Monday, March 03, 2008

Memahami Puisi

Memahami Puisi

Sebagaimana telah dipaparkan di depan, bahwa selain parafrase, memahami puisi dapat juga dilakukan dengan menganalisis struktur dan unsur-unsur puisi tersebut. Unsur-unsur yang membangun puisi adalah bunyi, irama, dan kata. Di samping itu, puisi pun tetap bisa dianalisis dari sudut: tema dan amanat (sebagaimana prosa).

3.1 Bunyi
Menurut para penyair aliran romantik dan simbolis, unsur bunyi merupakan syarat mutlak dan unsur kepuitisan yang utama dalam sebuah puisi. Bunyi dalam sebuah puisi bersifat estetis sebagai sarana untuk mendapatkan keindahan dan tenaga ekspresif. Di samping itu, bunyi juga digunakan untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa dan bayangan angan yang jelas, serta menimbulkan suasana khusus. Menurut teori simbolisme, tugas puisi adalah mendekati kenyataan. Mereka tidak memikirkan arti katanya, melainkan mengutamakan suara, lagu, irama dan rasa yang timbul karenanya.
Kesusasteraan Indonesia, terutama Angkatan Pujangga Baru pernah terpengaruh oleh aliran romantik dari negeri Belanda. Sehingga kalau dicermati, puisi-puisi Pujangga Baru lebih mementingkan bunyi daripada pilihan-pilihan katanya. Puisi-puisi lama terkesan lebih merdu meski suasana yang ingin diungkapkan adalah kesedihan dan duka (lihat puisi Amir Hamzah di depan)
Konsonan dan vokal yang disusun begitu rupa dalam puisi akan menimbulkan bunyi. Bunyi ini dapat mengalirkan perasaan, imaji-imaji dalam pikiran atau pengalaman-pengalaman jiwa pendengar atau pembaca. Seperti misalnya bila kita mendengar bunyi musik instrumentalia, bunyi yg merdu itu menimbulkaa perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan gambaran angan; pendek kata menimbulkan pengalaman jiwa yang mengagumkan.
Kombinasi bunyi yang merdu/indah itu biasanya disebut efoni (euphony). Kombinasi bunyi merdu ini menggambarkan perasaan mesra, kasih, sayang atau cinta, serta hal-hal yang menggembirakan. Sebagai contoh bisa kita simak puisi WS Rendra berikut ini.


ADA TILGRAM TIBA SENJA

Ada tilgram tiba senja
dari pusar kota yang gila
disemat di dada bunda.

(BUNDA LETIHKU TANDAS KE TULANG,
ANAKDA KEMBALI PUIANG)

Kapuk randu! Kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
kuncup-kuncup di hatiku
pada mengembang bermekaran.

Dulu ketika pamit mengembara
kuberi ia kuda bapanya
berwarna sawo muda
cepat larinya
Jauh perginya

Dulu masanya rontok asam Jawa
untuk apa kurontokkan air mata?
cepat larinya
Jauh perginya.

Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
menghunjam kerimba dan pusat kota
Tinggal bunda di rumah menepuki dada
melepas harl tua, melepas doa-doa—
Cepat larinyi
jauh perginya.

Elang yang gugur tergeletak
Elang yang gugur terebah
satu harapku pada anak
ingat ‘kan pulang pabila lelah

Kecilnya dulu meremasi susuku
kini letih pulang ke lbu
hatiku tersedu
hatiku tersedu.

Bunga randu ! Bunga randu!
anakku lanang kembali kupangku.

Darah, o, darah
ia pun lelah
dan mengerti artinya rumah.

Rumah mungil berjendela dua
serta bunga di bendulnya
bukankah itu mesra?

Ada podang pulang ke sarang
tembangnya panjang berulang-ulang
--Pulang, ya pulang, hai petualang!

Ketapang. Ketapang yang kembang
berumpun di perigi tua
anakku datang anakku pulang
kembali kucium, kembali kuriba


Kombinasi bunyi vokal a,e,i,o,u; konsonan bersuara (vocoid): b,d,g,j dan bunyi liquida: r, l serta bunyi sengau m,n,ng,ny dalam puisi di atas menimbulkan bunyi merdu dan berirama (efoni). Bunyi-bunyi efoni itu mengundang suasana yang mesra, kasih, sayang, dan bahagia. Bunyi-bunyi merdu itu memperkuat efek perasaan kasih sayang, kemesraan, kegembiraan dan kebahagiaan seorang ibu yang menerima tilgram dari anaknya yang berada di kota ramai, penuh perjuangan hidup.
Bait II merupakan bunyi tilgram anaknya (dicetak dengan hurut kapital). Bait III sampai akhir menggambarkan curahan perasaan ibu itu kepada sekitarnya: kapuk randu, bunga randu, dan ketapang.
Tampak bahwa bunyi merdu (asonansi a yang berkombinasi dengan bunyi sengau dan konsonan bersuara serta bunyi liquida: r. l dalam bait I menimbulkan bunyi merdu. Bait III sampai XIII terdiri dari kombinasl bunyi-bunyi yang merdu. Puncak rasa gembira, kasih dan kebahagiaan itu terpancar dalam bait-bait terakhir (XI-XIII) yg ditandai dengan bunyi sangat merdu dan berirama (liris): r, l berkombinasi dengan bunyi sangau m,n,ng.
Sebaliknya, kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau, penuh suara/bunyi k,p,t,s disebut kakofoni (cacophony). Kakofoni ini cocok untuk memperkuat suasana yang tidak menyenangkan, kacau balau, serba tak teratur, bahkan memuakkan. Bunyi-bunyi kakofoni tampak dalam puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul “Sodom dan Gomorrha” di depan.
Menurut cerita Kitab Suci, kota Sodom dan Gomora itu dihancurkan Tuhan karena penduduknya yang sangat buruk budi pekertinya, tidak percaya akan Tuhan, penuh maksiat, pesta dan hura-hura. Suasana kacau balau, hura-hura itu oleh Soebagio S. itu diwujudkan dalam bunyi kakofoni k,p,t,s (konsonan tak bersuara), terasa parau, tidak merdu dari awal sampai akhir.
Demikianlah, bunyi dapat mempengaruhi suasana puisi, memperdalam arti, memperjelas tanggapan dan memperdalam perasaan.


3.2. Irama

Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi yang menimbulkan gerak yang hidup itulah yang disebut irama. Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama sebetulnya tidak hanya terdapat pada kesusasteraan saja, tetapi juga terdapat dalam seni rupa: lukis, patung, bangunan dan sebagainya; lebih-lebih dalam musik. Bahkan semua yang teratur itu bisa disebut dengan irama.
Timbulnya irama dalam puisi dikarenakan adanya perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya persajakan akhir, atau misalnya adanya perulangan kata, perulangan bait; atau juga disebabkan oleh tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemah (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata Untuk menyelidiki irama dalam sebuah puisi agak sukar, tidak tampak jelas seperti pada musik. Hal ini disebabkan kata-kata yang jumlah suku katanya serta tekanannya tidak pasti. Namun irama puisi dapat dirasakan dengan hal-hal yang telah disebutkan di depan. Tetapi dalam puisi-puisi irama ini masih dapat diamati dengan jelas lewat persajakannya yang cenderung tetap. Hal ini masih tampak pula dalam puisi-puisi Pujangga Baru.
Analisis terhadap persajakan dan penggunaan bunyi/kata yang berulang-ulang dan bervariasi jelas menimbulkan irama. Sehingga analisis terhadap akan membantu kita memahami suasana puisi. Apakah puisi itu bersuasana dan berirama merdu, murung, atau marah.


3.3 Kata

Pembicaraan tentang kata ini akan difokuskan pada arti kata dan efek yang ditimbulkan. Pembicaraan tentang kata ini meliputi: pilihan kata (diksi), bahasa kiasan, citraan, dan faktor ketatabahasasn yang semuanya digunakan oleh penyair untuk melahirkan pengalaman jiwanya dalam puisi-puisinya.
Kata-kata yang digunakan oleh penyair bukan kata yang diambil secara sembarangan tetapi merupakan kata berjiwa (kata yang diberi suasana tertentu); sehingga ketepatan pemilihan kata sangat memegang peranan penting dalam penciptaan sastra.

a. Pilihan kata (diksi)

Penyair ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya secara padat dan intens. Untuk itu ia perlu memilih kata setepat-tepatnya dan dapat menjelmakan pengalaman jiwanya. Penyair mempertimbangkan perbedaan arti kata sampai sekecil-kecilnya dengan sangat cermat. Untuk ketepatan pilihan kata seringkali penyair menggantikan kata-kata yang digunakan secara berkali-kali, yang dirasa belum tepat. Bahkan meskipun puisinya sudah dipublikasikan (dicetak) sering masih juga diubah kata-katanya untuk ketepatan dan kepadatan arti. Sebagai contoh dapat dilihat dalam puisi-puisi Chairil Anwar berikut ini


SEMANGAT
Kalau sampai waktuku
'Ku tahu tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
(Kerikil Tajam)
A K U
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
(Deru Campur Debu)

Mengapa Chairil mengganti kata-kata itu? Jika kita rasakan dalam kata SEMANGAT itu terkandung arti perasaan yang menyala-nyala dan berlebih-lebihan/bombastis. Sedangkan dalam kata AKU terkandung perasaan yang menunjukkan kepribadian penyair dan semangat individualistisnya. Jika ditinjau dari sudut ini, maka kata 'aku' lebih tepat daripada kata 'semangat' untuk judul puisi tersebut. Sedangkan kata kutahu ini menunjukkan perasaan pesimis dan rasa terpencil. Bila puisi ini dideklamasikan, maka nadanya rendah dan melankolik. Hal ini tidak sesuai dengan bait selanjutnya yang penuh semangat dan vitalitas yang menyala. Maka kata tersebut diganti menjadi ku mau yang lebih menunjukkan kemauan pribadi yang kuat. Contoh lain dapat dilihat dalam sajak Chairil yang berjudul “Derai-derai Cemara”


Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari clnta sokolah rendah
(Kerikil Tajam)

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah jauh dari cinta sekolah rendah
(Deru Campur Debu)

Kata 'teraslng' mengandung rasa terpenoil, menunjukkan rasa keterasingan; sedangkan kata 'jauh' menunjukkan jarak yaitu angan-angan masa kanak-kanak yang cemerlang penuh harapan di masa yang akan datang, tetapi kenyataannya hidup ini penuh penderitaan. Sehingga kata jauh lebih tepat daripada kata terasing.
Demikianlah, diksi/pilihan kata sungguh dicermati pengarang untuk menghasilkan kata berjiwa. Maka analisis terhadap pilihan kata pengarang akan sangat membantu pemahaman sebuah puisi.


b. Bahasa kiasan (figurative language)

Bahasa yang digunakan oleh penyair kadang-kadang tidak menunjukkan arti yang sebenarnya. Hal ini dimaksudkan untuk menambah unsur kepuitlsan. Pemakaian bahasa kiasan berfungsi untuk menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan.
Tentu saja di SD maupun Anda pernah belajar MAJAS atau GAYA BAHASA. Naha, majas atau gaya bahasa itu tentu bermakna kias. Ada banyak kata kias yang terdapat dalam puisi. Untuk mencapai efek kepadatan kata dan ekspresivitas ucapan, pengarang puisi tentu akan banyak menggunakan bahasa kias. (dalam langkah-langkah parafrase di atas sudah banyak disinggung). Berikut ini akan disajikan contoh-contoh bahasa kias dalam penggalan-penggalan puisi!


 Majas perbandingan

sebagai kilat ‘nyinar di kalbu
sebanyak itu ourahan duka
sesering itu pllu menyayat
(STA, "Bertemu")

Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin.
Serupa dara di balik tirai
(Amir Hamzah, “Padamu Jua")

AFRIKA SELATAN
…………..
Tetapi istriku terus berbiak
seperti rumput di pekarangan rumah
seperti lumut di tembok mereka
seperti cendawan di roti mereka.
Sebab bumi hitam milik kami.
Tambang intan milik kami.
Gunung natal milik kami.
(Subagio Sastrowardojo)


 Majas Metafora

bumi ini perempuan jalang
yang menarik lelaki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini
(Subagio S, “Dewa Telah Mati”)

Tuhan adalah warga negara yang paling modern
(Subagio S. “Katekhisasi”)


Surga hanya permainan sebentar.
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar

(Chairil Anwar, “Tuti Artic”)

• Majas Personifikasi


ANAK MOLEK V
(Rustam Effendi)

Malas dan malu nyala pelita
seperti meratap mencucuri mata
Seisi kamar berduka cita,
seperti takut, gentar berkata.

SAJAK PUTIH
(Chairl Anwar)

Sqpi menyanyi, malam dalam mendoa tlba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

SEBUAH KAMAR
(Chairil Anwar)

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau leblh banyak tahu.

Majas Metonlmia


IBU KOTA SENJA
(Toto Sudarto Bachtiar)

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran.
……………..
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Di bawah bayangan samar istana kejang
O, kota kekasih setelah senja



Klakson dan lonceng dapat menggantikan orang-orang atau partai-partai yang bersaing adu keras suaranya. Sungai kesayangan menggantikan 5ungai Ciliwung. Istana menggantikan kaum kaya yang memiliki rumah-rumah seperti istana. Kota kekaslh adalah Jakarta.


c. Citraan (gambaran angan)

Penyair sering menggunakan gambaran-gambaran angan/citraan untuk: memberikan gambaran yang jelas,.menimbulkan suasana khusus, membuat lebih hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan, dan menarik perhatian. Gambaran angan dalam sajak itulah yang disebut dengan citraan (imagery). Sedang setlap gambar pikiran disebut oitra atau imaji (image).
Pembuatan gambaran angan hendaknya tidak berada dl luar pengalaman orang. Artinya, gambaran angan yang dituliskan seorang penyair haruslah dekat dengan pembacanya, orang mengimajlkan “hitam” dengan kata-kata hitam seperti rongga tenggorokan srigala! tentu pembaca justru bingung karena belum pernah tahu/masuk tenggorokan srigala. Dengan kata lain, gambaran angan-angan yang dituliskan penyair haruslah segar, hidup, berada dalam puncak keindahan, menjernihkan maksud, memperkaya pemahaman dan pengalaman pembaca atau justru diingatkan kembali pada gambaran-gambaran yang tak pernah ia pikirkan/dilupakan.
Citraan/gambaran angan-angan itu ada yang dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman. Bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan. Citraan yang timbul oleh penglihatan disebut citra penglihatan (visual imegery), yang ditimbulkan oleh pendengaran disebut citra pendengaran (auditory imagery) dan sebagainya. Gambaran-gambaran angan yang bermacam-macam itu tidak dipergunakan secara terpisah-pisah oleh penyair dalam sajaknya, melainkan digunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling mendukung efek kepuitisan.
Berikut ini disajikan citraan-citraan yang ada dalam penggalan-penggalan puisi.


 Citraan Pendengaran dan Pengelihatan

Ruang diributi jerit dada (: pendengaran)
Sambal tomat pada mata (: pengelihatan)
meleleh air racun dosa
(Rendra)

Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai (: pengelihatan)
(Amir Hamzah)

SEBAB DIKAU

Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang mengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
(Amir Hamzah)

KARENA KASIHMU
Sunyi sepi pitunang poyang
Tidak meretak dendang dambaku
Layang lagu tiada melangsing
Haram gemerincing genta rebana
(Amir Hamzah)

 citra perabaan

BLUES UNTUK BONN1E

Maka dalam blingsatan
ia bertingkah bagai gorilla
Gorrila tua yang bongkok
meraung-raung.

Sembari jari-jari galak di gitarnya
mencakar dan mencakar
menggaruki rasa gatal di sukmanya
(Rendra)


ADA TILGRAM TIBA SENJA

Kapuk randu. Kapuk randu!
Selembut tudung cendawan
kuncup-kuncup di hatiku
pada mengembang bermekaran
(Rendra)

HARI NATAL

ketika Kristus lahir
dunia jadi putih
juga langit yang semula gelap oleh darah dan jinah
jadi lembut seperti tangan bayi sepuluh hari
manusia berdiri dingin sebagai patung-patung mesir
dengan mata termangu ke satu arah
(Subagio Sastrowardoyo)

SALJU
Kukumu tajam, pacar
tikamkan dalam-dalam ke kulitku
biar titik darah
dan sakit terasa,
akhirnya bukan tubuh atau nyawa
melainkan kesadaran harus dibebaskan dari binasa
cubit! biar sakit
dan hidup menggelora.
(Subagio Sastrowardoyo)



 Citraan Penciuman

NYANYIAN SUTO UNTUK FATIMA
Dua puluh tiga matahari
bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
(Rendra)
PUTERI GUNUNG NAGA
puteri manis! di daerah asing
udara berbau tembaga, dan di awan putih
berkuasa ular naga
bermata bengis.
(Subagio Sastrowardoyo)

 Citra Pencecapan:
PEMBICARAAN
Hari mekar dan bercahaya:
yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi
(Subagio Sastrowardoyo)

la makan nasi dan isi-hati
pada mulut terkunyah duka
(Rendra)

BALLADA KASAN DAN PATIMA
8ini Kasan !udahnva air kelapa
………
Dan kini ia lari kerna bini bau melati
lezat ludahnya air kelapa

Kasan tinggalkan daku, meronta paksaku
terbawa bibirnya lapis daging segar mentah
penghisap kuat kembang gula perawan.
(Rendra)

 citraan gerak (movement imagery/kinaesthetic imagery)

SARANGAN
Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke dalam kolam
membasuh luka-lukanya
dan selusin dua sejoli
mengajaknya tidur
(Abdulhadi)

PRELUDE
Di atas laut. Bulan perak bergetar
Suhu pun malompat
Di bandar kecil itu. Aku pun dapat
menerka. Soorang pelaut mangurusi jangkar
(Abdulhadi)

 Citraan asosiasi-asosiasi intelektual

BALLADA TERBUNUHNYA ATMOKARPO

Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala
(Rendra)

FRAGMENT
Aku sudah saksikan
senja kekecewan dan putus asa yang bikin tuhan juga turut tersedu
membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnya
(Chairil Anwar)

Di bawah ini penyair mempergunakanl bermacam-macam citraan secara bersama-sama:

TEROMPET
(W.S. Rendra)
Terompet dilengkingkan napas nestapa
bagai pekik elang tua
membuat garis di pasir pantai,
Bau pandan di sepi malam
duri-durinya menyuruk di daging.
Amboi, aroma daun pandan!
Amboi amir darah dan daging!
Nestapa!
Maha duka!
Didambakannya dahlia dua tangkai,
burung-burung dua pasang,

emas fajar yang pertama.
Nestapa! Maha duka!
Menyepak-nyepak dalam dada
buyar napas isi rasa
lepas lewat kerongkongan tembaga.
Terompet dilengkingkan napas nestapa.
Arwah Ieluhur mencekik malam dena

(Empat Kumpulan Sajak)


d. Faktor ketatabahasaan

Dalam menuliskan ide atau gagasannya, penyair sering menyimpang dari struktur tata bahasa yang berlaku. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan efek puitis dan mendapatkan ekspresivitas. Di samping itu, penyimpangan tata bahasa disengaja oleh penyair untuk mendapatkan irama yang llris dan membuat puisi itu semakin padat dan segar.
Penyimpangan tata bahasa yang biasa dilakukan oleh penyair antara lain: pemendekan kata, penghilangan imbuhan, penyimpangan struktur sintaksis, penghapusan tanda baca, penggabungan dua kata atau lebih, pemenggalan kata seenaknya, pembentukan kata yang tidak pada tempatnya, dan sebagainya. Penyimpangan-penyimpangan ketatabahasaan ini sangat jelas dalam puisi-puisi Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri


Tertarik dengan materi ini? Silakan download di sini

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook