Thursday, April 17, 2008

Kritik Novel Saman

Novel Saman dan Kesepian Pembaca


Jauh dari bayangan, saya bisa membaca teks sastra yang kenal pada Deni Manusia Ikan. Pada halaman 13 naskah (novel) Saman tertulis: 'Waktu kecil ia ingin menjadi pelaut, karena ia tidak bisa menjadi Deni Manusia ikan - ia masih menyimpan komik itu hingga sekarang meskipun tak berhasil memperoleh akhir ceritanya.''

Membaca kalimat itu saya merasa gembira yang aneh: Saman -- novel karya Ayu Utami pemenang pertama Sayembara Penulisan Roman DKJ 1998 yang mengundang Kontroversi itu -- telah menjamah sebuah ingatan kolektif, menjamah pernik cohort dari sebuah generasi, generasi Orba.

Membaca Saman adalah mengurai lapis demi lapis kesepian (seorang) pembaca sastra Indonesia. Radhar Panca Dahana, dalam sebuah esei di kumpulan puisinya, Lalu Waktu, menawarkan sebuah persoalan sastra Indonesia kontemporer: sastra yang kehilangan pembaca. Radhar tak menyalahkan pembaca. Ia lebih hendak menggugat para pekerja sastra kita yang tak terlampau tanggap ekologi baru sastra Indonesia.

Tapi saya mengalami hal yang berbeda (saya bukan ''pekerja sastra''). Sayalah yang merasa ditinggalkan oleh sastra Indonesia. Khususnya dalam prosa. Sedikitnya ada tiga gejala yang membuat saya merasa begitu.

Pertama, komunitas sastra Indonesia belakangan ini -- katakanlah dalam 10 tahun terakhir -- sudah jarang menghasilkan karya yang kuat, karya terobosan, yang menyegarkan untuk dibaca (saya menghindari kata ''karya besar''). Karya prosa yang betul-betul terasa baru dan segar paling-paling kumpulan cerpen Negeri Kabut Seno Gumira Adjidarma. Karya Seno yang lain, Saksi Mata dan Jazz, Parfum dan Insiden, memang juga dianggap luar biasa oleh para kritisi, tapi masih digayuti beban pesan, bahkan amarah (terhadap kasus Timor Timur), sehingga tak terasa ''menari'' sebebas Negeri Kabut.

Karya kuat lain yang banyak disebut adalah Pasar (Kuntowijoyo) dan Para Priyayi (Umar Kayam). Bisa juga disebut Arus Balik dari Pramodya Ananta Toer yang tebalnya na'udzubillah itu. Tapi ketiganya ditulis oleh para jago tua. Patut dicatat juga cerpen Sutardji Calzoum Bachrie, Hujan dan Ayam yang ajaib -- tapi Tardjie pun jago tua. Dan itulah gejala kedua, pentas sastra masih didominasi nama-nama lama. Sebagian semakin cemerlang (seperti Kunto dengan cerpen-cerpennya yang fenomenal; ditambah yang terbaru, novel Impian Amerika). Sebagian sedang-sedang saja, mapan dalam kematangan mereka (seperti NH Dini dan Danarto). Ada juga yang malah terasa menurun (misalnya Budi Darma dengan Ny Talis dan Romo Mangun dengan Burung-burung Rantau).

Sedang para prosais muda, kecuali Seno, belum mampu menembus dominasi para senior mereka. Sebagian sempat membawa angin segar dalam hal penuturan dan tema cerita, tapi tampak belum kuat staminanya untuk hadir secara kontinu (seperti Leila S Chudori, Yanusa Nugroho dan Radhar Panca Dahana). Sebagian cukup punya stamina, tapi cuma meneruskan tradisi penceritaan yang telah ada -- muda, tapi tak membawa kebaruan, sekadar membawa variasi saja. Sebagian besar malah cuma menambah jumlah saja.

Dan, jika kita bicara novel, jangankan mengharap novel yang kuat, mengharap jumlah saja tak bisa. Para jago tua itu pun punya masalah produktivitas. Sedang para prosais muda lebih betah menulis cerpen untuk koran dan majalah (bahkan mulai muncul pembenaran lewat teori sastra koran).

Lalu, gejala ketiga, eksplorasi bentuk-bentuk pengucapan baru, pencarian terus-menerus ekspresi bahasa yang mampu menampung dinamika persoalan dan perasaan kontemporer, jarang sekali dilakukan. Dunia puisi kita masih lumayan dinamis dalam memberdayakan bahasa Indonesia. Tapi, di dunia prosa, bahasa Indonesia semakin tampak pucat dan tak menarik. Indonesia, dunia, bergerak. MTV, komik Jepang, Benetton, burger, Planet Hollywood, mal-mal, pemogokan buruh, HAM, internet dan banyak lagi, telah jadi bagian kesadaran kita. Tapi, bahasa prosa seolah malas bergerak, cuma menggeliat sesekali, kemudian tidur lagi.
Maka, lengkaplah kesepian saya sebagai pembaca. Bisa dibayangkan betapa penasaran saya saat mendengar Sapardi Djoko Damono, sewaktu mengumumkan pemenang lomba penulisan roman DKJ, memuji Saman demikian: ''... memamerkan teknik komposisi yang -- sepanjang pengetahuan saya -- belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di negeri lain ...'' Wah! Lalu, ''... saya takut, jika novel ini diterbitkan, jangan-jangan pengarang lain ... diam-diam merasa perlu belajar menulis dalam bahasa Indonesia lagi.'' Ck, ck, ck!

Tapi, upaya membaca Saman adalah sebuah cerita lain kesepian seorang pembaca. Sulit juga mendapatkan naskah itu. Salah satu juri, Faruk HTT, antusias membagi-bagi fotokopi Saman (yang sudah buram karena dikopi berkali-kali) ke beberapa media. Kompas juga agaknya membagi-bagi kopi pada Umar Kayam, Romo Mangun dan Pramoedya. Saman dengan cepat beredar di lingkaran pembaca elit sastra Indonesia. Tapi, siapa mau membagi pada saya?

Setelah kasak-kusuk, saya mendapatkan Saman dalam disket. Karena tinta printer atau fotokopi sedang mahal, jadilah saya membaca Saman lewat monitor komputer, dengan segala ketaknyamanannya. Apakah kesepian saya lalu terobati?

Untuk sebagian, ya. Bahasa prosa Saman sungguh menyegarkan. Beda dengan kesan yang muncul dari komentar-komentar di atas, bahasa Indonesia dalam Saman tak tampil luhung dan angkuh. Kehebatan bahasa dalam Saman terletak pada kemampuannya untuk menampung wacana sosial-budaya-filsafat terkini serta dinamika kenyataan kontemporer, sambil tetap jernih dan mengalir lincah.

Memang, ada kata yang tak banyak diakrabi orang (seperti ''laut lapis lazuli'' atau ''selarit matahari'') atau nama-nama asing (seperti Seurat), tapi kehadiran mereka tak mengganggu, malah (walau mungkin tak dimengerti, tapi) menambah keindahan bunyi. Bersastra memang tak mesti berangker-angker.

Cara bercerita Ayu juga istimewa. Beberapa istilah telah dilekatkan tuturan pada Saman: ''teknik roman pop'' dan ''non-linear'' (Umar Kayam), atau ''struktur kolase ruang waktu serta dialog introvet ekstrovet kompleks...'' (Romo Mangun). Sapardi menganggap komposisi Saman, sepanjang pengetahuannya, ''tak ditemukan di negeri lain.'' Padahal, karya-karya Ondaatje, Salman Rushdie, Vikram Seth, Milan Kundera adalah contoh cara bercerita sealiran dengan Saman. Yang menyenangkan adalah bahwa teknik itu, aliran bertutur itu, kini hadir dalam sebuah novel Indonesia.

Keistimewaan Saman memang kemampuannya untuk bercerita tanpa beban -- ia hanya asyik bercerita. Bahkan, ketika ada selipan-selipan pemikiran diskursif, tentang Tuhan, agama, negara, hubungan antarmanusia (khususnya seks), ia tak terasa berkhutbah. Ia enteng saja merangkum ikon-ikon generasi Orde Baru (generasi yang terlahir dan besar selama Orde Baru, yang dibuai kelimpahan materi dan informasi dan dihegemoni Pembangunanisme) semenjak Deni manusia ikan, mie pangsit hingga internet, mencampurbaurkan dengan kisah-kisah injil, wacana diasforik (tanpa tapal batas), dan angst generasi X plus sebuah kisah magis yang amat kuat di bagian 2.

Di sisi lain, kesepian saya justru menegas. Kegairahan melanggar tabu, apalagi tabu terhadap Tuhan dan tabu seks, agaknya kini adalah jalan pintas untuk menghasilkan teks yang kuat dan menggoncang. Tapi, apa susahnya sih, di jaman sengkarut kini, untuk kehilangan kepercayaan pada yang sakral? Ketika Wisanggeni atau Saman mengalami betapa biadabnya pembangunanisme, kok enak amat ia begitu segeranya menyalah-nyalahkan Tuhan. Seakan tak ada upaya dari Saman, dan tokoh-tokoh lain, untuk berdialog tuntas dengan keimanan. Seakan Saman dimulai dengan apriori terhadap keimanan, meletakkan iman sejak awal dalam posisi lemah.

Saya tak hendak nyinyir. Tabu kadang memang perlu dilanggar. Saya amat menyukai pelanggaran tabu terhadap ''kesucian'' Negara dalam Saman -- khususnya karena belakangan ini kinerja Negara Orde Baru memang amat tak memuaskan. Saya cuma merasa tak sepenuhnya terwakili oleh Saman, khususnya pada bagian-bagian yang mendesakralkan Tuhan dan seks. Saya sering juga mendengar cerita (lisan) tentang orang-orang yang mengalami kekerasan Negara, kekerasan hidup, dan toh semakin santun pada Tuhan. Mereka bukannya tak pernah ragu atau gelisah. Tapi mereka selalu sungguh-gungguh mencoba memenangkan iman. Rasanya mereka pun menarik untuk diceritakan.

Saman, selain disambut gembira, juga menimbulkan gunjingan. Apakah benar Ayu Utami murni menulis sendiri karya itu? Sebagian menghubung-hubungkannya dengan lingkaran pergaulannya di komunitas Teater Utan Kayu (TUK) yang, diakui atau tidak, punya patron Goenawan Mohamad. Masalahnya banyak bagian bahasa prosa Saman mirip dengan gaya menulis Goenawan. Dan wawancara Kompas (5 April 1998) dengan Ayu Utami, oleh sebagian, dianggap ''bukti'' bahwa Ayu tak mungkin bisa menulis Saman sendirian.

Kompas tampak memojokkan Ayu. Sampai ditulis segala bahwa: ''Bila dari manuskrip Saman terlihat lincah dan cerdasnya Ayu berbahasa... tidak demikian rupanya Ayu alam ''diskursus lisan'.'' Lalu ditambah pula ''...wawancara ini sebagian dibiarkan sebagaimana adanya, seperti ia ungkapkan...,'' seolah hendak berkata: ''Ini lho, Ayu yang sesungguhnya.''

Pewawancara bertanya, ''tahu bedanya Dasamuka dan Rahwana?'' seolah hal itu penting dijelaskan. Ayu menjawab ''nggak'', dan sebagian pembaca berpikir, ''Tuh kan, si Ayu bodo!'' Padahal ''Dasamuka'' cuma bagian dari sebuah kalimat metafor biasa dalam Saman, bukannya menjadi bagian penting simbolisasi cerita seperti tokoh-tokoh wayang dalam Burung-burung Manyar. Lalu pewawancara mendesak soal penggambaran rig dan Perabumulih. Sebagian pembaca tergiring, mana mungkin Ayu bisa menulis itu kalau dia tak pernah ke rig dan Perabumulih. Dulu, Mohamad Diponegoro dianggap pernah ke Bangkok karena amat hidup menggambarkannya dalam roman Saman. Ia lalu mengaku tak pernah ke Bangkok -- ia cuma berimajinasi.

Di sisi lain, Saman dirayakan secara berlebih. Sampai Kompas menganggapnya sebagai tanda kelahiran ''angkatan baru sastra Indonesia''. Angkatan? Benar perlukah kompartementalisasi begitu? Lalu para otoritas sastra (Sapardi, Kleden, Kayam, Mangun) mengajaibkan Saman. Benarkah Saman adalah ''karya ajaib'' dari seorang ''anak ajaib''? Ataukah ia tak lebih dari anak jamannya, karya yang lahir memang sudah pada saatnya?

Semoga benar yang kedua. Karena, jika demikian, krisis Indonesia kini akan membantu melahirkan karya-karya kuat lainnya, sebagaimana masa-masa sulit dulu -- masa revolusi serta masa akhir Orde Lama dan awal Orde Baru -- menjadi lahan yang subur untuk karya-karya kuat. Masa-masa sulit adalah masa-masa memetik hikmah. Dan, sastra adalah salah satu cara untuk mendokumentasikan hikmah itu dengan baik. Semoga. Agar Ayu tak 'hebat' sendirian. Agar sastra Indonesia ramai lagi. Agar pembaca tak kesepian lagi.***

(Hikmat Darmawan, pengamat sastra, tinggal di Jakarta, anggota kumpul-kumpul budaya Pinsil Tebal)

1 comments:

apa ada contoh kritik esai yg lebih pendek? saya sangat butuh utk tugas sekolah

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook