Friday, May 27, 2011

Cerpen Lelaki yang Membelah Bulan

Lelaki yang Membelah Bulan

Cerpen Noviana Kusumawardhani

Aku menemukannya. Dalam semak-semak dengan sejuta bisu dalam matanya. Aku tidak tahu apakah dia mengenalku sebagai perempuannya atau tidak. Ruang-ruang waktu telah memberi kami jeda dalam diam yang berkepanjangan. Separuh tubuhnya bersinar dengan warna keemasan yang aneh. Warna yang menyilaukan mata, tapi separuh dari ruhku tetap ingin membuka bagi warna itu.

“Ini warna dari negeri bulan,” katanya. Bulan yang diam. Aku pun mengangguk, mengiyakan sapanya. Sebuah negeri yang aneh pikirku. Laki-laki itu seperti membaca pikiranku. Tangannya kemudian menyentuh ujung jariku, diciumnya dengan lembut satu per satu jariku seperti mengeja huruf-huruf yang berdetak dalam dadaku.

”Negeri bulan itu indah sekali, Sayang. Kamu harus ke sana, aku temani kamu.”

Laki-laki itu pasti pengkhayal. Negeri bulan pasti tidak ada. Aku memang tidak suka khayalan. Karena bagiku khayalan seperti gelembung-gelembung sabun yang rapuh. Ketika kita meniupnya, gelembung itu memancarkan warna-warna yang membuat hati kita percaya bahwa harapan itu akan selalu membesar setiap kali kita meniupnya. Kita akan meniupnya semakin besar dan melepasnya ke angkasa. Ketika angin mengajak gelembung itu makin ke atas, kita pun makin riang dan mulai memercayai bahwa harapan kita akan selalu mendapat jawabannya.

Pyarrr! Ketika gelembung itu pecah, sebuah kosong yang hampa tiba-tiba menjadi seperti seorang diktator yang tiba-tiba menjajah hati kita. Aku benar-benar benci khayalan. Sungguh. Lelaki itu tetap tersenyum. Tangannya bergerak ke arah langit, seperti sebuah puja yang tak putus untuk semesta. Dia tetap diam sambil sesekali sinar dalam tubuhnya berkejap seiring suara detak. Aku percaya sinar itu adalah sinar jadi-jadian.

Dia duduk tepat di sampingku. Kedai itu mulai sepi. Sisa-sisa bau arak para penabuh gong bertebaran di mana-mana. Digesernya tubuhnya mendekat ke arahku. Aku mencium bau tubuhnya. Bau itu begitu gelisah, meruap sampai ke lorong-lorong kedai itu. Kegelisahan yang mulai beranak-pinak dengan berbagai kemarahan. Lelaki itu terus memancarkan cahaya yang aneh dari tubuhnya.

”Kamu ngapain malam-malam di kedai ini? Ini tempat para pemuja malam atau kamu pemiliknya?” dia bicara kepadaku sambil mulutnya tak henti mendesis seperti suara ular dengan gumam yang tak jelas. Separuh tubuhnya berdenyut secara konstan. Sinar dari dalam separuh tubuhnya itu seperti memberi berbagai macam ruang rasa, kadang aku liat dia begitu kesakitan dengan cahaya-cahaya itu, tapi kadang dia begitu menikmati setiap kerlip cahayanya. Tubuh yang benar-benar aneh.

”Ha-ha-ha kamu takjub kan dengan tubuhku? Kamu pasti menebak-nebak bagaimana aku bisa punya tubuh seperti ini. Sudah enggak usah gengsi untuk mengiyakan. Aku benar-benar tahu kamu sangat terpesona denganku.”

Sialan, benar-benar narsis. Bagaimana dia bisa membaca pikiranku? Tapi dia benar-benar kurang ajar, karena yang dia katakan itu sangat benar. Aku benar-benar tak kuasa menolak separuh tubuh yang bersinar itu. Dia makin merapat dan aku pun berdetak. Tangannya dengan lembut mulai membelai belakang tubuhku.

Seperti sihir raksasa, aku pun mulai menggerakkan tanganku dan menyentuh tubuhnya. Seperti masuk dalam kerajaan awan, tubuh itu begitu lembut dan hampir tanpa tulang. Cahaya itu terasa dingin. Aku tersentak, rasa di dalam tubuh itu tak asing bagiku…. Rasa sepi yang dari dalam nadinya tumbuh bercabang berbagai pertanyaan. Benar, cabang itu seperti jaring laba-laba yang tak berujung. Pertanyaan-pertanyaan yang sering sangat nadir.

Ah, laki-laki ini tidak seajaib yang aku kira. Dia hanya lelaki seperti para lelaki yang biasanya mampir di kedai ini. Lelaki-lelaki yang mengawini rasa sepi. Kesepian yang menasbihkan dirinya menjadi Tuhan bagi malam-malamnya. Anehnya aku selalu merasa jatuh sayang dengan lelaki-lelaki itu. Mereka seperti anak kijang yang tersesat di tengah malam. Begitu rapuh dan lembut meski mereka selalu berusaha mati-matian sekuat tenaga menjadi raksasa-raksasa dengan seringai yang menyilaukan.

Aku pun sering kali berpura-pura takut dengan seringai itu, padahal aku selalu sangat ingin memeluk anak kijang jadi-jadian itu dengan dadaku. Meski demikian anehnya, aku selalu punya keinginan anak kijang jadi-jadian itu menjadi raksasa-raksasa sungguhan, meskipun aku tahu setelah mereka menjadi raksasa, mereka akan melumatku hidup-hidup, mengunyahnya dan akhirnya melemparkan tubuhku yang setengah hidup itu ke tepi jalan. Tubuhku yang terpecah-pecah itu tidak pernah benar-benar mati, tubuhku akan dengan sendirinya bersatu kembali.

”Mengapa kamu datang ke kedai ini? Tidak ada satu pun yang menarik dari kedai ini. Bahkan aku pun tidak bisa lagi menjadi penabur birahi yang baik buatmu. Lihatlah tubuhku sudah separuh cacat. Berkali-kali anak-anak kijang yang menjadi raksasa itu melumatku, memamahnya dan memuntahkannya begitu saja.”

Kucatat pertanyaanku itu di dalam hatiku saja. Aku benar-benar takut untuk bersuara terhadapnya. Cahaya tubuhnya terlalu menyilaukanku. Kami benar-benar terdiam dalam sepi yang berpesta dalam ruangan itu. Satu per satu para lelaki di kedai itu mulai pergi, hanya ada satu dua saja yang masih enggan untuk berpamitan dengan sepinya untuk kembali pulang.

Lelaki dengan tubuh separuh bercahaya itu bergeser sedikit ke arahku, tiba-tiba dipalingkannya wajahnya tepat di samping telingaku. Seperti sihir, kepalaku menoleh tepat di depan kedua matanya yang begitu hitam. Seperti labirin menuju bawah tanah yang tergelap. Aku terpaku begitu saja di depan mata itu. Ruang-ruang di antara sekat-sekat jantungku merongga luar biasa dan di antaranya mengalirlah darahku yang berwarna merah jambu.

”Aku menyukai matamu.”

Labirin di dalam matanya bersuara lirih. Aku tertawa terbahak menyembunyikan jengahku. Pasti mukaku memerah seperti buah plum yang telah masak. Aku mengejap untuk menghindar dari serbuan warna hitam yang pekat dari mata yang bernuansa nujum itu. Ribuan dentam di dadaku berdegup oleh satu kalimat yang sebenarnya sering sekali kudengar dari para lelaki yang menuai taburan birahiku. Selalu seperti sebuah entah, mata yang pekat itu menyimpan satu kejujuran yang membuatku sangat nyaman menikmati mungkin sebuah kebohongan lagi.

”Ha-ha-ha-ha-ha terima kasih, Sayang. Awas kamu jangan jatuh cinta dan jangan rindu aku setelah pulang nanti ya,” seperti sebuah hafalan yang begitu biasa meluncur dari mulut penari-penari malam sepertiku mencoba untuk menghindar dari degup karena mata pekat itu. Sebuah nyeri menyergap tiba-tiba karena aku tahu aku amat sangat berbohong dengannya.

Aku benar-benar ingin dia selalu merinduiku. Meski untuk sebuah rindu yang entah. Mungkin aku telah melanggar aturan. Sebagai penari malam, aku hanya boleh bergerak mengikuti irama malam. Setiap keringat adalah bunyi dan setiap lenguh adalah ritme dari desah rasa sepi yang begitu menyengat para lelaki pemuja malam. Seperti yang sudah tertebak, lelaki itu hanya tersenyum. Mata itu tetap pekat.

”Kamu benar-benar tidak ingin tahu tentang negeri tempat aku datang?”

Mata itu mulai merajuk. Tangannya terus membelai punggungku dan tubuhnya yang gelap tanpa cahaya semakin pekat, sedangkan separuh tubuhnya yang bercahaya semakin gemilang. Satu paradoks yang luar biasa aneh.

”Mengapa kamu begitu ingin aku bertanya tentang negerimu?”

”Karena aku ingin kamu datang secepatnya ke sana.”

”Sekarang?”

”Iya, secepatnya. Tidak ada waktu lagi.”

Waktu yang diam. Pepat tanpa suara. Waktu pun berdetak. Detak itu dari jantung kita sendiri. Seperti tarian-tarian awan, waktu pun bergerak dengan semena-mena. Membentuk gambar-gambar peristiwa yang tak pernah jelas. Waktu hanya ada di dalam pikiran. Aku pernah berpikir bahwa jika aku bisa menghentikan pikiran, aku akan bisa menghentikan waktu. Alangkah bahagianya jika itu terjadi. Aku akan bisa memilih waktu bagi kemudaanku. Waktu selalu akan bisa berpora dalam diamnya.

Lelaki itu terus menatapku dalam pekatnya. Separuh tubuhnya yang bersinar semakin menyilaukan. Bibirnya terkatup rapat dan digerakkannya ke arahku. Ciuman dalam cahaya. Begitu aku menyebutnya saat itu. Aku mulai menebak. Mungkin dia malaikat yang terjatuh dan ciuman itu akan membuatnya menjadi malaikat utuh kembali sehingga dia bisa mengepakkan sayapnya dan berlari menuju tempat di mana asal matahari tanpa takut terbakar seperti Ikarus yang malang.

”Kamu malaikat jatuh?” Lelaki itu terbahak hingga hampir saja dia terjungkal dari sampingku. Senyumnya membelai rambutku. Jari-jariku pun kembali dikecupnya satu per satu dan mata pekat itu kembali menatapku dengan sihir yang tetap memukauku.

”Sama sekali tidak, Sayangku. Malaikat jatuh tidak akan bercahaya tubuhnya. Dia tidak lagi memerlukan cahaya karena dia telah menukarnya dengan tempat di mana warna apa pun tidak akan pernah terlihat. Gelap.”

Jawaban lelaki itu melegakanku sekali. Artinya masih ada harapan dia seperti lelaki-lelaki pengunjung kedaiku. Lelaki-lelaki yang selalu mengisi malam-malamnya dengan nyanyian-nyanyian sunyi yang memekakkan. Bibir lelaki itu masih amat sangat dekat dengan bibirku. Tercium dengan jelas detak jantungnya lewat hembusan nafasnya yang menderu. Perlahan kuberanikan diri membelai rambutnya dengan tanganku yang terus terang sedikit gemetar.

”Mengapa kamu datang?”

Tiba-tiba dada ini meruah dengan kepedihan yang pekat ketika kutanyakan itu. Aku pun tersekat. Aku tahu sebuah perih yang akan pasti menjadi penghuni baru ruang-ruang bernafasku sedang setia menunggu giliran untuk menempatinya. Sebuah kebodohan luar biasa dan aku rela menjadi bodoh. Sungguh benar-benar bodoh.

”Aku menemukanmu pada sebuah ruang bernama sepi, kamu terus aku cari dan aku bahagia akhirnya aku menemukanmu.”

Aku benar-benar membencinya ketika lelaki itu mengatakan itu. Aku benci karena aku menyukai kata-katanya. Entah kata-kata itu sudah pernah terlontar ke ribuan makhluk sekali pun, ternyata aku tetap menyukai kata-kata itu. Bodohnya lagi aku selalu memercayai kata-kata. Meskipun aku sering sekali terluka oleh kata-kata, tapi aku tetap mencandu kata-kata.

”Mungkin kita bertemu di waktu yang tepat. Tapi di saat yang salah, Sayang,” aku mencoba untuk konsisten menjadi salah satu penari malam ketika aku membelai rambutnya dengan rasa heran yang luar biasa ketika aku sadar aku tidak sedang menabur birahi pada kejapan mataku. Aku sering terjebak dengan waktu yang meluka. Waktu-waktu yang salah ketika aku memilih menjadi kekasihnya.

”Mungkin iya mungkin tidak. Aku dikutuk karena aku mencoba membelah bulan. Aku ingin tahu apa warna hitam di balik cahaya terang bulan. Negeri bulan pun marah. Tanah di sana kemudian merajamku. Karenanya separuh cahaya bulan itu ada di tubuhku, sedangkan separuh lainnya selalu ada dalam kegelapan. Aku cari separuh cahaya untuk mengisi ruang-ruang gelap di tubuhku yang lain sehingga tubuhku menjadi utuh.”

Sialan, aku berharap jadi separuh cahayanya. Aku benci. Aku tersanjung. Aku bahagia. Aku senang. Aku meniup buih-buih sabun itu. Aku khawatir buih itu pecah. Aku terbang. Aku ada di ketinggian. Aku pasti terjatuh. Aku menunggu waktuku pecah. Aku begitu lemah. Aku sedih. Aku takut. Aku meluka. Aku mencinta.

”Ha-ha-ha-ha-ha-ha… kamu itu aneh. Kamu mencari separuh cahayamu yang hilang, tapi kamu mencarinya di malam gelap seperti ini, dan kamu pun salah orang dengan menemuiku. Aku sama sekali tidak punya cahaya yang kamu cari.”

Aku benar-benar marah dengan kata-kataku sendiri. Aku benar-benar takut dia tahu aku ingin jadi separuh cahayanya. Menjadi penghuni malam dan menemani lelaki-lelaki malam sudah amat membuatku nyaman. Aku tidak pernah bermimpi menjadi Engtay yang menunggu Sampek dalam sakratulmautnya. Mitos cinta abadi memang memuakkan. Mitos yang menciptakan buih-buih sabun bagi jutaan umatnya. Aku menyebut umat itu adalah kaum Pencinta. Padahal buatku bagi kaum Pencinta harus menyukai semua warna, termasuk hitam dan malam.

”Aku benar-benar perlu separuh gelap dalam tubuhku ini terisi cahaya.” Lelaki itu menyimpan bergalon-galon air mata yang tidak pernah tumpah. Air mata yang membuat bulan itu terbelah ketika dia mengejapkan matanya dan menjadi serakah dengan cahaya.

”Pergilah, ini sudah menjelang subuh. Berjalanlah kembali, nanti kamu akan ketemu persimpangan-persimpangan yang menarik dalam perjalananmu. Mungkin kamu akan terluka, mungkin kamu akan bahagia. Tapi kamu akan tahu bahwa di persimpangan itulah sebuah hidup akan bermula. Pergilah Sayangku. Aku tidak akan menunggumu. Begitu banyak lelaki yang membutuhkan malam-malamku.”

Aku mengantarkannya pada ujung pintu, punggungnya dengan separuh cahaya yang berpendar masih tetap memancarkan bau yang sama persis dengan ketika aku berjumpa dengannya di sebuah episode di ujung senja pada sebuah masa. Aku tahu aku mungkin separuh cahaya yang dia cari itu, tapi aku pikir berbohong padanya tentang hal itu adalah hal yang terbaik untuk hidupnya. Lelaki itu terus berpendar dari separuh tubuhnya dalam gelisah.

Ah, kubutuhkan tanah lapang yang begitu luas saat ini di dadaku. Kulambaikan hatiku. ”Datanglah lagi pada sebuah malam di sebuah makam. Sayangku.”

•Terima kasih untuk Oky S Harahap
Ubud, 26 Januari 2010
Sumber: Kompas Februari 2010

Thursday, May 19, 2011

Puisi-puisi Umbu Landu Paranggi

Puisi Umbu Landu Paranggi

Melodia

cintalah yang membuat diriku betah untuk sesekali bertahan
karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam
mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja
karena kesetianlah maka jinak mata dan hati mengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitar jarak dalam gempuran waktu
takkan jemu-jemu nafas bergelut resini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawahbantal, pananggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi gairah bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan


Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
Sepi yang selalu dingin gumam terbantun di buritan
Juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
Dimana-mana, dimana-mana menghadang cakrawala
Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
Rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
Dimana-mana, dimana-mana mengepung dendam rindu
Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
Mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
Namun membujuk jua langkah, pantai, mega lalu burung-burung
Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
Saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang

Kata, Kata, Kata


Kenangkanlah gumam pertama
Pertemuan tak terduga
Di suatu kota pantai
Di suatu hari kemarau
Di suatu keasingan rindu
Di suatu perjalanan biru
Kenangkanlah bisikan pertama
Risau pertarungan kembara
Duka percintaan sukma
Rahasia perjanjian sunyi
Kenangkanlah percakapan pertama
Gugusan waktu, napas dan peristiwa
Mungkin hanya angin, daun dan debu
Pesona terakhir nyanyian sajakku

Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
mengahdang senja
yang memanggil petualang
sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda
sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu
lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
kerna kumau lebih cinta
hujan aku ke gigir cakrawala

Solitude

dalam tangan sunyi
jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengeristal rindu dendam
dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh bergema
menggilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kikinian
seberkas cahaya dari menara waktu
menembus tapisan untung malang nasibku
di laut tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi






Sunday, May 15, 2011

Cerpen Mata Yang Indah Budi Darma

Mata Yang Indah

Cerpen Budi Darma

Beberapa saat sebelum meninggal, ibu mengelus-elus kepala saya, kemudian berkata: “Haruman, lihatlah mata saya baik-baik.”Tampak ada nyala lembut dalam mata ibu, nyala lilin yang hampir padam. Lilin sudah hampir habis, demikian pula sumbunya. Namun tampak, nyala lilin itu tenang, tidak sama dengan nyala lilin yang berjuang untuk tetap hidup pada saat berhadapan dengan angin yang akan membunuhnya.
Saya tahu ibu akan meninggal, meninggal dengan benar-benar pasrah.
Dengan mendadak ada bau, entah datang dari mana, amat lembut, namun amat segar. Saya diam, namun saya ingat cerita ibu ketika saya masih kecil dahulu: “Haruman, pada saat saya akan meninggal kelak, akan ada bau dari sorga dikirim ke dunia.”
“Siapa yang mengirim?” tanya saya, dulu, ketika saya masih kecil.
“Malaikat. Ketahuilah, Haruman, ada masa awal dan ada masa akhir, demikian juga kehidupan manusia. Menjelang saat kehidupan seseorang berakhir, pasti ada malaikat melayang-layang tidak jauh dari dia yang akan meninggal. Kadang-kadang malaikat tidak membawa apa-apa, kadang-kadang membawa petaka, kadang-kadang pula membawa bunyi-bunyian atau bau yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya. Lakukanlah tindakan-tindakan mulia dengan hati yang bersih dalam kehidupanmu, Haruman, agar kelak, sebelum kamu meninggal, malaikat akan membawakan kamu pertanda-pertanda yang agung.”
Entah mengapa, begitu ibu selesai berkata mengenai malaikat yang pada suatu saat akan datang, saya lupa kata-kata ibu. Saya hanya ingat, ibu selalu berbuat baik kepada siapa pun, dan sering sekali ibu saya memberi nasihat kepada saya untuk meniru perbuatan-perbuatannya. Sebagai anak yang baik, saya selalu menurut.
Pada suatu hari, entah umur berapa saya pada waktu itu, ibu menyuruh saya untuk pergi, entah ke mana. “Lupakanlah saya, Haruman, namun jangan lupa nasihat-nasihat saya. Pergilah ke tempat-tempat jauh untuk mencari pengalaman. Pada saatnya nanti, kamu pasti akan merasa, bahwa waktumu untuk kembali kepada saya telah tiba.”
Demikianlah, sejak saat itu saya mengembara. Selama mengembara saya pernah menjadi pengayuh perahu tambang, penebang pohon di hutan-hutan lebat, tukang memasang atap rumbia, dan entah apa lagi. Nasihat ibu untuk selalu bertindak baik dengan hati bersih, selalu saya turuti. Tapi entah mengapa, saya merasa bahwa saya selalu dicurigai oleh siapa pun yang bertemu dengan saya. Begitu melihat mata saya, siapa pun, pasti membersitkan sikap curiga.
Kecurigaan apa yang mereka pendam, saya tidak tahu. Apakah mereka mencurigai saya sebagai pencuri, pembunuh, penipu, atau apa pun, saya tidak pernah tahu. karena itu, saya selalu merasa bersalah, atau, mungkin lebih dari sekadar bersalah. Saya merasa saya berdosa, kendati saya yakin saya tidak pernah melakukan tindakan laknat sama-sekali. Berpikir buruk pun, kepada siapa pun dan kepada apa pun, saya tidak pernah.
Mungkin karena saya merasa selalu dicurigai, dan karena itu saya selalu merasa bersalah dan berdosa, saya selalu berpindah-pindah tempat. Tidak pernah saya tinggal di suatu tempat lebih dari tiga hari. Memang, tidak ada satu orang pun yang pernah mengusir saya, namun saya sendiri merasa bahwa saya akan menjadi beban bagi mereka.
Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan dari satu desa ke desa lain, seekor burung besar, tanpa saya ketahui dari mana asalnya, dengan sangat mendadak menukik ke arah saya, lalu berusaha dengan amat susah-payah untuk menyerang mata saya. Entah mengapa, tepat pada saat cakar burung akan menghunjam ke mata saya, saya berhasil menutup wajah erat-erat dengan tangan. Dengan sangat cepat burung itu kembali ke udara, lalu dengan sangat mendadak berusaha menyerang lagi.
Demikianlah, bertubi-tubi burung itu menyerang saya, dan bertubi-tubi pula saya menutup wajah saya dengan tangan. Akhirnya, burung itu hanya sanggup melukai tangan saya, tanpa sanggup mencongkel mata saya. Untuk menahan rasa sakit, saya terguling-guling di atas tanah dan mengerang-erang dahsyat, entah berapa lama. Namun, sampai berhari-hari, darah masih terus merembes keluar dari luka tangan saya, dan rasa sakit masih benar-benar menyiksa.
Sesuai dengan pesan ibu, selama mengembara memang saya sudah berhasil melupakan ibu. Selama mengembara itu saya tidak pernah berpikir, bahwa seharusnya saya mempunyai ibu, ayah, saudara, dan kerabat lain. Saya benar-benar merasa sebatang kara, tanpa pernah menyadari perasaan saya sendiri bahwa saya adalah sebatang kara.
Entah mengapa, pada saat saya hampir selesai berguling-guling di atas tanah untuk menahan rasa sakit, sekonyong-konyong saya teringat cerita ibu, dahulu, ketika saya masih kecil.
“Haruman,” demikianlah kata ibu dahulu, ketika saya masih kecil. “Orang-orang suci pernah berkata, sebagaimana yang sering saya katakan dahulu, bahwa para pengembara besar ditakdirkan untuk tinggal di suatu tempat tidak lebih dari tiga hari. Kalau tidak, akan timbul kekacauan. Ingat-ingatlah kembali kisah para pengembara besar, sebagaimana yang sudah sering saya ceritakan.”
Entah mengapa, begitu saya selesai teringat kata-kata ibu mengenai para pengembara besar, dengan sangat mendadak saya lupa ibu, demikian pula semua tindakan dan kata-kata ibu. Hanya memang, kadang-kadang, saya merasa mendapat peringatan, entah dari siapa, untuk tidak tinggal bersama orang lain lebih dari tiga hari. Dan, memang, saya tidak pernah mempunyai keinginan sedikit pun untuk mengganggu dan membebani orang lain.
Demikianlah, setelah saya kena serang burung besar itu, saya cacat. Tangan saya masih tetap dapat saya pergunakan untuk bekerja, namun lambat dan cepat capai. Seluruh tubuh saya juga menjadi tidak beres.
Kadang-kadang tubuh saya mendadak panas, seolah darah saya mendidih. Beberapa kali pula dengan mendadak saya kehilangan keseimbangan. Kalau keseimbangan kacau, saya terpaksa berjalan terhuyung, kemudian terjatuh, dan kemudian berguling-guling menahan rasa sakit.
Namun, saya harus terus bekerja. Saya tidak mau mengganggu dan membebani orang lain. Dan saya menolak untuk menjadi pengemis.
Setelah sekian kali pernah menjadi pendayung perahu tambang di berbagai desa, akhirnya saya kembali lagi menjadi pendayung perahu tambang di sebuah desa sepi dan terpencil. Mengapa saya menjadi pendayung perahu tambang lagi, tidak lain karena pada suatu hari, ketika saya sedang tertidur di bawah sebuah pohon rindang, dengan sangat mendadak tubuh saya tertumbuk dengan tidak sengaja oleh seorang laki-laki. Begitu keras dia menumbuk saya, sampai-sampai dia terpaksa terguling.
Saya benar-benar terperanjat ketika saya menyadari, bahwa ternyata mata laki-laki yang tidak sengaja menumbuk tubuh saya ini memiliki mata yang luar biasa indah, dan luar biasa cemerlang. Namun terasa benar, bahwa mata yang luar biasa indah itu sebetulnya mengandung penyakit.
“Apakah kamu seorang laki-laki muda?” tanya dia.
“Ya,” kata saya.
Saya sadar bahwa dia memandang saya dengan tajam, namun saya juga sadar bahwa sebetulnya dia tidak melihat saya.
“Maaf, sudah bertahun-tahun saya mengalami rabun mata. Makin hari, makin rabun mata saya. Padahal, di desa ini hanya sayalah yang mau menjadi pendayung perahu tambang. Kebetulan pula, saya tidak mempunyai kemampuan untuk bekerja apa pun selain mendayung perahu tambang saya. Penumpang perahu tambang memang sangat jarang, namun tidak berarti bahwa saya dan perahu saya tidak pernah diperlukan.”
Pemilik perahu tambang itu bernama Gues. Potongan tubuhnya rasa-rasanya mirip potongan tubuh saya, begitu juga cara dia berjalan. Segera setelah dia membawa saya ke perahu tambangnya, dia menghilang entah kemana. Mula-mula saya tidak tahu bagaimana dia bisa berjalan dan mengayuh perahunya, sebab, saya benar-benar yakin, bahwa sebetulnya matanya sudah benar-benar buta.
Sampai hampir menjelang malam, tidak ada satu penumpang pun memerlukan perahu tambang. Saya gelisah, karena sampai hampir menjelang malam itu pula, tidak nampak tanda-tanda bahwa pemilik perahu tambang itu akan datang. Maka, setelah mengikat perahu tambang erat-erat, saya berjalan ke arah pohon rindang, dan tertidur lagi di tempat tubuh saya tertumbuk Gues tadi.
Entah berapa lama saya tertidur, saya tidak tahu. Seandainya tidak ada tangan halus mengusap-usap kepala saya, pasti saya akan tertidur terus sampai lama. Tangan halus siapa? Saya tidak tahu, namun saya yakin, pasti tangan halus perempuan. Malam sudah benar-benar gelap, dan saya tidak bisa melihat.
Dengan sangat mendadak, mulut saya terkunci oleh sepasang bibir yang memagut-magut bibir saya. Saya mendengar nafas mendesah-desah ganas. Di antara pagutan-pagutan bibir, kadang-kadang saya mendengar suara lembut, namun dengan nada marah: “Gues, mengapa kamu tidak pernah memperlakukan saya sebagai istri kamu? Berilah saya keturunan. Kalau kamu mati, siapa yang akan menemani saya?”
Sebelum saya kena perkosa istri Gues, saya sempat membebaskan diri. Istri Gues berusaha menangkap saya, namun saya tidak pernah tertangkap. Saya sempat mendengar lolong-lolong pilu dia: “Gues! Gues! Bukankah saya istrimu?”
Pada saat dia melolong-lolong sambil berusaha mengejar saya, saya bisa menarik kesimpulan mengapa Gues bisa berjalan dan mengayuh perahunya. Nampaknya, karena kebiasaannya yang sudah amat lama, dia hapal semua jalan yang harus dilaluinya. Dia menumbuk tubuh saya, karena, agaknya, selama ini tidak pernah ada penghalang apa pun di bawah pohon rindang itu.
Tampaknya, setelah menyadari bahwa saya lari ke arah yang tidak biasa ditempuh Gues, dia sadar bahwa saya bukan Gues. Maka melolong-lolonglah dia, memohon ampun kepada Seru Sekalian Alam. Dia merasa benar-benar menyesal, karena telah berusaha melumat-lumat tubuh laki-laki yang ternyata bukan suaminya.
Mendengar lolong-lolong penyesalan, saya berhenti sekejap. Rasa berdosa menyergap seluruh jiwa dan raga saya. Kendati saya tidak pernah berusaha memperkosa siapa pun, saya merasa telah menodai isteri orang lain. Hati saya benar-benar luka. Sambil menangis, saya berlari menjauhi desa.
Luka hati saya tidak pernah sembuh. Kehidupan saya bagaikan kehidupan dalam neraka, neraka tempat saya tinggal selama-lamanya. Dosa saya, rasanya, tidak akan pernah terhapus.
Demikianlah, saya terus mengembara, tanpa ingat dan tanpa keinginan untuk mengingat berapa lama saya sudah mengembara. Dan demikianlah, pada suatu hari, dengan sangat mendadak saya teringat ibu. Maka berjalanlah saya pulang, melalui jalan-jalan yang sudah begitu lama saya tinggalkan.
Ketika saya tiba kembali di desa ibu, saya melihat pemandangan yang benar-benar mengerikan. Debu beterbangan, rumah tinggal sedikit karena rumah-rumah lain sudah roboh, tanah retak-retak kekeringan, pohon-pohon mati, dan tidak ada satu hewan pun yang nampak. Sungai juga sudah benar-benar kering. Desa ibu telah ditinggalkan oleh semua penduduk, kecuali ibu. Dan ibu nampaknya tetap bertahan, untuk menunggu kedatangan saya kembali.
Begitu bertemu dengan ibu saya sadar, bahwa ibu sudah lama bersiap-siap untuk meninggal. Dan dia akan terus bertahan hidup, seandainya saya tidak pernah kembali. Begitu melihat saya datang, begitu pula dia tampak akan meregang nyawa. Namun, masih sempat dia mengelus-elus kepala saya.
Tepat pada saat tangan ibu mulai mengelus-elus kepala saya, langsung saya teringat kembali cerita ibu dahulu, ketika saya masih kecil, mengenai malaikat yang pada suatu saat pasti akan datang menghampiri siapa pun.
“Haruman, maafkanlah saya. Doa-doa saya untuk mendatangkan bidadari ternyata gagal. Sampai saatnya kamu akan meninggal, kamu tidak akan pernah didatangi bidadari. Mudah-mudahan setelah kamu meninggal nanti, bidadari akan menjemput kamu. Bidadari yang akan menjemput kamu, tidak lain adalah calon isteri kamu di sorga sana.”
Begitu ibu saya selesai mengucapkan kata-katanya, dengan mendadak mata saya menjadi pedih. Dan dengan mendadak pula, saya merasa benar-benar buta. Saya tidak bisa melihat apa pun.
“Haruman, dengarlah pengakuan dosa saya. Dahulu saya pernah memperkosa seorang laki-laki, entah siapa. Saya tertarik oleh matanya, mata yang terus berkilat, mengirimkan cahaya-cahaya indah. Mata dia jauh lebih indah daripada kelereng mainan para dewa. Malam harinya saya tertidur pulas, dan bermimpi.”
Dalam mimpi, menurut ibu, ibu merasakan beban dosa yang amat berat, karena dia sedang mengandung bayi tanpa ayah yang akan hidup tanpa mata. Tampaknya, ada bidadari yang merasa iba kepada ibu. Bidadari ini segera terbang entah ke mana, dan dalam waktu singkat sudah kembali dengan membawa sepasang mata indah.
“Ketahuilah, wahai perempuan malang,” kata bidadari, “karena saya merasa amat sangat kasihan kepada kamu, dengan sangat tergesa-gesa tadi saya mencomot mata seseorang. Saya tidak tahu siapa dia. Apakah semasa masih hidup dia orang berhati mulia atau sebaliknya, saya tidak tahu. Arwah dia masih melayang-layang, belum ditentukan apakah dia akan tercebur ke neraka ataukah terangkat ke sorga. Saya hanya tahu, wahai perempuan malang, bahwa mata dia luar biasa indah. Dan karena saya sudah telanjur mencomot sepasang mata indah ini, tidak mungkin saya mengembalikan kepada pemiliknya. Ketahuilah, dia tidak akan memerlukan mata lagi. Kalau ternyata dia tercebur ke neraka, dia akan memperoleh mata baru, mata jahanam sesuai dengan kebejatan hati dan tindakan dia selama dia masih hidup. Dan kalau ternyata dia terangkat ke sorga, dia akan memperoleh sepasang mata baru yang jauh lebih indah.”
Tepat pada saat ibu akan mendesahkan nafas terakhir dalam hidupnya, saya berkata, “Ibu, pergilah dengan damai. Sudah sejak dahulu saya memaafkan ibu. Bidadari yang selama ini ibu harapkan, telah datang menjemput saya.”
Saya yakin, ibu tidak sempat mendengar kalimat saya terakhir.
Surabaya, 8 Oktober 2000
Sumber: Kompas, 12 November 2000

Wednesday, May 11, 2011

Cerpen Rencana Hujan

Sebuah Rencana Hujan

Cerpen Sungging Raga

Hujan turun begitu lebat. Nalea belum bisa pulang. Ia berteduh di sebuah pos ronda tua, sepatunya sudah basah lebih dulu akibat berlarian di jalan tadi, ia membuka sepatunya lalu meletakkannya di bawah sebuah meja yang ada di situ. Bajunya juga basah, rambutnya, pipinya, sampai bulu alisnya yang meneteskan air. Gadis kecil itu sebenarnya tidak menangis, ia mencoba tenang di situ, berlindung dari guyuran air yang justru semakin tak terbendung.
Ibu cari Nalea tidak ya?” Gadis kelas empat SD itu kemudian bertanya kepada dirinya sendiri. Hujan masih turun sangat deras, seperti puluhan kubik air yang lama tersimpan di perut awan, sepertinya semua hujan sengaja jatuh tak jauh dari pos ronda tempat gadis kecil itu berteduh. Suara air yang membentur atap terdengar begitu keras, begitu ribut, belum lagi angin yang sesekali menghempas cukup kencang, mengayunkan pepohonan di sekitarnya, merontokkan dedaunan, mengayunkan bulir air ke kanan dan kiri hingga hujan pun tampak miring jatuhnya.

Nalea mengingat-ingat kembali ucapan ibunya, ”Nanti kalau di sekolah hujan, Nalea jangan pulang dulu, ya. Tunggu ibu datang untuk menjemput.” Kemudian ia merenungi dirinya sendiri, mengapa ia tak mendengarkan nasihat sang ibu.

”Lama sekali hujannya. Tidak reda-reda.” Gadis kecil itu bergumam sambil menatap langit, dibukanya tas sekolah itu, beberapa bagian bukunya sudah basah kuyup, ia melihat sebuah buku yang membuatnya murung, 
”Ini buku pinjam dari Mia juga ikut basah,” ucapnya. Ia lihat sampul buku yang kecoklatan sudah robek di pinggirnya, ia lalu memindahkan buku itu dan menyelipkannya di tengah-tengah, di antara buku-buku lain yang sebenarnya juga sudah basah.

Langit masih dihiasi mendung pekat, ada percik air yang berhasil menembus pos ronda tempat gadis kecil itu berteduh, seharusnya ia ada di pelukan ibunya sekarang, seperti anak-anak lainnya yang ketakutan ketika hujan turun begitu kejam, apalagi jika suara petir menggelegar, seperti hendak membolak-balikkan langit, seperti ingin menelan siapa pun yang berada di bawahnya.

Namun Nalea berusaha untuk tenang, ia kini duduk di bawah meja, sesekali menutup telinganya karena kebisingan suara air yang diselingi gemuruh kilat. Merasa hujan masih akan lama, ia kini justru mengeluarkan semua buku dan menghamparkannya di bawah meja tua yang lembab, ia berharap buku itu bisa kering dan tulisannya tidak luntur, ia takut dimarahi ibunya, ia takut dimarahi temannya yang meminjamkan buku. Tetapi dalam ketakutannya ia tidak menangis. Ia mencoba untuk menenangkan diri, meski tidak bisa karena suara air yang disertai angin itu membuatnya sering terkejut.

”Harusnya tadi menunggu ibu di sekolah. Tidak pulang sendiri. Harusnya Nalea tadi ingat nasihat ibu.”

Rupanya ia mulai menyesal. Gadis sekecil itu sudah mengerti arti sebuah penyesalan. Hujan telah membuatnya belajar dengan salah satu perasaan hidup. Ia merasa bersalah kepada ibunya, tadi ia tak sabar menunggu lebih lama, apalagi ketika rintik air mulai jatuh dari langit dan ia tak melihat tanda-tanda bahwa ibunya segera datang, ia justru terus berlari meninggalkan sekolah, padahal ia tahu rumahnya masih jauh.

”Ibu pasti sibuk tadi. Tidak bisa cepat menjemput. Coba Nalea mau menunggu di sekolah, mungkin ibu sekarang sudah sampai sambil bawa payung.” Ia ungkapkan penyesalannya itu dengan kata-kata yang entah ditujukan kepada siapa. Sementara itu air sudah meluap dari sungai, jembatan yang sebenarnya tak jauh dari pos ronda itu kini tak terlihat lagi, air sudah menguasai permukaannya. Nalea mulai ketakutan.

Di rumah. Seorang wanita mulai panik, anak semata wayangnya belum pulang juga. Sudah tiga kali ia bolak-balik sekolah, tetapi hasilnya nihil, tak ada siapa-siapa di sekolah ataupun sepanjang jalan antara rumah dan sekolah. Wanita itu terduduk lesu di teras rumah. Hujan deras mengaburkan pandangannya, ia membayangkan anaknya akan muncul dari kejauhan, berlari-lari kecil, dalam keadaan yang basah kuyup. Namun, tak ada siapa-siapa di balik rerimbunan hujan di depan rumah itu. Hanya derasnya air yang tak mampu lagi dibendung oleh saluran-saluran air.

”Hujan sekarang benar-benar deras. Bagaimana ini, Pak?” Tanya wanita itu kepada suaminya. Namun laki-laki di sebelahnya itu hanya diam. Keduanya tampak lesu, seperti kehilangan harapan, tiba-tiba mereka tak bisa melakukan apa-apa untuk mengetahui keadaan anak mereka.

”Mungkin Nalea mampir ke rumah temannya. Mungkin ia berteduh di sana.” Ucap suaminya untuk menenangkan wanita itu. Tetapi, begitulah perasaan seorang ibu yang lembut, yang sangat peka seperti helai rambut. Ia merasa Nalea sedang membutuhkannya, meski ia tak tahu di mana anak gadisnya kini berada.

”Semoga saja, Pak. Semoga Nalea tidak apa-apa. Belum pernah rasanya hujan deras seperti ini.” Suara wanita itu mendadak terhenti karena suara gemuruh dari langit.

Gadis kecil itu masih duduk di bawah meja, suara petir kini semakin sering terdengar, langit yang kelabu sesekali menampakkan warna terang yang kemudian diiringi gemuruh. Dada Nalea berdegup kencang, sesekali ia memejamkan mata, sesekali ia menutup telinganya. Namun, ia juga sekilas melihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada yang orang yang dikenalnya, siapa tahu ibunya muncul, atau setidaknya seseorang yang bisa menolong untuk mengantarkannya sampai ke rumah, namun ia kecewa, tak satu pun orang lewat, semuanya sepi, seperti desa yang mati. Semua orang pasti berada di rumah masing-masing karena hujan turun begitu deras. Nalea benar-benar sendirian sekarang. Ia sempat memangil-manggil seseorang atau sesuatu, namun suaranya kalah dengan suara hujan yang seolah tak henti-hentinya menggerutu.

”Nalea pulangnya gimana?” Ia bergumam lagi, dilihatnya sepatu yang sudah basah, buku-buku yang sudah basah, seragamnya juga, ia mengambil jepit rambut dari kepalanya, bibirnya kini sedikit gemetar, wajah gadis kecil itu mendadak pucat, mungkin ia tak kuat menahan dingin yang diembuskan angin bersama bulir-bulir air. Ia melihat air mengalir di bibir jalan yang tak terlihat lagi batu-batuannya.

”Kenapa hujannya belum berhenti ya, Pak?” Wanita itu kembali bertanya kepada suaminya. Keduanya masih berada di teras rumah, melihat air yang tak henti-hentinya jatuh dari langit, berharap ada sedikit waktu untuk menembus pekatnya panah-panah air yang tajam itu.

”Lebih baik kita cari saja.”

”Tetapi, payungnya cuma satu, Pak. Itu pun angin begitu kencang, dan kita juga tidak tahu harus mencari ke mana.”

”Apa ibu tidak hafal jalan yang biasa dilalui Nalea kalau pulang sendirian?”

Wanita itu tiba-tiba menunduk, seperti memikirkan sesuatu, mungkin Nalea pergi ke supermarket sebentar, bersama kawan-kawannya, Nalea biasa menghabiskan uang sakunya di situ, ramai-ramai menyerbu supermarket untuk sekadar membeli jajan bungkusan. Mungkin juga Nalea memang mampir ke rumah teman-temannya—sebagaimana yang diucapkan suaminya tadi—tetapi siapa yang didatangi Nalea? Berpuluh-puluh detik berpikir, yang hadir justru beribu-ribu pertanyaan dan kemungkinan yang memberatkan hatinya.

”Biar aku yang cari.” Suaminya berkata. Rupanya laki-laki itu sudah menggenggam satu-satunya payung di tangannya. Ia tak sabar menunggu istrinya berpikir.

”Jangan, Pak. Aku saja. Aku coba cari ke jalan yang kuingat pernah dilewati Nalea. Bapak di rumah saja, ya. Berdoa. Hujannya semakin deras, Pak.”

Laki-laki itu diam sejenak, hening sesaat, lantas menyerahkan payung kepada istrinya. ”Hati-hati, Bu. Hujan deras begini air meluber di mana-mana.”

Meski tampak berat, wanita itu kini mulai beranjak, membuka payung, lalu melangkah ke pekarangan yang sedikit direndam air beberapa sentimeter. Dengan sandal jepit wanita itu mulai menyibak derasnya hujan, suara gemeretak air jatuh dan memantul-mantul di atas payung, tetapi tetap saja sebagian pakaian wanita itu basah karena payung yang tidak begitu lebar. Kecipak air terdengar karena pijakannya di tanah berlumpur, namun wanita itu tidak peduli, ia tetap berjalan, mencoba untuk menembus pelukan hujan.

Tak ada tanda-tanda hujan akan segera berhenti, kini jalanan kampung yang berbatu itu pun sempurna dikelilingi genangan air. Jika satu jam hujan tetap tidak reda, mungkin jalanan tidak akan terlihat, mungkin akan seperti laut atau danau.

Nalea duduk di atas meja, entah mengapa ia tak lagi bersembunyi di kolong meja sambil menutup telinganya, ia mulai berani melihat semuanya. Suara petir kini tak mengganggunya, ia mulai terbiasa, meski wajahnya yang semakin pucat, ia menggigil, bibirnya gemetar, giginya gemeletuk, ia duduk sambil memeluk tasnya yang basah. Ia mencoba untuk berdoa, ia coba mengingat-ingat doa yang biasa diajarkan ibunya.

”Nanti Nalea mau minta maaf sama ibu. Lain kali Nalea mau menunggu kalau ibu datang terlambat.”

Gadis kecil itu mengusap wajahnya. Ia mencoba untuk tersenyum, mencoba menghibur dirinya sendiri.

Apa yang sebenarnya dipikirkan hujan? Sudah dua jam lebih ia turun mengguyur bumi, apakah hujan juga melihat seorang gadis kecil yang berteduh kedinginan di pos ronda itu? Apakah hujan turun karena sengaja untuk menakut-nakutinya? Padahal gadis itu hanya tidak sabar menunggu ibunya sepulang sekolah, lalu hujan mendahuluinya sebelum ia sampai ke rumah, hujan tak hanya membuat tubuh gadis kecil itu basah kuyup, tetapi juga sepatunya yang memijak genangan air dan kotor oleh lumpur, buku-buku dalam tasnya juga basah, apakah hujan mengerti gadis kecil itu kini takut dimarahi ibunya?

Hujan turun disertai angin, airnya jatuh ke selokan yang telah penuh, alirannya begitu deras, hujan turun membentur badan jalan yang berbatu, hujan turun menggelincirkan sampah-sampah dari tempat penampungannya, hujan menggugurkan rantig-ranting kering, hujan sangat menakutkan bagi gadis kecil yang sedang berteduh di pos ronda. Gadis kecil itu benar-benar melihat semuanya, ia menjadi saksi ketika hujan perlahan mulai membuat jembatan di kejauhan itu tak terlihat, air yang meluap dan meluber ke jalan, siapa pun yang melihat pasti merasa takut, air semakin meninggi meski perlahan-lahan, langit pekat seperti sudah sore, padahal ini masih siang hari, awan bergumul di atas sana, menurunkan air sambil membenturkan dirinya satu sama lain hingga menimbulkan suara kilat yang membuat terkejut penduduk bumi.

Sudah tiga jam berlalu, jalan raya desa kini lebih terlihat seperti laut, beberapa ranting pohon gugur dan mengalir. Angin berputar-putar di langit, mengempaskan air ke sana-kemari. Ibu Nalea sudah berencana untuk menyisir jalanan antara rumah dan sekolah sekali lagi, Nalea juga berencana cepat pulang selepas hujan reda meski masih takut dimarahi. Tetapi, hujan telah lebih dulu menjalankan rencananya, jika ibu dan anak itu dapat bertemu lagi setelah ini, keduanya tentu akan lebih saling menyayangi.

(Selokan Mataram, 2009)
Sumber: Kompas, Oktober 2009

Tuesday, May 03, 2011

Sutardji di Kebun Binatang

Di Kebun Binatang
Cerpen Sutardji Calzoum Bachri

Pada pagi-pagi Minggu orang banyak datang ke kebun binatang, pada sore-sorenya kebun binatang belum juga lengang. Pada pagi-pagi Minggu orang datang ke sana untuk membuang Minggu sambil melihat binatang, dan orang yang pagi-paginya datang, pada tengah siang sudah pulang. Tapi, kebun binatang tidak pernah lengang pada hari Minggu karena selalu ada yang datang pada tengah-tengah siang, dan pada sore menjelang datang selalu masih juga ada yang datang. Mereka yang datang pada sore menjelang datang biasanya datang bukan untuk melihat binatang. Mereka biasanya datang berpasangan lelaki perempuan umur belasan, membeli karcis pada loket dan masuk terus ke belakang kebun binatang. Yang perempuyn biasanya melemparkan genggaman kacang dan senyumnya pada binatang. Mereka biasanya ingin cepat-cepat sampai ke bagian belakang kebun binatang.
Pada bagian belakang kebun binatang, puncak-puncak pohon pinus mengkisar-kisar daun-daunnya pada langit senja, dan pohon perdu membuat semak-semak yang kelam dan nyaman dengan senja dan angin yang datang. Kau dapat melihat pasangan itu menyandarkan bahunya pada batang pinus atau hilang dalam semak-semak yang kelam.
Tidak ada binatang yang ditempatkan pada bagian belakang kebun binatang, karena bagian belakang kebun binatang dijadikan taman. Kebun binatang itu luas dan bagian belakang kebun binatang itu juga luas dan tenang, tapi jerit dan keluh-keluh binatang selalu dapat kedengaran pada bagian belakang kebun binatang, dan angin selalu membawakan juga bau binatang, dan mereka yang berpasangan menjadi terangsang karenanya dan ingin bersatu dengan alam dan binatang.
Herman dan Lisa salah sati dari pasangan itu, duduk-duduk di samping sebatang pinus. Herman merasa penat karena dari tadi mengiyakan kata-kata Lisa dan rahangnya lelah karena banyak mengunyah kacang. Tiga anak kecil main gelut-gelutan berlari-lari dan berputar-putar di sekitar mereka dan di sela-sela pohon pinus. Ketiga anak kecil itu nampaknya dari keluarga yang dapat menikmati Minggu. Mereka bersepatu dan berpakaian baik. Tapi, mereka sudah menjadi kumal karena main gelutan. Ketiga akan kecil itu sama besarnya. Tapi, selalu saja yang berbaju belang-belang dapat mengalahkan kedua lawannya. Herman menunjuk pada anak yang berbaju belang.
“Nanti, anak kita macam begitu kuatnya,” kata Herman.
“Sejak bila aku mau kawain dengan kau? Cinta saja aku tidak,” kata Lisa. Lisa merasa terganggu karena dari tadi selalu saja diiyakan Herman.
Lisa memakai sweater kuning, dua tumpuk cahaya mentari senja pada bagian atas buah dadanya. Gadis itu cantik. Rambutnya lunak meluncur pada tengkuknya dan melingkar-lingkar jatuh di bahunya. Rambut itu bagus hitamnya, tapi mentari senja menggelut cahaya senja pada rambutnya dan memantulkan cahaya pirang. Dia memakai rok bunga-bunga yang menjuntai jatuh di atas lututnya. Lisa baru tiga kali dibawa Herman.
“O, pastilah kamu mau kawin,” kata Herman.
“Tidak, aku tak mau.”
“Ah, kau mau.”
“Tidak.”
“Masa?”
“Kaupikir aku cinta sama kau karena aku mau jalan-jalan sama kau?!”
“Baiklah, tak apa-apa. Aku tak pikir. Kau pasti kawin samaku.”
“Kau gila. Orang tak cinta!” Lisa marah dan mencoba menahan keras suaranya.
“Aku yang cinta.”
“Gila, aku tak mau.”
“Aku yang mau.”
“Gila.”
“Ya, gila sama kamu.”
“Tak malu!”
“Gila sama kau buat apa malu?”
“Orang tak cinta, malulah!”
Ketiga anak-anak itu berlari-larian di sekitar mereka, berkejar tangkap-menangkap. Kemudian dua di antara mereka bersatu mengeroyok yang selalu menang, dan yang selalu menang, menang lagi sekarang, mencium-ciumkan kepala kedua bocah itu pada rumput dengan tawa dan geram.
“Pastilah macam gitu kuatnya anak kita,” kata Herman, tersenyum pada Lisa dan anak yang menang. Anak itu tidak memperhatikan mereka, dan Lisa bilang,
“Enak saja memastikan.”
“Ya, pasti kau kawin samaku,” kata Herman, hampir ketawa.
“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”
“Kau mau.”
“Gila. Aku tak mau.”
“Pasti kau mau.”
“Tidak. Demi Tuhan.”
“Baiklah, nanti-nanti kupaksa saja kau.”
“Tidak, kau takkan berani,” Lisa mengejeknya.
“Berani saja. Apa payahnya.”
“Tak ada kesempatanmu. Aku takkan mau jalan-jalan lagi sama kau. Kalau kau berani coba-coba, bapakku akan menembakmu.”
“Yang penting kau dulu kurayu,” Herman tersenyum.
“Monyet saja mau merayu segala. Cermin-cerminlah selalu!”
Herman selalu bercermin merawat kumisnya yang tipis. Lehernya tegap dan hahunya tegap dan sedap kelihatan. Herman tinggi dan kukuh dan matanya macam mata bocah, jernih hitam dan mukanya tampan, dan tak ada monyetnya.
“Baiklah, aku monyet. Nanti aku kerjakan kau. Mau tak mau kau kawin juga sama aku.”
“O, sopan-sopanlah, Herman,” Lisa mau menangis dan mencari-cari saputangannya, dan Herman hampir ketawa karena dia tahu Lisa tidak membawa saputangannya, dan Herman memberikan saputangannya pada Lisa.
“O, Herm baik-baiklah,” Lisa menyeka matanya dengan sapu tangan Herman. Matanya belum basah, tapi Lisa mengusapnya lama-lama.
“Baiklah, aku baik-baik. Tapi pasti kau mau kawin sama aku?” Herman tersenyum.
“Tak mau.”
“Ah, kamu mau.”
“Tak mau. Binatang!” Lisa sangat gusar dan marah.
“Aku kerjakan kau nanti.”
“Diamlah, Herman. Aku menjerit.”
“Menjeritlah. Menjeritlah seperti binatang!”
Keluh dan jerit binatang masih saja kedengaran.
“Tidak. Aku tidak mau. Aku bukan siamang.”
Herman tersenyum mengalihkan duduknya dekat Lisa. Lisa menjauhkan duduknya dari Herman. Herman terus tersenyum memandang lutut Lisa. Lutut itu terbuka sampai setengah paha. Dan apa yang terbuka dari Lisa bagai gading kuningnya, cuma lebih empuk dan lebih sedap kelihatan. Lisa menarik ujung roknya jauh-kauh ke bawah lututnya. Tapi rok itu memang dibuat sampai jauh di atas lututnya. Lisa jadi sangat gusar dan cuma dapat menjulurkan kakinya agar roknya sedapat-dapatnya menutup pahanya.
Seorang tua dengan seekor anjing lewat depan mereka sambil memberikan senyum pada Lisa dan Herman. Tali anjing itu tidak seberapa panjang, orang tua itu tertarik-tarik selangkah ke sana selangkah ke sini sebentar-sebentar. Orang tua itu tuanya tegap dan tua orang tua itu tak ada susahnya kelihatan. Barangkali orang tua itu hidup dari hasil simpanan uangnya. Barangkali dari pensiunan perusahaan. Barangkali anaknya jadi kaya dan senang. Dia memakai kemeja putih dari kain yang mahal. Celananya wol, sepatunya bersih, dan jam tangannya berkilat dan mahal. Anjing orang tua itu kecil dan baik dipelihara. Tarikan anjing itu tak ada kuatnya tapi orang tua itu sengaja senang mengikuti tarikannya.
Ketiga bocah itu sekarang sudah sangat capek, duduk saja sambil memandang lembah di depan mereka. Lembah itu di samping pagar belakang kebun binatang. Petak-petak sawah yang belum ditanami menempel dan bertingkat-tingkat pada dinding lembah. Bila senja datang, lembah itu cepat menjadi kelam karena cahaya mentari senja tak dapat mengalir ke bawah. Bila lembah itu belum kelam orang banyak di pematang mandi di pancuran air gunung di samping petak-petak sawah. Mereka mandi pakai basahan tapi lebih banyak yang telanjang.
Bila di kebun binatang, melihat orang telanjang tidaklah menjadi soal, karena binatang di kebun binatang mengingatkan kau selalu pada alam dan alam selalu biasanya dengan yang telanjang.
Orang tua itu telah jauh ditarik anjingnya menuju arah ke luar dari kebun binatang. Bocah yang selalu menang bilang, “Masa bawa binatang ke kebun binantang.”
“Tengoklah cerdiknya anak kita,” kata Herman.
“Aku mau pulang,” kata Lisa.
Lisa cepat-cepat meninggalkan kebun binatang dan Herman mengikuti saja di sampingnya.
Senja sedang menuju kelam dan kebun binatang sebentar lagi akan ditutup. Tapi, masih ada beberapa pasangan lelaki perempuan berlambat-lambat dan bergurau-gurau di sekitar kandang binatang sebelum menuju pulang. Seseorang gadis belasan dari salah satu pasangan itu lagi sedap-sedapnya mengganggu temannya, “Gil, kau persis unta ini,” katanya sambil ketawa sedap-sedapnya. Lelaki yang dipanggil Gil itu tinggi, kurus, dan bahunya agak naik. Dan dia pun mengetawakan dirinya juga karena gurauan temannya. Herman memberikan senyum pada mereka, tapi Lisa tak mengacuhkan mereka dan terus bergegas-gegas menuju pintu keluar kebun binatang. Gadis tadi mengulangi lagi gurauannya, “Kau persis unta Gil, cuma bedanya kau berpakaian,” dengan sesedapnya. Lelaki yang dipanggil Gil itu bilang, “Tidak. Kau mau melihat aku tidak berpakaian?” Gadis itu diam.
Di luar kebun binatang langit sangat luas dan lapang karena tak ada pohon-pohon yang menghalang pemandangan. Langit berwarna-warna, kemerah-merahan, jingga, kelabu, dan biru. Jauh di depan ada sebaris pepohonan, memanjang kelabu dan kelam dan menjadi dinding tipis pada kaki langit. Beberapa burung yang terlambat pulang mengepak-ngepak sayapnya di langit, letih dan perlahan-lahan, tinggi terbangnya dan hampir menjadi satu dengan tiap warna langit yang dilewatinya. Padang rumput yang luas di kiri-kanan jalan menjadi kelabu dan kelam pada garis di ujung sana pada bagian yang jauh dari kau berjalan, tapi pada bagian yang dekat dengan kau berjalan masih jelas hijaunya. Segalanya megah dan tenang: langit dengan warna-warna, tumpukan pohon yang tipis memanjang di depan, rerumputan yang luas di kiri-kanan jalan, kelepak burung yang letih dan yakin menuju pulang. Dan Herman di sampingnya dengan muka samping yang menonjol keras dan tenang juga bagian dari kemegahan. Lisa memikir-mikir mengapa dia menyenangi kemegahan di sekitarnya. Tapi, pikirannya tak dapat berjalan karena rasa harunya telah menariknya dalam kelapangan yang luas dan tenang dari sekitarnya. Dia seluruhnya merenggutnya sekarang dan dia membiarkan saja dengan rela dan senang. Dan dia melangkah pelan-pelan sekarang.
“Herman.”
“Hm?”
“Rasa-rasanya aku mau saja.”
“Hm?”
“Aku mau saja apa yang kaulakukan padaku.”
“Ah kau ini. Itu kan hanya di kebun binatang.”
Lisa kemerah-merahan pipinya karena malu, menunduk dan memalingkan mukanya dari Herman. Tapi, Herman memegang bahunya mengajak Lisa memandang langit senja dan kelepak burung yang pulang. (***)

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook