Wednesday, June 04, 2008

Kritik Sastra Apresiatif & Akademis

Kritik Sastra Apesiatif dan Kritik Sastra Akademis

Maman S. Mahayana


Secara garis besar, kritik sastra dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu kritik sastra akademis dan kritik sastra umum. Ciri yang membedakan keduanya terletak pada kejelasan metodologi dan kerangka teoretis yang digunakannya. Esai-esai sastra yang ditulis di koran-koran atau majalah, misalnya, termasuklah ke dalam kategori kritik sastra umum. Dikatakan umum, karena ia lebih bersifat publik. Ia disampaikan untuk kalangan masyarakat luas yang sangat beragam tingkat apresiasinya.

Bahwa belakangan ini, membanjir esai sastra yang didominasi oleh obrolan yang terkesan canggih, namun boleh jadi sulit dipahami—lantaran salah nalar— juga termasuk kategori kritik sastra umum. Siapapun, dengan tingkat pendidikan dan apresiasi bagaimanapun, berhak untuk menulis kritik jenis ini. Apapun macam tulisannya, sah, dan boleh-boleh saja. Tidak ada otoritas tertentu untuk melarangnya.

Meski begitu, perlulah kita camkan, bahwa kritik bukan caci-maki atau omongan melantur. Menulis kritik hakikatnya menyampaikan apresiasi; penghargaan dan pengungkapan nilai. Fungsinya tak sekadar menjembatani gagasan pengarang, lewat teks, kepada pembaca, tetapi juga memberi semacam panduan, keterangan tambahan, dan pengungkapan kekayaan teks yang mungkin belum tergali. Dengan begitu, kritik sastra seyogianya disampaikan secara jemih, sejuk, namun dengan tetap memberi rangsangan. Ia juga mestinya menerangkan kedalaman teks dengan berbagai kemungkinan dan perspektifnya.


***


Setiap pembaca karya sastra, pada dasarnya, dapat bertindak sebagai 'kritikus' jika ia menuliskan tanggapan terhadapnya. Jika tanggapan itu sekadar sebuah apresiasi, ia dapat dikatakan sebagai kritik sastra umum. Dalam kritik sastra jenis ini, kerangka teoretis dan metodologi ilmiah, sangat mungkin tidak lagi dipentingkan. Artinya pemahaman tentang teori sastra dan kriteria yang diberlakukan dalam kritik ilmiah, terpaksa ditanggalkan. Kalaupun digunakan, ia mesti disampaikan dengan bahasa yang sederhana.


Esai-esai H.B. Jassin yang kemudian dibukukan dalam Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan Esei, sesungguhnya termasukjenis kritik ini. Jassin, paham akan teori sastra dan metodologi ilmiah. Namun, ia terpaksa menyederhanakan pemahamannya mengenai itu, lantaran ia menulis untuk media massa yang dibaca masyarakat luas dengan tingkat apresiasi sastra yang sangat beragam. Dengan cara itu, penekanan Jassin terletak pada kritik yang apresiatif. Ia mengenalkan karya dan pengarangnya, menjelaskan teksnya, dan memberi panduan cara pemahamannya. Dengan demikian, pembaca umum terangsang untuk membaca karyanya, mencoba memahami isinya, kekayaan dan kedalamannya, dan akhimya memberikan apresiasinya. Bagi pengarangnya, apa yang ditulis Jassin, tak sekadar memberi rangsangan untuk menulis karya yang lebih baik, tetapi juga memberi masukan, bagaimana seyogianya struktur formal karya sastra dibangun, disusun penyiasatannya, dan disembunyikan amanatnya.

Apresiasi sastra yang dimuat dalam Kakilangit majalah Horison, juga sejenis dengan esai-esai Jassin. Secara akademis, rubrik "Kakilangit" majalah Horison tidak berbeda dengan materi kuliah "Pokok dan Tokoh". A. Teeuw dan R. Roolvink yang melakukan pembicaraan sejenis itu terhadap sastrawan-sastrawan Indonesia zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45, misalnya, menghimpunnya sebagai buku yang berjudul Pokok dan Tokoh (Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1953, 251 halaman). Dengan perkataan lain, membaca rubrik Kakilangit dan mencoba memahaminya secara cermat, dalam hal-hal tertentu, sesungguhnya sama halnya dengan mengikuti kuliah "Pokok dan Tokoh".

Baik H.B. Jassin maupun para penulis rubrik Kakilangit cenderung menekankan sifat apresiasinya. Mereka memberi tempat yang proporsional pada karyanya itu sendiri, pengarangnya, latar belakang proses kreatifhya, dan nilai yang terkandung dalam karya yang bersangkutan. Bentuk apresiasinya itu sendiri diwujudkan dan diungkapkan dengan sederhana. Dalam hal tersebut, pembaca akan memperoleh gambaran lengkap mengenai sosok seorang pengarang, sekaligus memahami karyanya secara sepatutnya.

Dengan cara demikian, pembaca sesungguhnya diajak melakukan apreasiasinya sendiri atas karya pengarang bersangkutan yang mungkin belum dibicarakan secara mendalam. Pembaca juga dirangsang untuk membaca karya lain yang mungkin punya nilai sejenis. Itulah-kritik sastra urnum yang sehat dan menyehatkan kehidupan kesusastraan.


***


Dalam kritik sastra akademis yang sering juga disebut kritik ilmiah, penekanan pada apresiasi, mesti didukung oleh alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, objektivitas atas nilai yang dikemukakan, menjadi landasan. Artinya, ia mesti dapat diterima berdasarkan ketentuan ilmiah; persyaratan yang di dunia akademis, mutlak perlu karena tuntutannya memang demikian.

Mengingat syarat keilmiahan tidak dapat diabaikan, maka kritik ilmiah harus jelas kerangka teoretisnya; ia merupakan alat yang digunakan untuk mengungkapkan nilai. Selain itu, jelas pula metodologinya; cara dan pendekatan yang diterapkan untuk itu. Lalu, mengapa mesti demikian dan apa perlunya?

Jawaban pertanyaan itulah yang membedakan kritik umum dengan kritik ilmiah. Pertama, tujuan kritik ilmiah bukanlah sekadar sebuah apresiasi; penghargaan atas nilai sebuah karya dan sekaligus pengakuan atas peran profesional sastrawan, namun juga pengungkapan nilai itu lewat prespektif keilmuan. Dalam hal ini, karya sastra ditempatkan tak hanya sebagai sebuah teks yang dapat memberi kenikmatan estetis, tetapijuga dapat menggugah rasa kemanusiaan dan menyadarkan emosi dan nurani kita akan berbagai persoalan kehidupan manusia.

Kedua, untuk tujuan keilmuan, kritik ilmiah tentu saja diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam disiplin ilmu apapun, hal tersebut diperlukan agar ilmu pengetahuan tidak mandeg. Jadi, lewat kritik ilmiah itulah yang memungkinkan makna baru atas karya sastra muncul dengan prespektif yang juga baru. Dengan demikian, teori sastra akan terus lahir dan berkembang sampai entah kapan. Pada gilirannya, pembicaraan mengenai teori sastra membentuk disiplin tersendiri. Perkembangan teori dan kritik sastra dari formalisme, strukturalisme, hingga kritik sosio-kultural, termasuk pendekatan multidisiplin, justru dimungkinkan oleh adanya perdebatan kritik ilmiah. Tanpa itu, ilmu sastra dan dunia sastra secara keseluruhan, mustahil sampai ke tahap seperti yang sekarang ini.

Ketiga, mengingat tingkat apresiasi dan pemahaman masyarakat atas karya sastra, sangat beragam, yang juga ditentukan oleh pendidikan dan wawasan pengetahuannya, maka dalam keadaan tertentu, tidak jarang terjadi kekacauan dalam kehidupan kesusastraan. Peristiwa tahun 1960-an, misalnya, merupakan contoh, betapa kesusastraan kita telah terjerumus ke dalam suasana yang sangat tidak sehat. Dalam kondisi itulah, kritik ilmiah diharapkan mampu menjadi panduan dan petunjuk yang dapat memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. Diadakannya Simposium Bahasa dan Sastra Indonesia, 27 Oktober 1966 dan akhir Oktober 1968, juga merupakan contoh peran dan pentingnya kritik sastra itu.


***


Begitulah, kritik ilmiah berkembang lewat jalumya sendiri. Kritik umum juga demikian. Cuma, terjadinya kengawuran dalam kritik umum, berdampak sangat luas. Gonjang-ganjing kebingungan akan melanda banyak pihak. Sastrawan tidak tahu lagi di mana kelebihan atau kelemahannya; pembaca umum dan guru-guru sastra akan makin menjauhi dunia sastra, dan kalangan akademis juga jadi bertanya-tanya: apa maksud? Jadi, kembalikanlah kritik sastra pada hakikatnya!***


Maman S. Mahayana, stafpengajar FSUI, Depok.
Kakilangit 39 / April 200, dikutip sebagai bahan ajar.

0 comments:

Post a Comment

Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) - Lintang Kemukus Dini Hari (Ahmad Tohari) - Jentera Bianglala (Ahmad Tohari) - Kubah (Ahmad Tohari) - Di Kaki Bukit Cibalak (Ahmad Tohari) - Bekisar Merah (Ahmad Tohari) - Siti Nurbaya (Marah Rusli) - Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka) - Azab dan Sengsara (Merari Siregar) - Harimau-Harimau (Mochtar Lubis) - Supernova (akar - Dee) - Supernova (petir - Dee) - - Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati) - Mantra Penjinak Ular (Kuntowijoyo) - Mangir (Pramoedya Ananta Toer) - Arok-Dedes (Pramoedya Ananta Toer) - Perburuan (Pramoedya Ananta Toer) - Kasih Tak Terlerai (Suman Hs) - Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer) - Atheis (Achdiat Kartamiharja)


goesprih.blogspot.com Overview

goesprih.blogspot.com has 1.444.907 traffic rank in world by alexa. goesprih.blogspot.com is getting 761 pageviews per day and making USD 3.70 daily. goesprih.blogspot.com has 210 backlinks according to yahoo and currently not listed in Dmoz directory. goesprih.blogspot.com is hosted in United States at Google data center. goesprih.blogspot.com is most populer in INDONESIA. Estimeted worth of goesprih.blogspot.com is USD 2701 according to websiteoutlook