Wednesday, October 20, 2010

Rendra: Mencari Bapa

Mencari Bapa
Puisi WS Rendra

Namaku Suto
ketika aku lahir
hujan turun dengan lebatnya
di ujung senjakala.
Sebagai bayi tubuhku terlalu besar.
Aku lahir dengan kaki lebih dulu.
Ibuku berteriak: “Aaak !“ — lalu mati.


Begitulah aku lahir tanpa ibu.
Tangisku keras mengalahkan hujan.
Kilat menggelegar bertalu-talu
aku tandingi dengan tangisku.


Ayahku Tuan Besar.
Rumah besar. Harta besar.
Kuasa besar. Kakinya besar.
Pegawainya besar pula jumlahnya.

Ia melihat ibuku mati.
Ia cium keningnya,
sambil meneteskan air-mata.
Lalu ia memandang padaku,
dan kepada seorang pelayan ía berkata:
“Asuhlah ia di gedung samping.
Cukupilah kebutuhannya.
Tangisnya terlalu kuat.
Sungguh terlalu keras suaranya.”

Umurku sepuluh bulan
aku bisa berjalan.
Umurku setahun aku bicara.
Dengan kuat aku hisap tetek babu,
aku kempit pinggangnya
dengan pahaku.
Setelah umur dua tahun,
aku menggambar dan menyanyi.


Seluruh lantai
dengan kapur aku gambari.
Seluruh tembok
dengan arang aku coreti.
Dan aku menggambar sambil menyanyi.


Babu pengasuhku sering berkata:
“Sekali waktu ayahanda akan murka.
Lantai dan tembok bukan tempat menggambar.
Dan lagijangan terlalu keras-keras bernyanyi.”

Aku tidak mengindahkan
kata-kata pengasuhku.
Permainanku yang utama
adalah menggambar dan bernyanyi.
Di situlah aku mendapat kepuasan.


Pada suatu hari
ketika umurku lewat empat tahun
ayahku datang dan berkata:
“Aku membawa hadiah untukmu.
Inilah pinsil dan kertas gambar.
Jangan lagi lantai dan tembok kamu gambari.”


“Aku tidak mau pinsil dan kertas gambar.
Terlalu kecil.
Aku suka menggambar besar.
Aku suka tembok dan lantai.”

“Apakah kamu hanya suka gajah ?“

“Tidak
aku menggambar orang dan kuda.
Tetapi besar-besar. Selalu besar-besar.”

“Kamu bengal!
Aku juga tidak senang
kamu terlalu keras menyanyi.”


“Aku ingin suling !“ sahutku.


“Tidak boleh !“ kata ayahku.
“Suling akan menambah kegaduhan.”


Di hari ulang tahunku yang kelima
aku datangi penjaga gudang,
seorang pegawai yang sudah tua.
Aku jambak rambutnya,
dan aku berkata:
“Berikan padaku sulingmu !“
Ia menolak dan meronta.
Aku pukul kepalanya dengan kayu.
Ia pingsan. Lalu aku curi sulingnya.


Pada suatu siang, selesai makan,
aku meniup sulingku.
Aku teringat dongeng orang tentang ibu.
Aku lebih lebur ke dalam sulingku.


Tiba-tiba pengawal ayahku datang:
“Tuan Muda
ayahanda sedang akan beradu
permainan suling Anda
sangat mengganggu tidur siangnya.”


“Aku bersuling mengenang ibu.
Janganlah aku kamu ajak bicara.
Pergilah kamu !“

Tidak lama kemudian
pengawal itu datang lagi:
“Maaf Tuan Muda
tetapi beginilah titah ayahanda.”
Lalu aku dibekuk dan dipanggulnya.


Aku dibawa ke rumah besar.
Diletakkan aku di lantai pendopo
ayahku berdiri di depanku.


“Kamu bengal !“ kata ayahku.
“Sejak bayi suaramu terlalu keras.
Tangismu keras. Nyanyimu keras.
Kamu adalah kegaduhan dalam hidupku.
Aku tidak suka kepadamu !“


Aku duduk di lantai.
Aku tatap mata ayahku.
Aku tiup suling
sambil menatap mata ayahku.
Yang kupikir adalah ibuku.


Alis-mata ayahku terangkat naik.
Napasnya menjadi deras.
Ia membungkuk
lalu menampar pipiku.
Sulingku terpelanting.
Aku terpelanting.
Darah keluar dan mulutku.
Aku usap dengan tangan
lalu aku tatap ayahku.


“Singkirkan ía dan sini !“
titah ayahku, “Aku membuangnya !“


Pengawal menyeretku
dan melemparkan aku ke luar halaman.
Di tepi jalan aku menangis.
Capek menangis aku menyanyi.
Akhirnya hari senja.


Aku berdiri.
Aku hampini gerbang halaman
dan berkata kepada penjaganya:
“Buka gerbang. Aku mau masuk.”


Penjaga itu menggelengkan kepala.
“Menurut titah ayahanda
Anda tidak boleh masuk.
Anda sudah dibuang.
Pergilah jauh, ke dalam kegelapan.”


Malam gelap sekali.
Suara serangga lebih tajam kedengarannya.
Aku merasa tergetar.
Meskipun kecut, aku kepalkan tanganku.
Aku berlari, menyerbu kegelapan.


Beberapa jam berlari
akhirnya aku sampai ke pasar.
Capek dan lapar
aku tidur di atas bangku.


Hari berikutnya aku berjalan lagi
tanpa tahu ke mana arahnya.
Di siang hari aku tak kuasa menahan lapar.
Aku hampiri seorang lelaki di pinggir toko.
Aku tarik lengan bajunya
dan aku acungkan telapak tanganku.
Ia menatapku.
Aku membalas menatapnya.
Ia terpesona. Aku menatapnya.
“Anak cakep !“ katanya.
Lalu ia pungut uang dan sakunya
diberikan kepadaku.

Ketika aku makan di pasar
banyak anak merubungku.
Pakaian mereka compang-camping,
mata beringas, badan kotor.

Seorang anak yang terbesar
menghampiriku dan berkata:
“Kamu anak baru !“
Aku tidak menyahut.
Dalam hati aku senang mereka.
“Siapa namamu ?“
Aku tidak menyahut.
Aku kurang senang bau tubuhnya.
“Kamu sombong !“ katanya.
“Jangan ganggu !“ kataku.
Semua anak tertawa.
Yang satu itu menjadi gemetar
dengan muka merah padam.
Ia julurkan tangannya.
Aku dicekiknya.
Lalu aku tendang kemaluannya.


Kami berkelahi.
Semua anak mengeroyokku.
Darah mengalir dari kepalaku.
Darah mengalir dari wajahku.
Dunia berputan. Aku pingsan.


Di malam harinya
dengan kepala dan muka penuh luka,
dengan seluruh tubuh merasa kaku.
Aku pergi mencari mereka.


Aku lihat mereka tidur di bangsal pasar.
Pemimpinnya tidur di pojokan.
Aku pergi mencari api.
Lalu aku kembali dan membakar bangsal pasar.


Lintang pukang mereka berlari.
Aku lempari mereka dengan batu.
Pemimpinnya aku hampiri.
Ia terlambat berdiri.
Aku pukul kepalanya dengan bata.
Ia mendelik dan berkata: “Kamu iblis !”
Lalu ia tak sadarkan diri. Barangkali mati.


Kemudian aku melarikan diri.
Sejak saat itu aku selalu berpindah-pindah.
Mengembara. Ke mana saja arahnya.
Dari kota ke kota seperti menghitung gundu.
Dan desa ke desa seperti menghitung kenangan.


Pada waktu umurku sepuluh tahun
aku kumpulkan pengemis-pengemis kecil
aku ajari menyanyi,
main gendang, suling dan rebana.


Kami mengemis sambil menyanyi.
Dar kota ke kota seperti merangkai merjan.
Dari desa ke desa seperti merangkai bunga.

Ketika usiaku dua belas tahun
pecahlah perang.
Tentara asing menduduki negara.
Aku dan teman-temanku lari
masuk ke dalam hutan.


Kami hidup dari mencuri
kami hidup dari buah-buahan
kami tidak lagi bisa bernyanyi.
Anak-anak yang hilang
menggabung kepada kami.


Pada waktu usiaku enam belas tahun
perang selesai. Musuh pergi.
Kami turun kembali ke kota.
Beberapa anak pergi
mencari orang tuanya.


“Siapa orang tuamu ?“
salah sorang bertanya kepadaku.
“Aku anak kuntilanak !“
jawabku.


Dan lalu pikiranku melayang.
Serasa aku terangkat dari tanah.
Debar jantungku menjadi pelan.
Ubun-ubun kepalaku serasa terbuka.


Aku teringat rumah ayahku.


Aku mencuri cat.
Di malam hari aku membuat gambar:
di aspal jalan, di tembok-tembok.
Di siang hari aku pergi ke hutan
omong-omong dengan pohonan.
Aku merasa sunyi, melayang-layang.


Tujuh hari aku merasa aneh.
Pada hari ketujuh aku naik ke gunung.
Di puncaknya memandang ke bawah
melihat dunia yang luas.
Lalu memandang ke atas
melihat langit.
Dan di kejauhan
langit dan bumi bertemu di cakrawala.

Maka pada malam harinya,
keadaan gelap gulita.
Mendung menutupi bintang-bintang.
Angin menyapu dan menderu.


Di dalam kegelapan aku berdiri
aku berseru sekuat tenaga:
“Ayah, aku datang mencarimu !“


Kemudian teman-teman aku kumpulkan.
“Kita menyanyi dan mengemis lagi !“ kataku.
“Kita akan mengembara.
Aku ingin mencari ayahku.”


Tiba-tiba teman-temanku terpaku.
Ada yang memalingkan muka.
Ada yang menundukkan kepala.
Mereka meneteskan air mata.


Salah satu berkata:
“Akujuga ingin mencari bapa.”
Segera yang lain bicara sama.
Mereka tidak ingin sebatang-kara.


“Kali mengalir menuju lautan.
Langit dan bumi
bertemu di cakrawala.
Kita akan pergi mencari bapa,”
begitu kataku kepada mereka.


Tujuh tahun kami mengembara.
Dari kota ke kota seperti menghitung bintang.
Dari desa ke desa seperti menghitung mega.


Dan setiap kali
ada yang datang kepada kami
seraya berkata:
“Akujuga mencari bapa.”


Maka barisan kami semakin besar.
Kami mencegat kereta api.
Kami acungkan tangan.
Dan kepada masinis aku berkata:
“Barisan kami ini
akan menumpang di atas gerbong.
Kami semua mencari bapa.”


Masinis itu berdiri mengangkang.
Kedua matanya tidak sama besarnya,
menatap kepadaku.
Aku pun juga menatapnya.
“Aku seperti pernah melihatmu!” katanya.

Dua orang temanku
menghampiri masinis itu
dan mencekik lehernya.
“Apajawabmu ?“ tanyaku.
“Naiklah !” katanya.
Lalu teman-teman melepas lehernya.

Masinis itu menangis terguncang-guncang.
Ia menubruk dan memelukku.
“Aku pun mencari bapa.
Empat puluh dua tahun mencari bapa.”
Begitu ia berkata sembari tersedu.


Kereta api menderu —
Kami semua mencari bapa.
Masinis dan penumpang juga.


Kereta api menderu: jawaban tidak menentu. —-
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dan kota ke kota: kami rampok toko-tokonya. —
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dan desa ke desa: kami rampok panennya. —
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.


Kereta api menembus malam,
menembus siang,
menembus minggu dan bulan,
menembus tahun —
tujuh tahun.


Kereta api yang menderu terhenti.
Waktu siang, matahari di puncak kepala.
Seorang gembrot mengangkang di jalan kereta.
Tangannya diacungkan
dan di belakangnya
ada seratus anak buahnya.
Si gembrot adalah penyamun yang ternama.


“Suto ! Keluarlah kamu !“ ia berseru.


Aku keluar. Melangkah ke depannya.
“Kamu mencari bapa.
Aku adalah bapamu.
Dan seratus anak buahku mi
adalah bapa anak buahmu”.
Aku menatap matanya
Aku melihat semak belukar,
ketonggeng, lipan dan ular.
Aku berkata: “Enyahlah kamu!
Aku telah menatap kamu.
Aku tidak melihat langit dan bumi.
Kamu bukan ayahku!
Seratus buah anak buahmu
sudah teler kemaluannya.
Mereka tak punya anak !“


Segera si gembrot berkata pu1a
“Dengarkan, Suto.
Rumahku besar. Pelayanku seribu.
Istriku mati ketika melahirkan kamu.
Lalu aku menikah sembilan kali lagi.
Kamu dulu suka menggambar
di lantai dan di tembok.
Dan kamu suka melenguh seperti lembu.
Kamu meniup suling untuk menggangguku,
karena itu aku gampar kamu.
Tetapi kamu membandel.
Malah menatapku dengan matamu yang bego.
Lalu aku usir kamu.
Kamu lihat sekarang,
aku adalah ayahmu !“


Begitu ia selesai ngomong,
tanganku yang kiri
menonjok ulu hatinya.
Dan ketika ia terbungkuk
aku jitak ubun-ubunnya.
Ia glangsaran.
Dengan injakan kaki
aku patahkan lengannya.
“Sarat !“ kataku. “Kamu bukan ayahku.”


Kereta api menderu: menyemburkan api rindu.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari kota ke kota: kami berdebar dan bertanya.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari desa ke desa: kami membaca kuburan tua.
Ya, bapa. Ya, bapa. ‘Ya, bapa.
Kereta api menembus tahun, menembus barat,
menembus utara,
berputar melingkar —
sebelas tahun lamanya.


Tiba-tiba kereta api terhenti.
Di depan menghadang penglihatan istimewa:
seorang tua yang tampan,
dengan dandanan adat yang sempurna,
menghadang di jalan.
Di depannya tergelar hidangan pesta:
buah-buahan, sate, ayam panggang,
danjuga para wanita.
Di belakangnya truk-truk yang baru
penuh dengan barang-barang yang di-pak rapi
semuanya baru datang dan gudang.


“Aku mohon ketemu Suto !“ katanya.
Aku keluar: “Namaku Suto.”


“Aku persembahkan hantaran ini,” katanya pula.
“Enam puluh tahun aku menunggu.
Warta tentangmu telah tersebar.
Kini aku gembira bisa bertemu.
Bisa mempersembahkan tanda-mataku.”


“Pemberianmu aku ambil. Terima kasih”


“Suto. Ingatlah: siapakah aku? Akulah bapamu!”
Aku menatap matanya.
Aku lihat banyak cahaya kunang-kunang,
permainan reklame neon,
dan gorden kain tetoron.

Sambil mendekat, aku berkata kepadanya:
“Mulutmu bau keranjang sampah.
Kamu bukan bapaku.
Sekarang: enyah!”


Ia menangis; Mengusap air mata dan berkata:
“Waktu kamu lahir
hujan turun dengan lebatnya.
Kamu dibesarkan di gedung samping.
Kamu suka menggambar.
Kamu pukul penjaga gudang dan kamu ambil sulingnya.
Anakku, apakah kamu sudah lupa kepadaku ?“


Aku ludahi mukanya.
Aku buka celanaku,
dan aku kencingi hidangan suguhannya.
Dengan pisau roti aku potong telinga kirinya.
“Minggat !“ seruku. Dan kereta menderu.


Kereta api menderu: membelah jiwa. —
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari kota ke kota: membelah raga. __
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari desa ke desa: membelah rasa. __
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.


Kereta api menyelam lautan.
Kereta api naik ke gunung-gunung.
Kereta api terbang di udara.
Ya, Tuhan, dua puluh tahun lamanya.


Tiba-tiba kereta api terhenti.
Hening. Tak ada apa-apa yang terjadi.
Cuma seorang wanita
dengan kebaya berenda.
Ia berdiri menunduk,
menghadang di tengah jalan.


Masmis berseru:
“Apa maumu ?“ — Hening.
“Siapakah kamu ?“ — Hening.
“Apakah kamu ingin mati ?“ — Hcning.


Aku turun dan menatap kepadanya.
Cahaya bintang remang-remang.
Tak bisa kulihat matanya.
Aku menatap, aku melihat teratai.


“Aku ingin kamu bicara!” kataku.
“Namaku Suto,” sambungku pula.
“Aku tahu.” Suaranya seakan-akan datang dan lembah.
“Aku mencari bapa.”
“Aku tahu.”
“Apakah kamu akan mengaku bapaku?”
Ia meludah.
“Siapakah namamu?” tanyaku.
“Gula-gula,” jawabnya.
“Apa pekerjaanmu?”
“Lonte.”


Aku melangkah lebih maju
dan kembali bertanya:
“Kamu mau apa ?“
“Aku akan naik keretamu.”
Lalu ia menengadah.
Matanya menatap padaku.
Aku melihat samodra
aku melihat kaki langit
aim melihat surya menikah dengan rembulan.
“Silahkan naik,” kataku.


Aku gandeng ia naik ke gerbong
dan seterusnya kami tetap bergandengan.
Lama-lama aku merasa
aku tidak mau melepas gandengan itu.
Aku usap punggung tangannya
dengan ibu jariku.
Aku melihat perahu di telaga.


Kereta api menderu: aku pegang dadanya.
Peluit kereta berseru: aku raba pahanya.
Desir angin masukjendela: astaga!
“Aku terpikat kamu,” kataku.
“Tahukah kenapa aku datang?” ia bertanya.
“Kenapa ?“
“Aku ingin tidur dengan semua teman-temanmu.”
“Tetapi aku ingin tidur dengan kamu.”
“Ya, itu bisa.
Tetapi aku juga ingin tidur
dengan teman-temanmu.”
“Apakah kamu….
“Kuat, maksudmu. ?“
“Ya.”
“Lihat saja nanti.”


Aku tidak berdaya.
Aku terpikat kepadanya.
Aku melihat batang-batang pimping
di bawah sinar rembulan.


Wanita itu berkata:
“Hentikan kereta!”


Kereta berhenti.
Kami berada di punggung gunung.
Lerengnya landai.
Di bawah adalah lembah.
Hari terang tanah.
Fajar akan tiba.

kami semua keluar dan kereta.
Wanita itu berdiri di tempat ketinggian.
Tubuhnya tampak sintal.
Wajahnya cantik.
Rambut-rambut lembut menghias dahinya.
Pinggul dan dadanya cukup semok.


Kami semua terdiam. Terpesona.
Fajar memancar dan dirinya:
“Orang-orang yang mencari bapa,
orang-orang dan kereta yang menderu,
aku datang kepadarnu.”
Begitu ia berseru
dengan resap dan berwibawa.
“Aku ingin tidur dengan kamu semua.”


Orang-orang menganga keheranan
“Tentu saja tidak bersama-sama,
tetapi satu per satu.”
Orang-orang menggosok matanya,
mencubit pahanya sendiri.
mereka tidak bermimpi.
Dan, lalu
teganglah semua kemaluan mereka.

Keributan hampir terjadi
tetapi aku segera berseru:
“Aku yang lebih dulu!”

Keributan terhenti
dan wanita itu berkata:
“Inilah satu hal yang penting.
Satu upacara yang sungguh-sungguh. Karena itu ada urutannya.”
“Ya, aku nomor satu!”
“Boleh saja. Begitulah sepantasnya.
Kamu akan membuka
dan menutup acara.
Tetapi yang aku maksud urutan
bukan itu.
Melainkan urutan tata-cara.
Pertama tentu saja:
kamu semua harus menyikat gigi.
Lalu mandi.
Kemudian kita sarapan bersama.
Setelah itu duduk-duduk lebih dulu. Baru kemudian kita mulai.
tanpa tata-cara mi, maksud aku gagalkan.”


“Kami semua akan mematuhinya!”
kataku. Dan semua setuju.
Sementara itu fajar telah sempurna.


Ia memimpin kami turun ke lembah.
Kami masuk ke dalam kali
dan mandi bersama.


Di air kali terbayang awan.
Sejuknya air masuk ke badan.
Sambil mandi memandang hutan.


Kami duduk di dalam kali.
Di dalam perut terkumpul hawa murni.
Hawa naik ke puncak kepala.
Ubun-ubun serasa terbuka.


Dan lalu kami sarapan di dalam hutan.
Rasa nasi, bau kayu api yang terbakar,
terasa satu di dalam keserasian.
Hutan, aku dan teman-teman
serasa saling terlibat
sejak jaman purbakala.


Sehabis sarapan,
kami rebah memandang mega.
Mendengar angin di antara daunan.


Semua berjalan
sesuai dengan anjurannya.
Kemudian ia menggandengku
kembali ke kereta
diikuti orang-orang lainnya.


Lalu masuklah kami ke dalam gerbong.
Yang lain pada antri menunggu.

Ia membuka pakaianku.
Pelan-pelan. Satu per satu.
Lalu tangannya meraba kemaluanku.
Dan ia masukkan lidahnya
ke dalam mulutku.


Selapik seketiduran.
Sebumi dan selangit.
Dua badan satu jiwa.
Dua jiwa satu badan.
Bulan dan surya telah lebur
menjadi kosong.


Begitulah telah terjadi. Bergoyang-goyang.
Kereta api membelah bumi.
Kami bertapa dan berkata:
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Kereta api membelah langit.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dan kami berseru: Bapa kami di sorga.
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.


Kereta api menderu: berabad-abad lamanya.
Tiba-tiba kami saling memandang.
Menatap dalam-dalam. Melihat.
Dan saling berkata:
“Astaga. Baru sekarang aku sadari,
kamulah bapaku!”

Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari kota ke kota: kami berkarya, kami bekerja.
Kepada orang di jalan kami berkata:
“Bapa. Aku putramu.”


Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Dari desa ke desa: kami mengolah, kami mencipta.
Dan kepada para petani kami berkata:
“Kamulah bapaku. Aku pulang untuk bekerja.”
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya,. bapa.

Bapa kami yang berada di sorga
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Kyrie, Eleison
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Allahu Akbar
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Namyo - Ho - Ren - Ge - Kyo
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Aum. Mani. Padme. Hum
Ya, bapa. Ya, bapa. Ya, bapa.
Ya, Allah. Ya, Allah. Ya, Allah.
Laa illaha illallah.
Laa illaha ilallah.
Laa illaha ilallah.

Yogya, 11 Juli 1975

Saturday, October 16, 2010

Lukisan Perkawinan Hamsad Rangkuti

LUKISAN PERKAWINAN
Cerpen Hamsad Rangkuti

Kecurigaan sudah lama mengganggu ketentraman hidup Jody Sutisna. Ia membayangkan yang tidak-tidak tentang apa yang terjadi di rumah ketika ia berada di kantor. Ia mula-mula membantah kecurigaan yang menghinggapi pikirannya itu. Bukankah cinta itu sendiri telah membuahkan tiga anak yang mereka kasihi? Apakah mungkin penyelewengan itu dimulai oleh campur tangannya dokter untuk tidak terjadinya pembuahan di rahim para wanita? Mereka memberikan obat-obat kepada kaum ibu untuk menghentikan kelahiran. Mereka menjadi cantik kembali. Mereka lebih banyak punya waktu untuk menghias diri. Mereka tidak diganggu oleh kesibukkan untuk mengurus anak-anak. Mereka lalu menghabiskan waktu untuk mempersolek diri. Pada mulanya mereka melakukan itu untuk mengikat suami agar betah tinggal di rumah. Tetapi lama-kelamaan mereka melakukan itu untuk memikat kekasih-kekasih gelap mereka. Mereka mempersolek diri untuk dua sasaran sekaligus. Untuk sang suami dan untuk para kekasih gelap mereka. Begitulah pada mulanya terjadi seperti hal yang tidak sengaja. Tetapi lama-kelamaan cinta telah terbagi. Hati telah terpecah. Mula-mula terpecah menjadi dua. Dan sehari ke sehari hati terpecah sudah tidak seimbang.
Kepingan-kepingan baru telah bertambah lebih banyak berpindah dan kepingan sang suami ke kepingan kekasih gelap. Sampai akhirnya mereka telah berani berpihak kepada yang baru. Menemukan kekurangan-kekurangan yang lama. Kelemahan-kelemahan maupun kejelekkan sang suami sudah tampak jelas terpapar di hadapan sang istri. Kalau sudah sampai ke taraf demikian, seorang dan keduanya harus mengalah. Seseorang harus melepaskan sesuatu yang telah menjadi miliknya, atau memusnahkan keduanya sama sekali. Pikiran itulah yang telah mengganggu Jody Sutisna pada akhir-akhir ini. Mana yang harus dilakukan. Mengusir si istri bersama pelukis itu, atau membunuh keduanya sekaligus.
Kecelakaan yang datang menimpa keluarga Jody Sutisna diawali oleh keterampilannya menembak seekor macan di tengah rimba. Macan itu persis tertembak di antara kedua matanya. Ia bergambar dengan hasil buruannya di tengah rimba. Teman-teman seperburuannya mengambil foto itu untuk mengabadikan Jody Sutisna dengan bangkai binatang hasil buruannya. Jody Sutisna di dalam foto itu mengangkat sebelah kakinya menginjak tubuh macan yang telah mati tergeletak di antara semak belukar. Beberapa bulan kemudian, timbul pikirannya untuk membesarkan potret itu. Dia adalah orang yang mampu. Dia bisa membayar seorang pelukis untuk membesarkan potret itu dalam ukuran yang besar. Dia merencanakan memajang lukisan itu kelak di atas bangkai macan yang telah diawetkan itu di ruang tamu. Pasti para tamunya sesama pemburu menjadi kagum melihat lukisan dirinya bersama macan hasil buruannya diabadikan dalam bentuk lukisan. Mereka bisa melihat binatang itu dalam wujud yang utuh, diawetkan, berdiri siap menerkam, dan di belakangnya, di dinding ruang tamu itu, para sahabatnya itu juga dapat melihat dirinya bersama binatang buruannya diabadikan di atas kanvas dalam karya lukis.

Itulah awal dan mala petaka itu. Ia mendatangkan seorang pelukis ke rumahnya. Pada mulanya si pelukis membawa pulang potret itu untuk dilukis. Sebulan kemudian lukisan itu telah selesai. Lukisan itu cukup sempurna. Di pajang di ruang tamu.
Tibalah, gilirannya si istri minta dilukis berdiri di samping bangkai macan yang telah diawetkan itu. Si suami tidak keberatan. Malah ia merasa senang mendengar permintaan istrinya agar dilukis bersama macan hasil buruannya. Dia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya telah mengundang bencana ke dalam rumahnya. Pada mulanya bencana itu tidak akan tampak dengan segera. Tetapi awal dan itu semua dimulai oleh pandangan yang saling beradu. Si pelukis memandang tepat ke dalam mata si istri, memindahkan garis-garis bentuk tubuh wanita itu ke atas kain kanvas. Bagi si pelukis, melukis seorang wanita adalah hal yang biasa. Dia telah banyak melukis wanita-wanita genit dijadikan model. Pelukis-pelukis itu juga pada akhirnya meniduri model-model mereka. Meniduri model adalah hal yang biasa bagi seorang pelukis. Bila tubuh sudah menyatu, maka kekuatan goresan kuas akan lebih sempurna memindahkan wujud wanita yang dilukis. Menyatulah segala-galanya.
Tetapi kali ini si pelukis bukanlah melukis seorang model dan wanita-wanita yang semacam itu. Ia melukis seorang istri orang yang terhormat. Istri dan orang yang punya kedudukan yang baik di masyarakat. Tidak mungkin ia harus menyamakannya dengan model-model lukisannya yang lain.
Tiap hari si pelukis datang ke rumah Jody untuk meneruskan lukisan yang belum selesai. Dan hari ke hari ia memandang tepat ke dalam mata si istri. Rumah yang luas, kesenyapan ruangan yang terjaga terus-menerus sepanjang siang, adalah faktor penunjang kesuksesan liciknya iblis menganggu kedua mereka. Anak-anak pergi ke sekolah. Pembantu rumah sibuk di dapur. Tukang kebun tidak akan berani masuk ke ruang tamu. Si iblis pun mulai memasuki naluri rendah manusia. Ia menggerakkan keberanian si pelukis untuk menyentuh si istri guna mengatur posisi lebih sempurna.
“Coba Nyonya memandang tepat kepada saya. Ingat posisi yang kemarin. Sedikit Nyonya berubah, akan mengganggu keserasian lukisan yang sedang kita selesaikan ini. Apakah Nyonya telah lelah?”
Si nyonya rumah senyum. Ia bergerak ke arah yang diminta si pelukis. Tetapi bagi si pelukis, gerakan itu belum sempurna seperti yang ia kehendaki. Si pelukis meninggalkan kanvasnya dan mendekati si nyonya rumah yang tampak agak gugup. Si pelukis menyentuh dagu si wanita.
“Nyonya harus bersikap seperti ini.” Sentuhan telah terjadi. Degup jantung keduanya tambah keras. Tetapi keduanya masih saling menjaga nafsu rendah mereka. Tetapi sentuhan yang sedikit itu telah membuka jalan untuk belaian-belaian yang lebih jauh.
Ada semacam petualangan baru dalam diri Sri Suharti Jody Sutisna. Dia merasakan kokok ayam menyambut fajar semacam genta yang merdu ditelinganya. Hari sebentar lagi akan siang. Ayam itu membangunkan Sri untuk bersiap-siap menyambut si pelukis di ruang depan. Sri pagi-pagi telah mandi dan mulai membenahi diri. Bila Jody telah berangkat ke kantor, Sri duduk berlama-lama di depan kaca. Ia memakai baju yang tipis Untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya dan balik kain yang tembus pandang. Mata pelukis itu memancarkan suatu kenikmatan yang lain pada saat memandang dirinya dari balik kerlingan yang mencuri-curi. Rok yang tersingkap menunjukkan betis yang bersih. Mengapa ia selalu duduk dengan sembrono dan membiarkan ujung rok yang dipakainya tersingkap jauh di atas lutut? Mengapa ia tidak buru-buru menutupnya dan melindungi kedua betisnya yang telanjang dan sudut mata yang mencuri-curi itu? Tetapi itu adalah suatu kenikmatan yang baru. Mengundang keberahian yang terlarang.
Mengapakah aku ini, pikir Sri, menanggapi sikapnya yang membiarkan bagian-bagian tubuhnya yang telanjang itu dinikmati oleh kerlingan nakal si pelukis. Apakah cintaku pada Jody telah luntur? Bukankah cinta semacam pelita yang menerangi terus-menerus perjalanan hidup sebuah perkawinan? Perkawinan sejati adalah tidak ubahnya seperti dua orang kekasih berjalan di dalam gelap, cintalah yang akan bertindak sebagai pelita menerangi perjalanan hidup perkawinan itu. Apakah pelita itu telah padam di dalam diriku. Cinta adalah suatu pengutamaan yang luar biasa yang dituntut baik bagi seorang pria ataupun wanita. Perkawinan menuntut saling rasa terikat yang wajar, cintalah yang bertindak sebagai benang pengikat itu, sehingga seseorang tidak terlepas dan kewajiban moral. Tetapi itu untuk berapa lama bisa bertahan pada seseorang, baik lelaki maupun pria. Pengutamaan yang luar biasa itu bisa berapa lama bertahan pada seseorang. Sebulan, setahun, ataukah sampai mempunyai beberapa makhluk sebagai basil dan buah perkawinan itu? Dasar agamakukah yang tidak kukuh, Sehingga aku tidak takut dengan bayangan dosa? Ataukah aku mencintai pelukis ini? Bukankah cinta bisa mendobrak kekuatan dasar rasa terikat seseorang dengan hidup perkawinan ataupun dasar keagamaan seseorang? Apakah aku telah menaruh cinta pada pelukis ini? Bukankah nafsu dan cinta saling berdekatan satu dengan yang lain? Keduanya tidak dapat dipisahkan bagi seorang pria dan wanita yang normal. Cinta dan nafsu datangnya berbarengan pada diri seseorang. Apakah aku sudah tidak kuat untuk mengelakkannya? Keheningan ini, ketenangan dalam rumah yang luas ini telah menggiring keduanya ke dalam suasana yang baru bagi mereka.
Pernah suatu hari Jody menelepon ke rumahnya dan kantor. Lama ia menanti orang untuk mengangkat telepon itu. Baru kemudian pembantu rumah mengangkat dan menyambut teleponnya. Pembantu rumah berkata pada Jody bahwa nyonya pergi bersama pelukis itu dengan mobil sejak pagi. Ke mana mereka pergi, pikir Jody. Ia mulai tidak tentram duduk di belakang meja dalam ruangan yang ber-ac. Pikirannya mulai menerawang tentang sesuatu yang menyakitkan yang dilakukan oleh istrinya. Mengapa ia mengundang kesempatan kepada istrinya. Mengapa ia memberi kesempatan itu datang ke rumahnya. Mengapa ia memberi kebebasan pada istrinya untuk menerima pelukis itu di ruang tamu mereka. Apakah ia tidak dapat melihat perubahan-perubahan yang begitu menyolok yang diperlihatkan istrinya? Mereka sering bertengkar akhir-akhir ini. Hal-hal kecil telah menimbulkan buah pertengkaran di antara mereka. Apakah ini bukan suatu pelampiasan dari rasa cernburunya? Tetapi mengapa ia tidak berani berterus terang untuk mengatakan rasa cemburunya pada si istri? Dan mengapa ia menunjukkan sikap yang sedikit pun tidak merasa kegoncangan dengan hadirnya pelukis itu tiap hari di rumahnya. Ia memandang hal itu suatu yang wajar. Bahwa pelukis itu harus menyelesaikan lukisannya dan si istri harus menyediakan dirinya untuk terus-menerus dipandang oleh si pelukis. Tetapi apakah aku tidak menyadari bahwa perkembangan dan lukisan itu sangat lambat? Apakah aku tidak melihat bahwa ada semacam taktik yang dilancarkan oleh si pelukis untuk melama-lamakan rampungnya lukisan itu. Keangkuhannya sebagai seorang yang berkedudukan tinggilah yang membuat ia tampak tidak goyah sedikit pun. Ia merasa kuat dan penuh keyakinan diri untuk tidak semudah itu milik yang dicintainya lepas begitu saja jatuh ke tangan seorang seniman seperti pelukis itu. Apa yang lebih pada diri pelukis itu untuk membikin cinta istrinya mulai beralih? Itu tidak masuk akal. Iblis yang mengganggu pikiranku. Tidak ada alasan yang kuat untuk membikin aku cemburu padanya. Tetapi mengingat masa mudanya yang liar, telah mendatangkan rasa curiganya pada pelukis itu. Bukankah seniman-seniman itu menganggap wanita semacam alat untuk memperoleh kenikmatan? Sejak umur remajaku, aku telah merusak diri sendiri dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Menghabiskan masa remajaku dengan wanita-wanita yang menjual dirinya. Aku tahu pelukis itu menganggap hubungan seks antara pria dan wanita di luar nikah suatu hal yang wajar. Kalau mereka mau meniduri wanita-wanita yang penuh dengan kuman-kuman penyakit di tempat-tempat pelacuran, mengapa ia tidak mungkin mempergunakan untuk menikmati tubuh istriku yang bersih? Aku harus mencegahnya sebelum penyelewengan itu terjadi. Skandal adalah peristiwa yang memalukan keluarga. Aku harus mencegahnya. Kalau di meja makan, kita jangan terlalu percaya pada kucing, di tempat tidur, kita jangan terlampau percaya pada istri. Perempuan seperti kuda. Harus dikekang dan diikat di tengah padang. Kalau kau membiarkannya lepas, bisa celaka. Tutup matanya bila kau membawanya menarik kereta. Bila tidak, dia akan melihat ke segala jurusan, sehingga kereta kudamu akan tergelincir masuk jurang dibuatnya. Pikiran itulah yang menguasai Jody pada saat-saat kritis ini. Jangan dibiarkan mereka terus-menerus di ruang tamu, lama-kelamaan mereka akan masuk ke ruang dalam. Dan kalau aku membiarkannya, mereka akan masuk ke kamar tidur. Itu tidak boleh terjadi.
“Ke mana kau pergi dengan pelukis itu siang tadi?”
“Kami membeli cat. Cat merahnya habis.”
“Mengapa tidak kau biarkan ia pergi sendiri dengan kendaraan umum.”
“Ia ingin cepat-cepat. Lagi pula aku telah capek duduk terus-menerus di depannya. Apa salahnya aku antar ia ke toko cat.”
“Mobil itu kubeli bukan untuk menyuruhmu mengantar pelukis ke toko cat. Aku tidak senang kau berbuat sejauh itu.”
“Aku tidak melihat perbuatan tercela untuk itu.”
“Suruh pelukis itu selesaikan lebih cepat lukisanmu. Aku tidak suka ia datang terus-menerus tiap hari kemari. Aku curiga membiarkan kamu berdua dalam rumah ini.”
“Kau menuduhku sekotor itu? Jiwamu sudah sekotor yang kautuduhkan padaku.”
Begitulah istri-istri itu membela dirinya. Ia berlindung di balik air matanya. Ia menangis menutupi perbuatannya. Ia mengelak dengan kata-katanya. Ia sedikit pun tidak merasa berdosa. Begitukah wanita-wanita itu bila telah melangkah terlampau jauh? Jody berkesimpulan seperti itu.
Retak sudah hampir tidak bisa dipertahankan lagi dalam perjalanan hidup rumah tangga Jody Sutisna. Keadaan sudah makin kritis. Keduanya saling tegang. Percekcokan sering terjadi. Hal-hal yang tidak perlu di persoalkan telah menjurus ke sebab pertengkaran mulut. Sementara itu pun lukisan telah rampung. Bagi Jody, kerampungan lukisan itu adalah penyelesaian yang baik terhadap kecurigaannya. Lukisan telah dipajang di ruang tamu. Kecurigaannya sudah berangsur lenyap. Untuk lenyap sama sekali tidaklah semudah itu. Dia harus diyakinkan sedemikian rupa sampai bekas itu hilang sama sekali. Apakah bekas itu akan dilenyapkan? Apakah kedua lukisan itu harus dilenyapkan? Tidak. Itu adalah hal yang kekanak-kanakan. Aku harus mempercayai pengakuan istriku. Apalagi yang harus kupercayai, kalau bukan pengakuan istriku sendiri? Apa salahnya aku mempercayai pengakuan orang yang kucintai? Mengapa aku menuduhnya sekotor itu? Bukankah itu semacam tuduhan yang belum pasti? Jiwaku yang telah kotor. Kotor semenjak usia remajaku. Semenjak kawin aku tidak pernah melakukan itu. Aku sekarang suci dan perbuatan-perbuatan seperti itu. Bukankah kekotoran masa lalu itu suatu kemungkinan mengotori jalan pikiranku? Aku menuduh orang sama berbuat seperti yang kulakukan pada masa remajaku. Jangan. Jangan sama ratakan orang Seperti masa remajaku. Itu tidak adil.
Jody mengikis kecurigaannya seperti itu. Dengan demikian ia menjadi tenang dalam hidupnya. Keadaan rumah tangga sudah mulai menjadi normal. Kemesraan hidup berkeluarga sudah mulai tumbuh kembali antar dia, istrinya dan anak-anaknya. Kerukunan itu tiba-tiba buyar kembali ketika pada suatu siang ia mendapat kabar melalui laporan teman baiknya. Jody kaget mendengar temannya bercanda dalam telepon.
“Mengapa kau biarkan nasi di piringmu di makan orang lain?”
“Mengapa kau bergurau seperti itu?”
“Aku melihat istrimu dengan pelukis yang melukis bangkai macan di rumahmu. Mereka berdua dalam mobil. Istrimu menyetir mobilmu sendiri. Pelukis itu duduk di sampingnya. Aku tidak tahu mereka habis pergi dan mana.”
“Bajingan!” Jody menghentakkan gagang telepon. Ia mengeluarkan mobil dari taman parkir dan melejit menuju ke rumahnya.
Di rumah dia temui pelukis itu duduk di ruang tamu. Pelukis itu berdiri memberi salam. Ia tidak acuh dan langsung ke ruang dalam. Istrinya terperanjat. Ia berdiri lemas memegang dinding.
“Aku meminta pelukis itu melukis protret perkawinan kita, Mas. Aku memang sengaja tidak mengatakannya padamu. Lukisan itu telah rampung. Aku ingin menghadiahkannya pada kita berdua sebagai kado ulang tahun perkawinan kita yang kesepuluh. Lukisan itu telah selesal. Ada kau lihat di ruang tamu?”
“Apa pun alasanmu, aku sudah tidak percaya pada omonganmu. Suruh pelukis itu pergi. Aku tidak kuat melihatnya. Apa kau mau ia tewas seperti macan dalam lukisannya seni ini?”
Sri bergegas membawa sejumlah uang ke ruang depan. Ia menyerahkan uang pada pelukis itu sebagai penyelesaian sisa pembayaran. Setelah itu si pelukis pergi penuh tanda tanya di hatinya.
Jody menarik tangan istrinya dengan kasar, dan menghempaskannya di atas sofa.

“Perempuan jalang. Sudah kularang kau bergaul dengan pelukis itu, malah sekarang kau bawa ia ke rumah mi. Apa yang kau lihat pada dirinya sehingga kau berpaling dan diriku?”

“Aku hanya ingin membuat kejutan pada hari ulang tahun perkawrnan kita. Kau lihat lukisan yang dibuatnya itu. Malam penganten kita, Mas. Aku hanya memesan itu untuk dia lukis. Kau lihat foto yang lama itu. Kertasnya telah rusak. Gambar perkawinan kita dalam foto itu telah rusak dimakan ngengat. Aku ingin menjadikannya baru sama sekali.”

“Omong kosong. Dasar wanita pandai menyembunyikan kebusukan yang pernah di lakukan. Aku tidak bisa berlama-lama melihatmu. Aku sudah lama tidak berburu. Aku khawatir kau bisa menjadi mangsa senapan berburu itu!” Jody menunjuk bedil berburunya yang tersangkut rapi di dinding ruang tamu. Bedil itu tersangkut di sana berfungsi sebagai perabotan dan sekaligus hiasan dinding.

Jody pergi dengan kasar meninggalkan istrinya duduk menangis di ruang tamu di atas sofa. Dia dengar mobil suaminya dilarikan dengan kecepatan luar biasa waktu masuk ke jalan besar. Sri menangis. Ia menyesali ketidakterusterangannya waktu memesan lukisan itu. Apa artinya membuat kejutan bila ketidakpercayaan sang suami pada kesuciannya telah timbul akibatnya. Aku harus menjelaskannya pada Jody. Dia harus tahu siapa sebenarnya pelukis itu. Apakah ia tidak tergugah melihat kemiskinannya? Apakah aku salah memesan lukisan hanya untuk menyelamatkan hidup istri dan anak-anaknya? Mengapa ia menuduh hidup seorang seniman, moral seorang seniman, sekotor yang dia tuduhkan? Aku harus bawa dia kemari bersama keluarga dan anak-anaknya. Besok pada hari ulang tahun perkawinan kami ia akan kubawa kemari. Itu harus dijelaskan. Istrinya dan anak-anaknya. Apa salahnya membawa mereka ke dalam rumah yang mereka sendiri belum pernah memasukinya? Istri pelukis itu, anak-anak pelukis itu.

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Jody dan Sri yang kesepuluh. Jody telah reda marahnya kepada istrinya. Ia telah memaafkan kelancangan istrinya yang telah terlanjur memesan lukisan hari pernikahan mereka kepada pelukis yang dicemburuinya. Ia duduk tenang di belakang meja dalam ruangan yang ber-ac. Tetapi tiba-tiba telepon berdering. Seorang teman menelepon, dan nada telepon itu tidak jauh berbeda ketika ia menerima laporan tentang istrinya.
“Aku melihat dan balik kaca mobilku. Istrimu dan pelukis itu bepergian dalam mobil yang disetir istrimu.”

“Kau jangan main-main. Istriku telah berjanji untuk tidak bergaul dengan pelukis itu. Lagi pula hari ini ia mesti di rumah untuk menanti tamu-tamu kami.”

“Aku tidak mungkin keliru dengan penglihatanku. Kau adalah sahabatku Jody. Apakah kau cukup percaya dengan seniman-seniman itu? Kau tentu telah banyak membaca tentang skandal-skandal yang mereka lakukan di antara istri-istri teman mereka. Semoga mataku salah melihat apa yang sebenarnya tidak benar itu. Semoga aku keliru.”

Jody meletakkan gagang telepon, karena orang yang meneleponnya meletakkan lebih dahulu gagang telepon di seberang sana. Jody menyandarkan diri di sandaran kursi duduknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Bulu-bulu tangannya merinding membayangkan seandainya apa yang dikatakan temannya itu benar. Apakah aku akan menjadi seorang pembunuh. Ia keluar dan kamar kerjanya. Suara mobilnya melenyap meninggalkan taman parkir Wisma Nusantara. Kantornya tampak mengecil di tingkat ke sepuluh gedung itu,

Didapatinya keadaan rumah masih sepi oleh para tetamu. Pesta dimulai pada sore hari sampai dekat senja. Para tetamu adalah teman-teman dekat mereka. Paling banyak dua puluh pasang suami istri. Sekarang baru pukul tiga siang. Ke mana mereka semua? Pikir Jody. Dan pembantu rumah, dia tahu bahwa ketiga anaknya bermain di pekarangan belakang. Para pembantu rumah tangga sibuk menyiapkan makanan untuk pesta di dapur. Dan si istri memang tidak ada di rumah. Sri kira-kira lima belas menit yang lalu pergi dengan menyetir sendiri mobilnya. Tidak meninggalkan pesan.

Sudah pasti sundal itu mendatangi kekasih gelapnya, si pelukis keparat. Apa yang dilihat Muharso adalah benar. Ia bepergian dengan kekasih gelapnya, sementara orang di rumah sibuk menyiapkan makanan untuk pesta peningatan perkawinannya sendiri. Bukankah itu seorang perempuan terkutuk? Aku harus membunuhnya. Setelah itu, baru aku membunuh pelukis itu.
Jody memanggil ketiga anaknya dan menyuruh mereka diam di dalam kamar. Pembantu rumah tidak diperkenankannya masuk ruang tamu bila tidak diperlukan. Tukang kebun harus tetap berdiam diri dalam kebun di belakang rumah. Setelah semua perintahnya dilaksanakan, Jody menurunkan senapan berburunya dan dinding. Dia memasukkan peluru-peluru ke dalam senjata api itu. Debu berterbangan dan gagang senjata berburu itu tertiup oleh napas Jody yang mulai sesak karena amarah. Ia mencoba membidikkannya ke arah bangkai macan yang diawetkan. Aku mesti menembak tepat di antara kedua mata Sri, si khianat itu.
Jody menunggu dengan amarahnya. Pada saat-saat begitulah ia mengenang masa-masa bahagia mereka. Mata Jody berlinangan. Ia mengingat pertemuan mereka di bangku kuliah. Sri duduk di bawah satu tingkat dengan Jody. Mereka bertemu, saling jatuh cinta dan disudahi memasuki jenjang pernikahan. Mereka kawin atas dasar cinta-mencintai. Tetapi pengkhianatan itu harus dimusnahkan. Aku luka dibuatnya. Tidak ada artinya aku memacu diri dalam dunia bisnis untuk menyenangkan hidupnya. Menyenangkan hidup anak-anak kami. Aku telah dilangkahi sedemikian jauh. Pengkhianatan itu. Biarlah aku membunuh demi harga diri. Memulihkan kembali nama baik keluarga.

Dia perhatikan lukisan-lukisan yang dipajang di dinding. Lukisan dirinya sendiri menginjak bangkai seekor macan yang ia tembak dalam rimba Sumatra. Lukisan istrinya duduk di belakang tubuh bangkai macan yang diawetkan. Kemudian dia perhatikan lukisan perkawinan mereka yang diabadikan sepuluh tahun yang lalu. Sri memakai pakaian putih-putih dan dia sendiri memakai pakaian jas warna kelabu, di latar belakang ada hiasan pelaminan berbentuk sungkup dalam warna kuning keemasan.

Betapa cepat itu semua tertinggal oleh waktu. Anak-anak telah menjadi besar. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Dia sibuk sendiri mengurus dirinya sendiri. Apakah aku juga tidak bersalah dalam hal ini? Aku kurang memperhatikannya. Aku sibuk dengan teman-teman bisnisku. Aku sibuk dengan cerita-cerita berburu di antara teman-teman berburuku. Mengapa aku tidak pernah sekalipun dalam hidupnya pada masa akhir-akhir ini untuk membicarakan kesenangan-kesenangannya? Membicarakan masa lalu perkawinan kami. Mengapa aku tidak pernah memperhatikannya? Membawanya kembali. mengunjungi tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan cinta kami. Mengapa aku tidak pernah memuji hanya sekali saja tentang masakan-masakan yang ia buat khusus untuk aku. Aku telah terlampau jauh meninggalkannya. Aku harus memperhatikan Sri. Ia membutuhkan itu. Tetapi pengkhianatan itu sudah keterlaluan. Mengapa ia sampai hati mengkhianati kesetiaannya. Mengkhianati janji setia yang kami ucapkan bersama begitu masing-masing meninggalkan bangku kuliah. Apakah waktu yang sekian lama itu cukup kuat mengalahkan kekuatan cinta seseorang? Cinta menuntut pengutamaan sesuatu untuk kelangsungan cinta itu sendiri dan menyampingkan segala sesuatu untuk menyelamatkan cinta itu. Tetapi Sri telah meninggalkan pengutamaan sesuatu itu, dan dia telah membiarkan penyimpangan yang merusak cmta itu. Aku tidak kuat hidup terus-menerus berdampingan dengan orang yang kucintai, yang sekarang telah menjadi orang yang khianat. Aku juga tidak rela melepaskannya untuk dinikmati atau dimiliki oleh orang lain, sementara aku masih bisa melihat kebahagiannya dengan orang lain. Itulah egoisme dalam cinta. Cinta bagiku adalah sesuatu yang harus dimiliki untuk selamanya. Sekali ia ternoda, ia harus dimusnahkan.

Suara mobil terdengar masuk ke pekarangan. Jody memandang dengan pandangan yang tajam seperti berpuluh-puluh anak panah dilepaskan ke tubuh Sri dan pelukis yang duduk di sampingnya di balik kaca depan mobil. Jody memandang dengan gemas. Mobil itu diparkir jauh dar rumah. Sri turun dan dalam mobil. Si pelukis juga turun dan dalam mobil. Jody tidak kuat menahan amarahnya. Sundal dan kekasihnya harus dibunuh. Kata Jody membidik tepat ke kepala istrinya. Dia melihat Sri seperti dia melihat pertama sekali Sri waktu melaksanakan masa-masa perpeloncoan.

Sri kembali mendekati mobil yang diparkir. Ia seperti mengingat sesuatu yang terlupakan. Ia melihat ke dalam mobil. Di tempat duduk belakang, istri pelukis dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil duduk diam-diam di pangkuan ibunya. Anak yang terkecil, melekat erat di buah dada ibunya. Anak itu menyusu dengan lahap.
“Kakak dan anak-anak di sini saja dulu. Kalau aku telah ceritakan maksud kedatangan kakak dan anak-anak beserta suami kakak kepada suamiku, barulah kakak aku jemput kemari. Aku lihat mobilnya sudah ada. Berarti Jody ada di rumah.”

Sri kembali berjalan berdampingan bersama si pelukis. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan si pelukis, istrinya dan anak-anaknya kepada Jody. Dengan demikian, Jody bisa mengerti duduk persoalannya, dan dia bisa memaafkan aku, menghapus segala kecurigaannya selama in Tetapi Sri tidak tahu, bahwa kepalanya sedang dalam sasaran peluru suaminya sendiri. Dia berjalan seperti dia tidak menghadapi suatu bahaya apa pun. Manusia memang tidak tahu, bahwa sedetik lagi maut akan menjemputnya. Siapa yang bias menduga tentang kematiannya sendiri. Begitulah Sri berjalan seperti ia menyongsong kematian itu sendiri. Selangkah. Dua langkah. Tiba-tiba saja dia telah menjadi lebih dekat dengan tempat di mana suaminya berdiri kukuh dengan senapan berburu yang siap diledakkan ke atas pelipis si istri. Sedetik lagi, atau mungkin beberapa detik lagi, kepala Sri akan pecah berhamburan di atas kerikil ditembus peluru yang diledakkan oleh suaminya sendiri.
Dari balik kaca mobil, istri pelukis memandang suaminya melangkah berdampingan dengan Sri mendekati ambang pintu. Anaknya yang terkecil masih terus mendekap dan menyusu. Anak kecil itu terpekik mendengar ledakan. Ibunya mencoba membuka pintu mobil. Ledakan kedua menyusul. Ledakan ketmga memekakkan bayi itu. Beberapa ekor burung merpati menggelepar kaget dan terbang dan ujung-ujung genteng. Seisi rumah menjadi panik. Anak-anak yang terkunung di kaman belakang menangis menggedor-gedor daun pintu yang terkunci.

Tidak terdengar letusan lagi. Suasana menjadi Senyap. Keadaan menjadi hening, karena suana yang menggelegar barn saja lenyap. Angin menampan daun-daun. Tidak terdengan bunyi kerikil diinjak tapak-tapak sepatu. Sri berdini di tempat ia melangkah. Si pelukis terpaku di atas sepatu-patunya. Semua bertanya-tanya ten- tang apa yang telah terjadi di ruang tamu.
Sri tiba-tiba memekik dan berlani ke dalam rumah. Ia telah mengira yang tidak-tidak. Apakah Jody membunuh dininya. Menembak pelipisnya sendiri. Tetapi dia tidak meithat hal yang mencurigakan untuk menguatkan dugaan itu. Jody duduk tenang-tenang di atas sofa. Senapan di tangannya masih mengeluarkan asap bekas mesiu. Lukisan perkawinan mereka jatuh dan atas dinding.
“Apa yang terjadi, Mas? Mengapa kau? Aku membawa pelukis itu dan keluarganya. Mereka aku jemput untuk ikut merayakan pesta peringatan perkawinan kita. Aku ingin kau menyambut mereka seperti kau menyambut tamu-tamu terhormat kita yang lain. Kau lihatlah mereka, Mas. Mereka hidup sengsara. Pelukis-pelukis itu sengsara. Lukisan-lukisan mereka tidak laku. Aku memesan lukisan perkawinan kita, hanya untuk memberi pekerjaan padanya. Kau tidak tahu, Mas. Dia bercerita ketika dia melukis aku sepanjang hari. Mereka menderita. Orang tidak membeli lukisan-lukisan mereka. Istri dan ketiga anaknya ada di dalam mobil. Mereka aku paksa untuk berani datang kemari. Mereka aku minta untuk menjelaskan kepadamu. Untuk menghapus kecurigaanmu. Apa yang telah terjadi dengan kau Mas? Di mana anak-anak kita?”

Jody duduk diam tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan istrinya. Dia tunduk memandangi slongsong peluru yang tenlempar di atas permadani dekat kaki meja.

“Aku sebenarnya mau membunuh lalat-lalat itu. Mereka terbang dan hinggap mengotori lukisan perkawinan kita. Tetapi lalat-lalat itu terlalu kecil untuk sasaran peluruku. Aku tidak mengenal lalat-lalat itu. Tetapi lukisan itu telah menjadi rusak. Dinding di belakangnya menjadi berlobang-lobang bekas peluru.”
“Maafkan aku kalau telah mengganggu ketentraman keluarga Tuan. Aku hanya mengerjakan profesiku.”

“Di mana anak-anak?”

“Aku mengurung mereka dalam kamar. Aku tidak tega membiarkan anak-anak itu melihat apa yang akan terjadi pada ibu mereka.”

“Apa maksudmu Mas?”

“Aku sebenarnya telah membidik tepat senapan berburu ini ke atas pelipis di antara kedua matamu. Aku hanya tinggal menarik pelatuknya. Tetapi aku tidak kuat untuk melakukannya. Aku benar-benar tidak kuat. Tetapi aku terus memaksanya. Dan. . . begitu aku menarik pelatuk, secepat itu pula aku mengalihkan laras senjata api ini ke pelipismu di dalam lukisan perkawinan kita. Aku menembakmu dan menambak diriku sendiri di dalam lukisan itu. Aku hampir saja membunuhmu.”
“Alangkah mengerikan kedengarannya.”
Sri berlari ke kamar belakang. Ia buka pintu kamar, dan ketiga anaknya berhamburan lari menerkam ibu mereka.
“Di mana istrii dan ketiga anakmu Bung?”
“Di dalam mobil.”
“Ambil mereka. Bawa masuk.”
Jody menyangkutkan kembali senapan berburunya ke atas dinding. Si pelukis membawa masuk istri dan ketiga anaknya. Mereka kelihatan takut-takut memasuki ruang tamu yang mewah itu. Sri juga datang ke ruang tamu. Ia membawa serta ketiga orang anaknya.

“Mari silakan duduk,” kata Jody.
“Terima kasih. Kami telah mengganggu ketentraman hidup keluarga Tuan.”
“Apakah Saudara bisa memperbaiki lukisan perkawinan ini?”
“Saya yakin, saya bisa. Saya akan memperbaikinya, Tuan Jody. Lukisan itu akan saya perbaiki sesempurna mungkin. Saya yakin, Tuan kelak tidak akan dapat menandai lagi, bahwa lukisan perkawinan itu pernah dirobek tiga butir peluru yang Tuan tembakkan sendiri dan senapan berburu Tuan.”
Depok, 1979

Monday, October 11, 2010

Karlina Leksono-Supelli: Surat Kepada Anak

SURAT KEPADA ANAK-ANAK YANG MEMILIH UNTUK DIAM DALAM KEPATUHAN

Oleh: Karlina Leksono-Supelli


Di kaki langit sebuah senja yang menyemburatkan cahaya keemasan, sepucuk surat tergeletak lusuh tak tersentuh. Aku memungut dan membacanya:

Anak-anakku, masih lekat di dalam ingatan bagaimana kegairahan meluap meledak-ledak mendengar tangismu yang pecah seiring tarikan napas pertama menghirup udara dingin dunia. Kami menyelimutimu dengan kasih. Kami dendangkan kidung kehidupan agar napas hangatnya meniup lembut relung-relung benak dan sanubarimu. Kelak, akan engkau embuskan kembali kehangatan itu untuk kehidupan.

Kami memenuhi hari-hari bukan hanya dengan doa untukmu. Kami tunjukkan dunia kepadamu, sekalipun itu bukan dunia yang tinggal engkau amati dan nikmati. Tidak, tidaklah kami pilihkan sebuah dunia yang masih siap untukmu. Kami menghadapkanmu kemungkinan-kemungkinan yang membentang luas di dalam ruang-waktumu sendiri. Engkau bermakna ketika menuju ke dunia esok yang tidak membelenggumu ke dalam sisa-sisa masa lalu kami. Engkau bukan tawanan masa depan kami. Engkau merajut benang-benang duniamu sendiri, menyatukannya ke dunia kami, menjalinnya ke dunia yang meng-kita. Engkau ada karena mengada dalam sebuah dunia bersama.

Ketika dalam kebebasan itu sebagian di antaramu memilih berseragam dan bersenjata, kami bertanya, dunia seperti apakah yang akan kau bentangkan? Sebuah dunia nyaman karena kamilah mesin penemu keamanan, begitu engkau menjawab. Kami lafalkan janji pembela kejujuran, kebenaran, dan keadilan, serta untuk berbakti kepada negara dan bangsa, katamu. Kami suguhkan sebuah dunia tenteram karena kami alat merangkai permusuhan menjadi perdamaian, katamu pasti.

Kami, ibu-ibumu, mempercayai janjimu. Kami bangga karena alat bisa menjadi teramat andal, apalagi jika itu sebuah mesin. Mesin menerima informasi untuk mengemudikan tindakannya. Tetapi salahkah jika kami juga bertanya, bukankah mesin hanya memberikan pelayanan kepada sang pemasok informasi? Bukankah mesin adalah pelayan pasif yang tidak bertujuan di dalam dirinya sendiri? Bagaimanapun, kami masih menyimpan harapan romantis bahwa mesin sekalipun tentu tidak melepaskan fungsinya untuk berpusat kepada kehidupan.

Di bawah senja yang merahnya kian membakar langit, kulanjutkan membaca:

Akan tetapi anak-anakku, kini datang seorang ibu bertanya kepada kami dalam kedudukan yang perih. Apa yang telah terjadi denganmu? Apa yang mereka semaikan ke dalam benakmu sehingga daun-daun hijau kehidupan yang sudah lama kita tanam, sirami, dan tumbuhkan bersama di sana engkau biarkan berputar-putar dan tenggelam di bawah arus dahsyat kekuasaan? Apa yang mereka tiupkan hingga napas hangat embusan kami ke dadamu membeku dalam jiwa yang kian sunyi dan nyanyian kemurahan hati?

Cukupkah sumpah setia kepatuhan membuatmu melumuri jiwamu dengan darah sebagian di antaramu? Sebagian yang lahir dan rahim-rahim kami seperti engkau, namun yang memilih untuk tidak menjadi mesin dalam keseragaman. Tidakkah yang sebagian itu terengkuh oleh cakrawala janjimu? Mengapa sumpahmu atas nama Sang Pengasih malah menjadikan dirimu sebuah perkakas untuk mereka yang memerintah dan mengusaimu? Adakah yang bisa engkau katakan ketika kami menggemakan dengan nyeri di hati, ucapan penyair Dylan Thomas: Hands have no tears to flow. Kekuasaan itu tidak bernurani, anak-anakku.

Pernah kami bisikkan bahwa menyeragam adalah memasuki kepatuhan tiada tara. Kepatuhan dalam hubungan yang bukan engkau-aku, bukan kita, bahkan bukan semata-mata antara sang penguasa dan serdadu-serdadunya yang patuh. Engkau sudah memasuki hubungan antara yang memilih untuk berkuasa dan yang mengarahkan wajah kepadanya untuk mendengarkan hukum-hukumnya. Engkau hanyalah pendengar karena engkau memang yang menghendaki kepatuhan itu. Engkau bahkan tak kuasa menyimak batinmu yang menangis ketika wajah sebagian di antaramu menatap dari balik sepatu yang berat itu dengan kesakitan. Maukah menceritakan, apa yang kau dengar setiap pagi di lapangan hijaumu, sehingga ketika kami menemukan solidaritas di-dalam-dunia, engkau masih terus saja mencarinya dalam tujuan dan kepentingan?

Kemudian, engkau bertanya, mengapa ibu tak berbangga untuk kami yang teguh kepada tugasnya? Anak-anakku, engkau hanya mengingatkan kami akan cerita Tolstoy, penulis Rusia kenamaan itu. Tolstoy yang menegur rekannya yang menampar salah seorang anak buah, ‘Tidakkah engkau malu memperlakukan sesama manusia seperti itu? Bukankah engkau pernah membaca Kitab Suci?,’ ternyata dijawab singkat, ‘Bukankah engkau pernah membaca peraturan militer?’

Apakah kepatuhan membahasakan diri lewat kekerasan?

Dalam pekat malam yang menelan seluruh baying-bayang tubuh, kuteruskan membaca:

Kami bertanya, seperti seorang filsufpemah bertanya, siapakah engkau? Siapakah engkau sebelum ini, siapakah engkau yang datang kemudian, siapakah engkau yang akan melampaui semua engkau yang sekarang?

Engkau yang asali, anak-anakku, adalah suara. Suara yang mengakukan dirimu sekalipun itu adalah keterbuangan dan keseragamanmu; suara yang menanggalkan semua identitas yang-mungkin, yang mencerabutmu dan engkau yang-mereka. Suaramu adalah cara engkau menemukan diri di dalam dunia. Namun tak kau kenali suara yang memanggil dalam kesenyapan itu, karena hanya dengan kesediaan mendengarkan dalam keheningan engkau memperoleh engkaumu kembali yang pemah menjadikan kesetiaan kepada keadilan dan kebenaran. Keheningan memang begitu asing untukmu sekarang. Engkau hanya mendengar; mendengar terlalu banyak dalam berdaya hangar-bingar kemenangan.

Bertahun-tahun menjelang tidur malammu, kami kisahkan bukan hanya para raja dan pahlawan yang menang dengan gagah perkasa. Engkau kerap bertanya, mengapa ibu menceritakan kesedihan mereka yang tak berdaya tak berpunya, yang mati meneriakkan keadilan kebenaran?

Engkau bertanya, karena untukmu makna ada dalam kekuasaan menaklukkan dunia. Tetapi, tidakkah makna adalah juga daya-daya untuk dikisahkan kembali sehingga kita semua belajar dari sejarah dan menarik garisnya untuk kita sendiri? To be memorable, begitu filsuf Hannah Arendt pernah menuliskan untuk kami.

Maka, anak-anakku, dalam kebenaran seseorang tak pernah kalah dan tak pernah mati.

Jika engkau menegaskan bahwa sumpah mengikatmu ke dalam kepatuhan kesamaan sekalipun itu penyangkalan atas suara hatimu, haruskah kami kini memilihkan dunia untuk anak-anak kami selanjutnya? Haruskah kami menolak cita-cita saudaramu yang hendak bergabung denganmu? Engkau telah menyempitkan dunia; engkau mengabaikan suara kehidupan; dunia yang engkau bentangkan boleh jadi aman, namun dinginnya menggetarkan kami.

Kami masih menghendaki sebuah dunia tempat kita dapat saling bertutur sampai kami terengkuh ke dalam kisahmu, dan engkau kami peluk dalam lengan-lengan cakrawala kami yang membentang dalam keluasan kehidupan. Kami masih menghendaki sebuah dunia tempat kita berkisah sampai derita dan pedihmu, derita dan pedih kami, kesukacitaanmu dan kesukacitaan kami, menjadi kenangan kita untuk membangun sebuah dunia bersama. Kami masih menghendaki sebuah dunia tempat kita saling berkisah menanggalkan sumber utama kebencian. Yakni, percaya terlalu besar kepada ke-aku-anku, ke-engkau-anmu, ke-kami-an kami, ke-mereka-an mereka. Kita saling berkisah untuk menanggalkan penjara yang jerujinya membelenggu kita di dalam pensucian dan pemberhalaan suatu proses pencarian kesamaan; kesamaan yang telah membuat kita masing-masing memandang “ke-kita-an kita” masing-masing sebagai benda tiada bercacat.

Di dalam kisah-kisah yang tak berperangkap itu, anak-anakku, kebenaran menunggu untuk disingkapkan.

Di bawah kaki langit dini hari yang heningnya membumbung membuka langit untuk sebuah cahaya pagi, kubiarkan surat itu menggeletak ... dalam terang tanah yang melahirkan kembali bayang-bayang diri.


Karlina Leksono-Supelli, Suara Ibu Peduli.

Tuesday, October 05, 2010

Dodolitdodolitdodolibret Seno Gumira Ajidarma

Dodolitdodolitdodolibret
Cerpen Seno Gumira Ajidarma


Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.
Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

***

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.
Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!
”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.
Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.
”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

Ubud, Oktober 2009 /
Kampung Utan, Agustus 2010.

*) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook