahnya itu kepada si Penyumpit. Mendengar kabar itu, si Penyumpit segera ke rumah Pak Raje untuk menolongnya. Si Penyumpit kemudian mengobati Pak Raje dengan 7 helai daun. Setelah itu ia membakar kemenyan, lalu menyebut satu per satu anggota tubuh Pak Raje, seperti tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Terakhir, ia menyebut nama Pak Raje.

Ketika asap kemenyan itu mengepul, di Penyumpit kemudian membaca mantera. Tak lama kemudian, tampak jari tangan Pak Raje bergerak-gerak. Dengan pelan-pelan ia mengusap-usap matanya hingga tiga kali. Akhirnya, Pak Raje sadarkan diri dan sembuh dari penyakitnya. Setelah itu Pak Raje insaf (sadar) dan mengakui semua kesalahannya kepada si Penyumpit.

“Terima kasih, Penyumpit! Kamu telah menyembuhkan penyakitku. Aku minta maaf karena telah memaksamu menjaga ladangku. Untuk menebus kesalahanku ini, aku akan menikahkanmu dengan putri bungsuku. Setelah itu, aku akan mengangkatmu menjadi Kepala Desa untuk menggantikanku. Bersediakah kamu menerima tawaranku ini, wahai Penyumpit?” tanya Pak Raje.

“Terima kasih, Pak Raje! Dengan senang hati, saya bersedia,” jawab si Penyumpit.

"Baiklah kalau begitu. Berita gembira ini akan segera aku sampaikan kepada seluruh warga kampung ini,” kata Pak Raje.

Satu minggu kemudian, pernikahan si Penyumpit dengan putri bungsu Pak Raje dilangsungkan dengan meriah. Berbagai macam seni pertunjukan ditampilkan dalam acara tersebut. Pak Raje bersama keluarganya beserta seluruh warga desa turut bergembira atas pernikahan itu. Di akhir acara, Pak Raje menyerahkan jabatannya sebagai Kepala Desa kepada menantunya yang baik hati itu. Sepasang insan yang baru menjadi suami-istri itu hidup berbahagia. Warganya pun hidup tentram dan damai di bawah perintah Kepala Desa yang baru, si Penyumpit. ***

Catatan:

[1] Keremunting (myrtaceae) adalah sejenis tumbuhan yang
rasanya manis dan warnnanya ungu jika sudah matang. Selain dapat dimakan, buah kerementing dapat digunakan sebagai obat mencret dan sakit perut. Akarnya dapat digunakan sebagai campuran obat bagi ibu yang baru melahirkan. Daun keremunting banyak terdapat di belukar di wilayah Pulau Bangka.

[2] Buah nyatoh (palaquium spp) rasanya manis seperti buah sawo. Pohon ini banyak tumbuh di alam liar yang tingginya dapat mencapai 30 meter dengan diameter 50-100 cm. Di India, nyatoh dikenal oleh masyarakatnya sebagai pohon pali, orang Malaysia menyebutnya pohon mayang, nyatoh dan taban, sedangkan di Inggris dikenal sebagai nyatoh.

[3] Daun simpur termasuk tumbuhan lokal Pulau Bangka. Daunnya lebar, halus, dan bersih. Oleh masyarakat setempat, daun ini sering digunakan untuk membungkus makanan dan kue-kue, karena daunnya lebar seperti halnya daun pisang.

[4] Buah jering (pithecellobium jiringa) adalah sejenis tumbuhan yang banyak tumbuh di pinggir hutan. Tumbuhan ini berbuah sepanjang musim dan memiliki khasiat untuk mengobati kencing manis dengan cara merebus kulitnya hingga matang, lalu air rebusan tersebut diminum.

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook