Thursday, December 29, 2011

Kisi-kisi Ujian Nasional 2012

Membaca dan memahami berbagai teks nonsastra (biografi, artikel, berita, iklan, tabel/diagram, bagan, grafik, peta, denah), berbagai karya sastra (puisi, antologi puisi, cerpen, buku kumpulan cerpen, cerita anak, buku cerita anak, novel remaja, novel angkatan 20 – 30-an, dan drama).

Menulis dan menyunting teks nonsastra dengan menggunakan kosakata yang bervariasi dan efektif dalam bentuk buku harian, surat pribadi, surat dinas, narasi dan pesan singkat, laporan, pengumuman, petunjuk, rangkuman, teks berita, slogan/ poster, iklan, resensi dan karangan, surat pembaca, teks pidato, dan karya ilmiah; menulis teks sastra dalam bentuk puisi, pantun, dongeng, cerpen, dan drama.

DOWNLOAD kisi-kisi UN 2012 semua mapel
silakan KLIK di sini

Monday, December 26, 2011

Di Persimpangan Pantura

Cerpen Tantri Pranash

Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang, tapi mengapa nasib tak berpihak juga?

Namaku Limbuk, asal Dukuh Menjangan. Hidupku isinya cuma kesedihan. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu, hidup ini memang sekadar mampir ngombe, singgah untuk minum.

Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam, tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu, ketika dengan kejamnya Lik Sol mengenalkan arti perih sesungguhnya. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya.

”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku.

Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi.

Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.

Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada, sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. Gantung diri jelas tak menarik minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.

Ketika tawaran Yu Silam datang, aku seperti kejatuhan bintang. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak.

Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku, tak ada lagi aib yang ditutupi. Aku tahu, ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. Tentu ia paham penderitaanku, bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama?

Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. Meski rumah-rumah di sana lebih bagus daripada di desa, tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran.

”Ini bukan Jakarta, bodoh! Ini Patokbeusi, negeri seribu impian… ” sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku.

”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”

”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”

Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Nama yang aneh, apa nama kota memang aneh-aneh begitu?

”Ini daerah pantura, pantai utara Jawa,” jelasnya tak sabar.

”Kenapa belum terlihat pantainya?”

Yu Silam mendengus.

Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Menyiapkan air mandi, masak, termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Yu Silam pulang kerja menjelang pagi. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana.

Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Untuk diriku, cukuplah uang jajan ala kadarnya. Toh aku selalu makan kenyang di rumahnya. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Enaknya luar biasa, simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya.

Dua tahun berlalu, Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. Ia mulai sering masuk angin. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu.

”Ganti namamu, tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu.” Gurau Yu Silam.

Aku terkekeh. Mungkin waktu aku lahir, bapak berharap aku semontok Limbuk, tokoh punakawan. Ternyata tak ada yang berubah. Yu Silam terus saja memanggil nama asliku.

”Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho, Mbuk?”

”Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah?”

Aku cuma termangu dan membisu. ”Jangan takut, kalau kau rajin suntik tidak akan apa-apa.” Yu Silam tersenyum manis sekali.

Aku masih diam saja. Tak tahu harus bicara apa.

”Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki.” Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Silam, tapi hatiku serasa disilet-silet. Pedih dan perih.

Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. Untung saja Mami di situ masih punya nurani, ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi dongdot 1). Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ.

Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega, sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Musik dangdut berdentum keras. Truk besar banyak diparkir di luar. Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah, dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. Tak tahu pasti aku, mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup?

Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan, tapi sudah jadi gengsi. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya pendatang. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu.

”Jangan melamun saja, nanti piringnya pecah.” Mami menepuk bahuku perlahan.

Aku tersenyum malu, ketahuan bekerja tak sepenuh hati.

”Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang.”

Senyumku terhenti di tenggorokan.

Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku, ”Jangan mau digoda tamu, bilang Mami kalau ada apa-apa …”

Duh Gusti, perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Seandainya ia tahu kisah sedihku.

Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Ada yang bilang Mami juga ’dosen’ alias dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Aku tak yakin, apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama, selalu saja ada yang baru datang, dan lebih segar.

***

Empat bulan aku di sini, Yu Silam jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari, malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek.

Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. ”Besok malam, mulailah belajar menemani tamu di meja.” Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. ”Jangan mau diajak ke kamar dulu ya!” suaranya tetap rendah tapi tegas.

Malam berikutnya, seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum, ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Biasa itu, anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing.

Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi, meski aku lebih banyak berdiam diri.

”Kamu baru ya?” lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

”Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja.” Senyumnya lebar seperti senyum keledai.

Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. Paling buaya di dunia buaya.

Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku, ”Berapa?” Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Mami menggeleng dengan senyum menggoda, kelihatannya ia punya rencana tersembunyi.

***

Dua orang tamu datang ke rumah. Katanya mereka dari tempat Yu Silam biasa berobat. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya.

”Lho, memangnya Yu sakit apa?”

”Pokoknya aku tinggal menunggu mati,” sergah Yu Silam kasar, memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya, paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami.

Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. Kalaupun aku harus tertular, itu pasti kersaning Gusti Allah 2). Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.

Tanpa kesepakatan, pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Silam. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Namun, aku harus bicara jujur pada Yu Silam.

”Yu, aku mau jadi buruh cuci saja.”

Yu Silam terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan.

Takut-takut aku melanjutkan, ”Aku ndak bisa Yu, kerja macam itu.”

”Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya??” Yu Silam meradang.

Aku tak berani menatap matanya. Bagaimana menjelaskannya? ”Sudah kucoba. Sudah kucoba Yu, tapi aku ndak bisa.” Jeritku dalam hati.

”Pergilah sejauh yang kau suka. Biarkan aku membusuk di sini!!!” teriaknya parau.

Kupeluk ia dengan air mata, ”Tidak Yu… tidak… kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik.”

Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Silam. Di tempat yang benar-benar baru, bukan di desa. Aku tak bisa kembali ke sana. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. Juga pandangan mata penuh birahi pemuda-pemuda desa.

Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran. Aku tak mau jadi dongdot.

***

Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur.

”Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu?” tanyanya beruntun.

Aku menggeleng cepat-cepat, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”

Mami ikut menggeleng-geleng. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. ”Tapi kenapa? Kenapaaa??” kedua tangannya terbuka lebar.

Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Mami kelihatan tak puas, mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.

”Saya…saya… saya sudah tak perawan lagi, Mi…” bisikku pelan.

Perempuan setengah baya itu terbelalak, seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.

”Saya korban perkosaan,” lanjutku lirih. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa.

Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Ia mengangguk lemah. Dengan latar belakang segelap itu, mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini.

Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku siap kembali ke tugas lama, bersih-bersih, cuci piring, dan membuang sampah-sampah. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah.

Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. Bibir Mami bergetar, suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka, ”Nasibmu sama seperti diriku dulu, Mbuk…”

Pamulang, Agustus 2011
Catatan :
1) Dongdot = PSK
2) Kersaning Gusti Allah = kehendak Allah SWT
Sumber: Kompas MInggu, 11 Desember 2011

Download cerpen ini KLIK di sini

Friday, December 23, 2011

Biografi Kunang-Kunang

Cerpen Sungging Raga

Pada malam hari, ibumu akan menjadi kunang-kunang, terbang ke hamparan bunga-bunga, ke sepanjang jalan, menelusuri remang cahaya, hinggap di daun-daun, berteduh dari embun, lalu terbang lagi, ke atap rumah, ke tiang listrik, ke bawah jembatan. Ibumu menjadi kunang-kunang sepanjang malam, mencari kamu yang sudah lama hilang.

”Di mana kamu, anakku? Di mana?”

Nyala di tubuhnya begitu terang, seperti kerinduan yang membara, namun berkedip-kedip, seperti rasa sakit yang menusuk-nusuk. Ibumu—kunang-kunang itu—terus mengembara, berjam-jam, tanpa lelah, tanpa keluh kesah. Ia akan terus mencarimu, ia arungi sepanjang jalanan yang berliku, yang senyap berbatu, ia terbang di atas sungai yang bercabang, yang entah bermuara di mana. Ia datangi setiap gubug-gubug lapuk. Sampai akhirnya ia temui kamu di sebuah rumah, rumah yang kemudian sangat dikenalnya. Dan sejak itulah, setiap malam, ibumu selalu setia mengunjungi rumah itu, melihat dirimu tertidur pulas, mendoakan keselamatanmu, lalu bergegas pergi ketika pagi hendak tiba, dengan niat untuk kembali di malam berikutnya….

***


Ceritanya akan selalu seperti itu, turun-temurun. Di kampung sepanjang bantaran Sungai Logawa ini, kalau ada seorang anak yang kehilangan ibunya, entah meninggal atau minggat dengan lelaki kota, maka orang-orang akan menghibur dengan cerita itu, mereka akan mengatakan bahwa ibunya sekarang sudah berubah menjadi kunang- kunang yang rajin mengunjunginya. Meski tak berwujud manusia, anak itu harus sadar bahwa sang ibu masih benar-benar ada, masih suka berdiam di dekatnya, terutama di malam hari, untuk memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya.

Sejak dahulu aku tak benar-benar percaya dengan cerita tersebut, sampai malam ini aku mendengar penuturan Antiona, gadis kecil yang baru sebulan lalu ditinggal sang ibu, menikah lagi dengan seorang pengusaha. Aku memang suka menemani Antiona yang kesepian, ia tinggal sendiri bersama sang Kakek, sementara ayahnya juga sudah tiada, menjadi korban tabrak lari oleh sebuah bus jurusan Surabaya-Yogyakarta.

Antiona berkisah padaku, bahwa semalam ia baru saja bertemu ibunya. Awalnya aku tak terkejut, sebab bisa saja ibunya memang berkunjung ke desa ini untuk menjenguk Antiona. Tetapi gadis itu berkata bahwa ibunya sudah menjelma kunang-kunang, dan ia melihat kunang-kunang itu terbang di luar kaca jendela kamarnya.

”Lalu? kamu buka jendelanya?” Tanyaku.

”Iya, kubiarkan kunang-kunang itu masuk, lalu tidur di sampingku, di atas kasur.”

”Terus?”

”Terus aku tidur dan bermimpi, dalam mimpi itu, aku benar-benar bertemu Ibu.”

”Jadi, kamu bertemu ibumu cuma dalam mimpi?”

”Iya.”

”Besok paginya bagaimana?”

”Besok paginya kunang-kunang itu hilang.”

”Hilang?”

”Iya. Hilang begitu saja.”

Wajah Antiona berakhir sedih. Namun saat itu juga pikiranku melayang jauh. Setelah berpamitan dan meninggalkan rumah Antiona, cerita itu seperti berputar kembali untuk diriku sendiri.

Aku membayangkan ibuku masih hidup sampai saat ini, sampai detik ini, dan dia pun amat merindukanku malam ini.

Tetapi, siapa ibuku?

Barangkali ibuku memang pelacur. Ya. Sudah jadi rahasia umum, bahwa aku hanya anak pungut yang ditemukan warga dan sempat dititipkan ke keluarga kepala desa, sebelum akhirnya diserahkan ke seorang nenek di gubug dekat masjid yang kesepian. Awalnya aku adalah bayi menangis di dalam kardus mi, menangis di bawah tiang lampu dekat pos ronda yang remang-remang.

”Dulu, kamu ditemukan warga di bawah sana,” Kata Nenek angkatku.

”Siapa yang membuang aku, Nek?”

”Mungkin saja ibumu.”

”Kenapa ibu membuangku, Nek?”

”Tidak tahu.”

”Terus ibu ke mana?”

”Tidak tahu.”

”Apa ibu tidak rindu aku?”

”Tidak tahu.”

”Apa Nenek mau bantu aku mencari ibu?”

”Hmm, tidak tahu.”

Lalu desas-desus pun mengiringi pertumbuhanku, ketika aku beranjak empat belas tahun, ketika aku dianggap sudah mulai bisa mengingat dan menampung kenangan, setiap tetangga berusaha memberikan versinya masing-masing tentang asal-usulku.

”Biasanya, yang suka membuang bayi adalah perempuan yang masih muda, masih SMA.”

”Betul itu, mungkin ibumu masih sekolah, dan ditinggal pacarnya sehabis dihamili, jadi kamu dibuang karena tidak dikehendaki.”

”Eh, tapi mungkin saja kamu dibuang suster rumah sakit, karena orangtuamu tidak bisa membayar biaya persalinan, sekarang kan banyak kasus seperti itu.”

”Atau kamu ini korban penculikan, orangtuamu tak sanggup membayar uang tebusan.”

”Atau mungkin kamu harus terima kalau ibumu memang pelacur. Wanita yang jadi pelacur memang suka membuang bayi yang telat diaborsi, sudah biasa itu.”

Semakin lama, kisah tentang asal-usulku membuatku pusing, namun aku sempat heran, mengapa tak ada yang menghiburku dengan cerita yang beredar di kampung ini, bahwa ibuku sudah menjelma kunang-kunang, dan hingga kini masih setia mengunjungiku setiap malam.

”Cerita itu hanya ditujukan untuk menghibur anak-anak yang benar-benar berasal dari kampung di tepi Sungai Logawa ini, diketahui jelas siapa ibunya, dan karena alasan apa perginya. Sementara kamu sudah pasti bukan dari kampung ini, karena sewaktu kamu ditemukan, orang-orang langsung lapor ke kantor polisi, beberapa hari dilakukan pencarian, tidak ada hasil, tidak ada seorang warga pun di sini yang merasa kehilangan atau ketahuan membuang anaknya. Jadi, pasti kamu dibuang orang dari kampung lain.”

Begitu penjelasan Nenek angkatku, ia suka berbicara sambil mengunyah sirih. Sebenarnya aku juga tidak terlampau berharap mereka akan menghiburku dengan cerita semacam itu, sebab toh cerita itu sangat tidak masuk akal, mana ada seorang ibu yang bisa menjelma kunang-kunang? Semakin bertambah umurku, aku semakin tidak percaya.

Tetapi semuanya nyaris runtuh setelah penuturan Antiona malam ini, entah mengapa aku merasa kisah kunang-kunang itu benar adanya. Barangkali memang tak ada yang mustahil di dunia ini.

Malam sudah larut, aku berjalan pulang dari rumah Antiona dengan setengah melamun, melangkah sendirian di jalanan kampung. Dan di sebuah perempatan yang remang, beberapa ratus meter sebelum rumahku, tiba-tiba kulihat seekor kunang-kunang terbang rendah di dekat tanah. Aku terheran-heran. Kunang-kunang itu sendirian saja, berkedip lemah.

Tunggu.

Apakah ia adalah jelmaan seorang ibu yang anaknya ada di kampung ini? Apakah ia ibu dari Antiona yang kemarin malam terbang di luar jendela?

Apakah ia ibuku yang pernah membuangku ketika aku masih bayi?

Kudekati kunang-kunang itu, kuambil salah satu botol bekas yang berserak di tempat sampah. Aku membentuk cekungan pada telapak tangan kiri untuk menggiring kunang-kunang itu masuk ke lubang botol, lalu aku menutupnya dengan telapak tanganku. Anehnya, kunang-kunang itu menurut begitu saja.

Kunang-kunang itu sekarang ada dalam botol, cahayanya tak memantul, ia terbang kesana-kemari, sepertinya kebingungan, berpindah-pindah pada dinding botol. Aku setengah berlari menuju rumah, langsung ke kamar, untung saja Nenek sudah tidur, jadi tak tahu apa yang kulakukan. Kututup bagian atas botol dengan plastik dan karet, lalu kuletakkan di atas meja. Dan seperti cerita Antiona, aku berharap malam ini bisa bertemu ibu, agar aku bisa tahu wajah ibu, walaupun hanya dalam mimpi.

Sambil merebah di atas tempat tidur, masih bisa kunikmati cahaya lemah kunang-kunang itu, hingga akhirnya aku terlelap dengan sendirinya.

***

Entah sudah berapa jam berlalu, aku terjaga karena sebuah guncangan kecil, tetapi cukup untuk membuatku tergagap bangun, kemudian segalanya menjadi terasa amat ringan. Tubuhku seperti melayang di udara. Dan ketika perlahan kubuka mata, tampak seorang lelaki dan seorang wanita sedang duduk dengan pandangan mata yang mengarah kepadaku.

”Jadi ini kunang-kunang yang semalam tidak mau pergi?” Tanya si laki-laki sambil mengernyitkan dahi. Si wanita lantas tersenyum.

”Benar, aku menangkapnya dengan mudah, kumasukkan ke dalam botol.”

”Untuk apa sih? Kurang kerjaan saja.”

“Lho, kamu tidak tahu, ya? Di desa sepanjang bantaran Sungai Serayu ini, semua wanita yang pernah kehilangan anaknya, entah meninggal, hilang, diculik, atau dibuang, selalu percaya tentang sebuah cerita konyol yang diwariskan turun-temurun.”

”Cerita konyol?”

”Iya. Cerita bahwa anak mereka yang hilang itu masih selalu hadir dalam wujud yang lain, yaitu berwujud kunang-kunang. Jadi, kutangkap saja kunang-kunang yang kesepian ini. Soalnya, kalau melihat kunang-kunang, aku selalu teringat cerita yang sungguh tidak masuk akal itu. Lucu, ya? Mana ada anak-anak yang bisa menjadi kunang-kunang? Konyol sekali, kan? Ha ha ha.”

Wanita itu terbahak-bahak, namun si lelaki sepertinya tidak tertarik untuk ikut tertawa, kulihat ia justru mengernyitkan dahi.

”Nalea…” Panggil si lelaki tiba-tiba. Dan wanita itu pun berhenti tertawa.

”Ya Sayang?”

”Aku jadi berpikir…”

Lelaki itu menghentikan ucapannya, kini keduanya berpandangan, tak lagi menatapku.

”Berpikir apa?”

”Apa benar kata orang-orang, sebelum menikah denganku, kau sudah pernah punya anak?” Lelaki itu bertanya sambil menatap wajah si wanita dengan tajam. Wanita itu tiba-tiba terdiam.

Aku seperti akan merasakan keheningan yang amat panjang di antara mereka, sampai akhirnya wanita itu tampak tersenyum tipis, lantas memeluk tubuh si lelaki,

”Tentu belum pernah, Sayang…”

Situbondo, 2010
Sumber Kompas Minggu, 3 Juli 2011

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Monday, December 19, 2011

Tart di Bulan Hujan

Cerpen Bakdi Soemanto

”Ternyata harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok.

”Barang apa yang kau bicarakan itu, kok mahal amat?” bertanya suaminya.

”Lho, musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga, kan, saya bilang, Pak, roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu harganya tiga ratus lima puluh ribu. Roti itu besar, cukup untuk satu keluarga dengan beberapa tamu. Tapi, sekarang naik dua puluh lima ribu,” Sum mencoba menjelaskan. Lakinya tetap tak paham. Ia menarik rokok sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek.

”Ngerokok lagi,” tiba-tiba Sum sedikit membentak. ”Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti.”

”Beli roti bagaimana?” Uncok gantian membentak. ”Kau ini edan, ya. Nyediain nasi aja susah, kok beli roti mewah kayak gitu. Itu makanan menteri, bupati, dan wali kota serta para koruptor. Tahu?! Kita makan nasi aja sama sambal…. Kamu itu mimpi….” Lakinya menegaskan.

Tiba-tiba sepi. Di langit ada mendung yang memberi sasmita akan hujan. Kilat sesekali menggebyar. ”Rumah kita masih bocor,” kata Uncok lagi sambil mendongak. ”Belum bisa beli plastik tebal penahan tiris. Kok kamu mikirin roti tart yang, buat kita, harganya triliunan rupiah. Edan kau itu!”

Sum diam. Tak mendengarkan omelan suaminya. Bayangan di depan matanya sangat jelas: tart dengan bunga-bunga mawar, dengan tulisan Happy Birthday. Betapa bahagianya anak yang diberi hadiah itu. Sum sendiri belum pernah mendapat hadiah seperti itu, apalagi mencicipi. Tapi, alangkah lebih bahagia ia jika bisa memberikan sesuatu yang dinilainya luar biasa, betapa pun belum pernah menikmatinya.

”Kurang beberapa hari lagi, Pak,” kata Sum memecah kesunyian.

”Apanya yang kurang beberapa hari lagi?” Uncok membentak. ”Kiamatnya apa gimana? Kita memang mau kiamat. Hakim, jaksa, polisi, pengacara, menteri, anggota DPR… nyolong semua. Dan kau malah mau beli tart lima triliun. Duitnya sapa? Nyolong? Tak ada yang bisa kita colong. Ngerampok? Kau punya pistol atau bedil? Enggak! Kau cuma punya pisau dapur dan silet untuk mengerok bulu ketiakmu….”

Sum tak menyahut. Pikirannya masih melanglang ke toko roti. ”Kita bisa naik bus Trans Yogya Pak, aman. Enggak ada copet. Pulangnya naik becak aja. Kita harus hati-hati bawa tart sangat istimewa itu, Pak. Ah, si bocah itu pasti seneng banget.… Kalau dia bisa seneng, alangkah bahagia diriku.”

Kedua tangannya dilekatkan pada dada dan membentuk sembah, menunduk. Tuhan, bisik Sum, perkenankan saya membeli tart untuk ulang tahun si anak miskin itu. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saking kepinginnya beli tart, seakan ia hendak menangis. Matanya terasa basah.

Kemudian hujan pun rintik-rintik. ”Naaah, mau hujan,” kata lakinya. ”Pindah-pindahin bantal-bantal. Jangan biarkan di situ, tempat tiris deras….” Uncok memberi komando. Sum tenang saja.

”Biarkan tiris membasahi rumah,” kata Sum. ”Itu rezeki kita: air,” sahut Sum.

Uncok tak tahan. ”Kamu kok semakin edan,” lakinya membentak. Malam merambat larut. Tidak diketahui dengan pasti apakah malam itu jadi hujan atau tidak.

***

Gagasan beli tart dengan bunga-bunga mawar itu sudah lama muncul di benak Sum. Dua tahun lalu. Waktu itu Bu Somyang Kapoyos, rumahnya di Surabaya, menginap lima hari di Yogyakarta karena urusan disertasi. Ia membawa putranya. Dan tepat satu hari kemudian, ia teringat ulang tahun anaknya. Cepat-cepat ia berganti pakaian, memanggil taksi dan meluncur ke toko roti Oberlin. Ia pun membeli tart ulang tahun dengan tulisan Happy Birthday dengan lima lilin menyala. Ketika kembali ke home stay, Sum, yang sedang menyapu lantai, melihat roti itu. Tergetar. Astaga, indahnya. Lilinnya menyala, seperti menyala dalam hatinya.

Aku harus beli tart itu, buat si bocah, saat ulang tahunnya di bulan hujan nanti, gumamnya.

”Berapa harganya, Bu?” tanya Sum.

”Tiga ratus lima puluh ribu,” jawabnya.

Astaga! Gaji Sum kerja di home stay hanya dua ratus lima puluh ribu sebulan. Kalau ada tamu, ia memang sering mendapat tip, tetapi cuma cukup buat beli soto Pak Gareng tiga ribuan. Ia masih harus memikirkan seragam anaknya. Suaminya, yang sopir bus, tak selalu bisa bawa uang cukup. Jalan makin padat. Motor jutaan memenuhi jalanan. Sering macet. Kadang harus cari jalan lain. Perjalanan makin panjang. Artinya bensin boros, padahal bahan bakar mesti dibeli sendiri.

Tapi aku harus beli tart itu, gumamnya. Buat si bocah. Di ulang tahunnya di bulan hujan. Ia bakal senang. ”Oh, enggak begitu mikirnya. Tapi gini: semoga ia senang. Tuhan, perkenankan ia senang menerima persembahan roti dari saya,” gumamnya lagi. ”Tuhan, saya butuh sekali bahagia dengan melihat si bocah bahagia.…”

”Di mana tokonya, Bu,” tanya Sum lagi.

”O, deket toko onderdil motor itu,” jawab Bu Somyang, ”Kamu mau beli?” tanyanya.

Sum mengangguk.

”Anakmu ulang tahun?” desak Bu Somyang.

”Buuukan anak saya, tapi kalau dianggap anak saya, ya enggak papa,” jawab Sum.

”Oooo, anak yatim piatu di panti asuhan yang kamu pungut?” Bu Somyang mendesak.

”Bukan, enggak,” jawab Sum.

”Ah, Sum aku tak paham. Tapi, aku ingin ingatkan kalau untuk anak-anak gelandangan, ya enggak usah tart kayak gini. Cukup beberapa potong roti santen apa roti bocongan atau roti teles yang seribuan ditambah minuman dawet. Itu pun tiap gelas cendolnya lima belas atau enam belas biji saja. Kalau anak-anak dibiasakan makan-minum yang mewah-mewah, kurang baik. Bisa tuman, ketagihan.”

Sum diam. Jantungnya terasa tertusuk oleh kata-kata yang diucapkan karena ketidaktahuan. Sum menunduk. Beberapa tahun silam pernah seorang penyair diminta berkhotbah di gereja. Ia berkata, malanglah dia orang yang tak tahu kalau ia tak tahu, hina dan sakit orang yang tak paham kalau ia tak paham. Kata-kata itu mendengung kembali di telinganya ketika ia menatap mulut Bu Somyang yang mengerikan.

”Aku harus membeli tart itu, apa pun yang terjadi,” gumam Sum. ”Apa pun komentar orang aku tidak peduli. Aku hanya ingin si bocah bahagia pada hari ulang tahunnya. Selama bertahun-tahun aku menyaksikan perayaan ulang tahun si kecil, belum pernah ada yang membawa tart. Padahal, kalau mau, mereka bisa beli. Kebanyakan tamu yang datang sedikitnya naik motor, malah ada yang naik mobil. Heran! Bagaimanakah pikiran orang-orang itu.”

Dua minggu setelah menyaksikan tart yang menggetarkan, Sum memutuskan menabung. Ketika dikonsultasikan, Ketua Lingkungan menyarankan agar Sum menabung di bank. Tapi, Pak Karta Wedang memberi tahu bahwa bank kadang-kadang tak bisa dipercaya. Uang para nasabah dibawa lari oleh petugas bank sendiri dan bank tidak bertanggung jawab. ”Oooo, gitu…,” kata Sum, ”Lalu, enaknya gimana, ya?” Pak Karta tidak menjawab.

Akhirnya, Sum memutuskan menabung di rumah sendiri. Ia merencanakan menyisihkan uangnya lima belas ribu setiap bulan. Kalau ia sukses lebih menekan kebutuhan, setahun, kan, seratus delapan puluh ribu. Dua tahun, kan, tiga ratus enam puluh ribu. ”Horeeeee! Dua tahun lagi, aku bisa beli tart buat si kecil. Dan masih sisa sepuluh ribu.” Hatinya bersorak-sorai….

Dan pada bulan hujan tahun ini, kegiatan menabungnya hampir genap dua tahun. Ia tak sabar lagi. Tapi, alangkah kecewa ketika ia menengok di toko roti Oberlin, tart yang dibayangkan sudah naik harganya. Ia sedikit lemas. Ia menjadi pucat. Dan pandangannya berkunang-kunang.

”Ada apa Bu, sakit?” tanya pelayan toko. Sum menggeleng. Ia berkeringat dingin. Punggung terasa sedikit basah, tetapi keleknya terasa basah sekali.

”Ibu mau beli roti?” desak pelayan toko.

”Ya,” jawab Sum sangat pelan hampir tak terdengar. Apalagi lalu lintas hiruk-pikuk.

”Mau beli,” pelayan mendesak.

”Iyaa,” jawab Sum. Pelan sekali.

”Yang mana?”

Sum menuding tart mahal itu.

”Haaah?” Pelayan toko kaget sambil memandangi penampilan Sum.

Sum lemas. Bagaimanapun masih ada kekuatan.

”Tapi tidak sekarang,” Sum menegaskan.

”Oooo, kamu disuruh majikanmu lihat-lihat harganya, begitu?” Sum menggeleng.

”Saya mau beli sendiri. Saya sudah menabung. Tart itu untuk si bocah.”

Pelayan toko tak paham, dan mulai curiga. Karena itu, dengan cara halus, ia menggiring Sum ke luar toko. Perempuan itu melangkah ke luar.

”Masih ada waktu,” gumamnya. ”Aku akan buruh nyuci di kos-kosannya Pak Nur Jentera. Pokoknya, bulan hujan tahun ini aku harus beli tart untuk si kecil. Aku ingin sekali merasakan bahagia ketika bocah itu bahagia. Kalau aku sudah berhasil membeli tart untuk si bocah, aku lega banget. Aku rela mati. Kalau yang aku lakukan dianggap keliru oleh sidang malaikat dan aku harus masuk neraka… ya enggak papa. Aku tetap bahagia di neraka. Ya, mati dengan bahagia sekali karena sudah bisa mempersembahkan roti tart di bulan hujan. Di minggu hujan. Di malam hujan,” gumamnya.

Tiba di rumah, ia langsung mengambil uang tabungannya yang disembunyikan di dalam lemari, di bawah pakaian. Kurang empat puluh lima ribu, gumamnya sambil menghitung uang receh. Ia ingat, ia harus membeli nasi buat anaknya, si Domble. ”Tapi kalau aku berhasil nyuci pakaian di kos-kosan Pak Nur Jentera, semua bakal beres. Slamet bilang, Pak Jentera baik banget sama orang duafa. Beda banget dengan Wak Zettep yang pelit banget dan tukang mempermainkan orang.” Sum menunduk. ”Tuhan, biarkan saya percaya bisa membeli tart untuk si bocah.”

***

Esoknya sudah mulai memasuki bulan hujan. Ia pun menghitung hari. Di lingkungannya, warga sudah sering kumpul-kumpul menyiapkan pesta ulang tahun. Di gereja banyak pengumuman tentang kegiatan menyongsong pesta itu. Sum tak pernah diajak. Alasan ibu-ibu kaya, Sum, kan, sibuk bantu rumah tangga sana-sini. Mana ada waktu buat gini-gini. Di samping itu, kalau ia diajak, Sum selalu merasa tak pantas duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan mereka. Sum selalu merasa dirinya orang duafa yang tempatnya di pinggiran.

Dengan senang Pak Jentera menerima Sum. Tampaknya, lelaki itu terpesona dengan cara kerjanya yang cekatan. Karena itu, tak ragu-ragu ia memberi Sum upah tambahan, bahkan boleh dikatakan setiap hari. Maka, sebelum saat pembelian tart tiba, di tangannya sudah ada uang cukup. Bahkan lebih. Sementara itu, Bu Jentera juga luar biasa perhatiannya. Sekali ia memanggilnya ke rumah.

”Kamu mau pesta apa pada natalan nanti.”

”Ah, enggak pesta kok, Bu, cuma mau beli tart,” jawab Sum.

”Tart? Tart? Siapa yang ulang tahun? Anakmu?” Bu Jentera kaget dan bertanya setengah mencecar. Tapi Sum tetap tenang.

”Bukan anak saya Bu, tapi kalau dibilang anak saya, ya enggak papa,” jawab Sum.

”Ooooooooo, anak pungut? Di panti asuhan dekat rumah Wak Zettep yang terkenal pelit itu?” Bu Jentera bertanya lagi.

”Enggak, bukan… dia anak baik-baik, sangat baik… cantik sekali, pandangan matanya menggetarkan,” jawab Sum.

”Ah, aku tak paham,” kata Bu Jentera.

Lho, kata-kata Bu Somyang di ulang di sini, gumam Sum.

”Tapi baiklah,” kata Bu Jentera lagi, ”kalau mau beli tart, ya, yang baik sekalian,” sambungnya.

Wuuuah, luar biasa ibu ini, kata Sum dalam hati.

”Nih, aku ngiur dua ratus ribu,” kata Bu Jentera sambil senyum sangat manis. Ya Tuhan, apakah Bu Jentera ini malaikat utusanmu, kata Sum dalam hati. Dengan gemetar Sum menerima uang itu. Tepat pada saat itu, Pak Nur Jentera tiba di rumah dari sepeda-an bersama persekutuannya. Ia langsung duduk dan mendengarkan cerita istrinya tentang rencana Sum.

”O, bagus, bagus,” kata Pak Jentera. Ia berdiri lalu tangan kanannya merogoh dompet di saku belakang.

”Mbak Sum mesti beli roti lain untuk tambahan. Kan anak-anak pasti akan datang, rame-rame. Nih, ada tambahan tiga ratus,” katanya dengan tenang. Sum hampir tak memercayai telinganya. Ya Tuhan, engkau begitu dermawan, jerit gembira hati Sum.

Hatinya bersorak-sorai. Ia pun lari ke Bapak Ketua Lingkungan menceritakan rencananya. Hujan pun turun, menderas.

”Apa boleh Bu Sum membawa tart masuk gereja, apalagi meletakkan tart itu di depan patung Kanak-Kanak Yesus di dalam Goa? Pak Koster pasti takut gerejanya kotor. Pastor paroki akan tanya, perayaan Natal dengan tart di depan Kanak-Kanak Yesus itu menurut ayat Kitab Suci yang mana, teologinya apa….”

Tanpa menggubris, Sum berangkat ke toko roti. Sebelumnya mampir ke rumah dulu, menemui suaminya, yang kebetulan tak nyopir. Uncok terdiam mendengar cerita Sum tentang Bapak Lingkungan. Sepi. Lama. Hati Uncok trenyuh. Laki itu merasa harus berbela rasa dengan istrinya. Apalagi ia membawa uang berlebih untuk beli seragam si Domble. Juga uang buat rokok.… Uncok, kemudian, mendekap istrinya.

”Selepas dari toko, pulang dulu,” kata lakinya. Sum tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terkunci. Keharuan mendesak paru-paru dan tenggorokannya. Suaminya berubah tiba-tiba.

”Tuhaaan, hebatnya dikau. Berangkatlah,” kata suaminya, ”Pulangnya mampir ke rumah dulu sebelum ke gereja.”

Di toko roti, pelayan-pelayannya memandang dengan sebelah mata. Mereka tak percaya Sum punya uang untuk beli tart hampir empat ratus ribu.

”Tidak masuk akal,” kata Tanpoting, pemilik toko roti itu. Ketika Sum akhirnya mengeluarkan uang lebih dari harga tart, baru mereka percaya.

Pukul setengah empat sore Sum tiba di rumah. Alangkah kagetnya dia melihat goa dengan Kanak-Kanak Yesus di dalamnya sudah disiapkan lakinya di tengah rumah. Patung kecil-kecil itu rupanya dipinjam dari asrama para suster.

”Mereka memperkenankan aku memakai ini semua,” kata suaminya. Sum tak bisa berkata-kata apa-apa. Kegembiraan meluap.

”Taruhlah tart di sini,” kata Uncok, persis di depan Kanak-Kanak Yesus terbaring. ”Nanti malam, selesai Misa Natal, anak-anak kita undang ke rumah ini merayakan ulang tahunnya. Tak perlu di gereja. Mereka akan menyanyi panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia…. Lalu anak-anak akan menyantap tart. Biarlah rumah kita kotor, tapi ada senyum dan tawa meriah.”

Sum memeluk suaminya. Air matanya menetes karena haru. Persis hujan turun dengan sangat deras dan rumah sepasang merpati itu tiris di sana-sini, kecuali di atas tart. Seluruh rumah basah, lambah-lambah. Tapi, Sum dan Uncok tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan. Si Domble pun ikut menari-nari sambil sesekali nyuri mencolek tart yang dibalut gula-mentega-cokelat yang lezat luar biasa. Patung Kanak-Kanak Yesus menatap mereka dengan senyum. Menjelang pukul sembilan malam, anak-anak langsung menyerbu rumah Sum dan Uncok selepas dari misa di gereja.

Mereka menari-nari di depan patung Kanak-Kanak Yesus dan tart. Kue-kue lainnya pun disiapkan. Anak-anak berebut membersihkan rumah yang basah dan kotor luar biasa.

Diam-diam Sum menatap pandangan mata anak-anak yang datang. Seperti bersinar, seperti bersinar… Sum berjongkok dan memeluk mereka satu demi satu. Sum tersedu karena haru dan bahagia….

Sumber: Kompas Minggu, 18  Desember 2011

Download cerpen ini KLIK di sini

Thursday, December 15, 2011

Clara Ng Penjual Dongeng

PENJUAL DONGENG
Cerpen Clara Ng

“ABIL melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”
Hujan celaka mengguyur deras di luar, memukul-mukul atap rumah dengan ribut dan membuat sebagian tembok lembab oleh rembesan air. Setiap musim panas Husin selalu menambalkan banyak semen agar rembesan tidak terlalu mengganggu, tapi setiap musim penghujan datang, Husin harus menyaksikan hujan mengejeknya bulat-bulat. Kalah telak, lagi-lagi dia. Husin menatap kosong ke arah butiran air yang perlahan muncul dari celah tembok seperti aturan sihir, lalu turun perlahan seperti gerombolan rayap beringsut menuju lantai.
Hari hujan adalah hari sial. Yang menatap punggung Husin dari kejauhan akan tahu bahwa punggung itu gemetar menahan kekecewaan. Ia terkurung di rumah dengan berbatang-batang rokok dan ratusan ketombe yang berjatuhan di meja kayu. Ketombe sudah menjadi sahabat karibnya selama satu dekade. Kalau ia menggaruk-garuk kepala dan sedikit menunduk, berhamburanlah ketombe itu ke mana-mana. Seperti salju, pernah istri Husin berkata sambil mendengus. Husin mengisap rokok kuat-kuat, menahan geram. Ah,wanita, tahu apa dia tentang salju? Keluar dari rumah saja paling cuma sejauh pasar yang menjual kangkung dan cabe.
Husin menghancurkan rokok yang tinggal seujung kuku kelingking di asbak tanah liat yang warnanya sudah pudar. Ia menahan diri untuk tidak merogoh kotak rokok dan menarik sebatang lagi. Sudah tiga batang ia habiskan sejak hujan mengamuk, tapi tidak ada hasil apa-apa yang bisa ia kerjakan. Sudah berapa jam berlalu? Dua, tiga? Tidak ada satu cerita yang ia karang. Tidak ada adonan dongeng yang pas. Tidak ada kisah yang berteriak-teriak minta perhatian. Di depan hidungnya yang bengkok, yang ada hanya kertas-kertas tercerai berai di atas meja, di lantai, di tong sampah.

Punggungnya semakin melengkung seperti bulan sabit. Husin menopang dagu, merasa pelan-pelan ular frustrasi meliliti kepala. Ke mana dewa inspirasi, apakah ia terjerambab oleh petir dan terburai oleh air hujan? Ini bukan kebiasaannya. Selama sepuluh tahun, Husin selalu berhasil menghabiskan berlembar-lembar kertas, menulis dengan pensil 2B oleh jari-jarinya yang berbonggol-bonggol renta dan rematik dimakan umur. Itu adalah kegiatan tetapnya setiap pagi jam lima setelah salat subuh. Setelah satu dongeng berhasil ditegakkan, Husin akan mandi, berganti baju, dan berjalan kaki menuju SDN 04 pagi yang dekat dengan rumahnya.
Sudah berpuluh tahun berkarya sebagai pegawai negeri, mengajar kelas tiga di SD 04 pagi sampai Husin tidak ingat berapa ratus muridnya telah diajarkan perkalian, pembagian, dan dihukum jemur di lapangan. Husin tidak ingin berapa belas muridnya yang sudah jadi pejabat atau berapa puluh yang bekerja dengan gaji lebih baik sedikit daripadanya atau berapa ratus yang tidak berbeda dengan kehidupannya. Husin tidak ingat hari-hari ketika dia menyosong masa pensiun. Tidak, Husin tidak bisa mengingatnya, semua berlalu samar- samar dan terlalu cepat seperti terseret oleh air hitam menuju selokan.
Husin menggeser pantatnya, melihat jam yang tergantung di tembok. Sudah pukul tujuh lewat sepuluh. Lonceng sekolah sudah berdentang dari tadi, melahirkan jutaan keriuhan kecil-keci sebelum ketenangan menggelegarkan suara raksasanya di seluruh kelas.Tapi hujan di luar pasti membuat gerombolan keriuhan tertutup oleh suara kekuatan air yang tegar menghantam atap seng sekolah. Mungkinkah murid-muridnya akan merindukan kehadirannya?

“ABIL melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”
Sepanjang tahun-tahun dia bekerja sebagai guru, Husin memohon agar ia memiliki sedikit waktu untuk menulis dongeng. Kesibukannya sebagai satu dari (hanya) tujuh guru yang diperkerjakan di sekolah membuat seluruh pencopet di dunia mencuri semangat masa mudanya dan hanya meninggalkan jejak lelah. Inspirasi memusuhinya, waktu memerkosa otaknya.
Padahal dongeng, ya hanya dongeng saja yang ada dalam pikirannya. Kecepatan Husin melangkah semakin melambat karena dicincang usia, namun dongeng-dongengnya tidak pernah mati. Selalu ada dongeng baru di setiap pagi. Dongeng tentang anak lelaki yang berlayar ke negeri-negeri jauh menggunakan tong sampah berwarna hijau. Dongeng tentang seorang gadis yang berbohong kepada tiga malaikat sakratul maut. Dongeng tentang segenggam lada dan sepanci garam yang menyimpan rahasia dapur miliki seorang juru masak yang juga kiai. Dongeng tentang seorang nenek yang memiliki umur teramat panjang dan kenangan yang terlalu pendek. Dongeng tentang sepasang kekasih yang saling membenci sampai selama-lamanya.
Husin sangat pandai mengarang dongeng. Cerita-ceritanya tidak pernah biasa, terdengar janggal di telinga umum tapi anehnya cocok dengan kehidupan kanak-kanak yang berada di lingkungannya. Dia berjalan tiap hari menuju sekolah, duduk di bangku dingklik depan gerbang sambil menunggu murid-muridnya datang. Sejak pensiun, dia masih tetap datang ke sekolah untuk mendongeng. Kepala sekolah membiarkannya duduk di depan pagar. Murid-murid senang dengan dongengnya. Orangtua meletakkan uang di mangkuk plastik miliknya setelah Husin selesai mendongeng.
Begitulah bagaimana Husin menghidupi dirinya dan istrinya yang sudah renta setelah dia tak lagi bekerja sebagai guru. Dia menjajakan dongeng dari hari ke hari agar asap makanan bisa terus mengepul dari arah dapur. Mana cukup uang pensiun guru SD? Mana bisa diharapkan dua anak lelakinya yang sudah bekerja sebagai satpam dan buruh cetak kartu nama? Dengan tambahan lima ribu perak hasil sumbangan orangtua, Husin sanggup membeli rokok dan bercangkir-cangkir kopi tiap pagi dan sore.
Bagi Husin, menulis dongeng bukan sekadar mendapat tambahan uang saku, tapi juga menambal kebahagiaannya sendiri. Bersama dongeng-dongeng kesayangannya, Husin melarikan diri dari kehidupannya yang memuakkan. Dia menjadi pangeran gagah dan mempersunting putri tercantik di seluruh negeri, bukan menikahi nenek jelek yang mengomel dan mendiamkannya setiap hari. Dia menjadi lelaki yang diangkat sebagai prajurit kesayangan raja, bukan pensiunan pegawai negeri yang pas-pasan dan tak punya pekerjaan tetap. Bersama dongeng- dongeng itu, Husin mengganti kehidupan compang-campingnya dalam jahitan cerita baru.
Istrinya datang dalam balutan daster bunga-bunga luntur, membawakannya kopi pagi. Dia meletakkan gelas tinggi bening di meja, lalu lewat begitu saja. Tidak ada kata-kata, padahal seharusnya dia bertanya apa yang dipikirkan oleh suaminya. Mungkin begitulah pasangan suami istri kalau sudah hidup terlalu lama. Banyak hal terlewati sia-sia seperti kertas yang diremas tak berguna. Ruangan kembali menjadi hening setelah istri keluar. Keheningan ini memiliki napas halus dan teplok-teplok sendal jepit yang semakin menjauh. Tidak ada suara lain lagi. Husin menyesap kopi dengan cepat, bertanya-tanya sendirian dengan perasaan hampa: apakah dia masih mencintai istrinya?

“ABIL melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….”
Kalau tetangga depan menyalakan radio, itu berarti sudah pukul delapan. Suara lagu dangdut menggelegar dari depan, mengingatkan Husin tentang anak lelaki bungsunya yang pernah ingin menjadi penyanyi dangdut. Anak bungsu selalu ingin melakukan hal yang aneh-aneh dan bermimpi terlalu muluk seperti rumput yang ingin menjadi brokoli. Husin sudah menghabiskan uang paling banyak untuk si anak yang tak berguna itu. Bukannya menjadi penyanyi dangdut terkenal yang masuk televisi, dia hanya menjadi tukang cetak kartu nama.
Gara-gara anaknya, Husin mengarang dongeng tentang lelaki berpakaian merah yang pandai melakukan trik sulap. Lelaki ini terkenal di seluruh dunia sampai suatu hari bulan menonton pertunjukannya, lalu jatuh cinta kepadanya. Bulan melakukan segala cara untuk membuatnya dicintai, tapi lelaki itu malah memanfaatkan Bulan untuk pertunjukkan sulapnya. Bulan sakit hati, menelan lelaki itu bulat-bulat. Di malam saat ia purnama, orang-orang di bumi bisa melihat perut bulan memancarkan cahaya merah dan siluet lelaki kekasihnya yang mengapung di sana.
Begitu dongeng “Bulan dan Tukang Sulap Berbaju Merah” yang dikarang Husin ketika kekecewaannya kepada anak lelaki bungsunya menyeretnya menjadi penjaja dongeng tetap. Dia bercerita di depan kanak-kanak SD 04 Pagi. Anak-anak sangat menyukai dongeng itu, membayangkan bulan yang gendut bulat dengan bayangan samar-samar lelaki yang ditelannya. Orangtua senang melihat anak-anak mereka yang biasanya nakal menjadi tertawa kegirangan biarpun mereka sendiri tidak mengerti arti dongeng Husin. Beberapa uang koin lima ratusan mampir di mangkuk Husin.
Husin mulai mengarang dongeng-dongeng yang semakin berani. Dongeng yang membuat anak-anak SD 04 pagi terpana tak bergerak selama setengah jam atau dongeng yang membuat mereka rela berangkat ke sekolah lebih pagi agar bisa mendengar dongeng janggal yang tak akan pernah ada di buku dongeng mana pun. Dongeng yang membuat mereka tertawa dan menangis sampai terkencing-kencing. Dongeng yang menjadi bahan obrolan satu sama lain entah di ruang kelas atau di meja makan atau di diingat-ingat waktu jongkok di kakus. Dongeng yang membuat si lelaki tua pendongeng semakin terkenal tanpa ampun.
Husin tak pernah bisa berhenti mengarang lagi. Dongeng-dongeng itu sepertinya memohon kepadanya untuk dibebaskan setiap dini hari. Dia bercerita tentang prajurit-prajurit yang berperang di musim dingin sampai semua jari-jarinya mati membeku. Dia bercerita tentang pohon-pohon di hutan yang menangis bersama-sama waktu matahari mengkhianati mereka. Dia bercerita tentang perempuan yang memiliki satu telinga sangat besar, terpaksa harus berjalan miring ke kiri seperti kapal laut yang lambungnya pecah dihantam badai. Dongeng sepertinya tumbuh dengan mudah mengingatkan Husin dengan jamur di musim penghujan. Dia hanya butuh memangkasnya lalu memasaknya menjadi pepes jamur atau oseng-oseng jamur. Dongeng tinggal dipetik lalu disangrai. Dongeng tinggal diambil sebagai harta karun dalam peti yang kuncinya telah ditemukan Husin.
Jarum jam yang paling jangkung bergerak ke sebelas, berarti sudah nyaris jam sembilan. Kopinya sudah tandas, bukan tugas Husin membawanya ke bak cucian. Istrinya akan datang sepuluh menit lagi untuk membereskan gelas kosong. Dia mengambil pensil 2B, dengan gemetar berusaha membaca kalimat yang sudah tertulis di atas kertas.
“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya….”
Abil adalah nama anak lelaki pertama Husin yang meninggal bertahun-tahun lamanya karena kecelakaan. Truk yang disetir Abil bertabrakan dengan bus lintas propinsi, langsung meluncur menuju kegelapan jurang. Husin memikirkan Abil setiap tahun sambil terus bertanya-tanya apa yang terjadi kalau dia mempunyai uang berlebih dan meneruskan permohonan Abil untuk tidak berhenti bersekolah sampai sarjana?

KEMARIN hari Senin, sekarang sudah hari Selasa. Selasa tidak ada dongeng karena hujan turun, bukan karena Husin tidak bisa mengarang apa-apa kecuali kalimat tentang Abil yang melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerebos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya. Dongeng itu mati di titik, tidak ada koma atau paragraf baru.
Husin berbaring di ranjang, pikirannya melayang seperti hantu. Dari dulu dia selalu bertanya-tanya tentang banyak hal, tapi sekarang dia lebih bertanya-tanya tentang dongengnya. Apa yang terjadi dengan Abil waktu dia melihat burung pemakan bangkai? Mengapa dia perlu merampok? Ada apa dengan kebun belakang yang tuanya seperti kuburan? Husin berguling ke sebelah kanan, seluruh tubuhnya resah menahan perut yang bergolak. Dia tidak ingin berak, tapi perutnya terasa penuh seperti harus dikeluarkan.
Husin bangkit berdiri dari ranjang, meninggalkan istrinya yang pulas tertidur di sisi satunya. Ah, pukul berapa sekarang? Sudah tengah malam lewat dua menit. Kemarin hari Selasa, sekarang sudah hari Rabu. Mungkin Rabu dia berhasil mengarang dongeng dan menjajakannya di depan pagar sekolah dengan dingklik kecil. Husin menyibak gorden jendela, melihat bulan purnama berwarna kemerahan. Siluet lelaki berada di perut bulan, samar-samar.
Husin duduk di kursi tempatnya mengarang, menunggu dongeng tumbuh di kepalanya seperti jamur di musim penghujan. Dongeng-dongeng itu pasti tidak akan mengkhianatinya seperti matahari berkhianat kepada pohon-pohon di hutan yang terus menerus menangis. Atau tidak mungkin dongeng membencinya seperti kisah sepasang kekasih yang saling membenci. Tidak mungkin, bukan? Husin menyalakan rokok, menggosok matanya seolah-olah menyuruh mereka agar tetap terjaga.
Dia akan duduk terus di sini sampai adzan menggema, lalu dia akan mengambil wudhu untuk bersiap salat subuh. Setelah itu dongeng pasti akan bergegas-gegas keluar dari sel-sel penjara di kepalanya. Dia tak akan sabar menanti wajah-wajah cilik pengagum setianya yang akan terpana mendengar dongengnya. Mangkuk plastiknya pasti akan penuh koin lima ratusan. Mata Husin menyipit, berusaha keras membaca tulisan tangannya yang tampak samar di mata tuanya. Punggungnya melengkung seperti bulan sabit. Dia menggaruk kepala, ketombenya runtuh pelan-pelan seperti salju.
“Abil melihat seekor burung pemakan bangkai di kebun belakang waktu dia menerobos keluar jendela dari rumah yang barusan dirampoknya ….” (*)


Clara Ng tinggal di Jakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalahMalaikat Jatuh dan Ceritacerita Lainnya (2008). Ia juga telah menerbitkan 11 novel populer dan puluhan cerita anak-anak.


Sumber: Koran Tempo, 7 Maret 2010

DOWNLOAD cerpen ini KLIK di sini

Sunday, December 04, 2011

Calon Presiden

Cerpen Virgorini Dwi Fatayati

SEORANG lelaki sedang menjalani tes calon presiden tahun 2014. Tubuhnya yang masih gagah dan tegap meski usianya sudah memasuki kepala lima, ditambah air mukanya yang berwibawa dan bijaksana, menjadikannya layak memimpin negara dan bangsa Indonesia yang sudah karut-marut dan banyak masalah.

“Apa yang menjadikan Anda mencalonkan diri dalam Pilpres 2014 ini?” tanya salah seorang juri.

“Saya ingin memperbaiki Indonesia secara menyeluruh, nasib bangsanya, kekayaan alamnya, dan namanya di tingkat internasional. Saya ingin mengharumkan nama Indonesia dengan memperbaiki segala sistem yang sudah ada sekarang.”

“Anda yakin?”

“Yakin.”

“Apa modal Anda?”

“Keyakinan.”

“Hanya itu?”

“Ya.”

“Tidak mempunyai kepentingan-kepentingan pribadi?”

“Tidak.”

“Mantap sekali Anda menjawab. Apakah Anda tidak tahu banyak mantan presiden yang mencalonkan diri lagi?”

“Saya tahu.”

“Tahukah Anda bahwa saingan-saingan Anda nanti adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan kuat-kuat?”

“Saya punya kekuatan uang dan koneksi.”

“Baiklah, melihat kemantapan Anda, Anda seharusnya lulus, tapi sebelum kami meluluskan Anda ikut dalam Pilpres 2014 ini, kami akan ajak Anda menaiki karpet waktu.”

“Karpet waktu?”

“Ya, tidak usah banyak bertanya, ikuti saja kami.”

“Baik.”

Pada akhirnya seorang juri yang banyak bertanya tadi membawa lelaki itu ke dalam suatu tempat. Di tempat yang tersembunyi itu terdapat sebuah karpet merah mirip sebuah permadani. Lampu yang hanya lima watt menjadikan lelaki yang bermata rabun jauh itu tidak dapat jelas melihat detail karpet itu.

“Mari kita duduk di karpet itu!” ajak sang juri. Lelaki itu menurut.

“Anda tidak usah banyak bertanya, ikut saja.” Sekali lagi juri itu mengingatkan.

Meski sebenarnya merasa aneh dan merasa takut, lelaki itu menurut saja.

Dengan sedikit ragu, lelaki itu duduk mengikuti juri yang telah lebih dulu duduk bersila.

“Pejamkan mata!”

“Baik.” Lelaki itu pun memejamkan mata. Semakin ketakutanlah hatinya, namun tak bisa berbuat apa-apa, apalagi pintu ruangan dikunci. Hanya pasrah yang bisa dilakukannya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara bising sebuah mesin, padahal di ruangan itu hanya ada karpet. Lelaki itu terkejut, namun dia tak berani membuka mata.

Hanya sekitar satu menit suara mesin itu membisingkan ruangan, yang kini dirasakan lelaki itu dalam mata terpejamnya adalah sebuah ruangan terbuka dan semilir angin yang terasa panas.

“Bukalah mata Anda.” Perlahan, lelaki itu membuka mata. Betapa terkejutnya dia karena yang didapatinya adalah sebuah gurun pasir. Dan, tempatnya duduk adalah sebuah batu besar, bukan lagi karpet yang tadi.

“Kita berada pada masa pemerintahan Sayidina Umar bin Abdul Aziz.” Ucap sang juri menjawab keheranan lelaki itu.

“Siapa dia?”

“Beliau pemimpin negara yang adil. Setelah pemerintahan Khulafaur Rasyidin, tidak ada lagi pemimpin yang seadil beliau. Beliau sangat berhati-hati mengurus tanggung jawab yang diamanahkan padanya. Beliau amat takut kalau tidak dapat bersikap adil. Karena itulah beliau lebih mengutamakan keperluan rakyat daripada diri dan keluarga.”

“Memangnya masih ada pemimpin seperti itu setelah wafatnya Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin?”

“Sekarang kita lihat buktinya. Mari kita ke rumah beliau.” Sang juri mengajak lelaki itu berjalan.

“Salah satu kehebatan Khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa adalah beliau malah hidup miskin setelah diangkat menjadi khalifah. Anda tahu khalifah itu apa?”

“Semacam presiden di negara kita.”

“Yap, Anda benar. Khalifah Umar menempati rumah yang hanya cukup untuk dirinya. Karena setelah diangkat menjadi khalifah, seluruh kekayaannya diberikannya pada baitul mal.” Papar sang juri membuat hati sang calon presiden kecut.

“Benar-benar ini rumahnya?” tanya lelaki itu tak percaya karena semula dia mengira akan melewati rumah gubuk itu dan menuju rumah yang lebih baik dari yang dilihatnya.

“Ya, ini benar-benar rumah beliau.” Sang juri memperlihatkan sebuah rumah yang teramat sangat kecil dan sederhana.

Lelaki itu mengintip dari balik jendela yang atapnya hanya terbuat dari daun kurma itu. Ternyata, di dalam rumah itu hanya terdapat sebuah cangkir, sebuah piring, dan sebuah alas lilin, tidak ada alas untuk tidur.

“Mari kita naik lagi ke karpet.” Ajak sang juri, lelaki itu menurut saja.

Tiba-tiba dua lelaki itu sudah dibawa ke tempat yang gelap.

“Di mana ini?” tanya sang calon presiden.

“Masih di tempat yang sama, tapi kita berada di malam hari.” Sahut sang juri.

Beberapa saat kemudian, terdengar seseorang mendatangi rumah Khalifah Umar.

“Siapa?” tanya Khalifah Umar dari dalam rumah.

“Saya, Ayah,” jawab orang yang datang yang ternyata putranya.

“Ada apa?”

“Ibu menyuruh saya berjumpa ayah.”

“Untuk apa?”

“Membicarakan masalah keluarga.”

“Kalau begitu tunggu sebentar.” Sang calon presiden dan sang juri mengintip dari lubang dinding. Dilihatnya khalifah Umar meniup lilin satu-satunya yang ada di ruangan itu sehingga rumahnya menjadi gelap gulita.

Kemudian, Khalifah Umar membukakan pintu untuk anaknya.

“Mengapa gelap begini, Ayah?”

“Maafkan Ayah, anakku, rumah ini bukan milik kita dan lampu ini bukan milik kita. Oleh karena Ayah adalah pemimpin rakyat, Ayah wajib menjaga uang rakyat untuk kepentingan rakyat. Ayah tidak mau gunakan untuk kepentingan keluarga sehingga merugikan negara. Ayah takut di hadapan Allah nanti akan ditanya mengapa Ayah gunakan minyak rakyat untuk kepentingan keluarga.” Papar Khalifah Umar panjang lebar.

“Jadi, kalau aku ke sini untuk membicarakan masalah negara, ayah akan tetap menyalakan lampu, tapi kalau untuk membicarakan masalah keluarga ayah mematikan lampu?”

“Ya, kau benar anakku, masalah keluarga kan masalah pribadi, ayah tidak mau menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi,” ujar Khalifah Umar lagi.

Sang calon presiden dahinya berkerut, rasa kesal menyergapnya.

“Anda dengar itu? Anda paham?” tanya sang juri.

“Ya, tapi berlebihan sekali kalau hanya uang untuk lampu saja beliau tidak mau menggunakannya, padahal rakyatnya tidak akan menuntut kalau hanya sedikit.”

“Beliau tidak berlebihan, tapi terlalu berhati-hati.”

“Ah, mana ada manusia seperti itu? Ini pasti hanya dongeng.”

“Tidak, ini nyata, kalau tidak percaya akan aku tunjukkan kepemimpinan pemimpin-pemimpin lain yang patut dicontoh.”

“Tidak perlu, aneh, aku tidak percaya!” Sengit sang calon presiden lagi. “Ngomong-ngomong, mengapa tiba-tiba aku memahami bahasa Arab?”

“Karena dengan menaiki karpet ini, kita akan memahami semua bahasa di dunia.” Bisik sang juri kepada lelaki yang akhirnya termenung-menung.

“Kita naik lagi ke karpet,” ajak sang juri lagi.

Tak lama kemudian, mereka tiba kembali di kegelapan malam, masih di tempat yang sama.

“Dengar, beliau sedang menangis di atas sajadah,” bisik sang juri.

“Mengapa Ayah menangis?” tanya istri Khalifah Umar.

“Bagaimana aku tidak menangis? Aku telah diangkat menjadi raja kaum Muslimin dan orang asing. Yang sedang aku pikirkan sekarang adalah nasib orang-orang miskin yang kelaparan. Orang yang sakit, yang tak berpakaian dan menderita, yang tertindas, orang asing yang dipenjara. Mereka yang banyak anak, tapi miskin. Serta, mereka yang berada di tempat-tempat yang jauh. Aku merasakan, pada hari kiamat tentu aku akan ditanya oleh Allah keadaan mereka yang di bawah penguasaanku. Aku takut tidak ada pembelaan yang dapat membantuku. Karena itu aku menangis.”

“Anda dengar itu? Ayo, kita kembali naik ke karpet!”

Beberapa saat kemudian, dua lelaki itu sudah berada di tempat yang sama dalam keadaan terang.

“Ini sudah pagi,” ujar sang juri.

“Lihat ada yang datang,” seru sang calon presiden menunjuk pada seorang nenek. Nenek itu mendatangi rumah Khalifah Umar dengan tergesa-gesa.

“Demi Allah aku bermimpi aneh sekali.” Ujar nenek itu.

“Ceritakanlah mimpimu.” Kata Khalifah Umar.

“Aku bermimpi melihat neraka yang berkobar apinya. Dan, ada titian siratul mustaqim di atasnya. Kemudian, Abdul Malik bin Marwan dibawa di atas titian itu lalu jatuh ke neraka jahanam. Kemudian, dibawa al-Walid bin Abdul Malik moyang Anda, setelah hampir ke ujung kemudian dia jatuh. Kemudian, dibawa Sulaiman bin Abdul Malik, nasibnya pun begitu juga.”

“Teruskan… teruskan…,” ujar Khalifah Umar gundah, suaranya bergetar, kecemasannya menjadikan tubuhnya menggigil dan ketakutannya bisa dilihat oleh sang juri dan sang calon presiden..

“Setelah itu giliran Anda… saat giliran Anda… Anda, Anda masuk….”

Bug! Belum selesai si nenek bercerita, tubuh Khalifah Umar terjatuh.

“Ya Tuhan… ya Allah, aduh, bagaimana ini? Khalifah, khalifah, mengapa Anda? Ada apa dengan Anda?” Si nenek mengguncang-guncang tubuh Khalifah Umar dengan penuh cemas, sejurus kemudian berdatanganlah orang-orang mendekati tempat itu.

“Cepat kita kembali ke karpet!” Secepat kilat pula mereka sudah tiba di ruangan kosong lagi.

“Apa yang terjadi pada Khalifah Umar?” tanya lelaki itu penuh rasa ingin tahu.

“Beliau wafat karena takut dirinya juga menerima nasib yang sama dengan pendahulu-pendahulunya. Usianya masih 36 tahun dan beliau hanya memerintah selama dua tahun. Seluruh hartanya sebelum menjabat menjadi khalifah diserahkan semua ke baitul mal dan beliau hidup seperti rakyat biasa. Ketika beliau wafat, semua berdukacita, termasuk mereka yang bukan Islam. Terasa betapa makmurnya mereka hidup di bawah pemerintahan beliau. Kambing dan serigala yang saat pemerintahan beliau berbaikan, setelah beliau wafat bermusuhan lagi.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena beliau orang bertakwa, tak ada seujung rambut pun beliau punya kepentingan dunia, sekali pun sanjungan atau kehormatan, apalagi harta.”

“Maksud Anda, dia hanya punya kepentingan dengan akhirat?”

“Ya, dia merasa jadi pemimpin adalah amanat Tuhan yang harus dijalankannya dengan baik dan benar. Dengan penghormatan saja beliau merasa tersiksa, apalagi dengan harta.”

Sang calon presiden terdiam dan termenung.

“Apakah Anda siap menjadi presiden seperti beliau?” tanya sang juri.

Sang calon presiden tidak menjawab, dia malah tergugu menangis.

“Lho, mengapa Anda malah menangis?”

“Ada apa saya ini? Tidak pernah terpikir sedikit pun dalam diri saya menjadi orang seperti beliau, bahkan tidak sedikit pun saya memiliki sifat seperti beliau, berani-beraninya saya mencalonkan diri.” Masih tergugu lelaki itu menjawab.

“Lantas?”

“Periode ini saya mengundurkan diri, saya ingin memperbaiki diri dulu dan juga memperbaiki niat saya mencalonkan diri jadi presiden. Atau, mungkin juga saya tidak berani-berani lagi mencalonkan diri menjadi presiden. Seumur hidup.”

“Memang seharusnya begitu,” batin sang juri dalam hati sambil tersenyum. “Kita sedang sangat membutuhkan pemimpin yang dipilih oleh Tuhan, bukan manusia.” (*)

Sentul, 260811
(Sumber: Republika, 30 Oktober 2011)

Download cerpen ini KLIK di sini

Thursday, December 01, 2011

Clara Ng dalam Risalah Lidah

RISALAH LIDAH

Cerpen Clara Ng

IA menemukan kota kecil di dalam mulutnya. Sebulan lalu, waktu Ibu selesai mengepang rambutnya panjang di kiri dan kanan, Asna mendengar suara tangisan bayi. Suara itu berasal dari dalam tubuhnya—betapa anehnya ungkapan itu, tapi rasanya benar. Setelah kebingungan beberapa saat, akhirnya Asna membuka mulut di depan cermin,memandang kegelapan di tenggorokannya sambil menunggu kesunyian lewat. Telah hilang semenit, suara tangis itu terdengar lagi.
Cepat-cepat Asna menjulurkan lidah. Pancaran matanya berkilat tak percaya ketika memandangi lidahnya. Ada sesuatu di sana. Air mukanya yang tadi merona merah jambu langsung luntur menjadi pias. Apa yang terjadi? Ia sedang berdiri di depan cermin sambil memandangi lidahnya yang padat dengan jalan raya, rumah, gedung, dan pagar. Ada kota mungil tumbuh di atas lidahnya.
Asna terguncang hebat, mundur selangkah. Lidahnya masuk kembali ke dalam mulut dengan kilat seakan tertelan. Seluruh pori-pori kulitnya gemetar. Apa itu tadi? Sebuah kota? Atau apa? Gadis delapan tahun itu tak bisa memikirkan apa yang barusan melintas di depan matanya. Otaknya membeku. Dengan gamang, ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah cermin. Jam berdetik, tak bisa mengukur ketegangan yang ia rasakan.

Sekarang Asna baru tahu, ternyata lidah punya kejutan berbuncah. Pelan-pelan ia membuka mulut lagi, menjulurkan lidah sejauh-jauhnya. Sungguh, ia tidak salah lihat. Menakjubkan. Terpukaulah ia. Lihat, ada peradaban di lidahnya! Ada anak-anak kecil bersepeda di taman ditemani ibu-ibu muda mendorong kereta bayi. Pohon-pohon hijau melambai indah, berderet-deret di sepanjang jalan. Mobil-mobil berlalu lalang dengan santai, tidak ada kesibukan yang dikejar-kejar. Ada gedung-gedung jangkung seperti gedung-gedung di New York. Ada hotel-hotel mungil dengan jendela berbingkai seperti di Paris. Air mancur di kolam-kolam bening seperti di Madinah. Asna takjub tak alang kepalang. Ia seperti menemukan pintu ajaib menuju negeri dongeng.
Ini hal baru. Tentu saja Asna akrab dengan lidahnya, sama seperti manusia-manusia normal yang akrab dengan anggota tubuhnya yang lain. Ia tidak terlalu sering memperhatikan apa yang terjadi dengan lidahnya, tapi ia tahu lidahnya selalu ada di sana untuknya. Lidah selalu melakukan tugas dan pekerjaannya dengan baik, Asna tidak perlu protes dengan lidah. Hanya sekali-kali ketika sariawan menyerang, Asna membenci masa-masa itu, tapi tidak pernah membenci lidah.
Penemuan kota lidah berusaha Asna ceritakan pada ibu, tapi ibu tidak mau mendengar. Katanya Asna mengada-ada. Ia ceritakan pada ayah, tapi ayah hanya tertawa lalu sibuk menekuni ponselnya. Ia mau ceritakan pada guru mengaji, tapi kayaknya percuma karena bisa-bisa ia dipukul pakai penggaris. Akhirnya Asna tidak mau bercerita pada siapa-siapa.

KOTA itu terus tumbuh dan Asna menjadi saksi pertumbuhan kota itu. Bayi yang dilihatnya kemarin merangkak, esoknya sudah belajar jalan. Anak yang bermain bola ternyata minggu depannya sudah merokok. Lelaki berkumis yang rajin mengajar di sekolah ternyata dua minggu kemudian meninggal dunia. Waktu berdetik lebih cepat di sana.
Asna betah kembali ke lidahnya. Bagai magnet, ia tak bisa mengelak dari rasa ketertarikan pada kota damai yang pelan-pelan berubah menjadi bising. Hiruk-pikuknya menjadi tanda-tanda tragedi yang mengerikan. Mobil-mobil di jalan raya sering mengeluh dan melenguh keras. Anjing menggonggong mengancam, bercampur baur dengan bunyi-bunyi ganjil lainnya. Para penghuni kota berusaha menjinakkan teror yang tumbuh semakin besar.
Suatu hari, di tengah malam Asna terbangun oleh pekik kemarahan yang menggema di kepalanya. Ia turun dari ranjang dan berjinjit di depan cermin. Di sana tampak lampu-lampu jalan yang meredup, menjadi saksi keributan manusia yang terusir dari pinggir jalanan dan kolong jembatan. Wajah-wajah bengis dan paras-paras putus asa saling memandang satu sama. Mereka dorong-mendorong dan caci-mencaci. Tangisan anak-anak dan jeritan kutukan sahut menyahut. Adegan demi adegan terus beralih, tiba-tiba terdengar suara tembakan. DOR!
Asna terpaku kaget, lidahnya nyaris tertelan. Cepat ia berbalik, terbirit-birit menuju kamar ibu. Ia menyusup di tengah-tengah orangtuanya, tak bisa lelap tidur sepanjang malam. Matanya berkaca-kaca. Ia mengompol pada dini hari.
Esoknya ibu marah sekali pada Asna. “Bagaimana mungkin anak kelas tiga SD masih kencing di kasur?” bentak ibu murka. Asna membela diri, ia tidak sadar kemarin malam. Ibu tidak menyimak perkataannya. Ibu terus membentak-bentak Asna, merepet-repet sambil mengganti seprai. Mbak Iyo sudah seminggu pulang kampung dan belum balik. Sepertinya Mbak Iyo mencuri kesabaran Ibu dan membawanya ke kampung untuk dibagi-bagikan kepada ibu muda di sana. Sungguh beruntung ibu-ibu muda di kampung Mbak Iyo.
Asna kagum dengan tsunami kata-kata ibu. Ia ingin tahu bagaimana seorang perempuan bisa berbicara secepat itu? Asna mendelik memperhatikan lidah ibu, seperti apa lidahnya. Lidahnya datar. Ya, ya, seperti apa kota yang tumbuh di lidah datar itu? Asna meminta ibu menjulurkan lidah. Oh, mengamuklah ibu! Ia tambah marah, mengira anak perempuannya menyepelekannya habis-habisan. Marahnya sambung menyambung, bergantian; seperti naga ia menyembur-nyemburkan api. Namun bukan ibu namanya kalau ia tidak maha pengampun. Setelah marah-marah tak berkesudahan, marah ibu disudahi juga. Ia menjulurkan lidah buat Asna.
Ada yang salah. Ternyata tidak ada kota apa-apa di lidah ibu. Asna malah terpaku memandang gurun pasir. Gurun pasir berwarna kuning keemasan tercadar oleh debu. Kaktus-kaktus berdiri kaku dalam keheningan, masing-masing sendirian dalam hamburan angin yang mengaum keras. Cahaya hanya redup di sana, kalah oleh kematiannya. Tidak ada keriangan, semuanya beku dan panas seperti api kebencian. Ibu bertanya apa Asna puas? Asna terlalu kaget untuk menjawab apa-apa. Ibu menarik lidahnya lagi, menelan gurun pasir ke dalam mulutnya.
Sejak hari itu, Asna mulai senang membujuk orang-orang untuk menunjukkan lidahnya. Asna menemukan permainan baru, menyadari bahwa lidah-lidah yang dimiliki manusia tidak ada yang sama. Ayahnya memiliki pasar yang teramat besar tumbuh di atas lidahnya. Di sana ada pedagang-pedagang yang suka saling tipu-menipu satu sama lain. Jalan-jalan besar lebar yang penuh dengan teriakan penjual merayu kebohongan. Keramaian tak tertanggungkan di bawah terpal-terpal yang gagah melindungi meja kayu dan daging ayam, kambing dari sengatan panas. Kekotoran dan kesemrawutan yang membusuk.
Lidah pamannya lebih lucu lagi. Tidak ada kota atau pasar atau gurun pasir di sana. Yang ada hanya lapangan luas dengan satu monumen agung di tengahnya. Setiap hari lapangan itu penuh sesak dengan orang-orang yang berlomba-lomba mengangkat spanduk dan kepalan tangan. Mereka berprotes dan berdemonstrasi, berpekik tentang demokrasi, revolusi, kekuasaan, kemerdekaan, kejayaan, kemenangan. Berulang-ulang kata yang sama dipanggil, pagi siang sore malam; tidak ada hal yang baru lagi. Manusia-manusi adalah poros alam semesta di dalam lidah paman, bukan yang lain.
Siapa yang percaya pada apa yang dilihat Asna? Mereka ikut-ikutan melihat di cermin, tapi yang ada di mata mereka hanya lidah biasa berwarna merah dengan bintil-bintil kecil seperti jerawat. Tidak kelihatan apa-apa. Lagian siapa yang mau memercayai anak kecil? Yang tidak tampak tapi dikatakan tampak bukan cerita istimewa yang layak didengarkan. Asna dituduh memiliki daya khayal dan tingkat lelucon yang terlalu kekanak-kanakan.
Tidak ada lagi yang mau percaya pada perkataan Asna, sebab itu Asna bosan memberitahu. Ia memutuskan hanya mengamati lidahnya saja, menonton dalam kegairahan yang tak berjumlah ketika kota di lidahnya tumbuh semakin serampangan.

ASNA tumbuh semakin besar, demikian juga dengan kota di lidahnya. Waktu ia berumur sepuluh tahun, kota itu semakin sesak. Jalan layang bertumpuk-tumpuk, sampah berkembang biak, mal-mal dengan etalase yang genit membakar setiap inci kota. Deru angin menggulung-gulung, menebarkan kengerian dan kebekuan di sepanjang trotoar. Waktu ia berumur lima belas, pohon-pohon gundul di sepanjang taman-taman. Penjara penuh dengan orang yang saling membunuh, tapi lama-lama satu per satu orang mati karena terbunuh. Gedung bioskop kosong melompong. Sepanjang gang, kekejaman meluap dari gorong-gorong tempat tikus-tikus raksasa hidup.
Sejak remaja, Asna tidak lagi meminta orang menunjukkan lidahnya pada Asna. Ia mual melihat lidah-lidah di dunia. Bertahun-tahun Asna mencari lidah yang menumbuhkan taman Firdaus di atasnya, tapi ia tidak pernah menemukan. Ia melihat ratusan kota pengap, gurun pasir mengerikan, ladang ilalang yang kesepian, berhektar-hektar payau, kebun yang hangus, sampai kubangan tinja. Ia tidak sanggup melihat lagi.
Dalam kesendiriannya, Asna menonton kehancuran kota lidahnya yang merayap dengan cepat pada usia tujuh belas tahun. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menolongnya, seakan-akan kotanya memiliki takdirnya sendiri. Mustahil menyelamatkan, bahkan ia sendiri tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Kotanya mati setahun setelahnya. Tembok cat mengelupas, menelanjangi dinding-dinding yang runtuh perlahan-lahan. Jendela kosong memandangi gema. Pintu retak-retak, membisu sepanjang malam. Pabrik berhenti menggerutu dengan asapnya. Tidak ada manusia yang hidup di kota itu lagi.
Hati Asna hampa melihat kota lidahnya lenyap. Ia ingat bayi-bayi lucu yang tumbuh besar, bekerja, lalu mati. Ia juga ingat rumah-rumah kecil yang berkembang menjadi semakin tinggi dan luas, dengan keluarga-keluarga yang membengkak. Ia ingat bunga-bunga yang mengembang bersama embun. Tapi kenangan adalah seperti kertas yang tersiram air, melumatkan kata-kata yang tertera di atasnya, dan lama-lama menghancurkan kertas itu sendiri. Di usia dua puluh tahun, Asna lupa akan lidahnya. Boro-boro ingat kota, ia bahkan tidak ingat memiliki lidah. Berbaring dengan ringan setiap malam tanpa terganggu suara-suara berisik yang dulu berasal dari lidahnya.
Suatu hari keponakannya yang mungil memasuki kamar Asna, menatap tantenya dengan pancaran mata misterius, pekat oleh kabut rahasia. Asna bangun dari ranjang, menyambut Ratri. Biasanya keponakannya pasti hendak mengajaknya bermain atau mengobrol tentang pelajaran menggambar. Tapi kali ini Ratri tidak mengajaknya bermain, ia malah meminta Asna membuka mulut dan menjulurkan lidah. Masih tersenyum Asna mengangguk, mengabulkan permintaan Ratri. Ia menjulurkan lidahnya.
Ratri bilang lidah Asna menakjubkan. Ada kuburan besar di dalamnya. Ada deretan nisan putih pualam yang seakan-akan mengeja sendiri kata-kata yang tertulis di sana. Daun-daun merontokkan dirinya di atas pekuburan, meliuk-liuk dan berbisik-bisik menjadi gerimis. Semuanya mendesing seperti peluru dalam kesunyian.
Asna memandang Ratri dengan tatapan heran. “Kuburan di lidah?” tanyanya.
Ratri bilang, “Coba lihat di cermin, Tante.”
Asna pergi ke cermin dan menjulurkan lidahnya sekali lagi.
“Sayang, tidak ada kuburan di sini.”
Keponakannya tetap ngotot.
“Tapi Tante tidak melihat apa-apa.”
Ratri memberikan tatap kecewa kepada Asna. Asna balas memandang Ratri dengan senyum lebar. Ratri melengos. Gadis kecil itu tidak mengatakan apa-apa lagi, mungkin menyerah meyakinkan Asna atau tidak punya ketekunan memberitahu. Ia melompat-lompat keluar seperti kelinci, terus berjalan menuju ke kebun belakang.
Sekeluarnya Ratri dari kamar, Asna berbaring di ranjang dengan senyum yang masih dikulum. Anak-anak, pikirnya sambil mendengus, tidak pernah berbicara benar. Mereka selalu berkhayal yang aneh-aneh. Mereka… ah. Mendadak sesuatu menyisiri pikirannya, ada yang berdenting di sana. Asna mengingat kupu-kupu, mengingat rumah, mengingat kota, mengingat lidah, sepertinya terjadi beberapa dekade lalu. Terasa samar-samar, tapi ada. Seberapa kuatnya ia berusaha mengingat, Asna tidak pernah bisa kembali ke jejak masa lalu.
Asna segera melupakan perkataan Ratri tentang kuburan, dan juga tentang imaji hujan daun di musim gugur. Sudah terlalu siang, ia tidak mau berpikir terlalu berat. Ia hanya ingin menikmati tidur yang tak terganggu sampai matahari turun. Hari ini adalah hari cutinya, enaknya dinikmati di rumah seharian. Biarkan saja atasan dan rekan kerjanya menjadi besi karatan, tenggelam di lautan hiruk pikuk kesibukan kantor. Asna mematikan Blackberry-nya. Matanya terpejam pelan-pelan, kegelapan menghunuskan pedangnya. Sayup-sayup terdengar gelak tawa Ratri dari arah kebun dan teriakan pembantu bersahutan di antaranya. Asna tertidur, lidahnya berdecak-decak dalam mimpi. (*)


Clara Ng tinggal di Jakarta. Telah menerbitkan 11 novel, antara lainJampi-jampi Varaiya (Gramedia Pustaka Utama, 2009); dan sebuah kumpulan cerita pendek, Malaikat Jatuh dan Cerita-Cerita Lainnya(Gramedia Pustaka Utama, 2008).

Sumber: Koran Tempo, 20 Juni 2010

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook